Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim

Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ.Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs

Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim

Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ.Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs
Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ.Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs


Dosa dan maksiat bukan hanya menodai hati, tetapi juga memengaruhi rezeki, ilmu, dan hubungan antarmanusia. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan mendalam bagaimana dampak buruk maksiat yang menjadi racun sehingga merusak kehidupan dunia dan akhirat.  Daftar Isi tutup 1. Berbagai Dampak Buruk Dosa dan Maksiat 1.1. 1. Maksiat menghalangi masuknya ilmu 1.2. 2. Maksiat menghalangi datangnya rezeki 1.3. 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat Allah 1.4. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baik 1.5. 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulit 1.6. 48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan Pandangan 2. 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi Setan Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ، أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي، فَمَا الَّذِي أَخْرَجَ الْأَبَوَيْنِ مِنَ الْجَنَّةِ، دَارِ اللَّذَّةِ وَالنَّعِيمِ وَالْبَهْجَةِ وَالسُّرُورِ إِلَى دَارِ الْآلَامِ وَالْأَحْزَانِ وَالْمَصَائِبِ؟Termasuk perkara yang seharusnya diketahui bahwasanya dosa dan kemaksiatan pasti menimbulkan mudharat (kerugian), tidak mungkin tidak. Mudharatnya bagi hati sebagaimana mudharat yang ditimbulkan racun bagi tubuh, yaitu memiliki tingkatan beragam. Adakah kehinaan serta penyakit di dunia dan di akhirat yang tidak disebabkan oleh dosa dan maksiat? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 66)Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita, Adam dan istrinya Hawa, dikeluarkan dari Surga, negeri yang penuh dengan kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kegembiraan, menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan, dan musibah, yaitu bumi?Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan sebelumnya perkataan para ulama salaf berikut ini.وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ اللَّهِ.Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)وَقَالَ حُذَيْفَةُ: إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَصِيرَ قَلْبُهُ كَالشَّاةِ الرَّيْدَاءِ.Hudzaifah berkata, “Ketika seorang hamba melakukan dosa, hatinya akan ditandai dengan titik hitam. Jika dosa terus berulang, hatinya akhirnya menjadi seperti domba yang terbalik, yakni hati yang terbalik dari fitrahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 82) Berbagai Dampak Buruk Dosa dan MaksiatMaksiat memiliki berbagai dampak yang buruk, tercela, serta membahayakan hati dan badan, di dunia maupun di akhirat, yang jumlahnya tidak diketahui secara pasti kecuali oleh Allah semata. Di antara dampak kemaksiatan yang dimaksud sebagai berikut:1. Maksiat menghalangi masuknya ilmuIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,حِرْمَانُ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ.Di antara dampak jelek maksiat adalah ilmu sulit masuk. Padahal ilmu adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati, sedangkan maksiat adalah pemadam cahaya tersebut.وَلَمَّا جَلَسَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ وَقَرَأَ عَلَيْهِ أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ وُفُورِ فِطْنَتِهِ، وَتَوَقُّدِ ذَكَائِهِ، وَكَمَالِ فَهْمِهِ،فَقَالَ: إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ.Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk sambil membacakan sesuatu di hadapan Imam Malik, kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya membuat gurunya ini tercengang. Beliau pun berujar, “Sesungguhnya aku memandang bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي … فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيوَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ … وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِيImam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, dia menasihatiku agar aku tinggalkan kemaksiatan, dia pun berkata: Ketahuilah, sesungguhnya ilmu itu karunia, dan karunia Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 84) 2. Maksiat menghalangi datangnya rezekiDari hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ“Sungguh, seorang hamba akan terhalang dari rezeki karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad, 5:277)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِTakwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa justru dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat. (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 3. Maksiat menyebabkan kehampaan hati dari mengingat AllahIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا.Pelaku maksiat akan merasakan kesepian dalam hatinya yang membuat hubungannya dengan Allah terasa jauh. Rasa ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa pun, bahkan jika seluruh kesenangan dunia diberikan kepadanya, itu tetap tidak akan mampu menghilangkan rasa sepi tersebut. Hanya orang yang hatinya masih hidup yang dapat merasakannya, sebab seseorang yang hatinya mati tidak akan merasakan sakit, sebagaimana luka tak terasa pada tubuh yang mati. Jika tidak ada alasan lain untuk menjauhi dosa selain demi menghindari kesepian ini, seharusnya itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang berakal untuk meninggalkan perbuatan dosa.Seorang lelaki pernah mengadu kepada salah satu ulama arifin tentang rasa sepi yang ia rasakan dalam dirinya. Ulama itu pun menjawab:إِذَا كُنْتَ قَدْ أَوْحَشَتْكَ الذُّنُوبُ … فَدَعْهَا إِذَا شِئْتَ وَاسْتَأْنِسِوَلَيْسَ عَلَى الْقَلْبِ أَمَرُّ مِنْ وَحْشَةِ الذَّنْبِ عَلَى الذَّنْبِ، فَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.“Jika dosa-dosa membuat hatimu merasa sepi, tinggalkanlah dosa itu kapan pun engkau mampu, maka ketenteraman akan kembali hadir dalam dirimu.Tak ada yang lebih menyakitkan bagi hati selain kehampaan yang muncul akibat terus-menerus terjerumus dalam dosa.”Wallahul musta’an, semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjauhi dosa dan mendekatkan diri kepada-Nya. 4. Maksiat membuat pelakunya asing di antara orang baikIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah,: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Rasa sepi yang muncul akibat dosa juga mempengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain, terutama dengan mereka yang dikenal sebagai orang-orang baik (ahlul khair). Ia akan merasakan jarak dan keterasingan di antara dirinya dan mereka. Semakin kuat rasa keterasingan itu, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari kesempatan untuk duduk bersama mereka. Akibatnya, ia kehilangan keberkahan dari manfaat yang seharusnya ia dapatkan melalui interaksi dengan mereka. Sebaliknya, ia semakin mendekat kepada kelompok setan, sejauh ia menjauh dari kelompok yang diridai oleh Allah.Keterasingan ini dapat terus berkembang hingga menjadi semakin parah, mempengaruhi hubungan dirinya dengan istrinya, anak-anaknya, kerabatnya, bahkan dirinya sendiri. Akhirnya, ia pun menjadi merasa asing dan sepi, bahkan terhadap dirinya sendiri.Sebagian ulama salaf pernah berkata,إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي.“Aku mendapati bahwa ketika aku bermaksiat kepada Allah, dampaknya terlihat pada akhlak hewan tungganganku dan perilaku istriku.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 85) 5. Maksiat membuat semua urusan dipersulitIbnul Qayyim rahimahullah berkata, di antara dampak jelek maksiat adalah, تَعْسِيرُ أُمُورِهِ عَلَيْهِ، فَلَا يَتَوَجَّهُ لِأَمْرٍ إِلَّا يَجِدُهُ مُغْلَقًا دُونَهُ أَوْ مُتَعَسِّرًا عَلَيْهِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا، وَيَا لَلَّهِ الْعَجَبُ! كَيْفَ يَجِدُ الْعَبْدُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَالْمَصَالِحِ مَسْدُودَةً عَنْهُ وَطُرُقَهَا مُعَسَّرَةً عَلَيْهِ، وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أُتِيَ؟Kesulitan yang menimpa seseorang sering kali terlihat dalam urusan-urusannya yang menjadi serba sulit. Setiap kali ia mencoba menghadapi suatu perkara, ia mendapati jalannya tertutup atau penuh hambatan. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah akan dimudahkan dalam urusannya, maka siapa yang meninggalkan takwa akan mendapati urusannya menjadi sulit.Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba bisa merasakan bahwa pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya, serta jalannya terasa penuh kesulitan, namun ia tidak menyadari dari mana asal kesulitan itu datang? (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 85-86)Catatan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dunia dan akhirat.”Baca juga: Orang Bertakwa Tidak Pernah Miskin48. Maksiat itu Membutakan Hati, Melemahkan PandanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا أَنَّهَا تُعْمِي الْقَلْبَ، فَإِنْ لَمْ تُعْمِهِ أَضْعَفَتْ بَصِيرَتَهُ وَلَابُدَّ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ أَنَّهَا تُضْعِفُهُ وَلَابُدَّ، فَإِذَا عَمِيَ الْقَلْبُ وَضَعُفَ، فَاتَهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْهُدَى وَقُوَّتِهِ عَلَى تَنْفِيذِهِ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ، بِحَسَبِ ضَعْفِ بَصِيرَتِهِ وَقُوَّتِهِ.Di antara hukuman atas dosa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati. Jika tidak membutakannya, maka ia pasti melemahkan pandangannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati. Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuan tentang petunjuk serta kekuatan untuk menjalankannya, baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain—sebanding dengan kadar lemahnya pandangan dan kekuatannya.فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلَى أَصْلَيْنِ: مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَإِيثَارِهِ عَلَيْهِ.Sesungguhnya kesempurnaan manusia bertumpu pada dua hal pokok: (1) mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, serta (2) mendahulukan yang benar atas yang batil (menjalankan kebenaran).وَمَا تَفَاوَتَتْ مَنَازِلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِقَدْرِ تَفَاوُتِ مَنَازِلِهِمْ فِي هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ، وَهُمَا اللَّذَانِ أَثْنَى اللَّهُ بِهِمَا سُبْحَانَهُ عَلَى أَنْبِيَائِهِ بِهِمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ} [سُورَةُ ص: ٤٥] .Tidaklah derajat manusia berbeda-beda di sisi Allah Ta‘ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali sesuai kadar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dua hal inilah yang Allah—Mahasuci Dia—puji pada para nabi-Nya melalui firman-Nya:{وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ}“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dan pandangan.” (QS. Shad: 45)فَالْأَيْدِي: الْقُوَّةُ فِي تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَالْأَبْصَارُ: الْبَصَائِرُ فِي الدِّينِ، فَوَصَفَهُمْ بِكَمَالِ إِدْرَاكِ الْحَقِّ وَكَمَالِ تَنْفِيذِهِ، وَانْقَسَمَ النَّاسُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ، فَهَؤُلَاءِ أَشْرَفُ الْأَقْسَامِ مِنَ الْخَلْقِ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.Maka ‘al-aidī’ berarti kekuatan dalam menjalankan kebenaran, dan ‘al-abṣār’ berarti pandangan hati dalam agama. Dengan demikian, Allah menggambarkan mereka dengan kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam melaksanakannya. Manusia dalam hal ini terbagi menjadi empat golongan, dan mereka—para nabi tersebut—adalah golongan paling mulia dari seluruh makhluk dan paling dimuliakan di sisi Allah Ta‘ala.الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka: orang-orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah mayoritas manusia, dan merekalah yang keberadaannya menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati.Mereka membuat tempat tinggal terasa sempit, menaikkan harga-harga, dan tidak ada manfaat dari bergaul dengan mereka kecuali kehinaan dan cela.الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَنْ لَهُ بَصِيرَةٌ بِالْحَقِّ وَمَعْرِفَةٌ بِهِ، لَكِنَّهُ ضَعِيفٌ لَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى تَنْفِيذِهِ وَلَا الدَّعْوَةِ إِلَيْهِ، وَهَذَا حَالُ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ.Golongan ketiga adalah orang yang memiliki pandangan hati terhadap kebenaran dan mengetahuinya, namun ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk menjalankannya dan tidak mampu mengajak kepada kebenaran itu. Inilah keadaan seorang mukmin yang lemah, sedangkan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah darinya.الْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَنْ لَهُ قُوَّةٌ وَهِمَّةٌ وَعَزِيمَةٌ، لَكِنَّهُ ضَعِيفُ الْبَصِيرَةِ فِي الدِّينِ، لَا يَكَادُ يُمَيِّزُ بَيْنَ أَوْلِيَاءِ الرَّحْمَنِ وَأَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، بَلْ يَحْسَبُ كُلَّ سَوْدَاءَ تَمْرَةً وَكُلَّ بَيْضَاءَ شَحْمَةً، يَحْسَبُ الْوَرَمَ شَحْمًا وَالدَّوَاءَ النَّافِعَ سُمًّا.Golongan keempat adalah orang yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, namun lemah pandangan hatinya dalam agama. Ia hampir tidak mampu membedakan antara para wali Ar-Rahmān dan para wali setan. Bahkan ia mengira setiap yang berwarna hitam adalah kurma, dan setiap yang berwarna putih adalah lemak. Ia menyangka pembengkakan sebagai lemak, dan obat yang bermanfaat sebagai racun.وَلَيْسَ فِي هَؤُلَاءِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْإِمَامَةِ فِي الدِّينِ، وَلَا هُوَ مَوْضِعٌ لَهَا سِوَى الْقِسْمِ الْأَوَّلِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: Dan tidak ada seorang pun dari golongan-golongan ini yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan tidak ada tempat bagi kepemimpinan itu kecuali pada golongan pertama. Allah Ta‘ala berfirman:{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (QS. As-Sajdah: 24)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ نَالُوا الْإِمَامَةَ فِي الدِّينِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ اسْتَثْنَاهُمُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْخَاسِرِينَ، وَأَقْسَمَ بِالْعَصْرِ – الَّذِي هُوَ زَمَنُ سَعْيِ الْخَاسِرِينَ وَالرَّابِحِينَ – عَلَى أَنَّ مَنْ عَدَاهُمْ فَهُوَ مِنَ الْخَاسِرِينَ، فَقَالَ تَعَالَى Maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan, mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Mereka inilah orang-orang yang Allah Mahasuci kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi. Allah bersumpah dengan waktu—yang merupakan masa berusaha bagi orang-orang yang merugi dan yang beruntung—bahwa siapa saja selain mereka adalah termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta‘ala berfirman:{وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)وَلَمْ يَكْتَفِ مِنْهُمْ بِمَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَالصَّبْرِ عَلَيْهِ، حَتَّى يُوصِيَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِهِ وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ وَيَحُضَّهُ عَلَيْهِ.Dan Allah tidak cukup hanya dengan mereka mengetahui kebenaran dan bersabar di atasnya, sampai mereka saling berwasiat satu sama lain untuk tetap berada di atas kebenaran itu, saling membimbing kepadanya, dan saling mendorong untuk mengamalkannya.وَإِذَا كَانَ مَنْ عَدَا هَؤُلَاءِ فَهُوَ خَاسِرٌ، فَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالذُّنُوبَ تُعْمِي بَصِيرَةَ الْقَلْبِ فَلَا يُدْرِكُ الْحَقَّ كَمَا يَنْبَغِي، وَتَضْعُفُ قُوَّتُهُ وَعَزِيمَتُهُ فَلَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ، بَلْ قَدْ يَتَوَارَدُ عَلَى الْقَلْبِ حَتَّى يَنْعَكِسَ إِدْرَاكُهُ كَمَا يَنْعَكِسُ سَيْرُهُ، Jika selain mereka termasuk orang-orang yang merugi, maka sudah diketahui bahwa maksiat dan dosa dapat membutakan pandangan hati sehingga ia tidak dapat memahami kebenaran sebagaimana mestinya. Ia pun melemahkan kekuatan dan tekad hati sehingga tidak mampu bersabar di atas kebenaran. Bahkan dosa dapat terus-menerus menyerang hati sampai pemahamannya terbalik, sebagaimana langkah hidupnya pun menjadi terbalik.فَيُدْرِكُ الْبَاطِلَ حَقًّا وَالْحَقَّ بَاطِلًا، وَالْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا، فَيَنْتَكِسُ فِي سَيْرِهِ وَيَرْجِعُ عَنْ سَفَرِهِ إِلَى اللَّهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، إِلَى سَفَرِهِ إِلَى مُسْتَقَرِّ النُّفُوسِ الْمُبْطِلَةِ الَّتِي رَضِيَتْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَاطْمَأَنَّتْ بِهَا، وَغَفَلَتْ عَنِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ، وَتَرَكَتْ الِاسْتِعْدَادَ لِلِقَائِهِIa memandang yang batil sebagai kebenaran dan yang benar sebagai kebatilan, yang ma‘ruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar sebagai ma‘ruf. Ia pun terjungkal dalam perjalanan hidupnya, mundur dari safarnya menuju Allah dan negeri akhirat, berganti perjalanan menuju tempat kembali jiwa-jiwa yang batil—jiwa yang rela dengan kehidupan dunia, merasa tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, serta meninggalkan persiapan untuk perjumpaan dengan-Nya.، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ فِي عُقُوبَةِ الذُّنُوبِ إِلَّا هَذِهِ وَحْدَهَا لَكَانَتْ دَاعِيَةً إِلَى تَرْكِهَا وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.Seandainya tidak ada hukuman dari dosa dan maksiat kecuali hal ini saja, itu sudah cukup menjadi alasan kuat untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.وَهَذَا كَمَا أَنَّ الطَّاعَةَ تُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَتَجْلُوهُ وَتَصْقُلُهُ، وَتُقَوِّيهِ وَتُثَبِّتُهُ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمِرْآةِ الْمَجْلُوَّةِ فِي جَلَائِهَا وَصَفَائِهَا فَيَمْتَلِئَ نُورًا، فَإِذَا دَنَا الشَّيْطَانُ مِنْهُ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ مَا يُصِيبُ مُسْتَرِقَ السَّمْعِ مِنَ الشُّهُبِ الثَّوَاقِبِ، فَالشَّيْطَانُ يَفْرَقُ مِنْ هَذَا الْقَلْبِ أَشَدَّ مِنْ فَرَقِ الذِّئْبِ مِنَ الْأَسَدِ، حَتَّى إِنَّ صَاحِبَهُ لَيَصْرَعُ الشَّيْطَانَ فَيَخِرُّ صَرِيعًا، فَيَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا شَأْنُهُ؟ فَيُقَالُ: أَصَابَهُ إِنْسِيٌّ، وَبِهِ نَظْرَةٌ مِنَ الْإِنْسِ:Begitu pula ketaatan dapat menerangi hati, menjernihkannya, menghaluskannya, menguatkannya, dan meneguhkannya, hingga hati itu menjadi seperti cermin yang digosok bersih dalam kejernihan dan kejela­sannya, lalu ia dipenuhi cahaya. Ketika setan mendekatinya, ia terkena dari cahaya hati itu seperti apa yang menimpa pencuri pendengaran dari bintang-bintang yang menyala terang. Maka setan lebih takut kepada hati semacam ini dibanding ketakutan serigala kepada singa. Hingga pemilik hati itu dapat menjatuhkan setan dan membuatnya tersungkur, lalu para setan berkumpul mengelilinginya dan berkata satu sama lain: ‘Apa yang terjadi dengannya?’ Maka dikatakan, ‘Ia terkena manusia, dan padanya terdapat pukulan dari manusia.’فَيَا نَظْرَةً مِنْ قَلْبِ حُرٍّ مُنَوَّرٍ … يَكَادُ لَهَا الشَّيْطَانُ بِالنُّورِ يُحْرَقُWahai sebuah pandangan dari hati seorang merdeka yang bercahaya, hingga setan hampir-hampir terbakar oleh cahaya itu.”أَفَيَسْتَوِي هَذَا الْقَلْبُ وَقَلْبٌ مُظْلِمٌ أَرْجَاؤُهُ، مُخْتَلِفَةٌ أَهْوَاؤُهُ، قَدِ اتَّخَذَهُ الشَّيْطَانُ وَطَنَهُ وَأَعَدَّهُ مَسْكَنَهُ، إِذَا تَصَبَّحَ بِطَلْعَتِهِ حَيَّاهُ، وَقَالَ: فَدَيْتُ مَنْ لَا يُفْلِحُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي أُخْرَاهُ؟Maka apakah hati seperti ini sama dengan hati yang gelap seluruh sudutnya, berbeda-beda keinginannya, dan telah dijadikan setan sebagai tempat tinggalnya serta dipersiapkannya sebagai kediamannya? Ketika pagi tiba dengan kehadiran pemilik hati itu, setan menyapanya dan berkata: ‘Demi diriku, inikah orang yang tidak akan beruntung di dunia dan tidak pula di akhirat?’قَرِينُكَ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْحَشْرِ بَعْدَهَا … فَأَنْتَ قَرِينٌ لِي بِكُلِّ مَكَانِ فَإِنْ كُنْتَ فِي دَارِ الشَّقَاءِ فَإِنَّنِي … وَأَنْتَ جَمِيعًا فِي شَقَا وَهَوَانِTemanmu di dunia dan kelak di padang mahsyar, engkau adalah temanku di setiap tempat. Jika engkau berada di negeri kesengsaraan, maka aku pun bersamamu— berdua dalam sengsara dan kehinaan.”قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ – وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ – حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ – وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} [سُورَةُ الزُّخْرُفِ: ٣٦ – ٣٩] .Allah Ta‘ala berfirman:{وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ} (الزخرف: ٣٦–٣٩)“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya.Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.Sehingga apabila ia datang kepada Kami (pada hari Kiamat), berkatalah ia (orang yang dipimpin setan): ‘Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka setan itu adalah seburuk-buruk teman (yang menyertai).’Pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ – قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa saja yang buta dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah dari kitab itu, maka Allah menugaskan setan untuknya sebagai hukuman atas berpalingnya dari kitab-Nya. Maka setan tersebut menjadi temannya yang tidak pernah berpisah, baik ketika ia tinggal maupun ketika ia berjalan, menjadi pelindung dan sahabat dekatnya—dan ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk sahabat.رَضِيعَا لِبَانِ ثَدْيِ أُمٍّ تَقَاسَمَا … بِأَسْحَمَ دَاجٍ عَوْضُ لَا نَتَفَرَّقُDua bayi yang menyusu pada satu ibu,keduanya saling berbagi kegelapan pekat,dan tidak pernah berpisah.”ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: {يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ} كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekatnya dari jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan menuju surga-Nya, sementara orang sesat yang terhalangi itu mengira bahwa dirinya berada di atas jalan petunjuk. Hingga ketika dua teman dekat ini datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain:{يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ}‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman bagiku hari ini.’Engkau telah menyesatkanku dari petunjuk setelah ia datang kepadaku,menghalangiku dari kebenaran, dan menipuku hingga aku binasa.Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.”وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً، كَمَا قَالَتِ الْخَنْسَاءُ فِي أَخِيهَا صَخْرٍ:Dan karena seseorang yang tertimpa musibah, jika ada orang lain yang ikut merasakan musibah yang sama, biasanya ia mendapat sedikit keringanan dan penghiburan, maka Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak terjadi dan tidak akan ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Teman dekat yang satu tidak akan menemukan kenyamanan atau sedikit pun rasa senang dari teman dekatnya yang turut disiksa bersamanya. Padahal musibah dunia, jika menimpa banyak orang, justru menjadi hiburan. Sebagaimana perkataan Al-Khansā’ tentang saudaranya Shakr:وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي … عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي وَمَا يَبْكُونَ مِثْلَ أَخِي وَلَكِنْ … أُعَزِّي النَّفْسَ عَنْهُ بِالتَّأَسِّي“Seandainya tidak banyak orang yang menangisi saudara-saudara mereka,tentu aku telah membunuh diriku sendiri.Mereka tidak menangis seperti tangisanku atas saudaraku,tetapi aku menghibur diriku dengan melihat banyaknya orang yang berduka.”فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman:{وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ}“Dan pada hari ini, tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 39) 49. Maksiat Menjadi Pemasok Senjata bagi SetanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا مَدَدٌ مِنَ الْإِنْسَانِ يَمُدُّ بِهِ عَدُوَّهُ عَلَيْهِ، وَجَيْشٌ يُقَوِّيهِ بِهِ عَلَى حَرْبِهِ،Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat itu menjadi suplai dari manusia untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya; sebuah pasukan yang ia kuatkan untuk memerangi dirinya sendiri.Musuh yang selalu mengintai dan tidak pernah lelahوَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ ابْتَلَى هَذَا الْإِنْسَانَ بِعَدُوٍّ لَا يُفَارِقُهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا يَنَامُ مِنْهُ وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ، يَرَاهُ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَرَاهُ، يَبْذُلُ جَهْدَهُ فِي مُعَادَاتِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا يَدَعُ أَمْرًا يَكِيدُهُ بِهِ يَقْدِرُ عَلَى إِيصَالِهِ إِلَيْهِ إِلَّا أَوْصَلَهُ إِلَيْهِ،Sebab Allah Mahasuci telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah berpisah darinya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lalai darinya. Musuh itu melihat manusia bersama pengikut-pengikutnya dari arah yang manusia tidak bisa melihatnya. Ia mengerahkan seluruh usahanya untuk memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu cara pun yang dapat ia lakukan untuk mencelakakannya kecuali ia lakukan.Pasukan setan dan strategi perang merekaوَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِبَنِي جِنْسِهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ، وَغَيْرِهِمْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ، فَقَدْ نَصَبَ لَهُ الْحَبَائِلَ، وَبَغَى لَهُ الْغَوَائِلَ، وَمَدَّ حَوْلَهُ الْأَشْرَاكَ، وَنَصَبَ لَهُ الْفِخَاخَ وَالشِّبَاكَ،Ia meminta bantuan atas manusia itu dengan sesama jenisnya dari kalangan setan jin, dan juga selain mereka dari setan-setan manusia. Musuh ini telah memasang jerat baginya, menyiapkan berbagai tipu daya untuk mencelakakannya, memasang perangkap di sekitarnya, dan membentangkan jaring serta jebakan untuknya.Ajakan setan kepada para pasukannyaوَقَالَ لِأَعْوَانِهِ: دُونَكُمْ عَدُوَّكُمْ وَعَدُوَّ أَبِيكُمْ لَا يَفُوتُكُمْ وَلَا يَكُونُ حَظُّهُ الْجَنَّةَ وَحَظُّكُمُ النَّارَ، وَنَصِيبُهُ الرَّحْمَةَ وَنَصِيبُكُمُ اللَّعْنَةَ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ مَا جَرَى عَلَيَّ وَعَلَيْكُمْ مِنَ الْخِزْيِ وَالْإِبْعَادِ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ بِسَبَبِهِ وَمِنْ أَجْلِهِ، فَابْذُلُوا جَهْدَكُمْ أَنْ يَكُونُوا شُرَكَاءَنَا فِي هَذِهِ الْبَلِيَّةِ، إِذْ قَدْ فَاتَنَا شَرِكَةَ صَالِحِيهِمْ فِي الْجَنَّةِ. Ia berkata kepada para pembantunya: ‘Inilah musuh kalian dan musuh bapak kalian. Jangan sampai ia lolos dari kalian. Jangan sampai bagiannya adalah surga sementara bagian kalian adalah neraka. Jangan sampai nasibnya adalah rahmat sementara nasib kalian adalah laknat. Kalian tentu tahu bahwa kehinaan yang menimpa diriku dan kalian, serta dijauhkannya kita dari rahmat Allah, adalah karena dia dan sebab dia. Maka kerahkanlah seluruh kemampuan agar mereka menjadi rekan kita dalam musibah ini, karena kita telah kehilangan kesempatan menjadi rekan orang-orang saleh mereka di surga.’Allah tidak membiarkan kita sendirianوَقَدْ أَعْلَمَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِذَلِكَ كُلِّهِ مِنْ عَدُوِّنَا وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْخُذَ لَهُ أُهْبَتَهُ وَنُعِدَّ لَهُ عُدَّتَهُ.Allah Mahasuci telah memberitahukan semua itu mengenai musuh kita dan memerintahkan agar kita menyiapkan bekal untuk menghadapinya serta mempersiapkan peralatan untuk menghadapi serangannya.وَلَمَّا عَلِمَ سُبْحَانَهُ أَنَّ آدَمَ وَبَنِيهِ قَدْ بُلُوا بِهَذَا الْعَدُوِّ وَأَنَّهُ قَدْ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ أَمَدَهُمْ بِعَسَاكِرَ وَجُنْدٍ يَلْقَوْنَهُمْ بِهَا، وَأَمَدَّ عَدُوَّهُمْ أَيْضًا بِجُنْدٍ وَعَسَاكِرَ يَلْقَاهُمْ بِهَا، وَأَقَامَ سُوقَ الْجِهَادِ فِي هَذِهِ الدَّارِ فِي مُدَّةِ الْعُمُرِ الَّتِي هِيَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْآخِرَةِ كَنَفَسٍ وَاحِدٍ مِنْ أَنْفَاسِهَا، Ketika Allah Mahasuci mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh ini telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Allah membekali mereka dengan bala tentara dan pasukan untuk menghadapi musuh tersebut. Allah juga membekali musuh mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapi manusia. Allah menegakkan pasar jihad dalam kehidupan dunia ini selama masa hidup yang—jika dibandingkan dengan akhirat—seperti satu tarikan napas saja dari keseluruhan napasnya. Bahasan ini secara lengkap ada di buku kami: DOSA ITU CANDU, silakan pesan di Rumaysho Store wa.me/6282120000454 atau wa.me/6282136267701, ada juga di shopee dan tokopedia Rumayshostore.  –Baca Juga: Maksiat Menggelapkan HatiDiupdate pada Rabu, 27 Jumadilakhir 1447 H, 17 Desember 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi dampak dosa dampak maksiat dosa besar dosa dan kehidupan dosa kecil faedah dari Ibnul Qayyim maksiat nasihat ibnul qayyim nasihat ulama racun maksiat tazkiyatun nafs

Khutbah Jumat: Ketika Anak Menjadi Jalan ke Surga

Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah,kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak

Khutbah Jumat: Ketika Anak Menjadi Jalan ke Surga

Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah,kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak
Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah,kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak


Setiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia dan selamat di dunia. Namun yang lebih penting, apakah anak-anak kita kelak menjadi sebab keselamatan kita di akhirat? Islam membawa kabar gembira bahwa anak yang beriman dan saleh bukan hanya amanah di dunia, tetapi juga bisa menjadi jalan orang tuanya menuju surga.  Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Orang Tua akan Bersama Anaknya di Surga 3. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke Surga 4. Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang Tuanya 5. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke Surga 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَرْزُقَهُ أَوْلَادًا، وَإِنَّ الْأَوْلَادَ لَيْسُوا نِعْمَةً فِي الدُّنْيَا فَقَطْ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْآبَاءِ فِي الْآخِرَةِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَلَا نُنقِصُهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ عِبَادَ اللَّهِ، تُبَيِّنُ هَذِهِ الْآيَةُ أَنَّ الْأَوْلَادَ إِذَا كَانُوا عَلَى الْإِيمَانِ، فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ سَبَبًا لِاجْتِمَاعِ الْأُسْرَةِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَنَّ اللَّهَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْآبَاءِ وَالْأَبْنَاءِ فِي دَارِ كَرَامَتِهِ.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,setiap orang tua tentu mendambakan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Kita bekerja keras, berjuang, bahkan rela berkorban demi masa depan mereka. Namun sering kali kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah anak-anak kita juga akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat kelak?Padahal Islam datang membawa kabar gembira yang luar biasa: anak bukan hanya amanah di dunia, tetapi bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah nikmat besar yang Allah janjikan bagi keluarga yang dibangun di atas iman. Orang Tua akan Bersama Anaknya di SurgaJamaah Jumat yang dimuliakan Allah,kebahagiaan surga tidak hanya bersifat pribadi. Allah menjanjikan kebersamaan keluarga bagi orang-orang beriman. Suami, istri, dan anak-anak akan dipertemukan kembali di surga apabila mereka disatukan oleh iman.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَامْتِنَانِهِ وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ وَإِحْسَانِهِ:أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّاتُهُمْ فِي الإِيمَانِ، أَلْحَقَهُمْ بِآبَائِهِمْ فِي الْمَنْزِلَةِ، وَإِنْ لَمْ يَبْلُغُوا عَمَلَهُمْ،Allah Ta‘ala memberitakan tentang keutamaan dan kemurahan-Nya, serta karunia, kelembutan, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Bahwa orang-orang beriman, apabila anak-anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah akan menyatukan anak-anak itu dengan orang tua mereka dalam derajat, meskipun amal anak-anak tersebut tidak mencapai amal orang tuanya.لِتَقَرَّ أَعْيُنُ الْآبَاءِ بِالْأَبْنَاءِ عِنْدَهُمْ فِي مَنَازِلِهِمْ،فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ،بِأَنْ يَرْفَعَ النَّاقِصَ الْعَمَلِ بِكَامِلِ الْعَمَلِ،وَلَا يَنْقُصَ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِهِ وَمَنْزِلَتِهِ، لِلتَّسَاوِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذَاكَ.Hal itu agar mata para orang tua menjadi sejuk dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka di tempat-tempat mereka di surga. Maka Allah mengumpulkan mereka dengan cara yang paling baik, yaitu dengan mengangkat derajat orang yang amalnya kurang agar setara dengan orang yang amalnya sempurna, tanpa mengurangi sedikit pun dari amal dan kedudukan orang yang amalnya sempurna tersebut. Anak-Anak Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah yang dirahmati Allah,bukan hanya orang tua yang membawa anak ke surga, tetapi anak pun bisa membawa orang tuanya masuk surga.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.‘” (HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Anak yang Saleh akan Memberikan Syafaat kepada Orang TuanyaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa: • Anak kecil yang meninggal menjadi penghalang dari neraka bagi orang tuanya. • Anak yang telah dewasa bisa memberikan syafaat melalui doa dan amal kebaikannya.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya.Penanya: Wahai Fadhilatus Syaikh. Apakah anak yang saleh dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya?Syaikh Ibnu Utsaimin: Adapun anak-anak kecil yang meninggal saat masih kecil, telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka menjadi pelindung dan penghalang dari api neraka bagi kedua orang tuanya.Sedangkan anak-anak yang telah dewasa dapat memberikan syafaat kepada orang tua mereka pada waktu yang diizinkan untuk memberikan syafaat. Salah satu bentuk syafaat adalah doa untuk orang yang telah meninggal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ.“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dihadiri oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah memberikan syafaat mereka untuknya.”Hal ini menunjukkan bahwa doa untuk orang lain adalah bentuk syafaat baginya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”Nabi menyebutkan doa karena doa adalah syafaat bagi orang yang didoakan. Kiat Agar Anak Bisa Membawa Orang Tuanya ke SurgaJamaah Jumat rahimakumullah,tema ini bukan sekadar penghibur, tetapi tanggung jawab besar. Ada beberapa kiat penting agar anak benar-benar menjadi sebab keselamatan orang tuanya.1. Anak dan Orang Tua Harus Sama-Sama BerimanSurga bukan diwariskan karena hubungan darah, tetapi karena iman. Orang tua wajib menjaga imannya dan menanamkan iman yang benar kepada anak-anaknya.2. Anak Harus Dididik, Bukan Sekadar DibesarkanMemberi makan, pakaian, dan sekolah saja tidak cukup. Anak perlu dididik dengan tauhid, shalat, adab, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pendidikan iman adalah investasi akhirat.3. Bersabar dan Tidak Putus Asa dalam Mendidik AnakSetiap anak punya ujian. Ada yang lambat, ada yang bandel, ada yang membuat orang tua lelah. Namun jangan putus asa. Kesabaran orang tua adalah bagian dari amal besar yang dicatat oleh Allah.Allah Ta‘ala berfirman,﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ﴾“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:Sufyān Ats-Tsaurī meriwayatkan dari Manshūr, dari seorang laki-laki, dari ‘Alī radhiyallāhu ‘anhu, tentang firman Allah Ta‘ālā, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”, beliau berkata, أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ.“Didiklah mereka dan ajarilah mereka.”Qatādah berkata,تَأْمُرُهُمْ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَنْهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَتَأْمُرَهُمْ بِهِ، وَتُسَاعِدَهُمْ عَلَيْهِ، فَإِذَا رَأَيْتَ لِلَّهِ مَعْصِيَةً قَذَعْتَهُمْ عَنْهَا وَزَجَرْتَهُمْ عَنْهَا.“Engkau memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah. Engkau menegakkan perintah Allah atas mereka, menyuruh mereka melaksanakannya, dan membantu mereka untuk melakukannya. Jika engkau melihat kemaksiatan kepada Allah, maka cegahlah mereka darinya dan laranglah mereka dengan tegas.”4. Terus Mendoakan Anak Agar Menjadi Ahli SurgaDoa orang tua untuk anak adalah doa mustajab. Jangan bosan berdoa agar anak-anak kita diberi hidayah, dijaga imannya, dan menjadi anak saleh yang kelak mendoakan kita.Contoh doa yang bisa dipraktikkan adalah dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“ROBBI HABLII MINASH SHOOLIHIIN” (Artinya: Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”. (QS. Ash Shaffaat: 100).Contoh dari Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam,رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ“ROBBI HAB LII MIN LADUNKA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN, INNAKA SAMII’UD DU’AA’” (Artinya: Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa) (QS. Ali Imron: 38).Contoh doa lainnya agar baiknya keturunan, doa ketika sudah menginjak usia 40 tahun,رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“ROBBI AWZI’NII AN ASY-KURO NI’MATAKALLATII AN’AMTA ‘ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOH, WA ASH-LIHLII FII DZURRIYATII, INNI TUBTU ILAIKA WA INNI MINAL MUSLIMIIN” (Artinya: Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri) (QS. Al Ahqof: 15). Doa ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.Contoh doa dari ‘Ibadurrahman,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“ROBBANAA HAB LANAA MIN AZWAJINAA WA DZURRIYATINAA QURROTA A’YUN WAJ’ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA” (Artinya: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). (QS. Al Furqon: 74)Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,anak adalah amanah, sekaligus harapan. Bisa menjadi penolong kita di akhirat, atau justru menjadi penyesalan jika kita lalai mendidiknya.Marilah kita perbaiki iman kita, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita, bersabar dalam prosesnya, dan tidak henti-hentinya memohon kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh, yang kelak menggandeng orang tuanya menuju surga.Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang dikumpulkan kembali di surga-Nya.Aamiin.أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِاللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَاللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ— Jumat siang, 29 Jumadilakhir 1447 H, 18 Desember 2025 @ Masjid Kampus UGM YogyakartaDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal jariyah anak saleh khutbah jumat mendidik anak

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 13): Bertakwa Kepada Allah dan Ikhlas

Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.

Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 13): Bertakwa Kepada Allah dan Ikhlas

Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.
Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.


Daftar Isi ToggleTakwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalHikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaCepat rujuk dari kesalahanMendapatkan hidayahTidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaSatu-satunya motivasi dalam dakwahMutiara hikmahUrusan dakwah adalah urusan yang besar sekali. Ini adalah perkara yang diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, yakni para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, yaitu para ulama yang mulia. Namun, bukan berarti kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala yang besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya akan sangat berbeda dengan porsinya para ahli ilmu.Oleh karena itu, pondasi berdakwah wajib di atas ilmu yang kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi yang paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan amal yang paling hakiki melainkan alasan untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan amal hanya untuk Allah ﷻ.Takwa dan ikhlas adalah kunci diterimanya amalPekerjaan besar dakwah yang kompleks dan banyak pengorbanannya akan menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu yang baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ“Allah tidak menerima amalan kecuali jika amalan tersebut ikhlas karena mencari wajah-Nya dan amalan tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membuat amalan menuntut ilmu sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berdakwah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.Ketahuilah, para alim terdahulu menilai amal yang ikhlas ibarat mutiara yang sangat langka dan begitu sulit digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Seandainya aku mengetahui dengan yakin bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”Hikmah takwa dan ikhlas dalam dakwah dan perselisihanMenghasilkan pribadi yang kokoh dan merdekaHikmah dari bertakwa dan ikhlas dalam berdakwah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia atau perkara duniawi lainnya. Sehingga orang yang demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak akan silau dengan godaan dunia. Hal itu akan menghasilkan pribadi yang kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat yang beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut ilmu adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut ilmu yang tidak terbelenggu dengan kejumudan yang tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang ikhlas tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.Seorang yang bertakwa dan ikhlas dalam dakwahnya juga tidak akan sungkan menyampaikan kebenaran, karena tidak ada wajah manusia yang hendak diharapkan. Tentu hal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana yang sudah kita kaji dari artikel sebelumnya, tetapi hal ini akan membuat kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.Cepat rujuk dari kesalahanSeorang yang bertakwa dan ikhlas juga akan cepat rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, karena orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bertujuan kepada menyeru kepada kalimat tauhid yang menjadi pondasi seluruh umat Islam, bahkan asalnya ahli kitab,قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)Semua asas yang telah kita pelajari mesti berawal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan ikhlas dalam beramal.Mendapatkan hidayahKetahuilah! Banyak perselisihan terjadi karena adanya konflik kepentingan yang berkaitan dengan makhluk. Maka, seorang yang ikhlas dalam dakwahnya, akan terbebas dari kepentingan keuntungan dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi ia hanya berfungsi bagi orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang yang menyelisihi keimanan, justru akan mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah amalan kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah bentuk amalan kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah yang kita dakwahkan justru menjadi bumerang yang mematikan kita. Maka, tiada bekal yang lebih berharga dalam berdakwah di dunia, bahkan pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannyaDengan seorang bertakwa, ia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu melihat amalannya kecil di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat khawatir amalannya tidak diterima, merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbangga dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa berdoa mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lalu selanjutnya mereka berdoa sebanyak kurang lebih enam bulan agar amalan mereka diterima.Satu-satunya motivasi dalam dakwahIngatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi yang diterima dalam berdakwah dan berselisih adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan yang tidak didasari oleh hal ini akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan akan hal ini. Dalam sebuah hadis sahih dikisahkan,وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang berperang karena riya, berperang karena keberanian, dan berperang karena nilai ksatria; motivasi perang apa yang menunjukkan ia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka ia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang yang tidak ikhlas dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang yang pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) ahli sedekah; yang mana mereka berbuat dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan ikhlas karena Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]Mutiara hikmahAlhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas yang kami nilai diperlukan dalam tema ini yang tersebar dalam serial artikel ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ulama yang kami pilih berdasarkan kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berkaitan satu sama lain, serta memiliki peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berdasarkan prioritasnya atau fungsinya, akan tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa yang telah kami bahaskan dalam setiap artikel.Mengutamakan dialogMenguatkan argumentasiMengalah dan tidak saling bersikerasMelapangkan dada dengan pondasi iman dan amal salehMengetahui hakikat manusia yang bodoh dan zalimMemaafkan manusiaJangan ikutan bodohMenyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusiaSikap adil adalah dengan memperinci suatu perkaraKembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisihTidak menjadikan mazhab dan komunitas sebagai standar kebenaranKita sangat butuh hidayah ketika berselisihBerilmu dan berkapasitas muftiKapabilitas dalam bahasa ArabTawaduk (Tidak mengesankan diri hebat melebihi realita kapasitas)ModeratTidak melampaui batasJujurMenjauh sejenak dari titik perselisihanMeredam perselisihan dengan mengingat kekerabatanTujuan muslim berselisih adalah mencari kebenaranMenyebutkan keutamaan diri sendiriMelepaskan diri dari tuduhanMengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah yang kontekstualTidak merekomendasikan atau mentazkiyah hati, batin, ataupun amal gaibAt-TatsabbutAt-TabayyunSiap mengakui kesalahanIkhlasBertakwa kepada Allah ﷻTidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah yang baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan yang mengantarkan ke surga, serta memaafkan kesalahan-kesalahan kita.[Selesai]Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1***Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id Referensi serial artikel ini:Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.(Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.dorar.netislamweb.netMadarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net pimpinan Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.Catatan kaki:[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.

Memperbaiki Hidup dengan Memperbaiki Salat

Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).

Memperbaiki Hidup dengan Memperbaiki Salat

Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).
Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).


Daftar Isi ToggleSalat dan ketenangan jiwaSalat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanLalai dari salatSalat sebagai cermin kedekatan dengan AllahHidup yang baik dimulai dari salat yang baikSalat ibarat nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar kewajiban lima waktu, tetapi sumber cahaya yang dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat kecuali untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, karena dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan yang menjadi sumber ketenangan sejati.Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia yang melalaikan salat. Ada yang salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula yang tergesa-gesa, bahkan ada pula yang dengan sengaja meninggalkannya karena kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup bergantung pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, bangunan Islam dalam diri seseorang akan roboh.Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, amal lainnya pun akan baik. Sebaliknya, apabila salat rusak, maka amalan lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka ia telah gagal dan merugi.Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’Kemudian seluruh amalan lainnya juga akan dihisab dengan cara seperti itu.” (HR. Tirmidzi)Salat dan ketenangan jiwaHidup ini sering kali membuat kita lelah dan gelisah. Banyak orang yang merasakan kegundahan tanpa sebab yang jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berusaha mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan akan turun. Oleh karena itu, Allah berfirman,أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau bersabda kepada Bilal bin Rabah,يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah penting yang dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, ia melupakan dunia dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb yang Maha Mendengar.Salat sebagai benteng dosa dan sumber keberkahanSalat juga menjadi benteng dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)Salat yang benar akan memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang yang menjaga salatnya dengan baik akan malu untuk bermaksiat, karena ia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, ia membawa dosa yang harus dihapus dengan tobat.Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)Siapa saja yang menjaga salatnya, Allah akan mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja yang menyepelekannya, hidupnya akan terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.Lalai dari salatZaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan yang ada bisa menjadi sebab manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan dunia membuat banyak orang menunda salat, bahkan meninggalkannya. Sebagian besar beralasan “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak akan pernah datang.Allah mengancam orang yang lalai dari salat dalam firman-Nya,فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan salat saja masih mungkin mendapatkan ancaman karena masih lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin memiliki banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; ia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang yang lalai dari salat.Salat sebagai cermin kedekatan dengan AllahSalat adalah tanda bahwa seorang hamba masih memiliki hubungan dengan Rabb-nya. Semakin ia menjaga salat, ia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)Hidup yang baik dimulai dari salat yang baikHidup yang baik bukanlah hidup yang tanpa masalah, tetapi hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat yang khusyuk dan istikamah.Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)Salat yang khusyuk akan memperbaiki hati. Hati yang baik akan memperbaiki seluruh amal. Dan amal yang baik akan memperbaiki hidup. Maka benar ungkapan para ulama,مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah akan memperbaiki hidup kita seluruhnya, yaitu kehidupan dunia dan akhirat.Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.Baca juga: Nasihat Untukmu yang Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan***Jember, 22 Jumadil Ula 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).

Kaya Tapi Hidup Seperti Miskin – Syaikh Sa’ad Al Khotslan #nasehatulama

Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ

Kaya Tapi Hidup Seperti Miskin – Syaikh Sa’ad Al Khotslan #nasehatulama

Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ
Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ


Ada orang yang punya banyak harta Hanya saja–saking pelitnya–ia tidak menikmatinya. Ia hanya seperti satpam kuat yang pandai menjaga harta itu. Ia menjaganya dengan ketat sepanjang hidupnya di dunia. Kemudian harta itu berpindah begitu saja, menjadi milik ahli warisnya. Saya teringat dengan salah seorang yang terpercaya bercerita kepadaku, bahwa pernah ada seseorang yang punya uang jutaan riyal, tapi ia tidak menikmati dan memanfaatkannya. Ia hidup seperti orang miskin. Bahkan keluarganya tidak tahu kalau ia punya harta melimpah. Mereka mengiranya miskin, sehingga mereka pun memakluminya. Mereka pun tidak menuntutnya untuk memberi nafkah lebih.Ketika ia wafat, mereka baru mengetahui bahwa ia memiliki harta berlimpah. Sehingga keluarganya justru mencelanya, alih-alih memujinya. Coba katakan kepadaku, apa yang didapat orang itu dari harta yang melimpah tersebut?! Apa yang ia dapatkan dari uang berjuta-juta itu?! Ia hidup sepanjang umurnya seperti orang miskin, dan keluarganya juga seperti orang miskin. Lalu setelah ia wafat, harta melimpah itu berpindah tangan kepada orang yang tidak memujinya atas harta itu dan justru mencelanya. Ini semua karena pandangannya yang keliru terhadap harta. Bagaimana seandainya orang itu memanfaatkan harta tersebut?! Ia bisa memakannya, hidup lebih layak dengannya, dan memuliakan keluarganya. Juga menjamu tamu, memberi makan orang miskin, dan menyisihkan sebagian harta itu untuk sedekah jariyah baginya. Sehingga ia mendapat manfaat hartanya di dunia dan akhirat. Seandainya ia punya pemahaman yang benar tentang harta, niscaya harta tersebut dapat menjadi berkah baginya di dunia dan akhirat. Namun, orang itu hidup tanpa bisa menikmati harta itu di dunia, kemudian harta itu berpindah tangan kepada orang yang justru mencela dirinya. Maka hendaklah kita berhati-hati! Dan orang bahagia adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain. Apabila Allah Ta’ala memberi kenikmatan bagi seorang Muslim dan Dia melapangkan rezeki untuknya, maka hendaklah tampak pengaruh kenikmatan Allah itu pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah menyukai agar pengaruh nikmat-Nya terlihat pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad). Sehingga seorang Muslim hendaknya memuji Allah Ta’ala atas nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan menampakkan pengaruh nikmat itu dalam perilakunya, pada makan dan minumnya serta dalam nafkah yang diberikannya, penjamuan tamu, sedekah, dan interaksinya dengan orang lain. Serta memanfaat hartanya semasa hidupnya dan setelah wafatnya, dengan menyisihkan sebagiannya untuk sedekah jariyah, atau berwasiat agar sebagian harta itu disalurkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan lain sebagainya. ===== هُنَاكَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَمْلِكُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً لَكِنَّهُ مَحْرُومٌ مِنْهَا هُوَ كَالْحَارِسِ الْأَمِينِ الْقَوِيِّ عَلَى هَذِهِ الْأَمْوَالِ يَحْرِسُهَا حِرَاسَةً مُشَدَّدَةً طَوَالَ حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ تَنْتَقِلُ بَعْدَ وَفَاتِهِ غَنِيمَةً بَارِدَةً لِلْوَرَثَةِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الثِّقَاتِ حَدَّثَنِي بِأَنَّ رَجُلًا كَانَ يَمْلِكُ الْمَلَايِيْنَ وَلَكِنْ كَانَ مَحْرُومًا مِنْهَا لَا يَنْتَفِعُ بِهَا يَعِيشُ عِيْشَةَ الْفُقَرَاءِ وَأُسْرَتُهُ لَا يَعْلَمُونَ بِأَنَّهُ يَمْلِكُ هَذِهِ الْأَمْوَالَ الطَّائِلَةَ يَظُنُّونَ أَنَّهُ فَقِيرٌ وَيَعْذُرُونَهُ وَلَا يُطَالِبُونَهُ بِمَزِيدٍ مِنَ النَّفَقَةِ فَلَمَّا مَاتَ اكْتَشَفُوا أَنَّ عِنْدَهُ هَذِهِ الثَّرْوَةَ الطَّائِلَةَ فَأَصْبَحُوا يَذُمُّونَهُ وَلَا يَحْمَدُونَهُ فَقُولُوا لِي بِاللَّهِ مَاذَا اسْتَفَادَ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ مَاذَا اسْتَفَادَ مِنْ هَذِهِ الْمَلَايِيْنِ عَاشَ طَوَالَ عُمُرِهِ فَقِيرًا وَأُسْرَتُهُ فَقِيرَةٌ ثُمَّ بَعْدَ وَفَاتِهِ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ إِلَى مَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا بَلْ يَذُمُّهُ وَهَذَا كُلُّهُ بِسَبَبِ النَّظْرَةِ غَيْرِ السَّوِيَّةِ لِلْمَالِ مَاذَا لَوْ أَنَّ هَذَا الرَّجُلَ انْتَفَعَ بِهَذِهِ الْأَمْوَالِ؟ فَأَكَلَ مِنْهَا وَتَوَسَّعَ بِهَا وَأَكْرَمَ أُسْرَتَهُ وَأَكْرَمَ الضَّيْفَ أَطْعَمَ الْمِسْكِينَ وَجَعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً وَانْتَفَعَ بِأَمْوَالِهِ فِي الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَوْ كَانَ عِنْدَهُ نَظْرَةٌ صَحِيحَةٌ لَكَانَتْ هَذِهِ الثَّرْوَةُ وَهَذِهِ الْأَمْوَالُ بَرَكَةً عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَكِنْ هَذَا الرَّجُلُ عَاشَ مَحْرُومًا فِي حَيَاتِهِ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ انْتَقَلَتْ هَذِهِ الْأَمْوَالُ لِمَنْ لَا يَحْمَدُهُ عَلَيْهَا فَيَنْبَغِي الْحَذَرُ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَوَسَّعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ عَلَيْهِ وَأَنْ يَظْهَرَ أَثَرُ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَنَفَقَتِهِ وَإِكْرَامِهِ لِلضَّيْفِ وَصَدَقَاتِهِ وَتَعَامُلِهِ مَعَ الْآخَرِيْنَ وَأَنْ يَنْتَفِعَ بِأَمْوَالِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ مِنْهَا صَدَقَةً جَارِيَةً أَوْ يُوصِيَ مِنْهَا بِأَمْوَالٍ تُدْفَعُ فِي وُجُوهِ الْبِرِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ

Nabi dan Para Sahabatnya Kaya Raya, tapi Kenapa Mereka Sering Kelaparan dan Kesulitan?

Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 284 times, 7 visit(s) today Post Views: 97 QRIS donasi Yufid

Nabi dan Para Sahabatnya Kaya Raya, tapi Kenapa Mereka Sering Kelaparan dan Kesulitan?

Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 284 times, 7 visit(s) today Post Views: 97 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 284 times, 7 visit(s) today Post Views: 97 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Ketika Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya dan mengatakan kepada para sahabatnya bahwa beliau sama sekali belum melihat roti putih. Lantas mengapa para sahabat tidak meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mereka bisa memberi beliau makanan atau uang? Mengapa juga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam miskin dan Allah Subẖānahu wa Taʿālā tidak memberinya uang atau makanan? Jika saya ada di zaman itu, niscaya saya akan menghabiskan semua harta saya untuk Nabi agar beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam kaya raya. Namun, mengapa para sahabat tidak melakukan hal itu agar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak perlu mengikat batu tersebut? Jawabannya: Kesimpulannya, bahwa sebagian besar hadis yang mengisahkan kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berupa kesulitan hidup di beberapa kesempatan adalah dengan kerelaan hati Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (bukan karena terhimpit keadaan, pent.) dan karena beliau sendiri yang lebih memilih hidup demikian.  Selain itu, juga ada hadis-hadis yang menceritakan bahwa para sahabat yang mulia —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka— mengulurkan tangan mereka kepada beliau untuk meringankan beliau di saat-saat sulit tersebut. Keadaan hidup beliau yang tidak menentu ini adalah gambaran kesempurnaan dan kemuliaan diri, dan tidak menjadi aib dari sisi manapun. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sendiri yang lebih menyukai dan memilih hidup seperti ini, padahal Tuhannya telah Memberinya pilihan, tetapi dia rida dengan pilihannya ini. Dia senantiasa bersama-Nya dan para sahabatnya dalam masa-masa sulit tersebut.  Lantas, mengapa Anda mempermasalahkan sesuatu yang Anda sendiri tidak ikut serta dalam peristiwa tersebut? Pun Anda tidak tahu apa yang Tuhan semesta alam Takdirkan untuk Anda jika Anda ada dalam peristiwa itu. Ataukah Anda ingin mencela kaum Muhajirin dan Ansar untuk memuji diri Anda sendiri?! Mungkinkah mereka tidak memiliki kemuliaan dan ketulusan sedangkan Anda yang memilikinya? Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap diri, agama, dan hati Anda, wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian takutlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap  kedudukan para sahabat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tentang keterdepanan mereka dalam Islam, pengorbanan mereka, dan kekayaan mereka!! قال جُبَيْرِ بْن نُفَيْرٍ رحمه الله : ( جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ، فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: ” مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مَحْضَرًا غَيَّبَهُ اللهُ عَنْهُ، لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ كَانَ يَكُونُ فِيهِ، وَاللهِ لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ لَمْ يُجِيبُوهُ، وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللهَ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، مُصَدِّقِينَ لِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ ؟! وَاللهِ لَقَدْ بَعَثَ اللهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا فِيهِ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ وَوَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتَحَ اللهُ قُفْلَ قَلْبِهِ لِلْإِيمَانِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ “، وَأَنَّهَا لَلَّتِي قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] ) . رواه أحمد في مسنده (23810) ط الرسالة ، وصححه الألباني . والله أعلم. Jubair bin Nufair —semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Suatu hari, kami sedang duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad, ketika tiba-tiba ada seorang pria lewat dan berkata, ‘Beruntunglah dua mata yang telah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam! Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kami berharap kami bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan ikut serta mengalami apa yang telah Anda alami.’ Ternyata dia malah marah dan aku sendiri heran dengannya, karena apa yang dia katakan ‘kan baik. Lalu dia menghadap kepadanya dan berkata, ‘Apa yang membuat seseorang ingin ikut serta dalam suatu peristiwa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Takdirkan dia untuk tidak ikut serta di dalamnya? Sungguh, dia tidak tahu akan seperti apa keadaannya jika dia ikut serta di dalamnya. Demi Allah, ada orang-orang yang hadir di sisi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lemparkan mereka hingga terjungkal ke jahanam dengan hidung-hidung mereka karena mereka tidak memenuhi seruan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Kenapa kalian tidak memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja karena Dia telah Mengeluarkan Anda tanpa mengetahui apa pun selain Tuhan kalian dalam keadaan membenarkan agama yang dibawa Nabi kalian. Sungguh, kalian telah dicukupkan dari ujian berat yang ditimpakan kepada orang selain kalian!? Demi Allah, Dia telah Mengutus Nabi-Nya Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit. Seorang Nabi diutus di masa sulit seperti itu dan di zaman jahiliah yang tidak mengetahui bahwa agama Islam lebih baik daripada penyembahan terhadap berhala. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam datang dengan membawa pembeda yang membedakan antara kebenaran dari kebatilan dan memisahkan antara orang tua dan anak, sampai-sampai seseorang bisa memvonis kafir ayahnya atau putranya atau saudaranya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Membuka hatinya yang terkunci untuk beriman. Kemudian dia menyadari betul bahwa jika kerabatnya itu mati, maka dia akan masuk neraka sehingga dia tidak akan merasa tenang karena mengetahui bahwa orang yang dicintainya berada di neraka dan bahwa itulah keadaan orang-orang yang Allah Subẖānahu wa Taʿālā Firmankan (yang artinya), “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami penyejuk pandangan mata dari pasangan dan keturunan kami.’” (QS. Al-Furqan: 74).’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 23810), cetakan Ar-Risālah, dan disahihkan oleh Al-Albani.) Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang lebih Mengetahui.  Jawabannya: Alhamdulillah. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengikatkan batu ke perutnya semata-mata karena kezuhudan, kesabaran, dan keteguhan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk solidaritasnya terhadap semua orang. Namun beliau juga pernah menjalani masa-masa kecukupan harta hingga bisa menyimpan makanan di rumahnya yang mencukupi keluarganya selama satu tahun penuh dan bisa memberi dan bersedekah kepada para sahabatnya dan selain mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Lapangkan rezeki Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sedemikian rupa agar beliau bisa melakukan sedekah, wakaf, dan mencukupi kebutuhan negara dan umat Islam. Hanya saja Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada umatnya dan seluruh alam bahwa harta itu adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak layak tersimpan dalam hati seorang hamba ataupun menjadi puncak harapan dan tujuan utamanya. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sering bersedekah untuk kebajikan setiap kali beliau mendapatkan harta yang melimpah. Setelah kekayaan itu habis (disedekahkan, pent.) dan tidak punya apa pun, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam akan bersabar dengan kesulitan hidupnya dan tabah dengan mengikatkan batu ke perutnya serta mencukupkan diri dengan apa yang ada walau hanya kurma dan air dalam rangka memberi teladan yang adiluhung tentang gaya hidup yang mudah dan sederhana yang jauh dari kekhawatiran terhadap rezeki dan beban kebutuhan hidup.  Barang siapa hidup dengan hati seperti ini dan sikap seperti itu, niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan mati dengan bahagia. Dia akan rida dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan setelah dia menempuh sebab-sebab untuk menjemput rezeki tersebut tanpa menyepelekannya. Jadi, teladannya dalam hal ini adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. وقد صح في الحديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمِ خُلِقَ، قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ، أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: ” بَلْ عَبْدًا رَسُولًا ” . رواه أحمد في مسنده (7160) ، وقال محققوه : إسناده صحيح على شرط الشيخين . وفي حديث أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قوله: (عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لاَ يَا رَبِّ، وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا، أَوْ قَالَ ثَلاَثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ) رواه الترمذي في “السنن” (2347) وقال: حديث حسن. ثم عقبه بتضعيف أحد رواته. Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah —semoga Allah Meridainya— bahwasanya dia berkata, “Jibril ʿAlaihis Salām duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu melihat ke arah langit. Ternyata ada seorang malaikat turun. Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ’Malaikat ini tidak pernah turun sejak dia diciptakan hingga saat ini.’ Ketika turun, dia berkata, ’Wahai Muhammad, Tuhanmu telah mengutusku kepadamu, apakah engkau ingin Dia Menjadikanmu nabi berpangkat raja atau rasul bergelar hamba sahaya?” Jibril ʿAlaihis Salām berkata, ‘Merendahlah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Lantas Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata, ‘Menjadi rasul dan hamba sahaya saja.’” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (7160).  Para Muẖaqqiq menyatakan bahwa sanadnya sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis Umamah —Semoga Allah Meridainya—, diriwayatkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Tuhanku Menawarkanku untuk mengubah tanah Makkah menjadi emas untukku,” tetapi aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku, Jadikan saja aku sehari kenyang dan sehari lapar —atau mengatakan, “tiga hari,” atau sekitar itu—, karena dengan demikian, ketika aku lapar aku akan merendah berdoa kepada-Mu dan ingat dengan-Mu, dan ketika aku kenyang aku akan bersyukur kepada-Mu dan memuji-Mu.” (HR. Tirmizi dalam Sunan-nya (2347), dia berkata, “Hadis hasan,” kemudian menjelaskan bahwa ada salah satu perawinya yang lemah). Di samping itu, ada beberapa riwayat yang menjelaskan alasan mengapa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menentu keadaannya, terkadang miskin dan terkadang kaya. Alasan ketidaktentuan ini adalah karena banyaknya orang yang mengerumuni beliau, para tamu, dan orang-orang yang menuntut beliau demikian. Sehingga Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak sekalipun makan sesuatu kecuali di sekitar beliau ada sahabat-sahabatnya dan orang yang membutuhkan. Mereka kenyang bersama-sama di masjid. Kemudian ketika Allah Subẖānahu wa Taʿālā Menaklukkan Khaibar untuk mereka, kaum muslimin menjadi agak lapang kehidupannya, walaupun tetap ada kesulitan dan penghidupan tetap susah, karena di sana adalah negeri yang tidak subur untuk pertanian. Makanan penduduknya hanyalah kurma dan dengan itulah mereka hidup. Lihat: Subul Al-Hudā war Rasyād fī Sīrati Khair Al-ʿIbād (7/101).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa orang-orang terbagi dalam tiga kategori: (1) orang kaya, yaitu orang yang memiliki lebih dari apa yang mereka butuhkan, (2) orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya, dan (3) adalah orang yang memiliki sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itulah di antara tokoh-tokoh besar dari kalangan nabi, rasul, dan orang-orang yang terdahulu memeluk Islam ada yang kaya, seperti Ibrahim Al-Khalīl, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Al-H̱uḏair, As’ad bin Zurārah, Abu Ayyub Al-Ansari, ‘Ubadah bin Aṣ-Ṣhāmit, dan lain-lain, yang termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di sisi lain, di antara mereka ada yang miskin, seperti Isa putra Maryam, Yahya bin Zakariya, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al-Ghifari, Muṣʿab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan lain-lain, yang juga termasuk dalam golongan orang-orang terbaik dari kalangan nabi dan para ṣiddīqīn. Di antara mereka ada yang merasakan dua keadaan tersebut, terkadang kaya dan terkadang miskin. Sehingga ketika kaya bisa berderma dan ketika miskin bisa sabar. Misalnya adalah Nabi kita Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Selesai kutipan dari Majmū’ Al-Fatāwā (11/124). قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا) رواه البخاري (4101)، وحديث عدم إيقاد النار في بيته المكرم عليه الصلاة والسلام الشهر والشهرين، وحديث (أَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا [يعني الجوع]) رواه مسلم (2038)، وحديث (وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ) رواه البخاري (5414) Dengan demikian Anda akan dapat memahami apa yang diriwayatkan dalam beberapa hadis sahih, seperti hadis yang mengatakan, “Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berdiri sedangkan ada batu yang terikat di perutnya, sedangkan kami sudah tiga hari tidak mencicipi makanan apa pun.” (HR. Bukhari (4101)).  Ada juga hadis yang menyatakan bahwa tidak ada perapian (untuk masak) yang dinyalakan di rumah Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang suci selama satu atau dua bulan. Ada juga hadis di mana Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Aku keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar, (yakni rasa lapar).” (HR. Muslim (2038).  Dalam hadis lain disebutkan bahwa Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang. (HR. Bukhari (5414)).  Semua riwayat tersebut kita pahami sesuai konteks kejadiannya yang terjadi dalam sesekali waktu dalam kehidupan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, tidak seperti itu terus dan tidak menjadi keadaan yang selalu melekat pada diri beliau. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kemiskinan sembari berdoa kepada-Nya dan mengucapkan, “Ya Allah, Berilah rezeki kepada keluarga Muhammad secukupnya.” (HR. Bukhari (6460)).  Tuhannya Subẖānahu wa Taʿālā tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan miskin, bahkan Membukakan baginya perbendaharaan harta, hanya saja beliau itu adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus. Bahkan terkadang beliau menyedekahkan semuanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarganya yang membuat Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengalami masa-masa sulit. Khususnya setelah peristiwa Quraizah dan Khaibar, keadaan umat Islam semakin lapang karena mereka peroleh bagian kekayaan berdasarkan kesepakatan yang mereka buat dengan orang-orang Khaibar. Realita dan kebenarannya memang demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh puluhan dalil yang termaktub dalam kitab-kitab biografi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Namun momen-momen kelaparan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus dipahami bahwa ini terjadi sementara.  Para sahabat yang mulia —Semoga Allah Meridai mereka— adalah penolong terbaik bagi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dalam masa-masa sulit ini. Mereka tidak pernah menahan harta dan makanan mereka dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarga beliau. Mereka mengirim hadiah makanan yang mereka miliki kepada keluarga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Mereka juga memberi Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagian kelapangan harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karuniakan kepada mereka. Jadi demikianlah, beberapa hadis —yang bisa dihitung jumlahnya— yang berbicara tentang kesulitan yang dialami Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam —karena pilihan beliau sendiri, bukan karena terhimpit keadaan— sudah menunjukkan bagaimana sikap para sahabat yang mulia ketika melihat keadaan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan kesungguhan mereka dalam membantu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِعُرْوَةَ: ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الهِلاَلِ، ثُمَّ الهِلاَلِ، ثَلاَثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ، فَقُلْتُ يَا خَالَةُ: مَا كَانَ يُعِيشُكُمْ؟ قَالَتْ: ” الأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنَ الأَنْصَارِ، كَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ، وَكَانُوا يَمْنَحُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهِمْ، فَيَسْقِينَا) رواه البخاري (2567) وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَأْتِي عَلَيْنَا الشَّهْرُ مَا نُوقِدُ فِيهِ نَارًا، إِنَّمَا هُوَ التَّمْرُ وَالمَاءُ، إِلَّا أَنْ نُؤْتَى بِاللُّحَيْمِ رواه البخاري (6458) Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata kepada ‘Urwah, “Wahai kemenakanku, sungguh, kami melihat hilal lalu melihat hilal lagi hingga tiga kali hilal dalam dua bulan sedangkan dalam rumah-rumah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak bisa menyalakan perapian (untuk masak, pent.).” Aku (‘Urwah) berkata, “Wahai bibiku, lalu bagaimana Anda bertahan hidup?” Dia berkata, “Al-Aswadān, yaitu kurma dan air. Namun, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memiliki beberapa tetangga dari kalangan Ansar yang memiliki hewan perahan. Mereka biasa memberi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam susunya lalu beliau memberi kami minum dengannya.” (HR. Bukhari (2567)).  Diriwayatkan dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata, “Pernah datang kepada kami satu bulan penuh di mana kami tidak menyalakan perapian (tungku). Yang ada hanya kurma dan air, kecuali jika ada yang memberi kami daging.” (HR. Bukhari (6458)). وعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ – أَوْ لَيْلَةٍ – فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ؟ قَالَا: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ،، قَالَ: وَأَنَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا، فَقَامُوا مَعَهُ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ، فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْنَ فُلَانٌ؟ قَالَتْ: ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي، قَالَ: فَانْطَلَقَ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ، فَقَالَ: كُلُوا مِنْ هَذِهِ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِيَّاكَ، وَالْحَلُوبَ، فَذَبَحَ لَهُمْ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ) رواه مسلم (2038) Diriwayatkan dari Abu Hurairah —Semoga Allah Meridainya—, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu hari —atau suatu malam— pergi keluar rumah. Tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Lalu beliau bertanya, “Mengapa kalian keluar dari rumah kalian jam segini?”  Mereka menjawab, “Kami lapar, wahai Rasulullah!”  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Adapun aku, demi Zat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena sesuatu yang membuat kalian berdua keluar (yakni rasa lapar), mari!”  Lantas mereka pergi mengikuti beliau untuk mendatangi seorang sahabat Ansar, hanya saja kebetulan dia sedang tidak di rumah, tapi tatkala istrinya melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengatakan, “Selamat datang!”  Lantas Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, “Ke mana si Fulan?” Dia menjawab, “Dia sedang pergi mengambil air untuk kami.” Tiba-tiba suaminya si orang Ansar tersebut datang dan melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam beserta dua sahabat beliau seraya berkata: “Alhamdulillah, tidak ada orang yang lebih mulia tamunya hari ini daripada tamuku!” Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, yang berisi kurma muda, yang mulai masak, dan yang sudah masak seraya berkata, “Silakan dimakan ini!” Kemudian dia mengambil pisau, maka Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.”  Lantas dia menyembelih seekor kambing untuk mereka lalu mereka memakan kambing dan kurma tersebut lalu minum. Setelah semuanya merasa puas makan dan minum, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat, di mana kalian keluar dari rumah kalian karena lapar dan tidak pulang kecuali sudah memperoleh nikmat ini.” (HR. Muslim (2038)). وعن جَابِر بْن عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا، فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي، فَقُلْتُ لَهَا: هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا، فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ، وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ، قَالَ: فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ، فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي، فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا، ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ، قَالَ: فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا، وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ، فَصَاحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ، وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ، فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي، فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ، فَقُلْتُ: قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي، فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ، ثُمَّ قَالَ: ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ، وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا، وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ، وَإِنَّ عَجِينَتَنَا – أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ: – لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ) رواه مسلم (2039) Diriwayatkan dari Jabir —Semoga Allah Meridainya—, ia berkata, “Saat menggali parit (dalam perang Khandaq), aku melihat Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan, lalu aku pulang kepada istriku dan bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu? Sungguh, aku melihat Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat kepayahan.’ Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣhā’ gandum dan kami juga mempunyai seekor kambing peliharaan. Lalu aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku juga selesai, lalu aku memotong-motongnya di kuali.  Kemudian aku pergi menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dan istriku berkata, ‘Jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau (karena jumlah makanannya hanya sedikit, pent.).’ Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya, aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣha’ gandum. Mari makan dengan mengajak beberapa orang saja!’ Tiba-tiba Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berteriak, ‘Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir sudah membuat hidangan untuk kalian. Kalian semua, ayo ke sana!’  Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berpesan padanya, ‘Jangan sekali-kali kamu menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang.’ Ketika aku tiba di rumah, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga tiba duluan mendahului para sahabatnya.  Aku mendatangi istriku dan ia berkata, ‘Ini gara-gara kamu! Ini gara-gara kamu!’ Aku katakan, ‘Aku sudah melakukan apa yang kamu pesankan.’ Lantas aku keluarkan adonan roti itu untuk beliau lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan untuknya. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan.  Selanjutnya beliau bersabda, ‘Panggil tukang roti ke sini lalu suruh dia membuat roti bersama kamu dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan.’ Padahal yang datang ada ribuan orang, aku bersumpah demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ternyata mereka semua makan hingga mereka meninggalkannya (makanan masih tersisa) dan pergi, sementara itu kuali kami masih penuh berisi seperti sedia kala sebagaimana adonan roti kami —atau perkataan lain yang diucapkan Aḏ-Ḏahhāk yang semakna dengan itu— juga masih seperti sedia kala.” (HR. Muslim 2039). وعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لِأُمِّ سُلَيْمٍ: قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ، فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَيْءٍ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَأَخْرَجَتْ أَقْرَاصًا مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ أَخَذَتْ خِمَارًا لَهَا، فَلَفَّتِ الْخُبْزَ بِبَعْضِهِ، ثُمَّ دَسَّتْهُ تَحْتَ ثَوْبِي وَرَدَّتْنِي بِبَعْضِهِ، ثُمَّ أَرْسَلَتْنِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَهَبْتُ بِهِ، فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ، فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: أَلِطَعَامٍ؟، فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا، قَالَ: فَانْطَلَقَ، وَانْطَلَقْتُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حَتَّى جِئْتُ أَبَا طَلْحَةَ، فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، قَدْ جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ، وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ، فَقَالَتْ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَانْطَلَقَ أَبُو طَلْحَةَ حَتَّى لَقِيَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ حَتَّى دَخَلَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلُمِّي مَا عِنْدَكِ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ؟ فَأَتَتْ بِذَلِكَ الْخُبْزِ، فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفُتَّ، وَعَصَرَتْ عَلَيْهِ أُمُّ سُلَيْمٍ عُكَّةً لَهَا فَأَدَمَتْهُ، ثُمَّ قَالَ فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ، فَأَذِنَ لَهُمْ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا، ثُمَّ خَرَجُوا، ثُمَّ قَالَ: ائْذَنْ لِعَشَرَةٍ حَتَّى أَكَلَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ وَشَبِعُوا، وَالْقَوْمُ سَبْعُونَ رَجُلًا أَوْ ثَمَانُونَ) رواه مسلم (2040) Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, bahwasanya dia mendengar Anas bin Malik berkata, “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat lemah. Aku tahu bahwa beliau lapar. Apakah kamu mempunyai sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’  Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar roti gandum, lalu melepas kerudungnya dan membungkus roti-roti tersebut dengan sebagian kerudungnya lalu menyelipkannya ke bawah bajuku dan menyelendangkan sebagian kerudungnya kepadaku.  Dia menyuruhku menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.’” Anas berkata, “Aku membawanya lalu menjumpai Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Aku berdiri di hadapan mereka dan Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bertanya, ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu ke sini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau bertanya, ‘Untuk makan?’ Aku menjawab, ‘Ya.’  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang sedang bersamanya, ‘Mari semuanya!’” Anas bercerita, “Lalu beliau berangkat sedangkan aku berjalan bersama mereka di bagian terdepan hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengabarkan hal tersebut. Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah datang bersama orang-orang, sedangkan kita tidak memiliki cukup makanan untuk menjamu mereka?’  Anas berkata, “Abu Thalhah pergi untuk menemui Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, ternyata Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sudah sampai sehingga mereka berdua masuk. Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawa ke sini makanan yang kamu miliki, wahai Ummu Sulaim.’ Lalu dia datang dengan membawa roti tersebut.  Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan agar roti tersebut dipotong kecil-kecil, maka Ummu Sulaim memotongnya lalu memeraskan minyak samin dari wadah yang dia miliki lalu mengolahnya menjadi hidangan.  Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam lalu membacakan sesuatu pada hidangan itu dengan bacaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kehendaki lalu bersabda, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’ Abu Thalhah mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Lalu beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk.’  Abu Thalhah lalu mempersilahkan mereka masuk lalu mereka menyantapnya hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi, ‘Persilahkan sepuluh orang untuk masuk,’ terus demikian hingga mereka semua kenyang, padahal jumlah mereka ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR. Muslim 2040). Imam At-Tabari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Jika seseorang mengatakan kepada kami tentang bagaimana memahami riwayat-riwayat tersebut, padahal ada riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Mengkhususkan jatah harta rampasan perang untuk beliau dari Bani Naḏīr dan Fadak berupa makanan pokok.  Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyimpannya untuk cadangan makanan keluarganya selama setahun dan sisanya digunakan untuk membeli tunggangan dan senjata untuk persiapan perang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membagi-bagi untuk beberapa orang sekitar seribu unta yang menjadi hak miliknya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah Khususkan untuknya dari harta orang-orang Hawāzin dalam satu hari saja. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga membawa seratus ekor unta saat haji Wadāʿ untuk disembelih dan dibagikan kepada penduduk kota Makkah yang miskin dan selain mereka. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam juga menyuruh seorang Badui yang masuk Islam yang datang kepadanya dari pedalaman padang pasir untuk membawa kawanan domba milik beliau. Demikianlah, di samping banyaknya pemberian dan sedekahnya, yang tidak ada kedermawanan semacam ini dari para raja umat-umat sebelumnya, beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dikelilingi oleh orang-orang yang kaya raya dan memiliki harta berlimpah, seperti Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, Umar, dan Utsman —Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Meridai mereka—, demikian juga orang-orang lain seperti mereka yang dikenal memiliki kekayaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang siap mengorbankan jiwa, anak-anak, dan kekayaan mereka untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan salah satu dari mereka telah menyedekahkan semua hartanya untuk Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subẖānahu wa Taʿālā dengan melakukan itu semua.  Ditambah lagi ada kekayaan bersama orang-orang Ansar dengan orang-orang Muhajirin, yang diberikan saat mereka datang kepada kaum Ansar. Mereka telah menyedekahkan harta-harta mereka yang paling berharga di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Bagaimana dengan sedekah kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Padahal beliau dalam keadaan sangat membutuhkan untuk menghalau rasa lapar yang melilit beliau dan mengatasi beratnya kepayahan yang beliau derita. Sungguh, ini adalah hal yang paling aneh dan paling mengherankan, karena sebagian riwayat menegasikan sebagian riwayat yang lainnya dan sebagiannya juga bertentangan dengan realita yang terkandung dalam sebagian riwayat yang lain, karena tidak mungkin mengompromikan riwayat-riwayat tentang kesulitan dan kesempitan hidup mereka dan saat yang sama ada riwayat-riwayat tentang kelapangan dan kemudahan hidup mereka. Apakah Anda mengetahui cara yang tepat untuk mengompromikan semua riwayat tersebut sehingga semuanya bisa dibenarkan, ataukah semua itu tidak benar sehingga harus ditolak semuanya, ataukah sebagiannya benar dan sebagian lagi tidak bisa diterima kebenarannya?  Tolong jelaskan kepada kami mana riwayat yang sahih dan yang tidak, agar Anda bisa memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Hendaknya dijawab demikian, ‘Tidak ada riwayat yang saya sebutkan atau tidak saya sebutkan, yang sanadnya sahih diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel dan amanah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, melainkan itu adalah benar adanya menurut kami. Meyakini hal tersebut juga wajib bagi umat ini.  Tidak ada satupun dari riwayat-riwayat tersebut yang menegasikan yang lain dan tidak ada satupun makna yang bertentangan dengan makna yang lain. Kami akan jabarkan penjelasannya dengan alasan dan argumentasi atas hal tersebut, insyaAllah, dengan meminta bantuan dan taufik-Nya. Adapun riwayat yang kami diriwayatkan dari Umar dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang menyatakan bahwa beliau sepanjang hari meringkuk karena kelaparan dan tidak memiliki apa pun untuk mengisi perutnya walaupun sekadar kurma yang jelek, serta riwayat-riwayat lain yang serupa, maka itu adalah keadaan yang terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Meskipun pada saat itu ada sebagian mereka yang memiliki harta kekayaan, hanya saja semua itu digunakan untuk menunaikan kewajiban mereka untuk membantu kebutuhan orang-orang Muhajirin, orang-orang miskin dan lemah di tengah kaum muslimin, dan juga untuk para tamu yang datang dan mengunjungi mereka sebagai delegasi dari berbagai wilayah Arab, serta untuk jihad di jalan Allah Subẖānahu wa Taʿālā.  Jadi, dari banyaknya harta hingga tersisa sedikit dan bahkan habis semuanya. Bagaimana tidak demikian, padahal kami telah meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah lalu Abu Bakar membawa seluruh hartanya seraya berkata, “Ini sedekah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”  Bagaimana bisa mengingkari hal tersebut dari orang-orang yang sedemikian rupa perbuatannya, yang tidak memiliki apa pun untuk temannya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencukupi kebutuhannya maupun membantunya agar tidak tergantung dengan orang lain?! Demikianlah akhlak para pengikut Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka. Demikian juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Utsman mempersiapkan seluruh pasukan dari kekayaan pribadinya, sehingga mereka tidak kekurangan sesuatupun walaupun hanya tali atau pelana. Ada juga sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajak orang-orang untuk bersedekah, maka dia —Semoga Allah Meridainya— datang membawa sedekah sebesar empat ribu dinar yang dia sedekahkan. Sudah bisa diketahui dari orang-orang yang seperti ini perbuatan dan akhlaknya bahwa pasti mereka akan melalui suatu masa dari hidup mereka dan suatu waktu dalam hari-hari mereka di mana mereka tidak akan memiliki apa-apa, karena hartanya habis untuk memberi dan berderma. Sehingga ketika seorang saudara atau teman dekatnya membutuhkan sesuatu sebagaimana yang dibutuhkan manusia pada umumnya, karena dirinya sendiri juga dalam keterbatasan, maka tidak ada jalan baginya untuk meringankan bebannya atau memberi dan menyisihkan hartanya untuknya. Maka dari itu, dengan apa yang aku sebutkan dan jabarkan, nampak sudah kekeliruan orang yang mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam harus menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi demi sejumlah gandum, sedangkan di antara para sahabat beliau ada orang-orang yang kaya dan berkecukupan yang tidak tersembunyi keberadaan mereka?!’  Juga perkataan, ‘Bagaimana mungkin dikatakan bahwa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam meringkuk berhari-hari lamanya karena kelaparan sedangkan sahabat beliau memberikan harta mereka kepadanya dan mereka juga menyedekahkannya untuk sahabat-sahabat yang lain yang keadaannya berada di bawah mereka?!  Lantas bagaimana pula dengan Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?!’ Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat baik dan murah hati hingga beliau mendahulukan tamu-tamunya dan para delegasi dari berbagai wilayah Arab yang datang kepadanya daripada dirinya sendiri dan keluarganya dalam urusan makanan dan harta.  Sudah maklum bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sangat tabah dalam kesulitan dan begitu sabar dengan kesempitan dan kelaparan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sudah maklum juga bagaimana para sahabat dan pengikut beliau meneladani akhlak Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Jika demikian para pengikut Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka sudah jelas dan tidak aneh jika beliau dan para pengikutnya mengalami masa-masa sulit terhimpit kebutuhan, yang memaksa beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan mereka —Semoga Allah Meridai mereka— meminjam dan menggadaikan sesuatu atau meringkuk berhari-hari karena kelaparan dan kepayahan. Jadi, apa yang menimpa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka— atau sebagian hal yang menimpa sebagian mereka dan kehidupan mereka adalah karena alasan yang telah kami sebutkan di atas.  Ini hanyalah serpihan gambaran keadaan dari keadaan-keadaan yang dilewati oleh Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan para sahabatnya —Semoga Allah Meridai mereka—, yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa dia dan para sahabatnya mengikatkan batu ke perut mereka karena sulitnya keadaan dan ketiadaan makanan selama berhari-hari untuk mengenyangkan mereka.  Aisyah —Semoga Allah Meridainya— mengatakan, “Kami melalui dua bulan tanpa menyalakan api di di rumah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam,” dan riwayat-riwayat lain yang serupa. …  Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah makan sampai kenyang dua kali dalam sehari hingga ia menemui Allah Subẖānahu wa Taʿālā atau bahwa beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan roti gandum sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencabut nyawanya, atau riwayat-riwayat lain yang semisal itu, maka beliau tidak terus-menerus dalam keadaan kekurangan dan kesempitan. Bagaimana mungkin bisa begitu sedangkan Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguasakan kepada Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam seluruh negeri Arab sebelum beliau meninggal, bahkan beliau menerima pajak dari beberapa wilayah di luar Arab, seperti Ailah, Bahrain dan Hajar?  Jadi, kehidupan beliau yang sulit sebagaimana dikabarkan, sebagiannya karena beliau lebih mengutamakan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hartanya daripada dirinya sendiri dan sebagiannya karena beliau tidak suka kenyang dan makan banyak, karena memang Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menyukainya dan ingin mengajarkan demikian kepada para sahabat beliau. Demikianlah memahami riwayat-riwayat yang datang dari Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, meskipun sebagiannya ada kritik pada sanadnya.” Selesai kutipan dengan diringkas dari Tadzhīb Al-Atsār Musnad ʿUmar (2/712-716).  Imam An-Nawawi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa riwayat yang menyatakan, “Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memberikan nafkah untuk keluarganya dengan nafkah setahun.” artinya dengan apa yang mencukupi mereka selama satu tahun, tapi beliau gemar menyedekahkannya sebelum setahun berlalu untuk banyak kebaikan hingga habis sebelum setahun. Oleh karena itu, Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam wafat dalam keadaan menggadaikan baju perangnya demi mendapatkan gandum untuk keluarganya dan beliau juga tidak pernah makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Ada banyak hadis sahih yang mengisahkan tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan keluarganya yang sering kelaparan. Selesai kutipan dari Syarh Muslim (12/70).  Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Meskipun Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyisihkan makanan untuk kebutuhan selama satu tahun keluarganya, tapi sepanjang tahun tersebut mungkin beliau mengambilnya dari mereka untuk menjamu tamu-tamu yang datang mengunjungi beliau lalu kemudian menggantinya di kemudian hari.” Selesai kutipan dari Fatẖ Al-Bārī (9/503). Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/260366/موقف-الصحابة-من-محطات-ضيق-الحال-في-حياة-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 284 times, 7 visit(s) today Post Views: 97 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239

Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239
Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239


Daftar Isi ToggleNikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaTeladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaTauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanPerjalanan yang berat tidak akan dapat dijalani kecuali dengan petunjuk serta bekal yang memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, kecuali dengan Al-Huda, yakni petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan ilmu menyikapi kezaliman yang disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.Nikmat Allah bagi yang dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya hukuman Allah atas perbuatan zalimnyaSekarang renungkan berbagai nikmat Allah ﷻ bagi orang yang dizalimi dibandingkan dengan azab yang diterima oleh orang yang menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang yang berakal sehat untuk menentukan di pihak mana ia akan menempatkan diri.Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ“Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)Lihatlah keterangan bahwa orang yang dizalimi mendapatkan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ yang menolong, siapa lagi yang dapat menakutinya?! Sedangkan orang zalim mendapatkan ancaman yang begitu menakutkan,لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membuat kita takut akan berbuat zalim. Orang zalim tidak akan beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di zaman ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, bahkan bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis buku The Luck Factor, faktor keberuntungan pada banyak orang sukses di dunia memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi faktor kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.Keberuntungan adalah suatu tema yang tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, ia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada hal positif yang didapatkan tanpa mampu dijelaskan usaha penyebabnya. Maka, jelas ini adalah hak kuasa Allah ﷻ, tidak ada yang bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang zalim tidak akan beruntung, maka kesuksesan apa yang diharapkan?!Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang yang menyakitimu adalah seorang dokter atau utusan dokter yang sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang dokter yang menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, atau kepada orang yang menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) yang meraciknya untukmu, dan yang mengutusnya kepadamu melalui tangan orang yang pada hakikatnya memberi manfaat kepadamu dengan mudarat yang ia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinyaRenungilah keteladanan yang diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah yang paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi.”Jika para Nabi adalah pengemban ujian yang paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang yang memiliki ujian yang lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan yang tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan yang mereka teladankan.Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga bersyukur bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya karena hasad yang muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan dunia datang kepadanya serta dengan itu ia mampu mewujudkan dendam, ia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi yang dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, atau meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat yang melekat pada para Nabi.Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم“Ada seseorang yang datang kepadaku dan ketika itu aku sedang tertidur, lalu dirinya menghunuskan pedang, aku pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun aku tidak merasakannya dengan pedang terhunus yang berada di tangannya. Kemudian dia berkata kepadaku, “Siapakah sekarang yang akan membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah yang akan menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu ia menyarungkan pedangnya, lalu dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)Sudahkah orang yang menzalimi anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong yang menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ memiliki alasan kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau memiliki kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang yang memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama yang dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”Lalu, beliau ﷺ bersabda,اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”Allahu Akbar! Inilah ucapan yang mengumpulkan akhlak dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan fisik sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keutamaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri yang menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.Sahabatnya sampai ada yang disiksa hingga terbunuh seluruh keluarga intinya. Ada pula sahabatnya yang disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa harta sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta ganti rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ulama mengumpulkan berbagai gembong kejahatan dan juga sosok-sosok yang menyakiti Nabi secara personal yang dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara yang mudah.Banyak keteladanan lainnya yang dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal yang merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ulama Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan personal kepada orang-orang tersebut? Apakah ia mutlak mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf yang hobi membantai para ulama. Hasan Al-Bashri mampu menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi fitnah kezaliman dari dua tokoh, yakni ulama sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan fitnah dan kezaliman yang teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan fitnah itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru memaafkan dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ulama tersebut.Dan masih banyak lagi keteladanan para salaf yang saleh dari kalangan Nabi maupun ulama yang dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang yang menzalimi. Tentu orang yang berakal akan berbahagia dalam meneladani orang-orang yang mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang yang mengikuti jalannya orang-orang yang terpuji akhlaknya. [2]Tauhid akan membuat kita tidak memikirkan lagi balas dendam karena jiwa sudah dipenuhi hal yang mulia dan tidak menyukai hal rendahanMerenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah fokus hanya kepada Allah ﷻ, ia tidak fokus memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi ia fokus bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beribadah kepada Allah ﷻ dan berakhlak mulia, maka hati tidak akan berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu bersifat lapar,فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ“Apabila hati melihat makanan apa pun yang terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati yang telah dipenuhi dengan makanan yang paling tinggi dan paling mulia, maka ia tidak lagi menoleh kepada sesuatu yang lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)Cukuplah sebelas perenungan ini membuat kita menyadari bahwa hakikat kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara yang tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi hal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi,إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]Mempelajari berbagai renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan yang penting bagi seorang muslim. Karena episode kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat zalim itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijaksana menghadapi kezaliman pihak lain.Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk berbuat islah. Aamiin.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.[3] Penilaian Tim dorar.net pimpinan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239

Kewajiban Melestarikan Lingkungan

Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.

Kewajiban Melestarikan Lingkungan

Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.
Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.


Daftar Isi ToggleMeninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersamaBerbuat baik kepada seluruh makhlukJika merusak lingkungan ditegaskan sebagai keharaman dalam Islam, maka secara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dapat dipahami bahwa menjaga dan melestarikannya merupakan sebuah kewajiban. Manusia bukan hanya makhluk individu, melainkan juga makhluk sosial, yang membutuhkan makhluk lain dalam kehidupannya. Disebutkan di dalam Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah,سُمِّيَ الإِنْسانُ بِإِنْسانٍ؛ لِأَنَّهُ لا قِوَامَ لَهُ إِلَّا بِأُنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَلِأَنَّهُ يَأْنَسُ بِكُلِّ مَا يَأْلَفُهُ، وَقِيلَ: الإِنْسانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ مِنْ حَيْثُ لا يَقُومُ بَعْضُهُمْ إِلَّا بِبَعْضٍ“Manusia dinamakan إِنْسان (dibaca: ‘insan’) karena tidak akan bisa berdiri sendiri kecuali بِأُنْسِ ‘dengan adanya pertemanan’ satu sama lain. Ia juga disebut manusia karena memiliki tabiat mudah merasa berteman dengan sesuatu yang telah ia nyaman dengannya. Juga dikatakan, manusia itu bersifat sosial secara fitrah, karena sebagian mereka tidak dapat hidup kecuali dengan bantuan sebagian yang lain.” [1]Secara fitrah, manusia bukan makhluk yang dapat hidup sendiri. Kehidupan mereka di bumi dipengaruhi lingkungan yang Allah siapkan. Allah memberikan mereka lingkungan yang baik di bumi agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman. Selain itu, Allah juga memerintahkan mereka untuk memakmurkannya agar mereka tetap mendapatkan kehidupan yang baik. Allah berfirman,هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61)Al-Qurthubi rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menyebutkan,قال ابن العربي قال بعض علماء الشافعية : الاستعمار طلب العمارة  والطلب المطلق من الله تعالى على الوجوب“Ibnu al-‘Arabi berkata, ‘Sebagian ulama dari kalangan Syafi‘iyyah menyatakan bahwa al-isti‘mar (memakmurkan) bermakna perintah untuk melakukan pelestarian. Setiap perintah yang datang secara mutlak dari Allah Ta‘ala pada asalnya menunjukkan kewajiban.’” [2]Manusia yang telah Allah berikan lingkungan yang baik berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, agar kebaikan itu tetap terjaga.Meninjau kemaslahatan bersama adalah sebuah kewajibanMelestarikan lingkungan berarti mempedulikan sesama makhluk. Islam datang dengan ajaran kemaslahatan bersama. Bahkan, Islam menempatkan kemaslahatan bersama sebagai prioritas. Allah berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ“Carilah pada apa yang Allah telah berikan kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77)Ketika menafsirkan penggalan ayat وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Berbuat baiklah (di dunia) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”, Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan,أحسن إلى خلقه كما أحسن هو إليك“Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk-Nya sebagaimana ia berbuat baik kepadamu.” [3]Ayat tersebut menunjukkan bahwa seharusnya orientasi seorang yang beriman adalah senantiasa memberikan kemaslahatan kepada sesama makhluk.Melestarikan lingkungan adalah hak dan kewajiban bersama Prinsip kemaslahatan bersama ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَأِ، وَالنَّارِ“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) [4]Hadis ini menunjukkan bahwa sumber-sumber kehidupan pokok yang menjadi penopang kelestarian alam adalah milik bersama. Karena statusnya sebagai hak publik, maka menjaganya dari kerusakan bukan lagi sekadar anjuran moral, tetapi masuk dalam tuntutan syariat demi terjaganya kemaslahatan bersama. Menjaga kelestarian lingkungan berarti mempedulikan kemaslahatan bersama karena banyak makhluk yang bergantung pada kelestarian lingkungan. Para ulama dari kalangan Syafi’i berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati) adalah perkara yang sunah dan dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yasir an-Najjar rahimahullah dalam kitabnya, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah,نصَّ الشافِعيةُ على أنَّ إِحياءَ المَواتِ مُستحَبٌ“Ulama dari kalangan Syafi’iyyah berpendapat bahwa menghidupkan tanah yang usang (mati, tidak terurus) adalah perkara yang sunah.” [5]Mereka berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَن أحيا أرضًا ميتةً فله فيها أجرٌ وما أكَلتِ العافيةُ فهو له صدقةٌ“Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang mati (gersang), maka baginya pahala. Setiap ada makhluk yang mengambil manfaat dari tanah itu, maka ia akan terhitung sebuah pahala.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, dan an-Nasa`i) [6]Dalam konteks hadis ini, menghidupkan tanah mati berarti melestarikan lingkungan; karena dengan lestarinya lingkungan, maka makhluk-makhluk lain seperti burung maupun hewan liar akan mendapatkan makan dan tempat tinggal dari hal itu. Disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya, Rawḍah al-Ṭālibīn, ketika menjelaskan hadis tersebut,العَوافِيُّ: طُلابُ الرِّزقِ مِنْ طَيرٍ أو وَحشٍ أو غيرِهما“Makhluk-makhluk pada hadis tersebut bermakna: para pencari rezeki (makan atau tempat tinggal), baik dari kalangan burung, binatang liar, dan yang lainnya.” [7]Syamsuddin Muhammad al-Maghribi (ulama dari kalangan Maliki) menyebutkan dalam kitabnya, Mawāhib al-Jalīl,حِكمةُ مَشروعيَّةِ الإِحياءِ الرِّفقُ والحثُّ على العِمارةِ“Hikmah disyariatkannya ihyā’ (menghidupkan tanah mati) adalah untuk menumbuhkan sikap kasih sayang (kepedulian) dan memakmurkan bumi (melestarikan lingkungan).” [8]Banyak penelitian ilmiah terkini juga menyebutkan aktivitas manusia sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengetahui hal tersebut, seharusnya sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita memperhatikan kelestarian lingkungan dalam aktivitas kehidupan. Di dalam jurnal Nature, Keck dkk (2025) menyebutkan bahwa dampak aktivitas manusia terhadap biodiversitas (keanekaragaman hayati) bersifat global dan menentukan menjadikan manusia sebagai pengendali (controller) yang dapat menyelamatkan atau malah mempercepat keruntuhan spesies [9]. Peran manusia sebagai pengendali ekosistem telah diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّن مَّا خَلَقْنَا تَفْضِيلًا“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam; Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrâʼ: 70)Manusia Allah muliakan dengan kemampuannya untuk berfikir dibanding makhluk-makhluk penghuni bumi yang lainnya. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya, Tafsīr Ma‘ālim at-Tanzīl, menjelaskan maksud dari firman Allah لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ (Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam),ورُوِيَ عن ابنِ عباسٍ رضيَ اللهُ عنهما أنَّه قال: بالعقلِ. وقال الضحَّاكُ: بالنُّطقِ“Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā bahwa (kelebihan manusia) adalah karena akal. Adh-Ḍaḥḥāk juga berkata: (bahwa kelebihan manusia) karena kemampuan berbicara.” [10]Kemuliaan akal yang Allah berikan kepada manusia bukan sekadar kelebihan biologis, tetapi juga merupakan dasar tanggung jawab moral. Dengan akal itulah, manusia mampu memilih antara perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk atau justru menimbulkan kerusakan bagi kehidupan yang lain.Berbuat baik kepada seluruh makhlukSetiap kebaikan yang dilakukan kepada hewan dan makhluk lain bernilai ibadah dan mendapatkan balasan di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam juga pernah berkisah tentang diampuninya seorang wanita pezina disebabkan memberi minum seekor anjing. Beliau shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ“Ada seorang wanita pezina diampuni (oleh Allah). Ia melewati seekor anjing di tepi sebuah sumur yang kehausan, hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatu (khuf)-nya, mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian ia mengambilkan air untuk anjing itu. Maka Allah pun mengampuninya karena perbuatannya itu.” (Muttafaq ‘alaihi)Sebuah kebaikan pasti Allah ganjar dengan kebaikan. Allah tidak akan luput dari setiap kebaikan kita. Allah berfirman,فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ“Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7)Setelah memahami bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, maka sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Seorang muslim semestinya menimbang setiap tindakannya: apakah ia memberikan manfaat dan menjaga kemaslahatan bersama, atau justru menimbulkan kerusakan dan mudarat bagi makhluk lain. Karenanya, melestarikan lingkungan termasuk perkara yang wajib.Baca juga: Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Kumpulan Ulama al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah.[2] Al-Qurthubi, Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.[3] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm.[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad no. 23132, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 966.[5] Syekh Yasir an-Najjar, Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah, 12: 12.[6] HR Ahmad no. 14500, ad-Darimi no. 2607, dan an-Nasa`i no. 5757.[7] an-Nawawi, Rawḍat at-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn, 4: 97.[8] Syamsuddin Muhammad al-Maghribi, Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 7: 455.[9] Keck, F. et al. Nature vol. 641, hal. 395–400 (2025).[10] Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Referensi:al-Baghawī, Muḥammad ibn ‘Abd ar-Raḥmān. Ma‘ālim at-Tanzīl. Tafsir Q.S. al-Isrā’ ayat 70. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saal-Ḥaṭṭāb, Muḥammad ibn Muḥammad ibn ʿAbd ar-Raḥmān. (1992). Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl. Beirut: Dār al-Fikr. Diakses melalui Maktabah Syamilah.al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, tafsir Q.S. Hūd ayat 61. Diakses melalui: Quran.ksu.edu.saan-Najjār, Yāsir ibn Aḥmad ibn Badr. (2023). Mawsū‘ah al-Fiqh ‘alā al-Madhāhib al-Arba‘ah. Kairo: Dār at-Taqwā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.an-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Rawḍat al-Ṭālibīn wa ‘Umdat al-Muftīn (Tahqīq: ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd & ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.Ibnu Katsīr, Imām. Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, tafsir Q.S. al-Qaṣaṣ: 77. Diakses melalui Quran.ksu.edu.saKeck, F., Peller, T., Alther, R. et al. (2025). The global human impact on biodiversity. Nature, 641, 395–400. https://doi.org/10.1038/s41586-025-08752-2Majmū‘ah min al-‘Ulamā’. (2002). Al-Mawsū‘ah al-Qur’āniyyah al-Mutakhaṣṣiṣah. Miṣr: al-Majlis al-A‘lā li asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah.

Sejenak di Dunia, Selamanya di Akhirat

Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Sejenak di Dunia, Selamanya di Akhirat

Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleDunia adalah ladang sementaraHakikat dunia di mata Rasulullah ﷺDunia bukan tujuan, melainkan jalanMengingat kematianPernahkah kita merenung sejenak, betapa cepatnya waktu berlalu? Usia yang dulu terasa panjang, kini seakan berlari meninggalkan kita. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih. Badan yang dulu kuat, kini mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung akhirat yang kekal.Di antara kisah para Nabi yang begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi yang paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا“Maka ia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, bahkan hanya segelintir yang beriman kepadanya. Umur yang begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, dunia tetaplah terasa singkat.Subhanallah, hampir seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh yang diberi umur panjang merasakan dunia begitu singkat, bagaimana dengan kita yang rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?Rasulullah ﷺ bersabda,أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.Dunia adalah ladang sementaraAllah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, betapa dunia hanyalah kesenangan yang sebentar. Allah berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)Perhiasan dunia memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan harta berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.Ibarat bunga yang mekar sebentar, lalu layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar dunia mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.Hakikat dunia di mata Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor bangkai kambing yang cacat telinganya. Lalu beliau bersabda,أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ“Apakah kalian mengira bangkai kambing ini berharga di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, cacat telinga seperti itu tidak berharga apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)Betapa rendahnya dunia di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.Dunia bukan tujuan, melainkan jalanSaudaraku, dunia bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.Rasulullah ﷺ bersabda,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau seorang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia akan segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah seharusnya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira dunia adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)Lihatlah bagaimana manusia saling berbangga: siapa yang rumahnya lebih besar, siapa yang mobilnya lebih mewah, siapa yang anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak akan ditanya di hadapan Allah, kecuali apakah ia digunakan untuk ketaatan atau tidak.Mengingat kematianRasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, karena itulah yang dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)Kematian akan memutus semua yang kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada yang kita bawa kecuali iman dan amal saleh.Saudaraku, dunia ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu yang akan lenyap. Gunakan dunia untuk menanam amal, agar kelak di akhirat kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Ketika Akhlak Diuji

Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 170 times, 2 visit(s) today Post Views: 106 QRIS donasi Yufid

Ketika Akhlak Diuji

Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 170 times, 2 visit(s) today Post Views: 106 QRIS donasi Yufid
Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 170 times, 2 visit(s) today Post Views: 106 QRIS donasi Yufid


Oleh: Hassan Ahmad Al-Ammari Khutbah Pertama الحمد لله الذي خلق الإنسان وكرَّمه، وأمره بحُسْن الخُلُق، وجعل الأخلاق عبادةً يتقرب بها إليه، لا زينةً يتجمَّل بها أمام الناس. نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلِّم تسليمًا كثيرًا. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dan memuliakannya, memerintahkan untuk berakhlak mulia, dan menjadikan akhlak sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sekedar sebagai hiasan di hadapan manusia. Kita memuji-Nya, serta memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat menyesatkan-Nya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, yang tidak memiliki sekutu, dan saya bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Wahai kaum Mukminin! Di antara ujian terbesar bagi manusia dalam kehidupannya adalah ujian akhlak di masa sulit, bukan di waktu lapang. Karena bukan hal yang sulit untuk tampil baik ketika kita sedang dalam keadaan lapang dan damai. Bahkan orang yang terkenal suka cemberut pun akan tersenyum ketika langit menghujaninya dengan kebaikan, dan bahkan orang bengis pun akan berubah lemah lembut ketika memperoleh keinginannya, menemukan orang yang menyetujui pendapatnya dan membalas cintanya. Namun, akhlak yang hakiki tidak diukur di hari-hari penuh nikmat, tapi akan tersingkap pada saat jatuh bangun, di sudut-sudut gelap kehidupan, ketika kebutuhan mendesak, pada masa nafas terasa sesak, saat kesabaran diuji, dan jati diri ditampilkan. Hal yang dapat mengungkap jati diri seseorang bukan ucapannya ketika menjadi orang yang disukai, tapi ketika dia diperlakukan dengan buruk. Adabnya bukan pada sikapnya terhadap orang yang mengagungkan kedudukannya, tapi terhadap orang yang tidak mampu memberi keuntungan apapun untuknya. Kelembutan hatinya bukan terhadap orang yang bersepakat dengannya, tapi terhadap orang yang menyelisihi, menyakiti, dan menentangnya. Hanya di situ jati diri seseorang akan terlihat dan hakikatnya akan tersingkap, apakah itu sekedar kebiasaan sosial yang dipakai seperti halnya pakaian, atau menjadi ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”  Akhlak bukanlah kemewahan sosial, bukan pula hiasan yang kita pakai untuk bersolek di hadapan manusia, tapi ia merupakan bagian agama sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, ia termasuk salah satu ibadah terbesar dan amalan yang paling berat timbangannya pada Hari Kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seorang hamba pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi). Ketika kamu menahan amarah, kamu tidak melakukannya karena lemah, tapi karena kamu menguatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kamu memaafkan, kamu tidak sedang menghinakan kehormatan diri, tapi kamu sedang memuliakan diri di sisi Tuhanmu. Ketika kamu tetap bersikap lembut kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, kamu bukan sedang berpura-pura baik kepadanya, tapi kamu sedang mendeklarasikan bahwa kamu mulia karena akhlakmu, bukan karena mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34). Wahai kaum Mukminin! Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan ujian. Kepentingan saling berdesakan, semakin banyak kondisi yang menggoda seorang insan untuk balas dendam, mendorongnya untuk menjadi keras, dan memberi alasan untuk bersikap bengis. Betapa banyak keadaan yang membuat seseorang jengah! Betapa banyak kalimat yang diucapkan untuk menyakitinya! Betapa banyak sikap yang ditujukan untuk menghinakannya! Namun, apakah kita akan membalas keburukan dengan keburukan juga, atau kita akan meningkatkan diri ke level ihsan?! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ “Dan balasan bagi suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40). Di antara hal praktis yang hendaknya kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah melatih diri untuk menahan amarah, dengan bersikap tenang sebelum membalas perbuatan orang lain, memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari setan, dan mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ “Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika amarahnya belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).  Juga dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena zikir dapat memadamkan api kemarahan, melembutkan hati, dan mengingatkan kita pada keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kecilnya dunia. Selain itu, kita juga hendaknya melatih diri untuk memaafkan, dengan cara mengingat bahwa pemberian maaf tidak akan sia-sia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakan orang yang memaafkan, dan selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin agar Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22). اللهم يا حي يا قيوم، يا ذا الجلال والإكرام، زَيِّنا بزينة الأخلاق، واملأ قلوبنا رحمةً وعدلًا، واجعلنا من أهل الحلم والعفو، ومن الذين إذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا. اللهم اجعلنا ممن يُحسن في وقت الشدة، ويصبر عند البلاء، ويعفو عند الإساءة، ويُعامل الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. قلت قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه. Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Menegakkan, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, hiasilah diri kami dengan budi pekerti, penuhilah hati kami dengan kasih sayang dan keadilan, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang santun dan pemaaf, juga termasuk orang-orang yang ketika dicela orang-orang bodoh, mereka cukup menjawab dengan perkataan yang damai. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang tetap bersikap baik di saat sulit, bersabar di saat turun musibah, memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, dan memperlakukan orang lain dengan perilaku yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Agung bagi diri saya dan hadirin sekalian dari segala dosa, dan mohonlah ampun kepada-Nya juga. Khutbah Kedua الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, limpahan pujian yang baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin! Betapa bagusnya ketika kita menjadi orang yang baik saat kita dalam keadaan baik, tapi betapa bagusnya lagi jika kita tetap menjadi orang baik saat kita tersakiti? Kita tetap menjaga kejujuran saat orang-orang membohongi kita, tetap menjaga kasih sayang ketika orang-orang bersikap kasar terhadap kita, tetap menjaga rasa kemanusiaan di tengah dunia yang penuh kepentingan dan pengkhianatan. Inilah makna akhlak yang menghadirkan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita tetap tulus meski hati penuh dengan luka, tetap adil meski keadaan merayu untuk membalas, tetap baik di zaman orang-orang mengira kebaikan merupakan suatu kelemahan. Perhatikanlah sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika disakiti di Thaif, darah beliau mengucur, dan malaikat penjaga gunung mendatangi beliau dan menawarkan, “Kalau Engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar!” Namun, Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab, “Justru aku berharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Inilah akhlak yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk manusia, dan inilah kesabaran yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, bukan kesabaran yang penuh pamrih. Wahai saudara-saudara! Akhlak bukanlah sekedar basa-basi sesaat, tapi ia merupakan ibadah berkelanjutan. Ketika kamu menjadi orang yang jujur, pengasih, rendah hati, dan tabah, jangan melakukan itu karena orang lain berhak diperlakukan seperti itu, tapi lakukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyukai itu semua. Betapa indahnya jika seorang insan hidup dengan konsep seperti ini, ia menanam akhlaknya di setiap tanah, meskipun akhlaknya kering, menyirami orang lain dengan kelembutannya meskipun tidak dibalas dengan kebaikan. Sebab balasan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan sirna, apa yang dipersembahkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kekal, meskipun diingkari oleh manusia. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan dalam realitas kehidupan kita adalah mendidik anak-anak kita dengan konsep ini, menyampaikan kepada mereka tentang akhlak yang tidak hanya sebagai sikap sosial, tapi sebagai ibadah untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mengajarkan kepada mereka bahwa kejujuran tidak dilakukan karena orang lain menyukainya, tapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang mencintainya. Mengajarkan kepada mereka bahwa kasih sayang bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan di zaman yang penuh kebengisan. Mengajarkan kepada mereka bahwa kerendahan hati tidak mengurangi derajat seseorang, dan justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di antara hal praktis lainnya yang kita butuhkan juga adalah mengoreksi kembali diri kita dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam reaksi dan cara kita menyikapi orang yang berselisih dengan kita, orang yang punya salah dengan kita, atau orang yang kita tidak punya kepentingan apa pun dengannya. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita memperlakukan mereka dengan perilaku yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridha, atau dengan perilaku yang hanya memuaskan nafsu? Apakah kita bersikap baik karena mereka berhak mendapatkan itu, atau karena kita mengharapkan pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala? اللهم يا ربنا، اجعلنا من أهل الأخلاق، ومن الذين يُحسنون في وقت الشدة، ويصبرون عند البلاء، ويعفون عند الإساءة، ويُعاملون الناس بما تحب يا أرحم الراحمين. اللهم طهِّر قلوبنا من الغلِّ، ونفوسنا من الكبر، وألسنتنا من الفحش، وأعمالنا من الرياء. اللهم اجعلنا من الذين يُحبهم الناس في الأرض، ويرضى عنهم، والحمد لله رب العالمين. Ya Allah, ya Tuhan kami! Jadikanlah kami orang-orang yang memiliki akhlak mulia, orang-orang yang tetap bersikap baik meski di masa sulit, yang sabar ketika tertimpa musibah, yang memaafkan ketika diperlakukan dengan buruk, yang menyikapi orang lain dengan sikap yang Engkau cintai, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kedengkian, jiwa kita dari kesombongan, lisan kita dari kekejian, dan amalan kita dari riya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dicintai dan disukai manusia di muka bumi. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/179254/عندما-تختبر-الأخلاق-خطبة/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 170 times, 2 visit(s) today Post Views: 106 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Yufid Kids Ada untuk Anak-Anak Kita, Ayo Dukung Tim Yufid Kids!

Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 34 times, 1 visit(s) today Post Views: 116 QRIS donasi Yufid

Yufid Kids Ada untuk Anak-Anak Kita, Ayo Dukung Tim Yufid Kids!

Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 34 times, 1 visit(s) today Post Views: 116 QRIS donasi Yufid
Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 34 times, 1 visit(s) today Post Views: 116 QRIS donasi Yufid


Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik & bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan. Setiap frame visual & kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube. Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid. Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi? BSI: 7086882242(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)Catatan transfer: Yufid Kids <img decoding="async" width="819" height="1024" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36-819x1024.jpg" alt="" class="wp-image-45323" srcset="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36-819x1024.jpg 819w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36-240x300.jpg 240w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36-120x150.jpg 120w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36-768x960.jpg 768w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36-816x1020.jpg 816w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg 1024w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /> <img decoding="async" width="819" height="1024" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03-819x1024.jpg" alt="" class="wp-image-45324" srcset="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03-819x1024.jpg 819w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03-240x300.jpg 240w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03-120x150.jpg 120w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03-768x960.jpg 768w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03-816x1020.jpg 816w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg 1024w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /> <img decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-45325" srcset="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-1024x1024.jpg 1024w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-300x300.jpg 300w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-150x150.jpg 150w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-768x768.jpg 768w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-88x88.jpg 88w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-816x816.jpg 816w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08-250x250.jpg 250w, https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /> 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 34 times, 1 visit(s) today Post Views: 116 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Fatwa Ulama: Syarat Khatib Salat Jumat

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa

Fatwa Ulama: Syarat Khatib Salat Jumat

Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa
Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa


Daftar Isi ToggleFatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullahPertanyaan:Jawaban:Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah Pertanyaan:ما هي الشروط اللازمة للخطيب، وهل تصح خطبة من هو أعزب، إذا لم يوجد غيره في البلد؟Apa saja syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang khatib, dan apakah khotbah orang yang masih lajang itu sah apabila di kampung tersebut tidak ada selain dirinya?Jawaban:شروط الخطيب أن يكون ذا علم، ذا بصيرة، أو يخطب من كتاب مأمون، قد وضعه أهل العلم والبصيرة، فيخطب منه على الناس، إذا كان صوته يسمع الناس، أو من طريق المكبر وكان عدلًا، أما إذا كان معروفًا بالمعاصي؛ فينبغي ألا يولى الخطابة، ينبغي أن يولى أهل العدل، وأهل الخير والفضلSyarat bagi seorang khatib adalah bahwa ia harus memiliki ilmu dan memiliki pemahaman yang benar, atau ia berkhotbah dari sebuah kitab yang tepercaya yang disusun oleh para ulama yang berilmu. Ia menyampaikan khotbah itu kepada masyarakat, selama suaranya dapat didengar oleh jemaah atau melalui pengeras suara, dan ia adalah orang yang saleh (tidak tampak melakukan maksiat secara terang-terangan, pent.). Adapun jika ia dikenal sebagai pelaku maksiat, maka sebaiknya ia tidak diberi tugas berkhotbah; yang seharusnya diberi amanah adalah orang-orang yang saleh, baik, dan berbudi luhur.فالمقصود: أن الخطيب إذا كان مسلمًا؛ صحت صلاته، وصحة خطبته؛ إذا حصل المقصود بها، من وعظ الناس، وتذكيرهم من جهة نفسه لكونه عالمًا، أو من كتاب يحصل به المقصود مما ألف في خطب الجمعة؛ فلا حرج في ذلك، وينبغي للمسؤولين ألا يولوا إلا أهل الفضل والعدالة والاستقامة، لكن لو قدر أنه ذو معصية، وصلى بالناس؛ صحت صلاته على الصحيح، مادام مسلمًا، فالمعصية لا تبطل صلاته، ولا صلاة من خلفه، لا جمعة ولا جماعة، لكن المسؤولين المشروع لهم، والواجب عليهم أن يتحروا في ذلك، وأن يجتهدوا في تولية الأخيار، وألا يولوا على أمور المسلمين لا في الإمامة، ولا في الأذان، ولا في الخطابة؛ إلا من عرف بالخير والاستقامة والأهلية للخطابة؛ لأنه ذو علم وبصيرة وللإمامة؛ لأنه ذو فضل وبصيرة، وصالح للإمامةMaksudnya adalah: apabila khatib itu seorang Muslim, maka salatnya sah dan khotbahnya juga sah, selama tujuan khotbah tercapai, yaitu memberi nasihat kepada jemaah salat Jumat dan mengingatkan mereka, baik dari dirinya (kata-katanya) sendiri karena ia  memiliki ilmu, maupun dari sebuah kitab yang dapat memenuhi tujuan tersebut, berupa kitab-kitab yang disusun khusus untuk khotbah Jumat. Hal itu tidak mengapa dilakukan.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) hendaknya tidak menunjuk (seseorang sebagai khatib) kecuali orang-orang yang memiliki keutamaan, kesalehen, dan keistikamahan. Akan tetapi, apabila ternyata khatib itu melakukan maksiat, lalu ia tetap mengimami salat, maka salatnya tetap sah menurut pendapat yang benar, selama ia masih seorang Muslim. Kemaksiatannya itu tidak membatalkan salatnya maupun salat orang-orang yang berada di belakangnya, baik salat Jumat maupun salat berjemaah.Namun, para penanggung jawab (pengurus masjid) berkewajiban untuk berhati-hati dalam hal ini dan bersungguh-sungguh menunjuk orang-orang yang baik, serta tidak memberikan amanah urusan kaum Muslimin, baik dalam imam salat, muazin, maupun khatib, kecuali kepada orang yang dikenal dengan kebaikan, keistikamahan, dan kelayakannya untuk berkhotbah karena ia memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, dan karena ia memiliki keutamaan, bashirah, dan layak menjadi imam.وهكذا في الأذان؛ لأنه ذو أمانة وعدالة وصوت حسن، فالمسؤولون يختارون لهذه المسائل، لهذه الوظائف من هو أهل لها، وإذا علموا أن هذا الرجل ليس صالحًا لهذه الوظيفة، إما لعي في لسانه، ما يصلح أن يكون خطيبًا، أو لأنه معروف بالمعاصي، أو بالبدعة؛ فلا يولىDemikian pula dalam hal azan; hendaknya yang ditunjuk adalah orang yang memiliki amanah, kesalehan, dan suaranya baik. Para penanggung jawab harus memilih untuk tugas-tugas seperti ini orang yang memang layak untuk memikulnya. Jika mereka mengetahui bahwa seseorang tidak pantas untuk tugas tersebut, baik karena memiliki cacat pada lisannya sehingga tidak cocok menjadi khatib, atau karena ia dikenal sebagai pelaku maksiat, atau ahli bid’ah, maka ia tidak boleh diberi amanah tersebut.وهكذا الإمام لا يولى إذا كان معروفًا بالمعاصي، لا يولى على المسلمين إلا خيارهم وأفاضلهم، ومن هو صالح للإمامة لحسن تلاوته، وعدالته في نفسه، وكونه أهلًا للصلاة في طمأنينته، وأدائه حق الصلاة، وهكذا الخطيب يكون أهلًا لذلك كونه يحسن الخطابة، ولأنه ذو علم وفضل، أو لأنه يخطب من كتاب معروف معتمد من تأليف أهل العلم والبصيرة المعروفين بالاستقامة، نعمDemikian pula imam salat; ia tidak boleh diangkat jika dikenal sebagai pelaku maksiat. Seseorang tidak boleh diberi kedudukan memimpin kaum Muslimin kecuali orang-orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu orang yang layak menjadi imam karena bagus bacaannya, memiliki kesalehen pada dirinya, tenang dalam salatnya, serta menunaikan hak-hak salat dengan sempurna. Demikian juga khatib; ia harus layak untuk tugas tersebut, baik karena ia pandai berkhotbah dan memiliki ilmu serta keutamaan, atau karena ia berkhotbah dari sebuah kitab yang dikenal, tepercaya, dan disusun oleh para ulama yang berilmu, memiliki bashirah, dan dikenal memiliki keistikamahan.Baca juga: Azan Salat Jumat: Satu Kali atau Dua Kali?***@Unayzah, KSA; 14 Jumadil akhir 1447/ 4 Desember 2025Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari: binbaz.org.sa

Rahasia Zikir yang Pahalanya Berlipat Tanpa Harus Panjang! – Syaikh Sa’ad Asy -Syatsri #NasehatUlama

Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Rahasia Zikir yang Pahalanya Berlipat Tanpa Harus Panjang! – Syaikh Sa’ad Asy -Syatsri #NasehatUlama

Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ


Wahai Syaikh, saudara Sa’ad bertanya tentang zikir yang disebut sebagai zikir yang berlipat ganda pahalanya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul terbaik. Amma ba’du: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan para sahabat untuk memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, serta menjelaskan kepada mereka bahwa ada beberapa zikir yang mengandung pahala yang berlipat yang nilainya setara dengan zikir yang banyak. Karena itu, dalam hadis Juwairiyah diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya setelah Shalat Subuh, ketika ia sedang berzikir kepada Allah. Lalu Nabi kembali menemuinya ketika siang telah meninggi, Nabi bertanya, “Kamu masih duduk di tempat yang sama sejak tadi?” Ia menjawab, “Ya.” eliau bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan beberapa kalimat yang setara dengan zikir yang kamu ucapkan sepanjang hari ini: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ‘ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI. Inilah zikir yang dilipatgandakan pahalanya, sehingga seorang insan dapat meraih pahala yang melimpah dengan membacanya. Zikir itu mengandung keistimewaan dan keutamaan yang tidak terkandung dalam zikir yang lain. Pemanfaatan seseorang terhadap waktu-waktunya untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, merupakan amalan besar yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41 – 42). “Dialah yang bershalawat atas kalian, juga para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Allah Ta’ala juga berfirman, “…dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Banyak juga hadis yang diriwayatkan tentang anjuran memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Diriwayatkan ada seorang sahabat yang datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam terasa sangat banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sebuah amalan yang dapat aku pegang teguh.” Beliau bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Mufarridun telah unggul (dengan pahala).” Para sahabat bertanya, “Siapa itu Al-Mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Oleh sebab itu, seorang insan hendaknya mengisi waktunya dengan berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk saat berada pada waktu-waktu menunggu dan diam, seperti ketika menunggu janji pertemuan, menunggu giliran di klinik, menunggu giliran di pengadilan, atau menunggu antrean saat datang ke sebuah instansi resmi. Hendaknya ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Dan tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa mengisinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah berfirman, “Dan ingatlah Aku, niscaya Aku mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang menyebut-Ku di tengah suatu kaum, Aku akan mengingatnya di tengah kaum yang lebih baik daripadanya. Dan siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda, “Ada dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tapi berat di timbangan amal dan dicintai Allah Ar-Rahman: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM.” (HR. Bukhari dan Muslim). ===== شَيْخَنَا الْأَخُ سَعْدٌ يَسْأَلُ عَنْ مَا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الْمُضَعَّفِ أَوْ الْمُضَاعَفِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ أَمَّا بَعْدُ فَقَدْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ أَصْحَابَهُ بِالْإِكْثَارِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَيُبَيِّنُ لَهُمْ أَنَّ بَعْضَ الْأَذْكَارِ تَكُونُ فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ الْمُضَاعَفِ مَا يُوَازِي الذِّكْرَ الْكَثِيرَ وَلِذَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا بَعْدَ الْفَجْرِ وَهِيَ تَذْكُرُ اللَّهَ فَعَادَ إِلَيْهَا بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَقَالَ مَا زِلْتِ فِي مَجْلِسِكِ الَّذِي كُنْتِ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ قُلْتُ كَلِمَاتٍ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ يَوْمَكِ ذَاكَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ فَهَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي يُضَاعَفُ أَجْرُهَا فَيَنَالُ الْإِنْسَانُ بِهَا الأَجْرَ الكَثِيرَ فِيهَا مِنَ الْمَزِيَّةِ وَالْفَضْلِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا وَإِشْغَالُ الْإِنْسَانِ أَوْقَاتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَرْفَعُ بِهِ دَرَجَتَهُ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا وَقَالَ تَعَالَى وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَقَالَ سُبْحَانَهُ فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَجَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ مَا يُرَغِّبُ فِي ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ فَقَالَ لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللَّهِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا مَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ وَلِذَلِكَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُشْغِلَ وَقْتَهُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ هَذَا أَنْ نَسْتَغِلَّ الْأَوْقَاتَ الَّتِي فِيْهَا سُكُونٌ وَفِيهَا تَرَقُّبٌ مَثَلًا فِي جُلُوسِ الْإِنْسَانِ فِي انْتِظَارِهِ لِمَوَاعِيدِهِ انْتِظَارِهِ عِنْدَ الطَّبِيبِ أَوْ انْتِظَارِهِ لِمَوْعِدِ مَحْكَمَةٍأَوْ مَوْعِدِ مُرَاجَعَةٍ لِجِهَةٍ رَسْمِيَّةٍ عَلَيْهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَسْبِيحًا وَتَهْلِيلًا وَتَكْبِيرًا وَلَا يَدَعُ الْوَقْتَ يَمْضِي بِدُونِ ذِكْرِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَقَدْ قَالَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ مَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Bersabar Saat Mendapat Nikmat, Bersyukur Saat Mendapat Musibah

Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id

Bersabar Saat Mendapat Nikmat, Bersyukur Saat Mendapat Musibah

Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurIbrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarTips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetahuilah bahwa kita tidak sendirianIngat pahala tanpa batasTips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleAnggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarSabar dan syukur bagaikan dua sayapAda sebuah keajaiban yang hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah hadis yang begitu indah,عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, ia pun bersabar.Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level yang lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu ia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan bersyukur tatkala musibah menimpa.Seorang mukmin yang mencapai level ini tidak hanya melihat peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia melihat dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.Contohnya, semisal ada seseorang yang kecelakaan, ia tidak hanya bersabar atas musibah yang sedang menimpa baik fisik maupun kendaraanya; akan tetapi, ia malah bersyukur karena yang ia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, bahkan tidak sampai meninggal dunia. Ia bersyukur karena Allah masih melindunginya. Bersyukur karena luka itu ringan. Bersyukur karena Allah tidak menimpakan yang lebih besar.Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu hal yang lumrah dan seharusnya demikian. Tetapi yang luar biasa adalah ia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga harta itu dari maksiat. Ia melindunginya dari hal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di balik nikmat.Inilah level seorang mukmin yang sangat berkelas, ia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan bersyukur ketika diberikan cobaan, ujian, atau musibah.Kisah teladan syukur dan sabarNabi Nuh ‘alaihissalam, hamba yang sangat bersyukurNabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” karena ia memiliki kebiasaan bersyukur kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat yang begitu agung,‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba yang banyak bersyukur (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad yang lemah]Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا“Sesungguhnya apabila Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila memakai pakaian mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan apabila menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh karena itu, Allah menamainya dengan hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba yang pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.Ibrahim: Imamnya orang-orang yang bersabarAllah Ta’ala berfirman,وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret bagaimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat yang tidak pernah ia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian yang berat dan bertubi-tubi dari segala sisi, ia diusir dari negeri yang ia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, bahkan mengorbankan anak tercinta yang telah lama ia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati yang tunduk dan jiwa yang yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan hadir.Tips agar lebih mudah bersabarLihatlah orang lain yang diuji lebih beratKetika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan yang membuatmu lupa betapa banyak orang lain yang diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah masih menjagamu, masih melindungimu, dan masih memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.Itu membuat hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita masih ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, ia berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ketahuilah bahwa kita tidak sendirianKetahuilah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap senyapnya malam yang membuat kita merasa paling terluka, setiap detik yang membuat dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah masih memperhatikan, masih menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada yang berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan yang kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, atau rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain yang merasakan luka yang serupa.Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya,لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)Ingat pahala tanpa batasAllah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)Setiap sabar yang kita genggam, meski hanya seukuran denyut jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan yang tak terhitung.Tips agar menjadi hamba yang bersyukurHargai nikmat yang sering kita anggap sepeleBersyukur atas nikmat-nikmat yang sering kita anggap sepele, seperti nafas yang kita hirup, kesehatan, atau keluarga yang masih bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik yang masih diberikan kepada kita adalah anugerah yang tak ternilai, hadiah yang sering kita sadari hanya setelah hilang dari genggaman.Allah Ta’ala berfirman,وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا“Barangsiapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)Anggap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besarAnggaplah setiap nikmat kecil sebagai sesuatu yang besar, karena tidak ada nikmat yang benar-benar kecil. Seteguk air yang meredakan dahaga, istirahat yang cukup setelah hari yang melelahkan, atau satu doa yang Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia yang pantas disyukuri dengan sepenuh hati.Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat kecil itulah Allah ingin mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, bahkan tanpa kita minta.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)Sabar dan syukur bagaikan dua sayapHidup ini bukan tentang apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap yang saling melengkapi yang membuat seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat badai datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar melihat keindahan di baliknya.Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu naik ke level iman yang lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, bersyukur dalam kesempitan.Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id
Prev     Next