AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAK

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 50Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam. Karena itu mengajari anak al-Qur’an dan tanamkan kecintaan kepada al-Qur’an sejak dini merupakan sesuatu yang harus diprioritaskan dalam kehidupan kita.Hadits berikut menunjukkan betapa besarnya pahala mengajarkan al-Qur’an,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” HR Bukhari dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu.Dalam hadits ini tidak ada pembatasan usia tentang usia berapa kita belajar dan siapakah orang yang kita ajari. Maka kita mengajarkan Al Quran kepada anak juga termasuk ke dalam cakupan hadits ini.Beberapa tips mengajari anak membaca al-Quran :Bacakan ayat-ayat al-Quran sejak anak masih dalam kandungan. Tidak sedikit yang sudah membuktikan hal ini. Banyak ibu-ibu yang merasa takjub saat anaknya berusia 2 tahun, kata yang pertama keluar dari mulutnya adalah ayat al-Quran. Ternyata setelah ditanya pada kedua orang tuanya, bahwa waktu di dalam kandungan orang tuanya sering membaca ayat-ayat al-Quran.Perdengarkan ayat al-Quran setiap hari di rumah. Tidak menjadi masalah apakah anak mendengarkan atau tidak. Baik ia main-main atau melakukan aktifitas apapun di dalam rumah. Ketahuilah bahwa otak bawah sadarnya -tanpa si anak sadari- merekam bacaan alquran yang ia dengar. Bahkan mungkin anak akan hapal dengan sendirinya ayat-ayat al-Quran yang sering ia dengar.Konsisten. Untuk mengajari anak membaca al-Quran syarat utamanya Anda harus konsisten jangan putus-putus. Karena kekonsistenan Anda adalah parameter keberhasilan Anda dalam mengajari anak membaca alquran.Menjadi sauri tauladan bagi anak. Ini sangat penting untuk bunda dan ayah perhatikan karena anak adalah peniru yang hebat. Maka otomatis Anda sebagai orang tua yang sering bersamanya yang akan ia tiru pertama kali. Kalau Anda sering membaca al-Quran dan menghapalnya maka secara otomatis anak-anak anda akan melihat dan lama kelamaan mereka akan meniru Anda membaca al-Quran walaupun mungkin masih banyak salah. Tetapi paling tidak mereka sudah mengenal alquran sejak kecil.Anak diminta membaca surat itu sepenggal-penggal lebih dari satu kali. Sementara itu Anda membenarkan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada anak saat membaca al-Quran.Beri hadiah yang ia mau dengan syarat ia harus hapal surat atau ayat al-Quran. Cara ini bisa Anda gunakan pada anak yang sudah punya keinginan pada sesuatu.Perlu menanamkan dalam jiwa anak bahwa mempelajari Al-Quran adalah ibadah. Allah ta’ala memberikan pahala yang sangat besar. Ini akan membuat anak ikhlas dalam belajar al-Qur’an, sehingga tidak selalu tergantung terhadap hadiah yang bersifat materi duniawi.Menjadi catatan bahwa anak perlu dilatih untuk dipahamkan dengan makna ayat-ayat yang dia pelajari dengan pemahaman sederhana. Tentunya sesuai tingkatan akalnya.Semoga bermanfaat..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1436 / 16 Maret 2015Download Artikel “Ajakarkan Al Qur’an pada Anak“activate javascript Post navigation Previous Redaksi Istighfar Bag. 1Next AJARKAN HADITS PADA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAK

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 50Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam. Karena itu mengajari anak al-Qur’an dan tanamkan kecintaan kepada al-Qur’an sejak dini merupakan sesuatu yang harus diprioritaskan dalam kehidupan kita.Hadits berikut menunjukkan betapa besarnya pahala mengajarkan al-Qur’an,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” HR Bukhari dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu.Dalam hadits ini tidak ada pembatasan usia tentang usia berapa kita belajar dan siapakah orang yang kita ajari. Maka kita mengajarkan Al Quran kepada anak juga termasuk ke dalam cakupan hadits ini.Beberapa tips mengajari anak membaca al-Quran :Bacakan ayat-ayat al-Quran sejak anak masih dalam kandungan. Tidak sedikit yang sudah membuktikan hal ini. Banyak ibu-ibu yang merasa takjub saat anaknya berusia 2 tahun, kata yang pertama keluar dari mulutnya adalah ayat al-Quran. Ternyata setelah ditanya pada kedua orang tuanya, bahwa waktu di dalam kandungan orang tuanya sering membaca ayat-ayat al-Quran.Perdengarkan ayat al-Quran setiap hari di rumah. Tidak menjadi masalah apakah anak mendengarkan atau tidak. Baik ia main-main atau melakukan aktifitas apapun di dalam rumah. Ketahuilah bahwa otak bawah sadarnya -tanpa si anak sadari- merekam bacaan alquran yang ia dengar. Bahkan mungkin anak akan hapal dengan sendirinya ayat-ayat al-Quran yang sering ia dengar.Konsisten. Untuk mengajari anak membaca al-Quran syarat utamanya Anda harus konsisten jangan putus-putus. Karena kekonsistenan Anda adalah parameter keberhasilan Anda dalam mengajari anak membaca alquran.Menjadi sauri tauladan bagi anak. Ini sangat penting untuk bunda dan ayah perhatikan karena anak adalah peniru yang hebat. Maka otomatis Anda sebagai orang tua yang sering bersamanya yang akan ia tiru pertama kali. Kalau Anda sering membaca al-Quran dan menghapalnya maka secara otomatis anak-anak anda akan melihat dan lama kelamaan mereka akan meniru Anda membaca al-Quran walaupun mungkin masih banyak salah. Tetapi paling tidak mereka sudah mengenal alquran sejak kecil.Anak diminta membaca surat itu sepenggal-penggal lebih dari satu kali. Sementara itu Anda membenarkan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada anak saat membaca al-Quran.Beri hadiah yang ia mau dengan syarat ia harus hapal surat atau ayat al-Quran. Cara ini bisa Anda gunakan pada anak yang sudah punya keinginan pada sesuatu.Perlu menanamkan dalam jiwa anak bahwa mempelajari Al-Quran adalah ibadah. Allah ta’ala memberikan pahala yang sangat besar. Ini akan membuat anak ikhlas dalam belajar al-Qur’an, sehingga tidak selalu tergantung terhadap hadiah yang bersifat materi duniawi.Menjadi catatan bahwa anak perlu dilatih untuk dipahamkan dengan makna ayat-ayat yang dia pelajari dengan pemahaman sederhana. Tentunya sesuai tingkatan akalnya.Semoga bermanfaat..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1436 / 16 Maret 2015Download Artikel “Ajakarkan Al Qur’an pada Anak“activate javascript Post navigation Previous Redaksi Istighfar Bag. 1Next AJARKAN HADITS PADA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 50Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam. Karena itu mengajari anak al-Qur’an dan tanamkan kecintaan kepada al-Qur’an sejak dini merupakan sesuatu yang harus diprioritaskan dalam kehidupan kita.Hadits berikut menunjukkan betapa besarnya pahala mengajarkan al-Qur’an,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” HR Bukhari dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu.Dalam hadits ini tidak ada pembatasan usia tentang usia berapa kita belajar dan siapakah orang yang kita ajari. Maka kita mengajarkan Al Quran kepada anak juga termasuk ke dalam cakupan hadits ini.Beberapa tips mengajari anak membaca al-Quran :Bacakan ayat-ayat al-Quran sejak anak masih dalam kandungan. Tidak sedikit yang sudah membuktikan hal ini. Banyak ibu-ibu yang merasa takjub saat anaknya berusia 2 tahun, kata yang pertama keluar dari mulutnya adalah ayat al-Quran. Ternyata setelah ditanya pada kedua orang tuanya, bahwa waktu di dalam kandungan orang tuanya sering membaca ayat-ayat al-Quran.Perdengarkan ayat al-Quran setiap hari di rumah. Tidak menjadi masalah apakah anak mendengarkan atau tidak. Baik ia main-main atau melakukan aktifitas apapun di dalam rumah. Ketahuilah bahwa otak bawah sadarnya -tanpa si anak sadari- merekam bacaan alquran yang ia dengar. Bahkan mungkin anak akan hapal dengan sendirinya ayat-ayat al-Quran yang sering ia dengar.Konsisten. Untuk mengajari anak membaca al-Quran syarat utamanya Anda harus konsisten jangan putus-putus. Karena kekonsistenan Anda adalah parameter keberhasilan Anda dalam mengajari anak membaca alquran.Menjadi sauri tauladan bagi anak. Ini sangat penting untuk bunda dan ayah perhatikan karena anak adalah peniru yang hebat. Maka otomatis Anda sebagai orang tua yang sering bersamanya yang akan ia tiru pertama kali. Kalau Anda sering membaca al-Quran dan menghapalnya maka secara otomatis anak-anak anda akan melihat dan lama kelamaan mereka akan meniru Anda membaca al-Quran walaupun mungkin masih banyak salah. Tetapi paling tidak mereka sudah mengenal alquran sejak kecil.Anak diminta membaca surat itu sepenggal-penggal lebih dari satu kali. Sementara itu Anda membenarkan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada anak saat membaca al-Quran.Beri hadiah yang ia mau dengan syarat ia harus hapal surat atau ayat al-Quran. Cara ini bisa Anda gunakan pada anak yang sudah punya keinginan pada sesuatu.Perlu menanamkan dalam jiwa anak bahwa mempelajari Al-Quran adalah ibadah. Allah ta’ala memberikan pahala yang sangat besar. Ini akan membuat anak ikhlas dalam belajar al-Qur’an, sehingga tidak selalu tergantung terhadap hadiah yang bersifat materi duniawi.Menjadi catatan bahwa anak perlu dilatih untuk dipahamkan dengan makna ayat-ayat yang dia pelajari dengan pemahaman sederhana. Tentunya sesuai tingkatan akalnya.Semoga bermanfaat..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1436 / 16 Maret 2015Download Artikel “Ajakarkan Al Qur’an pada Anak“activate javascript Post navigation Previous Redaksi Istighfar Bag. 1Next AJARKAN HADITS PADA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 50Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam. Karena itu mengajari anak al-Qur’an dan tanamkan kecintaan kepada al-Qur’an sejak dini merupakan sesuatu yang harus diprioritaskan dalam kehidupan kita.Hadits berikut menunjukkan betapa besarnya pahala mengajarkan al-Qur’an,خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” HR Bukhari dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu.Dalam hadits ini tidak ada pembatasan usia tentang usia berapa kita belajar dan siapakah orang yang kita ajari. Maka kita mengajarkan Al Quran kepada anak juga termasuk ke dalam cakupan hadits ini.Beberapa tips mengajari anak membaca al-Quran :Bacakan ayat-ayat al-Quran sejak anak masih dalam kandungan. Tidak sedikit yang sudah membuktikan hal ini. Banyak ibu-ibu yang merasa takjub saat anaknya berusia 2 tahun, kata yang pertama keluar dari mulutnya adalah ayat al-Quran. Ternyata setelah ditanya pada kedua orang tuanya, bahwa waktu di dalam kandungan orang tuanya sering membaca ayat-ayat al-Quran.Perdengarkan ayat al-Quran setiap hari di rumah. Tidak menjadi masalah apakah anak mendengarkan atau tidak. Baik ia main-main atau melakukan aktifitas apapun di dalam rumah. Ketahuilah bahwa otak bawah sadarnya -tanpa si anak sadari- merekam bacaan alquran yang ia dengar. Bahkan mungkin anak akan hapal dengan sendirinya ayat-ayat al-Quran yang sering ia dengar.Konsisten. Untuk mengajari anak membaca al-Quran syarat utamanya Anda harus konsisten jangan putus-putus. Karena kekonsistenan Anda adalah parameter keberhasilan Anda dalam mengajari anak membaca alquran.Menjadi sauri tauladan bagi anak. Ini sangat penting untuk bunda dan ayah perhatikan karena anak adalah peniru yang hebat. Maka otomatis Anda sebagai orang tua yang sering bersamanya yang akan ia tiru pertama kali. Kalau Anda sering membaca al-Quran dan menghapalnya maka secara otomatis anak-anak anda akan melihat dan lama kelamaan mereka akan meniru Anda membaca al-Quran walaupun mungkin masih banyak salah. Tetapi paling tidak mereka sudah mengenal alquran sejak kecil.Anak diminta membaca surat itu sepenggal-penggal lebih dari satu kali. Sementara itu Anda membenarkan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada anak saat membaca al-Quran.Beri hadiah yang ia mau dengan syarat ia harus hapal surat atau ayat al-Quran. Cara ini bisa Anda gunakan pada anak yang sudah punya keinginan pada sesuatu.Perlu menanamkan dalam jiwa anak bahwa mempelajari Al-Quran adalah ibadah. Allah ta’ala memberikan pahala yang sangat besar. Ini akan membuat anak ikhlas dalam belajar al-Qur’an, sehingga tidak selalu tergantung terhadap hadiah yang bersifat materi duniawi.Menjadi catatan bahwa anak perlu dilatih untuk dipahamkan dengan makna ayat-ayat yang dia pelajari dengan pemahaman sederhana. Tentunya sesuai tingkatan akalnya.Semoga bermanfaat..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Jumadal Ula 1436 / 16 Maret 2015Download Artikel “Ajakarkan Al Qur’an pada Anak“activate javascript Post navigation Previous Redaksi Istighfar Bag. 1Next AJARKAN HADITS PADA ANAK* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

AJARKAN HADITS PADA ANAK*

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 51Tanamkan pada diri anak kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Ini merupakan pilar syahadat Muhammad Rasulullah. Dan masalah ini perlu kita utamakan. Sebab jiwa manusia secara umum pada periode perkembangannya akan berusaha menyerupai pribadi paling kuat yang ada di sekelilingnya, dan kemudian meniru serta meneladaninya.Pendidikan Islam menuntut anak kecil maupun dewasa agar meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam. Karena beliau adalah teladan terbaik yang tak akan tergantikan. Beliau manusia paling sempurna dan utusan Allah ta’ala yang paling utama.Pada hakikatnya, segala bencana dan penyakit yang menimpa umat manusia merupakan salah satu dampak menjauhi teladan yang baik dan enggan meneladani Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Idola-idola baru bermunculan. Ironisnya sekarang ini, banyak sekali sosok yang diidolakan adalah pribadi yang sangat jauh dari bimbingan Ilahi. Maka tak mengherankan jika anak-anak tumbuh menjadi generasi yang menyimpang. Hidup mereka hampa dari ajaran sunnah dan sangat jauh dari petunjuk Allah. Mereka lebih cenderung kepada sikap glamour yang dicontohkan oleh idola mereka.Dan setan berwujud manusia yang mereka idolakan itu akan menggiring mereka semakin menjauh dari agamanya. Dari sini kita menyadari urgensi kepribadian yang diteladani oleh anak kita.Allah ta’ala menjelaskan bahwa tidak ada teladan yang lebih baik daripada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam firman-Nya,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاArtinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat serta ia banyak mengingat Allah”. QS. Al-Ahzab : 21.Apabila kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah tertanam, niscaya jiwa anak akan tergerak menujuk kebaikan dan semangat keislamannya akan meningkat. Hal ini akan mendorongnya kepada setiap kebaikan dan memecahkan berbagai persoalan. Demikian pula segala musibah yang menimpa akan terasa ringan.Di antara upaya untuk menumbuhkan kecintaan anak kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah dengan mengajarkan sejarah hidup beliau. Yang akan memberikan gambaran kepada mereka tentang Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam segala kondisi dan keadaan beliau. Demikian juga mengiringinya dengan sejarah para sahabat, tabi’in dan orang-orang salih.Termasuk perkara penting dalam masalah ini adalah menanamkan kecintaan anak kepada hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan segera melaksanakannya. Biasakanlah mereka membaca, menghafal dan mengamalkannya. Jangan lupa untuk memberikan pengajaran dan penjelasan singkat tentang hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam sesuai yang mereka butuhkan.Pengajaran tersebut bisa diawali dari hal-hal yang ringan. Seperti adab keseharian. Contohnya adab makan, masuk dan keluar kamar mandi, berbicara dan lain-lain. Ajari anak untuk makan serta minum dengan tangan kanan. Masuk kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri. Mengucapkan salam saat masuk rumah. Menjaga kesopanan dalam berbicara. Demikian secara bertahap diajarkan kepada putra-putri kita. Sehingga mereka betul-betul selalu terikat dengan panutan kita semua; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Jumada Tsaniah 1436 / 30 Maret 2015* Dinukil oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 115-117) dengan sedikit tambahan.Download Artilel “Ajarkan Hadits pada Anak” Post navigation Previous AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAKNext REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

AJARKAN HADITS PADA ANAK*

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 51Tanamkan pada diri anak kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Ini merupakan pilar syahadat Muhammad Rasulullah. Dan masalah ini perlu kita utamakan. Sebab jiwa manusia secara umum pada periode perkembangannya akan berusaha menyerupai pribadi paling kuat yang ada di sekelilingnya, dan kemudian meniru serta meneladaninya.Pendidikan Islam menuntut anak kecil maupun dewasa agar meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam. Karena beliau adalah teladan terbaik yang tak akan tergantikan. Beliau manusia paling sempurna dan utusan Allah ta’ala yang paling utama.Pada hakikatnya, segala bencana dan penyakit yang menimpa umat manusia merupakan salah satu dampak menjauhi teladan yang baik dan enggan meneladani Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Idola-idola baru bermunculan. Ironisnya sekarang ini, banyak sekali sosok yang diidolakan adalah pribadi yang sangat jauh dari bimbingan Ilahi. Maka tak mengherankan jika anak-anak tumbuh menjadi generasi yang menyimpang. Hidup mereka hampa dari ajaran sunnah dan sangat jauh dari petunjuk Allah. Mereka lebih cenderung kepada sikap glamour yang dicontohkan oleh idola mereka.Dan setan berwujud manusia yang mereka idolakan itu akan menggiring mereka semakin menjauh dari agamanya. Dari sini kita menyadari urgensi kepribadian yang diteladani oleh anak kita.Allah ta’ala menjelaskan bahwa tidak ada teladan yang lebih baik daripada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam firman-Nya,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاArtinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat serta ia banyak mengingat Allah”. QS. Al-Ahzab : 21.Apabila kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah tertanam, niscaya jiwa anak akan tergerak menujuk kebaikan dan semangat keislamannya akan meningkat. Hal ini akan mendorongnya kepada setiap kebaikan dan memecahkan berbagai persoalan. Demikian pula segala musibah yang menimpa akan terasa ringan.Di antara upaya untuk menumbuhkan kecintaan anak kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah dengan mengajarkan sejarah hidup beliau. Yang akan memberikan gambaran kepada mereka tentang Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam segala kondisi dan keadaan beliau. Demikian juga mengiringinya dengan sejarah para sahabat, tabi’in dan orang-orang salih.Termasuk perkara penting dalam masalah ini adalah menanamkan kecintaan anak kepada hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan segera melaksanakannya. Biasakanlah mereka membaca, menghafal dan mengamalkannya. Jangan lupa untuk memberikan pengajaran dan penjelasan singkat tentang hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam sesuai yang mereka butuhkan.Pengajaran tersebut bisa diawali dari hal-hal yang ringan. Seperti adab keseharian. Contohnya adab makan, masuk dan keluar kamar mandi, berbicara dan lain-lain. Ajari anak untuk makan serta minum dengan tangan kanan. Masuk kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri. Mengucapkan salam saat masuk rumah. Menjaga kesopanan dalam berbicara. Demikian secara bertahap diajarkan kepada putra-putri kita. Sehingga mereka betul-betul selalu terikat dengan panutan kita semua; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Jumada Tsaniah 1436 / 30 Maret 2015* Dinukil oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 115-117) dengan sedikit tambahan.Download Artilel “Ajarkan Hadits pada Anak” Post navigation Previous AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAKNext REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 51Tanamkan pada diri anak kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Ini merupakan pilar syahadat Muhammad Rasulullah. Dan masalah ini perlu kita utamakan. Sebab jiwa manusia secara umum pada periode perkembangannya akan berusaha menyerupai pribadi paling kuat yang ada di sekelilingnya, dan kemudian meniru serta meneladaninya.Pendidikan Islam menuntut anak kecil maupun dewasa agar meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam. Karena beliau adalah teladan terbaik yang tak akan tergantikan. Beliau manusia paling sempurna dan utusan Allah ta’ala yang paling utama.Pada hakikatnya, segala bencana dan penyakit yang menimpa umat manusia merupakan salah satu dampak menjauhi teladan yang baik dan enggan meneladani Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Idola-idola baru bermunculan. Ironisnya sekarang ini, banyak sekali sosok yang diidolakan adalah pribadi yang sangat jauh dari bimbingan Ilahi. Maka tak mengherankan jika anak-anak tumbuh menjadi generasi yang menyimpang. Hidup mereka hampa dari ajaran sunnah dan sangat jauh dari petunjuk Allah. Mereka lebih cenderung kepada sikap glamour yang dicontohkan oleh idola mereka.Dan setan berwujud manusia yang mereka idolakan itu akan menggiring mereka semakin menjauh dari agamanya. Dari sini kita menyadari urgensi kepribadian yang diteladani oleh anak kita.Allah ta’ala menjelaskan bahwa tidak ada teladan yang lebih baik daripada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam firman-Nya,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاArtinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat serta ia banyak mengingat Allah”. QS. Al-Ahzab : 21.Apabila kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah tertanam, niscaya jiwa anak akan tergerak menujuk kebaikan dan semangat keislamannya akan meningkat. Hal ini akan mendorongnya kepada setiap kebaikan dan memecahkan berbagai persoalan. Demikian pula segala musibah yang menimpa akan terasa ringan.Di antara upaya untuk menumbuhkan kecintaan anak kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah dengan mengajarkan sejarah hidup beliau. Yang akan memberikan gambaran kepada mereka tentang Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam segala kondisi dan keadaan beliau. Demikian juga mengiringinya dengan sejarah para sahabat, tabi’in dan orang-orang salih.Termasuk perkara penting dalam masalah ini adalah menanamkan kecintaan anak kepada hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan segera melaksanakannya. Biasakanlah mereka membaca, menghafal dan mengamalkannya. Jangan lupa untuk memberikan pengajaran dan penjelasan singkat tentang hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam sesuai yang mereka butuhkan.Pengajaran tersebut bisa diawali dari hal-hal yang ringan. Seperti adab keseharian. Contohnya adab makan, masuk dan keluar kamar mandi, berbicara dan lain-lain. Ajari anak untuk makan serta minum dengan tangan kanan. Masuk kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri. Mengucapkan salam saat masuk rumah. Menjaga kesopanan dalam berbicara. Demikian secara bertahap diajarkan kepada putra-putri kita. Sehingga mereka betul-betul selalu terikat dengan panutan kita semua; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Jumada Tsaniah 1436 / 30 Maret 2015* Dinukil oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 115-117) dengan sedikit tambahan.Download Artilel “Ajarkan Hadits pada Anak” Post navigation Previous AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAKNext REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 51Tanamkan pada diri anak kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Ini merupakan pilar syahadat Muhammad Rasulullah. Dan masalah ini perlu kita utamakan. Sebab jiwa manusia secara umum pada periode perkembangannya akan berusaha menyerupai pribadi paling kuat yang ada di sekelilingnya, dan kemudian meniru serta meneladaninya.Pendidikan Islam menuntut anak kecil maupun dewasa agar meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam. Karena beliau adalah teladan terbaik yang tak akan tergantikan. Beliau manusia paling sempurna dan utusan Allah ta’ala yang paling utama.Pada hakikatnya, segala bencana dan penyakit yang menimpa umat manusia merupakan salah satu dampak menjauhi teladan yang baik dan enggan meneladani Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Idola-idola baru bermunculan. Ironisnya sekarang ini, banyak sekali sosok yang diidolakan adalah pribadi yang sangat jauh dari bimbingan Ilahi. Maka tak mengherankan jika anak-anak tumbuh menjadi generasi yang menyimpang. Hidup mereka hampa dari ajaran sunnah dan sangat jauh dari petunjuk Allah. Mereka lebih cenderung kepada sikap glamour yang dicontohkan oleh idola mereka.Dan setan berwujud manusia yang mereka idolakan itu akan menggiring mereka semakin menjauh dari agamanya. Dari sini kita menyadari urgensi kepribadian yang diteladani oleh anak kita.Allah ta’ala menjelaskan bahwa tidak ada teladan yang lebih baik daripada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam firman-Nya,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاArtinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat serta ia banyak mengingat Allah”. QS. Al-Ahzab : 21.Apabila kecintaan kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah tertanam, niscaya jiwa anak akan tergerak menujuk kebaikan dan semangat keislamannya akan meningkat. Hal ini akan mendorongnya kepada setiap kebaikan dan memecahkan berbagai persoalan. Demikian pula segala musibah yang menimpa akan terasa ringan.Di antara upaya untuk menumbuhkan kecintaan anak kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah dengan mengajarkan sejarah hidup beliau. Yang akan memberikan gambaran kepada mereka tentang Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam segala kondisi dan keadaan beliau. Demikian juga mengiringinya dengan sejarah para sahabat, tabi’in dan orang-orang salih.Termasuk perkara penting dalam masalah ini adalah menanamkan kecintaan anak kepada hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan segera melaksanakannya. Biasakanlah mereka membaca, menghafal dan mengamalkannya. Jangan lupa untuk memberikan pengajaran dan penjelasan singkat tentang hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam sesuai yang mereka butuhkan.Pengajaran tersebut bisa diawali dari hal-hal yang ringan. Seperti adab keseharian. Contohnya adab makan, masuk dan keluar kamar mandi, berbicara dan lain-lain. Ajari anak untuk makan serta minum dengan tangan kanan. Masuk kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri. Mengucapkan salam saat masuk rumah. Menjaga kesopanan dalam berbicara. Demikian secara bertahap diajarkan kepada putra-putri kita. Sehingga mereka betul-betul selalu terikat dengan panutan kita semua; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Jumada Tsaniah 1436 / 30 Maret 2015* Dinukil oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari buku Mencetak Generasi Rabbani karya Ust Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 115-117) dengan sedikit tambahan.Download Artilel “Ajarkan Hadits pada Anak” Post navigation Previous AJARKAN AL-QUR’AN PADA ANAKNext REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 75Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa redaksi istighfar yang disebutkan dalam Hadits;Keenam:“اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ”“ALLÔHUMMA ANTA RABBÎ LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA KHOLAQTANÎ, WA ANA ‘ABDUKA, WA ANA ‘ALÂ ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU. A’ÛDZU BIKA MIN SYARRI MÂ SHONA’TU, ABÛ`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABÛ`U BIDZANBÎ, FAGHFIRLÎ FA INNAHU LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA” (Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau). Ini merupakan redaksi istighfar yang paling istimewa, biasa diistilahkan dengan Sayyidul Istighfar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan keutamaannya, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore; maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi; maka ia termasuk penghuni surga”. HR. Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu.Ketujuh:“اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ؛ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”.“ALLÔHUMMA INNÎ DZOLAMTU NAFSÎ DZULMAN KATSÎRON, WA LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA FAGHFIRLÎ MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNÎ, INNAKA ANTAL GHOFÛRUR ROHÎM”(Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang).Redaksi di atas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu saat beliau meminta diajari doa untuk dibaca di dalam shalatnya. HR. Bukhari dan Muslim.Kedelapan:أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ “ASTAGHFIRULLÔHAL ‘ADZÎM ALLADZÎ LÂ ILÂHA ILLÂ HUWAL HAYYUL QOYYÛM WA ATÛBU ILAIHI”.(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Mahaagung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Mahahidup dan Maha berdiri sendiri).Barang siapa mengucapkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia lari dari medan pertempuran. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany. Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Jumada Tsaniyah 1436 / 6 April 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel (REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2) Post navigation Previous AJARKAN HADITS PADA ANAK*Next REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 75Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa redaksi istighfar yang disebutkan dalam Hadits;Keenam:“اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ”“ALLÔHUMMA ANTA RABBÎ LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA KHOLAQTANÎ, WA ANA ‘ABDUKA, WA ANA ‘ALÂ ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU. A’ÛDZU BIKA MIN SYARRI MÂ SHONA’TU, ABÛ`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABÛ`U BIDZANBÎ, FAGHFIRLÎ FA INNAHU LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA” (Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau). Ini merupakan redaksi istighfar yang paling istimewa, biasa diistilahkan dengan Sayyidul Istighfar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan keutamaannya, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore; maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi; maka ia termasuk penghuni surga”. HR. Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu.Ketujuh:“اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ؛ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”.“ALLÔHUMMA INNÎ DZOLAMTU NAFSÎ DZULMAN KATSÎRON, WA LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA FAGHFIRLÎ MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNÎ, INNAKA ANTAL GHOFÛRUR ROHÎM”(Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang).Redaksi di atas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu saat beliau meminta diajari doa untuk dibaca di dalam shalatnya. HR. Bukhari dan Muslim.Kedelapan:أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ “ASTAGHFIRULLÔHAL ‘ADZÎM ALLADZÎ LÂ ILÂHA ILLÂ HUWAL HAYYUL QOYYÛM WA ATÛBU ILAIHI”.(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Mahaagung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Mahahidup dan Maha berdiri sendiri).Barang siapa mengucapkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia lari dari medan pertempuran. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany. Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Jumada Tsaniyah 1436 / 6 April 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel (REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2) Post navigation Previous AJARKAN HADITS PADA ANAK*Next REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 75Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa redaksi istighfar yang disebutkan dalam Hadits;Keenam:“اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ”“ALLÔHUMMA ANTA RABBÎ LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA KHOLAQTANÎ, WA ANA ‘ABDUKA, WA ANA ‘ALÂ ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU. A’ÛDZU BIKA MIN SYARRI MÂ SHONA’TU, ABÛ`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABÛ`U BIDZANBÎ, FAGHFIRLÎ FA INNAHU LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA” (Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau). Ini merupakan redaksi istighfar yang paling istimewa, biasa diistilahkan dengan Sayyidul Istighfar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan keutamaannya, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore; maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi; maka ia termasuk penghuni surga”. HR. Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu.Ketujuh:“اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ؛ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”.“ALLÔHUMMA INNÎ DZOLAMTU NAFSÎ DZULMAN KATSÎRON, WA LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA FAGHFIRLÎ MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNÎ, INNAKA ANTAL GHOFÛRUR ROHÎM”(Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang).Redaksi di atas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu saat beliau meminta diajari doa untuk dibaca di dalam shalatnya. HR. Bukhari dan Muslim.Kedelapan:أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ “ASTAGHFIRULLÔHAL ‘ADZÎM ALLADZÎ LÂ ILÂHA ILLÂ HUWAL HAYYUL QOYYÛM WA ATÛBU ILAIHI”.(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Mahaagung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Mahahidup dan Maha berdiri sendiri).Barang siapa mengucapkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia lari dari medan pertempuran. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany. Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Jumada Tsaniyah 1436 / 6 April 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel (REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2) Post navigation Previous AJARKAN HADITS PADA ANAK*Next REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 75Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam al-Qur’an. Berikut ini beberapa redaksi istighfar yang disebutkan dalam Hadits;Keenam:“اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ”“ALLÔHUMMA ANTA RABBÎ LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA KHOLAQTANÎ, WA ANA ‘ABDUKA, WA ANA ‘ALÂ ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHO’TU. A’ÛDZU BIKA MIN SYARRI MÂ SHONA’TU, ABÛ`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABÛ`U BIDZANBÎ, FAGHFIRLÎ FA INNAHU LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA” (Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau). Ini merupakan redaksi istighfar yang paling istimewa, biasa diistilahkan dengan Sayyidul Istighfar. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan keutamaannya, “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore; maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi; maka ia termasuk penghuni surga”. HR. Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu.Ketujuh:“اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ؛ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ”.“ALLÔHUMMA INNÎ DZOLAMTU NAFSÎ DZULMAN KATSÎRON, WA LÂ YAGHFIRUDZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA FAGHFIRLÎ MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNÎ, INNAKA ANTAL GHOFÛRUR ROHÎM”(Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang).Redaksi di atas diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu saat beliau meminta diajari doa untuk dibaca di dalam shalatnya. HR. Bukhari dan Muslim.Kedelapan:أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ “ASTAGHFIRULLÔHAL ‘ADZÎM ALLADZÎ LÂ ILÂHA ILLÂ HUWAL HAYYUL QOYYÛM WA ATÛBU ILAIHI”.(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Mahaagung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Mahahidup dan Maha berdiri sendiri).Barang siapa mengucapkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia lari dari medan pertempuran. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany. Bersambung insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 16 Jumada Tsaniyah 1436 / 6 April 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel (REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2) Post navigation Previous AJARKAN HADITS PADA ANAK*Next REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 76Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam Hadits. Berikut kelanjutannya;Kesembilan:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ““ALLÔHUMMAGH FIRLANÂ WAR HAMNÂ WA TUB ‘ALAINÂ, INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM” (Ya Allâh, ampunilah kami dan sayangilah kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). HR. An-Nasa’iy dalam al-Kubra.Kesepuluh:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ”“ASTAGHFIRULLÔH WA ATÛBU ILAIH”.(Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya). Dalam HR. Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam dalam sehari membacanya lebih dari tujuhpuluh kali.Kesebelas:“رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ”“ROBBIGHFIRLÎ WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM”(Ya Rabbi ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang).Dalam HR. Abu Dawud yang dinilai sahih oleh al-Albany, Ibn Umar radhiyallahu’anhuma menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sering membaca istighfar di atas dalam sekali duduk sebanyak seratus kali.Dalam berbagai redaksi di atas, istighfar digandengkan dengan permohonan taubat. Ibn al-Qayyim dalam Madârij as-Sâlikîn menjelaskan bahwa jika istighfar disebutkan secara bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud dari istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang, berupa kejelekan amal yang dia perbuat. Maka istighfar adalah menghilangkan keburukan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan). Ampunan akan melindungi diri kita dari keburukan dosa yang telah terjadi. Adapun taubat, setelah adanya perlindungan tersebut, maka terwujudlah apa yang dia cintai atau dia harapkan berupa maslahat atau kebaikan.Keduabelas:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ”“ASTAGHFIRULLÔH”.(Aku memohon ampun kepada Allah). Redaksi di atas dibaca antara lain setiap selesai shalat fardhu, sebanyak tiga kali. Sebagaimana dalam HR. Muslim dari Tsauban radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rajab 1436 / 26 April 2015Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel Redaksi Istighfar -3 Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2*Next Anak dan Membaca Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 76Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam Hadits. Berikut kelanjutannya;Kesembilan:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ““ALLÔHUMMAGH FIRLANÂ WAR HAMNÂ WA TUB ‘ALAINÂ, INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM” (Ya Allâh, ampunilah kami dan sayangilah kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). HR. An-Nasa’iy dalam al-Kubra.Kesepuluh:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ”“ASTAGHFIRULLÔH WA ATÛBU ILAIH”.(Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya). Dalam HR. Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam dalam sehari membacanya lebih dari tujuhpuluh kali.Kesebelas:“رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ”“ROBBIGHFIRLÎ WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM”(Ya Rabbi ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang).Dalam HR. Abu Dawud yang dinilai sahih oleh al-Albany, Ibn Umar radhiyallahu’anhuma menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sering membaca istighfar di atas dalam sekali duduk sebanyak seratus kali.Dalam berbagai redaksi di atas, istighfar digandengkan dengan permohonan taubat. Ibn al-Qayyim dalam Madârij as-Sâlikîn menjelaskan bahwa jika istighfar disebutkan secara bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud dari istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang, berupa kejelekan amal yang dia perbuat. Maka istighfar adalah menghilangkan keburukan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan). Ampunan akan melindungi diri kita dari keburukan dosa yang telah terjadi. Adapun taubat, setelah adanya perlindungan tersebut, maka terwujudlah apa yang dia cintai atau dia harapkan berupa maslahat atau kebaikan.Keduabelas:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ”“ASTAGHFIRULLÔH”.(Aku memohon ampun kepada Allah). Redaksi di atas dibaca antara lain setiap selesai shalat fardhu, sebanyak tiga kali. Sebagaimana dalam HR. Muslim dari Tsauban radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rajab 1436 / 26 April 2015Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel Redaksi Istighfar -3 Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2*Next Anak dan Membaca Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 76Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam Hadits. Berikut kelanjutannya;Kesembilan:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ““ALLÔHUMMAGH FIRLANÂ WAR HAMNÂ WA TUB ‘ALAINÂ, INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM” (Ya Allâh, ampunilah kami dan sayangilah kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). HR. An-Nasa’iy dalam al-Kubra.Kesepuluh:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ”“ASTAGHFIRULLÔH WA ATÛBU ILAIH”.(Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya). Dalam HR. Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam dalam sehari membacanya lebih dari tujuhpuluh kali.Kesebelas:“رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ”“ROBBIGHFIRLÎ WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM”(Ya Rabbi ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang).Dalam HR. Abu Dawud yang dinilai sahih oleh al-Albany, Ibn Umar radhiyallahu’anhuma menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sering membaca istighfar di atas dalam sekali duduk sebanyak seratus kali.Dalam berbagai redaksi di atas, istighfar digandengkan dengan permohonan taubat. Ibn al-Qayyim dalam Madârij as-Sâlikîn menjelaskan bahwa jika istighfar disebutkan secara bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud dari istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang, berupa kejelekan amal yang dia perbuat. Maka istighfar adalah menghilangkan keburukan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan). Ampunan akan melindungi diri kita dari keburukan dosa yang telah terjadi. Adapun taubat, setelah adanya perlindungan tersebut, maka terwujudlah apa yang dia cintai atau dia harapkan berupa maslahat atau kebaikan.Keduabelas:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ”“ASTAGHFIRULLÔH”.(Aku memohon ampun kepada Allah). Redaksi di atas dibaca antara lain setiap selesai shalat fardhu, sebanyak tiga kali. Sebagaimana dalam HR. Muslim dari Tsauban radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rajab 1436 / 26 April 2015Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel Redaksi Istighfar -3 Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2*Next Anak dan Membaca Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 76Pada pertemuan lalu kita telah membahas beberapa redaksi istighfar yang termaktub di dalam Hadits. Berikut kelanjutannya;Kesembilan:“اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ““ALLÔHUMMAGH FIRLANÂ WAR HAMNÂ WA TUB ‘ALAINÂ, INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM” (Ya Allâh, ampunilah kami dan sayangilah kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). HR. An-Nasa’iy dalam al-Kubra.Kesepuluh:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ”“ASTAGHFIRULLÔH WA ATÛBU ILAIH”.(Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya). Dalam HR. Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam dalam sehari membacanya lebih dari tujuhpuluh kali.Kesebelas:“رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ”“ROBBIGHFIRLÎ WA TUB ‘ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWÂBUR ROHÎM”(Ya Rabbi ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang).Dalam HR. Abu Dawud yang dinilai sahih oleh al-Albany, Ibn Umar radhiyallahu’anhuma menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sering membaca istighfar di atas dalam sekali duduk sebanyak seratus kali.Dalam berbagai redaksi di atas, istighfar digandengkan dengan permohonan taubat. Ibn al-Qayyim dalam Madârij as-Sâlikîn menjelaskan bahwa jika istighfar disebutkan secara bersamaan dengan taubat, maka yang dimaksud dari istighfar adalah meminta perlindungan dari keburukan dosa yang telah terjadi. Sedangkan taubat adalah kembali dan meminta perlindungan dari keburukan yang dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang, berupa kejelekan amal yang dia perbuat. Maka istighfar adalah menghilangkan keburukan, sedangkan taubat adalah meminta adanya manfaat (kebaikan). Ampunan akan melindungi diri kita dari keburukan dosa yang telah terjadi. Adapun taubat, setelah adanya perlindungan tersebut, maka terwujudlah apa yang dia cintai atau dia harapkan berupa maslahat atau kebaikan.Keduabelas:“أَسْتَغْفِرُ اللهَ”“ASTAGHFIRULLÔH”.(Aku memohon ampun kepada Allah). Redaksi di atas dibaca antara lain setiap selesai shalat fardhu, sebanyak tiga kali. Sebagaimana dalam HR. Muslim dari Tsauban radhiyallahu’anhu.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Rajab 1436 / 26 April 2015Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30266/.Download Artikel Redaksi Istighfar -3 Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-2*Next Anak dan Membaca Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Anak dan Membaca

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 53Perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada kita umat Islam adalah iqra’! (bacalah!). Namun amat disayangkan, realita saat ini berbicara lain. Banyak sekali di antara kaum muslimin yang justru enggan dan jarang untuk membaca.Manfaat membacaSudah barang tentu ada banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan membaca. Membaca ibarat ilmu sumur yang tidak pernah kering. Semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu yang dapat diambil. Dengan membaca, dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, serta dapat belajar dari pengalaman orang lain.Berdasarkan penelitian, bacaan seseorang bisa mempengaruhi pada kualitas pribadinya. Semakin mantap bacaan seseorang, maka semakin tinggi peradaban manusia. Kualitas dari bacaannya akan menghantarkan manusia kepada kemajuan atau kemunduran masyarakatnya. Selain itu, dari hasil riset terakhir, ilmu berhubungan dengan otak manusia, ditemukan bahwa bagi mereka yang rajin membaca buku dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tuanya. Bahkan berdasarkan penelitian para ahli, membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan syaraf-syaraf baru di otak di mana tumbuhnya sel-sel syaraf baru itu berlangsung hingga akhir hayatnya.Sejak Usia Dini Kegemaran membaca sebaiknya dilatih sejak usia dini, bahkan ketika anak-anak belum mengenal huruf sekali pun. Bukan berarti dengan cara harus mengajarinya membaca sedari bayi. Tetapi lebih pada kebiasaan untuk selalu diperkenalkan dengan buku.Anda bisa memulai setiap malam sebelum tidur, dengan membacakan buku cerita kepada mereka dan pastinya dengan cara yang semenarik mungkin, meskipun kadang mungkin dia tidak menghiraukannya. Itu dilakukan secara kontinyu. Konon, anak-anak yang sejak dini terbiasa dibacakan cerita oleh orang tuanya, dapat menguasai 4.000 – 12.000 kosakata baru dalam setahun. Selain itu, kegiatan membacakan buku pada anak-anak adalah salah satu cara orang tua mendekatkan diri secara emosional kepada mereka. Kemudian, anak-anak yang baru mulai bisa membaca, sebaiknya orang tua membelikan buku bacaan yang cukup menarik bacanya. Misalnya buku bacaan yang bergambar dengan warna yang menarik sehingga anak menyukainya. Karena gambar dan warna mampu meningkatkan daya ingat anak terhadap apa yang dibacanya.Cara lain dalam menumbuhkan kecintaan anak kepada buku adalah membuat perpustakaan rumah. Sediakanlah suatu tempat dalam rumah kita di mana anak-anak dapat dengan mudah mengambil dan membaca buku-buku itu setiap hari. Jadi buku-buku sebaiknya jangan ditaruh di dalam lemari tertutup atau buffet yang sulit dijangkau oleh mereka, tapi taruhlah buku-buku tersebut di tempat yang terjangkau oleh mereka. Sehingga mereka dapat dengan mudah mengambilnya sendiri dan sediakan tempat di sekitarnya untuk mereka dapat membaca, melihat-lihat, membuka-buka buku tersebut. Tentu resikonya, Anda sebagai orang tua perlu ekstra bersabar untuk sering-sering merapikan kembali buku-buku yang berantakan. Tapi yakinlah bahwa kelak Anda insyaAllah akan memetik buah manisnya.Prioritaskan dalam perpustakaan rumah koleksi buku-buku agama dan majalah-majalah Islam, biografi para nabi, para sahabat dan para ulama, buku-buku akhlak, hikmah dan kisah-kisah yang sarat dengan pelajaran. Pengetahuan umum dan teknologi pun tidak mengapa. Tetapi hindarilah menyediakan buku bacaan yang tidak mendidik apalagi cabul.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumada Tsaniah 1436 / 13 April 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber. Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3Next Nikmat Dalam Sakit Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Anak dan Membaca

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 53Perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada kita umat Islam adalah iqra’! (bacalah!). Namun amat disayangkan, realita saat ini berbicara lain. Banyak sekali di antara kaum muslimin yang justru enggan dan jarang untuk membaca.Manfaat membacaSudah barang tentu ada banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan membaca. Membaca ibarat ilmu sumur yang tidak pernah kering. Semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu yang dapat diambil. Dengan membaca, dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, serta dapat belajar dari pengalaman orang lain.Berdasarkan penelitian, bacaan seseorang bisa mempengaruhi pada kualitas pribadinya. Semakin mantap bacaan seseorang, maka semakin tinggi peradaban manusia. Kualitas dari bacaannya akan menghantarkan manusia kepada kemajuan atau kemunduran masyarakatnya. Selain itu, dari hasil riset terakhir, ilmu berhubungan dengan otak manusia, ditemukan bahwa bagi mereka yang rajin membaca buku dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tuanya. Bahkan berdasarkan penelitian para ahli, membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan syaraf-syaraf baru di otak di mana tumbuhnya sel-sel syaraf baru itu berlangsung hingga akhir hayatnya.Sejak Usia Dini Kegemaran membaca sebaiknya dilatih sejak usia dini, bahkan ketika anak-anak belum mengenal huruf sekali pun. Bukan berarti dengan cara harus mengajarinya membaca sedari bayi. Tetapi lebih pada kebiasaan untuk selalu diperkenalkan dengan buku.Anda bisa memulai setiap malam sebelum tidur, dengan membacakan buku cerita kepada mereka dan pastinya dengan cara yang semenarik mungkin, meskipun kadang mungkin dia tidak menghiraukannya. Itu dilakukan secara kontinyu. Konon, anak-anak yang sejak dini terbiasa dibacakan cerita oleh orang tuanya, dapat menguasai 4.000 – 12.000 kosakata baru dalam setahun. Selain itu, kegiatan membacakan buku pada anak-anak adalah salah satu cara orang tua mendekatkan diri secara emosional kepada mereka. Kemudian, anak-anak yang baru mulai bisa membaca, sebaiknya orang tua membelikan buku bacaan yang cukup menarik bacanya. Misalnya buku bacaan yang bergambar dengan warna yang menarik sehingga anak menyukainya. Karena gambar dan warna mampu meningkatkan daya ingat anak terhadap apa yang dibacanya.Cara lain dalam menumbuhkan kecintaan anak kepada buku adalah membuat perpustakaan rumah. Sediakanlah suatu tempat dalam rumah kita di mana anak-anak dapat dengan mudah mengambil dan membaca buku-buku itu setiap hari. Jadi buku-buku sebaiknya jangan ditaruh di dalam lemari tertutup atau buffet yang sulit dijangkau oleh mereka, tapi taruhlah buku-buku tersebut di tempat yang terjangkau oleh mereka. Sehingga mereka dapat dengan mudah mengambilnya sendiri dan sediakan tempat di sekitarnya untuk mereka dapat membaca, melihat-lihat, membuka-buka buku tersebut. Tentu resikonya, Anda sebagai orang tua perlu ekstra bersabar untuk sering-sering merapikan kembali buku-buku yang berantakan. Tapi yakinlah bahwa kelak Anda insyaAllah akan memetik buah manisnya.Prioritaskan dalam perpustakaan rumah koleksi buku-buku agama dan majalah-majalah Islam, biografi para nabi, para sahabat dan para ulama, buku-buku akhlak, hikmah dan kisah-kisah yang sarat dengan pelajaran. Pengetahuan umum dan teknologi pun tidak mengapa. Tetapi hindarilah menyediakan buku bacaan yang tidak mendidik apalagi cabul.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumada Tsaniah 1436 / 13 April 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber. Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3Next Nikmat Dalam Sakit Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 53Perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada kita umat Islam adalah iqra’! (bacalah!). Namun amat disayangkan, realita saat ini berbicara lain. Banyak sekali di antara kaum muslimin yang justru enggan dan jarang untuk membaca.Manfaat membacaSudah barang tentu ada banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan membaca. Membaca ibarat ilmu sumur yang tidak pernah kering. Semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu yang dapat diambil. Dengan membaca, dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, serta dapat belajar dari pengalaman orang lain.Berdasarkan penelitian, bacaan seseorang bisa mempengaruhi pada kualitas pribadinya. Semakin mantap bacaan seseorang, maka semakin tinggi peradaban manusia. Kualitas dari bacaannya akan menghantarkan manusia kepada kemajuan atau kemunduran masyarakatnya. Selain itu, dari hasil riset terakhir, ilmu berhubungan dengan otak manusia, ditemukan bahwa bagi mereka yang rajin membaca buku dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tuanya. Bahkan berdasarkan penelitian para ahli, membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan syaraf-syaraf baru di otak di mana tumbuhnya sel-sel syaraf baru itu berlangsung hingga akhir hayatnya.Sejak Usia Dini Kegemaran membaca sebaiknya dilatih sejak usia dini, bahkan ketika anak-anak belum mengenal huruf sekali pun. Bukan berarti dengan cara harus mengajarinya membaca sedari bayi. Tetapi lebih pada kebiasaan untuk selalu diperkenalkan dengan buku.Anda bisa memulai setiap malam sebelum tidur, dengan membacakan buku cerita kepada mereka dan pastinya dengan cara yang semenarik mungkin, meskipun kadang mungkin dia tidak menghiraukannya. Itu dilakukan secara kontinyu. Konon, anak-anak yang sejak dini terbiasa dibacakan cerita oleh orang tuanya, dapat menguasai 4.000 – 12.000 kosakata baru dalam setahun. Selain itu, kegiatan membacakan buku pada anak-anak adalah salah satu cara orang tua mendekatkan diri secara emosional kepada mereka. Kemudian, anak-anak yang baru mulai bisa membaca, sebaiknya orang tua membelikan buku bacaan yang cukup menarik bacanya. Misalnya buku bacaan yang bergambar dengan warna yang menarik sehingga anak menyukainya. Karena gambar dan warna mampu meningkatkan daya ingat anak terhadap apa yang dibacanya.Cara lain dalam menumbuhkan kecintaan anak kepada buku adalah membuat perpustakaan rumah. Sediakanlah suatu tempat dalam rumah kita di mana anak-anak dapat dengan mudah mengambil dan membaca buku-buku itu setiap hari. Jadi buku-buku sebaiknya jangan ditaruh di dalam lemari tertutup atau buffet yang sulit dijangkau oleh mereka, tapi taruhlah buku-buku tersebut di tempat yang terjangkau oleh mereka. Sehingga mereka dapat dengan mudah mengambilnya sendiri dan sediakan tempat di sekitarnya untuk mereka dapat membaca, melihat-lihat, membuka-buka buku tersebut. Tentu resikonya, Anda sebagai orang tua perlu ekstra bersabar untuk sering-sering merapikan kembali buku-buku yang berantakan. Tapi yakinlah bahwa kelak Anda insyaAllah akan memetik buah manisnya.Prioritaskan dalam perpustakaan rumah koleksi buku-buku agama dan majalah-majalah Islam, biografi para nabi, para sahabat dan para ulama, buku-buku akhlak, hikmah dan kisah-kisah yang sarat dengan pelajaran. Pengetahuan umum dan teknologi pun tidak mengapa. Tetapi hindarilah menyediakan buku bacaan yang tidak mendidik apalagi cabul.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumada Tsaniah 1436 / 13 April 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber. Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3Next Nikmat Dalam Sakit Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 53Perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada kita umat Islam adalah iqra’! (bacalah!). Namun amat disayangkan, realita saat ini berbicara lain. Banyak sekali di antara kaum muslimin yang justru enggan dan jarang untuk membaca.Manfaat membacaSudah barang tentu ada banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan membaca. Membaca ibarat ilmu sumur yang tidak pernah kering. Semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu yang dapat diambil. Dengan membaca, dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, serta dapat belajar dari pengalaman orang lain.Berdasarkan penelitian, bacaan seseorang bisa mempengaruhi pada kualitas pribadinya. Semakin mantap bacaan seseorang, maka semakin tinggi peradaban manusia. Kualitas dari bacaannya akan menghantarkan manusia kepada kemajuan atau kemunduran masyarakatnya. Selain itu, dari hasil riset terakhir, ilmu berhubungan dengan otak manusia, ditemukan bahwa bagi mereka yang rajin membaca buku dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tuanya. Bahkan berdasarkan penelitian para ahli, membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan syaraf-syaraf baru di otak di mana tumbuhnya sel-sel syaraf baru itu berlangsung hingga akhir hayatnya.Sejak Usia Dini Kegemaran membaca sebaiknya dilatih sejak usia dini, bahkan ketika anak-anak belum mengenal huruf sekali pun. Bukan berarti dengan cara harus mengajarinya membaca sedari bayi. Tetapi lebih pada kebiasaan untuk selalu diperkenalkan dengan buku.Anda bisa memulai setiap malam sebelum tidur, dengan membacakan buku cerita kepada mereka dan pastinya dengan cara yang semenarik mungkin, meskipun kadang mungkin dia tidak menghiraukannya. Itu dilakukan secara kontinyu. Konon, anak-anak yang sejak dini terbiasa dibacakan cerita oleh orang tuanya, dapat menguasai 4.000 – 12.000 kosakata baru dalam setahun. Selain itu, kegiatan membacakan buku pada anak-anak adalah salah satu cara orang tua mendekatkan diri secara emosional kepada mereka. Kemudian, anak-anak yang baru mulai bisa membaca, sebaiknya orang tua membelikan buku bacaan yang cukup menarik bacanya. Misalnya buku bacaan yang bergambar dengan warna yang menarik sehingga anak menyukainya. Karena gambar dan warna mampu meningkatkan daya ingat anak terhadap apa yang dibacanya.Cara lain dalam menumbuhkan kecintaan anak kepada buku adalah membuat perpustakaan rumah. Sediakanlah suatu tempat dalam rumah kita di mana anak-anak dapat dengan mudah mengambil dan membaca buku-buku itu setiap hari. Jadi buku-buku sebaiknya jangan ditaruh di dalam lemari tertutup atau buffet yang sulit dijangkau oleh mereka, tapi taruhlah buku-buku tersebut di tempat yang terjangkau oleh mereka. Sehingga mereka dapat dengan mudah mengambilnya sendiri dan sediakan tempat di sekitarnya untuk mereka dapat membaca, melihat-lihat, membuka-buka buku tersebut. Tentu resikonya, Anda sebagai orang tua perlu ekstra bersabar untuk sering-sering merapikan kembali buku-buku yang berantakan. Tapi yakinlah bahwa kelak Anda insyaAllah akan memetik buah manisnya.Prioritaskan dalam perpustakaan rumah koleksi buku-buku agama dan majalah-majalah Islam, biografi para nabi, para sahabat dan para ulama, buku-buku akhlak, hikmah dan kisah-kisah yang sarat dengan pelajaran. Pengetahuan umum dan teknologi pun tidak mengapa. Tetapi hindarilah menyediakan buku bacaan yang tidak mendidik apalagi cabul.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Jumada Tsaniah 1436 / 13 April 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber. Post navigation Previous REDAKSI ISTIGHFAR Bag-3Next Nikmat Dalam Sakit Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Nikmat Dalam Sakit

Oleh: Al Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:Pertama: Sakit itu mengurangi dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ““Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahalaAllah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10.Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaianDalam al-Qur’an ditegaskan,“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41.Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehatSeorang penyair berkata,“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى““Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.Catatan PentingSegala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 3 Sya’ban 1436 / 21 Mei 2015Download Artikel Ini Post navigation Previous Anak dan MembacaNext ANAK DAN ILMU DUNIAWI* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Nikmat Dalam Sakit

Oleh: Al Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:Pertama: Sakit itu mengurangi dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ““Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahalaAllah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10.Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaianDalam al-Qur’an ditegaskan,“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41.Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehatSeorang penyair berkata,“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى““Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.Catatan PentingSegala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 3 Sya’ban 1436 / 21 Mei 2015Download Artikel Ini Post navigation Previous Anak dan MembacaNext ANAK DAN ILMU DUNIAWI* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Al Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:Pertama: Sakit itu mengurangi dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ““Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahalaAllah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10.Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaianDalam al-Qur’an ditegaskan,“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41.Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehatSeorang penyair berkata,“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى““Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.Catatan PentingSegala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 3 Sya’ban 1436 / 21 Mei 2015Download Artikel Ini Post navigation Previous Anak dan MembacaNext ANAK DAN ILMU DUNIAWI* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Al Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:Pertama: Sakit itu mengurangi dosaRasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ““Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahalaAllah ta’ala berfirman,“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. QS. Az-Zumar (39): 10.Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaianDalam al-Qur’an ditegaskan,“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41.Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehatSeorang penyair berkata,“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى““Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.Catatan PentingSegala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, insyaAllah…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 3 Sya’ban 1436 / 21 Mei 2015Download Artikel Ini Post navigation Previous Anak dan MembacaNext ANAK DAN ILMU DUNIAWI* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANAK DAN ILMU DUNIAWI*

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 54Para ulama kita telah menjelaskan bahwa setiap dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang membicarakan keutamaan ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu agama. Oleh karena itu Islam amat memprioritaskan ilmu agama. Namun hal itu bukan berarti bahwa Islam adalah agama yang anti ilmu duniawi. Terlebih lagi memang kita tinggal di dunia, yang tentu membutuhkan ilmu-ilmu tersebut.Dikisahkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam saat tiba di kota Madinah, beliau melihat para sahabat mengawinkan pohon korma jantan dengan betina. Maka beliaupun memberi masukan pada mereka untuk tidak perlu melanjutkan kebiasaan tersebut. Ternyata setelah advis tersebut dijalankan, malah mengakibatkan gagal panen. Saat para sahabat komplain, beliau menjawab,“أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“.“Kalian lebih paham akan perkara dunia kalian”.Ilmu duniawai adalah segala ilmu yang dibutuhkan untuk memenuhi maslahat dunia dan kehidupan manusia. Seperti: ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, perdagangan, militer dan sebagainya.Anak perlu mempelajari ilmu duniawi, terutama yang membantunya untuk memenuhi kebutuhan primer kesehariannya di dunia. Seperti sandang (pakaian), pangan dan papan (tempat tinggal). Arahkan anak untuk mempelajari dan menguasai suatu profesi atau pekerjaan. Sehingga ia tidak menjadi beban masyarakat, meminta-minta belas kasihan orang lain.Lihatlah bagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sejak kecil telah terbiasa untuk menggembala kambing.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ”. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: “وَأَنْتَ؟”. فَقَالَ: “نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan pasti ia menggembala kambing”. Para sahabat bertanya, “Engkau pun juga demikian?”. Beliau menjawab, “Ya. Dahulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan mendapatkan imbalan upah”. HR. Bukhari.Selain itu beliau juga membantu Abu Thalib; pamannya dalam berbisnis dan berniaga.Jadi, meskipun Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam diasuh dan ditanggung kehidupannya oleh paman beliau Abu Thalib, hal itu tidak menjadikan beliau manja dan hanya meminta apa yang dia butuhan. Tapi beliau justru belajar mandiri dengan menerima pekerjaan sebagai penggembala kambing dan membantu bisnis pamannya.Pendidikan kemandirian seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam ini mulai jarang kita temui di keluarga. Orang tua cenderung melayani apapun yang menjadi kebutuhan anak-anak mereka, meskipun mereka telah mampu melakukannya sendiri. Banyak orang tua tidak melibatkan anak-anak mereka dalam pekerjaan rumah, seperti menyapu, ngepel, mencuci piring dan mencuci pakaian.Mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah kepada anak-anak dan melibatkan mereka dalam pekerjaan bersama orang tua (tentunya tidak sampai mengganggu waktu belajar anak); akan mendewasakan mereka dan melatih kemandiriannya. InsyaAllah di kemudian hari mereka akan menjadi anak-anak yang berkepribadian matang, tangguh dan pantang menyerah sehingga tidak menjadi beban keluarga dan masyarakat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1436 / 8 Juni 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.Silahkan Download Artikel Ini Post navigation Previous Nikmat Dalam SakitNext ANAK DAN KREATIVITAS* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANAK DAN ILMU DUNIAWI*

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 54Para ulama kita telah menjelaskan bahwa setiap dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang membicarakan keutamaan ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu agama. Oleh karena itu Islam amat memprioritaskan ilmu agama. Namun hal itu bukan berarti bahwa Islam adalah agama yang anti ilmu duniawi. Terlebih lagi memang kita tinggal di dunia, yang tentu membutuhkan ilmu-ilmu tersebut.Dikisahkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam saat tiba di kota Madinah, beliau melihat para sahabat mengawinkan pohon korma jantan dengan betina. Maka beliaupun memberi masukan pada mereka untuk tidak perlu melanjutkan kebiasaan tersebut. Ternyata setelah advis tersebut dijalankan, malah mengakibatkan gagal panen. Saat para sahabat komplain, beliau menjawab,“أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“.“Kalian lebih paham akan perkara dunia kalian”.Ilmu duniawai adalah segala ilmu yang dibutuhkan untuk memenuhi maslahat dunia dan kehidupan manusia. Seperti: ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, perdagangan, militer dan sebagainya.Anak perlu mempelajari ilmu duniawi, terutama yang membantunya untuk memenuhi kebutuhan primer kesehariannya di dunia. Seperti sandang (pakaian), pangan dan papan (tempat tinggal). Arahkan anak untuk mempelajari dan menguasai suatu profesi atau pekerjaan. Sehingga ia tidak menjadi beban masyarakat, meminta-minta belas kasihan orang lain.Lihatlah bagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sejak kecil telah terbiasa untuk menggembala kambing.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ”. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: “وَأَنْتَ؟”. فَقَالَ: “نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan pasti ia menggembala kambing”. Para sahabat bertanya, “Engkau pun juga demikian?”. Beliau menjawab, “Ya. Dahulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan mendapatkan imbalan upah”. HR. Bukhari.Selain itu beliau juga membantu Abu Thalib; pamannya dalam berbisnis dan berniaga.Jadi, meskipun Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam diasuh dan ditanggung kehidupannya oleh paman beliau Abu Thalib, hal itu tidak menjadikan beliau manja dan hanya meminta apa yang dia butuhan. Tapi beliau justru belajar mandiri dengan menerima pekerjaan sebagai penggembala kambing dan membantu bisnis pamannya.Pendidikan kemandirian seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam ini mulai jarang kita temui di keluarga. Orang tua cenderung melayani apapun yang menjadi kebutuhan anak-anak mereka, meskipun mereka telah mampu melakukannya sendiri. Banyak orang tua tidak melibatkan anak-anak mereka dalam pekerjaan rumah, seperti menyapu, ngepel, mencuci piring dan mencuci pakaian.Mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah kepada anak-anak dan melibatkan mereka dalam pekerjaan bersama orang tua (tentunya tidak sampai mengganggu waktu belajar anak); akan mendewasakan mereka dan melatih kemandiriannya. InsyaAllah di kemudian hari mereka akan menjadi anak-anak yang berkepribadian matang, tangguh dan pantang menyerah sehingga tidak menjadi beban keluarga dan masyarakat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1436 / 8 Juni 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.Silahkan Download Artikel Ini Post navigation Previous Nikmat Dalam SakitNext ANAK DAN KREATIVITAS* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 54Para ulama kita telah menjelaskan bahwa setiap dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang membicarakan keutamaan ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu agama. Oleh karena itu Islam amat memprioritaskan ilmu agama. Namun hal itu bukan berarti bahwa Islam adalah agama yang anti ilmu duniawi. Terlebih lagi memang kita tinggal di dunia, yang tentu membutuhkan ilmu-ilmu tersebut.Dikisahkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam saat tiba di kota Madinah, beliau melihat para sahabat mengawinkan pohon korma jantan dengan betina. Maka beliaupun memberi masukan pada mereka untuk tidak perlu melanjutkan kebiasaan tersebut. Ternyata setelah advis tersebut dijalankan, malah mengakibatkan gagal panen. Saat para sahabat komplain, beliau menjawab,“أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“.“Kalian lebih paham akan perkara dunia kalian”.Ilmu duniawai adalah segala ilmu yang dibutuhkan untuk memenuhi maslahat dunia dan kehidupan manusia. Seperti: ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, perdagangan, militer dan sebagainya.Anak perlu mempelajari ilmu duniawi, terutama yang membantunya untuk memenuhi kebutuhan primer kesehariannya di dunia. Seperti sandang (pakaian), pangan dan papan (tempat tinggal). Arahkan anak untuk mempelajari dan menguasai suatu profesi atau pekerjaan. Sehingga ia tidak menjadi beban masyarakat, meminta-minta belas kasihan orang lain.Lihatlah bagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sejak kecil telah terbiasa untuk menggembala kambing.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ”. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: “وَأَنْتَ؟”. فَقَالَ: “نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan pasti ia menggembala kambing”. Para sahabat bertanya, “Engkau pun juga demikian?”. Beliau menjawab, “Ya. Dahulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan mendapatkan imbalan upah”. HR. Bukhari.Selain itu beliau juga membantu Abu Thalib; pamannya dalam berbisnis dan berniaga.Jadi, meskipun Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam diasuh dan ditanggung kehidupannya oleh paman beliau Abu Thalib, hal itu tidak menjadikan beliau manja dan hanya meminta apa yang dia butuhan. Tapi beliau justru belajar mandiri dengan menerima pekerjaan sebagai penggembala kambing dan membantu bisnis pamannya.Pendidikan kemandirian seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam ini mulai jarang kita temui di keluarga. Orang tua cenderung melayani apapun yang menjadi kebutuhan anak-anak mereka, meskipun mereka telah mampu melakukannya sendiri. Banyak orang tua tidak melibatkan anak-anak mereka dalam pekerjaan rumah, seperti menyapu, ngepel, mencuci piring dan mencuci pakaian.Mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah kepada anak-anak dan melibatkan mereka dalam pekerjaan bersama orang tua (tentunya tidak sampai mengganggu waktu belajar anak); akan mendewasakan mereka dan melatih kemandiriannya. InsyaAllah di kemudian hari mereka akan menjadi anak-anak yang berkepribadian matang, tangguh dan pantang menyerah sehingga tidak menjadi beban keluarga dan masyarakat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1436 / 8 Juni 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.Silahkan Download Artikel Ini Post navigation Previous Nikmat Dalam SakitNext ANAK DAN KREATIVITAS* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak - No: 54Para ulama kita telah menjelaskan bahwa setiap dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang membicarakan keutamaan ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu agama. Oleh karena itu Islam amat memprioritaskan ilmu agama. Namun hal itu bukan berarti bahwa Islam adalah agama yang anti ilmu duniawi. Terlebih lagi memang kita tinggal di dunia, yang tentu membutuhkan ilmu-ilmu tersebut.Dikisahkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam saat tiba di kota Madinah, beliau melihat para sahabat mengawinkan pohon korma jantan dengan betina. Maka beliaupun memberi masukan pada mereka untuk tidak perlu melanjutkan kebiasaan tersebut. Ternyata setelah advis tersebut dijalankan, malah mengakibatkan gagal panen. Saat para sahabat komplain, beliau menjawab,“أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ“.“Kalian lebih paham akan perkara dunia kalian”.Ilmu duniawai adalah segala ilmu yang dibutuhkan untuk memenuhi maslahat dunia dan kehidupan manusia. Seperti: ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, perdagangan, militer dan sebagainya.Anak perlu mempelajari ilmu duniawi, terutama yang membantunya untuk memenuhi kebutuhan primer kesehariannya di dunia. Seperti sandang (pakaian), pangan dan papan (tempat tinggal). Arahkan anak untuk mempelajari dan menguasai suatu profesi atau pekerjaan. Sehingga ia tidak menjadi beban masyarakat, meminta-minta belas kasihan orang lain.Lihatlah bagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sejak kecil telah terbiasa untuk menggembala kambing.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ”. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: “وَأَنْتَ؟”. فَقَالَ: “نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan pasti ia menggembala kambing”. Para sahabat bertanya, “Engkau pun juga demikian?”. Beliau menjawab, “Ya. Dahulu aku menggembala kambing penduduk Makkah dengan mendapatkan imbalan upah”. HR. Bukhari.Selain itu beliau juga membantu Abu Thalib; pamannya dalam berbisnis dan berniaga.Jadi, meskipun Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam diasuh dan ditanggung kehidupannya oleh paman beliau Abu Thalib, hal itu tidak menjadikan beliau manja dan hanya meminta apa yang dia butuhan. Tapi beliau justru belajar mandiri dengan menerima pekerjaan sebagai penggembala kambing dan membantu bisnis pamannya.Pendidikan kemandirian seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam ini mulai jarang kita temui di keluarga. Orang tua cenderung melayani apapun yang menjadi kebutuhan anak-anak mereka, meskipun mereka telah mampu melakukannya sendiri. Banyak orang tua tidak melibatkan anak-anak mereka dalam pekerjaan rumah, seperti menyapu, ngepel, mencuci piring dan mencuci pakaian.Mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah kepada anak-anak dan melibatkan mereka dalam pekerjaan bersama orang tua (tentunya tidak sampai mengganggu waktu belajar anak); akan mendewasakan mereka dan melatih kemandiriannya. InsyaAllah di kemudian hari mereka akan menjadi anak-anak yang berkepribadian matang, tangguh dan pantang menyerah sehingga tidak menjadi beban keluarga dan masyarakat.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1436 / 8 Juni 2015* Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai sumber.Silahkan Download Artikel Ini Post navigation Previous Nikmat Dalam SakitNext ANAK DAN KREATIVITAS* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANAK DAN KREATIVITAS*

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 55 Semua orang tua pasti berharap anaknya tumbuh menjadi anak yang kreatif dan berkarakter. Anak kreatif tidak muncul begitu saja. Tetapi diperlukan cara dan pola mendidik yang baik kepada anak.Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan sejak ia dilahirkan. Bakat dan kemampuan tersebut bisa muncul apabila ia senantiasa digali ataupun dirangsang. Begitu pula dengan daya kreativitas anak. Daya kreativitas anak bisa dioptimalkan dengan memberikan pengasuhan yang tepat dan terarah.Lalu bagaimanakah cara mendidik anak agar anak menjadi anak yang kreatif? Berikut ini adalah cara dan tips sederhana dalam membentuk karakter anak kreatif. Membudayakan anak dengan tantanganTantangan merupakan sarana untuk memaksimalkan potensi otak. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar anak terbiasa dengan tantangan. Sebagai contoh misalnya ketika kita memberikan mainan balok kepada anak. Maka kita bisa memberikan tantangan kepada anak untuk membuat suatu bentuk dengan balok tersebut. Bisa bentuk rumah, piramida dan bentuk-bentuk lainnya. Lalu kita evaluasi hasilnya. Apakah anak mampu untuk menyelesaikan tantangan yang kita berikan atau tidak. Membiasakan anak untuk mandiriBanyak hal sederhana yang bisa anak lakukan. Jangan membiasakan anak diperlakukan manja hingga hal-hal sepele pun harus diladeni oleh orang tua. Misalnya ketika memakai baju, memakai sepatu sendiri dan hal lainnya. Biarkan anak untuk menyelesaikan pekerjaan sederhananya; sehingga ia terangsang untuk mandiri lalu bisa memancing daya kreativitasnya. Memberi kebebasan terarah kepada anakMemberikan kebebasan ini bukan berarti anak dibiarkan begitu saja melakukan hal-hal yang disukainya. Akan tetapi orang tua harus tetap mengawasi apa yang dilakukan anak. Tapi perlu diingat pula bahwa orang tua juga tidak memberikan pengekangan berlebihan kepada anak. Sebagai contoh misalnya ketika anak menginginkan bermain pasir. Bermain pasir bisa juga membahayakan anak, seperti mata terkena pasir. Tapi apakah terus melarang anak bermain pasir? Tentu tidak, berikan anak kesempatan untuk bermain dan pastikan bahwa kita juga memberikan pengawasan agar ia tetap aman ketika bermain. Menjauhkan anak dari perasaan negatifPerasaan negatif misalnya penakut, rendah diri, minder dan merasa tertekan. Pada dasarnya anak memiliki sifat positif. Namun karena lingkungannya, anak bisa menjadi anak yang perpikiran negatif seperti contoh di atas. Oleh karena itu, hindari perilaku yang bisa membuat anak takut. Misalnya menakut-nakuti anak, memarahi anak tanpa alasan ataupun terlalu sering membentak anak. Mendorong anak berpikir positifBanyak hal positif yang harus didorong. Misalnya kejujuran, rasa tanggung jawab, disiplin maupun semangat tinggi. Hal-hal positif ini harus orang tua ajarkan dengan cara memberikan contoh dalam keseharian. Karena anak merupakan peniru jitu yang akan menduplikat apa yang dilakukan orang tuanya. Banyak hal-hal positif yang bisa kita contohkan meskipun hal tersebut merupakan perilaku sepele. Memuji anakSering kali yang dilalaikan para orang tua adalah memberikan pujian kepada anak. Sedikit sekali orang tua yang memberikan penghargaan kepada anak ketika anak melakukan hal-hal positif. Terutama ketika anak melakukan perbuatan positif dalam hal yang terlihat sepele. Pujian ini sangat berarti bagi anak karena merupakan salah satu perhatian orang tua kepada anak. Kalau anak merasa tidak diperhatikan, bagaimana mungkin anak akan bisa tumbuh menjadi anak yang kreatif?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1436 / 22 Juni 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/05/cara-mendidik-karakter-anak-kreatif.html. Post navigation Previous ANAK DAN ILMU DUNIAWI*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ANAK DAN KREATIVITAS*

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 55 Semua orang tua pasti berharap anaknya tumbuh menjadi anak yang kreatif dan berkarakter. Anak kreatif tidak muncul begitu saja. Tetapi diperlukan cara dan pola mendidik yang baik kepada anak.Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan sejak ia dilahirkan. Bakat dan kemampuan tersebut bisa muncul apabila ia senantiasa digali ataupun dirangsang. Begitu pula dengan daya kreativitas anak. Daya kreativitas anak bisa dioptimalkan dengan memberikan pengasuhan yang tepat dan terarah.Lalu bagaimanakah cara mendidik anak agar anak menjadi anak yang kreatif? Berikut ini adalah cara dan tips sederhana dalam membentuk karakter anak kreatif. Membudayakan anak dengan tantanganTantangan merupakan sarana untuk memaksimalkan potensi otak. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar anak terbiasa dengan tantangan. Sebagai contoh misalnya ketika kita memberikan mainan balok kepada anak. Maka kita bisa memberikan tantangan kepada anak untuk membuat suatu bentuk dengan balok tersebut. Bisa bentuk rumah, piramida dan bentuk-bentuk lainnya. Lalu kita evaluasi hasilnya. Apakah anak mampu untuk menyelesaikan tantangan yang kita berikan atau tidak. Membiasakan anak untuk mandiriBanyak hal sederhana yang bisa anak lakukan. Jangan membiasakan anak diperlakukan manja hingga hal-hal sepele pun harus diladeni oleh orang tua. Misalnya ketika memakai baju, memakai sepatu sendiri dan hal lainnya. Biarkan anak untuk menyelesaikan pekerjaan sederhananya; sehingga ia terangsang untuk mandiri lalu bisa memancing daya kreativitasnya. Memberi kebebasan terarah kepada anakMemberikan kebebasan ini bukan berarti anak dibiarkan begitu saja melakukan hal-hal yang disukainya. Akan tetapi orang tua harus tetap mengawasi apa yang dilakukan anak. Tapi perlu diingat pula bahwa orang tua juga tidak memberikan pengekangan berlebihan kepada anak. Sebagai contoh misalnya ketika anak menginginkan bermain pasir. Bermain pasir bisa juga membahayakan anak, seperti mata terkena pasir. Tapi apakah terus melarang anak bermain pasir? Tentu tidak, berikan anak kesempatan untuk bermain dan pastikan bahwa kita juga memberikan pengawasan agar ia tetap aman ketika bermain. Menjauhkan anak dari perasaan negatifPerasaan negatif misalnya penakut, rendah diri, minder dan merasa tertekan. Pada dasarnya anak memiliki sifat positif. Namun karena lingkungannya, anak bisa menjadi anak yang perpikiran negatif seperti contoh di atas. Oleh karena itu, hindari perilaku yang bisa membuat anak takut. Misalnya menakut-nakuti anak, memarahi anak tanpa alasan ataupun terlalu sering membentak anak. Mendorong anak berpikir positifBanyak hal positif yang harus didorong. Misalnya kejujuran, rasa tanggung jawab, disiplin maupun semangat tinggi. Hal-hal positif ini harus orang tua ajarkan dengan cara memberikan contoh dalam keseharian. Karena anak merupakan peniru jitu yang akan menduplikat apa yang dilakukan orang tuanya. Banyak hal-hal positif yang bisa kita contohkan meskipun hal tersebut merupakan perilaku sepele. Memuji anakSering kali yang dilalaikan para orang tua adalah memberikan pujian kepada anak. Sedikit sekali orang tua yang memberikan penghargaan kepada anak ketika anak melakukan hal-hal positif. Terutama ketika anak melakukan perbuatan positif dalam hal yang terlihat sepele. Pujian ini sangat berarti bagi anak karena merupakan salah satu perhatian orang tua kepada anak. Kalau anak merasa tidak diperhatikan, bagaimana mungkin anak akan bisa tumbuh menjadi anak yang kreatif?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1436 / 22 Juni 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/05/cara-mendidik-karakter-anak-kreatif.html. Post navigation Previous ANAK DAN ILMU DUNIAWI*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 55 Semua orang tua pasti berharap anaknya tumbuh menjadi anak yang kreatif dan berkarakter. Anak kreatif tidak muncul begitu saja. Tetapi diperlukan cara dan pola mendidik yang baik kepada anak.Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan sejak ia dilahirkan. Bakat dan kemampuan tersebut bisa muncul apabila ia senantiasa digali ataupun dirangsang. Begitu pula dengan daya kreativitas anak. Daya kreativitas anak bisa dioptimalkan dengan memberikan pengasuhan yang tepat dan terarah.Lalu bagaimanakah cara mendidik anak agar anak menjadi anak yang kreatif? Berikut ini adalah cara dan tips sederhana dalam membentuk karakter anak kreatif. Membudayakan anak dengan tantanganTantangan merupakan sarana untuk memaksimalkan potensi otak. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar anak terbiasa dengan tantangan. Sebagai contoh misalnya ketika kita memberikan mainan balok kepada anak. Maka kita bisa memberikan tantangan kepada anak untuk membuat suatu bentuk dengan balok tersebut. Bisa bentuk rumah, piramida dan bentuk-bentuk lainnya. Lalu kita evaluasi hasilnya. Apakah anak mampu untuk menyelesaikan tantangan yang kita berikan atau tidak. Membiasakan anak untuk mandiriBanyak hal sederhana yang bisa anak lakukan. Jangan membiasakan anak diperlakukan manja hingga hal-hal sepele pun harus diladeni oleh orang tua. Misalnya ketika memakai baju, memakai sepatu sendiri dan hal lainnya. Biarkan anak untuk menyelesaikan pekerjaan sederhananya; sehingga ia terangsang untuk mandiri lalu bisa memancing daya kreativitasnya. Memberi kebebasan terarah kepada anakMemberikan kebebasan ini bukan berarti anak dibiarkan begitu saja melakukan hal-hal yang disukainya. Akan tetapi orang tua harus tetap mengawasi apa yang dilakukan anak. Tapi perlu diingat pula bahwa orang tua juga tidak memberikan pengekangan berlebihan kepada anak. Sebagai contoh misalnya ketika anak menginginkan bermain pasir. Bermain pasir bisa juga membahayakan anak, seperti mata terkena pasir. Tapi apakah terus melarang anak bermain pasir? Tentu tidak, berikan anak kesempatan untuk bermain dan pastikan bahwa kita juga memberikan pengawasan agar ia tetap aman ketika bermain. Menjauhkan anak dari perasaan negatifPerasaan negatif misalnya penakut, rendah diri, minder dan merasa tertekan. Pada dasarnya anak memiliki sifat positif. Namun karena lingkungannya, anak bisa menjadi anak yang perpikiran negatif seperti contoh di atas. Oleh karena itu, hindari perilaku yang bisa membuat anak takut. Misalnya menakut-nakuti anak, memarahi anak tanpa alasan ataupun terlalu sering membentak anak. Mendorong anak berpikir positifBanyak hal positif yang harus didorong. Misalnya kejujuran, rasa tanggung jawab, disiplin maupun semangat tinggi. Hal-hal positif ini harus orang tua ajarkan dengan cara memberikan contoh dalam keseharian. Karena anak merupakan peniru jitu yang akan menduplikat apa yang dilakukan orang tuanya. Banyak hal-hal positif yang bisa kita contohkan meskipun hal tersebut merupakan perilaku sepele. Memuji anakSering kali yang dilalaikan para orang tua adalah memberikan pujian kepada anak. Sedikit sekali orang tua yang memberikan penghargaan kepada anak ketika anak melakukan hal-hal positif. Terutama ketika anak melakukan perbuatan positif dalam hal yang terlihat sepele. Pujian ini sangat berarti bagi anak karena merupakan salah satu perhatian orang tua kepada anak. Kalau anak merasa tidak diperhatikan, bagaimana mungkin anak akan bisa tumbuh menjadi anak yang kreatif?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1436 / 22 Juni 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/05/cara-mendidik-karakter-anak-kreatif.html. Post navigation Previous ANAK DAN ILMU DUNIAWI*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 55 Semua orang tua pasti berharap anaknya tumbuh menjadi anak yang kreatif dan berkarakter. Anak kreatif tidak muncul begitu saja. Tetapi diperlukan cara dan pola mendidik yang baik kepada anak.Setiap anak memiliki bakat dan kemampuan sejak ia dilahirkan. Bakat dan kemampuan tersebut bisa muncul apabila ia senantiasa digali ataupun dirangsang. Begitu pula dengan daya kreativitas anak. Daya kreativitas anak bisa dioptimalkan dengan memberikan pengasuhan yang tepat dan terarah.Lalu bagaimanakah cara mendidik anak agar anak menjadi anak yang kreatif? Berikut ini adalah cara dan tips sederhana dalam membentuk karakter anak kreatif. Membudayakan anak dengan tantanganTantangan merupakan sarana untuk memaksimalkan potensi otak. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar anak terbiasa dengan tantangan. Sebagai contoh misalnya ketika kita memberikan mainan balok kepada anak. Maka kita bisa memberikan tantangan kepada anak untuk membuat suatu bentuk dengan balok tersebut. Bisa bentuk rumah, piramida dan bentuk-bentuk lainnya. Lalu kita evaluasi hasilnya. Apakah anak mampu untuk menyelesaikan tantangan yang kita berikan atau tidak. Membiasakan anak untuk mandiriBanyak hal sederhana yang bisa anak lakukan. Jangan membiasakan anak diperlakukan manja hingga hal-hal sepele pun harus diladeni oleh orang tua. Misalnya ketika memakai baju, memakai sepatu sendiri dan hal lainnya. Biarkan anak untuk menyelesaikan pekerjaan sederhananya; sehingga ia terangsang untuk mandiri lalu bisa memancing daya kreativitasnya. Memberi kebebasan terarah kepada anakMemberikan kebebasan ini bukan berarti anak dibiarkan begitu saja melakukan hal-hal yang disukainya. Akan tetapi orang tua harus tetap mengawasi apa yang dilakukan anak. Tapi perlu diingat pula bahwa orang tua juga tidak memberikan pengekangan berlebihan kepada anak. Sebagai contoh misalnya ketika anak menginginkan bermain pasir. Bermain pasir bisa juga membahayakan anak, seperti mata terkena pasir. Tapi apakah terus melarang anak bermain pasir? Tentu tidak, berikan anak kesempatan untuk bermain dan pastikan bahwa kita juga memberikan pengawasan agar ia tetap aman ketika bermain. Menjauhkan anak dari perasaan negatifPerasaan negatif misalnya penakut, rendah diri, minder dan merasa tertekan. Pada dasarnya anak memiliki sifat positif. Namun karena lingkungannya, anak bisa menjadi anak yang perpikiran negatif seperti contoh di atas. Oleh karena itu, hindari perilaku yang bisa membuat anak takut. Misalnya menakut-nakuti anak, memarahi anak tanpa alasan ataupun terlalu sering membentak anak. Mendorong anak berpikir positifBanyak hal positif yang harus didorong. Misalnya kejujuran, rasa tanggung jawab, disiplin maupun semangat tinggi. Hal-hal positif ini harus orang tua ajarkan dengan cara memberikan contoh dalam keseharian. Karena anak merupakan peniru jitu yang akan menduplikat apa yang dilakukan orang tuanya. Banyak hal-hal positif yang bisa kita contohkan meskipun hal tersebut merupakan perilaku sepele. Memuji anakSering kali yang dilalaikan para orang tua adalah memberikan pujian kepada anak. Sedikit sekali orang tua yang memberikan penghargaan kepada anak ketika anak melakukan hal-hal positif. Terutama ketika anak melakukan perbuatan positif dalam hal yang terlihat sepele. Pujian ini sangat berarti bagi anak karena merupakan salah satu perhatian orang tua kepada anak. Kalau anak merasa tidak diperhatikan, bagaimana mungkin anak akan bisa tumbuh menjadi anak yang kreatif?!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Ramadhan 1436 / 22 Juni 2015* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari http://www.al-maghribicendekia.com/2013/05/cara-mendidik-karakter-anak-kreatif.html. Post navigation Previous ANAK DAN ILMU DUNIAWI*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 78 Sejatinya seorang hamba disyariatkan untuk memperbanyak istighfar kapan saja. Al-Hasan al-Bashry menjelaskan, “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar dan di majlis-majlis kalian. Sungguh kalian itu tidak tahu kapankah ampunan Allah turun”.Jadi, istighfar itu disyariatkan untuk dibaca kapan pun. Hanya saja hukumnya menjadi wajib saat kita melakukan perbuatan dosa. Dan hukumnya sunnah setelah kita selesai melakukan amal salih. Fungsinya adalah untuk menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada di dalamnya.Namun di sana ada beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk kita baca di dalamnya istighfar. Antara lain:Pertama: Setelah berwudhuSelain doa yang sudah makruf, kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang termaktub dalam hadits berikut ini:“مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ؛ كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ“.“Barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan, “Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu allâ ilâha illâ Anta, astaghfiruka wa atûbu ilaik”; niscaya akan ditulis di suatu lembaran lalu distempel dan tidak akan dihapus hingga hari kiamat”. HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah dan al-Hakim. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albany.Kedua: Setelah shalatعَنْ ثَوْبَانَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا، وَقَالَ: “اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”، قاَلَ الْوَلِيْدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِي: كَيْفَ؟ قَالَ: تَقُوْلُ:”أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ“.Dari Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bila selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca, “Allôhumma Antas salâm wa minkas salâm, tabârokta yâ Dzal jalâli wal ikrôm”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah cara istighfarnya?”. Beliau menjawab, “Ucapkanlah astaghfirullah, astaghfirullah”. HR. Muslim.Ketiga: Setelah selesai wukuf di ArafahAllah ta’ala berfirman,“ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“Artinya: “Kemudian berangkatlah kalian meninggalkan Arafah sebagaimana orang lain berangkat meninggalkannya dan beristighfarlah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Baqarah (2): 199.Bersambung…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Sya’ban 1436 /15 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ Post navigation Previous ANAK DAN KREATIVITAS*Next KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAAN

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKhutbah Jumat di Masjid Agung Purbalingga, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 KHUTBAH PERTAMA:الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجاً، أحمده -سبحانه- لم يكن له شريك في الملك ولم يتخذ صاحبة ولا ولداً، وأشهد أن لا إله إلا الله لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبد الله ورسوله، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه.أما بعد، فاتقوا الله عباد الله، “وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ”. البقرة: 281.Jama’ah Jum’at rahimakumullah…Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat dan taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Bila Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong, sebab tidak tersisa satu manusiapun di atasnya!Akan tetapi, sungguh Allah Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Dia tidak melakukan itu. Justru Dia memberi penangguhan dan penundaan bagi manusia. Dengan harapan mereka mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.Allah ta’ala berfirman,“وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ، وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا”Artinya: “Kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan bumi ini satu makhluk pun. Akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Dan apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” QS. Faathir (35): 45.Hadirin dan hadirat rahimakumullah…Walaupun demikian luasnya kebijaksanaan, namun masih ada saja orang-orang yang justru tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya; karena ia tidak langsung mendapatkan hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat, dengan asumsi tidak ada yang akan menghukumnya. Lalu ia pun semakin tenggelam dalam kubangan dosa dan kesesatannya. Na’udzubillah min dzalik…Di sisi lain, sebagian kalangan yang minim ilmu dan iman, saat melihat para pendosa yang belum disiksa, mereka juga tertipu. Demi melihat orang-orang jahat dan para ahli maksiat tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka, hal itu mendorong mereka untuk mengikuti langkah buruk mereka. Sebab sejatinya keburukan itu lebih gampang menularnya dibanding kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.Merekalah orang-orang yang tertipu dengan penundaan azab dari Allah ta’ala. Semoga kita terhindarkan dari tipe manusia semacam itu.Sidang Jum’at yang diberkahi Allah…Sebagaimana telah maklum, bahwa dosa itu terbagi menjadi dua. Ada dosa besar dan ada pula dosa kecil. Dosa besar contohnya: syirik, pergi ke dukun, meninggalkan shalat, berzina dan lain-lain. Adapun dosa kecil, di antara contohnya adalah mengumbar pandangan mata, alias jelalatan.Di zaman kita ini, banyak orang yang meremehkan dosa besar, apalagi dosa-dosa kecil. Fenomena tersebut terjadi karena lemahnya iman dan pengagungan kepada Allah ta’ala.Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengingatkan,“إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا. قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ”“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan ia sedang duduk di kaki gunung dan merasa khawatir jikalau gunung itu runtuh menimpanya. Adapun orang pendosa, ia melihat dosa bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya seraya berkata “begini”. Ibnu Syihab menafsirkan: yakni mengebutkan tangannya di depan hidung untuk mengusir lalat tersebut”. R. BukhariSuatu ketika Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian muridnya,“إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ”. “Sesungguhnya kalian terkadang melakukan suatu dosa yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum, padahal di masa Nabi shallallahu’alaihiwasallam kami menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan”. R. Bukhari.Anas radhiyallahu’anhu bukan sedang mengatakan bahwa dosa besar di masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam akan dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat. Namun itu semata-mata karena pengetahuan para sahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar.Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…Ada satu hal yang seringkali belum dipahami oleh sebagian masyarakat, bahwa dosa kecil itu ternyata bisa berubah menjadi besar. Karena adanya faktor-faktor lain. Dan di antara faktor tersebut adalah:Meremehkan ‘tutup dosa’ dan kesantunan Allah. Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuknya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan istimewa kepadanya. Sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata,“نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ”Artinya: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya”. QS. Al-Ma’idah (5): 18.Juga firman Allah,“وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ. حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ”Artinya: “Mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kami sebagai hukuman atas perkataan kami ini”. Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. QS. Al-Mujadilah (58): 8.Sidang Jumat yang berbahagia..Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia. Namun amat disayangkan ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.Maka, seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya, janganlah ia menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kejahilannya sendiri. Sesungguhnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Dan azab akhirat jauh lebih berat serta lebih pedih, di luar yang dapat dibayangkan manusia.Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian bayangkan, bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah sepertujuhpuluh dari level panasnya neraka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,“نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ”“Api kalian –yang dinyalakan bani Adam (di dunia)- hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka Jahannam.” HR Bukhari dan Muslim.Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali lipat api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan. Maka, amat beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya.Penyesalan di akhirat kelak tidak akan berguna sedikit pun. Sedangkan penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…=======================================================================KHOTBAH KEDUA الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَكْمَلَ بِهِ الدِّيْنَ، وَأَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ :Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…Bila kita berlumuran dosa di dunia ini, namun ternyata kita jarang jatuh sakit, rezeki kita lancar dan tingkat ekonomi kita terus menanjak tanpa banyak aral yang melintang, maka waspadalah! Hati-hatilah! Bisa jadi kita sedang mengalami kondisi yang biasa diistilahkan dengan istidraj. Yakni kenikmatan yang dicurahkan di dunia, untuk melalaikan seseorang, sehingga kelak di akhirat akan mendapatkan siksa yang tak terperikan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan dalam HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany,“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}”.“Bila engkau melihat Allah mencurahkan harta dunia yang diinginkan seorang hamba, padahal ia gemar bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj”. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihiwasallam membaca firman Allah (yang artinya): “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. QS. Al-An’am (6): 44”.Ketahuilah bahwa lancarnya rizki bukanlah standar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Justru, bisa jadi kelapangan hidup itu merupakan salah satu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta, fisik sehat, namun batin merana dan ancaman azab akhirat terus menghantui. Kalaulah standar kasih sayang Allah adalah kemewahan dunia, niscaya Qarunlah orang yang paling disayang Allah. Namun apakah kenyataannya? Ia justru diazab Allah dengan dibenamkan ke dalam bumi, beserta dengan seluruh kekayaannya.Sebaliknya, janganlah mengira bahwa setiap orang yang mengalami banyak cobaan dan ujian hidup, itu pertanda bahwa ia pasti sedang dimurkai Allah. Sebab bisa jadi, itu adalah musibah yang berfungsi untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga.Namun, keterangan di atas bukan berarti kita perlu untuk meminta musibah kepada Allah di dunia ini.Justru langkah yang tepat adalah berusaha untuk senantiasa taat terhadap ajaran agama dan menjauhi maksiat. Kalaupun suatu saat kita diuji dengan musibah, maka bersegeralah untuk introspeksi diri dan bersabarlah. Semoga hal itu bisa mengurangi beban dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di surga kelak. Amien ya Rabbal ‘alamien..هذا؛ وصلوا سلموا -رحمكم الله- على سيد الأولين والآخرين، كما أمركم بذلك رب العالمين، فقال تعالى قولاً كريماً: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيمربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 19 Rajab 1436 / 8 Mei 2015 [1] Disusun dari berbagai sumber. Antara lain: https://ervakurniawan.wordpress.com/2011/07/14/penangguhan-azab/. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-1*Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 79Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keempat: Di waktu sahurIni adalah salah satu waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak bacaan istighfar. Allah ta’ala menjelaskan salah satu sifat kaum mukminin, “Di waktu sahur mereka memohon ampunan (kepada Allah)”. QS. Adz-Dzariyat (51): 18.Waktu sahur menurut sebagian ulama adalah akhir malam menjelang waktu subuh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu sahur dimulai dari sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar. Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“يَنْزِلُ رَبُّناَ -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَخِيْرِ، فَيَقُوْلُ: “مَنْ يَدْعُوْنيِ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنيِ فَأَغْفِر لَهُ؟”.“Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Adakah yang berdoa pada-Ku; niscaya akan Kukabulkan? Adakah yang meminta pada-Ku; niscaya akan Kuberi? Adakah yang beristighfar pada-Ku, niscaya akan Kuampuni?”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.Kelima: Di akhir majlisNabi shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,“مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ”.“Barang siapa duduk di suatu majlis dan di dalamnya banyak hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu sebelum meninggalkan majlis tersebut ia membaca “Subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu); niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang ada di majlis tersebut”. HR. Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albany.Doa ini bukan hanya disunnahkan untuk dibaca di majlis yang banyak kenegatifannya saja, namun di majlis kebajikan, seperti pengajian pun, disunnahkan untuk membacanya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,“مَنْ قَالَ: “سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ”؛ فَقَالَهَا فِي مَجْلِسِ ذِكْرٍ كَانَتْ كَالطَّابِعِ يُطْبَعُ عَلَيْهِ، وَمَنْ قَالَهَا فِي مَجْلِسِ لَغْوٍ كَانَتْ كَفَّارَةً لَهُ”.“Barang siapa mengucapkan “Subhânallah wa bihamdih, subhânakallâhumma wa bihamdika, asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik” (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dan pujian hanya untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), bila ia mengucapkannya di majlis dzikir niscaya kalimat tersebut akan menjadi stempel majlis tersebut. Bila ia mengucapkannya di majlis yang tak berguna; niscaya kalimat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa”. HR. Al-Hakim dari Jubair bin Muth’im dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga al-Albany. Bersambung..@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Ramadhan 1436 / 29 Juni 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan. Post navigation Previous KHOTBAH: TERBUAI PENUNDAANNext ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 56Ada sebuah keunikan yang tidak disadari oleh banyak orang tua. Sesungguhnya Allah ta’ala Yang Mahaadil telah menciptakan setiap anak manusia sama dan sederajat di hadapan-Nya. Setiap anak memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Di mana ada kelemahan, pasti di sanapun ada keistimewaan. Tak mungkin ada anak yang cuma punya kelebihan tanpa kekurangan, sebaliknya tidak mungkin ada anak yang hanya punya kekurangan tanpa kelebihan. Kalaupun itu model kedua ini ada, maka kemungkinan besar penyebabnya ada kesalahan didik dari orang tuanya.Sadarlah wahai para orang tua, bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan dan keistimewaan. Sebagian anak menonjol di bidang akademik, ada yang menonjol akhlaknya, ada yang menonjol dalam hal ketekunan, kekuatan hafalan, kekuatan nalar, keterampilan, kepemimpinan dan seterusnya.Namun terkadang orang tua kurang menyadari hal ini. Masih banyak di antara mereka yang menjadikan barometer penilaian anak hanya pada nilai-nilai yang tertera di dalam rapor atau dengan prestasi tertentu. Padahal jika si anak lemah dalam satu sisi, pasti ia memiliki keistimewaan di sisi yang lain.Akan sangat bermanfaat, bila orang tua bisa sesegera mungkin menemukan kelebihan pada diri masing-masing anaknya. Jika perlu dan memungkinkan, bekerjasamalah dengan guru-guru di sekolah untuk menemukan kelebihan tersebut. Bila orang tua telah berhasil menemukannya, maka tindak lanjut yang semestinya dilakukan adalah: Beri PengakuanOrang tua yang tahu kelebihan anaknya namun tidak pernah mengungkapkannya kepada mereka, sama saja bohong! Pengakuan harus diberikan secara nyata, supaya anak-anak tahu dan merasakannya. Ini juga yang akan semakin memupuk rasa percaya diri mereka. Pengakuan bisa dilakukan dengan memberikan pujian terarah dan terukur. Atau dengan menghadiahkan senyuman, belaian, ataupun peluk cium saat anak menunjukkan kelebihannya. Kembangkan dari siniDengan mengetahui kelebihan masing-masing anak, orang tua akan menjadi lebih mudah untuk mengarahkan dan mengembangkannya. Berikan fasilitas dan sarana penunjang untuk mengembangkan kelebihan anak sesuai dengan bidangnnya. Bimbing mereka untuk menentukan arah bagi cita-citanya kelak, agar tetap segaris dengan bakat mereka. Selama bakat tersebut tidak menyelisihi ajaran agama. Tak perlu membanding-bandingkanKarena setiap anak unik dengan kelebihannya masing-masing, maka jangan sekali-kali membuat standar yang sama untuk mereka. Biarkan anak berkembang sesuai minat dan bakat masing-masing. Orang tua harus membuang ambisi pribadinya untuk menjadikan anaknya menjadi seperti yang ia inginkan, jika memang anak tak mampu dan tak mau.Ini semua tentu apabila bukan berkaitan dengan ketaatan dalam beragama. Adapun bila kaitannya dengan menjalankan perintah agama atau menjauhi larangannya, maka tentu diperlukan ketegasan dari para orang tua dalam mengajarkannya pada anak.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015 * Diadaptasi dengan sedikit tambahan oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 125-126). Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-2Next KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 80Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang beberapa momen khusus disunnahkan membaca istighfar. Berikut kelanjutannya:Keenam: Di akhir hidup menjelang wafatDalam Madarij as-Sâlikîn, Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Taubat adalah penutup hidup orang-orang yang mengenal Allah. Sebagaimana istighfar diperlukan di awal, ia juga diperlukan di akhir. Malah kebutuhan terhadap istighfar di akhir lebih tinggi dibandingkan di awal. Bahkan ia merupakan kebutuhan mendesak di akhir hidup. Perhatikan apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam di akhir-akhir hidup beliau. Lalu lihatlah bagaimana beliau di akhir hidupnya semakin memperbanyak istighfar”.Allah ta’ala berfirman,“فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا“Artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Penerima tobat”. QS. An-Nashr (110): 3.Ayat di atas merupakan penutup surat an-Nashr. Sebuah surat yang berisikan pemberitaan mengenai kemenangan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Ayat terakhirnya berisi perintah untuk memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar. Hikmahnya antara lain: peringatan bahwa manakala datang pertolongan besar Allah, penaklukan kota Mekah dan berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk Islam, maka itu pertanda bahwa ajal Nabi shallallahu’alaihiwasallam telah dekat. Yang tersisa adalah memperbanyak kalimat-kalimat mulia tersebut di atas; tasbih, tahmid dan istighfar.[1]Jadi, surat ini merupakan isyarat akan semakin dekatnya ajal beliau. Penaklukan kota Mekah terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 H, sedangkan beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 10 H.[2]Perintah Allah ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam untuk memperbanyak istighfar dalam waktu itu, merupakan pertanda bahwa kehidupannya akan berakhir. Maka hendaklah beliau bersiap untuk menemui Rabbnya serta menutup umurnya dengan amalan yang paling mulia, yakni tasbih, tahmid dan istighfar.[3] Makanya setelah turunnya surat ini, Nabi shallallahu’alaihiwasallam semakin memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan istighfar.[4]Aisyah radhiyallahu’anha bercerita, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak membaca di ruku’ dan sujud beliau “Subhânakallôhumma robbanâ wa bihamdika allohummaghfirlî (Maha suci Engkau ya Allah Rabb kami dan segala pujian untuk-Mu. Ya Allah ampunilah aku)”. Beliau mengamalkan perintah al-Qur’an”. HR. Bukhari dan Muslim.Beliau juga menuturkan,“سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَيْتُ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوْتَ -وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ- يَقُوْلُ: “اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيْقِ الْأَعْلَى”. “Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan memperhatikan beliau sebelum wafatnya sambil menyandarkan pundaknya ke tubuhku, beliau mengucapkan, “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku dan pertemukan aku dengan para nabi dan rasul di atas sana”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Ramadhan 1436 / 13 Juli 2015 Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari http://www.alukah.net/sharia/0/30335/ dengan beberapa tambahan.[1] Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 340-341).[2] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 614).[3] Baca: Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 75, 90-91) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 866).[4] Tafsîr Sûrah an-Nashr (hal. 86). Post navigation Previous ISTIMEWAKAN SETIAP ANAK!Next Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU

بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Khotbah ‘Idul Fitri: ALLAH LEBIH TAHU

بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


بسم الله الرحمن الرحيمOleh: Abdullah Zaen, Lc., MAPengasuh Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalinggaالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, La ilaha Ilallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!Kaum muslimin dan muslimat jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Bilamana suatu hari kita menderita sakit gigi dan berlarut-larut, sudah berobat ke mantri atau dokter umum, tetapi belum sembuh juga, tentu saat itu kita akan berusaha mencari alternatif yang lebih baik. Yakni dengan mendatangi dokter spesialis gigi. Dengan harapan supaya segera sembuh. Keyakinan itu muncul karena anggapan bahwa dokter spesialis itu lebih berilmu dalam bidang tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mantri dan dokter umum.Kita rela dan pasrah manakala gigi kita diotak-atik oleh sang dokter spesialis. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa beliau memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Di lain kesempatan, mungkin mobil atau motor baru kesayangan yang kita miliki rusak. Setelah berusaha untuk mengotak-atik sendiri mesin, ternyata bukan malah membaik. Saat itu kita akan bersegera membawa kendaraan tersebut ke bengkel motor atau mobil, bukan bengkel sepeda. Bahkan mungkin kita akan memilih bengkel khusus yang spesialisasinya menangani merk kendaraan kita. Harapannya mobil atau motor kesayangan akan kembali ‘sehat’. Tidak masalah mengeluarkan dana yang lebih dibanding bengkel biasa. Sebab kita yakin bahwa bengkel khusus itu memiliki ilmu yang lebih. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para mekanik bengkel biasa.Kita menerima untuk menjadi penonton setia, yang hanya menyaksikan kendaraan kesayangan kita dibongkar pasang sedemikian rupa. Lagi-lagi karena keyakinan kita bahwa para mekanik dan montir memiliki ilmu lebih dalam bidangnya.Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…Demikianlah sedikit ilustrasi tentang keyakinan dalam diri kita kepada orang lain yang kerap tumbuh karena ilmu yang mereka miliki. Fenomena ini secara umum tidak masalah dalam pandangan Islam.Namun, pernahkah kita berfikir, bahwa seluas apapun ilmu yang dimiliki pihak-pihak yang kita percayai itu, sejatinya amatlah terbatas. Yakni terbatas dalam bidang yang mereka tekuni saja. Memang betul, dokter spesialis gigi amat ahli dalam menangani penyakit gigi. Tetapi yakinlah bahwa tentu ia akan kesulitan manakala dihadapkan dengan pasien penyakit dalam yang akut, kanker stadium tinggi misalnya. Begitu pula mekanik kendaraan Toyota contohnya, ia akan angkat tangan manakala diminta menyervis kerusakan parah kendaraan BMW. Begitulah keterbatasan ilmu yang dimiliki manusia.Setelah kita menyadari realita tersebut, tahukah kita bahwa di sana ada yang memiliki ilmu amat luas, bahkan tanpa batas, di seluruh bidang tanpa terkecuali, namun anehnya terkadang kita tidak percaya pada-Nya? Kita enggan menerima aturan-Nya. Bahkan tidak jarang ada yang protes dengan ketetapan-Nya! Siapakah Dia? Dialah Penguasa alam semesta ini; Allah tabaraka wa ta’ala.Dalam sebuah ayat suci al-Qur’an, Allah ta’ala menggambarkan keluasan ilmu-Nya,“وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ”.Artinya: “Hanya Allah lah yang memiliki kunci-kunci alam ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Allah mengetahui apa yang ada di darat, di laut dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahuinya. Begitu juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan bumi, sesuatu yang basah dan yang kering, semuanya pasti telah tercatat dengan jelas dalam sebuah kitab di Lauhul Mahfuzh’. QS. Al-An’am (6): 59.Firman-Nya yang lain,“وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”.Artinya: “Sekiranya seluruh pohon yang ada di bumi menjadi pena, dan semua lautan (menjadi tinta), lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi setelah (kering)nya (tinta tersebut), niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah itu ditulis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”. QS. Luqman (31): 27.Kaum muslimin dan muslimat yang semoga senantiasa dirahmati Allah…Dengan ilmu-Nya yang maha luas itulah, Allah ta’ala membuat aturan hidup kita di dunia yang fana ini. Juga menentukan takdir seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah menetapkan dan menentukan semua itu, sesuai dengan kondisi kita dan dipilihkan-Nya semua yang terbaik untuk kita. Dia Maha tahu apapun yang terbaik bagi para makhluk-Nya, sekalipun seringkali justru malah mereka sendiri tidak memahaminya.“ألَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ”Artinya: “Bukankah Allah mengetahui semua ciptaan-Nya? Allah Maha Mengetahui semua hal sampai selembut-lembutnya dan Mahaluas ilmu-Nya”. QS. Al-Mulk (67): 14.Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Sang Pencipta itu lebih mengerti tentang seluk beluk makhluk ciptaan-Nya. Apa yang baik untuk mereka, Allah ajarkan dan halalkan. Sebaliknya, apa yang buruk dan berbahaya untuk mereka, maka Allah larang dan haramkan. Kesadaran inilah yang seharusnya kita tumbuhkan dalam jiwa, dalam menyikapi aturan agama. Sehingga kita pun akan memiliki kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Allah ta’ala serta Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Tidak ada jalan yang lebih mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat, dibanding jalan yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. Siapapun yang meniti jalan tersebut pasti akan selamat, akan tenang dan nyaman kehidupannya. Serta kelak di akhirat mendapat kehormatan untuk memasuki surga insyaAllah ta’ala. Sebaliknya orang yang menyimpang dari jalan tersebut, pasti akan ditimpa perasaan gundah gulana, gelisan dan tidak tenang. Yang lebih berat dari itu semua, kelak terancam siksa neraka.“فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى”Artinya: “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha (20): 123.Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Ajaran Islam dibangun di atas sebuah pondasi kokoh yang bernama tauhid. Yakni mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah ta’ala. Sesuai dengan ayat sudah kita hapal semua,“إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ”Artinya: “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya”. QS. Al-An’am (6): 162-163.Manakala Allah menetapkan tauhid sebagai pondasi agama kita, Dia Maha Mengetahui bahwa dengan berbekal tauhid inilah kehidupan kita akan fokus. Dan konsentrasi kita tidak akan terpecah. Sebab semuanya tertuju kepada Dzat Yang Maha Satu. Hal itu tentu amat berbeda manakala seorang hamba dituntut untuk menyembah tuhan yang berbilang.Perbedaan antara kedua konsep tersebut telah Allah isyaratkan dalam sebuah perumpamaan,“ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah membuat perumpamaan (yaitu): seorang budak dimiliki bersama oleh beberapa majikan, lalu para majikan itu berselisih memperebutkan kepemilikan atas budak itu. Adapun budak yang lain hanya dimiliki oleh seorang majikan saja. Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. QS. Az-Zumar (39): 29.Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allah buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrik yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, dengan orang mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadah hanya untuk-Nya. [1]Namun sayangnya, sebagaimana firman Allah di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allah dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allah lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut. Padahal seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha segalanya, yaitu Allah tabaraka wa ta’ala.Para hadirin dan hadirat rahimakumullah..Bilamana tauhid diumpamakan sebagai akar kokoh suatu pohon, maka tentu ia akan menumbuhkan batang dan cabang-cabang. Di antara batang utama pohon Islam adalah shalat fardhu. Adapun mengenai jumlah bilangannya, setelah sebelumnya ditentukan lima puluh kali shalat dalam sehari semalam, akhirnya kita umat Islam diberi keringanan oleh Allah ta’ala menjadi ‘hanya’ berjumlah lima kali saja dalam sehari semalam.Manakala Allah ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya untuk menunaikan shalat sebanyak lima kali dalam sehari, bukanlah dalam rangka mempersulit atau mengganggu aktivitas keseharian mereka.“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” Artinya: “Allah tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”. QS. Al-Hajj (22): 78.Namun justru, karena –antara lain– Allah Maha Mengetahui bahwa seorang insan tidak mungkin lepas dari ketergantungan kepada Yang Maha Kuasa, walaupun hanya sekejap mata! Untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya ia selalu membutuhkan uluran tangan dan bantuan Allah ta’ala. Bahkan manusia tidak akan mungkin mendapatkan ketenangan serta kedamaian kecuali bila ia senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.Karena itulah begitu bangun pagi, kita diajak untuk mengawali hari tersebut dengan bersimpuh di hadapan Allah menunaikan shalat Shubuh. Agar hari kita diberkahi Allah ta’ala. Kemudian di tengah aktivitas bekerja seharian, saat otak dan fisik mulai jenuh bekerja, kita memerlukan ‘refreshing’ dan hiburan batin, maka disyariatkanlah menunaikan shalat Dhuhur. Untuk mendinginkan kembali otak yang mulai panas, mengingatkan kembali dengan akhirat dan mengkikis benih-benih cinta buta dunia. Itulah hiburan orang-orang yang beriman.“كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلاَةِ”“Adalah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila dirundung masalah, beliau segera menunaikan shalat”. HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albany.Adapun orang-orang yang masih bersikukuh untuk menunaikan shalat hanya sekali dalam seminggu, yakni saat shalat Jumat saja. Atau yang lebih parah dari itu, hanya menunaikan shalat dua kali saja dalam setahun; yakni saat Idul Fitri dan Idul Adha belaka; sungguh mustahil mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa, apalagi keselamatan di akhirat kelak. Kecuali bila mereka bertaubat dan meninggalkan kebiasaan yang teramat buruk itu!Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Ajaran Islam bukan hanya memperhatikan hubungan hamba dengan Sang Pencipta saja, namun juga mengatur hubungan hamba dengan sesamanya. Hal itu antara lain diimplementasikan dalam kewajiban menunaikan zakat harta yang dimiliki.Allah Maha Tahu bahwa perbedaan tingkat ekonomi para manusia itu berpotensi untuk menimbulkan perasaan cemburu dan iri dari kaum miskin. Selain itu juga berpotensi untuk menumbuhkan bibit egoisme dalam diri golongan kaya. Dan hal itu tentu akan sangat mengganggu keharmonisan kehidupan sosial antar masyarakat. Maka di antara aturan yang Allah gariskan untuk menghindarkan kerenggangan hubungan antara dua komunitas tersebut, adalah keberadaan konsep zakat dalam ajaran Islam.Adanya orang yang wajib mengeluarkan zakat dan adanya penerima zakat, adalah dua pihak yang sudah disiapkan oleh Allah ta’ala guna saling melengkapi dan saling mengisi. Bahkan saling membutuhkan satu sama lain.Islam mengajarkan peningkatan persaudaraan, menciptakan kebersamaan dan memperkokoh persatuan antar ummat. Ibadah zakat adalah langkah awal yang tepat dalam membangun kerukunan hidup lintas lapisan sosial di masyarakat. Sadarlah bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak si fakir, si miskin dan golongan lain yang berhak menerima zakat. Mustahil kerukunan dapat tercipta bila kita tidak memiliki tenggang rasa dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu.Rasa kepedulian antar sesama inilah yang insyaAllah akan menjauhkan diri dari sifat hasad, iri, dengki dan lain-lain. Islam tidak memerangi penyakit ini dengan hanya semata-mata nasihat dan wejangan. Akan tetapi berusaha mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat. Lalu menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan hanya dalam aturan hidup, namun juga dalam garis kehidupan kita. Ya, Allah Maha Tahu apakah takdir yang terbaik untuk kita. Sehingga manakala Sang Khalik menentukan sesuatu untuk kita jalani dalam kehidupan ini, walaupun terasa sakit dan sedih di hati, semisal musibah yang datang bertubi-tubi, yakinlah bahwa di balik itu semua pasti ada hikmah kebaikan. Tidak musti sesaat setelah musibah itu datang, kita langsung mengetahui hikmahnya. Bisa jadi kita baru menyadari hikmah tersebut setelah sekian tahun berlalu.“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ”.“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan itu baik untuknya”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.Terkadang kita merencanakan sesuatu, yang menurut prasangka dan perkiraan kita, rencana tersebut adalah yang terbaik. Maka selanjutnya kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun realita berkata bahwa ternyata kadang kita gagal, setelah berusaha maksimal. Rencana tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.Ingatlah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah ta’ala, bahwa bila seorang hamba sudah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan, itulah yang terbaik bagi hamba tersebut. Mengapa? Karena yang terbaik adalah apa yang Allah pilihkan untuk kita. Allah ta’ala berfirman,“وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ”Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Menarik untuk kita cermati bahwa ternyata ayat barusan, Allah tutup dengan kalimat,“وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ”Artinya: “Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. QS. Al-Baqarah (2): 216.Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah itu didasarkan pada ilmu Allah yang Maha luas. Adapun rencana yang manusia rancang itu berdasarkan ilmunya yang amat terbatas. Jadi, mengapa kita bersikeras untuk tetap bersikap sok tahu?Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd. Jama’ah Idul Fitri yang kami hormati…Disunnahkan bagi kaum muslimin dan muslimat yang bershalat ied, ketika pulang nanti, untuk melewati jalan lain yang berbeda dengan jalan yang ia lalui ketika berangkat. Hal itu dalam rangka mencontoh apa yang dipraktekkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam[2], menampakkan syiar-syiar Islam, menebarkan salam dan hikmah-hikmah mulia lainnya[3].Sudah merupakan suatu hal yang lazim di hari ini, kaum muslimin saling bersalam-salaman dan mengucapkan selamat hari raya. Hal itu merupakan kebiasaan yang baik. Karena akan menumbuhkan rasa kasih sayang, juga mengikis rasa iri dan dengki yang terkadang muncul di hati sebagian kita[4].Namun, meskipun demikian, dalam melestarikan budaya baik di atas, hendaknya kita berusaha untuk menghindari bersalaman dengan lain jenis yang bukan mahram kita. Juga mencontoh para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam redaksi ucapan selamat. Dengan saling mengucapkan: “taqabbalallah minna wa minkum”[5]. Karena kalimat di atas tidak semata-mata ucapan selamat. Namun juga mengandung doa agar Allah menerima amalan orang yang mengucapkan selamat maupun yang diberi ucapan selamat. أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَحِمَكُمُ اللهُ- عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ؛ فَقَالَ فِي مُحْكَمِ التَّنْـزِيْلِ: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرينربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيماللهم انصر المسلمين فى فلسطين واليمن وبورما، اللهم انصر اخواننا المستضعفين في فى كل مكانYa Allah, tolonglah kaum muslimin di Palestina, Yaman dan Burma. Ya Allah bantulah seluruh saudara-saudara kami yang tertindas di segala penjuru duniaاللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Satukanlah barisan dan kalimat mereka di atas kebenaran. Hancurkanlah kekuatan orang-orang yang zalim. Dan karuniakanlah kedamaian serta keamanan untuk semua hamba-Mu.اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَYa Allah, jagalah negeri kami dan kuatkanlah pemerintah kami serta karuniakanlah hidayah kepada mereka, lalu jadikanlah mereka pembela kebenaran ya Rabbal ‘alamien.ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهابربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب الناروصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدينوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.@ Pesantren “Tunas Ilmu”, Kedungwuluh Purbalingga, Sabtu 24 Ramadhan 1436 / 11 Juli 2015========================================================[1] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).[2] Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahîh Bukhari, hal. 194, no. 986.[3] Lihat: Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-‘Ibâd, karya Ibn al-Qayyim, I/432-433.[4] Lihat: Adh-Dhiyâ’ al-Lâmi’ min al-Khuthab al-Jawâmi’ oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, I/179 sebagaimana dalam al-Jawâhir min Khuthab al-Manâbir (II/871).[5] Diriwayatkan oleh Zahir bin Thahir dalam Tuhfah ‘Ied al-Fithr, sebagaimana disebutkan as-Suyuthi dalam Wushûl al-Amâni bi Ushûl at-Tahâni, hal. 42. Ibn Hajar al-‘Asqalâni dalam Fath al-Bâri, II/575 menilai sanadnya hasan, begitu pula as-Suyuthi. Post navigation Previous KAPAN BERISTIGHFAR? Bag-3 (terakhir)Next PERBEDAAN ANTARA DZIKIR DAN DOA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next