Tafsir Ayat Puasa (16): Hubungan Intim Sebelum Shubuh Saat Ramadan

Bagaimana hukum hubungan intim sebelum Shubuh saat Ramadan? Hal ini bisa terjawab dari bahasan surah Al-Baqarah ayat 187 berikut ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Penjelasan Ayat   Penjelasan sebelumnya membahas tentang dibolehkannya hubungan intim di malam hari, ditambahkan lagi dengan halalnya makan dan minum hingga terbit fajar Shubuh sebelumnya gelap malam. Lalu diperintahkan untuk menyempurnakan puasa hingga malam hari (tenggelam matahari).   Maksud Benang Putih dari Benang Hitam   Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, وَأُنْزِلَتْ ( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) وَلَمْ يُنْزَلْ ( مِنَ الْفَجْرِ ) وَكَانَ رِجَالٌ إِذَا أَرَادُوا الصَّوْمَ رَبَطَ أَحَدُهُمْ فِى رِجْلَيْهِ الْخَيْطَ الأَبْيَضَ وَالْخَيْطَ الأَسْوَدَ ، وَلاَ يَزَالُ يَأْكُلُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُؤْيَتُهُمَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ بَعْدَهُ ( مِنَ الْفَجْرِ ) فَعَلِمُوا أَنَّمَا يَعْنِى اللَّيْلَ مِنَ النَّهَارِ “Ketika turun ayat, ‘Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, dan belum turun kalimat ‘مِنَ الْفَجْرِ’, dulu kalau seseorang ingin puasa, salah seorang dari mereka mengikat benang putih dan benang hitam pada kedua kakinya. Ia terus makan sampai terang padanya dengan melihat pada kedua benang tadi. Lantas Allah turunkan setelah itu, ‘مِنَ الْفَجْرِ’, yang dimaksud adalah terbitnya Fajar Shubuh. Akhirnya mereka baru memahami yang dimaksud ayat adalah datangnya siang yang sebelumnya gelap malam.” (HR. Bukhari, no. 4511 dan Muslim, no. 1091) Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَتْ ( حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ ، فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِى ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِى اللَّيْلِ ، فَلاَ يَسْتَبِينُ لِى ، فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ « إِنَّمَا ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ “Ketika turun ayat ‘hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, aku lantas menopang pada tali hitam dan tali putih. Aku menjadikannya di bawah bantalku. Aku terus memandangnya pada malam hari. Namun benang tersebut tidak nampak-nampak. Pagi hari, aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ceritakan yang kualami pada beliau, lantas beliau bersabda, ‘Yang dimaksud ayat adalah gelap malam dan terangnya siang.’” (HR. Bukhari, no. 1916 dan Muslim, no. 1090)   Faedah Ayat   Pertama: Kita disunnahkan untuk makan sahur. Dengan makan sahur akan lebih menguatkan kita dalam berpuasa, juga dalam makan sahur terdapat keberkahan. Tujuan makan sahur juga adalah untuk menyelisihi ahli kitab. Begitu pula makan sahur semakin menguatkan untuk shalat Shubuh. Allah dan malaikat-Nya pun bershalawat pada orang-orang yang makan sahur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad, 3:44. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain). Kedua: Siapa yang hubungan intim sebelum Fajar Shubuh, lantas akan terbit fajar Shuhuh dan ia melepaskannya segera, sehingga ia masuk puasa dalam keadaan junub, puasanya tetap sah. Dari Ummul Mukminin—Aisyah radhiyallahu ‘anha–, ia berkata, أشْهَدُ علَى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إنْ كانَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِن جِمَاعٍ غيرِ احْتِلَامٍ، ثُمَّ يَصُومُهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا علَى أُمِّ سَلَمَةَ فَقَالَتْ: مِثْلَ ذلكَ. “Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk Shubuh dalam keadaan junub karena jimak, bukan karena hubungan intim. Kemudian beliau tetap berpuasa.” Kami juga menemui Ummu Salamah, ia juga mengatakan semisal itu. (HR. Bukhari, no. 1931 dan Muslim, no. 1109) Ketiga: Ayat ini menunjukkan anjuran untuk menyegerakan berbuka. Segera berbuka puasa ini disunnahkan, tujuannya untuk menyelisihi ahli kitab dan mendekatkan diri kepada Allah. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban, 8:277 dan Ibnu Khuzaimah, 3:275. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1074). Keempat: Puasa wishal hanya khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah yang memberi beliau makan dan minum. Yang lebih baik untuk umat Islam adalah ketika tiba waktu berbuka, langsung berbuka puasa. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لاَ تُوَاصِلُوا ، فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ » . قَالُوا فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنِّى لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ ، إِنِّى أَبِيتُ لِى مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِى وَسَاقٍ يَسْقِينِ » “Janganlah kalian melakukan wishal. Jika salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga sahur (menjelang Shubuh).” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sendiri melakukan wishal.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Aku tidak seperti kalian. Di malam hari, aku diberi makan dan diberi minum.” (HR. Bukhari, no. 1963). Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #08 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagshubungan intim hubungan intim malam hari puasa hubungan intim puasa hubungan intim sebelum sahur hukum puasa mandi junub mandi junub puasa tafsir ayat puasa

Tafsir Ayat Puasa (16): Hubungan Intim Sebelum Shubuh Saat Ramadan

Bagaimana hukum hubungan intim sebelum Shubuh saat Ramadan? Hal ini bisa terjawab dari bahasan surah Al-Baqarah ayat 187 berikut ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Penjelasan Ayat   Penjelasan sebelumnya membahas tentang dibolehkannya hubungan intim di malam hari, ditambahkan lagi dengan halalnya makan dan minum hingga terbit fajar Shubuh sebelumnya gelap malam. Lalu diperintahkan untuk menyempurnakan puasa hingga malam hari (tenggelam matahari).   Maksud Benang Putih dari Benang Hitam   Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, وَأُنْزِلَتْ ( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) وَلَمْ يُنْزَلْ ( مِنَ الْفَجْرِ ) وَكَانَ رِجَالٌ إِذَا أَرَادُوا الصَّوْمَ رَبَطَ أَحَدُهُمْ فِى رِجْلَيْهِ الْخَيْطَ الأَبْيَضَ وَالْخَيْطَ الأَسْوَدَ ، وَلاَ يَزَالُ يَأْكُلُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُؤْيَتُهُمَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ بَعْدَهُ ( مِنَ الْفَجْرِ ) فَعَلِمُوا أَنَّمَا يَعْنِى اللَّيْلَ مِنَ النَّهَارِ “Ketika turun ayat, ‘Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, dan belum turun kalimat ‘مِنَ الْفَجْرِ’, dulu kalau seseorang ingin puasa, salah seorang dari mereka mengikat benang putih dan benang hitam pada kedua kakinya. Ia terus makan sampai terang padanya dengan melihat pada kedua benang tadi. Lantas Allah turunkan setelah itu, ‘مِنَ الْفَجْرِ’, yang dimaksud adalah terbitnya Fajar Shubuh. Akhirnya mereka baru memahami yang dimaksud ayat adalah datangnya siang yang sebelumnya gelap malam.” (HR. Bukhari, no. 4511 dan Muslim, no. 1091) Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَتْ ( حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ ، فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِى ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِى اللَّيْلِ ، فَلاَ يَسْتَبِينُ لِى ، فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ « إِنَّمَا ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ “Ketika turun ayat ‘hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, aku lantas menopang pada tali hitam dan tali putih. Aku menjadikannya di bawah bantalku. Aku terus memandangnya pada malam hari. Namun benang tersebut tidak nampak-nampak. Pagi hari, aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ceritakan yang kualami pada beliau, lantas beliau bersabda, ‘Yang dimaksud ayat adalah gelap malam dan terangnya siang.’” (HR. Bukhari, no. 1916 dan Muslim, no. 1090)   Faedah Ayat   Pertama: Kita disunnahkan untuk makan sahur. Dengan makan sahur akan lebih menguatkan kita dalam berpuasa, juga dalam makan sahur terdapat keberkahan. Tujuan makan sahur juga adalah untuk menyelisihi ahli kitab. Begitu pula makan sahur semakin menguatkan untuk shalat Shubuh. Allah dan malaikat-Nya pun bershalawat pada orang-orang yang makan sahur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad, 3:44. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain). Kedua: Siapa yang hubungan intim sebelum Fajar Shubuh, lantas akan terbit fajar Shuhuh dan ia melepaskannya segera, sehingga ia masuk puasa dalam keadaan junub, puasanya tetap sah. Dari Ummul Mukminin—Aisyah radhiyallahu ‘anha–, ia berkata, أشْهَدُ علَى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إنْ كانَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِن جِمَاعٍ غيرِ احْتِلَامٍ، ثُمَّ يَصُومُهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا علَى أُمِّ سَلَمَةَ فَقَالَتْ: مِثْلَ ذلكَ. “Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk Shubuh dalam keadaan junub karena jimak, bukan karena hubungan intim. Kemudian beliau tetap berpuasa.” Kami juga menemui Ummu Salamah, ia juga mengatakan semisal itu. (HR. Bukhari, no. 1931 dan Muslim, no. 1109) Ketiga: Ayat ini menunjukkan anjuran untuk menyegerakan berbuka. Segera berbuka puasa ini disunnahkan, tujuannya untuk menyelisihi ahli kitab dan mendekatkan diri kepada Allah. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban, 8:277 dan Ibnu Khuzaimah, 3:275. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1074). Keempat: Puasa wishal hanya khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah yang memberi beliau makan dan minum. Yang lebih baik untuk umat Islam adalah ketika tiba waktu berbuka, langsung berbuka puasa. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لاَ تُوَاصِلُوا ، فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ » . قَالُوا فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنِّى لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ ، إِنِّى أَبِيتُ لِى مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِى وَسَاقٍ يَسْقِينِ » “Janganlah kalian melakukan wishal. Jika salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga sahur (menjelang Shubuh).” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sendiri melakukan wishal.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Aku tidak seperti kalian. Di malam hari, aku diberi makan dan diberi minum.” (HR. Bukhari, no. 1963). Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #08 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagshubungan intim hubungan intim malam hari puasa hubungan intim puasa hubungan intim sebelum sahur hukum puasa mandi junub mandi junub puasa tafsir ayat puasa
Bagaimana hukum hubungan intim sebelum Shubuh saat Ramadan? Hal ini bisa terjawab dari bahasan surah Al-Baqarah ayat 187 berikut ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Penjelasan Ayat   Penjelasan sebelumnya membahas tentang dibolehkannya hubungan intim di malam hari, ditambahkan lagi dengan halalnya makan dan minum hingga terbit fajar Shubuh sebelumnya gelap malam. Lalu diperintahkan untuk menyempurnakan puasa hingga malam hari (tenggelam matahari).   Maksud Benang Putih dari Benang Hitam   Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, وَأُنْزِلَتْ ( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) وَلَمْ يُنْزَلْ ( مِنَ الْفَجْرِ ) وَكَانَ رِجَالٌ إِذَا أَرَادُوا الصَّوْمَ رَبَطَ أَحَدُهُمْ فِى رِجْلَيْهِ الْخَيْطَ الأَبْيَضَ وَالْخَيْطَ الأَسْوَدَ ، وَلاَ يَزَالُ يَأْكُلُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُؤْيَتُهُمَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ بَعْدَهُ ( مِنَ الْفَجْرِ ) فَعَلِمُوا أَنَّمَا يَعْنِى اللَّيْلَ مِنَ النَّهَارِ “Ketika turun ayat, ‘Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, dan belum turun kalimat ‘مِنَ الْفَجْرِ’, dulu kalau seseorang ingin puasa, salah seorang dari mereka mengikat benang putih dan benang hitam pada kedua kakinya. Ia terus makan sampai terang padanya dengan melihat pada kedua benang tadi. Lantas Allah turunkan setelah itu, ‘مِنَ الْفَجْرِ’, yang dimaksud adalah terbitnya Fajar Shubuh. Akhirnya mereka baru memahami yang dimaksud ayat adalah datangnya siang yang sebelumnya gelap malam.” (HR. Bukhari, no. 4511 dan Muslim, no. 1091) Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَتْ ( حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ ، فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِى ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِى اللَّيْلِ ، فَلاَ يَسْتَبِينُ لِى ، فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ « إِنَّمَا ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ “Ketika turun ayat ‘hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, aku lantas menopang pada tali hitam dan tali putih. Aku menjadikannya di bawah bantalku. Aku terus memandangnya pada malam hari. Namun benang tersebut tidak nampak-nampak. Pagi hari, aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ceritakan yang kualami pada beliau, lantas beliau bersabda, ‘Yang dimaksud ayat adalah gelap malam dan terangnya siang.’” (HR. Bukhari, no. 1916 dan Muslim, no. 1090)   Faedah Ayat   Pertama: Kita disunnahkan untuk makan sahur. Dengan makan sahur akan lebih menguatkan kita dalam berpuasa, juga dalam makan sahur terdapat keberkahan. Tujuan makan sahur juga adalah untuk menyelisihi ahli kitab. Begitu pula makan sahur semakin menguatkan untuk shalat Shubuh. Allah dan malaikat-Nya pun bershalawat pada orang-orang yang makan sahur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad, 3:44. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain). Kedua: Siapa yang hubungan intim sebelum Fajar Shubuh, lantas akan terbit fajar Shuhuh dan ia melepaskannya segera, sehingga ia masuk puasa dalam keadaan junub, puasanya tetap sah. Dari Ummul Mukminin—Aisyah radhiyallahu ‘anha–, ia berkata, أشْهَدُ علَى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إنْ كانَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِن جِمَاعٍ غيرِ احْتِلَامٍ، ثُمَّ يَصُومُهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا علَى أُمِّ سَلَمَةَ فَقَالَتْ: مِثْلَ ذلكَ. “Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk Shubuh dalam keadaan junub karena jimak, bukan karena hubungan intim. Kemudian beliau tetap berpuasa.” Kami juga menemui Ummu Salamah, ia juga mengatakan semisal itu. (HR. Bukhari, no. 1931 dan Muslim, no. 1109) Ketiga: Ayat ini menunjukkan anjuran untuk menyegerakan berbuka. Segera berbuka puasa ini disunnahkan, tujuannya untuk menyelisihi ahli kitab dan mendekatkan diri kepada Allah. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban, 8:277 dan Ibnu Khuzaimah, 3:275. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1074). Keempat: Puasa wishal hanya khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah yang memberi beliau makan dan minum. Yang lebih baik untuk umat Islam adalah ketika tiba waktu berbuka, langsung berbuka puasa. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لاَ تُوَاصِلُوا ، فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ » . قَالُوا فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنِّى لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ ، إِنِّى أَبِيتُ لِى مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِى وَسَاقٍ يَسْقِينِ » “Janganlah kalian melakukan wishal. Jika salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga sahur (menjelang Shubuh).” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sendiri melakukan wishal.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Aku tidak seperti kalian. Di malam hari, aku diberi makan dan diberi minum.” (HR. Bukhari, no. 1963). Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #08 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagshubungan intim hubungan intim malam hari puasa hubungan intim puasa hubungan intim sebelum sahur hukum puasa mandi junub mandi junub puasa tafsir ayat puasa


Bagaimana hukum hubungan intim sebelum Shubuh saat Ramadan? Hal ini bisa terjawab dari bahasan surah Al-Baqarah ayat 187 berikut ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Penjelasan Ayat   Penjelasan sebelumnya membahas tentang dibolehkannya hubungan intim di malam hari, ditambahkan lagi dengan halalnya makan dan minum hingga terbit fajar Shubuh sebelumnya gelap malam. Lalu diperintahkan untuk menyempurnakan puasa hingga malam hari (tenggelam matahari).   Maksud Benang Putih dari Benang Hitam   Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, وَأُنْزِلَتْ ( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) وَلَمْ يُنْزَلْ ( مِنَ الْفَجْرِ ) وَكَانَ رِجَالٌ إِذَا أَرَادُوا الصَّوْمَ رَبَطَ أَحَدُهُمْ فِى رِجْلَيْهِ الْخَيْطَ الأَبْيَضَ وَالْخَيْطَ الأَسْوَدَ ، وَلاَ يَزَالُ يَأْكُلُ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ رُؤْيَتُهُمَا ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ بَعْدَهُ ( مِنَ الْفَجْرِ ) فَعَلِمُوا أَنَّمَا يَعْنِى اللَّيْلَ مِنَ النَّهَارِ “Ketika turun ayat, ‘Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, dan belum turun kalimat ‘مِنَ الْفَجْرِ’, dulu kalau seseorang ingin puasa, salah seorang dari mereka mengikat benang putih dan benang hitam pada kedua kakinya. Ia terus makan sampai terang padanya dengan melihat pada kedua benang tadi. Lantas Allah turunkan setelah itu, ‘مِنَ الْفَجْرِ’, yang dimaksud adalah terbitnya Fajar Shubuh. Akhirnya mereka baru memahami yang dimaksud ayat adalah datangnya siang yang sebelumnya gelap malam.” (HR. Bukhari, no. 4511 dan Muslim, no. 1091) Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَتْ ( حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ ) عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ ، فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِى ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِى اللَّيْلِ ، فَلاَ يَسْتَبِينُ لِى ، فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرْتُ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ « إِنَّمَا ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ “Ketika turun ayat ‘hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, aku lantas menopang pada tali hitam dan tali putih. Aku menjadikannya di bawah bantalku. Aku terus memandangnya pada malam hari. Namun benang tersebut tidak nampak-nampak. Pagi hari, aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku ceritakan yang kualami pada beliau, lantas beliau bersabda, ‘Yang dimaksud ayat adalah gelap malam dan terangnya siang.’” (HR. Bukhari, no. 1916 dan Muslim, no. 1090)   Faedah Ayat   Pertama: Kita disunnahkan untuk makan sahur. Dengan makan sahur akan lebih menguatkan kita dalam berpuasa, juga dalam makan sahur terdapat keberkahan. Tujuan makan sahur juga adalah untuk menyelisihi ahli kitab. Begitu pula makan sahur semakin menguatkan untuk shalat Shubuh. Allah dan malaikat-Nya pun bershalawat pada orang-orang yang makan sahur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad, 3:44. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain). Kedua: Siapa yang hubungan intim sebelum Fajar Shubuh, lantas akan terbit fajar Shuhuh dan ia melepaskannya segera, sehingga ia masuk puasa dalam keadaan junub, puasanya tetap sah. Dari Ummul Mukminin—Aisyah radhiyallahu ‘anha–, ia berkata, أشْهَدُ علَى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إنْ كانَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِن جِمَاعٍ غيرِ احْتِلَامٍ، ثُمَّ يَصُومُهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا علَى أُمِّ سَلَمَةَ فَقَالَتْ: مِثْلَ ذلكَ. “Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk Shubuh dalam keadaan junub karena jimak, bukan karena hubungan intim. Kemudian beliau tetap berpuasa.” Kami juga menemui Ummu Salamah, ia juga mengatakan semisal itu. (HR. Bukhari, no. 1931 dan Muslim, no. 1109) Ketiga: Ayat ini menunjukkan anjuran untuk menyegerakan berbuka. Segera berbuka puasa ini disunnahkan, tujuannya untuk menyelisihi ahli kitab dan mendekatkan diri kepada Allah. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1098) Dalam hadits yang lain disebutkan, لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban, 8:277 dan Ibnu Khuzaimah, 3:275. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1074). Keempat: Puasa wishal hanya khusus untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah yang memberi beliau makan dan minum. Yang lebih baik untuk umat Islam adalah ketika tiba waktu berbuka, langsung berbuka puasa. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « لاَ تُوَاصِلُوا ، فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ » . قَالُوا فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنِّى لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ ، إِنِّى أَبِيتُ لِى مُطْعِمٌ يُطْعِمُنِى وَسَاقٍ يَسْقِينِ » “Janganlah kalian melakukan wishal. Jika salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga sahur (menjelang Shubuh).” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sendiri melakukan wishal.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Aku tidak seperti kalian. Di malam hari, aku diberi makan dan diberi minum.” (HR. Bukhari, no. 1963). Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #08 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagshubungan intim hubungan intim malam hari puasa hubungan intim puasa hubungan intim sebelum sahur hukum puasa mandi junub mandi junub puasa tafsir ayat puasa

Kapan Waktu Untuk Qailulah (Tidur di Siang hari)?

Disunnahkan Qailulah (Tidur Siang) Kapan ya waktu Qailulah ? ada yg bilang sebelum duhur ada yg bilang sesudah, yg bnr manakah? Ummu Humaira, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Nabi ﷺ bersabda, قِيلوا فإن الشياطين لا تَقيل Qailulah lah karena sungguh setan itu tidak Qailulah. (Dinilai Hasan oleh Syekh Albani dalam Shohih Al Jami’). Qailulah juga tersebut dalam Al Qur’an, diantaranya dalam surat Al-Furqon ayat 24 tentang kenikmatan surga, أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ يَوۡمَئِذٍ خَيۡرٞ مُّسۡتَقَرّٗا وَأَحۡسَنُ مَقِيلٗا Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat Qailulahnya. (QS. Al-Furqan : 24) Imam Al-Azhari menjelaskan makna Qoilulah yang tersebut dalam ayat di ini, القيلولة عند العرب الاستراحة نصف النهار إذا اشتد الحرّ، وإن لم يكن مع ذلك نوم، والدليل على ذلك أن الجنة لا نوم فيها Orang-orang Arab memahami Qailulah adalah istirahat pertengahan siang, saat terik matahari memuncak. Meski tidak disertai dengan tidur. Dalilnya adalah penduduk surga juga melakukan Qailulah namun mereka tidak tidur, karena di surga tidak ada tidur. Imam As-Shon’ani menyimpulkan sama, المقيل والقيلولة: الاستراحة نصف النهار، وإن لم يكن معها نوم Maqiil atau Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak disertai tidur. Penjelasan ini dikuatkan dengan adanya keterangan dari sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhuma, لا ينتصِف النهار يوم القيامة حتى يقيل أهل الجنة في الجنة وأهل النار في النار Di hari Kiamat nanti, siang tidaklah memuncak sampai penduduk surga ber-qailulah (istirahat siang) di surga dan penduduk neraka ber-qailulah di neraka. Dari keterangan di atas kita simpulkan bahwa : [1]. Qailulah termasuk ibadah yang disunahkan. Sebagaimana disimpulkan oleh Imam Syarbini rahimahullah, يسن للمتهجد القيلولة، وهي: النوم قبل الزوال، وهي بمنزلة السحور للصائم. Disunahkan bagi orang yang ingin melakukan sholat tahajud, untuk ber-qailulah, yaitu tidur sebelum duhur. Qailulah itu manfaatnya seperti sahur bagi orang yang puasa. Dan ini dinyatakan oleh mayoritas ulama (Jumhur). [2]. Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak harus dengan tidur. Kapan Waktu Qailulah? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini : Pertama, sebelum duhur. Diantara yang menegang pendapat ini adalah Imam Syarbini rahimahullah, dalam pernyataan beliau di atas. Kedua, setelah duhur. Ulama yang memegang pendapat ini diantaranya Al Munawi dan Al’aini –rahimahumallah-. Al Munawi menyatakan القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد Qailulah adalah, tidur di tengah siang, ketika matahari condong ke barat (waktu duhur)atau menjelang sebelum atau sesudahnya. Al ‘Aini juga menyatakan, القيلولة معناها النوم في الظهيرة Qailulah maknanya tidur di rentang waktu sholat duhur (pen, dari condong ke barat / Zawal, sampai ashar). Pendapat yang tepat –wallahua’lam-, adalah pendapat ke dua ini, yaitu waktu Qailulah adalah setelah masuk waktu duhur / atau setelah melaksanakan sholat dhuhur. Sebagaimana di jelaskan oleh sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم Dahulu kami di zaman Nabi ﷺ tidaklah ber- Qailulah atau makan siang kecuali bsetelah jumatan. (Riwayat Bukhori dan Muslim. Teks ini ada pada riwayat Imam Muslim) Wallahua’lam bis showab. Rujukan: – https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/31661/ – https://ar.islamway.net/article/32235/-%D9%82%D9%8A%D9%84%D9%88%D8%A7-%D9%81%D8%A5%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%A7%D8%B7%D9%8A%D9%86-%D9%84%D8%A7-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D9%84 *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Bekam, Hukum Istri Berzina Dengan Lelaki Lain, Hukum Bermesraan Dengan Istri Saat Puasa Ramadhan, Manusia Paling Sibuk Di Akhirat, Hukum Memasang Foto, Contoh Syirkah Dalam Kehidupan Sehari Hari Visited 626 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid

Kapan Waktu Untuk Qailulah (Tidur di Siang hari)?

Disunnahkan Qailulah (Tidur Siang) Kapan ya waktu Qailulah ? ada yg bilang sebelum duhur ada yg bilang sesudah, yg bnr manakah? Ummu Humaira, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Nabi ﷺ bersabda, قِيلوا فإن الشياطين لا تَقيل Qailulah lah karena sungguh setan itu tidak Qailulah. (Dinilai Hasan oleh Syekh Albani dalam Shohih Al Jami’). Qailulah juga tersebut dalam Al Qur’an, diantaranya dalam surat Al-Furqon ayat 24 tentang kenikmatan surga, أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ يَوۡمَئِذٍ خَيۡرٞ مُّسۡتَقَرّٗا وَأَحۡسَنُ مَقِيلٗا Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat Qailulahnya. (QS. Al-Furqan : 24) Imam Al-Azhari menjelaskan makna Qoilulah yang tersebut dalam ayat di ini, القيلولة عند العرب الاستراحة نصف النهار إذا اشتد الحرّ، وإن لم يكن مع ذلك نوم، والدليل على ذلك أن الجنة لا نوم فيها Orang-orang Arab memahami Qailulah adalah istirahat pertengahan siang, saat terik matahari memuncak. Meski tidak disertai dengan tidur. Dalilnya adalah penduduk surga juga melakukan Qailulah namun mereka tidak tidur, karena di surga tidak ada tidur. Imam As-Shon’ani menyimpulkan sama, المقيل والقيلولة: الاستراحة نصف النهار، وإن لم يكن معها نوم Maqiil atau Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak disertai tidur. Penjelasan ini dikuatkan dengan adanya keterangan dari sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhuma, لا ينتصِف النهار يوم القيامة حتى يقيل أهل الجنة في الجنة وأهل النار في النار Di hari Kiamat nanti, siang tidaklah memuncak sampai penduduk surga ber-qailulah (istirahat siang) di surga dan penduduk neraka ber-qailulah di neraka. Dari keterangan di atas kita simpulkan bahwa : [1]. Qailulah termasuk ibadah yang disunahkan. Sebagaimana disimpulkan oleh Imam Syarbini rahimahullah, يسن للمتهجد القيلولة، وهي: النوم قبل الزوال، وهي بمنزلة السحور للصائم. Disunahkan bagi orang yang ingin melakukan sholat tahajud, untuk ber-qailulah, yaitu tidur sebelum duhur. Qailulah itu manfaatnya seperti sahur bagi orang yang puasa. Dan ini dinyatakan oleh mayoritas ulama (Jumhur). [2]. Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak harus dengan tidur. Kapan Waktu Qailulah? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini : Pertama, sebelum duhur. Diantara yang menegang pendapat ini adalah Imam Syarbini rahimahullah, dalam pernyataan beliau di atas. Kedua, setelah duhur. Ulama yang memegang pendapat ini diantaranya Al Munawi dan Al’aini –rahimahumallah-. Al Munawi menyatakan القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد Qailulah adalah, tidur di tengah siang, ketika matahari condong ke barat (waktu duhur)atau menjelang sebelum atau sesudahnya. Al ‘Aini juga menyatakan, القيلولة معناها النوم في الظهيرة Qailulah maknanya tidur di rentang waktu sholat duhur (pen, dari condong ke barat / Zawal, sampai ashar). Pendapat yang tepat –wallahua’lam-, adalah pendapat ke dua ini, yaitu waktu Qailulah adalah setelah masuk waktu duhur / atau setelah melaksanakan sholat dhuhur. Sebagaimana di jelaskan oleh sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم Dahulu kami di zaman Nabi ﷺ tidaklah ber- Qailulah atau makan siang kecuali bsetelah jumatan. (Riwayat Bukhori dan Muslim. Teks ini ada pada riwayat Imam Muslim) Wallahua’lam bis showab. Rujukan: – https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/31661/ – https://ar.islamway.net/article/32235/-%D9%82%D9%8A%D9%84%D9%88%D8%A7-%D9%81%D8%A5%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%A7%D8%B7%D9%8A%D9%86-%D9%84%D8%A7-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D9%84 *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Bekam, Hukum Istri Berzina Dengan Lelaki Lain, Hukum Bermesraan Dengan Istri Saat Puasa Ramadhan, Manusia Paling Sibuk Di Akhirat, Hukum Memasang Foto, Contoh Syirkah Dalam Kehidupan Sehari Hari Visited 626 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid
Disunnahkan Qailulah (Tidur Siang) Kapan ya waktu Qailulah ? ada yg bilang sebelum duhur ada yg bilang sesudah, yg bnr manakah? Ummu Humaira, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Nabi ﷺ bersabda, قِيلوا فإن الشياطين لا تَقيل Qailulah lah karena sungguh setan itu tidak Qailulah. (Dinilai Hasan oleh Syekh Albani dalam Shohih Al Jami’). Qailulah juga tersebut dalam Al Qur’an, diantaranya dalam surat Al-Furqon ayat 24 tentang kenikmatan surga, أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ يَوۡمَئِذٍ خَيۡرٞ مُّسۡتَقَرّٗا وَأَحۡسَنُ مَقِيلٗا Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat Qailulahnya. (QS. Al-Furqan : 24) Imam Al-Azhari menjelaskan makna Qoilulah yang tersebut dalam ayat di ini, القيلولة عند العرب الاستراحة نصف النهار إذا اشتد الحرّ، وإن لم يكن مع ذلك نوم، والدليل على ذلك أن الجنة لا نوم فيها Orang-orang Arab memahami Qailulah adalah istirahat pertengahan siang, saat terik matahari memuncak. Meski tidak disertai dengan tidur. Dalilnya adalah penduduk surga juga melakukan Qailulah namun mereka tidak tidur, karena di surga tidak ada tidur. Imam As-Shon’ani menyimpulkan sama, المقيل والقيلولة: الاستراحة نصف النهار، وإن لم يكن معها نوم Maqiil atau Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak disertai tidur. Penjelasan ini dikuatkan dengan adanya keterangan dari sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhuma, لا ينتصِف النهار يوم القيامة حتى يقيل أهل الجنة في الجنة وأهل النار في النار Di hari Kiamat nanti, siang tidaklah memuncak sampai penduduk surga ber-qailulah (istirahat siang) di surga dan penduduk neraka ber-qailulah di neraka. Dari keterangan di atas kita simpulkan bahwa : [1]. Qailulah termasuk ibadah yang disunahkan. Sebagaimana disimpulkan oleh Imam Syarbini rahimahullah, يسن للمتهجد القيلولة، وهي: النوم قبل الزوال، وهي بمنزلة السحور للصائم. Disunahkan bagi orang yang ingin melakukan sholat tahajud, untuk ber-qailulah, yaitu tidur sebelum duhur. Qailulah itu manfaatnya seperti sahur bagi orang yang puasa. Dan ini dinyatakan oleh mayoritas ulama (Jumhur). [2]. Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak harus dengan tidur. Kapan Waktu Qailulah? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini : Pertama, sebelum duhur. Diantara yang menegang pendapat ini adalah Imam Syarbini rahimahullah, dalam pernyataan beliau di atas. Kedua, setelah duhur. Ulama yang memegang pendapat ini diantaranya Al Munawi dan Al’aini –rahimahumallah-. Al Munawi menyatakan القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد Qailulah adalah, tidur di tengah siang, ketika matahari condong ke barat (waktu duhur)atau menjelang sebelum atau sesudahnya. Al ‘Aini juga menyatakan, القيلولة معناها النوم في الظهيرة Qailulah maknanya tidur di rentang waktu sholat duhur (pen, dari condong ke barat / Zawal, sampai ashar). Pendapat yang tepat –wallahua’lam-, adalah pendapat ke dua ini, yaitu waktu Qailulah adalah setelah masuk waktu duhur / atau setelah melaksanakan sholat dhuhur. Sebagaimana di jelaskan oleh sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم Dahulu kami di zaman Nabi ﷺ tidaklah ber- Qailulah atau makan siang kecuali bsetelah jumatan. (Riwayat Bukhori dan Muslim. Teks ini ada pada riwayat Imam Muslim) Wallahua’lam bis showab. Rujukan: – https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/31661/ – https://ar.islamway.net/article/32235/-%D9%82%D9%8A%D9%84%D9%88%D8%A7-%D9%81%D8%A5%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%A7%D8%B7%D9%8A%D9%86-%D9%84%D8%A7-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D9%84 *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Bekam, Hukum Istri Berzina Dengan Lelaki Lain, Hukum Bermesraan Dengan Istri Saat Puasa Ramadhan, Manusia Paling Sibuk Di Akhirat, Hukum Memasang Foto, Contoh Syirkah Dalam Kehidupan Sehari Hari Visited 626 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/641186613&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Disunnahkan Qailulah (Tidur Siang) Kapan ya waktu Qailulah ? ada yg bilang sebelum duhur ada yg bilang sesudah, yg bnr manakah? Ummu Humaira, di Bantul. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Nabi ﷺ bersabda, قِيلوا فإن الشياطين لا تَقيل Qailulah lah karena sungguh setan itu tidak Qailulah. (Dinilai Hasan oleh Syekh Albani dalam Shohih Al Jami’). Qailulah juga tersebut dalam Al Qur’an, diantaranya dalam surat Al-Furqon ayat 24 tentang kenikmatan surga, أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ يَوۡمَئِذٍ خَيۡرٞ مُّسۡتَقَرّٗا وَأَحۡسَنُ مَقِيلٗا Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat Qailulahnya. (QS. Al-Furqan : 24) Imam Al-Azhari menjelaskan makna Qoilulah yang tersebut dalam ayat di ini, القيلولة عند العرب الاستراحة نصف النهار إذا اشتد الحرّ، وإن لم يكن مع ذلك نوم، والدليل على ذلك أن الجنة لا نوم فيها Orang-orang Arab memahami Qailulah adalah istirahat pertengahan siang, saat terik matahari memuncak. Meski tidak disertai dengan tidur. Dalilnya adalah penduduk surga juga melakukan Qailulah namun mereka tidak tidur, karena di surga tidak ada tidur. Imam As-Shon’ani menyimpulkan sama, المقيل والقيلولة: الاستراحة نصف النهار، وإن لم يكن معها نوم Maqiil atau Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak disertai tidur. Penjelasan ini dikuatkan dengan adanya keterangan dari sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhuma, لا ينتصِف النهار يوم القيامة حتى يقيل أهل الجنة في الجنة وأهل النار في النار Di hari Kiamat nanti, siang tidaklah memuncak sampai penduduk surga ber-qailulah (istirahat siang) di surga dan penduduk neraka ber-qailulah di neraka. Dari keterangan di atas kita simpulkan bahwa : [1]. Qailulah termasuk ibadah yang disunahkan. Sebagaimana disimpulkan oleh Imam Syarbini rahimahullah, يسن للمتهجد القيلولة، وهي: النوم قبل الزوال، وهي بمنزلة السحور للصائم. Disunahkan bagi orang yang ingin melakukan sholat tahajud, untuk ber-qailulah, yaitu tidur sebelum duhur. Qailulah itu manfaatnya seperti sahur bagi orang yang puasa. Dan ini dinyatakan oleh mayoritas ulama (Jumhur). [2]. Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak harus dengan tidur. Kapan Waktu Qailulah? Ada dua pendapat ulama dalam hal ini : Pertama, sebelum duhur. Diantara yang menegang pendapat ini adalah Imam Syarbini rahimahullah, dalam pernyataan beliau di atas. Kedua, setelah duhur. Ulama yang memegang pendapat ini diantaranya Al Munawi dan Al’aini –rahimahumallah-. Al Munawi menyatakan القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد Qailulah adalah, tidur di tengah siang, ketika matahari condong ke barat (waktu duhur)atau menjelang sebelum atau sesudahnya. Al ‘Aini juga menyatakan, القيلولة معناها النوم في الظهيرة Qailulah maknanya tidur di rentang waktu sholat duhur (pen, dari condong ke barat / Zawal, sampai ashar). Pendapat yang tepat –wallahua’lam-, adalah pendapat ke dua ini, yaitu waktu Qailulah adalah setelah masuk waktu duhur / atau setelah melaksanakan sholat dhuhur. Sebagaimana di jelaskan oleh sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu, ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم Dahulu kami di zaman Nabi ﷺ tidaklah ber- Qailulah atau makan siang kecuali bsetelah jumatan. (Riwayat Bukhori dan Muslim. Teks ini ada pada riwayat Imam Muslim) Wallahua’lam bis showab. Rujukan: – https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/31661/ – https://ar.islamway.net/article/32235/-%D9%82%D9%8A%D9%84%D9%88%D8%A7-%D9%81%D8%A5%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%A7%D8%B7%D9%8A%D9%86-%D9%84%D8%A7-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D9%84 *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Bekam, Hukum Istri Berzina Dengan Lelaki Lain, Hukum Bermesraan Dengan Istri Saat Puasa Ramadhan, Manusia Paling Sibuk Di Akhirat, Hukum Memasang Foto, Contoh Syirkah Dalam Kehidupan Sehari Hari Visited 626 times, 1 visit(s) today Post Views: 448 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tafsir Ayat Puasa (15): Doa Kita di Bulan Ramadhan Pasti Terkabul, Jangan Khawatir

Harus penuh keyakinan kalau doa-doa kita akan dikabulkan di bulan Ramadhan.   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)   Penjelasan Ayat   Ayat “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku”. Yang dituju dalam bertanya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud hamba-hamba-Ku adalah yang beriman. “Bertanya tentang Aku”, yaitu apakah Allah itu dekat ataukah jauh. Maka katakanlah Allah itu dekat dengan ilmu-Nya, Allah pun mudah mengabulkan, dan mendengar setiap doa hamba-Nya. Lalu disebut “aku mengabulkan permohonan”, yaitu maksudnya Allah mendengarnya dan mengabulkannya. “Idza da’aan”, maksudnya ketika ia berdoa yaitu benar dalam berdoa. Bentuknya adalah: Hati dalam keadaan hadir Memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa seperti ikhlas dalam berdoa Menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat doa tidak terkabul seperti makanan yang haram dan berlebihan dalam doa. “Maka penuhilah segala perintah-Ku”, artinya jika kita mau taat dan patuh kepada Allah, Allah akan membalas dan memberikan ganjaran. Lalu diperintahkan juga dalam ayat untuk beriman kepada Allah, yaitu meyakini bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan setiap doa hamba. Jika apa yang diperintahkan dalam ayat dipenuhi, maka seseorang disebut berada di atas kebenaran. Makna ar-rusydu adalah baik dalam berbuat.   Allah itu Dekat   Selain ayat di atas,terdapat dalil dalam Shahih yang menunjukkan bahwa Allah itu dekat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ “Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.” (HR. Muslim, no. 2704) Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُوْلَ اللهِ : أَقَرِيْبٌ رَبُّنَا فَنُنَاجِيْهِ أَمْ بَعِيْدٌ فَنُنَادِيْهِ ؟ “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat lantas cukup kami bermunajat dengan-Nya ataukah jauh sehingga kami harus menyeru-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diam dan turunlah ayat yang kita bahas di atas. (HR. Ibnu Abi Hatim, 2:767, Ibnu Jarir, 2:158. Di dalamnya ada perawi yang majhul–yang tidak diketahui–yaitu Ash-Shult bin Hakim bin Mu’awiyah, ia, ayah, dan kakeknya majhul. Lihat tahqiq Abu Ishaq Al-Huwaini terhadap Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:63). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang dimaksud Allah itu dekat yaitu Allah dekat dengan kalian dari urat leher hewan tunggangan kalian. Namun kedekatan yang dimaksud di sini adalah dalam doa. Kedekatan yang dimaksud bukanlah pada setiap kedekatan. Namun hanya ada pada sebagian keadaan. Sebagaimana disebut pula dalam hadits, ‘Tempat yang seorang hamba sangat dekat dengan Rabbnya yaitu ketika ia sujud.’ Ada hadits lainnya pula yang semisal itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 5:129).   Dekat dan Allah Tetap Mahatinggi   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, “Kedekatan dan kebersamaan Allah yang disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tidaklah bertentangan dengan ketinggian Allah Ta’ala. Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dalam setiap sifat-sifat-Nya. Allah Mahatinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.”   Faedah Ayat   Pertama: Ayat ini menunjukkan keutamaan doa dari orang yang berpuasa. Kedua: Sebagian ulama menganggap bahwa penyebutan doa di akhir ayat puasa menunjukkan kita diperintahkan bersungguh-sungguh untuk berdoa di akhir puasa menjelang berbuka. Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ “Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah, no. 1753. Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin ‘Ubaidillah. Ibnu Hibban memasukkan perawi ini dalam perowi tsiqoh. Perowi lainnya sesuai syarat Bukhari. Lihat catatan kaki Zaad Al-Ma’ad, 2:49-50). Ketiga: Pengabulan doa lebih umum dari pengabulan permintaan tertentu. Karena Allah pasti mengabulkan doa dari orang yang berdoa walaupun dengan berbagai macam bentuk. Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَ. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bahwa doa bisa jadi tertunda pengabulannya. Tertundanya pengabulan tersebut membuat hamba terus berharap, maka ia akan bertambah pahala. Hal ini tentu lebih utama dari doa yang ia panjatkan. Atau bentuk pengabulan juga bisa dengan dihindarkan dari suatu kejelekan, dan itu lebih besar dari sesuatu yang ia minta dalam doa. Atau bisa jadi doa tadi jadi simpanan di akhirat, ia diberikan pahala dan ganjaran. Yang terakhir ini tentu lebih utama dari yang ia minta dalam doa. Intinya kesemuanya menunjukkan bahwa bentuk pengabulan Allah dengan berbagai macam tadi lebih utama dari pengabulan doa secara spesifik sesuai yang diminta. Lihat Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 299-300. Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fath Al-Bari (11:96), “Setiap yang berdoa pasti akan dikabulkan, akan tetapi ada berbagai macam bentuk pengabulan. Terkadang terwujud seperti yang diminta. Terkadang pula didapatkan penggantinya.” Keempat: Doa adalah sebab terkuat untuk menggapai harapan. Karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk berdoa, tak mungkin disia-siakan. Kelima: Kalau doa tidak terkabul, bisa jadi karena sebab yang berdoa sendiri. Keadaan orang yang berdoa misalnya hatinya tidak hadir saat berdoa, lalai saat berdoa, atau makan makanan yang haram. Atau bisa jadi tidak terkabulnya doa sesuai yang diminta karena Allah sudah mengganti dengan yang lain. Atau bisa jadi pengabulannya tertunda kelak di akhirat dan tentu lebih maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Keenam: Doa adalah ibadah tersendiri. Maka setiap kali orang berdoa, ia mendapatkan ganjaran, terserah doa itu terkabul ataukah tidak. Bahkan jika seorang hamba tidak berdoa, Allah murka kepadanya. Ketujuh: Ayat yang kita kaji menunjukkan Maha Baiknya Allah dalam memberi. Kedelapan: Ada keutamaan doa bagi orang yang dalam keadaan susah seperti orang yang berpuasa, musafir, orang yang terzalimi, orang yang berada dalam kegentingan. Kesembilan: Pengaruh jujur atau benar dalam berdoa. Kesepuluh: Kembali pada Allah dan taat kepada-Nya adalah sebab hidayah meraih kebenaran. Kesebelas: Mulianya orang yang beribadah kepada Allah karena disebut dalam ayat dengan kalimat ‘ibaadiy’ (hamba-hamba-Ku). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #06 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsberdoa di bulan Ramadhan doa kita di bulan Ramadhan kumpulan doa Ramadhan tafsir ayat puasa waktu terkabulnya doa

Tafsir Ayat Puasa (15): Doa Kita di Bulan Ramadhan Pasti Terkabul, Jangan Khawatir

Harus penuh keyakinan kalau doa-doa kita akan dikabulkan di bulan Ramadhan.   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)   Penjelasan Ayat   Ayat “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku”. Yang dituju dalam bertanya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud hamba-hamba-Ku adalah yang beriman. “Bertanya tentang Aku”, yaitu apakah Allah itu dekat ataukah jauh. Maka katakanlah Allah itu dekat dengan ilmu-Nya, Allah pun mudah mengabulkan, dan mendengar setiap doa hamba-Nya. Lalu disebut “aku mengabulkan permohonan”, yaitu maksudnya Allah mendengarnya dan mengabulkannya. “Idza da’aan”, maksudnya ketika ia berdoa yaitu benar dalam berdoa. Bentuknya adalah: Hati dalam keadaan hadir Memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa seperti ikhlas dalam berdoa Menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat doa tidak terkabul seperti makanan yang haram dan berlebihan dalam doa. “Maka penuhilah segala perintah-Ku”, artinya jika kita mau taat dan patuh kepada Allah, Allah akan membalas dan memberikan ganjaran. Lalu diperintahkan juga dalam ayat untuk beriman kepada Allah, yaitu meyakini bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan setiap doa hamba. Jika apa yang diperintahkan dalam ayat dipenuhi, maka seseorang disebut berada di atas kebenaran. Makna ar-rusydu adalah baik dalam berbuat.   Allah itu Dekat   Selain ayat di atas,terdapat dalil dalam Shahih yang menunjukkan bahwa Allah itu dekat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ “Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.” (HR. Muslim, no. 2704) Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُوْلَ اللهِ : أَقَرِيْبٌ رَبُّنَا فَنُنَاجِيْهِ أَمْ بَعِيْدٌ فَنُنَادِيْهِ ؟ “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat lantas cukup kami bermunajat dengan-Nya ataukah jauh sehingga kami harus menyeru-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diam dan turunlah ayat yang kita bahas di atas. (HR. Ibnu Abi Hatim, 2:767, Ibnu Jarir, 2:158. Di dalamnya ada perawi yang majhul–yang tidak diketahui–yaitu Ash-Shult bin Hakim bin Mu’awiyah, ia, ayah, dan kakeknya majhul. Lihat tahqiq Abu Ishaq Al-Huwaini terhadap Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:63). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang dimaksud Allah itu dekat yaitu Allah dekat dengan kalian dari urat leher hewan tunggangan kalian. Namun kedekatan yang dimaksud di sini adalah dalam doa. Kedekatan yang dimaksud bukanlah pada setiap kedekatan. Namun hanya ada pada sebagian keadaan. Sebagaimana disebut pula dalam hadits, ‘Tempat yang seorang hamba sangat dekat dengan Rabbnya yaitu ketika ia sujud.’ Ada hadits lainnya pula yang semisal itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 5:129).   Dekat dan Allah Tetap Mahatinggi   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, “Kedekatan dan kebersamaan Allah yang disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tidaklah bertentangan dengan ketinggian Allah Ta’ala. Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dalam setiap sifat-sifat-Nya. Allah Mahatinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.”   Faedah Ayat   Pertama: Ayat ini menunjukkan keutamaan doa dari orang yang berpuasa. Kedua: Sebagian ulama menganggap bahwa penyebutan doa di akhir ayat puasa menunjukkan kita diperintahkan bersungguh-sungguh untuk berdoa di akhir puasa menjelang berbuka. Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ “Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah, no. 1753. Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin ‘Ubaidillah. Ibnu Hibban memasukkan perawi ini dalam perowi tsiqoh. Perowi lainnya sesuai syarat Bukhari. Lihat catatan kaki Zaad Al-Ma’ad, 2:49-50). Ketiga: Pengabulan doa lebih umum dari pengabulan permintaan tertentu. Karena Allah pasti mengabulkan doa dari orang yang berdoa walaupun dengan berbagai macam bentuk. Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَ. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bahwa doa bisa jadi tertunda pengabulannya. Tertundanya pengabulan tersebut membuat hamba terus berharap, maka ia akan bertambah pahala. Hal ini tentu lebih utama dari doa yang ia panjatkan. Atau bentuk pengabulan juga bisa dengan dihindarkan dari suatu kejelekan, dan itu lebih besar dari sesuatu yang ia minta dalam doa. Atau bisa jadi doa tadi jadi simpanan di akhirat, ia diberikan pahala dan ganjaran. Yang terakhir ini tentu lebih utama dari yang ia minta dalam doa. Intinya kesemuanya menunjukkan bahwa bentuk pengabulan Allah dengan berbagai macam tadi lebih utama dari pengabulan doa secara spesifik sesuai yang diminta. Lihat Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 299-300. Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fath Al-Bari (11:96), “Setiap yang berdoa pasti akan dikabulkan, akan tetapi ada berbagai macam bentuk pengabulan. Terkadang terwujud seperti yang diminta. Terkadang pula didapatkan penggantinya.” Keempat: Doa adalah sebab terkuat untuk menggapai harapan. Karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk berdoa, tak mungkin disia-siakan. Kelima: Kalau doa tidak terkabul, bisa jadi karena sebab yang berdoa sendiri. Keadaan orang yang berdoa misalnya hatinya tidak hadir saat berdoa, lalai saat berdoa, atau makan makanan yang haram. Atau bisa jadi tidak terkabulnya doa sesuai yang diminta karena Allah sudah mengganti dengan yang lain. Atau bisa jadi pengabulannya tertunda kelak di akhirat dan tentu lebih maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Keenam: Doa adalah ibadah tersendiri. Maka setiap kali orang berdoa, ia mendapatkan ganjaran, terserah doa itu terkabul ataukah tidak. Bahkan jika seorang hamba tidak berdoa, Allah murka kepadanya. Ketujuh: Ayat yang kita kaji menunjukkan Maha Baiknya Allah dalam memberi. Kedelapan: Ada keutamaan doa bagi orang yang dalam keadaan susah seperti orang yang berpuasa, musafir, orang yang terzalimi, orang yang berada dalam kegentingan. Kesembilan: Pengaruh jujur atau benar dalam berdoa. Kesepuluh: Kembali pada Allah dan taat kepada-Nya adalah sebab hidayah meraih kebenaran. Kesebelas: Mulianya orang yang beribadah kepada Allah karena disebut dalam ayat dengan kalimat ‘ibaadiy’ (hamba-hamba-Ku). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #06 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsberdoa di bulan Ramadhan doa kita di bulan Ramadhan kumpulan doa Ramadhan tafsir ayat puasa waktu terkabulnya doa
Harus penuh keyakinan kalau doa-doa kita akan dikabulkan di bulan Ramadhan.   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)   Penjelasan Ayat   Ayat “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku”. Yang dituju dalam bertanya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud hamba-hamba-Ku adalah yang beriman. “Bertanya tentang Aku”, yaitu apakah Allah itu dekat ataukah jauh. Maka katakanlah Allah itu dekat dengan ilmu-Nya, Allah pun mudah mengabulkan, dan mendengar setiap doa hamba-Nya. Lalu disebut “aku mengabulkan permohonan”, yaitu maksudnya Allah mendengarnya dan mengabulkannya. “Idza da’aan”, maksudnya ketika ia berdoa yaitu benar dalam berdoa. Bentuknya adalah: Hati dalam keadaan hadir Memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa seperti ikhlas dalam berdoa Menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat doa tidak terkabul seperti makanan yang haram dan berlebihan dalam doa. “Maka penuhilah segala perintah-Ku”, artinya jika kita mau taat dan patuh kepada Allah, Allah akan membalas dan memberikan ganjaran. Lalu diperintahkan juga dalam ayat untuk beriman kepada Allah, yaitu meyakini bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan setiap doa hamba. Jika apa yang diperintahkan dalam ayat dipenuhi, maka seseorang disebut berada di atas kebenaran. Makna ar-rusydu adalah baik dalam berbuat.   Allah itu Dekat   Selain ayat di atas,terdapat dalil dalam Shahih yang menunjukkan bahwa Allah itu dekat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ “Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.” (HR. Muslim, no. 2704) Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُوْلَ اللهِ : أَقَرِيْبٌ رَبُّنَا فَنُنَاجِيْهِ أَمْ بَعِيْدٌ فَنُنَادِيْهِ ؟ “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat lantas cukup kami bermunajat dengan-Nya ataukah jauh sehingga kami harus menyeru-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diam dan turunlah ayat yang kita bahas di atas. (HR. Ibnu Abi Hatim, 2:767, Ibnu Jarir, 2:158. Di dalamnya ada perawi yang majhul–yang tidak diketahui–yaitu Ash-Shult bin Hakim bin Mu’awiyah, ia, ayah, dan kakeknya majhul. Lihat tahqiq Abu Ishaq Al-Huwaini terhadap Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:63). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang dimaksud Allah itu dekat yaitu Allah dekat dengan kalian dari urat leher hewan tunggangan kalian. Namun kedekatan yang dimaksud di sini adalah dalam doa. Kedekatan yang dimaksud bukanlah pada setiap kedekatan. Namun hanya ada pada sebagian keadaan. Sebagaimana disebut pula dalam hadits, ‘Tempat yang seorang hamba sangat dekat dengan Rabbnya yaitu ketika ia sujud.’ Ada hadits lainnya pula yang semisal itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 5:129).   Dekat dan Allah Tetap Mahatinggi   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, “Kedekatan dan kebersamaan Allah yang disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tidaklah bertentangan dengan ketinggian Allah Ta’ala. Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dalam setiap sifat-sifat-Nya. Allah Mahatinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.”   Faedah Ayat   Pertama: Ayat ini menunjukkan keutamaan doa dari orang yang berpuasa. Kedua: Sebagian ulama menganggap bahwa penyebutan doa di akhir ayat puasa menunjukkan kita diperintahkan bersungguh-sungguh untuk berdoa di akhir puasa menjelang berbuka. Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ “Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah, no. 1753. Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin ‘Ubaidillah. Ibnu Hibban memasukkan perawi ini dalam perowi tsiqoh. Perowi lainnya sesuai syarat Bukhari. Lihat catatan kaki Zaad Al-Ma’ad, 2:49-50). Ketiga: Pengabulan doa lebih umum dari pengabulan permintaan tertentu. Karena Allah pasti mengabulkan doa dari orang yang berdoa walaupun dengan berbagai macam bentuk. Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَ. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bahwa doa bisa jadi tertunda pengabulannya. Tertundanya pengabulan tersebut membuat hamba terus berharap, maka ia akan bertambah pahala. Hal ini tentu lebih utama dari doa yang ia panjatkan. Atau bentuk pengabulan juga bisa dengan dihindarkan dari suatu kejelekan, dan itu lebih besar dari sesuatu yang ia minta dalam doa. Atau bisa jadi doa tadi jadi simpanan di akhirat, ia diberikan pahala dan ganjaran. Yang terakhir ini tentu lebih utama dari yang ia minta dalam doa. Intinya kesemuanya menunjukkan bahwa bentuk pengabulan Allah dengan berbagai macam tadi lebih utama dari pengabulan doa secara spesifik sesuai yang diminta. Lihat Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 299-300. Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fath Al-Bari (11:96), “Setiap yang berdoa pasti akan dikabulkan, akan tetapi ada berbagai macam bentuk pengabulan. Terkadang terwujud seperti yang diminta. Terkadang pula didapatkan penggantinya.” Keempat: Doa adalah sebab terkuat untuk menggapai harapan. Karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk berdoa, tak mungkin disia-siakan. Kelima: Kalau doa tidak terkabul, bisa jadi karena sebab yang berdoa sendiri. Keadaan orang yang berdoa misalnya hatinya tidak hadir saat berdoa, lalai saat berdoa, atau makan makanan yang haram. Atau bisa jadi tidak terkabulnya doa sesuai yang diminta karena Allah sudah mengganti dengan yang lain. Atau bisa jadi pengabulannya tertunda kelak di akhirat dan tentu lebih maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Keenam: Doa adalah ibadah tersendiri. Maka setiap kali orang berdoa, ia mendapatkan ganjaran, terserah doa itu terkabul ataukah tidak. Bahkan jika seorang hamba tidak berdoa, Allah murka kepadanya. Ketujuh: Ayat yang kita kaji menunjukkan Maha Baiknya Allah dalam memberi. Kedelapan: Ada keutamaan doa bagi orang yang dalam keadaan susah seperti orang yang berpuasa, musafir, orang yang terzalimi, orang yang berada dalam kegentingan. Kesembilan: Pengaruh jujur atau benar dalam berdoa. Kesepuluh: Kembali pada Allah dan taat kepada-Nya adalah sebab hidayah meraih kebenaran. Kesebelas: Mulianya orang yang beribadah kepada Allah karena disebut dalam ayat dengan kalimat ‘ibaadiy’ (hamba-hamba-Ku). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #06 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsberdoa di bulan Ramadhan doa kita di bulan Ramadhan kumpulan doa Ramadhan tafsir ayat puasa waktu terkabulnya doa


Harus penuh keyakinan kalau doa-doa kita akan dikabulkan di bulan Ramadhan.   Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)   Penjelasan Ayat   Ayat “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku”. Yang dituju dalam bertanya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud hamba-hamba-Ku adalah yang beriman. “Bertanya tentang Aku”, yaitu apakah Allah itu dekat ataukah jauh. Maka katakanlah Allah itu dekat dengan ilmu-Nya, Allah pun mudah mengabulkan, dan mendengar setiap doa hamba-Nya. Lalu disebut “aku mengabulkan permohonan”, yaitu maksudnya Allah mendengarnya dan mengabulkannya. “Idza da’aan”, maksudnya ketika ia berdoa yaitu benar dalam berdoa. Bentuknya adalah: Hati dalam keadaan hadir Memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa seperti ikhlas dalam berdoa Menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat doa tidak terkabul seperti makanan yang haram dan berlebihan dalam doa. “Maka penuhilah segala perintah-Ku”, artinya jika kita mau taat dan patuh kepada Allah, Allah akan membalas dan memberikan ganjaran. Lalu diperintahkan juga dalam ayat untuk beriman kepada Allah, yaitu meyakini bahwa Allah itu dekat dan mengabulkan setiap doa hamba. Jika apa yang diperintahkan dalam ayat dipenuhi, maka seseorang disebut berada di atas kebenaran. Makna ar-rusydu adalah baik dalam berbuat.   Allah itu Dekat   Selain ayat di atas,terdapat dalil dalam Shahih yang menunjukkan bahwa Allah itu dekat. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ “Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.” (HR. Muslim, no. 2704) Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُوْلَ اللهِ : أَقَرِيْبٌ رَبُّنَا فَنُنَاجِيْهِ أَمْ بَعِيْدٌ فَنُنَادِيْهِ ؟ “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat lantas cukup kami bermunajat dengan-Nya ataukah jauh sehingga kami harus menyeru-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diam dan turunlah ayat yang kita bahas di atas. (HR. Ibnu Abi Hatim, 2:767, Ibnu Jarir, 2:158. Di dalamnya ada perawi yang majhul–yang tidak diketahui–yaitu Ash-Shult bin Hakim bin Mu’awiyah, ia, ayah, dan kakeknya majhul. Lihat tahqiq Abu Ishaq Al-Huwaini terhadap Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:63). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang dimaksud Allah itu dekat yaitu Allah dekat dengan kalian dari urat leher hewan tunggangan kalian. Namun kedekatan yang dimaksud di sini adalah dalam doa. Kedekatan yang dimaksud bukanlah pada setiap kedekatan. Namun hanya ada pada sebagian keadaan. Sebagaimana disebut pula dalam hadits, ‘Tempat yang seorang hamba sangat dekat dengan Rabbnya yaitu ketika ia sujud.’ Ada hadits lainnya pula yang semisal itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 5:129).   Dekat dan Allah Tetap Mahatinggi   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, “Kedekatan dan kebersamaan Allah yang disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah tidaklah bertentangan dengan ketinggian Allah Ta’ala. Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya dalam setiap sifat-sifat-Nya. Allah Mahatinggi, namun dekat. Dia Maha Dekat, namun tetap berada di ketinggian.”   Faedah Ayat   Pertama: Ayat ini menunjukkan keutamaan doa dari orang yang berpuasa. Kedua: Sebagian ulama menganggap bahwa penyebutan doa di akhir ayat puasa menunjukkan kita diperintahkan bersungguh-sungguh untuk berdoa di akhir puasa menjelang berbuka. Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ “Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah, no. 1753. Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin ‘Ubaidillah. Ibnu Hibban memasukkan perawi ini dalam perowi tsiqoh. Perowi lainnya sesuai syarat Bukhari. Lihat catatan kaki Zaad Al-Ma’ad, 2:49-50). Ketiga: Pengabulan doa lebih umum dari pengabulan permintaan tertentu. Karena Allah pasti mengabulkan doa dari orang yang berdoa walaupun dengan berbagai macam bentuk. Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَ. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad, 3:18. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dari hadits di atas, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bahwa doa bisa jadi tertunda pengabulannya. Tertundanya pengabulan tersebut membuat hamba terus berharap, maka ia akan bertambah pahala. Hal ini tentu lebih utama dari doa yang ia panjatkan. Atau bentuk pengabulan juga bisa dengan dihindarkan dari suatu kejelekan, dan itu lebih besar dari sesuatu yang ia minta dalam doa. Atau bisa jadi doa tadi jadi simpanan di akhirat, ia diberikan pahala dan ganjaran. Yang terakhir ini tentu lebih utama dari yang ia minta dalam doa. Intinya kesemuanya menunjukkan bahwa bentuk pengabulan Allah dengan berbagai macam tadi lebih utama dari pengabulan doa secara spesifik sesuai yang diminta. Lihat Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 299-300. Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fath Al-Bari (11:96), “Setiap yang berdoa pasti akan dikabulkan, akan tetapi ada berbagai macam bentuk pengabulan. Terkadang terwujud seperti yang diminta. Terkadang pula didapatkan penggantinya.” Keempat: Doa adalah sebab terkuat untuk menggapai harapan. Karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk berdoa, tak mungkin disia-siakan. Kelima: Kalau doa tidak terkabul, bisa jadi karena sebab yang berdoa sendiri. Keadaan orang yang berdoa misalnya hatinya tidak hadir saat berdoa, lalai saat berdoa, atau makan makanan yang haram. Atau bisa jadi tidak terkabulnya doa sesuai yang diminta karena Allah sudah mengganti dengan yang lain. Atau bisa jadi pengabulannya tertunda kelak di akhirat dan tentu lebih maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Keenam: Doa adalah ibadah tersendiri. Maka setiap kali orang berdoa, ia mendapatkan ganjaran, terserah doa itu terkabul ataukah tidak. Bahkan jika seorang hamba tidak berdoa, Allah murka kepadanya. Ketujuh: Ayat yang kita kaji menunjukkan Maha Baiknya Allah dalam memberi. Kedelapan: Ada keutamaan doa bagi orang yang dalam keadaan susah seperti orang yang berpuasa, musafir, orang yang terzalimi, orang yang berada dalam kegentingan. Kesembilan: Pengaruh jujur atau benar dalam berdoa. Kesepuluh: Kembali pada Allah dan taat kepada-Nya adalah sebab hidayah meraih kebenaran. Kesebelas: Mulianya orang yang beribadah kepada Allah karena disebut dalam ayat dengan kalimat ‘ibaadiy’ (hamba-hamba-Ku). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #06 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsberdoa di bulan Ramadhan doa kita di bulan Ramadhan kumpulan doa Ramadhan tafsir ayat puasa waktu terkabulnya doa

Tata Cara Tasyahud Akhir Dalam Salat

Tasyahud akhir dilakukan setelah sujud kedua pada rakaat paling terakhir dalam salat. Duduk tasyahud akhir dan bacaannya adalah rukun salat. Dalilnya adalah hadis Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu tentang bacaan tasyahud akhir, beliau berkata:كنَّا نقولُ قبْلَ أنْ يُفرَضَ علينا التشهُّدُ: السَّلامُ على اللهِ قبْلَ عبادِه، السَّلامُ على جِبْريلَ، السَّلامُ على ميكائيلَ، السَّلامُ على فُلانٍ، فقال صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: لا تقولوا: السَّلامُ على اللهِ؛ فإنَّ اللهَ هو السَّلامُ، ولكن قولوا: التَّحيَّاتُ للهِ“Dahulu sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami, kami mengucapkan: as salaam ‘alallah qabla ibaadihi, as salaam ‘ala Jibril, as salaam ‘ala Mikail, as salaam ‘ala fulan (Salam kepada Allah sebelum kepada hamba-Nya, salam kepada Jibril, salam kepada Mikail, dan salam kepada fulan). Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun mengatakan: janganlah kalian mengatakan “as salaam ‘alallah” karena Dialah As Salam. Namun katakanlah: at tahiyyatu lillah (segala penghormatan hanya milik Allah).” (HR. Bukhari no. 1202, Muslim no. 402)Dalam hadis ini jelas disebutkan “sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami“, menunjukkan bahwa tasyahud akhir hukumnya wajib dan merupakan rukun salat.Dan ulama ijma bahwa duduk tasyahud akhir merupakan rukun salat. Imam An Nawawi mengatakan:فمِن المجمَع عليه: النيَّة، والقعودُ في التشهُّد الأخير“Diantara kesepakatan ulama, niat dan duduk tasyahud akhir (adalah rukun salat).” (Syarah Shahih Muslim, 4/107)Baca Juga: Cara Salam Di Akhir SalatCara Duduk Tasyahud AkhirCara duduk tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, yaitu duduk di lantai, kedua kaki diletakkan di sebelah kanan pinggang, kaki kiri dibentangkan, sedangkan kaki kanan ditegakkan. Dalam hadis Abu Humaid As Sa’idi radhiallahu’anhu beliau berkata:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226)Dalam riwayat lain:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam.” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Demikian juga jika dalam salat ada dua tasyahud, maka tasyahud pertama dibaca dengan keadaan duduk iftirasy dan tasyahud yang kedua dibaca dalam keaadaan duduk tawarruk sebagaimana zahir hadis-hadis di atas.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatCara Duduk Tasyahud Jika Satu TasyahudPara ulama berbeda pendapat (khilaf) mengenai cara duduk tasyahud akhir jika di dalam salat hanya ada satu tasyahud. Karena dalam hadis Abu Humaid di atas, terdapat isyarat bahwa Nabi duduk iftirasy pada rakaat kedua, sedangkan dalam riwayat Abu Daud dipahami bahwa duduk tawarruk adalah duduk tasyahud di rakaat terakhir. Padahal jika salat hanya dua rakaat maka duduk tasyahud ketika itu adalah tasyahud di rakaat kedua sekaligus di rakaat terakhir.Para ulama khilaf dalam dua pendapat:Pendapat pertama, duduk dengan cara tawarruk. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan Malikiyyah. Dalil mereka adalah riwayat Abu Humaid yang terdapat lafadz:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam”Pendapat kedua: duduk dengan cara iftirasy. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah, juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Dalilnya hadis Abu Humaid riwayat Bukhari – Muslim di atas:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan”Dikuatkan dengan riwayat dari Aisyah radhiallahu’anha:وكان يقولُ في كلِّ ركعتين التحيةَ، وكان يفرشُ رِجلَه اليُسرَى، وينصبُ رِجلَه اليُمنَى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di setiap dua rakaat beliau mengucapkan tahiyyah (tasyahud). Dan beliau membentangkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (HR. Muslim no. 498)Maka pendapat kedua ini nampaknya yang lebih rajih, wallahu a’lam.Baca Juga: Disyariatkan Membaca Doa Qunut Dalam Shalat WitirBacaan Tasyahud Akhir dan Isyarat JariBacaan tasyahud akhir sama dengan bacaan tasyahud awal hanya saja ada tambahan shalawat. Silakan simak kembali artikel Tata Cara Tasyahud Awal untuk mengetahui bacaan-bacaan tersebut. Demikian juga mengenai isyarat jari, sama seperti pada tasyahud awal, silakan merujuk kembali pada artikel tersebut.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahShalawat di Tasyahud AkhirPara ulama khilaf mengenai hukumnya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Ibnu Abdil Barr, Ibnul Munzhir, Zhahiriyah, dan juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.Dalil yang mereka gunakan adalah sebuah hadis dari Alqamah:عَلقمةَ أنَّ عبدَ اللهِ بنَ مسعودٍ أخذَ بيدِه، وأنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أخَذ بيدِ عبدِ اللهِ فعلَّمَه التشهُّدَ في الصَّلاةِ، قال: قُلِ: التَّحيَّاتُ للهِ، والصَّلواتُ، والطَّيِّباتُ، السَّلامُ عليك أيُّها النبيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه، السَّلامُ علينا وعلى عبادِ اللهِ الصَّالحينَ، قال زُهَيرٌ: حفِظْتُ عنه إن شاءَ اللهُ: أشهَدُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، وأشهَدُ أنَّ محمَّدًا عبدُه ورسولُه، قال: فإذا قضَيْتَ هذا أو قال: فإذا فعَلْتَ هذا، فقد قضَيْتَ صلاتَك، إن شئتَ أنْ تقومَ فقُمْ، وإن شِئْتَ أنْ تقعُدَ فاقعُدْ“Abdullah bin Mas’ud menarik tangannya Alqamah sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menarik tangan Ibnu Mas’ud untuk mengajarkannya tasyahud di dalam salat.Nabi bersabda ucapkanlah,“at tahiyyaatu lillaah was shalawaatu wat thayyibaat as salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakaatuh, as salaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillahis shaalihiin”. Zuhair berkata: yang aku hafal insya Allah ada tambahan: “asy-hadu an laailaaha illallah, wa asy-hadu anna muhammadan abduhu wara suluh”.Nabi lalu bersabda: jika engkau sudah selesai membaca ini, maka engkau telah menyelesaikan salatmu. Jika engkau ingin berdiri, silakan berdiri, atau jika engkau ingin duduk silakan duduk.” (HR. Abu Daud no. 970)Namun Syaikh Al Albani menegaskan:شاذّ بزيادة ((إذا قلت..))، والصواب أنَّه من قول ابن مسعود موقوفًا عليه“Hadits ini syadz dengan tambahan: “jika engkau sudah selesai membaca ini, dst.” yang benar ini adalah hadis yang mauquf, merupakan perkataan Ibnu Mas’ud.” (Shahih Sunan Abu Daud no. 970)Pendapat kedua: hukumnya wajib. Ini adalah pendapat Hanabilah, Syafi’iyyah, Ibnu Arabi dan dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz.Dalilnya hadis Ka’ab bin Ujrah radhiallahu’anhu, ia berkata:إنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خرَج علينا، فقُلْنا: يا رسولَ اللهِ، قد علِمْنا كيف نُسلِّمُ عليك، فكيف نُصلِّي عليك؟ قال: قولوا: اللهمَّ صلِّ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما صلَّيْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ، اللهمَّ بارِكْ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما بارَكْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar bersama kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah kami sudah tahu cara salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Nabi menjawab: ucapkanlah:“Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid” (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim,Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)” (HR. Bukhari no. 6357, Muslim no. 406)Dalam hadis ini digunakan fi’il amr (perintah), maka menunjukkan hukumnya wajib. Wallahu a’lam, ini pendapat yang lebih rajih.Baca Juga: Apa Yang Dilakukan Ketika Imam Batal Wudhu Di Tengah Shalat?Membaca Doa Perlindungan Dari Empat HalSetelah tasyahud akhir dan sebelum salam, dianjurkan membaca doa perlindungan dari empat hal. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا فرَغَ أحَدُكم مِن التشهُّدِ الآخِرِ، فلْيتعوَّذْ باللهِ مِن أربعٍ: يقولُ : اللهم ! إني أعوذُ بك من عذابِ جهنمَ . ومن عذابِ القبرِ . ومن فتنةِ المحيا والمماتِ . ومن شرِّ فتنةِ المسيحِ الدجالِ“Jika salah seorang di antara kalian ber-tasyahud akhir, maka setelah itu mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, ucapkanlah:“Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannam, wamin ‘adzabil qabri, wamin fitnatil mahyaa wal mamaat, wamin syarri fitnatil masiihid dajjaal”(Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah orang yang hidup dan juga orang yang sudah mati, dan dari keburukan fitnah Al Masih Ad Dajjal).” (HR. Muslim no. 588)Baca Juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf Shalat Fatwa Ulama: Bolehkah Menunda Shalat Karena Pekerjaan? Demikian sedikit ulasan yang ringkas ini, semoga bermanfaat.*** Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Arti Futur, Abdurrazzaq Al Badr, Non-muslim, Dzikir Al Fatihah, Apakah Syiah Itu Sesat

Tata Cara Tasyahud Akhir Dalam Salat

Tasyahud akhir dilakukan setelah sujud kedua pada rakaat paling terakhir dalam salat. Duduk tasyahud akhir dan bacaannya adalah rukun salat. Dalilnya adalah hadis Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu tentang bacaan tasyahud akhir, beliau berkata:كنَّا نقولُ قبْلَ أنْ يُفرَضَ علينا التشهُّدُ: السَّلامُ على اللهِ قبْلَ عبادِه، السَّلامُ على جِبْريلَ، السَّلامُ على ميكائيلَ، السَّلامُ على فُلانٍ، فقال صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: لا تقولوا: السَّلامُ على اللهِ؛ فإنَّ اللهَ هو السَّلامُ، ولكن قولوا: التَّحيَّاتُ للهِ“Dahulu sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami, kami mengucapkan: as salaam ‘alallah qabla ibaadihi, as salaam ‘ala Jibril, as salaam ‘ala Mikail, as salaam ‘ala fulan (Salam kepada Allah sebelum kepada hamba-Nya, salam kepada Jibril, salam kepada Mikail, dan salam kepada fulan). Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun mengatakan: janganlah kalian mengatakan “as salaam ‘alallah” karena Dialah As Salam. Namun katakanlah: at tahiyyatu lillah (segala penghormatan hanya milik Allah).” (HR. Bukhari no. 1202, Muslim no. 402)Dalam hadis ini jelas disebutkan “sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami“, menunjukkan bahwa tasyahud akhir hukumnya wajib dan merupakan rukun salat.Dan ulama ijma bahwa duduk tasyahud akhir merupakan rukun salat. Imam An Nawawi mengatakan:فمِن المجمَع عليه: النيَّة، والقعودُ في التشهُّد الأخير“Diantara kesepakatan ulama, niat dan duduk tasyahud akhir (adalah rukun salat).” (Syarah Shahih Muslim, 4/107)Baca Juga: Cara Salam Di Akhir SalatCara Duduk Tasyahud AkhirCara duduk tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, yaitu duduk di lantai, kedua kaki diletakkan di sebelah kanan pinggang, kaki kiri dibentangkan, sedangkan kaki kanan ditegakkan. Dalam hadis Abu Humaid As Sa’idi radhiallahu’anhu beliau berkata:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226)Dalam riwayat lain:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam.” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Demikian juga jika dalam salat ada dua tasyahud, maka tasyahud pertama dibaca dengan keadaan duduk iftirasy dan tasyahud yang kedua dibaca dalam keaadaan duduk tawarruk sebagaimana zahir hadis-hadis di atas.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatCara Duduk Tasyahud Jika Satu TasyahudPara ulama berbeda pendapat (khilaf) mengenai cara duduk tasyahud akhir jika di dalam salat hanya ada satu tasyahud. Karena dalam hadis Abu Humaid di atas, terdapat isyarat bahwa Nabi duduk iftirasy pada rakaat kedua, sedangkan dalam riwayat Abu Daud dipahami bahwa duduk tawarruk adalah duduk tasyahud di rakaat terakhir. Padahal jika salat hanya dua rakaat maka duduk tasyahud ketika itu adalah tasyahud di rakaat kedua sekaligus di rakaat terakhir.Para ulama khilaf dalam dua pendapat:Pendapat pertama, duduk dengan cara tawarruk. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan Malikiyyah. Dalil mereka adalah riwayat Abu Humaid yang terdapat lafadz:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam”Pendapat kedua: duduk dengan cara iftirasy. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah, juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Dalilnya hadis Abu Humaid riwayat Bukhari – Muslim di atas:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan”Dikuatkan dengan riwayat dari Aisyah radhiallahu’anha:وكان يقولُ في كلِّ ركعتين التحيةَ، وكان يفرشُ رِجلَه اليُسرَى، وينصبُ رِجلَه اليُمنَى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di setiap dua rakaat beliau mengucapkan tahiyyah (tasyahud). Dan beliau membentangkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (HR. Muslim no. 498)Maka pendapat kedua ini nampaknya yang lebih rajih, wallahu a’lam.Baca Juga: Disyariatkan Membaca Doa Qunut Dalam Shalat WitirBacaan Tasyahud Akhir dan Isyarat JariBacaan tasyahud akhir sama dengan bacaan tasyahud awal hanya saja ada tambahan shalawat. Silakan simak kembali artikel Tata Cara Tasyahud Awal untuk mengetahui bacaan-bacaan tersebut. Demikian juga mengenai isyarat jari, sama seperti pada tasyahud awal, silakan merujuk kembali pada artikel tersebut.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahShalawat di Tasyahud AkhirPara ulama khilaf mengenai hukumnya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Ibnu Abdil Barr, Ibnul Munzhir, Zhahiriyah, dan juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.Dalil yang mereka gunakan adalah sebuah hadis dari Alqamah:عَلقمةَ أنَّ عبدَ اللهِ بنَ مسعودٍ أخذَ بيدِه، وأنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أخَذ بيدِ عبدِ اللهِ فعلَّمَه التشهُّدَ في الصَّلاةِ، قال: قُلِ: التَّحيَّاتُ للهِ، والصَّلواتُ، والطَّيِّباتُ، السَّلامُ عليك أيُّها النبيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه، السَّلامُ علينا وعلى عبادِ اللهِ الصَّالحينَ، قال زُهَيرٌ: حفِظْتُ عنه إن شاءَ اللهُ: أشهَدُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، وأشهَدُ أنَّ محمَّدًا عبدُه ورسولُه، قال: فإذا قضَيْتَ هذا أو قال: فإذا فعَلْتَ هذا، فقد قضَيْتَ صلاتَك، إن شئتَ أنْ تقومَ فقُمْ، وإن شِئْتَ أنْ تقعُدَ فاقعُدْ“Abdullah bin Mas’ud menarik tangannya Alqamah sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menarik tangan Ibnu Mas’ud untuk mengajarkannya tasyahud di dalam salat.Nabi bersabda ucapkanlah,“at tahiyyaatu lillaah was shalawaatu wat thayyibaat as salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakaatuh, as salaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillahis shaalihiin”. Zuhair berkata: yang aku hafal insya Allah ada tambahan: “asy-hadu an laailaaha illallah, wa asy-hadu anna muhammadan abduhu wara suluh”.Nabi lalu bersabda: jika engkau sudah selesai membaca ini, maka engkau telah menyelesaikan salatmu. Jika engkau ingin berdiri, silakan berdiri, atau jika engkau ingin duduk silakan duduk.” (HR. Abu Daud no. 970)Namun Syaikh Al Albani menegaskan:شاذّ بزيادة ((إذا قلت..))، والصواب أنَّه من قول ابن مسعود موقوفًا عليه“Hadits ini syadz dengan tambahan: “jika engkau sudah selesai membaca ini, dst.” yang benar ini adalah hadis yang mauquf, merupakan perkataan Ibnu Mas’ud.” (Shahih Sunan Abu Daud no. 970)Pendapat kedua: hukumnya wajib. Ini adalah pendapat Hanabilah, Syafi’iyyah, Ibnu Arabi dan dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz.Dalilnya hadis Ka’ab bin Ujrah radhiallahu’anhu, ia berkata:إنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خرَج علينا، فقُلْنا: يا رسولَ اللهِ، قد علِمْنا كيف نُسلِّمُ عليك، فكيف نُصلِّي عليك؟ قال: قولوا: اللهمَّ صلِّ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما صلَّيْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ، اللهمَّ بارِكْ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما بارَكْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar bersama kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah kami sudah tahu cara salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Nabi menjawab: ucapkanlah:“Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid” (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim,Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)” (HR. Bukhari no. 6357, Muslim no. 406)Dalam hadis ini digunakan fi’il amr (perintah), maka menunjukkan hukumnya wajib. Wallahu a’lam, ini pendapat yang lebih rajih.Baca Juga: Apa Yang Dilakukan Ketika Imam Batal Wudhu Di Tengah Shalat?Membaca Doa Perlindungan Dari Empat HalSetelah tasyahud akhir dan sebelum salam, dianjurkan membaca doa perlindungan dari empat hal. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا فرَغَ أحَدُكم مِن التشهُّدِ الآخِرِ، فلْيتعوَّذْ باللهِ مِن أربعٍ: يقولُ : اللهم ! إني أعوذُ بك من عذابِ جهنمَ . ومن عذابِ القبرِ . ومن فتنةِ المحيا والمماتِ . ومن شرِّ فتنةِ المسيحِ الدجالِ“Jika salah seorang di antara kalian ber-tasyahud akhir, maka setelah itu mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, ucapkanlah:“Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannam, wamin ‘adzabil qabri, wamin fitnatil mahyaa wal mamaat, wamin syarri fitnatil masiihid dajjaal”(Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah orang yang hidup dan juga orang yang sudah mati, dan dari keburukan fitnah Al Masih Ad Dajjal).” (HR. Muslim no. 588)Baca Juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf Shalat Fatwa Ulama: Bolehkah Menunda Shalat Karena Pekerjaan? Demikian sedikit ulasan yang ringkas ini, semoga bermanfaat.*** Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Arti Futur, Abdurrazzaq Al Badr, Non-muslim, Dzikir Al Fatihah, Apakah Syiah Itu Sesat
Tasyahud akhir dilakukan setelah sujud kedua pada rakaat paling terakhir dalam salat. Duduk tasyahud akhir dan bacaannya adalah rukun salat. Dalilnya adalah hadis Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu tentang bacaan tasyahud akhir, beliau berkata:كنَّا نقولُ قبْلَ أنْ يُفرَضَ علينا التشهُّدُ: السَّلامُ على اللهِ قبْلَ عبادِه، السَّلامُ على جِبْريلَ، السَّلامُ على ميكائيلَ، السَّلامُ على فُلانٍ، فقال صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: لا تقولوا: السَّلامُ على اللهِ؛ فإنَّ اللهَ هو السَّلامُ، ولكن قولوا: التَّحيَّاتُ للهِ“Dahulu sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami, kami mengucapkan: as salaam ‘alallah qabla ibaadihi, as salaam ‘ala Jibril, as salaam ‘ala Mikail, as salaam ‘ala fulan (Salam kepada Allah sebelum kepada hamba-Nya, salam kepada Jibril, salam kepada Mikail, dan salam kepada fulan). Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun mengatakan: janganlah kalian mengatakan “as salaam ‘alallah” karena Dialah As Salam. Namun katakanlah: at tahiyyatu lillah (segala penghormatan hanya milik Allah).” (HR. Bukhari no. 1202, Muslim no. 402)Dalam hadis ini jelas disebutkan “sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami“, menunjukkan bahwa tasyahud akhir hukumnya wajib dan merupakan rukun salat.Dan ulama ijma bahwa duduk tasyahud akhir merupakan rukun salat. Imam An Nawawi mengatakan:فمِن المجمَع عليه: النيَّة، والقعودُ في التشهُّد الأخير“Diantara kesepakatan ulama, niat dan duduk tasyahud akhir (adalah rukun salat).” (Syarah Shahih Muslim, 4/107)Baca Juga: Cara Salam Di Akhir SalatCara Duduk Tasyahud AkhirCara duduk tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, yaitu duduk di lantai, kedua kaki diletakkan di sebelah kanan pinggang, kaki kiri dibentangkan, sedangkan kaki kanan ditegakkan. Dalam hadis Abu Humaid As Sa’idi radhiallahu’anhu beliau berkata:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226)Dalam riwayat lain:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam.” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Demikian juga jika dalam salat ada dua tasyahud, maka tasyahud pertama dibaca dengan keadaan duduk iftirasy dan tasyahud yang kedua dibaca dalam keaadaan duduk tawarruk sebagaimana zahir hadis-hadis di atas.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatCara Duduk Tasyahud Jika Satu TasyahudPara ulama berbeda pendapat (khilaf) mengenai cara duduk tasyahud akhir jika di dalam salat hanya ada satu tasyahud. Karena dalam hadis Abu Humaid di atas, terdapat isyarat bahwa Nabi duduk iftirasy pada rakaat kedua, sedangkan dalam riwayat Abu Daud dipahami bahwa duduk tawarruk adalah duduk tasyahud di rakaat terakhir. Padahal jika salat hanya dua rakaat maka duduk tasyahud ketika itu adalah tasyahud di rakaat kedua sekaligus di rakaat terakhir.Para ulama khilaf dalam dua pendapat:Pendapat pertama, duduk dengan cara tawarruk. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan Malikiyyah. Dalil mereka adalah riwayat Abu Humaid yang terdapat lafadz:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam”Pendapat kedua: duduk dengan cara iftirasy. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah, juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Dalilnya hadis Abu Humaid riwayat Bukhari – Muslim di atas:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan”Dikuatkan dengan riwayat dari Aisyah radhiallahu’anha:وكان يقولُ في كلِّ ركعتين التحيةَ، وكان يفرشُ رِجلَه اليُسرَى، وينصبُ رِجلَه اليُمنَى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di setiap dua rakaat beliau mengucapkan tahiyyah (tasyahud). Dan beliau membentangkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (HR. Muslim no. 498)Maka pendapat kedua ini nampaknya yang lebih rajih, wallahu a’lam.Baca Juga: Disyariatkan Membaca Doa Qunut Dalam Shalat WitirBacaan Tasyahud Akhir dan Isyarat JariBacaan tasyahud akhir sama dengan bacaan tasyahud awal hanya saja ada tambahan shalawat. Silakan simak kembali artikel Tata Cara Tasyahud Awal untuk mengetahui bacaan-bacaan tersebut. Demikian juga mengenai isyarat jari, sama seperti pada tasyahud awal, silakan merujuk kembali pada artikel tersebut.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahShalawat di Tasyahud AkhirPara ulama khilaf mengenai hukumnya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Ibnu Abdil Barr, Ibnul Munzhir, Zhahiriyah, dan juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.Dalil yang mereka gunakan adalah sebuah hadis dari Alqamah:عَلقمةَ أنَّ عبدَ اللهِ بنَ مسعودٍ أخذَ بيدِه، وأنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أخَذ بيدِ عبدِ اللهِ فعلَّمَه التشهُّدَ في الصَّلاةِ، قال: قُلِ: التَّحيَّاتُ للهِ، والصَّلواتُ، والطَّيِّباتُ، السَّلامُ عليك أيُّها النبيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه، السَّلامُ علينا وعلى عبادِ اللهِ الصَّالحينَ، قال زُهَيرٌ: حفِظْتُ عنه إن شاءَ اللهُ: أشهَدُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، وأشهَدُ أنَّ محمَّدًا عبدُه ورسولُه، قال: فإذا قضَيْتَ هذا أو قال: فإذا فعَلْتَ هذا، فقد قضَيْتَ صلاتَك، إن شئتَ أنْ تقومَ فقُمْ، وإن شِئْتَ أنْ تقعُدَ فاقعُدْ“Abdullah bin Mas’ud menarik tangannya Alqamah sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menarik tangan Ibnu Mas’ud untuk mengajarkannya tasyahud di dalam salat.Nabi bersabda ucapkanlah,“at tahiyyaatu lillaah was shalawaatu wat thayyibaat as salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakaatuh, as salaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillahis shaalihiin”. Zuhair berkata: yang aku hafal insya Allah ada tambahan: “asy-hadu an laailaaha illallah, wa asy-hadu anna muhammadan abduhu wara suluh”.Nabi lalu bersabda: jika engkau sudah selesai membaca ini, maka engkau telah menyelesaikan salatmu. Jika engkau ingin berdiri, silakan berdiri, atau jika engkau ingin duduk silakan duduk.” (HR. Abu Daud no. 970)Namun Syaikh Al Albani menegaskan:شاذّ بزيادة ((إذا قلت..))، والصواب أنَّه من قول ابن مسعود موقوفًا عليه“Hadits ini syadz dengan tambahan: “jika engkau sudah selesai membaca ini, dst.” yang benar ini adalah hadis yang mauquf, merupakan perkataan Ibnu Mas’ud.” (Shahih Sunan Abu Daud no. 970)Pendapat kedua: hukumnya wajib. Ini adalah pendapat Hanabilah, Syafi’iyyah, Ibnu Arabi dan dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz.Dalilnya hadis Ka’ab bin Ujrah radhiallahu’anhu, ia berkata:إنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خرَج علينا، فقُلْنا: يا رسولَ اللهِ، قد علِمْنا كيف نُسلِّمُ عليك، فكيف نُصلِّي عليك؟ قال: قولوا: اللهمَّ صلِّ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما صلَّيْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ، اللهمَّ بارِكْ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما بارَكْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar bersama kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah kami sudah tahu cara salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Nabi menjawab: ucapkanlah:“Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid” (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim,Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)” (HR. Bukhari no. 6357, Muslim no. 406)Dalam hadis ini digunakan fi’il amr (perintah), maka menunjukkan hukumnya wajib. Wallahu a’lam, ini pendapat yang lebih rajih.Baca Juga: Apa Yang Dilakukan Ketika Imam Batal Wudhu Di Tengah Shalat?Membaca Doa Perlindungan Dari Empat HalSetelah tasyahud akhir dan sebelum salam, dianjurkan membaca doa perlindungan dari empat hal. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا فرَغَ أحَدُكم مِن التشهُّدِ الآخِرِ، فلْيتعوَّذْ باللهِ مِن أربعٍ: يقولُ : اللهم ! إني أعوذُ بك من عذابِ جهنمَ . ومن عذابِ القبرِ . ومن فتنةِ المحيا والمماتِ . ومن شرِّ فتنةِ المسيحِ الدجالِ“Jika salah seorang di antara kalian ber-tasyahud akhir, maka setelah itu mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, ucapkanlah:“Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannam, wamin ‘adzabil qabri, wamin fitnatil mahyaa wal mamaat, wamin syarri fitnatil masiihid dajjaal”(Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah orang yang hidup dan juga orang yang sudah mati, dan dari keburukan fitnah Al Masih Ad Dajjal).” (HR. Muslim no. 588)Baca Juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf Shalat Fatwa Ulama: Bolehkah Menunda Shalat Karena Pekerjaan? Demikian sedikit ulasan yang ringkas ini, semoga bermanfaat.*** Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Arti Futur, Abdurrazzaq Al Badr, Non-muslim, Dzikir Al Fatihah, Apakah Syiah Itu Sesat


Tasyahud akhir dilakukan setelah sujud kedua pada rakaat paling terakhir dalam salat. Duduk tasyahud akhir dan bacaannya adalah rukun salat. Dalilnya adalah hadis Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu tentang bacaan tasyahud akhir, beliau berkata:كنَّا نقولُ قبْلَ أنْ يُفرَضَ علينا التشهُّدُ: السَّلامُ على اللهِ قبْلَ عبادِه، السَّلامُ على جِبْريلَ، السَّلامُ على ميكائيلَ، السَّلامُ على فُلانٍ، فقال صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: لا تقولوا: السَّلامُ على اللهِ؛ فإنَّ اللهَ هو السَّلامُ، ولكن قولوا: التَّحيَّاتُ للهِ“Dahulu sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami, kami mengucapkan: as salaam ‘alallah qabla ibaadihi, as salaam ‘ala Jibril, as salaam ‘ala Mikail, as salaam ‘ala fulan (Salam kepada Allah sebelum kepada hamba-Nya, salam kepada Jibril, salam kepada Mikail, dan salam kepada fulan). Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun mengatakan: janganlah kalian mengatakan “as salaam ‘alallah” karena Dialah As Salam. Namun katakanlah: at tahiyyatu lillah (segala penghormatan hanya milik Allah).” (HR. Bukhari no. 1202, Muslim no. 402)Dalam hadis ini jelas disebutkan “sebelum tasyahud diwajibkan kepada kami“, menunjukkan bahwa tasyahud akhir hukumnya wajib dan merupakan rukun salat.Dan ulama ijma bahwa duduk tasyahud akhir merupakan rukun salat. Imam An Nawawi mengatakan:فمِن المجمَع عليه: النيَّة، والقعودُ في التشهُّد الأخير“Diantara kesepakatan ulama, niat dan duduk tasyahud akhir (adalah rukun salat).” (Syarah Shahih Muslim, 4/107)Baca Juga: Cara Salam Di Akhir SalatCara Duduk Tasyahud AkhirCara duduk tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, yaitu duduk di lantai, kedua kaki diletakkan di sebelah kanan pinggang, kaki kiri dibentangkan, sedangkan kaki kanan ditegakkan. Dalam hadis Abu Humaid As Sa’idi radhiallahu’anhu beliau berkata:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226)Dalam riwayat lain:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam.” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Demikian juga jika dalam salat ada dua tasyahud, maka tasyahud pertama dibaca dengan keadaan duduk iftirasy dan tasyahud yang kedua dibaca dalam keaadaan duduk tawarruk sebagaimana zahir hadis-hadis di atas.Baca Juga: Keutamaan-Keutamaan Ibadah ShalatCara Duduk Tasyahud Jika Satu TasyahudPara ulama berbeda pendapat (khilaf) mengenai cara duduk tasyahud akhir jika di dalam salat hanya ada satu tasyahud. Karena dalam hadis Abu Humaid di atas, terdapat isyarat bahwa Nabi duduk iftirasy pada rakaat kedua, sedangkan dalam riwayat Abu Daud dipahami bahwa duduk tawarruk adalah duduk tasyahud di rakaat terakhir. Padahal jika salat hanya dua rakaat maka duduk tasyahud ketika itu adalah tasyahud di rakaat kedua sekaligus di rakaat terakhir.Para ulama khilaf dalam dua pendapat:Pendapat pertama, duduk dengan cara tawarruk. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan Malikiyyah. Dalil mereka adalah riwayat Abu Humaid yang terdapat lafadz:حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam”Pendapat kedua: duduk dengan cara iftirasy. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyah, juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Dalilnya hadis Abu Humaid riwayat Bukhari – Muslim di atas:فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan”Dikuatkan dengan riwayat dari Aisyah radhiallahu’anha:وكان يقولُ في كلِّ ركعتين التحيةَ، وكان يفرشُ رِجلَه اليُسرَى، وينصبُ رِجلَه اليُمنَى“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di setiap dua rakaat beliau mengucapkan tahiyyah (tasyahud). Dan beliau membentangkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (HR. Muslim no. 498)Maka pendapat kedua ini nampaknya yang lebih rajih, wallahu a’lam.Baca Juga: Disyariatkan Membaca Doa Qunut Dalam Shalat WitirBacaan Tasyahud Akhir dan Isyarat JariBacaan tasyahud akhir sama dengan bacaan tasyahud awal hanya saja ada tambahan shalawat. Silakan simak kembali artikel Tata Cara Tasyahud Awal untuk mengetahui bacaan-bacaan tersebut. Demikian juga mengenai isyarat jari, sama seperti pada tasyahud awal, silakan merujuk kembali pada artikel tersebut.Baca Juga: Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat BerjamaahShalawat di Tasyahud AkhirPara ulama khilaf mengenai hukumnya menjadi dua pendapat:Pendapat pertama: hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat Hanafiyah, Malikiyah, Ibnu Abdil Barr, Ibnul Munzhir, Zhahiriyah, dan juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.Dalil yang mereka gunakan adalah sebuah hadis dari Alqamah:عَلقمةَ أنَّ عبدَ اللهِ بنَ مسعودٍ أخذَ بيدِه، وأنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أخَذ بيدِ عبدِ اللهِ فعلَّمَه التشهُّدَ في الصَّلاةِ، قال: قُلِ: التَّحيَّاتُ للهِ، والصَّلواتُ، والطَّيِّباتُ، السَّلامُ عليك أيُّها النبيُّ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه، السَّلامُ علينا وعلى عبادِ اللهِ الصَّالحينَ، قال زُهَيرٌ: حفِظْتُ عنه إن شاءَ اللهُ: أشهَدُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، وأشهَدُ أنَّ محمَّدًا عبدُه ورسولُه، قال: فإذا قضَيْتَ هذا أو قال: فإذا فعَلْتَ هذا، فقد قضَيْتَ صلاتَك، إن شئتَ أنْ تقومَ فقُمْ، وإن شِئْتَ أنْ تقعُدَ فاقعُدْ“Abdullah bin Mas’ud menarik tangannya Alqamah sedangkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menarik tangan Ibnu Mas’ud untuk mengajarkannya tasyahud di dalam salat.Nabi bersabda ucapkanlah,“at tahiyyaatu lillaah was shalawaatu wat thayyibaat as salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakaatuh, as salaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillahis shaalihiin”. Zuhair berkata: yang aku hafal insya Allah ada tambahan: “asy-hadu an laailaaha illallah, wa asy-hadu anna muhammadan abduhu wara suluh”.Nabi lalu bersabda: jika engkau sudah selesai membaca ini, maka engkau telah menyelesaikan salatmu. Jika engkau ingin berdiri, silakan berdiri, atau jika engkau ingin duduk silakan duduk.” (HR. Abu Daud no. 970)Namun Syaikh Al Albani menegaskan:شاذّ بزيادة ((إذا قلت..))، والصواب أنَّه من قول ابن مسعود موقوفًا عليه“Hadits ini syadz dengan tambahan: “jika engkau sudah selesai membaca ini, dst.” yang benar ini adalah hadis yang mauquf, merupakan perkataan Ibnu Mas’ud.” (Shahih Sunan Abu Daud no. 970)Pendapat kedua: hukumnya wajib. Ini adalah pendapat Hanabilah, Syafi’iyyah, Ibnu Arabi dan dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz.Dalilnya hadis Ka’ab bin Ujrah radhiallahu’anhu, ia berkata:إنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خرَج علينا، فقُلْنا: يا رسولَ اللهِ، قد علِمْنا كيف نُسلِّمُ عليك، فكيف نُصلِّي عليك؟ قال: قولوا: اللهمَّ صلِّ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما صلَّيْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ، اللهمَّ بارِكْ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما بارَكْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar bersama kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah kami sudah tahu cara salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Nabi menjawab: ucapkanlah:“Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid” (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim,Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)” (HR. Bukhari no. 6357, Muslim no. 406)Dalam hadis ini digunakan fi’il amr (perintah), maka menunjukkan hukumnya wajib. Wallahu a’lam, ini pendapat yang lebih rajih.Baca Juga: Apa Yang Dilakukan Ketika Imam Batal Wudhu Di Tengah Shalat?Membaca Doa Perlindungan Dari Empat HalSetelah tasyahud akhir dan sebelum salam, dianjurkan membaca doa perlindungan dari empat hal. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:إذا فرَغَ أحَدُكم مِن التشهُّدِ الآخِرِ، فلْيتعوَّذْ باللهِ مِن أربعٍ: يقولُ : اللهم ! إني أعوذُ بك من عذابِ جهنمَ . ومن عذابِ القبرِ . ومن فتنةِ المحيا والمماتِ . ومن شرِّ فتنةِ المسيحِ الدجالِ“Jika salah seorang di antara kalian ber-tasyahud akhir, maka setelah itu mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, ucapkanlah:“Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannam, wamin ‘adzabil qabri, wamin fitnatil mahyaa wal mamaat, wamin syarri fitnatil masiihid dajjaal”(Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah orang yang hidup dan juga orang yang sudah mati, dan dari keburukan fitnah Al Masih Ad Dajjal).” (HR. Muslim no. 588)Baca Juga: Meneladani Para Sahabat Nabi Dalam Meluruskan Shaf Shalat Fatwa Ulama: Bolehkah Menunda Shalat Karena Pekerjaan? Demikian sedikit ulasan yang ringkas ini, semoga bermanfaat.*** Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Arti Futur, Abdurrazzaq Al Badr, Non-muslim, Dzikir Al Fatihah, Apakah Syiah Itu Sesat

Hukum Ta’qib (Shalat Tahajjud Lagi Setelah Tarawih)

Hukum Ta’qib (Shalat Tahajjud Lagi Setelah Tarawih)Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.Ibnu Qudamah berkata :فَأَمَّا التَّعْقِيبُ، وَهُوَ أَنْ يُصَلِّيَ بَعْدَ التَّرَاوِيحِ نَافِلَةً أُخْرَى جَمَاعَةً، أَوْ يُصَلِّيَ التَّرَاوِيحَ فِي جَمَاعَةٍ أُخْرَى“Adapun at-Ta’qiib, yaitu sholat sunnah berjamaáh lagi setelah sholat tarawih (dengan jamaáh yang sama), atau sholat tarawih lagi di jamaáh yang lain” (1)Dari sini Ibnu Qudamah menyebutkan dua model at-Táqiib ;Pertama: Yaitu suatu jamaáh sholat tarwih di awal malam, setelah itu mereka sholat tarwih lagi di akhir malamKedua: Yaitu seseorang sholat tarwih pada suatu jamaáh, lalu ia sholat tarwih lagi setelah itu bersama jamaáh yang lain.Dari sini kita tahu bahwasanya jika seseorang setelah sholat tarawih lalu sholat tahajjud sendirian (tanpa berjamaáh) maka diperbolehkan tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama. Yang diperselisihkan adalah kedua bentuk yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah di atasAdapun hukum at-Ta’qiib di bulan Ramadhan maka ada perbedaan pandangan di kalangan salaf, sebagian membolehkan dan sebagian memandang makruh:1. Pendapat yang memakruhkan: Ini adalah pendapat Qatadah(2) dan Al-Hasan, alasan Al-Hasan adalah karena memberatkan orang-orang, beliau mengatakan “Siapa yang memiliki kekuatan maka hendaklah ia lakukan sholat malam sendirian dan tidak dilakukan bersama orang-orang”, beliau juga mengatakan لَا تُمِلُّوا النَّاسَ “Janganlah kalian membuat orang-orang bosan”. (3)Pendapat ini juga dipilih sebagian Hanafiyah, Ishaq bin Rahawaih dan pendapat lama dari Imam Ahmad. Al-Kaasani mengatakan : Jika mereka selesai shalat tarawih kemudian ingin shalat tarawih lagi maka dilakukan sendiri-sendiri dan tidak berjamaah, karena shalat yang kedua adalah shalat sunnah mutlak, dan shalat mutlak berjamaah dibenci. (4)2. Pendapat yang membolehkan: ini adalah pendapat Anas bin Malik dan mayoritas Fuqohaa. Anas radhiallahu ánhu berkata tentang at-Ta’qiib:لَا بَأْسَ بِهِ إِنَّمَا يَرْجِعُونَ إِلَى خَيْرٍ يَرْجُونَهُ، وَيَبْرَءُونَ مِنْ شَرٍّ يَخَافُونَهُ“Tidak mengapa, karena mereka kembali pada kebaikan yang mereka harapkan dan berlepas diri dari keburukan yang mereka takuti”. (5)Ibnu Rojab berkata :وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُكْرَهُ بِحَالٍ“Mayoritas fuqohaa’ berpendapat bahwa at-Ta’qiib tidaklah makruh sama sekali”(6).Dan ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam madzhab hanabilah.Dan pendapat jumhur ulama adalah yang lebih tepat, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:PERTAMA: Asal hukum tarawih di bulan Ramadhan adalah sholat malam (qiyamul lail) yang dikerjakan secara berjamaáh. Bahkan Nabi shallallahu álaihi wasallam pernah sholat dan diam-diam para sahabat bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam. Karenanya apa yang dikerjakan Nabi shallallahu álaihi wasallam tatkala sholat malam sendirian boleh dipraktikan secara berjamaah.Dan telah datang dalam hadits-hadits bahwasanya Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat lagi setelah sholat witir(7). Diantaranya:Pertama: Hadits Aisyah dimana Nabi shallallahu álaihi wasallam shalat 11 rakaat (langsung witir 9 rakaat setelah itu beliau sholat 2 rakaat). Aisyah berkata :كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ“Dahulu kami menyiapkan siwak dan air untuk bersuci beliau, Allah membangunkan beliau pada malam hari dengan kehendak-Nya, beliau pun bersiwak dan shalat 9 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat ke 8, beliau berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian bangkit dan tidak salam, kemudian berdiri dan melanjutkan rakaat ke 9, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau salam dengan salam yang kita dengar, kemudian shalat 2 rakaat setelah salam dalam keadaan duduk, maka semuanya adalah 11 rakaat wahai anakku. (8)Kedua: Nabi juga pernah sholat 9 rakaát, yaitu beliau sholat 7 rakaát setelah itu beliau sholat lagi 2 rakaát.Berdasarkan kelanjutan hadits Aisyah di atas juga:فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ“Ketika Nabi semakin berusia dan gemuk, beliau witir dengan 7 rakaat, kemudian beliau melakukan 2 rakaat seperti di awal, sehingga semuanya 9 rakaat wahai anakku”. (9)Ketiga: Nabi juga pernah sholat 13 rakaat, yaitu beliau sholat 8 rakaát, lalu witir 3 rakaát, lalu sholat lagi 2 rakaát.عَنْ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.Dari Abu Salamah, ia bertanya kepada Aisyah tentang shalat rasulullah, maka ia menjawab : beliau shalat 13 rakaat, shalat 8 rakaat kemudian witir, setelah itu shalat dua rakaat dengan duduk, dan jika ingin ruku’ maka beliau berdiri dan ruku’, kemudian shalat dua rakaat antara adzan dan iqamah shalat subuh. (10)Berdasarkan riwayat-riwayat di atas maka para ulama berkesimpulan bolehnya sholat malam lagi setelah witri. Imam Nawawi berkata,إذَا أَوْتَرَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ نَافِلَةً أَمْ غَيْرَهَا فِي اللَّيْلِ جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ وَلَا يُعِيدُ الْوِتْرَ“Jika seorang melakukan witir kemudian ingin shalat sunnah atau lainnya pada malam itu juga maka diperbolehkan tanpa dibenci dan tidak perlu mengulang witir”(11)Catatan:Tentu yang terbaik adalah seorang menutup sholat malamnya dengan witir. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, dimana Rasulullah bersabda:اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (12)Namun jika seseorang sudah melakukan shalat malam beserta witirnya di awal atau pertengahan malam kemudian ingin melakukan shalat lagi hukumnya diperbolehkan. Dan jika melakukan shalat lagi maka tidak perlu mengulang witir dua kali, cukup dengan witir yang dilakukan di awal, berdasarkan hadits Thalq bin Ali, beliau mendengar rasulullah bersabda:لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (13)Ibnu Hazm mengatakan :وَالْوِتْرُ آخِرَ اللَّيْلِ أَفْضَلُ وَمَنْ أَوْتَرَ أَوَّلَهُ فَحَسَنٌ، وَالصَّلاَةُ بَعْدَ الْوِتْرِ جَائِزَةٌ، وَلاَ يُعِيْدُ وِتْراً آخَرَ“Witir di akhir malam lebih utama, siapa yang witir di awal malam maka bagus, shalat setelah witir hukumnya boleh, dan janganlah ia mengulang witir lagi”. (14)Demikian juga Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat malam sama witir, setelah itu istirahat tidur, dan melanjutkan lagi jika telah bangun.Dalam hadits Tsauban Rasulullah memerintahkan shalat dua rakaat setelah witir:عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَقَالَ إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَثِقَلٌ فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلاَّ كَانَتَا لَهُTsauban maula rasulullah berkata : “Dahulu kami bersama rasulullah dalam safar, beliau berkata : “Sesingguhnya safar ini berat dan melelahkan, jika salah satu dari kalian melakukan witir maka shalatlah dua rakaat, jika dia bangun maka (bisa melakukan shalat lagi) dan jika tidak maka shalat itu sudah cukup. (15)Imam Ibnu Khuzaimah berkata sebelum menyebutkan hadits di atas:بَابُ ذِكْرِ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الصَّلَاةَ بَعْدَ الْوِتْرِ مُبَاحَةٌ لِجَمِيعِ مَنْ يُرِيدُ الصَّلَاةَ بَعْدَهُ، وَأَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ لَمْ يَكُونَا خَاصَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ أُمَّتِهِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَنَا بِالرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ، أَمْرَ نَدْبٍ وَفَضِيلَةٍ، لَا أَمْرَ إِيجَابٍ وَفَرِيضَةٍ“Bab dalil bahwa shalat setelah witir diperbolehkan bagi siapa saja yang ingin shalat setelahnya, dan dua rakaat yang dikerjakan oleh Nabi setelah witir bukan khusus bagi nabi tanpa umat beliau, karena nabi telah memerintahkan kita melakukan dua rakaat tersebut setelah witir dengan perintah bersifat anjuran dan keutamaan, bukan perintah yang bersifat wajib”. (16)Demikian juga hadits ini menunjukan boleh ada jeda antara dua shalat malam. Karena dalam lafadz hadits tersebut فَإِنِ اسْتَيْقَظَ yaitu “jika bangun dari tidur” berarti boleh ada jeda waktu antara kedua shalat malam tersebut sekalipun jeda dengan tidur.KEDUA: Para sahabat pernah meminta Nabi untuk sholat tarwih lagi padahal Nabi shallallahu álaihi wasallam telah selesai dari tarwih, dan tentu telah selesai dari sholat witir. Dan Nabi tidak mengingkari permintaan mereka. Ini menunjukan bahwa para sahabat memahami tidak mengapa at-Ta’qib, yaitu melakukan shalat tarwih lagi setelah shalat tarwih yang pertama meskipun jamaáhnya sama.Abu Dzar radhiallahu ánhu berkata :صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (17), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (18)KETIGA: Praktik sebagian sahabat (yaitu Tholq bin Ali radhiallahu ánhu) yang pernah sholat tarwih dua kali dengan jamaah yang berbeda. Dan ini adalah salah satu dari 2 makna at-Ta’qib yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah.عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (19)Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lainKEEMPAT: Jika seseorang boleh sholat malam tanpa berhenti dari ba’da isya hingga jam 3 subuh, maka tentu boleh juga jika ia sholat 2 jam, lalu istirahat 3 jam (baik tidur maupun tidak tidur), lalu melanjutkan lagi 2 jam.Terlebih lagi istilah “Tarawiih” adalah istilah yang baru yang tidak ada di zaman Nabi, akan tetapi sudah di zaman para salaf, karena mereka dahulu setiap kali sholat malam di bulan Ramadhan 4 rakaát maka merekapun istirahat, lalu mereka melanjutkan lagi 4 rakaát lalu istirahat lagi. Istirahat tersebut dalam bahasa Arab adalah التَّرْوِيْحَة (at-Tarwiihah), maka munculah istilah التَّرَاوِيْحُ (at-Tarawiih) yang artinya adalah kumpulan dari istirahat-istirahat mereka tatkala sholat malam.KELIMA: Di zaman Nabi shallallahu álaihi wasallam bahkan para sahabat sholat berkelompok-kelompok kecil (berjamaah-jamaah) di masjid Nabawi dalam satu waktu(20). Dan ini juga terjadi hingga di zaman Umar bin al-Khottob. Lalu akhirnya Umar menggabungkan mereka untuk diimami oleh Ubay bin Kaáb(21).Sisi pendalilan di sini adalah para sahabat tidak memandang terlarangnya berbilangnya jamaáh sholat tarawih. Yang penting tidak menimbulkan kegaduhan.Jika para sahabat membuat beberapa jamaah dengan masing-masing imamnya dalam satu waktu dan dalam satu masjid, maka lebih boleh lagi melakukan lebih dari satu jamaah dengan jeda waktu dan waktu yang berbeda.Jawaban atas dalil pendapat yang memakruhkan shalat ta’qibAdapun alasan yang digunakan oleh Al-Hasan yang membenci shalat ta’qib maka alasan sebenarnya tidak dibenci karena shalatnya, namun karena takut memberatkan manusia. Maka jika orang-orang tidak merasa berat dan tidak merasa bosan tentu tidak mengapa.Adapun Al-Kasani beliau tidak melarang kalau melakukannya sendiri, dengan alasan shalat sunnah mutlak tidak boleh dilakukan berjamaah, maka ini adalah kaidah Hanafiyah yang menyelisihi jumhur ulama, sehingga ini adalah berdalil dengan sesuatu yang masih diperdebatkan, yang menjadikan dalil pendapat ini lemah.Abu Nashr Al-Marwazi berkata : “Ashaburra’yi (yaitu madzhab Hanafi) membenci shalat sunnah berjamaah kecuali qiyam Ramadhan dan shalat gerhana matahari, ini adalah pendapat yang menyelisihi sunnah; karena telah tsabit dari Rasulullah beliau shalat sunnah berjamaah di luar bulan Ramadhan baik malam maupun siang hari, dan dilakukan juga oleh sejumlah sahabat beliau”. (22)Adapun pendalilan dengan sabda Rasulullah :اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (23)Sehingga sholat ta’qiib menjadi makruh karena terjadi sholat lagi setelah witir, maka bisa dijawab bahwa perintah beliau di sini adalah menunjukkan sunnah bukan wajib, karena yang shahih dari sunnah Nabi baik perbuatan maupun ucapan beliau adalah membolehkan shalat setelah melakukan witir dan sudah kita sebutkan di atas.Fatwa Ulama kontemporer yang membolehkan at-Ta’qiibLajnah Ad-Daimah dan didalamnya ada Syaikh Ibnu Bāz pernah ditanya tentang masalah ini dan jawabannya adalah boleh. Diperbolehkan membagi shalat qiyam Ramadhan menjadi dua bagian: satu bagian dilakukan di awal malam dan diringankan sebagai shalat tarawih dan bagian kedua dikerjakan di akhir malam dan dipanjangkan sebagai shalat tahajjud; karena Nabi di sepuluh akhir Ramadhan melakukan tahajjud lebih semangat dan mencari keutamaan malam lailatul qadr. Adapun yang mengatakan tidak boleh, maka menyelisihi petunjuk nabi dan para salaf. (24)Syaikh Utsaimin ketika ditanya beliau menjawab : Yang saya pandang kuat adalah shalat bersama imam sampai salam, saat imam salam witir ia tambah satu rakaat lagi supaya witir tersebut berubah menjadi genap, lalu witir bersama imam kedua di akhir malam. Dengan demikian dia telah menerapkan sabda Rasulullah : “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (25)Syaikh Shalih Al-Fauzan ketika ditanya juga menjawab dengan boleh dan tidak perlu mengulang witir lagi, tapi beliau berpendapat melakukan dua witir lebih utama, karena yang lebih utama menurut beliau adalah mengikuti imam. (26)Selesai…4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Kediaman di Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Catatan kaki:1. Al-Mughni 2/1252. Mushannaf Ibni Abi Syaibah no 77323. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77344. Bada’i Shana’i 3/156. Bahkan At-Tsauri berkata التَّعْقِيْبُ مُحْدَثٌ “At-Ta’qiib adalah muhdats” (Fathul Baari, Ibnu Rojab 9/175)5. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77336. Lihat Fathul Bari, Ibnu Rajab 9/1757. Imam Tirmidzi dalam Sunan beliau mengatakan :لأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَلَّى بَعْدَ الوِتْرِ“telah diriwayatkan lebih dari satu riwayat bahwa Nabi shalat setelah witir”,Kemudian beliau menyebutkan riwayat Ummu Salamah tentang sholat Nabi setelah witir lalu beliau berkata :وَقَدْ رُوِيَ نَحْوُ هَذَا، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، وَعَائِشَةَ، وَغَيْرِ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Dan telah diriwayatkan semacam ini dari Nabi oleh abu umamah, aisyah dan lainnya”.8. HR. Muslim no 1773, Ibnu Majah no 1191, Nasa’i no 1315.9. Sama dengan hadits sebelumnya.10. HR. Muslim no 738, Abu Dawud no 1352, Nasa’I no 1780, Ibnu Majah no 119611. Al-Majmu’ 4/16. An-Nawawi menjelaskan juga bahwa sholatnya Nabi shallallahu álaihi wasallam 2 rakaát setelah witir bukanlah menunjukan disunnahkan sholat 2 raka’at setelah witir sehingga seseorang selalu mendawamkannya, karena yang Nabi anjurkan adalah menjadikan sholat witir sebagai penutup. Akan tetapi maksud Nabi adalah untuk menjelaskan bahwa setelah witir masih boleh melaksanakan sholat sunnah (lihat al-Majmuu’ 4/17, lihat juga Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi 5/21)12. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74913. HR. Tirmidzi no 470, Nasai no 1679 dan Abu Dawud no 1439, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahih Al-Jami’ no 756714. Al-Muhalla 2/92-9315. HR. ad-Darimi no 1584, Thahawi no 2011, Ibnu Hibban no 2577, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no 1106. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 4/64616. Shahih Ibnu Khuzaimah 2/169Asy-Syaikh al-Albani berkata mengomentari hadits ini yang menunjukan taroju’ (berubahnya pendapat) beliau :وهذه فائدة هامة، استفدناها من هذا الحديث، وقد كنا من قبل مترددين في التوفيق بين صلاته صلى الله عليه وسلم الركعتين وبين قوله: ” اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا “، وقلنا في التعليق على ” صفة الصلاة ” (ص 123 – السادسة): ” والأحوط تركهما اتباعا للأمر. والله أعلم “.وقد تبين لنا الآن من هذا الحديث أن الركعتين بعد الوتر ليستا من خصوصياته صلى الله عليه وسلم، لأمره صلى الله عليه وسلم بهما أمته أمرا عاما، فكأن المقصود بالأمر بجعل آخر صلاة الليل وترا، أن لا يهمل الإيتار بركعة، فلا ينافيه صلاة ركعتين بعدهما، كما ثبت من فعله صلى الله عليه وسلم و أمره. والله أعلم.“ini adalah faidah penting yang bisa kami ambil faidah dari hadits ini, karena sejak dahulu kami bimbang dalam menggabungkan antara beliau shalat dua rakaat dan sabda beliau “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir” dan dahulu kita katakan dalam ta’liq (Sifat Shalat hlm. 123 –cetakan ke 6) : yang paling hati-hati adalah meninggalkan dua rakaat tersebut dalam rangka mengikuti perintah beliau.Dan sekarang sudah terang bagi kami dari hadits ini bahwa dua rakaat setelah witir bukanlah kekhususan beliau, karena beliau memerintahkan umatnya melakukan dua rakaat tersebut dengan perintah umum, seolah-olah yang dimaksud dengan perintah menjadikan akhir shalat malam witir adalah agar tidak mengabaikan witir dengan satu rakaat, maka tidak ada lagi pertentangan dengan shalat dua rakaat setelahnya, sebagaimana yang telah shahih dari perbuatan dan perintah beliau” (As-Shahihah 4/647)17. Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34918. HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.19. HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.20. Aisyah berkata :كَانَ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ فِي رَمَضَانَ أَوْزَاعًا، فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَرَبْتُ لَهُ حَصِيرًا، فَصَلَّى عَلَيْهِ“Dahulun orang-orang sholat di Masjid Nabawi di bulan Ramadhan dengan terpencar-pencar. Maka Nabipun memerintahkan aku lalu aku membentangkan baginya karpet maka beliaupun sholat di atasnya” (HR Abu Dawud no 1347 dan dihasankan oleh Al-Albani)21. Dalam Shahih Al-Bukhari no 21010, Abdurrahman bin Ábdin al-Qoori berkataخَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ“Aku keluar bersama Umar bin al-Khottob radhiallahu ánhu pada suatu malam di bulan Ramadhan menuju Masjid (An-Nabawi). Ternyata orang-orang sholat dengan terpencar-pencar. Seseorang sholat sendirian, dan seseorang sholat dan diikuti oleh sekelompok orang. Maka Umar berkata, “Menurutku seandainya aku kumpulkan mereka di atas satu Qori tentu lebih baik”. Lalu Umarpun bertekad, kemudian beliau mengumpulkan mereka diimami oleh Ubay bin Kaáb”.22. Mukhtashar qiyamul lail, Al-Marwazi hlm. 21223. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74924. Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/81-83 fatwa no 19854, silahkan baca juga Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/94-95 pertanyaan kedua dari fatwa no 1863825. Majmu’ Fatawa wa Rasail Syakh Utsaimin 14/126, lihat juga di kitab yang sama 14/190-191, 14/125-126, 14/206-20826. Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan 2/434-435

Hukum Ta’qib (Shalat Tahajjud Lagi Setelah Tarawih)

Hukum Ta’qib (Shalat Tahajjud Lagi Setelah Tarawih)Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.Ibnu Qudamah berkata :فَأَمَّا التَّعْقِيبُ، وَهُوَ أَنْ يُصَلِّيَ بَعْدَ التَّرَاوِيحِ نَافِلَةً أُخْرَى جَمَاعَةً، أَوْ يُصَلِّيَ التَّرَاوِيحَ فِي جَمَاعَةٍ أُخْرَى“Adapun at-Ta’qiib, yaitu sholat sunnah berjamaáh lagi setelah sholat tarawih (dengan jamaáh yang sama), atau sholat tarawih lagi di jamaáh yang lain” (1)Dari sini Ibnu Qudamah menyebutkan dua model at-Táqiib ;Pertama: Yaitu suatu jamaáh sholat tarwih di awal malam, setelah itu mereka sholat tarwih lagi di akhir malamKedua: Yaitu seseorang sholat tarwih pada suatu jamaáh, lalu ia sholat tarwih lagi setelah itu bersama jamaáh yang lain.Dari sini kita tahu bahwasanya jika seseorang setelah sholat tarawih lalu sholat tahajjud sendirian (tanpa berjamaáh) maka diperbolehkan tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama. Yang diperselisihkan adalah kedua bentuk yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah di atasAdapun hukum at-Ta’qiib di bulan Ramadhan maka ada perbedaan pandangan di kalangan salaf, sebagian membolehkan dan sebagian memandang makruh:1. Pendapat yang memakruhkan: Ini adalah pendapat Qatadah(2) dan Al-Hasan, alasan Al-Hasan adalah karena memberatkan orang-orang, beliau mengatakan “Siapa yang memiliki kekuatan maka hendaklah ia lakukan sholat malam sendirian dan tidak dilakukan bersama orang-orang”, beliau juga mengatakan لَا تُمِلُّوا النَّاسَ “Janganlah kalian membuat orang-orang bosan”. (3)Pendapat ini juga dipilih sebagian Hanafiyah, Ishaq bin Rahawaih dan pendapat lama dari Imam Ahmad. Al-Kaasani mengatakan : Jika mereka selesai shalat tarawih kemudian ingin shalat tarawih lagi maka dilakukan sendiri-sendiri dan tidak berjamaah, karena shalat yang kedua adalah shalat sunnah mutlak, dan shalat mutlak berjamaah dibenci. (4)2. Pendapat yang membolehkan: ini adalah pendapat Anas bin Malik dan mayoritas Fuqohaa. Anas radhiallahu ánhu berkata tentang at-Ta’qiib:لَا بَأْسَ بِهِ إِنَّمَا يَرْجِعُونَ إِلَى خَيْرٍ يَرْجُونَهُ، وَيَبْرَءُونَ مِنْ شَرٍّ يَخَافُونَهُ“Tidak mengapa, karena mereka kembali pada kebaikan yang mereka harapkan dan berlepas diri dari keburukan yang mereka takuti”. (5)Ibnu Rojab berkata :وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُكْرَهُ بِحَالٍ“Mayoritas fuqohaa’ berpendapat bahwa at-Ta’qiib tidaklah makruh sama sekali”(6).Dan ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam madzhab hanabilah.Dan pendapat jumhur ulama adalah yang lebih tepat, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:PERTAMA: Asal hukum tarawih di bulan Ramadhan adalah sholat malam (qiyamul lail) yang dikerjakan secara berjamaáh. Bahkan Nabi shallallahu álaihi wasallam pernah sholat dan diam-diam para sahabat bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam. Karenanya apa yang dikerjakan Nabi shallallahu álaihi wasallam tatkala sholat malam sendirian boleh dipraktikan secara berjamaah.Dan telah datang dalam hadits-hadits bahwasanya Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat lagi setelah sholat witir(7). Diantaranya:Pertama: Hadits Aisyah dimana Nabi shallallahu álaihi wasallam shalat 11 rakaat (langsung witir 9 rakaat setelah itu beliau sholat 2 rakaat). Aisyah berkata :كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ“Dahulu kami menyiapkan siwak dan air untuk bersuci beliau, Allah membangunkan beliau pada malam hari dengan kehendak-Nya, beliau pun bersiwak dan shalat 9 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat ke 8, beliau berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian bangkit dan tidak salam, kemudian berdiri dan melanjutkan rakaat ke 9, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau salam dengan salam yang kita dengar, kemudian shalat 2 rakaat setelah salam dalam keadaan duduk, maka semuanya adalah 11 rakaat wahai anakku. (8)Kedua: Nabi juga pernah sholat 9 rakaát, yaitu beliau sholat 7 rakaát setelah itu beliau sholat lagi 2 rakaát.Berdasarkan kelanjutan hadits Aisyah di atas juga:فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ“Ketika Nabi semakin berusia dan gemuk, beliau witir dengan 7 rakaat, kemudian beliau melakukan 2 rakaat seperti di awal, sehingga semuanya 9 rakaat wahai anakku”. (9)Ketiga: Nabi juga pernah sholat 13 rakaat, yaitu beliau sholat 8 rakaát, lalu witir 3 rakaát, lalu sholat lagi 2 rakaát.عَنْ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.Dari Abu Salamah, ia bertanya kepada Aisyah tentang shalat rasulullah, maka ia menjawab : beliau shalat 13 rakaat, shalat 8 rakaat kemudian witir, setelah itu shalat dua rakaat dengan duduk, dan jika ingin ruku’ maka beliau berdiri dan ruku’, kemudian shalat dua rakaat antara adzan dan iqamah shalat subuh. (10)Berdasarkan riwayat-riwayat di atas maka para ulama berkesimpulan bolehnya sholat malam lagi setelah witri. Imam Nawawi berkata,إذَا أَوْتَرَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ نَافِلَةً أَمْ غَيْرَهَا فِي اللَّيْلِ جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ وَلَا يُعِيدُ الْوِتْرَ“Jika seorang melakukan witir kemudian ingin shalat sunnah atau lainnya pada malam itu juga maka diperbolehkan tanpa dibenci dan tidak perlu mengulang witir”(11)Catatan:Tentu yang terbaik adalah seorang menutup sholat malamnya dengan witir. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, dimana Rasulullah bersabda:اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (12)Namun jika seseorang sudah melakukan shalat malam beserta witirnya di awal atau pertengahan malam kemudian ingin melakukan shalat lagi hukumnya diperbolehkan. Dan jika melakukan shalat lagi maka tidak perlu mengulang witir dua kali, cukup dengan witir yang dilakukan di awal, berdasarkan hadits Thalq bin Ali, beliau mendengar rasulullah bersabda:لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (13)Ibnu Hazm mengatakan :وَالْوِتْرُ آخِرَ اللَّيْلِ أَفْضَلُ وَمَنْ أَوْتَرَ أَوَّلَهُ فَحَسَنٌ، وَالصَّلاَةُ بَعْدَ الْوِتْرِ جَائِزَةٌ، وَلاَ يُعِيْدُ وِتْراً آخَرَ“Witir di akhir malam lebih utama, siapa yang witir di awal malam maka bagus, shalat setelah witir hukumnya boleh, dan janganlah ia mengulang witir lagi”. (14)Demikian juga Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat malam sama witir, setelah itu istirahat tidur, dan melanjutkan lagi jika telah bangun.Dalam hadits Tsauban Rasulullah memerintahkan shalat dua rakaat setelah witir:عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَقَالَ إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَثِقَلٌ فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلاَّ كَانَتَا لَهُTsauban maula rasulullah berkata : “Dahulu kami bersama rasulullah dalam safar, beliau berkata : “Sesingguhnya safar ini berat dan melelahkan, jika salah satu dari kalian melakukan witir maka shalatlah dua rakaat, jika dia bangun maka (bisa melakukan shalat lagi) dan jika tidak maka shalat itu sudah cukup. (15)Imam Ibnu Khuzaimah berkata sebelum menyebutkan hadits di atas:بَابُ ذِكْرِ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الصَّلَاةَ بَعْدَ الْوِتْرِ مُبَاحَةٌ لِجَمِيعِ مَنْ يُرِيدُ الصَّلَاةَ بَعْدَهُ، وَأَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ لَمْ يَكُونَا خَاصَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ أُمَّتِهِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَنَا بِالرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ، أَمْرَ نَدْبٍ وَفَضِيلَةٍ، لَا أَمْرَ إِيجَابٍ وَفَرِيضَةٍ“Bab dalil bahwa shalat setelah witir diperbolehkan bagi siapa saja yang ingin shalat setelahnya, dan dua rakaat yang dikerjakan oleh Nabi setelah witir bukan khusus bagi nabi tanpa umat beliau, karena nabi telah memerintahkan kita melakukan dua rakaat tersebut setelah witir dengan perintah bersifat anjuran dan keutamaan, bukan perintah yang bersifat wajib”. (16)Demikian juga hadits ini menunjukan boleh ada jeda antara dua shalat malam. Karena dalam lafadz hadits tersebut فَإِنِ اسْتَيْقَظَ yaitu “jika bangun dari tidur” berarti boleh ada jeda waktu antara kedua shalat malam tersebut sekalipun jeda dengan tidur.KEDUA: Para sahabat pernah meminta Nabi untuk sholat tarwih lagi padahal Nabi shallallahu álaihi wasallam telah selesai dari tarwih, dan tentu telah selesai dari sholat witir. Dan Nabi tidak mengingkari permintaan mereka. Ini menunjukan bahwa para sahabat memahami tidak mengapa at-Ta’qib, yaitu melakukan shalat tarwih lagi setelah shalat tarwih yang pertama meskipun jamaáhnya sama.Abu Dzar radhiallahu ánhu berkata :صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (17), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (18)KETIGA: Praktik sebagian sahabat (yaitu Tholq bin Ali radhiallahu ánhu) yang pernah sholat tarwih dua kali dengan jamaah yang berbeda. Dan ini adalah salah satu dari 2 makna at-Ta’qib yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah.عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (19)Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lainKEEMPAT: Jika seseorang boleh sholat malam tanpa berhenti dari ba’da isya hingga jam 3 subuh, maka tentu boleh juga jika ia sholat 2 jam, lalu istirahat 3 jam (baik tidur maupun tidak tidur), lalu melanjutkan lagi 2 jam.Terlebih lagi istilah “Tarawiih” adalah istilah yang baru yang tidak ada di zaman Nabi, akan tetapi sudah di zaman para salaf, karena mereka dahulu setiap kali sholat malam di bulan Ramadhan 4 rakaát maka merekapun istirahat, lalu mereka melanjutkan lagi 4 rakaát lalu istirahat lagi. Istirahat tersebut dalam bahasa Arab adalah التَّرْوِيْحَة (at-Tarwiihah), maka munculah istilah التَّرَاوِيْحُ (at-Tarawiih) yang artinya adalah kumpulan dari istirahat-istirahat mereka tatkala sholat malam.KELIMA: Di zaman Nabi shallallahu álaihi wasallam bahkan para sahabat sholat berkelompok-kelompok kecil (berjamaah-jamaah) di masjid Nabawi dalam satu waktu(20). Dan ini juga terjadi hingga di zaman Umar bin al-Khottob. Lalu akhirnya Umar menggabungkan mereka untuk diimami oleh Ubay bin Kaáb(21).Sisi pendalilan di sini adalah para sahabat tidak memandang terlarangnya berbilangnya jamaáh sholat tarawih. Yang penting tidak menimbulkan kegaduhan.Jika para sahabat membuat beberapa jamaah dengan masing-masing imamnya dalam satu waktu dan dalam satu masjid, maka lebih boleh lagi melakukan lebih dari satu jamaah dengan jeda waktu dan waktu yang berbeda.Jawaban atas dalil pendapat yang memakruhkan shalat ta’qibAdapun alasan yang digunakan oleh Al-Hasan yang membenci shalat ta’qib maka alasan sebenarnya tidak dibenci karena shalatnya, namun karena takut memberatkan manusia. Maka jika orang-orang tidak merasa berat dan tidak merasa bosan tentu tidak mengapa.Adapun Al-Kasani beliau tidak melarang kalau melakukannya sendiri, dengan alasan shalat sunnah mutlak tidak boleh dilakukan berjamaah, maka ini adalah kaidah Hanafiyah yang menyelisihi jumhur ulama, sehingga ini adalah berdalil dengan sesuatu yang masih diperdebatkan, yang menjadikan dalil pendapat ini lemah.Abu Nashr Al-Marwazi berkata : “Ashaburra’yi (yaitu madzhab Hanafi) membenci shalat sunnah berjamaah kecuali qiyam Ramadhan dan shalat gerhana matahari, ini adalah pendapat yang menyelisihi sunnah; karena telah tsabit dari Rasulullah beliau shalat sunnah berjamaah di luar bulan Ramadhan baik malam maupun siang hari, dan dilakukan juga oleh sejumlah sahabat beliau”. (22)Adapun pendalilan dengan sabda Rasulullah :اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (23)Sehingga sholat ta’qiib menjadi makruh karena terjadi sholat lagi setelah witir, maka bisa dijawab bahwa perintah beliau di sini adalah menunjukkan sunnah bukan wajib, karena yang shahih dari sunnah Nabi baik perbuatan maupun ucapan beliau adalah membolehkan shalat setelah melakukan witir dan sudah kita sebutkan di atas.Fatwa Ulama kontemporer yang membolehkan at-Ta’qiibLajnah Ad-Daimah dan didalamnya ada Syaikh Ibnu Bāz pernah ditanya tentang masalah ini dan jawabannya adalah boleh. Diperbolehkan membagi shalat qiyam Ramadhan menjadi dua bagian: satu bagian dilakukan di awal malam dan diringankan sebagai shalat tarawih dan bagian kedua dikerjakan di akhir malam dan dipanjangkan sebagai shalat tahajjud; karena Nabi di sepuluh akhir Ramadhan melakukan tahajjud lebih semangat dan mencari keutamaan malam lailatul qadr. Adapun yang mengatakan tidak boleh, maka menyelisihi petunjuk nabi dan para salaf. (24)Syaikh Utsaimin ketika ditanya beliau menjawab : Yang saya pandang kuat adalah shalat bersama imam sampai salam, saat imam salam witir ia tambah satu rakaat lagi supaya witir tersebut berubah menjadi genap, lalu witir bersama imam kedua di akhir malam. Dengan demikian dia telah menerapkan sabda Rasulullah : “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (25)Syaikh Shalih Al-Fauzan ketika ditanya juga menjawab dengan boleh dan tidak perlu mengulang witir lagi, tapi beliau berpendapat melakukan dua witir lebih utama, karena yang lebih utama menurut beliau adalah mengikuti imam. (26)Selesai…4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Kediaman di Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Catatan kaki:1. Al-Mughni 2/1252. Mushannaf Ibni Abi Syaibah no 77323. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77344. Bada’i Shana’i 3/156. Bahkan At-Tsauri berkata التَّعْقِيْبُ مُحْدَثٌ “At-Ta’qiib adalah muhdats” (Fathul Baari, Ibnu Rojab 9/175)5. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77336. Lihat Fathul Bari, Ibnu Rajab 9/1757. Imam Tirmidzi dalam Sunan beliau mengatakan :لأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَلَّى بَعْدَ الوِتْرِ“telah diriwayatkan lebih dari satu riwayat bahwa Nabi shalat setelah witir”,Kemudian beliau menyebutkan riwayat Ummu Salamah tentang sholat Nabi setelah witir lalu beliau berkata :وَقَدْ رُوِيَ نَحْوُ هَذَا، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، وَعَائِشَةَ، وَغَيْرِ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Dan telah diriwayatkan semacam ini dari Nabi oleh abu umamah, aisyah dan lainnya”.8. HR. Muslim no 1773, Ibnu Majah no 1191, Nasa’i no 1315.9. Sama dengan hadits sebelumnya.10. HR. Muslim no 738, Abu Dawud no 1352, Nasa’I no 1780, Ibnu Majah no 119611. Al-Majmu’ 4/16. An-Nawawi menjelaskan juga bahwa sholatnya Nabi shallallahu álaihi wasallam 2 rakaát setelah witir bukanlah menunjukan disunnahkan sholat 2 raka’at setelah witir sehingga seseorang selalu mendawamkannya, karena yang Nabi anjurkan adalah menjadikan sholat witir sebagai penutup. Akan tetapi maksud Nabi adalah untuk menjelaskan bahwa setelah witir masih boleh melaksanakan sholat sunnah (lihat al-Majmuu’ 4/17, lihat juga Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi 5/21)12. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74913. HR. Tirmidzi no 470, Nasai no 1679 dan Abu Dawud no 1439, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahih Al-Jami’ no 756714. Al-Muhalla 2/92-9315. HR. ad-Darimi no 1584, Thahawi no 2011, Ibnu Hibban no 2577, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no 1106. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 4/64616. Shahih Ibnu Khuzaimah 2/169Asy-Syaikh al-Albani berkata mengomentari hadits ini yang menunjukan taroju’ (berubahnya pendapat) beliau :وهذه فائدة هامة، استفدناها من هذا الحديث، وقد كنا من قبل مترددين في التوفيق بين صلاته صلى الله عليه وسلم الركعتين وبين قوله: ” اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا “، وقلنا في التعليق على ” صفة الصلاة ” (ص 123 – السادسة): ” والأحوط تركهما اتباعا للأمر. والله أعلم “.وقد تبين لنا الآن من هذا الحديث أن الركعتين بعد الوتر ليستا من خصوصياته صلى الله عليه وسلم، لأمره صلى الله عليه وسلم بهما أمته أمرا عاما، فكأن المقصود بالأمر بجعل آخر صلاة الليل وترا، أن لا يهمل الإيتار بركعة، فلا ينافيه صلاة ركعتين بعدهما، كما ثبت من فعله صلى الله عليه وسلم و أمره. والله أعلم.“ini adalah faidah penting yang bisa kami ambil faidah dari hadits ini, karena sejak dahulu kami bimbang dalam menggabungkan antara beliau shalat dua rakaat dan sabda beliau “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir” dan dahulu kita katakan dalam ta’liq (Sifat Shalat hlm. 123 –cetakan ke 6) : yang paling hati-hati adalah meninggalkan dua rakaat tersebut dalam rangka mengikuti perintah beliau.Dan sekarang sudah terang bagi kami dari hadits ini bahwa dua rakaat setelah witir bukanlah kekhususan beliau, karena beliau memerintahkan umatnya melakukan dua rakaat tersebut dengan perintah umum, seolah-olah yang dimaksud dengan perintah menjadikan akhir shalat malam witir adalah agar tidak mengabaikan witir dengan satu rakaat, maka tidak ada lagi pertentangan dengan shalat dua rakaat setelahnya, sebagaimana yang telah shahih dari perbuatan dan perintah beliau” (As-Shahihah 4/647)17. Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34918. HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.19. HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.20. Aisyah berkata :كَانَ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ فِي رَمَضَانَ أَوْزَاعًا، فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَرَبْتُ لَهُ حَصِيرًا، فَصَلَّى عَلَيْهِ“Dahulun orang-orang sholat di Masjid Nabawi di bulan Ramadhan dengan terpencar-pencar. Maka Nabipun memerintahkan aku lalu aku membentangkan baginya karpet maka beliaupun sholat di atasnya” (HR Abu Dawud no 1347 dan dihasankan oleh Al-Albani)21. Dalam Shahih Al-Bukhari no 21010, Abdurrahman bin Ábdin al-Qoori berkataخَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ“Aku keluar bersama Umar bin al-Khottob radhiallahu ánhu pada suatu malam di bulan Ramadhan menuju Masjid (An-Nabawi). Ternyata orang-orang sholat dengan terpencar-pencar. Seseorang sholat sendirian, dan seseorang sholat dan diikuti oleh sekelompok orang. Maka Umar berkata, “Menurutku seandainya aku kumpulkan mereka di atas satu Qori tentu lebih baik”. Lalu Umarpun bertekad, kemudian beliau mengumpulkan mereka diimami oleh Ubay bin Kaáb”.22. Mukhtashar qiyamul lail, Al-Marwazi hlm. 21223. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74924. Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/81-83 fatwa no 19854, silahkan baca juga Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/94-95 pertanyaan kedua dari fatwa no 1863825. Majmu’ Fatawa wa Rasail Syakh Utsaimin 14/126, lihat juga di kitab yang sama 14/190-191, 14/125-126, 14/206-20826. Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan 2/434-435
Hukum Ta’qib (Shalat Tahajjud Lagi Setelah Tarawih)Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.Ibnu Qudamah berkata :فَأَمَّا التَّعْقِيبُ، وَهُوَ أَنْ يُصَلِّيَ بَعْدَ التَّرَاوِيحِ نَافِلَةً أُخْرَى جَمَاعَةً، أَوْ يُصَلِّيَ التَّرَاوِيحَ فِي جَمَاعَةٍ أُخْرَى“Adapun at-Ta’qiib, yaitu sholat sunnah berjamaáh lagi setelah sholat tarawih (dengan jamaáh yang sama), atau sholat tarawih lagi di jamaáh yang lain” (1)Dari sini Ibnu Qudamah menyebutkan dua model at-Táqiib ;Pertama: Yaitu suatu jamaáh sholat tarwih di awal malam, setelah itu mereka sholat tarwih lagi di akhir malamKedua: Yaitu seseorang sholat tarwih pada suatu jamaáh, lalu ia sholat tarwih lagi setelah itu bersama jamaáh yang lain.Dari sini kita tahu bahwasanya jika seseorang setelah sholat tarawih lalu sholat tahajjud sendirian (tanpa berjamaáh) maka diperbolehkan tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama. Yang diperselisihkan adalah kedua bentuk yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah di atasAdapun hukum at-Ta’qiib di bulan Ramadhan maka ada perbedaan pandangan di kalangan salaf, sebagian membolehkan dan sebagian memandang makruh:1. Pendapat yang memakruhkan: Ini adalah pendapat Qatadah(2) dan Al-Hasan, alasan Al-Hasan adalah karena memberatkan orang-orang, beliau mengatakan “Siapa yang memiliki kekuatan maka hendaklah ia lakukan sholat malam sendirian dan tidak dilakukan bersama orang-orang”, beliau juga mengatakan لَا تُمِلُّوا النَّاسَ “Janganlah kalian membuat orang-orang bosan”. (3)Pendapat ini juga dipilih sebagian Hanafiyah, Ishaq bin Rahawaih dan pendapat lama dari Imam Ahmad. Al-Kaasani mengatakan : Jika mereka selesai shalat tarawih kemudian ingin shalat tarawih lagi maka dilakukan sendiri-sendiri dan tidak berjamaah, karena shalat yang kedua adalah shalat sunnah mutlak, dan shalat mutlak berjamaah dibenci. (4)2. Pendapat yang membolehkan: ini adalah pendapat Anas bin Malik dan mayoritas Fuqohaa. Anas radhiallahu ánhu berkata tentang at-Ta’qiib:لَا بَأْسَ بِهِ إِنَّمَا يَرْجِعُونَ إِلَى خَيْرٍ يَرْجُونَهُ، وَيَبْرَءُونَ مِنْ شَرٍّ يَخَافُونَهُ“Tidak mengapa, karena mereka kembali pada kebaikan yang mereka harapkan dan berlepas diri dari keburukan yang mereka takuti”. (5)Ibnu Rojab berkata :وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُكْرَهُ بِحَالٍ“Mayoritas fuqohaa’ berpendapat bahwa at-Ta’qiib tidaklah makruh sama sekali”(6).Dan ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam madzhab hanabilah.Dan pendapat jumhur ulama adalah yang lebih tepat, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:PERTAMA: Asal hukum tarawih di bulan Ramadhan adalah sholat malam (qiyamul lail) yang dikerjakan secara berjamaáh. Bahkan Nabi shallallahu álaihi wasallam pernah sholat dan diam-diam para sahabat bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam. Karenanya apa yang dikerjakan Nabi shallallahu álaihi wasallam tatkala sholat malam sendirian boleh dipraktikan secara berjamaah.Dan telah datang dalam hadits-hadits bahwasanya Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat lagi setelah sholat witir(7). Diantaranya:Pertama: Hadits Aisyah dimana Nabi shallallahu álaihi wasallam shalat 11 rakaat (langsung witir 9 rakaat setelah itu beliau sholat 2 rakaat). Aisyah berkata :كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ“Dahulu kami menyiapkan siwak dan air untuk bersuci beliau, Allah membangunkan beliau pada malam hari dengan kehendak-Nya, beliau pun bersiwak dan shalat 9 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat ke 8, beliau berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian bangkit dan tidak salam, kemudian berdiri dan melanjutkan rakaat ke 9, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau salam dengan salam yang kita dengar, kemudian shalat 2 rakaat setelah salam dalam keadaan duduk, maka semuanya adalah 11 rakaat wahai anakku. (8)Kedua: Nabi juga pernah sholat 9 rakaát, yaitu beliau sholat 7 rakaát setelah itu beliau sholat lagi 2 rakaát.Berdasarkan kelanjutan hadits Aisyah di atas juga:فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ“Ketika Nabi semakin berusia dan gemuk, beliau witir dengan 7 rakaat, kemudian beliau melakukan 2 rakaat seperti di awal, sehingga semuanya 9 rakaat wahai anakku”. (9)Ketiga: Nabi juga pernah sholat 13 rakaat, yaitu beliau sholat 8 rakaát, lalu witir 3 rakaát, lalu sholat lagi 2 rakaát.عَنْ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.Dari Abu Salamah, ia bertanya kepada Aisyah tentang shalat rasulullah, maka ia menjawab : beliau shalat 13 rakaat, shalat 8 rakaat kemudian witir, setelah itu shalat dua rakaat dengan duduk, dan jika ingin ruku’ maka beliau berdiri dan ruku’, kemudian shalat dua rakaat antara adzan dan iqamah shalat subuh. (10)Berdasarkan riwayat-riwayat di atas maka para ulama berkesimpulan bolehnya sholat malam lagi setelah witri. Imam Nawawi berkata,إذَا أَوْتَرَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ نَافِلَةً أَمْ غَيْرَهَا فِي اللَّيْلِ جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ وَلَا يُعِيدُ الْوِتْرَ“Jika seorang melakukan witir kemudian ingin shalat sunnah atau lainnya pada malam itu juga maka diperbolehkan tanpa dibenci dan tidak perlu mengulang witir”(11)Catatan:Tentu yang terbaik adalah seorang menutup sholat malamnya dengan witir. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, dimana Rasulullah bersabda:اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (12)Namun jika seseorang sudah melakukan shalat malam beserta witirnya di awal atau pertengahan malam kemudian ingin melakukan shalat lagi hukumnya diperbolehkan. Dan jika melakukan shalat lagi maka tidak perlu mengulang witir dua kali, cukup dengan witir yang dilakukan di awal, berdasarkan hadits Thalq bin Ali, beliau mendengar rasulullah bersabda:لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (13)Ibnu Hazm mengatakan :وَالْوِتْرُ آخِرَ اللَّيْلِ أَفْضَلُ وَمَنْ أَوْتَرَ أَوَّلَهُ فَحَسَنٌ، وَالصَّلاَةُ بَعْدَ الْوِتْرِ جَائِزَةٌ، وَلاَ يُعِيْدُ وِتْراً آخَرَ“Witir di akhir malam lebih utama, siapa yang witir di awal malam maka bagus, shalat setelah witir hukumnya boleh, dan janganlah ia mengulang witir lagi”. (14)Demikian juga Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat malam sama witir, setelah itu istirahat tidur, dan melanjutkan lagi jika telah bangun.Dalam hadits Tsauban Rasulullah memerintahkan shalat dua rakaat setelah witir:عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَقَالَ إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَثِقَلٌ فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلاَّ كَانَتَا لَهُTsauban maula rasulullah berkata : “Dahulu kami bersama rasulullah dalam safar, beliau berkata : “Sesingguhnya safar ini berat dan melelahkan, jika salah satu dari kalian melakukan witir maka shalatlah dua rakaat, jika dia bangun maka (bisa melakukan shalat lagi) dan jika tidak maka shalat itu sudah cukup. (15)Imam Ibnu Khuzaimah berkata sebelum menyebutkan hadits di atas:بَابُ ذِكْرِ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الصَّلَاةَ بَعْدَ الْوِتْرِ مُبَاحَةٌ لِجَمِيعِ مَنْ يُرِيدُ الصَّلَاةَ بَعْدَهُ، وَأَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ لَمْ يَكُونَا خَاصَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ أُمَّتِهِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَنَا بِالرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ، أَمْرَ نَدْبٍ وَفَضِيلَةٍ، لَا أَمْرَ إِيجَابٍ وَفَرِيضَةٍ“Bab dalil bahwa shalat setelah witir diperbolehkan bagi siapa saja yang ingin shalat setelahnya, dan dua rakaat yang dikerjakan oleh Nabi setelah witir bukan khusus bagi nabi tanpa umat beliau, karena nabi telah memerintahkan kita melakukan dua rakaat tersebut setelah witir dengan perintah bersifat anjuran dan keutamaan, bukan perintah yang bersifat wajib”. (16)Demikian juga hadits ini menunjukan boleh ada jeda antara dua shalat malam. Karena dalam lafadz hadits tersebut فَإِنِ اسْتَيْقَظَ yaitu “jika bangun dari tidur” berarti boleh ada jeda waktu antara kedua shalat malam tersebut sekalipun jeda dengan tidur.KEDUA: Para sahabat pernah meminta Nabi untuk sholat tarwih lagi padahal Nabi shallallahu álaihi wasallam telah selesai dari tarwih, dan tentu telah selesai dari sholat witir. Dan Nabi tidak mengingkari permintaan mereka. Ini menunjukan bahwa para sahabat memahami tidak mengapa at-Ta’qib, yaitu melakukan shalat tarwih lagi setelah shalat tarwih yang pertama meskipun jamaáhnya sama.Abu Dzar radhiallahu ánhu berkata :صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (17), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (18)KETIGA: Praktik sebagian sahabat (yaitu Tholq bin Ali radhiallahu ánhu) yang pernah sholat tarwih dua kali dengan jamaah yang berbeda. Dan ini adalah salah satu dari 2 makna at-Ta’qib yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah.عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (19)Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lainKEEMPAT: Jika seseorang boleh sholat malam tanpa berhenti dari ba’da isya hingga jam 3 subuh, maka tentu boleh juga jika ia sholat 2 jam, lalu istirahat 3 jam (baik tidur maupun tidak tidur), lalu melanjutkan lagi 2 jam.Terlebih lagi istilah “Tarawiih” adalah istilah yang baru yang tidak ada di zaman Nabi, akan tetapi sudah di zaman para salaf, karena mereka dahulu setiap kali sholat malam di bulan Ramadhan 4 rakaát maka merekapun istirahat, lalu mereka melanjutkan lagi 4 rakaát lalu istirahat lagi. Istirahat tersebut dalam bahasa Arab adalah التَّرْوِيْحَة (at-Tarwiihah), maka munculah istilah التَّرَاوِيْحُ (at-Tarawiih) yang artinya adalah kumpulan dari istirahat-istirahat mereka tatkala sholat malam.KELIMA: Di zaman Nabi shallallahu álaihi wasallam bahkan para sahabat sholat berkelompok-kelompok kecil (berjamaah-jamaah) di masjid Nabawi dalam satu waktu(20). Dan ini juga terjadi hingga di zaman Umar bin al-Khottob. Lalu akhirnya Umar menggabungkan mereka untuk diimami oleh Ubay bin Kaáb(21).Sisi pendalilan di sini adalah para sahabat tidak memandang terlarangnya berbilangnya jamaáh sholat tarawih. Yang penting tidak menimbulkan kegaduhan.Jika para sahabat membuat beberapa jamaah dengan masing-masing imamnya dalam satu waktu dan dalam satu masjid, maka lebih boleh lagi melakukan lebih dari satu jamaah dengan jeda waktu dan waktu yang berbeda.Jawaban atas dalil pendapat yang memakruhkan shalat ta’qibAdapun alasan yang digunakan oleh Al-Hasan yang membenci shalat ta’qib maka alasan sebenarnya tidak dibenci karena shalatnya, namun karena takut memberatkan manusia. Maka jika orang-orang tidak merasa berat dan tidak merasa bosan tentu tidak mengapa.Adapun Al-Kasani beliau tidak melarang kalau melakukannya sendiri, dengan alasan shalat sunnah mutlak tidak boleh dilakukan berjamaah, maka ini adalah kaidah Hanafiyah yang menyelisihi jumhur ulama, sehingga ini adalah berdalil dengan sesuatu yang masih diperdebatkan, yang menjadikan dalil pendapat ini lemah.Abu Nashr Al-Marwazi berkata : “Ashaburra’yi (yaitu madzhab Hanafi) membenci shalat sunnah berjamaah kecuali qiyam Ramadhan dan shalat gerhana matahari, ini adalah pendapat yang menyelisihi sunnah; karena telah tsabit dari Rasulullah beliau shalat sunnah berjamaah di luar bulan Ramadhan baik malam maupun siang hari, dan dilakukan juga oleh sejumlah sahabat beliau”. (22)Adapun pendalilan dengan sabda Rasulullah :اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (23)Sehingga sholat ta’qiib menjadi makruh karena terjadi sholat lagi setelah witir, maka bisa dijawab bahwa perintah beliau di sini adalah menunjukkan sunnah bukan wajib, karena yang shahih dari sunnah Nabi baik perbuatan maupun ucapan beliau adalah membolehkan shalat setelah melakukan witir dan sudah kita sebutkan di atas.Fatwa Ulama kontemporer yang membolehkan at-Ta’qiibLajnah Ad-Daimah dan didalamnya ada Syaikh Ibnu Bāz pernah ditanya tentang masalah ini dan jawabannya adalah boleh. Diperbolehkan membagi shalat qiyam Ramadhan menjadi dua bagian: satu bagian dilakukan di awal malam dan diringankan sebagai shalat tarawih dan bagian kedua dikerjakan di akhir malam dan dipanjangkan sebagai shalat tahajjud; karena Nabi di sepuluh akhir Ramadhan melakukan tahajjud lebih semangat dan mencari keutamaan malam lailatul qadr. Adapun yang mengatakan tidak boleh, maka menyelisihi petunjuk nabi dan para salaf. (24)Syaikh Utsaimin ketika ditanya beliau menjawab : Yang saya pandang kuat adalah shalat bersama imam sampai salam, saat imam salam witir ia tambah satu rakaat lagi supaya witir tersebut berubah menjadi genap, lalu witir bersama imam kedua di akhir malam. Dengan demikian dia telah menerapkan sabda Rasulullah : “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (25)Syaikh Shalih Al-Fauzan ketika ditanya juga menjawab dengan boleh dan tidak perlu mengulang witir lagi, tapi beliau berpendapat melakukan dua witir lebih utama, karena yang lebih utama menurut beliau adalah mengikuti imam. (26)Selesai…4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Kediaman di Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Catatan kaki:1. Al-Mughni 2/1252. Mushannaf Ibni Abi Syaibah no 77323. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77344. Bada’i Shana’i 3/156. Bahkan At-Tsauri berkata التَّعْقِيْبُ مُحْدَثٌ “At-Ta’qiib adalah muhdats” (Fathul Baari, Ibnu Rojab 9/175)5. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77336. Lihat Fathul Bari, Ibnu Rajab 9/1757. Imam Tirmidzi dalam Sunan beliau mengatakan :لأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَلَّى بَعْدَ الوِتْرِ“telah diriwayatkan lebih dari satu riwayat bahwa Nabi shalat setelah witir”,Kemudian beliau menyebutkan riwayat Ummu Salamah tentang sholat Nabi setelah witir lalu beliau berkata :وَقَدْ رُوِيَ نَحْوُ هَذَا، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، وَعَائِشَةَ، وَغَيْرِ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Dan telah diriwayatkan semacam ini dari Nabi oleh abu umamah, aisyah dan lainnya”.8. HR. Muslim no 1773, Ibnu Majah no 1191, Nasa’i no 1315.9. Sama dengan hadits sebelumnya.10. HR. Muslim no 738, Abu Dawud no 1352, Nasa’I no 1780, Ibnu Majah no 119611. Al-Majmu’ 4/16. An-Nawawi menjelaskan juga bahwa sholatnya Nabi shallallahu álaihi wasallam 2 rakaát setelah witir bukanlah menunjukan disunnahkan sholat 2 raka’at setelah witir sehingga seseorang selalu mendawamkannya, karena yang Nabi anjurkan adalah menjadikan sholat witir sebagai penutup. Akan tetapi maksud Nabi adalah untuk menjelaskan bahwa setelah witir masih boleh melaksanakan sholat sunnah (lihat al-Majmuu’ 4/17, lihat juga Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi 5/21)12. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74913. HR. Tirmidzi no 470, Nasai no 1679 dan Abu Dawud no 1439, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahih Al-Jami’ no 756714. Al-Muhalla 2/92-9315. HR. ad-Darimi no 1584, Thahawi no 2011, Ibnu Hibban no 2577, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no 1106. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 4/64616. Shahih Ibnu Khuzaimah 2/169Asy-Syaikh al-Albani berkata mengomentari hadits ini yang menunjukan taroju’ (berubahnya pendapat) beliau :وهذه فائدة هامة، استفدناها من هذا الحديث، وقد كنا من قبل مترددين في التوفيق بين صلاته صلى الله عليه وسلم الركعتين وبين قوله: ” اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا “، وقلنا في التعليق على ” صفة الصلاة ” (ص 123 – السادسة): ” والأحوط تركهما اتباعا للأمر. والله أعلم “.وقد تبين لنا الآن من هذا الحديث أن الركعتين بعد الوتر ليستا من خصوصياته صلى الله عليه وسلم، لأمره صلى الله عليه وسلم بهما أمته أمرا عاما، فكأن المقصود بالأمر بجعل آخر صلاة الليل وترا، أن لا يهمل الإيتار بركعة، فلا ينافيه صلاة ركعتين بعدهما، كما ثبت من فعله صلى الله عليه وسلم و أمره. والله أعلم.“ini adalah faidah penting yang bisa kami ambil faidah dari hadits ini, karena sejak dahulu kami bimbang dalam menggabungkan antara beliau shalat dua rakaat dan sabda beliau “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir” dan dahulu kita katakan dalam ta’liq (Sifat Shalat hlm. 123 –cetakan ke 6) : yang paling hati-hati adalah meninggalkan dua rakaat tersebut dalam rangka mengikuti perintah beliau.Dan sekarang sudah terang bagi kami dari hadits ini bahwa dua rakaat setelah witir bukanlah kekhususan beliau, karena beliau memerintahkan umatnya melakukan dua rakaat tersebut dengan perintah umum, seolah-olah yang dimaksud dengan perintah menjadikan akhir shalat malam witir adalah agar tidak mengabaikan witir dengan satu rakaat, maka tidak ada lagi pertentangan dengan shalat dua rakaat setelahnya, sebagaimana yang telah shahih dari perbuatan dan perintah beliau” (As-Shahihah 4/647)17. Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34918. HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.19. HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.20. Aisyah berkata :كَانَ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ فِي رَمَضَانَ أَوْزَاعًا، فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَرَبْتُ لَهُ حَصِيرًا، فَصَلَّى عَلَيْهِ“Dahulun orang-orang sholat di Masjid Nabawi di bulan Ramadhan dengan terpencar-pencar. Maka Nabipun memerintahkan aku lalu aku membentangkan baginya karpet maka beliaupun sholat di atasnya” (HR Abu Dawud no 1347 dan dihasankan oleh Al-Albani)21. Dalam Shahih Al-Bukhari no 21010, Abdurrahman bin Ábdin al-Qoori berkataخَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ“Aku keluar bersama Umar bin al-Khottob radhiallahu ánhu pada suatu malam di bulan Ramadhan menuju Masjid (An-Nabawi). Ternyata orang-orang sholat dengan terpencar-pencar. Seseorang sholat sendirian, dan seseorang sholat dan diikuti oleh sekelompok orang. Maka Umar berkata, “Menurutku seandainya aku kumpulkan mereka di atas satu Qori tentu lebih baik”. Lalu Umarpun bertekad, kemudian beliau mengumpulkan mereka diimami oleh Ubay bin Kaáb”.22. Mukhtashar qiyamul lail, Al-Marwazi hlm. 21223. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74924. Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/81-83 fatwa no 19854, silahkan baca juga Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/94-95 pertanyaan kedua dari fatwa no 1863825. Majmu’ Fatawa wa Rasail Syakh Utsaimin 14/126, lihat juga di kitab yang sama 14/190-191, 14/125-126, 14/206-20826. Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan 2/434-435


Hukum Ta’qib (Shalat Tahajjud Lagi Setelah Tarawih)Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc. MA.Ibnu Qudamah berkata :فَأَمَّا التَّعْقِيبُ، وَهُوَ أَنْ يُصَلِّيَ بَعْدَ التَّرَاوِيحِ نَافِلَةً أُخْرَى جَمَاعَةً، أَوْ يُصَلِّيَ التَّرَاوِيحَ فِي جَمَاعَةٍ أُخْرَى“Adapun at-Ta’qiib, yaitu sholat sunnah berjamaáh lagi setelah sholat tarawih (dengan jamaáh yang sama), atau sholat tarawih lagi di jamaáh yang lain” (1)Dari sini Ibnu Qudamah menyebutkan dua model at-Táqiib ;Pertama: Yaitu suatu jamaáh sholat tarwih di awal malam, setelah itu mereka sholat tarwih lagi di akhir malamKedua: Yaitu seseorang sholat tarwih pada suatu jamaáh, lalu ia sholat tarwih lagi setelah itu bersama jamaáh yang lain.Dari sini kita tahu bahwasanya jika seseorang setelah sholat tarawih lalu sholat tahajjud sendirian (tanpa berjamaáh) maka diperbolehkan tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama. Yang diperselisihkan adalah kedua bentuk yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah di atasAdapun hukum at-Ta’qiib di bulan Ramadhan maka ada perbedaan pandangan di kalangan salaf, sebagian membolehkan dan sebagian memandang makruh:1. Pendapat yang memakruhkan: Ini adalah pendapat Qatadah(2) dan Al-Hasan, alasan Al-Hasan adalah karena memberatkan orang-orang, beliau mengatakan “Siapa yang memiliki kekuatan maka hendaklah ia lakukan sholat malam sendirian dan tidak dilakukan bersama orang-orang”, beliau juga mengatakan لَا تُمِلُّوا النَّاسَ “Janganlah kalian membuat orang-orang bosan”. (3)Pendapat ini juga dipilih sebagian Hanafiyah, Ishaq bin Rahawaih dan pendapat lama dari Imam Ahmad. Al-Kaasani mengatakan : Jika mereka selesai shalat tarawih kemudian ingin shalat tarawih lagi maka dilakukan sendiri-sendiri dan tidak berjamaah, karena shalat yang kedua adalah shalat sunnah mutlak, dan shalat mutlak berjamaah dibenci. (4)2. Pendapat yang membolehkan: ini adalah pendapat Anas bin Malik dan mayoritas Fuqohaa. Anas radhiallahu ánhu berkata tentang at-Ta’qiib:لَا بَأْسَ بِهِ إِنَّمَا يَرْجِعُونَ إِلَى خَيْرٍ يَرْجُونَهُ، وَيَبْرَءُونَ مِنْ شَرٍّ يَخَافُونَهُ“Tidak mengapa, karena mereka kembali pada kebaikan yang mereka harapkan dan berlepas diri dari keburukan yang mereka takuti”. (5)Ibnu Rojab berkata :وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُكْرَهُ بِحَالٍ“Mayoritas fuqohaa’ berpendapat bahwa at-Ta’qiib tidaklah makruh sama sekali”(6).Dan ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam madzhab hanabilah.Dan pendapat jumhur ulama adalah yang lebih tepat, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:PERTAMA: Asal hukum tarawih di bulan Ramadhan adalah sholat malam (qiyamul lail) yang dikerjakan secara berjamaáh. Bahkan Nabi shallallahu álaihi wasallam pernah sholat dan diam-diam para sahabat bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam. Karenanya apa yang dikerjakan Nabi shallallahu álaihi wasallam tatkala sholat malam sendirian boleh dipraktikan secara berjamaah.Dan telah datang dalam hadits-hadits bahwasanya Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat lagi setelah sholat witir(7). Diantaranya:Pertama: Hadits Aisyah dimana Nabi shallallahu álaihi wasallam shalat 11 rakaat (langsung witir 9 rakaat setelah itu beliau sholat 2 rakaat). Aisyah berkata :كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ“Dahulu kami menyiapkan siwak dan air untuk bersuci beliau, Allah membangunkan beliau pada malam hari dengan kehendak-Nya, beliau pun bersiwak dan shalat 9 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat ke 8, beliau berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian bangkit dan tidak salam, kemudian berdiri dan melanjutkan rakaat ke 9, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau salam dengan salam yang kita dengar, kemudian shalat 2 rakaat setelah salam dalam keadaan duduk, maka semuanya adalah 11 rakaat wahai anakku. (8)Kedua: Nabi juga pernah sholat 9 rakaát, yaitu beliau sholat 7 rakaát setelah itu beliau sholat lagi 2 rakaát.Berdasarkan kelanjutan hadits Aisyah di atas juga:فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ“Ketika Nabi semakin berusia dan gemuk, beliau witir dengan 7 rakaat, kemudian beliau melakukan 2 rakaat seperti di awal, sehingga semuanya 9 rakaat wahai anakku”. (9)Ketiga: Nabi juga pernah sholat 13 rakaat, yaitu beliau sholat 8 rakaát, lalu witir 3 rakaát, lalu sholat lagi 2 rakaát.عَنْ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.Dari Abu Salamah, ia bertanya kepada Aisyah tentang shalat rasulullah, maka ia menjawab : beliau shalat 13 rakaat, shalat 8 rakaat kemudian witir, setelah itu shalat dua rakaat dengan duduk, dan jika ingin ruku’ maka beliau berdiri dan ruku’, kemudian shalat dua rakaat antara adzan dan iqamah shalat subuh. (10)Berdasarkan riwayat-riwayat di atas maka para ulama berkesimpulan bolehnya sholat malam lagi setelah witri. Imam Nawawi berkata,إذَا أَوْتَرَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ نَافِلَةً أَمْ غَيْرَهَا فِي اللَّيْلِ جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ وَلَا يُعِيدُ الْوِتْرَ“Jika seorang melakukan witir kemudian ingin shalat sunnah atau lainnya pada malam itu juga maka diperbolehkan tanpa dibenci dan tidak perlu mengulang witir”(11)Catatan:Tentu yang terbaik adalah seorang menutup sholat malamnya dengan witir. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, dimana Rasulullah bersabda:اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (12)Namun jika seseorang sudah melakukan shalat malam beserta witirnya di awal atau pertengahan malam kemudian ingin melakukan shalat lagi hukumnya diperbolehkan. Dan jika melakukan shalat lagi maka tidak perlu mengulang witir dua kali, cukup dengan witir yang dilakukan di awal, berdasarkan hadits Thalq bin Ali, beliau mendengar rasulullah bersabda:لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (13)Ibnu Hazm mengatakan :وَالْوِتْرُ آخِرَ اللَّيْلِ أَفْضَلُ وَمَنْ أَوْتَرَ أَوَّلَهُ فَحَسَنٌ، وَالصَّلاَةُ بَعْدَ الْوِتْرِ جَائِزَةٌ، وَلاَ يُعِيْدُ وِتْراً آخَرَ“Witir di akhir malam lebih utama, siapa yang witir di awal malam maka bagus, shalat setelah witir hukumnya boleh, dan janganlah ia mengulang witir lagi”. (14)Demikian juga Nabi shallallahu álaihi wasallam membolehkan sholat malam sama witir, setelah itu istirahat tidur, dan melanjutkan lagi jika telah bangun.Dalam hadits Tsauban Rasulullah memerintahkan shalat dua rakaat setelah witir:عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَقَالَ إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَثِقَلٌ فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلاَّ كَانَتَا لَهُTsauban maula rasulullah berkata : “Dahulu kami bersama rasulullah dalam safar, beliau berkata : “Sesingguhnya safar ini berat dan melelahkan, jika salah satu dari kalian melakukan witir maka shalatlah dua rakaat, jika dia bangun maka (bisa melakukan shalat lagi) dan jika tidak maka shalat itu sudah cukup. (15)Imam Ibnu Khuzaimah berkata sebelum menyebutkan hadits di atas:بَابُ ذِكْرِ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الصَّلَاةَ بَعْدَ الْوِتْرِ مُبَاحَةٌ لِجَمِيعِ مَنْ يُرِيدُ الصَّلَاةَ بَعْدَهُ، وَأَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ لَمْ يَكُونَا خَاصَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دُونَ أُمَّتِهِ، إِذِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَنَا بِالرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ، أَمْرَ نَدْبٍ وَفَضِيلَةٍ، لَا أَمْرَ إِيجَابٍ وَفَرِيضَةٍ“Bab dalil bahwa shalat setelah witir diperbolehkan bagi siapa saja yang ingin shalat setelahnya, dan dua rakaat yang dikerjakan oleh Nabi setelah witir bukan khusus bagi nabi tanpa umat beliau, karena nabi telah memerintahkan kita melakukan dua rakaat tersebut setelah witir dengan perintah bersifat anjuran dan keutamaan, bukan perintah yang bersifat wajib”. (16)Demikian juga hadits ini menunjukan boleh ada jeda antara dua shalat malam. Karena dalam lafadz hadits tersebut فَإِنِ اسْتَيْقَظَ yaitu “jika bangun dari tidur” berarti boleh ada jeda waktu antara kedua shalat malam tersebut sekalipun jeda dengan tidur.KEDUA: Para sahabat pernah meminta Nabi untuk sholat tarwih lagi padahal Nabi shallallahu álaihi wasallam telah selesai dari tarwih, dan tentu telah selesai dari sholat witir. Dan Nabi tidak mengingkari permintaan mereka. Ini menunjukan bahwa para sahabat memahami tidak mengapa at-Ta’qib, yaitu melakukan shalat tarwih lagi setelah shalat tarwih yang pertama meskipun jamaáhnya sama.Abu Dzar radhiallahu ánhu berkata :صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (17), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (18)KETIGA: Praktik sebagian sahabat (yaitu Tholq bin Ali radhiallahu ánhu) yang pernah sholat tarwih dua kali dengan jamaah yang berbeda. Dan ini adalah salah satu dari 2 makna at-Ta’qib yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah.عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (19)Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lainKEEMPAT: Jika seseorang boleh sholat malam tanpa berhenti dari ba’da isya hingga jam 3 subuh, maka tentu boleh juga jika ia sholat 2 jam, lalu istirahat 3 jam (baik tidur maupun tidak tidur), lalu melanjutkan lagi 2 jam.Terlebih lagi istilah “Tarawiih” adalah istilah yang baru yang tidak ada di zaman Nabi, akan tetapi sudah di zaman para salaf, karena mereka dahulu setiap kali sholat malam di bulan Ramadhan 4 rakaát maka merekapun istirahat, lalu mereka melanjutkan lagi 4 rakaát lalu istirahat lagi. Istirahat tersebut dalam bahasa Arab adalah التَّرْوِيْحَة (at-Tarwiihah), maka munculah istilah التَّرَاوِيْحُ (at-Tarawiih) yang artinya adalah kumpulan dari istirahat-istirahat mereka tatkala sholat malam.KELIMA: Di zaman Nabi shallallahu álaihi wasallam bahkan para sahabat sholat berkelompok-kelompok kecil (berjamaah-jamaah) di masjid Nabawi dalam satu waktu(20). Dan ini juga terjadi hingga di zaman Umar bin al-Khottob. Lalu akhirnya Umar menggabungkan mereka untuk diimami oleh Ubay bin Kaáb(21).Sisi pendalilan di sini adalah para sahabat tidak memandang terlarangnya berbilangnya jamaáh sholat tarawih. Yang penting tidak menimbulkan kegaduhan.Jika para sahabat membuat beberapa jamaah dengan masing-masing imamnya dalam satu waktu dan dalam satu masjid, maka lebih boleh lagi melakukan lebih dari satu jamaah dengan jeda waktu dan waktu yang berbeda.Jawaban atas dalil pendapat yang memakruhkan shalat ta’qibAdapun alasan yang digunakan oleh Al-Hasan yang membenci shalat ta’qib maka alasan sebenarnya tidak dibenci karena shalatnya, namun karena takut memberatkan manusia. Maka jika orang-orang tidak merasa berat dan tidak merasa bosan tentu tidak mengapa.Adapun Al-Kasani beliau tidak melarang kalau melakukannya sendiri, dengan alasan shalat sunnah mutlak tidak boleh dilakukan berjamaah, maka ini adalah kaidah Hanafiyah yang menyelisihi jumhur ulama, sehingga ini adalah berdalil dengan sesuatu yang masih diperdebatkan, yang menjadikan dalil pendapat ini lemah.Abu Nashr Al-Marwazi berkata : “Ashaburra’yi (yaitu madzhab Hanafi) membenci shalat sunnah berjamaah kecuali qiyam Ramadhan dan shalat gerhana matahari, ini adalah pendapat yang menyelisihi sunnah; karena telah tsabit dari Rasulullah beliau shalat sunnah berjamaah di luar bulan Ramadhan baik malam maupun siang hari, dan dilakukan juga oleh sejumlah sahabat beliau”. (22)Adapun pendalilan dengan sabda Rasulullah :اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.“Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (23)Sehingga sholat ta’qiib menjadi makruh karena terjadi sholat lagi setelah witir, maka bisa dijawab bahwa perintah beliau di sini adalah menunjukkan sunnah bukan wajib, karena yang shahih dari sunnah Nabi baik perbuatan maupun ucapan beliau adalah membolehkan shalat setelah melakukan witir dan sudah kita sebutkan di atas.Fatwa Ulama kontemporer yang membolehkan at-Ta’qiibLajnah Ad-Daimah dan didalamnya ada Syaikh Ibnu Bāz pernah ditanya tentang masalah ini dan jawabannya adalah boleh. Diperbolehkan membagi shalat qiyam Ramadhan menjadi dua bagian: satu bagian dilakukan di awal malam dan diringankan sebagai shalat tarawih dan bagian kedua dikerjakan di akhir malam dan dipanjangkan sebagai shalat tahajjud; karena Nabi di sepuluh akhir Ramadhan melakukan tahajjud lebih semangat dan mencari keutamaan malam lailatul qadr. Adapun yang mengatakan tidak boleh, maka menyelisihi petunjuk nabi dan para salaf. (24)Syaikh Utsaimin ketika ditanya beliau menjawab : Yang saya pandang kuat adalah shalat bersama imam sampai salam, saat imam salam witir ia tambah satu rakaat lagi supaya witir tersebut berubah menjadi genap, lalu witir bersama imam kedua di akhir malam. Dengan demikian dia telah menerapkan sabda Rasulullah : “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir”. (25)Syaikh Shalih Al-Fauzan ketika ditanya juga menjawab dengan boleh dan tidak perlu mengulang witir lagi, tapi beliau berpendapat melakukan dua witir lebih utama, karena yang lebih utama menurut beliau adalah mengikuti imam. (26)Selesai…4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Kediaman di Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Catatan kaki:1. Al-Mughni 2/1252. Mushannaf Ibni Abi Syaibah no 77323. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77344. Bada’i Shana’i 3/156. Bahkan At-Tsauri berkata التَّعْقِيْبُ مُحْدَثٌ “At-Ta’qiib adalah muhdats” (Fathul Baari, Ibnu Rojab 9/175)5. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no 77336. Lihat Fathul Bari, Ibnu Rajab 9/1757. Imam Tirmidzi dalam Sunan beliau mengatakan :لأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَلَّى بَعْدَ الوِتْرِ“telah diriwayatkan lebih dari satu riwayat bahwa Nabi shalat setelah witir”,Kemudian beliau menyebutkan riwayat Ummu Salamah tentang sholat Nabi setelah witir lalu beliau berkata :وَقَدْ رُوِيَ نَحْوُ هَذَا، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، وَعَائِشَةَ، وَغَيْرِ وَاحِدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ“Dan telah diriwayatkan semacam ini dari Nabi oleh abu umamah, aisyah dan lainnya”.8. HR. Muslim no 1773, Ibnu Majah no 1191, Nasa’i no 1315.9. Sama dengan hadits sebelumnya.10. HR. Muslim no 738, Abu Dawud no 1352, Nasa’I no 1780, Ibnu Majah no 119611. Al-Majmu’ 4/16. An-Nawawi menjelaskan juga bahwa sholatnya Nabi shallallahu álaihi wasallam 2 rakaát setelah witir bukanlah menunjukan disunnahkan sholat 2 raka’at setelah witir sehingga seseorang selalu mendawamkannya, karena yang Nabi anjurkan adalah menjadikan sholat witir sebagai penutup. Akan tetapi maksud Nabi adalah untuk menjelaskan bahwa setelah witir masih boleh melaksanakan sholat sunnah (lihat al-Majmuu’ 4/17, lihat juga Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi 5/21)12. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74913. HR. Tirmidzi no 470, Nasai no 1679 dan Abu Dawud no 1439, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahih Al-Jami’ no 756714. Al-Muhalla 2/92-9315. HR. ad-Darimi no 1584, Thahawi no 2011, Ibnu Hibban no 2577, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no 1106. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 4/64616. Shahih Ibnu Khuzaimah 2/169Asy-Syaikh al-Albani berkata mengomentari hadits ini yang menunjukan taroju’ (berubahnya pendapat) beliau :وهذه فائدة هامة، استفدناها من هذا الحديث، وقد كنا من قبل مترددين في التوفيق بين صلاته صلى الله عليه وسلم الركعتين وبين قوله: ” اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا “، وقلنا في التعليق على ” صفة الصلاة ” (ص 123 – السادسة): ” والأحوط تركهما اتباعا للأمر. والله أعلم “.وقد تبين لنا الآن من هذا الحديث أن الركعتين بعد الوتر ليستا من خصوصياته صلى الله عليه وسلم، لأمره صلى الله عليه وسلم بهما أمته أمرا عاما، فكأن المقصود بالأمر بجعل آخر صلاة الليل وترا، أن لا يهمل الإيتار بركعة، فلا ينافيه صلاة ركعتين بعدهما، كما ثبت من فعله صلى الله عليه وسلم و أمره. والله أعلم.“ini adalah faidah penting yang bisa kami ambil faidah dari hadits ini, karena sejak dahulu kami bimbang dalam menggabungkan antara beliau shalat dua rakaat dan sabda beliau “Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir” dan dahulu kita katakan dalam ta’liq (Sifat Shalat hlm. 123 –cetakan ke 6) : yang paling hati-hati adalah meninggalkan dua rakaat tersebut dalam rangka mengikuti perintah beliau.Dan sekarang sudah terang bagi kami dari hadits ini bahwa dua rakaat setelah witir bukanlah kekhususan beliau, karena beliau memerintahkan umatnya melakukan dua rakaat tersebut dengan perintah umum, seolah-olah yang dimaksud dengan perintah menjadikan akhir shalat malam witir adalah agar tidak mengabaikan witir dengan satu rakaat, maka tidak ada lagi pertentangan dengan shalat dua rakaat setelahnya, sebagaimana yang telah shahih dari perbuatan dan perintah beliau” (As-Shahihah 4/647)17. Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34918. HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.19. HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.20. Aisyah berkata :كَانَ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ فِي رَمَضَانَ أَوْزَاعًا، فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَضَرَبْتُ لَهُ حَصِيرًا، فَصَلَّى عَلَيْهِ“Dahulun orang-orang sholat di Masjid Nabawi di bulan Ramadhan dengan terpencar-pencar. Maka Nabipun memerintahkan aku lalu aku membentangkan baginya karpet maka beliaupun sholat di atasnya” (HR Abu Dawud no 1347 dan dihasankan oleh Al-Albani)21. Dalam Shahih Al-Bukhari no 21010, Abdurrahman bin Ábdin al-Qoori berkataخَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ“Aku keluar bersama Umar bin al-Khottob radhiallahu ánhu pada suatu malam di bulan Ramadhan menuju Masjid (An-Nabawi). Ternyata orang-orang sholat dengan terpencar-pencar. Seseorang sholat sendirian, dan seseorang sholat dan diikuti oleh sekelompok orang. Maka Umar berkata, “Menurutku seandainya aku kumpulkan mereka di atas satu Qori tentu lebih baik”. Lalu Umarpun bertekad, kemudian beliau mengumpulkan mereka diimami oleh Ubay bin Kaáb”.22. Mukhtashar qiyamul lail, Al-Marwazi hlm. 21223. HR. Bukhari no 998 dan Muslim no 74924. Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/81-83 fatwa no 19854, silahkan baca juga Fatwa Lajnah Daimah, Bagian Kedua 6/94-95 pertanyaan kedua dari fatwa no 1863825. Majmu’ Fatawa wa Rasail Syakh Utsaimin 14/126, lihat juga di kitab yang sama 14/190-191, 14/125-126, 14/206-20826. Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan 2/434-435

Khutbah Jumat: Yuk Bayar Zakat Maal! (Ini Keutamaan dan Bahaya Enggan Bayar)

Yuk bayar zakat maal, di mana banyak di antara kita yang masih belum sadar untuk menunaikannya.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman. Itulah nikmat yang paling besar yang wajib kita syukuri. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya. Perintah takwa ini sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Membayar zakat itu termasuk rukun Islam sebagaimana shalat dan puasa. Pada Khutbah Jumat kali ini, kita akan melihat keutamaan dan bahaya enggan menunaikan zakat.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah … Apa itu zakat?   Zakat–secara bahasa—ada tiga makna: Pertama, bermakna “النّماء والزّيادة” an-namaa’ waz ziyadah, berarti bertambah atau tumbuh. Kedua, bermakna “الصّلاح” ash-shalaah, berarti yang lebih baik. Ketiga, bermakna “تطهير” tath-hiir, berarti menyucikan. Secara istilah syar’i, zakat berartipenunaian kewajiban pada harta yang khusus, dengan cara yang khusus, dan disyaratkan ketika dikeluarkan telah memenuhi haul (masa satu tahun) dan nishab (ukuran minimal dikenai kewajiban zakat).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Zakat ini merupakan suatu kewajiban dan bagian dari rukun Islam. Hal ini tidak bisa diragukan lagi karena telah terdapat berbagai dalil dari Alquran, Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, dan ijmak (kata sepakat ulama). Dalil yang menyatakan wajibnya zakat di antaranya terdapat dalam ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (QS. Al-Baqarah: 43). Begitu pula dalam hadits ditunjukkan mengenai wajibnya melalui hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja keutamaan jika kita memperhatikan membayar zakat?   Menyempurnakan keislaman seorang muslim. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45) Sebab masuk surga. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (QS. Al-Qashash: 77) Memadamkan kemarahan orang miskin. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidup dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hinggaAllah menyelesaikan proses hisab.” (HR. Ahmad, 4:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishab zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. Menambah keberkahan harta. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2558) Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartamereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah, no. 4019. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.”  (HR. Tirmidzi, no. 664. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib) Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, no. 614. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). (Lihat Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’, 6:7-11).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja hukuman bagi orang yang enggan bayar zakat?   1- Hukuman bagiyang mengingkari kewajiban zakat Ibnu Hajar berkata, “Adapun hukum asal zakat adalah wajib. Siapa yang menentang hukum zakat ini, ia kafir.” (Fath Al-Bari, 3:262) 2- Orang yang enggan menunaikan zakat dalamrangka bakhil dan pelit. Orang yang enggan menunaikan zakat dalam keadaan meyakini wajibnya, ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat. AllahTa’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Siapa saja yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan dibuatkan untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, rusuk dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan dipanaskan lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia mengetahui tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.” (HR. Muslim, no. 987)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Kliwon, 5 Ramadhan 1440 H @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Warak Girisekar Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbahaya enggan bayar zakat dosa besar enggan bayar zakat dosa enggan bayar zakat keutamaan bayar zakat keutamaan zakat khutbah jumat khutbah jumat ramadhan panduan zakat

Khutbah Jumat: Yuk Bayar Zakat Maal! (Ini Keutamaan dan Bahaya Enggan Bayar)

Yuk bayar zakat maal, di mana banyak di antara kita yang masih belum sadar untuk menunaikannya.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman. Itulah nikmat yang paling besar yang wajib kita syukuri. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya. Perintah takwa ini sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Membayar zakat itu termasuk rukun Islam sebagaimana shalat dan puasa. Pada Khutbah Jumat kali ini, kita akan melihat keutamaan dan bahaya enggan menunaikan zakat.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah … Apa itu zakat?   Zakat–secara bahasa—ada tiga makna: Pertama, bermakna “النّماء والزّيادة” an-namaa’ waz ziyadah, berarti bertambah atau tumbuh. Kedua, bermakna “الصّلاح” ash-shalaah, berarti yang lebih baik. Ketiga, bermakna “تطهير” tath-hiir, berarti menyucikan. Secara istilah syar’i, zakat berartipenunaian kewajiban pada harta yang khusus, dengan cara yang khusus, dan disyaratkan ketika dikeluarkan telah memenuhi haul (masa satu tahun) dan nishab (ukuran minimal dikenai kewajiban zakat).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Zakat ini merupakan suatu kewajiban dan bagian dari rukun Islam. Hal ini tidak bisa diragukan lagi karena telah terdapat berbagai dalil dari Alquran, Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, dan ijmak (kata sepakat ulama). Dalil yang menyatakan wajibnya zakat di antaranya terdapat dalam ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (QS. Al-Baqarah: 43). Begitu pula dalam hadits ditunjukkan mengenai wajibnya melalui hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja keutamaan jika kita memperhatikan membayar zakat?   Menyempurnakan keislaman seorang muslim. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45) Sebab masuk surga. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (QS. Al-Qashash: 77) Memadamkan kemarahan orang miskin. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidup dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hinggaAllah menyelesaikan proses hisab.” (HR. Ahmad, 4:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishab zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. Menambah keberkahan harta. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2558) Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartamereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah, no. 4019. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.”  (HR. Tirmidzi, no. 664. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib) Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, no. 614. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). (Lihat Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’, 6:7-11).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja hukuman bagi orang yang enggan bayar zakat?   1- Hukuman bagiyang mengingkari kewajiban zakat Ibnu Hajar berkata, “Adapun hukum asal zakat adalah wajib. Siapa yang menentang hukum zakat ini, ia kafir.” (Fath Al-Bari, 3:262) 2- Orang yang enggan menunaikan zakat dalamrangka bakhil dan pelit. Orang yang enggan menunaikan zakat dalam keadaan meyakini wajibnya, ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat. AllahTa’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Siapa saja yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan dibuatkan untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, rusuk dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan dipanaskan lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia mengetahui tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.” (HR. Muslim, no. 987)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Kliwon, 5 Ramadhan 1440 H @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Warak Girisekar Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbahaya enggan bayar zakat dosa besar enggan bayar zakat dosa enggan bayar zakat keutamaan bayar zakat keutamaan zakat khutbah jumat khutbah jumat ramadhan panduan zakat
Yuk bayar zakat maal, di mana banyak di antara kita yang masih belum sadar untuk menunaikannya.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman. Itulah nikmat yang paling besar yang wajib kita syukuri. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya. Perintah takwa ini sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Membayar zakat itu termasuk rukun Islam sebagaimana shalat dan puasa. Pada Khutbah Jumat kali ini, kita akan melihat keutamaan dan bahaya enggan menunaikan zakat.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah … Apa itu zakat?   Zakat–secara bahasa—ada tiga makna: Pertama, bermakna “النّماء والزّيادة” an-namaa’ waz ziyadah, berarti bertambah atau tumbuh. Kedua, bermakna “الصّلاح” ash-shalaah, berarti yang lebih baik. Ketiga, bermakna “تطهير” tath-hiir, berarti menyucikan. Secara istilah syar’i, zakat berartipenunaian kewajiban pada harta yang khusus, dengan cara yang khusus, dan disyaratkan ketika dikeluarkan telah memenuhi haul (masa satu tahun) dan nishab (ukuran minimal dikenai kewajiban zakat).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Zakat ini merupakan suatu kewajiban dan bagian dari rukun Islam. Hal ini tidak bisa diragukan lagi karena telah terdapat berbagai dalil dari Alquran, Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, dan ijmak (kata sepakat ulama). Dalil yang menyatakan wajibnya zakat di antaranya terdapat dalam ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (QS. Al-Baqarah: 43). Begitu pula dalam hadits ditunjukkan mengenai wajibnya melalui hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja keutamaan jika kita memperhatikan membayar zakat?   Menyempurnakan keislaman seorang muslim. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45) Sebab masuk surga. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (QS. Al-Qashash: 77) Memadamkan kemarahan orang miskin. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidup dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hinggaAllah menyelesaikan proses hisab.” (HR. Ahmad, 4:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishab zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. Menambah keberkahan harta. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2558) Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartamereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah, no. 4019. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.”  (HR. Tirmidzi, no. 664. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib) Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, no. 614. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). (Lihat Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’, 6:7-11).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja hukuman bagi orang yang enggan bayar zakat?   1- Hukuman bagiyang mengingkari kewajiban zakat Ibnu Hajar berkata, “Adapun hukum asal zakat adalah wajib. Siapa yang menentang hukum zakat ini, ia kafir.” (Fath Al-Bari, 3:262) 2- Orang yang enggan menunaikan zakat dalamrangka bakhil dan pelit. Orang yang enggan menunaikan zakat dalam keadaan meyakini wajibnya, ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat. AllahTa’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Siapa saja yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan dibuatkan untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, rusuk dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan dipanaskan lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia mengetahui tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.” (HR. Muslim, no. 987)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Kliwon, 5 Ramadhan 1440 H @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Warak Girisekar Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbahaya enggan bayar zakat dosa besar enggan bayar zakat dosa enggan bayar zakat keutamaan bayar zakat keutamaan zakat khutbah jumat khutbah jumat ramadhan panduan zakat


Yuk bayar zakat maal, di mana banyak di antara kita yang masih belum sadar untuk menunaikannya.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman. Itulah nikmat yang paling besar yang wajib kita syukuri. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya. Perintah takwa ini sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Membayar zakat itu termasuk rukun Islam sebagaimana shalat dan puasa. Pada Khutbah Jumat kali ini, kita akan melihat keutamaan dan bahaya enggan menunaikan zakat.   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah … Apa itu zakat?   Zakat–secara bahasa—ada tiga makna: Pertama, bermakna “النّماء والزّيادة” an-namaa’ waz ziyadah, berarti bertambah atau tumbuh. Kedua, bermakna “الصّلاح” ash-shalaah, berarti yang lebih baik. Ketiga, bermakna “تطهير” tath-hiir, berarti menyucikan. Secara istilah syar’i, zakat berartipenunaian kewajiban pada harta yang khusus, dengan cara yang khusus, dan disyaratkan ketika dikeluarkan telah memenuhi haul (masa satu tahun) dan nishab (ukuran minimal dikenai kewajiban zakat).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Zakat ini merupakan suatu kewajiban dan bagian dari rukun Islam. Hal ini tidak bisa diragukan lagi karena telah terdapat berbagai dalil dari Alquran, Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, dan ijmak (kata sepakat ulama). Dalil yang menyatakan wajibnya zakat di antaranya terdapat dalam ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (QS. Al-Baqarah: 43). Begitu pula dalam hadits ditunjukkan mengenai wajibnya melalui hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16)   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja keutamaan jika kita memperhatikan membayar zakat?   Menyempurnakan keislaman seorang muslim. Menunjukkan benarnya iman seseorang. Membuat keimanan seseorang menjadi sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45) Sebab masuk surga. Menjadikan masyarakat Islam seperti keluarga besar (satu kesatuan). Karena dengan zakat, berarti yang kaya menolong yang miskin dan orang yang berkecukupan akan menolong orang yang kesulitan. Akhirnya setiap orang merasa seperti satu saudara. Allah Ta’ala berfirman, وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu” (QS. Al-Qashash: 77) Memadamkan kemarahan orang miskin. Menghalangi berbagai bentuk pencurian, pemaksaan, dan perampasan. Karena dengan zakat, sebagian kebutuhan orang yang hidup dalam kemiskinan sudah terpenuhi, sehingga hal ini menghalangi mereka untuk merampas harta orang-orang kaya atau berbuat jahat kepada mereka. Menyelamatkan seseorang dari panasnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ امْرِئٍ فِى ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hinggaAllah menyelesaikan proses hisab.” (HR. Ahmad, 4:147. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih) Seseorang akan lebih mengenal hukum dan aturan Allah. Karena ia tidaklah menunaikan zakat sampai ia mengetahui hukum zakat dan keadaan hartanya. Juga ia pasti telah mengetahui nishab zakat tersebut dan orang yang berhak menerimanya serta hal-hal lain yang urgent diketahui. Menambah keberkahan harta. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang artinya, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2558) Merupakan sebab turunnya banyak kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat hartamereka, melainkan mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah, no. 4019. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Zakat akan meredam murka Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.”  (HR. Tirmidzi, no. 664. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib) Dosa akan terampuni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, no. 614. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). (Lihat Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’, 6:7-11).   Ma’asyiral muslimin rahimanii wa rahimakumullah …   Apa saja hukuman bagi orang yang enggan bayar zakat?   1- Hukuman bagiyang mengingkari kewajiban zakat Ibnu Hajar berkata, “Adapun hukum asal zakat adalah wajib. Siapa yang menentang hukum zakat ini, ia kafir.” (Fath Al-Bari, 3:262) 2- Orang yang enggan menunaikan zakat dalamrangka bakhil dan pelit. Orang yang enggan menunaikan zakat dalam keadaan meyakini wajibnya, ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat. AllahTa’ala berfirman, وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Siapa saja yang memiliki emas atau perak tapi tidak mengeluarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat nanti akan dibuatkan untuknya lempengan dari api neraka, lalu dipanaskan dalam api neraka Jahannam, lalu disetrika dahi, rusuk dan punggungnya dengan lempengan tersebut. Setiap kali dingin akan dipanaskan lagi dan disetrikakan kembali kepadanya pada hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun. Kemudian ia mengetahui tempat kembalinya apakah ke surga atau ke neraka.” (HR. Muslim, no. 987)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jumat Kliwon, 5 Ramadhan 1440 H @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Warak Girisekar Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbahaya enggan bayar zakat dosa besar enggan bayar zakat dosa enggan bayar zakat keutamaan bayar zakat keutamaan zakat khutbah jumat khutbah jumat ramadhan panduan zakat

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran #02 dari Peristiwa Isra dan Mikraj

Berikut adalah pelajaran lanjutan dari peristiwa Isra dan Mikraj.   Kelima: Peristiwa Isra dan Mikraj juga mengandung peristiwa-peristiwa aneh (al-khawariq). Sebagian orang berusaha untuk menyanggah orang-orang yang mengingkarinya dengan argumentasi bahwa hal tersebut sesuai dengan hukum alam. Sebenarnya ketika kita menggunakan cara (metode) tersebut, berarti kita menolak semua itu sebagai mukjizat dan keistimewaan para nabi. Metode yang benar adalah memastikan apakah yang mengingkari itu percaya kepada Allah, Rasul, dan risalah-Nya atau ia memang tidak percaya semua itu. Kalau ia termasuk kelompok pertama, kita cukup hanya menjelaskan bahwa peristiwa ini bersumber dari sanad yang sahih dari pembawa risalah. Jika ia termasuk kelompok yang kedua, maka ia lebih membutuhkan argumentasi tentang Allah dan Rasul-Nya daripada argumentasi tentang Mikraj dan berbagai peristiwa aneh lainnya. Bukanlah merupakan cara yang terbaik bagi kita menyusahkan diri kita sendiri dengan mendatangi orang yang mengingkari Allah, para Nabi, dan kitab-kitab suci untuk meyakini bahwa peristiwa Mikraj tidak bertentangan dengan hukum alam. Karena hal ini tidak akan membawa hasil yang kita inginkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila kita berusaha meyakinkan penentang bahwa isra dan mikraj bukanlah keistimewaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan peristiwa alam, maka kita telah merampas nilai kemukjizatan dari peristiwa tersebut. Padahal Rasul tidak dibuktikan sebagai Rasul, kecuali dengan menetapkan mukjizatnya. Pandangan seperti ini yang dilakukan sebagian orang sangat tidak produktif karena tidak memenangkan iman dan tidak pula menghancurkan kekafiran. Metode yang benar adalah kita kemukakan dalil-dalil tentang Allah Ta’ala yang apabila menginginkan sesuatu, cukup bagi-Nya untuk mengatakan kun (jadilah), fayakun (maka jadilah). AllahTa’ala berfirman, إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83( “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 82-83) Syaikh As-Sa’di menerangkan mengenai ayat di atas, “hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”, maksudnya jika Allah berkata “kun” (jadilah), maka pasti terwujud, tidak mungkin ada yang menghalangi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 741.   Keenam: Ketika orang kafir Quraisy mengetahui berita Isra, ada di antara mereka ada yang bertepuk tangan dan ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepala karena merasa heran dengan kebohongan yang diklaimnya. Bertepuk tangan dalam berbagai perayaan dan pertemuan karena kagum seperti yang dilakukan kaum muslimin dewasa ini adalah menyerupai kaum musyrikin yang bertepuk tangan dalam rangka motivasi dan kagum. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidha‘, 1:269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/ bagus. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 1269). Lihatlah ketika Umar masuk Islam di Darul Arqam (sebagaimana kisah yang telah lewat), para sahabat yang mendengar keislamannya lantas bertakbir karena ini adalah berita gembira yang mereka dengar. Itulah sikap yang benar dengan cara bertakbir, tidak dengan bertepuk tangan seperti kebiasaan sebagian kita karena meniru non-muslim.   Hukum Tepuk Tangan dalam Rangka Ibadah Adapun tepuk tangan dilakukan dalam rangka ibadah seperti yang dilakukan oleh orang sufi, maka termasuk bidah yang diharamkan. Para sufi melakukan dzikir dan berdoa sambil bertepuk tangan. Kalau dzikir yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengkhususkan cara tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737). Ada faedah dari kitab Bahjah An-Nazhirin (2:465) mengenai hadits ini, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah mengatakan bahwa dzikir bisa dilakukan dalam keadaan apa pun sesuai keadaan seseorang. Ini sekaligus kritikan kepada orang sufi (tasawwuf) yang berdzikir mesti dengan membuat ritual tertentu, seperti dengan dansa, lompat-lompat, dan dengan alat musik. Ini semua termasuk amalan yang tidak ada petunjuknya dalam agama kita.   Ketujuh: Sambutan penduduk langit terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dalil dianjurkannya menyambut orang-orang yang memiliki keistimewaan secara khusus seperti kedua orang tua dan lainnya atau keistimewaan secara umum seperti para ulama dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang boleh disambut dengan suka cita, gembira, pujian, dan doa sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap mereka.   Kedelapan: Sikap Musa ‘alaihis salam yang memberi nasihat kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya ketika ia menawarkan agar beliau kembali untuk meminta keringanan dapat diambil pelajaran bahwa perlunya memberi nasihat kepada orang yang membutuhkannya sekalipun ia tidak memintanya. Masih berlanjut insya Allah pada pelajaran Isra Mikraj lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.     Catatan Ramadhan #05 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi isra miraj pelajaran dari isra mikraj sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran #02 dari Peristiwa Isra dan Mikraj

Berikut adalah pelajaran lanjutan dari peristiwa Isra dan Mikraj.   Kelima: Peristiwa Isra dan Mikraj juga mengandung peristiwa-peristiwa aneh (al-khawariq). Sebagian orang berusaha untuk menyanggah orang-orang yang mengingkarinya dengan argumentasi bahwa hal tersebut sesuai dengan hukum alam. Sebenarnya ketika kita menggunakan cara (metode) tersebut, berarti kita menolak semua itu sebagai mukjizat dan keistimewaan para nabi. Metode yang benar adalah memastikan apakah yang mengingkari itu percaya kepada Allah, Rasul, dan risalah-Nya atau ia memang tidak percaya semua itu. Kalau ia termasuk kelompok pertama, kita cukup hanya menjelaskan bahwa peristiwa ini bersumber dari sanad yang sahih dari pembawa risalah. Jika ia termasuk kelompok yang kedua, maka ia lebih membutuhkan argumentasi tentang Allah dan Rasul-Nya daripada argumentasi tentang Mikraj dan berbagai peristiwa aneh lainnya. Bukanlah merupakan cara yang terbaik bagi kita menyusahkan diri kita sendiri dengan mendatangi orang yang mengingkari Allah, para Nabi, dan kitab-kitab suci untuk meyakini bahwa peristiwa Mikraj tidak bertentangan dengan hukum alam. Karena hal ini tidak akan membawa hasil yang kita inginkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila kita berusaha meyakinkan penentang bahwa isra dan mikraj bukanlah keistimewaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan peristiwa alam, maka kita telah merampas nilai kemukjizatan dari peristiwa tersebut. Padahal Rasul tidak dibuktikan sebagai Rasul, kecuali dengan menetapkan mukjizatnya. Pandangan seperti ini yang dilakukan sebagian orang sangat tidak produktif karena tidak memenangkan iman dan tidak pula menghancurkan kekafiran. Metode yang benar adalah kita kemukakan dalil-dalil tentang Allah Ta’ala yang apabila menginginkan sesuatu, cukup bagi-Nya untuk mengatakan kun (jadilah), fayakun (maka jadilah). AllahTa’ala berfirman, إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83( “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 82-83) Syaikh As-Sa’di menerangkan mengenai ayat di atas, “hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”, maksudnya jika Allah berkata “kun” (jadilah), maka pasti terwujud, tidak mungkin ada yang menghalangi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 741.   Keenam: Ketika orang kafir Quraisy mengetahui berita Isra, ada di antara mereka ada yang bertepuk tangan dan ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepala karena merasa heran dengan kebohongan yang diklaimnya. Bertepuk tangan dalam berbagai perayaan dan pertemuan karena kagum seperti yang dilakukan kaum muslimin dewasa ini adalah menyerupai kaum musyrikin yang bertepuk tangan dalam rangka motivasi dan kagum. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidha‘, 1:269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/ bagus. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 1269). Lihatlah ketika Umar masuk Islam di Darul Arqam (sebagaimana kisah yang telah lewat), para sahabat yang mendengar keislamannya lantas bertakbir karena ini adalah berita gembira yang mereka dengar. Itulah sikap yang benar dengan cara bertakbir, tidak dengan bertepuk tangan seperti kebiasaan sebagian kita karena meniru non-muslim.   Hukum Tepuk Tangan dalam Rangka Ibadah Adapun tepuk tangan dilakukan dalam rangka ibadah seperti yang dilakukan oleh orang sufi, maka termasuk bidah yang diharamkan. Para sufi melakukan dzikir dan berdoa sambil bertepuk tangan. Kalau dzikir yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengkhususkan cara tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737). Ada faedah dari kitab Bahjah An-Nazhirin (2:465) mengenai hadits ini, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah mengatakan bahwa dzikir bisa dilakukan dalam keadaan apa pun sesuai keadaan seseorang. Ini sekaligus kritikan kepada orang sufi (tasawwuf) yang berdzikir mesti dengan membuat ritual tertentu, seperti dengan dansa, lompat-lompat, dan dengan alat musik. Ini semua termasuk amalan yang tidak ada petunjuknya dalam agama kita.   Ketujuh: Sambutan penduduk langit terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dalil dianjurkannya menyambut orang-orang yang memiliki keistimewaan secara khusus seperti kedua orang tua dan lainnya atau keistimewaan secara umum seperti para ulama dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang boleh disambut dengan suka cita, gembira, pujian, dan doa sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap mereka.   Kedelapan: Sikap Musa ‘alaihis salam yang memberi nasihat kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya ketika ia menawarkan agar beliau kembali untuk meminta keringanan dapat diambil pelajaran bahwa perlunya memberi nasihat kepada orang yang membutuhkannya sekalipun ia tidak memintanya. Masih berlanjut insya Allah pada pelajaran Isra Mikraj lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.     Catatan Ramadhan #05 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi isra miraj pelajaran dari isra mikraj sirah nabi
Berikut adalah pelajaran lanjutan dari peristiwa Isra dan Mikraj.   Kelima: Peristiwa Isra dan Mikraj juga mengandung peristiwa-peristiwa aneh (al-khawariq). Sebagian orang berusaha untuk menyanggah orang-orang yang mengingkarinya dengan argumentasi bahwa hal tersebut sesuai dengan hukum alam. Sebenarnya ketika kita menggunakan cara (metode) tersebut, berarti kita menolak semua itu sebagai mukjizat dan keistimewaan para nabi. Metode yang benar adalah memastikan apakah yang mengingkari itu percaya kepada Allah, Rasul, dan risalah-Nya atau ia memang tidak percaya semua itu. Kalau ia termasuk kelompok pertama, kita cukup hanya menjelaskan bahwa peristiwa ini bersumber dari sanad yang sahih dari pembawa risalah. Jika ia termasuk kelompok yang kedua, maka ia lebih membutuhkan argumentasi tentang Allah dan Rasul-Nya daripada argumentasi tentang Mikraj dan berbagai peristiwa aneh lainnya. Bukanlah merupakan cara yang terbaik bagi kita menyusahkan diri kita sendiri dengan mendatangi orang yang mengingkari Allah, para Nabi, dan kitab-kitab suci untuk meyakini bahwa peristiwa Mikraj tidak bertentangan dengan hukum alam. Karena hal ini tidak akan membawa hasil yang kita inginkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila kita berusaha meyakinkan penentang bahwa isra dan mikraj bukanlah keistimewaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan peristiwa alam, maka kita telah merampas nilai kemukjizatan dari peristiwa tersebut. Padahal Rasul tidak dibuktikan sebagai Rasul, kecuali dengan menetapkan mukjizatnya. Pandangan seperti ini yang dilakukan sebagian orang sangat tidak produktif karena tidak memenangkan iman dan tidak pula menghancurkan kekafiran. Metode yang benar adalah kita kemukakan dalil-dalil tentang Allah Ta’ala yang apabila menginginkan sesuatu, cukup bagi-Nya untuk mengatakan kun (jadilah), fayakun (maka jadilah). AllahTa’ala berfirman, إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83( “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 82-83) Syaikh As-Sa’di menerangkan mengenai ayat di atas, “hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”, maksudnya jika Allah berkata “kun” (jadilah), maka pasti terwujud, tidak mungkin ada yang menghalangi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 741.   Keenam: Ketika orang kafir Quraisy mengetahui berita Isra, ada di antara mereka ada yang bertepuk tangan dan ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepala karena merasa heran dengan kebohongan yang diklaimnya. Bertepuk tangan dalam berbagai perayaan dan pertemuan karena kagum seperti yang dilakukan kaum muslimin dewasa ini adalah menyerupai kaum musyrikin yang bertepuk tangan dalam rangka motivasi dan kagum. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidha‘, 1:269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/ bagus. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 1269). Lihatlah ketika Umar masuk Islam di Darul Arqam (sebagaimana kisah yang telah lewat), para sahabat yang mendengar keislamannya lantas bertakbir karena ini adalah berita gembira yang mereka dengar. Itulah sikap yang benar dengan cara bertakbir, tidak dengan bertepuk tangan seperti kebiasaan sebagian kita karena meniru non-muslim.   Hukum Tepuk Tangan dalam Rangka Ibadah Adapun tepuk tangan dilakukan dalam rangka ibadah seperti yang dilakukan oleh orang sufi, maka termasuk bidah yang diharamkan. Para sufi melakukan dzikir dan berdoa sambil bertepuk tangan. Kalau dzikir yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengkhususkan cara tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737). Ada faedah dari kitab Bahjah An-Nazhirin (2:465) mengenai hadits ini, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah mengatakan bahwa dzikir bisa dilakukan dalam keadaan apa pun sesuai keadaan seseorang. Ini sekaligus kritikan kepada orang sufi (tasawwuf) yang berdzikir mesti dengan membuat ritual tertentu, seperti dengan dansa, lompat-lompat, dan dengan alat musik. Ini semua termasuk amalan yang tidak ada petunjuknya dalam agama kita.   Ketujuh: Sambutan penduduk langit terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dalil dianjurkannya menyambut orang-orang yang memiliki keistimewaan secara khusus seperti kedua orang tua dan lainnya atau keistimewaan secara umum seperti para ulama dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang boleh disambut dengan suka cita, gembira, pujian, dan doa sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap mereka.   Kedelapan: Sikap Musa ‘alaihis salam yang memberi nasihat kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya ketika ia menawarkan agar beliau kembali untuk meminta keringanan dapat diambil pelajaran bahwa perlunya memberi nasihat kepada orang yang membutuhkannya sekalipun ia tidak memintanya. Masih berlanjut insya Allah pada pelajaran Isra Mikraj lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.     Catatan Ramadhan #05 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi isra miraj pelajaran dari isra mikraj sirah nabi


Berikut adalah pelajaran lanjutan dari peristiwa Isra dan Mikraj.   Kelima: Peristiwa Isra dan Mikraj juga mengandung peristiwa-peristiwa aneh (al-khawariq). Sebagian orang berusaha untuk menyanggah orang-orang yang mengingkarinya dengan argumentasi bahwa hal tersebut sesuai dengan hukum alam. Sebenarnya ketika kita menggunakan cara (metode) tersebut, berarti kita menolak semua itu sebagai mukjizat dan keistimewaan para nabi. Metode yang benar adalah memastikan apakah yang mengingkari itu percaya kepada Allah, Rasul, dan risalah-Nya atau ia memang tidak percaya semua itu. Kalau ia termasuk kelompok pertama, kita cukup hanya menjelaskan bahwa peristiwa ini bersumber dari sanad yang sahih dari pembawa risalah. Jika ia termasuk kelompok yang kedua, maka ia lebih membutuhkan argumentasi tentang Allah dan Rasul-Nya daripada argumentasi tentang Mikraj dan berbagai peristiwa aneh lainnya. Bukanlah merupakan cara yang terbaik bagi kita menyusahkan diri kita sendiri dengan mendatangi orang yang mengingkari Allah, para Nabi, dan kitab-kitab suci untuk meyakini bahwa peristiwa Mikraj tidak bertentangan dengan hukum alam. Karena hal ini tidak akan membawa hasil yang kita inginkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Apabila kita berusaha meyakinkan penentang bahwa isra dan mikraj bukanlah keistimewaan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan peristiwa alam, maka kita telah merampas nilai kemukjizatan dari peristiwa tersebut. Padahal Rasul tidak dibuktikan sebagai Rasul, kecuali dengan menetapkan mukjizatnya. Pandangan seperti ini yang dilakukan sebagian orang sangat tidak produktif karena tidak memenangkan iman dan tidak pula menghancurkan kekafiran. Metode yang benar adalah kita kemukakan dalil-dalil tentang Allah Ta’ala yang apabila menginginkan sesuatu, cukup bagi-Nya untuk mengatakan kun (jadilah), fayakun (maka jadilah). AllahTa’ala berfirman, إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (83( “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Yasin: 82-83) Syaikh As-Sa’di menerangkan mengenai ayat di atas, “hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”, maksudnya jika Allah berkata “kun” (jadilah), maka pasti terwujud, tidak mungkin ada yang menghalangi. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 741.   Keenam: Ketika orang kafir Quraisy mengetahui berita Isra, ada di antara mereka ada yang bertepuk tangan dan ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepala karena merasa heran dengan kebohongan yang diklaimnya. Bertepuk tangan dalam berbagai perayaan dan pertemuan karena kagum seperti yang dilakukan kaum muslimin dewasa ini adalah menyerupai kaum musyrikin yang bertepuk tangan dalam rangka motivasi dan kagum. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad, 2:50 dan Abu Daud, no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidha‘, 1:269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/ bagus. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 1269). Lihatlah ketika Umar masuk Islam di Darul Arqam (sebagaimana kisah yang telah lewat), para sahabat yang mendengar keislamannya lantas bertakbir karena ini adalah berita gembira yang mereka dengar. Itulah sikap yang benar dengan cara bertakbir, tidak dengan bertepuk tangan seperti kebiasaan sebagian kita karena meniru non-muslim.   Hukum Tepuk Tangan dalam Rangka Ibadah Adapun tepuk tangan dilakukan dalam rangka ibadah seperti yang dilakukan oleh orang sufi, maka termasuk bidah yang diharamkan. Para sufi melakukan dzikir dan berdoa sambil bertepuk tangan. Kalau dzikir yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengkhususkan cara tertentu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdzikir (mengingat) Allah pada setiap waktunya.” (HR. Bukhari, no. 19 dan Muslim, no. 737). Ada faedah dari kitab Bahjah An-Nazhirin (2:465) mengenai hadits ini, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullah mengatakan bahwa dzikir bisa dilakukan dalam keadaan apa pun sesuai keadaan seseorang. Ini sekaligus kritikan kepada orang sufi (tasawwuf) yang berdzikir mesti dengan membuat ritual tertentu, seperti dengan dansa, lompat-lompat, dan dengan alat musik. Ini semua termasuk amalan yang tidak ada petunjuknya dalam agama kita.   Ketujuh: Sambutan penduduk langit terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dalil dianjurkannya menyambut orang-orang yang memiliki keistimewaan secara khusus seperti kedua orang tua dan lainnya atau keistimewaan secara umum seperti para ulama dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang boleh disambut dengan suka cita, gembira, pujian, dan doa sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap mereka.   Kedelapan: Sikap Musa ‘alaihis salam yang memberi nasihat kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya ketika ia menawarkan agar beliau kembali untuk meminta keringanan dapat diambil pelajaran bahwa perlunya memberi nasihat kepada orang yang membutuhkannya sekalipun ia tidak memintanya. Masih berlanjut insya Allah pada pelajaran Isra Mikraj lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.     Catatan Ramadhan #05 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi isra miraj pelajaran dari isra mikraj sirah nabi

Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi?

Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi? Assalamuallaikum wrwb ustadz,baru2 ini ada berita opick membawa sehelai rambut Rasululloh,apakh itu benar ? Dan apakah boleh kita sampai mengagung2kn rambut tsb sprti perlakuan opick dkk thd benda tsb Ibu Farida, di Yogyakarta. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Ngalap berkah (tabarruk) dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam memang dibolehkan. Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat, mereka pernah bertabaruk dengan air bekas wudhu Nabi shallallahu’alaihi wasallam, baju beliau, minuman beliau, rambut dan seluruh bekas fisik yang mulia Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mengingkari tindakan mereka. Menunjukkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan. Karena memang pada tubuh Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang mulia, mengandung keberkahan dari Allah ‘azza wa jalla. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu pernah menceritakan, دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ فَقَالَ عِِنْدَنَا فَعَرَقَ وَجَاءَتْ أُمِّيبِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تُسَلِّتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ فَقَالَ:يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَنَجْعَلَهُ فِي طِيْبِنَا وَهُوَ مِنَ أَطْيَبِ الطِّيبِ “Suatu saat, Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkunjung ke rumah kami. Lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam terbangun dan bertanya, “Ummu Sulaim.. apa yang sedang kamu lakukan ?” “Ini adalah keringat Anda Ya Nabi..,” jawab Ummu Sulaim, “kami akan campur dengan parfum kami. Itu adalah parfum terbaik.” Dalam riwayat, dijelaskan jawaban Ummu Sulaim, نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا “Kami mengharap mendapatkan barakah keringat ini untuk anak-anak kami.” Rasul pun berkata, أَصَبْتِ “Anda benar…” (HR. Bukhori) Di kesempatan yang lain, sahabat Abu Juhaifah radhiallahu ‘anhu mengisahkan, خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍفَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضَوئِهِفَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَرَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menemui kami saat hari panas terik. Air wudhu disiapkan untuk beliau. Seusai wudhu, orang-orang bergegas mengambil sisa wudhu beliau. Lalu mereka usap-usapkan pada tubuh mereka. Kemudian beliau shalat zhuhur dua rakaat dan ashar dua rakaat. Beliau shalat menghadap sebuah tombak kecil.” (HR. Bukhori) Bahkan para ulama sepakat boleh. Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, اتفق العلماء على مشروعية التبرك بآثار النبي صلى الله عليه وسلم وأورد علماء السيرة والشمائل والحديث أخبارا كثيرة تمثل تبرك الصحابة الكرام رضي الله عنهم بأنواع متعددة من آثاره صلى الله عليه وسلم Para ulama telah sepakat (ijma’), disyariatkannya ngalap berkah dengan bekas fisik Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ulama-ulama Siroh (sejarah Nabi) telah menyebutkan banyak hadis tentang tabarruk para sahabat yang mulia dengan bekas-bekas fisik Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dengan berbagai macamnya. (Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 11/62) Hanya Untuk Nabi Tabarruk dengan fisik atau bekas fisik manusia, tidak boleh dilakukan kecuali kepada fisik yang mulis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Tidak boleh dilakukan pada para wali Allah lainnya atau orang-orang sholih selain Nabi. Syekh Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan, كان الصحابة يتبركون بعرق النبي صلى الله عليه وسلم ويتبركون بريقه ويتبركون بثيابه ويتبركون بشعره ، أما غيره صلى الله عليه وسلم فإنه لا يتبرك بشيء من هذا منه ، فلا يتبرك بثياب الإنسان ولا بشعره ولا بأظفاره ولا بشيء من متعلقاته إلا النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم Dahulu para sahabat berharap berkah dari keringatnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Mereka juga berharap berkah dari air ludah beliau, baju dan rambut beliau. Adapun untuk selain Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tidak boleh kita berharap berkah dari baju, rambut, kuku atau segala sesuatu yang melekat pada fisiknya, kecuali hanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam saja. (Syarah Riyadussholihin, 1/852) Terbukti dalam praktek para sahabat –radhiyallahu’anhum-, sepeninggal Nabi, tak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa seorangpun dari mereka bertabaruk dengan bekas wudhu atau rambutnya Abu Bakr As Sidiq atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma. Masih Adakah Rambut Rasulullah saat Ini? Abdullah bin Mubarok –rahimahullah– pernah mengatakan, الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, niscaya orang akan mengklaim sesukanya. Sanad adalah, data urutan orang-orang dalam jalur periwayatan sebuah kabar. Mengenai rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam, jika saja itu benar, tidak perlu dipermasalahkan. Namun, membuktikan keountentiakan rambut beliau yang mulia, harus ada bukti berupa jalur sanad yang terjaga dan bisa dipertanggungjawabkan. Apakah bukti ini bisa diupayakan pada zaman ini? Mari kita simak keterangan dari pada pakar sejarah. Diantaranya berikut : [1] Keterangan Syekh Ahmad Basa Taimur. Beliau menyatakan dalam buku beliau “Al-Atsar An Nabawiyah”, فما صح من الشعرات التي تداولها الناس بعد ذلك ، فإنما وصل إليهم مما قسم بين الأصحاب رضي الله عنهم ، غير أن الصعوبة في معرفة صحيحها من زائفها Tak satupun riwayat valid yang bersambung sampai ke Nabi berkenaan rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang tersebar di masyarakat sepeninggal beliau. Rambut-rambut beliau yang sampai kepada mereka mungkin bersumber dari para sahabat; semoga Allah meridhoi mereka, yang telah tersebar setiap helainya. Hanya saja, sangat sulit mengidentifikasi riwayat yang valid dengan yang tidak. (Al-Atsar An Nabawiyah, hal. 82 – 84) [2] Keterangan pakar hadis abad ini : Syekh Nashirudin Al-Albani. Beliau menjelaskan, ” هذا ولابد من الإشارة إلى أننا نؤمن بجواز التبرك بآثاره صلى الله عليه وسلم ، ولا ننكره خلافاً لما يوهمه صنيع خصومنا . ولكن لهذا التبرك شروطاً منها الإيمان الشرعي المقبول عند الله ، فمن لم يكن مسلماً صادق الإسلام فلن يحقق الله له أي خير بتبركه هذا ، كما يشترط للراغب في التبرك أن يكون حاصلاً على أثر من آثاره صلى الله عليه وسلم ويستعمله . Kita mengimani bahwa boleh bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Kita tidak mengingkari hal ini, sebagaimana yang disangkakan orang-orang. Namun, tabaruk (agar berkhat) memiliki syarat-syarat, diantaranya adalah iman yang diterima di sisi Allah. Siapa yang tidak muslim jujur Islamnya, dia tidak berhak mendapatkan keberkahan ini. Disyaratkan pula untuk mereka yang ingin bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk benar-benar mendapatkan benda tersebut, kemudian menggunakannya untuk wasilah mendapat berkah. Beliau melanjutkan, ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات قد فقدت ، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقين ، وإذا كان الأمر كذلك فإن التبرك بهذه الآثار يصبح أمراً غير ذي موضوع في زماننا هذا ويكون أمراً نظرياً محضاً، فلا ينبغي إطالة القول فيه Kita semua mengetahui bahwa bekas-bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam seperti baju, rambut atau yang lainnya, telah punah. Dan tidak seorangpun diantara kita yang mampu menghadirkan benda-benda tersebut dengan yakin dan valid. Maka dari itu, bertabaruk dengan hal-hal demikian zaman ini menjadi pembahasan yang tidak terlalu penting, hanya sekadar praduga atau klaim semata. Olehkarenanya, tidak perlu kita memperpanjang pembicaraan tentang masalah ini. (Masu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/731) Sarana Ngalap Berkah yang Pasti Jika kita menginginkan betul berkah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ada satu sarana yang valid dan pasti dapat keberkahan. Yaitu bertabaruk dengan ajaran yang dibawa Nabi shallallahu’alaihi wasallam, yang sampai detik ini jejaknya masih terjaga, bahkan hingga hari kiamat. Silahkan ngalap berkah dari meneladani sunah-sunah beliau shallallahu’alaihi wasallam. Ada keterangan menarik dari Syeikhul Islam Ahmad Al Harroni rahimahullah, كَانَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَمَّا قَدِمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَرَكَتِهِ لَمَّا آمَنُوا بِهِ وَأَطَاعُوهُ، فَبِبَرَكَةِ ذَلِكَ حَصَلَ لَهُمْ سَعَادَةُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، بَلْ كُلُّ مُؤْمِنٍ آمَنَ بِالرَّسُولِ وَأَطَاعَهُ حَصَلَ لَهُ مِنْ بَرَكَةِ الرَّسُولِ بِسَبَبِ إيمَانِهِ وَطَاعَتِهِ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، مَا لَا يَعْلَمُهُ إلَّا اللَّهُ Penduduk Madinah, di saat kedatangan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, mereka mendapatkan keberkahan, saat mereka beriman dan taat kepada beliau. Dengan berkah ini, mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan setiap mukmin yang beriman Rasul serta patuh kepada perintahnya, meraka mendapat keberkahan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, disebabkan iman serta ketaatan mereka kepadanya. Berupa kebaikan dunia dan akhirat yang tak ada tahu nilainya kecuali Allah. (Majmu’Fatawa, 11/ 113) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Keramas Saat Haid Menurut Islam, Tanam Bulu Mata Menurut Islam, Nabi Samun, Doa Agar Ditutup Aib, Pengertian Ibadah Mahdhoh Dan Ghoiru Mahdhoh, Ilmu Tenaga Dalam Menurut Islam Visited 356 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 QRIS donasi Yufid

Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi?

Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi? Assalamuallaikum wrwb ustadz,baru2 ini ada berita opick membawa sehelai rambut Rasululloh,apakh itu benar ? Dan apakah boleh kita sampai mengagung2kn rambut tsb sprti perlakuan opick dkk thd benda tsb Ibu Farida, di Yogyakarta. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Ngalap berkah (tabarruk) dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam memang dibolehkan. Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat, mereka pernah bertabaruk dengan air bekas wudhu Nabi shallallahu’alaihi wasallam, baju beliau, minuman beliau, rambut dan seluruh bekas fisik yang mulia Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mengingkari tindakan mereka. Menunjukkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan. Karena memang pada tubuh Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang mulia, mengandung keberkahan dari Allah ‘azza wa jalla. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu pernah menceritakan, دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ فَقَالَ عِِنْدَنَا فَعَرَقَ وَجَاءَتْ أُمِّيبِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تُسَلِّتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ فَقَالَ:يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَنَجْعَلَهُ فِي طِيْبِنَا وَهُوَ مِنَ أَطْيَبِ الطِّيبِ “Suatu saat, Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkunjung ke rumah kami. Lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam terbangun dan bertanya, “Ummu Sulaim.. apa yang sedang kamu lakukan ?” “Ini adalah keringat Anda Ya Nabi..,” jawab Ummu Sulaim, “kami akan campur dengan parfum kami. Itu adalah parfum terbaik.” Dalam riwayat, dijelaskan jawaban Ummu Sulaim, نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا “Kami mengharap mendapatkan barakah keringat ini untuk anak-anak kami.” Rasul pun berkata, أَصَبْتِ “Anda benar…” (HR. Bukhori) Di kesempatan yang lain, sahabat Abu Juhaifah radhiallahu ‘anhu mengisahkan, خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍفَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضَوئِهِفَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَرَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menemui kami saat hari panas terik. Air wudhu disiapkan untuk beliau. Seusai wudhu, orang-orang bergegas mengambil sisa wudhu beliau. Lalu mereka usap-usapkan pada tubuh mereka. Kemudian beliau shalat zhuhur dua rakaat dan ashar dua rakaat. Beliau shalat menghadap sebuah tombak kecil.” (HR. Bukhori) Bahkan para ulama sepakat boleh. Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, اتفق العلماء على مشروعية التبرك بآثار النبي صلى الله عليه وسلم وأورد علماء السيرة والشمائل والحديث أخبارا كثيرة تمثل تبرك الصحابة الكرام رضي الله عنهم بأنواع متعددة من آثاره صلى الله عليه وسلم Para ulama telah sepakat (ijma’), disyariatkannya ngalap berkah dengan bekas fisik Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ulama-ulama Siroh (sejarah Nabi) telah menyebutkan banyak hadis tentang tabarruk para sahabat yang mulia dengan bekas-bekas fisik Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dengan berbagai macamnya. (Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 11/62) Hanya Untuk Nabi Tabarruk dengan fisik atau bekas fisik manusia, tidak boleh dilakukan kecuali kepada fisik yang mulis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Tidak boleh dilakukan pada para wali Allah lainnya atau orang-orang sholih selain Nabi. Syekh Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan, كان الصحابة يتبركون بعرق النبي صلى الله عليه وسلم ويتبركون بريقه ويتبركون بثيابه ويتبركون بشعره ، أما غيره صلى الله عليه وسلم فإنه لا يتبرك بشيء من هذا منه ، فلا يتبرك بثياب الإنسان ولا بشعره ولا بأظفاره ولا بشيء من متعلقاته إلا النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم Dahulu para sahabat berharap berkah dari keringatnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Mereka juga berharap berkah dari air ludah beliau, baju dan rambut beliau. Adapun untuk selain Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tidak boleh kita berharap berkah dari baju, rambut, kuku atau segala sesuatu yang melekat pada fisiknya, kecuali hanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam saja. (Syarah Riyadussholihin, 1/852) Terbukti dalam praktek para sahabat –radhiyallahu’anhum-, sepeninggal Nabi, tak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa seorangpun dari mereka bertabaruk dengan bekas wudhu atau rambutnya Abu Bakr As Sidiq atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma. Masih Adakah Rambut Rasulullah saat Ini? Abdullah bin Mubarok –rahimahullah– pernah mengatakan, الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, niscaya orang akan mengklaim sesukanya. Sanad adalah, data urutan orang-orang dalam jalur periwayatan sebuah kabar. Mengenai rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam, jika saja itu benar, tidak perlu dipermasalahkan. Namun, membuktikan keountentiakan rambut beliau yang mulia, harus ada bukti berupa jalur sanad yang terjaga dan bisa dipertanggungjawabkan. Apakah bukti ini bisa diupayakan pada zaman ini? Mari kita simak keterangan dari pada pakar sejarah. Diantaranya berikut : [1] Keterangan Syekh Ahmad Basa Taimur. Beliau menyatakan dalam buku beliau “Al-Atsar An Nabawiyah”, فما صح من الشعرات التي تداولها الناس بعد ذلك ، فإنما وصل إليهم مما قسم بين الأصحاب رضي الله عنهم ، غير أن الصعوبة في معرفة صحيحها من زائفها Tak satupun riwayat valid yang bersambung sampai ke Nabi berkenaan rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang tersebar di masyarakat sepeninggal beliau. Rambut-rambut beliau yang sampai kepada mereka mungkin bersumber dari para sahabat; semoga Allah meridhoi mereka, yang telah tersebar setiap helainya. Hanya saja, sangat sulit mengidentifikasi riwayat yang valid dengan yang tidak. (Al-Atsar An Nabawiyah, hal. 82 – 84) [2] Keterangan pakar hadis abad ini : Syekh Nashirudin Al-Albani. Beliau menjelaskan, ” هذا ولابد من الإشارة إلى أننا نؤمن بجواز التبرك بآثاره صلى الله عليه وسلم ، ولا ننكره خلافاً لما يوهمه صنيع خصومنا . ولكن لهذا التبرك شروطاً منها الإيمان الشرعي المقبول عند الله ، فمن لم يكن مسلماً صادق الإسلام فلن يحقق الله له أي خير بتبركه هذا ، كما يشترط للراغب في التبرك أن يكون حاصلاً على أثر من آثاره صلى الله عليه وسلم ويستعمله . Kita mengimani bahwa boleh bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Kita tidak mengingkari hal ini, sebagaimana yang disangkakan orang-orang. Namun, tabaruk (agar berkhat) memiliki syarat-syarat, diantaranya adalah iman yang diterima di sisi Allah. Siapa yang tidak muslim jujur Islamnya, dia tidak berhak mendapatkan keberkahan ini. Disyaratkan pula untuk mereka yang ingin bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk benar-benar mendapatkan benda tersebut, kemudian menggunakannya untuk wasilah mendapat berkah. Beliau melanjutkan, ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات قد فقدت ، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقين ، وإذا كان الأمر كذلك فإن التبرك بهذه الآثار يصبح أمراً غير ذي موضوع في زماننا هذا ويكون أمراً نظرياً محضاً، فلا ينبغي إطالة القول فيه Kita semua mengetahui bahwa bekas-bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam seperti baju, rambut atau yang lainnya, telah punah. Dan tidak seorangpun diantara kita yang mampu menghadirkan benda-benda tersebut dengan yakin dan valid. Maka dari itu, bertabaruk dengan hal-hal demikian zaman ini menjadi pembahasan yang tidak terlalu penting, hanya sekadar praduga atau klaim semata. Olehkarenanya, tidak perlu kita memperpanjang pembicaraan tentang masalah ini. (Masu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/731) Sarana Ngalap Berkah yang Pasti Jika kita menginginkan betul berkah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ada satu sarana yang valid dan pasti dapat keberkahan. Yaitu bertabaruk dengan ajaran yang dibawa Nabi shallallahu’alaihi wasallam, yang sampai detik ini jejaknya masih terjaga, bahkan hingga hari kiamat. Silahkan ngalap berkah dari meneladani sunah-sunah beliau shallallahu’alaihi wasallam. Ada keterangan menarik dari Syeikhul Islam Ahmad Al Harroni rahimahullah, كَانَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَمَّا قَدِمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَرَكَتِهِ لَمَّا آمَنُوا بِهِ وَأَطَاعُوهُ، فَبِبَرَكَةِ ذَلِكَ حَصَلَ لَهُمْ سَعَادَةُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، بَلْ كُلُّ مُؤْمِنٍ آمَنَ بِالرَّسُولِ وَأَطَاعَهُ حَصَلَ لَهُ مِنْ بَرَكَةِ الرَّسُولِ بِسَبَبِ إيمَانِهِ وَطَاعَتِهِ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، مَا لَا يَعْلَمُهُ إلَّا اللَّهُ Penduduk Madinah, di saat kedatangan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, mereka mendapatkan keberkahan, saat mereka beriman dan taat kepada beliau. Dengan berkah ini, mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan setiap mukmin yang beriman Rasul serta patuh kepada perintahnya, meraka mendapat keberkahan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, disebabkan iman serta ketaatan mereka kepadanya. Berupa kebaikan dunia dan akhirat yang tak ada tahu nilainya kecuali Allah. (Majmu’Fatawa, 11/ 113) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Keramas Saat Haid Menurut Islam, Tanam Bulu Mata Menurut Islam, Nabi Samun, Doa Agar Ditutup Aib, Pengertian Ibadah Mahdhoh Dan Ghoiru Mahdhoh, Ilmu Tenaga Dalam Menurut Islam Visited 356 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 QRIS donasi Yufid
Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi? Assalamuallaikum wrwb ustadz,baru2 ini ada berita opick membawa sehelai rambut Rasululloh,apakh itu benar ? Dan apakah boleh kita sampai mengagung2kn rambut tsb sprti perlakuan opick dkk thd benda tsb Ibu Farida, di Yogyakarta. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Ngalap berkah (tabarruk) dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam memang dibolehkan. Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat, mereka pernah bertabaruk dengan air bekas wudhu Nabi shallallahu’alaihi wasallam, baju beliau, minuman beliau, rambut dan seluruh bekas fisik yang mulia Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mengingkari tindakan mereka. Menunjukkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan. Karena memang pada tubuh Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang mulia, mengandung keberkahan dari Allah ‘azza wa jalla. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu pernah menceritakan, دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ فَقَالَ عِِنْدَنَا فَعَرَقَ وَجَاءَتْ أُمِّيبِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تُسَلِّتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ فَقَالَ:يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَنَجْعَلَهُ فِي طِيْبِنَا وَهُوَ مِنَ أَطْيَبِ الطِّيبِ “Suatu saat, Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkunjung ke rumah kami. Lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam terbangun dan bertanya, “Ummu Sulaim.. apa yang sedang kamu lakukan ?” “Ini adalah keringat Anda Ya Nabi..,” jawab Ummu Sulaim, “kami akan campur dengan parfum kami. Itu adalah parfum terbaik.” Dalam riwayat, dijelaskan jawaban Ummu Sulaim, نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا “Kami mengharap mendapatkan barakah keringat ini untuk anak-anak kami.” Rasul pun berkata, أَصَبْتِ “Anda benar…” (HR. Bukhori) Di kesempatan yang lain, sahabat Abu Juhaifah radhiallahu ‘anhu mengisahkan, خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍفَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضَوئِهِفَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَرَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menemui kami saat hari panas terik. Air wudhu disiapkan untuk beliau. Seusai wudhu, orang-orang bergegas mengambil sisa wudhu beliau. Lalu mereka usap-usapkan pada tubuh mereka. Kemudian beliau shalat zhuhur dua rakaat dan ashar dua rakaat. Beliau shalat menghadap sebuah tombak kecil.” (HR. Bukhori) Bahkan para ulama sepakat boleh. Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, اتفق العلماء على مشروعية التبرك بآثار النبي صلى الله عليه وسلم وأورد علماء السيرة والشمائل والحديث أخبارا كثيرة تمثل تبرك الصحابة الكرام رضي الله عنهم بأنواع متعددة من آثاره صلى الله عليه وسلم Para ulama telah sepakat (ijma’), disyariatkannya ngalap berkah dengan bekas fisik Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ulama-ulama Siroh (sejarah Nabi) telah menyebutkan banyak hadis tentang tabarruk para sahabat yang mulia dengan bekas-bekas fisik Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dengan berbagai macamnya. (Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 11/62) Hanya Untuk Nabi Tabarruk dengan fisik atau bekas fisik manusia, tidak boleh dilakukan kecuali kepada fisik yang mulis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Tidak boleh dilakukan pada para wali Allah lainnya atau orang-orang sholih selain Nabi. Syekh Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan, كان الصحابة يتبركون بعرق النبي صلى الله عليه وسلم ويتبركون بريقه ويتبركون بثيابه ويتبركون بشعره ، أما غيره صلى الله عليه وسلم فإنه لا يتبرك بشيء من هذا منه ، فلا يتبرك بثياب الإنسان ولا بشعره ولا بأظفاره ولا بشيء من متعلقاته إلا النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم Dahulu para sahabat berharap berkah dari keringatnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Mereka juga berharap berkah dari air ludah beliau, baju dan rambut beliau. Adapun untuk selain Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tidak boleh kita berharap berkah dari baju, rambut, kuku atau segala sesuatu yang melekat pada fisiknya, kecuali hanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam saja. (Syarah Riyadussholihin, 1/852) Terbukti dalam praktek para sahabat –radhiyallahu’anhum-, sepeninggal Nabi, tak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa seorangpun dari mereka bertabaruk dengan bekas wudhu atau rambutnya Abu Bakr As Sidiq atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma. Masih Adakah Rambut Rasulullah saat Ini? Abdullah bin Mubarok –rahimahullah– pernah mengatakan, الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, niscaya orang akan mengklaim sesukanya. Sanad adalah, data urutan orang-orang dalam jalur periwayatan sebuah kabar. Mengenai rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam, jika saja itu benar, tidak perlu dipermasalahkan. Namun, membuktikan keountentiakan rambut beliau yang mulia, harus ada bukti berupa jalur sanad yang terjaga dan bisa dipertanggungjawabkan. Apakah bukti ini bisa diupayakan pada zaman ini? Mari kita simak keterangan dari pada pakar sejarah. Diantaranya berikut : [1] Keterangan Syekh Ahmad Basa Taimur. Beliau menyatakan dalam buku beliau “Al-Atsar An Nabawiyah”, فما صح من الشعرات التي تداولها الناس بعد ذلك ، فإنما وصل إليهم مما قسم بين الأصحاب رضي الله عنهم ، غير أن الصعوبة في معرفة صحيحها من زائفها Tak satupun riwayat valid yang bersambung sampai ke Nabi berkenaan rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang tersebar di masyarakat sepeninggal beliau. Rambut-rambut beliau yang sampai kepada mereka mungkin bersumber dari para sahabat; semoga Allah meridhoi mereka, yang telah tersebar setiap helainya. Hanya saja, sangat sulit mengidentifikasi riwayat yang valid dengan yang tidak. (Al-Atsar An Nabawiyah, hal. 82 – 84) [2] Keterangan pakar hadis abad ini : Syekh Nashirudin Al-Albani. Beliau menjelaskan, ” هذا ولابد من الإشارة إلى أننا نؤمن بجواز التبرك بآثاره صلى الله عليه وسلم ، ولا ننكره خلافاً لما يوهمه صنيع خصومنا . ولكن لهذا التبرك شروطاً منها الإيمان الشرعي المقبول عند الله ، فمن لم يكن مسلماً صادق الإسلام فلن يحقق الله له أي خير بتبركه هذا ، كما يشترط للراغب في التبرك أن يكون حاصلاً على أثر من آثاره صلى الله عليه وسلم ويستعمله . Kita mengimani bahwa boleh bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Kita tidak mengingkari hal ini, sebagaimana yang disangkakan orang-orang. Namun, tabaruk (agar berkhat) memiliki syarat-syarat, diantaranya adalah iman yang diterima di sisi Allah. Siapa yang tidak muslim jujur Islamnya, dia tidak berhak mendapatkan keberkahan ini. Disyaratkan pula untuk mereka yang ingin bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk benar-benar mendapatkan benda tersebut, kemudian menggunakannya untuk wasilah mendapat berkah. Beliau melanjutkan, ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات قد فقدت ، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقين ، وإذا كان الأمر كذلك فإن التبرك بهذه الآثار يصبح أمراً غير ذي موضوع في زماننا هذا ويكون أمراً نظرياً محضاً، فلا ينبغي إطالة القول فيه Kita semua mengetahui bahwa bekas-bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam seperti baju, rambut atau yang lainnya, telah punah. Dan tidak seorangpun diantara kita yang mampu menghadirkan benda-benda tersebut dengan yakin dan valid. Maka dari itu, bertabaruk dengan hal-hal demikian zaman ini menjadi pembahasan yang tidak terlalu penting, hanya sekadar praduga atau klaim semata. Olehkarenanya, tidak perlu kita memperpanjang pembicaraan tentang masalah ini. (Masu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/731) Sarana Ngalap Berkah yang Pasti Jika kita menginginkan betul berkah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ada satu sarana yang valid dan pasti dapat keberkahan. Yaitu bertabaruk dengan ajaran yang dibawa Nabi shallallahu’alaihi wasallam, yang sampai detik ini jejaknya masih terjaga, bahkan hingga hari kiamat. Silahkan ngalap berkah dari meneladani sunah-sunah beliau shallallahu’alaihi wasallam. Ada keterangan menarik dari Syeikhul Islam Ahmad Al Harroni rahimahullah, كَانَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَمَّا قَدِمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَرَكَتِهِ لَمَّا آمَنُوا بِهِ وَأَطَاعُوهُ، فَبِبَرَكَةِ ذَلِكَ حَصَلَ لَهُمْ سَعَادَةُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، بَلْ كُلُّ مُؤْمِنٍ آمَنَ بِالرَّسُولِ وَأَطَاعَهُ حَصَلَ لَهُ مِنْ بَرَكَةِ الرَّسُولِ بِسَبَبِ إيمَانِهِ وَطَاعَتِهِ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، مَا لَا يَعْلَمُهُ إلَّا اللَّهُ Penduduk Madinah, di saat kedatangan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, mereka mendapatkan keberkahan, saat mereka beriman dan taat kepada beliau. Dengan berkah ini, mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan setiap mukmin yang beriman Rasul serta patuh kepada perintahnya, meraka mendapat keberkahan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, disebabkan iman serta ketaatan mereka kepadanya. Berupa kebaikan dunia dan akhirat yang tak ada tahu nilainya kecuali Allah. (Majmu’Fatawa, 11/ 113) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Keramas Saat Haid Menurut Islam, Tanam Bulu Mata Menurut Islam, Nabi Samun, Doa Agar Ditutup Aib, Pengertian Ibadah Mahdhoh Dan Ghoiru Mahdhoh, Ilmu Tenaga Dalam Menurut Islam Visited 356 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/693558604&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi? Assalamuallaikum wrwb ustadz,baru2 ini ada berita opick membawa sehelai rambut Rasululloh,apakh itu benar ? Dan apakah boleh kita sampai mengagung2kn rambut tsb sprti perlakuan opick dkk thd benda tsb Ibu Farida, di Yogyakarta. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Ngalap berkah (tabarruk) dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam memang dibolehkan. Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat, mereka pernah bertabaruk dengan air bekas wudhu Nabi shallallahu’alaihi wasallam, baju beliau, minuman beliau, rambut dan seluruh bekas fisik yang mulia Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mengingkari tindakan mereka. Menunjukkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan. Karena memang pada tubuh Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang mulia, mengandung keberkahan dari Allah ‘azza wa jalla. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu pernah menceritakan, دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ فَقَالَ عِِنْدَنَا فَعَرَقَ وَجَاءَتْ أُمِّيبِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تُسَلِّتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ فَقَالَ:يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَنَجْعَلَهُ فِي طِيْبِنَا وَهُوَ مِنَ أَطْيَبِ الطِّيبِ “Suatu saat, Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkunjung ke rumah kami. Lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam terbangun dan bertanya, “Ummu Sulaim.. apa yang sedang kamu lakukan ?” “Ini adalah keringat Anda Ya Nabi..,” jawab Ummu Sulaim, “kami akan campur dengan parfum kami. Itu adalah parfum terbaik.” Dalam riwayat, dijelaskan jawaban Ummu Sulaim, نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا “Kami mengharap mendapatkan barakah keringat ini untuk anak-anak kami.” Rasul pun berkata, أَصَبْتِ “Anda benar…” (HR. Bukhori) Di kesempatan yang lain, sahabat Abu Juhaifah radhiallahu ‘anhu mengisahkan, خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍفَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضَوئِهِفَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَرَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menemui kami saat hari panas terik. Air wudhu disiapkan untuk beliau. Seusai wudhu, orang-orang bergegas mengambil sisa wudhu beliau. Lalu mereka usap-usapkan pada tubuh mereka. Kemudian beliau shalat zhuhur dua rakaat dan ashar dua rakaat. Beliau shalat menghadap sebuah tombak kecil.” (HR. Bukhori) Bahkan para ulama sepakat boleh. Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, اتفق العلماء على مشروعية التبرك بآثار النبي صلى الله عليه وسلم وأورد علماء السيرة والشمائل والحديث أخبارا كثيرة تمثل تبرك الصحابة الكرام رضي الله عنهم بأنواع متعددة من آثاره صلى الله عليه وسلم Para ulama telah sepakat (ijma’), disyariatkannya ngalap berkah dengan bekas fisik Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ulama-ulama Siroh (sejarah Nabi) telah menyebutkan banyak hadis tentang tabarruk para sahabat yang mulia dengan bekas-bekas fisik Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dengan berbagai macamnya. (Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 11/62) Hanya Untuk Nabi Tabarruk dengan fisik atau bekas fisik manusia, tidak boleh dilakukan kecuali kepada fisik yang mulis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Tidak boleh dilakukan pada para wali Allah lainnya atau orang-orang sholih selain Nabi. Syekh Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan, كان الصحابة يتبركون بعرق النبي صلى الله عليه وسلم ويتبركون بريقه ويتبركون بثيابه ويتبركون بشعره ، أما غيره صلى الله عليه وسلم فإنه لا يتبرك بشيء من هذا منه ، فلا يتبرك بثياب الإنسان ولا بشعره ولا بأظفاره ولا بشيء من متعلقاته إلا النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم Dahulu para sahabat berharap berkah dari keringatnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Mereka juga berharap berkah dari air ludah beliau, baju dan rambut beliau. Adapun untuk selain Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tidak boleh kita berharap berkah dari baju, rambut, kuku atau segala sesuatu yang melekat pada fisiknya, kecuali hanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam saja. (Syarah Riyadussholihin, 1/852) Terbukti dalam praktek para sahabat –radhiyallahu’anhum-, sepeninggal Nabi, tak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa seorangpun dari mereka bertabaruk dengan bekas wudhu atau rambutnya Abu Bakr As Sidiq atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma. Masih Adakah Rambut Rasulullah saat Ini? Abdullah bin Mubarok –rahimahullah– pernah mengatakan, الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, niscaya orang akan mengklaim sesukanya. Sanad adalah, data urutan orang-orang dalam jalur periwayatan sebuah kabar. Mengenai rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam, jika saja itu benar, tidak perlu dipermasalahkan. Namun, membuktikan keountentiakan rambut beliau yang mulia, harus ada bukti berupa jalur sanad yang terjaga dan bisa dipertanggungjawabkan. Apakah bukti ini bisa diupayakan pada zaman ini? Mari kita simak keterangan dari pada pakar sejarah. Diantaranya berikut : [1] Keterangan Syekh Ahmad Basa Taimur. Beliau menyatakan dalam buku beliau “Al-Atsar An Nabawiyah”, فما صح من الشعرات التي تداولها الناس بعد ذلك ، فإنما وصل إليهم مما قسم بين الأصحاب رضي الله عنهم ، غير أن الصعوبة في معرفة صحيحها من زائفها Tak satupun riwayat valid yang bersambung sampai ke Nabi berkenaan rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang tersebar di masyarakat sepeninggal beliau. Rambut-rambut beliau yang sampai kepada mereka mungkin bersumber dari para sahabat; semoga Allah meridhoi mereka, yang telah tersebar setiap helainya. Hanya saja, sangat sulit mengidentifikasi riwayat yang valid dengan yang tidak. (Al-Atsar An Nabawiyah, hal. 82 – 84) [2] Keterangan pakar hadis abad ini : Syekh Nashirudin Al-Albani. Beliau menjelaskan, ” هذا ولابد من الإشارة إلى أننا نؤمن بجواز التبرك بآثاره صلى الله عليه وسلم ، ولا ننكره خلافاً لما يوهمه صنيع خصومنا . ولكن لهذا التبرك شروطاً منها الإيمان الشرعي المقبول عند الله ، فمن لم يكن مسلماً صادق الإسلام فلن يحقق الله له أي خير بتبركه هذا ، كما يشترط للراغب في التبرك أن يكون حاصلاً على أثر من آثاره صلى الله عليه وسلم ويستعمله . Kita mengimani bahwa boleh bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Kita tidak mengingkari hal ini, sebagaimana yang disangkakan orang-orang. Namun, tabaruk (agar berkhat) memiliki syarat-syarat, diantaranya adalah iman yang diterima di sisi Allah. Siapa yang tidak muslim jujur Islamnya, dia tidak berhak mendapatkan keberkahan ini. Disyaratkan pula untuk mereka yang ingin bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk benar-benar mendapatkan benda tersebut, kemudian menggunakannya untuk wasilah mendapat berkah. Beliau melanjutkan, ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات قد فقدت ، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقين ، وإذا كان الأمر كذلك فإن التبرك بهذه الآثار يصبح أمراً غير ذي موضوع في زماننا هذا ويكون أمراً نظرياً محضاً، فلا ينبغي إطالة القول فيه Kita semua mengetahui bahwa bekas-bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam seperti baju, rambut atau yang lainnya, telah punah. Dan tidak seorangpun diantara kita yang mampu menghadirkan benda-benda tersebut dengan yakin dan valid. Maka dari itu, bertabaruk dengan hal-hal demikian zaman ini menjadi pembahasan yang tidak terlalu penting, hanya sekadar praduga atau klaim semata. Olehkarenanya, tidak perlu kita memperpanjang pembicaraan tentang masalah ini. (Masu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/731) Sarana Ngalap Berkah yang Pasti Jika kita menginginkan betul berkah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ada satu sarana yang valid dan pasti dapat keberkahan. Yaitu bertabaruk dengan ajaran yang dibawa Nabi shallallahu’alaihi wasallam, yang sampai detik ini jejaknya masih terjaga, bahkan hingga hari kiamat. Silahkan ngalap berkah dari meneladani sunah-sunah beliau shallallahu’alaihi wasallam. Ada keterangan menarik dari Syeikhul Islam Ahmad Al Harroni rahimahullah, كَانَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَمَّا قَدِمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَرَكَتِهِ لَمَّا آمَنُوا بِهِ وَأَطَاعُوهُ، فَبِبَرَكَةِ ذَلِكَ حَصَلَ لَهُمْ سَعَادَةُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، بَلْ كُلُّ مُؤْمِنٍ آمَنَ بِالرَّسُولِ وَأَطَاعَهُ حَصَلَ لَهُ مِنْ بَرَكَةِ الرَّسُولِ بِسَبَبِ إيمَانِهِ وَطَاعَتِهِ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، مَا لَا يَعْلَمُهُ إلَّا اللَّهُ Penduduk Madinah, di saat kedatangan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, mereka mendapatkan keberkahan, saat mereka beriman dan taat kepada beliau. Dengan berkah ini, mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan setiap mukmin yang beriman Rasul serta patuh kepada perintahnya, meraka mendapat keberkahan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, disebabkan iman serta ketaatan mereka kepadanya. Berupa kebaikan dunia dan akhirat yang tak ada tahu nilainya kecuali Allah. (Majmu’Fatawa, 11/ 113) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Keramas Saat Haid Menurut Islam, Tanam Bulu Mata Menurut Islam, Nabi Samun, Doa Agar Ditutup Aib, Pengertian Ibadah Mahdhoh Dan Ghoiru Mahdhoh, Ilmu Tenaga Dalam Menurut Islam Visited 356 times, 1 visit(s) today Post Views: 354 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tafsir Ayat Puasa (14): Hukum Membatasi Kelahiran (Ikut Program KB)

Apa hukum membatasi kelahiran (keturunan), dan hukum mengikuti program KB. Dalam bahasan tafsir ayat puasa kali ini juga sudah bisa ditemukan jawabannya.   Ini faedah yang berharga masih dari surat Al-Baqarah ayat 187. Ternyata dalam ayat tersebut, selain diajarkan tentang masalah hubungan intim di malam hari puasa, juga diajarkan tentang tujuan dari hubungan intim itu apa. Allah Ta’ala berfirman, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 187) Yang dimaksud “raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” ada tiga pendapat. Pertama, raihlah anak dari hubungan intim tersebut. Kedua, ikutilah rukhshah (keringanan), untuk hubungan intim pada malam hari Ramadhan. Inilah pendapat Qatadah dan Ibnu Zaid. Ketiga, carilah lailatul qadar. Inilah pendapat Abul Jauza’ dari Ibnu ‘Abbas. Keempat, ikutilah Al-Qur’an. Yang dibolehkan dalam Al-Qur’an untuk kalian berarti itu yang dicari. Inilah pendapat Az-Zujaj. Lihat Zaad Al-Masiir, 1:192 dan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:70. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menyatakan, “Carilah dengan jimak apa yang Allah tetapkan untuk kalian yaitu untuk mendapatkan keturunan. Begitu pula raihlah pahala dan balasan dengan semangat ibadah pada malam-malam bulan Ramadhan—di antaranya di dalamnya ada malam Lailatul Qadar–. Jangan sampai tersibukkan dengan kelezatan dunia tadi, malah lalai dari malam Lailatul Qadar.” (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 302)   Faedah Ayat   Dianjurkan niat hubungan intim (jimak) adalah untuk mendapatkan keturunan, bukan sekadar melampiaskan syahwat. Ayat ini menunjukkan dimakruhkannya ‘azl dan terlarang membatasi kelahiran. Kita diajarkan untuk melakukan sebab. Karena dalam ayat diperintahkan untuk berjimak supaya mendapatkan keturunan. Hendaklah manusia tidak disibukkan dengan berbagai kesenangan dunia—walau itu dihukumi mubah (boleh)—sehingga melalaikan kita dari pahala besar dengan ibadah pada bulan Ramadhan dan sibuk melakukan ketaatan.   Baca juga bahasan: Mencegah Kehamilan   Membatasi Kelahiran Karena Khawatir Rezeki   Ingatlah, semua rezeki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6) Dalam ayat lain disebutkan pula Allah yang menanggung rezeki kita dan anak-anak, وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 151) وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚإِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan tentang kalimat “min imlaq” (karena miskin), Ibnu ‘Abbas, Qatadah, As-Sudi, dan selainnya, yang dimaksud imlaq adalah fakir (miskin). Artinya, jangan bunuh mereka (anak-anak) karena miskin. Sedangkan dalam  Al-Isra’ ayat 31, yang dimaksud adalah jangan bunuh mereka (anak-anak) karena takut miskin di masa akan datang. Maksud “nahnu narzuquhum wa iyyakum” (Kami yang beri rezeki kepada mereka dan kalian), didahulukan anak-anak dalam  Al-Isra’, menunjukkan perhatian pada rezeki mereka, yaitu jangan khawatir dengan kemiskinan kalian, ingatlah rezeki mereka ditanggung oleh Allah. Adapun  Al-An’am ayat 151 menunjukkan bahwa kemiskinan yang dimaksud adalah saat ini. Maka disebut “nahnu narzuqukum wa iyyahum” (Kami yang beri rezeki kepada kalian dan kepada mereka), karena yang lebih penting diberi rezeki adalah yang miskin. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 3:635. Jadi mengikuti program KB karena khawatir rezeki sehingga perlu membatasi kelahiran, itu suatu yang tercela.   Baca juga bahasan: Takut Miskin Ketika Punya Anak   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan. Zaad Al-Masiirfi ‘Ilmi At-Tafsir. Cetakan keempat, Tahun 1407 H. Al-Imam Abul Faraj Jamaluddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.     Catatan Ramadhan #04 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa hukum kb Hukum Membatasi Kelahiran Ikut Program KB malam hari puasa membatasi keturunan pembatal puasa tafsir ayat puasa

Tafsir Ayat Puasa (14): Hukum Membatasi Kelahiran (Ikut Program KB)

Apa hukum membatasi kelahiran (keturunan), dan hukum mengikuti program KB. Dalam bahasan tafsir ayat puasa kali ini juga sudah bisa ditemukan jawabannya.   Ini faedah yang berharga masih dari surat Al-Baqarah ayat 187. Ternyata dalam ayat tersebut, selain diajarkan tentang masalah hubungan intim di malam hari puasa, juga diajarkan tentang tujuan dari hubungan intim itu apa. Allah Ta’ala berfirman, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 187) Yang dimaksud “raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” ada tiga pendapat. Pertama, raihlah anak dari hubungan intim tersebut. Kedua, ikutilah rukhshah (keringanan), untuk hubungan intim pada malam hari Ramadhan. Inilah pendapat Qatadah dan Ibnu Zaid. Ketiga, carilah lailatul qadar. Inilah pendapat Abul Jauza’ dari Ibnu ‘Abbas. Keempat, ikutilah Al-Qur’an. Yang dibolehkan dalam Al-Qur’an untuk kalian berarti itu yang dicari. Inilah pendapat Az-Zujaj. Lihat Zaad Al-Masiir, 1:192 dan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:70. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menyatakan, “Carilah dengan jimak apa yang Allah tetapkan untuk kalian yaitu untuk mendapatkan keturunan. Begitu pula raihlah pahala dan balasan dengan semangat ibadah pada malam-malam bulan Ramadhan—di antaranya di dalamnya ada malam Lailatul Qadar–. Jangan sampai tersibukkan dengan kelezatan dunia tadi, malah lalai dari malam Lailatul Qadar.” (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 302)   Faedah Ayat   Dianjurkan niat hubungan intim (jimak) adalah untuk mendapatkan keturunan, bukan sekadar melampiaskan syahwat. Ayat ini menunjukkan dimakruhkannya ‘azl dan terlarang membatasi kelahiran. Kita diajarkan untuk melakukan sebab. Karena dalam ayat diperintahkan untuk berjimak supaya mendapatkan keturunan. Hendaklah manusia tidak disibukkan dengan berbagai kesenangan dunia—walau itu dihukumi mubah (boleh)—sehingga melalaikan kita dari pahala besar dengan ibadah pada bulan Ramadhan dan sibuk melakukan ketaatan.   Baca juga bahasan: Mencegah Kehamilan   Membatasi Kelahiran Karena Khawatir Rezeki   Ingatlah, semua rezeki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6) Dalam ayat lain disebutkan pula Allah yang menanggung rezeki kita dan anak-anak, وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 151) وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚإِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan tentang kalimat “min imlaq” (karena miskin), Ibnu ‘Abbas, Qatadah, As-Sudi, dan selainnya, yang dimaksud imlaq adalah fakir (miskin). Artinya, jangan bunuh mereka (anak-anak) karena miskin. Sedangkan dalam  Al-Isra’ ayat 31, yang dimaksud adalah jangan bunuh mereka (anak-anak) karena takut miskin di masa akan datang. Maksud “nahnu narzuquhum wa iyyakum” (Kami yang beri rezeki kepada mereka dan kalian), didahulukan anak-anak dalam  Al-Isra’, menunjukkan perhatian pada rezeki mereka, yaitu jangan khawatir dengan kemiskinan kalian, ingatlah rezeki mereka ditanggung oleh Allah. Adapun  Al-An’am ayat 151 menunjukkan bahwa kemiskinan yang dimaksud adalah saat ini. Maka disebut “nahnu narzuqukum wa iyyahum” (Kami yang beri rezeki kepada kalian dan kepada mereka), karena yang lebih penting diberi rezeki adalah yang miskin. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 3:635. Jadi mengikuti program KB karena khawatir rezeki sehingga perlu membatasi kelahiran, itu suatu yang tercela.   Baca juga bahasan: Takut Miskin Ketika Punya Anak   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan. Zaad Al-Masiirfi ‘Ilmi At-Tafsir. Cetakan keempat, Tahun 1407 H. Al-Imam Abul Faraj Jamaluddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.     Catatan Ramadhan #04 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa hukum kb Hukum Membatasi Kelahiran Ikut Program KB malam hari puasa membatasi keturunan pembatal puasa tafsir ayat puasa
Apa hukum membatasi kelahiran (keturunan), dan hukum mengikuti program KB. Dalam bahasan tafsir ayat puasa kali ini juga sudah bisa ditemukan jawabannya.   Ini faedah yang berharga masih dari surat Al-Baqarah ayat 187. Ternyata dalam ayat tersebut, selain diajarkan tentang masalah hubungan intim di malam hari puasa, juga diajarkan tentang tujuan dari hubungan intim itu apa. Allah Ta’ala berfirman, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 187) Yang dimaksud “raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” ada tiga pendapat. Pertama, raihlah anak dari hubungan intim tersebut. Kedua, ikutilah rukhshah (keringanan), untuk hubungan intim pada malam hari Ramadhan. Inilah pendapat Qatadah dan Ibnu Zaid. Ketiga, carilah lailatul qadar. Inilah pendapat Abul Jauza’ dari Ibnu ‘Abbas. Keempat, ikutilah Al-Qur’an. Yang dibolehkan dalam Al-Qur’an untuk kalian berarti itu yang dicari. Inilah pendapat Az-Zujaj. Lihat Zaad Al-Masiir, 1:192 dan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:70. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menyatakan, “Carilah dengan jimak apa yang Allah tetapkan untuk kalian yaitu untuk mendapatkan keturunan. Begitu pula raihlah pahala dan balasan dengan semangat ibadah pada malam-malam bulan Ramadhan—di antaranya di dalamnya ada malam Lailatul Qadar–. Jangan sampai tersibukkan dengan kelezatan dunia tadi, malah lalai dari malam Lailatul Qadar.” (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 302)   Faedah Ayat   Dianjurkan niat hubungan intim (jimak) adalah untuk mendapatkan keturunan, bukan sekadar melampiaskan syahwat. Ayat ini menunjukkan dimakruhkannya ‘azl dan terlarang membatasi kelahiran. Kita diajarkan untuk melakukan sebab. Karena dalam ayat diperintahkan untuk berjimak supaya mendapatkan keturunan. Hendaklah manusia tidak disibukkan dengan berbagai kesenangan dunia—walau itu dihukumi mubah (boleh)—sehingga melalaikan kita dari pahala besar dengan ibadah pada bulan Ramadhan dan sibuk melakukan ketaatan.   Baca juga bahasan: Mencegah Kehamilan   Membatasi Kelahiran Karena Khawatir Rezeki   Ingatlah, semua rezeki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6) Dalam ayat lain disebutkan pula Allah yang menanggung rezeki kita dan anak-anak, وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 151) وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚإِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan tentang kalimat “min imlaq” (karena miskin), Ibnu ‘Abbas, Qatadah, As-Sudi, dan selainnya, yang dimaksud imlaq adalah fakir (miskin). Artinya, jangan bunuh mereka (anak-anak) karena miskin. Sedangkan dalam  Al-Isra’ ayat 31, yang dimaksud adalah jangan bunuh mereka (anak-anak) karena takut miskin di masa akan datang. Maksud “nahnu narzuquhum wa iyyakum” (Kami yang beri rezeki kepada mereka dan kalian), didahulukan anak-anak dalam  Al-Isra’, menunjukkan perhatian pada rezeki mereka, yaitu jangan khawatir dengan kemiskinan kalian, ingatlah rezeki mereka ditanggung oleh Allah. Adapun  Al-An’am ayat 151 menunjukkan bahwa kemiskinan yang dimaksud adalah saat ini. Maka disebut “nahnu narzuqukum wa iyyahum” (Kami yang beri rezeki kepada kalian dan kepada mereka), karena yang lebih penting diberi rezeki adalah yang miskin. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 3:635. Jadi mengikuti program KB karena khawatir rezeki sehingga perlu membatasi kelahiran, itu suatu yang tercela.   Baca juga bahasan: Takut Miskin Ketika Punya Anak   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan. Zaad Al-Masiirfi ‘Ilmi At-Tafsir. Cetakan keempat, Tahun 1407 H. Al-Imam Abul Faraj Jamaluddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.     Catatan Ramadhan #04 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa hukum kb Hukum Membatasi Kelahiran Ikut Program KB malam hari puasa membatasi keturunan pembatal puasa tafsir ayat puasa


Apa hukum membatasi kelahiran (keturunan), dan hukum mengikuti program KB. Dalam bahasan tafsir ayat puasa kali ini juga sudah bisa ditemukan jawabannya.   Ini faedah yang berharga masih dari surat Al-Baqarah ayat 187. Ternyata dalam ayat tersebut, selain diajarkan tentang masalah hubungan intim di malam hari puasa, juga diajarkan tentang tujuan dari hubungan intim itu apa. Allah Ta’ala berfirman, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 187) Yang dimaksud “raihlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” ada tiga pendapat. Pertama, raihlah anak dari hubungan intim tersebut. Kedua, ikutilah rukhshah (keringanan), untuk hubungan intim pada malam hari Ramadhan. Inilah pendapat Qatadah dan Ibnu Zaid. Ketiga, carilah lailatul qadar. Inilah pendapat Abul Jauza’ dari Ibnu ‘Abbas. Keempat, ikutilah Al-Qur’an. Yang dibolehkan dalam Al-Qur’an untuk kalian berarti itu yang dicari. Inilah pendapat Az-Zujaj. Lihat Zaad Al-Masiir, 1:192 dan Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:70. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menyatakan, “Carilah dengan jimak apa yang Allah tetapkan untuk kalian yaitu untuk mendapatkan keturunan. Begitu pula raihlah pahala dan balasan dengan semangat ibadah pada malam-malam bulan Ramadhan—di antaranya di dalamnya ada malam Lailatul Qadar–. Jangan sampai tersibukkan dengan kelezatan dunia tadi, malah lalai dari malam Lailatul Qadar.” (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 302)   Faedah Ayat   Dianjurkan niat hubungan intim (jimak) adalah untuk mendapatkan keturunan, bukan sekadar melampiaskan syahwat. Ayat ini menunjukkan dimakruhkannya ‘azl dan terlarang membatasi kelahiran. Kita diajarkan untuk melakukan sebab. Karena dalam ayat diperintahkan untuk berjimak supaya mendapatkan keturunan. Hendaklah manusia tidak disibukkan dengan berbagai kesenangan dunia—walau itu dihukumi mubah (boleh)—sehingga melalaikan kita dari pahala besar dengan ibadah pada bulan Ramadhan dan sibuk melakukan ketaatan.   Baca juga bahasan: Mencegah Kehamilan   Membatasi Kelahiran Karena Khawatir Rezeki   Ingatlah, semua rezeki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6) Dalam ayat lain disebutkan pula Allah yang menanggung rezeki kita dan anak-anak, وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’am: 151) وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚإِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31) Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan tentang kalimat “min imlaq” (karena miskin), Ibnu ‘Abbas, Qatadah, As-Sudi, dan selainnya, yang dimaksud imlaq adalah fakir (miskin). Artinya, jangan bunuh mereka (anak-anak) karena miskin. Sedangkan dalam  Al-Isra’ ayat 31, yang dimaksud adalah jangan bunuh mereka (anak-anak) karena takut miskin di masa akan datang. Maksud “nahnu narzuquhum wa iyyakum” (Kami yang beri rezeki kepada mereka dan kalian), didahulukan anak-anak dalam  Al-Isra’, menunjukkan perhatian pada rezeki mereka, yaitu jangan khawatir dengan kemiskinan kalian, ingatlah rezeki mereka ditanggung oleh Allah. Adapun  Al-An’am ayat 151 menunjukkan bahwa kemiskinan yang dimaksud adalah saat ini. Maka disebut “nahnu narzuqukum wa iyyahum” (Kami yang beri rezeki kepada kalian dan kepada mereka), karena yang lebih penting diberi rezeki adalah yang miskin. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 3:635. Jadi mengikuti program KB karena khawatir rezeki sehingga perlu membatasi kelahiran, itu suatu yang tercela.   Baca juga bahasan: Takut Miskin Ketika Punya Anak   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan. Zaad Al-Masiirfi ‘Ilmi At-Tafsir. Cetakan keempat, Tahun 1407 H. Al-Imam Abul Faraj Jamaluddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.     Catatan Ramadhan #04 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa hukum kb Hukum Membatasi Kelahiran Ikut Program KB malam hari puasa membatasi keturunan pembatal puasa tafsir ayat puasa

Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan Ramadhan

Ramadhan yang Telah BerlaluKaum muslimin yang merasakan manisnya iman dan nikmatnya ibadah serta melimpahnya berkah di bulan Ramadhan tentu akan bersedih berpisah dengan bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan sangat dirindukan oleh orang yang beriman dan orang shalih. Para ulama dan orang shalih sangat merindukan Ramadhan, enam bulan sebelum Ramadhan mereka sudah berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulam Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan pada Bulan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).”[1] Tanda Keimanan Dibalik KesedihanKetika Ramadhan berpisah tentu orang yang beriman akan merasa sangat kehilangan. Mereka kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadhan. Tidak sedikit dari para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangusan karena perpisahan dengan Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوعقلوب المتقين إلى هذا الشهر تحِن ومن ألم فراقه تئِنياشهر رمضان ترفق، دموع المحبين تُدْفَق، قلوبهم من ألم الفراق تشقَّق، عسى وقفة للوداع تطفئ من نار الشوق ما أحرق، عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كل ما تخرَّق، عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق، عسى أسير الأوزار يُطلق، عسى من استوجب النار يُعتق، عسى رحمة المولى لها العاصي يوفق“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.Baca juga: * Tanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima * Sikap Hamba Allah Seusai Ramadhan * Istiqamah Setelah RamadhanHati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, Mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmuSemoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang ada bocornya, Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusulSemoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik.” [2] Istiqamahlah Selepas Bulan RamadhanKita pun tentu merasa sedih dengan perpisahan Ramadhan, akan tetapi perpisahan ini bukan segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa tetap istiqamah setelah Ramadhan dan tetap beramal sebagaimana amalan kita di bulan Ramadhan. Ini adalah tanda diterimanya amal kitaPara ulama’ mengatakan,إن من علامةِ قبول الحسنة، الحسنة بعدها“Sesungguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”Buktikan Perpisahan Dengan Perbaikan yang Lebih BaikYang terpenting jangan sampai ungkapan kesedihan dan tangisan kita dengan bulan Ramadhan adalah hanya kepura-puraan saja atau sekedar ikut-ikutan saja. Kita buktikan perpisahan dengan Ramadhan membuat kita rindu dan kangen dengan suasana ramadhan dengan tetap melakukan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan serta tidak kita tinggalkan secara total.Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja, setelah berlalu bulam Ramadhan mereka sudah tidak mengenal Allah karena meninggalkan amalan-amalan wajib. Mereka ini adalah sejelek-jelek kaum.Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,سُئل بعض السلف عن قوم يتعبدون، ويجتهدون في رمضان، فإذا خرج رمضان تركوا فقال: بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان. وهذا صحيح إذا كانوا يضيّعون الفرائض“Sebagian salaf ditanya mengenai sekelompok orang yang mereka beribadah dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan. Jika Ramadhan telah berlalu, mereka meninggalkan ibadah tersebut. Ada ungkapan: Sejelek-jelek kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Ungkapan ini benar jika mereka tidak melakukan/lalai akan perkara-perkara wajib.”[3] Setelah berpisah dengan Ramadhan, kita berada di pertengahan dengan Ramadhan berikutnya. Semoga bisa menjadi penghapus dosa antara Ramadhan ini dan Ramadhan selanjutnyaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻣُﻜَﻔِّﺮَﺍﺕٌ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻦَّ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺟْﺘَﻨَﺐَ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”[4] Baca juga: * Puasa Syawal, Tanda Kesempurnaan Puasa RamadhanSemoga kita bisa selalu tetap istiqamah meskipun bulan Ramadhan telah berlalu.@Perum PTSC, Cileungsi, BogorPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan

Bukan Pura-pura Bersedih pada Perpisahan dengan Ramadhan

Ramadhan yang Telah BerlaluKaum muslimin yang merasakan manisnya iman dan nikmatnya ibadah serta melimpahnya berkah di bulan Ramadhan tentu akan bersedih berpisah dengan bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan sangat dirindukan oleh orang yang beriman dan orang shalih. Para ulama dan orang shalih sangat merindukan Ramadhan, enam bulan sebelum Ramadhan mereka sudah berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulam Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan pada Bulan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).”[1] Tanda Keimanan Dibalik KesedihanKetika Ramadhan berpisah tentu orang yang beriman akan merasa sangat kehilangan. Mereka kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadhan. Tidak sedikit dari para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangusan karena perpisahan dengan Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوعقلوب المتقين إلى هذا الشهر تحِن ومن ألم فراقه تئِنياشهر رمضان ترفق، دموع المحبين تُدْفَق، قلوبهم من ألم الفراق تشقَّق، عسى وقفة للوداع تطفئ من نار الشوق ما أحرق، عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كل ما تخرَّق، عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق، عسى أسير الأوزار يُطلق، عسى من استوجب النار يُعتق، عسى رحمة المولى لها العاصي يوفق“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.Baca juga: * Tanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima * Sikap Hamba Allah Seusai Ramadhan * Istiqamah Setelah RamadhanHati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, Mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmuSemoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang ada bocornya, Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusulSemoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik.” [2] Istiqamahlah Selepas Bulan RamadhanKita pun tentu merasa sedih dengan perpisahan Ramadhan, akan tetapi perpisahan ini bukan segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa tetap istiqamah setelah Ramadhan dan tetap beramal sebagaimana amalan kita di bulan Ramadhan. Ini adalah tanda diterimanya amal kitaPara ulama’ mengatakan,إن من علامةِ قبول الحسنة، الحسنة بعدها“Sesungguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”Buktikan Perpisahan Dengan Perbaikan yang Lebih BaikYang terpenting jangan sampai ungkapan kesedihan dan tangisan kita dengan bulan Ramadhan adalah hanya kepura-puraan saja atau sekedar ikut-ikutan saja. Kita buktikan perpisahan dengan Ramadhan membuat kita rindu dan kangen dengan suasana ramadhan dengan tetap melakukan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan serta tidak kita tinggalkan secara total.Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja, setelah berlalu bulam Ramadhan mereka sudah tidak mengenal Allah karena meninggalkan amalan-amalan wajib. Mereka ini adalah sejelek-jelek kaum.Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,سُئل بعض السلف عن قوم يتعبدون، ويجتهدون في رمضان، فإذا خرج رمضان تركوا فقال: بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان. وهذا صحيح إذا كانوا يضيّعون الفرائض“Sebagian salaf ditanya mengenai sekelompok orang yang mereka beribadah dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan. Jika Ramadhan telah berlalu, mereka meninggalkan ibadah tersebut. Ada ungkapan: Sejelek-jelek kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Ungkapan ini benar jika mereka tidak melakukan/lalai akan perkara-perkara wajib.”[3] Setelah berpisah dengan Ramadhan, kita berada di pertengahan dengan Ramadhan berikutnya. Semoga bisa menjadi penghapus dosa antara Ramadhan ini dan Ramadhan selanjutnyaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻣُﻜَﻔِّﺮَﺍﺕٌ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻦَّ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺟْﺘَﻨَﺐَ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”[4] Baca juga: * Puasa Syawal, Tanda Kesempurnaan Puasa RamadhanSemoga kita bisa selalu tetap istiqamah meskipun bulan Ramadhan telah berlalu.@Perum PTSC, Cileungsi, BogorPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan
Ramadhan yang Telah BerlaluKaum muslimin yang merasakan manisnya iman dan nikmatnya ibadah serta melimpahnya berkah di bulan Ramadhan tentu akan bersedih berpisah dengan bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan sangat dirindukan oleh orang yang beriman dan orang shalih. Para ulama dan orang shalih sangat merindukan Ramadhan, enam bulan sebelum Ramadhan mereka sudah berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulam Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan pada Bulan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).”[1] Tanda Keimanan Dibalik KesedihanKetika Ramadhan berpisah tentu orang yang beriman akan merasa sangat kehilangan. Mereka kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadhan. Tidak sedikit dari para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangusan karena perpisahan dengan Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوعقلوب المتقين إلى هذا الشهر تحِن ومن ألم فراقه تئِنياشهر رمضان ترفق، دموع المحبين تُدْفَق، قلوبهم من ألم الفراق تشقَّق، عسى وقفة للوداع تطفئ من نار الشوق ما أحرق، عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كل ما تخرَّق، عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق، عسى أسير الأوزار يُطلق، عسى من استوجب النار يُعتق، عسى رحمة المولى لها العاصي يوفق“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.Baca juga: * Tanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima * Sikap Hamba Allah Seusai Ramadhan * Istiqamah Setelah RamadhanHati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, Mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmuSemoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang ada bocornya, Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusulSemoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik.” [2] Istiqamahlah Selepas Bulan RamadhanKita pun tentu merasa sedih dengan perpisahan Ramadhan, akan tetapi perpisahan ini bukan segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa tetap istiqamah setelah Ramadhan dan tetap beramal sebagaimana amalan kita di bulan Ramadhan. Ini adalah tanda diterimanya amal kitaPara ulama’ mengatakan,إن من علامةِ قبول الحسنة، الحسنة بعدها“Sesungguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”Buktikan Perpisahan Dengan Perbaikan yang Lebih BaikYang terpenting jangan sampai ungkapan kesedihan dan tangisan kita dengan bulan Ramadhan adalah hanya kepura-puraan saja atau sekedar ikut-ikutan saja. Kita buktikan perpisahan dengan Ramadhan membuat kita rindu dan kangen dengan suasana ramadhan dengan tetap melakukan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan serta tidak kita tinggalkan secara total.Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja, setelah berlalu bulam Ramadhan mereka sudah tidak mengenal Allah karena meninggalkan amalan-amalan wajib. Mereka ini adalah sejelek-jelek kaum.Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,سُئل بعض السلف عن قوم يتعبدون، ويجتهدون في رمضان، فإذا خرج رمضان تركوا فقال: بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان. وهذا صحيح إذا كانوا يضيّعون الفرائض“Sebagian salaf ditanya mengenai sekelompok orang yang mereka beribadah dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan. Jika Ramadhan telah berlalu, mereka meninggalkan ibadah tersebut. Ada ungkapan: Sejelek-jelek kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Ungkapan ini benar jika mereka tidak melakukan/lalai akan perkara-perkara wajib.”[3] Setelah berpisah dengan Ramadhan, kita berada di pertengahan dengan Ramadhan berikutnya. Semoga bisa menjadi penghapus dosa antara Ramadhan ini dan Ramadhan selanjutnyaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻣُﻜَﻔِّﺮَﺍﺕٌ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻦَّ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺟْﺘَﻨَﺐَ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”[4] Baca juga: * Puasa Syawal, Tanda Kesempurnaan Puasa RamadhanSemoga kita bisa selalu tetap istiqamah meskipun bulan Ramadhan telah berlalu.@Perum PTSC, Cileungsi, BogorPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan


Ramadhan yang Telah BerlaluKaum muslimin yang merasakan manisnya iman dan nikmatnya ibadah serta melimpahnya berkah di bulan Ramadhan tentu akan bersedih berpisah dengan bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan sangat dirindukan oleh orang yang beriman dan orang shalih. Para ulama dan orang shalih sangat merindukan Ramadhan, enam bulan sebelum Ramadhan mereka sudah berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulam Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ“Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan pada Bulan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).”[1] Tanda Keimanan Dibalik KesedihanKetika Ramadhan berpisah tentu orang yang beriman akan merasa sangat kehilangan. Mereka kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadhan. Tidak sedikit dari para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangusan karena perpisahan dengan Ramadhan.Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,كيف لا تجرى للمؤمن على فراقه دموع وهو لا يدري هل بقي له في عمره إليه رجوعقلوب المتقين إلى هذا الشهر تحِن ومن ألم فراقه تئِنياشهر رمضان ترفق، دموع المحبين تُدْفَق، قلوبهم من ألم الفراق تشقَّق، عسى وقفة للوداع تطفئ من نار الشوق ما أحرق، عسى ساعة توبة وإقلاع ترفو من الصيام كل ما تخرَّق، عسى منقطع عن ركب المقبولين يلحق، عسى أسير الأوزار يُطلق، عسى من استوجب النار يُعتق، عسى رحمة المولى لها العاصي يوفق“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.Baca juga: * Tanda Amalan Di Bulan Ramadhan Diterima * Sikap Hamba Allah Seusai Ramadhan * Istiqamah Setelah RamadhanHati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, Mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmuSemoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang ada bocornya, Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusulSemoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik.” [2] Istiqamahlah Selepas Bulan RamadhanKita pun tentu merasa sedih dengan perpisahan Ramadhan, akan tetapi perpisahan ini bukan segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa tetap istiqamah setelah Ramadhan dan tetap beramal sebagaimana amalan kita di bulan Ramadhan. Ini adalah tanda diterimanya amal kitaPara ulama’ mengatakan,إن من علامةِ قبول الحسنة، الحسنة بعدها“Sesungguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”Buktikan Perpisahan Dengan Perbaikan yang Lebih BaikYang terpenting jangan sampai ungkapan kesedihan dan tangisan kita dengan bulan Ramadhan adalah hanya kepura-puraan saja atau sekedar ikut-ikutan saja. Kita buktikan perpisahan dengan Ramadhan membuat kita rindu dan kangen dengan suasana ramadhan dengan tetap melakukan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan serta tidak kita tinggalkan secara total.Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja, setelah berlalu bulam Ramadhan mereka sudah tidak mengenal Allah karena meninggalkan amalan-amalan wajib. Mereka ini adalah sejelek-jelek kaum.Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,سُئل بعض السلف عن قوم يتعبدون، ويجتهدون في رمضان، فإذا خرج رمضان تركوا فقال: بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان. وهذا صحيح إذا كانوا يضيّعون الفرائض“Sebagian salaf ditanya mengenai sekelompok orang yang mereka beribadah dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan. Jika Ramadhan telah berlalu, mereka meninggalkan ibadah tersebut. Ada ungkapan: Sejelek-jelek kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Ungkapan ini benar jika mereka tidak melakukan/lalai akan perkara-perkara wajib.”[3] Setelah berpisah dengan Ramadhan, kita berada di pertengahan dengan Ramadhan berikutnya. Semoga bisa menjadi penghapus dosa antara Ramadhan ini dan Ramadhan selanjutnyaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟْﺨَﻤْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻣُﻜَﻔِّﺮَﺍﺕٌ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻦَّ ﺇِﺫَﺍ ﺍﺟْﺘَﻨَﺐَ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮَ“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”[4] Baca juga: * Puasa Syawal, Tanda Kesempurnaan Puasa RamadhanSemoga kita bisa selalu tetap istiqamah meskipun bulan Ramadhan telah berlalu.@Perum PTSC, Cileungsi, BogorPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel Muslim.or.idCatatan kaki:🔍 Khalwat Adalah, Ilmu Terawang Menurut Islam, Diagram Mahram Wanita, Arti Shohibul Qurban, Budaya Cium Tangan

Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at

Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at(Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc, MA.)Ijma’ Boleh Lebih 11 RakaatPara ulama telah ijmak (sepakat) akan bolehnya sholat malam (tarawih) lebih dari 11 raka’at. Bahkan yang menukil ijmak tersebut para ulama dari berbagai madzhab fikih. Berikut ini nukilan tersebut:1. Madzhab Maliki:Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata:وأكثر الآثار على أن صلاته كانت إحدى عشرة ركعة وقد روي ثلاث عشرة ركعة. واحتج العلماء على أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود والصلاة خير موضوع فمن شاء استقل ومن شاء استكثر.“Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa shalat beliau adalah 11 rakaat, dan diriwayatkan bahwa 13 rakaat, para ulama berdalil bahwa shalat lail tidak ada batasnya, dan shalat adalah ibadah terbaik, siapa yang berkehendak silahkan menyedikitkan rakaát, dan siapa yang berkehendak maka silahkan memperbanyak rakaát”. (1)Beliau juga berkata:وقد أجمع العلماء على أن لا حد ولا شيء مقدرا في صلاة الليل وأنها نافلة فمن شاء أطال فيها القيام وقلت ركعاته ومن شاء أكثر الركوع والسجود“Para ulama sepakat tidak ada batas atau ukuran dalam shalat lail (malam), mereka juga sepakat bahwa shalat lail sunnah, siapun mau boleh memanjangkan berdiri dan sedikit jumlah rakaatnya, dan siapapun mau boleh memperbanyak ruku’ dan sujud”. (2)Beliau juga berkata:وَلَيْسَ فِي عَدَدِ الرَّكَعَاتِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ حَدٌّ مَحْدُودٌ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَتَعَدَّى“Tidak ada batas tertentu dalam jumlah rakaat dalam shalat lail yang tidak boleh dilewati menurut satupun ulama”. (3)Al-Qadhi Iyadh mengatakan: ولاَ خِلاَفَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدٌّ لاَ يُزَادُ عَلَيْهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُ، وَأَنَّ صَلاَةَ اللَّيْلِ مِنَ الْفَضَائِلِ وَالرَّغَائِبِ الَّتِي كُلَّمَا زِيْدَ فِيْهَا زِيْدَ فِي الأَجْرِ وَالْفَضْلِ، وَإِنَّمَا الْخِلاَفُ فِي فِعْلِ النَّبِيِّ (صلى الله عليه وسلم) وَمَا اخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batas yang tidak boleh ditambahi dan dikurangi, dan shalat lail termasuk amalan utama dan dianjurkan, jika ditambahi maka bertambah pula pahala dan keutamaanya, yang diperselisihkan hanya dalam perbuatan Nabi dan jumlah rakaat yang beliau pilih untuk beliau lakukan”. (4)2. Madzhab HanbaliIbnu Qudamah Al-Maqdisi menyebutkan bahwa yang menjadi pilihan jumhur ulama adalah shalat tarawih 20 rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar ketika mengumpulkan orang-orang, beliau juga berkata: “Para sahabat bersepakat dalam hal itu di masa mereka”. (5)Ishaq bin Mansur bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Berapa rakaat shalat qiyam bulan Ramadhan? Beliau berkata: Ada beberapa pendapat, diriwayatkan sekitar 40, tetapi itu adalah shalat tathawwu’. (6)3. Madzhab Syafi’i Abul Qasim Ar-Rafi’i: “Sesungguhnya Umar bin Khatthab mengumpulkan orang-orang diimami oleh Ubai bin Ka’ab, dan disepakati oleh para sahabat”. (7)An-Nawawi menukil ijma’ ini dan mengikrarkannya (8)Az-Za’farani meriwayatkan dari As-Syafi’I: “Aku lihat orang-orang di Madinah mengerjakan shalat 39 rakaat”, beliau berkata “Yang lebih aku suka adalah 20”, beliau berkata “Begitupula yang dikerjakan di Makkah”. Beliau berkata: “Tidak ada dalam hal ini batas akhirnya, jika mereka perbanyak ruku’ dan sujud maka lebih baik”. (9)Al-Iraqi mengatakan: فِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ الصَّلَاةِ بِاللَّيْلِ وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ مَحْصُورٌ وَلَكِنْ اخْتَلَفَتْ الرِّوَايَاتُ فِيمَا كَانَ يَفْعَلُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Para ulama sepakat bahwa tidak ada batas tertentu dalam qiyamul-lail, akan tetapi riwayat-riwayat berbeda tentang mana yang dilakukan oleh Nabi”. (10)4. Ulama HaditsIbnu Al-Qatthan Al-Fasi juga menukil ijma’ tersebut dalam kitabnya “Al-Iqna’ fi Masa’il Ijma’”.At-Tirmidzi dalam Jami’-nya berkata:“Para ulama berselisih pendapat dalam qiyam Ramadhan: Sebagian berpendapat 41 rakaat bersama witir, ini adalah pendapat ahlul Madinah, dan yang diamalkan oleh penduduk Madinah. Kebanyakan ulama adalah mengikuti riwayat Umar, Ali dan lainnya dari kalangan sahabat Rasulullah berpendapat 20 rakaat, ini adalah pendapat At-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak dan As-Syafi’i.As-Syafi’i berkata: Demikianlah yang aku jumpai di kota kami Makkah, mereka shalat 20 rakaat.Ahmad mengatakan: Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat dan tidak ada titik penentu.Ishaq berkata: Tapi kita pilih 41 rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab.”Kesimpulan:Di atas adalah pernyataan sejumlah ulama dari berbagai madzhab yang menukilkan ijma’ (konsensus) ulama bahwa tidak ada batas jumlah shalat lail yang di antaranya adalah shalat tarawih, tidak ada seorangpun ulama setelah mereka yang mempermasalahkan hal itu. Lihatlah dalam buku fikih manapun dan dalam madzhab manapun tidak ditemukan seorang ulamapun yang menyatakan tidak boleh sholat malam lebih dari 11 rakaát. Jika ada ulama yang mu’tabar (yang diakui) yang melarang dari kalangan para ulama terdahulu, tentu sudah dinukil dalam kitab-kitab fikih klasik (11).Adapun hadits Aisyah (yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama kontemporer bahwa sholat malam tidak boleh lebih dari 11 rakaat) :عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ، وَلاَ فِي غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah ‘Berapa shalat Rasulullah pada bulan Ramadhan?’ ia menjawab: ‘Beliau tidak menambah sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan atau di bulan lain, beliau shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat tiga rakaat, lalu aku bertanya : wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum melakukan witir? Beliau menjawab: wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi hatiku tidak tidur’. (12)Maka hadits di atas menjelaskan bahwa sholat malam Nabi tidak lebih dari 11 raka’at. Tetapi tidak seorang salafpun yang memahami bahwa maksud Aisyah itu adalah batasan jumlah sholat malam, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah.Sementara tatkala kita memahami hadits atau memahami syari’at Islam harus dengan pemahaman para salaf, sebagai konsenkuensi dari bentuk berpegang dengan manhaj salaf dalam beristidlal (berdalil).Dalil-Dalil bahwa Shalat Tarawih Tidak Ada Batas RakaatPertama: Hadits Ibnu Umarعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ –صلى الله عليه وسلم– وَأَنَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّائِلِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ قَالَ «مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَصَلِّ رَكْعَةً وَاجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِكَ وِتْرًا». ثُمَّ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ وَأَنَا بِذَلِكَ الْمَكَانِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَلاَ أَدْرِى هُوَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.Seorang bertanya kepada Nabi, ia mengakatan: saat itu aku berada di antara beliau dan penanya. Penyanya mengatakan: Wahai Rasulullah, bagaimana mengerjakan shalat lail? Beliau menjawab: Dua rakaat, dua rakaat, jika kamu khawatir masuk subuh maka shalatlah satu rakaat, dan jadikan akhir shalatmu witir. Kemudian ada lelaki berusia hampir satu abad, dan aku di tempat itu bersama Rasulullah, aku tidak tahu apakah itu orang tadi atau orang lain, ia mengatakan semacam itu pula(13). Dalam riwayat yang lain (juga dalam shahih Muslim):أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَجُلاً نَادَى رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أُوتِرُ صَلاَةَ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– «مَنْ صَلَّى فَلْيُصَلِّ مَثْنَى مَثْنَى فَإِنْ أَحَسَّ أَنْ يُصْبِحَ سَجَدَ سَجْدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى».Seorang memanggil Rasulullah sedangkan beliau berada di masjid, lantas bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana aku melakukan witir pada shalat lail? Rasulullah menjawab : Siapapun yang shalat, hendaklah shalat dua rakaat dua rakaat, jika merasa datang subuh maka hendaklah melakukan satu sujud, makai a telah melukan shalat witir. Dalam riwayat yang lain :Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda: Shalat lail dua-dua, jika kamu melihat subuh akan tiba maka wtirlah satu rakaat. Lalu ada yang bertnya kepada Ibnu Umar: apa itu dua-dua? Beliau menjawab: hendaklah engkau salam di setiap dua rakaat. (diriwayatkan muslim juga di tempat yang sama).Segi pendalilan:Ada dua sisi pendalilan dari hadits Ibnu Umar di atas:Pertama: Orang yang bertanya tersebut dalam sebagian riwayat adalah الأَعْرَابِيُّ arab badui(14). Dan sebagaimana diketahui bahwa orang arab badui tidaklah tinggal bertetangga dengan Nabi dan para sahabat. Tentu ia tidak tahu tentang jumlah raka’at sholat malam Nabi, terlebih lagi tidak ada seorang sahabatpun yang meriwayatkan tentang jumlah 11 rakaat sholat malam Nabi kecuali Aisyah, karena Nabi mengerjakannya di rumah dan dilihat oleh Aisyah.Hal ini dikuatkan lagi bahwasanya jika Arab badui tersebut tidak tahu tentang kaifiyyah (tata cara) sholat malam, setiap berapa rakaatkah harus salam? Maka ketidak tahuannya tentang jumlah rakaat lebih utama untuk tidak ia ketahui.Jika seandainya sholat malam ada batasan jumlah raka’atnya tentu Nabi akan menjelaskan kepada orang arab badui tersebut. Tatkala Nabi tidak menjelaskan sisi ini maka menunjukan bahwa sholat malam tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh. Kedua: Justru Nabi menjawab orang arab badui tersebut dengan mengisyaratkan bahwa sholat malam tidak terbatas jumlah raka’atnya. Karena Nabi menyatakan bahwa sholat malam itu dua-dua rakaat hingga subuh. Artinya arab badui tersebut boleh sholat dengan shalat dua rakaat-dua rakaat dan terus melakukannya seperti itu, sampai jika ia khawatir tiba subuh maka shalat satu rakaat dan menjadi witir bagi shalatnya. Apalagi orang-orang arab badui tidak dikenal dengan sebagai para sahabat yang memiliki hapalan qur’an yang banyak, sehingga kemungkinan ia akan memperbanyak raka’at hingga subuh.Kedua: Hadits Thalq bin Ali عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (15)Segi pendalilan:Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lain. Dan tentu jika digabungkan dua kali sholat tarawih beliau tersebut akan lebih dari 11 raka’at, wallahu A’lam.Ketiga: Hadits Abu Dzar عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».Abu Dzar berkata: Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (16), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (17)Segi pendalilan:Ketika sudah lewat tengah malam, Rasulullah selesai shalatnya, tapi para sahabat meminta Rasulullah tambahan shalat lagi, dan beliau tidak mengingkari atau menyalahkan mereka, namun beliau menunjukkan yang afdhal. Para sahabat juga tidak memahami bahwa shalat malam ada batas tertentu dan mereka juga tidak memahami jika shalat selesai maka tidak boleh ditambah. Karena jika mereka memahami bahwa sholat malam tidak boleh ada tambahannya tentu mereka tidak akan minta tambahan kepada Nabi, karena berarti meminta sesuatu yang haram kepada Nabi. Keempat: Hadits ‘Amr bin ‘Anbasahعن عَمرو بن عَنْبَسة ــ رضي الله عنه ــ أنَّه قال: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْلَمَ مَعَكَ؟ قَالَ: «حُرٌّ وَعَبْدٌ»، قُلْتُ: هَلْ مِنْ سَاعَةٍ أَقْرَبُ إِلَى اللَّهِ ــ عَزَّ وَجَلَّ ــ مِنْ أُخْرَى؟ قَالَ: “نَعَمْ، جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا بَدَا لَكَ حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ“.“Aku mendatangi Rasulullah dan bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang masuk islam bersama engkau? Beliau menjawab: orang merdeka dan budak. Aku bertanya: Apakah ada waktu yang lebih dekat kepada Allah Azza wa Jalla daripada selainnya? Beliau menjawab: Ya, pertengahan malam akhir, maka shalatlah yang kamu mau sampai kamu shalat subuh”. (18)Muhammad Ali Adam Al-Ityubi mengomentari hadits ini, “Shalat malam tidak memiliki jumlah tertentu, berbeda dengan persangkaan sebagian orang bahwa lebih dari 11 rakaat yang terdapat pada shalat Rasulullah adalah bid’ah, sehingga mengingkari orang yang shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat atau kurang atau lebih sesuai semangat orang yang shalat, maka dapat dibantah dengan hadits ini.” (19)Tarwih para shahabat di masa Umar bin al-Khottob adalah 20 rakaát. Berikut ini adalah pohon seluruh riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang jumlah rakaát tarwih yang dikerjakan di masa Úmar bin al-Khottob atas perintah Umar bin al-Khottob:Jika diperhatikan pohon sanad periwayatan tentang jumlah rakaát tarawih yang dikerjakan di masa Umar bin al-Khottob sebagaimana di atas, maka kita dapati yang menyebutkan bahwa Umar memerintahkan untuk sholat 11 rakaát hanyalah 1 jalur saja, yaitu Dari Imam Malik, dari Muhammad bin Yuusuf, dari As-Saaib bin Yaziid, dari Umar bin al-Khottob. (Sebagaimana di kitab al-Muwattho’ karya Imam Malik)Sementara seluruh jalur yang lain meriwayatkan bahwa sholat yang dikerjakan atas perintah Umar bin al-Khottob lebih dari 11 rakaat, yaitu 20 rakaát. Karenanya Ibnu Ábdil Barr yang bermadzhab Maliki, dan paling paham tentang periwayatan Imam Malik, berkata :وَهَذَا كُلُّهُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الرِّوَايَةَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَهْمٌ وَغَلَطٌ وَأَنَّ الصَّحِيْحَ ثَلاَثٌ وَعِشْرُوْنَ وَإِحْدَى وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَاللهُ أَعْلَمُ“Ini semua menunjukkan bahwa riwayat 11 rakaat adalah kesalahan dan kekeliruan, yang shahih adalah 23 dan 21 rakaat, wallahu a’lam”. (20)Lafadz riwayat 11 Rakaat:Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwattha’: عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد رضي الله عنه أنَّه قال: أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ رضي الله عنهم أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ: وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ، حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْر“Dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Saib bin Yazid beliau mengatakan: Umar bin Khaththab memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang dengan 11 rakaat, saat itu imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidak bubaran (selesai sholat) kecuali mendekati terbit fajar”. (21)Ibnu Abdil Barr berkata:هَكَذَا قَالَ مَالِكٌ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَغَيْرُهُ يَقُوْلُ فِيْهِ إِحْدَى وَعِشْرِيْن“Begitulah yang dikatakan Malik dalam hadits ini, yaitu 11 rakaat, sedangkan selain beliau mengatakan 21 rakaat”. (22)Di kitab yang sama beliau juga berkata:وَلاَ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً غَيْرُ مَالِكٍ والله أعلم. إلا أنه يحتمل أن يكون القيام في أول ما عمل به عمر بإحدى عشرة ركعة ثم خفف عليهم طول القيام ونقلهم إلى إحدى وعشرين ركعة يخففون فيها القراءة ويزيدون في الركوع والسجود إِلاَّ أَنَّ الأَغْلَبَ عِنْدِي فِي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً الْوَهْمُ وَاللهُ أَعْلَمُ“aku tidak tahu seorangpun mengatakan dalam hadits ini 11 rakaat kecuali Malik, wallahu a’lam. Hanya saja ada kemungkinan bahwa shalat yang dilakukan Umar pertama kali adalah 11 rakaat, kemudian beliau ringankan panjangnya berdiri dan diganti menjadi 21 rakaat dengan meringankan bacaan dan menambah ruku’ dan sujud. Akan tetapi yang lebih kuat menurutku adalah bahwa 11 rakaat adalah kekeliruan, wallahu a’lam.(23)Lafadz dari jalur Yazid bin Khushaifah:عن يزيد بن خُصَيْفَة عن السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَلَكِنْ كَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ فِي رَكْعَةٍ حَتَّى كَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عِصِيِّهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِDari Yazid bin Khushaifah dari As-Saib bin Yazid mengatakan : mereka mengerjakan shalat di masa Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan 20 rakaat, akan tetapi mereka membaca ratusan ayat dalam satu rakaat, sehingga mereka bersandar pada tongkat-tongkat mereka karena lamanya berdiri. (24)Sanadnya dishahihkan oleh:Imam Nawawi dalam Al-Khulashah no 1961Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir 4/350Ibnul Iraqi dalam Tharh Tatsrib 3/97Al-‘Aini dalam Al-Binayah Syarh Al-Hidayah 2/660Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy dalam Tanbih Al-Qari’ li Taqwiyati Ma Dha’afahul Albani hlm. 42 mengatakan: Hadits ini shahih.Penulis belum mendapatkan ulama mutaqodiimin (terdauhulu) mendoifkan riwayat Umar tentang sholat 20 rakaat di atas karena riwayatnya(25)Para salaf (sahabat dan tabiín) sholat tarwih lebih dari 11 rakaátPendapat bahwa para sahabat sholat tarwih di masa Umar adalah 20 rakaat dikuatkan dengan praktik para salaf yang sholat malam lebih dari 11 rakát. Berikut penukilannya :Atha’ berkata: أَدْرَكْت النَّاسَ وَهُمْ يُصَلُّونَ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ“Aku menjumpai orang-orang shalat 23 rakaat dengan witir”. (26) Atha adalah seorang tabi’in faqih yang wafat pada tahun 114 H, sehingga yang beliau jumpai adalah para sahabat Rasulullah, wallahu a’lamDawud bin Qais berkata:دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ : أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِالْمَدِينَةِ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يُصَلُّونَ سِتَّة وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.“Aku jumpai di Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat.” (27)Atsar ini menjelaskan bahwa para tabiín mereka sholat bahkan 39 rakaátSa’id bin Jubair:كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي بِنَا عِشْرِينَ لَيْلَةً سِتَّ تَرْوِيحَاتٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ الأَخَرُ اعْتَكَفَ فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى بِنَا سَبْعَ تَرْوِيحَاتٍ.“Dahulu Sa’id bin Jubair adalah imam kita di bulan Ramadhan, beliau shalat mengimami kita 20 malam dengan 6 kali istirahat, jika memasuki 10 malam akhir beliau I’tikaf di masjid dan shalat mengimami kita dengan 7 kali istirahat.” (28)Dan Saíd bin Jubair adalah seorang tabií yang mulia yang merupakan murid Ibnu Ábbas Sa’id bin Jubair adalah seorang tabi’in wafat tahun 95 H, ketika 10 hari terakhir beliau shalat menjadi imam dengan 7 kali istirahat berarti 14 rakaat.Abu Al-Hashib berkata: كَانَ يَؤُمُّنَا سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً “Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami shalat kita pada bulan Ramadhan dengan 5 kali istirahat dalam 20 rakaat”. (29)Suwaid bin Ghafalah masuk Islam saat Nabi masih hidup, akan tetapi beliau tidak bertemu dengan Nabi, dan beliau meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ubay bin Kaáb, Bilal, Abu Dzar, Ibnu Masúd, dan sahabat-sahabat yang lain(30).Beliau shalat 20 rakaat, setiap 4 rakaat salam, sehingga ada 5 kali istirahat.Imam bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir menyebutkan riwayat Abu Al-Hasib Al-Ju’fi:كَانَ سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً“Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami kita pada bulan Ramadhan 20 rakaat”. (31)Ibnu Abi Mulaikah عن نافع بن عمر، قال: كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيَقْرَأُ: بِحَمْدِ الْمَلَائِكَةِ فِي رَكْعَةٍ Nafi’ bin Umar berkata: Dahulu Ibnu Abi Mulaikah shalat mengimami kami 20 rakaat, beliau membaca Hamdu Al-Malaikat (Surat Fathir) dalam satu rakaat. (32)Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang tabií yang lahir di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib atau sebelumnya. Beliau telah menjumpai 30 sahabat(33). Atsar-atsar para tabiín ini menunjukan bahwa pelaksanaan shalat tarwih di masa tabiín berlanjut dengan lebih dari 11 rakaát. Dan kemungkinan besar bahwa kebiasaan para tabiín tersebut diwariskan dari kebiasaan para sahabat.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:“Sesungguhnya qiyam Ramadhan sendiri tidak ditetapkan oleh Nabi dengan jumlah tertentu, bahkan beliau dalam Ramadhan maupun bulan lain tidak lebih dari 13 rakaat, akan tetapi beliau memanjangkan rakaat, ketika Umar mengumpulkan orang-orang untuk shalat diimami oleh Ubai bin Ka’ab shalat bersama mereka 20 rakaat kemudian witir 3 rakaat, pada saat itu beliau meringankan bacaan sesuai dengan tambahan rakaat, karena itu yang paling ringan bagi para makmum daripada memanjangkan satu rakaat.Kemudian sekelompok salaf mengerjakan shalat 40 rakaat dan witir 3 rakaat, dan sekelompok salaf yang lain mengerjakan shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat, dan ini semua diperbolehkan. Bagaimanapun cara yang dilakukan pada bulan Ramadhan dri tata cara tersebut maka ia telah melakukan hal yang baik.Dan yang paling utama adalah hal itu berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi jamaah yang shalat; jika mereka mampu tahan berdiri lama maka mengerjakan 10 rakaat dan tiga rakaat setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika shalat sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lain maka ini lebiih baik, namun jika mereka tidak mampu maka mengerjakan 20 rakaat lebih utama, inilah yang dikerjakan kebanyakan kaum muslimin; harena terletak pertengahan antara 10 dan 40 rakaat, dan jika mengerjakan 40 rakaat maka boleh dan sama sekali tidak dibenci. Ini telah disebutkan sejumlah imam, seperti Ahmad dan lainnya.وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَSiapa mengira qiyam Ramadhan ada bilangan tertentu dari Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi maka ia terjatuh dalam kesalahan”. (34)As-Syaukani mengatakan : والحاصل أن الذي دلت عليه أحاديث الباب وما يشابهها هو مشروعية القيام في رمضان والصلاة فيه جماعة وفرادى فقصر الصلاة المسماة بالتراويح على عدد معين وتخصيصها بقراءة مخصوصة لم يرد به سنة“Kesimpulannya, hadits-hadits dalam bab ini dan hadits yang serupa menunjukkan disyariatkannya qiyam ramadhan, shalat baik dengan jamaah maupun sendiri-sendiri. Adapun membatasi shalat yang dinamai dengan tarawih dengan jumlah tertentu dan mengkhususkan dengan bacaan tertentu maka tidak ada sunnah yang menunjukkah hal itu”. (35)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:والتراويح إن صلاها كمذهب أبي حنيفة، والشافعي، وأحمد: عشرين ركعة أو: كمذهب مالك ستا وثلاثين، أو ثلاث عشرة، أو إحدى عشرة فقد أحسن، كما نص عليه الإمام أحمد لعدم التوقيف فيكون تكثير الركعات وتقليلها بحسب طول القيام وقصره Shalat tarawih jika dikerjakan sesuai madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad adalah 20 rakaat, atau sesuai madzhab Malik 36 rakaat, atau 13, atau 11 maka itu baik, seperti dikatakan oleh Imam Ahmad, karena tidak ada penentuan batas akhir, sehingga memperbanyak jumlah rakaat dan mempersedikit dilakukan tergantung panjang atau pendeknya berdiri. (36)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:وأُبَىٌّ بن كعب لما قام بهم وهم جماعة واحدة لم يمكن أن يطيل بهم القيام، فكثر الركعات ليكون ذلك عوضا عن طول القيام، وجعلوا ذلك ضعف عدد ركعاته، فإنه كان يقوم بالليل إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة، ثم بعد ذلك كأن الناس بالمدينة ضعفوا عن طول القيام، فكثروا الركعات، حتى بلغت تسعا وثلاثينUbai bin Ka’ab tatkala mengimami mereka yang saat itu mereka satu jamaah, tidak memungkinkan untuk memperlama berdiri, maka beliau perbanyak rakaat sebagai ganti berdiri lama, dan mereka menjadikannya dua kali lipat jumlah rakaat, karena sebelum itu ia melakukan qiyamulllail 11 atau 13 rakaat, kemudian setelah itu sepertinya orang-orang penghuni Kota Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka perbanyak rakaat, hingga sampai 39 rakaat. (37)Kesimpulan :Pertama : Telah terjadi Ijma’ (kesepakatan) ulama akan bolehnya shalat lebih dari 11 rakaátKedua : Tidak seorang ulamapun yang mu’tabar dari kalangan mutaqoddimin (terdahulu) yang melarang shalat tarawih lebih dari 11 rakaát, apalagi sampai mengatakan bidáh. Yang ada hanyalah ulama belakangan seperti As-Shonáni yang wafat tahun 1182 HKetiga : Atsar bahwa para sahabat sholat tarawih di masa Umar 20 rakaát adalah atsar yang shahih, dan tidak diketahui ada seorang ulamapun dari mutaqoddimin yang mendoifkan atsar ini.Keempat : Para salaf di zaman para tabiín (seperti Áthoo, Saíd bin Jubair, Suwaid bin Ghofalah, Ibnu Abi Mulaikah, dan Daud bin Qois) mereka semuanya sholat tarawih lebih dari 11 rakaát.Kelima : Hendaknya kita memahami hadits Aisyah tentang sholat malam Nabi 11 rakaát dengan pemahaman para salaf, yaitu bahwa bilangan tersebut bukanlah batasan.Kamis 4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Di Kediaman, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Footnote:1 Al-Istidzkar 2/982 Al-Istidzkar 2/102-1033 At-Tamhid 13/2144 Ikmalul Mu’lim Syarh Shahih Muslim 3/485 At-Mughni 2/1236 Masail Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih 2/7557 As-Syarhu Al-Kabir 4/2678 Lihat Syarh Shahih Muslim 6/199 Mukhtashar Qiyamul Lail hlm. 22210 Tharh At-Tatsrib fi Syarh Taqrib 3/5011 Adapun tiga ulama (Imam Malik, Ibnul ‘Arobi, dan As-Shonáani) yang dinukil oleh Asy-Syaikh Al-Albani bahwa mereka melarang sholat lebih dari 11 rakaát, maka penukilan tersebut kurang tepat. Pertama : Al-Imam Malik yang masyhur di madzhab Malik justru menganjurkan lebih dari 11 rakaát. Adapun nukilan Syaikh Al-Albani dari Imam Malik melalui jalur seorang ulama syafiíyah yang bernama al-Juuri, maka beliau (Syaikh Al-Albani) juga tidak bisa memastikan siapakah al-Juuri tersebut, karena banyak ulama yang bernisbahkan kepada al-Juuri. Setelah itu harus diketahui terlebih dahulu bagaimanakah kedudukan al-Juuri dikalangan para ulama. Demikian juga jika tentu penukilan tentang pendapat Imam Malik dari kitab-kitab ulama Malikiyah lebih kuat daripada yang dinukil dari seorang ulama bermadzhab syafií.Kedua : Ibnul Árobi, justru beliau menyatakan dengan tegas bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaatnya. Beliau berkata :وَلَيْسَ فِي قَدْرِ رَكْعَتِهَا حَدٌّ مَحْدُوْدٌ“Dan tidak ada batasan tertentu pada jumlah rakaát sholat malam” (Áaridhotul Ahwadzi 4/19) Adapun pernyataan Ibnul Árobi yang dinukil oleh Asy-Syaikh al-Albani maka maksudnya jika memang sholat malam itu ada batasannya maka ikutlah yang dilakukan oleh Nabi yaitu 11 rakaát. Akan tetapi telah jelas bahwa sebelumnya -di halaman yang sama- Ibnul Árobi telah menegaskan bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaátnya.Ketiga : As-Shonáani, maka memang jelas beliau memandang bahwa “menganggap jumlah 20 rakaat sebagai sunnah” itulah yang bidáh. As-Shonáni berkata :نَعَمْ قِيَامُ رَمَضَانَ سُنَّةٌ بِلَا خِلَافٍ، وَالْجَمَاعَةُ فِي نَافِلَتِهِ لَا تُنْكَرُ وَقَدْ ائْتَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – وَغَيْرُهُ بِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكِنَّ جَعْلَ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ، وَالْكَمِّيَّةِ سُنَّةً، وَالْمُحَافَظَةَ عَلَيْهَا هُوَ الَّذِي نَقُولُ إنَّهُ بِدْعَةٌ“Memang benar bahwa sholat malam di bulan Ramadhan adalah sunnah tanpa ada khilaf, dan dikerjakan secara berjamaah adalah sunnah tidak diingkari -karena Ibnu Ibaas dan yang lainnya pernah bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam dalam sholat malam-. Akan tetapi menjadikan cara sholat dan jumlah (20 rakaat) sebagai sunnah (Nabi) dan kontinyu dalam malakukannya itulah yang kami katakan sebagai bidáh” (Subulus Salam 1/345)Yang perlu diperhatikan bahwa di Subulus Salam :Pertama : As-Shonáni membenarkan riwayat bahwa Umar mengumpulkan orang-orang untuk sholat 23 rakaát.Kedua : Beliau menekankan bahwa tidak hadits yang marfu’ (dari Nabi) bahwasanya Nabi sholat malam 23 raka’at, semua hadits yang datang tentang hal tersebut adalah dho’if. Ini yang menjadikan beliau menekankan bahwa menganggap sholat 20 rakaat sebagai sunnah adalah anggapan yang bid’ah.Ketiga : Meskipun beliau menetapkan bahwa 20 rakaat telah datang dari Umar bin Al-Khottob namun beliau memandang bahwa tidak wajib mengikuti Umar, yang wajib adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya 11 raka’at.Tentu pendapat As-Shon’ani ini kurang tepat, lagi pula beliau termasuk ulama mutaakhirin (belakangan) yang wafat di abad ke 12 Hijriyah.12 HR. Bukhari no 2031 dan Muslim no 175713 HR. Muslim dalam shahihnya no 74914 Shahih Ibn Khuzaimah no 1110, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh al-A’dzomi15 HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.16 Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34917 HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.18 HR. Ahmad no 17026, Nasa’I no 584 dan ini adalah lafadz beliau, Ibnu Majah 1251. Dishahihkan Ibnu Khuzaimah 260 dan Al-Hakim 583, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 5/21 menshahihkan sanad hadits ini.19 Dzakhiratul ‘Uqba fi Syarh Al-Mujtaba 7/42320. Al-Istidzkar 2/6921 Al-Muwaththa no 25122 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 8/11423 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 2/6324 Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Ja’ad dalam Musnad beliau no 2825, Al-Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496, Al-Firyabi dalam As-Shiyam 176.25 Adapun anggapan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah bahwa Al-Imam At-Tirmidzi mengisyaratkan akan dhoifnya atsar ini -dengan dalil bahwa At-Tirmidzi mengatakan dengan shighot at-tamriid رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ وَعُمَرَ وَغَيْرِهِمَا– maka anggapan ini kurang tepat. Hal ini karena banyak sekali di kitab Sunan At-Tirmidzi beliau menghikayahkan hadits-hadits yang shahih bahkan yang terdapat di shahihain dengan shighoh at-Tamriidh, dan tentu maksud beliau bukan untuk mengisyaratkan akan lemahnya tetapi hanya sekedar untuk menghikayatkan jalur-jalur periwayatan hadits.Misalnya At-Tirmidzi berkata :وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ“Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu álaihi wasallam bahwasanya beliau membaca surat at-Thuur di sholat magrib” (Sunan At-Tirimidzi 1/403).Padahal hadits tentang Nabi membaca surat at-Thuur di sholat maghrib diriwayatkan oleh Al-Bukhari no 4854. Demikian juga anggapan syaikh Al-Albani bahwasanya Al-Imam Asy-Syafií mendoifkan atsar Umar ini, beliau berdalil dengan perkataan Syafií yang dinukil oleh Al-Muzani di Mukhtashornya bahwasanya Syafií berkata : رُوِيَ عَنْ عُمَرَ “Diriwayatkan dari Umar”Maka berikut nukilan perkataan Asy-Syafií selengkapnya : فَأَمَّا قِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ فَصَلَاةُ الْمُنْفَرِدِ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْهُ وَرَأَيْتهمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَأَحَبُّ إلَيَّ عِشْرُونَ؛ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ، وَكَذَلِكَ يَقُومُونَ بِمَكَّةَ وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ“Adapun sholat malam di bulan Ramadhan maka sholat sendirian lebih aku sukai, dan aku melihat di Madinah mereka sholat malam 39 rakaát. Dan yang lebih aku sukai adalah 20 rakaát karena hal itu diriwayatkan dari Umar. Dan demikianlah mereka di Mekah sholat malam 20 rakaát dan mereka witir 3 rakaát”Maka sangat jelas dalam perkataan Asy-Syafií di atas justru beliau membenarkan atsar Umar, karena pada perkataan di atas beliau sedang berdalil dengan atsar Umar sehingga beliau lebih memilih sholat tarawih dengan 20 rakaát.Dan ternyata di Mukhtashor Al-Muzani banyak sekali perkataan Asy-Syafií dengan shighoh at-Tamriid akan tetapi riwayat yang beliau bawakan adalah shahih. Beliau menggunakan shighoh at-Tamriid hanya sekedar untuk menghikayatkan saja bukan bermaksud untuk mendhoifkan riwayat. Contohnya beliau berkata :وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُنْقَصَ عَمَّا رُوِيَ «عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ تَوَضَّأَ بِالْمُدِّ وَاغْتَسَلَ بِالصَّاعِ»“Dan aku suka agar air tidak kurang dari yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau berwudu dengan air seukuran mudd, dan beliau mandi dengan air seukuran shoo’”.Padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya no 325.26 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7770, Fadhail Ramadhan Ibnu Abi Dunya hlm. 79 no riwayat : 49. Sanad atsar ini sesuai dengan syarat (kriteria) Imam Muslim, dishahihkan Nawawi dalam Al-Majmu’ 4/32 dan Ibnul Iraqi di Tarhu At-Tatsrib 3/97.27 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 777128 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7773, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Ismail bin Abdul Malik dalam Mushannaf Abdurrazzaq no 7749, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Musa bin Nafi’ dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/27129 HR. Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496 no 4803, Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab beliau Ta’sisul Ahkam 2/287 mengatakan : Sanadnya shahih. 30 Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 4/70 31 At-Tarikh Al-Kabir 9/28 tarjamah no 23432 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7683 dengan sanad shahih. 33 Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata : أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu álaihi wasallam, semuanya takut akan kemunafikan atas dirinya”(Shahih Al-Bukhari 1/18).Diantara shahabat yang dijumpai oleh beliau adalah ; Aisyah, Asmaa’ binti Abi Bakar, Abu Mahdzuurah, Ibnu Ábbas, Abdullah bin Ámr, Ibnu Umar, Ibnu Az-Zubair, Úqbah bin al-Haarits, Ummu Salamah, Al-Miswar bin Al-Makhromah, dan Abdullah bin Ja’far. (Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 5/89-90)34 Majmu’ Fatawa 22/272 dan 23/11335 Nailul Authar 3/66, Dar Al-Hadits36 Al-Ikhtiyarat hlm. 6437 Majmu’ Al-Fatawa 23/113

Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at

Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at(Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc, MA.)Ijma’ Boleh Lebih 11 RakaatPara ulama telah ijmak (sepakat) akan bolehnya sholat malam (tarawih) lebih dari 11 raka’at. Bahkan yang menukil ijmak tersebut para ulama dari berbagai madzhab fikih. Berikut ini nukilan tersebut:1. Madzhab Maliki:Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata:وأكثر الآثار على أن صلاته كانت إحدى عشرة ركعة وقد روي ثلاث عشرة ركعة. واحتج العلماء على أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود والصلاة خير موضوع فمن شاء استقل ومن شاء استكثر.“Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa shalat beliau adalah 11 rakaat, dan diriwayatkan bahwa 13 rakaat, para ulama berdalil bahwa shalat lail tidak ada batasnya, dan shalat adalah ibadah terbaik, siapa yang berkehendak silahkan menyedikitkan rakaát, dan siapa yang berkehendak maka silahkan memperbanyak rakaát”. (1)Beliau juga berkata:وقد أجمع العلماء على أن لا حد ولا شيء مقدرا في صلاة الليل وأنها نافلة فمن شاء أطال فيها القيام وقلت ركعاته ومن شاء أكثر الركوع والسجود“Para ulama sepakat tidak ada batas atau ukuran dalam shalat lail (malam), mereka juga sepakat bahwa shalat lail sunnah, siapun mau boleh memanjangkan berdiri dan sedikit jumlah rakaatnya, dan siapapun mau boleh memperbanyak ruku’ dan sujud”. (2)Beliau juga berkata:وَلَيْسَ فِي عَدَدِ الرَّكَعَاتِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ حَدٌّ مَحْدُودٌ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَتَعَدَّى“Tidak ada batas tertentu dalam jumlah rakaat dalam shalat lail yang tidak boleh dilewati menurut satupun ulama”. (3)Al-Qadhi Iyadh mengatakan: ولاَ خِلاَفَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدٌّ لاَ يُزَادُ عَلَيْهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُ، وَأَنَّ صَلاَةَ اللَّيْلِ مِنَ الْفَضَائِلِ وَالرَّغَائِبِ الَّتِي كُلَّمَا زِيْدَ فِيْهَا زِيْدَ فِي الأَجْرِ وَالْفَضْلِ، وَإِنَّمَا الْخِلاَفُ فِي فِعْلِ النَّبِيِّ (صلى الله عليه وسلم) وَمَا اخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batas yang tidak boleh ditambahi dan dikurangi, dan shalat lail termasuk amalan utama dan dianjurkan, jika ditambahi maka bertambah pula pahala dan keutamaanya, yang diperselisihkan hanya dalam perbuatan Nabi dan jumlah rakaat yang beliau pilih untuk beliau lakukan”. (4)2. Madzhab HanbaliIbnu Qudamah Al-Maqdisi menyebutkan bahwa yang menjadi pilihan jumhur ulama adalah shalat tarawih 20 rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar ketika mengumpulkan orang-orang, beliau juga berkata: “Para sahabat bersepakat dalam hal itu di masa mereka”. (5)Ishaq bin Mansur bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Berapa rakaat shalat qiyam bulan Ramadhan? Beliau berkata: Ada beberapa pendapat, diriwayatkan sekitar 40, tetapi itu adalah shalat tathawwu’. (6)3. Madzhab Syafi’i Abul Qasim Ar-Rafi’i: “Sesungguhnya Umar bin Khatthab mengumpulkan orang-orang diimami oleh Ubai bin Ka’ab, dan disepakati oleh para sahabat”. (7)An-Nawawi menukil ijma’ ini dan mengikrarkannya (8)Az-Za’farani meriwayatkan dari As-Syafi’I: “Aku lihat orang-orang di Madinah mengerjakan shalat 39 rakaat”, beliau berkata “Yang lebih aku suka adalah 20”, beliau berkata “Begitupula yang dikerjakan di Makkah”. Beliau berkata: “Tidak ada dalam hal ini batas akhirnya, jika mereka perbanyak ruku’ dan sujud maka lebih baik”. (9)Al-Iraqi mengatakan: فِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ الصَّلَاةِ بِاللَّيْلِ وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ مَحْصُورٌ وَلَكِنْ اخْتَلَفَتْ الرِّوَايَاتُ فِيمَا كَانَ يَفْعَلُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Para ulama sepakat bahwa tidak ada batas tertentu dalam qiyamul-lail, akan tetapi riwayat-riwayat berbeda tentang mana yang dilakukan oleh Nabi”. (10)4. Ulama HaditsIbnu Al-Qatthan Al-Fasi juga menukil ijma’ tersebut dalam kitabnya “Al-Iqna’ fi Masa’il Ijma’”.At-Tirmidzi dalam Jami’-nya berkata:“Para ulama berselisih pendapat dalam qiyam Ramadhan: Sebagian berpendapat 41 rakaat bersama witir, ini adalah pendapat ahlul Madinah, dan yang diamalkan oleh penduduk Madinah. Kebanyakan ulama adalah mengikuti riwayat Umar, Ali dan lainnya dari kalangan sahabat Rasulullah berpendapat 20 rakaat, ini adalah pendapat At-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak dan As-Syafi’i.As-Syafi’i berkata: Demikianlah yang aku jumpai di kota kami Makkah, mereka shalat 20 rakaat.Ahmad mengatakan: Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat dan tidak ada titik penentu.Ishaq berkata: Tapi kita pilih 41 rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab.”Kesimpulan:Di atas adalah pernyataan sejumlah ulama dari berbagai madzhab yang menukilkan ijma’ (konsensus) ulama bahwa tidak ada batas jumlah shalat lail yang di antaranya adalah shalat tarawih, tidak ada seorangpun ulama setelah mereka yang mempermasalahkan hal itu. Lihatlah dalam buku fikih manapun dan dalam madzhab manapun tidak ditemukan seorang ulamapun yang menyatakan tidak boleh sholat malam lebih dari 11 rakaát. Jika ada ulama yang mu’tabar (yang diakui) yang melarang dari kalangan para ulama terdahulu, tentu sudah dinukil dalam kitab-kitab fikih klasik (11).Adapun hadits Aisyah (yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama kontemporer bahwa sholat malam tidak boleh lebih dari 11 rakaat) :عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ، وَلاَ فِي غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah ‘Berapa shalat Rasulullah pada bulan Ramadhan?’ ia menjawab: ‘Beliau tidak menambah sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan atau di bulan lain, beliau shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat tiga rakaat, lalu aku bertanya : wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum melakukan witir? Beliau menjawab: wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi hatiku tidak tidur’. (12)Maka hadits di atas menjelaskan bahwa sholat malam Nabi tidak lebih dari 11 raka’at. Tetapi tidak seorang salafpun yang memahami bahwa maksud Aisyah itu adalah batasan jumlah sholat malam, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah.Sementara tatkala kita memahami hadits atau memahami syari’at Islam harus dengan pemahaman para salaf, sebagai konsenkuensi dari bentuk berpegang dengan manhaj salaf dalam beristidlal (berdalil).Dalil-Dalil bahwa Shalat Tarawih Tidak Ada Batas RakaatPertama: Hadits Ibnu Umarعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ –صلى الله عليه وسلم– وَأَنَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّائِلِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ قَالَ «مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَصَلِّ رَكْعَةً وَاجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِكَ وِتْرًا». ثُمَّ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ وَأَنَا بِذَلِكَ الْمَكَانِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَلاَ أَدْرِى هُوَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.Seorang bertanya kepada Nabi, ia mengakatan: saat itu aku berada di antara beliau dan penanya. Penyanya mengatakan: Wahai Rasulullah, bagaimana mengerjakan shalat lail? Beliau menjawab: Dua rakaat, dua rakaat, jika kamu khawatir masuk subuh maka shalatlah satu rakaat, dan jadikan akhir shalatmu witir. Kemudian ada lelaki berusia hampir satu abad, dan aku di tempat itu bersama Rasulullah, aku tidak tahu apakah itu orang tadi atau orang lain, ia mengatakan semacam itu pula(13). Dalam riwayat yang lain (juga dalam shahih Muslim):أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَجُلاً نَادَى رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أُوتِرُ صَلاَةَ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– «مَنْ صَلَّى فَلْيُصَلِّ مَثْنَى مَثْنَى فَإِنْ أَحَسَّ أَنْ يُصْبِحَ سَجَدَ سَجْدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى».Seorang memanggil Rasulullah sedangkan beliau berada di masjid, lantas bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana aku melakukan witir pada shalat lail? Rasulullah menjawab : Siapapun yang shalat, hendaklah shalat dua rakaat dua rakaat, jika merasa datang subuh maka hendaklah melakukan satu sujud, makai a telah melukan shalat witir. Dalam riwayat yang lain :Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda: Shalat lail dua-dua, jika kamu melihat subuh akan tiba maka wtirlah satu rakaat. Lalu ada yang bertnya kepada Ibnu Umar: apa itu dua-dua? Beliau menjawab: hendaklah engkau salam di setiap dua rakaat. (diriwayatkan muslim juga di tempat yang sama).Segi pendalilan:Ada dua sisi pendalilan dari hadits Ibnu Umar di atas:Pertama: Orang yang bertanya tersebut dalam sebagian riwayat adalah الأَعْرَابِيُّ arab badui(14). Dan sebagaimana diketahui bahwa orang arab badui tidaklah tinggal bertetangga dengan Nabi dan para sahabat. Tentu ia tidak tahu tentang jumlah raka’at sholat malam Nabi, terlebih lagi tidak ada seorang sahabatpun yang meriwayatkan tentang jumlah 11 rakaat sholat malam Nabi kecuali Aisyah, karena Nabi mengerjakannya di rumah dan dilihat oleh Aisyah.Hal ini dikuatkan lagi bahwasanya jika Arab badui tersebut tidak tahu tentang kaifiyyah (tata cara) sholat malam, setiap berapa rakaatkah harus salam? Maka ketidak tahuannya tentang jumlah rakaat lebih utama untuk tidak ia ketahui.Jika seandainya sholat malam ada batasan jumlah raka’atnya tentu Nabi akan menjelaskan kepada orang arab badui tersebut. Tatkala Nabi tidak menjelaskan sisi ini maka menunjukan bahwa sholat malam tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh. Kedua: Justru Nabi menjawab orang arab badui tersebut dengan mengisyaratkan bahwa sholat malam tidak terbatas jumlah raka’atnya. Karena Nabi menyatakan bahwa sholat malam itu dua-dua rakaat hingga subuh. Artinya arab badui tersebut boleh sholat dengan shalat dua rakaat-dua rakaat dan terus melakukannya seperti itu, sampai jika ia khawatir tiba subuh maka shalat satu rakaat dan menjadi witir bagi shalatnya. Apalagi orang-orang arab badui tidak dikenal dengan sebagai para sahabat yang memiliki hapalan qur’an yang banyak, sehingga kemungkinan ia akan memperbanyak raka’at hingga subuh.Kedua: Hadits Thalq bin Ali عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (15)Segi pendalilan:Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lain. Dan tentu jika digabungkan dua kali sholat tarawih beliau tersebut akan lebih dari 11 raka’at, wallahu A’lam.Ketiga: Hadits Abu Dzar عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».Abu Dzar berkata: Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (16), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (17)Segi pendalilan:Ketika sudah lewat tengah malam, Rasulullah selesai shalatnya, tapi para sahabat meminta Rasulullah tambahan shalat lagi, dan beliau tidak mengingkari atau menyalahkan mereka, namun beliau menunjukkan yang afdhal. Para sahabat juga tidak memahami bahwa shalat malam ada batas tertentu dan mereka juga tidak memahami jika shalat selesai maka tidak boleh ditambah. Karena jika mereka memahami bahwa sholat malam tidak boleh ada tambahannya tentu mereka tidak akan minta tambahan kepada Nabi, karena berarti meminta sesuatu yang haram kepada Nabi. Keempat: Hadits ‘Amr bin ‘Anbasahعن عَمرو بن عَنْبَسة ــ رضي الله عنه ــ أنَّه قال: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْلَمَ مَعَكَ؟ قَالَ: «حُرٌّ وَعَبْدٌ»، قُلْتُ: هَلْ مِنْ سَاعَةٍ أَقْرَبُ إِلَى اللَّهِ ــ عَزَّ وَجَلَّ ــ مِنْ أُخْرَى؟ قَالَ: “نَعَمْ، جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا بَدَا لَكَ حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ“.“Aku mendatangi Rasulullah dan bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang masuk islam bersama engkau? Beliau menjawab: orang merdeka dan budak. Aku bertanya: Apakah ada waktu yang lebih dekat kepada Allah Azza wa Jalla daripada selainnya? Beliau menjawab: Ya, pertengahan malam akhir, maka shalatlah yang kamu mau sampai kamu shalat subuh”. (18)Muhammad Ali Adam Al-Ityubi mengomentari hadits ini, “Shalat malam tidak memiliki jumlah tertentu, berbeda dengan persangkaan sebagian orang bahwa lebih dari 11 rakaat yang terdapat pada shalat Rasulullah adalah bid’ah, sehingga mengingkari orang yang shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat atau kurang atau lebih sesuai semangat orang yang shalat, maka dapat dibantah dengan hadits ini.” (19)Tarwih para shahabat di masa Umar bin al-Khottob adalah 20 rakaát. Berikut ini adalah pohon seluruh riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang jumlah rakaát tarwih yang dikerjakan di masa Úmar bin al-Khottob atas perintah Umar bin al-Khottob:Jika diperhatikan pohon sanad periwayatan tentang jumlah rakaát tarawih yang dikerjakan di masa Umar bin al-Khottob sebagaimana di atas, maka kita dapati yang menyebutkan bahwa Umar memerintahkan untuk sholat 11 rakaát hanyalah 1 jalur saja, yaitu Dari Imam Malik, dari Muhammad bin Yuusuf, dari As-Saaib bin Yaziid, dari Umar bin al-Khottob. (Sebagaimana di kitab al-Muwattho’ karya Imam Malik)Sementara seluruh jalur yang lain meriwayatkan bahwa sholat yang dikerjakan atas perintah Umar bin al-Khottob lebih dari 11 rakaat, yaitu 20 rakaát. Karenanya Ibnu Ábdil Barr yang bermadzhab Maliki, dan paling paham tentang periwayatan Imam Malik, berkata :وَهَذَا كُلُّهُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الرِّوَايَةَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَهْمٌ وَغَلَطٌ وَأَنَّ الصَّحِيْحَ ثَلاَثٌ وَعِشْرُوْنَ وَإِحْدَى وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَاللهُ أَعْلَمُ“Ini semua menunjukkan bahwa riwayat 11 rakaat adalah kesalahan dan kekeliruan, yang shahih adalah 23 dan 21 rakaat, wallahu a’lam”. (20)Lafadz riwayat 11 Rakaat:Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwattha’: عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد رضي الله عنه أنَّه قال: أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ رضي الله عنهم أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ: وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ، حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْر“Dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Saib bin Yazid beliau mengatakan: Umar bin Khaththab memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang dengan 11 rakaat, saat itu imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidak bubaran (selesai sholat) kecuali mendekati terbit fajar”. (21)Ibnu Abdil Barr berkata:هَكَذَا قَالَ مَالِكٌ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَغَيْرُهُ يَقُوْلُ فِيْهِ إِحْدَى وَعِشْرِيْن“Begitulah yang dikatakan Malik dalam hadits ini, yaitu 11 rakaat, sedangkan selain beliau mengatakan 21 rakaat”. (22)Di kitab yang sama beliau juga berkata:وَلاَ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً غَيْرُ مَالِكٍ والله أعلم. إلا أنه يحتمل أن يكون القيام في أول ما عمل به عمر بإحدى عشرة ركعة ثم خفف عليهم طول القيام ونقلهم إلى إحدى وعشرين ركعة يخففون فيها القراءة ويزيدون في الركوع والسجود إِلاَّ أَنَّ الأَغْلَبَ عِنْدِي فِي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً الْوَهْمُ وَاللهُ أَعْلَمُ“aku tidak tahu seorangpun mengatakan dalam hadits ini 11 rakaat kecuali Malik, wallahu a’lam. Hanya saja ada kemungkinan bahwa shalat yang dilakukan Umar pertama kali adalah 11 rakaat, kemudian beliau ringankan panjangnya berdiri dan diganti menjadi 21 rakaat dengan meringankan bacaan dan menambah ruku’ dan sujud. Akan tetapi yang lebih kuat menurutku adalah bahwa 11 rakaat adalah kekeliruan, wallahu a’lam.(23)Lafadz dari jalur Yazid bin Khushaifah:عن يزيد بن خُصَيْفَة عن السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَلَكِنْ كَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ فِي رَكْعَةٍ حَتَّى كَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عِصِيِّهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِDari Yazid bin Khushaifah dari As-Saib bin Yazid mengatakan : mereka mengerjakan shalat di masa Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan 20 rakaat, akan tetapi mereka membaca ratusan ayat dalam satu rakaat, sehingga mereka bersandar pada tongkat-tongkat mereka karena lamanya berdiri. (24)Sanadnya dishahihkan oleh:Imam Nawawi dalam Al-Khulashah no 1961Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir 4/350Ibnul Iraqi dalam Tharh Tatsrib 3/97Al-‘Aini dalam Al-Binayah Syarh Al-Hidayah 2/660Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy dalam Tanbih Al-Qari’ li Taqwiyati Ma Dha’afahul Albani hlm. 42 mengatakan: Hadits ini shahih.Penulis belum mendapatkan ulama mutaqodiimin (terdauhulu) mendoifkan riwayat Umar tentang sholat 20 rakaat di atas karena riwayatnya(25)Para salaf (sahabat dan tabiín) sholat tarwih lebih dari 11 rakaátPendapat bahwa para sahabat sholat tarwih di masa Umar adalah 20 rakaat dikuatkan dengan praktik para salaf yang sholat malam lebih dari 11 rakát. Berikut penukilannya :Atha’ berkata: أَدْرَكْت النَّاسَ وَهُمْ يُصَلُّونَ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ“Aku menjumpai orang-orang shalat 23 rakaat dengan witir”. (26) Atha adalah seorang tabi’in faqih yang wafat pada tahun 114 H, sehingga yang beliau jumpai adalah para sahabat Rasulullah, wallahu a’lamDawud bin Qais berkata:دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ : أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِالْمَدِينَةِ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يُصَلُّونَ سِتَّة وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.“Aku jumpai di Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat.” (27)Atsar ini menjelaskan bahwa para tabiín mereka sholat bahkan 39 rakaátSa’id bin Jubair:كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي بِنَا عِشْرِينَ لَيْلَةً سِتَّ تَرْوِيحَاتٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ الأَخَرُ اعْتَكَفَ فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى بِنَا سَبْعَ تَرْوِيحَاتٍ.“Dahulu Sa’id bin Jubair adalah imam kita di bulan Ramadhan, beliau shalat mengimami kita 20 malam dengan 6 kali istirahat, jika memasuki 10 malam akhir beliau I’tikaf di masjid dan shalat mengimami kita dengan 7 kali istirahat.” (28)Dan Saíd bin Jubair adalah seorang tabií yang mulia yang merupakan murid Ibnu Ábbas Sa’id bin Jubair adalah seorang tabi’in wafat tahun 95 H, ketika 10 hari terakhir beliau shalat menjadi imam dengan 7 kali istirahat berarti 14 rakaat.Abu Al-Hashib berkata: كَانَ يَؤُمُّنَا سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً “Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami shalat kita pada bulan Ramadhan dengan 5 kali istirahat dalam 20 rakaat”. (29)Suwaid bin Ghafalah masuk Islam saat Nabi masih hidup, akan tetapi beliau tidak bertemu dengan Nabi, dan beliau meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ubay bin Kaáb, Bilal, Abu Dzar, Ibnu Masúd, dan sahabat-sahabat yang lain(30).Beliau shalat 20 rakaat, setiap 4 rakaat salam, sehingga ada 5 kali istirahat.Imam bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir menyebutkan riwayat Abu Al-Hasib Al-Ju’fi:كَانَ سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً“Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami kita pada bulan Ramadhan 20 rakaat”. (31)Ibnu Abi Mulaikah عن نافع بن عمر، قال: كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيَقْرَأُ: بِحَمْدِ الْمَلَائِكَةِ فِي رَكْعَةٍ Nafi’ bin Umar berkata: Dahulu Ibnu Abi Mulaikah shalat mengimami kami 20 rakaat, beliau membaca Hamdu Al-Malaikat (Surat Fathir) dalam satu rakaat. (32)Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang tabií yang lahir di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib atau sebelumnya. Beliau telah menjumpai 30 sahabat(33). Atsar-atsar para tabiín ini menunjukan bahwa pelaksanaan shalat tarwih di masa tabiín berlanjut dengan lebih dari 11 rakaát. Dan kemungkinan besar bahwa kebiasaan para tabiín tersebut diwariskan dari kebiasaan para sahabat.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:“Sesungguhnya qiyam Ramadhan sendiri tidak ditetapkan oleh Nabi dengan jumlah tertentu, bahkan beliau dalam Ramadhan maupun bulan lain tidak lebih dari 13 rakaat, akan tetapi beliau memanjangkan rakaat, ketika Umar mengumpulkan orang-orang untuk shalat diimami oleh Ubai bin Ka’ab shalat bersama mereka 20 rakaat kemudian witir 3 rakaat, pada saat itu beliau meringankan bacaan sesuai dengan tambahan rakaat, karena itu yang paling ringan bagi para makmum daripada memanjangkan satu rakaat.Kemudian sekelompok salaf mengerjakan shalat 40 rakaat dan witir 3 rakaat, dan sekelompok salaf yang lain mengerjakan shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat, dan ini semua diperbolehkan. Bagaimanapun cara yang dilakukan pada bulan Ramadhan dri tata cara tersebut maka ia telah melakukan hal yang baik.Dan yang paling utama adalah hal itu berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi jamaah yang shalat; jika mereka mampu tahan berdiri lama maka mengerjakan 10 rakaat dan tiga rakaat setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika shalat sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lain maka ini lebiih baik, namun jika mereka tidak mampu maka mengerjakan 20 rakaat lebih utama, inilah yang dikerjakan kebanyakan kaum muslimin; harena terletak pertengahan antara 10 dan 40 rakaat, dan jika mengerjakan 40 rakaat maka boleh dan sama sekali tidak dibenci. Ini telah disebutkan sejumlah imam, seperti Ahmad dan lainnya.وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَSiapa mengira qiyam Ramadhan ada bilangan tertentu dari Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi maka ia terjatuh dalam kesalahan”. (34)As-Syaukani mengatakan : والحاصل أن الذي دلت عليه أحاديث الباب وما يشابهها هو مشروعية القيام في رمضان والصلاة فيه جماعة وفرادى فقصر الصلاة المسماة بالتراويح على عدد معين وتخصيصها بقراءة مخصوصة لم يرد به سنة“Kesimpulannya, hadits-hadits dalam bab ini dan hadits yang serupa menunjukkan disyariatkannya qiyam ramadhan, shalat baik dengan jamaah maupun sendiri-sendiri. Adapun membatasi shalat yang dinamai dengan tarawih dengan jumlah tertentu dan mengkhususkan dengan bacaan tertentu maka tidak ada sunnah yang menunjukkah hal itu”. (35)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:والتراويح إن صلاها كمذهب أبي حنيفة، والشافعي، وأحمد: عشرين ركعة أو: كمذهب مالك ستا وثلاثين، أو ثلاث عشرة، أو إحدى عشرة فقد أحسن، كما نص عليه الإمام أحمد لعدم التوقيف فيكون تكثير الركعات وتقليلها بحسب طول القيام وقصره Shalat tarawih jika dikerjakan sesuai madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad adalah 20 rakaat, atau sesuai madzhab Malik 36 rakaat, atau 13, atau 11 maka itu baik, seperti dikatakan oleh Imam Ahmad, karena tidak ada penentuan batas akhir, sehingga memperbanyak jumlah rakaat dan mempersedikit dilakukan tergantung panjang atau pendeknya berdiri. (36)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:وأُبَىٌّ بن كعب لما قام بهم وهم جماعة واحدة لم يمكن أن يطيل بهم القيام، فكثر الركعات ليكون ذلك عوضا عن طول القيام، وجعلوا ذلك ضعف عدد ركعاته، فإنه كان يقوم بالليل إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة، ثم بعد ذلك كأن الناس بالمدينة ضعفوا عن طول القيام، فكثروا الركعات، حتى بلغت تسعا وثلاثينUbai bin Ka’ab tatkala mengimami mereka yang saat itu mereka satu jamaah, tidak memungkinkan untuk memperlama berdiri, maka beliau perbanyak rakaat sebagai ganti berdiri lama, dan mereka menjadikannya dua kali lipat jumlah rakaat, karena sebelum itu ia melakukan qiyamulllail 11 atau 13 rakaat, kemudian setelah itu sepertinya orang-orang penghuni Kota Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka perbanyak rakaat, hingga sampai 39 rakaat. (37)Kesimpulan :Pertama : Telah terjadi Ijma’ (kesepakatan) ulama akan bolehnya shalat lebih dari 11 rakaátKedua : Tidak seorang ulamapun yang mu’tabar dari kalangan mutaqoddimin (terdahulu) yang melarang shalat tarawih lebih dari 11 rakaát, apalagi sampai mengatakan bidáh. Yang ada hanyalah ulama belakangan seperti As-Shonáni yang wafat tahun 1182 HKetiga : Atsar bahwa para sahabat sholat tarawih di masa Umar 20 rakaát adalah atsar yang shahih, dan tidak diketahui ada seorang ulamapun dari mutaqoddimin yang mendoifkan atsar ini.Keempat : Para salaf di zaman para tabiín (seperti Áthoo, Saíd bin Jubair, Suwaid bin Ghofalah, Ibnu Abi Mulaikah, dan Daud bin Qois) mereka semuanya sholat tarawih lebih dari 11 rakaát.Kelima : Hendaknya kita memahami hadits Aisyah tentang sholat malam Nabi 11 rakaát dengan pemahaman para salaf, yaitu bahwa bilangan tersebut bukanlah batasan.Kamis 4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Di Kediaman, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Footnote:1 Al-Istidzkar 2/982 Al-Istidzkar 2/102-1033 At-Tamhid 13/2144 Ikmalul Mu’lim Syarh Shahih Muslim 3/485 At-Mughni 2/1236 Masail Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih 2/7557 As-Syarhu Al-Kabir 4/2678 Lihat Syarh Shahih Muslim 6/199 Mukhtashar Qiyamul Lail hlm. 22210 Tharh At-Tatsrib fi Syarh Taqrib 3/5011 Adapun tiga ulama (Imam Malik, Ibnul ‘Arobi, dan As-Shonáani) yang dinukil oleh Asy-Syaikh Al-Albani bahwa mereka melarang sholat lebih dari 11 rakaát, maka penukilan tersebut kurang tepat. Pertama : Al-Imam Malik yang masyhur di madzhab Malik justru menganjurkan lebih dari 11 rakaát. Adapun nukilan Syaikh Al-Albani dari Imam Malik melalui jalur seorang ulama syafiíyah yang bernama al-Juuri, maka beliau (Syaikh Al-Albani) juga tidak bisa memastikan siapakah al-Juuri tersebut, karena banyak ulama yang bernisbahkan kepada al-Juuri. Setelah itu harus diketahui terlebih dahulu bagaimanakah kedudukan al-Juuri dikalangan para ulama. Demikian juga jika tentu penukilan tentang pendapat Imam Malik dari kitab-kitab ulama Malikiyah lebih kuat daripada yang dinukil dari seorang ulama bermadzhab syafií.Kedua : Ibnul Árobi, justru beliau menyatakan dengan tegas bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaatnya. Beliau berkata :وَلَيْسَ فِي قَدْرِ رَكْعَتِهَا حَدٌّ مَحْدُوْدٌ“Dan tidak ada batasan tertentu pada jumlah rakaát sholat malam” (Áaridhotul Ahwadzi 4/19) Adapun pernyataan Ibnul Árobi yang dinukil oleh Asy-Syaikh al-Albani maka maksudnya jika memang sholat malam itu ada batasannya maka ikutlah yang dilakukan oleh Nabi yaitu 11 rakaát. Akan tetapi telah jelas bahwa sebelumnya -di halaman yang sama- Ibnul Árobi telah menegaskan bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaátnya.Ketiga : As-Shonáani, maka memang jelas beliau memandang bahwa “menganggap jumlah 20 rakaat sebagai sunnah” itulah yang bidáh. As-Shonáni berkata :نَعَمْ قِيَامُ رَمَضَانَ سُنَّةٌ بِلَا خِلَافٍ، وَالْجَمَاعَةُ فِي نَافِلَتِهِ لَا تُنْكَرُ وَقَدْ ائْتَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – وَغَيْرُهُ بِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكِنَّ جَعْلَ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ، وَالْكَمِّيَّةِ سُنَّةً، وَالْمُحَافَظَةَ عَلَيْهَا هُوَ الَّذِي نَقُولُ إنَّهُ بِدْعَةٌ“Memang benar bahwa sholat malam di bulan Ramadhan adalah sunnah tanpa ada khilaf, dan dikerjakan secara berjamaah adalah sunnah tidak diingkari -karena Ibnu Ibaas dan yang lainnya pernah bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam dalam sholat malam-. Akan tetapi menjadikan cara sholat dan jumlah (20 rakaat) sebagai sunnah (Nabi) dan kontinyu dalam malakukannya itulah yang kami katakan sebagai bidáh” (Subulus Salam 1/345)Yang perlu diperhatikan bahwa di Subulus Salam :Pertama : As-Shonáni membenarkan riwayat bahwa Umar mengumpulkan orang-orang untuk sholat 23 rakaát.Kedua : Beliau menekankan bahwa tidak hadits yang marfu’ (dari Nabi) bahwasanya Nabi sholat malam 23 raka’at, semua hadits yang datang tentang hal tersebut adalah dho’if. Ini yang menjadikan beliau menekankan bahwa menganggap sholat 20 rakaat sebagai sunnah adalah anggapan yang bid’ah.Ketiga : Meskipun beliau menetapkan bahwa 20 rakaat telah datang dari Umar bin Al-Khottob namun beliau memandang bahwa tidak wajib mengikuti Umar, yang wajib adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya 11 raka’at.Tentu pendapat As-Shon’ani ini kurang tepat, lagi pula beliau termasuk ulama mutaakhirin (belakangan) yang wafat di abad ke 12 Hijriyah.12 HR. Bukhari no 2031 dan Muslim no 175713 HR. Muslim dalam shahihnya no 74914 Shahih Ibn Khuzaimah no 1110, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh al-A’dzomi15 HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.16 Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34917 HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.18 HR. Ahmad no 17026, Nasa’I no 584 dan ini adalah lafadz beliau, Ibnu Majah 1251. Dishahihkan Ibnu Khuzaimah 260 dan Al-Hakim 583, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 5/21 menshahihkan sanad hadits ini.19 Dzakhiratul ‘Uqba fi Syarh Al-Mujtaba 7/42320. Al-Istidzkar 2/6921 Al-Muwaththa no 25122 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 8/11423 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 2/6324 Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Ja’ad dalam Musnad beliau no 2825, Al-Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496, Al-Firyabi dalam As-Shiyam 176.25 Adapun anggapan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah bahwa Al-Imam At-Tirmidzi mengisyaratkan akan dhoifnya atsar ini -dengan dalil bahwa At-Tirmidzi mengatakan dengan shighot at-tamriid رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ وَعُمَرَ وَغَيْرِهِمَا– maka anggapan ini kurang tepat. Hal ini karena banyak sekali di kitab Sunan At-Tirmidzi beliau menghikayahkan hadits-hadits yang shahih bahkan yang terdapat di shahihain dengan shighoh at-Tamriidh, dan tentu maksud beliau bukan untuk mengisyaratkan akan lemahnya tetapi hanya sekedar untuk menghikayatkan jalur-jalur periwayatan hadits.Misalnya At-Tirmidzi berkata :وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ“Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu álaihi wasallam bahwasanya beliau membaca surat at-Thuur di sholat magrib” (Sunan At-Tirimidzi 1/403).Padahal hadits tentang Nabi membaca surat at-Thuur di sholat maghrib diriwayatkan oleh Al-Bukhari no 4854. Demikian juga anggapan syaikh Al-Albani bahwasanya Al-Imam Asy-Syafií mendoifkan atsar Umar ini, beliau berdalil dengan perkataan Syafií yang dinukil oleh Al-Muzani di Mukhtashornya bahwasanya Syafií berkata : رُوِيَ عَنْ عُمَرَ “Diriwayatkan dari Umar”Maka berikut nukilan perkataan Asy-Syafií selengkapnya : فَأَمَّا قِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ فَصَلَاةُ الْمُنْفَرِدِ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْهُ وَرَأَيْتهمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَأَحَبُّ إلَيَّ عِشْرُونَ؛ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ، وَكَذَلِكَ يَقُومُونَ بِمَكَّةَ وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ“Adapun sholat malam di bulan Ramadhan maka sholat sendirian lebih aku sukai, dan aku melihat di Madinah mereka sholat malam 39 rakaát. Dan yang lebih aku sukai adalah 20 rakaát karena hal itu diriwayatkan dari Umar. Dan demikianlah mereka di Mekah sholat malam 20 rakaát dan mereka witir 3 rakaát”Maka sangat jelas dalam perkataan Asy-Syafií di atas justru beliau membenarkan atsar Umar, karena pada perkataan di atas beliau sedang berdalil dengan atsar Umar sehingga beliau lebih memilih sholat tarawih dengan 20 rakaát.Dan ternyata di Mukhtashor Al-Muzani banyak sekali perkataan Asy-Syafií dengan shighoh at-Tamriid akan tetapi riwayat yang beliau bawakan adalah shahih. Beliau menggunakan shighoh at-Tamriid hanya sekedar untuk menghikayatkan saja bukan bermaksud untuk mendhoifkan riwayat. Contohnya beliau berkata :وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُنْقَصَ عَمَّا رُوِيَ «عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ تَوَضَّأَ بِالْمُدِّ وَاغْتَسَلَ بِالصَّاعِ»“Dan aku suka agar air tidak kurang dari yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau berwudu dengan air seukuran mudd, dan beliau mandi dengan air seukuran shoo’”.Padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya no 325.26 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7770, Fadhail Ramadhan Ibnu Abi Dunya hlm. 79 no riwayat : 49. Sanad atsar ini sesuai dengan syarat (kriteria) Imam Muslim, dishahihkan Nawawi dalam Al-Majmu’ 4/32 dan Ibnul Iraqi di Tarhu At-Tatsrib 3/97.27 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 777128 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7773, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Ismail bin Abdul Malik dalam Mushannaf Abdurrazzaq no 7749, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Musa bin Nafi’ dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/27129 HR. Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496 no 4803, Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab beliau Ta’sisul Ahkam 2/287 mengatakan : Sanadnya shahih. 30 Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 4/70 31 At-Tarikh Al-Kabir 9/28 tarjamah no 23432 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7683 dengan sanad shahih. 33 Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata : أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu álaihi wasallam, semuanya takut akan kemunafikan atas dirinya”(Shahih Al-Bukhari 1/18).Diantara shahabat yang dijumpai oleh beliau adalah ; Aisyah, Asmaa’ binti Abi Bakar, Abu Mahdzuurah, Ibnu Ábbas, Abdullah bin Ámr, Ibnu Umar, Ibnu Az-Zubair, Úqbah bin al-Haarits, Ummu Salamah, Al-Miswar bin Al-Makhromah, dan Abdullah bin Ja’far. (Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 5/89-90)34 Majmu’ Fatawa 22/272 dan 23/11335 Nailul Authar 3/66, Dar Al-Hadits36 Al-Ikhtiyarat hlm. 6437 Majmu’ Al-Fatawa 23/113
Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at(Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc, MA.)Ijma’ Boleh Lebih 11 RakaatPara ulama telah ijmak (sepakat) akan bolehnya sholat malam (tarawih) lebih dari 11 raka’at. Bahkan yang menukil ijmak tersebut para ulama dari berbagai madzhab fikih. Berikut ini nukilan tersebut:1. Madzhab Maliki:Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata:وأكثر الآثار على أن صلاته كانت إحدى عشرة ركعة وقد روي ثلاث عشرة ركعة. واحتج العلماء على أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود والصلاة خير موضوع فمن شاء استقل ومن شاء استكثر.“Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa shalat beliau adalah 11 rakaat, dan diriwayatkan bahwa 13 rakaat, para ulama berdalil bahwa shalat lail tidak ada batasnya, dan shalat adalah ibadah terbaik, siapa yang berkehendak silahkan menyedikitkan rakaát, dan siapa yang berkehendak maka silahkan memperbanyak rakaát”. (1)Beliau juga berkata:وقد أجمع العلماء على أن لا حد ولا شيء مقدرا في صلاة الليل وأنها نافلة فمن شاء أطال فيها القيام وقلت ركعاته ومن شاء أكثر الركوع والسجود“Para ulama sepakat tidak ada batas atau ukuran dalam shalat lail (malam), mereka juga sepakat bahwa shalat lail sunnah, siapun mau boleh memanjangkan berdiri dan sedikit jumlah rakaatnya, dan siapapun mau boleh memperbanyak ruku’ dan sujud”. (2)Beliau juga berkata:وَلَيْسَ فِي عَدَدِ الرَّكَعَاتِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ حَدٌّ مَحْدُودٌ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَتَعَدَّى“Tidak ada batas tertentu dalam jumlah rakaat dalam shalat lail yang tidak boleh dilewati menurut satupun ulama”. (3)Al-Qadhi Iyadh mengatakan: ولاَ خِلاَفَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدٌّ لاَ يُزَادُ عَلَيْهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُ، وَأَنَّ صَلاَةَ اللَّيْلِ مِنَ الْفَضَائِلِ وَالرَّغَائِبِ الَّتِي كُلَّمَا زِيْدَ فِيْهَا زِيْدَ فِي الأَجْرِ وَالْفَضْلِ، وَإِنَّمَا الْخِلاَفُ فِي فِعْلِ النَّبِيِّ (صلى الله عليه وسلم) وَمَا اخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batas yang tidak boleh ditambahi dan dikurangi, dan shalat lail termasuk amalan utama dan dianjurkan, jika ditambahi maka bertambah pula pahala dan keutamaanya, yang diperselisihkan hanya dalam perbuatan Nabi dan jumlah rakaat yang beliau pilih untuk beliau lakukan”. (4)2. Madzhab HanbaliIbnu Qudamah Al-Maqdisi menyebutkan bahwa yang menjadi pilihan jumhur ulama adalah shalat tarawih 20 rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar ketika mengumpulkan orang-orang, beliau juga berkata: “Para sahabat bersepakat dalam hal itu di masa mereka”. (5)Ishaq bin Mansur bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Berapa rakaat shalat qiyam bulan Ramadhan? Beliau berkata: Ada beberapa pendapat, diriwayatkan sekitar 40, tetapi itu adalah shalat tathawwu’. (6)3. Madzhab Syafi’i Abul Qasim Ar-Rafi’i: “Sesungguhnya Umar bin Khatthab mengumpulkan orang-orang diimami oleh Ubai bin Ka’ab, dan disepakati oleh para sahabat”. (7)An-Nawawi menukil ijma’ ini dan mengikrarkannya (8)Az-Za’farani meriwayatkan dari As-Syafi’I: “Aku lihat orang-orang di Madinah mengerjakan shalat 39 rakaat”, beliau berkata “Yang lebih aku suka adalah 20”, beliau berkata “Begitupula yang dikerjakan di Makkah”. Beliau berkata: “Tidak ada dalam hal ini batas akhirnya, jika mereka perbanyak ruku’ dan sujud maka lebih baik”. (9)Al-Iraqi mengatakan: فِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ الصَّلَاةِ بِاللَّيْلِ وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ مَحْصُورٌ وَلَكِنْ اخْتَلَفَتْ الرِّوَايَاتُ فِيمَا كَانَ يَفْعَلُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Para ulama sepakat bahwa tidak ada batas tertentu dalam qiyamul-lail, akan tetapi riwayat-riwayat berbeda tentang mana yang dilakukan oleh Nabi”. (10)4. Ulama HaditsIbnu Al-Qatthan Al-Fasi juga menukil ijma’ tersebut dalam kitabnya “Al-Iqna’ fi Masa’il Ijma’”.At-Tirmidzi dalam Jami’-nya berkata:“Para ulama berselisih pendapat dalam qiyam Ramadhan: Sebagian berpendapat 41 rakaat bersama witir, ini adalah pendapat ahlul Madinah, dan yang diamalkan oleh penduduk Madinah. Kebanyakan ulama adalah mengikuti riwayat Umar, Ali dan lainnya dari kalangan sahabat Rasulullah berpendapat 20 rakaat, ini adalah pendapat At-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak dan As-Syafi’i.As-Syafi’i berkata: Demikianlah yang aku jumpai di kota kami Makkah, mereka shalat 20 rakaat.Ahmad mengatakan: Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat dan tidak ada titik penentu.Ishaq berkata: Tapi kita pilih 41 rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab.”Kesimpulan:Di atas adalah pernyataan sejumlah ulama dari berbagai madzhab yang menukilkan ijma’ (konsensus) ulama bahwa tidak ada batas jumlah shalat lail yang di antaranya adalah shalat tarawih, tidak ada seorangpun ulama setelah mereka yang mempermasalahkan hal itu. Lihatlah dalam buku fikih manapun dan dalam madzhab manapun tidak ditemukan seorang ulamapun yang menyatakan tidak boleh sholat malam lebih dari 11 rakaát. Jika ada ulama yang mu’tabar (yang diakui) yang melarang dari kalangan para ulama terdahulu, tentu sudah dinukil dalam kitab-kitab fikih klasik (11).Adapun hadits Aisyah (yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama kontemporer bahwa sholat malam tidak boleh lebih dari 11 rakaat) :عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ، وَلاَ فِي غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah ‘Berapa shalat Rasulullah pada bulan Ramadhan?’ ia menjawab: ‘Beliau tidak menambah sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan atau di bulan lain, beliau shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat tiga rakaat, lalu aku bertanya : wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum melakukan witir? Beliau menjawab: wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi hatiku tidak tidur’. (12)Maka hadits di atas menjelaskan bahwa sholat malam Nabi tidak lebih dari 11 raka’at. Tetapi tidak seorang salafpun yang memahami bahwa maksud Aisyah itu adalah batasan jumlah sholat malam, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah.Sementara tatkala kita memahami hadits atau memahami syari’at Islam harus dengan pemahaman para salaf, sebagai konsenkuensi dari bentuk berpegang dengan manhaj salaf dalam beristidlal (berdalil).Dalil-Dalil bahwa Shalat Tarawih Tidak Ada Batas RakaatPertama: Hadits Ibnu Umarعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ –صلى الله عليه وسلم– وَأَنَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّائِلِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ قَالَ «مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَصَلِّ رَكْعَةً وَاجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِكَ وِتْرًا». ثُمَّ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ وَأَنَا بِذَلِكَ الْمَكَانِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَلاَ أَدْرِى هُوَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.Seorang bertanya kepada Nabi, ia mengakatan: saat itu aku berada di antara beliau dan penanya. Penyanya mengatakan: Wahai Rasulullah, bagaimana mengerjakan shalat lail? Beliau menjawab: Dua rakaat, dua rakaat, jika kamu khawatir masuk subuh maka shalatlah satu rakaat, dan jadikan akhir shalatmu witir. Kemudian ada lelaki berusia hampir satu abad, dan aku di tempat itu bersama Rasulullah, aku tidak tahu apakah itu orang tadi atau orang lain, ia mengatakan semacam itu pula(13). Dalam riwayat yang lain (juga dalam shahih Muslim):أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَجُلاً نَادَى رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أُوتِرُ صَلاَةَ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– «مَنْ صَلَّى فَلْيُصَلِّ مَثْنَى مَثْنَى فَإِنْ أَحَسَّ أَنْ يُصْبِحَ سَجَدَ سَجْدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى».Seorang memanggil Rasulullah sedangkan beliau berada di masjid, lantas bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana aku melakukan witir pada shalat lail? Rasulullah menjawab : Siapapun yang shalat, hendaklah shalat dua rakaat dua rakaat, jika merasa datang subuh maka hendaklah melakukan satu sujud, makai a telah melukan shalat witir. Dalam riwayat yang lain :Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda: Shalat lail dua-dua, jika kamu melihat subuh akan tiba maka wtirlah satu rakaat. Lalu ada yang bertnya kepada Ibnu Umar: apa itu dua-dua? Beliau menjawab: hendaklah engkau salam di setiap dua rakaat. (diriwayatkan muslim juga di tempat yang sama).Segi pendalilan:Ada dua sisi pendalilan dari hadits Ibnu Umar di atas:Pertama: Orang yang bertanya tersebut dalam sebagian riwayat adalah الأَعْرَابِيُّ arab badui(14). Dan sebagaimana diketahui bahwa orang arab badui tidaklah tinggal bertetangga dengan Nabi dan para sahabat. Tentu ia tidak tahu tentang jumlah raka’at sholat malam Nabi, terlebih lagi tidak ada seorang sahabatpun yang meriwayatkan tentang jumlah 11 rakaat sholat malam Nabi kecuali Aisyah, karena Nabi mengerjakannya di rumah dan dilihat oleh Aisyah.Hal ini dikuatkan lagi bahwasanya jika Arab badui tersebut tidak tahu tentang kaifiyyah (tata cara) sholat malam, setiap berapa rakaatkah harus salam? Maka ketidak tahuannya tentang jumlah rakaat lebih utama untuk tidak ia ketahui.Jika seandainya sholat malam ada batasan jumlah raka’atnya tentu Nabi akan menjelaskan kepada orang arab badui tersebut. Tatkala Nabi tidak menjelaskan sisi ini maka menunjukan bahwa sholat malam tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh. Kedua: Justru Nabi menjawab orang arab badui tersebut dengan mengisyaratkan bahwa sholat malam tidak terbatas jumlah raka’atnya. Karena Nabi menyatakan bahwa sholat malam itu dua-dua rakaat hingga subuh. Artinya arab badui tersebut boleh sholat dengan shalat dua rakaat-dua rakaat dan terus melakukannya seperti itu, sampai jika ia khawatir tiba subuh maka shalat satu rakaat dan menjadi witir bagi shalatnya. Apalagi orang-orang arab badui tidak dikenal dengan sebagai para sahabat yang memiliki hapalan qur’an yang banyak, sehingga kemungkinan ia akan memperbanyak raka’at hingga subuh.Kedua: Hadits Thalq bin Ali عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (15)Segi pendalilan:Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lain. Dan tentu jika digabungkan dua kali sholat tarawih beliau tersebut akan lebih dari 11 raka’at, wallahu A’lam.Ketiga: Hadits Abu Dzar عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».Abu Dzar berkata: Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (16), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (17)Segi pendalilan:Ketika sudah lewat tengah malam, Rasulullah selesai shalatnya, tapi para sahabat meminta Rasulullah tambahan shalat lagi, dan beliau tidak mengingkari atau menyalahkan mereka, namun beliau menunjukkan yang afdhal. Para sahabat juga tidak memahami bahwa shalat malam ada batas tertentu dan mereka juga tidak memahami jika shalat selesai maka tidak boleh ditambah. Karena jika mereka memahami bahwa sholat malam tidak boleh ada tambahannya tentu mereka tidak akan minta tambahan kepada Nabi, karena berarti meminta sesuatu yang haram kepada Nabi. Keempat: Hadits ‘Amr bin ‘Anbasahعن عَمرو بن عَنْبَسة ــ رضي الله عنه ــ أنَّه قال: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْلَمَ مَعَكَ؟ قَالَ: «حُرٌّ وَعَبْدٌ»، قُلْتُ: هَلْ مِنْ سَاعَةٍ أَقْرَبُ إِلَى اللَّهِ ــ عَزَّ وَجَلَّ ــ مِنْ أُخْرَى؟ قَالَ: “نَعَمْ، جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا بَدَا لَكَ حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ“.“Aku mendatangi Rasulullah dan bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang masuk islam bersama engkau? Beliau menjawab: orang merdeka dan budak. Aku bertanya: Apakah ada waktu yang lebih dekat kepada Allah Azza wa Jalla daripada selainnya? Beliau menjawab: Ya, pertengahan malam akhir, maka shalatlah yang kamu mau sampai kamu shalat subuh”. (18)Muhammad Ali Adam Al-Ityubi mengomentari hadits ini, “Shalat malam tidak memiliki jumlah tertentu, berbeda dengan persangkaan sebagian orang bahwa lebih dari 11 rakaat yang terdapat pada shalat Rasulullah adalah bid’ah, sehingga mengingkari orang yang shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat atau kurang atau lebih sesuai semangat orang yang shalat, maka dapat dibantah dengan hadits ini.” (19)Tarwih para shahabat di masa Umar bin al-Khottob adalah 20 rakaát. Berikut ini adalah pohon seluruh riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang jumlah rakaát tarwih yang dikerjakan di masa Úmar bin al-Khottob atas perintah Umar bin al-Khottob:Jika diperhatikan pohon sanad periwayatan tentang jumlah rakaát tarawih yang dikerjakan di masa Umar bin al-Khottob sebagaimana di atas, maka kita dapati yang menyebutkan bahwa Umar memerintahkan untuk sholat 11 rakaát hanyalah 1 jalur saja, yaitu Dari Imam Malik, dari Muhammad bin Yuusuf, dari As-Saaib bin Yaziid, dari Umar bin al-Khottob. (Sebagaimana di kitab al-Muwattho’ karya Imam Malik)Sementara seluruh jalur yang lain meriwayatkan bahwa sholat yang dikerjakan atas perintah Umar bin al-Khottob lebih dari 11 rakaat, yaitu 20 rakaát. Karenanya Ibnu Ábdil Barr yang bermadzhab Maliki, dan paling paham tentang periwayatan Imam Malik, berkata :وَهَذَا كُلُّهُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الرِّوَايَةَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَهْمٌ وَغَلَطٌ وَأَنَّ الصَّحِيْحَ ثَلاَثٌ وَعِشْرُوْنَ وَإِحْدَى وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَاللهُ أَعْلَمُ“Ini semua menunjukkan bahwa riwayat 11 rakaat adalah kesalahan dan kekeliruan, yang shahih adalah 23 dan 21 rakaat, wallahu a’lam”. (20)Lafadz riwayat 11 Rakaat:Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwattha’: عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد رضي الله عنه أنَّه قال: أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ رضي الله عنهم أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ: وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ، حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْر“Dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Saib bin Yazid beliau mengatakan: Umar bin Khaththab memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang dengan 11 rakaat, saat itu imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidak bubaran (selesai sholat) kecuali mendekati terbit fajar”. (21)Ibnu Abdil Barr berkata:هَكَذَا قَالَ مَالِكٌ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَغَيْرُهُ يَقُوْلُ فِيْهِ إِحْدَى وَعِشْرِيْن“Begitulah yang dikatakan Malik dalam hadits ini, yaitu 11 rakaat, sedangkan selain beliau mengatakan 21 rakaat”. (22)Di kitab yang sama beliau juga berkata:وَلاَ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً غَيْرُ مَالِكٍ والله أعلم. إلا أنه يحتمل أن يكون القيام في أول ما عمل به عمر بإحدى عشرة ركعة ثم خفف عليهم طول القيام ونقلهم إلى إحدى وعشرين ركعة يخففون فيها القراءة ويزيدون في الركوع والسجود إِلاَّ أَنَّ الأَغْلَبَ عِنْدِي فِي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً الْوَهْمُ وَاللهُ أَعْلَمُ“aku tidak tahu seorangpun mengatakan dalam hadits ini 11 rakaat kecuali Malik, wallahu a’lam. Hanya saja ada kemungkinan bahwa shalat yang dilakukan Umar pertama kali adalah 11 rakaat, kemudian beliau ringankan panjangnya berdiri dan diganti menjadi 21 rakaat dengan meringankan bacaan dan menambah ruku’ dan sujud. Akan tetapi yang lebih kuat menurutku adalah bahwa 11 rakaat adalah kekeliruan, wallahu a’lam.(23)Lafadz dari jalur Yazid bin Khushaifah:عن يزيد بن خُصَيْفَة عن السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَلَكِنْ كَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ فِي رَكْعَةٍ حَتَّى كَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عِصِيِّهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِDari Yazid bin Khushaifah dari As-Saib bin Yazid mengatakan : mereka mengerjakan shalat di masa Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan 20 rakaat, akan tetapi mereka membaca ratusan ayat dalam satu rakaat, sehingga mereka bersandar pada tongkat-tongkat mereka karena lamanya berdiri. (24)Sanadnya dishahihkan oleh:Imam Nawawi dalam Al-Khulashah no 1961Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir 4/350Ibnul Iraqi dalam Tharh Tatsrib 3/97Al-‘Aini dalam Al-Binayah Syarh Al-Hidayah 2/660Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy dalam Tanbih Al-Qari’ li Taqwiyati Ma Dha’afahul Albani hlm. 42 mengatakan: Hadits ini shahih.Penulis belum mendapatkan ulama mutaqodiimin (terdauhulu) mendoifkan riwayat Umar tentang sholat 20 rakaat di atas karena riwayatnya(25)Para salaf (sahabat dan tabiín) sholat tarwih lebih dari 11 rakaátPendapat bahwa para sahabat sholat tarwih di masa Umar adalah 20 rakaat dikuatkan dengan praktik para salaf yang sholat malam lebih dari 11 rakát. Berikut penukilannya :Atha’ berkata: أَدْرَكْت النَّاسَ وَهُمْ يُصَلُّونَ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ“Aku menjumpai orang-orang shalat 23 rakaat dengan witir”. (26) Atha adalah seorang tabi’in faqih yang wafat pada tahun 114 H, sehingga yang beliau jumpai adalah para sahabat Rasulullah, wallahu a’lamDawud bin Qais berkata:دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ : أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِالْمَدِينَةِ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يُصَلُّونَ سِتَّة وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.“Aku jumpai di Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat.” (27)Atsar ini menjelaskan bahwa para tabiín mereka sholat bahkan 39 rakaátSa’id bin Jubair:كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي بِنَا عِشْرِينَ لَيْلَةً سِتَّ تَرْوِيحَاتٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ الأَخَرُ اعْتَكَفَ فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى بِنَا سَبْعَ تَرْوِيحَاتٍ.“Dahulu Sa’id bin Jubair adalah imam kita di bulan Ramadhan, beliau shalat mengimami kita 20 malam dengan 6 kali istirahat, jika memasuki 10 malam akhir beliau I’tikaf di masjid dan shalat mengimami kita dengan 7 kali istirahat.” (28)Dan Saíd bin Jubair adalah seorang tabií yang mulia yang merupakan murid Ibnu Ábbas Sa’id bin Jubair adalah seorang tabi’in wafat tahun 95 H, ketika 10 hari terakhir beliau shalat menjadi imam dengan 7 kali istirahat berarti 14 rakaat.Abu Al-Hashib berkata: كَانَ يَؤُمُّنَا سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً “Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami shalat kita pada bulan Ramadhan dengan 5 kali istirahat dalam 20 rakaat”. (29)Suwaid bin Ghafalah masuk Islam saat Nabi masih hidup, akan tetapi beliau tidak bertemu dengan Nabi, dan beliau meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ubay bin Kaáb, Bilal, Abu Dzar, Ibnu Masúd, dan sahabat-sahabat yang lain(30).Beliau shalat 20 rakaat, setiap 4 rakaat salam, sehingga ada 5 kali istirahat.Imam bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir menyebutkan riwayat Abu Al-Hasib Al-Ju’fi:كَانَ سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً“Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami kita pada bulan Ramadhan 20 rakaat”. (31)Ibnu Abi Mulaikah عن نافع بن عمر، قال: كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيَقْرَأُ: بِحَمْدِ الْمَلَائِكَةِ فِي رَكْعَةٍ Nafi’ bin Umar berkata: Dahulu Ibnu Abi Mulaikah shalat mengimami kami 20 rakaat, beliau membaca Hamdu Al-Malaikat (Surat Fathir) dalam satu rakaat. (32)Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang tabií yang lahir di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib atau sebelumnya. Beliau telah menjumpai 30 sahabat(33). Atsar-atsar para tabiín ini menunjukan bahwa pelaksanaan shalat tarwih di masa tabiín berlanjut dengan lebih dari 11 rakaát. Dan kemungkinan besar bahwa kebiasaan para tabiín tersebut diwariskan dari kebiasaan para sahabat.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:“Sesungguhnya qiyam Ramadhan sendiri tidak ditetapkan oleh Nabi dengan jumlah tertentu, bahkan beliau dalam Ramadhan maupun bulan lain tidak lebih dari 13 rakaat, akan tetapi beliau memanjangkan rakaat, ketika Umar mengumpulkan orang-orang untuk shalat diimami oleh Ubai bin Ka’ab shalat bersama mereka 20 rakaat kemudian witir 3 rakaat, pada saat itu beliau meringankan bacaan sesuai dengan tambahan rakaat, karena itu yang paling ringan bagi para makmum daripada memanjangkan satu rakaat.Kemudian sekelompok salaf mengerjakan shalat 40 rakaat dan witir 3 rakaat, dan sekelompok salaf yang lain mengerjakan shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat, dan ini semua diperbolehkan. Bagaimanapun cara yang dilakukan pada bulan Ramadhan dri tata cara tersebut maka ia telah melakukan hal yang baik.Dan yang paling utama adalah hal itu berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi jamaah yang shalat; jika mereka mampu tahan berdiri lama maka mengerjakan 10 rakaat dan tiga rakaat setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika shalat sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lain maka ini lebiih baik, namun jika mereka tidak mampu maka mengerjakan 20 rakaat lebih utama, inilah yang dikerjakan kebanyakan kaum muslimin; harena terletak pertengahan antara 10 dan 40 rakaat, dan jika mengerjakan 40 rakaat maka boleh dan sama sekali tidak dibenci. Ini telah disebutkan sejumlah imam, seperti Ahmad dan lainnya.وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَSiapa mengira qiyam Ramadhan ada bilangan tertentu dari Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi maka ia terjatuh dalam kesalahan”. (34)As-Syaukani mengatakan : والحاصل أن الذي دلت عليه أحاديث الباب وما يشابهها هو مشروعية القيام في رمضان والصلاة فيه جماعة وفرادى فقصر الصلاة المسماة بالتراويح على عدد معين وتخصيصها بقراءة مخصوصة لم يرد به سنة“Kesimpulannya, hadits-hadits dalam bab ini dan hadits yang serupa menunjukkan disyariatkannya qiyam ramadhan, shalat baik dengan jamaah maupun sendiri-sendiri. Adapun membatasi shalat yang dinamai dengan tarawih dengan jumlah tertentu dan mengkhususkan dengan bacaan tertentu maka tidak ada sunnah yang menunjukkah hal itu”. (35)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:والتراويح إن صلاها كمذهب أبي حنيفة، والشافعي، وأحمد: عشرين ركعة أو: كمذهب مالك ستا وثلاثين، أو ثلاث عشرة، أو إحدى عشرة فقد أحسن، كما نص عليه الإمام أحمد لعدم التوقيف فيكون تكثير الركعات وتقليلها بحسب طول القيام وقصره Shalat tarawih jika dikerjakan sesuai madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad adalah 20 rakaat, atau sesuai madzhab Malik 36 rakaat, atau 13, atau 11 maka itu baik, seperti dikatakan oleh Imam Ahmad, karena tidak ada penentuan batas akhir, sehingga memperbanyak jumlah rakaat dan mempersedikit dilakukan tergantung panjang atau pendeknya berdiri. (36)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:وأُبَىٌّ بن كعب لما قام بهم وهم جماعة واحدة لم يمكن أن يطيل بهم القيام، فكثر الركعات ليكون ذلك عوضا عن طول القيام، وجعلوا ذلك ضعف عدد ركعاته، فإنه كان يقوم بالليل إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة، ثم بعد ذلك كأن الناس بالمدينة ضعفوا عن طول القيام، فكثروا الركعات، حتى بلغت تسعا وثلاثينUbai bin Ka’ab tatkala mengimami mereka yang saat itu mereka satu jamaah, tidak memungkinkan untuk memperlama berdiri, maka beliau perbanyak rakaat sebagai ganti berdiri lama, dan mereka menjadikannya dua kali lipat jumlah rakaat, karena sebelum itu ia melakukan qiyamulllail 11 atau 13 rakaat, kemudian setelah itu sepertinya orang-orang penghuni Kota Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka perbanyak rakaat, hingga sampai 39 rakaat. (37)Kesimpulan :Pertama : Telah terjadi Ijma’ (kesepakatan) ulama akan bolehnya shalat lebih dari 11 rakaátKedua : Tidak seorang ulamapun yang mu’tabar dari kalangan mutaqoddimin (terdahulu) yang melarang shalat tarawih lebih dari 11 rakaát, apalagi sampai mengatakan bidáh. Yang ada hanyalah ulama belakangan seperti As-Shonáni yang wafat tahun 1182 HKetiga : Atsar bahwa para sahabat sholat tarawih di masa Umar 20 rakaát adalah atsar yang shahih, dan tidak diketahui ada seorang ulamapun dari mutaqoddimin yang mendoifkan atsar ini.Keempat : Para salaf di zaman para tabiín (seperti Áthoo, Saíd bin Jubair, Suwaid bin Ghofalah, Ibnu Abi Mulaikah, dan Daud bin Qois) mereka semuanya sholat tarawih lebih dari 11 rakaát.Kelima : Hendaknya kita memahami hadits Aisyah tentang sholat malam Nabi 11 rakaát dengan pemahaman para salaf, yaitu bahwa bilangan tersebut bukanlah batasan.Kamis 4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Di Kediaman, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Footnote:1 Al-Istidzkar 2/982 Al-Istidzkar 2/102-1033 At-Tamhid 13/2144 Ikmalul Mu’lim Syarh Shahih Muslim 3/485 At-Mughni 2/1236 Masail Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih 2/7557 As-Syarhu Al-Kabir 4/2678 Lihat Syarh Shahih Muslim 6/199 Mukhtashar Qiyamul Lail hlm. 22210 Tharh At-Tatsrib fi Syarh Taqrib 3/5011 Adapun tiga ulama (Imam Malik, Ibnul ‘Arobi, dan As-Shonáani) yang dinukil oleh Asy-Syaikh Al-Albani bahwa mereka melarang sholat lebih dari 11 rakaát, maka penukilan tersebut kurang tepat. Pertama : Al-Imam Malik yang masyhur di madzhab Malik justru menganjurkan lebih dari 11 rakaát. Adapun nukilan Syaikh Al-Albani dari Imam Malik melalui jalur seorang ulama syafiíyah yang bernama al-Juuri, maka beliau (Syaikh Al-Albani) juga tidak bisa memastikan siapakah al-Juuri tersebut, karena banyak ulama yang bernisbahkan kepada al-Juuri. Setelah itu harus diketahui terlebih dahulu bagaimanakah kedudukan al-Juuri dikalangan para ulama. Demikian juga jika tentu penukilan tentang pendapat Imam Malik dari kitab-kitab ulama Malikiyah lebih kuat daripada yang dinukil dari seorang ulama bermadzhab syafií.Kedua : Ibnul Árobi, justru beliau menyatakan dengan tegas bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaatnya. Beliau berkata :وَلَيْسَ فِي قَدْرِ رَكْعَتِهَا حَدٌّ مَحْدُوْدٌ“Dan tidak ada batasan tertentu pada jumlah rakaát sholat malam” (Áaridhotul Ahwadzi 4/19) Adapun pernyataan Ibnul Árobi yang dinukil oleh Asy-Syaikh al-Albani maka maksudnya jika memang sholat malam itu ada batasannya maka ikutlah yang dilakukan oleh Nabi yaitu 11 rakaát. Akan tetapi telah jelas bahwa sebelumnya -di halaman yang sama- Ibnul Árobi telah menegaskan bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaátnya.Ketiga : As-Shonáani, maka memang jelas beliau memandang bahwa “menganggap jumlah 20 rakaat sebagai sunnah” itulah yang bidáh. As-Shonáni berkata :نَعَمْ قِيَامُ رَمَضَانَ سُنَّةٌ بِلَا خِلَافٍ، وَالْجَمَاعَةُ فِي نَافِلَتِهِ لَا تُنْكَرُ وَقَدْ ائْتَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – وَغَيْرُهُ بِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكِنَّ جَعْلَ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ، وَالْكَمِّيَّةِ سُنَّةً، وَالْمُحَافَظَةَ عَلَيْهَا هُوَ الَّذِي نَقُولُ إنَّهُ بِدْعَةٌ“Memang benar bahwa sholat malam di bulan Ramadhan adalah sunnah tanpa ada khilaf, dan dikerjakan secara berjamaah adalah sunnah tidak diingkari -karena Ibnu Ibaas dan yang lainnya pernah bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam dalam sholat malam-. Akan tetapi menjadikan cara sholat dan jumlah (20 rakaat) sebagai sunnah (Nabi) dan kontinyu dalam malakukannya itulah yang kami katakan sebagai bidáh” (Subulus Salam 1/345)Yang perlu diperhatikan bahwa di Subulus Salam :Pertama : As-Shonáni membenarkan riwayat bahwa Umar mengumpulkan orang-orang untuk sholat 23 rakaát.Kedua : Beliau menekankan bahwa tidak hadits yang marfu’ (dari Nabi) bahwasanya Nabi sholat malam 23 raka’at, semua hadits yang datang tentang hal tersebut adalah dho’if. Ini yang menjadikan beliau menekankan bahwa menganggap sholat 20 rakaat sebagai sunnah adalah anggapan yang bid’ah.Ketiga : Meskipun beliau menetapkan bahwa 20 rakaat telah datang dari Umar bin Al-Khottob namun beliau memandang bahwa tidak wajib mengikuti Umar, yang wajib adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya 11 raka’at.Tentu pendapat As-Shon’ani ini kurang tepat, lagi pula beliau termasuk ulama mutaakhirin (belakangan) yang wafat di abad ke 12 Hijriyah.12 HR. Bukhari no 2031 dan Muslim no 175713 HR. Muslim dalam shahihnya no 74914 Shahih Ibn Khuzaimah no 1110, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh al-A’dzomi15 HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.16 Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34917 HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.18 HR. Ahmad no 17026, Nasa’I no 584 dan ini adalah lafadz beliau, Ibnu Majah 1251. Dishahihkan Ibnu Khuzaimah 260 dan Al-Hakim 583, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 5/21 menshahihkan sanad hadits ini.19 Dzakhiratul ‘Uqba fi Syarh Al-Mujtaba 7/42320. Al-Istidzkar 2/6921 Al-Muwaththa no 25122 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 8/11423 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 2/6324 Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Ja’ad dalam Musnad beliau no 2825, Al-Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496, Al-Firyabi dalam As-Shiyam 176.25 Adapun anggapan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah bahwa Al-Imam At-Tirmidzi mengisyaratkan akan dhoifnya atsar ini -dengan dalil bahwa At-Tirmidzi mengatakan dengan shighot at-tamriid رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ وَعُمَرَ وَغَيْرِهِمَا– maka anggapan ini kurang tepat. Hal ini karena banyak sekali di kitab Sunan At-Tirmidzi beliau menghikayahkan hadits-hadits yang shahih bahkan yang terdapat di shahihain dengan shighoh at-Tamriidh, dan tentu maksud beliau bukan untuk mengisyaratkan akan lemahnya tetapi hanya sekedar untuk menghikayatkan jalur-jalur periwayatan hadits.Misalnya At-Tirmidzi berkata :وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ“Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu álaihi wasallam bahwasanya beliau membaca surat at-Thuur di sholat magrib” (Sunan At-Tirimidzi 1/403).Padahal hadits tentang Nabi membaca surat at-Thuur di sholat maghrib diriwayatkan oleh Al-Bukhari no 4854. Demikian juga anggapan syaikh Al-Albani bahwasanya Al-Imam Asy-Syafií mendoifkan atsar Umar ini, beliau berdalil dengan perkataan Syafií yang dinukil oleh Al-Muzani di Mukhtashornya bahwasanya Syafií berkata : رُوِيَ عَنْ عُمَرَ “Diriwayatkan dari Umar”Maka berikut nukilan perkataan Asy-Syafií selengkapnya : فَأَمَّا قِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ فَصَلَاةُ الْمُنْفَرِدِ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْهُ وَرَأَيْتهمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَأَحَبُّ إلَيَّ عِشْرُونَ؛ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ، وَكَذَلِكَ يَقُومُونَ بِمَكَّةَ وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ“Adapun sholat malam di bulan Ramadhan maka sholat sendirian lebih aku sukai, dan aku melihat di Madinah mereka sholat malam 39 rakaát. Dan yang lebih aku sukai adalah 20 rakaát karena hal itu diriwayatkan dari Umar. Dan demikianlah mereka di Mekah sholat malam 20 rakaát dan mereka witir 3 rakaát”Maka sangat jelas dalam perkataan Asy-Syafií di atas justru beliau membenarkan atsar Umar, karena pada perkataan di atas beliau sedang berdalil dengan atsar Umar sehingga beliau lebih memilih sholat tarawih dengan 20 rakaát.Dan ternyata di Mukhtashor Al-Muzani banyak sekali perkataan Asy-Syafií dengan shighoh at-Tamriid akan tetapi riwayat yang beliau bawakan adalah shahih. Beliau menggunakan shighoh at-Tamriid hanya sekedar untuk menghikayatkan saja bukan bermaksud untuk mendhoifkan riwayat. Contohnya beliau berkata :وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُنْقَصَ عَمَّا رُوِيَ «عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ تَوَضَّأَ بِالْمُدِّ وَاغْتَسَلَ بِالصَّاعِ»“Dan aku suka agar air tidak kurang dari yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau berwudu dengan air seukuran mudd, dan beliau mandi dengan air seukuran shoo’”.Padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya no 325.26 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7770, Fadhail Ramadhan Ibnu Abi Dunya hlm. 79 no riwayat : 49. Sanad atsar ini sesuai dengan syarat (kriteria) Imam Muslim, dishahihkan Nawawi dalam Al-Majmu’ 4/32 dan Ibnul Iraqi di Tarhu At-Tatsrib 3/97.27 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 777128 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7773, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Ismail bin Abdul Malik dalam Mushannaf Abdurrazzaq no 7749, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Musa bin Nafi’ dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/27129 HR. Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496 no 4803, Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab beliau Ta’sisul Ahkam 2/287 mengatakan : Sanadnya shahih. 30 Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 4/70 31 At-Tarikh Al-Kabir 9/28 tarjamah no 23432 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7683 dengan sanad shahih. 33 Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata : أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu álaihi wasallam, semuanya takut akan kemunafikan atas dirinya”(Shahih Al-Bukhari 1/18).Diantara shahabat yang dijumpai oleh beliau adalah ; Aisyah, Asmaa’ binti Abi Bakar, Abu Mahdzuurah, Ibnu Ábbas, Abdullah bin Ámr, Ibnu Umar, Ibnu Az-Zubair, Úqbah bin al-Haarits, Ummu Salamah, Al-Miswar bin Al-Makhromah, dan Abdullah bin Ja’far. (Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 5/89-90)34 Majmu’ Fatawa 22/272 dan 23/11335 Nailul Authar 3/66, Dar Al-Hadits36 Al-Ikhtiyarat hlm. 6437 Majmu’ Al-Fatawa 23/113


Bolehnya Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at(Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja Abidin, Lc, MA.)Ijma’ Boleh Lebih 11 RakaatPara ulama telah ijmak (sepakat) akan bolehnya sholat malam (tarawih) lebih dari 11 raka’at. Bahkan yang menukil ijmak tersebut para ulama dari berbagai madzhab fikih. Berikut ini nukilan tersebut:1. Madzhab Maliki:Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata:وأكثر الآثار على أن صلاته كانت إحدى عشرة ركعة وقد روي ثلاث عشرة ركعة. واحتج العلماء على أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود والصلاة خير موضوع فمن شاء استقل ومن شاء استكثر.“Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa shalat beliau adalah 11 rakaat, dan diriwayatkan bahwa 13 rakaat, para ulama berdalil bahwa shalat lail tidak ada batasnya, dan shalat adalah ibadah terbaik, siapa yang berkehendak silahkan menyedikitkan rakaát, dan siapa yang berkehendak maka silahkan memperbanyak rakaát”. (1)Beliau juga berkata:وقد أجمع العلماء على أن لا حد ولا شيء مقدرا في صلاة الليل وأنها نافلة فمن شاء أطال فيها القيام وقلت ركعاته ومن شاء أكثر الركوع والسجود“Para ulama sepakat tidak ada batas atau ukuran dalam shalat lail (malam), mereka juga sepakat bahwa shalat lail sunnah, siapun mau boleh memanjangkan berdiri dan sedikit jumlah rakaatnya, dan siapapun mau boleh memperbanyak ruku’ dan sujud”. (2)Beliau juga berkata:وَلَيْسَ فِي عَدَدِ الرَّكَعَاتِ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ حَدٌّ مَحْدُودٌ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَتَعَدَّى“Tidak ada batas tertentu dalam jumlah rakaat dalam shalat lail yang tidak boleh dilewati menurut satupun ulama”. (3)Al-Qadhi Iyadh mengatakan: ولاَ خِلاَفَ أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدٌّ لاَ يُزَادُ عَلَيْهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُ، وَأَنَّ صَلاَةَ اللَّيْلِ مِنَ الْفَضَائِلِ وَالرَّغَائِبِ الَّتِي كُلَّمَا زِيْدَ فِيْهَا زِيْدَ فِي الأَجْرِ وَالْفَضْلِ، وَإِنَّمَا الْخِلاَفُ فِي فِعْلِ النَّبِيِّ (صلى الله عليه وسلم) وَمَا اخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ“Tidak ada khilaf bahwa tidak ada batas yang tidak boleh ditambahi dan dikurangi, dan shalat lail termasuk amalan utama dan dianjurkan, jika ditambahi maka bertambah pula pahala dan keutamaanya, yang diperselisihkan hanya dalam perbuatan Nabi dan jumlah rakaat yang beliau pilih untuk beliau lakukan”. (4)2. Madzhab HanbaliIbnu Qudamah Al-Maqdisi menyebutkan bahwa yang menjadi pilihan jumhur ulama adalah shalat tarawih 20 rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar ketika mengumpulkan orang-orang, beliau juga berkata: “Para sahabat bersepakat dalam hal itu di masa mereka”. (5)Ishaq bin Mansur bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Berapa rakaat shalat qiyam bulan Ramadhan? Beliau berkata: Ada beberapa pendapat, diriwayatkan sekitar 40, tetapi itu adalah shalat tathawwu’. (6)3. Madzhab Syafi’i Abul Qasim Ar-Rafi’i: “Sesungguhnya Umar bin Khatthab mengumpulkan orang-orang diimami oleh Ubai bin Ka’ab, dan disepakati oleh para sahabat”. (7)An-Nawawi menukil ijma’ ini dan mengikrarkannya (8)Az-Za’farani meriwayatkan dari As-Syafi’I: “Aku lihat orang-orang di Madinah mengerjakan shalat 39 rakaat”, beliau berkata “Yang lebih aku suka adalah 20”, beliau berkata “Begitupula yang dikerjakan di Makkah”. Beliau berkata: “Tidak ada dalam hal ini batas akhirnya, jika mereka perbanyak ruku’ dan sujud maka lebih baik”. (9)Al-Iraqi mengatakan: فِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ الصَّلَاةِ بِاللَّيْلِ وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ مَحْصُورٌ وَلَكِنْ اخْتَلَفَتْ الرِّوَايَاتُ فِيمَا كَانَ يَفْعَلُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Para ulama sepakat bahwa tidak ada batas tertentu dalam qiyamul-lail, akan tetapi riwayat-riwayat berbeda tentang mana yang dilakukan oleh Nabi”. (10)4. Ulama HaditsIbnu Al-Qatthan Al-Fasi juga menukil ijma’ tersebut dalam kitabnya “Al-Iqna’ fi Masa’il Ijma’”.At-Tirmidzi dalam Jami’-nya berkata:“Para ulama berselisih pendapat dalam qiyam Ramadhan: Sebagian berpendapat 41 rakaat bersama witir, ini adalah pendapat ahlul Madinah, dan yang diamalkan oleh penduduk Madinah. Kebanyakan ulama adalah mengikuti riwayat Umar, Ali dan lainnya dari kalangan sahabat Rasulullah berpendapat 20 rakaat, ini adalah pendapat At-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak dan As-Syafi’i.As-Syafi’i berkata: Demikianlah yang aku jumpai di kota kami Makkah, mereka shalat 20 rakaat.Ahmad mengatakan: Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat dan tidak ada titik penentu.Ishaq berkata: Tapi kita pilih 41 rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab.”Kesimpulan:Di atas adalah pernyataan sejumlah ulama dari berbagai madzhab yang menukilkan ijma’ (konsensus) ulama bahwa tidak ada batas jumlah shalat lail yang di antaranya adalah shalat tarawih, tidak ada seorangpun ulama setelah mereka yang mempermasalahkan hal itu. Lihatlah dalam buku fikih manapun dan dalam madzhab manapun tidak ditemukan seorang ulamapun yang menyatakan tidak boleh sholat malam lebih dari 11 rakaát. Jika ada ulama yang mu’tabar (yang diakui) yang melarang dari kalangan para ulama terdahulu, tentu sudah dinukil dalam kitab-kitab fikih klasik (11).Adapun hadits Aisyah (yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama kontemporer bahwa sholat malam tidak boleh lebih dari 11 rakaat) :عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ، وَلاَ فِي غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah ‘Berapa shalat Rasulullah pada bulan Ramadhan?’ ia menjawab: ‘Beliau tidak menambah sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan atau di bulan lain, beliau shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat tiga rakaat, lalu aku bertanya : wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum melakukan witir? Beliau menjawab: wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi hatiku tidak tidur’. (12)Maka hadits di atas menjelaskan bahwa sholat malam Nabi tidak lebih dari 11 raka’at. Tetapi tidak seorang salafpun yang memahami bahwa maksud Aisyah itu adalah batasan jumlah sholat malam, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah.Sementara tatkala kita memahami hadits atau memahami syari’at Islam harus dengan pemahaman para salaf, sebagai konsenkuensi dari bentuk berpegang dengan manhaj salaf dalam beristidlal (berdalil).Dalil-Dalil bahwa Shalat Tarawih Tidak Ada Batas RakaatPertama: Hadits Ibnu Umarعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ –صلى الله عليه وسلم– وَأَنَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّائِلِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ قَالَ «مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَصَلِّ رَكْعَةً وَاجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِكَ وِتْرًا». ثُمَّ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ وَأَنَا بِذَلِكَ الْمَكَانِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– فَلاَ أَدْرِى هُوَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.Seorang bertanya kepada Nabi, ia mengakatan: saat itu aku berada di antara beliau dan penanya. Penyanya mengatakan: Wahai Rasulullah, bagaimana mengerjakan shalat lail? Beliau menjawab: Dua rakaat, dua rakaat, jika kamu khawatir masuk subuh maka shalatlah satu rakaat, dan jadikan akhir shalatmu witir. Kemudian ada lelaki berusia hampir satu abad, dan aku di tempat itu bersama Rasulullah, aku tidak tahu apakah itu orang tadi atau orang lain, ia mengatakan semacam itu pula(13). Dalam riwayat yang lain (juga dalam shahih Muslim):أَنَّ ابْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَجُلاً نَادَى رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أُوتِرُ صَلاَةَ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– «مَنْ صَلَّى فَلْيُصَلِّ مَثْنَى مَثْنَى فَإِنْ أَحَسَّ أَنْ يُصْبِحَ سَجَدَ سَجْدَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى».Seorang memanggil Rasulullah sedangkan beliau berada di masjid, lantas bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana aku melakukan witir pada shalat lail? Rasulullah menjawab : Siapapun yang shalat, hendaklah shalat dua rakaat dua rakaat, jika merasa datang subuh maka hendaklah melakukan satu sujud, makai a telah melukan shalat witir. Dalam riwayat yang lain :Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda: Shalat lail dua-dua, jika kamu melihat subuh akan tiba maka wtirlah satu rakaat. Lalu ada yang bertnya kepada Ibnu Umar: apa itu dua-dua? Beliau menjawab: hendaklah engkau salam di setiap dua rakaat. (diriwayatkan muslim juga di tempat yang sama).Segi pendalilan:Ada dua sisi pendalilan dari hadits Ibnu Umar di atas:Pertama: Orang yang bertanya tersebut dalam sebagian riwayat adalah الأَعْرَابِيُّ arab badui(14). Dan sebagaimana diketahui bahwa orang arab badui tidaklah tinggal bertetangga dengan Nabi dan para sahabat. Tentu ia tidak tahu tentang jumlah raka’at sholat malam Nabi, terlebih lagi tidak ada seorang sahabatpun yang meriwayatkan tentang jumlah 11 rakaat sholat malam Nabi kecuali Aisyah, karena Nabi mengerjakannya di rumah dan dilihat oleh Aisyah.Hal ini dikuatkan lagi bahwasanya jika Arab badui tersebut tidak tahu tentang kaifiyyah (tata cara) sholat malam, setiap berapa rakaatkah harus salam? Maka ketidak tahuannya tentang jumlah rakaat lebih utama untuk tidak ia ketahui.Jika seandainya sholat malam ada batasan jumlah raka’atnya tentu Nabi akan menjelaskan kepada orang arab badui tersebut. Tatkala Nabi tidak menjelaskan sisi ini maka menunjukan bahwa sholat malam tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena mengakhirkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh. Kedua: Justru Nabi menjawab orang arab badui tersebut dengan mengisyaratkan bahwa sholat malam tidak terbatas jumlah raka’atnya. Karena Nabi menyatakan bahwa sholat malam itu dua-dua rakaat hingga subuh. Artinya arab badui tersebut boleh sholat dengan shalat dua rakaat-dua rakaat dan terus melakukannya seperti itu, sampai jika ia khawatir tiba subuh maka shalat satu rakaat dan menjadi witir bagi shalatnya. Apalagi orang-orang arab badui tidak dikenal dengan sebagai para sahabat yang memiliki hapalan qur’an yang banyak, sehingga kemungkinan ia akan memperbanyak raka’at hingga subuh.Kedua: Hadits Thalq bin Ali عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَقُولُ «لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ».Qais bin Thalq berkata: Thalq bin Ali mengunjungi kami pada satu hari Bulan Ramadhan dan sore masih bersama kami lalu berbuka dan mengimami shalat kita pada malam itu, beliau witir bersama kami kemudian pergi ke masjidnya dan shalat mengimami para sahabatnya, ketika hendak witir beliau menyuruh seorang maju dengan berkata: shalatlah witir bersama para sahabatmu karena aku mendengar Rasulullah bersabda “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam”. (15)Segi pendalilan:Sahabat Tholq bin Áli dahulu melakukan shalat malam dua kali, yang pertama di tempat ini dan yang kedua di tempat lain. Dan tentu jika digabungkan dua kali sholat tarawih beliau tersebut akan lebih dari 11 raka’at, wallahu A’lam.Ketiga: Hadits Abu Dzar عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ «إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ».Abu Dzar berkata: Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah, beliau tidak melakukan qiyam ramadhan pun kecuali tersisa 7 hari, beliau pun mengimami shalat kami hingga lewat sepertiga malam, lalu ketika tersisa 6 hari, beliau tidak shalat bersama kami, dan ketika tersisa 5 hari beliau shalat mengimami kami hingga lewat setengah malam, lalu aku bertanya: wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahi shalat lagi sisa malam ini (16), maka beliau mengatakan “Sesungguhnya jika seorang shalat bersama imam sampai selesai maka dihitung shalat semalam”. (17)Segi pendalilan:Ketika sudah lewat tengah malam, Rasulullah selesai shalatnya, tapi para sahabat meminta Rasulullah tambahan shalat lagi, dan beliau tidak mengingkari atau menyalahkan mereka, namun beliau menunjukkan yang afdhal. Para sahabat juga tidak memahami bahwa shalat malam ada batas tertentu dan mereka juga tidak memahami jika shalat selesai maka tidak boleh ditambah. Karena jika mereka memahami bahwa sholat malam tidak boleh ada tambahannya tentu mereka tidak akan minta tambahan kepada Nabi, karena berarti meminta sesuatu yang haram kepada Nabi. Keempat: Hadits ‘Amr bin ‘Anbasahعن عَمرو بن عَنْبَسة ــ رضي الله عنه ــ أنَّه قال: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْلَمَ مَعَكَ؟ قَالَ: «حُرٌّ وَعَبْدٌ»، قُلْتُ: هَلْ مِنْ سَاعَةٍ أَقْرَبُ إِلَى اللَّهِ ــ عَزَّ وَجَلَّ ــ مِنْ أُخْرَى؟ قَالَ: “نَعَمْ، جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَصَلِّ مَا بَدَا لَكَ حَتَّى تُصَلِّيَ الصُّبْحَ“.“Aku mendatangi Rasulullah dan bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang masuk islam bersama engkau? Beliau menjawab: orang merdeka dan budak. Aku bertanya: Apakah ada waktu yang lebih dekat kepada Allah Azza wa Jalla daripada selainnya? Beliau menjawab: Ya, pertengahan malam akhir, maka shalatlah yang kamu mau sampai kamu shalat subuh”. (18)Muhammad Ali Adam Al-Ityubi mengomentari hadits ini, “Shalat malam tidak memiliki jumlah tertentu, berbeda dengan persangkaan sebagian orang bahwa lebih dari 11 rakaat yang terdapat pada shalat Rasulullah adalah bid’ah, sehingga mengingkari orang yang shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat atau kurang atau lebih sesuai semangat orang yang shalat, maka dapat dibantah dengan hadits ini.” (19)Tarwih para shahabat di masa Umar bin al-Khottob adalah 20 rakaát. Berikut ini adalah pohon seluruh riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang jumlah rakaát tarwih yang dikerjakan di masa Úmar bin al-Khottob atas perintah Umar bin al-Khottob:Jika diperhatikan pohon sanad periwayatan tentang jumlah rakaát tarawih yang dikerjakan di masa Umar bin al-Khottob sebagaimana di atas, maka kita dapati yang menyebutkan bahwa Umar memerintahkan untuk sholat 11 rakaát hanyalah 1 jalur saja, yaitu Dari Imam Malik, dari Muhammad bin Yuusuf, dari As-Saaib bin Yaziid, dari Umar bin al-Khottob. (Sebagaimana di kitab al-Muwattho’ karya Imam Malik)Sementara seluruh jalur yang lain meriwayatkan bahwa sholat yang dikerjakan atas perintah Umar bin al-Khottob lebih dari 11 rakaat, yaitu 20 rakaát. Karenanya Ibnu Ábdil Barr yang bermadzhab Maliki, dan paling paham tentang periwayatan Imam Malik, berkata :وَهَذَا كُلُّهُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الرِّوَايَةَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَهْمٌ وَغَلَطٌ وَأَنَّ الصَّحِيْحَ ثَلاَثٌ وَعِشْرُوْنَ وَإِحْدَى وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَاللهُ أَعْلَمُ“Ini semua menunjukkan bahwa riwayat 11 rakaat adalah kesalahan dan kekeliruan, yang shahih adalah 23 dan 21 rakaat, wallahu a’lam”. (20)Lafadz riwayat 11 Rakaat:Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwattha’: عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد رضي الله عنه أنَّه قال: أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ رضي الله عنهم أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ: وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ، حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ، وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْر“Dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Saib bin Yazid beliau mengatakan: Umar bin Khaththab memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang dengan 11 rakaat, saat itu imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidak bubaran (selesai sholat) kecuali mendekati terbit fajar”. (21)Ibnu Abdil Barr berkata:هَكَذَا قَالَ مَالِكٌ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً وَغَيْرُهُ يَقُوْلُ فِيْهِ إِحْدَى وَعِشْرِيْن“Begitulah yang dikatakan Malik dalam hadits ini, yaitu 11 rakaat, sedangkan selain beliau mengatakan 21 rakaat”. (22)Di kitab yang sama beliau juga berkata:وَلاَ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً غَيْرُ مَالِكٍ والله أعلم. إلا أنه يحتمل أن يكون القيام في أول ما عمل به عمر بإحدى عشرة ركعة ثم خفف عليهم طول القيام ونقلهم إلى إحدى وعشرين ركعة يخففون فيها القراءة ويزيدون في الركوع والسجود إِلاَّ أَنَّ الأَغْلَبَ عِنْدِي فِي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً الْوَهْمُ وَاللهُ أَعْلَمُ“aku tidak tahu seorangpun mengatakan dalam hadits ini 11 rakaat kecuali Malik, wallahu a’lam. Hanya saja ada kemungkinan bahwa shalat yang dilakukan Umar pertama kali adalah 11 rakaat, kemudian beliau ringankan panjangnya berdiri dan diganti menjadi 21 rakaat dengan meringankan bacaan dan menambah ruku’ dan sujud. Akan tetapi yang lebih kuat menurutku adalah bahwa 11 rakaat adalah kekeliruan, wallahu a’lam.(23)Lafadz dari jalur Yazid bin Khushaifah:عن يزيد بن خُصَيْفَة عن السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَلَكِنْ كَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ فِي رَكْعَةٍ حَتَّى كَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عِصِيِّهِمْ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِDari Yazid bin Khushaifah dari As-Saib bin Yazid mengatakan : mereka mengerjakan shalat di masa Umar bin Khatthab pada bulan Ramadhan 20 rakaat, akan tetapi mereka membaca ratusan ayat dalam satu rakaat, sehingga mereka bersandar pada tongkat-tongkat mereka karena lamanya berdiri. (24)Sanadnya dishahihkan oleh:Imam Nawawi dalam Al-Khulashah no 1961Ibnul Mulaqqin dalam Al-Badrul Munir 4/350Ibnul Iraqi dalam Tharh Tatsrib 3/97Al-‘Aini dalam Al-Binayah Syarh Al-Hidayah 2/660Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy dalam Tanbih Al-Qari’ li Taqwiyati Ma Dha’afahul Albani hlm. 42 mengatakan: Hadits ini shahih.Penulis belum mendapatkan ulama mutaqodiimin (terdauhulu) mendoifkan riwayat Umar tentang sholat 20 rakaat di atas karena riwayatnya(25)Para salaf (sahabat dan tabiín) sholat tarwih lebih dari 11 rakaátPendapat bahwa para sahabat sholat tarwih di masa Umar adalah 20 rakaat dikuatkan dengan praktik para salaf yang sholat malam lebih dari 11 rakát. Berikut penukilannya :Atha’ berkata: أَدْرَكْت النَّاسَ وَهُمْ يُصَلُّونَ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ“Aku menjumpai orang-orang shalat 23 rakaat dengan witir”. (26) Atha adalah seorang tabi’in faqih yang wafat pada tahun 114 H, sehingga yang beliau jumpai adalah para sahabat Rasulullah, wallahu a’lamDawud bin Qais berkata:دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ : أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِالْمَدِينَةِ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَأَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يُصَلُّونَ سِتَّة وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.“Aku jumpai di Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat.” (27)Atsar ini menjelaskan bahwa para tabiín mereka sholat bahkan 39 rakaátSa’id bin Jubair:كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي بِنَا عِشْرِينَ لَيْلَةً سِتَّ تَرْوِيحَاتٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ الأَخَرُ اعْتَكَفَ فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى بِنَا سَبْعَ تَرْوِيحَاتٍ.“Dahulu Sa’id bin Jubair adalah imam kita di bulan Ramadhan, beliau shalat mengimami kita 20 malam dengan 6 kali istirahat, jika memasuki 10 malam akhir beliau I’tikaf di masjid dan shalat mengimami kita dengan 7 kali istirahat.” (28)Dan Saíd bin Jubair adalah seorang tabií yang mulia yang merupakan murid Ibnu Ábbas Sa’id bin Jubair adalah seorang tabi’in wafat tahun 95 H, ketika 10 hari terakhir beliau shalat menjadi imam dengan 7 kali istirahat berarti 14 rakaat.Abu Al-Hashib berkata: كَانَ يَؤُمُّنَا سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ فِي رَمَضَانَ فَيُصَلِّي خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً “Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami shalat kita pada bulan Ramadhan dengan 5 kali istirahat dalam 20 rakaat”. (29)Suwaid bin Ghafalah masuk Islam saat Nabi masih hidup, akan tetapi beliau tidak bertemu dengan Nabi, dan beliau meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ubay bin Kaáb, Bilal, Abu Dzar, Ibnu Masúd, dan sahabat-sahabat yang lain(30).Beliau shalat 20 rakaat, setiap 4 rakaat salam, sehingga ada 5 kali istirahat.Imam bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir menyebutkan riwayat Abu Al-Hasib Al-Ju’fi:كَانَ سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ يَؤُمُّنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً“Dahulu Suwaid bin Ghafalah mengimami kita pada bulan Ramadhan 20 rakaat”. (31)Ibnu Abi Mulaikah عن نافع بن عمر، قال: كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيَقْرَأُ: بِحَمْدِ الْمَلَائِكَةِ فِي رَكْعَةٍ Nafi’ bin Umar berkata: Dahulu Ibnu Abi Mulaikah shalat mengimami kami 20 rakaat, beliau membaca Hamdu Al-Malaikat (Surat Fathir) dalam satu rakaat. (32)Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang tabií yang lahir di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib atau sebelumnya. Beliau telah menjumpai 30 sahabat(33). Atsar-atsar para tabiín ini menunjukan bahwa pelaksanaan shalat tarwih di masa tabiín berlanjut dengan lebih dari 11 rakaát. Dan kemungkinan besar bahwa kebiasaan para tabiín tersebut diwariskan dari kebiasaan para sahabat.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:“Sesungguhnya qiyam Ramadhan sendiri tidak ditetapkan oleh Nabi dengan jumlah tertentu, bahkan beliau dalam Ramadhan maupun bulan lain tidak lebih dari 13 rakaat, akan tetapi beliau memanjangkan rakaat, ketika Umar mengumpulkan orang-orang untuk shalat diimami oleh Ubai bin Ka’ab shalat bersama mereka 20 rakaat kemudian witir 3 rakaat, pada saat itu beliau meringankan bacaan sesuai dengan tambahan rakaat, karena itu yang paling ringan bagi para makmum daripada memanjangkan satu rakaat.Kemudian sekelompok salaf mengerjakan shalat 40 rakaat dan witir 3 rakaat, dan sekelompok salaf yang lain mengerjakan shalat 36 rakaat dan witir 3 rakaat, dan ini semua diperbolehkan. Bagaimanapun cara yang dilakukan pada bulan Ramadhan dri tata cara tersebut maka ia telah melakukan hal yang baik.Dan yang paling utama adalah hal itu berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi jamaah yang shalat; jika mereka mampu tahan berdiri lama maka mengerjakan 10 rakaat dan tiga rakaat setelahnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika shalat sendiri di bulan Ramadhan dan bulan lain maka ini lebiih baik, namun jika mereka tidak mampu maka mengerjakan 20 rakaat lebih utama, inilah yang dikerjakan kebanyakan kaum muslimin; harena terletak pertengahan antara 10 dan 40 rakaat, dan jika mengerjakan 40 rakaat maka boleh dan sama sekali tidak dibenci. Ini telah disebutkan sejumlah imam, seperti Ahmad dan lainnya.وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَSiapa mengira qiyam Ramadhan ada bilangan tertentu dari Nabi yang tidak boleh ditambah dan dikurangi maka ia terjatuh dalam kesalahan”. (34)As-Syaukani mengatakan : والحاصل أن الذي دلت عليه أحاديث الباب وما يشابهها هو مشروعية القيام في رمضان والصلاة فيه جماعة وفرادى فقصر الصلاة المسماة بالتراويح على عدد معين وتخصيصها بقراءة مخصوصة لم يرد به سنة“Kesimpulannya, hadits-hadits dalam bab ini dan hadits yang serupa menunjukkan disyariatkannya qiyam ramadhan, shalat baik dengan jamaah maupun sendiri-sendiri. Adapun membatasi shalat yang dinamai dengan tarawih dengan jumlah tertentu dan mengkhususkan dengan bacaan tertentu maka tidak ada sunnah yang menunjukkah hal itu”. (35)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:والتراويح إن صلاها كمذهب أبي حنيفة، والشافعي، وأحمد: عشرين ركعة أو: كمذهب مالك ستا وثلاثين، أو ثلاث عشرة، أو إحدى عشرة فقد أحسن، كما نص عليه الإمام أحمد لعدم التوقيف فيكون تكثير الركعات وتقليلها بحسب طول القيام وقصره Shalat tarawih jika dikerjakan sesuai madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad adalah 20 rakaat, atau sesuai madzhab Malik 36 rakaat, atau 13, atau 11 maka itu baik, seperti dikatakan oleh Imam Ahmad, karena tidak ada penentuan batas akhir, sehingga memperbanyak jumlah rakaat dan mempersedikit dilakukan tergantung panjang atau pendeknya berdiri. (36)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:وأُبَىٌّ بن كعب لما قام بهم وهم جماعة واحدة لم يمكن أن يطيل بهم القيام، فكثر الركعات ليكون ذلك عوضا عن طول القيام، وجعلوا ذلك ضعف عدد ركعاته، فإنه كان يقوم بالليل إحدى عشرة ركعة أو ثلاث عشرة، ثم بعد ذلك كأن الناس بالمدينة ضعفوا عن طول القيام، فكثروا الركعات، حتى بلغت تسعا وثلاثينUbai bin Ka’ab tatkala mengimami mereka yang saat itu mereka satu jamaah, tidak memungkinkan untuk memperlama berdiri, maka beliau perbanyak rakaat sebagai ganti berdiri lama, dan mereka menjadikannya dua kali lipat jumlah rakaat, karena sebelum itu ia melakukan qiyamulllail 11 atau 13 rakaat, kemudian setelah itu sepertinya orang-orang penghuni Kota Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka perbanyak rakaat, hingga sampai 39 rakaat. (37)Kesimpulan :Pertama : Telah terjadi Ijma’ (kesepakatan) ulama akan bolehnya shalat lebih dari 11 rakaátKedua : Tidak seorang ulamapun yang mu’tabar dari kalangan mutaqoddimin (terdahulu) yang melarang shalat tarawih lebih dari 11 rakaát, apalagi sampai mengatakan bidáh. Yang ada hanyalah ulama belakangan seperti As-Shonáni yang wafat tahun 1182 HKetiga : Atsar bahwa para sahabat sholat tarawih di masa Umar 20 rakaát adalah atsar yang shahih, dan tidak diketahui ada seorang ulamapun dari mutaqoddimin yang mendoifkan atsar ini.Keempat : Para salaf di zaman para tabiín (seperti Áthoo, Saíd bin Jubair, Suwaid bin Ghofalah, Ibnu Abi Mulaikah, dan Daud bin Qois) mereka semuanya sholat tarawih lebih dari 11 rakaát.Kelima : Hendaknya kita memahami hadits Aisyah tentang sholat malam Nabi 11 rakaát dengan pemahaman para salaf, yaitu bahwa bilangan tersebut bukanlah batasan.Kamis 4 Ramadhan 1440 H (9 Mei 2019 M)Di Kediaman, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.Footnote:1 Al-Istidzkar 2/982 Al-Istidzkar 2/102-1033 At-Tamhid 13/2144 Ikmalul Mu’lim Syarh Shahih Muslim 3/485 At-Mughni 2/1236 Masail Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih 2/7557 As-Syarhu Al-Kabir 4/2678 Lihat Syarh Shahih Muslim 6/199 Mukhtashar Qiyamul Lail hlm. 22210 Tharh At-Tatsrib fi Syarh Taqrib 3/5011 Adapun tiga ulama (Imam Malik, Ibnul ‘Arobi, dan As-Shonáani) yang dinukil oleh Asy-Syaikh Al-Albani bahwa mereka melarang sholat lebih dari 11 rakaát, maka penukilan tersebut kurang tepat. Pertama : Al-Imam Malik yang masyhur di madzhab Malik justru menganjurkan lebih dari 11 rakaát. Adapun nukilan Syaikh Al-Albani dari Imam Malik melalui jalur seorang ulama syafiíyah yang bernama al-Juuri, maka beliau (Syaikh Al-Albani) juga tidak bisa memastikan siapakah al-Juuri tersebut, karena banyak ulama yang bernisbahkan kepada al-Juuri. Setelah itu harus diketahui terlebih dahulu bagaimanakah kedudukan al-Juuri dikalangan para ulama. Demikian juga jika tentu penukilan tentang pendapat Imam Malik dari kitab-kitab ulama Malikiyah lebih kuat daripada yang dinukil dari seorang ulama bermadzhab syafií.Kedua : Ibnul Árobi, justru beliau menyatakan dengan tegas bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaatnya. Beliau berkata :وَلَيْسَ فِي قَدْرِ رَكْعَتِهَا حَدٌّ مَحْدُوْدٌ“Dan tidak ada batasan tertentu pada jumlah rakaát sholat malam” (Áaridhotul Ahwadzi 4/19) Adapun pernyataan Ibnul Árobi yang dinukil oleh Asy-Syaikh al-Albani maka maksudnya jika memang sholat malam itu ada batasannya maka ikutlah yang dilakukan oleh Nabi yaitu 11 rakaát. Akan tetapi telah jelas bahwa sebelumnya -di halaman yang sama- Ibnul Árobi telah menegaskan bahwa sholat malam tidak ada batasan jumlah rakaátnya.Ketiga : As-Shonáani, maka memang jelas beliau memandang bahwa “menganggap jumlah 20 rakaat sebagai sunnah” itulah yang bidáh. As-Shonáni berkata :نَعَمْ قِيَامُ رَمَضَانَ سُنَّةٌ بِلَا خِلَافٍ، وَالْجَمَاعَةُ فِي نَافِلَتِهِ لَا تُنْكَرُ وَقَدْ ائْتَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – وَغَيْرُهُ بِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكِنَّ جَعْلَ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ، وَالْكَمِّيَّةِ سُنَّةً، وَالْمُحَافَظَةَ عَلَيْهَا هُوَ الَّذِي نَقُولُ إنَّهُ بِدْعَةٌ“Memang benar bahwa sholat malam di bulan Ramadhan adalah sunnah tanpa ada khilaf, dan dikerjakan secara berjamaah adalah sunnah tidak diingkari -karena Ibnu Ibaas dan yang lainnya pernah bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam dalam sholat malam-. Akan tetapi menjadikan cara sholat dan jumlah (20 rakaat) sebagai sunnah (Nabi) dan kontinyu dalam malakukannya itulah yang kami katakan sebagai bidáh” (Subulus Salam 1/345)Yang perlu diperhatikan bahwa di Subulus Salam :Pertama : As-Shonáni membenarkan riwayat bahwa Umar mengumpulkan orang-orang untuk sholat 23 rakaát.Kedua : Beliau menekankan bahwa tidak hadits yang marfu’ (dari Nabi) bahwasanya Nabi sholat malam 23 raka’at, semua hadits yang datang tentang hal tersebut adalah dho’if. Ini yang menjadikan beliau menekankan bahwa menganggap sholat 20 rakaat sebagai sunnah adalah anggapan yang bid’ah.Ketiga : Meskipun beliau menetapkan bahwa 20 rakaat telah datang dari Umar bin Al-Khottob namun beliau memandang bahwa tidak wajib mengikuti Umar, yang wajib adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya 11 raka’at.Tentu pendapat As-Shon’ani ini kurang tepat, lagi pula beliau termasuk ulama mutaakhirin (belakangan) yang wafat di abad ke 12 Hijriyah.12 HR. Bukhari no 2031 dan Muslim no 175713 HR. Muslim dalam shahihnya no 74914 Shahih Ibn Khuzaimah no 1110, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh al-A’dzomi15 HR. Abu Dawud no : 1441, An-Nasa’I no : 1679, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no : 1101, Ibnu Hibban dalam shahihnya. Dishahihkan Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarat 8/156, Syaikh Al-Albani dalam shahih abu dawud 5/184.16 Sebagaimana penjelasan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/34917 HR. Abu Dawud no 1377 dan Nasa’i no 1364, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih wa dhaif Sunan Abu Dawud.18 HR. Ahmad no 17026, Nasa’I no 584 dan ini adalah lafadz beliau, Ibnu Majah 1251. Dishahihkan Ibnu Khuzaimah 260 dan Al-Hakim 583, Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 5/21 menshahihkan sanad hadits ini.19 Dzakhiratul ‘Uqba fi Syarh Al-Mujtaba 7/42320. Al-Istidzkar 2/6921 Al-Muwaththa no 25122 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 8/11423 At-Tamhid Ibnu Abdil Barr 2/6324 Hadits ini dikeluarkan oleh Ali bin Ja’ad dalam Musnad beliau no 2825, Al-Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496, Al-Firyabi dalam As-Shiyam 176.25 Adapun anggapan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah bahwa Al-Imam At-Tirmidzi mengisyaratkan akan dhoifnya atsar ini -dengan dalil bahwa At-Tirmidzi mengatakan dengan shighot at-tamriid رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ وَعُمَرَ وَغَيْرِهِمَا– maka anggapan ini kurang tepat. Hal ini karena banyak sekali di kitab Sunan At-Tirmidzi beliau menghikayahkan hadits-hadits yang shahih bahkan yang terdapat di shahihain dengan shighoh at-Tamriidh, dan tentu maksud beliau bukan untuk mengisyaratkan akan lemahnya tetapi hanya sekedar untuk menghikayatkan jalur-jalur periwayatan hadits.Misalnya At-Tirmidzi berkata :وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ“Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu álaihi wasallam bahwasanya beliau membaca surat at-Thuur di sholat magrib” (Sunan At-Tirimidzi 1/403).Padahal hadits tentang Nabi membaca surat at-Thuur di sholat maghrib diriwayatkan oleh Al-Bukhari no 4854. Demikian juga anggapan syaikh Al-Albani bahwasanya Al-Imam Asy-Syafií mendoifkan atsar Umar ini, beliau berdalil dengan perkataan Syafií yang dinukil oleh Al-Muzani di Mukhtashornya bahwasanya Syafií berkata : رُوِيَ عَنْ عُمَرَ “Diriwayatkan dari Umar”Maka berikut nukilan perkataan Asy-Syafií selengkapnya : فَأَمَّا قِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ فَصَلَاةُ الْمُنْفَرِدِ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْهُ وَرَأَيْتهمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَأَحَبُّ إلَيَّ عِشْرُونَ؛ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ، وَكَذَلِكَ يَقُومُونَ بِمَكَّةَ وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ“Adapun sholat malam di bulan Ramadhan maka sholat sendirian lebih aku sukai, dan aku melihat di Madinah mereka sholat malam 39 rakaát. Dan yang lebih aku sukai adalah 20 rakaát karena hal itu diriwayatkan dari Umar. Dan demikianlah mereka di Mekah sholat malam 20 rakaát dan mereka witir 3 rakaát”Maka sangat jelas dalam perkataan Asy-Syafií di atas justru beliau membenarkan atsar Umar, karena pada perkataan di atas beliau sedang berdalil dengan atsar Umar sehingga beliau lebih memilih sholat tarawih dengan 20 rakaát.Dan ternyata di Mukhtashor Al-Muzani banyak sekali perkataan Asy-Syafií dengan shighoh at-Tamriid akan tetapi riwayat yang beliau bawakan adalah shahih. Beliau menggunakan shighoh at-Tamriid hanya sekedar untuk menghikayatkan saja bukan bermaksud untuk mendhoifkan riwayat. Contohnya beliau berkata :وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُنْقَصَ عَمَّا رُوِيَ «عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ تَوَضَّأَ بِالْمُدِّ وَاغْتَسَلَ بِالصَّاعِ»“Dan aku suka agar air tidak kurang dari yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau berwudu dengan air seukuran mudd, dan beliau mandi dengan air seukuran shoo’”.Padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya no 325.26 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7770, Fadhail Ramadhan Ibnu Abi Dunya hlm. 79 no riwayat : 49. Sanad atsar ini sesuai dengan syarat (kriteria) Imam Muslim, dishahihkan Nawawi dalam Al-Majmu’ 4/32 dan Ibnul Iraqi di Tarhu At-Tatsrib 3/97.27 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 777128 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7773, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Ismail bin Abdul Malik dalam Mushannaf Abdurrazzaq no 7749, dan dengan makna yang sama dalam riwayat Musa bin Nafi’ dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/27129 HR. Baihaqi dalam Sunan beliau 2/496 no 4803, Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab beliau Ta’sisul Ahkam 2/287 mengatakan : Sanadnya shahih. 30 Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 4/70 31 At-Tarikh Al-Kabir 9/28 tarjamah no 23432 Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 7683 dengan sanad shahih. 33 Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata : أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu álaihi wasallam, semuanya takut akan kemunafikan atas dirinya”(Shahih Al-Bukhari 1/18).Diantara shahabat yang dijumpai oleh beliau adalah ; Aisyah, Asmaa’ binti Abi Bakar, Abu Mahdzuurah, Ibnu Ábbas, Abdullah bin Ámr, Ibnu Umar, Ibnu Az-Zubair, Úqbah bin al-Haarits, Ummu Salamah, Al-Miswar bin Al-Makhromah, dan Abdullah bin Ja’far. (Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 5/89-90)34 Majmu’ Fatawa 22/272 dan 23/11335 Nailul Authar 3/66, Dar Al-Hadits36 Al-Ikhtiyarat hlm. 6437 Majmu’ Al-Fatawa 23/113

Safinatun Najah: Masuk Ramadan dan Syarat Sah Puasa

Bagaimana masuk Ramadhan dan syarat sah puasa?   [KITAB PUASA] [Kapan Wajib Puasa?] يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِأحَدِ أمُوْرِ خَمْسَةٍ: أحَدُهَا: بِكَمَالِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمَاً. وَثَانِيْهَا: بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ فِيْ حَقِّ مَنْ رَآهُ، وَإنْ كَانَ فَاسِقاً. وَثَالِثُهَا: بِثُبُوْتِهِ فِيْ حَقِّ مَنْ لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ. وَرَابِعُهَا: بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ، سَوَاءٌ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ أمْ لاَ. أوْ غَيْرِ مَوْثُوْقٍ بِهِ، إِنْ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ. وَخَامِسُهَا: بِظَنِّ دُخُوْلِ رَمَضَانَ بِالاجْتِهَادِ فِيْمَن أشْتَبَهَ عَلَيْهِ ذَلِكَ. Fasal: Puasa Ramadan wajib dengan sebab salah satu dari 5 hal, yaitu [1] sempurnanya bilangan bulan Syakban 30 hari, [2] rukyatul hilal(melihat hilal) dengan kejujuran yang melihatnya meskipun orang fasik, [3] menetapkannya dengan kejujuran orang yang tidak melihatnya tetapi persaksiannya adil (jujur), [4] khabar dari riwayat orang adil yang terpercaya baik hatinya membenarkan atau tidak, atau tidak terpercaya tetapi hatinya membenarkannya, dan [5] dugaan masuknya Ramadan dengan ijtihad bagi yang tersamar akan hal tersebut (di atas).   [Syarat Sah Puasa] شَرُوطُ صِحَّتِهِ أرْبَعَةُ أشْيَاءَ: 1-إٍسْلاَمٌ. وَ2- عَقْلٌ. وَ3- نَقَاءٌ عَنْ نَحْوِ حَيْضٍ. وَ4- عِلْمٌ بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلاً لِلصَّوْمِ. Fasal: Syarat sah puasa ada 4, yaitu: [1] Islam, [2] berakal, [3] suci dari semisal haidh, dan [4] mengerti waktu puasa.   Mukadimah Pengertian Puasa Puasa secara bahasa berarti menahan diri (al-imsak) dari sesuatu. Hal ini masih bersifat umum, baik menahan diri dari makan dan minum atau berbicara. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26). Sedangkan secara istilah, puasa adalah: إِمْسَاكُ مَخْصُوْصٍ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوْصٍ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ “Menahan hal tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu pada waktu tertentu dengan memenuhi syarat tertentu.” (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248).   Dalil Kewajiban Puasa Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Kata ‘kutiba’ dalam ayat ini berarti diwajibkan. Yang diwajibkan secara khusus adalah puasa Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Al-Qur’an dalam ayat ini diterangkan sebagai petunjuk bagi manusia menuju jalan kebenaran. Al-Qur’an itu sendiri adalah sebagai petunjuk. Al-Qur’an juga petunjuk yang jelas dan sebagai pembimbing untuk membedakan yang halal dan haram. Al-Qur’an pun disebut Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang benar dan yang batil. Siapa yang menyaksikan hilal atau mendapatkan bukti adanya hilal ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar), maka hendaklah ia berpuasa. Dari hadits shahih, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Begitu pula yang mendukungnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada seorang Arab Badui. Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah bahwa orang Arab Badui pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun bertanya, أَخْبِرْنِى بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الصِّيَامِ قَالَ « شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا » “Kabarkanlah padaku mengenai puasa yang Allah wajibkan.” Rasul menjawab, “Yang wajib adalah puasa Ramadhan. Terserah setelah itu engkau mau menambah puasa sunnah lainnya.” (HR. Bukhari, no. 1891 dan Muslim, no. 11). Bahkan ada dukungan ijmak (konsensus ulama) yang menyatakan wajibnya puasa Ramadhan. (Lihat At-Tadzhib, hlm. 108 dan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248). Catatan Dalil Pertama: Penentuan awal Ramadan dengan rukyatul hilal atau bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Syakban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1900 dan Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Jika hilal tertutup bagi kalian, maka genapkan bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.”  (HR. Bukhari, no. 1907) Dalam Shahih Bukhari pada hadits Abu Hurairah disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari, no. 1909)   Kedua: Cukup satu orang saksi untuk penentuan awal Ramadan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ “Manusia sedang memperhatikan hilal. Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud, no. 2342; Ibnu Hibban, 8:231; Al-Hakim, 1:423. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, 6:236, Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’, 6:276; Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, 4:16. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:15) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang Arab Badui ada pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun berkata, إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا “Aku telah melihat hilal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?” Ia menjawab, “Iya.” “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?“, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kembali bertanya. Ia pun menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memerintah, “Suruhlah manusia wahai Bilal agar mereka besok berpuasa.” (HR. Abu Daud dalam Bab “Persaksian satu orang untuk rukyat hilal Ramadan”; Tirmidzi, no. 691; An-Nasai, 4:132; Ibnu Majah, no. 1452; Ibnu Khuzaimah, no. 1923; Ibnu Hibban, 8:229-230. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa hadits ini dikuatkan oleh hadits Ibnu ‘Umar sebelumnya yang sahih sehingga menjadi kuatlah hadits mursal ini).   Ketiga: Puasa bagi orang kafir Orang kafir tetap diseru untuk menjalankan syariat, di antaranya puasa. Akan tetapi ini dibebankan baginya di akhirat. Sedangkan jika di dunia, ia berpuasa sedangkan ia dalam keadaan kafir, maka puasanya tidaklah sah sama sekali. Karena puasa itu cabang dari iman dan akidah, dan butuh niat. Begitu juga orang yang murtad tidak sah puasanya ketika ia murtad. Namun ketika bertaubat dan masuk kembali dalam Islam, ia diminta untuk mengqadha puasa Ramadan yang pernah luput. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Keempat: Puasa bagi orang berakal dan hukum puasa bagi anak-anak Puasa tidaklah diwajibkan kecuali pada orang baligh dan berakal. Namun puasa tersebut sah dilakukan oleh anak kecil yang sudah tamyiz, yang sudah mencapai tujuh tahun. Adapun yang belum tamyiz, maka tidak sah puasanya walaupun ia berpuasa. Dalil bahwasanya anak kecil diajak puasa adalah hadits berikut ini. Dalam puasa, dari Rabi binti Mu’awwid radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusannya pada siang hari ‘Asyura (sepuluh Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya tidak berpuasa, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kami berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insya Allah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk   mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa.” (HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136). Adapun orang gila karena tidak disebut tamyiz dan berakal, tidaklah sah puasanya. Lihat bahasan Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Kelima: Wanita haidh tidak sah puasanya Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“ (HR. Muslim, no. 335) Syaikh Muhammad Az-Zuhaily berkata, “Syarat sahnya puasa adalah bebas dari haidh dan nifas walaupun satu bagian dari siang hari.” (Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172)   Keenam: Mengetahui waktu puasa Mengetahui waktu puasa, yaitu dengan masuknya bulan Ramadan berdasarkan rukyatul hilal atau menyempurnakan bulan Syakban menjadi 30 hari, sampai rukyatul hilal Syawal atau menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari. Juga waktu puasa adalah dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari sebagaimana ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172. Kesimpulan dari bahasan syarat sah puasa, Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al-Majmu’, “Syarat sahnya puasa ada empat: suci dari haidh dan nifas, Islam, tamyiz, dan masuk waktunya berpuasa.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, Tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, ‘Ali Syarji. Penerbit Darul Qalam. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i.Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Catatan Ramadhan #03 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsawal ramadhan cara masuk awal ramadhan hilal masuk awal ramadhan

Safinatun Najah: Masuk Ramadan dan Syarat Sah Puasa

Bagaimana masuk Ramadhan dan syarat sah puasa?   [KITAB PUASA] [Kapan Wajib Puasa?] يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِأحَدِ أمُوْرِ خَمْسَةٍ: أحَدُهَا: بِكَمَالِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمَاً. وَثَانِيْهَا: بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ فِيْ حَقِّ مَنْ رَآهُ، وَإنْ كَانَ فَاسِقاً. وَثَالِثُهَا: بِثُبُوْتِهِ فِيْ حَقِّ مَنْ لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ. وَرَابِعُهَا: بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ، سَوَاءٌ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ أمْ لاَ. أوْ غَيْرِ مَوْثُوْقٍ بِهِ، إِنْ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ. وَخَامِسُهَا: بِظَنِّ دُخُوْلِ رَمَضَانَ بِالاجْتِهَادِ فِيْمَن أشْتَبَهَ عَلَيْهِ ذَلِكَ. Fasal: Puasa Ramadan wajib dengan sebab salah satu dari 5 hal, yaitu [1] sempurnanya bilangan bulan Syakban 30 hari, [2] rukyatul hilal(melihat hilal) dengan kejujuran yang melihatnya meskipun orang fasik, [3] menetapkannya dengan kejujuran orang yang tidak melihatnya tetapi persaksiannya adil (jujur), [4] khabar dari riwayat orang adil yang terpercaya baik hatinya membenarkan atau tidak, atau tidak terpercaya tetapi hatinya membenarkannya, dan [5] dugaan masuknya Ramadan dengan ijtihad bagi yang tersamar akan hal tersebut (di atas).   [Syarat Sah Puasa] شَرُوطُ صِحَّتِهِ أرْبَعَةُ أشْيَاءَ: 1-إٍسْلاَمٌ. وَ2- عَقْلٌ. وَ3- نَقَاءٌ عَنْ نَحْوِ حَيْضٍ. وَ4- عِلْمٌ بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلاً لِلصَّوْمِ. Fasal: Syarat sah puasa ada 4, yaitu: [1] Islam, [2] berakal, [3] suci dari semisal haidh, dan [4] mengerti waktu puasa.   Mukadimah Pengertian Puasa Puasa secara bahasa berarti menahan diri (al-imsak) dari sesuatu. Hal ini masih bersifat umum, baik menahan diri dari makan dan minum atau berbicara. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26). Sedangkan secara istilah, puasa adalah: إِمْسَاكُ مَخْصُوْصٍ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوْصٍ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ “Menahan hal tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu pada waktu tertentu dengan memenuhi syarat tertentu.” (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248).   Dalil Kewajiban Puasa Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Kata ‘kutiba’ dalam ayat ini berarti diwajibkan. Yang diwajibkan secara khusus adalah puasa Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Al-Qur’an dalam ayat ini diterangkan sebagai petunjuk bagi manusia menuju jalan kebenaran. Al-Qur’an itu sendiri adalah sebagai petunjuk. Al-Qur’an juga petunjuk yang jelas dan sebagai pembimbing untuk membedakan yang halal dan haram. Al-Qur’an pun disebut Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang benar dan yang batil. Siapa yang menyaksikan hilal atau mendapatkan bukti adanya hilal ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar), maka hendaklah ia berpuasa. Dari hadits shahih, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Begitu pula yang mendukungnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada seorang Arab Badui. Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah bahwa orang Arab Badui pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun bertanya, أَخْبِرْنِى بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الصِّيَامِ قَالَ « شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا » “Kabarkanlah padaku mengenai puasa yang Allah wajibkan.” Rasul menjawab, “Yang wajib adalah puasa Ramadhan. Terserah setelah itu engkau mau menambah puasa sunnah lainnya.” (HR. Bukhari, no. 1891 dan Muslim, no. 11). Bahkan ada dukungan ijmak (konsensus ulama) yang menyatakan wajibnya puasa Ramadhan. (Lihat At-Tadzhib, hlm. 108 dan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248). Catatan Dalil Pertama: Penentuan awal Ramadan dengan rukyatul hilal atau bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Syakban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1900 dan Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Jika hilal tertutup bagi kalian, maka genapkan bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.”  (HR. Bukhari, no. 1907) Dalam Shahih Bukhari pada hadits Abu Hurairah disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari, no. 1909)   Kedua: Cukup satu orang saksi untuk penentuan awal Ramadan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ “Manusia sedang memperhatikan hilal. Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud, no. 2342; Ibnu Hibban, 8:231; Al-Hakim, 1:423. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, 6:236, Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’, 6:276; Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, 4:16. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:15) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang Arab Badui ada pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun berkata, إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا “Aku telah melihat hilal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?” Ia menjawab, “Iya.” “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?“, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kembali bertanya. Ia pun menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memerintah, “Suruhlah manusia wahai Bilal agar mereka besok berpuasa.” (HR. Abu Daud dalam Bab “Persaksian satu orang untuk rukyat hilal Ramadan”; Tirmidzi, no. 691; An-Nasai, 4:132; Ibnu Majah, no. 1452; Ibnu Khuzaimah, no. 1923; Ibnu Hibban, 8:229-230. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa hadits ini dikuatkan oleh hadits Ibnu ‘Umar sebelumnya yang sahih sehingga menjadi kuatlah hadits mursal ini).   Ketiga: Puasa bagi orang kafir Orang kafir tetap diseru untuk menjalankan syariat, di antaranya puasa. Akan tetapi ini dibebankan baginya di akhirat. Sedangkan jika di dunia, ia berpuasa sedangkan ia dalam keadaan kafir, maka puasanya tidaklah sah sama sekali. Karena puasa itu cabang dari iman dan akidah, dan butuh niat. Begitu juga orang yang murtad tidak sah puasanya ketika ia murtad. Namun ketika bertaubat dan masuk kembali dalam Islam, ia diminta untuk mengqadha puasa Ramadan yang pernah luput. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Keempat: Puasa bagi orang berakal dan hukum puasa bagi anak-anak Puasa tidaklah diwajibkan kecuali pada orang baligh dan berakal. Namun puasa tersebut sah dilakukan oleh anak kecil yang sudah tamyiz, yang sudah mencapai tujuh tahun. Adapun yang belum tamyiz, maka tidak sah puasanya walaupun ia berpuasa. Dalil bahwasanya anak kecil diajak puasa adalah hadits berikut ini. Dalam puasa, dari Rabi binti Mu’awwid radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusannya pada siang hari ‘Asyura (sepuluh Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya tidak berpuasa, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kami berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insya Allah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk   mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa.” (HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136). Adapun orang gila karena tidak disebut tamyiz dan berakal, tidaklah sah puasanya. Lihat bahasan Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Kelima: Wanita haidh tidak sah puasanya Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“ (HR. Muslim, no. 335) Syaikh Muhammad Az-Zuhaily berkata, “Syarat sahnya puasa adalah bebas dari haidh dan nifas walaupun satu bagian dari siang hari.” (Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172)   Keenam: Mengetahui waktu puasa Mengetahui waktu puasa, yaitu dengan masuknya bulan Ramadan berdasarkan rukyatul hilal atau menyempurnakan bulan Syakban menjadi 30 hari, sampai rukyatul hilal Syawal atau menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari. Juga waktu puasa adalah dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari sebagaimana ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172. Kesimpulan dari bahasan syarat sah puasa, Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al-Majmu’, “Syarat sahnya puasa ada empat: suci dari haidh dan nifas, Islam, tamyiz, dan masuk waktunya berpuasa.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, Tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, ‘Ali Syarji. Penerbit Darul Qalam. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i.Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Catatan Ramadhan #03 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsawal ramadhan cara masuk awal ramadhan hilal masuk awal ramadhan
Bagaimana masuk Ramadhan dan syarat sah puasa?   [KITAB PUASA] [Kapan Wajib Puasa?] يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِأحَدِ أمُوْرِ خَمْسَةٍ: أحَدُهَا: بِكَمَالِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمَاً. وَثَانِيْهَا: بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ فِيْ حَقِّ مَنْ رَآهُ، وَإنْ كَانَ فَاسِقاً. وَثَالِثُهَا: بِثُبُوْتِهِ فِيْ حَقِّ مَنْ لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ. وَرَابِعُهَا: بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ، سَوَاءٌ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ أمْ لاَ. أوْ غَيْرِ مَوْثُوْقٍ بِهِ، إِنْ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ. وَخَامِسُهَا: بِظَنِّ دُخُوْلِ رَمَضَانَ بِالاجْتِهَادِ فِيْمَن أشْتَبَهَ عَلَيْهِ ذَلِكَ. Fasal: Puasa Ramadan wajib dengan sebab salah satu dari 5 hal, yaitu [1] sempurnanya bilangan bulan Syakban 30 hari, [2] rukyatul hilal(melihat hilal) dengan kejujuran yang melihatnya meskipun orang fasik, [3] menetapkannya dengan kejujuran orang yang tidak melihatnya tetapi persaksiannya adil (jujur), [4] khabar dari riwayat orang adil yang terpercaya baik hatinya membenarkan atau tidak, atau tidak terpercaya tetapi hatinya membenarkannya, dan [5] dugaan masuknya Ramadan dengan ijtihad bagi yang tersamar akan hal tersebut (di atas).   [Syarat Sah Puasa] شَرُوطُ صِحَّتِهِ أرْبَعَةُ أشْيَاءَ: 1-إٍسْلاَمٌ. وَ2- عَقْلٌ. وَ3- نَقَاءٌ عَنْ نَحْوِ حَيْضٍ. وَ4- عِلْمٌ بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلاً لِلصَّوْمِ. Fasal: Syarat sah puasa ada 4, yaitu: [1] Islam, [2] berakal, [3] suci dari semisal haidh, dan [4] mengerti waktu puasa.   Mukadimah Pengertian Puasa Puasa secara bahasa berarti menahan diri (al-imsak) dari sesuatu. Hal ini masih bersifat umum, baik menahan diri dari makan dan minum atau berbicara. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26). Sedangkan secara istilah, puasa adalah: إِمْسَاكُ مَخْصُوْصٍ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوْصٍ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ “Menahan hal tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu pada waktu tertentu dengan memenuhi syarat tertentu.” (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248).   Dalil Kewajiban Puasa Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Kata ‘kutiba’ dalam ayat ini berarti diwajibkan. Yang diwajibkan secara khusus adalah puasa Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Al-Qur’an dalam ayat ini diterangkan sebagai petunjuk bagi manusia menuju jalan kebenaran. Al-Qur’an itu sendiri adalah sebagai petunjuk. Al-Qur’an juga petunjuk yang jelas dan sebagai pembimbing untuk membedakan yang halal dan haram. Al-Qur’an pun disebut Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang benar dan yang batil. Siapa yang menyaksikan hilal atau mendapatkan bukti adanya hilal ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar), maka hendaklah ia berpuasa. Dari hadits shahih, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Begitu pula yang mendukungnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada seorang Arab Badui. Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah bahwa orang Arab Badui pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun bertanya, أَخْبِرْنِى بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الصِّيَامِ قَالَ « شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا » “Kabarkanlah padaku mengenai puasa yang Allah wajibkan.” Rasul menjawab, “Yang wajib adalah puasa Ramadhan. Terserah setelah itu engkau mau menambah puasa sunnah lainnya.” (HR. Bukhari, no. 1891 dan Muslim, no. 11). Bahkan ada dukungan ijmak (konsensus ulama) yang menyatakan wajibnya puasa Ramadhan. (Lihat At-Tadzhib, hlm. 108 dan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248). Catatan Dalil Pertama: Penentuan awal Ramadan dengan rukyatul hilal atau bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Syakban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1900 dan Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Jika hilal tertutup bagi kalian, maka genapkan bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.”  (HR. Bukhari, no. 1907) Dalam Shahih Bukhari pada hadits Abu Hurairah disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari, no. 1909)   Kedua: Cukup satu orang saksi untuk penentuan awal Ramadan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ “Manusia sedang memperhatikan hilal. Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud, no. 2342; Ibnu Hibban, 8:231; Al-Hakim, 1:423. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, 6:236, Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’, 6:276; Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, 4:16. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:15) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang Arab Badui ada pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun berkata, إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا “Aku telah melihat hilal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?” Ia menjawab, “Iya.” “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?“, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kembali bertanya. Ia pun menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memerintah, “Suruhlah manusia wahai Bilal agar mereka besok berpuasa.” (HR. Abu Daud dalam Bab “Persaksian satu orang untuk rukyat hilal Ramadan”; Tirmidzi, no. 691; An-Nasai, 4:132; Ibnu Majah, no. 1452; Ibnu Khuzaimah, no. 1923; Ibnu Hibban, 8:229-230. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa hadits ini dikuatkan oleh hadits Ibnu ‘Umar sebelumnya yang sahih sehingga menjadi kuatlah hadits mursal ini).   Ketiga: Puasa bagi orang kafir Orang kafir tetap diseru untuk menjalankan syariat, di antaranya puasa. Akan tetapi ini dibebankan baginya di akhirat. Sedangkan jika di dunia, ia berpuasa sedangkan ia dalam keadaan kafir, maka puasanya tidaklah sah sama sekali. Karena puasa itu cabang dari iman dan akidah, dan butuh niat. Begitu juga orang yang murtad tidak sah puasanya ketika ia murtad. Namun ketika bertaubat dan masuk kembali dalam Islam, ia diminta untuk mengqadha puasa Ramadan yang pernah luput. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Keempat: Puasa bagi orang berakal dan hukum puasa bagi anak-anak Puasa tidaklah diwajibkan kecuali pada orang baligh dan berakal. Namun puasa tersebut sah dilakukan oleh anak kecil yang sudah tamyiz, yang sudah mencapai tujuh tahun. Adapun yang belum tamyiz, maka tidak sah puasanya walaupun ia berpuasa. Dalil bahwasanya anak kecil diajak puasa adalah hadits berikut ini. Dalam puasa, dari Rabi binti Mu’awwid radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusannya pada siang hari ‘Asyura (sepuluh Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya tidak berpuasa, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kami berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insya Allah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk   mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa.” (HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136). Adapun orang gila karena tidak disebut tamyiz dan berakal, tidaklah sah puasanya. Lihat bahasan Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Kelima: Wanita haidh tidak sah puasanya Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“ (HR. Muslim, no. 335) Syaikh Muhammad Az-Zuhaily berkata, “Syarat sahnya puasa adalah bebas dari haidh dan nifas walaupun satu bagian dari siang hari.” (Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172)   Keenam: Mengetahui waktu puasa Mengetahui waktu puasa, yaitu dengan masuknya bulan Ramadan berdasarkan rukyatul hilal atau menyempurnakan bulan Syakban menjadi 30 hari, sampai rukyatul hilal Syawal atau menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari. Juga waktu puasa adalah dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari sebagaimana ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172. Kesimpulan dari bahasan syarat sah puasa, Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al-Majmu’, “Syarat sahnya puasa ada empat: suci dari haidh dan nifas, Islam, tamyiz, dan masuk waktunya berpuasa.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, Tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, ‘Ali Syarji. Penerbit Darul Qalam. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i.Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Catatan Ramadhan #03 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsawal ramadhan cara masuk awal ramadhan hilal masuk awal ramadhan


Bagaimana masuk Ramadhan dan syarat sah puasa?   [KITAB PUASA] [Kapan Wajib Puasa?] يَجِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِأحَدِ أمُوْرِ خَمْسَةٍ: أحَدُهَا: بِكَمَالِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمَاً. وَثَانِيْهَا: بِرُؤْيَةِ الْهِلاَلِ فِيْ حَقِّ مَنْ رَآهُ، وَإنْ كَانَ فَاسِقاً. وَثَالِثُهَا: بِثُبُوْتِهِ فِيْ حَقِّ مَنْ لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ. وَرَابِعُهَا: بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ، سَوَاءٌ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ أمْ لاَ. أوْ غَيْرِ مَوْثُوْقٍ بِهِ، إِنْ وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ صِدْقُهُ. وَخَامِسُهَا: بِظَنِّ دُخُوْلِ رَمَضَانَ بِالاجْتِهَادِ فِيْمَن أشْتَبَهَ عَلَيْهِ ذَلِكَ. Fasal: Puasa Ramadan wajib dengan sebab salah satu dari 5 hal, yaitu [1] sempurnanya bilangan bulan Syakban 30 hari, [2] rukyatul hilal(melihat hilal) dengan kejujuran yang melihatnya meskipun orang fasik, [3] menetapkannya dengan kejujuran orang yang tidak melihatnya tetapi persaksiannya adil (jujur), [4] khabar dari riwayat orang adil yang terpercaya baik hatinya membenarkan atau tidak, atau tidak terpercaya tetapi hatinya membenarkannya, dan [5] dugaan masuknya Ramadan dengan ijtihad bagi yang tersamar akan hal tersebut (di atas).   [Syarat Sah Puasa] شَرُوطُ صِحَّتِهِ أرْبَعَةُ أشْيَاءَ: 1-إٍسْلاَمٌ. وَ2- عَقْلٌ. وَ3- نَقَاءٌ عَنْ نَحْوِ حَيْضٍ. وَ4- عِلْمٌ بِكَوْنِ الْوَقْتِ قَابِلاً لِلصَّوْمِ. Fasal: Syarat sah puasa ada 4, yaitu: [1] Islam, [2] berakal, [3] suci dari semisal haidh, dan [4] mengerti waktu puasa.   Mukadimah Pengertian Puasa Puasa secara bahasa berarti menahan diri (al-imsak) dari sesuatu. Hal ini masih bersifat umum, baik menahan diri dari makan dan minum atau berbicara. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang Maryam, إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26). Sedangkan secara istilah, puasa adalah: إِمْسَاكُ مَخْصُوْصٍ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوْصٍ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ “Menahan hal tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu pada waktu tertentu dengan memenuhi syarat tertentu.” (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248).   Dalil Kewajiban Puasa Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Kata ‘kutiba’ dalam ayat ini berarti diwajibkan. Yang diwajibkan secara khusus adalah puasa Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185). Al-Qur’an dalam ayat ini diterangkan sebagai petunjuk bagi manusia menuju jalan kebenaran. Al-Qur’an itu sendiri adalah sebagai petunjuk. Al-Qur’an juga petunjuk yang jelas dan sebagai pembimbing untuk membedakan yang halal dan haram. Al-Qur’an pun disebut Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang benar dan yang batil. Siapa yang menyaksikan hilal atau mendapatkan bukti adanya hilal ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar), maka hendaklah ia berpuasa. Dari hadits shahih, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji, (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16). Begitu pula yang mendukungnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada seorang Arab Badui. Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah bahwa orang Arab Badui pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun bertanya, أَخْبِرْنِى بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَىَّ مِنَ الصِّيَامِ قَالَ « شَهْرَ رَمَضَانَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا » “Kabarkanlah padaku mengenai puasa yang Allah wajibkan.” Rasul menjawab, “Yang wajib adalah puasa Ramadhan. Terserah setelah itu engkau mau menambah puasa sunnah lainnya.” (HR. Bukhari, no. 1891 dan Muslim, no. 11). Bahkan ada dukungan ijmak (konsensus ulama) yang menyatakan wajibnya puasa Ramadhan. (Lihat At-Tadzhib, hlm. 108 dan Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248). Catatan Dalil Pertama: Penentuan awal Ramadan dengan rukyatul hilal atau bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Syakban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1900 dan Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Jika hilal tertutup bagi kalian, maka genapkan bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Muslim, no. 1080) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.”  (HR. Bukhari, no. 1907) Dalam Shahih Bukhari pada hadits Abu Hurairah disebutkan, “Genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari, no. 1909)   Kedua: Cukup satu orang saksi untuk penentuan awal Ramadan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ “Manusia sedang memperhatikan hilal. Lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihat hilal. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud, no. 2342; Ibnu Hibban, 8:231; Al-Hakim, 1:423. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, 6:236, Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’, 6:276; Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, 4:16. Lihat Minhah Al-‘Allam, 5:15) Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang Arab Badui ada pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun berkata, إِنِّي رَأَيْتُ اَلْهِلَالَ, فَقَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اَللَّهِ? ” قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَذِّنْ فِي اَلنَّاسِ يَا بِلَالُ أَنْ يَصُومُوا غَدًا “Aku telah melihat hilal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?” Ia menjawab, “Iya.” “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?“, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kembali bertanya. Ia pun menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun memerintah, “Suruhlah manusia wahai Bilal agar mereka besok berpuasa.” (HR. Abu Daud dalam Bab “Persaksian satu orang untuk rukyat hilal Ramadan”; Tirmidzi, no. 691; An-Nasai, 4:132; Ibnu Majah, no. 1452; Ibnu Khuzaimah, no. 1923; Ibnu Hibban, 8:229-230. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa hadits ini dikuatkan oleh hadits Ibnu ‘Umar sebelumnya yang sahih sehingga menjadi kuatlah hadits mursal ini).   Ketiga: Puasa bagi orang kafir Orang kafir tetap diseru untuk menjalankan syariat, di antaranya puasa. Akan tetapi ini dibebankan baginya di akhirat. Sedangkan jika di dunia, ia berpuasa sedangkan ia dalam keadaan kafir, maka puasanya tidaklah sah sama sekali. Karena puasa itu cabang dari iman dan akidah, dan butuh niat. Begitu juga orang yang murtad tidak sah puasanya ketika ia murtad. Namun ketika bertaubat dan masuk kembali dalam Islam, ia diminta untuk mengqadha puasa Ramadan yang pernah luput. Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Keempat: Puasa bagi orang berakal dan hukum puasa bagi anak-anak Puasa tidaklah diwajibkan kecuali pada orang baligh dan berakal. Namun puasa tersebut sah dilakukan oleh anak kecil yang sudah tamyiz, yang sudah mencapai tujuh tahun. Adapun yang belum tamyiz, maka tidak sah puasanya walaupun ia berpuasa. Dalil bahwasanya anak kecil diajak puasa adalah hadits berikut ini. Dalam puasa, dari Rabi binti Mu’awwid radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusannya pada siang hari ‘Asyura (sepuluh Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya tidak berpuasa, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kami berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insya Allah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk   mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa.” (HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136). Adapun orang gila karena tidak disebut tamyiz dan berakal, tidaklah sah puasanya. Lihat bahasan Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172.   Kelima: Wanita haidh tidak sah puasanya Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab, كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.“ (HR. Muslim, no. 335) Syaikh Muhammad Az-Zuhaily berkata, “Syarat sahnya puasa adalah bebas dari haidh dan nifas walaupun satu bagian dari siang hari.” (Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172)   Keenam: Mengetahui waktu puasa Mengetahui waktu puasa, yaitu dengan masuknya bulan Ramadan berdasarkan rukyatul hilal atau menyempurnakan bulan Syakban menjadi 30 hari, sampai rukyatul hilal Syawal atau menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari. Juga waktu puasa adalah dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari sebagaimana ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187). Lihat Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i, 2:172. Kesimpulan dari bahasan syarat sah puasa, Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al-Majmu’, “Syarat sahnya puasa ada empat: suci dari haidh dan nifas, Islam, tamyiz, dan masuk waktunya berpuasa.” Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i. Cetakan kesepuluh, Tahun 1430 H. Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, ‘Ali Syarji. Penerbit Darul Qalam. Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i.Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.     Catatan Ramadhan #03 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsawal ramadhan cara masuk awal ramadhan hilal masuk awal ramadhan

Tafsir Ayat Puasa (13): Akhirnya Dibolehkan Hubungan Intim di Malam Hari Ramadhan

Akhirnya dibolehkan hubungan intim (suami-istri) pada malam hari Ramadhan setelah sebelumnya dilarang sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 187 yang dibahas kali ini.   Malam hari dibolehkan hubungan intim, ini asal hukumnya dari surah Al-Baqarah ayat 187.   Ada yang Melanggar   Allah Ta’ala berfirman, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 187). Artinya, Allah tahu bahwa kalian telah melanggar dengan berjimak di malam hari Ramadhan, padahal kalian dilarang. Pahala kalian jadinya berkurang. Allah lantas mengampuni kalian dengan memberikan kelapangan (bentuknya dihapuskannya hukum larangan hubungan intim di malam hari) sehingga kalian tidak terkena dosa. Maka penghapusan hukum (nasakh) larangan hubugan intim di malam hari adalah suatu rahmat. Seandainya hukum larangan tersebut tidak dihapus, tentu banyak manusia yang akan terjerumus dalam yang haram. Allah memberi maaf pada kalian, maksudnya menghapuskan dosa-dosa kalian, dimaafkan dan tidak dikenakan hukuman.   Malam Hari Ramadhan Boleh Bercumbu (Mubasyarah)   Dalam ayat disebutkan, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” Ayat ini berisi perintah, namun menunjukkan ibahah (hukum boleh). Karena perintah tersebut datang setelah pengharaman.   Faedah dari Ilmu Ushul   Yang jelas menurut para ulama ushul, hukum asal al-amr (perintah) menunjukkan wajib, selama tidak ada yang memalingkan keluar dari itu. Jika datang kalimat al-amr (perintah) setelah adanya larangan, para ulama berselisih pendapat. Pendapat pertama: Kalimat perintah tersebut bermakna wajib, inilah madzhab Ibnu Hazm serta sebagian ulama Malikiyah dan Syafi’iyah. Pendapat kedua: Kalimat perintah tersebut dimaknakan mubah (boleh), inilah pendapat kebanyakan ulama. Pendapat ketiga: Kalimat perintah terseebut dimaknakan dengan makan sebelum dilarang. Jika sebelum dilarang dihukumi mubah (boleh), berarti dihukumi boleh. Jika sebelum dilarang dihukumi wajib, berarti dihukumi wajib. Ibnu Katsir rahimahullah sendiri cenderung pada pendapat ketiga, beliau rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan surah Al-Maidah ayat kedua “وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ” (dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu), وَهَذَا أَمُرٌ بَعْدَ الْحَظْرِ ، وَالصَّحِيحُ الَّذِي يَثْبُتُ عَلَى السَّبْر : أَنَّهُ يَرُد الْحُكْمَ إِلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ النَّهْيِ ، فَإِنْ كَانَ وَاجِبًا رَدَّهُ وَاجِبًا ، وَإِنْ كَانَ مُسْتَحَبًّا فَمُسْتَحَبٌّ ، أَوْ مُبَاحًا فَمُبَاحٌ. “Ini adalah perintah (berburu) setelah sebelumnya ada larangan. Yang benar, setelah penelitian lebih jauh, hukum perintah tadi kembali pada hukum sebelum dilarang. Jika hukum sebelum dilarang itu wajib, maka dihukumi wajib. Jika hukum sebelumnya adalah sunnah, maka dihukumi sunnah. Jika hukum sebelumnya mubah, maka dihukumi mubah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:300) Berarti dalam kasus yang kita pelajari, perintah hubungan intim pada malam hari Ramadhan dihukumi apa? Karena ketika awal puasa dahulu dilarang hubungan intim, maka kembali ke hukum sebelum dilarang. Hukum asal hubungan intim adalah mubah, berarti hubungan intim di malam hari Ramadhan dihukumi mubah. Semoga bermanfaat. Insya Allah masih berlanjut pada faedah lainnya.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual Wa Jawab. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. https://islamqa.info/ar/answers/223240 Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #02 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa larangan puasa pembatal puasa seks tafsir ayat puasa

Tafsir Ayat Puasa (13): Akhirnya Dibolehkan Hubungan Intim di Malam Hari Ramadhan

Akhirnya dibolehkan hubungan intim (suami-istri) pada malam hari Ramadhan setelah sebelumnya dilarang sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 187 yang dibahas kali ini.   Malam hari dibolehkan hubungan intim, ini asal hukumnya dari surah Al-Baqarah ayat 187.   Ada yang Melanggar   Allah Ta’ala berfirman, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 187). Artinya, Allah tahu bahwa kalian telah melanggar dengan berjimak di malam hari Ramadhan, padahal kalian dilarang. Pahala kalian jadinya berkurang. Allah lantas mengampuni kalian dengan memberikan kelapangan (bentuknya dihapuskannya hukum larangan hubungan intim di malam hari) sehingga kalian tidak terkena dosa. Maka penghapusan hukum (nasakh) larangan hubugan intim di malam hari adalah suatu rahmat. Seandainya hukum larangan tersebut tidak dihapus, tentu banyak manusia yang akan terjerumus dalam yang haram. Allah memberi maaf pada kalian, maksudnya menghapuskan dosa-dosa kalian, dimaafkan dan tidak dikenakan hukuman.   Malam Hari Ramadhan Boleh Bercumbu (Mubasyarah)   Dalam ayat disebutkan, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” Ayat ini berisi perintah, namun menunjukkan ibahah (hukum boleh). Karena perintah tersebut datang setelah pengharaman.   Faedah dari Ilmu Ushul   Yang jelas menurut para ulama ushul, hukum asal al-amr (perintah) menunjukkan wajib, selama tidak ada yang memalingkan keluar dari itu. Jika datang kalimat al-amr (perintah) setelah adanya larangan, para ulama berselisih pendapat. Pendapat pertama: Kalimat perintah tersebut bermakna wajib, inilah madzhab Ibnu Hazm serta sebagian ulama Malikiyah dan Syafi’iyah. Pendapat kedua: Kalimat perintah tersebut dimaknakan mubah (boleh), inilah pendapat kebanyakan ulama. Pendapat ketiga: Kalimat perintah terseebut dimaknakan dengan makan sebelum dilarang. Jika sebelum dilarang dihukumi mubah (boleh), berarti dihukumi boleh. Jika sebelum dilarang dihukumi wajib, berarti dihukumi wajib. Ibnu Katsir rahimahullah sendiri cenderung pada pendapat ketiga, beliau rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan surah Al-Maidah ayat kedua “وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ” (dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu), وَهَذَا أَمُرٌ بَعْدَ الْحَظْرِ ، وَالصَّحِيحُ الَّذِي يَثْبُتُ عَلَى السَّبْر : أَنَّهُ يَرُد الْحُكْمَ إِلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ النَّهْيِ ، فَإِنْ كَانَ وَاجِبًا رَدَّهُ وَاجِبًا ، وَإِنْ كَانَ مُسْتَحَبًّا فَمُسْتَحَبٌّ ، أَوْ مُبَاحًا فَمُبَاحٌ. “Ini adalah perintah (berburu) setelah sebelumnya ada larangan. Yang benar, setelah penelitian lebih jauh, hukum perintah tadi kembali pada hukum sebelum dilarang. Jika hukum sebelum dilarang itu wajib, maka dihukumi wajib. Jika hukum sebelumnya adalah sunnah, maka dihukumi sunnah. Jika hukum sebelumnya mubah, maka dihukumi mubah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:300) Berarti dalam kasus yang kita pelajari, perintah hubungan intim pada malam hari Ramadhan dihukumi apa? Karena ketika awal puasa dahulu dilarang hubungan intim, maka kembali ke hukum sebelum dilarang. Hukum asal hubungan intim adalah mubah, berarti hubungan intim di malam hari Ramadhan dihukumi mubah. Semoga bermanfaat. Insya Allah masih berlanjut pada faedah lainnya.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual Wa Jawab. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. https://islamqa.info/ar/answers/223240 Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #02 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa larangan puasa pembatal puasa seks tafsir ayat puasa
Akhirnya dibolehkan hubungan intim (suami-istri) pada malam hari Ramadhan setelah sebelumnya dilarang sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 187 yang dibahas kali ini.   Malam hari dibolehkan hubungan intim, ini asal hukumnya dari surah Al-Baqarah ayat 187.   Ada yang Melanggar   Allah Ta’ala berfirman, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 187). Artinya, Allah tahu bahwa kalian telah melanggar dengan berjimak di malam hari Ramadhan, padahal kalian dilarang. Pahala kalian jadinya berkurang. Allah lantas mengampuni kalian dengan memberikan kelapangan (bentuknya dihapuskannya hukum larangan hubungan intim di malam hari) sehingga kalian tidak terkena dosa. Maka penghapusan hukum (nasakh) larangan hubugan intim di malam hari adalah suatu rahmat. Seandainya hukum larangan tersebut tidak dihapus, tentu banyak manusia yang akan terjerumus dalam yang haram. Allah memberi maaf pada kalian, maksudnya menghapuskan dosa-dosa kalian, dimaafkan dan tidak dikenakan hukuman.   Malam Hari Ramadhan Boleh Bercumbu (Mubasyarah)   Dalam ayat disebutkan, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” Ayat ini berisi perintah, namun menunjukkan ibahah (hukum boleh). Karena perintah tersebut datang setelah pengharaman.   Faedah dari Ilmu Ushul   Yang jelas menurut para ulama ushul, hukum asal al-amr (perintah) menunjukkan wajib, selama tidak ada yang memalingkan keluar dari itu. Jika datang kalimat al-amr (perintah) setelah adanya larangan, para ulama berselisih pendapat. Pendapat pertama: Kalimat perintah tersebut bermakna wajib, inilah madzhab Ibnu Hazm serta sebagian ulama Malikiyah dan Syafi’iyah. Pendapat kedua: Kalimat perintah tersebut dimaknakan mubah (boleh), inilah pendapat kebanyakan ulama. Pendapat ketiga: Kalimat perintah terseebut dimaknakan dengan makan sebelum dilarang. Jika sebelum dilarang dihukumi mubah (boleh), berarti dihukumi boleh. Jika sebelum dilarang dihukumi wajib, berarti dihukumi wajib. Ibnu Katsir rahimahullah sendiri cenderung pada pendapat ketiga, beliau rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan surah Al-Maidah ayat kedua “وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ” (dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu), وَهَذَا أَمُرٌ بَعْدَ الْحَظْرِ ، وَالصَّحِيحُ الَّذِي يَثْبُتُ عَلَى السَّبْر : أَنَّهُ يَرُد الْحُكْمَ إِلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ النَّهْيِ ، فَإِنْ كَانَ وَاجِبًا رَدَّهُ وَاجِبًا ، وَإِنْ كَانَ مُسْتَحَبًّا فَمُسْتَحَبٌّ ، أَوْ مُبَاحًا فَمُبَاحٌ. “Ini adalah perintah (berburu) setelah sebelumnya ada larangan. Yang benar, setelah penelitian lebih jauh, hukum perintah tadi kembali pada hukum sebelum dilarang. Jika hukum sebelum dilarang itu wajib, maka dihukumi wajib. Jika hukum sebelumnya adalah sunnah, maka dihukumi sunnah. Jika hukum sebelumnya mubah, maka dihukumi mubah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:300) Berarti dalam kasus yang kita pelajari, perintah hubungan intim pada malam hari Ramadhan dihukumi apa? Karena ketika awal puasa dahulu dilarang hubungan intim, maka kembali ke hukum sebelum dilarang. Hukum asal hubungan intim adalah mubah, berarti hubungan intim di malam hari Ramadhan dihukumi mubah. Semoga bermanfaat. Insya Allah masih berlanjut pada faedah lainnya.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual Wa Jawab. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. https://islamqa.info/ar/answers/223240 Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #02 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa larangan puasa pembatal puasa seks tafsir ayat puasa


Akhirnya dibolehkan hubungan intim (suami-istri) pada malam hari Ramadhan setelah sebelumnya dilarang sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 187 yang dibahas kali ini.   Malam hari dibolehkan hubungan intim, ini asal hukumnya dari surah Al-Baqarah ayat 187.   Ada yang Melanggar   Allah Ta’ala berfirman, عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 187). Artinya, Allah tahu bahwa kalian telah melanggar dengan berjimak di malam hari Ramadhan, padahal kalian dilarang. Pahala kalian jadinya berkurang. Allah lantas mengampuni kalian dengan memberikan kelapangan (bentuknya dihapuskannya hukum larangan hubungan intim di malam hari) sehingga kalian tidak terkena dosa. Maka penghapusan hukum (nasakh) larangan hubugan intim di malam hari adalah suatu rahmat. Seandainya hukum larangan tersebut tidak dihapus, tentu banyak manusia yang akan terjerumus dalam yang haram. Allah memberi maaf pada kalian, maksudnya menghapuskan dosa-dosa kalian, dimaafkan dan tidak dikenakan hukuman.   Malam Hari Ramadhan Boleh Bercumbu (Mubasyarah)   Dalam ayat disebutkan, فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” Ayat ini berisi perintah, namun menunjukkan ibahah (hukum boleh). Karena perintah tersebut datang setelah pengharaman.   Faedah dari Ilmu Ushul   Yang jelas menurut para ulama ushul, hukum asal al-amr (perintah) menunjukkan wajib, selama tidak ada yang memalingkan keluar dari itu. Jika datang kalimat al-amr (perintah) setelah adanya larangan, para ulama berselisih pendapat. Pendapat pertama: Kalimat perintah tersebut bermakna wajib, inilah madzhab Ibnu Hazm serta sebagian ulama Malikiyah dan Syafi’iyah. Pendapat kedua: Kalimat perintah tersebut dimaknakan mubah (boleh), inilah pendapat kebanyakan ulama. Pendapat ketiga: Kalimat perintah terseebut dimaknakan dengan makan sebelum dilarang. Jika sebelum dilarang dihukumi mubah (boleh), berarti dihukumi boleh. Jika sebelum dilarang dihukumi wajib, berarti dihukumi wajib. Ibnu Katsir rahimahullah sendiri cenderung pada pendapat ketiga, beliau rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan surah Al-Maidah ayat kedua “وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ” (dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu), وَهَذَا أَمُرٌ بَعْدَ الْحَظْرِ ، وَالصَّحِيحُ الَّذِي يَثْبُتُ عَلَى السَّبْر : أَنَّهُ يَرُد الْحُكْمَ إِلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ قَبْلَ النَّهْيِ ، فَإِنْ كَانَ وَاجِبًا رَدَّهُ وَاجِبًا ، وَإِنْ كَانَ مُسْتَحَبًّا فَمُسْتَحَبٌّ ، أَوْ مُبَاحًا فَمُبَاحٌ. “Ini adalah perintah (berburu) setelah sebelumnya ada larangan. Yang benar, setelah penelitian lebih jauh, hukum perintah tadi kembali pada hukum sebelum dilarang. Jika hukum sebelum dilarang itu wajib, maka dihukumi wajib. Jika hukum sebelumnya adalah sunnah, maka dihukumi sunnah. Jika hukum sebelumnya mubah, maka dihukumi mubah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:300) Berarti dalam kasus yang kita pelajari, perintah hubungan intim pada malam hari Ramadhan dihukumi apa? Karena ketika awal puasa dahulu dilarang hubungan intim, maka kembali ke hukum sebelum dilarang. Hukum asal hubungan intim adalah mubah, berarti hubungan intim di malam hari Ramadhan dihukumi mubah. Semoga bermanfaat. Insya Allah masih berlanjut pada faedah lainnya.   Referensi: Fatwa Al-Islam Sual Wa Jawab. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. https://islamqa.info/ar/answers/223240 Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #02 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim hubungan intim puasa hubungan intim saat puasa larangan puasa pembatal puasa seks tafsir ayat puasa
Prev     Next