Matan Abu Syuja: Sunnah dan Adab Puasa

Kali ini kita akan melihat sunnah dan adab puasa dari matan Abu Syuja. Ada tiga hal yang nanti akan disebutkan kali ini.   Abu Syuja’ rahimahullah dalam kitab Matan Ghayah Al-Ikhtishar, وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ : تَعْجِيْلُ الفِطْرِ وَتَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ وَتَرْكُ الهِجْرِ مِنَ الكَلاَمِ Ada tiga hal yang disunnahkan ketika puasa: (1) menyegerakan berbuka puasa, (2) mengakhirkan makan sahur, (3) meninggalkan kata-kata kotor.   (1) Menyegerakan berbuka puasa   Yang dimaksud di sini adalah ketika matahari telah benar-benar tenggelam, langsung disegerakan waktu berbuka puasa. Dalilnya adalah dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Bahkan menyegerakan waktu berbuka bertujuan untuk menyelisihi Yahudi dan Nashrani sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ “Islam tetap terus jaya ketika manusia menyegerakan waktu berbuka karen Yahudi dan Nashrani sering mengakhirkannya.” (HR. Abu Daud, no. 2352 dan Ahmad, 2:450. Hadits ini hasan kata Syaikh Al-Albani). Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthob (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamer(kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud, no. 2356 dan Ahmad, 3:164. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Yang dianjurkan ketika berbuka adalah dengan ruthob (kurma basah), lalu tamer (kurma kering). Jika tidak didapati kurma, maka boleh digantikan dengan makanan yang manis-manis. Di sini dianjurkan dengan yang manis-manis ketika berbuka karena yang manis tersebut semakin menguatkan orang yang berpuasa. Sedangkan berbuka puasa dengan air bertujuan untuk menyucikan atau menyegarkan. Adapun jika berada di Makkah, dianjurkan berbuka dengan air zam-zam. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251-252. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:562) disebutkan bahwa hukum berbuka puasa adalah wajib karena diharamkan melakukan puasa wishol yaitu berpuasa terus menerus selama dua hari atau lebih, tanpa berbuka.   (2) Mengakhirkan makan sahur   Makan sahur itu disepakati oleh para ulama, hukumnya sunnah (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 252). Mengenai anjuran makan sahur disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً “Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095). Kata Muhammad Al-Khatib rahimahullah, waktu makan sahur dimulai dari tengah malam, lihat Al-Iqna’, 1:410. Waktu sebelum itu tidak disebut makan sahur sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baijuri, 1:563. Namun waktu makan sahur yang terbaik adalah diakhirkan, artinya masih dibolehkan makan selama belum yakin tibanya fajar shubuh. Tujuan mengakhirkan makan sahur adalah untuk lebih menguatkan badan. Mengenai sunnah mengakhirkan makan sahur di sini disebutkan dalam hadits berikut ini. عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ » Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad, 5:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif). Dalil lain yang mendukung hadits di atas adalah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan sahur sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِىُّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى الصَّلاَةِ فَصَلَّى . قُلْنَا لأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِى الصَّلاَةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi pun berdiri untuk pergi shalat, lalu beliau shalat. Kami pun berkata pada Anas, “Berapa lama jarak antara waktu selesai makan sahur dan waktu pengerjaan shalat?” Beliau menjawab, “Sekitar seseorang membaca 50 ayat.” (HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097). Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan jarak antara akhir makan sahur dan mulai shalat.” (Fath Al-Bari, 4:138). Ibnu Abi Jamrah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa sahur itu diakhirkan.” (Idem) Kata penulis Fath Al-Qarib, makanan sahur bisa sedikit maupun banyak. Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 1:264.   (3) Meninggalkan kata-kata kotor   Orang yang berpuasa sangat ditekankan untuk meninggalkan ghibah (menggunjing orang lain) dan meninggalkan dusta, begitu juga meninggalkan perbuatan haram lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dusta dan malah melakukan konsekuensinya, maka Allah tidak pandang lagi pada makan dan minum yang ia tinggalkan.” (HR. Bukhari, no. 1903). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Betapa banyak orang yang hanya dapati dari puasa rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat malam hanya mendapatkan rasa capek saja.”(HR. Ahmad, 2:373 dan Ibnu Majah, no. 1690. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid). Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata bahwa mencela, berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan semacamnya termasuk perbuatan yang haram secara zatnya. Namun dari sisi orang yang berpuasa, hal ini lebih berbahaya karena bisa menghapuskan pahala puasa, walau puasanya itu sah dan telah dianggap menunaikan yang wajib. Sehingga perkara ini tepat dimasukkan dalam adab dan sunnah puasa. Lihat Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 347.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab puasa buka puasa makan sahur maksiat saat puasa matan abu syuja pembatal puasa sunnah puasa

Matan Abu Syuja: Sunnah dan Adab Puasa

Kali ini kita akan melihat sunnah dan adab puasa dari matan Abu Syuja. Ada tiga hal yang nanti akan disebutkan kali ini.   Abu Syuja’ rahimahullah dalam kitab Matan Ghayah Al-Ikhtishar, وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ : تَعْجِيْلُ الفِطْرِ وَتَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ وَتَرْكُ الهِجْرِ مِنَ الكَلاَمِ Ada tiga hal yang disunnahkan ketika puasa: (1) menyegerakan berbuka puasa, (2) mengakhirkan makan sahur, (3) meninggalkan kata-kata kotor.   (1) Menyegerakan berbuka puasa   Yang dimaksud di sini adalah ketika matahari telah benar-benar tenggelam, langsung disegerakan waktu berbuka puasa. Dalilnya adalah dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Bahkan menyegerakan waktu berbuka bertujuan untuk menyelisihi Yahudi dan Nashrani sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ “Islam tetap terus jaya ketika manusia menyegerakan waktu berbuka karen Yahudi dan Nashrani sering mengakhirkannya.” (HR. Abu Daud, no. 2352 dan Ahmad, 2:450. Hadits ini hasan kata Syaikh Al-Albani). Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthob (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamer(kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud, no. 2356 dan Ahmad, 3:164. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Yang dianjurkan ketika berbuka adalah dengan ruthob (kurma basah), lalu tamer (kurma kering). Jika tidak didapati kurma, maka boleh digantikan dengan makanan yang manis-manis. Di sini dianjurkan dengan yang manis-manis ketika berbuka karena yang manis tersebut semakin menguatkan orang yang berpuasa. Sedangkan berbuka puasa dengan air bertujuan untuk menyucikan atau menyegarkan. Adapun jika berada di Makkah, dianjurkan berbuka dengan air zam-zam. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251-252. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:562) disebutkan bahwa hukum berbuka puasa adalah wajib karena diharamkan melakukan puasa wishol yaitu berpuasa terus menerus selama dua hari atau lebih, tanpa berbuka.   (2) Mengakhirkan makan sahur   Makan sahur itu disepakati oleh para ulama, hukumnya sunnah (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 252). Mengenai anjuran makan sahur disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً “Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095). Kata Muhammad Al-Khatib rahimahullah, waktu makan sahur dimulai dari tengah malam, lihat Al-Iqna’, 1:410. Waktu sebelum itu tidak disebut makan sahur sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baijuri, 1:563. Namun waktu makan sahur yang terbaik adalah diakhirkan, artinya masih dibolehkan makan selama belum yakin tibanya fajar shubuh. Tujuan mengakhirkan makan sahur adalah untuk lebih menguatkan badan. Mengenai sunnah mengakhirkan makan sahur di sini disebutkan dalam hadits berikut ini. عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ » Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad, 5:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif). Dalil lain yang mendukung hadits di atas adalah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan sahur sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِىُّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى الصَّلاَةِ فَصَلَّى . قُلْنَا لأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِى الصَّلاَةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi pun berdiri untuk pergi shalat, lalu beliau shalat. Kami pun berkata pada Anas, “Berapa lama jarak antara waktu selesai makan sahur dan waktu pengerjaan shalat?” Beliau menjawab, “Sekitar seseorang membaca 50 ayat.” (HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097). Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan jarak antara akhir makan sahur dan mulai shalat.” (Fath Al-Bari, 4:138). Ibnu Abi Jamrah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa sahur itu diakhirkan.” (Idem) Kata penulis Fath Al-Qarib, makanan sahur bisa sedikit maupun banyak. Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 1:264.   (3) Meninggalkan kata-kata kotor   Orang yang berpuasa sangat ditekankan untuk meninggalkan ghibah (menggunjing orang lain) dan meninggalkan dusta, begitu juga meninggalkan perbuatan haram lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dusta dan malah melakukan konsekuensinya, maka Allah tidak pandang lagi pada makan dan minum yang ia tinggalkan.” (HR. Bukhari, no. 1903). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Betapa banyak orang yang hanya dapati dari puasa rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat malam hanya mendapatkan rasa capek saja.”(HR. Ahmad, 2:373 dan Ibnu Majah, no. 1690. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid). Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata bahwa mencela, berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan semacamnya termasuk perbuatan yang haram secara zatnya. Namun dari sisi orang yang berpuasa, hal ini lebih berbahaya karena bisa menghapuskan pahala puasa, walau puasanya itu sah dan telah dianggap menunaikan yang wajib. Sehingga perkara ini tepat dimasukkan dalam adab dan sunnah puasa. Lihat Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 347.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab puasa buka puasa makan sahur maksiat saat puasa matan abu syuja pembatal puasa sunnah puasa
Kali ini kita akan melihat sunnah dan adab puasa dari matan Abu Syuja. Ada tiga hal yang nanti akan disebutkan kali ini.   Abu Syuja’ rahimahullah dalam kitab Matan Ghayah Al-Ikhtishar, وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ : تَعْجِيْلُ الفِطْرِ وَتَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ وَتَرْكُ الهِجْرِ مِنَ الكَلاَمِ Ada tiga hal yang disunnahkan ketika puasa: (1) menyegerakan berbuka puasa, (2) mengakhirkan makan sahur, (3) meninggalkan kata-kata kotor.   (1) Menyegerakan berbuka puasa   Yang dimaksud di sini adalah ketika matahari telah benar-benar tenggelam, langsung disegerakan waktu berbuka puasa. Dalilnya adalah dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Bahkan menyegerakan waktu berbuka bertujuan untuk menyelisihi Yahudi dan Nashrani sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ “Islam tetap terus jaya ketika manusia menyegerakan waktu berbuka karen Yahudi dan Nashrani sering mengakhirkannya.” (HR. Abu Daud, no. 2352 dan Ahmad, 2:450. Hadits ini hasan kata Syaikh Al-Albani). Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthob (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamer(kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud, no. 2356 dan Ahmad, 3:164. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Yang dianjurkan ketika berbuka adalah dengan ruthob (kurma basah), lalu tamer (kurma kering). Jika tidak didapati kurma, maka boleh digantikan dengan makanan yang manis-manis. Di sini dianjurkan dengan yang manis-manis ketika berbuka karena yang manis tersebut semakin menguatkan orang yang berpuasa. Sedangkan berbuka puasa dengan air bertujuan untuk menyucikan atau menyegarkan. Adapun jika berada di Makkah, dianjurkan berbuka dengan air zam-zam. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251-252. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:562) disebutkan bahwa hukum berbuka puasa adalah wajib karena diharamkan melakukan puasa wishol yaitu berpuasa terus menerus selama dua hari atau lebih, tanpa berbuka.   (2) Mengakhirkan makan sahur   Makan sahur itu disepakati oleh para ulama, hukumnya sunnah (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 252). Mengenai anjuran makan sahur disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً “Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095). Kata Muhammad Al-Khatib rahimahullah, waktu makan sahur dimulai dari tengah malam, lihat Al-Iqna’, 1:410. Waktu sebelum itu tidak disebut makan sahur sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baijuri, 1:563. Namun waktu makan sahur yang terbaik adalah diakhirkan, artinya masih dibolehkan makan selama belum yakin tibanya fajar shubuh. Tujuan mengakhirkan makan sahur adalah untuk lebih menguatkan badan. Mengenai sunnah mengakhirkan makan sahur di sini disebutkan dalam hadits berikut ini. عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ » Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad, 5:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif). Dalil lain yang mendukung hadits di atas adalah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan sahur sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِىُّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى الصَّلاَةِ فَصَلَّى . قُلْنَا لأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِى الصَّلاَةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi pun berdiri untuk pergi shalat, lalu beliau shalat. Kami pun berkata pada Anas, “Berapa lama jarak antara waktu selesai makan sahur dan waktu pengerjaan shalat?” Beliau menjawab, “Sekitar seseorang membaca 50 ayat.” (HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097). Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan jarak antara akhir makan sahur dan mulai shalat.” (Fath Al-Bari, 4:138). Ibnu Abi Jamrah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa sahur itu diakhirkan.” (Idem) Kata penulis Fath Al-Qarib, makanan sahur bisa sedikit maupun banyak. Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 1:264.   (3) Meninggalkan kata-kata kotor   Orang yang berpuasa sangat ditekankan untuk meninggalkan ghibah (menggunjing orang lain) dan meninggalkan dusta, begitu juga meninggalkan perbuatan haram lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dusta dan malah melakukan konsekuensinya, maka Allah tidak pandang lagi pada makan dan minum yang ia tinggalkan.” (HR. Bukhari, no. 1903). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Betapa banyak orang yang hanya dapati dari puasa rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat malam hanya mendapatkan rasa capek saja.”(HR. Ahmad, 2:373 dan Ibnu Majah, no. 1690. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid). Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata bahwa mencela, berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan semacamnya termasuk perbuatan yang haram secara zatnya. Namun dari sisi orang yang berpuasa, hal ini lebih berbahaya karena bisa menghapuskan pahala puasa, walau puasanya itu sah dan telah dianggap menunaikan yang wajib. Sehingga perkara ini tepat dimasukkan dalam adab dan sunnah puasa. Lihat Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 347.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab puasa buka puasa makan sahur maksiat saat puasa matan abu syuja pembatal puasa sunnah puasa


Kali ini kita akan melihat sunnah dan adab puasa dari matan Abu Syuja. Ada tiga hal yang nanti akan disebutkan kali ini.   Abu Syuja’ rahimahullah dalam kitab Matan Ghayah Al-Ikhtishar, وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ : تَعْجِيْلُ الفِطْرِ وَتَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ وَتَرْكُ الهِجْرِ مِنَ الكَلاَمِ Ada tiga hal yang disunnahkan ketika puasa: (1) menyegerakan berbuka puasa, (2) mengakhirkan makan sahur, (3) meninggalkan kata-kata kotor.   (1) Menyegerakan berbuka puasa   Yang dimaksud di sini adalah ketika matahari telah benar-benar tenggelam, langsung disegerakan waktu berbuka puasa. Dalilnya adalah dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Bahkan menyegerakan waktu berbuka bertujuan untuk menyelisihi Yahudi dan Nashrani sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ “Islam tetap terus jaya ketika manusia menyegerakan waktu berbuka karen Yahudi dan Nashrani sering mengakhirkannya.” (HR. Abu Daud, no. 2352 dan Ahmad, 2:450. Hadits ini hasan kata Syaikh Al-Albani). Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthob (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamer(kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud, no. 2356 dan Ahmad, 3:164. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Yang dianjurkan ketika berbuka adalah dengan ruthob (kurma basah), lalu tamer (kurma kering). Jika tidak didapati kurma, maka boleh digantikan dengan makanan yang manis-manis. Di sini dianjurkan dengan yang manis-manis ketika berbuka karena yang manis tersebut semakin menguatkan orang yang berpuasa. Sedangkan berbuka puasa dengan air bertujuan untuk menyucikan atau menyegarkan. Adapun jika berada di Makkah, dianjurkan berbuka dengan air zam-zam. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251-252. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:562) disebutkan bahwa hukum berbuka puasa adalah wajib karena diharamkan melakukan puasa wishol yaitu berpuasa terus menerus selama dua hari atau lebih, tanpa berbuka.   (2) Mengakhirkan makan sahur   Makan sahur itu disepakati oleh para ulama, hukumnya sunnah (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 252). Mengenai anjuran makan sahur disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً “Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095). Kata Muhammad Al-Khatib rahimahullah, waktu makan sahur dimulai dari tengah malam, lihat Al-Iqna’, 1:410. Waktu sebelum itu tidak disebut makan sahur sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Al-Baijuri, 1:563. Namun waktu makan sahur yang terbaik adalah diakhirkan, artinya masih dibolehkan makan selama belum yakin tibanya fajar shubuh. Tujuan mengakhirkan makan sahur adalah untuk lebih menguatkan badan. Mengenai sunnah mengakhirkan makan sahur di sini disebutkan dalam hadits berikut ini. عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ » Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad, 5:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif). Dalil lain yang mendukung hadits di atas adalah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan sahur sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut. عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِىُّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى الصَّلاَةِ فَصَلَّى . قُلْنَا لأَنَسٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِى الصَّلاَةِ قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi pun berdiri untuk pergi shalat, lalu beliau shalat. Kami pun berkata pada Anas, “Berapa lama jarak antara waktu selesai makan sahur dan waktu pengerjaan shalat?” Beliau menjawab, “Sekitar seseorang membaca 50 ayat.” (HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097). Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan jarak antara akhir makan sahur dan mulai shalat.” (Fath Al-Bari, 4:138). Ibnu Abi Jamrah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa sahur itu diakhirkan.” (Idem) Kata penulis Fath Al-Qarib, makanan sahur bisa sedikit maupun banyak. Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar, 1:264.   (3) Meninggalkan kata-kata kotor   Orang yang berpuasa sangat ditekankan untuk meninggalkan ghibah (menggunjing orang lain) dan meninggalkan dusta, begitu juga meninggalkan perbuatan haram lainnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dusta dan malah melakukan konsekuensinya, maka Allah tidak pandang lagi pada makan dan minum yang ia tinggalkan.” (HR. Bukhari, no. 1903). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “Betapa banyak orang yang hanya dapati dari puasa rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat malam hanya mendapatkan rasa capek saja.”(HR. Ahmad, 2:373 dan Ibnu Majah, no. 1690. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid). Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata bahwa mencela, berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan semacamnya termasuk perbuatan yang haram secara zatnya. Namun dari sisi orang yang berpuasa, hal ini lebih berbahaya karena bisa menghapuskan pahala puasa, walau puasanya itu sah dan telah dianggap menunaikan yang wajib. Sehingga perkara ini tepat dimasukkan dalam adab dan sunnah puasa. Lihat Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 347.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab puasa buka puasa makan sahur maksiat saat puasa matan abu syuja pembatal puasa sunnah puasa

Hukum Mandi di Air yang Menggenang

Hukum Mandi di Air yang Menggenang Bismillaah. Afwan mau tanya:klo mndi mnggunakan air yg menggenang/tdk mengalir.yg itu kdang buat mndi banyak org ki hukumny pripun njih? Itu air dibekas galian tanah Dari: Ummu Ihsan di Tegalwaton Salatiga. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Jawaban pertanyaan ini, kembali pada pembahasan hukum air bekas bersuci (air musta’mal) apakah dapat digunakan untuk bersuci kembali ataukah tidak. [1] Mayoritas ulama menilai, air bekas bersuci tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali, meskipun status air tersebut suci. Jadi suci, tapi tidak dapat mensucikan. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berikut: لا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ [الراكد]، وَهُوَ جُنُبٌ “Janganlah kalian mandi di air yang menggenang sementara ia junub”. Seorang bertanya kepada sahabat Abu Hurairah, ” Lantas bagaimana seharusnya Abu Hurairah?” “Hendaknya dia menciduk air itu..” jawab Abu Hurairah. (HR. Muslim) Al-Hafidz Al-‘Iroqi rahimahullah memberikan penjelasan, اسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَلَ مَسْلُوبُ الطَّهُورِيَّةِ ، فَلَا يَتَطَهَّرُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى ، وَلَوْلَا أَنَّ الِاغْتِسَالَ فِيهِ يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ يَغْتَسِلُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى لَمَا نَهَى عَنْهُ Syafi’i dan mayoritas ulama (Jumhur) berdalil dengan hadis ini bahwa air musta’mal kehilangan fungsi dapat mensucikan. Sehingga tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali. Kalau saja dengan mandi di air menggenang tersebut tidak menjadikan air itu tidak dapat digunakan bersuci kembali, tentu tidak akan dilarang. (Torhut Tastrib fi Syarhit Taqriib, 1/31) Dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan keterangan, وَيَزِيدُ ذَلِكَ وُضُوحًا قَوْلُهُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ( يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا ) ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْمَنْعَ مِنَ الِانْغِمَاسِ فِيهِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُسْتَعْمَلًا ، فَيَمْتَنِعُ عَلَى الْغَيْرِ الِانْتِفَاعُ بِهِ ، وَهَذَا مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ عَلَى أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ غَيْرُ طَهُور Kesimpulan ini semakin tampak benar dengan adanya keterangan dalam riwayat Muslim, “Hendaknya dia menciduk air tersebut..” Ini menunjukkan, bahwa larangan berendam pada air yang menggenang supaya air tersebut tidak menjadi musta’mal. Sehingga orang lain tidak lagi dapat memanfaatkannya untuk bersuci. Hadis ini diantara dalil terkuat yang menunjukkan bahwa air musta’mal tidak dapat digunakan untuk bersuci. (Fathul Bari 1/414). Maka berdasarkan pendapat ini, seorang tidak boleh mandi di genangan air. Supaya air tersebut tidak menjadi mubazir karena dapat dapat digunakan untuk bersuci kembali, dan supaya memberikan kesempatan kepada orang lain yang ingin bersuci dengan air tersebut. [2] Air musta’mal bisa digunakan untuk bersuci kembali. Pendapat ini dipegang oleh Mazhab Maliki dan sebagian ulama peneliti mazhab (Muhaqqiq) seperti, Imam Nawawi dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahumullah-. Dalil paling kuat yang mendukung pendapat ini adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ Sesungguhnya air itu suci tidak ada yang dapat menajiskannya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa-i). Dari hadis ini kemudian para ulama menyimpulkan kaedah, الأصل في الماء الطهارة Hukum asal air adalah suci. Artinya, selama sifat air tidak berubah; aromanya, warnanya, rasanya, oleh benda najis, maka status air tetap suci dan dapat mensucikan. Adapun kesimpulan yang disampaikan oleh Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar di atas, yang menyatakan bahwa alasan tidak boleh mandi berendam di air yang menggenang adalah, supaya air tidak menjadi musta’mal sehingga tidak dapat digunakan bersuci kembali, adalah kesimpulan yang kurang tepat. Karena tak ada satupun dalil yang tegas menerangkan bahwa air musta’mal tidak bisa digunakan untuk bersuci kembali. Alasan yang tepat: supaya sifat air tidak berubah, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk bersuci. Imam Nawawi rahimahullah menegaskan, وَفِي هَذَا الِاسْتِدْلَالِ نَظَرٌ ؛ لِأَنَّ الْمُخْتَارَ وَالصَّوَابَ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَذَا الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ الِاغْتِسَالِ فِي الدَّائِمِ وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا لِئَلَّا يُقَذِّره ، وَقَدْ يُؤَدِّي تَكْرَارُ ذَلِكَ إلَى تَغَيُّرِهِ Kesimpulan seperti ini (yakni yang disampaikan oleh (Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar) tidaklah tepat. Karena yang tepat adalah maksud hadis itu larangan berendam mandi di air yang menggenang supaya tidak mengotori air Yang terkadang dapat menjadikan sifat air berubah. (Al- Majmu’ 1/206, penjelasan tentang dalil-dalil air musta’mal bisa digunakan bersuci, bisa anda temukan panjang lebar di kitab Al Majmu’ 1/205-208) Pendapat inilah yang lebih tepat, wallahua’lam. Sebagaimana dipandang kuat oleh Syekh As-Sa’di, Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin –rahimahumullah-. (https://islamqa.info/amp/ar/answers/224255) Berdasarkan kesimpulan ini, seorang boleh mandi berendam pada air yang menggenang dan menggunakannya untuk bersuci. Karena meski status air telah terpakai untuk bersuci (musta’mal), tetap dapat digunakan untuk bersuci kembali. Namun, memilih hati-hati dengan mencari air yang lain, tentu lebih baik. Jangan sampai kita sholat sementara ada keraguan tentang status air menggenang yang kita gunakan berwudhu atau mandi janabah. Apalagi kaidah mengatakan, خروج من الخلاف العلماء مستحب Keluar dari perselisihan pendapat diantara ulama, hukumnya dianjurkan. Dengan kita mencari alternatif air lain untuk bersuci, kita terbebas dari kedua perselisihan ulama di atas. Langkah seperti ini adalah langkah yang terpuji dan menentramkan. Wallahua’lam bis shawab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzarrah, Surat Yang Terakhir Diturunkan Oleh Allah Swt, Rawatib Maghrib, Hukum Mencukur Bulu Kemaluan Menurut Islam, Marah Dalam Pandangan Islam, Baju Potongan Visited 191 times, 1 visit(s) today Post Views: 294 QRIS donasi Yufid

Hukum Mandi di Air yang Menggenang

Hukum Mandi di Air yang Menggenang Bismillaah. Afwan mau tanya:klo mndi mnggunakan air yg menggenang/tdk mengalir.yg itu kdang buat mndi banyak org ki hukumny pripun njih? Itu air dibekas galian tanah Dari: Ummu Ihsan di Tegalwaton Salatiga. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Jawaban pertanyaan ini, kembali pada pembahasan hukum air bekas bersuci (air musta’mal) apakah dapat digunakan untuk bersuci kembali ataukah tidak. [1] Mayoritas ulama menilai, air bekas bersuci tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali, meskipun status air tersebut suci. Jadi suci, tapi tidak dapat mensucikan. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berikut: لا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ [الراكد]، وَهُوَ جُنُبٌ “Janganlah kalian mandi di air yang menggenang sementara ia junub”. Seorang bertanya kepada sahabat Abu Hurairah, ” Lantas bagaimana seharusnya Abu Hurairah?” “Hendaknya dia menciduk air itu..” jawab Abu Hurairah. (HR. Muslim) Al-Hafidz Al-‘Iroqi rahimahullah memberikan penjelasan, اسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَلَ مَسْلُوبُ الطَّهُورِيَّةِ ، فَلَا يَتَطَهَّرُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى ، وَلَوْلَا أَنَّ الِاغْتِسَالَ فِيهِ يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ يَغْتَسِلُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى لَمَا نَهَى عَنْهُ Syafi’i dan mayoritas ulama (Jumhur) berdalil dengan hadis ini bahwa air musta’mal kehilangan fungsi dapat mensucikan. Sehingga tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali. Kalau saja dengan mandi di air menggenang tersebut tidak menjadikan air itu tidak dapat digunakan bersuci kembali, tentu tidak akan dilarang. (Torhut Tastrib fi Syarhit Taqriib, 1/31) Dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan keterangan, وَيَزِيدُ ذَلِكَ وُضُوحًا قَوْلُهُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ( يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا ) ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْمَنْعَ مِنَ الِانْغِمَاسِ فِيهِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُسْتَعْمَلًا ، فَيَمْتَنِعُ عَلَى الْغَيْرِ الِانْتِفَاعُ بِهِ ، وَهَذَا مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ عَلَى أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ غَيْرُ طَهُور Kesimpulan ini semakin tampak benar dengan adanya keterangan dalam riwayat Muslim, “Hendaknya dia menciduk air tersebut..” Ini menunjukkan, bahwa larangan berendam pada air yang menggenang supaya air tersebut tidak menjadi musta’mal. Sehingga orang lain tidak lagi dapat memanfaatkannya untuk bersuci. Hadis ini diantara dalil terkuat yang menunjukkan bahwa air musta’mal tidak dapat digunakan untuk bersuci. (Fathul Bari 1/414). Maka berdasarkan pendapat ini, seorang tidak boleh mandi di genangan air. Supaya air tersebut tidak menjadi mubazir karena dapat dapat digunakan untuk bersuci kembali, dan supaya memberikan kesempatan kepada orang lain yang ingin bersuci dengan air tersebut. [2] Air musta’mal bisa digunakan untuk bersuci kembali. Pendapat ini dipegang oleh Mazhab Maliki dan sebagian ulama peneliti mazhab (Muhaqqiq) seperti, Imam Nawawi dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahumullah-. Dalil paling kuat yang mendukung pendapat ini adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ Sesungguhnya air itu suci tidak ada yang dapat menajiskannya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa-i). Dari hadis ini kemudian para ulama menyimpulkan kaedah, الأصل في الماء الطهارة Hukum asal air adalah suci. Artinya, selama sifat air tidak berubah; aromanya, warnanya, rasanya, oleh benda najis, maka status air tetap suci dan dapat mensucikan. Adapun kesimpulan yang disampaikan oleh Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar di atas, yang menyatakan bahwa alasan tidak boleh mandi berendam di air yang menggenang adalah, supaya air tidak menjadi musta’mal sehingga tidak dapat digunakan bersuci kembali, adalah kesimpulan yang kurang tepat. Karena tak ada satupun dalil yang tegas menerangkan bahwa air musta’mal tidak bisa digunakan untuk bersuci kembali. Alasan yang tepat: supaya sifat air tidak berubah, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk bersuci. Imam Nawawi rahimahullah menegaskan, وَفِي هَذَا الِاسْتِدْلَالِ نَظَرٌ ؛ لِأَنَّ الْمُخْتَارَ وَالصَّوَابَ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَذَا الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ الِاغْتِسَالِ فِي الدَّائِمِ وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا لِئَلَّا يُقَذِّره ، وَقَدْ يُؤَدِّي تَكْرَارُ ذَلِكَ إلَى تَغَيُّرِهِ Kesimpulan seperti ini (yakni yang disampaikan oleh (Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar) tidaklah tepat. Karena yang tepat adalah maksud hadis itu larangan berendam mandi di air yang menggenang supaya tidak mengotori air Yang terkadang dapat menjadikan sifat air berubah. (Al- Majmu’ 1/206, penjelasan tentang dalil-dalil air musta’mal bisa digunakan bersuci, bisa anda temukan panjang lebar di kitab Al Majmu’ 1/205-208) Pendapat inilah yang lebih tepat, wallahua’lam. Sebagaimana dipandang kuat oleh Syekh As-Sa’di, Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin –rahimahumullah-. (https://islamqa.info/amp/ar/answers/224255) Berdasarkan kesimpulan ini, seorang boleh mandi berendam pada air yang menggenang dan menggunakannya untuk bersuci. Karena meski status air telah terpakai untuk bersuci (musta’mal), tetap dapat digunakan untuk bersuci kembali. Namun, memilih hati-hati dengan mencari air yang lain, tentu lebih baik. Jangan sampai kita sholat sementara ada keraguan tentang status air menggenang yang kita gunakan berwudhu atau mandi janabah. Apalagi kaidah mengatakan, خروج من الخلاف العلماء مستحب Keluar dari perselisihan pendapat diantara ulama, hukumnya dianjurkan. Dengan kita mencari alternatif air lain untuk bersuci, kita terbebas dari kedua perselisihan ulama di atas. Langkah seperti ini adalah langkah yang terpuji dan menentramkan. Wallahua’lam bis shawab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzarrah, Surat Yang Terakhir Diturunkan Oleh Allah Swt, Rawatib Maghrib, Hukum Mencukur Bulu Kemaluan Menurut Islam, Marah Dalam Pandangan Islam, Baju Potongan Visited 191 times, 1 visit(s) today Post Views: 294 QRIS donasi Yufid
Hukum Mandi di Air yang Menggenang Bismillaah. Afwan mau tanya:klo mndi mnggunakan air yg menggenang/tdk mengalir.yg itu kdang buat mndi banyak org ki hukumny pripun njih? Itu air dibekas galian tanah Dari: Ummu Ihsan di Tegalwaton Salatiga. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Jawaban pertanyaan ini, kembali pada pembahasan hukum air bekas bersuci (air musta’mal) apakah dapat digunakan untuk bersuci kembali ataukah tidak. [1] Mayoritas ulama menilai, air bekas bersuci tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali, meskipun status air tersebut suci. Jadi suci, tapi tidak dapat mensucikan. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berikut: لا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ [الراكد]، وَهُوَ جُنُبٌ “Janganlah kalian mandi di air yang menggenang sementara ia junub”. Seorang bertanya kepada sahabat Abu Hurairah, ” Lantas bagaimana seharusnya Abu Hurairah?” “Hendaknya dia menciduk air itu..” jawab Abu Hurairah. (HR. Muslim) Al-Hafidz Al-‘Iroqi rahimahullah memberikan penjelasan, اسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَلَ مَسْلُوبُ الطَّهُورِيَّةِ ، فَلَا يَتَطَهَّرُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى ، وَلَوْلَا أَنَّ الِاغْتِسَالَ فِيهِ يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ يَغْتَسِلُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى لَمَا نَهَى عَنْهُ Syafi’i dan mayoritas ulama (Jumhur) berdalil dengan hadis ini bahwa air musta’mal kehilangan fungsi dapat mensucikan. Sehingga tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali. Kalau saja dengan mandi di air menggenang tersebut tidak menjadikan air itu tidak dapat digunakan bersuci kembali, tentu tidak akan dilarang. (Torhut Tastrib fi Syarhit Taqriib, 1/31) Dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan keterangan, وَيَزِيدُ ذَلِكَ وُضُوحًا قَوْلُهُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ( يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا ) ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْمَنْعَ مِنَ الِانْغِمَاسِ فِيهِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُسْتَعْمَلًا ، فَيَمْتَنِعُ عَلَى الْغَيْرِ الِانْتِفَاعُ بِهِ ، وَهَذَا مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ عَلَى أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ غَيْرُ طَهُور Kesimpulan ini semakin tampak benar dengan adanya keterangan dalam riwayat Muslim, “Hendaknya dia menciduk air tersebut..” Ini menunjukkan, bahwa larangan berendam pada air yang menggenang supaya air tersebut tidak menjadi musta’mal. Sehingga orang lain tidak lagi dapat memanfaatkannya untuk bersuci. Hadis ini diantara dalil terkuat yang menunjukkan bahwa air musta’mal tidak dapat digunakan untuk bersuci. (Fathul Bari 1/414). Maka berdasarkan pendapat ini, seorang tidak boleh mandi di genangan air. Supaya air tersebut tidak menjadi mubazir karena dapat dapat digunakan untuk bersuci kembali, dan supaya memberikan kesempatan kepada orang lain yang ingin bersuci dengan air tersebut. [2] Air musta’mal bisa digunakan untuk bersuci kembali. Pendapat ini dipegang oleh Mazhab Maliki dan sebagian ulama peneliti mazhab (Muhaqqiq) seperti, Imam Nawawi dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahumullah-. Dalil paling kuat yang mendukung pendapat ini adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ Sesungguhnya air itu suci tidak ada yang dapat menajiskannya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa-i). Dari hadis ini kemudian para ulama menyimpulkan kaedah, الأصل في الماء الطهارة Hukum asal air adalah suci. Artinya, selama sifat air tidak berubah; aromanya, warnanya, rasanya, oleh benda najis, maka status air tetap suci dan dapat mensucikan. Adapun kesimpulan yang disampaikan oleh Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar di atas, yang menyatakan bahwa alasan tidak boleh mandi berendam di air yang menggenang adalah, supaya air tidak menjadi musta’mal sehingga tidak dapat digunakan bersuci kembali, adalah kesimpulan yang kurang tepat. Karena tak ada satupun dalil yang tegas menerangkan bahwa air musta’mal tidak bisa digunakan untuk bersuci kembali. Alasan yang tepat: supaya sifat air tidak berubah, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk bersuci. Imam Nawawi rahimahullah menegaskan, وَفِي هَذَا الِاسْتِدْلَالِ نَظَرٌ ؛ لِأَنَّ الْمُخْتَارَ وَالصَّوَابَ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَذَا الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ الِاغْتِسَالِ فِي الدَّائِمِ وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا لِئَلَّا يُقَذِّره ، وَقَدْ يُؤَدِّي تَكْرَارُ ذَلِكَ إلَى تَغَيُّرِهِ Kesimpulan seperti ini (yakni yang disampaikan oleh (Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar) tidaklah tepat. Karena yang tepat adalah maksud hadis itu larangan berendam mandi di air yang menggenang supaya tidak mengotori air Yang terkadang dapat menjadikan sifat air berubah. (Al- Majmu’ 1/206, penjelasan tentang dalil-dalil air musta’mal bisa digunakan bersuci, bisa anda temukan panjang lebar di kitab Al Majmu’ 1/205-208) Pendapat inilah yang lebih tepat, wallahua’lam. Sebagaimana dipandang kuat oleh Syekh As-Sa’di, Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin –rahimahumullah-. (https://islamqa.info/amp/ar/answers/224255) Berdasarkan kesimpulan ini, seorang boleh mandi berendam pada air yang menggenang dan menggunakannya untuk bersuci. Karena meski status air telah terpakai untuk bersuci (musta’mal), tetap dapat digunakan untuk bersuci kembali. Namun, memilih hati-hati dengan mencari air yang lain, tentu lebih baik. Jangan sampai kita sholat sementara ada keraguan tentang status air menggenang yang kita gunakan berwudhu atau mandi janabah. Apalagi kaidah mengatakan, خروج من الخلاف العلماء مستحب Keluar dari perselisihan pendapat diantara ulama, hukumnya dianjurkan. Dengan kita mencari alternatif air lain untuk bersuci, kita terbebas dari kedua perselisihan ulama di atas. Langkah seperti ini adalah langkah yang terpuji dan menentramkan. Wallahua’lam bis shawab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzarrah, Surat Yang Terakhir Diturunkan Oleh Allah Swt, Rawatib Maghrib, Hukum Mencukur Bulu Kemaluan Menurut Islam, Marah Dalam Pandangan Islam, Baju Potongan Visited 191 times, 1 visit(s) today Post Views: 294 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/630741423&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Hukum Mandi di Air yang Menggenang Bismillaah. Afwan mau tanya:klo mndi mnggunakan air yg menggenang/tdk mengalir.yg itu kdang buat mndi banyak org ki hukumny pripun njih? Itu air dibekas galian tanah Dari: Ummu Ihsan di Tegalwaton Salatiga. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Jawaban pertanyaan ini, kembali pada pembahasan hukum air bekas bersuci (air musta’mal) apakah dapat digunakan untuk bersuci kembali ataukah tidak. [1] Mayoritas ulama menilai, air bekas bersuci tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali, meskipun status air tersebut suci. Jadi suci, tapi tidak dapat mensucikan. Mereka berdalil dengan hadis Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berikut: لا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ [الراكد]، وَهُوَ جُنُبٌ “Janganlah kalian mandi di air yang menggenang sementara ia junub”. Seorang bertanya kepada sahabat Abu Hurairah, ” Lantas bagaimana seharusnya Abu Hurairah?” “Hendaknya dia menciduk air itu..” jawab Abu Hurairah. (HR. Muslim) Al-Hafidz Al-‘Iroqi rahimahullah memberikan penjelasan, اسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَلَ مَسْلُوبُ الطَّهُورِيَّةِ ، فَلَا يَتَطَهَّرُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى ، وَلَوْلَا أَنَّ الِاغْتِسَالَ فِيهِ يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ يَغْتَسِلُ بِهِ مَرَّةً أُخْرَى لَمَا نَهَى عَنْهُ Syafi’i dan mayoritas ulama (Jumhur) berdalil dengan hadis ini bahwa air musta’mal kehilangan fungsi dapat mensucikan. Sehingga tidak dapat digunakan untuk bersuci kembali. Kalau saja dengan mandi di air menggenang tersebut tidak menjadikan air itu tidak dapat digunakan bersuci kembali, tentu tidak akan dilarang. (Torhut Tastrib fi Syarhit Taqriib, 1/31) Dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan keterangan, وَيَزِيدُ ذَلِكَ وُضُوحًا قَوْلُهُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ( يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا ) ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْمَنْعَ مِنَ الِانْغِمَاسِ فِيهِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُسْتَعْمَلًا ، فَيَمْتَنِعُ عَلَى الْغَيْرِ الِانْتِفَاعُ بِهِ ، وَهَذَا مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ عَلَى أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ غَيْرُ طَهُور Kesimpulan ini semakin tampak benar dengan adanya keterangan dalam riwayat Muslim, “Hendaknya dia menciduk air tersebut..” Ini menunjukkan, bahwa larangan berendam pada air yang menggenang supaya air tersebut tidak menjadi musta’mal. Sehingga orang lain tidak lagi dapat memanfaatkannya untuk bersuci. Hadis ini diantara dalil terkuat yang menunjukkan bahwa air musta’mal tidak dapat digunakan untuk bersuci. (Fathul Bari 1/414). Maka berdasarkan pendapat ini, seorang tidak boleh mandi di genangan air. Supaya air tersebut tidak menjadi mubazir karena dapat dapat digunakan untuk bersuci kembali, dan supaya memberikan kesempatan kepada orang lain yang ingin bersuci dengan air tersebut. [2] Air musta’mal bisa digunakan untuk bersuci kembali. Pendapat ini dipegang oleh Mazhab Maliki dan sebagian ulama peneliti mazhab (Muhaqqiq) seperti, Imam Nawawi dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahumullah-. Dalil paling kuat yang mendukung pendapat ini adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ Sesungguhnya air itu suci tidak ada yang dapat menajiskannya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa-i). Dari hadis ini kemudian para ulama menyimpulkan kaedah, الأصل في الماء الطهارة Hukum asal air adalah suci. Artinya, selama sifat air tidak berubah; aromanya, warnanya, rasanya, oleh benda najis, maka status air tetap suci dan dapat mensucikan. Adapun kesimpulan yang disampaikan oleh Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar di atas, yang menyatakan bahwa alasan tidak boleh mandi berendam di air yang menggenang adalah, supaya air tidak menjadi musta’mal sehingga tidak dapat digunakan bersuci kembali, adalah kesimpulan yang kurang tepat. Karena tak ada satupun dalil yang tegas menerangkan bahwa air musta’mal tidak bisa digunakan untuk bersuci kembali. Alasan yang tepat: supaya sifat air tidak berubah, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk bersuci. Imam Nawawi rahimahullah menegaskan, وَفِي هَذَا الِاسْتِدْلَالِ نَظَرٌ ؛ لِأَنَّ الْمُخْتَارَ وَالصَّوَابَ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَذَا الْحَدِيثِ النَّهْيُ عَنْ الِاغْتِسَالِ فِي الدَّائِمِ وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا لِئَلَّا يُقَذِّره ، وَقَدْ يُؤَدِّي تَكْرَارُ ذَلِكَ إلَى تَغَيُّرِهِ Kesimpulan seperti ini (yakni yang disampaikan oleh (Al-Hafidz Al-‘Iroqi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar) tidaklah tepat. Karena yang tepat adalah maksud hadis itu larangan berendam mandi di air yang menggenang supaya tidak mengotori air Yang terkadang dapat menjadikan sifat air berubah. (Al- Majmu’ 1/206, penjelasan tentang dalil-dalil air musta’mal bisa digunakan bersuci, bisa anda temukan panjang lebar di kitab Al Majmu’ 1/205-208) Pendapat inilah yang lebih tepat, wallahua’lam. Sebagaimana dipandang kuat oleh Syekh As-Sa’di, Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin –rahimahumullah-. (https://islamqa.info/amp/ar/answers/224255) Berdasarkan kesimpulan ini, seorang boleh mandi berendam pada air yang menggenang dan menggunakannya untuk bersuci. Karena meski status air telah terpakai untuk bersuci (musta’mal), tetap dapat digunakan untuk bersuci kembali. Namun, memilih hati-hati dengan mencari air yang lain, tentu lebih baik. Jangan sampai kita sholat sementara ada keraguan tentang status air menggenang yang kita gunakan berwudhu atau mandi janabah. Apalagi kaidah mengatakan, خروج من الخلاف العلماء مستحب Keluar dari perselisihan pendapat diantara ulama, hukumnya dianjurkan. Dengan kita mencari alternatif air lain untuk bersuci, kita terbebas dari kedua perselisihan ulama di atas. Langkah seperti ini adalah langkah yang terpuji dan menentramkan. Wallahua’lam bis shawab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzarrah, Surat Yang Terakhir Diturunkan Oleh Allah Swt, Rawatib Maghrib, Hukum Mencukur Bulu Kemaluan Menurut Islam, Marah Dalam Pandangan Islam, Baju Potongan Visited 191 times, 1 visit(s) today Post Views: 294 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Matan Abu Syuja: Pembatal Puasa Berupa Muntah, Hubungan Intim, Keluar Mani, Haidh, Nifas

Pembatal puasa lainnya yang dibahas dalam Matan Abu Syuja’ adalah sebagai berikut.   (4) Muntah dengan sengaja   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ “Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang tidak membatalkan di sini adalah jika muntah menguasai diri artinya dalam keadaan seperti dipaksa oleh tubuh untuk muntah. Hal ini selama tidak ada muntahan yang kembali ke dalam perut atas pilihannya sendiri. Jika yang terakhir ini terjadi, maka puasanya batal. Lihat Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1:556.   (5) Menyetubuhi dengan sengaja di kemaluan   Yang dimaksud di sini adalah memasukkan pucuk zakar atau sebagiannya secara sengaja dengan pilihan sendiri dan dalam keadaan tahu akan haramnya. Yang termasuk pembatal di sini bukan hanya jika dilakukan di kemaluan, termasuk pula menyetubuhi di dubur manusia (anal sex) atau selainnya, seperti pada hewan (dikenal dengan istilah zoophilia). Menyetubuhi di sini termasuk pembatal meskipun tidak keluar mani. Sedangkan jika dilakukan dalam keadaan lupa dan tidak mengetahui haramnya, maka tidak batal sebagaimana ketika membahas tentang pembatal puasa berupa makan. Lihat bahasan dalam Al-Iqna’, 1:408 dan Syarh Al-Baijuri, 1:559-560. Dalil yang menunjukkan bahwa bersetubuh termasuk pembatal puasa adalah firman Allah Ta’ala, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187). Tubasyiruhunna dalam ayat ini bermakna menyetubuhi.   (6) Keluar mani karena bercumbu   Yang dimaksud mubasyaroh atau bercumbu di sini adalah dengan bersentuhan seperti ciuman tanpa ada pembatas, atau bisa pula dengan mengeluarkan mani lewat tangan (onani). Sedangkan jika keluar mani tanpa bersentuhan seperti keluarnya karena mimpi basah atau karena imajinasi lewat pikiran, maka tidak membatalkan puasa. Lihat Al-Iqna’, 1:408-409 dan Al-Fiqhu Al-Manhaji, hlm. 344. Muhammad Al-Hishni rahimahullah berkata, “Termasuk pembatal jika mengeluarkan mani baik dengan cara yang haram seperti mengeluarkan mani dengan tangan sendiri (onani) atau melakukan cara yang tidak haram seperti onani lewat tangan istri atau budaknya.” Lalu beliau katakan bahwa bisa dihukumi sebagai pembatal karena maksud pokok dari hubungan intim (jimak) adalah keluarnya mani. Jika jimak saat puasa diharamkan dan membuat puasa batal walau tanpa keluar mani, maka mengeluarkan mani seperti tadi lebih pantas dikatakan sebagai pembatal. Juga beliau menambahkan bahwa keluarnya mani dengan berpikir atau karena ihtilam (mimpi basah) tidak termasuk pembatal puasa. Para ulama tidak berselisih dalam hal ini, bahkan ada yang mengatakan sebagai ijmak (konsensus ulama). Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:560) disebutkan bahwa keluarnya madzi tidak membatalkan puasa, walau karena bercumbu. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata, “Diharamkan mencium pasangan saat puasa Ramadhan bagi yang tinggi syahwatnya karena hal ini dapat mengantarkan pada rusaknya puasa. Sedangkan bagi yang syahwatnya tidak bergejolak, maka tetap lebih utama ia tidak mencium pasangannya.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).   (7) Haidh dan (8) Nifas   Dari Abu Sa’id Al-Khudri ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304 dan Muslim, no. 79). Muhammad Al-Hishni, penulis Kifayah Al-Akhyar berkata, “Telah ada nukilan ijmak (sepakat ulama), puasa menjadi tidak sah jika mendapati haidh dan nifas. Jika haidh dan nifas didapati di pertengahan siang, puasanya batal.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251). Syaikh Musthafa Al-Bugha berkata, “Jika seorang wanita mendapati haidh dan nifas, puasanya tidak sah. Jika ia mendapati haidh atau nifas di satu waktu dari siang, puasanya batal. Dan ia wajib mengqadha’ puasa pada hari tersebut.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).    (9) Gila dan pingsan pada keseluruhan hari, serta (10) Murtad   Kedua sifat ini membuat puasa tidak sah. Karena orang yang dalam keadaan gila dan murtad tidak dikenai kewajiban ibadah (bukan ‘ahliyatul ‘ibadah’). Muhammad Al-Hishni berkata, “Jika datang gila atau ada yang murtad, maka batallah puasa karena tidak termasuk ahliyatul ‘ibadah yaitu orang yang dikenai kewajiban ibadah.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251).   Bagaimana dengan orang yang pingsan?   Dijelaskan oleh Muhammad Al-Hishni bahwa jika hilang kesadaran dalam keseluruhan hari (dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, -pen), maka tidak sah puasanya. Jika tidak, yaitu masih sadar di sebagian waktu siang, puasanya sah. Demikian menurut pendapat terkuat dari perselisihan kuat yang terdapat pada perkataan Imam Syafi’i. Lihat pembahasan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251 dan Hasyiyah Al-Baijuri, 1:561.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar puasa fikih puasa gila haidh membatalkan puasa hubungan intim keluar mani matan abu syuja muntah murtad nifas membatalkan puasa onani pembatal puasa pingsan

Matan Abu Syuja: Pembatal Puasa Berupa Muntah, Hubungan Intim, Keluar Mani, Haidh, Nifas

Pembatal puasa lainnya yang dibahas dalam Matan Abu Syuja’ adalah sebagai berikut.   (4) Muntah dengan sengaja   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ “Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang tidak membatalkan di sini adalah jika muntah menguasai diri artinya dalam keadaan seperti dipaksa oleh tubuh untuk muntah. Hal ini selama tidak ada muntahan yang kembali ke dalam perut atas pilihannya sendiri. Jika yang terakhir ini terjadi, maka puasanya batal. Lihat Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1:556.   (5) Menyetubuhi dengan sengaja di kemaluan   Yang dimaksud di sini adalah memasukkan pucuk zakar atau sebagiannya secara sengaja dengan pilihan sendiri dan dalam keadaan tahu akan haramnya. Yang termasuk pembatal di sini bukan hanya jika dilakukan di kemaluan, termasuk pula menyetubuhi di dubur manusia (anal sex) atau selainnya, seperti pada hewan (dikenal dengan istilah zoophilia). Menyetubuhi di sini termasuk pembatal meskipun tidak keluar mani. Sedangkan jika dilakukan dalam keadaan lupa dan tidak mengetahui haramnya, maka tidak batal sebagaimana ketika membahas tentang pembatal puasa berupa makan. Lihat bahasan dalam Al-Iqna’, 1:408 dan Syarh Al-Baijuri, 1:559-560. Dalil yang menunjukkan bahwa bersetubuh termasuk pembatal puasa adalah firman Allah Ta’ala, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187). Tubasyiruhunna dalam ayat ini bermakna menyetubuhi.   (6) Keluar mani karena bercumbu   Yang dimaksud mubasyaroh atau bercumbu di sini adalah dengan bersentuhan seperti ciuman tanpa ada pembatas, atau bisa pula dengan mengeluarkan mani lewat tangan (onani). Sedangkan jika keluar mani tanpa bersentuhan seperti keluarnya karena mimpi basah atau karena imajinasi lewat pikiran, maka tidak membatalkan puasa. Lihat Al-Iqna’, 1:408-409 dan Al-Fiqhu Al-Manhaji, hlm. 344. Muhammad Al-Hishni rahimahullah berkata, “Termasuk pembatal jika mengeluarkan mani baik dengan cara yang haram seperti mengeluarkan mani dengan tangan sendiri (onani) atau melakukan cara yang tidak haram seperti onani lewat tangan istri atau budaknya.” Lalu beliau katakan bahwa bisa dihukumi sebagai pembatal karena maksud pokok dari hubungan intim (jimak) adalah keluarnya mani. Jika jimak saat puasa diharamkan dan membuat puasa batal walau tanpa keluar mani, maka mengeluarkan mani seperti tadi lebih pantas dikatakan sebagai pembatal. Juga beliau menambahkan bahwa keluarnya mani dengan berpikir atau karena ihtilam (mimpi basah) tidak termasuk pembatal puasa. Para ulama tidak berselisih dalam hal ini, bahkan ada yang mengatakan sebagai ijmak (konsensus ulama). Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:560) disebutkan bahwa keluarnya madzi tidak membatalkan puasa, walau karena bercumbu. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata, “Diharamkan mencium pasangan saat puasa Ramadhan bagi yang tinggi syahwatnya karena hal ini dapat mengantarkan pada rusaknya puasa. Sedangkan bagi yang syahwatnya tidak bergejolak, maka tetap lebih utama ia tidak mencium pasangannya.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).   (7) Haidh dan (8) Nifas   Dari Abu Sa’id Al-Khudri ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304 dan Muslim, no. 79). Muhammad Al-Hishni, penulis Kifayah Al-Akhyar berkata, “Telah ada nukilan ijmak (sepakat ulama), puasa menjadi tidak sah jika mendapati haidh dan nifas. Jika haidh dan nifas didapati di pertengahan siang, puasanya batal.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251). Syaikh Musthafa Al-Bugha berkata, “Jika seorang wanita mendapati haidh dan nifas, puasanya tidak sah. Jika ia mendapati haidh atau nifas di satu waktu dari siang, puasanya batal. Dan ia wajib mengqadha’ puasa pada hari tersebut.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).    (9) Gila dan pingsan pada keseluruhan hari, serta (10) Murtad   Kedua sifat ini membuat puasa tidak sah. Karena orang yang dalam keadaan gila dan murtad tidak dikenai kewajiban ibadah (bukan ‘ahliyatul ‘ibadah’). Muhammad Al-Hishni berkata, “Jika datang gila atau ada yang murtad, maka batallah puasa karena tidak termasuk ahliyatul ‘ibadah yaitu orang yang dikenai kewajiban ibadah.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251).   Bagaimana dengan orang yang pingsan?   Dijelaskan oleh Muhammad Al-Hishni bahwa jika hilang kesadaran dalam keseluruhan hari (dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, -pen), maka tidak sah puasanya. Jika tidak, yaitu masih sadar di sebagian waktu siang, puasanya sah. Demikian menurut pendapat terkuat dari perselisihan kuat yang terdapat pada perkataan Imam Syafi’i. Lihat pembahasan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251 dan Hasyiyah Al-Baijuri, 1:561.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar puasa fikih puasa gila haidh membatalkan puasa hubungan intim keluar mani matan abu syuja muntah murtad nifas membatalkan puasa onani pembatal puasa pingsan
Pembatal puasa lainnya yang dibahas dalam Matan Abu Syuja’ adalah sebagai berikut.   (4) Muntah dengan sengaja   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ “Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang tidak membatalkan di sini adalah jika muntah menguasai diri artinya dalam keadaan seperti dipaksa oleh tubuh untuk muntah. Hal ini selama tidak ada muntahan yang kembali ke dalam perut atas pilihannya sendiri. Jika yang terakhir ini terjadi, maka puasanya batal. Lihat Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1:556.   (5) Menyetubuhi dengan sengaja di kemaluan   Yang dimaksud di sini adalah memasukkan pucuk zakar atau sebagiannya secara sengaja dengan pilihan sendiri dan dalam keadaan tahu akan haramnya. Yang termasuk pembatal di sini bukan hanya jika dilakukan di kemaluan, termasuk pula menyetubuhi di dubur manusia (anal sex) atau selainnya, seperti pada hewan (dikenal dengan istilah zoophilia). Menyetubuhi di sini termasuk pembatal meskipun tidak keluar mani. Sedangkan jika dilakukan dalam keadaan lupa dan tidak mengetahui haramnya, maka tidak batal sebagaimana ketika membahas tentang pembatal puasa berupa makan. Lihat bahasan dalam Al-Iqna’, 1:408 dan Syarh Al-Baijuri, 1:559-560. Dalil yang menunjukkan bahwa bersetubuh termasuk pembatal puasa adalah firman Allah Ta’ala, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187). Tubasyiruhunna dalam ayat ini bermakna menyetubuhi.   (6) Keluar mani karena bercumbu   Yang dimaksud mubasyaroh atau bercumbu di sini adalah dengan bersentuhan seperti ciuman tanpa ada pembatas, atau bisa pula dengan mengeluarkan mani lewat tangan (onani). Sedangkan jika keluar mani tanpa bersentuhan seperti keluarnya karena mimpi basah atau karena imajinasi lewat pikiran, maka tidak membatalkan puasa. Lihat Al-Iqna’, 1:408-409 dan Al-Fiqhu Al-Manhaji, hlm. 344. Muhammad Al-Hishni rahimahullah berkata, “Termasuk pembatal jika mengeluarkan mani baik dengan cara yang haram seperti mengeluarkan mani dengan tangan sendiri (onani) atau melakukan cara yang tidak haram seperti onani lewat tangan istri atau budaknya.” Lalu beliau katakan bahwa bisa dihukumi sebagai pembatal karena maksud pokok dari hubungan intim (jimak) adalah keluarnya mani. Jika jimak saat puasa diharamkan dan membuat puasa batal walau tanpa keluar mani, maka mengeluarkan mani seperti tadi lebih pantas dikatakan sebagai pembatal. Juga beliau menambahkan bahwa keluarnya mani dengan berpikir atau karena ihtilam (mimpi basah) tidak termasuk pembatal puasa. Para ulama tidak berselisih dalam hal ini, bahkan ada yang mengatakan sebagai ijmak (konsensus ulama). Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:560) disebutkan bahwa keluarnya madzi tidak membatalkan puasa, walau karena bercumbu. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata, “Diharamkan mencium pasangan saat puasa Ramadhan bagi yang tinggi syahwatnya karena hal ini dapat mengantarkan pada rusaknya puasa. Sedangkan bagi yang syahwatnya tidak bergejolak, maka tetap lebih utama ia tidak mencium pasangannya.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).   (7) Haidh dan (8) Nifas   Dari Abu Sa’id Al-Khudri ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304 dan Muslim, no. 79). Muhammad Al-Hishni, penulis Kifayah Al-Akhyar berkata, “Telah ada nukilan ijmak (sepakat ulama), puasa menjadi tidak sah jika mendapati haidh dan nifas. Jika haidh dan nifas didapati di pertengahan siang, puasanya batal.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251). Syaikh Musthafa Al-Bugha berkata, “Jika seorang wanita mendapati haidh dan nifas, puasanya tidak sah. Jika ia mendapati haidh atau nifas di satu waktu dari siang, puasanya batal. Dan ia wajib mengqadha’ puasa pada hari tersebut.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).    (9) Gila dan pingsan pada keseluruhan hari, serta (10) Murtad   Kedua sifat ini membuat puasa tidak sah. Karena orang yang dalam keadaan gila dan murtad tidak dikenai kewajiban ibadah (bukan ‘ahliyatul ‘ibadah’). Muhammad Al-Hishni berkata, “Jika datang gila atau ada yang murtad, maka batallah puasa karena tidak termasuk ahliyatul ‘ibadah yaitu orang yang dikenai kewajiban ibadah.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251).   Bagaimana dengan orang yang pingsan?   Dijelaskan oleh Muhammad Al-Hishni bahwa jika hilang kesadaran dalam keseluruhan hari (dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, -pen), maka tidak sah puasanya. Jika tidak, yaitu masih sadar di sebagian waktu siang, puasanya sah. Demikian menurut pendapat terkuat dari perselisihan kuat yang terdapat pada perkataan Imam Syafi’i. Lihat pembahasan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251 dan Hasyiyah Al-Baijuri, 1:561.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar puasa fikih puasa gila haidh membatalkan puasa hubungan intim keluar mani matan abu syuja muntah murtad nifas membatalkan puasa onani pembatal puasa pingsan


Pembatal puasa lainnya yang dibahas dalam Matan Abu Syuja’ adalah sebagai berikut.   (4) Muntah dengan sengaja   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ “Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang tidak membatalkan di sini adalah jika muntah menguasai diri artinya dalam keadaan seperti dipaksa oleh tubuh untuk muntah. Hal ini selama tidak ada muntahan yang kembali ke dalam perut atas pilihannya sendiri. Jika yang terakhir ini terjadi, maka puasanya batal. Lihat Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, 1:556.   (5) Menyetubuhi dengan sengaja di kemaluan   Yang dimaksud di sini adalah memasukkan pucuk zakar atau sebagiannya secara sengaja dengan pilihan sendiri dan dalam keadaan tahu akan haramnya. Yang termasuk pembatal di sini bukan hanya jika dilakukan di kemaluan, termasuk pula menyetubuhi di dubur manusia (anal sex) atau selainnya, seperti pada hewan (dikenal dengan istilah zoophilia). Menyetubuhi di sini termasuk pembatal meskipun tidak keluar mani. Sedangkan jika dilakukan dalam keadaan lupa dan tidak mengetahui haramnya, maka tidak batal sebagaimana ketika membahas tentang pembatal puasa berupa makan. Lihat bahasan dalam Al-Iqna’, 1:408 dan Syarh Al-Baijuri, 1:559-560. Dalil yang menunjukkan bahwa bersetubuh termasuk pembatal puasa adalah firman Allah Ta’ala, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187). Tubasyiruhunna dalam ayat ini bermakna menyetubuhi.   (6) Keluar mani karena bercumbu   Yang dimaksud mubasyaroh atau bercumbu di sini adalah dengan bersentuhan seperti ciuman tanpa ada pembatas, atau bisa pula dengan mengeluarkan mani lewat tangan (onani). Sedangkan jika keluar mani tanpa bersentuhan seperti keluarnya karena mimpi basah atau karena imajinasi lewat pikiran, maka tidak membatalkan puasa. Lihat Al-Iqna’, 1:408-409 dan Al-Fiqhu Al-Manhaji, hlm. 344. Muhammad Al-Hishni rahimahullah berkata, “Termasuk pembatal jika mengeluarkan mani baik dengan cara yang haram seperti mengeluarkan mani dengan tangan sendiri (onani) atau melakukan cara yang tidak haram seperti onani lewat tangan istri atau budaknya.” Lalu beliau katakan bahwa bisa dihukumi sebagai pembatal karena maksud pokok dari hubungan intim (jimak) adalah keluarnya mani. Jika jimak saat puasa diharamkan dan membuat puasa batal walau tanpa keluar mani, maka mengeluarkan mani seperti tadi lebih pantas dikatakan sebagai pembatal. Juga beliau menambahkan bahwa keluarnya mani dengan berpikir atau karena ihtilam (mimpi basah) tidak termasuk pembatal puasa. Para ulama tidak berselisih dalam hal ini, bahkan ada yang mengatakan sebagai ijmak (konsensus ulama). Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251. Dalam Hasyiyah Al-Baijuri (1:560) disebutkan bahwa keluarnya madzi tidak membatalkan puasa, walau karena bercumbu. Syaikh Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha berkata, “Diharamkan mencium pasangan saat puasa Ramadhan bagi yang tinggi syahwatnya karena hal ini dapat mengantarkan pada rusaknya puasa. Sedangkan bagi yang syahwatnya tidak bergejolak, maka tetap lebih utama ia tidak mencium pasangannya.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).   (7) Haidh dan (8) Nifas   Dari Abu Sa’id Al-Khudri ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata, أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari, no. 304 dan Muslim, no. 79). Muhammad Al-Hishni, penulis Kifayah Al-Akhyar berkata, “Telah ada nukilan ijmak (sepakat ulama), puasa menjadi tidak sah jika mendapati haidh dan nifas. Jika haidh dan nifas didapati di pertengahan siang, puasanya batal.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251). Syaikh Musthafa Al-Bugha berkata, “Jika seorang wanita mendapati haidh dan nifas, puasanya tidak sah. Jika ia mendapati haidh atau nifas di satu waktu dari siang, puasanya batal. Dan ia wajib mengqadha’ puasa pada hari tersebut.” (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. 344).    (9) Gila dan pingsan pada keseluruhan hari, serta (10) Murtad   Kedua sifat ini membuat puasa tidak sah. Karena orang yang dalam keadaan gila dan murtad tidak dikenai kewajiban ibadah (bukan ‘ahliyatul ‘ibadah’). Muhammad Al-Hishni berkata, “Jika datang gila atau ada yang murtad, maka batallah puasa karena tidak termasuk ahliyatul ‘ibadah yaitu orang yang dikenai kewajiban ibadah.” (Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251).   Bagaimana dengan orang yang pingsan?   Dijelaskan oleh Muhammad Al-Hishni bahwa jika hilang kesadaran dalam keseluruhan hari (dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, -pen), maka tidak sah puasanya. Jika tidak, yaitu masih sadar di sebagian waktu siang, puasanya sah. Demikian menurut pendapat terkuat dari perselisihan kuat yang terdapat pada perkataan Imam Syafi’i. Lihat pembahasan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 251 dan Hasyiyah Al-Baijuri, 1:561.   Masih berlanjut Insya-Allah tentang fikih puasa dari matan Abu Syuja’. Nantikan pula bukunya akan segera terbit.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbelajar puasa fikih puasa gila haidh membatalkan puasa hubungan intim keluar mani matan abu syuja muntah murtad nifas membatalkan puasa onani pembatal puasa pingsan

Perbedaan antara Ibadah Mahdhah dan Ibadah Ghairu Mahdhah (Bag. 1)

Ibadah merupakan salah satu tujuan penciptaan manusia. Dan untuk merealisasikan tujuan tersebut, diutuslah para rasul dan kitab-kitab diturunkan. Orang yang betul-betul beriman kepada Allah Ta’ala tentu akan berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, karena ketidaktahuan tentang pengertian atau jenis-jenis ibadah, sebagian mereka hanya fokus terhadap ibadah tertentu saja, misalnya shalat, zakat, atau puasa. Padahal, jenis-jenis ibadah sangatlah banyak.Baca Juga: Macam-Macam Bid’ah di Bulan RamadhanLuasnya cakupan ibadah dapat kita lihat dari definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang Allah cintai dan Allah ridhai, baik ucapan atau perbuatan, yang lahir (tampak, bisa dilihat) maupun yang batin (tidak tampak, tidak bisa dilihat).” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 44)Para ulama menjelaskan bahwa secara garis besar, ibadah dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Dalam tulisan singkat ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaPerbedaan antara ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhahIbadah mahdhah (العبادت المحضة)Adalah ibadah yang murni ibadah, ditunjukkan oleh tiga ciri berikut ini:Pertama, ibadah mahdhah adalah amal dan ucapan yang merupakan jenis ibadah sejak asal penetapannya dari dalil syariat. Artinya, perkataan atau ucapan tersebut tidaklah bernilai kecuali ibadah. Dengan kata lain, tidak bisa bernilai netral (bisa jadi ibadah atau bukan ibadah). Ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan dalil-dalil yang menunjukkan terlarangnya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, karena hal itu termasuk dalam kemusyrikan.Kedua, ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan maksud pokok orang yang mengerjakannya, yaitu dalam rangka meraih pahala di akhirat.Ketiga, ibadah mahdhah hanya bisa diketahui melalui jalan wahyu, tidak ada jalan yang lainnya, termasuk melalui akal atau budaya.Contoh sederhana ibadah mahdhah adalah shalat. Shalat adalah ibadah mahdhah karena memang ada perintah (dalil) khusus dari syariat. Sehingga sejak awal mulanya, shalat adalah aktivitas yang diperintahkan (ciri yang pertama). Orang mengerjakan shalat, pastilah berharap pahala akhirat (ciri ke dua). Ciri ketiga, ibadah shalat tidaklah mungkin kita ketahui selain melalui jalur wahyu. Rincian berapa kali shalat, kapan saja, berapa raka’at, gerakan, bacaan, dan seterusnya, hanya bisa kita ketahui melalui penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil dari kreativitas dan olah pikiran kita sendiri.Baca Juga: Bedakan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ahIbadah ghairu mahdhah (العبادت غير المحضة)Ibadah yang tidak murni ibadah memiliki pengertian yang berkebalikan dari tiga ciri di atas. Sehingga ibadah ghairu mahdhah dicirikan dengan:Pertama, ibadah (perkataan atau perbuatan) tersebut pada asalnya bukanlah ibadah. Akan tetapi, berubah status menjadi ibadah karena melihat dan menimbang niat pelakunya.Kedua, maksud pokok perbuatan tersebut adalah untuk memenuhi urusan atau kebutuhan yang bersifat duniawi, bukan untuk meraih pahala di akhirat.Ketiga, amal perbuatan tersebut bisa diketahui dan dikenal meskipun tidak ada wahyu dari para rasul.Contoh sederhana dari ibadah ghairu mahdhah adalah aktivitas makan. Makan pada asalnya bukanlah ibadah khusus. Orang bebas mau makan kapan saja, baik ketika lapar ataupun tidak lapar, dan dengan menu apa saja, kecuali yang Allah Ta’ala haramkan. Bisa jadi orang makan karena lapar, atau hanya sekedar ingin mencicipi makanan. Akan tetapi, aktivitas makan tersebut bisa berpahala ketika pelakunya meniatkan agar memiliki kekuatan (tidak lemas) untuk shalat atau berjalan menuju masjid. Ini adalah ciri pertama.Berdasarkan ciri kedua, kita pun mengetahui bahwa maksud pokok ketika orang makan adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok (primer) dalam hidupnya, sehingga dia bisa menjaga keberlangsungan hidupnya. Selain itu, manusia tidak membutuhkan wahyu untuk bisa mengetahui pentingnya makan dalam hidup ini, ini ciri yang ketiga. Tanpa wahyu, orang sudah mencari makan.Ini adalah contoh sederhana untuk memahamkan pengertian ibadah ghairu mahdhah, dan akan kami sebutkan lebih rinci lagi jenis-jenis ibadah ghairu mahdhah di serial selanjutnya dari tulisan ini.Berdasarkan penjelasan di atas, ibadah mahdhah disebut juga dengan ad-diin (urusan agama), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan ad-dunya (urusan duniawi). Sebagaimana ibadah mahdhah disebut juga dengan al-‘ibadah (ibadah), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan al-‘aadah (adat kebiasaan).Kemudian untuk lebih memperjelas perbedaan antara ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, berikut kami sebutkan rincian contoh ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Baca Juga: 14 Amalan yang Keliru di Bulan RamadhanRincian ibadah mahdhahIbadah mahdhah adalah ibadah yang banyak kita kenal, bahkan sebagian kaum muslimin bisa jadi menyangkan bahwa ibadah itu hanya terbatas pada ibadah mahdhah. Berikut ini beberapa rincian ibadah mahdhah,Ibadah hati (al-‘ibadah al-qalbiyyah) (العبادت القلبية), bisa dirinci dalam dua jenis ibadah:Pertama, ucapan hati (qaulul qalbi) (قول القلب), yaitu berbagai perkara aqidah yang wajib untuk diyakini, misalnya keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala); tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap uluhiyyah Allah Ta’ala); beriman terhadap semua nama dan sifat yang Allah Ta’ala tetapkan; beriman terhadap malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan juga beriman terhadap taqdirKedua, perbuatan (amal) hati (‘amalul qalbi) (عمل القلب), misalnya ikhlas; mencintai Allah Ta’ala; berharap pahala dan ampunan Allah Ta’ala (raja’); takut akan siksa dan hukuman-Nya (khauf); tawakkal hanya kepada Allah Ta’ala; sabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan; dan yang lainnya. Ibadah dalam bentuk ucapan lisan (al-‘ibadah al-qauliyyah) (العبادت القولية), misalnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan; membaca Al-Qur’an; berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan tasbih, tahmid, dan takbir; mengajarkan ilmu agama; dan ibadah lisan lainnya. Ibadah anggota badan (al-‘ibadah al-badaniyyah) (العبادت البدنية), misalnya shalat; sujud; puasa; haji; thawaf di baitullah (Ka’bah); jihad; belajar ilmu agama; dan yang lainnya. Ibadah harta (al-‘ibadah al-maaliyyah) (العبادت المالية), misalnya zakat; sedekah; menyembelih hewan kurban; dan yang lainnya.  Perkara-perkara tersebut hanya mengandung dua kemungkinan: jika ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala, maka itulah tauhid. Namun jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, itulah kemusyrikan.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah Shalat Hukum Asal Ibadah adalah Terlarang, sampai Ada Dalil dari Syariat [Bersambung]***@Rumah Lendah, 19 Rajab 1440/26 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Meninggalkan Shalat Jumat, Cara Melakukan Sujud Sahwi, Islam Adalah Rahmatan Lil Alamin, Ucapan Syukur Dalam Islam, Tanda Tanda Kebesaran Allah Di Muka Bumi

Perbedaan antara Ibadah Mahdhah dan Ibadah Ghairu Mahdhah (Bag. 1)

Ibadah merupakan salah satu tujuan penciptaan manusia. Dan untuk merealisasikan tujuan tersebut, diutuslah para rasul dan kitab-kitab diturunkan. Orang yang betul-betul beriman kepada Allah Ta’ala tentu akan berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, karena ketidaktahuan tentang pengertian atau jenis-jenis ibadah, sebagian mereka hanya fokus terhadap ibadah tertentu saja, misalnya shalat, zakat, atau puasa. Padahal, jenis-jenis ibadah sangatlah banyak.Baca Juga: Macam-Macam Bid’ah di Bulan RamadhanLuasnya cakupan ibadah dapat kita lihat dari definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang Allah cintai dan Allah ridhai, baik ucapan atau perbuatan, yang lahir (tampak, bisa dilihat) maupun yang batin (tidak tampak, tidak bisa dilihat).” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 44)Para ulama menjelaskan bahwa secara garis besar, ibadah dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Dalam tulisan singkat ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaPerbedaan antara ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhahIbadah mahdhah (العبادت المحضة)Adalah ibadah yang murni ibadah, ditunjukkan oleh tiga ciri berikut ini:Pertama, ibadah mahdhah adalah amal dan ucapan yang merupakan jenis ibadah sejak asal penetapannya dari dalil syariat. Artinya, perkataan atau ucapan tersebut tidaklah bernilai kecuali ibadah. Dengan kata lain, tidak bisa bernilai netral (bisa jadi ibadah atau bukan ibadah). Ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan dalil-dalil yang menunjukkan terlarangnya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, karena hal itu termasuk dalam kemusyrikan.Kedua, ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan maksud pokok orang yang mengerjakannya, yaitu dalam rangka meraih pahala di akhirat.Ketiga, ibadah mahdhah hanya bisa diketahui melalui jalan wahyu, tidak ada jalan yang lainnya, termasuk melalui akal atau budaya.Contoh sederhana ibadah mahdhah adalah shalat. Shalat adalah ibadah mahdhah karena memang ada perintah (dalil) khusus dari syariat. Sehingga sejak awal mulanya, shalat adalah aktivitas yang diperintahkan (ciri yang pertama). Orang mengerjakan shalat, pastilah berharap pahala akhirat (ciri ke dua). Ciri ketiga, ibadah shalat tidaklah mungkin kita ketahui selain melalui jalur wahyu. Rincian berapa kali shalat, kapan saja, berapa raka’at, gerakan, bacaan, dan seterusnya, hanya bisa kita ketahui melalui penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil dari kreativitas dan olah pikiran kita sendiri.Baca Juga: Bedakan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ahIbadah ghairu mahdhah (العبادت غير المحضة)Ibadah yang tidak murni ibadah memiliki pengertian yang berkebalikan dari tiga ciri di atas. Sehingga ibadah ghairu mahdhah dicirikan dengan:Pertama, ibadah (perkataan atau perbuatan) tersebut pada asalnya bukanlah ibadah. Akan tetapi, berubah status menjadi ibadah karena melihat dan menimbang niat pelakunya.Kedua, maksud pokok perbuatan tersebut adalah untuk memenuhi urusan atau kebutuhan yang bersifat duniawi, bukan untuk meraih pahala di akhirat.Ketiga, amal perbuatan tersebut bisa diketahui dan dikenal meskipun tidak ada wahyu dari para rasul.Contoh sederhana dari ibadah ghairu mahdhah adalah aktivitas makan. Makan pada asalnya bukanlah ibadah khusus. Orang bebas mau makan kapan saja, baik ketika lapar ataupun tidak lapar, dan dengan menu apa saja, kecuali yang Allah Ta’ala haramkan. Bisa jadi orang makan karena lapar, atau hanya sekedar ingin mencicipi makanan. Akan tetapi, aktivitas makan tersebut bisa berpahala ketika pelakunya meniatkan agar memiliki kekuatan (tidak lemas) untuk shalat atau berjalan menuju masjid. Ini adalah ciri pertama.Berdasarkan ciri kedua, kita pun mengetahui bahwa maksud pokok ketika orang makan adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok (primer) dalam hidupnya, sehingga dia bisa menjaga keberlangsungan hidupnya. Selain itu, manusia tidak membutuhkan wahyu untuk bisa mengetahui pentingnya makan dalam hidup ini, ini ciri yang ketiga. Tanpa wahyu, orang sudah mencari makan.Ini adalah contoh sederhana untuk memahamkan pengertian ibadah ghairu mahdhah, dan akan kami sebutkan lebih rinci lagi jenis-jenis ibadah ghairu mahdhah di serial selanjutnya dari tulisan ini.Berdasarkan penjelasan di atas, ibadah mahdhah disebut juga dengan ad-diin (urusan agama), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan ad-dunya (urusan duniawi). Sebagaimana ibadah mahdhah disebut juga dengan al-‘ibadah (ibadah), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan al-‘aadah (adat kebiasaan).Kemudian untuk lebih memperjelas perbedaan antara ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, berikut kami sebutkan rincian contoh ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Baca Juga: 14 Amalan yang Keliru di Bulan RamadhanRincian ibadah mahdhahIbadah mahdhah adalah ibadah yang banyak kita kenal, bahkan sebagian kaum muslimin bisa jadi menyangkan bahwa ibadah itu hanya terbatas pada ibadah mahdhah. Berikut ini beberapa rincian ibadah mahdhah,Ibadah hati (al-‘ibadah al-qalbiyyah) (العبادت القلبية), bisa dirinci dalam dua jenis ibadah:Pertama, ucapan hati (qaulul qalbi) (قول القلب), yaitu berbagai perkara aqidah yang wajib untuk diyakini, misalnya keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala); tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap uluhiyyah Allah Ta’ala); beriman terhadap semua nama dan sifat yang Allah Ta’ala tetapkan; beriman terhadap malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan juga beriman terhadap taqdirKedua, perbuatan (amal) hati (‘amalul qalbi) (عمل القلب), misalnya ikhlas; mencintai Allah Ta’ala; berharap pahala dan ampunan Allah Ta’ala (raja’); takut akan siksa dan hukuman-Nya (khauf); tawakkal hanya kepada Allah Ta’ala; sabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan; dan yang lainnya. Ibadah dalam bentuk ucapan lisan (al-‘ibadah al-qauliyyah) (العبادت القولية), misalnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan; membaca Al-Qur’an; berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan tasbih, tahmid, dan takbir; mengajarkan ilmu agama; dan ibadah lisan lainnya. Ibadah anggota badan (al-‘ibadah al-badaniyyah) (العبادت البدنية), misalnya shalat; sujud; puasa; haji; thawaf di baitullah (Ka’bah); jihad; belajar ilmu agama; dan yang lainnya. Ibadah harta (al-‘ibadah al-maaliyyah) (العبادت المالية), misalnya zakat; sedekah; menyembelih hewan kurban; dan yang lainnya.  Perkara-perkara tersebut hanya mengandung dua kemungkinan: jika ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala, maka itulah tauhid. Namun jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, itulah kemusyrikan.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah Shalat Hukum Asal Ibadah adalah Terlarang, sampai Ada Dalil dari Syariat [Bersambung]***@Rumah Lendah, 19 Rajab 1440/26 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Meninggalkan Shalat Jumat, Cara Melakukan Sujud Sahwi, Islam Adalah Rahmatan Lil Alamin, Ucapan Syukur Dalam Islam, Tanda Tanda Kebesaran Allah Di Muka Bumi
Ibadah merupakan salah satu tujuan penciptaan manusia. Dan untuk merealisasikan tujuan tersebut, diutuslah para rasul dan kitab-kitab diturunkan. Orang yang betul-betul beriman kepada Allah Ta’ala tentu akan berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, karena ketidaktahuan tentang pengertian atau jenis-jenis ibadah, sebagian mereka hanya fokus terhadap ibadah tertentu saja, misalnya shalat, zakat, atau puasa. Padahal, jenis-jenis ibadah sangatlah banyak.Baca Juga: Macam-Macam Bid’ah di Bulan RamadhanLuasnya cakupan ibadah dapat kita lihat dari definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang Allah cintai dan Allah ridhai, baik ucapan atau perbuatan, yang lahir (tampak, bisa dilihat) maupun yang batin (tidak tampak, tidak bisa dilihat).” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 44)Para ulama menjelaskan bahwa secara garis besar, ibadah dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Dalam tulisan singkat ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaPerbedaan antara ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhahIbadah mahdhah (العبادت المحضة)Adalah ibadah yang murni ibadah, ditunjukkan oleh tiga ciri berikut ini:Pertama, ibadah mahdhah adalah amal dan ucapan yang merupakan jenis ibadah sejak asal penetapannya dari dalil syariat. Artinya, perkataan atau ucapan tersebut tidaklah bernilai kecuali ibadah. Dengan kata lain, tidak bisa bernilai netral (bisa jadi ibadah atau bukan ibadah). Ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan dalil-dalil yang menunjukkan terlarangnya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, karena hal itu termasuk dalam kemusyrikan.Kedua, ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan maksud pokok orang yang mengerjakannya, yaitu dalam rangka meraih pahala di akhirat.Ketiga, ibadah mahdhah hanya bisa diketahui melalui jalan wahyu, tidak ada jalan yang lainnya, termasuk melalui akal atau budaya.Contoh sederhana ibadah mahdhah adalah shalat. Shalat adalah ibadah mahdhah karena memang ada perintah (dalil) khusus dari syariat. Sehingga sejak awal mulanya, shalat adalah aktivitas yang diperintahkan (ciri yang pertama). Orang mengerjakan shalat, pastilah berharap pahala akhirat (ciri ke dua). Ciri ketiga, ibadah shalat tidaklah mungkin kita ketahui selain melalui jalur wahyu. Rincian berapa kali shalat, kapan saja, berapa raka’at, gerakan, bacaan, dan seterusnya, hanya bisa kita ketahui melalui penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil dari kreativitas dan olah pikiran kita sendiri.Baca Juga: Bedakan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ahIbadah ghairu mahdhah (العبادت غير المحضة)Ibadah yang tidak murni ibadah memiliki pengertian yang berkebalikan dari tiga ciri di atas. Sehingga ibadah ghairu mahdhah dicirikan dengan:Pertama, ibadah (perkataan atau perbuatan) tersebut pada asalnya bukanlah ibadah. Akan tetapi, berubah status menjadi ibadah karena melihat dan menimbang niat pelakunya.Kedua, maksud pokok perbuatan tersebut adalah untuk memenuhi urusan atau kebutuhan yang bersifat duniawi, bukan untuk meraih pahala di akhirat.Ketiga, amal perbuatan tersebut bisa diketahui dan dikenal meskipun tidak ada wahyu dari para rasul.Contoh sederhana dari ibadah ghairu mahdhah adalah aktivitas makan. Makan pada asalnya bukanlah ibadah khusus. Orang bebas mau makan kapan saja, baik ketika lapar ataupun tidak lapar, dan dengan menu apa saja, kecuali yang Allah Ta’ala haramkan. Bisa jadi orang makan karena lapar, atau hanya sekedar ingin mencicipi makanan. Akan tetapi, aktivitas makan tersebut bisa berpahala ketika pelakunya meniatkan agar memiliki kekuatan (tidak lemas) untuk shalat atau berjalan menuju masjid. Ini adalah ciri pertama.Berdasarkan ciri kedua, kita pun mengetahui bahwa maksud pokok ketika orang makan adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok (primer) dalam hidupnya, sehingga dia bisa menjaga keberlangsungan hidupnya. Selain itu, manusia tidak membutuhkan wahyu untuk bisa mengetahui pentingnya makan dalam hidup ini, ini ciri yang ketiga. Tanpa wahyu, orang sudah mencari makan.Ini adalah contoh sederhana untuk memahamkan pengertian ibadah ghairu mahdhah, dan akan kami sebutkan lebih rinci lagi jenis-jenis ibadah ghairu mahdhah di serial selanjutnya dari tulisan ini.Berdasarkan penjelasan di atas, ibadah mahdhah disebut juga dengan ad-diin (urusan agama), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan ad-dunya (urusan duniawi). Sebagaimana ibadah mahdhah disebut juga dengan al-‘ibadah (ibadah), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan al-‘aadah (adat kebiasaan).Kemudian untuk lebih memperjelas perbedaan antara ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, berikut kami sebutkan rincian contoh ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Baca Juga: 14 Amalan yang Keliru di Bulan RamadhanRincian ibadah mahdhahIbadah mahdhah adalah ibadah yang banyak kita kenal, bahkan sebagian kaum muslimin bisa jadi menyangkan bahwa ibadah itu hanya terbatas pada ibadah mahdhah. Berikut ini beberapa rincian ibadah mahdhah,Ibadah hati (al-‘ibadah al-qalbiyyah) (العبادت القلبية), bisa dirinci dalam dua jenis ibadah:Pertama, ucapan hati (qaulul qalbi) (قول القلب), yaitu berbagai perkara aqidah yang wajib untuk diyakini, misalnya keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala); tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap uluhiyyah Allah Ta’ala); beriman terhadap semua nama dan sifat yang Allah Ta’ala tetapkan; beriman terhadap malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan juga beriman terhadap taqdirKedua, perbuatan (amal) hati (‘amalul qalbi) (عمل القلب), misalnya ikhlas; mencintai Allah Ta’ala; berharap pahala dan ampunan Allah Ta’ala (raja’); takut akan siksa dan hukuman-Nya (khauf); tawakkal hanya kepada Allah Ta’ala; sabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan; dan yang lainnya. Ibadah dalam bentuk ucapan lisan (al-‘ibadah al-qauliyyah) (العبادت القولية), misalnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan; membaca Al-Qur’an; berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan tasbih, tahmid, dan takbir; mengajarkan ilmu agama; dan ibadah lisan lainnya. Ibadah anggota badan (al-‘ibadah al-badaniyyah) (العبادت البدنية), misalnya shalat; sujud; puasa; haji; thawaf di baitullah (Ka’bah); jihad; belajar ilmu agama; dan yang lainnya. Ibadah harta (al-‘ibadah al-maaliyyah) (العبادت المالية), misalnya zakat; sedekah; menyembelih hewan kurban; dan yang lainnya.  Perkara-perkara tersebut hanya mengandung dua kemungkinan: jika ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala, maka itulah tauhid. Namun jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, itulah kemusyrikan.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah Shalat Hukum Asal Ibadah adalah Terlarang, sampai Ada Dalil dari Syariat [Bersambung]***@Rumah Lendah, 19 Rajab 1440/26 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Meninggalkan Shalat Jumat, Cara Melakukan Sujud Sahwi, Islam Adalah Rahmatan Lil Alamin, Ucapan Syukur Dalam Islam, Tanda Tanda Kebesaran Allah Di Muka Bumi


Ibadah merupakan salah satu tujuan penciptaan manusia. Dan untuk merealisasikan tujuan tersebut, diutuslah para rasul dan kitab-kitab diturunkan. Orang yang betul-betul beriman kepada Allah Ta’ala tentu akan berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, karena ketidaktahuan tentang pengertian atau jenis-jenis ibadah, sebagian mereka hanya fokus terhadap ibadah tertentu saja, misalnya shalat, zakat, atau puasa. Padahal, jenis-jenis ibadah sangatlah banyak.Baca Juga: Macam-Macam Bid’ah di Bulan RamadhanLuasnya cakupan ibadah dapat kita lihat dari definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala,الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة.“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang Allah cintai dan Allah ridhai, baik ucapan atau perbuatan, yang lahir (tampak, bisa dilihat) maupun yang batin (tidak tampak, tidak bisa dilihat).” (Al-‘Ubudiyyah, hal. 44)Para ulama menjelaskan bahwa secara garis besar, ibadah dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Dalam tulisan singkat ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya.Baca Juga: Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis NerakaPerbedaan antara ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhahIbadah mahdhah (العبادت المحضة)Adalah ibadah yang murni ibadah, ditunjukkan oleh tiga ciri berikut ini:Pertama, ibadah mahdhah adalah amal dan ucapan yang merupakan jenis ibadah sejak asal penetapannya dari dalil syariat. Artinya, perkataan atau ucapan tersebut tidaklah bernilai kecuali ibadah. Dengan kata lain, tidak bisa bernilai netral (bisa jadi ibadah atau bukan ibadah). Ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan dalil-dalil yang menunjukkan terlarangnya ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, karena hal itu termasuk dalam kemusyrikan.Kedua, ibadah mahdhah juga ditunjukkan dengan maksud pokok orang yang mengerjakannya, yaitu dalam rangka meraih pahala di akhirat.Ketiga, ibadah mahdhah hanya bisa diketahui melalui jalan wahyu, tidak ada jalan yang lainnya, termasuk melalui akal atau budaya.Contoh sederhana ibadah mahdhah adalah shalat. Shalat adalah ibadah mahdhah karena memang ada perintah (dalil) khusus dari syariat. Sehingga sejak awal mulanya, shalat adalah aktivitas yang diperintahkan (ciri yang pertama). Orang mengerjakan shalat, pastilah berharap pahala akhirat (ciri ke dua). Ciri ketiga, ibadah shalat tidaklah mungkin kita ketahui selain melalui jalur wahyu. Rincian berapa kali shalat, kapan saja, berapa raka’at, gerakan, bacaan, dan seterusnya, hanya bisa kita ketahui melalui penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil dari kreativitas dan olah pikiran kita sendiri.Baca Juga: Bedakan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ahIbadah ghairu mahdhah (العبادت غير المحضة)Ibadah yang tidak murni ibadah memiliki pengertian yang berkebalikan dari tiga ciri di atas. Sehingga ibadah ghairu mahdhah dicirikan dengan:Pertama, ibadah (perkataan atau perbuatan) tersebut pada asalnya bukanlah ibadah. Akan tetapi, berubah status menjadi ibadah karena melihat dan menimbang niat pelakunya.Kedua, maksud pokok perbuatan tersebut adalah untuk memenuhi urusan atau kebutuhan yang bersifat duniawi, bukan untuk meraih pahala di akhirat.Ketiga, amal perbuatan tersebut bisa diketahui dan dikenal meskipun tidak ada wahyu dari para rasul.Contoh sederhana dari ibadah ghairu mahdhah adalah aktivitas makan. Makan pada asalnya bukanlah ibadah khusus. Orang bebas mau makan kapan saja, baik ketika lapar ataupun tidak lapar, dan dengan menu apa saja, kecuali yang Allah Ta’ala haramkan. Bisa jadi orang makan karena lapar, atau hanya sekedar ingin mencicipi makanan. Akan tetapi, aktivitas makan tersebut bisa berpahala ketika pelakunya meniatkan agar memiliki kekuatan (tidak lemas) untuk shalat atau berjalan menuju masjid. Ini adalah ciri pertama.Berdasarkan ciri kedua, kita pun mengetahui bahwa maksud pokok ketika orang makan adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok (primer) dalam hidupnya, sehingga dia bisa menjaga keberlangsungan hidupnya. Selain itu, manusia tidak membutuhkan wahyu untuk bisa mengetahui pentingnya makan dalam hidup ini, ini ciri yang ketiga. Tanpa wahyu, orang sudah mencari makan.Ini adalah contoh sederhana untuk memahamkan pengertian ibadah ghairu mahdhah, dan akan kami sebutkan lebih rinci lagi jenis-jenis ibadah ghairu mahdhah di serial selanjutnya dari tulisan ini.Berdasarkan penjelasan di atas, ibadah mahdhah disebut juga dengan ad-diin (urusan agama), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan ad-dunya (urusan duniawi). Sebagaimana ibadah mahdhah disebut juga dengan al-‘ibadah (ibadah), sedangkan ibadah ghairu mahdhah disebut juga dengan al-‘aadah (adat kebiasaan).Kemudian untuk lebih memperjelas perbedaan antara ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, berikut kami sebutkan rincian contoh ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Baca Juga: 14 Amalan yang Keliru di Bulan RamadhanRincian ibadah mahdhahIbadah mahdhah adalah ibadah yang banyak kita kenal, bahkan sebagian kaum muslimin bisa jadi menyangkan bahwa ibadah itu hanya terbatas pada ibadah mahdhah. Berikut ini beberapa rincian ibadah mahdhah,Ibadah hati (al-‘ibadah al-qalbiyyah) (العبادت القلبية), bisa dirinci dalam dua jenis ibadah:Pertama, ucapan hati (qaulul qalbi) (قول القلب), yaitu berbagai perkara aqidah yang wajib untuk diyakini, misalnya keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala); tidak ada yang berhak disembah selain Allah Ta’ala (keimanan terhadap uluhiyyah Allah Ta’ala); beriman terhadap semua nama dan sifat yang Allah Ta’ala tetapkan; beriman terhadap malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan juga beriman terhadap taqdirKedua, perbuatan (amal) hati (‘amalul qalbi) (عمل القلب), misalnya ikhlas; mencintai Allah Ta’ala; berharap pahala dan ampunan Allah Ta’ala (raja’); takut akan siksa dan hukuman-Nya (khauf); tawakkal hanya kepada Allah Ta’ala; sabar dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan; dan yang lainnya. Ibadah dalam bentuk ucapan lisan (al-‘ibadah al-qauliyyah) (العبادت القولية), misalnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan; membaca Al-Qur’an; berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan tasbih, tahmid, dan takbir; mengajarkan ilmu agama; dan ibadah lisan lainnya. Ibadah anggota badan (al-‘ibadah al-badaniyyah) (العبادت البدنية), misalnya shalat; sujud; puasa; haji; thawaf di baitullah (Ka’bah); jihad; belajar ilmu agama; dan yang lainnya. Ibadah harta (al-‘ibadah al-maaliyyah) (العبادت المالية), misalnya zakat; sedekah; menyembelih hewan kurban; dan yang lainnya.  Perkara-perkara tersebut hanya mengandung dua kemungkinan: jika ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala, maka itulah tauhid. Namun jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, itulah kemusyrikan.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah Shalat Hukum Asal Ibadah adalah Terlarang, sampai Ada Dalil dari Syariat [Bersambung]***@Rumah Lendah, 19 Rajab 1440/26 Maret 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Dosa Meninggalkan Shalat Jumat, Cara Melakukan Sujud Sahwi, Islam Adalah Rahmatan Lil Alamin, Ucapan Syukur Dalam Islam, Tanda Tanda Kebesaran Allah Di Muka Bumi

Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang Shalih

Tentu kita sangat ingin menjadi orang yang shalih dan dinilai sebagai hamba yang shalih di sisi Allah. Salah satu kebiasaan orang shalih adalah melakukan shalat malam. Perlu diperhatikan bahwa yang namanya “kebiasaan” berarti hal yang cukup sering dilakukan. Bagaimana dengan orang yang merasa diri shalih tetapi tidak pernah shalat malam atau jarang sekali shalat malam? Semoga kita termasuk hamba yang sering shalat malam.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]Makna dari kata “da’bu” (ُ ﺩَﺃْﺏُ) adalah (ْ ﻋَﺎﺩَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ) yaitu  kebiasaan dan hal yang menjadi perhatian. Ini adalah perhatian orang shalih, yaitu nemperhatikan shalat malam mereka, bahkan sebagian orang shalih menjadikan shalat malam sebagai salah satu gambaran kondisi keimanan mereka. Apabila mereka melakukan maksiat dan dosa, maka iman mereka akan turun dan akan sulit bangun shalat malam.Baca Juga: Shalat Tahajud Karena Ada Ujian=Tidak Ikhlas?Hasan Al-Basri berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺬﻧﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ“Sesungguhnya seseorang itu ketika berbuat dosa, bisa jadi akan diharamkan (susah melakukan) shalat malam.” [Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi no. 403]Ciri hamba Allah “ibadurrahman” adalah  melakukan shalat malam, sebagaimana firman Allah Ta’ala,ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺒِﻴﺘُﻮﻥَ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻭَﻗِﻴَﺎﻣًﺎ“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqaan/25: 64)Baca Juga: Kiat Agar Mudah Bangun SubuhSalah satu ciri orang yang rajin ibadah dan memprioritaskan Allah adalah tidak malas dan tidak banyak tidur.Allah berfirman,ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ ﻭَﺑِﺎﻟْﺄَﺳْﺤَﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﻥَ“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzaariyaat/51: 17-18)Waktu sepertiga malam terakhir memiliki banyak sekali keutamaan. Tentu orang yang shalih tidak akan melewati kesempatan ini. Perhatikan keutamaannya pada hadits berikut,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” [HR. Muslim]Baca Juga: Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit NifaqPada waktu inilah hati seorang muslim lebih lembut dan lebih mudah kembali kepada Allah serta akan ditingkatlan keimanannya. Ibnu Taimiyyah berkata,الناس في آخر اليل يكون في قلوبهم من التوجه و التقرب و الرقة ما لا يوجد في غير ذالك الوقت“Manusia pada akhir malam, keadaan hatinya akan fokus dan dekat kepada Allah serta lembut, di mana tidak didapati keadaan ini kecuali pada waktu tersebut.” [Majmu’ Fatawa 5/130]Baca Juga: Kapan Shalat 5 Waktu Mulai Diwajibkan? Amalan Lebih Baik Kontinu Walaupun Sedikit Semoga kita termasuk hamba Allah yang shalih dan dipermudah untuk shalat malam@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Ziarah Kubur, Rokok Menurut Islam, Dosa Meninggalkan Shalat Subuh, Aku Orang Miskin, Hadits Bukhari

Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang Shalih

Tentu kita sangat ingin menjadi orang yang shalih dan dinilai sebagai hamba yang shalih di sisi Allah. Salah satu kebiasaan orang shalih adalah melakukan shalat malam. Perlu diperhatikan bahwa yang namanya “kebiasaan” berarti hal yang cukup sering dilakukan. Bagaimana dengan orang yang merasa diri shalih tetapi tidak pernah shalat malam atau jarang sekali shalat malam? Semoga kita termasuk hamba yang sering shalat malam.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]Makna dari kata “da’bu” (ُ ﺩَﺃْﺏُ) adalah (ْ ﻋَﺎﺩَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ) yaitu  kebiasaan dan hal yang menjadi perhatian. Ini adalah perhatian orang shalih, yaitu nemperhatikan shalat malam mereka, bahkan sebagian orang shalih menjadikan shalat malam sebagai salah satu gambaran kondisi keimanan mereka. Apabila mereka melakukan maksiat dan dosa, maka iman mereka akan turun dan akan sulit bangun shalat malam.Baca Juga: Shalat Tahajud Karena Ada Ujian=Tidak Ikhlas?Hasan Al-Basri berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺬﻧﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ“Sesungguhnya seseorang itu ketika berbuat dosa, bisa jadi akan diharamkan (susah melakukan) shalat malam.” [Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi no. 403]Ciri hamba Allah “ibadurrahman” adalah  melakukan shalat malam, sebagaimana firman Allah Ta’ala,ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺒِﻴﺘُﻮﻥَ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻭَﻗِﻴَﺎﻣًﺎ“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqaan/25: 64)Baca Juga: Kiat Agar Mudah Bangun SubuhSalah satu ciri orang yang rajin ibadah dan memprioritaskan Allah adalah tidak malas dan tidak banyak tidur.Allah berfirman,ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ ﻭَﺑِﺎﻟْﺄَﺳْﺤَﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﻥَ“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzaariyaat/51: 17-18)Waktu sepertiga malam terakhir memiliki banyak sekali keutamaan. Tentu orang yang shalih tidak akan melewati kesempatan ini. Perhatikan keutamaannya pada hadits berikut,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” [HR. Muslim]Baca Juga: Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit NifaqPada waktu inilah hati seorang muslim lebih lembut dan lebih mudah kembali kepada Allah serta akan ditingkatlan keimanannya. Ibnu Taimiyyah berkata,الناس في آخر اليل يكون في قلوبهم من التوجه و التقرب و الرقة ما لا يوجد في غير ذالك الوقت“Manusia pada akhir malam, keadaan hatinya akan fokus dan dekat kepada Allah serta lembut, di mana tidak didapati keadaan ini kecuali pada waktu tersebut.” [Majmu’ Fatawa 5/130]Baca Juga: Kapan Shalat 5 Waktu Mulai Diwajibkan? Amalan Lebih Baik Kontinu Walaupun Sedikit Semoga kita termasuk hamba Allah yang shalih dan dipermudah untuk shalat malam@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Ziarah Kubur, Rokok Menurut Islam, Dosa Meninggalkan Shalat Subuh, Aku Orang Miskin, Hadits Bukhari
Tentu kita sangat ingin menjadi orang yang shalih dan dinilai sebagai hamba yang shalih di sisi Allah. Salah satu kebiasaan orang shalih adalah melakukan shalat malam. Perlu diperhatikan bahwa yang namanya “kebiasaan” berarti hal yang cukup sering dilakukan. Bagaimana dengan orang yang merasa diri shalih tetapi tidak pernah shalat malam atau jarang sekali shalat malam? Semoga kita termasuk hamba yang sering shalat malam.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]Makna dari kata “da’bu” (ُ ﺩَﺃْﺏُ) adalah (ْ ﻋَﺎﺩَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ) yaitu  kebiasaan dan hal yang menjadi perhatian. Ini adalah perhatian orang shalih, yaitu nemperhatikan shalat malam mereka, bahkan sebagian orang shalih menjadikan shalat malam sebagai salah satu gambaran kondisi keimanan mereka. Apabila mereka melakukan maksiat dan dosa, maka iman mereka akan turun dan akan sulit bangun shalat malam.Baca Juga: Shalat Tahajud Karena Ada Ujian=Tidak Ikhlas?Hasan Al-Basri berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺬﻧﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ“Sesungguhnya seseorang itu ketika berbuat dosa, bisa jadi akan diharamkan (susah melakukan) shalat malam.” [Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi no. 403]Ciri hamba Allah “ibadurrahman” adalah  melakukan shalat malam, sebagaimana firman Allah Ta’ala,ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺒِﻴﺘُﻮﻥَ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻭَﻗِﻴَﺎﻣًﺎ“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqaan/25: 64)Baca Juga: Kiat Agar Mudah Bangun SubuhSalah satu ciri orang yang rajin ibadah dan memprioritaskan Allah adalah tidak malas dan tidak banyak tidur.Allah berfirman,ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ ﻭَﺑِﺎﻟْﺄَﺳْﺤَﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﻥَ“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzaariyaat/51: 17-18)Waktu sepertiga malam terakhir memiliki banyak sekali keutamaan. Tentu orang yang shalih tidak akan melewati kesempatan ini. Perhatikan keutamaannya pada hadits berikut,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” [HR. Muslim]Baca Juga: Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit NifaqPada waktu inilah hati seorang muslim lebih lembut dan lebih mudah kembali kepada Allah serta akan ditingkatlan keimanannya. Ibnu Taimiyyah berkata,الناس في آخر اليل يكون في قلوبهم من التوجه و التقرب و الرقة ما لا يوجد في غير ذالك الوقت“Manusia pada akhir malam, keadaan hatinya akan fokus dan dekat kepada Allah serta lembut, di mana tidak didapati keadaan ini kecuali pada waktu tersebut.” [Majmu’ Fatawa 5/130]Baca Juga: Kapan Shalat 5 Waktu Mulai Diwajibkan? Amalan Lebih Baik Kontinu Walaupun Sedikit Semoga kita termasuk hamba Allah yang shalih dan dipermudah untuk shalat malam@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Ziarah Kubur, Rokok Menurut Islam, Dosa Meninggalkan Shalat Subuh, Aku Orang Miskin, Hadits Bukhari


Tentu kita sangat ingin menjadi orang yang shalih dan dinilai sebagai hamba yang shalih di sisi Allah. Salah satu kebiasaan orang shalih adalah melakukan shalat malam. Perlu diperhatikan bahwa yang namanya “kebiasaan” berarti hal yang cukup sering dilakukan. Bagaimana dengan orang yang merasa diri shalih tetapi tidak pernah shalat malam atau jarang sekali shalat malam? Semoga kita termasuk hamba yang sering shalat malam.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]Makna dari kata “da’bu” (ُ ﺩَﺃْﺏُ) adalah (ْ ﻋَﺎﺩَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺄْﻧُﻬُﻢْ) yaitu  kebiasaan dan hal yang menjadi perhatian. Ini adalah perhatian orang shalih, yaitu nemperhatikan shalat malam mereka, bahkan sebagian orang shalih menjadikan shalat malam sebagai salah satu gambaran kondisi keimanan mereka. Apabila mereka melakukan maksiat dan dosa, maka iman mereka akan turun dan akan sulit bangun shalat malam.Baca Juga: Shalat Tahajud Karena Ada Ujian=Tidak Ikhlas?Hasan Al-Basri berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﻴﺬﻧﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﻴﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ“Sesungguhnya seseorang itu ketika berbuat dosa, bisa jadi akan diharamkan (susah melakukan) shalat malam.” [Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilmi no. 403]Ciri hamba Allah “ibadurrahman” adalah  melakukan shalat malam, sebagaimana firman Allah Ta’ala,ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺒِﻴﺘُﻮﻥَ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻭَﻗِﻴَﺎﻣًﺎ“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqaan/25: 64)Baca Juga: Kiat Agar Mudah Bangun SubuhSalah satu ciri orang yang rajin ibadah dan memprioritaskan Allah adalah tidak malas dan tidak banyak tidur.Allah berfirman,ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ ﻭَﺑِﺎﻟْﺄَﺳْﺤَﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭﻥَ“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzaariyaat/51: 17-18)Waktu sepertiga malam terakhir memiliki banyak sekali keutamaan. Tentu orang yang shalih tidak akan melewati kesempatan ini. Perhatikan keutamaannya pada hadits berikut,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻟَﺴَﺎﻋَـﺔً، ﻻَ ﻳُﻮَﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﺭَﺟُـﻞٌ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ .“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” [HR. Muslim]Baca Juga: Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit NifaqPada waktu inilah hati seorang muslim lebih lembut dan lebih mudah kembali kepada Allah serta akan ditingkatlan keimanannya. Ibnu Taimiyyah berkata,الناس في آخر اليل يكون في قلوبهم من التوجه و التقرب و الرقة ما لا يوجد في غير ذالك الوقت“Manusia pada akhir malam, keadaan hatinya akan fokus dan dekat kepada Allah serta lembut, di mana tidak didapati keadaan ini kecuali pada waktu tersebut.” [Majmu’ Fatawa 5/130]Baca Juga: Kapan Shalat 5 Waktu Mulai Diwajibkan? Amalan Lebih Baik Kontinu Walaupun Sedikit Semoga kita termasuk hamba Allah yang shalih dan dipermudah untuk shalat malam@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hukum Ziarah Kubur, Rokok Menurut Islam, Dosa Meninggalkan Shalat Subuh, Aku Orang Miskin, Hadits Bukhari

Faedah Surat An-Nuur #29: Cahaya di Atas Cahaya, Permisalan untuk Iman dan Ilmu

Cahaya di atas cahaya, ini permisalan bagus untuk iman dan ilmu serta hidayah. Coba pelajari lagi dari surat An-Nuur ayat 35.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 35 ۞اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِۚمَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖالْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖالزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚنُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗيَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚوَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗوَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur: 35)   Cahaya Iman dan Ilmu   Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, inti pada perumpamaan yang dibuat Allah ini dan prakteknya pada keadaan orang mukmin dan pada cahaya Allah di hatinya adalah bahwa fitrah-Nya yang manusia diciptakan di atasnya seperti minyak yang bersih. Fitrahnya bersih dan siap menerima pengajaran dari Allah serta mengamalkannya. Jika ilmu sampai kepadanya, maka menyala cahaya yang ada di hatinya seperti halnya sumbu yang menyala di dalam lampu itu, hatinya bersih dari maksud yang buruk dan paham yang buruk. Apabila iman sampai kepadanya, maka akan bersinar lagi hatinya dengan sinar yang terang karena bersih dari kotoran, dan hal itu seperti bersihnya kaca yang berkilau, sehingga berkumpullah cahaya fitrah, cahaya iman, cahaya ilmu, dan bersihnya ma’rifat (mengenal Allah), sehingga cahaya tersebut di atas cahaya. Oleh karena cahaya tersebut berasal dari Allah Ta’ala, dan tidak setiap orang berhak mendapatkannya, maka Allah menerangkan bahwa Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, di mana Dia mengetahui kebersihan dan kesucian dirinya. Agar mereka dapat lebih memahami sebagai kelembutan dan ihsan dari-Nya kepada mereka, dan agar kebenaran semakin jelas. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah perumpamaan dari yang mengetahui hakikat segala sesuatu dan rinciannya, dan bahwa perumpamaan itu adalah untuk maslahat bagi hamba. Oleh karena itu, hendaknya kesibukanmu adalah memikirkannya dan memahaminya, tidak malah membantahnya dan mempertentangkannya, karena Dia mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 599. Diterangkan pula oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, cahaya di atas cahaya maksudnya adalah cahaya dari lampu (al-mishbah) di atas cahaya dari apa yang ada dalam minyak. Minyak ini aslinya bercahaya. Itulah yang disebutkan dalam ayat, يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ “Yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.” (QS. An-Nuur: 35). Kalau tidak disentuh api saja minyak tersebut saja sudah bercahaya, bagaimana lagi kalau disentuh api? Sama halnya dengan cahaya iman dalam hati, itulah seperti minyak tadi. Sedangkan ilmu dan hidayah adalah api yang mengenai minyak tadi. Itulah permisalan untuk iman dan ilmu. Padahal iman dan ilmu lebih dari permisalan ini, dan dalam ayat hanyalah permisalan saja. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur, hlm. 247.   Cahaya Iman dan Al-Qur’an   Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (5:544), cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak ketika bersatu, maka keduanya saling menerangi. Begitu pula cahaya Al-Qur’an dan cahaya iman ketika bersatu, keduanya akan saling mendukung, tak bisa terpisah.   Faedah Ayat   Segala kebaikan, segala cahaya, segala hidayah, sumbernya dari Allah Ta’ala, dari Allah-lah semua itu diminta. Dalam ayat ini digunakan permisalan sehingga mudah diambil pelajaran. Agama Islam adalah agama yang lurus (hanif). Siapa yang mengikuti Islam berarti ia mendapatkan petunjuk. Siapa yang jauh dari Islam, berarti ia sesat. Semakin seseorang dekat kepada Allah, semakin mudah ia mendapatkan hidayah, bahkan ia akan mendapatkan petunjuk dari segala sisi, itulah cahaya di atas cahaya. Itulah derajat wali Allah yang disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Selesai sudah tafsir dan penjelasan surah An-Nuur ayat 35, tentang cahaya di atas cahaya. Moga kita selalu dikaruniai cahaya iman.   Referensi:   Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyi Al-Kabir.Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 1 Syaban 1440 H (6 April 2019), Sabtu Legi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscahaya al-qur'an cahaya di atas cahaya cahaya iman faedah surat an nuur surat an nuur tafsir an nuur

Faedah Surat An-Nuur #29: Cahaya di Atas Cahaya, Permisalan untuk Iman dan Ilmu

Cahaya di atas cahaya, ini permisalan bagus untuk iman dan ilmu serta hidayah. Coba pelajari lagi dari surat An-Nuur ayat 35.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 35 ۞اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِۚمَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖالْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖالزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚنُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗيَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚوَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗوَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur: 35)   Cahaya Iman dan Ilmu   Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, inti pada perumpamaan yang dibuat Allah ini dan prakteknya pada keadaan orang mukmin dan pada cahaya Allah di hatinya adalah bahwa fitrah-Nya yang manusia diciptakan di atasnya seperti minyak yang bersih. Fitrahnya bersih dan siap menerima pengajaran dari Allah serta mengamalkannya. Jika ilmu sampai kepadanya, maka menyala cahaya yang ada di hatinya seperti halnya sumbu yang menyala di dalam lampu itu, hatinya bersih dari maksud yang buruk dan paham yang buruk. Apabila iman sampai kepadanya, maka akan bersinar lagi hatinya dengan sinar yang terang karena bersih dari kotoran, dan hal itu seperti bersihnya kaca yang berkilau, sehingga berkumpullah cahaya fitrah, cahaya iman, cahaya ilmu, dan bersihnya ma’rifat (mengenal Allah), sehingga cahaya tersebut di atas cahaya. Oleh karena cahaya tersebut berasal dari Allah Ta’ala, dan tidak setiap orang berhak mendapatkannya, maka Allah menerangkan bahwa Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, di mana Dia mengetahui kebersihan dan kesucian dirinya. Agar mereka dapat lebih memahami sebagai kelembutan dan ihsan dari-Nya kepada mereka, dan agar kebenaran semakin jelas. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah perumpamaan dari yang mengetahui hakikat segala sesuatu dan rinciannya, dan bahwa perumpamaan itu adalah untuk maslahat bagi hamba. Oleh karena itu, hendaknya kesibukanmu adalah memikirkannya dan memahaminya, tidak malah membantahnya dan mempertentangkannya, karena Dia mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 599. Diterangkan pula oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, cahaya di atas cahaya maksudnya adalah cahaya dari lampu (al-mishbah) di atas cahaya dari apa yang ada dalam minyak. Minyak ini aslinya bercahaya. Itulah yang disebutkan dalam ayat, يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ “Yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.” (QS. An-Nuur: 35). Kalau tidak disentuh api saja minyak tersebut saja sudah bercahaya, bagaimana lagi kalau disentuh api? Sama halnya dengan cahaya iman dalam hati, itulah seperti minyak tadi. Sedangkan ilmu dan hidayah adalah api yang mengenai minyak tadi. Itulah permisalan untuk iman dan ilmu. Padahal iman dan ilmu lebih dari permisalan ini, dan dalam ayat hanyalah permisalan saja. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur, hlm. 247.   Cahaya Iman dan Al-Qur’an   Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (5:544), cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak ketika bersatu, maka keduanya saling menerangi. Begitu pula cahaya Al-Qur’an dan cahaya iman ketika bersatu, keduanya akan saling mendukung, tak bisa terpisah.   Faedah Ayat   Segala kebaikan, segala cahaya, segala hidayah, sumbernya dari Allah Ta’ala, dari Allah-lah semua itu diminta. Dalam ayat ini digunakan permisalan sehingga mudah diambil pelajaran. Agama Islam adalah agama yang lurus (hanif). Siapa yang mengikuti Islam berarti ia mendapatkan petunjuk. Siapa yang jauh dari Islam, berarti ia sesat. Semakin seseorang dekat kepada Allah, semakin mudah ia mendapatkan hidayah, bahkan ia akan mendapatkan petunjuk dari segala sisi, itulah cahaya di atas cahaya. Itulah derajat wali Allah yang disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Selesai sudah tafsir dan penjelasan surah An-Nuur ayat 35, tentang cahaya di atas cahaya. Moga kita selalu dikaruniai cahaya iman.   Referensi:   Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyi Al-Kabir.Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 1 Syaban 1440 H (6 April 2019), Sabtu Legi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscahaya al-qur'an cahaya di atas cahaya cahaya iman faedah surat an nuur surat an nuur tafsir an nuur
Cahaya di atas cahaya, ini permisalan bagus untuk iman dan ilmu serta hidayah. Coba pelajari lagi dari surat An-Nuur ayat 35.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 35 ۞اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِۚمَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖالْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖالزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚنُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗيَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚوَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗوَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur: 35)   Cahaya Iman dan Ilmu   Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, inti pada perumpamaan yang dibuat Allah ini dan prakteknya pada keadaan orang mukmin dan pada cahaya Allah di hatinya adalah bahwa fitrah-Nya yang manusia diciptakan di atasnya seperti minyak yang bersih. Fitrahnya bersih dan siap menerima pengajaran dari Allah serta mengamalkannya. Jika ilmu sampai kepadanya, maka menyala cahaya yang ada di hatinya seperti halnya sumbu yang menyala di dalam lampu itu, hatinya bersih dari maksud yang buruk dan paham yang buruk. Apabila iman sampai kepadanya, maka akan bersinar lagi hatinya dengan sinar yang terang karena bersih dari kotoran, dan hal itu seperti bersihnya kaca yang berkilau, sehingga berkumpullah cahaya fitrah, cahaya iman, cahaya ilmu, dan bersihnya ma’rifat (mengenal Allah), sehingga cahaya tersebut di atas cahaya. Oleh karena cahaya tersebut berasal dari Allah Ta’ala, dan tidak setiap orang berhak mendapatkannya, maka Allah menerangkan bahwa Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, di mana Dia mengetahui kebersihan dan kesucian dirinya. Agar mereka dapat lebih memahami sebagai kelembutan dan ihsan dari-Nya kepada mereka, dan agar kebenaran semakin jelas. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah perumpamaan dari yang mengetahui hakikat segala sesuatu dan rinciannya, dan bahwa perumpamaan itu adalah untuk maslahat bagi hamba. Oleh karena itu, hendaknya kesibukanmu adalah memikirkannya dan memahaminya, tidak malah membantahnya dan mempertentangkannya, karena Dia mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 599. Diterangkan pula oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, cahaya di atas cahaya maksudnya adalah cahaya dari lampu (al-mishbah) di atas cahaya dari apa yang ada dalam minyak. Minyak ini aslinya bercahaya. Itulah yang disebutkan dalam ayat, يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ “Yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.” (QS. An-Nuur: 35). Kalau tidak disentuh api saja minyak tersebut saja sudah bercahaya, bagaimana lagi kalau disentuh api? Sama halnya dengan cahaya iman dalam hati, itulah seperti minyak tadi. Sedangkan ilmu dan hidayah adalah api yang mengenai minyak tadi. Itulah permisalan untuk iman dan ilmu. Padahal iman dan ilmu lebih dari permisalan ini, dan dalam ayat hanyalah permisalan saja. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur, hlm. 247.   Cahaya Iman dan Al-Qur’an   Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (5:544), cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak ketika bersatu, maka keduanya saling menerangi. Begitu pula cahaya Al-Qur’an dan cahaya iman ketika bersatu, keduanya akan saling mendukung, tak bisa terpisah.   Faedah Ayat   Segala kebaikan, segala cahaya, segala hidayah, sumbernya dari Allah Ta’ala, dari Allah-lah semua itu diminta. Dalam ayat ini digunakan permisalan sehingga mudah diambil pelajaran. Agama Islam adalah agama yang lurus (hanif). Siapa yang mengikuti Islam berarti ia mendapatkan petunjuk. Siapa yang jauh dari Islam, berarti ia sesat. Semakin seseorang dekat kepada Allah, semakin mudah ia mendapatkan hidayah, bahkan ia akan mendapatkan petunjuk dari segala sisi, itulah cahaya di atas cahaya. Itulah derajat wali Allah yang disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Selesai sudah tafsir dan penjelasan surah An-Nuur ayat 35, tentang cahaya di atas cahaya. Moga kita selalu dikaruniai cahaya iman.   Referensi:   Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyi Al-Kabir.Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 1 Syaban 1440 H (6 April 2019), Sabtu Legi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscahaya al-qur'an cahaya di atas cahaya cahaya iman faedah surat an nuur surat an nuur tafsir an nuur


Cahaya di atas cahaya, ini permisalan bagus untuk iman dan ilmu serta hidayah. Coba pelajari lagi dari surat An-Nuur ayat 35.   Tafsir Surah An-Nuur Ayat 35 ۞اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِۚمَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖالْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖالزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚنُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗيَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚوَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗوَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur: 35)   Cahaya Iman dan Ilmu   Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, inti pada perumpamaan yang dibuat Allah ini dan prakteknya pada keadaan orang mukmin dan pada cahaya Allah di hatinya adalah bahwa fitrah-Nya yang manusia diciptakan di atasnya seperti minyak yang bersih. Fitrahnya bersih dan siap menerima pengajaran dari Allah serta mengamalkannya. Jika ilmu sampai kepadanya, maka menyala cahaya yang ada di hatinya seperti halnya sumbu yang menyala di dalam lampu itu, hatinya bersih dari maksud yang buruk dan paham yang buruk. Apabila iman sampai kepadanya, maka akan bersinar lagi hatinya dengan sinar yang terang karena bersih dari kotoran, dan hal itu seperti bersihnya kaca yang berkilau, sehingga berkumpullah cahaya fitrah, cahaya iman, cahaya ilmu, dan bersihnya ma’rifat (mengenal Allah), sehingga cahaya tersebut di atas cahaya. Oleh karena cahaya tersebut berasal dari Allah Ta’ala, dan tidak setiap orang berhak mendapatkannya, maka Allah menerangkan bahwa Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, di mana Dia mengetahui kebersihan dan kesucian dirinya. Agar mereka dapat lebih memahami sebagai kelembutan dan ihsan dari-Nya kepada mereka, dan agar kebenaran semakin jelas. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah perumpamaan dari yang mengetahui hakikat segala sesuatu dan rinciannya, dan bahwa perumpamaan itu adalah untuk maslahat bagi hamba. Oleh karena itu, hendaknya kesibukanmu adalah memikirkannya dan memahaminya, tidak malah membantahnya dan mempertentangkannya, karena Dia mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 599. Diterangkan pula oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, cahaya di atas cahaya maksudnya adalah cahaya dari lampu (al-mishbah) di atas cahaya dari apa yang ada dalam minyak. Minyak ini aslinya bercahaya. Itulah yang disebutkan dalam ayat, يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ “Yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.” (QS. An-Nuur: 35). Kalau tidak disentuh api saja minyak tersebut saja sudah bercahaya, bagaimana lagi kalau disentuh api? Sama halnya dengan cahaya iman dalam hati, itulah seperti minyak tadi. Sedangkan ilmu dan hidayah adalah api yang mengenai minyak tadi. Itulah permisalan untuk iman dan ilmu. Padahal iman dan ilmu lebih dari permisalan ini, dan dalam ayat hanyalah permisalan saja. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur, hlm. 247.   Cahaya Iman dan Al-Qur’an   Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (5:544), cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak ketika bersatu, maka keduanya saling menerangi. Begitu pula cahaya Al-Qur’an dan cahaya iman ketika bersatu, keduanya akan saling mendukung, tak bisa terpisah.   Faedah Ayat   Segala kebaikan, segala cahaya, segala hidayah, sumbernya dari Allah Ta’ala, dari Allah-lah semua itu diminta. Dalam ayat ini digunakan permisalan sehingga mudah diambil pelajaran. Agama Islam adalah agama yang lurus (hanif). Siapa yang mengikuti Islam berarti ia mendapatkan petunjuk. Siapa yang jauh dari Islam, berarti ia sesat. Semakin seseorang dekat kepada Allah, semakin mudah ia mendapatkan hidayah, bahkan ia akan mendapatkan petunjuk dari segala sisi, itulah cahaya di atas cahaya. Itulah derajat wali Allah yang disebutkan dalam hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 2506) Selesai sudah tafsir dan penjelasan surah An-Nuur ayat 35, tentang cahaya di atas cahaya. Moga kita selalu dikaruniai cahaya iman.   Referensi:   Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyi Al-Kabir.Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat An-Nuur. Cetakan pertama, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 1 Syaban 1440 H (6 April 2019), Sabtu Legi Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscahaya al-qur'an cahaya di atas cahaya cahaya iman faedah surat an nuur surat an nuur tafsir an nuur

Faedah Sirah Nabi: Peristiwa Isra Mikraj

Peristiwa Isra Mikraj adalah mukjizat besar dan tanda kenabian yang sangat jelas. Selain itu, ini adalah kekhususan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal ini tidak pernah terjadi kepada nabi dan rasul selainnya (sebelumnya). Peristiwa ini termasuk ayat (mukjizat) Makkiyah terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum hijrah. Pengamat sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa sebelum Isra dan Mikraj ada beberapa peristiwa yang menyedihkan, seperti kematian Abu Thalib yang selalu melindungi dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi menghadapi orang-orang kafir dan kematian Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri yang setia sehingga beliau tinggal dalam kesunyian, ditambah hijrahnya sebagian sahabatnya ke negeri Habasyah berkali-kali dalam rangka menyelamatkan agamanya. Beliau pun sempat pergi ke Thaif dalam rangka menyeru penduduknya untuk beriman, menerima Islam, dan menjadi penolong agama Allah. Namun mereka menolaknya dan menolak ajarannya. Semua kondisi yang menyulitkan ini, Allah Ta’ala memuliakannya dengan mukjizat besar dan kemuliaan yang tinggi, yaitu Isra dan Mikraj. Allah Ta’ala berfirman, سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1) Ayat di atas bercerita tentang Isra, sedangkan tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik bin Sha’sha’ah yang nanti akan dibahas pada edisi berikutnya insya Allah.   Pengertian Isra dan Mikraj   Kata “asra” seperti dalam surah Al-Isra’ ayat pertama berarti melakukan perjalanan pada malam hari. Ada yang menambahkan bahwa yang dimaksud adalah melakukan perjalanan pada awal malam, ada juga yang mengatakan pada akhir malam. Adapun isra yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Adapun mikraj berasal dari kata yang artinya naik. Mikraj adalah alat yang digunakan untuk naik. Sedangkan mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah naik dari bumi ke langit melewati lapis langit sampai pada langit ketujuh. Awal dari isra adalah dari Masjidil Haram sebagaimana dimaksudkan dalam ayat di atas. Lihat bahasan dalam At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.   Kapan Isra Mikraj Terjadi?   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra Mikraj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isra Mikraj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perawi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al-Bida’ Al-Hawliyah, hlm. 274) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isra memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadar. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isra untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isra tersebut.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah juga menerangkan bahwa tidak ada dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau merayakan Isra Mikraj. Beliau juga katakan bahwa beliau tidak mengetahui dalil dari para sahabat tentang hal ini, begitu pula tidak diketahui dari imam yang empat dari imam madzhab. Juga terdapat perselisihan pendapat tentang penetapan kapan malam Isra Mikraj terjadi. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir An-Nahl – Al-Isra’, hlm. 326. Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Bida’ Al-Hawliyah. Cetakan pertama, Tahun 1421 H. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad At-Tuwaijiri. Penerbit Darul Fadhilah. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Cetakan keempat, Tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 29 Rajab 1440 H (5 April 2019, Jumat siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Peristiwa Isra Mikraj

Peristiwa Isra Mikraj adalah mukjizat besar dan tanda kenabian yang sangat jelas. Selain itu, ini adalah kekhususan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal ini tidak pernah terjadi kepada nabi dan rasul selainnya (sebelumnya). Peristiwa ini termasuk ayat (mukjizat) Makkiyah terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum hijrah. Pengamat sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa sebelum Isra dan Mikraj ada beberapa peristiwa yang menyedihkan, seperti kematian Abu Thalib yang selalu melindungi dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi menghadapi orang-orang kafir dan kematian Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri yang setia sehingga beliau tinggal dalam kesunyian, ditambah hijrahnya sebagian sahabatnya ke negeri Habasyah berkali-kali dalam rangka menyelamatkan agamanya. Beliau pun sempat pergi ke Thaif dalam rangka menyeru penduduknya untuk beriman, menerima Islam, dan menjadi penolong agama Allah. Namun mereka menolaknya dan menolak ajarannya. Semua kondisi yang menyulitkan ini, Allah Ta’ala memuliakannya dengan mukjizat besar dan kemuliaan yang tinggi, yaitu Isra dan Mikraj. Allah Ta’ala berfirman, سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1) Ayat di atas bercerita tentang Isra, sedangkan tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik bin Sha’sha’ah yang nanti akan dibahas pada edisi berikutnya insya Allah.   Pengertian Isra dan Mikraj   Kata “asra” seperti dalam surah Al-Isra’ ayat pertama berarti melakukan perjalanan pada malam hari. Ada yang menambahkan bahwa yang dimaksud adalah melakukan perjalanan pada awal malam, ada juga yang mengatakan pada akhir malam. Adapun isra yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Adapun mikraj berasal dari kata yang artinya naik. Mikraj adalah alat yang digunakan untuk naik. Sedangkan mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah naik dari bumi ke langit melewati lapis langit sampai pada langit ketujuh. Awal dari isra adalah dari Masjidil Haram sebagaimana dimaksudkan dalam ayat di atas. Lihat bahasan dalam At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.   Kapan Isra Mikraj Terjadi?   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra Mikraj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isra Mikraj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perawi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al-Bida’ Al-Hawliyah, hlm. 274) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isra memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadar. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isra untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isra tersebut.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah juga menerangkan bahwa tidak ada dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau merayakan Isra Mikraj. Beliau juga katakan bahwa beliau tidak mengetahui dalil dari para sahabat tentang hal ini, begitu pula tidak diketahui dari imam yang empat dari imam madzhab. Juga terdapat perselisihan pendapat tentang penetapan kapan malam Isra Mikraj terjadi. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir An-Nahl – Al-Isra’, hlm. 326. Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Bida’ Al-Hawliyah. Cetakan pertama, Tahun 1421 H. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad At-Tuwaijiri. Penerbit Darul Fadhilah. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Cetakan keempat, Tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 29 Rajab 1440 H (5 April 2019, Jumat siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi
Peristiwa Isra Mikraj adalah mukjizat besar dan tanda kenabian yang sangat jelas. Selain itu, ini adalah kekhususan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal ini tidak pernah terjadi kepada nabi dan rasul selainnya (sebelumnya). Peristiwa ini termasuk ayat (mukjizat) Makkiyah terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum hijrah. Pengamat sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa sebelum Isra dan Mikraj ada beberapa peristiwa yang menyedihkan, seperti kematian Abu Thalib yang selalu melindungi dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi menghadapi orang-orang kafir dan kematian Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri yang setia sehingga beliau tinggal dalam kesunyian, ditambah hijrahnya sebagian sahabatnya ke negeri Habasyah berkali-kali dalam rangka menyelamatkan agamanya. Beliau pun sempat pergi ke Thaif dalam rangka menyeru penduduknya untuk beriman, menerima Islam, dan menjadi penolong agama Allah. Namun mereka menolaknya dan menolak ajarannya. Semua kondisi yang menyulitkan ini, Allah Ta’ala memuliakannya dengan mukjizat besar dan kemuliaan yang tinggi, yaitu Isra dan Mikraj. Allah Ta’ala berfirman, سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1) Ayat di atas bercerita tentang Isra, sedangkan tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik bin Sha’sha’ah yang nanti akan dibahas pada edisi berikutnya insya Allah.   Pengertian Isra dan Mikraj   Kata “asra” seperti dalam surah Al-Isra’ ayat pertama berarti melakukan perjalanan pada malam hari. Ada yang menambahkan bahwa yang dimaksud adalah melakukan perjalanan pada awal malam, ada juga yang mengatakan pada akhir malam. Adapun isra yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Adapun mikraj berasal dari kata yang artinya naik. Mikraj adalah alat yang digunakan untuk naik. Sedangkan mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah naik dari bumi ke langit melewati lapis langit sampai pada langit ketujuh. Awal dari isra adalah dari Masjidil Haram sebagaimana dimaksudkan dalam ayat di atas. Lihat bahasan dalam At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.   Kapan Isra Mikraj Terjadi?   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra Mikraj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isra Mikraj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perawi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al-Bida’ Al-Hawliyah, hlm. 274) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isra memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadar. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isra untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isra tersebut.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah juga menerangkan bahwa tidak ada dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau merayakan Isra Mikraj. Beliau juga katakan bahwa beliau tidak mengetahui dalil dari para sahabat tentang hal ini, begitu pula tidak diketahui dari imam yang empat dari imam madzhab. Juga terdapat perselisihan pendapat tentang penetapan kapan malam Isra Mikraj terjadi. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir An-Nahl – Al-Isra’, hlm. 326. Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Bida’ Al-Hawliyah. Cetakan pertama, Tahun 1421 H. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad At-Tuwaijiri. Penerbit Darul Fadhilah. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Cetakan keempat, Tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 29 Rajab 1440 H (5 April 2019, Jumat siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi


Peristiwa Isra Mikraj adalah mukjizat besar dan tanda kenabian yang sangat jelas. Selain itu, ini adalah kekhususan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal ini tidak pernah terjadi kepada nabi dan rasul selainnya (sebelumnya). Peristiwa ini termasuk ayat (mukjizat) Makkiyah terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum hijrah. Pengamat sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa sebelum Isra dan Mikraj ada beberapa peristiwa yang menyedihkan, seperti kematian Abu Thalib yang selalu melindungi dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi menghadapi orang-orang kafir dan kematian Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri yang setia sehingga beliau tinggal dalam kesunyian, ditambah hijrahnya sebagian sahabatnya ke negeri Habasyah berkali-kali dalam rangka menyelamatkan agamanya. Beliau pun sempat pergi ke Thaif dalam rangka menyeru penduduknya untuk beriman, menerima Islam, dan menjadi penolong agama Allah. Namun mereka menolaknya dan menolak ajarannya. Semua kondisi yang menyulitkan ini, Allah Ta’ala memuliakannya dengan mukjizat besar dan kemuliaan yang tinggi, yaitu Isra dan Mikraj. Allah Ta’ala berfirman, سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1) Ayat di atas bercerita tentang Isra, sedangkan tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik bin Sha’sha’ah yang nanti akan dibahas pada edisi berikutnya insya Allah.   Pengertian Isra dan Mikraj   Kata “asra” seperti dalam surah Al-Isra’ ayat pertama berarti melakukan perjalanan pada malam hari. Ada yang menambahkan bahwa yang dimaksud adalah melakukan perjalanan pada awal malam, ada juga yang mengatakan pada akhir malam. Adapun isra yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Adapun mikraj berasal dari kata yang artinya naik. Mikraj adalah alat yang digunakan untuk naik. Sedangkan mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah naik dari bumi ke langit melewati lapis langit sampai pada langit ketujuh. Awal dari isra adalah dari Masjidil Haram sebagaimana dimaksudkan dalam ayat di atas. Lihat bahasan dalam At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi.   Kapan Isra Mikraj Terjadi?   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isra Mikraj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isra Mikraj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perawi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al-Bida’ Al-Hawliyah, hlm. 274) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isra memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadar. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isra untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isra tersebut.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:57-58) Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah juga menerangkan bahwa tidak ada dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau merayakan Isra Mikraj. Beliau juga katakan bahwa beliau tidak mengetahui dalil dari para sahabat tentang hal ini, begitu pula tidak diketahui dari imam yang empat dari imam madzhab. Juga terdapat perselisihan pendapat tentang penetapan kapan malam Isra Mikraj terjadi. Lihat At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir An-Nahl – Al-Isra’, hlm. 326. Masih berlanjut insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir An-Nahl & Al-Isra’. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah. Al-Bida’ Al-Hawliyah. Cetakan pertama, Tahun 1421 H. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad At-Tuwaijiri. Penerbit Darul Fadhilah. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Cetakan keempat, Tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Disusun di #darushsholihin, 29 Rajab 1440 H (5 April 2019, Jumat siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi

Bulughul Maram – Shalat: Problem Shalat Qabliyah Shubuh dan Shalat Bada Ashar

Ada masalah (problem) mengenai shalat ketika masuk fajar Shubuh apakah hanya dibatasi dengan shalat sunnah Fajar dua rakaat ataukah boleh lebih? Lalu mengenai shalat sunnah bada Ashar sebagian hadits menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, bagaimana dengan hal ini?   Hadits #172   وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ, وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا Dari Abu Mahzhurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Awal waktu itu adalah ridha Allah, pertengahannya adalah rahmat Allah, akhirnya adalah ampunan Allah.” (HR. Ad-Daruquthni dengan sanad dhaif jiddan) [HR. Ad-Daruquthni, 1:249]   * Abu Mahzhurah adalah Aus bin Mi’yar Al-Qurasyi Al-Jamhi. Dia adalah muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya azan karena suaranya yang begitu mengagumkan. Beliau tidak ikut berhijrah ke Madinah. Beliau meninggal dunia pada tahun 59 Hijriyah, ada pula yang berpendapat 79 Hijriyah. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:223.   Hadits #173   وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ, دُونَ اَلْأَوْسَطِ, وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar dan selainnya, tanpa menyebutkan “pertengahannya”, riwayat ini juga dhaif. [HR. Tirmidzi, no. 172] Takhrij Hadits   Sanad hadits ini dhaif jiddan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani karena di dalamnya ada Ibrahim bin Zakariya, ia adalah seorang perawi yang majhul. Abu Hatim mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang mungkar. Adapun hadits dari Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Tirmidzi (172), disebutkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu pertama adalah ridhwanullah (mendapatkan ridha Allah), waktu akhir adalah ‘afwullah (mendapatkan ampunan Allah).” Hadits ini telah didhaifkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Bahkan sebenarnya hadits ini mawdhu’ (diriwayatkan oleh pendusta) karena di dalamnya ada Ya’qub bin Al-Walid, ia adalah seorang pendusta, seorang perawi mawdhu’, itulah cacatnya.   Faedah Hadits   Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu dengan mengharap ridha Allah. Shalat pada awal waktu tentu lebih utama daripada pertengahan, daripada akhir waktu. Jika tidak bisa menunaikan pada awal waktu, kerjakanlah pada pertengahan waktu untuk mendapatkan rahmat Allah. Ridha Allah (ridhwanullah) lebih utama dan berapa di tingkatan tertinggi daripada rahmat dan ampunan Allah. Menunaikan shalat pada akhir waktu menunjukkan sifat malas dan berat dalam ketaatan. Siapa yang butuh mengerjakan shalat pada akhir waktu, ia mendapatkan ampunan atas dosa dan kelalaiannya. Sudah ada hadits shahih yang disebutkan sebelumnya yang menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu.   Hadits #174   وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, إِلَّا النَّسَائِيُّ وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ – Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat setelah Fajar kecuali dua kali sujud (maksudnya: dua rakaat).” (Hadits dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 1278; Tirmidzi, no. 419; Ibnu Majah, no. 235; Ahmad, 8:376. Hadits ini dhaif karena adanya Muhammad bin Al-Hushain yang dinilai bermasalah] Dalam riwayat ‘Abdur Razzaq, ia berkata, “Tidak ada shalat setelah terbit Fajar Shubuh selain dua rakaat Fajar.” [Hadits ini ada perawi yang bernama Abu Bakar bin Muhammad, ia adalah guru dari ‘Abdur Razaq, disandarkan pada kakeknya. Kalau tidak, ia adalah Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Sabrah, ia dhaif jiddan]   Hadits #175   وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ Dan semisalnya dari Ad-Daruquthni, dari Ibnu ‘Amr bin Al-‘Ash. [Sanad hadits ini dhaif, Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini sanadnya ada perawi yang tidak dijadikan hujjah yaitu ‘Abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al-Afriqi. Tirmidzi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang dhaif, didhaifkan oleh Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dan selainnya. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa beliau tidak menulis hadits dari Al-‘Afriqi]   Faedah Hadits   Hadits ini dijadikan dalil bahwa setelah terbit fajar Shubuh hanya boleh mengerjakan shalat sunnah dua rakaat qabliyah Shubuh, terlarang lebih dari itu. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama sepakat mengenai dilarangnya shalat setelah terbit fajar selain dua rakaat fajar. Larangan shalat sunnah setelah masuk Shubuh selain shalat sunnah Fajar dua rakaat menjadi pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama). Sebagian ulama berdalil masih boleh menambah lebih dari dua rakaat shalat sunnah Fajar. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, malam apa yang paling didengar doanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Doa di pertengahan malam terakhir, maka lakukanlah shalat sesukamu karena shalat ketika itu disaksikan oleh malaikat hingga engkau menjalankan shalat Shubuh.” (HR. Abu Daud, no. 1277) Imam Nawawi dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa boleh menambahkan lebih daripada dua rakaat shalat sunnah Fajar. Lihat penjelasan dalam Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa larangan shalat sunnah lebih dari dua rakaat tadi bukanlah larangan haram. Dibolehkan mengerjakan lebih dari dua rakaat selama tidak dijadikan kebiasaan.   Hadits #176   وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اَلْعَصْرَ, ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَسَأَلْتُهُ, فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ, فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ”, قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Ashar kemudia beliau masuk rumahku, kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat. Aku bertanya pada beliau kenapa beliau melakukan hal itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tersibukkan sehingga luput dari shalat dua rakaat badiyah Zhuhur, maka sekarang aku melakukannya.” Aku berkata, “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut?” Jawab beliau, “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad. [HR. Ahmad, 33:276-277; Ibnu Hibban, 6:377. Tambahan “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut …, tidak shahih]   Hadits #177   وَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dari Aisyah dengan makna semisal itu. [Hadits ini dhaif karena sebab perawi mudallis yang hanya menggunakan lafazh ‘an’anah]   Faedah Hadits   Boleh mengqadha shalat sunnah rawatib Zhuhur pada badiyah Ashar, namun ini hanya jadi kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tambahan itu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shahih.   Mengenai Shalat Sunnah Badiyah Ashar   Para ulama yang duduk di Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya tentang hadits-hadits yang menunjukkan adanya shalat badiyah ‘Ashar, mereka lantas menjawab, “Tidak boleh shalat sunnah setelah ‘Ashar karena ketika itu waktu terlarang untuk shalat. Adapun yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits yang disebutkan adalah untuk mengqadha shalat rawatib Zhuhur yang luput dikerjakan. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya terus menerus dikarenakan jika beliau telah melakukan suatu amalan, maka beliau akan merutinkannya, ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi masih boleh melakukan shalat yang punya sebab setelah ‘Ashar, seperti shalat tahiyatul masjid, shalat kusuf (gerhana), shalat dua rakaat thawaf setelah ‘Ashar maupun setelah Shubuh, juga shalat jenazah karena ada hadits tentang hal ini.” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, pertanyaan pertama dari fatwa no. 19518, 6: 174. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku wakil ketua dan Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota) Berarti shalat sunnah setelah ‘Ashar asalnya tidak ada karena masih waktu terlarang untuk shalat, kecuali tiga sebab: Khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengqadha’ shalat sunnah rawatib Zhuhur. Mengerjakan shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah wudhu.   — Disusun di Wonosari, 1 Syaban 1440 H (5 April 2019, Malam Sabtu) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbadiyah ashar bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat qabliyah shubuh sunnah fajar waktu terlarang shalat bada ashar

Bulughul Maram – Shalat: Problem Shalat Qabliyah Shubuh dan Shalat Bada Ashar

Ada masalah (problem) mengenai shalat ketika masuk fajar Shubuh apakah hanya dibatasi dengan shalat sunnah Fajar dua rakaat ataukah boleh lebih? Lalu mengenai shalat sunnah bada Ashar sebagian hadits menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, bagaimana dengan hal ini?   Hadits #172   وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ, وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا Dari Abu Mahzhurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Awal waktu itu adalah ridha Allah, pertengahannya adalah rahmat Allah, akhirnya adalah ampunan Allah.” (HR. Ad-Daruquthni dengan sanad dhaif jiddan) [HR. Ad-Daruquthni, 1:249]   * Abu Mahzhurah adalah Aus bin Mi’yar Al-Qurasyi Al-Jamhi. Dia adalah muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya azan karena suaranya yang begitu mengagumkan. Beliau tidak ikut berhijrah ke Madinah. Beliau meninggal dunia pada tahun 59 Hijriyah, ada pula yang berpendapat 79 Hijriyah. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:223.   Hadits #173   وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ, دُونَ اَلْأَوْسَطِ, وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar dan selainnya, tanpa menyebutkan “pertengahannya”, riwayat ini juga dhaif. [HR. Tirmidzi, no. 172] Takhrij Hadits   Sanad hadits ini dhaif jiddan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani karena di dalamnya ada Ibrahim bin Zakariya, ia adalah seorang perawi yang majhul. Abu Hatim mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang mungkar. Adapun hadits dari Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Tirmidzi (172), disebutkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu pertama adalah ridhwanullah (mendapatkan ridha Allah), waktu akhir adalah ‘afwullah (mendapatkan ampunan Allah).” Hadits ini telah didhaifkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Bahkan sebenarnya hadits ini mawdhu’ (diriwayatkan oleh pendusta) karena di dalamnya ada Ya’qub bin Al-Walid, ia adalah seorang pendusta, seorang perawi mawdhu’, itulah cacatnya.   Faedah Hadits   Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu dengan mengharap ridha Allah. Shalat pada awal waktu tentu lebih utama daripada pertengahan, daripada akhir waktu. Jika tidak bisa menunaikan pada awal waktu, kerjakanlah pada pertengahan waktu untuk mendapatkan rahmat Allah. Ridha Allah (ridhwanullah) lebih utama dan berapa di tingkatan tertinggi daripada rahmat dan ampunan Allah. Menunaikan shalat pada akhir waktu menunjukkan sifat malas dan berat dalam ketaatan. Siapa yang butuh mengerjakan shalat pada akhir waktu, ia mendapatkan ampunan atas dosa dan kelalaiannya. Sudah ada hadits shahih yang disebutkan sebelumnya yang menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu.   Hadits #174   وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, إِلَّا النَّسَائِيُّ وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ – Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat setelah Fajar kecuali dua kali sujud (maksudnya: dua rakaat).” (Hadits dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 1278; Tirmidzi, no. 419; Ibnu Majah, no. 235; Ahmad, 8:376. Hadits ini dhaif karena adanya Muhammad bin Al-Hushain yang dinilai bermasalah] Dalam riwayat ‘Abdur Razzaq, ia berkata, “Tidak ada shalat setelah terbit Fajar Shubuh selain dua rakaat Fajar.” [Hadits ini ada perawi yang bernama Abu Bakar bin Muhammad, ia adalah guru dari ‘Abdur Razaq, disandarkan pada kakeknya. Kalau tidak, ia adalah Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Sabrah, ia dhaif jiddan]   Hadits #175   وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ Dan semisalnya dari Ad-Daruquthni, dari Ibnu ‘Amr bin Al-‘Ash. [Sanad hadits ini dhaif, Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini sanadnya ada perawi yang tidak dijadikan hujjah yaitu ‘Abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al-Afriqi. Tirmidzi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang dhaif, didhaifkan oleh Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dan selainnya. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa beliau tidak menulis hadits dari Al-‘Afriqi]   Faedah Hadits   Hadits ini dijadikan dalil bahwa setelah terbit fajar Shubuh hanya boleh mengerjakan shalat sunnah dua rakaat qabliyah Shubuh, terlarang lebih dari itu. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama sepakat mengenai dilarangnya shalat setelah terbit fajar selain dua rakaat fajar. Larangan shalat sunnah setelah masuk Shubuh selain shalat sunnah Fajar dua rakaat menjadi pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama). Sebagian ulama berdalil masih boleh menambah lebih dari dua rakaat shalat sunnah Fajar. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, malam apa yang paling didengar doanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Doa di pertengahan malam terakhir, maka lakukanlah shalat sesukamu karena shalat ketika itu disaksikan oleh malaikat hingga engkau menjalankan shalat Shubuh.” (HR. Abu Daud, no. 1277) Imam Nawawi dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa boleh menambahkan lebih daripada dua rakaat shalat sunnah Fajar. Lihat penjelasan dalam Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa larangan shalat sunnah lebih dari dua rakaat tadi bukanlah larangan haram. Dibolehkan mengerjakan lebih dari dua rakaat selama tidak dijadikan kebiasaan.   Hadits #176   وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اَلْعَصْرَ, ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَسَأَلْتُهُ, فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ, فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ”, قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Ashar kemudia beliau masuk rumahku, kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat. Aku bertanya pada beliau kenapa beliau melakukan hal itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tersibukkan sehingga luput dari shalat dua rakaat badiyah Zhuhur, maka sekarang aku melakukannya.” Aku berkata, “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut?” Jawab beliau, “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad. [HR. Ahmad, 33:276-277; Ibnu Hibban, 6:377. Tambahan “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut …, tidak shahih]   Hadits #177   وَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dari Aisyah dengan makna semisal itu. [Hadits ini dhaif karena sebab perawi mudallis yang hanya menggunakan lafazh ‘an’anah]   Faedah Hadits   Boleh mengqadha shalat sunnah rawatib Zhuhur pada badiyah Ashar, namun ini hanya jadi kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tambahan itu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shahih.   Mengenai Shalat Sunnah Badiyah Ashar   Para ulama yang duduk di Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya tentang hadits-hadits yang menunjukkan adanya shalat badiyah ‘Ashar, mereka lantas menjawab, “Tidak boleh shalat sunnah setelah ‘Ashar karena ketika itu waktu terlarang untuk shalat. Adapun yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits yang disebutkan adalah untuk mengqadha shalat rawatib Zhuhur yang luput dikerjakan. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya terus menerus dikarenakan jika beliau telah melakukan suatu amalan, maka beliau akan merutinkannya, ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi masih boleh melakukan shalat yang punya sebab setelah ‘Ashar, seperti shalat tahiyatul masjid, shalat kusuf (gerhana), shalat dua rakaat thawaf setelah ‘Ashar maupun setelah Shubuh, juga shalat jenazah karena ada hadits tentang hal ini.” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, pertanyaan pertama dari fatwa no. 19518, 6: 174. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku wakil ketua dan Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota) Berarti shalat sunnah setelah ‘Ashar asalnya tidak ada karena masih waktu terlarang untuk shalat, kecuali tiga sebab: Khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengqadha’ shalat sunnah rawatib Zhuhur. Mengerjakan shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah wudhu.   — Disusun di Wonosari, 1 Syaban 1440 H (5 April 2019, Malam Sabtu) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbadiyah ashar bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat qabliyah shubuh sunnah fajar waktu terlarang shalat bada ashar
Ada masalah (problem) mengenai shalat ketika masuk fajar Shubuh apakah hanya dibatasi dengan shalat sunnah Fajar dua rakaat ataukah boleh lebih? Lalu mengenai shalat sunnah bada Ashar sebagian hadits menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, bagaimana dengan hal ini?   Hadits #172   وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ, وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا Dari Abu Mahzhurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Awal waktu itu adalah ridha Allah, pertengahannya adalah rahmat Allah, akhirnya adalah ampunan Allah.” (HR. Ad-Daruquthni dengan sanad dhaif jiddan) [HR. Ad-Daruquthni, 1:249]   * Abu Mahzhurah adalah Aus bin Mi’yar Al-Qurasyi Al-Jamhi. Dia adalah muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya azan karena suaranya yang begitu mengagumkan. Beliau tidak ikut berhijrah ke Madinah. Beliau meninggal dunia pada tahun 59 Hijriyah, ada pula yang berpendapat 79 Hijriyah. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:223.   Hadits #173   وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ, دُونَ اَلْأَوْسَطِ, وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar dan selainnya, tanpa menyebutkan “pertengahannya”, riwayat ini juga dhaif. [HR. Tirmidzi, no. 172] Takhrij Hadits   Sanad hadits ini dhaif jiddan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani karena di dalamnya ada Ibrahim bin Zakariya, ia adalah seorang perawi yang majhul. Abu Hatim mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang mungkar. Adapun hadits dari Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Tirmidzi (172), disebutkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu pertama adalah ridhwanullah (mendapatkan ridha Allah), waktu akhir adalah ‘afwullah (mendapatkan ampunan Allah).” Hadits ini telah didhaifkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Bahkan sebenarnya hadits ini mawdhu’ (diriwayatkan oleh pendusta) karena di dalamnya ada Ya’qub bin Al-Walid, ia adalah seorang pendusta, seorang perawi mawdhu’, itulah cacatnya.   Faedah Hadits   Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu dengan mengharap ridha Allah. Shalat pada awal waktu tentu lebih utama daripada pertengahan, daripada akhir waktu. Jika tidak bisa menunaikan pada awal waktu, kerjakanlah pada pertengahan waktu untuk mendapatkan rahmat Allah. Ridha Allah (ridhwanullah) lebih utama dan berapa di tingkatan tertinggi daripada rahmat dan ampunan Allah. Menunaikan shalat pada akhir waktu menunjukkan sifat malas dan berat dalam ketaatan. Siapa yang butuh mengerjakan shalat pada akhir waktu, ia mendapatkan ampunan atas dosa dan kelalaiannya. Sudah ada hadits shahih yang disebutkan sebelumnya yang menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu.   Hadits #174   وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, إِلَّا النَّسَائِيُّ وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ – Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat setelah Fajar kecuali dua kali sujud (maksudnya: dua rakaat).” (Hadits dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 1278; Tirmidzi, no. 419; Ibnu Majah, no. 235; Ahmad, 8:376. Hadits ini dhaif karena adanya Muhammad bin Al-Hushain yang dinilai bermasalah] Dalam riwayat ‘Abdur Razzaq, ia berkata, “Tidak ada shalat setelah terbit Fajar Shubuh selain dua rakaat Fajar.” [Hadits ini ada perawi yang bernama Abu Bakar bin Muhammad, ia adalah guru dari ‘Abdur Razaq, disandarkan pada kakeknya. Kalau tidak, ia adalah Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Sabrah, ia dhaif jiddan]   Hadits #175   وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ Dan semisalnya dari Ad-Daruquthni, dari Ibnu ‘Amr bin Al-‘Ash. [Sanad hadits ini dhaif, Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini sanadnya ada perawi yang tidak dijadikan hujjah yaitu ‘Abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al-Afriqi. Tirmidzi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang dhaif, didhaifkan oleh Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dan selainnya. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa beliau tidak menulis hadits dari Al-‘Afriqi]   Faedah Hadits   Hadits ini dijadikan dalil bahwa setelah terbit fajar Shubuh hanya boleh mengerjakan shalat sunnah dua rakaat qabliyah Shubuh, terlarang lebih dari itu. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama sepakat mengenai dilarangnya shalat setelah terbit fajar selain dua rakaat fajar. Larangan shalat sunnah setelah masuk Shubuh selain shalat sunnah Fajar dua rakaat menjadi pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama). Sebagian ulama berdalil masih boleh menambah lebih dari dua rakaat shalat sunnah Fajar. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, malam apa yang paling didengar doanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Doa di pertengahan malam terakhir, maka lakukanlah shalat sesukamu karena shalat ketika itu disaksikan oleh malaikat hingga engkau menjalankan shalat Shubuh.” (HR. Abu Daud, no. 1277) Imam Nawawi dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa boleh menambahkan lebih daripada dua rakaat shalat sunnah Fajar. Lihat penjelasan dalam Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa larangan shalat sunnah lebih dari dua rakaat tadi bukanlah larangan haram. Dibolehkan mengerjakan lebih dari dua rakaat selama tidak dijadikan kebiasaan.   Hadits #176   وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اَلْعَصْرَ, ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَسَأَلْتُهُ, فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ, فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ”, قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Ashar kemudia beliau masuk rumahku, kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat. Aku bertanya pada beliau kenapa beliau melakukan hal itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tersibukkan sehingga luput dari shalat dua rakaat badiyah Zhuhur, maka sekarang aku melakukannya.” Aku berkata, “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut?” Jawab beliau, “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad. [HR. Ahmad, 33:276-277; Ibnu Hibban, 6:377. Tambahan “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut …, tidak shahih]   Hadits #177   وَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dari Aisyah dengan makna semisal itu. [Hadits ini dhaif karena sebab perawi mudallis yang hanya menggunakan lafazh ‘an’anah]   Faedah Hadits   Boleh mengqadha shalat sunnah rawatib Zhuhur pada badiyah Ashar, namun ini hanya jadi kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tambahan itu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shahih.   Mengenai Shalat Sunnah Badiyah Ashar   Para ulama yang duduk di Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya tentang hadits-hadits yang menunjukkan adanya shalat badiyah ‘Ashar, mereka lantas menjawab, “Tidak boleh shalat sunnah setelah ‘Ashar karena ketika itu waktu terlarang untuk shalat. Adapun yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits yang disebutkan adalah untuk mengqadha shalat rawatib Zhuhur yang luput dikerjakan. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya terus menerus dikarenakan jika beliau telah melakukan suatu amalan, maka beliau akan merutinkannya, ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi masih boleh melakukan shalat yang punya sebab setelah ‘Ashar, seperti shalat tahiyatul masjid, shalat kusuf (gerhana), shalat dua rakaat thawaf setelah ‘Ashar maupun setelah Shubuh, juga shalat jenazah karena ada hadits tentang hal ini.” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, pertanyaan pertama dari fatwa no. 19518, 6: 174. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku wakil ketua dan Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota) Berarti shalat sunnah setelah ‘Ashar asalnya tidak ada karena masih waktu terlarang untuk shalat, kecuali tiga sebab: Khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengqadha’ shalat sunnah rawatib Zhuhur. Mengerjakan shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah wudhu.   — Disusun di Wonosari, 1 Syaban 1440 H (5 April 2019, Malam Sabtu) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbadiyah ashar bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat qabliyah shubuh sunnah fajar waktu terlarang shalat bada ashar


Ada masalah (problem) mengenai shalat ketika masuk fajar Shubuh apakah hanya dibatasi dengan shalat sunnah Fajar dua rakaat ataukah boleh lebih? Lalu mengenai shalat sunnah bada Ashar sebagian hadits menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, bagaimana dengan hal ini?   Hadits #172   وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ, وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ – أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا Dari Abu Mahzhurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Awal waktu itu adalah ridha Allah, pertengahannya adalah rahmat Allah, akhirnya adalah ampunan Allah.” (HR. Ad-Daruquthni dengan sanad dhaif jiddan) [HR. Ad-Daruquthni, 1:249]   * Abu Mahzhurah adalah Aus bin Mi’yar Al-Qurasyi Al-Jamhi. Dia adalah muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya azan karena suaranya yang begitu mengagumkan. Beliau tidak ikut berhijrah ke Madinah. Beliau meninggal dunia pada tahun 59 Hijriyah, ada pula yang berpendapat 79 Hijriyah. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:223.   Hadits #173   وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ, دُونَ اَلْأَوْسَطِ, وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu ‘Umar dan selainnya, tanpa menyebutkan “pertengahannya”, riwayat ini juga dhaif. [HR. Tirmidzi, no. 172] Takhrij Hadits   Sanad hadits ini dhaif jiddan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani karena di dalamnya ada Ibrahim bin Zakariya, ia adalah seorang perawi yang majhul. Abu Hatim mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang mungkar. Adapun hadits dari Ibnu ‘Umar dikeluarkan oleh Tirmidzi (172), disebutkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu pertama adalah ridhwanullah (mendapatkan ridha Allah), waktu akhir adalah ‘afwullah (mendapatkan ampunan Allah).” Hadits ini telah didhaifkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Bahkan sebenarnya hadits ini mawdhu’ (diriwayatkan oleh pendusta) karena di dalamnya ada Ya’qub bin Al-Walid, ia adalah seorang pendusta, seorang perawi mawdhu’, itulah cacatnya.   Faedah Hadits   Dua hadits di atas menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu dengan mengharap ridha Allah. Shalat pada awal waktu tentu lebih utama daripada pertengahan, daripada akhir waktu. Jika tidak bisa menunaikan pada awal waktu, kerjakanlah pada pertengahan waktu untuk mendapatkan rahmat Allah. Ridha Allah (ridhwanullah) lebih utama dan berapa di tingkatan tertinggi daripada rahmat dan ampunan Allah. Menunaikan shalat pada akhir waktu menunjukkan sifat malas dan berat dalam ketaatan. Siapa yang butuh mengerjakan shalat pada akhir waktu, ia mendapatkan ampunan atas dosa dan kelalaiannya. Sudah ada hadits shahih yang disebutkan sebelumnya yang menunjukkan keutamaan shalat pada awal waktu.   Hadits #174   وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, إِلَّا النَّسَائِيُّ وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: – لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ – Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat setelah Fajar kecuali dua kali sujud (maksudnya: dua rakaat).” (Hadits dikeluarkan oleh yang lima kecuali An-Nasai) [HR. Abu Daud, no. 1278; Tirmidzi, no. 419; Ibnu Majah, no. 235; Ahmad, 8:376. Hadits ini dhaif karena adanya Muhammad bin Al-Hushain yang dinilai bermasalah] Dalam riwayat ‘Abdur Razzaq, ia berkata, “Tidak ada shalat setelah terbit Fajar Shubuh selain dua rakaat Fajar.” [Hadits ini ada perawi yang bernama Abu Bakar bin Muhammad, ia adalah guru dari ‘Abdur Razaq, disandarkan pada kakeknya. Kalau tidak, ia adalah Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Sabrah, ia dhaif jiddan]   Hadits #175   وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ Dan semisalnya dari Ad-Daruquthni, dari Ibnu ‘Amr bin Al-‘Ash. [Sanad hadits ini dhaif, Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini sanadnya ada perawi yang tidak dijadikan hujjah yaitu ‘Abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al-Afriqi. Tirmidzi mengatakan bahwa ia adalah perawi yang dhaif, didhaifkan oleh Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dan selainnya. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa beliau tidak menulis hadits dari Al-‘Afriqi]   Faedah Hadits   Hadits ini dijadikan dalil bahwa setelah terbit fajar Shubuh hanya boleh mengerjakan shalat sunnah dua rakaat qabliyah Shubuh, terlarang lebih dari itu. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama sepakat mengenai dilarangnya shalat setelah terbit fajar selain dua rakaat fajar. Larangan shalat sunnah setelah masuk Shubuh selain shalat sunnah Fajar dua rakaat menjadi pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama). Sebagian ulama berdalil masih boleh menambah lebih dari dua rakaat shalat sunnah Fajar. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, malam apa yang paling didengar doanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Doa di pertengahan malam terakhir, maka lakukanlah shalat sesukamu karena shalat ketika itu disaksikan oleh malaikat hingga engkau menjalankan shalat Shubuh.” (HR. Abu Daud, no. 1277) Imam Nawawi dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa boleh menambahkan lebih daripada dua rakaat shalat sunnah Fajar. Lihat penjelasan dalam Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa larangan shalat sunnah lebih dari dua rakaat tadi bukanlah larangan haram. Dibolehkan mengerjakan lebih dari dua rakaat selama tidak dijadikan kebiasaan.   Hadits #176   وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اَلْعَصْرَ, ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَسَأَلْتُهُ, فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ, فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ”, قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” – أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Ashar kemudia beliau masuk rumahku, kemudian beliau melaksanakan shalat dua rakaat. Aku bertanya pada beliau kenapa beliau melakukan hal itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tersibukkan sehingga luput dari shalat dua rakaat badiyah Zhuhur, maka sekarang aku melakukannya.” Aku berkata, “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut?” Jawab beliau, “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad. [HR. Ahmad, 33:276-277; Ibnu Hibban, 6:377. Tambahan “Apa kami perlu mengqadha’nya ketika kami luput dari dua rakaat tersebut …, tidak shahih]   Hadits #177   وَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dari Aisyah dengan makna semisal itu. [Hadits ini dhaif karena sebab perawi mudallis yang hanya menggunakan lafazh ‘an’anah]   Faedah Hadits   Boleh mengqadha shalat sunnah rawatib Zhuhur pada badiyah Ashar, namun ini hanya jadi kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tambahan itu kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shahih.   Mengenai Shalat Sunnah Badiyah Ashar   Para ulama yang duduk di Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya tentang hadits-hadits yang menunjukkan adanya shalat badiyah ‘Ashar, mereka lantas menjawab, “Tidak boleh shalat sunnah setelah ‘Ashar karena ketika itu waktu terlarang untuk shalat. Adapun yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits yang disebutkan adalah untuk mengqadha shalat rawatib Zhuhur yang luput dikerjakan. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merutinkannya terus menerus dikarenakan jika beliau telah melakukan suatu amalan, maka beliau akan merutinkannya, ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi masih boleh melakukan shalat yang punya sebab setelah ‘Ashar, seperti shalat tahiyatul masjid, shalat kusuf (gerhana), shalat dua rakaat thawaf setelah ‘Ashar maupun setelah Shubuh, juga shalat jenazah karena ada hadits tentang hal ini.” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, pertanyaan pertama dari fatwa no. 19518, 6: 174. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku wakil ketua dan Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota) Berarti shalat sunnah setelah ‘Ashar asalnya tidak ada karena masih waktu terlarang untuk shalat, kecuali tiga sebab: Khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengqadha’ shalat sunnah rawatib Zhuhur. Mengerjakan shalat sunnah yang punya sebab seperti shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah wudhu.   — Disusun di Wonosari, 1 Syaban 1440 H (5 April 2019, Malam Sabtu) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbadiyah ashar bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat qabliyah shubuh sunnah fajar waktu terlarang shalat bada ashar

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Surat Setelah Al-Fatihah

Setelah membaca surat Al-Fatihah disunnahkan membaca surat selain Al-Fatihah. Berikut keterangannya dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً “Lalu membaca setelah surah Al-Fatihah satu surah pada dua rakaat pertama dalam shalat yang empat dan tiga rakaat.”   Disunnahkan Membaca Surah Setelah Al-Fatihah   Setelah membaca surah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surah lainnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, وإنْ لَمْ تَزِدْ علَى أُمِّ القُرْآنِ أجْزَأَتْ وإنْ زِدْتَ فَهو خَيْرٌ “Jika engkau tidak menambah selain surah Al-Fatihah, maka itu boleh. Adapun jika engkau menambah lebih dari itu, maka itu lebih baik.” (HR. Bukhari, no. 772 dan Muslim, no. 396). Maka yang diwajibkan adalah membaca surah Al-Fatihah saja. Pada dua rakaat pertama dari shalat yang empat rakaat yaitu shalat Zhuhur, shalat Ashar, shalat Isya, juga shalat yang tiga rakaat yaitu shalat Maghrib, bagi imam, makmum, serta orang yang shalat sendirian wajib membaca surah Al-Fatihah, ini menurut Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam pernyataannya di atas. Sedangkan untuk surah setelah Al-Fatihah, diperintahkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian saja. Dalilnya adalah hadits di bawah ini. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْرَأُ في الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِن صَلَاةِ الظُّهْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ في الأُولَى، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ ويُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا، وكانَ يَقْرَأُ في العَصْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ وسُورَتَيْنِ، وكانَ يُطَوِّلُ في الأُولَى، وكانَ يُطَوِّلُ في الرَّكْعَةِ الأُولَى مِن صَلَاةِ الصُّبْحِ، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur, dan dua surah yang beliau panjangkan pada yang pertama dan lebih ringan pada yang kedua. Kadang beliau memperdengarkan ayat tersebut. Dalam shalat Ashar beliau membaca surah Al-Fatihah dan dua surah, lalu beliau panjangkan yang pertama. Dalam shalat Shubuh, beliau memanjangkan rakaat pertama dan lebih memperingan rakaat kedua.” (HR. Bukhari, no. 759 dan Muslim, no. 451) Para ulama—seperti disebutkan dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (1:532), Fath Al-Bari karya Ibnu Rajab (8:7)—bersepakat bahwa disunnahkan membaca surah setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama. Dan disunnahkan—kadang-kadang—membaca surah setelah Al-Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:215. Masih dibolehkan pula jika kadang-kadang membaca dari pertengahan surah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam shalat Shubuh pada rakaat pertama ayat, قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” (QS. Al-Baqarah: 136) Lalu pada rakaat kedua, di antara yang beliau baca, آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ “Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran: 52) (HR. Muslim, no. 727) Hukum asalnya, surah yang dibaca dalam shalat sunnah boleh dibaca pula pada shalat fardhu kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan. Dari Abu ‘Abdillah Ash-Shunabihi, ia berkata, “Aku tiba di Madinah pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di belakangnya, aku melaksanakan shalat Maghrib. Abu Bakar ketika itu membaca pada dua rakaat pertama dengan surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan surah dari qisharul mufashshol (dari surah Adh-Dhuha sampai dengan surah An-Naas, pen.). Kemudian Abu Bakar berdiri pada rakaat ketiga dan aku mendekatinya sampai-sampai pakaianku menyentuh pakaiannya, aku mendengar ketika itu beliau membaca surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan membaca ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةًۚإِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ “(Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Malik, 1:79, dengan sanad shahih kata Syaikh Az-Zauman). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Disusun di Bandara Soekarno Hatta, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsal fatihah cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin membaca al fatihah surat al fatihah

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Surat Setelah Al-Fatihah

Setelah membaca surat Al-Fatihah disunnahkan membaca surat selain Al-Fatihah. Berikut keterangannya dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً “Lalu membaca setelah surah Al-Fatihah satu surah pada dua rakaat pertama dalam shalat yang empat dan tiga rakaat.”   Disunnahkan Membaca Surah Setelah Al-Fatihah   Setelah membaca surah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surah lainnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, وإنْ لَمْ تَزِدْ علَى أُمِّ القُرْآنِ أجْزَأَتْ وإنْ زِدْتَ فَهو خَيْرٌ “Jika engkau tidak menambah selain surah Al-Fatihah, maka itu boleh. Adapun jika engkau menambah lebih dari itu, maka itu lebih baik.” (HR. Bukhari, no. 772 dan Muslim, no. 396). Maka yang diwajibkan adalah membaca surah Al-Fatihah saja. Pada dua rakaat pertama dari shalat yang empat rakaat yaitu shalat Zhuhur, shalat Ashar, shalat Isya, juga shalat yang tiga rakaat yaitu shalat Maghrib, bagi imam, makmum, serta orang yang shalat sendirian wajib membaca surah Al-Fatihah, ini menurut Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam pernyataannya di atas. Sedangkan untuk surah setelah Al-Fatihah, diperintahkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian saja. Dalilnya adalah hadits di bawah ini. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْرَأُ في الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِن صَلَاةِ الظُّهْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ في الأُولَى، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ ويُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا، وكانَ يَقْرَأُ في العَصْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ وسُورَتَيْنِ، وكانَ يُطَوِّلُ في الأُولَى، وكانَ يُطَوِّلُ في الرَّكْعَةِ الأُولَى مِن صَلَاةِ الصُّبْحِ، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur, dan dua surah yang beliau panjangkan pada yang pertama dan lebih ringan pada yang kedua. Kadang beliau memperdengarkan ayat tersebut. Dalam shalat Ashar beliau membaca surah Al-Fatihah dan dua surah, lalu beliau panjangkan yang pertama. Dalam shalat Shubuh, beliau memanjangkan rakaat pertama dan lebih memperingan rakaat kedua.” (HR. Bukhari, no. 759 dan Muslim, no. 451) Para ulama—seperti disebutkan dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (1:532), Fath Al-Bari karya Ibnu Rajab (8:7)—bersepakat bahwa disunnahkan membaca surah setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama. Dan disunnahkan—kadang-kadang—membaca surah setelah Al-Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:215. Masih dibolehkan pula jika kadang-kadang membaca dari pertengahan surah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam shalat Shubuh pada rakaat pertama ayat, قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” (QS. Al-Baqarah: 136) Lalu pada rakaat kedua, di antara yang beliau baca, آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ “Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran: 52) (HR. Muslim, no. 727) Hukum asalnya, surah yang dibaca dalam shalat sunnah boleh dibaca pula pada shalat fardhu kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan. Dari Abu ‘Abdillah Ash-Shunabihi, ia berkata, “Aku tiba di Madinah pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di belakangnya, aku melaksanakan shalat Maghrib. Abu Bakar ketika itu membaca pada dua rakaat pertama dengan surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan surah dari qisharul mufashshol (dari surah Adh-Dhuha sampai dengan surah An-Naas, pen.). Kemudian Abu Bakar berdiri pada rakaat ketiga dan aku mendekatinya sampai-sampai pakaianku menyentuh pakaiannya, aku mendengar ketika itu beliau membaca surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan membaca ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةًۚإِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ “(Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Malik, 1:79, dengan sanad shahih kata Syaikh Az-Zauman). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Disusun di Bandara Soekarno Hatta, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsal fatihah cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin membaca al fatihah surat al fatihah
Setelah membaca surat Al-Fatihah disunnahkan membaca surat selain Al-Fatihah. Berikut keterangannya dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً “Lalu membaca setelah surah Al-Fatihah satu surah pada dua rakaat pertama dalam shalat yang empat dan tiga rakaat.”   Disunnahkan Membaca Surah Setelah Al-Fatihah   Setelah membaca surah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surah lainnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, وإنْ لَمْ تَزِدْ علَى أُمِّ القُرْآنِ أجْزَأَتْ وإنْ زِدْتَ فَهو خَيْرٌ “Jika engkau tidak menambah selain surah Al-Fatihah, maka itu boleh. Adapun jika engkau menambah lebih dari itu, maka itu lebih baik.” (HR. Bukhari, no. 772 dan Muslim, no. 396). Maka yang diwajibkan adalah membaca surah Al-Fatihah saja. Pada dua rakaat pertama dari shalat yang empat rakaat yaitu shalat Zhuhur, shalat Ashar, shalat Isya, juga shalat yang tiga rakaat yaitu shalat Maghrib, bagi imam, makmum, serta orang yang shalat sendirian wajib membaca surah Al-Fatihah, ini menurut Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam pernyataannya di atas. Sedangkan untuk surah setelah Al-Fatihah, diperintahkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian saja. Dalilnya adalah hadits di bawah ini. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْرَأُ في الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِن صَلَاةِ الظُّهْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ في الأُولَى، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ ويُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا، وكانَ يَقْرَأُ في العَصْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ وسُورَتَيْنِ، وكانَ يُطَوِّلُ في الأُولَى، وكانَ يُطَوِّلُ في الرَّكْعَةِ الأُولَى مِن صَلَاةِ الصُّبْحِ، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur, dan dua surah yang beliau panjangkan pada yang pertama dan lebih ringan pada yang kedua. Kadang beliau memperdengarkan ayat tersebut. Dalam shalat Ashar beliau membaca surah Al-Fatihah dan dua surah, lalu beliau panjangkan yang pertama. Dalam shalat Shubuh, beliau memanjangkan rakaat pertama dan lebih memperingan rakaat kedua.” (HR. Bukhari, no. 759 dan Muslim, no. 451) Para ulama—seperti disebutkan dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (1:532), Fath Al-Bari karya Ibnu Rajab (8:7)—bersepakat bahwa disunnahkan membaca surah setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama. Dan disunnahkan—kadang-kadang—membaca surah setelah Al-Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:215. Masih dibolehkan pula jika kadang-kadang membaca dari pertengahan surah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam shalat Shubuh pada rakaat pertama ayat, قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” (QS. Al-Baqarah: 136) Lalu pada rakaat kedua, di antara yang beliau baca, آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ “Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran: 52) (HR. Muslim, no. 727) Hukum asalnya, surah yang dibaca dalam shalat sunnah boleh dibaca pula pada shalat fardhu kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan. Dari Abu ‘Abdillah Ash-Shunabihi, ia berkata, “Aku tiba di Madinah pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di belakangnya, aku melaksanakan shalat Maghrib. Abu Bakar ketika itu membaca pada dua rakaat pertama dengan surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan surah dari qisharul mufashshol (dari surah Adh-Dhuha sampai dengan surah An-Naas, pen.). Kemudian Abu Bakar berdiri pada rakaat ketiga dan aku mendekatinya sampai-sampai pakaianku menyentuh pakaiannya, aku mendengar ketika itu beliau membaca surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan membaca ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةًۚإِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ “(Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Malik, 1:79, dengan sanad shahih kata Syaikh Az-Zauman). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Disusun di Bandara Soekarno Hatta, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsal fatihah cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin membaca al fatihah surat al fatihah


Setelah membaca surat Al-Fatihah disunnahkan membaca surat selain Al-Fatihah. Berikut keterangannya dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً “Lalu membaca setelah surah Al-Fatihah satu surah pada dua rakaat pertama dalam shalat yang empat dan tiga rakaat.”   Disunnahkan Membaca Surah Setelah Al-Fatihah   Setelah membaca surah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surah lainnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, وإنْ لَمْ تَزِدْ علَى أُمِّ القُرْآنِ أجْزَأَتْ وإنْ زِدْتَ فَهو خَيْرٌ “Jika engkau tidak menambah selain surah Al-Fatihah, maka itu boleh. Adapun jika engkau menambah lebih dari itu, maka itu lebih baik.” (HR. Bukhari, no. 772 dan Muslim, no. 396). Maka yang diwajibkan adalah membaca surah Al-Fatihah saja. Pada dua rakaat pertama dari shalat yang empat rakaat yaitu shalat Zhuhur, shalat Ashar, shalat Isya, juga shalat yang tiga rakaat yaitu shalat Maghrib, bagi imam, makmum, serta orang yang shalat sendirian wajib membaca surah Al-Fatihah, ini menurut Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam pernyataannya di atas. Sedangkan untuk surah setelah Al-Fatihah, diperintahkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian saja. Dalilnya adalah hadits di bawah ini. Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْرَأُ في الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِن صَلَاةِ الظُّهْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ في الأُولَى، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ ويُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا، وكانَ يَقْرَأُ في العَصْرِ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ وسُورَتَيْنِ، وكانَ يُطَوِّلُ في الأُولَى، وكانَ يُطَوِّلُ في الرَّكْعَةِ الأُولَى مِن صَلَاةِ الصُّبْحِ، ويُقَصِّرُ في الثَّانِيَةِ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur, dan dua surah yang beliau panjangkan pada yang pertama dan lebih ringan pada yang kedua. Kadang beliau memperdengarkan ayat tersebut. Dalam shalat Ashar beliau membaca surah Al-Fatihah dan dua surah, lalu beliau panjangkan yang pertama. Dalam shalat Shubuh, beliau memanjangkan rakaat pertama dan lebih memperingan rakaat kedua.” (HR. Bukhari, no. 759 dan Muslim, no. 451) Para ulama—seperti disebutkan dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah (1:532), Fath Al-Bari karya Ibnu Rajab (8:7)—bersepakat bahwa disunnahkan membaca surah setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama. Dan disunnahkan—kadang-kadang—membaca surah setelah Al-Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:215. Masih dibolehkan pula jika kadang-kadang membaca dari pertengahan surah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam shalat Shubuh pada rakaat pertama ayat, قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.” (QS. Al-Baqarah: 136) Lalu pada rakaat kedua, di antara yang beliau baca, آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ “Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran: 52) (HR. Muslim, no. 727) Hukum asalnya, surah yang dibaca dalam shalat sunnah boleh dibaca pula pada shalat fardhu kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan. Dari Abu ‘Abdillah Ash-Shunabihi, ia berkata, “Aku tiba di Madinah pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di belakangnya, aku melaksanakan shalat Maghrib. Abu Bakar ketika itu membaca pada dua rakaat pertama dengan surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan surah dari qisharul mufashshol (dari surah Adh-Dhuha sampai dengan surah An-Naas, pen.). Kemudian Abu Bakar berdiri pada rakaat ketiga dan aku mendekatinya sampai-sampai pakaianku menyentuh pakaiannya, aku mendengar ketika itu beliau membaca surah Al-Fatihah (Ummul Quran) dan membaca ayat, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةًۚإِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ “(Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Malik, 1:79, dengan sanad shahih kata Syaikh Az-Zauman). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Disusun di Bandara Soekarno Hatta, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis siang) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsal fatihah cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin membaca al fatihah surat al fatihah

Kapan Terjadi Peristiwa Isra Mi’raj?

Peristiwa Isra Mi’raj Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tidak ada kesepakatan dari para pakar sejarah tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj. Ada beberapa versi riwayat yang menerangkan tentang waktunya: [1]. Satu tahun sebelum hijrah Nabi ke kota Madinah. [2]. Lima tahun sebelum hijrah. [3]. Satu bulan sebelum hijrah. [4]. Satu tahun satu bulan sebelum hijrah. [5]. Tiga bulan sebelum Nabi Hijrah. [6]. Enam bulan sebelum hijrah. [7]. Pada tahun yang sama saat Nabi diangkat menjadi Nabi. (Lihat: Rakhiqul Makhtum, 1/124) Demikian bulan kejadiannya: ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal. Versi lain menyebutkan Dzulqa’dah. Yang lain mengatakan Rajab. Dari kesemua riwayat, tak ada satupun riwayat yang shohih. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, لم يقم دليل معلوم لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة، ليس فيها ما يقطع به Tidak ada dalil yang diketahui menunjukkan bulan kejadian Isra’ Mi’raj. Tidak pula harinya atau tanggalnya secara pasti. Bahkan riwayat-riwayat tentang hal ini semuanya terputus dan berbeda-beda, tidak menunjukkan kepastian waktunya. (Lihat: Ad-dhau’ul Munir ‘alat Tafsir, 3/304) Riwayat paling shahih dari kesemua riwayat dho’if tersebut adalah, riwayat dari Musa bin ‘Uqbah dari Imam Az-Zuhri, yang menyebutkan terjadinya Isra’ Mi’raj pada bulan Robi’ul Awwal, satu tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke kota Madinah. Benarkah Isra’ Mi’raj 27 Rajab? Sedang riwayat yang paling do’if dari riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab. Ironisnya, justeru ini yang populer di tengah masyarakat, sehingga menjadi acuan perayaan Isra’ Mi’raj. (https://ar.islamway.net/article/30877/متى-كان-الإسراء-والمعراج) Diantara ulama pakar sejarah yang mengkritisi hal ini adalah Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وقد أورد -أي: عبدالغني المقدسي- حديثًا لا يصح سنده، ذكرناه في فضائل شهر رجب أن الإسراء كان ليلة السابع والعشرين من رجب، والله أعلم Abdul Ghani Al- Maqdisi, meriwayatkan hadis yang sanadnya tidak shahih, yaitu riwayat yang pernah kita singgung di bab Kautamaan Bulan Rajab bahwa peristiwa Isra’ terjadi pada malam dua puluh tujuh Rojab. Wallahua’lam. (Dinukil dari: Khatimun Nabiyyin, hal. 591) Demikian pula Imam Ibnu Rajab rahimahullah, أما الإسراء، فقيل: كان في رجب، وضعفه غير واحد، وقيل: كان في ربيع الأول، وهو قول إبراهيم الحربي، وغيره Berkaitan waktu kejadian Isra’, ada yang berpendapat terjadi di bulan Rajab. Namun tak hanya satu orang ulama yang menilai dho’if riwayat tersebut. Ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal, pendapat Ibrahim Al Harbi dan yang lainnya. (Lihat: Latha-iful Ma’arif, hal. 179) Beliau juga menyatakan, قد روي أنه كان في شهر رجب حوادث عظيمة، ولم يصح شيء من ذلك Terdapat riwayat yang menerangkan bahwa di bulan Rajab telah terjadi peristiwa-peristiwa besar (Seperti Isra’ Mi’raj). Namun tak ada satupun riwayat yang shahih. (Lihat : Latho-iful Ma’arif, hal. 233). Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tidak tepatnya perayaan Isra’ Mi’raj. Bagaimana mungkin kita merayakan suatu peristiwa yang bulan dan tanggalnya tidak diketahui secara pasti? Wallahua’lam bis showab.. Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Ulama Suu, Pembukuan Hadis, Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Pengertian Beribadah, Dekorasi Akad Nikah Di Masjid, Doa Selepas Sholat Visited 236 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid

Kapan Terjadi Peristiwa Isra Mi’raj?

Peristiwa Isra Mi’raj Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tidak ada kesepakatan dari para pakar sejarah tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj. Ada beberapa versi riwayat yang menerangkan tentang waktunya: [1]. Satu tahun sebelum hijrah Nabi ke kota Madinah. [2]. Lima tahun sebelum hijrah. [3]. Satu bulan sebelum hijrah. [4]. Satu tahun satu bulan sebelum hijrah. [5]. Tiga bulan sebelum Nabi Hijrah. [6]. Enam bulan sebelum hijrah. [7]. Pada tahun yang sama saat Nabi diangkat menjadi Nabi. (Lihat: Rakhiqul Makhtum, 1/124) Demikian bulan kejadiannya: ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal. Versi lain menyebutkan Dzulqa’dah. Yang lain mengatakan Rajab. Dari kesemua riwayat, tak ada satupun riwayat yang shohih. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, لم يقم دليل معلوم لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة، ليس فيها ما يقطع به Tidak ada dalil yang diketahui menunjukkan bulan kejadian Isra’ Mi’raj. Tidak pula harinya atau tanggalnya secara pasti. Bahkan riwayat-riwayat tentang hal ini semuanya terputus dan berbeda-beda, tidak menunjukkan kepastian waktunya. (Lihat: Ad-dhau’ul Munir ‘alat Tafsir, 3/304) Riwayat paling shahih dari kesemua riwayat dho’if tersebut adalah, riwayat dari Musa bin ‘Uqbah dari Imam Az-Zuhri, yang menyebutkan terjadinya Isra’ Mi’raj pada bulan Robi’ul Awwal, satu tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke kota Madinah. Benarkah Isra’ Mi’raj 27 Rajab? Sedang riwayat yang paling do’if dari riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab. Ironisnya, justeru ini yang populer di tengah masyarakat, sehingga menjadi acuan perayaan Isra’ Mi’raj. (https://ar.islamway.net/article/30877/متى-كان-الإسراء-والمعراج) Diantara ulama pakar sejarah yang mengkritisi hal ini adalah Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وقد أورد -أي: عبدالغني المقدسي- حديثًا لا يصح سنده، ذكرناه في فضائل شهر رجب أن الإسراء كان ليلة السابع والعشرين من رجب، والله أعلم Abdul Ghani Al- Maqdisi, meriwayatkan hadis yang sanadnya tidak shahih, yaitu riwayat yang pernah kita singgung di bab Kautamaan Bulan Rajab bahwa peristiwa Isra’ terjadi pada malam dua puluh tujuh Rojab. Wallahua’lam. (Dinukil dari: Khatimun Nabiyyin, hal. 591) Demikian pula Imam Ibnu Rajab rahimahullah, أما الإسراء، فقيل: كان في رجب، وضعفه غير واحد، وقيل: كان في ربيع الأول، وهو قول إبراهيم الحربي، وغيره Berkaitan waktu kejadian Isra’, ada yang berpendapat terjadi di bulan Rajab. Namun tak hanya satu orang ulama yang menilai dho’if riwayat tersebut. Ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal, pendapat Ibrahim Al Harbi dan yang lainnya. (Lihat: Latha-iful Ma’arif, hal. 179) Beliau juga menyatakan, قد روي أنه كان في شهر رجب حوادث عظيمة، ولم يصح شيء من ذلك Terdapat riwayat yang menerangkan bahwa di bulan Rajab telah terjadi peristiwa-peristiwa besar (Seperti Isra’ Mi’raj). Namun tak ada satupun riwayat yang shahih. (Lihat : Latho-iful Ma’arif, hal. 233). Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tidak tepatnya perayaan Isra’ Mi’raj. Bagaimana mungkin kita merayakan suatu peristiwa yang bulan dan tanggalnya tidak diketahui secara pasti? Wallahua’lam bis showab.. Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Ulama Suu, Pembukuan Hadis, Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Pengertian Beribadah, Dekorasi Akad Nikah Di Masjid, Doa Selepas Sholat Visited 236 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid
Peristiwa Isra Mi’raj Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tidak ada kesepakatan dari para pakar sejarah tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj. Ada beberapa versi riwayat yang menerangkan tentang waktunya: [1]. Satu tahun sebelum hijrah Nabi ke kota Madinah. [2]. Lima tahun sebelum hijrah. [3]. Satu bulan sebelum hijrah. [4]. Satu tahun satu bulan sebelum hijrah. [5]. Tiga bulan sebelum Nabi Hijrah. [6]. Enam bulan sebelum hijrah. [7]. Pada tahun yang sama saat Nabi diangkat menjadi Nabi. (Lihat: Rakhiqul Makhtum, 1/124) Demikian bulan kejadiannya: ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal. Versi lain menyebutkan Dzulqa’dah. Yang lain mengatakan Rajab. Dari kesemua riwayat, tak ada satupun riwayat yang shohih. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, لم يقم دليل معلوم لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة، ليس فيها ما يقطع به Tidak ada dalil yang diketahui menunjukkan bulan kejadian Isra’ Mi’raj. Tidak pula harinya atau tanggalnya secara pasti. Bahkan riwayat-riwayat tentang hal ini semuanya terputus dan berbeda-beda, tidak menunjukkan kepastian waktunya. (Lihat: Ad-dhau’ul Munir ‘alat Tafsir, 3/304) Riwayat paling shahih dari kesemua riwayat dho’if tersebut adalah, riwayat dari Musa bin ‘Uqbah dari Imam Az-Zuhri, yang menyebutkan terjadinya Isra’ Mi’raj pada bulan Robi’ul Awwal, satu tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke kota Madinah. Benarkah Isra’ Mi’raj 27 Rajab? Sedang riwayat yang paling do’if dari riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab. Ironisnya, justeru ini yang populer di tengah masyarakat, sehingga menjadi acuan perayaan Isra’ Mi’raj. (https://ar.islamway.net/article/30877/متى-كان-الإسراء-والمعراج) Diantara ulama pakar sejarah yang mengkritisi hal ini adalah Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وقد أورد -أي: عبدالغني المقدسي- حديثًا لا يصح سنده، ذكرناه في فضائل شهر رجب أن الإسراء كان ليلة السابع والعشرين من رجب، والله أعلم Abdul Ghani Al- Maqdisi, meriwayatkan hadis yang sanadnya tidak shahih, yaitu riwayat yang pernah kita singgung di bab Kautamaan Bulan Rajab bahwa peristiwa Isra’ terjadi pada malam dua puluh tujuh Rojab. Wallahua’lam. (Dinukil dari: Khatimun Nabiyyin, hal. 591) Demikian pula Imam Ibnu Rajab rahimahullah, أما الإسراء، فقيل: كان في رجب، وضعفه غير واحد، وقيل: كان في ربيع الأول، وهو قول إبراهيم الحربي، وغيره Berkaitan waktu kejadian Isra’, ada yang berpendapat terjadi di bulan Rajab. Namun tak hanya satu orang ulama yang menilai dho’if riwayat tersebut. Ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal, pendapat Ibrahim Al Harbi dan yang lainnya. (Lihat: Latha-iful Ma’arif, hal. 179) Beliau juga menyatakan, قد روي أنه كان في شهر رجب حوادث عظيمة، ولم يصح شيء من ذلك Terdapat riwayat yang menerangkan bahwa di bulan Rajab telah terjadi peristiwa-peristiwa besar (Seperti Isra’ Mi’raj). Namun tak ada satupun riwayat yang shahih. (Lihat : Latho-iful Ma’arif, hal. 233). Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tidak tepatnya perayaan Isra’ Mi’raj. Bagaimana mungkin kita merayakan suatu peristiwa yang bulan dan tanggalnya tidak diketahui secara pasti? Wallahua’lam bis showab.. Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Ulama Suu, Pembukuan Hadis, Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Pengertian Beribadah, Dekorasi Akad Nikah Di Masjid, Doa Selepas Sholat Visited 236 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1201982896&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Peristiwa Isra Mi’raj Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Tidak ada kesepakatan dari para pakar sejarah tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj. Ada beberapa versi riwayat yang menerangkan tentang waktunya: [1]. Satu tahun sebelum hijrah Nabi ke kota Madinah. [2]. Lima tahun sebelum hijrah. [3]. Satu bulan sebelum hijrah. [4]. Satu tahun satu bulan sebelum hijrah. [5]. Tiga bulan sebelum Nabi Hijrah. [6]. Enam bulan sebelum hijrah. [7]. Pada tahun yang sama saat Nabi diangkat menjadi Nabi. (Lihat: Rakhiqul Makhtum, 1/124) Demikian bulan kejadiannya: ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal. Versi lain menyebutkan Dzulqa’dah. Yang lain mengatakan Rajab. Dari kesemua riwayat, tak ada satupun riwayat yang shohih. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, لم يقم دليل معلوم لا على شهرها ولا على عشرها ولا على عينها، بل النقول في ذلك منقطعة مختلفة، ليس فيها ما يقطع به Tidak ada dalil yang diketahui menunjukkan bulan kejadian Isra’ Mi’raj. Tidak pula harinya atau tanggalnya secara pasti. Bahkan riwayat-riwayat tentang hal ini semuanya terputus dan berbeda-beda, tidak menunjukkan kepastian waktunya. (Lihat: Ad-dhau’ul Munir ‘alat Tafsir, 3/304) Riwayat paling shahih dari kesemua riwayat dho’if tersebut adalah, riwayat dari Musa bin ‘Uqbah dari Imam Az-Zuhri, yang menyebutkan terjadinya Isra’ Mi’raj pada bulan Robi’ul Awwal, satu tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke kota Madinah. Benarkah Isra’ Mi’raj 27 Rajab? Sedang riwayat yang paling do’if dari riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang waktu kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab. Ironisnya, justeru ini yang populer di tengah masyarakat, sehingga menjadi acuan perayaan Isra’ Mi’raj. (https://ar.islamway.net/article/30877/متى-كان-الإسراء-والمعراج) Diantara ulama pakar sejarah yang mengkritisi hal ini adalah Imam Ibnu Katsir rahimahullah, وقد أورد -أي: عبدالغني المقدسي- حديثًا لا يصح سنده، ذكرناه في فضائل شهر رجب أن الإسراء كان ليلة السابع والعشرين من رجب، والله أعلم Abdul Ghani Al- Maqdisi, meriwayatkan hadis yang sanadnya tidak shahih, yaitu riwayat yang pernah kita singgung di bab Kautamaan Bulan Rajab bahwa peristiwa Isra’ terjadi pada malam dua puluh tujuh Rojab. Wallahua’lam. (Dinukil dari: Khatimun Nabiyyin, hal. 591) Demikian pula Imam Ibnu Rajab rahimahullah, أما الإسراء، فقيل: كان في رجب، وضعفه غير واحد، وقيل: كان في ربيع الأول، وهو قول إبراهيم الحربي، وغيره Berkaitan waktu kejadian Isra’, ada yang berpendapat terjadi di bulan Rajab. Namun tak hanya satu orang ulama yang menilai dho’if riwayat tersebut. Ada yang mengatakan bulan Robi’ul Awwal, pendapat Ibrahim Al Harbi dan yang lainnya. (Lihat: Latha-iful Ma’arif, hal. 179) Beliau juga menyatakan, قد روي أنه كان في شهر رجب حوادث عظيمة، ولم يصح شيء من ذلك Terdapat riwayat yang menerangkan bahwa di bulan Rajab telah terjadi peristiwa-peristiwa besar (Seperti Isra’ Mi’raj). Namun tak ada satupun riwayat yang shahih. (Lihat : Latho-iful Ma’arif, hal. 233). Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa tidak tepatnya perayaan Isra’ Mi’raj. Bagaimana mungkin kita merayakan suatu peristiwa yang bulan dan tanggalnya tidak diketahui secara pasti? Wallahua’lam bis showab.. Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Ulama Suu, Pembukuan Hadis, Suami Tidak Bisa Memuaskan Istri, Pengertian Beribadah, Dekorasi Akad Nikah Di Masjid, Doa Selepas Sholat Visited 236 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran

Doa ini bagus sekali diamalkan agar kita terus mendapatkan petunjuk dan keistiqamahan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Hadits #1473 وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).” Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]   Keterangan Doa   Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meminta hidayah (as-alukal huda) di sini adalah hidayah berupa petunjuk dan bimbingan, berarti berupa pengajaran. Sedangkan meminta as-sadaad adalah meminta istiqamah dan pertengahan dalam berbagai urusan. Maksudnya kita meminta kepada Allah agar diberi taufik senantiasa berada dalam kebenaran untuk setiap perkara. Intinya doa ini berisi permintaan yang sangat penting yang dengan keduanya bila diperoleh akan mendapatkan keburuntungan dan kebahagiaan, yaitu yang diminta dalam doa adalah al-huda (hidayah petunjuk) dan as-sadaad (istiqamah di atas kebenaran). Meminta kepada Allah petunjuk berarti kita meminta agar diberi petunjuk kebenaran secara global dan terperinci, juga diberi taufik untuk mengikuti kebenaran tersebut secara lahir dan batin. Adapun meminta kepada Allah as-sadaad berarti meminta kepada Allah taufik dan istiqamah dalam segala perkara, agar terus berada dalam kebenaran. Jalan istiqamah ini dalam perkataan, perbuatan, dan i’tiqod (keyakinan). Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71). Bagi yang memperoleh as-sadaad akan mendapatkan dua faedah yaitu, amalan akan diperbaiki (shalahul a’mal) dan dosa-dosa akan diampuni (maghfirotudz dzunuub). Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ “Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’, no. 3046)   Faedah Hadits   Orang yang berdoa hendaklah semangat meminta kepada Allah hidayah dan istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dengan ikhlas dan sesuai tuntunan. Hendaklah setiap orang meminta tolong kepada Allah dalam setiap urusannya, termasuk dalam meminta hidayah dan istiqamah. Tak boleh kita bergantung pada diri kita sendiri yang lemah.   Doa dalam hadits di atas bisa dirangkai menjadi: اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD. “Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3099 — Disusun di Garuda, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis pagi) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan doa berdoa doa hidayah doa istiqamah kiat istiqamah riyadhus sholihin

Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran

Doa ini bagus sekali diamalkan agar kita terus mendapatkan petunjuk dan keistiqamahan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Hadits #1473 وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).” Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]   Keterangan Doa   Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meminta hidayah (as-alukal huda) di sini adalah hidayah berupa petunjuk dan bimbingan, berarti berupa pengajaran. Sedangkan meminta as-sadaad adalah meminta istiqamah dan pertengahan dalam berbagai urusan. Maksudnya kita meminta kepada Allah agar diberi taufik senantiasa berada dalam kebenaran untuk setiap perkara. Intinya doa ini berisi permintaan yang sangat penting yang dengan keduanya bila diperoleh akan mendapatkan keburuntungan dan kebahagiaan, yaitu yang diminta dalam doa adalah al-huda (hidayah petunjuk) dan as-sadaad (istiqamah di atas kebenaran). Meminta kepada Allah petunjuk berarti kita meminta agar diberi petunjuk kebenaran secara global dan terperinci, juga diberi taufik untuk mengikuti kebenaran tersebut secara lahir dan batin. Adapun meminta kepada Allah as-sadaad berarti meminta kepada Allah taufik dan istiqamah dalam segala perkara, agar terus berada dalam kebenaran. Jalan istiqamah ini dalam perkataan, perbuatan, dan i’tiqod (keyakinan). Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71). Bagi yang memperoleh as-sadaad akan mendapatkan dua faedah yaitu, amalan akan diperbaiki (shalahul a’mal) dan dosa-dosa akan diampuni (maghfirotudz dzunuub). Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ “Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’, no. 3046)   Faedah Hadits   Orang yang berdoa hendaklah semangat meminta kepada Allah hidayah dan istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dengan ikhlas dan sesuai tuntunan. Hendaklah setiap orang meminta tolong kepada Allah dalam setiap urusannya, termasuk dalam meminta hidayah dan istiqamah. Tak boleh kita bergantung pada diri kita sendiri yang lemah.   Doa dalam hadits di atas bisa dirangkai menjadi: اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD. “Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3099 — Disusun di Garuda, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis pagi) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan doa berdoa doa hidayah doa istiqamah kiat istiqamah riyadhus sholihin
Doa ini bagus sekali diamalkan agar kita terus mendapatkan petunjuk dan keistiqamahan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Hadits #1473 وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).” Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]   Keterangan Doa   Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meminta hidayah (as-alukal huda) di sini adalah hidayah berupa petunjuk dan bimbingan, berarti berupa pengajaran. Sedangkan meminta as-sadaad adalah meminta istiqamah dan pertengahan dalam berbagai urusan. Maksudnya kita meminta kepada Allah agar diberi taufik senantiasa berada dalam kebenaran untuk setiap perkara. Intinya doa ini berisi permintaan yang sangat penting yang dengan keduanya bila diperoleh akan mendapatkan keburuntungan dan kebahagiaan, yaitu yang diminta dalam doa adalah al-huda (hidayah petunjuk) dan as-sadaad (istiqamah di atas kebenaran). Meminta kepada Allah petunjuk berarti kita meminta agar diberi petunjuk kebenaran secara global dan terperinci, juga diberi taufik untuk mengikuti kebenaran tersebut secara lahir dan batin. Adapun meminta kepada Allah as-sadaad berarti meminta kepada Allah taufik dan istiqamah dalam segala perkara, agar terus berada dalam kebenaran. Jalan istiqamah ini dalam perkataan, perbuatan, dan i’tiqod (keyakinan). Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71). Bagi yang memperoleh as-sadaad akan mendapatkan dua faedah yaitu, amalan akan diperbaiki (shalahul a’mal) dan dosa-dosa akan diampuni (maghfirotudz dzunuub). Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ “Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’, no. 3046)   Faedah Hadits   Orang yang berdoa hendaklah semangat meminta kepada Allah hidayah dan istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dengan ikhlas dan sesuai tuntunan. Hendaklah setiap orang meminta tolong kepada Allah dalam setiap urusannya, termasuk dalam meminta hidayah dan istiqamah. Tak boleh kita bergantung pada diri kita sendiri yang lemah.   Doa dalam hadits di atas bisa dirangkai menjadi: اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD. “Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3099 — Disusun di Garuda, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis pagi) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan doa berdoa doa hidayah doa istiqamah kiat istiqamah riyadhus sholihin


Doa ini bagus sekali diamalkan agar kita terus mendapatkan petunjuk dan keistiqamahan.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa   Hadits #1473 وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah: ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII (artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).” Dalam riwayat lain disebutkan, “ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD (artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]   Keterangan Doa   Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meminta hidayah (as-alukal huda) di sini adalah hidayah berupa petunjuk dan bimbingan, berarti berupa pengajaran. Sedangkan meminta as-sadaad adalah meminta istiqamah dan pertengahan dalam berbagai urusan. Maksudnya kita meminta kepada Allah agar diberi taufik senantiasa berada dalam kebenaran untuk setiap perkara. Intinya doa ini berisi permintaan yang sangat penting yang dengan keduanya bila diperoleh akan mendapatkan keburuntungan dan kebahagiaan, yaitu yang diminta dalam doa adalah al-huda (hidayah petunjuk) dan as-sadaad (istiqamah di atas kebenaran). Meminta kepada Allah petunjuk berarti kita meminta agar diberi petunjuk kebenaran secara global dan terperinci, juga diberi taufik untuk mengikuti kebenaran tersebut secara lahir dan batin. Adapun meminta kepada Allah as-sadaad berarti meminta kepada Allah taufik dan istiqamah dalam segala perkara, agar terus berada dalam kebenaran. Jalan istiqamah ini dalam perkataan, perbuatan, dan i’tiqod (keyakinan). Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71). Bagi yang memperoleh as-sadaad akan mendapatkan dua faedah yaitu, amalan akan diperbaiki (shalahul a’mal) dan dosa-dosa akan diampuni (maghfirotudz dzunuub). Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ “Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’, no. 3046)   Faedah Hadits   Orang yang berdoa hendaklah semangat meminta kepada Allah hidayah dan istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dengan ikhlas dan sesuai tuntunan. Hendaklah setiap orang meminta tolong kepada Allah dalam setiap urusannya, termasuk dalam meminta hidayah dan istiqamah. Tak boleh kita bergantung pada diri kita sendiri yang lemah.   Doa dalam hadits di atas bisa dirangkai menjadi: اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD. “Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3099 — Disusun di Garuda, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis pagi) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan doa berdoa doa hidayah doa istiqamah kiat istiqamah riyadhus sholihin

Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 1)Islam dapat menghapus dosa dan kesalahan sebelumnyaAhli tauhid adalah orang-orang yang membersihkan tauhid mereka dari kesyirikan. Hal ini bisa diraih dengan mewujudkan dua kalimat syahadat, yaitu syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإسلام – يعني التوحيد – يجب ما قبله، والهجرة تجب ما قبلها”Islam (yakni tauhid) akan menghapus (dosa) yang sebelumnya. Dan hijrah juga akan menghapus (dosa) yang sebelumnya.” (HR. Muslim) [1]Orang-orang yang mewujudkan Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah dengan mengharap wajah-Nya tanpa disertai kemunafikan dan riya’, berlepas diri dari kesyirikan dan mengingkari thaghut, dan mengetahui makna dua kalimat syahadat, maka Islam yang seperti ini akan menghapus (dosa-dosa) sebelumnya. Oleh karena itu, yang pertama kali didapatkan oleh seorang hamba ketika masuk Islam adalah keislamannya itu akan menghapus dosa dan kesalahnnya di masa lampau, meskipun dosa yang terbesar, yaitu syirik akbar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Berzina Lalu Menikah, Sahkah Pernikahannya?Ber-Islam adalah sarana terpenting untuk bertaubat. Islam juga merupakan sarana pengampunan dosa, meskipun syirik akbar. Maka bagaimana lagi dengan dosa di bawahnya seperti syirik ashghar, dosa besar, atau dosa secara umum lainnya? Dengan tauhid kepada Allah Ta’ala dan berlepas diri dari kesyirikan, maka akan terhapuslah dosa-dosa seorang hamba sebelumnya, apa pun bentuknya. Meskipun syirik akbar, membunuh, mengambil harta, melanggar kehormatan, atau terjatuh ke dalam dosa besar. Maka semua yang sebelum Islam akan diampuni dengan sebab keislamannya. Islam akan menghapus dosa sebelumnya.Allah akan memberikan keutamaan bagi setiap muslim dengan mengampuni dosa-dosanya di akhirat –jika dia adalah seorang muslim muwahhid– sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala, dan di dunia jika dia bertaubat dengan benar. Barangsiapa yang bertaubat, maka tauhidnya akan memberikan manfaat baginya dari segala dosa, sehingga dosa-dosanya akan diampuni. Dan barangsiapa yang mengerjakan dosa yang tingkatannya di bawah dosa besar di dunia, maka tauhid dan amal shalihnya akan menghapus dosa-dosa kecilnya tersebut. Baca Juga: Pernah Berzina Di Mushala, Bagaimana Taubatnya?Hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa terampuniAdapun hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa diampuni adalah seseorang tidak menyembah kecuali Allah Ta’ala semata. Seorang hamba mengetahui makna syahadat tentang Allah dengan meng-esa-kanNya, dan tentang Nabi-Nya dengan risalah-nya. Tauhid -yang memiliki keutamaan dapat mengampuni dosa- adalah Engkau mengetahui makna syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Engkau bersaksi dengan syahadat yang agung ini secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam riwayat yang lain, ”Allah akan mengharamkan neraka baginya”. Barangsiapa yang bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka keutamaan pertama kali yang akan didapatkan –dengan derajat paling rendah sebagaimana penjelasan yang akan datang- adalah Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga sebagai sebuah janji dari-Nya. Allah Ta’ala juga akan mengharamkan neraka baginya sebagai sebuah janji dari-Nya. Sedangkan janji Allah Ta’ala pasti benar dan jujur.Baca Juga: Inilah Peran Wanita Dalam DakwahDalam hadits dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan keutamaan dua kalimat syahadat,إنّه مَنْ قال لا إله إلا الله أو من شهد أنه لا إله إلا الله وأني رسول الله حرم الله عليه النار”Barangsiapa yang mengatakan tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, atau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam teks yang lain, ”maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya”, seperti yang terdapat di dalam hadits Ubadah. Ini semua adalah keutamaan dan pengaruh dari tauhid yang agung.Baca Juga: Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan WanitaPengelompokan ahli tauhidDi sini kita perlu mencermati dua masalah berikut ini: Apakah makna tauhid ini -yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya; berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya; mengingkari thaghut; meninggalkan syirik, baik besar maupun kecil- yang dapat memasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya? Apakah makna bahwa Allah Ta’ala mengharamkan neraka baginya? Adapun masalah yang pertama, yaitu akan dimasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya, maksudnya adalah “tempat kembali ahli tauhid adalah di surga”.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetBeberapa kelompok ahli tauhid:Pertama adalah kelompok yang men-tahqiq (mewujudkan) tauhidKedua adalah kelompok yang di dalam tauhidnya tercampur antara amal yang baik dan amal yang burukKetiga adalah kelompok yang bertauhid, namun membawa dosa yang banyak sekali.Golongan yang pertamaBarangsiapa yang men-tahqiq tauhid maka akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Makna men-tahqiq tauhid adalah menyempurnakan tauhid, sehingga dia ikhlas kepada Rabb-nya, takut dan berharap kepada-Nya. Men-tahqiq tauhid juga berarti membersihkan diri dari syirik besar dan kecil, dari sarana yang mengantarkan kepada syirik besar dan kecil, dari bid’ah baik yang besar maupun yang kecil, serta dari maksiat dan dosa baik besar maupun kecil. Kecuali orang-orang yang bertaubat apabila berbuat dosa serta beramal shalih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.Keutamaan tauhid bagi orang seperti ini adalah bahwa akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab berjumlah tujuh puluh ribu sesuai dengan dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa di antara umat ini pada saat hari kiamat terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ini adalah sesuatu dimana kita berlomba-lomba untuk meraihnya.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Golongan yang keduaMereka adalah orang-orang yang mengamalkan tauhid, mentauhidkan Allah di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Mereka membersihkan diri dari kesyirikan sebagai bentuk pelaksanaan dari firman Allah Ta’ala,فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا”Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka kerjakanlah amal shalih dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 110)Akan tetapi, tercampur dalam amal mereka antara amal shalih dan amal yang buruk. Maka keutamaan tauhid bagi mereka adalah: Apabila mereka bertaubat, maka Allah Ta’ala akan menerima taubatnya. Jika mereka bertemu Allah Ta’ala dengan membawa dosa besar dan belum bertaubat, maka Allah Ta’ala mengampuni dosa tersebut bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Yaitu tanpa menghisabnya, Allah Ta’ala mengampuninya sesuai dengan kehendak-Nya. Di antara mereka, amal buruk mereka ditimbang dan Allah Ta’ala memenangkan tauhid atas amal Baca Baca Juga:Juga:buruknya tersebut sebagai sebuah anugerah dari Allah Ta’ala. Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaGolongan yang ketigaMereka adalah orang-orang yang bertauhid. Keikhlasan dan tauhid mereka sangat kuat, demikian pula penjagaannya terhadap tauhid, berlepas dirinya dari kesyirikan, kebencian mereka terhadap kesyirikan dan kekufuran serta orang-orangnya, dan pengingkaran mereka terhadap thaghut. Akan tetapi, kesalahan dan dosa mereka juga banyak sekali.Mereka digambarkan sebagai seorang lelaki yang datang pada hari kiamat sebagaimana yang terdapat di dalam hadits,”Seorang lelaki datang pada hari kiamat di hadapan seluruh manusia. Ketika itu dibentangkan sembilan puluh sembilan lembaran catatan dosa-dosanya. Setiap lembaran jauhnya sejauh mata memandang, di dalamnya terdapat (catatan) kesalahan dan dosanya. Ketika melihat hal itu, dia merasa takut dan gelisah. Maka Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Apakah ada yang Engkau ingkari dari semua ini?’ Dia menjawab, ’Aku tidak mengingkari sedikit pun’.Maka diletakkanlah lembaran-lembaran tersebut pada daun timbangan kejelekan, sehingga menjadi lebih berat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepadanya lagi (yang artinya), ’Apakah Engkau memiliki amal?’ Dia menjawab, ’Tidak wahai Tuhanku’. Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Sekali-kali tidak’. Kemudian Allah Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu. Dia bertanya, ’Apakah ini wahai Tuhanku?’ Maka kartu tersebut diletakkan pada daun timbangan kebaikan, sehingga terangkatlah gulungan-gulungan tersebut.” [2]Yakni, daun timbangan kebaikan menjadi turun karena lebih berat, sedangkan daun timbangan yang lain akan naik. Sehingga gulungan-gulungan tersebut akan naik karena sedemikian beratnya kartu tersebut. Di dalam kartu tersebut tertulis laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Akan tetapi, apakah keutamaan ini didapatkan oleh setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah? Kalau demikian halnya, maka tidak ada seorang pun dari ahli tauhid yang masuk neraka. Karena Allah Ta’ala juga mengancam ahli tauhid yang melakukan dosa besar atau dosa lainnya bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu, kemudian membersihkannya, dan memasukkannya ke dalam surga.Akan tetapi, ini adalah keadaan khusus dimana tauhid di hati seseorang sangat besar. Demikian pula kecintaannya kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam serta keikhlasannya kepada Allah. Dia beriman kepada Allah Ta’ala dengan mentauhidkan-Nya di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Tidaklah dia beribadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia mencintai tauhid dan orang yang bertauhid, serta membenci kesyirikan dan pelakunya. Maka kartu inilah yang membedakannya dari seluruh umat yang lain sehingga terangkatlah lembaran-lembaran dosanya melawan besarnya keagungan tauhid.Demikian pula, jika tauhid dalam hati seseorang sangat besar, maka hampir-hampir dia tidak akan berani untuk melakukan dosa atau terus-menerus terjatuh ke dalam dosa besar. Maka hal ini merupakan keadaan yang khusus bagi hamba tersebut yang membedakannya di hadapan manusia atau yang lainnya, dimana dia memiliki dosa yang sangat banyak, akan tetapi tauhid dan keikhlasannya kepada Allah Ta’ala juga sangat besar.Hal ini akan memikat setiap orang dan memikat setiap di antara kita yang tidak dapat menjaga dirinya dari maksiat dan dosa. Atau yang mengerjakan dosa dan sedikit berbuat kebaikan. Setiap kali ilmu seorang hamba terhadap Rabb-nya bertambah, dia akan mengetahui bahwa dirinya membutuhkan sesuatu yang dapat membersihkannya dari dosa dan kesalahan, serta dari sedikit melaksanakan kewajiban.Baca Juga: Mengapa Kemaksiatan Tetap Ada Di Bulan Ramadhan? Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki [Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Lafadz hadits sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim adalah:أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟“Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu, hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu, dan juga haji menghapuskan dosa yang telah lalu?” (HR. Muslim no. 121)[2] HR. Tirmidzi no. 2644; Ibnu Hibban no. 2523; al-Hakim, 1/6; dan An-Nasai no. 4300. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2563.🔍 Berlindung Kepada Allah, Apa Yang Dimaksud Dengan Jihad, Tanya Jawab Tentang Sabar, Ulama Pewaris Nabi, Hukum Membaca Al Quran

Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 1)Islam dapat menghapus dosa dan kesalahan sebelumnyaAhli tauhid adalah orang-orang yang membersihkan tauhid mereka dari kesyirikan. Hal ini bisa diraih dengan mewujudkan dua kalimat syahadat, yaitu syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإسلام – يعني التوحيد – يجب ما قبله، والهجرة تجب ما قبلها”Islam (yakni tauhid) akan menghapus (dosa) yang sebelumnya. Dan hijrah juga akan menghapus (dosa) yang sebelumnya.” (HR. Muslim) [1]Orang-orang yang mewujudkan Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah dengan mengharap wajah-Nya tanpa disertai kemunafikan dan riya’, berlepas diri dari kesyirikan dan mengingkari thaghut, dan mengetahui makna dua kalimat syahadat, maka Islam yang seperti ini akan menghapus (dosa-dosa) sebelumnya. Oleh karena itu, yang pertama kali didapatkan oleh seorang hamba ketika masuk Islam adalah keislamannya itu akan menghapus dosa dan kesalahnnya di masa lampau, meskipun dosa yang terbesar, yaitu syirik akbar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Berzina Lalu Menikah, Sahkah Pernikahannya?Ber-Islam adalah sarana terpenting untuk bertaubat. Islam juga merupakan sarana pengampunan dosa, meskipun syirik akbar. Maka bagaimana lagi dengan dosa di bawahnya seperti syirik ashghar, dosa besar, atau dosa secara umum lainnya? Dengan tauhid kepada Allah Ta’ala dan berlepas diri dari kesyirikan, maka akan terhapuslah dosa-dosa seorang hamba sebelumnya, apa pun bentuknya. Meskipun syirik akbar, membunuh, mengambil harta, melanggar kehormatan, atau terjatuh ke dalam dosa besar. Maka semua yang sebelum Islam akan diampuni dengan sebab keislamannya. Islam akan menghapus dosa sebelumnya.Allah akan memberikan keutamaan bagi setiap muslim dengan mengampuni dosa-dosanya di akhirat –jika dia adalah seorang muslim muwahhid– sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala, dan di dunia jika dia bertaubat dengan benar. Barangsiapa yang bertaubat, maka tauhidnya akan memberikan manfaat baginya dari segala dosa, sehingga dosa-dosanya akan diampuni. Dan barangsiapa yang mengerjakan dosa yang tingkatannya di bawah dosa besar di dunia, maka tauhid dan amal shalihnya akan menghapus dosa-dosa kecilnya tersebut. Baca Juga: Pernah Berzina Di Mushala, Bagaimana Taubatnya?Hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa terampuniAdapun hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa diampuni adalah seseorang tidak menyembah kecuali Allah Ta’ala semata. Seorang hamba mengetahui makna syahadat tentang Allah dengan meng-esa-kanNya, dan tentang Nabi-Nya dengan risalah-nya. Tauhid -yang memiliki keutamaan dapat mengampuni dosa- adalah Engkau mengetahui makna syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Engkau bersaksi dengan syahadat yang agung ini secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam riwayat yang lain, ”Allah akan mengharamkan neraka baginya”. Barangsiapa yang bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka keutamaan pertama kali yang akan didapatkan –dengan derajat paling rendah sebagaimana penjelasan yang akan datang- adalah Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga sebagai sebuah janji dari-Nya. Allah Ta’ala juga akan mengharamkan neraka baginya sebagai sebuah janji dari-Nya. Sedangkan janji Allah Ta’ala pasti benar dan jujur.Baca Juga: Inilah Peran Wanita Dalam DakwahDalam hadits dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan keutamaan dua kalimat syahadat,إنّه مَنْ قال لا إله إلا الله أو من شهد أنه لا إله إلا الله وأني رسول الله حرم الله عليه النار”Barangsiapa yang mengatakan tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, atau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam teks yang lain, ”maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya”, seperti yang terdapat di dalam hadits Ubadah. Ini semua adalah keutamaan dan pengaruh dari tauhid yang agung.Baca Juga: Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan WanitaPengelompokan ahli tauhidDi sini kita perlu mencermati dua masalah berikut ini: Apakah makna tauhid ini -yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya; berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya; mengingkari thaghut; meninggalkan syirik, baik besar maupun kecil- yang dapat memasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya? Apakah makna bahwa Allah Ta’ala mengharamkan neraka baginya? Adapun masalah yang pertama, yaitu akan dimasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya, maksudnya adalah “tempat kembali ahli tauhid adalah di surga”.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetBeberapa kelompok ahli tauhid:Pertama adalah kelompok yang men-tahqiq (mewujudkan) tauhidKedua adalah kelompok yang di dalam tauhidnya tercampur antara amal yang baik dan amal yang burukKetiga adalah kelompok yang bertauhid, namun membawa dosa yang banyak sekali.Golongan yang pertamaBarangsiapa yang men-tahqiq tauhid maka akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Makna men-tahqiq tauhid adalah menyempurnakan tauhid, sehingga dia ikhlas kepada Rabb-nya, takut dan berharap kepada-Nya. Men-tahqiq tauhid juga berarti membersihkan diri dari syirik besar dan kecil, dari sarana yang mengantarkan kepada syirik besar dan kecil, dari bid’ah baik yang besar maupun yang kecil, serta dari maksiat dan dosa baik besar maupun kecil. Kecuali orang-orang yang bertaubat apabila berbuat dosa serta beramal shalih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.Keutamaan tauhid bagi orang seperti ini adalah bahwa akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab berjumlah tujuh puluh ribu sesuai dengan dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa di antara umat ini pada saat hari kiamat terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ini adalah sesuatu dimana kita berlomba-lomba untuk meraihnya.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Golongan yang keduaMereka adalah orang-orang yang mengamalkan tauhid, mentauhidkan Allah di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Mereka membersihkan diri dari kesyirikan sebagai bentuk pelaksanaan dari firman Allah Ta’ala,فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا”Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka kerjakanlah amal shalih dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 110)Akan tetapi, tercampur dalam amal mereka antara amal shalih dan amal yang buruk. Maka keutamaan tauhid bagi mereka adalah: Apabila mereka bertaubat, maka Allah Ta’ala akan menerima taubatnya. Jika mereka bertemu Allah Ta’ala dengan membawa dosa besar dan belum bertaubat, maka Allah Ta’ala mengampuni dosa tersebut bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Yaitu tanpa menghisabnya, Allah Ta’ala mengampuninya sesuai dengan kehendak-Nya. Di antara mereka, amal buruk mereka ditimbang dan Allah Ta’ala memenangkan tauhid atas amal Baca Baca Juga:Juga:buruknya tersebut sebagai sebuah anugerah dari Allah Ta’ala. Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaGolongan yang ketigaMereka adalah orang-orang yang bertauhid. Keikhlasan dan tauhid mereka sangat kuat, demikian pula penjagaannya terhadap tauhid, berlepas dirinya dari kesyirikan, kebencian mereka terhadap kesyirikan dan kekufuran serta orang-orangnya, dan pengingkaran mereka terhadap thaghut. Akan tetapi, kesalahan dan dosa mereka juga banyak sekali.Mereka digambarkan sebagai seorang lelaki yang datang pada hari kiamat sebagaimana yang terdapat di dalam hadits,”Seorang lelaki datang pada hari kiamat di hadapan seluruh manusia. Ketika itu dibentangkan sembilan puluh sembilan lembaran catatan dosa-dosanya. Setiap lembaran jauhnya sejauh mata memandang, di dalamnya terdapat (catatan) kesalahan dan dosanya. Ketika melihat hal itu, dia merasa takut dan gelisah. Maka Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Apakah ada yang Engkau ingkari dari semua ini?’ Dia menjawab, ’Aku tidak mengingkari sedikit pun’.Maka diletakkanlah lembaran-lembaran tersebut pada daun timbangan kejelekan, sehingga menjadi lebih berat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepadanya lagi (yang artinya), ’Apakah Engkau memiliki amal?’ Dia menjawab, ’Tidak wahai Tuhanku’. Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Sekali-kali tidak’. Kemudian Allah Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu. Dia bertanya, ’Apakah ini wahai Tuhanku?’ Maka kartu tersebut diletakkan pada daun timbangan kebaikan, sehingga terangkatlah gulungan-gulungan tersebut.” [2]Yakni, daun timbangan kebaikan menjadi turun karena lebih berat, sedangkan daun timbangan yang lain akan naik. Sehingga gulungan-gulungan tersebut akan naik karena sedemikian beratnya kartu tersebut. Di dalam kartu tersebut tertulis laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Akan tetapi, apakah keutamaan ini didapatkan oleh setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah? Kalau demikian halnya, maka tidak ada seorang pun dari ahli tauhid yang masuk neraka. Karena Allah Ta’ala juga mengancam ahli tauhid yang melakukan dosa besar atau dosa lainnya bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu, kemudian membersihkannya, dan memasukkannya ke dalam surga.Akan tetapi, ini adalah keadaan khusus dimana tauhid di hati seseorang sangat besar. Demikian pula kecintaannya kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam serta keikhlasannya kepada Allah. Dia beriman kepada Allah Ta’ala dengan mentauhidkan-Nya di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Tidaklah dia beribadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia mencintai tauhid dan orang yang bertauhid, serta membenci kesyirikan dan pelakunya. Maka kartu inilah yang membedakannya dari seluruh umat yang lain sehingga terangkatlah lembaran-lembaran dosanya melawan besarnya keagungan tauhid.Demikian pula, jika tauhid dalam hati seseorang sangat besar, maka hampir-hampir dia tidak akan berani untuk melakukan dosa atau terus-menerus terjatuh ke dalam dosa besar. Maka hal ini merupakan keadaan yang khusus bagi hamba tersebut yang membedakannya di hadapan manusia atau yang lainnya, dimana dia memiliki dosa yang sangat banyak, akan tetapi tauhid dan keikhlasannya kepada Allah Ta’ala juga sangat besar.Hal ini akan memikat setiap orang dan memikat setiap di antara kita yang tidak dapat menjaga dirinya dari maksiat dan dosa. Atau yang mengerjakan dosa dan sedikit berbuat kebaikan. Setiap kali ilmu seorang hamba terhadap Rabb-nya bertambah, dia akan mengetahui bahwa dirinya membutuhkan sesuatu yang dapat membersihkannya dari dosa dan kesalahan, serta dari sedikit melaksanakan kewajiban.Baca Juga: Mengapa Kemaksiatan Tetap Ada Di Bulan Ramadhan? Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki [Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Lafadz hadits sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim adalah:أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟“Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu, hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu, dan juga haji menghapuskan dosa yang telah lalu?” (HR. Muslim no. 121)[2] HR. Tirmidzi no. 2644; Ibnu Hibban no. 2523; al-Hakim, 1/6; dan An-Nasai no. 4300. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2563.🔍 Berlindung Kepada Allah, Apa Yang Dimaksud Dengan Jihad, Tanya Jawab Tentang Sabar, Ulama Pewaris Nabi, Hukum Membaca Al Quran
Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 1)Islam dapat menghapus dosa dan kesalahan sebelumnyaAhli tauhid adalah orang-orang yang membersihkan tauhid mereka dari kesyirikan. Hal ini bisa diraih dengan mewujudkan dua kalimat syahadat, yaitu syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإسلام – يعني التوحيد – يجب ما قبله، والهجرة تجب ما قبلها”Islam (yakni tauhid) akan menghapus (dosa) yang sebelumnya. Dan hijrah juga akan menghapus (dosa) yang sebelumnya.” (HR. Muslim) [1]Orang-orang yang mewujudkan Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah dengan mengharap wajah-Nya tanpa disertai kemunafikan dan riya’, berlepas diri dari kesyirikan dan mengingkari thaghut, dan mengetahui makna dua kalimat syahadat, maka Islam yang seperti ini akan menghapus (dosa-dosa) sebelumnya. Oleh karena itu, yang pertama kali didapatkan oleh seorang hamba ketika masuk Islam adalah keislamannya itu akan menghapus dosa dan kesalahnnya di masa lampau, meskipun dosa yang terbesar, yaitu syirik akbar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Berzina Lalu Menikah, Sahkah Pernikahannya?Ber-Islam adalah sarana terpenting untuk bertaubat. Islam juga merupakan sarana pengampunan dosa, meskipun syirik akbar. Maka bagaimana lagi dengan dosa di bawahnya seperti syirik ashghar, dosa besar, atau dosa secara umum lainnya? Dengan tauhid kepada Allah Ta’ala dan berlepas diri dari kesyirikan, maka akan terhapuslah dosa-dosa seorang hamba sebelumnya, apa pun bentuknya. Meskipun syirik akbar, membunuh, mengambil harta, melanggar kehormatan, atau terjatuh ke dalam dosa besar. Maka semua yang sebelum Islam akan diampuni dengan sebab keislamannya. Islam akan menghapus dosa sebelumnya.Allah akan memberikan keutamaan bagi setiap muslim dengan mengampuni dosa-dosanya di akhirat –jika dia adalah seorang muslim muwahhid– sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala, dan di dunia jika dia bertaubat dengan benar. Barangsiapa yang bertaubat, maka tauhidnya akan memberikan manfaat baginya dari segala dosa, sehingga dosa-dosanya akan diampuni. Dan barangsiapa yang mengerjakan dosa yang tingkatannya di bawah dosa besar di dunia, maka tauhid dan amal shalihnya akan menghapus dosa-dosa kecilnya tersebut. Baca Juga: Pernah Berzina Di Mushala, Bagaimana Taubatnya?Hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa terampuniAdapun hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa diampuni adalah seseorang tidak menyembah kecuali Allah Ta’ala semata. Seorang hamba mengetahui makna syahadat tentang Allah dengan meng-esa-kanNya, dan tentang Nabi-Nya dengan risalah-nya. Tauhid -yang memiliki keutamaan dapat mengampuni dosa- adalah Engkau mengetahui makna syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Engkau bersaksi dengan syahadat yang agung ini secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam riwayat yang lain, ”Allah akan mengharamkan neraka baginya”. Barangsiapa yang bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka keutamaan pertama kali yang akan didapatkan –dengan derajat paling rendah sebagaimana penjelasan yang akan datang- adalah Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga sebagai sebuah janji dari-Nya. Allah Ta’ala juga akan mengharamkan neraka baginya sebagai sebuah janji dari-Nya. Sedangkan janji Allah Ta’ala pasti benar dan jujur.Baca Juga: Inilah Peran Wanita Dalam DakwahDalam hadits dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan keutamaan dua kalimat syahadat,إنّه مَنْ قال لا إله إلا الله أو من شهد أنه لا إله إلا الله وأني رسول الله حرم الله عليه النار”Barangsiapa yang mengatakan tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, atau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam teks yang lain, ”maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya”, seperti yang terdapat di dalam hadits Ubadah. Ini semua adalah keutamaan dan pengaruh dari tauhid yang agung.Baca Juga: Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan WanitaPengelompokan ahli tauhidDi sini kita perlu mencermati dua masalah berikut ini: Apakah makna tauhid ini -yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya; berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya; mengingkari thaghut; meninggalkan syirik, baik besar maupun kecil- yang dapat memasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya? Apakah makna bahwa Allah Ta’ala mengharamkan neraka baginya? Adapun masalah yang pertama, yaitu akan dimasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya, maksudnya adalah “tempat kembali ahli tauhid adalah di surga”.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetBeberapa kelompok ahli tauhid:Pertama adalah kelompok yang men-tahqiq (mewujudkan) tauhidKedua adalah kelompok yang di dalam tauhidnya tercampur antara amal yang baik dan amal yang burukKetiga adalah kelompok yang bertauhid, namun membawa dosa yang banyak sekali.Golongan yang pertamaBarangsiapa yang men-tahqiq tauhid maka akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Makna men-tahqiq tauhid adalah menyempurnakan tauhid, sehingga dia ikhlas kepada Rabb-nya, takut dan berharap kepada-Nya. Men-tahqiq tauhid juga berarti membersihkan diri dari syirik besar dan kecil, dari sarana yang mengantarkan kepada syirik besar dan kecil, dari bid’ah baik yang besar maupun yang kecil, serta dari maksiat dan dosa baik besar maupun kecil. Kecuali orang-orang yang bertaubat apabila berbuat dosa serta beramal shalih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.Keutamaan tauhid bagi orang seperti ini adalah bahwa akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab berjumlah tujuh puluh ribu sesuai dengan dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa di antara umat ini pada saat hari kiamat terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ini adalah sesuatu dimana kita berlomba-lomba untuk meraihnya.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Golongan yang keduaMereka adalah orang-orang yang mengamalkan tauhid, mentauhidkan Allah di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Mereka membersihkan diri dari kesyirikan sebagai bentuk pelaksanaan dari firman Allah Ta’ala,فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا”Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka kerjakanlah amal shalih dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 110)Akan tetapi, tercampur dalam amal mereka antara amal shalih dan amal yang buruk. Maka keutamaan tauhid bagi mereka adalah: Apabila mereka bertaubat, maka Allah Ta’ala akan menerima taubatnya. Jika mereka bertemu Allah Ta’ala dengan membawa dosa besar dan belum bertaubat, maka Allah Ta’ala mengampuni dosa tersebut bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Yaitu tanpa menghisabnya, Allah Ta’ala mengampuninya sesuai dengan kehendak-Nya. Di antara mereka, amal buruk mereka ditimbang dan Allah Ta’ala memenangkan tauhid atas amal Baca Baca Juga:Juga:buruknya tersebut sebagai sebuah anugerah dari Allah Ta’ala. Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaGolongan yang ketigaMereka adalah orang-orang yang bertauhid. Keikhlasan dan tauhid mereka sangat kuat, demikian pula penjagaannya terhadap tauhid, berlepas dirinya dari kesyirikan, kebencian mereka terhadap kesyirikan dan kekufuran serta orang-orangnya, dan pengingkaran mereka terhadap thaghut. Akan tetapi, kesalahan dan dosa mereka juga banyak sekali.Mereka digambarkan sebagai seorang lelaki yang datang pada hari kiamat sebagaimana yang terdapat di dalam hadits,”Seorang lelaki datang pada hari kiamat di hadapan seluruh manusia. Ketika itu dibentangkan sembilan puluh sembilan lembaran catatan dosa-dosanya. Setiap lembaran jauhnya sejauh mata memandang, di dalamnya terdapat (catatan) kesalahan dan dosanya. Ketika melihat hal itu, dia merasa takut dan gelisah. Maka Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Apakah ada yang Engkau ingkari dari semua ini?’ Dia menjawab, ’Aku tidak mengingkari sedikit pun’.Maka diletakkanlah lembaran-lembaran tersebut pada daun timbangan kejelekan, sehingga menjadi lebih berat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepadanya lagi (yang artinya), ’Apakah Engkau memiliki amal?’ Dia menjawab, ’Tidak wahai Tuhanku’. Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Sekali-kali tidak’. Kemudian Allah Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu. Dia bertanya, ’Apakah ini wahai Tuhanku?’ Maka kartu tersebut diletakkan pada daun timbangan kebaikan, sehingga terangkatlah gulungan-gulungan tersebut.” [2]Yakni, daun timbangan kebaikan menjadi turun karena lebih berat, sedangkan daun timbangan yang lain akan naik. Sehingga gulungan-gulungan tersebut akan naik karena sedemikian beratnya kartu tersebut. Di dalam kartu tersebut tertulis laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Akan tetapi, apakah keutamaan ini didapatkan oleh setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah? Kalau demikian halnya, maka tidak ada seorang pun dari ahli tauhid yang masuk neraka. Karena Allah Ta’ala juga mengancam ahli tauhid yang melakukan dosa besar atau dosa lainnya bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu, kemudian membersihkannya, dan memasukkannya ke dalam surga.Akan tetapi, ini adalah keadaan khusus dimana tauhid di hati seseorang sangat besar. Demikian pula kecintaannya kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam serta keikhlasannya kepada Allah. Dia beriman kepada Allah Ta’ala dengan mentauhidkan-Nya di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Tidaklah dia beribadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia mencintai tauhid dan orang yang bertauhid, serta membenci kesyirikan dan pelakunya. Maka kartu inilah yang membedakannya dari seluruh umat yang lain sehingga terangkatlah lembaran-lembaran dosanya melawan besarnya keagungan tauhid.Demikian pula, jika tauhid dalam hati seseorang sangat besar, maka hampir-hampir dia tidak akan berani untuk melakukan dosa atau terus-menerus terjatuh ke dalam dosa besar. Maka hal ini merupakan keadaan yang khusus bagi hamba tersebut yang membedakannya di hadapan manusia atau yang lainnya, dimana dia memiliki dosa yang sangat banyak, akan tetapi tauhid dan keikhlasannya kepada Allah Ta’ala juga sangat besar.Hal ini akan memikat setiap orang dan memikat setiap di antara kita yang tidak dapat menjaga dirinya dari maksiat dan dosa. Atau yang mengerjakan dosa dan sedikit berbuat kebaikan. Setiap kali ilmu seorang hamba terhadap Rabb-nya bertambah, dia akan mengetahui bahwa dirinya membutuhkan sesuatu yang dapat membersihkannya dari dosa dan kesalahan, serta dari sedikit melaksanakan kewajiban.Baca Juga: Mengapa Kemaksiatan Tetap Ada Di Bulan Ramadhan? Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki [Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Lafadz hadits sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim adalah:أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟“Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu, hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu, dan juga haji menghapuskan dosa yang telah lalu?” (HR. Muslim no. 121)[2] HR. Tirmidzi no. 2644; Ibnu Hibban no. 2523; al-Hakim, 1/6; dan An-Nasai no. 4300. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2563.🔍 Berlindung Kepada Allah, Apa Yang Dimaksud Dengan Jihad, Tanya Jawab Tentang Sabar, Ulama Pewaris Nabi, Hukum Membaca Al Quran


Baca pembahasan sebelumnya Tauhid sebagai Sebab Penggugur Dosa (Bag. 1)Islam dapat menghapus dosa dan kesalahan sebelumnyaAhli tauhid adalah orang-orang yang membersihkan tauhid mereka dari kesyirikan. Hal ini bisa diraih dengan mewujudkan dua kalimat syahadat, yaitu syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الإسلام – يعني التوحيد – يجب ما قبله، والهجرة تجب ما قبلها”Islam (yakni tauhid) akan menghapus (dosa) yang sebelumnya. Dan hijrah juga akan menghapus (dosa) yang sebelumnya.” (HR. Muslim) [1]Orang-orang yang mewujudkan Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah dengan mengharap wajah-Nya tanpa disertai kemunafikan dan riya’, berlepas diri dari kesyirikan dan mengingkari thaghut, dan mengetahui makna dua kalimat syahadat, maka Islam yang seperti ini akan menghapus (dosa-dosa) sebelumnya. Oleh karena itu, yang pertama kali didapatkan oleh seorang hamba ketika masuk Islam adalah keislamannya itu akan menghapus dosa dan kesalahnnya di masa lampau, meskipun dosa yang terbesar, yaitu syirik akbar kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Berzina Lalu Menikah, Sahkah Pernikahannya?Ber-Islam adalah sarana terpenting untuk bertaubat. Islam juga merupakan sarana pengampunan dosa, meskipun syirik akbar. Maka bagaimana lagi dengan dosa di bawahnya seperti syirik ashghar, dosa besar, atau dosa secara umum lainnya? Dengan tauhid kepada Allah Ta’ala dan berlepas diri dari kesyirikan, maka akan terhapuslah dosa-dosa seorang hamba sebelumnya, apa pun bentuknya. Meskipun syirik akbar, membunuh, mengambil harta, melanggar kehormatan, atau terjatuh ke dalam dosa besar. Maka semua yang sebelum Islam akan diampuni dengan sebab keislamannya. Islam akan menghapus dosa sebelumnya.Allah akan memberikan keutamaan bagi setiap muslim dengan mengampuni dosa-dosanya di akhirat –jika dia adalah seorang muslim muwahhid– sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala, dan di dunia jika dia bertaubat dengan benar. Barangsiapa yang bertaubat, maka tauhidnya akan memberikan manfaat baginya dari segala dosa, sehingga dosa-dosanya akan diampuni. Dan barangsiapa yang mengerjakan dosa yang tingkatannya di bawah dosa besar di dunia, maka tauhid dan amal shalihnya akan menghapus dosa-dosa kecilnya tersebut. Baca Juga: Pernah Berzina Di Mushala, Bagaimana Taubatnya?Hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa terampuniAdapun hakikat tauhid yang dapat menyebabkan dosa-dosa diampuni adalah seseorang tidak menyembah kecuali Allah Ta’ala semata. Seorang hamba mengetahui makna syahadat tentang Allah dengan meng-esa-kanNya, dan tentang Nabi-Nya dengan risalah-nya. Tauhid -yang memiliki keutamaan dapat mengampuni dosa- adalah Engkau mengetahui makna syahadat laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Engkau bersaksi dengan syahadat yang agung ini secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam riwayat yang lain, ”Allah akan mengharamkan neraka baginya”. Barangsiapa yang bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka keutamaan pertama kali yang akan didapatkan –dengan derajat paling rendah sebagaimana penjelasan yang akan datang- adalah Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam surga sebagai sebuah janji dari-Nya. Allah Ta’ala juga akan mengharamkan neraka baginya sebagai sebuah janji dari-Nya. Sedangkan janji Allah Ta’ala pasti benar dan jujur.Baca Juga: Inilah Peran Wanita Dalam DakwahDalam hadits dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan keutamaan dua kalimat syahadat,إنّه مَنْ قال لا إله إلا الله أو من شهد أنه لا إله إلا الله وأني رسول الله حرم الله عليه النار”Barangsiapa yang mengatakan tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, atau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan sesungguhnya aku (Muhammad) adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam teks yang lain, ”maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya”, seperti yang terdapat di dalam hadits Ubadah. Ini semua adalah keutamaan dan pengaruh dari tauhid yang agung.Baca Juga: Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan WanitaPengelompokan ahli tauhidDi sini kita perlu mencermati dua masalah berikut ini: Apakah makna tauhid ini -yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya; berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya; mengingkari thaghut; meninggalkan syirik, baik besar maupun kecil- yang dapat memasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya? Apakah makna bahwa Allah Ta’ala mengharamkan neraka baginya? Adapun masalah yang pertama, yaitu akan dimasukkan ke dalam surga betapa pun amal yang diperbuatnya, maksudnya adalah “tempat kembali ahli tauhid adalah di surga”.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetBeberapa kelompok ahli tauhid:Pertama adalah kelompok yang men-tahqiq (mewujudkan) tauhidKedua adalah kelompok yang di dalam tauhidnya tercampur antara amal yang baik dan amal yang burukKetiga adalah kelompok yang bertauhid, namun membawa dosa yang banyak sekali.Golongan yang pertamaBarangsiapa yang men-tahqiq tauhid maka akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Makna men-tahqiq tauhid adalah menyempurnakan tauhid, sehingga dia ikhlas kepada Rabb-nya, takut dan berharap kepada-Nya. Men-tahqiq tauhid juga berarti membersihkan diri dari syirik besar dan kecil, dari sarana yang mengantarkan kepada syirik besar dan kecil, dari bid’ah baik yang besar maupun yang kecil, serta dari maksiat dan dosa baik besar maupun kecil. Kecuali orang-orang yang bertaubat apabila berbuat dosa serta beramal shalih sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.Keutamaan tauhid bagi orang seperti ini adalah bahwa akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab berjumlah tujuh puluh ribu sesuai dengan dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa di antara umat ini pada saat hari kiamat terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Ini adalah sesuatu dimana kita berlomba-lomba untuk meraihnya.Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Golongan yang keduaMereka adalah orang-orang yang mengamalkan tauhid, mentauhidkan Allah di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Mereka membersihkan diri dari kesyirikan sebagai bentuk pelaksanaan dari firman Allah Ta’ala,فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا”Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka kerjakanlah amal shalih dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al-Kahfi : 110)Akan tetapi, tercampur dalam amal mereka antara amal shalih dan amal yang buruk. Maka keutamaan tauhid bagi mereka adalah: Apabila mereka bertaubat, maka Allah Ta’ala akan menerima taubatnya. Jika mereka bertemu Allah Ta’ala dengan membawa dosa besar dan belum bertaubat, maka Allah Ta’ala mengampuni dosa tersebut bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Yaitu tanpa menghisabnya, Allah Ta’ala mengampuninya sesuai dengan kehendak-Nya. Di antara mereka, amal buruk mereka ditimbang dan Allah Ta’ala memenangkan tauhid atas amal Baca Baca Juga:Juga:buruknya tersebut sebagai sebuah anugerah dari Allah Ta’ala. Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaGolongan yang ketigaMereka adalah orang-orang yang bertauhid. Keikhlasan dan tauhid mereka sangat kuat, demikian pula penjagaannya terhadap tauhid, berlepas dirinya dari kesyirikan, kebencian mereka terhadap kesyirikan dan kekufuran serta orang-orangnya, dan pengingkaran mereka terhadap thaghut. Akan tetapi, kesalahan dan dosa mereka juga banyak sekali.Mereka digambarkan sebagai seorang lelaki yang datang pada hari kiamat sebagaimana yang terdapat di dalam hadits,”Seorang lelaki datang pada hari kiamat di hadapan seluruh manusia. Ketika itu dibentangkan sembilan puluh sembilan lembaran catatan dosa-dosanya. Setiap lembaran jauhnya sejauh mata memandang, di dalamnya terdapat (catatan) kesalahan dan dosanya. Ketika melihat hal itu, dia merasa takut dan gelisah. Maka Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Apakah ada yang Engkau ingkari dari semua ini?’ Dia menjawab, ’Aku tidak mengingkari sedikit pun’.Maka diletakkanlah lembaran-lembaran tersebut pada daun timbangan kejelekan, sehingga menjadi lebih berat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepadanya lagi (yang artinya), ’Apakah Engkau memiliki amal?’ Dia menjawab, ’Tidak wahai Tuhanku’. Allah Ta’ala berfirman kepadanya (yang artinya), ’Sekali-kali tidak’. Kemudian Allah Ta’ala mengeluarkan sebuah kartu. Dia bertanya, ’Apakah ini wahai Tuhanku?’ Maka kartu tersebut diletakkan pada daun timbangan kebaikan, sehingga terangkatlah gulungan-gulungan tersebut.” [2]Yakni, daun timbangan kebaikan menjadi turun karena lebih berat, sedangkan daun timbangan yang lain akan naik. Sehingga gulungan-gulungan tersebut akan naik karena sedemikian beratnya kartu tersebut. Di dalam kartu tersebut tertulis laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?Akan tetapi, apakah keutamaan ini didapatkan oleh setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah? Kalau demikian halnya, maka tidak ada seorang pun dari ahli tauhid yang masuk neraka. Karena Allah Ta’ala juga mengancam ahli tauhid yang melakukan dosa besar atau dosa lainnya bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu, kemudian membersihkannya, dan memasukkannya ke dalam surga.Akan tetapi, ini adalah keadaan khusus dimana tauhid di hati seseorang sangat besar. Demikian pula kecintaannya kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam serta keikhlasannya kepada Allah. Dia beriman kepada Allah Ta’ala dengan mentauhidkan-Nya di dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Tidaklah dia beribadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia mencintai tauhid dan orang yang bertauhid, serta membenci kesyirikan dan pelakunya. Maka kartu inilah yang membedakannya dari seluruh umat yang lain sehingga terangkatlah lembaran-lembaran dosanya melawan besarnya keagungan tauhid.Demikian pula, jika tauhid dalam hati seseorang sangat besar, maka hampir-hampir dia tidak akan berani untuk melakukan dosa atau terus-menerus terjatuh ke dalam dosa besar. Maka hal ini merupakan keadaan yang khusus bagi hamba tersebut yang membedakannya di hadapan manusia atau yang lainnya, dimana dia memiliki dosa yang sangat banyak, akan tetapi tauhid dan keikhlasannya kepada Allah Ta’ala juga sangat besar.Hal ini akan memikat setiap orang dan memikat setiap di antara kita yang tidak dapat menjaga dirinya dari maksiat dan dosa. Atau yang mengerjakan dosa dan sedikit berbuat kebaikan. Setiap kali ilmu seorang hamba terhadap Rabb-nya bertambah, dia akan mengetahui bahwa dirinya membutuhkan sesuatu yang dapat membersihkannya dari dosa dan kesalahan, serta dari sedikit melaksanakan kewajiban.Baca Juga: Mengapa Kemaksiatan Tetap Ada Di Bulan Ramadhan? Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki [Bersambung]***@Jogjakarta, 24 Jumadil awwal 1440/ 30 Januari 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:[1] Lafadz hadits sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim adalah:أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟“Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam menghapuskan dosa yang telah lalu, hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu, dan juga haji menghapuskan dosa yang telah lalu?” (HR. Muslim no. 121)[2] HR. Tirmidzi no. 2644; Ibnu Hibban no. 2523; al-Hakim, 1/6; dan An-Nasai no. 4300. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2563.🔍 Berlindung Kepada Allah, Apa Yang Dimaksud Dengan Jihad, Tanya Jawab Tentang Sabar, Ulama Pewaris Nabi, Hukum Membaca Al Quran

Suara Sandal Bilal dan Shalat Sunnah Wudhu

Bilal masuk surga dan suara sandalnya sudah terdengar di surga karena ia terus rutinkan shalat sunnah setelah wudhu.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ اسْتِحْبَابِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الوُضُوْءِ 209. Bab Sunnahnya Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu   Hadits #1146 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   Faedah Hadits   Amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama dari amalan yang dilakukan terang-terangan. Hadits ini menunjukkan anjuran untuk melakukan shalat sunnah setelah wudhu. Hadits ini menunjukkan ada amalan kecil berpahala besar. Allah yang memperbesar balasan suatu amalan setelah Allah mempermudah hamba untuk beramal. Boleh bertanya pada orang saleh tentang amalan dia yang istimewa sehingga bisa dicontoh. Boleh seorang guru bertanya pada muridnya tentang suatu amalan supaya memotivasinya untuk terus beramal jika itu amalan baik, atau bisa jadi dilarang jika itu amalan jelek. Hadits ini menunjukkan keutamaan sahabat Bilal. Dianjurkan untuk menjaga wudhu. Masuk surga itu dengan rahmat Allah, sedangkan derajat di surga sesuai amalan hamba. Surga dan neraka adalah makhluk Allah yang sudah ada saat ini. Shalat sunnah wudhu bisa dilakukan di waktu terlarang sekali pun. Shalat sunnah wudhu bisa diniatkan dengan shalat rawatib atau non-rawatib, yang penting mengerjakan dua rakaat setelah wudhu.   Keutamaan Shalat Sunnah Wudhu Lainnya   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu,ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِل بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ “Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga.” (HR. Muslim, no. 234) Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Di dalamnya ada anjuran shalat dua rakaat setelah berwudhu.” Yang dianjurkan adalah melaksanakan langsung setelah berwudhu. Imam Nawawi rahimahullah berkomentar, “Dianjurkan dua rakaat setelah wudhu karena ada hadits shahih tentang itu.” (Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab, 3:376) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dianjurkan shalat dua rakaat setelah berwudhu meskipun pada waktu yang dilarang untuk shalat, hal itu dikatakan oleh Syafi’iyyah.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 5:345) Zakariya Al-Anshari dalam kitab ‘Asna Al-Mathalib (1:44) mengatakan, “Dianjurkan bagi yang berwudhu, shalat dua rakaat setelah wudhu pada waktu kapan pun.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramadhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Majmu’ Syarh Al-Muadzdzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Abu Zakariyya Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. — Disusun di #darushsholihin, 27 Rajab 1440 H (3 Maret 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan bilal shalat sunnah wudhu amalan sahabat bilal cara shalat sunnah wudhu keutamaan bilal riyadhus sholihin shalat sunnah wudhu shalat wudhu

Suara Sandal Bilal dan Shalat Sunnah Wudhu

Bilal masuk surga dan suara sandalnya sudah terdengar di surga karena ia terus rutinkan shalat sunnah setelah wudhu.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ اسْتِحْبَابِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الوُضُوْءِ 209. Bab Sunnahnya Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu   Hadits #1146 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   Faedah Hadits   Amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama dari amalan yang dilakukan terang-terangan. Hadits ini menunjukkan anjuran untuk melakukan shalat sunnah setelah wudhu. Hadits ini menunjukkan ada amalan kecil berpahala besar. Allah yang memperbesar balasan suatu amalan setelah Allah mempermudah hamba untuk beramal. Boleh bertanya pada orang saleh tentang amalan dia yang istimewa sehingga bisa dicontoh. Boleh seorang guru bertanya pada muridnya tentang suatu amalan supaya memotivasinya untuk terus beramal jika itu amalan baik, atau bisa jadi dilarang jika itu amalan jelek. Hadits ini menunjukkan keutamaan sahabat Bilal. Dianjurkan untuk menjaga wudhu. Masuk surga itu dengan rahmat Allah, sedangkan derajat di surga sesuai amalan hamba. Surga dan neraka adalah makhluk Allah yang sudah ada saat ini. Shalat sunnah wudhu bisa dilakukan di waktu terlarang sekali pun. Shalat sunnah wudhu bisa diniatkan dengan shalat rawatib atau non-rawatib, yang penting mengerjakan dua rakaat setelah wudhu.   Keutamaan Shalat Sunnah Wudhu Lainnya   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu,ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِل بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ “Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga.” (HR. Muslim, no. 234) Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Di dalamnya ada anjuran shalat dua rakaat setelah berwudhu.” Yang dianjurkan adalah melaksanakan langsung setelah berwudhu. Imam Nawawi rahimahullah berkomentar, “Dianjurkan dua rakaat setelah wudhu karena ada hadits shahih tentang itu.” (Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab, 3:376) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dianjurkan shalat dua rakaat setelah berwudhu meskipun pada waktu yang dilarang untuk shalat, hal itu dikatakan oleh Syafi’iyyah.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 5:345) Zakariya Al-Anshari dalam kitab ‘Asna Al-Mathalib (1:44) mengatakan, “Dianjurkan bagi yang berwudhu, shalat dua rakaat setelah wudhu pada waktu kapan pun.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramadhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Majmu’ Syarh Al-Muadzdzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Abu Zakariyya Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. — Disusun di #darushsholihin, 27 Rajab 1440 H (3 Maret 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan bilal shalat sunnah wudhu amalan sahabat bilal cara shalat sunnah wudhu keutamaan bilal riyadhus sholihin shalat sunnah wudhu shalat wudhu
Bilal masuk surga dan suara sandalnya sudah terdengar di surga karena ia terus rutinkan shalat sunnah setelah wudhu.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ اسْتِحْبَابِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الوُضُوْءِ 209. Bab Sunnahnya Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu   Hadits #1146 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   Faedah Hadits   Amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama dari amalan yang dilakukan terang-terangan. Hadits ini menunjukkan anjuran untuk melakukan shalat sunnah setelah wudhu. Hadits ini menunjukkan ada amalan kecil berpahala besar. Allah yang memperbesar balasan suatu amalan setelah Allah mempermudah hamba untuk beramal. Boleh bertanya pada orang saleh tentang amalan dia yang istimewa sehingga bisa dicontoh. Boleh seorang guru bertanya pada muridnya tentang suatu amalan supaya memotivasinya untuk terus beramal jika itu amalan baik, atau bisa jadi dilarang jika itu amalan jelek. Hadits ini menunjukkan keutamaan sahabat Bilal. Dianjurkan untuk menjaga wudhu. Masuk surga itu dengan rahmat Allah, sedangkan derajat di surga sesuai amalan hamba. Surga dan neraka adalah makhluk Allah yang sudah ada saat ini. Shalat sunnah wudhu bisa dilakukan di waktu terlarang sekali pun. Shalat sunnah wudhu bisa diniatkan dengan shalat rawatib atau non-rawatib, yang penting mengerjakan dua rakaat setelah wudhu.   Keutamaan Shalat Sunnah Wudhu Lainnya   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu,ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِل بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ “Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga.” (HR. Muslim, no. 234) Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Di dalamnya ada anjuran shalat dua rakaat setelah berwudhu.” Yang dianjurkan adalah melaksanakan langsung setelah berwudhu. Imam Nawawi rahimahullah berkomentar, “Dianjurkan dua rakaat setelah wudhu karena ada hadits shahih tentang itu.” (Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab, 3:376) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dianjurkan shalat dua rakaat setelah berwudhu meskipun pada waktu yang dilarang untuk shalat, hal itu dikatakan oleh Syafi’iyyah.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 5:345) Zakariya Al-Anshari dalam kitab ‘Asna Al-Mathalib (1:44) mengatakan, “Dianjurkan bagi yang berwudhu, shalat dua rakaat setelah wudhu pada waktu kapan pun.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramadhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Majmu’ Syarh Al-Muadzdzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Abu Zakariyya Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. — Disusun di #darushsholihin, 27 Rajab 1440 H (3 Maret 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan bilal shalat sunnah wudhu amalan sahabat bilal cara shalat sunnah wudhu keutamaan bilal riyadhus sholihin shalat sunnah wudhu shalat wudhu


Bilal masuk surga dan suara sandalnya sudah terdengar di surga karena ia terus rutinkan shalat sunnah setelah wudhu.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail بَابُ اسْتِحْبَابِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الوُضُوْءِ 209. Bab Sunnahnya Shalat Dua Rakaat Setelah Wudhu   Hadits #1146 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِبِلاَلٍ: «يَا بِلاَلُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ،وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِي. «الدَّفُّ» بِالفَاءِ: صَوْتُ النَّعْلِ وَحَرَكَتُهُ عَلَى الأَرْضِ، واللهُ أعْلَم. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafal hadits ini adalah milik Bukhari) [HR. Bukhari, no. 443 dan Muslim, no. 715]. Ad-daffu adalah suara sandal dan gerakannya di atas tanah, wallahu a’lam.   Faedah Hadits   Amalan yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama dari amalan yang dilakukan terang-terangan. Hadits ini menunjukkan anjuran untuk melakukan shalat sunnah setelah wudhu. Hadits ini menunjukkan ada amalan kecil berpahala besar. Allah yang memperbesar balasan suatu amalan setelah Allah mempermudah hamba untuk beramal. Boleh bertanya pada orang saleh tentang amalan dia yang istimewa sehingga bisa dicontoh. Boleh seorang guru bertanya pada muridnya tentang suatu amalan supaya memotivasinya untuk terus beramal jika itu amalan baik, atau bisa jadi dilarang jika itu amalan jelek. Hadits ini menunjukkan keutamaan sahabat Bilal. Dianjurkan untuk menjaga wudhu. Masuk surga itu dengan rahmat Allah, sedangkan derajat di surga sesuai amalan hamba. Surga dan neraka adalah makhluk Allah yang sudah ada saat ini. Shalat sunnah wudhu bisa dilakukan di waktu terlarang sekali pun. Shalat sunnah wudhu bisa diniatkan dengan shalat rawatib atau non-rawatib, yang penting mengerjakan dua rakaat setelah wudhu.   Keutamaan Shalat Sunnah Wudhu Lainnya   Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu,ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ يُقْبِل بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ عَلَيْهِمَا إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ “Tidaklah seseorang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya (mendapatkan) surga.” (HR. Muslim, no. 234) Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri melaksanakan dua rakaat dengan tidak mengucapkan pada dirinya (konsentrasi ketika shalat), maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 160 dan Muslim, no. 22) Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Di dalamnya ada anjuran shalat dua rakaat setelah berwudhu.” Yang dianjurkan adalah melaksanakan langsung setelah berwudhu. Imam Nawawi rahimahullah berkomentar, “Dianjurkan dua rakaat setelah wudhu karena ada hadits shahih tentang itu.” (Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab, 3:376) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dianjurkan shalat dua rakaat setelah berwudhu meskipun pada waktu yang dilarang untuk shalat, hal itu dikatakan oleh Syafi’iyyah.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 5:345) Zakariya Al-Anshari dalam kitab ‘Asna Al-Mathalib (1:44) mengatakan, “Dianjurkan bagi yang berwudhu, shalat dua rakaat setelah wudhu pada waktu kapan pun.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramadhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Al-Majmu’ Syarh Al-Muadzdzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Abu Zakariyya Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isbiliyya. — Disusun di #darushsholihin, 27 Rajab 1440 H (3 Maret 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsamalan bilal shalat sunnah wudhu amalan sahabat bilal cara shalat sunnah wudhu keutamaan bilal riyadhus sholihin shalat sunnah wudhu shalat wudhu
Prev     Next