Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 186: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 186 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Pada pertemuan lalu, kita telah mulai mengkaji bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KELIMA:Membaca Surat aZ-Zumar sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 39. Terletak di juz 23. Jumlah ayatnya sebanyak 75 ayat.Dalil LandasanUmmul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ”“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur (malam) hingga membaca “Bani Israil” (Surat al-Isra) dan surat az-Zumar”. HR. Tirmidziy (No. 2920) dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah (No. 1163) serta al-Albaniy.Renungan KandunganKandungan global surat ini terdiri dari tiga poin:Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-7)Surat mulia ini dibuka dengan menyebutkan karunia diturunkannya al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab yang berisikan perintah untuk menegakkan tauhid dan kebajikan lainnya. Namun kaum musyrikin justru kufur dan mendustakan ajaran mulia tersebut.Kedua: Penjelasan mengenai perbedaan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir (Ayat 8-66)Ada delapan perbedaan yang dipaparkan di sini:1. Orang kafir jauh dari ilmu agama, sehingga terbiasa mengingkari nikmat Allah. Sedangkan orang yang beriman selalu mendalami ilmu agama, sehingga tekun beribadah kepada Allah.2. Orang kafir tenggelam dalam kesyirikan. Adapun orang yang beriman selalu berupaya mentauhidkan Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.3. Orang kafir hatinya keras dan sulit menerima nasehat. Sedangkan orang yang beriman mudah menerima nasehat, pesan-pesan keagamaan dan ayat-ayat al-Qur’an; sebab hatinya lembut.4. Orang kafir gagal fokus karena menyembah banyak tuhan. Adapun orang yang beriman senantiasa fokus dalam beribadah, sebab hanya menyembah satu Tuhan saja.5. Orang kafir terbiasa mendustakan ayat-ayat Allah dan kebenaran yang datang dari-Nya. Sedangkan orang yang beriman selalu mempercayai kebenaran dari Allah.6. Orang kafir mencari pertolongan dan bantuan dari makhluk yang tidak memiliki apapun dan tidak berkuasa atas apapun. Adapun orang yang beriman ia hanya meminta pertolongan kepada Allah saja, sebab seluruh alam semesta adalah milik-Nya dan di bawah kendali-Nya.7. Orang kafir menyia-nyiakan kesempatan umur yang diberikan Allah, sehingga kelak di akhirat ia bakal menyesali perilakunya tersebut. Sedangkan orang yang beriman, ia senantiasa berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri.8. Orang kafir identik dengan kejahilan, sebab menyembah selain Allah. Adapun orang yang beriman cerdas karena hanya menyembah Allah saja.Ketiga: Penutup (Ayat 67-75)Di penghujung surat mulia ini dipaparkan balasan yang didapatkan oleh orang kafir dan orang yang beriman di akhirat. Kelak orang kafir akan digiring ke neraka dalam keadaan hina-dina. Sedangkan orang yang beriman akan diarak menuju surga dalam keadaan terhormat dan penuh kemuliaan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Ramadhan 1443 / 18 April 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Dalâlah Asmâ’ as-Suwar al-Qur’âniyyah ‘alâ Mahâwiriha, karya Dr. Umar Ali Arafat (hal. 394-401).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAKNext Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 186: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 186 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Pada pertemuan lalu, kita telah mulai mengkaji bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KELIMA:Membaca Surat aZ-Zumar sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 39. Terletak di juz 23. Jumlah ayatnya sebanyak 75 ayat.Dalil LandasanUmmul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ”“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur (malam) hingga membaca “Bani Israil” (Surat al-Isra) dan surat az-Zumar”. HR. Tirmidziy (No. 2920) dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah (No. 1163) serta al-Albaniy.Renungan KandunganKandungan global surat ini terdiri dari tiga poin:Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-7)Surat mulia ini dibuka dengan menyebutkan karunia diturunkannya al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab yang berisikan perintah untuk menegakkan tauhid dan kebajikan lainnya. Namun kaum musyrikin justru kufur dan mendustakan ajaran mulia tersebut.Kedua: Penjelasan mengenai perbedaan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir (Ayat 8-66)Ada delapan perbedaan yang dipaparkan di sini:1. Orang kafir jauh dari ilmu agama, sehingga terbiasa mengingkari nikmat Allah. Sedangkan orang yang beriman selalu mendalami ilmu agama, sehingga tekun beribadah kepada Allah.2. Orang kafir tenggelam dalam kesyirikan. Adapun orang yang beriman selalu berupaya mentauhidkan Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.3. Orang kafir hatinya keras dan sulit menerima nasehat. Sedangkan orang yang beriman mudah menerima nasehat, pesan-pesan keagamaan dan ayat-ayat al-Qur’an; sebab hatinya lembut.4. Orang kafir gagal fokus karena menyembah banyak tuhan. Adapun orang yang beriman senantiasa fokus dalam beribadah, sebab hanya menyembah satu Tuhan saja.5. Orang kafir terbiasa mendustakan ayat-ayat Allah dan kebenaran yang datang dari-Nya. Sedangkan orang yang beriman selalu mempercayai kebenaran dari Allah.6. Orang kafir mencari pertolongan dan bantuan dari makhluk yang tidak memiliki apapun dan tidak berkuasa atas apapun. Adapun orang yang beriman ia hanya meminta pertolongan kepada Allah saja, sebab seluruh alam semesta adalah milik-Nya dan di bawah kendali-Nya.7. Orang kafir menyia-nyiakan kesempatan umur yang diberikan Allah, sehingga kelak di akhirat ia bakal menyesali perilakunya tersebut. Sedangkan orang yang beriman, ia senantiasa berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri.8. Orang kafir identik dengan kejahilan, sebab menyembah selain Allah. Adapun orang yang beriman cerdas karena hanya menyembah Allah saja.Ketiga: Penutup (Ayat 67-75)Di penghujung surat mulia ini dipaparkan balasan yang didapatkan oleh orang kafir dan orang yang beriman di akhirat. Kelak orang kafir akan digiring ke neraka dalam keadaan hina-dina. Sedangkan orang yang beriman akan diarak menuju surga dalam keadaan terhormat dan penuh kemuliaan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Ramadhan 1443 / 18 April 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Dalâlah Asmâ’ as-Suwar al-Qur’âniyyah ‘alâ Mahâwiriha, karya Dr. Umar Ali Arafat (hal. 394-401).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAKNext Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 186 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Pada pertemuan lalu, kita telah mulai mengkaji bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KELIMA:Membaca Surat aZ-Zumar sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 39. Terletak di juz 23. Jumlah ayatnya sebanyak 75 ayat.Dalil LandasanUmmul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ”“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur (malam) hingga membaca “Bani Israil” (Surat al-Isra) dan surat az-Zumar”. HR. Tirmidziy (No. 2920) dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah (No. 1163) serta al-Albaniy.Renungan KandunganKandungan global surat ini terdiri dari tiga poin:Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-7)Surat mulia ini dibuka dengan menyebutkan karunia diturunkannya al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab yang berisikan perintah untuk menegakkan tauhid dan kebajikan lainnya. Namun kaum musyrikin justru kufur dan mendustakan ajaran mulia tersebut.Kedua: Penjelasan mengenai perbedaan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir (Ayat 8-66)Ada delapan perbedaan yang dipaparkan di sini:1. Orang kafir jauh dari ilmu agama, sehingga terbiasa mengingkari nikmat Allah. Sedangkan orang yang beriman selalu mendalami ilmu agama, sehingga tekun beribadah kepada Allah.2. Orang kafir tenggelam dalam kesyirikan. Adapun orang yang beriman selalu berupaya mentauhidkan Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.3. Orang kafir hatinya keras dan sulit menerima nasehat. Sedangkan orang yang beriman mudah menerima nasehat, pesan-pesan keagamaan dan ayat-ayat al-Qur’an; sebab hatinya lembut.4. Orang kafir gagal fokus karena menyembah banyak tuhan. Adapun orang yang beriman senantiasa fokus dalam beribadah, sebab hanya menyembah satu Tuhan saja.5. Orang kafir terbiasa mendustakan ayat-ayat Allah dan kebenaran yang datang dari-Nya. Sedangkan orang yang beriman selalu mempercayai kebenaran dari Allah.6. Orang kafir mencari pertolongan dan bantuan dari makhluk yang tidak memiliki apapun dan tidak berkuasa atas apapun. Adapun orang yang beriman ia hanya meminta pertolongan kepada Allah saja, sebab seluruh alam semesta adalah milik-Nya dan di bawah kendali-Nya.7. Orang kafir menyia-nyiakan kesempatan umur yang diberikan Allah, sehingga kelak di akhirat ia bakal menyesali perilakunya tersebut. Sedangkan orang yang beriman, ia senantiasa berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri.8. Orang kafir identik dengan kejahilan, sebab menyembah selain Allah. Adapun orang yang beriman cerdas karena hanya menyembah Allah saja.Ketiga: Penutup (Ayat 67-75)Di penghujung surat mulia ini dipaparkan balasan yang didapatkan oleh orang kafir dan orang yang beriman di akhirat. Kelak orang kafir akan digiring ke neraka dalam keadaan hina-dina. Sedangkan orang yang beriman akan diarak menuju surga dalam keadaan terhormat dan penuh kemuliaan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Ramadhan 1443 / 18 April 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Dalâlah Asmâ’ as-Suwar al-Qur’âniyyah ‘alâ Mahâwiriha, karya Dr. Umar Ali Arafat (hal. 394-401).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAKNext Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 186 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Pada pertemuan lalu, kita telah mulai mengkaji bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KELIMA:Membaca Surat aZ-Zumar sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 39. Terletak di juz 23. Jumlah ayatnya sebanyak 75 ayat.Dalil LandasanUmmul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ”“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur (malam) hingga membaca “Bani Israil” (Surat al-Isra) dan surat az-Zumar”. HR. Tirmidziy (No. 2920) dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah (No. 1163) serta al-Albaniy.Renungan KandunganKandungan global surat ini terdiri dari tiga poin:Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-7)Surat mulia ini dibuka dengan menyebutkan karunia diturunkannya al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kitab yang berisikan perintah untuk menegakkan tauhid dan kebajikan lainnya. Namun kaum musyrikin justru kufur dan mendustakan ajaran mulia tersebut.Kedua: Penjelasan mengenai perbedaan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir (Ayat 8-66)Ada delapan perbedaan yang dipaparkan di sini:1. Orang kafir jauh dari ilmu agama, sehingga terbiasa mengingkari nikmat Allah. Sedangkan orang yang beriman selalu mendalami ilmu agama, sehingga tekun beribadah kepada Allah.2. Orang kafir tenggelam dalam kesyirikan. Adapun orang yang beriman selalu berupaya mentauhidkan Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.3. Orang kafir hatinya keras dan sulit menerima nasehat. Sedangkan orang yang beriman mudah menerima nasehat, pesan-pesan keagamaan dan ayat-ayat al-Qur’an; sebab hatinya lembut.4. Orang kafir gagal fokus karena menyembah banyak tuhan. Adapun orang yang beriman senantiasa fokus dalam beribadah, sebab hanya menyembah satu Tuhan saja.5. Orang kafir terbiasa mendustakan ayat-ayat Allah dan kebenaran yang datang dari-Nya. Sedangkan orang yang beriman selalu mempercayai kebenaran dari Allah.6. Orang kafir mencari pertolongan dan bantuan dari makhluk yang tidak memiliki apapun dan tidak berkuasa atas apapun. Adapun orang yang beriman ia hanya meminta pertolongan kepada Allah saja, sebab seluruh alam semesta adalah milik-Nya dan di bawah kendali-Nya.7. Orang kafir menyia-nyiakan kesempatan umur yang diberikan Allah, sehingga kelak di akhirat ia bakal menyesali perilakunya tersebut. Sedangkan orang yang beriman, ia senantiasa berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri.8. Orang kafir identik dengan kejahilan, sebab menyembah selain Allah. Adapun orang yang beriman cerdas karena hanya menyembah Allah saja.Ketiga: Penutup (Ayat 67-75)Di penghujung surat mulia ini dipaparkan balasan yang didapatkan oleh orang kafir dan orang yang beriman di akhirat. Kelak orang kafir akan digiring ke neraka dalam keadaan hina-dina. Sedangkan orang yang beriman akan diarak menuju surga dalam keadaan terhormat dan penuh kemuliaan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Ramadhan 1443 / 18 April 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Dalâlah Asmâ’ as-Suwar al-Qur’âniyyah ‘alâ Mahâwiriha, karya Dr. Umar Ali Arafat (hal. 394-401).Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAKNext Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGAANGKATAN KEDUABELAS – TAHUN AJARAN 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M NONAMAASALKET1BadrunLombokLULUS2Fahri AfiqLamonganLULUS3Khalil A HYogyakartaLULUS4Renaldi MouzanSeruyanLULUS5Muhammad Rizal SeptiadiSintangLULUS6Fahrul AmriBanjarnegaraLULUS7Ahmad ZaenalBanjarnegaraLULUS8Fakih HusainiBanjarnegaraLULUS9MisbahLombokLULUS10Hayru Al MubarokSeruyanLULUS11Ahmad Fahrizal HamzahBalikpapanLULUS12Sukma PurnamaPagar AlamLULUS13Ikhsan SuryaPontianakLULUS14Diky Nur RofliPurbalinggaLULUS15Raul Febriyan GonzalesPadangLULUS16Frianka Fadillah LubisPurbalinggaLULUS17Gilang Muhammad AfifOkuLULUS18Naufal Obi RamadhanPurbalinggaLULUS19HudzaifahYogyakartaLULUS20Aan SetiawanBanjarnegaraLULUS21Bilal Nur ZamanPurbalinggaLULUS22Haris Abdullah DzakariaBanjarnegaraLULUS23Awwaludin YusufNTTLULUS24Abdullah HarisPurbalinggaLULUS25Aqilla Zaki SandikoBengkuluLULUS26Ibni Abiyyu AhnafPurbalinggaLULUS27Yogi AffandiRiauLULUS28Umair AshidiqBantenLULUS PERCOBAAN29Ahmad Shofyan ShauriBengkuluLULUS PERCOBAAN30Muhammad HafidzDepokLULUS PERCOBAAN31Zidni IlmanBandungTIDAK LULUS Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 186: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAK Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGAANGKATAN KEDUABELAS – TAHUN AJARAN 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M NONAMAASALKET1BadrunLombokLULUS2Fahri AfiqLamonganLULUS3Khalil A HYogyakartaLULUS4Renaldi MouzanSeruyanLULUS5Muhammad Rizal SeptiadiSintangLULUS6Fahrul AmriBanjarnegaraLULUS7Ahmad ZaenalBanjarnegaraLULUS8Fakih HusainiBanjarnegaraLULUS9MisbahLombokLULUS10Hayru Al MubarokSeruyanLULUS11Ahmad Fahrizal HamzahBalikpapanLULUS12Sukma PurnamaPagar AlamLULUS13Ikhsan SuryaPontianakLULUS14Diky Nur RofliPurbalinggaLULUS15Raul Febriyan GonzalesPadangLULUS16Frianka Fadillah LubisPurbalinggaLULUS17Gilang Muhammad AfifOkuLULUS18Naufal Obi RamadhanPurbalinggaLULUS19HudzaifahYogyakartaLULUS20Aan SetiawanBanjarnegaraLULUS21Bilal Nur ZamanPurbalinggaLULUS22Haris Abdullah DzakariaBanjarnegaraLULUS23Awwaludin YusufNTTLULUS24Abdullah HarisPurbalinggaLULUS25Aqilla Zaki SandikoBengkuluLULUS26Ibni Abiyyu AhnafPurbalinggaLULUS27Yogi AffandiRiauLULUS28Umair AshidiqBantenLULUS PERCOBAAN29Ahmad Shofyan ShauriBengkuluLULUS PERCOBAAN30Muhammad HafidzDepokLULUS PERCOBAAN31Zidni IlmanBandungTIDAK LULUS Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 186: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAK Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGAANGKATAN KEDUABELAS – TAHUN AJARAN 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M NONAMAASALKET1BadrunLombokLULUS2Fahri AfiqLamonganLULUS3Khalil A HYogyakartaLULUS4Renaldi MouzanSeruyanLULUS5Muhammad Rizal SeptiadiSintangLULUS6Fahrul AmriBanjarnegaraLULUS7Ahmad ZaenalBanjarnegaraLULUS8Fakih HusainiBanjarnegaraLULUS9MisbahLombokLULUS10Hayru Al MubarokSeruyanLULUS11Ahmad Fahrizal HamzahBalikpapanLULUS12Sukma PurnamaPagar AlamLULUS13Ikhsan SuryaPontianakLULUS14Diky Nur RofliPurbalinggaLULUS15Raul Febriyan GonzalesPadangLULUS16Frianka Fadillah LubisPurbalinggaLULUS17Gilang Muhammad AfifOkuLULUS18Naufal Obi RamadhanPurbalinggaLULUS19HudzaifahYogyakartaLULUS20Aan SetiawanBanjarnegaraLULUS21Bilal Nur ZamanPurbalinggaLULUS22Haris Abdullah DzakariaBanjarnegaraLULUS23Awwaludin YusufNTTLULUS24Abdullah HarisPurbalinggaLULUS25Aqilla Zaki SandikoBengkuluLULUS26Ibni Abiyyu AhnafPurbalinggaLULUS27Yogi AffandiRiauLULUS28Umair AshidiqBantenLULUS PERCOBAAN29Ahmad Shofyan ShauriBengkuluLULUS PERCOBAAN30Muhammad HafidzDepokLULUS PERCOBAAN31Zidni IlmanBandungTIDAK LULUS Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 186: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAK Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGAANGKATAN KEDUABELAS – TAHUN AJARAN 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 M NONAMAASALKET1BadrunLombokLULUS2Fahri AfiqLamonganLULUS3Khalil A HYogyakartaLULUS4Renaldi MouzanSeruyanLULUS5Muhammad Rizal SeptiadiSintangLULUS6Fahrul AmriBanjarnegaraLULUS7Ahmad ZaenalBanjarnegaraLULUS8Fakih HusainiBanjarnegaraLULUS9MisbahLombokLULUS10Hayru Al MubarokSeruyanLULUS11Ahmad Fahrizal HamzahBalikpapanLULUS12Sukma PurnamaPagar AlamLULUS13Ikhsan SuryaPontianakLULUS14Diky Nur RofliPurbalinggaLULUS15Raul Febriyan GonzalesPadangLULUS16Frianka Fadillah LubisPurbalinggaLULUS17Gilang Muhammad AfifOkuLULUS18Naufal Obi RamadhanPurbalinggaLULUS19HudzaifahYogyakartaLULUS20Aan SetiawanBanjarnegaraLULUS21Bilal Nur ZamanPurbalinggaLULUS22Haris Abdullah DzakariaBanjarnegaraLULUS23Awwaludin YusufNTTLULUS24Abdullah HarisPurbalinggaLULUS25Aqilla Zaki SandikoBengkuluLULUS26Ibni Abiyyu AhnafPurbalinggaLULUS27Yogi AffandiRiauLULUS28Umair AshidiqBantenLULUS PERCOBAAN29Ahmad Shofyan ShauriBengkuluLULUS PERCOBAAN30Muhammad HafidzDepokLULUS PERCOBAAN31Zidni IlmanBandungTIDAK LULUS Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 186: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-5Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAK Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKSaat menciptakan manusia di alam semesta ini, Allah ta’ala bukan sekedar menyiapkan hamparan muka bumi yang nyaman untuk tempat tinggal. Namun juga menyediakan seluruh kebutuhan bahan pangan mereka. Bahkan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya pun, Allah sudah memperhatikan asupan makanan untuknya.Proses janin makan dimulai dari saat Ibu mengonsumsi makanan. Sistem pencernaan di dalam tubuhnya akan mengelompokkan makanan-makanan tersebut dan membagi-baginya menjadi partikel-partikel kecil dan kemudian diserap oleh tubuh. Nutrisi yang dibutuhkan janin akan mengalir melalui plasenta / tali pusar / ari-ari ke tubuh janin. Maka dari itu ibu tidak boleh melalaikan gizi yang diperlukan. Begitupula ayah harus memberikan nafkah yang cukup untuk istrinya yang sedang mengandung.Ketika bayi terlahir, secara otomatis makanan pokok yang didapat bayi melalui plasentanya terputus. Sehingga kedua orang tua wajib memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya. Sang ibu menyusui bayinya dari ASI yang diciptakan Allah pada payudaranya, sehingga bayi mudah mencernanya. Sedangkan sang ayah berkewajiban memberi nafkah kepada si ibu dan mencukupi segenap keperluannya.Menyusu adalah hak setiap bayi yang harus ditunaikan oleh ibunya. Allah ta’ala berfirman,“وَالْوَالِدَاتُ ‌يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ”Artinya: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Adapun suami, maka berkewajiban menafkahi istrinya secara proporsional. Sebagaimana diperintahkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,“لِيُنْفِقْ ‌ذُو ‌سَعَةٍ ‌مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا”Artinya: “Hendaklah suami yang kaya memberikan nafkah sesuai kekayaannya. Sedangkan suami yang miskin hendaklah memberikan nafkah sesuai rizki yang diberikan Allah padanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuan yang diberikan kepadanya. Allah akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan”. QS. Ath-Thalaq (65): 7.Sesungguhnya ASI bagi bayi tidak tergantikan oleh apapun juga. Di samping memberikan makanan yang paling lengkap, dengan menyusui berarti juga memberikan bayi zat-zat kekebalan berupa immunoglobulin. Sehingga bayi yang diberi ASI akan lebih protektif terhadap infeksi.Kegiatan menyusui sendiri merupakan suatu proses perjalinan hubungan emosional kontak batin yang sangat dalam antara ibu dan bayinya. Dan bagi si ibu sendiri, menyusui bermanfaat untuk membakar kalori dan mengurangi berat badan yang meningkat selama masa hamil. Serta mengurangi resiko dari menderita kanker payudara. Sayangnya, kalangan feminis radikal malah menolak peran ibu sebagai ibu yang menyusui dan menggantikannya dengan susu formula dari sapi.Padahal burung dan hewan lainnya yang tak berakal yang berstatus sebagai ibu saja tidak tega menelantarkan anak-anaknya yang masih kecil. Bagaimana mungkin manusia yang dikaruniai oleh Allah akal rela mengabaikan kebutuhan primer anaknya?Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulqa’dah 1443 / 6 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 64-67) dan Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak Pernah Sakit?, karya dr. Ade Hashman, Sp.An (hal. 123). Post navigation Previous Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKSaat menciptakan manusia di alam semesta ini, Allah ta’ala bukan sekedar menyiapkan hamparan muka bumi yang nyaman untuk tempat tinggal. Namun juga menyediakan seluruh kebutuhan bahan pangan mereka. Bahkan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya pun, Allah sudah memperhatikan asupan makanan untuknya.Proses janin makan dimulai dari saat Ibu mengonsumsi makanan. Sistem pencernaan di dalam tubuhnya akan mengelompokkan makanan-makanan tersebut dan membagi-baginya menjadi partikel-partikel kecil dan kemudian diserap oleh tubuh. Nutrisi yang dibutuhkan janin akan mengalir melalui plasenta / tali pusar / ari-ari ke tubuh janin. Maka dari itu ibu tidak boleh melalaikan gizi yang diperlukan. Begitupula ayah harus memberikan nafkah yang cukup untuk istrinya yang sedang mengandung.Ketika bayi terlahir, secara otomatis makanan pokok yang didapat bayi melalui plasentanya terputus. Sehingga kedua orang tua wajib memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya. Sang ibu menyusui bayinya dari ASI yang diciptakan Allah pada payudaranya, sehingga bayi mudah mencernanya. Sedangkan sang ayah berkewajiban memberi nafkah kepada si ibu dan mencukupi segenap keperluannya.Menyusu adalah hak setiap bayi yang harus ditunaikan oleh ibunya. Allah ta’ala berfirman,“وَالْوَالِدَاتُ ‌يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ”Artinya: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Adapun suami, maka berkewajiban menafkahi istrinya secara proporsional. Sebagaimana diperintahkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,“لِيُنْفِقْ ‌ذُو ‌سَعَةٍ ‌مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا”Artinya: “Hendaklah suami yang kaya memberikan nafkah sesuai kekayaannya. Sedangkan suami yang miskin hendaklah memberikan nafkah sesuai rizki yang diberikan Allah padanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuan yang diberikan kepadanya. Allah akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan”. QS. Ath-Thalaq (65): 7.Sesungguhnya ASI bagi bayi tidak tergantikan oleh apapun juga. Di samping memberikan makanan yang paling lengkap, dengan menyusui berarti juga memberikan bayi zat-zat kekebalan berupa immunoglobulin. Sehingga bayi yang diberi ASI akan lebih protektif terhadap infeksi.Kegiatan menyusui sendiri merupakan suatu proses perjalinan hubungan emosional kontak batin yang sangat dalam antara ibu dan bayinya. Dan bagi si ibu sendiri, menyusui bermanfaat untuk membakar kalori dan mengurangi berat badan yang meningkat selama masa hamil. Serta mengurangi resiko dari menderita kanker payudara. Sayangnya, kalangan feminis radikal malah menolak peran ibu sebagai ibu yang menyusui dan menggantikannya dengan susu formula dari sapi.Padahal burung dan hewan lainnya yang tak berakal yang berstatus sebagai ibu saja tidak tega menelantarkan anak-anaknya yang masih kecil. Bagaimana mungkin manusia yang dikaruniai oleh Allah akal rela mengabaikan kebutuhan primer anaknya?Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulqa’dah 1443 / 6 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 64-67) dan Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak Pernah Sakit?, karya dr. Ade Hashman, Sp.An (hal. 123). Post navigation Previous Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKSaat menciptakan manusia di alam semesta ini, Allah ta’ala bukan sekedar menyiapkan hamparan muka bumi yang nyaman untuk tempat tinggal. Namun juga menyediakan seluruh kebutuhan bahan pangan mereka. Bahkan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya pun, Allah sudah memperhatikan asupan makanan untuknya.Proses janin makan dimulai dari saat Ibu mengonsumsi makanan. Sistem pencernaan di dalam tubuhnya akan mengelompokkan makanan-makanan tersebut dan membagi-baginya menjadi partikel-partikel kecil dan kemudian diserap oleh tubuh. Nutrisi yang dibutuhkan janin akan mengalir melalui plasenta / tali pusar / ari-ari ke tubuh janin. Maka dari itu ibu tidak boleh melalaikan gizi yang diperlukan. Begitupula ayah harus memberikan nafkah yang cukup untuk istrinya yang sedang mengandung.Ketika bayi terlahir, secara otomatis makanan pokok yang didapat bayi melalui plasentanya terputus. Sehingga kedua orang tua wajib memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya. Sang ibu menyusui bayinya dari ASI yang diciptakan Allah pada payudaranya, sehingga bayi mudah mencernanya. Sedangkan sang ayah berkewajiban memberi nafkah kepada si ibu dan mencukupi segenap keperluannya.Menyusu adalah hak setiap bayi yang harus ditunaikan oleh ibunya. Allah ta’ala berfirman,“وَالْوَالِدَاتُ ‌يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ”Artinya: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Adapun suami, maka berkewajiban menafkahi istrinya secara proporsional. Sebagaimana diperintahkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,“لِيُنْفِقْ ‌ذُو ‌سَعَةٍ ‌مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا”Artinya: “Hendaklah suami yang kaya memberikan nafkah sesuai kekayaannya. Sedangkan suami yang miskin hendaklah memberikan nafkah sesuai rizki yang diberikan Allah padanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuan yang diberikan kepadanya. Allah akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan”. QS. Ath-Thalaq (65): 7.Sesungguhnya ASI bagi bayi tidak tergantikan oleh apapun juga. Di samping memberikan makanan yang paling lengkap, dengan menyusui berarti juga memberikan bayi zat-zat kekebalan berupa immunoglobulin. Sehingga bayi yang diberi ASI akan lebih protektif terhadap infeksi.Kegiatan menyusui sendiri merupakan suatu proses perjalinan hubungan emosional kontak batin yang sangat dalam antara ibu dan bayinya. Dan bagi si ibu sendiri, menyusui bermanfaat untuk membakar kalori dan mengurangi berat badan yang meningkat selama masa hamil. Serta mengurangi resiko dari menderita kanker payudara. Sayangnya, kalangan feminis radikal malah menolak peran ibu sebagai ibu yang menyusui dan menggantikannya dengan susu formula dari sapi.Padahal burung dan hewan lainnya yang tak berakal yang berstatus sebagai ibu saja tidak tega menelantarkan anak-anaknya yang masih kecil. Bagaimana mungkin manusia yang dikaruniai oleh Allah akal rela mengabaikan kebutuhan primer anaknya?Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulqa’dah 1443 / 6 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 64-67) dan Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak Pernah Sakit?, karya dr. Ade Hashman, Sp.An (hal. 123). Post navigation Previous Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKSaat menciptakan manusia di alam semesta ini, Allah ta’ala bukan sekedar menyiapkan hamparan muka bumi yang nyaman untuk tempat tinggal. Namun juga menyediakan seluruh kebutuhan bahan pangan mereka. Bahkan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya pun, Allah sudah memperhatikan asupan makanan untuknya.Proses janin makan dimulai dari saat Ibu mengonsumsi makanan. Sistem pencernaan di dalam tubuhnya akan mengelompokkan makanan-makanan tersebut dan membagi-baginya menjadi partikel-partikel kecil dan kemudian diserap oleh tubuh. Nutrisi yang dibutuhkan janin akan mengalir melalui plasenta / tali pusar / ari-ari ke tubuh janin. Maka dari itu ibu tidak boleh melalaikan gizi yang diperlukan. Begitupula ayah harus memberikan nafkah yang cukup untuk istrinya yang sedang mengandung.Ketika bayi terlahir, secara otomatis makanan pokok yang didapat bayi melalui plasentanya terputus. Sehingga kedua orang tua wajib memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya. Sang ibu menyusui bayinya dari ASI yang diciptakan Allah pada payudaranya, sehingga bayi mudah mencernanya. Sedangkan sang ayah berkewajiban memberi nafkah kepada si ibu dan mencukupi segenap keperluannya.Menyusu adalah hak setiap bayi yang harus ditunaikan oleh ibunya. Allah ta’ala berfirman,“وَالْوَالِدَاتُ ‌يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ”Artinya: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya”. QS. Al-Baqarah (2): 233.Adapun suami, maka berkewajiban menafkahi istrinya secara proporsional. Sebagaimana diperintahkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,“لِيُنْفِقْ ‌ذُو ‌سَعَةٍ ‌مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا”Artinya: “Hendaklah suami yang kaya memberikan nafkah sesuai kekayaannya. Sedangkan suami yang miskin hendaklah memberikan nafkah sesuai rizki yang diberikan Allah padanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuan yang diberikan kepadanya. Allah akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan”. QS. Ath-Thalaq (65): 7.Sesungguhnya ASI bagi bayi tidak tergantikan oleh apapun juga. Di samping memberikan makanan yang paling lengkap, dengan menyusui berarti juga memberikan bayi zat-zat kekebalan berupa immunoglobulin. Sehingga bayi yang diberi ASI akan lebih protektif terhadap infeksi.Kegiatan menyusui sendiri merupakan suatu proses perjalinan hubungan emosional kontak batin yang sangat dalam antara ibu dan bayinya. Dan bagi si ibu sendiri, menyusui bermanfaat untuk membakar kalori dan mengurangi berat badan yang meningkat selama masa hamil. Serta mengurangi resiko dari menderita kanker payudara. Sayangnya, kalangan feminis radikal malah menolak peran ibu sebagai ibu yang menyusui dan menggantikannya dengan susu formula dari sapi.Padahal burung dan hewan lainnya yang tak berakal yang berstatus sebagai ibu saja tidak tega menelantarkan anak-anaknya yang masih kecil. Bagaimana mungkin manusia yang dikaruniai oleh Allah akal rela mengabaikan kebutuhan primer anaknya?Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Dzulqa’dah 1443 / 6 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 64-67) dan Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak Pernah Sakit?, karya dr. Ade Hashman, Sp.An (hal. 123). Post navigation Previous Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru Angkatan Keduabelas – Tahun Ajaran 1443 – 1444 H / 2022 – 2023 MNext Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATI

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165SAAT KEHILANGAN BUAH HATITidak ada orang tua yang berharap kehilangan buah hatinya. Namun Allah ta’ala mampu menakdirkan apapun yang dikehendaki-Nya. Tentu di balik ujian itu terkandung banyak hikmah kebaikan. Jika ada manusia yang berhak terbebas dari ujian, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lah orangnya. Sebab beliau manusia yang paling dicintai Allah. Tapi ternyata beliaupun mengalami berbagai macam ujian. Salah satunya adalah kehilangan buah hati.Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menunggui Ibrahim putra beliau yang sedang dalam sakaratul maut. Maka bercucuranlah air matanya. Abdurrahman bin Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang”. Lalu beliau kembali meneteskan air matanya dan bersabda,“إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ ‌يَا ‌إِبْرَاهِيمُ ‌لَمَحْزُونُونَ”“Sesungguhnya mata boleh menangis dan hati boleh bersedih. Namun kita tidak boleh mengucapkan kata-kata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami merasa sangat sedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”. HR Bukhari.Hadits di atas memberikan pelajaran bahwa bersedih dan menangis saat kehilangan buah hati adalah hal manusiawi. Namun yang harus diperhatikan adalah kita tidak boleh melakukan perbuatan dan mengucapkan kata-kata yang mendatangkan kemurkaan Allah.Di antara faktor terbesar yang bisa menghibur diri akibat kehilangan buah hati adalah janji pahala kelak di akhirat. Yakni berupa syafaat anak untuk orang tuanya. Abu Hassan rahimahullah menuturkan bahwa beliau curhat kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Dua anakku meninggal dunia. Mohon engkau berkenan menyampaikan padaku hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghibur diri atas kehilangan ini”. Beliau menjawab, “Ya”.“صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ -أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ-، فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ -أَوْ قَالَ بِيَدِهِ-، كَمَا آخُذُ أَنَا ‌بِصَنِفَةِ ‌ثَوْبِكَ ‌هَذَا، فَلَا يَتَنَاهَى -أَوْ قَالَ فَلَا يَنْتَهِي- حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ”.“Anak-anak kaum muslimin akan menjadi penghuni surga. Ia akan menyambut kedatangan orangtuanya. Lalu memegangi baju orang tuanya atau tangannya, seperti sekarang aku memegangi bajumu. Ia tidak akan melepas pegangan itu, hingga Allah berkenan memasukkannya dan orang tuanya ke surga”. HR. Muslim.Tentu keutamaan di atas ada syaratnya. Antara lain, orang tua menghadapi ujian tersebut dengan kesabaran. Juga syafaat diberikan hanya kepada orang tua yang tidak berbuat kesyirikan.“إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ: “قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟” فَيَقُولُونَ: “حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ”، فَيَقُولُ اللَّهُ: “ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ”.“Jika salah satu anak manusia meninggal, maka Allah akan bertanya kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?”. “Ya” jawab mereka. “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?”. Mereka menjawab lagi, “Ya”. “Apa yang diucapkan hamba-Ku?”. “Ia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!”. Maka Allah pun berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah dengan rumah pujian!”. HR. Tirmidzy dari Abu Musa radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Tirmidzy dan al-Albany.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1443 / 20 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 69-76). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATI

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165SAAT KEHILANGAN BUAH HATITidak ada orang tua yang berharap kehilangan buah hatinya. Namun Allah ta’ala mampu menakdirkan apapun yang dikehendaki-Nya. Tentu di balik ujian itu terkandung banyak hikmah kebaikan. Jika ada manusia yang berhak terbebas dari ujian, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lah orangnya. Sebab beliau manusia yang paling dicintai Allah. Tapi ternyata beliaupun mengalami berbagai macam ujian. Salah satunya adalah kehilangan buah hati.Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menunggui Ibrahim putra beliau yang sedang dalam sakaratul maut. Maka bercucuranlah air matanya. Abdurrahman bin Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang”. Lalu beliau kembali meneteskan air matanya dan bersabda,“إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ ‌يَا ‌إِبْرَاهِيمُ ‌لَمَحْزُونُونَ”“Sesungguhnya mata boleh menangis dan hati boleh bersedih. Namun kita tidak boleh mengucapkan kata-kata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami merasa sangat sedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”. HR Bukhari.Hadits di atas memberikan pelajaran bahwa bersedih dan menangis saat kehilangan buah hati adalah hal manusiawi. Namun yang harus diperhatikan adalah kita tidak boleh melakukan perbuatan dan mengucapkan kata-kata yang mendatangkan kemurkaan Allah.Di antara faktor terbesar yang bisa menghibur diri akibat kehilangan buah hati adalah janji pahala kelak di akhirat. Yakni berupa syafaat anak untuk orang tuanya. Abu Hassan rahimahullah menuturkan bahwa beliau curhat kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Dua anakku meninggal dunia. Mohon engkau berkenan menyampaikan padaku hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghibur diri atas kehilangan ini”. Beliau menjawab, “Ya”.“صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ -أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ-، فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ -أَوْ قَالَ بِيَدِهِ-، كَمَا آخُذُ أَنَا ‌بِصَنِفَةِ ‌ثَوْبِكَ ‌هَذَا، فَلَا يَتَنَاهَى -أَوْ قَالَ فَلَا يَنْتَهِي- حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ”.“Anak-anak kaum muslimin akan menjadi penghuni surga. Ia akan menyambut kedatangan orangtuanya. Lalu memegangi baju orang tuanya atau tangannya, seperti sekarang aku memegangi bajumu. Ia tidak akan melepas pegangan itu, hingga Allah berkenan memasukkannya dan orang tuanya ke surga”. HR. Muslim.Tentu keutamaan di atas ada syaratnya. Antara lain, orang tua menghadapi ujian tersebut dengan kesabaran. Juga syafaat diberikan hanya kepada orang tua yang tidak berbuat kesyirikan.“إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ: “قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟” فَيَقُولُونَ: “حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ”، فَيَقُولُ اللَّهُ: “ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ”.“Jika salah satu anak manusia meninggal, maka Allah akan bertanya kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?”. “Ya” jawab mereka. “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?”. Mereka menjawab lagi, “Ya”. “Apa yang diucapkan hamba-Ku?”. “Ia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!”. Maka Allah pun berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah dengan rumah pujian!”. HR. Tirmidzy dari Abu Musa radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Tirmidzy dan al-Albany.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1443 / 20 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 69-76). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165SAAT KEHILANGAN BUAH HATITidak ada orang tua yang berharap kehilangan buah hatinya. Namun Allah ta’ala mampu menakdirkan apapun yang dikehendaki-Nya. Tentu di balik ujian itu terkandung banyak hikmah kebaikan. Jika ada manusia yang berhak terbebas dari ujian, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lah orangnya. Sebab beliau manusia yang paling dicintai Allah. Tapi ternyata beliaupun mengalami berbagai macam ujian. Salah satunya adalah kehilangan buah hati.Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menunggui Ibrahim putra beliau yang sedang dalam sakaratul maut. Maka bercucuranlah air matanya. Abdurrahman bin Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang”. Lalu beliau kembali meneteskan air matanya dan bersabda,“إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ ‌يَا ‌إِبْرَاهِيمُ ‌لَمَحْزُونُونَ”“Sesungguhnya mata boleh menangis dan hati boleh bersedih. Namun kita tidak boleh mengucapkan kata-kata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami merasa sangat sedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”. HR Bukhari.Hadits di atas memberikan pelajaran bahwa bersedih dan menangis saat kehilangan buah hati adalah hal manusiawi. Namun yang harus diperhatikan adalah kita tidak boleh melakukan perbuatan dan mengucapkan kata-kata yang mendatangkan kemurkaan Allah.Di antara faktor terbesar yang bisa menghibur diri akibat kehilangan buah hati adalah janji pahala kelak di akhirat. Yakni berupa syafaat anak untuk orang tuanya. Abu Hassan rahimahullah menuturkan bahwa beliau curhat kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Dua anakku meninggal dunia. Mohon engkau berkenan menyampaikan padaku hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghibur diri atas kehilangan ini”. Beliau menjawab, “Ya”.“صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ -أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ-، فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ -أَوْ قَالَ بِيَدِهِ-، كَمَا آخُذُ أَنَا ‌بِصَنِفَةِ ‌ثَوْبِكَ ‌هَذَا، فَلَا يَتَنَاهَى -أَوْ قَالَ فَلَا يَنْتَهِي- حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ”.“Anak-anak kaum muslimin akan menjadi penghuni surga. Ia akan menyambut kedatangan orangtuanya. Lalu memegangi baju orang tuanya atau tangannya, seperti sekarang aku memegangi bajumu. Ia tidak akan melepas pegangan itu, hingga Allah berkenan memasukkannya dan orang tuanya ke surga”. HR. Muslim.Tentu keutamaan di atas ada syaratnya. Antara lain, orang tua menghadapi ujian tersebut dengan kesabaran. Juga syafaat diberikan hanya kepada orang tua yang tidak berbuat kesyirikan.“إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ: “قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟” فَيَقُولُونَ: “حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ”، فَيَقُولُ اللَّهُ: “ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ”.“Jika salah satu anak manusia meninggal, maka Allah akan bertanya kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?”. “Ya” jawab mereka. “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?”. Mereka menjawab lagi, “Ya”. “Apa yang diucapkan hamba-Ku?”. “Ia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!”. Maka Allah pun berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah dengan rumah pujian!”. HR. Tirmidzy dari Abu Musa radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Tirmidzy dan al-Albany.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1443 / 20 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 69-76). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165SAAT KEHILANGAN BUAH HATITidak ada orang tua yang berharap kehilangan buah hatinya. Namun Allah ta’ala mampu menakdirkan apapun yang dikehendaki-Nya. Tentu di balik ujian itu terkandung banyak hikmah kebaikan. Jika ada manusia yang berhak terbebas dari ujian, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lah orangnya. Sebab beliau manusia yang paling dicintai Allah. Tapi ternyata beliaupun mengalami berbagai macam ujian. Salah satunya adalah kehilangan buah hati.Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Suatu hari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menunggui Ibrahim putra beliau yang sedang dalam sakaratul maut. Maka bercucuranlah air matanya. Abdurrahman bin Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman ini adalah kasih sayang”. Lalu beliau kembali meneteskan air matanya dan bersabda,“إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ ‌يَا ‌إِبْرَاهِيمُ ‌لَمَحْزُونُونَ”“Sesungguhnya mata boleh menangis dan hati boleh bersedih. Namun kita tidak boleh mengucapkan kata-kata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami merasa sangat sedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”. HR Bukhari.Hadits di atas memberikan pelajaran bahwa bersedih dan menangis saat kehilangan buah hati adalah hal manusiawi. Namun yang harus diperhatikan adalah kita tidak boleh melakukan perbuatan dan mengucapkan kata-kata yang mendatangkan kemurkaan Allah.Di antara faktor terbesar yang bisa menghibur diri akibat kehilangan buah hati adalah janji pahala kelak di akhirat. Yakni berupa syafaat anak untuk orang tuanya. Abu Hassan rahimahullah menuturkan bahwa beliau curhat kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Dua anakku meninggal dunia. Mohon engkau berkenan menyampaikan padaku hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghibur diri atas kehilangan ini”. Beliau menjawab, “Ya”.“صِغَارُهُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ يَتَلَقَّى أَحَدُهُمْ أَبَاهُ -أَوْ قَالَ أَبَوَيْهِ-، فَيَأْخُذُ بِثَوْبِهِ -أَوْ قَالَ بِيَدِهِ-، كَمَا آخُذُ أَنَا ‌بِصَنِفَةِ ‌ثَوْبِكَ ‌هَذَا، فَلَا يَتَنَاهَى -أَوْ قَالَ فَلَا يَنْتَهِي- حَتَّى يُدْخِلَهُ اللهُ وَأَبَاهُ الْجَنَّةَ”.“Anak-anak kaum muslimin akan menjadi penghuni surga. Ia akan menyambut kedatangan orangtuanya. Lalu memegangi baju orang tuanya atau tangannya, seperti sekarang aku memegangi bajumu. Ia tidak akan melepas pegangan itu, hingga Allah berkenan memasukkannya dan orang tuanya ke surga”. HR. Muslim.Tentu keutamaan di atas ada syaratnya. Antara lain, orang tua menghadapi ujian tersebut dengan kesabaran. Juga syafaat diberikan hanya kepada orang tua yang tidak berbuat kesyirikan.“إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ: “قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟”، فَيَقُولُونَ: “نَعَمْ”، فَيَقُولُ: “مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟” فَيَقُولُونَ: “حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ”، فَيَقُولُ اللَّهُ: “ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ”.“Jika salah satu anak manusia meninggal, maka Allah akan bertanya kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?”. “Ya” jawab mereka. “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?”. Mereka menjawab lagi, “Ya”. “Apa yang diucapkan hamba-Ku?”. “Ia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!”. Maka Allah pun berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah dengan rumah pujian!”. HR. Tirmidzy dari Abu Musa radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Tirmidzy dan al-Albany.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1443 / 20 Juni 2022Diringkas oleh Abdullah Zaen dari berbagai sumber. Antara lain: Islamic Parenting, karya Jamal Abdurrahman (hal. 69-76). Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 164 MENYUSUI ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SAAT PANGGILAN ITU TIBA

SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SAAT PANGGILAN ITU TIBA

SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H

Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H

Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H

Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H

Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next