KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 62Pada pertemuan yang telah lalu, kita sudah membahas beberapa keistimewaan kalimat takbir. Di mana kalimat mulia ini disyariatkan untuk senantiasa kita baca di dalam banyak ibadah. Antara lain setelah selesai puasa Ramadhan. Ketika ibadah haji dan di hari raya Idhul Adha. Juga di dalam shalat lima waktu. Di awalnya dan hampir di setiap gerakan di dalamnya kita mengucapkan takbir.Apabila seluruh takbir yang kita baca sehari semalam, di shalat lima waktu, juga dalam shalat sunnah rawatib dan dzikir sesudah shalat fardhu, kita hitung semuanya, ternyata berjumlah 320 kali! Itu belum termasuk dzikir yang tidak terikat waktu, yang diucapkan oleh seorang muslim dalam kesehariannya.Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kalimat takbir di dalam agama kita. Oleh karena itu tidak heran bila kalimat mulia ini kita ucapkan dalam sehari ratusan kali, bahkan tak terhitung.Di antara dalil yang menunjukkan keistimewaan kalimat takbir, adalah hadits yang berisikan pensyariatan mengucapkan takbir di saat kita melewati jalan yang menanjak.Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bertutur,كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا فَوُضِعَتِ الصَّلاَةُ عَلَى ذَلِكَ.“Adalah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan pasukannya apabila menanjak jalan; mereka mengucapkan takbir. Dan bila menurun; mereka bertasbih. Bacaan dalam gerakan shalat pun diatur seperti itu”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Para ulama menjelaskan hikmah di balik pengucapan kalimat takbir saat jalan menanjak dan kalimat tasbih saat jalan menurun. Kata mereka, kita bertakbir saat menanjak melewati jalan yang tinggi, sebab kondisi itu selaras dengan pengagungan Allah yang maha tinggi. Sebaliknya kita mengucapkan tasbih saat menuruni jalan yang rendah, karena hal itu selaras dengan pensucian Allah dari sifat-sifat yang rendah dan jelek.Begitu pula dalam shalat kita. Dzikir yang kita ucapkan dalam gerakan-gerakan di dalamnya sesuai dengan hal di atas. Saat kita mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, juga saat bangkit dari sujud kita mengucapkan takbir. Karena gerakan-gerakan tersebut mengarah kepada sesuatu yang tinggi. Sebaliknya ketika kita sedang ruku’ dan sujud; merendahkan anggota tubuh kita, kita mengucapkan tasbih. Sebab kalimat ini mengandung pensucian Allah dari sifat-sifat buruk yang rendah.Jadi, kalimat takbir bukanlah kalimat yang hanya diucapkan dengan lisan belaka, namun kalimat yang amat sarat dengan makna. Takbir yang sejati adalah takbir yang diucapkan seorang hamba seraya ia mengagungkan Allah ta’ala dengan pengagungan lisan, hati dan perbuatan. Alias ia berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.Itulah hakikat takbir yang sebenarnya. InsyaAllah pada pertemuan mendatang kita akan membahas lebih lanjut kandungan makna takbir. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1435 / 15 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/281-284) dengan berbagai tambahan.Download Artikel “Kutamaan Kalimat Takbir Bag-2” Post navigation Previous WAKAF KENDARAANNext MAKNA KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

KEISTIMEWAAN KALIMAT TAKBIR Bag-2*

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 62Pada pertemuan yang telah lalu, kita sudah membahas beberapa keistimewaan kalimat takbir. Di mana kalimat mulia ini disyariatkan untuk senantiasa kita baca di dalam banyak ibadah. Antara lain setelah selesai puasa Ramadhan. Ketika ibadah haji dan di hari raya Idhul Adha. Juga di dalam shalat lima waktu. Di awalnya dan hampir di setiap gerakan di dalamnya kita mengucapkan takbir.Apabila seluruh takbir yang kita baca sehari semalam, di shalat lima waktu, juga dalam shalat sunnah rawatib dan dzikir sesudah shalat fardhu, kita hitung semuanya, ternyata berjumlah 320 kali! Itu belum termasuk dzikir yang tidak terikat waktu, yang diucapkan oleh seorang muslim dalam kesehariannya.Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kalimat takbir di dalam agama kita. Oleh karena itu tidak heran bila kalimat mulia ini kita ucapkan dalam sehari ratusan kali, bahkan tak terhitung.Di antara dalil yang menunjukkan keistimewaan kalimat takbir, adalah hadits yang berisikan pensyariatan mengucapkan takbir di saat kita melewati jalan yang menanjak.Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bertutur,كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا فَوُضِعَتِ الصَّلاَةُ عَلَى ذَلِكَ.“Adalah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan pasukannya apabila menanjak jalan; mereka mengucapkan takbir. Dan bila menurun; mereka bertasbih. Bacaan dalam gerakan shalat pun diatur seperti itu”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Para ulama menjelaskan hikmah di balik pengucapan kalimat takbir saat jalan menanjak dan kalimat tasbih saat jalan menurun. Kata mereka, kita bertakbir saat menanjak melewati jalan yang tinggi, sebab kondisi itu selaras dengan pengagungan Allah yang maha tinggi. Sebaliknya kita mengucapkan tasbih saat menuruni jalan yang rendah, karena hal itu selaras dengan pensucian Allah dari sifat-sifat yang rendah dan jelek.Begitu pula dalam shalat kita. Dzikir yang kita ucapkan dalam gerakan-gerakan di dalamnya sesuai dengan hal di atas. Saat kita mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, juga saat bangkit dari sujud kita mengucapkan takbir. Karena gerakan-gerakan tersebut mengarah kepada sesuatu yang tinggi. Sebaliknya ketika kita sedang ruku’ dan sujud; merendahkan anggota tubuh kita, kita mengucapkan tasbih. Sebab kalimat ini mengandung pensucian Allah dari sifat-sifat buruk yang rendah.Jadi, kalimat takbir bukanlah kalimat yang hanya diucapkan dengan lisan belaka, namun kalimat yang amat sarat dengan makna. Takbir yang sejati adalah takbir yang diucapkan seorang hamba seraya ia mengagungkan Allah ta’ala dengan pengagungan lisan, hati dan perbuatan. Alias ia berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.Itulah hakikat takbir yang sebenarnya. InsyaAllah pada pertemuan mendatang kita akan membahas lebih lanjut kandungan makna takbir. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1435 / 15 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/281-284) dengan berbagai tambahan.Download Artikel “Kutamaan Kalimat Takbir Bag-2” Post navigation Previous WAKAF KENDARAANNext MAKNA KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 62Pada pertemuan yang telah lalu, kita sudah membahas beberapa keistimewaan kalimat takbir. Di mana kalimat mulia ini disyariatkan untuk senantiasa kita baca di dalam banyak ibadah. Antara lain setelah selesai puasa Ramadhan. Ketika ibadah haji dan di hari raya Idhul Adha. Juga di dalam shalat lima waktu. Di awalnya dan hampir di setiap gerakan di dalamnya kita mengucapkan takbir.Apabila seluruh takbir yang kita baca sehari semalam, di shalat lima waktu, juga dalam shalat sunnah rawatib dan dzikir sesudah shalat fardhu, kita hitung semuanya, ternyata berjumlah 320 kali! Itu belum termasuk dzikir yang tidak terikat waktu, yang diucapkan oleh seorang muslim dalam kesehariannya.Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kalimat takbir di dalam agama kita. Oleh karena itu tidak heran bila kalimat mulia ini kita ucapkan dalam sehari ratusan kali, bahkan tak terhitung.Di antara dalil yang menunjukkan keistimewaan kalimat takbir, adalah hadits yang berisikan pensyariatan mengucapkan takbir di saat kita melewati jalan yang menanjak.Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bertutur,كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا فَوُضِعَتِ الصَّلاَةُ عَلَى ذَلِكَ.“Adalah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan pasukannya apabila menanjak jalan; mereka mengucapkan takbir. Dan bila menurun; mereka bertasbih. Bacaan dalam gerakan shalat pun diatur seperti itu”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Para ulama menjelaskan hikmah di balik pengucapan kalimat takbir saat jalan menanjak dan kalimat tasbih saat jalan menurun. Kata mereka, kita bertakbir saat menanjak melewati jalan yang tinggi, sebab kondisi itu selaras dengan pengagungan Allah yang maha tinggi. Sebaliknya kita mengucapkan tasbih saat menuruni jalan yang rendah, karena hal itu selaras dengan pensucian Allah dari sifat-sifat yang rendah dan jelek.Begitu pula dalam shalat kita. Dzikir yang kita ucapkan dalam gerakan-gerakan di dalamnya sesuai dengan hal di atas. Saat kita mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, juga saat bangkit dari sujud kita mengucapkan takbir. Karena gerakan-gerakan tersebut mengarah kepada sesuatu yang tinggi. Sebaliknya ketika kita sedang ruku’ dan sujud; merendahkan anggota tubuh kita, kita mengucapkan tasbih. Sebab kalimat ini mengandung pensucian Allah dari sifat-sifat buruk yang rendah.Jadi, kalimat takbir bukanlah kalimat yang hanya diucapkan dengan lisan belaka, namun kalimat yang amat sarat dengan makna. Takbir yang sejati adalah takbir yang diucapkan seorang hamba seraya ia mengagungkan Allah ta’ala dengan pengagungan lisan, hati dan perbuatan. Alias ia berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.Itulah hakikat takbir yang sebenarnya. InsyaAllah pada pertemuan mendatang kita akan membahas lebih lanjut kandungan makna takbir. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1435 / 15 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/281-284) dengan berbagai tambahan.Download Artikel “Kutamaan Kalimat Takbir Bag-2” Post navigation Previous WAKAF KENDARAANNext MAKNA KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 62Pada pertemuan yang telah lalu, kita sudah membahas beberapa keistimewaan kalimat takbir. Di mana kalimat mulia ini disyariatkan untuk senantiasa kita baca di dalam banyak ibadah. Antara lain setelah selesai puasa Ramadhan. Ketika ibadah haji dan di hari raya Idhul Adha. Juga di dalam shalat lima waktu. Di awalnya dan hampir di setiap gerakan di dalamnya kita mengucapkan takbir.Apabila seluruh takbir yang kita baca sehari semalam, di shalat lima waktu, juga dalam shalat sunnah rawatib dan dzikir sesudah shalat fardhu, kita hitung semuanya, ternyata berjumlah 320 kali! Itu belum termasuk dzikir yang tidak terikat waktu, yang diucapkan oleh seorang muslim dalam kesehariannya.Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kalimat takbir di dalam agama kita. Oleh karena itu tidak heran bila kalimat mulia ini kita ucapkan dalam sehari ratusan kali, bahkan tak terhitung.Di antara dalil yang menunjukkan keistimewaan kalimat takbir, adalah hadits yang berisikan pensyariatan mengucapkan takbir di saat kita melewati jalan yang menanjak.Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bertutur,كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا فَوُضِعَتِ الصَّلاَةُ عَلَى ذَلِكَ.“Adalah Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan pasukannya apabila menanjak jalan; mereka mengucapkan takbir. Dan bila menurun; mereka bertasbih. Bacaan dalam gerakan shalat pun diatur seperti itu”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.Para ulama menjelaskan hikmah di balik pengucapan kalimat takbir saat jalan menanjak dan kalimat tasbih saat jalan menurun. Kata mereka, kita bertakbir saat menanjak melewati jalan yang tinggi, sebab kondisi itu selaras dengan pengagungan Allah yang maha tinggi. Sebaliknya kita mengucapkan tasbih saat menuruni jalan yang rendah, karena hal itu selaras dengan pensucian Allah dari sifat-sifat yang rendah dan jelek.Begitu pula dalam shalat kita. Dzikir yang kita ucapkan dalam gerakan-gerakan di dalamnya sesuai dengan hal di atas. Saat kita mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, juga saat bangkit dari sujud kita mengucapkan takbir. Karena gerakan-gerakan tersebut mengarah kepada sesuatu yang tinggi. Sebaliknya ketika kita sedang ruku’ dan sujud; merendahkan anggota tubuh kita, kita mengucapkan tasbih. Sebab kalimat ini mengandung pensucian Allah dari sifat-sifat buruk yang rendah.Jadi, kalimat takbir bukanlah kalimat yang hanya diucapkan dengan lisan belaka, namun kalimat yang amat sarat dengan makna. Takbir yang sejati adalah takbir yang diucapkan seorang hamba seraya ia mengagungkan Allah ta’ala dengan pengagungan lisan, hati dan perbuatan. Alias ia berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.Itulah hakikat takbir yang sebenarnya. InsyaAllah pada pertemuan mendatang kita akan membahas lebih lanjut kandungan makna takbir. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Dzulqa’dah 1435 / 15 September 2014 Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/281-284) dengan berbagai tambahan.Download Artikel “Kutamaan Kalimat Takbir Bag-2” Post navigation Previous WAKAF KENDARAANNext MAKNA KALIMAT TAKBIR* Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berdakwah Dengan Akhlak Mulia

Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyataBeberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena kereseannya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah.Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktekkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula.Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya…Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya?Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu’alahiwasallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, dimana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan.Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan.Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.Perintah untuk berakhlak muliaSebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam,“وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ“.Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. QS. Al-Qalam: 4.Juga sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“.“Berakhlak mulia lah dengan para manusia”. HR. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih.Apa itu akhlak mulia?Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى“.“Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti”.1Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:1 Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319).Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan?Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?”.“Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jama’ah.Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktek, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran.1Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktek nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas. 2Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktekkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.Akhlak mulia dan dampak positifnya dalam dakwahDi atas telah dijelaskan bahwa definisi akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, mengindari sesuatu yang menyakitinya serta menahan diri ketika disakiti. Berdasarkan definisi ini berarti cakupan akhlak mulia sangatlah luas, dan tidak mungkin semua cakupannya dipaparkan satu persatu dalam makalah singkat ini. Karena itulah penulis hanya akan membawa beberapa contoh saja, semoga yang sedikit ini bisa mendatangkan berkah dan para pembaca bisa menganalogikannya kepada contoh-contoh yang lain.1. Gemar membantu orang lain.Banyak nas dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memotivasi kita untuk mempraktekkan karakter mulia ini. Di antaranya: sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ““Allah akan membantu seorang hamba; jika ia membantu saudaranya”. HR. Muslim (XVII/24 no. 6793) dari Abu Hurairah.Karakter gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadijah tatkala beliau menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,“كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ“.“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Maksud perkataan Khadijah di atas adalah: “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai; karena Allah telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia dan karakter utama. Lalu Khadijah menyebutkan berbagai contohnya”,3 yang di antaranya adalah: gemar membantu orang lain.Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah kita. Sebab tatkala seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, lantas ada orang yang membantunya, jelas susah bagi dia untuk melupakan kebaikan tersebut. Dia akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita. Sebagai salah satu bentuk ‘kompensasi’ dia atas kebaikan kita padanya.Karena itu, seyogyanya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia; kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan piutang; kita berusaha memberikan hutangan pada orang tersebut. Begitu seterusnya.Jika hal ini rajin kita terapkan; lambat laun akan terbangun jembatan yang mengantarkan kita untuk masuk ke dalam hati orang-orang yang pernah kita bantu. Sehingga dakwah yang kita sampaikan lebih mudah untuk mereka terima.2. Jujur dalam bertutur kata.Sifat jujur merupakan salah satu karakter mulia yang amat dianjurkan dalam Islam. Allah ta’ala berfiman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً“.Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”. QS. Al-Ahzab: 70.Masih banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam yang berisikan perintah serupa.Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.Ibnu Abbas bercerita, bahwa tatkala turun firman Allah,“وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“.Artinya: “Berilah peringatan (wahai Muhammad) kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. QS. Asy-Syu’ara: 214.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya lalu menaiki bukit Shafa dan berteriak memanggil, “Wahai kaumku kemarilah!”. Orang-orang Quraisy berkata, “Siapakah yang memanggil itu?”. “Muhammad”, jawab mereka. Mereka pun berduyun-duyun menuju bukit Shafa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Wahai bani Fulan, bani Fulan, bani Fulan, bani Abdi Manaf dan bani Abdil Mutthalib. Andaikan aku kabarkan bahwa dari kaki bukit ini akan keluar seekor kuda, apakah kalian mempercayaiku?”.Mereka menjawab, “Kami tidak pernah mendapatkanmu berdusta!”.“Sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan datangnya azab yang sangat pedih!” lanjut Rasul shallallahu’alaihiwasallam. HR. Bukhari (hal. 1082 no. 4971) dan Muslim (III/77 no. 507) dengan redaksi Muslim.Lihatlah bagaimana Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam menjadikan kejujurannya dalam bertutur kata sebagai dalil dan bukti akan kebenaran risalah yang disampaikannya.4Seorang muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata, berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita; dia akan disegani oleh mereka. Ucapannya berbobot dan omongannya didengar. Dan ini adalah modal yang amat berharga untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah merupakan suatu langkah awal yang menyiratkan keberhasilan dakwah. Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya, mudah menukil berita tanpa diklarifikasi terlebih dahulu, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal.Benarlah pepatah orang Jawa: “Ajining diri soko ing lathi” (Kehormatan diri dinilai dari lisan).3. Bertindak ramah terhadap orang miskin dan kaum lemah.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud (III/52 no. 2594), dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy5.Masih banyak hadits lain, juga ayat al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk berbuat baik, berlaku ramah dan membantu orang-orang lemah juga miskin. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah ditegur langsung Allah ta’ala tatkala suatu hari beliau bermuka masam dan berpaling dari seorang lemah yang datang kepada beliau; karena saat itu beliau sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Kejadian itu Allah abadikan dalam surat ‘Abasa. Namun setelah itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat memuliakan orang lemah tadi dan bahkan menunjuknya sebagai salah satu muadzin di kota Madinah. Orang tersebut adalah Abdullah Ibn Ummi Maktum radhiyallahu’anhu.Bersikap ramah dan care terhadap orang-orang lemah menguntungkan dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut. Adapun sisi pertama, keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul shallallahu’alaihiwasallam? Dia menjawab, “Orang-orang lemah dan kaum miskin”. Heraklius pun menimpali, “Begitulah kondisi pengikut para nabi di setiap masa”.6Ketika menafsirkan QS. Asy-Syu’ara: 111, Imam Abu Hayyân menjelaskan bahwa orang-orang lemah lebih banyak untuk menerima dakwah dibanding orang-orang yang terpandang. Sebab otak mereka tidak dipenuhi dengan keindahan-keindahan duniawi; sehingga mereka lebih mudah mengetahui al-haq dan menerimanya dibanding orang-orang terpandang.7Sedangkan keuntungan kedua, adalah dipandang dari sisi ketertarikan orang-orang yang menyaksikan praktek akhlak mulia tersebut, sampaipun yang menyaksikan tersebut adalah orang yang memiliki kedudukan dalam perihal harta maupun sosial. Masyarakat cenderung lebih respek kepada ulama atau da’i yang rendah hati serta akrab dengan orang-orang lemah dan papa dibanding mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan. Sebab masyarakat menganggap da’i tersebut cenderung lebih tulus. Adapun ulama yang hanya beramah-tamah dengan para pejabat dan konglomerat; masyarakat akan bertanya-tanya tentang motif kedekatan tersebut? Apakah karena mengharapkan harta duniawi atau apa?Keterangan ini sama sekali bukan untuk mengecilkan urgensi mendakwahi orang-orang yang memiliki kedudukan8, namun penulis hanya ingin mengajak para pembaca untuk membayangkan alangkah indahnya andaikan para da’i serta ulama menyeimbangkan antara kedekatannya dengan orang-orang terpandang dan kedekatannya dengan orang-orang lemah yang kekurangan. Tanpa ada tujuan lain melainkan untuk mengajak mereka semua ke jalan Allah ta’ala.Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah masuk Islamnya ‘Adiy bin Hâtim ath-Thâ’iy. Beliau adalah satu raja terpandang di negeri Arab. Ketika mendengar munculnya Rasul shallallahu’alaihiwasallam dan pengikutnya dari hari kehari semakin bertambah; membuncahlah dalam hatinya kebencian dan rasa cemburu akan adanya raja pesaing baru. Hingga datanglah suatu hari di mana Allah membuka hatinya untuk mendatangi Rasul shallallahu’alaihiwasallam.Begitu mendengar kedatangan ‘Adiy, Rasulullah shallallahu’alihiwasallam yang saat itu sedang berada di masjid beserta para sahabatnya pun bergegas menyambut kedatangannya dan menggandeng tangannya mengajak berkunjung ke rumah beliau. Di tengah perjalanan menuju ke rumah, ada seorang wanita lemah yang telah lanjut usia memanggil-manggil beliau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun berhenti dan meninggalkan ‘Adiy guna mendatangi wanita tersebut, beliau berdiri lama beserta dia melayani kebutuhannya. Manakala melihat ketawadhuan Nabi shallallahu’alaihiwasallam ‘Adiy bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah tipe seorang raja!”.Setelah selesai urusannya dengan wanita tua tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggamit tangan ‘Adiy melanjutkan perjalanan. Sesampai di rumah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mengambil satu-satunya bantal duduk yang terbalut kulit dan berisikan sabut pohon kurma, lalu mempersilahkan ‘Adiy untuk duduk di atasnya. ‘Adiy pun menjawab, “Tidak, duduklah engkau di atasnya”. “Tidak! Engkaulah yang duduk di atasnya” sahut Rasul shallallahu’alaihiwasallam”. Akhirnya ‘Adiy duduk di atas bantal tersebut dan Rasul shallallahu’alaihiwasallam duduk di atas tanah. Saat itu ‘Adiy kembali bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah karakter seorang raja!”.Lantas terjadi diskusi antara keduanya, hingga akhirnya ‘Adiy pun mengucapkan dua kalimat syahadat; menyatakan keislamannya.9Lihatlah bagaimana ‘Adiy begitu terkesan dengan kerendahan hati Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang dengan sabar melayani kebutuhan seorang wanita tua dan lemah di tengah-tengah perjalannya mendampingi seorang raja besar! Goresan keterkesanan yang terukir dalam hatinya, merupakan titik awal ketertarikan dia untuk masuk ke dalam agama Islam.Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah kisah nyata tentang salah seorang da’i muda Ahlus Sunnah di sebuah kota di tanah air. Dengan usianya yang masih sangat hijau, dalam waktu singkat, sebagai pemain baru di kotanya, berkat taufik dari Allah ta’ala, dia telah bisa mengambil hati banyak masyarakat di kota tersebut. Bahkan pernah pada suatu momen, ia diundang untuk mengisi suatu acara kemasyarakatan di sebuah komunitas yang sebenarnya di situ banyak tokoh-tokoh agama senior. Tatkala berusaha menghindar dengan alasan banyak kyai di situ, orang yang mengundang menjawab, “Kalau yang mengisi pengajian kyai A, sebagian masyarakat tidak mau datang, dan kalau yang diundang kyai B, yang mau datang juga hanya sebagian. Tapi kalau yang mengisi panjenengan, mereka semua mau datang!”. Ketika penulis cermati, ternyata salah satu rahasia kecintaan masyarakat terhadap da’i tersebut: keramahannya kepada siapapun, apalagi terhadap orang-orang ‘kecil’. Dia menyapa tukang parkir, tukang sapu, orang tidak punya, bersalaman dengan mereka dan tidak segan-segan untuk bertanya tentang keadaan keluarga mereka dan anak-anaknya!Badruddin Ibn Jama’ah (w. 723 H) menyebutkan bahwa di antara akhlak ulama, “Bermu’amalah dengan para manusia dengan akhlak mulia, seperti bermuka manis, menebar salam … berlemah lembut dengan kaum fakir, memperlihatkan kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat …”.104. Santun dalam menyampaikan nasehat, sambil memperhatikan kondisi psikologis orang yang dinasehati.Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ““Ucapan yang baik adalah shadaqah”. HR. Bukhari (hal. 606 no. 2989) dan Muslim (VII/96 no. 2332).Memilih kata-kata yang baik juga memperhatikan psikologis seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah seseorang. Penulis pernah diceritai saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menukas, “Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!”. Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam.Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita ‘menabrak’ langsung lawan bicara kita. Apakah itu justru tidak mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, “Ya, memang pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan mental masyarakat; sehingga timbul keseimbangan antara dua sisi tersebut”.Kita bisa mengambil suri tauladan dari metode Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati para sahabatnya.عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا“، فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا: “مَهْ مَهْ“. فَقَالَ: “ادْنُهْ“، فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا، قَالَ فَجَلَسَ، قَالَ: “أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟“. قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ“. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ“. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ” قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ” فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.Abu Umamah bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.Lalu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. HR. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.11Cermatilah bagaimana Nabi shallallahu’alaihiwasallam tidak langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk berpikir sambil beliau juga memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya? Memang jalan dakwah itu panjang dan membutuhkan kesabaran.Tidak ada salahnya kita kembali memutar rekaman perjalanan hidup kita dahulu sebelum mengenal dakwah salaf dan proses perkenalan kita dengan manhaj yang penuh dengan berkah ini. Apakah dulu serta merta sekali diomongi, kita langsung meninggalkan keyakinan yang telah berpuluh tahun kita anut? Atau melalui proses panjang yang penuh dengan lika-liku?Dengan merenungi masa lalu kelam sebelum mendapat hidayah, dan bahwasanya kita memperolehnya secara bertahap; kita akan terdorong untuk mendakwahi orang lain juga dengan hikmah, nasehat yang bijak, serta secara bertahap. Demikian keterangan yang disampaikan Syaikh as-Sa’dy ketika beliau menafsirkan firman Allah,“كَذَلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللّهُ عَلَيْكُمْ“.Artinya: “Begitu pulalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah melimpahkan nikmat-Nya pada kalian”. QS. An-Nisa: 94.12Tidaklah mudah mengajak seseorang meninggalkan ideologi lamanya untuk menganut sebuah ideologi baru. Pertama kali buatlah ia ragu akan ideologi lamanya, lalu secara bertahap kita jelaskan keunggulan ideologi baru yang akan kita tawarkan padanya. Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ideologi lama akan ditinggalkannya, kemudian beralih ke ideologi yang baru.5. Bersifat pemaaf terhadap orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan.Allah ta’ala berfirman,“خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“.Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan pedulikan orang-orang jahil”. QS. Al-A’raf: 199.Adapun potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasul shallallahu’alaihiwasallam amatlah banyak, baik dengan sesama muslim, maupun dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin. Di antara contoh jenis pertama, apa yang dikisahkan Anas bin Malik,“كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ: “مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ!” فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ“.“Suatu hari aku berjalan bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan saat itu beliau berpakaian kain buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan dia. Sembari berkata, “Berilah aku sebagian dari harta yang Allah berikan padamu!”. Beliaupun menengok kepadanya sembari tersenyum lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta”. HR. Bukhari (hal. 642 no. 3149) dan Muslim (VII/147 no. 2426).Contoh jenis kedua antara lain: apa yang dikisahkan Aisyah radhiyallahu’anha,“أَنَّهَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ فَقَالَ: “لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ؛ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ: “إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رُدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ“. قَالَ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ: “يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ” فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“.“Suatu hari aku bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Wahai Rasululllah, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih berat dibanding hari peperangan Uhud?”.Beliau menjawab, “Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat itu aku menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia enggan menerimaku. Akupun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak tersadar melainkan tatkala sampai di Qarn ats-Tsa’âlib. Aku pun mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada sebuah awan yang menaungiku. Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allah telah mengirimkan untukmu malaikat gunung13, supaya engkau memerintahkannya melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu”. Malaikat gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, “Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menjawab, “Justru aku berharap, semoga Allah berkenan menjadikan keturunan mereka generasi yang mau beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun”. HR. Muslim (XII/365 no. 4629).Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri. Apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan ada tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin bisa berupa serangan fisik, dari musuh-musuh dakwah. Ketika seorang da’i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran, tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan kebaikan; insyaAllah dengan berjalannya waktu, hati para ‘lawan’ dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah haq dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhan-tuduhan miring. 14Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktek sifat mulia ini. Penulis bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang telah tersohor kekokohannya dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam meluruskan penyimpangan sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah mencegat Ibn Taimiyah lalu mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi. Tatkala kabar itu sampai ke telinga murid-murid dan para pendukung beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, untuk minta izin guna membalas dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.Namun Ibn Taimiyah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu”. “Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”, tukas mereka. Ibn Taimiyah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak untuk balas dendam itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allah. Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku maka aku telah memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian tidak mau mendengar nasehatku dan fatwaku maka berbuatlah semau kalian! Andaikan hak itu adalah milik Allah, maka Dia yang akan membalas jika Dia berkehendak!”. 15Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid’ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah. Di antara penguasa yang mencintai dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah Sultan Muhammad Qalawun. Di suatu tahun Sultan Qalawun pergi berhaji ke baitullah. Selama dia melakukan ibadah haji pemerintahan diserahkan kepada salah seorang wakilnya: Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang kebetulan dia adalah murid salah satu tokoh sufi abad itu: Nashr al-Manbajy, dan al-Manbajy ini amat benci sekali terhadap Ibnu Taimiyah.Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera menyusun makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati Ibnu Taimiyah. Namun sebelum makar mereka berhasil, Sultan Qalawun keburu kembali dari haji.Tatkala mendengar berita akan makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para pelaku makar tersebut. Tatkala mendengar berita itu, Ibn Taimiyah bergegas datang ke Sultan Qalawun dan berkata, “Adapun saya maka telah memaafkan mereka semua”. Akhirnya Sultan pun memaafkan mereka.Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibn Taimiyah: Zainuddin bin Makhluf pun berkata, “Tidak pernah kita mendapatkan orang setakwa Ibn Taimiyah! Setiap ada kesempatan untuk mencelakakannya kami berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun tatkala dia memiliki kesempatan untuk membalas, malah dia memaafkan kami!”.16Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan; berkat taufiq dari Allah dan ketulusan hati para da’i. 6. Menahan diri dari meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.Sifat ini lebih dikenal para ulama dengan istilah ‘iffah atau ‘afâf. Ini merupakan salah satu karakter para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana Allah ceritakan dalam al-Qur’an,“يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً “.Artinya: “(Orang lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya; karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada orang lain”. (QS. Al-Baqarah: 273).Tidak heran andaikan mereka memiliki karakter mulia tersebut; sebab mereka melihat langsung Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sendiri mempraktekkannya dan senantiasa memotivasi mereka untuk mempraktekkannya juga. Di antara nasehat yang beliau sampaikan: sabdanya,“مَنْ يَسْتَعِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ“.“Barang siapa menjaga kehormatan dirinya (dengan tidak meminta-minta kepada manusia dan berambisi untuk memperoleh apa yang ada di tangan mereka) niscaya Allah akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Dan barang siapa merasa diri berkecukupan; niscaya Allah akan mencukupinya”. HR. Bukhari (hal. 283 no. 1427) dan Muslim (VII/145 no. 2421) dari Hakîm bin Hizâm.Karakter pertama merupakan jalan pengantar menuju karakter kedua. Sebab barang siapa menjaga kehormatannya untuk tidak berambisi terhadap apa yang dimiliki orang lain; ia akan memperkuat ketergantungannya pada Allah, berharap dan berambisi terhadap karunia dan kebaikan Allah.17Lantas apa korelasi antara bersifat ‘iffah dengan keberhasilan dakwah? Sekurang-kurangnya bisa ditinjau dari dua sisi:Pertama: Orang yang menjaga diri dari meminta apa yang dimiliki orang lain, juga tidak silau dengan apa yang dimiliki orang lain; akan dicintai mereka. Sebab secara tabiat manusia tidak menyukai orang lain yang meminta-minta apa yang dimilikinya. Hal itu telah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam isyaratkan dalam nasehatnya untuk seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan padaku suatu amalan yang jika kukerjakan; aku akan disayang Allah dan dicintai manusia!”. Beliaupun menjawab,“ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“.“Bersifat zuhudlah di dunia; niscaya engkau akan disayang Allah. Dan bersikap zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia; niscaya mereka mencintaimu”. HR. Ibn Majah (IV/163 no. 4177) dari Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy dan sanadnya dinilai hasan oleh Imam an-Nawawy18.Jika seorang da’i telah dicintai masyarakat, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya.Kedua: Orang yang memiliki sifat ‘afâf, ketika ia berdakwah, masyarakat akan menilai bahwa dakwahnya tersebut ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan duniawi dari mereka. Saat mereka merasakan ketulusan niat da’i tersebut; jelas -dengan izin Allah- mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya. Allah ta’ala berfirman,“اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ“.Artinya: “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. Yasin: 21.Kiat menumbuhkan sifat ‘afâfSifat mulia ini memang cukup berat untuk ditumbuhkan dalam jiwa. Namun di sana ada kiat yang membantu kita untuk menumbuhkan karakter mulia dalam diri kita. Yaitu dengan melatih diri bersifat qona’ah yang berarti: menerima dan rela dengan berapapun yang diberikan Allah ta’ala. Sebab sebenarnya sifat ‘afaf sendiri merupakan buah dari sifat qona’ah. 19Jika ada yang bertanya bagaimana cara membangun pribadi yang qona’ah? Jawabannya: dengan melatih diri menyadari seyakin-yakinnya bahwa rizki hanyalah di tangan Allah dan yang kita dapatkan telah dicatat Allah ta’ala, serta tidak mungkin melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.Catatan penting20Ada tiga catatan penting di akhir makalah ini: Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita ‘melarutkan’ diri dalam ritual-ritual bid’ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia! Kita bisa bermasyarakat tanpa harus larut mengikuti yasinan21, tahlilan22, maulidan atau acara-acara bid’ah lainnya. Caranya? Kita berusaha untuk berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syariat, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang memasak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid’ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang ‘tidak ada tawar-menawar’ di dalamnya.Kedua: Sebagian pihak ‘mengolok-olok’ beberapa da’i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhlak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid’ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat namun mengabaikan pembenahan akidah.Jawabannya:Barangkali pihak yang gemar ‘mengolok-olok’ itu lupa bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja. Namun, dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah , di mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak. Imam Bisyr al-Hâfî rahimahullâh berkata, “Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah”23.Syaikh Dr. Ibrâhîm bin ‘Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâh menjelaskan, “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan akidah maupun akhlak. Termasuk pemahaman yang keliru: prasangka bahwa sunni atau salafi adalah orang yang merealisasikan akidah Ahlus Sunnah saja tanpa memperhatikan sisi akhlak dan adab Islam, serta penunaian hak-hak kaum muslimin”24.Seandainya ada sebagian ahlul bid’ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syariat Islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak islami, dia cenderung ‘menjauhi’ mereka dan memilih ‘bergabung’ dengan kelompok-kelompok ahlul bid’ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu. Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan ‘merenovasi’ akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!PenutupSebenarnya masih banyak contoh-contoh lain penerapan akhlak mulia yang akan membuahkan dampak positif bagi keberhasilan dakwah. Seperti bersifat amanah dalam segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis, yang amat disayangkan mulai luntur, bahkan sampai di kalangan mereka yang sudah ngaji. Sehingga muncullah istilah “Bisnis afwan akhi!” 25, yang intinya adalah berbisnis tanpa mengindahkan etika-etikanya. Dan contoh-contoh lainnya yang dipandang perlu untuk disinggung. Namun karena keterbatasan waktulah, yang memaksa penulis untuk mencukupkan makalah ini sampai di sini. Semoga Allah berkenan mengaruniakan kelonggaran waktu di lain kesempatan, sehingga contoh-contoh lainnya tersebut bisa dikupas, amien.Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq… Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in… Post navigationNext Tafsir Surat An-nas ayat 1 Related Posts Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Wakaf ProyektorUncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Berdakwah Dengan Akhlak Mulia

Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyataBeberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena kereseannya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah.Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktekkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula.Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya…Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya?Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu’alahiwasallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, dimana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan.Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan.Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.Perintah untuk berakhlak muliaSebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam,“وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ“.Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. QS. Al-Qalam: 4.Juga sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“.“Berakhlak mulia lah dengan para manusia”. HR. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih.Apa itu akhlak mulia?Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى“.“Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti”.1Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:1 Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319).Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan?Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?”.“Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jama’ah.Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktek, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran.1Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktek nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas. 2Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktekkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.Akhlak mulia dan dampak positifnya dalam dakwahDi atas telah dijelaskan bahwa definisi akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, mengindari sesuatu yang menyakitinya serta menahan diri ketika disakiti. Berdasarkan definisi ini berarti cakupan akhlak mulia sangatlah luas, dan tidak mungkin semua cakupannya dipaparkan satu persatu dalam makalah singkat ini. Karena itulah penulis hanya akan membawa beberapa contoh saja, semoga yang sedikit ini bisa mendatangkan berkah dan para pembaca bisa menganalogikannya kepada contoh-contoh yang lain.1. Gemar membantu orang lain.Banyak nas dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memotivasi kita untuk mempraktekkan karakter mulia ini. Di antaranya: sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ““Allah akan membantu seorang hamba; jika ia membantu saudaranya”. HR. Muslim (XVII/24 no. 6793) dari Abu Hurairah.Karakter gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadijah tatkala beliau menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,“كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ“.“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Maksud perkataan Khadijah di atas adalah: “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai; karena Allah telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia dan karakter utama. Lalu Khadijah menyebutkan berbagai contohnya”,3 yang di antaranya adalah: gemar membantu orang lain.Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah kita. Sebab tatkala seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, lantas ada orang yang membantunya, jelas susah bagi dia untuk melupakan kebaikan tersebut. Dia akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita. Sebagai salah satu bentuk ‘kompensasi’ dia atas kebaikan kita padanya.Karena itu, seyogyanya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia; kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan piutang; kita berusaha memberikan hutangan pada orang tersebut. Begitu seterusnya.Jika hal ini rajin kita terapkan; lambat laun akan terbangun jembatan yang mengantarkan kita untuk masuk ke dalam hati orang-orang yang pernah kita bantu. Sehingga dakwah yang kita sampaikan lebih mudah untuk mereka terima.2. Jujur dalam bertutur kata.Sifat jujur merupakan salah satu karakter mulia yang amat dianjurkan dalam Islam. Allah ta’ala berfiman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً“.Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”. QS. Al-Ahzab: 70.Masih banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam yang berisikan perintah serupa.Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.Ibnu Abbas bercerita, bahwa tatkala turun firman Allah,“وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“.Artinya: “Berilah peringatan (wahai Muhammad) kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. QS. Asy-Syu’ara: 214.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya lalu menaiki bukit Shafa dan berteriak memanggil, “Wahai kaumku kemarilah!”. Orang-orang Quraisy berkata, “Siapakah yang memanggil itu?”. “Muhammad”, jawab mereka. Mereka pun berduyun-duyun menuju bukit Shafa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Wahai bani Fulan, bani Fulan, bani Fulan, bani Abdi Manaf dan bani Abdil Mutthalib. Andaikan aku kabarkan bahwa dari kaki bukit ini akan keluar seekor kuda, apakah kalian mempercayaiku?”.Mereka menjawab, “Kami tidak pernah mendapatkanmu berdusta!”.“Sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan datangnya azab yang sangat pedih!” lanjut Rasul shallallahu’alaihiwasallam. HR. Bukhari (hal. 1082 no. 4971) dan Muslim (III/77 no. 507) dengan redaksi Muslim.Lihatlah bagaimana Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam menjadikan kejujurannya dalam bertutur kata sebagai dalil dan bukti akan kebenaran risalah yang disampaikannya.4Seorang muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata, berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita; dia akan disegani oleh mereka. Ucapannya berbobot dan omongannya didengar. Dan ini adalah modal yang amat berharga untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah merupakan suatu langkah awal yang menyiratkan keberhasilan dakwah. Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya, mudah menukil berita tanpa diklarifikasi terlebih dahulu, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal.Benarlah pepatah orang Jawa: “Ajining diri soko ing lathi” (Kehormatan diri dinilai dari lisan).3. Bertindak ramah terhadap orang miskin dan kaum lemah.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud (III/52 no. 2594), dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy5.Masih banyak hadits lain, juga ayat al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk berbuat baik, berlaku ramah dan membantu orang-orang lemah juga miskin. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah ditegur langsung Allah ta’ala tatkala suatu hari beliau bermuka masam dan berpaling dari seorang lemah yang datang kepada beliau; karena saat itu beliau sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Kejadian itu Allah abadikan dalam surat ‘Abasa. Namun setelah itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat memuliakan orang lemah tadi dan bahkan menunjuknya sebagai salah satu muadzin di kota Madinah. Orang tersebut adalah Abdullah Ibn Ummi Maktum radhiyallahu’anhu.Bersikap ramah dan care terhadap orang-orang lemah menguntungkan dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut. Adapun sisi pertama, keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul shallallahu’alaihiwasallam? Dia menjawab, “Orang-orang lemah dan kaum miskin”. Heraklius pun menimpali, “Begitulah kondisi pengikut para nabi di setiap masa”.6Ketika menafsirkan QS. Asy-Syu’ara: 111, Imam Abu Hayyân menjelaskan bahwa orang-orang lemah lebih banyak untuk menerima dakwah dibanding orang-orang yang terpandang. Sebab otak mereka tidak dipenuhi dengan keindahan-keindahan duniawi; sehingga mereka lebih mudah mengetahui al-haq dan menerimanya dibanding orang-orang terpandang.7Sedangkan keuntungan kedua, adalah dipandang dari sisi ketertarikan orang-orang yang menyaksikan praktek akhlak mulia tersebut, sampaipun yang menyaksikan tersebut adalah orang yang memiliki kedudukan dalam perihal harta maupun sosial. Masyarakat cenderung lebih respek kepada ulama atau da’i yang rendah hati serta akrab dengan orang-orang lemah dan papa dibanding mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan. Sebab masyarakat menganggap da’i tersebut cenderung lebih tulus. Adapun ulama yang hanya beramah-tamah dengan para pejabat dan konglomerat; masyarakat akan bertanya-tanya tentang motif kedekatan tersebut? Apakah karena mengharapkan harta duniawi atau apa?Keterangan ini sama sekali bukan untuk mengecilkan urgensi mendakwahi orang-orang yang memiliki kedudukan8, namun penulis hanya ingin mengajak para pembaca untuk membayangkan alangkah indahnya andaikan para da’i serta ulama menyeimbangkan antara kedekatannya dengan orang-orang terpandang dan kedekatannya dengan orang-orang lemah yang kekurangan. Tanpa ada tujuan lain melainkan untuk mengajak mereka semua ke jalan Allah ta’ala.Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah masuk Islamnya ‘Adiy bin Hâtim ath-Thâ’iy. Beliau adalah satu raja terpandang di negeri Arab. Ketika mendengar munculnya Rasul shallallahu’alaihiwasallam dan pengikutnya dari hari kehari semakin bertambah; membuncahlah dalam hatinya kebencian dan rasa cemburu akan adanya raja pesaing baru. Hingga datanglah suatu hari di mana Allah membuka hatinya untuk mendatangi Rasul shallallahu’alaihiwasallam.Begitu mendengar kedatangan ‘Adiy, Rasulullah shallallahu’alihiwasallam yang saat itu sedang berada di masjid beserta para sahabatnya pun bergegas menyambut kedatangannya dan menggandeng tangannya mengajak berkunjung ke rumah beliau. Di tengah perjalanan menuju ke rumah, ada seorang wanita lemah yang telah lanjut usia memanggil-manggil beliau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun berhenti dan meninggalkan ‘Adiy guna mendatangi wanita tersebut, beliau berdiri lama beserta dia melayani kebutuhannya. Manakala melihat ketawadhuan Nabi shallallahu’alaihiwasallam ‘Adiy bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah tipe seorang raja!”.Setelah selesai urusannya dengan wanita tua tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggamit tangan ‘Adiy melanjutkan perjalanan. Sesampai di rumah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mengambil satu-satunya bantal duduk yang terbalut kulit dan berisikan sabut pohon kurma, lalu mempersilahkan ‘Adiy untuk duduk di atasnya. ‘Adiy pun menjawab, “Tidak, duduklah engkau di atasnya”. “Tidak! Engkaulah yang duduk di atasnya” sahut Rasul shallallahu’alaihiwasallam”. Akhirnya ‘Adiy duduk di atas bantal tersebut dan Rasul shallallahu’alaihiwasallam duduk di atas tanah. Saat itu ‘Adiy kembali bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah karakter seorang raja!”.Lantas terjadi diskusi antara keduanya, hingga akhirnya ‘Adiy pun mengucapkan dua kalimat syahadat; menyatakan keislamannya.9Lihatlah bagaimana ‘Adiy begitu terkesan dengan kerendahan hati Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang dengan sabar melayani kebutuhan seorang wanita tua dan lemah di tengah-tengah perjalannya mendampingi seorang raja besar! Goresan keterkesanan yang terukir dalam hatinya, merupakan titik awal ketertarikan dia untuk masuk ke dalam agama Islam.Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah kisah nyata tentang salah seorang da’i muda Ahlus Sunnah di sebuah kota di tanah air. Dengan usianya yang masih sangat hijau, dalam waktu singkat, sebagai pemain baru di kotanya, berkat taufik dari Allah ta’ala, dia telah bisa mengambil hati banyak masyarakat di kota tersebut. Bahkan pernah pada suatu momen, ia diundang untuk mengisi suatu acara kemasyarakatan di sebuah komunitas yang sebenarnya di situ banyak tokoh-tokoh agama senior. Tatkala berusaha menghindar dengan alasan banyak kyai di situ, orang yang mengundang menjawab, “Kalau yang mengisi pengajian kyai A, sebagian masyarakat tidak mau datang, dan kalau yang diundang kyai B, yang mau datang juga hanya sebagian. Tapi kalau yang mengisi panjenengan, mereka semua mau datang!”. Ketika penulis cermati, ternyata salah satu rahasia kecintaan masyarakat terhadap da’i tersebut: keramahannya kepada siapapun, apalagi terhadap orang-orang ‘kecil’. Dia menyapa tukang parkir, tukang sapu, orang tidak punya, bersalaman dengan mereka dan tidak segan-segan untuk bertanya tentang keadaan keluarga mereka dan anak-anaknya!Badruddin Ibn Jama’ah (w. 723 H) menyebutkan bahwa di antara akhlak ulama, “Bermu’amalah dengan para manusia dengan akhlak mulia, seperti bermuka manis, menebar salam … berlemah lembut dengan kaum fakir, memperlihatkan kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat …”.104. Santun dalam menyampaikan nasehat, sambil memperhatikan kondisi psikologis orang yang dinasehati.Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ““Ucapan yang baik adalah shadaqah”. HR. Bukhari (hal. 606 no. 2989) dan Muslim (VII/96 no. 2332).Memilih kata-kata yang baik juga memperhatikan psikologis seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah seseorang. Penulis pernah diceritai saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menukas, “Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!”. Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam.Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita ‘menabrak’ langsung lawan bicara kita. Apakah itu justru tidak mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, “Ya, memang pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan mental masyarakat; sehingga timbul keseimbangan antara dua sisi tersebut”.Kita bisa mengambil suri tauladan dari metode Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati para sahabatnya.عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا“، فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا: “مَهْ مَهْ“. فَقَالَ: “ادْنُهْ“، فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا، قَالَ فَجَلَسَ، قَالَ: “أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟“. قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ“. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ“. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ” قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ” فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.Abu Umamah bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.Lalu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. HR. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.11Cermatilah bagaimana Nabi shallallahu’alaihiwasallam tidak langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk berpikir sambil beliau juga memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya? Memang jalan dakwah itu panjang dan membutuhkan kesabaran.Tidak ada salahnya kita kembali memutar rekaman perjalanan hidup kita dahulu sebelum mengenal dakwah salaf dan proses perkenalan kita dengan manhaj yang penuh dengan berkah ini. Apakah dulu serta merta sekali diomongi, kita langsung meninggalkan keyakinan yang telah berpuluh tahun kita anut? Atau melalui proses panjang yang penuh dengan lika-liku?Dengan merenungi masa lalu kelam sebelum mendapat hidayah, dan bahwasanya kita memperolehnya secara bertahap; kita akan terdorong untuk mendakwahi orang lain juga dengan hikmah, nasehat yang bijak, serta secara bertahap. Demikian keterangan yang disampaikan Syaikh as-Sa’dy ketika beliau menafsirkan firman Allah,“كَذَلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللّهُ عَلَيْكُمْ“.Artinya: “Begitu pulalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah melimpahkan nikmat-Nya pada kalian”. QS. An-Nisa: 94.12Tidaklah mudah mengajak seseorang meninggalkan ideologi lamanya untuk menganut sebuah ideologi baru. Pertama kali buatlah ia ragu akan ideologi lamanya, lalu secara bertahap kita jelaskan keunggulan ideologi baru yang akan kita tawarkan padanya. Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ideologi lama akan ditinggalkannya, kemudian beralih ke ideologi yang baru.5. Bersifat pemaaf terhadap orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan.Allah ta’ala berfirman,“خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“.Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan pedulikan orang-orang jahil”. QS. Al-A’raf: 199.Adapun potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasul shallallahu’alaihiwasallam amatlah banyak, baik dengan sesama muslim, maupun dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin. Di antara contoh jenis pertama, apa yang dikisahkan Anas bin Malik,“كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ: “مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ!” فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ“.“Suatu hari aku berjalan bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan saat itu beliau berpakaian kain buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan dia. Sembari berkata, “Berilah aku sebagian dari harta yang Allah berikan padamu!”. Beliaupun menengok kepadanya sembari tersenyum lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta”. HR. Bukhari (hal. 642 no. 3149) dan Muslim (VII/147 no. 2426).Contoh jenis kedua antara lain: apa yang dikisahkan Aisyah radhiyallahu’anha,“أَنَّهَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ فَقَالَ: “لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ؛ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ: “إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رُدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ“. قَالَ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ: “يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ” فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“.“Suatu hari aku bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Wahai Rasululllah, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih berat dibanding hari peperangan Uhud?”.Beliau menjawab, “Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat itu aku menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia enggan menerimaku. Akupun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak tersadar melainkan tatkala sampai di Qarn ats-Tsa’âlib. Aku pun mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada sebuah awan yang menaungiku. Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allah telah mengirimkan untukmu malaikat gunung13, supaya engkau memerintahkannya melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu”. Malaikat gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, “Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menjawab, “Justru aku berharap, semoga Allah berkenan menjadikan keturunan mereka generasi yang mau beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun”. HR. Muslim (XII/365 no. 4629).Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri. Apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan ada tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin bisa berupa serangan fisik, dari musuh-musuh dakwah. Ketika seorang da’i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran, tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan kebaikan; insyaAllah dengan berjalannya waktu, hati para ‘lawan’ dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah haq dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhan-tuduhan miring. 14Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktek sifat mulia ini. Penulis bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang telah tersohor kekokohannya dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam meluruskan penyimpangan sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah mencegat Ibn Taimiyah lalu mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi. Tatkala kabar itu sampai ke telinga murid-murid dan para pendukung beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, untuk minta izin guna membalas dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.Namun Ibn Taimiyah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu”. “Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”, tukas mereka. Ibn Taimiyah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak untuk balas dendam itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allah. Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku maka aku telah memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian tidak mau mendengar nasehatku dan fatwaku maka berbuatlah semau kalian! Andaikan hak itu adalah milik Allah, maka Dia yang akan membalas jika Dia berkehendak!”. 15Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid’ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah. Di antara penguasa yang mencintai dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah Sultan Muhammad Qalawun. Di suatu tahun Sultan Qalawun pergi berhaji ke baitullah. Selama dia melakukan ibadah haji pemerintahan diserahkan kepada salah seorang wakilnya: Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang kebetulan dia adalah murid salah satu tokoh sufi abad itu: Nashr al-Manbajy, dan al-Manbajy ini amat benci sekali terhadap Ibnu Taimiyah.Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera menyusun makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati Ibnu Taimiyah. Namun sebelum makar mereka berhasil, Sultan Qalawun keburu kembali dari haji.Tatkala mendengar berita akan makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para pelaku makar tersebut. Tatkala mendengar berita itu, Ibn Taimiyah bergegas datang ke Sultan Qalawun dan berkata, “Adapun saya maka telah memaafkan mereka semua”. Akhirnya Sultan pun memaafkan mereka.Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibn Taimiyah: Zainuddin bin Makhluf pun berkata, “Tidak pernah kita mendapatkan orang setakwa Ibn Taimiyah! Setiap ada kesempatan untuk mencelakakannya kami berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun tatkala dia memiliki kesempatan untuk membalas, malah dia memaafkan kami!”.16Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan; berkat taufiq dari Allah dan ketulusan hati para da’i. 6. Menahan diri dari meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.Sifat ini lebih dikenal para ulama dengan istilah ‘iffah atau ‘afâf. Ini merupakan salah satu karakter para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana Allah ceritakan dalam al-Qur’an,“يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً “.Artinya: “(Orang lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya; karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada orang lain”. (QS. Al-Baqarah: 273).Tidak heran andaikan mereka memiliki karakter mulia tersebut; sebab mereka melihat langsung Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sendiri mempraktekkannya dan senantiasa memotivasi mereka untuk mempraktekkannya juga. Di antara nasehat yang beliau sampaikan: sabdanya,“مَنْ يَسْتَعِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ“.“Barang siapa menjaga kehormatan dirinya (dengan tidak meminta-minta kepada manusia dan berambisi untuk memperoleh apa yang ada di tangan mereka) niscaya Allah akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Dan barang siapa merasa diri berkecukupan; niscaya Allah akan mencukupinya”. HR. Bukhari (hal. 283 no. 1427) dan Muslim (VII/145 no. 2421) dari Hakîm bin Hizâm.Karakter pertama merupakan jalan pengantar menuju karakter kedua. Sebab barang siapa menjaga kehormatannya untuk tidak berambisi terhadap apa yang dimiliki orang lain; ia akan memperkuat ketergantungannya pada Allah, berharap dan berambisi terhadap karunia dan kebaikan Allah.17Lantas apa korelasi antara bersifat ‘iffah dengan keberhasilan dakwah? Sekurang-kurangnya bisa ditinjau dari dua sisi:Pertama: Orang yang menjaga diri dari meminta apa yang dimiliki orang lain, juga tidak silau dengan apa yang dimiliki orang lain; akan dicintai mereka. Sebab secara tabiat manusia tidak menyukai orang lain yang meminta-minta apa yang dimilikinya. Hal itu telah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam isyaratkan dalam nasehatnya untuk seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan padaku suatu amalan yang jika kukerjakan; aku akan disayang Allah dan dicintai manusia!”. Beliaupun menjawab,“ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“.“Bersifat zuhudlah di dunia; niscaya engkau akan disayang Allah. Dan bersikap zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia; niscaya mereka mencintaimu”. HR. Ibn Majah (IV/163 no. 4177) dari Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy dan sanadnya dinilai hasan oleh Imam an-Nawawy18.Jika seorang da’i telah dicintai masyarakat, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya.Kedua: Orang yang memiliki sifat ‘afâf, ketika ia berdakwah, masyarakat akan menilai bahwa dakwahnya tersebut ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan duniawi dari mereka. Saat mereka merasakan ketulusan niat da’i tersebut; jelas -dengan izin Allah- mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya. Allah ta’ala berfirman,“اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ“.Artinya: “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. Yasin: 21.Kiat menumbuhkan sifat ‘afâfSifat mulia ini memang cukup berat untuk ditumbuhkan dalam jiwa. Namun di sana ada kiat yang membantu kita untuk menumbuhkan karakter mulia dalam diri kita. Yaitu dengan melatih diri bersifat qona’ah yang berarti: menerima dan rela dengan berapapun yang diberikan Allah ta’ala. Sebab sebenarnya sifat ‘afaf sendiri merupakan buah dari sifat qona’ah. 19Jika ada yang bertanya bagaimana cara membangun pribadi yang qona’ah? Jawabannya: dengan melatih diri menyadari seyakin-yakinnya bahwa rizki hanyalah di tangan Allah dan yang kita dapatkan telah dicatat Allah ta’ala, serta tidak mungkin melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.Catatan penting20Ada tiga catatan penting di akhir makalah ini: Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita ‘melarutkan’ diri dalam ritual-ritual bid’ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia! Kita bisa bermasyarakat tanpa harus larut mengikuti yasinan21, tahlilan22, maulidan atau acara-acara bid’ah lainnya. Caranya? Kita berusaha untuk berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syariat, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang memasak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid’ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang ‘tidak ada tawar-menawar’ di dalamnya.Kedua: Sebagian pihak ‘mengolok-olok’ beberapa da’i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhlak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid’ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat namun mengabaikan pembenahan akidah.Jawabannya:Barangkali pihak yang gemar ‘mengolok-olok’ itu lupa bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja. Namun, dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah , di mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak. Imam Bisyr al-Hâfî rahimahullâh berkata, “Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah”23.Syaikh Dr. Ibrâhîm bin ‘Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâh menjelaskan, “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan akidah maupun akhlak. Termasuk pemahaman yang keliru: prasangka bahwa sunni atau salafi adalah orang yang merealisasikan akidah Ahlus Sunnah saja tanpa memperhatikan sisi akhlak dan adab Islam, serta penunaian hak-hak kaum muslimin”24.Seandainya ada sebagian ahlul bid’ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syariat Islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak islami, dia cenderung ‘menjauhi’ mereka dan memilih ‘bergabung’ dengan kelompok-kelompok ahlul bid’ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu. Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan ‘merenovasi’ akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!PenutupSebenarnya masih banyak contoh-contoh lain penerapan akhlak mulia yang akan membuahkan dampak positif bagi keberhasilan dakwah. Seperti bersifat amanah dalam segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis, yang amat disayangkan mulai luntur, bahkan sampai di kalangan mereka yang sudah ngaji. Sehingga muncullah istilah “Bisnis afwan akhi!” 25, yang intinya adalah berbisnis tanpa mengindahkan etika-etikanya. Dan contoh-contoh lainnya yang dipandang perlu untuk disinggung. Namun karena keterbatasan waktulah, yang memaksa penulis untuk mencukupkan makalah ini sampai di sini. Semoga Allah berkenan mengaruniakan kelonggaran waktu di lain kesempatan, sehingga contoh-contoh lainnya tersebut bisa dikupas, amien.Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq… Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in… Post navigationNext Tafsir Surat An-nas ayat 1 Related Posts Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Wakaf ProyektorUncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyataBeberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena kereseannya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah.Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktekkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula.Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya…Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya?Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu’alahiwasallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, dimana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan.Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan.Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.Perintah untuk berakhlak muliaSebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam,“وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ“.Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. QS. Al-Qalam: 4.Juga sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“.“Berakhlak mulia lah dengan para manusia”. HR. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih.Apa itu akhlak mulia?Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى“.“Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti”.1Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:1 Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319).Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan?Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?”.“Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jama’ah.Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktek, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran.1Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktek nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas. 2Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktekkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.Akhlak mulia dan dampak positifnya dalam dakwahDi atas telah dijelaskan bahwa definisi akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, mengindari sesuatu yang menyakitinya serta menahan diri ketika disakiti. Berdasarkan definisi ini berarti cakupan akhlak mulia sangatlah luas, dan tidak mungkin semua cakupannya dipaparkan satu persatu dalam makalah singkat ini. Karena itulah penulis hanya akan membawa beberapa contoh saja, semoga yang sedikit ini bisa mendatangkan berkah dan para pembaca bisa menganalogikannya kepada contoh-contoh yang lain.1. Gemar membantu orang lain.Banyak nas dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memotivasi kita untuk mempraktekkan karakter mulia ini. Di antaranya: sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ““Allah akan membantu seorang hamba; jika ia membantu saudaranya”. HR. Muslim (XVII/24 no. 6793) dari Abu Hurairah.Karakter gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadijah tatkala beliau menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,“كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ“.“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Maksud perkataan Khadijah di atas adalah: “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai; karena Allah telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia dan karakter utama. Lalu Khadijah menyebutkan berbagai contohnya”,3 yang di antaranya adalah: gemar membantu orang lain.Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah kita. Sebab tatkala seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, lantas ada orang yang membantunya, jelas susah bagi dia untuk melupakan kebaikan tersebut. Dia akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita. Sebagai salah satu bentuk ‘kompensasi’ dia atas kebaikan kita padanya.Karena itu, seyogyanya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia; kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan piutang; kita berusaha memberikan hutangan pada orang tersebut. Begitu seterusnya.Jika hal ini rajin kita terapkan; lambat laun akan terbangun jembatan yang mengantarkan kita untuk masuk ke dalam hati orang-orang yang pernah kita bantu. Sehingga dakwah yang kita sampaikan lebih mudah untuk mereka terima.2. Jujur dalam bertutur kata.Sifat jujur merupakan salah satu karakter mulia yang amat dianjurkan dalam Islam. Allah ta’ala berfiman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً“.Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”. QS. Al-Ahzab: 70.Masih banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam yang berisikan perintah serupa.Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.Ibnu Abbas bercerita, bahwa tatkala turun firman Allah,“وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“.Artinya: “Berilah peringatan (wahai Muhammad) kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. QS. Asy-Syu’ara: 214.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya lalu menaiki bukit Shafa dan berteriak memanggil, “Wahai kaumku kemarilah!”. Orang-orang Quraisy berkata, “Siapakah yang memanggil itu?”. “Muhammad”, jawab mereka. Mereka pun berduyun-duyun menuju bukit Shafa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Wahai bani Fulan, bani Fulan, bani Fulan, bani Abdi Manaf dan bani Abdil Mutthalib. Andaikan aku kabarkan bahwa dari kaki bukit ini akan keluar seekor kuda, apakah kalian mempercayaiku?”.Mereka menjawab, “Kami tidak pernah mendapatkanmu berdusta!”.“Sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan datangnya azab yang sangat pedih!” lanjut Rasul shallallahu’alaihiwasallam. HR. Bukhari (hal. 1082 no. 4971) dan Muslim (III/77 no. 507) dengan redaksi Muslim.Lihatlah bagaimana Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam menjadikan kejujurannya dalam bertutur kata sebagai dalil dan bukti akan kebenaran risalah yang disampaikannya.4Seorang muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata, berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita; dia akan disegani oleh mereka. Ucapannya berbobot dan omongannya didengar. Dan ini adalah modal yang amat berharga untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah merupakan suatu langkah awal yang menyiratkan keberhasilan dakwah. Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya, mudah menukil berita tanpa diklarifikasi terlebih dahulu, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal.Benarlah pepatah orang Jawa: “Ajining diri soko ing lathi” (Kehormatan diri dinilai dari lisan).3. Bertindak ramah terhadap orang miskin dan kaum lemah.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud (III/52 no. 2594), dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy5.Masih banyak hadits lain, juga ayat al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk berbuat baik, berlaku ramah dan membantu orang-orang lemah juga miskin. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah ditegur langsung Allah ta’ala tatkala suatu hari beliau bermuka masam dan berpaling dari seorang lemah yang datang kepada beliau; karena saat itu beliau sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Kejadian itu Allah abadikan dalam surat ‘Abasa. Namun setelah itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat memuliakan orang lemah tadi dan bahkan menunjuknya sebagai salah satu muadzin di kota Madinah. Orang tersebut adalah Abdullah Ibn Ummi Maktum radhiyallahu’anhu.Bersikap ramah dan care terhadap orang-orang lemah menguntungkan dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut. Adapun sisi pertama, keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul shallallahu’alaihiwasallam? Dia menjawab, “Orang-orang lemah dan kaum miskin”. Heraklius pun menimpali, “Begitulah kondisi pengikut para nabi di setiap masa”.6Ketika menafsirkan QS. Asy-Syu’ara: 111, Imam Abu Hayyân menjelaskan bahwa orang-orang lemah lebih banyak untuk menerima dakwah dibanding orang-orang yang terpandang. Sebab otak mereka tidak dipenuhi dengan keindahan-keindahan duniawi; sehingga mereka lebih mudah mengetahui al-haq dan menerimanya dibanding orang-orang terpandang.7Sedangkan keuntungan kedua, adalah dipandang dari sisi ketertarikan orang-orang yang menyaksikan praktek akhlak mulia tersebut, sampaipun yang menyaksikan tersebut adalah orang yang memiliki kedudukan dalam perihal harta maupun sosial. Masyarakat cenderung lebih respek kepada ulama atau da’i yang rendah hati serta akrab dengan orang-orang lemah dan papa dibanding mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan. Sebab masyarakat menganggap da’i tersebut cenderung lebih tulus. Adapun ulama yang hanya beramah-tamah dengan para pejabat dan konglomerat; masyarakat akan bertanya-tanya tentang motif kedekatan tersebut? Apakah karena mengharapkan harta duniawi atau apa?Keterangan ini sama sekali bukan untuk mengecilkan urgensi mendakwahi orang-orang yang memiliki kedudukan8, namun penulis hanya ingin mengajak para pembaca untuk membayangkan alangkah indahnya andaikan para da’i serta ulama menyeimbangkan antara kedekatannya dengan orang-orang terpandang dan kedekatannya dengan orang-orang lemah yang kekurangan. Tanpa ada tujuan lain melainkan untuk mengajak mereka semua ke jalan Allah ta’ala.Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah masuk Islamnya ‘Adiy bin Hâtim ath-Thâ’iy. Beliau adalah satu raja terpandang di negeri Arab. Ketika mendengar munculnya Rasul shallallahu’alaihiwasallam dan pengikutnya dari hari kehari semakin bertambah; membuncahlah dalam hatinya kebencian dan rasa cemburu akan adanya raja pesaing baru. Hingga datanglah suatu hari di mana Allah membuka hatinya untuk mendatangi Rasul shallallahu’alaihiwasallam.Begitu mendengar kedatangan ‘Adiy, Rasulullah shallallahu’alihiwasallam yang saat itu sedang berada di masjid beserta para sahabatnya pun bergegas menyambut kedatangannya dan menggandeng tangannya mengajak berkunjung ke rumah beliau. Di tengah perjalanan menuju ke rumah, ada seorang wanita lemah yang telah lanjut usia memanggil-manggil beliau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun berhenti dan meninggalkan ‘Adiy guna mendatangi wanita tersebut, beliau berdiri lama beserta dia melayani kebutuhannya. Manakala melihat ketawadhuan Nabi shallallahu’alaihiwasallam ‘Adiy bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah tipe seorang raja!”.Setelah selesai urusannya dengan wanita tua tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggamit tangan ‘Adiy melanjutkan perjalanan. Sesampai di rumah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mengambil satu-satunya bantal duduk yang terbalut kulit dan berisikan sabut pohon kurma, lalu mempersilahkan ‘Adiy untuk duduk di atasnya. ‘Adiy pun menjawab, “Tidak, duduklah engkau di atasnya”. “Tidak! Engkaulah yang duduk di atasnya” sahut Rasul shallallahu’alaihiwasallam”. Akhirnya ‘Adiy duduk di atas bantal tersebut dan Rasul shallallahu’alaihiwasallam duduk di atas tanah. Saat itu ‘Adiy kembali bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah karakter seorang raja!”.Lantas terjadi diskusi antara keduanya, hingga akhirnya ‘Adiy pun mengucapkan dua kalimat syahadat; menyatakan keislamannya.9Lihatlah bagaimana ‘Adiy begitu terkesan dengan kerendahan hati Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang dengan sabar melayani kebutuhan seorang wanita tua dan lemah di tengah-tengah perjalannya mendampingi seorang raja besar! Goresan keterkesanan yang terukir dalam hatinya, merupakan titik awal ketertarikan dia untuk masuk ke dalam agama Islam.Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah kisah nyata tentang salah seorang da’i muda Ahlus Sunnah di sebuah kota di tanah air. Dengan usianya yang masih sangat hijau, dalam waktu singkat, sebagai pemain baru di kotanya, berkat taufik dari Allah ta’ala, dia telah bisa mengambil hati banyak masyarakat di kota tersebut. Bahkan pernah pada suatu momen, ia diundang untuk mengisi suatu acara kemasyarakatan di sebuah komunitas yang sebenarnya di situ banyak tokoh-tokoh agama senior. Tatkala berusaha menghindar dengan alasan banyak kyai di situ, orang yang mengundang menjawab, “Kalau yang mengisi pengajian kyai A, sebagian masyarakat tidak mau datang, dan kalau yang diundang kyai B, yang mau datang juga hanya sebagian. Tapi kalau yang mengisi panjenengan, mereka semua mau datang!”. Ketika penulis cermati, ternyata salah satu rahasia kecintaan masyarakat terhadap da’i tersebut: keramahannya kepada siapapun, apalagi terhadap orang-orang ‘kecil’. Dia menyapa tukang parkir, tukang sapu, orang tidak punya, bersalaman dengan mereka dan tidak segan-segan untuk bertanya tentang keadaan keluarga mereka dan anak-anaknya!Badruddin Ibn Jama’ah (w. 723 H) menyebutkan bahwa di antara akhlak ulama, “Bermu’amalah dengan para manusia dengan akhlak mulia, seperti bermuka manis, menebar salam … berlemah lembut dengan kaum fakir, memperlihatkan kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat …”.104. Santun dalam menyampaikan nasehat, sambil memperhatikan kondisi psikologis orang yang dinasehati.Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ““Ucapan yang baik adalah shadaqah”. HR. Bukhari (hal. 606 no. 2989) dan Muslim (VII/96 no. 2332).Memilih kata-kata yang baik juga memperhatikan psikologis seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah seseorang. Penulis pernah diceritai saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menukas, “Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!”. Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam.Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita ‘menabrak’ langsung lawan bicara kita. Apakah itu justru tidak mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, “Ya, memang pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan mental masyarakat; sehingga timbul keseimbangan antara dua sisi tersebut”.Kita bisa mengambil suri tauladan dari metode Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati para sahabatnya.عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا“، فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا: “مَهْ مَهْ“. فَقَالَ: “ادْنُهْ“، فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا، قَالَ فَجَلَسَ، قَالَ: “أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟“. قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ“. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ“. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ” قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ” فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.Abu Umamah bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.Lalu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. HR. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.11Cermatilah bagaimana Nabi shallallahu’alaihiwasallam tidak langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk berpikir sambil beliau juga memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya? Memang jalan dakwah itu panjang dan membutuhkan kesabaran.Tidak ada salahnya kita kembali memutar rekaman perjalanan hidup kita dahulu sebelum mengenal dakwah salaf dan proses perkenalan kita dengan manhaj yang penuh dengan berkah ini. Apakah dulu serta merta sekali diomongi, kita langsung meninggalkan keyakinan yang telah berpuluh tahun kita anut? Atau melalui proses panjang yang penuh dengan lika-liku?Dengan merenungi masa lalu kelam sebelum mendapat hidayah, dan bahwasanya kita memperolehnya secara bertahap; kita akan terdorong untuk mendakwahi orang lain juga dengan hikmah, nasehat yang bijak, serta secara bertahap. Demikian keterangan yang disampaikan Syaikh as-Sa’dy ketika beliau menafsirkan firman Allah,“كَذَلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللّهُ عَلَيْكُمْ“.Artinya: “Begitu pulalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah melimpahkan nikmat-Nya pada kalian”. QS. An-Nisa: 94.12Tidaklah mudah mengajak seseorang meninggalkan ideologi lamanya untuk menganut sebuah ideologi baru. Pertama kali buatlah ia ragu akan ideologi lamanya, lalu secara bertahap kita jelaskan keunggulan ideologi baru yang akan kita tawarkan padanya. Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ideologi lama akan ditinggalkannya, kemudian beralih ke ideologi yang baru.5. Bersifat pemaaf terhadap orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan.Allah ta’ala berfirman,“خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“.Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan pedulikan orang-orang jahil”. QS. Al-A’raf: 199.Adapun potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasul shallallahu’alaihiwasallam amatlah banyak, baik dengan sesama muslim, maupun dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin. Di antara contoh jenis pertama, apa yang dikisahkan Anas bin Malik,“كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ: “مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ!” فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ“.“Suatu hari aku berjalan bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan saat itu beliau berpakaian kain buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan dia. Sembari berkata, “Berilah aku sebagian dari harta yang Allah berikan padamu!”. Beliaupun menengok kepadanya sembari tersenyum lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta”. HR. Bukhari (hal. 642 no. 3149) dan Muslim (VII/147 no. 2426).Contoh jenis kedua antara lain: apa yang dikisahkan Aisyah radhiyallahu’anha,“أَنَّهَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ فَقَالَ: “لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ؛ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ: “إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رُدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ“. قَالَ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ: “يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ” فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“.“Suatu hari aku bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Wahai Rasululllah, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih berat dibanding hari peperangan Uhud?”.Beliau menjawab, “Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat itu aku menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia enggan menerimaku. Akupun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak tersadar melainkan tatkala sampai di Qarn ats-Tsa’âlib. Aku pun mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada sebuah awan yang menaungiku. Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allah telah mengirimkan untukmu malaikat gunung13, supaya engkau memerintahkannya melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu”. Malaikat gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, “Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menjawab, “Justru aku berharap, semoga Allah berkenan menjadikan keturunan mereka generasi yang mau beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun”. HR. Muslim (XII/365 no. 4629).Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri. Apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan ada tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin bisa berupa serangan fisik, dari musuh-musuh dakwah. Ketika seorang da’i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran, tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan kebaikan; insyaAllah dengan berjalannya waktu, hati para ‘lawan’ dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah haq dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhan-tuduhan miring. 14Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktek sifat mulia ini. Penulis bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang telah tersohor kekokohannya dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam meluruskan penyimpangan sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah mencegat Ibn Taimiyah lalu mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi. Tatkala kabar itu sampai ke telinga murid-murid dan para pendukung beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, untuk minta izin guna membalas dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.Namun Ibn Taimiyah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu”. “Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”, tukas mereka. Ibn Taimiyah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak untuk balas dendam itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allah. Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku maka aku telah memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian tidak mau mendengar nasehatku dan fatwaku maka berbuatlah semau kalian! Andaikan hak itu adalah milik Allah, maka Dia yang akan membalas jika Dia berkehendak!”. 15Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid’ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah. Di antara penguasa yang mencintai dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah Sultan Muhammad Qalawun. Di suatu tahun Sultan Qalawun pergi berhaji ke baitullah. Selama dia melakukan ibadah haji pemerintahan diserahkan kepada salah seorang wakilnya: Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang kebetulan dia adalah murid salah satu tokoh sufi abad itu: Nashr al-Manbajy, dan al-Manbajy ini amat benci sekali terhadap Ibnu Taimiyah.Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera menyusun makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati Ibnu Taimiyah. Namun sebelum makar mereka berhasil, Sultan Qalawun keburu kembali dari haji.Tatkala mendengar berita akan makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para pelaku makar tersebut. Tatkala mendengar berita itu, Ibn Taimiyah bergegas datang ke Sultan Qalawun dan berkata, “Adapun saya maka telah memaafkan mereka semua”. Akhirnya Sultan pun memaafkan mereka.Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibn Taimiyah: Zainuddin bin Makhluf pun berkata, “Tidak pernah kita mendapatkan orang setakwa Ibn Taimiyah! Setiap ada kesempatan untuk mencelakakannya kami berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun tatkala dia memiliki kesempatan untuk membalas, malah dia memaafkan kami!”.16Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan; berkat taufiq dari Allah dan ketulusan hati para da’i. 6. Menahan diri dari meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.Sifat ini lebih dikenal para ulama dengan istilah ‘iffah atau ‘afâf. Ini merupakan salah satu karakter para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana Allah ceritakan dalam al-Qur’an,“يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً “.Artinya: “(Orang lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya; karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada orang lain”. (QS. Al-Baqarah: 273).Tidak heran andaikan mereka memiliki karakter mulia tersebut; sebab mereka melihat langsung Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sendiri mempraktekkannya dan senantiasa memotivasi mereka untuk mempraktekkannya juga. Di antara nasehat yang beliau sampaikan: sabdanya,“مَنْ يَسْتَعِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ“.“Barang siapa menjaga kehormatan dirinya (dengan tidak meminta-minta kepada manusia dan berambisi untuk memperoleh apa yang ada di tangan mereka) niscaya Allah akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Dan barang siapa merasa diri berkecukupan; niscaya Allah akan mencukupinya”. HR. Bukhari (hal. 283 no. 1427) dan Muslim (VII/145 no. 2421) dari Hakîm bin Hizâm.Karakter pertama merupakan jalan pengantar menuju karakter kedua. Sebab barang siapa menjaga kehormatannya untuk tidak berambisi terhadap apa yang dimiliki orang lain; ia akan memperkuat ketergantungannya pada Allah, berharap dan berambisi terhadap karunia dan kebaikan Allah.17Lantas apa korelasi antara bersifat ‘iffah dengan keberhasilan dakwah? Sekurang-kurangnya bisa ditinjau dari dua sisi:Pertama: Orang yang menjaga diri dari meminta apa yang dimiliki orang lain, juga tidak silau dengan apa yang dimiliki orang lain; akan dicintai mereka. Sebab secara tabiat manusia tidak menyukai orang lain yang meminta-minta apa yang dimilikinya. Hal itu telah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam isyaratkan dalam nasehatnya untuk seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan padaku suatu amalan yang jika kukerjakan; aku akan disayang Allah dan dicintai manusia!”. Beliaupun menjawab,“ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“.“Bersifat zuhudlah di dunia; niscaya engkau akan disayang Allah. Dan bersikap zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia; niscaya mereka mencintaimu”. HR. Ibn Majah (IV/163 no. 4177) dari Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy dan sanadnya dinilai hasan oleh Imam an-Nawawy18.Jika seorang da’i telah dicintai masyarakat, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya.Kedua: Orang yang memiliki sifat ‘afâf, ketika ia berdakwah, masyarakat akan menilai bahwa dakwahnya tersebut ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan duniawi dari mereka. Saat mereka merasakan ketulusan niat da’i tersebut; jelas -dengan izin Allah- mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya. Allah ta’ala berfirman,“اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ“.Artinya: “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. Yasin: 21.Kiat menumbuhkan sifat ‘afâfSifat mulia ini memang cukup berat untuk ditumbuhkan dalam jiwa. Namun di sana ada kiat yang membantu kita untuk menumbuhkan karakter mulia dalam diri kita. Yaitu dengan melatih diri bersifat qona’ah yang berarti: menerima dan rela dengan berapapun yang diberikan Allah ta’ala. Sebab sebenarnya sifat ‘afaf sendiri merupakan buah dari sifat qona’ah. 19Jika ada yang bertanya bagaimana cara membangun pribadi yang qona’ah? Jawabannya: dengan melatih diri menyadari seyakin-yakinnya bahwa rizki hanyalah di tangan Allah dan yang kita dapatkan telah dicatat Allah ta’ala, serta tidak mungkin melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.Catatan penting20Ada tiga catatan penting di akhir makalah ini: Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita ‘melarutkan’ diri dalam ritual-ritual bid’ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia! Kita bisa bermasyarakat tanpa harus larut mengikuti yasinan21, tahlilan22, maulidan atau acara-acara bid’ah lainnya. Caranya? Kita berusaha untuk berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syariat, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang memasak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid’ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang ‘tidak ada tawar-menawar’ di dalamnya.Kedua: Sebagian pihak ‘mengolok-olok’ beberapa da’i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhlak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid’ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat namun mengabaikan pembenahan akidah.Jawabannya:Barangkali pihak yang gemar ‘mengolok-olok’ itu lupa bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja. Namun, dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah , di mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak. Imam Bisyr al-Hâfî rahimahullâh berkata, “Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah”23.Syaikh Dr. Ibrâhîm bin ‘Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâh menjelaskan, “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan akidah maupun akhlak. Termasuk pemahaman yang keliru: prasangka bahwa sunni atau salafi adalah orang yang merealisasikan akidah Ahlus Sunnah saja tanpa memperhatikan sisi akhlak dan adab Islam, serta penunaian hak-hak kaum muslimin”24.Seandainya ada sebagian ahlul bid’ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syariat Islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak islami, dia cenderung ‘menjauhi’ mereka dan memilih ‘bergabung’ dengan kelompok-kelompok ahlul bid’ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu. Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan ‘merenovasi’ akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!PenutupSebenarnya masih banyak contoh-contoh lain penerapan akhlak mulia yang akan membuahkan dampak positif bagi keberhasilan dakwah. Seperti bersifat amanah dalam segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis, yang amat disayangkan mulai luntur, bahkan sampai di kalangan mereka yang sudah ngaji. Sehingga muncullah istilah “Bisnis afwan akhi!” 25, yang intinya adalah berbisnis tanpa mengindahkan etika-etikanya. Dan contoh-contoh lainnya yang dipandang perlu untuk disinggung. Namun karena keterbatasan waktulah, yang memaksa penulis untuk mencukupkan makalah ini sampai di sini. Semoga Allah berkenan mengaruniakan kelonggaran waktu di lain kesempatan, sehingga contoh-contoh lainnya tersebut bisa dikupas, amien.Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq… Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in… Post navigationNext Tafsir Surat An-nas ayat 1 Related Posts Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Wakaf ProyektorUncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam.Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyataBeberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena kereseannya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah.Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktekkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula.Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya…Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya?Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu’alahiwasallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, dimana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan.Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan.Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.Perintah untuk berakhlak muliaSebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam,“وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ“.Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. QS. Al-Qalam: 4.Juga sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ“.“Berakhlak mulia lah dengan para manusia”. HR. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih.Apa itu akhlak mulia?Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى“.“Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti”.1Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:1 Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala’ al-A’lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû’ Rasâ’il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319).Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan?Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?”.“Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jama’ah.Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktek, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran.1Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktek nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas. 2Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktekkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.Akhlak mulia dan dampak positifnya dalam dakwahDi atas telah dijelaskan bahwa definisi akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, mengindari sesuatu yang menyakitinya serta menahan diri ketika disakiti. Berdasarkan definisi ini berarti cakupan akhlak mulia sangatlah luas, dan tidak mungkin semua cakupannya dipaparkan satu persatu dalam makalah singkat ini. Karena itulah penulis hanya akan membawa beberapa contoh saja, semoga yang sedikit ini bisa mendatangkan berkah dan para pembaca bisa menganalogikannya kepada contoh-contoh yang lain.1. Gemar membantu orang lain.Banyak nas dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memotivasi kita untuk mempraktekkan karakter mulia ini. Di antaranya: sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ““Allah akan membantu seorang hamba; jika ia membantu saudaranya”. HR. Muslim (XVII/24 no. 6793) dari Abu Hurairah.Karakter gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadijah tatkala beliau menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,“كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ“.“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah”. HR. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401).Maksud perkataan Khadijah di atas adalah: “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai; karena Allah telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia dan karakter utama. Lalu Khadijah menyebutkan berbagai contohnya”,3 yang di antaranya adalah: gemar membantu orang lain.Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah kita. Sebab tatkala seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, lantas ada orang yang membantunya, jelas susah bagi dia untuk melupakan kebaikan tersebut. Dia akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita. Sebagai salah satu bentuk ‘kompensasi’ dia atas kebaikan kita padanya.Karena itu, seyogyanya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia; kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan piutang; kita berusaha memberikan hutangan pada orang tersebut. Begitu seterusnya.Jika hal ini rajin kita terapkan; lambat laun akan terbangun jembatan yang mengantarkan kita untuk masuk ke dalam hati orang-orang yang pernah kita bantu. Sehingga dakwah yang kita sampaikan lebih mudah untuk mereka terima.2. Jujur dalam bertutur kata.Sifat jujur merupakan salah satu karakter mulia yang amat dianjurkan dalam Islam. Allah ta’ala berfiman,“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً“.Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”. QS. Al-Ahzab: 70.Masih banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam yang berisikan perintah serupa.Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.Ibnu Abbas bercerita, bahwa tatkala turun firman Allah,“وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ“.Artinya: “Berilah peringatan (wahai Muhammad) kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. QS. Asy-Syu’ara: 214.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam keluar dari rumahnya lalu menaiki bukit Shafa dan berteriak memanggil, “Wahai kaumku kemarilah!”. Orang-orang Quraisy berkata, “Siapakah yang memanggil itu?”. “Muhammad”, jawab mereka. Mereka pun berduyun-duyun menuju bukit Shafa.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Wahai bani Fulan, bani Fulan, bani Fulan, bani Abdi Manaf dan bani Abdil Mutthalib. Andaikan aku kabarkan bahwa dari kaki bukit ini akan keluar seekor kuda, apakah kalian mempercayaiku?”.Mereka menjawab, “Kami tidak pernah mendapatkanmu berdusta!”.“Sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan datangnya azab yang sangat pedih!” lanjut Rasul shallallahu’alaihiwasallam. HR. Bukhari (hal. 1082 no. 4971) dan Muslim (III/77 no. 507) dengan redaksi Muslim.Lihatlah bagaimana Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam menjadikan kejujurannya dalam bertutur kata sebagai dalil dan bukti akan kebenaran risalah yang disampaikannya.4Seorang muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata, berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita; dia akan disegani oleh mereka. Ucapannya berbobot dan omongannya didengar. Dan ini adalah modal yang amat berharga untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah merupakan suatu langkah awal yang menyiratkan keberhasilan dakwah. Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya, mudah menukil berita tanpa diklarifikasi terlebih dahulu, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal.Benarlah pepatah orang Jawa: “Ajining diri soko ing lathi” (Kehormatan diri dinilai dari lisan).3. Bertindak ramah terhadap orang miskin dan kaum lemah.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud (III/52 no. 2594), dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy5.Masih banyak hadits lain, juga ayat al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk berbuat baik, berlaku ramah dan membantu orang-orang lemah juga miskin. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah ditegur langsung Allah ta’ala tatkala suatu hari beliau bermuka masam dan berpaling dari seorang lemah yang datang kepada beliau; karena saat itu beliau sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Kejadian itu Allah abadikan dalam surat ‘Abasa. Namun setelah itu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam amat memuliakan orang lemah tadi dan bahkan menunjuknya sebagai salah satu muadzin di kota Madinah. Orang tersebut adalah Abdullah Ibn Ummi Maktum radhiyallahu’anhu.Bersikap ramah dan care terhadap orang-orang lemah menguntungkan dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut. Adapun sisi pertama, keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul shallallahu’alaihiwasallam? Dia menjawab, “Orang-orang lemah dan kaum miskin”. Heraklius pun menimpali, “Begitulah kondisi pengikut para nabi di setiap masa”.6Ketika menafsirkan QS. Asy-Syu’ara: 111, Imam Abu Hayyân menjelaskan bahwa orang-orang lemah lebih banyak untuk menerima dakwah dibanding orang-orang yang terpandang. Sebab otak mereka tidak dipenuhi dengan keindahan-keindahan duniawi; sehingga mereka lebih mudah mengetahui al-haq dan menerimanya dibanding orang-orang terpandang.7Sedangkan keuntungan kedua, adalah dipandang dari sisi ketertarikan orang-orang yang menyaksikan praktek akhlak mulia tersebut, sampaipun yang menyaksikan tersebut adalah orang yang memiliki kedudukan dalam perihal harta maupun sosial. Masyarakat cenderung lebih respek kepada ulama atau da’i yang rendah hati serta akrab dengan orang-orang lemah dan papa dibanding mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan. Sebab masyarakat menganggap da’i tersebut cenderung lebih tulus. Adapun ulama yang hanya beramah-tamah dengan para pejabat dan konglomerat; masyarakat akan bertanya-tanya tentang motif kedekatan tersebut? Apakah karena mengharapkan harta duniawi atau apa?Keterangan ini sama sekali bukan untuk mengecilkan urgensi mendakwahi orang-orang yang memiliki kedudukan8, namun penulis hanya ingin mengajak para pembaca untuk membayangkan alangkah indahnya andaikan para da’i serta ulama menyeimbangkan antara kedekatannya dengan orang-orang terpandang dan kedekatannya dengan orang-orang lemah yang kekurangan. Tanpa ada tujuan lain melainkan untuk mengajak mereka semua ke jalan Allah ta’ala.Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah masuk Islamnya ‘Adiy bin Hâtim ath-Thâ’iy. Beliau adalah satu raja terpandang di negeri Arab. Ketika mendengar munculnya Rasul shallallahu’alaihiwasallam dan pengikutnya dari hari kehari semakin bertambah; membuncahlah dalam hatinya kebencian dan rasa cemburu akan adanya raja pesaing baru. Hingga datanglah suatu hari di mana Allah membuka hatinya untuk mendatangi Rasul shallallahu’alaihiwasallam.Begitu mendengar kedatangan ‘Adiy, Rasulullah shallallahu’alihiwasallam yang saat itu sedang berada di masjid beserta para sahabatnya pun bergegas menyambut kedatangannya dan menggandeng tangannya mengajak berkunjung ke rumah beliau. Di tengah perjalanan menuju ke rumah, ada seorang wanita lemah yang telah lanjut usia memanggil-manggil beliau. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun berhenti dan meninggalkan ‘Adiy guna mendatangi wanita tersebut, beliau berdiri lama beserta dia melayani kebutuhannya. Manakala melihat ketawadhuan Nabi shallallahu’alaihiwasallam ‘Adiy bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah tipe seorang raja!”.Setelah selesai urusannya dengan wanita tua tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggamit tangan ‘Adiy melanjutkan perjalanan. Sesampai di rumah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mengambil satu-satunya bantal duduk yang terbalut kulit dan berisikan sabut pohon kurma, lalu mempersilahkan ‘Adiy untuk duduk di atasnya. ‘Adiy pun menjawab, “Tidak, duduklah engkau di atasnya”. “Tidak! Engkaulah yang duduk di atasnya” sahut Rasul shallallahu’alaihiwasallam”. Akhirnya ‘Adiy duduk di atas bantal tersebut dan Rasul shallallahu’alaihiwasallam duduk di atas tanah. Saat itu ‘Adiy kembali bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, ini bukanlah karakter seorang raja!”.Lantas terjadi diskusi antara keduanya, hingga akhirnya ‘Adiy pun mengucapkan dua kalimat syahadat; menyatakan keislamannya.9Lihatlah bagaimana ‘Adiy begitu terkesan dengan kerendahan hati Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang dengan sabar melayani kebutuhan seorang wanita tua dan lemah di tengah-tengah perjalannya mendampingi seorang raja besar! Goresan keterkesanan yang terukir dalam hatinya, merupakan titik awal ketertarikan dia untuk masuk ke dalam agama Islam.Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah kisah nyata tentang salah seorang da’i muda Ahlus Sunnah di sebuah kota di tanah air. Dengan usianya yang masih sangat hijau, dalam waktu singkat, sebagai pemain baru di kotanya, berkat taufik dari Allah ta’ala, dia telah bisa mengambil hati banyak masyarakat di kota tersebut. Bahkan pernah pada suatu momen, ia diundang untuk mengisi suatu acara kemasyarakatan di sebuah komunitas yang sebenarnya di situ banyak tokoh-tokoh agama senior. Tatkala berusaha menghindar dengan alasan banyak kyai di situ, orang yang mengundang menjawab, “Kalau yang mengisi pengajian kyai A, sebagian masyarakat tidak mau datang, dan kalau yang diundang kyai B, yang mau datang juga hanya sebagian. Tapi kalau yang mengisi panjenengan, mereka semua mau datang!”. Ketika penulis cermati, ternyata salah satu rahasia kecintaan masyarakat terhadap da’i tersebut: keramahannya kepada siapapun, apalagi terhadap orang-orang ‘kecil’. Dia menyapa tukang parkir, tukang sapu, orang tidak punya, bersalaman dengan mereka dan tidak segan-segan untuk bertanya tentang keadaan keluarga mereka dan anak-anaknya!Badruddin Ibn Jama’ah (w. 723 H) menyebutkan bahwa di antara akhlak ulama, “Bermu’amalah dengan para manusia dengan akhlak mulia, seperti bermuka manis, menebar salam … berlemah lembut dengan kaum fakir, memperlihatkan kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat …”.104. Santun dalam menyampaikan nasehat, sambil memperhatikan kondisi psikologis orang yang dinasehati.Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ““Ucapan yang baik adalah shadaqah”. HR. Bukhari (hal. 606 no. 2989) dan Muslim (VII/96 no. 2332).Memilih kata-kata yang baik juga memperhatikan psikologis seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah seseorang. Penulis pernah diceritai saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menukas, “Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!”. Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam.Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita ‘menabrak’ langsung lawan bicara kita. Apakah itu justru tidak mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, “Ya, memang pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan mental masyarakat; sehingga timbul keseimbangan antara dua sisi tersebut”.Kita bisa mengambil suri tauladan dari metode Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam menasehati para sahabatnya.عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا“، فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا: “مَهْ مَهْ“. فَقَالَ: “ادْنُهْ“، فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا، قَالَ فَجَلَسَ، قَالَ: “أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟“. قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ“. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ“. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ” قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟” قَالَ: “لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ” قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ” قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ” فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.Abu Umamah bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.Nabi shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.“Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?”.“Tidak demi Allah wahai Rasul!”.“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.Lalu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. HR. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.11Cermatilah bagaimana Nabi shallallahu’alaihiwasallam tidak langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk berpikir sambil beliau juga memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya? Memang jalan dakwah itu panjang dan membutuhkan kesabaran.Tidak ada salahnya kita kembali memutar rekaman perjalanan hidup kita dahulu sebelum mengenal dakwah salaf dan proses perkenalan kita dengan manhaj yang penuh dengan berkah ini. Apakah dulu serta merta sekali diomongi, kita langsung meninggalkan keyakinan yang telah berpuluh tahun kita anut? Atau melalui proses panjang yang penuh dengan lika-liku?Dengan merenungi masa lalu kelam sebelum mendapat hidayah, dan bahwasanya kita memperolehnya secara bertahap; kita akan terdorong untuk mendakwahi orang lain juga dengan hikmah, nasehat yang bijak, serta secara bertahap. Demikian keterangan yang disampaikan Syaikh as-Sa’dy ketika beliau menafsirkan firman Allah,“كَذَلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللّهُ عَلَيْكُمْ“.Artinya: “Begitu pulalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah melimpahkan nikmat-Nya pada kalian”. QS. An-Nisa: 94.12Tidaklah mudah mengajak seseorang meninggalkan ideologi lamanya untuk menganut sebuah ideologi baru. Pertama kali buatlah ia ragu akan ideologi lamanya, lalu secara bertahap kita jelaskan keunggulan ideologi baru yang akan kita tawarkan padanya. Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ideologi lama akan ditinggalkannya, kemudian beralih ke ideologi yang baru.5. Bersifat pemaaf terhadap orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan.Allah ta’ala berfirman,“خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“.Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan pedulikan orang-orang jahil”. QS. Al-A’raf: 199.Adapun potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasul shallallahu’alaihiwasallam amatlah banyak, baik dengan sesama muslim, maupun dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin. Di antara contoh jenis pertama, apa yang dikisahkan Anas bin Malik,“كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ: “مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ!” فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ“.“Suatu hari aku berjalan bersama Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan saat itu beliau berpakaian kain buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan dia. Sembari berkata, “Berilah aku sebagian dari harta yang Allah berikan padamu!”. Beliaupun menengok kepadanya sembari tersenyum lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta”. HR. Bukhari (hal. 642 no. 3149) dan Muslim (VII/147 no. 2426).Contoh jenis kedua antara lain: apa yang dikisahkan Aisyah radhiyallahu’anha,“أَنَّهَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ فَقَالَ: “لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ؛ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ: “إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رُدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ“. قَالَ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ: “يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ” فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا“.“Suatu hari aku bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Wahai Rasululllah, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih berat dibanding hari peperangan Uhud?”.Beliau menjawab, “Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat itu aku menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia enggan menerimaku. Akupun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak tersadar melainkan tatkala sampai di Qarn ats-Tsa’âlib. Aku pun mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada sebuah awan yang menaungiku. Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allah telah mengirimkan untukmu malaikat gunung13, supaya engkau memerintahkannya melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu”. Malaikat gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, “Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!”. Nabi shallallahu’alaihiwasallam pun menjawab, “Justru aku berharap, semoga Allah berkenan menjadikan keturunan mereka generasi yang mau beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun”. HR. Muslim (XII/365 no. 4629).Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri. Apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan ada tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin bisa berupa serangan fisik, dari musuh-musuh dakwah. Ketika seorang da’i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran, tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan kebaikan; insyaAllah dengan berjalannya waktu, hati para ‘lawan’ dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah haq dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhan-tuduhan miring. 14Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktek sifat mulia ini. Penulis bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang telah tersohor kekokohannya dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam meluruskan penyimpangan sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah mencegat Ibn Taimiyah lalu mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi. Tatkala kabar itu sampai ke telinga murid-murid dan para pendukung beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, untuk minta izin guna membalas dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.Namun Ibn Taimiyah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu”. “Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”, tukas mereka. Ibn Taimiyah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak untuk balas dendam itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allah. Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku maka aku telah memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian tidak mau mendengar nasehatku dan fatwaku maka berbuatlah semau kalian! Andaikan hak itu adalah milik Allah, maka Dia yang akan membalas jika Dia berkehendak!”. 15Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid’ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah. Di antara penguasa yang mencintai dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah Sultan Muhammad Qalawun. Di suatu tahun Sultan Qalawun pergi berhaji ke baitullah. Selama dia melakukan ibadah haji pemerintahan diserahkan kepada salah seorang wakilnya: Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang kebetulan dia adalah murid salah satu tokoh sufi abad itu: Nashr al-Manbajy, dan al-Manbajy ini amat benci sekali terhadap Ibnu Taimiyah.Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera menyusun makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati Ibnu Taimiyah. Namun sebelum makar mereka berhasil, Sultan Qalawun keburu kembali dari haji.Tatkala mendengar berita akan makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para pelaku makar tersebut. Tatkala mendengar berita itu, Ibn Taimiyah bergegas datang ke Sultan Qalawun dan berkata, “Adapun saya maka telah memaafkan mereka semua”. Akhirnya Sultan pun memaafkan mereka.Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibn Taimiyah: Zainuddin bin Makhluf pun berkata, “Tidak pernah kita mendapatkan orang setakwa Ibn Taimiyah! Setiap ada kesempatan untuk mencelakakannya kami berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun tatkala dia memiliki kesempatan untuk membalas, malah dia memaafkan kami!”.16Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan; berkat taufiq dari Allah dan ketulusan hati para da’i. 6. Menahan diri dari meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.Sifat ini lebih dikenal para ulama dengan istilah ‘iffah atau ‘afâf. Ini merupakan salah satu karakter para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana Allah ceritakan dalam al-Qur’an,“يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً “.Artinya: “(Orang lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya; karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada orang lain”. (QS. Al-Baqarah: 273).Tidak heran andaikan mereka memiliki karakter mulia tersebut; sebab mereka melihat langsung Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sendiri mempraktekkannya dan senantiasa memotivasi mereka untuk mempraktekkannya juga. Di antara nasehat yang beliau sampaikan: sabdanya,“مَنْ يَسْتَعِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ“.“Barang siapa menjaga kehormatan dirinya (dengan tidak meminta-minta kepada manusia dan berambisi untuk memperoleh apa yang ada di tangan mereka) niscaya Allah akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Dan barang siapa merasa diri berkecukupan; niscaya Allah akan mencukupinya”. HR. Bukhari (hal. 283 no. 1427) dan Muslim (VII/145 no. 2421) dari Hakîm bin Hizâm.Karakter pertama merupakan jalan pengantar menuju karakter kedua. Sebab barang siapa menjaga kehormatannya untuk tidak berambisi terhadap apa yang dimiliki orang lain; ia akan memperkuat ketergantungannya pada Allah, berharap dan berambisi terhadap karunia dan kebaikan Allah.17Lantas apa korelasi antara bersifat ‘iffah dengan keberhasilan dakwah? Sekurang-kurangnya bisa ditinjau dari dua sisi:Pertama: Orang yang menjaga diri dari meminta apa yang dimiliki orang lain, juga tidak silau dengan apa yang dimiliki orang lain; akan dicintai mereka. Sebab secara tabiat manusia tidak menyukai orang lain yang meminta-minta apa yang dimilikinya. Hal itu telah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam isyaratkan dalam nasehatnya untuk seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan padaku suatu amalan yang jika kukerjakan; aku akan disayang Allah dan dicintai manusia!”. Beliaupun menjawab,“ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ“.“Bersifat zuhudlah di dunia; niscaya engkau akan disayang Allah. Dan bersikap zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia; niscaya mereka mencintaimu”. HR. Ibn Majah (IV/163 no. 4177) dari Sahl bin Sa’d as-Sâ’idy dan sanadnya dinilai hasan oleh Imam an-Nawawy18.Jika seorang da’i telah dicintai masyarakat, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya.Kedua: Orang yang memiliki sifat ‘afâf, ketika ia berdakwah, masyarakat akan menilai bahwa dakwahnya tersebut ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan duniawi dari mereka. Saat mereka merasakan ketulusan niat da’i tersebut; jelas -dengan izin Allah- mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya. Allah ta’ala berfirman,“اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ“.Artinya: “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. QS. Yasin: 21.Kiat menumbuhkan sifat ‘afâfSifat mulia ini memang cukup berat untuk ditumbuhkan dalam jiwa. Namun di sana ada kiat yang membantu kita untuk menumbuhkan karakter mulia dalam diri kita. Yaitu dengan melatih diri bersifat qona’ah yang berarti: menerima dan rela dengan berapapun yang diberikan Allah ta’ala. Sebab sebenarnya sifat ‘afaf sendiri merupakan buah dari sifat qona’ah. 19Jika ada yang bertanya bagaimana cara membangun pribadi yang qona’ah? Jawabannya: dengan melatih diri menyadari seyakin-yakinnya bahwa rizki hanyalah di tangan Allah dan yang kita dapatkan telah dicatat Allah ta’ala, serta tidak mungkin melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.Catatan penting20Ada tiga catatan penting di akhir makalah ini: Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita ‘melarutkan’ diri dalam ritual-ritual bid’ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia! Kita bisa bermasyarakat tanpa harus larut mengikuti yasinan21, tahlilan22, maulidan atau acara-acara bid’ah lainnya. Caranya? Kita berusaha untuk berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syariat, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang memasak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain sebagainya.Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita dalam ritual-ritual bid’ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang ‘tidak ada tawar-menawar’ di dalamnya.Kedua: Sebagian pihak ‘mengolok-olok’ beberapa da’i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhlak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid’ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat namun mengabaikan pembenahan akidah.Jawabannya:Barangkali pihak yang gemar ‘mengolok-olok’ itu lupa bahwa dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang benar saja. Namun, dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah , di mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak. Imam Bisyr al-Hâfî rahimahullâh berkata, “Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah”23.Syaikh Dr. Ibrâhîm bin ‘Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâh menjelaskan, “Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan akidah maupun akhlak. Termasuk pemahaman yang keliru: prasangka bahwa sunni atau salafi adalah orang yang merealisasikan akidah Ahlus Sunnah saja tanpa memperhatikan sisi akhlak dan adab Islam, serta penunaian hak-hak kaum muslimin”24.Seandainya ada sebagian ahlul bid’ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi syariat Islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih terkenal dalam penerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak islami, dia cenderung ‘menjauhi’ mereka dan memilih ‘bergabung’ dengan kelompok-kelompok ahlul bid’ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu. Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha membenahi diri dengan ‘merenovasi’ akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!PenutupSebenarnya masih banyak contoh-contoh lain penerapan akhlak mulia yang akan membuahkan dampak positif bagi keberhasilan dakwah. Seperti bersifat amanah dalam segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis, yang amat disayangkan mulai luntur, bahkan sampai di kalangan mereka yang sudah ngaji. Sehingga muncullah istilah “Bisnis afwan akhi!” 25, yang intinya adalah berbisnis tanpa mengindahkan etika-etikanya. Dan contoh-contoh lainnya yang dipandang perlu untuk disinggung. Namun karena keterbatasan waktulah, yang memaksa penulis untuk mencukupkan makalah ini sampai di sini. Semoga Allah berkenan mengaruniakan kelonggaran waktu di lain kesempatan, sehingga contoh-contoh lainnya tersebut bisa dikupas, amien.Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq… Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in… Post navigationNext Tafsir Surat An-nas ayat 1 Related Posts Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Wakaf ProyektorUncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Wakaf Proyektor

Seorang da’i tertuntut untuk mahir berbahasa Arab, pasif maupun aktif. Untuk mencapai target tersebut, selain dengan mempelajari teori, praktek juga mutlak dibutuhkan. Akan lebih sempurna jika praktek tersebut dilakukan dengan fasilitas native speaker (orang Arab asli). Namun, realitanya hal itu terkendala dengan pembiayaan yang lumayan besar dan birokrasi mendatangkan mereka yang cukup rumit.Karena itu Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, dengan Program Pengkaderan Da’inya, berusaha menyiasati hal tersebut dengan mengadakan bidang studi “Mar’iyyah”. Pada jam pelajaran tersebut para santri diajak nonton video ceramah agama berbahasa Arab yang disampaikan oleh para Ulama Arab. Di bawah panduan seorang ustadz, mereka dituntut dan dibiasakan untuk memahami kandungan ceramah dan mencatatnya. Sehingga pendengaran, penglihatan dan tangan semuanya diajak untuk bersinergi dalam satu waktu, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab mereka.Karena Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” masih dalam tahap rintisan, sehingga amat terbatas dalam segala sesuatunya, termasuk pendanaan. Maka dengan ini kami mengajak kaum muslimin/muslimat untuk turut bersumbangsih dalam proyek pengkaderan da’i handal. Dengan jalan wakaf sarana bidang studi “Mar’iyyah” tersebut di atas, yakni proyektor.Berhubung kelak intensitas penggunaannya yang cukup tinggi, maka diharapkan spesifikasi proyektornya pun yang unggul. Agar umurnya lebih lama, sehingga pahala yang mengalir kepada pewakif pun juga akan lebih banyak insyaAllah. Minimal proyektor tersebut berspesifikasi XGA resolusi 1024 x 768, lengkap dengan layarnya.Wakaf dalam bentuk barang bisa dikirimkan ke alamat: Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02 Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia.Adapun wakaf dalam bentuk dana bisa ditransfer melalui Rek BNI Cab. Purbalingga no: 0194910585 a/n: Yayasan Islam Tunas Ilmu Purbalingga. Lalu dikonfirmasikan via SMS melalui  081319839320 atau telpon  0281 6597674.Semoga Allah ta’ala berkenan memberkahi langkah kita, amien! Post navigation Previous Tafsir Surat An-nas ayat 1Next Empati Pendidikan Untuk Anak Miskin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Wakaf Proyektor

Seorang da’i tertuntut untuk mahir berbahasa Arab, pasif maupun aktif. Untuk mencapai target tersebut, selain dengan mempelajari teori, praktek juga mutlak dibutuhkan. Akan lebih sempurna jika praktek tersebut dilakukan dengan fasilitas native speaker (orang Arab asli). Namun, realitanya hal itu terkendala dengan pembiayaan yang lumayan besar dan birokrasi mendatangkan mereka yang cukup rumit.Karena itu Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, dengan Program Pengkaderan Da’inya, berusaha menyiasati hal tersebut dengan mengadakan bidang studi “Mar’iyyah”. Pada jam pelajaran tersebut para santri diajak nonton video ceramah agama berbahasa Arab yang disampaikan oleh para Ulama Arab. Di bawah panduan seorang ustadz, mereka dituntut dan dibiasakan untuk memahami kandungan ceramah dan mencatatnya. Sehingga pendengaran, penglihatan dan tangan semuanya diajak untuk bersinergi dalam satu waktu, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab mereka.Karena Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” masih dalam tahap rintisan, sehingga amat terbatas dalam segala sesuatunya, termasuk pendanaan. Maka dengan ini kami mengajak kaum muslimin/muslimat untuk turut bersumbangsih dalam proyek pengkaderan da’i handal. Dengan jalan wakaf sarana bidang studi “Mar’iyyah” tersebut di atas, yakni proyektor.Berhubung kelak intensitas penggunaannya yang cukup tinggi, maka diharapkan spesifikasi proyektornya pun yang unggul. Agar umurnya lebih lama, sehingga pahala yang mengalir kepada pewakif pun juga akan lebih banyak insyaAllah. Minimal proyektor tersebut berspesifikasi XGA resolusi 1024 x 768, lengkap dengan layarnya.Wakaf dalam bentuk barang bisa dikirimkan ke alamat: Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02 Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia.Adapun wakaf dalam bentuk dana bisa ditransfer melalui Rek BNI Cab. Purbalingga no: 0194910585 a/n: Yayasan Islam Tunas Ilmu Purbalingga. Lalu dikonfirmasikan via SMS melalui  081319839320 atau telpon  0281 6597674.Semoga Allah ta’ala berkenan memberkahi langkah kita, amien! Post navigation Previous Tafsir Surat An-nas ayat 1Next Empati Pendidikan Untuk Anak Miskin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Seorang da’i tertuntut untuk mahir berbahasa Arab, pasif maupun aktif. Untuk mencapai target tersebut, selain dengan mempelajari teori, praktek juga mutlak dibutuhkan. Akan lebih sempurna jika praktek tersebut dilakukan dengan fasilitas native speaker (orang Arab asli). Namun, realitanya hal itu terkendala dengan pembiayaan yang lumayan besar dan birokrasi mendatangkan mereka yang cukup rumit.Karena itu Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, dengan Program Pengkaderan Da’inya, berusaha menyiasati hal tersebut dengan mengadakan bidang studi “Mar’iyyah”. Pada jam pelajaran tersebut para santri diajak nonton video ceramah agama berbahasa Arab yang disampaikan oleh para Ulama Arab. Di bawah panduan seorang ustadz, mereka dituntut dan dibiasakan untuk memahami kandungan ceramah dan mencatatnya. Sehingga pendengaran, penglihatan dan tangan semuanya diajak untuk bersinergi dalam satu waktu, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab mereka.Karena Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” masih dalam tahap rintisan, sehingga amat terbatas dalam segala sesuatunya, termasuk pendanaan. Maka dengan ini kami mengajak kaum muslimin/muslimat untuk turut bersumbangsih dalam proyek pengkaderan da’i handal. Dengan jalan wakaf sarana bidang studi “Mar’iyyah” tersebut di atas, yakni proyektor.Berhubung kelak intensitas penggunaannya yang cukup tinggi, maka diharapkan spesifikasi proyektornya pun yang unggul. Agar umurnya lebih lama, sehingga pahala yang mengalir kepada pewakif pun juga akan lebih banyak insyaAllah. Minimal proyektor tersebut berspesifikasi XGA resolusi 1024 x 768, lengkap dengan layarnya.Wakaf dalam bentuk barang bisa dikirimkan ke alamat: Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02 Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia.Adapun wakaf dalam bentuk dana bisa ditransfer melalui Rek BNI Cab. Purbalingga no: 0194910585 a/n: Yayasan Islam Tunas Ilmu Purbalingga. Lalu dikonfirmasikan via SMS melalui  081319839320 atau telpon  0281 6597674.Semoga Allah ta’ala berkenan memberkahi langkah kita, amien! Post navigation Previous Tafsir Surat An-nas ayat 1Next Empati Pendidikan Untuk Anak Miskin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Seorang da’i tertuntut untuk mahir berbahasa Arab, pasif maupun aktif. Untuk mencapai target tersebut, selain dengan mempelajari teori, praktek juga mutlak dibutuhkan. Akan lebih sempurna jika praktek tersebut dilakukan dengan fasilitas native speaker (orang Arab asli). Namun, realitanya hal itu terkendala dengan pembiayaan yang lumayan besar dan birokrasi mendatangkan mereka yang cukup rumit.Karena itu Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, dengan Program Pengkaderan Da’inya, berusaha menyiasati hal tersebut dengan mengadakan bidang studi “Mar’iyyah”. Pada jam pelajaran tersebut para santri diajak nonton video ceramah agama berbahasa Arab yang disampaikan oleh para Ulama Arab. Di bawah panduan seorang ustadz, mereka dituntut dan dibiasakan untuk memahami kandungan ceramah dan mencatatnya. Sehingga pendengaran, penglihatan dan tangan semuanya diajak untuk bersinergi dalam satu waktu, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab mereka.Karena Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” masih dalam tahap rintisan, sehingga amat terbatas dalam segala sesuatunya, termasuk pendanaan. Maka dengan ini kami mengajak kaum muslimin/muslimat untuk turut bersumbangsih dalam proyek pengkaderan da’i handal. Dengan jalan wakaf sarana bidang studi “Mar’iyyah” tersebut di atas, yakni proyektor.Berhubung kelak intensitas penggunaannya yang cukup tinggi, maka diharapkan spesifikasi proyektornya pun yang unggul. Agar umurnya lebih lama, sehingga pahala yang mengalir kepada pewakif pun juga akan lebih banyak insyaAllah. Minimal proyektor tersebut berspesifikasi XGA resolusi 1024 x 768, lengkap dengan layarnya.Wakaf dalam bentuk barang bisa dikirimkan ke alamat: Pondok Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Rt. 08 Rw. 02 Kalimanah Purbalingga 53371 Jawa Tengah Indonesia.Adapun wakaf dalam bentuk dana bisa ditransfer melalui Rek BNI Cab. Purbalingga no: 0194910585 a/n: Yayasan Islam Tunas Ilmu Purbalingga. Lalu dikonfirmasikan via SMS melalui  081319839320 atau telpon  0281 6597674.Semoga Allah ta’ala berkenan memberkahi langkah kita, amien! Post navigation Previous Tafsir Surat An-nas ayat 1Next Empati Pendidikan Untuk Anak Miskin Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Empati Pendidikan Untuk Anak Miskin

بسم الله الرحمن الرحيمAlhamdulillahiwahdah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah.PROLOGPada suatu hari penulis diajak teman sesama da’i berkunjung ke rumah salah satu ikhwan. Setelah menempuh jarak perjalanan sekitar dua jam naik sepeda motor berboncengan, dengan tubuh yang lumayan pegal-pegal sampai juga kami di tujuan.Dari jalan raya kami masuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui sepeda motor. Terlihat sebuah becak lawas terparkir di halaman. Dengan bertembokkan anyaman bambu dan berlantaikan tanah, di atas tanah sewaan, rumah ukuran kira-kira 3×6 meter itu berdiri. Persis di belakang rumah tersebut mengalir sebuah sungai, yang jika hujan, airnya akan meluap. Sehingga rumah tadi menjadi langganan tempat mampir kepiting hingga ular berbisa.Begitu kami masuk, langsung disambut dengan pelukan hangat persaudaraan. Sejurus tuan rumah bergegas menyiapkan minuman Nutrisari dan menumpahkan biskuit di atas piring, yang nampaknya baru saja ia beli. Kami berusaha menahan beliau agar tidak perlu repot-repot, namun beliau tetap bersikeras untuk menghormati tamunya. Sambil menunggu suguhan, kami tercenung melihat isi rumah yang amat bersahaja itu. Dipan bambu dan lemari yang kayunya telah mengelupas di sana-sini. Kursi plastik, piala juara satu lomba bidang studi milik putra ikhwan tadi dan berbagai aksesori sederhana menghiasi rumah mungil itu. Hampir saja air mata menitik terenyuh, tapi bergegas penulis tahan, khawatir menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.Kemudian kami terlibat perbincangan hangat selama beberapa saat. Di tengah-tengah obrolan terlihat dua anak laki-laki berseragam SMP memasuki pintu belakang rumah. Ternyata mereka berdua adalah putra dari ikhwan tadi. Setelah bersalaman dengan kami, obrolan beralih tentang pendidikan kedua anak tadi.Sesudah menjelaskan prestasi kedua putranya, di mana sang kakak menyabet rangking satu dan si adik meraih rangking kedua di sekolahannya, diiringi pandangan yang menerawang, ikhwan tadi bercerita. Sebenarnya putra-putranya ingin masuk ke pesantren. Namun, kendala biaya menghalangi impian indah tersebut. Bagaimana mungkin dengan mata pencaharian tukang becak, yang hasilnya bisa untuk makan saja sudah mending, ia bisa membayar uang pangkal masuk pesantren sebesar lebih dari lima juta rupiah! Belum lagi SPP bulanan yang menembus angka setengah jutaan.Sebenarnya, rekan da’i yang mengantar saya berkunjung ke rumah ikhwan tersebut telah berusaha melobi kesana kemari agar pondok-pondok yang ia kenal bisa berkenan memberikan keringanan. Namun belum menghasilkan harapan yang diinginkan.Sekelumit kisah tragis, yang saya yakin masih banyak puluhan kisah serupa, yang menyisakan sebuah pertanyaan besar:Apakah pendidikan hanya milik orang kaya?Manakala kita buka lembaran perjalanan pondok-pondok salaf beberapa belas tahun lalu, kita akan temukan bahwa biaya pendidikan di dalamnya masih relatif terjangkau oleh kocek para ikhwan, yang memang kebanyakan berkantong tipis. Barangkali karena lembaga tersebut saat itu masih minim fasilitas dan belum memiliki harga jual yang menjanjikan.Namun dengan berjalannya waktu, tuntutan peningkatan kualitas pendidikan semakin mendesak para punggawa pondok tadi, untuk mau tidak mau menaikkan biaya pendidikan. Mulai dari uang pangkal hingga SPP bulanan.Memang sih, belum seberapa jika dibandingkan dengan berbagai sekolah favorit orang-orang the have yang uang pendaftarannya puluhan juta, sampai ngalah-ngalahin biaya pendidikan S1. Tapi menurut hemat kami, jika biaya pendaftaran hingga menembus lebih dari angka lima jutaan, tampaknya terlalu berat untuk kebanyakan wali murid. Apalagi yang mata pencahariannya ‘hanya’ buruh bangunan, petani kecil-kecilan, penjual gorengan, tukang becak atau yang semisal. Padahal banyak di antara putra-putri orang-orang ‘kecil’ tadi yang keenceran otaknya tidak kalah dengan mereka yang berumah gedong dan bermobil mewah.Banyak masalah terselesaikan dengan uang!Barangkali inilah argumen terkuat yang akan disodorkan manakala kritikan di atas dilontarkan.Betul memang, finansial mutlak dibutuhkan untuk memutar roda kehidupan suatu lembaga pendidikan. Bagaimana tidak, sedangkan pondok harus terus membangun asrama dan kelas, menyediakan fasilitas kesehatan, menggaji para guru dan karyawan, serta seabreg kebutuhan primer lainnya.Namun, apakah itu semua atau mayoritasnya harus dibebankan kepada orang tua santri? Tidakkah ada solusi lain yang mungkin ditempuh?BEBERAPA ALTERNATIF PEMECAHANMungkin berbagai ide di bawah ini bisa dijadikan alternatif untuk menemukan jalan tengah yang dianggap ideal bagi pondok dan wali santri. Seandainya pun sudah diterapkan, barangkali masih perlu untuk dimaksimalkan.1. Memberdayakan unit usaha pondokJumlah santri yang puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan, sejatinya merupakan potensi finansial yang sangat besar jika pemberdayaannya tepat, jitu dan jeli. Masing-masing santri pasti memiliki kebutuhan keseharian. Makanan, minuman, sabun, odol, pakaian, bacaan dan pernik-pernik lainnya.Konsepnya sederhana saja; bagaimana agar uang santri tetap berputar di dalam pondok.Sebuah pondok besar di Jawa Timur, sebut saja Pondok A, yang telah berumur lebih dari delapan puluh tahun, memiliki santri puluhan ribu dan seabreg ‘prestasi’, hingga saat ini masih bisa bertahan untuk tidak terlalu melambungkan uang pangkal dan SPP bulanannya. Padahal jika mau, bisa saja mengikuti tren sekolah mahal, apalagi pondok tersebut memang sudah memiliki nilai jual yang tinggi. Apalagi memang harga barang-barang kebutuhan pokok semakin hari semakin naik. Ditambah kebutuhan rumah tangga para guru yang juga tidak ada habisnya. Namun demikian Pondok A tetap menahan diri untuk tidak menaikkan biaya pendidikannya secara mencolok.Rahasianya?Salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menahan lonjakan beban biaya pendidikan santri adalah: kekuatan penghasilan berbagai unit usaha pondok yang terus menyuplai dana.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari dua puluh unit usaha menyokong kehidupan pondok A! Mulai dari penggilingan padi, percetakan buku, toko besi, toko buku, sentral fotokopi, apotik, wartel, toko kelontong, pabrik es, pabrik roti, pabrik air minum, budidaya dan penyembelihan ayam potong, pasar sayur, jasa angkutan, kerajinan sandal, hingga warung bakso!Beberapa tahun lalu saja, peghasilan unit-unit usaha tersebut yang disetorkan ke pondok tidak kurang dari 6 miliar rupiah/tahun![1]Kekuatan swadana luar biasa, yang sejatinya adalah pemberdayaan potensi santri dan simpatisan pondok secara maksimalSudah dicoba tapi sering gagal!Di suatu kesempatan, saya pernah berbincang lebih dekat dengan tokoh sentral Pondok A, karena kebetulan saya pernah menjadi sekertaris beliau. Di antara pertanyaan yang sempat terlontar, “Setiap ada peluang usaha terbuka, Pondok A selalu berusaha menambah unit usahanya, apakah tidak pernah mengalami kegagalan?”.Dengan senyum tersungging ia menjawab, “Jelas, kami pernah gagal dan bahkan sering! Tetapi kami tidak pernah merasa kapok atau jera. Justru itu kami jadikan sebagai lecutan untuk terus maju”.Saya jadi teringat motivasi yang kerap disampaikan para pebisnis yang telah sukses, bahwa keberhasilan besar mereka ‘pasti’ selalu diawali dengan kegagalan. Namun mereka menganggap berbagai kegagalan tersebut sebagai kesuksesan yang tertunda. Sehingga mereka selalu bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai modal pengalaman yang tak ternilai harganya.Pernah berapa kali saya berdiskusi dengan beberapa pengasuh pondok pesantren salaf mengenai urgensi kemandirian ekonomi pondok. Rata-rata mengamini pentingnya hal itu. Tetapi untuk memulai mewujudkan idealisme tersebut dalam tatanan praktek nyata masih banyak pertimbangan ini dan itu. Salah satu faktor terbesarnya adalah trauma akan kegagalan yang dulu pernah terjadi manakala berusaha merintis unit usaha.Segala sesuatu yang memiliki tantangan pasti beresiko. Namun dengan ikhtiar, niat yang tulus dan tawakal kepada Allah insyaAllah gerbang cerah keberhasilan akan menanti di depan!Memberi pancing bukan ikanSuatu hal yang patut disyukuri, semakin tumbuhnya kesadaran orang-orang yang dikaruniai Allah kelebihan harta untuk menyisihkan sebagian hartanya guna membesarkan pesantren. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang seakan tidak pernah menghitung sumbangan yang ia gelontorkan. Banyak yang diwujudkan dalam bentuk bangunan masjid, asrama, kelas, hingga tunjangan para santri yang kurang mampu. Semoga Allah berkenan menjadikan itu semua sebagai amal jariah mereka, amien.Namun, jika dicermati, rata-rata bantuan tersebut akan habis dengan selesainya proyek yang dituju. Lalu pesantren kembali menunggu uluran tangan berikutnya. Inilah yang kami umpamakan dengan memberi ikan.Barangkali perlu untuk mulai kita pikirkan bagaimana memberi pesantren pancing untuk mengail ikan, bukan memberi ikan yang siap santap. Tujuannya: menumbuhkan kemandirian pondok dan mengurangi ketergantungan kepada bantuan para donatur.Di antara kalimat yang sering diucapkan Kyai Pondok A, “Manakala tidak ada bantuan datang, maka pondok kami tetap jalan. Dan di saat ada bantuan, maka bukan hanya berjalan, namun kami akan berlari kencang!”.Para ustadz sudah sibuk!Siapa yang akan mengurus unit usaha pondok? La wong memikirkan pendidikan santri saja para ustadz sudah kewalahan, koq masih mau dibebani memikirkan warung bakso!Tentunya, bukanlah para ustadz yang ditugaskan untuk menggiling padi, membungkusi roti, atau mengurusi pembukuan keuangan puluhan unit usaha pondok! Selain bukan bidang keahlian mereka, waktu para ustadz juga sudah habis untuk pendidikan dan pengajaran santri.Namun, kita perlu memberdayakan SDM ikhwan-ikhwan para sarjana umum yang alhamdulillah tersebar di mana-mana. Berusaha untuk saling mendukung dalam bidang yang ditekuninya. Apalagi banyak dari mereka yang lebih memilih bekerja di tempat yang ‘aman’.Akan tetapi perlu kehati-hatian, kearifan dan kepiawaian berinteraksi dalam proyek pekerjaan bersama seperti itu. Sebab sering terjadi kerenggangan yang berujung kepada karamnya kapal kerjasama, akibat kekuranghati-hatian dalam bertutur atau bersikap, juga karena kurang ‘mengorangkan’ manusia.2. Menggiatkan program wakaf dan memberdayakannyaWakaf merupakan salah satu aset umat Islam yang luar biasa, mampu memecahkan banyak masalah, jika diberdayakan dengan baik dan profesional.Sebagian kalangan mengira bahwa wakaf itu hanya berupa masjid dan yang serupa. Padahal sebenarnya pengertian wakaf lebih luas dari itu. Bisa berupa wakaf kebun, sawah atau bahkan sumur sekalipun. Sebab definisi wakaf itu sendiri adalah: menjaga aset dan mengalirkan penghasilannya. Karena itu dahulu Utsman bin ‘Affân radhiyallahu’anhu mewakafkan sumur Rûmah untuk kaum muslimin.Di zaman ini pun, banyak lembaga pendidikan yang tetap eksis berkat sokongan wakaf yang dimilikinya. Antara lain: sebuah universitas di Kairo Mesir yang telah berusia ratusan tahun, bahkan dinilai sebagai universitas Islam tertua di dunia. Walau lembaga tersebut minim subsidi dari pemerintah, namun ia tetap eksis. Bahkan bisa memberikan beasiswa -seadanya- kepada para mahasiswanya. Sebab ia memiliki kekuatan raksasa penyokong, yakni wakaf!Berbagai institusi pendidikan di Indonesia pun banyak yang mengadopsi sistem kemandirian itu. Di antaranya: Pondok A tersebut di atas. Dengan puluhan atau ratusan hektar sawah wakaf yang dimilikinya, ia bisa mensubsidi kebutuhan beras para santri. Sehingga kebutuhan makan santri tidak mutlak dibebankan kepada SPP mereka. Buahnya; nominal SPP bisa lebih ditekan.3. Memberdayakan energi santriDulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, seperti lazimnya siswa SD, saya pernah mengikuti perkemahan di suatu lapangan besar yang diikuti oleh SD-SD satu kecamatan. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya tempat itu, ibarat berubah menjadi pasar malam. Namun ‘pahitnya’, setiap kerumunan orang banyak pasti meninggalkan sesuatu yang bernama sampah, dengan berbagai bentuknya.Menarik untuk dicermati, hanya dengan waktu kurang dari setengah jam, lapangan yang mirip kapal pecah tadi, bisa kembali bersih seperti semula, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Ternyata panitia menggunakan siasat kaki seribu.Para peserta dijejerkan bersaf-saf. Lapisan pertama berjalan sambil merunduk dan memunguti sampah. Jika masih ada yang tersisa, akan disikat oleh lapisan kedua. Hingga lapisan terakhir mungkin cuma bisa menemukan puntung rokok, itupun setelah bersusah payah memelototi rumput di hadapannya. Ya, tanpa menyewa tukang sapu, lapangan kembali hijau nyaris tanpa ‘noda’.Kumpulan orang banyak memang memiliki energi besar, jika diberdayakan dengan baik dan sistematis.Dengan memanfaatkan tenaga santri, sebenarnya banyak pengeluaran pondok yang bisa diirit. Tukang sapu, tukang kebun, satpam, penjaga dapur, penunggu kantin, sebenarnya bisa ditangani oleh santri. Sehingga pondok memiliki puluhan ‘karyawan sukarela’.Wah, waktu santri habis dong!Kalimat “diberdayakan dengan baik” perlu dicetak tebal di sini. Kita bukan akan membebani santri 24 jam mengurusi tetek-bengek tersebut di atas. Jelas itu akan merubah tujuan utama kedatangan mereka ke pesantren. Namun dengan pembagian jadwal yang baik dan pemerataan tugas, paling-paling, satu santri hanya akan kebagian menyapu satu jam dalam satu minggu, tidak lebih! (Namun jangan lupa, harus ada monitoring dari pengurus. Supaya jadwal tersebut tidak berubah menjadi hiasan dinding belaka, alias ndak jalan).Adapun, pekerjaan yang lebih berat dan membutuhkan pemikiran serta amanah tinggi, semisal menjaga koperasi, maka bisa diserahkan kepada santri senior pilihan yang lazim ada di suatu lembaga pendidikan. Di luar, biasa diistilahkan dengan OSIS.Masa santri jadi tukang kebun?!Sekitar lima tahun lalu, tatkala masih kuliah di Madinah, penulis sempat diamanahi menggemban posisi Mandub mahasiswa Indonesia Universitas Islam Madinah. Kalau di Indonesia, mungkin biasa diistilahkan dengan Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).Walaupun pekerjaan yang dibebankan tidak banyak-banyak amat, namun tetap menuntut adanya kerjasama dengan mahasiswa lain. Namanya berinteraksi dengan berbagai jenis manusia, selalu saja ada suka dan duka. Sukanya, jika teman yang dimintai bantuan berkarakter ringan tangan. Dukanya, jika rekan yang diajak cenderung jaim (jaga image)nya terlalu besar, alias ogah-ogahan diajak berbuat untuk orang lain.Ketika penulis lengser dan posisi tersebut digantikan adik kelas, ternyata ia pun mengalami hal serupa dalam suka dan duka. Saat penulis cermati, ternyata banyak di antara mereka yang enggan diajak bekerja, dahulunya ketika di pondok konsentrasinya dalam belajar kurang diimbangi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sukarela.Memberdayakan santri untuk menjalankan ‘pekerjaan rumah tangga’ bukanlah suatu hal yang hina. Justru itu akan mendidik mereka menurunkan gengsi dan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi tuntutan keadaan.Seorang santri yang terjun ke dunia nyata dakwah tertuntut untuk bisa melakukan transformasi diri. Ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas dakwahnya. Di kehidupan nyata, kerap da’i harus dihadapkan dengan kondisi yang menuntut ia menjadi ustadz, plus tukang sapu, macul sawah, dan pekerjaan-pekerjaan lain, yang barangkali tidak terbayangkan sama sekali saat dulu duduk di bangku pesantren. Dan itu merupakan salah satu tantangan dakwah yang harus dihadapi bukan dihindari. Toh, dahulu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga berbaur dengan para sahabatnya dalam pekerjaan keseharian mereka dan tidak bersikap eksklusif.Pemberdayaan seperti ini mengandung pendidikan mental dan karakter yang sangat dibutuhkan saat terjun ke masyarakat, dan ditengarai menjadi titik kelemahan banyak lembaga pendidikan salaf yang cenderung unggul dalam bidang keilmuan.4. Menghindarkan hal-hal yang kurang urgenKenyamanan situasi belajar mengajar memang amat diperlukan untuk memperlancar proses transfer ilmu ke diri para santri. Namun seharusnya tidak sampai berlebihan dalam memanjakan santri, sehingga menghilangkan ruh pengorbanan dan kerja keras dalam menimba ilmu.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah menyampaikan petuahnya, “Ilmu itu tidak didapat dengan bersantai ria”.Berikut penulis bawakan dua contoh:a. Penggunaan AC di kamar atau kelas santriTidak bisa dipungkiri, bahwa secara umum di negeri kita, AC masih dianggap sebagai barang mahal dan simbol kemewahan. Karenanya, menurut hemat kami, pemasangan AC di seluruh kamar dan kelas santri, bukan sekedar di ruang laboratorium komputer saja, merupakan perilaku berlebih dalam dunia pesantren. Walaupun barangkali ada donatur yang siap untuk menyediakan secara cuma-cuma seluruh unit AC yang dibutuhkan. Namun, tentu tagihan listrik dan biaya perawatan akan membengkak. Ujung-ujungnya santri pula yang akan terbebani pembiayaan tersebut.Pemakaian AC secara full juga berdampak membiasakan santri untuk berlaku manja serta hidup selalu serba enak. Dan hampir bisa dipastikan akan berpengaruh kepada militansi dakwah mereka, manakala terjun ke dunia nyata perjuangan, yang rata-rata amat jauh dari sesuatu yang beraroma kemewahan. Lagi pula sudah menjadi rahasia umum bahwa peralatan pendingin seperti ini menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan tubuh.Ini kota panas bung!Memang betul, suhu satu kota dengan yang lainnya di bumi pertiwi amat berbeda. Ada yang cenderung dingin dan ada pula yang panasnya menyengat. Namun sepanas-panasnya cuaca kota di Indonesia, sepengetahuan kami tidak sepanas negara gurun pasir di mana AC sudah menjadi kebutuhan primer.Panasnya suasana pondok mungkin bisa disiasati dengan pengaturan yang baik sirkulasi udara dan ventilasi bangunan pondok. Juga dengan memperbanyak pepohonan yang rimbun di komplek pondok, sehingga terciptalah ASÊ (angin sêgar) alami yang sehat dan gratis.b. Mewah dalam makanan keseharian santriAsupan gizi yang mencukupi memang mutlak dibutuhkan agar tubuh dan otak santri bisa fit untuk menyerap pelajaran di kelas. Namun gizi tinggi tidak selalu berkonotasi lauk-pauk yang mahal dan setiap hari piring santri selalu berhiaskan sesuatu yang bernama daging. Protein bisa dipadukan antara yang berbahan dasar nabati maupun hewani.Selain melatih kesederhanaan hidup santri, hal di atas juga akan bisa menekan biaya bulanan makan santri, sehingga bisa dijangkau oleh semakin banyak orang tua yang menginginkan anaknya belajar di pesantren.5. Subsidi silangTingkat ekonomi para orang tua santri tentu amat beragam. Ada yang pas-pasan, ada yang berlebih dan ada pula yang cenderung kekurangan.Saling tolong-menolong dalam kebaikan merupakan ibadah yang amat mulia dalam Islam. Allah ta’ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىArtinya: “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan”. QS. Al-Maidah: 2.Di antara potret indah saling membantu: subsidi silang dalam dunia pesantren. Kelebihan yang dimiliki wali santri kaya dialirkan untuk membantu santri yang kekurangan. Entah itu dalam kemasan beasiswa bagi santri yang berprestasi atau dalam bentuk lainnya.Merupakan suatu hal yang menggembirakan bahwa tidak sedikit pondok-pondok yang telah menerapkan konsep di atas. Hanya saja barangkali kuantitasnya masih perlu untuk ditingkatkan.Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjalankan subsidi silang ini adalah urgensi transparasi dalam penyaluran dana tersebut. Seyogyanya seluruh wali santri, apalagi yang bersangkutan, bisa mengetahui aliran pendanaan tersebut. Semua harus jelas, rapi, terang dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Laporannya pun ada dan siap saji setiap saat, bukan hanya berdasarkan “kira-kira”. Ini mutlak diperlukan, untuk menanamkan kepercayaan dan menghilangkan prasangka buruk6. Menggeliatkan gerakan orang tua asuhBanyak anak cerdas yang sebenarnya ingin sekali masuk ke pesantren, namun karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, mereka terhalang untuk meraih impian indah tersebut.Dalam kondisi seperti inilah empati orang-orang yang dikaruniai kelebihan harta seharusnya ditumbuhsuburkan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy.Gandenglah tangan anak-anak malang itu dan sisihkan sebagian rizki Anda untuk mencetak kader da’i dan ulama. Anda tidak tahu, bisa jadi, anak-anak yang Anda biayai itulah yang akan membantu perjalanan Anda kelak di akhirat, manakala kaki Anda terseok-seok keberatan dosa.إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka seluruh amalannya akan terputus kecuali tiga. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Andaikan menjadi lantaran hidayah seorang manusia saja sudah dianggap sebagai amal salih yang amat utama. Bagaimana jika Anda menjadi lantaran hidayah penduduk satu kampung atau satu kota, melalui perantara putra daerah yang Anda sekolahkan ke pesantren??Dana yang Anda keluarkan untuk membangun masjid adalah amal yang amat mulia, namun jangan lupa, betapa banyak masjid yang ‘mati’ lantaran tidak ada orang yang menghidupkan shalat berjamaah dan menyemarakkan pengajian di dalamnya. Pembangunan fisik perlu diiringi dengan pencetakan Sumber Daya Manusia yang mumpuni.Sekedar contoh, kiprah salah satu pengusaha papan atas Indonesia. Dia membuat sekolah unggulan gratis bagi warga miskin berprestasi. Saat ini 400 siswa dia tampung di SMA unggulan tersebut, segalanya bebas biaya, bahkan plus biaya akomodasi dan uang saku! Biaya operasional yang dikeluarkan per bulannya Rp. 500 juta hingga 1 miliar. Semua berasal dari keuntungan berbagai perusahaan yang dimilikinya.[2]Andaikan setiap pengusaha memiliki spirit kepedulian serupa. Masing-masing sesuai dengan potensi yang ia punyai. Mungkin tidak lagi tersisa anak miskin di bumi pertiwi ini, yang meneteskan air matanya, karena melihat teman-temannya tertawa riang berlari berangkat ke sekolah, sedangkan dia sendiri harus membantu orang tuanya mencari sesuap nasi…7. Menyuburkan ruh pengorbanan dalam jiwa tenaga pengajarSejak dulu dunia lembaga pendidikan Islam tanah air tidak pernah lekang menggoreskan potret keikhlasan, pengorbanan dan kesederhanaan para punggawanya yang luar biasa.Ada kiai yang berkata, “Kasur yang kutiduri tidak akan melebihi empuknya kasur yang ditiduri santriku. Makanan yang kusantap tidak akan lebih enak dibanding makanan santriku!”.Ada pula yang dikisahkan, hingga wafatnya belum memiliki rumah pribadi. Padahal santrinya sudah puluhan ribu, tanah pondoknya telah puluhan hektar dan cabangnya sudah tersebar di seantero penjuru nusantara.Keberhasilan suatu pondok, tidak bisa dilepaskan dari taufik Allah ta’ala, yang itu akan diturunkan-Nya, antara lain, manakala pengasuh pondok dan para tenaga pembantunya ikhlas dalam menjalankan amanah yang diemban.Pondok mereka jadikan sebagai ladang untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal menghadap Allah ta’ala kelak. Yang selalu tertanam dalam benak mereka adalah: “Apa yang bisa saya persembahkan untuk pondok? Bukan keuntungan duniawi apa yang bisa saya raup dari pondok?”. Konsep keikhlasan dalam Islam bukan berarti ustadz diterlantarkan mengajar tanpa ada gaji yang memadai. Bagaimanapun juga mereka juga memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya.Namun demikian, sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu diperhatikan di sini:Pertama: Apa tujuan utama mengajar di pondok? Untuk meraup keuntungan duniawikah? Atau untuk mengejar pahala ukhrawi? Sedangkan gaji yang didapatkan itu dianggap sebagai karunia kemurahan Allah, yang tidak akan mungkin menyia-nyiakan para hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya.Pondok dianggap sebagai lahan basah bisniskah, atau sebagai ladang perjuangan?Pondok diposisikan sebagai imperium keluarga yang kelak dibagi-bagikan kepada ahli warisnyakah, atau dijadikan wakaf kaum muslimin?Kedua: Pola berfikir orang yang beriman, apalagi berilmu, tentu berbeda dengan insan yang minim ilmu agama. Mereka bisa memilah dan memilih mana kebutuhan primer, mana pula kebutuhan sekunder. Harta duniawi yang mereka miliki, hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mengantarkan ke kehidupan abadi kelak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rizki yang cukup dan dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.Tidak lupa beliau juga menggariskan ukuran kecukupan dalam sabdanya,“مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا”“Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani.Tidak selayaknya para ustadz terjangkiti budaya hedonisme. Gemar gonta-ganti kendaraan, laptop atau hp, tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Namun semata mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Selain hal itu akan menggelembungkan pengeluaran mereka, juga akan menimbulkan imej negatif di mata para mad’u. sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam berdakwahCatatan pentingKata keikhlasan harus selalu dihembuskan ke telinga seluruh jajaran anggota pesantren, mulai dari ‘top manager’ hingga ‘akar rumput’, dan disuntikkan ke hati mereka. Namun hendaknya kata mulia ini tidak digunakan sebagai tameng oleh ‘top manager’ untuk menutupi kekurangannya. Manakala mereka tidak mampu memenuhi kesejahteraan para ustadz, dikarenakan belum berusaha maksimal untuk itu.Yang benar, berusahalah secara maksimal untuk mewujudkan hal itu. Jika belum juga bisa memenuhi target, maka ruh pengorbanan dan jiwa keikhlasan perlu untuk ditingkatkan oleh seluruh jajaran anggota pesantren. Supaya roda kehidupan pesantren bisa tetap menggelinding dengan baik.BISIKAN DI TELINGA PARA WALI SANTRIJika pembicaraan di atas lebih banyak tertuju kepada para pengasuh pondok dan segenap jajaran pembantunya, maka bukan berarti para wali tidak perlu untuk diberi arahan.Ketahuilah wahai para orang tua, ustadz-ustadz di pondok telah menguras tenaga dan pikiran, serta mengorbankan waktu mereka demi pendidikan putra-putri Anda. Dan perlu diketahui bahwa proses pengajaran anak bukanlah semata pekerjaan satu pihak. Namun harus ada sinergi antara pihak rumah dan pihak sekolah.Minimal, Anda memperhatikan kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pihak sekolah / pesantren. Hak anak Anda berupa pendidikan dan pengajaran agama telah ia dapatkan, maka jangan lupa penuhi pula hak pondok berupa iuran bulanan. Jadikanlah itu sebagai prioritas utama dalam kehidupan rumah tangga Anda.Sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bahwa sebagian orang tua masih perlu meluruskan skala prioritas pengeluaran mereka, kejadian nyata beberapa saat lalu. Dikisahkan bahwa pengasuh Pondok B di Jawa Timur yang telah terkenal biaya pendidikannya paling murah, suatu hari kedatangan wali santri yang memohon dengan sangat agar uang pangkal sebesar 1,5 juta didiskon atau minimal diundur pembayarannya. Tatkala ditanya tentang alasan, katanya ia baru saja mengeluarkan biaya sekitar 70 juta untuk memasukkan salah satu anaknya ke Fakultas Kedokteran (!!!).Subhanallah… Sudah sedemikiankah cara pandang sebagian wali santri dalam memilah dan memilih mana pengeluaran yang harus didahulukan?? Bukannya tidak boleh belajar di jurusan umum. Tapi manakah yang harus diprioritaskan? Hadits nabawi berikut mungkin bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk mengoreksi ulang pola berpikir kita.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ”.“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikhnya dari Abu Hurairah dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albany.Amat disayangkan banyak pesantren yang setiap bulannya, iuran santri menunggak sampai lebih dari 50 %! Para pengasuh pesantren sering dipaksa ‘sport jantung’ memikirkan santri makan apa besok?Tidak sedikit pula, para wali santri yang menitipkan anaknya di pondok selama bertahun-tahun. Setelah tamat dan merasakan manisnya hasil pendidikan pesantren, dia lupa atau pura-pura lupa, bahwa dia masih memiliki tanggungan SPP yang belum dia lunasi.Sebagian mereka memandang ringan tanggung jawab materi tersebut, dengan alasan tidak ada perjanjian tertulis mengenai kewajiban menyelesaikan tanggungan itu.Ketahuilah, bahwa dengan Anda memasukkan putra Anda ke pesantren, berarti otomatis Anda telah terikat dengan kewajiban keuangan itu. Andaikan tidak Anda bereskan, maka akan menjadi hutang yang tidak akan pernah gugur sampai kapanpun jua. Selama belum Anda lunasi atau dibebaskan oleh pihak pesantren.Bersiaplah, pahala Anda dikurangi untuk dilimpahkan kepada orang lain dan dosa mereka dicabut lalu ditimpakan kepada beban dosa Anda!EPILOGBarangkali sebagian kalangan menilai makalah ini terlalu idealis dan tidak sejalan dengan realita. Namun bukankah mimpi indah di atas bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan?Dengan limpahan karunia taufik dari Allah ta’ala yang tidak berhenti mengalir, kemudian dukungan kerjasama seluruh pihak, insyaAllah kita bisa mewujudkan cita-cita mulia “Membuat lembaga pendidikan Islam berkualitas dengan biaya yang terjangkau”. Atau dengan kata lain “Pesantren yang murah tapi tidak murahan”. Semoga…Wa shallallahu’ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbih ajma’in… Oleh: Abdullah Zaen, MA@ Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga,4 R Tsani 1432 / 12 Maret 2011 [1] Manajemen Pesantren, Pengalaman Pondok Modern Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA (hal. 176-179).[2] Baca: Chairul Tanjung Si Anak Singkong, Tjahja Gunawan Diredja (hal. 257-263). Post navigation Previous Wakaf ProyektorNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Empati Pendidikan Untuk Anak Miskin

بسم الله الرحمن الرحيمAlhamdulillahiwahdah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah.PROLOGPada suatu hari penulis diajak teman sesama da’i berkunjung ke rumah salah satu ikhwan. Setelah menempuh jarak perjalanan sekitar dua jam naik sepeda motor berboncengan, dengan tubuh yang lumayan pegal-pegal sampai juga kami di tujuan.Dari jalan raya kami masuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui sepeda motor. Terlihat sebuah becak lawas terparkir di halaman. Dengan bertembokkan anyaman bambu dan berlantaikan tanah, di atas tanah sewaan, rumah ukuran kira-kira 3×6 meter itu berdiri. Persis di belakang rumah tersebut mengalir sebuah sungai, yang jika hujan, airnya akan meluap. Sehingga rumah tadi menjadi langganan tempat mampir kepiting hingga ular berbisa.Begitu kami masuk, langsung disambut dengan pelukan hangat persaudaraan. Sejurus tuan rumah bergegas menyiapkan minuman Nutrisari dan menumpahkan biskuit di atas piring, yang nampaknya baru saja ia beli. Kami berusaha menahan beliau agar tidak perlu repot-repot, namun beliau tetap bersikeras untuk menghormati tamunya. Sambil menunggu suguhan, kami tercenung melihat isi rumah yang amat bersahaja itu. Dipan bambu dan lemari yang kayunya telah mengelupas di sana-sini. Kursi plastik, piala juara satu lomba bidang studi milik putra ikhwan tadi dan berbagai aksesori sederhana menghiasi rumah mungil itu. Hampir saja air mata menitik terenyuh, tapi bergegas penulis tahan, khawatir menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.Kemudian kami terlibat perbincangan hangat selama beberapa saat. Di tengah-tengah obrolan terlihat dua anak laki-laki berseragam SMP memasuki pintu belakang rumah. Ternyata mereka berdua adalah putra dari ikhwan tadi. Setelah bersalaman dengan kami, obrolan beralih tentang pendidikan kedua anak tadi.Sesudah menjelaskan prestasi kedua putranya, di mana sang kakak menyabet rangking satu dan si adik meraih rangking kedua di sekolahannya, diiringi pandangan yang menerawang, ikhwan tadi bercerita. Sebenarnya putra-putranya ingin masuk ke pesantren. Namun, kendala biaya menghalangi impian indah tersebut. Bagaimana mungkin dengan mata pencaharian tukang becak, yang hasilnya bisa untuk makan saja sudah mending, ia bisa membayar uang pangkal masuk pesantren sebesar lebih dari lima juta rupiah! Belum lagi SPP bulanan yang menembus angka setengah jutaan.Sebenarnya, rekan da’i yang mengantar saya berkunjung ke rumah ikhwan tersebut telah berusaha melobi kesana kemari agar pondok-pondok yang ia kenal bisa berkenan memberikan keringanan. Namun belum menghasilkan harapan yang diinginkan.Sekelumit kisah tragis, yang saya yakin masih banyak puluhan kisah serupa, yang menyisakan sebuah pertanyaan besar:Apakah pendidikan hanya milik orang kaya?Manakala kita buka lembaran perjalanan pondok-pondok salaf beberapa belas tahun lalu, kita akan temukan bahwa biaya pendidikan di dalamnya masih relatif terjangkau oleh kocek para ikhwan, yang memang kebanyakan berkantong tipis. Barangkali karena lembaga tersebut saat itu masih minim fasilitas dan belum memiliki harga jual yang menjanjikan.Namun dengan berjalannya waktu, tuntutan peningkatan kualitas pendidikan semakin mendesak para punggawa pondok tadi, untuk mau tidak mau menaikkan biaya pendidikan. Mulai dari uang pangkal hingga SPP bulanan.Memang sih, belum seberapa jika dibandingkan dengan berbagai sekolah favorit orang-orang the have yang uang pendaftarannya puluhan juta, sampai ngalah-ngalahin biaya pendidikan S1. Tapi menurut hemat kami, jika biaya pendaftaran hingga menembus lebih dari angka lima jutaan, tampaknya terlalu berat untuk kebanyakan wali murid. Apalagi yang mata pencahariannya ‘hanya’ buruh bangunan, petani kecil-kecilan, penjual gorengan, tukang becak atau yang semisal. Padahal banyak di antara putra-putri orang-orang ‘kecil’ tadi yang keenceran otaknya tidak kalah dengan mereka yang berumah gedong dan bermobil mewah.Banyak masalah terselesaikan dengan uang!Barangkali inilah argumen terkuat yang akan disodorkan manakala kritikan di atas dilontarkan.Betul memang, finansial mutlak dibutuhkan untuk memutar roda kehidupan suatu lembaga pendidikan. Bagaimana tidak, sedangkan pondok harus terus membangun asrama dan kelas, menyediakan fasilitas kesehatan, menggaji para guru dan karyawan, serta seabreg kebutuhan primer lainnya.Namun, apakah itu semua atau mayoritasnya harus dibebankan kepada orang tua santri? Tidakkah ada solusi lain yang mungkin ditempuh?BEBERAPA ALTERNATIF PEMECAHANMungkin berbagai ide di bawah ini bisa dijadikan alternatif untuk menemukan jalan tengah yang dianggap ideal bagi pondok dan wali santri. Seandainya pun sudah diterapkan, barangkali masih perlu untuk dimaksimalkan.1. Memberdayakan unit usaha pondokJumlah santri yang puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan, sejatinya merupakan potensi finansial yang sangat besar jika pemberdayaannya tepat, jitu dan jeli. Masing-masing santri pasti memiliki kebutuhan keseharian. Makanan, minuman, sabun, odol, pakaian, bacaan dan pernik-pernik lainnya.Konsepnya sederhana saja; bagaimana agar uang santri tetap berputar di dalam pondok.Sebuah pondok besar di Jawa Timur, sebut saja Pondok A, yang telah berumur lebih dari delapan puluh tahun, memiliki santri puluhan ribu dan seabreg ‘prestasi’, hingga saat ini masih bisa bertahan untuk tidak terlalu melambungkan uang pangkal dan SPP bulanannya. Padahal jika mau, bisa saja mengikuti tren sekolah mahal, apalagi pondok tersebut memang sudah memiliki nilai jual yang tinggi. Apalagi memang harga barang-barang kebutuhan pokok semakin hari semakin naik. Ditambah kebutuhan rumah tangga para guru yang juga tidak ada habisnya. Namun demikian Pondok A tetap menahan diri untuk tidak menaikkan biaya pendidikannya secara mencolok.Rahasianya?Salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menahan lonjakan beban biaya pendidikan santri adalah: kekuatan penghasilan berbagai unit usaha pondok yang terus menyuplai dana.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari dua puluh unit usaha menyokong kehidupan pondok A! Mulai dari penggilingan padi, percetakan buku, toko besi, toko buku, sentral fotokopi, apotik, wartel, toko kelontong, pabrik es, pabrik roti, pabrik air minum, budidaya dan penyembelihan ayam potong, pasar sayur, jasa angkutan, kerajinan sandal, hingga warung bakso!Beberapa tahun lalu saja, peghasilan unit-unit usaha tersebut yang disetorkan ke pondok tidak kurang dari 6 miliar rupiah/tahun![1]Kekuatan swadana luar biasa, yang sejatinya adalah pemberdayaan potensi santri dan simpatisan pondok secara maksimalSudah dicoba tapi sering gagal!Di suatu kesempatan, saya pernah berbincang lebih dekat dengan tokoh sentral Pondok A, karena kebetulan saya pernah menjadi sekertaris beliau. Di antara pertanyaan yang sempat terlontar, “Setiap ada peluang usaha terbuka, Pondok A selalu berusaha menambah unit usahanya, apakah tidak pernah mengalami kegagalan?”.Dengan senyum tersungging ia menjawab, “Jelas, kami pernah gagal dan bahkan sering! Tetapi kami tidak pernah merasa kapok atau jera. Justru itu kami jadikan sebagai lecutan untuk terus maju”.Saya jadi teringat motivasi yang kerap disampaikan para pebisnis yang telah sukses, bahwa keberhasilan besar mereka ‘pasti’ selalu diawali dengan kegagalan. Namun mereka menganggap berbagai kegagalan tersebut sebagai kesuksesan yang tertunda. Sehingga mereka selalu bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai modal pengalaman yang tak ternilai harganya.Pernah berapa kali saya berdiskusi dengan beberapa pengasuh pondok pesantren salaf mengenai urgensi kemandirian ekonomi pondok. Rata-rata mengamini pentingnya hal itu. Tetapi untuk memulai mewujudkan idealisme tersebut dalam tatanan praktek nyata masih banyak pertimbangan ini dan itu. Salah satu faktor terbesarnya adalah trauma akan kegagalan yang dulu pernah terjadi manakala berusaha merintis unit usaha.Segala sesuatu yang memiliki tantangan pasti beresiko. Namun dengan ikhtiar, niat yang tulus dan tawakal kepada Allah insyaAllah gerbang cerah keberhasilan akan menanti di depan!Memberi pancing bukan ikanSuatu hal yang patut disyukuri, semakin tumbuhnya kesadaran orang-orang yang dikaruniai Allah kelebihan harta untuk menyisihkan sebagian hartanya guna membesarkan pesantren. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang seakan tidak pernah menghitung sumbangan yang ia gelontorkan. Banyak yang diwujudkan dalam bentuk bangunan masjid, asrama, kelas, hingga tunjangan para santri yang kurang mampu. Semoga Allah berkenan menjadikan itu semua sebagai amal jariah mereka, amien.Namun, jika dicermati, rata-rata bantuan tersebut akan habis dengan selesainya proyek yang dituju. Lalu pesantren kembali menunggu uluran tangan berikutnya. Inilah yang kami umpamakan dengan memberi ikan.Barangkali perlu untuk mulai kita pikirkan bagaimana memberi pesantren pancing untuk mengail ikan, bukan memberi ikan yang siap santap. Tujuannya: menumbuhkan kemandirian pondok dan mengurangi ketergantungan kepada bantuan para donatur.Di antara kalimat yang sering diucapkan Kyai Pondok A, “Manakala tidak ada bantuan datang, maka pondok kami tetap jalan. Dan di saat ada bantuan, maka bukan hanya berjalan, namun kami akan berlari kencang!”.Para ustadz sudah sibuk!Siapa yang akan mengurus unit usaha pondok? La wong memikirkan pendidikan santri saja para ustadz sudah kewalahan, koq masih mau dibebani memikirkan warung bakso!Tentunya, bukanlah para ustadz yang ditugaskan untuk menggiling padi, membungkusi roti, atau mengurusi pembukuan keuangan puluhan unit usaha pondok! Selain bukan bidang keahlian mereka, waktu para ustadz juga sudah habis untuk pendidikan dan pengajaran santri.Namun, kita perlu memberdayakan SDM ikhwan-ikhwan para sarjana umum yang alhamdulillah tersebar di mana-mana. Berusaha untuk saling mendukung dalam bidang yang ditekuninya. Apalagi banyak dari mereka yang lebih memilih bekerja di tempat yang ‘aman’.Akan tetapi perlu kehati-hatian, kearifan dan kepiawaian berinteraksi dalam proyek pekerjaan bersama seperti itu. Sebab sering terjadi kerenggangan yang berujung kepada karamnya kapal kerjasama, akibat kekuranghati-hatian dalam bertutur atau bersikap, juga karena kurang ‘mengorangkan’ manusia.2. Menggiatkan program wakaf dan memberdayakannyaWakaf merupakan salah satu aset umat Islam yang luar biasa, mampu memecahkan banyak masalah, jika diberdayakan dengan baik dan profesional.Sebagian kalangan mengira bahwa wakaf itu hanya berupa masjid dan yang serupa. Padahal sebenarnya pengertian wakaf lebih luas dari itu. Bisa berupa wakaf kebun, sawah atau bahkan sumur sekalipun. Sebab definisi wakaf itu sendiri adalah: menjaga aset dan mengalirkan penghasilannya. Karena itu dahulu Utsman bin ‘Affân radhiyallahu’anhu mewakafkan sumur Rûmah untuk kaum muslimin.Di zaman ini pun, banyak lembaga pendidikan yang tetap eksis berkat sokongan wakaf yang dimilikinya. Antara lain: sebuah universitas di Kairo Mesir yang telah berusia ratusan tahun, bahkan dinilai sebagai universitas Islam tertua di dunia. Walau lembaga tersebut minim subsidi dari pemerintah, namun ia tetap eksis. Bahkan bisa memberikan beasiswa -seadanya- kepada para mahasiswanya. Sebab ia memiliki kekuatan raksasa penyokong, yakni wakaf!Berbagai institusi pendidikan di Indonesia pun banyak yang mengadopsi sistem kemandirian itu. Di antaranya: Pondok A tersebut di atas. Dengan puluhan atau ratusan hektar sawah wakaf yang dimilikinya, ia bisa mensubsidi kebutuhan beras para santri. Sehingga kebutuhan makan santri tidak mutlak dibebankan kepada SPP mereka. Buahnya; nominal SPP bisa lebih ditekan.3. Memberdayakan energi santriDulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, seperti lazimnya siswa SD, saya pernah mengikuti perkemahan di suatu lapangan besar yang diikuti oleh SD-SD satu kecamatan. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya tempat itu, ibarat berubah menjadi pasar malam. Namun ‘pahitnya’, setiap kerumunan orang banyak pasti meninggalkan sesuatu yang bernama sampah, dengan berbagai bentuknya.Menarik untuk dicermati, hanya dengan waktu kurang dari setengah jam, lapangan yang mirip kapal pecah tadi, bisa kembali bersih seperti semula, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Ternyata panitia menggunakan siasat kaki seribu.Para peserta dijejerkan bersaf-saf. Lapisan pertama berjalan sambil merunduk dan memunguti sampah. Jika masih ada yang tersisa, akan disikat oleh lapisan kedua. Hingga lapisan terakhir mungkin cuma bisa menemukan puntung rokok, itupun setelah bersusah payah memelototi rumput di hadapannya. Ya, tanpa menyewa tukang sapu, lapangan kembali hijau nyaris tanpa ‘noda’.Kumpulan orang banyak memang memiliki energi besar, jika diberdayakan dengan baik dan sistematis.Dengan memanfaatkan tenaga santri, sebenarnya banyak pengeluaran pondok yang bisa diirit. Tukang sapu, tukang kebun, satpam, penjaga dapur, penunggu kantin, sebenarnya bisa ditangani oleh santri. Sehingga pondok memiliki puluhan ‘karyawan sukarela’.Wah, waktu santri habis dong!Kalimat “diberdayakan dengan baik” perlu dicetak tebal di sini. Kita bukan akan membebani santri 24 jam mengurusi tetek-bengek tersebut di atas. Jelas itu akan merubah tujuan utama kedatangan mereka ke pesantren. Namun dengan pembagian jadwal yang baik dan pemerataan tugas, paling-paling, satu santri hanya akan kebagian menyapu satu jam dalam satu minggu, tidak lebih! (Namun jangan lupa, harus ada monitoring dari pengurus. Supaya jadwal tersebut tidak berubah menjadi hiasan dinding belaka, alias ndak jalan).Adapun, pekerjaan yang lebih berat dan membutuhkan pemikiran serta amanah tinggi, semisal menjaga koperasi, maka bisa diserahkan kepada santri senior pilihan yang lazim ada di suatu lembaga pendidikan. Di luar, biasa diistilahkan dengan OSIS.Masa santri jadi tukang kebun?!Sekitar lima tahun lalu, tatkala masih kuliah di Madinah, penulis sempat diamanahi menggemban posisi Mandub mahasiswa Indonesia Universitas Islam Madinah. Kalau di Indonesia, mungkin biasa diistilahkan dengan Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).Walaupun pekerjaan yang dibebankan tidak banyak-banyak amat, namun tetap menuntut adanya kerjasama dengan mahasiswa lain. Namanya berinteraksi dengan berbagai jenis manusia, selalu saja ada suka dan duka. Sukanya, jika teman yang dimintai bantuan berkarakter ringan tangan. Dukanya, jika rekan yang diajak cenderung jaim (jaga image)nya terlalu besar, alias ogah-ogahan diajak berbuat untuk orang lain.Ketika penulis lengser dan posisi tersebut digantikan adik kelas, ternyata ia pun mengalami hal serupa dalam suka dan duka. Saat penulis cermati, ternyata banyak di antara mereka yang enggan diajak bekerja, dahulunya ketika di pondok konsentrasinya dalam belajar kurang diimbangi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sukarela.Memberdayakan santri untuk menjalankan ‘pekerjaan rumah tangga’ bukanlah suatu hal yang hina. Justru itu akan mendidik mereka menurunkan gengsi dan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi tuntutan keadaan.Seorang santri yang terjun ke dunia nyata dakwah tertuntut untuk bisa melakukan transformasi diri. Ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas dakwahnya. Di kehidupan nyata, kerap da’i harus dihadapkan dengan kondisi yang menuntut ia menjadi ustadz, plus tukang sapu, macul sawah, dan pekerjaan-pekerjaan lain, yang barangkali tidak terbayangkan sama sekali saat dulu duduk di bangku pesantren. Dan itu merupakan salah satu tantangan dakwah yang harus dihadapi bukan dihindari. Toh, dahulu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga berbaur dengan para sahabatnya dalam pekerjaan keseharian mereka dan tidak bersikap eksklusif.Pemberdayaan seperti ini mengandung pendidikan mental dan karakter yang sangat dibutuhkan saat terjun ke masyarakat, dan ditengarai menjadi titik kelemahan banyak lembaga pendidikan salaf yang cenderung unggul dalam bidang keilmuan.4. Menghindarkan hal-hal yang kurang urgenKenyamanan situasi belajar mengajar memang amat diperlukan untuk memperlancar proses transfer ilmu ke diri para santri. Namun seharusnya tidak sampai berlebihan dalam memanjakan santri, sehingga menghilangkan ruh pengorbanan dan kerja keras dalam menimba ilmu.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah menyampaikan petuahnya, “Ilmu itu tidak didapat dengan bersantai ria”.Berikut penulis bawakan dua contoh:a. Penggunaan AC di kamar atau kelas santriTidak bisa dipungkiri, bahwa secara umum di negeri kita, AC masih dianggap sebagai barang mahal dan simbol kemewahan. Karenanya, menurut hemat kami, pemasangan AC di seluruh kamar dan kelas santri, bukan sekedar di ruang laboratorium komputer saja, merupakan perilaku berlebih dalam dunia pesantren. Walaupun barangkali ada donatur yang siap untuk menyediakan secara cuma-cuma seluruh unit AC yang dibutuhkan. Namun, tentu tagihan listrik dan biaya perawatan akan membengkak. Ujung-ujungnya santri pula yang akan terbebani pembiayaan tersebut.Pemakaian AC secara full juga berdampak membiasakan santri untuk berlaku manja serta hidup selalu serba enak. Dan hampir bisa dipastikan akan berpengaruh kepada militansi dakwah mereka, manakala terjun ke dunia nyata perjuangan, yang rata-rata amat jauh dari sesuatu yang beraroma kemewahan. Lagi pula sudah menjadi rahasia umum bahwa peralatan pendingin seperti ini menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan tubuh.Ini kota panas bung!Memang betul, suhu satu kota dengan yang lainnya di bumi pertiwi amat berbeda. Ada yang cenderung dingin dan ada pula yang panasnya menyengat. Namun sepanas-panasnya cuaca kota di Indonesia, sepengetahuan kami tidak sepanas negara gurun pasir di mana AC sudah menjadi kebutuhan primer.Panasnya suasana pondok mungkin bisa disiasati dengan pengaturan yang baik sirkulasi udara dan ventilasi bangunan pondok. Juga dengan memperbanyak pepohonan yang rimbun di komplek pondok, sehingga terciptalah ASÊ (angin sêgar) alami yang sehat dan gratis.b. Mewah dalam makanan keseharian santriAsupan gizi yang mencukupi memang mutlak dibutuhkan agar tubuh dan otak santri bisa fit untuk menyerap pelajaran di kelas. Namun gizi tinggi tidak selalu berkonotasi lauk-pauk yang mahal dan setiap hari piring santri selalu berhiaskan sesuatu yang bernama daging. Protein bisa dipadukan antara yang berbahan dasar nabati maupun hewani.Selain melatih kesederhanaan hidup santri, hal di atas juga akan bisa menekan biaya bulanan makan santri, sehingga bisa dijangkau oleh semakin banyak orang tua yang menginginkan anaknya belajar di pesantren.5. Subsidi silangTingkat ekonomi para orang tua santri tentu amat beragam. Ada yang pas-pasan, ada yang berlebih dan ada pula yang cenderung kekurangan.Saling tolong-menolong dalam kebaikan merupakan ibadah yang amat mulia dalam Islam. Allah ta’ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىArtinya: “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan”. QS. Al-Maidah: 2.Di antara potret indah saling membantu: subsidi silang dalam dunia pesantren. Kelebihan yang dimiliki wali santri kaya dialirkan untuk membantu santri yang kekurangan. Entah itu dalam kemasan beasiswa bagi santri yang berprestasi atau dalam bentuk lainnya.Merupakan suatu hal yang menggembirakan bahwa tidak sedikit pondok-pondok yang telah menerapkan konsep di atas. Hanya saja barangkali kuantitasnya masih perlu untuk ditingkatkan.Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjalankan subsidi silang ini adalah urgensi transparasi dalam penyaluran dana tersebut. Seyogyanya seluruh wali santri, apalagi yang bersangkutan, bisa mengetahui aliran pendanaan tersebut. Semua harus jelas, rapi, terang dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Laporannya pun ada dan siap saji setiap saat, bukan hanya berdasarkan “kira-kira”. Ini mutlak diperlukan, untuk menanamkan kepercayaan dan menghilangkan prasangka buruk6. Menggeliatkan gerakan orang tua asuhBanyak anak cerdas yang sebenarnya ingin sekali masuk ke pesantren, namun karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, mereka terhalang untuk meraih impian indah tersebut.Dalam kondisi seperti inilah empati orang-orang yang dikaruniai kelebihan harta seharusnya ditumbuhsuburkan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy.Gandenglah tangan anak-anak malang itu dan sisihkan sebagian rizki Anda untuk mencetak kader da’i dan ulama. Anda tidak tahu, bisa jadi, anak-anak yang Anda biayai itulah yang akan membantu perjalanan Anda kelak di akhirat, manakala kaki Anda terseok-seok keberatan dosa.إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka seluruh amalannya akan terputus kecuali tiga. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Andaikan menjadi lantaran hidayah seorang manusia saja sudah dianggap sebagai amal salih yang amat utama. Bagaimana jika Anda menjadi lantaran hidayah penduduk satu kampung atau satu kota, melalui perantara putra daerah yang Anda sekolahkan ke pesantren??Dana yang Anda keluarkan untuk membangun masjid adalah amal yang amat mulia, namun jangan lupa, betapa banyak masjid yang ‘mati’ lantaran tidak ada orang yang menghidupkan shalat berjamaah dan menyemarakkan pengajian di dalamnya. Pembangunan fisik perlu diiringi dengan pencetakan Sumber Daya Manusia yang mumpuni.Sekedar contoh, kiprah salah satu pengusaha papan atas Indonesia. Dia membuat sekolah unggulan gratis bagi warga miskin berprestasi. Saat ini 400 siswa dia tampung di SMA unggulan tersebut, segalanya bebas biaya, bahkan plus biaya akomodasi dan uang saku! Biaya operasional yang dikeluarkan per bulannya Rp. 500 juta hingga 1 miliar. Semua berasal dari keuntungan berbagai perusahaan yang dimilikinya.[2]Andaikan setiap pengusaha memiliki spirit kepedulian serupa. Masing-masing sesuai dengan potensi yang ia punyai. Mungkin tidak lagi tersisa anak miskin di bumi pertiwi ini, yang meneteskan air matanya, karena melihat teman-temannya tertawa riang berlari berangkat ke sekolah, sedangkan dia sendiri harus membantu orang tuanya mencari sesuap nasi…7. Menyuburkan ruh pengorbanan dalam jiwa tenaga pengajarSejak dulu dunia lembaga pendidikan Islam tanah air tidak pernah lekang menggoreskan potret keikhlasan, pengorbanan dan kesederhanaan para punggawanya yang luar biasa.Ada kiai yang berkata, “Kasur yang kutiduri tidak akan melebihi empuknya kasur yang ditiduri santriku. Makanan yang kusantap tidak akan lebih enak dibanding makanan santriku!”.Ada pula yang dikisahkan, hingga wafatnya belum memiliki rumah pribadi. Padahal santrinya sudah puluhan ribu, tanah pondoknya telah puluhan hektar dan cabangnya sudah tersebar di seantero penjuru nusantara.Keberhasilan suatu pondok, tidak bisa dilepaskan dari taufik Allah ta’ala, yang itu akan diturunkan-Nya, antara lain, manakala pengasuh pondok dan para tenaga pembantunya ikhlas dalam menjalankan amanah yang diemban.Pondok mereka jadikan sebagai ladang untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal menghadap Allah ta’ala kelak. Yang selalu tertanam dalam benak mereka adalah: “Apa yang bisa saya persembahkan untuk pondok? Bukan keuntungan duniawi apa yang bisa saya raup dari pondok?”. Konsep keikhlasan dalam Islam bukan berarti ustadz diterlantarkan mengajar tanpa ada gaji yang memadai. Bagaimanapun juga mereka juga memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya.Namun demikian, sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu diperhatikan di sini:Pertama: Apa tujuan utama mengajar di pondok? Untuk meraup keuntungan duniawikah? Atau untuk mengejar pahala ukhrawi? Sedangkan gaji yang didapatkan itu dianggap sebagai karunia kemurahan Allah, yang tidak akan mungkin menyia-nyiakan para hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya.Pondok dianggap sebagai lahan basah bisniskah, atau sebagai ladang perjuangan?Pondok diposisikan sebagai imperium keluarga yang kelak dibagi-bagikan kepada ahli warisnyakah, atau dijadikan wakaf kaum muslimin?Kedua: Pola berfikir orang yang beriman, apalagi berilmu, tentu berbeda dengan insan yang minim ilmu agama. Mereka bisa memilah dan memilih mana kebutuhan primer, mana pula kebutuhan sekunder. Harta duniawi yang mereka miliki, hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mengantarkan ke kehidupan abadi kelak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rizki yang cukup dan dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.Tidak lupa beliau juga menggariskan ukuran kecukupan dalam sabdanya,“مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا”“Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani.Tidak selayaknya para ustadz terjangkiti budaya hedonisme. Gemar gonta-ganti kendaraan, laptop atau hp, tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Namun semata mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Selain hal itu akan menggelembungkan pengeluaran mereka, juga akan menimbulkan imej negatif di mata para mad’u. sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam berdakwahCatatan pentingKata keikhlasan harus selalu dihembuskan ke telinga seluruh jajaran anggota pesantren, mulai dari ‘top manager’ hingga ‘akar rumput’, dan disuntikkan ke hati mereka. Namun hendaknya kata mulia ini tidak digunakan sebagai tameng oleh ‘top manager’ untuk menutupi kekurangannya. Manakala mereka tidak mampu memenuhi kesejahteraan para ustadz, dikarenakan belum berusaha maksimal untuk itu.Yang benar, berusahalah secara maksimal untuk mewujudkan hal itu. Jika belum juga bisa memenuhi target, maka ruh pengorbanan dan jiwa keikhlasan perlu untuk ditingkatkan oleh seluruh jajaran anggota pesantren. Supaya roda kehidupan pesantren bisa tetap menggelinding dengan baik.BISIKAN DI TELINGA PARA WALI SANTRIJika pembicaraan di atas lebih banyak tertuju kepada para pengasuh pondok dan segenap jajaran pembantunya, maka bukan berarti para wali tidak perlu untuk diberi arahan.Ketahuilah wahai para orang tua, ustadz-ustadz di pondok telah menguras tenaga dan pikiran, serta mengorbankan waktu mereka demi pendidikan putra-putri Anda. Dan perlu diketahui bahwa proses pengajaran anak bukanlah semata pekerjaan satu pihak. Namun harus ada sinergi antara pihak rumah dan pihak sekolah.Minimal, Anda memperhatikan kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pihak sekolah / pesantren. Hak anak Anda berupa pendidikan dan pengajaran agama telah ia dapatkan, maka jangan lupa penuhi pula hak pondok berupa iuran bulanan. Jadikanlah itu sebagai prioritas utama dalam kehidupan rumah tangga Anda.Sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bahwa sebagian orang tua masih perlu meluruskan skala prioritas pengeluaran mereka, kejadian nyata beberapa saat lalu. Dikisahkan bahwa pengasuh Pondok B di Jawa Timur yang telah terkenal biaya pendidikannya paling murah, suatu hari kedatangan wali santri yang memohon dengan sangat agar uang pangkal sebesar 1,5 juta didiskon atau minimal diundur pembayarannya. Tatkala ditanya tentang alasan, katanya ia baru saja mengeluarkan biaya sekitar 70 juta untuk memasukkan salah satu anaknya ke Fakultas Kedokteran (!!!).Subhanallah… Sudah sedemikiankah cara pandang sebagian wali santri dalam memilah dan memilih mana pengeluaran yang harus didahulukan?? Bukannya tidak boleh belajar di jurusan umum. Tapi manakah yang harus diprioritaskan? Hadits nabawi berikut mungkin bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk mengoreksi ulang pola berpikir kita.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ”.“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikhnya dari Abu Hurairah dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albany.Amat disayangkan banyak pesantren yang setiap bulannya, iuran santri menunggak sampai lebih dari 50 %! Para pengasuh pesantren sering dipaksa ‘sport jantung’ memikirkan santri makan apa besok?Tidak sedikit pula, para wali santri yang menitipkan anaknya di pondok selama bertahun-tahun. Setelah tamat dan merasakan manisnya hasil pendidikan pesantren, dia lupa atau pura-pura lupa, bahwa dia masih memiliki tanggungan SPP yang belum dia lunasi.Sebagian mereka memandang ringan tanggung jawab materi tersebut, dengan alasan tidak ada perjanjian tertulis mengenai kewajiban menyelesaikan tanggungan itu.Ketahuilah, bahwa dengan Anda memasukkan putra Anda ke pesantren, berarti otomatis Anda telah terikat dengan kewajiban keuangan itu. Andaikan tidak Anda bereskan, maka akan menjadi hutang yang tidak akan pernah gugur sampai kapanpun jua. Selama belum Anda lunasi atau dibebaskan oleh pihak pesantren.Bersiaplah, pahala Anda dikurangi untuk dilimpahkan kepada orang lain dan dosa mereka dicabut lalu ditimpakan kepada beban dosa Anda!EPILOGBarangkali sebagian kalangan menilai makalah ini terlalu idealis dan tidak sejalan dengan realita. Namun bukankah mimpi indah di atas bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan?Dengan limpahan karunia taufik dari Allah ta’ala yang tidak berhenti mengalir, kemudian dukungan kerjasama seluruh pihak, insyaAllah kita bisa mewujudkan cita-cita mulia “Membuat lembaga pendidikan Islam berkualitas dengan biaya yang terjangkau”. Atau dengan kata lain “Pesantren yang murah tapi tidak murahan”. Semoga…Wa shallallahu’ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbih ajma’in… Oleh: Abdullah Zaen, MA@ Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga,4 R Tsani 1432 / 12 Maret 2011 [1] Manajemen Pesantren, Pengalaman Pondok Modern Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA (hal. 176-179).[2] Baca: Chairul Tanjung Si Anak Singkong, Tjahja Gunawan Diredja (hal. 257-263). Post navigation Previous Wakaf ProyektorNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
بسم الله الرحمن الرحيمAlhamdulillahiwahdah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah.PROLOGPada suatu hari penulis diajak teman sesama da’i berkunjung ke rumah salah satu ikhwan. Setelah menempuh jarak perjalanan sekitar dua jam naik sepeda motor berboncengan, dengan tubuh yang lumayan pegal-pegal sampai juga kami di tujuan.Dari jalan raya kami masuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui sepeda motor. Terlihat sebuah becak lawas terparkir di halaman. Dengan bertembokkan anyaman bambu dan berlantaikan tanah, di atas tanah sewaan, rumah ukuran kira-kira 3×6 meter itu berdiri. Persis di belakang rumah tersebut mengalir sebuah sungai, yang jika hujan, airnya akan meluap. Sehingga rumah tadi menjadi langganan tempat mampir kepiting hingga ular berbisa.Begitu kami masuk, langsung disambut dengan pelukan hangat persaudaraan. Sejurus tuan rumah bergegas menyiapkan minuman Nutrisari dan menumpahkan biskuit di atas piring, yang nampaknya baru saja ia beli. Kami berusaha menahan beliau agar tidak perlu repot-repot, namun beliau tetap bersikeras untuk menghormati tamunya. Sambil menunggu suguhan, kami tercenung melihat isi rumah yang amat bersahaja itu. Dipan bambu dan lemari yang kayunya telah mengelupas di sana-sini. Kursi plastik, piala juara satu lomba bidang studi milik putra ikhwan tadi dan berbagai aksesori sederhana menghiasi rumah mungil itu. Hampir saja air mata menitik terenyuh, tapi bergegas penulis tahan, khawatir menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.Kemudian kami terlibat perbincangan hangat selama beberapa saat. Di tengah-tengah obrolan terlihat dua anak laki-laki berseragam SMP memasuki pintu belakang rumah. Ternyata mereka berdua adalah putra dari ikhwan tadi. Setelah bersalaman dengan kami, obrolan beralih tentang pendidikan kedua anak tadi.Sesudah menjelaskan prestasi kedua putranya, di mana sang kakak menyabet rangking satu dan si adik meraih rangking kedua di sekolahannya, diiringi pandangan yang menerawang, ikhwan tadi bercerita. Sebenarnya putra-putranya ingin masuk ke pesantren. Namun, kendala biaya menghalangi impian indah tersebut. Bagaimana mungkin dengan mata pencaharian tukang becak, yang hasilnya bisa untuk makan saja sudah mending, ia bisa membayar uang pangkal masuk pesantren sebesar lebih dari lima juta rupiah! Belum lagi SPP bulanan yang menembus angka setengah jutaan.Sebenarnya, rekan da’i yang mengantar saya berkunjung ke rumah ikhwan tersebut telah berusaha melobi kesana kemari agar pondok-pondok yang ia kenal bisa berkenan memberikan keringanan. Namun belum menghasilkan harapan yang diinginkan.Sekelumit kisah tragis, yang saya yakin masih banyak puluhan kisah serupa, yang menyisakan sebuah pertanyaan besar:Apakah pendidikan hanya milik orang kaya?Manakala kita buka lembaran perjalanan pondok-pondok salaf beberapa belas tahun lalu, kita akan temukan bahwa biaya pendidikan di dalamnya masih relatif terjangkau oleh kocek para ikhwan, yang memang kebanyakan berkantong tipis. Barangkali karena lembaga tersebut saat itu masih minim fasilitas dan belum memiliki harga jual yang menjanjikan.Namun dengan berjalannya waktu, tuntutan peningkatan kualitas pendidikan semakin mendesak para punggawa pondok tadi, untuk mau tidak mau menaikkan biaya pendidikan. Mulai dari uang pangkal hingga SPP bulanan.Memang sih, belum seberapa jika dibandingkan dengan berbagai sekolah favorit orang-orang the have yang uang pendaftarannya puluhan juta, sampai ngalah-ngalahin biaya pendidikan S1. Tapi menurut hemat kami, jika biaya pendaftaran hingga menembus lebih dari angka lima jutaan, tampaknya terlalu berat untuk kebanyakan wali murid. Apalagi yang mata pencahariannya ‘hanya’ buruh bangunan, petani kecil-kecilan, penjual gorengan, tukang becak atau yang semisal. Padahal banyak di antara putra-putri orang-orang ‘kecil’ tadi yang keenceran otaknya tidak kalah dengan mereka yang berumah gedong dan bermobil mewah.Banyak masalah terselesaikan dengan uang!Barangkali inilah argumen terkuat yang akan disodorkan manakala kritikan di atas dilontarkan.Betul memang, finansial mutlak dibutuhkan untuk memutar roda kehidupan suatu lembaga pendidikan. Bagaimana tidak, sedangkan pondok harus terus membangun asrama dan kelas, menyediakan fasilitas kesehatan, menggaji para guru dan karyawan, serta seabreg kebutuhan primer lainnya.Namun, apakah itu semua atau mayoritasnya harus dibebankan kepada orang tua santri? Tidakkah ada solusi lain yang mungkin ditempuh?BEBERAPA ALTERNATIF PEMECAHANMungkin berbagai ide di bawah ini bisa dijadikan alternatif untuk menemukan jalan tengah yang dianggap ideal bagi pondok dan wali santri. Seandainya pun sudah diterapkan, barangkali masih perlu untuk dimaksimalkan.1. Memberdayakan unit usaha pondokJumlah santri yang puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan, sejatinya merupakan potensi finansial yang sangat besar jika pemberdayaannya tepat, jitu dan jeli. Masing-masing santri pasti memiliki kebutuhan keseharian. Makanan, minuman, sabun, odol, pakaian, bacaan dan pernik-pernik lainnya.Konsepnya sederhana saja; bagaimana agar uang santri tetap berputar di dalam pondok.Sebuah pondok besar di Jawa Timur, sebut saja Pondok A, yang telah berumur lebih dari delapan puluh tahun, memiliki santri puluhan ribu dan seabreg ‘prestasi’, hingga saat ini masih bisa bertahan untuk tidak terlalu melambungkan uang pangkal dan SPP bulanannya. Padahal jika mau, bisa saja mengikuti tren sekolah mahal, apalagi pondok tersebut memang sudah memiliki nilai jual yang tinggi. Apalagi memang harga barang-barang kebutuhan pokok semakin hari semakin naik. Ditambah kebutuhan rumah tangga para guru yang juga tidak ada habisnya. Namun demikian Pondok A tetap menahan diri untuk tidak menaikkan biaya pendidikannya secara mencolok.Rahasianya?Salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menahan lonjakan beban biaya pendidikan santri adalah: kekuatan penghasilan berbagai unit usaha pondok yang terus menyuplai dana.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari dua puluh unit usaha menyokong kehidupan pondok A! Mulai dari penggilingan padi, percetakan buku, toko besi, toko buku, sentral fotokopi, apotik, wartel, toko kelontong, pabrik es, pabrik roti, pabrik air minum, budidaya dan penyembelihan ayam potong, pasar sayur, jasa angkutan, kerajinan sandal, hingga warung bakso!Beberapa tahun lalu saja, peghasilan unit-unit usaha tersebut yang disetorkan ke pondok tidak kurang dari 6 miliar rupiah/tahun![1]Kekuatan swadana luar biasa, yang sejatinya adalah pemberdayaan potensi santri dan simpatisan pondok secara maksimalSudah dicoba tapi sering gagal!Di suatu kesempatan, saya pernah berbincang lebih dekat dengan tokoh sentral Pondok A, karena kebetulan saya pernah menjadi sekertaris beliau. Di antara pertanyaan yang sempat terlontar, “Setiap ada peluang usaha terbuka, Pondok A selalu berusaha menambah unit usahanya, apakah tidak pernah mengalami kegagalan?”.Dengan senyum tersungging ia menjawab, “Jelas, kami pernah gagal dan bahkan sering! Tetapi kami tidak pernah merasa kapok atau jera. Justru itu kami jadikan sebagai lecutan untuk terus maju”.Saya jadi teringat motivasi yang kerap disampaikan para pebisnis yang telah sukses, bahwa keberhasilan besar mereka ‘pasti’ selalu diawali dengan kegagalan. Namun mereka menganggap berbagai kegagalan tersebut sebagai kesuksesan yang tertunda. Sehingga mereka selalu bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai modal pengalaman yang tak ternilai harganya.Pernah berapa kali saya berdiskusi dengan beberapa pengasuh pondok pesantren salaf mengenai urgensi kemandirian ekonomi pondok. Rata-rata mengamini pentingnya hal itu. Tetapi untuk memulai mewujudkan idealisme tersebut dalam tatanan praktek nyata masih banyak pertimbangan ini dan itu. Salah satu faktor terbesarnya adalah trauma akan kegagalan yang dulu pernah terjadi manakala berusaha merintis unit usaha.Segala sesuatu yang memiliki tantangan pasti beresiko. Namun dengan ikhtiar, niat yang tulus dan tawakal kepada Allah insyaAllah gerbang cerah keberhasilan akan menanti di depan!Memberi pancing bukan ikanSuatu hal yang patut disyukuri, semakin tumbuhnya kesadaran orang-orang yang dikaruniai Allah kelebihan harta untuk menyisihkan sebagian hartanya guna membesarkan pesantren. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang seakan tidak pernah menghitung sumbangan yang ia gelontorkan. Banyak yang diwujudkan dalam bentuk bangunan masjid, asrama, kelas, hingga tunjangan para santri yang kurang mampu. Semoga Allah berkenan menjadikan itu semua sebagai amal jariah mereka, amien.Namun, jika dicermati, rata-rata bantuan tersebut akan habis dengan selesainya proyek yang dituju. Lalu pesantren kembali menunggu uluran tangan berikutnya. Inilah yang kami umpamakan dengan memberi ikan.Barangkali perlu untuk mulai kita pikirkan bagaimana memberi pesantren pancing untuk mengail ikan, bukan memberi ikan yang siap santap. Tujuannya: menumbuhkan kemandirian pondok dan mengurangi ketergantungan kepada bantuan para donatur.Di antara kalimat yang sering diucapkan Kyai Pondok A, “Manakala tidak ada bantuan datang, maka pondok kami tetap jalan. Dan di saat ada bantuan, maka bukan hanya berjalan, namun kami akan berlari kencang!”.Para ustadz sudah sibuk!Siapa yang akan mengurus unit usaha pondok? La wong memikirkan pendidikan santri saja para ustadz sudah kewalahan, koq masih mau dibebani memikirkan warung bakso!Tentunya, bukanlah para ustadz yang ditugaskan untuk menggiling padi, membungkusi roti, atau mengurusi pembukuan keuangan puluhan unit usaha pondok! Selain bukan bidang keahlian mereka, waktu para ustadz juga sudah habis untuk pendidikan dan pengajaran santri.Namun, kita perlu memberdayakan SDM ikhwan-ikhwan para sarjana umum yang alhamdulillah tersebar di mana-mana. Berusaha untuk saling mendukung dalam bidang yang ditekuninya. Apalagi banyak dari mereka yang lebih memilih bekerja di tempat yang ‘aman’.Akan tetapi perlu kehati-hatian, kearifan dan kepiawaian berinteraksi dalam proyek pekerjaan bersama seperti itu. Sebab sering terjadi kerenggangan yang berujung kepada karamnya kapal kerjasama, akibat kekuranghati-hatian dalam bertutur atau bersikap, juga karena kurang ‘mengorangkan’ manusia.2. Menggiatkan program wakaf dan memberdayakannyaWakaf merupakan salah satu aset umat Islam yang luar biasa, mampu memecahkan banyak masalah, jika diberdayakan dengan baik dan profesional.Sebagian kalangan mengira bahwa wakaf itu hanya berupa masjid dan yang serupa. Padahal sebenarnya pengertian wakaf lebih luas dari itu. Bisa berupa wakaf kebun, sawah atau bahkan sumur sekalipun. Sebab definisi wakaf itu sendiri adalah: menjaga aset dan mengalirkan penghasilannya. Karena itu dahulu Utsman bin ‘Affân radhiyallahu’anhu mewakafkan sumur Rûmah untuk kaum muslimin.Di zaman ini pun, banyak lembaga pendidikan yang tetap eksis berkat sokongan wakaf yang dimilikinya. Antara lain: sebuah universitas di Kairo Mesir yang telah berusia ratusan tahun, bahkan dinilai sebagai universitas Islam tertua di dunia. Walau lembaga tersebut minim subsidi dari pemerintah, namun ia tetap eksis. Bahkan bisa memberikan beasiswa -seadanya- kepada para mahasiswanya. Sebab ia memiliki kekuatan raksasa penyokong, yakni wakaf!Berbagai institusi pendidikan di Indonesia pun banyak yang mengadopsi sistem kemandirian itu. Di antaranya: Pondok A tersebut di atas. Dengan puluhan atau ratusan hektar sawah wakaf yang dimilikinya, ia bisa mensubsidi kebutuhan beras para santri. Sehingga kebutuhan makan santri tidak mutlak dibebankan kepada SPP mereka. Buahnya; nominal SPP bisa lebih ditekan.3. Memberdayakan energi santriDulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, seperti lazimnya siswa SD, saya pernah mengikuti perkemahan di suatu lapangan besar yang diikuti oleh SD-SD satu kecamatan. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya tempat itu, ibarat berubah menjadi pasar malam. Namun ‘pahitnya’, setiap kerumunan orang banyak pasti meninggalkan sesuatu yang bernama sampah, dengan berbagai bentuknya.Menarik untuk dicermati, hanya dengan waktu kurang dari setengah jam, lapangan yang mirip kapal pecah tadi, bisa kembali bersih seperti semula, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Ternyata panitia menggunakan siasat kaki seribu.Para peserta dijejerkan bersaf-saf. Lapisan pertama berjalan sambil merunduk dan memunguti sampah. Jika masih ada yang tersisa, akan disikat oleh lapisan kedua. Hingga lapisan terakhir mungkin cuma bisa menemukan puntung rokok, itupun setelah bersusah payah memelototi rumput di hadapannya. Ya, tanpa menyewa tukang sapu, lapangan kembali hijau nyaris tanpa ‘noda’.Kumpulan orang banyak memang memiliki energi besar, jika diberdayakan dengan baik dan sistematis.Dengan memanfaatkan tenaga santri, sebenarnya banyak pengeluaran pondok yang bisa diirit. Tukang sapu, tukang kebun, satpam, penjaga dapur, penunggu kantin, sebenarnya bisa ditangani oleh santri. Sehingga pondok memiliki puluhan ‘karyawan sukarela’.Wah, waktu santri habis dong!Kalimat “diberdayakan dengan baik” perlu dicetak tebal di sini. Kita bukan akan membebani santri 24 jam mengurusi tetek-bengek tersebut di atas. Jelas itu akan merubah tujuan utama kedatangan mereka ke pesantren. Namun dengan pembagian jadwal yang baik dan pemerataan tugas, paling-paling, satu santri hanya akan kebagian menyapu satu jam dalam satu minggu, tidak lebih! (Namun jangan lupa, harus ada monitoring dari pengurus. Supaya jadwal tersebut tidak berubah menjadi hiasan dinding belaka, alias ndak jalan).Adapun, pekerjaan yang lebih berat dan membutuhkan pemikiran serta amanah tinggi, semisal menjaga koperasi, maka bisa diserahkan kepada santri senior pilihan yang lazim ada di suatu lembaga pendidikan. Di luar, biasa diistilahkan dengan OSIS.Masa santri jadi tukang kebun?!Sekitar lima tahun lalu, tatkala masih kuliah di Madinah, penulis sempat diamanahi menggemban posisi Mandub mahasiswa Indonesia Universitas Islam Madinah. Kalau di Indonesia, mungkin biasa diistilahkan dengan Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).Walaupun pekerjaan yang dibebankan tidak banyak-banyak amat, namun tetap menuntut adanya kerjasama dengan mahasiswa lain. Namanya berinteraksi dengan berbagai jenis manusia, selalu saja ada suka dan duka. Sukanya, jika teman yang dimintai bantuan berkarakter ringan tangan. Dukanya, jika rekan yang diajak cenderung jaim (jaga image)nya terlalu besar, alias ogah-ogahan diajak berbuat untuk orang lain.Ketika penulis lengser dan posisi tersebut digantikan adik kelas, ternyata ia pun mengalami hal serupa dalam suka dan duka. Saat penulis cermati, ternyata banyak di antara mereka yang enggan diajak bekerja, dahulunya ketika di pondok konsentrasinya dalam belajar kurang diimbangi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sukarela.Memberdayakan santri untuk menjalankan ‘pekerjaan rumah tangga’ bukanlah suatu hal yang hina. Justru itu akan mendidik mereka menurunkan gengsi dan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi tuntutan keadaan.Seorang santri yang terjun ke dunia nyata dakwah tertuntut untuk bisa melakukan transformasi diri. Ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas dakwahnya. Di kehidupan nyata, kerap da’i harus dihadapkan dengan kondisi yang menuntut ia menjadi ustadz, plus tukang sapu, macul sawah, dan pekerjaan-pekerjaan lain, yang barangkali tidak terbayangkan sama sekali saat dulu duduk di bangku pesantren. Dan itu merupakan salah satu tantangan dakwah yang harus dihadapi bukan dihindari. Toh, dahulu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga berbaur dengan para sahabatnya dalam pekerjaan keseharian mereka dan tidak bersikap eksklusif.Pemberdayaan seperti ini mengandung pendidikan mental dan karakter yang sangat dibutuhkan saat terjun ke masyarakat, dan ditengarai menjadi titik kelemahan banyak lembaga pendidikan salaf yang cenderung unggul dalam bidang keilmuan.4. Menghindarkan hal-hal yang kurang urgenKenyamanan situasi belajar mengajar memang amat diperlukan untuk memperlancar proses transfer ilmu ke diri para santri. Namun seharusnya tidak sampai berlebihan dalam memanjakan santri, sehingga menghilangkan ruh pengorbanan dan kerja keras dalam menimba ilmu.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah menyampaikan petuahnya, “Ilmu itu tidak didapat dengan bersantai ria”.Berikut penulis bawakan dua contoh:a. Penggunaan AC di kamar atau kelas santriTidak bisa dipungkiri, bahwa secara umum di negeri kita, AC masih dianggap sebagai barang mahal dan simbol kemewahan. Karenanya, menurut hemat kami, pemasangan AC di seluruh kamar dan kelas santri, bukan sekedar di ruang laboratorium komputer saja, merupakan perilaku berlebih dalam dunia pesantren. Walaupun barangkali ada donatur yang siap untuk menyediakan secara cuma-cuma seluruh unit AC yang dibutuhkan. Namun, tentu tagihan listrik dan biaya perawatan akan membengkak. Ujung-ujungnya santri pula yang akan terbebani pembiayaan tersebut.Pemakaian AC secara full juga berdampak membiasakan santri untuk berlaku manja serta hidup selalu serba enak. Dan hampir bisa dipastikan akan berpengaruh kepada militansi dakwah mereka, manakala terjun ke dunia nyata perjuangan, yang rata-rata amat jauh dari sesuatu yang beraroma kemewahan. Lagi pula sudah menjadi rahasia umum bahwa peralatan pendingin seperti ini menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan tubuh.Ini kota panas bung!Memang betul, suhu satu kota dengan yang lainnya di bumi pertiwi amat berbeda. Ada yang cenderung dingin dan ada pula yang panasnya menyengat. Namun sepanas-panasnya cuaca kota di Indonesia, sepengetahuan kami tidak sepanas negara gurun pasir di mana AC sudah menjadi kebutuhan primer.Panasnya suasana pondok mungkin bisa disiasati dengan pengaturan yang baik sirkulasi udara dan ventilasi bangunan pondok. Juga dengan memperbanyak pepohonan yang rimbun di komplek pondok, sehingga terciptalah ASÊ (angin sêgar) alami yang sehat dan gratis.b. Mewah dalam makanan keseharian santriAsupan gizi yang mencukupi memang mutlak dibutuhkan agar tubuh dan otak santri bisa fit untuk menyerap pelajaran di kelas. Namun gizi tinggi tidak selalu berkonotasi lauk-pauk yang mahal dan setiap hari piring santri selalu berhiaskan sesuatu yang bernama daging. Protein bisa dipadukan antara yang berbahan dasar nabati maupun hewani.Selain melatih kesederhanaan hidup santri, hal di atas juga akan bisa menekan biaya bulanan makan santri, sehingga bisa dijangkau oleh semakin banyak orang tua yang menginginkan anaknya belajar di pesantren.5. Subsidi silangTingkat ekonomi para orang tua santri tentu amat beragam. Ada yang pas-pasan, ada yang berlebih dan ada pula yang cenderung kekurangan.Saling tolong-menolong dalam kebaikan merupakan ibadah yang amat mulia dalam Islam. Allah ta’ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىArtinya: “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan”. QS. Al-Maidah: 2.Di antara potret indah saling membantu: subsidi silang dalam dunia pesantren. Kelebihan yang dimiliki wali santri kaya dialirkan untuk membantu santri yang kekurangan. Entah itu dalam kemasan beasiswa bagi santri yang berprestasi atau dalam bentuk lainnya.Merupakan suatu hal yang menggembirakan bahwa tidak sedikit pondok-pondok yang telah menerapkan konsep di atas. Hanya saja barangkali kuantitasnya masih perlu untuk ditingkatkan.Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjalankan subsidi silang ini adalah urgensi transparasi dalam penyaluran dana tersebut. Seyogyanya seluruh wali santri, apalagi yang bersangkutan, bisa mengetahui aliran pendanaan tersebut. Semua harus jelas, rapi, terang dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Laporannya pun ada dan siap saji setiap saat, bukan hanya berdasarkan “kira-kira”. Ini mutlak diperlukan, untuk menanamkan kepercayaan dan menghilangkan prasangka buruk6. Menggeliatkan gerakan orang tua asuhBanyak anak cerdas yang sebenarnya ingin sekali masuk ke pesantren, namun karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, mereka terhalang untuk meraih impian indah tersebut.Dalam kondisi seperti inilah empati orang-orang yang dikaruniai kelebihan harta seharusnya ditumbuhsuburkan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy.Gandenglah tangan anak-anak malang itu dan sisihkan sebagian rizki Anda untuk mencetak kader da’i dan ulama. Anda tidak tahu, bisa jadi, anak-anak yang Anda biayai itulah yang akan membantu perjalanan Anda kelak di akhirat, manakala kaki Anda terseok-seok keberatan dosa.إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka seluruh amalannya akan terputus kecuali tiga. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Andaikan menjadi lantaran hidayah seorang manusia saja sudah dianggap sebagai amal salih yang amat utama. Bagaimana jika Anda menjadi lantaran hidayah penduduk satu kampung atau satu kota, melalui perantara putra daerah yang Anda sekolahkan ke pesantren??Dana yang Anda keluarkan untuk membangun masjid adalah amal yang amat mulia, namun jangan lupa, betapa banyak masjid yang ‘mati’ lantaran tidak ada orang yang menghidupkan shalat berjamaah dan menyemarakkan pengajian di dalamnya. Pembangunan fisik perlu diiringi dengan pencetakan Sumber Daya Manusia yang mumpuni.Sekedar contoh, kiprah salah satu pengusaha papan atas Indonesia. Dia membuat sekolah unggulan gratis bagi warga miskin berprestasi. Saat ini 400 siswa dia tampung di SMA unggulan tersebut, segalanya bebas biaya, bahkan plus biaya akomodasi dan uang saku! Biaya operasional yang dikeluarkan per bulannya Rp. 500 juta hingga 1 miliar. Semua berasal dari keuntungan berbagai perusahaan yang dimilikinya.[2]Andaikan setiap pengusaha memiliki spirit kepedulian serupa. Masing-masing sesuai dengan potensi yang ia punyai. Mungkin tidak lagi tersisa anak miskin di bumi pertiwi ini, yang meneteskan air matanya, karena melihat teman-temannya tertawa riang berlari berangkat ke sekolah, sedangkan dia sendiri harus membantu orang tuanya mencari sesuap nasi…7. Menyuburkan ruh pengorbanan dalam jiwa tenaga pengajarSejak dulu dunia lembaga pendidikan Islam tanah air tidak pernah lekang menggoreskan potret keikhlasan, pengorbanan dan kesederhanaan para punggawanya yang luar biasa.Ada kiai yang berkata, “Kasur yang kutiduri tidak akan melebihi empuknya kasur yang ditiduri santriku. Makanan yang kusantap tidak akan lebih enak dibanding makanan santriku!”.Ada pula yang dikisahkan, hingga wafatnya belum memiliki rumah pribadi. Padahal santrinya sudah puluhan ribu, tanah pondoknya telah puluhan hektar dan cabangnya sudah tersebar di seantero penjuru nusantara.Keberhasilan suatu pondok, tidak bisa dilepaskan dari taufik Allah ta’ala, yang itu akan diturunkan-Nya, antara lain, manakala pengasuh pondok dan para tenaga pembantunya ikhlas dalam menjalankan amanah yang diemban.Pondok mereka jadikan sebagai ladang untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal menghadap Allah ta’ala kelak. Yang selalu tertanam dalam benak mereka adalah: “Apa yang bisa saya persembahkan untuk pondok? Bukan keuntungan duniawi apa yang bisa saya raup dari pondok?”. Konsep keikhlasan dalam Islam bukan berarti ustadz diterlantarkan mengajar tanpa ada gaji yang memadai. Bagaimanapun juga mereka juga memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya.Namun demikian, sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu diperhatikan di sini:Pertama: Apa tujuan utama mengajar di pondok? Untuk meraup keuntungan duniawikah? Atau untuk mengejar pahala ukhrawi? Sedangkan gaji yang didapatkan itu dianggap sebagai karunia kemurahan Allah, yang tidak akan mungkin menyia-nyiakan para hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya.Pondok dianggap sebagai lahan basah bisniskah, atau sebagai ladang perjuangan?Pondok diposisikan sebagai imperium keluarga yang kelak dibagi-bagikan kepada ahli warisnyakah, atau dijadikan wakaf kaum muslimin?Kedua: Pola berfikir orang yang beriman, apalagi berilmu, tentu berbeda dengan insan yang minim ilmu agama. Mereka bisa memilah dan memilih mana kebutuhan primer, mana pula kebutuhan sekunder. Harta duniawi yang mereka miliki, hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mengantarkan ke kehidupan abadi kelak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rizki yang cukup dan dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.Tidak lupa beliau juga menggariskan ukuran kecukupan dalam sabdanya,“مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا”“Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani.Tidak selayaknya para ustadz terjangkiti budaya hedonisme. Gemar gonta-ganti kendaraan, laptop atau hp, tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Namun semata mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Selain hal itu akan menggelembungkan pengeluaran mereka, juga akan menimbulkan imej negatif di mata para mad’u. sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam berdakwahCatatan pentingKata keikhlasan harus selalu dihembuskan ke telinga seluruh jajaran anggota pesantren, mulai dari ‘top manager’ hingga ‘akar rumput’, dan disuntikkan ke hati mereka. Namun hendaknya kata mulia ini tidak digunakan sebagai tameng oleh ‘top manager’ untuk menutupi kekurangannya. Manakala mereka tidak mampu memenuhi kesejahteraan para ustadz, dikarenakan belum berusaha maksimal untuk itu.Yang benar, berusahalah secara maksimal untuk mewujudkan hal itu. Jika belum juga bisa memenuhi target, maka ruh pengorbanan dan jiwa keikhlasan perlu untuk ditingkatkan oleh seluruh jajaran anggota pesantren. Supaya roda kehidupan pesantren bisa tetap menggelinding dengan baik.BISIKAN DI TELINGA PARA WALI SANTRIJika pembicaraan di atas lebih banyak tertuju kepada para pengasuh pondok dan segenap jajaran pembantunya, maka bukan berarti para wali tidak perlu untuk diberi arahan.Ketahuilah wahai para orang tua, ustadz-ustadz di pondok telah menguras tenaga dan pikiran, serta mengorbankan waktu mereka demi pendidikan putra-putri Anda. Dan perlu diketahui bahwa proses pengajaran anak bukanlah semata pekerjaan satu pihak. Namun harus ada sinergi antara pihak rumah dan pihak sekolah.Minimal, Anda memperhatikan kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pihak sekolah / pesantren. Hak anak Anda berupa pendidikan dan pengajaran agama telah ia dapatkan, maka jangan lupa penuhi pula hak pondok berupa iuran bulanan. Jadikanlah itu sebagai prioritas utama dalam kehidupan rumah tangga Anda.Sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bahwa sebagian orang tua masih perlu meluruskan skala prioritas pengeluaran mereka, kejadian nyata beberapa saat lalu. Dikisahkan bahwa pengasuh Pondok B di Jawa Timur yang telah terkenal biaya pendidikannya paling murah, suatu hari kedatangan wali santri yang memohon dengan sangat agar uang pangkal sebesar 1,5 juta didiskon atau minimal diundur pembayarannya. Tatkala ditanya tentang alasan, katanya ia baru saja mengeluarkan biaya sekitar 70 juta untuk memasukkan salah satu anaknya ke Fakultas Kedokteran (!!!).Subhanallah… Sudah sedemikiankah cara pandang sebagian wali santri dalam memilah dan memilih mana pengeluaran yang harus didahulukan?? Bukannya tidak boleh belajar di jurusan umum. Tapi manakah yang harus diprioritaskan? Hadits nabawi berikut mungkin bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk mengoreksi ulang pola berpikir kita.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ”.“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikhnya dari Abu Hurairah dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albany.Amat disayangkan banyak pesantren yang setiap bulannya, iuran santri menunggak sampai lebih dari 50 %! Para pengasuh pesantren sering dipaksa ‘sport jantung’ memikirkan santri makan apa besok?Tidak sedikit pula, para wali santri yang menitipkan anaknya di pondok selama bertahun-tahun. Setelah tamat dan merasakan manisnya hasil pendidikan pesantren, dia lupa atau pura-pura lupa, bahwa dia masih memiliki tanggungan SPP yang belum dia lunasi.Sebagian mereka memandang ringan tanggung jawab materi tersebut, dengan alasan tidak ada perjanjian tertulis mengenai kewajiban menyelesaikan tanggungan itu.Ketahuilah, bahwa dengan Anda memasukkan putra Anda ke pesantren, berarti otomatis Anda telah terikat dengan kewajiban keuangan itu. Andaikan tidak Anda bereskan, maka akan menjadi hutang yang tidak akan pernah gugur sampai kapanpun jua. Selama belum Anda lunasi atau dibebaskan oleh pihak pesantren.Bersiaplah, pahala Anda dikurangi untuk dilimpahkan kepada orang lain dan dosa mereka dicabut lalu ditimpakan kepada beban dosa Anda!EPILOGBarangkali sebagian kalangan menilai makalah ini terlalu idealis dan tidak sejalan dengan realita. Namun bukankah mimpi indah di atas bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan?Dengan limpahan karunia taufik dari Allah ta’ala yang tidak berhenti mengalir, kemudian dukungan kerjasama seluruh pihak, insyaAllah kita bisa mewujudkan cita-cita mulia “Membuat lembaga pendidikan Islam berkualitas dengan biaya yang terjangkau”. Atau dengan kata lain “Pesantren yang murah tapi tidak murahan”. Semoga…Wa shallallahu’ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbih ajma’in… Oleh: Abdullah Zaen, MA@ Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga,4 R Tsani 1432 / 12 Maret 2011 [1] Manajemen Pesantren, Pengalaman Pondok Modern Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA (hal. 176-179).[2] Baca: Chairul Tanjung Si Anak Singkong, Tjahja Gunawan Diredja (hal. 257-263). Post navigation Previous Wakaf ProyektorNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


بسم الله الرحمن الرحيمAlhamdulillahiwahdah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah.PROLOGPada suatu hari penulis diajak teman sesama da’i berkunjung ke rumah salah satu ikhwan. Setelah menempuh jarak perjalanan sekitar dua jam naik sepeda motor berboncengan, dengan tubuh yang lumayan pegal-pegal sampai juga kami di tujuan.Dari jalan raya kami masuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui sepeda motor. Terlihat sebuah becak lawas terparkir di halaman. Dengan bertembokkan anyaman bambu dan berlantaikan tanah, di atas tanah sewaan, rumah ukuran kira-kira 3×6 meter itu berdiri. Persis di belakang rumah tersebut mengalir sebuah sungai, yang jika hujan, airnya akan meluap. Sehingga rumah tadi menjadi langganan tempat mampir kepiting hingga ular berbisa.Begitu kami masuk, langsung disambut dengan pelukan hangat persaudaraan. Sejurus tuan rumah bergegas menyiapkan minuman Nutrisari dan menumpahkan biskuit di atas piring, yang nampaknya baru saja ia beli. Kami berusaha menahan beliau agar tidak perlu repot-repot, namun beliau tetap bersikeras untuk menghormati tamunya. Sambil menunggu suguhan, kami tercenung melihat isi rumah yang amat bersahaja itu. Dipan bambu dan lemari yang kayunya telah mengelupas di sana-sini. Kursi plastik, piala juara satu lomba bidang studi milik putra ikhwan tadi dan berbagai aksesori sederhana menghiasi rumah mungil itu. Hampir saja air mata menitik terenyuh, tapi bergegas penulis tahan, khawatir menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.Kemudian kami terlibat perbincangan hangat selama beberapa saat. Di tengah-tengah obrolan terlihat dua anak laki-laki berseragam SMP memasuki pintu belakang rumah. Ternyata mereka berdua adalah putra dari ikhwan tadi. Setelah bersalaman dengan kami, obrolan beralih tentang pendidikan kedua anak tadi.Sesudah menjelaskan prestasi kedua putranya, di mana sang kakak menyabet rangking satu dan si adik meraih rangking kedua di sekolahannya, diiringi pandangan yang menerawang, ikhwan tadi bercerita. Sebenarnya putra-putranya ingin masuk ke pesantren. Namun, kendala biaya menghalangi impian indah tersebut. Bagaimana mungkin dengan mata pencaharian tukang becak, yang hasilnya bisa untuk makan saja sudah mending, ia bisa membayar uang pangkal masuk pesantren sebesar lebih dari lima juta rupiah! Belum lagi SPP bulanan yang menembus angka setengah jutaan.Sebenarnya, rekan da’i yang mengantar saya berkunjung ke rumah ikhwan tersebut telah berusaha melobi kesana kemari agar pondok-pondok yang ia kenal bisa berkenan memberikan keringanan. Namun belum menghasilkan harapan yang diinginkan.Sekelumit kisah tragis, yang saya yakin masih banyak puluhan kisah serupa, yang menyisakan sebuah pertanyaan besar:Apakah pendidikan hanya milik orang kaya?Manakala kita buka lembaran perjalanan pondok-pondok salaf beberapa belas tahun lalu, kita akan temukan bahwa biaya pendidikan di dalamnya masih relatif terjangkau oleh kocek para ikhwan, yang memang kebanyakan berkantong tipis. Barangkali karena lembaga tersebut saat itu masih minim fasilitas dan belum memiliki harga jual yang menjanjikan.Namun dengan berjalannya waktu, tuntutan peningkatan kualitas pendidikan semakin mendesak para punggawa pondok tadi, untuk mau tidak mau menaikkan biaya pendidikan. Mulai dari uang pangkal hingga SPP bulanan.Memang sih, belum seberapa jika dibandingkan dengan berbagai sekolah favorit orang-orang the have yang uang pendaftarannya puluhan juta, sampai ngalah-ngalahin biaya pendidikan S1. Tapi menurut hemat kami, jika biaya pendaftaran hingga menembus lebih dari angka lima jutaan, tampaknya terlalu berat untuk kebanyakan wali murid. Apalagi yang mata pencahariannya ‘hanya’ buruh bangunan, petani kecil-kecilan, penjual gorengan, tukang becak atau yang semisal. Padahal banyak di antara putra-putri orang-orang ‘kecil’ tadi yang keenceran otaknya tidak kalah dengan mereka yang berumah gedong dan bermobil mewah.Banyak masalah terselesaikan dengan uang!Barangkali inilah argumen terkuat yang akan disodorkan manakala kritikan di atas dilontarkan.Betul memang, finansial mutlak dibutuhkan untuk memutar roda kehidupan suatu lembaga pendidikan. Bagaimana tidak, sedangkan pondok harus terus membangun asrama dan kelas, menyediakan fasilitas kesehatan, menggaji para guru dan karyawan, serta seabreg kebutuhan primer lainnya.Namun, apakah itu semua atau mayoritasnya harus dibebankan kepada orang tua santri? Tidakkah ada solusi lain yang mungkin ditempuh?BEBERAPA ALTERNATIF PEMECAHANMungkin berbagai ide di bawah ini bisa dijadikan alternatif untuk menemukan jalan tengah yang dianggap ideal bagi pondok dan wali santri. Seandainya pun sudah diterapkan, barangkali masih perlu untuk dimaksimalkan.1. Memberdayakan unit usaha pondokJumlah santri yang puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan, sejatinya merupakan potensi finansial yang sangat besar jika pemberdayaannya tepat, jitu dan jeli. Masing-masing santri pasti memiliki kebutuhan keseharian. Makanan, minuman, sabun, odol, pakaian, bacaan dan pernik-pernik lainnya.Konsepnya sederhana saja; bagaimana agar uang santri tetap berputar di dalam pondok.Sebuah pondok besar di Jawa Timur, sebut saja Pondok A, yang telah berumur lebih dari delapan puluh tahun, memiliki santri puluhan ribu dan seabreg ‘prestasi’, hingga saat ini masih bisa bertahan untuk tidak terlalu melambungkan uang pangkal dan SPP bulanannya. Padahal jika mau, bisa saja mengikuti tren sekolah mahal, apalagi pondok tersebut memang sudah memiliki nilai jual yang tinggi. Apalagi memang harga barang-barang kebutuhan pokok semakin hari semakin naik. Ditambah kebutuhan rumah tangga para guru yang juga tidak ada habisnya. Namun demikian Pondok A tetap menahan diri untuk tidak menaikkan biaya pendidikannya secara mencolok.Rahasianya?Salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menahan lonjakan beban biaya pendidikan santri adalah: kekuatan penghasilan berbagai unit usaha pondok yang terus menyuplai dana.Tidak tanggung-tanggung, lebih dari dua puluh unit usaha menyokong kehidupan pondok A! Mulai dari penggilingan padi, percetakan buku, toko besi, toko buku, sentral fotokopi, apotik, wartel, toko kelontong, pabrik es, pabrik roti, pabrik air minum, budidaya dan penyembelihan ayam potong, pasar sayur, jasa angkutan, kerajinan sandal, hingga warung bakso!Beberapa tahun lalu saja, peghasilan unit-unit usaha tersebut yang disetorkan ke pondok tidak kurang dari 6 miliar rupiah/tahun![1]Kekuatan swadana luar biasa, yang sejatinya adalah pemberdayaan potensi santri dan simpatisan pondok secara maksimalSudah dicoba tapi sering gagal!Di suatu kesempatan, saya pernah berbincang lebih dekat dengan tokoh sentral Pondok A, karena kebetulan saya pernah menjadi sekertaris beliau. Di antara pertanyaan yang sempat terlontar, “Setiap ada peluang usaha terbuka, Pondok A selalu berusaha menambah unit usahanya, apakah tidak pernah mengalami kegagalan?”.Dengan senyum tersungging ia menjawab, “Jelas, kami pernah gagal dan bahkan sering! Tetapi kami tidak pernah merasa kapok atau jera. Justru itu kami jadikan sebagai lecutan untuk terus maju”.Saya jadi teringat motivasi yang kerap disampaikan para pebisnis yang telah sukses, bahwa keberhasilan besar mereka ‘pasti’ selalu diawali dengan kegagalan. Namun mereka menganggap berbagai kegagalan tersebut sebagai kesuksesan yang tertunda. Sehingga mereka selalu bangkit dan menjadikan kegagalan itu sebagai modal pengalaman yang tak ternilai harganya.Pernah berapa kali saya berdiskusi dengan beberapa pengasuh pondok pesantren salaf mengenai urgensi kemandirian ekonomi pondok. Rata-rata mengamini pentingnya hal itu. Tetapi untuk memulai mewujudkan idealisme tersebut dalam tatanan praktek nyata masih banyak pertimbangan ini dan itu. Salah satu faktor terbesarnya adalah trauma akan kegagalan yang dulu pernah terjadi manakala berusaha merintis unit usaha.Segala sesuatu yang memiliki tantangan pasti beresiko. Namun dengan ikhtiar, niat yang tulus dan tawakal kepada Allah insyaAllah gerbang cerah keberhasilan akan menanti di depan!Memberi pancing bukan ikanSuatu hal yang patut disyukuri, semakin tumbuhnya kesadaran orang-orang yang dikaruniai Allah kelebihan harta untuk menyisihkan sebagian hartanya guna membesarkan pesantren. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang seakan tidak pernah menghitung sumbangan yang ia gelontorkan. Banyak yang diwujudkan dalam bentuk bangunan masjid, asrama, kelas, hingga tunjangan para santri yang kurang mampu. Semoga Allah berkenan menjadikan itu semua sebagai amal jariah mereka, amien.Namun, jika dicermati, rata-rata bantuan tersebut akan habis dengan selesainya proyek yang dituju. Lalu pesantren kembali menunggu uluran tangan berikutnya. Inilah yang kami umpamakan dengan memberi ikan.Barangkali perlu untuk mulai kita pikirkan bagaimana memberi pesantren pancing untuk mengail ikan, bukan memberi ikan yang siap santap. Tujuannya: menumbuhkan kemandirian pondok dan mengurangi ketergantungan kepada bantuan para donatur.Di antara kalimat yang sering diucapkan Kyai Pondok A, “Manakala tidak ada bantuan datang, maka pondok kami tetap jalan. Dan di saat ada bantuan, maka bukan hanya berjalan, namun kami akan berlari kencang!”.Para ustadz sudah sibuk!Siapa yang akan mengurus unit usaha pondok? La wong memikirkan pendidikan santri saja para ustadz sudah kewalahan, koq masih mau dibebani memikirkan warung bakso!Tentunya, bukanlah para ustadz yang ditugaskan untuk menggiling padi, membungkusi roti, atau mengurusi pembukuan keuangan puluhan unit usaha pondok! Selain bukan bidang keahlian mereka, waktu para ustadz juga sudah habis untuk pendidikan dan pengajaran santri.Namun, kita perlu memberdayakan SDM ikhwan-ikhwan para sarjana umum yang alhamdulillah tersebar di mana-mana. Berusaha untuk saling mendukung dalam bidang yang ditekuninya. Apalagi banyak dari mereka yang lebih memilih bekerja di tempat yang ‘aman’.Akan tetapi perlu kehati-hatian, kearifan dan kepiawaian berinteraksi dalam proyek pekerjaan bersama seperti itu. Sebab sering terjadi kerenggangan yang berujung kepada karamnya kapal kerjasama, akibat kekuranghati-hatian dalam bertutur atau bersikap, juga karena kurang ‘mengorangkan’ manusia.2. Menggiatkan program wakaf dan memberdayakannyaWakaf merupakan salah satu aset umat Islam yang luar biasa, mampu memecahkan banyak masalah, jika diberdayakan dengan baik dan profesional.Sebagian kalangan mengira bahwa wakaf itu hanya berupa masjid dan yang serupa. Padahal sebenarnya pengertian wakaf lebih luas dari itu. Bisa berupa wakaf kebun, sawah atau bahkan sumur sekalipun. Sebab definisi wakaf itu sendiri adalah: menjaga aset dan mengalirkan penghasilannya. Karena itu dahulu Utsman bin ‘Affân radhiyallahu’anhu mewakafkan sumur Rûmah untuk kaum muslimin.Di zaman ini pun, banyak lembaga pendidikan yang tetap eksis berkat sokongan wakaf yang dimilikinya. Antara lain: sebuah universitas di Kairo Mesir yang telah berusia ratusan tahun, bahkan dinilai sebagai universitas Islam tertua di dunia. Walau lembaga tersebut minim subsidi dari pemerintah, namun ia tetap eksis. Bahkan bisa memberikan beasiswa -seadanya- kepada para mahasiswanya. Sebab ia memiliki kekuatan raksasa penyokong, yakni wakaf!Berbagai institusi pendidikan di Indonesia pun banyak yang mengadopsi sistem kemandirian itu. Di antaranya: Pondok A tersebut di atas. Dengan puluhan atau ratusan hektar sawah wakaf yang dimilikinya, ia bisa mensubsidi kebutuhan beras para santri. Sehingga kebutuhan makan santri tidak mutlak dibebankan kepada SPP mereka. Buahnya; nominal SPP bisa lebih ditekan.3. Memberdayakan energi santriDulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, seperti lazimnya siswa SD, saya pernah mengikuti perkemahan di suatu lapangan besar yang diikuti oleh SD-SD satu kecamatan. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya tempat itu, ibarat berubah menjadi pasar malam. Namun ‘pahitnya’, setiap kerumunan orang banyak pasti meninggalkan sesuatu yang bernama sampah, dengan berbagai bentuknya.Menarik untuk dicermati, hanya dengan waktu kurang dari setengah jam, lapangan yang mirip kapal pecah tadi, bisa kembali bersih seperti semula, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Ternyata panitia menggunakan siasat kaki seribu.Para peserta dijejerkan bersaf-saf. Lapisan pertama berjalan sambil merunduk dan memunguti sampah. Jika masih ada yang tersisa, akan disikat oleh lapisan kedua. Hingga lapisan terakhir mungkin cuma bisa menemukan puntung rokok, itupun setelah bersusah payah memelototi rumput di hadapannya. Ya, tanpa menyewa tukang sapu, lapangan kembali hijau nyaris tanpa ‘noda’.Kumpulan orang banyak memang memiliki energi besar, jika diberdayakan dengan baik dan sistematis.Dengan memanfaatkan tenaga santri, sebenarnya banyak pengeluaran pondok yang bisa diirit. Tukang sapu, tukang kebun, satpam, penjaga dapur, penunggu kantin, sebenarnya bisa ditangani oleh santri. Sehingga pondok memiliki puluhan ‘karyawan sukarela’.Wah, waktu santri habis dong!Kalimat “diberdayakan dengan baik” perlu dicetak tebal di sini. Kita bukan akan membebani santri 24 jam mengurusi tetek-bengek tersebut di atas. Jelas itu akan merubah tujuan utama kedatangan mereka ke pesantren. Namun dengan pembagian jadwal yang baik dan pemerataan tugas, paling-paling, satu santri hanya akan kebagian menyapu satu jam dalam satu minggu, tidak lebih! (Namun jangan lupa, harus ada monitoring dari pengurus. Supaya jadwal tersebut tidak berubah menjadi hiasan dinding belaka, alias ndak jalan).Adapun, pekerjaan yang lebih berat dan membutuhkan pemikiran serta amanah tinggi, semisal menjaga koperasi, maka bisa diserahkan kepada santri senior pilihan yang lazim ada di suatu lembaga pendidikan. Di luar, biasa diistilahkan dengan OSIS.Masa santri jadi tukang kebun?!Sekitar lima tahun lalu, tatkala masih kuliah di Madinah, penulis sempat diamanahi menggemban posisi Mandub mahasiswa Indonesia Universitas Islam Madinah. Kalau di Indonesia, mungkin biasa diistilahkan dengan Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).Walaupun pekerjaan yang dibebankan tidak banyak-banyak amat, namun tetap menuntut adanya kerjasama dengan mahasiswa lain. Namanya berinteraksi dengan berbagai jenis manusia, selalu saja ada suka dan duka. Sukanya, jika teman yang dimintai bantuan berkarakter ringan tangan. Dukanya, jika rekan yang diajak cenderung jaim (jaga image)nya terlalu besar, alias ogah-ogahan diajak berbuat untuk orang lain.Ketika penulis lengser dan posisi tersebut digantikan adik kelas, ternyata ia pun mengalami hal serupa dalam suka dan duka. Saat penulis cermati, ternyata banyak di antara mereka yang enggan diajak bekerja, dahulunya ketika di pondok konsentrasinya dalam belajar kurang diimbangi dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sukarela.Memberdayakan santri untuk menjalankan ‘pekerjaan rumah tangga’ bukanlah suatu hal yang hina. Justru itu akan mendidik mereka menurunkan gengsi dan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi tuntutan keadaan.Seorang santri yang terjun ke dunia nyata dakwah tertuntut untuk bisa melakukan transformasi diri. Ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas dakwahnya. Di kehidupan nyata, kerap da’i harus dihadapkan dengan kondisi yang menuntut ia menjadi ustadz, plus tukang sapu, macul sawah, dan pekerjaan-pekerjaan lain, yang barangkali tidak terbayangkan sama sekali saat dulu duduk di bangku pesantren. Dan itu merupakan salah satu tantangan dakwah yang harus dihadapi bukan dihindari. Toh, dahulu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga berbaur dengan para sahabatnya dalam pekerjaan keseharian mereka dan tidak bersikap eksklusif.Pemberdayaan seperti ini mengandung pendidikan mental dan karakter yang sangat dibutuhkan saat terjun ke masyarakat, dan ditengarai menjadi titik kelemahan banyak lembaga pendidikan salaf yang cenderung unggul dalam bidang keilmuan.4. Menghindarkan hal-hal yang kurang urgenKenyamanan situasi belajar mengajar memang amat diperlukan untuk memperlancar proses transfer ilmu ke diri para santri. Namun seharusnya tidak sampai berlebihan dalam memanjakan santri, sehingga menghilangkan ruh pengorbanan dan kerja keras dalam menimba ilmu.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah menyampaikan petuahnya, “Ilmu itu tidak didapat dengan bersantai ria”.Berikut penulis bawakan dua contoh:a. Penggunaan AC di kamar atau kelas santriTidak bisa dipungkiri, bahwa secara umum di negeri kita, AC masih dianggap sebagai barang mahal dan simbol kemewahan. Karenanya, menurut hemat kami, pemasangan AC di seluruh kamar dan kelas santri, bukan sekedar di ruang laboratorium komputer saja, merupakan perilaku berlebih dalam dunia pesantren. Walaupun barangkali ada donatur yang siap untuk menyediakan secara cuma-cuma seluruh unit AC yang dibutuhkan. Namun, tentu tagihan listrik dan biaya perawatan akan membengkak. Ujung-ujungnya santri pula yang akan terbebani pembiayaan tersebut.Pemakaian AC secara full juga berdampak membiasakan santri untuk berlaku manja serta hidup selalu serba enak. Dan hampir bisa dipastikan akan berpengaruh kepada militansi dakwah mereka, manakala terjun ke dunia nyata perjuangan, yang rata-rata amat jauh dari sesuatu yang beraroma kemewahan. Lagi pula sudah menjadi rahasia umum bahwa peralatan pendingin seperti ini menimbulkan dampak kurang baik bagi kesehatan tubuh.Ini kota panas bung!Memang betul, suhu satu kota dengan yang lainnya di bumi pertiwi amat berbeda. Ada yang cenderung dingin dan ada pula yang panasnya menyengat. Namun sepanas-panasnya cuaca kota di Indonesia, sepengetahuan kami tidak sepanas negara gurun pasir di mana AC sudah menjadi kebutuhan primer.Panasnya suasana pondok mungkin bisa disiasati dengan pengaturan yang baik sirkulasi udara dan ventilasi bangunan pondok. Juga dengan memperbanyak pepohonan yang rimbun di komplek pondok, sehingga terciptalah ASÊ (angin sêgar) alami yang sehat dan gratis.b. Mewah dalam makanan keseharian santriAsupan gizi yang mencukupi memang mutlak dibutuhkan agar tubuh dan otak santri bisa fit untuk menyerap pelajaran di kelas. Namun gizi tinggi tidak selalu berkonotasi lauk-pauk yang mahal dan setiap hari piring santri selalu berhiaskan sesuatu yang bernama daging. Protein bisa dipadukan antara yang berbahan dasar nabati maupun hewani.Selain melatih kesederhanaan hidup santri, hal di atas juga akan bisa menekan biaya bulanan makan santri, sehingga bisa dijangkau oleh semakin banyak orang tua yang menginginkan anaknya belajar di pesantren.5. Subsidi silangTingkat ekonomi para orang tua santri tentu amat beragam. Ada yang pas-pasan, ada yang berlebih dan ada pula yang cenderung kekurangan.Saling tolong-menolong dalam kebaikan merupakan ibadah yang amat mulia dalam Islam. Allah ta’ala berfirman,وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىArtinya: “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan”. QS. Al-Maidah: 2.Di antara potret indah saling membantu: subsidi silang dalam dunia pesantren. Kelebihan yang dimiliki wali santri kaya dialirkan untuk membantu santri yang kekurangan. Entah itu dalam kemasan beasiswa bagi santri yang berprestasi atau dalam bentuk lainnya.Merupakan suatu hal yang menggembirakan bahwa tidak sedikit pondok-pondok yang telah menerapkan konsep di atas. Hanya saja barangkali kuantitasnya masih perlu untuk ditingkatkan.Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjalankan subsidi silang ini adalah urgensi transparasi dalam penyaluran dana tersebut. Seyogyanya seluruh wali santri, apalagi yang bersangkutan, bisa mengetahui aliran pendanaan tersebut. Semua harus jelas, rapi, terang dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Laporannya pun ada dan siap saji setiap saat, bukan hanya berdasarkan “kira-kira”. Ini mutlak diperlukan, untuk menanamkan kepercayaan dan menghilangkan prasangka buruk6. Menggeliatkan gerakan orang tua asuhBanyak anak cerdas yang sebenarnya ingin sekali masuk ke pesantren, namun karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, mereka terhalang untuk meraih impian indah tersebut.Dalam kondisi seperti inilah empati orang-orang yang dikaruniai kelebihan harta seharusnya ditumbuhsuburkan.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menasehatkan,“ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ“.“Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya kalian dikaruniai rizki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian”. HR. Abu Dawud, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawy.Gandenglah tangan anak-anak malang itu dan sisihkan sebagian rizki Anda untuk mencetak kader da’i dan ulama. Anda tidak tahu, bisa jadi, anak-anak yang Anda biayai itulah yang akan membantu perjalanan Anda kelak di akhirat, manakala kaki Anda terseok-seok keberatan dosa.إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“Jika manusia mati, maka seluruh amalannya akan terputus kecuali tiga. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Andaikan menjadi lantaran hidayah seorang manusia saja sudah dianggap sebagai amal salih yang amat utama. Bagaimana jika Anda menjadi lantaran hidayah penduduk satu kampung atau satu kota, melalui perantara putra daerah yang Anda sekolahkan ke pesantren??Dana yang Anda keluarkan untuk membangun masjid adalah amal yang amat mulia, namun jangan lupa, betapa banyak masjid yang ‘mati’ lantaran tidak ada orang yang menghidupkan shalat berjamaah dan menyemarakkan pengajian di dalamnya. Pembangunan fisik perlu diiringi dengan pencetakan Sumber Daya Manusia yang mumpuni.Sekedar contoh, kiprah salah satu pengusaha papan atas Indonesia. Dia membuat sekolah unggulan gratis bagi warga miskin berprestasi. Saat ini 400 siswa dia tampung di SMA unggulan tersebut, segalanya bebas biaya, bahkan plus biaya akomodasi dan uang saku! Biaya operasional yang dikeluarkan per bulannya Rp. 500 juta hingga 1 miliar. Semua berasal dari keuntungan berbagai perusahaan yang dimilikinya.[2]Andaikan setiap pengusaha memiliki spirit kepedulian serupa. Masing-masing sesuai dengan potensi yang ia punyai. Mungkin tidak lagi tersisa anak miskin di bumi pertiwi ini, yang meneteskan air matanya, karena melihat teman-temannya tertawa riang berlari berangkat ke sekolah, sedangkan dia sendiri harus membantu orang tuanya mencari sesuap nasi…7. Menyuburkan ruh pengorbanan dalam jiwa tenaga pengajarSejak dulu dunia lembaga pendidikan Islam tanah air tidak pernah lekang menggoreskan potret keikhlasan, pengorbanan dan kesederhanaan para punggawanya yang luar biasa.Ada kiai yang berkata, “Kasur yang kutiduri tidak akan melebihi empuknya kasur yang ditiduri santriku. Makanan yang kusantap tidak akan lebih enak dibanding makanan santriku!”.Ada pula yang dikisahkan, hingga wafatnya belum memiliki rumah pribadi. Padahal santrinya sudah puluhan ribu, tanah pondoknya telah puluhan hektar dan cabangnya sudah tersebar di seantero penjuru nusantara.Keberhasilan suatu pondok, tidak bisa dilepaskan dari taufik Allah ta’ala, yang itu akan diturunkan-Nya, antara lain, manakala pengasuh pondok dan para tenaga pembantunya ikhlas dalam menjalankan amanah yang diemban.Pondok mereka jadikan sebagai ladang untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal menghadap Allah ta’ala kelak. Yang selalu tertanam dalam benak mereka adalah: “Apa yang bisa saya persembahkan untuk pondok? Bukan keuntungan duniawi apa yang bisa saya raup dari pondok?”. Konsep keikhlasan dalam Islam bukan berarti ustadz diterlantarkan mengajar tanpa ada gaji yang memadai. Bagaimanapun juga mereka juga memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarganya.Namun demikian, sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu diperhatikan di sini:Pertama: Apa tujuan utama mengajar di pondok? Untuk meraup keuntungan duniawikah? Atau untuk mengejar pahala ukhrawi? Sedangkan gaji yang didapatkan itu dianggap sebagai karunia kemurahan Allah, yang tidak akan mungkin menyia-nyiakan para hamba-Nya yang berjuang membela agama-Nya.Pondok dianggap sebagai lahan basah bisniskah, atau sebagai ladang perjuangan?Pondok diposisikan sebagai imperium keluarga yang kelak dibagi-bagikan kepada ahli warisnyakah, atau dijadikan wakaf kaum muslimin?Kedua: Pola berfikir orang yang beriman, apalagi berilmu, tentu berbeda dengan insan yang minim ilmu agama. Mereka bisa memilah dan memilih mana kebutuhan primer, mana pula kebutuhan sekunder. Harta duniawi yang mereka miliki, hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mengantarkan ke kehidupan abadi kelak.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rizki yang cukup dan dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah”. HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.Tidak lupa beliau juga menggariskan ukuran kecukupan dalam sabdanya,“مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ؛ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا”“Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu; seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani.Tidak selayaknya para ustadz terjangkiti budaya hedonisme. Gemar gonta-ganti kendaraan, laptop atau hp, tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Namun semata mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Selain hal itu akan menggelembungkan pengeluaran mereka, juga akan menimbulkan imej negatif di mata para mad’u. sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam berdakwahCatatan pentingKata keikhlasan harus selalu dihembuskan ke telinga seluruh jajaran anggota pesantren, mulai dari ‘top manager’ hingga ‘akar rumput’, dan disuntikkan ke hati mereka. Namun hendaknya kata mulia ini tidak digunakan sebagai tameng oleh ‘top manager’ untuk menutupi kekurangannya. Manakala mereka tidak mampu memenuhi kesejahteraan para ustadz, dikarenakan belum berusaha maksimal untuk itu.Yang benar, berusahalah secara maksimal untuk mewujudkan hal itu. Jika belum juga bisa memenuhi target, maka ruh pengorbanan dan jiwa keikhlasan perlu untuk ditingkatkan oleh seluruh jajaran anggota pesantren. Supaya roda kehidupan pesantren bisa tetap menggelinding dengan baik.BISIKAN DI TELINGA PARA WALI SANTRIJika pembicaraan di atas lebih banyak tertuju kepada para pengasuh pondok dan segenap jajaran pembantunya, maka bukan berarti para wali tidak perlu untuk diberi arahan.Ketahuilah wahai para orang tua, ustadz-ustadz di pondok telah menguras tenaga dan pikiran, serta mengorbankan waktu mereka demi pendidikan putra-putri Anda. Dan perlu diketahui bahwa proses pengajaran anak bukanlah semata pekerjaan satu pihak. Namun harus ada sinergi antara pihak rumah dan pihak sekolah.Minimal, Anda memperhatikan kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pihak sekolah / pesantren. Hak anak Anda berupa pendidikan dan pengajaran agama telah ia dapatkan, maka jangan lupa penuhi pula hak pondok berupa iuran bulanan. Jadikanlah itu sebagai prioritas utama dalam kehidupan rumah tangga Anda.Sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bahwa sebagian orang tua masih perlu meluruskan skala prioritas pengeluaran mereka, kejadian nyata beberapa saat lalu. Dikisahkan bahwa pengasuh Pondok B di Jawa Timur yang telah terkenal biaya pendidikannya paling murah, suatu hari kedatangan wali santri yang memohon dengan sangat agar uang pangkal sebesar 1,5 juta didiskon atau minimal diundur pembayarannya. Tatkala ditanya tentang alasan, katanya ia baru saja mengeluarkan biaya sekitar 70 juta untuk memasukkan salah satu anaknya ke Fakultas Kedokteran (!!!).Subhanallah… Sudah sedemikiankah cara pandang sebagian wali santri dalam memilah dan memilih mana pengeluaran yang harus didahulukan?? Bukannya tidak boleh belajar di jurusan umum. Tapi manakah yang harus diprioritaskan? Hadits nabawi berikut mungkin bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk mengoreksi ulang pola berpikir kita.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ”.“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. HR. Al-Hakim dalam Tarikhnya dari Abu Hurairah dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albany.Amat disayangkan banyak pesantren yang setiap bulannya, iuran santri menunggak sampai lebih dari 50 %! Para pengasuh pesantren sering dipaksa ‘sport jantung’ memikirkan santri makan apa besok?Tidak sedikit pula, para wali santri yang menitipkan anaknya di pondok selama bertahun-tahun. Setelah tamat dan merasakan manisnya hasil pendidikan pesantren, dia lupa atau pura-pura lupa, bahwa dia masih memiliki tanggungan SPP yang belum dia lunasi.Sebagian mereka memandang ringan tanggung jawab materi tersebut, dengan alasan tidak ada perjanjian tertulis mengenai kewajiban menyelesaikan tanggungan itu.Ketahuilah, bahwa dengan Anda memasukkan putra Anda ke pesantren, berarti otomatis Anda telah terikat dengan kewajiban keuangan itu. Andaikan tidak Anda bereskan, maka akan menjadi hutang yang tidak akan pernah gugur sampai kapanpun jua. Selama belum Anda lunasi atau dibebaskan oleh pihak pesantren.Bersiaplah, pahala Anda dikurangi untuk dilimpahkan kepada orang lain dan dosa mereka dicabut lalu ditimpakan kepada beban dosa Anda!EPILOGBarangkali sebagian kalangan menilai makalah ini terlalu idealis dan tidak sejalan dengan realita. Namun bukankah mimpi indah di atas bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan?Dengan limpahan karunia taufik dari Allah ta’ala yang tidak berhenti mengalir, kemudian dukungan kerjasama seluruh pihak, insyaAllah kita bisa mewujudkan cita-cita mulia “Membuat lembaga pendidikan Islam berkualitas dengan biaya yang terjangkau”. Atau dengan kata lain “Pesantren yang murah tapi tidak murahan”. Semoga…Wa shallallahu’ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbih ajma’in… Oleh: Abdullah Zaen, MA@ Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga,4 R Tsani 1432 / 12 Maret 2011 [1] Manajemen Pesantren, Pengalaman Pondok Modern Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA (hal. 176-179).[2] Baca: Chairul Tanjung Si Anak Singkong, Tjahja Gunawan Diredja (hal. 257-263). Post navigation Previous Wakaf ProyektorNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Comments are closed.Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR

Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,2 Rabi’ul Awwal 1434 / 14 Januari 2013 Post navigation Previous Empati Pendidikan Untuk Anak MiskinNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESAR

Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,2 Rabi’ul Awwal 1434 / 14 Januari 2013 Post navigation Previous Empati Pendidikan Untuk Anak MiskinNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,2 Rabi’ul Awwal 1434 / 14 Januari 2013 Post navigation Previous Empati Pendidikan Untuk Anak MiskinNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Terlampau banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Saking banyaknya, hingga kita tidak mungkin bisa menghitungnya. Dan seringkali kita lalai serta tidak menyadari betapa besar nikmat tersebut. Nikmat itu baru terasa manakala lenyap.Dahulu orang bijak mengatakan, “Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat. Tidak ada yang bisa melihat mahkota tersebut, kecuali orang-orang sakit”.Di antara nikmat besar yang kerap terlupakan keberadaannya adalah: anak. Kehadiran sang buah hati merupakan karunia dan hadiah dari Allah ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh-Nya,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ“Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Terlebih bila anak tersebut adalah anak yang salih-salihah. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, jauh melebihi kekayaan materi. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara serta penolong bagi kedua orang tuanya, di dunia ini dan di akhirat kelak.Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai anugerah. Bisa jadi kita juga termasuk jenis orang tua yang belum bersyukur. Buktinya, keluh kesah masih begitu sering terlontar dari lisan. Masih ditambah pula dengan iringan kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.Jika demikian, marilah kita bersama-sama melihat di luar sana…Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan. Namun Allah ta’ala belum juga berkenan mengaruniakan anak kepada mereka. Padahal segala sarana dan saran telah dijalankan. Doa juga tidak lupa untuk selalu dipanjatkan.Di tempat lain, banyak orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dicintainya, pergi untuk selamanya. Ada pula yang semula anaknya sempurna, tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat bugar, mendadak tergeletak tak berdaya karena penyakit kronis yang tidak pernah terduga sebelumnya.Dari sini kita sadar…Bahwa ternyata anak adalah anugerah besar. Maka syukurilah nikmat ini, agar langgeng dan terus bertambah baik. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam QS. Ibrahim (14): 7. Dan dengan rasa syukur tersebut diharapkan kita bisa lebih sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Juga semakin memperbesar harapan agar mereka tumbuh menjadi anak salih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, amien.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,2 Rabi’ul Awwal 1434 / 14 Januari 2013 Post navigation Previous Empati Pendidikan Untuk Anak MiskinNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN

Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ“.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ“.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,16 Rabi’ul Awwal 1434 / 28 Januari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN

Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ“.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ“.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,16 Rabi’ul Awwal 1434 / 28 Januari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ“.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ“.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,16 Rabi’ul Awwal 1434 / 28 Januari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا“.Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. QS. Al-Kahfi (18): 46.Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ“. Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. QS. At-Taghabun (64): 15.Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya…Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ“.“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany.Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Iapun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ“.“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. HR. Bukhari dan Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,16 Rabi’ul Awwal 1434 / 28 Januari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH

Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH

Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH

Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAH

Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Tentu banyak di antara kita yang pernah dititipi sesuatu oleh orang lain. Amanah tersebut mestinya akan kita jaga sebaik-baiknya. Terlebih jika titipan tersebut adalah barang yang amat berharga, dan orang yang menitipkannya kepada kita adalah orang terhormat.Namun, ada satu amanah yang sangat istimewa, dan yang menitipkannya kepada kita pun, Dzat yang amat mulia, tetapi justru malah seringkali kita menyia-nyiakannya. Titipan yang tidak semua orang mendapat kehormatan untuk mengembannya. Amanah tersebut tidak lain adalah anak.Bayi yang Allah anugerahkan kepada kita bagaikan mutiara yang masih berada dalam cangkangnya. Masih terjaga dari jamahan tangan-tangan luar. Hatinya masih suci, ibarat selembar kertas putih, tanpa goresan apalagi ukiran. Setelah itu sedikit demi sedikit, kepribadian dan perilaku anak terbentuk, sesuai dengan apa yang dilihat di komunitas terdekatnya. Yakni di dalam rumah dan lingkungannya.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه““Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.Itulah masa keemasan yang tidak boleh disia-siakan. Kesalihan anak bukanlah hadiah gratis yang turun dari langit begitu saja. Namun membutuhkan usaha dan perjuangan dari orang tua.Tanggung jawab kita terhadap anak bukan sekedar memberinya makan kenyang, pakaian bagus ataupun rumah lapang. Tetapi tanggung jawab yang lebih berat adalah memberikan pendidikan terbaik bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari azab Allah. [Lihat: QS. At-Tahrim (66): 6].Allah ta’ala pasti akan meminta pertanggungjawaban kita atas amanah ini. Dalam hadits disebutkan:“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ…”“Setiap kalian adalah pemimpin dan semua akan ditanya tentang bawahannya … Lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Wanita merupakan penanggungjawab di rumah suaminya serta bagi anaknya, dan dia akan ditanya tentang mereka.” HR. Bukhari dan Muslim.Memang tugas dan tanggung jawab ini tidaklah ringan. Ujian dan rintangan mungkin muncul silih berganti. Rasa letih dan bosan kadang datang mendera. Sementara setan terus membuat makar dan tipu daya untuk mematahkan semangat kita. Sekaligus mengompori sifat keluh kesah, yang memang merupakan tabiat dasar manusia. [Baca: QS. Al-Ma’arij (70): 19].Namun, tipu daya tersebut tentu harus dilawan! Jauhilah sifat keluh kesah sebisa mungkin. Sebab keluh kesah hanya akan membawa kerugian. Karena, sekecil apapun tugas dan tanggung jawab, bila disikapi dengan keluh kesah, amarah dan perasaan tidak ikhlas, maka tugas ringan akan menjadi beban berat. Lebih rugi lagi, karena hati tidak ikhlas, akibatnya pahala gagal diraih. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.Sebaliknya, jika tanggung jawab ini dipikul dengan penuh keikhlasan, niscaya akan membawa kebaikan. Sebab, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, maka tugas berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, berkat keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat, akan bernilai pahala di sisi-Nya. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Di dunia, pekerjaan terasa nikmat dan bisa mencicipi buah manis kebaktian anak. Sedangkan di akhirat, maka insyaAllah akan menuai limpahan pahala. Allahumma amien…@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,1 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Februari 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru! Beberapa contoh aplikasi nyatanyaManakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,15 Rabi’uts Tsani 1434 / 25 Februari 2013 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 4: ANAK ADALAH AMANAH ALLAHNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!

Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!

Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.Tetapi, terimalah kabar gembira…Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,“إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ“.“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu. Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam bertutur,“مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ“.“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: “يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟“ فَيَقُولُ: “بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ“.“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala berfirman,“جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ“Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,29 Rabi’uts Tsani 1434 / 11 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 5: KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA

Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA

Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu. Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:“فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ“Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh ‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal dalam keadaan tidak beriman??! Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,“يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ“ “Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,13 J Ula 1434 / 25 Maret 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 6: SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN

Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGAN

Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Mendidik anak dari dini bukanlah dimulai sejak dia baru lahir. Namun semenjak ia masih berada dalam kandungan. Bahkan sejak pertama kali memilih pasangan hidup pun, itu juga akan menentukan keberhasilan kita dalam mendidik anak.Di saat janin dalam rahim berumur 120 hari, sejatinya ia telah bernyawa. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,“إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ“.“Sesungguhnya setiap orang berada di dalam perut ibunya (berbentuk mani) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian berubah menjadi sekerat daging selama itu juga. Lalu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu.Jadi, berdasarkan hadits di atas, setelah lewat 4 bulan, janin dalam perut sudah hidup. Lalu penemuan-penemuan ilmiah membuktikan bahwa janin sebelum lahir mampu merespon stimulasi edukatif yang diberikan kepadanya.Jadi, dari pra lahir kita sudah bisa mendidik anak kita. Caranya antara lain dengan: Memperbanyak doa.Para nabi ‘alaihimussalam juga orang-orang salih selalu mendoakan anak-anak mereka sejak dalam kandungan. Misalnya: Nabi Ibrahim [QS. Ash-Shâffât (37): 100] dan Nabi Zakariya [QS. Ali Imran (3): 38]. Tekun beribadah.Tidak ada salahnya, manakala orang tua akan menjalankan aktifitas ibadah, seperti shalat, bersedekah, berdzikir, berpuasa atau yang lainnya, ia menyapa anaknya yang ada di dalam perut. Contohnya: “Sabar ya nak, sekarang kita sedang berpuasa!”. Merutinkan membaca al-Qur’an.Bukan hanya membaca al-Qur’an, lebih baik lagi jika orang tua melatih diri untuk menghapal al-Qur’an semampunya. Sehingga diharapkan manakala ia banyak melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, anak yang berada dalam janin ikut merekam bacaan orang tuanya. Sehingga kelak saat lahir anak telah memiliki ‘bekal’ hapalan al-Qur’an. Bertutur kata yang baik.Biasakanlah untuk senantiasa berbicara dengan santun dan baik. Semoga dengan demikian anakpun akan tertular dengan perilaku positif tersebut.Pendek kata, manfaatkanlah setiap detik dalam kehidupan kita untuk mendidik anak kita, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Sejatinya kesuksesan besar itu sangat ditentukan dengan langkah pertama yang baik.Selamat mempraktekkan!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,26 J Ula 1434 / 7 April 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 7: HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITANext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU! Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!

Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!

Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Ingatlah wahai para orang tua, bahwa setan tidak akan pernah duduk manis, membiarkan anak kita tumbuh menjadi generasi yang salih dan salihah. Dia tidak akan pernah merasa puas, hingga berhasil menjadikan anak-anak kita menjadi kaki tangan mereka. Na’udzubillah min dzalik.Karena liciknya tipu daya mereka, juga tabiat dasar manusia yang lemah, kita perlu memohon bantuan kepada Allah agar Dia berkenan melindungi kita dan anak-anak kita.Berikut cara memohon perlindungan kepada Allah untuk anak-anak kita: Mintalah perlindungan pada-Nya sebelum ‘membuat’ anak. Yakni dengan membaca doa berikut sebelum melakukan hubungan suami istri:“بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“.“Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkan pula gangguan setan dari (anak) yang akan Kau karuniakan pada kami”. HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma. Mohonlah perlindungan pada Allah saat anak lahir. Sebagaimana ucapan ibunda Maryam,“وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“.Artinya: “Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta keturunannya dari setan yang terkutuk”. QS. Ali Imrân (3): 36. Mintalah perlindungan kepada-Nya untuk mereka setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore.Jika mereka belum bisa membaca al-Qur’an, bacakanlah surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu usapkan tanganmu ke tubuh mereka.Atau bisa juga dengan membaca doa perlindungan yang dahulu pernah dibacakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk cucu beliau; al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu’anhuma,“أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ“.“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban, al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.Redaksi di atas adalah bila anak yang didoakan berjumlah dua orang. Jika lebih dari dua maka kalimat yang digarisbawahi diganti dengan “u’îdzukum”. Bila satu anak lelaki maka “u’îdzuka”, dan bila satu anak perempuan maka “u’îdzuki”. Jangan biarkan anak-anak berkeliaran di luar rumah saat malam tiba. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mewanti-wanti,“إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ““Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka”. HR. Bukhari (hal. 669 no. 3280) dan Muslim (XIII/185 no. 5218) dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 J Tsani 1434 / 6 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 8: MENDIDIK ANAK DALAM KANDUNGANNext Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1

Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 10: KARAKTER PENDIDIK SUKSES bag-1

Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Kesempurnaan sifat pendidik memang hanya dimiliki oleh para rasul ‘alaihimussalam. Namun kita sebagai orang tua, tetap tertuntut dengan segenap kemampuan, untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Sebab kita telah dijadikan anak sebagai fokus teladan dan contoh nyata yang mereka saksikan dalam keseharian.Inilah karakter yang harus dimiliki pendidik: BERILMUIlmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Ilmu apa saja yang dibutuhkan?Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه““Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu itu kepada orang lain?Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, juga adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya. Ayo belajar!Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Rajab 1434 / 20 Mei 2013 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 9: JANGAN BIARKAN SETAN MENJAMAH ANAKMU!Next Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 11: KARAKTER PENDIDIK SUKSES Bagian 2 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next