Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya: Untuk mendapat pengakuan orangAdakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya. Untuk meraih keinginanAnak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya. Untuk membela diriKebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 42: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 2*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*

Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*

Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam amat ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus. Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah. “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’. Akibatnya, banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu. “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam. Maka mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.Pengertian AmanahAmanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah. Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mukmin berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ ““Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang membatalkan perjanjiannya.” HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, adh-Dhiya’ al-Maqdisy juga al-Albany.Di dalam al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. QS. Al Ahzab (33): 72.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. QS. Al-Anfâl (8): 27.Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terbesar terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuan-Nya, dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.Secara hablun minan nas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Shafar 1436 / 22 Desember 2014 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.Tanamkan amanah sejak dini Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 44: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 1*Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA* Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*

Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*

Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Rahasia adalah perkara tersembunyi yang terjadi di antara diri kita dan orang lain. Menjaga rahasia adalah dengan tidak menyebarkannya atau bahkan sekedar menampakkannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman,“وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً“Artinya: “Penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.” QS. Al-Isra’ (17): 34.Membedakan antara rahasia dan bukanSebuah perkara adalah rahasia atau tidak bisa kita ketahui dari berbagai cara:Dengan ucapan. Yaitu seseorang menceritakan sesuatu kepada Anda, kemudian dia berkata, “Ini rahasia ya, jangan sampaikan kepada yang lain.”Dengan perbuatan. Misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada Anda secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, tidak ingin ada orang yang tahu. Maka ini pun merupakan rahasia yang harus dijaga.Dengan melihat kondisi. Yaitu dengan memperhatikan apakah perkara yang dia katakan itu akan membuat dirinya malu nanti apabila disampaikan atau disebarkan kepada orang lain; maka ini pun dianggap sebagai rahasia.Bila kita sudah tahu bahwa perkaranya adalah perkara rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.Membiasakan anak menjaga rahasiaSalah satu perangai yang harus kita ajarkan kepada anak sejak dini adalah menjaga rahasia. Jika anak terbiasa menjaga rahasia niscaya akan membawa kebaikan bagi dirinya, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Berguna bagi keselamatan keluarga dan untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Memberikan amanah kepada anak kecil dengan sebuah rahasia akan membangun rasa percaya dirinya. Ia akan merasa dihargai dan menghargai rahasia yang ia bawa. Anak yang sudah dibiasakan untuk menjaga rahasia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemauan kuat. Oleh karena itu kita dapati Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan hal ini kepada anak-anak semenjak dini.Abdullah bin Ja’far radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan kepadaku sebuah pembicaraan yang tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun”. HR. Muslim.Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ketika diutus Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk suatu keperluan. Hingga ia terlambat pulang menemui ibunya. Sang ibu bertanya kepadanya, “Apa yang menahanmu (hingga terlambat pulang)?”. Anas menjawab, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengutusku untuk suatu keperluan”. Ibunya bertanya, “Keperluan apa?”. Anas menjawab, “Itu rahasia”. Ibunya berkata, “Jangan beritahukan kepada siapapun tentang rahasia Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam”. Anas menyembunyikan rahasia itu dari ibunya dan dari Tsabit yang mendengar hadits ini. Anas berkata, “Demi Allah! Seandainya aku mau menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku akan menceritakannya kepadamu wahai Tsabit”. HR. Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1436 / 19 Januari 2015 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan

Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak Indigo Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Video Dunia Lain Rodja TV: Perdukunan

Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak Indigo Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak Indigo Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 46: ANAK DAN MENJAGA RAHASIA*Next Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak Indigo Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak Indigo

https://www.youtube.com/watch?v=Y4ddDlRRQe8 Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: PerdukunanNext Urip Iku Urup Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak Indigo

https://www.youtube.com/watch?v=Y4ddDlRRQe8 Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: PerdukunanNext Urip Iku Urup Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
https://www.youtube.com/watch?v=Y4ddDlRRQe8 Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: PerdukunanNext Urip Iku Urup Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


https://www.youtube.com/watch?v=Y4ddDlRRQe8 Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: PerdukunanNext Urip Iku Urup Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Urip Iku Urup

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPepatah jawa di atas merupakan salah satu mutiara nasehat yang sudah semakin pudar penerapannya di zaman ini. Terutama di saat egoisme semakin menggurita dan mendominasi kehidupan manusia.Urip iku urup jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bermakna hidup itu semestinya membuat nyala. Nyala di sini diartikan positif. Bila diibaratkan api, maka api tersebut menerangi. Memberi manfaat bagi sekitarnya.Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Menjalin komunikasi dengan yang lain. Manusia tidak bisa mengisolir diri, meskipun memiliki materi yang berlimpah. Itulah mengapa hidup itu harus menyala. Saling tolong-menolong adalah suatu kepastian. Itulah mengapa manusia membutuhkan manusia yang lain.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“.“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. HR. Ath-Thabarany dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albany.Seorang bijak pernah berujar, “Jangan engkau menjadi orang sukses. Tapi jadilah orang yang penuh manfaat bagi orang lain”.Inilah salah satu tujuan hidup manusia. Seseorang harusnya memiliki keterpanggilan untuk saling menolong saudaranya bukan mementingkan ego diri masing-masing. Karena manusia terbaik adalah yang memberi manfaat bagi sesamanya.Ada paradoks di sini. Manusia menganggap kesuksesan dapat mendatangkan kebahagiaan. Tapi nyatanya ketika mereka menggapai satu titik, maka akan mengejar titik yang lain di atasnya dan tidak pernah puas. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan,“لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ“.“Andaikan anak Adam memiliki dua lembah berisikan harta, niscaya dia ingin lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa mengisi perut anak Adam melainkan hanya tanah. Allah akan menerima taubat hamba yang bertaubat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma.Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita berbagi. Selain merasakan kebahagiaan ketika berbagi atau membantu orang lain, Allah akan menolong melalui jalan yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam sebuah hadits sahih diterangkan,“وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ“.“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Ruang berbagi dengan orang lain amatlah luas. Yang paling tinggi adalah berbagi ilmu agama. Alias mengajarkannya, terutama kepada yang membutuhkannya. Misalnya mengajarkan al-Qur’an kepada putra-putri kita dan anak-anak TPQ.Berikutnya berbagi harta. Apalagi bagi mereka yang mendapatkan kelapangan rizki. Di antara ladang kebajikan yang tidak layak diabaikan adalah: amal jariyah, seperti wakaf untuk sarana ibadah atau pendidikan agama.Adapun yang minim ilmu dan harta, maka ia bisa berbagi tenaganya kepada orang lain. Dengan membantu meringankan bawaan belanja nenek-nenek misalnya, mendorong mobil yang mogok di tengah jalan, atau yang semisalnya.Pendek kata, jadilah orang yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain, niscaya hidup Anda akan bahagia!@Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Shafar 1436 / 28 Nopember 2014.activate javascript<span id=”mce_marker” data-mce-type=”bookmark”>​</span>activate javascript Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak IndigoNext Anak dan Dasar-Dasar Keilmuan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Urip Iku Urup

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPepatah jawa di atas merupakan salah satu mutiara nasehat yang sudah semakin pudar penerapannya di zaman ini. Terutama di saat egoisme semakin menggurita dan mendominasi kehidupan manusia.Urip iku urup jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bermakna hidup itu semestinya membuat nyala. Nyala di sini diartikan positif. Bila diibaratkan api, maka api tersebut menerangi. Memberi manfaat bagi sekitarnya.Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Menjalin komunikasi dengan yang lain. Manusia tidak bisa mengisolir diri, meskipun memiliki materi yang berlimpah. Itulah mengapa hidup itu harus menyala. Saling tolong-menolong adalah suatu kepastian. Itulah mengapa manusia membutuhkan manusia yang lain.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“.“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. HR. Ath-Thabarany dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albany.Seorang bijak pernah berujar, “Jangan engkau menjadi orang sukses. Tapi jadilah orang yang penuh manfaat bagi orang lain”.Inilah salah satu tujuan hidup manusia. Seseorang harusnya memiliki keterpanggilan untuk saling menolong saudaranya bukan mementingkan ego diri masing-masing. Karena manusia terbaik adalah yang memberi manfaat bagi sesamanya.Ada paradoks di sini. Manusia menganggap kesuksesan dapat mendatangkan kebahagiaan. Tapi nyatanya ketika mereka menggapai satu titik, maka akan mengejar titik yang lain di atasnya dan tidak pernah puas. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan,“لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ“.“Andaikan anak Adam memiliki dua lembah berisikan harta, niscaya dia ingin lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa mengisi perut anak Adam melainkan hanya tanah. Allah akan menerima taubat hamba yang bertaubat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma.Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita berbagi. Selain merasakan kebahagiaan ketika berbagi atau membantu orang lain, Allah akan menolong melalui jalan yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam sebuah hadits sahih diterangkan,“وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ“.“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Ruang berbagi dengan orang lain amatlah luas. Yang paling tinggi adalah berbagi ilmu agama. Alias mengajarkannya, terutama kepada yang membutuhkannya. Misalnya mengajarkan al-Qur’an kepada putra-putri kita dan anak-anak TPQ.Berikutnya berbagi harta. Apalagi bagi mereka yang mendapatkan kelapangan rizki. Di antara ladang kebajikan yang tidak layak diabaikan adalah: amal jariyah, seperti wakaf untuk sarana ibadah atau pendidikan agama.Adapun yang minim ilmu dan harta, maka ia bisa berbagi tenaganya kepada orang lain. Dengan membantu meringankan bawaan belanja nenek-nenek misalnya, mendorong mobil yang mogok di tengah jalan, atau yang semisalnya.Pendek kata, jadilah orang yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain, niscaya hidup Anda akan bahagia!@Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Shafar 1436 / 28 Nopember 2014.activate javascript<span id=”mce_marker” data-mce-type=”bookmark”>​</span>activate javascript Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak IndigoNext Anak dan Dasar-Dasar Keilmuan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPepatah jawa di atas merupakan salah satu mutiara nasehat yang sudah semakin pudar penerapannya di zaman ini. Terutama di saat egoisme semakin menggurita dan mendominasi kehidupan manusia.Urip iku urup jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bermakna hidup itu semestinya membuat nyala. Nyala di sini diartikan positif. Bila diibaratkan api, maka api tersebut menerangi. Memberi manfaat bagi sekitarnya.Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Menjalin komunikasi dengan yang lain. Manusia tidak bisa mengisolir diri, meskipun memiliki materi yang berlimpah. Itulah mengapa hidup itu harus menyala. Saling tolong-menolong adalah suatu kepastian. Itulah mengapa manusia membutuhkan manusia yang lain.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“.“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. HR. Ath-Thabarany dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albany.Seorang bijak pernah berujar, “Jangan engkau menjadi orang sukses. Tapi jadilah orang yang penuh manfaat bagi orang lain”.Inilah salah satu tujuan hidup manusia. Seseorang harusnya memiliki keterpanggilan untuk saling menolong saudaranya bukan mementingkan ego diri masing-masing. Karena manusia terbaik adalah yang memberi manfaat bagi sesamanya.Ada paradoks di sini. Manusia menganggap kesuksesan dapat mendatangkan kebahagiaan. Tapi nyatanya ketika mereka menggapai satu titik, maka akan mengejar titik yang lain di atasnya dan tidak pernah puas. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan,“لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ“.“Andaikan anak Adam memiliki dua lembah berisikan harta, niscaya dia ingin lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa mengisi perut anak Adam melainkan hanya tanah. Allah akan menerima taubat hamba yang bertaubat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma.Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita berbagi. Selain merasakan kebahagiaan ketika berbagi atau membantu orang lain, Allah akan menolong melalui jalan yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam sebuah hadits sahih diterangkan,“وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ“.“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Ruang berbagi dengan orang lain amatlah luas. Yang paling tinggi adalah berbagi ilmu agama. Alias mengajarkannya, terutama kepada yang membutuhkannya. Misalnya mengajarkan al-Qur’an kepada putra-putri kita dan anak-anak TPQ.Berikutnya berbagi harta. Apalagi bagi mereka yang mendapatkan kelapangan rizki. Di antara ladang kebajikan yang tidak layak diabaikan adalah: amal jariyah, seperti wakaf untuk sarana ibadah atau pendidikan agama.Adapun yang minim ilmu dan harta, maka ia bisa berbagi tenaganya kepada orang lain. Dengan membantu meringankan bawaan belanja nenek-nenek misalnya, mendorong mobil yang mogok di tengah jalan, atau yang semisalnya.Pendek kata, jadilah orang yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain, niscaya hidup Anda akan bahagia!@Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Shafar 1436 / 28 Nopember 2014.activate javascript<span id=”mce_marker” data-mce-type=”bookmark”>​</span>activate javascript Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak IndigoNext Anak dan Dasar-Dasar Keilmuan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPepatah jawa di atas merupakan salah satu mutiara nasehat yang sudah semakin pudar penerapannya di zaman ini. Terutama di saat egoisme semakin menggurita dan mendominasi kehidupan manusia.Urip iku urup jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bermakna hidup itu semestinya membuat nyala. Nyala di sini diartikan positif. Bila diibaratkan api, maka api tersebut menerangi. Memberi manfaat bagi sekitarnya.Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Menjalin komunikasi dengan yang lain. Manusia tidak bisa mengisolir diri, meskipun memiliki materi yang berlimpah. Itulah mengapa hidup itu harus menyala. Saling tolong-menolong adalah suatu kepastian. Itulah mengapa manusia membutuhkan manusia yang lain.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“.“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. HR. Ath-Thabarany dalam al-Ausath dan dinilai sahih oleh al-Albany.Seorang bijak pernah berujar, “Jangan engkau menjadi orang sukses. Tapi jadilah orang yang penuh manfaat bagi orang lain”.Inilah salah satu tujuan hidup manusia. Seseorang harusnya memiliki keterpanggilan untuk saling menolong saudaranya bukan mementingkan ego diri masing-masing. Karena manusia terbaik adalah yang memberi manfaat bagi sesamanya.Ada paradoks di sini. Manusia menganggap kesuksesan dapat mendatangkan kebahagiaan. Tapi nyatanya ketika mereka menggapai satu titik, maka akan mengejar titik yang lain di atasnya dan tidak pernah puas. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan,“لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ“.“Andaikan anak Adam memiliki dua lembah berisikan harta, niscaya dia ingin lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa mengisi perut anak Adam melainkan hanya tanah. Allah akan menerima taubat hamba yang bertaubat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma.Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita berbagi. Selain merasakan kebahagiaan ketika berbagi atau membantu orang lain, Allah akan menolong melalui jalan yang tidak kita duga sebelumnya. Dalam sebuah hadits sahih diterangkan,“وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ“.“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Ruang berbagi dengan orang lain amatlah luas. Yang paling tinggi adalah berbagi ilmu agama. Alias mengajarkannya, terutama kepada yang membutuhkannya. Misalnya mengajarkan al-Qur’an kepada putra-putri kita dan anak-anak TPQ.Berikutnya berbagi harta. Apalagi bagi mereka yang mendapatkan kelapangan rizki. Di antara ladang kebajikan yang tidak layak diabaikan adalah: amal jariyah, seperti wakaf untuk sarana ibadah atau pendidikan agama.Adapun yang minim ilmu dan harta, maka ia bisa berbagi tenaganya kepada orang lain. Dengan membantu meringankan bawaan belanja nenek-nenek misalnya, mendorong mobil yang mogok di tengah jalan, atau yang semisalnya.Pendek kata, jadilah orang yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain, niscaya hidup Anda akan bahagia!@Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 5 Shafar 1436 / 28 Nopember 2014.activate javascript&lt;span id=&#8221;mce_marker&#8221; data-mce-type=&#8221;bookmark&#8221;&gt;​&lt;/span&gt;activate javascript<span id="mce_marker" data-mce-type="bookmark">​</span> Post navigation Previous Video Dunia Lain Rodja TV: Fenomena Anak IndigoNext Anak dan Dasar-Dasar Keilmuan Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Anak dan Dasar-Dasar Keilmuan

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 49ANAK DAN DASAR-DASAR KEILMUAN* Tanamkanlah kepada anak kecintaan terhadap ilmu dan ajarkan adab-adabnya. Sampaikan kepada anak hadits Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ““Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah dari Anas bin Mâlik radhiyallahu’anhu, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albâni.Jelaskan padanya bahwa ilmu laksana cahaya. Orang yang tak punya ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak tahu jalan mana yang harus ia tempuh dan apa yang harus ia lakukan saat menghadapi masalah.Terangkan bahwa kebutuhan kita terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam kita makan hanya tiga kali. Adapun ilmu selalu kita butuhkan di setiap saat.Jelaskan pula bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya,“يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَات“Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat”. QS. Al-Mujadilah (58): 11.Ilmu adalah sesuatu yang harus kita miliki sebelum kita berbicara dan berbuat.Kebaikan hidup di dunia dan di akhirat hanya dapat diraih dengan ilmu. Dalam sebuah hadits sahih Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ““Barang siapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan; niscaya Allah akan karuniakan padanya pemahaman terhadap agama“. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ’anhu.Sampaikan juga kepada putra-putri kita bahwa barangsiapa menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,“وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ”“Barang siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu; maka niscaya Allah akan mudahkan untuknya jalan ke surga”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Jumadal Ula 1436 / 2 Maret 2015* Dinukil dengan sedikit perubahan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 111-113). Post navigation Previous Urip Iku UrupNext WAKAF KENDARAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Anak dan Dasar-Dasar Keilmuan

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 49ANAK DAN DASAR-DASAR KEILMUAN* Tanamkanlah kepada anak kecintaan terhadap ilmu dan ajarkan adab-adabnya. Sampaikan kepada anak hadits Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ““Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah dari Anas bin Mâlik radhiyallahu’anhu, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albâni.Jelaskan padanya bahwa ilmu laksana cahaya. Orang yang tak punya ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak tahu jalan mana yang harus ia tempuh dan apa yang harus ia lakukan saat menghadapi masalah.Terangkan bahwa kebutuhan kita terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam kita makan hanya tiga kali. Adapun ilmu selalu kita butuhkan di setiap saat.Jelaskan pula bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya,“يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَات“Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat”. QS. Al-Mujadilah (58): 11.Ilmu adalah sesuatu yang harus kita miliki sebelum kita berbicara dan berbuat.Kebaikan hidup di dunia dan di akhirat hanya dapat diraih dengan ilmu. Dalam sebuah hadits sahih Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ““Barang siapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan; niscaya Allah akan karuniakan padanya pemahaman terhadap agama“. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ’anhu.Sampaikan juga kepada putra-putri kita bahwa barangsiapa menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,“وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ”“Barang siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu; maka niscaya Allah akan mudahkan untuknya jalan ke surga”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Jumadal Ula 1436 / 2 Maret 2015* Dinukil dengan sedikit perubahan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 111-113). Post navigation Previous Urip Iku UrupNext WAKAF KENDARAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 49ANAK DAN DASAR-DASAR KEILMUAN* Tanamkanlah kepada anak kecintaan terhadap ilmu dan ajarkan adab-adabnya. Sampaikan kepada anak hadits Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ““Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah dari Anas bin Mâlik radhiyallahu’anhu, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albâni.Jelaskan padanya bahwa ilmu laksana cahaya. Orang yang tak punya ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak tahu jalan mana yang harus ia tempuh dan apa yang harus ia lakukan saat menghadapi masalah.Terangkan bahwa kebutuhan kita terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam kita makan hanya tiga kali. Adapun ilmu selalu kita butuhkan di setiap saat.Jelaskan pula bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya,“يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَات“Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat”. QS. Al-Mujadilah (58): 11.Ilmu adalah sesuatu yang harus kita miliki sebelum kita berbicara dan berbuat.Kebaikan hidup di dunia dan di akhirat hanya dapat diraih dengan ilmu. Dalam sebuah hadits sahih Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ““Barang siapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan; niscaya Allah akan karuniakan padanya pemahaman terhadap agama“. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ’anhu.Sampaikan juga kepada putra-putri kita bahwa barangsiapa menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,“وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ”“Barang siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu; maka niscaya Allah akan mudahkan untuknya jalan ke surga”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Jumadal Ula 1436 / 2 Maret 2015* Dinukil dengan sedikit perubahan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 111-113). Post navigation Previous Urip Iku UrupNext WAKAF KENDARAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 49ANAK DAN DASAR-DASAR KEILMUAN* Tanamkanlah kepada anak kecintaan terhadap ilmu dan ajarkan adab-adabnya. Sampaikan kepada anak hadits Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ““Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah dari Anas bin Mâlik radhiyallahu’anhu, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albâni.Jelaskan padanya bahwa ilmu laksana cahaya. Orang yang tak punya ilmu akan hidup dalam kegelapan. Tidak tahu jalan mana yang harus ia tempuh dan apa yang harus ia lakukan saat menghadapi masalah.Terangkan bahwa kebutuhan kita terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makan dan minum. Sebab dalam sehari semalam kita makan hanya tiga kali. Adapun ilmu selalu kita butuhkan di setiap saat.Jelaskan pula bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya,“يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَات“Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat”. QS. Al-Mujadilah (58): 11.Ilmu adalah sesuatu yang harus kita miliki sebelum kita berbicara dan berbuat.Kebaikan hidup di dunia dan di akhirat hanya dapat diraih dengan ilmu. Dalam sebuah hadits sahih Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ““Barang siapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan; niscaya Allah akan karuniakan padanya pemahaman terhadap agama“. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ’anhu.Sampaikan juga kepada putra-putri kita bahwa barangsiapa menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,“وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ”“Barang siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu; maka niscaya Allah akan mudahkan untuknya jalan ke surga”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Jumadal Ula 1436 / 2 Maret 2015* Dinukil dengan sedikit perubahan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 111-113). Post navigation Previous Urip Iku UrupNext WAKAF KENDARAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

WAKAF KENDARAAN

Pintu-pintu pahala itu amatlah banyak dan beragam. Tidak sempit dan terbatas seperti yang dikira oleh sebagian orang. Insan yang berilmu memanfaatkan ilmunya untuk mendulang pahala dengan mengajarkannya pada masyarakat. Orang yang dikaruniai kekuatan fisik akan menggunakannya untuk berjuang di jalan Allah. Orang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk mendukung kegiatan Islam. Pahala yang akan didulangnya pun insyaAllah tidak akan kalah dengan pelaku dakwah.Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا“Siapa yang menyiapkan kebutuhan seorang yang berperang fi sabilillah maka sungguh ia telah ikut berperang”.Saat ini, Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga sedang membutuhkan kendaraan yang representatif untuk transportasi kegiatan pendidikan dan keagamaan. Karenanya, Pondok membuka peluang bagi kaum muslimin dan muslimat untuk berandil dalam investasi pahala.Dengan cara: Pertama:Wakaf kendaraan baru. Atau bisa juga yang bekas, namun dengan catatan masih dalam kondisi baik.Kedua: Wakaf uang untuk pembelian kendaraan roda empat. Dibutuhkan dana sekitar 300 juta rupiah. Untuk pembelian mobil Isuzu ELF Microbus, tipe NHR 55 LWB Microbuss E2 FH 2. Dipilihnya kendaraan jenis ini karena pertimbangan kapasitas penumpang yang besar (20 orang). Adapun pemilihan yang baru, karena pertimbangan perawatan ke depannya yang lebih mudah dan efisien.Dana wakaf bisa ditransfer melalui Bank Muamalat Indonesia, KCP Purbalingga, nomor rekening: 5440003080, a.n Yayasan Islam Tunas IlmuPurbalingga.Lalu mengkorfirmasikannya ke nomor HP 0821 380 22771.Selamat berinvestasi pahala!20.1.14  Post navigation Previous Anak dan Dasar-Dasar KeilmuanNext KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

WAKAF KENDARAAN

Pintu-pintu pahala itu amatlah banyak dan beragam. Tidak sempit dan terbatas seperti yang dikira oleh sebagian orang. Insan yang berilmu memanfaatkan ilmunya untuk mendulang pahala dengan mengajarkannya pada masyarakat. Orang yang dikaruniai kekuatan fisik akan menggunakannya untuk berjuang di jalan Allah. Orang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk mendukung kegiatan Islam. Pahala yang akan didulangnya pun insyaAllah tidak akan kalah dengan pelaku dakwah.Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا“Siapa yang menyiapkan kebutuhan seorang yang berperang fi sabilillah maka sungguh ia telah ikut berperang”.Saat ini, Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga sedang membutuhkan kendaraan yang representatif untuk transportasi kegiatan pendidikan dan keagamaan. Karenanya, Pondok membuka peluang bagi kaum muslimin dan muslimat untuk berandil dalam investasi pahala.Dengan cara: Pertama:Wakaf kendaraan baru. Atau bisa juga yang bekas, namun dengan catatan masih dalam kondisi baik.Kedua: Wakaf uang untuk pembelian kendaraan roda empat. Dibutuhkan dana sekitar 300 juta rupiah. Untuk pembelian mobil Isuzu ELF Microbus, tipe NHR 55 LWB Microbuss E2 FH 2. Dipilihnya kendaraan jenis ini karena pertimbangan kapasitas penumpang yang besar (20 orang). Adapun pemilihan yang baru, karena pertimbangan perawatan ke depannya yang lebih mudah dan efisien.Dana wakaf bisa ditransfer melalui Bank Muamalat Indonesia, KCP Purbalingga, nomor rekening: 5440003080, a.n Yayasan Islam Tunas IlmuPurbalingga.Lalu mengkorfirmasikannya ke nomor HP 0821 380 22771.Selamat berinvestasi pahala!20.1.14  Post navigation Previous Anak dan Dasar-Dasar KeilmuanNext KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Pintu-pintu pahala itu amatlah banyak dan beragam. Tidak sempit dan terbatas seperti yang dikira oleh sebagian orang. Insan yang berilmu memanfaatkan ilmunya untuk mendulang pahala dengan mengajarkannya pada masyarakat. Orang yang dikaruniai kekuatan fisik akan menggunakannya untuk berjuang di jalan Allah. Orang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk mendukung kegiatan Islam. Pahala yang akan didulangnya pun insyaAllah tidak akan kalah dengan pelaku dakwah.Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا“Siapa yang menyiapkan kebutuhan seorang yang berperang fi sabilillah maka sungguh ia telah ikut berperang”.Saat ini, Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga sedang membutuhkan kendaraan yang representatif untuk transportasi kegiatan pendidikan dan keagamaan. Karenanya, Pondok membuka peluang bagi kaum muslimin dan muslimat untuk berandil dalam investasi pahala.Dengan cara: Pertama:Wakaf kendaraan baru. Atau bisa juga yang bekas, namun dengan catatan masih dalam kondisi baik.Kedua: Wakaf uang untuk pembelian kendaraan roda empat. Dibutuhkan dana sekitar 300 juta rupiah. Untuk pembelian mobil Isuzu ELF Microbus, tipe NHR 55 LWB Microbuss E2 FH 2. Dipilihnya kendaraan jenis ini karena pertimbangan kapasitas penumpang yang besar (20 orang). Adapun pemilihan yang baru, karena pertimbangan perawatan ke depannya yang lebih mudah dan efisien.Dana wakaf bisa ditransfer melalui Bank Muamalat Indonesia, KCP Purbalingga, nomor rekening: 5440003080, a.n Yayasan Islam Tunas IlmuPurbalingga.Lalu mengkorfirmasikannya ke nomor HP 0821 380 22771.Selamat berinvestasi pahala!20.1.14  Post navigation Previous Anak dan Dasar-Dasar KeilmuanNext KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Pintu-pintu pahala itu amatlah banyak dan beragam. Tidak sempit dan terbatas seperti yang dikira oleh sebagian orang. Insan yang berilmu memanfaatkan ilmunya untuk mendulang pahala dengan mengajarkannya pada masyarakat. Orang yang dikaruniai kekuatan fisik akan menggunakannya untuk berjuang di jalan Allah. Orang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk mendukung kegiatan Islam. Pahala yang akan didulangnya pun insyaAllah tidak akan kalah dengan pelaku dakwah.Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا“Siapa yang menyiapkan kebutuhan seorang yang berperang fi sabilillah maka sungguh ia telah ikut berperang”.Saat ini, Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga sedang membutuhkan kendaraan yang representatif untuk transportasi kegiatan pendidikan dan keagamaan. Karenanya, Pondok membuka peluang bagi kaum muslimin dan muslimat untuk berandil dalam investasi pahala.Dengan cara: Pertama:Wakaf kendaraan baru. Atau bisa juga yang bekas, namun dengan catatan masih dalam kondisi baik.Kedua: Wakaf uang untuk pembelian kendaraan roda empat. Dibutuhkan dana sekitar 300 juta rupiah. Untuk pembelian mobil Isuzu ELF Microbus, tipe NHR 55 LWB Microbuss E2 FH 2. Dipilihnya kendaraan jenis ini karena pertimbangan kapasitas penumpang yang besar (20 orang). Adapun pemilihan yang baru, karena pertimbangan perawatan ke depannya yang lebih mudah dan efisien.Dana wakaf bisa ditransfer melalui Bank Muamalat Indonesia, KCP Purbalingga, nomor rekening: 5440003080, a.n Yayasan Islam Tunas IlmuPurbalingga.Lalu mengkorfirmasikannya ke nomor HP 0821 380 22771.Selamat berinvestasi pahala!20.1.14  Post navigation Previous Anak dan Dasar-Dasar KeilmuanNext KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MAKNA KALIMAT TAKBIR*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 63Setelah kita membahas beberapa keistimewaan takbir, saatnya kita mengkaji makna dari kalimat mulia ini. Supaya dzikir kita berkualitas tinggi, sebab penuh dengan penghayatan.Kalimat takbir terjemahannya adalah: Allah Maha besar. Adapun maknanya adalah kita harus meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keagungan dan kebesaran dzat Allah, juga keagungan sifat-sifat-Nya adalah sesuatu yang tidak mungkin diliputi oleh akal manusia. Jangankan keagungan Allah, kebesaran para makhluk-Nya saja, terkadang kita kesulitan untuk meliputinya.Di antara makhluk terbesar adalah ‘Arsy. Di atasnyalah Allah berada. Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan ‘Arsy seperti kubah dan atap bagi alam ini yang terdiri dari langit dan bumi serta isinya. Di sini sangat jelas menunjukkan keagungan, kebesaran dan keluasan ‘Arsy. Bukan hanya lebih besar dari langit dan bumi, akan tetapi keluasannya tidak dapat dibayangkan oleh kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,“مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الكُرْسِي كَفَضْل الفلاَةِ عَلَى الحَلَقَةِ”.“Tidaklah langit yang tujuh dibanding Kursiy kecuali hanya seperti cincin yang diletakkan di padang pasir. Dan besarnya ‘Arsy dibandingkan dengan Kursiy, seperti lebih besarnya suatu padang pasir dibanding sebuah cincin”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam Kitab al-‘Arsy dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Seharusnya seorang muslim mau merenungkan betapa besarnya langit dibanding bumi, betapa agungnya tahta Kursiy dibanding langit, dan betapa agungnya ‘Arsy dibanding tahta Kursiy. Akal tidak akan sanggup menjangkau keberadaan dan tata cara semua itu. Padahal mereka hanyalah makhluk. Lalu bagaimana dengan keagungan Allah yang menciptakan semua itu?!Keagungan dan kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya jelas terlampau besar untuk bisa diliputi oleh akal pikiran manusia yang paling hebat sekalipun. Karena itu ada sebuah hadits yang melarang untuk membayangkan hakikat dzat Allah, sebab semua akal dan pikiran pasti tidak akan mampu menjangkaunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,تَفَكَّرُوا فِي آلاءِ اللَّهِ، وَلا تَتَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ“Bayangkanlah keagungan makhluk-makhluk Allah dan jangan membayangkan dzat Allah”. HR. Al-Lalaka’i dalam Syarah al-I’tiqad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Apabila hati seorang muslim dapat merasakan akan kebesaran makhluk seperti langit, bumi, ‘Arsy dan sebagainya, kemudian timbul dalam hatinya rasa ketidakmampuan memikirkan dan menjangkau semua itu; maka akan muncul pengetahuan ketiga yakni kebesaran dan keagungan Tuhan yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut, yang tidak mungkin dapat diliputi serta dicerna oleh akal pikiran. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”. QS. Al-Isra (7): 111.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1435 / 29 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/285-289).DOWONLOAD ARTIKEL INI activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2*Next KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MAKNA KALIMAT TAKBIR*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 63Setelah kita membahas beberapa keistimewaan takbir, saatnya kita mengkaji makna dari kalimat mulia ini. Supaya dzikir kita berkualitas tinggi, sebab penuh dengan penghayatan.Kalimat takbir terjemahannya adalah: Allah Maha besar. Adapun maknanya adalah kita harus meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keagungan dan kebesaran dzat Allah, juga keagungan sifat-sifat-Nya adalah sesuatu yang tidak mungkin diliputi oleh akal manusia. Jangankan keagungan Allah, kebesaran para makhluk-Nya saja, terkadang kita kesulitan untuk meliputinya.Di antara makhluk terbesar adalah ‘Arsy. Di atasnyalah Allah berada. Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan ‘Arsy seperti kubah dan atap bagi alam ini yang terdiri dari langit dan bumi serta isinya. Di sini sangat jelas menunjukkan keagungan, kebesaran dan keluasan ‘Arsy. Bukan hanya lebih besar dari langit dan bumi, akan tetapi keluasannya tidak dapat dibayangkan oleh kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,“مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الكُرْسِي كَفَضْل الفلاَةِ عَلَى الحَلَقَةِ”.“Tidaklah langit yang tujuh dibanding Kursiy kecuali hanya seperti cincin yang diletakkan di padang pasir. Dan besarnya ‘Arsy dibandingkan dengan Kursiy, seperti lebih besarnya suatu padang pasir dibanding sebuah cincin”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam Kitab al-‘Arsy dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Seharusnya seorang muslim mau merenungkan betapa besarnya langit dibanding bumi, betapa agungnya tahta Kursiy dibanding langit, dan betapa agungnya ‘Arsy dibanding tahta Kursiy. Akal tidak akan sanggup menjangkau keberadaan dan tata cara semua itu. Padahal mereka hanyalah makhluk. Lalu bagaimana dengan keagungan Allah yang menciptakan semua itu?!Keagungan dan kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya jelas terlampau besar untuk bisa diliputi oleh akal pikiran manusia yang paling hebat sekalipun. Karena itu ada sebuah hadits yang melarang untuk membayangkan hakikat dzat Allah, sebab semua akal dan pikiran pasti tidak akan mampu menjangkaunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,تَفَكَّرُوا فِي آلاءِ اللَّهِ، وَلا تَتَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ“Bayangkanlah keagungan makhluk-makhluk Allah dan jangan membayangkan dzat Allah”. HR. Al-Lalaka’i dalam Syarah al-I’tiqad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Apabila hati seorang muslim dapat merasakan akan kebesaran makhluk seperti langit, bumi, ‘Arsy dan sebagainya, kemudian timbul dalam hatinya rasa ketidakmampuan memikirkan dan menjangkau semua itu; maka akan muncul pengetahuan ketiga yakni kebesaran dan keagungan Tuhan yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut, yang tidak mungkin dapat diliputi serta dicerna oleh akal pikiran. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”. QS. Al-Isra (7): 111.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1435 / 29 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/285-289).DOWONLOAD ARTIKEL INI activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2*Next KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 63Setelah kita membahas beberapa keistimewaan takbir, saatnya kita mengkaji makna dari kalimat mulia ini. Supaya dzikir kita berkualitas tinggi, sebab penuh dengan penghayatan.Kalimat takbir terjemahannya adalah: Allah Maha besar. Adapun maknanya adalah kita harus meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keagungan dan kebesaran dzat Allah, juga keagungan sifat-sifat-Nya adalah sesuatu yang tidak mungkin diliputi oleh akal manusia. Jangankan keagungan Allah, kebesaran para makhluk-Nya saja, terkadang kita kesulitan untuk meliputinya.Di antara makhluk terbesar adalah ‘Arsy. Di atasnyalah Allah berada. Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan ‘Arsy seperti kubah dan atap bagi alam ini yang terdiri dari langit dan bumi serta isinya. Di sini sangat jelas menunjukkan keagungan, kebesaran dan keluasan ‘Arsy. Bukan hanya lebih besar dari langit dan bumi, akan tetapi keluasannya tidak dapat dibayangkan oleh kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,“مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الكُرْسِي كَفَضْل الفلاَةِ عَلَى الحَلَقَةِ”.“Tidaklah langit yang tujuh dibanding Kursiy kecuali hanya seperti cincin yang diletakkan di padang pasir. Dan besarnya ‘Arsy dibandingkan dengan Kursiy, seperti lebih besarnya suatu padang pasir dibanding sebuah cincin”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam Kitab al-‘Arsy dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Seharusnya seorang muslim mau merenungkan betapa besarnya langit dibanding bumi, betapa agungnya tahta Kursiy dibanding langit, dan betapa agungnya ‘Arsy dibanding tahta Kursiy. Akal tidak akan sanggup menjangkau keberadaan dan tata cara semua itu. Padahal mereka hanyalah makhluk. Lalu bagaimana dengan keagungan Allah yang menciptakan semua itu?!Keagungan dan kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya jelas terlampau besar untuk bisa diliputi oleh akal pikiran manusia yang paling hebat sekalipun. Karena itu ada sebuah hadits yang melarang untuk membayangkan hakikat dzat Allah, sebab semua akal dan pikiran pasti tidak akan mampu menjangkaunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,تَفَكَّرُوا فِي آلاءِ اللَّهِ، وَلا تَتَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ“Bayangkanlah keagungan makhluk-makhluk Allah dan jangan membayangkan dzat Allah”. HR. Al-Lalaka’i dalam Syarah al-I’tiqad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Apabila hati seorang muslim dapat merasakan akan kebesaran makhluk seperti langit, bumi, ‘Arsy dan sebagainya, kemudian timbul dalam hatinya rasa ketidakmampuan memikirkan dan menjangkau semua itu; maka akan muncul pengetahuan ketiga yakni kebesaran dan keagungan Tuhan yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut, yang tidak mungkin dapat diliputi serta dicerna oleh akal pikiran. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”. QS. Al-Isra (7): 111.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1435 / 29 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/285-289).DOWONLOAD ARTIKEL INI activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2*Next KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 63Setelah kita membahas beberapa keistimewaan takbir, saatnya kita mengkaji makna dari kalimat mulia ini. Supaya dzikir kita berkualitas tinggi, sebab penuh dengan penghayatan.Kalimat takbir terjemahannya adalah: Allah Maha besar. Adapun maknanya adalah kita harus meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keagungan dan kebesaran dzat Allah, juga keagungan sifat-sifat-Nya adalah sesuatu yang tidak mungkin diliputi oleh akal manusia. Jangankan keagungan Allah, kebesaran para makhluk-Nya saja, terkadang kita kesulitan untuk meliputinya.Di antara makhluk terbesar adalah ‘Arsy. Di atasnyalah Allah berada. Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan ‘Arsy seperti kubah dan atap bagi alam ini yang terdiri dari langit dan bumi serta isinya. Di sini sangat jelas menunjukkan keagungan, kebesaran dan keluasan ‘Arsy. Bukan hanya lebih besar dari langit dan bumi, akan tetapi keluasannya tidak dapat dibayangkan oleh kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,“مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الكُرْسِي كَفَضْل الفلاَةِ عَلَى الحَلَقَةِ”.“Tidaklah langit yang tujuh dibanding Kursiy kecuali hanya seperti cincin yang diletakkan di padang pasir. Dan besarnya ‘Arsy dibandingkan dengan Kursiy, seperti lebih besarnya suatu padang pasir dibanding sebuah cincin”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam Kitab al-‘Arsy dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.Seharusnya seorang muslim mau merenungkan betapa besarnya langit dibanding bumi, betapa agungnya tahta Kursiy dibanding langit, dan betapa agungnya ‘Arsy dibanding tahta Kursiy. Akal tidak akan sanggup menjangkau keberadaan dan tata cara semua itu. Padahal mereka hanyalah makhluk. Lalu bagaimana dengan keagungan Allah yang menciptakan semua itu?!Keagungan dan kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya jelas terlampau besar untuk bisa diliputi oleh akal pikiran manusia yang paling hebat sekalipun. Karena itu ada sebuah hadits yang melarang untuk membayangkan hakikat dzat Allah, sebab semua akal dan pikiran pasti tidak akan mampu menjangkaunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,تَفَكَّرُوا فِي آلاءِ اللَّهِ، وَلا تَتَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ“Bayangkanlah keagungan makhluk-makhluk Allah dan jangan membayangkan dzat Allah”. HR. Al-Lalaka’i dalam Syarah al-I’tiqad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Apabila hati seorang muslim dapat merasakan akan kebesaran makhluk seperti langit, bumi, ‘Arsy dan sebagainya, kemudian timbul dalam hatinya rasa ketidakmampuan memikirkan dan menjangkau semua itu; maka akan muncul pengetahuan ketiga yakni kebesaran dan keagungan Tuhan yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut, yang tidak mungkin dapat diliputi serta dicerna oleh akal pikiran. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”. QS. Al-Isra (7): 111.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1435 / 29 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/285-289).DOWONLOAD ARTIKEL INI activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2*Next KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 64Sudah berlalu pembahasan tentang makna kalimat takbir. Bahwa maknanya adalah meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keyakinan di atas seharusnya berkonsekwensi untuk melahirkan perilaku-perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari kita. Inilah sebenarnya dzikir yang berkualitas. Yakni yang membuahkan perangai baik dalam keseharian.Di antara buah merenungi kalimat takbir: Mendorong untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Yang Maha BesarSeorang hamba dalam menyembah dan beribadah, seharusnya hanya memilih tuhan yang maha besar. Sebab hanya yang maha besar, yang layak untuk disembah. Anehnya tidak sedikit para manusia yang memilih untuk menyembah makhluk yang kecil, bahkan teramat kecil. Allah ta’ala mengingatkan,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ” Artinya: “Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) Yang benar. Dan apa saja yang mereka sembah selain Dia, itulah yang batil. Sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62. Mengagungkan perintah dan larangan AllahBila kita meyakini bahwa Allah Maha Besar, maka konsekwensinya kita pun harus menghadirkan perasaan akan kebesaran dan keagungan syariat-Nya. Sehingga kita terus berusaha untuk mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ”Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”. QS. AL-Hajj (22): 32. Tidak besar kepala dan sombongSaat seorang hamba merasakan kebesaran Allah, maka seharusnya dia merasa bahwa dirinya kecil dan tidak layak untuk menyombongkan diri. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِى وَالْعَظَمَةُ إِزَارِى؛ فَمَنْ نَازَعَنِى وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِى النَّارِ”.Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sifat sombong itu selendang-Ku, dan keagungan itu pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingiku dalam salah satu dari dua sifat tersebut, maka Aku akan campakkan dia ke dalam neraka”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1435 / 2o Oktober 2014 Disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber, di antaranya http://alsalafway.com/cms/news.php?action=news&id=1633.DOWNLOAD ARTIKEL “KONSEKUENSI KALIMAT TARKBIR” Post navigation Previous MAKNA KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 64Sudah berlalu pembahasan tentang makna kalimat takbir. Bahwa maknanya adalah meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keyakinan di atas seharusnya berkonsekwensi untuk melahirkan perilaku-perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari kita. Inilah sebenarnya dzikir yang berkualitas. Yakni yang membuahkan perangai baik dalam keseharian.Di antara buah merenungi kalimat takbir: Mendorong untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Yang Maha BesarSeorang hamba dalam menyembah dan beribadah, seharusnya hanya memilih tuhan yang maha besar. Sebab hanya yang maha besar, yang layak untuk disembah. Anehnya tidak sedikit para manusia yang memilih untuk menyembah makhluk yang kecil, bahkan teramat kecil. Allah ta’ala mengingatkan,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ” Artinya: “Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) Yang benar. Dan apa saja yang mereka sembah selain Dia, itulah yang batil. Sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62. Mengagungkan perintah dan larangan AllahBila kita meyakini bahwa Allah Maha Besar, maka konsekwensinya kita pun harus menghadirkan perasaan akan kebesaran dan keagungan syariat-Nya. Sehingga kita terus berusaha untuk mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ”Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”. QS. AL-Hajj (22): 32. Tidak besar kepala dan sombongSaat seorang hamba merasakan kebesaran Allah, maka seharusnya dia merasa bahwa dirinya kecil dan tidak layak untuk menyombongkan diri. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِى وَالْعَظَمَةُ إِزَارِى؛ فَمَنْ نَازَعَنِى وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِى النَّارِ”.Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sifat sombong itu selendang-Ku, dan keagungan itu pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingiku dalam salah satu dari dua sifat tersebut, maka Aku akan campakkan dia ke dalam neraka”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1435 / 2o Oktober 2014 Disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber, di antaranya http://alsalafway.com/cms/news.php?action=news&id=1633.DOWNLOAD ARTIKEL “KONSEKUENSI KALIMAT TARKBIR” Post navigation Previous MAKNA KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 64Sudah berlalu pembahasan tentang makna kalimat takbir. Bahwa maknanya adalah meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keyakinan di atas seharusnya berkonsekwensi untuk melahirkan perilaku-perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari kita. Inilah sebenarnya dzikir yang berkualitas. Yakni yang membuahkan perangai baik dalam keseharian.Di antara buah merenungi kalimat takbir: Mendorong untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Yang Maha BesarSeorang hamba dalam menyembah dan beribadah, seharusnya hanya memilih tuhan yang maha besar. Sebab hanya yang maha besar, yang layak untuk disembah. Anehnya tidak sedikit para manusia yang memilih untuk menyembah makhluk yang kecil, bahkan teramat kecil. Allah ta’ala mengingatkan,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ” Artinya: “Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) Yang benar. Dan apa saja yang mereka sembah selain Dia, itulah yang batil. Sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62. Mengagungkan perintah dan larangan AllahBila kita meyakini bahwa Allah Maha Besar, maka konsekwensinya kita pun harus menghadirkan perasaan akan kebesaran dan keagungan syariat-Nya. Sehingga kita terus berusaha untuk mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ”Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”. QS. AL-Hajj (22): 32. Tidak besar kepala dan sombongSaat seorang hamba merasakan kebesaran Allah, maka seharusnya dia merasa bahwa dirinya kecil dan tidak layak untuk menyombongkan diri. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِى وَالْعَظَمَةُ إِزَارِى؛ فَمَنْ نَازَعَنِى وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِى النَّارِ”.Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sifat sombong itu selendang-Ku, dan keagungan itu pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingiku dalam salah satu dari dua sifat tersebut, maka Aku akan campakkan dia ke dalam neraka”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1435 / 2o Oktober 2014 Disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber, di antaranya http://alsalafway.com/cms/news.php?action=news&id=1633.DOWNLOAD ARTIKEL “KONSEKUENSI KALIMAT TARKBIR” Post navigation Previous MAKNA KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 64Sudah berlalu pembahasan tentang makna kalimat takbir. Bahwa maknanya adalah meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu dzat yang paling besar, tidak ada satupun yang lebih besar dari-Nya. Segala sesuatu yang besar, di sisi Allah akan terasa kecil.Keyakinan di atas seharusnya berkonsekwensi untuk melahirkan perilaku-perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari kita. Inilah sebenarnya dzikir yang berkualitas. Yakni yang membuahkan perangai baik dalam keseharian.Di antara buah merenungi kalimat takbir: Mendorong untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Yang Maha BesarSeorang hamba dalam menyembah dan beribadah, seharusnya hanya memilih tuhan yang maha besar. Sebab hanya yang maha besar, yang layak untuk disembah. Anehnya tidak sedikit para manusia yang memilih untuk menyembah makhluk yang kecil, bahkan teramat kecil. Allah ta’ala mengingatkan,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ” Artinya: “Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah Dialah (Tuhan) Yang benar. Dan apa saja yang mereka sembah selain Dia, itulah yang batil. Sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62. Mengagungkan perintah dan larangan AllahBila kita meyakini bahwa Allah Maha Besar, maka konsekwensinya kita pun harus menghadirkan perasaan akan kebesaran dan keagungan syariat-Nya. Sehingga kita terus berusaha untuk mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ”Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati”. QS. AL-Hajj (22): 32. Tidak besar kepala dan sombongSaat seorang hamba merasakan kebesaran Allah, maka seharusnya dia merasa bahwa dirinya kecil dan tidak layak untuk menyombongkan diri. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِى وَالْعَظَمَةُ إِزَارِى؛ فَمَنْ نَازَعَنِى وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِى النَّارِ”.Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sifat sombong itu selendang-Ku, dan keagungan itu pakaian-Ku. Barangsiapa yang menyaingiku dalam salah satu dari dua sifat tersebut, maka Aku akan campakkan dia ke dalam neraka”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1435 / 2o Oktober 2014 Disusun oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber, di antaranya http://alsalafway.com/cms/news.php?action=news&id=1633.DOWNLOAD ARTIKEL “KONSEKUENSI KALIMAT TARKBIR” Post navigation Previous MAKNA KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 65Di antara kalimat istimewa yang diajarkan di dalam agama kita adalah kalimat hauqolah, yakni kalimat lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh. Terjemahannya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah”.Banyak nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat mulia yang satu ini. Ada hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Ada pula hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus.Berikut ini beberapa hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya: Menghapuskan dosa-dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ، وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ”“Tidaklah seorang di muka bumi mengucapkan la ilaha illallah, Allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah dan la haula wa la quwwata illah billah; melainkan dosa-dosanya akan diampuni, walaupun lebih banyak dibanding buih di lautan”. HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahaby. Memenuhi tangan hamba dengan kebaikanIbnu Abi Aufa radhiyallahu’anhu bertutur,أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَا أَقْرَأُ الْقُرْآنَ، فَمُرْنِي بِمَا يُجْزِئُنِي مِنْهُ!”، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ”. قَالَ: فَقَالَهَا الرَّجُلُ: وَقَبَضَ كَفَّهُ، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، هَذَا لِلَّهِ تَعَالَى فَمَا لِنَفْسِي؟” قَالَ: “قُلْ: “اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي” . قَالَ: فَقَالَهَا وَقَبَضَ عَلَى كَفِّهِ الْأُخْرَى، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ وَقَدْ قَبَضَ كَفَّيْهِ جَمِيعًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَقَدْ مَلَأَ كَفَّيْهِ مِنَ الْخَيْرِ”.“Suatu hari ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak bisa membaca al-Qur’an. Ajarkan padaku bacaan yang bisa menggantikan al-Qur’an (saat aku shalat)”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bacalah alhamdulillah, subhanallah, la ilaha illallah, Allahu akbar, la haula wa la quwwata illa billah”. Maka lelaki mengucapkan kalimat tersebut sambil menggenggam telapak tangannya dan menghitung lima dengan jari-jarinya. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini yang untuk Allah. Lah yang untuk diriku mana?”. Nabi menjawab, “Ucapkanlah: Allôhummaghfirlî, warhamnî, wa ‘âfinî, wahdinî, warzuqnî (Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, sehatkanlah aku, berilah aku petunjuk dan karuniakanlah padaku rizki)”. Maka lelaki tersebut menggenggam telapak tangannya yang satunya sembari menghitung lima dengan jari-jarinya. Kemudian ia pergi sambil menggenggam kedua telapak tangannya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkomentar, “Sungguh ia telah memenuhi kedua tangannya dengan kebaikan”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Arna’uth.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Muharram 1436 / 3 Nopember2014Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/295).Silahkan Untuk Mendownload Artikel Ini Post navigation Previous KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 65Di antara kalimat istimewa yang diajarkan di dalam agama kita adalah kalimat hauqolah, yakni kalimat lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh. Terjemahannya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah”.Banyak nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat mulia yang satu ini. Ada hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Ada pula hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus.Berikut ini beberapa hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya: Menghapuskan dosa-dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ، وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ”“Tidaklah seorang di muka bumi mengucapkan la ilaha illallah, Allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah dan la haula wa la quwwata illah billah; melainkan dosa-dosanya akan diampuni, walaupun lebih banyak dibanding buih di lautan”. HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahaby. Memenuhi tangan hamba dengan kebaikanIbnu Abi Aufa radhiyallahu’anhu bertutur,أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَا أَقْرَأُ الْقُرْآنَ، فَمُرْنِي بِمَا يُجْزِئُنِي مِنْهُ!”، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ”. قَالَ: فَقَالَهَا الرَّجُلُ: وَقَبَضَ كَفَّهُ، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، هَذَا لِلَّهِ تَعَالَى فَمَا لِنَفْسِي؟” قَالَ: “قُلْ: “اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي” . قَالَ: فَقَالَهَا وَقَبَضَ عَلَى كَفِّهِ الْأُخْرَى، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ وَقَدْ قَبَضَ كَفَّيْهِ جَمِيعًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَقَدْ مَلَأَ كَفَّيْهِ مِنَ الْخَيْرِ”.“Suatu hari ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak bisa membaca al-Qur’an. Ajarkan padaku bacaan yang bisa menggantikan al-Qur’an (saat aku shalat)”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bacalah alhamdulillah, subhanallah, la ilaha illallah, Allahu akbar, la haula wa la quwwata illa billah”. Maka lelaki mengucapkan kalimat tersebut sambil menggenggam telapak tangannya dan menghitung lima dengan jari-jarinya. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini yang untuk Allah. Lah yang untuk diriku mana?”. Nabi menjawab, “Ucapkanlah: Allôhummaghfirlî, warhamnî, wa ‘âfinî, wahdinî, warzuqnî (Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, sehatkanlah aku, berilah aku petunjuk dan karuniakanlah padaku rizki)”. Maka lelaki tersebut menggenggam telapak tangannya yang satunya sembari menghitung lima dengan jari-jarinya. Kemudian ia pergi sambil menggenggam kedua telapak tangannya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkomentar, “Sungguh ia telah memenuhi kedua tangannya dengan kebaikan”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Arna’uth.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Muharram 1436 / 3 Nopember2014Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/295).Silahkan Untuk Mendownload Artikel Ini Post navigation Previous KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 65Di antara kalimat istimewa yang diajarkan di dalam agama kita adalah kalimat hauqolah, yakni kalimat lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh. Terjemahannya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah”.Banyak nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat mulia yang satu ini. Ada hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Ada pula hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus.Berikut ini beberapa hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya: Menghapuskan dosa-dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ، وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ”“Tidaklah seorang di muka bumi mengucapkan la ilaha illallah, Allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah dan la haula wa la quwwata illah billah; melainkan dosa-dosanya akan diampuni, walaupun lebih banyak dibanding buih di lautan”. HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahaby. Memenuhi tangan hamba dengan kebaikanIbnu Abi Aufa radhiyallahu’anhu bertutur,أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَا أَقْرَأُ الْقُرْآنَ، فَمُرْنِي بِمَا يُجْزِئُنِي مِنْهُ!”، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ”. قَالَ: فَقَالَهَا الرَّجُلُ: وَقَبَضَ كَفَّهُ، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، هَذَا لِلَّهِ تَعَالَى فَمَا لِنَفْسِي؟” قَالَ: “قُلْ: “اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي” . قَالَ: فَقَالَهَا وَقَبَضَ عَلَى كَفِّهِ الْأُخْرَى، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ وَقَدْ قَبَضَ كَفَّيْهِ جَمِيعًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَقَدْ مَلَأَ كَفَّيْهِ مِنَ الْخَيْرِ”.“Suatu hari ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak bisa membaca al-Qur’an. Ajarkan padaku bacaan yang bisa menggantikan al-Qur’an (saat aku shalat)”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bacalah alhamdulillah, subhanallah, la ilaha illallah, Allahu akbar, la haula wa la quwwata illa billah”. Maka lelaki mengucapkan kalimat tersebut sambil menggenggam telapak tangannya dan menghitung lima dengan jari-jarinya. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini yang untuk Allah. Lah yang untuk diriku mana?”. Nabi menjawab, “Ucapkanlah: Allôhummaghfirlî, warhamnî, wa ‘âfinî, wahdinî, warzuqnî (Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, sehatkanlah aku, berilah aku petunjuk dan karuniakanlah padaku rizki)”. Maka lelaki tersebut menggenggam telapak tangannya yang satunya sembari menghitung lima dengan jari-jarinya. Kemudian ia pergi sambil menggenggam kedua telapak tangannya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkomentar, “Sungguh ia telah memenuhi kedua tangannya dengan kebaikan”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Arna’uth.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Muharram 1436 / 3 Nopember2014Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/295).Silahkan Untuk Mendownload Artikel Ini Post navigation Previous KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 65Di antara kalimat istimewa yang diajarkan di dalam agama kita adalah kalimat hauqolah, yakni kalimat lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh. Terjemahannya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah”.Banyak nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat mulia yang satu ini. Ada hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Ada pula hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus.Berikut ini beberapa hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya: Menghapuskan dosa-dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ، وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ”“Tidaklah seorang di muka bumi mengucapkan la ilaha illallah, Allahu akbar, subhanallah, alhamdulillah dan la haula wa la quwwata illah billah; melainkan dosa-dosanya akan diampuni, walaupun lebih banyak dibanding buih di lautan”. HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahaby. Memenuhi tangan hamba dengan kebaikanIbnu Abi Aufa radhiyallahu’anhu bertutur,أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي لَا أَقْرَأُ الْقُرْآنَ، فَمُرْنِي بِمَا يُجْزِئُنِي مِنْهُ!”، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ”. قَالَ: فَقَالَهَا الرَّجُلُ: وَقَبَضَ كَفَّهُ، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللهِ، هَذَا لِلَّهِ تَعَالَى فَمَا لِنَفْسِي؟” قَالَ: “قُلْ: “اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي” . قَالَ: فَقَالَهَا وَقَبَضَ عَلَى كَفِّهِ الْأُخْرَى، وَعَدَّ خَمْسًا مَعَ إِبْهَامِهِ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ وَقَدْ قَبَضَ كَفَّيْهِ جَمِيعًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَقَدْ مَلَأَ كَفَّيْهِ مِنَ الْخَيْرِ”.“Suatu hari ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak bisa membaca al-Qur’an. Ajarkan padaku bacaan yang bisa menggantikan al-Qur’an (saat aku shalat)”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Bacalah alhamdulillah, subhanallah, la ilaha illallah, Allahu akbar, la haula wa la quwwata illa billah”. Maka lelaki mengucapkan kalimat tersebut sambil menggenggam telapak tangannya dan menghitung lima dengan jari-jarinya. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini yang untuk Allah. Lah yang untuk diriku mana?”. Nabi menjawab, “Ucapkanlah: Allôhummaghfirlî, warhamnî, wa ‘âfinî, wahdinî, warzuqnî (Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, sehatkanlah aku, berilah aku petunjuk dan karuniakanlah padaku rizki)”. Maka lelaki tersebut menggenggam telapak tangannya yang satunya sembari menghitung lima dengan jari-jarinya. Kemudian ia pergi sambil menggenggam kedua telapak tangannya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun berkomentar, “Sungguh ia telah memenuhi kedua tangannya dengan kebaikan”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Arna’uth.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Muharram 1436 / 3 Nopember2014Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/295).Silahkan Untuk Mendownload Artikel Ini Post navigation Previous KONSEKWENSI KALIMAT TAKBIR*Next KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 66Pada pertemuan lalu kita sudah mulai mengkaji beberapa nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat hauqolah. Terutama nas-nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.Berikut kelanjutannya: Kalimat hauqolah merupakan salah satu amal salih yang berpahala abadiAllah ta’ala berfirman,الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi al-bâqiyat ash-shâlihat (amal salih yang berpahala abadi) lebih baik di sisi Allah pahalanya dan harapannya”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Ayat di atas menjelaskan bahwa harta dan anak tidaklah kekal. Yang akan bermanfaat dan kekal untuk manusia adalah al-bâqiyât ash-shâlihât.Al-bâqiyât ash-shâlihât adalah seluruh amal ketaatan, baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Entah itu yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak para hamba-Nya.[1]Di antaranya adalah mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan hauqolah. Demikian penafsiran yang disampaikan beberapa sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Seperti Utsman bin Affan dan Ibnu Umar radhiyallahu’anhum.Di atas adalah sebagian nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus, antara lain: Kalimat hauqolah merupakan salah satu harta karun surgaAbu Musa al-Asy’ary radhiyallahu’anhu bertutur,كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا”. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَقَالَ: “يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ”“Pada suatu hari kami bepergian bersama dengan nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setiap kali melewati jalan menanjak kami bertakbir (dengan suara keras). Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda, “Wahai para manusia, kasihanilah diri kalian. Sungguh kalian tidaklah sedang memanggil dzat yang tuli atau sesuatu yang tidak ada. Namun kalian sedang memanggil Dzat Yang Maha mendengar dan Maha melihat!”. Kemudian beliau mendatangiku, dan saat itu aku sedang membaca dengan lirih, “La haula wa la quwwata illa billah”. Maka beliaupun berkata, “Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah La haula wa la quwwata illa billah. Sungguh ia merupakan salah satu harta karun surga”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam hadits di atas Nabi shallallahu’alaihiwasallam ingin menjelaskan berbagai amal salih kepada para sahabatnya. Saat beliau melihat mereka mengerjakan amal salih, yakni takbir, beliau menginginkan mereka agar menambahkan amal salih lainnya. Yaitu mengucapkan kalimat hauqolah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1436 / 17 Nopember2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/296-298).[1] Baca: Tafsîr as-Sa’diy (hal. 428).Download Artikel Ini Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1Next Redaksi Istighfar Bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 66Pada pertemuan lalu kita sudah mulai mengkaji beberapa nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat hauqolah. Terutama nas-nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.Berikut kelanjutannya: Kalimat hauqolah merupakan salah satu amal salih yang berpahala abadiAllah ta’ala berfirman,الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi al-bâqiyat ash-shâlihat (amal salih yang berpahala abadi) lebih baik di sisi Allah pahalanya dan harapannya”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Ayat di atas menjelaskan bahwa harta dan anak tidaklah kekal. Yang akan bermanfaat dan kekal untuk manusia adalah al-bâqiyât ash-shâlihât.Al-bâqiyât ash-shâlihât adalah seluruh amal ketaatan, baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Entah itu yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak para hamba-Nya.[1]Di antaranya adalah mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan hauqolah. Demikian penafsiran yang disampaikan beberapa sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Seperti Utsman bin Affan dan Ibnu Umar radhiyallahu’anhum.Di atas adalah sebagian nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus, antara lain: Kalimat hauqolah merupakan salah satu harta karun surgaAbu Musa al-Asy’ary radhiyallahu’anhu bertutur,كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا”. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَقَالَ: “يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ”“Pada suatu hari kami bepergian bersama dengan nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setiap kali melewati jalan menanjak kami bertakbir (dengan suara keras). Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda, “Wahai para manusia, kasihanilah diri kalian. Sungguh kalian tidaklah sedang memanggil dzat yang tuli atau sesuatu yang tidak ada. Namun kalian sedang memanggil Dzat Yang Maha mendengar dan Maha melihat!”. Kemudian beliau mendatangiku, dan saat itu aku sedang membaca dengan lirih, “La haula wa la quwwata illa billah”. Maka beliaupun berkata, “Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah La haula wa la quwwata illa billah. Sungguh ia merupakan salah satu harta karun surga”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam hadits di atas Nabi shallallahu’alaihiwasallam ingin menjelaskan berbagai amal salih kepada para sahabatnya. Saat beliau melihat mereka mengerjakan amal salih, yakni takbir, beliau menginginkan mereka agar menambahkan amal salih lainnya. Yaitu mengucapkan kalimat hauqolah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1436 / 17 Nopember2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/296-298).[1] Baca: Tafsîr as-Sa’diy (hal. 428).Download Artikel Ini Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1Next Redaksi Istighfar Bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 66Pada pertemuan lalu kita sudah mulai mengkaji beberapa nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat hauqolah. Terutama nas-nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.Berikut kelanjutannya: Kalimat hauqolah merupakan salah satu amal salih yang berpahala abadiAllah ta’ala berfirman,الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi al-bâqiyat ash-shâlihat (amal salih yang berpahala abadi) lebih baik di sisi Allah pahalanya dan harapannya”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Ayat di atas menjelaskan bahwa harta dan anak tidaklah kekal. Yang akan bermanfaat dan kekal untuk manusia adalah al-bâqiyât ash-shâlihât.Al-bâqiyât ash-shâlihât adalah seluruh amal ketaatan, baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Entah itu yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak para hamba-Nya.[1]Di antaranya adalah mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan hauqolah. Demikian penafsiran yang disampaikan beberapa sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Seperti Utsman bin Affan dan Ibnu Umar radhiyallahu’anhum.Di atas adalah sebagian nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus, antara lain: Kalimat hauqolah merupakan salah satu harta karun surgaAbu Musa al-Asy’ary radhiyallahu’anhu bertutur,كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا”. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَقَالَ: “يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ”“Pada suatu hari kami bepergian bersama dengan nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setiap kali melewati jalan menanjak kami bertakbir (dengan suara keras). Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda, “Wahai para manusia, kasihanilah diri kalian. Sungguh kalian tidaklah sedang memanggil dzat yang tuli atau sesuatu yang tidak ada. Namun kalian sedang memanggil Dzat Yang Maha mendengar dan Maha melihat!”. Kemudian beliau mendatangiku, dan saat itu aku sedang membaca dengan lirih, “La haula wa la quwwata illa billah”. Maka beliaupun berkata, “Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah La haula wa la quwwata illa billah. Sungguh ia merupakan salah satu harta karun surga”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam hadits di atas Nabi shallallahu’alaihiwasallam ingin menjelaskan berbagai amal salih kepada para sahabatnya. Saat beliau melihat mereka mengerjakan amal salih, yakni takbir, beliau menginginkan mereka agar menambahkan amal salih lainnya. Yaitu mengucapkan kalimat hauqolah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1436 / 17 Nopember2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/296-298).[1] Baca: Tafsîr as-Sa’diy (hal. 428).Download Artikel Ini Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1Next Redaksi Istighfar Bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 66Pada pertemuan lalu kita sudah mulai mengkaji beberapa nas yang menjelaskan keistimewaan kalimat hauqolah. Terutama nas-nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.Berikut kelanjutannya: Kalimat hauqolah merupakan salah satu amal salih yang berpahala abadiAllah ta’ala berfirman,الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi al-bâqiyat ash-shâlihat (amal salih yang berpahala abadi) lebih baik di sisi Allah pahalanya dan harapannya”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Ayat di atas menjelaskan bahwa harta dan anak tidaklah kekal. Yang akan bermanfaat dan kekal untuk manusia adalah al-bâqiyât ash-shâlihât.Al-bâqiyât ash-shâlihât adalah seluruh amal ketaatan, baik yang hukumnya wajib maupun yang sunnah. Entah itu yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak para hamba-Nya.[1]Di antaranya adalah mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan hauqolah. Demikian penafsiran yang disampaikan beberapa sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Seperti Utsman bin Affan dan Ibnu Umar radhiyallahu’anhum.Di atas adalah sebagian nas yang menyebutkan keistimewaan kalimat ini berbarengan dengan empat kalimat mulia lainnya, yakni tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan keistimewaan kalimat hauqolah secara khusus, antara lain: Kalimat hauqolah merupakan salah satu harta karun surgaAbu Musa al-Asy’ary radhiyallahu’anhu bertutur,كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا”. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَقَالَ: “يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ”“Pada suatu hari kami bepergian bersama dengan nabi shallallahu’alaihiwasallam. Setiap kali melewati jalan menanjak kami bertakbir (dengan suara keras). Maka Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun bersabda, “Wahai para manusia, kasihanilah diri kalian. Sungguh kalian tidaklah sedang memanggil dzat yang tuli atau sesuatu yang tidak ada. Namun kalian sedang memanggil Dzat Yang Maha mendengar dan Maha melihat!”. Kemudian beliau mendatangiku, dan saat itu aku sedang membaca dengan lirih, “La haula wa la quwwata illa billah”. Maka beliaupun berkata, “Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah La haula wa la quwwata illa billah. Sungguh ia merupakan salah satu harta karun surga”. HR. Bukhari dan Muslim.Dalam hadits di atas Nabi shallallahu’alaihiwasallam ingin menjelaskan berbagai amal salih kepada para sahabatnya. Saat beliau melihat mereka mengerjakan amal salih, yakni takbir, beliau menginginkan mereka agar menambahkan amal salih lainnya. Yaitu mengucapkan kalimat hauqolah.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1436 / 17 Nopember2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/296-298).[1] Baca: Tafsîr as-Sa’diy (hal. 428).Download Artikel Ini Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-1Next Redaksi Istighfar Bag. 1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Redaksi Istighfar Bag. 1

Istighfar memiliki beberapa redaksi yang termaktub di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Di antara redaksi istighfar yang disebutkan dalam al-Qur’an;Pertama:“ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ“.“Robbanâghfirlanâ dzunûbanâ wa isrôfanâ fî amrinâ, wa tsabbit aqdâmanâ, wanshurnâ ‘alal qoumil kâfirîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami. Serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. QS. Ali Imran (3): 147.Kedua:“رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“. “Robbanâ innanâ âmannâ faghfirlanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâbannâr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka”. QS. Ali Imran (3): 16.Ketiga:“رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ“. “Robbanâ innanâ sami’nâ munâdiyan yunâdî lil îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ. Robbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ, wa tawaffanâ ma’al abrôr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kalian kepada Rabbmu”, maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. QS. Ali Imran (3): 193.Keempat:“رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“. “Robbanâ âmannâ faghfir lanâ warhamnâ wa Anta khoirur rôhimîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik”. QS. Al-Mu’minun (23): 109.Kelima:“رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“. “Robbanâ atmim lanâ nûronâ waghfirlanâ, innaka ‘alâ kulli syai’in qodîr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. At-Tahrim (66): 8.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Jumada Tsaniyah 1436 / 23 Maret 2015activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2Next AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Redaksi Istighfar Bag. 1

Istighfar memiliki beberapa redaksi yang termaktub di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Di antara redaksi istighfar yang disebutkan dalam al-Qur’an;Pertama:“ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ“.“Robbanâghfirlanâ dzunûbanâ wa isrôfanâ fî amrinâ, wa tsabbit aqdâmanâ, wanshurnâ ‘alal qoumil kâfirîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami. Serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. QS. Ali Imran (3): 147.Kedua:“رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“. “Robbanâ innanâ âmannâ faghfirlanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâbannâr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka”. QS. Ali Imran (3): 16.Ketiga:“رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ“. “Robbanâ innanâ sami’nâ munâdiyan yunâdî lil îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ. Robbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ, wa tawaffanâ ma’al abrôr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kalian kepada Rabbmu”, maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. QS. Ali Imran (3): 193.Keempat:“رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“. “Robbanâ âmannâ faghfir lanâ warhamnâ wa Anta khoirur rôhimîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik”. QS. Al-Mu’minun (23): 109.Kelima:“رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“. “Robbanâ atmim lanâ nûronâ waghfirlanâ, innaka ‘alâ kulli syai’in qodîr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. At-Tahrim (66): 8.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Jumada Tsaniyah 1436 / 23 Maret 2015activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2Next AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Istighfar memiliki beberapa redaksi yang termaktub di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Di antara redaksi istighfar yang disebutkan dalam al-Qur’an;Pertama:“ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ“.“Robbanâghfirlanâ dzunûbanâ wa isrôfanâ fî amrinâ, wa tsabbit aqdâmanâ, wanshurnâ ‘alal qoumil kâfirîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami. Serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. QS. Ali Imran (3): 147.Kedua:“رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“. “Robbanâ innanâ âmannâ faghfirlanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâbannâr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka”. QS. Ali Imran (3): 16.Ketiga:“رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ“. “Robbanâ innanâ sami’nâ munâdiyan yunâdî lil îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ. Robbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ, wa tawaffanâ ma’al abrôr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kalian kepada Rabbmu”, maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. QS. Ali Imran (3): 193.Keempat:“رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“. “Robbanâ âmannâ faghfir lanâ warhamnâ wa Anta khoirur rôhimîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik”. QS. Al-Mu’minun (23): 109.Kelima:“رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“. “Robbanâ atmim lanâ nûronâ waghfirlanâ, innaka ‘alâ kulli syai’in qodîr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. At-Tahrim (66): 8.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Jumada Tsaniyah 1436 / 23 Maret 2015activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2Next AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Istighfar memiliki beberapa redaksi yang termaktub di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Di antara redaksi istighfar yang disebutkan dalam al-Qur’an;Pertama:“ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ“.“Robbanâghfirlanâ dzunûbanâ wa isrôfanâ fî amrinâ, wa tsabbit aqdâmanâ, wanshurnâ ‘alal qoumil kâfirîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami. Serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. QS. Ali Imran (3): 147.Kedua:“رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“. “Robbanâ innanâ âmannâ faghfirlanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâbannâr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka”. QS. Ali Imran (3): 16.Ketiga:“رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ“. “Robbanâ innanâ sami’nâ munâdiyan yunâdî lil îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ. Robbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ, wa tawaffanâ ma’al abrôr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kalian kepada Rabbmu”, maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. QS. Ali Imran (3): 193.Keempat:“رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“. “Robbanâ âmannâ faghfir lanâ warhamnâ wa Anta khoirur rôhimîn”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik”. QS. Al-Mu’minun (23): 109.Kelima:“رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“. “Robbanâ atmim lanâ nûronâ waghfirlanâ, innaka ‘alâ kulli syai’in qodîr”.Artinya: “Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. At-Tahrim (66): 8.Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Jumada Tsaniyah 1436 / 23 Maret 2015activate javascript Post navigation Previous KEISTIMEWAAN KALIMAT HAUQOLAH Bagian-2Next AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next