Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita

Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita Bismillahi assalamualaikum adakah yg punya panduan tata cara solat taraweh dirumah untuk perempuan?? Karlita, di Jawa Tengah. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, amma ba’du. Pada dasarnya, semua sholat kaum wanita lebih afdhol dikerjakan di rumah. Sholat wajib apalagi yang sunah. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Sholatnya wanita di kamarnya, lebih afdhal daripada sholatnya di ruang keluarga rumahnya. Sholatnya wanita di kamar khususnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari sholatnya di kamarnya.” (HR. Abu Dawud) Lebih afdhal di sini, mohon tidak disalahpahami tidak boleh. Lebih afdhal, artinya lebih besar pahalanya. Tentu kita tidak berani mengatakan demikian jika tidak dalil yang menunjukkan seperti ini. Jika kita tanyakan kepada perasaan kita, tentu masjid lebih utama untuk semua orang, laki-laki maupun perempuan. Namun, Islam adalah agama yang ilmiyah, semuanya didasari dalil, yang menyimpan hikmah dan manfaat besar untuk semua makhluk. Muslim, seperti maknanya berserah diri, yakni menyerahkan sepenuhnya kepada Al Qur’an dan Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Slogannya saat bertemu dengan Al Qur’an dan Hadis maka hendaknya mengatakan “Aku mendengar dan aku taat..!” Suatu hari seorang sahabat wanita bernama Ummu Humaid –radhiyallahu’anha– pernah datang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, mengutarakan curhatan, “Ya Rasulullah, saya ingin sekali shalat berjamaah bersama Anda.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى “Aku tahu keinginan itu, bahwa anda sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun, shalatmu di dalam kamarmu lebih utama dari shalatmu di ruang tengah rumahmu. Dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kampung mu. Shalat di masjid kampung mu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Setelah mendengar petuah mulia ini, Ummu Humaid meminta dibangunkan mushola di pojok kamar miliknya. Di situ beliau shalat smapai berjumpa dengan Allah (wafat). (HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih) Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي خرجه البخاري : ( صلاة الرجل في الجماعة تضعف ) وهو يدل على أن صلاة المرأة لا تضعف فِي الجماعة ؛ فإن صلاتها فِي بيتها خير لها وأفضل Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari, “Shalatnya lelaki secara berjamaah itu dilipatkan’’ ini menunjukkan bahwa shalat wanita berjamaah di masjid tidak dilipatkan pahalanya. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal. (Fathul Bari, 6/19) Baca: Benarkah Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid? Namun bukan berarti tidak boleh sholat jama’ah di masjid. Apalagi jika manfaatnya besar seperti untuk mendengarkan tausiah, lebih semangat dan lebih mampu khusyu’. Kemudian dirinya dapat menjaga rambu-rambu syari’at : [1]. Berhijab sempurna, tidak berdandan yang mengundang perhatian laki-laki. [2]. Tidak memakai minyak wangi saat keluar rumah. [3] Mendapat izin suami. (https://islamqa.info/ar/answers/3457/حكم-صلاة-التراويح-للنساء) Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” (HR. Muslim, no. 442) Teknis Shalat Tarawih Wanita Di Rumah Setidaknya ada tiga cara shalat wanita di rumah : [1]. Sholat sendiri. Karena memang wanita tidak wajib sholat jama’ah di masjid. [2]. Shalat jama’ah bersama sesama wanita. Bersama ibu, bibi, anak perempuan atau madunya. Caranya wanita yang menjadi imam, berdiri ditengah barisan shof, tidak seperti format jama’ah kaum laki-laki yang Imam berada di depan. Sebagaimana keterangan dari Imam Al Baghowi dalam kitab At Tahzib fi Fiqhil Imam as-Syafi’i, السنّة أن تقف إمامة النساء وسطهنّ لما روي البيهقي بإسنادين صحيحين أنّ عائشة وأمّ سلمة أمّتا نساء فقامتا وسطهنّ Sunahnya imam wanita berada di tengah-tengah barisan shof, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam melalui sanad yang shahih bahwa Aisyah dan Ummu Salamah pernah mengimami sholat jama’ah wanita, mereka berdiri di tengah-tengah barisan shof. (At Tahzib, 2/276) [3]. Shalat jama’ah bersama suami atau kerabat laki-laki. Untuk sholat fardhu, laki-laki wajib berjama’ah di masjid. Adapun sholat sunah, boleh dikerjakan di rumah. Berdasarkan keumuman hadis, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ “Kaum muslimin sekalian, sholatlah di rumah-rumah kalian. Karena sholat seseorang yang paling afdhal itu yang dikerjakan di dalam rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR.Nasa-i) Namun khusus sholat tarawih, untuk laki-laki tetap lebih utama dikerjakan di masjid. Karena demikianlah praktek Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dahulu beliau pernah sholat tarawih tiga malam berturut-turut. Lalu berhenti karena khawatir tarawih menjadi wajib. Dan praktek Kholifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, beliau memerintahkan rakyatnya; para sahabat dan tabi’in, melakukan tarawih berjama’ah di masjid Nabawi sepanjang Ramadhan. Dalam Fatawa Islamqa, asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid –hafidzohullah– diterangkan, فصلاتها جماعةً المسجد أفضل ، لكن لو صلاها الرجل في بيته منفرداً ، أو جماعةً بأهله فهو جائز . Sholat tarawih seorang laki-laki berjama’ah di masjid, itu lebih afdhal. Namun jika dia ingin sholat sendiri ndi rumah atau berjama’ah bersama keluarganya, itu boleh. (https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/38922) Dengan melakukan trik yang ke 2 dan ke 3 di atas yakni tarawih jama’ah di rumah, seorang wanita insyaallah akan mendapatkan pahala ini. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Baca: Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Demikian, wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga Dalam Islam, Puasa Sunnah Di Bulan Rajab, Tanya Jawab Tentang Sabar, Surat Pendek Untuk Sholat, Celana Syar'i Wanita, Produk Unilever Yahudi Visited 7 times, 1 visit(s) today Post Views: 189 QRIS donasi Yufid

Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita

Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita Bismillahi assalamualaikum adakah yg punya panduan tata cara solat taraweh dirumah untuk perempuan?? Karlita, di Jawa Tengah. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, amma ba’du. Pada dasarnya, semua sholat kaum wanita lebih afdhol dikerjakan di rumah. Sholat wajib apalagi yang sunah. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Sholatnya wanita di kamarnya, lebih afdhal daripada sholatnya di ruang keluarga rumahnya. Sholatnya wanita di kamar khususnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari sholatnya di kamarnya.” (HR. Abu Dawud) Lebih afdhal di sini, mohon tidak disalahpahami tidak boleh. Lebih afdhal, artinya lebih besar pahalanya. Tentu kita tidak berani mengatakan demikian jika tidak dalil yang menunjukkan seperti ini. Jika kita tanyakan kepada perasaan kita, tentu masjid lebih utama untuk semua orang, laki-laki maupun perempuan. Namun, Islam adalah agama yang ilmiyah, semuanya didasari dalil, yang menyimpan hikmah dan manfaat besar untuk semua makhluk. Muslim, seperti maknanya berserah diri, yakni menyerahkan sepenuhnya kepada Al Qur’an dan Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Slogannya saat bertemu dengan Al Qur’an dan Hadis maka hendaknya mengatakan “Aku mendengar dan aku taat..!” Suatu hari seorang sahabat wanita bernama Ummu Humaid –radhiyallahu’anha– pernah datang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, mengutarakan curhatan, “Ya Rasulullah, saya ingin sekali shalat berjamaah bersama Anda.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى “Aku tahu keinginan itu, bahwa anda sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun, shalatmu di dalam kamarmu lebih utama dari shalatmu di ruang tengah rumahmu. Dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kampung mu. Shalat di masjid kampung mu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Setelah mendengar petuah mulia ini, Ummu Humaid meminta dibangunkan mushola di pojok kamar miliknya. Di situ beliau shalat smapai berjumpa dengan Allah (wafat). (HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih) Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي خرجه البخاري : ( صلاة الرجل في الجماعة تضعف ) وهو يدل على أن صلاة المرأة لا تضعف فِي الجماعة ؛ فإن صلاتها فِي بيتها خير لها وأفضل Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari, “Shalatnya lelaki secara berjamaah itu dilipatkan’’ ini menunjukkan bahwa shalat wanita berjamaah di masjid tidak dilipatkan pahalanya. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal. (Fathul Bari, 6/19) Baca: Benarkah Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid? Namun bukan berarti tidak boleh sholat jama’ah di masjid. Apalagi jika manfaatnya besar seperti untuk mendengarkan tausiah, lebih semangat dan lebih mampu khusyu’. Kemudian dirinya dapat menjaga rambu-rambu syari’at : [1]. Berhijab sempurna, tidak berdandan yang mengundang perhatian laki-laki. [2]. Tidak memakai minyak wangi saat keluar rumah. [3] Mendapat izin suami. (https://islamqa.info/ar/answers/3457/حكم-صلاة-التراويح-للنساء) Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” (HR. Muslim, no. 442) Teknis Shalat Tarawih Wanita Di Rumah Setidaknya ada tiga cara shalat wanita di rumah : [1]. Sholat sendiri. Karena memang wanita tidak wajib sholat jama’ah di masjid. [2]. Shalat jama’ah bersama sesama wanita. Bersama ibu, bibi, anak perempuan atau madunya. Caranya wanita yang menjadi imam, berdiri ditengah barisan shof, tidak seperti format jama’ah kaum laki-laki yang Imam berada di depan. Sebagaimana keterangan dari Imam Al Baghowi dalam kitab At Tahzib fi Fiqhil Imam as-Syafi’i, السنّة أن تقف إمامة النساء وسطهنّ لما روي البيهقي بإسنادين صحيحين أنّ عائشة وأمّ سلمة أمّتا نساء فقامتا وسطهنّ Sunahnya imam wanita berada di tengah-tengah barisan shof, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam melalui sanad yang shahih bahwa Aisyah dan Ummu Salamah pernah mengimami sholat jama’ah wanita, mereka berdiri di tengah-tengah barisan shof. (At Tahzib, 2/276) [3]. Shalat jama’ah bersama suami atau kerabat laki-laki. Untuk sholat fardhu, laki-laki wajib berjama’ah di masjid. Adapun sholat sunah, boleh dikerjakan di rumah. Berdasarkan keumuman hadis, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ “Kaum muslimin sekalian, sholatlah di rumah-rumah kalian. Karena sholat seseorang yang paling afdhal itu yang dikerjakan di dalam rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR.Nasa-i) Namun khusus sholat tarawih, untuk laki-laki tetap lebih utama dikerjakan di masjid. Karena demikianlah praktek Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dahulu beliau pernah sholat tarawih tiga malam berturut-turut. Lalu berhenti karena khawatir tarawih menjadi wajib. Dan praktek Kholifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, beliau memerintahkan rakyatnya; para sahabat dan tabi’in, melakukan tarawih berjama’ah di masjid Nabawi sepanjang Ramadhan. Dalam Fatawa Islamqa, asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid –hafidzohullah– diterangkan, فصلاتها جماعةً المسجد أفضل ، لكن لو صلاها الرجل في بيته منفرداً ، أو جماعةً بأهله فهو جائز . Sholat tarawih seorang laki-laki berjama’ah di masjid, itu lebih afdhal. Namun jika dia ingin sholat sendiri ndi rumah atau berjama’ah bersama keluarganya, itu boleh. (https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/38922) Dengan melakukan trik yang ke 2 dan ke 3 di atas yakni tarawih jama’ah di rumah, seorang wanita insyaallah akan mendapatkan pahala ini. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Baca: Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Demikian, wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga Dalam Islam, Puasa Sunnah Di Bulan Rajab, Tanya Jawab Tentang Sabar, Surat Pendek Untuk Sholat, Celana Syar'i Wanita, Produk Unilever Yahudi Visited 7 times, 1 visit(s) today Post Views: 189 QRIS donasi Yufid
Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita Bismillahi assalamualaikum adakah yg punya panduan tata cara solat taraweh dirumah untuk perempuan?? Karlita, di Jawa Tengah. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, amma ba’du. Pada dasarnya, semua sholat kaum wanita lebih afdhol dikerjakan di rumah. Sholat wajib apalagi yang sunah. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Sholatnya wanita di kamarnya, lebih afdhal daripada sholatnya di ruang keluarga rumahnya. Sholatnya wanita di kamar khususnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari sholatnya di kamarnya.” (HR. Abu Dawud) Lebih afdhal di sini, mohon tidak disalahpahami tidak boleh. Lebih afdhal, artinya lebih besar pahalanya. Tentu kita tidak berani mengatakan demikian jika tidak dalil yang menunjukkan seperti ini. Jika kita tanyakan kepada perasaan kita, tentu masjid lebih utama untuk semua orang, laki-laki maupun perempuan. Namun, Islam adalah agama yang ilmiyah, semuanya didasari dalil, yang menyimpan hikmah dan manfaat besar untuk semua makhluk. Muslim, seperti maknanya berserah diri, yakni menyerahkan sepenuhnya kepada Al Qur’an dan Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Slogannya saat bertemu dengan Al Qur’an dan Hadis maka hendaknya mengatakan “Aku mendengar dan aku taat..!” Suatu hari seorang sahabat wanita bernama Ummu Humaid –radhiyallahu’anha– pernah datang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, mengutarakan curhatan, “Ya Rasulullah, saya ingin sekali shalat berjamaah bersama Anda.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى “Aku tahu keinginan itu, bahwa anda sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun, shalatmu di dalam kamarmu lebih utama dari shalatmu di ruang tengah rumahmu. Dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kampung mu. Shalat di masjid kampung mu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Setelah mendengar petuah mulia ini, Ummu Humaid meminta dibangunkan mushola di pojok kamar miliknya. Di situ beliau shalat smapai berjumpa dengan Allah (wafat). (HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih) Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي خرجه البخاري : ( صلاة الرجل في الجماعة تضعف ) وهو يدل على أن صلاة المرأة لا تضعف فِي الجماعة ؛ فإن صلاتها فِي بيتها خير لها وأفضل Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari, “Shalatnya lelaki secara berjamaah itu dilipatkan’’ ini menunjukkan bahwa shalat wanita berjamaah di masjid tidak dilipatkan pahalanya. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal. (Fathul Bari, 6/19) Baca: Benarkah Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid? Namun bukan berarti tidak boleh sholat jama’ah di masjid. Apalagi jika manfaatnya besar seperti untuk mendengarkan tausiah, lebih semangat dan lebih mampu khusyu’. Kemudian dirinya dapat menjaga rambu-rambu syari’at : [1]. Berhijab sempurna, tidak berdandan yang mengundang perhatian laki-laki. [2]. Tidak memakai minyak wangi saat keluar rumah. [3] Mendapat izin suami. (https://islamqa.info/ar/answers/3457/حكم-صلاة-التراويح-للنساء) Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” (HR. Muslim, no. 442) Teknis Shalat Tarawih Wanita Di Rumah Setidaknya ada tiga cara shalat wanita di rumah : [1]. Sholat sendiri. Karena memang wanita tidak wajib sholat jama’ah di masjid. [2]. Shalat jama’ah bersama sesama wanita. Bersama ibu, bibi, anak perempuan atau madunya. Caranya wanita yang menjadi imam, berdiri ditengah barisan shof, tidak seperti format jama’ah kaum laki-laki yang Imam berada di depan. Sebagaimana keterangan dari Imam Al Baghowi dalam kitab At Tahzib fi Fiqhil Imam as-Syafi’i, السنّة أن تقف إمامة النساء وسطهنّ لما روي البيهقي بإسنادين صحيحين أنّ عائشة وأمّ سلمة أمّتا نساء فقامتا وسطهنّ Sunahnya imam wanita berada di tengah-tengah barisan shof, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam melalui sanad yang shahih bahwa Aisyah dan Ummu Salamah pernah mengimami sholat jama’ah wanita, mereka berdiri di tengah-tengah barisan shof. (At Tahzib, 2/276) [3]. Shalat jama’ah bersama suami atau kerabat laki-laki. Untuk sholat fardhu, laki-laki wajib berjama’ah di masjid. Adapun sholat sunah, boleh dikerjakan di rumah. Berdasarkan keumuman hadis, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ “Kaum muslimin sekalian, sholatlah di rumah-rumah kalian. Karena sholat seseorang yang paling afdhal itu yang dikerjakan di dalam rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR.Nasa-i) Namun khusus sholat tarawih, untuk laki-laki tetap lebih utama dikerjakan di masjid. Karena demikianlah praktek Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dahulu beliau pernah sholat tarawih tiga malam berturut-turut. Lalu berhenti karena khawatir tarawih menjadi wajib. Dan praktek Kholifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, beliau memerintahkan rakyatnya; para sahabat dan tabi’in, melakukan tarawih berjama’ah di masjid Nabawi sepanjang Ramadhan. Dalam Fatawa Islamqa, asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid –hafidzohullah– diterangkan, فصلاتها جماعةً المسجد أفضل ، لكن لو صلاها الرجل في بيته منفرداً ، أو جماعةً بأهله فهو جائز . Sholat tarawih seorang laki-laki berjama’ah di masjid, itu lebih afdhal. Namun jika dia ingin sholat sendiri ndi rumah atau berjama’ah bersama keluarganya, itu boleh. (https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/38922) Dengan melakukan trik yang ke 2 dan ke 3 di atas yakni tarawih jama’ah di rumah, seorang wanita insyaallah akan mendapatkan pahala ini. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Baca: Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Demikian, wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga Dalam Islam, Puasa Sunnah Di Bulan Rajab, Tanya Jawab Tentang Sabar, Surat Pendek Untuk Sholat, Celana Syar'i Wanita, Produk Unilever Yahudi Visited 7 times, 1 visit(s) today Post Views: 189 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1251307621&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita Bismillahi assalamualaikum adakah yg punya panduan tata cara solat taraweh dirumah untuk perempuan?? Karlita, di Jawa Tengah. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, amma ba’du. Pada dasarnya, semua sholat kaum wanita lebih afdhol dikerjakan di rumah. Sholat wajib apalagi yang sunah. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا “Sholatnya wanita di kamarnya, lebih afdhal daripada sholatnya di ruang keluarga rumahnya. Sholatnya wanita di kamar khususnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari sholatnya di kamarnya.” (HR. Abu Dawud) Lebih afdhal di sini, mohon tidak disalahpahami tidak boleh. Lebih afdhal, artinya lebih besar pahalanya. Tentu kita tidak berani mengatakan demikian jika tidak dalil yang menunjukkan seperti ini. Jika kita tanyakan kepada perasaan kita, tentu masjid lebih utama untuk semua orang, laki-laki maupun perempuan. Namun, Islam adalah agama yang ilmiyah, semuanya didasari dalil, yang menyimpan hikmah dan manfaat besar untuk semua makhluk. Muslim, seperti maknanya berserah diri, yakni menyerahkan sepenuhnya kepada Al Qur’an dan Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Slogannya saat bertemu dengan Al Qur’an dan Hadis maka hendaknya mengatakan “Aku mendengar dan aku taat..!” Suatu hari seorang sahabat wanita bernama Ummu Humaid –radhiyallahu’anha– pernah datang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, mengutarakan curhatan, “Ya Rasulullah, saya ingin sekali shalat berjamaah bersama Anda.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى “Aku tahu keinginan itu, bahwa anda sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun, shalatmu di dalam kamarmu lebih utama dari shalatmu di ruang tengah rumahmu. Dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kampung mu. Shalat di masjid kampung mu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Setelah mendengar petuah mulia ini, Ummu Humaid meminta dibangunkan mushola di pojok kamar miliknya. Di situ beliau shalat smapai berjumpa dengan Allah (wafat). (HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih) Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي خرجه البخاري : ( صلاة الرجل في الجماعة تضعف ) وهو يدل على أن صلاة المرأة لا تضعف فِي الجماعة ؛ فإن صلاتها فِي بيتها خير لها وأفضل Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari, “Shalatnya lelaki secara berjamaah itu dilipatkan’’ ini menunjukkan bahwa shalat wanita berjamaah di masjid tidak dilipatkan pahalanya. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal. (Fathul Bari, 6/19) Baca: Benarkah Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid? Namun bukan berarti tidak boleh sholat jama’ah di masjid. Apalagi jika manfaatnya besar seperti untuk mendengarkan tausiah, lebih semangat dan lebih mampu khusyu’. Kemudian dirinya dapat menjaga rambu-rambu syari’at : [1]. Berhijab sempurna, tidak berdandan yang mengundang perhatian laki-laki. [2]. Tidak memakai minyak wangi saat keluar rumah. [3] Mendapat izin suami. (https://islamqa.info/ar/answers/3457/حكم-صلاة-التراويح-للنساء) Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” (HR. Muslim, no. 442) Teknis Shalat Tarawih Wanita Di Rumah Setidaknya ada tiga cara shalat wanita di rumah : [1]. Sholat sendiri. Karena memang wanita tidak wajib sholat jama’ah di masjid. [2]. Shalat jama’ah bersama sesama wanita. Bersama ibu, bibi, anak perempuan atau madunya. Caranya wanita yang menjadi imam, berdiri ditengah barisan shof, tidak seperti format jama’ah kaum laki-laki yang Imam berada di depan. Sebagaimana keterangan dari Imam Al Baghowi dalam kitab At Tahzib fi Fiqhil Imam as-Syafi’i, السنّة أن تقف إمامة النساء وسطهنّ لما روي البيهقي بإسنادين صحيحين أنّ عائشة وأمّ سلمة أمّتا نساء فقامتا وسطهنّ Sunahnya imam wanita berada di tengah-tengah barisan shof, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam melalui sanad yang shahih bahwa Aisyah dan Ummu Salamah pernah mengimami sholat jama’ah wanita, mereka berdiri di tengah-tengah barisan shof. (At Tahzib, 2/276) [3]. Shalat jama’ah bersama suami atau kerabat laki-laki. Untuk sholat fardhu, laki-laki wajib berjama’ah di masjid. Adapun sholat sunah, boleh dikerjakan di rumah. Berdasarkan keumuman hadis, صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ “Kaum muslimin sekalian, sholatlah di rumah-rumah kalian. Karena sholat seseorang yang paling afdhal itu yang dikerjakan di dalam rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR.Nasa-i) Namun khusus sholat tarawih, untuk laki-laki tetap lebih utama dikerjakan di masjid. Karena demikianlah praktek Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dahulu beliau pernah sholat tarawih tiga malam berturut-turut. Lalu berhenti karena khawatir tarawih menjadi wajib. Dan praktek Kholifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, beliau memerintahkan rakyatnya; para sahabat dan tabi’in, melakukan tarawih berjama’ah di masjid Nabawi sepanjang Ramadhan. Dalam Fatawa Islamqa, asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid –hafidzohullah– diterangkan, فصلاتها جماعةً المسجد أفضل ، لكن لو صلاها الرجل في بيته منفرداً ، أو جماعةً بأهله فهو جائز . Sholat tarawih seorang laki-laki berjama’ah di masjid, itu lebih afdhal. Namun jika dia ingin sholat sendiri ndi rumah atau berjama’ah bersama keluarganya, itu boleh. (https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/38922) Dengan melakukan trik yang ke 2 dan ke 3 di atas yakni tarawih jama’ah di rumah, seorang wanita insyaallah akan mendapatkan pahala ini. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Baca: Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Demikian, wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga Dalam Islam, Puasa Sunnah Di Bulan Rajab, Tanya Jawab Tentang Sabar, Surat Pendek Untuk Sholat, Celana Syar'i Wanita, Produk Unilever Yahudi Visited 7 times, 1 visit(s) today Post Views: 189 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengapa Rasulullah Tidak Tarawih Berjamaah Sebulan Penuh?

Apakah Disyariatkan Tarawih Sebulan Penuh?Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah disyariatkan shalat tarawih secara berjamaah di bulan Ramadan? Mengapa Nabi Shallallahualaihiwasallam tidak shalat tarawih secara berjamaah secara terus-menerus?”.Beliau menjawab:Abu Muhammad Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:المختار عند أبي عبد الله فعلها في الجماعة، قال في رواية يوسف بن موسى: الجماعة في التراويح أفضل. وإن كان رجل يُقتدى به فصلاَّها في بيته خفت أن يقتدي الناس به، وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم: “اقتدوا بالخلفاء”. وقد جاء عن عمر أنه كان يُصلي في الجماعة، وبهذا قال المزني، وابن عبد الحكم، وجماعة من أصحاب أبي حنيفة، قال أحمد: كان جابر وعلي وعبد الله يصلونها في جماعة“Pendapat yang valid dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) adalah disyariatkannya shalat tarawih secara berjamaah. Diriwayatkan juga dari Yusuf bin Musa bahwa Imam Ahmad berkata: ‘secara berjamaah itu lebih utama’. Jika ada orang yang ingin meniru Nabi shallallahu’alaihiwasallam dengan shalat tarawih di rumah karena alasan khawatir orang-orang mengikutinya, maka terdapat hadis dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam bahwa beliau bersabda: ‘teladanilah para Khulafa Ar-Rasyidin‘. Terdapat hadis dari Ibnu Umar bahwa beliau melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. Ini juga dikatakan oleh Al-Muzanni, Ibnu Abdil Hakam, dan sejumlah ulama Hanafiyah. Imam Ahmad juga mengatakan: ‘Jabir, Ali dan Abdullah, mereka shalat tarawih secara berjamaah’” [selesai perkataan Ibnu Qudamah].Adapun hadis yang marfu tentang hal ini, terdapat dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة، وكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أوالرابعة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قالقد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أنني خشيت أن تفرض عليكم وذلك في رمضان“Nabi shallallahualaihiwasallam shalat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang pun shalat bermakmum kepada beliau. Kemudian kabilah-kabilah pun ikut shalat bersama beliau, sehingga jumlahnya sangat banyak. Kemudian pada malam yang ketiga atau keempat mereka sudah berkumpul di masjid, namun Rasulullah shallallahualaihiwasallam tidak keluar. Ketika pagi hari tiba beliau bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah ada yang menghalangi aku untuk keluar kecuali aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian’. Itu ketika bulan Ramadan”.Dan juga dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:“Suatu ketika Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar. beliau melihat orang-orang shalat (tarawih) di masjid pada bulan Ramadan. Nabi bertanya: ‘apa yang mereka lakukan?’. Seseorang menjawab: ‘mereka adalah orang-orang yang tidak punya Al-Qur’an, dan Ubay bin Ka’ab shalat mengimami mereka’. Nabi bersabda: ‘mereka melakukan hal yang benar, dan sungguh itu merupakan sebaik-baik perbuatan’” (HR. Abu Daud).Terdapat hadis juga dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، خرج من جوف الليل، فصلى في المسجد، فصلى رجال بصلاته، فأصبح الناس يتحدثون بذلك، فاجتمع أكثر منهم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، في الليلة الثانية، فصلوا بصلاته، فأصبح الناس يذكرون ذلك، فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة، فخرج فصلوا بصلاته، فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون: الصلاة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، حتى خرج لصلاة الفجر، فلما قضى الفجر أقبل على الناس، ثم تشهد، فقال“أما بعد فإنه لم يخف عليَّ شأنكم الليلة، ولكني خشيت أن تُفرض عليكم صلاة الليل، فتعجزوا عنها”“Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar di tengah malam, kemudian shalat di masjid. Kemudian beberapa orang sahabatpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orang membicarakan hal tersebut. Sehingga berkumpullah orang yang banyak (di masjid). Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat di malam yang kedua, orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orangpun membicarakan hal tersebut. Sehingga bertambah banyaklah orang-orang di masjid pada malam yang ketiga. Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat dan orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di malam yang keempat, masjid tidak lagi bisa menampung orang-orang dan Rasulullah shallallahualaihiwasallam belum juga keluar, hingga datang waktu subuh baru beliau keluar. Setelah selesai shalat subuh Nabi menghadap kepada orang-orang (untuk berkhutbah), beliau membaca syahadat, lalu berkata: ‘amma ba’du, apa yang kalian lakukan tadi malam tidaklah samar bagiku. Namun aku khawatir shalat malam diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa tidak bisa melakukannya’”.Rasulullah Khawatir Shalat Tarawih Menjadi WajibDalam hadis-hadis ini kita ketahui bahwa Nabi shallallahualaihiwasallam shalat tarawih berjamaah bersama sebagian sahabatnya. Namun beliau tidak melakukannya terus-menerus (hingga akhir Ramadan). Alasannya adalah karena beliau khawatir shalat tarawih diwajibkan atas umat beliau. Maka setelah masa pensyariatan berakhir, Umar radhiallahu’anhu mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdurrahman bin Abidin, ia berkata:خرجت مع عمر -رضي الله عنه- ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يُصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أُبي بن كعب“Aku keluar bersama Umar radhiallahu’anhu pada suatu malam bulan Ramadan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jamaah bersama beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umarpun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab”.Sumber: Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/10-11, Asy SyamilahPenyusun: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Riya, Keutamaan Shalat Syuruq, Manfaat Shalat Yang Sesungguhnya, Suami Soleh Menurut Islam, Gambar Lafal Muhammad

Mengapa Rasulullah Tidak Tarawih Berjamaah Sebulan Penuh?

Apakah Disyariatkan Tarawih Sebulan Penuh?Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah disyariatkan shalat tarawih secara berjamaah di bulan Ramadan? Mengapa Nabi Shallallahualaihiwasallam tidak shalat tarawih secara berjamaah secara terus-menerus?”.Beliau menjawab:Abu Muhammad Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:المختار عند أبي عبد الله فعلها في الجماعة، قال في رواية يوسف بن موسى: الجماعة في التراويح أفضل. وإن كان رجل يُقتدى به فصلاَّها في بيته خفت أن يقتدي الناس به، وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم: “اقتدوا بالخلفاء”. وقد جاء عن عمر أنه كان يُصلي في الجماعة، وبهذا قال المزني، وابن عبد الحكم، وجماعة من أصحاب أبي حنيفة، قال أحمد: كان جابر وعلي وعبد الله يصلونها في جماعة“Pendapat yang valid dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) adalah disyariatkannya shalat tarawih secara berjamaah. Diriwayatkan juga dari Yusuf bin Musa bahwa Imam Ahmad berkata: ‘secara berjamaah itu lebih utama’. Jika ada orang yang ingin meniru Nabi shallallahu’alaihiwasallam dengan shalat tarawih di rumah karena alasan khawatir orang-orang mengikutinya, maka terdapat hadis dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam bahwa beliau bersabda: ‘teladanilah para Khulafa Ar-Rasyidin‘. Terdapat hadis dari Ibnu Umar bahwa beliau melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. Ini juga dikatakan oleh Al-Muzanni, Ibnu Abdil Hakam, dan sejumlah ulama Hanafiyah. Imam Ahmad juga mengatakan: ‘Jabir, Ali dan Abdullah, mereka shalat tarawih secara berjamaah’” [selesai perkataan Ibnu Qudamah].Adapun hadis yang marfu tentang hal ini, terdapat dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة، وكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أوالرابعة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قالقد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أنني خشيت أن تفرض عليكم وذلك في رمضان“Nabi shallallahualaihiwasallam shalat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang pun shalat bermakmum kepada beliau. Kemudian kabilah-kabilah pun ikut shalat bersama beliau, sehingga jumlahnya sangat banyak. Kemudian pada malam yang ketiga atau keempat mereka sudah berkumpul di masjid, namun Rasulullah shallallahualaihiwasallam tidak keluar. Ketika pagi hari tiba beliau bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah ada yang menghalangi aku untuk keluar kecuali aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian’. Itu ketika bulan Ramadan”.Dan juga dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:“Suatu ketika Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar. beliau melihat orang-orang shalat (tarawih) di masjid pada bulan Ramadan. Nabi bertanya: ‘apa yang mereka lakukan?’. Seseorang menjawab: ‘mereka adalah orang-orang yang tidak punya Al-Qur’an, dan Ubay bin Ka’ab shalat mengimami mereka’. Nabi bersabda: ‘mereka melakukan hal yang benar, dan sungguh itu merupakan sebaik-baik perbuatan’” (HR. Abu Daud).Terdapat hadis juga dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، خرج من جوف الليل، فصلى في المسجد، فصلى رجال بصلاته، فأصبح الناس يتحدثون بذلك، فاجتمع أكثر منهم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، في الليلة الثانية، فصلوا بصلاته، فأصبح الناس يذكرون ذلك، فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة، فخرج فصلوا بصلاته، فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون: الصلاة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، حتى خرج لصلاة الفجر، فلما قضى الفجر أقبل على الناس، ثم تشهد، فقال“أما بعد فإنه لم يخف عليَّ شأنكم الليلة، ولكني خشيت أن تُفرض عليكم صلاة الليل، فتعجزوا عنها”“Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar di tengah malam, kemudian shalat di masjid. Kemudian beberapa orang sahabatpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orang membicarakan hal tersebut. Sehingga berkumpullah orang yang banyak (di masjid). Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat di malam yang kedua, orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orangpun membicarakan hal tersebut. Sehingga bertambah banyaklah orang-orang di masjid pada malam yang ketiga. Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat dan orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di malam yang keempat, masjid tidak lagi bisa menampung orang-orang dan Rasulullah shallallahualaihiwasallam belum juga keluar, hingga datang waktu subuh baru beliau keluar. Setelah selesai shalat subuh Nabi menghadap kepada orang-orang (untuk berkhutbah), beliau membaca syahadat, lalu berkata: ‘amma ba’du, apa yang kalian lakukan tadi malam tidaklah samar bagiku. Namun aku khawatir shalat malam diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa tidak bisa melakukannya’”.Rasulullah Khawatir Shalat Tarawih Menjadi WajibDalam hadis-hadis ini kita ketahui bahwa Nabi shallallahualaihiwasallam shalat tarawih berjamaah bersama sebagian sahabatnya. Namun beliau tidak melakukannya terus-menerus (hingga akhir Ramadan). Alasannya adalah karena beliau khawatir shalat tarawih diwajibkan atas umat beliau. Maka setelah masa pensyariatan berakhir, Umar radhiallahu’anhu mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdurrahman bin Abidin, ia berkata:خرجت مع عمر -رضي الله عنه- ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يُصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أُبي بن كعب“Aku keluar bersama Umar radhiallahu’anhu pada suatu malam bulan Ramadan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jamaah bersama beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umarpun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab”.Sumber: Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/10-11, Asy SyamilahPenyusun: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Riya, Keutamaan Shalat Syuruq, Manfaat Shalat Yang Sesungguhnya, Suami Soleh Menurut Islam, Gambar Lafal Muhammad
Apakah Disyariatkan Tarawih Sebulan Penuh?Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah disyariatkan shalat tarawih secara berjamaah di bulan Ramadan? Mengapa Nabi Shallallahualaihiwasallam tidak shalat tarawih secara berjamaah secara terus-menerus?”.Beliau menjawab:Abu Muhammad Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:المختار عند أبي عبد الله فعلها في الجماعة، قال في رواية يوسف بن موسى: الجماعة في التراويح أفضل. وإن كان رجل يُقتدى به فصلاَّها في بيته خفت أن يقتدي الناس به، وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم: “اقتدوا بالخلفاء”. وقد جاء عن عمر أنه كان يُصلي في الجماعة، وبهذا قال المزني، وابن عبد الحكم، وجماعة من أصحاب أبي حنيفة، قال أحمد: كان جابر وعلي وعبد الله يصلونها في جماعة“Pendapat yang valid dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) adalah disyariatkannya shalat tarawih secara berjamaah. Diriwayatkan juga dari Yusuf bin Musa bahwa Imam Ahmad berkata: ‘secara berjamaah itu lebih utama’. Jika ada orang yang ingin meniru Nabi shallallahu’alaihiwasallam dengan shalat tarawih di rumah karena alasan khawatir orang-orang mengikutinya, maka terdapat hadis dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam bahwa beliau bersabda: ‘teladanilah para Khulafa Ar-Rasyidin‘. Terdapat hadis dari Ibnu Umar bahwa beliau melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. Ini juga dikatakan oleh Al-Muzanni, Ibnu Abdil Hakam, dan sejumlah ulama Hanafiyah. Imam Ahmad juga mengatakan: ‘Jabir, Ali dan Abdullah, mereka shalat tarawih secara berjamaah’” [selesai perkataan Ibnu Qudamah].Adapun hadis yang marfu tentang hal ini, terdapat dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة، وكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أوالرابعة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قالقد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أنني خشيت أن تفرض عليكم وذلك في رمضان“Nabi shallallahualaihiwasallam shalat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang pun shalat bermakmum kepada beliau. Kemudian kabilah-kabilah pun ikut shalat bersama beliau, sehingga jumlahnya sangat banyak. Kemudian pada malam yang ketiga atau keempat mereka sudah berkumpul di masjid, namun Rasulullah shallallahualaihiwasallam tidak keluar. Ketika pagi hari tiba beliau bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah ada yang menghalangi aku untuk keluar kecuali aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian’. Itu ketika bulan Ramadan”.Dan juga dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:“Suatu ketika Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar. beliau melihat orang-orang shalat (tarawih) di masjid pada bulan Ramadan. Nabi bertanya: ‘apa yang mereka lakukan?’. Seseorang menjawab: ‘mereka adalah orang-orang yang tidak punya Al-Qur’an, dan Ubay bin Ka’ab shalat mengimami mereka’. Nabi bersabda: ‘mereka melakukan hal yang benar, dan sungguh itu merupakan sebaik-baik perbuatan’” (HR. Abu Daud).Terdapat hadis juga dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، خرج من جوف الليل، فصلى في المسجد، فصلى رجال بصلاته، فأصبح الناس يتحدثون بذلك، فاجتمع أكثر منهم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، في الليلة الثانية، فصلوا بصلاته، فأصبح الناس يذكرون ذلك، فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة، فخرج فصلوا بصلاته، فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون: الصلاة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، حتى خرج لصلاة الفجر، فلما قضى الفجر أقبل على الناس، ثم تشهد، فقال“أما بعد فإنه لم يخف عليَّ شأنكم الليلة، ولكني خشيت أن تُفرض عليكم صلاة الليل، فتعجزوا عنها”“Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar di tengah malam, kemudian shalat di masjid. Kemudian beberapa orang sahabatpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orang membicarakan hal tersebut. Sehingga berkumpullah orang yang banyak (di masjid). Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat di malam yang kedua, orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orangpun membicarakan hal tersebut. Sehingga bertambah banyaklah orang-orang di masjid pada malam yang ketiga. Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat dan orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di malam yang keempat, masjid tidak lagi bisa menampung orang-orang dan Rasulullah shallallahualaihiwasallam belum juga keluar, hingga datang waktu subuh baru beliau keluar. Setelah selesai shalat subuh Nabi menghadap kepada orang-orang (untuk berkhutbah), beliau membaca syahadat, lalu berkata: ‘amma ba’du, apa yang kalian lakukan tadi malam tidaklah samar bagiku. Namun aku khawatir shalat malam diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa tidak bisa melakukannya’”.Rasulullah Khawatir Shalat Tarawih Menjadi WajibDalam hadis-hadis ini kita ketahui bahwa Nabi shallallahualaihiwasallam shalat tarawih berjamaah bersama sebagian sahabatnya. Namun beliau tidak melakukannya terus-menerus (hingga akhir Ramadan). Alasannya adalah karena beliau khawatir shalat tarawih diwajibkan atas umat beliau. Maka setelah masa pensyariatan berakhir, Umar radhiallahu’anhu mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdurrahman bin Abidin, ia berkata:خرجت مع عمر -رضي الله عنه- ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يُصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أُبي بن كعب“Aku keluar bersama Umar radhiallahu’anhu pada suatu malam bulan Ramadan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jamaah bersama beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umarpun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab”.Sumber: Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/10-11, Asy SyamilahPenyusun: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Riya, Keutamaan Shalat Syuruq, Manfaat Shalat Yang Sesungguhnya, Suami Soleh Menurut Islam, Gambar Lafal Muhammad


Apakah Disyariatkan Tarawih Sebulan Penuh?Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah disyariatkan shalat tarawih secara berjamaah di bulan Ramadan? Mengapa Nabi Shallallahualaihiwasallam tidak shalat tarawih secara berjamaah secara terus-menerus?”.Beliau menjawab:Abu Muhammad Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:المختار عند أبي عبد الله فعلها في الجماعة، قال في رواية يوسف بن موسى: الجماعة في التراويح أفضل. وإن كان رجل يُقتدى به فصلاَّها في بيته خفت أن يقتدي الناس به، وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم: “اقتدوا بالخلفاء”. وقد جاء عن عمر أنه كان يُصلي في الجماعة، وبهذا قال المزني، وابن عبد الحكم، وجماعة من أصحاب أبي حنيفة، قال أحمد: كان جابر وعلي وعبد الله يصلونها في جماعة“Pendapat yang valid dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) adalah disyariatkannya shalat tarawih secara berjamaah. Diriwayatkan juga dari Yusuf bin Musa bahwa Imam Ahmad berkata: ‘secara berjamaah itu lebih utama’. Jika ada orang yang ingin meniru Nabi shallallahu’alaihiwasallam dengan shalat tarawih di rumah karena alasan khawatir orang-orang mengikutinya, maka terdapat hadis dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam bahwa beliau bersabda: ‘teladanilah para Khulafa Ar-Rasyidin‘. Terdapat hadis dari Ibnu Umar bahwa beliau melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. Ini juga dikatakan oleh Al-Muzanni, Ibnu Abdil Hakam, dan sejumlah ulama Hanafiyah. Imam Ahmad juga mengatakan: ‘Jabir, Ali dan Abdullah, mereka shalat tarawih secara berjamaah’” [selesai perkataan Ibnu Qudamah].Adapun hadis yang marfu tentang hal ini, terdapat dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة، وكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أوالرابعة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قالقد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أنني خشيت أن تفرض عليكم وذلك في رمضان“Nabi shallallahualaihiwasallam shalat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang pun shalat bermakmum kepada beliau. Kemudian kabilah-kabilah pun ikut shalat bersama beliau, sehingga jumlahnya sangat banyak. Kemudian pada malam yang ketiga atau keempat mereka sudah berkumpul di masjid, namun Rasulullah shallallahualaihiwasallam tidak keluar. Ketika pagi hari tiba beliau bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah ada yang menghalangi aku untuk keluar kecuali aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian’. Itu ketika bulan Ramadan”.Dan juga dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:“Suatu ketika Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar. beliau melihat orang-orang shalat (tarawih) di masjid pada bulan Ramadan. Nabi bertanya: ‘apa yang mereka lakukan?’. Seseorang menjawab: ‘mereka adalah orang-orang yang tidak punya Al-Qur’an, dan Ubay bin Ka’ab shalat mengimami mereka’. Nabi bersabda: ‘mereka melakukan hal yang benar, dan sungguh itu merupakan sebaik-baik perbuatan’” (HR. Abu Daud).Terdapat hadis juga dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، خرج من جوف الليل، فصلى في المسجد، فصلى رجال بصلاته، فأصبح الناس يتحدثون بذلك، فاجتمع أكثر منهم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، في الليلة الثانية، فصلوا بصلاته، فأصبح الناس يذكرون ذلك، فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة، فخرج فصلوا بصلاته، فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون: الصلاة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، حتى خرج لصلاة الفجر، فلما قضى الفجر أقبل على الناس، ثم تشهد، فقال“أما بعد فإنه لم يخف عليَّ شأنكم الليلة، ولكني خشيت أن تُفرض عليكم صلاة الليل، فتعجزوا عنها”“Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar di tengah malam, kemudian shalat di masjid. Kemudian beberapa orang sahabatpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orang membicarakan hal tersebut. Sehingga berkumpullah orang yang banyak (di masjid). Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat di malam yang kedua, orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orangpun membicarakan hal tersebut. Sehingga bertambah banyaklah orang-orang di masjid pada malam yang ketiga. Kemudian Rasulullah shallallahualaihiwasallam keluar lagi untuk shalat dan orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di malam yang keempat, masjid tidak lagi bisa menampung orang-orang dan Rasulullah shallallahualaihiwasallam belum juga keluar, hingga datang waktu subuh baru beliau keluar. Setelah selesai shalat subuh Nabi menghadap kepada orang-orang (untuk berkhutbah), beliau membaca syahadat, lalu berkata: ‘amma ba’du, apa yang kalian lakukan tadi malam tidaklah samar bagiku. Namun aku khawatir shalat malam diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa tidak bisa melakukannya’”.Rasulullah Khawatir Shalat Tarawih Menjadi WajibDalam hadis-hadis ini kita ketahui bahwa Nabi shallallahualaihiwasallam shalat tarawih berjamaah bersama sebagian sahabatnya. Namun beliau tidak melakukannya terus-menerus (hingga akhir Ramadan). Alasannya adalah karena beliau khawatir shalat tarawih diwajibkan atas umat beliau. Maka setelah masa pensyariatan berakhir, Umar radhiallahu’anhu mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdurrahman bin Abidin, ia berkata:خرجت مع عمر -رضي الله عنه- ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يُصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أُبي بن كعب“Aku keluar bersama Umar radhiallahu’anhu pada suatu malam bulan Ramadan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jamaah bersama beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umarpun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab”.Sumber: Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/10-11, Asy SyamilahPenyusun: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Riya, Keutamaan Shalat Syuruq, Manfaat Shalat Yang Sesungguhnya, Suami Soleh Menurut Islam, Gambar Lafal Muhammad

Kajian Kitab : Syarah Kitab Shahih Bukhari Kajian Ke-45 – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

Bab 57 – Kencingnya Badui di Masjid Bab 58 – Cara Membersihkan Kencing di Masjid Bab 59 – Kencingnya Bayi Bab 60 – Kencing Berdiri dan Duduk Bab 61 – Kencing Bersama RekannyaUstadz Firanda Andirja Official Media Channel – www.Firanda.com – facebook.com/firandaandirja – youtube.com/c/FirandaAndirja – IG : firanda_andirja_official – TW : @Firanda_Andirja

Kajian Kitab : Syarah Kitab Shahih Bukhari Kajian Ke-45 – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

Bab 57 – Kencingnya Badui di Masjid Bab 58 – Cara Membersihkan Kencing di Masjid Bab 59 – Kencingnya Bayi Bab 60 – Kencing Berdiri dan Duduk Bab 61 – Kencing Bersama RekannyaUstadz Firanda Andirja Official Media Channel – www.Firanda.com – facebook.com/firandaandirja – youtube.com/c/FirandaAndirja – IG : firanda_andirja_official – TW : @Firanda_Andirja
Bab 57 – Kencingnya Badui di Masjid Bab 58 – Cara Membersihkan Kencing di Masjid Bab 59 – Kencingnya Bayi Bab 60 – Kencing Berdiri dan Duduk Bab 61 – Kencing Bersama RekannyaUstadz Firanda Andirja Official Media Channel – www.Firanda.com – facebook.com/firandaandirja – youtube.com/c/FirandaAndirja – IG : firanda_andirja_official – TW : @Firanda_Andirja


Bab 57 – Kencingnya Badui di Masjid Bab 58 – Cara Membersihkan Kencing di Masjid Bab 59 – Kencingnya Bayi Bab 60 – Kencing Berdiri dan Duduk Bab 61 – Kencing Bersama RekannyaUstadz Firanda Andirja Official Media Channel – www.Firanda.com – facebook.com/firandaandirja – youtube.com/c/FirandaAndirja – IG : firanda_andirja_official – TW : @Firanda_Andirja

Tafsir Ayat Puasa (12): Ternyata Puasa Awal Islam Beratnya Seperti Ini

Ternyata puasa awal Islam beratnya seperti ini. Ini menandakan kita harus bersyukur dengan puasa yang kita jalani saat ini. Masih melanjutkan surah Al-Baqarah ayat 187. Kali ini kami ambil dari bahasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain. Allah menyebutkan bagaimanakah kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya, Allah Mahatahu mengenai keadaan mereka. Allah memberikan keringanan bagi kaum muslimin ketika mereka berpuasa. Allah mengangkat kesulitan bagi mereka di mana sungguh berat menjalankan puasa pada awal-awal Islam. Pada awal Islam, jika ada yang sudah berbuka, maka halal untuk makan, minum, dan berjimak hingga shalat Isya atau ia tidur sebelum itu, ketika tidur sebelum berbuka atau sebelum shalat Isya, haram untuk makan dan minum serta berjimak sampai malam berikutnya. Maka ini jadi kesulitan yang besar, maka akhirnya Allah menurunkan rukshah dan takhfif (yaitu keringanan) pada surah Al-Baqarah ayat 187.   Pada Malam Hari Halal Hubungan Intim   Dalam ayat disebutkan, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Berarti dihalalkan pada setiap malam Ramadhan untuk berjimak dengan istri, ini berlaku di seluruh malam Ramadhan. Kenapa jimak dibutuhkan? Dalam ayat lanjutan disebutkan, هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” Maksudnya adalah suami istri itu satu dan lainnya saling membutuhkan, maka seperti kebutuhan dalam berpakaian, ia bercampur dengannya dan memakainya, menutupi dan ditutupi. Istri itu menjaga suaminya dari maksiat syahwat yang jelek. Seperti halnya pakaian bisa melindungi dari panas dan dingin yang mengganggu. Sebab turunnya surah Al-Baqarah ayat 187 adalah karena ada sebagian sahabat mengalami kesulitan berat dengan adanya larangan makan pada malam hari kalau sudah tertidur. Ada juga di antara mereka yang tetap nekat mendatangi istrinya pada malam hari. Padahal hal tersebut terlarang ketika seseorang sudah shalat Isya atau tertidur sebelum berbuka. Riwayat ini tentang kisah Qais bin Shirmah. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu (pada masa awal Islam) jika berpuasa lantas tiba waktu berbuka, jika tidur sebelum berbuka, maka tidak dibolehkan makan pada malam tersebut, ia berpuasa hingga keesokan hari, sampai sore. Ada seseorang bernama Qais bin Shirmah, ia berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, ia mendatangi istrinya, ia menanyakan, “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak ada. Aku akan pergi menyiapkannya dan menyerahkannya padamu.” Qais bin Shirmah sendiri siang hari puasa bekerja keras, sehingga ketika ia menunggu makanan tadi, ia tertidur. Ketika itu istrinya datang lalu melihatnya tertidur, istrinya berkata, “Yah, engkau gagal makan.” Keesokan harinya pada tengah siang, Qais bin Shirmah jatuh pingsan. Kemudian keadaan Qais bin Shirmah diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Para sahabat pun sangat gembira mendengar turunnya ayat tersebut. Juga turun ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ “dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 1915) Dari Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَ صَوْمُ رَمَضَانَ كَانُوا لاَ يَقْرَبُونَ النِّسَاءَ رَمَضَانَ كُلَّهُ ، وَكَانَ رِجَالٌ يَخُونُونَ أَنْفُسَهُمْ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ) “Ketika turun pensyariatan puasa Ramadhan, mereka para sahabat tidak boleh mendekati istri mereka di seluruh hari Ramadhan. Lalu ada di antara para sahabat yang diam-diam tidak bisa tahan dan mendatangi istrinya (berjimak). Maka turunlah firman Allah, ‘Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.’” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 4508) Masih bersambung insya Allah dalam serial berikutnya.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #01 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim saat puasa keringanan puasa makan dan minum saat puasa pembatal puasa puasa di awal islam tafsir ayat puasa

Tafsir Ayat Puasa (12): Ternyata Puasa Awal Islam Beratnya Seperti Ini

Ternyata puasa awal Islam beratnya seperti ini. Ini menandakan kita harus bersyukur dengan puasa yang kita jalani saat ini. Masih melanjutkan surah Al-Baqarah ayat 187. Kali ini kami ambil dari bahasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain. Allah menyebutkan bagaimanakah kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya, Allah Mahatahu mengenai keadaan mereka. Allah memberikan keringanan bagi kaum muslimin ketika mereka berpuasa. Allah mengangkat kesulitan bagi mereka di mana sungguh berat menjalankan puasa pada awal-awal Islam. Pada awal Islam, jika ada yang sudah berbuka, maka halal untuk makan, minum, dan berjimak hingga shalat Isya atau ia tidur sebelum itu, ketika tidur sebelum berbuka atau sebelum shalat Isya, haram untuk makan dan minum serta berjimak sampai malam berikutnya. Maka ini jadi kesulitan yang besar, maka akhirnya Allah menurunkan rukshah dan takhfif (yaitu keringanan) pada surah Al-Baqarah ayat 187.   Pada Malam Hari Halal Hubungan Intim   Dalam ayat disebutkan, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Berarti dihalalkan pada setiap malam Ramadhan untuk berjimak dengan istri, ini berlaku di seluruh malam Ramadhan. Kenapa jimak dibutuhkan? Dalam ayat lanjutan disebutkan, هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” Maksudnya adalah suami istri itu satu dan lainnya saling membutuhkan, maka seperti kebutuhan dalam berpakaian, ia bercampur dengannya dan memakainya, menutupi dan ditutupi. Istri itu menjaga suaminya dari maksiat syahwat yang jelek. Seperti halnya pakaian bisa melindungi dari panas dan dingin yang mengganggu. Sebab turunnya surah Al-Baqarah ayat 187 adalah karena ada sebagian sahabat mengalami kesulitan berat dengan adanya larangan makan pada malam hari kalau sudah tertidur. Ada juga di antara mereka yang tetap nekat mendatangi istrinya pada malam hari. Padahal hal tersebut terlarang ketika seseorang sudah shalat Isya atau tertidur sebelum berbuka. Riwayat ini tentang kisah Qais bin Shirmah. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu (pada masa awal Islam) jika berpuasa lantas tiba waktu berbuka, jika tidur sebelum berbuka, maka tidak dibolehkan makan pada malam tersebut, ia berpuasa hingga keesokan hari, sampai sore. Ada seseorang bernama Qais bin Shirmah, ia berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, ia mendatangi istrinya, ia menanyakan, “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak ada. Aku akan pergi menyiapkannya dan menyerahkannya padamu.” Qais bin Shirmah sendiri siang hari puasa bekerja keras, sehingga ketika ia menunggu makanan tadi, ia tertidur. Ketika itu istrinya datang lalu melihatnya tertidur, istrinya berkata, “Yah, engkau gagal makan.” Keesokan harinya pada tengah siang, Qais bin Shirmah jatuh pingsan. Kemudian keadaan Qais bin Shirmah diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Para sahabat pun sangat gembira mendengar turunnya ayat tersebut. Juga turun ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ “dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 1915) Dari Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَ صَوْمُ رَمَضَانَ كَانُوا لاَ يَقْرَبُونَ النِّسَاءَ رَمَضَانَ كُلَّهُ ، وَكَانَ رِجَالٌ يَخُونُونَ أَنْفُسَهُمْ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ) “Ketika turun pensyariatan puasa Ramadhan, mereka para sahabat tidak boleh mendekati istri mereka di seluruh hari Ramadhan. Lalu ada di antara para sahabat yang diam-diam tidak bisa tahan dan mendatangi istrinya (berjimak). Maka turunlah firman Allah, ‘Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.’” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 4508) Masih bersambung insya Allah dalam serial berikutnya.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #01 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim saat puasa keringanan puasa makan dan minum saat puasa pembatal puasa puasa di awal islam tafsir ayat puasa
Ternyata puasa awal Islam beratnya seperti ini. Ini menandakan kita harus bersyukur dengan puasa yang kita jalani saat ini. Masih melanjutkan surah Al-Baqarah ayat 187. Kali ini kami ambil dari bahasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain. Allah menyebutkan bagaimanakah kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya, Allah Mahatahu mengenai keadaan mereka. Allah memberikan keringanan bagi kaum muslimin ketika mereka berpuasa. Allah mengangkat kesulitan bagi mereka di mana sungguh berat menjalankan puasa pada awal-awal Islam. Pada awal Islam, jika ada yang sudah berbuka, maka halal untuk makan, minum, dan berjimak hingga shalat Isya atau ia tidur sebelum itu, ketika tidur sebelum berbuka atau sebelum shalat Isya, haram untuk makan dan minum serta berjimak sampai malam berikutnya. Maka ini jadi kesulitan yang besar, maka akhirnya Allah menurunkan rukshah dan takhfif (yaitu keringanan) pada surah Al-Baqarah ayat 187.   Pada Malam Hari Halal Hubungan Intim   Dalam ayat disebutkan, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Berarti dihalalkan pada setiap malam Ramadhan untuk berjimak dengan istri, ini berlaku di seluruh malam Ramadhan. Kenapa jimak dibutuhkan? Dalam ayat lanjutan disebutkan, هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” Maksudnya adalah suami istri itu satu dan lainnya saling membutuhkan, maka seperti kebutuhan dalam berpakaian, ia bercampur dengannya dan memakainya, menutupi dan ditutupi. Istri itu menjaga suaminya dari maksiat syahwat yang jelek. Seperti halnya pakaian bisa melindungi dari panas dan dingin yang mengganggu. Sebab turunnya surah Al-Baqarah ayat 187 adalah karena ada sebagian sahabat mengalami kesulitan berat dengan adanya larangan makan pada malam hari kalau sudah tertidur. Ada juga di antara mereka yang tetap nekat mendatangi istrinya pada malam hari. Padahal hal tersebut terlarang ketika seseorang sudah shalat Isya atau tertidur sebelum berbuka. Riwayat ini tentang kisah Qais bin Shirmah. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu (pada masa awal Islam) jika berpuasa lantas tiba waktu berbuka, jika tidur sebelum berbuka, maka tidak dibolehkan makan pada malam tersebut, ia berpuasa hingga keesokan hari, sampai sore. Ada seseorang bernama Qais bin Shirmah, ia berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, ia mendatangi istrinya, ia menanyakan, “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak ada. Aku akan pergi menyiapkannya dan menyerahkannya padamu.” Qais bin Shirmah sendiri siang hari puasa bekerja keras, sehingga ketika ia menunggu makanan tadi, ia tertidur. Ketika itu istrinya datang lalu melihatnya tertidur, istrinya berkata, “Yah, engkau gagal makan.” Keesokan harinya pada tengah siang, Qais bin Shirmah jatuh pingsan. Kemudian keadaan Qais bin Shirmah diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Para sahabat pun sangat gembira mendengar turunnya ayat tersebut. Juga turun ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ “dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 1915) Dari Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَ صَوْمُ رَمَضَانَ كَانُوا لاَ يَقْرَبُونَ النِّسَاءَ رَمَضَانَ كُلَّهُ ، وَكَانَ رِجَالٌ يَخُونُونَ أَنْفُسَهُمْ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ) “Ketika turun pensyariatan puasa Ramadhan, mereka para sahabat tidak boleh mendekati istri mereka di seluruh hari Ramadhan. Lalu ada di antara para sahabat yang diam-diam tidak bisa tahan dan mendatangi istrinya (berjimak). Maka turunlah firman Allah, ‘Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.’” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 4508) Masih bersambung insya Allah dalam serial berikutnya.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #01 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim saat puasa keringanan puasa makan dan minum saat puasa pembatal puasa puasa di awal islam tafsir ayat puasa


Ternyata puasa awal Islam beratnya seperti ini. Ini menandakan kita harus bersyukur dengan puasa yang kita jalani saat ini. Masih melanjutkan surah Al-Baqarah ayat 187. Kali ini kami ambil dari bahasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Tafsir Az-Zahrawain. Allah menyebutkan bagaimanakah kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya, Allah Mahatahu mengenai keadaan mereka. Allah memberikan keringanan bagi kaum muslimin ketika mereka berpuasa. Allah mengangkat kesulitan bagi mereka di mana sungguh berat menjalankan puasa pada awal-awal Islam. Pada awal Islam, jika ada yang sudah berbuka, maka halal untuk makan, minum, dan berjimak hingga shalat Isya atau ia tidur sebelum itu, ketika tidur sebelum berbuka atau sebelum shalat Isya, haram untuk makan dan minum serta berjimak sampai malam berikutnya. Maka ini jadi kesulitan yang besar, maka akhirnya Allah menurunkan rukshah dan takhfif (yaitu keringanan) pada surah Al-Baqarah ayat 187.   Pada Malam Hari Halal Hubungan Intim   Dalam ayat disebutkan, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Berarti dihalalkan pada setiap malam Ramadhan untuk berjimak dengan istri, ini berlaku di seluruh malam Ramadhan. Kenapa jimak dibutuhkan? Dalam ayat lanjutan disebutkan, هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” Maksudnya adalah suami istri itu satu dan lainnya saling membutuhkan, maka seperti kebutuhan dalam berpakaian, ia bercampur dengannya dan memakainya, menutupi dan ditutupi. Istri itu menjaga suaminya dari maksiat syahwat yang jelek. Seperti halnya pakaian bisa melindungi dari panas dan dingin yang mengganggu. Sebab turunnya surah Al-Baqarah ayat 187 adalah karena ada sebagian sahabat mengalami kesulitan berat dengan adanya larangan makan pada malam hari kalau sudah tertidur. Ada juga di antara mereka yang tetap nekat mendatangi istrinya pada malam hari. Padahal hal tersebut terlarang ketika seseorang sudah shalat Isya atau tertidur sebelum berbuka. Riwayat ini tentang kisah Qais bin Shirmah. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu (pada masa awal Islam) jika berpuasa lantas tiba waktu berbuka, jika tidur sebelum berbuka, maka tidak dibolehkan makan pada malam tersebut, ia berpuasa hingga keesokan hari, sampai sore. Ada seseorang bernama Qais bin Shirmah, ia berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, ia mendatangi istrinya, ia menanyakan, “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak ada. Aku akan pergi menyiapkannya dan menyerahkannya padamu.” Qais bin Shirmah sendiri siang hari puasa bekerja keras, sehingga ketika ia menunggu makanan tadi, ia tertidur. Ketika itu istrinya datang lalu melihatnya tertidur, istrinya berkata, “Yah, engkau gagal makan.” Keesokan harinya pada tengah siang, Qais bin Shirmah jatuh pingsan. Kemudian keadaan Qais bin Shirmah diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian turunlah ayat, أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” Para sahabat pun sangat gembira mendengar turunnya ayat tersebut. Juga turun ayat, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ “dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 1915) Dari Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لَمَّا نَزَلَ صَوْمُ رَمَضَانَ كَانُوا لاَ يَقْرَبُونَ النِّسَاءَ رَمَضَانَ كُلَّهُ ، وَكَانَ رِجَالٌ يَخُونُونَ أَنْفُسَهُمْ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ) “Ketika turun pensyariatan puasa Ramadhan, mereka para sahabat tidak boleh mendekati istri mereka di seluruh hari Ramadhan. Lalu ada di antara para sahabat yang diam-diam tidak bisa tahan dan mendatangi istrinya (berjimak). Maka turunlah firman Allah, ‘Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu.’” (QS. Al-Baqarah: 187) (HR. Bukhari, no. 4508) Masih bersambung insya Allah dalam serial berikutnya.   Referensi: Tafsir Az-Zahrawain – Al-Baqarah wa Ali Imran. Cetakan pertama, Tahun 1437 H. Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Obeikan.     Catatan Ramadhan #01 @ Darush Sholihin, Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshubungan intim saat puasa keringanan puasa makan dan minum saat puasa pembatal puasa puasa di awal islam tafsir ayat puasa

Ingin Tahajud Setelah Tarawih?

Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Assalamu’alaykum, mau tanya ustadz, bolehkah kita shalat tahajjud dan witir setelah shalat tarawih? Dari: Berry, di Prabumulih Sumsel. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Tentu saja boleh, meski telah melakukan sholat witir. Nabi ﷺ pernah menambah sholat malam dua raka’at setelah beliau berwitir. Ibunda ‘Aisyah –radhiyallahu’anha– menceritakan, كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ. “Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim) Namun jika sudah melakukan sholat witir saat tarawih, tidak boleh witir kembali ketika Tahajud. Karena Nabi ﷺ melarang ada dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Beda antara Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail? Ada perbedaan antara sholat Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail (sholat malam). Dari tiga istilah ini, Qiyamullail adalah yang paling umum, sholat Tarawih dan Tahajud, adalah jenis dari Qiyamullail/sholat malam. Tarawih adalah sholat malam yang dikerjakan setelah isya, bersama Imam di malam hari Ramadhan. Adapun Tahajud adalah sholat malam yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu. Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, أما التراويح : فهي تطلق عند العلماء على قيام الليل في رمضان أول الليل ، مع مراعاة التخفيف وعدم الإطالة Para ulama menyebut Tarawih adalah sholat malam di bulan Ramadhan, yang dikerjakan di awal malam, dengan memperhatikan kondisi jama’ah, meringankan dan tidak memperlama sholat. (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Baz, 11/318) Berkenan pengertian Tahajud, Imam Al-Alusi rahimahullah memberikan keterangan dalam kitab Ruhul Ma’ani, والتهجد على ما نقل عن الليث الاستيقاظ من النوم الصلاة Yang dimaksud Tahajud sebagaimana dinukil dari Imam Al – Laits adalah, bangun dari tidur untuk melakukan sholat. (Ruhul Ma’ani 15/138) Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, والتهجد عند جمهور الفقهاء صلاة التطوع في الليل بعد النوم Menurut mayoritas ulama (Jumhur), Tahajud adalah sholat sunah di malam hari yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu. (Al – Mausu’ah Al – Fiqhiyyah Al – Kuwaitiyyah 27/136) Jika berniat ingin melakukan Tahajud setelah Tarawih, maka sholat dikerjakan sesudah tidur. Inilah Tahajud yang disebut dalam ayat yang mulia, وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra’ : 79) Dan ini yang lebih afdol. Meskipun jika ingin melakukan sholat malam sesudah tarawih, juga boleh. Namun itu tidak disebut sebagai Tahajud. Hanya sholat malam seperti umumnya. Bagaimana Caranya? Nabi ﷺ memerintahkan untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat kita di malam hari. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim) Agar kita tetap bisa mengamalkan hadis ini, ada tiga cara sholat malam setelah Tarawih : Pertama, sholat Tarawih bersama Imam, kemudian saat memasuki witir kita memisahkan diri. Kemudian witir dilakukan saat Tahajud. Ini boleh dikerjakan, namun kehilangan pahala yang sangat besar. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Oleh karena itu kami tidak menyarankan opsi yang pertama ini. Kedua, menggenapkan witir bersama Imam saat Tarawih. Kemudian mengundurkan pelaksanaan sholat witir saat sholat Tahajud. Di saat Imam salam di raka’at ke tiga witir, kita tidak ikut salam, tapi bangkit kembali menggenapkan satu raka’at. Sehingga tidak teranggap sholat witir. Karena witir artinya raka’at yang ganjil. Baca: Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Lalu sholat witir kita undur, saat melaksanakan sholat Tahajud. Ketiga, sholat Tarawih dan Witir bersama Imam. Kemudian saat sholat Tahajud, tidak melaksanakan witir kembali. Ini boleh berdasarkan hadis dari Ibunda Aisyah di atas. Tidak boleh witir kembali karena Nabi melarang adanya dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Menjawab Titipan Salam, Mengubur Ari Ari Menurut Islam, Pegawai Bank Riba, Meninggal Di Hari Jumat Menurut Islam, Taqobalallohu Mina Waminkum, Cara Mengqodo Sholat Visited 29 times, 1 visit(s) today Post Views: 195 QRIS donasi Yufid

Ingin Tahajud Setelah Tarawih?

Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Assalamu’alaykum, mau tanya ustadz, bolehkah kita shalat tahajjud dan witir setelah shalat tarawih? Dari: Berry, di Prabumulih Sumsel. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Tentu saja boleh, meski telah melakukan sholat witir. Nabi ﷺ pernah menambah sholat malam dua raka’at setelah beliau berwitir. Ibunda ‘Aisyah –radhiyallahu’anha– menceritakan, كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ. “Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim) Namun jika sudah melakukan sholat witir saat tarawih, tidak boleh witir kembali ketika Tahajud. Karena Nabi ﷺ melarang ada dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Beda antara Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail? Ada perbedaan antara sholat Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail (sholat malam). Dari tiga istilah ini, Qiyamullail adalah yang paling umum, sholat Tarawih dan Tahajud, adalah jenis dari Qiyamullail/sholat malam. Tarawih adalah sholat malam yang dikerjakan setelah isya, bersama Imam di malam hari Ramadhan. Adapun Tahajud adalah sholat malam yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu. Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, أما التراويح : فهي تطلق عند العلماء على قيام الليل في رمضان أول الليل ، مع مراعاة التخفيف وعدم الإطالة Para ulama menyebut Tarawih adalah sholat malam di bulan Ramadhan, yang dikerjakan di awal malam, dengan memperhatikan kondisi jama’ah, meringankan dan tidak memperlama sholat. (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Baz, 11/318) Berkenan pengertian Tahajud, Imam Al-Alusi rahimahullah memberikan keterangan dalam kitab Ruhul Ma’ani, والتهجد على ما نقل عن الليث الاستيقاظ من النوم الصلاة Yang dimaksud Tahajud sebagaimana dinukil dari Imam Al – Laits adalah, bangun dari tidur untuk melakukan sholat. (Ruhul Ma’ani 15/138) Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, والتهجد عند جمهور الفقهاء صلاة التطوع في الليل بعد النوم Menurut mayoritas ulama (Jumhur), Tahajud adalah sholat sunah di malam hari yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu. (Al – Mausu’ah Al – Fiqhiyyah Al – Kuwaitiyyah 27/136) Jika berniat ingin melakukan Tahajud setelah Tarawih, maka sholat dikerjakan sesudah tidur. Inilah Tahajud yang disebut dalam ayat yang mulia, وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra’ : 79) Dan ini yang lebih afdol. Meskipun jika ingin melakukan sholat malam sesudah tarawih, juga boleh. Namun itu tidak disebut sebagai Tahajud. Hanya sholat malam seperti umumnya. Bagaimana Caranya? Nabi ﷺ memerintahkan untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat kita di malam hari. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim) Agar kita tetap bisa mengamalkan hadis ini, ada tiga cara sholat malam setelah Tarawih : Pertama, sholat Tarawih bersama Imam, kemudian saat memasuki witir kita memisahkan diri. Kemudian witir dilakukan saat Tahajud. Ini boleh dikerjakan, namun kehilangan pahala yang sangat besar. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Oleh karena itu kami tidak menyarankan opsi yang pertama ini. Kedua, menggenapkan witir bersama Imam saat Tarawih. Kemudian mengundurkan pelaksanaan sholat witir saat sholat Tahajud. Di saat Imam salam di raka’at ke tiga witir, kita tidak ikut salam, tapi bangkit kembali menggenapkan satu raka’at. Sehingga tidak teranggap sholat witir. Karena witir artinya raka’at yang ganjil. Baca: Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Lalu sholat witir kita undur, saat melaksanakan sholat Tahajud. Ketiga, sholat Tarawih dan Witir bersama Imam. Kemudian saat sholat Tahajud, tidak melaksanakan witir kembali. Ini boleh berdasarkan hadis dari Ibunda Aisyah di atas. Tidak boleh witir kembali karena Nabi melarang adanya dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Menjawab Titipan Salam, Mengubur Ari Ari Menurut Islam, Pegawai Bank Riba, Meninggal Di Hari Jumat Menurut Islam, Taqobalallohu Mina Waminkum, Cara Mengqodo Sholat Visited 29 times, 1 visit(s) today Post Views: 195 QRIS donasi Yufid
Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Assalamu’alaykum, mau tanya ustadz, bolehkah kita shalat tahajjud dan witir setelah shalat tarawih? Dari: Berry, di Prabumulih Sumsel. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Tentu saja boleh, meski telah melakukan sholat witir. Nabi ﷺ pernah menambah sholat malam dua raka’at setelah beliau berwitir. Ibunda ‘Aisyah –radhiyallahu’anha– menceritakan, كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ. “Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim) Namun jika sudah melakukan sholat witir saat tarawih, tidak boleh witir kembali ketika Tahajud. Karena Nabi ﷺ melarang ada dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Beda antara Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail? Ada perbedaan antara sholat Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail (sholat malam). Dari tiga istilah ini, Qiyamullail adalah yang paling umum, sholat Tarawih dan Tahajud, adalah jenis dari Qiyamullail/sholat malam. Tarawih adalah sholat malam yang dikerjakan setelah isya, bersama Imam di malam hari Ramadhan. Adapun Tahajud adalah sholat malam yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu. Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, أما التراويح : فهي تطلق عند العلماء على قيام الليل في رمضان أول الليل ، مع مراعاة التخفيف وعدم الإطالة Para ulama menyebut Tarawih adalah sholat malam di bulan Ramadhan, yang dikerjakan di awal malam, dengan memperhatikan kondisi jama’ah, meringankan dan tidak memperlama sholat. (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Baz, 11/318) Berkenan pengertian Tahajud, Imam Al-Alusi rahimahullah memberikan keterangan dalam kitab Ruhul Ma’ani, والتهجد على ما نقل عن الليث الاستيقاظ من النوم الصلاة Yang dimaksud Tahajud sebagaimana dinukil dari Imam Al – Laits adalah, bangun dari tidur untuk melakukan sholat. (Ruhul Ma’ani 15/138) Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, والتهجد عند جمهور الفقهاء صلاة التطوع في الليل بعد النوم Menurut mayoritas ulama (Jumhur), Tahajud adalah sholat sunah di malam hari yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu. (Al – Mausu’ah Al – Fiqhiyyah Al – Kuwaitiyyah 27/136) Jika berniat ingin melakukan Tahajud setelah Tarawih, maka sholat dikerjakan sesudah tidur. Inilah Tahajud yang disebut dalam ayat yang mulia, وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra’ : 79) Dan ini yang lebih afdol. Meskipun jika ingin melakukan sholat malam sesudah tarawih, juga boleh. Namun itu tidak disebut sebagai Tahajud. Hanya sholat malam seperti umumnya. Bagaimana Caranya? Nabi ﷺ memerintahkan untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat kita di malam hari. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim) Agar kita tetap bisa mengamalkan hadis ini, ada tiga cara sholat malam setelah Tarawih : Pertama, sholat Tarawih bersama Imam, kemudian saat memasuki witir kita memisahkan diri. Kemudian witir dilakukan saat Tahajud. Ini boleh dikerjakan, namun kehilangan pahala yang sangat besar. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Oleh karena itu kami tidak menyarankan opsi yang pertama ini. Kedua, menggenapkan witir bersama Imam saat Tarawih. Kemudian mengundurkan pelaksanaan sholat witir saat sholat Tahajud. Di saat Imam salam di raka’at ke tiga witir, kita tidak ikut salam, tapi bangkit kembali menggenapkan satu raka’at. Sehingga tidak teranggap sholat witir. Karena witir artinya raka’at yang ganjil. Baca: Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Lalu sholat witir kita undur, saat melaksanakan sholat Tahajud. Ketiga, sholat Tarawih dan Witir bersama Imam. Kemudian saat sholat Tahajud, tidak melaksanakan witir kembali. Ini boleh berdasarkan hadis dari Ibunda Aisyah di atas. Tidak boleh witir kembali karena Nabi melarang adanya dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Menjawab Titipan Salam, Mengubur Ari Ari Menurut Islam, Pegawai Bank Riba, Meninggal Di Hari Jumat Menurut Islam, Taqobalallohu Mina Waminkum, Cara Mengqodo Sholat Visited 29 times, 1 visit(s) today Post Views: 195 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1249956532&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Ingin Tahajud Setelah Tarawih? Assalamu’alaykum, mau tanya ustadz, bolehkah kita shalat tahajjud dan witir setelah shalat tarawih? Dari: Berry, di Prabumulih Sumsel. Jawaban: Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Tentu saja boleh, meski telah melakukan sholat witir. Nabi ﷺ pernah menambah sholat malam dua raka’at setelah beliau berwitir. Ibunda ‘Aisyah –radhiyallahu’anha– menceritakan, كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ. “Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim) Namun jika sudah melakukan sholat witir saat tarawih, tidak boleh witir kembali ketika Tahajud. Karena Nabi ﷺ melarang ada dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Beda antara Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail? Ada perbedaan antara sholat Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail (sholat malam). Dari tiga istilah ini, Qiyamullail adalah yang paling umum, sholat Tarawih dan Tahajud, adalah jenis dari Qiyamullail/sholat malam. Tarawih adalah sholat malam yang dikerjakan setelah isya, bersama Imam di malam hari Ramadhan. Adapun Tahajud adalah sholat malam yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu. Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, أما التراويح : فهي تطلق عند العلماء على قيام الليل في رمضان أول الليل ، مع مراعاة التخفيف وعدم الإطالة Para ulama menyebut Tarawih adalah sholat malam di bulan Ramadhan, yang dikerjakan di awal malam, dengan memperhatikan kondisi jama’ah, meringankan dan tidak memperlama sholat. (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Baz, 11/318) Berkenan pengertian Tahajud, Imam Al-Alusi rahimahullah memberikan keterangan dalam kitab Ruhul Ma’ani, والتهجد على ما نقل عن الليث الاستيقاظ من النوم الصلاة Yang dimaksud Tahajud sebagaimana dinukil dari Imam Al – Laits adalah, bangun dari tidur untuk melakukan sholat. (Ruhul Ma’ani 15/138) Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan, والتهجد عند جمهور الفقهاء صلاة التطوع في الليل بعد النوم Menurut mayoritas ulama (Jumhur), Tahajud adalah sholat sunah di malam hari yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu. (Al – Mausu’ah Al – Fiqhiyyah Al – Kuwaitiyyah 27/136) Jika berniat ingin melakukan Tahajud setelah Tarawih, maka sholat dikerjakan sesudah tidur. Inilah Tahajud yang disebut dalam ayat yang mulia, وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra’ : 79) Dan ini yang lebih afdol. Meskipun jika ingin melakukan sholat malam sesudah tarawih, juga boleh. Namun itu tidak disebut sebagai Tahajud. Hanya sholat malam seperti umumnya. Bagaimana Caranya? Nabi ﷺ memerintahkan untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat kita di malam hari. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim) Agar kita tetap bisa mengamalkan hadis ini, ada tiga cara sholat malam setelah Tarawih : Pertama, sholat Tarawih bersama Imam, kemudian saat memasuki witir kita memisahkan diri. Kemudian witir dilakukan saat Tahajud. Ini boleh dikerjakan, namun kehilangan pahala yang sangat besar. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ “Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) Oleh karena itu kami tidak menyarankan opsi yang pertama ini. Kedua, menggenapkan witir bersama Imam saat Tarawih. Kemudian mengundurkan pelaksanaan sholat witir saat sholat Tahajud. Di saat Imam salam di raka’at ke tiga witir, kita tidak ikut salam, tapi bangkit kembali menggenapkan satu raka’at. Sehingga tidak teranggap sholat witir. Karena witir artinya raka’at yang ganjil. Baca: Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Lalu sholat witir kita undur, saat melaksanakan sholat Tahajud. Ketiga, sholat Tarawih dan Witir bersama Imam. Kemudian saat sholat Tahajud, tidak melaksanakan witir kembali. Ini boleh berdasarkan hadis dari Ibunda Aisyah di atas. Tidak boleh witir kembali karena Nabi melarang adanya dua witir dalam satu malam. لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Cara Menjawab Titipan Salam, Mengubur Ari Ari Menurut Islam, Pegawai Bank Riba, Meninggal Di Hari Jumat Menurut Islam, Taqobalallohu Mina Waminkum, Cara Mengqodo Sholat Visited 29 times, 1 visit(s) today Post Views: 195 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kumpulan Amalan Ringan #23: Kalimat Ringan Subhanallahi wa Bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim

Dzikir ini ringan namun berat dalam timbangan, disukai oleh Ar-Rahman, yaitu bacaan: SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari, no. 6682 dan Muslim, no. 2694) Dalam Muqaddimah Fath Al-Bari, Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut sebagai berikut: Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan. Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan). Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala. Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut  menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir doa penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah, دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Doa mereka di dalamnya adalah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka adalah: “Salam”. Dan penutup doa mereka adalah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.” (QS. Yunus: 10)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm.     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar amalan yang berat di timbangan bacaan dzikir ringan kumpulan amalan ringan

Kumpulan Amalan Ringan #23: Kalimat Ringan Subhanallahi wa Bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim

Dzikir ini ringan namun berat dalam timbangan, disukai oleh Ar-Rahman, yaitu bacaan: SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari, no. 6682 dan Muslim, no. 2694) Dalam Muqaddimah Fath Al-Bari, Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut sebagai berikut: Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan. Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan). Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala. Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut  menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir doa penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah, دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Doa mereka di dalamnya adalah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka adalah: “Salam”. Dan penutup doa mereka adalah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.” (QS. Yunus: 10)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm.     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar amalan yang berat di timbangan bacaan dzikir ringan kumpulan amalan ringan
Dzikir ini ringan namun berat dalam timbangan, disukai oleh Ar-Rahman, yaitu bacaan: SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari, no. 6682 dan Muslim, no. 2694) Dalam Muqaddimah Fath Al-Bari, Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut sebagai berikut: Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan. Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan). Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala. Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut  menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir doa penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah, دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Doa mereka di dalamnya adalah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka adalah: “Salam”. Dan penutup doa mereka adalah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.” (QS. Yunus: 10)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm.     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar amalan yang berat di timbangan bacaan dzikir ringan kumpulan amalan ringan


Dzikir ini ringan namun berat dalam timbangan, disukai oleh Ar-Rahman, yaitu bacaan: SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari, no. 6682 dan Muslim, no. 2694) Dalam Muqaddimah Fath Al-Bari, Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut sebagai berikut: Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan. Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan). Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala. Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut  menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir doa penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah, دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Doa mereka di dalamnya adalah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka adalah: “Salam”. Dan penutup doa mereka adalah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.” (QS. Yunus: 10)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm.     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar amalan yang berat di timbangan bacaan dzikir ringan kumpulan amalan ringan

Jumlah Maksimal Raka’at Witir?

Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Ustad mau tanya solat witir umumnya berapa rakaat nggeh. Biasanya kalau disini 8 solat tarawih 3 shalat witir. Apa witir dikerjakan bisa 1 rakaat ustad. Ibu Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Sholat witir, adalah ibadah sunah yang sangat ditekankan (sunah mu-akkadah) dan berpahala besar. Sampai sebagian ulama; seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah, berpandangan bahwa sholat witir hukumnya wajib. Namun yang tepat, hukum sholat witir adalah sunah mu-akkadah. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah sampai pernah mengatakan, من ترك الوتر فهو رجل سوء لا ينبغي أن تقبل له شهادة “Siapa yang selalu meninggalkan sholat witir, dia seorang yang buruk, persaksiannya tidak diterima.” Ini menunjukkan, sholat witir adalah sholat yang amat penting. Saking pentingnya sholat ini, Allah sampai menjadikan witir sebagai sumpah. وَٱلۡفَجۡرِ Demi waktu fajar. وَلَيَالٍ عَشۡرٖ Demi malam yang sepuluh. وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ Demi yang genap dan yang ganjil. (QS. Al-Fajr 1 – 3) Imam Qotadah rahimahullah menerangkan, هما الصلاوات، منها شفع ومنها وتر Genap dan ganjil, maksudnya adalah sholat. Karena sholat ada yang raka’atnya genap (pent. seperti subuh, duhur, asar dll), ada yang ganjil (pent. seperti maghrib dan sholat witir). Jumlah Raka’at Witir Witir (الوتر), bermakna ganjil. Sholat witir adalah sholat yang dilakukan di malam hari sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya, dikerjakan dengan jumlah raka’at ganjil. Waktu sholat witir, dimulai setelah sholat Isya, sampai tiba waktu subuh, meskipun sholat Isya dijamak dengan sholat Maghrib (jama’ taqdim), sholat witir boleh dikerjakan sejak saat itu. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan sebuah nasihat berkesan yang beliau dengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أوتر قبل أن أنام “Kekasihku shallallahu’alaihi wasallam memberiku nasihat untuk berwitir sebelum aku tidur.” Jumlah raka’at minimal sholat ini adalah satu raka’at. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut, صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى Sholat malam dikerjakan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika khawatir bangun kesubuhan, maka Witirlah dengan satu raka’at, sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya. (HR. Bukhori dan Muslim) Adapun jumlah maksimum raka’at witir, tidak ada dalil yang menjelaskan batasannya. Sehingga seorang bisa melakukan sholat witir dengan raka’at berapapun asalkan ditutup dengan raka’at yang ganjil. Dalam Fatwa Lajnah Da-imah diterangkan, أقل الوتر ركعة ولا حد لأكثره، فإذا أوترت بركعة واحدة أو ثلاث أو خمس أو سبع أو تسع أو إحدى عشرة أو ثلاث عشرة أو أكثر من ذلك فالأمر فيه سعة. Jumlah minimal raka’at sholat witir adalah satu raka’at. Tidak ada batasan jumlah maksimum raka’at witir. Jika berwitir dengan satu raka’at, tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas atau lebih dari itu, boleh. Dalam hal ini longgar. (Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah 7/173) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzikir Penangkal Sihir, Doa Minta Anak, Hukum Perayaan Maulid Nabi, Perbedaan Jiwa Dan Ruh, Hadits Memaafkan Orang Lain, Dalil Malaikat Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid

Jumlah Maksimal Raka’at Witir?

Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Ustad mau tanya solat witir umumnya berapa rakaat nggeh. Biasanya kalau disini 8 solat tarawih 3 shalat witir. Apa witir dikerjakan bisa 1 rakaat ustad. Ibu Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Sholat witir, adalah ibadah sunah yang sangat ditekankan (sunah mu-akkadah) dan berpahala besar. Sampai sebagian ulama; seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah, berpandangan bahwa sholat witir hukumnya wajib. Namun yang tepat, hukum sholat witir adalah sunah mu-akkadah. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah sampai pernah mengatakan, من ترك الوتر فهو رجل سوء لا ينبغي أن تقبل له شهادة “Siapa yang selalu meninggalkan sholat witir, dia seorang yang buruk, persaksiannya tidak diterima.” Ini menunjukkan, sholat witir adalah sholat yang amat penting. Saking pentingnya sholat ini, Allah sampai menjadikan witir sebagai sumpah. وَٱلۡفَجۡرِ Demi waktu fajar. وَلَيَالٍ عَشۡرٖ Demi malam yang sepuluh. وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ Demi yang genap dan yang ganjil. (QS. Al-Fajr 1 – 3) Imam Qotadah rahimahullah menerangkan, هما الصلاوات، منها شفع ومنها وتر Genap dan ganjil, maksudnya adalah sholat. Karena sholat ada yang raka’atnya genap (pent. seperti subuh, duhur, asar dll), ada yang ganjil (pent. seperti maghrib dan sholat witir). Jumlah Raka’at Witir Witir (الوتر), bermakna ganjil. Sholat witir adalah sholat yang dilakukan di malam hari sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya, dikerjakan dengan jumlah raka’at ganjil. Waktu sholat witir, dimulai setelah sholat Isya, sampai tiba waktu subuh, meskipun sholat Isya dijamak dengan sholat Maghrib (jama’ taqdim), sholat witir boleh dikerjakan sejak saat itu. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan sebuah nasihat berkesan yang beliau dengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أوتر قبل أن أنام “Kekasihku shallallahu’alaihi wasallam memberiku nasihat untuk berwitir sebelum aku tidur.” Jumlah raka’at minimal sholat ini adalah satu raka’at. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut, صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى Sholat malam dikerjakan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika khawatir bangun kesubuhan, maka Witirlah dengan satu raka’at, sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya. (HR. Bukhori dan Muslim) Adapun jumlah maksimum raka’at witir, tidak ada dalil yang menjelaskan batasannya. Sehingga seorang bisa melakukan sholat witir dengan raka’at berapapun asalkan ditutup dengan raka’at yang ganjil. Dalam Fatwa Lajnah Da-imah diterangkan, أقل الوتر ركعة ولا حد لأكثره، فإذا أوترت بركعة واحدة أو ثلاث أو خمس أو سبع أو تسع أو إحدى عشرة أو ثلاث عشرة أو أكثر من ذلك فالأمر فيه سعة. Jumlah minimal raka’at sholat witir adalah satu raka’at. Tidak ada batasan jumlah maksimum raka’at witir. Jika berwitir dengan satu raka’at, tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas atau lebih dari itu, boleh. Dalam hal ini longgar. (Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah 7/173) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzikir Penangkal Sihir, Doa Minta Anak, Hukum Perayaan Maulid Nabi, Perbedaan Jiwa Dan Ruh, Hadits Memaafkan Orang Lain, Dalil Malaikat Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid
Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Ustad mau tanya solat witir umumnya berapa rakaat nggeh. Biasanya kalau disini 8 solat tarawih 3 shalat witir. Apa witir dikerjakan bisa 1 rakaat ustad. Ibu Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Sholat witir, adalah ibadah sunah yang sangat ditekankan (sunah mu-akkadah) dan berpahala besar. Sampai sebagian ulama; seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah, berpandangan bahwa sholat witir hukumnya wajib. Namun yang tepat, hukum sholat witir adalah sunah mu-akkadah. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah sampai pernah mengatakan, من ترك الوتر فهو رجل سوء لا ينبغي أن تقبل له شهادة “Siapa yang selalu meninggalkan sholat witir, dia seorang yang buruk, persaksiannya tidak diterima.” Ini menunjukkan, sholat witir adalah sholat yang amat penting. Saking pentingnya sholat ini, Allah sampai menjadikan witir sebagai sumpah. وَٱلۡفَجۡرِ Demi waktu fajar. وَلَيَالٍ عَشۡرٖ Demi malam yang sepuluh. وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ Demi yang genap dan yang ganjil. (QS. Al-Fajr 1 – 3) Imam Qotadah rahimahullah menerangkan, هما الصلاوات، منها شفع ومنها وتر Genap dan ganjil, maksudnya adalah sholat. Karena sholat ada yang raka’atnya genap (pent. seperti subuh, duhur, asar dll), ada yang ganjil (pent. seperti maghrib dan sholat witir). Jumlah Raka’at Witir Witir (الوتر), bermakna ganjil. Sholat witir adalah sholat yang dilakukan di malam hari sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya, dikerjakan dengan jumlah raka’at ganjil. Waktu sholat witir, dimulai setelah sholat Isya, sampai tiba waktu subuh, meskipun sholat Isya dijamak dengan sholat Maghrib (jama’ taqdim), sholat witir boleh dikerjakan sejak saat itu. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan sebuah nasihat berkesan yang beliau dengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أوتر قبل أن أنام “Kekasihku shallallahu’alaihi wasallam memberiku nasihat untuk berwitir sebelum aku tidur.” Jumlah raka’at minimal sholat ini adalah satu raka’at. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut, صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى Sholat malam dikerjakan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika khawatir bangun kesubuhan, maka Witirlah dengan satu raka’at, sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya. (HR. Bukhori dan Muslim) Adapun jumlah maksimum raka’at witir, tidak ada dalil yang menjelaskan batasannya. Sehingga seorang bisa melakukan sholat witir dengan raka’at berapapun asalkan ditutup dengan raka’at yang ganjil. Dalam Fatwa Lajnah Da-imah diterangkan, أقل الوتر ركعة ولا حد لأكثره، فإذا أوترت بركعة واحدة أو ثلاث أو خمس أو سبع أو تسع أو إحدى عشرة أو ثلاث عشرة أو أكثر من ذلك فالأمر فيه سعة. Jumlah minimal raka’at sholat witir adalah satu raka’at. Tidak ada batasan jumlah maksimum raka’at witir. Jika berwitir dengan satu raka’at, tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas atau lebih dari itu, boleh. Dalam hal ini longgar. (Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah 7/173) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzikir Penangkal Sihir, Doa Minta Anak, Hukum Perayaan Maulid Nabi, Perbedaan Jiwa Dan Ruh, Hadits Memaafkan Orang Lain, Dalil Malaikat Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1249956691&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Jumlah Maksimal Raka’at Witir? Ustad mau tanya solat witir umumnya berapa rakaat nggeh. Biasanya kalau disini 8 solat tarawih 3 shalat witir. Apa witir dikerjakan bisa 1 rakaat ustad. Ibu Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du. Sholat witir, adalah ibadah sunah yang sangat ditekankan (sunah mu-akkadah) dan berpahala besar. Sampai sebagian ulama; seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah, berpandangan bahwa sholat witir hukumnya wajib. Namun yang tepat, hukum sholat witir adalah sunah mu-akkadah. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah sampai pernah mengatakan, من ترك الوتر فهو رجل سوء لا ينبغي أن تقبل له شهادة “Siapa yang selalu meninggalkan sholat witir, dia seorang yang buruk, persaksiannya tidak diterima.” Ini menunjukkan, sholat witir adalah sholat yang amat penting. Saking pentingnya sholat ini, Allah sampai menjadikan witir sebagai sumpah. وَٱلۡفَجۡرِ Demi waktu fajar. وَلَيَالٍ عَشۡرٖ Demi malam yang sepuluh. وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ Demi yang genap dan yang ganjil. (QS. Al-Fajr 1 – 3) Imam Qotadah rahimahullah menerangkan, هما الصلاوات، منها شفع ومنها وتر Genap dan ganjil, maksudnya adalah sholat. Karena sholat ada yang raka’atnya genap (pent. seperti subuh, duhur, asar dll), ada yang ganjil (pent. seperti maghrib dan sholat witir). Jumlah Raka’at Witir Witir (الوتر), bermakna ganjil. Sholat witir adalah sholat yang dilakukan di malam hari sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya, dikerjakan dengan jumlah raka’at ganjil. Waktu sholat witir, dimulai setelah sholat Isya, sampai tiba waktu subuh, meskipun sholat Isya dijamak dengan sholat Maghrib (jama’ taqdim), sholat witir boleh dikerjakan sejak saat itu. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan sebuah nasihat berkesan yang beliau dengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أوتر قبل أن أنام “Kekasihku shallallahu’alaihi wasallam memberiku nasihat untuk berwitir sebelum aku tidur.” Jumlah raka’at minimal sholat ini adalah satu raka’at. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut, صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى Sholat malam dikerjakan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika khawatir bangun kesubuhan, maka Witirlah dengan satu raka’at, sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya. (HR. Bukhori dan Muslim) Adapun jumlah maksimum raka’at witir, tidak ada dalil yang menjelaskan batasannya. Sehingga seorang bisa melakukan sholat witir dengan raka’at berapapun asalkan ditutup dengan raka’at yang ganjil. Dalam Fatwa Lajnah Da-imah diterangkan, أقل الوتر ركعة ولا حد لأكثره، فإذا أوترت بركعة واحدة أو ثلاث أو خمس أو سبع أو تسع أو إحدى عشرة أو ثلاث عشرة أو أكثر من ذلك فالأمر فيه سعة. Jumlah minimal raka’at sholat witir adalah satu raka’at. Tidak ada batasan jumlah maksimum raka’at witir. Jika berwitir dengan satu raka’at, tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas atau lebih dari itu, boleh. Dalam hal ini longgar. (Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah 7/173) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Dzikir Penangkal Sihir, Doa Minta Anak, Hukum Perayaan Maulid Nabi, Perbedaan Jiwa Dan Ruh, Hadits Memaafkan Orang Lain, Dalil Malaikat Visited 44 times, 1 visit(s) today Post Views: 244 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa Ramadhan

Keutamaan Ibadah PuasaIbadah puasa memiliki banyak manfaat bagi seorang mukmin. Di antara faidah terbesar menjalankan ibadah puasa adalah tumbuhnya ketakwaan di dalam hati, sehingga menahan anggota badan dari berbuat maksiat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa puasa disyariatkan bagi hamba-Nya untuk meningkatkan dan menyempurnakan ketakwaan mereka. Takwa merupakan sebuah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Para ulama menjelaskan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan karena rasa takut terhadap adzab dan hukuman-Nya.Lalu, mengapa puasa merupakan sebab ketakwaan? Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal ini.Pertama, dengan puasa, seseorang akan lebih sedikit makan dan minum, yang menyebabkan lemahnya syahwat. Lemahnya syahwat ini menyebabkan berkurangnya maksiat yang ingin dia kerjakan. Karena syahwat adalah sumber dan awal dari semua maksiat dan keburukan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصِّيَامُ جُنَّةٌ“Puasa adalah perisai” (HR. An-Nasai no. 2228, 2229 dan Ibnu Majah no. 1639, shahih).Kedua, berpuasa melatih seseorang untuk kuat, sabar, dan tabah. Semua ini akan mendorong seseorang untuk meninggalkan dan menjauhi hal-hal buruk yang disukai jiwanya. Sebagai salah satu contoh, seseorang yang terbiasa dan sulit untuk berhenti merokok, dia mampu meninggalkannya dengan sebab puasa. Dia pun mampu meninggalkan kebiasaan buruk itu dengan lebih mudah.Ketiga, berpuasa memudahkan seseorang untuk berbuat ketaatan dan kebaikan. Hal ini tampak nyata di bulan Ramadhan. Orang-orang yang di luar bulan Ramadhan malas dan merasa berat beribadah, maka ketika bulan Ramadhan mereka berlomba-lomba untuk beribadah sebanyak mungkin.Keempat, berpuasa menyebabkan lunaknya hati untuk senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala dan memutus berbagai sebab yang dapat melalaikan-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga bisa menjadi hamba-Nya yang bertkwa.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Disarikan dari kitab Ittihaaf Ahlil Imaan bi Duruusi Syahri Ramadhan hal. 156-157, cet. Daar Al-‘Ashimah KSA tahun 1422, karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Belajar Kitab Kuning, Tentang Wahabi, Hadits Mencintai Rasulullah, Hadits Tentang Larangan Marah, Cara Ta'aruf Yang Benar

Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa Ramadhan

Keutamaan Ibadah PuasaIbadah puasa memiliki banyak manfaat bagi seorang mukmin. Di antara faidah terbesar menjalankan ibadah puasa adalah tumbuhnya ketakwaan di dalam hati, sehingga menahan anggota badan dari berbuat maksiat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa puasa disyariatkan bagi hamba-Nya untuk meningkatkan dan menyempurnakan ketakwaan mereka. Takwa merupakan sebuah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Para ulama menjelaskan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan karena rasa takut terhadap adzab dan hukuman-Nya.Lalu, mengapa puasa merupakan sebab ketakwaan? Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal ini.Pertama, dengan puasa, seseorang akan lebih sedikit makan dan minum, yang menyebabkan lemahnya syahwat. Lemahnya syahwat ini menyebabkan berkurangnya maksiat yang ingin dia kerjakan. Karena syahwat adalah sumber dan awal dari semua maksiat dan keburukan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصِّيَامُ جُنَّةٌ“Puasa adalah perisai” (HR. An-Nasai no. 2228, 2229 dan Ibnu Majah no. 1639, shahih).Kedua, berpuasa melatih seseorang untuk kuat, sabar, dan tabah. Semua ini akan mendorong seseorang untuk meninggalkan dan menjauhi hal-hal buruk yang disukai jiwanya. Sebagai salah satu contoh, seseorang yang terbiasa dan sulit untuk berhenti merokok, dia mampu meninggalkannya dengan sebab puasa. Dia pun mampu meninggalkan kebiasaan buruk itu dengan lebih mudah.Ketiga, berpuasa memudahkan seseorang untuk berbuat ketaatan dan kebaikan. Hal ini tampak nyata di bulan Ramadhan. Orang-orang yang di luar bulan Ramadhan malas dan merasa berat beribadah, maka ketika bulan Ramadhan mereka berlomba-lomba untuk beribadah sebanyak mungkin.Keempat, berpuasa menyebabkan lunaknya hati untuk senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala dan memutus berbagai sebab yang dapat melalaikan-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga bisa menjadi hamba-Nya yang bertkwa.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Disarikan dari kitab Ittihaaf Ahlil Imaan bi Duruusi Syahri Ramadhan hal. 156-157, cet. Daar Al-‘Ashimah KSA tahun 1422, karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Belajar Kitab Kuning, Tentang Wahabi, Hadits Mencintai Rasulullah, Hadits Tentang Larangan Marah, Cara Ta'aruf Yang Benar
Keutamaan Ibadah PuasaIbadah puasa memiliki banyak manfaat bagi seorang mukmin. Di antara faidah terbesar menjalankan ibadah puasa adalah tumbuhnya ketakwaan di dalam hati, sehingga menahan anggota badan dari berbuat maksiat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa puasa disyariatkan bagi hamba-Nya untuk meningkatkan dan menyempurnakan ketakwaan mereka. Takwa merupakan sebuah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Para ulama menjelaskan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan karena rasa takut terhadap adzab dan hukuman-Nya.Lalu, mengapa puasa merupakan sebab ketakwaan? Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal ini.Pertama, dengan puasa, seseorang akan lebih sedikit makan dan minum, yang menyebabkan lemahnya syahwat. Lemahnya syahwat ini menyebabkan berkurangnya maksiat yang ingin dia kerjakan. Karena syahwat adalah sumber dan awal dari semua maksiat dan keburukan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصِّيَامُ جُنَّةٌ“Puasa adalah perisai” (HR. An-Nasai no. 2228, 2229 dan Ibnu Majah no. 1639, shahih).Kedua, berpuasa melatih seseorang untuk kuat, sabar, dan tabah. Semua ini akan mendorong seseorang untuk meninggalkan dan menjauhi hal-hal buruk yang disukai jiwanya. Sebagai salah satu contoh, seseorang yang terbiasa dan sulit untuk berhenti merokok, dia mampu meninggalkannya dengan sebab puasa. Dia pun mampu meninggalkan kebiasaan buruk itu dengan lebih mudah.Ketiga, berpuasa memudahkan seseorang untuk berbuat ketaatan dan kebaikan. Hal ini tampak nyata di bulan Ramadhan. Orang-orang yang di luar bulan Ramadhan malas dan merasa berat beribadah, maka ketika bulan Ramadhan mereka berlomba-lomba untuk beribadah sebanyak mungkin.Keempat, berpuasa menyebabkan lunaknya hati untuk senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala dan memutus berbagai sebab yang dapat melalaikan-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga bisa menjadi hamba-Nya yang bertkwa.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Disarikan dari kitab Ittihaaf Ahlil Imaan bi Duruusi Syahri Ramadhan hal. 156-157, cet. Daar Al-‘Ashimah KSA tahun 1422, karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Belajar Kitab Kuning, Tentang Wahabi, Hadits Mencintai Rasulullah, Hadits Tentang Larangan Marah, Cara Ta'aruf Yang Benar


Keutamaan Ibadah PuasaIbadah puasa memiliki banyak manfaat bagi seorang mukmin. Di antara faidah terbesar menjalankan ibadah puasa adalah tumbuhnya ketakwaan di dalam hati, sehingga menahan anggota badan dari berbuat maksiat. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa puasa disyariatkan bagi hamba-Nya untuk meningkatkan dan menyempurnakan ketakwaan mereka. Takwa merupakan sebuah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Para ulama menjelaskan bahwa takwa adalah melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan karena rasa takut terhadap adzab dan hukuman-Nya.Lalu, mengapa puasa merupakan sebab ketakwaan? Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal ini.Pertama, dengan puasa, seseorang akan lebih sedikit makan dan minum, yang menyebabkan lemahnya syahwat. Lemahnya syahwat ini menyebabkan berkurangnya maksiat yang ingin dia kerjakan. Karena syahwat adalah sumber dan awal dari semua maksiat dan keburukan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,الصِّيَامُ جُنَّةٌ“Puasa adalah perisai” (HR. An-Nasai no. 2228, 2229 dan Ibnu Majah no. 1639, shahih).Kedua, berpuasa melatih seseorang untuk kuat, sabar, dan tabah. Semua ini akan mendorong seseorang untuk meninggalkan dan menjauhi hal-hal buruk yang disukai jiwanya. Sebagai salah satu contoh, seseorang yang terbiasa dan sulit untuk berhenti merokok, dia mampu meninggalkannya dengan sebab puasa. Dia pun mampu meninggalkan kebiasaan buruk itu dengan lebih mudah.Ketiga, berpuasa memudahkan seseorang untuk berbuat ketaatan dan kebaikan. Hal ini tampak nyata di bulan Ramadhan. Orang-orang yang di luar bulan Ramadhan malas dan merasa berat beribadah, maka ketika bulan Ramadhan mereka berlomba-lomba untuk beribadah sebanyak mungkin.Keempat, berpuasa menyebabkan lunaknya hati untuk senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala dan memutus berbagai sebab yang dapat melalaikan-Nya.Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga bisa menjadi hamba-Nya yang bertkwa.***Diselesaikan menjelang dzuhur, Rotterdam NL 24 Sya’ban 1438/20 Mei 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idReferensi:Disarikan dari kitab Ittihaaf Ahlil Imaan bi Duruusi Syahri Ramadhan hal. 156-157, cet. Daar Al-‘Ashimah KSA tahun 1422, karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Belajar Kitab Kuning, Tentang Wahabi, Hadits Mencintai Rasulullah, Hadits Tentang Larangan Marah, Cara Ta'aruf Yang Benar

Tahap-Tahap Diwajibkannya Puasa Ramadhan

Tahap Sebelum Diwajibkannya Puasa RamadhanMenahan diri dari syahwat makanan, minuman dan juga syahwat biologis merupakan perkara yang berat alias tidak mudah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala baru memerintahkan kewajiban berpuasa Ramadhan pada tahun ke dua setelah hijrah ke Madinah [1].Allah Ta’ala mewajibkan puasa melalui beberapa tahap, yaitu tahap mewajibkan puasa ‘Asyura. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura (tanggal 10 Muharram).Tahap Diwajibkannya Puasa RamadhanTahap selanjutnya Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan dengan memilih antara melaksanakan puasa atau membayar fidyah. [2] ‘Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ“Dulu, orang-orang Quraisy berpuasa di hari ‘Asyura di masa jahiliyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa di hari tersebut (di masa jahiliyyah). Ketika beliau tiba di Madinah, beliau mengerjakan puasa ‘Asyura dan memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa.Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa ‘Asyura. Barangsiapa yang ingin berpuasa, maka dia mengerjakannya. Dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa, maka mereka meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3] Ketika hati dan keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah menancap kuat, maka Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan secara bertahap. Pada tahap ke dua ini, mereka boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah, meskipun lebih ditekankan dan dianjurkan untuk berpuasa. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak ingin berpuasa dan memilih membayar fidyah (meskipun mereka sebetulnya mampu berpuasa), maka dipersilakan.Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 184)Tahap Diwajibkan Puasa Bagi yang MampuAllah Ta’ala kemudian menurunkan ayat berikutnya untuk menghapus ketentuan hukum ayat di atas. Hal ini diberitakan oleh dua sahabat yang mulia, yaitu ‘Abdullah bin Umar dan Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhuma,“Ayat tersebut (surat Al-Baqarah ayat 184) dihapus (hukumnya) oleh ayat berikut ini,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) [4] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa kandungan surat Al-Baqarah ayat 184 di atas tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua renta serta orang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya. Bagi kedua golongan tersebut, boleh tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Sehingga ketentuan ayat tersebut (tentang pilihan untuk berpuasa atau membayar fidyah) hanya dihapus untuk orang yang mampu berpuasa.Dari Atho’ radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca surat Al-Baqarah ayat 184 kemudian berkata,لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا”Ayat ini tidak dimansukh (dihapus hukumnya, pent). Ayat ini tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua yang tidak mampu untuk berpuasa. Keduanya wajib memberi makan bagi orang miskin setiap hari yang dia tidak berpuasa”. (HR. Bukhari no. 4505)Pada awalnya, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai tertidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka waktu berbuka sudah habis, meskipun masih malam (belum terbit fajar) dan meskipun mereka belum menyantap makanan. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini,كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا، فَحَضَرَ الإِفْطَارُ، فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلاَ يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا، فَلَمَّا حَضَرَ الإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ، فَقَالَ لَهَا: أَعِنْدَكِ طَعَامٌ؟ قَالَتْ: لاَ وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ، وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: خَيْبَةً لَكَ، فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187] فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا، وَنَزَلَتْ: {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الأَسْوَدِ} [البقرة: 187]“Dahulu jika sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan tiba waktu berbuka, dan mereka tidur sebelum berbuka puasa, maka tidak boleh makan di waktu malam dan siang hari (berikutnya) sampai sore hari lagi. Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa, dan ketika tiba waktu berbuka dia mendatangi istrinya dan bertanya,’Apakah ada makanan?’Istrinya menjawab,’Tidak, namun aku akan pergi mencarikan makanan untukmu.’ Pada hari itu, Qais bekerja seharian sehingga dia pun tertidur (ketika menunggu istrinya mencari makanan, pen.). Ketika istrinya tiba kembali dan melihat Qais tertidur, istrinya berkata,’Khaibah [5] untukmu.’ Di siang harinya Qais pun terbangun dan menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa untuk berhubungan badan dengan istrimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)Para sahabat pun sangat gembira, lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dan makan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)” (HR. Bukhari no. 1915) Sehingga berdasarkan ayat tersebut, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai terbit waktu fajar. Demikianlah kasih sayang dan keluasan rahmat Allah Ta’ala yang dicurahkan kepada hamba-hambaNya.Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini.Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL 20 Sya’ban 1438/16 Mei 2017 Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: [1] Shifat Shaum Nabi fii Ramadhan, hal. 21. [2] Taudhiihul Ahkaam min Buluughil Maraam, 3/443. [3] Artinya, hukum puasa ‘Asyura menjadi sunnah, tidak wajib. [4] Hadits riwayat Ibnu Umar terdapat dalam shahih Bukhari (4/188). Sedangkan hadits riwayat Salamah bin Akwa’ terdapat dalam shahih Bukhari (1/181) dan Muslim (1145). [5] Maksudnya, keinginan Qais (untuk makan berbuka puasa) tidak tercapai karena waktu berbuka untuknya sudah habis karena tertidur.🔍 Doa Dan Dzikir Setelah Sholat, Kitab Tazkiyatun Nufus, Fiqih Shalat Pdf, Mengapa Orang Tua Perlu Mencontoh Pola Pendidikan Anak Dari Luqman, Bacaan Makmum Dalam Shalat Berjamaah

Tahap-Tahap Diwajibkannya Puasa Ramadhan

Tahap Sebelum Diwajibkannya Puasa RamadhanMenahan diri dari syahwat makanan, minuman dan juga syahwat biologis merupakan perkara yang berat alias tidak mudah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala baru memerintahkan kewajiban berpuasa Ramadhan pada tahun ke dua setelah hijrah ke Madinah [1].Allah Ta’ala mewajibkan puasa melalui beberapa tahap, yaitu tahap mewajibkan puasa ‘Asyura. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura (tanggal 10 Muharram).Tahap Diwajibkannya Puasa RamadhanTahap selanjutnya Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan dengan memilih antara melaksanakan puasa atau membayar fidyah. [2] ‘Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ“Dulu, orang-orang Quraisy berpuasa di hari ‘Asyura di masa jahiliyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa di hari tersebut (di masa jahiliyyah). Ketika beliau tiba di Madinah, beliau mengerjakan puasa ‘Asyura dan memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa.Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa ‘Asyura. Barangsiapa yang ingin berpuasa, maka dia mengerjakannya. Dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa, maka mereka meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3] Ketika hati dan keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah menancap kuat, maka Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan secara bertahap. Pada tahap ke dua ini, mereka boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah, meskipun lebih ditekankan dan dianjurkan untuk berpuasa. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak ingin berpuasa dan memilih membayar fidyah (meskipun mereka sebetulnya mampu berpuasa), maka dipersilakan.Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 184)Tahap Diwajibkan Puasa Bagi yang MampuAllah Ta’ala kemudian menurunkan ayat berikutnya untuk menghapus ketentuan hukum ayat di atas. Hal ini diberitakan oleh dua sahabat yang mulia, yaitu ‘Abdullah bin Umar dan Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhuma,“Ayat tersebut (surat Al-Baqarah ayat 184) dihapus (hukumnya) oleh ayat berikut ini,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) [4] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa kandungan surat Al-Baqarah ayat 184 di atas tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua renta serta orang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya. Bagi kedua golongan tersebut, boleh tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Sehingga ketentuan ayat tersebut (tentang pilihan untuk berpuasa atau membayar fidyah) hanya dihapus untuk orang yang mampu berpuasa.Dari Atho’ radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca surat Al-Baqarah ayat 184 kemudian berkata,لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا”Ayat ini tidak dimansukh (dihapus hukumnya, pent). Ayat ini tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua yang tidak mampu untuk berpuasa. Keduanya wajib memberi makan bagi orang miskin setiap hari yang dia tidak berpuasa”. (HR. Bukhari no. 4505)Pada awalnya, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai tertidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka waktu berbuka sudah habis, meskipun masih malam (belum terbit fajar) dan meskipun mereka belum menyantap makanan. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini,كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا، فَحَضَرَ الإِفْطَارُ، فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلاَ يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا، فَلَمَّا حَضَرَ الإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ، فَقَالَ لَهَا: أَعِنْدَكِ طَعَامٌ؟ قَالَتْ: لاَ وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ، وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: خَيْبَةً لَكَ، فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187] فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا، وَنَزَلَتْ: {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الأَسْوَدِ} [البقرة: 187]“Dahulu jika sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan tiba waktu berbuka, dan mereka tidur sebelum berbuka puasa, maka tidak boleh makan di waktu malam dan siang hari (berikutnya) sampai sore hari lagi. Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa, dan ketika tiba waktu berbuka dia mendatangi istrinya dan bertanya,’Apakah ada makanan?’Istrinya menjawab,’Tidak, namun aku akan pergi mencarikan makanan untukmu.’ Pada hari itu, Qais bekerja seharian sehingga dia pun tertidur (ketika menunggu istrinya mencari makanan, pen.). Ketika istrinya tiba kembali dan melihat Qais tertidur, istrinya berkata,’Khaibah [5] untukmu.’ Di siang harinya Qais pun terbangun dan menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa untuk berhubungan badan dengan istrimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)Para sahabat pun sangat gembira, lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dan makan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)” (HR. Bukhari no. 1915) Sehingga berdasarkan ayat tersebut, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai terbit waktu fajar. Demikianlah kasih sayang dan keluasan rahmat Allah Ta’ala yang dicurahkan kepada hamba-hambaNya.Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini.Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL 20 Sya’ban 1438/16 Mei 2017 Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: [1] Shifat Shaum Nabi fii Ramadhan, hal. 21. [2] Taudhiihul Ahkaam min Buluughil Maraam, 3/443. [3] Artinya, hukum puasa ‘Asyura menjadi sunnah, tidak wajib. [4] Hadits riwayat Ibnu Umar terdapat dalam shahih Bukhari (4/188). Sedangkan hadits riwayat Salamah bin Akwa’ terdapat dalam shahih Bukhari (1/181) dan Muslim (1145). [5] Maksudnya, keinginan Qais (untuk makan berbuka puasa) tidak tercapai karena waktu berbuka untuknya sudah habis karena tertidur.🔍 Doa Dan Dzikir Setelah Sholat, Kitab Tazkiyatun Nufus, Fiqih Shalat Pdf, Mengapa Orang Tua Perlu Mencontoh Pola Pendidikan Anak Dari Luqman, Bacaan Makmum Dalam Shalat Berjamaah
Tahap Sebelum Diwajibkannya Puasa RamadhanMenahan diri dari syahwat makanan, minuman dan juga syahwat biologis merupakan perkara yang berat alias tidak mudah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala baru memerintahkan kewajiban berpuasa Ramadhan pada tahun ke dua setelah hijrah ke Madinah [1].Allah Ta’ala mewajibkan puasa melalui beberapa tahap, yaitu tahap mewajibkan puasa ‘Asyura. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura (tanggal 10 Muharram).Tahap Diwajibkannya Puasa RamadhanTahap selanjutnya Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan dengan memilih antara melaksanakan puasa atau membayar fidyah. [2] ‘Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ“Dulu, orang-orang Quraisy berpuasa di hari ‘Asyura di masa jahiliyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa di hari tersebut (di masa jahiliyyah). Ketika beliau tiba di Madinah, beliau mengerjakan puasa ‘Asyura dan memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa.Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa ‘Asyura. Barangsiapa yang ingin berpuasa, maka dia mengerjakannya. Dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa, maka mereka meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3] Ketika hati dan keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah menancap kuat, maka Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan secara bertahap. Pada tahap ke dua ini, mereka boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah, meskipun lebih ditekankan dan dianjurkan untuk berpuasa. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak ingin berpuasa dan memilih membayar fidyah (meskipun mereka sebetulnya mampu berpuasa), maka dipersilakan.Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 184)Tahap Diwajibkan Puasa Bagi yang MampuAllah Ta’ala kemudian menurunkan ayat berikutnya untuk menghapus ketentuan hukum ayat di atas. Hal ini diberitakan oleh dua sahabat yang mulia, yaitu ‘Abdullah bin Umar dan Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhuma,“Ayat tersebut (surat Al-Baqarah ayat 184) dihapus (hukumnya) oleh ayat berikut ini,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) [4] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa kandungan surat Al-Baqarah ayat 184 di atas tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua renta serta orang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya. Bagi kedua golongan tersebut, boleh tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Sehingga ketentuan ayat tersebut (tentang pilihan untuk berpuasa atau membayar fidyah) hanya dihapus untuk orang yang mampu berpuasa.Dari Atho’ radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca surat Al-Baqarah ayat 184 kemudian berkata,لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا”Ayat ini tidak dimansukh (dihapus hukumnya, pent). Ayat ini tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua yang tidak mampu untuk berpuasa. Keduanya wajib memberi makan bagi orang miskin setiap hari yang dia tidak berpuasa”. (HR. Bukhari no. 4505)Pada awalnya, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai tertidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka waktu berbuka sudah habis, meskipun masih malam (belum terbit fajar) dan meskipun mereka belum menyantap makanan. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini,كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا، فَحَضَرَ الإِفْطَارُ، فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلاَ يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا، فَلَمَّا حَضَرَ الإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ، فَقَالَ لَهَا: أَعِنْدَكِ طَعَامٌ؟ قَالَتْ: لاَ وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ، وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: خَيْبَةً لَكَ، فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187] فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا، وَنَزَلَتْ: {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الأَسْوَدِ} [البقرة: 187]“Dahulu jika sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan tiba waktu berbuka, dan mereka tidur sebelum berbuka puasa, maka tidak boleh makan di waktu malam dan siang hari (berikutnya) sampai sore hari lagi. Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa, dan ketika tiba waktu berbuka dia mendatangi istrinya dan bertanya,’Apakah ada makanan?’Istrinya menjawab,’Tidak, namun aku akan pergi mencarikan makanan untukmu.’ Pada hari itu, Qais bekerja seharian sehingga dia pun tertidur (ketika menunggu istrinya mencari makanan, pen.). Ketika istrinya tiba kembali dan melihat Qais tertidur, istrinya berkata,’Khaibah [5] untukmu.’ Di siang harinya Qais pun terbangun dan menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa untuk berhubungan badan dengan istrimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)Para sahabat pun sangat gembira, lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dan makan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)” (HR. Bukhari no. 1915) Sehingga berdasarkan ayat tersebut, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai terbit waktu fajar. Demikianlah kasih sayang dan keluasan rahmat Allah Ta’ala yang dicurahkan kepada hamba-hambaNya.Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini.Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL 20 Sya’ban 1438/16 Mei 2017 Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: [1] Shifat Shaum Nabi fii Ramadhan, hal. 21. [2] Taudhiihul Ahkaam min Buluughil Maraam, 3/443. [3] Artinya, hukum puasa ‘Asyura menjadi sunnah, tidak wajib. [4] Hadits riwayat Ibnu Umar terdapat dalam shahih Bukhari (4/188). Sedangkan hadits riwayat Salamah bin Akwa’ terdapat dalam shahih Bukhari (1/181) dan Muslim (1145). [5] Maksudnya, keinginan Qais (untuk makan berbuka puasa) tidak tercapai karena waktu berbuka untuknya sudah habis karena tertidur.🔍 Doa Dan Dzikir Setelah Sholat, Kitab Tazkiyatun Nufus, Fiqih Shalat Pdf, Mengapa Orang Tua Perlu Mencontoh Pola Pendidikan Anak Dari Luqman, Bacaan Makmum Dalam Shalat Berjamaah


Tahap Sebelum Diwajibkannya Puasa RamadhanMenahan diri dari syahwat makanan, minuman dan juga syahwat biologis merupakan perkara yang berat alias tidak mudah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala baru memerintahkan kewajiban berpuasa Ramadhan pada tahun ke dua setelah hijrah ke Madinah [1].Allah Ta’ala mewajibkan puasa melalui beberapa tahap, yaitu tahap mewajibkan puasa ‘Asyura. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura (tanggal 10 Muharram).Tahap Diwajibkannya Puasa RamadhanTahap selanjutnya Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan dengan memilih antara melaksanakan puasa atau membayar fidyah. [2] ‘Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ“Dulu, orang-orang Quraisy berpuasa di hari ‘Asyura di masa jahiliyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa di hari tersebut (di masa jahiliyyah). Ketika beliau tiba di Madinah, beliau mengerjakan puasa ‘Asyura dan memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa.Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa ‘Asyura. Barangsiapa yang ingin berpuasa, maka dia mengerjakannya. Dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa, maka mereka meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [3] Ketika hati dan keimanan para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah menancap kuat, maka Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan secara bertahap. Pada tahap ke dua ini, mereka boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah, meskipun lebih ditekankan dan dianjurkan untuk berpuasa. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak ingin berpuasa dan memilih membayar fidyah (meskipun mereka sebetulnya mampu berpuasa), maka dipersilakan.Allah Ta’ala berfirman,وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 184)Tahap Diwajibkan Puasa Bagi yang MampuAllah Ta’ala kemudian menurunkan ayat berikutnya untuk menghapus ketentuan hukum ayat di atas. Hal ini diberitakan oleh dua sahabat yang mulia, yaitu ‘Abdullah bin Umar dan Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhuma,“Ayat tersebut (surat Al-Baqarah ayat 184) dihapus (hukumnya) oleh ayat berikut ini,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) [4] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa kandungan surat Al-Baqarah ayat 184 di atas tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua renta serta orang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya. Bagi kedua golongan tersebut, boleh tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Sehingga ketentuan ayat tersebut (tentang pilihan untuk berpuasa atau membayar fidyah) hanya dihapus untuk orang yang mampu berpuasa.Dari Atho’ radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca surat Al-Baqarah ayat 184 kemudian berkata,لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الكَبِيرُ، وَالمَرْأَةُ الكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا”Ayat ini tidak dimansukh (dihapus hukumnya, pent). Ayat ini tetap berlaku bagi laki-laki dan wanita yang sudah tua yang tidak mampu untuk berpuasa. Keduanya wajib memberi makan bagi orang miskin setiap hari yang dia tidak berpuasa”. (HR. Bukhari no. 4505)Pada awalnya, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai tertidur di malam hari. Jika sudah tidur, maka waktu berbuka sudah habis, meskipun masih malam (belum terbit fajar) dan meskipun mereka belum menyantap makanan. Hal ini sebagaimana hadits berikut ini,كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا، فَحَضَرَ الإِفْطَارُ، فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلاَ يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا، فَلَمَّا حَضَرَ الإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ، فَقَالَ لَهَا: أَعِنْدَكِ طَعَامٌ؟ قَالَتْ: لاَ وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ، وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: خَيْبَةً لَكَ، فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187] فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا، وَنَزَلَتْ: {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الأَسْوَدِ} [البقرة: 187]“Dahulu jika sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan tiba waktu berbuka, dan mereka tidur sebelum berbuka puasa, maka tidak boleh makan di waktu malam dan siang hari (berikutnya) sampai sore hari lagi. Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa, dan ketika tiba waktu berbuka dia mendatangi istrinya dan bertanya,’Apakah ada makanan?’Istrinya menjawab,’Tidak, namun aku akan pergi mencarikan makanan untukmu.’ Pada hari itu, Qais bekerja seharian sehingga dia pun tertidur (ketika menunggu istrinya mencari makanan, pen.). Ketika istrinya tiba kembali dan melihat Qais tertidur, istrinya berkata,’Khaibah [5] untukmu.’ Di siang harinya Qais pun terbangun dan menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa untuk berhubungan badan dengan istrimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)Para sahabat pun sangat gembira, lalu turunlah ayat (yang artinya),”Dan makan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)” (HR. Bukhari no. 1915) Sehingga berdasarkan ayat tersebut, waktu berbuka adalah dari tenggelam matahari sampai terbit waktu fajar. Demikianlah kasih sayang dan keluasan rahmat Allah Ta’ala yang dicurahkan kepada hamba-hambaNya.Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini.Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL 20 Sya’ban 1438/16 Mei 2017 Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: Muhammad Saifudin Hakim Artikel: Muslim.or.idCatatan kaki: [1] Shifat Shaum Nabi fii Ramadhan, hal. 21. [2] Taudhiihul Ahkaam min Buluughil Maraam, 3/443. [3] Artinya, hukum puasa ‘Asyura menjadi sunnah, tidak wajib. [4] Hadits riwayat Ibnu Umar terdapat dalam shahih Bukhari (4/188). Sedangkan hadits riwayat Salamah bin Akwa’ terdapat dalam shahih Bukhari (1/181) dan Muslim (1145). [5] Maksudnya, keinginan Qais (untuk makan berbuka puasa) tidak tercapai karena waktu berbuka untuknya sudah habis karena tertidur.🔍 Doa Dan Dzikir Setelah Sholat, Kitab Tazkiyatun Nufus, Fiqih Shalat Pdf, Mengapa Orang Tua Perlu Mencontoh Pola Pendidikan Anak Dari Luqman, Bacaan Makmum Dalam Shalat Berjamaah

Jihad di Bulan Ramadhan

Jihad di Bulan RamadhanTidak dipungkiri bahwa banyak ibadah yang bisa dilakukan seorang muslim di Bulan Ramadhan. Namun, ada dua ibadah yang perlu mendapat perhatian khusus dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya, yaitu melaksanakan ibadah puasa di siang harinya dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya. Hendaknya kita bersungguh-sungguh menjaga dua ibadah ini, mengenal keutamaanya, memperhatikan adab dan sunnahnya, serta menjaga dari perusak pahalanya.Dua Jihad di Bulan RamadhanAl Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata,اعلَمْ أنَّ المؤمنَ يجتَمعُ له في شَهر رمضَان جهادَان لنَفْسِه :– جهادٌ بالنَّهار على الصِّيام ،– وجهادٌ باللَّيل على القِيام ،– فمَن جمعَ بينَ هذَيْن الجهادَيْن ، ووَفَّى بحُقُوقهما ، وصَبَر عليهما ، وفَّى أجرَه بغَير حسَابٍ“Ketahuilah, sesungguhnya bagi orang yang beriman terdapat dua jihad melawan dirinya sendiri selama Bulan Ramadhan:– Jihad di siang hari dengan berpuasa– Jihad di malam hari dengan menegakkan shalat malamBarangsiapa yang bisa mengumpulkan kedua jihad tersebut, melaksanakannya dengan benar, senantiasa bersabar dalam menunaikannya, maka layak baginya mendapat balasan yang tidak terbatas” (Lathaaiful Ma’aarif).Yang dimaksud jihad di sini adalah bersungguh-sungguh dalam mewujudkan perkara yang Allah cintai. Inilah makna luas jihad secara umum, sehingga termasuk dalam makna ini seluruh perbuatan amal shalih (lihat Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan).Bersungguh-sungguh Melaksanakan PuasaPuasa adalah amalan utama di siang hari Bulan Ramadhan. Amalan ini merupakan salah satu kewajiban yang pokok dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 183).Nabi menjelaskan keutamaan puasa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”(H.R. Bukhari dan Muslim).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun” (H.R. Bukhari).Namun perlu diingat, puasa bukan hanya menahan makan dan minum semata, namun juga menjaga dari berbagai macam perbuatan dosa.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan justru mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (H.R. Bukhari).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan haus” (H.R. Ath-Thabrani, shahih).Semangat Mengerjakan Shalat MalamDi malam hari Bulan Ramadhan, ibadah yang sangat dianjurkan adalah menunaikan shalat malam (shalat tarawih). Shalat malam di Bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa melakukan shalat malam di Bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (H.R. Bukhari dan Muslim).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya, kemudian beliau bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala shalat satu malam penuh” (H.R. Tirmidzi, shahih).Hadits ini merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.Bersungguh-sungguh dalam Seluruh IbadahBulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Hendaknya kita mengisi Ramadhan dengan berbagai amalan ketaatan. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh dan semangat dalam melaksanakannya, baik itu berupa puasa, shalat tarawih, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan amal ketaatan lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله“Dan yang disebut dengan mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah” (H.R. Ahmad, shahih)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Mujahid ditafsirkan sebagai orang yang bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah. Hal ini karena kecenderungan jiwa adalah malas melakukan kebaikan, cenderung memerintahkan kejelekan, dan mudah mengeluh ketika ada musibah. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran dan kesungguhan dalam komitmen untuk taat kepada Allah, butuh keteguhan dalam ketaatan, perlu bersungguh-sungguh melawan perbuatan maksiat kepada Allah, serta bersungguh-sungguh dalam sabar ketika ditimpa musibah. Yang dimaksud ketaatan di sini adalah melaksanakan perintah, mejauhi perkara yang terlarang, dan sabar menghadapai takdir. Seorang mujahid yang hakiki adalah yang bersungguh-sungguh merealisasikan tugas dan kewajibannya” (Bahjatu Quluubil Abrar, dinukil dari Anwaarul Bayaan fii Durusi Ramadhan).Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan dua jihad selama Bulan Ramadhan, dengan berpuasa di siang harinya, dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya, serta bersungguh-sungguh dan bersemangat mengamalkan amal kebaikan yang lainnya.Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Referensi:Lathaaiful Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan karya Syaikh Hamd bin Ibrahim al ‘Utsman.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram

Jihad di Bulan Ramadhan

Jihad di Bulan RamadhanTidak dipungkiri bahwa banyak ibadah yang bisa dilakukan seorang muslim di Bulan Ramadhan. Namun, ada dua ibadah yang perlu mendapat perhatian khusus dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya, yaitu melaksanakan ibadah puasa di siang harinya dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya. Hendaknya kita bersungguh-sungguh menjaga dua ibadah ini, mengenal keutamaanya, memperhatikan adab dan sunnahnya, serta menjaga dari perusak pahalanya.Dua Jihad di Bulan RamadhanAl Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata,اعلَمْ أنَّ المؤمنَ يجتَمعُ له في شَهر رمضَان جهادَان لنَفْسِه :– جهادٌ بالنَّهار على الصِّيام ،– وجهادٌ باللَّيل على القِيام ،– فمَن جمعَ بينَ هذَيْن الجهادَيْن ، ووَفَّى بحُقُوقهما ، وصَبَر عليهما ، وفَّى أجرَه بغَير حسَابٍ“Ketahuilah, sesungguhnya bagi orang yang beriman terdapat dua jihad melawan dirinya sendiri selama Bulan Ramadhan:– Jihad di siang hari dengan berpuasa– Jihad di malam hari dengan menegakkan shalat malamBarangsiapa yang bisa mengumpulkan kedua jihad tersebut, melaksanakannya dengan benar, senantiasa bersabar dalam menunaikannya, maka layak baginya mendapat balasan yang tidak terbatas” (Lathaaiful Ma’aarif).Yang dimaksud jihad di sini adalah bersungguh-sungguh dalam mewujudkan perkara yang Allah cintai. Inilah makna luas jihad secara umum, sehingga termasuk dalam makna ini seluruh perbuatan amal shalih (lihat Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan).Bersungguh-sungguh Melaksanakan PuasaPuasa adalah amalan utama di siang hari Bulan Ramadhan. Amalan ini merupakan salah satu kewajiban yang pokok dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 183).Nabi menjelaskan keutamaan puasa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”(H.R. Bukhari dan Muslim).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun” (H.R. Bukhari).Namun perlu diingat, puasa bukan hanya menahan makan dan minum semata, namun juga menjaga dari berbagai macam perbuatan dosa.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan justru mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (H.R. Bukhari).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan haus” (H.R. Ath-Thabrani, shahih).Semangat Mengerjakan Shalat MalamDi malam hari Bulan Ramadhan, ibadah yang sangat dianjurkan adalah menunaikan shalat malam (shalat tarawih). Shalat malam di Bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa melakukan shalat malam di Bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (H.R. Bukhari dan Muslim).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya, kemudian beliau bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala shalat satu malam penuh” (H.R. Tirmidzi, shahih).Hadits ini merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.Bersungguh-sungguh dalam Seluruh IbadahBulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Hendaknya kita mengisi Ramadhan dengan berbagai amalan ketaatan. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh dan semangat dalam melaksanakannya, baik itu berupa puasa, shalat tarawih, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan amal ketaatan lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله“Dan yang disebut dengan mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah” (H.R. Ahmad, shahih)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Mujahid ditafsirkan sebagai orang yang bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah. Hal ini karena kecenderungan jiwa adalah malas melakukan kebaikan, cenderung memerintahkan kejelekan, dan mudah mengeluh ketika ada musibah. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran dan kesungguhan dalam komitmen untuk taat kepada Allah, butuh keteguhan dalam ketaatan, perlu bersungguh-sungguh melawan perbuatan maksiat kepada Allah, serta bersungguh-sungguh dalam sabar ketika ditimpa musibah. Yang dimaksud ketaatan di sini adalah melaksanakan perintah, mejauhi perkara yang terlarang, dan sabar menghadapai takdir. Seorang mujahid yang hakiki adalah yang bersungguh-sungguh merealisasikan tugas dan kewajibannya” (Bahjatu Quluubil Abrar, dinukil dari Anwaarul Bayaan fii Durusi Ramadhan).Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan dua jihad selama Bulan Ramadhan, dengan berpuasa di siang harinya, dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya, serta bersungguh-sungguh dan bersemangat mengamalkan amal kebaikan yang lainnya.Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Referensi:Lathaaiful Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan karya Syaikh Hamd bin Ibrahim al ‘Utsman.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram
Jihad di Bulan RamadhanTidak dipungkiri bahwa banyak ibadah yang bisa dilakukan seorang muslim di Bulan Ramadhan. Namun, ada dua ibadah yang perlu mendapat perhatian khusus dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya, yaitu melaksanakan ibadah puasa di siang harinya dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya. Hendaknya kita bersungguh-sungguh menjaga dua ibadah ini, mengenal keutamaanya, memperhatikan adab dan sunnahnya, serta menjaga dari perusak pahalanya.Dua Jihad di Bulan RamadhanAl Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata,اعلَمْ أنَّ المؤمنَ يجتَمعُ له في شَهر رمضَان جهادَان لنَفْسِه :– جهادٌ بالنَّهار على الصِّيام ،– وجهادٌ باللَّيل على القِيام ،– فمَن جمعَ بينَ هذَيْن الجهادَيْن ، ووَفَّى بحُقُوقهما ، وصَبَر عليهما ، وفَّى أجرَه بغَير حسَابٍ“Ketahuilah, sesungguhnya bagi orang yang beriman terdapat dua jihad melawan dirinya sendiri selama Bulan Ramadhan:– Jihad di siang hari dengan berpuasa– Jihad di malam hari dengan menegakkan shalat malamBarangsiapa yang bisa mengumpulkan kedua jihad tersebut, melaksanakannya dengan benar, senantiasa bersabar dalam menunaikannya, maka layak baginya mendapat balasan yang tidak terbatas” (Lathaaiful Ma’aarif).Yang dimaksud jihad di sini adalah bersungguh-sungguh dalam mewujudkan perkara yang Allah cintai. Inilah makna luas jihad secara umum, sehingga termasuk dalam makna ini seluruh perbuatan amal shalih (lihat Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan).Bersungguh-sungguh Melaksanakan PuasaPuasa adalah amalan utama di siang hari Bulan Ramadhan. Amalan ini merupakan salah satu kewajiban yang pokok dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 183).Nabi menjelaskan keutamaan puasa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”(H.R. Bukhari dan Muslim).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun” (H.R. Bukhari).Namun perlu diingat, puasa bukan hanya menahan makan dan minum semata, namun juga menjaga dari berbagai macam perbuatan dosa.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan justru mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (H.R. Bukhari).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan haus” (H.R. Ath-Thabrani, shahih).Semangat Mengerjakan Shalat MalamDi malam hari Bulan Ramadhan, ibadah yang sangat dianjurkan adalah menunaikan shalat malam (shalat tarawih). Shalat malam di Bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa melakukan shalat malam di Bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (H.R. Bukhari dan Muslim).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya, kemudian beliau bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala shalat satu malam penuh” (H.R. Tirmidzi, shahih).Hadits ini merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.Bersungguh-sungguh dalam Seluruh IbadahBulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Hendaknya kita mengisi Ramadhan dengan berbagai amalan ketaatan. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh dan semangat dalam melaksanakannya, baik itu berupa puasa, shalat tarawih, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan amal ketaatan lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله“Dan yang disebut dengan mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah” (H.R. Ahmad, shahih)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Mujahid ditafsirkan sebagai orang yang bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah. Hal ini karena kecenderungan jiwa adalah malas melakukan kebaikan, cenderung memerintahkan kejelekan, dan mudah mengeluh ketika ada musibah. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran dan kesungguhan dalam komitmen untuk taat kepada Allah, butuh keteguhan dalam ketaatan, perlu bersungguh-sungguh melawan perbuatan maksiat kepada Allah, serta bersungguh-sungguh dalam sabar ketika ditimpa musibah. Yang dimaksud ketaatan di sini adalah melaksanakan perintah, mejauhi perkara yang terlarang, dan sabar menghadapai takdir. Seorang mujahid yang hakiki adalah yang bersungguh-sungguh merealisasikan tugas dan kewajibannya” (Bahjatu Quluubil Abrar, dinukil dari Anwaarul Bayaan fii Durusi Ramadhan).Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan dua jihad selama Bulan Ramadhan, dengan berpuasa di siang harinya, dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya, serta bersungguh-sungguh dan bersemangat mengamalkan amal kebaikan yang lainnya.Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Referensi:Lathaaiful Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan karya Syaikh Hamd bin Ibrahim al ‘Utsman.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram


Jihad di Bulan RamadhanTidak dipungkiri bahwa banyak ibadah yang bisa dilakukan seorang muslim di Bulan Ramadhan. Namun, ada dua ibadah yang perlu mendapat perhatian khusus dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya, yaitu melaksanakan ibadah puasa di siang harinya dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya. Hendaknya kita bersungguh-sungguh menjaga dua ibadah ini, mengenal keutamaanya, memperhatikan adab dan sunnahnya, serta menjaga dari perusak pahalanya.Dua Jihad di Bulan RamadhanAl Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata,اعلَمْ أنَّ المؤمنَ يجتَمعُ له في شَهر رمضَان جهادَان لنَفْسِه :– جهادٌ بالنَّهار على الصِّيام ،– وجهادٌ باللَّيل على القِيام ،– فمَن جمعَ بينَ هذَيْن الجهادَيْن ، ووَفَّى بحُقُوقهما ، وصَبَر عليهما ، وفَّى أجرَه بغَير حسَابٍ“Ketahuilah, sesungguhnya bagi orang yang beriman terdapat dua jihad melawan dirinya sendiri selama Bulan Ramadhan:– Jihad di siang hari dengan berpuasa– Jihad di malam hari dengan menegakkan shalat malamBarangsiapa yang bisa mengumpulkan kedua jihad tersebut, melaksanakannya dengan benar, senantiasa bersabar dalam menunaikannya, maka layak baginya mendapat balasan yang tidak terbatas” (Lathaaiful Ma’aarif).Yang dimaksud jihad di sini adalah bersungguh-sungguh dalam mewujudkan perkara yang Allah cintai. Inilah makna luas jihad secara umum, sehingga termasuk dalam makna ini seluruh perbuatan amal shalih (lihat Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan).Bersungguh-sungguh Melaksanakan PuasaPuasa adalah amalan utama di siang hari Bulan Ramadhan. Amalan ini merupakan salah satu kewajiban yang pokok dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 183).Nabi menjelaskan keutamaan puasa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”(H.R. Bukhari dan Muslim).Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun” (H.R. Bukhari).Namun perlu diingat, puasa bukan hanya menahan makan dan minum semata, namun juga menjaga dari berbagai macam perbuatan dosa.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan justru mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (H.R. Bukhari).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan haus” (H.R. Ath-Thabrani, shahih).Semangat Mengerjakan Shalat MalamDi malam hari Bulan Ramadhan, ibadah yang sangat dianjurkan adalah menunaikan shalat malam (shalat tarawih). Shalat malam di Bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barangsiapa melakukan shalat malam di Bulan Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (H.R. Bukhari dan Muslim).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya, kemudian beliau bersabda,إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala shalat satu malam penuh” (H.R. Tirmidzi, shahih).Hadits ini merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.Bersungguh-sungguh dalam Seluruh IbadahBulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Hendaknya kita mengisi Ramadhan dengan berbagai amalan ketaatan. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh dan semangat dalam melaksanakannya, baik itu berupa puasa, shalat tarawih, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan amal ketaatan lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله“Dan yang disebut dengan mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah” (H.R. Ahmad, shahih)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Mujahid ditafsirkan sebagai orang yang bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah. Hal ini karena kecenderungan jiwa adalah malas melakukan kebaikan, cenderung memerintahkan kejelekan, dan mudah mengeluh ketika ada musibah. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran dan kesungguhan dalam komitmen untuk taat kepada Allah, butuh keteguhan dalam ketaatan, perlu bersungguh-sungguh melawan perbuatan maksiat kepada Allah, serta bersungguh-sungguh dalam sabar ketika ditimpa musibah. Yang dimaksud ketaatan di sini adalah melaksanakan perintah, mejauhi perkara yang terlarang, dan sabar menghadapai takdir. Seorang mujahid yang hakiki adalah yang bersungguh-sungguh merealisasikan tugas dan kewajibannya” (Bahjatu Quluubil Abrar, dinukil dari Anwaarul Bayaan fii Durusi Ramadhan).Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan dua jihad selama Bulan Ramadhan, dengan berpuasa di siang harinya, dan melaksanakan shalat tarawih di malam harinya, serta bersungguh-sungguh dan bersemangat mengamalkan amal kebaikan yang lainnya.Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad. Referensi:Lathaaiful Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al Hambali. Anwaarul Bayaan fii Duruusi Ramadhan karya Syaikh Hamd bin Ibrahim al ‘Utsman.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Isbal, Ayat Alquran Tentang Surga, Peruntukan Zakat Mal, Surah At Taubah Ayat 18, Sunnah Puasa Muharram
Prev     Next