Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63HINDARI MENCELA ANAK*Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam riwayat lain disebutkan:“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.Tegur dan jelaskan alasanBukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 62 (BERIKAN BINGKISAN DAN HADIAH)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK*Mainan dan permainan sangat penting dalam dunia anak-anak. Bahkan dapat dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mainan dan permainan memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi mereka. Mainan juga bisa memperluas pandangan dan pengetahuan. Sejatinya banyak sekali pelajaran yang mereka peroleh dari permainan meski kelihatannya sepele.Jadi, keliru besar jika orang tua memisahkan anak dengan dunia bermain. Atau masih ada sebagian orang tua yang mengabaikan arti mainan bagi anak dan tidak merasa perlu untuk bermain dengan anak. Ingatlah, anak-anak itu bukan miniatur orang dewasa. Mereka memiliki dunia sendiri yang seringkali berbeda dengan dunia orang dewasa. Hal ini sangat penting untuk dipahami para orang tua dan para pendidik, sehingga terciptalah hubungan yang hangat, komunikasi yang lancar dan suasana belajar yang menyenangkan.Sebenarnya bimbingan yang agung ini telah diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Beliau adalah teladan bagi segenap pendidik yang menginginkan kesuksesan di dunia dan akhirat.Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar, dan pada rak milik Aisyah terdapat tirai. Tiba-tiba angin berhembus hingga menyingkap ujung tirai itu, maka terlihatlah boneka-boneka milik Aisyah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apa itu wahai Aisyah?”. Ia menjawab, “Bonekaku”. Nabi melihat di antara boneka itu terdapat boneka kuda dari kain perca yang memiliki sepasang sayap. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya lagi, “Boneka apa itu yang ada di tengah?”. Aisyah menjawab, “Boneka kuda”. Nabi berkata, “Apa yang ada padanya?”. Aisyah menjawab, “Sepasang sayap”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Kuda memiliki sepasang sayap?”. Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memiliki kuda yang bersayap?”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun tertawa (lebar) saat mendengarnya, hingga aku bisa melihat gigi geraham beliau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Catatan pentingHanya saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam masalah bermain ini. Di antaranya:Pertama: Memilih permainan yang minim dampak negatifnyaDi zaman ini banyak sekali permainan dan mainan yang lebih dominan efek buruknya dibanding efek positifnya. Contohnya: Play Stasion, game online dan yang semisalnya. Permainan seperti ini tentunya harus dihindari. Berilah alternatif permainan lain yang bukan hanya menyenangkan, namun juga menyehatkan dan tidak menguras kantong orang tua.Kedua: Ada saatnya bermain dan ada saatnya belajarTidak benar bila anak dibiarkan bermain sepanjang hari. Namun anak harus dibiasakan membagi waktu dengan baik. Kejenuhan, ketidaktertarikan belajar, tidak bisa diam dan ketidakfokusan belajar pada anak kecil sangat mungkin terjadi. Kita justru berusaha mengajarkan kepada mereka, bagaimana melewati semua itu menuju keseriusan belajar sesungguhnya. Kita perlu memberikan kejelasan kapan saatnya serius belajar, kapan saatnya mereka sedang bermain.Contoh sederhana: Ketika jam bermain belum ada aktifitas belajar, anak dibiarkan melakukan aktifitas bermain. Bahkan akan baik sekali bila orang tua ikut terlibat dalam permainan mereka. Namun, saat mereka memulai sebuah pembelajaran, maka saat itu keseriusan ditunjukkan oleh orang tua sekaligus terus diingatkan pada anak. Di setiap pembelajaran ada waktu kosong perpindahan dari pembelajaran satu ke pembelajaran lain. Di situ pula anak bisa mengekspresikan keinginan bermainnya beberapa saat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Shafar 1437 / 30 November 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 143-144) dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)Next Islam Bukan Prasmanan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Islam Bukan Prasmanan

ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Islam Bukan Prasmanan

ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANANOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPrasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,[arabic-font]أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾[/arabic-font]Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 64 (MAINAN DAN PERMAINAN UNTUK ANAK)Next Ndak Ada Ruginya! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Ndak Ada Ruginya!

NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Ndak Ada Ruginya!

NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


NDAK ADA RUGINYA!Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAMungkin banyak di antara kita pernah lama berdoa meminta sesuatu kepada Allah, namun belum juga dikabulkan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, setiap kita mungkin sikapnya berbeda-beda. Orang pertama pantang menyerah, tetap saja berdoa, hingga dikabulkan Allah atau kedahuluan dijemput ajal. Orang kedua memilih untuk putus asa, lalu tidak lagi berdoa. Dan orang ketiga mulai bersu’uzhan kepada Allah. Ia berkata, “Kayaknya Allah sudah tidak peduli lagi dengan diriku!”.Orang kedua dan ketiga bisa bersikap demikian, kemungkinan besar karena mereka belum begitu mengenal siapa Allah. Kurang menyadari luasnya rahmat dan karunia Allah. Padahal dalam kondisi apapun, orang yang berdoa itu tidak akan rugi. Entah doanya dikabulkan atau tidak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]“مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا” قَالُوا: “إِذًا نُكْثِرُ”، قَالَ: “اللهُ أَكْثَرُ”[/arabic-font]“Setiap muslim yang berdoa dan doanya tidak bermuatan dosa ataupun memutus silaturrahim; pasti Allah akan karuniakan padanya salah satu dari tiga hal.Akan segera dikabulkan doanya. Atau;Akan ditabung sebagai pahala di akhirat. Atau;Akan dihindarkan dari marabahaya yang sepadan dengan isi doanya.Para sahabatpun berkomentar, “Jika demikian, kami akan perbanyak berdoa!”. Beliau menimpali, “Allah itu lebih banyak lagi (karunianya)”. HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany. Jadi, setiap doa yang benar yang dipanjatkan oleh seorang mukmin itu pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebab itulah isi janji-Nya. Tidak mungkin Dia ingkar janji. Dalam sebuah ayat al-Qur’an telah ditegaskan,[arabic-font]“وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ”[/arabic-font]Artinya: “Rabb kalian telah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Aku kabulkan”. QS. Ghafir (40): 60.Hanya saja, proses pengabulan doa masing-masing orang itu tidak sama.Ada yang langsung dikabulkan permintaannya, mirip seperti isi doanya.Ada yang dikabulkan permintaannya sesuai dengan apa yang ia minta, namun setelah waktu yang cukup lama. Karena suatu hikmah yang dikehendaki Allah ta’ala.Ada yang dikabulkan doanya, namun sedikit berbeda dengan isi permintaannya. Sebab Allah mengetahui, bahwa apa yang diminta orang tersebut kurang baik untuk dirinya.Ada pula yang belum dikabulkan doanya di dunia. Sampai ia meninggal, apa yang ia minta tidak juga dikabulkan Allah ta’ala. Namun ternyata Allah menjadikan doa-doanya itu sebagai pahala yang akan ia nikmati kelak di hari kiamat.Jadi, orang yang berdoa, apapun kondisi yang dialaminya, tidak akan pernah merugi. Jadi mengapa ada di antara kita yang masih bermalas-malasan untuk berdoa?@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Dzulhijjah 1436 / 1 Oktober 2015 Post navigation Previous Islam Bukan PrasmananNext Mainan Itu Bernama Dunia Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Mainan Itu Bernama Dunia

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Mainan Itu Bernama Dunia

Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Setiap dari kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak. Masa yang begitu indah sekaligus menggelikan. Barangkali ada di antara kita yang dahulu saat masih kecil pernah kehilangan mainan kesayangan. Masih ingat bagaimana respon kita saat itu? Menangis berjam-jam, bahkan mungkin sampai berhari-hari? Sekarang setelah dewasa, bila teringat perilaku itu, tentu kita akan tertawa geli, “Koq bisa begitu ya efeknya? Padahal kan cuma mainan biasa yang remeh?!”. Kita bisa berkomentar seperti itu saat ini, sebab kita sudah bertambah usia dan semakin matang dalam berpikir.Ketahuilah bahwa sejatinya pandangan seseorang terhadap dunia, juga akan terpengaruh dengan semakin bertambah ‘kedewasaan’ dia dalam beriman. Semakin tebal imannya, maka akan semakin sadar betapa remehnya dunia. Sebaliknya bila kita masih mendewakan dunia, berarti itu pertanda iman kita masih ‘kekanak-kanakan’.[1]Allah ta’ala menggambarkan hakikat dunia dalam firman-Nya,[arabic-font]“وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”[/arabic-font]Artinya: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?”. QS. Al-An’am (6): 32.Aplikasi TeoriBegitulah kira-kira teori orang yang beriman dalam memandang hakikat dunia. Dunia hanyalah permainan. Penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari antara lain demikian;Pertama: Jangan terlalu sedih manakala kehilangan duniaIlustrasi yang kami paparkan di awal makalah diharapkan bisa memperjelas poin ini. Saat kita kehilangan barang, ditinggal orang yang kita cintai, gagal dalam berbisnis dan yang semisal itu, janganlah mau berlarut-larut dalam kesedihan. Introspeksi mengoreksi kesalahan, bagus. Tapi berlama-lama dalam kegalauan, jangan! Sebab apapun yang kita miliki di dunia ini, merupakan titipan dari Allah. Cepat atau lambat pasti akan diambil oleh-Nya.Kedua: Jangan terlalaikan dari kehidupan hakiki (akhirat)Permainan kita di dunia ini janganlah membuat kita terbuai, sehingga melupakan rumah kita yang sebenarnya, yakni di akhirat. Kita di dunia ini hanyalah “mampir ngombe” begitu kata orang Jawa.Hadits sahih berikut insyaAllah membantu kita untuk memahami konsep barusan.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bertutur,[arabic-font]“نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: “يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً”، فَقَالَ: “مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.[/arabic-font]“Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidur di atas tikar. Saat beliau bangun, di tubuhnya membekas garis-garis tikar. Maka kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila kami membuatkan kasur untukmu?”. Beliau menjawab, “Apa kepentinganku di dunia ini? Aku di dunia ini hanyalah bagaikan seorang musafir yang bernaung di bawah sebuah pohon. Setelah itu ia pergi meninggalkannya”. HR. Tirmidzy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.Semoga makalah singkat ini membantu kita untuk memahami hakikat dunia…@ Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Jumadal Ula 1435 / 13 Maret 2015 [1] Cermati: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 216). Post navigation Previous Ndak Ada Ruginya!Next Nasi Telah Menjadi Bubur Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Nasi Telah Menjadi Bubur

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Nasi Telah Menjadi Bubur

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Ada pepatah Melayu yang berkata “Nasi sudah menjadi bubur”, yang artinya sudah kepalang basah, tidak dapat diperbaiki lagi. Ibarat nasi, saat ditanak ternyata kebanyakan air, akhirnya menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan jadi nasi lagi.Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi. Menyesalinyapun tidak ada gunanya lagi, karena memang waktu tidak bisa diputar kembali ke belakang.Namun, janganlah merasa sedih dengan nasi yang jadi bubur, jadikan saja bubur ayam! Tinggal tambahkan suwiran daging ayam, daun bawang cincang, seledri cincang, potongan cakue (apalagi yang goreng garing), kacang goreng, kecap asin, sambal, kuah kuning dan kerupuk udang plus emping… Hmmm dengan aneka lauk lainnya, justru menjadi makin sedap sehingga mengundang orang untuk buru-buru memakannya. Jadi pepatah Melayu ini masihlah pas, namun ditambah saja: Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan saja bubur itu bubur ayam yang enak!!.Penyesalan TotalNamun, di sana ada dua macam penyesalan yang tidak mungkin lagi diperbaiki.Pertama: Penyesalan di waktu ajal tiba. Di antara contohnya apa yang termaktub dalam firman Allâh ‘azza wa jalla,[arabic-font]وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِين[/arabic-font] Artinya: “Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak mengundur (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih”. QS. Al-Munâfiqûn (63): 10.Kedua: Penyesalan di hari kiamat saat azab tiba di depan mata.[arabic-font]وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ[/arabic-font]Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”. QS. Asy-Syûrâ (42): 44.Permohonan Ahli NerakaSetelah menyesali perbuatan mereka, apa gerangan permohonan para ahli neraka?Mereka meminta agar dikembalikan ke dunia supaya bisa melakukan amal salih.“Mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal salih, berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. QS. Fâthir (35): 37.Mereka mengharapkan ada yang mau memberi syafa’at (pertolongan) bagi mereka agar selamat dari siksa Allâh ‘azza wa jalla.[arabic-font]فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا [/arabic-font]Artinya: “Adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?”. QS. Al-A’râf (7): 53.Apakah Jawaban Allah?Allah menjawab permohonan mereka dengan firman-Nya,[arabic-font]أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ[/arabic-font]“Bukankah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim”. QS. Fâthir (35): 37.Bahkan dalam ayat lain Allah memerintahkan mereka untuk tutup mulut![arabic-font]قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ[/arabic-font]Artinya: “Allâh berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku”. QS. Al-Mu`minûn (23): 108.Mari kita manfaatkan usia yang terbatas ini untuk beramal salih sebaik-baiknya. Semoga kelak kita terhindar dari penyesalan yang tiada guna…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 R. Tsani 1436 / 6 Februari 2015* Diringkas dari http://sasteralapar.blogspot.com/2012/08/catatan-sasteralapar-nasi-sudah-menjadi.html dan http://almanhaj.or.id/content/3540/slash/0/penyesalan-yang-tiada-berguna/ Post navigation Previous Mainan Itu Bernama DuniaNext Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a

Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Perbedaan Antara Dzikir dan Do’a

Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan-pertemuan yang lalu, kita telah membahas tentang bab dzikir. InsyaAllah mulai saat ini kita akan membahas bab doa. Namun sebelum itu, akan lebih baik bila kita mengawalinya dengan menjelaskan perbedaan antara dzikir dan doa.Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Sedangkan doa berarti meminta. Namun, antara dzikir dan doa terdapat kaitan yang amat erat. Oleh karena itu terkadang dzikir pun dinamakan doa. Begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ”[/arabic-font]“Doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah”. HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.Sebagaimana telah maklum bahwa hamdalah adalah dzikir. Namun lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menamakannya sebagai doa, bahkan doa yang paling afdhal.Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus.Antara Doa dan Dzikir, Mana Yang Lebih Afdhal?Kedua amalan tersebut, baik doa maupun dzikir sama-sama amalan yang utama. Hanya saja para ulama menjelaskan bahwa dzikir lebih utama dibandingkan doa. Di antara alasan mereka:Pertama: Dzikir didahulukan sebelum doa.Lihatlah dalam berdoa seorang hamba disunnahkan untuk mengawalinya dengan pujian kepada Allah. Contohnya adalah dalam surat al-Fatihah. Dari ayat pertama hingga kelima berisikan pujian, baru di ayat keenam terdapat doa.Kedua: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”أَفْضَلُ الْكَلَامِ بَعْدَ الْقُرْآنِ – وَهُو مِنَ الْقُرْآنِ – أَرْبَعٌ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ”.[/arabic-font]“Kalimat yang paling afdhal sesudah al-Qur’an ada empat. Dan keempatnya adalah bagian dari al-Qur’an. Tidak ada masalah, engkau memulainya dari manapun. Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahuakbar”. HR. Ahmad dari Samurah bin Jundub radhiyallahu’anhu. Al-Arna’uth menilai sanad hadits ini sahih.Ketiga: Yang berdzikir hanyalah hamba yang beriman. Sedangkan yang berdoa bukan hanya mukmin, orang kafir pun juga berdoa.Catatan:Keterangan di atas adalah mengenai hukum asal. Namun terkadang, dalam beberapa kondisi, bisa jadi doa menjadi lebih afdhal dibanding dzikir. Misalnya saat seorang hamba kepepet kebutuhan yang amat mendesak, lalu ia berdoa dengan merintih, penuh kerendahan hati dan kekhusyuan. Maka dalam kondisi seperti ini, bisa jadi doa lebih afdhal. Sebab saat itu lebih khusyu’ dalam berdoa dibanding bila ia berdzikir. Wallahu a’lam bisshawab…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1436 / 26 Januari 2015 Post navigation Previous Nasi Telah Menjadi BuburNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, supaya dikabulkan, doa harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan agama. Berupa ikhlas lillahi ta’ala dan meneladani tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika itu tidak terpenuhi maka doa akan terhalang untuk dikabulkan Allah ta’ala.Para ulama kita menjelaskan bahwa penghalang terkabulnya doa itu, secara garis besar kembali kepada dua faktor. Pertama: faktor dalam diri orang yang berdoa. Kedua: faktor dalam doanya itu sendiri. Misal faktor penghalang dalam doa, bilamana redaksi doa tersebut memuat permohonan yang dilarang agama. Contohnya: berdoa agar bisa diberi harta untuk berjudi. Adapun contoh faktor penghalang dalam diri orang yang berdoa: orang tersebut biasa mengkonsumsi hal-hal yang haram atau tidak yakin dalam berdoa.Berikut rincian contoh penghalang doa:Pertama: Tidak yakin dan tidak konsentrasi dalam berdoaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,[arabic-font]ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ[/arabic-font]“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.Kedua: Makanan, minuman dan pakaian yang haramDalam sebuah hadits sahih diterangkan,[arabic-font]” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ “[/arabic-font]“Wahai para manusia, sesungguhnya Allah Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kaum mukminin seperti perintah-Nya kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal salihlah. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”. QS. Al-Mu’minun (23): 51. Dia juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 172. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menceritakan tentang seseorang yang telah lama bepergian, kusut masai, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Wahai Rabbi, wahai Rabbi”. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakiannya haram dan diberi makan yang haram. Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Rabi’ul Awwal 1437 / 14 Desember 2015 Post navigation Previous Perbedaan Antara Dzikir dan Do’aNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2)

Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Tergesa-gesaMaksudnya adalah seorang hamba gampang putus asa dalam berdoa. Dalam arti ia merasa sudah berkali-kali berdoa tapi belum juga dikabulkan, akhirnya ia berhenti berdoa. Inilah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Sebagaimana dijelaskan dalam hadits sahih berikut ini:[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah bercerita, “Aku belajar tentang kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika aku pergi ke masjid, aku mendengar ada seorang ibu di dalam rumahnya sedang memukul anaknya. Lalu anaknya berteriak, membuka pintu dan berlari. Maka ibu itu menutup pintu rumah. Al-Fudhail melanjutkan kisahnya, “Tatkala aku pulang dari masjid, aku menjumpai anak itu setelah menangis, tertidur kecapean di ambang pintu. Hal itu membuat iba ibunya dan melunakkan hati beliau. Maka sang ibu pun membukakan pintu untuknya”. Serta merta menangislah al-Fudhail hingga membasahi jenggotnya. Beliau berkata, “Subhanallah! Jikalau seorang hamba bersabar di hadapan pintu Allah ‘azza wa jalla; niscaya Dia akan membukakan pintu untuknya”.Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu menasehatkan,[arabic-font]”مَنْ يُكْثِرْ قَرْعَ الْبَابِ، بَابِ الْمَلِكِ، يُوشِك أَنْ يُفْتَحَ لَهُ، وَمَنْ يُكْثِرِ الدُّعَاءَ يُوشِك أَنْ يُسْتَجَابَ لَهُ”[/arabic-font]“Barang siapa sering mengetuk pintu; pintu Allah, niscaya segera akan dibukakan untuknya. Barang siapa sering berdoa, niscaya akan segera dikabulkan”. Diriwayatkan dalam Jami’ Ma’mar bin Rasyid.Keempat: Doanya bermuatan sesuatu yang terlarangRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ”[/arabic-font]“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan; selama ia tidak meminta suatu dosa atau meminta pemutusan silaturrahim”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Hadits ini mengajarkan agar tidak mengisi doa-doa kita dengan sesuatu yang buruk. Yang membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Rabi’ul Awwal 1437 / 28 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2)

Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Tergesa-gesaMaksudnya adalah seorang hamba gampang putus asa dalam berdoa. Dalam arti ia merasa sudah berkali-kali berdoa tapi belum juga dikabulkan, akhirnya ia berhenti berdoa. Inilah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Sebagaimana dijelaskan dalam hadits sahih berikut ini:[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah bercerita, “Aku belajar tentang kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika aku pergi ke masjid, aku mendengar ada seorang ibu di dalam rumahnya sedang memukul anaknya. Lalu anaknya berteriak, membuka pintu dan berlari. Maka ibu itu menutup pintu rumah. Al-Fudhail melanjutkan kisahnya, “Tatkala aku pulang dari masjid, aku menjumpai anak itu setelah menangis, tertidur kecapean di ambang pintu. Hal itu membuat iba ibunya dan melunakkan hati beliau. Maka sang ibu pun membukakan pintu untuknya”. Serta merta menangislah al-Fudhail hingga membasahi jenggotnya. Beliau berkata, “Subhanallah! Jikalau seorang hamba bersabar di hadapan pintu Allah ‘azza wa jalla; niscaya Dia akan membukakan pintu untuknya”.Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu menasehatkan,[arabic-font]”مَنْ يُكْثِرْ قَرْعَ الْبَابِ، بَابِ الْمَلِكِ، يُوشِك أَنْ يُفْتَحَ لَهُ، وَمَنْ يُكْثِرِ الدُّعَاءَ يُوشِك أَنْ يُسْتَجَابَ لَهُ”[/arabic-font]“Barang siapa sering mengetuk pintu; pintu Allah, niscaya segera akan dibukakan untuknya. Barang siapa sering berdoa, niscaya akan segera dikabulkan”. Diriwayatkan dalam Jami’ Ma’mar bin Rasyid.Keempat: Doanya bermuatan sesuatu yang terlarangRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ”[/arabic-font]“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan; selama ia tidak meminta suatu dosa atau meminta pemutusan silaturrahim”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Hadits ini mengajarkan agar tidak mengisi doa-doa kita dengan sesuatu yang buruk. Yang membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Rabi’ul Awwal 1437 / 28 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Tergesa-gesaMaksudnya adalah seorang hamba gampang putus asa dalam berdoa. Dalam arti ia merasa sudah berkali-kali berdoa tapi belum juga dikabulkan, akhirnya ia berhenti berdoa. Inilah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Sebagaimana dijelaskan dalam hadits sahih berikut ini:[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah bercerita, “Aku belajar tentang kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika aku pergi ke masjid, aku mendengar ada seorang ibu di dalam rumahnya sedang memukul anaknya. Lalu anaknya berteriak, membuka pintu dan berlari. Maka ibu itu menutup pintu rumah. Al-Fudhail melanjutkan kisahnya, “Tatkala aku pulang dari masjid, aku menjumpai anak itu setelah menangis, tertidur kecapean di ambang pintu. Hal itu membuat iba ibunya dan melunakkan hati beliau. Maka sang ibu pun membukakan pintu untuknya”. Serta merta menangislah al-Fudhail hingga membasahi jenggotnya. Beliau berkata, “Subhanallah! Jikalau seorang hamba bersabar di hadapan pintu Allah ‘azza wa jalla; niscaya Dia akan membukakan pintu untuknya”.Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu menasehatkan,[arabic-font]”مَنْ يُكْثِرْ قَرْعَ الْبَابِ، بَابِ الْمَلِكِ، يُوشِك أَنْ يُفْتَحَ لَهُ، وَمَنْ يُكْثِرِ الدُّعَاءَ يُوشِك أَنْ يُسْتَجَابَ لَهُ”[/arabic-font]“Barang siapa sering mengetuk pintu; pintu Allah, niscaya segera akan dibukakan untuknya. Barang siapa sering berdoa, niscaya akan segera dikabulkan”. Diriwayatkan dalam Jami’ Ma’mar bin Rasyid.Keempat: Doanya bermuatan sesuatu yang terlarangRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ”[/arabic-font]“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan; selama ia tidak meminta suatu dosa atau meminta pemutusan silaturrahim”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Hadits ini mengajarkan agar tidak mengisi doa-doa kita dengan sesuatu yang buruk. Yang membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Rabi’ul Awwal 1437 / 28 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Ketiga: Tergesa-gesaMaksudnya adalah seorang hamba gampang putus asa dalam berdoa. Dalam arti ia merasa sudah berkali-kali berdoa tapi belum juga dikabulkan, akhirnya ia berhenti berdoa. Inilah salah satu penghalang terbesar terkabulnya doa.Sebagaimana dijelaskan dalam hadits sahih berikut ini:[arabic-font]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي”[/arabic-font]Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan”. HR. Bukhari dan Muslim.Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah bercerita, “Aku belajar tentang kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika aku pergi ke masjid, aku mendengar ada seorang ibu di dalam rumahnya sedang memukul anaknya. Lalu anaknya berteriak, membuka pintu dan berlari. Maka ibu itu menutup pintu rumah. Al-Fudhail melanjutkan kisahnya, “Tatkala aku pulang dari masjid, aku menjumpai anak itu setelah menangis, tertidur kecapean di ambang pintu. Hal itu membuat iba ibunya dan melunakkan hati beliau. Maka sang ibu pun membukakan pintu untuknya”. Serta merta menangislah al-Fudhail hingga membasahi jenggotnya. Beliau berkata, “Subhanallah! Jikalau seorang hamba bersabar di hadapan pintu Allah ‘azza wa jalla; niscaya Dia akan membukakan pintu untuknya”.Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu menasehatkan,[arabic-font]”مَنْ يُكْثِرْ قَرْعَ الْبَابِ، بَابِ الْمَلِكِ، يُوشِك أَنْ يُفْتَحَ لَهُ، وَمَنْ يُكْثِرِ الدُّعَاءَ يُوشِك أَنْ يُسْتَجَابَ لَهُ”[/arabic-font]“Barang siapa sering mengetuk pintu; pintu Allah, niscaya segera akan dibukakan untuknya. Barang siapa sering berdoa, niscaya akan segera dikabulkan”. Diriwayatkan dalam Jami’ Ma’mar bin Rasyid.Keempat: Doanya bermuatan sesuatu yang terlarangRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,[arabic-font]”لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ”[/arabic-font]“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan; selama ia tidak meminta suatu dosa atau meminta pemutusan silaturrahim”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Hadits ini mengajarkan agar tidak mengisi doa-doa kita dengan sesuatu yang buruk. Yang membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Rabi’ul Awwal 1437 / 28 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 88 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1)

Setiap orang tua tentu mengharapkan putra-putrinya bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Sayangnya, banyak orang tua yang menghubungkan arti kecerdasan hanya dengan prestasi akademis di sekolah. Padahal tidaklah demikian adanya. Kecerdasan juga mencakup aspek yang lebih luas lagi, meliputi kecerdasan otak, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan mental.Mungkin pembahasan tentang kecerdasan otak, emosional dan spiritual sudah cukup sering kita dengar. Tapi, bagaimana dengan istilah kecerdasan mental? Sebagian besar orang tua mungkin masih asing dengan hal itu dan kurang memahaminya. Padahal, kecerdasan tersebut termasuk hal yang juga penting untuk dimiliki setiap anak. Orang tua perlu mengetahuinya agar bisa memupuk dan mengasah kecerdasan tersebut dalam diri anak-anaknya. Semoga artikel ini sedikit memberikan informasi mengenai kecerdasan mental dan bagaimana cara mengasahnya dalam diri anak.Kecerdasan mental adalah kecerdasan seseorang dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Kecerdasan ini juga bisa dikaitkan dengan tingkat kematangan dan ketangguhan mental yang dimiliki oleh seseorang. Mereka yang mentalnya kuat, tangguh, gigih tahan banting dan pantang menyerah dikatakan memiliki kecerdasan mental yang tinggi. Sementara itu, mereka yang mudah menyerah, banyak mengeluh, cengeng, labil, semangat dan daya juangnya kecil; bisa dikatakan memiliki tingkat kecerdasan mental yang rendah.Kecerdasan mental tidak muncul serta merta dalam diri seseorang, melainkan harus ditanamkan dan mulai diasah sejak kecil. Orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anak-anaknya, karena kecerdasan mental berperan cukup besar dalam menentukan keberhasilan seseorang.Untuk mencerdaskan mental anak, maka orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anaknya. Bagaimana caranya mengasahnya?1. Bangun kecerdasan mental sejak diniBangun dan pupuklah kecerdasan mental pada diri anak sejak dini. Karena, kecil kemungkinan seseorang bisa memiliki kecerdasan ini secara tiba-tiba tanpa ada suatu proses yang sudah menempanya terlebih dahulu. Meskipun demikian, orang tua tentu tidak boleh mengharapkan hasil yang instan dari anak. Sesuaikan dengan kondisi, usia, kesiapan dan kemampuan masing-masing anak.2. Tegas dan disiplin dalam peraturan, namun tidak harus keras dan kasarSebagian orang tua mungkin berpendapat bahwa agar anak memiliki mental yang kuat dan tahan banting, maka anak perlu dididik dengan aturan yang super keras, dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat. Tindakan-tindakan tersebut bisa jadi justru tidak memberikan dampak yang positif pada anak. Tetapi sebaliknya, bisa memberikan pengaruh yang tidak baik pada anak. Mendidik anak terlalu keras dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat bukannya akan mengasah kecerdasan mental anak, melainkan tanpa disadari orang tua mengajari anak untuk terbiasa bersikap keras, kaku dan otoriter. Lalu, bagaimana sebaiknya? Terapkan aturan dan disiplin yang cukup tinggi dengan konsisten dan tegas, bukan dengan cara yang keras dan kasar.3. Latih anak agar bisa memilih dan menentukan sendiriAjari anak untuk berani bersikap dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Misalnya dalam memilih mainan, tuntun anak agar bisa menentukan satu mainan saja yang memang dibutuhkannya. Ajari pula anak untuk bisa bertanggung jawab atas pilihannya itu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rabi’ul Awwal 1437 / 21 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1)

Setiap orang tua tentu mengharapkan putra-putrinya bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Sayangnya, banyak orang tua yang menghubungkan arti kecerdasan hanya dengan prestasi akademis di sekolah. Padahal tidaklah demikian adanya. Kecerdasan juga mencakup aspek yang lebih luas lagi, meliputi kecerdasan otak, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan mental.Mungkin pembahasan tentang kecerdasan otak, emosional dan spiritual sudah cukup sering kita dengar. Tapi, bagaimana dengan istilah kecerdasan mental? Sebagian besar orang tua mungkin masih asing dengan hal itu dan kurang memahaminya. Padahal, kecerdasan tersebut termasuk hal yang juga penting untuk dimiliki setiap anak. Orang tua perlu mengetahuinya agar bisa memupuk dan mengasah kecerdasan tersebut dalam diri anak-anaknya. Semoga artikel ini sedikit memberikan informasi mengenai kecerdasan mental dan bagaimana cara mengasahnya dalam diri anak.Kecerdasan mental adalah kecerdasan seseorang dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Kecerdasan ini juga bisa dikaitkan dengan tingkat kematangan dan ketangguhan mental yang dimiliki oleh seseorang. Mereka yang mentalnya kuat, tangguh, gigih tahan banting dan pantang menyerah dikatakan memiliki kecerdasan mental yang tinggi. Sementara itu, mereka yang mudah menyerah, banyak mengeluh, cengeng, labil, semangat dan daya juangnya kecil; bisa dikatakan memiliki tingkat kecerdasan mental yang rendah.Kecerdasan mental tidak muncul serta merta dalam diri seseorang, melainkan harus ditanamkan dan mulai diasah sejak kecil. Orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anak-anaknya, karena kecerdasan mental berperan cukup besar dalam menentukan keberhasilan seseorang.Untuk mencerdaskan mental anak, maka orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anaknya. Bagaimana caranya mengasahnya?1. Bangun kecerdasan mental sejak diniBangun dan pupuklah kecerdasan mental pada diri anak sejak dini. Karena, kecil kemungkinan seseorang bisa memiliki kecerdasan ini secara tiba-tiba tanpa ada suatu proses yang sudah menempanya terlebih dahulu. Meskipun demikian, orang tua tentu tidak boleh mengharapkan hasil yang instan dari anak. Sesuaikan dengan kondisi, usia, kesiapan dan kemampuan masing-masing anak.2. Tegas dan disiplin dalam peraturan, namun tidak harus keras dan kasarSebagian orang tua mungkin berpendapat bahwa agar anak memiliki mental yang kuat dan tahan banting, maka anak perlu dididik dengan aturan yang super keras, dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat. Tindakan-tindakan tersebut bisa jadi justru tidak memberikan dampak yang positif pada anak. Tetapi sebaliknya, bisa memberikan pengaruh yang tidak baik pada anak. Mendidik anak terlalu keras dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat bukannya akan mengasah kecerdasan mental anak, melainkan tanpa disadari orang tua mengajari anak untuk terbiasa bersikap keras, kaku dan otoriter. Lalu, bagaimana sebaiknya? Terapkan aturan dan disiplin yang cukup tinggi dengan konsisten dan tegas, bukan dengan cara yang keras dan kasar.3. Latih anak agar bisa memilih dan menentukan sendiriAjari anak untuk berani bersikap dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Misalnya dalam memilih mainan, tuntun anak agar bisa menentukan satu mainan saja yang memang dibutuhkannya. Ajari pula anak untuk bisa bertanggung jawab atas pilihannya itu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rabi’ul Awwal 1437 / 21 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Setiap orang tua tentu mengharapkan putra-putrinya bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Sayangnya, banyak orang tua yang menghubungkan arti kecerdasan hanya dengan prestasi akademis di sekolah. Padahal tidaklah demikian adanya. Kecerdasan juga mencakup aspek yang lebih luas lagi, meliputi kecerdasan otak, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan mental.Mungkin pembahasan tentang kecerdasan otak, emosional dan spiritual sudah cukup sering kita dengar. Tapi, bagaimana dengan istilah kecerdasan mental? Sebagian besar orang tua mungkin masih asing dengan hal itu dan kurang memahaminya. Padahal, kecerdasan tersebut termasuk hal yang juga penting untuk dimiliki setiap anak. Orang tua perlu mengetahuinya agar bisa memupuk dan mengasah kecerdasan tersebut dalam diri anak-anaknya. Semoga artikel ini sedikit memberikan informasi mengenai kecerdasan mental dan bagaimana cara mengasahnya dalam diri anak.Kecerdasan mental adalah kecerdasan seseorang dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Kecerdasan ini juga bisa dikaitkan dengan tingkat kematangan dan ketangguhan mental yang dimiliki oleh seseorang. Mereka yang mentalnya kuat, tangguh, gigih tahan banting dan pantang menyerah dikatakan memiliki kecerdasan mental yang tinggi. Sementara itu, mereka yang mudah menyerah, banyak mengeluh, cengeng, labil, semangat dan daya juangnya kecil; bisa dikatakan memiliki tingkat kecerdasan mental yang rendah.Kecerdasan mental tidak muncul serta merta dalam diri seseorang, melainkan harus ditanamkan dan mulai diasah sejak kecil. Orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anak-anaknya, karena kecerdasan mental berperan cukup besar dalam menentukan keberhasilan seseorang.Untuk mencerdaskan mental anak, maka orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anaknya. Bagaimana caranya mengasahnya?1. Bangun kecerdasan mental sejak diniBangun dan pupuklah kecerdasan mental pada diri anak sejak dini. Karena, kecil kemungkinan seseorang bisa memiliki kecerdasan ini secara tiba-tiba tanpa ada suatu proses yang sudah menempanya terlebih dahulu. Meskipun demikian, orang tua tentu tidak boleh mengharapkan hasil yang instan dari anak. Sesuaikan dengan kondisi, usia, kesiapan dan kemampuan masing-masing anak.2. Tegas dan disiplin dalam peraturan, namun tidak harus keras dan kasarSebagian orang tua mungkin berpendapat bahwa agar anak memiliki mental yang kuat dan tahan banting, maka anak perlu dididik dengan aturan yang super keras, dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat. Tindakan-tindakan tersebut bisa jadi justru tidak memberikan dampak yang positif pada anak. Tetapi sebaliknya, bisa memberikan pengaruh yang tidak baik pada anak. Mendidik anak terlalu keras dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat bukannya akan mengasah kecerdasan mental anak, melainkan tanpa disadari orang tua mengajari anak untuk terbiasa bersikap keras, kaku dan otoriter. Lalu, bagaimana sebaiknya? Terapkan aturan dan disiplin yang cukup tinggi dengan konsisten dan tegas, bukan dengan cara yang keras dan kasar.3. Latih anak agar bisa memilih dan menentukan sendiriAjari anak untuk berani bersikap dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Misalnya dalam memilih mainan, tuntun anak agar bisa menentukan satu mainan saja yang memang dibutuhkannya. Ajari pula anak untuk bisa bertanggung jawab atas pilihannya itu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rabi’ul Awwal 1437 / 21 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Setiap orang tua tentu mengharapkan putra-putrinya bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Sayangnya, banyak orang tua yang menghubungkan arti kecerdasan hanya dengan prestasi akademis di sekolah. Padahal tidaklah demikian adanya. Kecerdasan juga mencakup aspek yang lebih luas lagi, meliputi kecerdasan otak, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan mental.Mungkin pembahasan tentang kecerdasan otak, emosional dan spiritual sudah cukup sering kita dengar. Tapi, bagaimana dengan istilah kecerdasan mental? Sebagian besar orang tua mungkin masih asing dengan hal itu dan kurang memahaminya. Padahal, kecerdasan tersebut termasuk hal yang juga penting untuk dimiliki setiap anak. Orang tua perlu mengetahuinya agar bisa memupuk dan mengasah kecerdasan tersebut dalam diri anak-anaknya. Semoga artikel ini sedikit memberikan informasi mengenai kecerdasan mental dan bagaimana cara mengasahnya dalam diri anak.Kecerdasan mental adalah kecerdasan seseorang dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Kecerdasan ini juga bisa dikaitkan dengan tingkat kematangan dan ketangguhan mental yang dimiliki oleh seseorang. Mereka yang mentalnya kuat, tangguh, gigih tahan banting dan pantang menyerah dikatakan memiliki kecerdasan mental yang tinggi. Sementara itu, mereka yang mudah menyerah, banyak mengeluh, cengeng, labil, semangat dan daya juangnya kecil; bisa dikatakan memiliki tingkat kecerdasan mental yang rendah.Kecerdasan mental tidak muncul serta merta dalam diri seseorang, melainkan harus ditanamkan dan mulai diasah sejak kecil. Orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anak-anaknya, karena kecerdasan mental berperan cukup besar dalam menentukan keberhasilan seseorang.Untuk mencerdaskan mental anak, maka orang tua perlu mengasah kecerdasan ini dalam diri anaknya. Bagaimana caranya mengasahnya?1. Bangun kecerdasan mental sejak diniBangun dan pupuklah kecerdasan mental pada diri anak sejak dini. Karena, kecil kemungkinan seseorang bisa memiliki kecerdasan ini secara tiba-tiba tanpa ada suatu proses yang sudah menempanya terlebih dahulu. Meskipun demikian, orang tua tentu tidak boleh mengharapkan hasil yang instan dari anak. Sesuaikan dengan kondisi, usia, kesiapan dan kemampuan masing-masing anak.2. Tegas dan disiplin dalam peraturan, namun tidak harus keras dan kasarSebagian orang tua mungkin berpendapat bahwa agar anak memiliki mental yang kuat dan tahan banting, maka anak perlu dididik dengan aturan yang super keras, dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat. Tindakan-tindakan tersebut bisa jadi justru tidak memberikan dampak yang positif pada anak. Tetapi sebaliknya, bisa memberikan pengaruh yang tidak baik pada anak. Mendidik anak terlalu keras dengan disiplin yang sangat tinggi dan super ketat bukannya akan mengasah kecerdasan mental anak, melainkan tanpa disadari orang tua mengajari anak untuk terbiasa bersikap keras, kaku dan otoriter. Lalu, bagaimana sebaiknya? Terapkan aturan dan disiplin yang cukup tinggi dengan konsisten dan tegas, bukan dengan cara yang keras dan kasar.3. Latih anak agar bisa memilih dan menentukan sendiriAjari anak untuk berani bersikap dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Misalnya dalam memilih mainan, tuntun anak agar bisa menentukan satu mainan saja yang memang dibutuhkannya. Ajari pula anak untuk bisa bertanggung jawab atas pilihannya itu.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Rabi’ul Awwal 1437 / 21 Desember 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 89 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-2)Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis))

Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Kelima: Tidak menjalankan perintah agamaDi antara penghalang terkabulnya doa adalah: meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,[arabic-font]”وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ”.[/arabic-font]“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau Allah akan menimpakan kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa, tetapi doa kalian tidak dikabulkan”. HR. Ahmad dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh at-Tirmidzy juga al-Albany.Saat seorang hamba tidak menjalankan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sejatinya ia telah menjauhkan dirinya dari Sang Maha kuasa, bahkan memutuskan hubungan dengan-Nya. Tipe hamba seperti ini sangat layak untuk tidak didengar doanya, apalagi dikabulkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ، يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”.[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat dalam kondisi lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat kondisi susah”. HR. Ahmad dari Ibn Abbas radhiyallahu‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Maksudnya dalam kondisi senang, dekatlah dirimu kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga Dia mengenalimu. Maka saat engkau dalam keadaan sulit dan susah, niscaya Dia akan mengingatmu dan mengabulkan permohonanmu.Keenam: Tidak ikhlas dalam berdoaKeikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa. Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Abdurrahman bin Yazid menuturkan, “Ar-Rabî’ datang kepada ‘Alqamah pada hari jumat dan jika saya tidak ada dia akan memberikan kabar kepada saya. Lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang disampaikan oleh ar-Rabî’?’ Dia menjawab, “Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan? Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas”. Saya berkata, “Bukankah itu telah dikatakannya?”. Dia berkata, “Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main. Tetapi Allah menerima doa orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya”. HR. Bukhari. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rabi’ul Akhir 1437 / 18 Januari 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis))

Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Kelima: Tidak menjalankan perintah agamaDi antara penghalang terkabulnya doa adalah: meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,[arabic-font]”وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ”.[/arabic-font]“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau Allah akan menimpakan kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa, tetapi doa kalian tidak dikabulkan”. HR. Ahmad dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh at-Tirmidzy juga al-Albany.Saat seorang hamba tidak menjalankan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sejatinya ia telah menjauhkan dirinya dari Sang Maha kuasa, bahkan memutuskan hubungan dengan-Nya. Tipe hamba seperti ini sangat layak untuk tidak didengar doanya, apalagi dikabulkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ، يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”.[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat dalam kondisi lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat kondisi susah”. HR. Ahmad dari Ibn Abbas radhiyallahu‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Maksudnya dalam kondisi senang, dekatlah dirimu kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga Dia mengenalimu. Maka saat engkau dalam keadaan sulit dan susah, niscaya Dia akan mengingatmu dan mengabulkan permohonanmu.Keenam: Tidak ikhlas dalam berdoaKeikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa. Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Abdurrahman bin Yazid menuturkan, “Ar-Rabî’ datang kepada ‘Alqamah pada hari jumat dan jika saya tidak ada dia akan memberikan kabar kepada saya. Lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang disampaikan oleh ar-Rabî’?’ Dia menjawab, “Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan? Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas”. Saya berkata, “Bukankah itu telah dikatakannya?”. Dia berkata, “Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main. Tetapi Allah menerima doa orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya”. HR. Bukhari. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rabi’ul Akhir 1437 / 18 Januari 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Kelima: Tidak menjalankan perintah agamaDi antara penghalang terkabulnya doa adalah: meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,[arabic-font]”وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ”.[/arabic-font]“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau Allah akan menimpakan kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa, tetapi doa kalian tidak dikabulkan”. HR. Ahmad dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh at-Tirmidzy juga al-Albany.Saat seorang hamba tidak menjalankan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sejatinya ia telah menjauhkan dirinya dari Sang Maha kuasa, bahkan memutuskan hubungan dengan-Nya. Tipe hamba seperti ini sangat layak untuk tidak didengar doanya, apalagi dikabulkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ، يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”.[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat dalam kondisi lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat kondisi susah”. HR. Ahmad dari Ibn Abbas radhiyallahu‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Maksudnya dalam kondisi senang, dekatlah dirimu kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga Dia mengenalimu. Maka saat engkau dalam keadaan sulit dan susah, niscaya Dia akan mengingatmu dan mengabulkan permohonanmu.Keenam: Tidak ikhlas dalam berdoaKeikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa. Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Abdurrahman bin Yazid menuturkan, “Ar-Rabî’ datang kepada ‘Alqamah pada hari jumat dan jika saya tidak ada dia akan memberikan kabar kepada saya. Lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang disampaikan oleh ar-Rabî’?’ Dia menjawab, “Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan? Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas”. Saya berkata, “Bukankah itu telah dikatakannya?”. Dia berkata, “Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main. Tetapi Allah menerima doa orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya”. HR. Bukhari. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rabi’ul Akhir 1437 / 18 Januari 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Telah berlalu pembahasan tentang beberapa faktor penghalang terkabulnya doa. Berikut kelanjutannya:Kelima: Tidak menjalankan perintah agamaDi antara penghalang terkabulnya doa adalah: meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,[arabic-font]”وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ”.[/arabic-font]“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau Allah akan menimpakan kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa, tetapi doa kalian tidak dikabulkan”. HR. Ahmad dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu dan dinilai hasan oleh at-Tirmidzy juga al-Albany.Saat seorang hamba tidak menjalankan perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sejatinya ia telah menjauhkan dirinya dari Sang Maha kuasa, bahkan memutuskan hubungan dengan-Nya. Tipe hamba seperti ini sangat layak untuk tidak didengar doanya, apalagi dikabulkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,[arabic-font]”تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ، يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”.[/arabic-font]“Ingatlah Allah saat dalam kondisi lapang, niscaya Allah akan mengingatmu saat kondisi susah”. HR. Ahmad dari Ibn Abbas radhiyallahu‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Maksudnya dalam kondisi senang, dekatlah dirimu kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga Dia mengenalimu. Maka saat engkau dalam keadaan sulit dan susah, niscaya Dia akan mengingatmu dan mengabulkan permohonanmu.Keenam: Tidak ikhlas dalam berdoaKeikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa. Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Abdurrahman bin Yazid menuturkan, “Ar-Rabî’ datang kepada ‘Alqamah pada hari jumat dan jika saya tidak ada dia akan memberikan kabar kepada saya. Lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang disampaikan oleh ar-Rabî’?’ Dia menjawab, “Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan? Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas”. Saya berkata, “Bukankah itu telah dikatakannya?”. Dia berkata, “Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main. Tetapi Allah menerima doa orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya”. HR. Bukhari. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rabi’ul Akhir 1437 / 18 Januari 2015 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 65 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-1)Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis)) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis))

Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa kiat untuk mengasah kecerdasan mental anak. Berikut kelanjutannya:4. Bangun motivasi dan optimisme dalam diri anakAjari anak untuk selalu optimis dan bersikap positif. Sikap positif ini tentu akan sangat berpengaruh bagi anak ketika ia mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya nanti. Misalnya dalam melakukan sesuatu katakanlah pada anak, “Ayo, coba dulu nak, ini tidak sulit seperti yang kamu bayangkan. Ayah/Ibu yakin kamu pasti bisa.”Anak yang diajarkan untuk selalu memiliki sikap optmis dan motivasi yang tinggi akan tumbuh menjadi pribadi yang produktif, memiliki semangat/kemauan untuk belajar, siap mencoba hal-hal yang baru, dan mampu tampil menjadi pribadi yang berani mengambil risiko.5. Latih anak agar sanggup menghadapi kesulitanDalam kehidupan, pasti akan ditemui berbagai macam kesulitan. Yang perlu ditanamkan dalam diri anak adalah bagaimana nantinya anak bisa memiliki mental yang kuat, tangguh, dan tak mudah menyerah dalam menghadapai berbagai masalah dan rintangan. Bagaimana cara melatihnya? Orangtua perlu membiarkan anak agar bisa menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapinya. Misalnya, saat anak menemukan kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang cukup sulit, biarkan anak agar bisa menyelesaikan tugasnya sendiri. Jangan terlalu cepat membantu anak saat anak menemui kesulitan. Hal yang seperti itu tidak baik karena akan membuat anak menjadi pribadi yang tidak mandiri, tidak tangguh, dan terlalu bergantung pada sesuatu/seseorang. Biarkan anak mencoba sendiri terlebih dahulu dalam menyelesaikan kesulitannya. Anda sebagai orang tua dapat mendampingi anak, dan bila memang anak benar-benar tidak bisa menyelesaikannya, barulah Anda bisa membantu anak.6. Ajarkan anak untuk bangkit dan tetap tegar ketika jatuhKegagalan demi kegagalan yang dialami anak bisa menempa anak menjadi lebih tangguh. Reaksi anak saat mengalami kegagalan biasanya akan sedih, kecewa, bahkan mungkin marah. Itu reaksi yang wajar dan normal. Namun, di saat seperti itulah peran Anda sebagai orang tua diperlukan. Ajarkan anak untuk bisa bangkit kembali saat jatuh dan tetap tegar menghadapi kegagalannya dengan terus memberikan dorongan dan semangat kepada anak. Tanamkan pada diri anak Anda agar tidak mudah menyerah dan cepat putus asa saat menemui kegagalan. Tanamkan juga dalam diri anak untuk tidak takut mencoba lagi meski sebelumnya pernah gagal.7. Latih anak agar mampu menganalisa kegagalannyaSaat anak mengalami kegagalan, jangan mengecam atau mengejeknya dengan kata-kata yang pedas. Mentalnya bisa jatuh bila terus-menerus diperlakukan seperti itu. Sebaiknya, ajari anak agar bisa menganalisa kegagalannya. Anda sebagai orang tua dapat membantu anak, namun Anda juga perlu untuk mendorong anak agar mampu menemukan sendiri penyebab kegagalannya. Dengan demikian, anak akan tahu apa masalah yang telah menghambatnya dan bagaimana mengantisipasi agar kegagalan tersebut tidak terulang kembali.8. Orang tua harus menjadi contohOrang tua merupakan cermin bagi anak. Anak akan meniru sebagian besar apa yang dilihatnya dari orang tua. Bila Anda memperlihatkan kepada anak bahwa Anda memiliki mental yang kuat, pantang menyerah, dan selalu berpikiran positif, tentunya anak Anda juga akan meniru hal-hal positif yang Anda contohkan tersebut. Jangan mengharapkan anak bisa tangguh, sementara diri Anda sendiri mempertontonkan sikap lemah dan cengeng di depan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Akhir 1437 / 11 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis))Next Musuh dalam Selimut Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis))

Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa kiat untuk mengasah kecerdasan mental anak. Berikut kelanjutannya:4. Bangun motivasi dan optimisme dalam diri anakAjari anak untuk selalu optimis dan bersikap positif. Sikap positif ini tentu akan sangat berpengaruh bagi anak ketika ia mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya nanti. Misalnya dalam melakukan sesuatu katakanlah pada anak, “Ayo, coba dulu nak, ini tidak sulit seperti yang kamu bayangkan. Ayah/Ibu yakin kamu pasti bisa.”Anak yang diajarkan untuk selalu memiliki sikap optmis dan motivasi yang tinggi akan tumbuh menjadi pribadi yang produktif, memiliki semangat/kemauan untuk belajar, siap mencoba hal-hal yang baru, dan mampu tampil menjadi pribadi yang berani mengambil risiko.5. Latih anak agar sanggup menghadapi kesulitanDalam kehidupan, pasti akan ditemui berbagai macam kesulitan. Yang perlu ditanamkan dalam diri anak adalah bagaimana nantinya anak bisa memiliki mental yang kuat, tangguh, dan tak mudah menyerah dalam menghadapai berbagai masalah dan rintangan. Bagaimana cara melatihnya? Orangtua perlu membiarkan anak agar bisa menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapinya. Misalnya, saat anak menemukan kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang cukup sulit, biarkan anak agar bisa menyelesaikan tugasnya sendiri. Jangan terlalu cepat membantu anak saat anak menemui kesulitan. Hal yang seperti itu tidak baik karena akan membuat anak menjadi pribadi yang tidak mandiri, tidak tangguh, dan terlalu bergantung pada sesuatu/seseorang. Biarkan anak mencoba sendiri terlebih dahulu dalam menyelesaikan kesulitannya. Anda sebagai orang tua dapat mendampingi anak, dan bila memang anak benar-benar tidak bisa menyelesaikannya, barulah Anda bisa membantu anak.6. Ajarkan anak untuk bangkit dan tetap tegar ketika jatuhKegagalan demi kegagalan yang dialami anak bisa menempa anak menjadi lebih tangguh. Reaksi anak saat mengalami kegagalan biasanya akan sedih, kecewa, bahkan mungkin marah. Itu reaksi yang wajar dan normal. Namun, di saat seperti itulah peran Anda sebagai orang tua diperlukan. Ajarkan anak untuk bisa bangkit kembali saat jatuh dan tetap tegar menghadapi kegagalannya dengan terus memberikan dorongan dan semangat kepada anak. Tanamkan pada diri anak Anda agar tidak mudah menyerah dan cepat putus asa saat menemui kegagalan. Tanamkan juga dalam diri anak untuk tidak takut mencoba lagi meski sebelumnya pernah gagal.7. Latih anak agar mampu menganalisa kegagalannyaSaat anak mengalami kegagalan, jangan mengecam atau mengejeknya dengan kata-kata yang pedas. Mentalnya bisa jatuh bila terus-menerus diperlakukan seperti itu. Sebaiknya, ajari anak agar bisa menganalisa kegagalannya. Anda sebagai orang tua dapat membantu anak, namun Anda juga perlu untuk mendorong anak agar mampu menemukan sendiri penyebab kegagalannya. Dengan demikian, anak akan tahu apa masalah yang telah menghambatnya dan bagaimana mengantisipasi agar kegagalan tersebut tidak terulang kembali.8. Orang tua harus menjadi contohOrang tua merupakan cermin bagi anak. Anak akan meniru sebagian besar apa yang dilihatnya dari orang tua. Bila Anda memperlihatkan kepada anak bahwa Anda memiliki mental yang kuat, pantang menyerah, dan selalu berpikiran positif, tentunya anak Anda juga akan meniru hal-hal positif yang Anda contohkan tersebut. Jangan mengharapkan anak bisa tangguh, sementara diri Anda sendiri mempertontonkan sikap lemah dan cengeng di depan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Akhir 1437 / 11 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis))Next Musuh dalam Selimut Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa kiat untuk mengasah kecerdasan mental anak. Berikut kelanjutannya:4. Bangun motivasi dan optimisme dalam diri anakAjari anak untuk selalu optimis dan bersikap positif. Sikap positif ini tentu akan sangat berpengaruh bagi anak ketika ia mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya nanti. Misalnya dalam melakukan sesuatu katakanlah pada anak, “Ayo, coba dulu nak, ini tidak sulit seperti yang kamu bayangkan. Ayah/Ibu yakin kamu pasti bisa.”Anak yang diajarkan untuk selalu memiliki sikap optmis dan motivasi yang tinggi akan tumbuh menjadi pribadi yang produktif, memiliki semangat/kemauan untuk belajar, siap mencoba hal-hal yang baru, dan mampu tampil menjadi pribadi yang berani mengambil risiko.5. Latih anak agar sanggup menghadapi kesulitanDalam kehidupan, pasti akan ditemui berbagai macam kesulitan. Yang perlu ditanamkan dalam diri anak adalah bagaimana nantinya anak bisa memiliki mental yang kuat, tangguh, dan tak mudah menyerah dalam menghadapai berbagai masalah dan rintangan. Bagaimana cara melatihnya? Orangtua perlu membiarkan anak agar bisa menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapinya. Misalnya, saat anak menemukan kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang cukup sulit, biarkan anak agar bisa menyelesaikan tugasnya sendiri. Jangan terlalu cepat membantu anak saat anak menemui kesulitan. Hal yang seperti itu tidak baik karena akan membuat anak menjadi pribadi yang tidak mandiri, tidak tangguh, dan terlalu bergantung pada sesuatu/seseorang. Biarkan anak mencoba sendiri terlebih dahulu dalam menyelesaikan kesulitannya. Anda sebagai orang tua dapat mendampingi anak, dan bila memang anak benar-benar tidak bisa menyelesaikannya, barulah Anda bisa membantu anak.6. Ajarkan anak untuk bangkit dan tetap tegar ketika jatuhKegagalan demi kegagalan yang dialami anak bisa menempa anak menjadi lebih tangguh. Reaksi anak saat mengalami kegagalan biasanya akan sedih, kecewa, bahkan mungkin marah. Itu reaksi yang wajar dan normal. Namun, di saat seperti itulah peran Anda sebagai orang tua diperlukan. Ajarkan anak untuk bisa bangkit kembali saat jatuh dan tetap tegar menghadapi kegagalannya dengan terus memberikan dorongan dan semangat kepada anak. Tanamkan pada diri anak Anda agar tidak mudah menyerah dan cepat putus asa saat menemui kegagalan. Tanamkan juga dalam diri anak untuk tidak takut mencoba lagi meski sebelumnya pernah gagal.7. Latih anak agar mampu menganalisa kegagalannyaSaat anak mengalami kegagalan, jangan mengecam atau mengejeknya dengan kata-kata yang pedas. Mentalnya bisa jatuh bila terus-menerus diperlakukan seperti itu. Sebaiknya, ajari anak agar bisa menganalisa kegagalannya. Anda sebagai orang tua dapat membantu anak, namun Anda juga perlu untuk mendorong anak agar mampu menemukan sendiri penyebab kegagalannya. Dengan demikian, anak akan tahu apa masalah yang telah menghambatnya dan bagaimana mengantisipasi agar kegagalan tersebut tidak terulang kembali.8. Orang tua harus menjadi contohOrang tua merupakan cermin bagi anak. Anak akan meniru sebagian besar apa yang dilihatnya dari orang tua. Bila Anda memperlihatkan kepada anak bahwa Anda memiliki mental yang kuat, pantang menyerah, dan selalu berpikiran positif, tentunya anak Anda juga akan meniru hal-hal positif yang Anda contohkan tersebut. Jangan mengharapkan anak bisa tangguh, sementara diri Anda sendiri mempertontonkan sikap lemah dan cengeng di depan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Akhir 1437 / 11 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis))Next Musuh dalam Selimut Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa kiat untuk mengasah kecerdasan mental anak. Berikut kelanjutannya:4. Bangun motivasi dan optimisme dalam diri anakAjari anak untuk selalu optimis dan bersikap positif. Sikap positif ini tentu akan sangat berpengaruh bagi anak ketika ia mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya nanti. Misalnya dalam melakukan sesuatu katakanlah pada anak, “Ayo, coba dulu nak, ini tidak sulit seperti yang kamu bayangkan. Ayah/Ibu yakin kamu pasti bisa.”Anak yang diajarkan untuk selalu memiliki sikap optmis dan motivasi yang tinggi akan tumbuh menjadi pribadi yang produktif, memiliki semangat/kemauan untuk belajar, siap mencoba hal-hal yang baru, dan mampu tampil menjadi pribadi yang berani mengambil risiko.5. Latih anak agar sanggup menghadapi kesulitanDalam kehidupan, pasti akan ditemui berbagai macam kesulitan. Yang perlu ditanamkan dalam diri anak adalah bagaimana nantinya anak bisa memiliki mental yang kuat, tangguh, dan tak mudah menyerah dalam menghadapai berbagai masalah dan rintangan. Bagaimana cara melatihnya? Orangtua perlu membiarkan anak agar bisa menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapinya. Misalnya, saat anak menemukan kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang cukup sulit, biarkan anak agar bisa menyelesaikan tugasnya sendiri. Jangan terlalu cepat membantu anak saat anak menemui kesulitan. Hal yang seperti itu tidak baik karena akan membuat anak menjadi pribadi yang tidak mandiri, tidak tangguh, dan terlalu bergantung pada sesuatu/seseorang. Biarkan anak mencoba sendiri terlebih dahulu dalam menyelesaikan kesulitannya. Anda sebagai orang tua dapat mendampingi anak, dan bila memang anak benar-benar tidak bisa menyelesaikannya, barulah Anda bisa membantu anak.6. Ajarkan anak untuk bangkit dan tetap tegar ketika jatuhKegagalan demi kegagalan yang dialami anak bisa menempa anak menjadi lebih tangguh. Reaksi anak saat mengalami kegagalan biasanya akan sedih, kecewa, bahkan mungkin marah. Itu reaksi yang wajar dan normal. Namun, di saat seperti itulah peran Anda sebagai orang tua diperlukan. Ajarkan anak untuk bisa bangkit kembali saat jatuh dan tetap tegar menghadapi kegagalannya dengan terus memberikan dorongan dan semangat kepada anak. Tanamkan pada diri anak Anda agar tidak mudah menyerah dan cepat putus asa saat menemui kegagalan. Tanamkan juga dalam diri anak untuk tidak takut mencoba lagi meski sebelumnya pernah gagal.7. Latih anak agar mampu menganalisa kegagalannyaSaat anak mengalami kegagalan, jangan mengecam atau mengejeknya dengan kata-kata yang pedas. Mentalnya bisa jatuh bila terus-menerus diperlakukan seperti itu. Sebaiknya, ajari anak agar bisa menganalisa kegagalannya. Anda sebagai orang tua dapat membantu anak, namun Anda juga perlu untuk mendorong anak agar mampu menemukan sendiri penyebab kegagalannya. Dengan demikian, anak akan tahu apa masalah yang telah menghambatnya dan bagaimana mengantisipasi agar kegagalan tersebut tidak terulang kembali.8. Orang tua harus menjadi contohOrang tua merupakan cermin bagi anak. Anak akan meniru sebagian besar apa yang dilihatnya dari orang tua. Bila Anda memperlihatkan kepada anak bahwa Anda memiliki mental yang kuat, pantang menyerah, dan selalu berpikiran positif, tentunya anak Anda juga akan meniru hal-hal positif yang Anda contohkan tersebut. Jangan mengharapkan anak bisa tangguh, sementara diri Anda sendiri mempertontonkan sikap lemah dan cengeng di depan anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Rabi’ul Akhir 1437 / 11 Januari 2016 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 90 (PENGHALANG TERKABULNYA DOA Bag-3 (habis))Next Musuh dalam Selimut Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Musuh dalam Selimut

MUSUH DALAM SELIMUTOleh: Abdullah Zaen, Lc., MA“Bagai musuh dalam selimut” adalah sebuah peribahasa yang memiliki makna: orang dekat yang berkhianat diam-diam. Musuh yang berasal dari kalangannya sendiri. Musuh dekat yang dapat membuat celaka.Jadi, musuh kita, bisa jadi adalah orang yang terdekat dengan kita! Hal itu telah diingatkan Allah jalla wa ‘ala dalam firman-Nya,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ”.[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka”. QS. At-Taghabun (64): 14.Istri dan anak yang merupakan musuh kita adalah mereka yang menghalangi kita dari jalan Allah dan melemahkan semangat dalam beribadah. Maka berhati-hatilah untuk mengikuti arahan mereka! Demikian penafsiran yang disampaikan Imam ath-Thabary.Manusia bertabiat mencintai anak dan istri. Maka Allah menasehati para hamba-Nya agar jangan sampai kecintaan tersebut berakibat terseret mengikuti keinginan-keinginan mereka yang menyimpang dari agama.[1]Manakala Anda akan berzakat, lalu istri menyampaikan seribu satu alasan; ingin beli kulkas baru lah, anak minta uang jajan lebih lah, perlu beli televisi yang lebih besar lah. Berhati-hatilah, istri Anda sedang terjangkiti virus musuh.Manakala Anda membangunkan anak untuk berangkat shalat Shubuh di masjid, kemudian istri menghalangi dengan alasan kasihan masih ngantuk; maka berhati-hatilah, itu merupakan salah satu indikasi adanya sifat musuh dalam diri istri.Manakala Anda ingin berpegang dengan prinsip akidah dan sunnah, lalu istri berargumen, “Jangan lah pak, ntar kita jadi bahan omongan tetangga”; berhati-hatilah, itu pertanda istri berpeluang untuk menjadi musuh.Adapun istri yang merupakan teman setia Anda adalah: istri yang membangunkan Anda manakala suara adzan dikumandangkan, saat Anda masih tertidur lelap.Istri yang mengingatkan Anda manakala zakat belum Anda tunaikan.Istri yang menghibur Anda, manakala Anda dijauhi tetangga karena berpegang teguh dengan prinsip agama dan bahkan memotivasi Anda untuk terus meniti jalan kebenaran. Sebagaimana yang dilakukan ibunda kita; Khadijah radhiyallahu’anha tatkala menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketakutan dan merasa khawatir saat wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,[arabic-font]”كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ”.[/arabic-font]“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Namun demikian, andaikan pada beberapa momen, istri bersikap sebagai musuh kita, itu tidak otomatis lantas membuat kita bersikap kasar dan tidak membuka pintu maaf untuknya. Namun justru kita berkewajiban untuk menasehatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini Allah ingatkan di akhir ayat QS. At-Taghabun (64): 14 tersebut di atas,[arabic-font]”وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ”.[/arabic-font]Artinya: “Jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang”.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Rabi’ul Akhir 1437 / 15 Januari 2016[1] Tafsîr as-Sa’dy (hal. 804). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis))Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Musuh dalam Selimut

MUSUH DALAM SELIMUTOleh: Abdullah Zaen, Lc., MA“Bagai musuh dalam selimut” adalah sebuah peribahasa yang memiliki makna: orang dekat yang berkhianat diam-diam. Musuh yang berasal dari kalangannya sendiri. Musuh dekat yang dapat membuat celaka.Jadi, musuh kita, bisa jadi adalah orang yang terdekat dengan kita! Hal itu telah diingatkan Allah jalla wa ‘ala dalam firman-Nya,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ”.[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka”. QS. At-Taghabun (64): 14.Istri dan anak yang merupakan musuh kita adalah mereka yang menghalangi kita dari jalan Allah dan melemahkan semangat dalam beribadah. Maka berhati-hatilah untuk mengikuti arahan mereka! Demikian penafsiran yang disampaikan Imam ath-Thabary.Manusia bertabiat mencintai anak dan istri. Maka Allah menasehati para hamba-Nya agar jangan sampai kecintaan tersebut berakibat terseret mengikuti keinginan-keinginan mereka yang menyimpang dari agama.[1]Manakala Anda akan berzakat, lalu istri menyampaikan seribu satu alasan; ingin beli kulkas baru lah, anak minta uang jajan lebih lah, perlu beli televisi yang lebih besar lah. Berhati-hatilah, istri Anda sedang terjangkiti virus musuh.Manakala Anda membangunkan anak untuk berangkat shalat Shubuh di masjid, kemudian istri menghalangi dengan alasan kasihan masih ngantuk; maka berhati-hatilah, itu merupakan salah satu indikasi adanya sifat musuh dalam diri istri.Manakala Anda ingin berpegang dengan prinsip akidah dan sunnah, lalu istri berargumen, “Jangan lah pak, ntar kita jadi bahan omongan tetangga”; berhati-hatilah, itu pertanda istri berpeluang untuk menjadi musuh.Adapun istri yang merupakan teman setia Anda adalah: istri yang membangunkan Anda manakala suara adzan dikumandangkan, saat Anda masih tertidur lelap.Istri yang mengingatkan Anda manakala zakat belum Anda tunaikan.Istri yang menghibur Anda, manakala Anda dijauhi tetangga karena berpegang teguh dengan prinsip agama dan bahkan memotivasi Anda untuk terus meniti jalan kebenaran. Sebagaimana yang dilakukan ibunda kita; Khadijah radhiyallahu’anha tatkala menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketakutan dan merasa khawatir saat wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,[arabic-font]”كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ”.[/arabic-font]“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Namun demikian, andaikan pada beberapa momen, istri bersikap sebagai musuh kita, itu tidak otomatis lantas membuat kita bersikap kasar dan tidak membuka pintu maaf untuknya. Namun justru kita berkewajiban untuk menasehatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini Allah ingatkan di akhir ayat QS. At-Taghabun (64): 14 tersebut di atas,[arabic-font]”وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ”.[/arabic-font]Artinya: “Jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang”.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Rabi’ul Akhir 1437 / 15 Januari 2016[1] Tafsîr as-Sa’dy (hal. 804). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis))Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MUSUH DALAM SELIMUTOleh: Abdullah Zaen, Lc., MA“Bagai musuh dalam selimut” adalah sebuah peribahasa yang memiliki makna: orang dekat yang berkhianat diam-diam. Musuh yang berasal dari kalangannya sendiri. Musuh dekat yang dapat membuat celaka.Jadi, musuh kita, bisa jadi adalah orang yang terdekat dengan kita! Hal itu telah diingatkan Allah jalla wa ‘ala dalam firman-Nya,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ”.[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka”. QS. At-Taghabun (64): 14.Istri dan anak yang merupakan musuh kita adalah mereka yang menghalangi kita dari jalan Allah dan melemahkan semangat dalam beribadah. Maka berhati-hatilah untuk mengikuti arahan mereka! Demikian penafsiran yang disampaikan Imam ath-Thabary.Manusia bertabiat mencintai anak dan istri. Maka Allah menasehati para hamba-Nya agar jangan sampai kecintaan tersebut berakibat terseret mengikuti keinginan-keinginan mereka yang menyimpang dari agama.[1]Manakala Anda akan berzakat, lalu istri menyampaikan seribu satu alasan; ingin beli kulkas baru lah, anak minta uang jajan lebih lah, perlu beli televisi yang lebih besar lah. Berhati-hatilah, istri Anda sedang terjangkiti virus musuh.Manakala Anda membangunkan anak untuk berangkat shalat Shubuh di masjid, kemudian istri menghalangi dengan alasan kasihan masih ngantuk; maka berhati-hatilah, itu merupakan salah satu indikasi adanya sifat musuh dalam diri istri.Manakala Anda ingin berpegang dengan prinsip akidah dan sunnah, lalu istri berargumen, “Jangan lah pak, ntar kita jadi bahan omongan tetangga”; berhati-hatilah, itu pertanda istri berpeluang untuk menjadi musuh.Adapun istri yang merupakan teman setia Anda adalah: istri yang membangunkan Anda manakala suara adzan dikumandangkan, saat Anda masih tertidur lelap.Istri yang mengingatkan Anda manakala zakat belum Anda tunaikan.Istri yang menghibur Anda, manakala Anda dijauhi tetangga karena berpegang teguh dengan prinsip agama dan bahkan memotivasi Anda untuk terus meniti jalan kebenaran. Sebagaimana yang dilakukan ibunda kita; Khadijah radhiyallahu’anha tatkala menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketakutan dan merasa khawatir saat wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,[arabic-font]”كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ”.[/arabic-font]“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Namun demikian, andaikan pada beberapa momen, istri bersikap sebagai musuh kita, itu tidak otomatis lantas membuat kita bersikap kasar dan tidak membuka pintu maaf untuknya. Namun justru kita berkewajiban untuk menasehatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini Allah ingatkan di akhir ayat QS. At-Taghabun (64): 14 tersebut di atas,[arabic-font]”وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ”.[/arabic-font]Artinya: “Jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang”.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Rabi’ul Akhir 1437 / 15 Januari 2016[1] Tafsîr as-Sa’dy (hal. 804). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis))Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MUSUH DALAM SELIMUTOleh: Abdullah Zaen, Lc., MA“Bagai musuh dalam selimut” adalah sebuah peribahasa yang memiliki makna: orang dekat yang berkhianat diam-diam. Musuh yang berasal dari kalangannya sendiri. Musuh dekat yang dapat membuat celaka.Jadi, musuh kita, bisa jadi adalah orang yang terdekat dengan kita! Hal itu telah diingatkan Allah jalla wa ‘ala dalam firman-Nya,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ”.[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka”. QS. At-Taghabun (64): 14.Istri dan anak yang merupakan musuh kita adalah mereka yang menghalangi kita dari jalan Allah dan melemahkan semangat dalam beribadah. Maka berhati-hatilah untuk mengikuti arahan mereka! Demikian penafsiran yang disampaikan Imam ath-Thabary.Manusia bertabiat mencintai anak dan istri. Maka Allah menasehati para hamba-Nya agar jangan sampai kecintaan tersebut berakibat terseret mengikuti keinginan-keinginan mereka yang menyimpang dari agama.[1]Manakala Anda akan berzakat, lalu istri menyampaikan seribu satu alasan; ingin beli kulkas baru lah, anak minta uang jajan lebih lah, perlu beli televisi yang lebih besar lah. Berhati-hatilah, istri Anda sedang terjangkiti virus musuh.Manakala Anda membangunkan anak untuk berangkat shalat Shubuh di masjid, kemudian istri menghalangi dengan alasan kasihan masih ngantuk; maka berhati-hatilah, itu merupakan salah satu indikasi adanya sifat musuh dalam diri istri.Manakala Anda ingin berpegang dengan prinsip akidah dan sunnah, lalu istri berargumen, “Jangan lah pak, ntar kita jadi bahan omongan tetangga”; berhati-hatilah, itu pertanda istri berpeluang untuk menjadi musuh.Adapun istri yang merupakan teman setia Anda adalah: istri yang membangunkan Anda manakala suara adzan dikumandangkan, saat Anda masih tertidur lelap.Istri yang mengingatkan Anda manakala zakat belum Anda tunaikan.Istri yang menghibur Anda, manakala Anda dijauhi tetangga karena berpegang teguh dengan prinsip agama dan bahkan memotivasi Anda untuk terus meniti jalan kebenaran. Sebagaimana yang dilakukan ibunda kita; Khadijah radhiyallahu’anha tatkala menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketakutan dan merasa khawatir saat wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,[arabic-font]”كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ”.[/arabic-font]“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Namun demikian, andaikan pada beberapa momen, istri bersikap sebagai musuh kita, itu tidak otomatis lantas membuat kita bersikap kasar dan tidak membuka pintu maaf untuknya. Namun justru kita berkewajiban untuk menasehatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini Allah ingatkan di akhir ayat QS. At-Taghabun (64): 14 tersebut di atas,[arabic-font]”وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ”.[/arabic-font]Artinya: “Jika kalian maafkan dan kalian santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang”.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Rabi’ul Akhir 1437 / 15 Januari 2016[1] Tafsîr as-Sa’dy (hal. 804). Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 66 (MENCERDASKAN MENTAL ANAK Bag-2 (habis))Next Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1)

Setelah membahas faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, maka idealnya kita juga harus membahas sebab-sebab pendorong terkabulnya doa. Di antara sebab-sebab tersebut:Pertama: Ikhlas dalam berdoaIkhlas dalam berdoa adalah salah satu syarat utama terkabulnya doa. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ”[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas karena-Nya dan mengharapkan wajah-Nya”. HR. Nasa’i dari Abu Umamah dan dinilai hasan sahih oleh al-Albany.Dalam kitabnya Tuhfah adz-Dzâkirîn, Imam asy-Syaukany menerangkan bahwa ikhlas dalam berdoa adalah adab teragung dalam berdoa. Sebab ikhlas adalah penentu utama terkabulnya doa. Barang siapa yang tidak ikhlas dalam berdoa maka sangat layak untuk tidak dikabulkan. Kecuali bila Allah berbelas kasihan kepadanya.Kedua: Jujur dan sungguh-sungguhAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur”. QS. At-Taubah (9): 119.[arabic-font]وعَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ رضي الله عنه رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: “مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ”[/arabic-font]Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa dengan jujur meminta kepada Allah mati syahid, niscaya Allah akan sampaikan dia ke derajat para syuhada, sekalipun ia meninggal di atas kasurnya”. HR. Muslim.Maka, jujurlah dalam doa-doamu. Jujurlah dalam harapanmu. Karena dengan kejujuran itulah harap yang menghiasai hatimu dan angan yang memenuhi kepalamu; akan menjadi nyata. Bisa kau gapai dan mampu kau peluk. InsyaAllah…Singa yang mengaum perkasa. Kekar dan kokoh kakinya enggan berlari. Sedang taring dan cakarnya tidak pernah mengoyak dan mencabik. Apakah seekor domba gemuk yang dia harapkan menjadi menu makan siangnya akan terhidang di hadapannya? Tentu tidak!Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Rabi’ul Akhir 1437 / 1 Februari 2015Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3 Post navigation Previous Musuh dalam SelimutNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 91 (Sebab Terkabulnya Do’a bag-1)

Setelah membahas faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, maka idealnya kita juga harus membahas sebab-sebab pendorong terkabulnya doa. Di antara sebab-sebab tersebut:Pertama: Ikhlas dalam berdoaIkhlas dalam berdoa adalah salah satu syarat utama terkabulnya doa. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ”[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas karena-Nya dan mengharapkan wajah-Nya”. HR. Nasa’i dari Abu Umamah dan dinilai hasan sahih oleh al-Albany.Dalam kitabnya Tuhfah adz-Dzâkirîn, Imam asy-Syaukany menerangkan bahwa ikhlas dalam berdoa adalah adab teragung dalam berdoa. Sebab ikhlas adalah penentu utama terkabulnya doa. Barang siapa yang tidak ikhlas dalam berdoa maka sangat layak untuk tidak dikabulkan. Kecuali bila Allah berbelas kasihan kepadanya.Kedua: Jujur dan sungguh-sungguhAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur”. QS. At-Taubah (9): 119.[arabic-font]وعَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ رضي الله عنه رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: “مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ”[/arabic-font]Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa dengan jujur meminta kepada Allah mati syahid, niscaya Allah akan sampaikan dia ke derajat para syuhada, sekalipun ia meninggal di atas kasurnya”. HR. Muslim.Maka, jujurlah dalam doa-doamu. Jujurlah dalam harapanmu. Karena dengan kejujuran itulah harap yang menghiasai hatimu dan angan yang memenuhi kepalamu; akan menjadi nyata. Bisa kau gapai dan mampu kau peluk. InsyaAllah…Singa yang mengaum perkasa. Kekar dan kokoh kakinya enggan berlari. Sedang taring dan cakarnya tidak pernah mengoyak dan mencabik. Apakah seekor domba gemuk yang dia harapkan menjadi menu makan siangnya akan terhidang di hadapannya? Tentu tidak!Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Rabi’ul Akhir 1437 / 1 Februari 2015Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3 Post navigation Previous Musuh dalam SelimutNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Setelah membahas faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, maka idealnya kita juga harus membahas sebab-sebab pendorong terkabulnya doa. Di antara sebab-sebab tersebut:Pertama: Ikhlas dalam berdoaIkhlas dalam berdoa adalah salah satu syarat utama terkabulnya doa. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ”[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas karena-Nya dan mengharapkan wajah-Nya”. HR. Nasa’i dari Abu Umamah dan dinilai hasan sahih oleh al-Albany.Dalam kitabnya Tuhfah adz-Dzâkirîn, Imam asy-Syaukany menerangkan bahwa ikhlas dalam berdoa adalah adab teragung dalam berdoa. Sebab ikhlas adalah penentu utama terkabulnya doa. Barang siapa yang tidak ikhlas dalam berdoa maka sangat layak untuk tidak dikabulkan. Kecuali bila Allah berbelas kasihan kepadanya.Kedua: Jujur dan sungguh-sungguhAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur”. QS. At-Taubah (9): 119.[arabic-font]وعَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ رضي الله عنه رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: “مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ”[/arabic-font]Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa dengan jujur meminta kepada Allah mati syahid, niscaya Allah akan sampaikan dia ke derajat para syuhada, sekalipun ia meninggal di atas kasurnya”. HR. Muslim.Maka, jujurlah dalam doa-doamu. Jujurlah dalam harapanmu. Karena dengan kejujuran itulah harap yang menghiasai hatimu dan angan yang memenuhi kepalamu; akan menjadi nyata. Bisa kau gapai dan mampu kau peluk. InsyaAllah…Singa yang mengaum perkasa. Kekar dan kokoh kakinya enggan berlari. Sedang taring dan cakarnya tidak pernah mengoyak dan mencabik. Apakah seekor domba gemuk yang dia harapkan menjadi menu makan siangnya akan terhidang di hadapannya? Tentu tidak!Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Rabi’ul Akhir 1437 / 1 Februari 2015Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3 Post navigation Previous Musuh dalam SelimutNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Setelah membahas faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, maka idealnya kita juga harus membahas sebab-sebab pendorong terkabulnya doa. Di antara sebab-sebab tersebut:Pertama: Ikhlas dalam berdoaIkhlas dalam berdoa adalah salah satu syarat utama terkabulnya doa. Allah ta’ala berfirman,[arabic-font]”فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ”.[/arabic-font]Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan meingkhlaskan ketaatan kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci hal itu.” QS. Ghafir (40): 14.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,[arabic-font]”إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ”[/arabic-font]“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas karena-Nya dan mengharapkan wajah-Nya”. HR. Nasa’i dari Abu Umamah dan dinilai hasan sahih oleh al-Albany.Dalam kitabnya Tuhfah adz-Dzâkirîn, Imam asy-Syaukany menerangkan bahwa ikhlas dalam berdoa adalah adab teragung dalam berdoa. Sebab ikhlas adalah penentu utama terkabulnya doa. Barang siapa yang tidak ikhlas dalam berdoa maka sangat layak untuk tidak dikabulkan. Kecuali bila Allah berbelas kasihan kepadanya.Kedua: Jujur dan sungguh-sungguhAllah ta’ala berfirman,[arabic-font]”يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ”[/arabic-font]Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur”. QS. At-Taubah (9): 119.[arabic-font]وعَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ رضي الله عنه رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: “مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ”[/arabic-font]Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa dengan jujur meminta kepada Allah mati syahid, niscaya Allah akan sampaikan dia ke derajat para syuhada, sekalipun ia meninggal di atas kasurnya”. HR. Muslim.Maka, jujurlah dalam doa-doamu. Jujurlah dalam harapanmu. Karena dengan kejujuran itulah harap yang menghiasai hatimu dan angan yang memenuhi kepalamu; akan menjadi nyata. Bisa kau gapai dan mampu kau peluk. InsyaAllah…Singa yang mengaum perkasa. Kekar dan kokoh kakinya enggan berlari. Sedang taring dan cakarnya tidak pernah mengoyak dan mencabik. Apakah seekor domba gemuk yang dia harapkan menjadi menu makan siangnya akan terhidang di hadapannya? Tentu tidak!Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 22 Rabi’ul Akhir 1437 / 1 Februari 2015Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://ar.islamway.net/article/20225/من-أسباب-استجابة-الدعاء-1-3 Post navigation Previous Musuh dalam SelimutNext Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 92 (SEBAB TERKABULNYA DOA Bag-2) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next