Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 131 ORANG TUA SAHABAT ANAK – Bag-2 (Habis) Ayah dan ibu sebaiknya tidak hanya memposisikan diri sebagai orang tua. Namun juga memposisikan diri sebagai sahabat yang baik bagi putra-putrinya. Bagaimana langkah-langkah praktisnya? Berikut kelanjutan pembahasan tersebut:Keempat: Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak Menjadi sahabat artinya orang tua harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Caranya adalah dengan menemani anak bermain dan belajar secara telaten dan sabar. Sehingga Anda memahami kebiasaan serta karakter anak, kekurangan dan kelebihannya, situasi hatinya, serta apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Dengan demikian Anda akan mengetahui cara memasuki hatinya.Anak-anak sangat senang jika ibu atau ayah atau keduanya menemani berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan bangga dan percaya diri pada anak.Kelima: Berikan Penghargaan dan Hukuman Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan hukuman yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan tanpa aturan, tendangan serta tindakan lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati mereka, membuat merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam.Perhatikan, ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram, untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat, yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi hukuman jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang.Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya. Agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai dan lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur. Tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan, sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan mereka. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur. Tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.Keenam: Berikan Kepercayaan terhadap Anak Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya. Selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah yang membuat anak merasa tidak dipercaya.Sebaliknya, ada pula orang tua yang terlalu permisif. Sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta-pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua tidak akan disalahgunakan anak. Sebaliknya kondisi orang tua juga harus bisa dipercaya anak.Ketujuh: Jadilah Teladan bagi AnakAyah dan ibu hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasehat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasehat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1440 / 15 April 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 149: DAMPAK BURUK DOSANext KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU

Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADU

Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena itulah hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Kebanyakan memilih berada di dalam zona nyaman.Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,“مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan mematuhi perintahnya. Namun sesudah mereka muncul generasi yang mengucapkan apa yang tidak mereka praktekkan dan mempraktekkan apa yang tidak diajarkan. Barang siapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun”. HR. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.Urgensi IlmuNamun, bermodal keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar itu sangat memerlukan ilmu.Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah. Agar tidak terjerumus kepada kesalahan fatal.Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, justru malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta dampak baik dan dampak buruk.Betul, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu memiliki resiko. Namun saat akan menjalankan ibadah yang agung ini, seorang muslim seharusnya memperkirakan secara cermat level resiko tersebut.Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sekedar diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diperkirakan bakal berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, memicu huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?Jika ternyata justru pengingkaran kemungkaran akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,“Suatu hari seorang Arab Badui pernah memasuki Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam justru melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami”. HR. Bukhari dan Muslim.Kejadian ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Bukankah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?Beliau shallallahu alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.Di antaranya: bahaya bagi kesehatan si pelaku yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu kemungkinan auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meneruskan kencing, kemungkinan akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana dalam area masjid.Berarti akan memicu kemungkaran yang lebih besar bukan? Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.Mari padukan nyali dengan ilmu!Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019Abdullah Zaen Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 131: ORANG TUA SAHABAT ANAK Bagian 2 (Habis)Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBAT

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 150 MENYEGERAKAN TAUBATBerhubung manusia adalah tempatnya salah dan alpa, maka ia sangat membutuhkan taubat. Agar bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.Taubat berarti: kembali kepada Allah ta’ala. Kembali untuk konsisten menjalankan hal-hal yang dicintai-Nya serta menjauhi apa yang dibenci oleh-Nya. Diawali dengan meninggalkan dosa dan menyesalinya. Lalu bertekad bulat untuk tidak mengulanginya. Serta berniat kuat untuk istiqamah.Allah ta’ala berfirman,وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya: “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung”. QS. An-Nur (24): 31.Selain mendatangkan keberuntungan, taubat juga mengundang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَArtinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang yang menyucikan diri”. QS. Al-Baqarah (2): 222.Taubat itu wajib dilaksanakan oleh hamba dengan segera. Tidak boleh ditunda-tunda.Bahkan menurut Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), menunda taubat itu termasuk maksiat. Sehingga penundaan tersebut pun perlu untuk ditaubati. Maka dia wajib bertaubat dua kali. Taubat dari dosa yang dikerjakannya dan taubat dari penundaan taubat. Hal ini jarang kita sadari.Solusi untuk menghindari itu adalah dengan bertaubat secara umum. Maksudnya bertaubat atas semua dosa, yang disadari maupun yang tidak disadari. Sungguh dosa-dosa yang tidak kita sadari lebih banyak dibanding yang kita sadari. Ketidaktahuan seseorang bahwa itu dosa, tidak bisa dijadikan alasan. Selama ia mampu untuk belajar. Bahkan dosa dia menjadi dobel. Dosa tidak mau menuntut ilmu dan dosa tidak mengamalkan ilmu.Maka di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah,اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kusadari. Serta aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kusadari”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Jadi seorang hamba berkewajiban untuk menyegerakan taubat. Sebab dia tidak tahu kapan ajal datang menjemput. Bila nyawa sudah sampai di kerongkongan, saat itu taubat tidak lagi diterima.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke kerongkongan”. HR. Ahmad dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan adz-Dzahabiy.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rajab 1440 / 11 Maret 2019 Post navigation Previous KETIKA NYALI DAN ILMU BERPADUNext KITA SATU BANGUNAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KITA SATU BANGUNAN

KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KITA SATU BANGUNAN

KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


KITA SATU BANGUNAN Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAAntara Teori dan PraktekTeori dan praktek adalah dua sejoli yang tak terpisahkan. Agar suatu praktek menjadi benar, memerlukan teori yang tepat. Namun teori yang tepat saja kurang bermanfaat, bila tidak dipraktekkan dengan benar. Apalagi bila tidak dipraktekkan sama sekali. “Ah, teori!”.Persaudaraan dan kerukunan adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Agar bisa berjalan dengan baik.Banyak konsep yang ditawarkan untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, tak diragukan lagi bahwa konsep terbaik adalah yang diajarkan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab memiliki jaminan mutu dan tidak mungkin keliru. Ditambah telah terbukti ampuh menghasilkan generasi emas yang damai. Contohnya kerukunan antara kaum Muhajirin dan Anshar di masa para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbagai kisah riil keajaiban persaudaraan antara mereka amat mudah ditemukan dalam literatur sejarah.Konsep Jelas dan AplikatifKonsep persaudaraan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas dan gamblang. Yang lebih penting lagi, konsep tersebut amat aplikatif.Dalam hadits yang sahih disebutkan,عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menyampaikan, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kaum mukminin itu bagaikan satu bangunan. Saling menguatkan”. Lalu beliau menjalin jari jemarinya. HR. Bukhari dan Muslim.Kita adalah satu bangunan yang saling melengkapi.Tembok tidak boleh merasa kuat sendiri. Sebab dia pasti membutuhkan atap, walaupun hanya terbuat dari seng. Untuk melindunginya dari hujan dan panas. Agar tidak cepat lapuk.Atap juga tidak boleh merasa paling hebat, mentang-mentang ia paling tinggi. Karena tanpa adanya tiang penyangga, dia tidak mungkin bisa bertengger di atas.Bahkan sebuah rumah yang megah dan dipuji-puji keindahannya oleh banyak orang, tidak boleh merasa sombong. Karena ada pihak yang sangat berjasa, yang menentukan kokoh tidaknya bangunan itu. Yaitu pondasi. Walaupun ia tidak terlihat.Begitulah seharusnya sikap kita kepada sesama orang beriman. Saling melengkapi, melindungi dan menguatkan.Saling Mengingatkan dengan BaikManusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka konsekwensi persaudaraan adalah saling mengingatkan dan memaafkan. Namun jangan lupa, dalam mengingatkan pun juga harus dengan cara yang baik dan benar. Supaya semakin mendekatkan bukan menjauhkan.@ Pesantren Tunas Ilmu Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu, 25 Syawal 1440 H /29 Juni 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 150: MENYEGERAKAN TAUBATNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR

Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJAR

Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang malas belajar.Mengapa bisa terjadi kondisi demikian? Padahal anak itu aslinya suka belajar.Bisa jadi problematika ini bersumber kepada: pemahaman keliru orang tua tentang makna belajar.Bukan Hanya Prestasi AkademisBelajar adalah proses usaha untuk memperoleh ilmu. Berarti sangat luas cakupannya. Meliputi cara belajar yang bermacam-macam dan beragam ilmu yang dipelajari.Tidak sedikit orang tua yang mempersempit makna belajar. Menurut mereka belajar itu terbatas pada segala hal yang berbau akademis saja. Sehingga pencapaiannya dinilai hanya dari angka di rapor.Bagi mereka, anak dinyatakan berhasil bila ulangan di sekolah mendapat nilai 9 atau 10. Tanpa peduli dengan cara apa dia mencapainya. Padahal bisa saja anak cuma mendapat nilai 6, tapi itu hasil usaha sendiri. Dia tahu beberapa temannya mencontek pada saat ulangan. Sebenarnya dia juga bisa melakukan hal serupa. Tetapi tidak mau. Sebab mencontek adalah perbuatan salah. Dia ingat cerita-cerita Bapak Guru tentang kejujuran, dan betapa Allah Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.Sebagian orang tua belum bisa memahami bahwa dalam bermain pun ada proses belajar. Saat anak bermain bersama teman-teamnnya, dia belajar memimpin dan dipimpin. Belajar bahwa sikap mau menang sendiri membuat teman-teman menjauh. Belajar tentang konsekwensi buruk merebut mainan, mengejek dan memukul teman.Berbagai pengalaman berharga ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupan masa depannya. Kelak dia akan mengembangkan kemampuan menghargai hak-hak orang lain. Merasakan empati terhadap sesama. Bekerja sama dengan teman-teman dan menyelesaikan konflik secara damai.Jadi, saat anak bermain pun, sebenarnya ia juga belajar. Belajar seni berinteraksi dengan orang lain.Belajar Perlu KeseriusanNamun hendaknya tidak dipahami dari keterangan di atas, bahwa orang tua membiarkan anaknya selalu bermain. Bahkan saat belajar pun anak dibiarkan bermain, sehingga tidak konsentrasi.Belajar itu identik dengan keseriusan dan kesungguhan. Sedangkan bermain identik dengan bersenang-senang dan kesantaian.Sejak dini anak perlu dipahamkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, terlebih ilmu agama, itu membutuhkan kesungguhan dan ketekunan. Allah ta’ala berfirman,“يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا“Artinya: “Wahai Yahya! Pelajarilah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”. QS. Maryam (19): 12.Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ayat “Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak”, maksudnya adalah: pemahaman, ilmu, semangat, tekad, menyambut kebaikan, serius menjalaninya dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Sejak usia belia”.Keterangan ini menunjukkan bahwa belajar agama itu memerlukan kesungguhan, keseriusan dan tekad yang kuat. Walaupun anak masih kecil. Caranya adalah dengan menanamkan pemahaman ini kepada anak dan pembiasaan secara kontinyu.Ada Waktunya Anak BermainPenjelasan di atas tidak boleh dipahami bahwa anak harus dikekang dan dilarang bermain. Justru malah bermain itu bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Namun anak perlu tahu kapan dia harus belajar dan kapan dia boleh bermain. Juga perlu dipahamkan kepada dia bahwa semakin bertambah usia, porsi belajar seharusnya semakin tinggi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019 Post navigation Previous KITA SATU BANGUNANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK

Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAK

Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di dalam sebuah keluarga selalu ada aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Ini diperlukan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing.Menerapkan aturan pada anak-anak bukanlah sesuatu yang mudah, terutama ketika mereka memasuki masa remaja. Banyak orangtua yang merasa kewalahan ketika harus menerapkan aturan kepada anaknya. Salah satu alasannya adalah anak-anak cenderung mengabaikan aturan yang telah dibuat oleh orangtuanya.Tetapi bagaimanapun juga, sebagai orangtua, Anda harus bisa menerapkan aturan dan disiplin kepada anak. Meskipun masih kecil. Berikut beberapa tips membuat dan menerapkan aturan dalam keluarga: Sepakati BersamaDalam menetapkan aturan, pastikan aturan tersebut dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin membuat aturan yang efektif, libatkan anak Anda dalam membuat aturan. Diskusikan dan tanyakan pendapatnya. Anda bisa mulai dengan membuat beberapa aturan sederhana. Seperti kapan waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu belajar dan lain-lain.Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada aturan, sekaligus melatih mereka agar terbiasa berdisiplin. Hindari membuat aturan secara sepihak atau diktator, yang hanya berpihak kepada orantua. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya rasa percaya anak terhadap orangtua. Tentukan KonsekuensiSelain menetapkan aturan, Anda perlu menetapkan konsekuensi atau hukuman. Anda harus tahu bagaimana cara mengatasi anak ketika mereka melanggar aturan, dan menetapkan konsekuensinya. Anda bisa memulai dengan memberi hukuman yang ringan ketika anak melanggar aturan.Contohnya, dengan membatasi waktu mereka bermain, atau mengurangi uang jajan. Segala sesuatu yang berlebihan pada dasarnya tidak baik. Karena itu janganlah membuat konsekuensi yang terlalu keras. Berikan PenjelasanBerikutnya Anda perlu memberi penjelasan tentang semua aturan tersebut kepada anak. Ketika anak mendapat penjelasan, diharapkan mereka mengerti apa saja yang harus dipatuhi, alasan dan manfaatnya, serta konsekuensi melanggarnya.Anda juga dapat membuat perubahan pada aturan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan anak. Karena hal itu akan membuat anak merasa dihargai. Selalu KonsistenKonsistensi mutlak dibutuhkan dalam menerapkan aturan. Agar aturan yang telah dibuat dapat dijalankan secara konsisten, Anda bisa membuat aturan itu dalam bentuk tertulis. Sehingga semua anggota keluarga fokus dengan aturan dan konsekuensi yang telah ditetapkan.Karena ketika aturan itu tidak diterapkan secara konsisten, anak pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Begitu pula saat dilanggar, hukuman tetap harus dilaksanakan. Bersikap tegaslah, tanpa emosional. Berikan PenghargaanDalam menerapkan aturan, reward atau penghargaan tidak kalah penting dengan hukuman. Reward perlu diberikan ketika anak berhasil mematuhi aturan yang ditetapkan. Karena hal ini akan membuat mereka semakin termotivasi dan semangat dalam menjalankan aturan, seizin Allah ta’ala. Selain reward, Anda juga dapat memberi mereka pujian ketika menjalankan aturan dengan baik. Jadilah TeladanOrangtua adalah role model bagi anak. Sebagai orang yang menetapkan aturan dalam keluarga, Anda wajib untuk memberikan contoh kepada anak dengan menjalankan aturan yang Anda buat. Karena jika Anda sendiri tidak mematuhi aturan yang Anda buat, bagaimana orang lain dapat mematuhinya? Dengan memberi contoh dan teladan kepada anak, akan memotivasi anak untuk bertindak yang sama insyaAllah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1440 / 13 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 132: BELAJAR MEMAHAMI MAKNA BELAJARNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI

Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSI

Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Konsistensi mutlak dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Orang tua harus konsisten memberikan perhatian dan ketenangan kepada anak. Juga konsisten dalam menegakkan aturan.Ketika orang tua konsisten sejak awal, anak-anak belajar tentang apa yang diharapkan dari orang tua mereka. Ini membantu proses keterikatan. Konsistensi memberi anak rasa aman. Mereka tahu, jika mereka mengangis, orang tua segera datang dengan sebotol susu atau siap mengganti popoknya. Bayi dengan orang tua konsisten tidak sering merasakan kecemasan. Mereka belajar bahwa mereka bisa mengandalkan orang tua dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi. Tentunya seizin Allah ta’ala.Menjaga keteraturan rutinitas dengan seorang anak juga merupakan bagian penting dalam konsistensi. Keributan dan perdebatan berkurang; jika anak tahu apa yang diharapkan dari mereka sejak bangun tidur, sepulang sekolah, atau menjelang tidur malam. Konsistensi membantu anak merasa bertanggungjawab.Berkurang pula keinginan anak-anak untuk menguji batasan yang sudah ditentukan dengan tegas, ketika mereka tahu ada konsekuensi untuk perilaku membantah. Mereka belajar bahwa “tidak” berarti “tidak”. Konsistensi pun mengajarkan hubungan sebab-akibat kepada anak. Dengan konsistensi, mereka mengembangkan kemampuan membuat keputusan lebih bijak.Contoh Praktek KetidakkonsistenanKetidakkonsistenan menimbulkan sejumlah masalah, akibat pesan-pesan negatif yang disampaikannya. Anda mungkin pernah membuat peraturan. Tetapi setelah gagal menegakkannya, Anda membiarkan anak-anak berbuat sesuka mereka tanpa konsekuensi.Anda pernah berkata “tidak” terhadap permintaan anak. Tapi kemudian mengalah dan mengatakan “ya” ketika anak bersikeras dan merengek.Masih ada ketidaksepakatan antara Ayah dan Ibu tentang aturan-aturan untuk anak-anak. Ayah berkata “ya”, sementara Ibu tegas mengatakan “tidak” untuk permintaan yang sama dari anak-anak.Anda pernah mengancam anak-anak, tapi tidak benar-benar berniat melaksanakan ancaman itu.Tantangan KonsistensiTidak mudah memang mempertahankan konsistensi di tengah-tengah kesibukan. Kadang kita sudah terlalu lelah bekerja, sehingga membiarkan jam tidur anak dilanggar. Sebab kita sendiri sudah ingin segera istirahat.Apalagi faktor perasaan juga berpengaruh. Takut dikatain orang tua jahat, karena ketegasan dalam menegakkan aturan. Padahal, semakin banyak Anda membiarkan aturan dan rutinitas dilanggar, semakin besar peluang runtuhnya aturan dan rutinitas tersebut.Itu sebabnya, konsistensi dalam rumah tangga perlu selalu dijaga dan diaktifkan. Walaupun Anda akan dihadapkan pada tantangan sulit ketika mulai mencanangkan aturan. Anda akan dihadapkan pada ujian kesabaran dan ketahanan ketika anak-anak mencoba keluar dari batasan. Jika Anda berhasil dalam ujian ini, insyaAllah Anda akan mengamati adanya perubahan positif dalam perilaku anak-anak.Berubah Tapi Tetap KonsistenKehidupan kita senantiasa berubah. Ada yang bertambah dan berkurang di dalamnya. Rutinitas perlu diubah dan disesuaikan. Aturan-aturan baru perlu dibuat. Namun semua harus dikomunikasikan dengan baik kepada anak-anak, dan konsistensi dipertahankan.Sebenarnya kunci keberhasilan bukan pada jumlah aturan, tapi pada pemahaman anak-anak dan konsistensi orang tua menegakkan aturan. Satu peraturan yang dilaksanakan dengan konsisten, lebih baik ketimbang banyak aturan tapi penerapannya angin-anginan.Anak-anak harus paham kenapa aturan dibuat dan mengapa harus dipatuhi. Orang tua juga harus konsisten mengawasi pelaksanaannya serta mengevaluasi perkembangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Syawal 1440 / 1 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 133: MENERAPKAN ATURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 M

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNONAMADAERAHASRAMA/ NON ASRAMAHASIL AKHIR1.Mauludin NafsirPurbalinggaNon AsramaLulus2.Muhammad Dwi Choerul FPurbalinggaAsramaLulus3.Muhammad Reynaldi A.YBanjarnegaraNon AsramaLulus4.Mahdy Apde AbiyyuPalembangAsramaLulus5.Riko AbdullahLampungAsramaLulus6.Fahrul MaulanaLampungAsramaLulus7.Alfin Ade PrayogaPurbalinggaAsramaLulus8.ArjunaPaluAsramaLulus9.Rizal MaryantoBanyumasNon AsramaLulus10.Agung PrayogaBanyumasAsramaLulus11.Malik Fajar RamadhanSokarajaAsramaLulus12.Achyar AlinggaPurbalinggaNon AsramaLulus13.Umar Muhtar al-FaruqBanyumasAsramaLulus14.Muhammad HafizhBekasiAsramaLulus15.SusenoBanyumasNon AsramaLulus16.Agung Hidayah SehfulahPurwokertoAsramaLulus17.Dafa Akbar RozanPurwokertoNon AsramaLulus18.Yazid Fadhurrohman KBekasiAsramaLulus19.M. Najmudin Mufti ABanyumasAsramaLulus20.SufrendiBanjarnegaraAsramaLulus21.M. Langit SetiawanPurbalinggaNon AsramaLulus22.UsamahBandungAsramaLulus23.Niko PriyantoPurbalinggaNon AsramaLulus24.Algi Fajar FebriansyahBanjarnegaraAsramaLulus25.Arif Dwi IriantoPurbalinggaAsramaLulus26.Lutfi AbdullahPurbalinggaAsramaLulus27.Oki Ginanjar PratamaCilacapNon AsramaLulus28.Annur FauziPurbalinggaNon AsramaLulus29.Rizky FirmansyahPurbalinggaAsramaLulus30.Dadang AshariCilacapAsramaLulus31.Roikhan AlganiSokarajaAsramaLulus (Percobaan)32.Estha Langgeng LegowoBanjarnegaraNon AsramaLulus (Percobaan)33.Rizky Juni AlpabedMuara EnimAsramaLulus (Percobaan)34.Taka Adi RahmanBanjarnegaraAsramaLulus (Percobaan)35.SarosaPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)36.Rendi GunawanPurbalinggaNon AsramaLulus (Percobaan)37.Fathid Barkah RomdaniPurbalinggaAsramaLulus (Percobaan)38.Abdi MulyoPekalonganAsramaLulus (Percobaan)39.Agung AristiawanWonosoboAsramaLulus (Percobaan)40.Fitra WahyudiMuara EnimAsramaTidak Lulus41.Fahmi Abdul RahmanMuara EnimAsramaTidak Lulus42.Hafid AnvioPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus43.Surya Faozan AlfaridziPurwokertoAsramaTidak Lulus44.Amin RiyadiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus45.Gunawan SetiadiPurwokertoNon AsramaTidak Lulus46.Joko MaulanaBanyumasAsramaTidak Lulus47.ErdohBanyuasinAsramaTidak Lulus48.TefurrokhmanPurbalinggaAsramaTidak Lulus49.Akbar MutaqinBanjarnegaraAsramaTidak Lulus50.Eka SusiloBanjarnegaraNon AsramaTidak Lulus51.Asnan MujionoCilacapNon AsramaTidak Lulus52.Mu’adzPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus53.Dedi SetiadiCilacapAsramaTidak Lulus54.Ganjar SetiabudiPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus55.Randri Prihanggadi DPurbalinggaNon AsramaTidak Lulus56.Asidqo Kurnia L.PPurbalinggaAsramaTidak Lulus57.Muhammad Shidqi PribadiPurwokertoNon AsramaMengundurkan Diri58.Safru RozakyPurbalinggaAsramaGugur59.Tri Budi SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur60.Harun ar-Rasyid F.ZDepokAsramaGugur61.Bagus Nida Nur CoolPurwokertoAsramaGugur62.Andri WibowoPurbalinggaNon AsramaGugur63.DilandiMuara EnimAsramaGugur64.RiswantoBanyumasNon AsramaGugur65.Mochamad Adhis RaihanWonosoboAsramaGugur66.Ahmad SyawaludinWonogiriNon AsramaGugur67.JuliadiPurbalinggaNon AsramaGugur68.M. Rafli RamadhanBogorAsramaGugur69.Naufal Hafizhi AzharPurwokertoNon AsramaGugur70.Ridwan SetiawanPurbalinggaNon AsramaGugur71.Ahmad Styo WidadiBanyumasNon AsramaGugur72.Uray FachrudinKubu RayaAsramaGugur73.PaidiCilacapAsramaGugur74.Handi PemiliyoPurbalinggaAsramaGugur75.AnwarudinPurbalinggaAsramaGugur76.Abdullah Asraf SangadPurbalinggaNon AsramaGugur CATATAN PENTING:Penentuan kelulusan merupakan akumulasidari nilai ujian tulis, ujian lisan, hapalan al-Qur’an, keawalan mendaftar, ketepatan kehadiran, kelengkapan berkas, pemenuhan syarat dan faktor lainnya.Calon santri yang tidak mengikuti ujian dinyatakan gugur.Bagi calon santri yang telah dinyatakan lulus harap segera melengkapi kekurangan berkas (hubungi Akh Ismail)Daftar ulangdilaksanakan Rabu, 3 Juli 2019 di Tunas Ilmu Mart (hubungi Mas Dudu atau Mas Khalid)Santri berasrama harus mulai berada di asramaselambat-lambatnya Rabu, 3 Juli 2019 sebelum MaghribOrientasi santri barudimulai pada hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 07.00 tepat. Bagi santri yang tidak mengikutinya tanpa alasan syar’i dianggap mengundurkan diri.  Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 134: MENDIDIK ANAK MEMERLUKAN KONSISTENSINext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK Related Posts PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI PROGRAM PENGKADERAN DA’I – PONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KESEPULUH – TAHUN AJARAN 1441-1442 H / 2020-2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusinya. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru berakibat buruk.Fokus pada Kelebihan, Bukan KekuranganPenting untuk dipahami bahwa mengakui kelebihan tidak bisa disamakan dengan memuji. Memuji biasanya bersifat umum. Yaitu ketika Anda memberikan pujian tentang seorang anak untuk membuatnya senang. “Aih masyaAllah, kamu cantik deh”. Atau “Wah, gagah benar nih anak Bunda. MasyaAllah”.Pujian seperti itu seumpama permen. Terasa manis, namun kurang nutrisi. Dan jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat merusak nafsu makan anak.Pujian yang lebih berbobot adalah pujian spesifik. Yakni ketika Anda mengungkapkan persetujuan Anda terhadap perilaku tertentu. Selain membuat anak senang dan bangga, pujian dimaksudkan untuk penguatan hal-hal positif.Misalnya, “Wah, kamu sudah membereskan tempat tidur. MasyaAllah, rapi ya. Jadi nyaman kamarmu”. Atau, “Terima kasih sudah berbagi dengan adik. Alhamdulillah, kakak baik hati deh”.Mengakui kelebihan anak sebenarnya adalah menyadari secara spesifik tentang kemampuan anak Anda, apa yang dipelajarinya dan yang sudah dicapainya, serta potensinya untuk berhasil. Anda tinggal menggeser fokus Anda, mengalihkan perhatian Anda. Tidak perlu khawatir anak Anda tidak bisa mengimbangi anak-anak lain seusianya, tidak bisa masuk sekolah favorit, atau tidak mendapat nilai tinggi dalam ujian. Justru seharusnya Anda memikirkan apa yang bisa dilakukan anak dengan baik dan bagaimana menguatkannya.Dalam sistem pendidikan di Indonesia, orangtua dan guru belum terbiasa mengamati kelebihan anak sejak dini. Karena mereka semua diarahkan secara akademis sampai di SMP atau SMU. Baru di tingkat lanjutan, anak dipersilahkan memilih jurusan yang diminati. Itupun jika orangtua memberikan kebebasan. Namun pada umumnya, anak-anak ini juga belum menyadari kelebihan diri. Bahkan tidak tahu minat sendiri. Sehingga mereka bingung menentukan pilihan. Atau mereka percaya anggapan bahwa hanya ada satu jalur pendidikan yang diakui. Sehingga mereka merasa tidak percaya diri dengan pilihan di luar jalur itu.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Memetakan Potensi SahabatSahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kapasitas memimpin dan bersiasat ditunjuk menjadi panglima perang. Contohnya: Sa’ad bin Abi Waqqash dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhum.Sahabat yang piawai dalam berdakwah, diutus untuk menjadi da’i dan mubaligh. Contohnya: Mush’ab bin Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma.Sahabat yang encer otaknya, selain dipacu untuk menguasai ilmu syar’i, juga diarahkan untuk mempelajari bahasa asing. Contohnya Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu yang mempelajari bahasa Suryani hanya dalam 15 hari saja!Arahkan dan Bantu AnakSetelah Anda menemukan kelebihan anak, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang minatnya dan pendidikan yang sesuai untuknya. Jika anak masih duduk di SD atau SMP, Anda bisa mencari cara untuk menguatkan kelebihan itu dan membantunya mengatasi kesulitannya terhadap pelajaran lain.Jika dia tidak suka matematika, mungkin hanya karena cara pengajarannya yang kurang menarik. Anda bisa meyakinkan dirinya bahwa matematika juga penting untuk karir sebagai pebisnis sukses. Anda bisa berimprovivasi mengajarkan matematika sambil berdagang, misalnya.Disarikan dengan beberapa tambahan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 108-115).Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Dzulqa’dah 1440 / 15 Juli 2019 Post navigation Previous PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*

Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*

Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Kita sering mendengar istilah “taubat sambel”. Yakni ungkapan yang menggambarkan tentang taubat yang kurang serius. Atau bermain-main dalam taubat. Ini adalah fenomena yang tidak baik. Sebab taubat adalah ibadah. Sehingga harus dijalankan sebaik mungkin.Supaya taubat sempurna perlu diperhatikan tiga unsur. Pertama: si pelaku taubat. Kedua: dosa-dosa yang akan ditaubati. Ketiga: kepada siapa bertaubat.Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ“ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Semoga Rabb kamu menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai“. QS. At Tahrim (66): 8.Dalam Madârij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) menjelaskan, bahwa taubat nasuha adalah yang memenuhi tiga unsur:Pertama: Tekad bulat pelaku taubatSeseorang akan dinilai serius dalam bertaubat, manakala ia bertekad bulat untuk meninggalkan dosa. Tidak tersisa keraguan di hatinya. Jujur dalam keinginan untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Kedua: Mencakup seluruh dosaTaubat akan dianggap sempurna, manakala mencakup semua dosa. Maksudnya si pelaku bertaubat dari seluruh dosa-dosa yang pernah dia kerjakan. Yang besar maupun yang kecil. Yang terasa maupun yang tidak terasa.Mari kita perhatikan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa dalam sujudnya, “Allôhummaghfirlî dzambî kullah; diqqohu wa jillah, wa awwalahu wa âkhiroh, wa ‘alâniyyatahu wa sirroh” (Ya Allah, ampunilah semua dosaku. Yang kecil maupun yang besar. Yang dahulu maupun yang sekarang. Yang kulakukan terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi”. HR. Muslim.Ketiga: Ikhlas karena Allah sajaAgar taubat sempurna, maka harus dilakukan karena Allah semata. Murni dan ikhlas mengharap ridha dan pahala dari-Nya. Karena takut pada-Nya.Membersihkan niat taubat dari misi-misi yang bersifat duniawi. Misalnya bertaubat dalam rangka menjaga kedudukannya di mata manusia. Mempertahankan jabatannya. Mencari pujian orang. Menghindari celaan khalayak. Atau karena ketidakmampuannya. Seperti orang yang tidak judi lagi, karena bangkrut. Tidak punya uang untuk modal berjudi.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Rajab 1440 / 25 Maret 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 135: FOKUS PADA KELEBIHAN ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*

Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*

Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dalam banyak dalil, kita melihat Allah ta’ala menggandengkan antara perintah untuk beristighfar dan bertaubat. Contohnya ayat berikut ini,“وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ“ Artinya: “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sungguh, Rabbku Maha Penyayang, Maha Pengasih”. QS. Hud (11): 90.Masih banyak ayat yang senada. Misalnya dalam QS. Hud (11): 2, 52 dan 61.Ini menunjukkan adanya korelasi yang erat antara istighfar dan taubat. Sebuah keterangan menarik dibawakan Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) dalam Madârij as-Sâlikîn tentang makna istighfar dan taubat, bila keduanya digandengkan.Istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat bermakna kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan bakal terjadi di masa mendatang. Berupa akibat buruk perbuatan yang pernah dilakukan. Ampunan Allah akan melindungi kita dari efek buruk dosa yang telah lampau. Sedangkan taubat akan mewujudkan apa yang kita sukai dan harapkan berupa maslahat atau kebaikan di masa mendatang.Selain itu, terkadang istighfar dan taubat juga disebutkan bersamaan dengan tauhid. Contohnya firman Allah ta’ala berikut ini,“أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ . وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ“Artinya: “Janganlah menyembah selain Allah. Sungguh aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira (dari-Nya untuk kalian). Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberi karunia kepada setiap orang yang berbuat baik. Jika kalian berpaling, maka sungguh, aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)”. QS. Hud (11): 2-3.Juga dalam hadits qudsi berikut ini,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : “يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً“.Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam sungguh selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni dosa-dosamu. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu menumpuk sampai ke langit, lalu engkau memohon ampunan pada-Ku, niscaya akan Kuampuni. Aku tidak hiraukan. Wahai anak Adam, andaikan engkau menghadap pada-Ku dengan membawa dosa sebesar bumi, namun Engkau tidak berbuat syirik, niscaya Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sebesar bumi pula”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Hadits ini mengandung tiga sebab agung pengampunan dosa. Pertama: Doa dan harapan kepada Allah. Kedua: Istighfar. Ketiga: Tauhid, dan ini adalah sebab terbesar diampuninya dosa. Siapa yang kehilangan tauhid, maka ia akan kehilangan ampunan. (Baca: QS. An-Nisa: 48, 116).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Sya’ban 1440 / 8 April 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 151: TAUBAT SEMPURNA*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI * Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *

Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *

Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang amat rajin beristighfar. Secara rutin beliau bertaubat kepada Allah ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang telah diampuni seluruh dosanya. Allah ta’ala berfirman,“إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)“ Artinya: “Sungguh Kami telah memenangkanmu (wahai Muhammad) dengan kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. Serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Serta agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat”. QS. Al-Fath (48): 1-3.Dalam sebuah hadits sahih disebutkan,عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: “لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ“ قَالَ: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Aisyah pun bertanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lampau dan yang akan datang”.Beliau menjawab, “Aku suka menjadi hamba yang bersyukur”. HR. Bukhari dan Muslim.Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni Allah, namun beliau tetap memperbanyak istighfar dalam semua kesempatan. Sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam beribadah. Dikarenakan nikmat Allah yang begitu besar atas mereka, maka merekapun selalu bersyukur kepada Allah. Mereka juga mengakui kekurangannya dan merasa tidak mampu untuk ‘membalas’ karunia Allah dengan sempurna. Sehingga mereka memperbanyak istighfar.Ditambah lagi, mereka adalah para panutan untuk umat manusia. Sehingga manakala mereka bertobat dan beristighfar maka itu adalah bentuk pensyariatan ibadah tersebut atas umat mereka.Lisan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam kesehariannya tidak lepas dari dzikir dan istighfar. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang wafatnya pun beliau melantunkannya.عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ، وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَى صَدْرِهَا، وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى”.Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelang wafatnya, dalam keadaan beliau bersandar di dadanya, beliau berkata, “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi di surga yang tertinggi“. HR. Bukhari dan Muslim.Maka, selaku ummat beliau, hendaklah kita berusaha meneladaninya. Beliau berpesan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ”.“Wahai para manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya, sesungguhnya dalam sehari aku bertobat kepada Allah dan beristighfar sebanyak seratus kali”. HR. Muslim serta Ahmad, dan ini adalah redaksi Ahmad.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1440 / 6 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 152: ANTARA ISTIGHFAR, TAUBAT DAN TAUHID*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*

Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*

Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Setiap muslim tertuntut mengingat Allah dalam segala kondisi. Berdzikir di malam dan siang hari, saat berdiri, duduk dan berbaring, serta dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir mengingat Allah dalam segala kondisi”. HR. Muslim.Siapapun yang memperhatikan keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia akan menemukan betapa lengkapnya panduan dzikir. Ada dzikir pagi dan petang. Doa akan dan bangun tidur. Doa dan dzikir saat shalat dan sesudahnya. Doa sebelum dan sesudah makan-minum. Doa menaiki kendaraan dan bepergian. Dzikir mengusir kegelisahan dan kegalauan. Doa saat melihat sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dan masih banyak lagi panduan doa-dzikir di setiap momen yang kita alami.Mempraktekkan berbagai doa-dzikir tersebut adalah bagian dari upaya memperbaharui keimanan kita kepada Allah. Usaha memperkuat hubungan kita dengan-Nya. Pengakuan terhadap karunia-Nya kepada kita yang tanpa henti dan tak terhitung jumlahnya. Ketergantungan kita kepada Allah dalam melindungi diri dari kejahatan setan, gangguan makhluk jahat, musibah dan godaan nafsu.Maka seharusnya setiap muslim berusaha menjaga semaksimal mungkin semua doa dan dzikir yang mulia ini di siang dan malamnya. Sesuai dengan yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan hadits. Sehingga bisa masuk dalam kategori golongan yang dipuji Allah dalam firman-Nya,“وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا“ Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah.Adapun batas maksimalnya: saat lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191. Dzikir Sehari-hariPara ulama kita memberikan perhatian spesial terhadap bab ini. Yakni dzikir dan doa keseharian seorang muslim. Mereka banyak menulis buku khusus untuk memuat dan menjelaskan hal ini.Di antara contoh karya tulis mereka: kitab ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, karya Imam an-Nasa’iy rahimahullah (w. 303 H), kitab ad-Du’a al-Kabîr karya Imam al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H), kitab al-Adzkâr karya Imam an-Nawawiy rahimahullah (w. 676 H), kitab al-Kalim ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (w. 728 H), kitab al-Wâbil ash-Shayyib karya Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H), kitab Tuhfah adz-Dzâkirîn karya Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (w. 1250 H), kitab Tuhfah al-Akhyâr karya Syaikh Ibn Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan lain-lain.Maka sudah sepantasnya kita berusaha mempraktekkan doa dan dzikir harian tersebut. Tentunya dengan memilih yang jelas berlandaskan dalil sahih, serta berusaha memahami dan merenungi kandungannya. Sehingga betul-betul mewarnai kehidupan dan perilaku kita. Sebab dzikir yang paling afdal adalah yang memadukan antara ucapan lisan dengan peresapan hati, redaksinya sesuai panduan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, serta dipahami maknanya. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1440 / 20 Mei 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 154: BERISTIGHFAR TANPA HENTI *Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 136: FOKUS PADA PERILAKU BAIK ANAK

Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Fokus pada tujuan sangat penting dalam mendidik anak. Sebab jika demikian kita akan bergerak menuju arah yang benar. Fokus orang tua teladan tentunya adalah mendidik anak menjadi lebih baik, salih dan memiliki karakter positif. Kami yakin tidak ada perbedaan pendapat di antara para orang tua dalam poin ini.Namun realitanya, banyak orang tua yang prakteknya justru lebih fokus kepada hal-hal negatif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku buruk anak, bukan perilaku baiknya. Lebih fokus pada kekurangan anak, bukan kelebihannya. Lebih fokus pada masalah, bukan solusi. Lebih fokus pada penyebab kegagalan, bukan pada hasil yang ingin dicapai.Walaupun tujuannya baik. Yakni ingin anak memperbaiki diri. Namun karena caranya keliru dan porsi fokusnya tidak ideal, justru malah berakibat buruk.Fokus pada Perilaku Baik, Bukan Perilaku BurukOrang tua tanpa sadar sering membuat masalah. Perilaku anak semakin buruk, karena orang tua memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada perilaku baik. Selalu cepat beraksi dan mengkritik perilaku buruk. Atau, terlalu longgar tentang aturan dan tidak mengamati anak-anak dengan baik. Situasi ini sering terjadi jika orang tua sedang depresi, lelah atau kewalahan.Orang tua sangat mudah mengabaikan anak ketika mereka sedang berperilaku baik. Dan hanya memperhatikan mereka saat berbuat buruk. Cara mendidik seperti ini memiliki banyak dampak negatif. Di antaranya:Pertama: Anak semakin meningkatkan volume kenakalannyaSejalan waktu, anak belajar bahwa mereka mendapatkan perhatian hanya saat melanggar aturan. Rata-rata anak, termasuk remaja, membutuhkan banyak perhatian dari orang tua dan akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara. Barangkali, yang mengejutkan adalah anak-anak lebih memilih dimarahi atau disalahkan ketimbang diabaikan atau dicuekin.Kedua: Barometer kebaikan dan keburukan menjadi buram di mata anakSaat anak melakukan kebaikan, lalu tidak mendapatkan apresiasi, dia bertanya-tanya apakah yang dilakukannya ini baik atau buruk. Itu bisa berakibat dia tidak bisa membedakan antara hal baik dan buruk.Sumber MasalahPola pendidikan anak seperti di atas, biasanya bersumber dari anggapan bahwa perilaku baik anak adalah hal biasa. Sehingga tidak perlu dihargai. Padahal dalam agama, kita sudah dilatih untuk mengapresiasi kebaikan. Contohnya hadits berikut,“وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ”“Barang siapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan tersebut. Bila engkau tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia. Hingga engkau perkirakan sudah sepadan dengan kebaikannya”. HR. Abu Dawud dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albaniy.Pencegahan Lebih Baik Dibanding PengobatanTidak boleh dipahami dari keterangan di atas bahwa perilaku buruk anak dibiarkan saja. Karena hal itu berpotensi mengabaikan ibadah amar makruf-nahi munkar.Namun, ingat bahwa kita harus proporsional dalam beramar makruf, alias mengajak kepada kebaikan, dan bernahi munkar, alias melarang kemungkaran. Mengapa kita tidak berpikir untuk mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan? Bukan hanya mengingatkannya sesudah melakukan kesalahan.Padahal mengingatkan anak sebelum melakukan kesalahan, memiliki keunggulan dibanding sesudahnya. Sebab saat itu kondisi psikologis ana sedang stabil. Sehingga relatif lebih mudah menerima nasehat. Berbeda halnya dengan setelah melakukan kesalahan. Psikis anak sedang labil. Dia merasa bersalah, takut dan minder. Suasana hati yang tidak enak ini bakal berpengaruh terhadap penerimaannya kepada nasehat.Maka fokuslah dalam meningkatkan perilaku baik anak, tanpa mengabaikan perilaku buruknya!Disarikan oleh Abdullah Zaen dari buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan B. (hal. 110-111) dengan banyak tambahan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 155: DZIKIR 24 JAM*Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 158 – BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-2) Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next