Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2)

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketiga: Berbaik sangka kepada AllahSebab Allah itu tergantung bagaimana manusia berprasangka kepada-Nya. Bila berprasangka baik; maka niscaya Allah akan memberikan kebaikan pada-Nya. Namun bila berprasangka buruk; maka keburukan pulalah yang akan ditimpakan kepadanya.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”[/arabic-font]“Aku tergantung bagaimana hamba-Ku berprasangka pada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Praktek keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan betapa tinggi husnuzhan beliau kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan tamu. Maka beliau pun mengutus pembantunya untuk mencari suguhan makanan di rumah istri-istri beliau. Ternyata tidak ada satupun di antara mereka yang memiliki makanan. Maka saat itu beliaupun langsung berdoa,[arabic-font]”اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لا يَمْلِكُهَا إِلا أَنْتَ”[/arabic-font]“Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu karunia-Mu dan rahmat-Mu. Sungguh tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau”. Tiba-tiba ada yang mengirimi beliau kambing panggang. Maka beliaupun bersabda, “Ini merupakan karunia Allah. Dan kami menunggu rahmat-Nya”.HR. Ath-Thabarany dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinilai sahih oleh al-Albany.Keempat: Bersegera memenuhi perintah AllahYakni bersegera menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Semakin tinggi tingkat kepatuhan hamba kepada Allah, niscaya peluang dikabulkannya doa dia semakin besar. Dari sini kenapa kita melihat doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mustajab. Di antara sebabnya adalah karena beliau adalah orang yang sangat patuh kepada Allah.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumadal Ula 1437 / 15 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2)

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketiga: Berbaik sangka kepada AllahSebab Allah itu tergantung bagaimana manusia berprasangka kepada-Nya. Bila berprasangka baik; maka niscaya Allah akan memberikan kebaikan pada-Nya. Namun bila berprasangka buruk; maka keburukan pulalah yang akan ditimpakan kepadanya.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”[/arabic-font]“Aku tergantung bagaimana hamba-Ku berprasangka pada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Praktek keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan betapa tinggi husnuzhan beliau kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan tamu. Maka beliau pun mengutus pembantunya untuk mencari suguhan makanan di rumah istri-istri beliau. Ternyata tidak ada satupun di antara mereka yang memiliki makanan. Maka saat itu beliaupun langsung berdoa,[arabic-font]”اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لا يَمْلِكُهَا إِلا أَنْتَ”[/arabic-font]“Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu karunia-Mu dan rahmat-Mu. Sungguh tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau”. Tiba-tiba ada yang mengirimi beliau kambing panggang. Maka beliaupun bersabda, “Ini merupakan karunia Allah. Dan kami menunggu rahmat-Nya”.HR. Ath-Thabarany dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinilai sahih oleh al-Albany.Keempat: Bersegera memenuhi perintah AllahYakni bersegera menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Semakin tinggi tingkat kepatuhan hamba kepada Allah, niscaya peluang dikabulkannya doa dia semakin besar. Dari sini kenapa kita melihat doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mustajab. Di antara sebabnya adalah karena beliau adalah orang yang sangat patuh kepada Allah.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumadal Ula 1437 / 15 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketiga: Berbaik sangka kepada AllahSebab Allah itu tergantung bagaimana manusia berprasangka kepada-Nya. Bila berprasangka baik; maka niscaya Allah akan memberikan kebaikan pada-Nya. Namun bila berprasangka buruk; maka keburukan pulalah yang akan ditimpakan kepadanya.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”[/arabic-font]“Aku tergantung bagaimana hamba-Ku berprasangka pada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Praktek keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan betapa tinggi husnuzhan beliau kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan tamu. Maka beliau pun mengutus pembantunya untuk mencari suguhan makanan di rumah istri-istri beliau. Ternyata tidak ada satupun di antara mereka yang memiliki makanan. Maka saat itu beliaupun langsung berdoa,[arabic-font]”اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لا يَمْلِكُهَا إِلا أَنْتَ”[/arabic-font]“Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu karunia-Mu dan rahmat-Mu. Sungguh tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau”. Tiba-tiba ada yang mengirimi beliau kambing panggang. Maka beliaupun bersabda, “Ini merupakan karunia Allah. Dan kami menunggu rahmat-Nya”.HR. Ath-Thabarany dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinilai sahih oleh al-Albany.Keempat: Bersegera memenuhi perintah AllahYakni bersegera menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Semakin tinggi tingkat kepatuhan hamba kepada Allah, niscaya peluang dikabulkannya doa dia semakin besar. Dari sini kenapa kita melihat doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mustajab. Di antara sebabnya adalah karena beliau adalah orang yang sangat patuh kepada Allah.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumadal Ula 1437 / 15 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketiga: Berbaik sangka kepada AllahSebab Allah itu tergantung bagaimana manusia berprasangka kepada-Nya. Bila berprasangka baik; maka niscaya Allah akan memberikan kebaikan pada-Nya. Namun bila berprasangka buruk; maka keburukan pulalah yang akan ditimpakan kepadanya.Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”[/arabic-font]“Aku tergantung bagaimana hamba-Ku berprasangka pada-Ku”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Praktek keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan betapa tinggi husnuzhan beliau kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan,“Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan tamu. Maka beliau pun mengutus pembantunya untuk mencari suguhan makanan di rumah istri-istri beliau. Ternyata tidak ada satupun di antara mereka yang memiliki makanan. Maka saat itu beliaupun langsung berdoa,[arabic-font]”اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لا يَمْلِكُهَا إِلا أَنْتَ”[/arabic-font]“Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu karunia-Mu dan rahmat-Mu. Sungguh tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau”. Tiba-tiba ada yang mengirimi beliau kambing panggang. Maka beliaupun bersabda, “Ini merupakan karunia Allah. Dan kami menunggu rahmat-Nya”.HR. Ath-Thabarany dalam al-Mu’jam al-Kabir dan dinilai sahih oleh al-Albany.Keempat: Bersegera memenuhi perintah AllahYakni bersegera menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. QS. Al-Baqarah (2): 186.Semakin tinggi tingkat kepatuhan hamba kepada Allah, niscaya peluang dikabulkannya doa dia semakin besar. Dari sini kenapa kita melihat doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mustajab. Di antara sebabnya adalah karena beliau adalah orang yang sangat patuh kepada Allah.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Jumadal Ula 1437 / 15 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3)

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kelima: Memperbanyak amalan sunnah setelah amalan yang wajibDari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya. Bila hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah; niscaya Aku akan mencintainya. Bila Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, dalam penglihatannya, dalam perbuatan tangannya dan dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya”. HR. Bukhari.Keenam: Makanan, minuman dan pakaian harus halalDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Jumadal Tsaniyah 1437 / 14 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3)

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kelima: Memperbanyak amalan sunnah setelah amalan yang wajibDari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya. Bila hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah; niscaya Aku akan mencintainya. Bila Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, dalam penglihatannya, dalam perbuatan tangannya dan dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya”. HR. Bukhari.Keenam: Makanan, minuman dan pakaian harus halalDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Jumadal Tsaniyah 1437 / 14 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kelima: Memperbanyak amalan sunnah setelah amalan yang wajibDari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya. Bila hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah; niscaya Aku akan mencintainya. Bila Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, dalam penglihatannya, dalam perbuatan tangannya dan dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya”. HR. Bukhari.Keenam: Makanan, minuman dan pakaian harus halalDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Jumadal Tsaniyah 1437 / 14 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kelima: Memperbanyak amalan sunnah setelah amalan yang wajibDari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ”.[/arabic-font] “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya. Bila hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah; niscaya Aku akan mencintainya. Bila Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, dalam penglihatannya, dalam perbuatan tangannya dan dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya”. HR. Bukhari.Keenam: Makanan, minuman dan pakaian harus halalDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Jumadal Tsaniyah 1437 / 14 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4)

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketujuh: Memperbanyak doa saat kondisi lapangDi dunia ini, secara umum kita mengalami dua kondisi yang berbeda. Lapang dan sempit. Kondisi lapang maksudnya adalah ketika kita sedang sehat, lancar rezeki, senang dan yang semisal. Sedangkan kondisi susah maksudnya adalah saat kita sedang sakit, rezeki seret, sedih dan yang serupa. Biasanya kebanyakan kita mengingat Allah nya adalah ketika kondisi susah. Adapun dalam kondisi lapang, seringkali kita lupa Allah. Fenomena ini harus kita perbaiki. Justru saat lapang, kita harus senantiasa ingat Allah, supaya ketika susah, doa kita didengar Allah.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ”[/arabic-font] “Barang siapa menghendaki doanya dikabulkan oleh Allah saat susah dan ditimpa musibah; hendaklah ia memperbanyak doa ketika sedang lapang”. HR. Tirmidzy dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Beliau juga bersabda,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”[/arabic-font]“Kenalilah Allah saat lapang; niscaya Dia akan mengenalimu ketika engkau susah”. HR. Al-Hakim dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Dalam kitab Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Imam Ibn Rajab menjelaskan makna hadits di atas. Maksud dari mengenali Allah saat lapang adalah bertakwa kepada-Nya serta menjalankan aturan-Nya. Barang siapa menjalankan hal itu maka ia telah mengenal Allah. Sehingga ia memiliki hubungan spesial dengan-Nya. Nah, ketika ia mengalami kondisi susah, niscaya saat itu Allah akan mengenalinya. Kedekatannya dengan Allah saat lapang sangat bermanfaat dalam kondisi seperti ini. Ia akan disayang Allah dan dikabulkan permintaannya.Tingkat hamba mengenali Allah ada dua level:Pertama: Level umumYakni mengenali-Nya dalam arti yakin, percaya dan beriman kepada-Nya. Level ini bersifat umum bagi seluruh kaum mukminin.Kedua: Level khususYakni kecenderungan hati hamba secara total kepada Allah. Menghabiskan waktu untuk-Nya. Merasa nyaman bersama-Nya. Tenang ketika mengingat-Nya. Malu dan segan kepada-Nya. Ini level khusus yang dijalani oleh orang-orang yang arif. Sebagian mereka berkata, “Penduduk dunia yang paling miskin adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dalam keadaan belum pernah merasakan sesuatu yang ternikmat di dalamnya”. Mereka ditanya, “Apakah itu?”. Jawab mereka, “Mengenal Allah”.Bersambung…Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Tsaniyah 1437 / 4 April 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4)

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketujuh: Memperbanyak doa saat kondisi lapangDi dunia ini, secara umum kita mengalami dua kondisi yang berbeda. Lapang dan sempit. Kondisi lapang maksudnya adalah ketika kita sedang sehat, lancar rezeki, senang dan yang semisal. Sedangkan kondisi susah maksudnya adalah saat kita sedang sakit, rezeki seret, sedih dan yang serupa. Biasanya kebanyakan kita mengingat Allah nya adalah ketika kondisi susah. Adapun dalam kondisi lapang, seringkali kita lupa Allah. Fenomena ini harus kita perbaiki. Justru saat lapang, kita harus senantiasa ingat Allah, supaya ketika susah, doa kita didengar Allah.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ”[/arabic-font] “Barang siapa menghendaki doanya dikabulkan oleh Allah saat susah dan ditimpa musibah; hendaklah ia memperbanyak doa ketika sedang lapang”. HR. Tirmidzy dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Beliau juga bersabda,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”[/arabic-font]“Kenalilah Allah saat lapang; niscaya Dia akan mengenalimu ketika engkau susah”. HR. Al-Hakim dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Dalam kitab Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Imam Ibn Rajab menjelaskan makna hadits di atas. Maksud dari mengenali Allah saat lapang adalah bertakwa kepada-Nya serta menjalankan aturan-Nya. Barang siapa menjalankan hal itu maka ia telah mengenal Allah. Sehingga ia memiliki hubungan spesial dengan-Nya. Nah, ketika ia mengalami kondisi susah, niscaya saat itu Allah akan mengenalinya. Kedekatannya dengan Allah saat lapang sangat bermanfaat dalam kondisi seperti ini. Ia akan disayang Allah dan dikabulkan permintaannya.Tingkat hamba mengenali Allah ada dua level:Pertama: Level umumYakni mengenali-Nya dalam arti yakin, percaya dan beriman kepada-Nya. Level ini bersifat umum bagi seluruh kaum mukminin.Kedua: Level khususYakni kecenderungan hati hamba secara total kepada Allah. Menghabiskan waktu untuk-Nya. Merasa nyaman bersama-Nya. Tenang ketika mengingat-Nya. Malu dan segan kepada-Nya. Ini level khusus yang dijalani oleh orang-orang yang arif. Sebagian mereka berkata, “Penduduk dunia yang paling miskin adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dalam keadaan belum pernah merasakan sesuatu yang ternikmat di dalamnya”. Mereka ditanya, “Apakah itu?”. Jawab mereka, “Mengenal Allah”.Bersambung…Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Tsaniyah 1437 / 4 April 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketujuh: Memperbanyak doa saat kondisi lapangDi dunia ini, secara umum kita mengalami dua kondisi yang berbeda. Lapang dan sempit. Kondisi lapang maksudnya adalah ketika kita sedang sehat, lancar rezeki, senang dan yang semisal. Sedangkan kondisi susah maksudnya adalah saat kita sedang sakit, rezeki seret, sedih dan yang serupa. Biasanya kebanyakan kita mengingat Allah nya adalah ketika kondisi susah. Adapun dalam kondisi lapang, seringkali kita lupa Allah. Fenomena ini harus kita perbaiki. Justru saat lapang, kita harus senantiasa ingat Allah, supaya ketika susah, doa kita didengar Allah.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ”[/arabic-font] “Barang siapa menghendaki doanya dikabulkan oleh Allah saat susah dan ditimpa musibah; hendaklah ia memperbanyak doa ketika sedang lapang”. HR. Tirmidzy dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Beliau juga bersabda,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”[/arabic-font]“Kenalilah Allah saat lapang; niscaya Dia akan mengenalimu ketika engkau susah”. HR. Al-Hakim dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Dalam kitab Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Imam Ibn Rajab menjelaskan makna hadits di atas. Maksud dari mengenali Allah saat lapang adalah bertakwa kepada-Nya serta menjalankan aturan-Nya. Barang siapa menjalankan hal itu maka ia telah mengenal Allah. Sehingga ia memiliki hubungan spesial dengan-Nya. Nah, ketika ia mengalami kondisi susah, niscaya saat itu Allah akan mengenalinya. Kedekatannya dengan Allah saat lapang sangat bermanfaat dalam kondisi seperti ini. Ia akan disayang Allah dan dikabulkan permintaannya.Tingkat hamba mengenali Allah ada dua level:Pertama: Level umumYakni mengenali-Nya dalam arti yakin, percaya dan beriman kepada-Nya. Level ini bersifat umum bagi seluruh kaum mukminin.Kedua: Level khususYakni kecenderungan hati hamba secara total kepada Allah. Menghabiskan waktu untuk-Nya. Merasa nyaman bersama-Nya. Tenang ketika mengingat-Nya. Malu dan segan kepada-Nya. Ini level khusus yang dijalani oleh orang-orang yang arif. Sebagian mereka berkata, “Penduduk dunia yang paling miskin adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dalam keadaan belum pernah merasakan sesuatu yang ternikmat di dalamnya”. Mereka ditanya, “Apakah itu?”. Jawab mereka, “Mengenal Allah”.Bersambung…Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Tsaniyah 1437 / 4 April 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Ketujuh: Memperbanyak doa saat kondisi lapangDi dunia ini, secara umum kita mengalami dua kondisi yang berbeda. Lapang dan sempit. Kondisi lapang maksudnya adalah ketika kita sedang sehat, lancar rezeki, senang dan yang semisal. Sedangkan kondisi susah maksudnya adalah saat kita sedang sakit, rezeki seret, sedih dan yang serupa. Biasanya kebanyakan kita mengingat Allah nya adalah ketika kondisi susah. Adapun dalam kondisi lapang, seringkali kita lupa Allah. Fenomena ini harus kita perbaiki. Justru saat lapang, kita harus senantiasa ingat Allah, supaya ketika susah, doa kita didengar Allah.Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ”[/arabic-font] “Barang siapa menghendaki doanya dikabulkan oleh Allah saat susah dan ditimpa musibah; hendaklah ia memperbanyak doa ketika sedang lapang”. HR. Tirmidzy dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Beliau juga bersabda,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”[/arabic-font]“Kenalilah Allah saat lapang; niscaya Dia akan mengenalimu ketika engkau susah”. HR. Al-Hakim dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Dalam kitab Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, Imam Ibn Rajab menjelaskan makna hadits di atas. Maksud dari mengenali Allah saat lapang adalah bertakwa kepada-Nya serta menjalankan aturan-Nya. Barang siapa menjalankan hal itu maka ia telah mengenal Allah. Sehingga ia memiliki hubungan spesial dengan-Nya. Nah, ketika ia mengalami kondisi susah, niscaya saat itu Allah akan mengenalinya. Kedekatannya dengan Allah saat lapang sangat bermanfaat dalam kondisi seperti ini. Ia akan disayang Allah dan dikabulkan permintaannya.Tingkat hamba mengenali Allah ada dua level:Pertama: Level umumYakni mengenali-Nya dalam arti yakin, percaya dan beriman kepada-Nya. Level ini bersifat umum bagi seluruh kaum mukminin.Kedua: Level khususYakni kecenderungan hati hamba secara total kepada Allah. Menghabiskan waktu untuk-Nya. Merasa nyaman bersama-Nya. Tenang ketika mengingat-Nya. Malu dan segan kepada-Nya. Ini level khusus yang dijalani oleh orang-orang yang arif. Sebagian mereka berkata, “Penduduk dunia yang paling miskin adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dalam keadaan belum pernah merasakan sesuatu yang ternikmat di dalamnya”. Mereka ditanya, “Apakah itu?”. Jawab mereka, “Mengenal Allah”.Bersambung…Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Jumadal Tsaniyah 1437 / 4 April 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 93 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-3)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK)

Di antara penyakit yang cukup berbahaya untuk perkembangan mental anak adalah minder atau kurang percaya diri. Faktor genetika memang memiliki andil dalam menumbuhkan kondisi kejiwaan ini. Namun faktor lingkungan juga memiliki andil yang dominan dalam memperbesar atau menghilangkan watak buruk ini. Sebagai contoh, anak-anak yang sering bergaul dengan teman-temannya, perasan mindernya lebih kecil dibanding anak yang tidak pernah atau kurang bergaul dengan teman-temannya.Cara menanggulangi masalah ini, biasakan anak bergaul dengan orang lain. Jika perlu undanglah kawan-kawan mereka ke rumah atau bawalah anak berkunjung ke rumah teman-teman atau karib kerabat.Didiklah anak untuk membebaskan diri dari sikap minder, tidak percaya diri dan terlalu bergantung kepada orang lain. Biasakan mereka berbicara di hadapan orang banyak. Tentu kita masih ingat kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bagaimana ayahnya mendorong dirinya untuk berani berbicara di hadapan banyak orang, bahkan di majelis orang dewasa. Beliau menceritakan,[arabic-font]قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ؟» فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ، ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ فَقَالَ: «هِيَ النَّخْلَةُ» قَالَ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعُمَرَ، قَالَ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَ: هِيَ النَّخْلَةُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا[/arabic-font]“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh ada sebuah pohon yang tidak pernah gugur daunnya, dia adalah perumpaan muslim. Tahukah kalian apa itu?”. Orang-orang mengira bahwa itu adalah pohon-pohon di padang pasir. Lalu terbersitlah dalam pikiranku bahwa pohon yang beliau maksud adalah pohon kurma. Hanya saja aku merasa segan untuk berbicara. Mereka berkata, “Beritahulah kami apakah pohon itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Pohon itu adalah pohon kurma”.Setelah keluar kusampaikan hal itu kepada Umar.Beliau berkomentar, “Andaikan kamu mengatakan bahwa jawabannya adalah pohon kurma, niscaya itu lebih aku sukai daripada ini dan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Lihatlah bagaimana Umar memotivasi putra beliau; Abdullah untuk tidak malu menyampaikan sesuatu yang diyakini kebenarannya, walaupun itu di majelis orang-orang dewasa.Selain itu, bisa juga para orang tua menyertakan anak dalam berbagai perlombaan yang bermanfaat. Dampingi mereka dan berikan dukungan juga semangat padanya.Jangan lupa, hindarilah perkara-perkara yang dapat menimbulkan rasa minder dan rendah diri pada anak. Di antaranya:Hinaan dan celaan.Dimanja secara berlebihan.Pilih kasih.Kemiskinan atau cacat jasmani.Sifat penakut.Sifat pengecut, dan lain-lain.Semoga Anda sukses menangani kekurangan tersebut dalam diri putra-putri Anda, amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Rabi’ul Akhir 1437 / 25 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK)

Di antara penyakit yang cukup berbahaya untuk perkembangan mental anak adalah minder atau kurang percaya diri. Faktor genetika memang memiliki andil dalam menumbuhkan kondisi kejiwaan ini. Namun faktor lingkungan juga memiliki andil yang dominan dalam memperbesar atau menghilangkan watak buruk ini. Sebagai contoh, anak-anak yang sering bergaul dengan teman-temannya, perasan mindernya lebih kecil dibanding anak yang tidak pernah atau kurang bergaul dengan teman-temannya.Cara menanggulangi masalah ini, biasakan anak bergaul dengan orang lain. Jika perlu undanglah kawan-kawan mereka ke rumah atau bawalah anak berkunjung ke rumah teman-teman atau karib kerabat.Didiklah anak untuk membebaskan diri dari sikap minder, tidak percaya diri dan terlalu bergantung kepada orang lain. Biasakan mereka berbicara di hadapan orang banyak. Tentu kita masih ingat kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bagaimana ayahnya mendorong dirinya untuk berani berbicara di hadapan banyak orang, bahkan di majelis orang dewasa. Beliau menceritakan,[arabic-font]قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ؟» فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ، ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ فَقَالَ: «هِيَ النَّخْلَةُ» قَالَ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعُمَرَ، قَالَ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَ: هِيَ النَّخْلَةُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا[/arabic-font]“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh ada sebuah pohon yang tidak pernah gugur daunnya, dia adalah perumpaan muslim. Tahukah kalian apa itu?”. Orang-orang mengira bahwa itu adalah pohon-pohon di padang pasir. Lalu terbersitlah dalam pikiranku bahwa pohon yang beliau maksud adalah pohon kurma. Hanya saja aku merasa segan untuk berbicara. Mereka berkata, “Beritahulah kami apakah pohon itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Pohon itu adalah pohon kurma”.Setelah keluar kusampaikan hal itu kepada Umar.Beliau berkomentar, “Andaikan kamu mengatakan bahwa jawabannya adalah pohon kurma, niscaya itu lebih aku sukai daripada ini dan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Lihatlah bagaimana Umar memotivasi putra beliau; Abdullah untuk tidak malu menyampaikan sesuatu yang diyakini kebenarannya, walaupun itu di majelis orang-orang dewasa.Selain itu, bisa juga para orang tua menyertakan anak dalam berbagai perlombaan yang bermanfaat. Dampingi mereka dan berikan dukungan juga semangat padanya.Jangan lupa, hindarilah perkara-perkara yang dapat menimbulkan rasa minder dan rendah diri pada anak. Di antaranya:Hinaan dan celaan.Dimanja secara berlebihan.Pilih kasih.Kemiskinan atau cacat jasmani.Sifat penakut.Sifat pengecut, dan lain-lain.Semoga Anda sukses menangani kekurangan tersebut dalam diri putra-putri Anda, amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Rabi’ul Akhir 1437 / 25 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara penyakit yang cukup berbahaya untuk perkembangan mental anak adalah minder atau kurang percaya diri. Faktor genetika memang memiliki andil dalam menumbuhkan kondisi kejiwaan ini. Namun faktor lingkungan juga memiliki andil yang dominan dalam memperbesar atau menghilangkan watak buruk ini. Sebagai contoh, anak-anak yang sering bergaul dengan teman-temannya, perasan mindernya lebih kecil dibanding anak yang tidak pernah atau kurang bergaul dengan teman-temannya.Cara menanggulangi masalah ini, biasakan anak bergaul dengan orang lain. Jika perlu undanglah kawan-kawan mereka ke rumah atau bawalah anak berkunjung ke rumah teman-teman atau karib kerabat.Didiklah anak untuk membebaskan diri dari sikap minder, tidak percaya diri dan terlalu bergantung kepada orang lain. Biasakan mereka berbicara di hadapan orang banyak. Tentu kita masih ingat kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bagaimana ayahnya mendorong dirinya untuk berani berbicara di hadapan banyak orang, bahkan di majelis orang dewasa. Beliau menceritakan,[arabic-font]قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ؟» فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ، ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ فَقَالَ: «هِيَ النَّخْلَةُ» قَالَ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعُمَرَ، قَالَ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَ: هِيَ النَّخْلَةُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا[/arabic-font]“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh ada sebuah pohon yang tidak pernah gugur daunnya, dia adalah perumpaan muslim. Tahukah kalian apa itu?”. Orang-orang mengira bahwa itu adalah pohon-pohon di padang pasir. Lalu terbersitlah dalam pikiranku bahwa pohon yang beliau maksud adalah pohon kurma. Hanya saja aku merasa segan untuk berbicara. Mereka berkata, “Beritahulah kami apakah pohon itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Pohon itu adalah pohon kurma”.Setelah keluar kusampaikan hal itu kepada Umar.Beliau berkomentar, “Andaikan kamu mengatakan bahwa jawabannya adalah pohon kurma, niscaya itu lebih aku sukai daripada ini dan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Lihatlah bagaimana Umar memotivasi putra beliau; Abdullah untuk tidak malu menyampaikan sesuatu yang diyakini kebenarannya, walaupun itu di majelis orang-orang dewasa.Selain itu, bisa juga para orang tua menyertakan anak dalam berbagai perlombaan yang bermanfaat. Dampingi mereka dan berikan dukungan juga semangat padanya.Jangan lupa, hindarilah perkara-perkara yang dapat menimbulkan rasa minder dan rendah diri pada anak. Di antaranya:Hinaan dan celaan.Dimanja secara berlebihan.Pilih kasih.Kemiskinan atau cacat jasmani.Sifat penakut.Sifat pengecut, dan lain-lain.Semoga Anda sukses menangani kekurangan tersebut dalam diri putra-putri Anda, amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Rabi’ul Akhir 1437 / 25 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara penyakit yang cukup berbahaya untuk perkembangan mental anak adalah minder atau kurang percaya diri. Faktor genetika memang memiliki andil dalam menumbuhkan kondisi kejiwaan ini. Namun faktor lingkungan juga memiliki andil yang dominan dalam memperbesar atau menghilangkan watak buruk ini. Sebagai contoh, anak-anak yang sering bergaul dengan teman-temannya, perasan mindernya lebih kecil dibanding anak yang tidak pernah atau kurang bergaul dengan teman-temannya.Cara menanggulangi masalah ini, biasakan anak bergaul dengan orang lain. Jika perlu undanglah kawan-kawan mereka ke rumah atau bawalah anak berkunjung ke rumah teman-teman atau karib kerabat.Didiklah anak untuk membebaskan diri dari sikap minder, tidak percaya diri dan terlalu bergantung kepada orang lain. Biasakan mereka berbicara di hadapan orang banyak. Tentu kita masih ingat kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bagaimana ayahnya mendorong dirinya untuk berani berbicara di hadapan banyak orang, bahkan di majelis orang dewasa. Beliau menceritakan,[arabic-font]قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ؟» فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ، ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ فَقَالَ: «هِيَ النَّخْلَةُ» قَالَ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعُمَرَ، قَالَ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَ: هِيَ النَّخْلَةُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا[/arabic-font]“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh ada sebuah pohon yang tidak pernah gugur daunnya, dia adalah perumpaan muslim. Tahukah kalian apa itu?”. Orang-orang mengira bahwa itu adalah pohon-pohon di padang pasir. Lalu terbersitlah dalam pikiranku bahwa pohon yang beliau maksud adalah pohon kurma. Hanya saja aku merasa segan untuk berbicara. Mereka berkata, “Beritahulah kami apakah pohon itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “Pohon itu adalah pohon kurma”.Setelah keluar kusampaikan hal itu kepada Umar.Beliau berkomentar, “Andaikan kamu mengatakan bahwa jawabannya adalah pohon kurma, niscaya itu lebih aku sukai daripada ini dan itu”. HR. Bukhari dan Muslim.Lihatlah bagaimana Umar memotivasi putra beliau; Abdullah untuk tidak malu menyampaikan sesuatu yang diyakini kebenarannya, walaupun itu di majelis orang-orang dewasa.Selain itu, bisa juga para orang tua menyertakan anak dalam berbagai perlombaan yang bermanfaat. Dampingi mereka dan berikan dukungan juga semangat padanya.Jangan lupa, hindarilah perkara-perkara yang dapat menimbulkan rasa minder dan rendah diri pada anak. Di antaranya:Hinaan dan celaan.Dimanja secara berlebihan.Pilih kasih.Kemiskinan atau cacat jasmani.Sifat penakut.Sifat pengecut, dan lain-lain.Semoga Anda sukses menangani kekurangan tersebut dalam diri putra-putri Anda, amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Rabi’ul Akhir 1437 / 25 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 94 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-4)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1)

Ketidakpercayaan diri seringkali menjadi satu masalah yang sangat merisaukan; baik bagi anak-anak, terutama bagi orang tuanya. Ketidakpercayaan diri ini jika dibiarkan tentunya akan menghambat perkembangan jiwa sang anak. Apalagi, anak akan menghadapi kehidupan mendatang yang membutuhkan kekuatan jiwa serta keterampilan pengembangan dirinya. Apa sih ciri-ciri anak yang tidak percaya diri?Ada beberapa indikasi anak ‘terserang’ virus ketidakpercayaan diri. Gejala itu adalah sebagai berikut:Anak sulit menyampaikan sesuatu. Kala berbicara ia gagap dan gagu; serta merasa kesulitan.Anak suka menutup diri dan tidak memiliki keberanian. Tidak berani tampil ke depan, tidak berani mengungkapkan gagasan, takut jika bertemu dengan orang lain, tidak berani mengatakan apa yang dirasakan, dan sebagainya.Anak tidak mampu berfikir secara mandiri. Tatkala ia mendapati masalah, atau kesulitan melakukan sesuatu; ia langsung meminta bantuan kepada orang lain, tidak berusaha memecahkan terlebih dahulu. Hal ini karena ia sudah punya anggapan bahwa dirinya tidak akan bisa memecahkan masalah itu.Anak senantiasa dihantui rasa was-was ada bahaya, kejahatan yang membuatnya bertambah takut dan khawatir.Apakah anak Anda terserang virus ini? Jika iya, silahkan lanjut membaca apa sebabnya. Mungkin bisa menjadi evaluasi kita sebagai orang tua. Namun jika anaknya tidak terserang, bersyukurlah, dan tetap lanjut baca. Jangan sampai kebobolan!Penyebab anak tidak percaya diri, antara lain :1. Kesalahan Cara MendidikHal ini perlu diketahui oleh semua orang tua. Mendidik anak itu bukan coba-coba. Salah mendidik anak bisa berarti kita telah merusak satu generasi ke depan. Maka, hendaklah hal-hal berikut tidak kita lakukan; atau jika sudah terjadi, perlu segera kita hentikan. Sungguh, ini demi masa depan anak kita. Kesalahan apa yang dimaksud, sehingga bisa membuat seorang anak tidak percaya diri?Anak dididik selalu dengan ancaman dan celaan. Bagaimana anak akan percaya diri, bila setiap dia melakukan sesuatu, pasti ada yang mengancamya, “Eit! Hentikan! Bisa kotor semua ini! Bisa rusak semua! Bisa berantakan semua!”. Eit, jangan naik tangga, jatuh nanti kau nak! Eit, jangan main air, nanti basah semua!Pun dengan celaan, Duuh, ini kerjaan ndak beres-beres! Lama sekali menyapunya! Ini bantuin nyuci piring kok ngga bersih! Tuh kan lihat, dindingnya kotor semua kena spidolmu! Anak selalu dicela tatkala mengalami kegagalan. Anak selalu dicela sebagus apapun hasil pekerjaannya.Anak dididik dengan penuh kecurigaan. Ketika rumah berantakan, langsung dicurigai sebagai pelaku ‘perusak’ rumah. Ketika ada makanan tidak dihabiskan, langsung dicurigai sebagai pelaku kemubadziran. Ketika pulang agak terlambat, langsung dicurigai sebagai pelaku anak tidak taat.Anak yang demikian, lama-lama akan enggan menyampaikan alasan yang sebenarnya terjadi, enggan menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Belum dia beroleh kesempatan, sudah terlebih dahulu dicurigai.Anak dididik dengan kekerasan dan kasar. Pukulan memang diperbolehkan, tapi pukulan itu hanya boleh diperuntukkan sesuatu yang sangat penting, semisal shalat. Itupun dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Anak yang sering dipukul, diperlakukan kasar dan keras justru menjadi pribadi yang menuntup dirinya. Dia akan senantiasa ketakutan dan muncul padanya kekhawatiran setiap kali akan melakukan sesuatu. Dia takut tiba-tiba orang tuanya datang lalu membentaknya, bahkan memukulnya.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Akhir 1437 / 8 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1)

Ketidakpercayaan diri seringkali menjadi satu masalah yang sangat merisaukan; baik bagi anak-anak, terutama bagi orang tuanya. Ketidakpercayaan diri ini jika dibiarkan tentunya akan menghambat perkembangan jiwa sang anak. Apalagi, anak akan menghadapi kehidupan mendatang yang membutuhkan kekuatan jiwa serta keterampilan pengembangan dirinya. Apa sih ciri-ciri anak yang tidak percaya diri?Ada beberapa indikasi anak ‘terserang’ virus ketidakpercayaan diri. Gejala itu adalah sebagai berikut:Anak sulit menyampaikan sesuatu. Kala berbicara ia gagap dan gagu; serta merasa kesulitan.Anak suka menutup diri dan tidak memiliki keberanian. Tidak berani tampil ke depan, tidak berani mengungkapkan gagasan, takut jika bertemu dengan orang lain, tidak berani mengatakan apa yang dirasakan, dan sebagainya.Anak tidak mampu berfikir secara mandiri. Tatkala ia mendapati masalah, atau kesulitan melakukan sesuatu; ia langsung meminta bantuan kepada orang lain, tidak berusaha memecahkan terlebih dahulu. Hal ini karena ia sudah punya anggapan bahwa dirinya tidak akan bisa memecahkan masalah itu.Anak senantiasa dihantui rasa was-was ada bahaya, kejahatan yang membuatnya bertambah takut dan khawatir.Apakah anak Anda terserang virus ini? Jika iya, silahkan lanjut membaca apa sebabnya. Mungkin bisa menjadi evaluasi kita sebagai orang tua. Namun jika anaknya tidak terserang, bersyukurlah, dan tetap lanjut baca. Jangan sampai kebobolan!Penyebab anak tidak percaya diri, antara lain :1. Kesalahan Cara MendidikHal ini perlu diketahui oleh semua orang tua. Mendidik anak itu bukan coba-coba. Salah mendidik anak bisa berarti kita telah merusak satu generasi ke depan. Maka, hendaklah hal-hal berikut tidak kita lakukan; atau jika sudah terjadi, perlu segera kita hentikan. Sungguh, ini demi masa depan anak kita. Kesalahan apa yang dimaksud, sehingga bisa membuat seorang anak tidak percaya diri?Anak dididik selalu dengan ancaman dan celaan. Bagaimana anak akan percaya diri, bila setiap dia melakukan sesuatu, pasti ada yang mengancamya, “Eit! Hentikan! Bisa kotor semua ini! Bisa rusak semua! Bisa berantakan semua!”. Eit, jangan naik tangga, jatuh nanti kau nak! Eit, jangan main air, nanti basah semua!Pun dengan celaan, Duuh, ini kerjaan ndak beres-beres! Lama sekali menyapunya! Ini bantuin nyuci piring kok ngga bersih! Tuh kan lihat, dindingnya kotor semua kena spidolmu! Anak selalu dicela tatkala mengalami kegagalan. Anak selalu dicela sebagus apapun hasil pekerjaannya.Anak dididik dengan penuh kecurigaan. Ketika rumah berantakan, langsung dicurigai sebagai pelaku ‘perusak’ rumah. Ketika ada makanan tidak dihabiskan, langsung dicurigai sebagai pelaku kemubadziran. Ketika pulang agak terlambat, langsung dicurigai sebagai pelaku anak tidak taat.Anak yang demikian, lama-lama akan enggan menyampaikan alasan yang sebenarnya terjadi, enggan menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Belum dia beroleh kesempatan, sudah terlebih dahulu dicurigai.Anak dididik dengan kekerasan dan kasar. Pukulan memang diperbolehkan, tapi pukulan itu hanya boleh diperuntukkan sesuatu yang sangat penting, semisal shalat. Itupun dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Anak yang sering dipukul, diperlakukan kasar dan keras justru menjadi pribadi yang menuntup dirinya. Dia akan senantiasa ketakutan dan muncul padanya kekhawatiran setiap kali akan melakukan sesuatu. Dia takut tiba-tiba orang tuanya datang lalu membentaknya, bahkan memukulnya.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Akhir 1437 / 8 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Ketidakpercayaan diri seringkali menjadi satu masalah yang sangat merisaukan; baik bagi anak-anak, terutama bagi orang tuanya. Ketidakpercayaan diri ini jika dibiarkan tentunya akan menghambat perkembangan jiwa sang anak. Apalagi, anak akan menghadapi kehidupan mendatang yang membutuhkan kekuatan jiwa serta keterampilan pengembangan dirinya. Apa sih ciri-ciri anak yang tidak percaya diri?Ada beberapa indikasi anak ‘terserang’ virus ketidakpercayaan diri. Gejala itu adalah sebagai berikut:Anak sulit menyampaikan sesuatu. Kala berbicara ia gagap dan gagu; serta merasa kesulitan.Anak suka menutup diri dan tidak memiliki keberanian. Tidak berani tampil ke depan, tidak berani mengungkapkan gagasan, takut jika bertemu dengan orang lain, tidak berani mengatakan apa yang dirasakan, dan sebagainya.Anak tidak mampu berfikir secara mandiri. Tatkala ia mendapati masalah, atau kesulitan melakukan sesuatu; ia langsung meminta bantuan kepada orang lain, tidak berusaha memecahkan terlebih dahulu. Hal ini karena ia sudah punya anggapan bahwa dirinya tidak akan bisa memecahkan masalah itu.Anak senantiasa dihantui rasa was-was ada bahaya, kejahatan yang membuatnya bertambah takut dan khawatir.Apakah anak Anda terserang virus ini? Jika iya, silahkan lanjut membaca apa sebabnya. Mungkin bisa menjadi evaluasi kita sebagai orang tua. Namun jika anaknya tidak terserang, bersyukurlah, dan tetap lanjut baca. Jangan sampai kebobolan!Penyebab anak tidak percaya diri, antara lain :1. Kesalahan Cara MendidikHal ini perlu diketahui oleh semua orang tua. Mendidik anak itu bukan coba-coba. Salah mendidik anak bisa berarti kita telah merusak satu generasi ke depan. Maka, hendaklah hal-hal berikut tidak kita lakukan; atau jika sudah terjadi, perlu segera kita hentikan. Sungguh, ini demi masa depan anak kita. Kesalahan apa yang dimaksud, sehingga bisa membuat seorang anak tidak percaya diri?Anak dididik selalu dengan ancaman dan celaan. Bagaimana anak akan percaya diri, bila setiap dia melakukan sesuatu, pasti ada yang mengancamya, “Eit! Hentikan! Bisa kotor semua ini! Bisa rusak semua! Bisa berantakan semua!”. Eit, jangan naik tangga, jatuh nanti kau nak! Eit, jangan main air, nanti basah semua!Pun dengan celaan, Duuh, ini kerjaan ndak beres-beres! Lama sekali menyapunya! Ini bantuin nyuci piring kok ngga bersih! Tuh kan lihat, dindingnya kotor semua kena spidolmu! Anak selalu dicela tatkala mengalami kegagalan. Anak selalu dicela sebagus apapun hasil pekerjaannya.Anak dididik dengan penuh kecurigaan. Ketika rumah berantakan, langsung dicurigai sebagai pelaku ‘perusak’ rumah. Ketika ada makanan tidak dihabiskan, langsung dicurigai sebagai pelaku kemubadziran. Ketika pulang agak terlambat, langsung dicurigai sebagai pelaku anak tidak taat.Anak yang demikian, lama-lama akan enggan menyampaikan alasan yang sebenarnya terjadi, enggan menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Belum dia beroleh kesempatan, sudah terlebih dahulu dicurigai.Anak dididik dengan kekerasan dan kasar. Pukulan memang diperbolehkan, tapi pukulan itu hanya boleh diperuntukkan sesuatu yang sangat penting, semisal shalat. Itupun dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Anak yang sering dipukul, diperlakukan kasar dan keras justru menjadi pribadi yang menuntup dirinya. Dia akan senantiasa ketakutan dan muncul padanya kekhawatiran setiap kali akan melakukan sesuatu. Dia takut tiba-tiba orang tuanya datang lalu membentaknya, bahkan memukulnya.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Akhir 1437 / 8 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Ketidakpercayaan diri seringkali menjadi satu masalah yang sangat merisaukan; baik bagi anak-anak, terutama bagi orang tuanya. Ketidakpercayaan diri ini jika dibiarkan tentunya akan menghambat perkembangan jiwa sang anak. Apalagi, anak akan menghadapi kehidupan mendatang yang membutuhkan kekuatan jiwa serta keterampilan pengembangan dirinya. Apa sih ciri-ciri anak yang tidak percaya diri?Ada beberapa indikasi anak ‘terserang’ virus ketidakpercayaan diri. Gejala itu adalah sebagai berikut:Anak sulit menyampaikan sesuatu. Kala berbicara ia gagap dan gagu; serta merasa kesulitan.Anak suka menutup diri dan tidak memiliki keberanian. Tidak berani tampil ke depan, tidak berani mengungkapkan gagasan, takut jika bertemu dengan orang lain, tidak berani mengatakan apa yang dirasakan, dan sebagainya.Anak tidak mampu berfikir secara mandiri. Tatkala ia mendapati masalah, atau kesulitan melakukan sesuatu; ia langsung meminta bantuan kepada orang lain, tidak berusaha memecahkan terlebih dahulu. Hal ini karena ia sudah punya anggapan bahwa dirinya tidak akan bisa memecahkan masalah itu.Anak senantiasa dihantui rasa was-was ada bahaya, kejahatan yang membuatnya bertambah takut dan khawatir.Apakah anak Anda terserang virus ini? Jika iya, silahkan lanjut membaca apa sebabnya. Mungkin bisa menjadi evaluasi kita sebagai orang tua. Namun jika anaknya tidak terserang, bersyukurlah, dan tetap lanjut baca. Jangan sampai kebobolan!Penyebab anak tidak percaya diri, antara lain :1. Kesalahan Cara MendidikHal ini perlu diketahui oleh semua orang tua. Mendidik anak itu bukan coba-coba. Salah mendidik anak bisa berarti kita telah merusak satu generasi ke depan. Maka, hendaklah hal-hal berikut tidak kita lakukan; atau jika sudah terjadi, perlu segera kita hentikan. Sungguh, ini demi masa depan anak kita. Kesalahan apa yang dimaksud, sehingga bisa membuat seorang anak tidak percaya diri?Anak dididik selalu dengan ancaman dan celaan. Bagaimana anak akan percaya diri, bila setiap dia melakukan sesuatu, pasti ada yang mengancamya, “Eit! Hentikan! Bisa kotor semua ini! Bisa rusak semua! Bisa berantakan semua!”. Eit, jangan naik tangga, jatuh nanti kau nak! Eit, jangan main air, nanti basah semua!Pun dengan celaan, Duuh, ini kerjaan ndak beres-beres! Lama sekali menyapunya! Ini bantuin nyuci piring kok ngga bersih! Tuh kan lihat, dindingnya kotor semua kena spidolmu! Anak selalu dicela tatkala mengalami kegagalan. Anak selalu dicela sebagus apapun hasil pekerjaannya.Anak dididik dengan penuh kecurigaan. Ketika rumah berantakan, langsung dicurigai sebagai pelaku ‘perusak’ rumah. Ketika ada makanan tidak dihabiskan, langsung dicurigai sebagai pelaku kemubadziran. Ketika pulang agak terlambat, langsung dicurigai sebagai pelaku anak tidak taat.Anak yang demikian, lama-lama akan enggan menyampaikan alasan yang sebenarnya terjadi, enggan menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Belum dia beroleh kesempatan, sudah terlebih dahulu dicurigai.Anak dididik dengan kekerasan dan kasar. Pukulan memang diperbolehkan, tapi pukulan itu hanya boleh diperuntukkan sesuatu yang sangat penting, semisal shalat. Itupun dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Anak yang sering dipukul, diperlakukan kasar dan keras justru menjadi pribadi yang menuntup dirinya. Dia akan senantiasa ketakutan dan muncul padanya kekhawatiran setiap kali akan melakukan sesuatu. Dia takut tiba-tiba orang tuanya datang lalu membentaknya, bahkan memukulnya.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Rabi’ul Akhir 1437 / 8 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 67 (MENGATASI KEMINDERAN ANAK)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2)

Dalam artikel sebelumnya telah dimulai pembahasan tentang hal-hal yang menyebabkan anak tidak percaya diri. Bahwa di antara penyebabnya adalah kesalahan dalam cara mendidik anak. Di antara potret kesalahan tersebut:Anak dididik untuk merasa tidak berharga.Dalam satu hari kehidupan sang anak perlu paling tidak ada satu kesempatan ia mendapat apresiasi atau pujian dari orang lain, terutama orang tuanya. Pujian itu akan membuatnya merasa menjadi orang berguna, dan orang yang hebat; mampu melakukan sesuatu. Dengan demikian, jiwa positif seseorang pun akan meluas. Jika sebaliknya, tentunya ia akan semakin merasa menjadi anak yang tidak ada gunanya, dan tidak bisa apa-apa.Walaupun dalam konsep pendidikan Islam tidak hanya dikenal metode pujian. Tapi juga ada metode menakut-nakuti (ancaman / hukuman). Yang paling pas adalah sikap proporsional antara kedua metode tersebut.Anak dididik untuk persaingan tidak sehat dengan kawan. Secara asal tidak mengapa menyebutkan kelebihan orang lain untuk memotivasi anak agar mencontohnya. Namun yang sering menimbulkan masalah adalah tatkala sebagian orang tua terlalu kerap membandingkan kondisi anaknya dengan kondisi anak tetangga. Mereka membandingkan masalah perkembangan fisik lah, emosional lah, nilai akademis lah, prestasi lah, atau yang lainnya. Seringkali anak yang senantiasa dibandingkan ini, ia menjadi anak yang lebih rendah atau buruk dari kawannya. Akan menganggap dirinya tidak punya apa-apa, tidak bisa berpikir apa-apa. Maka akan mudah baginya menyerah atas sebuah masalah, karena merasa Ah, temanku itu yang bisa! Aku mah, kayak gini aja ga bisa!Mungkin maksud dari orang tua membandingkan anaknya adalah sebagai motivasi. Namun, sungguh kebanyakan hanya akan memberikan pengaruh sebaliknya. Sebab dia belum bisa menangkap maksud anda. Karena dia masih dalam proses pencarian jati diri. Padahal bisa jadi anak memang kurang dalam mata pelajaran tertentu, tapi unggul di mata pelajaran yang lain. Jangan menuntut anak menguasai semua bidang.Anak dididik untuk minat yang tidak sesuai keinginan. Mengarahkan anak kepada sesuatu yang baik tentu merupakan hal yang positif. Mempelajari ilmu agama yang prinsipil. Mengetahui etika dan adab mulia. Dan yang semisalnya. Namun dalam hal-hal yang bersifat fleksibel, seperti jurusan sekolah, profesi pekerjaan dan yang serupa, kurang bijak bila anak dipaksakan mengikuti kehendak orang tuanya. Betapa banyak orang tua yang memaksakan keinginan/cita-citanya diwujudkan oleh sang anak. Padahal, cita-cita tersebut belum tentu disukai oleh anak.Anak dididik untuk terbatasi setiap perilaku dan cara berpikirnya. Anak itu daya pikirnya masih sangat melebar, imajinatif. Misalnya bercita-cita menjadi imam Masjdil Haram. Anak tidaklah seperti sebagian orang tua yang sering terjebak dalam belenggu keterbatasan. Biarkan anak berkembang selama masih dalam kerangka yang benar. Apalagi terkait cita-cita anak jangan batasi kemungkinannya. Termasuk di dalamnya adalah meremehkan kemampuan anak, Ah, masa bisa si kakak?Di antara penyebab anak tidak percaya diri juga: Pengaruh LingkunganLingkungan yang berpengaruh besar utamanya adalah keluarga. Jika orang tuanya sering bertengkar, maka anak pun akan senantiasa berada dalam ancaman, ketidaknyamanan, ketakutan, dalam kehidupan sehari-harinya. Inipun akan berdampak dalam kehidupan di luar. Anak tidak mudah bergaul karena merasa takut dan was-was, serta merasa rendah diri.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumadal Ula 1437 / 29 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2)

Dalam artikel sebelumnya telah dimulai pembahasan tentang hal-hal yang menyebabkan anak tidak percaya diri. Bahwa di antara penyebabnya adalah kesalahan dalam cara mendidik anak. Di antara potret kesalahan tersebut:Anak dididik untuk merasa tidak berharga.Dalam satu hari kehidupan sang anak perlu paling tidak ada satu kesempatan ia mendapat apresiasi atau pujian dari orang lain, terutama orang tuanya. Pujian itu akan membuatnya merasa menjadi orang berguna, dan orang yang hebat; mampu melakukan sesuatu. Dengan demikian, jiwa positif seseorang pun akan meluas. Jika sebaliknya, tentunya ia akan semakin merasa menjadi anak yang tidak ada gunanya, dan tidak bisa apa-apa.Walaupun dalam konsep pendidikan Islam tidak hanya dikenal metode pujian. Tapi juga ada metode menakut-nakuti (ancaman / hukuman). Yang paling pas adalah sikap proporsional antara kedua metode tersebut.Anak dididik untuk persaingan tidak sehat dengan kawan. Secara asal tidak mengapa menyebutkan kelebihan orang lain untuk memotivasi anak agar mencontohnya. Namun yang sering menimbulkan masalah adalah tatkala sebagian orang tua terlalu kerap membandingkan kondisi anaknya dengan kondisi anak tetangga. Mereka membandingkan masalah perkembangan fisik lah, emosional lah, nilai akademis lah, prestasi lah, atau yang lainnya. Seringkali anak yang senantiasa dibandingkan ini, ia menjadi anak yang lebih rendah atau buruk dari kawannya. Akan menganggap dirinya tidak punya apa-apa, tidak bisa berpikir apa-apa. Maka akan mudah baginya menyerah atas sebuah masalah, karena merasa Ah, temanku itu yang bisa! Aku mah, kayak gini aja ga bisa!Mungkin maksud dari orang tua membandingkan anaknya adalah sebagai motivasi. Namun, sungguh kebanyakan hanya akan memberikan pengaruh sebaliknya. Sebab dia belum bisa menangkap maksud anda. Karena dia masih dalam proses pencarian jati diri. Padahal bisa jadi anak memang kurang dalam mata pelajaran tertentu, tapi unggul di mata pelajaran yang lain. Jangan menuntut anak menguasai semua bidang.Anak dididik untuk minat yang tidak sesuai keinginan. Mengarahkan anak kepada sesuatu yang baik tentu merupakan hal yang positif. Mempelajari ilmu agama yang prinsipil. Mengetahui etika dan adab mulia. Dan yang semisalnya. Namun dalam hal-hal yang bersifat fleksibel, seperti jurusan sekolah, profesi pekerjaan dan yang serupa, kurang bijak bila anak dipaksakan mengikuti kehendak orang tuanya. Betapa banyak orang tua yang memaksakan keinginan/cita-citanya diwujudkan oleh sang anak. Padahal, cita-cita tersebut belum tentu disukai oleh anak.Anak dididik untuk terbatasi setiap perilaku dan cara berpikirnya. Anak itu daya pikirnya masih sangat melebar, imajinatif. Misalnya bercita-cita menjadi imam Masjdil Haram. Anak tidaklah seperti sebagian orang tua yang sering terjebak dalam belenggu keterbatasan. Biarkan anak berkembang selama masih dalam kerangka yang benar. Apalagi terkait cita-cita anak jangan batasi kemungkinannya. Termasuk di dalamnya adalah meremehkan kemampuan anak, Ah, masa bisa si kakak?Di antara penyebab anak tidak percaya diri juga: Pengaruh LingkunganLingkungan yang berpengaruh besar utamanya adalah keluarga. Jika orang tuanya sering bertengkar, maka anak pun akan senantiasa berada dalam ancaman, ketidaknyamanan, ketakutan, dalam kehidupan sehari-harinya. Inipun akan berdampak dalam kehidupan di luar. Anak tidak mudah bergaul karena merasa takut dan was-was, serta merasa rendah diri.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumadal Ula 1437 / 29 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dalam artikel sebelumnya telah dimulai pembahasan tentang hal-hal yang menyebabkan anak tidak percaya diri. Bahwa di antara penyebabnya adalah kesalahan dalam cara mendidik anak. Di antara potret kesalahan tersebut:Anak dididik untuk merasa tidak berharga.Dalam satu hari kehidupan sang anak perlu paling tidak ada satu kesempatan ia mendapat apresiasi atau pujian dari orang lain, terutama orang tuanya. Pujian itu akan membuatnya merasa menjadi orang berguna, dan orang yang hebat; mampu melakukan sesuatu. Dengan demikian, jiwa positif seseorang pun akan meluas. Jika sebaliknya, tentunya ia akan semakin merasa menjadi anak yang tidak ada gunanya, dan tidak bisa apa-apa.Walaupun dalam konsep pendidikan Islam tidak hanya dikenal metode pujian. Tapi juga ada metode menakut-nakuti (ancaman / hukuman). Yang paling pas adalah sikap proporsional antara kedua metode tersebut.Anak dididik untuk persaingan tidak sehat dengan kawan. Secara asal tidak mengapa menyebutkan kelebihan orang lain untuk memotivasi anak agar mencontohnya. Namun yang sering menimbulkan masalah adalah tatkala sebagian orang tua terlalu kerap membandingkan kondisi anaknya dengan kondisi anak tetangga. Mereka membandingkan masalah perkembangan fisik lah, emosional lah, nilai akademis lah, prestasi lah, atau yang lainnya. Seringkali anak yang senantiasa dibandingkan ini, ia menjadi anak yang lebih rendah atau buruk dari kawannya. Akan menganggap dirinya tidak punya apa-apa, tidak bisa berpikir apa-apa. Maka akan mudah baginya menyerah atas sebuah masalah, karena merasa Ah, temanku itu yang bisa! Aku mah, kayak gini aja ga bisa!Mungkin maksud dari orang tua membandingkan anaknya adalah sebagai motivasi. Namun, sungguh kebanyakan hanya akan memberikan pengaruh sebaliknya. Sebab dia belum bisa menangkap maksud anda. Karena dia masih dalam proses pencarian jati diri. Padahal bisa jadi anak memang kurang dalam mata pelajaran tertentu, tapi unggul di mata pelajaran yang lain. Jangan menuntut anak menguasai semua bidang.Anak dididik untuk minat yang tidak sesuai keinginan. Mengarahkan anak kepada sesuatu yang baik tentu merupakan hal yang positif. Mempelajari ilmu agama yang prinsipil. Mengetahui etika dan adab mulia. Dan yang semisalnya. Namun dalam hal-hal yang bersifat fleksibel, seperti jurusan sekolah, profesi pekerjaan dan yang serupa, kurang bijak bila anak dipaksakan mengikuti kehendak orang tuanya. Betapa banyak orang tua yang memaksakan keinginan/cita-citanya diwujudkan oleh sang anak. Padahal, cita-cita tersebut belum tentu disukai oleh anak.Anak dididik untuk terbatasi setiap perilaku dan cara berpikirnya. Anak itu daya pikirnya masih sangat melebar, imajinatif. Misalnya bercita-cita menjadi imam Masjdil Haram. Anak tidaklah seperti sebagian orang tua yang sering terjebak dalam belenggu keterbatasan. Biarkan anak berkembang selama masih dalam kerangka yang benar. Apalagi terkait cita-cita anak jangan batasi kemungkinannya. Termasuk di dalamnya adalah meremehkan kemampuan anak, Ah, masa bisa si kakak?Di antara penyebab anak tidak percaya diri juga: Pengaruh LingkunganLingkungan yang berpengaruh besar utamanya adalah keluarga. Jika orang tuanya sering bertengkar, maka anak pun akan senantiasa berada dalam ancaman, ketidaknyamanan, ketakutan, dalam kehidupan sehari-harinya. Inipun akan berdampak dalam kehidupan di luar. Anak tidak mudah bergaul karena merasa takut dan was-was, serta merasa rendah diri.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumadal Ula 1437 / 29 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dalam artikel sebelumnya telah dimulai pembahasan tentang hal-hal yang menyebabkan anak tidak percaya diri. Bahwa di antara penyebabnya adalah kesalahan dalam cara mendidik anak. Di antara potret kesalahan tersebut:Anak dididik untuk merasa tidak berharga.Dalam satu hari kehidupan sang anak perlu paling tidak ada satu kesempatan ia mendapat apresiasi atau pujian dari orang lain, terutama orang tuanya. Pujian itu akan membuatnya merasa menjadi orang berguna, dan orang yang hebat; mampu melakukan sesuatu. Dengan demikian, jiwa positif seseorang pun akan meluas. Jika sebaliknya, tentunya ia akan semakin merasa menjadi anak yang tidak ada gunanya, dan tidak bisa apa-apa.Walaupun dalam konsep pendidikan Islam tidak hanya dikenal metode pujian. Tapi juga ada metode menakut-nakuti (ancaman / hukuman). Yang paling pas adalah sikap proporsional antara kedua metode tersebut.Anak dididik untuk persaingan tidak sehat dengan kawan. Secara asal tidak mengapa menyebutkan kelebihan orang lain untuk memotivasi anak agar mencontohnya. Namun yang sering menimbulkan masalah adalah tatkala sebagian orang tua terlalu kerap membandingkan kondisi anaknya dengan kondisi anak tetangga. Mereka membandingkan masalah perkembangan fisik lah, emosional lah, nilai akademis lah, prestasi lah, atau yang lainnya. Seringkali anak yang senantiasa dibandingkan ini, ia menjadi anak yang lebih rendah atau buruk dari kawannya. Akan menganggap dirinya tidak punya apa-apa, tidak bisa berpikir apa-apa. Maka akan mudah baginya menyerah atas sebuah masalah, karena merasa Ah, temanku itu yang bisa! Aku mah, kayak gini aja ga bisa!Mungkin maksud dari orang tua membandingkan anaknya adalah sebagai motivasi. Namun, sungguh kebanyakan hanya akan memberikan pengaruh sebaliknya. Sebab dia belum bisa menangkap maksud anda. Karena dia masih dalam proses pencarian jati diri. Padahal bisa jadi anak memang kurang dalam mata pelajaran tertentu, tapi unggul di mata pelajaran yang lain. Jangan menuntut anak menguasai semua bidang.Anak dididik untuk minat yang tidak sesuai keinginan. Mengarahkan anak kepada sesuatu yang baik tentu merupakan hal yang positif. Mempelajari ilmu agama yang prinsipil. Mengetahui etika dan adab mulia. Dan yang semisalnya. Namun dalam hal-hal yang bersifat fleksibel, seperti jurusan sekolah, profesi pekerjaan dan yang serupa, kurang bijak bila anak dipaksakan mengikuti kehendak orang tuanya. Betapa banyak orang tua yang memaksakan keinginan/cita-citanya diwujudkan oleh sang anak. Padahal, cita-cita tersebut belum tentu disukai oleh anak.Anak dididik untuk terbatasi setiap perilaku dan cara berpikirnya. Anak itu daya pikirnya masih sangat melebar, imajinatif. Misalnya bercita-cita menjadi imam Masjdil Haram. Anak tidaklah seperti sebagian orang tua yang sering terjebak dalam belenggu keterbatasan. Biarkan anak berkembang selama masih dalam kerangka yang benar. Apalagi terkait cita-cita anak jangan batasi kemungkinannya. Termasuk di dalamnya adalah meremehkan kemampuan anak, Ah, masa bisa si kakak?Di antara penyebab anak tidak percaya diri juga: Pengaruh LingkunganLingkungan yang berpengaruh besar utamanya adalah keluarga. Jika orang tuanya sering bertengkar, maka anak pun akan senantiasa berada dalam ancaman, ketidaknyamanan, ketakutan, dalam kehidupan sehari-harinya. Inipun akan berdampak dalam kehidupan di luar. Anak tidak mudah bergaul karena merasa takut dan was-was, serta merasa rendah diri.Bersambung…Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumadal Ula 1437 / 29 Februari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 68 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis))

Dalam artikel sebelumnya telah dijelaskan dua penyebab anak tidak percaya diri. Berikut kelanjutannya: Pembebanan Tugas yang Tidak SesuaiDalam proses pendidikan dan pendewasaan, anak perlu untuk dilatih mendapat beban tugas. Baik secara teori dan prakteknya, memberikan penugasan atau pekerjaan kepada anak-anak yang usianya sudah sesuai, itu sangat positif. Misalnya saja si kakak kita beri tugas untuk merapikan buku yang sudah dibacanya, lalu ke si adik kita beri tugas untuk merapikan mainannya, dan lain-lain.Beberapa manfaat penugasan bagi anak dan orangtua itu antara lain: mempercepat kedewasaan berpikir, melatih kepatuhan, memperkuat kedekatan, menanamkan rasa tanggung jawab dan memperkuat rasa percaya diri. Dengan kita memberi apresiasi berupa ucapan terima kasih, komentar positif atau hadiah yang spesial, insyaAllah rasa percaya dirinya akan terbangun.Kemudian, penugasan itu akan lebih baik bila dilakukan bersama orangtua, misalnya pada hari libur. Sehingga akan terjalin keharmonisan hubungan antar anggota keluarga.Perlu diketahui bahwa tujuan penugasan itu bukan hasilnya, melainkan yang perlu kita hargai adalah prosesnya. Karena itu, kita disarankan untuk menghargai jerih payahnya seberapapun hasilnya. Yang perlu kita hindari adalah memberikan komentar negatif, entah untuk tujuan meremehkan atau hanya sekedar berkomentar. Karena komentar negatif bisa membangun konsep diri negatif. Anak yang berlebihan mendapatkan komentar negatif akan kurang motivasinya untuk berinisiatif. Mereka juga dibayang-bayangi oleh kesalahan sehingga takut bertindak. Namun, pembebanan tugas itu harus sesuai dengan kemampuan anak. Sebab ketidakpercayaan diri anak bisa muncul jika anak mendapat beban tugas yang sebenarnya belum sanggup dipikulnya. Ibarat seorang anak SD diberi soal ujian mahasiswa, maka si anak hanya akan merasa gagal dan tidak mampu. Padahal memang kemampuannya belum sampai ke sana.Ada perbedaan kemampuan dan karakteristik setiap anak. Ayah dan ibu hendaknya memperhatikan keadaan ini sehingga nantinya tidak membebani anak-anak dengan sesuatu di luar kemampuan mereka.Membebani anak dengan pekerjaan sulit melebihi kemampuannya akan membuatnya gagal. Efeknya ia akan merasa tidak mampu, kecewa, lemah dan menahan diri untuk melanjutkan aktivitasnya, bahkan menghindarinya. Pengaruh Fisik anakAdanya bentuk tubuh yang ‘tidak normal’ dan berbeda dari anak lain, biasanya mengundang cemooh dan ejekan dari teman-temannya. Seperti perut gendut, jerawat banyak, badan pendek, gigi nggak rata, cacat fisik dan lain sebagainya.Seringkali hal ini memacu rasa ketidakpercayaan diri seorang anak. Mari kita meminimalisir hal-hal tersebut supaya kepercayaan diri anak terjaga.Maka obatnya adalah memperbaiki kelemahan fisik tersebut sebisanya. Jika masih juga tak bisa diatasi, maka ajari anak untuk mensyukuri kelemahan fisik tersebut dan fokus pada kelebihan yang dia miliki. Allah Maha Adil, ketika ia mengurangkan sesuatu dari kita, dia akan melebihkan kita dari segi lainnya. Nah, daripada minder dengan kelemahan yang kita punya, lebih baik manfaatkan kelebihan yang Allah titip pada kita!Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/ dan berbagai sumber lainnya@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Jumada Tsaniyah 1437 / 28 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2)Next Omongan Orang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis))

Dalam artikel sebelumnya telah dijelaskan dua penyebab anak tidak percaya diri. Berikut kelanjutannya: Pembebanan Tugas yang Tidak SesuaiDalam proses pendidikan dan pendewasaan, anak perlu untuk dilatih mendapat beban tugas. Baik secara teori dan prakteknya, memberikan penugasan atau pekerjaan kepada anak-anak yang usianya sudah sesuai, itu sangat positif. Misalnya saja si kakak kita beri tugas untuk merapikan buku yang sudah dibacanya, lalu ke si adik kita beri tugas untuk merapikan mainannya, dan lain-lain.Beberapa manfaat penugasan bagi anak dan orangtua itu antara lain: mempercepat kedewasaan berpikir, melatih kepatuhan, memperkuat kedekatan, menanamkan rasa tanggung jawab dan memperkuat rasa percaya diri. Dengan kita memberi apresiasi berupa ucapan terima kasih, komentar positif atau hadiah yang spesial, insyaAllah rasa percaya dirinya akan terbangun.Kemudian, penugasan itu akan lebih baik bila dilakukan bersama orangtua, misalnya pada hari libur. Sehingga akan terjalin keharmonisan hubungan antar anggota keluarga.Perlu diketahui bahwa tujuan penugasan itu bukan hasilnya, melainkan yang perlu kita hargai adalah prosesnya. Karena itu, kita disarankan untuk menghargai jerih payahnya seberapapun hasilnya. Yang perlu kita hindari adalah memberikan komentar negatif, entah untuk tujuan meremehkan atau hanya sekedar berkomentar. Karena komentar negatif bisa membangun konsep diri negatif. Anak yang berlebihan mendapatkan komentar negatif akan kurang motivasinya untuk berinisiatif. Mereka juga dibayang-bayangi oleh kesalahan sehingga takut bertindak. Namun, pembebanan tugas itu harus sesuai dengan kemampuan anak. Sebab ketidakpercayaan diri anak bisa muncul jika anak mendapat beban tugas yang sebenarnya belum sanggup dipikulnya. Ibarat seorang anak SD diberi soal ujian mahasiswa, maka si anak hanya akan merasa gagal dan tidak mampu. Padahal memang kemampuannya belum sampai ke sana.Ada perbedaan kemampuan dan karakteristik setiap anak. Ayah dan ibu hendaknya memperhatikan keadaan ini sehingga nantinya tidak membebani anak-anak dengan sesuatu di luar kemampuan mereka.Membebani anak dengan pekerjaan sulit melebihi kemampuannya akan membuatnya gagal. Efeknya ia akan merasa tidak mampu, kecewa, lemah dan menahan diri untuk melanjutkan aktivitasnya, bahkan menghindarinya. Pengaruh Fisik anakAdanya bentuk tubuh yang ‘tidak normal’ dan berbeda dari anak lain, biasanya mengundang cemooh dan ejekan dari teman-temannya. Seperti perut gendut, jerawat banyak, badan pendek, gigi nggak rata, cacat fisik dan lain sebagainya.Seringkali hal ini memacu rasa ketidakpercayaan diri seorang anak. Mari kita meminimalisir hal-hal tersebut supaya kepercayaan diri anak terjaga.Maka obatnya adalah memperbaiki kelemahan fisik tersebut sebisanya. Jika masih juga tak bisa diatasi, maka ajari anak untuk mensyukuri kelemahan fisik tersebut dan fokus pada kelebihan yang dia miliki. Allah Maha Adil, ketika ia mengurangkan sesuatu dari kita, dia akan melebihkan kita dari segi lainnya. Nah, daripada minder dengan kelemahan yang kita punya, lebih baik manfaatkan kelebihan yang Allah titip pada kita!Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/ dan berbagai sumber lainnya@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Jumada Tsaniyah 1437 / 28 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2)Next Omongan Orang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Dalam artikel sebelumnya telah dijelaskan dua penyebab anak tidak percaya diri. Berikut kelanjutannya: Pembebanan Tugas yang Tidak SesuaiDalam proses pendidikan dan pendewasaan, anak perlu untuk dilatih mendapat beban tugas. Baik secara teori dan prakteknya, memberikan penugasan atau pekerjaan kepada anak-anak yang usianya sudah sesuai, itu sangat positif. Misalnya saja si kakak kita beri tugas untuk merapikan buku yang sudah dibacanya, lalu ke si adik kita beri tugas untuk merapikan mainannya, dan lain-lain.Beberapa manfaat penugasan bagi anak dan orangtua itu antara lain: mempercepat kedewasaan berpikir, melatih kepatuhan, memperkuat kedekatan, menanamkan rasa tanggung jawab dan memperkuat rasa percaya diri. Dengan kita memberi apresiasi berupa ucapan terima kasih, komentar positif atau hadiah yang spesial, insyaAllah rasa percaya dirinya akan terbangun.Kemudian, penugasan itu akan lebih baik bila dilakukan bersama orangtua, misalnya pada hari libur. Sehingga akan terjalin keharmonisan hubungan antar anggota keluarga.Perlu diketahui bahwa tujuan penugasan itu bukan hasilnya, melainkan yang perlu kita hargai adalah prosesnya. Karena itu, kita disarankan untuk menghargai jerih payahnya seberapapun hasilnya. Yang perlu kita hindari adalah memberikan komentar negatif, entah untuk tujuan meremehkan atau hanya sekedar berkomentar. Karena komentar negatif bisa membangun konsep diri negatif. Anak yang berlebihan mendapatkan komentar negatif akan kurang motivasinya untuk berinisiatif. Mereka juga dibayang-bayangi oleh kesalahan sehingga takut bertindak. Namun, pembebanan tugas itu harus sesuai dengan kemampuan anak. Sebab ketidakpercayaan diri anak bisa muncul jika anak mendapat beban tugas yang sebenarnya belum sanggup dipikulnya. Ibarat seorang anak SD diberi soal ujian mahasiswa, maka si anak hanya akan merasa gagal dan tidak mampu. Padahal memang kemampuannya belum sampai ke sana.Ada perbedaan kemampuan dan karakteristik setiap anak. Ayah dan ibu hendaknya memperhatikan keadaan ini sehingga nantinya tidak membebani anak-anak dengan sesuatu di luar kemampuan mereka.Membebani anak dengan pekerjaan sulit melebihi kemampuannya akan membuatnya gagal. Efeknya ia akan merasa tidak mampu, kecewa, lemah dan menahan diri untuk melanjutkan aktivitasnya, bahkan menghindarinya. Pengaruh Fisik anakAdanya bentuk tubuh yang ‘tidak normal’ dan berbeda dari anak lain, biasanya mengundang cemooh dan ejekan dari teman-temannya. Seperti perut gendut, jerawat banyak, badan pendek, gigi nggak rata, cacat fisik dan lain sebagainya.Seringkali hal ini memacu rasa ketidakpercayaan diri seorang anak. Mari kita meminimalisir hal-hal tersebut supaya kepercayaan diri anak terjaga.Maka obatnya adalah memperbaiki kelemahan fisik tersebut sebisanya. Jika masih juga tak bisa diatasi, maka ajari anak untuk mensyukuri kelemahan fisik tersebut dan fokus pada kelebihan yang dia miliki. Allah Maha Adil, ketika ia mengurangkan sesuatu dari kita, dia akan melebihkan kita dari segi lainnya. Nah, daripada minder dengan kelemahan yang kita punya, lebih baik manfaatkan kelebihan yang Allah titip pada kita!Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/ dan berbagai sumber lainnya@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Jumada Tsaniyah 1437 / 28 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2)Next Omongan Orang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Dalam artikel sebelumnya telah dijelaskan dua penyebab anak tidak percaya diri. Berikut kelanjutannya: Pembebanan Tugas yang Tidak SesuaiDalam proses pendidikan dan pendewasaan, anak perlu untuk dilatih mendapat beban tugas. Baik secara teori dan prakteknya, memberikan penugasan atau pekerjaan kepada anak-anak yang usianya sudah sesuai, itu sangat positif. Misalnya saja si kakak kita beri tugas untuk merapikan buku yang sudah dibacanya, lalu ke si adik kita beri tugas untuk merapikan mainannya, dan lain-lain.Beberapa manfaat penugasan bagi anak dan orangtua itu antara lain: mempercepat kedewasaan berpikir, melatih kepatuhan, memperkuat kedekatan, menanamkan rasa tanggung jawab dan memperkuat rasa percaya diri. Dengan kita memberi apresiasi berupa ucapan terima kasih, komentar positif atau hadiah yang spesial, insyaAllah rasa percaya dirinya akan terbangun.Kemudian, penugasan itu akan lebih baik bila dilakukan bersama orangtua, misalnya pada hari libur. Sehingga akan terjalin keharmonisan hubungan antar anggota keluarga.Perlu diketahui bahwa tujuan penugasan itu bukan hasilnya, melainkan yang perlu kita hargai adalah prosesnya. Karena itu, kita disarankan untuk menghargai jerih payahnya seberapapun hasilnya. Yang perlu kita hindari adalah memberikan komentar negatif, entah untuk tujuan meremehkan atau hanya sekedar berkomentar. Karena komentar negatif bisa membangun konsep diri negatif. Anak yang berlebihan mendapatkan komentar negatif akan kurang motivasinya untuk berinisiatif. Mereka juga dibayang-bayangi oleh kesalahan sehingga takut bertindak. Namun, pembebanan tugas itu harus sesuai dengan kemampuan anak. Sebab ketidakpercayaan diri anak bisa muncul jika anak mendapat beban tugas yang sebenarnya belum sanggup dipikulnya. Ibarat seorang anak SD diberi soal ujian mahasiswa, maka si anak hanya akan merasa gagal dan tidak mampu. Padahal memang kemampuannya belum sampai ke sana.Ada perbedaan kemampuan dan karakteristik setiap anak. Ayah dan ibu hendaknya memperhatikan keadaan ini sehingga nantinya tidak membebani anak-anak dengan sesuatu di luar kemampuan mereka.Membebani anak dengan pekerjaan sulit melebihi kemampuannya akan membuatnya gagal. Efeknya ia akan merasa tidak mampu, kecewa, lemah dan menahan diri untuk melanjutkan aktivitasnya, bahkan menghindarinya. Pengaruh Fisik anakAdanya bentuk tubuh yang ‘tidak normal’ dan berbeda dari anak lain, biasanya mengundang cemooh dan ejekan dari teman-temannya. Seperti perut gendut, jerawat banyak, badan pendek, gigi nggak rata, cacat fisik dan lain sebagainya.Seringkali hal ini memacu rasa ketidakpercayaan diri seorang anak. Mari kita meminimalisir hal-hal tersebut supaya kepercayaan diri anak terjaga.Maka obatnya adalah memperbaiki kelemahan fisik tersebut sebisanya. Jika masih juga tak bisa diatasi, maka ajari anak untuk mensyukuri kelemahan fisik tersebut dan fokus pada kelebihan yang dia miliki. Allah Maha Adil, ketika ia mengurangkan sesuatu dari kita, dia akan melebihkan kita dari segi lainnya. Nah, daripada minder dengan kelemahan yang kita punya, lebih baik manfaatkan kelebihan yang Allah titip pada kita!Diedit oleh Abdullah Zaen dari http://www.fimadani.com/penyebab-anak-tidak-atau-kurang-percaya-diri/ dan berbagai sumber lainnya@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Jumada Tsaniyah 1437 / 28 Maret 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 69 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI Bag-2)Next Omongan Orang Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Omongan Orang

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Surga, adalah cita-cita setiap insan. Namun tentu jalan menuju ke sana membutuhkan perjuangan berat. Di antaranya adalah dengan berusaha mengikhlaskan karena Allah ta’ala segala aktivitas yang kita kerjakan. Sebagaimana perintah-Nya,[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sembelihanku, kehidupanku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Namun sadarkah kita, seringkali kita berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu hanya karena omongan orang? Padahal bisa jadi sesuatu yang kita perbuat itu jelek dan sesuatu yang kita tinggalkan itu baik.Ada orang tidak ke masjid, karena khawatir diomongin tetangga sok alim. Ada muslimah tidak pakai jilbab menutup aurat, karena ndak enak diomongin sok suci. Semua itu hanya karena takut omongan orang atau tidak enak dengan komentar orang.Ketahuilah bahwa omongan orang itu tidak ada habisnya dan keridhaan mereka adalah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Sebab apa yang disukai si A belum tentu disukai si B. Begitu pula sebaliknya. Lebih baik kita mencari ridha Allah yang sudah jelas pasti mungkin dicapai.Saat Anda menjadi baik, orang yang jahat tidak akan suka. Sebaliknya ketika Anda menjadi jahat, orang yang baik juga tidak akan suka. Mendingan Anda menjadi orang baik.Satu hal penting yang harus kita ingat, bahwa saat kita meninggalkan kebaikan atau melakukan keburukan; dikarenakan omongan orang, ingat bahwa orang tersebut tidak akan membantu kita kelak di akhirat! Dia tidak akan menolong kita saat masuk neraka. Juga tidak akan membantu kita untuk masuk surga. Jadi untuk apa omongan dia kita pertimbangkan?!Masih segar dalam ingatan kita kisah Abu Thalib; pamanda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang enggan masuk Islam. Tahukah Anda apa yang melatarbelakangi keputusan fatal tersebut? Tidak lain karena kekhawatiran beliau terhadap omongan kaumnya! Dia bersyair,[arabic-font]وَلقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيرِ أَدْياَنِ البَرِيَّـةِ دِيناً لَوْ لَا المَلاَمَةَ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيناً[/arabic-font] “Sungguh, aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik di muka bumi ini Andaikan bukan karena celaan dan khawatir adanya ejekan, engkau akan mengetahui diriku menerima secara terang-terangan”.Imam Syafi’i berpetuah, “Barang siapa mengira ia bakal selamat dari omongan orang, sungguh ia adalah orang yang tidak waras. Sebab Allah saja tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai-Nya tiga. Begitu pula Muhammad tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai beliau tukang sihir dan orang gila”.Jadi, anggaplah omongan orang itu bagaikan bongkahan-bongkahan batu besar. Engkau akan rugi bila bongkahan-bongkahan itu engkau letakkan di atas pundakmu. Sebab lama kelamaan pundakmu akan ambruk. Sebaliknya engkau akan beruntung, saat kau tumpuk bongkahan-bongkahan itu di bawah telapak kakimu. Karena engkau akan semakin tinggi berpijak di atasnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 J. Tsaniyah 1437 H / 25 Maret 2016Link Page Tunas Ilmu: https://www.facebook.com/page.tunasilmu/Video Kajian Ustadz Abdullah Zaen: http://yufid.tv/ustadz/abdullah-zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis))Next Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Omongan Orang

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Surga, adalah cita-cita setiap insan. Namun tentu jalan menuju ke sana membutuhkan perjuangan berat. Di antaranya adalah dengan berusaha mengikhlaskan karena Allah ta’ala segala aktivitas yang kita kerjakan. Sebagaimana perintah-Nya,[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sembelihanku, kehidupanku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Namun sadarkah kita, seringkali kita berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu hanya karena omongan orang? Padahal bisa jadi sesuatu yang kita perbuat itu jelek dan sesuatu yang kita tinggalkan itu baik.Ada orang tidak ke masjid, karena khawatir diomongin tetangga sok alim. Ada muslimah tidak pakai jilbab menutup aurat, karena ndak enak diomongin sok suci. Semua itu hanya karena takut omongan orang atau tidak enak dengan komentar orang.Ketahuilah bahwa omongan orang itu tidak ada habisnya dan keridhaan mereka adalah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Sebab apa yang disukai si A belum tentu disukai si B. Begitu pula sebaliknya. Lebih baik kita mencari ridha Allah yang sudah jelas pasti mungkin dicapai.Saat Anda menjadi baik, orang yang jahat tidak akan suka. Sebaliknya ketika Anda menjadi jahat, orang yang baik juga tidak akan suka. Mendingan Anda menjadi orang baik.Satu hal penting yang harus kita ingat, bahwa saat kita meninggalkan kebaikan atau melakukan keburukan; dikarenakan omongan orang, ingat bahwa orang tersebut tidak akan membantu kita kelak di akhirat! Dia tidak akan menolong kita saat masuk neraka. Juga tidak akan membantu kita untuk masuk surga. Jadi untuk apa omongan dia kita pertimbangkan?!Masih segar dalam ingatan kita kisah Abu Thalib; pamanda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang enggan masuk Islam. Tahukah Anda apa yang melatarbelakangi keputusan fatal tersebut? Tidak lain karena kekhawatiran beliau terhadap omongan kaumnya! Dia bersyair,[arabic-font]وَلقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيرِ أَدْياَنِ البَرِيَّـةِ دِيناً لَوْ لَا المَلاَمَةَ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيناً[/arabic-font] “Sungguh, aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik di muka bumi ini Andaikan bukan karena celaan dan khawatir adanya ejekan, engkau akan mengetahui diriku menerima secara terang-terangan”.Imam Syafi’i berpetuah, “Barang siapa mengira ia bakal selamat dari omongan orang, sungguh ia adalah orang yang tidak waras. Sebab Allah saja tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai-Nya tiga. Begitu pula Muhammad tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai beliau tukang sihir dan orang gila”.Jadi, anggaplah omongan orang itu bagaikan bongkahan-bongkahan batu besar. Engkau akan rugi bila bongkahan-bongkahan itu engkau letakkan di atas pundakmu. Sebab lama kelamaan pundakmu akan ambruk. Sebaliknya engkau akan beruntung, saat kau tumpuk bongkahan-bongkahan itu di bawah telapak kakimu. Karena engkau akan semakin tinggi berpijak di atasnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 J. Tsaniyah 1437 H / 25 Maret 2016Link Page Tunas Ilmu: https://www.facebook.com/page.tunasilmu/Video Kajian Ustadz Abdullah Zaen: http://yufid.tv/ustadz/abdullah-zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis))Next Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Surga, adalah cita-cita setiap insan. Namun tentu jalan menuju ke sana membutuhkan perjuangan berat. Di antaranya adalah dengan berusaha mengikhlaskan karena Allah ta’ala segala aktivitas yang kita kerjakan. Sebagaimana perintah-Nya,[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sembelihanku, kehidupanku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Namun sadarkah kita, seringkali kita berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu hanya karena omongan orang? Padahal bisa jadi sesuatu yang kita perbuat itu jelek dan sesuatu yang kita tinggalkan itu baik.Ada orang tidak ke masjid, karena khawatir diomongin tetangga sok alim. Ada muslimah tidak pakai jilbab menutup aurat, karena ndak enak diomongin sok suci. Semua itu hanya karena takut omongan orang atau tidak enak dengan komentar orang.Ketahuilah bahwa omongan orang itu tidak ada habisnya dan keridhaan mereka adalah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Sebab apa yang disukai si A belum tentu disukai si B. Begitu pula sebaliknya. Lebih baik kita mencari ridha Allah yang sudah jelas pasti mungkin dicapai.Saat Anda menjadi baik, orang yang jahat tidak akan suka. Sebaliknya ketika Anda menjadi jahat, orang yang baik juga tidak akan suka. Mendingan Anda menjadi orang baik.Satu hal penting yang harus kita ingat, bahwa saat kita meninggalkan kebaikan atau melakukan keburukan; dikarenakan omongan orang, ingat bahwa orang tersebut tidak akan membantu kita kelak di akhirat! Dia tidak akan menolong kita saat masuk neraka. Juga tidak akan membantu kita untuk masuk surga. Jadi untuk apa omongan dia kita pertimbangkan?!Masih segar dalam ingatan kita kisah Abu Thalib; pamanda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang enggan masuk Islam. Tahukah Anda apa yang melatarbelakangi keputusan fatal tersebut? Tidak lain karena kekhawatiran beliau terhadap omongan kaumnya! Dia bersyair,[arabic-font]وَلقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيرِ أَدْياَنِ البَرِيَّـةِ دِيناً لَوْ لَا المَلاَمَةَ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيناً[/arabic-font] “Sungguh, aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik di muka bumi ini Andaikan bukan karena celaan dan khawatir adanya ejekan, engkau akan mengetahui diriku menerima secara terang-terangan”.Imam Syafi’i berpetuah, “Barang siapa mengira ia bakal selamat dari omongan orang, sungguh ia adalah orang yang tidak waras. Sebab Allah saja tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai-Nya tiga. Begitu pula Muhammad tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai beliau tukang sihir dan orang gila”.Jadi, anggaplah omongan orang itu bagaikan bongkahan-bongkahan batu besar. Engkau akan rugi bila bongkahan-bongkahan itu engkau letakkan di atas pundakmu. Sebab lama kelamaan pundakmu akan ambruk. Sebaliknya engkau akan beruntung, saat kau tumpuk bongkahan-bongkahan itu di bawah telapak kakimu. Karena engkau akan semakin tinggi berpijak di atasnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 J. Tsaniyah 1437 H / 25 Maret 2016Link Page Tunas Ilmu: https://www.facebook.com/page.tunasilmu/Video Kajian Ustadz Abdullah Zaen: http://yufid.tv/ustadz/abdullah-zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis))Next Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Surga, adalah cita-cita setiap insan. Namun tentu jalan menuju ke sana membutuhkan perjuangan berat. Di antaranya adalah dengan berusaha mengikhlaskan karena Allah ta’ala segala aktivitas yang kita kerjakan. Sebagaimana perintah-Nya,[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah sesungguhnya shalatku, sembelihanku, kehidupanku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Namun sadarkah kita, seringkali kita berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu hanya karena omongan orang? Padahal bisa jadi sesuatu yang kita perbuat itu jelek dan sesuatu yang kita tinggalkan itu baik.Ada orang tidak ke masjid, karena khawatir diomongin tetangga sok alim. Ada muslimah tidak pakai jilbab menutup aurat, karena ndak enak diomongin sok suci. Semua itu hanya karena takut omongan orang atau tidak enak dengan komentar orang.Ketahuilah bahwa omongan orang itu tidak ada habisnya dan keridhaan mereka adalah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Sebab apa yang disukai si A belum tentu disukai si B. Begitu pula sebaliknya. Lebih baik kita mencari ridha Allah yang sudah jelas pasti mungkin dicapai.Saat Anda menjadi baik, orang yang jahat tidak akan suka. Sebaliknya ketika Anda menjadi jahat, orang yang baik juga tidak akan suka. Mendingan Anda menjadi orang baik.Satu hal penting yang harus kita ingat, bahwa saat kita meninggalkan kebaikan atau melakukan keburukan; dikarenakan omongan orang, ingat bahwa orang tersebut tidak akan membantu kita kelak di akhirat! Dia tidak akan menolong kita saat masuk neraka. Juga tidak akan membantu kita untuk masuk surga. Jadi untuk apa omongan dia kita pertimbangkan?!Masih segar dalam ingatan kita kisah Abu Thalib; pamanda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang enggan masuk Islam. Tahukah Anda apa yang melatarbelakangi keputusan fatal tersebut? Tidak lain karena kekhawatiran beliau terhadap omongan kaumnya! Dia bersyair,[arabic-font]وَلقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيرِ أَدْياَنِ البَرِيَّـةِ دِيناً لَوْ لَا المَلاَمَةَ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيناً[/arabic-font] “Sungguh, aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik di muka bumi ini Andaikan bukan karena celaan dan khawatir adanya ejekan, engkau akan mengetahui diriku menerima secara terang-terangan”.Imam Syafi’i berpetuah, “Barang siapa mengira ia bakal selamat dari omongan orang, sungguh ia adalah orang yang tidak waras. Sebab Allah saja tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai-Nya tiga. Begitu pula Muhammad tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai beliau tukang sihir dan orang gila”.Jadi, anggaplah omongan orang itu bagaikan bongkahan-bongkahan batu besar. Engkau akan rugi bila bongkahan-bongkahan itu engkau letakkan di atas pundakmu. Sebab lama kelamaan pundakmu akan ambruk. Sebaliknya engkau akan beruntung, saat kau tumpuk bongkahan-bongkahan itu di bawah telapak kakimu. Karena engkau akan semakin tinggi berpijak di atasnya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 J. Tsaniyah 1437 H / 25 Maret 2016Link Page Tunas Ilmu: https://www.facebook.com/page.tunasilmu/Video Kajian Ustadz Abdullah Zaen: http://yufid.tv/ustadz/abdullah-zaen Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 70 (PENYEBAB ANAK TIDAK PERCAYA DIRI – Bag-3 (habis))Next Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at)

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Pertama:[arabic-font]الحمد لله الذي جعل حنات الفردوس لعباده المؤمنين نزلاً، ونوّع لهم الأعمال الصالحة ليتخذوا منها إلى تلك الجنات سبلاً، ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملاً، ونشهد أن محمداً عبده ورسوله الذي شمّر للِّحاق بالرفيق الأعلى، والوصول إلى جنات المأوى، ولم يتخذ سواها شغلاً، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان ما تتابع القطر والندى، وسلم تسليما مزيداً..[/arabic-font][arabic-font]أما بعد، أيها الناس، اتقوا الله تعالى “وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)”. (سورة آل عمران).[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah..Bila anak-anak kita ditanya tentang cita-citanya, niscaya jawaban mereka akan sangat beragam. Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, dosen, jenderal, bos perusahaan dan cita-cita tinggi lainnya. Tidak heran bila demikian jawaban mereka, sebab mereka selalu mendapatkan nasehat, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.Namun, pernahkah kita mendidik anak-anak kita untuk memiliki cita-cita yang jauh lebih tinggi dibanding berbagai cita-cita di atas?Apakah cita-cita tertinggi itu?Bagaimana pula jalan untuk meraihnya?Sebelum menjawab berbagai pertanyaan tersebut, mari kita simak kisah menarik berikut ini:Jama’ah Jum’at yang kami hormati…Kisah ini menceritakan tentang seorang pria dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau bernama Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radiyallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang sangat fakir, tidak memiliki rumah, dan biasa tidur di emperan Masjid Nabawi. Namun dia senantiasa mengisi waktunya untuk berkhidmat kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Kisah selengkapnya akan kita dengarkan dari sang pelaku sejarah sendiri. Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Dahulu aku biasa melayani Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Aku menyelesaikan dan memenuhi keperluannya sepanjang siang, sampai beliau melaksanakan shalat Isya’, kemudian aku duduk di sisi pintunya ketika beliau masuk ke dalam rumahnya. Aku berkata kepada diriku, mungkin Rasulullah memiliki keperluan (sehingga aku sudah siap melayaninya). Aku terus mendengar beliau mengatakan, “Subhanallah, subhanallah, subhanallah wabihamdihi”, sehingga aku lelah kemudian aku pulang atau aku dikalahkan oleh kantukku sehingga aku tertidur di sana.Karena melihat semangat dan kesungguhanku dalam membantu dan melayani beliau, pada suatu hari beliau berkata kepadaku,“Mintalah kepadaku wahai Rabi’ah! Niscaya aku akan memberimu”.Mendengar tawaran itu aku berkata kepada beliau, “Biarkan aku berpikir dahulu wahai Rasulullah! Besok-besok aku beritahukan padamu”.Maka akupun merenung dan menyadari bahwa dunia itu fana dan akan sirna. Aku juga telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan, yang akan mencukupiku dan mendatangiku.Setelah merenung dan memikirkannya, akhirnya Rabi’ah mencapai suatu keputusan seraya bergumam, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku. Sesungguhnya beliau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah”.Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Tatkala berjumpa dengan beliau, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepadaku, “Apakah keinginanmu wahai Rabi’ah?”Aku menjawab,[arabic-font]”نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَشْفَعَ لِي إِلَى رَبِّكَ فَيُعْتِقَنِي مِنَ النَّارِ”[/arabic-font]“Wahai Rasulullah, aku meminta kepadamu agar engkau memberi syafaat kepadaku di sisi Rabb-mu agar Dia membebaskanku dari api neraka”.Dalam riwayat Imam Muslim, Rabi’ah berkata,[arabic-font]”أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ”[/arabic-font]“Aku memohon agar dapat menemanimu di Surga”. (Subhanallah…..!)Mendengar permohonanku itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapakah kiranya yang telah menyuruhmu untuk meminta hal ini?”.Rabi’ah menjawab, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada seorangpun yang menyuruhku. Namun tatkala engkau berkata, ‘Mintalah kepadaku niscaya aku akan memberimu’, sedangkan engkau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah, maka akupun berpikir dalam diriku, “Aku sadar bahwa dunia ini fana dan akan sirna. Sedangkan di dunia aku telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan yang akan mencukupiku dan mendatangiku. Maka akupun memutuskan, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku”.Mendengarkan penjelasanku beliau berdiam sejenak, kemudian berkata kepadaku,[arabic-font]إِنِّي فَاعِلٌ، فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Aku akan memenuhi permintaanmu. Tetapi bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“. HR. Ahmad. Dan para muhaqqiq kitab Musnad menyatakan hadits ini hasan.Sidang Jum’at rahimakumullah…Itulah cita-cita tertinggi seorang muslim. Diselamatkan dari api neraka agar dapat menikmati indahnya surga yang seluas langit dan bumi.Menemani sang kekasih di surga Firdaus.Itulah seharusnya cita-cita yang selalu kita tanamkan dalam jiwa kita dan kita ajarkan kepada putra-putri kita tercinta.Sebab itulah kesuksesan yang hakiki. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala,[arabic-font]فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ[/arabic-font]Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga; sungguh ia telah sukses”. QS. Ali Imran: 185.Adapun dunia yang kita tinggali saat ini, adalah tempat kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk membeli surga Allah ta’ala.[arabic-font]وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى[/arabic-font]Artinya: “Kumpulkanlah bekal! Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. QS. Al-Baqarah (2): 197.Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia…Surga adalah cita-cita yang tinggi, bahkan teramat tinggi. Setiap cita-cita tinggi pasti membutuhkan perjuangan maksimal dan pengorbanan total. Tidak ada cita-cita mulia yang didapatkan dengan santai berpangku tangan dan duduk berleha-leha.[arabic-font]أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ.[/arabic-font]“Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu surga”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dan sanad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Karena itulah, ketika Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan keinginannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk surga, beliau tidak serta merta mengabulkan permintaannya. Namun beliau menjawab,[arabic-font]فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“.Nasehat nabawi ini mengajarkan pada kita bahwa cita-cita mulia itu berbeda dengan angan-angan kosong belaka. Cita-cita itu membutuhkan pengorbanan. Sedangkan angan-angan kosong itu hanyalah bualan mimpi yang hanya ada di benak belaka. Tidak ada wujudnya di alam nyata.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم[/arabic-font]Khutbah Kedua[arabic-font]الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Untuk membantu manusia meraih negeri keabadian surga Firdaus, Allah ta’ala membekali masing-masing dari kita potensi yang berbeda-beda. Tergantung apakah kita berhasil memanfaatkan potensi masing-masing atau tidak?Ada yang dibekali Allah ta’ala kekayaan harta yang melimpah ruah. Maka beruntunglah orang-orang yang berhasil memanfaatkannya untuk membeli surga Allah dengan harta tersebut. Ia infakkan hartanya di jalan Allah. Untuk memakmurkan masjid, lembaga pendidikan Islam, majlis taklim, menyantuni anak yatim, membantu kaum fakir dan miskin.[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ” [/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. QS. At-Taubah (9): 111.Ada pula yang dibekali Allah ta’ala ilmu pengetahuan agama yang luas. Maka beruntunglah orang-orang yang selalu mensedekahkan ilmunya tanpa lelah. Siang dan malam tanpa bosan berdakwah dan mengajak umat manusia ke jalan Allah yang lurus. Sehingga ilmu tersebut akan mengalirkan pahala yang begitu deras padanya, selama ilmu tersebut masih bermanfaat.[arabic-font]”مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”[/arabic-font]“Barang siapa mengajarkan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary radhiyallahu ‘anhu.Ada juga yang dikaruniai Allah ta’ala amanah jabatan. Maka beruntunglah bila mereka memanfaatkan kedudukan tersebut untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya kesejahteraan jasmani saja, namun juga kesejahteraan rohani mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…”[/arabic-font]“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya. Penguasa adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya…” HR. Bukhari dan Muslim.Selain itu ada pula yang dibekali oleh Allah fisik yang sehat dan tenaga yang kuat. Maka beruntunglah orang-orang yang memanfaatkan kelebihan itu untuk beribadah dengan tekun, berjuang membela agama Allah dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan tenaganya.Imam Malik rahimahullah berpetuah,[arabic-font]إِنَّ اللهَ قَسَمَ الأَعْمَالَ كَمَا قَسَمَ الأَرْزَاقَ، فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلاَةِ، وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الجِهَادِ[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah membagi-bagi amalan seperti Dia membagi-bagi rizki. Ada orang yang kuat untuk berlama-lama menunaikan shalat sunnah namun tidak kuat untuk berpuasa. Ada pula yang mampu untuk banyak-banyak bersedekah, namun tidak mampu untuk berpuasa. Ada juga yang diberi keberanian untuk berjihad.[arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما”اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينأقيموا الصلاة…[/arabic-font] Post navigation Previous Omongan OrangNext “Mati Lampu” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at)

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Pertama:[arabic-font]الحمد لله الذي جعل حنات الفردوس لعباده المؤمنين نزلاً، ونوّع لهم الأعمال الصالحة ليتخذوا منها إلى تلك الجنات سبلاً، ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملاً، ونشهد أن محمداً عبده ورسوله الذي شمّر للِّحاق بالرفيق الأعلى، والوصول إلى جنات المأوى، ولم يتخذ سواها شغلاً، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان ما تتابع القطر والندى، وسلم تسليما مزيداً..[/arabic-font][arabic-font]أما بعد، أيها الناس، اتقوا الله تعالى “وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)”. (سورة آل عمران).[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah..Bila anak-anak kita ditanya tentang cita-citanya, niscaya jawaban mereka akan sangat beragam. Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, dosen, jenderal, bos perusahaan dan cita-cita tinggi lainnya. Tidak heran bila demikian jawaban mereka, sebab mereka selalu mendapatkan nasehat, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.Namun, pernahkah kita mendidik anak-anak kita untuk memiliki cita-cita yang jauh lebih tinggi dibanding berbagai cita-cita di atas?Apakah cita-cita tertinggi itu?Bagaimana pula jalan untuk meraihnya?Sebelum menjawab berbagai pertanyaan tersebut, mari kita simak kisah menarik berikut ini:Jama’ah Jum’at yang kami hormati…Kisah ini menceritakan tentang seorang pria dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau bernama Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radiyallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang sangat fakir, tidak memiliki rumah, dan biasa tidur di emperan Masjid Nabawi. Namun dia senantiasa mengisi waktunya untuk berkhidmat kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Kisah selengkapnya akan kita dengarkan dari sang pelaku sejarah sendiri. Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Dahulu aku biasa melayani Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Aku menyelesaikan dan memenuhi keperluannya sepanjang siang, sampai beliau melaksanakan shalat Isya’, kemudian aku duduk di sisi pintunya ketika beliau masuk ke dalam rumahnya. Aku berkata kepada diriku, mungkin Rasulullah memiliki keperluan (sehingga aku sudah siap melayaninya). Aku terus mendengar beliau mengatakan, “Subhanallah, subhanallah, subhanallah wabihamdihi”, sehingga aku lelah kemudian aku pulang atau aku dikalahkan oleh kantukku sehingga aku tertidur di sana.Karena melihat semangat dan kesungguhanku dalam membantu dan melayani beliau, pada suatu hari beliau berkata kepadaku,“Mintalah kepadaku wahai Rabi’ah! Niscaya aku akan memberimu”.Mendengar tawaran itu aku berkata kepada beliau, “Biarkan aku berpikir dahulu wahai Rasulullah! Besok-besok aku beritahukan padamu”.Maka akupun merenung dan menyadari bahwa dunia itu fana dan akan sirna. Aku juga telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan, yang akan mencukupiku dan mendatangiku.Setelah merenung dan memikirkannya, akhirnya Rabi’ah mencapai suatu keputusan seraya bergumam, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku. Sesungguhnya beliau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah”.Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Tatkala berjumpa dengan beliau, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepadaku, “Apakah keinginanmu wahai Rabi’ah?”Aku menjawab,[arabic-font]”نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَشْفَعَ لِي إِلَى رَبِّكَ فَيُعْتِقَنِي مِنَ النَّارِ”[/arabic-font]“Wahai Rasulullah, aku meminta kepadamu agar engkau memberi syafaat kepadaku di sisi Rabb-mu agar Dia membebaskanku dari api neraka”.Dalam riwayat Imam Muslim, Rabi’ah berkata,[arabic-font]”أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ”[/arabic-font]“Aku memohon agar dapat menemanimu di Surga”. (Subhanallah…..!)Mendengar permohonanku itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapakah kiranya yang telah menyuruhmu untuk meminta hal ini?”.Rabi’ah menjawab, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada seorangpun yang menyuruhku. Namun tatkala engkau berkata, ‘Mintalah kepadaku niscaya aku akan memberimu’, sedangkan engkau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah, maka akupun berpikir dalam diriku, “Aku sadar bahwa dunia ini fana dan akan sirna. Sedangkan di dunia aku telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan yang akan mencukupiku dan mendatangiku. Maka akupun memutuskan, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku”.Mendengarkan penjelasanku beliau berdiam sejenak, kemudian berkata kepadaku,[arabic-font]إِنِّي فَاعِلٌ، فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Aku akan memenuhi permintaanmu. Tetapi bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“. HR. Ahmad. Dan para muhaqqiq kitab Musnad menyatakan hadits ini hasan.Sidang Jum’at rahimakumullah…Itulah cita-cita tertinggi seorang muslim. Diselamatkan dari api neraka agar dapat menikmati indahnya surga yang seluas langit dan bumi.Menemani sang kekasih di surga Firdaus.Itulah seharusnya cita-cita yang selalu kita tanamkan dalam jiwa kita dan kita ajarkan kepada putra-putri kita tercinta.Sebab itulah kesuksesan yang hakiki. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala,[arabic-font]فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ[/arabic-font]Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga; sungguh ia telah sukses”. QS. Ali Imran: 185.Adapun dunia yang kita tinggali saat ini, adalah tempat kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk membeli surga Allah ta’ala.[arabic-font]وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى[/arabic-font]Artinya: “Kumpulkanlah bekal! Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. QS. Al-Baqarah (2): 197.Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia…Surga adalah cita-cita yang tinggi, bahkan teramat tinggi. Setiap cita-cita tinggi pasti membutuhkan perjuangan maksimal dan pengorbanan total. Tidak ada cita-cita mulia yang didapatkan dengan santai berpangku tangan dan duduk berleha-leha.[arabic-font]أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ.[/arabic-font]“Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu surga”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dan sanad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Karena itulah, ketika Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan keinginannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk surga, beliau tidak serta merta mengabulkan permintaannya. Namun beliau menjawab,[arabic-font]فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“.Nasehat nabawi ini mengajarkan pada kita bahwa cita-cita mulia itu berbeda dengan angan-angan kosong belaka. Cita-cita itu membutuhkan pengorbanan. Sedangkan angan-angan kosong itu hanyalah bualan mimpi yang hanya ada di benak belaka. Tidak ada wujudnya di alam nyata.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم[/arabic-font]Khutbah Kedua[arabic-font]الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Untuk membantu manusia meraih negeri keabadian surga Firdaus, Allah ta’ala membekali masing-masing dari kita potensi yang berbeda-beda. Tergantung apakah kita berhasil memanfaatkan potensi masing-masing atau tidak?Ada yang dibekali Allah ta’ala kekayaan harta yang melimpah ruah. Maka beruntunglah orang-orang yang berhasil memanfaatkannya untuk membeli surga Allah dengan harta tersebut. Ia infakkan hartanya di jalan Allah. Untuk memakmurkan masjid, lembaga pendidikan Islam, majlis taklim, menyantuni anak yatim, membantu kaum fakir dan miskin.[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ” [/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. QS. At-Taubah (9): 111.Ada pula yang dibekali Allah ta’ala ilmu pengetahuan agama yang luas. Maka beruntunglah orang-orang yang selalu mensedekahkan ilmunya tanpa lelah. Siang dan malam tanpa bosan berdakwah dan mengajak umat manusia ke jalan Allah yang lurus. Sehingga ilmu tersebut akan mengalirkan pahala yang begitu deras padanya, selama ilmu tersebut masih bermanfaat.[arabic-font]”مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”[/arabic-font]“Barang siapa mengajarkan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary radhiyallahu ‘anhu.Ada juga yang dikaruniai Allah ta’ala amanah jabatan. Maka beruntunglah bila mereka memanfaatkan kedudukan tersebut untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya kesejahteraan jasmani saja, namun juga kesejahteraan rohani mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…”[/arabic-font]“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya. Penguasa adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya…” HR. Bukhari dan Muslim.Selain itu ada pula yang dibekali oleh Allah fisik yang sehat dan tenaga yang kuat. Maka beruntunglah orang-orang yang memanfaatkan kelebihan itu untuk beribadah dengan tekun, berjuang membela agama Allah dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan tenaganya.Imam Malik rahimahullah berpetuah,[arabic-font]إِنَّ اللهَ قَسَمَ الأَعْمَالَ كَمَا قَسَمَ الأَرْزَاقَ، فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلاَةِ، وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الجِهَادِ[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah membagi-bagi amalan seperti Dia membagi-bagi rizki. Ada orang yang kuat untuk berlama-lama menunaikan shalat sunnah namun tidak kuat untuk berpuasa. Ada pula yang mampu untuk banyak-banyak bersedekah, namun tidak mampu untuk berpuasa. Ada juga yang diberi keberanian untuk berjihad.[arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما”اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينأقيموا الصلاة…[/arabic-font] Post navigation Previous Omongan OrangNext “Mati Lampu” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Pertama:[arabic-font]الحمد لله الذي جعل حنات الفردوس لعباده المؤمنين نزلاً، ونوّع لهم الأعمال الصالحة ليتخذوا منها إلى تلك الجنات سبلاً، ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملاً، ونشهد أن محمداً عبده ورسوله الذي شمّر للِّحاق بالرفيق الأعلى، والوصول إلى جنات المأوى، ولم يتخذ سواها شغلاً، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان ما تتابع القطر والندى، وسلم تسليما مزيداً..[/arabic-font][arabic-font]أما بعد، أيها الناس، اتقوا الله تعالى “وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)”. (سورة آل عمران).[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah..Bila anak-anak kita ditanya tentang cita-citanya, niscaya jawaban mereka akan sangat beragam. Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, dosen, jenderal, bos perusahaan dan cita-cita tinggi lainnya. Tidak heran bila demikian jawaban mereka, sebab mereka selalu mendapatkan nasehat, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.Namun, pernahkah kita mendidik anak-anak kita untuk memiliki cita-cita yang jauh lebih tinggi dibanding berbagai cita-cita di atas?Apakah cita-cita tertinggi itu?Bagaimana pula jalan untuk meraihnya?Sebelum menjawab berbagai pertanyaan tersebut, mari kita simak kisah menarik berikut ini:Jama’ah Jum’at yang kami hormati…Kisah ini menceritakan tentang seorang pria dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau bernama Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radiyallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang sangat fakir, tidak memiliki rumah, dan biasa tidur di emperan Masjid Nabawi. Namun dia senantiasa mengisi waktunya untuk berkhidmat kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Kisah selengkapnya akan kita dengarkan dari sang pelaku sejarah sendiri. Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Dahulu aku biasa melayani Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Aku menyelesaikan dan memenuhi keperluannya sepanjang siang, sampai beliau melaksanakan shalat Isya’, kemudian aku duduk di sisi pintunya ketika beliau masuk ke dalam rumahnya. Aku berkata kepada diriku, mungkin Rasulullah memiliki keperluan (sehingga aku sudah siap melayaninya). Aku terus mendengar beliau mengatakan, “Subhanallah, subhanallah, subhanallah wabihamdihi”, sehingga aku lelah kemudian aku pulang atau aku dikalahkan oleh kantukku sehingga aku tertidur di sana.Karena melihat semangat dan kesungguhanku dalam membantu dan melayani beliau, pada suatu hari beliau berkata kepadaku,“Mintalah kepadaku wahai Rabi’ah! Niscaya aku akan memberimu”.Mendengar tawaran itu aku berkata kepada beliau, “Biarkan aku berpikir dahulu wahai Rasulullah! Besok-besok aku beritahukan padamu”.Maka akupun merenung dan menyadari bahwa dunia itu fana dan akan sirna. Aku juga telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan, yang akan mencukupiku dan mendatangiku.Setelah merenung dan memikirkannya, akhirnya Rabi’ah mencapai suatu keputusan seraya bergumam, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku. Sesungguhnya beliau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah”.Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Tatkala berjumpa dengan beliau, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepadaku, “Apakah keinginanmu wahai Rabi’ah?”Aku menjawab,[arabic-font]”نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَشْفَعَ لِي إِلَى رَبِّكَ فَيُعْتِقَنِي مِنَ النَّارِ”[/arabic-font]“Wahai Rasulullah, aku meminta kepadamu agar engkau memberi syafaat kepadaku di sisi Rabb-mu agar Dia membebaskanku dari api neraka”.Dalam riwayat Imam Muslim, Rabi’ah berkata,[arabic-font]”أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ”[/arabic-font]“Aku memohon agar dapat menemanimu di Surga”. (Subhanallah…..!)Mendengar permohonanku itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapakah kiranya yang telah menyuruhmu untuk meminta hal ini?”.Rabi’ah menjawab, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada seorangpun yang menyuruhku. Namun tatkala engkau berkata, ‘Mintalah kepadaku niscaya aku akan memberimu’, sedangkan engkau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah, maka akupun berpikir dalam diriku, “Aku sadar bahwa dunia ini fana dan akan sirna. Sedangkan di dunia aku telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan yang akan mencukupiku dan mendatangiku. Maka akupun memutuskan, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku”.Mendengarkan penjelasanku beliau berdiam sejenak, kemudian berkata kepadaku,[arabic-font]إِنِّي فَاعِلٌ، فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Aku akan memenuhi permintaanmu. Tetapi bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“. HR. Ahmad. Dan para muhaqqiq kitab Musnad menyatakan hadits ini hasan.Sidang Jum’at rahimakumullah…Itulah cita-cita tertinggi seorang muslim. Diselamatkan dari api neraka agar dapat menikmati indahnya surga yang seluas langit dan bumi.Menemani sang kekasih di surga Firdaus.Itulah seharusnya cita-cita yang selalu kita tanamkan dalam jiwa kita dan kita ajarkan kepada putra-putri kita tercinta.Sebab itulah kesuksesan yang hakiki. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala,[arabic-font]فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ[/arabic-font]Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga; sungguh ia telah sukses”. QS. Ali Imran: 185.Adapun dunia yang kita tinggali saat ini, adalah tempat kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk membeli surga Allah ta’ala.[arabic-font]وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى[/arabic-font]Artinya: “Kumpulkanlah bekal! Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. QS. Al-Baqarah (2): 197.Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia…Surga adalah cita-cita yang tinggi, bahkan teramat tinggi. Setiap cita-cita tinggi pasti membutuhkan perjuangan maksimal dan pengorbanan total. Tidak ada cita-cita mulia yang didapatkan dengan santai berpangku tangan dan duduk berleha-leha.[arabic-font]أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ.[/arabic-font]“Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu surga”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dan sanad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Karena itulah, ketika Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan keinginannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk surga, beliau tidak serta merta mengabulkan permintaannya. Namun beliau menjawab,[arabic-font]فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“.Nasehat nabawi ini mengajarkan pada kita bahwa cita-cita mulia itu berbeda dengan angan-angan kosong belaka. Cita-cita itu membutuhkan pengorbanan. Sedangkan angan-angan kosong itu hanyalah bualan mimpi yang hanya ada di benak belaka. Tidak ada wujudnya di alam nyata.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم[/arabic-font]Khutbah Kedua[arabic-font]الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Untuk membantu manusia meraih negeri keabadian surga Firdaus, Allah ta’ala membekali masing-masing dari kita potensi yang berbeda-beda. Tergantung apakah kita berhasil memanfaatkan potensi masing-masing atau tidak?Ada yang dibekali Allah ta’ala kekayaan harta yang melimpah ruah. Maka beruntunglah orang-orang yang berhasil memanfaatkannya untuk membeli surga Allah dengan harta tersebut. Ia infakkan hartanya di jalan Allah. Untuk memakmurkan masjid, lembaga pendidikan Islam, majlis taklim, menyantuni anak yatim, membantu kaum fakir dan miskin.[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ” [/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. QS. At-Taubah (9): 111.Ada pula yang dibekali Allah ta’ala ilmu pengetahuan agama yang luas. Maka beruntunglah orang-orang yang selalu mensedekahkan ilmunya tanpa lelah. Siang dan malam tanpa bosan berdakwah dan mengajak umat manusia ke jalan Allah yang lurus. Sehingga ilmu tersebut akan mengalirkan pahala yang begitu deras padanya, selama ilmu tersebut masih bermanfaat.[arabic-font]”مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”[/arabic-font]“Barang siapa mengajarkan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary radhiyallahu ‘anhu.Ada juga yang dikaruniai Allah ta’ala amanah jabatan. Maka beruntunglah bila mereka memanfaatkan kedudukan tersebut untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya kesejahteraan jasmani saja, namun juga kesejahteraan rohani mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…”[/arabic-font]“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya. Penguasa adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya…” HR. Bukhari dan Muslim.Selain itu ada pula yang dibekali oleh Allah fisik yang sehat dan tenaga yang kuat. Maka beruntunglah orang-orang yang memanfaatkan kelebihan itu untuk beribadah dengan tekun, berjuang membela agama Allah dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan tenaganya.Imam Malik rahimahullah berpetuah,[arabic-font]إِنَّ اللهَ قَسَمَ الأَعْمَالَ كَمَا قَسَمَ الأَرْزَاقَ، فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلاَةِ، وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الجِهَادِ[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah membagi-bagi amalan seperti Dia membagi-bagi rizki. Ada orang yang kuat untuk berlama-lama menunaikan shalat sunnah namun tidak kuat untuk berpuasa. Ada pula yang mampu untuk banyak-banyak bersedekah, namun tidak mampu untuk berpuasa. Ada juga yang diberi keberanian untuk berjihad.[arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما”اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينأقيموا الصلاة…[/arabic-font] Post navigation Previous Omongan OrangNext “Mati Lampu” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Pertama:[arabic-font]الحمد لله الذي جعل حنات الفردوس لعباده المؤمنين نزلاً، ونوّع لهم الأعمال الصالحة ليتخذوا منها إلى تلك الجنات سبلاً، ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملاً، ونشهد أن محمداً عبده ورسوله الذي شمّر للِّحاق بالرفيق الأعلى، والوصول إلى جنات المأوى، ولم يتخذ سواها شغلاً، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان ما تتابع القطر والندى، وسلم تسليما مزيداً..[/arabic-font][arabic-font]أما بعد، أيها الناس، اتقوا الله تعالى “وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)”. (سورة آل عمران).[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang dirahmati oleh Allah..Bila anak-anak kita ditanya tentang cita-citanya, niscaya jawaban mereka akan sangat beragam. Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, dosen, jenderal, bos perusahaan dan cita-cita tinggi lainnya. Tidak heran bila demikian jawaban mereka, sebab mereka selalu mendapatkan nasehat, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.Namun, pernahkah kita mendidik anak-anak kita untuk memiliki cita-cita yang jauh lebih tinggi dibanding berbagai cita-cita di atas?Apakah cita-cita tertinggi itu?Bagaimana pula jalan untuk meraihnya?Sebelum menjawab berbagai pertanyaan tersebut, mari kita simak kisah menarik berikut ini:Jama’ah Jum’at yang kami hormati…Kisah ini menceritakan tentang seorang pria dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau bernama Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radiyallahu ‘anhu. Ia adalah seorang yang sangat fakir, tidak memiliki rumah, dan biasa tidur di emperan Masjid Nabawi. Namun dia senantiasa mengisi waktunya untuk berkhidmat kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.Kisah selengkapnya akan kita dengarkan dari sang pelaku sejarah sendiri. Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami radhiyallahu ‘anhu bertutur, “Dahulu aku biasa melayani Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Aku menyelesaikan dan memenuhi keperluannya sepanjang siang, sampai beliau melaksanakan shalat Isya’, kemudian aku duduk di sisi pintunya ketika beliau masuk ke dalam rumahnya. Aku berkata kepada diriku, mungkin Rasulullah memiliki keperluan (sehingga aku sudah siap melayaninya). Aku terus mendengar beliau mengatakan, “Subhanallah, subhanallah, subhanallah wabihamdihi”, sehingga aku lelah kemudian aku pulang atau aku dikalahkan oleh kantukku sehingga aku tertidur di sana.Karena melihat semangat dan kesungguhanku dalam membantu dan melayani beliau, pada suatu hari beliau berkata kepadaku,“Mintalah kepadaku wahai Rabi’ah! Niscaya aku akan memberimu”.Mendengar tawaran itu aku berkata kepada beliau, “Biarkan aku berpikir dahulu wahai Rasulullah! Besok-besok aku beritahukan padamu”.Maka akupun merenung dan menyadari bahwa dunia itu fana dan akan sirna. Aku juga telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan, yang akan mencukupiku dan mendatangiku.Setelah merenung dan memikirkannya, akhirnya Rabi’ah mencapai suatu keputusan seraya bergumam, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku. Sesungguhnya beliau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah”.Maka akupun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Tatkala berjumpa dengan beliau, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepadaku, “Apakah keinginanmu wahai Rabi’ah?”Aku menjawab,[arabic-font]”نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَشْفَعَ لِي إِلَى رَبِّكَ فَيُعْتِقَنِي مِنَ النَّارِ”[/arabic-font]“Wahai Rasulullah, aku meminta kepadamu agar engkau memberi syafaat kepadaku di sisi Rabb-mu agar Dia membebaskanku dari api neraka”.Dalam riwayat Imam Muslim, Rabi’ah berkata,[arabic-font]”أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ”[/arabic-font]“Aku memohon agar dapat menemanimu di Surga”. (Subhanallah…..!)Mendengar permohonanku itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapakah kiranya yang telah menyuruhmu untuk meminta hal ini?”.Rabi’ah menjawab, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada seorangpun yang menyuruhku. Namun tatkala engkau berkata, ‘Mintalah kepadaku niscaya aku akan memberimu’, sedangkan engkau memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah, maka akupun berpikir dalam diriku, “Aku sadar bahwa dunia ini fana dan akan sirna. Sedangkan di dunia aku telah memiliki rezeki yang sudah ditentukan yang akan mencukupiku dan mendatangiku. Maka akupun memutuskan, “Kalau begitu aku akan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk akhiratku”.Mendengarkan penjelasanku beliau berdiam sejenak, kemudian berkata kepadaku,[arabic-font]إِنِّي فَاعِلٌ، فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Aku akan memenuhi permintaanmu. Tetapi bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“. HR. Ahmad. Dan para muhaqqiq kitab Musnad menyatakan hadits ini hasan.Sidang Jum’at rahimakumullah…Itulah cita-cita tertinggi seorang muslim. Diselamatkan dari api neraka agar dapat menikmati indahnya surga yang seluas langit dan bumi.Menemani sang kekasih di surga Firdaus.Itulah seharusnya cita-cita yang selalu kita tanamkan dalam jiwa kita dan kita ajarkan kepada putra-putri kita tercinta.Sebab itulah kesuksesan yang hakiki. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala,[arabic-font]فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ[/arabic-font]Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga; sungguh ia telah sukses”. QS. Ali Imran: 185.Adapun dunia yang kita tinggali saat ini, adalah tempat kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk membeli surga Allah ta’ala.[arabic-font]وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى[/arabic-font]Artinya: “Kumpulkanlah bekal! Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. QS. Al-Baqarah (2): 197.Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia…Surga adalah cita-cita yang tinggi, bahkan teramat tinggi. Setiap cita-cita tinggi pasti membutuhkan perjuangan maksimal dan pengorbanan total. Tidak ada cita-cita mulia yang didapatkan dengan santai berpangku tangan dan duduk berleha-leha.[arabic-font]أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ.[/arabic-font]“Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu surga”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dan sanad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Karena itulah, ketika Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan keinginannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk surga, beliau tidak serta merta mengabulkan permintaannya. Namun beliau menjawab,[arabic-font]فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ[/arabic-font]“Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu dengan engkau perbanyak sujud (shalat)“.Nasehat nabawi ini mengajarkan pada kita bahwa cita-cita mulia itu berbeda dengan angan-angan kosong belaka. Cita-cita itu membutuhkan pengorbanan. Sedangkan angan-angan kosong itu hanyalah bualan mimpi yang hanya ada di benak belaka. Tidak ada wujudnya di alam nyata.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم[/arabic-font]Khutbah Kedua[arabic-font]الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Untuk membantu manusia meraih negeri keabadian surga Firdaus, Allah ta’ala membekali masing-masing dari kita potensi yang berbeda-beda. Tergantung apakah kita berhasil memanfaatkan potensi masing-masing atau tidak?Ada yang dibekali Allah ta’ala kekayaan harta yang melimpah ruah. Maka beruntunglah orang-orang yang berhasil memanfaatkannya untuk membeli surga Allah dengan harta tersebut. Ia infakkan hartanya di jalan Allah. Untuk memakmurkan masjid, lembaga pendidikan Islam, majlis taklim, menyantuni anak yatim, membantu kaum fakir dan miskin.[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ” [/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. QS. At-Taubah (9): 111.Ada pula yang dibekali Allah ta’ala ilmu pengetahuan agama yang luas. Maka beruntunglah orang-orang yang selalu mensedekahkan ilmunya tanpa lelah. Siang dan malam tanpa bosan berdakwah dan mengajak umat manusia ke jalan Allah yang lurus. Sehingga ilmu tersebut akan mengalirkan pahala yang begitu deras padanya, selama ilmu tersebut masih bermanfaat.[arabic-font]”مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ”[/arabic-font]“Barang siapa mengajarkan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary radhiyallahu ‘anhu.Ada juga yang dikaruniai Allah ta’ala amanah jabatan. Maka beruntunglah bila mereka memanfaatkan kedudukan tersebut untuk mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya kesejahteraan jasmani saja, namun juga kesejahteraan rohani mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…”[/arabic-font]“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya. Penguasa adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya…” HR. Bukhari dan Muslim.Selain itu ada pula yang dibekali oleh Allah fisik yang sehat dan tenaga yang kuat. Maka beruntunglah orang-orang yang memanfaatkan kelebihan itu untuk beribadah dengan tekun, berjuang membela agama Allah dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan tenaganya.Imam Malik rahimahullah berpetuah,[arabic-font]إِنَّ اللهَ قَسَمَ الأَعْمَالَ كَمَا قَسَمَ الأَرْزَاقَ، فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلاَةِ، وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الجِهَادِ[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah membagi-bagi amalan seperti Dia membagi-bagi rizki. Ada orang yang kuat untuk berlama-lama menunaikan shalat sunnah namun tidak kuat untuk berpuasa. Ada pula yang mampu untuk banyak-banyak bersedekah, namun tidak mampu untuk berpuasa. Ada juga yang diberi keberanian untuk berjihad.[arabic-font]أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ الله- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـِزْيل “إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما”اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينأقيموا الصلاة…[/arabic-font] Post navigation Previous Omongan OrangNext “Mati Lampu” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

“Mati Lampu”

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPernahkah anda tiba-tiba mengalami mati lampu? Pet! Apa yang anda rasakan saat itu? Gelap gulita. Tidak tahu mana arah. Grayap-grayap, meraba-raba. Anda sulit membedakan mana makanan dan mana kotoran. Mana kucing dan mana anjing. Mana kopi dan mana terigu. Mana gula dan mana garam.Anda berjalan dengan sangat pelan karena takut menabrak meja dan kursi atau tembok.Keinginan terbesarBanyak keinginan manusia di dunia ini. Namun saat mati lampu, saya yakin keinginan terbesar kita adalah agar lampu menyala kembali. Atau minimal kita akan mencari secercah cahaya. Lilin, senter, HP, atau yang lainnya. Untuk menyinari kegelapan yang terasa sangat mengganggu.Jadi, cahaya adalah kebutuhan pokok manusia.Cahaya HakikiNamun tahukah Anda, bahwa di sana ada cahaya yang jauh lebih penting dibanding cahaya lampu atau lilin? Sebab lampu itu hanya kita butuhkan di malam hari saja. Ketahuilah bahwa di sana ada cahaya yang kita butuhkan siang dan malam, sejak kita lahir hingga kita meninggal dunia. Bahkan saat kita di kuburan kelak dan di alam akhirat.Apakah cahaya itu? Cahaya tersebut tidak lain adalah ilmu agama yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah disertai lentera bimbingan para ulama. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا”[/arabic-font]Artinya: “Telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang”. QS. An-Nisa’ (4): 174.Maksud dari cahaya dalam ayat di atas adalah al-Qur’an. Demikian keterangan Imam ath-Thabariy.Ilmu agama adalah kebutuhan primer setiap insan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, kebutuhan kita terhadap ilmu agama lebih besar dibanding kehidupan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam, paling-paling kita membutuhkan makan dan minum, dua atau tiga kali saja. Sedangkan ilmu selalu kita butuhkan setiap saat. Tapi realitanya dalam keseharian, waktu kita lebih banyak dialokasikan untuk mencari makan dan minum dibanding untuk mencari ilmu agama.Ilmu agama inilah yang akan menerangi kehidupan kita. Membantu kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bermanfaat dan yang berbahaya. Yang halal dan yang haram. Membedakan tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, juga maksiat dan ibadah.Cahaya ini pula yang akan membimbing kita menuju surga Allah di tengah kegelapan hari kiamat kelak. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ…”[/arabic-font]Artinya: “Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. (Yaitu) surga-surga…”. QS. Al-Hadid (57): 12.Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa cahaya orang yang beriman kelak akan berbeda-beda. Ada yang sebesar gunung. Ada yang sebesar pohon kurma. Ada yang sebesar orang yang sedang berdiri. Dan adapula yang cahayanya di jempol dia. Terkadang menyala dan kadang pula padam.Maka mari kita terus belajar ilmu agama, agar cahaya kita semakin terang benderang!@ Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1437 / 10 Juni 2016 Post navigation Previous Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at)Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

“Mati Lampu”

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPernahkah anda tiba-tiba mengalami mati lampu? Pet! Apa yang anda rasakan saat itu? Gelap gulita. Tidak tahu mana arah. Grayap-grayap, meraba-raba. Anda sulit membedakan mana makanan dan mana kotoran. Mana kucing dan mana anjing. Mana kopi dan mana terigu. Mana gula dan mana garam.Anda berjalan dengan sangat pelan karena takut menabrak meja dan kursi atau tembok.Keinginan terbesarBanyak keinginan manusia di dunia ini. Namun saat mati lampu, saya yakin keinginan terbesar kita adalah agar lampu menyala kembali. Atau minimal kita akan mencari secercah cahaya. Lilin, senter, HP, atau yang lainnya. Untuk menyinari kegelapan yang terasa sangat mengganggu.Jadi, cahaya adalah kebutuhan pokok manusia.Cahaya HakikiNamun tahukah Anda, bahwa di sana ada cahaya yang jauh lebih penting dibanding cahaya lampu atau lilin? Sebab lampu itu hanya kita butuhkan di malam hari saja. Ketahuilah bahwa di sana ada cahaya yang kita butuhkan siang dan malam, sejak kita lahir hingga kita meninggal dunia. Bahkan saat kita di kuburan kelak dan di alam akhirat.Apakah cahaya itu? Cahaya tersebut tidak lain adalah ilmu agama yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah disertai lentera bimbingan para ulama. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا”[/arabic-font]Artinya: “Telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang”. QS. An-Nisa’ (4): 174.Maksud dari cahaya dalam ayat di atas adalah al-Qur’an. Demikian keterangan Imam ath-Thabariy.Ilmu agama adalah kebutuhan primer setiap insan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, kebutuhan kita terhadap ilmu agama lebih besar dibanding kehidupan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam, paling-paling kita membutuhkan makan dan minum, dua atau tiga kali saja. Sedangkan ilmu selalu kita butuhkan setiap saat. Tapi realitanya dalam keseharian, waktu kita lebih banyak dialokasikan untuk mencari makan dan minum dibanding untuk mencari ilmu agama.Ilmu agama inilah yang akan menerangi kehidupan kita. Membantu kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bermanfaat dan yang berbahaya. Yang halal dan yang haram. Membedakan tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, juga maksiat dan ibadah.Cahaya ini pula yang akan membimbing kita menuju surga Allah di tengah kegelapan hari kiamat kelak. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ…”[/arabic-font]Artinya: “Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. (Yaitu) surga-surga…”. QS. Al-Hadid (57): 12.Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa cahaya orang yang beriman kelak akan berbeda-beda. Ada yang sebesar gunung. Ada yang sebesar pohon kurma. Ada yang sebesar orang yang sedang berdiri. Dan adapula yang cahayanya di jempol dia. Terkadang menyala dan kadang pula padam.Maka mari kita terus belajar ilmu agama, agar cahaya kita semakin terang benderang!@ Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1437 / 10 Juni 2016 Post navigation Previous Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at)Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPernahkah anda tiba-tiba mengalami mati lampu? Pet! Apa yang anda rasakan saat itu? Gelap gulita. Tidak tahu mana arah. Grayap-grayap, meraba-raba. Anda sulit membedakan mana makanan dan mana kotoran. Mana kucing dan mana anjing. Mana kopi dan mana terigu. Mana gula dan mana garam.Anda berjalan dengan sangat pelan karena takut menabrak meja dan kursi atau tembok.Keinginan terbesarBanyak keinginan manusia di dunia ini. Namun saat mati lampu, saya yakin keinginan terbesar kita adalah agar lampu menyala kembali. Atau minimal kita akan mencari secercah cahaya. Lilin, senter, HP, atau yang lainnya. Untuk menyinari kegelapan yang terasa sangat mengganggu.Jadi, cahaya adalah kebutuhan pokok manusia.Cahaya HakikiNamun tahukah Anda, bahwa di sana ada cahaya yang jauh lebih penting dibanding cahaya lampu atau lilin? Sebab lampu itu hanya kita butuhkan di malam hari saja. Ketahuilah bahwa di sana ada cahaya yang kita butuhkan siang dan malam, sejak kita lahir hingga kita meninggal dunia. Bahkan saat kita di kuburan kelak dan di alam akhirat.Apakah cahaya itu? Cahaya tersebut tidak lain adalah ilmu agama yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah disertai lentera bimbingan para ulama. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا”[/arabic-font]Artinya: “Telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang”. QS. An-Nisa’ (4): 174.Maksud dari cahaya dalam ayat di atas adalah al-Qur’an. Demikian keterangan Imam ath-Thabariy.Ilmu agama adalah kebutuhan primer setiap insan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, kebutuhan kita terhadap ilmu agama lebih besar dibanding kehidupan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam, paling-paling kita membutuhkan makan dan minum, dua atau tiga kali saja. Sedangkan ilmu selalu kita butuhkan setiap saat. Tapi realitanya dalam keseharian, waktu kita lebih banyak dialokasikan untuk mencari makan dan minum dibanding untuk mencari ilmu agama.Ilmu agama inilah yang akan menerangi kehidupan kita. Membantu kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bermanfaat dan yang berbahaya. Yang halal dan yang haram. Membedakan tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, juga maksiat dan ibadah.Cahaya ini pula yang akan membimbing kita menuju surga Allah di tengah kegelapan hari kiamat kelak. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ…”[/arabic-font]Artinya: “Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. (Yaitu) surga-surga…”. QS. Al-Hadid (57): 12.Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa cahaya orang yang beriman kelak akan berbeda-beda. Ada yang sebesar gunung. Ada yang sebesar pohon kurma. Ada yang sebesar orang yang sedang berdiri. Dan adapula yang cahayanya di jempol dia. Terkadang menyala dan kadang pula padam.Maka mari kita terus belajar ilmu agama, agar cahaya kita semakin terang benderang!@ Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1437 / 10 Juni 2016 Post navigation Previous Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at)Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPernahkah anda tiba-tiba mengalami mati lampu? Pet! Apa yang anda rasakan saat itu? Gelap gulita. Tidak tahu mana arah. Grayap-grayap, meraba-raba. Anda sulit membedakan mana makanan dan mana kotoran. Mana kucing dan mana anjing. Mana kopi dan mana terigu. Mana gula dan mana garam.Anda berjalan dengan sangat pelan karena takut menabrak meja dan kursi atau tembok.Keinginan terbesarBanyak keinginan manusia di dunia ini. Namun saat mati lampu, saya yakin keinginan terbesar kita adalah agar lampu menyala kembali. Atau minimal kita akan mencari secercah cahaya. Lilin, senter, HP, atau yang lainnya. Untuk menyinari kegelapan yang terasa sangat mengganggu.Jadi, cahaya adalah kebutuhan pokok manusia.Cahaya HakikiNamun tahukah Anda, bahwa di sana ada cahaya yang jauh lebih penting dibanding cahaya lampu atau lilin? Sebab lampu itu hanya kita butuhkan di malam hari saja. Ketahuilah bahwa di sana ada cahaya yang kita butuhkan siang dan malam, sejak kita lahir hingga kita meninggal dunia. Bahkan saat kita di kuburan kelak dan di alam akhirat.Apakah cahaya itu? Cahaya tersebut tidak lain adalah ilmu agama yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah disertai lentera bimbingan para ulama. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا”[/arabic-font]Artinya: “Telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang”. QS. An-Nisa’ (4): 174.Maksud dari cahaya dalam ayat di atas adalah al-Qur’an. Demikian keterangan Imam ath-Thabariy.Ilmu agama adalah kebutuhan primer setiap insan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, kebutuhan kita terhadap ilmu agama lebih besar dibanding kehidupan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam, paling-paling kita membutuhkan makan dan minum, dua atau tiga kali saja. Sedangkan ilmu selalu kita butuhkan setiap saat. Tapi realitanya dalam keseharian, waktu kita lebih banyak dialokasikan untuk mencari makan dan minum dibanding untuk mencari ilmu agama.Ilmu agama inilah yang akan menerangi kehidupan kita. Membantu kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bermanfaat dan yang berbahaya. Yang halal dan yang haram. Membedakan tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, juga maksiat dan ibadah.Cahaya ini pula yang akan membimbing kita menuju surga Allah di tengah kegelapan hari kiamat kelak. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ…”[/arabic-font]Artinya: “Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. (Yaitu) surga-surga…”. QS. Al-Hadid (57): 12.Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa cahaya orang yang beriman kelak akan berbeda-beda. Ada yang sebesar gunung. Ada yang sebesar pohon kurma. Ada yang sebesar orang yang sedang berdiri. Dan adapula yang cahayanya di jempol dia. Terkadang menyala dan kadang pula padam.Maka mari kita terus belajar ilmu agama, agar cahaya kita semakin terang benderang!@ Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1437 / 10 Juni 2016 Post navigation Previous Cita-Cita Tertinggi (Serial Khotbah Jum’at)Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kedelapan: Memperbanyak dzikir dan mengingat AllahAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا”[/arabic-font]Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”ثَلاثَةٌ لا يَردُّ اللهُ دُعَاءَهُمْ؛ الذَّاكر الله كَثِيرًا، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَالإِمَامُ الْمُقْسِط”[/arabic-font]“Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak Allah. (1) Orang yang banyak berdzikir. (2) Doanya orang yang dizalimi. (3) Penguasa yang adil”. HR. Al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adh-Dhahhak bin Qais menasehatkan, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir mengingat Allah saat kondisi lapang; niscaya Allah akan mengingat kalian saat kondisi susah. Lihatlah Nabi Yunus ‘alaihis salam. Beliau selalu rajin berdzikir kepada Allah. Saat beliau dimakan ikan paus, Allah berfirman,[arabic-font]”فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ”[/arabic-font]“Sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap berada di perut (ikan itu) sampai hari kiamat”. QS. Ash-Shaffat (37): 143-144.Bandingkan dengan Fir’aun yang jahat dan lalai dari berdzikir kepada Allah. Saat dia tenggelam dan berkata, “Sekarang aku beriman”, Allah menimpali,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ”[/arabic-font]“Mengapa baru sekarang (kamu beriman)?! Padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan”. QS. Yunus (10): 91.Rasyid bin Sa’ad menuturkan, “Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, “Nasehatilah aku!”.Beliau menjawab,[arabic-font]”اذْكُرِ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ يَذْكُرُكِ فِي الضَّرَّاءِ”[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat kondisimu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau susah”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam az-Zuhd.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1437 / 18 April 2016 Post navigation Previous “Mati Lampu”Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5

Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kedelapan: Memperbanyak dzikir dan mengingat AllahAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا”[/arabic-font]Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”ثَلاثَةٌ لا يَردُّ اللهُ دُعَاءَهُمْ؛ الذَّاكر الله كَثِيرًا، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَالإِمَامُ الْمُقْسِط”[/arabic-font]“Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak Allah. (1) Orang yang banyak berdzikir. (2) Doanya orang yang dizalimi. (3) Penguasa yang adil”. HR. Al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adh-Dhahhak bin Qais menasehatkan, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir mengingat Allah saat kondisi lapang; niscaya Allah akan mengingat kalian saat kondisi susah. Lihatlah Nabi Yunus ‘alaihis salam. Beliau selalu rajin berdzikir kepada Allah. Saat beliau dimakan ikan paus, Allah berfirman,[arabic-font]”فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ”[/arabic-font]“Sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap berada di perut (ikan itu) sampai hari kiamat”. QS. Ash-Shaffat (37): 143-144.Bandingkan dengan Fir’aun yang jahat dan lalai dari berdzikir kepada Allah. Saat dia tenggelam dan berkata, “Sekarang aku beriman”, Allah menimpali,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ”[/arabic-font]“Mengapa baru sekarang (kamu beriman)?! Padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan”. QS. Yunus (10): 91.Rasyid bin Sa’ad menuturkan, “Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, “Nasehatilah aku!”.Beliau menjawab,[arabic-font]”اذْكُرِ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ يَذْكُرُكِ فِي الضَّرَّاءِ”[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat kondisimu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau susah”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam az-Zuhd.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1437 / 18 April 2016 Post navigation Previous “Mati Lampu”Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kedelapan: Memperbanyak dzikir dan mengingat AllahAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا”[/arabic-font]Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”ثَلاثَةٌ لا يَردُّ اللهُ دُعَاءَهُمْ؛ الذَّاكر الله كَثِيرًا، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَالإِمَامُ الْمُقْسِط”[/arabic-font]“Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak Allah. (1) Orang yang banyak berdzikir. (2) Doanya orang yang dizalimi. (3) Penguasa yang adil”. HR. Al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adh-Dhahhak bin Qais menasehatkan, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir mengingat Allah saat kondisi lapang; niscaya Allah akan mengingat kalian saat kondisi susah. Lihatlah Nabi Yunus ‘alaihis salam. Beliau selalu rajin berdzikir kepada Allah. Saat beliau dimakan ikan paus, Allah berfirman,[arabic-font]”فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ”[/arabic-font]“Sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap berada di perut (ikan itu) sampai hari kiamat”. QS. Ash-Shaffat (37): 143-144.Bandingkan dengan Fir’aun yang jahat dan lalai dari berdzikir kepada Allah. Saat dia tenggelam dan berkata, “Sekarang aku beriman”, Allah menimpali,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ”[/arabic-font]“Mengapa baru sekarang (kamu beriman)?! Padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan”. QS. Yunus (10): 91.Rasyid bin Sa’ad menuturkan, “Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, “Nasehatilah aku!”.Beliau menjawab,[arabic-font]”اذْكُرِ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ يَذْكُرُكِ فِي الضَّرَّاءِ”[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat kondisimu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau susah”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam az-Zuhd.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1437 / 18 April 2016 Post navigation Previous “Mati Lampu”Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kedelapan: Memperbanyak dzikir dan mengingat AllahAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا”[/arabic-font]Artinya: “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab (33): 35.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”ثَلاثَةٌ لا يَردُّ اللهُ دُعَاءَهُمْ؛ الذَّاكر الله كَثِيرًا، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَالإِمَامُ الْمُقْسِط”[/arabic-font]“Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak Allah. (1) Orang yang banyak berdzikir. (2) Doanya orang yang dizalimi. (3) Penguasa yang adil”. HR. Al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adh-Dhahhak bin Qais menasehatkan, “Hendaklah kalian senantiasa berdzikir mengingat Allah saat kondisi lapang; niscaya Allah akan mengingat kalian saat kondisi susah. Lihatlah Nabi Yunus ‘alaihis salam. Beliau selalu rajin berdzikir kepada Allah. Saat beliau dimakan ikan paus, Allah berfirman,[arabic-font]”فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ”[/arabic-font]“Sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap berada di perut (ikan itu) sampai hari kiamat”. QS. Ash-Shaffat (37): 143-144.Bandingkan dengan Fir’aun yang jahat dan lalai dari berdzikir kepada Allah. Saat dia tenggelam dan berkata, “Sekarang aku beriman”, Allah menimpali,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ”[/arabic-font]“Mengapa baru sekarang (kamu beriman)?! Padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan”. QS. Yunus (10): 91.Rasyid bin Sa’ad menuturkan, “Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, “Nasehatilah aku!”.Beliau menjawab,[arabic-font]”اذْكُرِ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ يَذْكُرُكِ فِي الضَّرَّاءِ”[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat kondisimu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat engkau susah”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam az-Zuhd.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1437 / 18 April 2016 Post navigation Previous “Mati Lampu”Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesembilan: Mengawali doa dengan menyebut nama Allah yang muliaAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا”[/arabic-font] Artinya: “Allah memiliki nama-nama yang mulia; maka berdoalah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama itu”. QS. Al-A’raf (7): 180.Ayat ini mengajarkan pada kita salah satu etika penting dalam berdoa. Yakni mengawali doa dengan menyebut nama-nama Allah. Adab ini biasa diistilahkan dengan tawassul menggunakan asma’ul husna. Yang maknanya adalah menjadikan nama-nama Allah sebagai perantara dalam berdoa.Etika ini amat penting. Sebab selain memang diperintahkan agama, juga menunjukkan kesopanan seorang hamba dalam meminta kepada Rabbnya. Bila minta kepada manusia saja, kita memperhatikan tata krama, dengan tidak langsung minta saat bertemu. Namun diawali dengan pujian kepadanya. Sungguh Allah ta’ala jauh lebih berhak untuk di’sikapi’ dengan etika yang mulia.Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya dalam doa-doa beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan,[arabic-font]قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ: ” مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ، أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: “يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “[/arabic-font]Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Fathimah, “Apa yang menghalangimu untuk menyimak apa yang akan kuwasiatkan padamu. Ucapkanlah setiap pagi dan sore, “Ya Hayyu ya Qayyûm, bi rohmatika astaghîts, ashlih lî sya’nî kullah. Wa lâ takilnî ilâ nafsî thorfata ‘ain” (Wahai Yang Maha hidup dan Yang Maha mengurusi makhluk-Nya. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan janganlah Kau jadikan aku bergantung kepada diriku walaupun hanya sekejap mata)”. HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra. Al-Hakim menilai hadits ini sahih.Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengawali doanya dengan menyebutkan dua nama Allah yang mulia. Yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum. Baru setelah itu beliau meminta kepada-Nya agar diperbaiki urusannya.Sebagaimana telah maklum bahwa nama-nama Allah itu amatlah banyak. Maka satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan asma’ul husna saat berdoa adalah: sesuaikan nama Allah yang Anda pakai dengan isi doamu. Bila Anda meminta ampunan; maka gunakanlah nama al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun) sebagai awalannya. Bila Anda meminta rahmat, maka awalilah doa Anda dengan nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm. Demikian keterangan yang disampaikan Imam al-Qurthuby dalam kitab tafsir beliau, saat menafsirkan makna QS. Al-A’raf (7): 180 tersebut di atas.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1437 / 2 Mei 2016 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%B3%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D8%A7%D8%A1-1-3 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesembilan: Mengawali doa dengan menyebut nama Allah yang muliaAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا”[/arabic-font] Artinya: “Allah memiliki nama-nama yang mulia; maka berdoalah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama itu”. QS. Al-A’raf (7): 180.Ayat ini mengajarkan pada kita salah satu etika penting dalam berdoa. Yakni mengawali doa dengan menyebut nama-nama Allah. Adab ini biasa diistilahkan dengan tawassul menggunakan asma’ul husna. Yang maknanya adalah menjadikan nama-nama Allah sebagai perantara dalam berdoa.Etika ini amat penting. Sebab selain memang diperintahkan agama, juga menunjukkan kesopanan seorang hamba dalam meminta kepada Rabbnya. Bila minta kepada manusia saja, kita memperhatikan tata krama, dengan tidak langsung minta saat bertemu. Namun diawali dengan pujian kepadanya. Sungguh Allah ta’ala jauh lebih berhak untuk di’sikapi’ dengan etika yang mulia.Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya dalam doa-doa beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan,[arabic-font]قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ: ” مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ، أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: “يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “[/arabic-font]Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Fathimah, “Apa yang menghalangimu untuk menyimak apa yang akan kuwasiatkan padamu. Ucapkanlah setiap pagi dan sore, “Ya Hayyu ya Qayyûm, bi rohmatika astaghîts, ashlih lî sya’nî kullah. Wa lâ takilnî ilâ nafsî thorfata ‘ain” (Wahai Yang Maha hidup dan Yang Maha mengurusi makhluk-Nya. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan janganlah Kau jadikan aku bergantung kepada diriku walaupun hanya sekejap mata)”. HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra. Al-Hakim menilai hadits ini sahih.Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengawali doanya dengan menyebutkan dua nama Allah yang mulia. Yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum. Baru setelah itu beliau meminta kepada-Nya agar diperbaiki urusannya.Sebagaimana telah maklum bahwa nama-nama Allah itu amatlah banyak. Maka satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan asma’ul husna saat berdoa adalah: sesuaikan nama Allah yang Anda pakai dengan isi doamu. Bila Anda meminta ampunan; maka gunakanlah nama al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun) sebagai awalannya. Bila Anda meminta rahmat, maka awalilah doa Anda dengan nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm. Demikian keterangan yang disampaikan Imam al-Qurthuby dalam kitab tafsir beliau, saat menafsirkan makna QS. Al-A’raf (7): 180 tersebut di atas.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1437 / 2 Mei 2016 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%B3%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D8%A7%D8%A1-1-3 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesembilan: Mengawali doa dengan menyebut nama Allah yang muliaAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا”[/arabic-font] Artinya: “Allah memiliki nama-nama yang mulia; maka berdoalah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama itu”. QS. Al-A’raf (7): 180.Ayat ini mengajarkan pada kita salah satu etika penting dalam berdoa. Yakni mengawali doa dengan menyebut nama-nama Allah. Adab ini biasa diistilahkan dengan tawassul menggunakan asma’ul husna. Yang maknanya adalah menjadikan nama-nama Allah sebagai perantara dalam berdoa.Etika ini amat penting. Sebab selain memang diperintahkan agama, juga menunjukkan kesopanan seorang hamba dalam meminta kepada Rabbnya. Bila minta kepada manusia saja, kita memperhatikan tata krama, dengan tidak langsung minta saat bertemu. Namun diawali dengan pujian kepadanya. Sungguh Allah ta’ala jauh lebih berhak untuk di’sikapi’ dengan etika yang mulia.Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya dalam doa-doa beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan,[arabic-font]قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ: ” مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ، أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: “يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “[/arabic-font]Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Fathimah, “Apa yang menghalangimu untuk menyimak apa yang akan kuwasiatkan padamu. Ucapkanlah setiap pagi dan sore, “Ya Hayyu ya Qayyûm, bi rohmatika astaghîts, ashlih lî sya’nî kullah. Wa lâ takilnî ilâ nafsî thorfata ‘ain” (Wahai Yang Maha hidup dan Yang Maha mengurusi makhluk-Nya. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan janganlah Kau jadikan aku bergantung kepada diriku walaupun hanya sekejap mata)”. HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra. Al-Hakim menilai hadits ini sahih.Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengawali doanya dengan menyebutkan dua nama Allah yang mulia. Yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum. Baru setelah itu beliau meminta kepada-Nya agar diperbaiki urusannya.Sebagaimana telah maklum bahwa nama-nama Allah itu amatlah banyak. Maka satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan asma’ul husna saat berdoa adalah: sesuaikan nama Allah yang Anda pakai dengan isi doamu. Bila Anda meminta ampunan; maka gunakanlah nama al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun) sebagai awalannya. Bila Anda meminta rahmat, maka awalilah doa Anda dengan nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm. Demikian keterangan yang disampaikan Imam al-Qurthuby dalam kitab tafsir beliau, saat menafsirkan makna QS. Al-A’raf (7): 180 tersebut di atas.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1437 / 2 Mei 2016 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%B3%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D8%A7%D8%A1-1-3 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesembilan: Mengawali doa dengan menyebut nama Allah yang muliaAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا”[/arabic-font] Artinya: “Allah memiliki nama-nama yang mulia; maka berdoalah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama itu”. QS. Al-A’raf (7): 180.Ayat ini mengajarkan pada kita salah satu etika penting dalam berdoa. Yakni mengawali doa dengan menyebut nama-nama Allah. Adab ini biasa diistilahkan dengan tawassul menggunakan asma’ul husna. Yang maknanya adalah menjadikan nama-nama Allah sebagai perantara dalam berdoa.Etika ini amat penting. Sebab selain memang diperintahkan agama, juga menunjukkan kesopanan seorang hamba dalam meminta kepada Rabbnya. Bila minta kepada manusia saja, kita memperhatikan tata krama, dengan tidak langsung minta saat bertemu. Namun diawali dengan pujian kepadanya. Sungguh Allah ta’ala jauh lebih berhak untuk di’sikapi’ dengan etika yang mulia.Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya dalam doa-doa beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan,[arabic-font]قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ: ” مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ، أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: “يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ “[/arabic-font]Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Fathimah, “Apa yang menghalangimu untuk menyimak apa yang akan kuwasiatkan padamu. Ucapkanlah setiap pagi dan sore, “Ya Hayyu ya Qayyûm, bi rohmatika astaghîts, ashlih lî sya’nî kullah. Wa lâ takilnî ilâ nafsî thorfata ‘ain” (Wahai Yang Maha hidup dan Yang Maha mengurusi makhluk-Nya. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan janganlah Kau jadikan aku bergantung kepada diriku walaupun hanya sekejap mata)”. HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra. Al-Hakim menilai hadits ini sahih.Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengawali doanya dengan menyebutkan dua nama Allah yang mulia. Yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum. Baru setelah itu beliau meminta kepada-Nya agar diperbaiki urusannya.Sebagaimana telah maklum bahwa nama-nama Allah itu amatlah banyak. Maka satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan asma’ul husna saat berdoa adalah: sesuaikan nama Allah yang Anda pakai dengan isi doamu. Bila Anda meminta ampunan; maka gunakanlah nama al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun) sebagai awalannya. Bila Anda meminta rahmat, maka awalilah doa Anda dengan nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm. Demikian keterangan yang disampaikan Imam al-Qurthuby dalam kitab tafsir beliau, saat menafsirkan makna QS. Al-A’raf (7): 180 tersebut di atas.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Rajab 1437 / 2 Mei 2016 Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%B3%D8%A8%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D8%A7%D8%A1-1-3 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 5Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 97Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesepuluh: Bertawassul ketika berdoaTawassul adalah menggunakan wasîlah (sarana) agar doa atau ibadah bisa lebih diterima dan dikabulkan.Wasîlah secara bahasa berarti segala hal yang dapat mendekatkan kepada sesuatu. (Ash-Shihâh V/1841).Sedang menurut istilah syari’at, wasîlah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah ta’ala. Yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. (Tafsir Ath-Thabari VIII/403 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Di antara dalil tawassul adalah firman Allah ta’ala,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasîlah (sarana) untuk mendekatkan diri kepadaNya. Serta berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.” QS. Al-Maidah (5): 35.Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menafsirkan ayat di atas, ”Makna wasîlah dalam ayat tersebut adalah qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).”Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Mujahid, Ibnu Wa’il, al-Hasan, Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah menjelaskan makna ayat tersebut, ”Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari VIII/403-404 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Cara tawassul yang benarDi antara cara tawassul yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan Sunnah:Pertama: Bertawassul dengan menyebut asma’ul husna dan sifat-sifat Allah, yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-A’raf (7): 180.Poin ini telah kita bahas dalam Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96.Kedua: Bertawassul dengan amal shalihSebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits sahih yang mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya berupa menjaga hak buruh. Orang kedua bertawassul dengan kebaktian kepada kedua orang tuanya. Sedangkan orang ketiga bertawassul dengan rasa takutnya kepada Allah ta’ala, sehingga membatalkan perbuatan zina yang hendak dia lakukan. Akhirnya Allah ta’ala membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, hingga mereka bertiga pun akhirnya bisa keluar dengan selamat. (HR. Muslim).Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Sya’ban 1437 / 16 Mei 2016 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari https://muslimah.or.id/946-memahami-tawassul.htm Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 97Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesepuluh: Bertawassul ketika berdoaTawassul adalah menggunakan wasîlah (sarana) agar doa atau ibadah bisa lebih diterima dan dikabulkan.Wasîlah secara bahasa berarti segala hal yang dapat mendekatkan kepada sesuatu. (Ash-Shihâh V/1841).Sedang menurut istilah syari’at, wasîlah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah ta’ala. Yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. (Tafsir Ath-Thabari VIII/403 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Di antara dalil tawassul adalah firman Allah ta’ala,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasîlah (sarana) untuk mendekatkan diri kepadaNya. Serta berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.” QS. Al-Maidah (5): 35.Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menafsirkan ayat di atas, ”Makna wasîlah dalam ayat tersebut adalah qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).”Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Mujahid, Ibnu Wa’il, al-Hasan, Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah menjelaskan makna ayat tersebut, ”Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari VIII/403-404 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Cara tawassul yang benarDi antara cara tawassul yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan Sunnah:Pertama: Bertawassul dengan menyebut asma’ul husna dan sifat-sifat Allah, yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-A’raf (7): 180.Poin ini telah kita bahas dalam Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96.Kedua: Bertawassul dengan amal shalihSebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits sahih yang mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya berupa menjaga hak buruh. Orang kedua bertawassul dengan kebaktian kepada kedua orang tuanya. Sedangkan orang ketiga bertawassul dengan rasa takutnya kepada Allah ta’ala, sehingga membatalkan perbuatan zina yang hendak dia lakukan. Akhirnya Allah ta’ala membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, hingga mereka bertiga pun akhirnya bisa keluar dengan selamat. (HR. Muslim).Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Sya’ban 1437 / 16 Mei 2016 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari https://muslimah.or.id/946-memahami-tawassul.htm Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 97Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesepuluh: Bertawassul ketika berdoaTawassul adalah menggunakan wasîlah (sarana) agar doa atau ibadah bisa lebih diterima dan dikabulkan.Wasîlah secara bahasa berarti segala hal yang dapat mendekatkan kepada sesuatu. (Ash-Shihâh V/1841).Sedang menurut istilah syari’at, wasîlah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah ta’ala. Yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. (Tafsir Ath-Thabari VIII/403 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Di antara dalil tawassul adalah firman Allah ta’ala,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasîlah (sarana) untuk mendekatkan diri kepadaNya. Serta berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.” QS. Al-Maidah (5): 35.Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menafsirkan ayat di atas, ”Makna wasîlah dalam ayat tersebut adalah qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).”Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Mujahid, Ibnu Wa’il, al-Hasan, Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah menjelaskan makna ayat tersebut, ”Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari VIII/403-404 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Cara tawassul yang benarDi antara cara tawassul yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan Sunnah:Pertama: Bertawassul dengan menyebut asma’ul husna dan sifat-sifat Allah, yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-A’raf (7): 180.Poin ini telah kita bahas dalam Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96.Kedua: Bertawassul dengan amal shalihSebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits sahih yang mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya berupa menjaga hak buruh. Orang kedua bertawassul dengan kebaktian kepada kedua orang tuanya. Sedangkan orang ketiga bertawassul dengan rasa takutnya kepada Allah ta’ala, sehingga membatalkan perbuatan zina yang hendak dia lakukan. Akhirnya Allah ta’ala membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, hingga mereka bertiga pun akhirnya bisa keluar dengan selamat. (HR. Muslim).Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Sya’ban 1437 / 16 Mei 2016 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari https://muslimah.or.id/946-memahami-tawassul.htm Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 97Di antara sebab-sebab terkabulnya doa:Kesepuluh: Bertawassul ketika berdoaTawassul adalah menggunakan wasîlah (sarana) agar doa atau ibadah bisa lebih diterima dan dikabulkan.Wasîlah secara bahasa berarti segala hal yang dapat mendekatkan kepada sesuatu. (Ash-Shihâh V/1841).Sedang menurut istilah syari’at, wasîlah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah ta’ala. Yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. (Tafsir Ath-Thabari VIII/403 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Di antara dalil tawassul adalah firman Allah ta’ala,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasîlah (sarana) untuk mendekatkan diri kepadaNya. Serta berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.” QS. Al-Maidah (5): 35.Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menafsirkan ayat di atas, ”Makna wasîlah dalam ayat tersebut adalah qurbah (peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah).”Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Mujahid, Ibnu Wa’il, al-Hasan, Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah menjelaskan makna ayat tersebut, ”Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari VIII/403-404 dan Tafsir Ibnu Katsir III/103).Cara tawassul yang benarDi antara cara tawassul yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan Sunnah:Pertama: Bertawassul dengan menyebut asma’ul husna dan sifat-sifat Allah, yang sesuai dengan hajatnya ketika berdo’a. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-A’raf (7): 180.Poin ini telah kita bahas dalam Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 96.Kedua: Bertawassul dengan amal shalihSebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits sahih yang mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalih mereka. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya berupa menjaga hak buruh. Orang kedua bertawassul dengan kebaktian kepada kedua orang tuanya. Sedangkan orang ketiga bertawassul dengan rasa takutnya kepada Allah ta’ala, sehingga membatalkan perbuatan zina yang hendak dia lakukan. Akhirnya Allah ta’ala membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, hingga mereka bertiga pun akhirnya bisa keluar dengan selamat. (HR. Muslim).Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Sya’ban 1437 / 16 Mei 2016 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari https://muslimah.or.id/946-memahami-tawassul.htm Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 6Next Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 98Pada pertemuan sebelumnya sudah dibahas bahwa sebab kesepuluh terkabulnya doa adalah bertawassul. Saat itu telah dijelaskan makna tawassul dan dua contoh cara tawassul yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Berikut contoh lainnya:Ketiga: Bertawassul dengan doanya orang shalih yang masih hidup, hadir dan mampu.Maksudnya adalah meminta bantuan kepadanya agar mendoakan kita.Dalil disyariatkannya tawassul jenis ini, antara lain firman Allah ta’ala,[arabic-font]”قَالُوا يَاأَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”[/arabic-font] Artinya: “Mereka (anak-anak Nabi Ya’qub) berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah. Dia (Ya’qub) menjawab, “Aku akan memohonkan ampunan kepada Rabbku untuk kalian. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. QS. Yusuf (12): 97-98.Dalam ayat di atas diceritakan bagaimana putra-putra Nabi Ya’qub bertawassul dengan doa ayah mereka. Yakni mereka memohon kepadanya agar mendoakan mereka, supaya Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya apa yang dituturkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, “Ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!”. Anas berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا”.[/arabic-font]“Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan”.Anas melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun.” Anas berkata, “Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari.” Anas berkata selanjutnya, “Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seorang lelaki lagi yang masuk dari pintu yang sama sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ”[/arabic-font]“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah dia di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1437 / 6 Juni 2016 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7Next Berdo’a Harus Ikhlas Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 98Pada pertemuan sebelumnya sudah dibahas bahwa sebab kesepuluh terkabulnya doa adalah bertawassul. Saat itu telah dijelaskan makna tawassul dan dua contoh cara tawassul yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Berikut contoh lainnya:Ketiga: Bertawassul dengan doanya orang shalih yang masih hidup, hadir dan mampu.Maksudnya adalah meminta bantuan kepadanya agar mendoakan kita.Dalil disyariatkannya tawassul jenis ini, antara lain firman Allah ta’ala,[arabic-font]”قَالُوا يَاأَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”[/arabic-font] Artinya: “Mereka (anak-anak Nabi Ya’qub) berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah. Dia (Ya’qub) menjawab, “Aku akan memohonkan ampunan kepada Rabbku untuk kalian. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. QS. Yusuf (12): 97-98.Dalam ayat di atas diceritakan bagaimana putra-putra Nabi Ya’qub bertawassul dengan doa ayah mereka. Yakni mereka memohon kepadanya agar mendoakan mereka, supaya Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya apa yang dituturkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, “Ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!”. Anas berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا”.[/arabic-font]“Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan”.Anas melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun.” Anas berkata, “Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari.” Anas berkata selanjutnya, “Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seorang lelaki lagi yang masuk dari pintu yang sama sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ”[/arabic-font]“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah dia di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1437 / 6 Juni 2016 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7Next Berdo’a Harus Ikhlas Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 98Pada pertemuan sebelumnya sudah dibahas bahwa sebab kesepuluh terkabulnya doa adalah bertawassul. Saat itu telah dijelaskan makna tawassul dan dua contoh cara tawassul yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Berikut contoh lainnya:Ketiga: Bertawassul dengan doanya orang shalih yang masih hidup, hadir dan mampu.Maksudnya adalah meminta bantuan kepadanya agar mendoakan kita.Dalil disyariatkannya tawassul jenis ini, antara lain firman Allah ta’ala,[arabic-font]”قَالُوا يَاأَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”[/arabic-font] Artinya: “Mereka (anak-anak Nabi Ya’qub) berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah. Dia (Ya’qub) menjawab, “Aku akan memohonkan ampunan kepada Rabbku untuk kalian. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. QS. Yusuf (12): 97-98.Dalam ayat di atas diceritakan bagaimana putra-putra Nabi Ya’qub bertawassul dengan doa ayah mereka. Yakni mereka memohon kepadanya agar mendoakan mereka, supaya Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya apa yang dituturkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, “Ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!”. Anas berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا”.[/arabic-font]“Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan”.Anas melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun.” Anas berkata, “Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari.” Anas berkata selanjutnya, “Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seorang lelaki lagi yang masuk dari pintu yang sama sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ”[/arabic-font]“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah dia di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1437 / 6 Juni 2016 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7Next Berdo’a Harus Ikhlas Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 98Pada pertemuan sebelumnya sudah dibahas bahwa sebab kesepuluh terkabulnya doa adalah bertawassul. Saat itu telah dijelaskan makna tawassul dan dua contoh cara tawassul yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Berikut contoh lainnya:Ketiga: Bertawassul dengan doanya orang shalih yang masih hidup, hadir dan mampu.Maksudnya adalah meminta bantuan kepadanya agar mendoakan kita.Dalil disyariatkannya tawassul jenis ini, antara lain firman Allah ta’ala,[arabic-font]”قَالُوا يَاأَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ . قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”[/arabic-font] Artinya: “Mereka (anak-anak Nabi Ya’qub) berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah. Dia (Ya’qub) menjawab, “Aku akan memohonkan ampunan kepada Rabbku untuk kalian. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. QS. Yusuf (12): 97-98.Dalam ayat di atas diceritakan bagaimana putra-putra Nabi Ya’qub bertawassul dengan doa ayah mereka. Yakni mereka memohon kepadanya agar mendoakan mereka, supaya Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya apa yang dituturkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, “Ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami!”. Anas berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا”.[/arabic-font]“Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan”.Anas melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun.” Anas berkata, “Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari.” Anas berkata selanjutnya, “Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seorang lelaki lagi yang masuk dari pintu yang sama sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, [arabic-font]”اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ”[/arabic-font]“Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah dia di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim).@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Ramadhan 1437 / 6 Juni 2016 Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 7Next Berdo’a Harus Ikhlas Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next