Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN

Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 141: MENDOAKAN KAUM MUSLIMIN

Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Siapa yang tidak suka didoakan orang lain? Bila kita merasa senang didoakan orang lain, maka seyogyanya kita pun berusaha membuat orang lain senang dengan mendoakan dia. Siapapun yang gemar mendoakan kebaikan untuk sesama muslim, Allah akan menggugah hati orang lain untuk mendoakan dia.Amat beragam kondisi saudara kita. Ada yang sedang menderita sakit parah, sehingga memerlukan doa supaya disembuhkan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ ““Barang siapa membesuk orang sakit yang belum datang ajalnya. Kemudian dia di situ membaca tujuh kali, “As’alullôhal ‘azhîm Robbal ‘arsyil ‘azhîm an yasyfiyaka” (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa ‘arsy yang agung, agar menyembuhkanmu). Pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut”. HR. Abu Dawud dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadist ini dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ dan al-Albaniy.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga biasa menjenguk orang sakit, sambil mendoakan,“اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا“ “Ya Allah Penguasa manusia, hilangkanlah penyakitnya. Sembuhkan dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu. Sembuhkanlah dia secara total”. HR. Bukhari dan Muslim.Ada juga saudara kita yang wafat. Di kuburan dia diganjar sesuai amalan yang dahulu dikerjakannya. Sehingga dia amat membutuhkan doa, agar dirahmati Allah dan diampuni dosa-dosanya.Allah ta’ala berfirman,“وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Orang-orang yang hidup sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Robbanaghfirlanâ wa li ikhwâninal ladzîna sabaqûnâ bil îmân, wa lâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû. Robbanâ innaka Ro’ûfur Rohîm” (Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan suadar-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang”. QS. Al-Hasyr (59).Ayat ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 112: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 6Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABAT

Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Apalagi kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Seperti ayah dan ibu. Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan kaum muslimin secara umum. Walaupun mereka tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan kita. Apalagi bila mereka mempunyai hubungan darah dengan kita. Tentu lebih dianjurkan lagi untuk didoakan.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku sikapi dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia kembali bertanya, “Terus siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan,« ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ»“Selanjutnya adalah kerabat terdekatmu”. HR. Muslim.Salah satu perbuatan baik terbaik adalah mendoakan. Allah ta’ala berfirman,“وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“ Artinya: “Rabbmu telah mewajibkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu maka janganlah engkau ucapkan, “ah!”. Jangan pula engkau membentak keduanya. Akan tetapi ucapkanlah perkataan yang mulia kepadanya. Rendahkanlah dirimu di hadapan mereka berdua karena dorongan kasih sayang. Dan berdoalah, “Wahai Rabbi sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya merawatku di saat aku kecil”. QS. Al-Isra’ (17): 23-24.Ayat ini mengajarkan pada kita agar berbuat baik kepada orang tua dengan segala jenis kebaikan. Berupa ucapan maupun perbuatan. Salah satu bentuk ucapan terbaik adalah doa. Apalagi bila kedua orang tua sudah tidak bisa lagi beramal. Alias telah wafat. Tentu lebih membutuhkan doa.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ”.“Jika manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 R. Tsani 1440 / 10 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 143: MENDOAKAN SESAMA BUKTI KETULUSAN HATINext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Keenam: Memanfaatkan Waktu LuangJika kita lihat anak-anak muda di zaman sekarang, banyak hal aneh yang mereka lakukan. Misalnya saja sekelompok anak punk, memakai cincin di hidung, lidah dan pusar, mewarnai dan mengolah rambut dengan bentuk yang sangat aneh. Melakukan aksi kebut-kebutan di jalan dengan berbonceng empat. Atau melakukan berbagai kegiatan aneh lainnya, yang intinya adalah mencari perhatian dan mengisi waktu sebagai dorongan hasrat jiwa muda mereka.Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak memiliki kegiatan yang bernilai positif. Ditambah lagi masa-masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah. Akan tetapi di balik semangat ini, perlu kontrol dan perlu pembinaan agar tidak berlebihan dan keluar dari bimbingan agama.Ketika anak mengalami kekosongan waktu (kosong dari kegiatan positif), maka mereka mulai mencari-cari kegiatan atau mengisinya dengan kegiatan yang paling minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas. Belum lagi sebagian mereka merasa kurang perhatian, baik dari keluarga dan temannya. Maka ia akan melakukan hal-hal yang aneh, ajaib bahkan vulgar; agar tetap eksis. Misalnya balap-balapan di jalan raya, membuat kerusuhan di sekolah bersama gengnya, bahkan membuat video tidak layak dengan geng atau pasangan tidak halalnya.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”.Inilah kaidah kehidupan. Bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan ini dengan kegiatan positif, maka bisa dipastikan kita akan mengisinya dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi anak muda yang jiwanya masih bergelora.Kegiatan Positif untuk AnakSetelah jam pelajaran sekolah berakhir, anak-anak sekolah dipersilahkan meninggalkan sekolah untuk kembali kepada orangtua atau walinya dengan membawa setumpuk tugas dari sekolah. Anak-anak pun dituntut untuk bisa mengatur sedemikian rupa waktu luangnya; agar menjadi manusia mandiri yang siap terjun ke masyarakat.Setelah anak mengambil istirahat yang cukup, seyogyanya diprioritaskan untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh bapak-ibu guru.Nah, bila masih tersisa waktu kosong, maka banyak sekali kegiatan positif yang bisa diberikan pada anak. Secara umum kegiatan itu bisa dibagi menjadi dua: ukhrawi dan duniawi.Kegiatan ukhrawi contohnya adalah: membaca al-Qur’an dan menghapalkannya, membaca buku-buku agama, menghadiri pengajian, membantu orang tua, bersilaturahim dan lain-lain.Kegiatan duniawi yang positif antara lain: berolahraga seperti memanah, berenang (dengan catatan memilih tempat yang tidak bercampurbaur antara putra dengan putri), bersepeda dan yang semisal.Juga bisa menyalurkan hobi baik yang bahkan bernilai ekonomis. Seperti beternak, berkebun, memelihara ikan dan semisalnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1439 / 14 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Keenam: Memanfaatkan Waktu LuangJika kita lihat anak-anak muda di zaman sekarang, banyak hal aneh yang mereka lakukan. Misalnya saja sekelompok anak punk, memakai cincin di hidung, lidah dan pusar, mewarnai dan mengolah rambut dengan bentuk yang sangat aneh. Melakukan aksi kebut-kebutan di jalan dengan berbonceng empat. Atau melakukan berbagai kegiatan aneh lainnya, yang intinya adalah mencari perhatian dan mengisi waktu sebagai dorongan hasrat jiwa muda mereka.Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak memiliki kegiatan yang bernilai positif. Ditambah lagi masa-masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah. Akan tetapi di balik semangat ini, perlu kontrol dan perlu pembinaan agar tidak berlebihan dan keluar dari bimbingan agama.Ketika anak mengalami kekosongan waktu (kosong dari kegiatan positif), maka mereka mulai mencari-cari kegiatan atau mengisinya dengan kegiatan yang paling minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas. Belum lagi sebagian mereka merasa kurang perhatian, baik dari keluarga dan temannya. Maka ia akan melakukan hal-hal yang aneh, ajaib bahkan vulgar; agar tetap eksis. Misalnya balap-balapan di jalan raya, membuat kerusuhan di sekolah bersama gengnya, bahkan membuat video tidak layak dengan geng atau pasangan tidak halalnya.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”.Inilah kaidah kehidupan. Bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan ini dengan kegiatan positif, maka bisa dipastikan kita akan mengisinya dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi anak muda yang jiwanya masih bergelora.Kegiatan Positif untuk AnakSetelah jam pelajaran sekolah berakhir, anak-anak sekolah dipersilahkan meninggalkan sekolah untuk kembali kepada orangtua atau walinya dengan membawa setumpuk tugas dari sekolah. Anak-anak pun dituntut untuk bisa mengatur sedemikian rupa waktu luangnya; agar menjadi manusia mandiri yang siap terjun ke masyarakat.Setelah anak mengambil istirahat yang cukup, seyogyanya diprioritaskan untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh bapak-ibu guru.Nah, bila masih tersisa waktu kosong, maka banyak sekali kegiatan positif yang bisa diberikan pada anak. Secara umum kegiatan itu bisa dibagi menjadi dua: ukhrawi dan duniawi.Kegiatan ukhrawi contohnya adalah: membaca al-Qur’an dan menghapalkannya, membaca buku-buku agama, menghadiri pengajian, membantu orang tua, bersilaturahim dan lain-lain.Kegiatan duniawi yang positif antara lain: berolahraga seperti memanah, berenang (dengan catatan memilih tempat yang tidak bercampurbaur antara putra dengan putri), bersepeda dan yang semisal.Juga bisa menyalurkan hobi baik yang bahkan bernilai ekonomis. Seperti beternak, berkebun, memelihara ikan dan semisalnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1439 / 14 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Keenam: Memanfaatkan Waktu LuangJika kita lihat anak-anak muda di zaman sekarang, banyak hal aneh yang mereka lakukan. Misalnya saja sekelompok anak punk, memakai cincin di hidung, lidah dan pusar, mewarnai dan mengolah rambut dengan bentuk yang sangat aneh. Melakukan aksi kebut-kebutan di jalan dengan berbonceng empat. Atau melakukan berbagai kegiatan aneh lainnya, yang intinya adalah mencari perhatian dan mengisi waktu sebagai dorongan hasrat jiwa muda mereka.Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak memiliki kegiatan yang bernilai positif. Ditambah lagi masa-masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah. Akan tetapi di balik semangat ini, perlu kontrol dan perlu pembinaan agar tidak berlebihan dan keluar dari bimbingan agama.Ketika anak mengalami kekosongan waktu (kosong dari kegiatan positif), maka mereka mulai mencari-cari kegiatan atau mengisinya dengan kegiatan yang paling minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas. Belum lagi sebagian mereka merasa kurang perhatian, baik dari keluarga dan temannya. Maka ia akan melakukan hal-hal yang aneh, ajaib bahkan vulgar; agar tetap eksis. Misalnya balap-balapan di jalan raya, membuat kerusuhan di sekolah bersama gengnya, bahkan membuat video tidak layak dengan geng atau pasangan tidak halalnya.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”.Inilah kaidah kehidupan. Bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan ini dengan kegiatan positif, maka bisa dipastikan kita akan mengisinya dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi anak muda yang jiwanya masih bergelora.Kegiatan Positif untuk AnakSetelah jam pelajaran sekolah berakhir, anak-anak sekolah dipersilahkan meninggalkan sekolah untuk kembali kepada orangtua atau walinya dengan membawa setumpuk tugas dari sekolah. Anak-anak pun dituntut untuk bisa mengatur sedemikian rupa waktu luangnya; agar menjadi manusia mandiri yang siap terjun ke masyarakat.Setelah anak mengambil istirahat yang cukup, seyogyanya diprioritaskan untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh bapak-ibu guru.Nah, bila masih tersisa waktu kosong, maka banyak sekali kegiatan positif yang bisa diberikan pada anak. Secara umum kegiatan itu bisa dibagi menjadi dua: ukhrawi dan duniawi.Kegiatan ukhrawi contohnya adalah: membaca al-Qur’an dan menghapalkannya, membaca buku-buku agama, menghadiri pengajian, membantu orang tua, bersilaturahim dan lain-lain.Kegiatan duniawi yang positif antara lain: berolahraga seperti memanah, berenang (dengan catatan memilih tempat yang tidak bercampurbaur antara putra dengan putri), bersepeda dan yang semisal.Juga bisa menyalurkan hobi baik yang bahkan bernilai ekonomis. Seperti beternak, berkebun, memelihara ikan dan semisalnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1439 / 14 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Keenam: Memanfaatkan Waktu LuangJika kita lihat anak-anak muda di zaman sekarang, banyak hal aneh yang mereka lakukan. Misalnya saja sekelompok anak punk, memakai cincin di hidung, lidah dan pusar, mewarnai dan mengolah rambut dengan bentuk yang sangat aneh. Melakukan aksi kebut-kebutan di jalan dengan berbonceng empat. Atau melakukan berbagai kegiatan aneh lainnya, yang intinya adalah mencari perhatian dan mengisi waktu sebagai dorongan hasrat jiwa muda mereka.Salah satu penyebab kerusakan pemuda adalah kekosongan waktu alias tidak memiliki kegiatan yang bernilai positif. Ditambah lagi masa-masa muda adalah masa mencari jati diri, masa membuktikan eksistensi, masa mencari perhatian dan masa penuh semangat dan bergairah. Akan tetapi di balik semangat ini, perlu kontrol dan perlu pembinaan agar tidak berlebihan dan keluar dari bimbingan agama.Ketika anak mengalami kekosongan waktu (kosong dari kegiatan positif), maka mereka mulai mencari-cari kegiatan atau mengisinya dengan kegiatan yang paling minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas. Belum lagi sebagian mereka merasa kurang perhatian, baik dari keluarga dan temannya. Maka ia akan melakukan hal-hal yang aneh, ajaib bahkan vulgar; agar tetap eksis. Misalnya balap-balapan di jalan raya, membuat kerusuhan di sekolah bersama gengnya, bahkan membuat video tidak layak dengan geng atau pasangan tidak halalnya.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”.Inilah kaidah kehidupan. Bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan ini dengan kegiatan positif, maka bisa dipastikan kita akan mengisinya dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi anak muda yang jiwanya masih bergelora.Kegiatan Positif untuk AnakSetelah jam pelajaran sekolah berakhir, anak-anak sekolah dipersilahkan meninggalkan sekolah untuk kembali kepada orangtua atau walinya dengan membawa setumpuk tugas dari sekolah. Anak-anak pun dituntut untuk bisa mengatur sedemikian rupa waktu luangnya; agar menjadi manusia mandiri yang siap terjun ke masyarakat.Setelah anak mengambil istirahat yang cukup, seyogyanya diprioritaskan untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan oleh bapak-ibu guru.Nah, bila masih tersisa waktu kosong, maka banyak sekali kegiatan positif yang bisa diberikan pada anak. Secara umum kegiatan itu bisa dibagi menjadi dua: ukhrawi dan duniawi.Kegiatan ukhrawi contohnya adalah: membaca al-Qur’an dan menghapalkannya, membaca buku-buku agama, menghadiri pengajian, membantu orang tua, bersilaturahim dan lain-lain.Kegiatan duniawi yang positif antara lain: berolahraga seperti memanah, berenang (dengan catatan memilih tempat yang tidak bercampurbaur antara putra dengan putri), bersepeda dan yang semisal.Juga bisa menyalurkan hobi baik yang bahkan bernilai ekonomis. Seperti beternak, berkebun, memelihara ikan dan semisalnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1439 / 14 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 144: MENDOAKAN ORANG TUA DAN KERABATNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIR

Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan orang tua dan kerabat. Berikut dalil-dalilnya. Namun timbul pertanyaan, bagaimana bila orang tua tersebut beragama selain Islam. Apakah masih berhak untuk didoakan?Jawabannya: tergantung waktu mendoakannya dan apa isi doanya.Bila waktu mendoakannya adalah saat mereka masih hidup, sedangkan konten doanya adalah memohon agar mereka mendapat hidayah, maka ini diperbolehkan.Dalilnya antara lain hadits berikut ini;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saat ibuku masih musyrik, aku selalu mengajaknya masuk Islam. Suatu hari saat aku mendakwahinya, namun beliau justru ngata-ngatain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sembari menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh aku selalu mengajak ibuku masuk Islam. Namun beliau tidak mau. Hari ini aku mendakwahinya. Ternyata ia malah mengeluarkan kata-kata tentang dirimu yang tidak aku sukai. Doakanlah ibuku agar diberi hidayah oleh Allah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdoa,“اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ““Ya Allah, berilah ibunda Abu Hurairah hidayah”.Akupun keluar dengan perasaan bahagia mendengar doa Nabiyullah. Sesampainya di rumah, kutemukan pintu tertutup. Ibuku mendengar suara langkahku. Beliau berkata, “Abu Hurairah, berhentilah di situ!”. Aku mendengar gemercik air. Setelah selesai mandi, beliau bergegas mengenakan pakaian dan tidak sempat berjilbab. Beliau membuka pintu seraya berkata, “Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Serta aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.Maka akupun kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sembari menangis bahagia. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang membawa kabar gembira. Allah telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibuku!”. Maka beliaupun memuji Allah dan menyanjung-Nya. Serta mendoakan kebaikan”. HR. Muslim.Namun jika waktu mendoakannya adalah saat mereka wafat dan isi doanya permohonan agar mereka diampuni Allah, maka ini tidak boleh. Para ulama telah berijma’ tentang haramnya hal tersebut. Sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Sebab Allah telah menyatakan bahwa Dia tidak akan mengampuni orang kafir. Bila kita tetap meminta agar orang kafir tersebut diampuni, maka itu termasuk sikap tidak beretika kepada Allah.Allah ta’ala berfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“ Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik. Sekalipun orang-orang itu adalah kerabatnya. Setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahannam”. QS. At-Taubah (9): 113. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 R. Tsani 1440 / 24 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIR

Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan orang tua dan kerabat. Berikut dalil-dalilnya. Namun timbul pertanyaan, bagaimana bila orang tua tersebut beragama selain Islam. Apakah masih berhak untuk didoakan?Jawabannya: tergantung waktu mendoakannya dan apa isi doanya.Bila waktu mendoakannya adalah saat mereka masih hidup, sedangkan konten doanya adalah memohon agar mereka mendapat hidayah, maka ini diperbolehkan.Dalilnya antara lain hadits berikut ini;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saat ibuku masih musyrik, aku selalu mengajaknya masuk Islam. Suatu hari saat aku mendakwahinya, namun beliau justru ngata-ngatain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sembari menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh aku selalu mengajak ibuku masuk Islam. Namun beliau tidak mau. Hari ini aku mendakwahinya. Ternyata ia malah mengeluarkan kata-kata tentang dirimu yang tidak aku sukai. Doakanlah ibuku agar diberi hidayah oleh Allah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdoa,“اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ““Ya Allah, berilah ibunda Abu Hurairah hidayah”.Akupun keluar dengan perasaan bahagia mendengar doa Nabiyullah. Sesampainya di rumah, kutemukan pintu tertutup. Ibuku mendengar suara langkahku. Beliau berkata, “Abu Hurairah, berhentilah di situ!”. Aku mendengar gemercik air. Setelah selesai mandi, beliau bergegas mengenakan pakaian dan tidak sempat berjilbab. Beliau membuka pintu seraya berkata, “Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Serta aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.Maka akupun kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sembari menangis bahagia. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang membawa kabar gembira. Allah telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibuku!”. Maka beliaupun memuji Allah dan menyanjung-Nya. Serta mendoakan kebaikan”. HR. Muslim.Namun jika waktu mendoakannya adalah saat mereka wafat dan isi doanya permohonan agar mereka diampuni Allah, maka ini tidak boleh. Para ulama telah berijma’ tentang haramnya hal tersebut. Sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Sebab Allah telah menyatakan bahwa Dia tidak akan mengampuni orang kafir. Bila kita tetap meminta agar orang kafir tersebut diampuni, maka itu termasuk sikap tidak beretika kepada Allah.Allah ta’ala berfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“ Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik. Sekalipun orang-orang itu adalah kerabatnya. Setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahannam”. QS. At-Taubah (9): 113. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 R. Tsani 1440 / 24 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan orang tua dan kerabat. Berikut dalil-dalilnya. Namun timbul pertanyaan, bagaimana bila orang tua tersebut beragama selain Islam. Apakah masih berhak untuk didoakan?Jawabannya: tergantung waktu mendoakannya dan apa isi doanya.Bila waktu mendoakannya adalah saat mereka masih hidup, sedangkan konten doanya adalah memohon agar mereka mendapat hidayah, maka ini diperbolehkan.Dalilnya antara lain hadits berikut ini;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saat ibuku masih musyrik, aku selalu mengajaknya masuk Islam. Suatu hari saat aku mendakwahinya, namun beliau justru ngata-ngatain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sembari menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh aku selalu mengajak ibuku masuk Islam. Namun beliau tidak mau. Hari ini aku mendakwahinya. Ternyata ia malah mengeluarkan kata-kata tentang dirimu yang tidak aku sukai. Doakanlah ibuku agar diberi hidayah oleh Allah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdoa,“اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ““Ya Allah, berilah ibunda Abu Hurairah hidayah”.Akupun keluar dengan perasaan bahagia mendengar doa Nabiyullah. Sesampainya di rumah, kutemukan pintu tertutup. Ibuku mendengar suara langkahku. Beliau berkata, “Abu Hurairah, berhentilah di situ!”. Aku mendengar gemercik air. Setelah selesai mandi, beliau bergegas mengenakan pakaian dan tidak sempat berjilbab. Beliau membuka pintu seraya berkata, “Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Serta aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.Maka akupun kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sembari menangis bahagia. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang membawa kabar gembira. Allah telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibuku!”. Maka beliaupun memuji Allah dan menyanjung-Nya. Serta mendoakan kebaikan”. HR. Muslim.Namun jika waktu mendoakannya adalah saat mereka wafat dan isi doanya permohonan agar mereka diampuni Allah, maka ini tidak boleh. Para ulama telah berijma’ tentang haramnya hal tersebut. Sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Sebab Allah telah menyatakan bahwa Dia tidak akan mengampuni orang kafir. Bila kita tetap meminta agar orang kafir tersebut diampuni, maka itu termasuk sikap tidak beretika kepada Allah.Allah ta’ala berfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“ Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik. Sekalipun orang-orang itu adalah kerabatnya. Setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahannam”. QS. At-Taubah (9): 113. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 R. Tsani 1440 / 24 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di pertemuan sebelumnya telah dijelaskan anjuran mendoakan orang tua dan kerabat. Berikut dalil-dalilnya. Namun timbul pertanyaan, bagaimana bila orang tua tersebut beragama selain Islam. Apakah masih berhak untuk didoakan?Jawabannya: tergantung waktu mendoakannya dan apa isi doanya.Bila waktu mendoakannya adalah saat mereka masih hidup, sedangkan konten doanya adalah memohon agar mereka mendapat hidayah, maka ini diperbolehkan.Dalilnya antara lain hadits berikut ini;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saat ibuku masih musyrik, aku selalu mengajaknya masuk Islam. Suatu hari saat aku mendakwahinya, namun beliau justru ngata-ngatain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sembari menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah. Sungguh aku selalu mengajak ibuku masuk Islam. Namun beliau tidak mau. Hari ini aku mendakwahinya. Ternyata ia malah mengeluarkan kata-kata tentang dirimu yang tidak aku sukai. Doakanlah ibuku agar diberi hidayah oleh Allah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdoa,“اللهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ““Ya Allah, berilah ibunda Abu Hurairah hidayah”.Akupun keluar dengan perasaan bahagia mendengar doa Nabiyullah. Sesampainya di rumah, kutemukan pintu tertutup. Ibuku mendengar suara langkahku. Beliau berkata, “Abu Hurairah, berhentilah di situ!”. Aku mendengar gemercik air. Setelah selesai mandi, beliau bergegas mengenakan pakaian dan tidak sempat berjilbab. Beliau membuka pintu seraya berkata, “Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Serta aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.Maka akupun kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sembari menangis bahagia. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang membawa kabar gembira. Allah telah mengabulkan doamu dan memberi hidayah kepada ibuku!”. Maka beliaupun memuji Allah dan menyanjung-Nya. Serta mendoakan kebaikan”. HR. Muslim.Namun jika waktu mendoakannya adalah saat mereka wafat dan isi doanya permohonan agar mereka diampuni Allah, maka ini tidak boleh. Para ulama telah berijma’ tentang haramnya hal tersebut. Sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawiy rahimahullah (w. 676 H). Sebab Allah telah menyatakan bahwa Dia tidak akan mengampuni orang kafir. Bila kita tetap meminta agar orang kafir tersebut diampuni, maka itu termasuk sikap tidak beretika kepada Allah.Allah ta’ala berfirman,“مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ“ Artinya: “Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik. Sekalipun orang-orang itu adalah kerabatnya. Setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahannam”. QS. At-Taubah (9): 113. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 R. Tsani 1440 / 24 Desember 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 113: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 7Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Di antara metode tersebut:Ketujuh: Metode motivasi hadiah dan hukumanAda surga, ada neraka. Allah ta’ala janjikan surga sebagai hadiah bagi orang beriman. Sedangkan neraka disediakan sebagai hukuman bagi para pelanggar perintah-Nya.Teladan dari Allah Yang Maha Agung memberikan penjelasan pada kita, bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman boleh kita terapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun tentunya ini bukan metode satu-satunya yang perlu diterapkan pada anak. Sebab bisa menimbulkan ketergantungan kepada faktor eksternal, yaitu hadiah dan hukuman itu sendiri.Akan lebih baik lagi bila kita bisa menumbuhkan motivasi internal. Yakni kesadaran yang muncul dari diri anak sendiri. Sehingga ia tak memiliki ketergantungan kepada faktor eksternal. Buahnya anak akan lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan dan di mana saja.Namun, sebagai langkah awal, metode hadiah dan hukuman ini tidak mengapa digunakan. Manakala sudah terlihat munculnya motivasi internal, maka metode pemberian hadiah dan hukuman bisa diakhiri.Berikut beberapa rambu agar hadiah efektif: Sesuaikan dosisnyaPemberian hadiah dan hukuman memiliki aturan, syarat dan ukuran tertentu. Yang dosisnya bisa jadi berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Tergantung kasus spesifik yang dihadapi masing-masing. Kekurangan atau kelebihan dosis pemberian hadiah dan hukuman bisa jadi membuatnya kehilangan fungsi sebagai obat. Bahkan bisa berubah menjadi racun yang justru semakin merusak kepribadian anak.Ada kasus di mana perilaku anak justru semakin buruk setelah diberi hukuman. Kasus lain, muncul ketergantungan anak terhadap keberadaan hadiah. Tidak mau berbuat kebaikan kecuali bila ada hadiahnya.Aturan pertama yang harus diperhatikan adalah harus ada keseimbangan antara hadiah dan hukuman. Seimbang itu bukan berarti porsinya sama, satu-satu. Namun hadiah harus lebih banyak dan didahulukan dari hukuman.Aturan berikutnya adalah membedakan karakter satu anak dengan yang lain. Ada anak yang begitu mudah diatur. Saat berbuat kesalahan, hanya dengan sedikit peringatan dan hukuman, ia sudah bisa berubah dan memperbaiki perilakunya. Namun ada anak yang sangat bengal. Karena sering dihukum, ia jadi kebal hukuman. Bahkan kadang ia menikmati hukuman.Selanjutnya adalah memaksimalkan perhatian positif dan meminimalkan perhatian negatif. Maksudnya kita tertuntut untuk menangkap basah sebanyak mungkin saat anak berbuat baik. Lalu secepatnya memberikan penghargaan kepada dia. Sebaliknya jika ditemukan kekurangan atau kesalahan anak, berilah teguran secukupnya. Tanpa harus menyertainya dengan omelan panjang lebar. Serta jangan terlalu cepat memberikan hukuman. Harus ada batasnyaKita sepakat, bahwa pemberian hadiah sebaiknya tidak dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan menumbuhkan kebiasaan saja. Manakala anak dirasa telah memiliki pembiasaan yang cukup, maka pemberian hadiah bisa diakhiri.Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini. Untuk menghindari tumbuhnya harapan anak yang terlalu besar terhadap perolehan hadiah ini. Sangat mungkin anak akan protes. Namun di sinilah saatnya kita menunjukkan sikap tegas. Orang tua harus bisa mengendalikan anak, bukan dikendalikan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 145: MENDOAKAN ORANG KAFIRNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah

Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan Pemerintah

Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup sendirian. Dia perlu berinteraksi dengan orang lain. Membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali bila ada pemimpinnya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ““Bila ada tiga orang bepergian jauh bersama, hendaklah mereka mengangkat salah satunya menjadi pemimpin”. HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu. Syaikh al-Albaniy menilai sanadnya hasan sahih.Bila sekumpulan orang berjumlah tiga saja harus ada pemimpinnya, apalagi sekumpulan orang dalam sebuah negara. Tentu harus ada pemimpinnya. Bukan sekedar ada pemimpin, namun pemimpin yang dipatuhi rakyatnya. Allah ta’ala berfirman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ“Artinya: “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemerintah kalian”. QS. An-Nisa’ (4): 59.Namun berhubung pemerintah adalah manusia, maka peluang untuk melakukan kesalahan pun terbuka lebar. Sebagaimana rakyatnya juga demikian. Karenanya perlu ada pembudayaan saling nasehat-menasehati.عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه سلم قَالَ: “الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ“ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: “لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“.Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasehat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasehat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasehat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. HR. Muslim.Salah satu bentuk nasehat untuk pemerintah adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Saking pentingnya hal ini, hingga Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (w. 187 H) pernah berkata, “Andaikan aku memiliki satu doa yang mustajab, niscaya tidak akan kugunakan kecuali untuk mendoakan pemerintah. Sebab bila pemerintah baik, niscaya negara dan masyarakat akan aman”.Bahkan para ulama Ahlus Sunnah mengategorikan hal ini dalam prinsip akidah yang musti dipegang setiap muslim. Imam Abu Ja’far ath-Thahawiy (w. 321 H) menjelaskan, “Kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak membenarkan pemberontakan terhadap pemerintah, sekalipun mereka berbuat zalim. Tidak mendoakan keburukan untuk mereka. Tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kami memandang bahwa ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah yang wajib. Selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Kita selalu mendoakan agar mereka baik dan selamat”.Inilah solusi yang paling tepat menghadapi kebobrokan pemerintah. Tidak perlu merasa alergi untuk mendoakan kebaikan buat pemerintah. Toh, mendoakan keburukan untuk mereka juga tidak menyelesaikan masalah. Justru malah memperparah keadaan. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Jumadal Ula 1440 / 7 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 114: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 8Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9

Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut kelanjutannya: Hadiah tidak identik dengan materiBanyak orang saat mendengar kata hadiah, yang terlintas di benaknya adalah sesuatu yang bersifat materi, barang berharga atau uang. Padahal sebenarnya pemberian hadiah berupa barang, ternyata sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadapnya. Apalagi jika dalam menerapkannya tidak sesuai dengan syarat-syarat yang harus diperhatikan.Alternatif bentuk hadiah terbaik justru berupa perhatian, baik kata-kata atau isyarat fisik.Perhatian dengan kata-kata misalnya ucapan: “MasyaAllah!”, “Alhamdulillah!”, “Kamu sayang sekali dengan adikmu”, “Gambarmu bagus banget”, dan semisal itu.Adapun perhatian dengan perhatian fisik, bisa berupa pelukan hangat, elusan sayang di kepala, acungan jempol, senyuman bangga dan semisalnya.Saat anak shalat dengan baik di masjid, peluklah dia sambil berkata, “MasyaAllah bagus sekali shalatmu anak salih. Alhamdulillah… Semoga kita semua dimasukkan ke surga”.Bisa pula dengan ucapan selamat itu diberikan melalui lembaran surat-surat cantik atau memberikan tanda bintang yang dengan bangga bisa mereka tempel di dinding kamar. Bisa juga ayah-ibu sesekali menggoreskan pena di dalam buku harian anak, dengan kata-kata indah berupa penghargaan terhadap perilaku baik anak selama ini.Hati-hati dengan uang!Dibandingkan dengan bentuk hadiah materi lainnya, hadiah berupa uang justru lebih banyak memiliki dampak negatif. Masalahnya, uang ini dirasa anak sebagai benda ajaib. Sebab dengan uang, mereka bisa menukarnya dengan benda menarik yang mereka ingini. Sehingga anak menyimpulkan bahwa uang bisa dijadikan kunci penyelesaian untuk mewujudkan apapun keinginannya.Padahal tidak semua anak siap memanfaatkan dengan benar uang yang ada di tangannya. Bila tidak cerdas, bisa jadi uang akan terbuang percuma atau bahkan mencelakakan anak.Jika hadiah yang diberikan terpaksa berupa uang, maka harus diiringi bimbingan dan arahan agar anak mampu mengelola uangnya dengan baik. Misalnya, diarahkan agar uang tersebut ditabung atau untuk membeli keperluan sekolah atau untuk diinfakkan.Bisa juga hadiah yang seharusnya berupa uang diwujudkan dalam bentuk benda yang memang menjadi kebutuhan anak. Seperti tas, sepatu, buku bacaan atau mainan edukatif. Musyawarahkan kesepakatannyaTidak perlu merasa gengsi berdialog dengan anak. Beri anak kesempatan untuk memilih hadiah yang diinginkannya. Bila ternyata pilihannya di luar kemampuan kita, maka beri pengertian pada mereka bahwa tidak setiap keinginan kita bisa tercapai dengan mudah. Sambil berikan beberapa alternatif pengganti yang terjangkau.Bila Anda menghadapi anak yang yang berkarakter manja dan keras kepala, ini memerlukan keahlian berdialog khusus untuk mematahkan argumentasi mereka yang keliru. Kepandaian berdiplomasi dan kecerdikan mencari berbagai alternatif jawaban sangat dibutuhkan di sini. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulqa’dah 1439 / 16 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 146: Mendoakan PemerintahNext ANTARA LEBAH DAN LALAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANTARA LEBAH DAN LALAT

ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANTARA LEBAH DAN LALAT

ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


ANTARA LEBAH DAN LALATOleh: Abdullah Zaen, Lc., MALebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?Lebah mempunyai karakter pribadi yang baik. Selain itu kehidupan sosialnya juga baik.Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?Sebab lebah mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya. Sedangkan lalat tidak demikian.Allah ta’ala berfirman,“وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ“Artinya: “Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. QS. An-Nahl (16): 68-69.Secara pribadi, lebah memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara sosial pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi.Bandingkan dengan kepribadian lalat. Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah ta’ala menceritakan,“وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ“Artinya: “Jika lalat merampas sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. QS. Al-Hajj (23): 73.Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.Secara sosial, lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.Nah, silahkan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.Jangan heran, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد“.“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 115: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 9Next GURU MENDEWASAKAN MURID Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

GURU MENDEWASAKAN MURID

GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

GURU MENDEWASAKAN MURID

GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


GURU MENDEWASAKAN MURIDKata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018Abdullah Zaen Post navigation Previous ANTARA LEBAH DAN LALATNext Kepala Batu Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kepala Batu

KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Kepala Batu

KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


KEPALA BATUEntah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.Na’udzu billah min dzalik…Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.Wallahu a’lam…Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019 Abdullah Zaen Post navigation Previous GURU MENDEWASAKAN MURIDNext Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME

VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISME

VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


VIRUS GANAS FANATISMEOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي جعل التقوى أساس التكريم، وجعل الأخوة الإيمانية الرابطة بين المسلمين، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله رحمة للعالمين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد فاتقوا الله عباد الله، فإن من اتقاه نجّاه..Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya. Yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Suatu hari terjadi percekcokan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Emosi keduanya memuncak. Sehingga masing-masing berusaha meminta dukungan dari golongannya.Si Anshar tadi pun berteriak, ”Wahai golongan Anshar (dukung aku)”.Tidak kalah si Muhajirin juga berseru, ‘Wahai golongan muhajirin (dukung aku).’Mendengar perseteruan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segera keluar dari rumahnya seraya bersabda, “مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ”“Mengapa ada propaganda jahiliyyah semacam ini di sini?”. “Apa yang terjadi?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.“Ada pertikaian di antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar wahai Rasul” jawab mereka.Beliau bersabda,“دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ““Tinggalkan propaganda jahiliyyah. Itu adalah hal yang busuk!”. HR. Bukhari.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Hadits di atas menjelaskan terlarangnya sikap fanatisme. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengategorikannya sebagai perilaku jahiliyyah, primitif dan terbelakang.Fanatisme berarti sikap keras kepala. Enggan menerima pendapat orang lain sekalipun benar. Sebab merasa dirinya selalu benar dan orang lain pasti salah.Bila penyakit ini mewabah di sebuah masyarakat, maka akan merusak tatanan kehidupan manusia. Tidak bisa lagi dibedakan mana orang yang terpelajar dan mana orang yang awam. Mana orang yang beradab dan mana yang biadab.Fanatisme akan merobek-robek persatuan. Melemahkan kekuatan. Memecah belah kesatuan umat. Menyuburkan perpecahan. Serta menghancurkan sendi-sendi bangsa.Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Orang yang menempuh jalan fanatisme ini bakal terpedaya. Sekalipun dengan modal tersebut ia berhasil memperoleh kedudukan mentereng. Sebagai tokoh agamakah, atau pimpinan politik, atau dijuluki tokoh cendekia. Namun sejatinya itu hanyalah fatamorgana belaka. Ia selalu berusaha menutupi kekurangan dan kegagalannya dengan menonjolkan kefanatikannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan,“وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ، أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً؛ فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ“ “Barang siapa berperang di bawah panji buta. Tersinggung lantaran dorongan fanatisme. Mengajak kepada fanatisme. Membela fanatisme. Lalu ia terbunuh, maka sungguh kematiannya adalah sebuah kematian jahiliyyah”. HR. Muslim.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Perbedaan pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari. Karena kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Kita bukanlah Malaikat. Sehingga kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat dan menghapuskannya.Yang bisa kita lakukan adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan. Bersikap yang baik dengan perbedaan tersebut. Menerapkan adab-adab Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.Sikap saling menghormati ini tidaklah menghalangi diskusi dan dialog ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat. Demikian juga tidak menghalangi upaya meluruskan penyimpangan yang ada di masyarakat. Namun dengan tetap menjaga etika dalam melakukan kritik ilmiah dan berakhlak mulia saat berinteraksi dengan orang yang dikritik. Tidak boleh membumbuinya dengan vonis-vonis zalim, apalagi fitnah-fitnah keji.Jama’ah Jum’at a’zzakumullah…Berpegang teguh dengan firman Allah ta’ala dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah bimbingan para ulama adalah sebuah kewajiban agama. Sehingga keliru bila melabeli sikap istiqamah tersebut dengan fanatisme.Bagaimana mungkin itu dikategorikan fanatisme tercela, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang telah berpesan,“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ““Siapapun yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang senantiasa mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut. Gigit erat dengan gigi geraham kalian“. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.KHUTBAH KEDUA:الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أن نبينا محمدًا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه.Sidang Jum’at yang kami hormati…Perlu diketahui bahwa mencintai bangsa dan tanah air bukan termasuk fanatisme yang tercela. Karena hal ini merupakan sunnatullah dalam ciptaan Allah. Dia menjadikan manusia bersuku dan berbangsa agar mereka saling mengenal. Naluri manusia mencintai negeri mereka di mana mereka berasal. Memiliki sikap nasionalis tidak harus menjadi fanatik.Tapi perlu diingat bahwa nasionalisme itu bukan sekedar perasaan cinta yang dipendam dalam hati. Bukan pula hiasan bibir pemanis kampanye politik belaka.Namun harus diiringi upaya nyata membangun negeri. Memakmurkannya. Membelanya. Mengorbankan hal-hal berharga demi kemerdekaannya. Serta mencegah siapapun dari para musuh yang bernafsu untuk menguasai dan bersikap rakus mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi sekehendaknya.هذا وصلُّوا وسلِّمُوا على الرحمةِ المُهداة، والنِّعمةِ المُسداة: نبيِّكُم مُحمدٍ رسولِ الله؛ فقد أمرَكم بذلك ربُّكم في مُحكَم تنزيلِه، وهو القائِلُ – والصادِقُ في قِيلِه–: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على عبدِك ورسولِك: نبيِّنا محمدٍ الحَبيبِ المُصطَفى، والنبيِّ المُجتَبَى، وعلى آله الطيبين الطاهِرِين، وعلى أزواجِه أمهاتِ المؤمنين.وارضَ اللهم عن الخلفاءِ الأربعةِ الراشدين: أبي بكرٍ، وعُمر، وعُثمان، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين، والتابِعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وعنَّا معهم بعفوِك وجُودِك وفضلِك وإحسانِك وكرمِك يا أكرَمَ الأكرمينربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاباللهم نج إخواننا المؤمنين المستضعفين في بورما، وسوريا، وفلسطين، والصين وفي كل مكانربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Ula 1440 H / 1 Februari 2019  Post navigation Previous Kepala BatuNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOA

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 147 PEDULI DALAM BERDOASeorang muslim tertuntut untuk memiliki kepedulian. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Kepedulian tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk doa. Nah, doa itu berdasarkan siapa yang didoakan bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:Pertama: Doa untuk diri sendiriContohnya:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي““Ya Allah ampunilah aku. Rahmatilah aku. Limpahkanlah hidayah kepadaku. Sehatkan aku. Karuniakanlah rizki kepadaku”. HR. Muslim.Kedua: Doa untuk orang lainSeperti doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,“اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ““Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya. Serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padanya”. HR. Bukhari dan Musllim.Juga arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,“مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ““Barang siapa yang dibaiki, lalu ia berkata kepada yang berbuat baik, “Jazakallahu khairan (Semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik)”, sungguh dia telah maksimal dalam menghargainya”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ketiga: Doa untuk diri sendiri dan orang lainDalam doa jenis ini, seyogyanya obyek yang didahulukan adalah diri sendiri. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau akan mengawali dengan mendoakan dirinya sendiri dulu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib sahih.Banyak sekali contoh doa jenis ini dalam al-Qur’an. Di antaranya:“رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ“Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat)”. QS. Ibrahim (14): 41.Keempat: Doa untuk BersamaMaksudnya mendoakan diri sendiri dan orang lain menggunakan redaksi jamak. Seperti yang ada dalam surat al-Fatihah“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ”Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. QS Al-Fatihah (1): 6.  @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Jumadal Ula 1440 / 21 Januari 2019 Post navigation Previous Khutbah Jumat: VIRUS GANAS FANATISMENext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 116 METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-10Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu juga telah dijelaskan beberapa rambu agar hadiah efektif. Berikut pembahasan tentang rambu-rambu agar hukuman efektif.Realita membuktikan adanya anak-anak yang kebal dengan hukuman. Indikatornya: walaupun telah berkali-kali dijatuhkan hukuman, bahkan sudah ditingkatkan level hukumannya, namun tetap saja mengulangi kesalahan yang sama. Indikator lainnya: anak belum tergerak melakukan sesuatu atau meninggalkannya sebelum memperoleh hukuman terlebih dahulu.Kejadian ini biasanya dipicu dari anggapan bahwa tidak ada alternatif cara lain untuk mengubah perilaku buruk anak, selain dengan hukuman. Padahal masih banyak metode lainnya. Seandainya diperlukan hukuman pun, ada aturan dan caranya. Berikut rambu-rambu tersebut: Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiahProporsional di sini bukan berarti sama persis, 50:50, bukan!. Maksud dari keseimbangan di sini adalah bahwa hadiah seharusnya lebih dominan dibanding hukuman. Sebab di dalam ajaran agama kita, sikap lembut seharusnya lebih dominan dibanding sikap keras.Masalah seringkali muncul akibat prakteknya dibalik. Hukuman yang lebih dominan dibanding hadiah. Di mana orang tua dan pendidik selalu merespon perilaku buruk anak dengan hukuman, dan hampir tidak pernah merespon perilaku baik anak dengan hadiah. Alasannya: perilaku baik itu sudah sewajarnya dilakukan anak. Sehingga tidak perlu diapresisasi.Padahal seharusnya kita memprioritaskan perhatian pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan anak, walau sekecil apapun. Untuk segera diberi perhatian positif, supaya kebaikan tersebut semakin terus berkembang. Adapun kesalahan-kesalahan anak, maka tetap dicatat. Jika dibutuhkan hukuman, maka lakukan sewajarnya. Namun tidak terus menerus dijadikan pusat perhatian secara berlebihan. Berikan kepercayaan dulu baru hukumanSaat anak melakukan kesalahan, seharusnya komentar yang diberikan adalah komentar yang mengandung kepercayaan. Hukuman, baik berupa kata-kata pedas, kemarahan, maupun hukuman fisik lain, adalah alternatif urutan terakhir. Setelah upaya secara halus dan lembut tidak membuahkan hasil.Ketika anak tidak kunjung pergi mandi, sementara waktu sudah mendekati Maghrib, kita bisa katakan, “Kamu belum mandi, nak? Tapi ibu tahu kamu bisa memperkirakan sendiri waktumu. Kamu punya waktu 15 menit lagi sebelum Maghrib”.Komentar seperti ini terasa lebih sejuk daripada nasehat yang sifatnya memojokkan kesalahan anak. Seperti komentar berikut, “Sudah hampir Maghrib, kok belum mandi juga? Selalu saja begitu setiap hari. Kapan kamu bisa mengatur waktumu dengan baik?!”.Sekilas dua komentar tersebut tidak berbeda. Padahal bila itu terus menerus terulang, akan menimbulkan perasaan yang berbeda dalam diri anak. Komentar-komentar yang disertai kepercayaan dan prasangka baik, seperti komentar pertama, akan menumbuhkan motivasi anak untuk berperilaku seperti yang diprasangkakan padanya. Lagipula anak insyaAllah akan lebih menghormati dan mencintai ibunya; karena tidak menyudutkannya dengan kesalahannya.Sebaliknya, komentar jenis kedua, yang cenderung menyudutkan anak dengan kesalahan-kesalahannya, bila selalu diulang, akan membuat anak jengkel. Kalaupun mereka mematuhinya, lebih dikarenakan dorongan rasa takut. Itupun sambil memendam bibit kejengkelan, yang kian lama akan merusak keakraban hubungan ibu dan anak. Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Dzulqa’dah 1439 / 30 Juli 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 147: PEDULI DALAM BERDOANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 117: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 11

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 117METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bag-11Dengan mengetahui metode pembelajaran yang baik, diharapkan proses pendidikan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orang tua tidak merasa terbebani. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa metode ketujuh adalah motivasi berupa hadiah dan hukuman. Saat itu telah dijelaskan beberapa rambu agar hukuman efektif. Berikut kelanjutannya: Standarkan pemberian hukuman pada perilakuPenting sekali untuk bisa membedakan antara “perilaku” dengan “pelaku”. Standar pemberian hukuman sebaiknya berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan pelakunya.Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Atau memiliki tabiat untuk menerima kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Maka semestinya kita memiliki keyakinan bahwa walaupun melakukan kesalahan, sejatinya anak tetap sebagai pribadi atau “pelaku” yang baik.Akan terasa bedanya antara dua komentar berikut:“Dasar pembohong! Sudah jelas uang itu ditemukan dalam tasmu, masih juga belum mengaku mencurinya?”.Bandingkan dengan komentar ini: “MasyaAllah nak, kamu berbohong pada mama? Uang itu kan ditemukan dalam tasmu? Tapi mama tahu, kamu anak baik dan ksatria. Suatu saat nanti akan mau mengakui kesalahanmu”.Cara terakhir ini insyaAllah lebih aman. Karena ketika kita harus memberikan hukuman, mereka tahu bahwa kita memang menyalahkan perbuatannya, tapi tetap menghargai dan tidak menjelek-jelekkan pribadinya. Dengan demikian mereka merasa memperoleh kepercayaan, bahwa di lain waktu, bisa memperbaiki kesalahan. Ini adalah modal awal yang menjadi bibit tumbuhnya motivasi memperbaiki diri dalam hati anak. Hukumlah tanpa emosiPemberian hukuman itu ada tujuannya. Bila salah niat, maka hasilnya pun akan negatif. Contoh kesalahan tersering adalah menghukum dengan tujuan untuk melampiaskan emosi. Alih-alih bakalan menghasilkan kesadaran pada diri anak. Justru yang ada adalah akan menimbulkan perasaan dendam.Sebagian besar anak yang melakukan kesalahan, sebenarnya mereka tahu akan kesalahan yang mereka perbuat. Sehingga mereka hanya memerlukan sedikit peringatan, juga pengertian dan pemahaman terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Selanjutnya yang diperlukan adalah bimbingan untuk memperbaiki diri. Sama sekali tidak diperlukan kemarahan dan emosi berlebihan di sini.Saat anak melakukan kesalahan, emosinya berada dalam keadaan labil. Kurang efektif bila saat itu kita memberikan nasehat panjang lebar. Juga mengungkit-ungkit kesalahannya. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik berlebihan. Dalam kondisi emosi labil, anak merasakan nasehat yang didengarnya hanya sebagai kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.Lebih baik kita menunda nasehat. Sambil mencari waktu dan cara yang tepat dan efektif. Pilihlah waktu di mana emosi anak sedang cerah, santai dan gembira. InsyaAllah anak lebih mudah untuk menerima nasehat. Apalagi bila cara penyampaiannya, tidak menggurui dan tidak menyudutkan. Tapi memberi kesempatan dialog terbuka dengan mereka.Kalau nasehat saja bisa ditunda, bila situasi dan kondisinya kurang mendukung, apalagi hukuman? Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Dzulhijjah 1439 / 13 Agustus 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 116: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 10Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 118: METODE PEMBELAJARAN ANAK DI RUMAH Bagian 12 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next