Berdo’a Harus Ikhlas

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 99Ikhlas dalam berdoa maksudnya adalah: bahwa doa yang kita panjatkan harus tertuju murni kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Bukan kepada selain-Nya.Sebab;Pertama: Doa adalah ibadahSedangkan ibadah itu harus ditujukan dan dipersembahkan kepada Allah ta’ala semata. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa doa itu ibadah. Di antaranya:Firman Allah ta’ala,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,[arabic-font]”الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”[/arabic-font]“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Kedua: Perintah agar memurnikan doa untuk Allah sajaSelain telah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah, dalam beberapa kesempatan bahkan Allah ‘azza wa jalla juga secara tegas memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya saja. Dia berfirman,[arabic-font]”هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”.[/arabic-font]Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka berdoalah kepada-Nya dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65.Ketiga: Peringatan agar tidak berdoa kepada selain Allah Tidak cukup hanya memerintahkan para hamba agar berdoa kepada-Nya, Allah jalla wa ‘ala juga dengan tegas melarang untuk berdoa kepada selain-Nya,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun bersama Allah”. QS. Al-Jinn (72): 18.Sebab selain Allah tidak memiliki apa-apa. Dia berfirman,[arabic-font]”قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah (Muhammad) “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah. Mereka tidak memiliki sebesar zarrah pun di langit dan di bumi”. QS. Saba’ (34): 22.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1437 /20 Juni 2016* Diringkas dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/39-43) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA. Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8Next Maling Puasa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berdo’a Harus Ikhlas

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 99Ikhlas dalam berdoa maksudnya adalah: bahwa doa yang kita panjatkan harus tertuju murni kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Bukan kepada selain-Nya.Sebab;Pertama: Doa adalah ibadahSedangkan ibadah itu harus ditujukan dan dipersembahkan kepada Allah ta’ala semata. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa doa itu ibadah. Di antaranya:Firman Allah ta’ala,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,[arabic-font]”الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”[/arabic-font]“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Kedua: Perintah agar memurnikan doa untuk Allah sajaSelain telah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah, dalam beberapa kesempatan bahkan Allah ‘azza wa jalla juga secara tegas memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya saja. Dia berfirman,[arabic-font]”هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”.[/arabic-font]Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka berdoalah kepada-Nya dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65.Ketiga: Peringatan agar tidak berdoa kepada selain Allah Tidak cukup hanya memerintahkan para hamba agar berdoa kepada-Nya, Allah jalla wa ‘ala juga dengan tegas melarang untuk berdoa kepada selain-Nya,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun bersama Allah”. QS. Al-Jinn (72): 18.Sebab selain Allah tidak memiliki apa-apa. Dia berfirman,[arabic-font]”قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah (Muhammad) “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah. Mereka tidak memiliki sebesar zarrah pun di langit dan di bumi”. QS. Saba’ (34): 22.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1437 /20 Juni 2016* Diringkas dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/39-43) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA. Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8Next Maling Puasa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 99Ikhlas dalam berdoa maksudnya adalah: bahwa doa yang kita panjatkan harus tertuju murni kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Bukan kepada selain-Nya.Sebab;Pertama: Doa adalah ibadahSedangkan ibadah itu harus ditujukan dan dipersembahkan kepada Allah ta’ala semata. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa doa itu ibadah. Di antaranya:Firman Allah ta’ala,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,[arabic-font]”الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”[/arabic-font]“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Kedua: Perintah agar memurnikan doa untuk Allah sajaSelain telah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah, dalam beberapa kesempatan bahkan Allah ‘azza wa jalla juga secara tegas memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya saja. Dia berfirman,[arabic-font]”هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”.[/arabic-font]Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka berdoalah kepada-Nya dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65.Ketiga: Peringatan agar tidak berdoa kepada selain Allah Tidak cukup hanya memerintahkan para hamba agar berdoa kepada-Nya, Allah jalla wa ‘ala juga dengan tegas melarang untuk berdoa kepada selain-Nya,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun bersama Allah”. QS. Al-Jinn (72): 18.Sebab selain Allah tidak memiliki apa-apa. Dia berfirman,[arabic-font]”قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah (Muhammad) “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah. Mereka tidak memiliki sebesar zarrah pun di langit dan di bumi”. QS. Saba’ (34): 22.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1437 /20 Juni 2016* Diringkas dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/39-43) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA. Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8Next Maling Puasa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 99Ikhlas dalam berdoa maksudnya adalah: bahwa doa yang kita panjatkan harus tertuju murni kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Bukan kepada selain-Nya.Sebab;Pertama: Doa adalah ibadahSedangkan ibadah itu harus ditujukan dan dipersembahkan kepada Allah ta’ala semata. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa doa itu ibadah. Di antaranya:Firman Allah ta’ala,[arabic-font]”وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Rabb kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong (enggan) beribadah kepada-Ku; niscaya mereka akan masuk ke dalam neraka dengan hina dina”. QS. Ghafir (40): 60.Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,[arabic-font]”الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ”[/arabic-font]“Doa adalah ibadah”. HR. Tirmidzy dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.Kedua: Perintah agar memurnikan doa untuk Allah sajaSelain telah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah, dalam beberapa kesempatan bahkan Allah ‘azza wa jalla juga secara tegas memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya saja. Dia berfirman,[arabic-font]”هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”.[/arabic-font]Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka berdoalah kepada-Nya dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65.Ketiga: Peringatan agar tidak berdoa kepada selain Allah Tidak cukup hanya memerintahkan para hamba agar berdoa kepada-Nya, Allah jalla wa ‘ala juga dengan tegas melarang untuk berdoa kepada selain-Nya,[arabic-font][arabic-font][/arabic-font]”وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا”[/arabic-font]Artinya: “Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka janganlah kalian berdoa kepada siapapun bersama Allah”. QS. Al-Jinn (72): 18.Sebab selain Allah tidak memiliki apa-apa. Dia berfirman,[arabic-font]”قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah (Muhammad) “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah. Mereka tidak memiliki sebesar zarrah pun di langit dan di bumi”. QS. Saba’ (34): 22.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Ramadhan 1437 /20 Juni 2016* Diringkas dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/39-43) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA. Post navigation Previous Sebab Terkabulnya Do’a bag. 8Next Maling Puasa Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Maling Puasa

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASelama ini kita sering mendengar keterangan bahwa setan-setan di bulan Ramadhan itu dibelenggu. Namun timbul pertanyaan, “Mengapa masih ada maksiat dan kejahatan di bulan mulia ini?”.Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita simak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,[arabic-font]”إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ”[/arabic-font]“Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka dibelenggulah para setan dan jin-jin jahat”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah dan al-Albany.Teks hadits di atas menunjukkan bahwa yang dibelenggu adalah sebagian setan saja. Tidak semuanya. Sehingga wajar saja, bila tetap ada kejahatan di bulan Ramadhan. Walaupun alhamdulillah tidak sebanyak di luar Ramadhan. Terlebih lagi masih ada pemicu-pemicu kejahatan lainnya. Seperti hawa nafsu dan setan manusia.[1]Nah, di antara setan manusia yang begitu gencarnya menggoda kaum mukminin adalah para maling puasa! Bila para maling biasa mereka mencuri uang, kendaraan, perhiasan dan semisalnya. Maka para maling puasa ini mereka mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding barang-barang di atas. Yakni mereka mencuri PAHALA puasa. Bila pahala puasa telah ludes, maka yang akan didapat hanyalah lapar dan dahaga. Dalam hadits sahih dijelaskan,[arabic-font]”رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”.[/arabic-font] “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan dari puasanya: rasa lapar dan dahaga”. HR. Imam Ahmad dan dinilai sahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah juga Syaikh al-Albani.Alangkah jahatnya para maling puasa itu! Siapakah mereka? Apa ciri-cirinya? Sehingga kita bisa lebih mewaspadai kedatangannya sekaligus menjauhinya.Sebenarnya para maling itu banyak. Di antara yang teramat jahat dan korbannya paling banyak adalah sebuah barang kotak persegi empat. Benda itu bernama TELEVISI![2] Ya, sebuah kotak ‘ajaib’ yang kalau dia terjatuh atau sedikit lecet, banyak orang merasa sedih dan sewot. Tapi tanpa disadarinya, ternyata dia telah mencuri pahala puasa kita!Lihat saja seabreg acara tidak bermutu yang ditayangkan di dalamnya. Sinetron yang menampilkan sesuatu yang berbau kebencian, permusuhan dan keangkuhan. Atau kisah cengeng percintaan. Tayangan-tayangan gosip yang memuat cerita perilaku bebas, perselingkuhan atau pergunjingan konflik keluarga, yang jauh dari nilai-nilai islami. Semua dikemas dalam format acara semenarik mungkin. Supaya rating acara tersebut melonjak naik, lalu lembaran-lembaran duit memenuhi kantong para pemilik stasiun itu. Tanpa peduli kerusakan parah yang ditimbulkannya. La haula wa la quwwata illa billah…Maka perlu ada KEPUTUSAN BERANI untuk mematikan sarana perusak tersebut. Minimal di bulan suci ini. Syukur selama-lamanya..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 27 Sya’ban 1437 H / 25 Maret 2016=============================[1] Lihat: Tanwîr al-Hawâlik karya as-Suyuthy (I/290).[2] Maksudnya stasiun-stasiun televisi umum. Bukan yang murni stasiun televisi dakwah, yang hanya menyiarkan pengajian keagamaan atau tilawah al-Qur’an. Post navigation Previous Berdo’a Harus IkhlasNext PASANGANMU adalah PAKAIANMU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Maling Puasa

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASelama ini kita sering mendengar keterangan bahwa setan-setan di bulan Ramadhan itu dibelenggu. Namun timbul pertanyaan, “Mengapa masih ada maksiat dan kejahatan di bulan mulia ini?”.Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita simak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,[arabic-font]”إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ”[/arabic-font]“Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka dibelenggulah para setan dan jin-jin jahat”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah dan al-Albany.Teks hadits di atas menunjukkan bahwa yang dibelenggu adalah sebagian setan saja. Tidak semuanya. Sehingga wajar saja, bila tetap ada kejahatan di bulan Ramadhan. Walaupun alhamdulillah tidak sebanyak di luar Ramadhan. Terlebih lagi masih ada pemicu-pemicu kejahatan lainnya. Seperti hawa nafsu dan setan manusia.[1]Nah, di antara setan manusia yang begitu gencarnya menggoda kaum mukminin adalah para maling puasa! Bila para maling biasa mereka mencuri uang, kendaraan, perhiasan dan semisalnya. Maka para maling puasa ini mereka mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding barang-barang di atas. Yakni mereka mencuri PAHALA puasa. Bila pahala puasa telah ludes, maka yang akan didapat hanyalah lapar dan dahaga. Dalam hadits sahih dijelaskan,[arabic-font]”رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”.[/arabic-font] “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan dari puasanya: rasa lapar dan dahaga”. HR. Imam Ahmad dan dinilai sahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah juga Syaikh al-Albani.Alangkah jahatnya para maling puasa itu! Siapakah mereka? Apa ciri-cirinya? Sehingga kita bisa lebih mewaspadai kedatangannya sekaligus menjauhinya.Sebenarnya para maling itu banyak. Di antara yang teramat jahat dan korbannya paling banyak adalah sebuah barang kotak persegi empat. Benda itu bernama TELEVISI![2] Ya, sebuah kotak ‘ajaib’ yang kalau dia terjatuh atau sedikit lecet, banyak orang merasa sedih dan sewot. Tapi tanpa disadarinya, ternyata dia telah mencuri pahala puasa kita!Lihat saja seabreg acara tidak bermutu yang ditayangkan di dalamnya. Sinetron yang menampilkan sesuatu yang berbau kebencian, permusuhan dan keangkuhan. Atau kisah cengeng percintaan. Tayangan-tayangan gosip yang memuat cerita perilaku bebas, perselingkuhan atau pergunjingan konflik keluarga, yang jauh dari nilai-nilai islami. Semua dikemas dalam format acara semenarik mungkin. Supaya rating acara tersebut melonjak naik, lalu lembaran-lembaran duit memenuhi kantong para pemilik stasiun itu. Tanpa peduli kerusakan parah yang ditimbulkannya. La haula wa la quwwata illa billah…Maka perlu ada KEPUTUSAN BERANI untuk mematikan sarana perusak tersebut. Minimal di bulan suci ini. Syukur selama-lamanya..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 27 Sya’ban 1437 H / 25 Maret 2016=============================[1] Lihat: Tanwîr al-Hawâlik karya as-Suyuthy (I/290).[2] Maksudnya stasiun-stasiun televisi umum. Bukan yang murni stasiun televisi dakwah, yang hanya menyiarkan pengajian keagamaan atau tilawah al-Qur’an. Post navigation Previous Berdo’a Harus IkhlasNext PASANGANMU adalah PAKAIANMU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASelama ini kita sering mendengar keterangan bahwa setan-setan di bulan Ramadhan itu dibelenggu. Namun timbul pertanyaan, “Mengapa masih ada maksiat dan kejahatan di bulan mulia ini?”.Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita simak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,[arabic-font]”إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ”[/arabic-font]“Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka dibelenggulah para setan dan jin-jin jahat”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah dan al-Albany.Teks hadits di atas menunjukkan bahwa yang dibelenggu adalah sebagian setan saja. Tidak semuanya. Sehingga wajar saja, bila tetap ada kejahatan di bulan Ramadhan. Walaupun alhamdulillah tidak sebanyak di luar Ramadhan. Terlebih lagi masih ada pemicu-pemicu kejahatan lainnya. Seperti hawa nafsu dan setan manusia.[1]Nah, di antara setan manusia yang begitu gencarnya menggoda kaum mukminin adalah para maling puasa! Bila para maling biasa mereka mencuri uang, kendaraan, perhiasan dan semisalnya. Maka para maling puasa ini mereka mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding barang-barang di atas. Yakni mereka mencuri PAHALA puasa. Bila pahala puasa telah ludes, maka yang akan didapat hanyalah lapar dan dahaga. Dalam hadits sahih dijelaskan,[arabic-font]”رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”.[/arabic-font] “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan dari puasanya: rasa lapar dan dahaga”. HR. Imam Ahmad dan dinilai sahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah juga Syaikh al-Albani.Alangkah jahatnya para maling puasa itu! Siapakah mereka? Apa ciri-cirinya? Sehingga kita bisa lebih mewaspadai kedatangannya sekaligus menjauhinya.Sebenarnya para maling itu banyak. Di antara yang teramat jahat dan korbannya paling banyak adalah sebuah barang kotak persegi empat. Benda itu bernama TELEVISI![2] Ya, sebuah kotak ‘ajaib’ yang kalau dia terjatuh atau sedikit lecet, banyak orang merasa sedih dan sewot. Tapi tanpa disadarinya, ternyata dia telah mencuri pahala puasa kita!Lihat saja seabreg acara tidak bermutu yang ditayangkan di dalamnya. Sinetron yang menampilkan sesuatu yang berbau kebencian, permusuhan dan keangkuhan. Atau kisah cengeng percintaan. Tayangan-tayangan gosip yang memuat cerita perilaku bebas, perselingkuhan atau pergunjingan konflik keluarga, yang jauh dari nilai-nilai islami. Semua dikemas dalam format acara semenarik mungkin. Supaya rating acara tersebut melonjak naik, lalu lembaran-lembaran duit memenuhi kantong para pemilik stasiun itu. Tanpa peduli kerusakan parah yang ditimbulkannya. La haula wa la quwwata illa billah…Maka perlu ada KEPUTUSAN BERANI untuk mematikan sarana perusak tersebut. Minimal di bulan suci ini. Syukur selama-lamanya..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 27 Sya’ban 1437 H / 25 Maret 2016=============================[1] Lihat: Tanwîr al-Hawâlik karya as-Suyuthy (I/290).[2] Maksudnya stasiun-stasiun televisi umum. Bukan yang murni stasiun televisi dakwah, yang hanya menyiarkan pengajian keagamaan atau tilawah al-Qur’an. Post navigation Previous Berdo’a Harus IkhlasNext PASANGANMU adalah PAKAIANMU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MASelama ini kita sering mendengar keterangan bahwa setan-setan di bulan Ramadhan itu dibelenggu. Namun timbul pertanyaan, “Mengapa masih ada maksiat dan kejahatan di bulan mulia ini?”.Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita simak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini,[arabic-font]”إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ”[/arabic-font]“Bila tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka dibelenggulah para setan dan jin-jin jahat”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah dan al-Albany.Teks hadits di atas menunjukkan bahwa yang dibelenggu adalah sebagian setan saja. Tidak semuanya. Sehingga wajar saja, bila tetap ada kejahatan di bulan Ramadhan. Walaupun alhamdulillah tidak sebanyak di luar Ramadhan. Terlebih lagi masih ada pemicu-pemicu kejahatan lainnya. Seperti hawa nafsu dan setan manusia.[1]Nah, di antara setan manusia yang begitu gencarnya menggoda kaum mukminin adalah para maling puasa! Bila para maling biasa mereka mencuri uang, kendaraan, perhiasan dan semisalnya. Maka para maling puasa ini mereka mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding barang-barang di atas. Yakni mereka mencuri PAHALA puasa. Bila pahala puasa telah ludes, maka yang akan didapat hanyalah lapar dan dahaga. Dalam hadits sahih dijelaskan,[arabic-font]”رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ”.[/arabic-font] “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan dari puasanya: rasa lapar dan dahaga”. HR. Imam Ahmad dan dinilai sahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah juga Syaikh al-Albani.Alangkah jahatnya para maling puasa itu! Siapakah mereka? Apa ciri-cirinya? Sehingga kita bisa lebih mewaspadai kedatangannya sekaligus menjauhinya.Sebenarnya para maling itu banyak. Di antara yang teramat jahat dan korbannya paling banyak adalah sebuah barang kotak persegi empat. Benda itu bernama TELEVISI![2] Ya, sebuah kotak ‘ajaib’ yang kalau dia terjatuh atau sedikit lecet, banyak orang merasa sedih dan sewot. Tapi tanpa disadarinya, ternyata dia telah mencuri pahala puasa kita!Lihat saja seabreg acara tidak bermutu yang ditayangkan di dalamnya. Sinetron yang menampilkan sesuatu yang berbau kebencian, permusuhan dan keangkuhan. Atau kisah cengeng percintaan. Tayangan-tayangan gosip yang memuat cerita perilaku bebas, perselingkuhan atau pergunjingan konflik keluarga, yang jauh dari nilai-nilai islami. Semua dikemas dalam format acara semenarik mungkin. Supaya rating acara tersebut melonjak naik, lalu lembaran-lembaran duit memenuhi kantong para pemilik stasiun itu. Tanpa peduli kerusakan parah yang ditimbulkannya. La haula wa la quwwata illa billah…Maka perlu ada KEPUTUSAN BERANI untuk mematikan sarana perusak tersebut. Minimal di bulan suci ini. Syukur selama-lamanya..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 27 Sya’ban 1437 H / 25 Maret 2016=============================[1] Lihat: Tanwîr al-Hawâlik karya as-Suyuthy (I/290).[2] Maksudnya stasiun-stasiun televisi umum. Bukan yang murni stasiun televisi dakwah, yang hanya menyiarkan pengajian keagamaan atau tilawah al-Qur’an. Post navigation Previous Berdo’a Harus IkhlasNext PASANGANMU adalah PAKAIANMU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PASANGANMU adalah PAKAIANMU

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPakaian adalah salah satu kebutuhan primer seorang manusia. Allah ta’ala dalam sebuah firman-Nya mengibaratkan suami sebagai pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami.[arabic-font]”هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ”[/arabic-font]Artinya: “Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”. QS. Al-Baqarah (2): 187.Tentu ini adalah metafor yang sangat indah dan dalam maknanya. Berikut sedikit penjabarannya:Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat [QS. Al-A’raf (7): 26].Begitu pula pasangan kita berfungsi untuk menutup aurat dan aib kita. Suami dan istri harus saling menutupi aib masing-masing. Sehebat apapun seseorang, ketika sudah berumah tangga maka kekurangan dan kelemahannya akan sangat diketahui oleh pasangannya. Di sinilah seorang suami harus menutupi aib istrinya dan seorang istri juga harus menutupi aib suaminya. Bukan sebaliknya, justru suami atau istri malah menjadi corong informasi yang menyebabkan aib istri atau suami diketahui oleh tetangganya, teman kerjanya, teman arisannya atau rekan bisnisnya. Begitu pula problematika rumah tangga, tidak perlu dibeberkan kepada orang lain. Kecuali manakala tidak mampu menyelesaikannya, maka meminta bantuan pihak ketiga yang terpercaya.Lazimnya antara manusia dan pakaiannya tidak ada pemisah, begitu juga suami istri hubungan satu sama lain harus erat dan tidak ada orang asing yang ikut campur dalam urusannya.Pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh [QS. An-Nahl (16): 81].Sebagaimana pakaian melindungi manusia dari panas dan dingin, istri merupakan pelindung bagi suaminya dari perbuatan zina, begitu pula sebaliknya. Maka hak hubungan biologis ini harus ditunaikan dengan baik oleh masing-masing pasangan.Pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh [QS. Al-A’raf (7): 31].Dengan pakaian penampilan seorang insan akan semakin terlihat indah. Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengannya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya. Pakaian menyesuaikan cuacaBiasanya seseorang menggunakan pakaian sesuai dengan musim atau udara yang ia rasakan. Ketika hawa panas manusia akan memakai baju yang agak tipis. Tapi kalau udara dingin, mereka akan menggunakan pakaian yang tebal. Begitu juga dengan hubungan suami istri, ketika suami dalam keadaan marah maka istri harus menghadapinya dengan lemah lembut. Dan ketika istri dalam keadaan capek maka suami harus mengobati rasa capeknya. Pakaian adalah penghangat tubuhSebagaimana pakaian dapat menghangatkan tubuh manusia, maka suami harus bisa memberi kehangatan pada keluarganya dan menjauhkan diri dari sifat dingin dan acuh tak acuh.Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 28 Syawal 1435 / 25 Agustus 2014 Post navigation Previous Maling PuasaNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PASANGANMU adalah PAKAIANMU

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPakaian adalah salah satu kebutuhan primer seorang manusia. Allah ta’ala dalam sebuah firman-Nya mengibaratkan suami sebagai pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami.[arabic-font]”هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ”[/arabic-font]Artinya: “Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”. QS. Al-Baqarah (2): 187.Tentu ini adalah metafor yang sangat indah dan dalam maknanya. Berikut sedikit penjabarannya:Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat [QS. Al-A’raf (7): 26].Begitu pula pasangan kita berfungsi untuk menutup aurat dan aib kita. Suami dan istri harus saling menutupi aib masing-masing. Sehebat apapun seseorang, ketika sudah berumah tangga maka kekurangan dan kelemahannya akan sangat diketahui oleh pasangannya. Di sinilah seorang suami harus menutupi aib istrinya dan seorang istri juga harus menutupi aib suaminya. Bukan sebaliknya, justru suami atau istri malah menjadi corong informasi yang menyebabkan aib istri atau suami diketahui oleh tetangganya, teman kerjanya, teman arisannya atau rekan bisnisnya. Begitu pula problematika rumah tangga, tidak perlu dibeberkan kepada orang lain. Kecuali manakala tidak mampu menyelesaikannya, maka meminta bantuan pihak ketiga yang terpercaya.Lazimnya antara manusia dan pakaiannya tidak ada pemisah, begitu juga suami istri hubungan satu sama lain harus erat dan tidak ada orang asing yang ikut campur dalam urusannya.Pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh [QS. An-Nahl (16): 81].Sebagaimana pakaian melindungi manusia dari panas dan dingin, istri merupakan pelindung bagi suaminya dari perbuatan zina, begitu pula sebaliknya. Maka hak hubungan biologis ini harus ditunaikan dengan baik oleh masing-masing pasangan.Pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh [QS. Al-A’raf (7): 31].Dengan pakaian penampilan seorang insan akan semakin terlihat indah. Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengannya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya. Pakaian menyesuaikan cuacaBiasanya seseorang menggunakan pakaian sesuai dengan musim atau udara yang ia rasakan. Ketika hawa panas manusia akan memakai baju yang agak tipis. Tapi kalau udara dingin, mereka akan menggunakan pakaian yang tebal. Begitu juga dengan hubungan suami istri, ketika suami dalam keadaan marah maka istri harus menghadapinya dengan lemah lembut. Dan ketika istri dalam keadaan capek maka suami harus mengobati rasa capeknya. Pakaian adalah penghangat tubuhSebagaimana pakaian dapat menghangatkan tubuh manusia, maka suami harus bisa memberi kehangatan pada keluarganya dan menjauhkan diri dari sifat dingin dan acuh tak acuh.Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 28 Syawal 1435 / 25 Agustus 2014 Post navigation Previous Maling PuasaNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPakaian adalah salah satu kebutuhan primer seorang manusia. Allah ta’ala dalam sebuah firman-Nya mengibaratkan suami sebagai pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami.[arabic-font]”هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ”[/arabic-font]Artinya: “Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”. QS. Al-Baqarah (2): 187.Tentu ini adalah metafor yang sangat indah dan dalam maknanya. Berikut sedikit penjabarannya:Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat [QS. Al-A’raf (7): 26].Begitu pula pasangan kita berfungsi untuk menutup aurat dan aib kita. Suami dan istri harus saling menutupi aib masing-masing. Sehebat apapun seseorang, ketika sudah berumah tangga maka kekurangan dan kelemahannya akan sangat diketahui oleh pasangannya. Di sinilah seorang suami harus menutupi aib istrinya dan seorang istri juga harus menutupi aib suaminya. Bukan sebaliknya, justru suami atau istri malah menjadi corong informasi yang menyebabkan aib istri atau suami diketahui oleh tetangganya, teman kerjanya, teman arisannya atau rekan bisnisnya. Begitu pula problematika rumah tangga, tidak perlu dibeberkan kepada orang lain. Kecuali manakala tidak mampu menyelesaikannya, maka meminta bantuan pihak ketiga yang terpercaya.Lazimnya antara manusia dan pakaiannya tidak ada pemisah, begitu juga suami istri hubungan satu sama lain harus erat dan tidak ada orang asing yang ikut campur dalam urusannya.Pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh [QS. An-Nahl (16): 81].Sebagaimana pakaian melindungi manusia dari panas dan dingin, istri merupakan pelindung bagi suaminya dari perbuatan zina, begitu pula sebaliknya. Maka hak hubungan biologis ini harus ditunaikan dengan baik oleh masing-masing pasangan.Pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh [QS. Al-A’raf (7): 31].Dengan pakaian penampilan seorang insan akan semakin terlihat indah. Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengannya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya. Pakaian menyesuaikan cuacaBiasanya seseorang menggunakan pakaian sesuai dengan musim atau udara yang ia rasakan. Ketika hawa panas manusia akan memakai baju yang agak tipis. Tapi kalau udara dingin, mereka akan menggunakan pakaian yang tebal. Begitu juga dengan hubungan suami istri, ketika suami dalam keadaan marah maka istri harus menghadapinya dengan lemah lembut. Dan ketika istri dalam keadaan capek maka suami harus mengobati rasa capeknya. Pakaian adalah penghangat tubuhSebagaimana pakaian dapat menghangatkan tubuh manusia, maka suami harus bisa memberi kehangatan pada keluarganya dan menjauhkan diri dari sifat dingin dan acuh tak acuh.Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 28 Syawal 1435 / 25 Agustus 2014 Post navigation Previous Maling PuasaNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MAPakaian adalah salah satu kebutuhan primer seorang manusia. Allah ta’ala dalam sebuah firman-Nya mengibaratkan suami sebagai pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami.[arabic-font]”هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ”[/arabic-font]Artinya: “Istri-istri adalah pakaian untuk kalian. Demikian pula kalian merupakan pakaian untuk mereka”. QS. Al-Baqarah (2): 187.Tentu ini adalah metafor yang sangat indah dan dalam maknanya. Berikut sedikit penjabarannya:Pakaian berfungsi sebagai penutup aurat [QS. Al-A’raf (7): 26].Begitu pula pasangan kita berfungsi untuk menutup aurat dan aib kita. Suami dan istri harus saling menutupi aib masing-masing. Sehebat apapun seseorang, ketika sudah berumah tangga maka kekurangan dan kelemahannya akan sangat diketahui oleh pasangannya. Di sinilah seorang suami harus menutupi aib istrinya dan seorang istri juga harus menutupi aib suaminya. Bukan sebaliknya, justru suami atau istri malah menjadi corong informasi yang menyebabkan aib istri atau suami diketahui oleh tetangganya, teman kerjanya, teman arisannya atau rekan bisnisnya. Begitu pula problematika rumah tangga, tidak perlu dibeberkan kepada orang lain. Kecuali manakala tidak mampu menyelesaikannya, maka meminta bantuan pihak ketiga yang terpercaya.Lazimnya antara manusia dan pakaiannya tidak ada pemisah, begitu juga suami istri hubungan satu sama lain harus erat dan tidak ada orang asing yang ikut campur dalam urusannya.Pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh [QS. An-Nahl (16): 81].Sebagaimana pakaian melindungi manusia dari panas dan dingin, istri merupakan pelindung bagi suaminya dari perbuatan zina, begitu pula sebaliknya. Maka hak hubungan biologis ini harus ditunaikan dengan baik oleh masing-masing pasangan.Pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh [QS. Al-A’raf (7): 31].Dengan pakaian penampilan seorang insan akan semakin terlihat indah. Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengannya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya. Dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya. Pakaian menyesuaikan cuacaBiasanya seseorang menggunakan pakaian sesuai dengan musim atau udara yang ia rasakan. Ketika hawa panas manusia akan memakai baju yang agak tipis. Tapi kalau udara dingin, mereka akan menggunakan pakaian yang tebal. Begitu juga dengan hubungan suami istri, ketika suami dalam keadaan marah maka istri harus menghadapinya dengan lemah lembut. Dan ketika istri dalam keadaan capek maka suami harus mengobati rasa capeknya. Pakaian adalah penghangat tubuhSebagaimana pakaian dapat menghangatkan tubuh manusia, maka suami harus bisa memberi kehangatan pada keluarganya dan menjauhkan diri dari sifat dingin dan acuh tak acuh.Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 28 Syawal 1435 / 25 Agustus 2014 Post navigation Previous Maling PuasaNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKAT Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKAT

Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak mungkin hidup sendiri dan tidak bergaul dengan orang lain. Kurang tepat membelenggu diri tanpa interaksi dengan orang lain, dengan alasan untuk menjaga diri dari pengaruh negatif dari luar, baik di lingkungan terdekat berupa tetangga maupun di lingkungan yang lebih besar di masyarakat. Demikian pula anak-anak. Bila memang masih ada secercah harapan untuk memperbaiki lingkungan sekitar.Tidak baik anak-anak dikungkung di dalam rumah, tidak boleh bertemu dengan anak-anak yang lain, sekedar dengan alasan agar mereka selamat dari perilaku negatif. Anak-anak perlu dilatih bermasyarakat, dikenalkan dengan orang-orang di sekitarnya, dilatih bagaimana cara bergaul yang benar, dan selalu berlaku baik.Setiap anak harus dilatih untuk menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, membimbing yang lebih muda dan memelihara hak orang lain. Serta melaksanakan adab-adab sosial yang mulia, termasuk kepada makhluk-makhluk Allah yang lain di muka bumi ini.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”[/arabic-font]”Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ia tidak boleh berbuat zalim kepadanya, tidak boleh menterlantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa ada di sini”. Beliau menunjuk ke dadanya (hatinya) tiga kali. ”Cukuplah seseorang itu dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim yang lainnya adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[arabic-font]”لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”[/arabic-font]”Tidaklah salah seorang di antara kalian itu beriman, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu.Dalam pendidikan ini, orang tua berkewajiban mengajarkan kepada anak-anaknya tentang hak-hak orang lain terhadapnya, mengajarkan adab-adab sosial kemasyarakatan. Juga membiasakan anak untuk ikut serta melakukan pengawasan dan kritik sosial.Dalam pendidikan sosial ini, setelah dijelaskan tentang kewajiban berbakti kepada orang tua, diajarkan pula kepada anak tentang bagaimana mereka harus bersikap dengan saudara-saudaranya, dan kepada teman-temannya. Seperti membina hubungan silaturahim, menjaga kehormatan keluarga, menjaga hak-hak saudara, melaksanakan hak-hak teman-temannya, dllDiajarkan pula kepada anak bagaimana bersikap kepada tetangga seperti menghormatinya, berbuat baik kepadanya, melindungi hak-hak tetangga, tidak menyakitinya, dan tidak menyebarkan aibnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam. (1) Bila engkau berjumpa dengannya; ucapkanlah salam. (2) Bila ia mengundangmu; penuhilah. (3) Bila dia meminta nasehat kepadamu; nasehatilah. (4) Bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah. (5) Bila dia sakit jenguklah. (6) Bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. Riwayat Muslim.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Sya’ban 1437 / 23 Mei 2016 Post navigation Previous PASANGANMU adalah PAKAIANMUNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKAT

Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak mungkin hidup sendiri dan tidak bergaul dengan orang lain. Kurang tepat membelenggu diri tanpa interaksi dengan orang lain, dengan alasan untuk menjaga diri dari pengaruh negatif dari luar, baik di lingkungan terdekat berupa tetangga maupun di lingkungan yang lebih besar di masyarakat. Demikian pula anak-anak. Bila memang masih ada secercah harapan untuk memperbaiki lingkungan sekitar.Tidak baik anak-anak dikungkung di dalam rumah, tidak boleh bertemu dengan anak-anak yang lain, sekedar dengan alasan agar mereka selamat dari perilaku negatif. Anak-anak perlu dilatih bermasyarakat, dikenalkan dengan orang-orang di sekitarnya, dilatih bagaimana cara bergaul yang benar, dan selalu berlaku baik.Setiap anak harus dilatih untuk menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, membimbing yang lebih muda dan memelihara hak orang lain. Serta melaksanakan adab-adab sosial yang mulia, termasuk kepada makhluk-makhluk Allah yang lain di muka bumi ini.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”[/arabic-font]”Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ia tidak boleh berbuat zalim kepadanya, tidak boleh menterlantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa ada di sini”. Beliau menunjuk ke dadanya (hatinya) tiga kali. ”Cukuplah seseorang itu dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim yang lainnya adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[arabic-font]”لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”[/arabic-font]”Tidaklah salah seorang di antara kalian itu beriman, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu.Dalam pendidikan ini, orang tua berkewajiban mengajarkan kepada anak-anaknya tentang hak-hak orang lain terhadapnya, mengajarkan adab-adab sosial kemasyarakatan. Juga membiasakan anak untuk ikut serta melakukan pengawasan dan kritik sosial.Dalam pendidikan sosial ini, setelah dijelaskan tentang kewajiban berbakti kepada orang tua, diajarkan pula kepada anak tentang bagaimana mereka harus bersikap dengan saudara-saudaranya, dan kepada teman-temannya. Seperti membina hubungan silaturahim, menjaga kehormatan keluarga, menjaga hak-hak saudara, melaksanakan hak-hak teman-temannya, dllDiajarkan pula kepada anak bagaimana bersikap kepada tetangga seperti menghormatinya, berbuat baik kepadanya, melindungi hak-hak tetangga, tidak menyakitinya, dan tidak menyebarkan aibnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam. (1) Bila engkau berjumpa dengannya; ucapkanlah salam. (2) Bila ia mengundangmu; penuhilah. (3) Bila dia meminta nasehat kepadamu; nasehatilah. (4) Bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah. (5) Bila dia sakit jenguklah. (6) Bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. Riwayat Muslim.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Sya’ban 1437 / 23 Mei 2016 Post navigation Previous PASANGANMU adalah PAKAIANMUNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak mungkin hidup sendiri dan tidak bergaul dengan orang lain. Kurang tepat membelenggu diri tanpa interaksi dengan orang lain, dengan alasan untuk menjaga diri dari pengaruh negatif dari luar, baik di lingkungan terdekat berupa tetangga maupun di lingkungan yang lebih besar di masyarakat. Demikian pula anak-anak. Bila memang masih ada secercah harapan untuk memperbaiki lingkungan sekitar.Tidak baik anak-anak dikungkung di dalam rumah, tidak boleh bertemu dengan anak-anak yang lain, sekedar dengan alasan agar mereka selamat dari perilaku negatif. Anak-anak perlu dilatih bermasyarakat, dikenalkan dengan orang-orang di sekitarnya, dilatih bagaimana cara bergaul yang benar, dan selalu berlaku baik.Setiap anak harus dilatih untuk menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, membimbing yang lebih muda dan memelihara hak orang lain. Serta melaksanakan adab-adab sosial yang mulia, termasuk kepada makhluk-makhluk Allah yang lain di muka bumi ini.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”[/arabic-font]”Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ia tidak boleh berbuat zalim kepadanya, tidak boleh menterlantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa ada di sini”. Beliau menunjuk ke dadanya (hatinya) tiga kali. ”Cukuplah seseorang itu dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim yang lainnya adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[arabic-font]”لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”[/arabic-font]”Tidaklah salah seorang di antara kalian itu beriman, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu.Dalam pendidikan ini, orang tua berkewajiban mengajarkan kepada anak-anaknya tentang hak-hak orang lain terhadapnya, mengajarkan adab-adab sosial kemasyarakatan. Juga membiasakan anak untuk ikut serta melakukan pengawasan dan kritik sosial.Dalam pendidikan sosial ini, setelah dijelaskan tentang kewajiban berbakti kepada orang tua, diajarkan pula kepada anak tentang bagaimana mereka harus bersikap dengan saudara-saudaranya, dan kepada teman-temannya. Seperti membina hubungan silaturahim, menjaga kehormatan keluarga, menjaga hak-hak saudara, melaksanakan hak-hak teman-temannya, dllDiajarkan pula kepada anak bagaimana bersikap kepada tetangga seperti menghormatinya, berbuat baik kepadanya, melindungi hak-hak tetangga, tidak menyakitinya, dan tidak menyebarkan aibnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam. (1) Bila engkau berjumpa dengannya; ucapkanlah salam. (2) Bila ia mengundangmu; penuhilah. (3) Bila dia meminta nasehat kepadamu; nasehatilah. (4) Bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah. (5) Bila dia sakit jenguklah. (6) Bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. Riwayat Muslim.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Sya’ban 1437 / 23 Mei 2016 Post navigation Previous PASANGANMU adalah PAKAIANMUNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak mungkin hidup sendiri dan tidak bergaul dengan orang lain. Kurang tepat membelenggu diri tanpa interaksi dengan orang lain, dengan alasan untuk menjaga diri dari pengaruh negatif dari luar, baik di lingkungan terdekat berupa tetangga maupun di lingkungan yang lebih besar di masyarakat. Demikian pula anak-anak. Bila memang masih ada secercah harapan untuk memperbaiki lingkungan sekitar.Tidak baik anak-anak dikungkung di dalam rumah, tidak boleh bertemu dengan anak-anak yang lain, sekedar dengan alasan agar mereka selamat dari perilaku negatif. Anak-anak perlu dilatih bermasyarakat, dikenalkan dengan orang-orang di sekitarnya, dilatih bagaimana cara bergaul yang benar, dan selalu berlaku baik.Setiap anak harus dilatih untuk menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, membimbing yang lebih muda dan memelihara hak orang lain. Serta melaksanakan adab-adab sosial yang mulia, termasuk kepada makhluk-makhluk Allah yang lain di muka bumi ini.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,[arabic-font]”الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ”[/arabic-font]”Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ia tidak boleh berbuat zalim kepadanya, tidak boleh menterlantarkannya dan tidak boleh menghinanya. Takwa ada di sini”. Beliau menunjuk ke dadanya (hatinya) tiga kali. ”Cukuplah seseorang itu dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim bagi muslim yang lainnya adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.[arabic-font]”لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”[/arabic-font]”Tidaklah salah seorang di antara kalian itu beriman, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu.Dalam pendidikan ini, orang tua berkewajiban mengajarkan kepada anak-anaknya tentang hak-hak orang lain terhadapnya, mengajarkan adab-adab sosial kemasyarakatan. Juga membiasakan anak untuk ikut serta melakukan pengawasan dan kritik sosial.Dalam pendidikan sosial ini, setelah dijelaskan tentang kewajiban berbakti kepada orang tua, diajarkan pula kepada anak tentang bagaimana mereka harus bersikap dengan saudara-saudaranya, dan kepada teman-temannya. Seperti membina hubungan silaturahim, menjaga kehormatan keluarga, menjaga hak-hak saudara, melaksanakan hak-hak teman-temannya, dllDiajarkan pula kepada anak bagaimana bersikap kepada tetangga seperti menghormatinya, berbuat baik kepadanya, melindungi hak-hak tetangga, tidak menyakitinya, dan tidak menyebarkan aibnya.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam. (1) Bila engkau berjumpa dengannya; ucapkanlah salam. (2) Bila ia mengundangmu; penuhilah. (3) Bila dia meminta nasehat kepadamu; nasehatilah. (4) Bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah. (5) Bila dia sakit jenguklah. (6) Bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. Riwayat Muslim.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Sya’ban 1437 / 23 Mei 2016 Post navigation Previous PASANGANMU adalah PAKAIANMUNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1

Bila pada pertemuan sebelumnya dijelaskan tentang urgensi membiasakan anak bermasyarakat, maka pada kesempatan kali ini kita perlu mengetahui bahwa di lingkungan masyarakat itu ada orang-orang rusak yang berbahaya bagi perilaku anak kita. Sehingga kita perlu ekstra waspada.Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya lengkap membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya lingkungan? Sehingga dinasehatkan supaya pembunuh tersebut mampu bertaubat dengan tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya dosa, ialah agar ia meninggalkan lingkungan tempatnya bermukim dan pindah ke suatu tempat yang dihuni orang-orang baik yang selalu beribadah kepada Allah.Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang istiqamah.Sebagai pendidik, seseorang harus menjadikan kepribadian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dalam seluruh aspek kehidupan dan dalam setiap proses pendidikan. Mengajak mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi anak didik untuk selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak. Yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK Rumah.Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran; maka insyaAllah ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani.Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlakul karimah dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[arabic-font]لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتُكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ .[/arabic-font]“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah”. HR. Muslim.Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan. Sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya menghiasi hidupnya. Maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1437 / 13 Juni 2016* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari https://almanhaj.or.id/2679-pengaruh-lingkungan-terhadap-pendidikan-anak.html Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKATNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1

Bila pada pertemuan sebelumnya dijelaskan tentang urgensi membiasakan anak bermasyarakat, maka pada kesempatan kali ini kita perlu mengetahui bahwa di lingkungan masyarakat itu ada orang-orang rusak yang berbahaya bagi perilaku anak kita. Sehingga kita perlu ekstra waspada.Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya lengkap membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya lingkungan? Sehingga dinasehatkan supaya pembunuh tersebut mampu bertaubat dengan tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya dosa, ialah agar ia meninggalkan lingkungan tempatnya bermukim dan pindah ke suatu tempat yang dihuni orang-orang baik yang selalu beribadah kepada Allah.Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang istiqamah.Sebagai pendidik, seseorang harus menjadikan kepribadian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dalam seluruh aspek kehidupan dan dalam setiap proses pendidikan. Mengajak mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi anak didik untuk selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak. Yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK Rumah.Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran; maka insyaAllah ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani.Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlakul karimah dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[arabic-font]لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتُكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ .[/arabic-font]“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah”. HR. Muslim.Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan. Sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya menghiasi hidupnya. Maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1437 / 13 Juni 2016* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari https://almanhaj.or.id/2679-pengaruh-lingkungan-terhadap-pendidikan-anak.html Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKATNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Bila pada pertemuan sebelumnya dijelaskan tentang urgensi membiasakan anak bermasyarakat, maka pada kesempatan kali ini kita perlu mengetahui bahwa di lingkungan masyarakat itu ada orang-orang rusak yang berbahaya bagi perilaku anak kita. Sehingga kita perlu ekstra waspada.Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya lengkap membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya lingkungan? Sehingga dinasehatkan supaya pembunuh tersebut mampu bertaubat dengan tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya dosa, ialah agar ia meninggalkan lingkungan tempatnya bermukim dan pindah ke suatu tempat yang dihuni orang-orang baik yang selalu beribadah kepada Allah.Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang istiqamah.Sebagai pendidik, seseorang harus menjadikan kepribadian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dalam seluruh aspek kehidupan dan dalam setiap proses pendidikan. Mengajak mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi anak didik untuk selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak. Yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK Rumah.Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran; maka insyaAllah ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani.Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlakul karimah dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[arabic-font]لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتُكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ .[/arabic-font]“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah”. HR. Muslim.Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan. Sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya menghiasi hidupnya. Maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1437 / 13 Juni 2016* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari https://almanhaj.or.id/2679-pengaruh-lingkungan-terhadap-pendidikan-anak.html Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKATNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Bila pada pertemuan sebelumnya dijelaskan tentang urgensi membiasakan anak bermasyarakat, maka pada kesempatan kali ini kita perlu mengetahui bahwa di lingkungan masyarakat itu ada orang-orang rusak yang berbahaya bagi perilaku anak kita. Sehingga kita perlu ekstra waspada.Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya lengkap membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya lingkungan? Sehingga dinasehatkan supaya pembunuh tersebut mampu bertaubat dengan tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya dosa, ialah agar ia meninggalkan lingkungan tempatnya bermukim dan pindah ke suatu tempat yang dihuni orang-orang baik yang selalu beribadah kepada Allah.Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang istiqamah.Sebagai pendidik, seseorang harus menjadikan kepribadian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dalam seluruh aspek kehidupan dan dalam setiap proses pendidikan. Mengajak mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi anak didik untuk selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak. Yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK Rumah.Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran; maka insyaAllah ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani.Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlakul karimah dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,[arabic-font]لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتُكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ .[/arabic-font]“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah”. HR. Muslim.Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan. Sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya menghiasi hidupnya. Maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Ramadhan 1437 / 13 Juni 2016* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari https://almanhaj.or.id/2679-pengaruh-lingkungan-terhadap-pendidikan-anak.html Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 74 MENDIDIK ANAK BERMASYARAKATNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor pertama yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor rumah.Faktor berikutnya adalah: Sekolah.Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, tentu saja jika anak Anda sudah pada masa sekolah. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar jeli dalam memilih tempat sekolah untuk anak. Jangan gegabah atau asal-asalan. Bagaimanapun, lingkungan sekolah akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak Anda.Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.Karena itu berusahalah mencari sekolah yang siswa-siswanya baik perilakunya. Meskipun mencari sekolah yang perilaku siswanya baik semua, tentu mustahil atau amat sulit. Namun setidaknya kita harus memilih sekolah yang tidak didominasi oleh anak yang nakal. Dengan melihat trakrecord sekolahan tersebut.Begitu juga para pengajar sekolahan harus pula menjadi bahan pertimbangan pemilihan suatu sekolah. Sebab mereka berasal dari berbagai latar belakang pemikiran, budaya dan kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap akidah yang lurus? Atau justru sebagai pengagum berat budaya dan pemikiran barat yang rusak? Apakah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan pemikiran tidak baik, sehingga menghancurkan anak-anak kita?Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran. Yang kerap tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu agama yang sahih sesuai dengan pemahaman ulama salaf dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut bersumber dari ajaran Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah dan sunnah Rasul dan ajaran ulama salaf? Ataukah hanya sekedar mementingkan kesuksesan duniawi belaka?Teramat disayangkan ternyata banyak anak yang justru rusak akhlak dan pemikirannya justru saat masuk sekolah. Hal itu terjadi karena banyak faktor. Mungkin karena faktor pertemanan yang salah. Atau guru yang tidak benar. Atau bisa jadi pula gara-gara kurikulum yang kurang memperhatikan sisi pembangunan karakter dan akhlak anak didik.Karena itulah, orang tua tidak bisa berlepas diri hanya dengan alasan bahwa anak sudah dimasukkan ke sekolah. Namun juga harus terus mengikuti perkembangan perilaku anaknya. Selalu mengarahkan mereka. Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Syawal 1437 / 25 Juli 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor pertama yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor rumah.Faktor berikutnya adalah: Sekolah.Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, tentu saja jika anak Anda sudah pada masa sekolah. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar jeli dalam memilih tempat sekolah untuk anak. Jangan gegabah atau asal-asalan. Bagaimanapun, lingkungan sekolah akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak Anda.Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.Karena itu berusahalah mencari sekolah yang siswa-siswanya baik perilakunya. Meskipun mencari sekolah yang perilaku siswanya baik semua, tentu mustahil atau amat sulit. Namun setidaknya kita harus memilih sekolah yang tidak didominasi oleh anak yang nakal. Dengan melihat trakrecord sekolahan tersebut.Begitu juga para pengajar sekolahan harus pula menjadi bahan pertimbangan pemilihan suatu sekolah. Sebab mereka berasal dari berbagai latar belakang pemikiran, budaya dan kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap akidah yang lurus? Atau justru sebagai pengagum berat budaya dan pemikiran barat yang rusak? Apakah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan pemikiran tidak baik, sehingga menghancurkan anak-anak kita?Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran. Yang kerap tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu agama yang sahih sesuai dengan pemahaman ulama salaf dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut bersumber dari ajaran Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah dan sunnah Rasul dan ajaran ulama salaf? Ataukah hanya sekedar mementingkan kesuksesan duniawi belaka?Teramat disayangkan ternyata banyak anak yang justru rusak akhlak dan pemikirannya justru saat masuk sekolah. Hal itu terjadi karena banyak faktor. Mungkin karena faktor pertemanan yang salah. Atau guru yang tidak benar. Atau bisa jadi pula gara-gara kurikulum yang kurang memperhatikan sisi pembangunan karakter dan akhlak anak didik.Karena itulah, orang tua tidak bisa berlepas diri hanya dengan alasan bahwa anak sudah dimasukkan ke sekolah. Namun juga harus terus mengikuti perkembangan perilaku anaknya. Selalu mengarahkan mereka. Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Syawal 1437 / 25 Juli 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor pertama yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor rumah.Faktor berikutnya adalah: Sekolah.Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, tentu saja jika anak Anda sudah pada masa sekolah. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar jeli dalam memilih tempat sekolah untuk anak. Jangan gegabah atau asal-asalan. Bagaimanapun, lingkungan sekolah akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak Anda.Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.Karena itu berusahalah mencari sekolah yang siswa-siswanya baik perilakunya. Meskipun mencari sekolah yang perilaku siswanya baik semua, tentu mustahil atau amat sulit. Namun setidaknya kita harus memilih sekolah yang tidak didominasi oleh anak yang nakal. Dengan melihat trakrecord sekolahan tersebut.Begitu juga para pengajar sekolahan harus pula menjadi bahan pertimbangan pemilihan suatu sekolah. Sebab mereka berasal dari berbagai latar belakang pemikiran, budaya dan kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap akidah yang lurus? Atau justru sebagai pengagum berat budaya dan pemikiran barat yang rusak? Apakah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan pemikiran tidak baik, sehingga menghancurkan anak-anak kita?Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran. Yang kerap tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu agama yang sahih sesuai dengan pemahaman ulama salaf dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut bersumber dari ajaran Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah dan sunnah Rasul dan ajaran ulama salaf? Ataukah hanya sekedar mementingkan kesuksesan duniawi belaka?Teramat disayangkan ternyata banyak anak yang justru rusak akhlak dan pemikirannya justru saat masuk sekolah. Hal itu terjadi karena banyak faktor. Mungkin karena faktor pertemanan yang salah. Atau guru yang tidak benar. Atau bisa jadi pula gara-gara kurikulum yang kurang memperhatikan sisi pembangunan karakter dan akhlak anak didik.Karena itulah, orang tua tidak bisa berlepas diri hanya dengan alasan bahwa anak sudah dimasukkan ke sekolah. Namun juga harus terus mengikuti perkembangan perilaku anaknya. Selalu mengarahkan mereka. Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Syawal 1437 / 25 Juli 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor pertama yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor rumah.Faktor berikutnya adalah: Sekolah.Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, tentu saja jika anak Anda sudah pada masa sekolah. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar jeli dalam memilih tempat sekolah untuk anak. Jangan gegabah atau asal-asalan. Bagaimanapun, lingkungan sekolah akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak Anda.Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.Karena itu berusahalah mencari sekolah yang siswa-siswanya baik perilakunya. Meskipun mencari sekolah yang perilaku siswanya baik semua, tentu mustahil atau amat sulit. Namun setidaknya kita harus memilih sekolah yang tidak didominasi oleh anak yang nakal. Dengan melihat trakrecord sekolahan tersebut.Begitu juga para pengajar sekolahan harus pula menjadi bahan pertimbangan pemilihan suatu sekolah. Sebab mereka berasal dari berbagai latar belakang pemikiran, budaya dan kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap akidah yang lurus? Atau justru sebagai pengagum berat budaya dan pemikiran barat yang rusak? Apakah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan pemikiran tidak baik, sehingga menghancurkan anak-anak kita?Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran. Yang kerap tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu agama yang sahih sesuai dengan pemahaman ulama salaf dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut bersumber dari ajaran Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah dan sunnah Rasul dan ajaran ulama salaf? Ataukah hanya sekedar mementingkan kesuksesan duniawi belaka?Teramat disayangkan ternyata banyak anak yang justru rusak akhlak dan pemikirannya justru saat masuk sekolah. Hal itu terjadi karena banyak faktor. Mungkin karena faktor pertemanan yang salah. Atau guru yang tidak benar. Atau bisa jadi pula gara-gara kurikulum yang kurang memperhatikan sisi pembangunan karakter dan akhlak anak didik.Karena itulah, orang tua tidak bisa berlepas diri hanya dengan alasan bahwa anak sudah dimasukkan ke sekolah. Namun juga harus terus mengikuti perkembangan perilaku anaknya. Selalu mengarahkan mereka. Bersambung…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Syawal 1437 / 25 Juli 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 75 Efek Buruk Lingkungan Rusak bag. 1Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor kedua yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor sekolah.Faktor berikutnya adalah: Media Elektronik dan Cetak.Kedua media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhati-hati dan waspada terhadap kedua media ini, maka tidak jarang anak-anak akan tumbuh menjadi anak sebagaimana yang ia peroleh dari kedua media ini. Radio dan TelevisiDunia telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam chanel TV. Sarana-sarana informasi, baik melalui beragam radio dan televisi memiliki pengaruh yang sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak.Dari sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada anak. Namun kedua media itu juga bisa menjadi sarana efektif dan senjata pemusnah massal para musuh Islam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda. Karena para musuh selalu membuat rencana dan strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.Dalam buku Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi muda. Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat generasi muda, terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun kepada generasi muda dan anak-anak melalui tayangan film-film horor atau mistik yang mengandung unsur kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah untuk menanamkan keyakinan dan pemikiran yang rusak pada para pemuda dan anak-anak. Misalnya, seperti film-film yang berjudul atau bertema Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, Spiderman. Atau seperti halnya film-film nusantara yang kental dengan nilai-nilai yang merusak moral dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti Ninja Hatori dan Pokemon. Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa dengan penduduk bumi, atau manusia planet yang menampilkan orang-orang telanjang yang tidak menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh romantis atau berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram. Atau melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah, gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum. Bahkan dalam pandangan mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain dianggapnya sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu banyak ditayangkan dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan orang dewasa.Acara televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi akidah yang telah tertanam kokoh. Akibatnya para pemuda-pemudi menjadi generasi yang labil dan lemah, tidak memiliki kepribadian.Ada seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di sebuah stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok sejak kelas 4 SD. Kemudian menenggak minuman keras, menghisap ganja, dan itu terus berlangsung hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin besar. Yang menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film koboi, bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah-berani dengan menenggak minuman keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu tidak ada yang memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada terhadap bahaya banyak dari tayangan televisi.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Dzulqa’dah 1437 / 22 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor kedua yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor sekolah.Faktor berikutnya adalah: Media Elektronik dan Cetak.Kedua media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhati-hati dan waspada terhadap kedua media ini, maka tidak jarang anak-anak akan tumbuh menjadi anak sebagaimana yang ia peroleh dari kedua media ini. Radio dan TelevisiDunia telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam chanel TV. Sarana-sarana informasi, baik melalui beragam radio dan televisi memiliki pengaruh yang sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak.Dari sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada anak. Namun kedua media itu juga bisa menjadi sarana efektif dan senjata pemusnah massal para musuh Islam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda. Karena para musuh selalu membuat rencana dan strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.Dalam buku Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi muda. Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat generasi muda, terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun kepada generasi muda dan anak-anak melalui tayangan film-film horor atau mistik yang mengandung unsur kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah untuk menanamkan keyakinan dan pemikiran yang rusak pada para pemuda dan anak-anak. Misalnya, seperti film-film yang berjudul atau bertema Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, Spiderman. Atau seperti halnya film-film nusantara yang kental dengan nilai-nilai yang merusak moral dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti Ninja Hatori dan Pokemon. Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa dengan penduduk bumi, atau manusia planet yang menampilkan orang-orang telanjang yang tidak menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh romantis atau berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram. Atau melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah, gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum. Bahkan dalam pandangan mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain dianggapnya sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu banyak ditayangkan dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan orang dewasa.Acara televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi akidah yang telah tertanam kokoh. Akibatnya para pemuda-pemudi menjadi generasi yang labil dan lemah, tidak memiliki kepribadian.Ada seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di sebuah stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok sejak kelas 4 SD. Kemudian menenggak minuman keras, menghisap ganja, dan itu terus berlangsung hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin besar. Yang menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film koboi, bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah-berani dengan menenggak minuman keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu tidak ada yang memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada terhadap bahaya banyak dari tayangan televisi.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Dzulqa’dah 1437 / 22 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor kedua yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor sekolah.Faktor berikutnya adalah: Media Elektronik dan Cetak.Kedua media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhati-hati dan waspada terhadap kedua media ini, maka tidak jarang anak-anak akan tumbuh menjadi anak sebagaimana yang ia peroleh dari kedua media ini. Radio dan TelevisiDunia telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam chanel TV. Sarana-sarana informasi, baik melalui beragam radio dan televisi memiliki pengaruh yang sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak.Dari sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada anak. Namun kedua media itu juga bisa menjadi sarana efektif dan senjata pemusnah massal para musuh Islam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda. Karena para musuh selalu membuat rencana dan strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.Dalam buku Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi muda. Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat generasi muda, terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun kepada generasi muda dan anak-anak melalui tayangan film-film horor atau mistik yang mengandung unsur kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah untuk menanamkan keyakinan dan pemikiran yang rusak pada para pemuda dan anak-anak. Misalnya, seperti film-film yang berjudul atau bertema Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, Spiderman. Atau seperti halnya film-film nusantara yang kental dengan nilai-nilai yang merusak moral dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti Ninja Hatori dan Pokemon. Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa dengan penduduk bumi, atau manusia planet yang menampilkan orang-orang telanjang yang tidak menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh romantis atau berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram. Atau melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah, gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum. Bahkan dalam pandangan mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain dianggapnya sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu banyak ditayangkan dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan orang dewasa.Acara televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi akidah yang telah tertanam kokoh. Akibatnya para pemuda-pemudi menjadi generasi yang labil dan lemah, tidak memiliki kepribadian.Ada seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di sebuah stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok sejak kelas 4 SD. Kemudian menenggak minuman keras, menghisap ganja, dan itu terus berlangsung hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin besar. Yang menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film koboi, bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah-berani dengan menenggak minuman keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu tidak ada yang memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada terhadap bahaya banyak dari tayangan televisi.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Dzulqa’dah 1437 / 22 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor kedua yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor sekolah.Faktor berikutnya adalah: Media Elektronik dan Cetak.Kedua media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhati-hati dan waspada terhadap kedua media ini, maka tidak jarang anak-anak akan tumbuh menjadi anak sebagaimana yang ia peroleh dari kedua media ini. Radio dan TelevisiDunia telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam chanel TV. Sarana-sarana informasi, baik melalui beragam radio dan televisi memiliki pengaruh yang sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak.Dari sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada anak. Namun kedua media itu juga bisa menjadi sarana efektif dan senjata pemusnah massal para musuh Islam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda. Karena para musuh selalu membuat rencana dan strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.Dalam buku Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi muda. Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat generasi muda, terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun kepada generasi muda dan anak-anak melalui tayangan film-film horor atau mistik yang mengandung unsur kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah untuk menanamkan keyakinan dan pemikiran yang rusak pada para pemuda dan anak-anak. Misalnya, seperti film-film yang berjudul atau bertema Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, Spiderman. Atau seperti halnya film-film nusantara yang kental dengan nilai-nilai yang merusak moral dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti Ninja Hatori dan Pokemon. Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa dengan penduduk bumi, atau manusia planet yang menampilkan orang-orang telanjang yang tidak menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh romantis atau berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram. Atau melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah, gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum. Bahkan dalam pandangan mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain dianggapnya sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu banyak ditayangkan dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan orang dewasa.Acara televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi akidah yang telah tertanam kokoh. Akibatnya para pemuda-pemudi menjadi generasi yang labil dan lemah, tidak memiliki kepribadian.Ada seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di sebuah stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok sejak kelas 4 SD. Kemudian menenggak minuman keras, menghisap ganja, dan itu terus berlangsung hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin besar. Yang menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film koboi, bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah-berani dengan menenggak minuman keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu tidak ada yang memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada terhadap bahaya banyak dari tayangan televisi.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Dzulqa’dah 1437 / 22 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 76 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-2Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi. Selanjutnya adalah: InternetInternet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon. Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin triliyunan, isinya memuat bermacam-macam topik.Manfaat atau dampak positif internet antara lain:Sebagai media belajar. Dengan adanya internet akses untuk mencari ilmu agama maupun umum menjadi sangat terbuka. Artikel ilmiah maupun rekaman kajian Islam yang berformat audio maupun video, sangat mudah untuk didapatkan.Media komunikasi, artinya ini merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan. Di mana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna internet yang lain di seluruh dunia.Media mencari informasi dan pertukaran data, artinya dengan menggunakanemail, newsgroup, www atau pun jaringan web-web lainnya para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat, mudah dan murah.Dampak negatif internet:Pemahaman menyimpang. Betapa banyak ideologi dan pemahaman sesat yang dijajakn lewat internet. Dan tidak sedikit orang yang terjerumus ke dalam kubangan lumpur kesesatan gara-gara internet.Artinya dalam kemampuan menyampaikan informasi yang dimiliki oleh internet, pornografi pun semakin merajalela. Di internet terdapat banyak gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan terhadap seseorang untuk melakukan tindakan kriminal.Penipuan dan kejahatan. Para penjahat internet ini pun banyak yang memanfaatkan kesempatan ini untuk agar mendapatkaan keuntungan. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi on-line dan mencatat kode kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.Banyak sekali perjudian yang beredar di internet. Dengan jaringan yang tersedia, penjudi tidak perlu pergi ketempat khusus untuk memenuhi keinginannya.Perlukah mengenalkan internet kepada anak?Bila tidak ada kebutuhan mendesak, hemat kami anak-anak kecil tidak perlu dikenalkan dengan internet. Namun bila ada hal yang amat mendesak untuk itu maka harus diperhatikan hal-hal berikut:Peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak menggunakan internet.Gunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak.Pahamkan kepada anak bahwa tidak semua yang dilihatnya di Internet adalah benar dan bermanfaat. Sebagaimana belum tentu apa yang disarankan oleh teman-temannya memiliki nilai positif.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulhijjah 1437 / 5 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi. Selanjutnya adalah: InternetInternet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon. Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin triliyunan, isinya memuat bermacam-macam topik.Manfaat atau dampak positif internet antara lain:Sebagai media belajar. Dengan adanya internet akses untuk mencari ilmu agama maupun umum menjadi sangat terbuka. Artikel ilmiah maupun rekaman kajian Islam yang berformat audio maupun video, sangat mudah untuk didapatkan.Media komunikasi, artinya ini merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan. Di mana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna internet yang lain di seluruh dunia.Media mencari informasi dan pertukaran data, artinya dengan menggunakanemail, newsgroup, www atau pun jaringan web-web lainnya para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat, mudah dan murah.Dampak negatif internet:Pemahaman menyimpang. Betapa banyak ideologi dan pemahaman sesat yang dijajakn lewat internet. Dan tidak sedikit orang yang terjerumus ke dalam kubangan lumpur kesesatan gara-gara internet.Artinya dalam kemampuan menyampaikan informasi yang dimiliki oleh internet, pornografi pun semakin merajalela. Di internet terdapat banyak gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan terhadap seseorang untuk melakukan tindakan kriminal.Penipuan dan kejahatan. Para penjahat internet ini pun banyak yang memanfaatkan kesempatan ini untuk agar mendapatkaan keuntungan. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi on-line dan mencatat kode kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.Banyak sekali perjudian yang beredar di internet. Dengan jaringan yang tersedia, penjudi tidak perlu pergi ketempat khusus untuk memenuhi keinginannya.Perlukah mengenalkan internet kepada anak?Bila tidak ada kebutuhan mendesak, hemat kami anak-anak kecil tidak perlu dikenalkan dengan internet. Namun bila ada hal yang amat mendesak untuk itu maka harus diperhatikan hal-hal berikut:Peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak menggunakan internet.Gunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak.Pahamkan kepada anak bahwa tidak semua yang dilihatnya di Internet adalah benar dan bermanfaat. Sebagaimana belum tentu apa yang disarankan oleh teman-temannya memiliki nilai positif.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulhijjah 1437 / 5 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi. Selanjutnya adalah: InternetInternet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon. Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin triliyunan, isinya memuat bermacam-macam topik.Manfaat atau dampak positif internet antara lain:Sebagai media belajar. Dengan adanya internet akses untuk mencari ilmu agama maupun umum menjadi sangat terbuka. Artikel ilmiah maupun rekaman kajian Islam yang berformat audio maupun video, sangat mudah untuk didapatkan.Media komunikasi, artinya ini merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan. Di mana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna internet yang lain di seluruh dunia.Media mencari informasi dan pertukaran data, artinya dengan menggunakanemail, newsgroup, www atau pun jaringan web-web lainnya para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat, mudah dan murah.Dampak negatif internet:Pemahaman menyimpang. Betapa banyak ideologi dan pemahaman sesat yang dijajakn lewat internet. Dan tidak sedikit orang yang terjerumus ke dalam kubangan lumpur kesesatan gara-gara internet.Artinya dalam kemampuan menyampaikan informasi yang dimiliki oleh internet, pornografi pun semakin merajalela. Di internet terdapat banyak gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan terhadap seseorang untuk melakukan tindakan kriminal.Penipuan dan kejahatan. Para penjahat internet ini pun banyak yang memanfaatkan kesempatan ini untuk agar mendapatkaan keuntungan. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi on-line dan mencatat kode kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.Banyak sekali perjudian yang beredar di internet. Dengan jaringan yang tersedia, penjudi tidak perlu pergi ketempat khusus untuk memenuhi keinginannya.Perlukah mengenalkan internet kepada anak?Bila tidak ada kebutuhan mendesak, hemat kami anak-anak kecil tidak perlu dikenalkan dengan internet. Namun bila ada hal yang amat mendesak untuk itu maka harus diperhatikan hal-hal berikut:Peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak menggunakan internet.Gunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak.Pahamkan kepada anak bahwa tidak semua yang dilihatnya di Internet adalah benar dan bermanfaat. Sebagaimana belum tentu apa yang disarankan oleh teman-temannya memiliki nilai positif.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulhijjah 1437 / 5 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi. Selanjutnya adalah: InternetInternet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon. Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin triliyunan, isinya memuat bermacam-macam topik.Manfaat atau dampak positif internet antara lain:Sebagai media belajar. Dengan adanya internet akses untuk mencari ilmu agama maupun umum menjadi sangat terbuka. Artikel ilmiah maupun rekaman kajian Islam yang berformat audio maupun video, sangat mudah untuk didapatkan.Media komunikasi, artinya ini merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan. Di mana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna internet yang lain di seluruh dunia.Media mencari informasi dan pertukaran data, artinya dengan menggunakanemail, newsgroup, www atau pun jaringan web-web lainnya para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat, mudah dan murah.Dampak negatif internet:Pemahaman menyimpang. Betapa banyak ideologi dan pemahaman sesat yang dijajakn lewat internet. Dan tidak sedikit orang yang terjerumus ke dalam kubangan lumpur kesesatan gara-gara internet.Artinya dalam kemampuan menyampaikan informasi yang dimiliki oleh internet, pornografi pun semakin merajalela. Di internet terdapat banyak gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan terhadap seseorang untuk melakukan tindakan kriminal.Penipuan dan kejahatan. Para penjahat internet ini pun banyak yang memanfaatkan kesempatan ini untuk agar mendapatkaan keuntungan. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi on-line dan mencatat kode kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.Banyak sekali perjudian yang beredar di internet. Dengan jaringan yang tersedia, penjudi tidak perlu pergi ketempat khusus untuk memenuhi keinginannya.Perlukah mengenalkan internet kepada anak?Bila tidak ada kebutuhan mendesak, hemat kami anak-anak kecil tidak perlu dikenalkan dengan internet. Namun bila ada hal yang amat mendesak untuk itu maka harus diperhatikan hal-hal berikut:Peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak menggunakan internet.Gunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak.Pahamkan kepada anak bahwa tidak semua yang dilihatnya di Internet adalah benar dan bermanfaat. Sebagaimana belum tentu apa yang disarankan oleh teman-temannya memiliki nilai positif.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Dzulhijjah 1437 / 5 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 77 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-3Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNAN

Sebelum ini kita telah menyampaikan tentang urgensi mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah, terutama dalam berdoa dan berdzikir. Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih bersemangat lagi dalam mempelajari sunnah beliau dalam segala amalan. Agar kita bisa meneladaninya dengan lebih baik.Tidak boleh bagi seorang muslim merutinkan suatu doa, wirid atau dzikir khusus, di waktu khusus, atau dengan cara yang khusus, kecuali bila hal itu ada tuntunannya dari Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Adapun bila sifatnya ‘kebetulan’ karena kondisi tertentu yang dialami seorang insan, maka tidak mengapa dia berdoa terserah dia, selama tidak menyelisihi syariat.Oleh karena itu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bosan untuk menegur orang-orang yang berdzikir atau berdoa tidak sesuai dengan tuntunan beliau.Nâfi’ rahimahullah menuturkan,[arabic-font]أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ: “الحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ”.[/arabic-font]Suatu hari ada seseorang yang bersin di samping Ibnu Umar lalu ia mengucapkan, “Alhamdulillah was salâmu ‘alâ Rasûlillâh”. Maka Ibnu Umar pun berkomentar, “Aku juga membaca hamdalah dan shalawat. Namun bukan begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami. Beliau mengajarkan pada kami untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘alâ kulli hâl”. HR. Tirmidziy dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy.Membaca hamdalah dan shalawat adalah sunnah. Namun menggabungkan antara keduanya setelah bersin, tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Oleh karena itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menegur orang yang melakukan hal tersebut.Padahal, baik bacaan hamdalah maupun bacaan shalawat, keduanya sama-sama ada tuntunannya. Namun karena kedua bacaan itu digabungkan dalam momen yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan itu menjadi tidak benar.Lantas bagaimana dengan orang yang membaca wirid-wirid yang redaksinya sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Masih ditambah lagi dengan mengerjakannya menggunakan tata cara yang juga tidak diajarkan beliau!Amalan itu akan dianggap baik, bukan diukur dari banyaknya, tapi dinilai dari sesuai atau tidaknya dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan,[arabic-font]”اقْتِصَادٌ فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ”[/arabic-font]“Amalan yang sedikit tapi sesuai tuntunan, lebih baik daripada bersemangat (banyak beramal) tapi tidak sesuai tuntunan”. Diriwayatkan oleh ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabîr.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1437 / 29 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4Next Sudah Ditanggung Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNAN

Sebelum ini kita telah menyampaikan tentang urgensi mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah, terutama dalam berdoa dan berdzikir. Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih bersemangat lagi dalam mempelajari sunnah beliau dalam segala amalan. Agar kita bisa meneladaninya dengan lebih baik.Tidak boleh bagi seorang muslim merutinkan suatu doa, wirid atau dzikir khusus, di waktu khusus, atau dengan cara yang khusus, kecuali bila hal itu ada tuntunannya dari Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Adapun bila sifatnya ‘kebetulan’ karena kondisi tertentu yang dialami seorang insan, maka tidak mengapa dia berdoa terserah dia, selama tidak menyelisihi syariat.Oleh karena itu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bosan untuk menegur orang-orang yang berdzikir atau berdoa tidak sesuai dengan tuntunan beliau.Nâfi’ rahimahullah menuturkan,[arabic-font]أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ: “الحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ”.[/arabic-font]Suatu hari ada seseorang yang bersin di samping Ibnu Umar lalu ia mengucapkan, “Alhamdulillah was salâmu ‘alâ Rasûlillâh”. Maka Ibnu Umar pun berkomentar, “Aku juga membaca hamdalah dan shalawat. Namun bukan begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami. Beliau mengajarkan pada kami untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘alâ kulli hâl”. HR. Tirmidziy dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy.Membaca hamdalah dan shalawat adalah sunnah. Namun menggabungkan antara keduanya setelah bersin, tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Oleh karena itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menegur orang yang melakukan hal tersebut.Padahal, baik bacaan hamdalah maupun bacaan shalawat, keduanya sama-sama ada tuntunannya. Namun karena kedua bacaan itu digabungkan dalam momen yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan itu menjadi tidak benar.Lantas bagaimana dengan orang yang membaca wirid-wirid yang redaksinya sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Masih ditambah lagi dengan mengerjakannya menggunakan tata cara yang juga tidak diajarkan beliau!Amalan itu akan dianggap baik, bukan diukur dari banyaknya, tapi dinilai dari sesuai atau tidaknya dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan,[arabic-font]”اقْتِصَادٌ فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ”[/arabic-font]“Amalan yang sedikit tapi sesuai tuntunan, lebih baik daripada bersemangat (banyak beramal) tapi tidak sesuai tuntunan”. Diriwayatkan oleh ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabîr.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1437 / 29 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4Next Sudah Ditanggung Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sebelum ini kita telah menyampaikan tentang urgensi mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah, terutama dalam berdoa dan berdzikir. Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih bersemangat lagi dalam mempelajari sunnah beliau dalam segala amalan. Agar kita bisa meneladaninya dengan lebih baik.Tidak boleh bagi seorang muslim merutinkan suatu doa, wirid atau dzikir khusus, di waktu khusus, atau dengan cara yang khusus, kecuali bila hal itu ada tuntunannya dari Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Adapun bila sifatnya ‘kebetulan’ karena kondisi tertentu yang dialami seorang insan, maka tidak mengapa dia berdoa terserah dia, selama tidak menyelisihi syariat.Oleh karena itu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bosan untuk menegur orang-orang yang berdzikir atau berdoa tidak sesuai dengan tuntunan beliau.Nâfi’ rahimahullah menuturkan,[arabic-font]أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ: “الحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ”.[/arabic-font]Suatu hari ada seseorang yang bersin di samping Ibnu Umar lalu ia mengucapkan, “Alhamdulillah was salâmu ‘alâ Rasûlillâh”. Maka Ibnu Umar pun berkomentar, “Aku juga membaca hamdalah dan shalawat. Namun bukan begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami. Beliau mengajarkan pada kami untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘alâ kulli hâl”. HR. Tirmidziy dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy.Membaca hamdalah dan shalawat adalah sunnah. Namun menggabungkan antara keduanya setelah bersin, tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Oleh karena itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menegur orang yang melakukan hal tersebut.Padahal, baik bacaan hamdalah maupun bacaan shalawat, keduanya sama-sama ada tuntunannya. Namun karena kedua bacaan itu digabungkan dalam momen yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan itu menjadi tidak benar.Lantas bagaimana dengan orang yang membaca wirid-wirid yang redaksinya sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Masih ditambah lagi dengan mengerjakannya menggunakan tata cara yang juga tidak diajarkan beliau!Amalan itu akan dianggap baik, bukan diukur dari banyaknya, tapi dinilai dari sesuai atau tidaknya dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan,[arabic-font]”اقْتِصَادٌ فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ”[/arabic-font]“Amalan yang sedikit tapi sesuai tuntunan, lebih baik daripada bersemangat (banyak beramal) tapi tidak sesuai tuntunan”. Diriwayatkan oleh ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabîr.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1437 / 29 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4Next Sudah Ditanggung Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sebelum ini kita telah menyampaikan tentang urgensi mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah, terutama dalam berdoa dan berdzikir. Hal ini tentu menuntut kita untuk lebih bersemangat lagi dalam mempelajari sunnah beliau dalam segala amalan. Agar kita bisa meneladaninya dengan lebih baik.Tidak boleh bagi seorang muslim merutinkan suatu doa, wirid atau dzikir khusus, di waktu khusus, atau dengan cara yang khusus, kecuali bila hal itu ada tuntunannya dari Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Adapun bila sifatnya ‘kebetulan’ karena kondisi tertentu yang dialami seorang insan, maka tidak mengapa dia berdoa terserah dia, selama tidak menyelisihi syariat.Oleh karena itu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bosan untuk menegur orang-orang yang berdzikir atau berdoa tidak sesuai dengan tuntunan beliau.Nâfi’ rahimahullah menuturkan,[arabic-font]أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ: “الحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ”، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ: “الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ”.[/arabic-font]Suatu hari ada seseorang yang bersin di samping Ibnu Umar lalu ia mengucapkan, “Alhamdulillah was salâmu ‘alâ Rasûlillâh”. Maka Ibnu Umar pun berkomentar, “Aku juga membaca hamdalah dan shalawat. Namun bukan begitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami. Beliau mengajarkan pada kami untuk mengucapkan, “Alhamdulillah ‘alâ kulli hâl”. HR. Tirmidziy dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albaniy.Membaca hamdalah dan shalawat adalah sunnah. Namun menggabungkan antara keduanya setelah bersin, tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam. Oleh karena itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menegur orang yang melakukan hal tersebut.Padahal, baik bacaan hamdalah maupun bacaan shalawat, keduanya sama-sama ada tuntunannya. Namun karena kedua bacaan itu digabungkan dalam momen yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan itu menjadi tidak benar.Lantas bagaimana dengan orang yang membaca wirid-wirid yang redaksinya sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Masih ditambah lagi dengan mengerjakannya menggunakan tata cara yang juga tidak diajarkan beliau!Amalan itu akan dianggap baik, bukan diukur dari banyaknya, tapi dinilai dari sesuai atau tidaknya dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam.Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan,[arabic-font]”اقْتِصَادٌ فِي سَنَةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ”[/arabic-font]“Amalan yang sedikit tapi sesuai tuntunan, lebih baik daripada bersemangat (banyak beramal) tapi tidak sesuai tuntunan”. Diriwayatkan oleh ath-Thabaraniy dalam al-Mu’jam al-Kabîr.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Dzulqa’dah 1437 / 29 Agustus 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 78 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bag-4Next Sudah Ditanggung Allah Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sudah Ditanggung Allah

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Sudah Ditanggung Allah

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Salah satu masalah yang paling memusingkan banyak orang, pribadi maupun negara, adalah masalah rezeki. Pengangguran meruyak di mana-mana. Tidak sedikit orang yang stress, bahkan bunuh diri, gara-gara himpitan ekonomi.Padahal sebenarnya kita tidak perlu mengalami kondisi buruk kejiwaan seperti itu. Apalagi bila kita mengenal Allah ta’ala dengan baik.Ketahuilah bahwa rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali sudah ditanggung Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an telah dijelaskan,[arabic-font]”وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا”[/arabic-font]Artinya: “Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini; melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”. QS. Hud (11): 6.Statemen di atas adalah janji dari Allah ta’ala. Dan sebagaimana telah maklum bahwa Allah itu tidak mungkin mengingkari janji-Nya.Bila ada orang kaya nan jujur dan dermawan bersedia menjamin biaya kehidupan Anda selama satu tahun misalnya, saya yakin Anda pasti akan merasa senang sekali. Bagaikan kejatuhan durian runtuh. Anda akan menghadapi kehidupan setahun ke depan dengan penuh optimisme.Mengapa giliran Allah yang menjamin rezeki kita, lantas ada di antara kita yang merasa pesimis dalam menghadapi hidup ini? Bukankah Allah jauh lebih kaya, jujur dan dermawan dibanding orang kaya di atas?Penuhi syarat-Nya!Namun tentunya perlu dibedakan antara optimis dengan nekat.Allah akan menjamin rezeki kita, bila syarat yang digariskan-Nya kita penuhi. Yakni tekun beribadah kepada-Nya.Menarik sekali untuk kita cermati firman Allah berikut ini,[arabic-font]”وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)”[/arabic-font]Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan yang sangat kokoh”. QS. Adz-Dzariyat (51): 56-58.Allah menjelaskan bahwa tujuan utama diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada-Nya. Setelah itu Allah menegaskan bahwa Dialah Sang Pemberi rezeki.Seakan Allah ingin menjelaskan agar kita menjalankan saja tugas utama tersebut, yakni sibukkan diri dengan beribadah. Niscaya timbal baliknya, pasti Allah akan menjamin rezeki kita.Tapi bukan berarti kita tidak perlu bekerja mencari nafkah. Sebab menafkahi anak dan istri pun juga ibadah.Hanya saja jangan sampai upaya kita dalam mencari rezeki justru malah melalaikan kita dari ibadah-ibadah pokok, seperti shalat dan yang semisalnya.[1] Dan jangan pula kita melanggar aturan Allah serta menghalalkan segala cara demi mendapatkan rezeki.Rezeki Allah pasti kita dapatkan dengan cara-cara yang halal. Andaikan kita dapatkan dengan cara yang haram pun, tentu tidak akan mendatangkan keberkahan.Semoga renungan singkat ini bermanfaat…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 23 Dzulqa’dah 1437 / 26 Agustus 2016[1] Baca: Tafsîr al-Qurthubiy (XIV/165). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 101 MEWASPADAI DOA DAN DZIKIR YANG TIDAK SESUAI TUNTUNANNext Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berguru Kepada Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA Khutbah Idhul Adha di Alun-alun Banyumas,Ahad, 10 Dzulhijjah 1435 /5 Oktober 2014 [arabic-font]السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ رَبِّ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَاوَات، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَات، وَبِكَرَمِهِ تُقبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرُبَات، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلاَّت، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى؛ ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾ (الإسراء: 111)اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا ذَكَرَ اللهَ ذَاكِرٌ وَكَبَّرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا حَمِدَ اللهَ حَامِدٌ وَشَكَرَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَا تَابَ تَائِبٌ وَاسْتَغْفَرَ، اللهُ أَكْبَرُ مَا أَعَادَ عَلَيْنَا مِنْ عَوَائِدِ فَضْلِهِ وَجُوْدِهِ مَا يَعُوْدُ فِي كُلِّ عِيْدٍ وَيَظْهَر.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْراً، سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَزَلْ عَلِيًّا كَبِيْرًا، سَمِيْعاً بَصِيْراً، لَطِيْفاً خَبِيْراً، عَفُوًّا غَفُوْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّداُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَدَاعِياً إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ الله، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَن اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة.أَمَّا بَعْدُ؛[/arabic-font]Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…Di pagi yang penuh berkah ini, di balik hati yang cerah ceria, kita kembali mengumandangkan takbir berulang-ulang, sebagai pernyataan yang tulus dan ikhlas akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekaligus sebagai pengakuan bahwa kita adalah hamba yang teramat kecil, sangat lemah dan penuh keterbatasan. Kita memuja dan memuji kepada-Nya sebagai wujud kesyukuran atas segala limpahan nikmat dan rahmat-Nya yang tak terhingga.Alhamdulillah, kita kembali merasakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam suasana Idul Adha pada hari ini. Bukan untuk berpesta pora, tetapi untuk melakukan instrospeksi dan mengambil pelajaran dari perintah berkurban dan beribadah haji. Juga untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah yang dilakonkan oleh Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam bersama isterinya; Hajar dan anaknya Ismail ’alaihissalam.Kehidupan Nabi Ibrahim benar-benar sarat dengan keteladanan yang patut diikuti, untuk mendapatkan kehidupan yang bersih dan penuh dengan makna.[arabic-font]”قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ”[/arabic-font]Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”. QS. Al-Mumtahanah (60): 4.Jamaah shalat Idul Adha ‘azzakumullah...Sekurang-kurangnya ada empat pelajaran yang bisa dipetik dari kisah nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya[1]:Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah ta’alaDikisahkan pada suatu hari, Ibrahim ‘alaihissalam terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba beliau memerintahkan istrinya, Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan panjang. Padahal saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.Ibrahim ‘alaihissalam menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim menuju ke sebuah lembah yang tidak ditumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan dan tidak ada minuman. Kondisi yang menandakan bahwa tempat itu tidak ada kehidupan di dalamnya.Di lembah tersebut beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.Tentu saja Hajar terperangah diperlakukan demikian. Dia membuntuti suaminya dari belakang sembari bertanya,[arabic-font]”يَا إِبْرَاهِيْمَ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهذَا الْوَادِي الَّذِى لَيْسَ بِهِ أَنِيْسٌ وَلاَ شَيْئٌ ؟”[/arabic-font] “Ibrahim, hendak pergi ke manakah engkau? Apakah engkau akan meninggalkan kami tanpa teman di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?”.Ibrahim tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi Ibrahim tetap membisu. Akhirnya Hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia pun bertanya,[arabic-font]”آللهُ أَمَرَكَ بِهذَا ؟”[/arabic-font]“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami?”Ibrahim menjawab, “Benar“.Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,[arabic-font]”إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ!”[/arabic-font]”Jika demikian pasti Allah tidak akan menterlantarkan kami”.Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Hajar, mampu berprasangka baik kepada Allah jalla wa ‘ala. Mereka amat yakin bahwa selagi bersama Allah, maka mereka tidak mungkin terlantar, tidak akan ada yang dapat mencelakainya ataupun melukainya.Bila kita lihat banyaknya manusia yang frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara, ternyata bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah. Padahal nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak dari siksa-Nya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah; karena Allah menjelaskan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Dia sesuai prasangka hamba-Nya.[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: “أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman, “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di keramaian orang, niscaya Aku akan mengingat-Nya di hadapan sekumpulan makhluk yang lebih mulia dari mereka. Andaikan ia mendekat kepada-ku setapak, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari”. HR. Bukhari dan Muslim.Manusia wajib berbaik sangka kepada Allah apa pun keadaannya. Karena Allah akan menyikapi hamba-Nya sesuai prasangka tersebut. Jika hamba itu berprasangka baik, maka Allah akan memberikan keputusan yang baik untuknya. Namun bila hamba itu berburuk sangka, maka berarti ia telah menghendaki keputusan yang buruk dari Allah untuknya. Allah tidak akan menyia-nyiakan harapan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.Seorang hamba yang bijak adalah yang senantiasa berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan. Jika ia diberi kenikmatan, ia merasa bahwa hal ini adalah karunia dari Allah. Ia tidak besar kepala dengan kenikmatan duniawi tersebut. Sebaliknya bila ia didera dengan penderitaan atau kekurangan, maka ia merasa bahwa Allah sedang mengujinya agar dapat meraih tempat yang mulia. Ia tidak berburuk sangka dengan menganggap Allah tidak adil atau Allah telah menghinakannya.Kita harus belajar dari Hajar. Seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian ditinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang. Tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menterlantarkannya. Allah pasti akan membantunya. Kisah ini bukan hanya untuk Hajar saja, dan kisah ini juga bukan untuk zaman itu saja. Namun kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman dan masa. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala kondisi.Yakinlah bahwa orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah, berakidah benar, menegakkan shalat, berpuasa, menunaikan zakat dan menjalankan perintah agama lainnya, pasti mereka tidak akan pernah diterlantarkan oleh Allah ta’ala…Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Pelajaran kedua: Bersemangat dalam mencari rezeki yang halalSetelah Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan istri dan anaknya, untuk kembali meneruskan perjuangan berdakwah di jalan Allah. Hajar menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas terik matahari saat itu amat menyengat, hingga terasa begitu mengeringkan kerongkongan. Setelah dua hari, air yang dibawa habis, air susunya pun kering. Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis. Kegelisahan dan kekhawatiran menghantui Hajar.Ismail mulai menangis karena kehausan. Sang ibu pun meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian mendaki bukit itu. Diletakkannya kedua telapak tangan di kening untuk melindungi pandangan matanya dari terik sinar matahari. Dia menengok kesana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang. Tetapi tidak membuahkan hasil.Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan mendaki ke atasnya. Kemudian ke bukit Marwa dan naik ke atasnya. Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Hadirin dan hadirat yang kami hormati.Ada sebuah pelajaran penting yang jarang dikupas dari kejadian ini.Yaitu kesungguhan Hajar dalam mencari air. Ia kerahkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa. Dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ternyata ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena sejatinya kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga memaksimalkan usaha dan tenaga.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat menghargai orang-orang yang bekerja keras. Beliau bersabda,[arabic-font]”لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ”[/arabic-font]“Seorang yang mencari seikat kayu bakar dan mengusungnya di atas pundak, lebih mulia dibanding orang yang meminta-minta kepada orang lain, entah ia diberi atau tidak”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Beliau juga menerangkan,[arabic-font]”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ”[/arabic-font]“Tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa yang dimakan seseorang dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Dawud ‘alaihissalam itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” HR. Bukhari dari al-Miqdam radhiyallahu’anhu.Namun, walaupun kita dituntut untuk berusaha dan bekerja secara maksimal, bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk berbuat sebebas-bebasnya. Sehingga tidak lagi memperhatikan batasan halal dan haram. Berhati-hatilah terhadap barang haram yang masuk ke tubuh kita. Karena tubuh yang tumbuh dari harta yang haram, tidak ada tempat kembali untuknya melainkan neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,[arabic-font]”لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ أَبَدًا، النَّارُ أَوْلَى بِه”.[/arabic-font]“Tidak akan masuk surga selamanya, daging yang tumbuh dari harta yang haram. Nerakalah yang pantas untuk menjadi tempat tinggalnya”. HR. Tirmidzy dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh adz-Dzahaby dan al-Albany.Makanan haram bukan hanya daging babi, namun daging sapi pun bisa berubah menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil korupsi. Minuman haram tidak hanya whisky, namun wedang kopi pun bisa menjadi haram, apabila dibeli dengan uang hasil kolusi. Maka waspadalah!Hadirin yang dirahmati Allah…Pelajaran ketiga: Berkorban untuk Allah ta’alaKetika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim ‘alaihissalam tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim semakin senja. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah berkehendak untuk menguji Nabi-Nya dengan ujian yang amat berat.[arabic-font]”فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ . قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ . سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Tatkala anak itu telah dewasa, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka apa pendapatmu tentang mimpiku itu?!”. Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ash Shâffât (37): 102.Renungkanlah bentuk ujian yang telah Allah berikan kepada beliau. Bagaimana kira-kira perasaan Ibrahim ‘alaihissalam pada saat itu? Pergulatan seperti apa yang berkecamuk di dalam batinnya?Saat itu Ibrahim berpikir tentang putranya. Apa yang harus beliau katakan, saat beliau hendak membaringkannya di atas tanah untuk disembelih?Ibrahim mengambil jalan yang paling baik, yaitu berkata dengan jujur dan lemah lembut kepada putranya. Ketimbang menyembelihnya secara paksa.Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail beserta ayahnya Ibrahim. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang-Nya. Walaupun dengan mengorbankan anak tersayang.Allahu Akbar 2x, walillahilhamdu.Kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah.Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang diajari oleh seorang anak dan ayahnya, tentang makna pengorbanan kepada Allah, dalam segala hal di kehidupan ini?Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah. Sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,[arabic-font]”فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”[/arabic-font]Artinya: “Dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah“Akan tetapi, pengertian kurban bukan sekadar menyembelih binatang kurban, lalu menyedekahkan dagingnya kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara umum, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.Dalam konteks sejarah, di mana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam saat itu. Mereka disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif. Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang. Yasir dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluannya dengan sebatang tombak.Tak hanya itu, umat Islam di Mekah juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, betapa lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat itu. Hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.Begitulah potret pengorbanan untuk membela agama. Lantas apakah yang sudah kita korbankan untuk membela akidah dan sunnah Nabi kita shallallahu’alaihiwasallam?Allahu Akbar 3x, walillahilhamdu.Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah.Pelajaran keempat: Urgensi mendidik keluargaNabi Ismail ‘alaihissalam tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat taufik dari Allah ta’ala kemudian pendidikan dari ibunya. Dan Hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar bila tidak diberi petunjuk oleh Allah lalu dididik oleh nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Sedang nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak akan dapat sabar jika tidak ditempa oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu-Nya.Keberhasilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dalam mendidik anaknya, bukanlah pekerjaan ringan, yang bisa didapatkan dalam waktu yang singkat. Hal itu merupakan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu panjang. Nabi Ibrahim secara terus menerus memberikan contoh peragaan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya dalam segala hal. Peragaan inilah yang selalu ditangkap dan dihayati oleh putranya Ismail, sehingga terpatri dalam jiwanya.Sekarang mari kita tanya diri kita. Sudahkah kita memberi keteladanan yang baik kepada putra putri kita? Sudahkah kita mendoakan mereka dalam sujud kita agar menjadi anak-anak yang salih dan salihah? Sudahkah kita menyelamatkan mereka dari lingkungan yang rusak?Memang untuk mendapatkan generasi ideal, memerlukan perhatian dan pengorbanan yang sangat besar. Bahkan harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan yang tinggi. Makanya sangat aneh, jika kita merindukan lahirnya generasi pejuang, sementara perhatian dan pengorbanan yang diberikan untuk itu masih sangat kurang. Atau mungkin pengorbanan dan perhatian sudah cukup besar, tapi belum proporsional. Perhatian dan pengorbanan yang diberikan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat materi, bukan pada spirit dan rohaninya.Anak-anak kita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita para orang tua, guru dan pemerintah. Jangan sampai hanya aspek intelektualnya yang diperhatikan, tetapi mental dan spritualnya memprihatinkan. Jangan kita bangga dengan pendidikan yang hanya memacu kecerdasan otak, tapi semakin hari akhlaknya semakin rusak dan perilakunya semakin jauh dari agama.Kita sangat mendambakan generasi yang bertauhid dan berkarakter. Berakhlak mulia dan tekun beribadah. Juga anak yang patuh dan hormat kepada orang tua. Kita mengharapkan generasi yang selalu siap pakai. Siap menghadapi benturan dan tantangan hidup. Memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki banyak inisiatif serta siap berkorban. Sebagaimana contoh yang telah diperagakan oleh sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga keluarganya, Hajar dan Ismail ‘alaihissalam.Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan untuk merealisasikan cita-cita mulia tersebut. Untuk itu marilah kita berdo’a:[arabic-font] الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا، وَوُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ جَمِيْعًا لِتَحْكِيْمِ شَرِيْعَتِكَ، وَالْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَالالْتِزَامِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم بِعزَّتِكَ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالُمسْلمِينَ، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتُهُ[/arabic-font]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Dzulhijjah 1435 /4 Oktober 2014[1] Kisah mereka selengkapnya bisa dibaca, antara lain, dalam kitab Qashash al-Anbiyâ’ karya Imam Ibn Katsir (hal. 127-183).Download Versi Ms. Word (Download Kotbah Idul Adha) Post navigation Previous Sudah Ditanggung AllahNext “PAMER” Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”

Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MAKhutbah Jum’at di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016 KHUTBAH PERTAMA:[arabic-font]إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.[/arabic-font]Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama, “Kebahagiaan!”. Semua aktifitas yang dilakukan oleh insan, sejak manusia pertama hingga akhir zaman kelak, seluruhnya untuk meraih kebahagiaan.Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin teramat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Apalagi manusia yang mengetahui cara untuk meraih kebahagiaan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini. Di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.Banyak orang hidupnya susah, hanya karena masalah sepele yang dia bikin sendiri. Misalnya gara-gara terlalu memperhatikan pandangan dan penilaian orang lain tentang dirinya. Ingin dipandang ideal oleh seluruh manusia dan teramat khawatir dikomentari mereka. Ketika akan berbuat suatu kebaikan, yang dipikirkan adalah “Nanti bagaimana pandangan orang, jika saya berbuat ini?”, “Apa kata dunia?”, dan berbagai macam ketakutan lainnya.Gara-gara sikap seperti ini, setiap berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu, yang selalu dia perhatikan adalah apa komentar orang pasca sikap tersebut. Bila ada satu orang saja yang berkomentar negatif, hari-harinya bakal terus dipenuhi dengan kegelisahan, kegundahgulanaan dan kegalauan.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ketahuilah bahwa yang akan kita rasakan hanyalah keletihan belaka. Bila setiap perbuatan yang kita lakukan, hanya untuk mencari simpati manusia, mengikuti setiap keinginannya, pemikirannya dan kesukaannya.Memilih keridhaan manusia adalah sebuah kesia-siaan. Sebab jalannya bengkok dan tidak tentu ujungnya. Jalan sukar itu dipaksakan untuk ditempuh, padahal ujungnya adalah jalan buntu.Imam Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan petuahnya,[arabic-font]”رضى النَّاس غايةٌ لا تُدْرَكُ، وليس إِلى السَّلامة منهم سبيلٌ، فعليكَ بما ينفعُكَ فالزَمْهُ”[/arabic-font]“Mendapatkan keridhaan seluruh manusia adalah sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai. Bebas dari omongan orang adalah sebuah kemustahilan. Cukuplah bagimu menekuni hal-hal yang bermanfaat untukmu”.[1]Mengapa meraih keridhaan seluruh manusia adalah sebuah kemustahilan?Sebab setiap orang memiliki pikiran dan kesukaan yang berlainan. Apa yang disukai oleh si A, belum tentu disukai oleh si B. Dan apa yang disukai si B, belum tentu disukai oleh si C. Lantas kesukaan siapa yang akan kita cari?Dikisahkan dalam kitab Nafhu ath-Thîb karya Syihabuddin al-Muqriy, ada lelaki bijak yang mempunyai seorang anak. Suatu hari si anak berkata kepadanya, “Ayah, mengapa orang-orang mengkritikmu dalam banyak hal yang engkau lakukan? Bila engkau tinggalkan berbagai hal itu, niscaya engkau akan terbebas dari kritikan mereka.”Sang ayah menjawab, “Wahai anakku, engkau masih terlampau hijau dan belum banyak pengalaman. Keridhaan seluruh manusia adalah sebuah angan-angan yang mustahil dicapai. Akan kutunjukkan padamu buktinya.”Lalu bapak itu mengeluarkan seekor keledai dan berkata kepada anaknya, “Naikilah keledai ini. Aku akan berjalan kaki menuntunnya.”Tidak lama kemudian, ada seorang laki-laki yang berkomentar “Lihat, dasar anak tidak beradab. Dia naik tunggangan, sementara bapaknya berjalan kaki. Betapa dungunya si bapak, dia membiarkan anaknya melakukan itu.”Bapak berkata, “Sekarang kamu turun, berjalan kakilah dan aku yang menungganginya”.Sesaat kemudian ada lagi yang berkomentar, “Lihatlah orang itu. Benar-benar tidak kasihan pada anaknya. Dia naik tunggangan dan membiarkan anaknya berjalan.”“Ayo kita berdua naik!” lanjut bapaknya.Ternyata ada lagi yang berkomentar, “Dasar manusia tidak berperasaan! Lihatlah betapa teganya mereka berdua menunggangi keledai kurus! Mestinya satu orang saja sudah cukup”.Si bapak menyambung, “Sekarang kita berdua turun.” Lalu keduanya berjalan menuntun keledai itu.Seseorang berkomentar, “Semoga Allah tidak mengaruniakan kemudahan kepada mereka. Untuk apa mereka membawa keledai, bila tidak ditunggangi?!”.Bapak itu mengakhiri dengan nasehat, “Anakku, bukankah engkau telah mendengar seluruh ucapan mereka? Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kritikan orang dalam kondisi apa pun.”Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah…Sebenarnya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk kita kejar? Ridha Allah kah atau ridha manusia?Orang yang beriman akan menjawab, ”Tentu saja ridha Allah!”.Karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya, taat dan patuh mengikuti perintah-Nya. Kebaikan dan keberuntungan hidup hanya bergantung kepada-Nya.Seluruh kehidupan mukmin adalah untuk mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.[arabic-font]”قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”[/arabic-font] Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam”. QS. Al-An’am (6): 162.Mukmin sejati akan menjadikan ridha Allah sebagai target utama seluruh aktifitasnya. Walaupun mungkin berakibat seluruh manusia marah dan benci kepadanya. Sekalipun berefek dia dicaci, disakiti dan dianiaya.Sebab dia yakin 100 % bahwa di tangan Allah-lah tergenggam segala kekuasaan.[arabic-font]”قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”[/arabic-font]Artinya: “Katakanlah: “Ya Allah Yang mempunyai kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.Untuk apa waktu kita habiskan demi mengambil muka manusia? Bukankah mereka pun hamba seperti kita adanya? Mereka pun lemah tidak berdaya, tak kuasa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong orang lain? Mengapa kita tak kunjung sadar akan kekuasaan Sang Khalik, padahal di tangan-Nya lah kehidupan dan kematian?Sungguh amatlah naif bila idealisme tergadaikan, yang haram diterjang, yang haq dihalang, teman ditendang, semua hanya karena “apa kata orang”.Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkirim surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Memohon kepada beliau agar menulis surat yang berisi nasehat untuknya. Tapi dia meminta agar isi surat itu tidak panjang-panjang.Maka ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis,[arabic-font]”سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ”. وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ”.[/arabic-font]“Salâmun ‘alaik (Salam sejahtera untukmu). Amma ba’du. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah sekalipun beresiko mendatangkan kebencian manusia; niscaya Allah akan membebaskan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah; niscaya Allah akan menjadikannya selalu tergantung kepada manusia. Wassalâmu ‘alaika”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.[arabic-font]أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.[/arabic-font] KHUTBAH KEDUA:[arabic-font] الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ.[/arabic-font]Sidang Jum’at yang kami hormati…Untuk sampai kepada maqom mulia tersebut dalam khutbah pertama tadi, pastilah membutuhkan latihan dan perjuangan. Selain itu tentu yang pertama dan utama: memerlukan limpahan taufik dari Allah ta’ala.Di antara doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita baca, supaya terbantu mencapai maqam tersebut adalah,[arabic-font]”اللهم إني أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ”[/arabic-font]“Ya Allah, aku memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan terhadap orang-orang yang mencintai-Mu, serta kecintaan terhadap setiap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan-Mu”. Potongan dari HR. Tirmidzy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy.Tiga poin yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kita minta kepada Allah.Pertama: perasaan cinta kepada AllahKedua: perasaan cinta kepada orang-orang yang mencintai AllahKetiga: perasaan cinta kepada amalan yang mendatangkan kecintaan AllahPoin pertama adalah target utama hidup kita, yakni menggapai keridhaan dan kecintaan Allah. Poin kedua adalah konsekwensi dari kecintaan kepada Allah. Sedangkan poin ketiga adalah sarana yang akan mengantarkan kita kepada kecintaan Allah.[arabic-font]هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…[/arabic-font] @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Dzulhijjah 1437 / 16 September 2016[1] Siyar A’lâm an-Nubalâ’ karya Imam adz-Dzahabiy (X/89).Download Teks Khotbah “Ridho Siapa yang dicari?”Download di sini Post navigation Previous “PAMER”Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3

Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3

Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya:Kelima: Itu sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan yang kurang baikDoa dan dzikir yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah adalah yang terbaik. Sebab sumbernya adalah wahyu dari langit. Adapun selain itu, adalah doa dan dzikir bikinan manusia biasa, yang berpeluang besar untuk salah atau keliru.Menggunakan doa dan dzikir yang tidak ada tuntunannya, lalu meninggalkan doa dan dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya; sama saja mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang tidak atau kurang baik.Perilaku seperti itu adalah kebiasaan orang-orang yang tidak beriman. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ”[/arabic-font]Artinya: “(Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk untuk mengganti sesuatu yang baik?”. QS. Al-Baqarah (2): 61.Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menasehatkan,[arabic-font]”وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ”[/arabic-font]Artinya: “Janganlah kalian menukar yang baik dengan yang buruk”. QS. An-Nisa’ (4): 2.Tentu amat aneh bila kita telah memiliki barang berharga yang amat mahal dan istimewa, lalu kita tinggalkan dan kita ganti dengan barang murah yang banyak kekurangannya. Tanpa alasan yang bisa diterima.Keenam: Biasanya orang yang membaca doa dan dzikir yang tak ada tuntunannya, tidak memahami apa yang ia bacaOrang yang mempraktekkan wirid-wirid yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan mereka tidak mengerti makna apa yang dibacanya. Sebab seringkali mereka hanya tertarik dengan bacaan-bacaan itu, karena menurut mereka redaksinya indah. Sehingga konsentrasi mereka tertuju kepada indahnya lafal bacaan itu dan usaha agar saat membacanya berbarengan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukan bagaimana memahami dan meresapi makna wirid itu.Padahal inti dari doa dan dzikir adalah meresapi makna yang dikandung dalam bacaan tersebut. Agar terwujud dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati. Maksudnya: dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.[1]Dzikir yang menggabungkan antara gerakan lisan dengan peresapan hati inilah yang akan membuahkan ma’rifatullah, kecintaan-Nya dan pahala yang berlimpah.[2]@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Muharram 1438 / 17 Oktober 2016[1] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).[2] Baca: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 57). Post navigation Previous Khotbah Juma’t: “Ridha Siapa yang dicari?”Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 79 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 5

Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Diawali dengan pembahasan tentang radio dan televisi kemudian internet. Selanjutnya adalah:3. Handphone (HP)Dahulu HP adalah barang mewah yang dimiliki oleh segelintir orang kaya. Namun belakangan ini hampir setiap rumah memiliki HP, bahkan dalam satu rumah tidak sedikit yang memiliki lebih dari satu HP. Anak-anak SD pun banyak yang sudah dipegangi HP oleh orang tua mereka. Belakangan ini bahkan balitapun juga diberi fasilitas HP canggih. Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang.Manfaat HP pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi. HP atau telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Bahkan dengan kecanggihan HP saat ini kita bisa melakukan apa saja. Mulai dari memotret, merekam gambar video, internet, mendengar radio/ mp3, nonton TV, melihat peta, video call, bahkan membayar rekening listrik dan transfer uang bisa dilakukan lewat HP. Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk kita.Namun satu hal yang harus diingat bahwa HP jika tidak digunakan sesuai dengan fungsinya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim, terutama anak-anak.Seharusnya HP digunakan dalam rangka taat kepada Allah, justru digunakan untuk mendurhakai-Nya. Mulai dari tingkat kedurhakaan yang paling besar -yaitu kesyirikan- sampai kemaksiatan yang lebih kecil dari itu.Lihatlah hari ini! Para dukun dan tukang ramal mulai merambah ke dunia maya. Mereka kini sudah mulai berganti haluan. Saban hari bila tukang ramal atau dukun akan beraksi, maka mereka menggunakan kemenyan, kini sudah berganti ke HP. Tinggal kirim SMS kepada sang dukun, maka jodoh, rejeki, dan masa depan sudah terketik di HP-mu. Padahal itu semua adalah rahasia Ilahi yang tak seorang pun tahu. Demikianlah, sekali dukun tetap dukun; mereka menipu manusia dan menjual agamanya dengan harga murah. Senjata mereka dari dahulu sampai sekarang tetap sama untuk mengelabui manusia. “Kita hanya berusaha, yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa…” ujar mereka. Tapi kenapa kalian merampas hak Allah dalam menentukan nasib dan urusan manusia? Padahal itu hanya mampu dilakukan oleh Allah.Di sana pula ada kedurhakaan yang dilakukan lewat HP. Sebagian orang telah berani berbicara mesra via HP dan SMS dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Mereka meremehkan maksiat yang mengubur rasa malu dan rasa cemburu. Mereka menempuh jalan ini untuk menyebarkan kekejian. Jalan yang diperindah oleh setan, tetapi diancam oleh Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mulanya dari telepon, berbicara biasa saja, lalu kata-kata jorok. Kemudian berakhir dengan menodai kehormatan keluarga, mencoreng muka dan menyengsarakan jiwa segenap keluarga.Bila dampak negatif itu menimpa orang-orang dewasa, bagaimana dengan anak-anak yang masih belum sempurna akalnya?Maka bersikap bijaklah wahai para orang tua dalam memberikan fasilitas HP terhadap anak. Bila memang diperlukan sekali, maka tetap dengan pengawasan ketat. Jika tidak diperlukan maka sebaiknya tidak perlu anak-anak kita dibekali HP. Apalagi kalau niatnya hanya untuk meningkatkan gengsi dan mengikuti trend! Sungguh berat kelak pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Belum lagi dampak buruknya sekarang ini. Seperti gangguan tidur, keterlambatan bicara, sikap pasif, efek buruk bagi perkembangan fungsi mata, sulit konsentrasi, radiasi dan kecanduan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 24 Dzulhijjah 1437 / 26 September 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 104 AKIBAT DOA DAN DZIKIR TIDAK SESUAI TUNTUNAN Bagian 3Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 80 EFEK BURUK LINGKUNGAN RUSAK Bagian 6 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next