QASIDAH AL-ILBIRI: 100 NASIHAT SEORANG AYAH UNTUK ANAKNYA – Syaikh Abdul Aziz Ash-Shini

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. ١ – تَفُتُّ فُؤَادَكَ الأَيَّامُ فَتَّا … وَتَنْحِتُ جِسْمَكَ السَّاعَاتُ نَحْتَا Hari demi hari meremukkan hatimu … dan jam demi jam menyusutkan tubuhmu. ٢ – وَتَدْعُوكَ المَنُونُ دُعَاءَ صِدْقٍ … أَلَا يَا صَاحِ، أَنْتَ أُرِيدُ أَنْتَا Kematian memanggilmu dengan panggilan yang pasti …“Wahai sahabatku, engkaulah yang kuinginkan. Ya, engkau!” ٣ – أَرَاكَ تُحِبُّ عِرْساً ذَاتَ غَدْرٍ … أَبَتَّ طَلَاقَهَا الأَكْيَاسُ بَتَّاKulihat engkau mencintai istri yang gemar mengingkari janji, yaitu dunia …padahal orang-orang berakal telah menceraikannya dengan talak yang tak dapat dirujuk. ٤ – تَنَامُ الدَّهْرَ – وَيْحَكَ – فِي غَطِيطٍ … بِهَا، حَتَّى إِذَا مِتَّ انْتَبَهْتَاDuhai malangnya engkau! Sepanjang masa engkau tertidur mendengkur bersamanya …hingga ketika mati, barulah engkau tersadar. ٥ – فَكَمْ ذَا أَنْتَ مَخْدُوعٌ وَحَتَّى … مَتَى لَا تَرْعَوِي عَنْهَا وَحَتَّى؟Berapa lama lagi engkau akan terus tertipu? …Sampai kapan engkau tak juga menahan diri dan jera darinya? Sampai kapan? ٦ – «أَبَا بَكْرٍ» دَعَوْتُكَ لَوْ أَجَبْتَا … إِلَى مَا فِيهِ حَظُّكَ إِنْ عَقَلْتَاWahai Abu Bakar, putraku, aku menyerumu, andai engkau mau menyambut …kepada sesuatu yang di dalamnya ada bagian kebaikan bagimu, jika engkau berakal. ٧ – إِلَى عِلْمٍ تَكُونُ بِهِ إِمَاماً … مُطَاعاً إِنْ نَهَيْتَ وَإِنْ أَمَرْتَاKepada ilmu yang dengannya engkau menjadi seorang imam …yang ditaati ketika melarang maupun memerintah. ٨ – وَيَجْلُو مَا بِعَيْنِكَ مِنْ عَشَاهَا … وَيَهْدِيكَ السَّبِيلَ إِذَا ضَلَلْتَاIlmu menyingkap rabun yang melemahkan penglihatan matamu …dan menunjukkan jalan kepadamu ketika engkau tersesat. ٩ – وَتَحْمِلُ مِنْهُ فِي نَادِيكَ تَاجاً … وَيَكْسُوكَ الجَمَالَ إِذَا اغْتَرَبْتَاDi tengah majelismu, ilmu menjadi mahkota yang engkau kenakan …dan menghiasimu dengan keindahan ketika engkau di perantauan. ١٠ – يَنَالُكَ نَفْعُهُ مَا دُمْتَ حَيّاً … وَيَبْقَى ذُخْرُهُ لَكَ إِنْ ذَهَبْتَاManfaatnya terus engkau peroleh selama engkau hidup …dan simpanannya tetap menjadi milikmu setelah engkau tiada. ١١ – هُوَ العَضْبُ المُهَنَّدُ لَيْسَ يَنْبُو … تُصِيبُ بِهِ مَقَاتِلَ مَنْ ضَرَبْتَاIlmu laksana pedang India yang tajam, tak pernah meleset dari sasaran …dengannya engkau mengenai titik mematikan orang yang engkau tebas. ١٢ – وَكَنْزٌ لَا تَخَافُ عَلَيْهِ لِصّاً … خَفِيفُ الحَمْلِ يُوجَدُ حَيْثُ كُنْتَاIlmu adalah harta simpanan yang tak perlu engkau khawatirkan dicuri …ringan dibawa, dan selalu ada bersamamu di mana pun engkau berada. ١٣ – يَزِيدُ بِكَثْرَةِ الإِنْفَاقِ مِنْهُ … وَيَنْقُصُ إِنْ بِهِ كَفّاً شَدَدْتَاIlmu bertambah ketika semakin banyak engkau bagikan …dan berkurang ketika engkau menggenggamnya erat-erat. ١٤ – فَلَوْ قَدْ ذُقْتَ مِنْ حَلْوَاهُ طَعْماً … لَآثَرْتَ التَّعَلُّمَ وَاجْتَهَدْتَاSeandainya engkau telah mencicipi manisnya ilmu …niscaya engkau lebih memilih belajar dan bersungguh-sungguh. ١٥ – وَلَمْ يَشْغَلْكَ عَنْهُ هَوىً مُطَاعٌ … وَلَا دُنْيَا بِزُخْرُفِهَا فُتِنْتَاHawa nafsu yang dituruti tak akan menyibukkanmu darinya …tidak pula dunia dengan segala gemerlapnya akan memikatmu. ١٦ – وَلَا أَلْهَاكَ عَنْهُ أَنِيقُ رَوْضٍ … وَلَا خِدْرٌ بِرَبْرَبِهِ كَلِفْتَاTaman yang indah tak akan melalaikanmu darinya …tidak pula gadis-gadis jelita di balik tirai pingitan yang membuatmu jatuh hati. ١٧ – فَقُوتُ الرُّوحِ أَرْوَاحُ المَعَانِي … وَلَيْسَ بِأَنْ طَعِمْتَ وَأَنْ شَرِبْتَاSebab makanan bagi ruh adalah makna-makna yang menghidupkan hati …bukan sekadar apa yang engkau makan dan minum. ١٨ – فَوَاظِبْهُ وَخُذْ بِالجِدِّ فِيهِ … فَإِنْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ أَخَذْتَاMaka tekunilah ilmu dan bersungguh-sungguhlah padanya …sebab bila Allah menganugerahkannya kepadamu, engkau pun meraihnya. ١٩ – وَإِنْ أُوتِيتَ فِيهِ طُولَ بَاعٍ … وَقَالَ النَّاسُ إِنَّكَ قَدْ سَبَقْتَاJika engkau dikaruniai penguasaan yang luas dan mendalam dalam ilmu …dan orang-orang berkata bahwa engkau telah mengungguli yang lain, ٢٠ – فَلَا تَأْمَنْ سُؤَالَ اللَّهِ عَنْهُ … بِتَوْبِيخٍ: عَلِمْتَ؛ فَهَلْ عَمِلْتَا؟jangan merasa aman dari pertanyaan Allah tentang ilmu itu …dengan teguran, “Engkau telah mengetahui, lalu apakah engkau mengamalkannya?” ٢١ – فَرَأْسُ العِلْمِ تَقْوَى اللَّهِ حَقّاً … وَلَيْسَ بِأَنْ يُقَالَ: لَقَدْ رَأَسْتَاSebab puncak ilmu yang sebenarnya adalah bertakwa kepada Allah …bukan sekadar agar dikatakan, “Engkau telah menjadi pemimpin.” ٢٢ – وَضَافِي ثَوْبِكَ الإِحْسَانُ، لَا أَنْ … تُرَى ثَوْبَ الإِسَاءَةِ قَدْ لَبِسْتَاHendaklah pakaianmu yang lapang menutupi itu adalah ihsan …bukan agar engkau terlihat telah mengenakan pakaian keburukan. ٢٣ – إِذَا مَا لَمْ يُفِدْكَ العِلْمُ خَيْراً … فَخَيْرٌ مِنْهُ أَنْ لَوْ قَدْ جَهِلْتَاJika ilmu tidak mendatangkan kebaikan bagimu …maka lebih baik seandainya engkau tetap tidak mengetahuinya. ٢٤ – وَإِنْ أَلْقَاكَ فَهْمُكَ فِي مَهَاوٍ … فَلَيْتَكَ ثُمَّ لَيْتَكَ مَا فَهِمْتَاJika pemahamanmu justru menjatuhkanmu ke jurang-jurang yang dalam …alangkah baiknya, sungguh alangkah baiknya, jika dahulu engkau tidak memahaminya. ٢٥ – سَتَجْنِي مِنْ ثِمَارِ العَجْزِ جَهْلاً … وَتَصْغُرُ فِي العُيُونِ وَإِنْ كَبِرْتَاEngkau akan menuai kebodohan sebagai buah dari kelemahanmu …dan menjadi kecil di mata manusia meskipun usiamu bertambah tua. ٢٦ – وَتُفْقَدُ إِنْ جَهِلْتَ وَأَنْتَ بَاقٍ … وَتُوجَدُ إِنْ عَلِمْتَ وَإِنْ فُقِدْتَاEngkau seakan tiada jika bodoh, meskipun masih hidup …dan seakan tetap ada jika berilmu, meskipun engkau telah tiada. ٢٧ – وَتَذْكُرُ قَوْلَتِي لَكَ بَعْدَ حِينٍ … وَتَغْبِطُهَا إِذَا عَنْهَا شُغِلْتَاKelak engkau akan mengingat nasihatku ini …dan memandangnya sebagai kebaikan, ketika engkau telah tersibukkan darinya. ٢٨ – وَسَوْفَ تَعَضُّ مِنْ نَدَمٍ عَلَيْهَا … وَمَا تُغْنِي النَّدَامَةُ إِنْ نَدِمْتَاKelak engkau akan menggigit jari karena penyesalan …namun apa gunanya penyesalan ketika engkau telah menyesal? ٢٩ – إِذَا أَبْصَرْتَ صَحْبَكَ فِي سَمَاءٍ … قَدِ ارْتَفَعُوا عَلَيْكَ وَقَدْ سَفُلْتَاKetika engkau melihat teman-temanmu seakan berada di langit …mereka telah menjulang di atasmu, sedangkan engkau berada di bawah, ٣٠ – فَرَاجِعْهَا وَدَعْ عَنْكَ الهُوَيْنَا … فَمَا بِالبُطْءِ تُدْرِكُ مَا طَلَبْتَاmaka kembalilah menekuni ilmu dan tinggalkan langkah yang lamban …sebab dengan berlambat-lambat engkau takkan meraih apa yang engkau cari. ٣١ – وَلَا تَحْفِلْ بِمَالِكَ وَالْهَ عَنْهُ … فَلَيْسَ المَالُ إِلَّا مَا عَلِمْتَاJangan pedulikan hartamu dan tinggalkan saja ia …sebab kekayaan sejati hanyalah ilmu yang engkau miliki. ٣٢ – وَلَيْسَ لِجَاهِلٍ فِي النَّاسِ مَعْنىً … وَلَوْ مُلْكُ العِرَاقِ لَهُ تَأَتَّىOrang bodoh tidak memiliki nilai berarti di tengah manusia …meskipun kekuasaan atas Irak dimudahkan baginya. ٣٣ – سَيَنْطِقُ عَنْكَ عِلْمُكَ فِي نَدِيٍّ … وَيُكْتَبُ عَنْكَ يَوْماً إِنْ كَتَبْتَاIlmumu kelak akan berbicara tentang dirimu di tengah majelis …dan suatu hari tulisanmu akan dinukil orang, jika engkau menulis. ٣٤ – وَمَا يُغْنِيكَ تَشْيِيدُ المَبَانِي … إِذَا بِالجَهْلِ نَفْسَكَ قَدْ هَدَمْتَاApa gunanya engkau mengokohkan dan meninggikan bangunan …jika dengan kebodohan engkau justru meruntuhkan dirimu sendiri? ٣٥ – جَعَلْتَ المَالَ فَوْقَ العِلْمِ جَهْلاً … لَعَمْرُكَ فِي القَضِيَّةِ مَا عَدَلْتَاKarena kebodohanmu, engkau menempatkan harta di atas ilmu …sungguh, dalam perkara ini engkau tidak berlaku adil. ٣٦ – وَبَيْنَهُمَا بِنَصِّ الوَحْيِ بَوْنٌ … سَتَعْلَمُهُ إِذَا «طَهَ» قَرَأْتَاPadahal antara keduanya ada jarak yang jauh menurut nas wahyu …engkau akan mengetahuinya ketika membaca Surah Thaha. ٣٧ – لَئِنْ رَفَعَ الغَنِيُّ لِوَاءَ مَالٍ … لَأَنْتَ لِوَاءَ عِلْمِكَ قَدْ رَفَعْتَاJika orang kaya mengibarkan panji hartanya …maka engkau telah mengibarkan panji ilmumu. ٣٨ – وَإِنْ جَلَسَ الغَنِيُّ عَلَى الحَشَايَا … لَأَنْتَ عَلَى الكَوَاكِبِ قَدْ جَلَسْتَاJika orang kaya duduk di atas kasur-kasur empuk berisi kapas …maka engkau seakan telah duduk di atas bintang-bintang. ٣٩ – وَإِنْ رَكِبَ الجِيَادَ مُسَوَّمَاتٍ … لَأَنْتَ مَنَاهِجَ التَّقْوَى رَكِبْتَاJika ia menunggang kuda-kuda pilihan bertanda …maka engkau telah meniti jalan-jalan ketakwaan. ٤٠ – وَمَهْمَا اقْتَضَّ أَبْكَارَ الغَوَانِي … فَكَمْ بِكْرٍ مِنَ الحِكَمِ اقْتَضَضْتَاSekalipun ia menggauli para gadis jelita yang masih perawan …betapa banyak hikmah yang masih perawan telah engkau singkap. ٤١ – وَلَيْسَ يَضُرُّكَ الإِقْتَارُ شَيْئاً … إِذَا مَا أَنْتَ رَبَّكَ قَدْ عَرَفْتَاSempitnya penghidupan tidak akan memudaratkanmu sedikit pun …selama engkau telah mengenal Rabbmu. ٤٢ – فَمَاذَا عِنْدَهُ لَكَ مِنْ جَمِيلٍ … إِذَا بِفِنَاءِ طَاعَتِهِ أَنَخْتَاBetapa banyak kebaikan yang tersedia di sisi-Nya untukmu …bila engkau menambatkan diri di pelataran ketaatan kepada-Nya. ٤٣ – فَقَابِلْ بِالقَبُولِ صَحِيحَ نُصْحِي … فَإِنْ أَعْرَضْتَ عَنْهُ فَقَدْ خَسِرْتَاMaka sambutlah dengan penerimaan nasihatku yang tulus ini …jika engkau berpaling darinya, sungguh engkau telah merugi. ٤٤ – وَإِنْ رَاعَيْتَهُ قَوْلاً وَفِعْلاً … وَتَاجَرْتَ الإِلَهَ بِهِ رَبِحْتَاNamun jika engkau mengamalkannya dalam ucapan dan perbuatan …serta berniaga dengan Allah melaluinya, niscaya engkau beruntung. ٤٥ – فَلَيْسَتْ هَذِهِ الدُّنْيَا بِشَيْءٍ … تَسُوؤُكَ حِقْبَةً وَتَسُرُّ وَقْتَاDunia ini bukanlah sesuatu yang berarti …ia menyusahkanmu dalam rentang masa yang panjang, dan menyenangkanmu hanya sesaat. ٤٦ – وَغَايَتُهَا إِذَا فَكَّرْتَ فِيهَا … كَفَيْئِكَ أَوْ كَحُلْمِكَ إِنْ حَلَمْتَاPuncaknya, jika engkau merenungkannya …dunia hanyalah seperti bayanganmu, atau seperti mimpi yang engkau alami. ٤٧ – سُجِنْتَ بِهَا وَأَنْتَ لَهَا مُحِبٌّ … فَكَيْفَ تُحِبُّ مَا فِيهِ سُجِنْتَا؟Engkau terpenjara di dunia, tetapi justru mencintainya …bagaimana mungkin engkau mencintai tempat yang menjadi penjaramu? ٤٨ – وَتُطْعِمُكَ الطَّعَامَ وَعَنْ قَرِيبٍ … سَتَطْعَمُ مِنْكَ مَا مِنْهَا طَعِمْتَاDunia memberimu makanan, dan tak lama lagi …ia akan memakan dari tubuhmu sebagaimana engkau telah memakan darinya. ٤٩ – وَتَعْرَى إِنْ لَبِسْتَ لَهَا ثِيَاباً … وَتُكْسَى إِنْ مَلَابِسَهَا خَلَعْتَاEngkau sejatinya telanjang bila mengenakan pakaian dunia …dan engkau akan terbalut kemuliaan bila menanggalkannya. ٥٠ – وَتَشْهَدُ كُلَّ يَوْمٍ دَفْنَ خِلٍّ … كَأَنَّكَ لَا تُرَادُ بِمَا شَهِدْتَاSetiap hari engkau menyaksikan pemakaman seorang sahabat karib …seolah-olah kematian yang engkau saksikan itu tidak ditujukan kepadamu. ٥١ – وَلَمْ تُخْلَقْ لِتَعْمُرَهَا وَلَكِنْ … لِتَعْبُرَهَا فَجِدَّ لِمَا خُلِقْتَاEngkau tidak diciptakan untuk hidup kekal di dunia …melainkan untuk melintasinya, maka bersungguh-sungguhlah untuk tujuan penciptaanmu. ٥٢ – وَإِنْ هُدِمَتْ فَزِدْهَا أَنْتَ هَدْماً … وَحَصِّنْ أَمْرَ دِينِكَ مَا اسْتَطَعْتَاJika dunia telah runtuh, tambahlah keruntuhannya olehmu …dan kokohkanlah urusan agamamu semampumu. ٥٣ – وَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَ مِنْهَا … إِذَا مَا أَنْتَ فِي أُخْرَاكَ فُزْتَاJangan bersedih atas apa yang luput darimu di dunia …selama engkau meraih kemenangan di akhiratmu. ٥٤ – فَلَيْسَ بِنَافِعٍ مَا نِلْتَ مِنْهَا … مِنَ الفَانِي، إِذَا البَاقِي حُرِمْتَاApa yang engkau raih dari dunia yang fana tidaklah berguna …jika engkau terhalang dari kenikmatan yang kekal. ٥٥ – وَلَا تَضْحَكْ مَعَ السُّفَهَاءِ لَهْواً … فَإِنَّكَ سَوْفَ تَبْكِي إِنْ ضَحِكْتَاJangan tertawa dalam senda gurau bersama orang-orang yang ringan akalnya …sebab kelak engkau akan menangis jika tenggelam dalam tawa semacam itu. ٥٦ – وَكَيْفَ لَكَ السُّرُورُ وَأَنْتَ رَهْنٌ … وَلَا تَدْرِي أَتُفْدَى أَمْ غَلِقْتَاBagaimana mungkin engkau bergembira sementara dirimu tergadai …dan engkau tak tahu, akankah engkau ditebus, atau tertahan selamanya tanpa dapat ditebus? ٥٧ – وَسَلْ مِنْ رَبِّكَ التَّوْفِيقَ فِيهَا … وَأَخْلِصْ فِي السُّؤَالِ إِذَا سَأَلْتَاMintalah taufik kepada Rabbmu dalam semua itu …dan tuluslah dalam permohonan ketika engkau meminta. ٥٨ – وَنَادِ إِذَا سَجَدْتَ لَهُ اعْتِرَافاً … بِمَا نَادَاهُ ذُو النُّونِ ابْنُ مَتَّىBerserulah kepada-Nya ketika bersujud dengan penuh pengakuan …sebagaimana seruan Dzun Nun, yaitu Yunus bin Matta ‘alaihis salam. ٥٩ – وَلَازِمْ بَابَهُ قَرْعاً عَسَاهُ … سَيَفْتَحُ بَابَهُ لَكَ إِنْ قَرَعْتَاTeruslah mengetuk pintu-Nya tanpa jemu …mudah-mudahan Dia membukakan pintu itu bagimu jika engkau terus mengetuk. ٦٠ – وَأَكْثِرْ ذِكْرَهُ فِي الأَرْضِ دَأْباً … لِتُذْكَرَ فِي السَّمَاءِ إِذَا ذَكَرْتَاPerbanyaklah mengingat-Nya di bumi dengan tekun terus-menerus …agar engkau disebut di langit ketika engkau mengingat-Nya. ٦١ – وَلَا تَقُلِ الصِّبَا فِيهِ مَجَالٌ … وَفَكِّرْ كَمْ صَغِيرٍ قَدْ دَفَنْتَاJangan berkata, “Masa muda masih panjang.” …Renungkan, berapa banyak orang muda yang telah engkau kuburkan? ٦٢ – وَقُلْ لِي: يَا نَصِيحُ لَأَنْتَ أَوْلَى … بِنُصْحِكَ، لَوْ بِعَقْلِكَ قَدْ نَظَرْتَاLalu katakanlah kepadaku, “Wahai pemberi nasihat yang tulus, engkau lebih pantas …menerima nasihatmu sendiri, jika engkau mau berpikir dengan akalmu. ٦٣ – تُقَطِّعُنِي عَلَى التَّفْرِيطِ لَوْماً … وَبِالتَّفْرِيطِ دَهْرَكَ قَدْ قَطَعْتَاEngkau mencercaku habis-habisan karena kelalaianku …padahal seluruh umurmu sendiri telah engkau habiskan dalam kelalaian. ٦٤ – وَفِي صِغَرِي تُخَوِّفُنِي المَنَايَا … وَمَا تَجْرِي بِبَالِكَ حِينَ شِخْتَاKetika aku masih kecil, engkau menakut-nakutiku dengan kematian …sedangkan setelah engkau menua, kematian tak terlintas dalam pikiranmu. ٦٥ – وَكُنْتَ مَعَ الصِّبَا أَهْدَى سَبِيلاً … فَمَا لَكَ بَعْدَ شَيْبِكَ قَدْ نُكِسْتَاKetika muda dahulu jalanmu justru lebih lurus …lalu mengapa setelah beruban engkau berbalik kepada keburukan? ٦٦ – وَهَا أَنَا لَمْ أَخُضْ بَحْرَ الخَطَايَا … كَمَا قَدْ خُضْتَهُ حَتَّى غَرِقْتَاLihatlah aku, belum pernah aku mengarungi lautan dosa …seperti engkau yang telah mengarunginya hingga tenggelam. ٦٧ – وَلَمْ أَشْرَبْ حُمَيَّا أُمِّ دَفْرٍ … وَأَنْتَ شَرِبْتَهَا حَتَّى سَكِرْتَاAku belum meminum arak Ummu Dafr yang memabukkan kepala …sedangkan engkau telah meminumnya hingga mabuk. ٦٨ – وَلَمْ أَحْلُلْ بِوَادٍ فِيهِ ظُلْمٌ … وَأَنْتَ حَلَلْتَ فِيهِ وَانْهَمَلْتَاAku belum pernah singgah di lembah yang penuh kezaliman …sedangkan engkau tinggal di dalamnya dan berkeliaran tanpa kendali. ٦٩ – وَلَمْ أَنْشَأْ بِعَصْرٍ فِيهِ نَفْعٌ … وَأَنْتَ نَشَأْتَ فِيهِ وَمَا انْتَفَعْتَاAku tidak tumbuh pada masa yang penuh manfaat …sedangkan engkau tumbuh pada masa itu, tetapi tidak mengambil manfaatnya. ٧٠ – وَقَدْ صَاحَبْتَ أَعْلَاماً كِبَاراً … وَلَمْ أَرَكَ اقْتَدَيْتَ بِمَنْ صَحِبْتَاEngkau telah bergaul dengan tokoh-tokoh besar …tetapi aku tak melihatmu meneladani orang-orang yang engkau temani. ٧١ – وَنَادَاكَ الكِتَابُ فَلَمْ تُجِبْهُ … وَنَهْنَهَكَ المَشِيبُ فَمَا انْتَبَهْتَاAl-Qur’an telah memanggilmu, tetapi engkau tidak menjawabnya …uban telah menghardikmu agar berhenti, tetapi engkau tetap tidak tersadar. ٧٢ – لَيَقْبُحُ بِالفَتَى فِعْلُ التَّصَابِي … وَأَقْبَحُ مِنْهُ شَيْخٌ قَدْ تَفَتَّىBetapa buruk seorang pemuda yang larut dalam kesia-siaan ala anak-anak …dan lebih buruk lagi seorang tua yang berlagak muda dalam kesia-siaan itu. ٧٣ – فَأَنْتَ أَحَقُّ بِالتَّفْنِيدِ مِنِّي … وَلَوْ سَكَتَ المُسِيءُ لَمَا نَطَقْتَاEngkau lebih pantas dicela daripada aku …dan seandainya orang yang bersalah harus diam, tentu engkau pun tak akan berbicara. ٧٤ – وَنَفْسَكَ ذُمَّ لَا تَذْمُمْ سِوَاهَا … بِعَيْبٍ فَهْيَ أَجْدَرُ مَنْ ذَمَمْتَاCela dirimu sendiri, jangan cela selainnya karena suatu aib …sebab dirimulah yang paling pantas menjadi sasaran celaanmu. ٧٥ – فَلَوْ بَكَتِ الدِّمَا عَيْنَاكَ خَوْفاً … لِذَنْبِكَ لَمْ أَقُلْ لَكَ قَدْ أَمِنْتَاSeandainya kedua matamu menangis darah karena takut akan dosamu …aku tetap tidak akan berkata kepadamu, ‘Engkau telah aman.’ ٧٦ – وَمَنْ لَكَ بِالأَمَانِ وَأَنْتَ عَبْدٌ … أُمِرْتَ فَمَا ائْتَمَرْتَ وَلَا أَطَعْتَاSiapa yang dapat menjamin keamanan bagimu, padahal engkau hanyalah hamba? …Engkau diperintah, tetapi tidak melaksanakannya dan tidak taat. ٧٧ – ثَقُلْتَ مِنَ الذُّنُوبِ وَلَسْتَ تَخْشَى … لِجَهْلِكَ أَنْ تَخِفَّ إِذَا وُزِنْتَاEngkau berat oleh dosa-dosa, tetapi karena kebodohanmu engkau tidak takut …bahwa kelak timbanganmu justru ringan ketika ditimbang. ٧٨ – وَتُشْفِقُ لِلْمُصِرِّ عَلَى المَعَاصِي … وَتَرْحَمُهُ وَنَفْسَكَ مَا رَحِمْتَاEngkau merasa iba kepada orang yang terus-menerus bermaksiat …dan mengasihaninya, tetapi dirimu sendiri tidak engkau kasihani. ٧٩ – رَجَعْتَ القَهْقَرَى وَخَبَطْتَ عَشْوَا … لَعَمْرُكَ لَوْ وَصَلْتَ لَمَا رَجَعْتَاEngkau berjalan mundur dan melangkah meraba tanpa arah …sungguh, seandainya engkau telah sampai, tentu engkau tidak akan berbalik. ٨٠ – وَلَوْ وَافَيْتَ رَبَّكَ دُونَ ذَنْبٍ … وَنَاقَشَكَ الحِسَابَ؛ إِذاً هَلَكْتَاSeandainya engkau menghadap Rabbmu tanpa membawa dosa …lalu Dia memeriksa hisabmu dengan teliti, niscaya engkau binasa. ٨١ – وَلَمْ يَظْلِمْكَ فِي عَمَلٍ وَلَكِنْ … عَسِيرٌ أَنْ تَقُومَ بِمَا حَمَلْتَاDia tidak menzalimimu sedikit pun dalam amalmu …namun sungguh berat menunaikan apa yang engkau pikul. ٨٢ – وَلَوْ قَدْ جِئْتَ يَوْمَ الفَصْلِ فَرْداً … وَأَبْصَرْتَ المَنَازِلَ فِيهِ شَتَّىSeandainya engkau datang seorang diri pada Hari Keputusan …dan melihat betapa beragamnya kedudukan manusia ketika itu, ٨٣ – لَأَعْظَمْتَ النَّدَامَةَ فِيهِ لَهْفاً … عَلَى مَا فِي حَيَاتِكَ قَدْ أَضَعْتَاniscaya penyesalanmu memuncak, penuh sesal dan duka …atas apa yang telah engkau sia-siakan sepanjang hidupmu. ٨٤ – تَفِرُّ مِنَ الهَجِيرِ وَتَتَّقِيهِ … فَهَلَّا عَنْ جَهَنَّمَ قَدْ فَرَرْتَاEngkau lari dan berlindung dari puncak panas tengah hari …lalu mengapa engkau tidak lari dari Jahannam? ٨٥ – وَلَسْتَ تُطِيقُ أَهْوَنَهَا عَذَاباً … وَلَوْ كُنْتَ الحَدِيدَ بِهَا لَذُبْتَاEngkau tidak sanggup menahan siksaannya yang paling ringan …bahkan seandainya engkau terbuat dari besi, engkau akan meleleh di dalamnya. ٨٦ – فَلَا تُكْذَبْ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ جِدٌّ … وَلَيْسَ كَمَا حَسِبْتَ وَلَا ظَنَنْتَاMaka jangan sampai engkau lengah lalu membenarkan dusta yang dibisikkan kepadamu,karena perkara ini sungguh serius …dan tidak seperti yang selama ini engkau kira dan sangka.” ٨٧ – «أَبَا بَكْرٍ» كَشَفْتَ أَقَلَّ عَيْبِي … وَأَكْثَرَهُ وَمُعْظَمَهُ سَتَرْتَاWahai Abu Bakar, engkau hanya menyingkap sedikit dari aibku …sedangkan sebagian besar dan yang terbesar darinya masih engkau tutupi. ٨٨ – فَقُلْ مَا شِئْتَ فِيَّ مِنَ المَخَازِي … وَضَاعِفْهَا فَإِنَّكَ قَدْ صَدَقْتَاMaka katakanlah tentangku keburukan apa pun yang engkau kehendaki …bahkan lipat gandakanlah, karena sungguh engkau berkata benar. ٨٩ – وَمَهْمَا عِبْتَنِي فَلِفَرْطِ عِلْمِي … بِبَاطِنَتِي كَأَنَّكَ قَدْ مَدَحْتَاSeberapa pun engkau mencelaku, karena aku terlalu tahu keadaan batinku …celaanmu itu terasa seakan-akan engkau sedang memujiku. ٩٠ – فَلَا تَرْضَ المَعَايِبَ؛ فَهْيَ عَارٌ … عَظِيمٌ، يُورِثُ الإِنْسَانَ مَقْتَاMaka jangan pernah meridai berbagai aib, karena ia kehinaan …yang besar, yang mendatangkan kebencian yang paling dalam kepada seseorang. ٩١ – وَتَهْوِي بِالوَجِيهِ مِنَ الثُّرَيَّا … وَتُبْدِلُهُ مَكَانَ الفَوْقِ تَحْتَاAib menjatuhkan orang yang berkedudukan dan terhormat dari ketinggian bintang Tsurayya …dan mengganti kedudukannya yang tinggi menjadi rendah. ٩٢ – كَمَا الطَّاعَاتُ تَنْعَلُكَ الدَّرَارِي … وَتَجْعَلُكَ القَرِيبَ وَإِنْ بَعُدْتَاSebaliknya, ketaatan meninggikanmu sampai bintang-bintang gemerlap menjadi sandal di kakimu …dan menjadikanmu dekat meskipun engkau berada jauh. ٩٣ – وَتَنْشُرُ عَنْكَ فِي الدُّنْيَا جَمِيلاً … فَتَلْقَى البِرَّ فِيهَا حَيْثُ كُنْتَاKetaatan menyebarkan nama baikmu di dunia …sehingga engkau menjumpai kebaikan di mana pun engkau berada. ٩٤ – وَتَمْشِي فِي مَنَاكِبِهَا كَرِيماً … وَتَجْنِي الحَمْدَ مِمَّا قَدْ غَرَسْتَاEngkau berjalan di tempat-tempat tinggi bumi dalam keadaan mulia …dan memanen pujian dari apa yang telah engkau tanam. ٩٥ – وَأَنْتَ الآنَ لَمْ تُعْرَفْ بِعَيْبٍ … وَلَا دَنَّسْتَ ثَوْبَكَ مُذْ نَشَأْتَاSaat ini engkau belum dikenal memiliki aib …dan belum menodai pakaianmu sejak engkau tumbuh. ٩٦ – وَلَا سَابَقْتَ فِي مَيْدَانِ زُورٍ … وَلَا أَوْضَعْتَ فِيهِ وَلَا خَبَبْتَاEngkau belum pernah berlomba di medan kebatilan …tidak pula memacu langkah ataupun berlari kecil di dalamnya. ٩٧ – فَإِنْ لَمْ تَنْأَ عَنْهُ نَشِبْتَ فِيهِ … وَمَنْ لَكَ بِالخَلَاصِ إِذَا نَشِبْتَاJika engkau tidak menjauh darinya, engkau akan tersangkut tanpa jalan keluar …lalu siapa yang akan membebaskanmu setelah engkau tersangkut? ٩٨ – وَدَنَّسَ مَا تَطَهَّرَ مِنْكَ حَتَّى … كَأَنَّكَ قَبْلَ ذَلِكَ مَا طَهَرْتَاIa akan menodai bagian dirimu yang sebelumnya bersih …hingga seakan-akan sebelum itu engkau tak pernah bersih. ٩٩ – وَصِرْتَ أَسِيرَ ذَنْبِكَ فِي وَثَاقٍ … وَكَيْفَ لَكَ الفَكَاكُ وَقَدْ أُسِرْتَا؟Lalu engkau menjadi tawanan dosamu, terikat erat dalam belenggu …dan bagaimana engkau dapat terlepas setelah engkau tertawan? ١٠٠ – وَخَفْ أَبْنَاءَ جِنْسِكَ وَاخْشَ مِنْهُمْ … كَمَا تَخْشَى الضَّرَاغِمَ وَالسَّبَنْتَىWaspadalah terhadap sesama manusia dan berhati-hatilah kepada mereka …sebagaimana engkau mewaspadai singa-singa dan harimau. ١٠١ – وَخَالِطْهُمْ وَزَايِلْهُمْ حِذَاراً … وَكُنْ كَـ«السَّامِرِيِّ» إِذَا لُمِسْتَاBerbaurlah dengan mereka, namun tinggalkan perbuatan mereka yang tidak diridaiAllah dan Rasul-Nya, dengan penuh kewaspadaan …dan jadilah seperti Samiri ketika hendak disentuh: “Jangan menyentuhku!” ١٠٢ – وَإِنْ جَهِلُوا عَلَيْكَ فَقُلْ سَلَاماً … لَعَلَّكَ سَوْفَ تَسْلَمُ إِنْ فَعَلْتَاJika mereka melontarkan cacian dan hinaan ala orang bodoh kepadamu,katakanlah, “Salam.” …mudah-mudahan engkau selamat jika engkau melakukannya. ١٠٣ – وَمَنْ لَكَ بِالسَّلَامَةِ فِي زَمَانٍ … يَنَالُ العُصْمَ إِلَّا إِنْ عُصِمْتَاSiapa yang dapat menjamin keselamatanmu pada zaman yang bencananyasampai menimpa kambing-kambing gunung di puncak-puncak sana …kecuali bila engkau dijaga oleh Allah? ١٠٤ – وَلَا تَلْبَثْ بِحَيٍّ فِيهِ ضَيْمٌ … يُمِيتُ القَلْبَ إِلَّا إِنْ كُبِلْتَاJangan menetap di lingkungan yang penuh kezaliman dan perendahan …yang mematikan hati, kecuali jika engkau terbelenggu tak berdaya. ١٠٥ – وَغَرِّبْ فَالغَرِيبُ لَهُ نَفَاقٌ … وَشَرِّقْ إِنْ بِرِيقِكَ قَدْ شَرِقْتَاMerantaulah ke barat, karena perantau justru laku dan dihargai …atau pergilah ke timur jika di negerimu sendiri engkau sampai tercekik. ١٠٦ – فَلَيْسَ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا خُمُولاً … لَأَنْتَ بِهَا الأَمِيرُ إِذَا زَهِدْتَاZuhud terhadap dunia bukan berarti engkau menjadi orang yang tak dikenaldan tak disebut orang …justru engkaulah penguasa atas dunia ketika engkau zuhud terhadapnya. ١٠٧ – وَلَوْ فَوْقَ الأَمِيرِ تَكُونُ فِيهَا … سُمُوّاً وَافْتِخَاراً كُنْتَ أَنْتَاBahkan dalam ketinggian dan kemuliaan di dunia ini …engkaulah yang berada di atas seorang penguasa. ١٠٨ – وَإِنْ فَارَقْتَهَا وَخَرَجْتَ مِنْهَا … إِلَى دَارِ السَّلَامِ فَقَدْ سَلِمْتَاJika engkau berpisah dengan dunia dan keluar darinya …menuju Darussalam (surga), sungguh engkau telah selamat. ١٠٩ – وَإِنْ أَكْرَمْتَهَا وَنَظَرْتَ فِيهَا … بِإِجْلَالٍ فَنَفْسَكَ قَدْ أَهَنْتَاNamun jika engkau memuliakan dunia dan memandangnya …dengan penuh pengagungan, sungguh engkau telah menghinakan dirimu sendiri. ١١٠ – جَمَعْتُ لَكَ النَّصَائِحَ فَامْتَثِلْهَا … حَيَاتَكَ فَهْيَ أَفْضَلُ مَا امْتَثَلْتَاTelah kuhimpun berbagai nasihat untukmu, maka amalkanlah …sepanjang hidupmu, sebab itulah sebaik-baik yang dapat engkau amalkan. ١١١ – وَطَوَّلْتُ العِتَابَ وَزِدْتُ فِيهِ … لِأَنَّكَ فِي البَطَالَةِ قَدْ أَطَلْتَاAku memperpanjang celaan dan menambah-nambahinya …karena engkau pun telah terlalu lama larut dalam kesia-siaan dan kebodohan. ١١٢ – فَلَا تَأْخُذْ بِتَقْصِيرِي وَسَهْوِي … وَخُذْ بِوَصِيَّتِي لَكَ إِنْ رَشَدْتَاMaka jangan jadikan kekurangan dan kelalaianku sebagai pegangan …tetapi peganglah wasiatku kepadamu, jika engkau menghendaki petunjuk. ١١٣ – وَقَدْ أَرْدَفْتُهَا سَبْعاً حِسَاناً … وَكَانَتْ قَبْلُ ذَا مِئَةً وَسِتَّاDan aku telah menyusulkan tujuh bait yang indah kepadanya …sedangkan sebelumnya berjumlah seratus enam bait. تَمَّتْ بِحَمْدِ اللَّهِSelesai, dengan segala puji bagi Allah.

QASIDAH AL-ILBIRI: 100 NASIHAT SEORANG AYAH UNTUK ANAKNYA – Syaikh Abdul Aziz Ash-Shini

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. ١ – تَفُتُّ فُؤَادَكَ الأَيَّامُ فَتَّا … وَتَنْحِتُ جِسْمَكَ السَّاعَاتُ نَحْتَا Hari demi hari meremukkan hatimu … dan jam demi jam menyusutkan tubuhmu. ٢ – وَتَدْعُوكَ المَنُونُ دُعَاءَ صِدْقٍ … أَلَا يَا صَاحِ، أَنْتَ أُرِيدُ أَنْتَا Kematian memanggilmu dengan panggilan yang pasti …“Wahai sahabatku, engkaulah yang kuinginkan. Ya, engkau!” ٣ – أَرَاكَ تُحِبُّ عِرْساً ذَاتَ غَدْرٍ … أَبَتَّ طَلَاقَهَا الأَكْيَاسُ بَتَّاKulihat engkau mencintai istri yang gemar mengingkari janji, yaitu dunia …padahal orang-orang berakal telah menceraikannya dengan talak yang tak dapat dirujuk. ٤ – تَنَامُ الدَّهْرَ – وَيْحَكَ – فِي غَطِيطٍ … بِهَا، حَتَّى إِذَا مِتَّ انْتَبَهْتَاDuhai malangnya engkau! Sepanjang masa engkau tertidur mendengkur bersamanya …hingga ketika mati, barulah engkau tersadar. ٥ – فَكَمْ ذَا أَنْتَ مَخْدُوعٌ وَحَتَّى … مَتَى لَا تَرْعَوِي عَنْهَا وَحَتَّى؟Berapa lama lagi engkau akan terus tertipu? …Sampai kapan engkau tak juga menahan diri dan jera darinya? Sampai kapan? ٦ – «أَبَا بَكْرٍ» دَعَوْتُكَ لَوْ أَجَبْتَا … إِلَى مَا فِيهِ حَظُّكَ إِنْ عَقَلْتَاWahai Abu Bakar, putraku, aku menyerumu, andai engkau mau menyambut …kepada sesuatu yang di dalamnya ada bagian kebaikan bagimu, jika engkau berakal. ٧ – إِلَى عِلْمٍ تَكُونُ بِهِ إِمَاماً … مُطَاعاً إِنْ نَهَيْتَ وَإِنْ أَمَرْتَاKepada ilmu yang dengannya engkau menjadi seorang imam …yang ditaati ketika melarang maupun memerintah. ٨ – وَيَجْلُو مَا بِعَيْنِكَ مِنْ عَشَاهَا … وَيَهْدِيكَ السَّبِيلَ إِذَا ضَلَلْتَاIlmu menyingkap rabun yang melemahkan penglihatan matamu …dan menunjukkan jalan kepadamu ketika engkau tersesat. ٩ – وَتَحْمِلُ مِنْهُ فِي نَادِيكَ تَاجاً … وَيَكْسُوكَ الجَمَالَ إِذَا اغْتَرَبْتَاDi tengah majelismu, ilmu menjadi mahkota yang engkau kenakan …dan menghiasimu dengan keindahan ketika engkau di perantauan. ١٠ – يَنَالُكَ نَفْعُهُ مَا دُمْتَ حَيّاً … وَيَبْقَى ذُخْرُهُ لَكَ إِنْ ذَهَبْتَاManfaatnya terus engkau peroleh selama engkau hidup …dan simpanannya tetap menjadi milikmu setelah engkau tiada. ١١ – هُوَ العَضْبُ المُهَنَّدُ لَيْسَ يَنْبُو … تُصِيبُ بِهِ مَقَاتِلَ مَنْ ضَرَبْتَاIlmu laksana pedang India yang tajam, tak pernah meleset dari sasaran …dengannya engkau mengenai titik mematikan orang yang engkau tebas. ١٢ – وَكَنْزٌ لَا تَخَافُ عَلَيْهِ لِصّاً … خَفِيفُ الحَمْلِ يُوجَدُ حَيْثُ كُنْتَاIlmu adalah harta simpanan yang tak perlu engkau khawatirkan dicuri …ringan dibawa, dan selalu ada bersamamu di mana pun engkau berada. ١٣ – يَزِيدُ بِكَثْرَةِ الإِنْفَاقِ مِنْهُ … وَيَنْقُصُ إِنْ بِهِ كَفّاً شَدَدْتَاIlmu bertambah ketika semakin banyak engkau bagikan …dan berkurang ketika engkau menggenggamnya erat-erat. ١٤ – فَلَوْ قَدْ ذُقْتَ مِنْ حَلْوَاهُ طَعْماً … لَآثَرْتَ التَّعَلُّمَ وَاجْتَهَدْتَاSeandainya engkau telah mencicipi manisnya ilmu …niscaya engkau lebih memilih belajar dan bersungguh-sungguh. ١٥ – وَلَمْ يَشْغَلْكَ عَنْهُ هَوىً مُطَاعٌ … وَلَا دُنْيَا بِزُخْرُفِهَا فُتِنْتَاHawa nafsu yang dituruti tak akan menyibukkanmu darinya …tidak pula dunia dengan segala gemerlapnya akan memikatmu. ١٦ – وَلَا أَلْهَاكَ عَنْهُ أَنِيقُ رَوْضٍ … وَلَا خِدْرٌ بِرَبْرَبِهِ كَلِفْتَاTaman yang indah tak akan melalaikanmu darinya …tidak pula gadis-gadis jelita di balik tirai pingitan yang membuatmu jatuh hati. ١٧ – فَقُوتُ الرُّوحِ أَرْوَاحُ المَعَانِي … وَلَيْسَ بِأَنْ طَعِمْتَ وَأَنْ شَرِبْتَاSebab makanan bagi ruh adalah makna-makna yang menghidupkan hati …bukan sekadar apa yang engkau makan dan minum. ١٨ – فَوَاظِبْهُ وَخُذْ بِالجِدِّ فِيهِ … فَإِنْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ أَخَذْتَاMaka tekunilah ilmu dan bersungguh-sungguhlah padanya …sebab bila Allah menganugerahkannya kepadamu, engkau pun meraihnya. ١٩ – وَإِنْ أُوتِيتَ فِيهِ طُولَ بَاعٍ … وَقَالَ النَّاسُ إِنَّكَ قَدْ سَبَقْتَاJika engkau dikaruniai penguasaan yang luas dan mendalam dalam ilmu …dan orang-orang berkata bahwa engkau telah mengungguli yang lain, ٢٠ – فَلَا تَأْمَنْ سُؤَالَ اللَّهِ عَنْهُ … بِتَوْبِيخٍ: عَلِمْتَ؛ فَهَلْ عَمِلْتَا؟jangan merasa aman dari pertanyaan Allah tentang ilmu itu …dengan teguran, “Engkau telah mengetahui, lalu apakah engkau mengamalkannya?” ٢١ – فَرَأْسُ العِلْمِ تَقْوَى اللَّهِ حَقّاً … وَلَيْسَ بِأَنْ يُقَالَ: لَقَدْ رَأَسْتَاSebab puncak ilmu yang sebenarnya adalah bertakwa kepada Allah …bukan sekadar agar dikatakan, “Engkau telah menjadi pemimpin.” ٢٢ – وَضَافِي ثَوْبِكَ الإِحْسَانُ، لَا أَنْ … تُرَى ثَوْبَ الإِسَاءَةِ قَدْ لَبِسْتَاHendaklah pakaianmu yang lapang menutupi itu adalah ihsan …bukan agar engkau terlihat telah mengenakan pakaian keburukan. ٢٣ – إِذَا مَا لَمْ يُفِدْكَ العِلْمُ خَيْراً … فَخَيْرٌ مِنْهُ أَنْ لَوْ قَدْ جَهِلْتَاJika ilmu tidak mendatangkan kebaikan bagimu …maka lebih baik seandainya engkau tetap tidak mengetahuinya. ٢٤ – وَإِنْ أَلْقَاكَ فَهْمُكَ فِي مَهَاوٍ … فَلَيْتَكَ ثُمَّ لَيْتَكَ مَا فَهِمْتَاJika pemahamanmu justru menjatuhkanmu ke jurang-jurang yang dalam …alangkah baiknya, sungguh alangkah baiknya, jika dahulu engkau tidak memahaminya. ٢٥ – سَتَجْنِي مِنْ ثِمَارِ العَجْزِ جَهْلاً … وَتَصْغُرُ فِي العُيُونِ وَإِنْ كَبِرْتَاEngkau akan menuai kebodohan sebagai buah dari kelemahanmu …dan menjadi kecil di mata manusia meskipun usiamu bertambah tua. ٢٦ – وَتُفْقَدُ إِنْ جَهِلْتَ وَأَنْتَ بَاقٍ … وَتُوجَدُ إِنْ عَلِمْتَ وَإِنْ فُقِدْتَاEngkau seakan tiada jika bodoh, meskipun masih hidup …dan seakan tetap ada jika berilmu, meskipun engkau telah tiada. ٢٧ – وَتَذْكُرُ قَوْلَتِي لَكَ بَعْدَ حِينٍ … وَتَغْبِطُهَا إِذَا عَنْهَا شُغِلْتَاKelak engkau akan mengingat nasihatku ini …dan memandangnya sebagai kebaikan, ketika engkau telah tersibukkan darinya. ٢٨ – وَسَوْفَ تَعَضُّ مِنْ نَدَمٍ عَلَيْهَا … وَمَا تُغْنِي النَّدَامَةُ إِنْ نَدِمْتَاKelak engkau akan menggigit jari karena penyesalan …namun apa gunanya penyesalan ketika engkau telah menyesal? ٢٩ – إِذَا أَبْصَرْتَ صَحْبَكَ فِي سَمَاءٍ … قَدِ ارْتَفَعُوا عَلَيْكَ وَقَدْ سَفُلْتَاKetika engkau melihat teman-temanmu seakan berada di langit …mereka telah menjulang di atasmu, sedangkan engkau berada di bawah, ٣٠ – فَرَاجِعْهَا وَدَعْ عَنْكَ الهُوَيْنَا … فَمَا بِالبُطْءِ تُدْرِكُ مَا طَلَبْتَاmaka kembalilah menekuni ilmu dan tinggalkan langkah yang lamban …sebab dengan berlambat-lambat engkau takkan meraih apa yang engkau cari. ٣١ – وَلَا تَحْفِلْ بِمَالِكَ وَالْهَ عَنْهُ … فَلَيْسَ المَالُ إِلَّا مَا عَلِمْتَاJangan pedulikan hartamu dan tinggalkan saja ia …sebab kekayaan sejati hanyalah ilmu yang engkau miliki. ٣٢ – وَلَيْسَ لِجَاهِلٍ فِي النَّاسِ مَعْنىً … وَلَوْ مُلْكُ العِرَاقِ لَهُ تَأَتَّىOrang bodoh tidak memiliki nilai berarti di tengah manusia …meskipun kekuasaan atas Irak dimudahkan baginya. ٣٣ – سَيَنْطِقُ عَنْكَ عِلْمُكَ فِي نَدِيٍّ … وَيُكْتَبُ عَنْكَ يَوْماً إِنْ كَتَبْتَاIlmumu kelak akan berbicara tentang dirimu di tengah majelis …dan suatu hari tulisanmu akan dinukil orang, jika engkau menulis. ٣٤ – وَمَا يُغْنِيكَ تَشْيِيدُ المَبَانِي … إِذَا بِالجَهْلِ نَفْسَكَ قَدْ هَدَمْتَاApa gunanya engkau mengokohkan dan meninggikan bangunan …jika dengan kebodohan engkau justru meruntuhkan dirimu sendiri? ٣٥ – جَعَلْتَ المَالَ فَوْقَ العِلْمِ جَهْلاً … لَعَمْرُكَ فِي القَضِيَّةِ مَا عَدَلْتَاKarena kebodohanmu, engkau menempatkan harta di atas ilmu …sungguh, dalam perkara ini engkau tidak berlaku adil. ٣٦ – وَبَيْنَهُمَا بِنَصِّ الوَحْيِ بَوْنٌ … سَتَعْلَمُهُ إِذَا «طَهَ» قَرَأْتَاPadahal antara keduanya ada jarak yang jauh menurut nas wahyu …engkau akan mengetahuinya ketika membaca Surah Thaha. ٣٧ – لَئِنْ رَفَعَ الغَنِيُّ لِوَاءَ مَالٍ … لَأَنْتَ لِوَاءَ عِلْمِكَ قَدْ رَفَعْتَاJika orang kaya mengibarkan panji hartanya …maka engkau telah mengibarkan panji ilmumu. ٣٨ – وَإِنْ جَلَسَ الغَنِيُّ عَلَى الحَشَايَا … لَأَنْتَ عَلَى الكَوَاكِبِ قَدْ جَلَسْتَاJika orang kaya duduk di atas kasur-kasur empuk berisi kapas …maka engkau seakan telah duduk di atas bintang-bintang. ٣٩ – وَإِنْ رَكِبَ الجِيَادَ مُسَوَّمَاتٍ … لَأَنْتَ مَنَاهِجَ التَّقْوَى رَكِبْتَاJika ia menunggang kuda-kuda pilihan bertanda …maka engkau telah meniti jalan-jalan ketakwaan. ٤٠ – وَمَهْمَا اقْتَضَّ أَبْكَارَ الغَوَانِي … فَكَمْ بِكْرٍ مِنَ الحِكَمِ اقْتَضَضْتَاSekalipun ia menggauli para gadis jelita yang masih perawan …betapa banyak hikmah yang masih perawan telah engkau singkap. ٤١ – وَلَيْسَ يَضُرُّكَ الإِقْتَارُ شَيْئاً … إِذَا مَا أَنْتَ رَبَّكَ قَدْ عَرَفْتَاSempitnya penghidupan tidak akan memudaratkanmu sedikit pun …selama engkau telah mengenal Rabbmu. ٤٢ – فَمَاذَا عِنْدَهُ لَكَ مِنْ جَمِيلٍ … إِذَا بِفِنَاءِ طَاعَتِهِ أَنَخْتَاBetapa banyak kebaikan yang tersedia di sisi-Nya untukmu …bila engkau menambatkan diri di pelataran ketaatan kepada-Nya. ٤٣ – فَقَابِلْ بِالقَبُولِ صَحِيحَ نُصْحِي … فَإِنْ أَعْرَضْتَ عَنْهُ فَقَدْ خَسِرْتَاMaka sambutlah dengan penerimaan nasihatku yang tulus ini …jika engkau berpaling darinya, sungguh engkau telah merugi. ٤٤ – وَإِنْ رَاعَيْتَهُ قَوْلاً وَفِعْلاً … وَتَاجَرْتَ الإِلَهَ بِهِ رَبِحْتَاNamun jika engkau mengamalkannya dalam ucapan dan perbuatan …serta berniaga dengan Allah melaluinya, niscaya engkau beruntung. ٤٥ – فَلَيْسَتْ هَذِهِ الدُّنْيَا بِشَيْءٍ … تَسُوؤُكَ حِقْبَةً وَتَسُرُّ وَقْتَاDunia ini bukanlah sesuatu yang berarti …ia menyusahkanmu dalam rentang masa yang panjang, dan menyenangkanmu hanya sesaat. ٤٦ – وَغَايَتُهَا إِذَا فَكَّرْتَ فِيهَا … كَفَيْئِكَ أَوْ كَحُلْمِكَ إِنْ حَلَمْتَاPuncaknya, jika engkau merenungkannya …dunia hanyalah seperti bayanganmu, atau seperti mimpi yang engkau alami. ٤٧ – سُجِنْتَ بِهَا وَأَنْتَ لَهَا مُحِبٌّ … فَكَيْفَ تُحِبُّ مَا فِيهِ سُجِنْتَا؟Engkau terpenjara di dunia, tetapi justru mencintainya …bagaimana mungkin engkau mencintai tempat yang menjadi penjaramu? ٤٨ – وَتُطْعِمُكَ الطَّعَامَ وَعَنْ قَرِيبٍ … سَتَطْعَمُ مِنْكَ مَا مِنْهَا طَعِمْتَاDunia memberimu makanan, dan tak lama lagi …ia akan memakan dari tubuhmu sebagaimana engkau telah memakan darinya. ٤٩ – وَتَعْرَى إِنْ لَبِسْتَ لَهَا ثِيَاباً … وَتُكْسَى إِنْ مَلَابِسَهَا خَلَعْتَاEngkau sejatinya telanjang bila mengenakan pakaian dunia …dan engkau akan terbalut kemuliaan bila menanggalkannya. ٥٠ – وَتَشْهَدُ كُلَّ يَوْمٍ دَفْنَ خِلٍّ … كَأَنَّكَ لَا تُرَادُ بِمَا شَهِدْتَاSetiap hari engkau menyaksikan pemakaman seorang sahabat karib …seolah-olah kematian yang engkau saksikan itu tidak ditujukan kepadamu. ٥١ – وَلَمْ تُخْلَقْ لِتَعْمُرَهَا وَلَكِنْ … لِتَعْبُرَهَا فَجِدَّ لِمَا خُلِقْتَاEngkau tidak diciptakan untuk hidup kekal di dunia …melainkan untuk melintasinya, maka bersungguh-sungguhlah untuk tujuan penciptaanmu. ٥٢ – وَإِنْ هُدِمَتْ فَزِدْهَا أَنْتَ هَدْماً … وَحَصِّنْ أَمْرَ دِينِكَ مَا اسْتَطَعْتَاJika dunia telah runtuh, tambahlah keruntuhannya olehmu …dan kokohkanlah urusan agamamu semampumu. ٥٣ – وَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَ مِنْهَا … إِذَا مَا أَنْتَ فِي أُخْرَاكَ فُزْتَاJangan bersedih atas apa yang luput darimu di dunia …selama engkau meraih kemenangan di akhiratmu. ٥٤ – فَلَيْسَ بِنَافِعٍ مَا نِلْتَ مِنْهَا … مِنَ الفَانِي، إِذَا البَاقِي حُرِمْتَاApa yang engkau raih dari dunia yang fana tidaklah berguna …jika engkau terhalang dari kenikmatan yang kekal. ٥٥ – وَلَا تَضْحَكْ مَعَ السُّفَهَاءِ لَهْواً … فَإِنَّكَ سَوْفَ تَبْكِي إِنْ ضَحِكْتَاJangan tertawa dalam senda gurau bersama orang-orang yang ringan akalnya …sebab kelak engkau akan menangis jika tenggelam dalam tawa semacam itu. ٥٦ – وَكَيْفَ لَكَ السُّرُورُ وَأَنْتَ رَهْنٌ … وَلَا تَدْرِي أَتُفْدَى أَمْ غَلِقْتَاBagaimana mungkin engkau bergembira sementara dirimu tergadai …dan engkau tak tahu, akankah engkau ditebus, atau tertahan selamanya tanpa dapat ditebus? ٥٧ – وَسَلْ مِنْ رَبِّكَ التَّوْفِيقَ فِيهَا … وَأَخْلِصْ فِي السُّؤَالِ إِذَا سَأَلْتَاMintalah taufik kepada Rabbmu dalam semua itu …dan tuluslah dalam permohonan ketika engkau meminta. ٥٨ – وَنَادِ إِذَا سَجَدْتَ لَهُ اعْتِرَافاً … بِمَا نَادَاهُ ذُو النُّونِ ابْنُ مَتَّىBerserulah kepada-Nya ketika bersujud dengan penuh pengakuan …sebagaimana seruan Dzun Nun, yaitu Yunus bin Matta ‘alaihis salam. ٥٩ – وَلَازِمْ بَابَهُ قَرْعاً عَسَاهُ … سَيَفْتَحُ بَابَهُ لَكَ إِنْ قَرَعْتَاTeruslah mengetuk pintu-Nya tanpa jemu …mudah-mudahan Dia membukakan pintu itu bagimu jika engkau terus mengetuk. ٦٠ – وَأَكْثِرْ ذِكْرَهُ فِي الأَرْضِ دَأْباً … لِتُذْكَرَ فِي السَّمَاءِ إِذَا ذَكَرْتَاPerbanyaklah mengingat-Nya di bumi dengan tekun terus-menerus …agar engkau disebut di langit ketika engkau mengingat-Nya. ٦١ – وَلَا تَقُلِ الصِّبَا فِيهِ مَجَالٌ … وَفَكِّرْ كَمْ صَغِيرٍ قَدْ دَفَنْتَاJangan berkata, “Masa muda masih panjang.” …Renungkan, berapa banyak orang muda yang telah engkau kuburkan? ٦٢ – وَقُلْ لِي: يَا نَصِيحُ لَأَنْتَ أَوْلَى … بِنُصْحِكَ، لَوْ بِعَقْلِكَ قَدْ نَظَرْتَاLalu katakanlah kepadaku, “Wahai pemberi nasihat yang tulus, engkau lebih pantas …menerima nasihatmu sendiri, jika engkau mau berpikir dengan akalmu. ٦٣ – تُقَطِّعُنِي عَلَى التَّفْرِيطِ لَوْماً … وَبِالتَّفْرِيطِ دَهْرَكَ قَدْ قَطَعْتَاEngkau mencercaku habis-habisan karena kelalaianku …padahal seluruh umurmu sendiri telah engkau habiskan dalam kelalaian. ٦٤ – وَفِي صِغَرِي تُخَوِّفُنِي المَنَايَا … وَمَا تَجْرِي بِبَالِكَ حِينَ شِخْتَاKetika aku masih kecil, engkau menakut-nakutiku dengan kematian …sedangkan setelah engkau menua, kematian tak terlintas dalam pikiranmu. ٦٥ – وَكُنْتَ مَعَ الصِّبَا أَهْدَى سَبِيلاً … فَمَا لَكَ بَعْدَ شَيْبِكَ قَدْ نُكِسْتَاKetika muda dahulu jalanmu justru lebih lurus …lalu mengapa setelah beruban engkau berbalik kepada keburukan? ٦٦ – وَهَا أَنَا لَمْ أَخُضْ بَحْرَ الخَطَايَا … كَمَا قَدْ خُضْتَهُ حَتَّى غَرِقْتَاLihatlah aku, belum pernah aku mengarungi lautan dosa …seperti engkau yang telah mengarunginya hingga tenggelam. ٦٧ – وَلَمْ أَشْرَبْ حُمَيَّا أُمِّ دَفْرٍ … وَأَنْتَ شَرِبْتَهَا حَتَّى سَكِرْتَاAku belum meminum arak Ummu Dafr yang memabukkan kepala …sedangkan engkau telah meminumnya hingga mabuk. ٦٨ – وَلَمْ أَحْلُلْ بِوَادٍ فِيهِ ظُلْمٌ … وَأَنْتَ حَلَلْتَ فِيهِ وَانْهَمَلْتَاAku belum pernah singgah di lembah yang penuh kezaliman …sedangkan engkau tinggal di dalamnya dan berkeliaran tanpa kendali. ٦٩ – وَلَمْ أَنْشَأْ بِعَصْرٍ فِيهِ نَفْعٌ … وَأَنْتَ نَشَأْتَ فِيهِ وَمَا انْتَفَعْتَاAku tidak tumbuh pada masa yang penuh manfaat …sedangkan engkau tumbuh pada masa itu, tetapi tidak mengambil manfaatnya. ٧٠ – وَقَدْ صَاحَبْتَ أَعْلَاماً كِبَاراً … وَلَمْ أَرَكَ اقْتَدَيْتَ بِمَنْ صَحِبْتَاEngkau telah bergaul dengan tokoh-tokoh besar …tetapi aku tak melihatmu meneladani orang-orang yang engkau temani. ٧١ – وَنَادَاكَ الكِتَابُ فَلَمْ تُجِبْهُ … وَنَهْنَهَكَ المَشِيبُ فَمَا انْتَبَهْتَاAl-Qur’an telah memanggilmu, tetapi engkau tidak menjawabnya …uban telah menghardikmu agar berhenti, tetapi engkau tetap tidak tersadar. ٧٢ – لَيَقْبُحُ بِالفَتَى فِعْلُ التَّصَابِي … وَأَقْبَحُ مِنْهُ شَيْخٌ قَدْ تَفَتَّىBetapa buruk seorang pemuda yang larut dalam kesia-siaan ala anak-anak …dan lebih buruk lagi seorang tua yang berlagak muda dalam kesia-siaan itu. ٧٣ – فَأَنْتَ أَحَقُّ بِالتَّفْنِيدِ مِنِّي … وَلَوْ سَكَتَ المُسِيءُ لَمَا نَطَقْتَاEngkau lebih pantas dicela daripada aku …dan seandainya orang yang bersalah harus diam, tentu engkau pun tak akan berbicara. ٧٤ – وَنَفْسَكَ ذُمَّ لَا تَذْمُمْ سِوَاهَا … بِعَيْبٍ فَهْيَ أَجْدَرُ مَنْ ذَمَمْتَاCela dirimu sendiri, jangan cela selainnya karena suatu aib …sebab dirimulah yang paling pantas menjadi sasaran celaanmu. ٧٥ – فَلَوْ بَكَتِ الدِّمَا عَيْنَاكَ خَوْفاً … لِذَنْبِكَ لَمْ أَقُلْ لَكَ قَدْ أَمِنْتَاSeandainya kedua matamu menangis darah karena takut akan dosamu …aku tetap tidak akan berkata kepadamu, ‘Engkau telah aman.’ ٧٦ – وَمَنْ لَكَ بِالأَمَانِ وَأَنْتَ عَبْدٌ … أُمِرْتَ فَمَا ائْتَمَرْتَ وَلَا أَطَعْتَاSiapa yang dapat menjamin keamanan bagimu, padahal engkau hanyalah hamba? …Engkau diperintah, tetapi tidak melaksanakannya dan tidak taat. ٧٧ – ثَقُلْتَ مِنَ الذُّنُوبِ وَلَسْتَ تَخْشَى … لِجَهْلِكَ أَنْ تَخِفَّ إِذَا وُزِنْتَاEngkau berat oleh dosa-dosa, tetapi karena kebodohanmu engkau tidak takut …bahwa kelak timbanganmu justru ringan ketika ditimbang. ٧٨ – وَتُشْفِقُ لِلْمُصِرِّ عَلَى المَعَاصِي … وَتَرْحَمُهُ وَنَفْسَكَ مَا رَحِمْتَاEngkau merasa iba kepada orang yang terus-menerus bermaksiat …dan mengasihaninya, tetapi dirimu sendiri tidak engkau kasihani. ٧٩ – رَجَعْتَ القَهْقَرَى وَخَبَطْتَ عَشْوَا … لَعَمْرُكَ لَوْ وَصَلْتَ لَمَا رَجَعْتَاEngkau berjalan mundur dan melangkah meraba tanpa arah …sungguh, seandainya engkau telah sampai, tentu engkau tidak akan berbalik. ٨٠ – وَلَوْ وَافَيْتَ رَبَّكَ دُونَ ذَنْبٍ … وَنَاقَشَكَ الحِسَابَ؛ إِذاً هَلَكْتَاSeandainya engkau menghadap Rabbmu tanpa membawa dosa …lalu Dia memeriksa hisabmu dengan teliti, niscaya engkau binasa. ٨١ – وَلَمْ يَظْلِمْكَ فِي عَمَلٍ وَلَكِنْ … عَسِيرٌ أَنْ تَقُومَ بِمَا حَمَلْتَاDia tidak menzalimimu sedikit pun dalam amalmu …namun sungguh berat menunaikan apa yang engkau pikul. ٨٢ – وَلَوْ قَدْ جِئْتَ يَوْمَ الفَصْلِ فَرْداً … وَأَبْصَرْتَ المَنَازِلَ فِيهِ شَتَّىSeandainya engkau datang seorang diri pada Hari Keputusan …dan melihat betapa beragamnya kedudukan manusia ketika itu, ٨٣ – لَأَعْظَمْتَ النَّدَامَةَ فِيهِ لَهْفاً … عَلَى مَا فِي حَيَاتِكَ قَدْ أَضَعْتَاniscaya penyesalanmu memuncak, penuh sesal dan duka …atas apa yang telah engkau sia-siakan sepanjang hidupmu. ٨٤ – تَفِرُّ مِنَ الهَجِيرِ وَتَتَّقِيهِ … فَهَلَّا عَنْ جَهَنَّمَ قَدْ فَرَرْتَاEngkau lari dan berlindung dari puncak panas tengah hari …lalu mengapa engkau tidak lari dari Jahannam? ٨٥ – وَلَسْتَ تُطِيقُ أَهْوَنَهَا عَذَاباً … وَلَوْ كُنْتَ الحَدِيدَ بِهَا لَذُبْتَاEngkau tidak sanggup menahan siksaannya yang paling ringan …bahkan seandainya engkau terbuat dari besi, engkau akan meleleh di dalamnya. ٨٦ – فَلَا تُكْذَبْ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ جِدٌّ … وَلَيْسَ كَمَا حَسِبْتَ وَلَا ظَنَنْتَاMaka jangan sampai engkau lengah lalu membenarkan dusta yang dibisikkan kepadamu,karena perkara ini sungguh serius …dan tidak seperti yang selama ini engkau kira dan sangka.” ٨٧ – «أَبَا بَكْرٍ» كَشَفْتَ أَقَلَّ عَيْبِي … وَأَكْثَرَهُ وَمُعْظَمَهُ سَتَرْتَاWahai Abu Bakar, engkau hanya menyingkap sedikit dari aibku …sedangkan sebagian besar dan yang terbesar darinya masih engkau tutupi. ٨٨ – فَقُلْ مَا شِئْتَ فِيَّ مِنَ المَخَازِي … وَضَاعِفْهَا فَإِنَّكَ قَدْ صَدَقْتَاMaka katakanlah tentangku keburukan apa pun yang engkau kehendaki …bahkan lipat gandakanlah, karena sungguh engkau berkata benar. ٨٩ – وَمَهْمَا عِبْتَنِي فَلِفَرْطِ عِلْمِي … بِبَاطِنَتِي كَأَنَّكَ قَدْ مَدَحْتَاSeberapa pun engkau mencelaku, karena aku terlalu tahu keadaan batinku …celaanmu itu terasa seakan-akan engkau sedang memujiku. ٩٠ – فَلَا تَرْضَ المَعَايِبَ؛ فَهْيَ عَارٌ … عَظِيمٌ، يُورِثُ الإِنْسَانَ مَقْتَاMaka jangan pernah meridai berbagai aib, karena ia kehinaan …yang besar, yang mendatangkan kebencian yang paling dalam kepada seseorang. ٩١ – وَتَهْوِي بِالوَجِيهِ مِنَ الثُّرَيَّا … وَتُبْدِلُهُ مَكَانَ الفَوْقِ تَحْتَاAib menjatuhkan orang yang berkedudukan dan terhormat dari ketinggian bintang Tsurayya …dan mengganti kedudukannya yang tinggi menjadi rendah. ٩٢ – كَمَا الطَّاعَاتُ تَنْعَلُكَ الدَّرَارِي … وَتَجْعَلُكَ القَرِيبَ وَإِنْ بَعُدْتَاSebaliknya, ketaatan meninggikanmu sampai bintang-bintang gemerlap menjadi sandal di kakimu …dan menjadikanmu dekat meskipun engkau berada jauh. ٩٣ – وَتَنْشُرُ عَنْكَ فِي الدُّنْيَا جَمِيلاً … فَتَلْقَى البِرَّ فِيهَا حَيْثُ كُنْتَاKetaatan menyebarkan nama baikmu di dunia …sehingga engkau menjumpai kebaikan di mana pun engkau berada. ٩٤ – وَتَمْشِي فِي مَنَاكِبِهَا كَرِيماً … وَتَجْنِي الحَمْدَ مِمَّا قَدْ غَرَسْتَاEngkau berjalan di tempat-tempat tinggi bumi dalam keadaan mulia …dan memanen pujian dari apa yang telah engkau tanam. ٩٥ – وَأَنْتَ الآنَ لَمْ تُعْرَفْ بِعَيْبٍ … وَلَا دَنَّسْتَ ثَوْبَكَ مُذْ نَشَأْتَاSaat ini engkau belum dikenal memiliki aib …dan belum menodai pakaianmu sejak engkau tumbuh. ٩٦ – وَلَا سَابَقْتَ فِي مَيْدَانِ زُورٍ … وَلَا أَوْضَعْتَ فِيهِ وَلَا خَبَبْتَاEngkau belum pernah berlomba di medan kebatilan …tidak pula memacu langkah ataupun berlari kecil di dalamnya. ٩٧ – فَإِنْ لَمْ تَنْأَ عَنْهُ نَشِبْتَ فِيهِ … وَمَنْ لَكَ بِالخَلَاصِ إِذَا نَشِبْتَاJika engkau tidak menjauh darinya, engkau akan tersangkut tanpa jalan keluar …lalu siapa yang akan membebaskanmu setelah engkau tersangkut? ٩٨ – وَدَنَّسَ مَا تَطَهَّرَ مِنْكَ حَتَّى … كَأَنَّكَ قَبْلَ ذَلِكَ مَا طَهَرْتَاIa akan menodai bagian dirimu yang sebelumnya bersih …hingga seakan-akan sebelum itu engkau tak pernah bersih. ٩٩ – وَصِرْتَ أَسِيرَ ذَنْبِكَ فِي وَثَاقٍ … وَكَيْفَ لَكَ الفَكَاكُ وَقَدْ أُسِرْتَا؟Lalu engkau menjadi tawanan dosamu, terikat erat dalam belenggu …dan bagaimana engkau dapat terlepas setelah engkau tertawan? ١٠٠ – وَخَفْ أَبْنَاءَ جِنْسِكَ وَاخْشَ مِنْهُمْ … كَمَا تَخْشَى الضَّرَاغِمَ وَالسَّبَنْتَىWaspadalah terhadap sesama manusia dan berhati-hatilah kepada mereka …sebagaimana engkau mewaspadai singa-singa dan harimau. ١٠١ – وَخَالِطْهُمْ وَزَايِلْهُمْ حِذَاراً … وَكُنْ كَـ«السَّامِرِيِّ» إِذَا لُمِسْتَاBerbaurlah dengan mereka, namun tinggalkan perbuatan mereka yang tidak diridaiAllah dan Rasul-Nya, dengan penuh kewaspadaan …dan jadilah seperti Samiri ketika hendak disentuh: “Jangan menyentuhku!” ١٠٢ – وَإِنْ جَهِلُوا عَلَيْكَ فَقُلْ سَلَاماً … لَعَلَّكَ سَوْفَ تَسْلَمُ إِنْ فَعَلْتَاJika mereka melontarkan cacian dan hinaan ala orang bodoh kepadamu,katakanlah, “Salam.” …mudah-mudahan engkau selamat jika engkau melakukannya. ١٠٣ – وَمَنْ لَكَ بِالسَّلَامَةِ فِي زَمَانٍ … يَنَالُ العُصْمَ إِلَّا إِنْ عُصِمْتَاSiapa yang dapat menjamin keselamatanmu pada zaman yang bencananyasampai menimpa kambing-kambing gunung di puncak-puncak sana …kecuali bila engkau dijaga oleh Allah? ١٠٤ – وَلَا تَلْبَثْ بِحَيٍّ فِيهِ ضَيْمٌ … يُمِيتُ القَلْبَ إِلَّا إِنْ كُبِلْتَاJangan menetap di lingkungan yang penuh kezaliman dan perendahan …yang mematikan hati, kecuali jika engkau terbelenggu tak berdaya. ١٠٥ – وَغَرِّبْ فَالغَرِيبُ لَهُ نَفَاقٌ … وَشَرِّقْ إِنْ بِرِيقِكَ قَدْ شَرِقْتَاMerantaulah ke barat, karena perantau justru laku dan dihargai …atau pergilah ke timur jika di negerimu sendiri engkau sampai tercekik. ١٠٦ – فَلَيْسَ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا خُمُولاً … لَأَنْتَ بِهَا الأَمِيرُ إِذَا زَهِدْتَاZuhud terhadap dunia bukan berarti engkau menjadi orang yang tak dikenaldan tak disebut orang …justru engkaulah penguasa atas dunia ketika engkau zuhud terhadapnya. ١٠٧ – وَلَوْ فَوْقَ الأَمِيرِ تَكُونُ فِيهَا … سُمُوّاً وَافْتِخَاراً كُنْتَ أَنْتَاBahkan dalam ketinggian dan kemuliaan di dunia ini …engkaulah yang berada di atas seorang penguasa. ١٠٨ – وَإِنْ فَارَقْتَهَا وَخَرَجْتَ مِنْهَا … إِلَى دَارِ السَّلَامِ فَقَدْ سَلِمْتَاJika engkau berpisah dengan dunia dan keluar darinya …menuju Darussalam (surga), sungguh engkau telah selamat. ١٠٩ – وَإِنْ أَكْرَمْتَهَا وَنَظَرْتَ فِيهَا … بِإِجْلَالٍ فَنَفْسَكَ قَدْ أَهَنْتَاNamun jika engkau memuliakan dunia dan memandangnya …dengan penuh pengagungan, sungguh engkau telah menghinakan dirimu sendiri. ١١٠ – جَمَعْتُ لَكَ النَّصَائِحَ فَامْتَثِلْهَا … حَيَاتَكَ فَهْيَ أَفْضَلُ مَا امْتَثَلْتَاTelah kuhimpun berbagai nasihat untukmu, maka amalkanlah …sepanjang hidupmu, sebab itulah sebaik-baik yang dapat engkau amalkan. ١١١ – وَطَوَّلْتُ العِتَابَ وَزِدْتُ فِيهِ … لِأَنَّكَ فِي البَطَالَةِ قَدْ أَطَلْتَاAku memperpanjang celaan dan menambah-nambahinya …karena engkau pun telah terlalu lama larut dalam kesia-siaan dan kebodohan. ١١٢ – فَلَا تَأْخُذْ بِتَقْصِيرِي وَسَهْوِي … وَخُذْ بِوَصِيَّتِي لَكَ إِنْ رَشَدْتَاMaka jangan jadikan kekurangan dan kelalaianku sebagai pegangan …tetapi peganglah wasiatku kepadamu, jika engkau menghendaki petunjuk. ١١٣ – وَقَدْ أَرْدَفْتُهَا سَبْعاً حِسَاناً … وَكَانَتْ قَبْلُ ذَا مِئَةً وَسِتَّاDan aku telah menyusulkan tujuh bait yang indah kepadanya …sedangkan sebelumnya berjumlah seratus enam bait. تَمَّتْ بِحَمْدِ اللَّهِSelesai, dengan segala puji bagi Allah.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. ١ – تَفُتُّ فُؤَادَكَ الأَيَّامُ فَتَّا … وَتَنْحِتُ جِسْمَكَ السَّاعَاتُ نَحْتَا Hari demi hari meremukkan hatimu … dan jam demi jam menyusutkan tubuhmu. ٢ – وَتَدْعُوكَ المَنُونُ دُعَاءَ صِدْقٍ … أَلَا يَا صَاحِ، أَنْتَ أُرِيدُ أَنْتَا Kematian memanggilmu dengan panggilan yang pasti …“Wahai sahabatku, engkaulah yang kuinginkan. Ya, engkau!” ٣ – أَرَاكَ تُحِبُّ عِرْساً ذَاتَ غَدْرٍ … أَبَتَّ طَلَاقَهَا الأَكْيَاسُ بَتَّاKulihat engkau mencintai istri yang gemar mengingkari janji, yaitu dunia …padahal orang-orang berakal telah menceraikannya dengan talak yang tak dapat dirujuk. ٤ – تَنَامُ الدَّهْرَ – وَيْحَكَ – فِي غَطِيطٍ … بِهَا، حَتَّى إِذَا مِتَّ انْتَبَهْتَاDuhai malangnya engkau! Sepanjang masa engkau tertidur mendengkur bersamanya …hingga ketika mati, barulah engkau tersadar. ٥ – فَكَمْ ذَا أَنْتَ مَخْدُوعٌ وَحَتَّى … مَتَى لَا تَرْعَوِي عَنْهَا وَحَتَّى؟Berapa lama lagi engkau akan terus tertipu? …Sampai kapan engkau tak juga menahan diri dan jera darinya? Sampai kapan? ٦ – «أَبَا بَكْرٍ» دَعَوْتُكَ لَوْ أَجَبْتَا … إِلَى مَا فِيهِ حَظُّكَ إِنْ عَقَلْتَاWahai Abu Bakar, putraku, aku menyerumu, andai engkau mau menyambut …kepada sesuatu yang di dalamnya ada bagian kebaikan bagimu, jika engkau berakal. ٧ – إِلَى عِلْمٍ تَكُونُ بِهِ إِمَاماً … مُطَاعاً إِنْ نَهَيْتَ وَإِنْ أَمَرْتَاKepada ilmu yang dengannya engkau menjadi seorang imam …yang ditaati ketika melarang maupun memerintah. ٨ – وَيَجْلُو مَا بِعَيْنِكَ مِنْ عَشَاهَا … وَيَهْدِيكَ السَّبِيلَ إِذَا ضَلَلْتَاIlmu menyingkap rabun yang melemahkan penglihatan matamu …dan menunjukkan jalan kepadamu ketika engkau tersesat. ٩ – وَتَحْمِلُ مِنْهُ فِي نَادِيكَ تَاجاً … وَيَكْسُوكَ الجَمَالَ إِذَا اغْتَرَبْتَاDi tengah majelismu, ilmu menjadi mahkota yang engkau kenakan …dan menghiasimu dengan keindahan ketika engkau di perantauan. ١٠ – يَنَالُكَ نَفْعُهُ مَا دُمْتَ حَيّاً … وَيَبْقَى ذُخْرُهُ لَكَ إِنْ ذَهَبْتَاManfaatnya terus engkau peroleh selama engkau hidup …dan simpanannya tetap menjadi milikmu setelah engkau tiada. ١١ – هُوَ العَضْبُ المُهَنَّدُ لَيْسَ يَنْبُو … تُصِيبُ بِهِ مَقَاتِلَ مَنْ ضَرَبْتَاIlmu laksana pedang India yang tajam, tak pernah meleset dari sasaran …dengannya engkau mengenai titik mematikan orang yang engkau tebas. ١٢ – وَكَنْزٌ لَا تَخَافُ عَلَيْهِ لِصّاً … خَفِيفُ الحَمْلِ يُوجَدُ حَيْثُ كُنْتَاIlmu adalah harta simpanan yang tak perlu engkau khawatirkan dicuri …ringan dibawa, dan selalu ada bersamamu di mana pun engkau berada. ١٣ – يَزِيدُ بِكَثْرَةِ الإِنْفَاقِ مِنْهُ … وَيَنْقُصُ إِنْ بِهِ كَفّاً شَدَدْتَاIlmu bertambah ketika semakin banyak engkau bagikan …dan berkurang ketika engkau menggenggamnya erat-erat. ١٤ – فَلَوْ قَدْ ذُقْتَ مِنْ حَلْوَاهُ طَعْماً … لَآثَرْتَ التَّعَلُّمَ وَاجْتَهَدْتَاSeandainya engkau telah mencicipi manisnya ilmu …niscaya engkau lebih memilih belajar dan bersungguh-sungguh. ١٥ – وَلَمْ يَشْغَلْكَ عَنْهُ هَوىً مُطَاعٌ … وَلَا دُنْيَا بِزُخْرُفِهَا فُتِنْتَاHawa nafsu yang dituruti tak akan menyibukkanmu darinya …tidak pula dunia dengan segala gemerlapnya akan memikatmu. ١٦ – وَلَا أَلْهَاكَ عَنْهُ أَنِيقُ رَوْضٍ … وَلَا خِدْرٌ بِرَبْرَبِهِ كَلِفْتَاTaman yang indah tak akan melalaikanmu darinya …tidak pula gadis-gadis jelita di balik tirai pingitan yang membuatmu jatuh hati. ١٧ – فَقُوتُ الرُّوحِ أَرْوَاحُ المَعَانِي … وَلَيْسَ بِأَنْ طَعِمْتَ وَأَنْ شَرِبْتَاSebab makanan bagi ruh adalah makna-makna yang menghidupkan hati …bukan sekadar apa yang engkau makan dan minum. ١٨ – فَوَاظِبْهُ وَخُذْ بِالجِدِّ فِيهِ … فَإِنْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ أَخَذْتَاMaka tekunilah ilmu dan bersungguh-sungguhlah padanya …sebab bila Allah menganugerahkannya kepadamu, engkau pun meraihnya. ١٩ – وَإِنْ أُوتِيتَ فِيهِ طُولَ بَاعٍ … وَقَالَ النَّاسُ إِنَّكَ قَدْ سَبَقْتَاJika engkau dikaruniai penguasaan yang luas dan mendalam dalam ilmu …dan orang-orang berkata bahwa engkau telah mengungguli yang lain, ٢٠ – فَلَا تَأْمَنْ سُؤَالَ اللَّهِ عَنْهُ … بِتَوْبِيخٍ: عَلِمْتَ؛ فَهَلْ عَمِلْتَا؟jangan merasa aman dari pertanyaan Allah tentang ilmu itu …dengan teguran, “Engkau telah mengetahui, lalu apakah engkau mengamalkannya?” ٢١ – فَرَأْسُ العِلْمِ تَقْوَى اللَّهِ حَقّاً … وَلَيْسَ بِأَنْ يُقَالَ: لَقَدْ رَأَسْتَاSebab puncak ilmu yang sebenarnya adalah bertakwa kepada Allah …bukan sekadar agar dikatakan, “Engkau telah menjadi pemimpin.” ٢٢ – وَضَافِي ثَوْبِكَ الإِحْسَانُ، لَا أَنْ … تُرَى ثَوْبَ الإِسَاءَةِ قَدْ لَبِسْتَاHendaklah pakaianmu yang lapang menutupi itu adalah ihsan …bukan agar engkau terlihat telah mengenakan pakaian keburukan. ٢٣ – إِذَا مَا لَمْ يُفِدْكَ العِلْمُ خَيْراً … فَخَيْرٌ مِنْهُ أَنْ لَوْ قَدْ جَهِلْتَاJika ilmu tidak mendatangkan kebaikan bagimu …maka lebih baik seandainya engkau tetap tidak mengetahuinya. ٢٤ – وَإِنْ أَلْقَاكَ فَهْمُكَ فِي مَهَاوٍ … فَلَيْتَكَ ثُمَّ لَيْتَكَ مَا فَهِمْتَاJika pemahamanmu justru menjatuhkanmu ke jurang-jurang yang dalam …alangkah baiknya, sungguh alangkah baiknya, jika dahulu engkau tidak memahaminya. ٢٥ – سَتَجْنِي مِنْ ثِمَارِ العَجْزِ جَهْلاً … وَتَصْغُرُ فِي العُيُونِ وَإِنْ كَبِرْتَاEngkau akan menuai kebodohan sebagai buah dari kelemahanmu …dan menjadi kecil di mata manusia meskipun usiamu bertambah tua. ٢٦ – وَتُفْقَدُ إِنْ جَهِلْتَ وَأَنْتَ بَاقٍ … وَتُوجَدُ إِنْ عَلِمْتَ وَإِنْ فُقِدْتَاEngkau seakan tiada jika bodoh, meskipun masih hidup …dan seakan tetap ada jika berilmu, meskipun engkau telah tiada. ٢٧ – وَتَذْكُرُ قَوْلَتِي لَكَ بَعْدَ حِينٍ … وَتَغْبِطُهَا إِذَا عَنْهَا شُغِلْتَاKelak engkau akan mengingat nasihatku ini …dan memandangnya sebagai kebaikan, ketika engkau telah tersibukkan darinya. ٢٨ – وَسَوْفَ تَعَضُّ مِنْ نَدَمٍ عَلَيْهَا … وَمَا تُغْنِي النَّدَامَةُ إِنْ نَدِمْتَاKelak engkau akan menggigit jari karena penyesalan …namun apa gunanya penyesalan ketika engkau telah menyesal? ٢٩ – إِذَا أَبْصَرْتَ صَحْبَكَ فِي سَمَاءٍ … قَدِ ارْتَفَعُوا عَلَيْكَ وَقَدْ سَفُلْتَاKetika engkau melihat teman-temanmu seakan berada di langit …mereka telah menjulang di atasmu, sedangkan engkau berada di bawah, ٣٠ – فَرَاجِعْهَا وَدَعْ عَنْكَ الهُوَيْنَا … فَمَا بِالبُطْءِ تُدْرِكُ مَا طَلَبْتَاmaka kembalilah menekuni ilmu dan tinggalkan langkah yang lamban …sebab dengan berlambat-lambat engkau takkan meraih apa yang engkau cari. ٣١ – وَلَا تَحْفِلْ بِمَالِكَ وَالْهَ عَنْهُ … فَلَيْسَ المَالُ إِلَّا مَا عَلِمْتَاJangan pedulikan hartamu dan tinggalkan saja ia …sebab kekayaan sejati hanyalah ilmu yang engkau miliki. ٣٢ – وَلَيْسَ لِجَاهِلٍ فِي النَّاسِ مَعْنىً … وَلَوْ مُلْكُ العِرَاقِ لَهُ تَأَتَّىOrang bodoh tidak memiliki nilai berarti di tengah manusia …meskipun kekuasaan atas Irak dimudahkan baginya. ٣٣ – سَيَنْطِقُ عَنْكَ عِلْمُكَ فِي نَدِيٍّ … وَيُكْتَبُ عَنْكَ يَوْماً إِنْ كَتَبْتَاIlmumu kelak akan berbicara tentang dirimu di tengah majelis …dan suatu hari tulisanmu akan dinukil orang, jika engkau menulis. ٣٤ – وَمَا يُغْنِيكَ تَشْيِيدُ المَبَانِي … إِذَا بِالجَهْلِ نَفْسَكَ قَدْ هَدَمْتَاApa gunanya engkau mengokohkan dan meninggikan bangunan …jika dengan kebodohan engkau justru meruntuhkan dirimu sendiri? ٣٥ – جَعَلْتَ المَالَ فَوْقَ العِلْمِ جَهْلاً … لَعَمْرُكَ فِي القَضِيَّةِ مَا عَدَلْتَاKarena kebodohanmu, engkau menempatkan harta di atas ilmu …sungguh, dalam perkara ini engkau tidak berlaku adil. ٣٦ – وَبَيْنَهُمَا بِنَصِّ الوَحْيِ بَوْنٌ … سَتَعْلَمُهُ إِذَا «طَهَ» قَرَأْتَاPadahal antara keduanya ada jarak yang jauh menurut nas wahyu …engkau akan mengetahuinya ketika membaca Surah Thaha. ٣٧ – لَئِنْ رَفَعَ الغَنِيُّ لِوَاءَ مَالٍ … لَأَنْتَ لِوَاءَ عِلْمِكَ قَدْ رَفَعْتَاJika orang kaya mengibarkan panji hartanya …maka engkau telah mengibarkan panji ilmumu. ٣٨ – وَإِنْ جَلَسَ الغَنِيُّ عَلَى الحَشَايَا … لَأَنْتَ عَلَى الكَوَاكِبِ قَدْ جَلَسْتَاJika orang kaya duduk di atas kasur-kasur empuk berisi kapas …maka engkau seakan telah duduk di atas bintang-bintang. ٣٩ – وَإِنْ رَكِبَ الجِيَادَ مُسَوَّمَاتٍ … لَأَنْتَ مَنَاهِجَ التَّقْوَى رَكِبْتَاJika ia menunggang kuda-kuda pilihan bertanda …maka engkau telah meniti jalan-jalan ketakwaan. ٤٠ – وَمَهْمَا اقْتَضَّ أَبْكَارَ الغَوَانِي … فَكَمْ بِكْرٍ مِنَ الحِكَمِ اقْتَضَضْتَاSekalipun ia menggauli para gadis jelita yang masih perawan …betapa banyak hikmah yang masih perawan telah engkau singkap. ٤١ – وَلَيْسَ يَضُرُّكَ الإِقْتَارُ شَيْئاً … إِذَا مَا أَنْتَ رَبَّكَ قَدْ عَرَفْتَاSempitnya penghidupan tidak akan memudaratkanmu sedikit pun …selama engkau telah mengenal Rabbmu. ٤٢ – فَمَاذَا عِنْدَهُ لَكَ مِنْ جَمِيلٍ … إِذَا بِفِنَاءِ طَاعَتِهِ أَنَخْتَاBetapa banyak kebaikan yang tersedia di sisi-Nya untukmu …bila engkau menambatkan diri di pelataran ketaatan kepada-Nya. ٤٣ – فَقَابِلْ بِالقَبُولِ صَحِيحَ نُصْحِي … فَإِنْ أَعْرَضْتَ عَنْهُ فَقَدْ خَسِرْتَاMaka sambutlah dengan penerimaan nasihatku yang tulus ini …jika engkau berpaling darinya, sungguh engkau telah merugi. ٤٤ – وَإِنْ رَاعَيْتَهُ قَوْلاً وَفِعْلاً … وَتَاجَرْتَ الإِلَهَ بِهِ رَبِحْتَاNamun jika engkau mengamalkannya dalam ucapan dan perbuatan …serta berniaga dengan Allah melaluinya, niscaya engkau beruntung. ٤٥ – فَلَيْسَتْ هَذِهِ الدُّنْيَا بِشَيْءٍ … تَسُوؤُكَ حِقْبَةً وَتَسُرُّ وَقْتَاDunia ini bukanlah sesuatu yang berarti …ia menyusahkanmu dalam rentang masa yang panjang, dan menyenangkanmu hanya sesaat. ٤٦ – وَغَايَتُهَا إِذَا فَكَّرْتَ فِيهَا … كَفَيْئِكَ أَوْ كَحُلْمِكَ إِنْ حَلَمْتَاPuncaknya, jika engkau merenungkannya …dunia hanyalah seperti bayanganmu, atau seperti mimpi yang engkau alami. ٤٧ – سُجِنْتَ بِهَا وَأَنْتَ لَهَا مُحِبٌّ … فَكَيْفَ تُحِبُّ مَا فِيهِ سُجِنْتَا؟Engkau terpenjara di dunia, tetapi justru mencintainya …bagaimana mungkin engkau mencintai tempat yang menjadi penjaramu? ٤٨ – وَتُطْعِمُكَ الطَّعَامَ وَعَنْ قَرِيبٍ … سَتَطْعَمُ مِنْكَ مَا مِنْهَا طَعِمْتَاDunia memberimu makanan, dan tak lama lagi …ia akan memakan dari tubuhmu sebagaimana engkau telah memakan darinya. ٤٩ – وَتَعْرَى إِنْ لَبِسْتَ لَهَا ثِيَاباً … وَتُكْسَى إِنْ مَلَابِسَهَا خَلَعْتَاEngkau sejatinya telanjang bila mengenakan pakaian dunia …dan engkau akan terbalut kemuliaan bila menanggalkannya. ٥٠ – وَتَشْهَدُ كُلَّ يَوْمٍ دَفْنَ خِلٍّ … كَأَنَّكَ لَا تُرَادُ بِمَا شَهِدْتَاSetiap hari engkau menyaksikan pemakaman seorang sahabat karib …seolah-olah kematian yang engkau saksikan itu tidak ditujukan kepadamu. ٥١ – وَلَمْ تُخْلَقْ لِتَعْمُرَهَا وَلَكِنْ … لِتَعْبُرَهَا فَجِدَّ لِمَا خُلِقْتَاEngkau tidak diciptakan untuk hidup kekal di dunia …melainkan untuk melintasinya, maka bersungguh-sungguhlah untuk tujuan penciptaanmu. ٥٢ – وَإِنْ هُدِمَتْ فَزِدْهَا أَنْتَ هَدْماً … وَحَصِّنْ أَمْرَ دِينِكَ مَا اسْتَطَعْتَاJika dunia telah runtuh, tambahlah keruntuhannya olehmu …dan kokohkanlah urusan agamamu semampumu. ٥٣ – وَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَ مِنْهَا … إِذَا مَا أَنْتَ فِي أُخْرَاكَ فُزْتَاJangan bersedih atas apa yang luput darimu di dunia …selama engkau meraih kemenangan di akhiratmu. ٥٤ – فَلَيْسَ بِنَافِعٍ مَا نِلْتَ مِنْهَا … مِنَ الفَانِي، إِذَا البَاقِي حُرِمْتَاApa yang engkau raih dari dunia yang fana tidaklah berguna …jika engkau terhalang dari kenikmatan yang kekal. ٥٥ – وَلَا تَضْحَكْ مَعَ السُّفَهَاءِ لَهْواً … فَإِنَّكَ سَوْفَ تَبْكِي إِنْ ضَحِكْتَاJangan tertawa dalam senda gurau bersama orang-orang yang ringan akalnya …sebab kelak engkau akan menangis jika tenggelam dalam tawa semacam itu. ٥٦ – وَكَيْفَ لَكَ السُّرُورُ وَأَنْتَ رَهْنٌ … وَلَا تَدْرِي أَتُفْدَى أَمْ غَلِقْتَاBagaimana mungkin engkau bergembira sementara dirimu tergadai …dan engkau tak tahu, akankah engkau ditebus, atau tertahan selamanya tanpa dapat ditebus? ٥٧ – وَسَلْ مِنْ رَبِّكَ التَّوْفِيقَ فِيهَا … وَأَخْلِصْ فِي السُّؤَالِ إِذَا سَأَلْتَاMintalah taufik kepada Rabbmu dalam semua itu …dan tuluslah dalam permohonan ketika engkau meminta. ٥٨ – وَنَادِ إِذَا سَجَدْتَ لَهُ اعْتِرَافاً … بِمَا نَادَاهُ ذُو النُّونِ ابْنُ مَتَّىBerserulah kepada-Nya ketika bersujud dengan penuh pengakuan …sebagaimana seruan Dzun Nun, yaitu Yunus bin Matta ‘alaihis salam. ٥٩ – وَلَازِمْ بَابَهُ قَرْعاً عَسَاهُ … سَيَفْتَحُ بَابَهُ لَكَ إِنْ قَرَعْتَاTeruslah mengetuk pintu-Nya tanpa jemu …mudah-mudahan Dia membukakan pintu itu bagimu jika engkau terus mengetuk. ٦٠ – وَأَكْثِرْ ذِكْرَهُ فِي الأَرْضِ دَأْباً … لِتُذْكَرَ فِي السَّمَاءِ إِذَا ذَكَرْتَاPerbanyaklah mengingat-Nya di bumi dengan tekun terus-menerus …agar engkau disebut di langit ketika engkau mengingat-Nya. ٦١ – وَلَا تَقُلِ الصِّبَا فِيهِ مَجَالٌ … وَفَكِّرْ كَمْ صَغِيرٍ قَدْ دَفَنْتَاJangan berkata, “Masa muda masih panjang.” …Renungkan, berapa banyak orang muda yang telah engkau kuburkan? ٦٢ – وَقُلْ لِي: يَا نَصِيحُ لَأَنْتَ أَوْلَى … بِنُصْحِكَ، لَوْ بِعَقْلِكَ قَدْ نَظَرْتَاLalu katakanlah kepadaku, “Wahai pemberi nasihat yang tulus, engkau lebih pantas …menerima nasihatmu sendiri, jika engkau mau berpikir dengan akalmu. ٦٣ – تُقَطِّعُنِي عَلَى التَّفْرِيطِ لَوْماً … وَبِالتَّفْرِيطِ دَهْرَكَ قَدْ قَطَعْتَاEngkau mencercaku habis-habisan karena kelalaianku …padahal seluruh umurmu sendiri telah engkau habiskan dalam kelalaian. ٦٤ – وَفِي صِغَرِي تُخَوِّفُنِي المَنَايَا … وَمَا تَجْرِي بِبَالِكَ حِينَ شِخْتَاKetika aku masih kecil, engkau menakut-nakutiku dengan kematian …sedangkan setelah engkau menua, kematian tak terlintas dalam pikiranmu. ٦٥ – وَكُنْتَ مَعَ الصِّبَا أَهْدَى سَبِيلاً … فَمَا لَكَ بَعْدَ شَيْبِكَ قَدْ نُكِسْتَاKetika muda dahulu jalanmu justru lebih lurus …lalu mengapa setelah beruban engkau berbalik kepada keburukan? ٦٦ – وَهَا أَنَا لَمْ أَخُضْ بَحْرَ الخَطَايَا … كَمَا قَدْ خُضْتَهُ حَتَّى غَرِقْتَاLihatlah aku, belum pernah aku mengarungi lautan dosa …seperti engkau yang telah mengarunginya hingga tenggelam. ٦٧ – وَلَمْ أَشْرَبْ حُمَيَّا أُمِّ دَفْرٍ … وَأَنْتَ شَرِبْتَهَا حَتَّى سَكِرْتَاAku belum meminum arak Ummu Dafr yang memabukkan kepala …sedangkan engkau telah meminumnya hingga mabuk. ٦٨ – وَلَمْ أَحْلُلْ بِوَادٍ فِيهِ ظُلْمٌ … وَأَنْتَ حَلَلْتَ فِيهِ وَانْهَمَلْتَاAku belum pernah singgah di lembah yang penuh kezaliman …sedangkan engkau tinggal di dalamnya dan berkeliaran tanpa kendali. ٦٩ – وَلَمْ أَنْشَأْ بِعَصْرٍ فِيهِ نَفْعٌ … وَأَنْتَ نَشَأْتَ فِيهِ وَمَا انْتَفَعْتَاAku tidak tumbuh pada masa yang penuh manfaat …sedangkan engkau tumbuh pada masa itu, tetapi tidak mengambil manfaatnya. ٧٠ – وَقَدْ صَاحَبْتَ أَعْلَاماً كِبَاراً … وَلَمْ أَرَكَ اقْتَدَيْتَ بِمَنْ صَحِبْتَاEngkau telah bergaul dengan tokoh-tokoh besar …tetapi aku tak melihatmu meneladani orang-orang yang engkau temani. ٧١ – وَنَادَاكَ الكِتَابُ فَلَمْ تُجِبْهُ … وَنَهْنَهَكَ المَشِيبُ فَمَا انْتَبَهْتَاAl-Qur’an telah memanggilmu, tetapi engkau tidak menjawabnya …uban telah menghardikmu agar berhenti, tetapi engkau tetap tidak tersadar. ٧٢ – لَيَقْبُحُ بِالفَتَى فِعْلُ التَّصَابِي … وَأَقْبَحُ مِنْهُ شَيْخٌ قَدْ تَفَتَّىBetapa buruk seorang pemuda yang larut dalam kesia-siaan ala anak-anak …dan lebih buruk lagi seorang tua yang berlagak muda dalam kesia-siaan itu. ٧٣ – فَأَنْتَ أَحَقُّ بِالتَّفْنِيدِ مِنِّي … وَلَوْ سَكَتَ المُسِيءُ لَمَا نَطَقْتَاEngkau lebih pantas dicela daripada aku …dan seandainya orang yang bersalah harus diam, tentu engkau pun tak akan berbicara. ٧٤ – وَنَفْسَكَ ذُمَّ لَا تَذْمُمْ سِوَاهَا … بِعَيْبٍ فَهْيَ أَجْدَرُ مَنْ ذَمَمْتَاCela dirimu sendiri, jangan cela selainnya karena suatu aib …sebab dirimulah yang paling pantas menjadi sasaran celaanmu. ٧٥ – فَلَوْ بَكَتِ الدِّمَا عَيْنَاكَ خَوْفاً … لِذَنْبِكَ لَمْ أَقُلْ لَكَ قَدْ أَمِنْتَاSeandainya kedua matamu menangis darah karena takut akan dosamu …aku tetap tidak akan berkata kepadamu, ‘Engkau telah aman.’ ٧٦ – وَمَنْ لَكَ بِالأَمَانِ وَأَنْتَ عَبْدٌ … أُمِرْتَ فَمَا ائْتَمَرْتَ وَلَا أَطَعْتَاSiapa yang dapat menjamin keamanan bagimu, padahal engkau hanyalah hamba? …Engkau diperintah, tetapi tidak melaksanakannya dan tidak taat. ٧٧ – ثَقُلْتَ مِنَ الذُّنُوبِ وَلَسْتَ تَخْشَى … لِجَهْلِكَ أَنْ تَخِفَّ إِذَا وُزِنْتَاEngkau berat oleh dosa-dosa, tetapi karena kebodohanmu engkau tidak takut …bahwa kelak timbanganmu justru ringan ketika ditimbang. ٧٨ – وَتُشْفِقُ لِلْمُصِرِّ عَلَى المَعَاصِي … وَتَرْحَمُهُ وَنَفْسَكَ مَا رَحِمْتَاEngkau merasa iba kepada orang yang terus-menerus bermaksiat …dan mengasihaninya, tetapi dirimu sendiri tidak engkau kasihani. ٧٩ – رَجَعْتَ القَهْقَرَى وَخَبَطْتَ عَشْوَا … لَعَمْرُكَ لَوْ وَصَلْتَ لَمَا رَجَعْتَاEngkau berjalan mundur dan melangkah meraba tanpa arah …sungguh, seandainya engkau telah sampai, tentu engkau tidak akan berbalik. ٨٠ – وَلَوْ وَافَيْتَ رَبَّكَ دُونَ ذَنْبٍ … وَنَاقَشَكَ الحِسَابَ؛ إِذاً هَلَكْتَاSeandainya engkau menghadap Rabbmu tanpa membawa dosa …lalu Dia memeriksa hisabmu dengan teliti, niscaya engkau binasa. ٨١ – وَلَمْ يَظْلِمْكَ فِي عَمَلٍ وَلَكِنْ … عَسِيرٌ أَنْ تَقُومَ بِمَا حَمَلْتَاDia tidak menzalimimu sedikit pun dalam amalmu …namun sungguh berat menunaikan apa yang engkau pikul. ٨٢ – وَلَوْ قَدْ جِئْتَ يَوْمَ الفَصْلِ فَرْداً … وَأَبْصَرْتَ المَنَازِلَ فِيهِ شَتَّىSeandainya engkau datang seorang diri pada Hari Keputusan …dan melihat betapa beragamnya kedudukan manusia ketika itu, ٨٣ – لَأَعْظَمْتَ النَّدَامَةَ فِيهِ لَهْفاً … عَلَى مَا فِي حَيَاتِكَ قَدْ أَضَعْتَاniscaya penyesalanmu memuncak, penuh sesal dan duka …atas apa yang telah engkau sia-siakan sepanjang hidupmu. ٨٤ – تَفِرُّ مِنَ الهَجِيرِ وَتَتَّقِيهِ … فَهَلَّا عَنْ جَهَنَّمَ قَدْ فَرَرْتَاEngkau lari dan berlindung dari puncak panas tengah hari …lalu mengapa engkau tidak lari dari Jahannam? ٨٥ – وَلَسْتَ تُطِيقُ أَهْوَنَهَا عَذَاباً … وَلَوْ كُنْتَ الحَدِيدَ بِهَا لَذُبْتَاEngkau tidak sanggup menahan siksaannya yang paling ringan …bahkan seandainya engkau terbuat dari besi, engkau akan meleleh di dalamnya. ٨٦ – فَلَا تُكْذَبْ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ جِدٌّ … وَلَيْسَ كَمَا حَسِبْتَ وَلَا ظَنَنْتَاMaka jangan sampai engkau lengah lalu membenarkan dusta yang dibisikkan kepadamu,karena perkara ini sungguh serius …dan tidak seperti yang selama ini engkau kira dan sangka.” ٨٧ – «أَبَا بَكْرٍ» كَشَفْتَ أَقَلَّ عَيْبِي … وَأَكْثَرَهُ وَمُعْظَمَهُ سَتَرْتَاWahai Abu Bakar, engkau hanya menyingkap sedikit dari aibku …sedangkan sebagian besar dan yang terbesar darinya masih engkau tutupi. ٨٨ – فَقُلْ مَا شِئْتَ فِيَّ مِنَ المَخَازِي … وَضَاعِفْهَا فَإِنَّكَ قَدْ صَدَقْتَاMaka katakanlah tentangku keburukan apa pun yang engkau kehendaki …bahkan lipat gandakanlah, karena sungguh engkau berkata benar. ٨٩ – وَمَهْمَا عِبْتَنِي فَلِفَرْطِ عِلْمِي … بِبَاطِنَتِي كَأَنَّكَ قَدْ مَدَحْتَاSeberapa pun engkau mencelaku, karena aku terlalu tahu keadaan batinku …celaanmu itu terasa seakan-akan engkau sedang memujiku. ٩٠ – فَلَا تَرْضَ المَعَايِبَ؛ فَهْيَ عَارٌ … عَظِيمٌ، يُورِثُ الإِنْسَانَ مَقْتَاMaka jangan pernah meridai berbagai aib, karena ia kehinaan …yang besar, yang mendatangkan kebencian yang paling dalam kepada seseorang. ٩١ – وَتَهْوِي بِالوَجِيهِ مِنَ الثُّرَيَّا … وَتُبْدِلُهُ مَكَانَ الفَوْقِ تَحْتَاAib menjatuhkan orang yang berkedudukan dan terhormat dari ketinggian bintang Tsurayya …dan mengganti kedudukannya yang tinggi menjadi rendah. ٩٢ – كَمَا الطَّاعَاتُ تَنْعَلُكَ الدَّرَارِي … وَتَجْعَلُكَ القَرِيبَ وَإِنْ بَعُدْتَاSebaliknya, ketaatan meninggikanmu sampai bintang-bintang gemerlap menjadi sandal di kakimu …dan menjadikanmu dekat meskipun engkau berada jauh. ٩٣ – وَتَنْشُرُ عَنْكَ فِي الدُّنْيَا جَمِيلاً … فَتَلْقَى البِرَّ فِيهَا حَيْثُ كُنْتَاKetaatan menyebarkan nama baikmu di dunia …sehingga engkau menjumpai kebaikan di mana pun engkau berada. ٩٤ – وَتَمْشِي فِي مَنَاكِبِهَا كَرِيماً … وَتَجْنِي الحَمْدَ مِمَّا قَدْ غَرَسْتَاEngkau berjalan di tempat-tempat tinggi bumi dalam keadaan mulia …dan memanen pujian dari apa yang telah engkau tanam. ٩٥ – وَأَنْتَ الآنَ لَمْ تُعْرَفْ بِعَيْبٍ … وَلَا دَنَّسْتَ ثَوْبَكَ مُذْ نَشَأْتَاSaat ini engkau belum dikenal memiliki aib …dan belum menodai pakaianmu sejak engkau tumbuh. ٩٦ – وَلَا سَابَقْتَ فِي مَيْدَانِ زُورٍ … وَلَا أَوْضَعْتَ فِيهِ وَلَا خَبَبْتَاEngkau belum pernah berlomba di medan kebatilan …tidak pula memacu langkah ataupun berlari kecil di dalamnya. ٩٧ – فَإِنْ لَمْ تَنْأَ عَنْهُ نَشِبْتَ فِيهِ … وَمَنْ لَكَ بِالخَلَاصِ إِذَا نَشِبْتَاJika engkau tidak menjauh darinya, engkau akan tersangkut tanpa jalan keluar …lalu siapa yang akan membebaskanmu setelah engkau tersangkut? ٩٨ – وَدَنَّسَ مَا تَطَهَّرَ مِنْكَ حَتَّى … كَأَنَّكَ قَبْلَ ذَلِكَ مَا طَهَرْتَاIa akan menodai bagian dirimu yang sebelumnya bersih …hingga seakan-akan sebelum itu engkau tak pernah bersih. ٩٩ – وَصِرْتَ أَسِيرَ ذَنْبِكَ فِي وَثَاقٍ … وَكَيْفَ لَكَ الفَكَاكُ وَقَدْ أُسِرْتَا؟Lalu engkau menjadi tawanan dosamu, terikat erat dalam belenggu …dan bagaimana engkau dapat terlepas setelah engkau tertawan? ١٠٠ – وَخَفْ أَبْنَاءَ جِنْسِكَ وَاخْشَ مِنْهُمْ … كَمَا تَخْشَى الضَّرَاغِمَ وَالسَّبَنْتَىWaspadalah terhadap sesama manusia dan berhati-hatilah kepada mereka …sebagaimana engkau mewaspadai singa-singa dan harimau. ١٠١ – وَخَالِطْهُمْ وَزَايِلْهُمْ حِذَاراً … وَكُنْ كَـ«السَّامِرِيِّ» إِذَا لُمِسْتَاBerbaurlah dengan mereka, namun tinggalkan perbuatan mereka yang tidak diridaiAllah dan Rasul-Nya, dengan penuh kewaspadaan …dan jadilah seperti Samiri ketika hendak disentuh: “Jangan menyentuhku!” ١٠٢ – وَإِنْ جَهِلُوا عَلَيْكَ فَقُلْ سَلَاماً … لَعَلَّكَ سَوْفَ تَسْلَمُ إِنْ فَعَلْتَاJika mereka melontarkan cacian dan hinaan ala orang bodoh kepadamu,katakanlah, “Salam.” …mudah-mudahan engkau selamat jika engkau melakukannya. ١٠٣ – وَمَنْ لَكَ بِالسَّلَامَةِ فِي زَمَانٍ … يَنَالُ العُصْمَ إِلَّا إِنْ عُصِمْتَاSiapa yang dapat menjamin keselamatanmu pada zaman yang bencananyasampai menimpa kambing-kambing gunung di puncak-puncak sana …kecuali bila engkau dijaga oleh Allah? ١٠٤ – وَلَا تَلْبَثْ بِحَيٍّ فِيهِ ضَيْمٌ … يُمِيتُ القَلْبَ إِلَّا إِنْ كُبِلْتَاJangan menetap di lingkungan yang penuh kezaliman dan perendahan …yang mematikan hati, kecuali jika engkau terbelenggu tak berdaya. ١٠٥ – وَغَرِّبْ فَالغَرِيبُ لَهُ نَفَاقٌ … وَشَرِّقْ إِنْ بِرِيقِكَ قَدْ شَرِقْتَاMerantaulah ke barat, karena perantau justru laku dan dihargai …atau pergilah ke timur jika di negerimu sendiri engkau sampai tercekik. ١٠٦ – فَلَيْسَ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا خُمُولاً … لَأَنْتَ بِهَا الأَمِيرُ إِذَا زَهِدْتَاZuhud terhadap dunia bukan berarti engkau menjadi orang yang tak dikenaldan tak disebut orang …justru engkaulah penguasa atas dunia ketika engkau zuhud terhadapnya. ١٠٧ – وَلَوْ فَوْقَ الأَمِيرِ تَكُونُ فِيهَا … سُمُوّاً وَافْتِخَاراً كُنْتَ أَنْتَاBahkan dalam ketinggian dan kemuliaan di dunia ini …engkaulah yang berada di atas seorang penguasa. ١٠٨ – وَإِنْ فَارَقْتَهَا وَخَرَجْتَ مِنْهَا … إِلَى دَارِ السَّلَامِ فَقَدْ سَلِمْتَاJika engkau berpisah dengan dunia dan keluar darinya …menuju Darussalam (surga), sungguh engkau telah selamat. ١٠٩ – وَإِنْ أَكْرَمْتَهَا وَنَظَرْتَ فِيهَا … بِإِجْلَالٍ فَنَفْسَكَ قَدْ أَهَنْتَاNamun jika engkau memuliakan dunia dan memandangnya …dengan penuh pengagungan, sungguh engkau telah menghinakan dirimu sendiri. ١١٠ – جَمَعْتُ لَكَ النَّصَائِحَ فَامْتَثِلْهَا … حَيَاتَكَ فَهْيَ أَفْضَلُ مَا امْتَثَلْتَاTelah kuhimpun berbagai nasihat untukmu, maka amalkanlah …sepanjang hidupmu, sebab itulah sebaik-baik yang dapat engkau amalkan. ١١١ – وَطَوَّلْتُ العِتَابَ وَزِدْتُ فِيهِ … لِأَنَّكَ فِي البَطَالَةِ قَدْ أَطَلْتَاAku memperpanjang celaan dan menambah-nambahinya …karena engkau pun telah terlalu lama larut dalam kesia-siaan dan kebodohan. ١١٢ – فَلَا تَأْخُذْ بِتَقْصِيرِي وَسَهْوِي … وَخُذْ بِوَصِيَّتِي لَكَ إِنْ رَشَدْتَاMaka jangan jadikan kekurangan dan kelalaianku sebagai pegangan …tetapi peganglah wasiatku kepadamu, jika engkau menghendaki petunjuk. ١١٣ – وَقَدْ أَرْدَفْتُهَا سَبْعاً حِسَاناً … وَكَانَتْ قَبْلُ ذَا مِئَةً وَسِتَّاDan aku telah menyusulkan tujuh bait yang indah kepadanya …sedangkan sebelumnya berjumlah seratus enam bait. تَمَّتْ بِحَمْدِ اللَّهِSelesai, dengan segala puji bagi Allah.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِDengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. ١ – تَفُتُّ فُؤَادَكَ الأَيَّامُ فَتَّا … وَتَنْحِتُ جِسْمَكَ السَّاعَاتُ نَحْتَا Hari demi hari meremukkan hatimu … dan jam demi jam menyusutkan tubuhmu. ٢ – وَتَدْعُوكَ المَنُونُ دُعَاءَ صِدْقٍ … أَلَا يَا صَاحِ، أَنْتَ أُرِيدُ أَنْتَا Kematian memanggilmu dengan panggilan yang pasti …“Wahai sahabatku, engkaulah yang kuinginkan. Ya, engkau!” ٣ – أَرَاكَ تُحِبُّ عِرْساً ذَاتَ غَدْرٍ … أَبَتَّ طَلَاقَهَا الأَكْيَاسُ بَتَّاKulihat engkau mencintai istri yang gemar mengingkari janji, yaitu dunia …padahal orang-orang berakal telah menceraikannya dengan talak yang tak dapat dirujuk. ٤ – تَنَامُ الدَّهْرَ – وَيْحَكَ – فِي غَطِيطٍ … بِهَا، حَتَّى إِذَا مِتَّ انْتَبَهْتَاDuhai malangnya engkau! Sepanjang masa engkau tertidur mendengkur bersamanya …hingga ketika mati, barulah engkau tersadar. ٥ – فَكَمْ ذَا أَنْتَ مَخْدُوعٌ وَحَتَّى … مَتَى لَا تَرْعَوِي عَنْهَا وَحَتَّى؟Berapa lama lagi engkau akan terus tertipu? …Sampai kapan engkau tak juga menahan diri dan jera darinya? Sampai kapan? ٦ – «أَبَا بَكْرٍ» دَعَوْتُكَ لَوْ أَجَبْتَا … إِلَى مَا فِيهِ حَظُّكَ إِنْ عَقَلْتَاWahai Abu Bakar, putraku, aku menyerumu, andai engkau mau menyambut …kepada sesuatu yang di dalamnya ada bagian kebaikan bagimu, jika engkau berakal. ٧ – إِلَى عِلْمٍ تَكُونُ بِهِ إِمَاماً … مُطَاعاً إِنْ نَهَيْتَ وَإِنْ أَمَرْتَاKepada ilmu yang dengannya engkau menjadi seorang imam …yang ditaati ketika melarang maupun memerintah. ٨ – وَيَجْلُو مَا بِعَيْنِكَ مِنْ عَشَاهَا … وَيَهْدِيكَ السَّبِيلَ إِذَا ضَلَلْتَاIlmu menyingkap rabun yang melemahkan penglihatan matamu …dan menunjukkan jalan kepadamu ketika engkau tersesat. ٩ – وَتَحْمِلُ مِنْهُ فِي نَادِيكَ تَاجاً … وَيَكْسُوكَ الجَمَالَ إِذَا اغْتَرَبْتَاDi tengah majelismu, ilmu menjadi mahkota yang engkau kenakan …dan menghiasimu dengan keindahan ketika engkau di perantauan. ١٠ – يَنَالُكَ نَفْعُهُ مَا دُمْتَ حَيّاً … وَيَبْقَى ذُخْرُهُ لَكَ إِنْ ذَهَبْتَاManfaatnya terus engkau peroleh selama engkau hidup …dan simpanannya tetap menjadi milikmu setelah engkau tiada. ١١ – هُوَ العَضْبُ المُهَنَّدُ لَيْسَ يَنْبُو … تُصِيبُ بِهِ مَقَاتِلَ مَنْ ضَرَبْتَاIlmu laksana pedang India yang tajam, tak pernah meleset dari sasaran …dengannya engkau mengenai titik mematikan orang yang engkau tebas. ١٢ – وَكَنْزٌ لَا تَخَافُ عَلَيْهِ لِصّاً … خَفِيفُ الحَمْلِ يُوجَدُ حَيْثُ كُنْتَاIlmu adalah harta simpanan yang tak perlu engkau khawatirkan dicuri …ringan dibawa, dan selalu ada bersamamu di mana pun engkau berada. ١٣ – يَزِيدُ بِكَثْرَةِ الإِنْفَاقِ مِنْهُ … وَيَنْقُصُ إِنْ بِهِ كَفّاً شَدَدْتَاIlmu bertambah ketika semakin banyak engkau bagikan …dan berkurang ketika engkau menggenggamnya erat-erat. ١٤ – فَلَوْ قَدْ ذُقْتَ مِنْ حَلْوَاهُ طَعْماً … لَآثَرْتَ التَّعَلُّمَ وَاجْتَهَدْتَاSeandainya engkau telah mencicipi manisnya ilmu …niscaya engkau lebih memilih belajar dan bersungguh-sungguh. ١٥ – وَلَمْ يَشْغَلْكَ عَنْهُ هَوىً مُطَاعٌ … وَلَا دُنْيَا بِزُخْرُفِهَا فُتِنْتَاHawa nafsu yang dituruti tak akan menyibukkanmu darinya …tidak pula dunia dengan segala gemerlapnya akan memikatmu. ١٦ – وَلَا أَلْهَاكَ عَنْهُ أَنِيقُ رَوْضٍ … وَلَا خِدْرٌ بِرَبْرَبِهِ كَلِفْتَاTaman yang indah tak akan melalaikanmu darinya …tidak pula gadis-gadis jelita di balik tirai pingitan yang membuatmu jatuh hati. ١٧ – فَقُوتُ الرُّوحِ أَرْوَاحُ المَعَانِي … وَلَيْسَ بِأَنْ طَعِمْتَ وَأَنْ شَرِبْتَاSebab makanan bagi ruh adalah makna-makna yang menghidupkan hati …bukan sekadar apa yang engkau makan dan minum. ١٨ – فَوَاظِبْهُ وَخُذْ بِالجِدِّ فِيهِ … فَإِنْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ أَخَذْتَاMaka tekunilah ilmu dan bersungguh-sungguhlah padanya …sebab bila Allah menganugerahkannya kepadamu, engkau pun meraihnya. ١٩ – وَإِنْ أُوتِيتَ فِيهِ طُولَ بَاعٍ … وَقَالَ النَّاسُ إِنَّكَ قَدْ سَبَقْتَاJika engkau dikaruniai penguasaan yang luas dan mendalam dalam ilmu …dan orang-orang berkata bahwa engkau telah mengungguli yang lain, ٢٠ – فَلَا تَأْمَنْ سُؤَالَ اللَّهِ عَنْهُ … بِتَوْبِيخٍ: عَلِمْتَ؛ فَهَلْ عَمِلْتَا؟jangan merasa aman dari pertanyaan Allah tentang ilmu itu …dengan teguran, “Engkau telah mengetahui, lalu apakah engkau mengamalkannya?” ٢١ – فَرَأْسُ العِلْمِ تَقْوَى اللَّهِ حَقّاً … وَلَيْسَ بِأَنْ يُقَالَ: لَقَدْ رَأَسْتَاSebab puncak ilmu yang sebenarnya adalah bertakwa kepada Allah …bukan sekadar agar dikatakan, “Engkau telah menjadi pemimpin.” ٢٢ – وَضَافِي ثَوْبِكَ الإِحْسَانُ، لَا أَنْ … تُرَى ثَوْبَ الإِسَاءَةِ قَدْ لَبِسْتَاHendaklah pakaianmu yang lapang menutupi itu adalah ihsan …bukan agar engkau terlihat telah mengenakan pakaian keburukan. ٢٣ – إِذَا مَا لَمْ يُفِدْكَ العِلْمُ خَيْراً … فَخَيْرٌ مِنْهُ أَنْ لَوْ قَدْ جَهِلْتَاJika ilmu tidak mendatangkan kebaikan bagimu …maka lebih baik seandainya engkau tetap tidak mengetahuinya. ٢٤ – وَإِنْ أَلْقَاكَ فَهْمُكَ فِي مَهَاوٍ … فَلَيْتَكَ ثُمَّ لَيْتَكَ مَا فَهِمْتَاJika pemahamanmu justru menjatuhkanmu ke jurang-jurang yang dalam …alangkah baiknya, sungguh alangkah baiknya, jika dahulu engkau tidak memahaminya. ٢٥ – سَتَجْنِي مِنْ ثِمَارِ العَجْزِ جَهْلاً … وَتَصْغُرُ فِي العُيُونِ وَإِنْ كَبِرْتَاEngkau akan menuai kebodohan sebagai buah dari kelemahanmu …dan menjadi kecil di mata manusia meskipun usiamu bertambah tua. ٢٦ – وَتُفْقَدُ إِنْ جَهِلْتَ وَأَنْتَ بَاقٍ … وَتُوجَدُ إِنْ عَلِمْتَ وَإِنْ فُقِدْتَاEngkau seakan tiada jika bodoh, meskipun masih hidup …dan seakan tetap ada jika berilmu, meskipun engkau telah tiada. ٢٧ – وَتَذْكُرُ قَوْلَتِي لَكَ بَعْدَ حِينٍ … وَتَغْبِطُهَا إِذَا عَنْهَا شُغِلْتَاKelak engkau akan mengingat nasihatku ini …dan memandangnya sebagai kebaikan, ketika engkau telah tersibukkan darinya. ٢٨ – وَسَوْفَ تَعَضُّ مِنْ نَدَمٍ عَلَيْهَا … وَمَا تُغْنِي النَّدَامَةُ إِنْ نَدِمْتَاKelak engkau akan menggigit jari karena penyesalan …namun apa gunanya penyesalan ketika engkau telah menyesal? ٢٩ – إِذَا أَبْصَرْتَ صَحْبَكَ فِي سَمَاءٍ … قَدِ ارْتَفَعُوا عَلَيْكَ وَقَدْ سَفُلْتَاKetika engkau melihat teman-temanmu seakan berada di langit …mereka telah menjulang di atasmu, sedangkan engkau berada di bawah, ٣٠ – فَرَاجِعْهَا وَدَعْ عَنْكَ الهُوَيْنَا … فَمَا بِالبُطْءِ تُدْرِكُ مَا طَلَبْتَاmaka kembalilah menekuni ilmu dan tinggalkan langkah yang lamban …sebab dengan berlambat-lambat engkau takkan meraih apa yang engkau cari. ٣١ – وَلَا تَحْفِلْ بِمَالِكَ وَالْهَ عَنْهُ … فَلَيْسَ المَالُ إِلَّا مَا عَلِمْتَاJangan pedulikan hartamu dan tinggalkan saja ia …sebab kekayaan sejati hanyalah ilmu yang engkau miliki. ٣٢ – وَلَيْسَ لِجَاهِلٍ فِي النَّاسِ مَعْنىً … وَلَوْ مُلْكُ العِرَاقِ لَهُ تَأَتَّىOrang bodoh tidak memiliki nilai berarti di tengah manusia …meskipun kekuasaan atas Irak dimudahkan baginya. ٣٣ – سَيَنْطِقُ عَنْكَ عِلْمُكَ فِي نَدِيٍّ … وَيُكْتَبُ عَنْكَ يَوْماً إِنْ كَتَبْتَاIlmumu kelak akan berbicara tentang dirimu di tengah majelis …dan suatu hari tulisanmu akan dinukil orang, jika engkau menulis. ٣٤ – وَمَا يُغْنِيكَ تَشْيِيدُ المَبَانِي … إِذَا بِالجَهْلِ نَفْسَكَ قَدْ هَدَمْتَاApa gunanya engkau mengokohkan dan meninggikan bangunan …jika dengan kebodohan engkau justru meruntuhkan dirimu sendiri? ٣٥ – جَعَلْتَ المَالَ فَوْقَ العِلْمِ جَهْلاً … لَعَمْرُكَ فِي القَضِيَّةِ مَا عَدَلْتَاKarena kebodohanmu, engkau menempatkan harta di atas ilmu …sungguh, dalam perkara ini engkau tidak berlaku adil. ٣٦ – وَبَيْنَهُمَا بِنَصِّ الوَحْيِ بَوْنٌ … سَتَعْلَمُهُ إِذَا «طَهَ» قَرَأْتَاPadahal antara keduanya ada jarak yang jauh menurut nas wahyu …engkau akan mengetahuinya ketika membaca Surah Thaha. ٣٧ – لَئِنْ رَفَعَ الغَنِيُّ لِوَاءَ مَالٍ … لَأَنْتَ لِوَاءَ عِلْمِكَ قَدْ رَفَعْتَاJika orang kaya mengibarkan panji hartanya …maka engkau telah mengibarkan panji ilmumu. ٣٨ – وَإِنْ جَلَسَ الغَنِيُّ عَلَى الحَشَايَا … لَأَنْتَ عَلَى الكَوَاكِبِ قَدْ جَلَسْتَاJika orang kaya duduk di atas kasur-kasur empuk berisi kapas …maka engkau seakan telah duduk di atas bintang-bintang. ٣٩ – وَإِنْ رَكِبَ الجِيَادَ مُسَوَّمَاتٍ … لَأَنْتَ مَنَاهِجَ التَّقْوَى رَكِبْتَاJika ia menunggang kuda-kuda pilihan bertanda …maka engkau telah meniti jalan-jalan ketakwaan. ٤٠ – وَمَهْمَا اقْتَضَّ أَبْكَارَ الغَوَانِي … فَكَمْ بِكْرٍ مِنَ الحِكَمِ اقْتَضَضْتَاSekalipun ia menggauli para gadis jelita yang masih perawan …betapa banyak hikmah yang masih perawan telah engkau singkap. ٤١ – وَلَيْسَ يَضُرُّكَ الإِقْتَارُ شَيْئاً … إِذَا مَا أَنْتَ رَبَّكَ قَدْ عَرَفْتَاSempitnya penghidupan tidak akan memudaratkanmu sedikit pun …selama engkau telah mengenal Rabbmu. ٤٢ – فَمَاذَا عِنْدَهُ لَكَ مِنْ جَمِيلٍ … إِذَا بِفِنَاءِ طَاعَتِهِ أَنَخْتَاBetapa banyak kebaikan yang tersedia di sisi-Nya untukmu …bila engkau menambatkan diri di pelataran ketaatan kepada-Nya. ٤٣ – فَقَابِلْ بِالقَبُولِ صَحِيحَ نُصْحِي … فَإِنْ أَعْرَضْتَ عَنْهُ فَقَدْ خَسِرْتَاMaka sambutlah dengan penerimaan nasihatku yang tulus ini …jika engkau berpaling darinya, sungguh engkau telah merugi. ٤٤ – وَإِنْ رَاعَيْتَهُ قَوْلاً وَفِعْلاً … وَتَاجَرْتَ الإِلَهَ بِهِ رَبِحْتَاNamun jika engkau mengamalkannya dalam ucapan dan perbuatan …serta berniaga dengan Allah melaluinya, niscaya engkau beruntung. ٤٥ – فَلَيْسَتْ هَذِهِ الدُّنْيَا بِشَيْءٍ … تَسُوؤُكَ حِقْبَةً وَتَسُرُّ وَقْتَاDunia ini bukanlah sesuatu yang berarti …ia menyusahkanmu dalam rentang masa yang panjang, dan menyenangkanmu hanya sesaat. ٤٦ – وَغَايَتُهَا إِذَا فَكَّرْتَ فِيهَا … كَفَيْئِكَ أَوْ كَحُلْمِكَ إِنْ حَلَمْتَاPuncaknya, jika engkau merenungkannya …dunia hanyalah seperti bayanganmu, atau seperti mimpi yang engkau alami. ٤٧ – سُجِنْتَ بِهَا وَأَنْتَ لَهَا مُحِبٌّ … فَكَيْفَ تُحِبُّ مَا فِيهِ سُجِنْتَا؟Engkau terpenjara di dunia, tetapi justru mencintainya …bagaimana mungkin engkau mencintai tempat yang menjadi penjaramu? ٤٨ – وَتُطْعِمُكَ الطَّعَامَ وَعَنْ قَرِيبٍ … سَتَطْعَمُ مِنْكَ مَا مِنْهَا طَعِمْتَاDunia memberimu makanan, dan tak lama lagi …ia akan memakan dari tubuhmu sebagaimana engkau telah memakan darinya. ٤٩ – وَتَعْرَى إِنْ لَبِسْتَ لَهَا ثِيَاباً … وَتُكْسَى إِنْ مَلَابِسَهَا خَلَعْتَاEngkau sejatinya telanjang bila mengenakan pakaian dunia …dan engkau akan terbalut kemuliaan bila menanggalkannya. ٥٠ – وَتَشْهَدُ كُلَّ يَوْمٍ دَفْنَ خِلٍّ … كَأَنَّكَ لَا تُرَادُ بِمَا شَهِدْتَاSetiap hari engkau menyaksikan pemakaman seorang sahabat karib …seolah-olah kematian yang engkau saksikan itu tidak ditujukan kepadamu. ٥١ – وَلَمْ تُخْلَقْ لِتَعْمُرَهَا وَلَكِنْ … لِتَعْبُرَهَا فَجِدَّ لِمَا خُلِقْتَاEngkau tidak diciptakan untuk hidup kekal di dunia …melainkan untuk melintasinya, maka bersungguh-sungguhlah untuk tujuan penciptaanmu. ٥٢ – وَإِنْ هُدِمَتْ فَزِدْهَا أَنْتَ هَدْماً … وَحَصِّنْ أَمْرَ دِينِكَ مَا اسْتَطَعْتَاJika dunia telah runtuh, tambahlah keruntuhannya olehmu …dan kokohkanlah urusan agamamu semampumu. ٥٣ – وَلَا تَحْزَنْ عَلَى مَا فَاتَ مِنْهَا … إِذَا مَا أَنْتَ فِي أُخْرَاكَ فُزْتَاJangan bersedih atas apa yang luput darimu di dunia …selama engkau meraih kemenangan di akhiratmu. ٥٤ – فَلَيْسَ بِنَافِعٍ مَا نِلْتَ مِنْهَا … مِنَ الفَانِي، إِذَا البَاقِي حُرِمْتَاApa yang engkau raih dari dunia yang fana tidaklah berguna …jika engkau terhalang dari kenikmatan yang kekal. ٥٥ – وَلَا تَضْحَكْ مَعَ السُّفَهَاءِ لَهْواً … فَإِنَّكَ سَوْفَ تَبْكِي إِنْ ضَحِكْتَاJangan tertawa dalam senda gurau bersama orang-orang yang ringan akalnya …sebab kelak engkau akan menangis jika tenggelam dalam tawa semacam itu. ٥٦ – وَكَيْفَ لَكَ السُّرُورُ وَأَنْتَ رَهْنٌ … وَلَا تَدْرِي أَتُفْدَى أَمْ غَلِقْتَاBagaimana mungkin engkau bergembira sementara dirimu tergadai …dan engkau tak tahu, akankah engkau ditebus, atau tertahan selamanya tanpa dapat ditebus? ٥٧ – وَسَلْ مِنْ رَبِّكَ التَّوْفِيقَ فِيهَا … وَأَخْلِصْ فِي السُّؤَالِ إِذَا سَأَلْتَاMintalah taufik kepada Rabbmu dalam semua itu …dan tuluslah dalam permohonan ketika engkau meminta. ٥٨ – وَنَادِ إِذَا سَجَدْتَ لَهُ اعْتِرَافاً … بِمَا نَادَاهُ ذُو النُّونِ ابْنُ مَتَّىBerserulah kepada-Nya ketika bersujud dengan penuh pengakuan …sebagaimana seruan Dzun Nun, yaitu Yunus bin Matta ‘alaihis salam. ٥٩ – وَلَازِمْ بَابَهُ قَرْعاً عَسَاهُ … سَيَفْتَحُ بَابَهُ لَكَ إِنْ قَرَعْتَاTeruslah mengetuk pintu-Nya tanpa jemu …mudah-mudahan Dia membukakan pintu itu bagimu jika engkau terus mengetuk. ٦٠ – وَأَكْثِرْ ذِكْرَهُ فِي الأَرْضِ دَأْباً … لِتُذْكَرَ فِي السَّمَاءِ إِذَا ذَكَرْتَاPerbanyaklah mengingat-Nya di bumi dengan tekun terus-menerus …agar engkau disebut di langit ketika engkau mengingat-Nya. ٦١ – وَلَا تَقُلِ الصِّبَا فِيهِ مَجَالٌ … وَفَكِّرْ كَمْ صَغِيرٍ قَدْ دَفَنْتَاJangan berkata, “Masa muda masih panjang.” …Renungkan, berapa banyak orang muda yang telah engkau kuburkan? ٦٢ – وَقُلْ لِي: يَا نَصِيحُ لَأَنْتَ أَوْلَى … بِنُصْحِكَ، لَوْ بِعَقْلِكَ قَدْ نَظَرْتَاLalu katakanlah kepadaku, “Wahai pemberi nasihat yang tulus, engkau lebih pantas …menerima nasihatmu sendiri, jika engkau mau berpikir dengan akalmu. ٦٣ – تُقَطِّعُنِي عَلَى التَّفْرِيطِ لَوْماً … وَبِالتَّفْرِيطِ دَهْرَكَ قَدْ قَطَعْتَاEngkau mencercaku habis-habisan karena kelalaianku …padahal seluruh umurmu sendiri telah engkau habiskan dalam kelalaian. ٦٤ – وَفِي صِغَرِي تُخَوِّفُنِي المَنَايَا … وَمَا تَجْرِي بِبَالِكَ حِينَ شِخْتَاKetika aku masih kecil, engkau menakut-nakutiku dengan kematian …sedangkan setelah engkau menua, kematian tak terlintas dalam pikiranmu. ٦٥ – وَكُنْتَ مَعَ الصِّبَا أَهْدَى سَبِيلاً … فَمَا لَكَ بَعْدَ شَيْبِكَ قَدْ نُكِسْتَاKetika muda dahulu jalanmu justru lebih lurus …lalu mengapa setelah beruban engkau berbalik kepada keburukan? ٦٦ – وَهَا أَنَا لَمْ أَخُضْ بَحْرَ الخَطَايَا … كَمَا قَدْ خُضْتَهُ حَتَّى غَرِقْتَاLihatlah aku, belum pernah aku mengarungi lautan dosa …seperti engkau yang telah mengarunginya hingga tenggelam. ٦٧ – وَلَمْ أَشْرَبْ حُمَيَّا أُمِّ دَفْرٍ … وَأَنْتَ شَرِبْتَهَا حَتَّى سَكِرْتَاAku belum meminum arak Ummu Dafr yang memabukkan kepala …sedangkan engkau telah meminumnya hingga mabuk. ٦٨ – وَلَمْ أَحْلُلْ بِوَادٍ فِيهِ ظُلْمٌ … وَأَنْتَ حَلَلْتَ فِيهِ وَانْهَمَلْتَاAku belum pernah singgah di lembah yang penuh kezaliman …sedangkan engkau tinggal di dalamnya dan berkeliaran tanpa kendali. ٦٩ – وَلَمْ أَنْشَأْ بِعَصْرٍ فِيهِ نَفْعٌ … وَأَنْتَ نَشَأْتَ فِيهِ وَمَا انْتَفَعْتَاAku tidak tumbuh pada masa yang penuh manfaat …sedangkan engkau tumbuh pada masa itu, tetapi tidak mengambil manfaatnya. ٧٠ – وَقَدْ صَاحَبْتَ أَعْلَاماً كِبَاراً … وَلَمْ أَرَكَ اقْتَدَيْتَ بِمَنْ صَحِبْتَاEngkau telah bergaul dengan tokoh-tokoh besar …tetapi aku tak melihatmu meneladani orang-orang yang engkau temani. ٧١ – وَنَادَاكَ الكِتَابُ فَلَمْ تُجِبْهُ … وَنَهْنَهَكَ المَشِيبُ فَمَا انْتَبَهْتَاAl-Qur’an telah memanggilmu, tetapi engkau tidak menjawabnya …uban telah menghardikmu agar berhenti, tetapi engkau tetap tidak tersadar. ٧٢ – لَيَقْبُحُ بِالفَتَى فِعْلُ التَّصَابِي … وَأَقْبَحُ مِنْهُ شَيْخٌ قَدْ تَفَتَّىBetapa buruk seorang pemuda yang larut dalam kesia-siaan ala anak-anak …dan lebih buruk lagi seorang tua yang berlagak muda dalam kesia-siaan itu. ٧٣ – فَأَنْتَ أَحَقُّ بِالتَّفْنِيدِ مِنِّي … وَلَوْ سَكَتَ المُسِيءُ لَمَا نَطَقْتَاEngkau lebih pantas dicela daripada aku …dan seandainya orang yang bersalah harus diam, tentu engkau pun tak akan berbicara. ٧٤ – وَنَفْسَكَ ذُمَّ لَا تَذْمُمْ سِوَاهَا … بِعَيْبٍ فَهْيَ أَجْدَرُ مَنْ ذَمَمْتَاCela dirimu sendiri, jangan cela selainnya karena suatu aib …sebab dirimulah yang paling pantas menjadi sasaran celaanmu. ٧٥ – فَلَوْ بَكَتِ الدِّمَا عَيْنَاكَ خَوْفاً … لِذَنْبِكَ لَمْ أَقُلْ لَكَ قَدْ أَمِنْتَاSeandainya kedua matamu menangis darah karena takut akan dosamu …aku tetap tidak akan berkata kepadamu, ‘Engkau telah aman.’ ٧٦ – وَمَنْ لَكَ بِالأَمَانِ وَأَنْتَ عَبْدٌ … أُمِرْتَ فَمَا ائْتَمَرْتَ وَلَا أَطَعْتَاSiapa yang dapat menjamin keamanan bagimu, padahal engkau hanyalah hamba? …Engkau diperintah, tetapi tidak melaksanakannya dan tidak taat. ٧٧ – ثَقُلْتَ مِنَ الذُّنُوبِ وَلَسْتَ تَخْشَى … لِجَهْلِكَ أَنْ تَخِفَّ إِذَا وُزِنْتَاEngkau berat oleh dosa-dosa, tetapi karena kebodohanmu engkau tidak takut …bahwa kelak timbanganmu justru ringan ketika ditimbang. ٧٨ – وَتُشْفِقُ لِلْمُصِرِّ عَلَى المَعَاصِي … وَتَرْحَمُهُ وَنَفْسَكَ مَا رَحِمْتَاEngkau merasa iba kepada orang yang terus-menerus bermaksiat …dan mengasihaninya, tetapi dirimu sendiri tidak engkau kasihani. ٧٩ – رَجَعْتَ القَهْقَرَى وَخَبَطْتَ عَشْوَا … لَعَمْرُكَ لَوْ وَصَلْتَ لَمَا رَجَعْتَاEngkau berjalan mundur dan melangkah meraba tanpa arah …sungguh, seandainya engkau telah sampai, tentu engkau tidak akan berbalik. ٨٠ – وَلَوْ وَافَيْتَ رَبَّكَ دُونَ ذَنْبٍ … وَنَاقَشَكَ الحِسَابَ؛ إِذاً هَلَكْتَاSeandainya engkau menghadap Rabbmu tanpa membawa dosa …lalu Dia memeriksa hisabmu dengan teliti, niscaya engkau binasa. ٨١ – وَلَمْ يَظْلِمْكَ فِي عَمَلٍ وَلَكِنْ … عَسِيرٌ أَنْ تَقُومَ بِمَا حَمَلْتَاDia tidak menzalimimu sedikit pun dalam amalmu …namun sungguh berat menunaikan apa yang engkau pikul. ٨٢ – وَلَوْ قَدْ جِئْتَ يَوْمَ الفَصْلِ فَرْداً … وَأَبْصَرْتَ المَنَازِلَ فِيهِ شَتَّىSeandainya engkau datang seorang diri pada Hari Keputusan …dan melihat betapa beragamnya kedudukan manusia ketika itu, ٨٣ – لَأَعْظَمْتَ النَّدَامَةَ فِيهِ لَهْفاً … عَلَى مَا فِي حَيَاتِكَ قَدْ أَضَعْتَاniscaya penyesalanmu memuncak, penuh sesal dan duka …atas apa yang telah engkau sia-siakan sepanjang hidupmu. ٨٤ – تَفِرُّ مِنَ الهَجِيرِ وَتَتَّقِيهِ … فَهَلَّا عَنْ جَهَنَّمَ قَدْ فَرَرْتَاEngkau lari dan berlindung dari puncak panas tengah hari …lalu mengapa engkau tidak lari dari Jahannam? ٨٥ – وَلَسْتَ تُطِيقُ أَهْوَنَهَا عَذَاباً … وَلَوْ كُنْتَ الحَدِيدَ بِهَا لَذُبْتَاEngkau tidak sanggup menahan siksaannya yang paling ringan …bahkan seandainya engkau terbuat dari besi, engkau akan meleleh di dalamnya. ٨٦ – فَلَا تُكْذَبْ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ جِدٌّ … وَلَيْسَ كَمَا حَسِبْتَ وَلَا ظَنَنْتَاMaka jangan sampai engkau lengah lalu membenarkan dusta yang dibisikkan kepadamu,karena perkara ini sungguh serius …dan tidak seperti yang selama ini engkau kira dan sangka.” ٨٧ – «أَبَا بَكْرٍ» كَشَفْتَ أَقَلَّ عَيْبِي … وَأَكْثَرَهُ وَمُعْظَمَهُ سَتَرْتَاWahai Abu Bakar, engkau hanya menyingkap sedikit dari aibku …sedangkan sebagian besar dan yang terbesar darinya masih engkau tutupi. ٨٨ – فَقُلْ مَا شِئْتَ فِيَّ مِنَ المَخَازِي … وَضَاعِفْهَا فَإِنَّكَ قَدْ صَدَقْتَاMaka katakanlah tentangku keburukan apa pun yang engkau kehendaki …bahkan lipat gandakanlah, karena sungguh engkau berkata benar. ٨٩ – وَمَهْمَا عِبْتَنِي فَلِفَرْطِ عِلْمِي … بِبَاطِنَتِي كَأَنَّكَ قَدْ مَدَحْتَاSeberapa pun engkau mencelaku, karena aku terlalu tahu keadaan batinku …celaanmu itu terasa seakan-akan engkau sedang memujiku. ٩٠ – فَلَا تَرْضَ المَعَايِبَ؛ فَهْيَ عَارٌ … عَظِيمٌ، يُورِثُ الإِنْسَانَ مَقْتَاMaka jangan pernah meridai berbagai aib, karena ia kehinaan …yang besar, yang mendatangkan kebencian yang paling dalam kepada seseorang. ٩١ – وَتَهْوِي بِالوَجِيهِ مِنَ الثُّرَيَّا … وَتُبْدِلُهُ مَكَانَ الفَوْقِ تَحْتَاAib menjatuhkan orang yang berkedudukan dan terhormat dari ketinggian bintang Tsurayya …dan mengganti kedudukannya yang tinggi menjadi rendah. ٩٢ – كَمَا الطَّاعَاتُ تَنْعَلُكَ الدَّرَارِي … وَتَجْعَلُكَ القَرِيبَ وَإِنْ بَعُدْتَاSebaliknya, ketaatan meninggikanmu sampai bintang-bintang gemerlap menjadi sandal di kakimu …dan menjadikanmu dekat meskipun engkau berada jauh. ٩٣ – وَتَنْشُرُ عَنْكَ فِي الدُّنْيَا جَمِيلاً … فَتَلْقَى البِرَّ فِيهَا حَيْثُ كُنْتَاKetaatan menyebarkan nama baikmu di dunia …sehingga engkau menjumpai kebaikan di mana pun engkau berada. ٩٤ – وَتَمْشِي فِي مَنَاكِبِهَا كَرِيماً … وَتَجْنِي الحَمْدَ مِمَّا قَدْ غَرَسْتَاEngkau berjalan di tempat-tempat tinggi bumi dalam keadaan mulia …dan memanen pujian dari apa yang telah engkau tanam. ٩٥ – وَأَنْتَ الآنَ لَمْ تُعْرَفْ بِعَيْبٍ … وَلَا دَنَّسْتَ ثَوْبَكَ مُذْ نَشَأْتَاSaat ini engkau belum dikenal memiliki aib …dan belum menodai pakaianmu sejak engkau tumbuh. ٩٦ – وَلَا سَابَقْتَ فِي مَيْدَانِ زُورٍ … وَلَا أَوْضَعْتَ فِيهِ وَلَا خَبَبْتَاEngkau belum pernah berlomba di medan kebatilan …tidak pula memacu langkah ataupun berlari kecil di dalamnya. ٩٧ – فَإِنْ لَمْ تَنْأَ عَنْهُ نَشِبْتَ فِيهِ … وَمَنْ لَكَ بِالخَلَاصِ إِذَا نَشِبْتَاJika engkau tidak menjauh darinya, engkau akan tersangkut tanpa jalan keluar …lalu siapa yang akan membebaskanmu setelah engkau tersangkut? ٩٨ – وَدَنَّسَ مَا تَطَهَّرَ مِنْكَ حَتَّى … كَأَنَّكَ قَبْلَ ذَلِكَ مَا طَهَرْتَاIa akan menodai bagian dirimu yang sebelumnya bersih …hingga seakan-akan sebelum itu engkau tak pernah bersih. ٩٩ – وَصِرْتَ أَسِيرَ ذَنْبِكَ فِي وَثَاقٍ … وَكَيْفَ لَكَ الفَكَاكُ وَقَدْ أُسِرْتَا؟Lalu engkau menjadi tawanan dosamu, terikat erat dalam belenggu …dan bagaimana engkau dapat terlepas setelah engkau tertawan? ١٠٠ – وَخَفْ أَبْنَاءَ جِنْسِكَ وَاخْشَ مِنْهُمْ … كَمَا تَخْشَى الضَّرَاغِمَ وَالسَّبَنْتَىWaspadalah terhadap sesama manusia dan berhati-hatilah kepada mereka …sebagaimana engkau mewaspadai singa-singa dan harimau. ١٠١ – وَخَالِطْهُمْ وَزَايِلْهُمْ حِذَاراً … وَكُنْ كَـ«السَّامِرِيِّ» إِذَا لُمِسْتَاBerbaurlah dengan mereka, namun tinggalkan perbuatan mereka yang tidak diridaiAllah dan Rasul-Nya, dengan penuh kewaspadaan …dan jadilah seperti Samiri ketika hendak disentuh: “Jangan menyentuhku!” ١٠٢ – وَإِنْ جَهِلُوا عَلَيْكَ فَقُلْ سَلَاماً … لَعَلَّكَ سَوْفَ تَسْلَمُ إِنْ فَعَلْتَاJika mereka melontarkan cacian dan hinaan ala orang bodoh kepadamu,katakanlah, “Salam.” …mudah-mudahan engkau selamat jika engkau melakukannya. ١٠٣ – وَمَنْ لَكَ بِالسَّلَامَةِ فِي زَمَانٍ … يَنَالُ العُصْمَ إِلَّا إِنْ عُصِمْتَاSiapa yang dapat menjamin keselamatanmu pada zaman yang bencananyasampai menimpa kambing-kambing gunung di puncak-puncak sana …kecuali bila engkau dijaga oleh Allah? ١٠٤ – وَلَا تَلْبَثْ بِحَيٍّ فِيهِ ضَيْمٌ … يُمِيتُ القَلْبَ إِلَّا إِنْ كُبِلْتَاJangan menetap di lingkungan yang penuh kezaliman dan perendahan …yang mematikan hati, kecuali jika engkau terbelenggu tak berdaya. ١٠٥ – وَغَرِّبْ فَالغَرِيبُ لَهُ نَفَاقٌ … وَشَرِّقْ إِنْ بِرِيقِكَ قَدْ شَرِقْتَاMerantaulah ke barat, karena perantau justru laku dan dihargai …atau pergilah ke timur jika di negerimu sendiri engkau sampai tercekik. ١٠٦ – فَلَيْسَ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا خُمُولاً … لَأَنْتَ بِهَا الأَمِيرُ إِذَا زَهِدْتَاZuhud terhadap dunia bukan berarti engkau menjadi orang yang tak dikenaldan tak disebut orang …justru engkaulah penguasa atas dunia ketika engkau zuhud terhadapnya. ١٠٧ – وَلَوْ فَوْقَ الأَمِيرِ تَكُونُ فِيهَا … سُمُوّاً وَافْتِخَاراً كُنْتَ أَنْتَاBahkan dalam ketinggian dan kemuliaan di dunia ini …engkaulah yang berada di atas seorang penguasa. ١٠٨ – وَإِنْ فَارَقْتَهَا وَخَرَجْتَ مِنْهَا … إِلَى دَارِ السَّلَامِ فَقَدْ سَلِمْتَاJika engkau berpisah dengan dunia dan keluar darinya …menuju Darussalam (surga), sungguh engkau telah selamat. ١٠٩ – وَإِنْ أَكْرَمْتَهَا وَنَظَرْتَ فِيهَا … بِإِجْلَالٍ فَنَفْسَكَ قَدْ أَهَنْتَاNamun jika engkau memuliakan dunia dan memandangnya …dengan penuh pengagungan, sungguh engkau telah menghinakan dirimu sendiri. ١١٠ – جَمَعْتُ لَكَ النَّصَائِحَ فَامْتَثِلْهَا … حَيَاتَكَ فَهْيَ أَفْضَلُ مَا امْتَثَلْتَاTelah kuhimpun berbagai nasihat untukmu, maka amalkanlah …sepanjang hidupmu, sebab itulah sebaik-baik yang dapat engkau amalkan. ١١١ – وَطَوَّلْتُ العِتَابَ وَزِدْتُ فِيهِ … لِأَنَّكَ فِي البَطَالَةِ قَدْ أَطَلْتَاAku memperpanjang celaan dan menambah-nambahinya …karena engkau pun telah terlalu lama larut dalam kesia-siaan dan kebodohan. ١١٢ – فَلَا تَأْخُذْ بِتَقْصِيرِي وَسَهْوِي … وَخُذْ بِوَصِيَّتِي لَكَ إِنْ رَشَدْتَاMaka jangan jadikan kekurangan dan kelalaianku sebagai pegangan …tetapi peganglah wasiatku kepadamu, jika engkau menghendaki petunjuk. ١١٣ – وَقَدْ أَرْدَفْتُهَا سَبْعاً حِسَاناً … وَكَانَتْ قَبْلُ ذَا مِئَةً وَسِتَّاDan aku telah menyusulkan tujuh bait yang indah kepadanya …sedangkan sebelumnya berjumlah seratus enam bait. تَمَّتْ بِحَمْدِ اللَّهِSelesai, dengan segala puji bagi Allah.

Hukum Suara Bising Menurut Islam: Batas Etika dan Hak Tetangga

Daftar Isi ToggleGangguan tetap diperhitungkanKetenangan termasuk hak tetanggaBahkan suara kebaikan tetap diaturPeka sebelum ditegurJangan membalas gangguan dengan gangguanSuara kita adalah tanggung jawab kitaSuara tidak selalu berhenti di tempat ia berasal. Ia dapat melewati pagar, menembus dinding, dan menjangkau rumah-rumah yang tidak ikut dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Di balik dinding itu mungkin ada orang sakit, bayi yang baru terlelap, orang yang sedang belajar, pekerja yang membutuhkan istirahat, atau keluarga yang sedang beribadah.Sering kali kita tidak bermaksud menyusahkan siapa pun. Kita hanya menjalankan kegiatan yang dianggap biasa atau menggunakan sesuatu yang kita miliki. Namun, ketika suara yang kita timbulkan telah menjangkau kehidupan orang lain, ada hak mereka yang perlu kita perhatikan. Di sinilah suara tidak lagi sekadar persoalan selera, melainkan juga persoalan adab dan tanggung jawab.Gangguan tetap diperhitungkanSeseorang mungkin tidak berniat mengganggu. Akan tetapi, tidak adanya niat buruk tidak selalu menghilangkan dampak dari perbuatannya. Ketika suatu tindakan ternyata menyulitkan, menyakiti, atau membahayakan orang lain, seorang muslim tidak selayaknya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga meletakkan sebuah prinsip yang ringkas, tetapi sangat luas penerapannya,لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ibnu Majah)Prinsip ini mengajarkan bahwa kita perlu menimbang akibat perbuatan, bukan hanya keinginan atau kenyamanan diri sendiri. Apabila sebelumnya kita tidak mengetahui bahwa suara tersebut mengganggu, kemudian datang penjelasan atau keberatan, saat itulah kelapangan hati kita diuji. Kesalahan yang tidak disengaja dapat segera diperbaiki; tetapi gangguan akan menjadi lebih berat ketika telah diketahui lalu tetap dibiarkan.Ketenangan termasuk hak tetanggaHak tetangga tidak hanya berkaitan dengan batas tanah, keamanan harta, atau hubungan ketika berjumpa. Ketenangan di dalam rumah juga merupakan sesuatu yang perlu dijaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Gangguan kepada tetangga tidak harus berupa pertengkaran atau tindakan yang langsung mengenai rumahnya. Suara yang terus terdengar dapat mengusik istirahat, mengganggu percakapan keluarga, memecah konsentrasi belajar, atau menyulitkan orang yang sedang beribadah. Semakin luas jangkauan suatu suara, semakin banyak pula keadaan orang yang perlu dipertimbangkan.Di sinilah kita perlu berhati-hati menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya ukuran. Kalimat, “Menurut saya tidak terlalu keras,” belum tentu menggambarkan keadaan orang lain. Kemampuan setiap orang dalam menerima suara tidak sama. Waktu, tempat, lamanya suara berlangsung, serta keadaan masyarakat di sekitarnya turut menentukan besarnya gangguan.Bahkan suara kebaikan tetap diaturIslam tidak hanya mengajarkan tujuan yang baik, tetapi juga cara yang baik. Bahkan dalam membaca Al-Qur’an, seseorang tidak dibenarkan mengeraskan suara apabila mengganggu orang lain yang sedang beribadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ“Ketahuilah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya atas sebagian yang lain.” (HR. Abu Dawud)Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia. Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan ketenangan orang lain. Hadis ini mendidik kita agar tidak merasa cukup dengan melihat apa yang sedang kita lakukan. Kita juga perlu melihat bagaimana cara kita melakukannya dan apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.Peka sebelum ditegurAdab yang tinggi tidak menunggu orang lain kehilangan kesabaran. Sebelum menimbulkan suara yang menjangkau lingkungan, kita dapat mempertimbangkan kebutuhannya, waktunya, tempatnya, tingkat suaranya, dan berapa lama ia akan berlangsung. Kita juga dapat memperhatikan keberadaan tempat ibadah, fasilitas kesehatan, rumah-rumah warga, serta jalan yang digunakan masyarakat.Jika suatu kegiatan memang perlu diketahui lingkungan sekitar, pemberitahuan dan koordinasi dapat membantu menjaga hubungan baik. Namun, pemberitahuan bukan berarti semua bentuk gangguan otomatis menjadi wajar. Ia merupakan langkah awal untuk saling memahami, bukan izin untuk mengabaikan keadaan orang lain.Apabila kemudian ada orang yang menyampaikan keberatan, dengarkan terlebih dahulu. Tidak setiap keluhan merupakan tanda permusuhan. Boleh jadi ada keadaan yang tidak kita ketahui. Kesediaan mengecilkan suara, menyesuaikan waktu, atau mencari cara yang lebih aman bukanlah kekalahan. Itulah bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada sesama.Jangan membalas gangguan dengan gangguanDi sisi lain, orang yang merasa terganggu juga tidak dibenarkan membalas dengan cacian, perusakan, atau tindakan yang memperbesar persoalan. Gangguan tidak dihilangkan dengan menghadirkan gangguan baru. Keberatan dapat disampaikan secara langsung dengan bahasa yang baik atau melalui pihak yang dapat membantu menyelesaikannya.إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu, kecuali akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim)Kelembutan tidak berarti membenarkan gangguan atau meninggalkan ketegasan. Kelembutan menjaga agar nasihat dapat diterima dan perbaikan tidak berubah menjadi pertengkaran. Pihak yang menimbulkan suara bersedia mengevaluasi, sedangkan pihak yang merasa terganggu menyampaikan keberatan tanpa merendahkan. Tokoh masyarakat pun dapat membantu mempertemukan keduanya dengan adil.Suara kita adalah tanggung jawab kitaSeorang muslim berusaha menghadirkan rasa aman melalui ucapan dan perbuatannya. Ia tidak hanya memikirkan apa yang berada di hadapannya, tetapi juga dampak yang mungkin menjangkau orang lain. Sebelum memperkeras suara, baiklah kita bertanya: seberapa jauh suara ini akan terdengar, siapa saja yang akan menerimanya, dan apakah mereka tetap dapat beristirahat, belajar, beribadah, serta menjalankan keperluannya dengan tenang?Menjaga suara mungkin tampak sebagai perkara kecil. Namun, darinya terlihat seberapa besar perhatian kita terhadap hak orang lain. Suara yang kita hasilkan berada dalam kendali kita; jangan sampai ketenangan orang lain justru menjadi harga yang harus mereka bayar.Baca juga: Adab Bertetangga***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiAl-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 58.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari, hadis no. 6018.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis no. 47 dan 2594.Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud, hadis no. 1332.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah, hadis no. 2340. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 1909.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad, hadis no. 11896.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jami‘ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, penjelasan hadis ke-32.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah, bab Raf‘ Ash-Shaut fi Al-Masjid.

Hukum Suara Bising Menurut Islam: Batas Etika dan Hak Tetangga

Daftar Isi ToggleGangguan tetap diperhitungkanKetenangan termasuk hak tetanggaBahkan suara kebaikan tetap diaturPeka sebelum ditegurJangan membalas gangguan dengan gangguanSuara kita adalah tanggung jawab kitaSuara tidak selalu berhenti di tempat ia berasal. Ia dapat melewati pagar, menembus dinding, dan menjangkau rumah-rumah yang tidak ikut dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Di balik dinding itu mungkin ada orang sakit, bayi yang baru terlelap, orang yang sedang belajar, pekerja yang membutuhkan istirahat, atau keluarga yang sedang beribadah.Sering kali kita tidak bermaksud menyusahkan siapa pun. Kita hanya menjalankan kegiatan yang dianggap biasa atau menggunakan sesuatu yang kita miliki. Namun, ketika suara yang kita timbulkan telah menjangkau kehidupan orang lain, ada hak mereka yang perlu kita perhatikan. Di sinilah suara tidak lagi sekadar persoalan selera, melainkan juga persoalan adab dan tanggung jawab.Gangguan tetap diperhitungkanSeseorang mungkin tidak berniat mengganggu. Akan tetapi, tidak adanya niat buruk tidak selalu menghilangkan dampak dari perbuatannya. Ketika suatu tindakan ternyata menyulitkan, menyakiti, atau membahayakan orang lain, seorang muslim tidak selayaknya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga meletakkan sebuah prinsip yang ringkas, tetapi sangat luas penerapannya,لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ibnu Majah)Prinsip ini mengajarkan bahwa kita perlu menimbang akibat perbuatan, bukan hanya keinginan atau kenyamanan diri sendiri. Apabila sebelumnya kita tidak mengetahui bahwa suara tersebut mengganggu, kemudian datang penjelasan atau keberatan, saat itulah kelapangan hati kita diuji. Kesalahan yang tidak disengaja dapat segera diperbaiki; tetapi gangguan akan menjadi lebih berat ketika telah diketahui lalu tetap dibiarkan.Ketenangan termasuk hak tetanggaHak tetangga tidak hanya berkaitan dengan batas tanah, keamanan harta, atau hubungan ketika berjumpa. Ketenangan di dalam rumah juga merupakan sesuatu yang perlu dijaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Gangguan kepada tetangga tidak harus berupa pertengkaran atau tindakan yang langsung mengenai rumahnya. Suara yang terus terdengar dapat mengusik istirahat, mengganggu percakapan keluarga, memecah konsentrasi belajar, atau menyulitkan orang yang sedang beribadah. Semakin luas jangkauan suatu suara, semakin banyak pula keadaan orang yang perlu dipertimbangkan.Di sinilah kita perlu berhati-hati menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya ukuran. Kalimat, “Menurut saya tidak terlalu keras,” belum tentu menggambarkan keadaan orang lain. Kemampuan setiap orang dalam menerima suara tidak sama. Waktu, tempat, lamanya suara berlangsung, serta keadaan masyarakat di sekitarnya turut menentukan besarnya gangguan.Bahkan suara kebaikan tetap diaturIslam tidak hanya mengajarkan tujuan yang baik, tetapi juga cara yang baik. Bahkan dalam membaca Al-Qur’an, seseorang tidak dibenarkan mengeraskan suara apabila mengganggu orang lain yang sedang beribadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ“Ketahuilah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya atas sebagian yang lain.” (HR. Abu Dawud)Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia. Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan ketenangan orang lain. Hadis ini mendidik kita agar tidak merasa cukup dengan melihat apa yang sedang kita lakukan. Kita juga perlu melihat bagaimana cara kita melakukannya dan apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.Peka sebelum ditegurAdab yang tinggi tidak menunggu orang lain kehilangan kesabaran. Sebelum menimbulkan suara yang menjangkau lingkungan, kita dapat mempertimbangkan kebutuhannya, waktunya, tempatnya, tingkat suaranya, dan berapa lama ia akan berlangsung. Kita juga dapat memperhatikan keberadaan tempat ibadah, fasilitas kesehatan, rumah-rumah warga, serta jalan yang digunakan masyarakat.Jika suatu kegiatan memang perlu diketahui lingkungan sekitar, pemberitahuan dan koordinasi dapat membantu menjaga hubungan baik. Namun, pemberitahuan bukan berarti semua bentuk gangguan otomatis menjadi wajar. Ia merupakan langkah awal untuk saling memahami, bukan izin untuk mengabaikan keadaan orang lain.Apabila kemudian ada orang yang menyampaikan keberatan, dengarkan terlebih dahulu. Tidak setiap keluhan merupakan tanda permusuhan. Boleh jadi ada keadaan yang tidak kita ketahui. Kesediaan mengecilkan suara, menyesuaikan waktu, atau mencari cara yang lebih aman bukanlah kekalahan. Itulah bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada sesama.Jangan membalas gangguan dengan gangguanDi sisi lain, orang yang merasa terganggu juga tidak dibenarkan membalas dengan cacian, perusakan, atau tindakan yang memperbesar persoalan. Gangguan tidak dihilangkan dengan menghadirkan gangguan baru. Keberatan dapat disampaikan secara langsung dengan bahasa yang baik atau melalui pihak yang dapat membantu menyelesaikannya.إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu, kecuali akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim)Kelembutan tidak berarti membenarkan gangguan atau meninggalkan ketegasan. Kelembutan menjaga agar nasihat dapat diterima dan perbaikan tidak berubah menjadi pertengkaran. Pihak yang menimbulkan suara bersedia mengevaluasi, sedangkan pihak yang merasa terganggu menyampaikan keberatan tanpa merendahkan. Tokoh masyarakat pun dapat membantu mempertemukan keduanya dengan adil.Suara kita adalah tanggung jawab kitaSeorang muslim berusaha menghadirkan rasa aman melalui ucapan dan perbuatannya. Ia tidak hanya memikirkan apa yang berada di hadapannya, tetapi juga dampak yang mungkin menjangkau orang lain. Sebelum memperkeras suara, baiklah kita bertanya: seberapa jauh suara ini akan terdengar, siapa saja yang akan menerimanya, dan apakah mereka tetap dapat beristirahat, belajar, beribadah, serta menjalankan keperluannya dengan tenang?Menjaga suara mungkin tampak sebagai perkara kecil. Namun, darinya terlihat seberapa besar perhatian kita terhadap hak orang lain. Suara yang kita hasilkan berada dalam kendali kita; jangan sampai ketenangan orang lain justru menjadi harga yang harus mereka bayar.Baca juga: Adab Bertetangga***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiAl-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 58.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari, hadis no. 6018.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis no. 47 dan 2594.Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud, hadis no. 1332.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah, hadis no. 2340. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 1909.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad, hadis no. 11896.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jami‘ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, penjelasan hadis ke-32.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah, bab Raf‘ Ash-Shaut fi Al-Masjid.
Daftar Isi ToggleGangguan tetap diperhitungkanKetenangan termasuk hak tetanggaBahkan suara kebaikan tetap diaturPeka sebelum ditegurJangan membalas gangguan dengan gangguanSuara kita adalah tanggung jawab kitaSuara tidak selalu berhenti di tempat ia berasal. Ia dapat melewati pagar, menembus dinding, dan menjangkau rumah-rumah yang tidak ikut dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Di balik dinding itu mungkin ada orang sakit, bayi yang baru terlelap, orang yang sedang belajar, pekerja yang membutuhkan istirahat, atau keluarga yang sedang beribadah.Sering kali kita tidak bermaksud menyusahkan siapa pun. Kita hanya menjalankan kegiatan yang dianggap biasa atau menggunakan sesuatu yang kita miliki. Namun, ketika suara yang kita timbulkan telah menjangkau kehidupan orang lain, ada hak mereka yang perlu kita perhatikan. Di sinilah suara tidak lagi sekadar persoalan selera, melainkan juga persoalan adab dan tanggung jawab.Gangguan tetap diperhitungkanSeseorang mungkin tidak berniat mengganggu. Akan tetapi, tidak adanya niat buruk tidak selalu menghilangkan dampak dari perbuatannya. Ketika suatu tindakan ternyata menyulitkan, menyakiti, atau membahayakan orang lain, seorang muslim tidak selayaknya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga meletakkan sebuah prinsip yang ringkas, tetapi sangat luas penerapannya,لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ibnu Majah)Prinsip ini mengajarkan bahwa kita perlu menimbang akibat perbuatan, bukan hanya keinginan atau kenyamanan diri sendiri. Apabila sebelumnya kita tidak mengetahui bahwa suara tersebut mengganggu, kemudian datang penjelasan atau keberatan, saat itulah kelapangan hati kita diuji. Kesalahan yang tidak disengaja dapat segera diperbaiki; tetapi gangguan akan menjadi lebih berat ketika telah diketahui lalu tetap dibiarkan.Ketenangan termasuk hak tetanggaHak tetangga tidak hanya berkaitan dengan batas tanah, keamanan harta, atau hubungan ketika berjumpa. Ketenangan di dalam rumah juga merupakan sesuatu yang perlu dijaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Gangguan kepada tetangga tidak harus berupa pertengkaran atau tindakan yang langsung mengenai rumahnya. Suara yang terus terdengar dapat mengusik istirahat, mengganggu percakapan keluarga, memecah konsentrasi belajar, atau menyulitkan orang yang sedang beribadah. Semakin luas jangkauan suatu suara, semakin banyak pula keadaan orang yang perlu dipertimbangkan.Di sinilah kita perlu berhati-hati menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya ukuran. Kalimat, “Menurut saya tidak terlalu keras,” belum tentu menggambarkan keadaan orang lain. Kemampuan setiap orang dalam menerima suara tidak sama. Waktu, tempat, lamanya suara berlangsung, serta keadaan masyarakat di sekitarnya turut menentukan besarnya gangguan.Bahkan suara kebaikan tetap diaturIslam tidak hanya mengajarkan tujuan yang baik, tetapi juga cara yang baik. Bahkan dalam membaca Al-Qur’an, seseorang tidak dibenarkan mengeraskan suara apabila mengganggu orang lain yang sedang beribadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ“Ketahuilah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya atas sebagian yang lain.” (HR. Abu Dawud)Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia. Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan ketenangan orang lain. Hadis ini mendidik kita agar tidak merasa cukup dengan melihat apa yang sedang kita lakukan. Kita juga perlu melihat bagaimana cara kita melakukannya dan apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.Peka sebelum ditegurAdab yang tinggi tidak menunggu orang lain kehilangan kesabaran. Sebelum menimbulkan suara yang menjangkau lingkungan, kita dapat mempertimbangkan kebutuhannya, waktunya, tempatnya, tingkat suaranya, dan berapa lama ia akan berlangsung. Kita juga dapat memperhatikan keberadaan tempat ibadah, fasilitas kesehatan, rumah-rumah warga, serta jalan yang digunakan masyarakat.Jika suatu kegiatan memang perlu diketahui lingkungan sekitar, pemberitahuan dan koordinasi dapat membantu menjaga hubungan baik. Namun, pemberitahuan bukan berarti semua bentuk gangguan otomatis menjadi wajar. Ia merupakan langkah awal untuk saling memahami, bukan izin untuk mengabaikan keadaan orang lain.Apabila kemudian ada orang yang menyampaikan keberatan, dengarkan terlebih dahulu. Tidak setiap keluhan merupakan tanda permusuhan. Boleh jadi ada keadaan yang tidak kita ketahui. Kesediaan mengecilkan suara, menyesuaikan waktu, atau mencari cara yang lebih aman bukanlah kekalahan. Itulah bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada sesama.Jangan membalas gangguan dengan gangguanDi sisi lain, orang yang merasa terganggu juga tidak dibenarkan membalas dengan cacian, perusakan, atau tindakan yang memperbesar persoalan. Gangguan tidak dihilangkan dengan menghadirkan gangguan baru. Keberatan dapat disampaikan secara langsung dengan bahasa yang baik atau melalui pihak yang dapat membantu menyelesaikannya.إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu, kecuali akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim)Kelembutan tidak berarti membenarkan gangguan atau meninggalkan ketegasan. Kelembutan menjaga agar nasihat dapat diterima dan perbaikan tidak berubah menjadi pertengkaran. Pihak yang menimbulkan suara bersedia mengevaluasi, sedangkan pihak yang merasa terganggu menyampaikan keberatan tanpa merendahkan. Tokoh masyarakat pun dapat membantu mempertemukan keduanya dengan adil.Suara kita adalah tanggung jawab kitaSeorang muslim berusaha menghadirkan rasa aman melalui ucapan dan perbuatannya. Ia tidak hanya memikirkan apa yang berada di hadapannya, tetapi juga dampak yang mungkin menjangkau orang lain. Sebelum memperkeras suara, baiklah kita bertanya: seberapa jauh suara ini akan terdengar, siapa saja yang akan menerimanya, dan apakah mereka tetap dapat beristirahat, belajar, beribadah, serta menjalankan keperluannya dengan tenang?Menjaga suara mungkin tampak sebagai perkara kecil. Namun, darinya terlihat seberapa besar perhatian kita terhadap hak orang lain. Suara yang kita hasilkan berada dalam kendali kita; jangan sampai ketenangan orang lain justru menjadi harga yang harus mereka bayar.Baca juga: Adab Bertetangga***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiAl-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 58.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari, hadis no. 6018.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis no. 47 dan 2594.Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud, hadis no. 1332.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah, hadis no. 2340. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 1909.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad, hadis no. 11896.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jami‘ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, penjelasan hadis ke-32.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah, bab Raf‘ Ash-Shaut fi Al-Masjid.


Daftar Isi ToggleGangguan tetap diperhitungkanKetenangan termasuk hak tetanggaBahkan suara kebaikan tetap diaturPeka sebelum ditegurJangan membalas gangguan dengan gangguanSuara kita adalah tanggung jawab kitaSuara tidak selalu berhenti di tempat ia berasal. Ia dapat melewati pagar, menembus dinding, dan menjangkau rumah-rumah yang tidak ikut dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Di balik dinding itu mungkin ada orang sakit, bayi yang baru terlelap, orang yang sedang belajar, pekerja yang membutuhkan istirahat, atau keluarga yang sedang beribadah.Sering kali kita tidak bermaksud menyusahkan siapa pun. Kita hanya menjalankan kegiatan yang dianggap biasa atau menggunakan sesuatu yang kita miliki. Namun, ketika suara yang kita timbulkan telah menjangkau kehidupan orang lain, ada hak mereka yang perlu kita perhatikan. Di sinilah suara tidak lagi sekadar persoalan selera, melainkan juga persoalan adab dan tanggung jawab.Gangguan tetap diperhitungkanSeseorang mungkin tidak berniat mengganggu. Akan tetapi, tidak adanya niat buruk tidak selalu menghilangkan dampak dari perbuatannya. Ketika suatu tindakan ternyata menyulitkan, menyakiti, atau membahayakan orang lain, seorang muslim tidak selayaknya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga meletakkan sebuah prinsip yang ringkas, tetapi sangat luas penerapannya,لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR. Ibnu Majah)Prinsip ini mengajarkan bahwa kita perlu menimbang akibat perbuatan, bukan hanya keinginan atau kenyamanan diri sendiri. Apabila sebelumnya kita tidak mengetahui bahwa suara tersebut mengganggu, kemudian datang penjelasan atau keberatan, saat itulah kelapangan hati kita diuji. Kesalahan yang tidak disengaja dapat segera diperbaiki; tetapi gangguan akan menjadi lebih berat ketika telah diketahui lalu tetap dibiarkan.Ketenangan termasuk hak tetanggaHak tetangga tidak hanya berkaitan dengan batas tanah, keamanan harta, atau hubungan ketika berjumpa. Ketenangan di dalam rumah juga merupakan sesuatu yang perlu dijaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Gangguan kepada tetangga tidak harus berupa pertengkaran atau tindakan yang langsung mengenai rumahnya. Suara yang terus terdengar dapat mengusik istirahat, mengganggu percakapan keluarga, memecah konsentrasi belajar, atau menyulitkan orang yang sedang beribadah. Semakin luas jangkauan suatu suara, semakin banyak pula keadaan orang yang perlu dipertimbangkan.Di sinilah kita perlu berhati-hati menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya ukuran. Kalimat, “Menurut saya tidak terlalu keras,” belum tentu menggambarkan keadaan orang lain. Kemampuan setiap orang dalam menerima suara tidak sama. Waktu, tempat, lamanya suara berlangsung, serta keadaan masyarakat di sekitarnya turut menentukan besarnya gangguan.Bahkan suara kebaikan tetap diaturIslam tidak hanya mengajarkan tujuan yang baik, tetapi juga cara yang baik. Bahkan dalam membaca Al-Qur’an, seseorang tidak dibenarkan mengeraskan suara apabila mengganggu orang lain yang sedang beribadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ“Ketahuilah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya atas sebagian yang lain.” (HR. Abu Dawud)Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia. Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan ketenangan orang lain. Hadis ini mendidik kita agar tidak merasa cukup dengan melihat apa yang sedang kita lakukan. Kita juga perlu melihat bagaimana cara kita melakukannya dan apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.Peka sebelum ditegurAdab yang tinggi tidak menunggu orang lain kehilangan kesabaran. Sebelum menimbulkan suara yang menjangkau lingkungan, kita dapat mempertimbangkan kebutuhannya, waktunya, tempatnya, tingkat suaranya, dan berapa lama ia akan berlangsung. Kita juga dapat memperhatikan keberadaan tempat ibadah, fasilitas kesehatan, rumah-rumah warga, serta jalan yang digunakan masyarakat.Jika suatu kegiatan memang perlu diketahui lingkungan sekitar, pemberitahuan dan koordinasi dapat membantu menjaga hubungan baik. Namun, pemberitahuan bukan berarti semua bentuk gangguan otomatis menjadi wajar. Ia merupakan langkah awal untuk saling memahami, bukan izin untuk mengabaikan keadaan orang lain.Apabila kemudian ada orang yang menyampaikan keberatan, dengarkan terlebih dahulu. Tidak setiap keluhan merupakan tanda permusuhan. Boleh jadi ada keadaan yang tidak kita ketahui. Kesediaan mengecilkan suara, menyesuaikan waktu, atau mencari cara yang lebih aman bukanlah kekalahan. Itulah bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada sesama.Jangan membalas gangguan dengan gangguanDi sisi lain, orang yang merasa terganggu juga tidak dibenarkan membalas dengan cacian, perusakan, atau tindakan yang memperbesar persoalan. Gangguan tidak dihilangkan dengan menghadirkan gangguan baru. Keberatan dapat disampaikan secara langsung dengan bahasa yang baik atau melalui pihak yang dapat membantu menyelesaikannya.إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu, kecuali akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim)Kelembutan tidak berarti membenarkan gangguan atau meninggalkan ketegasan. Kelembutan menjaga agar nasihat dapat diterima dan perbaikan tidak berubah menjadi pertengkaran. Pihak yang menimbulkan suara bersedia mengevaluasi, sedangkan pihak yang merasa terganggu menyampaikan keberatan tanpa merendahkan. Tokoh masyarakat pun dapat membantu mempertemukan keduanya dengan adil.Suara kita adalah tanggung jawab kitaSeorang muslim berusaha menghadirkan rasa aman melalui ucapan dan perbuatannya. Ia tidak hanya memikirkan apa yang berada di hadapannya, tetapi juga dampak yang mungkin menjangkau orang lain. Sebelum memperkeras suara, baiklah kita bertanya: seberapa jauh suara ini akan terdengar, siapa saja yang akan menerimanya, dan apakah mereka tetap dapat beristirahat, belajar, beribadah, serta menjalankan keperluannya dengan tenang?Menjaga suara mungkin tampak sebagai perkara kecil. Namun, darinya terlihat seberapa besar perhatian kita terhadap hak orang lain. Suara yang kita hasilkan berada dalam kendali kita; jangan sampai ketenangan orang lain justru menjadi harga yang harus mereka bayar.Baca juga: Adab Bertetangga***Penulis: Mochammad WibisonoArtikel Muslim.or.id ReferensiAl-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 58.Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari, hadis no. 6018.Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis no. 47 dan 2594.Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud, hadis no. 1332.Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah, hadis no. 2340. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 1909.Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad, hadis no. 11896.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jami‘ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, penjelasan hadis ke-32.Ibnu Rajab Al-Hanbali. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah, bab Raf‘ Ash-Shaut fi Al-Masjid.

PENA TAKDIR TELAH DIANGKAT, LALU MENGAPA HATIMU MASIH GELISAH?

Hadis ke-19: Dari Abul ‘Abbas, Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai Nak, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadis hasan sahih.”) Dalam riwayat selain At-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di masa lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di masa sulit. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak mungkin luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar datang bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan. ===== الْحَدِيثُ التَّاسِعَ عَشَرَ: عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِوَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

PENA TAKDIR TELAH DIANGKAT, LALU MENGAPA HATIMU MASIH GELISAH?

Hadis ke-19: Dari Abul ‘Abbas, Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai Nak, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadis hasan sahih.”) Dalam riwayat selain At-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di masa lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di masa sulit. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak mungkin luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar datang bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan. ===== الْحَدِيثُ التَّاسِعَ عَشَرَ: عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِوَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Hadis ke-19: Dari Abul ‘Abbas, Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai Nak, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadis hasan sahih.”) Dalam riwayat selain At-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di masa lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di masa sulit. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak mungkin luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar datang bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan. ===== الْحَدِيثُ التَّاسِعَ عَشَرَ: عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِوَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا


Hadis ke-19: Dari Abul ‘Abbas, Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai Nak, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadis hasan sahih.”) Dalam riwayat selain At-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di masa lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di masa sulit. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak mungkin luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar datang bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan. ===== الْحَدِيثُ التَّاسِعَ عَشَرَ: عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِوَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ikhtilath (Campur Baur) Laki-Laki dan Perempuan, yang Boleh dan Tidak Boleh

Daftar Isi ToggleDalil-dalil larangan ikhtilathPerkataan para ulamaBahaya ikhtilathIkhtilath yang dikecualikanBanyak sekali definisi dari para ulama tentang apa itu ikhtilath yang terlarang dalam agama. Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddam mendefinisikan,هو اجتماع الرجل بالمرأة التي ليست بمحرم له اجتماعاً يؤدي إلى ريبة“Ikhtilath adalah berkumpulnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram sehingga memungkinkan mereka terkena prasangka buruk.” (‘Audatul Hijab, 3: 52)Syekh Abu Muhammad bin Abdillah al-Imam mengatakan,هو اجتماع النساء بالرجال الأجانب اجتماعاً خاصاً أو عاماً يحدث بسببه الافتتان“Ikhtilath adalah bercampurnya wanita dengan laki-laki secara khusus atau secara umum yang bisa menyebabkan fitnah (godaan) di antara mereka.” (al-Ikhtilath Ashlus Syarri fi Dimaril Umam wal Usar, hal. 29)Definisi yang dipilih oleh Syekh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah adalah,انضمام واجتماع ومداخلة الرجال بالنساء غير المحارم في مكان واحد يمكنهم فيه الاتصال فيما بينهم: بالنظر، أو الإشارة، أو الكلام، أو البدن، من غير حائل أو مانع يدفع الريبة والفساد“Ikhtilath adalah terjadinya perkumpulan dan interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram di suatu tempat yang sama, sehingga memungkinkan mereka untuk saling memandang, saling berisyarat, saling berbicara dan terjadi persentuhan badan, tanpa ada tabir dan tanpa ada faktor yang menghalangi terjadinya prasangka buruk dari orang lain dan kerusakan.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa karya Syaikh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani, 1: 8)Dalil-dalil larangan ikhtilathAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya, sebagaimana kami melarang kalian untuk masuk ke rumah mereka, maka demikian juga, kami melarang kalian untuk memandang mereka secara keseluruhan. Walaupun kalian memiliki keperluan terhadap mereka, maka jangan memandang mereka dan jangan meminta sesuatu kepada mereka kecuali dari balik hijab.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 223)Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْمِ“Biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai mengucapkan salam setelah salat, para makmum wanita langsung berdiri ketika beliau selesai dari salamnya, sedangkan beliau tetap diam sejenak sebelum berdiri.” Ibnu Syihab berkata, “Menurutku, wallahu a’lam, bahwa diamnya beliau sejenak itu adalah agar para wanita dapat pergi terlebih dahulu sebelum mereka disusul oleh makmum laki-laki yang selesai dari salat.” (HR. al-Bukhari no. 793)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,خيرُ صفوفِ الرجالِ أولُها . وشرُّها آخرُها . وخيرُ صفوفِ النساءِ آخرُها . وشرُّها أولُها“Shaf-shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah yang awal-awal, yang terburuk adalah yang terakhir. Sedangkan shaf-shaf yang terbaik bagi wanita adalah yang akhir-akhir, yang terburuk adalah yang pertama.” (HR. Muslim no. 440)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ قَالَ نَافِعٌ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kita khususkan pintu ini untuk para wanita.” Nafi‘ berkata, “Maka Abdullah bin Umar tidak pernah masuk melalui pintu tersebut sampai beliau wafat.” (HR. Abu Daud no. 484, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5258)Dari Abu Usaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ ( تَسِرْن وسط الطريق ) عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِIa mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau keluar dari masjid, sementara laki-laki bercampur dengan para wanita di jalan, “Mundurlah kalian wahai para wanita! Karena tidak pantas bagi kalian berjalan di tengah jalan. Hendaklah kalian berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita pun berjalan menempel di dinding, sampai-sampai pakaian mereka tersangkut pada dinding karena begitu dekatnya mereka dengannya. (HR. Abu Daud no.5272, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Perkataan para ulamaImam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan,أرى للإمام أن يتقدم إلى الصُّنَّاع في قعود النساء إليهم، وأرى ألا تترك المرأة الشابة تجلس إلى الصُّنَّاع، فأمَّا المرأة المُتَجالَّةُ ، والخادم الدون التي لا تتهم على القعود، ولا يتهم من تقعد عنده فإني لا أرى بذلك بأساً“Menurut pendapatku, penguasa hendaknya mengeluarkan kebijakan untuk para pengrajin atau pekerja agar tidak membiarkan para wanita duduk-duduk di tempat mereka. Aku juga berpendapat bahwa seorang wanita muda tidak boleh dibiarkan duduk-duduk di tempat para pengrajin. Adapun wanita yang sudah tua, serta pembantu wanita dari kalangan bawah yang tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah (godaan) ketika duduk di tempat mereka, dan orang yang ia duduki tempatnya juga tidak dicurigai, maka menurutku tidak mengapa hal itu dilakukan.” (Al-Bayan wat Tahshil, 9: 335)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang sekelompok wanita yang berada di jalan-jalan dan di hadapan orang banyak, bukan seorang wanita berduaan dengan seorang laki-laki,إن خرجوا متميزين – يعني في الطرقات لقضاء الحوائج وشهود الصلوات – لم أمنعهم، وكلهم كره خروج النساء الشواب إلى الاستسقاء، ورخصوا في خروج العجائز“Apabila mereka keluar dengan tetap menjaga agar terpisah dari kaum laki-laki, yakni keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan menghadiri salat berjemaah, maka aku tidak melarang mereka. Seluruh ulama memakruhkan keluarnya wanita-wanita muda untuk melaksanakan salat istisqa‘, sedangkan mereka memberikan kelonggaran bagi wanita-wanita yang sudah tua untuk keluar.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 33)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,ولا يثبت – يعني الإمام – ساعة يسلِّم إلا أن يكون معه نساء، فيثبت لينصرفن قبل الرجال“Imam tidak dianjurkan untuk diam di tempatnya setelah mengucapkan salam. Akan tetapi, jika di belakangnya terdapat jemaah wanita, maka hendaknya ia tetap berada di tempatnya sejenak, agar para wanita dapat meninggalkan tempat salat terlebih dahulu sebelum kaum laki-laki.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 15)Abu Bakar al-‘Amiri rahimahullah (wafat 530 H), seorang ulama mazhab Syafi’i, berkata,اتفقت علماء الأمة أن من اعتقد حِلَّ هذه المحظورات، وإباحة امتزاج الرجال بالنسوان الأجانب فقد كفر واستحق القتل بردته، وإن اعتقد تحريمه وفعله، وأقر عليه، ورضي به فقد فسق، لا يسمع له قول، ولا تقبل له شهادة“Para ulama umat Islam telah bersepakat bahwa siapa saja yang meyakini halalnya perkara-perkara yang diharamkan ini, serta membolehkan bercampur baurnya laki-laki dengan wanita-wanita yang bukan mahram, maka sungguh ia telah kafir dan berhak dijatuhi hukuman mati karena kemurtadannya. Adapun orang yang tetap meyakini bahwa perbuatan itu haram, namun ia melakukannya, membiarkannya terjadi, dan meridainya, maka ia fasik. Ucapannya tidak diterima dan kesaksiannya pun tidak diterima.” (Ahkamun Nazhar ilal Muharramat, hal. 83)Syekh Muhammad al-Khadir Husain, ulama besar di Universitas al-Azhar pada masanya (wafat 1378 H), beliau berkata,وتحريم الدين لاختلاط الجنسين على النحو الذي يقع في الجامعة معروف لدى عامة المسلمين، كما عرفه الخاصة من علمائهم، وأدلة المنع واردة في الكتاب والسنة، وسيرة السلف الذين عرفوا لباب الدين، وكانوا على بصيرة من حكمته السامية“Aturan agama dalam mengharamkan campur baurnya laki-laki dan wanita seperti yang terjadi di universitas, ini adalah hal yang telah diketahui oleh seluruh kaum muslimin secara umum, sebagaimana juga diketahui oleh kalangan khusus dari para ulama mereka. Dalil-dalil yang menunjukkan larangan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, serta dalam perjalanan hidup generasi salaf yang telah memahami inti ajaran agama dan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap hikmah-hikmahnya yang luhur.” (Muhadharat Islamiyah, hal. 191)Syekh Muhammad al-Khathib, seorang ulama besar dari Libanon, beliau mengatakan,إن الاختلاط لا يختلف في حرمته اثنان من المسلمين، ولا ينكر مساوئه ومفاسده من له قلب، أو ألقى السمع وهو شهيد“Bercampur-baurnya laki-laki dan wanita tidak diperselisihkan keharamannya oleh siapapun dari (ulama) kaum Muslimin. Hati yang bersih tidak akan mengingkari tentang keburukan dan kerusakannya. Dan siapapun tidak akan berpaling dari hal itu padahal ia telah menyaksikan sendiri (kerusakan dan keburukannya).” (Hukmul Islam fil Ikhtilath, Universitas al-Islah Kuwait, hal. 34)Bahaya ikhtilathSyekh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah dalam kitab al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa menjelaskan ada 31 bahaya dan kerusakan dari ikhtilath antara laki-laki dan wanita. Kami sebutkan sebagiannya saja secara ringkas yaitu:Pertama, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan merupakan bukti lemahnya iman dan penyimpangan dari agama. Kerusakan ini diambil dari realitas yang dapat disaksikan, yang bertentangan dengan sejarah kaum Muslimin. Sesungguhnya sejarah umat Islam yang telah berlangsung selama 13 abad menunjukkan bahwa wanita Muslimah senantiasa terjaga dan terlindungi, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh kaum Muslimin. Para wanita tidak mengizinkan percampuran dengan laki-laki, dan kaum laki-laki pun tidak mengizinkan percampuran dengan wanita, kecuali dalam keadaan yang sangat jarang dan terjadi secara insidental saja. Kemudian, ketika muncul berbagai seruan yang bersifat merusak dari musuh-musuh Islam, seperti kelompok Ismailiyah Bathiniyyah, kaum Rafidhah, kaum sufi, Hizbut Tahrir, paham komunisme-sosialisme, partai Ba’ats sosialisme, dan sekularisme-liberalisme, maka di antara seruan yang mereka gaungkan adalah seruan untuk membebaskan perempuan. Setelah itu, muncul pula pendirian partai-partai demokrasi yang menempuh metode demokrasi Barat, dan di antara agenda mereka adalah menyerukan persamaan antara perempuan dan laki-laki. Hingga akhirnya tersebarlah ikhtilath di zaman itu sampai zaman sekarang.Kedua, menyebabkan kerusakan terhadap agama, tatanan kehidupan, kehormatan, harta, akhlak, akal, dan nasab. Data-data statistik di setiap negeri yang tersebar ikhtilath di dalamnya menjadi bukti yang berbicara tentang besarnya bahaya ikhtilath terhadap kehidupan dunia dan agama.Ketiga, ikhtilath merupakan pangkal dari setiap fitnah (kerusakan) dan bencana. Sebab, Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali karena di dalamnya terdapat mudarat yang murni, atau karena mudaratnya lebih dominan daripada manfaatnya. Oleh karena itu, membiarkan terjadinya ikhtilath antara perempuan dan laki-laki secara bebas merupakan suatu kemudaratan yang murni dari satu sisi, dan merupakan kemudaratan yang lebih besar daripada manfaatnya dari sisi yang lain.Keempat, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki menyebabkan hilangnya rasa malu. Sebab, perempuan yang bergaul secara bercampur dengan laki-laki menjadi penyebab hilangnya rasa malunya. Tidak ada kebaikan pada seorang perempuan yang telah hilang rasa malunya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rasa malu adalah bagian dari iman.”Kelima, ikhtilath merupakan jalan menuju perbuatan zina, karena hal itu memudahkan terjadinya pandangan kepada wanita dan berduaan dengannya. Data statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebanyak 87,8% dari keseluruhan siswa sekolah menengah atas pernah melakukan hubungan seksual, dan bahkan 22% di antaranya telah melakukannya sebelum usia 13 tahun.Keenam, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan meningkatkan angka pemerkosaan serta kasus-kasus pelecehan seksual terhadap wanita.Ketujuh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan terjadinya pelecehan terhadap perempuan. Di negara-negara Uni Eropa, sebanyak 35% perempuan mengalami salah satu bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Selain itu, statistik yang diterbitkan European Commission menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1 tahun, sekitar 50% perempuan pekerja mengalami pelecehan seksual.Kedelapan, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan para pemuda tenggelam dalam pergaulan bebas dan degradasi moral.Kesembilan, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan mengalihkan perhatian dari produktivitas kerja dan pencapaian akademik yang gemilang.Kesepuluh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan meningkatnya angka perceraian dalam masyarakat, serta keengganan untuk menikah. Akibatnya, para wanita enggan menjadi istri, namun lebih tertarik menjadi seorang kekasih, pacar, atau pasangan di luar nikah yang hanya hadir pada saat-saat dibutuhkan.Kesebelas, ikhtilath menyebabkan tersebarnya penyakit-penyakit wabah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan perempuan bercampur baur dengan laki-laki merupakan pangkal dari setiap musibah dan keburukan. Hal itu termasuk salah satu penyebab terbesar turunnya berbagai hukuman yang menimpa masyarakat secara umum. Sebagaimana itu pula merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian massal dan wabah-wabah yang terus berulang.” (Ath-Thuruq Al-Hukmiyah, 2: 722)Kedua-belas, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki merobek kehormatan dan kesucian diri. Di antara dampak buruk percampuran perempuan dengan laki-laki adalah rusaknya kesucian diri banyak perempuan. Al-‘Allamah Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ‘iffah (kesucian diri) adalah sebuah tabir yang dirobek oleh ikhtilath. Oleh karena itu, jalan yang ditempuh Islam adalah memisahkan dan menjauhkan perempuan dari laki-laki yang bukan mahramnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang bersifat terpisah antara laki-laki dan perempuan, bukan masyarakat yang berpasang-pasangan. Kaum laki-laki memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri, dan kaum perempuan pun memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri.” (Hirasatul Fadhilah, hal. 58)Ketiga-belas, berbagai bentuk zina kecil dapat terjadi akibat ikhtilath antara perempuan dan laki-laki. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. Al Bukhari no. 6243)Keempat-belas, ikhtilath wanita dengan laki-laki menyebabkan timbulnya berbagai penyakit hati dan penyakit batin pada diri perempuan. Sebab, ketika seorang perempuan keluar dari rumahnya menuju masyarakat yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, ia berusaha agar dirinya memperoleh perhatian lebih dibandingkan rekan-rekan perempuannya, sehingga para laki-laki mengaguminya dan mengarahkan pandangan mereka kepadanya, terlebih lagi jika ia memiliki tubuh yang proporsional dan cantik serta berharta. Maka anda akan melihatnya berusaha mengenakan kain yang paling bagus, mode pakaian yang paling mutakhir, serta menggunakan berbagai sarana berhias, seperti bedak, kosmetik, pewarna, dan berbagai bentuk perawatan kecantikan pada wajah, tangan, pinggang, kaki, dan selainnya.Kelima-belas, wanita-wanita yang bercampur baur dengan laki-laki akan terancam terkena laknat, dikarenakan mereka akan memiliki kecenderungan untuk menyerupai laki-laki. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari no. 5885)Ikhtilath yang dikecualikanDalam kitab “al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa” karya Syaikhah Shihatah Muhammad Shaqr, disebutkan dalil-dalil tentang haramnya campur baur antara laki-laki dan wanita, perkataan para ulama tentang hal ini dan juga kerusakan serta bahaya dari perbuatan tersebut.Namun demikian, ada ikhtilah yang dikecualikan dari hukum haramnya. Beliau lalu menjelaskan tentang kaidah ikhtilath yang diperbolehkan tersebut, dengan mengatakan,وهو كل ما كان في الأماكن العامة وتدعو الحاجة إليه ويشق التحرز عنه , ولا محظور فيه كاختلاط النساء بالرجال في الأسواق والطرقات لقضاء حاجة كسؤال عن متاع أو استفتاء وسؤال عن حاجة وبيع وشراء ونحوه، إذ يسعى الجميع في حاجته ذهابًا وجيئةً، ويبيعون ويشترون، فلا بأس في هذا ما لم يتلبّس من وَقع فيه بمحرّم خارجٍ عنه، فما هو إلا لقاء عابر , واللقاء العابر لقاء محدود لا تزول به الكلفة، وتلتزم فيه المرأة بالضوابط الشرعية في التعامل مع الرجال الأجانب“Yang dimaksud dengan ikhtilath yang diperbolehkan adalah setiap bentuk campur-baur antara laki-laki dan perempuan yang terjadi di tempat umum, yang memang ada kebutuhan mendesak di sana, dan campur-baur yang sulit untuk dihindari, serta tidak mengandung hal-hal yang dilarang secara syar‘i. Contohnya campur-baur antara laki-laki dan perempuan di pasar, atau di jalan, ketika memenuhi suatu kebutuhan, seperti untuk bertanya tentang suatu barang, untuk meminta fatwa, mencari sesuatu yang dibutuhkan, melakukan jual beli, dan semisalnya. Dalam kondisi seperti itu, semua orang beraktivitas untuk memenuhi kebutuhannya, pergi dan datang, berjual-beli, dan seterusnya. Maka hal itu tidak mengapa, selama orang yang terlibat di dalamnya tidak melakukan perbuatan yang terlarang di luar hal tersebut. Karena yang terjadi hanyalah pertemuan singkat, yaitu pertemuan terbatas yang tidak menghilangkan moral, dan dalam pertemuan seperti itu para wanita tetap wajib mematuhi aturan-aturan syariat dalam berinteraksi dengan laki-laki yang bukan mahramnya.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 72)Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh ikhtilath yang dibolehkan secara syar’i:Pada asalnya, dibolehkan adanya campur-baur antara wanita dengan para mahramnya. Demikian pula dengan anak-anak yang belum memiliki ketertarikan terhadap aurat perempuan, serta orang-orang yang semisal mereka, selama aman dari fitnah (godaan).Berkumpulnya laki-laki dan perempuan di masjid yang sama untuk menunaikan salat fardhu atau ibadah lainnya, sebagaimana yang telah berlangsung sejak masa awal Islam hingga hari ini, baik di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa maupun di masjid-masjid lainnya. Dahulu para wanita juga menghadiri salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid, dan beliau tidak melarang hal tersebut. Beliau juga tidak memerintahkan agar dipasang pembatas antara shaf laki-laki dan shaf perempuan.Seorang laki-laki diperbolehkan menemui wanita yang telah dilamarnya dan melihatnya, dengan syarat disertai kehadiran mahram wanita tersebut.Interaksi antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dari balik hijab, sebagaimana sistem yang diterapkan di universitas-universitas dan perguruan tinggi khusus putri di Arab Saudi.Campur-baur antara laki-laki dan wanita yang sulit dihindari, dengan syarat laki-laki dan wanita yang ada saling menjaga pandangan.Diperbolehkan adanya percampuran antara perempuan dengan laki-laki yang bukan mahram karena suatu kebutuhan, dengan adanya mahram, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dapat menjamin terhindarnya fitnah.Kemudian beliau menjelaskan bahwa untuk semua bentuk ikhtilath yang dibolehkan haruslah memenuhi beberapa syarat, yaitu:1) Tidak terjadi khulwah (berduaan) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan mahram.2) Mengupayakan semaksimal mungkin untuk memisahkan laki-laki dan wanita selama masih memungkinkan.3) Kehadiran wanita di sana hendaknya karena suatu kebutuhan yang berat baginya untuk ditinggalkan. Dan kebutuhan tersebut bersifat temporer, sehingga kehadirannya di tempat yang campur-baur tersebut berakhir ketika kebutuhannya telah selesai.4) Tidak terdapat pandangan kepada sesuatu yang tidak boleh dipandang.5) Pembicaraan dengan lawan jenis dilakukan sekadar kebutuhan. Dan wanita tidak berbicara dengan suara yang mendayu-dayu, lembut, manja, atau menggoda sehingga dapat menarik perhatian lawan jenis.6) Tidak menghilangkan pembatas-pembatas antara laki-laki dan wanita yang dapat membuat kondisinya semakin melampaui batas-batas kesopanan dan adab.Dari semua penjelasan ini, kita dapat simpulkan bahwa ikhtilath yang dibolehkan adalah dalam kondisi yang darurat atau kebutuhan mendesak. Sehingga tetap tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini.Kemudian penulis juga membantah sebagian dai yang membolehkan ikhtilath di dunia pendidikan. Seperti yang terjadi di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Beliau mengatakan, “Para pendukung ikhtilath (percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan) mengqiyaskan (menganalogikan) percampuran dalam pendidikan dan pekerjaan dengan percampuran yang bersifat sementara di tempat thawaf dan di jalan, serta dengan kebolehan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat.Padahal telah diketahui bahwa syariat membolehkan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath tersebut, selama duduk bersamanya dalam waktu yang singkat dibolehkan, maka tidak ada halangan untuk duduk bersamanya selama berhari-hari dan berhari-hari, bahkan tidur dalam satu kamar tanpa khalwat, sebagai qiyas terhadap kebolehan yang telah disebutkan. Sebab, menurut para pendukung ikhtilath, tidak ada perbedaan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.Maka, barang siapa mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung terus-menerus (dengan tinggal atau menetap bersama) kepada ikhtilath yang hanya bersifat sementara, sama halnya dengan orang yang mengqiyaskan tidur bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat kepada sekadar duduk sebentar bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat (berdua-duaan)!Di seluruh pembahasan fikih syariat, engkau akan mendapati bahwa apabila syariat memberikan keringanan terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu singkat, maka syariat tidak memberikan toleransi terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu lama, dan tidak boleh mengqiyaskan yang satu kepada yang lain.Sebagai contoh, Allah Ta’ala membolehkan orang yang sedang junub berada di dalam masjid dalam waktu yang singkat. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendekati salat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, dan jangan pula (mendekati masjid) ketika kalian dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kalian mandi.” (QS. An-Nisa’: 43)Allah membolehkannya dalam bentuk sekadar melintas, karena hal itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath, selama orang yang junub boleh berada di masjid sebentar, maka tentu boleh pula orang yang junub beriktikaf semalam di dalam masjid, dengan alasan diqiyaskan kepada kebolehan yang disebutkan dalam ayat mengenai berada di masjid dalam waktu singkat. Lalu apakah qiyas seperti ini dapat diterima?Sesungguhnya orang yang mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung lama kepada ikhtilath yang hanya sesaat, sama seperti orang yang mengqiyaskan iktikaf orang yang junub kepada sekadar melintasnya orang yang junub di dalam masjid. Keduanya sama-sama mengabaikan pertimbangan syariat yang membedakan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 78)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Campur Baur Lawan Jenis dalam Acara Keluarga***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

Ikhtilath (Campur Baur) Laki-Laki dan Perempuan, yang Boleh dan Tidak Boleh

Daftar Isi ToggleDalil-dalil larangan ikhtilathPerkataan para ulamaBahaya ikhtilathIkhtilath yang dikecualikanBanyak sekali definisi dari para ulama tentang apa itu ikhtilath yang terlarang dalam agama. Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddam mendefinisikan,هو اجتماع الرجل بالمرأة التي ليست بمحرم له اجتماعاً يؤدي إلى ريبة“Ikhtilath adalah berkumpulnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram sehingga memungkinkan mereka terkena prasangka buruk.” (‘Audatul Hijab, 3: 52)Syekh Abu Muhammad bin Abdillah al-Imam mengatakan,هو اجتماع النساء بالرجال الأجانب اجتماعاً خاصاً أو عاماً يحدث بسببه الافتتان“Ikhtilath adalah bercampurnya wanita dengan laki-laki secara khusus atau secara umum yang bisa menyebabkan fitnah (godaan) di antara mereka.” (al-Ikhtilath Ashlus Syarri fi Dimaril Umam wal Usar, hal. 29)Definisi yang dipilih oleh Syekh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah adalah,انضمام واجتماع ومداخلة الرجال بالنساء غير المحارم في مكان واحد يمكنهم فيه الاتصال فيما بينهم: بالنظر، أو الإشارة، أو الكلام، أو البدن، من غير حائل أو مانع يدفع الريبة والفساد“Ikhtilath adalah terjadinya perkumpulan dan interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram di suatu tempat yang sama, sehingga memungkinkan mereka untuk saling memandang, saling berisyarat, saling berbicara dan terjadi persentuhan badan, tanpa ada tabir dan tanpa ada faktor yang menghalangi terjadinya prasangka buruk dari orang lain dan kerusakan.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa karya Syaikh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani, 1: 8)Dalil-dalil larangan ikhtilathAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya, sebagaimana kami melarang kalian untuk masuk ke rumah mereka, maka demikian juga, kami melarang kalian untuk memandang mereka secara keseluruhan. Walaupun kalian memiliki keperluan terhadap mereka, maka jangan memandang mereka dan jangan meminta sesuatu kepada mereka kecuali dari balik hijab.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 223)Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْمِ“Biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai mengucapkan salam setelah salat, para makmum wanita langsung berdiri ketika beliau selesai dari salamnya, sedangkan beliau tetap diam sejenak sebelum berdiri.” Ibnu Syihab berkata, “Menurutku, wallahu a’lam, bahwa diamnya beliau sejenak itu adalah agar para wanita dapat pergi terlebih dahulu sebelum mereka disusul oleh makmum laki-laki yang selesai dari salat.” (HR. al-Bukhari no. 793)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,خيرُ صفوفِ الرجالِ أولُها . وشرُّها آخرُها . وخيرُ صفوفِ النساءِ آخرُها . وشرُّها أولُها“Shaf-shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah yang awal-awal, yang terburuk adalah yang terakhir. Sedangkan shaf-shaf yang terbaik bagi wanita adalah yang akhir-akhir, yang terburuk adalah yang pertama.” (HR. Muslim no. 440)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ قَالَ نَافِعٌ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kita khususkan pintu ini untuk para wanita.” Nafi‘ berkata, “Maka Abdullah bin Umar tidak pernah masuk melalui pintu tersebut sampai beliau wafat.” (HR. Abu Daud no. 484, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5258)Dari Abu Usaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ ( تَسِرْن وسط الطريق ) عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِIa mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau keluar dari masjid, sementara laki-laki bercampur dengan para wanita di jalan, “Mundurlah kalian wahai para wanita! Karena tidak pantas bagi kalian berjalan di tengah jalan. Hendaklah kalian berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita pun berjalan menempel di dinding, sampai-sampai pakaian mereka tersangkut pada dinding karena begitu dekatnya mereka dengannya. (HR. Abu Daud no.5272, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Perkataan para ulamaImam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan,أرى للإمام أن يتقدم إلى الصُّنَّاع في قعود النساء إليهم، وأرى ألا تترك المرأة الشابة تجلس إلى الصُّنَّاع، فأمَّا المرأة المُتَجالَّةُ ، والخادم الدون التي لا تتهم على القعود، ولا يتهم من تقعد عنده فإني لا أرى بذلك بأساً“Menurut pendapatku, penguasa hendaknya mengeluarkan kebijakan untuk para pengrajin atau pekerja agar tidak membiarkan para wanita duduk-duduk di tempat mereka. Aku juga berpendapat bahwa seorang wanita muda tidak boleh dibiarkan duduk-duduk di tempat para pengrajin. Adapun wanita yang sudah tua, serta pembantu wanita dari kalangan bawah yang tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah (godaan) ketika duduk di tempat mereka, dan orang yang ia duduki tempatnya juga tidak dicurigai, maka menurutku tidak mengapa hal itu dilakukan.” (Al-Bayan wat Tahshil, 9: 335)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang sekelompok wanita yang berada di jalan-jalan dan di hadapan orang banyak, bukan seorang wanita berduaan dengan seorang laki-laki,إن خرجوا متميزين – يعني في الطرقات لقضاء الحوائج وشهود الصلوات – لم أمنعهم، وكلهم كره خروج النساء الشواب إلى الاستسقاء، ورخصوا في خروج العجائز“Apabila mereka keluar dengan tetap menjaga agar terpisah dari kaum laki-laki, yakni keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan menghadiri salat berjemaah, maka aku tidak melarang mereka. Seluruh ulama memakruhkan keluarnya wanita-wanita muda untuk melaksanakan salat istisqa‘, sedangkan mereka memberikan kelonggaran bagi wanita-wanita yang sudah tua untuk keluar.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 33)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,ولا يثبت – يعني الإمام – ساعة يسلِّم إلا أن يكون معه نساء، فيثبت لينصرفن قبل الرجال“Imam tidak dianjurkan untuk diam di tempatnya setelah mengucapkan salam. Akan tetapi, jika di belakangnya terdapat jemaah wanita, maka hendaknya ia tetap berada di tempatnya sejenak, agar para wanita dapat meninggalkan tempat salat terlebih dahulu sebelum kaum laki-laki.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 15)Abu Bakar al-‘Amiri rahimahullah (wafat 530 H), seorang ulama mazhab Syafi’i, berkata,اتفقت علماء الأمة أن من اعتقد حِلَّ هذه المحظورات، وإباحة امتزاج الرجال بالنسوان الأجانب فقد كفر واستحق القتل بردته، وإن اعتقد تحريمه وفعله، وأقر عليه، ورضي به فقد فسق، لا يسمع له قول، ولا تقبل له شهادة“Para ulama umat Islam telah bersepakat bahwa siapa saja yang meyakini halalnya perkara-perkara yang diharamkan ini, serta membolehkan bercampur baurnya laki-laki dengan wanita-wanita yang bukan mahram, maka sungguh ia telah kafir dan berhak dijatuhi hukuman mati karena kemurtadannya. Adapun orang yang tetap meyakini bahwa perbuatan itu haram, namun ia melakukannya, membiarkannya terjadi, dan meridainya, maka ia fasik. Ucapannya tidak diterima dan kesaksiannya pun tidak diterima.” (Ahkamun Nazhar ilal Muharramat, hal. 83)Syekh Muhammad al-Khadir Husain, ulama besar di Universitas al-Azhar pada masanya (wafat 1378 H), beliau berkata,وتحريم الدين لاختلاط الجنسين على النحو الذي يقع في الجامعة معروف لدى عامة المسلمين، كما عرفه الخاصة من علمائهم، وأدلة المنع واردة في الكتاب والسنة، وسيرة السلف الذين عرفوا لباب الدين، وكانوا على بصيرة من حكمته السامية“Aturan agama dalam mengharamkan campur baurnya laki-laki dan wanita seperti yang terjadi di universitas, ini adalah hal yang telah diketahui oleh seluruh kaum muslimin secara umum, sebagaimana juga diketahui oleh kalangan khusus dari para ulama mereka. Dalil-dalil yang menunjukkan larangan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, serta dalam perjalanan hidup generasi salaf yang telah memahami inti ajaran agama dan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap hikmah-hikmahnya yang luhur.” (Muhadharat Islamiyah, hal. 191)Syekh Muhammad al-Khathib, seorang ulama besar dari Libanon, beliau mengatakan,إن الاختلاط لا يختلف في حرمته اثنان من المسلمين، ولا ينكر مساوئه ومفاسده من له قلب، أو ألقى السمع وهو شهيد“Bercampur-baurnya laki-laki dan wanita tidak diperselisihkan keharamannya oleh siapapun dari (ulama) kaum Muslimin. Hati yang bersih tidak akan mengingkari tentang keburukan dan kerusakannya. Dan siapapun tidak akan berpaling dari hal itu padahal ia telah menyaksikan sendiri (kerusakan dan keburukannya).” (Hukmul Islam fil Ikhtilath, Universitas al-Islah Kuwait, hal. 34)Bahaya ikhtilathSyekh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah dalam kitab al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa menjelaskan ada 31 bahaya dan kerusakan dari ikhtilath antara laki-laki dan wanita. Kami sebutkan sebagiannya saja secara ringkas yaitu:Pertama, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan merupakan bukti lemahnya iman dan penyimpangan dari agama. Kerusakan ini diambil dari realitas yang dapat disaksikan, yang bertentangan dengan sejarah kaum Muslimin. Sesungguhnya sejarah umat Islam yang telah berlangsung selama 13 abad menunjukkan bahwa wanita Muslimah senantiasa terjaga dan terlindungi, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh kaum Muslimin. Para wanita tidak mengizinkan percampuran dengan laki-laki, dan kaum laki-laki pun tidak mengizinkan percampuran dengan wanita, kecuali dalam keadaan yang sangat jarang dan terjadi secara insidental saja. Kemudian, ketika muncul berbagai seruan yang bersifat merusak dari musuh-musuh Islam, seperti kelompok Ismailiyah Bathiniyyah, kaum Rafidhah, kaum sufi, Hizbut Tahrir, paham komunisme-sosialisme, partai Ba’ats sosialisme, dan sekularisme-liberalisme, maka di antara seruan yang mereka gaungkan adalah seruan untuk membebaskan perempuan. Setelah itu, muncul pula pendirian partai-partai demokrasi yang menempuh metode demokrasi Barat, dan di antara agenda mereka adalah menyerukan persamaan antara perempuan dan laki-laki. Hingga akhirnya tersebarlah ikhtilath di zaman itu sampai zaman sekarang.Kedua, menyebabkan kerusakan terhadap agama, tatanan kehidupan, kehormatan, harta, akhlak, akal, dan nasab. Data-data statistik di setiap negeri yang tersebar ikhtilath di dalamnya menjadi bukti yang berbicara tentang besarnya bahaya ikhtilath terhadap kehidupan dunia dan agama.Ketiga, ikhtilath merupakan pangkal dari setiap fitnah (kerusakan) dan bencana. Sebab, Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali karena di dalamnya terdapat mudarat yang murni, atau karena mudaratnya lebih dominan daripada manfaatnya. Oleh karena itu, membiarkan terjadinya ikhtilath antara perempuan dan laki-laki secara bebas merupakan suatu kemudaratan yang murni dari satu sisi, dan merupakan kemudaratan yang lebih besar daripada manfaatnya dari sisi yang lain.Keempat, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki menyebabkan hilangnya rasa malu. Sebab, perempuan yang bergaul secara bercampur dengan laki-laki menjadi penyebab hilangnya rasa malunya. Tidak ada kebaikan pada seorang perempuan yang telah hilang rasa malunya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rasa malu adalah bagian dari iman.”Kelima, ikhtilath merupakan jalan menuju perbuatan zina, karena hal itu memudahkan terjadinya pandangan kepada wanita dan berduaan dengannya. Data statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebanyak 87,8% dari keseluruhan siswa sekolah menengah atas pernah melakukan hubungan seksual, dan bahkan 22% di antaranya telah melakukannya sebelum usia 13 tahun.Keenam, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan meningkatkan angka pemerkosaan serta kasus-kasus pelecehan seksual terhadap wanita.Ketujuh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan terjadinya pelecehan terhadap perempuan. Di negara-negara Uni Eropa, sebanyak 35% perempuan mengalami salah satu bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Selain itu, statistik yang diterbitkan European Commission menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1 tahun, sekitar 50% perempuan pekerja mengalami pelecehan seksual.Kedelapan, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan para pemuda tenggelam dalam pergaulan bebas dan degradasi moral.Kesembilan, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan mengalihkan perhatian dari produktivitas kerja dan pencapaian akademik yang gemilang.Kesepuluh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan meningkatnya angka perceraian dalam masyarakat, serta keengganan untuk menikah. Akibatnya, para wanita enggan menjadi istri, namun lebih tertarik menjadi seorang kekasih, pacar, atau pasangan di luar nikah yang hanya hadir pada saat-saat dibutuhkan.Kesebelas, ikhtilath menyebabkan tersebarnya penyakit-penyakit wabah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan perempuan bercampur baur dengan laki-laki merupakan pangkal dari setiap musibah dan keburukan. Hal itu termasuk salah satu penyebab terbesar turunnya berbagai hukuman yang menimpa masyarakat secara umum. Sebagaimana itu pula merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian massal dan wabah-wabah yang terus berulang.” (Ath-Thuruq Al-Hukmiyah, 2: 722)Kedua-belas, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki merobek kehormatan dan kesucian diri. Di antara dampak buruk percampuran perempuan dengan laki-laki adalah rusaknya kesucian diri banyak perempuan. Al-‘Allamah Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ‘iffah (kesucian diri) adalah sebuah tabir yang dirobek oleh ikhtilath. Oleh karena itu, jalan yang ditempuh Islam adalah memisahkan dan menjauhkan perempuan dari laki-laki yang bukan mahramnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang bersifat terpisah antara laki-laki dan perempuan, bukan masyarakat yang berpasang-pasangan. Kaum laki-laki memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri, dan kaum perempuan pun memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri.” (Hirasatul Fadhilah, hal. 58)Ketiga-belas, berbagai bentuk zina kecil dapat terjadi akibat ikhtilath antara perempuan dan laki-laki. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. Al Bukhari no. 6243)Keempat-belas, ikhtilath wanita dengan laki-laki menyebabkan timbulnya berbagai penyakit hati dan penyakit batin pada diri perempuan. Sebab, ketika seorang perempuan keluar dari rumahnya menuju masyarakat yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, ia berusaha agar dirinya memperoleh perhatian lebih dibandingkan rekan-rekan perempuannya, sehingga para laki-laki mengaguminya dan mengarahkan pandangan mereka kepadanya, terlebih lagi jika ia memiliki tubuh yang proporsional dan cantik serta berharta. Maka anda akan melihatnya berusaha mengenakan kain yang paling bagus, mode pakaian yang paling mutakhir, serta menggunakan berbagai sarana berhias, seperti bedak, kosmetik, pewarna, dan berbagai bentuk perawatan kecantikan pada wajah, tangan, pinggang, kaki, dan selainnya.Kelima-belas, wanita-wanita yang bercampur baur dengan laki-laki akan terancam terkena laknat, dikarenakan mereka akan memiliki kecenderungan untuk menyerupai laki-laki. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari no. 5885)Ikhtilath yang dikecualikanDalam kitab “al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa” karya Syaikhah Shihatah Muhammad Shaqr, disebutkan dalil-dalil tentang haramnya campur baur antara laki-laki dan wanita, perkataan para ulama tentang hal ini dan juga kerusakan serta bahaya dari perbuatan tersebut.Namun demikian, ada ikhtilah yang dikecualikan dari hukum haramnya. Beliau lalu menjelaskan tentang kaidah ikhtilath yang diperbolehkan tersebut, dengan mengatakan,وهو كل ما كان في الأماكن العامة وتدعو الحاجة إليه ويشق التحرز عنه , ولا محظور فيه كاختلاط النساء بالرجال في الأسواق والطرقات لقضاء حاجة كسؤال عن متاع أو استفتاء وسؤال عن حاجة وبيع وشراء ونحوه، إذ يسعى الجميع في حاجته ذهابًا وجيئةً، ويبيعون ويشترون، فلا بأس في هذا ما لم يتلبّس من وَقع فيه بمحرّم خارجٍ عنه، فما هو إلا لقاء عابر , واللقاء العابر لقاء محدود لا تزول به الكلفة، وتلتزم فيه المرأة بالضوابط الشرعية في التعامل مع الرجال الأجانب“Yang dimaksud dengan ikhtilath yang diperbolehkan adalah setiap bentuk campur-baur antara laki-laki dan perempuan yang terjadi di tempat umum, yang memang ada kebutuhan mendesak di sana, dan campur-baur yang sulit untuk dihindari, serta tidak mengandung hal-hal yang dilarang secara syar‘i. Contohnya campur-baur antara laki-laki dan perempuan di pasar, atau di jalan, ketika memenuhi suatu kebutuhan, seperti untuk bertanya tentang suatu barang, untuk meminta fatwa, mencari sesuatu yang dibutuhkan, melakukan jual beli, dan semisalnya. Dalam kondisi seperti itu, semua orang beraktivitas untuk memenuhi kebutuhannya, pergi dan datang, berjual-beli, dan seterusnya. Maka hal itu tidak mengapa, selama orang yang terlibat di dalamnya tidak melakukan perbuatan yang terlarang di luar hal tersebut. Karena yang terjadi hanyalah pertemuan singkat, yaitu pertemuan terbatas yang tidak menghilangkan moral, dan dalam pertemuan seperti itu para wanita tetap wajib mematuhi aturan-aturan syariat dalam berinteraksi dengan laki-laki yang bukan mahramnya.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 72)Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh ikhtilath yang dibolehkan secara syar’i:Pada asalnya, dibolehkan adanya campur-baur antara wanita dengan para mahramnya. Demikian pula dengan anak-anak yang belum memiliki ketertarikan terhadap aurat perempuan, serta orang-orang yang semisal mereka, selama aman dari fitnah (godaan).Berkumpulnya laki-laki dan perempuan di masjid yang sama untuk menunaikan salat fardhu atau ibadah lainnya, sebagaimana yang telah berlangsung sejak masa awal Islam hingga hari ini, baik di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa maupun di masjid-masjid lainnya. Dahulu para wanita juga menghadiri salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid, dan beliau tidak melarang hal tersebut. Beliau juga tidak memerintahkan agar dipasang pembatas antara shaf laki-laki dan shaf perempuan.Seorang laki-laki diperbolehkan menemui wanita yang telah dilamarnya dan melihatnya, dengan syarat disertai kehadiran mahram wanita tersebut.Interaksi antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dari balik hijab, sebagaimana sistem yang diterapkan di universitas-universitas dan perguruan tinggi khusus putri di Arab Saudi.Campur-baur antara laki-laki dan wanita yang sulit dihindari, dengan syarat laki-laki dan wanita yang ada saling menjaga pandangan.Diperbolehkan adanya percampuran antara perempuan dengan laki-laki yang bukan mahram karena suatu kebutuhan, dengan adanya mahram, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dapat menjamin terhindarnya fitnah.Kemudian beliau menjelaskan bahwa untuk semua bentuk ikhtilath yang dibolehkan haruslah memenuhi beberapa syarat, yaitu:1) Tidak terjadi khulwah (berduaan) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan mahram.2) Mengupayakan semaksimal mungkin untuk memisahkan laki-laki dan wanita selama masih memungkinkan.3) Kehadiran wanita di sana hendaknya karena suatu kebutuhan yang berat baginya untuk ditinggalkan. Dan kebutuhan tersebut bersifat temporer, sehingga kehadirannya di tempat yang campur-baur tersebut berakhir ketika kebutuhannya telah selesai.4) Tidak terdapat pandangan kepada sesuatu yang tidak boleh dipandang.5) Pembicaraan dengan lawan jenis dilakukan sekadar kebutuhan. Dan wanita tidak berbicara dengan suara yang mendayu-dayu, lembut, manja, atau menggoda sehingga dapat menarik perhatian lawan jenis.6) Tidak menghilangkan pembatas-pembatas antara laki-laki dan wanita yang dapat membuat kondisinya semakin melampaui batas-batas kesopanan dan adab.Dari semua penjelasan ini, kita dapat simpulkan bahwa ikhtilath yang dibolehkan adalah dalam kondisi yang darurat atau kebutuhan mendesak. Sehingga tetap tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini.Kemudian penulis juga membantah sebagian dai yang membolehkan ikhtilath di dunia pendidikan. Seperti yang terjadi di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Beliau mengatakan, “Para pendukung ikhtilath (percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan) mengqiyaskan (menganalogikan) percampuran dalam pendidikan dan pekerjaan dengan percampuran yang bersifat sementara di tempat thawaf dan di jalan, serta dengan kebolehan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat.Padahal telah diketahui bahwa syariat membolehkan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath tersebut, selama duduk bersamanya dalam waktu yang singkat dibolehkan, maka tidak ada halangan untuk duduk bersamanya selama berhari-hari dan berhari-hari, bahkan tidur dalam satu kamar tanpa khalwat, sebagai qiyas terhadap kebolehan yang telah disebutkan. Sebab, menurut para pendukung ikhtilath, tidak ada perbedaan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.Maka, barang siapa mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung terus-menerus (dengan tinggal atau menetap bersama) kepada ikhtilath yang hanya bersifat sementara, sama halnya dengan orang yang mengqiyaskan tidur bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat kepada sekadar duduk sebentar bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat (berdua-duaan)!Di seluruh pembahasan fikih syariat, engkau akan mendapati bahwa apabila syariat memberikan keringanan terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu singkat, maka syariat tidak memberikan toleransi terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu lama, dan tidak boleh mengqiyaskan yang satu kepada yang lain.Sebagai contoh, Allah Ta’ala membolehkan orang yang sedang junub berada di dalam masjid dalam waktu yang singkat. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendekati salat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, dan jangan pula (mendekati masjid) ketika kalian dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kalian mandi.” (QS. An-Nisa’: 43)Allah membolehkannya dalam bentuk sekadar melintas, karena hal itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath, selama orang yang junub boleh berada di masjid sebentar, maka tentu boleh pula orang yang junub beriktikaf semalam di dalam masjid, dengan alasan diqiyaskan kepada kebolehan yang disebutkan dalam ayat mengenai berada di masjid dalam waktu singkat. Lalu apakah qiyas seperti ini dapat diterima?Sesungguhnya orang yang mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung lama kepada ikhtilath yang hanya sesaat, sama seperti orang yang mengqiyaskan iktikaf orang yang junub kepada sekadar melintasnya orang yang junub di dalam masjid. Keduanya sama-sama mengabaikan pertimbangan syariat yang membedakan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 78)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Campur Baur Lawan Jenis dalam Acara Keluarga***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleDalil-dalil larangan ikhtilathPerkataan para ulamaBahaya ikhtilathIkhtilath yang dikecualikanBanyak sekali definisi dari para ulama tentang apa itu ikhtilath yang terlarang dalam agama. Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddam mendefinisikan,هو اجتماع الرجل بالمرأة التي ليست بمحرم له اجتماعاً يؤدي إلى ريبة“Ikhtilath adalah berkumpulnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram sehingga memungkinkan mereka terkena prasangka buruk.” (‘Audatul Hijab, 3: 52)Syekh Abu Muhammad bin Abdillah al-Imam mengatakan,هو اجتماع النساء بالرجال الأجانب اجتماعاً خاصاً أو عاماً يحدث بسببه الافتتان“Ikhtilath adalah bercampurnya wanita dengan laki-laki secara khusus atau secara umum yang bisa menyebabkan fitnah (godaan) di antara mereka.” (al-Ikhtilath Ashlus Syarri fi Dimaril Umam wal Usar, hal. 29)Definisi yang dipilih oleh Syekh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah adalah,انضمام واجتماع ومداخلة الرجال بالنساء غير المحارم في مكان واحد يمكنهم فيه الاتصال فيما بينهم: بالنظر، أو الإشارة، أو الكلام، أو البدن، من غير حائل أو مانع يدفع الريبة والفساد“Ikhtilath adalah terjadinya perkumpulan dan interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram di suatu tempat yang sama, sehingga memungkinkan mereka untuk saling memandang, saling berisyarat, saling berbicara dan terjadi persentuhan badan, tanpa ada tabir dan tanpa ada faktor yang menghalangi terjadinya prasangka buruk dari orang lain dan kerusakan.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa karya Syaikh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani, 1: 8)Dalil-dalil larangan ikhtilathAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya, sebagaimana kami melarang kalian untuk masuk ke rumah mereka, maka demikian juga, kami melarang kalian untuk memandang mereka secara keseluruhan. Walaupun kalian memiliki keperluan terhadap mereka, maka jangan memandang mereka dan jangan meminta sesuatu kepada mereka kecuali dari balik hijab.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 223)Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْمِ“Biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai mengucapkan salam setelah salat, para makmum wanita langsung berdiri ketika beliau selesai dari salamnya, sedangkan beliau tetap diam sejenak sebelum berdiri.” Ibnu Syihab berkata, “Menurutku, wallahu a’lam, bahwa diamnya beliau sejenak itu adalah agar para wanita dapat pergi terlebih dahulu sebelum mereka disusul oleh makmum laki-laki yang selesai dari salat.” (HR. al-Bukhari no. 793)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,خيرُ صفوفِ الرجالِ أولُها . وشرُّها آخرُها . وخيرُ صفوفِ النساءِ آخرُها . وشرُّها أولُها“Shaf-shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah yang awal-awal, yang terburuk adalah yang terakhir. Sedangkan shaf-shaf yang terbaik bagi wanita adalah yang akhir-akhir, yang terburuk adalah yang pertama.” (HR. Muslim no. 440)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ قَالَ نَافِعٌ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kita khususkan pintu ini untuk para wanita.” Nafi‘ berkata, “Maka Abdullah bin Umar tidak pernah masuk melalui pintu tersebut sampai beliau wafat.” (HR. Abu Daud no. 484, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5258)Dari Abu Usaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ ( تَسِرْن وسط الطريق ) عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِIa mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau keluar dari masjid, sementara laki-laki bercampur dengan para wanita di jalan, “Mundurlah kalian wahai para wanita! Karena tidak pantas bagi kalian berjalan di tengah jalan. Hendaklah kalian berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita pun berjalan menempel di dinding, sampai-sampai pakaian mereka tersangkut pada dinding karena begitu dekatnya mereka dengannya. (HR. Abu Daud no.5272, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Perkataan para ulamaImam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan,أرى للإمام أن يتقدم إلى الصُّنَّاع في قعود النساء إليهم، وأرى ألا تترك المرأة الشابة تجلس إلى الصُّنَّاع، فأمَّا المرأة المُتَجالَّةُ ، والخادم الدون التي لا تتهم على القعود، ولا يتهم من تقعد عنده فإني لا أرى بذلك بأساً“Menurut pendapatku, penguasa hendaknya mengeluarkan kebijakan untuk para pengrajin atau pekerja agar tidak membiarkan para wanita duduk-duduk di tempat mereka. Aku juga berpendapat bahwa seorang wanita muda tidak boleh dibiarkan duduk-duduk di tempat para pengrajin. Adapun wanita yang sudah tua, serta pembantu wanita dari kalangan bawah yang tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah (godaan) ketika duduk di tempat mereka, dan orang yang ia duduki tempatnya juga tidak dicurigai, maka menurutku tidak mengapa hal itu dilakukan.” (Al-Bayan wat Tahshil, 9: 335)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang sekelompok wanita yang berada di jalan-jalan dan di hadapan orang banyak, bukan seorang wanita berduaan dengan seorang laki-laki,إن خرجوا متميزين – يعني في الطرقات لقضاء الحوائج وشهود الصلوات – لم أمنعهم، وكلهم كره خروج النساء الشواب إلى الاستسقاء، ورخصوا في خروج العجائز“Apabila mereka keluar dengan tetap menjaga agar terpisah dari kaum laki-laki, yakni keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan menghadiri salat berjemaah, maka aku tidak melarang mereka. Seluruh ulama memakruhkan keluarnya wanita-wanita muda untuk melaksanakan salat istisqa‘, sedangkan mereka memberikan kelonggaran bagi wanita-wanita yang sudah tua untuk keluar.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 33)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,ولا يثبت – يعني الإمام – ساعة يسلِّم إلا أن يكون معه نساء، فيثبت لينصرفن قبل الرجال“Imam tidak dianjurkan untuk diam di tempatnya setelah mengucapkan salam. Akan tetapi, jika di belakangnya terdapat jemaah wanita, maka hendaknya ia tetap berada di tempatnya sejenak, agar para wanita dapat meninggalkan tempat salat terlebih dahulu sebelum kaum laki-laki.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 15)Abu Bakar al-‘Amiri rahimahullah (wafat 530 H), seorang ulama mazhab Syafi’i, berkata,اتفقت علماء الأمة أن من اعتقد حِلَّ هذه المحظورات، وإباحة امتزاج الرجال بالنسوان الأجانب فقد كفر واستحق القتل بردته، وإن اعتقد تحريمه وفعله، وأقر عليه، ورضي به فقد فسق، لا يسمع له قول، ولا تقبل له شهادة“Para ulama umat Islam telah bersepakat bahwa siapa saja yang meyakini halalnya perkara-perkara yang diharamkan ini, serta membolehkan bercampur baurnya laki-laki dengan wanita-wanita yang bukan mahram, maka sungguh ia telah kafir dan berhak dijatuhi hukuman mati karena kemurtadannya. Adapun orang yang tetap meyakini bahwa perbuatan itu haram, namun ia melakukannya, membiarkannya terjadi, dan meridainya, maka ia fasik. Ucapannya tidak diterima dan kesaksiannya pun tidak diterima.” (Ahkamun Nazhar ilal Muharramat, hal. 83)Syekh Muhammad al-Khadir Husain, ulama besar di Universitas al-Azhar pada masanya (wafat 1378 H), beliau berkata,وتحريم الدين لاختلاط الجنسين على النحو الذي يقع في الجامعة معروف لدى عامة المسلمين، كما عرفه الخاصة من علمائهم، وأدلة المنع واردة في الكتاب والسنة، وسيرة السلف الذين عرفوا لباب الدين، وكانوا على بصيرة من حكمته السامية“Aturan agama dalam mengharamkan campur baurnya laki-laki dan wanita seperti yang terjadi di universitas, ini adalah hal yang telah diketahui oleh seluruh kaum muslimin secara umum, sebagaimana juga diketahui oleh kalangan khusus dari para ulama mereka. Dalil-dalil yang menunjukkan larangan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, serta dalam perjalanan hidup generasi salaf yang telah memahami inti ajaran agama dan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap hikmah-hikmahnya yang luhur.” (Muhadharat Islamiyah, hal. 191)Syekh Muhammad al-Khathib, seorang ulama besar dari Libanon, beliau mengatakan,إن الاختلاط لا يختلف في حرمته اثنان من المسلمين، ولا ينكر مساوئه ومفاسده من له قلب، أو ألقى السمع وهو شهيد“Bercampur-baurnya laki-laki dan wanita tidak diperselisihkan keharamannya oleh siapapun dari (ulama) kaum Muslimin. Hati yang bersih tidak akan mengingkari tentang keburukan dan kerusakannya. Dan siapapun tidak akan berpaling dari hal itu padahal ia telah menyaksikan sendiri (kerusakan dan keburukannya).” (Hukmul Islam fil Ikhtilath, Universitas al-Islah Kuwait, hal. 34)Bahaya ikhtilathSyekh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah dalam kitab al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa menjelaskan ada 31 bahaya dan kerusakan dari ikhtilath antara laki-laki dan wanita. Kami sebutkan sebagiannya saja secara ringkas yaitu:Pertama, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan merupakan bukti lemahnya iman dan penyimpangan dari agama. Kerusakan ini diambil dari realitas yang dapat disaksikan, yang bertentangan dengan sejarah kaum Muslimin. Sesungguhnya sejarah umat Islam yang telah berlangsung selama 13 abad menunjukkan bahwa wanita Muslimah senantiasa terjaga dan terlindungi, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh kaum Muslimin. Para wanita tidak mengizinkan percampuran dengan laki-laki, dan kaum laki-laki pun tidak mengizinkan percampuran dengan wanita, kecuali dalam keadaan yang sangat jarang dan terjadi secara insidental saja. Kemudian, ketika muncul berbagai seruan yang bersifat merusak dari musuh-musuh Islam, seperti kelompok Ismailiyah Bathiniyyah, kaum Rafidhah, kaum sufi, Hizbut Tahrir, paham komunisme-sosialisme, partai Ba’ats sosialisme, dan sekularisme-liberalisme, maka di antara seruan yang mereka gaungkan adalah seruan untuk membebaskan perempuan. Setelah itu, muncul pula pendirian partai-partai demokrasi yang menempuh metode demokrasi Barat, dan di antara agenda mereka adalah menyerukan persamaan antara perempuan dan laki-laki. Hingga akhirnya tersebarlah ikhtilath di zaman itu sampai zaman sekarang.Kedua, menyebabkan kerusakan terhadap agama, tatanan kehidupan, kehormatan, harta, akhlak, akal, dan nasab. Data-data statistik di setiap negeri yang tersebar ikhtilath di dalamnya menjadi bukti yang berbicara tentang besarnya bahaya ikhtilath terhadap kehidupan dunia dan agama.Ketiga, ikhtilath merupakan pangkal dari setiap fitnah (kerusakan) dan bencana. Sebab, Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali karena di dalamnya terdapat mudarat yang murni, atau karena mudaratnya lebih dominan daripada manfaatnya. Oleh karena itu, membiarkan terjadinya ikhtilath antara perempuan dan laki-laki secara bebas merupakan suatu kemudaratan yang murni dari satu sisi, dan merupakan kemudaratan yang lebih besar daripada manfaatnya dari sisi yang lain.Keempat, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki menyebabkan hilangnya rasa malu. Sebab, perempuan yang bergaul secara bercampur dengan laki-laki menjadi penyebab hilangnya rasa malunya. Tidak ada kebaikan pada seorang perempuan yang telah hilang rasa malunya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rasa malu adalah bagian dari iman.”Kelima, ikhtilath merupakan jalan menuju perbuatan zina, karena hal itu memudahkan terjadinya pandangan kepada wanita dan berduaan dengannya. Data statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebanyak 87,8% dari keseluruhan siswa sekolah menengah atas pernah melakukan hubungan seksual, dan bahkan 22% di antaranya telah melakukannya sebelum usia 13 tahun.Keenam, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan meningkatkan angka pemerkosaan serta kasus-kasus pelecehan seksual terhadap wanita.Ketujuh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan terjadinya pelecehan terhadap perempuan. Di negara-negara Uni Eropa, sebanyak 35% perempuan mengalami salah satu bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Selain itu, statistik yang diterbitkan European Commission menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1 tahun, sekitar 50% perempuan pekerja mengalami pelecehan seksual.Kedelapan, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan para pemuda tenggelam dalam pergaulan bebas dan degradasi moral.Kesembilan, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan mengalihkan perhatian dari produktivitas kerja dan pencapaian akademik yang gemilang.Kesepuluh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan meningkatnya angka perceraian dalam masyarakat, serta keengganan untuk menikah. Akibatnya, para wanita enggan menjadi istri, namun lebih tertarik menjadi seorang kekasih, pacar, atau pasangan di luar nikah yang hanya hadir pada saat-saat dibutuhkan.Kesebelas, ikhtilath menyebabkan tersebarnya penyakit-penyakit wabah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan perempuan bercampur baur dengan laki-laki merupakan pangkal dari setiap musibah dan keburukan. Hal itu termasuk salah satu penyebab terbesar turunnya berbagai hukuman yang menimpa masyarakat secara umum. Sebagaimana itu pula merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian massal dan wabah-wabah yang terus berulang.” (Ath-Thuruq Al-Hukmiyah, 2: 722)Kedua-belas, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki merobek kehormatan dan kesucian diri. Di antara dampak buruk percampuran perempuan dengan laki-laki adalah rusaknya kesucian diri banyak perempuan. Al-‘Allamah Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ‘iffah (kesucian diri) adalah sebuah tabir yang dirobek oleh ikhtilath. Oleh karena itu, jalan yang ditempuh Islam adalah memisahkan dan menjauhkan perempuan dari laki-laki yang bukan mahramnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang bersifat terpisah antara laki-laki dan perempuan, bukan masyarakat yang berpasang-pasangan. Kaum laki-laki memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri, dan kaum perempuan pun memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri.” (Hirasatul Fadhilah, hal. 58)Ketiga-belas, berbagai bentuk zina kecil dapat terjadi akibat ikhtilath antara perempuan dan laki-laki. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. Al Bukhari no. 6243)Keempat-belas, ikhtilath wanita dengan laki-laki menyebabkan timbulnya berbagai penyakit hati dan penyakit batin pada diri perempuan. Sebab, ketika seorang perempuan keluar dari rumahnya menuju masyarakat yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, ia berusaha agar dirinya memperoleh perhatian lebih dibandingkan rekan-rekan perempuannya, sehingga para laki-laki mengaguminya dan mengarahkan pandangan mereka kepadanya, terlebih lagi jika ia memiliki tubuh yang proporsional dan cantik serta berharta. Maka anda akan melihatnya berusaha mengenakan kain yang paling bagus, mode pakaian yang paling mutakhir, serta menggunakan berbagai sarana berhias, seperti bedak, kosmetik, pewarna, dan berbagai bentuk perawatan kecantikan pada wajah, tangan, pinggang, kaki, dan selainnya.Kelima-belas, wanita-wanita yang bercampur baur dengan laki-laki akan terancam terkena laknat, dikarenakan mereka akan memiliki kecenderungan untuk menyerupai laki-laki. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari no. 5885)Ikhtilath yang dikecualikanDalam kitab “al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa” karya Syaikhah Shihatah Muhammad Shaqr, disebutkan dalil-dalil tentang haramnya campur baur antara laki-laki dan wanita, perkataan para ulama tentang hal ini dan juga kerusakan serta bahaya dari perbuatan tersebut.Namun demikian, ada ikhtilah yang dikecualikan dari hukum haramnya. Beliau lalu menjelaskan tentang kaidah ikhtilath yang diperbolehkan tersebut, dengan mengatakan,وهو كل ما كان في الأماكن العامة وتدعو الحاجة إليه ويشق التحرز عنه , ولا محظور فيه كاختلاط النساء بالرجال في الأسواق والطرقات لقضاء حاجة كسؤال عن متاع أو استفتاء وسؤال عن حاجة وبيع وشراء ونحوه، إذ يسعى الجميع في حاجته ذهابًا وجيئةً، ويبيعون ويشترون، فلا بأس في هذا ما لم يتلبّس من وَقع فيه بمحرّم خارجٍ عنه، فما هو إلا لقاء عابر , واللقاء العابر لقاء محدود لا تزول به الكلفة، وتلتزم فيه المرأة بالضوابط الشرعية في التعامل مع الرجال الأجانب“Yang dimaksud dengan ikhtilath yang diperbolehkan adalah setiap bentuk campur-baur antara laki-laki dan perempuan yang terjadi di tempat umum, yang memang ada kebutuhan mendesak di sana, dan campur-baur yang sulit untuk dihindari, serta tidak mengandung hal-hal yang dilarang secara syar‘i. Contohnya campur-baur antara laki-laki dan perempuan di pasar, atau di jalan, ketika memenuhi suatu kebutuhan, seperti untuk bertanya tentang suatu barang, untuk meminta fatwa, mencari sesuatu yang dibutuhkan, melakukan jual beli, dan semisalnya. Dalam kondisi seperti itu, semua orang beraktivitas untuk memenuhi kebutuhannya, pergi dan datang, berjual-beli, dan seterusnya. Maka hal itu tidak mengapa, selama orang yang terlibat di dalamnya tidak melakukan perbuatan yang terlarang di luar hal tersebut. Karena yang terjadi hanyalah pertemuan singkat, yaitu pertemuan terbatas yang tidak menghilangkan moral, dan dalam pertemuan seperti itu para wanita tetap wajib mematuhi aturan-aturan syariat dalam berinteraksi dengan laki-laki yang bukan mahramnya.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 72)Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh ikhtilath yang dibolehkan secara syar’i:Pada asalnya, dibolehkan adanya campur-baur antara wanita dengan para mahramnya. Demikian pula dengan anak-anak yang belum memiliki ketertarikan terhadap aurat perempuan, serta orang-orang yang semisal mereka, selama aman dari fitnah (godaan).Berkumpulnya laki-laki dan perempuan di masjid yang sama untuk menunaikan salat fardhu atau ibadah lainnya, sebagaimana yang telah berlangsung sejak masa awal Islam hingga hari ini, baik di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa maupun di masjid-masjid lainnya. Dahulu para wanita juga menghadiri salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid, dan beliau tidak melarang hal tersebut. Beliau juga tidak memerintahkan agar dipasang pembatas antara shaf laki-laki dan shaf perempuan.Seorang laki-laki diperbolehkan menemui wanita yang telah dilamarnya dan melihatnya, dengan syarat disertai kehadiran mahram wanita tersebut.Interaksi antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dari balik hijab, sebagaimana sistem yang diterapkan di universitas-universitas dan perguruan tinggi khusus putri di Arab Saudi.Campur-baur antara laki-laki dan wanita yang sulit dihindari, dengan syarat laki-laki dan wanita yang ada saling menjaga pandangan.Diperbolehkan adanya percampuran antara perempuan dengan laki-laki yang bukan mahram karena suatu kebutuhan, dengan adanya mahram, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dapat menjamin terhindarnya fitnah.Kemudian beliau menjelaskan bahwa untuk semua bentuk ikhtilath yang dibolehkan haruslah memenuhi beberapa syarat, yaitu:1) Tidak terjadi khulwah (berduaan) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan mahram.2) Mengupayakan semaksimal mungkin untuk memisahkan laki-laki dan wanita selama masih memungkinkan.3) Kehadiran wanita di sana hendaknya karena suatu kebutuhan yang berat baginya untuk ditinggalkan. Dan kebutuhan tersebut bersifat temporer, sehingga kehadirannya di tempat yang campur-baur tersebut berakhir ketika kebutuhannya telah selesai.4) Tidak terdapat pandangan kepada sesuatu yang tidak boleh dipandang.5) Pembicaraan dengan lawan jenis dilakukan sekadar kebutuhan. Dan wanita tidak berbicara dengan suara yang mendayu-dayu, lembut, manja, atau menggoda sehingga dapat menarik perhatian lawan jenis.6) Tidak menghilangkan pembatas-pembatas antara laki-laki dan wanita yang dapat membuat kondisinya semakin melampaui batas-batas kesopanan dan adab.Dari semua penjelasan ini, kita dapat simpulkan bahwa ikhtilath yang dibolehkan adalah dalam kondisi yang darurat atau kebutuhan mendesak. Sehingga tetap tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini.Kemudian penulis juga membantah sebagian dai yang membolehkan ikhtilath di dunia pendidikan. Seperti yang terjadi di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Beliau mengatakan, “Para pendukung ikhtilath (percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan) mengqiyaskan (menganalogikan) percampuran dalam pendidikan dan pekerjaan dengan percampuran yang bersifat sementara di tempat thawaf dan di jalan, serta dengan kebolehan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat.Padahal telah diketahui bahwa syariat membolehkan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath tersebut, selama duduk bersamanya dalam waktu yang singkat dibolehkan, maka tidak ada halangan untuk duduk bersamanya selama berhari-hari dan berhari-hari, bahkan tidur dalam satu kamar tanpa khalwat, sebagai qiyas terhadap kebolehan yang telah disebutkan. Sebab, menurut para pendukung ikhtilath, tidak ada perbedaan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.Maka, barang siapa mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung terus-menerus (dengan tinggal atau menetap bersama) kepada ikhtilath yang hanya bersifat sementara, sama halnya dengan orang yang mengqiyaskan tidur bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat kepada sekadar duduk sebentar bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat (berdua-duaan)!Di seluruh pembahasan fikih syariat, engkau akan mendapati bahwa apabila syariat memberikan keringanan terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu singkat, maka syariat tidak memberikan toleransi terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu lama, dan tidak boleh mengqiyaskan yang satu kepada yang lain.Sebagai contoh, Allah Ta’ala membolehkan orang yang sedang junub berada di dalam masjid dalam waktu yang singkat. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendekati salat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, dan jangan pula (mendekati masjid) ketika kalian dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kalian mandi.” (QS. An-Nisa’: 43)Allah membolehkannya dalam bentuk sekadar melintas, karena hal itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath, selama orang yang junub boleh berada di masjid sebentar, maka tentu boleh pula orang yang junub beriktikaf semalam di dalam masjid, dengan alasan diqiyaskan kepada kebolehan yang disebutkan dalam ayat mengenai berada di masjid dalam waktu singkat. Lalu apakah qiyas seperti ini dapat diterima?Sesungguhnya orang yang mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung lama kepada ikhtilath yang hanya sesaat, sama seperti orang yang mengqiyaskan iktikaf orang yang junub kepada sekadar melintasnya orang yang junub di dalam masjid. Keduanya sama-sama mengabaikan pertimbangan syariat yang membedakan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 78)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Campur Baur Lawan Jenis dalam Acara Keluarga***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleDalil-dalil larangan ikhtilathPerkataan para ulamaBahaya ikhtilathIkhtilath yang dikecualikanBanyak sekali definisi dari para ulama tentang apa itu ikhtilath yang terlarang dalam agama. Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddam mendefinisikan,هو اجتماع الرجل بالمرأة التي ليست بمحرم له اجتماعاً يؤدي إلى ريبة“Ikhtilath adalah berkumpulnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram sehingga memungkinkan mereka terkena prasangka buruk.” (‘Audatul Hijab, 3: 52)Syekh Abu Muhammad bin Abdillah al-Imam mengatakan,هو اجتماع النساء بالرجال الأجانب اجتماعاً خاصاً أو عاماً يحدث بسببه الافتتان“Ikhtilath adalah bercampurnya wanita dengan laki-laki secara khusus atau secara umum yang bisa menyebabkan fitnah (godaan) di antara mereka.” (al-Ikhtilath Ashlus Syarri fi Dimaril Umam wal Usar, hal. 29)Definisi yang dipilih oleh Syekh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah adalah,انضمام واجتماع ومداخلة الرجال بالنساء غير المحارم في مكان واحد يمكنهم فيه الاتصال فيما بينهم: بالنظر، أو الإشارة، أو الكلام، أو البدن، من غير حائل أو مانع يدفع الريبة والفساد“Ikhtilath adalah terjadinya perkumpulan dan interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram di suatu tempat yang sama, sehingga memungkinkan mereka untuk saling memandang, saling berisyarat, saling berbicara dan terjadi persentuhan badan, tanpa ada tabir dan tanpa ada faktor yang menghalangi terjadinya prasangka buruk dari orang lain dan kerusakan.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa karya Syaikh DR. Sa’id bin Wahf al-Qahthani, 1: 8)Dalil-dalil larangan ikhtilathAllah Ta’ala berfirman,وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya, sebagaimana kami melarang kalian untuk masuk ke rumah mereka, maka demikian juga, kami melarang kalian untuk memandang mereka secara keseluruhan. Walaupun kalian memiliki keperluan terhadap mereka, maka jangan memandang mereka dan jangan meminta sesuatu kepada mereka kecuali dari balik hijab.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 223)Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْمِ“Biasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai mengucapkan salam setelah salat, para makmum wanita langsung berdiri ketika beliau selesai dari salamnya, sedangkan beliau tetap diam sejenak sebelum berdiri.” Ibnu Syihab berkata, “Menurutku, wallahu a’lam, bahwa diamnya beliau sejenak itu adalah agar para wanita dapat pergi terlebih dahulu sebelum mereka disusul oleh makmum laki-laki yang selesai dari salat.” (HR. al-Bukhari no. 793)Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,خيرُ صفوفِ الرجالِ أولُها . وشرُّها آخرُها . وخيرُ صفوفِ النساءِ آخرُها . وشرُّها أولُها“Shaf-shaf yang terbaik bagi laki-laki adalah yang awal-awal, yang terburuk adalah yang terakhir. Sedangkan shaf-shaf yang terbaik bagi wanita adalah yang akhir-akhir, yang terburuk adalah yang pertama.” (HR. Muslim no. 440)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ قَالَ نَافِعٌ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kita khususkan pintu ini untuk para wanita.” Nafi‘ berkata, “Maka Abdullah bin Umar tidak pernah masuk melalui pintu tersebut sampai beliau wafat.” (HR. Abu Daud no. 484, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5258)Dari Abu Usaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ ( تَسِرْن وسط الطريق ) عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِIa mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau keluar dari masjid, sementara laki-laki bercampur dengan para wanita di jalan, “Mundurlah kalian wahai para wanita! Karena tidak pantas bagi kalian berjalan di tengah jalan. Hendaklah kalian berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita pun berjalan menempel di dinding, sampai-sampai pakaian mereka tersangkut pada dinding karena begitu dekatnya mereka dengannya. (HR. Abu Daud no.5272, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)Perkataan para ulamaImam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan,أرى للإمام أن يتقدم إلى الصُّنَّاع في قعود النساء إليهم، وأرى ألا تترك المرأة الشابة تجلس إلى الصُّنَّاع، فأمَّا المرأة المُتَجالَّةُ ، والخادم الدون التي لا تتهم على القعود، ولا يتهم من تقعد عنده فإني لا أرى بذلك بأساً“Menurut pendapatku, penguasa hendaknya mengeluarkan kebijakan untuk para pengrajin atau pekerja agar tidak membiarkan para wanita duduk-duduk di tempat mereka. Aku juga berpendapat bahwa seorang wanita muda tidak boleh dibiarkan duduk-duduk di tempat para pengrajin. Adapun wanita yang sudah tua, serta pembantu wanita dari kalangan bawah yang tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah (godaan) ketika duduk di tempat mereka, dan orang yang ia duduki tempatnya juga tidak dicurigai, maka menurutku tidak mengapa hal itu dilakukan.” (Al-Bayan wat Tahshil, 9: 335)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang sekelompok wanita yang berada di jalan-jalan dan di hadapan orang banyak, bukan seorang wanita berduaan dengan seorang laki-laki,إن خرجوا متميزين – يعني في الطرقات لقضاء الحوائج وشهود الصلوات – لم أمنعهم، وكلهم كره خروج النساء الشواب إلى الاستسقاء، ورخصوا في خروج العجائز“Apabila mereka keluar dengan tetap menjaga agar terpisah dari kaum laki-laki, yakni keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan menghadiri salat berjemaah, maka aku tidak melarang mereka. Seluruh ulama memakruhkan keluarnya wanita-wanita muda untuk melaksanakan salat istisqa‘, sedangkan mereka memberikan kelonggaran bagi wanita-wanita yang sudah tua untuk keluar.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 33)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,ولا يثبت – يعني الإمام – ساعة يسلِّم إلا أن يكون معه نساء، فيثبت لينصرفن قبل الرجال“Imam tidak dianjurkan untuk diam di tempatnya setelah mengucapkan salam. Akan tetapi, jika di belakangnya terdapat jemaah wanita, maka hendaknya ia tetap berada di tempatnya sejenak, agar para wanita dapat meninggalkan tempat salat terlebih dahulu sebelum kaum laki-laki.” (Mukhtashar al-Muzanni, hal. 15)Abu Bakar al-‘Amiri rahimahullah (wafat 530 H), seorang ulama mazhab Syafi’i, berkata,اتفقت علماء الأمة أن من اعتقد حِلَّ هذه المحظورات، وإباحة امتزاج الرجال بالنسوان الأجانب فقد كفر واستحق القتل بردته، وإن اعتقد تحريمه وفعله، وأقر عليه، ورضي به فقد فسق، لا يسمع له قول، ولا تقبل له شهادة“Para ulama umat Islam telah bersepakat bahwa siapa saja yang meyakini halalnya perkara-perkara yang diharamkan ini, serta membolehkan bercampur baurnya laki-laki dengan wanita-wanita yang bukan mahram, maka sungguh ia telah kafir dan berhak dijatuhi hukuman mati karena kemurtadannya. Adapun orang yang tetap meyakini bahwa perbuatan itu haram, namun ia melakukannya, membiarkannya terjadi, dan meridainya, maka ia fasik. Ucapannya tidak diterima dan kesaksiannya pun tidak diterima.” (Ahkamun Nazhar ilal Muharramat, hal. 83)Syekh Muhammad al-Khadir Husain, ulama besar di Universitas al-Azhar pada masanya (wafat 1378 H), beliau berkata,وتحريم الدين لاختلاط الجنسين على النحو الذي يقع في الجامعة معروف لدى عامة المسلمين، كما عرفه الخاصة من علمائهم، وأدلة المنع واردة في الكتاب والسنة، وسيرة السلف الذين عرفوا لباب الدين، وكانوا على بصيرة من حكمته السامية“Aturan agama dalam mengharamkan campur baurnya laki-laki dan wanita seperti yang terjadi di universitas, ini adalah hal yang telah diketahui oleh seluruh kaum muslimin secara umum, sebagaimana juga diketahui oleh kalangan khusus dari para ulama mereka. Dalil-dalil yang menunjukkan larangan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, serta dalam perjalanan hidup generasi salaf yang telah memahami inti ajaran agama dan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap hikmah-hikmahnya yang luhur.” (Muhadharat Islamiyah, hal. 191)Syekh Muhammad al-Khathib, seorang ulama besar dari Libanon, beliau mengatakan,إن الاختلاط لا يختلف في حرمته اثنان من المسلمين، ولا ينكر مساوئه ومفاسده من له قلب، أو ألقى السمع وهو شهيد“Bercampur-baurnya laki-laki dan wanita tidak diperselisihkan keharamannya oleh siapapun dari (ulama) kaum Muslimin. Hati yang bersih tidak akan mengingkari tentang keburukan dan kerusakannya. Dan siapapun tidak akan berpaling dari hal itu padahal ia telah menyaksikan sendiri (kerusakan dan keburukannya).” (Hukmul Islam fil Ikhtilath, Universitas al-Islah Kuwait, hal. 34)Bahaya ikhtilathSyekh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani rahimahullah dalam kitab al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa menjelaskan ada 31 bahaya dan kerusakan dari ikhtilath antara laki-laki dan wanita. Kami sebutkan sebagiannya saja secara ringkas yaitu:Pertama, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan merupakan bukti lemahnya iman dan penyimpangan dari agama. Kerusakan ini diambil dari realitas yang dapat disaksikan, yang bertentangan dengan sejarah kaum Muslimin. Sesungguhnya sejarah umat Islam yang telah berlangsung selama 13 abad menunjukkan bahwa wanita Muslimah senantiasa terjaga dan terlindungi, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh kaum Muslimin. Para wanita tidak mengizinkan percampuran dengan laki-laki, dan kaum laki-laki pun tidak mengizinkan percampuran dengan wanita, kecuali dalam keadaan yang sangat jarang dan terjadi secara insidental saja. Kemudian, ketika muncul berbagai seruan yang bersifat merusak dari musuh-musuh Islam, seperti kelompok Ismailiyah Bathiniyyah, kaum Rafidhah, kaum sufi, Hizbut Tahrir, paham komunisme-sosialisme, partai Ba’ats sosialisme, dan sekularisme-liberalisme, maka di antara seruan yang mereka gaungkan adalah seruan untuk membebaskan perempuan. Setelah itu, muncul pula pendirian partai-partai demokrasi yang menempuh metode demokrasi Barat, dan di antara agenda mereka adalah menyerukan persamaan antara perempuan dan laki-laki. Hingga akhirnya tersebarlah ikhtilath di zaman itu sampai zaman sekarang.Kedua, menyebabkan kerusakan terhadap agama, tatanan kehidupan, kehormatan, harta, akhlak, akal, dan nasab. Data-data statistik di setiap negeri yang tersebar ikhtilath di dalamnya menjadi bukti yang berbicara tentang besarnya bahaya ikhtilath terhadap kehidupan dunia dan agama.Ketiga, ikhtilath merupakan pangkal dari setiap fitnah (kerusakan) dan bencana. Sebab, Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali karena di dalamnya terdapat mudarat yang murni, atau karena mudaratnya lebih dominan daripada manfaatnya. Oleh karena itu, membiarkan terjadinya ikhtilath antara perempuan dan laki-laki secara bebas merupakan suatu kemudaratan yang murni dari satu sisi, dan merupakan kemudaratan yang lebih besar daripada manfaatnya dari sisi yang lain.Keempat, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki menyebabkan hilangnya rasa malu. Sebab, perempuan yang bergaul secara bercampur dengan laki-laki menjadi penyebab hilangnya rasa malunya. Tidak ada kebaikan pada seorang perempuan yang telah hilang rasa malunya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rasa malu adalah bagian dari iman.”Kelima, ikhtilath merupakan jalan menuju perbuatan zina, karena hal itu memudahkan terjadinya pandangan kepada wanita dan berduaan dengannya. Data statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebanyak 87,8% dari keseluruhan siswa sekolah menengah atas pernah melakukan hubungan seksual, dan bahkan 22% di antaranya telah melakukannya sebelum usia 13 tahun.Keenam, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan meningkatkan angka pemerkosaan serta kasus-kasus pelecehan seksual terhadap wanita.Ketujuh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan terjadinya pelecehan terhadap perempuan. Di negara-negara Uni Eropa, sebanyak 35% perempuan mengalami salah satu bentuk pelecehan seksual di tempat kerja. Selain itu, statistik yang diterbitkan European Commission menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1 tahun, sekitar 50% perempuan pekerja mengalami pelecehan seksual.Kedelapan, ikhtilath antara laki-laki dan perempuan di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan para pemuda tenggelam dalam pergaulan bebas dan degradasi moral.Kesembilan, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan mengalihkan perhatian dari produktivitas kerja dan pencapaian akademik yang gemilang.Kesepuluh, ikhtilath di tempat kerja dan lembaga pendidikan menyebabkan meningkatnya angka perceraian dalam masyarakat, serta keengganan untuk menikah. Akibatnya, para wanita enggan menjadi istri, namun lebih tertarik menjadi seorang kekasih, pacar, atau pasangan di luar nikah yang hanya hadir pada saat-saat dibutuhkan.Kesebelas, ikhtilath menyebabkan tersebarnya penyakit-penyakit wabah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan perempuan bercampur baur dengan laki-laki merupakan pangkal dari setiap musibah dan keburukan. Hal itu termasuk salah satu penyebab terbesar turunnya berbagai hukuman yang menimpa masyarakat secara umum. Sebagaimana itu pula merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian massal dan wabah-wabah yang terus berulang.” (Ath-Thuruq Al-Hukmiyah, 2: 722)Kedua-belas, ikhtilath antara perempuan dan laki-laki merobek kehormatan dan kesucian diri. Di antara dampak buruk percampuran perempuan dengan laki-laki adalah rusaknya kesucian diri banyak perempuan. Al-‘Allamah Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ‘iffah (kesucian diri) adalah sebuah tabir yang dirobek oleh ikhtilath. Oleh karena itu, jalan yang ditempuh Islam adalah memisahkan dan menjauhkan perempuan dari laki-laki yang bukan mahramnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang bersifat terpisah antara laki-laki dan perempuan, bukan masyarakat yang berpasang-pasangan. Kaum laki-laki memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri, dan kaum perempuan pun memiliki lingkungan pergaulan mereka sendiri.” (Hirasatul Fadhilah, hal. 58)Ketiga-belas, berbagai bentuk zina kecil dapat terjadi akibat ikhtilath antara perempuan dan laki-laki. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya.” (HR. Al Bukhari no. 6243)Keempat-belas, ikhtilath wanita dengan laki-laki menyebabkan timbulnya berbagai penyakit hati dan penyakit batin pada diri perempuan. Sebab, ketika seorang perempuan keluar dari rumahnya menuju masyarakat yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, ia berusaha agar dirinya memperoleh perhatian lebih dibandingkan rekan-rekan perempuannya, sehingga para laki-laki mengaguminya dan mengarahkan pandangan mereka kepadanya, terlebih lagi jika ia memiliki tubuh yang proporsional dan cantik serta berharta. Maka anda akan melihatnya berusaha mengenakan kain yang paling bagus, mode pakaian yang paling mutakhir, serta menggunakan berbagai sarana berhias, seperti bedak, kosmetik, pewarna, dan berbagai bentuk perawatan kecantikan pada wajah, tangan, pinggang, kaki, dan selainnya.Kelima-belas, wanita-wanita yang bercampur baur dengan laki-laki akan terancam terkena laknat, dikarenakan mereka akan memiliki kecenderungan untuk menyerupai laki-laki. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari no. 5885)Ikhtilath yang dikecualikanDalam kitab “al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa” karya Syaikhah Shihatah Muhammad Shaqr, disebutkan dalil-dalil tentang haramnya campur baur antara laki-laki dan wanita, perkataan para ulama tentang hal ini dan juga kerusakan serta bahaya dari perbuatan tersebut.Namun demikian, ada ikhtilah yang dikecualikan dari hukum haramnya. Beliau lalu menjelaskan tentang kaidah ikhtilath yang diperbolehkan tersebut, dengan mengatakan,وهو كل ما كان في الأماكن العامة وتدعو الحاجة إليه ويشق التحرز عنه , ولا محظور فيه كاختلاط النساء بالرجال في الأسواق والطرقات لقضاء حاجة كسؤال عن متاع أو استفتاء وسؤال عن حاجة وبيع وشراء ونحوه، إذ يسعى الجميع في حاجته ذهابًا وجيئةً، ويبيعون ويشترون، فلا بأس في هذا ما لم يتلبّس من وَقع فيه بمحرّم خارجٍ عنه، فما هو إلا لقاء عابر , واللقاء العابر لقاء محدود لا تزول به الكلفة، وتلتزم فيه المرأة بالضوابط الشرعية في التعامل مع الرجال الأجانب“Yang dimaksud dengan ikhtilath yang diperbolehkan adalah setiap bentuk campur-baur antara laki-laki dan perempuan yang terjadi di tempat umum, yang memang ada kebutuhan mendesak di sana, dan campur-baur yang sulit untuk dihindari, serta tidak mengandung hal-hal yang dilarang secara syar‘i. Contohnya campur-baur antara laki-laki dan perempuan di pasar, atau di jalan, ketika memenuhi suatu kebutuhan, seperti untuk bertanya tentang suatu barang, untuk meminta fatwa, mencari sesuatu yang dibutuhkan, melakukan jual beli, dan semisalnya. Dalam kondisi seperti itu, semua orang beraktivitas untuk memenuhi kebutuhannya, pergi dan datang, berjual-beli, dan seterusnya. Maka hal itu tidak mengapa, selama orang yang terlibat di dalamnya tidak melakukan perbuatan yang terlarang di luar hal tersebut. Karena yang terjadi hanyalah pertemuan singkat, yaitu pertemuan terbatas yang tidak menghilangkan moral, dan dalam pertemuan seperti itu para wanita tetap wajib mematuhi aturan-aturan syariat dalam berinteraksi dengan laki-laki yang bukan mahramnya.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 72)Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh ikhtilath yang dibolehkan secara syar’i:Pada asalnya, dibolehkan adanya campur-baur antara wanita dengan para mahramnya. Demikian pula dengan anak-anak yang belum memiliki ketertarikan terhadap aurat perempuan, serta orang-orang yang semisal mereka, selama aman dari fitnah (godaan).Berkumpulnya laki-laki dan perempuan di masjid yang sama untuk menunaikan salat fardhu atau ibadah lainnya, sebagaimana yang telah berlangsung sejak masa awal Islam hingga hari ini, baik di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa maupun di masjid-masjid lainnya. Dahulu para wanita juga menghadiri salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid, dan beliau tidak melarang hal tersebut. Beliau juga tidak memerintahkan agar dipasang pembatas antara shaf laki-laki dan shaf perempuan.Seorang laki-laki diperbolehkan menemui wanita yang telah dilamarnya dan melihatnya, dengan syarat disertai kehadiran mahram wanita tersebut.Interaksi antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dari balik hijab, sebagaimana sistem yang diterapkan di universitas-universitas dan perguruan tinggi khusus putri di Arab Saudi.Campur-baur antara laki-laki dan wanita yang sulit dihindari, dengan syarat laki-laki dan wanita yang ada saling menjaga pandangan.Diperbolehkan adanya percampuran antara perempuan dengan laki-laki yang bukan mahram karena suatu kebutuhan, dengan adanya mahram, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dapat menjamin terhindarnya fitnah.Kemudian beliau menjelaskan bahwa untuk semua bentuk ikhtilath yang dibolehkan haruslah memenuhi beberapa syarat, yaitu:1) Tidak terjadi khulwah (berduaan) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan mahram.2) Mengupayakan semaksimal mungkin untuk memisahkan laki-laki dan wanita selama masih memungkinkan.3) Kehadiran wanita di sana hendaknya karena suatu kebutuhan yang berat baginya untuk ditinggalkan. Dan kebutuhan tersebut bersifat temporer, sehingga kehadirannya di tempat yang campur-baur tersebut berakhir ketika kebutuhannya telah selesai.4) Tidak terdapat pandangan kepada sesuatu yang tidak boleh dipandang.5) Pembicaraan dengan lawan jenis dilakukan sekadar kebutuhan. Dan wanita tidak berbicara dengan suara yang mendayu-dayu, lembut, manja, atau menggoda sehingga dapat menarik perhatian lawan jenis.6) Tidak menghilangkan pembatas-pembatas antara laki-laki dan wanita yang dapat membuat kondisinya semakin melampaui batas-batas kesopanan dan adab.Dari semua penjelasan ini, kita dapat simpulkan bahwa ikhtilath yang dibolehkan adalah dalam kondisi yang darurat atau kebutuhan mendesak. Sehingga tetap tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini.Kemudian penulis juga membantah sebagian dai yang membolehkan ikhtilath di dunia pendidikan. Seperti yang terjadi di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Beliau mengatakan, “Para pendukung ikhtilath (percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan) mengqiyaskan (menganalogikan) percampuran dalam pendidikan dan pekerjaan dengan percampuran yang bersifat sementara di tempat thawaf dan di jalan, serta dengan kebolehan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat.Padahal telah diketahui bahwa syariat membolehkan memandang calon istri sekadarnya dan duduk bersamanya dalam waktu yang singkat tanpa khalwat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath tersebut, selama duduk bersamanya dalam waktu yang singkat dibolehkan, maka tidak ada halangan untuk duduk bersamanya selama berhari-hari dan berhari-hari, bahkan tidur dalam satu kamar tanpa khalwat, sebagai qiyas terhadap kebolehan yang telah disebutkan. Sebab, menurut para pendukung ikhtilath, tidak ada perbedaan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.Maka, barang siapa mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung terus-menerus (dengan tinggal atau menetap bersama) kepada ikhtilath yang hanya bersifat sementara, sama halnya dengan orang yang mengqiyaskan tidur bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat kepada sekadar duduk sebentar bersama wanita yang telah dipinang tanpa khalwat (berdua-duaan)!Di seluruh pembahasan fikih syariat, engkau akan mendapati bahwa apabila syariat memberikan keringanan terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu singkat, maka syariat tidak memberikan toleransi terhadap sesuatu yang berlangsung dalam waktu lama, dan tidak boleh mengqiyaskan yang satu kepada yang lain.Sebagai contoh, Allah Ta’ala membolehkan orang yang sedang junub berada di dalam masjid dalam waktu yang singkat. Allah Ta’ala berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendekati salat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, dan jangan pula (mendekati masjid) ketika kalian dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kalian mandi.” (QS. An-Nisa’: 43)Allah membolehkannya dalam bentuk sekadar melintas, karena hal itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Berdasarkan qiyas para pendukung ikhtilath, selama orang yang junub boleh berada di masjid sebentar, maka tentu boleh pula orang yang junub beriktikaf semalam di dalam masjid, dengan alasan diqiyaskan kepada kebolehan yang disebutkan dalam ayat mengenai berada di masjid dalam waktu singkat. Lalu apakah qiyas seperti ini dapat diterima?Sesungguhnya orang yang mengqiyaskan ikhtilath yang berlangsung lama kepada ikhtilath yang hanya sesaat, sama seperti orang yang mengqiyaskan iktikaf orang yang junub kepada sekadar melintasnya orang yang junub di dalam masjid. Keduanya sama-sama mengabaikan pertimbangan syariat yang membedakan antara waktu yang singkat dan waktu yang lama dalam penetapan hukum.” (al-Ikhtilath Baynar Rijal wan Nisa, 1: 78)Wallahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca juga: Campur Baur Lawan Jenis dalam Acara Keluarga***Penulis: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id

KEUTAMAAN LA ILAHA ILLALLAH YANG BELUM DIKETAHUI NABI MUSA – Syaikh Shalih Al-Fauzan #NasehatUlama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Maka Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika melihat nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya, dan bahwa ia wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka Allah mengajarinya sesuatu yang dengannya ia berzikir dan bersyukur kepada Allah, yaitu kalimat: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maknanya: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah ‘Azza wa Jalla. Konsekuensinya adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan di antara bentuk ibadah itu adalah bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka kalimat ini adalah kalimat teragung untuk bersyukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan kalimat teragung untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Kalimat ini merupakan wujud syukur kepada Allah dan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Ketika itu Musa berkata… Beliau belum mengetahui keutamaan kalimat ini. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan para nabi dan rasul pun terkadang belum mengetahui sebagian keutamaan, lalu Allah mengajarkannya kepada mereka. Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.” Maksudnya, “Aku ingin Engkau mengkhususkanku dengan sesuatu yang membedakanku dari mereka dalam bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah mengkhususkanku dengan nikmat istimewa yang tidak diperoleh selainku,” yaitu Allah Jalla wa ‘Ala berbicara langsung kepada Nabi Musa. Maka Allah menjelaskan kepadanya kedudukan dan keagungan kalimat ini, serta mengajarkan hal tersebut kepadanya. Allah berfirman, “Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain-Ku…” Yakni makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, berupa para malaikat dan selain mereka. “Yang tujuh,” yakni ketujuh langit beserta para penghuninya, serta berbagai makhluk yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Adapun firman-Nya, “selain-Ku,” maknanya bahwa Dia Subhanahu berada di ketinggian dan berada di atas langit. Bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berada di atas langit. “Apakah kalian merasa aman dari Dia yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan bumi bersama kalian, lalu tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16). Dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia berada di atas langit, karena Allah memiliki ketinggian yang mutlak: ketinggian Zat, ketinggian kedudukan, dan ketinggian penguasaan. “Beserta para penghuninya selain-Ku,” yakni para malaikat dan makhluk yang ada di dalamnya. Ini menunjukkan betapa berat langit-langit itu beserta para penghuninya. “Beserta para penghuninya selain-Ku berada di satu daun timbangan,” yakni semua itu berada di salah satu dari dua daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah berada di daun timbangan yang lain. Ini merupakan dalil bahwa amalan, baik ucapan maupun perbuatan, akan ditimbang pada hari Kiamat. Yakni, sebagai suatu permisalan untuk mendekatkan pemahaman, seandainya langit-langit diletakkan di satu daun timbangan, beserta bumi-bumi dan para penghuninya, yakni ketujuh bumi (dan ini menunjukkan bahwa bumi berjumlah tujuh sebagaimana langit berjumlah tujuh), beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya, berupa jin, manusia, hewan, daratan, lautan, dan pepohonan, semuanya diletakkan di satu daun timbangan, yaitu daun timbangan yang kedua, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Ini merupakan dalil tentang keutamaan tauhid. Inilah sisi kesesuaian hadis ini dengan judul bab yang ditulis oleh Syaikh rahimahullah, “Bab Keutamaan Tauhid.” Di antara keutamaan itu adalah apabila kalimat tauhid diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan makhluk-makhluk tersebut berada di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Hal ini menunjukkan keutamaan tauhid yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Bahkan Nabi Musa ‘alaihis salam pun belum mengetahui hal ini hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepadanya keutamaan kalimat yang agung ini. Hal itu karena dengan kalimat inilah langit dan bumi tegak, dengannya pula timbangan ditegakkan dan catatan amal dibentangkan, dan lain sebagainya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.’ Allah berfirman, ‘Ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Sesungguhnya aku menginginkan sesuatu yang Engkau khususkan untukku.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain Aku, dan ketujuh bumi, diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya.’”(HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10602, Ibnu Hibban no. 6218). ===== قَالَ سُبْحَانَهُ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ فَمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا رَأَى نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ أَنْ يَشْكُرَ اللَّهَ عَلَيْهَا قَالَ: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَعَلَّمَهُ مَا يَذْكُرُ اللَّهَ وَيَشْكُرُهُ بِهِ وَهُوَ هَذِهِ الْكَلِمَةُ قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَعْنَاهَا: لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمُقْتَضَاهَا إِخْلَاصُ الْعِبَادَةِ لِلَّهِ وَمِنْهَا الشُّكْرُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذِهِ الْكَلِمَةُ هِيَ أَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُشْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا وَأَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُذْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا فَهِيَ شُكْرٌ لِلَّهِ وَذِكْرٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى… إِنَّهُ لَمْ يَعْرِفْ فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ… حَتَّى الْأَنْبِيَاءَ وَالْمُرْسَلِينَ قَدْ يَجْهَلُونَ شَيْئًا مِنَ الْفَضَائِلِ وَاللَّهُ يُعَلِّمُهُمْ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا بِمَعْنَى أَنَّنِي أُرِيدُ أَنْ تَخُصَّنِي بِشَيْءٍ أَنْفَرِدُ بِهِ عَنْهُمْ مِنْ شُكْرِكَ لِأَنَّكَ خَصَصْتَنِي بِنِعْمَةٍ خَاصَّةٍ لَمْ يَنَلْهَا غَيْرِي وَهِيَ تَكْلِيمُ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَهُ فَبَيَّنَ اللَّهُ لَهُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعِظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعَلَّمَهُ ذَلِكَ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمْ السَّبْعَ سَبْعَ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ مِنَ السُّكَّانِ وَمِنَ الْمَخْلُوقَاتِ الَّتِي لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ وَأَمَّا قَوْلُهُ: غَيْرِي فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ فِي الْعُلُوِّ سُبْحَانَهُ وَأَنَّهُ فِي السَّمَاءِ أَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا فِي السَّمَاءِ أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ فِي السَّمَاءِ لِأَنَّ لَهُ الْعُلُوَّ الْمُطْلَقَ عُلُوَّ الذَّاتِ وَعُلُوَّ الْقَدْرِ وَعُلُوَّ الْقَهْرِ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَالْمَخْلُوقَاتِ فَهَذَا يُبَيِّنُ عِظَمَ ثِقَلِ هَذِهِ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي كَانَتْ فِي كِفَّةٍ يَعْنِي هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي كِفَّةٍ مِنْ كِفَّتَيِ الْمِيزَانِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَعْمَالَ وَالْأَقْوَالَ وَالْأَفْعَالَ تُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي لَوْ أَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ الْفَرْضِ وَالتَّقْرِيبِ لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالْأَرَضِينَ وَمَنْ فِيهِنَّ أَيْ وَعَامِرَهُنَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعَ وَفِيهِ أَنَّ الْأَرَضِينَ سَبْعٌ كَمَا أَنَّ السَّمَاوَاتِ سَبْعٌ وَعَامِرَهُنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْحَيَوَانَاتِ وَالْبَرَارِي وَالْبِحَارِ وَالْأَشْجَارِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ الْكِفَّةِ الثَّانِيَةِ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَهَذَا هُوَ مُطَابَقَةُ الْحَدِيثِ لِلتَّرْجَمَةِ الَّتِي قَالَ فِيهَا الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيدِ إِذَا وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَهَذِهِ الْمَخْلُوقَاتُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ الَّذِي قَدْ لَا يَعْرِفُهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ حَتَّى إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَجْهَلُ هَذَا حَتَّى عَلَّمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ بِهَا قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَبِهَا نُصِبَتِ الْمَوَازِينُ وَالدَّوَاوِينُ وَغَيْرُ ذَلِكَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ بِهِ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ إِنَّمَا أُرِيدُ شَيْئًا تَخُصُّنِي بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

KEUTAMAAN LA ILAHA ILLALLAH YANG BELUM DIKETAHUI NABI MUSA – Syaikh Shalih Al-Fauzan #NasehatUlama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Maka Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika melihat nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya, dan bahwa ia wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka Allah mengajarinya sesuatu yang dengannya ia berzikir dan bersyukur kepada Allah, yaitu kalimat: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maknanya: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah ‘Azza wa Jalla. Konsekuensinya adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan di antara bentuk ibadah itu adalah bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka kalimat ini adalah kalimat teragung untuk bersyukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan kalimat teragung untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Kalimat ini merupakan wujud syukur kepada Allah dan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Ketika itu Musa berkata… Beliau belum mengetahui keutamaan kalimat ini. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan para nabi dan rasul pun terkadang belum mengetahui sebagian keutamaan, lalu Allah mengajarkannya kepada mereka. Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.” Maksudnya, “Aku ingin Engkau mengkhususkanku dengan sesuatu yang membedakanku dari mereka dalam bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah mengkhususkanku dengan nikmat istimewa yang tidak diperoleh selainku,” yaitu Allah Jalla wa ‘Ala berbicara langsung kepada Nabi Musa. Maka Allah menjelaskan kepadanya kedudukan dan keagungan kalimat ini, serta mengajarkan hal tersebut kepadanya. Allah berfirman, “Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain-Ku…” Yakni makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, berupa para malaikat dan selain mereka. “Yang tujuh,” yakni ketujuh langit beserta para penghuninya, serta berbagai makhluk yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Adapun firman-Nya, “selain-Ku,” maknanya bahwa Dia Subhanahu berada di ketinggian dan berada di atas langit. Bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berada di atas langit. “Apakah kalian merasa aman dari Dia yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan bumi bersama kalian, lalu tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16). Dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia berada di atas langit, karena Allah memiliki ketinggian yang mutlak: ketinggian Zat, ketinggian kedudukan, dan ketinggian penguasaan. “Beserta para penghuninya selain-Ku,” yakni para malaikat dan makhluk yang ada di dalamnya. Ini menunjukkan betapa berat langit-langit itu beserta para penghuninya. “Beserta para penghuninya selain-Ku berada di satu daun timbangan,” yakni semua itu berada di salah satu dari dua daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah berada di daun timbangan yang lain. Ini merupakan dalil bahwa amalan, baik ucapan maupun perbuatan, akan ditimbang pada hari Kiamat. Yakni, sebagai suatu permisalan untuk mendekatkan pemahaman, seandainya langit-langit diletakkan di satu daun timbangan, beserta bumi-bumi dan para penghuninya, yakni ketujuh bumi (dan ini menunjukkan bahwa bumi berjumlah tujuh sebagaimana langit berjumlah tujuh), beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya, berupa jin, manusia, hewan, daratan, lautan, dan pepohonan, semuanya diletakkan di satu daun timbangan, yaitu daun timbangan yang kedua, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Ini merupakan dalil tentang keutamaan tauhid. Inilah sisi kesesuaian hadis ini dengan judul bab yang ditulis oleh Syaikh rahimahullah, “Bab Keutamaan Tauhid.” Di antara keutamaan itu adalah apabila kalimat tauhid diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan makhluk-makhluk tersebut berada di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Hal ini menunjukkan keutamaan tauhid yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Bahkan Nabi Musa ‘alaihis salam pun belum mengetahui hal ini hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepadanya keutamaan kalimat yang agung ini. Hal itu karena dengan kalimat inilah langit dan bumi tegak, dengannya pula timbangan ditegakkan dan catatan amal dibentangkan, dan lain sebagainya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.’ Allah berfirman, ‘Ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Sesungguhnya aku menginginkan sesuatu yang Engkau khususkan untukku.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain Aku, dan ketujuh bumi, diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya.’”(HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10602, Ibnu Hibban no. 6218). ===== قَالَ سُبْحَانَهُ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ فَمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا رَأَى نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ أَنْ يَشْكُرَ اللَّهَ عَلَيْهَا قَالَ: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَعَلَّمَهُ مَا يَذْكُرُ اللَّهَ وَيَشْكُرُهُ بِهِ وَهُوَ هَذِهِ الْكَلِمَةُ قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَعْنَاهَا: لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمُقْتَضَاهَا إِخْلَاصُ الْعِبَادَةِ لِلَّهِ وَمِنْهَا الشُّكْرُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذِهِ الْكَلِمَةُ هِيَ أَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُشْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا وَأَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُذْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا فَهِيَ شُكْرٌ لِلَّهِ وَذِكْرٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى… إِنَّهُ لَمْ يَعْرِفْ فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ… حَتَّى الْأَنْبِيَاءَ وَالْمُرْسَلِينَ قَدْ يَجْهَلُونَ شَيْئًا مِنَ الْفَضَائِلِ وَاللَّهُ يُعَلِّمُهُمْ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا بِمَعْنَى أَنَّنِي أُرِيدُ أَنْ تَخُصَّنِي بِشَيْءٍ أَنْفَرِدُ بِهِ عَنْهُمْ مِنْ شُكْرِكَ لِأَنَّكَ خَصَصْتَنِي بِنِعْمَةٍ خَاصَّةٍ لَمْ يَنَلْهَا غَيْرِي وَهِيَ تَكْلِيمُ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَهُ فَبَيَّنَ اللَّهُ لَهُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعِظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعَلَّمَهُ ذَلِكَ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمْ السَّبْعَ سَبْعَ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ مِنَ السُّكَّانِ وَمِنَ الْمَخْلُوقَاتِ الَّتِي لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ وَأَمَّا قَوْلُهُ: غَيْرِي فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ فِي الْعُلُوِّ سُبْحَانَهُ وَأَنَّهُ فِي السَّمَاءِ أَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا فِي السَّمَاءِ أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ فِي السَّمَاءِ لِأَنَّ لَهُ الْعُلُوَّ الْمُطْلَقَ عُلُوَّ الذَّاتِ وَعُلُوَّ الْقَدْرِ وَعُلُوَّ الْقَهْرِ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَالْمَخْلُوقَاتِ فَهَذَا يُبَيِّنُ عِظَمَ ثِقَلِ هَذِهِ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي كَانَتْ فِي كِفَّةٍ يَعْنِي هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي كِفَّةٍ مِنْ كِفَّتَيِ الْمِيزَانِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَعْمَالَ وَالْأَقْوَالَ وَالْأَفْعَالَ تُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي لَوْ أَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ الْفَرْضِ وَالتَّقْرِيبِ لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالْأَرَضِينَ وَمَنْ فِيهِنَّ أَيْ وَعَامِرَهُنَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعَ وَفِيهِ أَنَّ الْأَرَضِينَ سَبْعٌ كَمَا أَنَّ السَّمَاوَاتِ سَبْعٌ وَعَامِرَهُنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْحَيَوَانَاتِ وَالْبَرَارِي وَالْبِحَارِ وَالْأَشْجَارِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ الْكِفَّةِ الثَّانِيَةِ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَهَذَا هُوَ مُطَابَقَةُ الْحَدِيثِ لِلتَّرْجَمَةِ الَّتِي قَالَ فِيهَا الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيدِ إِذَا وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَهَذِهِ الْمَخْلُوقَاتُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ الَّذِي قَدْ لَا يَعْرِفُهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ حَتَّى إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَجْهَلُ هَذَا حَتَّى عَلَّمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ بِهَا قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَبِهَا نُصِبَتِ الْمَوَازِينُ وَالدَّوَاوِينُ وَغَيْرُ ذَلِكَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ بِهِ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ إِنَّمَا أُرِيدُ شَيْئًا تَخُصُّنِي بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Maka Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika melihat nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya, dan bahwa ia wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka Allah mengajarinya sesuatu yang dengannya ia berzikir dan bersyukur kepada Allah, yaitu kalimat: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maknanya: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah ‘Azza wa Jalla. Konsekuensinya adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan di antara bentuk ibadah itu adalah bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka kalimat ini adalah kalimat teragung untuk bersyukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan kalimat teragung untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Kalimat ini merupakan wujud syukur kepada Allah dan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Ketika itu Musa berkata… Beliau belum mengetahui keutamaan kalimat ini. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan para nabi dan rasul pun terkadang belum mengetahui sebagian keutamaan, lalu Allah mengajarkannya kepada mereka. Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.” Maksudnya, “Aku ingin Engkau mengkhususkanku dengan sesuatu yang membedakanku dari mereka dalam bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah mengkhususkanku dengan nikmat istimewa yang tidak diperoleh selainku,” yaitu Allah Jalla wa ‘Ala berbicara langsung kepada Nabi Musa. Maka Allah menjelaskan kepadanya kedudukan dan keagungan kalimat ini, serta mengajarkan hal tersebut kepadanya. Allah berfirman, “Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain-Ku…” Yakni makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, berupa para malaikat dan selain mereka. “Yang tujuh,” yakni ketujuh langit beserta para penghuninya, serta berbagai makhluk yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Adapun firman-Nya, “selain-Ku,” maknanya bahwa Dia Subhanahu berada di ketinggian dan berada di atas langit. Bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berada di atas langit. “Apakah kalian merasa aman dari Dia yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan bumi bersama kalian, lalu tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16). Dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia berada di atas langit, karena Allah memiliki ketinggian yang mutlak: ketinggian Zat, ketinggian kedudukan, dan ketinggian penguasaan. “Beserta para penghuninya selain-Ku,” yakni para malaikat dan makhluk yang ada di dalamnya. Ini menunjukkan betapa berat langit-langit itu beserta para penghuninya. “Beserta para penghuninya selain-Ku berada di satu daun timbangan,” yakni semua itu berada di salah satu dari dua daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah berada di daun timbangan yang lain. Ini merupakan dalil bahwa amalan, baik ucapan maupun perbuatan, akan ditimbang pada hari Kiamat. Yakni, sebagai suatu permisalan untuk mendekatkan pemahaman, seandainya langit-langit diletakkan di satu daun timbangan, beserta bumi-bumi dan para penghuninya, yakni ketujuh bumi (dan ini menunjukkan bahwa bumi berjumlah tujuh sebagaimana langit berjumlah tujuh), beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya, berupa jin, manusia, hewan, daratan, lautan, dan pepohonan, semuanya diletakkan di satu daun timbangan, yaitu daun timbangan yang kedua, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Ini merupakan dalil tentang keutamaan tauhid. Inilah sisi kesesuaian hadis ini dengan judul bab yang ditulis oleh Syaikh rahimahullah, “Bab Keutamaan Tauhid.” Di antara keutamaan itu adalah apabila kalimat tauhid diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan makhluk-makhluk tersebut berada di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Hal ini menunjukkan keutamaan tauhid yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Bahkan Nabi Musa ‘alaihis salam pun belum mengetahui hal ini hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepadanya keutamaan kalimat yang agung ini. Hal itu karena dengan kalimat inilah langit dan bumi tegak, dengannya pula timbangan ditegakkan dan catatan amal dibentangkan, dan lain sebagainya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.’ Allah berfirman, ‘Ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Sesungguhnya aku menginginkan sesuatu yang Engkau khususkan untukku.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain Aku, dan ketujuh bumi, diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya.’”(HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10602, Ibnu Hibban no. 6218). ===== قَالَ سُبْحَانَهُ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ فَمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا رَأَى نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ أَنْ يَشْكُرَ اللَّهَ عَلَيْهَا قَالَ: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَعَلَّمَهُ مَا يَذْكُرُ اللَّهَ وَيَشْكُرُهُ بِهِ وَهُوَ هَذِهِ الْكَلِمَةُ قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَعْنَاهَا: لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمُقْتَضَاهَا إِخْلَاصُ الْعِبَادَةِ لِلَّهِ وَمِنْهَا الشُّكْرُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذِهِ الْكَلِمَةُ هِيَ أَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُشْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا وَأَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُذْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا فَهِيَ شُكْرٌ لِلَّهِ وَذِكْرٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى… إِنَّهُ لَمْ يَعْرِفْ فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ… حَتَّى الْأَنْبِيَاءَ وَالْمُرْسَلِينَ قَدْ يَجْهَلُونَ شَيْئًا مِنَ الْفَضَائِلِ وَاللَّهُ يُعَلِّمُهُمْ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا بِمَعْنَى أَنَّنِي أُرِيدُ أَنْ تَخُصَّنِي بِشَيْءٍ أَنْفَرِدُ بِهِ عَنْهُمْ مِنْ شُكْرِكَ لِأَنَّكَ خَصَصْتَنِي بِنِعْمَةٍ خَاصَّةٍ لَمْ يَنَلْهَا غَيْرِي وَهِيَ تَكْلِيمُ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَهُ فَبَيَّنَ اللَّهُ لَهُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعِظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعَلَّمَهُ ذَلِكَ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمْ السَّبْعَ سَبْعَ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ مِنَ السُّكَّانِ وَمِنَ الْمَخْلُوقَاتِ الَّتِي لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ وَأَمَّا قَوْلُهُ: غَيْرِي فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ فِي الْعُلُوِّ سُبْحَانَهُ وَأَنَّهُ فِي السَّمَاءِ أَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا فِي السَّمَاءِ أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ فِي السَّمَاءِ لِأَنَّ لَهُ الْعُلُوَّ الْمُطْلَقَ عُلُوَّ الذَّاتِ وَعُلُوَّ الْقَدْرِ وَعُلُوَّ الْقَهْرِ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَالْمَخْلُوقَاتِ فَهَذَا يُبَيِّنُ عِظَمَ ثِقَلِ هَذِهِ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي كَانَتْ فِي كِفَّةٍ يَعْنِي هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي كِفَّةٍ مِنْ كِفَّتَيِ الْمِيزَانِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَعْمَالَ وَالْأَقْوَالَ وَالْأَفْعَالَ تُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي لَوْ أَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ الْفَرْضِ وَالتَّقْرِيبِ لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالْأَرَضِينَ وَمَنْ فِيهِنَّ أَيْ وَعَامِرَهُنَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعَ وَفِيهِ أَنَّ الْأَرَضِينَ سَبْعٌ كَمَا أَنَّ السَّمَاوَاتِ سَبْعٌ وَعَامِرَهُنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْحَيَوَانَاتِ وَالْبَرَارِي وَالْبِحَارِ وَالْأَشْجَارِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ الْكِفَّةِ الثَّانِيَةِ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَهَذَا هُوَ مُطَابَقَةُ الْحَدِيثِ لِلتَّرْجَمَةِ الَّتِي قَالَ فِيهَا الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيدِ إِذَا وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَهَذِهِ الْمَخْلُوقَاتُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ الَّذِي قَدْ لَا يَعْرِفُهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ حَتَّى إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَجْهَلُ هَذَا حَتَّى عَلَّمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ بِهَا قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَبِهَا نُصِبَتِ الْمَوَازِينُ وَالدَّوَاوِينُ وَغَيْرُ ذَلِكَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ بِهِ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ إِنَّمَا أُرِيدُ شَيْئًا تَخُصُّنِي بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah ketika Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Maka Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika melihat nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya, dan bahwa ia wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka Allah mengajarinya sesuatu yang dengannya ia berzikir dan bersyukur kepada Allah, yaitu kalimat: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maknanya: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah ‘Azza wa Jalla. Konsekuensinya adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan di antara bentuk ibadah itu adalah bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. “Yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.” Maka kalimat ini adalah kalimat teragung untuk bersyukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan kalimat teragung untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Kalimat ini merupakan wujud syukur kepada Allah dan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Ketika itu Musa berkata… Beliau belum mengetahui keutamaan kalimat ini. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan para nabi dan rasul pun terkadang belum mengetahui sebagian keutamaan, lalu Allah mengajarkannya kepada mereka. Nabi Musa berkata, “Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.” Maksudnya, “Aku ingin Engkau mengkhususkanku dengan sesuatu yang membedakanku dari mereka dalam bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah mengkhususkanku dengan nikmat istimewa yang tidak diperoleh selainku,” yaitu Allah Jalla wa ‘Ala berbicara langsung kepada Nabi Musa. Maka Allah menjelaskan kepadanya kedudukan dan keagungan kalimat ini, serta mengajarkan hal tersebut kepadanya. Allah berfirman, “Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain-Ku…” Yakni makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, berupa para malaikat dan selain mereka. “Yang tujuh,” yakni ketujuh langit beserta para penghuninya, serta berbagai makhluk yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Adapun firman-Nya, “selain-Ku,” maknanya bahwa Dia Subhanahu berada di ketinggian dan berada di atas langit. Bahwa Allah Jalla wa ‘Ala berada di atas langit. “Apakah kalian merasa aman dari Dia yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan bumi bersama kalian, lalu tiba-tiba bumi itu berguncang?” (QS. Al-Mulk: 16). Dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia berada di atas langit, karena Allah memiliki ketinggian yang mutlak: ketinggian Zat, ketinggian kedudukan, dan ketinggian penguasaan. “Beserta para penghuninya selain-Ku,” yakni para malaikat dan makhluk yang ada di dalamnya. Ini menunjukkan betapa berat langit-langit itu beserta para penghuninya. “Beserta para penghuninya selain-Ku berada di satu daun timbangan,” yakni semua itu berada di salah satu dari dua daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah berada di daun timbangan yang lain. Ini merupakan dalil bahwa amalan, baik ucapan maupun perbuatan, akan ditimbang pada hari Kiamat. Yakni, sebagai suatu permisalan untuk mendekatkan pemahaman, seandainya langit-langit diletakkan di satu daun timbangan, beserta bumi-bumi dan para penghuninya, yakni ketujuh bumi (dan ini menunjukkan bahwa bumi berjumlah tujuh sebagaimana langit berjumlah tujuh), beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya, berupa jin, manusia, hewan, daratan, lautan, dan pepohonan, semuanya diletakkan di satu daun timbangan, yaitu daun timbangan yang kedua, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Ini merupakan dalil tentang keutamaan tauhid. Inilah sisi kesesuaian hadis ini dengan judul bab yang ditulis oleh Syaikh rahimahullah, “Bab Keutamaan Tauhid.” Di antara keutamaan itu adalah apabila kalimat tauhid diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan makhluk-makhluk tersebut berada di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya. Hal ini menunjukkan keutamaan tauhid yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Bahkan Nabi Musa ‘alaihis salam pun belum mengetahui hal ini hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepadanya keutamaan kalimat yang agung ini. Hal itu karena dengan kalimat inilah langit dan bumi tegak, dengannya pula timbangan ditegakkan dan catatan amal dibentangkan, dan lain sebagainya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya aku dapat berzikir dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, seluruh hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.’ Allah berfirman, ‘Ucapkanlah: La ilaha illallah.’ Musa berkata, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Sesungguhnya aku menginginkan sesuatu yang Engkau khususkan untukku.’ Allah berfirman, ‘Wahai Musa, seandainya ketujuh langit beserta para penghuninya selain Aku, dan ketujuh bumi, diletakkan di satu daun timbangan, sedangkan La ilaha illallah di daun timbangan yang lain, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada semuanya.’”(HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10602, Ibnu Hibban no. 6218). ===== قَالَ سُبْحَانَهُ: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ فَمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا رَأَى نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ أَنْ يَشْكُرَ اللَّهَ عَلَيْهَا قَالَ: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَعَلَّمَهُ مَا يَذْكُرُ اللَّهَ وَيَشْكُرُهُ بِهِ وَهُوَ هَذِهِ الْكَلِمَةُ قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَعْنَاهَا: لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمُقْتَضَاهَا إِخْلَاصُ الْعِبَادَةِ لِلَّهِ وَمِنْهَا الشُّكْرُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذِهِ الْكَلِمَةُ هِيَ أَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُشْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا وَأَعْظَمُ كَلِمَةٍ يُذْكَرُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِهَا فَهِيَ شُكْرٌ لِلَّهِ وَذِكْرٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى… إِنَّهُ لَمْ يَعْرِفْ فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ… حَتَّى الْأَنْبِيَاءَ وَالْمُرْسَلِينَ قَدْ يَجْهَلُونَ شَيْئًا مِنَ الْفَضَائِلِ وَاللَّهُ يُعَلِّمُهُمْ ذَلِكَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا بِمَعْنَى أَنَّنِي أُرِيدُ أَنْ تَخُصَّنِي بِشَيْءٍ أَنْفَرِدُ بِهِ عَنْهُمْ مِنْ شُكْرِكَ لِأَنَّكَ خَصَصْتَنِي بِنِعْمَةٍ خَاصَّةٍ لَمْ يَنَلْهَا غَيْرِي وَهِيَ تَكْلِيمُ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا لَهُ فَبَيَّنَ اللَّهُ لَهُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعِظَمَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَعَلَّمَهُ ذَلِكَ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمْ السَّبْعَ سَبْعَ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ مِنَ السُّكَّانِ وَمِنَ الْمَخْلُوقَاتِ الَّتِي لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ وَأَمَّا قَوْلُهُ: غَيْرِي فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ فِي الْعُلُوِّ سُبْحَانَهُ وَأَنَّهُ فِي السَّمَاءِ أَنَّهُ جَلَّ وَعَلَا فِي السَّمَاءِ أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَخْبَرَ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ فِي السَّمَاءِ لِأَنَّ لَهُ الْعُلُوَّ الْمُطْلَقَ عُلُوَّ الذَّاتِ وَعُلُوَّ الْقَدْرِ وَعُلُوَّ الْقَهْرِ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي أَيْ مَنْ فِيهِنَّ مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَالْمَخْلُوقَاتِ فَهَذَا يُبَيِّنُ عِظَمَ ثِقَلِ هَذِهِ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي كَانَتْ فِي كِفَّةٍ يَعْنِي هَذِهِ الْأَشْيَاءَ فِي كِفَّةٍ مِنْ كِفَّتَيِ الْمِيزَانِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْأَعْمَالَ وَالْأَقْوَالَ وَالْأَفْعَالَ تُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي لَوْ أَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ الْفَرْضِ وَالتَّقْرِيبِ لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَالْأَرَضِينَ وَمَنْ فِيهِنَّ أَيْ وَعَامِرَهُنَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعَ وَفِيهِ أَنَّ الْأَرَضِينَ سَبْعٌ كَمَا أَنَّ السَّمَاوَاتِ سَبْعٌ وَعَامِرَهُنَّ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْحَيَوَانَاتِ وَالْبَرَارِي وَالْبِحَارِ وَالْأَشْجَارِ وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ الْكِفَّةِ الثَّانِيَةِ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَهَذَا هُوَ مُطَابَقَةُ الْحَدِيثِ لِلتَّرْجَمَةِ الَّتِي قَالَ فِيهَا الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيدِ وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيدِ إِذَا وُضِعَتْ فِي كِفَّةٍ وَهَذِهِ الْمَخْلُوقَاتُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى فَضْلِ التَّوْحِيدِ الَّذِي قَدْ لَا يَعْرِفُهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ حَتَّى إِنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَجْهَلُ هَذَا حَتَّى عَلَّمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَضْلَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ بِهَا قَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَبِهَا نُصِبَتِ الْمَوَازِينُ وَالدَّوَاوِينُ وَغَيْرُ ذَلِكَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ بِهِ وَأَدْعُوكَ بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ إِنَّمَا أُرِيدُ شَيْئًا تَخُصُّنِي بِهِ قَالَ: يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 6): Mencintai Seluruh Sahabat Nabi

Keempat, mencintai seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamCiri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah kecintaan mereka kepada seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat memuliakan, menghormati, dan menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sebagai suri teladan dalam memahami serta mengamalkan sunah. Mereka tidak membahas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat pada masa fitnah yang salah satunya dipicu oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Sebaliknya, mereka memberikan uzur kepada para sahabat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أُحُدٍ ذهبًا ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفه“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 3673)Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. Mereka mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Lalu Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang kaum Anshar,وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Dan orang-orang yang telah menempati negeri (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Kemudian Allah berfirman tentang orang-orang yang datang setelah mereka,وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)Tidak seperti yang dikatakan oleh kaum Rafidhah, semoga Allah menghinakan mereka. Mereka mengatakan, “Ya Allah, laknatlah Abu Bakar dan Umar.” Mereka mencela para sahabat dan mengkafirkan mereka.Maka, termasuk prinsip utama yang dipegang Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dari mencela dan memusuhi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun yang membenci para sahabat kecuali dia adalah seorang munafik, dan tidak ada seorang pun yang mencintai mereka kecuali dia adalah seorang mukmin. Tidak ada pula yang membenci mereka kecuali orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا“Muhamad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat dan menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberikan kepada mereka kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi pujian dan sanjungan kepada para sahabat sangatlah banyak. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla serta bahwa mereka merupakan teladan bagi generasi yang datang setelah mereka. Sebab, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik yang belajar langsung dari beliau, berjihad bersama beliau, serta membela dan menolong dakwah beliau.Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, merekalah yang memikul amanah menyebarkan agama Islam hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia, baik di timur maupun di barat. Mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan Allah, menaklukkan berbagai negeri, serta menegakkan dan menampakkan agama Allah di tengah umat manusia. Maka, tidaklah seorang pun membenci dan merendahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kecuali orang munafik yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Inilah sebagian jejak perjuangan dan amalan agung para sahabat. Tidaklah seseorang membenci mereka melainkan karena kemunafikan yang ada dalam hatinya. Kebencian itu bukan karena para sahabat pernah mengambil haknya atau menyakitinya, melainkan karena keimanan mereka, kemuliaan kedudukan mereka dalam Islam, serta jasa-jasa besar mereka terhadap agama ini.Merekalah orang-orang yang menolong dan melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad bersama beliau, menyebarkan agama yang beliau bawa, menjaga sunah beliau, menyampaikannya kepada umat, bersabar bersama beliau menghadapi berbagai kesulitan, serta menanggung berbagai penderitaan di jalan Allah. Maka, tidaklah seseorang merendahkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ia adalah orang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla butakan mata hatinya, atau orang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan, kedengkian, serta kebencian terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 25-28.

Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 6): Mencintai Seluruh Sahabat Nabi

Keempat, mencintai seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamCiri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah kecintaan mereka kepada seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat memuliakan, menghormati, dan menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sebagai suri teladan dalam memahami serta mengamalkan sunah. Mereka tidak membahas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat pada masa fitnah yang salah satunya dipicu oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Sebaliknya, mereka memberikan uzur kepada para sahabat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أُحُدٍ ذهبًا ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفه“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 3673)Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. Mereka mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Lalu Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang kaum Anshar,وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Dan orang-orang yang telah menempati negeri (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Kemudian Allah berfirman tentang orang-orang yang datang setelah mereka,وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)Tidak seperti yang dikatakan oleh kaum Rafidhah, semoga Allah menghinakan mereka. Mereka mengatakan, “Ya Allah, laknatlah Abu Bakar dan Umar.” Mereka mencela para sahabat dan mengkafirkan mereka.Maka, termasuk prinsip utama yang dipegang Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dari mencela dan memusuhi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun yang membenci para sahabat kecuali dia adalah seorang munafik, dan tidak ada seorang pun yang mencintai mereka kecuali dia adalah seorang mukmin. Tidak ada pula yang membenci mereka kecuali orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا“Muhamad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat dan menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberikan kepada mereka kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi pujian dan sanjungan kepada para sahabat sangatlah banyak. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla serta bahwa mereka merupakan teladan bagi generasi yang datang setelah mereka. Sebab, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik yang belajar langsung dari beliau, berjihad bersama beliau, serta membela dan menolong dakwah beliau.Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, merekalah yang memikul amanah menyebarkan agama Islam hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia, baik di timur maupun di barat. Mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan Allah, menaklukkan berbagai negeri, serta menegakkan dan menampakkan agama Allah di tengah umat manusia. Maka, tidaklah seorang pun membenci dan merendahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kecuali orang munafik yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Inilah sebagian jejak perjuangan dan amalan agung para sahabat. Tidaklah seseorang membenci mereka melainkan karena kemunafikan yang ada dalam hatinya. Kebencian itu bukan karena para sahabat pernah mengambil haknya atau menyakitinya, melainkan karena keimanan mereka, kemuliaan kedudukan mereka dalam Islam, serta jasa-jasa besar mereka terhadap agama ini.Merekalah orang-orang yang menolong dan melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad bersama beliau, menyebarkan agama yang beliau bawa, menjaga sunah beliau, menyampaikannya kepada umat, bersabar bersama beliau menghadapi berbagai kesulitan, serta menanggung berbagai penderitaan di jalan Allah. Maka, tidaklah seseorang merendahkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ia adalah orang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla butakan mata hatinya, atau orang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan, kedengkian, serta kebencian terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 25-28.
Keempat, mencintai seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamCiri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah kecintaan mereka kepada seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat memuliakan, menghormati, dan menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sebagai suri teladan dalam memahami serta mengamalkan sunah. Mereka tidak membahas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat pada masa fitnah yang salah satunya dipicu oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Sebaliknya, mereka memberikan uzur kepada para sahabat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أُحُدٍ ذهبًا ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفه“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 3673)Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. Mereka mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Lalu Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang kaum Anshar,وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Dan orang-orang yang telah menempati negeri (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Kemudian Allah berfirman tentang orang-orang yang datang setelah mereka,وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)Tidak seperti yang dikatakan oleh kaum Rafidhah, semoga Allah menghinakan mereka. Mereka mengatakan, “Ya Allah, laknatlah Abu Bakar dan Umar.” Mereka mencela para sahabat dan mengkafirkan mereka.Maka, termasuk prinsip utama yang dipegang Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dari mencela dan memusuhi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun yang membenci para sahabat kecuali dia adalah seorang munafik, dan tidak ada seorang pun yang mencintai mereka kecuali dia adalah seorang mukmin. Tidak ada pula yang membenci mereka kecuali orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا“Muhamad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat dan menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberikan kepada mereka kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi pujian dan sanjungan kepada para sahabat sangatlah banyak. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla serta bahwa mereka merupakan teladan bagi generasi yang datang setelah mereka. Sebab, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik yang belajar langsung dari beliau, berjihad bersama beliau, serta membela dan menolong dakwah beliau.Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, merekalah yang memikul amanah menyebarkan agama Islam hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia, baik di timur maupun di barat. Mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan Allah, menaklukkan berbagai negeri, serta menegakkan dan menampakkan agama Allah di tengah umat manusia. Maka, tidaklah seorang pun membenci dan merendahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kecuali orang munafik yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Inilah sebagian jejak perjuangan dan amalan agung para sahabat. Tidaklah seseorang membenci mereka melainkan karena kemunafikan yang ada dalam hatinya. Kebencian itu bukan karena para sahabat pernah mengambil haknya atau menyakitinya, melainkan karena keimanan mereka, kemuliaan kedudukan mereka dalam Islam, serta jasa-jasa besar mereka terhadap agama ini.Merekalah orang-orang yang menolong dan melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad bersama beliau, menyebarkan agama yang beliau bawa, menjaga sunah beliau, menyampaikannya kepada umat, bersabar bersama beliau menghadapi berbagai kesulitan, serta menanggung berbagai penderitaan di jalan Allah. Maka, tidaklah seseorang merendahkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ia adalah orang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla butakan mata hatinya, atau orang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan, kedengkian, serta kebencian terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 25-28.


Keempat, mencintai seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamCiri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah kecintaan mereka kepada seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat memuliakan, menghormati, dan menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sebagai suri teladan dalam memahami serta mengamalkan sunah. Mereka tidak membahas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat pada masa fitnah yang salah satunya dipicu oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Sebaliknya, mereka memberikan uzur kepada para sahabat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أُحُدٍ ذهبًا ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفه“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 3673)Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. Mereka mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Lalu Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang kaum Anshar,وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ“Dan orang-orang yang telah menempati negeri (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Kemudian Allah berfirman tentang orang-orang yang datang setelah mereka,وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)Tidak seperti yang dikatakan oleh kaum Rafidhah, semoga Allah menghinakan mereka. Mereka mengatakan, “Ya Allah, laknatlah Abu Bakar dan Umar.” Mereka mencela para sahabat dan mengkafirkan mereka.Maka, termasuk prinsip utama yang dipegang Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dari mencela dan memusuhi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun yang membenci para sahabat kecuali dia adalah seorang munafik, dan tidak ada seorang pun yang mencintai mereka kecuali dia adalah seorang mukmin. Tidak ada pula yang membenci mereka kecuali orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا“Muhamad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat dan menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberikan kepada mereka kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi pujian dan sanjungan kepada para sahabat sangatlah banyak. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla serta bahwa mereka merupakan teladan bagi generasi yang datang setelah mereka. Sebab, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik yang belajar langsung dari beliau, berjihad bersama beliau, serta membela dan menolong dakwah beliau.Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, merekalah yang memikul amanah menyebarkan agama Islam hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia, baik di timur maupun di barat. Mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan Allah, menaklukkan berbagai negeri, serta menegakkan dan menampakkan agama Allah di tengah umat manusia. Maka, tidaklah seorang pun membenci dan merendahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kecuali orang munafik yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Inilah sebagian jejak perjuangan dan amalan agung para sahabat. Tidaklah seseorang membenci mereka melainkan karena kemunafikan yang ada dalam hatinya. Kebencian itu bukan karena para sahabat pernah mengambil haknya atau menyakitinya, melainkan karena keimanan mereka, kemuliaan kedudukan mereka dalam Islam, serta jasa-jasa besar mereka terhadap agama ini.Merekalah orang-orang yang menolong dan melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad bersama beliau, menyebarkan agama yang beliau bawa, menjaga sunah beliau, menyampaikannya kepada umat, bersabar bersama beliau menghadapi berbagai kesulitan, serta menanggung berbagai penderitaan di jalan Allah. Maka, tidaklah seseorang merendahkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ia adalah orang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla butakan mata hatinya, atau orang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan, kedengkian, serta kebencian terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 5 LANJUT KE BAGIAN 7***Penulis: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 25-28.

Laporan Produksi Yufid — Agustus 2026

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Melalui laporan ini kami berbagi kepada para donatur, dan Sahabat Yufid tentang apa yang lahir dari dukungan Anda sepanjang Agustus 2026. Perubahan cara kami melapor Mulai laporan ini ada tiga perubahan cara menghitung dan menyusun. Kami sampaikan di awal agar Anda dapat menilainya sendiri. Kami memisahkan apa yang kami produksi dari apa yang umat terima. Satu karya dapat tersebar ke banyak kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Dua hal ini sama-sama benar, tetapi tidak boleh dijumlahkan menjadi satu angka. Konten Instagram tidak lagi dihitung dua kali. Unggahan kami tayang di dua akun secara collab. Sebelumnya terhitung sebagai dua konten; sekarang dihitung satu karya. Tabel produksi disusun menurut jenis pekerjaan dan tim, bukan menurut kanal. Yufid dikerjakan tiga tim di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, dan susunan baru ini menampilkannya apa adanya. Agar perubahan ini dapat diperiksa, bulan ini kami tampilkan angka Agustus dengan dua cara sekaligus: Cara lamaCara baruInstagram90 (dihitung di dua akun)45 (satu karya, tayang di dua akun)Audio Kajian.net530 (dihitung sebagai produksi)530 (dipindah ke bagian distribusi)Nasehat Ulama20 (hanya yang horizontal)20 horizontal + 29 vertikalSusunan tabelper kanalper jenis produksi dan tim Angka Instagram yang tampak mengecil bukan karena produksi berkurang, melainkan karena hitungan gandanya dihapus. Tiga angka bulan ini Agustus 2026MaknanyaYang kami produksi178 karya video + 115 siaran langsung, 45 konten Instagram, 9 artikel, 53.362 kata terjemahanRata-rata 9 karya video baru setiap hari sepanjang Agustus — seluruhnya GRATIS untuk umat.Yang umat terima±14,5 juta tayangan (7,4 juta YouTube + 7,1 juta Instagram)Rata-rata 468 ribu tayangan setiap hari, dari karya baru maupun pustaka lama.Yang umat simak412.565 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 47 tahun, hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Epic Story — Sirah Nabi Muhammad Di tengah derasnya arus hiburan dan bermunculannya kisah-kisah pahlawan rekaan, Sirah Nabawiyah hadir sebagai kisah nyata yang jauh lebih berharga untuk dipelajari dan diteladani. Bulan ini tim Lombok menuntaskan episode ke-10, mengangkat kisah rahib Bahira yang mengenali tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sajian ini memadukan penuturan khas Ustadz Johan Saputra Halim hafizhahullah dengan animasi, sehingga kisah perjalanan beliau dapat dinikmati berbagai kalangan, dari orang tua hingga anak-anak. Satu episode animasi menempuh jalan yang panjang: penyusunan naskah dari rujukan sirah, pemeriksaan riwayat, perekaman suara, perancangan tokoh dan latar, animasi, hingga penyuntingan akhir.  Sepanjang Agustus, episode ini disaksikan 46.634 kali. Secara keseluruhan, serial Epic Story kini telah ditonton 516.182 kali sejak pertama terbit. Semoga melalui serial ini para pemirsa semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagian 1 — Yang Kami Produksi Inilah hasil kerja tim sepanjang Agustus 2026. Yufid memiliki tiga tim produksi di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, sehingga angka di bawah ini disusun menurut jenis produksinya. Jenis produksiAgustusJuliA. Produksi studio — tim YogyakartaNasehat Ulama — video pendek horizontal2023Nasehat Ulama & serial pendek — vertikal*2926Yufid EDU — 5 program kajian kitab & pelajaran2235Murotal Al-Quran03Yufid Kids01B. Produksi animasi — tim LombokEpic Story — animasi Sirah Nabawiyah1—C. Dokumentasi kajian panjang — tim LombokRekaman utuh majelis ilmu60—D. Dokumentasi kajian panjang — tim PurwokertoRekaman utuh majelis ilmu46—Total karya video178203E. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV115109Total seluruh unggahan video293312 Kajian panjang adalah rekaman utuh satu majelis ilmu, umumnya berdurasi satu hingga dua jam — dokumentasi ilmu yang kami susun sebagai pustaka. Adapun Nasehat Ulama hanya berdurasi satu hingga tiga menit, tetapi menempuh pengerjaan yang panjang: pemilihan materi, pembuatan subtitle Arab, penerjemahan, penyuntingan, dan pemeriksaan sebelum terbit. Keduanya berbeda jenis pekerjaannya, dan keduanya sama-sama diperlukan umat. *Sebagian video vertikal dikerjakan tim Lombok dan belum dapat dipisahkan dari produksi tim Yogyakarta pada bulan ini. Pemisahan tersebut mulai berlaku pada laporan September 2026. Karya dihitung menurut tanggal terbit perdana. Untuk video vertikal, terbit perdananya di Instagram; tiga karya yang terbit pada akhir Agustus baru tayang di YouTube pada awal September dan tetap dihitung sebagai karya Agustus 2026. Instagram Unggahan Instagram Yufid tayang di dua akun sekaligus melalui fitur collab, dan dihitung sebagai satu karya. Carousel merupakan karya asli — bukan potongan video — dengan naskah, desain, dan pemeriksaan tersendiri. Carousel yang memuat teks Arab melewati pemberian harakat dan takhrij hadis sebelum terbit. Lini Instagram (collab dua akun)AgustusJuliCarousel — karya asli, bukan potongan video16—produksiPoster satu gambar0—produksiReels (dari video vertikal)2926distribusiTotal unggahan4547 Konten tertulis dan terjemahan Bulan ini terbit 9 artikel di empat situs redaksi: KonsultasiSyariah.com 4 artikel, KhotbahJumat.com 3 artikel, PengusahaMuslim.com 2 artikel, KisahMuslim.com belum terbit. Tim terjemahan menuntaskan 53.362 kata Arab–Indonesia. Bagian 2 — Yang Umat Terima Satu karya tidak berhenti di satu kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Angka pada bagian ini selalu lebih besar daripada Bagian 1, dan keduanya tidak dijumlahkan. Sepanjang Agustus 2026, konten Yufid disaksikan ±14,5 juta kali — 7,4 juta di YouTube dan 7,1 juta di Instagram — serta disimak selama 412.565 jam di YouTube. Seluruh konten yang kami sebarkan adalah produksi tim Yufid sendiri, bukan karya pihak lain yang diunggah ulang. Jalur penyebaran Video vertikal menempuh lima pintu berurutan: Instagram, YouTube, Facebook, TikTok, lalu Telegram. Sepanjang Juni–Agustus 2026, seluruh video vertikal tim Yogyakarta tersebar lengkap ke kelima platform — tidak ada satu pun yang terlewat. Jeda dari selesai disunting hingga tayang: rata-rata pada hari yang sama. Audio: 530 audio hasil konversi video Yufid diunggah ke Kajian.net dan beberapa media lain, bagi Sahabat Yufid yang lebih nyaman menyimak sambil bekerja atau berkendara. Perekaman artikel menjadi audio: 3 audio. Facebook Yufid.TV: 63 konten, 6.123.024 penayangan. TikTok Yufid TV: 29 konten, 61.645 penayangan. Kajian panjang sengaja tidak disebarkan ke seluruh kanal. Video berdurasi satu hingga dua jam paling sesuai dinikmati di YouTube, tempat pemirsa memang terbiasa menyimak dalam waktu lama. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Agustus 2026: +21.895 di seluruh platform (YouTube +6.636, Instagram +15.259). Total pengikut Yufid kini 6,93 juta — 5,21 juta di YouTube dan 1,72 juta di Instagram. Tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru; selebihnya pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Pustaka yang kami rawat Kanal Al-‘Ilmu Nurun memuat rekaman kajian para masyayikh saat berkunjung ke Indonesia. Karena kunjungan tersebut sudah lama tidak terjadi, kanal ini kami rawat sebagai pustaka. Ribuan menit faedah ilmiah yang tetap terbuka kapan saja. Bila para masyayikh kembali berkunjung, insya Allah kami rekam dan terbitkan kembali. Yang belum tercapai bulan ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan pula yang belum berjalan sesuai harapan. Yufid EDU turun: 35 → 22 karya. Penurunan terbesar bulan ini, terutama pada program Alfiyah Ibnu Malik dan Muqaddimah Hadramiyah.  Artikel turun: 16 → 9. KisahMuslim.com belum terbit artikel. Terjemahan turun: 77.690 → 53.362 kata. Tayangan turun: ±16,7 → 14,5 juta. Pertumbuhan pengikut YouTube melambat: +10.743 → +6.636. Kami memilih melaporkan angka yang turun apa adanya, daripada menyamarkannya. Kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah, di Yogyakarta, di Lombok, dan di Purwokerto. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 17 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis, dikerjakan tiga tim produksi di Yogyakarta, Lombok, dan Purwokerto: 25.312 video di lima kanal YouTube dengan total 982,1 juta tayangan, satu miliar tayangan insya Allah tercapai sekitar bulan November 2026, serta 10.248 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,16 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di yufid.org/category/laporan-produksi-yufid 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 73 times, 2 visit(s) today Post Views: 61

Laporan Produksi Yufid — Agustus 2026

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Melalui laporan ini kami berbagi kepada para donatur, dan Sahabat Yufid tentang apa yang lahir dari dukungan Anda sepanjang Agustus 2026. Perubahan cara kami melapor Mulai laporan ini ada tiga perubahan cara menghitung dan menyusun. Kami sampaikan di awal agar Anda dapat menilainya sendiri. Kami memisahkan apa yang kami produksi dari apa yang umat terima. Satu karya dapat tersebar ke banyak kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Dua hal ini sama-sama benar, tetapi tidak boleh dijumlahkan menjadi satu angka. Konten Instagram tidak lagi dihitung dua kali. Unggahan kami tayang di dua akun secara collab. Sebelumnya terhitung sebagai dua konten; sekarang dihitung satu karya. Tabel produksi disusun menurut jenis pekerjaan dan tim, bukan menurut kanal. Yufid dikerjakan tiga tim di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, dan susunan baru ini menampilkannya apa adanya. Agar perubahan ini dapat diperiksa, bulan ini kami tampilkan angka Agustus dengan dua cara sekaligus: Cara lamaCara baruInstagram90 (dihitung di dua akun)45 (satu karya, tayang di dua akun)Audio Kajian.net530 (dihitung sebagai produksi)530 (dipindah ke bagian distribusi)Nasehat Ulama20 (hanya yang horizontal)20 horizontal + 29 vertikalSusunan tabelper kanalper jenis produksi dan tim Angka Instagram yang tampak mengecil bukan karena produksi berkurang, melainkan karena hitungan gandanya dihapus. Tiga angka bulan ini Agustus 2026MaknanyaYang kami produksi178 karya video + 115 siaran langsung, 45 konten Instagram, 9 artikel, 53.362 kata terjemahanRata-rata 9 karya video baru setiap hari sepanjang Agustus — seluruhnya GRATIS untuk umat.Yang umat terima±14,5 juta tayangan (7,4 juta YouTube + 7,1 juta Instagram)Rata-rata 468 ribu tayangan setiap hari, dari karya baru maupun pustaka lama.Yang umat simak412.565 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 47 tahun, hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Epic Story — Sirah Nabi Muhammad Di tengah derasnya arus hiburan dan bermunculannya kisah-kisah pahlawan rekaan, Sirah Nabawiyah hadir sebagai kisah nyata yang jauh lebih berharga untuk dipelajari dan diteladani. Bulan ini tim Lombok menuntaskan episode ke-10, mengangkat kisah rahib Bahira yang mengenali tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sajian ini memadukan penuturan khas Ustadz Johan Saputra Halim hafizhahullah dengan animasi, sehingga kisah perjalanan beliau dapat dinikmati berbagai kalangan, dari orang tua hingga anak-anak. Satu episode animasi menempuh jalan yang panjang: penyusunan naskah dari rujukan sirah, pemeriksaan riwayat, perekaman suara, perancangan tokoh dan latar, animasi, hingga penyuntingan akhir.  Sepanjang Agustus, episode ini disaksikan 46.634 kali. Secara keseluruhan, serial Epic Story kini telah ditonton 516.182 kali sejak pertama terbit. Semoga melalui serial ini para pemirsa semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagian 1 — Yang Kami Produksi Inilah hasil kerja tim sepanjang Agustus 2026. Yufid memiliki tiga tim produksi di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, sehingga angka di bawah ini disusun menurut jenis produksinya. Jenis produksiAgustusJuliA. Produksi studio — tim YogyakartaNasehat Ulama — video pendek horizontal2023Nasehat Ulama & serial pendek — vertikal*2926Yufid EDU — 5 program kajian kitab & pelajaran2235Murotal Al-Quran03Yufid Kids01B. Produksi animasi — tim LombokEpic Story — animasi Sirah Nabawiyah1—C. Dokumentasi kajian panjang — tim LombokRekaman utuh majelis ilmu60—D. Dokumentasi kajian panjang — tim PurwokertoRekaman utuh majelis ilmu46—Total karya video178203E. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV115109Total seluruh unggahan video293312 Kajian panjang adalah rekaman utuh satu majelis ilmu, umumnya berdurasi satu hingga dua jam — dokumentasi ilmu yang kami susun sebagai pustaka. Adapun Nasehat Ulama hanya berdurasi satu hingga tiga menit, tetapi menempuh pengerjaan yang panjang: pemilihan materi, pembuatan subtitle Arab, penerjemahan, penyuntingan, dan pemeriksaan sebelum terbit. Keduanya berbeda jenis pekerjaannya, dan keduanya sama-sama diperlukan umat. *Sebagian video vertikal dikerjakan tim Lombok dan belum dapat dipisahkan dari produksi tim Yogyakarta pada bulan ini. Pemisahan tersebut mulai berlaku pada laporan September 2026. Karya dihitung menurut tanggal terbit perdana. Untuk video vertikal, terbit perdananya di Instagram; tiga karya yang terbit pada akhir Agustus baru tayang di YouTube pada awal September dan tetap dihitung sebagai karya Agustus 2026. Instagram Unggahan Instagram Yufid tayang di dua akun sekaligus melalui fitur collab, dan dihitung sebagai satu karya. Carousel merupakan karya asli — bukan potongan video — dengan naskah, desain, dan pemeriksaan tersendiri. Carousel yang memuat teks Arab melewati pemberian harakat dan takhrij hadis sebelum terbit. Lini Instagram (collab dua akun)AgustusJuliCarousel — karya asli, bukan potongan video16—produksiPoster satu gambar0—produksiReels (dari video vertikal)2926distribusiTotal unggahan4547 Konten tertulis dan terjemahan Bulan ini terbit 9 artikel di empat situs redaksi: KonsultasiSyariah.com 4 artikel, KhotbahJumat.com 3 artikel, PengusahaMuslim.com 2 artikel, KisahMuslim.com belum terbit. Tim terjemahan menuntaskan 53.362 kata Arab–Indonesia. Bagian 2 — Yang Umat Terima Satu karya tidak berhenti di satu kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Angka pada bagian ini selalu lebih besar daripada Bagian 1, dan keduanya tidak dijumlahkan. Sepanjang Agustus 2026, konten Yufid disaksikan ±14,5 juta kali — 7,4 juta di YouTube dan 7,1 juta di Instagram — serta disimak selama 412.565 jam di YouTube. Seluruh konten yang kami sebarkan adalah produksi tim Yufid sendiri, bukan karya pihak lain yang diunggah ulang. Jalur penyebaran Video vertikal menempuh lima pintu berurutan: Instagram, YouTube, Facebook, TikTok, lalu Telegram. Sepanjang Juni–Agustus 2026, seluruh video vertikal tim Yogyakarta tersebar lengkap ke kelima platform — tidak ada satu pun yang terlewat. Jeda dari selesai disunting hingga tayang: rata-rata pada hari yang sama. Audio: 530 audio hasil konversi video Yufid diunggah ke Kajian.net dan beberapa media lain, bagi Sahabat Yufid yang lebih nyaman menyimak sambil bekerja atau berkendara. Perekaman artikel menjadi audio: 3 audio. Facebook Yufid.TV: 63 konten, 6.123.024 penayangan. TikTok Yufid TV: 29 konten, 61.645 penayangan. Kajian panjang sengaja tidak disebarkan ke seluruh kanal. Video berdurasi satu hingga dua jam paling sesuai dinikmati di YouTube, tempat pemirsa memang terbiasa menyimak dalam waktu lama. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Agustus 2026: +21.895 di seluruh platform (YouTube +6.636, Instagram +15.259). Total pengikut Yufid kini 6,93 juta — 5,21 juta di YouTube dan 1,72 juta di Instagram. Tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru; selebihnya pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Pustaka yang kami rawat Kanal Al-‘Ilmu Nurun memuat rekaman kajian para masyayikh saat berkunjung ke Indonesia. Karena kunjungan tersebut sudah lama tidak terjadi, kanal ini kami rawat sebagai pustaka. Ribuan menit faedah ilmiah yang tetap terbuka kapan saja. Bila para masyayikh kembali berkunjung, insya Allah kami rekam dan terbitkan kembali. Yang belum tercapai bulan ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan pula yang belum berjalan sesuai harapan. Yufid EDU turun: 35 → 22 karya. Penurunan terbesar bulan ini, terutama pada program Alfiyah Ibnu Malik dan Muqaddimah Hadramiyah.  Artikel turun: 16 → 9. KisahMuslim.com belum terbit artikel. Terjemahan turun: 77.690 → 53.362 kata. Tayangan turun: ±16,7 → 14,5 juta. Pertumbuhan pengikut YouTube melambat: +10.743 → +6.636. Kami memilih melaporkan angka yang turun apa adanya, daripada menyamarkannya. Kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah, di Yogyakarta, di Lombok, dan di Purwokerto. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 17 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis, dikerjakan tiga tim produksi di Yogyakarta, Lombok, dan Purwokerto: 25.312 video di lima kanal YouTube dengan total 982,1 juta tayangan, satu miliar tayangan insya Allah tercapai sekitar bulan November 2026, serta 10.248 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,16 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di yufid.org/category/laporan-produksi-yufid 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 73 times, 2 visit(s) today Post Views: 61
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Melalui laporan ini kami berbagi kepada para donatur, dan Sahabat Yufid tentang apa yang lahir dari dukungan Anda sepanjang Agustus 2026. Perubahan cara kami melapor Mulai laporan ini ada tiga perubahan cara menghitung dan menyusun. Kami sampaikan di awal agar Anda dapat menilainya sendiri. Kami memisahkan apa yang kami produksi dari apa yang umat terima. Satu karya dapat tersebar ke banyak kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Dua hal ini sama-sama benar, tetapi tidak boleh dijumlahkan menjadi satu angka. Konten Instagram tidak lagi dihitung dua kali. Unggahan kami tayang di dua akun secara collab. Sebelumnya terhitung sebagai dua konten; sekarang dihitung satu karya. Tabel produksi disusun menurut jenis pekerjaan dan tim, bukan menurut kanal. Yufid dikerjakan tiga tim di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, dan susunan baru ini menampilkannya apa adanya. Agar perubahan ini dapat diperiksa, bulan ini kami tampilkan angka Agustus dengan dua cara sekaligus: Cara lamaCara baruInstagram90 (dihitung di dua akun)45 (satu karya, tayang di dua akun)Audio Kajian.net530 (dihitung sebagai produksi)530 (dipindah ke bagian distribusi)Nasehat Ulama20 (hanya yang horizontal)20 horizontal + 29 vertikalSusunan tabelper kanalper jenis produksi dan tim Angka Instagram yang tampak mengecil bukan karena produksi berkurang, melainkan karena hitungan gandanya dihapus. Tiga angka bulan ini Agustus 2026MaknanyaYang kami produksi178 karya video + 115 siaran langsung, 45 konten Instagram, 9 artikel, 53.362 kata terjemahanRata-rata 9 karya video baru setiap hari sepanjang Agustus — seluruhnya GRATIS untuk umat.Yang umat terima±14,5 juta tayangan (7,4 juta YouTube + 7,1 juta Instagram)Rata-rata 468 ribu tayangan setiap hari, dari karya baru maupun pustaka lama.Yang umat simak412.565 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 47 tahun, hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Epic Story — Sirah Nabi Muhammad Di tengah derasnya arus hiburan dan bermunculannya kisah-kisah pahlawan rekaan, Sirah Nabawiyah hadir sebagai kisah nyata yang jauh lebih berharga untuk dipelajari dan diteladani. Bulan ini tim Lombok menuntaskan episode ke-10, mengangkat kisah rahib Bahira yang mengenali tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sajian ini memadukan penuturan khas Ustadz Johan Saputra Halim hafizhahullah dengan animasi, sehingga kisah perjalanan beliau dapat dinikmati berbagai kalangan, dari orang tua hingga anak-anak. Satu episode animasi menempuh jalan yang panjang: penyusunan naskah dari rujukan sirah, pemeriksaan riwayat, perekaman suara, perancangan tokoh dan latar, animasi, hingga penyuntingan akhir.  Sepanjang Agustus, episode ini disaksikan 46.634 kali. Secara keseluruhan, serial Epic Story kini telah ditonton 516.182 kali sejak pertama terbit. Semoga melalui serial ini para pemirsa semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagian 1 — Yang Kami Produksi Inilah hasil kerja tim sepanjang Agustus 2026. Yufid memiliki tiga tim produksi di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, sehingga angka di bawah ini disusun menurut jenis produksinya. Jenis produksiAgustusJuliA. Produksi studio — tim YogyakartaNasehat Ulama — video pendek horizontal2023Nasehat Ulama & serial pendek — vertikal*2926Yufid EDU — 5 program kajian kitab & pelajaran2235Murotal Al-Quran03Yufid Kids01B. Produksi animasi — tim LombokEpic Story — animasi Sirah Nabawiyah1—C. Dokumentasi kajian panjang — tim LombokRekaman utuh majelis ilmu60—D. Dokumentasi kajian panjang — tim PurwokertoRekaman utuh majelis ilmu46—Total karya video178203E. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV115109Total seluruh unggahan video293312 Kajian panjang adalah rekaman utuh satu majelis ilmu, umumnya berdurasi satu hingga dua jam — dokumentasi ilmu yang kami susun sebagai pustaka. Adapun Nasehat Ulama hanya berdurasi satu hingga tiga menit, tetapi menempuh pengerjaan yang panjang: pemilihan materi, pembuatan subtitle Arab, penerjemahan, penyuntingan, dan pemeriksaan sebelum terbit. Keduanya berbeda jenis pekerjaannya, dan keduanya sama-sama diperlukan umat. *Sebagian video vertikal dikerjakan tim Lombok dan belum dapat dipisahkan dari produksi tim Yogyakarta pada bulan ini. Pemisahan tersebut mulai berlaku pada laporan September 2026. Karya dihitung menurut tanggal terbit perdana. Untuk video vertikal, terbit perdananya di Instagram; tiga karya yang terbit pada akhir Agustus baru tayang di YouTube pada awal September dan tetap dihitung sebagai karya Agustus 2026. Instagram Unggahan Instagram Yufid tayang di dua akun sekaligus melalui fitur collab, dan dihitung sebagai satu karya. Carousel merupakan karya asli — bukan potongan video — dengan naskah, desain, dan pemeriksaan tersendiri. Carousel yang memuat teks Arab melewati pemberian harakat dan takhrij hadis sebelum terbit. Lini Instagram (collab dua akun)AgustusJuliCarousel — karya asli, bukan potongan video16—produksiPoster satu gambar0—produksiReels (dari video vertikal)2926distribusiTotal unggahan4547 Konten tertulis dan terjemahan Bulan ini terbit 9 artikel di empat situs redaksi: KonsultasiSyariah.com 4 artikel, KhotbahJumat.com 3 artikel, PengusahaMuslim.com 2 artikel, KisahMuslim.com belum terbit. Tim terjemahan menuntaskan 53.362 kata Arab–Indonesia. Bagian 2 — Yang Umat Terima Satu karya tidak berhenti di satu kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Angka pada bagian ini selalu lebih besar daripada Bagian 1, dan keduanya tidak dijumlahkan. Sepanjang Agustus 2026, konten Yufid disaksikan ±14,5 juta kali — 7,4 juta di YouTube dan 7,1 juta di Instagram — serta disimak selama 412.565 jam di YouTube. Seluruh konten yang kami sebarkan adalah produksi tim Yufid sendiri, bukan karya pihak lain yang diunggah ulang. Jalur penyebaran Video vertikal menempuh lima pintu berurutan: Instagram, YouTube, Facebook, TikTok, lalu Telegram. Sepanjang Juni–Agustus 2026, seluruh video vertikal tim Yogyakarta tersebar lengkap ke kelima platform — tidak ada satu pun yang terlewat. Jeda dari selesai disunting hingga tayang: rata-rata pada hari yang sama. Audio: 530 audio hasil konversi video Yufid diunggah ke Kajian.net dan beberapa media lain, bagi Sahabat Yufid yang lebih nyaman menyimak sambil bekerja atau berkendara. Perekaman artikel menjadi audio: 3 audio. Facebook Yufid.TV: 63 konten, 6.123.024 penayangan. TikTok Yufid TV: 29 konten, 61.645 penayangan. Kajian panjang sengaja tidak disebarkan ke seluruh kanal. Video berdurasi satu hingga dua jam paling sesuai dinikmati di YouTube, tempat pemirsa memang terbiasa menyimak dalam waktu lama. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Agustus 2026: +21.895 di seluruh platform (YouTube +6.636, Instagram +15.259). Total pengikut Yufid kini 6,93 juta — 5,21 juta di YouTube dan 1,72 juta di Instagram. Tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru; selebihnya pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Pustaka yang kami rawat Kanal Al-‘Ilmu Nurun memuat rekaman kajian para masyayikh saat berkunjung ke Indonesia. Karena kunjungan tersebut sudah lama tidak terjadi, kanal ini kami rawat sebagai pustaka. Ribuan menit faedah ilmiah yang tetap terbuka kapan saja. Bila para masyayikh kembali berkunjung, insya Allah kami rekam dan terbitkan kembali. Yang belum tercapai bulan ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan pula yang belum berjalan sesuai harapan. Yufid EDU turun: 35 → 22 karya. Penurunan terbesar bulan ini, terutama pada program Alfiyah Ibnu Malik dan Muqaddimah Hadramiyah.  Artikel turun: 16 → 9. KisahMuslim.com belum terbit artikel. Terjemahan turun: 77.690 → 53.362 kata. Tayangan turun: ±16,7 → 14,5 juta. Pertumbuhan pengikut YouTube melambat: +10.743 → +6.636. Kami memilih melaporkan angka yang turun apa adanya, daripada menyamarkannya. Kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah, di Yogyakarta, di Lombok, dan di Purwokerto. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 17 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis, dikerjakan tiga tim produksi di Yogyakarta, Lombok, dan Purwokerto: 25.312 video di lima kanal YouTube dengan total 982,1 juta tayangan, satu miliar tayangan insya Allah tercapai sekitar bulan November 2026, serta 10.248 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,16 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di yufid.org/category/laporan-produksi-yufid 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 73 times, 2 visit(s) today Post Views: 61


Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, satu bulan kembali berlalu dan dakwah terus melangkah, biidznillah. Melalui laporan ini kami berbagi kepada para donatur, dan Sahabat Yufid tentang apa yang lahir dari dukungan Anda sepanjang Agustus 2026. Perubahan cara kami melapor Mulai laporan ini ada tiga perubahan cara menghitung dan menyusun. Kami sampaikan di awal agar Anda dapat menilainya sendiri. Kami memisahkan apa yang kami produksi dari apa yang umat terima. Satu karya dapat tersebar ke banyak kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Dua hal ini sama-sama benar, tetapi tidak boleh dijumlahkan menjadi satu angka. Konten Instagram tidak lagi dihitung dua kali. Unggahan kami tayang di dua akun secara collab. Sebelumnya terhitung sebagai dua konten; sekarang dihitung satu karya. Tabel produksi disusun menurut jenis pekerjaan dan tim, bukan menurut kanal. Yufid dikerjakan tiga tim di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, dan susunan baru ini menampilkannya apa adanya. Agar perubahan ini dapat diperiksa, bulan ini kami tampilkan angka Agustus dengan dua cara sekaligus: Cara lamaCara baruInstagram90 (dihitung di dua akun)45 (satu karya, tayang di dua akun)Audio Kajian.net530 (dihitung sebagai produksi)530 (dipindah ke bagian distribusi)Nasehat Ulama20 (hanya yang horizontal)20 horizontal + 29 vertikalSusunan tabelper kanalper jenis produksi dan tim Angka Instagram yang tampak mengecil bukan karena produksi berkurang, melainkan karena hitungan gandanya dihapus. Tiga angka bulan ini Agustus 2026MaknanyaYang kami produksi178 karya video + 115 siaran langsung, 45 konten Instagram, 9 artikel, 53.362 kata terjemahanRata-rata 9 karya video baru setiap hari sepanjang Agustus — seluruhnya GRATIS untuk umat.Yang umat terima±14,5 juta tayangan (7,4 juta YouTube + 7,1 juta Instagram)Rata-rata 468 ribu tayangan setiap hari, dari karya baru maupun pustaka lama.Yang umat simak412.565 jam ditonton di YouTubeSetara satu orang menyimak kajian tanpa henti selama 47 tahun, hanya dalam satu bulan. Cerita di Balik Angka: Epic Story — Sirah Nabi Muhammad Di tengah derasnya arus hiburan dan bermunculannya kisah-kisah pahlawan rekaan, Sirah Nabawiyah hadir sebagai kisah nyata yang jauh lebih berharga untuk dipelajari dan diteladani. Bulan ini tim Lombok menuntaskan episode ke-10, mengangkat kisah rahib Bahira yang mengenali tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sajian ini memadukan penuturan khas Ustadz Johan Saputra Halim hafizhahullah dengan animasi, sehingga kisah perjalanan beliau dapat dinikmati berbagai kalangan, dari orang tua hingga anak-anak. Satu episode animasi menempuh jalan yang panjang: penyusunan naskah dari rujukan sirah, pemeriksaan riwayat, perekaman suara, perancangan tokoh dan latar, animasi, hingga penyuntingan akhir.  Sepanjang Agustus, episode ini disaksikan 46.634 kali. Secara keseluruhan, serial Epic Story kini telah ditonton 516.182 kali sejak pertama terbit. Semoga melalui serial ini para pemirsa semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagian 1 — Yang Kami Produksi Inilah hasil kerja tim sepanjang Agustus 2026. Yufid memiliki tiga tim produksi di tiga kota dengan jenis pekerjaan yang berbeda, sehingga angka di bawah ini disusun menurut jenis produksinya. Jenis produksiAgustusJuliA. Produksi studio — tim YogyakartaNasehat Ulama — video pendek horizontal2023Nasehat Ulama & serial pendek — vertikal*2926Yufid EDU — 5 program kajian kitab & pelajaran2235Murotal Al-Quran03Yufid Kids01B. Produksi animasi — tim LombokEpic Story — animasi Sirah Nabawiyah1—C. Dokumentasi kajian panjang — tim LombokRekaman utuh majelis ilmu60—D. Dokumentasi kajian panjang — tim PurwokertoRekaman utuh majelis ilmu46—Total karya video178203E. Siaran langsungSiaran langsung Yufid.TV115109Total seluruh unggahan video293312 Kajian panjang adalah rekaman utuh satu majelis ilmu, umumnya berdurasi satu hingga dua jam — dokumentasi ilmu yang kami susun sebagai pustaka. Adapun Nasehat Ulama hanya berdurasi satu hingga tiga menit, tetapi menempuh pengerjaan yang panjang: pemilihan materi, pembuatan subtitle Arab, penerjemahan, penyuntingan, dan pemeriksaan sebelum terbit. Keduanya berbeda jenis pekerjaannya, dan keduanya sama-sama diperlukan umat. *Sebagian video vertikal dikerjakan tim Lombok dan belum dapat dipisahkan dari produksi tim Yogyakarta pada bulan ini. Pemisahan tersebut mulai berlaku pada laporan September 2026. Karya dihitung menurut tanggal terbit perdana. Untuk video vertikal, terbit perdananya di Instagram; tiga karya yang terbit pada akhir Agustus baru tayang di YouTube pada awal September dan tetap dihitung sebagai karya Agustus 2026. Instagram Unggahan Instagram Yufid tayang di dua akun sekaligus melalui fitur collab, dan dihitung sebagai satu karya. Carousel merupakan karya asli — bukan potongan video — dengan naskah, desain, dan pemeriksaan tersendiri. Carousel yang memuat teks Arab melewati pemberian harakat dan takhrij hadis sebelum terbit. Lini Instagram (collab dua akun)AgustusJuliCarousel — karya asli, bukan potongan video16—produksiPoster satu gambar0—produksiReels (dari video vertikal)2926distribusiTotal unggahan4547 Konten tertulis dan terjemahan Bulan ini terbit 9 artikel di empat situs redaksi: KonsultasiSyariah.com 4 artikel, KhotbahJumat.com 3 artikel, PengusahaMuslim.com 2 artikel, KisahMuslim.com belum terbit. Tim terjemahan menuntaskan 53.362 kata Arab–Indonesia. Bagian 2 — Yang Umat Terima Satu karya tidak berhenti di satu kanal, dan pustaka lama tetap melayani setiap hari. Angka pada bagian ini selalu lebih besar daripada Bagian 1, dan keduanya tidak dijumlahkan. Sepanjang Agustus 2026, konten Yufid disaksikan ±14,5 juta kali — 7,4 juta di YouTube dan 7,1 juta di Instagram — serta disimak selama 412.565 jam di YouTube. Seluruh konten yang kami sebarkan adalah produksi tim Yufid sendiri, bukan karya pihak lain yang diunggah ulang. Jalur penyebaran Video vertikal menempuh lima pintu berurutan: Instagram, YouTube, Facebook, TikTok, lalu Telegram. Sepanjang Juni–Agustus 2026, seluruh video vertikal tim Yogyakarta tersebar lengkap ke kelima platform — tidak ada satu pun yang terlewat. Jeda dari selesai disunting hingga tayang: rata-rata pada hari yang sama. Audio: 530 audio hasil konversi video Yufid diunggah ke Kajian.net dan beberapa media lain, bagi Sahabat Yufid yang lebih nyaman menyimak sambil bekerja atau berkendara. Perekaman artikel menjadi audio: 3 audio. Facebook Yufid.TV: 63 konten, 6.123.024 penayangan. TikTok Yufid TV: 29 konten, 61.645 penayangan. Kajian panjang sengaja tidak disebarkan ke seluruh kanal. Video berdurasi satu hingga dua jam paling sesuai dinikmati di YouTube, tempat pemirsa memang terbiasa menyimak dalam waktu lama. Pertumbuhan dan infrastruktur Pertumbuhan pengikut Agustus 2026: +21.895 di seluruh platform (YouTube +6.636, Instagram +15.259). Total pengikut Yufid kini 6,93 juta — 5,21 juta di YouTube dan 1,72 juta di Instagram. Tim infrastruktur merawat 3 server yang menghidupi 30 situs web dakwah, termasuk situs sejumlah ulama, agar tetap menyala 24 jam. Empat di antaranya situs redaksi yang aktif memproduksi artikel baru; selebihnya pustaka dakwah yang terus dirawat agar tetap dapat diakses. Pustaka yang kami rawat Kanal Al-‘Ilmu Nurun memuat rekaman kajian para masyayikh saat berkunjung ke Indonesia. Karena kunjungan tersebut sudah lama tidak terjadi, kanal ini kami rawat sebagai pustaka. Ribuan menit faedah ilmiah yang tetap terbuka kapan saja. Bila para masyayikh kembali berkunjung, insya Allah kami rekam dan terbitkan kembali. Yang belum tercapai bulan ini Sebagai bagian dari amanah, kami laporkan pula yang belum berjalan sesuai harapan. Yufid EDU turun: 35 → 22 karya. Penurunan terbesar bulan ini, terutama pada program Alfiyah Ibnu Malik dan Muqaddimah Hadramiyah.  Artikel turun: 16 → 9. KisahMuslim.com belum terbit artikel. Terjemahan turun: 77.690 → 53.362 kata. Tayangan turun: ±16,7 → 14,5 juta. Pertumbuhan pengikut YouTube melambat: +10.743 → +6.636. Kami memilih melaporkan angka yang turun apa adanya, daripada menyamarkannya. Kepercayaan Anda lebih mahal daripada laporan yang selalu tampak mulus. Terima Kasih dan Doa Seluruh angka di atas adalah amal berjamaah: ada titipan donatur di dalam server yang menyala, ada doa Anda di balik tim yang bekerja dan berusaha istiqamah, di Yogyakarta, di Lombok, dan di Purwokerto. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas setiap rupiah dan setiap doa dengan balasan terbaik, memberkahi harta, keluarga, dan waktu Anda, serta menjadikan setiap ilmu yang bermanfaat sebagai pemberat timbangan kebaikan Anda hingga hari kiamat. Aamiin. Bagi Anda yang ingin pahala ilmu ini terus mengalir, pintu menopang dakwah selalu terbuka, berapa pun nilainya, karena yang Allah lihat bukan besar kecilnya, melainkan keikhlasan di baliknya. yufid.org/donasi-untuk-yufid → Dukung Dakwah Yufid Dan bagi yang belum dimudahkan berdonasi, doa Anda untuk dakwah ini pun amal yang sangat berharga di sisi Allah. Wallahu a‘lam. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Tentang Yufid: Yayasan Yufid Network telah 17 tahun menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis, dikerjakan tiga tim produksi di Yogyakarta, Lombok, dan Purwokerto: 25.312 video di lima kanal YouTube dengan total 982,1 juta tayangan, satu miliar tayangan insya Allah tercapai sekitar bulan November 2026, serta 10.248 artikel dan proyek terjemahan yang telah menuntaskan 5,16 juta kata sejak 2018. Seluruh laporan bulanan dapat dibaca di yufid.org/category/laporan-produksi-yufid 🔍 Anjuran Puasa Rajab, Waktu Takbiran Idul Adha, Pengertian Bulan Sya'ban, Syarat Tunangan Dalam Islam, Kisah Ngeres Visited 73 times, 2 visit(s) today Post Views: 61

Bolehkah Memperindah Rumah dan Menghias Bangunan?

Daftar Isi TogglePertama, niat yang benarKedua, memiliki fungsi dan manfaatKetiga, tidak berlebihanHadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakKeindahan adalah nikmatRumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah tempat kembali setelah lelah bekerja, tempat berkumpul bersama keluarga, tempat anak-anak tumbuh, dan tempat beribadah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin memiliki rumah yang indah, nyaman, dan enak dipandang.Namun muncul pertanyaan, apakah Islam membolehkan memperindah rumah dan menghias bangunan?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْنِيَ النَّاسُ بُيُوتًا، يُشَبِّهُونَهَا بِالْمَرَاحِلِ‏“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga manusia saling membangun rumah-rumah mereka menyerupai kain yang bersulam.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 459)قَالَ إِبْرَاهِيمُ‏:‏ يَعْنِي الثِّيَابَ الْمُخَطَّطَةَIbrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah kain-kain bergaris (bercorak belang atau ukiran).”Sekilas, hadis ini seolah menunjukkan bahwa menghias rumah adalah sesuatu yang tercela. Namun, dalam menetapkan hukum, seorang muslim tidak boleh hanya melihat satu dalil saja. Seluruh dalil Al-Qur’an dan As-Sunah harus dipahami secara utuh agar menghasilkan kesimpulan yang benar.Islam tidak melarang keindahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله جميل يحب الجمال“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)Oleh karena itu, memperindah rumah pada asalnya diperbolehkan, selama memenuhi beberapa kriteria berikut.Pertama, niat yang benarAmalan sangat bergantung kepada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seseorang memperindah rumahnya karena ingin menjaga kebersihan, memberikan kenyamanan bagi keluarga, mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, serta khusuk dalam beribadah kepada-Nya, maupun agar tamu merasa nyaman, maka hal itu termasuk tujuan yang baik.Namun, apabila tujuan utamanya adalah untuk dipuji manusia, berbangga-bangga, saling berlomba dalam kemewahan, atau merendahkan orang lain, maka keindahan yang semula mubah dapat berubah menjadi dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا“Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan.” (QS. Al-Isra’: 37)Kedua, memiliki fungsi dan manfaatHiasan yang dibuat hendaknya memiliki manfaat, bukan sekadar menghambur-hamburkan biaya tanpa tujuan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan harta adalah saudara-saudara setan, dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيَكْرَهُ لَكُمْ: وَإِضَاعَةَ الْمَالِ“Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian: menyia-nyiakan (menbuang-buang) harta.” (HR. Muslim no. 1715)Islam mengajarkan agar harta digunakan secara bijaksana.Contohnya, membuat taman agar rumah lebih sejuk, mempercantik pencahayaan agar nyaman, mengecat rumah supaya bersih dan rapi, memasang rak, gorden, atau ornamen yang memperindah sekaligus memiliki fungsi. Semua ini termasuk bentuk keindahan yang bermanfaat.Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. At-Tabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 897 dan Al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 4929. Lihat Shahih al-Jami’, no. 1880)Kesempurnaan dan kerapian merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebaliknya, menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk ukiran, ornamen, atau hiasan yang tidak memiliki manfaat selain pamer kemewahan patut menjadi bahan renungan.Ketiga, tidak berlebihanIslam melarang sikap berlebih-lebihan, tetapi bukan berarti semua bangunan yang bagus otomatis tercela. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ukuran berlebihan tidak selalu ditentukan oleh mahal atau murahnya suatu bangunan. Yang menjadi ukuran adalah apakah pengeluaran tersebut masih wajar, sesuai kemampuan, tidak mengandung kesombongan, dan memberikan manfaat.Misalnya, seseorang mengeluarkan biaya lebih besar untuk menggunakan material yang lebih kuat, atap yang lebih awet, ventilasi yang lebih baik, atau desain yang membuat rumah hemat energi. Meskipun biayanya besar, hal itu tetap termasuk pengeluaran yang fungsional dan dibenarkan.Hadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakHadis tentang manusia yang menghias rumah merupakan kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fenomena menjelang hari kiamat, yaitu ketika manusia berlomba-lomba mempercantik bangunan sebagai simbol kemewahan dan kebanggaan dunia. Sehingga yang tercela bukan semata-mata bangunannya, melainkan budaya saling bermegah-megahan, membanggakan dunia, serta lalai dari akhirat.Keindahan adalah nikmatKeindahan adalah nikmat dari Allah Ta’ala. Rumah yang bersih, rapi, nyaman, dan sedap dipandang merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri. Bahkan ketika menyebut nikmat berupa hewan ternak, Allah tidak hanya menyebut manfaatnya, tetapi juga keindahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ“Dan kalian memperoleh keindahan padanya ketika kalian membawanya pulang ke kandang dan ketika kalian melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS. An-Nahl: 6)Oleh karena itu, menikmati keindahan yang halal sebagaimana rumah yang dimiliki merupakan bagian dari mensyukuri nikmat Allah Ta’ala.Namun, jangan sampai rumah semakin indah sementara hati semakin jauh dari Allah Ta’ala. Jangan sampai dinding dipenuhi hiasan, tetapi lantunan Al-Qur’an semakin jarang terdengar. Jangan sampai bangunan semakin megah, tetapi penghuninya semakin lalai dari salat dan ibadah. Maka, jadikanlah rumah kita bukan hanya indah dipandang manusia, tetapi juga menjadi rumah yang dicintai Allah Ta’ala, yaitu rumah yang dipenuhi syukur, ilmu, zikir, dan ibadah hingga mengantarkan seluruh penghuninya menuju surga-Nya.Baca juga: Al Jamil, Yang Maha Indah***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:https://islamqa.info/ar/answers/351350/https://www.islamweb.net/en/fatwa/259732/ruling-on-decorating-homes-for-the-advent-of-ramadan

Bolehkah Memperindah Rumah dan Menghias Bangunan?

Daftar Isi TogglePertama, niat yang benarKedua, memiliki fungsi dan manfaatKetiga, tidak berlebihanHadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakKeindahan adalah nikmatRumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah tempat kembali setelah lelah bekerja, tempat berkumpul bersama keluarga, tempat anak-anak tumbuh, dan tempat beribadah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin memiliki rumah yang indah, nyaman, dan enak dipandang.Namun muncul pertanyaan, apakah Islam membolehkan memperindah rumah dan menghias bangunan?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْنِيَ النَّاسُ بُيُوتًا، يُشَبِّهُونَهَا بِالْمَرَاحِلِ‏“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga manusia saling membangun rumah-rumah mereka menyerupai kain yang bersulam.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 459)قَالَ إِبْرَاهِيمُ‏:‏ يَعْنِي الثِّيَابَ الْمُخَطَّطَةَIbrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah kain-kain bergaris (bercorak belang atau ukiran).”Sekilas, hadis ini seolah menunjukkan bahwa menghias rumah adalah sesuatu yang tercela. Namun, dalam menetapkan hukum, seorang muslim tidak boleh hanya melihat satu dalil saja. Seluruh dalil Al-Qur’an dan As-Sunah harus dipahami secara utuh agar menghasilkan kesimpulan yang benar.Islam tidak melarang keindahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله جميل يحب الجمال“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)Oleh karena itu, memperindah rumah pada asalnya diperbolehkan, selama memenuhi beberapa kriteria berikut.Pertama, niat yang benarAmalan sangat bergantung kepada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seseorang memperindah rumahnya karena ingin menjaga kebersihan, memberikan kenyamanan bagi keluarga, mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, serta khusuk dalam beribadah kepada-Nya, maupun agar tamu merasa nyaman, maka hal itu termasuk tujuan yang baik.Namun, apabila tujuan utamanya adalah untuk dipuji manusia, berbangga-bangga, saling berlomba dalam kemewahan, atau merendahkan orang lain, maka keindahan yang semula mubah dapat berubah menjadi dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا“Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan.” (QS. Al-Isra’: 37)Kedua, memiliki fungsi dan manfaatHiasan yang dibuat hendaknya memiliki manfaat, bukan sekadar menghambur-hamburkan biaya tanpa tujuan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan harta adalah saudara-saudara setan, dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيَكْرَهُ لَكُمْ: وَإِضَاعَةَ الْمَالِ“Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian: menyia-nyiakan (menbuang-buang) harta.” (HR. Muslim no. 1715)Islam mengajarkan agar harta digunakan secara bijaksana.Contohnya, membuat taman agar rumah lebih sejuk, mempercantik pencahayaan agar nyaman, mengecat rumah supaya bersih dan rapi, memasang rak, gorden, atau ornamen yang memperindah sekaligus memiliki fungsi. Semua ini termasuk bentuk keindahan yang bermanfaat.Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. At-Tabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 897 dan Al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 4929. Lihat Shahih al-Jami’, no. 1880)Kesempurnaan dan kerapian merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebaliknya, menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk ukiran, ornamen, atau hiasan yang tidak memiliki manfaat selain pamer kemewahan patut menjadi bahan renungan.Ketiga, tidak berlebihanIslam melarang sikap berlebih-lebihan, tetapi bukan berarti semua bangunan yang bagus otomatis tercela. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ukuran berlebihan tidak selalu ditentukan oleh mahal atau murahnya suatu bangunan. Yang menjadi ukuran adalah apakah pengeluaran tersebut masih wajar, sesuai kemampuan, tidak mengandung kesombongan, dan memberikan manfaat.Misalnya, seseorang mengeluarkan biaya lebih besar untuk menggunakan material yang lebih kuat, atap yang lebih awet, ventilasi yang lebih baik, atau desain yang membuat rumah hemat energi. Meskipun biayanya besar, hal itu tetap termasuk pengeluaran yang fungsional dan dibenarkan.Hadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakHadis tentang manusia yang menghias rumah merupakan kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fenomena menjelang hari kiamat, yaitu ketika manusia berlomba-lomba mempercantik bangunan sebagai simbol kemewahan dan kebanggaan dunia. Sehingga yang tercela bukan semata-mata bangunannya, melainkan budaya saling bermegah-megahan, membanggakan dunia, serta lalai dari akhirat.Keindahan adalah nikmatKeindahan adalah nikmat dari Allah Ta’ala. Rumah yang bersih, rapi, nyaman, dan sedap dipandang merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri. Bahkan ketika menyebut nikmat berupa hewan ternak, Allah tidak hanya menyebut manfaatnya, tetapi juga keindahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ“Dan kalian memperoleh keindahan padanya ketika kalian membawanya pulang ke kandang dan ketika kalian melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS. An-Nahl: 6)Oleh karena itu, menikmati keindahan yang halal sebagaimana rumah yang dimiliki merupakan bagian dari mensyukuri nikmat Allah Ta’ala.Namun, jangan sampai rumah semakin indah sementara hati semakin jauh dari Allah Ta’ala. Jangan sampai dinding dipenuhi hiasan, tetapi lantunan Al-Qur’an semakin jarang terdengar. Jangan sampai bangunan semakin megah, tetapi penghuninya semakin lalai dari salat dan ibadah. Maka, jadikanlah rumah kita bukan hanya indah dipandang manusia, tetapi juga menjadi rumah yang dicintai Allah Ta’ala, yaitu rumah yang dipenuhi syukur, ilmu, zikir, dan ibadah hingga mengantarkan seluruh penghuninya menuju surga-Nya.Baca juga: Al Jamil, Yang Maha Indah***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:https://islamqa.info/ar/answers/351350/https://www.islamweb.net/en/fatwa/259732/ruling-on-decorating-homes-for-the-advent-of-ramadan
Daftar Isi TogglePertama, niat yang benarKedua, memiliki fungsi dan manfaatKetiga, tidak berlebihanHadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakKeindahan adalah nikmatRumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah tempat kembali setelah lelah bekerja, tempat berkumpul bersama keluarga, tempat anak-anak tumbuh, dan tempat beribadah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin memiliki rumah yang indah, nyaman, dan enak dipandang.Namun muncul pertanyaan, apakah Islam membolehkan memperindah rumah dan menghias bangunan?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْنِيَ النَّاسُ بُيُوتًا، يُشَبِّهُونَهَا بِالْمَرَاحِلِ‏“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga manusia saling membangun rumah-rumah mereka menyerupai kain yang bersulam.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 459)قَالَ إِبْرَاهِيمُ‏:‏ يَعْنِي الثِّيَابَ الْمُخَطَّطَةَIbrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah kain-kain bergaris (bercorak belang atau ukiran).”Sekilas, hadis ini seolah menunjukkan bahwa menghias rumah adalah sesuatu yang tercela. Namun, dalam menetapkan hukum, seorang muslim tidak boleh hanya melihat satu dalil saja. Seluruh dalil Al-Qur’an dan As-Sunah harus dipahami secara utuh agar menghasilkan kesimpulan yang benar.Islam tidak melarang keindahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله جميل يحب الجمال“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)Oleh karena itu, memperindah rumah pada asalnya diperbolehkan, selama memenuhi beberapa kriteria berikut.Pertama, niat yang benarAmalan sangat bergantung kepada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seseorang memperindah rumahnya karena ingin menjaga kebersihan, memberikan kenyamanan bagi keluarga, mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, serta khusuk dalam beribadah kepada-Nya, maupun agar tamu merasa nyaman, maka hal itu termasuk tujuan yang baik.Namun, apabila tujuan utamanya adalah untuk dipuji manusia, berbangga-bangga, saling berlomba dalam kemewahan, atau merendahkan orang lain, maka keindahan yang semula mubah dapat berubah menjadi dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا“Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan.” (QS. Al-Isra’: 37)Kedua, memiliki fungsi dan manfaatHiasan yang dibuat hendaknya memiliki manfaat, bukan sekadar menghambur-hamburkan biaya tanpa tujuan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan harta adalah saudara-saudara setan, dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيَكْرَهُ لَكُمْ: وَإِضَاعَةَ الْمَالِ“Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian: menyia-nyiakan (menbuang-buang) harta.” (HR. Muslim no. 1715)Islam mengajarkan agar harta digunakan secara bijaksana.Contohnya, membuat taman agar rumah lebih sejuk, mempercantik pencahayaan agar nyaman, mengecat rumah supaya bersih dan rapi, memasang rak, gorden, atau ornamen yang memperindah sekaligus memiliki fungsi. Semua ini termasuk bentuk keindahan yang bermanfaat.Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. At-Tabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 897 dan Al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 4929. Lihat Shahih al-Jami’, no. 1880)Kesempurnaan dan kerapian merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebaliknya, menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk ukiran, ornamen, atau hiasan yang tidak memiliki manfaat selain pamer kemewahan patut menjadi bahan renungan.Ketiga, tidak berlebihanIslam melarang sikap berlebih-lebihan, tetapi bukan berarti semua bangunan yang bagus otomatis tercela. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ukuran berlebihan tidak selalu ditentukan oleh mahal atau murahnya suatu bangunan. Yang menjadi ukuran adalah apakah pengeluaran tersebut masih wajar, sesuai kemampuan, tidak mengandung kesombongan, dan memberikan manfaat.Misalnya, seseorang mengeluarkan biaya lebih besar untuk menggunakan material yang lebih kuat, atap yang lebih awet, ventilasi yang lebih baik, atau desain yang membuat rumah hemat energi. Meskipun biayanya besar, hal itu tetap termasuk pengeluaran yang fungsional dan dibenarkan.Hadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakHadis tentang manusia yang menghias rumah merupakan kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fenomena menjelang hari kiamat, yaitu ketika manusia berlomba-lomba mempercantik bangunan sebagai simbol kemewahan dan kebanggaan dunia. Sehingga yang tercela bukan semata-mata bangunannya, melainkan budaya saling bermegah-megahan, membanggakan dunia, serta lalai dari akhirat.Keindahan adalah nikmatKeindahan adalah nikmat dari Allah Ta’ala. Rumah yang bersih, rapi, nyaman, dan sedap dipandang merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri. Bahkan ketika menyebut nikmat berupa hewan ternak, Allah tidak hanya menyebut manfaatnya, tetapi juga keindahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ“Dan kalian memperoleh keindahan padanya ketika kalian membawanya pulang ke kandang dan ketika kalian melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS. An-Nahl: 6)Oleh karena itu, menikmati keindahan yang halal sebagaimana rumah yang dimiliki merupakan bagian dari mensyukuri nikmat Allah Ta’ala.Namun, jangan sampai rumah semakin indah sementara hati semakin jauh dari Allah Ta’ala. Jangan sampai dinding dipenuhi hiasan, tetapi lantunan Al-Qur’an semakin jarang terdengar. Jangan sampai bangunan semakin megah, tetapi penghuninya semakin lalai dari salat dan ibadah. Maka, jadikanlah rumah kita bukan hanya indah dipandang manusia, tetapi juga menjadi rumah yang dicintai Allah Ta’ala, yaitu rumah yang dipenuhi syukur, ilmu, zikir, dan ibadah hingga mengantarkan seluruh penghuninya menuju surga-Nya.Baca juga: Al Jamil, Yang Maha Indah***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:https://islamqa.info/ar/answers/351350/https://www.islamweb.net/en/fatwa/259732/ruling-on-decorating-homes-for-the-advent-of-ramadan


Daftar Isi TogglePertama, niat yang benarKedua, memiliki fungsi dan manfaatKetiga, tidak berlebihanHadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakKeindahan adalah nikmatRumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah tempat kembali setelah lelah bekerja, tempat berkumpul bersama keluarga, tempat anak-anak tumbuh, dan tempat beribadah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin memiliki rumah yang indah, nyaman, dan enak dipandang.Namun muncul pertanyaan, apakah Islam membolehkan memperindah rumah dan menghias bangunan?Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْنِيَ النَّاسُ بُيُوتًا، يُشَبِّهُونَهَا بِالْمَرَاحِلِ‏“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga manusia saling membangun rumah-rumah mereka menyerupai kain yang bersulam.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 459)قَالَ إِبْرَاهِيمُ‏:‏ يَعْنِي الثِّيَابَ الْمُخَطَّطَةَIbrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah kain-kain bergaris (bercorak belang atau ukiran).”Sekilas, hadis ini seolah menunjukkan bahwa menghias rumah adalah sesuatu yang tercela. Namun, dalam menetapkan hukum, seorang muslim tidak boleh hanya melihat satu dalil saja. Seluruh dalil Al-Qur’an dan As-Sunah harus dipahami secara utuh agar menghasilkan kesimpulan yang benar.Islam tidak melarang keindahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن الله جميل يحب الجمال“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)Oleh karena itu, memperindah rumah pada asalnya diperbolehkan, selama memenuhi beberapa kriteria berikut.Pertama, niat yang benarAmalan sangat bergantung kepada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Apabila seseorang memperindah rumahnya karena ingin menjaga kebersihan, memberikan kenyamanan bagi keluarga, mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, serta khusuk dalam beribadah kepada-Nya, maupun agar tamu merasa nyaman, maka hal itu termasuk tujuan yang baik.Namun, apabila tujuan utamanya adalah untuk dipuji manusia, berbangga-bangga, saling berlomba dalam kemewahan, atau merendahkan orang lain, maka keindahan yang semula mubah dapat berubah menjadi dosa. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا“Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan.” (QS. Al-Isra’: 37)Kedua, memiliki fungsi dan manfaatHiasan yang dibuat hendaknya memiliki manfaat, bukan sekadar menghambur-hamburkan biaya tanpa tujuan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan harta adalah saudara-saudara setan, dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26–27)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَيَكْرَهُ لَكُمْ: وَإِضَاعَةَ الْمَالِ“Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian: menyia-nyiakan (menbuang-buang) harta.” (HR. Muslim no. 1715)Islam mengajarkan agar harta digunakan secara bijaksana.Contohnya, membuat taman agar rumah lebih sejuk, mempercantik pencahayaan agar nyaman, mengecat rumah supaya bersih dan rapi, memasang rak, gorden, atau ornamen yang memperindah sekaligus memiliki fungsi. Semua ini termasuk bentuk keindahan yang bermanfaat.Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. At-Tabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 897 dan Al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 4929. Lihat Shahih al-Jami’, no. 1880)Kesempurnaan dan kerapian merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebaliknya, menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk ukiran, ornamen, atau hiasan yang tidak memiliki manfaat selain pamer kemewahan patut menjadi bahan renungan.Ketiga, tidak berlebihanIslam melarang sikap berlebih-lebihan, tetapi bukan berarti semua bangunan yang bagus otomatis tercela. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)Ukuran berlebihan tidak selalu ditentukan oleh mahal atau murahnya suatu bangunan. Yang menjadi ukuran adalah apakah pengeluaran tersebut masih wajar, sesuai kemampuan, tidak mengandung kesombongan, dan memberikan manfaat.Misalnya, seseorang mengeluarkan biaya lebih besar untuk menggunakan material yang lebih kuat, atap yang lebih awet, ventilasi yang lebih baik, atau desain yang membuat rumah hemat energi. Meskipun biayanya besar, hal itu tetap termasuk pengeluaran yang fungsional dan dibenarkan.Hadis tentang tanda kiamat bukanlah larangan mutlakHadis tentang manusia yang menghias rumah merupakan kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai fenomena menjelang hari kiamat, yaitu ketika manusia berlomba-lomba mempercantik bangunan sebagai simbol kemewahan dan kebanggaan dunia. Sehingga yang tercela bukan semata-mata bangunannya, melainkan budaya saling bermegah-megahan, membanggakan dunia, serta lalai dari akhirat.Keindahan adalah nikmatKeindahan adalah nikmat dari Allah Ta’ala. Rumah yang bersih, rapi, nyaman, dan sedap dipandang merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri. Bahkan ketika menyebut nikmat berupa hewan ternak, Allah tidak hanya menyebut manfaatnya, tetapi juga keindahannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ“Dan kalian memperoleh keindahan padanya ketika kalian membawanya pulang ke kandang dan ketika kalian melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS. An-Nahl: 6)Oleh karena itu, menikmati keindahan yang halal sebagaimana rumah yang dimiliki merupakan bagian dari mensyukuri nikmat Allah Ta’ala.Namun, jangan sampai rumah semakin indah sementara hati semakin jauh dari Allah Ta’ala. Jangan sampai dinding dipenuhi hiasan, tetapi lantunan Al-Qur’an semakin jarang terdengar. Jangan sampai bangunan semakin megah, tetapi penghuninya semakin lalai dari salat dan ibadah. Maka, jadikanlah rumah kita bukan hanya indah dipandang manusia, tetapi juga menjadi rumah yang dicintai Allah Ta’ala, yaitu rumah yang dipenuhi syukur, ilmu, zikir, dan ibadah hingga mengantarkan seluruh penghuninya menuju surga-Nya.Baca juga: Al Jamil, Yang Maha Indah***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:https://islamqa.info/ar/answers/351350/https://www.islamweb.net/en/fatwa/259732/ruling-on-decorating-homes-for-the-advent-of-ramadan

Teks Khotbah Jumat: Istikamah Beribadah adalah Sebuah Keberhasilan yang Hakiki

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحُ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَأَمَّا بَعْدُفَيَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ الزَّادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَJemaah salat Jumat rahimakumullah,Kadang di antara kita merasa gagal. Gagal mengejar cinta, gagal mengembangkan diri, gagal menaikkan pangkat, gagal membahagiakan orang tua, gagal mengembangkan dakwah. Kita lihat orang lain tampak mudah hidupnya. Tiba-tiba dada sesak, hati resah, dan gundah gulana. Lalu kita cari pelarian, scrolling tanpa henti, nongkrong berlarut, atau hiburan yang justru menambah kosongnya hati.Di tengah semua itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apakah benar ukuran sukses itu seperti yang kita yakini selama ini? Allah Ta’ala berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)Definisi sukses yang selama ini kita pegang ternyata rapuh. Sukses hakiki bukan perkara yang tampak di mata manusia. Sukses hakiki adalah ketika kita konsisten dalam kebaikan; kita masih berdiri di atas salat lima waktu, di atas tauhid yang lurus, hingga ajal menjemput. Hasil dunia? Itu hanya bonus. Amal ibadah yang istikamah, itulah bekal yang pasti.Dan ibadah sampai mati adalah keharusan, bukan pilihan. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal/kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)Tidak ada selesai dari ibadah. Tidak ada berhenti dari ketaatan. Sampai ajal datang, kita wajib beribadah. Karena itulah tugas kita di dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Namun, kita perlu memahami satu hal yang sering menyesatkan. Beriman dan beribadah tidak berarti kita akan selalu mendapatkan kehidupan dunia yang kita inginkan.Allah Berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?” (QS. al-Ankabut: 2)Perihal hasil, kita hanya diperintahkan bertawakkal. Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani)Namun, Ketawakkalan kita tidak boleh menciderai ikhtiyar kita dan berdoa. Nabi ﷺ bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hasil dunia boleh jadi datang, boleh jadi tidak. Tugas kita hanya beramal saleh. Tugas kita bukan mengejar hasil. Karena keberhasilan hakiki umat Islam hanya akan terlihat di akhirat nanti, bukan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat selain neraka, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan di dunia.” (QS. Hud: 15-16)Nabi ﷺ bersabda,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah rahimakumullah, dunia ini bukan tempat kita memanen kemenangan. Di dunia ini, ujian dan fitnah akan selalu datang, tidak peduli siapa kita, berapa harta kita, atau apa jabatan kita. Nabi ﷺ bersabda,تَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي“Akan ada fitnah. Yang duduk di dalamnya lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari menuju fitnah.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّىٰ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيهِ فِيمَ قَتَلَ، وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan lenyap dunia ini hingga datang kepada manusia suatu hari di mana yang membunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh.” (HR. Muslim no. 2884)Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah fitnah yang datang silih berganti?Yang paling utama adalah berusaha menjauh dari fitnah, bukan mendekatinya. Nabi ﷺ bersabda,مَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ“Siapa yang menemukan tempat berlindung, maka berlindunglah di sana.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ bersabda,يَهْرُبُ النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ، فَيَلْحَقُ بِالْجَبَالِ“Manusia akan lari dari Dajjal, lalu mereka berlindung ke gunung-gunung.” (HR. Muslim no. 2936)Nabi ﷺ bersabda,كَيْفَ أَنْتَ يَا حُذَيْفَةُ إِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتٌ يَكُونُ الْقَتْلُ فِيهِ قَتْلًا؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لِتَصْبِرَنَّ عَلَيْهِمْ وَلَتَمَسَّكَنَّ بِأَخْشُوشِ أَمْرِكَ“Bagaimana keadaanmu wahai Hudzaifah, jika manusia ditimpa suatu kematian yang membunuh banyak orang? Aku (Hudzaifah) menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Bersabarlah dan berpeganglah teguh pada perkara yang keras (agaknya) dari agamamu.’” (HR. Abu Dawud no. 4242, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah, kita tidak perlu menjadi pahlawan di tengah fitnah. Kita cukup selamat. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita sengaja menceburkan diri ke dalam kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dan jika kita terlanjur terperosok, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Bertobatlah selalu, setiap saat. Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, dinilai sahih oleh Al-Albani)Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar pelaku dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar pelaku dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Jemaah rahimakumullah, mungkin ada yang bertanya: kalau dunia ini bukan tempat kemenangan, lalu siapakah yang menang? Apakah Islam akan mampu bertahan? Apakah umat ini akan berjaya?Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas. Islam akan kembali asing di akhir zaman. Kemenangan hakiki bukanlah milik yang menang di dunia, melainkan milik yang beristikamah. Nabi ﷺ bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia mulai. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 145)Nabi ﷺ bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّىٰ يَقْبِضَ الْعِلْمَ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ“Tidak akan datang kiamat hingga diangkatnya ilmu, banyak gempa, waktu terasa sempit, fitnah tampak jelas, dan banyak kekacauan.” (HR. Bukhari no. 1036)Nabi ﷺ bersabda,سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ“Luruslah, dekatlah, dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, ‘Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.’” (HR. Bukhari no. 5673)Maka jika ukuran kemenangan adalah harta, jabatan, dan popularitas dunia, maka benar, banyak orang yang akan merasa kalah. Namun jika ukuran kemenangan adalah istikamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunah hingga ajal menjemput, maka itulah kemenangan yang sebenarnya. Karena itulah sebaik-baik bekal yang bisa kita persiapkan.Nabi ﷺ bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, dinilai sahih oleh Al-Albani)Maka definisi sukses itu sederhana, jemaah: masih bisa salat lima waktu, masih bisa berzikir, masih bisa menjaga lisan, masih bisa bertobat, dan masih di atas tauhid ketika malaikat maut datang. Itu lebih dari cukup. Itulah sukses yang sebenarnya. Berhasil mengistikamahkan ibadah kita hingga maut menjemput kita.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَاللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِاللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id

Teks Khotbah Jumat: Istikamah Beribadah adalah Sebuah Keberhasilan yang Hakiki

Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحُ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَأَمَّا بَعْدُفَيَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ الزَّادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَJemaah salat Jumat rahimakumullah,Kadang di antara kita merasa gagal. Gagal mengejar cinta, gagal mengembangkan diri, gagal menaikkan pangkat, gagal membahagiakan orang tua, gagal mengembangkan dakwah. Kita lihat orang lain tampak mudah hidupnya. Tiba-tiba dada sesak, hati resah, dan gundah gulana. Lalu kita cari pelarian, scrolling tanpa henti, nongkrong berlarut, atau hiburan yang justru menambah kosongnya hati.Di tengah semua itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apakah benar ukuran sukses itu seperti yang kita yakini selama ini? Allah Ta’ala berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)Definisi sukses yang selama ini kita pegang ternyata rapuh. Sukses hakiki bukan perkara yang tampak di mata manusia. Sukses hakiki adalah ketika kita konsisten dalam kebaikan; kita masih berdiri di atas salat lima waktu, di atas tauhid yang lurus, hingga ajal menjemput. Hasil dunia? Itu hanya bonus. Amal ibadah yang istikamah, itulah bekal yang pasti.Dan ibadah sampai mati adalah keharusan, bukan pilihan. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal/kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)Tidak ada selesai dari ibadah. Tidak ada berhenti dari ketaatan. Sampai ajal datang, kita wajib beribadah. Karena itulah tugas kita di dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Namun, kita perlu memahami satu hal yang sering menyesatkan. Beriman dan beribadah tidak berarti kita akan selalu mendapatkan kehidupan dunia yang kita inginkan.Allah Berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?” (QS. al-Ankabut: 2)Perihal hasil, kita hanya diperintahkan bertawakkal. Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani)Namun, Ketawakkalan kita tidak boleh menciderai ikhtiyar kita dan berdoa. Nabi ﷺ bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hasil dunia boleh jadi datang, boleh jadi tidak. Tugas kita hanya beramal saleh. Tugas kita bukan mengejar hasil. Karena keberhasilan hakiki umat Islam hanya akan terlihat di akhirat nanti, bukan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat selain neraka, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan di dunia.” (QS. Hud: 15-16)Nabi ﷺ bersabda,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah rahimakumullah, dunia ini bukan tempat kita memanen kemenangan. Di dunia ini, ujian dan fitnah akan selalu datang, tidak peduli siapa kita, berapa harta kita, atau apa jabatan kita. Nabi ﷺ bersabda,تَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي“Akan ada fitnah. Yang duduk di dalamnya lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari menuju fitnah.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّىٰ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيهِ فِيمَ قَتَلَ، وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan lenyap dunia ini hingga datang kepada manusia suatu hari di mana yang membunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh.” (HR. Muslim no. 2884)Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah fitnah yang datang silih berganti?Yang paling utama adalah berusaha menjauh dari fitnah, bukan mendekatinya. Nabi ﷺ bersabda,مَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ“Siapa yang menemukan tempat berlindung, maka berlindunglah di sana.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ bersabda,يَهْرُبُ النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ، فَيَلْحَقُ بِالْجَبَالِ“Manusia akan lari dari Dajjal, lalu mereka berlindung ke gunung-gunung.” (HR. Muslim no. 2936)Nabi ﷺ bersabda,كَيْفَ أَنْتَ يَا حُذَيْفَةُ إِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتٌ يَكُونُ الْقَتْلُ فِيهِ قَتْلًا؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لِتَصْبِرَنَّ عَلَيْهِمْ وَلَتَمَسَّكَنَّ بِأَخْشُوشِ أَمْرِكَ“Bagaimana keadaanmu wahai Hudzaifah, jika manusia ditimpa suatu kematian yang membunuh banyak orang? Aku (Hudzaifah) menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Bersabarlah dan berpeganglah teguh pada perkara yang keras (agaknya) dari agamamu.’” (HR. Abu Dawud no. 4242, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah, kita tidak perlu menjadi pahlawan di tengah fitnah. Kita cukup selamat. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita sengaja menceburkan diri ke dalam kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dan jika kita terlanjur terperosok, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Bertobatlah selalu, setiap saat. Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, dinilai sahih oleh Al-Albani)Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar pelaku dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar pelaku dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Jemaah rahimakumullah, mungkin ada yang bertanya: kalau dunia ini bukan tempat kemenangan, lalu siapakah yang menang? Apakah Islam akan mampu bertahan? Apakah umat ini akan berjaya?Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas. Islam akan kembali asing di akhir zaman. Kemenangan hakiki bukanlah milik yang menang di dunia, melainkan milik yang beristikamah. Nabi ﷺ bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia mulai. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 145)Nabi ﷺ bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّىٰ يَقْبِضَ الْعِلْمَ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ“Tidak akan datang kiamat hingga diangkatnya ilmu, banyak gempa, waktu terasa sempit, fitnah tampak jelas, dan banyak kekacauan.” (HR. Bukhari no. 1036)Nabi ﷺ bersabda,سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ“Luruslah, dekatlah, dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, ‘Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.’” (HR. Bukhari no. 5673)Maka jika ukuran kemenangan adalah harta, jabatan, dan popularitas dunia, maka benar, banyak orang yang akan merasa kalah. Namun jika ukuran kemenangan adalah istikamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunah hingga ajal menjemput, maka itulah kemenangan yang sebenarnya. Karena itulah sebaik-baik bekal yang bisa kita persiapkan.Nabi ﷺ bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, dinilai sahih oleh Al-Albani)Maka definisi sukses itu sederhana, jemaah: masih bisa salat lima waktu, masih bisa berzikir, masih bisa menjaga lisan, masih bisa bertobat, dan masih di atas tauhid ketika malaikat maut datang. Itu lebih dari cukup. Itulah sukses yang sebenarnya. Berhasil mengistikamahkan ibadah kita hingga maut menjemput kita.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَاللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِاللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحُ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَأَمَّا بَعْدُفَيَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ الزَّادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَJemaah salat Jumat rahimakumullah,Kadang di antara kita merasa gagal. Gagal mengejar cinta, gagal mengembangkan diri, gagal menaikkan pangkat, gagal membahagiakan orang tua, gagal mengembangkan dakwah. Kita lihat orang lain tampak mudah hidupnya. Tiba-tiba dada sesak, hati resah, dan gundah gulana. Lalu kita cari pelarian, scrolling tanpa henti, nongkrong berlarut, atau hiburan yang justru menambah kosongnya hati.Di tengah semua itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apakah benar ukuran sukses itu seperti yang kita yakini selama ini? Allah Ta’ala berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)Definisi sukses yang selama ini kita pegang ternyata rapuh. Sukses hakiki bukan perkara yang tampak di mata manusia. Sukses hakiki adalah ketika kita konsisten dalam kebaikan; kita masih berdiri di atas salat lima waktu, di atas tauhid yang lurus, hingga ajal menjemput. Hasil dunia? Itu hanya bonus. Amal ibadah yang istikamah, itulah bekal yang pasti.Dan ibadah sampai mati adalah keharusan, bukan pilihan. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal/kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)Tidak ada selesai dari ibadah. Tidak ada berhenti dari ketaatan. Sampai ajal datang, kita wajib beribadah. Karena itulah tugas kita di dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Namun, kita perlu memahami satu hal yang sering menyesatkan. Beriman dan beribadah tidak berarti kita akan selalu mendapatkan kehidupan dunia yang kita inginkan.Allah Berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?” (QS. al-Ankabut: 2)Perihal hasil, kita hanya diperintahkan bertawakkal. Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani)Namun, Ketawakkalan kita tidak boleh menciderai ikhtiyar kita dan berdoa. Nabi ﷺ bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hasil dunia boleh jadi datang, boleh jadi tidak. Tugas kita hanya beramal saleh. Tugas kita bukan mengejar hasil. Karena keberhasilan hakiki umat Islam hanya akan terlihat di akhirat nanti, bukan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat selain neraka, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan di dunia.” (QS. Hud: 15-16)Nabi ﷺ bersabda,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah rahimakumullah, dunia ini bukan tempat kita memanen kemenangan. Di dunia ini, ujian dan fitnah akan selalu datang, tidak peduli siapa kita, berapa harta kita, atau apa jabatan kita. Nabi ﷺ bersabda,تَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي“Akan ada fitnah. Yang duduk di dalamnya lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari menuju fitnah.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّىٰ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيهِ فِيمَ قَتَلَ، وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan lenyap dunia ini hingga datang kepada manusia suatu hari di mana yang membunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh.” (HR. Muslim no. 2884)Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah fitnah yang datang silih berganti?Yang paling utama adalah berusaha menjauh dari fitnah, bukan mendekatinya. Nabi ﷺ bersabda,مَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ“Siapa yang menemukan tempat berlindung, maka berlindunglah di sana.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ bersabda,يَهْرُبُ النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ، فَيَلْحَقُ بِالْجَبَالِ“Manusia akan lari dari Dajjal, lalu mereka berlindung ke gunung-gunung.” (HR. Muslim no. 2936)Nabi ﷺ bersabda,كَيْفَ أَنْتَ يَا حُذَيْفَةُ إِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتٌ يَكُونُ الْقَتْلُ فِيهِ قَتْلًا؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لِتَصْبِرَنَّ عَلَيْهِمْ وَلَتَمَسَّكَنَّ بِأَخْشُوشِ أَمْرِكَ“Bagaimana keadaanmu wahai Hudzaifah, jika manusia ditimpa suatu kematian yang membunuh banyak orang? Aku (Hudzaifah) menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Bersabarlah dan berpeganglah teguh pada perkara yang keras (agaknya) dari agamamu.’” (HR. Abu Dawud no. 4242, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah, kita tidak perlu menjadi pahlawan di tengah fitnah. Kita cukup selamat. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita sengaja menceburkan diri ke dalam kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dan jika kita terlanjur terperosok, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Bertobatlah selalu, setiap saat. Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, dinilai sahih oleh Al-Albani)Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar pelaku dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar pelaku dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Jemaah rahimakumullah, mungkin ada yang bertanya: kalau dunia ini bukan tempat kemenangan, lalu siapakah yang menang? Apakah Islam akan mampu bertahan? Apakah umat ini akan berjaya?Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas. Islam akan kembali asing di akhir zaman. Kemenangan hakiki bukanlah milik yang menang di dunia, melainkan milik yang beristikamah. Nabi ﷺ bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia mulai. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 145)Nabi ﷺ bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّىٰ يَقْبِضَ الْعِلْمَ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ“Tidak akan datang kiamat hingga diangkatnya ilmu, banyak gempa, waktu terasa sempit, fitnah tampak jelas, dan banyak kekacauan.” (HR. Bukhari no. 1036)Nabi ﷺ bersabda,سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ“Luruslah, dekatlah, dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, ‘Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.’” (HR. Bukhari no. 5673)Maka jika ukuran kemenangan adalah harta, jabatan, dan popularitas dunia, maka benar, banyak orang yang akan merasa kalah. Namun jika ukuran kemenangan adalah istikamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunah hingga ajal menjemput, maka itulah kemenangan yang sebenarnya. Karena itulah sebaik-baik bekal yang bisa kita persiapkan.Nabi ﷺ bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, dinilai sahih oleh Al-Albani)Maka definisi sukses itu sederhana, jemaah: masih bisa salat lima waktu, masih bisa berzikir, masih bisa menjaga lisan, masih bisa bertobat, dan masih di atas tauhid ketika malaikat maut datang. Itu lebih dari cukup. Itulah sukses yang sebenarnya. Berhasil mengistikamahkan ibadah kita hingga maut menjemput kita.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَاللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِاللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKhotbah pertamaKhotbah keduaKhotbah pertamaإِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحُ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَأَمَّا بَعْدُفَيَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ الزَّادِ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَJemaah salat Jumat rahimakumullah,Kadang di antara kita merasa gagal. Gagal mengejar cinta, gagal mengembangkan diri, gagal menaikkan pangkat, gagal membahagiakan orang tua, gagal mengembangkan dakwah. Kita lihat orang lain tampak mudah hidupnya. Tiba-tiba dada sesak, hati resah, dan gundah gulana. Lalu kita cari pelarian, scrolling tanpa henti, nongkrong berlarut, atau hiburan yang justru menambah kosongnya hati.Di tengah semua itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apakah benar ukuran sukses itu seperti yang kita yakini selama ini? Allah Ta’ala berfirman,وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)Definisi sukses yang selama ini kita pegang ternyata rapuh. Sukses hakiki bukan perkara yang tampak di mata manusia. Sukses hakiki adalah ketika kita konsisten dalam kebaikan; kita masih berdiri di atas salat lima waktu, di atas tauhid yang lurus, hingga ajal menjemput. Hasil dunia? Itu hanya bonus. Amal ibadah yang istikamah, itulah bekal yang pasti.Dan ibadah sampai mati adalah keharusan, bukan pilihan. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal/kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)Tidak ada selesai dari ibadah. Tidak ada berhenti dari ketaatan. Sampai ajal datang, kita wajib beribadah. Karena itulah tugas kita di dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Namun, kita perlu memahami satu hal yang sering menyesatkan. Beriman dan beribadah tidak berarti kita akan selalu mendapatkan kehidupan dunia yang kita inginkan.Allah Berfirman,أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?” (QS. al-Ankabut: 2)Perihal hasil, kita hanya diperintahkan bertawakkal. Nabi ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani)Namun, Ketawakkalan kita tidak boleh menciderai ikhtiyar kita dan berdoa. Nabi ﷺ bersabda,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim no. 2664)Hasil dunia boleh jadi datang, boleh jadi tidak. Tugas kita hanya beramal saleh. Tugas kita bukan mengejar hasil. Karena keberhasilan hakiki umat Islam hanya akan terlihat di akhirat nanti, bukan di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat selain neraka, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan di dunia.” (QS. Hud: 15-16)Nabi ﷺ bersabda,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah rahimakumullah, dunia ini bukan tempat kita memanen kemenangan. Di dunia ini, ujian dan fitnah akan selalu datang, tidak peduli siapa kita, berapa harta kita, atau apa jabatan kita. Nabi ﷺ bersabda,تَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي“Akan ada fitnah. Yang duduk di dalamnya lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari menuju fitnah.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ juga bersabda,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّىٰ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيهِ فِيمَ قَتَلَ، وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan lenyap dunia ini hingga datang kepada manusia suatu hari di mana yang membunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh.” (HR. Muslim no. 2884)Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah fitnah yang datang silih berganti?Yang paling utama adalah berusaha menjauh dari fitnah, bukan mendekatinya. Nabi ﷺ bersabda,مَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ“Siapa yang menemukan tempat berlindung, maka berlindunglah di sana.” (HR. Bukhari no. 7081)Nabi ﷺ bersabda,يَهْرُبُ النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ، فَيَلْحَقُ بِالْجَبَالِ“Manusia akan lari dari Dajjal, lalu mereka berlindung ke gunung-gunung.” (HR. Muslim no. 2936)Nabi ﷺ bersabda,كَيْفَ أَنْتَ يَا حُذَيْفَةُ إِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتٌ يَكُونُ الْقَتْلُ فِيهِ قَتْلًا؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لِتَصْبِرَنَّ عَلَيْهِمْ وَلَتَمَسَّكَنَّ بِأَخْشُوشِ أَمْرِكَ“Bagaimana keadaanmu wahai Hudzaifah, jika manusia ditimpa suatu kematian yang membunuh banyak orang? Aku (Hudzaifah) menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Bersabarlah dan berpeganglah teguh pada perkara yang keras (agaknya) dari agamamu.’” (HR. Abu Dawud no. 4242, dinilai sahih oleh Al-Albani)Jemaah, kita tidak perlu menjadi pahlawan di tengah fitnah. Kita cukup selamat. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita sengaja menceburkan diri ke dalam kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)Dan jika kita terlanjur terperosok, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Bertobatlah selalu, setiap saat. Nabi ﷺ bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, dinilai sahih oleh Al-Albani)Nabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar pelaku dosa di siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar pelaku dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)Jemaah rahimakumullah, mungkin ada yang bertanya: kalau dunia ini bukan tempat kemenangan, lalu siapakah yang menang? Apakah Islam akan mampu bertahan? Apakah umat ini akan berjaya?Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas. Islam akan kembali asing di akhir zaman. Kemenangan hakiki bukanlah milik yang menang di dunia, melainkan milik yang beristikamah. Nabi ﷺ bersabda,بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ“Islam mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia mulai. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 145)Nabi ﷺ bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّىٰ يَقْبِضَ الْعِلْمَ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ“Tidak akan datang kiamat hingga diangkatnya ilmu, banyak gempa, waktu terasa sempit, fitnah tampak jelas, dan banyak kekacauan.” (HR. Bukhari no. 1036)Nabi ﷺ bersabda,سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ“Luruslah, dekatlah, dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, ‘Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.’” (HR. Bukhari no. 5673)Maka jika ukuran kemenangan adalah harta, jabatan, dan popularitas dunia, maka benar, banyak orang yang akan merasa kalah. Namun jika ukuran kemenangan adalah istikamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunah hingga ajal menjemput, maka itulah kemenangan yang sebenarnya. Karena itulah sebaik-baik bekal yang bisa kita persiapkan.Nabi ﷺ bersabda,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, dinilai sahih oleh Al-Albani)Maka definisi sukses itu sederhana, jemaah: masih bisa salat lima waktu, masih bisa berzikir, masih bisa menjaga lisan, masih bisa bertobat, dan masih di atas tauhid ketika malaikat maut datang. Itu lebih dari cukup. Itulah sukses yang sebenarnya. Berhasil mengistikamahkan ibadah kita hingga maut menjemput kita.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُKhotbah keduaالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِاللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَاللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَاللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِاللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَفَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَأَقِيمُوا الصَّلَاةَBaca juga: Lima Kiat untuk Istiqamah dalam Beramal***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id

Jika Diberi Hadiah, Apakah Wajib Membalasnya?

Daftar Isi ToggleKedudukan hadiah dalam IslamHukum membalas hadiahKonsep syukur kepada manusiaJika tidak mampu membalas dengan hadiahMembalas dengan yang lebih baikBahaya tidak membalas karena kesombonganMemberi hadiah dengan harapan balasanPerbedaan antara hadiah dan suapKesimpulanMemberi hadiah merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang telah dikenal sejak dahulu dalam kehidupan manusia. Hampir di setiap masyarakat, hadiah menjadi simbol penghormatan, kasih sayang, persahabatan, atau rasa terima kasih. Dalam Islam, praktik memberi hadiah bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi juga termasuk bagian dari akhlak yang dianjurkan oleh syariat.Hadiah dapat mempererat hubungan antarindividu, menumbuhkan rasa cinta, menghilangkan permusuhan, dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah sebagai sarana memperbaiki hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.Namun sering muncul pertanyaan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari: jika seseorang memberi kita hadiah, apakah kita wajib membalasnya? Apakah tidak membalas hadiah termasuk dosa? Ataukah sekadar masalah adab dan kesempurnaan akhlak?Melalui pembahasan ini, akan tampak bahwa Islam tidak hanya mengatur hukum secara kaku, tetapi juga membimbing manusia menuju akhlak yang luhur.Kedudukan hadiah dalam IslamIslam sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah. Hal ini karena hadiah memiliki pengaruh besar dalam melembutkan hati manusia dan mempererat hubungan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh para ulama.)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan seorang muslim untuk memberi hadiah kepada saudaranya sesama muslim, baik hadiah yang besar maupun yang sederhana. Sebab, saling memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, mempererat hubungan, dan menyatukan hati di antara sesama. Selain itu, menerima hadiah juga termasuk sunah. Dari hadis ini dapat diambil faidah bahwa memberi hadiah merupakan amalan yang dianjurkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan hadiah menjadi salah satu sebab tumbuhnya cinta serta kedekatan antarsesama. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha melakukan segala hal yang dapat mendatangkan kasih sayang dan keharmonisan dengan orang lain, baik melalui pemberian hadiah, sikap yang lembut, perkataan yang baik, maupun wajah yang ceria sesuai dengan kemampuannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dikenal sering menerima hadiah dan juga membalasnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari para sahabat maupun dari pemimpin negeri lain, kemudian beliau membalasnya dengan hadiah pula. Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، كان يقبلُ الهديةَ ، ويُثيبُ عليها“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan membalasnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lafaz ini miliknya, serta diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dengan sedikit perbedaan lafaz.)Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarganya. Hal ini menunjukkan perbedaan antara hadiah dan sedekah dalam syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أخَذَ الحَسَنُ بنُ عَليٍّ رَضيَ اللهُ عنهما تَمرةً مِن تَمرِ الصَّدَقةِ، فجَعَلَها في فيه، فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كِخْ كِخْ. ليَطرَحَها، ثُمَّ قال: أما شَعَرتَ أنَّا لا نَأكُلُ الصَّدَقةَ“Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengambil satu butir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kikh, kikh’ (ungkapan agar membuang sesuatu), supaya ia membuangnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa kami tidak memakan sedekah?’” (HR. Bukhari)Hadiah adalah pemberian yang bertujuan untuk menghormati atau mempererat hubungan, sedangkan sedekah diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial.Hukum membalas hadiahDalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga memberikan balasan kepada orang yang memberinya hadiah sebagai bentuk penghargaan dan kebaikan.Yang dimaksud dengan membalas hadiah adalah memberikan pengganti, balasan, atau penghormatan kepada orang yang telah memberikan hadiah. Dalam hadis disebutkan,وَيُثِيبُ عَلَيْهَاKata “الثواب” dalam hadis bermakna الجزاء والمكافأة, yaitu balasan dan penghargaan atas kebaikan seseorang.Mayoritas ulama berpendapat bahwa membalas hadiah hukumnya sunah dan dianjurkan. Hal ini termasuk akhlak mulia dan bentuk menjaga hubungan baik antarsesama.Konsep syukur kepada manusiaMembalas hadiah juga berkaitan erat dengan konsep syukur dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)Hadis ini menunjukkan bahwa menghargai kebaikan manusia termasuk bagian dari syukur kepada Allah. Bentuk syukur kepada manusia dapat dilakukan dengan beberapa cara:1) Mengucapkan terima kasih.2) Mendoakan kebaikan bagi mereka.3) Membalas kebaikan mereka.4) Tidak melupakan jasa mereka.Dengan demikian, membalas hadiah termasuk bentuk syukur kepada manusia.Jika tidak mampu membalas dengan hadiahTidak semua orang mampu membalas hadiah dengan hadiah lain. Kadang seseorang menerima hadiah dari orang lain yang lebih kaya atau lebih mampu. Tidak perlu bersedih, Islam memberikan solusi yang sangat indah dalam situasi seperti ini, yaitu dengan mendoakan orang yang memberikan hadiah.Doa yang paling dianjurkan ketika menerima kebaikan adalah:جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من صُنعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلهِ جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barang siapa diberi suatu kebaikan, lalu ia berkata kepada orang yang melakukannya, ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),’ maka sungguh ia telah memberikan pujian yang paling sempurna.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)Dengan demikian, walaupun seseorang tidak mampu membalas hadiah secara materi, ia tetap dapat membalasnya dengan doa yang tulus.Membalas dengan yang lebih baikIslam mendorong umatnya untuk membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Allah Azza wa Jalla berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)Oleh karena itu, jika seseorang memberi hadiah kepada kita, dianjurkan untuk membalas dengan hadiah yang setara atau lebih baik, sesuai kemampuan. Hal ini bukan untuk menunjukkan persaingan atau pamer, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain.Bahaya tidak membalas karena kesombonganTidak membalas hadiah karena tidak mampu bukanlah dosa. Namun, jika seseorang tidak membalas karena sombong atau meremehkan pemberi hadiah, maka hal itu termasuk sikap tercela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَنْ كان في قلبِهِ مِثقالُ ذرَّةٍ من كِبرٍ ، قِيلَ : إنَّ الرجُلَ يُحبُّ أنْ يكونَ ثوبُهُ حسنًا ، ونعلُهُ حسنةً ، قال : إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ ، الكِبرُ بطَرُ الحقِّ ، و غمْطُ الناسِ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.”Lalu ada yang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)Sering kali nilai hadiah tidak terletak pada harganya, tetapi pada perhatian dan kasih sayang yang menyertainya. Meremehkan hadiah berarti meremehkan perasaan pemberinya.Memberi hadiah dengan harapan balasanBagaimana jika seseorang memberi hadiah dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih besar? Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatstsir: 6)Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang memberi tanpa mengharapkan balasan,إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا“Kami memberi makan kepada kalian hanya karena mengharap wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)Perbedaan antara hadiah dan suapPerlu dibedakan antara hadiah yang murni dengan hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan atau memperoleh keuntungan yang tidak sah. Jika hadiah diberikan untuk mempengaruhi keputusan hakim, pejabat, atau seseorang yang memiliki kekuasaan, maka ia termasuk suap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)Oleh karena itu, hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan tidak termasuk hadiah yang dianjurkan dalam Islam.KesimpulanDari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting:1) Memberi hadiah merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam karena dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.2) Membalas hadiah tidak wajib secara hukum fikih, tetapi sangat dianjurkan.3) Dianjurkan membalas dengan yang setara atau lebih baik sesuai kemampuan.4) Jika tidak mampu membalas secara materi, maka doa yang tulus sudah mencukupi.5) Tidak membalas karena kesombongan atau meremehkan pemberi hadiah termasuk akhlak tercela.6) Memberi hadiah hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan demi balasan dunia.Islam adalah agama yang sangat memperhatikan akhlak. Banyak perkara yang tidak diwajibkan secara hukum, tetapi sangat dianjurkan sebagai bentuk kesempurnaan iman. Membalas hadiah adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain dan bagian dari syukur kepada manusia. Kadang hadiah tidak bernilai besar secara materi, tetapi memiliki makna besar dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjadi orang yang tidak melupakan kebaikan orang lain dan selalu membalasnya dengan kebaikan pula.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, menghargai kebaikan sesama, dan membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik.Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Hadiah yang Tak Pernah Usang***Diselesaikan di Jember, 12 Zulhijah 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Jika Diberi Hadiah, Apakah Wajib Membalasnya?

Daftar Isi ToggleKedudukan hadiah dalam IslamHukum membalas hadiahKonsep syukur kepada manusiaJika tidak mampu membalas dengan hadiahMembalas dengan yang lebih baikBahaya tidak membalas karena kesombonganMemberi hadiah dengan harapan balasanPerbedaan antara hadiah dan suapKesimpulanMemberi hadiah merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang telah dikenal sejak dahulu dalam kehidupan manusia. Hampir di setiap masyarakat, hadiah menjadi simbol penghormatan, kasih sayang, persahabatan, atau rasa terima kasih. Dalam Islam, praktik memberi hadiah bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi juga termasuk bagian dari akhlak yang dianjurkan oleh syariat.Hadiah dapat mempererat hubungan antarindividu, menumbuhkan rasa cinta, menghilangkan permusuhan, dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah sebagai sarana memperbaiki hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.Namun sering muncul pertanyaan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari: jika seseorang memberi kita hadiah, apakah kita wajib membalasnya? Apakah tidak membalas hadiah termasuk dosa? Ataukah sekadar masalah adab dan kesempurnaan akhlak?Melalui pembahasan ini, akan tampak bahwa Islam tidak hanya mengatur hukum secara kaku, tetapi juga membimbing manusia menuju akhlak yang luhur.Kedudukan hadiah dalam IslamIslam sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah. Hal ini karena hadiah memiliki pengaruh besar dalam melembutkan hati manusia dan mempererat hubungan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh para ulama.)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan seorang muslim untuk memberi hadiah kepada saudaranya sesama muslim, baik hadiah yang besar maupun yang sederhana. Sebab, saling memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, mempererat hubungan, dan menyatukan hati di antara sesama. Selain itu, menerima hadiah juga termasuk sunah. Dari hadis ini dapat diambil faidah bahwa memberi hadiah merupakan amalan yang dianjurkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan hadiah menjadi salah satu sebab tumbuhnya cinta serta kedekatan antarsesama. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha melakukan segala hal yang dapat mendatangkan kasih sayang dan keharmonisan dengan orang lain, baik melalui pemberian hadiah, sikap yang lembut, perkataan yang baik, maupun wajah yang ceria sesuai dengan kemampuannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dikenal sering menerima hadiah dan juga membalasnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari para sahabat maupun dari pemimpin negeri lain, kemudian beliau membalasnya dengan hadiah pula. Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، كان يقبلُ الهديةَ ، ويُثيبُ عليها“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan membalasnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lafaz ini miliknya, serta diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dengan sedikit perbedaan lafaz.)Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarganya. Hal ini menunjukkan perbedaan antara hadiah dan sedekah dalam syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أخَذَ الحَسَنُ بنُ عَليٍّ رَضيَ اللهُ عنهما تَمرةً مِن تَمرِ الصَّدَقةِ، فجَعَلَها في فيه، فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كِخْ كِخْ. ليَطرَحَها، ثُمَّ قال: أما شَعَرتَ أنَّا لا نَأكُلُ الصَّدَقةَ“Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengambil satu butir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kikh, kikh’ (ungkapan agar membuang sesuatu), supaya ia membuangnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa kami tidak memakan sedekah?’” (HR. Bukhari)Hadiah adalah pemberian yang bertujuan untuk menghormati atau mempererat hubungan, sedangkan sedekah diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial.Hukum membalas hadiahDalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga memberikan balasan kepada orang yang memberinya hadiah sebagai bentuk penghargaan dan kebaikan.Yang dimaksud dengan membalas hadiah adalah memberikan pengganti, balasan, atau penghormatan kepada orang yang telah memberikan hadiah. Dalam hadis disebutkan,وَيُثِيبُ عَلَيْهَاKata “الثواب” dalam hadis bermakna الجزاء والمكافأة, yaitu balasan dan penghargaan atas kebaikan seseorang.Mayoritas ulama berpendapat bahwa membalas hadiah hukumnya sunah dan dianjurkan. Hal ini termasuk akhlak mulia dan bentuk menjaga hubungan baik antarsesama.Konsep syukur kepada manusiaMembalas hadiah juga berkaitan erat dengan konsep syukur dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)Hadis ini menunjukkan bahwa menghargai kebaikan manusia termasuk bagian dari syukur kepada Allah. Bentuk syukur kepada manusia dapat dilakukan dengan beberapa cara:1) Mengucapkan terima kasih.2) Mendoakan kebaikan bagi mereka.3) Membalas kebaikan mereka.4) Tidak melupakan jasa mereka.Dengan demikian, membalas hadiah termasuk bentuk syukur kepada manusia.Jika tidak mampu membalas dengan hadiahTidak semua orang mampu membalas hadiah dengan hadiah lain. Kadang seseorang menerima hadiah dari orang lain yang lebih kaya atau lebih mampu. Tidak perlu bersedih, Islam memberikan solusi yang sangat indah dalam situasi seperti ini, yaitu dengan mendoakan orang yang memberikan hadiah.Doa yang paling dianjurkan ketika menerima kebaikan adalah:جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من صُنعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلهِ جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barang siapa diberi suatu kebaikan, lalu ia berkata kepada orang yang melakukannya, ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),’ maka sungguh ia telah memberikan pujian yang paling sempurna.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)Dengan demikian, walaupun seseorang tidak mampu membalas hadiah secara materi, ia tetap dapat membalasnya dengan doa yang tulus.Membalas dengan yang lebih baikIslam mendorong umatnya untuk membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Allah Azza wa Jalla berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)Oleh karena itu, jika seseorang memberi hadiah kepada kita, dianjurkan untuk membalas dengan hadiah yang setara atau lebih baik, sesuai kemampuan. Hal ini bukan untuk menunjukkan persaingan atau pamer, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain.Bahaya tidak membalas karena kesombonganTidak membalas hadiah karena tidak mampu bukanlah dosa. Namun, jika seseorang tidak membalas karena sombong atau meremehkan pemberi hadiah, maka hal itu termasuk sikap tercela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَنْ كان في قلبِهِ مِثقالُ ذرَّةٍ من كِبرٍ ، قِيلَ : إنَّ الرجُلَ يُحبُّ أنْ يكونَ ثوبُهُ حسنًا ، ونعلُهُ حسنةً ، قال : إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ ، الكِبرُ بطَرُ الحقِّ ، و غمْطُ الناسِ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.”Lalu ada yang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)Sering kali nilai hadiah tidak terletak pada harganya, tetapi pada perhatian dan kasih sayang yang menyertainya. Meremehkan hadiah berarti meremehkan perasaan pemberinya.Memberi hadiah dengan harapan balasanBagaimana jika seseorang memberi hadiah dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih besar? Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatstsir: 6)Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang memberi tanpa mengharapkan balasan,إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا“Kami memberi makan kepada kalian hanya karena mengharap wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)Perbedaan antara hadiah dan suapPerlu dibedakan antara hadiah yang murni dengan hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan atau memperoleh keuntungan yang tidak sah. Jika hadiah diberikan untuk mempengaruhi keputusan hakim, pejabat, atau seseorang yang memiliki kekuasaan, maka ia termasuk suap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)Oleh karena itu, hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan tidak termasuk hadiah yang dianjurkan dalam Islam.KesimpulanDari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting:1) Memberi hadiah merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam karena dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.2) Membalas hadiah tidak wajib secara hukum fikih, tetapi sangat dianjurkan.3) Dianjurkan membalas dengan yang setara atau lebih baik sesuai kemampuan.4) Jika tidak mampu membalas secara materi, maka doa yang tulus sudah mencukupi.5) Tidak membalas karena kesombongan atau meremehkan pemberi hadiah termasuk akhlak tercela.6) Memberi hadiah hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan demi balasan dunia.Islam adalah agama yang sangat memperhatikan akhlak. Banyak perkara yang tidak diwajibkan secara hukum, tetapi sangat dianjurkan sebagai bentuk kesempurnaan iman. Membalas hadiah adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain dan bagian dari syukur kepada manusia. Kadang hadiah tidak bernilai besar secara materi, tetapi memiliki makna besar dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjadi orang yang tidak melupakan kebaikan orang lain dan selalu membalasnya dengan kebaikan pula.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, menghargai kebaikan sesama, dan membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik.Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Hadiah yang Tak Pernah Usang***Diselesaikan di Jember, 12 Zulhijah 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKedudukan hadiah dalam IslamHukum membalas hadiahKonsep syukur kepada manusiaJika tidak mampu membalas dengan hadiahMembalas dengan yang lebih baikBahaya tidak membalas karena kesombonganMemberi hadiah dengan harapan balasanPerbedaan antara hadiah dan suapKesimpulanMemberi hadiah merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang telah dikenal sejak dahulu dalam kehidupan manusia. Hampir di setiap masyarakat, hadiah menjadi simbol penghormatan, kasih sayang, persahabatan, atau rasa terima kasih. Dalam Islam, praktik memberi hadiah bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi juga termasuk bagian dari akhlak yang dianjurkan oleh syariat.Hadiah dapat mempererat hubungan antarindividu, menumbuhkan rasa cinta, menghilangkan permusuhan, dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah sebagai sarana memperbaiki hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.Namun sering muncul pertanyaan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari: jika seseorang memberi kita hadiah, apakah kita wajib membalasnya? Apakah tidak membalas hadiah termasuk dosa? Ataukah sekadar masalah adab dan kesempurnaan akhlak?Melalui pembahasan ini, akan tampak bahwa Islam tidak hanya mengatur hukum secara kaku, tetapi juga membimbing manusia menuju akhlak yang luhur.Kedudukan hadiah dalam IslamIslam sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah. Hal ini karena hadiah memiliki pengaruh besar dalam melembutkan hati manusia dan mempererat hubungan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh para ulama.)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan seorang muslim untuk memberi hadiah kepada saudaranya sesama muslim, baik hadiah yang besar maupun yang sederhana. Sebab, saling memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, mempererat hubungan, dan menyatukan hati di antara sesama. Selain itu, menerima hadiah juga termasuk sunah. Dari hadis ini dapat diambil faidah bahwa memberi hadiah merupakan amalan yang dianjurkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan hadiah menjadi salah satu sebab tumbuhnya cinta serta kedekatan antarsesama. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha melakukan segala hal yang dapat mendatangkan kasih sayang dan keharmonisan dengan orang lain, baik melalui pemberian hadiah, sikap yang lembut, perkataan yang baik, maupun wajah yang ceria sesuai dengan kemampuannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dikenal sering menerima hadiah dan juga membalasnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari para sahabat maupun dari pemimpin negeri lain, kemudian beliau membalasnya dengan hadiah pula. Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، كان يقبلُ الهديةَ ، ويُثيبُ عليها“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan membalasnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lafaz ini miliknya, serta diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dengan sedikit perbedaan lafaz.)Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarganya. Hal ini menunjukkan perbedaan antara hadiah dan sedekah dalam syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أخَذَ الحَسَنُ بنُ عَليٍّ رَضيَ اللهُ عنهما تَمرةً مِن تَمرِ الصَّدَقةِ، فجَعَلَها في فيه، فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كِخْ كِخْ. ليَطرَحَها، ثُمَّ قال: أما شَعَرتَ أنَّا لا نَأكُلُ الصَّدَقةَ“Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengambil satu butir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kikh, kikh’ (ungkapan agar membuang sesuatu), supaya ia membuangnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa kami tidak memakan sedekah?’” (HR. Bukhari)Hadiah adalah pemberian yang bertujuan untuk menghormati atau mempererat hubungan, sedangkan sedekah diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial.Hukum membalas hadiahDalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga memberikan balasan kepada orang yang memberinya hadiah sebagai bentuk penghargaan dan kebaikan.Yang dimaksud dengan membalas hadiah adalah memberikan pengganti, balasan, atau penghormatan kepada orang yang telah memberikan hadiah. Dalam hadis disebutkan,وَيُثِيبُ عَلَيْهَاKata “الثواب” dalam hadis bermakna الجزاء والمكافأة, yaitu balasan dan penghargaan atas kebaikan seseorang.Mayoritas ulama berpendapat bahwa membalas hadiah hukumnya sunah dan dianjurkan. Hal ini termasuk akhlak mulia dan bentuk menjaga hubungan baik antarsesama.Konsep syukur kepada manusiaMembalas hadiah juga berkaitan erat dengan konsep syukur dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)Hadis ini menunjukkan bahwa menghargai kebaikan manusia termasuk bagian dari syukur kepada Allah. Bentuk syukur kepada manusia dapat dilakukan dengan beberapa cara:1) Mengucapkan terima kasih.2) Mendoakan kebaikan bagi mereka.3) Membalas kebaikan mereka.4) Tidak melupakan jasa mereka.Dengan demikian, membalas hadiah termasuk bentuk syukur kepada manusia.Jika tidak mampu membalas dengan hadiahTidak semua orang mampu membalas hadiah dengan hadiah lain. Kadang seseorang menerima hadiah dari orang lain yang lebih kaya atau lebih mampu. Tidak perlu bersedih, Islam memberikan solusi yang sangat indah dalam situasi seperti ini, yaitu dengan mendoakan orang yang memberikan hadiah.Doa yang paling dianjurkan ketika menerima kebaikan adalah:جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من صُنعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلهِ جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barang siapa diberi suatu kebaikan, lalu ia berkata kepada orang yang melakukannya, ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),’ maka sungguh ia telah memberikan pujian yang paling sempurna.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)Dengan demikian, walaupun seseorang tidak mampu membalas hadiah secara materi, ia tetap dapat membalasnya dengan doa yang tulus.Membalas dengan yang lebih baikIslam mendorong umatnya untuk membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Allah Azza wa Jalla berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)Oleh karena itu, jika seseorang memberi hadiah kepada kita, dianjurkan untuk membalas dengan hadiah yang setara atau lebih baik, sesuai kemampuan. Hal ini bukan untuk menunjukkan persaingan atau pamer, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain.Bahaya tidak membalas karena kesombonganTidak membalas hadiah karena tidak mampu bukanlah dosa. Namun, jika seseorang tidak membalas karena sombong atau meremehkan pemberi hadiah, maka hal itu termasuk sikap tercela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَنْ كان في قلبِهِ مِثقالُ ذرَّةٍ من كِبرٍ ، قِيلَ : إنَّ الرجُلَ يُحبُّ أنْ يكونَ ثوبُهُ حسنًا ، ونعلُهُ حسنةً ، قال : إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ ، الكِبرُ بطَرُ الحقِّ ، و غمْطُ الناسِ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.”Lalu ada yang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)Sering kali nilai hadiah tidak terletak pada harganya, tetapi pada perhatian dan kasih sayang yang menyertainya. Meremehkan hadiah berarti meremehkan perasaan pemberinya.Memberi hadiah dengan harapan balasanBagaimana jika seseorang memberi hadiah dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih besar? Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatstsir: 6)Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang memberi tanpa mengharapkan balasan,إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا“Kami memberi makan kepada kalian hanya karena mengharap wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)Perbedaan antara hadiah dan suapPerlu dibedakan antara hadiah yang murni dengan hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan atau memperoleh keuntungan yang tidak sah. Jika hadiah diberikan untuk mempengaruhi keputusan hakim, pejabat, atau seseorang yang memiliki kekuasaan, maka ia termasuk suap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)Oleh karena itu, hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan tidak termasuk hadiah yang dianjurkan dalam Islam.KesimpulanDari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting:1) Memberi hadiah merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam karena dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.2) Membalas hadiah tidak wajib secara hukum fikih, tetapi sangat dianjurkan.3) Dianjurkan membalas dengan yang setara atau lebih baik sesuai kemampuan.4) Jika tidak mampu membalas secara materi, maka doa yang tulus sudah mencukupi.5) Tidak membalas karena kesombongan atau meremehkan pemberi hadiah termasuk akhlak tercela.6) Memberi hadiah hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan demi balasan dunia.Islam adalah agama yang sangat memperhatikan akhlak. Banyak perkara yang tidak diwajibkan secara hukum, tetapi sangat dianjurkan sebagai bentuk kesempurnaan iman. Membalas hadiah adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain dan bagian dari syukur kepada manusia. Kadang hadiah tidak bernilai besar secara materi, tetapi memiliki makna besar dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjadi orang yang tidak melupakan kebaikan orang lain dan selalu membalasnya dengan kebaikan pula.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, menghargai kebaikan sesama, dan membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik.Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Hadiah yang Tak Pernah Usang***Diselesaikan di Jember, 12 Zulhijah 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKedudukan hadiah dalam IslamHukum membalas hadiahKonsep syukur kepada manusiaJika tidak mampu membalas dengan hadiahMembalas dengan yang lebih baikBahaya tidak membalas karena kesombonganMemberi hadiah dengan harapan balasanPerbedaan antara hadiah dan suapKesimpulanMemberi hadiah merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang telah dikenal sejak dahulu dalam kehidupan manusia. Hampir di setiap masyarakat, hadiah menjadi simbol penghormatan, kasih sayang, persahabatan, atau rasa terima kasih. Dalam Islam, praktik memberi hadiah bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi juga termasuk bagian dari akhlak yang dianjurkan oleh syariat.Hadiah dapat mempererat hubungan antarindividu, menumbuhkan rasa cinta, menghilangkan permusuhan, dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah sebagai sarana memperbaiki hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.Namun sering muncul pertanyaan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari: jika seseorang memberi kita hadiah, apakah kita wajib membalasnya? Apakah tidak membalas hadiah termasuk dosa? Ataukah sekadar masalah adab dan kesempurnaan akhlak?Melalui pembahasan ini, akan tampak bahwa Islam tidak hanya mengatur hukum secara kaku, tetapi juga membimbing manusia menuju akhlak yang luhur.Kedudukan hadiah dalam IslamIslam sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah. Hal ini karena hadiah memiliki pengaruh besar dalam melembutkan hati manusia dan mempererat hubungan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تَهَادُوا تَحَابُّوا“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh para ulama.)Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan seorang muslim untuk memberi hadiah kepada saudaranya sesama muslim, baik hadiah yang besar maupun yang sederhana. Sebab, saling memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, mempererat hubungan, dan menyatukan hati di antara sesama. Selain itu, menerima hadiah juga termasuk sunah. Dari hadis ini dapat diambil faidah bahwa memberi hadiah merupakan amalan yang dianjurkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan hadiah menjadi salah satu sebab tumbuhnya cinta serta kedekatan antarsesama. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha melakukan segala hal yang dapat mendatangkan kasih sayang dan keharmonisan dengan orang lain, baik melalui pemberian hadiah, sikap yang lembut, perkataan yang baik, maupun wajah yang ceria sesuai dengan kemampuannya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dikenal sering menerima hadiah dan juga membalasnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari para sahabat maupun dari pemimpin negeri lain, kemudian beliau membalasnya dengan hadiah pula. Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، كان يقبلُ الهديةَ ، ويُثيبُ عليها“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan membalasnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lafaz ini miliknya, serta diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dengan sedikit perbedaan lafaz.)Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarganya. Hal ini menunjukkan perbedaan antara hadiah dan sedekah dalam syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,أخَذَ الحَسَنُ بنُ عَليٍّ رَضيَ اللهُ عنهما تَمرةً مِن تَمرِ الصَّدَقةِ، فجَعَلَها في فيه، فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كِخْ كِخْ. ليَطرَحَها، ثُمَّ قال: أما شَعَرتَ أنَّا لا نَأكُلُ الصَّدَقةَ“Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengambil satu butir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kikh, kikh’ (ungkapan agar membuang sesuatu), supaya ia membuangnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa kami tidak memakan sedekah?’” (HR. Bukhari)Hadiah adalah pemberian yang bertujuan untuk menghormati atau mempererat hubungan, sedangkan sedekah diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial.Hukum membalas hadiahDalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga memberikan balasan kepada orang yang memberinya hadiah sebagai bentuk penghargaan dan kebaikan.Yang dimaksud dengan membalas hadiah adalah memberikan pengganti, balasan, atau penghormatan kepada orang yang telah memberikan hadiah. Dalam hadis disebutkan,وَيُثِيبُ عَلَيْهَاKata “الثواب” dalam hadis bermakna الجزاء والمكافأة, yaitu balasan dan penghargaan atas kebaikan seseorang.Mayoritas ulama berpendapat bahwa membalas hadiah hukumnya sunah dan dianjurkan. Hal ini termasuk akhlak mulia dan bentuk menjaga hubungan baik antarsesama.Konsep syukur kepada manusiaMembalas hadiah juga berkaitan erat dengan konsep syukur dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)Hadis ini menunjukkan bahwa menghargai kebaikan manusia termasuk bagian dari syukur kepada Allah. Bentuk syukur kepada manusia dapat dilakukan dengan beberapa cara:1) Mengucapkan terima kasih.2) Mendoakan kebaikan bagi mereka.3) Membalas kebaikan mereka.4) Tidak melupakan jasa mereka.Dengan demikian, membalas hadiah termasuk bentuk syukur kepada manusia.Jika tidak mampu membalas dengan hadiahTidak semua orang mampu membalas hadiah dengan hadiah lain. Kadang seseorang menerima hadiah dari orang lain yang lebih kaya atau lebih mampu. Tidak perlu bersedih, Islam memberikan solusi yang sangat indah dalam situasi seperti ini, yaitu dengan mendoakan orang yang memberikan hadiah.Doa yang paling dianjurkan ketika menerima kebaikan adalah:جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,من صُنعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلهِ جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ“Barang siapa diberi suatu kebaikan, lalu ia berkata kepada orang yang melakukannya, ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),’ maka sungguh ia telah memberikan pujian yang paling sempurna.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)Dengan demikian, walaupun seseorang tidak mampu membalas hadiah secara materi, ia tetap dapat membalasnya dengan doa yang tulus.Membalas dengan yang lebih baikIslam mendorong umatnya untuk membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Allah Azza wa Jalla berfirman,هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)Oleh karena itu, jika seseorang memberi hadiah kepada kita, dianjurkan untuk membalas dengan hadiah yang setara atau lebih baik, sesuai kemampuan. Hal ini bukan untuk menunjukkan persaingan atau pamer, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain.Bahaya tidak membalas karena kesombonganTidak membalas hadiah karena tidak mampu bukanlah dosa. Namun, jika seseorang tidak membalas karena sombong atau meremehkan pemberi hadiah, maka hal itu termasuk sikap tercela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لا يدخلُ الجنةَ مَنْ كان في قلبِهِ مِثقالُ ذرَّةٍ من كِبرٍ ، قِيلَ : إنَّ الرجُلَ يُحبُّ أنْ يكونَ ثوبُهُ حسنًا ، ونعلُهُ حسنةً ، قال : إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ ، الكِبرُ بطَرُ الحقِّ ، و غمْطُ الناسِ“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.”Lalu ada yang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)Sering kali nilai hadiah tidak terletak pada harganya, tetapi pada perhatian dan kasih sayang yang menyertainya. Meremehkan hadiah berarti meremehkan perasaan pemberinya.Memberi hadiah dengan harapan balasanBagaimana jika seseorang memberi hadiah dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih besar? Allah Azza wa Jalla berfirman,وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatstsir: 6)Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang memberi tanpa mengharapkan balasan,إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا“Kami memberi makan kepada kalian hanya karena mengharap wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)Perbedaan antara hadiah dan suapPerlu dibedakan antara hadiah yang murni dengan hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan atau memperoleh keuntungan yang tidak sah. Jika hadiah diberikan untuk mempengaruhi keputusan hakim, pejabat, atau seseorang yang memiliki kekuasaan, maka ia termasuk suap.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)Oleh karena itu, hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan tidak termasuk hadiah yang dianjurkan dalam Islam.KesimpulanDari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting:1) Memberi hadiah merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam karena dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.2) Membalas hadiah tidak wajib secara hukum fikih, tetapi sangat dianjurkan.3) Dianjurkan membalas dengan yang setara atau lebih baik sesuai kemampuan.4) Jika tidak mampu membalas secara materi, maka doa yang tulus sudah mencukupi.5) Tidak membalas karena kesombongan atau meremehkan pemberi hadiah termasuk akhlak tercela.6) Memberi hadiah hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan demi balasan dunia.Islam adalah agama yang sangat memperhatikan akhlak. Banyak perkara yang tidak diwajibkan secara hukum, tetapi sangat dianjurkan sebagai bentuk kesempurnaan iman. Membalas hadiah adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain dan bagian dari syukur kepada manusia. Kadang hadiah tidak bernilai besar secara materi, tetapi memiliki makna besar dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjadi orang yang tidak melupakan kebaikan orang lain dan selalu membalasnya dengan kebaikan pula.Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, menghargai kebaikan sesama, dan membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik.Wallahu Ta‘ala a‘lam.Baca juga: Hadiah yang Tak Pernah Usang***Diselesaikan di Jember, 12 Zulhijah 1447Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id

Mukmin Pasti Tidak Sakit Saat Sakratul Maut?

Ada yang mengira bahwa kalau seseorang beriman, ia pasti meninggal dengan tenang dan tidak merasakan sakit saat sakratul maut. Padahal, Rasulullah ﷺ sendiri mengalami beratnya sakratul maut, sedangkan dalil lain menyebutkan bahwa ruh orang beriman keluar dengan lembut. Bagaimana memahami dua hal ini, dan apa sebenarnya perbedaan sakratul maut orang beriman dan orang kafir?  Daftar Isi tutup 1. Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut? 2. Setiap orang akan menghadapi sakratul maut 3. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah? 4. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematian 5. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baik 6. Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut? 7. Ruh orang kafir dicabut dengan keras 8. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan? 9. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahid 10. Syahid mendapat keringanan khusus 11. Tiga hal yang jangan dicampuradukkan 11.1. 1. Rasa sakit ketika menghadapi kematian 11.2. 2. Cara ruh dicabut 11.3. 3. Sambutan yang diterima setelah kematian datang 12. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggal 13. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian? 14. Referensi  Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut?Jawabannya: tidak.Orang beriman tetap dapat mengalami rasa sakit dan beratnya sakratul maut. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, mengalami beratnya kematian. Karena itu, beratnya sakratul maut tidak otomatis menunjukkan buruknya kedudukan seseorang di sisi Allah.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَاتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّهُ لَبَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي، فَلَا أَكْرَهُ شِدَّةَ الْمَوْتِ لِأَحَدٍ أَبَدًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Nabi ﷺ wafat dalam keadaan berada di antara dada dan daguku. Setelah melihat apa yang dialami Nabi ﷺ, aku tidak lagi menganggap beratnya kematian seseorang sebagai sesuatu yang buruk.” (HR. Bukhari, no. 4446; An-Nasa’i, no. 1830; Ahmad, no. 24482. Riwayat ini sahih).Perkataan Aisyah tersebut muncul karena beliau menyaksikan beratnya pencabutan ruh, sakratul maut, dan demam yang dialami Rasulullah ﷺ, padahal kedudukan beliau di sisi Allah adalah yang paling mulia. Karena itu, beratnya kematian bukan bukti azab atau su’ul khatimah.Ada pula hadits yang lebih eksplisit. Ketika menjelang wafat, Rasulullah ﷺ bersabda,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.” (HR. Bukhari, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadis ini sahih).Ibnu Hajar rahimahullah kemudian mengambil pelajaran penting,إِنَّ شِدَّةَ الْمَوْتِ لَا تَدُلُّ عَلَى نَقْصٍ فِي الْمَرْتَبَةِ، بَلْ هِيَ لِلْمُؤْمِنِ إِمَّا زِيَادَةٌ فِي حَسَنَاتِهِ، وَإِمَّا تَكْفِيرٌ لِسَيِّئَاتِهِ.“Sesungguhnya beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu bisa menjadi tambahan kebaikannya atau menjadi penghapus dosa-dosanya.” (Fath Al-Bari, 11:363).Maka, jangan mudah mengatakan bahwa orang yang lama sakit sebelum meninggal, sulit bernapas, merintih, koma, atau tampak mengalami kematian yang berat berarti mengalami su’ul khatimah.Hal tersebut tidak memiliki dasar.Sebaliknya, kematian yang tampak sangat mudah secara lahiriah juga tidak dengan sendirinya menjadi bukti pasti bahwa orang tersebut husnul khatimah.Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa ada perbedaan besar antara keadaan seorang mukmin dan orang kafir ketika menghadapi kematian. Ruh mukmin dicabut dengan kelembutan dan disambut dengan kabar gembira, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras dan menghadapi ancaman.Karena itu, perlu dibedakan antara:rasa sakit dan beratnya proses kematian secara fisik, dancara ruh dicabut serta keadaan ruh ketika bertemu malaikat.Keringanan ketika ruh seorang mukmin keluar tidak menafikan kemungkinan adanya rasa berat ketika sakratul maut atau beratnya sebab kematian yang dialaminya. Setiap orang akan menghadapi sakratul mautAllah Ta‘ala berfirman,وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ“Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)Sakratul maut adalah keadaan berat dan rasa sakit yang dialami seseorang ketika menghadapi kematian dan ruh meninggalkan jasad. Tingkat sakratul maut tidak sama pada setiap orang.Sakratul maut berbeda-beda dari sisi berat dan ringannya. Secara umum, ia lebih ringan bagi orang-orang beriman dan lebih berat bagi orang-orang kafir, sedangkan para nabi dapat mengalami sakratul maut yang berat sebagai tambahan pahala dan peninggian derajat. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah?Inilah yang perlu dibedakan.Rasa sakit yang dialami badan ketika menghadapi kematian tidak selalu sama dengan cara malaikat mencabut ruh.Penjelasan sangat terang terdapat dalam hadis panjang Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu.Ketika seorang hamba mukmin hendak meninggalkan dunia, malaikat maut berkata,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ.“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan keluarnya ruhnya,فَتَخْرُجُ، فَتَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Lalu ruh itu keluar mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut wadah air.”Inilah gambaran kelembutan pencabutan ruh seorang mukmin. Setelah itu, para malaikat mengambil ruhnya dan membawanya dalam kafan serta wewangian dari surga. Hadis Al-Bara’ menjelaskan panjang lebar perjalanan ruh mukmin setelah meninggalkan jasad.Takhrij: HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557 dengan sedikit perbedaan lafaz. Syaikh Al-Albani menilai riwayat Abu Dawud ini sahih.Jadi, ketika disebut bahwa ruh mukmin keluar dengan mudah, maksudnya adalah kemudahan dan kelembutan dalam proses pencabutan ruh, bukan jaminan bahwa tubuhnya sama sekali tidak mengalami sakit ketika sakratul maut. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematianKeistimewaan lainnya adalah para malaikat membawa kabar gembira kepada orang-orang beriman.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istikamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fushshilat: 30)Dalam penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan kemuliaan bagi mereka yang beriman dan istikamah. Para malaikat menyertai serta memberikan keteguhan dan kabar gembira kepada orang beriman, termasuk ketika ia menghadapi kematian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata mengenai pendampingan malaikat kepada seorang mukmin,فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ.“Malaikat berkata ketika kematian, ‘Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan sesuatu yang membahagiakanmu.’”Inilah salah satu bentuk kemudahan yang sangat besar bagi mukmin ketika menghadapi kematian: ia tidak menghadapinya sendirian, tetapi mendapat kabar gembira dari para malaikat. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baikAllah Ta‘ala berfirman,الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ“(Yaitu) orang-orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka berkata, ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. An-Nahl: 32)Perhatikan bagaimana orang beriman disambut.Ketika dunia akan ditinggalkan dan ia memasuki kehidupan yang belum pernah disaksikannya, malaikat datang membawa salam dan kabar surga.Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut?Keadaannya berbeda.Allah Ta‘ala berfirman,فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ“Bagaimanakah keadaan mereka apabila para malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka?” (QS. Muhammad: 27)Ruh orang kafir dicabut dengan keras, sedangkan ruh orang beriman dicabut dengan lemah lembut.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ“Sekiranya engkau melihat ketika orang-orang zalim berada dalam kesengsaraan sakratul maut, sedang para malaikat mengulurkan tangan mereka seraya berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang menghinakan.’” (QS. Al-An‘am: 93)Ayat tersebut menggambarkan perbedaan yang sangat jauh antara sambutan bagi orang beriman dan orang kafir. Ruh orang kafir dicabut dengan kerasDalam kelanjutan hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, malaikat maut berkata kepada ruh orang kafir,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ.“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan ruh tersebut,فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السُّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ.“Ruh itu berpencar dalam tubuhnya, lalu dicabut sebagaimana besi bercabang dicabut dari wol yang basah.”Perumpamaan ini menunjukkan kerasnya proses pencabutan ruh orang kafir, berlawanan dengan ruh mukmin yang digambarkan mengalir seperti tetesan air dari wadahnya.Takhrij: Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557. Riwayat Abu Dawud dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan?Jawabannya membutuhkan perincian.Secara umum, iya. Dalil menunjukkan adanya kemudahan bagi orang beriman dan kesulitan bagi orang kafir, terutama ketika ruh dicabut dan ketika malaikat menyambutnya. Namun, tidak boleh disimpulkan bahwa setiap mukmin pasti tidak mengalami rasa sakit saat sakratul maut.Seorang mukmin bisa:sakit berat sebelum meninggal,mengalami kecelakaan,terbakar,tenggelam,tertimpa reruntuhan,mengalami penyakit berat dalam waktu lama,atau mengalami proses kematian yang secara fisik terasa sangat berat.Semua itu tidak bertentangan dengan dalil bahwa ruh seorang mukmin dicabut dengan kelembutan. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahidRasulullah ﷺ bersabda,الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.“Orang yang memperoleh pahala syahid ada lima: orang yang meninggal karena tha‘un, penyakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini sahih)Baca juga: Mati Syahid Karena Melahirkan dan TenggelamImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,إِنَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الْمَوْتَاتُ شَهَادَةً بِتَفَضُّلِ اللَّهِ تَعَالَىٰ بِسَبَبِ شِدَّتِهَا وَكَثْرَةِ أَلَمِهَا.“Beberapa jenis kematian ini mendapat pahala syahid karena karunia Allah Ta‘ala disebabkan berat dan banyaknya rasa sakit yang dialami.”Sebagian jenis kematian memang lebih menyakitkan, tetapi Allah menjadikannya sebagai sebab memperoleh pahala besar.Jadi, beratnya rasa sakit ketika meninggal bisa terjadi pada orang yang justru mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah. Syahid mendapat keringanan khususAda pula keringanan khusus yang Allah berikan kepada orang yang gugur sebagai syahid.Rasulullah ﷺ bersabda,مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَسِّ الْقَرْصَةِ.“Seorang syahid tidak merasakan sakitnya terbunuh kecuali seperti salah seorang di antara kalian merasakan cubitan.” (HR. Tirmidzi, no. 1668; An-Nasa’i, no. 3161; Ibnu Majah, no. 2802. Imam Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih gharib.” Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menilai sanadnya hasan).Ini merupakan keistimewaan khusus yang Allah berikan kepada seorang syahid. Tiga hal yang jangan dicampuradukkanAgar pembahasan ini mudah dipahami, ada tiga perkara yang perlu dibedakan.1. Rasa sakit ketika menghadapi kematianSeorang mukmin tetap dapat merasakan sakit. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda,إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.”2. Cara ruh dicabutRuh mukmin digambarkan keluar,كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Seperti tetesan air mengalir dari mulut wadah.”Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras.3. Sambutan yang diterima setelah kematian datangMukmin mendapat kabar,أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ.“Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan surga.”Adapun orang kafir mendapat ancaman kemurkaan dan azab.Jika tiga hal ini dibedakan, seluruh dalil tentang sakratul maut dapat dipahami tanpa saling bertentangan. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggalKita terkadang melihat seseorang meninggal dalam keadaan tampak tenang. Ada pula yang meninggal setelah lama sakit, sulit bernapas, atau mengalami penderitaan berat.Jangan terburu-buru menyimpulkan keadaan akhir seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak oleh mata.Ibnu Hajar telah mengingatkan bahwa beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu dapat menjadi tambahan pahala atau penghapus dosa.Yang jauh lebih penting adalah apakah seseorang meninggal di atas iman, tauhid, dan istikamah. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian?Pertama, mukmin tetap bisa merasakan sakitnya sakratul maut.Kedua, secara umum sakratul maut lebih ringan bagi mukmin dan lebih berat bagi orang kafir.Ketiga, ruh mukmin dicabut dengan kelembutan, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras.Keempat, mukmin memperoleh kabar gembira dari malaikat berupa ketenteraman, ampunan, keridaan Allah, dan surga.Kelima, beratnya rasa sakit ketika seseorang meninggal tidak boleh dijadikan ukuran pasti su’ul khatimah.Keenam, bagi mukmin, beratnya kematian dapat menjadi penghapus dosa dan tambahan pahala.Maka, kalimat “orang beriman pasti tidak sakit ketika sakratul maut” adalah tidak tepat.Yang lebih tepat adalah:Seorang mukmin tetap dapat mengalami sakit dan beratnya sakratul maut, tetapi dalil menunjukkan bahwa ruh mukmin mendapatkan kelembutan ketika dicabut dan kabar gembira dari para malaikat. Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras dan mendapat ancaman kemurkaan Allah. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas iman sampai akhir hayat, memberikan kepada kita husnul khatimah, memudahkan keluarnya ruh kita, serta menyambut kita dengan ampunan dan keridaan-Nya. Āmīn.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ahmad, no. 13696; dan Ibnu Majah, no. 3834 dengan lafaz yang semakna. Imam Tirmidzi menilai hadis ini hasan) ReferensiAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan mukmin dan kafir setelah kematian. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Lā ilāha illallāh, inna lil-mauti sakarāt. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis “Sesungguhnya kematian memiliki sakarat”—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syuhadā’ khamsah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis lima golongan syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syahīdu lā yajidu alam al-qatli illā kamā yajidu aḥadukum alam al-qarṣah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis keringanan rasa sakit bagi syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis doa keteguhan hati—Dorar.netIslam Question & Answer. (2013, August 19). Ayna takūnu ar-rūḥ, wa mā ḥāluhā, ba‘da mauti ṣāḥibihā wa qabla an yudfan? (Fatwa no. 200530). IslamQA Fatwa no. 200530Islamweb. (2005, March 22). Shiddat al-maut wa naz‘ ar-rūḥ bi syiddah [Beratnya kematian dan kerasnya pencabutan ruh] (Fatwa no. 60147). Islamweb Fatwa no. 60147Islamweb. (2010, February 4). Shiddat al-maut lā tadullu ‘alā naqshin fī al-martabah [Beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan] (Fatwa no. 131832). Islamweb Fatwa no. 131832Islamweb. (2011, March 13). Sakarāt al-maut wa tafāwutuhā baina al-anbiyā’ wa asy-syuhadā’ wa sā’ir an-nās [Sakratul maut dan perbedaannya antara para nabi, syuhada, dan manusia lainnya] (Fatwa no. 151367). Islamweb Fatwa no. 151367Tuasikal, M. A. (2019, February 17). Syarhus Sunnah: Beriman kepada malaikat #03. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Beriman kepada Malaikat #03Tuasikal, M. A. (2026, April 15). Istikamah hingga wafat: Disambut malaikat dan dijanjikan surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Istikamah hingga Wafat Diselesaikan di Panggang Gunungkidul perjalanan menuju Masji Mina Jakal Jogja, pada 8 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat husnul khatimah istikamah kematian kematian dalam Islam malaikat maut mukmin orang kafir ruh sakratul maut

Mukmin Pasti Tidak Sakit Saat Sakratul Maut?

Ada yang mengira bahwa kalau seseorang beriman, ia pasti meninggal dengan tenang dan tidak merasakan sakit saat sakratul maut. Padahal, Rasulullah ﷺ sendiri mengalami beratnya sakratul maut, sedangkan dalil lain menyebutkan bahwa ruh orang beriman keluar dengan lembut. Bagaimana memahami dua hal ini, dan apa sebenarnya perbedaan sakratul maut orang beriman dan orang kafir?  Daftar Isi tutup 1. Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut? 2. Setiap orang akan menghadapi sakratul maut 3. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah? 4. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematian 5. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baik 6. Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut? 7. Ruh orang kafir dicabut dengan keras 8. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan? 9. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahid 10. Syahid mendapat keringanan khusus 11. Tiga hal yang jangan dicampuradukkan 11.1. 1. Rasa sakit ketika menghadapi kematian 11.2. 2. Cara ruh dicabut 11.3. 3. Sambutan yang diterima setelah kematian datang 12. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggal 13. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian? 14. Referensi  Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut?Jawabannya: tidak.Orang beriman tetap dapat mengalami rasa sakit dan beratnya sakratul maut. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, mengalami beratnya kematian. Karena itu, beratnya sakratul maut tidak otomatis menunjukkan buruknya kedudukan seseorang di sisi Allah.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَاتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّهُ لَبَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي، فَلَا أَكْرَهُ شِدَّةَ الْمَوْتِ لِأَحَدٍ أَبَدًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Nabi ﷺ wafat dalam keadaan berada di antara dada dan daguku. Setelah melihat apa yang dialami Nabi ﷺ, aku tidak lagi menganggap beratnya kematian seseorang sebagai sesuatu yang buruk.” (HR. Bukhari, no. 4446; An-Nasa’i, no. 1830; Ahmad, no. 24482. Riwayat ini sahih).Perkataan Aisyah tersebut muncul karena beliau menyaksikan beratnya pencabutan ruh, sakratul maut, dan demam yang dialami Rasulullah ﷺ, padahal kedudukan beliau di sisi Allah adalah yang paling mulia. Karena itu, beratnya kematian bukan bukti azab atau su’ul khatimah.Ada pula hadits yang lebih eksplisit. Ketika menjelang wafat, Rasulullah ﷺ bersabda,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.” (HR. Bukhari, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadis ini sahih).Ibnu Hajar rahimahullah kemudian mengambil pelajaran penting,إِنَّ شِدَّةَ الْمَوْتِ لَا تَدُلُّ عَلَى نَقْصٍ فِي الْمَرْتَبَةِ، بَلْ هِيَ لِلْمُؤْمِنِ إِمَّا زِيَادَةٌ فِي حَسَنَاتِهِ، وَإِمَّا تَكْفِيرٌ لِسَيِّئَاتِهِ.“Sesungguhnya beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu bisa menjadi tambahan kebaikannya atau menjadi penghapus dosa-dosanya.” (Fath Al-Bari, 11:363).Maka, jangan mudah mengatakan bahwa orang yang lama sakit sebelum meninggal, sulit bernapas, merintih, koma, atau tampak mengalami kematian yang berat berarti mengalami su’ul khatimah.Hal tersebut tidak memiliki dasar.Sebaliknya, kematian yang tampak sangat mudah secara lahiriah juga tidak dengan sendirinya menjadi bukti pasti bahwa orang tersebut husnul khatimah.Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa ada perbedaan besar antara keadaan seorang mukmin dan orang kafir ketika menghadapi kematian. Ruh mukmin dicabut dengan kelembutan dan disambut dengan kabar gembira, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras dan menghadapi ancaman.Karena itu, perlu dibedakan antara:rasa sakit dan beratnya proses kematian secara fisik, dancara ruh dicabut serta keadaan ruh ketika bertemu malaikat.Keringanan ketika ruh seorang mukmin keluar tidak menafikan kemungkinan adanya rasa berat ketika sakratul maut atau beratnya sebab kematian yang dialaminya. Setiap orang akan menghadapi sakratul mautAllah Ta‘ala berfirman,وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ“Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)Sakratul maut adalah keadaan berat dan rasa sakit yang dialami seseorang ketika menghadapi kematian dan ruh meninggalkan jasad. Tingkat sakratul maut tidak sama pada setiap orang.Sakratul maut berbeda-beda dari sisi berat dan ringannya. Secara umum, ia lebih ringan bagi orang-orang beriman dan lebih berat bagi orang-orang kafir, sedangkan para nabi dapat mengalami sakratul maut yang berat sebagai tambahan pahala dan peninggian derajat. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah?Inilah yang perlu dibedakan.Rasa sakit yang dialami badan ketika menghadapi kematian tidak selalu sama dengan cara malaikat mencabut ruh.Penjelasan sangat terang terdapat dalam hadis panjang Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu.Ketika seorang hamba mukmin hendak meninggalkan dunia, malaikat maut berkata,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ.“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan keluarnya ruhnya,فَتَخْرُجُ، فَتَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Lalu ruh itu keluar mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut wadah air.”Inilah gambaran kelembutan pencabutan ruh seorang mukmin. Setelah itu, para malaikat mengambil ruhnya dan membawanya dalam kafan serta wewangian dari surga. Hadis Al-Bara’ menjelaskan panjang lebar perjalanan ruh mukmin setelah meninggalkan jasad.Takhrij: HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557 dengan sedikit perbedaan lafaz. Syaikh Al-Albani menilai riwayat Abu Dawud ini sahih.Jadi, ketika disebut bahwa ruh mukmin keluar dengan mudah, maksudnya adalah kemudahan dan kelembutan dalam proses pencabutan ruh, bukan jaminan bahwa tubuhnya sama sekali tidak mengalami sakit ketika sakratul maut. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematianKeistimewaan lainnya adalah para malaikat membawa kabar gembira kepada orang-orang beriman.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istikamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fushshilat: 30)Dalam penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan kemuliaan bagi mereka yang beriman dan istikamah. Para malaikat menyertai serta memberikan keteguhan dan kabar gembira kepada orang beriman, termasuk ketika ia menghadapi kematian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata mengenai pendampingan malaikat kepada seorang mukmin,فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ.“Malaikat berkata ketika kematian, ‘Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan sesuatu yang membahagiakanmu.’”Inilah salah satu bentuk kemudahan yang sangat besar bagi mukmin ketika menghadapi kematian: ia tidak menghadapinya sendirian, tetapi mendapat kabar gembira dari para malaikat. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baikAllah Ta‘ala berfirman,الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ“(Yaitu) orang-orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka berkata, ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. An-Nahl: 32)Perhatikan bagaimana orang beriman disambut.Ketika dunia akan ditinggalkan dan ia memasuki kehidupan yang belum pernah disaksikannya, malaikat datang membawa salam dan kabar surga.Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut?Keadaannya berbeda.Allah Ta‘ala berfirman,فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ“Bagaimanakah keadaan mereka apabila para malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka?” (QS. Muhammad: 27)Ruh orang kafir dicabut dengan keras, sedangkan ruh orang beriman dicabut dengan lemah lembut.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ“Sekiranya engkau melihat ketika orang-orang zalim berada dalam kesengsaraan sakratul maut, sedang para malaikat mengulurkan tangan mereka seraya berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang menghinakan.’” (QS. Al-An‘am: 93)Ayat tersebut menggambarkan perbedaan yang sangat jauh antara sambutan bagi orang beriman dan orang kafir. Ruh orang kafir dicabut dengan kerasDalam kelanjutan hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, malaikat maut berkata kepada ruh orang kafir,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ.“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan ruh tersebut,فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السُّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ.“Ruh itu berpencar dalam tubuhnya, lalu dicabut sebagaimana besi bercabang dicabut dari wol yang basah.”Perumpamaan ini menunjukkan kerasnya proses pencabutan ruh orang kafir, berlawanan dengan ruh mukmin yang digambarkan mengalir seperti tetesan air dari wadahnya.Takhrij: Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557. Riwayat Abu Dawud dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan?Jawabannya membutuhkan perincian.Secara umum, iya. Dalil menunjukkan adanya kemudahan bagi orang beriman dan kesulitan bagi orang kafir, terutama ketika ruh dicabut dan ketika malaikat menyambutnya. Namun, tidak boleh disimpulkan bahwa setiap mukmin pasti tidak mengalami rasa sakit saat sakratul maut.Seorang mukmin bisa:sakit berat sebelum meninggal,mengalami kecelakaan,terbakar,tenggelam,tertimpa reruntuhan,mengalami penyakit berat dalam waktu lama,atau mengalami proses kematian yang secara fisik terasa sangat berat.Semua itu tidak bertentangan dengan dalil bahwa ruh seorang mukmin dicabut dengan kelembutan. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahidRasulullah ﷺ bersabda,الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.“Orang yang memperoleh pahala syahid ada lima: orang yang meninggal karena tha‘un, penyakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini sahih)Baca juga: Mati Syahid Karena Melahirkan dan TenggelamImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,إِنَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الْمَوْتَاتُ شَهَادَةً بِتَفَضُّلِ اللَّهِ تَعَالَىٰ بِسَبَبِ شِدَّتِهَا وَكَثْرَةِ أَلَمِهَا.“Beberapa jenis kematian ini mendapat pahala syahid karena karunia Allah Ta‘ala disebabkan berat dan banyaknya rasa sakit yang dialami.”Sebagian jenis kematian memang lebih menyakitkan, tetapi Allah menjadikannya sebagai sebab memperoleh pahala besar.Jadi, beratnya rasa sakit ketika meninggal bisa terjadi pada orang yang justru mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah. Syahid mendapat keringanan khususAda pula keringanan khusus yang Allah berikan kepada orang yang gugur sebagai syahid.Rasulullah ﷺ bersabda,مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَسِّ الْقَرْصَةِ.“Seorang syahid tidak merasakan sakitnya terbunuh kecuali seperti salah seorang di antara kalian merasakan cubitan.” (HR. Tirmidzi, no. 1668; An-Nasa’i, no. 3161; Ibnu Majah, no. 2802. Imam Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih gharib.” Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menilai sanadnya hasan).Ini merupakan keistimewaan khusus yang Allah berikan kepada seorang syahid. Tiga hal yang jangan dicampuradukkanAgar pembahasan ini mudah dipahami, ada tiga perkara yang perlu dibedakan.1. Rasa sakit ketika menghadapi kematianSeorang mukmin tetap dapat merasakan sakit. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda,إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.”2. Cara ruh dicabutRuh mukmin digambarkan keluar,كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Seperti tetesan air mengalir dari mulut wadah.”Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras.3. Sambutan yang diterima setelah kematian datangMukmin mendapat kabar,أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ.“Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan surga.”Adapun orang kafir mendapat ancaman kemurkaan dan azab.Jika tiga hal ini dibedakan, seluruh dalil tentang sakratul maut dapat dipahami tanpa saling bertentangan. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggalKita terkadang melihat seseorang meninggal dalam keadaan tampak tenang. Ada pula yang meninggal setelah lama sakit, sulit bernapas, atau mengalami penderitaan berat.Jangan terburu-buru menyimpulkan keadaan akhir seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak oleh mata.Ibnu Hajar telah mengingatkan bahwa beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu dapat menjadi tambahan pahala atau penghapus dosa.Yang jauh lebih penting adalah apakah seseorang meninggal di atas iman, tauhid, dan istikamah. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian?Pertama, mukmin tetap bisa merasakan sakitnya sakratul maut.Kedua, secara umum sakratul maut lebih ringan bagi mukmin dan lebih berat bagi orang kafir.Ketiga, ruh mukmin dicabut dengan kelembutan, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras.Keempat, mukmin memperoleh kabar gembira dari malaikat berupa ketenteraman, ampunan, keridaan Allah, dan surga.Kelima, beratnya rasa sakit ketika seseorang meninggal tidak boleh dijadikan ukuran pasti su’ul khatimah.Keenam, bagi mukmin, beratnya kematian dapat menjadi penghapus dosa dan tambahan pahala.Maka, kalimat “orang beriman pasti tidak sakit ketika sakratul maut” adalah tidak tepat.Yang lebih tepat adalah:Seorang mukmin tetap dapat mengalami sakit dan beratnya sakratul maut, tetapi dalil menunjukkan bahwa ruh mukmin mendapatkan kelembutan ketika dicabut dan kabar gembira dari para malaikat. Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras dan mendapat ancaman kemurkaan Allah. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas iman sampai akhir hayat, memberikan kepada kita husnul khatimah, memudahkan keluarnya ruh kita, serta menyambut kita dengan ampunan dan keridaan-Nya. Āmīn.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ahmad, no. 13696; dan Ibnu Majah, no. 3834 dengan lafaz yang semakna. Imam Tirmidzi menilai hadis ini hasan) ReferensiAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan mukmin dan kafir setelah kematian. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Lā ilāha illallāh, inna lil-mauti sakarāt. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis “Sesungguhnya kematian memiliki sakarat”—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syuhadā’ khamsah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis lima golongan syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syahīdu lā yajidu alam al-qatli illā kamā yajidu aḥadukum alam al-qarṣah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis keringanan rasa sakit bagi syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis doa keteguhan hati—Dorar.netIslam Question & Answer. (2013, August 19). Ayna takūnu ar-rūḥ, wa mā ḥāluhā, ba‘da mauti ṣāḥibihā wa qabla an yudfan? (Fatwa no. 200530). IslamQA Fatwa no. 200530Islamweb. (2005, March 22). Shiddat al-maut wa naz‘ ar-rūḥ bi syiddah [Beratnya kematian dan kerasnya pencabutan ruh] (Fatwa no. 60147). Islamweb Fatwa no. 60147Islamweb. (2010, February 4). Shiddat al-maut lā tadullu ‘alā naqshin fī al-martabah [Beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan] (Fatwa no. 131832). Islamweb Fatwa no. 131832Islamweb. (2011, March 13). Sakarāt al-maut wa tafāwutuhā baina al-anbiyā’ wa asy-syuhadā’ wa sā’ir an-nās [Sakratul maut dan perbedaannya antara para nabi, syuhada, dan manusia lainnya] (Fatwa no. 151367). Islamweb Fatwa no. 151367Tuasikal, M. A. (2019, February 17). Syarhus Sunnah: Beriman kepada malaikat #03. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Beriman kepada Malaikat #03Tuasikal, M. A. (2026, April 15). Istikamah hingga wafat: Disambut malaikat dan dijanjikan surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Istikamah hingga Wafat Diselesaikan di Panggang Gunungkidul perjalanan menuju Masji Mina Jakal Jogja, pada 8 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat husnul khatimah istikamah kematian kematian dalam Islam malaikat maut mukmin orang kafir ruh sakratul maut
Ada yang mengira bahwa kalau seseorang beriman, ia pasti meninggal dengan tenang dan tidak merasakan sakit saat sakratul maut. Padahal, Rasulullah ﷺ sendiri mengalami beratnya sakratul maut, sedangkan dalil lain menyebutkan bahwa ruh orang beriman keluar dengan lembut. Bagaimana memahami dua hal ini, dan apa sebenarnya perbedaan sakratul maut orang beriman dan orang kafir?  Daftar Isi tutup 1. Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut? 2. Setiap orang akan menghadapi sakratul maut 3. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah? 4. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematian 5. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baik 6. Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut? 7. Ruh orang kafir dicabut dengan keras 8. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan? 9. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahid 10. Syahid mendapat keringanan khusus 11. Tiga hal yang jangan dicampuradukkan 11.1. 1. Rasa sakit ketika menghadapi kematian 11.2. 2. Cara ruh dicabut 11.3. 3. Sambutan yang diterima setelah kematian datang 12. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggal 13. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian? 14. Referensi  Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut?Jawabannya: tidak.Orang beriman tetap dapat mengalami rasa sakit dan beratnya sakratul maut. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, mengalami beratnya kematian. Karena itu, beratnya sakratul maut tidak otomatis menunjukkan buruknya kedudukan seseorang di sisi Allah.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَاتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّهُ لَبَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي، فَلَا أَكْرَهُ شِدَّةَ الْمَوْتِ لِأَحَدٍ أَبَدًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Nabi ﷺ wafat dalam keadaan berada di antara dada dan daguku. Setelah melihat apa yang dialami Nabi ﷺ, aku tidak lagi menganggap beratnya kematian seseorang sebagai sesuatu yang buruk.” (HR. Bukhari, no. 4446; An-Nasa’i, no. 1830; Ahmad, no. 24482. Riwayat ini sahih).Perkataan Aisyah tersebut muncul karena beliau menyaksikan beratnya pencabutan ruh, sakratul maut, dan demam yang dialami Rasulullah ﷺ, padahal kedudukan beliau di sisi Allah adalah yang paling mulia. Karena itu, beratnya kematian bukan bukti azab atau su’ul khatimah.Ada pula hadits yang lebih eksplisit. Ketika menjelang wafat, Rasulullah ﷺ bersabda,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.” (HR. Bukhari, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadis ini sahih).Ibnu Hajar rahimahullah kemudian mengambil pelajaran penting,إِنَّ شِدَّةَ الْمَوْتِ لَا تَدُلُّ عَلَى نَقْصٍ فِي الْمَرْتَبَةِ، بَلْ هِيَ لِلْمُؤْمِنِ إِمَّا زِيَادَةٌ فِي حَسَنَاتِهِ، وَإِمَّا تَكْفِيرٌ لِسَيِّئَاتِهِ.“Sesungguhnya beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu bisa menjadi tambahan kebaikannya atau menjadi penghapus dosa-dosanya.” (Fath Al-Bari, 11:363).Maka, jangan mudah mengatakan bahwa orang yang lama sakit sebelum meninggal, sulit bernapas, merintih, koma, atau tampak mengalami kematian yang berat berarti mengalami su’ul khatimah.Hal tersebut tidak memiliki dasar.Sebaliknya, kematian yang tampak sangat mudah secara lahiriah juga tidak dengan sendirinya menjadi bukti pasti bahwa orang tersebut husnul khatimah.Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa ada perbedaan besar antara keadaan seorang mukmin dan orang kafir ketika menghadapi kematian. Ruh mukmin dicabut dengan kelembutan dan disambut dengan kabar gembira, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras dan menghadapi ancaman.Karena itu, perlu dibedakan antara:rasa sakit dan beratnya proses kematian secara fisik, dancara ruh dicabut serta keadaan ruh ketika bertemu malaikat.Keringanan ketika ruh seorang mukmin keluar tidak menafikan kemungkinan adanya rasa berat ketika sakratul maut atau beratnya sebab kematian yang dialaminya. Setiap orang akan menghadapi sakratul mautAllah Ta‘ala berfirman,وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ“Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)Sakratul maut adalah keadaan berat dan rasa sakit yang dialami seseorang ketika menghadapi kematian dan ruh meninggalkan jasad. Tingkat sakratul maut tidak sama pada setiap orang.Sakratul maut berbeda-beda dari sisi berat dan ringannya. Secara umum, ia lebih ringan bagi orang-orang beriman dan lebih berat bagi orang-orang kafir, sedangkan para nabi dapat mengalami sakratul maut yang berat sebagai tambahan pahala dan peninggian derajat. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah?Inilah yang perlu dibedakan.Rasa sakit yang dialami badan ketika menghadapi kematian tidak selalu sama dengan cara malaikat mencabut ruh.Penjelasan sangat terang terdapat dalam hadis panjang Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu.Ketika seorang hamba mukmin hendak meninggalkan dunia, malaikat maut berkata,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ.“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan keluarnya ruhnya,فَتَخْرُجُ، فَتَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Lalu ruh itu keluar mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut wadah air.”Inilah gambaran kelembutan pencabutan ruh seorang mukmin. Setelah itu, para malaikat mengambil ruhnya dan membawanya dalam kafan serta wewangian dari surga. Hadis Al-Bara’ menjelaskan panjang lebar perjalanan ruh mukmin setelah meninggalkan jasad.Takhrij: HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557 dengan sedikit perbedaan lafaz. Syaikh Al-Albani menilai riwayat Abu Dawud ini sahih.Jadi, ketika disebut bahwa ruh mukmin keluar dengan mudah, maksudnya adalah kemudahan dan kelembutan dalam proses pencabutan ruh, bukan jaminan bahwa tubuhnya sama sekali tidak mengalami sakit ketika sakratul maut. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematianKeistimewaan lainnya adalah para malaikat membawa kabar gembira kepada orang-orang beriman.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istikamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fushshilat: 30)Dalam penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan kemuliaan bagi mereka yang beriman dan istikamah. Para malaikat menyertai serta memberikan keteguhan dan kabar gembira kepada orang beriman, termasuk ketika ia menghadapi kematian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata mengenai pendampingan malaikat kepada seorang mukmin,فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ.“Malaikat berkata ketika kematian, ‘Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan sesuatu yang membahagiakanmu.’”Inilah salah satu bentuk kemudahan yang sangat besar bagi mukmin ketika menghadapi kematian: ia tidak menghadapinya sendirian, tetapi mendapat kabar gembira dari para malaikat. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baikAllah Ta‘ala berfirman,الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ“(Yaitu) orang-orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka berkata, ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. An-Nahl: 32)Perhatikan bagaimana orang beriman disambut.Ketika dunia akan ditinggalkan dan ia memasuki kehidupan yang belum pernah disaksikannya, malaikat datang membawa salam dan kabar surga.Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut?Keadaannya berbeda.Allah Ta‘ala berfirman,فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ“Bagaimanakah keadaan mereka apabila para malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka?” (QS. Muhammad: 27)Ruh orang kafir dicabut dengan keras, sedangkan ruh orang beriman dicabut dengan lemah lembut.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ“Sekiranya engkau melihat ketika orang-orang zalim berada dalam kesengsaraan sakratul maut, sedang para malaikat mengulurkan tangan mereka seraya berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang menghinakan.’” (QS. Al-An‘am: 93)Ayat tersebut menggambarkan perbedaan yang sangat jauh antara sambutan bagi orang beriman dan orang kafir. Ruh orang kafir dicabut dengan kerasDalam kelanjutan hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, malaikat maut berkata kepada ruh orang kafir,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ.“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan ruh tersebut,فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السُّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ.“Ruh itu berpencar dalam tubuhnya, lalu dicabut sebagaimana besi bercabang dicabut dari wol yang basah.”Perumpamaan ini menunjukkan kerasnya proses pencabutan ruh orang kafir, berlawanan dengan ruh mukmin yang digambarkan mengalir seperti tetesan air dari wadahnya.Takhrij: Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557. Riwayat Abu Dawud dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan?Jawabannya membutuhkan perincian.Secara umum, iya. Dalil menunjukkan adanya kemudahan bagi orang beriman dan kesulitan bagi orang kafir, terutama ketika ruh dicabut dan ketika malaikat menyambutnya. Namun, tidak boleh disimpulkan bahwa setiap mukmin pasti tidak mengalami rasa sakit saat sakratul maut.Seorang mukmin bisa:sakit berat sebelum meninggal,mengalami kecelakaan,terbakar,tenggelam,tertimpa reruntuhan,mengalami penyakit berat dalam waktu lama,atau mengalami proses kematian yang secara fisik terasa sangat berat.Semua itu tidak bertentangan dengan dalil bahwa ruh seorang mukmin dicabut dengan kelembutan. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahidRasulullah ﷺ bersabda,الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.“Orang yang memperoleh pahala syahid ada lima: orang yang meninggal karena tha‘un, penyakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini sahih)Baca juga: Mati Syahid Karena Melahirkan dan TenggelamImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,إِنَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الْمَوْتَاتُ شَهَادَةً بِتَفَضُّلِ اللَّهِ تَعَالَىٰ بِسَبَبِ شِدَّتِهَا وَكَثْرَةِ أَلَمِهَا.“Beberapa jenis kematian ini mendapat pahala syahid karena karunia Allah Ta‘ala disebabkan berat dan banyaknya rasa sakit yang dialami.”Sebagian jenis kematian memang lebih menyakitkan, tetapi Allah menjadikannya sebagai sebab memperoleh pahala besar.Jadi, beratnya rasa sakit ketika meninggal bisa terjadi pada orang yang justru mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah. Syahid mendapat keringanan khususAda pula keringanan khusus yang Allah berikan kepada orang yang gugur sebagai syahid.Rasulullah ﷺ bersabda,مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَسِّ الْقَرْصَةِ.“Seorang syahid tidak merasakan sakitnya terbunuh kecuali seperti salah seorang di antara kalian merasakan cubitan.” (HR. Tirmidzi, no. 1668; An-Nasa’i, no. 3161; Ibnu Majah, no. 2802. Imam Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih gharib.” Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menilai sanadnya hasan).Ini merupakan keistimewaan khusus yang Allah berikan kepada seorang syahid. Tiga hal yang jangan dicampuradukkanAgar pembahasan ini mudah dipahami, ada tiga perkara yang perlu dibedakan.1. Rasa sakit ketika menghadapi kematianSeorang mukmin tetap dapat merasakan sakit. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda,إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.”2. Cara ruh dicabutRuh mukmin digambarkan keluar,كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Seperti tetesan air mengalir dari mulut wadah.”Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras.3. Sambutan yang diterima setelah kematian datangMukmin mendapat kabar,أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ.“Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan surga.”Adapun orang kafir mendapat ancaman kemurkaan dan azab.Jika tiga hal ini dibedakan, seluruh dalil tentang sakratul maut dapat dipahami tanpa saling bertentangan. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggalKita terkadang melihat seseorang meninggal dalam keadaan tampak tenang. Ada pula yang meninggal setelah lama sakit, sulit bernapas, atau mengalami penderitaan berat.Jangan terburu-buru menyimpulkan keadaan akhir seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak oleh mata.Ibnu Hajar telah mengingatkan bahwa beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu dapat menjadi tambahan pahala atau penghapus dosa.Yang jauh lebih penting adalah apakah seseorang meninggal di atas iman, tauhid, dan istikamah. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian?Pertama, mukmin tetap bisa merasakan sakitnya sakratul maut.Kedua, secara umum sakratul maut lebih ringan bagi mukmin dan lebih berat bagi orang kafir.Ketiga, ruh mukmin dicabut dengan kelembutan, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras.Keempat, mukmin memperoleh kabar gembira dari malaikat berupa ketenteraman, ampunan, keridaan Allah, dan surga.Kelima, beratnya rasa sakit ketika seseorang meninggal tidak boleh dijadikan ukuran pasti su’ul khatimah.Keenam, bagi mukmin, beratnya kematian dapat menjadi penghapus dosa dan tambahan pahala.Maka, kalimat “orang beriman pasti tidak sakit ketika sakratul maut” adalah tidak tepat.Yang lebih tepat adalah:Seorang mukmin tetap dapat mengalami sakit dan beratnya sakratul maut, tetapi dalil menunjukkan bahwa ruh mukmin mendapatkan kelembutan ketika dicabut dan kabar gembira dari para malaikat. Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras dan mendapat ancaman kemurkaan Allah. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas iman sampai akhir hayat, memberikan kepada kita husnul khatimah, memudahkan keluarnya ruh kita, serta menyambut kita dengan ampunan dan keridaan-Nya. Āmīn.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ahmad, no. 13696; dan Ibnu Majah, no. 3834 dengan lafaz yang semakna. Imam Tirmidzi menilai hadis ini hasan) ReferensiAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan mukmin dan kafir setelah kematian. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Lā ilāha illallāh, inna lil-mauti sakarāt. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis “Sesungguhnya kematian memiliki sakarat”—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syuhadā’ khamsah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis lima golongan syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syahīdu lā yajidu alam al-qatli illā kamā yajidu aḥadukum alam al-qarṣah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis keringanan rasa sakit bagi syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis doa keteguhan hati—Dorar.netIslam Question & Answer. (2013, August 19). Ayna takūnu ar-rūḥ, wa mā ḥāluhā, ba‘da mauti ṣāḥibihā wa qabla an yudfan? (Fatwa no. 200530). IslamQA Fatwa no. 200530Islamweb. (2005, March 22). Shiddat al-maut wa naz‘ ar-rūḥ bi syiddah [Beratnya kematian dan kerasnya pencabutan ruh] (Fatwa no. 60147). Islamweb Fatwa no. 60147Islamweb. (2010, February 4). Shiddat al-maut lā tadullu ‘alā naqshin fī al-martabah [Beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan] (Fatwa no. 131832). Islamweb Fatwa no. 131832Islamweb. (2011, March 13). Sakarāt al-maut wa tafāwutuhā baina al-anbiyā’ wa asy-syuhadā’ wa sā’ir an-nās [Sakratul maut dan perbedaannya antara para nabi, syuhada, dan manusia lainnya] (Fatwa no. 151367). Islamweb Fatwa no. 151367Tuasikal, M. A. (2019, February 17). Syarhus Sunnah: Beriman kepada malaikat #03. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Beriman kepada Malaikat #03Tuasikal, M. A. (2026, April 15). Istikamah hingga wafat: Disambut malaikat dan dijanjikan surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Istikamah hingga Wafat Diselesaikan di Panggang Gunungkidul perjalanan menuju Masji Mina Jakal Jogja, pada 8 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat husnul khatimah istikamah kematian kematian dalam Islam malaikat maut mukmin orang kafir ruh sakratul maut


Ada yang mengira bahwa kalau seseorang beriman, ia pasti meninggal dengan tenang dan tidak merasakan sakit saat sakratul maut. Padahal, Rasulullah ﷺ sendiri mengalami beratnya sakratul maut, sedangkan dalil lain menyebutkan bahwa ruh orang beriman keluar dengan lembut. Bagaimana memahami dua hal ini, dan apa sebenarnya perbedaan sakratul maut orang beriman dan orang kafir?  Daftar Isi tutup 1. Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut? 2. Setiap orang akan menghadapi sakratul maut 3. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah? 4. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematian 5. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baik 6. Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut? 7. Ruh orang kafir dicabut dengan keras 8. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan? 9. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahid 10. Syahid mendapat keringanan khusus 11. Tiga hal yang jangan dicampuradukkan 11.1. 1. Rasa sakit ketika menghadapi kematian 11.2. 2. Cara ruh dicabut 11.3. 3. Sambutan yang diterima setelah kematian datang 12. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggal 13. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian? 14. Referensi  Apakah mukmin pasti tidak sakit saat sakratul maut?Jawabannya: tidak.Orang beriman tetap dapat mengalami rasa sakit dan beratnya sakratul maut. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, mengalami beratnya kematian. Karena itu, beratnya sakratul maut tidak otomatis menunjukkan buruknya kedudukan seseorang di sisi Allah.Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,مَاتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّهُ لَبَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي، فَلَا أَكْرَهُ شِدَّةَ الْمَوْتِ لِأَحَدٍ أَبَدًا بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Nabi ﷺ wafat dalam keadaan berada di antara dada dan daguku. Setelah melihat apa yang dialami Nabi ﷺ, aku tidak lagi menganggap beratnya kematian seseorang sebagai sesuatu yang buruk.” (HR. Bukhari, no. 4446; An-Nasa’i, no. 1830; Ahmad, no. 24482. Riwayat ini sahih).Perkataan Aisyah tersebut muncul karena beliau menyaksikan beratnya pencabutan ruh, sakratul maut, dan demam yang dialami Rasulullah ﷺ, padahal kedudukan beliau di sisi Allah adalah yang paling mulia. Karena itu, beratnya kematian bukan bukti azab atau su’ul khatimah.Ada pula hadits yang lebih eksplisit. Ketika menjelang wafat, Rasulullah ﷺ bersabda,لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.” (HR. Bukhari, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadis ini sahih).Ibnu Hajar rahimahullah kemudian mengambil pelajaran penting,إِنَّ شِدَّةَ الْمَوْتِ لَا تَدُلُّ عَلَى نَقْصٍ فِي الْمَرْتَبَةِ، بَلْ هِيَ لِلْمُؤْمِنِ إِمَّا زِيَادَةٌ فِي حَسَنَاتِهِ، وَإِمَّا تَكْفِيرٌ لِسَيِّئَاتِهِ.“Sesungguhnya beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu bisa menjadi tambahan kebaikannya atau menjadi penghapus dosa-dosanya.” (Fath Al-Bari, 11:363).Maka, jangan mudah mengatakan bahwa orang yang lama sakit sebelum meninggal, sulit bernapas, merintih, koma, atau tampak mengalami kematian yang berat berarti mengalami su’ul khatimah.Hal tersebut tidak memiliki dasar.Sebaliknya, kematian yang tampak sangat mudah secara lahiriah juga tidak dengan sendirinya menjadi bukti pasti bahwa orang tersebut husnul khatimah.Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa ada perbedaan besar antara keadaan seorang mukmin dan orang kafir ketika menghadapi kematian. Ruh mukmin dicabut dengan kelembutan dan disambut dengan kabar gembira, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras dan menghadapi ancaman.Karena itu, perlu dibedakan antara:rasa sakit dan beratnya proses kematian secara fisik, dancara ruh dicabut serta keadaan ruh ketika bertemu malaikat.Keringanan ketika ruh seorang mukmin keluar tidak menafikan kemungkinan adanya rasa berat ketika sakratul maut atau beratnya sebab kematian yang dialaminya. Setiap orang akan menghadapi sakratul mautAllah Ta‘ala berfirman,وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ“Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)Sakratul maut adalah keadaan berat dan rasa sakit yang dialami seseorang ketika menghadapi kematian dan ruh meninggalkan jasad. Tingkat sakratul maut tidak sama pada setiap orang.Sakratul maut berbeda-beda dari sisi berat dan ringannya. Secara umum, ia lebih ringan bagi orang-orang beriman dan lebih berat bagi orang-orang kafir, sedangkan para nabi dapat mengalami sakratul maut yang berat sebagai tambahan pahala dan peninggian derajat. Lalu apa maksud ruh mukmin keluar dengan mudah?Inilah yang perlu dibedakan.Rasa sakit yang dialami badan ketika menghadapi kematian tidak selalu sama dengan cara malaikat mencabut ruh.Penjelasan sangat terang terdapat dalam hadis panjang Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu.Ketika seorang hamba mukmin hendak meninggalkan dunia, malaikat maut berkata,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ.“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan keluarnya ruhnya,فَتَخْرُجُ، فَتَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Lalu ruh itu keluar mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut wadah air.”Inilah gambaran kelembutan pencabutan ruh seorang mukmin. Setelah itu, para malaikat mengambil ruhnya dan membawanya dalam kafan serta wewangian dari surga. Hadis Al-Bara’ menjelaskan panjang lebar perjalanan ruh mukmin setelah meninggalkan jasad.Takhrij: HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557 dengan sedikit perbedaan lafaz. Syaikh Al-Albani menilai riwayat Abu Dawud ini sahih.Jadi, ketika disebut bahwa ruh mukmin keluar dengan mudah, maksudnya adalah kemudahan dan kelembutan dalam proses pencabutan ruh, bukan jaminan bahwa tubuhnya sama sekali tidak mengalami sakit ketika sakratul maut. Mukmin mendapat kabar gembira ketika menghadapi kematianKeistimewaan lainnya adalah para malaikat membawa kabar gembira kepada orang-orang beriman.Allah Ta‘ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istikamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fushshilat: 30)Dalam penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan kemuliaan bagi mereka yang beriman dan istikamah. Para malaikat menyertai serta memberikan keteguhan dan kabar gembira kepada orang beriman, termasuk ketika ia menghadapi kematian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata mengenai pendampingan malaikat kepada seorang mukmin,فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ.“Malaikat berkata ketika kematian, ‘Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan sesuatu yang membahagiakanmu.’”Inilah salah satu bentuk kemudahan yang sangat besar bagi mukmin ketika menghadapi kematian: ia tidak menghadapinya sendirian, tetapi mendapat kabar gembira dari para malaikat. Orang beriman diwafatkan dalam keadaan baikAllah Ta‘ala berfirman,الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ“(Yaitu) orang-orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka berkata, ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. An-Nahl: 32)Perhatikan bagaimana orang beriman disambut.Ketika dunia akan ditinggalkan dan ia memasuki kehidupan yang belum pernah disaksikannya, malaikat datang membawa salam dan kabar surga.Bagaimana keadaan orang kafir ketika ruh dicabut?Keadaannya berbeda.Allah Ta‘ala berfirman,فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ“Bagaimanakah keadaan mereka apabila para malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka?” (QS. Muhammad: 27)Ruh orang kafir dicabut dengan keras, sedangkan ruh orang beriman dicabut dengan lemah lembut.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ“Sekiranya engkau melihat ketika orang-orang zalim berada dalam kesengsaraan sakratul maut, sedang para malaikat mengulurkan tangan mereka seraya berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang menghinakan.’” (QS. Al-An‘am: 93)Ayat tersebut menggambarkan perbedaan yang sangat jauh antara sambutan bagi orang beriman dan orang kafir. Ruh orang kafir dicabut dengan kerasDalam kelanjutan hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, malaikat maut berkata kepada ruh orang kafir,أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَىٰ سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ.“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.”Kemudian Nabi ﷺ menggambarkan ruh tersebut,فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السُّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ.“Ruh itu berpencar dalam tubuhnya, lalu dicabut sebagaimana besi bercabang dicabut dari wol yang basah.”Perumpamaan ini menunjukkan kerasnya proses pencabutan ruh orang kafir, berlawanan dengan ruh mukmin yang digambarkan mengalir seperti tetesan air dari wadahnya.Takhrij: Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. HR. Abu Dawud, no. 4753; An-Nasa’i, no. 2001; Ibnu Majah, no. 1549 secara ringkas; dan Ahmad, no. 18557. Riwayat Abu Dawud dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani. Jadi, apakah sakratul maut mukmin lebih ringan?Jawabannya membutuhkan perincian.Secara umum, iya. Dalil menunjukkan adanya kemudahan bagi orang beriman dan kesulitan bagi orang kafir, terutama ketika ruh dicabut dan ketika malaikat menyambutnya. Namun, tidak boleh disimpulkan bahwa setiap mukmin pasti tidak mengalami rasa sakit saat sakratul maut.Seorang mukmin bisa:sakit berat sebelum meninggal,mengalami kecelakaan,terbakar,tenggelam,tertimpa reruntuhan,mengalami penyakit berat dalam waktu lama,atau mengalami proses kematian yang secara fisik terasa sangat berat.Semua itu tidak bertentangan dengan dalil bahwa ruh seorang mukmin dicabut dengan kelembutan. Bahkan sebagian kematian yang berat mendapat pahala syahidRasulullah ﷺ bersabda,الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.“Orang yang memperoleh pahala syahid ada lima: orang yang meninggal karena tha‘un, penyakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini sahih)Baca juga: Mati Syahid Karena Melahirkan dan TenggelamImam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,إِنَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الْمَوْتَاتُ شَهَادَةً بِتَفَضُّلِ اللَّهِ تَعَالَىٰ بِسَبَبِ شِدَّتِهَا وَكَثْرَةِ أَلَمِهَا.“Beberapa jenis kematian ini mendapat pahala syahid karena karunia Allah Ta‘ala disebabkan berat dan banyaknya rasa sakit yang dialami.”Sebagian jenis kematian memang lebih menyakitkan, tetapi Allah menjadikannya sebagai sebab memperoleh pahala besar.Jadi, beratnya rasa sakit ketika meninggal bisa terjadi pada orang yang justru mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah. Syahid mendapat keringanan khususAda pula keringanan khusus yang Allah berikan kepada orang yang gugur sebagai syahid.Rasulullah ﷺ bersabda,مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَسِّ الْقَرْصَةِ.“Seorang syahid tidak merasakan sakitnya terbunuh kecuali seperti salah seorang di antara kalian merasakan cubitan.” (HR. Tirmidzi, no. 1668; An-Nasa’i, no. 3161; Ibnu Majah, no. 2802. Imam Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih gharib.” Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menilai sanadnya hasan).Ini merupakan keistimewaan khusus yang Allah berikan kepada seorang syahid. Tiga hal yang jangan dicampuradukkanAgar pembahasan ini mudah dipahami, ada tiga perkara yang perlu dibedakan.1. Rasa sakit ketika menghadapi kematianSeorang mukmin tetap dapat merasakan sakit. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda,إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.“Sesungguhnya kematian itu memiliki berbagai sakarat.”2. Cara ruh dicabutRuh mukmin digambarkan keluar,كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ.“Seperti tetesan air mengalir dari mulut wadah.”Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras.3. Sambutan yang diterima setelah kematian datangMukmin mendapat kabar,أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ.“Janganlah takut, janganlah bersedih, dan bergembiralah dengan surga.”Adapun orang kafir mendapat ancaman kemurkaan dan azab.Jika tiga hal ini dibedakan, seluruh dalil tentang sakratul maut dapat dipahami tanpa saling bertentangan. Jangan menilai husnul khatimah hanya dari ekspresi orang yang meninggalKita terkadang melihat seseorang meninggal dalam keadaan tampak tenang. Ada pula yang meninggal setelah lama sakit, sulit bernapas, atau mengalami penderitaan berat.Jangan terburu-buru menyimpulkan keadaan akhir seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak oleh mata.Ibnu Hajar telah mengingatkan bahwa beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan seseorang. Bahkan bagi seorang mukmin, hal itu dapat menjadi tambahan pahala atau penghapus dosa.Yang jauh lebih penting adalah apakah seseorang meninggal di atas iman, tauhid, dan istikamah. Ringkasnya, apa perbedaan mukmin dan kafir saat kematian?Pertama, mukmin tetap bisa merasakan sakitnya sakratul maut.Kedua, secara umum sakratul maut lebih ringan bagi mukmin dan lebih berat bagi orang kafir.Ketiga, ruh mukmin dicabut dengan kelembutan, sedangkan ruh orang kafir dicabut dengan keras.Keempat, mukmin memperoleh kabar gembira dari malaikat berupa ketenteraman, ampunan, keridaan Allah, dan surga.Kelima, beratnya rasa sakit ketika seseorang meninggal tidak boleh dijadikan ukuran pasti su’ul khatimah.Keenam, bagi mukmin, beratnya kematian dapat menjadi penghapus dosa dan tambahan pahala.Maka, kalimat “orang beriman pasti tidak sakit ketika sakratul maut” adalah tidak tepat.Yang lebih tepat adalah:Seorang mukmin tetap dapat mengalami sakit dan beratnya sakratul maut, tetapi dalil menunjukkan bahwa ruh mukmin mendapatkan kelembutan ketika dicabut dan kabar gembira dari para malaikat. Adapun ruh orang kafir dicabut dengan keras dan mendapat ancaman kemurkaan Allah. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas iman sampai akhir hayat, memberikan kepada kita husnul khatimah, memudahkan keluarnya ruh kita, serta menyambut kita dengan ampunan dan keridaan-Nya. Āmīn.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ.Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 2140; Ahmad, no. 13696; dan Ibnu Majah, no. 3834 dengan lafaz yang semakna. Imam Tirmidzi menilai hadis ini hasan) ReferensiAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib tentang keadaan mukmin dan kafir setelah kematian. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Lā ilāha illallāh, inna lil-mauti sakarāt. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis “Sesungguhnya kematian memiliki sakarat”—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syuhadā’ khamsah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis lima golongan syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Asy-syahīdu lā yajidu alam al-qatli illā kamā yajidu aḥadukum alam al-qarṣah. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis keringanan rasa sakit bagi syahid—Dorar.netAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik. Al-Mawsu‘ah Al-Haditsiyyah. Hadis doa keteguhan hati—Dorar.netIslam Question & Answer. (2013, August 19). Ayna takūnu ar-rūḥ, wa mā ḥāluhā, ba‘da mauti ṣāḥibihā wa qabla an yudfan? (Fatwa no. 200530). IslamQA Fatwa no. 200530Islamweb. (2005, March 22). Shiddat al-maut wa naz‘ ar-rūḥ bi syiddah [Beratnya kematian dan kerasnya pencabutan ruh] (Fatwa no. 60147). Islamweb Fatwa no. 60147Islamweb. (2010, February 4). Shiddat al-maut lā tadullu ‘alā naqshin fī al-martabah [Beratnya kematian tidak menunjukkan rendahnya kedudukan] (Fatwa no. 131832). Islamweb Fatwa no. 131832Islamweb. (2011, March 13). Sakarāt al-maut wa tafāwutuhā baina al-anbiyā’ wa asy-syuhadā’ wa sā’ir an-nās [Sakratul maut dan perbedaannya antara para nabi, syuhada, dan manusia lainnya] (Fatwa no. 151367). Islamweb Fatwa no. 151367Tuasikal, M. A. (2019, February 17). Syarhus Sunnah: Beriman kepada malaikat #03. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Beriman kepada Malaikat #03Tuasikal, M. A. (2026, April 15). Istikamah hingga wafat: Disambut malaikat dan dijanjikan surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com—Istikamah hingga Wafat Diselesaikan di Panggang Gunungkidul perjalanan menuju Masji Mina Jakal Jogja, pada 8 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhir hayat husnul khatimah istikamah kematian kematian dalam Islam malaikat maut mukmin orang kafir ruh sakratul maut

Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Teladan bagi Generasi Muslim

Di tengah generasi yang mudah terpukau oleh popularitas, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari iman, kesetiaan, dan amal yang tulus. Ia adalah lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, sahabat beliau di dalam gua, orang yang dipercaya mengimami kaum Muslimin ketika Nabi ﷺ sakit, serta sosok yang berlomba dalam berbagai pintu kebaikan. Mengenal keutamaan Abu Bakar bukan sekadar membaca sejarah, melainkan menemukan standar keteladanan yang sangat dibutuhkan kaum Muslimin hari ini.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq? 1.1. 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ 1.2. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrah 1.3. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ 1.4. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan harta 1.5. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imam 1.6. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’an 1.7. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal saleh 1.8. 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganya 1.9. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺ 2. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinya 3. Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat ini 4. Nasihat terakhir  Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq?Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bernama Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka‘ab bin Sa‘d bin Taim bin Murrah Al-Qurasyi At-Taimi. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Murrah bin Ka‘ab. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah ﷺ, pendamping beliau ketika hijrah, serta khalifah pertama setelah wafatnya Nabi ﷺ.Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيفَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَهُوَ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ.“Diyakini keutamaan khalifah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah manusia terbaik dan terpilih setelah Nabi ﷺ.”Baca juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺPara sahabat sendiri telah mengetahui kedudukan Abu Bakar sejak Rasulullah ﷺ masih hidup. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ.“Kami memilih siapa yang terbaik di antara manusia pada zaman Nabi ﷺ. Kami memilih Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.” (HR. Bukhari, no. 3655)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan ketika ditanya oleh putranya, Muhammad bin Al-Hanafiyyah, bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Karena itu, Ahlusunah menetapkan bahwa sahabat paling utama setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Menariknya, keutamaan Abu Bakar tidak baru diakui setelah beliau menjadi khalifah. Kedudukannya telah dikenal dan diakui para sahabat ketika Nabi ﷺ masih berada di tengah-tengah mereka. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrahSalah satu kemuliaan terbesar Abu Bakar adalah dipilih menjadi pendamping Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah yang sangat berbahaya. Bahkan, persahabatan tersebut diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an.Allah Ta‘ala berfirman,ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“… sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)Yang dimaksud dengan “sahabatnya” dalam ayat tersebut adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sahabat Nabi ﷺ dalam ayat ini adalah Abu Bakar tanpa ada perselisihan.Inilah persahabatan sejati. Abu Bakar bukan hanya hadir ketika keadaan aman dan menyenangkan, tetapi menemani Rasulullah ﷺ ketika nyawa menjadi taruhan. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺAmr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «عَائِشَةُ». قُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: «أَبُوهَا».“Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Aku bertanya, “Kalau dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” (HR. Bukhari, no. 3662; Muslim, no. 2384)Hadis ini menunjukkan bahwa dari kalangan laki-laki, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda,لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي.“Seandainya aku menjadikan seseorang sebagai khalil, niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Namun, ia adalah saudara dan sahabatku.” (HR. Muslim, no. 2383)Khalil menunjukkan tingkat kecintaan yang sangat tinggi dan khusus. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan seorang manusia pun sebagai khalil karena Allah telah menjadikan beliau sebagai khalil-Nya, tetapi seandainya hal itu diberikan kepada seorang manusia, Abu Bakarlah orangnya. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan hartaMenjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ mengenang jasa Abu Bakar. Beliau bersabda,إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ.“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Abu Bakar memberikan dua hal besar untuk dakwah: dirinya dan hartanya. Ia tidak hanya mengatakan bahwa dirinya mencintai Nabi ﷺ, tetapi cintanya mempunyai bukti nyata.Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat berinfak, Umar radhiyallahu ‘anhu datang membawa setengah hartanya. Abu Bakar justru datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab,أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ.“Aku meninggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Umar pun mengakui bahwa ia tidak akan mampu mengungguli Abu Bakar dalam perkara tersebut. Riwayat ini dinilai hasan.Namun, hal ini bukan berarti setiap orang dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya hingga keluarga terlantar. Rasulullah ﷺ menerima tindakan Abu Bakar karena mengetahui kuatnya iman, kesabaran, dan tawakal beliau, sedangkan kepada sebagian sahabat lain beliau justru memerintahkan agar tetap menyisakan sebagian hartanya. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imamKetika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, beliau tetap memikirkan salat kaum Muslimin. Beliau bersabda,مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ.“Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat menyampaikan bahwa Abu Bakar adalah seorang yang berhati sangat lembut dan banyak menangis sehingga apabila berdiri menggantikan Rasulullah ﷺ, orang-orang bisa kesulitan mendengar bacaannya. Namun, Rasulullah ﷺ tetap menegaskan agar Abu Bakar yang menjadi imam.Perintah ini menunjukkan besarnya kepercayaan Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar pada salah satu urusan agama yang paling agung, yaitu memimpin salat kaum Muslimin. Para ulama juga melihat peristiwa ini sebagai salah satu isyarat kuat tentang kedudukan Abu Bakar dan kelayakannya memimpin umat setelah Rasulullah ﷺ. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’anAbu Bakar bukan orang yang keras hatinya meskipun dikenal tegas dalam membela agama. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan tentang ayahnya,وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَجُلًا بَكَّاءً، لَا يَمْلِكُ عَيْنَيْهِ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ.“Abu Bakar adalah seorang yang banyak menangis. Ia tidak mampu menahan kedua matanya ketika membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)Bahkan ketika Abu Bakar membaca Al-Qur’an dan salat di halaman rumahnya di Makkah, para wanita dan anak-anak kaum musyrikin berkumpul memperhatikannya. Mereka takjub melihat bacaan dan tangisnya, sampai para pemuka Quraisy merasa khawatir pengaruhnya akan masuk ke hati keluarga mereka.Keutamaan ini penting direnungkan. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya bacaan, hafalan, atau kemampuan menyampaikan tafsir, tetapi juga dari sejauh mana wahyu Allah melembutkan hati. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal salehSuatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat siapa yang sedang berpuasa. Abu Bakar menjawab, “Saya.” Beliau kemudian bertanya siapa yang telah mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit pada hari itu. Semua pertanyaan tersebut kembali dijawab oleh Abu Bakar, “Saya.”Rasulullah ﷺ kemudian bersabda,مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.“Tidaklah semua amalan itu terkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim, no. 1028)Abu Bakar tidak hanya unggul dalam satu bidang ibadah. Salat, puasa, sedekah, pelayanan sosial, dan perhatian kepada orang sakit berkumpul pada dirinya.Tidak mengherankan ketika Abu Bakar bertanya apakah ada orang yang kelak dipanggil dari seluruh pintu surga, Rasulullah ﷺ menjawab,نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ.“Ya. Aku berharap engkau termasuk di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 1897; Muslim, no. 1027) 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganyaUjian memaafkan menjadi jauh lebih berat ketika yang disakiti adalah anak sendiri. Misthah bin Utsatsah termasuk orang yang turut berbicara dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha. Padahal, Abu Bakar selama ini membantu nafkah Misthah karena hubungan kekerabatan dan kemiskinannya.Karena sangat marah, Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi memberikan bantuan kepadanya. Allah kemudian menurunkan firman-Nya,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)Mendengar ayat tersebut, Abu Bakar berkata,بَلَى وَاللَّهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي.“Benar, demi Allah. Sungguh, aku ingin Allah mengampuniku.”Abu Bakar kemudian kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan tidak memutus bantuannya.Inilah puncak kelapangan hati. Abu Bakar tidak menunggu perasaannya benar-benar nyaman untuk taat kepada ayat Allah. Begitu perintah Allah datang, ia tunduk dan mengalahkan sakit hatinya. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ wafat, kaum Muslimin mengalami guncangan luar biasa. Bahkan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sempat tidak mampu menerima kenyataan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat.Abu Bakar datang, memastikan wafatnya Rasulullah ﷺ, kemudian keluar menemui manusia. Dengan penuh keteguhan ia berkata,مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ.“Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”Lalu Abu Bakar membacakan firman Allah,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ“Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” (QS. Ali ‘Imran: 144)Pada saat banyak hati diliputi kesedihan, Abu Bakar mengembalikan umat kepada wahyu. Keteguhan itu menunjukkan bahwa lembutnya hati tidak berarti lemahnya jiwa. Orang yang menangis ketika membaca Al-Qur’an justru bisa menjadi orang yang paling kokoh ketika datang musibah besar. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinyaAbu Bakar Al-Muzani rahimahullah berkata,مَا فَاقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ بِصَوْمٍ وَلَا صَلَاةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ.“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ semata-mata dengan puasa atau salat, tetapi dengan sesuatu yang ada dalam hatinya.”Ibnu ‘Aliyyah rahimahullah menjelaskan,الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الْحُبُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالنَّصِيحَةُ فِي خَلْقِهِ.“Yang ada dalam hatinya adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keinginan memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya.”Jadi, rahasia Abu Bakar bukan sekadar banyaknya aktivitas. Ada iman, cinta kepada Allah, kejujuran, ketulusan, dan keinginan memberi manfaat yang menghidupkan seluruh amalnya.Baca juga: Karamah pada Abu Bakar dengan Makanan yang Banyak Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat iniPertama: jadilah orang yang benar ketika banyak orang mengikuti arus. Abu Bakar memiliki prinsip yang kokoh dalam membenarkan Rasulullah ﷺ. Generasi Muslim hari ini perlu belajar agar ukuran kebenaran bukan viral atau tidak viral, populer atau tidak populer, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu.Kedua: jadilah sahabat yang hadir ketika keadaan sulit. Abu Bakar menemani Nabi ﷺ bukan hanya ketika Islam telah menang, tetapi ketika hijrah penuh risiko. Persahabatan yang baik terlihat ketika seseorang membantu temannya tetap taat dan hadir saat ia membutuhkan pertolongan.Ketiga: dekatilah Al-Qur’an sampai hati ikut berubah. Abu Bakar membaca Al-Qur’an dengan hati yang hidup hingga air matanya sulit ditahan. Jangan sampai generasi hari ini mempunyai aplikasi Al-Qur’an di setiap gawai, tetapi hati tetap jauh dari petunjuknya.Keempat: berlombalah dalam amal, bukan sekadar pencapaian dunia. Dalam sehari, Abu Bakar dapat mengumpulkan puasa, mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit. Semangat kompetisi generasi Muslim selayaknya diarahkan pula kepada siapa yang paling cepat menolong, bersedekah, belajar agama, dan memberikan manfaat.Kelima: jadikan harta sebagai alat membela agama dan menolong manusia. Abu Bakar tidak diperbudak hartanya. Namun, teladannya harus diterapkan sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing sehingga infak tidak menyebabkan orang yang menjadi tanggungan justru terlantar.Keenam: jangan biarkan sakit hati menghalangi ketaatan. Abu Bakar mampu kembali membantu orang yang pernah ikut menyakiti kehormatan putrinya karena ia lebih menginginkan ampunan Allah daripada mempertahankan dendam. Ini sangat relevan pada zaman ketika konflik keluarga, pertemanan, dan pertengkaran di media sosial sering berlangsung panjang.Ketujuh: ketika krisis datang, kembalilah kepada wahyu. Saat wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang kaum Muslimin, Abu Bakar tidak larut dalam kepanikan. Ia mengembalikan manusia kepada Al-Qur’an dan membuat mereka kembali melihat kenyataan dengan iman.Kedelapan: jangan mengejar jabatan, tetapi siapkan kelayakan untuk memikul amanah. Abu Bakar tidak menjadi mulia karena mengejar kekuasaan. Kepercayaan, ilmu, ibadah, pengorbanan, kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, dan pengakuan para sahabat telah lebih dahulu berbicara tentang kualitas dirinya. Perintah Nabi ﷺ agar Abu Bakar mengimami kaum Muslimin pada hari-hari terakhir kehidupan beliau merupakan salah satu tanda kuat kedudukannya. Nasihat terakhirGenerasi sekarang mudah mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, pengaruh, kekayaan, atau jabatan. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa nilai seorang hamba justru bermula dari iman yang kokoh, hati yang hidup, dan pengorbanan yang ikhlas. Jadilah orang yang lembut ketika membaca wahyu, dermawan ketika memiliki harta, pemaaf ketika disakiti, dan teguh ketika datang ujian. Jika ingin menjadi generasi terbaik, jangan hanya mengagumi Abu Bakar, tetapi berusahalah meniru jalan kebaikannya sesuai kemampuan.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ الْإِيمَانِ، وَحُسْنَ الِاتِّبَاعِ، وَرِقَّةَ الْقُلُوبِ، وَالْمُسَارَعَةَ فِي الْخَيْرَاتِ، وَاجْمَعْنَا مَعَ نَبِيِّكَ وَصَحْبِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى.ALLAHUMMARZUQNA SHIDQAL-IMAN, WA HUSNAL-ITTIBA’, WA RIQQATAL-QULUB, WAL-MUSARA’ATA FIL-KHAIRAT, WAJMA’NA MA’A NABIYYIKA WA SHAHBIHI FIL-FIRDAUSIL-A’LA.Artinya: “Ya Allah, karuniakan kepada kami kejujuran iman, kebaikan dalam mengikuti tuntunan, kelembutan hati, kesegeraan dalam melakukan kebaikan, dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu dan para sahabatnya di Firdaus yang tertinggi.” Referensi Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis perintah kepada Abu Bakar untuk mengimami manusia. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis tentang amal-amal Abu Bakar dalam satu hari. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis Abu Bakar dan pintu-pintu surga. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Wafatnya Rasulullah dan sikap Abu Bakar. SumberIslamQA. (2017, 10 Mei). Man ahabbu an-nas muthlaqan ila an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? IslamQAIslamQA. (2018, 13 November). Nubdzah yasirah ‘an husni khuluqi Abi Bakr wa ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. IslamQAIslamQA. (2022, 14 Desember). Al-ayat Al-Qur’aniyyah allati nazalat fi haqqi Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. IslamQAIslamweb. (n.d.). Bab fadhl Abi Bakr ba‘da An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. IslamwebIslamweb. (2006). ‘Uluw al-himmah fi hubbillah. IslamwebKementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Qur’an Kemenag. Kementerian Agama RIShamela.org. (n.d.). Ash-shahib wa al-khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq [PDF]. ShamelaTuasikal, M. A. (2015, 14 Agustus). Delapan pintu surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2021, 16 Januari). Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2026, 7 Agustus). Perang Tabuk: Ujian keimanan dan pengorbanan terbesar di masa Nabi ﷺ. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com — @ Kajian Malam Selasa Musholla Al-Amin Imogiri Timur Bantul Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq akhlak sahabat cinta Rasulullah generasi Muslim keutamaan abu bakar Khulafaur Rasyidin kisah Abu Bakar kisah sahabat kisah sahabat nabi sahabat nabi sirah sahabat teladan sahabat

Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Teladan bagi Generasi Muslim

Di tengah generasi yang mudah terpukau oleh popularitas, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari iman, kesetiaan, dan amal yang tulus. Ia adalah lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, sahabat beliau di dalam gua, orang yang dipercaya mengimami kaum Muslimin ketika Nabi ﷺ sakit, serta sosok yang berlomba dalam berbagai pintu kebaikan. Mengenal keutamaan Abu Bakar bukan sekadar membaca sejarah, melainkan menemukan standar keteladanan yang sangat dibutuhkan kaum Muslimin hari ini.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq? 1.1. 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ 1.2. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrah 1.3. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ 1.4. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan harta 1.5. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imam 1.6. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’an 1.7. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal saleh 1.8. 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganya 1.9. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺ 2. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinya 3. Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat ini 4. Nasihat terakhir  Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq?Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bernama Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka‘ab bin Sa‘d bin Taim bin Murrah Al-Qurasyi At-Taimi. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Murrah bin Ka‘ab. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah ﷺ, pendamping beliau ketika hijrah, serta khalifah pertama setelah wafatnya Nabi ﷺ.Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيفَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَهُوَ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ.“Diyakini keutamaan khalifah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah manusia terbaik dan terpilih setelah Nabi ﷺ.”Baca juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺPara sahabat sendiri telah mengetahui kedudukan Abu Bakar sejak Rasulullah ﷺ masih hidup. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ.“Kami memilih siapa yang terbaik di antara manusia pada zaman Nabi ﷺ. Kami memilih Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.” (HR. Bukhari, no. 3655)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan ketika ditanya oleh putranya, Muhammad bin Al-Hanafiyyah, bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Karena itu, Ahlusunah menetapkan bahwa sahabat paling utama setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Menariknya, keutamaan Abu Bakar tidak baru diakui setelah beliau menjadi khalifah. Kedudukannya telah dikenal dan diakui para sahabat ketika Nabi ﷺ masih berada di tengah-tengah mereka. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrahSalah satu kemuliaan terbesar Abu Bakar adalah dipilih menjadi pendamping Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah yang sangat berbahaya. Bahkan, persahabatan tersebut diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an.Allah Ta‘ala berfirman,ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“… sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)Yang dimaksud dengan “sahabatnya” dalam ayat tersebut adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sahabat Nabi ﷺ dalam ayat ini adalah Abu Bakar tanpa ada perselisihan.Inilah persahabatan sejati. Abu Bakar bukan hanya hadir ketika keadaan aman dan menyenangkan, tetapi menemani Rasulullah ﷺ ketika nyawa menjadi taruhan. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺAmr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «عَائِشَةُ». قُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: «أَبُوهَا».“Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Aku bertanya, “Kalau dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” (HR. Bukhari, no. 3662; Muslim, no. 2384)Hadis ini menunjukkan bahwa dari kalangan laki-laki, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda,لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي.“Seandainya aku menjadikan seseorang sebagai khalil, niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Namun, ia adalah saudara dan sahabatku.” (HR. Muslim, no. 2383)Khalil menunjukkan tingkat kecintaan yang sangat tinggi dan khusus. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan seorang manusia pun sebagai khalil karena Allah telah menjadikan beliau sebagai khalil-Nya, tetapi seandainya hal itu diberikan kepada seorang manusia, Abu Bakarlah orangnya. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan hartaMenjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ mengenang jasa Abu Bakar. Beliau bersabda,إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ.“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Abu Bakar memberikan dua hal besar untuk dakwah: dirinya dan hartanya. Ia tidak hanya mengatakan bahwa dirinya mencintai Nabi ﷺ, tetapi cintanya mempunyai bukti nyata.Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat berinfak, Umar radhiyallahu ‘anhu datang membawa setengah hartanya. Abu Bakar justru datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab,أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ.“Aku meninggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Umar pun mengakui bahwa ia tidak akan mampu mengungguli Abu Bakar dalam perkara tersebut. Riwayat ini dinilai hasan.Namun, hal ini bukan berarti setiap orang dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya hingga keluarga terlantar. Rasulullah ﷺ menerima tindakan Abu Bakar karena mengetahui kuatnya iman, kesabaran, dan tawakal beliau, sedangkan kepada sebagian sahabat lain beliau justru memerintahkan agar tetap menyisakan sebagian hartanya. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imamKetika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, beliau tetap memikirkan salat kaum Muslimin. Beliau bersabda,مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ.“Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat menyampaikan bahwa Abu Bakar adalah seorang yang berhati sangat lembut dan banyak menangis sehingga apabila berdiri menggantikan Rasulullah ﷺ, orang-orang bisa kesulitan mendengar bacaannya. Namun, Rasulullah ﷺ tetap menegaskan agar Abu Bakar yang menjadi imam.Perintah ini menunjukkan besarnya kepercayaan Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar pada salah satu urusan agama yang paling agung, yaitu memimpin salat kaum Muslimin. Para ulama juga melihat peristiwa ini sebagai salah satu isyarat kuat tentang kedudukan Abu Bakar dan kelayakannya memimpin umat setelah Rasulullah ﷺ. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’anAbu Bakar bukan orang yang keras hatinya meskipun dikenal tegas dalam membela agama. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan tentang ayahnya,وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَجُلًا بَكَّاءً، لَا يَمْلِكُ عَيْنَيْهِ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ.“Abu Bakar adalah seorang yang banyak menangis. Ia tidak mampu menahan kedua matanya ketika membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)Bahkan ketika Abu Bakar membaca Al-Qur’an dan salat di halaman rumahnya di Makkah, para wanita dan anak-anak kaum musyrikin berkumpul memperhatikannya. Mereka takjub melihat bacaan dan tangisnya, sampai para pemuka Quraisy merasa khawatir pengaruhnya akan masuk ke hati keluarga mereka.Keutamaan ini penting direnungkan. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya bacaan, hafalan, atau kemampuan menyampaikan tafsir, tetapi juga dari sejauh mana wahyu Allah melembutkan hati. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal salehSuatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat siapa yang sedang berpuasa. Abu Bakar menjawab, “Saya.” Beliau kemudian bertanya siapa yang telah mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit pada hari itu. Semua pertanyaan tersebut kembali dijawab oleh Abu Bakar, “Saya.”Rasulullah ﷺ kemudian bersabda,مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.“Tidaklah semua amalan itu terkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim, no. 1028)Abu Bakar tidak hanya unggul dalam satu bidang ibadah. Salat, puasa, sedekah, pelayanan sosial, dan perhatian kepada orang sakit berkumpul pada dirinya.Tidak mengherankan ketika Abu Bakar bertanya apakah ada orang yang kelak dipanggil dari seluruh pintu surga, Rasulullah ﷺ menjawab,نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ.“Ya. Aku berharap engkau termasuk di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 1897; Muslim, no. 1027) 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganyaUjian memaafkan menjadi jauh lebih berat ketika yang disakiti adalah anak sendiri. Misthah bin Utsatsah termasuk orang yang turut berbicara dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha. Padahal, Abu Bakar selama ini membantu nafkah Misthah karena hubungan kekerabatan dan kemiskinannya.Karena sangat marah, Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi memberikan bantuan kepadanya. Allah kemudian menurunkan firman-Nya,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)Mendengar ayat tersebut, Abu Bakar berkata,بَلَى وَاللَّهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي.“Benar, demi Allah. Sungguh, aku ingin Allah mengampuniku.”Abu Bakar kemudian kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan tidak memutus bantuannya.Inilah puncak kelapangan hati. Abu Bakar tidak menunggu perasaannya benar-benar nyaman untuk taat kepada ayat Allah. Begitu perintah Allah datang, ia tunduk dan mengalahkan sakit hatinya. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ wafat, kaum Muslimin mengalami guncangan luar biasa. Bahkan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sempat tidak mampu menerima kenyataan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat.Abu Bakar datang, memastikan wafatnya Rasulullah ﷺ, kemudian keluar menemui manusia. Dengan penuh keteguhan ia berkata,مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ.“Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”Lalu Abu Bakar membacakan firman Allah,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ“Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” (QS. Ali ‘Imran: 144)Pada saat banyak hati diliputi kesedihan, Abu Bakar mengembalikan umat kepada wahyu. Keteguhan itu menunjukkan bahwa lembutnya hati tidak berarti lemahnya jiwa. Orang yang menangis ketika membaca Al-Qur’an justru bisa menjadi orang yang paling kokoh ketika datang musibah besar. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinyaAbu Bakar Al-Muzani rahimahullah berkata,مَا فَاقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ بِصَوْمٍ وَلَا صَلَاةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ.“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ semata-mata dengan puasa atau salat, tetapi dengan sesuatu yang ada dalam hatinya.”Ibnu ‘Aliyyah rahimahullah menjelaskan,الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الْحُبُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالنَّصِيحَةُ فِي خَلْقِهِ.“Yang ada dalam hatinya adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keinginan memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya.”Jadi, rahasia Abu Bakar bukan sekadar banyaknya aktivitas. Ada iman, cinta kepada Allah, kejujuran, ketulusan, dan keinginan memberi manfaat yang menghidupkan seluruh amalnya.Baca juga: Karamah pada Abu Bakar dengan Makanan yang Banyak Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat iniPertama: jadilah orang yang benar ketika banyak orang mengikuti arus. Abu Bakar memiliki prinsip yang kokoh dalam membenarkan Rasulullah ﷺ. Generasi Muslim hari ini perlu belajar agar ukuran kebenaran bukan viral atau tidak viral, populer atau tidak populer, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu.Kedua: jadilah sahabat yang hadir ketika keadaan sulit. Abu Bakar menemani Nabi ﷺ bukan hanya ketika Islam telah menang, tetapi ketika hijrah penuh risiko. Persahabatan yang baik terlihat ketika seseorang membantu temannya tetap taat dan hadir saat ia membutuhkan pertolongan.Ketiga: dekatilah Al-Qur’an sampai hati ikut berubah. Abu Bakar membaca Al-Qur’an dengan hati yang hidup hingga air matanya sulit ditahan. Jangan sampai generasi hari ini mempunyai aplikasi Al-Qur’an di setiap gawai, tetapi hati tetap jauh dari petunjuknya.Keempat: berlombalah dalam amal, bukan sekadar pencapaian dunia. Dalam sehari, Abu Bakar dapat mengumpulkan puasa, mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit. Semangat kompetisi generasi Muslim selayaknya diarahkan pula kepada siapa yang paling cepat menolong, bersedekah, belajar agama, dan memberikan manfaat.Kelima: jadikan harta sebagai alat membela agama dan menolong manusia. Abu Bakar tidak diperbudak hartanya. Namun, teladannya harus diterapkan sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing sehingga infak tidak menyebabkan orang yang menjadi tanggungan justru terlantar.Keenam: jangan biarkan sakit hati menghalangi ketaatan. Abu Bakar mampu kembali membantu orang yang pernah ikut menyakiti kehormatan putrinya karena ia lebih menginginkan ampunan Allah daripada mempertahankan dendam. Ini sangat relevan pada zaman ketika konflik keluarga, pertemanan, dan pertengkaran di media sosial sering berlangsung panjang.Ketujuh: ketika krisis datang, kembalilah kepada wahyu. Saat wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang kaum Muslimin, Abu Bakar tidak larut dalam kepanikan. Ia mengembalikan manusia kepada Al-Qur’an dan membuat mereka kembali melihat kenyataan dengan iman.Kedelapan: jangan mengejar jabatan, tetapi siapkan kelayakan untuk memikul amanah. Abu Bakar tidak menjadi mulia karena mengejar kekuasaan. Kepercayaan, ilmu, ibadah, pengorbanan, kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, dan pengakuan para sahabat telah lebih dahulu berbicara tentang kualitas dirinya. Perintah Nabi ﷺ agar Abu Bakar mengimami kaum Muslimin pada hari-hari terakhir kehidupan beliau merupakan salah satu tanda kuat kedudukannya. Nasihat terakhirGenerasi sekarang mudah mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, pengaruh, kekayaan, atau jabatan. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa nilai seorang hamba justru bermula dari iman yang kokoh, hati yang hidup, dan pengorbanan yang ikhlas. Jadilah orang yang lembut ketika membaca wahyu, dermawan ketika memiliki harta, pemaaf ketika disakiti, dan teguh ketika datang ujian. Jika ingin menjadi generasi terbaik, jangan hanya mengagumi Abu Bakar, tetapi berusahalah meniru jalan kebaikannya sesuai kemampuan.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ الْإِيمَانِ، وَحُسْنَ الِاتِّبَاعِ، وَرِقَّةَ الْقُلُوبِ، وَالْمُسَارَعَةَ فِي الْخَيْرَاتِ، وَاجْمَعْنَا مَعَ نَبِيِّكَ وَصَحْبِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى.ALLAHUMMARZUQNA SHIDQAL-IMAN, WA HUSNAL-ITTIBA’, WA RIQQATAL-QULUB, WAL-MUSARA’ATA FIL-KHAIRAT, WAJMA’NA MA’A NABIYYIKA WA SHAHBIHI FIL-FIRDAUSIL-A’LA.Artinya: “Ya Allah, karuniakan kepada kami kejujuran iman, kebaikan dalam mengikuti tuntunan, kelembutan hati, kesegeraan dalam melakukan kebaikan, dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu dan para sahabatnya di Firdaus yang tertinggi.” Referensi Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis perintah kepada Abu Bakar untuk mengimami manusia. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis tentang amal-amal Abu Bakar dalam satu hari. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis Abu Bakar dan pintu-pintu surga. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Wafatnya Rasulullah dan sikap Abu Bakar. SumberIslamQA. (2017, 10 Mei). Man ahabbu an-nas muthlaqan ila an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? IslamQAIslamQA. (2018, 13 November). Nubdzah yasirah ‘an husni khuluqi Abi Bakr wa ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. IslamQAIslamQA. (2022, 14 Desember). Al-ayat Al-Qur’aniyyah allati nazalat fi haqqi Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. IslamQAIslamweb. (n.d.). Bab fadhl Abi Bakr ba‘da An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. IslamwebIslamweb. (2006). ‘Uluw al-himmah fi hubbillah. IslamwebKementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Qur’an Kemenag. Kementerian Agama RIShamela.org. (n.d.). Ash-shahib wa al-khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq [PDF]. ShamelaTuasikal, M. A. (2015, 14 Agustus). Delapan pintu surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2021, 16 Januari). Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2026, 7 Agustus). Perang Tabuk: Ujian keimanan dan pengorbanan terbesar di masa Nabi ﷺ. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com — @ Kajian Malam Selasa Musholla Al-Amin Imogiri Timur Bantul Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq akhlak sahabat cinta Rasulullah generasi Muslim keutamaan abu bakar Khulafaur Rasyidin kisah Abu Bakar kisah sahabat kisah sahabat nabi sahabat nabi sirah sahabat teladan sahabat
Di tengah generasi yang mudah terpukau oleh popularitas, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari iman, kesetiaan, dan amal yang tulus. Ia adalah lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, sahabat beliau di dalam gua, orang yang dipercaya mengimami kaum Muslimin ketika Nabi ﷺ sakit, serta sosok yang berlomba dalam berbagai pintu kebaikan. Mengenal keutamaan Abu Bakar bukan sekadar membaca sejarah, melainkan menemukan standar keteladanan yang sangat dibutuhkan kaum Muslimin hari ini.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq? 1.1. 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ 1.2. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrah 1.3. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ 1.4. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan harta 1.5. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imam 1.6. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’an 1.7. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal saleh 1.8. 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganya 1.9. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺ 2. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinya 3. Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat ini 4. Nasihat terakhir  Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq?Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bernama Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka‘ab bin Sa‘d bin Taim bin Murrah Al-Qurasyi At-Taimi. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Murrah bin Ka‘ab. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah ﷺ, pendamping beliau ketika hijrah, serta khalifah pertama setelah wafatnya Nabi ﷺ.Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيفَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَهُوَ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ.“Diyakini keutamaan khalifah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah manusia terbaik dan terpilih setelah Nabi ﷺ.”Baca juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺPara sahabat sendiri telah mengetahui kedudukan Abu Bakar sejak Rasulullah ﷺ masih hidup. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ.“Kami memilih siapa yang terbaik di antara manusia pada zaman Nabi ﷺ. Kami memilih Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.” (HR. Bukhari, no. 3655)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan ketika ditanya oleh putranya, Muhammad bin Al-Hanafiyyah, bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Karena itu, Ahlusunah menetapkan bahwa sahabat paling utama setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Menariknya, keutamaan Abu Bakar tidak baru diakui setelah beliau menjadi khalifah. Kedudukannya telah dikenal dan diakui para sahabat ketika Nabi ﷺ masih berada di tengah-tengah mereka. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrahSalah satu kemuliaan terbesar Abu Bakar adalah dipilih menjadi pendamping Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah yang sangat berbahaya. Bahkan, persahabatan tersebut diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an.Allah Ta‘ala berfirman,ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“… sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)Yang dimaksud dengan “sahabatnya” dalam ayat tersebut adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sahabat Nabi ﷺ dalam ayat ini adalah Abu Bakar tanpa ada perselisihan.Inilah persahabatan sejati. Abu Bakar bukan hanya hadir ketika keadaan aman dan menyenangkan, tetapi menemani Rasulullah ﷺ ketika nyawa menjadi taruhan. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺAmr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «عَائِشَةُ». قُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: «أَبُوهَا».“Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Aku bertanya, “Kalau dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” (HR. Bukhari, no. 3662; Muslim, no. 2384)Hadis ini menunjukkan bahwa dari kalangan laki-laki, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda,لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي.“Seandainya aku menjadikan seseorang sebagai khalil, niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Namun, ia adalah saudara dan sahabatku.” (HR. Muslim, no. 2383)Khalil menunjukkan tingkat kecintaan yang sangat tinggi dan khusus. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan seorang manusia pun sebagai khalil karena Allah telah menjadikan beliau sebagai khalil-Nya, tetapi seandainya hal itu diberikan kepada seorang manusia, Abu Bakarlah orangnya. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan hartaMenjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ mengenang jasa Abu Bakar. Beliau bersabda,إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ.“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Abu Bakar memberikan dua hal besar untuk dakwah: dirinya dan hartanya. Ia tidak hanya mengatakan bahwa dirinya mencintai Nabi ﷺ, tetapi cintanya mempunyai bukti nyata.Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat berinfak, Umar radhiyallahu ‘anhu datang membawa setengah hartanya. Abu Bakar justru datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab,أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ.“Aku meninggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Umar pun mengakui bahwa ia tidak akan mampu mengungguli Abu Bakar dalam perkara tersebut. Riwayat ini dinilai hasan.Namun, hal ini bukan berarti setiap orang dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya hingga keluarga terlantar. Rasulullah ﷺ menerima tindakan Abu Bakar karena mengetahui kuatnya iman, kesabaran, dan tawakal beliau, sedangkan kepada sebagian sahabat lain beliau justru memerintahkan agar tetap menyisakan sebagian hartanya. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imamKetika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, beliau tetap memikirkan salat kaum Muslimin. Beliau bersabda,مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ.“Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat menyampaikan bahwa Abu Bakar adalah seorang yang berhati sangat lembut dan banyak menangis sehingga apabila berdiri menggantikan Rasulullah ﷺ, orang-orang bisa kesulitan mendengar bacaannya. Namun, Rasulullah ﷺ tetap menegaskan agar Abu Bakar yang menjadi imam.Perintah ini menunjukkan besarnya kepercayaan Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar pada salah satu urusan agama yang paling agung, yaitu memimpin salat kaum Muslimin. Para ulama juga melihat peristiwa ini sebagai salah satu isyarat kuat tentang kedudukan Abu Bakar dan kelayakannya memimpin umat setelah Rasulullah ﷺ. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’anAbu Bakar bukan orang yang keras hatinya meskipun dikenal tegas dalam membela agama. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan tentang ayahnya,وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَجُلًا بَكَّاءً، لَا يَمْلِكُ عَيْنَيْهِ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ.“Abu Bakar adalah seorang yang banyak menangis. Ia tidak mampu menahan kedua matanya ketika membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)Bahkan ketika Abu Bakar membaca Al-Qur’an dan salat di halaman rumahnya di Makkah, para wanita dan anak-anak kaum musyrikin berkumpul memperhatikannya. Mereka takjub melihat bacaan dan tangisnya, sampai para pemuka Quraisy merasa khawatir pengaruhnya akan masuk ke hati keluarga mereka.Keutamaan ini penting direnungkan. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya bacaan, hafalan, atau kemampuan menyampaikan tafsir, tetapi juga dari sejauh mana wahyu Allah melembutkan hati. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal salehSuatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat siapa yang sedang berpuasa. Abu Bakar menjawab, “Saya.” Beliau kemudian bertanya siapa yang telah mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit pada hari itu. Semua pertanyaan tersebut kembali dijawab oleh Abu Bakar, “Saya.”Rasulullah ﷺ kemudian bersabda,مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.“Tidaklah semua amalan itu terkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim, no. 1028)Abu Bakar tidak hanya unggul dalam satu bidang ibadah. Salat, puasa, sedekah, pelayanan sosial, dan perhatian kepada orang sakit berkumpul pada dirinya.Tidak mengherankan ketika Abu Bakar bertanya apakah ada orang yang kelak dipanggil dari seluruh pintu surga, Rasulullah ﷺ menjawab,نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ.“Ya. Aku berharap engkau termasuk di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 1897; Muslim, no. 1027) 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganyaUjian memaafkan menjadi jauh lebih berat ketika yang disakiti adalah anak sendiri. Misthah bin Utsatsah termasuk orang yang turut berbicara dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha. Padahal, Abu Bakar selama ini membantu nafkah Misthah karena hubungan kekerabatan dan kemiskinannya.Karena sangat marah, Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi memberikan bantuan kepadanya. Allah kemudian menurunkan firman-Nya,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)Mendengar ayat tersebut, Abu Bakar berkata,بَلَى وَاللَّهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي.“Benar, demi Allah. Sungguh, aku ingin Allah mengampuniku.”Abu Bakar kemudian kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan tidak memutus bantuannya.Inilah puncak kelapangan hati. Abu Bakar tidak menunggu perasaannya benar-benar nyaman untuk taat kepada ayat Allah. Begitu perintah Allah datang, ia tunduk dan mengalahkan sakit hatinya. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ wafat, kaum Muslimin mengalami guncangan luar biasa. Bahkan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sempat tidak mampu menerima kenyataan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat.Abu Bakar datang, memastikan wafatnya Rasulullah ﷺ, kemudian keluar menemui manusia. Dengan penuh keteguhan ia berkata,مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ.“Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”Lalu Abu Bakar membacakan firman Allah,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ“Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” (QS. Ali ‘Imran: 144)Pada saat banyak hati diliputi kesedihan, Abu Bakar mengembalikan umat kepada wahyu. Keteguhan itu menunjukkan bahwa lembutnya hati tidak berarti lemahnya jiwa. Orang yang menangis ketika membaca Al-Qur’an justru bisa menjadi orang yang paling kokoh ketika datang musibah besar. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinyaAbu Bakar Al-Muzani rahimahullah berkata,مَا فَاقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ بِصَوْمٍ وَلَا صَلَاةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ.“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ semata-mata dengan puasa atau salat, tetapi dengan sesuatu yang ada dalam hatinya.”Ibnu ‘Aliyyah rahimahullah menjelaskan,الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الْحُبُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالنَّصِيحَةُ فِي خَلْقِهِ.“Yang ada dalam hatinya adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keinginan memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya.”Jadi, rahasia Abu Bakar bukan sekadar banyaknya aktivitas. Ada iman, cinta kepada Allah, kejujuran, ketulusan, dan keinginan memberi manfaat yang menghidupkan seluruh amalnya.Baca juga: Karamah pada Abu Bakar dengan Makanan yang Banyak Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat iniPertama: jadilah orang yang benar ketika banyak orang mengikuti arus. Abu Bakar memiliki prinsip yang kokoh dalam membenarkan Rasulullah ﷺ. Generasi Muslim hari ini perlu belajar agar ukuran kebenaran bukan viral atau tidak viral, populer atau tidak populer, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu.Kedua: jadilah sahabat yang hadir ketika keadaan sulit. Abu Bakar menemani Nabi ﷺ bukan hanya ketika Islam telah menang, tetapi ketika hijrah penuh risiko. Persahabatan yang baik terlihat ketika seseorang membantu temannya tetap taat dan hadir saat ia membutuhkan pertolongan.Ketiga: dekatilah Al-Qur’an sampai hati ikut berubah. Abu Bakar membaca Al-Qur’an dengan hati yang hidup hingga air matanya sulit ditahan. Jangan sampai generasi hari ini mempunyai aplikasi Al-Qur’an di setiap gawai, tetapi hati tetap jauh dari petunjuknya.Keempat: berlombalah dalam amal, bukan sekadar pencapaian dunia. Dalam sehari, Abu Bakar dapat mengumpulkan puasa, mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit. Semangat kompetisi generasi Muslim selayaknya diarahkan pula kepada siapa yang paling cepat menolong, bersedekah, belajar agama, dan memberikan manfaat.Kelima: jadikan harta sebagai alat membela agama dan menolong manusia. Abu Bakar tidak diperbudak hartanya. Namun, teladannya harus diterapkan sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing sehingga infak tidak menyebabkan orang yang menjadi tanggungan justru terlantar.Keenam: jangan biarkan sakit hati menghalangi ketaatan. Abu Bakar mampu kembali membantu orang yang pernah ikut menyakiti kehormatan putrinya karena ia lebih menginginkan ampunan Allah daripada mempertahankan dendam. Ini sangat relevan pada zaman ketika konflik keluarga, pertemanan, dan pertengkaran di media sosial sering berlangsung panjang.Ketujuh: ketika krisis datang, kembalilah kepada wahyu. Saat wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang kaum Muslimin, Abu Bakar tidak larut dalam kepanikan. Ia mengembalikan manusia kepada Al-Qur’an dan membuat mereka kembali melihat kenyataan dengan iman.Kedelapan: jangan mengejar jabatan, tetapi siapkan kelayakan untuk memikul amanah. Abu Bakar tidak menjadi mulia karena mengejar kekuasaan. Kepercayaan, ilmu, ibadah, pengorbanan, kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, dan pengakuan para sahabat telah lebih dahulu berbicara tentang kualitas dirinya. Perintah Nabi ﷺ agar Abu Bakar mengimami kaum Muslimin pada hari-hari terakhir kehidupan beliau merupakan salah satu tanda kuat kedudukannya. Nasihat terakhirGenerasi sekarang mudah mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, pengaruh, kekayaan, atau jabatan. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa nilai seorang hamba justru bermula dari iman yang kokoh, hati yang hidup, dan pengorbanan yang ikhlas. Jadilah orang yang lembut ketika membaca wahyu, dermawan ketika memiliki harta, pemaaf ketika disakiti, dan teguh ketika datang ujian. Jika ingin menjadi generasi terbaik, jangan hanya mengagumi Abu Bakar, tetapi berusahalah meniru jalan kebaikannya sesuai kemampuan.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ الْإِيمَانِ، وَحُسْنَ الِاتِّبَاعِ، وَرِقَّةَ الْقُلُوبِ، وَالْمُسَارَعَةَ فِي الْخَيْرَاتِ، وَاجْمَعْنَا مَعَ نَبِيِّكَ وَصَحْبِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى.ALLAHUMMARZUQNA SHIDQAL-IMAN, WA HUSNAL-ITTIBA’, WA RIQQATAL-QULUB, WAL-MUSARA’ATA FIL-KHAIRAT, WAJMA’NA MA’A NABIYYIKA WA SHAHBIHI FIL-FIRDAUSIL-A’LA.Artinya: “Ya Allah, karuniakan kepada kami kejujuran iman, kebaikan dalam mengikuti tuntunan, kelembutan hati, kesegeraan dalam melakukan kebaikan, dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu dan para sahabatnya di Firdaus yang tertinggi.” Referensi Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis perintah kepada Abu Bakar untuk mengimami manusia. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis tentang amal-amal Abu Bakar dalam satu hari. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis Abu Bakar dan pintu-pintu surga. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Wafatnya Rasulullah dan sikap Abu Bakar. SumberIslamQA. (2017, 10 Mei). Man ahabbu an-nas muthlaqan ila an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? IslamQAIslamQA. (2018, 13 November). Nubdzah yasirah ‘an husni khuluqi Abi Bakr wa ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. IslamQAIslamQA. (2022, 14 Desember). Al-ayat Al-Qur’aniyyah allati nazalat fi haqqi Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. IslamQAIslamweb. (n.d.). Bab fadhl Abi Bakr ba‘da An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. IslamwebIslamweb. (2006). ‘Uluw al-himmah fi hubbillah. IslamwebKementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Qur’an Kemenag. Kementerian Agama RIShamela.org. (n.d.). Ash-shahib wa al-khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq [PDF]. ShamelaTuasikal, M. A. (2015, 14 Agustus). Delapan pintu surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2021, 16 Januari). Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2026, 7 Agustus). Perang Tabuk: Ujian keimanan dan pengorbanan terbesar di masa Nabi ﷺ. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com — @ Kajian Malam Selasa Musholla Al-Amin Imogiri Timur Bantul Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq akhlak sahabat cinta Rasulullah generasi Muslim keutamaan abu bakar Khulafaur Rasyidin kisah Abu Bakar kisah sahabat kisah sahabat nabi sahabat nabi sirah sahabat teladan sahabat


Di tengah generasi yang mudah terpukau oleh popularitas, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari iman, kesetiaan, dan amal yang tulus. Ia adalah lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, sahabat beliau di dalam gua, orang yang dipercaya mengimami kaum Muslimin ketika Nabi ﷺ sakit, serta sosok yang berlomba dalam berbagai pintu kebaikan. Mengenal keutamaan Abu Bakar bukan sekadar membaca sejarah, melainkan menemukan standar keteladanan yang sangat dibutuhkan kaum Muslimin hari ini.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq? 1.1. 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ 1.2. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrah 1.3. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺ 1.4. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan harta 1.5. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imam 1.6. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’an 1.7. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal saleh 1.8. 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganya 1.9. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺ 2. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinya 3. Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat ini 4. Nasihat terakhir  Siapakah Abu Bakar Ash-Shiddiq?Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bernama Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka‘ab bin Sa‘d bin Taim bin Murrah Al-Qurasyi At-Taimi. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada Murrah bin Ka‘ab. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah ﷺ, pendamping beliau ketika hijrah, serta khalifah pertama setelah wafatnya Nabi ﷺ.Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,وَيُقَالُ بِفَضْلِ خَلِيفَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَهُوَ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَخْيَرُهُمْ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ.“Diyakini keutamaan khalifah Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah manusia terbaik dan terpilih setelah Nabi ﷺ.”Baca juga: Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq 1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺPara sahabat sendiri telah mengetahui kedudukan Abu Bakar sejak Rasulullah ﷺ masih hidup. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ.“Kami memilih siapa yang terbaik di antara manusia pada zaman Nabi ﷺ. Kami memilih Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman.” (HR. Bukhari, no. 3655)Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan ketika ditanya oleh putranya, Muhammad bin Al-Hanafiyyah, bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Karena itu, Ahlusunah menetapkan bahwa sahabat paling utama setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Menariknya, keutamaan Abu Bakar tidak baru diakui setelah beliau menjadi khalifah. Kedudukannya telah dikenal dan diakui para sahabat ketika Nabi ﷺ masih berada di tengah-tengah mereka. 2. Sahabat yang diabadikan Allah dalam kisah hijrahSalah satu kemuliaan terbesar Abu Bakar adalah dipilih menjadi pendamping Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah yang sangat berbahaya. Bahkan, persahabatan tersebut diabadikan Allah di dalam Al-Qur’an.Allah Ta‘ala berfirman,ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا“… sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)Yang dimaksud dengan “sahabatnya” dalam ayat tersebut adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sahabat Nabi ﷺ dalam ayat ini adalah Abu Bakar tanpa ada perselisihan.Inilah persahabatan sejati. Abu Bakar bukan hanya hadir ketika keadaan aman dan menyenangkan, tetapi menemani Rasulullah ﷺ ketika nyawa menjadi taruhan. 3. Lelaki yang paling dicintai Rasulullah ﷺAmr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «عَائِشَةُ». قُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: «أَبُوهَا».“Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Aku bertanya, “Kalau dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” (HR. Bukhari, no. 3662; Muslim, no. 2384)Hadis ini menunjukkan bahwa dari kalangan laki-laki, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ.Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda,لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي.“Seandainya aku menjadikan seseorang sebagai khalil, niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Namun, ia adalah saudara dan sahabatku.” (HR. Muslim, no. 2383)Khalil menunjukkan tingkat kecintaan yang sangat tinggi dan khusus. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan seorang manusia pun sebagai khalil karena Allah telah menjadikan beliau sebagai khalil-Nya, tetapi seandainya hal itu diberikan kepada seorang manusia, Abu Bakarlah orangnya. 4. Orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan hartaMenjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ mengenang jasa Abu Bakar. Beliau bersabda,إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ.“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Abu Bakar memberikan dua hal besar untuk dakwah: dirinya dan hartanya. Ia tidak hanya mengatakan bahwa dirinya mencintai Nabi ﷺ, tetapi cintanya mempunyai bukti nyata.Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat berinfak, Umar radhiyallahu ‘anhu datang membawa setengah hartanya. Abu Bakar justru datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab,أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ.“Aku meninggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”Umar pun mengakui bahwa ia tidak akan mampu mengungguli Abu Bakar dalam perkara tersebut. Riwayat ini dinilai hasan.Namun, hal ini bukan berarti setiap orang dianjurkan menyedekahkan seluruh hartanya hingga keluarga terlantar. Rasulullah ﷺ menerima tindakan Abu Bakar karena mengetahui kuatnya iman, kesabaran, dan tawakal beliau, sedangkan kepada sebagian sahabat lain beliau justru memerintahkan agar tetap menyisakan sebagian hartanya. 5. Dipercaya menggantikan Rasulullah ﷺ sebagai imamKetika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, beliau tetap memikirkan salat kaum Muslimin. Beliau bersabda,مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ.“Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat menyampaikan bahwa Abu Bakar adalah seorang yang berhati sangat lembut dan banyak menangis sehingga apabila berdiri menggantikan Rasulullah ﷺ, orang-orang bisa kesulitan mendengar bacaannya. Namun, Rasulullah ﷺ tetap menegaskan agar Abu Bakar yang menjadi imam.Perintah ini menunjukkan besarnya kepercayaan Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar pada salah satu urusan agama yang paling agung, yaitu memimpin salat kaum Muslimin. Para ulama juga melihat peristiwa ini sebagai salah satu isyarat kuat tentang kedudukan Abu Bakar dan kelayakannya memimpin umat setelah Rasulullah ﷺ. 6. Hatinya lembut ketika membaca Al-Qur’anAbu Bakar bukan orang yang keras hatinya meskipun dikenal tegas dalam membela agama. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan tentang ayahnya,وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَجُلًا بَكَّاءً، لَا يَمْلِكُ عَيْنَيْهِ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ.“Abu Bakar adalah seorang yang banyak menangis. Ia tidak mampu menahan kedua matanya ketika membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)Bahkan ketika Abu Bakar membaca Al-Qur’an dan salat di halaman rumahnya di Makkah, para wanita dan anak-anak kaum musyrikin berkumpul memperhatikannya. Mereka takjub melihat bacaan dan tangisnya, sampai para pemuka Quraisy merasa khawatir pengaruhnya akan masuk ke hati keluarga mereka.Keutamaan ini penting direnungkan. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya bacaan, hafalan, atau kemampuan menyampaikan tafsir, tetapi juga dari sejauh mana wahyu Allah melembutkan hati. 7. Tidak puas dengan satu jenis amal salehSuatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat siapa yang sedang berpuasa. Abu Bakar menjawab, “Saya.” Beliau kemudian bertanya siapa yang telah mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit pada hari itu. Semua pertanyaan tersebut kembali dijawab oleh Abu Bakar, “Saya.”Rasulullah ﷺ kemudian bersabda,مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.“Tidaklah semua amalan itu terkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim, no. 1028)Abu Bakar tidak hanya unggul dalam satu bidang ibadah. Salat, puasa, sedekah, pelayanan sosial, dan perhatian kepada orang sakit berkumpul pada dirinya.Tidak mengherankan ketika Abu Bakar bertanya apakah ada orang yang kelak dipanggil dari seluruh pintu surga, Rasulullah ﷺ menjawab,نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ.“Ya. Aku berharap engkau termasuk di antara mereka.” (HR. Bukhari, no. 1897; Muslim, no. 1027) 8. Mampu memaafkan orang yang menyakiti keluarganyaUjian memaafkan menjadi jauh lebih berat ketika yang disakiti adalah anak sendiri. Misthah bin Utsatsah termasuk orang yang turut berbicara dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha. Padahal, Abu Bakar selama ini membantu nafkah Misthah karena hubungan kekerabatan dan kemiskinannya.Karena sangat marah, Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi memberikan bantuan kepadanya. Allah kemudian menurunkan firman-Nya,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)Mendengar ayat tersebut, Abu Bakar berkata,بَلَى وَاللَّهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي.“Benar, demi Allah. Sungguh, aku ingin Allah mengampuniku.”Abu Bakar kemudian kembali memberikan nafkah kepada Misthah dan tidak memutus bantuannya.Inilah puncak kelapangan hati. Abu Bakar tidak menunggu perasaannya benar-benar nyaman untuk taat kepada ayat Allah. Begitu perintah Allah datang, ia tunduk dan mengalahkan sakit hatinya. 9. Teguh ketika umat terguncang oleh wafatnya Rasulullah ﷺKetika Rasulullah ﷺ wafat, kaum Muslimin mengalami guncangan luar biasa. Bahkan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sempat tidak mampu menerima kenyataan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat.Abu Bakar datang, memastikan wafatnya Rasulullah ﷺ, kemudian keluar menemui manusia. Dengan penuh keteguhan ia berkata,مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ.“Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”Lalu Abu Bakar membacakan firman Allah,وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ“Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” (QS. Ali ‘Imran: 144)Pada saat banyak hati diliputi kesedihan, Abu Bakar mengembalikan umat kepada wahyu. Keteguhan itu menunjukkan bahwa lembutnya hati tidak berarti lemahnya jiwa. Orang yang menangis ketika membaca Al-Qur’an justru bisa menjadi orang yang paling kokoh ketika datang musibah besar. Rahasia keunggulan Abu Bakar: ada sesuatu yang besar dalam hatinyaAbu Bakar Al-Muzani rahimahullah berkata,مَا فَاقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ بِصَوْمٍ وَلَا صَلَاةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ.“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak mengungguli para sahabat Muhammad ﷺ semata-mata dengan puasa atau salat, tetapi dengan sesuatu yang ada dalam hatinya.”Ibnu ‘Aliyyah rahimahullah menjelaskan,الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الْحُبُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالنَّصِيحَةُ فِي خَلْقِهِ.“Yang ada dalam hatinya adalah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keinginan memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya.”Jadi, rahasia Abu Bakar bukan sekadar banyaknya aktivitas. Ada iman, cinta kepada Allah, kejujuran, ketulusan, dan keinginan memberi manfaat yang menghidupkan seluruh amalnya.Baca juga: Karamah pada Abu Bakar dengan Makanan yang Banyak Delapan teladan Abu Bakar untuk generasi saat iniPertama: jadilah orang yang benar ketika banyak orang mengikuti arus. Abu Bakar memiliki prinsip yang kokoh dalam membenarkan Rasulullah ﷺ. Generasi Muslim hari ini perlu belajar agar ukuran kebenaran bukan viral atau tidak viral, populer atau tidak populer, melainkan kesesuaiannya dengan wahyu.Kedua: jadilah sahabat yang hadir ketika keadaan sulit. Abu Bakar menemani Nabi ﷺ bukan hanya ketika Islam telah menang, tetapi ketika hijrah penuh risiko. Persahabatan yang baik terlihat ketika seseorang membantu temannya tetap taat dan hadir saat ia membutuhkan pertolongan.Ketiga: dekatilah Al-Qur’an sampai hati ikut berubah. Abu Bakar membaca Al-Qur’an dengan hati yang hidup hingga air matanya sulit ditahan. Jangan sampai generasi hari ini mempunyai aplikasi Al-Qur’an di setiap gawai, tetapi hati tetap jauh dari petunjuknya.Keempat: berlombalah dalam amal, bukan sekadar pencapaian dunia. Dalam sehari, Abu Bakar dapat mengumpulkan puasa, mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit. Semangat kompetisi generasi Muslim selayaknya diarahkan pula kepada siapa yang paling cepat menolong, bersedekah, belajar agama, dan memberikan manfaat.Kelima: jadikan harta sebagai alat membela agama dan menolong manusia. Abu Bakar tidak diperbudak hartanya. Namun, teladannya harus diterapkan sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing sehingga infak tidak menyebabkan orang yang menjadi tanggungan justru terlantar.Keenam: jangan biarkan sakit hati menghalangi ketaatan. Abu Bakar mampu kembali membantu orang yang pernah ikut menyakiti kehormatan putrinya karena ia lebih menginginkan ampunan Allah daripada mempertahankan dendam. Ini sangat relevan pada zaman ketika konflik keluarga, pertemanan, dan pertengkaran di media sosial sering berlangsung panjang.Ketujuh: ketika krisis datang, kembalilah kepada wahyu. Saat wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang kaum Muslimin, Abu Bakar tidak larut dalam kepanikan. Ia mengembalikan manusia kepada Al-Qur’an dan membuat mereka kembali melihat kenyataan dengan iman.Kedelapan: jangan mengejar jabatan, tetapi siapkan kelayakan untuk memikul amanah. Abu Bakar tidak menjadi mulia karena mengejar kekuasaan. Kepercayaan, ilmu, ibadah, pengorbanan, kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, dan pengakuan para sahabat telah lebih dahulu berbicara tentang kualitas dirinya. Perintah Nabi ﷺ agar Abu Bakar mengimami kaum Muslimin pada hari-hari terakhir kehidupan beliau merupakan salah satu tanda kuat kedudukannya. Nasihat terakhirGenerasi sekarang mudah mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, pengaruh, kekayaan, atau jabatan. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengajarkan bahwa nilai seorang hamba justru bermula dari iman yang kokoh, hati yang hidup, dan pengorbanan yang ikhlas. Jadilah orang yang lembut ketika membaca wahyu, dermawan ketika memiliki harta, pemaaf ketika disakiti, dan teguh ketika datang ujian. Jika ingin menjadi generasi terbaik, jangan hanya mengagumi Abu Bakar, tetapi berusahalah meniru jalan kebaikannya sesuai kemampuan.اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ الْإِيمَانِ، وَحُسْنَ الِاتِّبَاعِ، وَرِقَّةَ الْقُلُوبِ، وَالْمُسَارَعَةَ فِي الْخَيْرَاتِ، وَاجْمَعْنَا مَعَ نَبِيِّكَ وَصَحْبِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى.ALLAHUMMARZUQNA SHIDQAL-IMAN, WA HUSNAL-ITTIBA’, WA RIQQATAL-QULUB, WAL-MUSARA’ATA FIL-KHAIRAT, WAJMA’NA MA’A NABIYYIKA WA SHAHBIHI FIL-FIRDAUSIL-A’LA.Artinya: “Ya Allah, karuniakan kepada kami kejujuran iman, kebaikan dalam mengikuti tuntunan, kelembutan hati, kesegeraan dalam melakukan kebaikan, dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu dan para sahabatnya di Firdaus yang tertinggi.” Referensi Ad-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis perintah kepada Abu Bakar untuk mengimami manusia. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis tentang amal-amal Abu Bakar dalam satu hari. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Hadis Abu Bakar dan pintu-pintu surga. SumberAd-Durar As-Saniyyah. (n.d.). Al-Mawsu‘ah al-haditsiyyah: Wafatnya Rasulullah dan sikap Abu Bakar. SumberIslamQA. (2017, 10 Mei). Man ahabbu an-nas muthlaqan ila an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? IslamQAIslamQA. (2018, 13 November). Nubdzah yasirah ‘an husni khuluqi Abi Bakr wa ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. IslamQAIslamQA. (2022, 14 Desember). Al-ayat Al-Qur’aniyyah allati nazalat fi haqqi Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. IslamQAIslamweb. (n.d.). Bab fadhl Abi Bakr ba‘da An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. IslamwebIslamweb. (2006). ‘Uluw al-himmah fi hubbillah. IslamwebKementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Qur’an Kemenag. Kementerian Agama RIShamela.org. (n.d.). Ash-shahib wa al-khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq [PDF]. ShamelaTuasikal, M. A. (2015, 14 Agustus). Delapan pintu surga. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2021, 16 Januari). Syarhus Sunnah: Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rumaysho.Com. Rumaysho.ComTuasikal, M. A. (2026, 7 Agustus). Perang Tabuk: Ujian keimanan dan pengorbanan terbesar di masa Nabi ﷺ. Rumaysho.Com. Rumaysho.Com — @ Kajian Malam Selasa Musholla Al-Amin Imogiri Timur Bantul Jogja, 7 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsabu bakar ash-shiddiq akhlak sahabat cinta Rasulullah generasi Muslim keutamaan abu bakar Khulafaur Rasyidin kisah Abu Bakar kisah sahabat kisah sahabat nabi sahabat nabi sirah sahabat teladan sahabat

Ibadah Apa yang Paling Utama? Ini Jawaban Ibnul Qayyim

Banyak orang bertanya, ibadah apa yang paling utama di sisi Allah? Apakah shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, sedekah, menuntut ilmu, membantu orang lain, ataukah berzikir? Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawaban yang sangat mendalam: ibadah terbaik tidak selalu sama, tetapi mengikuti apa yang paling Allah kehendaki dari kita pada waktu tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Manakah Amalan yang Paling Utama? 2. Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugas 2.1. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihad 2.2. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluarga 2.3. 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikir 2.4. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatian 2.5. 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azan 2.6. 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaah 2.7. 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantu 2.8. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadabur 2.9. 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikir 2.10. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihad 2.11. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmu 2.12. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnya 2.13. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauh 2.14. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utama 3. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutan 3.1. Inti pelajaran  Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan Tugas Manakah Amalan yang Paling Utama?Di antara penjelasan paling lengkap tentang amal yang paling utama adalah perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab Madārij as-Sālikīn, beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang ibadah yang paling utama, menjelaskan alasan dari masing-masing pendapat, kemudian menerangkan pendapat yang lebih kuat dengan penjelasan yang sesuai dengan pentingnya masalah ini.Secara ringkas beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” memiliki empat pandangan tentang ibadah manakah yang paling utama, paling bermanfaat, dan paling layak untuk didahulukan. Karena itu, mereka terbagi menjadi empat kelompok.ـ الصِّنْفُ الْأَوَّلُ: عِنْدَهُمْ أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا أَشَقُّهَا عَلَى النُّفُوسِ وَأَصْعَبُهَا.Kelompok pertama: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang paling berat dan paling sulit bagi jiwa.Artinya, menurut kelompok ini, semakin berat suatu ibadah untuk dilakukan oleh seseorang, semakin besar pula keutamaannya.Baca juga: Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahalaـ الصِّنْفُ الثَّانِي: قَالُوا: أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ التَّجَرُّدُ وَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا.Kelompok kedua: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melepaskan ketergantungan hati dari dunia dan menjalani kehidupan dengan zuhud.Maksudnya, mereka memandang bahwa menjauhkan hati dari kecintaan berlebihan kepada dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat merupakan bentuk ibadah yang paling utama.ـ الصِّنْفُ الثَّالِثُ: رَأَوْا أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا مَا كَانَ فِيهِ نَفْعٌ مُتَعَدٍّ، فَرَأَوْهُ أَفْضَلَ مِنْ ذِي النَّفْعِ الْقَاصِرِ، فَرَأَوْا خِدْمَةَ الْفُقَرَاءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَصَالِحِ النَّاسِ، وَقَضَاءَ حَوَائِجِهِمْ، وَمُسَاعَدَتَهُمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالنَّفْعِ أَفْضَلَ.Kelompok ketiga: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Mereka menilai amal seperti ini lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya hanya kembali kepada pelakunya sendiri.Karena itu, mereka memandang bahwa melayani orang miskin, membantu kemaslahatan masyarakat, memenuhi kebutuhan orang lain, serta menolong mereka dengan harta, kedudukan, tenaga, dan berbagai bentuk manfaat lainnya adalah amal yang lebih utama.Baca juga: Amalan Qaashir dan Muta’addi Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugasـ الصِّنْفُ الرَّابِعُ: قَالُوا: إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ.Kelompok keempat: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihadفَأَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ فِي وَقْتِ الْجِهَادِ الْجِهَادُ، وَإِنْ آلَ إِلَى تَرْكِ الْأَوْرَادِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ، بَلْ وَمِنْ تَرْكِ إِتْمَامِ صَلَاةِ الْفَرْضِ كَمَا فِي حَالَةِ الْأَمْنِ.Ibadah yang paling utama ketika tiba waktu jihad adalah berjihad, meskipun hal itu menyebabkan seseorang meninggalkan wirid rutinnya, seperti shalat malam dan puasa sunnah pada siang hari. Bahkan, dalam keadaan tertentu, ia boleh tidak menyempurnakan tata cara shalat wajib sebagaimana ketika kondisi aman.Maksudnya, bentuk ibadah yang utama dapat berubah sesuai keadaan. Ketika ada tuntutan syariat yang lebih besar, amal sunnah yang biasa dilakukan dapat ditinggalkan. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluargaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ حُضُورِ الضَّيْفِ مَثَلًا الْقِيَامُ بِحَقِّهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِهِ عَنِ الْوِرْدِ الْمُسْتَحَبِّ، وَكَذَلِكَ فِي أَدَاءِ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَالْأَهْلِ.Ketika tamu datang, misalnya, yang lebih utama adalah menunaikan hak tamu dan menyibukkan diri untuk melayaninya daripada meneruskan wirid sunnah. Demikian pula ketika tiba waktunya menunaikan hak istri dan keluarga.Jadi, melayani keluarga pada saat mereka membutuhkan bukan berarti meninggalkan ibadah. Justru pada keadaan tertentu, itulah ibadah yang lebih Allah kehendaki.Baca juga: Hadits Arbain #15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ السَّحَرِ الِاشْتِغَالُ بِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالِاسْتِغْفَارِ.Adapun pada waktu sahur, yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan beristigfar. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatianوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ اسْتِرْشَادِ الطَّالِبِ وَتَعْلِيمِ الْجَاهِلِ الْإِقْبَالُ عَلَى تَعْلِيمِهِ وَالِاشْتِغَالُ بِهِ.Ketika seorang penuntut ilmu membutuhkan bimbingan atau orang yang belum tahu perlu diajari, yang lebih utama adalah menghadap kepadanya, mengajarinya, dan memberikan perhatian kepadanya.Baca juga: Keutamaan Mengajarkan Ilmu 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azanوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الْأَذَانِ تَرْكُ مَا هُوَ فِيهِ مِنْ وِرْدِهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ.Ketika azan berkumandang, yang lebih utama adalah meninggalkan sementara wirid yang sedang dikerjakan lalu menyibukkan diri dengan menjawab azan muazin.Baca juga: Menjawab Azan dan Keutamaannya 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaahوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْجِدُّ وَالنُّصْحُ فِي إِيقَاعِهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ، وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، وَالْخُرُوجُ إِلَى الْجَامِعِ، وَإِنْ بَعُدَ كَانَ أَفْضَلَ.Ketika tiba waktu shalat lima waktu, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh menunaikannya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, bersegera melaksanakannya pada awal waktu, serta berangkat menuju masjid untuk berjamaah. Bahkan, jika masjid itu cukup jauh, pergi ke sana bisa lebih utama.Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah di Masjid 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantuوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ ضَرُورَةِ الْمُحْتَاجِ إِلَى الْمُسَاعَدَةِ بِالْجَاهِ أَوِ الْبَدَنِ أَوِ الْمَالِ الِاشْتِغَالُ بِمُسَاعَدَتِهِ وَإِغَاثَةِ لَهْفَتِهِ، وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَوْرَادِكَ وَخَلْوَتِكَ.Ketika ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan melalui kedudukan, tenaga, atau harta kita, yang lebih utama adalah menyibukkan diri untuk membantunya dan meringankan kesulitannya. Amal ini didahulukan daripada wirid sunnah dan kegiatan menyendiri untuk beribadah. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadaburوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ جَمْعِيَّةُ الْقَلْبِ وَالْهِمَّةِ عَلَى تَدَبُّرِهِ وَتَفَهُّمِهِ، حَتَّى كَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَاطِبُكَ بِهِ.Ketika membaca Al-Qur’an, yang paling utama adalah menghadirkan hati dan memusatkan seluruh perhatian untuk mentadaburi serta memahami kandungannya, seakan-akan Allah Ta‘ala sedang berbicara langsung kepadamu melalui ayat-ayat itu.Baca juga: Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa? 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ الِاجْتِهَادُ فِي التَّضَرُّعِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ، دُونَ الصَّوْمِ الْمُضْعِفِ عَنْ ذَلِكَ.Ketika sedang wukuf di Arafah, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh merendahkan diri kepada Allah, memperbanyak doa dan zikir. Karena itu, bagi orang yang sedang berhaji, tidak berpuasa lebih utama jika puasa membuatnya lemah sehingga tidak maksimal dalam berdoa dan berzikir. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihadوَالْأَفْضَلُ فِي أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّعَبُّدِ، لَا سِيَّمَا التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ، فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْجِهَادِ غَيْرِ الْمُتَعَيِّنِ.Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang lebih utama adalah memperbanyak ibadah, terutama takbir, tahlil, dan tahmid. Amal-amal tersebut lebih utama daripada jihad yang tidak menjadi kewajiban individual. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmuوَالْأَفْضَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ لُزُومُ الْمَسْجِدِ فِيهِ، وَالْخَلْوَةُ وَالِاعْتِكَافُ، دُونَ التَّصَدِّي لِمُخَالَطَةِ النَّاسِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِمْ، حَتَّى إِنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الْإِقْبَالِ عَلَى تَعْلِيمِهِمُ الْعِلْمَ وَإِقْرَائِهِمُ الْقُرْآنَ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ.Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yang lebih utama adalah menetap di masjid, mengurangi kesibukan dengan manusia, serta melakukan iktikaf. Bahkan, menurut banyak ulama, pada waktu tersebut iktikaf lebih utama daripada menyibukkan diri mengajarkan ilmu dan mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang lain. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnyaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ مَرَضِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ أَوْ مَوْتِهِ عِيَادَتُهُ، وَحُضُورُ جَنَازَتِهِ، وَتَشْيِيعُهُ، وَتَقْدِيمُ ذَلِكَ عَلَى خَلْوَتِكَ وَجَمْعِيَّتِكَ.Ketika saudara Muslim kita sakit atau meninggal dunia, yang lebih utama adalah menjenguknya ketika sakit, menghadiri jenazahnya, dan mengantarkannya hingga pemakaman. Hal itu didahulukan daripada menyendiri untuk beribadah dan memusatkan diri pada amalan pribadi. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauhوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ نُزُولِ النَّوَازِلِ وَأَذِيَّةِ النَّاسِ لَكَ أَدَاءُ وَاجِبِ الصَّبْرِ مَعَ خِلْطَتِكَ بِهِمْ دُونَ الْهَرَبِ مِنْهُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ لِيَصْبِرَ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُمْ وَلَا يُؤْذُونَهُ.Ketika terjadi berbagai cobaan dan kita mendapatkan gangguan dari manusia, yang lebih utama adalah menunaikan kewajiban bersabar sambil tetap berinteraksi dengan mereka, bukan segera melarikan diri dan menjauh.Sebab, seorang mukmin yang bergaul dengan manusia lalu bersabar menghadapi gangguan mereka lebih utama daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia sehingga ia tidak mendapatkan gangguan dari mereka. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utamaوَالْأَفْضَلُ خِلْطَتُهُمْ فِي الْخَيْرِ، فَهِيَ خَيْرٌ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ فِيهِ، وَاعْتِزَالُهُمْ فِي الشَّرِّ هُوَ أَفْضَلُ مِنْ خِلْطَتِهِمْ فِيهِ، فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ إِذَا خَالَطَهُمْ أَزَالَهُ أَوْ قَلَّلَهُ فَخِلْطَتُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَلُ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ.Bergaul bersama manusia dalam kebaikan lebih utama daripada menjauhi mereka ketika sedang melakukan kebaikan. Sebaliknya, menjauhi mereka ketika mereka berada dalam keburukan lebih utama daripada ikut bercampur bersama mereka dalam keburukan tersebut.Namun, apabila seseorang mengetahui bahwa dengan berada di tengah mereka ia mampu menghilangkan atau setidaknya mengurangi keburukan itu, maka bergaul bersama mereka pada saat tersebut lebih utama daripada menjauh. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutanفَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ.Maka, amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ.Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh (at-ta‘abbud al-muthlaq). Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.فَمَتَى خَرَجَ أَحَدُهُمْ عَنِ النَّوْعِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ مِنَ الْعِبَادَةِ وَفَارَقَهُ، يَرَى نَفْسَهُ كَأَنَّهُ قَدْ نَقَصَ وَتَرَكَ عِبَادَتَهُ، فَهُوَ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى وَجْهٍ وَاحِدٍ.Ketika orang yang penghambaan dirinya terikat pada satu bentuk ibadah tertentu harus meninggalkan ibadah tersebut, ia merasa seakan-akan ibadahnya telah berkurang atau bahkan seolah ia telah meninggalkan ibadah.Hal itu karena ia terbiasa beribadah kepada Allah hanya melalui satu bentuk ibadah tertentu.وَصَاحِبُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ لَيْسَ لَهُ غَرَضٌ فِي تَعَبُّدٍ بِعَيْنِهِ يُؤْثِرُهُ عَلَى غَيْرِهِ، بَلْ غَرَضُهُ تَتَبُّعُ مَرْضَاةِ اللَّهِ تَعَالَى أَيْنَ كَانَتْ.Adapun orang yang memiliki penghambaan secara menyeluruh tidak terpaku pada satu jenis ibadah tertentu yang selalu ia dahulukan daripada yang lainnya.Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun keridaan itu berada.فَمَدَارُ تَعَبُّدِهِ عَلَيْهَا، فَهُوَ لَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا فِي مَنَازِلِ الْعُبُودِيَّةِ، كُلَّمَا رُفِعَتْ لَهُ مَنْزِلَةٌ عَمِلَ عَلَى سَيْرِهِ إِلَيْهَا وَاشْتَغَلَ بِهَا حَتَّى تَلُوحَ لَهُ مَنْزِلَةٌ أُخْرَى.Poros seluruh ibadahnya adalah mencari keridaan Allah. Karena itu, ia terus berpindah dari satu bentuk penghambaan menuju bentuk penghambaan yang lain.Setiap kali muncul di hadapannya satu bentuk penghambaan yang harus ditunaikan, ia segera mengerjakannya dan menempuh jalan menuju amal tersebut. Ia terus melakukannya sampai muncul bentuk penghambaan lainnya yang lebih sesuai dengan keadaan saat itu.فَهَذَا دَأْبُهُ فِي السَّيْرِ حَتَّى يَنْتَهِيَ سَيْرُهُ.Demikianlah perjalanan hidupnya sebagai seorang hamba sampai perjalanan hidupnya berakhir.فَإِنْ رَأَيْتَ الْعُلَمَاءَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْعُبَّادَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُجَاهِدِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الذَّاكِرِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُتَصَدِّقِينَ الْمُحْسِنِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَرْبَابَ الْجَمْعِيَّةِ وَعُكُوفِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ.Jika engkau melihat para ulama, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang tekun beribadah, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat para mujahid, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang banyak berzikir, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang gemar bersedekah dan berbuat baik, engkau pun akan menjumpainya bersama mereka.Dan jika engkau melihat orang-orang yang memusatkan hati mereka kepada Allah, engkau pun akan mendapatinya bersama mereka.فَهَذَا هُوَ الْعَبْدُ الْمُطْلَقُ، الَّذِي لَمْ تَمْلِكْهُ الرُّسُومُ، وَلَمْ تُقَيِّدْهُ الْقُيُودُ، وَلَمْ يَكُنْ عَمَلُهُ عَلَى مُرَادِ نَفْسِهِ، وَمَا فِيهِ لَذَّتُهَا وَرَاحَتُهَا مِنَ الْعِبَادَاتِ، بَلْ هُوَ عَلَى مُرَادِ رَبِّهِ، وَلَوْ كَانَتْ رَاحَةُ نَفْسِهِ وَلَذَّتُهَا فِي سِوَاهُ.Inilah hamba yang memiliki penghambaan secara menyeluruh. Ia tidak dikuasai oleh pola dan kebiasaan ibadah tertentu, serta tidak terikat oleh bentuk-bentuk tertentu saja.Ia tidak beramal mengikuti apa yang paling disukai oleh dirinya sendiri atau memilih ibadah yang paling memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi jiwanya.Sebaliknya, ia beramal sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rabbnya, meskipun kenyamanan dan kesenangan dirinya sebenarnya terdapat pada amal yang lain.فَهَذَا هُوَ الْمُتَحَقِّقُ بِـ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ حَقًّا، الْقَائِمُ بِهِمَا صِدْقًا.Inilah orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah,﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ia mewujudkan kedua makna tersebut dengan sebenar-benarnya dan menjalankannya dengan penuh kejujuran.لْبَسُهُ مَا تَهَيَّأَ، وَمَأْكَلُهُ مَا تَيَسَّرَ، وَاشْتِغَالُهُ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِوَقْتِهِ، وَمَجْلِسُهُ حَيْثُ انْتَهَى بِهِ الْمَكَانُ وَوَجَدَهُ خَالِيًا.Pakaiannya adalah apa yang tersedia. Makanannya adalah apa yang mudah didapat. Kesibukannya adalah mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada setiap waktu sesuai tuntutan waktunya.Ia duduk di tempat mana pun yang tersedia baginya tanpa sibuk mencari kedudukan atau tempat khusus.لَا تَمْلِكُهُ إِشَارَةٌ، وَلَا يَتَعَبَّدُهُ قَيْدٌ، وَلَا يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ رَسْمٌ، حُرٌّ مُجَرَّدٌ، دَائِرٌ مَعَ الْأَمْرِ حَيْثُ دَارَ، يَدِينُ بِدِينِ الْآمِرِ أَنَّى تَوَجَّهَتْ رَكَائِبُهُ.Ia tidak dikuasai oleh simbol-simbol tertentu, tidak diperbudak oleh ikatan kebiasaan tertentu, dan tidak dikuasai oleh ritual atau pola ibadah tertentu.Ia bebas dari keinginan dirinya sendiri. Ia selalu mengikuti perintah Allah ke mana pun perintah itu mengarah.Agamanya adalah menaati Sang Pemberi perintah, ke mana pun perjalanan penghambaan membawanya.إِلَى آخِرِ كَلَامِهِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. اهـ.Demikian sebagian perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah hingga akhir penjelasan beliau. Inti pelajaranDari penjelasan Ibnul Qayyim ini dapat dipahami bahwa ibadah terbaik tidak selalu berupa satu amal yang sama dalam setiap keadaan. Ibadah terbaik adalah amal yang paling Allah cintai dan paling dituntut pada waktu tersebut.Karena itu, orang yang memahami penghambaan kepada Allah tidak hanya bertanya, “Amal apa yang paling banyak pahalanya?” Ia juga bertanya, “Apa yang Allah tuntut dariku saat ini?”Ada waktunya shalat lebih didahulukan. Ada waktunya belajar atau mengajar. Ada waktunya melayani tamu. Ada waktunya membantu orang yang kesusahan. Ada waktunya mengurus pasangan dan keluarga. Ada pula waktu untuk berkhalwat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.Dengan demikian, kesempurnaan penghambaan bukan hanya banyaknya amal, tetapi ketepatan memilih amal sesuai tuntutan syariat, waktu, dan keadaan.Baca juga: Prioritas Muslimah: Ibadah kepada Allah, Lalu Suami —- Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amal terbaik faedah dari Ibnul Qayyim fikih prioritas ibadah terbaik ibnul qayyim keridaan Allah Madarijus Salikin manajemen waktu Muslim nasihat ibnul qayyim penghambaan kepada Allah prioritas ibadah

Ibadah Apa yang Paling Utama? Ini Jawaban Ibnul Qayyim

Banyak orang bertanya, ibadah apa yang paling utama di sisi Allah? Apakah shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, sedekah, menuntut ilmu, membantu orang lain, ataukah berzikir? Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawaban yang sangat mendalam: ibadah terbaik tidak selalu sama, tetapi mengikuti apa yang paling Allah kehendaki dari kita pada waktu tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Manakah Amalan yang Paling Utama? 2. Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugas 2.1. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihad 2.2. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluarga 2.3. 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikir 2.4. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatian 2.5. 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azan 2.6. 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaah 2.7. 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantu 2.8. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadabur 2.9. 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikir 2.10. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihad 2.11. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmu 2.12. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnya 2.13. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauh 2.14. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utama 3. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutan 3.1. Inti pelajaran  Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan Tugas Manakah Amalan yang Paling Utama?Di antara penjelasan paling lengkap tentang amal yang paling utama adalah perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab Madārij as-Sālikīn, beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang ibadah yang paling utama, menjelaskan alasan dari masing-masing pendapat, kemudian menerangkan pendapat yang lebih kuat dengan penjelasan yang sesuai dengan pentingnya masalah ini.Secara ringkas beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” memiliki empat pandangan tentang ibadah manakah yang paling utama, paling bermanfaat, dan paling layak untuk didahulukan. Karena itu, mereka terbagi menjadi empat kelompok.ـ الصِّنْفُ الْأَوَّلُ: عِنْدَهُمْ أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا أَشَقُّهَا عَلَى النُّفُوسِ وَأَصْعَبُهَا.Kelompok pertama: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang paling berat dan paling sulit bagi jiwa.Artinya, menurut kelompok ini, semakin berat suatu ibadah untuk dilakukan oleh seseorang, semakin besar pula keutamaannya.Baca juga: Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahalaـ الصِّنْفُ الثَّانِي: قَالُوا: أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ التَّجَرُّدُ وَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا.Kelompok kedua: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melepaskan ketergantungan hati dari dunia dan menjalani kehidupan dengan zuhud.Maksudnya, mereka memandang bahwa menjauhkan hati dari kecintaan berlebihan kepada dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat merupakan bentuk ibadah yang paling utama.ـ الصِّنْفُ الثَّالِثُ: رَأَوْا أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا مَا كَانَ فِيهِ نَفْعٌ مُتَعَدٍّ، فَرَأَوْهُ أَفْضَلَ مِنْ ذِي النَّفْعِ الْقَاصِرِ، فَرَأَوْا خِدْمَةَ الْفُقَرَاءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَصَالِحِ النَّاسِ، وَقَضَاءَ حَوَائِجِهِمْ، وَمُسَاعَدَتَهُمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالنَّفْعِ أَفْضَلَ.Kelompok ketiga: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Mereka menilai amal seperti ini lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya hanya kembali kepada pelakunya sendiri.Karena itu, mereka memandang bahwa melayani orang miskin, membantu kemaslahatan masyarakat, memenuhi kebutuhan orang lain, serta menolong mereka dengan harta, kedudukan, tenaga, dan berbagai bentuk manfaat lainnya adalah amal yang lebih utama.Baca juga: Amalan Qaashir dan Muta’addi Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugasـ الصِّنْفُ الرَّابِعُ: قَالُوا: إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ.Kelompok keempat: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihadفَأَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ فِي وَقْتِ الْجِهَادِ الْجِهَادُ، وَإِنْ آلَ إِلَى تَرْكِ الْأَوْرَادِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ، بَلْ وَمِنْ تَرْكِ إِتْمَامِ صَلَاةِ الْفَرْضِ كَمَا فِي حَالَةِ الْأَمْنِ.Ibadah yang paling utama ketika tiba waktu jihad adalah berjihad, meskipun hal itu menyebabkan seseorang meninggalkan wirid rutinnya, seperti shalat malam dan puasa sunnah pada siang hari. Bahkan, dalam keadaan tertentu, ia boleh tidak menyempurnakan tata cara shalat wajib sebagaimana ketika kondisi aman.Maksudnya, bentuk ibadah yang utama dapat berubah sesuai keadaan. Ketika ada tuntutan syariat yang lebih besar, amal sunnah yang biasa dilakukan dapat ditinggalkan. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluargaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ حُضُورِ الضَّيْفِ مَثَلًا الْقِيَامُ بِحَقِّهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِهِ عَنِ الْوِرْدِ الْمُسْتَحَبِّ، وَكَذَلِكَ فِي أَدَاءِ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَالْأَهْلِ.Ketika tamu datang, misalnya, yang lebih utama adalah menunaikan hak tamu dan menyibukkan diri untuk melayaninya daripada meneruskan wirid sunnah. Demikian pula ketika tiba waktunya menunaikan hak istri dan keluarga.Jadi, melayani keluarga pada saat mereka membutuhkan bukan berarti meninggalkan ibadah. Justru pada keadaan tertentu, itulah ibadah yang lebih Allah kehendaki.Baca juga: Hadits Arbain #15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ السَّحَرِ الِاشْتِغَالُ بِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالِاسْتِغْفَارِ.Adapun pada waktu sahur, yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan beristigfar. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatianوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ اسْتِرْشَادِ الطَّالِبِ وَتَعْلِيمِ الْجَاهِلِ الْإِقْبَالُ عَلَى تَعْلِيمِهِ وَالِاشْتِغَالُ بِهِ.Ketika seorang penuntut ilmu membutuhkan bimbingan atau orang yang belum tahu perlu diajari, yang lebih utama adalah menghadap kepadanya, mengajarinya, dan memberikan perhatian kepadanya.Baca juga: Keutamaan Mengajarkan Ilmu 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azanوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الْأَذَانِ تَرْكُ مَا هُوَ فِيهِ مِنْ وِرْدِهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ.Ketika azan berkumandang, yang lebih utama adalah meninggalkan sementara wirid yang sedang dikerjakan lalu menyibukkan diri dengan menjawab azan muazin.Baca juga: Menjawab Azan dan Keutamaannya 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaahوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْجِدُّ وَالنُّصْحُ فِي إِيقَاعِهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ، وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، وَالْخُرُوجُ إِلَى الْجَامِعِ، وَإِنْ بَعُدَ كَانَ أَفْضَلَ.Ketika tiba waktu shalat lima waktu, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh menunaikannya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, bersegera melaksanakannya pada awal waktu, serta berangkat menuju masjid untuk berjamaah. Bahkan, jika masjid itu cukup jauh, pergi ke sana bisa lebih utama.Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah di Masjid 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantuوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ ضَرُورَةِ الْمُحْتَاجِ إِلَى الْمُسَاعَدَةِ بِالْجَاهِ أَوِ الْبَدَنِ أَوِ الْمَالِ الِاشْتِغَالُ بِمُسَاعَدَتِهِ وَإِغَاثَةِ لَهْفَتِهِ، وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَوْرَادِكَ وَخَلْوَتِكَ.Ketika ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan melalui kedudukan, tenaga, atau harta kita, yang lebih utama adalah menyibukkan diri untuk membantunya dan meringankan kesulitannya. Amal ini didahulukan daripada wirid sunnah dan kegiatan menyendiri untuk beribadah. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadaburوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ جَمْعِيَّةُ الْقَلْبِ وَالْهِمَّةِ عَلَى تَدَبُّرِهِ وَتَفَهُّمِهِ، حَتَّى كَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَاطِبُكَ بِهِ.Ketika membaca Al-Qur’an, yang paling utama adalah menghadirkan hati dan memusatkan seluruh perhatian untuk mentadaburi serta memahami kandungannya, seakan-akan Allah Ta‘ala sedang berbicara langsung kepadamu melalui ayat-ayat itu.Baca juga: Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa? 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ الِاجْتِهَادُ فِي التَّضَرُّعِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ، دُونَ الصَّوْمِ الْمُضْعِفِ عَنْ ذَلِكَ.Ketika sedang wukuf di Arafah, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh merendahkan diri kepada Allah, memperbanyak doa dan zikir. Karena itu, bagi orang yang sedang berhaji, tidak berpuasa lebih utama jika puasa membuatnya lemah sehingga tidak maksimal dalam berdoa dan berzikir. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihadوَالْأَفْضَلُ فِي أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّعَبُّدِ، لَا سِيَّمَا التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ، فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْجِهَادِ غَيْرِ الْمُتَعَيِّنِ.Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang lebih utama adalah memperbanyak ibadah, terutama takbir, tahlil, dan tahmid. Amal-amal tersebut lebih utama daripada jihad yang tidak menjadi kewajiban individual. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmuوَالْأَفْضَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ لُزُومُ الْمَسْجِدِ فِيهِ، وَالْخَلْوَةُ وَالِاعْتِكَافُ، دُونَ التَّصَدِّي لِمُخَالَطَةِ النَّاسِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِمْ، حَتَّى إِنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الْإِقْبَالِ عَلَى تَعْلِيمِهِمُ الْعِلْمَ وَإِقْرَائِهِمُ الْقُرْآنَ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ.Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yang lebih utama adalah menetap di masjid, mengurangi kesibukan dengan manusia, serta melakukan iktikaf. Bahkan, menurut banyak ulama, pada waktu tersebut iktikaf lebih utama daripada menyibukkan diri mengajarkan ilmu dan mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang lain. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnyaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ مَرَضِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ أَوْ مَوْتِهِ عِيَادَتُهُ، وَحُضُورُ جَنَازَتِهِ، وَتَشْيِيعُهُ، وَتَقْدِيمُ ذَلِكَ عَلَى خَلْوَتِكَ وَجَمْعِيَّتِكَ.Ketika saudara Muslim kita sakit atau meninggal dunia, yang lebih utama adalah menjenguknya ketika sakit, menghadiri jenazahnya, dan mengantarkannya hingga pemakaman. Hal itu didahulukan daripada menyendiri untuk beribadah dan memusatkan diri pada amalan pribadi. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauhوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ نُزُولِ النَّوَازِلِ وَأَذِيَّةِ النَّاسِ لَكَ أَدَاءُ وَاجِبِ الصَّبْرِ مَعَ خِلْطَتِكَ بِهِمْ دُونَ الْهَرَبِ مِنْهُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ لِيَصْبِرَ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُمْ وَلَا يُؤْذُونَهُ.Ketika terjadi berbagai cobaan dan kita mendapatkan gangguan dari manusia, yang lebih utama adalah menunaikan kewajiban bersabar sambil tetap berinteraksi dengan mereka, bukan segera melarikan diri dan menjauh.Sebab, seorang mukmin yang bergaul dengan manusia lalu bersabar menghadapi gangguan mereka lebih utama daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia sehingga ia tidak mendapatkan gangguan dari mereka. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utamaوَالْأَفْضَلُ خِلْطَتُهُمْ فِي الْخَيْرِ، فَهِيَ خَيْرٌ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ فِيهِ، وَاعْتِزَالُهُمْ فِي الشَّرِّ هُوَ أَفْضَلُ مِنْ خِلْطَتِهِمْ فِيهِ، فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ إِذَا خَالَطَهُمْ أَزَالَهُ أَوْ قَلَّلَهُ فَخِلْطَتُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَلُ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ.Bergaul bersama manusia dalam kebaikan lebih utama daripada menjauhi mereka ketika sedang melakukan kebaikan. Sebaliknya, menjauhi mereka ketika mereka berada dalam keburukan lebih utama daripada ikut bercampur bersama mereka dalam keburukan tersebut.Namun, apabila seseorang mengetahui bahwa dengan berada di tengah mereka ia mampu menghilangkan atau setidaknya mengurangi keburukan itu, maka bergaul bersama mereka pada saat tersebut lebih utama daripada menjauh. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutanفَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ.Maka, amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ.Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh (at-ta‘abbud al-muthlaq). Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.فَمَتَى خَرَجَ أَحَدُهُمْ عَنِ النَّوْعِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ مِنَ الْعِبَادَةِ وَفَارَقَهُ، يَرَى نَفْسَهُ كَأَنَّهُ قَدْ نَقَصَ وَتَرَكَ عِبَادَتَهُ، فَهُوَ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى وَجْهٍ وَاحِدٍ.Ketika orang yang penghambaan dirinya terikat pada satu bentuk ibadah tertentu harus meninggalkan ibadah tersebut, ia merasa seakan-akan ibadahnya telah berkurang atau bahkan seolah ia telah meninggalkan ibadah.Hal itu karena ia terbiasa beribadah kepada Allah hanya melalui satu bentuk ibadah tertentu.وَصَاحِبُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ لَيْسَ لَهُ غَرَضٌ فِي تَعَبُّدٍ بِعَيْنِهِ يُؤْثِرُهُ عَلَى غَيْرِهِ، بَلْ غَرَضُهُ تَتَبُّعُ مَرْضَاةِ اللَّهِ تَعَالَى أَيْنَ كَانَتْ.Adapun orang yang memiliki penghambaan secara menyeluruh tidak terpaku pada satu jenis ibadah tertentu yang selalu ia dahulukan daripada yang lainnya.Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun keridaan itu berada.فَمَدَارُ تَعَبُّدِهِ عَلَيْهَا، فَهُوَ لَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا فِي مَنَازِلِ الْعُبُودِيَّةِ، كُلَّمَا رُفِعَتْ لَهُ مَنْزِلَةٌ عَمِلَ عَلَى سَيْرِهِ إِلَيْهَا وَاشْتَغَلَ بِهَا حَتَّى تَلُوحَ لَهُ مَنْزِلَةٌ أُخْرَى.Poros seluruh ibadahnya adalah mencari keridaan Allah. Karena itu, ia terus berpindah dari satu bentuk penghambaan menuju bentuk penghambaan yang lain.Setiap kali muncul di hadapannya satu bentuk penghambaan yang harus ditunaikan, ia segera mengerjakannya dan menempuh jalan menuju amal tersebut. Ia terus melakukannya sampai muncul bentuk penghambaan lainnya yang lebih sesuai dengan keadaan saat itu.فَهَذَا دَأْبُهُ فِي السَّيْرِ حَتَّى يَنْتَهِيَ سَيْرُهُ.Demikianlah perjalanan hidupnya sebagai seorang hamba sampai perjalanan hidupnya berakhir.فَإِنْ رَأَيْتَ الْعُلَمَاءَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْعُبَّادَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُجَاهِدِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الذَّاكِرِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُتَصَدِّقِينَ الْمُحْسِنِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَرْبَابَ الْجَمْعِيَّةِ وَعُكُوفِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ.Jika engkau melihat para ulama, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang tekun beribadah, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat para mujahid, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang banyak berzikir, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang gemar bersedekah dan berbuat baik, engkau pun akan menjumpainya bersama mereka.Dan jika engkau melihat orang-orang yang memusatkan hati mereka kepada Allah, engkau pun akan mendapatinya bersama mereka.فَهَذَا هُوَ الْعَبْدُ الْمُطْلَقُ، الَّذِي لَمْ تَمْلِكْهُ الرُّسُومُ، وَلَمْ تُقَيِّدْهُ الْقُيُودُ، وَلَمْ يَكُنْ عَمَلُهُ عَلَى مُرَادِ نَفْسِهِ، وَمَا فِيهِ لَذَّتُهَا وَرَاحَتُهَا مِنَ الْعِبَادَاتِ، بَلْ هُوَ عَلَى مُرَادِ رَبِّهِ، وَلَوْ كَانَتْ رَاحَةُ نَفْسِهِ وَلَذَّتُهَا فِي سِوَاهُ.Inilah hamba yang memiliki penghambaan secara menyeluruh. Ia tidak dikuasai oleh pola dan kebiasaan ibadah tertentu, serta tidak terikat oleh bentuk-bentuk tertentu saja.Ia tidak beramal mengikuti apa yang paling disukai oleh dirinya sendiri atau memilih ibadah yang paling memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi jiwanya.Sebaliknya, ia beramal sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rabbnya, meskipun kenyamanan dan kesenangan dirinya sebenarnya terdapat pada amal yang lain.فَهَذَا هُوَ الْمُتَحَقِّقُ بِـ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ حَقًّا، الْقَائِمُ بِهِمَا صِدْقًا.Inilah orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah,﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ia mewujudkan kedua makna tersebut dengan sebenar-benarnya dan menjalankannya dengan penuh kejujuran.لْبَسُهُ مَا تَهَيَّأَ، وَمَأْكَلُهُ مَا تَيَسَّرَ، وَاشْتِغَالُهُ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِوَقْتِهِ، وَمَجْلِسُهُ حَيْثُ انْتَهَى بِهِ الْمَكَانُ وَوَجَدَهُ خَالِيًا.Pakaiannya adalah apa yang tersedia. Makanannya adalah apa yang mudah didapat. Kesibukannya adalah mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada setiap waktu sesuai tuntutan waktunya.Ia duduk di tempat mana pun yang tersedia baginya tanpa sibuk mencari kedudukan atau tempat khusus.لَا تَمْلِكُهُ إِشَارَةٌ، وَلَا يَتَعَبَّدُهُ قَيْدٌ، وَلَا يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ رَسْمٌ، حُرٌّ مُجَرَّدٌ، دَائِرٌ مَعَ الْأَمْرِ حَيْثُ دَارَ، يَدِينُ بِدِينِ الْآمِرِ أَنَّى تَوَجَّهَتْ رَكَائِبُهُ.Ia tidak dikuasai oleh simbol-simbol tertentu, tidak diperbudak oleh ikatan kebiasaan tertentu, dan tidak dikuasai oleh ritual atau pola ibadah tertentu.Ia bebas dari keinginan dirinya sendiri. Ia selalu mengikuti perintah Allah ke mana pun perintah itu mengarah.Agamanya adalah menaati Sang Pemberi perintah, ke mana pun perjalanan penghambaan membawanya.إِلَى آخِرِ كَلَامِهِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. اهـ.Demikian sebagian perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah hingga akhir penjelasan beliau. Inti pelajaranDari penjelasan Ibnul Qayyim ini dapat dipahami bahwa ibadah terbaik tidak selalu berupa satu amal yang sama dalam setiap keadaan. Ibadah terbaik adalah amal yang paling Allah cintai dan paling dituntut pada waktu tersebut.Karena itu, orang yang memahami penghambaan kepada Allah tidak hanya bertanya, “Amal apa yang paling banyak pahalanya?” Ia juga bertanya, “Apa yang Allah tuntut dariku saat ini?”Ada waktunya shalat lebih didahulukan. Ada waktunya belajar atau mengajar. Ada waktunya melayani tamu. Ada waktunya membantu orang yang kesusahan. Ada waktunya mengurus pasangan dan keluarga. Ada pula waktu untuk berkhalwat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.Dengan demikian, kesempurnaan penghambaan bukan hanya banyaknya amal, tetapi ketepatan memilih amal sesuai tuntutan syariat, waktu, dan keadaan.Baca juga: Prioritas Muslimah: Ibadah kepada Allah, Lalu Suami —- Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amal terbaik faedah dari Ibnul Qayyim fikih prioritas ibadah terbaik ibnul qayyim keridaan Allah Madarijus Salikin manajemen waktu Muslim nasihat ibnul qayyim penghambaan kepada Allah prioritas ibadah
Banyak orang bertanya, ibadah apa yang paling utama di sisi Allah? Apakah shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, sedekah, menuntut ilmu, membantu orang lain, ataukah berzikir? Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawaban yang sangat mendalam: ibadah terbaik tidak selalu sama, tetapi mengikuti apa yang paling Allah kehendaki dari kita pada waktu tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Manakah Amalan yang Paling Utama? 2. Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugas 2.1. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihad 2.2. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluarga 2.3. 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikir 2.4. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatian 2.5. 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azan 2.6. 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaah 2.7. 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantu 2.8. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadabur 2.9. 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikir 2.10. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihad 2.11. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmu 2.12. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnya 2.13. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauh 2.14. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utama 3. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutan 3.1. Inti pelajaran  Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan Tugas Manakah Amalan yang Paling Utama?Di antara penjelasan paling lengkap tentang amal yang paling utama adalah perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab Madārij as-Sālikīn, beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang ibadah yang paling utama, menjelaskan alasan dari masing-masing pendapat, kemudian menerangkan pendapat yang lebih kuat dengan penjelasan yang sesuai dengan pentingnya masalah ini.Secara ringkas beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” memiliki empat pandangan tentang ibadah manakah yang paling utama, paling bermanfaat, dan paling layak untuk didahulukan. Karena itu, mereka terbagi menjadi empat kelompok.ـ الصِّنْفُ الْأَوَّلُ: عِنْدَهُمْ أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا أَشَقُّهَا عَلَى النُّفُوسِ وَأَصْعَبُهَا.Kelompok pertama: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang paling berat dan paling sulit bagi jiwa.Artinya, menurut kelompok ini, semakin berat suatu ibadah untuk dilakukan oleh seseorang, semakin besar pula keutamaannya.Baca juga: Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahalaـ الصِّنْفُ الثَّانِي: قَالُوا: أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ التَّجَرُّدُ وَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا.Kelompok kedua: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melepaskan ketergantungan hati dari dunia dan menjalani kehidupan dengan zuhud.Maksudnya, mereka memandang bahwa menjauhkan hati dari kecintaan berlebihan kepada dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat merupakan bentuk ibadah yang paling utama.ـ الصِّنْفُ الثَّالِثُ: رَأَوْا أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا مَا كَانَ فِيهِ نَفْعٌ مُتَعَدٍّ، فَرَأَوْهُ أَفْضَلَ مِنْ ذِي النَّفْعِ الْقَاصِرِ، فَرَأَوْا خِدْمَةَ الْفُقَرَاءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَصَالِحِ النَّاسِ، وَقَضَاءَ حَوَائِجِهِمْ، وَمُسَاعَدَتَهُمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالنَّفْعِ أَفْضَلَ.Kelompok ketiga: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Mereka menilai amal seperti ini lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya hanya kembali kepada pelakunya sendiri.Karena itu, mereka memandang bahwa melayani orang miskin, membantu kemaslahatan masyarakat, memenuhi kebutuhan orang lain, serta menolong mereka dengan harta, kedudukan, tenaga, dan berbagai bentuk manfaat lainnya adalah amal yang lebih utama.Baca juga: Amalan Qaashir dan Muta’addi Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugasـ الصِّنْفُ الرَّابِعُ: قَالُوا: إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ.Kelompok keempat: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihadفَأَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ فِي وَقْتِ الْجِهَادِ الْجِهَادُ، وَإِنْ آلَ إِلَى تَرْكِ الْأَوْرَادِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ، بَلْ وَمِنْ تَرْكِ إِتْمَامِ صَلَاةِ الْفَرْضِ كَمَا فِي حَالَةِ الْأَمْنِ.Ibadah yang paling utama ketika tiba waktu jihad adalah berjihad, meskipun hal itu menyebabkan seseorang meninggalkan wirid rutinnya, seperti shalat malam dan puasa sunnah pada siang hari. Bahkan, dalam keadaan tertentu, ia boleh tidak menyempurnakan tata cara shalat wajib sebagaimana ketika kondisi aman.Maksudnya, bentuk ibadah yang utama dapat berubah sesuai keadaan. Ketika ada tuntutan syariat yang lebih besar, amal sunnah yang biasa dilakukan dapat ditinggalkan. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluargaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ حُضُورِ الضَّيْفِ مَثَلًا الْقِيَامُ بِحَقِّهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِهِ عَنِ الْوِرْدِ الْمُسْتَحَبِّ، وَكَذَلِكَ فِي أَدَاءِ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَالْأَهْلِ.Ketika tamu datang, misalnya, yang lebih utama adalah menunaikan hak tamu dan menyibukkan diri untuk melayaninya daripada meneruskan wirid sunnah. Demikian pula ketika tiba waktunya menunaikan hak istri dan keluarga.Jadi, melayani keluarga pada saat mereka membutuhkan bukan berarti meninggalkan ibadah. Justru pada keadaan tertentu, itulah ibadah yang lebih Allah kehendaki.Baca juga: Hadits Arbain #15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ السَّحَرِ الِاشْتِغَالُ بِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالِاسْتِغْفَارِ.Adapun pada waktu sahur, yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan beristigfar. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatianوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ اسْتِرْشَادِ الطَّالِبِ وَتَعْلِيمِ الْجَاهِلِ الْإِقْبَالُ عَلَى تَعْلِيمِهِ وَالِاشْتِغَالُ بِهِ.Ketika seorang penuntut ilmu membutuhkan bimbingan atau orang yang belum tahu perlu diajari, yang lebih utama adalah menghadap kepadanya, mengajarinya, dan memberikan perhatian kepadanya.Baca juga: Keutamaan Mengajarkan Ilmu 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azanوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الْأَذَانِ تَرْكُ مَا هُوَ فِيهِ مِنْ وِرْدِهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ.Ketika azan berkumandang, yang lebih utama adalah meninggalkan sementara wirid yang sedang dikerjakan lalu menyibukkan diri dengan menjawab azan muazin.Baca juga: Menjawab Azan dan Keutamaannya 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaahوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْجِدُّ وَالنُّصْحُ فِي إِيقَاعِهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ، وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، وَالْخُرُوجُ إِلَى الْجَامِعِ، وَإِنْ بَعُدَ كَانَ أَفْضَلَ.Ketika tiba waktu shalat lima waktu, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh menunaikannya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, bersegera melaksanakannya pada awal waktu, serta berangkat menuju masjid untuk berjamaah. Bahkan, jika masjid itu cukup jauh, pergi ke sana bisa lebih utama.Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah di Masjid 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantuوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ ضَرُورَةِ الْمُحْتَاجِ إِلَى الْمُسَاعَدَةِ بِالْجَاهِ أَوِ الْبَدَنِ أَوِ الْمَالِ الِاشْتِغَالُ بِمُسَاعَدَتِهِ وَإِغَاثَةِ لَهْفَتِهِ، وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَوْرَادِكَ وَخَلْوَتِكَ.Ketika ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan melalui kedudukan, tenaga, atau harta kita, yang lebih utama adalah menyibukkan diri untuk membantunya dan meringankan kesulitannya. Amal ini didahulukan daripada wirid sunnah dan kegiatan menyendiri untuk beribadah. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadaburوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ جَمْعِيَّةُ الْقَلْبِ وَالْهِمَّةِ عَلَى تَدَبُّرِهِ وَتَفَهُّمِهِ، حَتَّى كَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَاطِبُكَ بِهِ.Ketika membaca Al-Qur’an, yang paling utama adalah menghadirkan hati dan memusatkan seluruh perhatian untuk mentadaburi serta memahami kandungannya, seakan-akan Allah Ta‘ala sedang berbicara langsung kepadamu melalui ayat-ayat itu.Baca juga: Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa? 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ الِاجْتِهَادُ فِي التَّضَرُّعِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ، دُونَ الصَّوْمِ الْمُضْعِفِ عَنْ ذَلِكَ.Ketika sedang wukuf di Arafah, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh merendahkan diri kepada Allah, memperbanyak doa dan zikir. Karena itu, bagi orang yang sedang berhaji, tidak berpuasa lebih utama jika puasa membuatnya lemah sehingga tidak maksimal dalam berdoa dan berzikir. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihadوَالْأَفْضَلُ فِي أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّعَبُّدِ، لَا سِيَّمَا التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ، فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْجِهَادِ غَيْرِ الْمُتَعَيِّنِ.Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang lebih utama adalah memperbanyak ibadah, terutama takbir, tahlil, dan tahmid. Amal-amal tersebut lebih utama daripada jihad yang tidak menjadi kewajiban individual. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmuوَالْأَفْضَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ لُزُومُ الْمَسْجِدِ فِيهِ، وَالْخَلْوَةُ وَالِاعْتِكَافُ، دُونَ التَّصَدِّي لِمُخَالَطَةِ النَّاسِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِمْ، حَتَّى إِنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الْإِقْبَالِ عَلَى تَعْلِيمِهِمُ الْعِلْمَ وَإِقْرَائِهِمُ الْقُرْآنَ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ.Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yang lebih utama adalah menetap di masjid, mengurangi kesibukan dengan manusia, serta melakukan iktikaf. Bahkan, menurut banyak ulama, pada waktu tersebut iktikaf lebih utama daripada menyibukkan diri mengajarkan ilmu dan mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang lain. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnyaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ مَرَضِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ أَوْ مَوْتِهِ عِيَادَتُهُ، وَحُضُورُ جَنَازَتِهِ، وَتَشْيِيعُهُ، وَتَقْدِيمُ ذَلِكَ عَلَى خَلْوَتِكَ وَجَمْعِيَّتِكَ.Ketika saudara Muslim kita sakit atau meninggal dunia, yang lebih utama adalah menjenguknya ketika sakit, menghadiri jenazahnya, dan mengantarkannya hingga pemakaman. Hal itu didahulukan daripada menyendiri untuk beribadah dan memusatkan diri pada amalan pribadi. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauhوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ نُزُولِ النَّوَازِلِ وَأَذِيَّةِ النَّاسِ لَكَ أَدَاءُ وَاجِبِ الصَّبْرِ مَعَ خِلْطَتِكَ بِهِمْ دُونَ الْهَرَبِ مِنْهُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ لِيَصْبِرَ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُمْ وَلَا يُؤْذُونَهُ.Ketika terjadi berbagai cobaan dan kita mendapatkan gangguan dari manusia, yang lebih utama adalah menunaikan kewajiban bersabar sambil tetap berinteraksi dengan mereka, bukan segera melarikan diri dan menjauh.Sebab, seorang mukmin yang bergaul dengan manusia lalu bersabar menghadapi gangguan mereka lebih utama daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia sehingga ia tidak mendapatkan gangguan dari mereka. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utamaوَالْأَفْضَلُ خِلْطَتُهُمْ فِي الْخَيْرِ، فَهِيَ خَيْرٌ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ فِيهِ، وَاعْتِزَالُهُمْ فِي الشَّرِّ هُوَ أَفْضَلُ مِنْ خِلْطَتِهِمْ فِيهِ، فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ إِذَا خَالَطَهُمْ أَزَالَهُ أَوْ قَلَّلَهُ فَخِلْطَتُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَلُ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ.Bergaul bersama manusia dalam kebaikan lebih utama daripada menjauhi mereka ketika sedang melakukan kebaikan. Sebaliknya, menjauhi mereka ketika mereka berada dalam keburukan lebih utama daripada ikut bercampur bersama mereka dalam keburukan tersebut.Namun, apabila seseorang mengetahui bahwa dengan berada di tengah mereka ia mampu menghilangkan atau setidaknya mengurangi keburukan itu, maka bergaul bersama mereka pada saat tersebut lebih utama daripada menjauh. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutanفَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ.Maka, amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ.Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh (at-ta‘abbud al-muthlaq). Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.فَمَتَى خَرَجَ أَحَدُهُمْ عَنِ النَّوْعِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ مِنَ الْعِبَادَةِ وَفَارَقَهُ، يَرَى نَفْسَهُ كَأَنَّهُ قَدْ نَقَصَ وَتَرَكَ عِبَادَتَهُ، فَهُوَ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى وَجْهٍ وَاحِدٍ.Ketika orang yang penghambaan dirinya terikat pada satu bentuk ibadah tertentu harus meninggalkan ibadah tersebut, ia merasa seakan-akan ibadahnya telah berkurang atau bahkan seolah ia telah meninggalkan ibadah.Hal itu karena ia terbiasa beribadah kepada Allah hanya melalui satu bentuk ibadah tertentu.وَصَاحِبُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ لَيْسَ لَهُ غَرَضٌ فِي تَعَبُّدٍ بِعَيْنِهِ يُؤْثِرُهُ عَلَى غَيْرِهِ، بَلْ غَرَضُهُ تَتَبُّعُ مَرْضَاةِ اللَّهِ تَعَالَى أَيْنَ كَانَتْ.Adapun orang yang memiliki penghambaan secara menyeluruh tidak terpaku pada satu jenis ibadah tertentu yang selalu ia dahulukan daripada yang lainnya.Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun keridaan itu berada.فَمَدَارُ تَعَبُّدِهِ عَلَيْهَا، فَهُوَ لَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا فِي مَنَازِلِ الْعُبُودِيَّةِ، كُلَّمَا رُفِعَتْ لَهُ مَنْزِلَةٌ عَمِلَ عَلَى سَيْرِهِ إِلَيْهَا وَاشْتَغَلَ بِهَا حَتَّى تَلُوحَ لَهُ مَنْزِلَةٌ أُخْرَى.Poros seluruh ibadahnya adalah mencari keridaan Allah. Karena itu, ia terus berpindah dari satu bentuk penghambaan menuju bentuk penghambaan yang lain.Setiap kali muncul di hadapannya satu bentuk penghambaan yang harus ditunaikan, ia segera mengerjakannya dan menempuh jalan menuju amal tersebut. Ia terus melakukannya sampai muncul bentuk penghambaan lainnya yang lebih sesuai dengan keadaan saat itu.فَهَذَا دَأْبُهُ فِي السَّيْرِ حَتَّى يَنْتَهِيَ سَيْرُهُ.Demikianlah perjalanan hidupnya sebagai seorang hamba sampai perjalanan hidupnya berakhir.فَإِنْ رَأَيْتَ الْعُلَمَاءَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْعُبَّادَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُجَاهِدِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الذَّاكِرِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُتَصَدِّقِينَ الْمُحْسِنِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَرْبَابَ الْجَمْعِيَّةِ وَعُكُوفِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ.Jika engkau melihat para ulama, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang tekun beribadah, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat para mujahid, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang banyak berzikir, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang gemar bersedekah dan berbuat baik, engkau pun akan menjumpainya bersama mereka.Dan jika engkau melihat orang-orang yang memusatkan hati mereka kepada Allah, engkau pun akan mendapatinya bersama mereka.فَهَذَا هُوَ الْعَبْدُ الْمُطْلَقُ، الَّذِي لَمْ تَمْلِكْهُ الرُّسُومُ، وَلَمْ تُقَيِّدْهُ الْقُيُودُ، وَلَمْ يَكُنْ عَمَلُهُ عَلَى مُرَادِ نَفْسِهِ، وَمَا فِيهِ لَذَّتُهَا وَرَاحَتُهَا مِنَ الْعِبَادَاتِ، بَلْ هُوَ عَلَى مُرَادِ رَبِّهِ، وَلَوْ كَانَتْ رَاحَةُ نَفْسِهِ وَلَذَّتُهَا فِي سِوَاهُ.Inilah hamba yang memiliki penghambaan secara menyeluruh. Ia tidak dikuasai oleh pola dan kebiasaan ibadah tertentu, serta tidak terikat oleh bentuk-bentuk tertentu saja.Ia tidak beramal mengikuti apa yang paling disukai oleh dirinya sendiri atau memilih ibadah yang paling memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi jiwanya.Sebaliknya, ia beramal sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rabbnya, meskipun kenyamanan dan kesenangan dirinya sebenarnya terdapat pada amal yang lain.فَهَذَا هُوَ الْمُتَحَقِّقُ بِـ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ حَقًّا، الْقَائِمُ بِهِمَا صِدْقًا.Inilah orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah,﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ia mewujudkan kedua makna tersebut dengan sebenar-benarnya dan menjalankannya dengan penuh kejujuran.لْبَسُهُ مَا تَهَيَّأَ، وَمَأْكَلُهُ مَا تَيَسَّرَ، وَاشْتِغَالُهُ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِوَقْتِهِ، وَمَجْلِسُهُ حَيْثُ انْتَهَى بِهِ الْمَكَانُ وَوَجَدَهُ خَالِيًا.Pakaiannya adalah apa yang tersedia. Makanannya adalah apa yang mudah didapat. Kesibukannya adalah mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada setiap waktu sesuai tuntutan waktunya.Ia duduk di tempat mana pun yang tersedia baginya tanpa sibuk mencari kedudukan atau tempat khusus.لَا تَمْلِكُهُ إِشَارَةٌ، وَلَا يَتَعَبَّدُهُ قَيْدٌ، وَلَا يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ رَسْمٌ، حُرٌّ مُجَرَّدٌ، دَائِرٌ مَعَ الْأَمْرِ حَيْثُ دَارَ، يَدِينُ بِدِينِ الْآمِرِ أَنَّى تَوَجَّهَتْ رَكَائِبُهُ.Ia tidak dikuasai oleh simbol-simbol tertentu, tidak diperbudak oleh ikatan kebiasaan tertentu, dan tidak dikuasai oleh ritual atau pola ibadah tertentu.Ia bebas dari keinginan dirinya sendiri. Ia selalu mengikuti perintah Allah ke mana pun perintah itu mengarah.Agamanya adalah menaati Sang Pemberi perintah, ke mana pun perjalanan penghambaan membawanya.إِلَى آخِرِ كَلَامِهِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. اهـ.Demikian sebagian perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah hingga akhir penjelasan beliau. Inti pelajaranDari penjelasan Ibnul Qayyim ini dapat dipahami bahwa ibadah terbaik tidak selalu berupa satu amal yang sama dalam setiap keadaan. Ibadah terbaik adalah amal yang paling Allah cintai dan paling dituntut pada waktu tersebut.Karena itu, orang yang memahami penghambaan kepada Allah tidak hanya bertanya, “Amal apa yang paling banyak pahalanya?” Ia juga bertanya, “Apa yang Allah tuntut dariku saat ini?”Ada waktunya shalat lebih didahulukan. Ada waktunya belajar atau mengajar. Ada waktunya melayani tamu. Ada waktunya membantu orang yang kesusahan. Ada waktunya mengurus pasangan dan keluarga. Ada pula waktu untuk berkhalwat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.Dengan demikian, kesempurnaan penghambaan bukan hanya banyaknya amal, tetapi ketepatan memilih amal sesuai tuntutan syariat, waktu, dan keadaan.Baca juga: Prioritas Muslimah: Ibadah kepada Allah, Lalu Suami —- Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amal terbaik faedah dari Ibnul Qayyim fikih prioritas ibadah terbaik ibnul qayyim keridaan Allah Madarijus Salikin manajemen waktu Muslim nasihat ibnul qayyim penghambaan kepada Allah prioritas ibadah


Banyak orang bertanya, ibadah apa yang paling utama di sisi Allah? Apakah shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, sedekah, menuntut ilmu, membantu orang lain, ataukah berzikir? Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawaban yang sangat mendalam: ibadah terbaik tidak selalu sama, tetapi mengikuti apa yang paling Allah kehendaki dari kita pada waktu tersebut.  Daftar Isi tutup 1. Manakah Amalan yang Paling Utama? 2. Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugas 2.1. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihad 2.2. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluarga 2.3. 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikir 2.4. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatian 2.5. 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azan 2.6. 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaah 2.7. 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantu 2.8. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadabur 2.9. 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikir 2.10. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihad 2.11. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmu 2.12. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnya 2.13. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauh 2.14. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utama 3. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutan 3.1. Inti pelajaran  Baca juga: Kaedah Penting: Ibadah Paling Afdal itu Dilihat dari Waktu dan Tugas Manakah Amalan yang Paling Utama?Di antara penjelasan paling lengkap tentang amal yang paling utama adalah perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab Madārij as-Sālikīn, beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang ibadah yang paling utama, menjelaskan alasan dari masing-masing pendapat, kemudian menerangkan pendapat yang lebih kuat dengan penjelasan yang sesuai dengan pentingnya masalah ini.Secara ringkas beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” memiliki empat pandangan tentang ibadah manakah yang paling utama, paling bermanfaat, dan paling layak untuk didahulukan. Karena itu, mereka terbagi menjadi empat kelompok.ـ الصِّنْفُ الْأَوَّلُ: عِنْدَهُمْ أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا أَشَقُّهَا عَلَى النُّفُوسِ وَأَصْعَبُهَا.Kelompok pertama: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang paling berat dan paling sulit bagi jiwa.Artinya, menurut kelompok ini, semakin berat suatu ibadah untuk dilakukan oleh seseorang, semakin besar pula keutamaannya.Baca juga: Kaedah Fikih: Semakin Sulit dan Banyak, Semakin Besar Pahalaـ الصِّنْفُ الثَّانِي: قَالُوا: أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ التَّجَرُّدُ وَالزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا.Kelompok kedua: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melepaskan ketergantungan hati dari dunia dan menjalani kehidupan dengan zuhud.Maksudnya, mereka memandang bahwa menjauhkan hati dari kecintaan berlebihan kepada dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat merupakan bentuk ibadah yang paling utama.ـ الصِّنْفُ الثَّالِثُ: رَأَوْا أَنَّ أَنْفَعَ الْعِبَادَاتِ وَأَفْضَلَهَا مَا كَانَ فِيهِ نَفْعٌ مُتَعَدٍّ، فَرَأَوْهُ أَفْضَلَ مِنْ ذِي النَّفْعِ الْقَاصِرِ، فَرَأَوْا خِدْمَةَ الْفُقَرَاءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَصَالِحِ النَّاسِ، وَقَضَاءَ حَوَائِجِهِمْ، وَمُسَاعَدَتَهُمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالنَّفْعِ أَفْضَلَ.Kelompok ketiga: Mereka berpendapat bahwa ibadah yang paling bermanfaat dan paling utama adalah ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Mereka menilai amal seperti ini lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya hanya kembali kepada pelakunya sendiri.Karena itu, mereka memandang bahwa melayani orang miskin, membantu kemaslahatan masyarakat, memenuhi kebutuhan orang lain, serta menolong mereka dengan harta, kedudukan, tenaga, dan berbagai bentuk manfaat lainnya adalah amal yang lebih utama.Baca juga: Amalan Qaashir dan Muta’addi Yang Paling Tepat: Ibadah Terbaik Melihat pada Tuntutan dan Tugasـ الصِّنْفُ الرَّابِعُ: قَالُوا: إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ.Kelompok keempat: Mereka mengatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut. 1. Saatnya Berjihad, Ibadahnya adalah Jihadفَأَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ فِي وَقْتِ الْجِهَادِ الْجِهَادُ، وَإِنْ آلَ إِلَى تَرْكِ الْأَوْرَادِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ، بَلْ وَمِنْ تَرْكِ إِتْمَامِ صَلَاةِ الْفَرْضِ كَمَا فِي حَالَةِ الْأَمْنِ.Ibadah yang paling utama ketika tiba waktu jihad adalah berjihad, meskipun hal itu menyebabkan seseorang meninggalkan wirid rutinnya, seperti shalat malam dan puasa sunnah pada siang hari. Bahkan, dalam keadaan tertentu, ia boleh tidak menyempurnakan tata cara shalat wajib sebagaimana ketika kondisi aman.Maksudnya, bentuk ibadah yang utama dapat berubah sesuai keadaan. Ketika ada tuntutan syariat yang lebih besar, amal sunnah yang biasa dilakukan dapat ditinggalkan. 2. Saat Tamu Datang, Melayani Tamu, Juga Saat Bersama Pasangan dan Keluargaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ حُضُورِ الضَّيْفِ مَثَلًا الْقِيَامُ بِحَقِّهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِهِ عَنِ الْوِرْدِ الْمُسْتَحَبِّ، وَكَذَلِكَ فِي أَدَاءِ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَالْأَهْلِ.Ketika tamu datang, misalnya, yang lebih utama adalah menunaikan hak tamu dan menyibukkan diri untuk melayaninya daripada meneruskan wirid sunnah. Demikian pula ketika tiba waktunya menunaikan hak istri dan keluarga.Jadi, melayani keluarga pada saat mereka membutuhkan bukan berarti meninggalkan ibadah. Justru pada keadaan tertentu, itulah ibadah yang lebih Allah kehendaki.Baca juga: Hadits Arbain #15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga 3. Saat Waktu Sahur, Ibadahnya adalah Shalat, Tilawah Quran, Berdoa, Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ السَّحَرِ الِاشْتِغَالُ بِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالِاسْتِغْفَارِ.Adapun pada waktu sahur, yang lebih utama adalah menyibukkan diri dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan beristigfar. 4. Saat Ada yang Membutuhkan Ilmu, Mengajar dan Memberikan Perhatianوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ اسْتِرْشَادِ الطَّالِبِ وَتَعْلِيمِ الْجَاهِلِ الْإِقْبَالُ عَلَى تَعْلِيمِهِ وَالِاشْتِغَالُ بِهِ.Ketika seorang penuntut ilmu membutuhkan bimbingan atau orang yang belum tahu perlu diajari, yang lebih utama adalah menghadap kepadanya, mengajarinya, dan memberikan perhatian kepadanya.Baca juga: Keutamaan Mengajarkan Ilmu 5. Saat Azan Berkumandang, Menjawab Azanوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الْأَذَانِ تَرْكُ مَا هُوَ فِيهِ مِنْ وِرْدِهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ.Ketika azan berkumandang, yang lebih utama adalah meninggalkan sementara wirid yang sedang dikerjakan lalu menyibukkan diri dengan menjawab azan muazin.Baca juga: Menjawab Azan dan Keutamaannya 6. Saat Waktu Shalat Lima Waktu Tiba, Segera Melaksanakannya dan Berjamaahوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْجِدُّ وَالنُّصْحُ فِي إِيقَاعِهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ، وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، وَالْخُرُوجُ إِلَى الْجَامِعِ، وَإِنْ بَعُدَ كَانَ أَفْضَلَ.Ketika tiba waktu shalat lima waktu, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh menunaikannya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, bersegera melaksanakannya pada awal waktu, serta berangkat menuju masjid untuk berjamaah. Bahkan, jika masjid itu cukup jauh, pergi ke sana bisa lebih utama.Baca juga: Uzur Tidak Menghadiri Shalat Berjamaah di Masjid 7. Saat Ada yang Membutuhkan Pertolongan, Menyibukkan Diri untuk Membantuوَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ ضَرُورَةِ الْمُحْتَاجِ إِلَى الْمُسَاعَدَةِ بِالْجَاهِ أَوِ الْبَدَنِ أَوِ الْمَالِ الِاشْتِغَالُ بِمُسَاعَدَتِهِ وَإِغَاثَةِ لَهْفَتِهِ، وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَوْرَادِكَ وَخَلْوَتِكَ.Ketika ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan melalui kedudukan, tenaga, atau harta kita, yang lebih utama adalah menyibukkan diri untuk membantunya dan meringankan kesulitannya. Amal ini didahulukan daripada wirid sunnah dan kegiatan menyendiri untuk beribadah. 8. Saat Membaca Al-Quran, Berusaha Menghadirkan Hati dan Tadaburوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ جَمْعِيَّةُ الْقَلْبِ وَالْهِمَّةِ عَلَى تَدَبُّرِهِ وَتَفَهُّمِهِ، حَتَّى كَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَاطِبُكَ بِهِ.Ketika membaca Al-Qur’an, yang paling utama adalah menghadirkan hati dan memusatkan seluruh perhatian untuk mentadaburi serta memahami kandungannya, seakan-akan Allah Ta‘ala sedang berbicara langsung kepadamu melalui ayat-ayat itu.Baca juga: Mana yang Lebih Utama: Shalat, Membaca Al-Qur’an, Dzikir, atau Doa? 9. Saat Wukuf di Arafah, Fokus Berdoa dan Dzikirوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ الِاجْتِهَادُ فِي التَّضَرُّعِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ، دُونَ الصَّوْمِ الْمُضْعِفِ عَنْ ذَلِكَ.Ketika sedang wukuf di Arafah, yang lebih utama adalah bersungguh-sungguh merendahkan diri kepada Allah, memperbanyak doa dan zikir. Karena itu, bagi orang yang sedang berhaji, tidak berpuasa lebih utama jika puasa membuatnya lemah sehingga tidak maksimal dalam berdoa dan berzikir. 10. Saat Sepuluh Awal Dzulhijjah, Perbanyak Ibadah daripada Jihadوَالْأَفْضَلُ فِي أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّعَبُّدِ، لَا سِيَّمَا التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّحْمِيدَ، فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْجِهَادِ غَيْرِ الْمُتَعَيِّنِ.Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang lebih utama adalah memperbanyak ibadah, terutama takbir, tahlil, dan tahmid. Amal-amal tersebut lebih utama daripada jihad yang tidak menjadi kewajiban individual. 11. Saat Sepuluh Terakhir Ramadhan, Utamanya adalah Iktikaf daripada Menyibukkan Diri dengan Ilmuوَالْأَفْضَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ لُزُومُ الْمَسْجِدِ فِيهِ، وَالْخَلْوَةُ وَالِاعْتِكَافُ، دُونَ التَّصَدِّي لِمُخَالَطَةِ النَّاسِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِمْ، حَتَّى إِنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الْإِقْبَالِ عَلَى تَعْلِيمِهِمُ الْعِلْمَ وَإِقْرَائِهِمُ الْقُرْآنَ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ.Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yang lebih utama adalah menetap di masjid, mengurangi kesibukan dengan manusia, serta melakukan iktikaf. Bahkan, menurut banyak ulama, pada waktu tersebut iktikaf lebih utama daripada menyibukkan diri mengajarkan ilmu dan mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang lain. 12. Saat Saudara Sakit atau Meninggal Dunia, Utamanya adalah Menjenguknya atau Menghadiri Jenazahnyaوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ مَرَضِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ أَوْ مَوْتِهِ عِيَادَتُهُ، وَحُضُورُ جَنَازَتِهِ، وَتَشْيِيعُهُ، وَتَقْدِيمُ ذَلِكَ عَلَى خَلْوَتِكَ وَجَمْعِيَّتِكَ.Ketika saudara Muslim kita sakit atau meninggal dunia, yang lebih utama adalah menjenguknya ketika sakit, menghadiri jenazahnya, dan mengantarkannya hingga pemakaman. Hal itu didahulukan daripada menyendiri untuk beribadah dan memusatkan diri pada amalan pribadi. 13. Saat Diganggu Manusia, Utamanya adalah Bersabar daripada Melarikan Diri dan Menjauhوَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ نُزُولِ النَّوَازِلِ وَأَذِيَّةِ النَّاسِ لَكَ أَدَاءُ وَاجِبِ الصَّبْرِ مَعَ خِلْطَتِكَ بِهِمْ دُونَ الْهَرَبِ مِنْهُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ لِيَصْبِرَ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُمْ وَلَا يُؤْذُونَهُ.Ketika terjadi berbagai cobaan dan kita mendapatkan gangguan dari manusia, yang lebih utama adalah menunaikan kewajiban bersabar sambil tetap berinteraksi dengan mereka, bukan segera melarikan diri dan menjauh.Sebab, seorang mukmin yang bergaul dengan manusia lalu bersabar menghadapi gangguan mereka lebih utama daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia sehingga ia tidak mendapatkan gangguan dari mereka. Bergaul dengan Manusia itu Lebih Utamaوَالْأَفْضَلُ خِلْطَتُهُمْ فِي الْخَيْرِ، فَهِيَ خَيْرٌ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ فِيهِ، وَاعْتِزَالُهُمْ فِي الشَّرِّ هُوَ أَفْضَلُ مِنْ خِلْطَتِهِمْ فِيهِ، فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ إِذَا خَالَطَهُمْ أَزَالَهُ أَوْ قَلَّلَهُ فَخِلْطَتُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَلُ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ.Bergaul bersama manusia dalam kebaikan lebih utama daripada menjauhi mereka ketika sedang melakukan kebaikan. Sebaliknya, menjauhi mereka ketika mereka berada dalam keburukan lebih utama daripada ikut bercampur bersama mereka dalam keburukan tersebut.Namun, apabila seseorang mengetahui bahwa dengan berada di tengah mereka ia mampu menghilangkan atau setidaknya mengurangi keburukan itu, maka bergaul bersama mereka pada saat tersebut lebih utama daripada menjauh. Kaidah Ibnul Qayyim: Amalan Dilihat dari Kewajiban, Tugas, dan Tuntutanفَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ.Maka, amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ.Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh (at-ta‘abbud al-muthlaq). Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.فَمَتَى خَرَجَ أَحَدُهُمْ عَنِ النَّوْعِ الَّذِي تَعَلَّقَ بِهِ مِنَ الْعِبَادَةِ وَفَارَقَهُ، يَرَى نَفْسَهُ كَأَنَّهُ قَدْ نَقَصَ وَتَرَكَ عِبَادَتَهُ، فَهُوَ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى وَجْهٍ وَاحِدٍ.Ketika orang yang penghambaan dirinya terikat pada satu bentuk ibadah tertentu harus meninggalkan ibadah tersebut, ia merasa seakan-akan ibadahnya telah berkurang atau bahkan seolah ia telah meninggalkan ibadah.Hal itu karena ia terbiasa beribadah kepada Allah hanya melalui satu bentuk ibadah tertentu.وَصَاحِبُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ لَيْسَ لَهُ غَرَضٌ فِي تَعَبُّدٍ بِعَيْنِهِ يُؤْثِرُهُ عَلَى غَيْرِهِ، بَلْ غَرَضُهُ تَتَبُّعُ مَرْضَاةِ اللَّهِ تَعَالَى أَيْنَ كَانَتْ.Adapun orang yang memiliki penghambaan secara menyeluruh tidak terpaku pada satu jenis ibadah tertentu yang selalu ia dahulukan daripada yang lainnya.Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun keridaan itu berada.فَمَدَارُ تَعَبُّدِهِ عَلَيْهَا، فَهُوَ لَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا فِي مَنَازِلِ الْعُبُودِيَّةِ، كُلَّمَا رُفِعَتْ لَهُ مَنْزِلَةٌ عَمِلَ عَلَى سَيْرِهِ إِلَيْهَا وَاشْتَغَلَ بِهَا حَتَّى تَلُوحَ لَهُ مَنْزِلَةٌ أُخْرَى.Poros seluruh ibadahnya adalah mencari keridaan Allah. Karena itu, ia terus berpindah dari satu bentuk penghambaan menuju bentuk penghambaan yang lain.Setiap kali muncul di hadapannya satu bentuk penghambaan yang harus ditunaikan, ia segera mengerjakannya dan menempuh jalan menuju amal tersebut. Ia terus melakukannya sampai muncul bentuk penghambaan lainnya yang lebih sesuai dengan keadaan saat itu.فَهَذَا دَأْبُهُ فِي السَّيْرِ حَتَّى يَنْتَهِيَ سَيْرُهُ.Demikianlah perjalanan hidupnya sebagai seorang hamba sampai perjalanan hidupnya berakhir.فَإِنْ رَأَيْتَ الْعُلَمَاءَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْعُبَّادَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُجَاهِدِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الذَّاكِرِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ الْمُتَصَدِّقِينَ الْمُحْسِنِينَ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَرْبَابَ الْجَمْعِيَّةِ وَعُكُوفِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ رَأَيْتَهُ مَعَهُمْ.Jika engkau melihat para ulama, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang tekun beribadah, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat para mujahid, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang banyak berzikir, engkau akan menjumpainya bersama mereka.Jika engkau melihat orang-orang yang gemar bersedekah dan berbuat baik, engkau pun akan menjumpainya bersama mereka.Dan jika engkau melihat orang-orang yang memusatkan hati mereka kepada Allah, engkau pun akan mendapatinya bersama mereka.فَهَذَا هُوَ الْعَبْدُ الْمُطْلَقُ، الَّذِي لَمْ تَمْلِكْهُ الرُّسُومُ، وَلَمْ تُقَيِّدْهُ الْقُيُودُ، وَلَمْ يَكُنْ عَمَلُهُ عَلَى مُرَادِ نَفْسِهِ، وَمَا فِيهِ لَذَّتُهَا وَرَاحَتُهَا مِنَ الْعِبَادَاتِ، بَلْ هُوَ عَلَى مُرَادِ رَبِّهِ، وَلَوْ كَانَتْ رَاحَةُ نَفْسِهِ وَلَذَّتُهَا فِي سِوَاهُ.Inilah hamba yang memiliki penghambaan secara menyeluruh. Ia tidak dikuasai oleh pola dan kebiasaan ibadah tertentu, serta tidak terikat oleh bentuk-bentuk tertentu saja.Ia tidak beramal mengikuti apa yang paling disukai oleh dirinya sendiri atau memilih ibadah yang paling memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi jiwanya.Sebaliknya, ia beramal sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rabbnya, meskipun kenyamanan dan kesenangan dirinya sebenarnya terdapat pada amal yang lain.فَهَذَا هُوَ الْمُتَحَقِّقُ بِـ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ حَقًّا، الْقَائِمُ بِهِمَا صِدْقًا.Inilah orang yang benar-benar mewujudkan makna firman Allah,﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)Ia mewujudkan kedua makna tersebut dengan sebenar-benarnya dan menjalankannya dengan penuh kejujuran.لْبَسُهُ مَا تَهَيَّأَ، وَمَأْكَلُهُ مَا تَيَسَّرَ، وَاشْتِغَالُهُ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِوَقْتِهِ، وَمَجْلِسُهُ حَيْثُ انْتَهَى بِهِ الْمَكَانُ وَوَجَدَهُ خَالِيًا.Pakaiannya adalah apa yang tersedia. Makanannya adalah apa yang mudah didapat. Kesibukannya adalah mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada setiap waktu sesuai tuntutan waktunya.Ia duduk di tempat mana pun yang tersedia baginya tanpa sibuk mencari kedudukan atau tempat khusus.لَا تَمْلِكُهُ إِشَارَةٌ، وَلَا يَتَعَبَّدُهُ قَيْدٌ، وَلَا يَسْتَوْلِي عَلَيْهِ رَسْمٌ، حُرٌّ مُجَرَّدٌ، دَائِرٌ مَعَ الْأَمْرِ حَيْثُ دَارَ، يَدِينُ بِدِينِ الْآمِرِ أَنَّى تَوَجَّهَتْ رَكَائِبُهُ.Ia tidak dikuasai oleh simbol-simbol tertentu, tidak diperbudak oleh ikatan kebiasaan tertentu, dan tidak dikuasai oleh ritual atau pola ibadah tertentu.Ia bebas dari keinginan dirinya sendiri. Ia selalu mengikuti perintah Allah ke mana pun perintah itu mengarah.Agamanya adalah menaati Sang Pemberi perintah, ke mana pun perjalanan penghambaan membawanya.إِلَى آخِرِ كَلَامِهِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى. اهـ.Demikian sebagian perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah hingga akhir penjelasan beliau. Inti pelajaranDari penjelasan Ibnul Qayyim ini dapat dipahami bahwa ibadah terbaik tidak selalu berupa satu amal yang sama dalam setiap keadaan. Ibadah terbaik adalah amal yang paling Allah cintai dan paling dituntut pada waktu tersebut.Karena itu, orang yang memahami penghambaan kepada Allah tidak hanya bertanya, “Amal apa yang paling banyak pahalanya?” Ia juga bertanya, “Apa yang Allah tuntut dariku saat ini?”Ada waktunya shalat lebih didahulukan. Ada waktunya belajar atau mengajar. Ada waktunya melayani tamu. Ada waktunya membantu orang yang kesusahan. Ada waktunya mengurus pasangan dan keluarga. Ada pula waktu untuk berkhalwat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.Dengan demikian, kesempurnaan penghambaan bukan hanya banyaknya amal, tetapi ketepatan memilih amal sesuai tuntutan syariat, waktu, dan keadaan.Baca juga: Prioritas Muslimah: Ibadah kepada Allah, Lalu Suami —- Selesai ditulis di Masjid Mina Jakal Jogja (Majelis Taklim Saudah), 8 Sep 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh amal terbaik faedah dari Ibnul Qayyim fikih prioritas ibadah terbaik ibnul qayyim keridaan Allah Madarijus Salikin manajemen waktu Muslim nasihat ibnul qayyim penghambaan kepada Allah prioritas ibadah

Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat

Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal

Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat

Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal
Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal


Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.  Daftar Isi tutup 1. KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH 2. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki? 3. Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya 4. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat 5. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia 6. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat 7. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil 8. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak? 9. KHUTBAH KEDUA  KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAHالْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,Allah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Jamaah Jumat rahimakumullah,Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki. Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3) Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi KayaAyat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta. Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada ShalatAz-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik. ‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan DuniaAda sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)Ia melanjutkan hingga membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَKemudian ia menyeru keluarganya,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita. ‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk ShalatPendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ“Shalat, shalat.”Kemudian beliau membaca,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat. Latih Anak Menjaga Shalat Sejak KecilRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah. Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.Jamaah Jumat rahimakumullah,Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.KHUTBAH KEDUAالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. —- Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagskeberkahan rezeki keluarga muslim khutbah jumat mendidik keluarga parenting Islami pendidikan anak QS Thaha 132 rezeki shalat tawakal
Prev     Next