Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:4. BERTANGGUNG JAWABAnak merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada suatu rumah tangga. Sebuah keluarga tanpa anak, akan terasa amat sepi dan hambar. Kalau boleh diumpamakan, seperti masakan tanpa bumbu.Betapa banyak orang yang menanti kehadiran si jabang bayi selama puluhan tahun, ternyata Allah belum berkenan untuk mengaruniakan sang buah hati. Karena hikmah yang diinginkan-Nya, yang barangkali salah satunya adalah orang tersebut dinilai Allah belum siap untuk menjadi bapak atau ibu.“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Jadi, manakala Allah telah mengaruniakan anak kepada kita, bisa jadi itu pertanda bahwa kita telah harus siap untuk menjadi orang tua. Seberapapun jumlah anak yang Allah karuniakan kepada kita, maka sebenarnya kita harus telah siap untuk menanganinya. Sebab Allah tidak mungkin membebani hamba-Nya melebihi kemampuan-Nya. (Baca: QS. Al-Baqarah: 286).Sebagai orang yang mendapatkan amanah, apalagi dari Allah ta’ala, maka kita harus menjalankan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab.“أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، …“.“Ketahuilah, kalian semua adalah penanggungjawab dan seluruh kalian akan ditanya tentang tanggung jawabnya … Seorang lelaki penanggungjawab atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita penanggungjawab atas anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka …”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma.Jadi manakala mendidik anak, kita harus senantiasa berusaha menghadirkan perasaan tanggung jawab terhadap amanah yang Allah berikan kepada kita. Bukan hanya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan duniawi sang anak. Namun yang lebih penting dari itu adalah tanggung jawab dalam pendidikan agama dan perilaku kesehariannya.Rasa tanggung jawab ini, akan mendorong kita untuk mengerahkan segala daya dan upaya, serta apapun yang kita miliki demi kesuksesan pendidikan anak. Tanpa perasaan itu, semangat akan mengendur dan segala aktifitas dalam mendidik anak akan terasa menjadi sebuah beban yang amat berat!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Syawal 1434 / 19 Agustus 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 12: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik:5. SABARSabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh aplikasi kesabaranSabar dalam membiasakan perilaku baikterhadap anakAnak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه”“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insyaAllah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.Sabar dalam menghadapi pertanyaananakMenghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa.Sabar menjadi pendengar yang baikBanyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.Sabar manakala emosi memuncakHendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1434 / 2 September 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 13: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-4*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6

Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Diantara karakter yang harus dimiliki pendidik: Lemah LembutInilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manutsia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan. Terlebih lagi jiwa anak yang masih polos dan lugu. Setiap anak sangat merindukan sosok pendidik yang ramah dan lemah lembut. Sebaliknya, jiwa si anak akan pobi dengan karakter pendidik yang kasar dan kejam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pendidik yang penuh kelembutan.Sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya, sikap kasar akan membawa keburukan. Di samping itu, sikap kasar dapate meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan anak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ““Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala urusan”. HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,“إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ”“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan sesuatu yang tidak Dia berikan kepada selainnya”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Di lain kesempatan beliau menyampaikan,“إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ““Sesungguhnya segala sesuatu yang kemasukan sifat lemah lembut, pasti akan terlihat indah. Sebaliknya bila kehilangan sifat lemah lembut, pasti akan membuatnya buruk”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.Sifat lemah lembut ini akan membuat anak menjadi nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Secara tidak langsung, sifat lemah lembut ini akan mewarnai karakter anak dan insyaAllah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepada dia. Jika demikian halnya, tentu orang pertama yang akan merasakan kebaikannya adalah kedua orang tua.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 14: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian -5Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*

Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara karakter yang harus dimiliki pendidik:8. LUNAK DAN FLEKSIBELLunak dan fleksibel bukan maksudnya lemah dan tidak tegas. Namun harus dipahami secara luas dan menyeluruh. Maksudnya di sini lebih mengarah kepada sikap mempermudah urusan dan tidak mempersulitnya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,“يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا“.“Permudahlah dan jangan membuat sulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.Maka hendaknya seorang pendidik memilih kemudahan yang dibolehkan oleh syariat. Misalnya jika dihadapkan dua pilihan, antara dua jenis sanksi; maka pendidik yang bijak akan memilih yang paling ringan, selama hal itu bukan perkara yang haram.Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,“مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا؛ مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ“.“Tidaklah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan pada dua pilihan, melainkan beliau pasti memilih yang paling ringan (mudah), selama hal itu bukan dosa. Jika itu dosa, niscaya beliau menjadi orang yang paling jauh darinya”. HR. Bukhari dan Muslim.Karakter tersebut di atas merupakan salah satu sifat yang akan menyelamatkan seseorang dari api neraka. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,“أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ“.“Maukah kalian kuberitahu tentang orang yang yang haram bagi neraka atau neraka haram baginya? Yakni setiap orang yang mudah dekat dengan orang lain, lunak (flesibel) dan mudah (bergaul)”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Flesibilitas pendidik bukan berkonotasi menggampangkan segala hal, namun juga tidak boleh ia selalu bersifat saklek (kaku). Yang benar adalah bersikap seimbang, proporsional dan pertengahan. Sebuah sikap yang seharusnya menjadi ciri khas setiap muslim dalam segala urusannya, duniawi maupun ukhrawi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Muharram 1435 / 11 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 15: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK*

Seringkali kita menjumpai sebagian orang tua yang manakala anaknya nakal, mereka langsung melontarkan tuduhan miring kepada pihak sekolahan. Menyalahkan para guru dan mencap mereka sebagai biang kerok kenakalan anaknya. Atau beralasan, “Anak saya nakal karena terpengaruh lingkungan pergaulan teman-temannya”.Yang jadi pertanyaan, mengapa anak tersebut lebih terpengaruh teman daripada terpengaruh orang tuanya? Bukankah jasa besar orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya, seharusnya membuat anak lebih terpengaruh orang tua? Terlebih, sejatinya anak-anak menghabiskan waktu sejak 0-18 tahun pertamanya lebih banyak dengan orang-orang terdekatnya dalam keluarga, bukan dengan orang lain. Lalu, mengapa mereka yang baru mengenal orang lain (teman-teman sepergaulan), kok jadi lebih banyak dipengaruhi orang lain ini daripada orang-orang dekat yang ada di keluarganya?Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih berintrospeksi diri, sudahkah rumah menjadi media pendidikan yang baik untuk anak-anak kita?Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka si anak akan jatuh dalam ‘pendidikan-pendidikan’ di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Sehingga lahirlah anak-anak berstatus broken home.Ayah dan ibunya tidak mengacuhkannya di rumah, karena kesibukan masing-masing. Si ayah bekerja di kantor, sedangkan si ibu juga sibuk berkarir di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak di rumah pun terbengkalai. Sehingga anak mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. ‘Serigala-serigala’ buas pun sudah siap untuk memangsa sang buah hati.Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah di rumah. Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup terhadap mereka. Jangan sampai merasa dicuekin oleh orang tuanya.Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah, sebelum melepas anaknya ke luar. Maka dalam hal ini, suasana rumah yang islami amat membantu keberhasilan orang tua dalam mendidik putra-putrinya.Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:Di dalamnya anggoa keluarga bekumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan. Sehingga membantu mereka untuk menirunya.Penyampaian nasehat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak, akan lebih besar pengaruh positifnya bagi jiwa anak.Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama. Hal ini akan membangkitkan keberanian untuk menumbuhkan budaya saling menasehati.Memanfaatkan berbagai media islami untuk membantu pendidikan anak.Tulisan ini bukan sama sekali untuk mengatakan tidak perlunya anak masuk ke sekolahan di luar. Namun tulisan ini hanya untuk menggugah kesadaran kita bersama bahwa rumah adalah sekolah pertama anak yang amat menentukan keberhasilan pendidikan mereka selanjutnya. Semoga bisa menginspirasi!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Muharram 1435 / 25 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK*

Seringkali kita menjumpai sebagian orang tua yang manakala anaknya nakal, mereka langsung melontarkan tuduhan miring kepada pihak sekolahan. Menyalahkan para guru dan mencap mereka sebagai biang kerok kenakalan anaknya. Atau beralasan, “Anak saya nakal karena terpengaruh lingkungan pergaulan teman-temannya”.Yang jadi pertanyaan, mengapa anak tersebut lebih terpengaruh teman daripada terpengaruh orang tuanya? Bukankah jasa besar orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya, seharusnya membuat anak lebih terpengaruh orang tua? Terlebih, sejatinya anak-anak menghabiskan waktu sejak 0-18 tahun pertamanya lebih banyak dengan orang-orang terdekatnya dalam keluarga, bukan dengan orang lain. Lalu, mengapa mereka yang baru mengenal orang lain (teman-teman sepergaulan), kok jadi lebih banyak dipengaruhi orang lain ini daripada orang-orang dekat yang ada di keluarganya?Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih berintrospeksi diri, sudahkah rumah menjadi media pendidikan yang baik untuk anak-anak kita?Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka si anak akan jatuh dalam ‘pendidikan-pendidikan’ di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Sehingga lahirlah anak-anak berstatus broken home.Ayah dan ibunya tidak mengacuhkannya di rumah, karena kesibukan masing-masing. Si ayah bekerja di kantor, sedangkan si ibu juga sibuk berkarir di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak di rumah pun terbengkalai. Sehingga anak mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. ‘Serigala-serigala’ buas pun sudah siap untuk memangsa sang buah hati.Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah di rumah. Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup terhadap mereka. Jangan sampai merasa dicuekin oleh orang tuanya.Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah, sebelum melepas anaknya ke luar. Maka dalam hal ini, suasana rumah yang islami amat membantu keberhasilan orang tua dalam mendidik putra-putrinya.Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:Di dalamnya anggoa keluarga bekumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan. Sehingga membantu mereka untuk menirunya.Penyampaian nasehat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak, akan lebih besar pengaruh positifnya bagi jiwa anak.Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama. Hal ini akan membangkitkan keberanian untuk menumbuhkan budaya saling menasehati.Memanfaatkan berbagai media islami untuk membantu pendidikan anak.Tulisan ini bukan sama sekali untuk mengatakan tidak perlunya anak masuk ke sekolahan di luar. Namun tulisan ini hanya untuk menggugah kesadaran kita bersama bahwa rumah adalah sekolah pertama anak yang amat menentukan keberhasilan pendidikan mereka selanjutnya. Semoga bisa menginspirasi!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Muharram 1435 / 25 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Seringkali kita menjumpai sebagian orang tua yang manakala anaknya nakal, mereka langsung melontarkan tuduhan miring kepada pihak sekolahan. Menyalahkan para guru dan mencap mereka sebagai biang kerok kenakalan anaknya. Atau beralasan, “Anak saya nakal karena terpengaruh lingkungan pergaulan teman-temannya”.Yang jadi pertanyaan, mengapa anak tersebut lebih terpengaruh teman daripada terpengaruh orang tuanya? Bukankah jasa besar orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya, seharusnya membuat anak lebih terpengaruh orang tua? Terlebih, sejatinya anak-anak menghabiskan waktu sejak 0-18 tahun pertamanya lebih banyak dengan orang-orang terdekatnya dalam keluarga, bukan dengan orang lain. Lalu, mengapa mereka yang baru mengenal orang lain (teman-teman sepergaulan), kok jadi lebih banyak dipengaruhi orang lain ini daripada orang-orang dekat yang ada di keluarganya?Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih berintrospeksi diri, sudahkah rumah menjadi media pendidikan yang baik untuk anak-anak kita?Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka si anak akan jatuh dalam ‘pendidikan-pendidikan’ di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Sehingga lahirlah anak-anak berstatus broken home.Ayah dan ibunya tidak mengacuhkannya di rumah, karena kesibukan masing-masing. Si ayah bekerja di kantor, sedangkan si ibu juga sibuk berkarir di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak di rumah pun terbengkalai. Sehingga anak mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. ‘Serigala-serigala’ buas pun sudah siap untuk memangsa sang buah hati.Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah di rumah. Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup terhadap mereka. Jangan sampai merasa dicuekin oleh orang tuanya.Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah, sebelum melepas anaknya ke luar. Maka dalam hal ini, suasana rumah yang islami amat membantu keberhasilan orang tua dalam mendidik putra-putrinya.Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:Di dalamnya anggoa keluarga bekumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan. Sehingga membantu mereka untuk menirunya.Penyampaian nasehat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak, akan lebih besar pengaruh positifnya bagi jiwa anak.Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama. Hal ini akan membangkitkan keberanian untuk menumbuhkan budaya saling menasehati.Memanfaatkan berbagai media islami untuk membantu pendidikan anak.Tulisan ini bukan sama sekali untuk mengatakan tidak perlunya anak masuk ke sekolahan di luar. Namun tulisan ini hanya untuk menggugah kesadaran kita bersama bahwa rumah adalah sekolah pertama anak yang amat menentukan keberhasilan pendidikan mereka selanjutnya. Semoga bisa menginspirasi!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Muharram 1435 / 25 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Seringkali kita menjumpai sebagian orang tua yang manakala anaknya nakal, mereka langsung melontarkan tuduhan miring kepada pihak sekolahan. Menyalahkan para guru dan mencap mereka sebagai biang kerok kenakalan anaknya. Atau beralasan, “Anak saya nakal karena terpengaruh lingkungan pergaulan teman-temannya”.Yang jadi pertanyaan, mengapa anak tersebut lebih terpengaruh teman daripada terpengaruh orang tuanya? Bukankah jasa besar orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya, seharusnya membuat anak lebih terpengaruh orang tua? Terlebih, sejatinya anak-anak menghabiskan waktu sejak 0-18 tahun pertamanya lebih banyak dengan orang-orang terdekatnya dalam keluarga, bukan dengan orang lain. Lalu, mengapa mereka yang baru mengenal orang lain (teman-teman sepergaulan), kok jadi lebih banyak dipengaruhi orang lain ini daripada orang-orang dekat yang ada di keluarganya?Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih berintrospeksi diri, sudahkah rumah menjadi media pendidikan yang baik untuk anak-anak kita?Rumah memiliki peran yang sangat sentral dalam pendidikan anak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu bermula dari rumah. Bila pendidikan dalam rumah tidak berjalan atau lemah, maka si anak akan jatuh dalam ‘pendidikan-pendidikan’ di luar rumah yang tidak jelas arahnya. Sehingga lahirlah anak-anak berstatus broken home.Ayah dan ibunya tidak mengacuhkannya di rumah, karena kesibukan masing-masing. Si ayah bekerja di kantor, sedangkan si ibu juga sibuk berkarir di luar rumah. Akibatnya pendidikan anak di rumah pun terbengkalai. Sehingga anak mencari pelampiasan kasih sayang di luar rumah. ‘Serigala-serigala’ buas pun sudah siap untuk memangsa sang buah hati.Kata kuncinya, jangan membuat anak tak betah di rumah. Berikan perhatian dan kasih sayang yang cukup terhadap mereka. Jangan sampai merasa dicuekin oleh orang tuanya.Intinya, orang tua harus menyiapkan pendidikan yang benar dari dalam rumah, sebelum melepas anaknya ke luar. Maka dalam hal ini, suasana rumah yang islami amat membantu keberhasilan orang tua dalam mendidik putra-putrinya.Rumah yang islami merupakan wadah pendidikan yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:Di dalamnya anggoa keluarga bekumpul bersama dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga terjalin kedekatan pribadi antara anak dengan orang tua dan saudara-saudaranya.Anak dapat melihat teladan dan panutan dalam ucapan maupun perbuatan. Sehingga membantu mereka untuk menirunya.Penyampaian nasehat atau pemberian hukuman di dalam rumah, bukan di hadapan orang banyak, akan lebih besar pengaruh positifnya bagi jiwa anak.Pengawasan yang kontinyu terhadap anggota keluarga dan saling mengawasi di antara sesama. Hal ini akan membangkitkan keberanian untuk menumbuhkan budaya saling menasehati.Memanfaatkan berbagai media islami untuk membantu pendidikan anak.Tulisan ini bukan sama sekali untuk mengatakan tidak perlunya anak masuk ke sekolahan di luar. Namun tulisan ini hanya untuk menggugah kesadaran kita bersama bahwa rumah adalah sekolah pertama anak yang amat menentukan keberhasilan pendidikan mereka selanjutnya. Semoga bisa menginspirasi!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Muharram 1435 / 25 November 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 17: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 8*Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1*

Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien.Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman,إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain.Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini.Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: Prolog Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 19: ANAK DAN RUKUN IMAN bag-1*

Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien.Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman,إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain.Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini.Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: Prolog Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien.Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman,إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain.Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini.Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: Prolog Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Orang tua seyogyanya berusaha mengajarkan ilmu agama sendiri kepada anak-anaknya. Agar mereka benar-benar menjadi anak hakiki orang tuanya, bukan sekedar menjadi anak biologisnya. Supaya bisa merealisasikan hal tersebut, maka para orang tua harus mengetahui hal-hal prinsip yang perlu diajarkan kepada anak pertama kali. Dalam agama kita, tentu yang dijadikan prioritas adalah rukun iman dan rukun islam. Berikut sedikit penjabaran tentang rukun iman. Semoga bisa sedikit membantu para orang tua dalam proses transfer ilmu agama kepada buah hati mereka, amien.Setiap bayi yang lahir, diciptakan Allah ta’ala di atas fitrah keimanan. Allah berfirman,إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan lurus. Setelah itu datanglah setan-setan yang menggelincirkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang sebenarnya Allah halalkan bagi mereka. Juga menyuruh mereka agar menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan tentangnya”. HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Yang dimaksud adalah fitrah Islam berupa tauhid dan pengetahuan tentang Rabbnya. Artinya, apabila bayi itu dibiarkan berkembang dengan sendirinya (tanpa ada pengaruh apa-apa), niscaya ia akan memilih jalan iman. Karena memang ia tercipta di atas karakter yang siap untuk menerima syariat. Andaikan saja ia dibiarkan terus di atas fitrah tersebut, maka ia tetap akan berpegang padanya, ia tidak akan melepasnya dan tidak cenderung kepada yang lain.Namun, karena bayi hidup di dunia ini tidak sendirian, banyak anasir-anasir luar yang mengintai untuk mempengaruhi mereka, maka orang tua harus siap siaga. Siap untuk membentengi anak dari faktor-faktor negatif luar. Caranya adalah mengajarkan keimanan kepada mereka sejak dini.Namun satu hal penting yang harus diingat oleh siapapun yang ingin mengajar anak kecil, ia harus menyesuaikan bahasa penyampaian dengan tingkat pemahaman anak. Ia perlu menggunakan bahasa yang simpel, ungkapan yang mudah dicerna, juga dibumbui dengan contoh-contoh nyata yang bisa ditangkap oleh anak. Jika tidak, maka proses pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.InsyaAllah pada beberapa kajian ke depan, kita akan mencoba belajar cara menyampaikan rukun iman dengan kepada anak dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Semoga bermanfaat! @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Shafar 1435 / 9 Desember 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 18: RUMAH, SEKOLAH ISTIMEWA ANAK*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: Prolog Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA*

Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara. Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Maka hal ini merupakan masalah serius yang harus dihadapi dengan serius pula.Cara Menanamkan Adab Bicara pada AnakMenanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak:Pertama: tanamkan akidah yang kuat. Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah ta’ala.Kedua: ajarkan keteladanan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam berbicara. Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya: selalu menyatakan kebenaran; tidak berdusta; jujur dalam perkataan; berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua; tidak banyak bicara, dsb.Ketiga: jangan bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya.Keempat: biasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila!, busyet!, monyet!, dasar bodoh!, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi; misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.Kelima: jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya ibu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.Keenam: bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan agama, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil, terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulangi-nya di lain waktu.Ketujuh: menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antar tetangga.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1435 / 13 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: PrologNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA*

Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara. Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Maka hal ini merupakan masalah serius yang harus dihadapi dengan serius pula.Cara Menanamkan Adab Bicara pada AnakMenanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak:Pertama: tanamkan akidah yang kuat. Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah ta’ala.Kedua: ajarkan keteladanan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam berbicara. Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya: selalu menyatakan kebenaran; tidak berdusta; jujur dalam perkataan; berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua; tidak banyak bicara, dsb.Ketiga: jangan bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya.Keempat: biasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila!, busyet!, monyet!, dasar bodoh!, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi; misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.Kelima: jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya ibu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.Keenam: bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan agama, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil, terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulangi-nya di lain waktu.Ketujuh: menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antar tetangga.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1435 / 13 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: PrologNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara. Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Maka hal ini merupakan masalah serius yang harus dihadapi dengan serius pula.Cara Menanamkan Adab Bicara pada AnakMenanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak:Pertama: tanamkan akidah yang kuat. Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah ta’ala.Kedua: ajarkan keteladanan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam berbicara. Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya: selalu menyatakan kebenaran; tidak berdusta; jujur dalam perkataan; berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua; tidak banyak bicara, dsb.Ketiga: jangan bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya.Keempat: biasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila!, busyet!, monyet!, dasar bodoh!, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi; misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.Kelima: jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya ibu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.Keenam: bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan agama, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil, terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulangi-nya di lain waktu.Ketujuh: menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antar tetangga.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1435 / 13 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: PrologNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara. Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Maka hal ini merupakan masalah serius yang harus dihadapi dengan serius pula.Cara Menanamkan Adab Bicara pada AnakMenanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak:Pertama: tanamkan akidah yang kuat. Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah ta’ala.Kedua: ajarkan keteladanan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam berbicara. Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya: selalu menyatakan kebenaran; tidak berdusta; jujur dalam perkataan; berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua; tidak banyak bicara, dsb.Ketiga: jangan bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya.Keempat: biasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila!, busyet!, monyet!, dasar bodoh!, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi; misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.Kelima: jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya ibu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.Keenam: bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan agama, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil, terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulangi-nya di lain waktu.Ketujuh: menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antar tetangga.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1435 / 13 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 1: PrologNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN*

Kejujuran adalah salah satu pilar terpenting dalam akhlak Islam. Diperlukan usaha keras untuk menanamkan dan mengokohkan sifat ini. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah meletakkan dasar yang kuat dalam masalah ini. Beliau menempatkan kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak-hak dalam muamalah kemanusiaan. Sehingga kedua orang tua juga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,” مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ ““Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”, lalu ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Namun, amat disayangkan, masih banyak orang tua yang menganggap remeh hal ini. Mereka menyepelekan masalah kejujuran dalam pergaulan bersama anak. Mudah berkata bohong, banyaknya perbuatan yang menyelisihi ucapan ataupun tidak menepati janji. Ini adalah perkara yang berbahaya bagi pembentukan karakter anak.Lantas bagaimanakah kiat membentuk kejujuran anak? Biasakan putra-putri anda untuk berbicara jujur. Ajarkan pada mereka pengertian jujur dan perbedaannya dengan bohong.Berkata jujur adalah menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa adanya. Tanpa ditambahi ataupun tidak dikurangi. Doronglah mereka untuk berlaku jujur. Dengan memberitahukan ganjaran dan dampak positifnya di dunia dan di akhirat. Misalnya dengan menyampaikan hadits berikut,“عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“.“Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yg jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan seorang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” HR. Muslim.Jangan lupa pula untuk menyanjung mereka saat berlaku jujur. Jadilah figur teladan yang baik bagi mereka dan jangan pernah berbohong. Apabila Anda terlanjur berbohong atau terbukti berbohong, maka akuilah bahwa Anda telah berbuat salah. Beristighfarlah, lalu mintalah maaf kepada mereka. Apabila Anda mengungkap kebohongan salah satu anak Anda, janganlah membeberkannya di hadapan umum. Tapi berilah ia peringatan dengan cara yang privasi. Tanyailah secara langsung dengan lembut dan tidak kasar, agar ia mau menjelaskan sebab-sebabnya. Selanjutnya atasilah sebab-sebab tersebut. Jauhkan putra-putri Anda dari teman yang buruk.Meskipun ia adalah anak kerabat dan keluarga. Seringlah menyuguhkan kisah-kisah tentang mulianya kejujuran dan buruknya kebohongan dengan cara yang menarik.Sehingga anak-anak Anda selalu memperhatikan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Muharram 1436 / 27 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN*

Kejujuran adalah salah satu pilar terpenting dalam akhlak Islam. Diperlukan usaha keras untuk menanamkan dan mengokohkan sifat ini. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah meletakkan dasar yang kuat dalam masalah ini. Beliau menempatkan kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak-hak dalam muamalah kemanusiaan. Sehingga kedua orang tua juga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,” مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ ““Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”, lalu ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Namun, amat disayangkan, masih banyak orang tua yang menganggap remeh hal ini. Mereka menyepelekan masalah kejujuran dalam pergaulan bersama anak. Mudah berkata bohong, banyaknya perbuatan yang menyelisihi ucapan ataupun tidak menepati janji. Ini adalah perkara yang berbahaya bagi pembentukan karakter anak.Lantas bagaimanakah kiat membentuk kejujuran anak? Biasakan putra-putri anda untuk berbicara jujur. Ajarkan pada mereka pengertian jujur dan perbedaannya dengan bohong.Berkata jujur adalah menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa adanya. Tanpa ditambahi ataupun tidak dikurangi. Doronglah mereka untuk berlaku jujur. Dengan memberitahukan ganjaran dan dampak positifnya di dunia dan di akhirat. Misalnya dengan menyampaikan hadits berikut,“عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“.“Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yg jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan seorang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” HR. Muslim.Jangan lupa pula untuk menyanjung mereka saat berlaku jujur. Jadilah figur teladan yang baik bagi mereka dan jangan pernah berbohong. Apabila Anda terlanjur berbohong atau terbukti berbohong, maka akuilah bahwa Anda telah berbuat salah. Beristighfarlah, lalu mintalah maaf kepada mereka. Apabila Anda mengungkap kebohongan salah satu anak Anda, janganlah membeberkannya di hadapan umum. Tapi berilah ia peringatan dengan cara yang privasi. Tanyailah secara langsung dengan lembut dan tidak kasar, agar ia mau menjelaskan sebab-sebabnya. Selanjutnya atasilah sebab-sebab tersebut. Jauhkan putra-putri Anda dari teman yang buruk.Meskipun ia adalah anak kerabat dan keluarga. Seringlah menyuguhkan kisah-kisah tentang mulianya kejujuran dan buruknya kebohongan dengan cara yang menarik.Sehingga anak-anak Anda selalu memperhatikan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Muharram 1436 / 27 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Kejujuran adalah salah satu pilar terpenting dalam akhlak Islam. Diperlukan usaha keras untuk menanamkan dan mengokohkan sifat ini. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah meletakkan dasar yang kuat dalam masalah ini. Beliau menempatkan kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak-hak dalam muamalah kemanusiaan. Sehingga kedua orang tua juga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,” مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ ““Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”, lalu ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Namun, amat disayangkan, masih banyak orang tua yang menganggap remeh hal ini. Mereka menyepelekan masalah kejujuran dalam pergaulan bersama anak. Mudah berkata bohong, banyaknya perbuatan yang menyelisihi ucapan ataupun tidak menepati janji. Ini adalah perkara yang berbahaya bagi pembentukan karakter anak.Lantas bagaimanakah kiat membentuk kejujuran anak? Biasakan putra-putri anda untuk berbicara jujur. Ajarkan pada mereka pengertian jujur dan perbedaannya dengan bohong.Berkata jujur adalah menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa adanya. Tanpa ditambahi ataupun tidak dikurangi. Doronglah mereka untuk berlaku jujur. Dengan memberitahukan ganjaran dan dampak positifnya di dunia dan di akhirat. Misalnya dengan menyampaikan hadits berikut,“عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“.“Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yg jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan seorang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” HR. Muslim.Jangan lupa pula untuk menyanjung mereka saat berlaku jujur. Jadilah figur teladan yang baik bagi mereka dan jangan pernah berbohong. Apabila Anda terlanjur berbohong atau terbukti berbohong, maka akuilah bahwa Anda telah berbuat salah. Beristighfarlah, lalu mintalah maaf kepada mereka. Apabila Anda mengungkap kebohongan salah satu anak Anda, janganlah membeberkannya di hadapan umum. Tapi berilah ia peringatan dengan cara yang privasi. Tanyailah secara langsung dengan lembut dan tidak kasar, agar ia mau menjelaskan sebab-sebabnya. Selanjutnya atasilah sebab-sebab tersebut. Jauhkan putra-putri Anda dari teman yang buruk.Meskipun ia adalah anak kerabat dan keluarga. Seringlah menyuguhkan kisah-kisah tentang mulianya kejujuran dan buruknya kebohongan dengan cara yang menarik.Sehingga anak-anak Anda selalu memperhatikan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Muharram 1436 / 27 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Kejujuran adalah salah satu pilar terpenting dalam akhlak Islam. Diperlukan usaha keras untuk menanamkan dan mengokohkan sifat ini. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah meletakkan dasar yang kuat dalam masalah ini. Beliau menempatkan kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak-hak dalam muamalah kemanusiaan. Sehingga kedua orang tua juga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,” مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ ““Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”, lalu ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Namun, amat disayangkan, masih banyak orang tua yang menganggap remeh hal ini. Mereka menyepelekan masalah kejujuran dalam pergaulan bersama anak. Mudah berkata bohong, banyaknya perbuatan yang menyelisihi ucapan ataupun tidak menepati janji. Ini adalah perkara yang berbahaya bagi pembentukan karakter anak.Lantas bagaimanakah kiat membentuk kejujuran anak? Biasakan putra-putri anda untuk berbicara jujur. Ajarkan pada mereka pengertian jujur dan perbedaannya dengan bohong.Berkata jujur adalah menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa adanya. Tanpa ditambahi ataupun tidak dikurangi. Doronglah mereka untuk berlaku jujur. Dengan memberitahukan ganjaran dan dampak positifnya di dunia dan di akhirat. Misalnya dengan menyampaikan hadits berikut,“عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“.“Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yg jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan seorang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” HR. Muslim.Jangan lupa pula untuk menyanjung mereka saat berlaku jujur. Jadilah figur teladan yang baik bagi mereka dan jangan pernah berbohong. Apabila Anda terlanjur berbohong atau terbukti berbohong, maka akuilah bahwa Anda telah berbuat salah. Beristighfarlah, lalu mintalah maaf kepada mereka. Apabila Anda mengungkap kebohongan salah satu anak Anda, janganlah membeberkannya di hadapan umum. Tapi berilah ia peringatan dengan cara yang privasi. Tanyailah secara langsung dengan lembut dan tidak kasar, agar ia mau menjelaskan sebab-sebabnya. Selanjutnya atasilah sebab-sebab tersebut. Jauhkan putra-putri Anda dari teman yang buruk.Meskipun ia adalah anak kerabat dan keluarga. Seringlah menyuguhkan kisah-kisah tentang mulianya kejujuran dan buruknya kebohongan dengan cara yang menarik.Sehingga anak-anak Anda selalu memperhatikan.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Muharram 1436 / 27 Oktober 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 39: ANAK DAN ADAB BERBICARA*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1

Alangkah baiknya kita mengetahui faktor-faktor yang mendorong anak berbohong dan bagaimana cara mengatasinya. Sehingga kita bisa dengan bahagia berkata, “Anakku tak suka bohong”.Di antara faktor pendorong anak berbohong: Tidak mengetahui hukum berbohong dan akibatnyaAnak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral. Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia, mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada, mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.Biasanya setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”. Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.Solusi untuk mengatasi hal ini, jelaskan kepadanya makna, hukum dan akibat berbohong di dunia dan akhirat sejak dini. Lalu awasi anak dan berikan dukungan ketika ia berbicara jujur, serta peringatkan segera dengan lembut jika ia berbohong. Sebagai kebiasaan yang diperolehIni sering terjadi pada anak yang hidup di tengah keluarga yang suka berbohong, baik ayah, ibu ataupun saudara-saudaranya. Sehingga anak belajar bohong sejak usia dini. Akibatnya, kebohongan menjadi suatu yang lumrah dan tidak tercela dalam keluarga tersebut. sebab, masing-masing pernah membohongi dan dibohongi yang lain.Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat di sana.Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk pulang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.Solusi untuk mengatasi hal ini, tak ada cara lain selain menghilangkan kebiasaan buruk tersebut dalam keluarga. Dengan melatih seluruh anggota keluarga berperilaku jujur.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1436 / 10 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1

Alangkah baiknya kita mengetahui faktor-faktor yang mendorong anak berbohong dan bagaimana cara mengatasinya. Sehingga kita bisa dengan bahagia berkata, “Anakku tak suka bohong”.Di antara faktor pendorong anak berbohong: Tidak mengetahui hukum berbohong dan akibatnyaAnak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral. Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia, mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada, mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.Biasanya setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”. Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.Solusi untuk mengatasi hal ini, jelaskan kepadanya makna, hukum dan akibat berbohong di dunia dan akhirat sejak dini. Lalu awasi anak dan berikan dukungan ketika ia berbicara jujur, serta peringatkan segera dengan lembut jika ia berbohong. Sebagai kebiasaan yang diperolehIni sering terjadi pada anak yang hidup di tengah keluarga yang suka berbohong, baik ayah, ibu ataupun saudara-saudaranya. Sehingga anak belajar bohong sejak usia dini. Akibatnya, kebohongan menjadi suatu yang lumrah dan tidak tercela dalam keluarga tersebut. sebab, masing-masing pernah membohongi dan dibohongi yang lain.Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat di sana.Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk pulang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.Solusi untuk mengatasi hal ini, tak ada cara lain selain menghilangkan kebiasaan buruk tersebut dalam keluarga. Dengan melatih seluruh anggota keluarga berperilaku jujur.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1436 / 10 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Alangkah baiknya kita mengetahui faktor-faktor yang mendorong anak berbohong dan bagaimana cara mengatasinya. Sehingga kita bisa dengan bahagia berkata, “Anakku tak suka bohong”.Di antara faktor pendorong anak berbohong: Tidak mengetahui hukum berbohong dan akibatnyaAnak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral. Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia, mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada, mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.Biasanya setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”. Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.Solusi untuk mengatasi hal ini, jelaskan kepadanya makna, hukum dan akibat berbohong di dunia dan akhirat sejak dini. Lalu awasi anak dan berikan dukungan ketika ia berbicara jujur, serta peringatkan segera dengan lembut jika ia berbohong. Sebagai kebiasaan yang diperolehIni sering terjadi pada anak yang hidup di tengah keluarga yang suka berbohong, baik ayah, ibu ataupun saudara-saudaranya. Sehingga anak belajar bohong sejak usia dini. Akibatnya, kebohongan menjadi suatu yang lumrah dan tidak tercela dalam keluarga tersebut. sebab, masing-masing pernah membohongi dan dibohongi yang lain.Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat di sana.Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk pulang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.Solusi untuk mengatasi hal ini, tak ada cara lain selain menghilangkan kebiasaan buruk tersebut dalam keluarga. Dengan melatih seluruh anggota keluarga berperilaku jujur.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1436 / 10 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Alangkah baiknya kita mengetahui faktor-faktor yang mendorong anak berbohong dan bagaimana cara mengatasinya. Sehingga kita bisa dengan bahagia berkata, “Anakku tak suka bohong”.Di antara faktor pendorong anak berbohong: Tidak mengetahui hukum berbohong dan akibatnyaAnak-anak memang tidak dilahirkan dengan kode moral. Moralitas adalah sesuatu yang dipelajari oleh seorang anak dalam tumbuh kembangnya secara bertahap dari tahun ke tahun. Dan perilaku berbohong adalah salah satu dari tahapan tersebut.Dalam tumbuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan-aturan sosial. Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa bicara.Rentang usia 4 sampai 9 tahun, anak-anak masih banyak hidup dengan khayalan-khayalan mereka. Mereka belum bisa membedakan yang mana khayalan dan mana kenyataan. Mereka sering beranggapan bahwa binatang bisa bicara layaknya manusia, mereka mengira bahwa hantu dan monster itu benar-benar ada, mereka yakin bahwa kartun-kartun animasi itu benar-benar hidup dan menjadi teman mereka. Dan sering kali mereka menempatkan diri mereka menjadi bagian dari khayalan tersebut.Biasanya setelah usia 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan “tidak boleh berbohong”. Mereka mulai memahami bahwa sesuatu yang bukan sebenarnya itu berarti berbohong. Namun mereka masih memilah dan memilih, atau mempertimbangkan kapan mereka bisa berbohong atau tidak. Dalam artian, mereka belum benar-benar faham bahwa berbohong itu tercela. Karena ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.Solusi untuk mengatasi hal ini, jelaskan kepadanya makna, hukum dan akibat berbohong di dunia dan akhirat sejak dini. Lalu awasi anak dan berikan dukungan ketika ia berbicara jujur, serta peringatkan segera dengan lembut jika ia berbohong. Sebagai kebiasaan yang diperolehIni sering terjadi pada anak yang hidup di tengah keluarga yang suka berbohong, baik ayah, ibu ataupun saudara-saudaranya. Sehingga anak belajar bohong sejak usia dini. Akibatnya, kebohongan menjadi suatu yang lumrah dan tidak tercela dalam keluarga tersebut. sebab, masing-masing pernah membohongi dan dibohongi yang lain.Contoh kecil, saat seorang ibu ingin mengalihkan perhatian anakknya atau menghentikan tangis anaknya, ibu itu berkata, “Eh, lihat itu ada cicak!” atau “Eh, lihat ada pesawat terbang!”. Padahal sesungguhnya tidak ada cicak atau pesawat di sana.Contoh lagi, saat ada tamu atau telpon, sedangkan ibu atau ayah sedang menghindari orang yang bertamu atau telpon tersebut, ibu akan mengatakan, “Bilang saja ibu nggak ada di rumah…”. Padahal ibu jelas-jelas ada di rumah.Atau, saat hendak mengajarkan anak berpisah dari orang tua saat di sekolah, ibu berjanji pada anaknya yang belum mau ditinggal untuk menunggu di luar kelas. Tapi, ternyata setelah anak masuk, sang ibu pergi untuk pulang hingga datang kembali untuk menjemput sang anak.Solusi untuk mengatasi hal ini, tak ada cara lain selain menghilangkan kebiasaan buruk tersebut dalam keluarga. Dengan melatih seluruh anggota keluarga berperilaku jujur.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1436 / 10 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 40: ANAK DAN KEJUJURAN*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Sebagai gurauanTentu Anda semua tahu jenis bohong yang satu ini. Sebagian orang sengaja bohong dengan dalih bergurau. Mereka lupa bahwa kebohongan adalah satu keburukan dan tetap dinamakan kebohongan, baik serius atau bergurau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selalu berkata benar walaupun saat bercanda. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tentu. Hanya saja aku selalu berkata jujur”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Anas radhiyallahu’anhu menuturkan pada kita salah satu bentuk canda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai pemilik dua telinga!”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy dan al-Albany.Adapun cara mengatasi kebiasaan berbohong dalam candaan adalah: dengan tidak mendorong anak-anak berbohong, tidak tertawa karena gurauan atau humor seperti ini, serta memberikan alternatif lainnya. Menghindari hukuman dan mencari keselamatanAnak kecil adakalanya belajar bahwa kebohongan mampu menghindarkan dari hukuman atau larangan orang tua. Terutama bagi orang tua yang enggan berdialog dan mengidentifikasi permasalahan. Juga tidak memberi kesempatan belajar, enggan memaafkan atau menerima alasan.Bohong semacam ini seringkali terjadi dalam keluarga yang berlebihan dalam menerapkan aturan terlalu ketat dan senang menakut-nakuti serta mengancam dengan berbagai sanksi.Untuk mengatasi hal ini: perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah? Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini.Jangan selalu fokus dengan hukumanSaat si kecil berbohong, jangan langsung memikirkan akan menghukum anak. Karena, sikap orangtua seperti ini, justru akan membuat anak semakin sering berbohong untuk menghindari hukuman.Ubah kebiasan tersebut dengan menerapkan konsekuensi. Bahwa setiap perilaku anak yang negatif dan positif ada konsekuensinya. Termasuk ketika anak ketahuan berbohong maka konsekuensi yang harus diterima anak adalah belajar untuk meminta maaf dan tidak mengulang perilaku tersebut.Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan ‘adil’. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Shafar 1436 / 24 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Sebagai gurauanTentu Anda semua tahu jenis bohong yang satu ini. Sebagian orang sengaja bohong dengan dalih bergurau. Mereka lupa bahwa kebohongan adalah satu keburukan dan tetap dinamakan kebohongan, baik serius atau bergurau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selalu berkata benar walaupun saat bercanda. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tentu. Hanya saja aku selalu berkata jujur”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Anas radhiyallahu’anhu menuturkan pada kita salah satu bentuk canda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai pemilik dua telinga!”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy dan al-Albany.Adapun cara mengatasi kebiasaan berbohong dalam candaan adalah: dengan tidak mendorong anak-anak berbohong, tidak tertawa karena gurauan atau humor seperti ini, serta memberikan alternatif lainnya. Menghindari hukuman dan mencari keselamatanAnak kecil adakalanya belajar bahwa kebohongan mampu menghindarkan dari hukuman atau larangan orang tua. Terutama bagi orang tua yang enggan berdialog dan mengidentifikasi permasalahan. Juga tidak memberi kesempatan belajar, enggan memaafkan atau menerima alasan.Bohong semacam ini seringkali terjadi dalam keluarga yang berlebihan dalam menerapkan aturan terlalu ketat dan senang menakut-nakuti serta mengancam dengan berbagai sanksi.Untuk mengatasi hal ini: perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah? Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini.Jangan selalu fokus dengan hukumanSaat si kecil berbohong, jangan langsung memikirkan akan menghukum anak. Karena, sikap orangtua seperti ini, justru akan membuat anak semakin sering berbohong untuk menghindari hukuman.Ubah kebiasan tersebut dengan menerapkan konsekuensi. Bahwa setiap perilaku anak yang negatif dan positif ada konsekuensinya. Termasuk ketika anak ketahuan berbohong maka konsekuensi yang harus diterima anak adalah belajar untuk meminta maaf dan tidak mengulang perilaku tersebut.Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan ‘adil’. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Shafar 1436 / 24 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Sebagai gurauanTentu Anda semua tahu jenis bohong yang satu ini. Sebagian orang sengaja bohong dengan dalih bergurau. Mereka lupa bahwa kebohongan adalah satu keburukan dan tetap dinamakan kebohongan, baik serius atau bergurau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selalu berkata benar walaupun saat bercanda. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tentu. Hanya saja aku selalu berkata jujur”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Anas radhiyallahu’anhu menuturkan pada kita salah satu bentuk canda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai pemilik dua telinga!”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy dan al-Albany.Adapun cara mengatasi kebiasaan berbohong dalam candaan adalah: dengan tidak mendorong anak-anak berbohong, tidak tertawa karena gurauan atau humor seperti ini, serta memberikan alternatif lainnya. Menghindari hukuman dan mencari keselamatanAnak kecil adakalanya belajar bahwa kebohongan mampu menghindarkan dari hukuman atau larangan orang tua. Terutama bagi orang tua yang enggan berdialog dan mengidentifikasi permasalahan. Juga tidak memberi kesempatan belajar, enggan memaafkan atau menerima alasan.Bohong semacam ini seringkali terjadi dalam keluarga yang berlebihan dalam menerapkan aturan terlalu ketat dan senang menakut-nakuti serta mengancam dengan berbagai sanksi.Untuk mengatasi hal ini: perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah? Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini.Jangan selalu fokus dengan hukumanSaat si kecil berbohong, jangan langsung memikirkan akan menghukum anak. Karena, sikap orangtua seperti ini, justru akan membuat anak semakin sering berbohong untuk menghindari hukuman.Ubah kebiasan tersebut dengan menerapkan konsekuensi. Bahwa setiap perilaku anak yang negatif dan positif ada konsekuensinya. Termasuk ketika anak ketahuan berbohong maka konsekuensi yang harus diterima anak adalah belajar untuk meminta maaf dan tidak mengulang perilaku tersebut.Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan ‘adil’. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Shafar 1436 / 24 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Sebagai gurauanTentu Anda semua tahu jenis bohong yang satu ini. Sebagian orang sengaja bohong dengan dalih bergurau. Mereka lupa bahwa kebohongan adalah satu keburukan dan tetap dinamakan kebohongan, baik serius atau bergurau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selalu berkata benar walaupun saat bercanda. Beliau sering mengajak mereka bercanda dan bersenda gurau, mengambil hati mereka dan membuat mereka senang.Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tentu. Hanya saja aku selalu berkata jujur”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.Anas radhiyallahu’anhu menuturkan pada kita salah satu bentuk canda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai pemilik dua telinga!”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy dan al-Albany.Adapun cara mengatasi kebiasaan berbohong dalam candaan adalah: dengan tidak mendorong anak-anak berbohong, tidak tertawa karena gurauan atau humor seperti ini, serta memberikan alternatif lainnya. Menghindari hukuman dan mencari keselamatanAnak kecil adakalanya belajar bahwa kebohongan mampu menghindarkan dari hukuman atau larangan orang tua. Terutama bagi orang tua yang enggan berdialog dan mengidentifikasi permasalahan. Juga tidak memberi kesempatan belajar, enggan memaafkan atau menerima alasan.Bohong semacam ini seringkali terjadi dalam keluarga yang berlebihan dalam menerapkan aturan terlalu ketat dan senang menakut-nakuti serta mengancam dengan berbagai sanksi.Untuk mengatasi hal ini: perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah? Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini.Jangan selalu fokus dengan hukumanSaat si kecil berbohong, jangan langsung memikirkan akan menghukum anak. Karena, sikap orangtua seperti ini, justru akan membuat anak semakin sering berbohong untuk menghindari hukuman.Ubah kebiasan tersebut dengan menerapkan konsekuensi. Bahwa setiap perilaku anak yang negatif dan positif ada konsekuensinya. Termasuk ketika anak ketahuan berbohong maka konsekuensi yang harus diterima anak adalah belajar untuk meminta maaf dan tidak mengulang perilaku tersebut.Jika kita ingin memberikan anak hukuman karena kesalahannya, maka hukumlah dengan ‘adil’. Dalam artian, tidak setiap kesalahan anak harus mendapatkan hukuman yang berat. Lihat dan pertimbangkan seberapa berat kesalahan anak dan hukuman apa yang paling tepat untuknya.Misalnya, anak menumpahkan air. Ini adalah perkara yang sepele sebenarnya. Bisa jadi anak tidak sengaja melakukannya. Maka berikan ia konsekuensi, untuk mengambil lap dan mengeringkan airnya dengan bantuan Anda.Hukuman yang terlalu berat dan sering dapat menimbulkan rasa takut pada anak yang dapat mendorong anak untuk berbohong.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Shafar 1436 / 24 Nopember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 41: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 1Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*

Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*

Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*

Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*

Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next