Taubat Adalah Salah Satu Sebab Terhapusnya Dosa

Tobat dari Syirik Pertanyaan: Assalamualaikum, Pak ustad saya mau bertanya, apakah Allah akan mengampuni dosa besar dan syirik bila bertaubat di masa hidupnya sebelum dibawa mati bagi seorang muslim ? Jawaban: Wa’alaikumussalam, Bismillahi wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Saudara-saudariku yang mulia, perlu kita ketahui bahwa taubat adalah penghapus seluruh dosa, dan di antara nama Allah ﷻ adalah (التواب) At-Tawwab yang Maha menerima Taubat, (الغفور) Al-Ghofur yang Maha Pengampun, dan (الغفار) Al-Ghoffar yang Maha Pengampun dengan ampunan yang banyak. Sehingga, sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh seseorang, maka jika ia bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya Kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan mengampuninya, berdasarkan firman-Nya: (قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم. وأنيبوا إلى ربكم…..) “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kembalilah kalian kepada Tuhan Kalian (Bertaubat)….”. (QS. Az-Zumar: 53-54). Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan: هذه الآية الكريمة دعوة لجميع العصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة, وإخبار بأن الله تعالى يغفر الذنوب جميعا لمن تاب منها ورجع عنها, وإن كانت مهما كانت وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر “Ayat ini merupakan seruan bagi seluruh pelaku maksiat, baik maksiat kekufuran maupun yang lainnya, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah ﷻ, dan juga merupakan kabar bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seluruhnya bagi siapapun yang bertaubat dan kembali dari dosa-dosa tersebut, bagaimanapun keadaan dosa-dosanya, walaupun dosa-dosanya banyak, bahkan seperti buih di lautan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 4/111) Imam Muhammad bin Ahmad Al-Anshori Al-Qurthubiy rahimahullah juga menjelaskan: قوله تعالى: (وأنيبوا إلى ربكم ) اي ارجعوا إليه بالطاعة, لما بين أن من تاب من الشرك يغفر له أمر بالتوبة والرجوع إليه. والإنابة الرجوع إلى الله بالإخللاص “Firman Allah: (dan Kembalilah kaliah kepada Tuhan Kalian) yaitu kembalilah kalian kepada-Nya dengan melakukan keta’atan, ketika Allah ﷻ menjelaskan bahwa siapapun yang bertaubat dari kesyirikan maka akan diampuni dosanya, saat itu juga Allah memerintahkan untuk taubat dan kembali kepadanya, Inabah dalam ayat ini maksudnya adalah kembali kepada Allah dengan Ikhlas. (Tafsir al-Qurtubiy: 15/186). Sehingga seluruh dosa di sini tanpa terkecuali dosa kesyirikan, seluruhnya akan diampuni oleh Allah ﷻ dengan syarat apabila pelakunya melakukan taubat yang benar sebelum terlambat (yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari barat. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, التائب من الذنب كمن لا ذنب له “Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa.” (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan dishahihkan Al-Albani) Maka seharusnya kita sebagai manusia yang banyak melakukan dosa untuk selalu bertaubat kepada Allah ﷻ sebagaimana Rasulullah memerintahkan: ياأيها الناس توبوا إلى الله واستغفروه فإني أتوب في اليوم مائة مرة “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunan-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali”. (HR. Muslim: 4870). Sedangkan, ayat ke-48 dalam Surat An-Nisa, bahwa Allah tidak mengampuni dosa selain syirik, hal ini jika pelakunya tidak sempat bertaubat sebelum meninggal, sebagaimana Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ثم أخبر تعالى: أنه (لا يغفر أن يشرك به) أي: لا يغفر لعبد لقيه وهو مشرك به “Kemudian Allah mengabarkan bahwa :(”Ia tidak akan mengampuni dosa syirik”) yaitu: Tidak mengampuni bagi seorang hamba yang meninggal dalam keadaan masih berbuat syirik” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 1/779). Sehingga perlu kita perhatikan bahwa taubat yang benar adalah jika dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat nya, sebagaimana yang dirincikan oleh syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah: الإخلاص لله, الندم على ما فعل من المعصية, أن يقلع عن الذنب الذي هو فيه, العزم أن لا يعود في المستقبل, أن تكون في زمن تقبل فيه التوبة (… قبل حلول الأجل وقبل طلوع الشمس من مغربها…) “(Syarat-syarat Taubat) adalah: 1. Ikhlas kepada Allah 2. Penyesalan atas maksiat yang pernah ia lakukan 3. Meningglkan dosa tersebut 4. Bertekad agar tidak kembali lagi berbuat dosa di waktu yang akan datang 5. Taubat dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu: Sebelum datangnya Ajal dan Sebelum Matahri terbit dari barat. (Lihat: Syarah Riyadhus Shalihin: 1/45-47). Demikianlah semoga Allah ﷻ mengampuni seluruh dosa-dosa kita. Wallahu A’lam. Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc., M.Kom (Alumni Lipia, Fakultas Syariah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Apakah Doa Nurbuat Itu Sesat, Tanya Jawab Ilmu Hakekat, Manfaat Besi Putih, Menabung Menurut Islam, Cara Membayar Zakat Mal, Bahaya Berciuman Saat Menstruasi Visited 226 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 QRIS donasi Yufid

Taubat Adalah Salah Satu Sebab Terhapusnya Dosa

Tobat dari Syirik Pertanyaan: Assalamualaikum, Pak ustad saya mau bertanya, apakah Allah akan mengampuni dosa besar dan syirik bila bertaubat di masa hidupnya sebelum dibawa mati bagi seorang muslim ? Jawaban: Wa’alaikumussalam, Bismillahi wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Saudara-saudariku yang mulia, perlu kita ketahui bahwa taubat adalah penghapus seluruh dosa, dan di antara nama Allah ﷻ adalah (التواب) At-Tawwab yang Maha menerima Taubat, (الغفور) Al-Ghofur yang Maha Pengampun, dan (الغفار) Al-Ghoffar yang Maha Pengampun dengan ampunan yang banyak. Sehingga, sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh seseorang, maka jika ia bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya Kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan mengampuninya, berdasarkan firman-Nya: (قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم. وأنيبوا إلى ربكم…..) “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kembalilah kalian kepada Tuhan Kalian (Bertaubat)….”. (QS. Az-Zumar: 53-54). Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan: هذه الآية الكريمة دعوة لجميع العصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة, وإخبار بأن الله تعالى يغفر الذنوب جميعا لمن تاب منها ورجع عنها, وإن كانت مهما كانت وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر “Ayat ini merupakan seruan bagi seluruh pelaku maksiat, baik maksiat kekufuran maupun yang lainnya, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah ﷻ, dan juga merupakan kabar bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seluruhnya bagi siapapun yang bertaubat dan kembali dari dosa-dosa tersebut, bagaimanapun keadaan dosa-dosanya, walaupun dosa-dosanya banyak, bahkan seperti buih di lautan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 4/111) Imam Muhammad bin Ahmad Al-Anshori Al-Qurthubiy rahimahullah juga menjelaskan: قوله تعالى: (وأنيبوا إلى ربكم ) اي ارجعوا إليه بالطاعة, لما بين أن من تاب من الشرك يغفر له أمر بالتوبة والرجوع إليه. والإنابة الرجوع إلى الله بالإخللاص “Firman Allah: (dan Kembalilah kaliah kepada Tuhan Kalian) yaitu kembalilah kalian kepada-Nya dengan melakukan keta’atan, ketika Allah ﷻ menjelaskan bahwa siapapun yang bertaubat dari kesyirikan maka akan diampuni dosanya, saat itu juga Allah memerintahkan untuk taubat dan kembali kepadanya, Inabah dalam ayat ini maksudnya adalah kembali kepada Allah dengan Ikhlas. (Tafsir al-Qurtubiy: 15/186). Sehingga seluruh dosa di sini tanpa terkecuali dosa kesyirikan, seluruhnya akan diampuni oleh Allah ﷻ dengan syarat apabila pelakunya melakukan taubat yang benar sebelum terlambat (yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari barat. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, التائب من الذنب كمن لا ذنب له “Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa.” (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan dishahihkan Al-Albani) Maka seharusnya kita sebagai manusia yang banyak melakukan dosa untuk selalu bertaubat kepada Allah ﷻ sebagaimana Rasulullah memerintahkan: ياأيها الناس توبوا إلى الله واستغفروه فإني أتوب في اليوم مائة مرة “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunan-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali”. (HR. Muslim: 4870). Sedangkan, ayat ke-48 dalam Surat An-Nisa, bahwa Allah tidak mengampuni dosa selain syirik, hal ini jika pelakunya tidak sempat bertaubat sebelum meninggal, sebagaimana Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ثم أخبر تعالى: أنه (لا يغفر أن يشرك به) أي: لا يغفر لعبد لقيه وهو مشرك به “Kemudian Allah mengabarkan bahwa :(”Ia tidak akan mengampuni dosa syirik”) yaitu: Tidak mengampuni bagi seorang hamba yang meninggal dalam keadaan masih berbuat syirik” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 1/779). Sehingga perlu kita perhatikan bahwa taubat yang benar adalah jika dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat nya, sebagaimana yang dirincikan oleh syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah: الإخلاص لله, الندم على ما فعل من المعصية, أن يقلع عن الذنب الذي هو فيه, العزم أن لا يعود في المستقبل, أن تكون في زمن تقبل فيه التوبة (… قبل حلول الأجل وقبل طلوع الشمس من مغربها…) “(Syarat-syarat Taubat) adalah: 1. Ikhlas kepada Allah 2. Penyesalan atas maksiat yang pernah ia lakukan 3. Meningglkan dosa tersebut 4. Bertekad agar tidak kembali lagi berbuat dosa di waktu yang akan datang 5. Taubat dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu: Sebelum datangnya Ajal dan Sebelum Matahri terbit dari barat. (Lihat: Syarah Riyadhus Shalihin: 1/45-47). Demikianlah semoga Allah ﷻ mengampuni seluruh dosa-dosa kita. Wallahu A’lam. Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc., M.Kom (Alumni Lipia, Fakultas Syariah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Apakah Doa Nurbuat Itu Sesat, Tanya Jawab Ilmu Hakekat, Manfaat Besi Putih, Menabung Menurut Islam, Cara Membayar Zakat Mal, Bahaya Berciuman Saat Menstruasi Visited 226 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 QRIS donasi Yufid
Tobat dari Syirik Pertanyaan: Assalamualaikum, Pak ustad saya mau bertanya, apakah Allah akan mengampuni dosa besar dan syirik bila bertaubat di masa hidupnya sebelum dibawa mati bagi seorang muslim ? Jawaban: Wa’alaikumussalam, Bismillahi wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Saudara-saudariku yang mulia, perlu kita ketahui bahwa taubat adalah penghapus seluruh dosa, dan di antara nama Allah ﷻ adalah (التواب) At-Tawwab yang Maha menerima Taubat, (الغفور) Al-Ghofur yang Maha Pengampun, dan (الغفار) Al-Ghoffar yang Maha Pengampun dengan ampunan yang banyak. Sehingga, sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh seseorang, maka jika ia bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya Kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan mengampuninya, berdasarkan firman-Nya: (قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم. وأنيبوا إلى ربكم…..) “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kembalilah kalian kepada Tuhan Kalian (Bertaubat)….”. (QS. Az-Zumar: 53-54). Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan: هذه الآية الكريمة دعوة لجميع العصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة, وإخبار بأن الله تعالى يغفر الذنوب جميعا لمن تاب منها ورجع عنها, وإن كانت مهما كانت وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر “Ayat ini merupakan seruan bagi seluruh pelaku maksiat, baik maksiat kekufuran maupun yang lainnya, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah ﷻ, dan juga merupakan kabar bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seluruhnya bagi siapapun yang bertaubat dan kembali dari dosa-dosa tersebut, bagaimanapun keadaan dosa-dosanya, walaupun dosa-dosanya banyak, bahkan seperti buih di lautan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 4/111) Imam Muhammad bin Ahmad Al-Anshori Al-Qurthubiy rahimahullah juga menjelaskan: قوله تعالى: (وأنيبوا إلى ربكم ) اي ارجعوا إليه بالطاعة, لما بين أن من تاب من الشرك يغفر له أمر بالتوبة والرجوع إليه. والإنابة الرجوع إلى الله بالإخللاص “Firman Allah: (dan Kembalilah kaliah kepada Tuhan Kalian) yaitu kembalilah kalian kepada-Nya dengan melakukan keta’atan, ketika Allah ﷻ menjelaskan bahwa siapapun yang bertaubat dari kesyirikan maka akan diampuni dosanya, saat itu juga Allah memerintahkan untuk taubat dan kembali kepadanya, Inabah dalam ayat ini maksudnya adalah kembali kepada Allah dengan Ikhlas. (Tafsir al-Qurtubiy: 15/186). Sehingga seluruh dosa di sini tanpa terkecuali dosa kesyirikan, seluruhnya akan diampuni oleh Allah ﷻ dengan syarat apabila pelakunya melakukan taubat yang benar sebelum terlambat (yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari barat. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, التائب من الذنب كمن لا ذنب له “Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa.” (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan dishahihkan Al-Albani) Maka seharusnya kita sebagai manusia yang banyak melakukan dosa untuk selalu bertaubat kepada Allah ﷻ sebagaimana Rasulullah memerintahkan: ياأيها الناس توبوا إلى الله واستغفروه فإني أتوب في اليوم مائة مرة “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunan-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali”. (HR. Muslim: 4870). Sedangkan, ayat ke-48 dalam Surat An-Nisa, bahwa Allah tidak mengampuni dosa selain syirik, hal ini jika pelakunya tidak sempat bertaubat sebelum meninggal, sebagaimana Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ثم أخبر تعالى: أنه (لا يغفر أن يشرك به) أي: لا يغفر لعبد لقيه وهو مشرك به “Kemudian Allah mengabarkan bahwa :(”Ia tidak akan mengampuni dosa syirik”) yaitu: Tidak mengampuni bagi seorang hamba yang meninggal dalam keadaan masih berbuat syirik” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 1/779). Sehingga perlu kita perhatikan bahwa taubat yang benar adalah jika dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat nya, sebagaimana yang dirincikan oleh syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah: الإخلاص لله, الندم على ما فعل من المعصية, أن يقلع عن الذنب الذي هو فيه, العزم أن لا يعود في المستقبل, أن تكون في زمن تقبل فيه التوبة (… قبل حلول الأجل وقبل طلوع الشمس من مغربها…) “(Syarat-syarat Taubat) adalah: 1. Ikhlas kepada Allah 2. Penyesalan atas maksiat yang pernah ia lakukan 3. Meningglkan dosa tersebut 4. Bertekad agar tidak kembali lagi berbuat dosa di waktu yang akan datang 5. Taubat dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu: Sebelum datangnya Ajal dan Sebelum Matahri terbit dari barat. (Lihat: Syarah Riyadhus Shalihin: 1/45-47). Demikianlah semoga Allah ﷻ mengampuni seluruh dosa-dosa kita. Wallahu A’lam. Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc., M.Kom (Alumni Lipia, Fakultas Syariah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Apakah Doa Nurbuat Itu Sesat, Tanya Jawab Ilmu Hakekat, Manfaat Besi Putih, Menabung Menurut Islam, Cara Membayar Zakat Mal, Bahaya Berciuman Saat Menstruasi Visited 226 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/667069964&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Tobat dari Syirik Pertanyaan: Assalamualaikum, Pak ustad saya mau bertanya, apakah Allah akan mengampuni dosa besar dan syirik bila bertaubat di masa hidupnya sebelum dibawa mati bagi seorang muslim ? Jawaban: Wa’alaikumussalam, Bismillahi wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Saudara-saudariku yang mulia, perlu kita ketahui bahwa taubat adalah penghapus seluruh dosa, dan di antara nama Allah ﷻ adalah (التواب) At-Tawwab yang Maha menerima Taubat, (الغفور) Al-Ghofur yang Maha Pengampun, dan (الغفار) Al-Ghoffar yang Maha Pengampun dengan ampunan yang banyak. Sehingga, sebesar apapun dosa yang dilakukan oleh seseorang, maka jika ia bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya Kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan mengampuninya, berdasarkan firman-Nya: (قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم. وأنيبوا إلى ربكم…..) “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kembalilah kalian kepada Tuhan Kalian (Bertaubat)….”. (QS. Az-Zumar: 53-54). Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan: هذه الآية الكريمة دعوة لجميع العصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة, وإخبار بأن الله تعالى يغفر الذنوب جميعا لمن تاب منها ورجع عنها, وإن كانت مهما كانت وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر “Ayat ini merupakan seruan bagi seluruh pelaku maksiat, baik maksiat kekufuran maupun yang lainnya, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah ﷻ, dan juga merupakan kabar bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seluruhnya bagi siapapun yang bertaubat dan kembali dari dosa-dosa tersebut, bagaimanapun keadaan dosa-dosanya, walaupun dosa-dosanya banyak, bahkan seperti buih di lautan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 4/111) Imam Muhammad bin Ahmad Al-Anshori Al-Qurthubiy rahimahullah juga menjelaskan: قوله تعالى: (وأنيبوا إلى ربكم ) اي ارجعوا إليه بالطاعة, لما بين أن من تاب من الشرك يغفر له أمر بالتوبة والرجوع إليه. والإنابة الرجوع إلى الله بالإخللاص “Firman Allah: (dan Kembalilah kaliah kepada Tuhan Kalian) yaitu kembalilah kalian kepada-Nya dengan melakukan keta’atan, ketika Allah ﷻ menjelaskan bahwa siapapun yang bertaubat dari kesyirikan maka akan diampuni dosanya, saat itu juga Allah memerintahkan untuk taubat dan kembali kepadanya, Inabah dalam ayat ini maksudnya adalah kembali kepada Allah dengan Ikhlas. (Tafsir al-Qurtubiy: 15/186). Sehingga seluruh dosa di sini tanpa terkecuali dosa kesyirikan, seluruhnya akan diampuni oleh Allah ﷻ dengan syarat apabila pelakunya melakukan taubat yang benar sebelum terlambat (yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari barat. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda, التائب من الذنب كمن لا ذنب له “Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa.” (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan dishahihkan Al-Albani) Maka seharusnya kita sebagai manusia yang banyak melakukan dosa untuk selalu bertaubat kepada Allah ﷻ sebagaimana Rasulullah memerintahkan: ياأيها الناس توبوا إلى الله واستغفروه فإني أتوب في اليوم مائة مرة “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampunan-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali”. (HR. Muslim: 4870). Sedangkan, ayat ke-48 dalam Surat An-Nisa, bahwa Allah tidak mengampuni dosa selain syirik, hal ini jika pelakunya tidak sempat bertaubat sebelum meninggal, sebagaimana Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: ثم أخبر تعالى: أنه (لا يغفر أن يشرك به) أي: لا يغفر لعبد لقيه وهو مشرك به “Kemudian Allah mengabarkan bahwa :(”Ia tidak akan mengampuni dosa syirik”) yaitu: Tidak mengampuni bagi seorang hamba yang meninggal dalam keadaan masih berbuat syirik” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 1/779). Sehingga perlu kita perhatikan bahwa taubat yang benar adalah jika dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat nya, sebagaimana yang dirincikan oleh syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah: الإخلاص لله, الندم على ما فعل من المعصية, أن يقلع عن الذنب الذي هو فيه, العزم أن لا يعود في المستقبل, أن تكون في زمن تقبل فيه التوبة (… قبل حلول الأجل وقبل طلوع الشمس من مغربها…) “(Syarat-syarat Taubat) adalah: 1. Ikhlas kepada Allah 2. Penyesalan atas maksiat yang pernah ia lakukan 3. Meningglkan dosa tersebut 4. Bertekad agar tidak kembali lagi berbuat dosa di waktu yang akan datang 5. Taubat dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu: Sebelum datangnya Ajal dan Sebelum Matahri terbit dari barat. (Lihat: Syarah Riyadhus Shalihin: 1/45-47). Demikianlah semoga Allah ﷻ mengampuni seluruh dosa-dosa kita. Wallahu A’lam. Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc., M.Kom (Alumni Lipia, Fakultas Syariah) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Apakah Doa Nurbuat Itu Sesat, Tanya Jawab Ilmu Hakekat, Manfaat Besi Putih, Menabung Menurut Islam, Cara Membayar Zakat Mal, Bahaya Berciuman Saat Menstruasi Visited 226 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar Ramadhan

Di antara yang perlu kita koreksi dalam diri kita sendiri adalah betapa rajinnya kita di bulan Ramadhan ini untuk melaksanakan berbagai macam amal ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, di luar bulan Ramadhan, semua itu sirna, hampir tanpa bekas. Tidak perlu menunggu sampai akhir bulan Syawal, shalat jamaah subuh tanggal 1 Syawal pun masjid kembali sepi seperti semula.Baca Juga:  Memberikan Hadiah Uang Kepada Anak-anak Ketika LebaranKita yang rajin shalat malam di bulan Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu, kita pun meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita tetap menjaga kontinuitas shalat malam. Dari sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,يَا عَبْدَ اللَّهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Abdullah, janganlah Engkau seperti fulan. Dulu dia rajin mendirikan shalat malam, lalu sekarang dia meninggalkan shalat malam.” (HR. Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159)Demikian pula dengan ibadah puasa. Di bulan Ramadhan, kita berpuasa sebulan penuh, kecuali sebagian kaum muslimin yang memang memiliki ‘udzur syar’i sehingga boleh tidak berpuasa. Sebagaimana kita rajin berpuasa di bulan Ramadhan, hendaknya kita juga tetap melaksanakan ibadah puasa sunnah di luar bulan Ramadhan. Banyak sekali ibadah puasa sunnah yang bisa kita kerjakan, baik itu puasa Syawal, puasa Senin dan Kamis, dan seterusnya.Baca Juga: Momen Lebaran, Kesempatan Mempraktekan Akhlak KarimahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana beliau tetap rajin berpuasa sunnah setelah Ramadhan berlalu. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ؛ وَكَانَ يَقُولُ: خُذُوا مِنَ العَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ؛ وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ، وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً دَاوَمَ عَلَيْهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa yang lebih banyak dalam sebulan melebihi puasa beliau di bulan Sya’ban. Beliau melaksanakan puasa bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau bersabda, “Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan bosan (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu bosan (dari mengerjakan amal).” Dan shalat yang paling Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya sekalipun sedikit. Dan bila beliau sudah terbiasa melaksanakan shalat (sunnah), beliau menjaga kesinambungannya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 741)Inilah model ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, beliau kontinyu dalam beribadah. Beliau tidak mengkhususkan satu hari atau satu bulan tertentu untuk fokus beribadah, lalu beliau tinggalkan ibadah-ibadah tersebut di luar hari dan bulan khusus tersebut. Model ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak demikian. Dari ‘Alqamah, beliau berkata,قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَخْتَصُّ مِنَ الأَيَّامِ شَيْئًا؟ قَالَتْ: ” لاَ، كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً، وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ“Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan hari-hari tertentu dalam beramal?” Dia menjawab, “Tidak. Beliau selalu beramal terus-menerus tanpa putus. Siapakah dari kalian yang akan mampu sebagaimana yang mampu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” (HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 741)Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan & Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhAmal yang kontinyu, inilah model beramal yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ أَحَبُّ العَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ“Amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.” (HR. Bukhari no. 6462 dan Muslim no. 741) Dan meskipun secara kauntitas itu sedikit, namun jika dikerjakan secara kontinyu, amal tersebut menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus-menerus dikerjakan (kontinyu) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)Baca Juga: Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi pengingat bagi diri penulis sendiri, dan siapa saja yang membaca tulisan ini. [Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Ramadhan 1440/22 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Melepas Jilbab Dalam Islam, Pelajaran Islami, Ayat Alquran Tentang Ulang Tahun, Arti Tasyahud, Jadwal Dzuhur

Tetap Rajin Ibadah Meskipun di Luar Ramadhan

Di antara yang perlu kita koreksi dalam diri kita sendiri adalah betapa rajinnya kita di bulan Ramadhan ini untuk melaksanakan berbagai macam amal ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, di luar bulan Ramadhan, semua itu sirna, hampir tanpa bekas. Tidak perlu menunggu sampai akhir bulan Syawal, shalat jamaah subuh tanggal 1 Syawal pun masjid kembali sepi seperti semula.Baca Juga:  Memberikan Hadiah Uang Kepada Anak-anak Ketika LebaranKita yang rajin shalat malam di bulan Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu, kita pun meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita tetap menjaga kontinuitas shalat malam. Dari sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,يَا عَبْدَ اللَّهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Abdullah, janganlah Engkau seperti fulan. Dulu dia rajin mendirikan shalat malam, lalu sekarang dia meninggalkan shalat malam.” (HR. Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159)Demikian pula dengan ibadah puasa. Di bulan Ramadhan, kita berpuasa sebulan penuh, kecuali sebagian kaum muslimin yang memang memiliki ‘udzur syar’i sehingga boleh tidak berpuasa. Sebagaimana kita rajin berpuasa di bulan Ramadhan, hendaknya kita juga tetap melaksanakan ibadah puasa sunnah di luar bulan Ramadhan. Banyak sekali ibadah puasa sunnah yang bisa kita kerjakan, baik itu puasa Syawal, puasa Senin dan Kamis, dan seterusnya.Baca Juga: Momen Lebaran, Kesempatan Mempraktekan Akhlak KarimahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana beliau tetap rajin berpuasa sunnah setelah Ramadhan berlalu. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ؛ وَكَانَ يَقُولُ: خُذُوا مِنَ العَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ؛ وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ، وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً دَاوَمَ عَلَيْهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa yang lebih banyak dalam sebulan melebihi puasa beliau di bulan Sya’ban. Beliau melaksanakan puasa bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau bersabda, “Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan bosan (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu bosan (dari mengerjakan amal).” Dan shalat yang paling Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya sekalipun sedikit. Dan bila beliau sudah terbiasa melaksanakan shalat (sunnah), beliau menjaga kesinambungannya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 741)Inilah model ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, beliau kontinyu dalam beribadah. Beliau tidak mengkhususkan satu hari atau satu bulan tertentu untuk fokus beribadah, lalu beliau tinggalkan ibadah-ibadah tersebut di luar hari dan bulan khusus tersebut. Model ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak demikian. Dari ‘Alqamah, beliau berkata,قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَخْتَصُّ مِنَ الأَيَّامِ شَيْئًا؟ قَالَتْ: ” لاَ، كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً، وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ“Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan hari-hari tertentu dalam beramal?” Dia menjawab, “Tidak. Beliau selalu beramal terus-menerus tanpa putus. Siapakah dari kalian yang akan mampu sebagaimana yang mampu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” (HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 741)Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan & Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhAmal yang kontinyu, inilah model beramal yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ أَحَبُّ العَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ“Amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.” (HR. Bukhari no. 6462 dan Muslim no. 741) Dan meskipun secara kauntitas itu sedikit, namun jika dikerjakan secara kontinyu, amal tersebut menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus-menerus dikerjakan (kontinyu) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)Baca Juga: Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi pengingat bagi diri penulis sendiri, dan siapa saja yang membaca tulisan ini. [Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Ramadhan 1440/22 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Melepas Jilbab Dalam Islam, Pelajaran Islami, Ayat Alquran Tentang Ulang Tahun, Arti Tasyahud, Jadwal Dzuhur
Di antara yang perlu kita koreksi dalam diri kita sendiri adalah betapa rajinnya kita di bulan Ramadhan ini untuk melaksanakan berbagai macam amal ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, di luar bulan Ramadhan, semua itu sirna, hampir tanpa bekas. Tidak perlu menunggu sampai akhir bulan Syawal, shalat jamaah subuh tanggal 1 Syawal pun masjid kembali sepi seperti semula.Baca Juga:  Memberikan Hadiah Uang Kepada Anak-anak Ketika LebaranKita yang rajin shalat malam di bulan Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu, kita pun meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita tetap menjaga kontinuitas shalat malam. Dari sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,يَا عَبْدَ اللَّهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Abdullah, janganlah Engkau seperti fulan. Dulu dia rajin mendirikan shalat malam, lalu sekarang dia meninggalkan shalat malam.” (HR. Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159)Demikian pula dengan ibadah puasa. Di bulan Ramadhan, kita berpuasa sebulan penuh, kecuali sebagian kaum muslimin yang memang memiliki ‘udzur syar’i sehingga boleh tidak berpuasa. Sebagaimana kita rajin berpuasa di bulan Ramadhan, hendaknya kita juga tetap melaksanakan ibadah puasa sunnah di luar bulan Ramadhan. Banyak sekali ibadah puasa sunnah yang bisa kita kerjakan, baik itu puasa Syawal, puasa Senin dan Kamis, dan seterusnya.Baca Juga: Momen Lebaran, Kesempatan Mempraktekan Akhlak KarimahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana beliau tetap rajin berpuasa sunnah setelah Ramadhan berlalu. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ؛ وَكَانَ يَقُولُ: خُذُوا مِنَ العَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ؛ وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ، وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً دَاوَمَ عَلَيْهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa yang lebih banyak dalam sebulan melebihi puasa beliau di bulan Sya’ban. Beliau melaksanakan puasa bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau bersabda, “Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan bosan (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu bosan (dari mengerjakan amal).” Dan shalat yang paling Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya sekalipun sedikit. Dan bila beliau sudah terbiasa melaksanakan shalat (sunnah), beliau menjaga kesinambungannya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 741)Inilah model ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, beliau kontinyu dalam beribadah. Beliau tidak mengkhususkan satu hari atau satu bulan tertentu untuk fokus beribadah, lalu beliau tinggalkan ibadah-ibadah tersebut di luar hari dan bulan khusus tersebut. Model ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak demikian. Dari ‘Alqamah, beliau berkata,قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَخْتَصُّ مِنَ الأَيَّامِ شَيْئًا؟ قَالَتْ: ” لاَ، كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً، وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ“Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan hari-hari tertentu dalam beramal?” Dia menjawab, “Tidak. Beliau selalu beramal terus-menerus tanpa putus. Siapakah dari kalian yang akan mampu sebagaimana yang mampu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” (HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 741)Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan & Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhAmal yang kontinyu, inilah model beramal yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ أَحَبُّ العَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ“Amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.” (HR. Bukhari no. 6462 dan Muslim no. 741) Dan meskipun secara kauntitas itu sedikit, namun jika dikerjakan secara kontinyu, amal tersebut menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus-menerus dikerjakan (kontinyu) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)Baca Juga: Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi pengingat bagi diri penulis sendiri, dan siapa saja yang membaca tulisan ini. [Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Ramadhan 1440/22 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Melepas Jilbab Dalam Islam, Pelajaran Islami, Ayat Alquran Tentang Ulang Tahun, Arti Tasyahud, Jadwal Dzuhur


Di antara yang perlu kita koreksi dalam diri kita sendiri adalah betapa rajinnya kita di bulan Ramadhan ini untuk melaksanakan berbagai macam amal ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, di luar bulan Ramadhan, semua itu sirna, hampir tanpa bekas. Tidak perlu menunggu sampai akhir bulan Syawal, shalat jamaah subuh tanggal 1 Syawal pun masjid kembali sepi seperti semula.Baca Juga:  Memberikan Hadiah Uang Kepada Anak-anak Ketika LebaranKita yang rajin shalat malam di bulan Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu, kita pun meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar kita tetap menjaga kontinuitas shalat malam. Dari sahabat ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,يَا عَبْدَ اللَّهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Abdullah, janganlah Engkau seperti fulan. Dulu dia rajin mendirikan shalat malam, lalu sekarang dia meninggalkan shalat malam.” (HR. Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159)Demikian pula dengan ibadah puasa. Di bulan Ramadhan, kita berpuasa sebulan penuh, kecuali sebagian kaum muslimin yang memang memiliki ‘udzur syar’i sehingga boleh tidak berpuasa. Sebagaimana kita rajin berpuasa di bulan Ramadhan, hendaknya kita juga tetap melaksanakan ibadah puasa sunnah di luar bulan Ramadhan. Banyak sekali ibadah puasa sunnah yang bisa kita kerjakan, baik itu puasa Syawal, puasa Senin dan Kamis, dan seterusnya.Baca Juga: Momen Lebaran, Kesempatan Mempraktekan Akhlak KarimahRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana beliau tetap rajin berpuasa sunnah setelah Ramadhan berlalu. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ؛ وَكَانَ يَقُولُ: خُذُوا مِنَ العَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ؛ وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ، وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً دَاوَمَ عَلَيْهَا“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa yang lebih banyak dalam sebulan melebihi puasa beliau di bulan Sya’ban. Beliau melaksanakan puasa bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau bersabda, “Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan bosan (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu bosan (dari mengerjakan amal).” Dan shalat yang paling Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya sekalipun sedikit. Dan bila beliau sudah terbiasa melaksanakan shalat (sunnah), beliau menjaga kesinambungannya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 741)Inilah model ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, beliau kontinyu dalam beribadah. Beliau tidak mengkhususkan satu hari atau satu bulan tertentu untuk fokus beribadah, lalu beliau tinggalkan ibadah-ibadah tersebut di luar hari dan bulan khusus tersebut. Model ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak demikian. Dari ‘Alqamah, beliau berkata,قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَخْتَصُّ مِنَ الأَيَّامِ شَيْئًا؟ قَالَتْ: ” لاَ، كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً، وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ“Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan hari-hari tertentu dalam beramal?” Dia menjawab, “Tidak. Beliau selalu beramal terus-menerus tanpa putus. Siapakah dari kalian yang akan mampu sebagaimana yang mampu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” (HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 741)Baca Juga: Hitungan Puasa Ramadhan & Syawwal Seperti Puasa Setahun PenuhAmal yang kontinyu, inilah model beramal yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كَانَ أَحَبُّ العَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ“Amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.” (HR. Bukhari no. 6462 dan Muslim no. 741) Dan meskipun secara kauntitas itu sedikit, namun jika dikerjakan secara kontinyu, amal tersebut menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus-menerus dikerjakan (kontinyu) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)Baca Juga: Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi pengingat bagi diri penulis sendiri, dan siapa saja yang membaca tulisan ini. [Selesai]***@Rumah Lendah, 17 Ramadhan 1440/22 Mei 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Melepas Jilbab Dalam Islam, Pelajaran Islami, Ayat Alquran Tentang Ulang Tahun, Arti Tasyahud, Jadwal Dzuhur

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah

Apa saja pelajaran yang bisa dipetik dari menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah?   Pertama: Kita lihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak manusia dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti yang dilakukan terhadap Suwaid bin Shamit dan Thufail bin Amr Ad-Dausi yang kemudian masuk Islam seketika itu juga. Begitu pula dakwah beliau kepada beberapa kabilah. Begitu pula Mush’ab bin ‘Umair ketika berdakwah di Madinah—sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah—beliau banyak membacakan Al-Qur’an ketika berdakwah. Al-Qur’an sungguh memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi jiwa. Imam Bukhari meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Ath-Thur pada shalat Maghrib. Ketika sampai pada ayat berikut, أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (38) “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.”(QS. Ath-Thur: 35-38). Jubair menyatakan, كَادَ قَلْبِى أَنْ يَطِيرَ “Hampir-hampir saja hatiku terbang.” (HR. Bukhari, no. 4854). Ketika itu, Jubair masih dalam keadaan musyrik. Selain itu, peristiwa inilah yang mengantarkannya masuk Islam. Selain itu, kisah Umar pada bagian terdahulu, ketika ia mendengar awal surah Thaha dibacakan, beliau tertegun dan beriman setelah memukul adik dan iparnya sendiri. Berdasarkan penjelasan di atas, kita melihat bahwa orang-orang Quraisy sangat takut kepada Al-Qur’an. Mereka memperingatkan setiap orang yang datang ke Makkah agar tidak mendengarkannya seperti pada kisah Thufail dan yang lainnya. Karena mereka mengetahui kekuatan Al-Qur’an terhadap jiwa. Oleh karena itu, manhaj (metodologi) yang benar dalam berdakwah adalah fokus memperbanyak membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menjadikan sandaran dalam ceramah dan khutbah, lalu menghindar dari ucapan-ucapan yang kosong dari kalamullah dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu bagus, tetapi kebaikannya sangat minim dan pengaruhnya juga sedikit.   Kedua: Kita lihat juga di antara manusia yang sangat mudah dan cepatnya mereka menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hanya perlu mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an dibacakan kepada mereka dan melupakan semua perkataaan untuk tidak mendengar Al-Qur’an (yang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy), sekalipun diungkapkan dengan bahasa yang lembut, tetap pada hakikatnya adalah palsu dan batil. Allah Ta’ala berfirman, وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa’: 81).   Ketiga: Kita telah melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling menemui beberapa kabilah pada musim haji sambil berkata, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan selamat.” Kata yang pertama kali diserukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kalimat tauhid. Ini adalah kalimat yang sangat agung, penting, dan harus menjadi prioritas utama. Siapa saja yang memiliki kalimat ini pada hari kiamat nanti, ia akan masuk surga. Siapa saja yang tidak beriman dengan kalimat ini, maka ia termasuk penghuni neraka, sehebat apa pun amalnya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah akan mengampuni segala dosa di bawah kesyirikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48) Hal ini juga menunjukkan bahwa tema tauhid haruslah yang pertama kali didakwahkan, tak bisa ditunda-tunda karena tauhid itu menyangkut hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan kewajiban yang menjanjikan pahala dan balasan yang besar dari sisi Allah Ta’ala. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25 dan Muslim, no. 21)   Keempat: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menawarkan dirinya kepada para kabilah sambil mengajak mereka kepada Allah dengan hikmah dan berdialog dengan lembut, seraya berkata, “Adakah orang yang membawaku kepada kaumnya. Karena orang-orang Quraisy menghalang-halangiku untuk menyampaikan risalah Rabbku.” Hal ini memberikan pengaruh ke dalam jiwa sehingga hal ini menjadi perhatian dan sambutan yang segera.   Kelima: Sekalipun para kabilah menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu menawarkan dirinya selama beberapa tahun, beliau tidak pernah putus asa untuk menawarkan terus kepada kabilah dalam berbagai musim, pertemuan atau tempat. Ini dilakukan hampir setiap tahun sampai kemudian Allah Ta’ala menetapkan pendukung baginya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya berputus asa dalam menasihati seseorang atau berdakwah. Selain itu, terdapat peringatan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dalam ayat disebutkan, يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.” (QS. Yusuf: 87). Dalam Tafsir Al-Muyassar (hlm. 246) disebutkan bahwa yang putus asa dari rahmat Allah hanyalah orang yang menentang ketentuan Allah, itulah yang kufur kepada Allah.   Keenam: Berdasarkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para kabilah dapat kita pahami bahwa beliau tengah mencari tempat yang memungkinkan beliau untuk menyampaikan risalah Rabbnya dan mengajak ke jalan Allah dengan aman. Beribadah kepada Allah dengan aman dari berbagai gangguan. Hal ini menyadarkan kita betapa pentingnya situasi aman dalam melakukan dakwah ke jalan Allah. Siapa saja yang memperoleh nikmat ini, hendaknya ia banyak bersyukur kepada Allah dan menjaga suasana itu serta memanfaatkannya untuk kepentingan agama Allah. Dua dalil berikut menunjukkan kenikmatan rasa aman. Yang pertama, firman Allah Ta’ala, لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al Quraisy: 1-4). Tentang ayat terakhir dari surah ini, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan dalam kitab tafsirnya, “Lapangnya rezeki dan diberikannya rasa aman dari gangguan adalah nikmat dunia yang paling besar yang patut kita bersyukur kepada Allah ketika memperolehnya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 982) Yang kedua adalah hadits dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   Ketujuh: Sambutan terhadap apa yang diserukan aktivis dakwah terkadang lambat. Sambutan yang tidak segera ini, bukan berarti tidak adanya pengaruh dalam jiwa orang yang diajak. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dakwahnya kepada Bani Syaiban, ternyata mereka menolaknya termasuk adalah Al-Mutsanna bin Al-Haritsah. Namun, di kemudian hari ternyata dakwahnya tetap memberikan pengaruh yaitu akhirnya Al-Mutsanna bin Al-Haritsah masuk Islam, bahkan ia menjadi salah satu panglima besar bagi kaum muslimin sehingga di tangannyalah, Irak dan Persia jatuh ke pangkuan Islam.   Kedelapan: Abu Lahab yang selalu menguntit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali beliau berkata, Abu Lahab selalu mengingatkan para kabilah untuk tidak menerima ajakannya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak mempedulikannya, tidak mendebatnya, dan tidak menyanggahnya. Beliau tetap saja menawarkan dakwahnya kepada para kabilah dengan tidak menggubris apa yang dilakukan Abu Lahab. Hal ini barangkali adalah untuk menyepelekannya. Karena ia tidak pantas untuk ditanggapi. Waktu yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahi para kabilah lebih berharga dari sekadar menanggapi penyebar kebatilan. Namun, bukan berarti ini adalah metodologi yang sudah baku dalam menghadapi setiap individu seperti ini. Kadang dalam situasi dan kondisi yang lain, perlu menanggapi dan menyanggahnya. Seperti ketika beliau menghadapi sebagian tuntunan-tuntunan orang-orang kafir. Situasi yang tengah dihadapi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu memang tidak perlu menanggapi. Kondisi dan situasi seperti ini dapat dinilai langsung oleh aktivis dakwah sesuai kemaslahatan yang diperlukan. Kalau memang maslahatnya adalah tidak perlu menanggapi, maka tidak usah ditanggapi. Akan tetapi, kalau kemaslahatannya diperlukan tanggapan, maka harus ditanggapi.   Kesembilan: Menawarkan dakwah kepada manusia pasti akan menghadapi risiko. Namun, bagi seorang aktivis dakwah harus bersabar dan hanya mengharap balasan dari Allah Ta’ala, tidak perlu menanggapi dan menimpali kata-kata yang menyakiti dengan hal yang serupa. Bersabar dan tabah dalam menghadapi risiko. Siapa saja yang menerima seruannya, ia dapat memberikan penjelasan yang lebih banyak. Siapa saja yang berpaling, menghina, dan melecehkannya cukup disikapi dengan berdiam dan berpaling darinya. Dalam ayat disebutkan, وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63) Dalam ayat di atas diajarkan dua sifat yaitu tawadhu’ dan lemah lembut. Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Adapun mereka berjalan tidak dengan sifat angkuh dan sombong.” Yang dimaksud berjalan dalam keadaan ‘hawnan’ menurut Mujahid adalah, “Berjalan dengan penuh kewibawaan dan ketenangan.” Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka ‘ibadurrahman tidak menjahili (berbuat nakal pada orang lain). Jika dijahili, mereka malah membalasnya dengan sikap lemah lembut.”   Kesepuluh: Penawaran dakwah kepada para kabilah yang datang ke Makkah dari berbagai wilayah menunjukkan dakwah yang bersifat internasional. Hal ini merupakan bukti yang jelas bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.” (QS. Al-A’raf: 158) Juga dalam ayat disebutkan, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107) Sekalipun ada tuduhan bahwa risalah beliau hanyalah untuk masyarakat Arab saja. Sesungguhnya kenabiannya telah diakui, dan kebohongan adalah mustahil bagi para Nabi, dan hal ini diakui oleh seluruh ulama. Selesai, semoga jadi pelajaran berharga.   Baca juga: Menawarkan Islam kepada Beberapa Tokoh dan Kabilah   Referensi: At-Tafsir Al-Muyassar. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Penerbit Ad-Darul ‘Alamiyyah. Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. https://rumaysho.com/1863-sifat-ibadurrahman-1-tawadhu-a-lemah-lembut.html     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah

Apa saja pelajaran yang bisa dipetik dari menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah?   Pertama: Kita lihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak manusia dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti yang dilakukan terhadap Suwaid bin Shamit dan Thufail bin Amr Ad-Dausi yang kemudian masuk Islam seketika itu juga. Begitu pula dakwah beliau kepada beberapa kabilah. Begitu pula Mush’ab bin ‘Umair ketika berdakwah di Madinah—sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah—beliau banyak membacakan Al-Qur’an ketika berdakwah. Al-Qur’an sungguh memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi jiwa. Imam Bukhari meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Ath-Thur pada shalat Maghrib. Ketika sampai pada ayat berikut, أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (38) “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.”(QS. Ath-Thur: 35-38). Jubair menyatakan, كَادَ قَلْبِى أَنْ يَطِيرَ “Hampir-hampir saja hatiku terbang.” (HR. Bukhari, no. 4854). Ketika itu, Jubair masih dalam keadaan musyrik. Selain itu, peristiwa inilah yang mengantarkannya masuk Islam. Selain itu, kisah Umar pada bagian terdahulu, ketika ia mendengar awal surah Thaha dibacakan, beliau tertegun dan beriman setelah memukul adik dan iparnya sendiri. Berdasarkan penjelasan di atas, kita melihat bahwa orang-orang Quraisy sangat takut kepada Al-Qur’an. Mereka memperingatkan setiap orang yang datang ke Makkah agar tidak mendengarkannya seperti pada kisah Thufail dan yang lainnya. Karena mereka mengetahui kekuatan Al-Qur’an terhadap jiwa. Oleh karena itu, manhaj (metodologi) yang benar dalam berdakwah adalah fokus memperbanyak membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menjadikan sandaran dalam ceramah dan khutbah, lalu menghindar dari ucapan-ucapan yang kosong dari kalamullah dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu bagus, tetapi kebaikannya sangat minim dan pengaruhnya juga sedikit.   Kedua: Kita lihat juga di antara manusia yang sangat mudah dan cepatnya mereka menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hanya perlu mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an dibacakan kepada mereka dan melupakan semua perkataaan untuk tidak mendengar Al-Qur’an (yang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy), sekalipun diungkapkan dengan bahasa yang lembut, tetap pada hakikatnya adalah palsu dan batil. Allah Ta’ala berfirman, وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa’: 81).   Ketiga: Kita telah melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling menemui beberapa kabilah pada musim haji sambil berkata, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan selamat.” Kata yang pertama kali diserukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kalimat tauhid. Ini adalah kalimat yang sangat agung, penting, dan harus menjadi prioritas utama. Siapa saja yang memiliki kalimat ini pada hari kiamat nanti, ia akan masuk surga. Siapa saja yang tidak beriman dengan kalimat ini, maka ia termasuk penghuni neraka, sehebat apa pun amalnya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah akan mengampuni segala dosa di bawah kesyirikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48) Hal ini juga menunjukkan bahwa tema tauhid haruslah yang pertama kali didakwahkan, tak bisa ditunda-tunda karena tauhid itu menyangkut hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan kewajiban yang menjanjikan pahala dan balasan yang besar dari sisi Allah Ta’ala. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25 dan Muslim, no. 21)   Keempat: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menawarkan dirinya kepada para kabilah sambil mengajak mereka kepada Allah dengan hikmah dan berdialog dengan lembut, seraya berkata, “Adakah orang yang membawaku kepada kaumnya. Karena orang-orang Quraisy menghalang-halangiku untuk menyampaikan risalah Rabbku.” Hal ini memberikan pengaruh ke dalam jiwa sehingga hal ini menjadi perhatian dan sambutan yang segera.   Kelima: Sekalipun para kabilah menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu menawarkan dirinya selama beberapa tahun, beliau tidak pernah putus asa untuk menawarkan terus kepada kabilah dalam berbagai musim, pertemuan atau tempat. Ini dilakukan hampir setiap tahun sampai kemudian Allah Ta’ala menetapkan pendukung baginya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya berputus asa dalam menasihati seseorang atau berdakwah. Selain itu, terdapat peringatan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dalam ayat disebutkan, يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.” (QS. Yusuf: 87). Dalam Tafsir Al-Muyassar (hlm. 246) disebutkan bahwa yang putus asa dari rahmat Allah hanyalah orang yang menentang ketentuan Allah, itulah yang kufur kepada Allah.   Keenam: Berdasarkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para kabilah dapat kita pahami bahwa beliau tengah mencari tempat yang memungkinkan beliau untuk menyampaikan risalah Rabbnya dan mengajak ke jalan Allah dengan aman. Beribadah kepada Allah dengan aman dari berbagai gangguan. Hal ini menyadarkan kita betapa pentingnya situasi aman dalam melakukan dakwah ke jalan Allah. Siapa saja yang memperoleh nikmat ini, hendaknya ia banyak bersyukur kepada Allah dan menjaga suasana itu serta memanfaatkannya untuk kepentingan agama Allah. Dua dalil berikut menunjukkan kenikmatan rasa aman. Yang pertama, firman Allah Ta’ala, لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al Quraisy: 1-4). Tentang ayat terakhir dari surah ini, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan dalam kitab tafsirnya, “Lapangnya rezeki dan diberikannya rasa aman dari gangguan adalah nikmat dunia yang paling besar yang patut kita bersyukur kepada Allah ketika memperolehnya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 982) Yang kedua adalah hadits dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   Ketujuh: Sambutan terhadap apa yang diserukan aktivis dakwah terkadang lambat. Sambutan yang tidak segera ini, bukan berarti tidak adanya pengaruh dalam jiwa orang yang diajak. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dakwahnya kepada Bani Syaiban, ternyata mereka menolaknya termasuk adalah Al-Mutsanna bin Al-Haritsah. Namun, di kemudian hari ternyata dakwahnya tetap memberikan pengaruh yaitu akhirnya Al-Mutsanna bin Al-Haritsah masuk Islam, bahkan ia menjadi salah satu panglima besar bagi kaum muslimin sehingga di tangannyalah, Irak dan Persia jatuh ke pangkuan Islam.   Kedelapan: Abu Lahab yang selalu menguntit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali beliau berkata, Abu Lahab selalu mengingatkan para kabilah untuk tidak menerima ajakannya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak mempedulikannya, tidak mendebatnya, dan tidak menyanggahnya. Beliau tetap saja menawarkan dakwahnya kepada para kabilah dengan tidak menggubris apa yang dilakukan Abu Lahab. Hal ini barangkali adalah untuk menyepelekannya. Karena ia tidak pantas untuk ditanggapi. Waktu yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahi para kabilah lebih berharga dari sekadar menanggapi penyebar kebatilan. Namun, bukan berarti ini adalah metodologi yang sudah baku dalam menghadapi setiap individu seperti ini. Kadang dalam situasi dan kondisi yang lain, perlu menanggapi dan menyanggahnya. Seperti ketika beliau menghadapi sebagian tuntunan-tuntunan orang-orang kafir. Situasi yang tengah dihadapi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu memang tidak perlu menanggapi. Kondisi dan situasi seperti ini dapat dinilai langsung oleh aktivis dakwah sesuai kemaslahatan yang diperlukan. Kalau memang maslahatnya adalah tidak perlu menanggapi, maka tidak usah ditanggapi. Akan tetapi, kalau kemaslahatannya diperlukan tanggapan, maka harus ditanggapi.   Kesembilan: Menawarkan dakwah kepada manusia pasti akan menghadapi risiko. Namun, bagi seorang aktivis dakwah harus bersabar dan hanya mengharap balasan dari Allah Ta’ala, tidak perlu menanggapi dan menimpali kata-kata yang menyakiti dengan hal yang serupa. Bersabar dan tabah dalam menghadapi risiko. Siapa saja yang menerima seruannya, ia dapat memberikan penjelasan yang lebih banyak. Siapa saja yang berpaling, menghina, dan melecehkannya cukup disikapi dengan berdiam dan berpaling darinya. Dalam ayat disebutkan, وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63) Dalam ayat di atas diajarkan dua sifat yaitu tawadhu’ dan lemah lembut. Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Adapun mereka berjalan tidak dengan sifat angkuh dan sombong.” Yang dimaksud berjalan dalam keadaan ‘hawnan’ menurut Mujahid adalah, “Berjalan dengan penuh kewibawaan dan ketenangan.” Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka ‘ibadurrahman tidak menjahili (berbuat nakal pada orang lain). Jika dijahili, mereka malah membalasnya dengan sikap lemah lembut.”   Kesepuluh: Penawaran dakwah kepada para kabilah yang datang ke Makkah dari berbagai wilayah menunjukkan dakwah yang bersifat internasional. Hal ini merupakan bukti yang jelas bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.” (QS. Al-A’raf: 158) Juga dalam ayat disebutkan, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107) Sekalipun ada tuduhan bahwa risalah beliau hanyalah untuk masyarakat Arab saja. Sesungguhnya kenabiannya telah diakui, dan kebohongan adalah mustahil bagi para Nabi, dan hal ini diakui oleh seluruh ulama. Selesai, semoga jadi pelajaran berharga.   Baca juga: Menawarkan Islam kepada Beberapa Tokoh dan Kabilah   Referensi: At-Tafsir Al-Muyassar. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Penerbit Ad-Darul ‘Alamiyyah. Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. https://rumaysho.com/1863-sifat-ibadurrahman-1-tawadhu-a-lemah-lembut.html     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah
Apa saja pelajaran yang bisa dipetik dari menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah?   Pertama: Kita lihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak manusia dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti yang dilakukan terhadap Suwaid bin Shamit dan Thufail bin Amr Ad-Dausi yang kemudian masuk Islam seketika itu juga. Begitu pula dakwah beliau kepada beberapa kabilah. Begitu pula Mush’ab bin ‘Umair ketika berdakwah di Madinah—sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah—beliau banyak membacakan Al-Qur’an ketika berdakwah. Al-Qur’an sungguh memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi jiwa. Imam Bukhari meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Ath-Thur pada shalat Maghrib. Ketika sampai pada ayat berikut, أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (38) “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.”(QS. Ath-Thur: 35-38). Jubair menyatakan, كَادَ قَلْبِى أَنْ يَطِيرَ “Hampir-hampir saja hatiku terbang.” (HR. Bukhari, no. 4854). Ketika itu, Jubair masih dalam keadaan musyrik. Selain itu, peristiwa inilah yang mengantarkannya masuk Islam. Selain itu, kisah Umar pada bagian terdahulu, ketika ia mendengar awal surah Thaha dibacakan, beliau tertegun dan beriman setelah memukul adik dan iparnya sendiri. Berdasarkan penjelasan di atas, kita melihat bahwa orang-orang Quraisy sangat takut kepada Al-Qur’an. Mereka memperingatkan setiap orang yang datang ke Makkah agar tidak mendengarkannya seperti pada kisah Thufail dan yang lainnya. Karena mereka mengetahui kekuatan Al-Qur’an terhadap jiwa. Oleh karena itu, manhaj (metodologi) yang benar dalam berdakwah adalah fokus memperbanyak membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menjadikan sandaran dalam ceramah dan khutbah, lalu menghindar dari ucapan-ucapan yang kosong dari kalamullah dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu bagus, tetapi kebaikannya sangat minim dan pengaruhnya juga sedikit.   Kedua: Kita lihat juga di antara manusia yang sangat mudah dan cepatnya mereka menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hanya perlu mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an dibacakan kepada mereka dan melupakan semua perkataaan untuk tidak mendengar Al-Qur’an (yang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy), sekalipun diungkapkan dengan bahasa yang lembut, tetap pada hakikatnya adalah palsu dan batil. Allah Ta’ala berfirman, وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa’: 81).   Ketiga: Kita telah melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling menemui beberapa kabilah pada musim haji sambil berkata, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan selamat.” Kata yang pertama kali diserukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kalimat tauhid. Ini adalah kalimat yang sangat agung, penting, dan harus menjadi prioritas utama. Siapa saja yang memiliki kalimat ini pada hari kiamat nanti, ia akan masuk surga. Siapa saja yang tidak beriman dengan kalimat ini, maka ia termasuk penghuni neraka, sehebat apa pun amalnya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah akan mengampuni segala dosa di bawah kesyirikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48) Hal ini juga menunjukkan bahwa tema tauhid haruslah yang pertama kali didakwahkan, tak bisa ditunda-tunda karena tauhid itu menyangkut hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan kewajiban yang menjanjikan pahala dan balasan yang besar dari sisi Allah Ta’ala. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25 dan Muslim, no. 21)   Keempat: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menawarkan dirinya kepada para kabilah sambil mengajak mereka kepada Allah dengan hikmah dan berdialog dengan lembut, seraya berkata, “Adakah orang yang membawaku kepada kaumnya. Karena orang-orang Quraisy menghalang-halangiku untuk menyampaikan risalah Rabbku.” Hal ini memberikan pengaruh ke dalam jiwa sehingga hal ini menjadi perhatian dan sambutan yang segera.   Kelima: Sekalipun para kabilah menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu menawarkan dirinya selama beberapa tahun, beliau tidak pernah putus asa untuk menawarkan terus kepada kabilah dalam berbagai musim, pertemuan atau tempat. Ini dilakukan hampir setiap tahun sampai kemudian Allah Ta’ala menetapkan pendukung baginya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya berputus asa dalam menasihati seseorang atau berdakwah. Selain itu, terdapat peringatan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dalam ayat disebutkan, يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.” (QS. Yusuf: 87). Dalam Tafsir Al-Muyassar (hlm. 246) disebutkan bahwa yang putus asa dari rahmat Allah hanyalah orang yang menentang ketentuan Allah, itulah yang kufur kepada Allah.   Keenam: Berdasarkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para kabilah dapat kita pahami bahwa beliau tengah mencari tempat yang memungkinkan beliau untuk menyampaikan risalah Rabbnya dan mengajak ke jalan Allah dengan aman. Beribadah kepada Allah dengan aman dari berbagai gangguan. Hal ini menyadarkan kita betapa pentingnya situasi aman dalam melakukan dakwah ke jalan Allah. Siapa saja yang memperoleh nikmat ini, hendaknya ia banyak bersyukur kepada Allah dan menjaga suasana itu serta memanfaatkannya untuk kepentingan agama Allah. Dua dalil berikut menunjukkan kenikmatan rasa aman. Yang pertama, firman Allah Ta’ala, لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al Quraisy: 1-4). Tentang ayat terakhir dari surah ini, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan dalam kitab tafsirnya, “Lapangnya rezeki dan diberikannya rasa aman dari gangguan adalah nikmat dunia yang paling besar yang patut kita bersyukur kepada Allah ketika memperolehnya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 982) Yang kedua adalah hadits dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   Ketujuh: Sambutan terhadap apa yang diserukan aktivis dakwah terkadang lambat. Sambutan yang tidak segera ini, bukan berarti tidak adanya pengaruh dalam jiwa orang yang diajak. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dakwahnya kepada Bani Syaiban, ternyata mereka menolaknya termasuk adalah Al-Mutsanna bin Al-Haritsah. Namun, di kemudian hari ternyata dakwahnya tetap memberikan pengaruh yaitu akhirnya Al-Mutsanna bin Al-Haritsah masuk Islam, bahkan ia menjadi salah satu panglima besar bagi kaum muslimin sehingga di tangannyalah, Irak dan Persia jatuh ke pangkuan Islam.   Kedelapan: Abu Lahab yang selalu menguntit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali beliau berkata, Abu Lahab selalu mengingatkan para kabilah untuk tidak menerima ajakannya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak mempedulikannya, tidak mendebatnya, dan tidak menyanggahnya. Beliau tetap saja menawarkan dakwahnya kepada para kabilah dengan tidak menggubris apa yang dilakukan Abu Lahab. Hal ini barangkali adalah untuk menyepelekannya. Karena ia tidak pantas untuk ditanggapi. Waktu yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahi para kabilah lebih berharga dari sekadar menanggapi penyebar kebatilan. Namun, bukan berarti ini adalah metodologi yang sudah baku dalam menghadapi setiap individu seperti ini. Kadang dalam situasi dan kondisi yang lain, perlu menanggapi dan menyanggahnya. Seperti ketika beliau menghadapi sebagian tuntunan-tuntunan orang-orang kafir. Situasi yang tengah dihadapi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu memang tidak perlu menanggapi. Kondisi dan situasi seperti ini dapat dinilai langsung oleh aktivis dakwah sesuai kemaslahatan yang diperlukan. Kalau memang maslahatnya adalah tidak perlu menanggapi, maka tidak usah ditanggapi. Akan tetapi, kalau kemaslahatannya diperlukan tanggapan, maka harus ditanggapi.   Kesembilan: Menawarkan dakwah kepada manusia pasti akan menghadapi risiko. Namun, bagi seorang aktivis dakwah harus bersabar dan hanya mengharap balasan dari Allah Ta’ala, tidak perlu menanggapi dan menimpali kata-kata yang menyakiti dengan hal yang serupa. Bersabar dan tabah dalam menghadapi risiko. Siapa saja yang menerima seruannya, ia dapat memberikan penjelasan yang lebih banyak. Siapa saja yang berpaling, menghina, dan melecehkannya cukup disikapi dengan berdiam dan berpaling darinya. Dalam ayat disebutkan, وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63) Dalam ayat di atas diajarkan dua sifat yaitu tawadhu’ dan lemah lembut. Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Adapun mereka berjalan tidak dengan sifat angkuh dan sombong.” Yang dimaksud berjalan dalam keadaan ‘hawnan’ menurut Mujahid adalah, “Berjalan dengan penuh kewibawaan dan ketenangan.” Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka ‘ibadurrahman tidak menjahili (berbuat nakal pada orang lain). Jika dijahili, mereka malah membalasnya dengan sikap lemah lembut.”   Kesepuluh: Penawaran dakwah kepada para kabilah yang datang ke Makkah dari berbagai wilayah menunjukkan dakwah yang bersifat internasional. Hal ini merupakan bukti yang jelas bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.” (QS. Al-A’raf: 158) Juga dalam ayat disebutkan, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107) Sekalipun ada tuduhan bahwa risalah beliau hanyalah untuk masyarakat Arab saja. Sesungguhnya kenabiannya telah diakui, dan kebohongan adalah mustahil bagi para Nabi, dan hal ini diakui oleh seluruh ulama. Selesai, semoga jadi pelajaran berharga.   Baca juga: Menawarkan Islam kepada Beberapa Tokoh dan Kabilah   Referensi: At-Tafsir Al-Muyassar. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Penerbit Ad-Darul ‘Alamiyyah. Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. https://rumaysho.com/1863-sifat-ibadurrahman-1-tawadhu-a-lemah-lembut.html     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah


Apa saja pelajaran yang bisa dipetik dari menawarkan Islam kepada Tokoh dan Kabilah?   Pertama: Kita lihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak manusia dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Seperti yang dilakukan terhadap Suwaid bin Shamit dan Thufail bin Amr Ad-Dausi yang kemudian masuk Islam seketika itu juga. Begitu pula dakwah beliau kepada beberapa kabilah. Begitu pula Mush’ab bin ‘Umair ketika berdakwah di Madinah—sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah—beliau banyak membacakan Al-Qur’an ketika berdakwah. Al-Qur’an sungguh memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi jiwa. Imam Bukhari meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Ath-Thur pada shalat Maghrib. Ketika sampai pada ayat berikut, أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (38) “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.”(QS. Ath-Thur: 35-38). Jubair menyatakan, كَادَ قَلْبِى أَنْ يَطِيرَ “Hampir-hampir saja hatiku terbang.” (HR. Bukhari, no. 4854). Ketika itu, Jubair masih dalam keadaan musyrik. Selain itu, peristiwa inilah yang mengantarkannya masuk Islam. Selain itu, kisah Umar pada bagian terdahulu, ketika ia mendengar awal surah Thaha dibacakan, beliau tertegun dan beriman setelah memukul adik dan iparnya sendiri. Berdasarkan penjelasan di atas, kita melihat bahwa orang-orang Quraisy sangat takut kepada Al-Qur’an. Mereka memperingatkan setiap orang yang datang ke Makkah agar tidak mendengarkannya seperti pada kisah Thufail dan yang lainnya. Karena mereka mengetahui kekuatan Al-Qur’an terhadap jiwa. Oleh karena itu, manhaj (metodologi) yang benar dalam berdakwah adalah fokus memperbanyak membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menjadikan sandaran dalam ceramah dan khutbah, lalu menghindar dari ucapan-ucapan yang kosong dari kalamullah dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun itu bagus, tetapi kebaikannya sangat minim dan pengaruhnya juga sedikit.   Kedua: Kita lihat juga di antara manusia yang sangat mudah dan cepatnya mereka menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka hanya perlu mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an dibacakan kepada mereka dan melupakan semua perkataaan untuk tidak mendengar Al-Qur’an (yang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy), sekalipun diungkapkan dengan bahasa yang lembut, tetap pada hakikatnya adalah palsu dan batil. Allah Ta’ala berfirman, وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa’: 81).   Ketiga: Kita telah melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling menemui beberapa kabilah pada musim haji sambil berkata, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan selamat.” Kata yang pertama kali diserukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kalimat tauhid. Ini adalah kalimat yang sangat agung, penting, dan harus menjadi prioritas utama. Siapa saja yang memiliki kalimat ini pada hari kiamat nanti, ia akan masuk surga. Siapa saja yang tidak beriman dengan kalimat ini, maka ia termasuk penghuni neraka, sehebat apa pun amalnya. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah akan mengampuni segala dosa di bawah kesyirikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48) Hal ini juga menunjukkan bahwa tema tauhid haruslah yang pertama kali didakwahkan, tak bisa ditunda-tunda karena tauhid itu menyangkut hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan kewajiban yang menjanjikan pahala dan balasan yang besar dari sisi Allah Ta’ala. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “Aku diperintah untuk memerang manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan pada Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari, no. 25 dan Muslim, no. 21)   Keempat: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menawarkan dirinya kepada para kabilah sambil mengajak mereka kepada Allah dengan hikmah dan berdialog dengan lembut, seraya berkata, “Adakah orang yang membawaku kepada kaumnya. Karena orang-orang Quraisy menghalang-halangiku untuk menyampaikan risalah Rabbku.” Hal ini memberikan pengaruh ke dalam jiwa sehingga hal ini menjadi perhatian dan sambutan yang segera.   Kelima: Sekalipun para kabilah menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu menawarkan dirinya selama beberapa tahun, beliau tidak pernah putus asa untuk menawarkan terus kepada kabilah dalam berbagai musim, pertemuan atau tempat. Ini dilakukan hampir setiap tahun sampai kemudian Allah Ta’ala menetapkan pendukung baginya. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya berputus asa dalam menasihati seseorang atau berdakwah. Selain itu, terdapat peringatan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Dalam ayat disebutkan, يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.” (QS. Yusuf: 87). Dalam Tafsir Al-Muyassar (hlm. 246) disebutkan bahwa yang putus asa dari rahmat Allah hanyalah orang yang menentang ketentuan Allah, itulah yang kufur kepada Allah.   Keenam: Berdasarkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para kabilah dapat kita pahami bahwa beliau tengah mencari tempat yang memungkinkan beliau untuk menyampaikan risalah Rabbnya dan mengajak ke jalan Allah dengan aman. Beribadah kepada Allah dengan aman dari berbagai gangguan. Hal ini menyadarkan kita betapa pentingnya situasi aman dalam melakukan dakwah ke jalan Allah. Siapa saja yang memperoleh nikmat ini, hendaknya ia banyak bersyukur kepada Allah dan menjaga suasana itu serta memanfaatkannya untuk kepentingan agama Allah. Dua dalil berikut menunjukkan kenikmatan rasa aman. Yang pertama, firman Allah Ta’ala, لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4) “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al Quraisy: 1-4). Tentang ayat terakhir dari surah ini, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menyatakan dalam kitab tafsirnya, “Lapangnya rezeki dan diberikannya rasa aman dari gangguan adalah nikmat dunia yang paling besar yang patut kita bersyukur kepada Allah ketika memperolehnya.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 982) Yang kedua adalah hadits dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).   Ketujuh: Sambutan terhadap apa yang diserukan aktivis dakwah terkadang lambat. Sambutan yang tidak segera ini, bukan berarti tidak adanya pengaruh dalam jiwa orang yang diajak. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dakwahnya kepada Bani Syaiban, ternyata mereka menolaknya termasuk adalah Al-Mutsanna bin Al-Haritsah. Namun, di kemudian hari ternyata dakwahnya tetap memberikan pengaruh yaitu akhirnya Al-Mutsanna bin Al-Haritsah masuk Islam, bahkan ia menjadi salah satu panglima besar bagi kaum muslimin sehingga di tangannyalah, Irak dan Persia jatuh ke pangkuan Islam.   Kedelapan: Abu Lahab yang selalu menguntit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali beliau berkata, Abu Lahab selalu mengingatkan para kabilah untuk tidak menerima ajakannya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak mempedulikannya, tidak mendebatnya, dan tidak menyanggahnya. Beliau tetap saja menawarkan dakwahnya kepada para kabilah dengan tidak menggubris apa yang dilakukan Abu Lahab. Hal ini barangkali adalah untuk menyepelekannya. Karena ia tidak pantas untuk ditanggapi. Waktu yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahi para kabilah lebih berharga dari sekadar menanggapi penyebar kebatilan. Namun, bukan berarti ini adalah metodologi yang sudah baku dalam menghadapi setiap individu seperti ini. Kadang dalam situasi dan kondisi yang lain, perlu menanggapi dan menyanggahnya. Seperti ketika beliau menghadapi sebagian tuntunan-tuntunan orang-orang kafir. Situasi yang tengah dihadapi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu memang tidak perlu menanggapi. Kondisi dan situasi seperti ini dapat dinilai langsung oleh aktivis dakwah sesuai kemaslahatan yang diperlukan. Kalau memang maslahatnya adalah tidak perlu menanggapi, maka tidak usah ditanggapi. Akan tetapi, kalau kemaslahatannya diperlukan tanggapan, maka harus ditanggapi.   Kesembilan: Menawarkan dakwah kepada manusia pasti akan menghadapi risiko. Namun, bagi seorang aktivis dakwah harus bersabar dan hanya mengharap balasan dari Allah Ta’ala, tidak perlu menanggapi dan menimpali kata-kata yang menyakiti dengan hal yang serupa. Bersabar dan tabah dalam menghadapi risiko. Siapa saja yang menerima seruannya, ia dapat memberikan penjelasan yang lebih banyak. Siapa saja yang berpaling, menghina, dan melecehkannya cukup disikapi dengan berdiam dan berpaling darinya. Dalam ayat disebutkan, وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63) Dalam ayat di atas diajarkan dua sifat yaitu tawadhu’ dan lemah lembut. Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Adapun mereka berjalan tidak dengan sifat angkuh dan sombong.” Yang dimaksud berjalan dalam keadaan ‘hawnan’ menurut Mujahid adalah, “Berjalan dengan penuh kewibawaan dan ketenangan.” Sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka ‘ibadurrahman tidak menjahili (berbuat nakal pada orang lain). Jika dijahili, mereka malah membalasnya dengan sikap lemah lembut.”   Kesepuluh: Penawaran dakwah kepada para kabilah yang datang ke Makkah dari berbagai wilayah menunjukkan dakwah yang bersifat internasional. Hal ini merupakan bukti yang jelas bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat, قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.” (QS. Al-A’raf: 158) Juga dalam ayat disebutkan, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107) Sekalipun ada tuduhan bahwa risalah beliau hanyalah untuk masyarakat Arab saja. Sesungguhnya kenabiannya telah diakui, dan kebohongan adalah mustahil bagi para Nabi, dan hal ini diakui oleh seluruh ulama. Selesai, semoga jadi pelajaran berharga.   Baca juga: Menawarkan Islam kepada Beberapa Tokoh dan Kabilah   Referensi: At-Tafsir Al-Muyassar. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Penerbit Ad-Darul ‘Alamiyyah. Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. https://rumaysho.com/1863-sifat-ibadurrahman-1-tawadhu-a-lemah-lembut.html     Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfaedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah

Tafsir Surat Adh-Dhuha #02: Penjelasan Ayat

Kali ini kita akan melanjutkan bagaimana memahami surah Adh-Dhuha. Baiknya kita melihat penjelasan ayat berikut.   Penjelasan ayat   Yang dimaksud dengan Adh-Dhuha adalah siang secara keseluruhan. Karena kalimat selanjutnya adalah “wal-laili idza sajaa” artinya malam ketika gelap, berarti lawan waktu Dhuha yang disebut pertama. Demikian alasan dari Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Makna Adh-Dhuha sendiri ada empat pendapat yaitu terangnya siang, depannya siang, awal siang ketika matahari mulai meninggi, dan ada pula yang berpendapat seluruh waktu siang disebut Adh-Dhuha. Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Sedangkan ayat, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى Dan demi malam ketika “sajaa”. Maksud “سَجَى” sajaadi sini adalah “سَكَنَ” sakana, yaitu tenang. ‘Atha’ mengatakan bahwa yang dimaksud “إِذَا سَجَى” adalah jika (siang) telah tertutupi gelap. Juga dikatakan yang hampir sama oleh Ibnul ‘Arabi, Al-Ashma’i, Al-Hasan Al-Bashri. Sa’id bin Jubair menyatakan “إِذَا سَجَى” ketika malam telah tiba. Mujahid menyatakan bahwa “إِذَا سَجَى” maksudnya adalah ketika malam telah istawa (telah lurus). Namun pendapat pertama yang menyatakan “إِذَا سَجَى” artinya “ketika malam itu tenang”, yaitu datang gelap dan tidak bertambah gelapnya lagi setelah itu, itu yang lebih dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Adapun “سَجَى” bermakna “سَكَنَ” sakana ada dua makna: (1) ketika malam tenang, (2) ketika ada makhluk yang muncul pada waktu malam. Kalimat “وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)” adalah kalimat sumpah (al-qasam). Sedangkan jawab al-qasam (jawab sumpah) ada pada kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى”. Kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ”, Rabbmu tidak meninggalkanmu, maksudnya adalah Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad sebagaimana seseorang yang berpisah meninggalkan barang. Kata “قَلَى” artinya “أبغض” (membenci), sehingga maksud ayat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى” adalah Allah tidak meninggalkan dan tidak membencimu. Kemudian pada ayat, وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu), maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi. Kehidupan dunia ini hanya bagaikan mata’ul ghurur (kesenangan yang menipu) sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 551) disebutkan bahwa manusia terlalu sibuk dengan dunianya. Padahal hal-hal tadi (anak dan harta) bisa mendukung pada akhirat. Dunia itu membuat kita kagum layaknya petani yang kagum pada tanaman. Padahal tanaman itu nantinya kering dan menguning, lalu hancur menjadi keropos dan tertiup angin. Yang mementingkan dunia dari akhirat, baginya siksa yang keras. Padahal dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa Allah Ta’ala menjadikan permisalan kehidupan dunia dengan perhiasan yang akan fana (sirna) dan kenikmatan yang akan hilang. Dunia itu diibaratkan dengan ghaits yaitu hujan yang datang setelah sekian lama tak kunjung turun. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan para petani itu begitu takjub pada tanaman yang tumbuh karena hujan tadi. Sama halnya dengan orang kafir ketika memandang dunia. Orang kafir itu begitu semangat pada dunia, hati pun condongnya pada dunia. Padahal tanaman tadi itu bisa menguning, setelah sebelumnya begitu hijau dan enak dipandang mata. Kemudian akhirnya tanaman itu hancur dan kering. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, dunia itu awalnya layaknya pemuda kemudian beranjak menjadi berumur antara 30-50 tahun (kuhulan), lalu menjadi sepuh (keriput dan buruk rupa). Demikian pula fisik manusia dilihat dari umurnya. Di waktu syabab (pemuda) begitu semangat, begitu semangat dan gesit serta enak dipandang. Lalu berubah menjadi kuhulan (tua), sebagian kekuatannya menjadi hilang. Lantas ia beralih sepuh yang kekuatannya terus melemah. Itulah yang disebutkan pula dalam ayat lainnya, ۞ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54) Permisalan ini menunjukkan akan sirnanya dunia, sedangkan akhirat akan kekal abadi. Sehingga seharusnya kita semangat untuk menggapai akhirat. Di akhirat yang ada hanyalah siksa yang pedih, ataukah ampunan Allah. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, (Dan kelak Rabbmu pasti memberimu) di akhirat berupa kebaikan-kebaikan yang berlimpah ruah (lalu kamu menjadi puas) dengan pemberian itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu mana mungkin aku puas, sedangkan seseorang di antara umatku masih berada di neraka.” Sampai di sini selesailah Jawab Qasam, yaitu dengan kedua kalimat yang dinisbatkan sesudah dua kalimat yang dinafikan. Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullahberkata di negeri akhirat, Allah memberi pada Muhammad karunia sampai ia ridha pada umatnya. Di antara yang diberi adalah karamah, juga termasuk sungai Al-Kautsar. Dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa kelak akan diberikan di surga sejuta istana, di mana setiap istana tersebut memiliki istri dan pembantu. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalurnya, sanadnya sahih sampai Ibnu ‘Abbas. Hal ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas tentu berdasarkan dalil. Pengertian lainnya pula yang disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah anggota keluarganya tidak ada yang dimasukkan dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh As-Sudi, dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Tafsiran lainnya pula menyebutkan bahwa bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, juga dinyatakan oleh Abu Ja’far Al-Baqir. Yang tepat sebagaimana disebutkan dalam At-Tafsir Al-Muyassar, kelak Allah akan memberikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat berbagai nikmat, lantas beliau akan ridha dengan yang demikian. Pernyataan yang sama juga disebutkan oleh Syaikh As-Sa’dirahimahullah dalam kitab tafsirnya. Kemudian setelah itu dirinci berbagai nikmat yang diberikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” Dalam At-Tafsir Al-Muyassar disebutkan, bukankah sebelumnya Allah menjadikanmu dalam keadaan yatim, lantas Allah melindungi dan memeliharamu. Sebelumnya juga Nabi Muhammad dalam keadaan tidak tahu kita dan tidak tahu iman, lantas Allah mengajarkan pada Muhammad ilmu yang ia belum mengetahui, lantas diberi taufik pula pada bagusnya amal. Juga sebelumnya Muhammad dalam keadaan fakir, lantas diberikan rezeki dan berikan kecukupan dengan sifat qana’ah dan sabar. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan tentang ayat “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu”, maksudnya Allah mendapatimu dalam keadaan tidak memiliki ibu dan ayah, di mana ibu dan ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia ketika itu ia tidak merawat dirinya sendiri, namun Allah yang melindungi dan memelihara beliau. Kakeknya ‘Abdul Muththalib yang merawatnya setelah itu. Ketika kakeknya meninggal dunia, dilanjutkan pemeliharaan beliau oleh pamannya Abu Thalib. Sampai Allah terus menerus menolong beliau. Maksud ayat, وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah mendapatimu (wahai Muhammad) dalam keadaan tidak mengetahui Al-Qur’an, tidak mengetahui iman, lalu diajarkan kepadamu yang engkau belum ketahui. Akhirnya engkau mendapatkan taufik sehingga baik dalam amalan dan akhlak.” Ada juga tafsiran lainnya yang mengatakan, “Ketika kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat di celah-celah kota Makkah akhirnya Allah mengembalikan beliau pada kakeknya ‘Abdul Muththalib.” Demikian ini pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir, 9:158. Sedangkan maksud ayat “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” yaitu Muhammad didapati dalam keadaan fakir, kemudian Allah taklukkan bagi Muhammad berbagai negeri yang di situ didapati perbendaharaan harta dan hasil bumi. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah Allah membuat Muhammad ridha terhadap rezeki. Inilah pendapat As-Saib, juga dipilih Al-Fara’. Al-Fara’ berkata, لَمْ يَكُنْ غِنَاهُ عَنْ كَثْرَةِ الماَلِ ، وَلَكِنَّ اللهَ رَضَّاهُ بِمَا آتَاهُ “Ghina (kaya)-nya Nabi kita Muhammad itu bukan dengan banyaknya harta. Akan tetapi beliau rida terhadap rezeki yang diberi.” Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Setelah itu barulah disebutkan, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Di sini maksudnya adalah jika Allah yang telah menghilangkan darimu berbagai kekurangan, yang telah memberikan kecukupan kepadamu, yang telah melindungi, menolong, hingga memberi petunjuk padamu, maka balaslah berbagai nikmat tersebut dengan bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, terhadap anak yatim janganlah bertindak kasar dan menyakitinya. Anak yatim itu dimuliakan dan diberi apa yang memudahkan mereka. Hendaklah kita lakukan seperti apa yang kita senang jika anak-anak kita diperlakukan seperti itu pula. Adapun yang meminta-minta janganlah dihardik dan diperlakukan dengan akhlak yang jelek. Harusnya pada yang meminta-minta diberi kemudahan dan dibalas dengan yang makruf serta berbuat baik. Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.   Menyebut-nyebut nikmat Berikut beberapa pendapat ulama mengenai ayat, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Baca juga: Tampakkanlah nikmat Allah   Syaikh Muhammad Al Utsaimin menerangkan bahwa hendaklah setiap orang bersederhana dalam setiap aktivitasnya. Hendaklah ia bersederhana dalam pakaian, makan, dan minum. Namun jangan sampai ia menyembunyikan nikmat Allah. Karena Allah amatlah suka jika melihat bekas nikmat pada hamba-Nya. Jika nikmat tersebut berupa harta, maka Allah sangat senang jika hamba memanfaatkan nikmat tersebut untuk berinfak, bersedekah, dan menolong dalam kebaikan. Jika nikmat tersebut berupa ilmu, maka Allah sangat senang jika ilmu tersebut diamalkan sehingga baik ibadah dan muamalahnya, juga ilmu tersebut disebar dengan dakwah dan mengajari orang lain. Jika malah sebaliknya, saat Allah sudah memberikan nikmat harta sehingga mampu sebenarnya membeli pakaian, kok malah ia keluar di hadapan orang lain dalam keadaan fakir (seakan tak punya apa-apa). Ini hakekatnya menolak atau menentang nikmat Allah. Sama halnya jika orang diberi harta, lantas ia tidak memanfaatkannya untuk infak atau memenuhi kewajiban dari harta. Begitu pula dengan nikmat ilmu, kalau tidak dimanfaatkan untuk menambah ibadah, khusu’ dalam ibadah atau baik dalam muamalah, atau tidak dimanfaatkan untuk mengajarkan orang lain, maka ini pun tanda menyembunyikan nikmat Allah. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 4:318-319. Semoga bermanfaat penjelasan sebelas ayat dari surah Adh-Dhuha ini.   Bahasan selanjutnya: Tujuh Faedah dari Surat Adh-Dhuha     Selesai disusun pada Jumat pagi di #DarushSholihin, 20 Muharram 1441 H, 20 September 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Download Tagssabar surat adh dhuha syukur syukur nikmat tafsir juz amma

Tafsir Surat Adh-Dhuha #02: Penjelasan Ayat

Kali ini kita akan melanjutkan bagaimana memahami surah Adh-Dhuha. Baiknya kita melihat penjelasan ayat berikut.   Penjelasan ayat   Yang dimaksud dengan Adh-Dhuha adalah siang secara keseluruhan. Karena kalimat selanjutnya adalah “wal-laili idza sajaa” artinya malam ketika gelap, berarti lawan waktu Dhuha yang disebut pertama. Demikian alasan dari Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Makna Adh-Dhuha sendiri ada empat pendapat yaitu terangnya siang, depannya siang, awal siang ketika matahari mulai meninggi, dan ada pula yang berpendapat seluruh waktu siang disebut Adh-Dhuha. Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Sedangkan ayat, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى Dan demi malam ketika “sajaa”. Maksud “سَجَى” sajaadi sini adalah “سَكَنَ” sakana, yaitu tenang. ‘Atha’ mengatakan bahwa yang dimaksud “إِذَا سَجَى” adalah jika (siang) telah tertutupi gelap. Juga dikatakan yang hampir sama oleh Ibnul ‘Arabi, Al-Ashma’i, Al-Hasan Al-Bashri. Sa’id bin Jubair menyatakan “إِذَا سَجَى” ketika malam telah tiba. Mujahid menyatakan bahwa “إِذَا سَجَى” maksudnya adalah ketika malam telah istawa (telah lurus). Namun pendapat pertama yang menyatakan “إِذَا سَجَى” artinya “ketika malam itu tenang”, yaitu datang gelap dan tidak bertambah gelapnya lagi setelah itu, itu yang lebih dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Adapun “سَجَى” bermakna “سَكَنَ” sakana ada dua makna: (1) ketika malam tenang, (2) ketika ada makhluk yang muncul pada waktu malam. Kalimat “وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)” adalah kalimat sumpah (al-qasam). Sedangkan jawab al-qasam (jawab sumpah) ada pada kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى”. Kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ”, Rabbmu tidak meninggalkanmu, maksudnya adalah Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad sebagaimana seseorang yang berpisah meninggalkan barang. Kata “قَلَى” artinya “أبغض” (membenci), sehingga maksud ayat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى” adalah Allah tidak meninggalkan dan tidak membencimu. Kemudian pada ayat, وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu), maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi. Kehidupan dunia ini hanya bagaikan mata’ul ghurur (kesenangan yang menipu) sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 551) disebutkan bahwa manusia terlalu sibuk dengan dunianya. Padahal hal-hal tadi (anak dan harta) bisa mendukung pada akhirat. Dunia itu membuat kita kagum layaknya petani yang kagum pada tanaman. Padahal tanaman itu nantinya kering dan menguning, lalu hancur menjadi keropos dan tertiup angin. Yang mementingkan dunia dari akhirat, baginya siksa yang keras. Padahal dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa Allah Ta’ala menjadikan permisalan kehidupan dunia dengan perhiasan yang akan fana (sirna) dan kenikmatan yang akan hilang. Dunia itu diibaratkan dengan ghaits yaitu hujan yang datang setelah sekian lama tak kunjung turun. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan para petani itu begitu takjub pada tanaman yang tumbuh karena hujan tadi. Sama halnya dengan orang kafir ketika memandang dunia. Orang kafir itu begitu semangat pada dunia, hati pun condongnya pada dunia. Padahal tanaman tadi itu bisa menguning, setelah sebelumnya begitu hijau dan enak dipandang mata. Kemudian akhirnya tanaman itu hancur dan kering. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, dunia itu awalnya layaknya pemuda kemudian beranjak menjadi berumur antara 30-50 tahun (kuhulan), lalu menjadi sepuh (keriput dan buruk rupa). Demikian pula fisik manusia dilihat dari umurnya. Di waktu syabab (pemuda) begitu semangat, begitu semangat dan gesit serta enak dipandang. Lalu berubah menjadi kuhulan (tua), sebagian kekuatannya menjadi hilang. Lantas ia beralih sepuh yang kekuatannya terus melemah. Itulah yang disebutkan pula dalam ayat lainnya, ۞ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54) Permisalan ini menunjukkan akan sirnanya dunia, sedangkan akhirat akan kekal abadi. Sehingga seharusnya kita semangat untuk menggapai akhirat. Di akhirat yang ada hanyalah siksa yang pedih, ataukah ampunan Allah. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, (Dan kelak Rabbmu pasti memberimu) di akhirat berupa kebaikan-kebaikan yang berlimpah ruah (lalu kamu menjadi puas) dengan pemberian itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu mana mungkin aku puas, sedangkan seseorang di antara umatku masih berada di neraka.” Sampai di sini selesailah Jawab Qasam, yaitu dengan kedua kalimat yang dinisbatkan sesudah dua kalimat yang dinafikan. Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullahberkata di negeri akhirat, Allah memberi pada Muhammad karunia sampai ia ridha pada umatnya. Di antara yang diberi adalah karamah, juga termasuk sungai Al-Kautsar. Dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa kelak akan diberikan di surga sejuta istana, di mana setiap istana tersebut memiliki istri dan pembantu. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalurnya, sanadnya sahih sampai Ibnu ‘Abbas. Hal ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas tentu berdasarkan dalil. Pengertian lainnya pula yang disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah anggota keluarganya tidak ada yang dimasukkan dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh As-Sudi, dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Tafsiran lainnya pula menyebutkan bahwa bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, juga dinyatakan oleh Abu Ja’far Al-Baqir. Yang tepat sebagaimana disebutkan dalam At-Tafsir Al-Muyassar, kelak Allah akan memberikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat berbagai nikmat, lantas beliau akan ridha dengan yang demikian. Pernyataan yang sama juga disebutkan oleh Syaikh As-Sa’dirahimahullah dalam kitab tafsirnya. Kemudian setelah itu dirinci berbagai nikmat yang diberikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” Dalam At-Tafsir Al-Muyassar disebutkan, bukankah sebelumnya Allah menjadikanmu dalam keadaan yatim, lantas Allah melindungi dan memeliharamu. Sebelumnya juga Nabi Muhammad dalam keadaan tidak tahu kita dan tidak tahu iman, lantas Allah mengajarkan pada Muhammad ilmu yang ia belum mengetahui, lantas diberi taufik pula pada bagusnya amal. Juga sebelumnya Muhammad dalam keadaan fakir, lantas diberikan rezeki dan berikan kecukupan dengan sifat qana’ah dan sabar. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan tentang ayat “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu”, maksudnya Allah mendapatimu dalam keadaan tidak memiliki ibu dan ayah, di mana ibu dan ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia ketika itu ia tidak merawat dirinya sendiri, namun Allah yang melindungi dan memelihara beliau. Kakeknya ‘Abdul Muththalib yang merawatnya setelah itu. Ketika kakeknya meninggal dunia, dilanjutkan pemeliharaan beliau oleh pamannya Abu Thalib. Sampai Allah terus menerus menolong beliau. Maksud ayat, وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah mendapatimu (wahai Muhammad) dalam keadaan tidak mengetahui Al-Qur’an, tidak mengetahui iman, lalu diajarkan kepadamu yang engkau belum ketahui. Akhirnya engkau mendapatkan taufik sehingga baik dalam amalan dan akhlak.” Ada juga tafsiran lainnya yang mengatakan, “Ketika kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat di celah-celah kota Makkah akhirnya Allah mengembalikan beliau pada kakeknya ‘Abdul Muththalib.” Demikian ini pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir, 9:158. Sedangkan maksud ayat “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” yaitu Muhammad didapati dalam keadaan fakir, kemudian Allah taklukkan bagi Muhammad berbagai negeri yang di situ didapati perbendaharaan harta dan hasil bumi. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah Allah membuat Muhammad ridha terhadap rezeki. Inilah pendapat As-Saib, juga dipilih Al-Fara’. Al-Fara’ berkata, لَمْ يَكُنْ غِنَاهُ عَنْ كَثْرَةِ الماَلِ ، وَلَكِنَّ اللهَ رَضَّاهُ بِمَا آتَاهُ “Ghina (kaya)-nya Nabi kita Muhammad itu bukan dengan banyaknya harta. Akan tetapi beliau rida terhadap rezeki yang diberi.” Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Setelah itu barulah disebutkan, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Di sini maksudnya adalah jika Allah yang telah menghilangkan darimu berbagai kekurangan, yang telah memberikan kecukupan kepadamu, yang telah melindungi, menolong, hingga memberi petunjuk padamu, maka balaslah berbagai nikmat tersebut dengan bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, terhadap anak yatim janganlah bertindak kasar dan menyakitinya. Anak yatim itu dimuliakan dan diberi apa yang memudahkan mereka. Hendaklah kita lakukan seperti apa yang kita senang jika anak-anak kita diperlakukan seperti itu pula. Adapun yang meminta-minta janganlah dihardik dan diperlakukan dengan akhlak yang jelek. Harusnya pada yang meminta-minta diberi kemudahan dan dibalas dengan yang makruf serta berbuat baik. Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.   Menyebut-nyebut nikmat Berikut beberapa pendapat ulama mengenai ayat, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Baca juga: Tampakkanlah nikmat Allah   Syaikh Muhammad Al Utsaimin menerangkan bahwa hendaklah setiap orang bersederhana dalam setiap aktivitasnya. Hendaklah ia bersederhana dalam pakaian, makan, dan minum. Namun jangan sampai ia menyembunyikan nikmat Allah. Karena Allah amatlah suka jika melihat bekas nikmat pada hamba-Nya. Jika nikmat tersebut berupa harta, maka Allah sangat senang jika hamba memanfaatkan nikmat tersebut untuk berinfak, bersedekah, dan menolong dalam kebaikan. Jika nikmat tersebut berupa ilmu, maka Allah sangat senang jika ilmu tersebut diamalkan sehingga baik ibadah dan muamalahnya, juga ilmu tersebut disebar dengan dakwah dan mengajari orang lain. Jika malah sebaliknya, saat Allah sudah memberikan nikmat harta sehingga mampu sebenarnya membeli pakaian, kok malah ia keluar di hadapan orang lain dalam keadaan fakir (seakan tak punya apa-apa). Ini hakekatnya menolak atau menentang nikmat Allah. Sama halnya jika orang diberi harta, lantas ia tidak memanfaatkannya untuk infak atau memenuhi kewajiban dari harta. Begitu pula dengan nikmat ilmu, kalau tidak dimanfaatkan untuk menambah ibadah, khusu’ dalam ibadah atau baik dalam muamalah, atau tidak dimanfaatkan untuk mengajarkan orang lain, maka ini pun tanda menyembunyikan nikmat Allah. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 4:318-319. Semoga bermanfaat penjelasan sebelas ayat dari surah Adh-Dhuha ini.   Bahasan selanjutnya: Tujuh Faedah dari Surat Adh-Dhuha     Selesai disusun pada Jumat pagi di #DarushSholihin, 20 Muharram 1441 H, 20 September 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Download Tagssabar surat adh dhuha syukur syukur nikmat tafsir juz amma
Kali ini kita akan melanjutkan bagaimana memahami surah Adh-Dhuha. Baiknya kita melihat penjelasan ayat berikut.   Penjelasan ayat   Yang dimaksud dengan Adh-Dhuha adalah siang secara keseluruhan. Karena kalimat selanjutnya adalah “wal-laili idza sajaa” artinya malam ketika gelap, berarti lawan waktu Dhuha yang disebut pertama. Demikian alasan dari Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Makna Adh-Dhuha sendiri ada empat pendapat yaitu terangnya siang, depannya siang, awal siang ketika matahari mulai meninggi, dan ada pula yang berpendapat seluruh waktu siang disebut Adh-Dhuha. Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Sedangkan ayat, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى Dan demi malam ketika “sajaa”. Maksud “سَجَى” sajaadi sini adalah “سَكَنَ” sakana, yaitu tenang. ‘Atha’ mengatakan bahwa yang dimaksud “إِذَا سَجَى” adalah jika (siang) telah tertutupi gelap. Juga dikatakan yang hampir sama oleh Ibnul ‘Arabi, Al-Ashma’i, Al-Hasan Al-Bashri. Sa’id bin Jubair menyatakan “إِذَا سَجَى” ketika malam telah tiba. Mujahid menyatakan bahwa “إِذَا سَجَى” maksudnya adalah ketika malam telah istawa (telah lurus). Namun pendapat pertama yang menyatakan “إِذَا سَجَى” artinya “ketika malam itu tenang”, yaitu datang gelap dan tidak bertambah gelapnya lagi setelah itu, itu yang lebih dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Adapun “سَجَى” bermakna “سَكَنَ” sakana ada dua makna: (1) ketika malam tenang, (2) ketika ada makhluk yang muncul pada waktu malam. Kalimat “وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)” adalah kalimat sumpah (al-qasam). Sedangkan jawab al-qasam (jawab sumpah) ada pada kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى”. Kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ”, Rabbmu tidak meninggalkanmu, maksudnya adalah Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad sebagaimana seseorang yang berpisah meninggalkan barang. Kata “قَلَى” artinya “أبغض” (membenci), sehingga maksud ayat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى” adalah Allah tidak meninggalkan dan tidak membencimu. Kemudian pada ayat, وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu), maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi. Kehidupan dunia ini hanya bagaikan mata’ul ghurur (kesenangan yang menipu) sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 551) disebutkan bahwa manusia terlalu sibuk dengan dunianya. Padahal hal-hal tadi (anak dan harta) bisa mendukung pada akhirat. Dunia itu membuat kita kagum layaknya petani yang kagum pada tanaman. Padahal tanaman itu nantinya kering dan menguning, lalu hancur menjadi keropos dan tertiup angin. Yang mementingkan dunia dari akhirat, baginya siksa yang keras. Padahal dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa Allah Ta’ala menjadikan permisalan kehidupan dunia dengan perhiasan yang akan fana (sirna) dan kenikmatan yang akan hilang. Dunia itu diibaratkan dengan ghaits yaitu hujan yang datang setelah sekian lama tak kunjung turun. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan para petani itu begitu takjub pada tanaman yang tumbuh karena hujan tadi. Sama halnya dengan orang kafir ketika memandang dunia. Orang kafir itu begitu semangat pada dunia, hati pun condongnya pada dunia. Padahal tanaman tadi itu bisa menguning, setelah sebelumnya begitu hijau dan enak dipandang mata. Kemudian akhirnya tanaman itu hancur dan kering. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, dunia itu awalnya layaknya pemuda kemudian beranjak menjadi berumur antara 30-50 tahun (kuhulan), lalu menjadi sepuh (keriput dan buruk rupa). Demikian pula fisik manusia dilihat dari umurnya. Di waktu syabab (pemuda) begitu semangat, begitu semangat dan gesit serta enak dipandang. Lalu berubah menjadi kuhulan (tua), sebagian kekuatannya menjadi hilang. Lantas ia beralih sepuh yang kekuatannya terus melemah. Itulah yang disebutkan pula dalam ayat lainnya, ۞ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54) Permisalan ini menunjukkan akan sirnanya dunia, sedangkan akhirat akan kekal abadi. Sehingga seharusnya kita semangat untuk menggapai akhirat. Di akhirat yang ada hanyalah siksa yang pedih, ataukah ampunan Allah. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, (Dan kelak Rabbmu pasti memberimu) di akhirat berupa kebaikan-kebaikan yang berlimpah ruah (lalu kamu menjadi puas) dengan pemberian itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu mana mungkin aku puas, sedangkan seseorang di antara umatku masih berada di neraka.” Sampai di sini selesailah Jawab Qasam, yaitu dengan kedua kalimat yang dinisbatkan sesudah dua kalimat yang dinafikan. Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullahberkata di negeri akhirat, Allah memberi pada Muhammad karunia sampai ia ridha pada umatnya. Di antara yang diberi adalah karamah, juga termasuk sungai Al-Kautsar. Dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa kelak akan diberikan di surga sejuta istana, di mana setiap istana tersebut memiliki istri dan pembantu. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalurnya, sanadnya sahih sampai Ibnu ‘Abbas. Hal ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas tentu berdasarkan dalil. Pengertian lainnya pula yang disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah anggota keluarganya tidak ada yang dimasukkan dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh As-Sudi, dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Tafsiran lainnya pula menyebutkan bahwa bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, juga dinyatakan oleh Abu Ja’far Al-Baqir. Yang tepat sebagaimana disebutkan dalam At-Tafsir Al-Muyassar, kelak Allah akan memberikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat berbagai nikmat, lantas beliau akan ridha dengan yang demikian. Pernyataan yang sama juga disebutkan oleh Syaikh As-Sa’dirahimahullah dalam kitab tafsirnya. Kemudian setelah itu dirinci berbagai nikmat yang diberikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” Dalam At-Tafsir Al-Muyassar disebutkan, bukankah sebelumnya Allah menjadikanmu dalam keadaan yatim, lantas Allah melindungi dan memeliharamu. Sebelumnya juga Nabi Muhammad dalam keadaan tidak tahu kita dan tidak tahu iman, lantas Allah mengajarkan pada Muhammad ilmu yang ia belum mengetahui, lantas diberi taufik pula pada bagusnya amal. Juga sebelumnya Muhammad dalam keadaan fakir, lantas diberikan rezeki dan berikan kecukupan dengan sifat qana’ah dan sabar. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan tentang ayat “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu”, maksudnya Allah mendapatimu dalam keadaan tidak memiliki ibu dan ayah, di mana ibu dan ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia ketika itu ia tidak merawat dirinya sendiri, namun Allah yang melindungi dan memelihara beliau. Kakeknya ‘Abdul Muththalib yang merawatnya setelah itu. Ketika kakeknya meninggal dunia, dilanjutkan pemeliharaan beliau oleh pamannya Abu Thalib. Sampai Allah terus menerus menolong beliau. Maksud ayat, وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah mendapatimu (wahai Muhammad) dalam keadaan tidak mengetahui Al-Qur’an, tidak mengetahui iman, lalu diajarkan kepadamu yang engkau belum ketahui. Akhirnya engkau mendapatkan taufik sehingga baik dalam amalan dan akhlak.” Ada juga tafsiran lainnya yang mengatakan, “Ketika kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat di celah-celah kota Makkah akhirnya Allah mengembalikan beliau pada kakeknya ‘Abdul Muththalib.” Demikian ini pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir, 9:158. Sedangkan maksud ayat “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” yaitu Muhammad didapati dalam keadaan fakir, kemudian Allah taklukkan bagi Muhammad berbagai negeri yang di situ didapati perbendaharaan harta dan hasil bumi. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah Allah membuat Muhammad ridha terhadap rezeki. Inilah pendapat As-Saib, juga dipilih Al-Fara’. Al-Fara’ berkata, لَمْ يَكُنْ غِنَاهُ عَنْ كَثْرَةِ الماَلِ ، وَلَكِنَّ اللهَ رَضَّاهُ بِمَا آتَاهُ “Ghina (kaya)-nya Nabi kita Muhammad itu bukan dengan banyaknya harta. Akan tetapi beliau rida terhadap rezeki yang diberi.” Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Setelah itu barulah disebutkan, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Di sini maksudnya adalah jika Allah yang telah menghilangkan darimu berbagai kekurangan, yang telah memberikan kecukupan kepadamu, yang telah melindungi, menolong, hingga memberi petunjuk padamu, maka balaslah berbagai nikmat tersebut dengan bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, terhadap anak yatim janganlah bertindak kasar dan menyakitinya. Anak yatim itu dimuliakan dan diberi apa yang memudahkan mereka. Hendaklah kita lakukan seperti apa yang kita senang jika anak-anak kita diperlakukan seperti itu pula. Adapun yang meminta-minta janganlah dihardik dan diperlakukan dengan akhlak yang jelek. Harusnya pada yang meminta-minta diberi kemudahan dan dibalas dengan yang makruf serta berbuat baik. Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.   Menyebut-nyebut nikmat Berikut beberapa pendapat ulama mengenai ayat, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Baca juga: Tampakkanlah nikmat Allah   Syaikh Muhammad Al Utsaimin menerangkan bahwa hendaklah setiap orang bersederhana dalam setiap aktivitasnya. Hendaklah ia bersederhana dalam pakaian, makan, dan minum. Namun jangan sampai ia menyembunyikan nikmat Allah. Karena Allah amatlah suka jika melihat bekas nikmat pada hamba-Nya. Jika nikmat tersebut berupa harta, maka Allah sangat senang jika hamba memanfaatkan nikmat tersebut untuk berinfak, bersedekah, dan menolong dalam kebaikan. Jika nikmat tersebut berupa ilmu, maka Allah sangat senang jika ilmu tersebut diamalkan sehingga baik ibadah dan muamalahnya, juga ilmu tersebut disebar dengan dakwah dan mengajari orang lain. Jika malah sebaliknya, saat Allah sudah memberikan nikmat harta sehingga mampu sebenarnya membeli pakaian, kok malah ia keluar di hadapan orang lain dalam keadaan fakir (seakan tak punya apa-apa). Ini hakekatnya menolak atau menentang nikmat Allah. Sama halnya jika orang diberi harta, lantas ia tidak memanfaatkannya untuk infak atau memenuhi kewajiban dari harta. Begitu pula dengan nikmat ilmu, kalau tidak dimanfaatkan untuk menambah ibadah, khusu’ dalam ibadah atau baik dalam muamalah, atau tidak dimanfaatkan untuk mengajarkan orang lain, maka ini pun tanda menyembunyikan nikmat Allah. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 4:318-319. Semoga bermanfaat penjelasan sebelas ayat dari surah Adh-Dhuha ini.   Bahasan selanjutnya: Tujuh Faedah dari Surat Adh-Dhuha     Selesai disusun pada Jumat pagi di #DarushSholihin, 20 Muharram 1441 H, 20 September 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Download Tagssabar surat adh dhuha syukur syukur nikmat tafsir juz amma


Kali ini kita akan melanjutkan bagaimana memahami surah Adh-Dhuha. Baiknya kita melihat penjelasan ayat berikut.   Penjelasan ayat   Yang dimaksud dengan Adh-Dhuha adalah siang secara keseluruhan. Karena kalimat selanjutnya adalah “wal-laili idza sajaa” artinya malam ketika gelap, berarti lawan waktu Dhuha yang disebut pertama. Demikian alasan dari Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Makna Adh-Dhuha sendiri ada empat pendapat yaitu terangnya siang, depannya siang, awal siang ketika matahari mulai meninggi, dan ada pula yang berpendapat seluruh waktu siang disebut Adh-Dhuha. Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Sedangkan ayat, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى Dan demi malam ketika “sajaa”. Maksud “سَجَى” sajaadi sini adalah “سَكَنَ” sakana, yaitu tenang. ‘Atha’ mengatakan bahwa yang dimaksud “إِذَا سَجَى” adalah jika (siang) telah tertutupi gelap. Juga dikatakan yang hampir sama oleh Ibnul ‘Arabi, Al-Ashma’i, Al-Hasan Al-Bashri. Sa’id bin Jubair menyatakan “إِذَا سَجَى” ketika malam telah tiba. Mujahid menyatakan bahwa “إِذَا سَجَى” maksudnya adalah ketika malam telah istawa (telah lurus). Namun pendapat pertama yang menyatakan “إِذَا سَجَى” artinya “ketika malam itu tenang”, yaitu datang gelap dan tidak bertambah gelapnya lagi setelah itu, itu yang lebih dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 1:611. Adapun “سَجَى” bermakna “سَكَنَ” sakana ada dua makna: (1) ketika malam tenang, (2) ketika ada makhluk yang muncul pada waktu malam. Kalimat “وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)” adalah kalimat sumpah (al-qasam). Sedangkan jawab al-qasam (jawab sumpah) ada pada kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى”. Kalimat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ”, Rabbmu tidak meninggalkanmu, maksudnya adalah Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad sebagaimana seseorang yang berpisah meninggalkan barang. Kata “قَلَى” artinya “أبغض” (membenci), sehingga maksud ayat “مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى” adalah Allah tidak meninggalkan dan tidak membencimu. Kemudian pada ayat, وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu), maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi. Kehidupan dunia ini hanya bagaikan mata’ul ghurur (kesenangan yang menipu) sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). Dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 551) disebutkan bahwa manusia terlalu sibuk dengan dunianya. Padahal hal-hal tadi (anak dan harta) bisa mendukung pada akhirat. Dunia itu membuat kita kagum layaknya petani yang kagum pada tanaman. Padahal tanaman itu nantinya kering dan menguning, lalu hancur menjadi keropos dan tertiup angin. Yang mementingkan dunia dari akhirat, baginya siksa yang keras. Padahal dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa Allah Ta’ala menjadikan permisalan kehidupan dunia dengan perhiasan yang akan fana (sirna) dan kenikmatan yang akan hilang. Dunia itu diibaratkan dengan ghaits yaitu hujan yang datang setelah sekian lama tak kunjung turun. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan para petani itu begitu takjub pada tanaman yang tumbuh karena hujan tadi. Sama halnya dengan orang kafir ketika memandang dunia. Orang kafir itu begitu semangat pada dunia, hati pun condongnya pada dunia. Padahal tanaman tadi itu bisa menguning, setelah sebelumnya begitu hijau dan enak dipandang mata. Kemudian akhirnya tanaman itu hancur dan kering. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, dunia itu awalnya layaknya pemuda kemudian beranjak menjadi berumur antara 30-50 tahun (kuhulan), lalu menjadi sepuh (keriput dan buruk rupa). Demikian pula fisik manusia dilihat dari umurnya. Di waktu syabab (pemuda) begitu semangat, begitu semangat dan gesit serta enak dipandang. Lalu berubah menjadi kuhulan (tua), sebagian kekuatannya menjadi hilang. Lantas ia beralih sepuh yang kekuatannya terus melemah. Itulah yang disebutkan pula dalam ayat lainnya, ۞ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54) Permisalan ini menunjukkan akan sirnanya dunia, sedangkan akhirat akan kekal abadi. Sehingga seharusnya kita semangat untuk menggapai akhirat. Di akhirat yang ada hanyalah siksa yang pedih, ataukah ampunan Allah. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, (Dan kelak Rabbmu pasti memberimu) di akhirat berupa kebaikan-kebaikan yang berlimpah ruah (lalu kamu menjadi puas) dengan pemberian itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu mana mungkin aku puas, sedangkan seseorang di antara umatku masih berada di neraka.” Sampai di sini selesailah Jawab Qasam, yaitu dengan kedua kalimat yang dinisbatkan sesudah dua kalimat yang dinafikan. Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullahberkata di negeri akhirat, Allah memberi pada Muhammad karunia sampai ia ridha pada umatnya. Di antara yang diberi adalah karamah, juga termasuk sungai Al-Kautsar. Dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa kelak akan diberikan di surga sejuta istana, di mana setiap istana tersebut memiliki istri dan pembantu. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalurnya, sanadnya sahih sampai Ibnu ‘Abbas. Hal ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas tentu berdasarkan dalil. Pengertian lainnya pula yang disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah anggota keluarganya tidak ada yang dimasukkan dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh As-Sudi, dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Tafsiran lainnya pula menyebutkan bahwa bentuk karunia pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, juga dinyatakan oleh Abu Ja’far Al-Baqir. Yang tepat sebagaimana disebutkan dalam At-Tafsir Al-Muyassar, kelak Allah akan memberikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat berbagai nikmat, lantas beliau akan ridha dengan yang demikian. Pernyataan yang sama juga disebutkan oleh Syaikh As-Sa’dirahimahullah dalam kitab tafsirnya. Kemudian setelah itu dirinci berbagai nikmat yang diberikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Allah mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” Dalam At-Tafsir Al-Muyassar disebutkan, bukankah sebelumnya Allah menjadikanmu dalam keadaan yatim, lantas Allah melindungi dan memeliharamu. Sebelumnya juga Nabi Muhammad dalam keadaan tidak tahu kita dan tidak tahu iman, lantas Allah mengajarkan pada Muhammad ilmu yang ia belum mengetahui, lantas diberi taufik pula pada bagusnya amal. Juga sebelumnya Muhammad dalam keadaan fakir, lantas diberikan rezeki dan berikan kecukupan dengan sifat qana’ah dan sabar. Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan tentang ayat “Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu”, maksudnya Allah mendapatimu dalam keadaan tidak memiliki ibu dan ayah, di mana ibu dan ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia ketika itu ia tidak merawat dirinya sendiri, namun Allah yang melindungi dan memelihara beliau. Kakeknya ‘Abdul Muththalib yang merawatnya setelah itu. Ketika kakeknya meninggal dunia, dilanjutkan pemeliharaan beliau oleh pamannya Abu Thalib. Sampai Allah terus menerus menolong beliau. Maksud ayat, وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah mendapatimu (wahai Muhammad) dalam keadaan tidak mengetahui Al-Qur’an, tidak mengetahui iman, lalu diajarkan kepadamu yang engkau belum ketahui. Akhirnya engkau mendapatkan taufik sehingga baik dalam amalan dan akhlak.” Ada juga tafsiran lainnya yang mengatakan, “Ketika kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tersesat di celah-celah kota Makkah akhirnya Allah mengembalikan beliau pada kakeknya ‘Abdul Muththalib.” Demikian ini pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana disebutkan dalam Zaad Al-Masiir, 9:158. Sedangkan maksud ayat “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” yaitu Muhammad didapati dalam keadaan fakir, kemudian Allah taklukkan bagi Muhammad berbagai negeri yang di situ didapati perbendaharaan harta dan hasil bumi. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah Allah membuat Muhammad ridha terhadap rezeki. Inilah pendapat As-Saib, juga dipilih Al-Fara’. Al-Fara’ berkata, لَمْ يَكُنْ غِنَاهُ عَنْ كَثْرَةِ الماَلِ ، وَلَكِنَّ اللهَ رَضَّاهُ بِمَا آتَاهُ “Ghina (kaya)-nya Nabi kita Muhammad itu bukan dengan banyaknya harta. Akan tetapi beliau rida terhadap rezeki yang diberi.” Lihat Zaad Al-Masiir, 9:159. Setelah itu barulah disebutkan, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Di sini maksudnya adalah jika Allah yang telah menghilangkan darimu berbagai kekurangan, yang telah memberikan kecukupan kepadamu, yang telah melindungi, menolong, hingga memberi petunjuk padamu, maka balaslah berbagai nikmat tersebut dengan bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, terhadap anak yatim janganlah bertindak kasar dan menyakitinya. Anak yatim itu dimuliakan dan diberi apa yang memudahkan mereka. Hendaklah kita lakukan seperti apa yang kita senang jika anak-anak kita diperlakukan seperti itu pula. Adapun yang meminta-minta janganlah dihardik dan diperlakukan dengan akhlak yang jelek. Harusnya pada yang meminta-minta diberi kemudahan dan dibalas dengan yang makruf serta berbuat baik. Demikian penjelasan dari Syaikh As-Sa’di rahimahullah.   Menyebut-nyebut nikmat Berikut beberapa pendapat ulama mengenai ayat, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11). Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ “Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 2819 dan An Nasai no. 3605. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini sahih).   Baca juga: Tampakkanlah nikmat Allah   Syaikh Muhammad Al Utsaimin menerangkan bahwa hendaklah setiap orang bersederhana dalam setiap aktivitasnya. Hendaklah ia bersederhana dalam pakaian, makan, dan minum. Namun jangan sampai ia menyembunyikan nikmat Allah. Karena Allah amatlah suka jika melihat bekas nikmat pada hamba-Nya. Jika nikmat tersebut berupa harta, maka Allah sangat senang jika hamba memanfaatkan nikmat tersebut untuk berinfak, bersedekah, dan menolong dalam kebaikan. Jika nikmat tersebut berupa ilmu, maka Allah sangat senang jika ilmu tersebut diamalkan sehingga baik ibadah dan muamalahnya, juga ilmu tersebut disebar dengan dakwah dan mengajari orang lain. Jika malah sebaliknya, saat Allah sudah memberikan nikmat harta sehingga mampu sebenarnya membeli pakaian, kok malah ia keluar di hadapan orang lain dalam keadaan fakir (seakan tak punya apa-apa). Ini hakekatnya menolak atau menentang nikmat Allah. Sama halnya jika orang diberi harta, lantas ia tidak memanfaatkannya untuk infak atau memenuhi kewajiban dari harta. Begitu pula dengan nikmat ilmu, kalau tidak dimanfaatkan untuk menambah ibadah, khusu’ dalam ibadah atau baik dalam muamalah, atau tidak dimanfaatkan untuk mengajarkan orang lain, maka ini pun tanda menyembunyikan nikmat Allah. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 4:318-319. Semoga bermanfaat penjelasan sebelas ayat dari surah Adh-Dhuha ini.   Bahasan selanjutnya: Tujuh Faedah dari Surat Adh-Dhuha     Selesai disusun pada Jumat pagi di #DarushSholihin, 20 Muharram 1441 H, 20 September 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Download Tagssabar surat adh dhuha syukur syukur nikmat tafsir juz amma

Membunuh Semut yang Mengganggu, Padahal Semut Diharamkan untuk Dibunuh

Bolehkah membunuh semut yang mengganggu? Padahal semut itu diharamkan untuk dibunuh.   Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud, no. 5267; Ibnu Majah, no. 3224; Ahmad 1:332. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ada soal yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kajian Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, “Ada hadits tentang larangan membunuh empat hewan, yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Namun semut di rumah kadang mengganggu, kadang masuk ke kamar dan biasa bergerombol. Apakah boleh kami membunuh semut tadi dengan racun dan semisal itu?” Jawab Syaikh rahimahullah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Allah juga meralang membunuh seorang muslim. Namun jika ada muslim yang mengganggu seperti pelaku begal di jalanan atau pelaku semisal itu yang halal dibunuh, maka hukumnya boleh dibunuh. Kalau ada seseorang yang menghalangimu lantas ingin merampas hartamu, maka janganlah berikan ia harta. Jika ia ingin membunuhmu, lawanlah dia. Engkau halal untuk membunuhnya (dalam rangka membela diri, pen.). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang orang yang merampas harta, “Janganlah memberikan harta padanya.” “Bagaimana jika ia sampai mencoba membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bunuhlah dia.” “Bagaimana jika ia malah membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau syahid.” “Bagaimana jika aku membunuhnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia di neraka.” Kesimpulannya, yang mengganggu berarti boleh dibunuh. Maka semut yang mengganggu yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan membunuhnya, maka silakan membunuhnya. Melakukan seperti itu tidaklah berdosa. Namun ada cara lain sebelum membunuhnya, yaitu di rumah diberi sesuatu untuk mengusir semut (seperti kapur semut dan semacamnya, pen.). Kami sendiri sudah mencobanya. Kami pandang seperti itu akan mengusir semut yang mengganggu tadi, akhirnya semut-semut tersebut pergi, tidak tersisa lagi dalam rumah. Jika mungkin lakukan demikian, itu lebih baik. Jika tidak mungkin seperti itu, maka tidaklah masalah membunuhnya. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:277, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Baca juga: Hukum Membunuh Semut dan Kecoak yang Mengganggu Tentang begal, baca artikel: Hukum Membunuh Tukang Begal Membela Diri dari Tukang Begal Biar Syahid Hukuman yang Pantas bagi Pelaku Begal   Semoga bermanfaat.     Disusun di Puncak Sriten, Nglipar, Gunungkidul, Jumat pagi, 2 Dzulqa’dah 1440 H, 5 Juli 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbegal hukum membunuh semut semut semut yang mengganggu

Membunuh Semut yang Mengganggu, Padahal Semut Diharamkan untuk Dibunuh

Bolehkah membunuh semut yang mengganggu? Padahal semut itu diharamkan untuk dibunuh.   Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud, no. 5267; Ibnu Majah, no. 3224; Ahmad 1:332. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ada soal yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kajian Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, “Ada hadits tentang larangan membunuh empat hewan, yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Namun semut di rumah kadang mengganggu, kadang masuk ke kamar dan biasa bergerombol. Apakah boleh kami membunuh semut tadi dengan racun dan semisal itu?” Jawab Syaikh rahimahullah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Allah juga meralang membunuh seorang muslim. Namun jika ada muslim yang mengganggu seperti pelaku begal di jalanan atau pelaku semisal itu yang halal dibunuh, maka hukumnya boleh dibunuh. Kalau ada seseorang yang menghalangimu lantas ingin merampas hartamu, maka janganlah berikan ia harta. Jika ia ingin membunuhmu, lawanlah dia. Engkau halal untuk membunuhnya (dalam rangka membela diri, pen.). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang orang yang merampas harta, “Janganlah memberikan harta padanya.” “Bagaimana jika ia sampai mencoba membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bunuhlah dia.” “Bagaimana jika ia malah membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau syahid.” “Bagaimana jika aku membunuhnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia di neraka.” Kesimpulannya, yang mengganggu berarti boleh dibunuh. Maka semut yang mengganggu yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan membunuhnya, maka silakan membunuhnya. Melakukan seperti itu tidaklah berdosa. Namun ada cara lain sebelum membunuhnya, yaitu di rumah diberi sesuatu untuk mengusir semut (seperti kapur semut dan semacamnya, pen.). Kami sendiri sudah mencobanya. Kami pandang seperti itu akan mengusir semut yang mengganggu tadi, akhirnya semut-semut tersebut pergi, tidak tersisa lagi dalam rumah. Jika mungkin lakukan demikian, itu lebih baik. Jika tidak mungkin seperti itu, maka tidaklah masalah membunuhnya. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:277, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Baca juga: Hukum Membunuh Semut dan Kecoak yang Mengganggu Tentang begal, baca artikel: Hukum Membunuh Tukang Begal Membela Diri dari Tukang Begal Biar Syahid Hukuman yang Pantas bagi Pelaku Begal   Semoga bermanfaat.     Disusun di Puncak Sriten, Nglipar, Gunungkidul, Jumat pagi, 2 Dzulqa’dah 1440 H, 5 Juli 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbegal hukum membunuh semut semut semut yang mengganggu
Bolehkah membunuh semut yang mengganggu? Padahal semut itu diharamkan untuk dibunuh.   Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud, no. 5267; Ibnu Majah, no. 3224; Ahmad 1:332. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ada soal yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kajian Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, “Ada hadits tentang larangan membunuh empat hewan, yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Namun semut di rumah kadang mengganggu, kadang masuk ke kamar dan biasa bergerombol. Apakah boleh kami membunuh semut tadi dengan racun dan semisal itu?” Jawab Syaikh rahimahullah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Allah juga meralang membunuh seorang muslim. Namun jika ada muslim yang mengganggu seperti pelaku begal di jalanan atau pelaku semisal itu yang halal dibunuh, maka hukumnya boleh dibunuh. Kalau ada seseorang yang menghalangimu lantas ingin merampas hartamu, maka janganlah berikan ia harta. Jika ia ingin membunuhmu, lawanlah dia. Engkau halal untuk membunuhnya (dalam rangka membela diri, pen.). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang orang yang merampas harta, “Janganlah memberikan harta padanya.” “Bagaimana jika ia sampai mencoba membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bunuhlah dia.” “Bagaimana jika ia malah membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau syahid.” “Bagaimana jika aku membunuhnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia di neraka.” Kesimpulannya, yang mengganggu berarti boleh dibunuh. Maka semut yang mengganggu yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan membunuhnya, maka silakan membunuhnya. Melakukan seperti itu tidaklah berdosa. Namun ada cara lain sebelum membunuhnya, yaitu di rumah diberi sesuatu untuk mengusir semut (seperti kapur semut dan semacamnya, pen.). Kami sendiri sudah mencobanya. Kami pandang seperti itu akan mengusir semut yang mengganggu tadi, akhirnya semut-semut tersebut pergi, tidak tersisa lagi dalam rumah. Jika mungkin lakukan demikian, itu lebih baik. Jika tidak mungkin seperti itu, maka tidaklah masalah membunuhnya. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:277, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Baca juga: Hukum Membunuh Semut dan Kecoak yang Mengganggu Tentang begal, baca artikel: Hukum Membunuh Tukang Begal Membela Diri dari Tukang Begal Biar Syahid Hukuman yang Pantas bagi Pelaku Begal   Semoga bermanfaat.     Disusun di Puncak Sriten, Nglipar, Gunungkidul, Jumat pagi, 2 Dzulqa’dah 1440 H, 5 Juli 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbegal hukum membunuh semut semut semut yang mengganggu


Bolehkah membunuh semut yang mengganggu? Padahal semut itu diharamkan untuk dibunuh.   Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud, no. 5267; Ibnu Majah, no. 3224; Ahmad 1:332. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Ada soal yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kajian Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, “Ada hadits tentang larangan membunuh empat hewan, yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Namun semut di rumah kadang mengganggu, kadang masuk ke kamar dan biasa bergerombol. Apakah boleh kami membunuh semut tadi dengan racun dan semisal itu?” Jawab Syaikh rahimahullah: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Allah juga meralang membunuh seorang muslim. Namun jika ada muslim yang mengganggu seperti pelaku begal di jalanan atau pelaku semisal itu yang halal dibunuh, maka hukumnya boleh dibunuh. Kalau ada seseorang yang menghalangimu lantas ingin merampas hartamu, maka janganlah berikan ia harta. Jika ia ingin membunuhmu, lawanlah dia. Engkau halal untuk membunuhnya (dalam rangka membela diri, pen.). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang orang yang merampas harta, “Janganlah memberikan harta padanya.” “Bagaimana jika ia sampai mencoba membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bunuhlah dia.” “Bagaimana jika ia malah membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau syahid.” “Bagaimana jika aku membunuhnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia di neraka.” Kesimpulannya, yang mengganggu berarti boleh dibunuh. Maka semut yang mengganggu yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan membunuhnya, maka silakan membunuhnya. Melakukan seperti itu tidaklah berdosa. Namun ada cara lain sebelum membunuhnya, yaitu di rumah diberi sesuatu untuk mengusir semut (seperti kapur semut dan semacamnya, pen.). Kami sendiri sudah mencobanya. Kami pandang seperti itu akan mengusir semut yang mengganggu tadi, akhirnya semut-semut tersebut pergi, tidak tersisa lagi dalam rumah. Jika mungkin lakukan demikian, itu lebih baik. Jika tidak mungkin seperti itu, maka tidaklah masalah membunuhnya. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:277, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Baca juga: Hukum Membunuh Semut dan Kecoak yang Mengganggu Tentang begal, baca artikel: Hukum Membunuh Tukang Begal Membela Diri dari Tukang Begal Biar Syahid Hukuman yang Pantas bagi Pelaku Begal   Semoga bermanfaat.     Disusun di Puncak Sriten, Nglipar, Gunungkidul, Jumat pagi, 2 Dzulqa’dah 1440 H, 5 Juli 2019 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbegal hukum membunuh semut semut semut yang mengganggu

Tafsir Surat At Takwir – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat At TakwirOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, MASurat At-Takwir adalah salah satu surat yang menggambarkan tentang dahsyatnya hari kiamat. Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi Nabi bersabda :“Barangsiapa yang ingin merasakan hari kiamat seperti menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia membaca “idza syamsu kuwirat, idza syamaaunfatarat, dan idza syamaaunsyaqat”. (HR At-Tirmidzi)Ketiga surat ini terdapat di dalam Al Quran pada Juz ‘Amma yang terdapat kemiripan pada isinya yaitu menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat, tentang bagaimana perubahan kondisi alam semesta sebagai pertanda akan munculnya hari akhirat, hari yang abadi yang tiada penghujungnya.Di awal surat At-Takwir, Allah bersumpah dengan 12 sumpah berturut-turut tentang kejadian-kejadian hari kiamat yang sangat dahsyat untuk menekankan dan menegaskan bahwasanya pada hari tersebut setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama di dunia sebagaimana bunyi ayat setelahnya setelah Allah bersumpah di ayat-ayat sebelumnya.Allah berfirman pada ayat yang pertama:1. إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“tatkala matahari digulung”Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa matahari adalah makhluk yang sangat besar. Para ilmuwan menyatakan bahwasanya diameter matahari 109 kali lebih besar dari diameter bumi. Adapun jarak dari bumi ke matahari menurut mereka sekitar 150 juta km, ini adalah jarak yang sangat jauh. Wallahu a’lam akan kebenarannya. Para ilmuan juga menyatakan bahwa di permukaan matahari terjadi ledakan-ledakan yang besar, dari situlah timbul sinar yang sangat kuat. Meskipun jarak antara bumi dengan matahari sejauh itu tetapi panasnya matahari sampai ke bumi.Surat At-Takwir adalah surat makiyyah, surat yang diturunkan oleh Allah tatkala Nabi berada di fase mekah menghadapi orang musyrikin yang mengingkari tentang adanya hari kiamat dan hari kebangkitan. Dan matahari adalah makhluk besar yang setiap hari dilihat oleh orang-orang musyrikin. Karenanya Allah menjelaskan bahwa matahari yang selama ini terbit di sebelah timur kemudian terbenam di sebelah barat tidak akan selamanya demikan. Akan ada suatu saat dimana gerakan tersebut akan berubah.Ayat ini didukung dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :الشَّمْسُ وَالقَمَرُ مُكَوَّرَانِ يَوْمَ القِيَامَةِ“Matahari dan bulan dilipat pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 3200)Dalam bahasa Arab, makna dari At-takwir berputar pada 3 makna sebagaimana penafsiran para salaf.Yang pertama at-takwir artinyaجَمْعُ بَعْضِ الشَّيْءِ إِلَى بَعْضٍ“Dikumpulkan satu dengan yang lainnya”كَتَكْوِيرِ الْعِمَامَةِ، وَهُوَ لَفُّهَا عَلَى الرَّأْسِ seperti takwiir sorban, yaitu melipatnya dan menggulungnya di kepala.Makna kedua dari takwir adalahإِذَا ذَهَبَ ضَوْءُهَا dzahaba dhouuha“hilang cahayanya”ini diantara makna takwir yang disebutkan oleh para salaf dalam tafsir mereka. Dan makna ketiga dari takwir adalah إِذَا رُمِيَ بِهاَ yaitu dilemparkan. Sehingga kalimat tatkala matahari ditakwir, bisa diartikan dengan tatkala matahari dilipat, lalu dilemparkan, sehingga tatkala itu matahari hilang cahayanya. (lihat Tafsir At-Thobari 24/128-131)Para ulama telah menjelaskan bahwa tatkala kita belajar ilmu tafsir, kebanyakan perkataan-perkataan para salaf yang berbeda-beda dalam satu ayat bukanlah tafsir thadhadh (tafsir yang saling bertentangan), tetapi termasuk tafsir tanawu’ (tafsir yang beraneka ragam dan tidak saling bertentangan). Berbeda dengan perselisihan dalam masalah fiqih, perselisihan yang terdapat di dalam pembahasan fiqih kebanyakannya adalah bertentangan (kontradiktif), madzhab ini mengatakan demikian madzab itu mengatakan demikian. Madzhab yang satu mengatakan menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu sedangkan madhzab lain mengatakan membatalkan wudhu. Adapun dalam masalah tafsir, kebanyakan perselisihan yang terjadi bukanlah perselisihan yang saling kontradiktif tetapi perselisihan yang saling mendukung. Sebagaimana makna at-takwir kita dapati ada 3 tafsiran dari salaf, yang pertama dilipat, yang kedua hilang cahanya, dan yang ketiga dilemparkan. Apabila diteliti, masing-masing tafsiran tersebut mempunyai sandaran dalil baik ditinjau dari sisi bahasa atau adanya hadist-hadist Nabi yang mendukung tafsiran tersebut.Sehingga untuk mengompromikan tafsiran-tafsiran tersebut apabila dicermati kembali, secara bahasa takwir yaitu dilipat sebagaimana imaamah yang dilipat. Makna bahasanya bisa dipahami tetapi hakekat senyatanya bagaimana matahari dilipat –wallahu’alam– tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah bagaimana Allah mengumpulkan bagian yang satu dengan bagian yang lain. Kemudian setelah dilipat maka hilanglah cahayanya kemudian matahari tersebut dilemparkan ke dalam neraka jahannam. Sebagaimana apa yang terdapat dalam sebuah hadist yang shahih, Rasulullah bersabda :الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Matahari dan bulan seolah-olah seperti dua ekor banteng yang dilemparkan ke neraka di hari kiamat.” (HR. Thahawi dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Ad-Dho’ifah 1/242 no 124)Salah satu bukti luasnya neraka jahannam adalah Allah akan melemparkan matahari dan rembulan ke dalam neraka Jahannam. Diantara faidah Allah berbuat demikian kata para ulama adalah :Pertama; matahari tersebut sebagai bahan bakar di akhirat, danKedua; untuk menghinakan orang-orang yang menyembah matahari dan bulan. Orang-orang yang selama di dunia menyembah matahari dan bulan akan mendapati sesembahan mereka juga dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Hal ini tentu sangat menyedihkan mereka karena apa yang mereka sembah ternyata ikut di neraka bahkan ikut membakar mereka. (Lihat Syarh Musykil Al-Aatsaar 1/170 dan Fathul Baari 6/300)Hal ini sesuai dengan firman Allah :إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (98) لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (99)Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya (QA Al-Anbiyaa’ : 98-99)Asy-Syingqithi berkata :هَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ جَمِيعَ الْمَعْبُودَاتِ مَعَ عَابِدِيهَا فِي النَّارِ“Ayat ini menunjukan bahwa seluruh sesembahan (selain Allah) bersama para penyembahnya di neraka” (Daf’u iihaam al-idththiroob ‘an Aayaatil Kitaab hal 156)Oleh karena itu ayat yang pertama ini memberi peringatan kepada kaum musyrikin yang setiap hari mereka menyaksikan matahari terbit dari sebelah timur terbenam di sebelah barat dan senantiasa bercahaya, kelak di akhirat akan semua itu akan hilang, cahayanya akan hilang dan matahari tersebut akan dilipat oleh Allah kemudian dilemparkan ke dalam neraka jahannam.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:2. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ“dan tatkala bintang-bintang berjatuhan”Apabila diteliti perkataan salaf terhadap tafsir انْكَدَرَتْ juga terbagi menjadi dua pendapat. Pertama انْكَدَرَتْ artinya تَنَاثَرَتْ “berserakan” atau تَسَاقَطَتْ “berjatuhan”, dan sebagian tafsiran yang lain bermakna تَغَيَّرَتْ yang artinya “berubah” yaitu hilang cahayanya (lihat Tafsir At-Thobari 24/132-133) Kedua tafsiran adalah tafsiran yang tidak bertentangan karena apabila bintang-bintang berjatuhan maka telah terjadi perubahan padanya dan hilang cahayanya.Al-Kalbi dan ‘Athoo’ berkata :تُمْطِرُ السَّمَاءُ يَوْمَئِذٍ نُجُومًا فَلَا يَبْقَى نَجْمٌ إِلَّا وَقَعَ“Pada hari itu langit menurunkan hujan bintang, maka tidak tersisa satu bintangpun kecuali jatuh (ke permukaan bumi)” (Tafsir Al-Baghowi 8/346)Kejadian ini juga merupakan perkara yang mengerikan yang terjadi pada hari kiamat. Kita saksikan di atas bintang-bintang yang begitu banyak yang mungkin jumlahnya berjuta–berjuta bahkan lebih. Seandainya sebuah meteor jatuh hal itu sudah menakutkan padahal meteor ukurannya kecil dibandingkan jika seandainya bintang yang sangat besar itu jatuh menimpa bumi ini. Lalu bagaimana jika bintang-bintang yang ada di langit semuanya berjatuhan. Sungguh itu adalah perkara yang mengerikan dan ini akan terjadi pada hari kiamat kelak.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:3. وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan tatkala gunung-gunung dijalankan”Ada dua pendapat dalam ayat ini, pertamaقُلِعَتْ مِنَ الْأَرْضِ، وَسُيِّرَتْ فِي الْهَوَاءِyaitu dicabut dari pasaknya lalu dijadikan berjalan terbang di udara, dan keduaتَحَوُّلُهَا عَنْ مَنْزِلَةِ الْحِجَارَةِ، فَتَكُونُ كَثِيبًا مَهِيلًاyaitu dirubah dari batu yang kokoh menjadi debu yang berhamburan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/228)Gunung-gunung yang kita saksikan begitu kokohnya, tegak, tegar, bahkan Allah mengatakan dalam Al Quran:وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ“Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan oleh Allah.” (QS Al-Ghasyiyah : 19)Sampai-sampai orang-orang menjadikan gunung sebagai perumpamaan seperti kalimat “orang itu tegar seperti gunung” yaitu kokoh seperti gunung. Akan tetapi ternyata gunung pada hari kiamat kelak akan terbang dijalankan oleh Allah. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An–Naml : 88)Kondisi gunung-gunung dalam hari kiamat melalui beberapa tahapan. Yang pertama Allah akan mencabut gunung-gunung tersebut dari pasaknya kemudian Allah menerbangkannya. Allah berfirman :وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا“Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS An-Naba’ : 20)Setelah gunung-gunung tersebut diterbangkan, Allah akan menghancurkan gunung-gunung tersebut sehingga seakan-akan fatamorgana yang tadinya dilihat setelah itu menjadi hilang setelah Allah menghancurkannya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًاDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya.” (QS Thaha : 105)Bumi akan rata menjadi lembah yang tidak ada kemiringan padanya. Gunung-gunung pun dihancurkan kemudian akan menjadi seperti debu yang beterbangan. Sebagaimana firman Allah:وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا (6)“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah ia seperti debu-debu yang beterbangan.” (QS Al-Waqi’ah : 5-6)Allah juga menggambarkannya dalam ayat yang lain. Allah berfirman:وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS Al-Qari’ah : 5)Seperti inilah kondisi gunung tatkala hari kiamat. Pertama Allah terbangkan, kemudian Allah menghancurkannya seperti debu yang tidak ada bekasnya. Kejadian seperti ini tentu saja akan menimbulkan ketakutan dan kengerian pada hari kiamat kelak ketika manusia menyaksikan bagaimana matahari dilipat, bintang-bintang berjatuhan, dan gunung-gunung diperjalankan kemudian dihancurkan oleh Allah.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:4. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan tatkala unta-unta yang bunting ditinggalkan”Adalah jamak (kata plural) dari نَاقَةٌ عُشَرَاءُ yaitu unta betina yang hamil besar dimana usia kehamilannya sudah 10 bulan ke atas dan sebentar lagi akan melahirkan. Jadi ketika usia kandungan unta telah mencapai 10 bulan unta tersebut dinamakan عُشَرَاءُ , dan demikian terus namanya hingga melahirkan. Karena biasanya usia kandungan unta adalah 12 bulan dan terkadang bisa sampai 13 bulan. Unta yang sudah kandungannya sudah berusia 10 bulan lebih adalah harta yang berharga bagi orang-orang arab di zaman dahulu, karenanya Allah menggunakannya sebagai permisalan. Kalau unta ingin melahirkan, biasanya sang pemilik unta sudah mengetahuinya, maka sang pemilik unta akan mengawasi kapan untanya akan melahirkan. Bahkan terkadang perkara-perkara yang lain tidak dia perdulikan demi memperhatikan proses melahirkan unta tersebut.Pada hari kiamat kelak, jika ada orang yang mengurus unta maka dia akan meningalkan untanya (Lihat Tafsri Al-Qurthubi 19/229). Ini adalah gambaran bahwa pada hari kiamat kelak apabila ada harta yang paling dia cintai maka dia akan ketakutan dan tidak akan memperdulikan harta tersebut. Harta apapun yang sangat dia cintai akan dia tinggalkan pada hari kiamat karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:5. وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan tatkala binatang-binatang liar dikumpulkan”Terkait makna حُشِرَتْ ada 2 pendapat di kalangan ulama ahli tafsir. Pertama artinya umitat yaitu dimatikan oleh Allah, dan kedua yaitu akan dikumpulkan.Hal ini sebagaimana firman Allah :وَما مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا طائِرٍ يَطِيرُ بِجَناحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثالُكُمْ مَا فَرَّطْنا فِي الْكِتابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَDan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan (QS Al-An’aam : 38)Allah juga berfirman :وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌDi antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya (QS Asy-Syuuroo : 29)Pada hakikatnya kedua pendapat ini tidak bertentangan, karena setelah hewan-hewan dikumpulkan kemudian diqisosoh lalu dikatakan kepadanya “Jadilah engkau pasir!”, sebagaimana yang telah lau dijelaskan dalam tafsir ayat terakhir dari surat An-Naba’. Akhirnya hewan-hewan tersebut pun sirna, sehingga yang tertinggal hanyala jin dan manusia yang akan kekal pada hari kiamat.الْوُحُوشُ adalah hewan-hewan yang liar. Secara umum hewan itu terbagi menjadi dua jenis. Ada hewan الأَلِيْفَة jinak yaitu hewan-hewan yang dekat dengan manusia seperti kambing, sapi. Ada hewan المُتَوَحِّشَةُ liar yaitu hewan-hewan yang tidak hidup dengan manusia seperti hewan-hewan yang liar dan sangar. Namun maksud ayat ini adalah seluruh hewan akan dikumpulkan, jangankan hewan yang jinak bahkan hewan yang liar dan buas juga akan dikumpulkan.Allah mengatakan bahwa pada hari kiamat hewan-hewan liar akan dikumpulkan. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa seluruh hewan-hewan liar termasuk yang sudah punah akan dibangkitkan oleh Allah dan akan dikumpulkan pada hari tersebut. Maka akan datang berbagai macam model hewan baik singa, macan, dan hewan-hewan liar lainnya. Semua akan dikumpulkan pada hari tersebut karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:6. وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan tatkala lautan dibakar”Ini juga merupakan perkara yang sangat mengerikan. Makna dari sisi bahasa الْبِحَارُ mencakup seluruh kumpulan air mencakup seperti lautan, selat, sungai, danau dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Allah berfirman :وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak bisa ditembus.” (QS Al-Furqan : 53)Sehingga terkadang sungai juga disebut الْبِحَارُ dalam bahasa arab. Dan kita tahu bahwa sungai terpisah dari lautan. Diantara keduanya ada penghalang sehingga tidak bercampur.Allah berfirman وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ yaitu “tatkala lautan di-tasjir”. Ini sama dengan firman Allah :وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“Dan demi laut yang dinyalakan” (QS At-Thuur : 6)Terdapat khilaf tentang makna سُجِّرَتْ di kalangan para ahli tafsir. Ada yang mengatakan artinya أُوقِدَتْ “dinyalakan” dan ada yang mengartikan dengan مُلِئَتْ yaitu “penuh“ kemudian meluap keluar dari lautan (Tafsir At-Thobari 21/568).Kita tahu bahwa air laut di dunia ini menutupi lebih dari 2/3 permukaan bumi ini, lebih dari 70% isinya adalah air laut. Tanah yang kita pijak ini bagiannya kurang dari 30%. Kebanyakannya diisi oleh air dengan berbagai macam jenisnya, ada lautan, ada sungai, ada danau, ada selat, dan lainnya. Pada hari kiamat kelak Allah akan menjadikan air laut tersebut penuh lalu meluap dan kemudian terjadi banjir hebat sehingga para ulama mengatakan bahwa seluruh air akan bersatu. Yang tadinya Allah menjadikan barzakh yaitu adanya pemisah/pembeda antara air laut dan air sungai, maka Allah akan angkat mengangkat barzakh tersebut sehingga bercampurlah dan bersatu padu antara air asin dan air tawar.Mujahid berkataفُجِّرَ بَعْضُهَا فِي بَعْضٍ، الْعَذْبُ وَالْمِلْحُ، فَصَارَتِ الْبُحُورُ كُلُّهَا بَحْرًا وَاحِدًا“Meluap sehingga bercampur satu dengan yang lainnya, yang tawar dengan yang asin, maka jadilah seluruh lautan menjadi satu lautan” (Tafsir Al-Qurthubi 8/346-347)Ini jika kita bawakan makna سُجِّرَتْ dengan مُلِئَتْ “penuh“Adapun pendapat yang menyatakan سُجِّرَتْ yang lain kata para ulama adalah أُوقِدَتْ “dinyalakan” sehingga bermakna “tatkala air lautan dinyalakan oleh Allah”.Ibnu ‘Abbas berkata :أُوقِدَتْ فَصَارَتْ نَارًا تَضْطَرِمُ“Lautan dinyalakan hingga menjadi api yang bergejolak” (Tafsir al-Qurthubi 8/346)Dan sebagian salaf memaknakan سُجِّرَتْ dengan يَبِسَتْ “kering”. Qotadah berkata :ذَهَبَ مَاؤُهَا فَلَمْ يَبْقَ فِيهَا قَطْرَةٌ“Kering airnya hingga tidak tersisa meskipun hanya setetes” (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Apabila kita mengompromikan beberapa tafsiran ini maka kondisi air laut pertama kali tatkala terjadi hari kiamat yaitu air laut tersebut akan meluap kemudian meluber lalu bergabung antara air sungai dan air laut, antara air asin dan air tawar, kemudian Allah menyalakan air tersebut, Allah akan membakar air tersebut sehingga yang tadinya berupa lautan air menjadi lautan api. Setlah itu jadilah laut menjadi kering.Hanya Allah yang mengetahui bagaimana caranya lautan air dibakar. Allah mampu mengubah kondisi yang satu menjadi kondisi yang lain. Seperti apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim ketika Allah menjadikan api yang seharusnya membakar kemudian menjadi dingin dan penyelamat bagi Ibrahim. Allah berfirman :قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَKami berfirman, “Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiya : 69)Begitupun Allah juga mampu menjadikan air laut menjadi api yang menyala. Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa air dengan rumus H20 yang tersusun dari hidrogen dan oksigen Allah mampu melepaskan dua molekul tersebut kemudian membakar dua molekul tersebut sehingga menjadi lautan api. Hanya Allah yang mengetahui caranya yang jelas lautan air kelak akan menjadi lautan api, dan ini menambah kengerian dan kedahsyatan hari kiamat.Perkara-perkara yang terdapat pada 6 ayat di awal ini sebagaimana kata Ubay bin Ka’ab dan juga Ibnu ‘Abbas radiyallahu’anhumaa adalah perkara-perkara yang terjadi di dunia sebelum tiupan sangkakala yang kedua. Kita tahu bahwa hari kiamat terjadi dengan dua tiupan sangkakala. Allah berfirman:وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ“Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab).” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian 6 perkara berikutnya adalah perkara-perkara yang terjadi setelah ditiupkan sangkakala yang ke dua yaitu perkara-perkara yang terjadi di akhirat. Allah berfirman :7. وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan tatkala jiwa-jiwa dipertemukan”Ada 3 tafisiran dikalangan salaf tentang makna ayat ini.Tafsiran pertama yang dimaksudkan dengan dipertemukan adalah jiwa itu dimasukkan ke dalam badannya kembali. Tadinya ruh dicabut kemudian diletakkan di alam barzakh sedangkan tubuhnya bisa jadi lapuk bersama tanah atau bisa jadi dimakan oleh binatang buas atau dimakan oleh ikan, namun pada hari tersebut ruh akan dikembalikan kepada tubuhnya semula. (Tafsir At-Thobari 24/144)Para ulama menyatakan bahwa kondisi keterkaitan antara ruh dan badan ada beberapa jenis. Tatkala seseorang masih hidup di atas muka bumi, maka yang paling dominan adalah jasad dibandingkan dengan ruh. Karenanya jika tertimpa sesuatu yang menyakitkan maka yang pertama kali akan merasakannya adalah jasad, begitupun jika ada sesuatu yang melezatkan maka yang pertama kali merasakannya adalah jasad. Meskipun ruh juga bisa terpengaruh dengan sakit atau kelezatan yang dialami jasad tetapi hubungan antara jasad dan ruh lebih kuat/dominan pada jasad dibandingkan dengan. Adapun ketika di alam barzakh maka ruh lebih dominan dibandingkan jasad, ruh menjadi sempurna sedangkan jasad mulai rusak, sehingga kalau seseorang dikuburkan maka ruh lah yang paling dominan. Ruh yang merasakan adzab dan kenikmatan. Meskipun jasadnya akan terpengaruh akan tetapi yang paling dominan adalah ruh dibandingkan jasad, dan jasad mengikuti ruuh. Namun di hari akhirat kelak antara ruh dan jasad sama-sama dominan sehingga adzab dan kenikmatan dirasakan oleh jasad dan ruh bersamaan. Hal ini karena ruh tersebut dikumpulkan kembali dengan jasadnya. (lihat hubungan antara ruuh dan Jasad di kitab-kitab berikut : Ar-Ruuh, Ibnul Qoyyim hal 43-44, Al-Ajwibah Al-Muhimmah, Ibnu Hajar hal 7-8, syarh al-‘Aqiidah at-Thohaawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi 2/578-579, dan penjelasan Asy-Syaikh Sholih Alu Syaikh terhadap al-Aqidah at-Thohawiyah)Tafsiran kedua yang dimaksud dengan dipertemukan adalah masing-masing orang dikumpulkan dengan yang sejalan dengannya. Orang kafir akan dikumpulkan dengan sesama orang kafir, orang munafik akan dikumpulkan dengan sesama orang munafik, orang yahudi akan dikumpulkan dengan sesama orang yahudi, orang nasrani akan dikumpulkan dengan orang nasrani, orang yang menyembah matahari akan dikumpulkan dengan sesama penyembah matahari, pezina dikumpulkan dengan sesama pezina, begitupun dengan orang beriman akan dikumpulkan dengan sesama orang beriman, orang bertakwa akan dikumpulkan dengan sesama orang bertakwa. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Al Qur’an :احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (QS Ash-Shaffat : 22)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :وَكُنتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11)“Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah).” (QS Al-Waqi’ah : 7-11)Oleh karena itu, masing-masing manusia pada hari kiamat nanti akan bergandengan bersama kelompoknya masing-masing. Orang musyrik akan berkumpul bersama orang musyrik, orang bertauhid akan berkumpul bersama orang bertauhid, dan seterusnya. Demikianlah Allah akan mengelompokkan mereka pada hari kiamat kelak.Tafsiran ketiga yaitu sebagaimana perkataan ‘Athoo’ :زُوِّجَتْ نُفُوسُ الْمُؤْمِنِينَ بِالْحُورِ الْعِينِ‘’jiwa-jiwa kaum mukminin dipertemukan (yaitu dinikahkan) dengan bidadari’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Kemudian Allah berfirman :8. وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ“dan tatkala bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”Asal kata dari الْمَوْءُودَةُ adalah maknanya diberi beban berat, karena berasal dari kata kerja وَأَدَ, Ibnu Faris berkata :(وَأَدَ) الْوَاوُ وَالْهَمْزَةُ وَالدَّالُ: كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى إِثْقَالِ شَيْءٍ بِشَيْءٍ…وَالْمَوْءُودَةُ مِنْ هَذَا، لِأَنَّهَا تُدْفَنُ حَيَّةً، فَهِيَ تُثْقَلُ بِالتُّرَابِ الَّذِي يَعْلُوهَا‘’ وَأَدَ Huruf wawu, hamzah, dan daal adalah kata yang menunjukan makna memberatkan sesuatu dengan sesuatu… diantaranya adalah karena anak wanita itu dikubur hidup-hidup, maka anak wanita itu diberi beban berat yaitu tanah yang menutupinya’’ (Mu’jam Maqoosyiis al-Lughoh 6/78, lihat juga Tafsir al-Qurthubi 19/232)9. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ“atas dosa apa dia dibunuh?”Salah satu kebiasaan jahiliyah pada sebagian kabilah Arab (bukan semua orang arab), jika ada anak perempuan yang lahir maka mereka akan dikubur hidup-hidup, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an.وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)“Padahal, apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS An-Nahl : 58-59)Para ulama mengatakan bahwa ada dua sebab mengapa orang-orang arab jahiliyah dulu membunuh putri-putri mereka.Pertama, adalah karena mereka malu dengan kehinaan. Disebutkan bahwasanya pada zaman jahiliyyah telah terjadi peperangan antara dua kabilah. Kemudian putri sang pemimpin kabilah ditawan oleh kabilah yang lain. Akhirnya kabilah tersebut ingin menebus putrinya yang ditawan, namun ternyata putrinya yang ditawan itu lebih memilih tinggal dengan kabilah yang menawannya karena dia jatuh cinta dengan lelaki dari kabilah tersebut. Hal ini menjadikan orang tuanya malu dan marah karena merasa terhina. Dari peristiwa dia bersumpah apabila dia mempunyai anak perempuan lagi akan dia bunuh. Sehingga perbuatan tersebut menjadi adat kebiasaan, setiap ada anak perempuan yang dilahirkan akan dibunuh. Mereka tidak mau setiap kalah perang mereka ditawan oleh kabilah lain karena ini adalah penghinaan bagi mereka, apakah yang ditawan itu adalah putri mereka atau istri mereka. Perbuatan membunuh tersebut mereka lakukan boleh jadi tatkala anak perempuannya baru lahir atau sudah besar, apabila sudah besar anaknya tersebut dirias kemudian dibawa jalan-jalan lalu dibunuh dengan dimasukkan ke dalam sumur. Ini sebab pertama, yaitu malu karena merasa terhinakan.Kedua, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an. Allah berfirman :وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ“Dan jangan kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, Kamilah yang memberi rizki kepada dan kepada kalian.” (QS Al-Isra’ : 31)Sesungguhnya ini adalah kebiasaan yang sangat buruk, bagaimana seorang anak dibunuh tanpa dosa. Kalau membunuh orang lain adalah perbuatan yang sangat tercela maka bagaimana lagi dengan membunuh anak sendiri?. Anak perempuan yang biasanya lebih membutuhkan kelembutan dan kasih sayang daripada anak lelaki?Allah mengatakan bahwasanya yang ditanya kelak adalah bayi-bayi tersebut. Pada asalnya yang seharusnya bertanggung jawab adalah yang membunuh, dia lah seharusnya yang ditanya kenapa dia tega membunuh. Tetapi dalam ayat ini Allah mengatkan bahwasanya yang dibunuh lah yang ditanyai oleh Allah. Ini merupakan ungkapan dalam bahasa arab untuk mengejek atau menghinakan pelakunya sehingga bertanya kepada korban. Ini adalah penghinaan untuk orangtua yang telah membunuh putrinya tersebut.Ironisnya, zaman sekarang dijumpai adanya praktek pembunuhan anak-anak secara modern yaitu melakukan praktek aborsi (pengguguran), dan ini adalah bentuk pembunuhan terhadap anak. Perbuatan ini banyak dilakukan di negara-negara barat bahkan dijadikan muktamar-muktamar untuk menekan agama islam agar menerapkan aturan ini, bahwasanya seorang wanita bebas melakukan pengguguran. Mereka ingin wanita muslimah ikut rusak sebagaimana rusaknya wanita mereka karena bebas berhubungan dengan para wanitanya, jika hamil tinggal digugurkan saja. Perbuatan ini adalah bentuk jahiliyah yang sangat parah yaitu melakukan penggguguran terhadap anak-anak.Kemudian Allah berfirman:10. وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan tatkala catatan-catatan amal dibuka lebar”Al-Qurthubi menjelaskan bahwa lembaran-lembaran catatan amal yang berada di tangan para malaikat ditutup tatkala seseorang meninggal dunia, dan tatkala hari kiamat dibuka kembali untuk dilihat olehnya hasil catatan amalnya selama hidupnya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/234)Hal ini sebagaimana firman Allahبَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَى صُحُفًا مُنَشَّرَةًBahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka (QS Al-Muddatstsir : 52)Al-Baghowi berkata :صَحَائِفَ الْأَعْمَالِ تُنْتَشَرُ لِلْحِسَابِ‘’Lembaran-lembaran catatan amal terbuka untuk dihisab (Tafsir Al-Baghowi 8/348)Pada hari kiamat kelak seluruh catatan amal yang pernah kita lakukan selama di dunia semua akan terbuka. Seluruh isi catatan amal tersebut berdasarkan amalan kita selama di dunia, kemudian dituliskan oleh malaikat. Sehingga hakekatnya yang mencatat catatan amal kita adalah kita sendiri. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengisi buku catatan-catatan amal kita dengan catatan buruk yang mana catatan-catatan tersebut akan dibuka oleh Allah pada hari kiamat kelak. Allah berfirman:وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا“Dan tiap–tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS Al-Isra’: 13)Bahkan kata para ulama, orang yang tidak bisa membaca akan bisa membaca dengan sendirinya pada hari tersebut. Di samping itu tidak perlu repot, catatan amal tersebut akan terbuka dengan sendirinya. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan akan ketakutan ketika mereka melihat catatan amal mereka.وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ (53)“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Jangankan dosa besar seperti berzina atau meyentuh wanita yang bukan mahram, lirikan mata saja akan dicatat oleh Allah. Allah juga berfirman :يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS Al–Mu’min: 19)Apabila kita melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka itu semua akan dicatat dengan detail dan tidak ada yang terluputkan oleh Allah. Seluruh ghibah yang kita lakukan, pandangan mata kita lakukan, kedzhaliman yang kita lakukan, uang haram yang kita makan, penghinaan ke orang lain yang kita lakukan, kedustaan yang kita lakukan, dan apapun yang kita lakukan maka semuanya akan tercatat pada catatan amalan tersebut.Kemudian Allah berfirman:11. وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ“dan tatkala langit dilenyapkan”At-Thobari berkata :وَإِذَا السَّمَاءُ نُزِعَتْ وَجُذِبَتْ، ثُمَّ طُوِيَتْ‘’Dan tatkala langit dicabut dan ditarik kemudian dilipat’’ (Tafsir At-Thobari 24/149)كُشِطَتْ diambil dari kata الْكَشْطُ yang dalam bahasa arab artinya adalah قَلْعٌ عَنْ شِدَّةِ الْتِزَاقٍ ‘’mencabut sesuatu yang sangat melengket’’. Al-Qurthubi berkataفَالسَّمَاءُ تُكْشَطُ كَمَا يُكْشَطُ الْجِلْدُ عَنِ الْكَبْشِ وَغَيْرُهُ‘’Maka langitpun dicabut sebagaimana kulit dicabut dari domba dan hewan lainnya’’ (Tafsir Al-Qurthubi 19/235)Kalau ada kambing atau unta yang disembelih, kemudian dikuliti, proses kulitnya dilepas itu disebut الْكَشْطُ. Jadi pada hari kiamat kelak Allah akan merobek langit tersebut seperti ditariknya kulit dari hewan. Kita saksikan sekarang langit yang begitu hebat, tidak ada satu bagian pun yang berlubang. Semuanya kokoh dibangun oleh Allah dengan tujuh lapis. Langit tesrebut lengket di angkasa begitu kuat, akan tetapi pada hari kiamat kelak semua langit akan dirobek oleh Allah. Adapun yang mengetahui hakikat proses pencabutan langit dari tempatnya adalah Allah semata, kita hanya mencoba memahami dari sisi bahasa.Kemudian Allah berfirman:12. وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan tatkala neraka jahannam dinyalakan”.Allah berfirman tentang api neraka :فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ“Maka takutlah kalian kepada api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 24)Bayangkan bahan bakar api neraka adalah manusia dan batu bukan bensin, minyak tanah, dan lainnya. Bahan bakar yang berasal dari batu panasnya lebih pedih. Oleh karena itu, bahan bakar neraka jahannam adalah batu. Manusia disiksa dengan hal seperti itu sehingga dia terbakar dan akhirnya menjadi bahan bakar itu sendiri.Kemudian neraka jahannam itu sudah disiapkan untuk orang kafir. Karenanya diantara aqidah ahlussunnah bahwasanya neraka jahannam sudah ada begitupun surga juga sudah ada. Dan pada hari kiamat kelak neraka jahanam itu akan lebih dinyalakan apinya untuk menyambut penghuni neraka jahannam, sungguh mengerikan tamu-tamu tersebut.Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa neraka Jahannam yang sudah sangat panas tersebut ternyata dipanaskan lagi sehingga menjadi lebih panas. Ada yang menyatakan bahwa dipanaskan lagi karena kemurkaan Allah dan juga karena dosa-dosa bani Adam (lihat Tafsiir At-Thobari 24/150)Kemudian Allah berfirman:13. وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan tatkala surga didekatkan”Ini adalah kemulian yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Seandainya jarak surga dengan kita adalah sejuta km atau lebih dari itu, niscaya seseorang akan sabar menempuh jarak sejauh itu jika diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa yang ada di di surga, kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik di hati. Apapun kenikmatan yang dihasratkan dan dipinta maka Allah langsung menyediakannya di surga, niscaya sejauh apapun surga itu pasti seseorang akan sabar berjalan untuk meraihnya.Tetapi khusus bagi orang yang beriman maka Allah muliakan mereka dengan mendekatkan surga kepada mereka. Al-Hasan Al-Bashri berpendapat bukan surga yang didekatkan dari posisinya akan tetapi orang-orang berimanlah yang didekatkan kepada surga (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/235). Pada hakikatnya sama saja apakah surga yang didekatkan kepada orang-orang beriman atau sebaliknya orang-orang beriman yang didekatkan kepada surga hasilnya sama surga menjadi dekat dengan orang-orang beriman.Kemudian Allah berfirman:14. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ“setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan”Setelah Allah menyebutkan sumpah-sumpah hingga 12 sumpah, kemudian Allah menjelaskan bahwa tujuan dari sumpah-sumpah tersebut adalah untuk menekankan dan memastikan bahwa ‘’setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama dia di dunia’’ berupa amal baik dan amal keburukan. Bisa jadi dengan melihat isi catatan amal, atau amal-amalannya datang dalam bentuk tertentu yang menunjukan akan amalannya (lihat Fathul Qodiir 5/472). Jadi ayat ini merupakan جَوَابُ الْقَسَمِ (jawaban sumpah) dari 12 sumpah yang sebelumnya.Setelah Allah berbicara tentang hari kiamat, pembahasan berpindah tentang penjelasan Allah akan Rasulullah. Seakan-akan Allah menyatakan kepada orang-orang musyrikin, “Wahai orang-orang musyrikin, kalian heran dengan kejadian-kejadian di hari kiamat tersebut. Padahal kabar tersebut datang dari Muhammad melalui malaikat jibril yang asalnya dari Allah.”Karena kita tahu bahwasanya orang-orang musyrikin arab mereka beriman kepada Allah, hanya saja mereka kafir kepada Muhammad. Mereka beriman kepada Allah sebagai tuhan mereka namun mereka tidak percaya Muhammad sebagai utusan untuk mereka. Sehingga tatkala Rasulullah membacakan surat at-takwir tentang dahsyatnya hari kiamat, mungkin akan muncul dalam hati mereka bahwasanya berita-berita tersebut hanyalah omong kosong belaka. Oleh karena itu, untuk menjelaskan bahwasanya perkara-perkara yang dikabarkan Rasulullah tersebut adalah berita yang benar datang dari Allah melalui Jibril ‘alaihis salam maka Allah bersumpah dengan beberapa ayat berikut. Allah berfirman :15. فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ“sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang bercahaya”16. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ“yang beredar (di malam hari) dan terbenam (di siang hari)”17. وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“dan malam apabila telah larut”Terkait makna عَسْعَسَ dalam bahasa arab artinya أَدْبَرَ (pergi) atau أَقْبَلَ (datang). Sehingga bisa mengandung 2 makna, malam tatkala ia datang atau malam tatkala ia pergi. Tetapi apabila kita melihat ayat selanjutnya Allah mengatakan, وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ “tatkala subuh mulai menyingsing sinarnya” yaitu menyingsing dengan perginya malam, berarti ayat sebelumnya menunjukan tentang datangnya malam, sehingga makna عَسْعَسَ yang lebih rajih adalah tatkala أَقْبَلَ (malam tatkala ia datang). Karena jika diartikan dengan perginya malam maka akan terjadi perulangan, karena perginya malam sama halnya dengan menyingsingnya sinar subuh.18. وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh yang apabila fajarnya mulai menyingsing”Apabila Allah bersumpah dengan makhluk-makhluknya maka itu bukan merupakan celaan bagi Allah karena terserah Allah ingin bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dengan makhluknya. Adapun kita sebagai manusia tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah, barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah berbuat kesyirikan. Rasulullah bersabda:مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Abu Daud no. 2829, At-Tirmizi no. 1535, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6204)Sehingga tidak boleh seseorang bersumpah selain dengan nama Allah. Adapun Allah bebas bersumpah dengan makhluk-makhluknya. Diantaranya Allah bersumpah dengan bintang sebagaimana pada ayat ini.Allah bersumpah karena ingin menyampaikan bahwa Al Qur’an itu adalah firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia yaitu jibril. Allah berfirman:19. إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)”20. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ“yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tingga di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy”Jibril adalah malaikat luar biasa yang merupakan penghulu para malaikat. Allah mengatakan bahwa Jibril adalah malaikat yang kuat, yang kuat disisi pemilik ‘Arsy yaitu Allah, dan dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah.Menurut al-Imam Al-Baghowi diantara kekuatan Jibril adalah Jibril ‘alaihis salam hanya menggunakan sayapnya tatkala mengangkat negeri kaum Luuth ke angkasa lalu dibalik dan dilemparkan ke bawah, demikian juga dengan teriakan suaranya maka jadilah kaum Tsamuud tewas menjadi mayat-mayat yang terhamparkan, dan begitu cepatnya Jibril bergerak dari langit ke bumi dan dari bumi ke langit. (Lihat Tafsir Al-Baghowi 8/350)Kemudian Allah kembali memuji Jibril ‘alaihis salam dengan berfirman:21. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang disana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya”Jibril punya banyak anak buah yang menaatinya. Malaikat-malaikat langit patuh kepada Jibril atas perintah Allah. Malaikat jibril adalah malaikat yang terpercaya. Malaikat Jibril membawa pesan dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad dalam keadaan terpercaya.Kemudian Allah berfirman tentang Nabi Muhammad:22. وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ“dan sahabat kalian (Muhammad) itu bukanlah orang gila”Allah mengatakan صَاحِبُكُمْ yaitu sahabat-sahabat kalian wahai orang musyrikin. Allah memakai ungkapan tersebut karena Nabi Muhamamad dikenal baik oleh orang-orang musyrikin. Nabi Muhammad sebelum mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang menjadi Nabi, beliau dijuluki oleh orang-orang musyrikin sebagai Ash-Shodiqul Amin (orang yang jujur lagi terpercaya). Namun tatkala Nabi Muhammad memproklamirkan dirinya adalah seorang Nabi, beliau kemudian dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak diantaranya dikatakan sebagai orang gila, dukun, atau penyihir. Sehingga seakan-akan Allah bertanya, “Bukankah kalian tahu bahwa sahabat kalian Muhammad bukanlah orang gila?”Kemudian Allah berfirman:23. وَلَقَدْ رَآَهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ“dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang”Dalam sebuah hadist yang shahih Nabi melihat malaikat Jibril ketika Jibril di cakrawala diantara langit dan bumi. Malaikat Jibril membentangkan sayapnya yang berjumlah 600 sayap dan menutup seluruh ufuk alam semesta. Inilah bentuk asli dari malaikat Jibril, tidak ada ufuk yang terlihat karena seluruhnya tertutupi oleh malaikat jibril.Allah bermaksud menjelaskan bahwasanya berita yang Allah sampaikan tentang dahsyatnya hari kiamat itu melalui Nabi Muhammad, Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Malaikat Jibril dan Malaikat Jibril mengambil berita tersebut dari Allah, sehingga jalur sanadnya ada dan valid. Jadi jangan diragukan akan kedahsyatan hari kiamat, karena berita itu datang dari Muhammad yang jujur dan tidak gila yang bertemu langsung dengan malaikat Jibril yang amanah dan terpercaya yang mengambil langsung dari Allah.Kemudian Allah berfirman:24. وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ“dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil (pelit) untuk menerangkan yang ghaib”Dhonin ada 2 ada qiroah, pertama بِضَنِينٍ bidhonin dengan huruf ضَ dan بِظَنِيْنٍ bizhonin dengan huruf ظَ. Dhonin artinya bakhil (pelit) adapun zhonin artinya tertuduh. Jadi, Muhammad bukanlah orang yang bakhil dan Muhammad bukanlah orang yang tertuduh dalam menyampaikan wahyu. Artinya tidak ada wahyu yang disembunyikan oleh Rasulullah. Seseorang yang bakhil menandakan ada sesuatu yang dia sembunyikan, tetapi Rasulullah tidak bakhil dan dia tidak tertuduh, tetapi dia adalah seorang yang amanah. Oleh karena itu seluruh wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah dari Allah sudah disampaikan kepada kita.25. وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ“dan (Al-Quran) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk”Apa yang disampaikan oleh Muhammad bukanlah merupakan perkataan syaitan sebagaimana persangkaan orang-orang musyrik yang menuduh bahwasanya Muhammad adalah penyihir. Muhammad punya teman syaitan yang mewahyukan kepada beliau tentang ayat-ayat Al Quran. Sesungguhnya tuduhan tersebut adalah yang tidak benar, padahal mereka bisa dengan sendirinya membedakan mana perkataan yang benar atau perkataan syaitan.Kemudian Allah berfirman:26. فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka kemanakah kalian akan pergi”Kemanakah kalian berpaling meninggalkan al-Qur’an ini?, sementara al-Qur’an adalah obat dan petunjuk bagi kalian. Jalan mana lagi yang hendak kalian tempuh yang lebih jelas daripada jalan al-Qur’an ini?27. إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ“(Al Quran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam semesta”28. لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa diantara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus”29. وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali sesuai kehendak Allah, Tuhan seluruh alam”Yaitu kalian tidak akan bias istiqomah di jalan yang benar kecuali atas kehendak Allah juga.Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّنا نَزَّلْنا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتى وَحَشَرْنا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشاءَ اللَّهُKalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki (QS Al-An’aam : 111)وَما كانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِDan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah (QS Yunus : 100)إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُSesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS Al-Qosos : 56)Al-Baghowi berkata :إِعْلَامٌ أَنَّ أَحَدًا لَا يَعْمَلُ خَيْرًا إِلَّا بِتَوْفِيقِ اللَّهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا بِخِذْلَانِهِ‘’Ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwasanya tidak seorangpun yang mengerjakan kebaikan kecuali atas taufiq/bimbingan dari Allah, dan tidak seorangpun mengerjakan keburukan kecuali karena Allah meninggalkannya (tidak memberi taufiq kepadanya)’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/351)

Tafsir Surat At Takwir – Tafsir Juz ‘Amma

Tafsir Surat At TakwirOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, MASurat At-Takwir adalah salah satu surat yang menggambarkan tentang dahsyatnya hari kiamat. Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi Nabi bersabda :“Barangsiapa yang ingin merasakan hari kiamat seperti menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia membaca “idza syamsu kuwirat, idza syamaaunfatarat, dan idza syamaaunsyaqat”. (HR At-Tirmidzi)Ketiga surat ini terdapat di dalam Al Quran pada Juz ‘Amma yang terdapat kemiripan pada isinya yaitu menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat, tentang bagaimana perubahan kondisi alam semesta sebagai pertanda akan munculnya hari akhirat, hari yang abadi yang tiada penghujungnya.Di awal surat At-Takwir, Allah bersumpah dengan 12 sumpah berturut-turut tentang kejadian-kejadian hari kiamat yang sangat dahsyat untuk menekankan dan menegaskan bahwasanya pada hari tersebut setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama di dunia sebagaimana bunyi ayat setelahnya setelah Allah bersumpah di ayat-ayat sebelumnya.Allah berfirman pada ayat yang pertama:1. إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“tatkala matahari digulung”Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa matahari adalah makhluk yang sangat besar. Para ilmuwan menyatakan bahwasanya diameter matahari 109 kali lebih besar dari diameter bumi. Adapun jarak dari bumi ke matahari menurut mereka sekitar 150 juta km, ini adalah jarak yang sangat jauh. Wallahu a’lam akan kebenarannya. Para ilmuan juga menyatakan bahwa di permukaan matahari terjadi ledakan-ledakan yang besar, dari situlah timbul sinar yang sangat kuat. Meskipun jarak antara bumi dengan matahari sejauh itu tetapi panasnya matahari sampai ke bumi.Surat At-Takwir adalah surat makiyyah, surat yang diturunkan oleh Allah tatkala Nabi berada di fase mekah menghadapi orang musyrikin yang mengingkari tentang adanya hari kiamat dan hari kebangkitan. Dan matahari adalah makhluk besar yang setiap hari dilihat oleh orang-orang musyrikin. Karenanya Allah menjelaskan bahwa matahari yang selama ini terbit di sebelah timur kemudian terbenam di sebelah barat tidak akan selamanya demikan. Akan ada suatu saat dimana gerakan tersebut akan berubah.Ayat ini didukung dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :الشَّمْسُ وَالقَمَرُ مُكَوَّرَانِ يَوْمَ القِيَامَةِ“Matahari dan bulan dilipat pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 3200)Dalam bahasa Arab, makna dari At-takwir berputar pada 3 makna sebagaimana penafsiran para salaf.Yang pertama at-takwir artinyaجَمْعُ بَعْضِ الشَّيْءِ إِلَى بَعْضٍ“Dikumpulkan satu dengan yang lainnya”كَتَكْوِيرِ الْعِمَامَةِ، وَهُوَ لَفُّهَا عَلَى الرَّأْسِ seperti takwiir sorban, yaitu melipatnya dan menggulungnya di kepala.Makna kedua dari takwir adalahإِذَا ذَهَبَ ضَوْءُهَا dzahaba dhouuha“hilang cahayanya”ini diantara makna takwir yang disebutkan oleh para salaf dalam tafsir mereka. Dan makna ketiga dari takwir adalah إِذَا رُمِيَ بِهاَ yaitu dilemparkan. Sehingga kalimat tatkala matahari ditakwir, bisa diartikan dengan tatkala matahari dilipat, lalu dilemparkan, sehingga tatkala itu matahari hilang cahayanya. (lihat Tafsir At-Thobari 24/128-131)Para ulama telah menjelaskan bahwa tatkala kita belajar ilmu tafsir, kebanyakan perkataan-perkataan para salaf yang berbeda-beda dalam satu ayat bukanlah tafsir thadhadh (tafsir yang saling bertentangan), tetapi termasuk tafsir tanawu’ (tafsir yang beraneka ragam dan tidak saling bertentangan). Berbeda dengan perselisihan dalam masalah fiqih, perselisihan yang terdapat di dalam pembahasan fiqih kebanyakannya adalah bertentangan (kontradiktif), madzhab ini mengatakan demikian madzab itu mengatakan demikian. Madzhab yang satu mengatakan menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu sedangkan madhzab lain mengatakan membatalkan wudhu. Adapun dalam masalah tafsir, kebanyakan perselisihan yang terjadi bukanlah perselisihan yang saling kontradiktif tetapi perselisihan yang saling mendukung. Sebagaimana makna at-takwir kita dapati ada 3 tafsiran dari salaf, yang pertama dilipat, yang kedua hilang cahanya, dan yang ketiga dilemparkan. Apabila diteliti, masing-masing tafsiran tersebut mempunyai sandaran dalil baik ditinjau dari sisi bahasa atau adanya hadist-hadist Nabi yang mendukung tafsiran tersebut.Sehingga untuk mengompromikan tafsiran-tafsiran tersebut apabila dicermati kembali, secara bahasa takwir yaitu dilipat sebagaimana imaamah yang dilipat. Makna bahasanya bisa dipahami tetapi hakekat senyatanya bagaimana matahari dilipat –wallahu’alam– tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah bagaimana Allah mengumpulkan bagian yang satu dengan bagian yang lain. Kemudian setelah dilipat maka hilanglah cahayanya kemudian matahari tersebut dilemparkan ke dalam neraka jahannam. Sebagaimana apa yang terdapat dalam sebuah hadist yang shahih, Rasulullah bersabda :الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Matahari dan bulan seolah-olah seperti dua ekor banteng yang dilemparkan ke neraka di hari kiamat.” (HR. Thahawi dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Ad-Dho’ifah 1/242 no 124)Salah satu bukti luasnya neraka jahannam adalah Allah akan melemparkan matahari dan rembulan ke dalam neraka Jahannam. Diantara faidah Allah berbuat demikian kata para ulama adalah :Pertama; matahari tersebut sebagai bahan bakar di akhirat, danKedua; untuk menghinakan orang-orang yang menyembah matahari dan bulan. Orang-orang yang selama di dunia menyembah matahari dan bulan akan mendapati sesembahan mereka juga dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Hal ini tentu sangat menyedihkan mereka karena apa yang mereka sembah ternyata ikut di neraka bahkan ikut membakar mereka. (Lihat Syarh Musykil Al-Aatsaar 1/170 dan Fathul Baari 6/300)Hal ini sesuai dengan firman Allah :إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (98) لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (99)Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya (QA Al-Anbiyaa’ : 98-99)Asy-Syingqithi berkata :هَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ جَمِيعَ الْمَعْبُودَاتِ مَعَ عَابِدِيهَا فِي النَّارِ“Ayat ini menunjukan bahwa seluruh sesembahan (selain Allah) bersama para penyembahnya di neraka” (Daf’u iihaam al-idththiroob ‘an Aayaatil Kitaab hal 156)Oleh karena itu ayat yang pertama ini memberi peringatan kepada kaum musyrikin yang setiap hari mereka menyaksikan matahari terbit dari sebelah timur terbenam di sebelah barat dan senantiasa bercahaya, kelak di akhirat akan semua itu akan hilang, cahayanya akan hilang dan matahari tersebut akan dilipat oleh Allah kemudian dilemparkan ke dalam neraka jahannam.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:2. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ“dan tatkala bintang-bintang berjatuhan”Apabila diteliti perkataan salaf terhadap tafsir انْكَدَرَتْ juga terbagi menjadi dua pendapat. Pertama انْكَدَرَتْ artinya تَنَاثَرَتْ “berserakan” atau تَسَاقَطَتْ “berjatuhan”, dan sebagian tafsiran yang lain bermakna تَغَيَّرَتْ yang artinya “berubah” yaitu hilang cahayanya (lihat Tafsir At-Thobari 24/132-133) Kedua tafsiran adalah tafsiran yang tidak bertentangan karena apabila bintang-bintang berjatuhan maka telah terjadi perubahan padanya dan hilang cahayanya.Al-Kalbi dan ‘Athoo’ berkata :تُمْطِرُ السَّمَاءُ يَوْمَئِذٍ نُجُومًا فَلَا يَبْقَى نَجْمٌ إِلَّا وَقَعَ“Pada hari itu langit menurunkan hujan bintang, maka tidak tersisa satu bintangpun kecuali jatuh (ke permukaan bumi)” (Tafsir Al-Baghowi 8/346)Kejadian ini juga merupakan perkara yang mengerikan yang terjadi pada hari kiamat. Kita saksikan di atas bintang-bintang yang begitu banyak yang mungkin jumlahnya berjuta–berjuta bahkan lebih. Seandainya sebuah meteor jatuh hal itu sudah menakutkan padahal meteor ukurannya kecil dibandingkan jika seandainya bintang yang sangat besar itu jatuh menimpa bumi ini. Lalu bagaimana jika bintang-bintang yang ada di langit semuanya berjatuhan. Sungguh itu adalah perkara yang mengerikan dan ini akan terjadi pada hari kiamat kelak.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:3. وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan tatkala gunung-gunung dijalankan”Ada dua pendapat dalam ayat ini, pertamaقُلِعَتْ مِنَ الْأَرْضِ، وَسُيِّرَتْ فِي الْهَوَاءِyaitu dicabut dari pasaknya lalu dijadikan berjalan terbang di udara, dan keduaتَحَوُّلُهَا عَنْ مَنْزِلَةِ الْحِجَارَةِ، فَتَكُونُ كَثِيبًا مَهِيلًاyaitu dirubah dari batu yang kokoh menjadi debu yang berhamburan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/228)Gunung-gunung yang kita saksikan begitu kokohnya, tegak, tegar, bahkan Allah mengatakan dalam Al Quran:وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ“Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan oleh Allah.” (QS Al-Ghasyiyah : 19)Sampai-sampai orang-orang menjadikan gunung sebagai perumpamaan seperti kalimat “orang itu tegar seperti gunung” yaitu kokoh seperti gunung. Akan tetapi ternyata gunung pada hari kiamat kelak akan terbang dijalankan oleh Allah. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An–Naml : 88)Kondisi gunung-gunung dalam hari kiamat melalui beberapa tahapan. Yang pertama Allah akan mencabut gunung-gunung tersebut dari pasaknya kemudian Allah menerbangkannya. Allah berfirman :وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا“Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS An-Naba’ : 20)Setelah gunung-gunung tersebut diterbangkan, Allah akan menghancurkan gunung-gunung tersebut sehingga seakan-akan fatamorgana yang tadinya dilihat setelah itu menjadi hilang setelah Allah menghancurkannya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًاDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya.” (QS Thaha : 105)Bumi akan rata menjadi lembah yang tidak ada kemiringan padanya. Gunung-gunung pun dihancurkan kemudian akan menjadi seperti debu yang beterbangan. Sebagaimana firman Allah:وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا (6)“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah ia seperti debu-debu yang beterbangan.” (QS Al-Waqi’ah : 5-6)Allah juga menggambarkannya dalam ayat yang lain. Allah berfirman:وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS Al-Qari’ah : 5)Seperti inilah kondisi gunung tatkala hari kiamat. Pertama Allah terbangkan, kemudian Allah menghancurkannya seperti debu yang tidak ada bekasnya. Kejadian seperti ini tentu saja akan menimbulkan ketakutan dan kengerian pada hari kiamat kelak ketika manusia menyaksikan bagaimana matahari dilipat, bintang-bintang berjatuhan, dan gunung-gunung diperjalankan kemudian dihancurkan oleh Allah.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:4. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan tatkala unta-unta yang bunting ditinggalkan”Adalah jamak (kata plural) dari نَاقَةٌ عُشَرَاءُ yaitu unta betina yang hamil besar dimana usia kehamilannya sudah 10 bulan ke atas dan sebentar lagi akan melahirkan. Jadi ketika usia kandungan unta telah mencapai 10 bulan unta tersebut dinamakan عُشَرَاءُ , dan demikian terus namanya hingga melahirkan. Karena biasanya usia kandungan unta adalah 12 bulan dan terkadang bisa sampai 13 bulan. Unta yang sudah kandungannya sudah berusia 10 bulan lebih adalah harta yang berharga bagi orang-orang arab di zaman dahulu, karenanya Allah menggunakannya sebagai permisalan. Kalau unta ingin melahirkan, biasanya sang pemilik unta sudah mengetahuinya, maka sang pemilik unta akan mengawasi kapan untanya akan melahirkan. Bahkan terkadang perkara-perkara yang lain tidak dia perdulikan demi memperhatikan proses melahirkan unta tersebut.Pada hari kiamat kelak, jika ada orang yang mengurus unta maka dia akan meningalkan untanya (Lihat Tafsri Al-Qurthubi 19/229). Ini adalah gambaran bahwa pada hari kiamat kelak apabila ada harta yang paling dia cintai maka dia akan ketakutan dan tidak akan memperdulikan harta tersebut. Harta apapun yang sangat dia cintai akan dia tinggalkan pada hari kiamat karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:5. وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan tatkala binatang-binatang liar dikumpulkan”Terkait makna حُشِرَتْ ada 2 pendapat di kalangan ulama ahli tafsir. Pertama artinya umitat yaitu dimatikan oleh Allah, dan kedua yaitu akan dikumpulkan.Hal ini sebagaimana firman Allah :وَما مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا طائِرٍ يَطِيرُ بِجَناحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثالُكُمْ مَا فَرَّطْنا فِي الْكِتابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَDan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan (QS Al-An’aam : 38)Allah juga berfirman :وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌDi antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya (QS Asy-Syuuroo : 29)Pada hakikatnya kedua pendapat ini tidak bertentangan, karena setelah hewan-hewan dikumpulkan kemudian diqisosoh lalu dikatakan kepadanya “Jadilah engkau pasir!”, sebagaimana yang telah lau dijelaskan dalam tafsir ayat terakhir dari surat An-Naba’. Akhirnya hewan-hewan tersebut pun sirna, sehingga yang tertinggal hanyala jin dan manusia yang akan kekal pada hari kiamat.الْوُحُوشُ adalah hewan-hewan yang liar. Secara umum hewan itu terbagi menjadi dua jenis. Ada hewan الأَلِيْفَة jinak yaitu hewan-hewan yang dekat dengan manusia seperti kambing, sapi. Ada hewan المُتَوَحِّشَةُ liar yaitu hewan-hewan yang tidak hidup dengan manusia seperti hewan-hewan yang liar dan sangar. Namun maksud ayat ini adalah seluruh hewan akan dikumpulkan, jangankan hewan yang jinak bahkan hewan yang liar dan buas juga akan dikumpulkan.Allah mengatakan bahwa pada hari kiamat hewan-hewan liar akan dikumpulkan. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa seluruh hewan-hewan liar termasuk yang sudah punah akan dibangkitkan oleh Allah dan akan dikumpulkan pada hari tersebut. Maka akan datang berbagai macam model hewan baik singa, macan, dan hewan-hewan liar lainnya. Semua akan dikumpulkan pada hari tersebut karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:6. وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan tatkala lautan dibakar”Ini juga merupakan perkara yang sangat mengerikan. Makna dari sisi bahasa الْبِحَارُ mencakup seluruh kumpulan air mencakup seperti lautan, selat, sungai, danau dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Allah berfirman :وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak bisa ditembus.” (QS Al-Furqan : 53)Sehingga terkadang sungai juga disebut الْبِحَارُ dalam bahasa arab. Dan kita tahu bahwa sungai terpisah dari lautan. Diantara keduanya ada penghalang sehingga tidak bercampur.Allah berfirman وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ yaitu “tatkala lautan di-tasjir”. Ini sama dengan firman Allah :وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“Dan demi laut yang dinyalakan” (QS At-Thuur : 6)Terdapat khilaf tentang makna سُجِّرَتْ di kalangan para ahli tafsir. Ada yang mengatakan artinya أُوقِدَتْ “dinyalakan” dan ada yang mengartikan dengan مُلِئَتْ yaitu “penuh“ kemudian meluap keluar dari lautan (Tafsir At-Thobari 21/568).Kita tahu bahwa air laut di dunia ini menutupi lebih dari 2/3 permukaan bumi ini, lebih dari 70% isinya adalah air laut. Tanah yang kita pijak ini bagiannya kurang dari 30%. Kebanyakannya diisi oleh air dengan berbagai macam jenisnya, ada lautan, ada sungai, ada danau, ada selat, dan lainnya. Pada hari kiamat kelak Allah akan menjadikan air laut tersebut penuh lalu meluap dan kemudian terjadi banjir hebat sehingga para ulama mengatakan bahwa seluruh air akan bersatu. Yang tadinya Allah menjadikan barzakh yaitu adanya pemisah/pembeda antara air laut dan air sungai, maka Allah akan angkat mengangkat barzakh tersebut sehingga bercampurlah dan bersatu padu antara air asin dan air tawar.Mujahid berkataفُجِّرَ بَعْضُهَا فِي بَعْضٍ، الْعَذْبُ وَالْمِلْحُ، فَصَارَتِ الْبُحُورُ كُلُّهَا بَحْرًا وَاحِدًا“Meluap sehingga bercampur satu dengan yang lainnya, yang tawar dengan yang asin, maka jadilah seluruh lautan menjadi satu lautan” (Tafsir Al-Qurthubi 8/346-347)Ini jika kita bawakan makna سُجِّرَتْ dengan مُلِئَتْ “penuh“Adapun pendapat yang menyatakan سُجِّرَتْ yang lain kata para ulama adalah أُوقِدَتْ “dinyalakan” sehingga bermakna “tatkala air lautan dinyalakan oleh Allah”.Ibnu ‘Abbas berkata :أُوقِدَتْ فَصَارَتْ نَارًا تَضْطَرِمُ“Lautan dinyalakan hingga menjadi api yang bergejolak” (Tafsir al-Qurthubi 8/346)Dan sebagian salaf memaknakan سُجِّرَتْ dengan يَبِسَتْ “kering”. Qotadah berkata :ذَهَبَ مَاؤُهَا فَلَمْ يَبْقَ فِيهَا قَطْرَةٌ“Kering airnya hingga tidak tersisa meskipun hanya setetes” (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Apabila kita mengompromikan beberapa tafsiran ini maka kondisi air laut pertama kali tatkala terjadi hari kiamat yaitu air laut tersebut akan meluap kemudian meluber lalu bergabung antara air sungai dan air laut, antara air asin dan air tawar, kemudian Allah menyalakan air tersebut, Allah akan membakar air tersebut sehingga yang tadinya berupa lautan air menjadi lautan api. Setlah itu jadilah laut menjadi kering.Hanya Allah yang mengetahui bagaimana caranya lautan air dibakar. Allah mampu mengubah kondisi yang satu menjadi kondisi yang lain. Seperti apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim ketika Allah menjadikan api yang seharusnya membakar kemudian menjadi dingin dan penyelamat bagi Ibrahim. Allah berfirman :قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَKami berfirman, “Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiya : 69)Begitupun Allah juga mampu menjadikan air laut menjadi api yang menyala. Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa air dengan rumus H20 yang tersusun dari hidrogen dan oksigen Allah mampu melepaskan dua molekul tersebut kemudian membakar dua molekul tersebut sehingga menjadi lautan api. Hanya Allah yang mengetahui caranya yang jelas lautan air kelak akan menjadi lautan api, dan ini menambah kengerian dan kedahsyatan hari kiamat.Perkara-perkara yang terdapat pada 6 ayat di awal ini sebagaimana kata Ubay bin Ka’ab dan juga Ibnu ‘Abbas radiyallahu’anhumaa adalah perkara-perkara yang terjadi di dunia sebelum tiupan sangkakala yang kedua. Kita tahu bahwa hari kiamat terjadi dengan dua tiupan sangkakala. Allah berfirman:وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ“Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab).” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian 6 perkara berikutnya adalah perkara-perkara yang terjadi setelah ditiupkan sangkakala yang ke dua yaitu perkara-perkara yang terjadi di akhirat. Allah berfirman :7. وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan tatkala jiwa-jiwa dipertemukan”Ada 3 tafisiran dikalangan salaf tentang makna ayat ini.Tafsiran pertama yang dimaksudkan dengan dipertemukan adalah jiwa itu dimasukkan ke dalam badannya kembali. Tadinya ruh dicabut kemudian diletakkan di alam barzakh sedangkan tubuhnya bisa jadi lapuk bersama tanah atau bisa jadi dimakan oleh binatang buas atau dimakan oleh ikan, namun pada hari tersebut ruh akan dikembalikan kepada tubuhnya semula. (Tafsir At-Thobari 24/144)Para ulama menyatakan bahwa kondisi keterkaitan antara ruh dan badan ada beberapa jenis. Tatkala seseorang masih hidup di atas muka bumi, maka yang paling dominan adalah jasad dibandingkan dengan ruh. Karenanya jika tertimpa sesuatu yang menyakitkan maka yang pertama kali akan merasakannya adalah jasad, begitupun jika ada sesuatu yang melezatkan maka yang pertama kali merasakannya adalah jasad. Meskipun ruh juga bisa terpengaruh dengan sakit atau kelezatan yang dialami jasad tetapi hubungan antara jasad dan ruh lebih kuat/dominan pada jasad dibandingkan dengan. Adapun ketika di alam barzakh maka ruh lebih dominan dibandingkan jasad, ruh menjadi sempurna sedangkan jasad mulai rusak, sehingga kalau seseorang dikuburkan maka ruh lah yang paling dominan. Ruh yang merasakan adzab dan kenikmatan. Meskipun jasadnya akan terpengaruh akan tetapi yang paling dominan adalah ruh dibandingkan jasad, dan jasad mengikuti ruuh. Namun di hari akhirat kelak antara ruh dan jasad sama-sama dominan sehingga adzab dan kenikmatan dirasakan oleh jasad dan ruh bersamaan. Hal ini karena ruh tersebut dikumpulkan kembali dengan jasadnya. (lihat hubungan antara ruuh dan Jasad di kitab-kitab berikut : Ar-Ruuh, Ibnul Qoyyim hal 43-44, Al-Ajwibah Al-Muhimmah, Ibnu Hajar hal 7-8, syarh al-‘Aqiidah at-Thohaawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi 2/578-579, dan penjelasan Asy-Syaikh Sholih Alu Syaikh terhadap al-Aqidah at-Thohawiyah)Tafsiran kedua yang dimaksud dengan dipertemukan adalah masing-masing orang dikumpulkan dengan yang sejalan dengannya. Orang kafir akan dikumpulkan dengan sesama orang kafir, orang munafik akan dikumpulkan dengan sesama orang munafik, orang yahudi akan dikumpulkan dengan sesama orang yahudi, orang nasrani akan dikumpulkan dengan orang nasrani, orang yang menyembah matahari akan dikumpulkan dengan sesama penyembah matahari, pezina dikumpulkan dengan sesama pezina, begitupun dengan orang beriman akan dikumpulkan dengan sesama orang beriman, orang bertakwa akan dikumpulkan dengan sesama orang bertakwa. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Al Qur’an :احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (QS Ash-Shaffat : 22)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :وَكُنتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11)“Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah).” (QS Al-Waqi’ah : 7-11)Oleh karena itu, masing-masing manusia pada hari kiamat nanti akan bergandengan bersama kelompoknya masing-masing. Orang musyrik akan berkumpul bersama orang musyrik, orang bertauhid akan berkumpul bersama orang bertauhid, dan seterusnya. Demikianlah Allah akan mengelompokkan mereka pada hari kiamat kelak.Tafsiran ketiga yaitu sebagaimana perkataan ‘Athoo’ :زُوِّجَتْ نُفُوسُ الْمُؤْمِنِينَ بِالْحُورِ الْعِينِ‘’jiwa-jiwa kaum mukminin dipertemukan (yaitu dinikahkan) dengan bidadari’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Kemudian Allah berfirman :8. وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ“dan tatkala bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”Asal kata dari الْمَوْءُودَةُ adalah maknanya diberi beban berat, karena berasal dari kata kerja وَأَدَ, Ibnu Faris berkata :(وَأَدَ) الْوَاوُ وَالْهَمْزَةُ وَالدَّالُ: كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى إِثْقَالِ شَيْءٍ بِشَيْءٍ…وَالْمَوْءُودَةُ مِنْ هَذَا، لِأَنَّهَا تُدْفَنُ حَيَّةً، فَهِيَ تُثْقَلُ بِالتُّرَابِ الَّذِي يَعْلُوهَا‘’ وَأَدَ Huruf wawu, hamzah, dan daal adalah kata yang menunjukan makna memberatkan sesuatu dengan sesuatu… diantaranya adalah karena anak wanita itu dikubur hidup-hidup, maka anak wanita itu diberi beban berat yaitu tanah yang menutupinya’’ (Mu’jam Maqoosyiis al-Lughoh 6/78, lihat juga Tafsir al-Qurthubi 19/232)9. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ“atas dosa apa dia dibunuh?”Salah satu kebiasaan jahiliyah pada sebagian kabilah Arab (bukan semua orang arab), jika ada anak perempuan yang lahir maka mereka akan dikubur hidup-hidup, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an.وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)“Padahal, apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS An-Nahl : 58-59)Para ulama mengatakan bahwa ada dua sebab mengapa orang-orang arab jahiliyah dulu membunuh putri-putri mereka.Pertama, adalah karena mereka malu dengan kehinaan. Disebutkan bahwasanya pada zaman jahiliyyah telah terjadi peperangan antara dua kabilah. Kemudian putri sang pemimpin kabilah ditawan oleh kabilah yang lain. Akhirnya kabilah tersebut ingin menebus putrinya yang ditawan, namun ternyata putrinya yang ditawan itu lebih memilih tinggal dengan kabilah yang menawannya karena dia jatuh cinta dengan lelaki dari kabilah tersebut. Hal ini menjadikan orang tuanya malu dan marah karena merasa terhina. Dari peristiwa dia bersumpah apabila dia mempunyai anak perempuan lagi akan dia bunuh. Sehingga perbuatan tersebut menjadi adat kebiasaan, setiap ada anak perempuan yang dilahirkan akan dibunuh. Mereka tidak mau setiap kalah perang mereka ditawan oleh kabilah lain karena ini adalah penghinaan bagi mereka, apakah yang ditawan itu adalah putri mereka atau istri mereka. Perbuatan membunuh tersebut mereka lakukan boleh jadi tatkala anak perempuannya baru lahir atau sudah besar, apabila sudah besar anaknya tersebut dirias kemudian dibawa jalan-jalan lalu dibunuh dengan dimasukkan ke dalam sumur. Ini sebab pertama, yaitu malu karena merasa terhinakan.Kedua, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an. Allah berfirman :وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ“Dan jangan kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, Kamilah yang memberi rizki kepada dan kepada kalian.” (QS Al-Isra’ : 31)Sesungguhnya ini adalah kebiasaan yang sangat buruk, bagaimana seorang anak dibunuh tanpa dosa. Kalau membunuh orang lain adalah perbuatan yang sangat tercela maka bagaimana lagi dengan membunuh anak sendiri?. Anak perempuan yang biasanya lebih membutuhkan kelembutan dan kasih sayang daripada anak lelaki?Allah mengatakan bahwasanya yang ditanya kelak adalah bayi-bayi tersebut. Pada asalnya yang seharusnya bertanggung jawab adalah yang membunuh, dia lah seharusnya yang ditanya kenapa dia tega membunuh. Tetapi dalam ayat ini Allah mengatkan bahwasanya yang dibunuh lah yang ditanyai oleh Allah. Ini merupakan ungkapan dalam bahasa arab untuk mengejek atau menghinakan pelakunya sehingga bertanya kepada korban. Ini adalah penghinaan untuk orangtua yang telah membunuh putrinya tersebut.Ironisnya, zaman sekarang dijumpai adanya praktek pembunuhan anak-anak secara modern yaitu melakukan praktek aborsi (pengguguran), dan ini adalah bentuk pembunuhan terhadap anak. Perbuatan ini banyak dilakukan di negara-negara barat bahkan dijadikan muktamar-muktamar untuk menekan agama islam agar menerapkan aturan ini, bahwasanya seorang wanita bebas melakukan pengguguran. Mereka ingin wanita muslimah ikut rusak sebagaimana rusaknya wanita mereka karena bebas berhubungan dengan para wanitanya, jika hamil tinggal digugurkan saja. Perbuatan ini adalah bentuk jahiliyah yang sangat parah yaitu melakukan penggguguran terhadap anak-anak.Kemudian Allah berfirman:10. وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan tatkala catatan-catatan amal dibuka lebar”Al-Qurthubi menjelaskan bahwa lembaran-lembaran catatan amal yang berada di tangan para malaikat ditutup tatkala seseorang meninggal dunia, dan tatkala hari kiamat dibuka kembali untuk dilihat olehnya hasil catatan amalnya selama hidupnya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/234)Hal ini sebagaimana firman Allahبَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَى صُحُفًا مُنَشَّرَةًBahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka (QS Al-Muddatstsir : 52)Al-Baghowi berkata :صَحَائِفَ الْأَعْمَالِ تُنْتَشَرُ لِلْحِسَابِ‘’Lembaran-lembaran catatan amal terbuka untuk dihisab (Tafsir Al-Baghowi 8/348)Pada hari kiamat kelak seluruh catatan amal yang pernah kita lakukan selama di dunia semua akan terbuka. Seluruh isi catatan amal tersebut berdasarkan amalan kita selama di dunia, kemudian dituliskan oleh malaikat. Sehingga hakekatnya yang mencatat catatan amal kita adalah kita sendiri. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengisi buku catatan-catatan amal kita dengan catatan buruk yang mana catatan-catatan tersebut akan dibuka oleh Allah pada hari kiamat kelak. Allah berfirman:وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا“Dan tiap–tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS Al-Isra’: 13)Bahkan kata para ulama, orang yang tidak bisa membaca akan bisa membaca dengan sendirinya pada hari tersebut. Di samping itu tidak perlu repot, catatan amal tersebut akan terbuka dengan sendirinya. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan akan ketakutan ketika mereka melihat catatan amal mereka.وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ (53)“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Jangankan dosa besar seperti berzina atau meyentuh wanita yang bukan mahram, lirikan mata saja akan dicatat oleh Allah. Allah juga berfirman :يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS Al–Mu’min: 19)Apabila kita melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka itu semua akan dicatat dengan detail dan tidak ada yang terluputkan oleh Allah. Seluruh ghibah yang kita lakukan, pandangan mata kita lakukan, kedzhaliman yang kita lakukan, uang haram yang kita makan, penghinaan ke orang lain yang kita lakukan, kedustaan yang kita lakukan, dan apapun yang kita lakukan maka semuanya akan tercatat pada catatan amalan tersebut.Kemudian Allah berfirman:11. وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ“dan tatkala langit dilenyapkan”At-Thobari berkata :وَإِذَا السَّمَاءُ نُزِعَتْ وَجُذِبَتْ، ثُمَّ طُوِيَتْ‘’Dan tatkala langit dicabut dan ditarik kemudian dilipat’’ (Tafsir At-Thobari 24/149)كُشِطَتْ diambil dari kata الْكَشْطُ yang dalam bahasa arab artinya adalah قَلْعٌ عَنْ شِدَّةِ الْتِزَاقٍ ‘’mencabut sesuatu yang sangat melengket’’. Al-Qurthubi berkataفَالسَّمَاءُ تُكْشَطُ كَمَا يُكْشَطُ الْجِلْدُ عَنِ الْكَبْشِ وَغَيْرُهُ‘’Maka langitpun dicabut sebagaimana kulit dicabut dari domba dan hewan lainnya’’ (Tafsir Al-Qurthubi 19/235)Kalau ada kambing atau unta yang disembelih, kemudian dikuliti, proses kulitnya dilepas itu disebut الْكَشْطُ. Jadi pada hari kiamat kelak Allah akan merobek langit tersebut seperti ditariknya kulit dari hewan. Kita saksikan sekarang langit yang begitu hebat, tidak ada satu bagian pun yang berlubang. Semuanya kokoh dibangun oleh Allah dengan tujuh lapis. Langit tesrebut lengket di angkasa begitu kuat, akan tetapi pada hari kiamat kelak semua langit akan dirobek oleh Allah. Adapun yang mengetahui hakikat proses pencabutan langit dari tempatnya adalah Allah semata, kita hanya mencoba memahami dari sisi bahasa.Kemudian Allah berfirman:12. وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan tatkala neraka jahannam dinyalakan”.Allah berfirman tentang api neraka :فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ“Maka takutlah kalian kepada api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 24)Bayangkan bahan bakar api neraka adalah manusia dan batu bukan bensin, minyak tanah, dan lainnya. Bahan bakar yang berasal dari batu panasnya lebih pedih. Oleh karena itu, bahan bakar neraka jahannam adalah batu. Manusia disiksa dengan hal seperti itu sehingga dia terbakar dan akhirnya menjadi bahan bakar itu sendiri.Kemudian neraka jahannam itu sudah disiapkan untuk orang kafir. Karenanya diantara aqidah ahlussunnah bahwasanya neraka jahannam sudah ada begitupun surga juga sudah ada. Dan pada hari kiamat kelak neraka jahanam itu akan lebih dinyalakan apinya untuk menyambut penghuni neraka jahannam, sungguh mengerikan tamu-tamu tersebut.Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa neraka Jahannam yang sudah sangat panas tersebut ternyata dipanaskan lagi sehingga menjadi lebih panas. Ada yang menyatakan bahwa dipanaskan lagi karena kemurkaan Allah dan juga karena dosa-dosa bani Adam (lihat Tafsiir At-Thobari 24/150)Kemudian Allah berfirman:13. وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan tatkala surga didekatkan”Ini adalah kemulian yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Seandainya jarak surga dengan kita adalah sejuta km atau lebih dari itu, niscaya seseorang akan sabar menempuh jarak sejauh itu jika diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa yang ada di di surga, kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik di hati. Apapun kenikmatan yang dihasratkan dan dipinta maka Allah langsung menyediakannya di surga, niscaya sejauh apapun surga itu pasti seseorang akan sabar berjalan untuk meraihnya.Tetapi khusus bagi orang yang beriman maka Allah muliakan mereka dengan mendekatkan surga kepada mereka. Al-Hasan Al-Bashri berpendapat bukan surga yang didekatkan dari posisinya akan tetapi orang-orang berimanlah yang didekatkan kepada surga (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/235). Pada hakikatnya sama saja apakah surga yang didekatkan kepada orang-orang beriman atau sebaliknya orang-orang beriman yang didekatkan kepada surga hasilnya sama surga menjadi dekat dengan orang-orang beriman.Kemudian Allah berfirman:14. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ“setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan”Setelah Allah menyebutkan sumpah-sumpah hingga 12 sumpah, kemudian Allah menjelaskan bahwa tujuan dari sumpah-sumpah tersebut adalah untuk menekankan dan memastikan bahwa ‘’setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama dia di dunia’’ berupa amal baik dan amal keburukan. Bisa jadi dengan melihat isi catatan amal, atau amal-amalannya datang dalam bentuk tertentu yang menunjukan akan amalannya (lihat Fathul Qodiir 5/472). Jadi ayat ini merupakan جَوَابُ الْقَسَمِ (jawaban sumpah) dari 12 sumpah yang sebelumnya.Setelah Allah berbicara tentang hari kiamat, pembahasan berpindah tentang penjelasan Allah akan Rasulullah. Seakan-akan Allah menyatakan kepada orang-orang musyrikin, “Wahai orang-orang musyrikin, kalian heran dengan kejadian-kejadian di hari kiamat tersebut. Padahal kabar tersebut datang dari Muhammad melalui malaikat jibril yang asalnya dari Allah.”Karena kita tahu bahwasanya orang-orang musyrikin arab mereka beriman kepada Allah, hanya saja mereka kafir kepada Muhammad. Mereka beriman kepada Allah sebagai tuhan mereka namun mereka tidak percaya Muhammad sebagai utusan untuk mereka. Sehingga tatkala Rasulullah membacakan surat at-takwir tentang dahsyatnya hari kiamat, mungkin akan muncul dalam hati mereka bahwasanya berita-berita tersebut hanyalah omong kosong belaka. Oleh karena itu, untuk menjelaskan bahwasanya perkara-perkara yang dikabarkan Rasulullah tersebut adalah berita yang benar datang dari Allah melalui Jibril ‘alaihis salam maka Allah bersumpah dengan beberapa ayat berikut. Allah berfirman :15. فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ“sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang bercahaya”16. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ“yang beredar (di malam hari) dan terbenam (di siang hari)”17. وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“dan malam apabila telah larut”Terkait makna عَسْعَسَ dalam bahasa arab artinya أَدْبَرَ (pergi) atau أَقْبَلَ (datang). Sehingga bisa mengandung 2 makna, malam tatkala ia datang atau malam tatkala ia pergi. Tetapi apabila kita melihat ayat selanjutnya Allah mengatakan, وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ “tatkala subuh mulai menyingsing sinarnya” yaitu menyingsing dengan perginya malam, berarti ayat sebelumnya menunjukan tentang datangnya malam, sehingga makna عَسْعَسَ yang lebih rajih adalah tatkala أَقْبَلَ (malam tatkala ia datang). Karena jika diartikan dengan perginya malam maka akan terjadi perulangan, karena perginya malam sama halnya dengan menyingsingnya sinar subuh.18. وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh yang apabila fajarnya mulai menyingsing”Apabila Allah bersumpah dengan makhluk-makhluknya maka itu bukan merupakan celaan bagi Allah karena terserah Allah ingin bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dengan makhluknya. Adapun kita sebagai manusia tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah, barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah berbuat kesyirikan. Rasulullah bersabda:مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Abu Daud no. 2829, At-Tirmizi no. 1535, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6204)Sehingga tidak boleh seseorang bersumpah selain dengan nama Allah. Adapun Allah bebas bersumpah dengan makhluk-makhluknya. Diantaranya Allah bersumpah dengan bintang sebagaimana pada ayat ini.Allah bersumpah karena ingin menyampaikan bahwa Al Qur’an itu adalah firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia yaitu jibril. Allah berfirman:19. إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)”20. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ“yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tingga di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy”Jibril adalah malaikat luar biasa yang merupakan penghulu para malaikat. Allah mengatakan bahwa Jibril adalah malaikat yang kuat, yang kuat disisi pemilik ‘Arsy yaitu Allah, dan dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah.Menurut al-Imam Al-Baghowi diantara kekuatan Jibril adalah Jibril ‘alaihis salam hanya menggunakan sayapnya tatkala mengangkat negeri kaum Luuth ke angkasa lalu dibalik dan dilemparkan ke bawah, demikian juga dengan teriakan suaranya maka jadilah kaum Tsamuud tewas menjadi mayat-mayat yang terhamparkan, dan begitu cepatnya Jibril bergerak dari langit ke bumi dan dari bumi ke langit. (Lihat Tafsir Al-Baghowi 8/350)Kemudian Allah kembali memuji Jibril ‘alaihis salam dengan berfirman:21. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang disana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya”Jibril punya banyak anak buah yang menaatinya. Malaikat-malaikat langit patuh kepada Jibril atas perintah Allah. Malaikat jibril adalah malaikat yang terpercaya. Malaikat Jibril membawa pesan dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad dalam keadaan terpercaya.Kemudian Allah berfirman tentang Nabi Muhammad:22. وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ“dan sahabat kalian (Muhammad) itu bukanlah orang gila”Allah mengatakan صَاحِبُكُمْ yaitu sahabat-sahabat kalian wahai orang musyrikin. Allah memakai ungkapan tersebut karena Nabi Muhamamad dikenal baik oleh orang-orang musyrikin. Nabi Muhammad sebelum mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang menjadi Nabi, beliau dijuluki oleh orang-orang musyrikin sebagai Ash-Shodiqul Amin (orang yang jujur lagi terpercaya). Namun tatkala Nabi Muhammad memproklamirkan dirinya adalah seorang Nabi, beliau kemudian dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak diantaranya dikatakan sebagai orang gila, dukun, atau penyihir. Sehingga seakan-akan Allah bertanya, “Bukankah kalian tahu bahwa sahabat kalian Muhammad bukanlah orang gila?”Kemudian Allah berfirman:23. وَلَقَدْ رَآَهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ“dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang”Dalam sebuah hadist yang shahih Nabi melihat malaikat Jibril ketika Jibril di cakrawala diantara langit dan bumi. Malaikat Jibril membentangkan sayapnya yang berjumlah 600 sayap dan menutup seluruh ufuk alam semesta. Inilah bentuk asli dari malaikat Jibril, tidak ada ufuk yang terlihat karena seluruhnya tertutupi oleh malaikat jibril.Allah bermaksud menjelaskan bahwasanya berita yang Allah sampaikan tentang dahsyatnya hari kiamat itu melalui Nabi Muhammad, Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Malaikat Jibril dan Malaikat Jibril mengambil berita tersebut dari Allah, sehingga jalur sanadnya ada dan valid. Jadi jangan diragukan akan kedahsyatan hari kiamat, karena berita itu datang dari Muhammad yang jujur dan tidak gila yang bertemu langsung dengan malaikat Jibril yang amanah dan terpercaya yang mengambil langsung dari Allah.Kemudian Allah berfirman:24. وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ“dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil (pelit) untuk menerangkan yang ghaib”Dhonin ada 2 ada qiroah, pertama بِضَنِينٍ bidhonin dengan huruf ضَ dan بِظَنِيْنٍ bizhonin dengan huruf ظَ. Dhonin artinya bakhil (pelit) adapun zhonin artinya tertuduh. Jadi, Muhammad bukanlah orang yang bakhil dan Muhammad bukanlah orang yang tertuduh dalam menyampaikan wahyu. Artinya tidak ada wahyu yang disembunyikan oleh Rasulullah. Seseorang yang bakhil menandakan ada sesuatu yang dia sembunyikan, tetapi Rasulullah tidak bakhil dan dia tidak tertuduh, tetapi dia adalah seorang yang amanah. Oleh karena itu seluruh wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah dari Allah sudah disampaikan kepada kita.25. وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ“dan (Al-Quran) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk”Apa yang disampaikan oleh Muhammad bukanlah merupakan perkataan syaitan sebagaimana persangkaan orang-orang musyrik yang menuduh bahwasanya Muhammad adalah penyihir. Muhammad punya teman syaitan yang mewahyukan kepada beliau tentang ayat-ayat Al Quran. Sesungguhnya tuduhan tersebut adalah yang tidak benar, padahal mereka bisa dengan sendirinya membedakan mana perkataan yang benar atau perkataan syaitan.Kemudian Allah berfirman:26. فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka kemanakah kalian akan pergi”Kemanakah kalian berpaling meninggalkan al-Qur’an ini?, sementara al-Qur’an adalah obat dan petunjuk bagi kalian. Jalan mana lagi yang hendak kalian tempuh yang lebih jelas daripada jalan al-Qur’an ini?27. إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ“(Al Quran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam semesta”28. لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa diantara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus”29. وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali sesuai kehendak Allah, Tuhan seluruh alam”Yaitu kalian tidak akan bias istiqomah di jalan yang benar kecuali atas kehendak Allah juga.Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّنا نَزَّلْنا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتى وَحَشَرْنا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشاءَ اللَّهُKalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki (QS Al-An’aam : 111)وَما كانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِDan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah (QS Yunus : 100)إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُSesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS Al-Qosos : 56)Al-Baghowi berkata :إِعْلَامٌ أَنَّ أَحَدًا لَا يَعْمَلُ خَيْرًا إِلَّا بِتَوْفِيقِ اللَّهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا بِخِذْلَانِهِ‘’Ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwasanya tidak seorangpun yang mengerjakan kebaikan kecuali atas taufiq/bimbingan dari Allah, dan tidak seorangpun mengerjakan keburukan kecuali karena Allah meninggalkannya (tidak memberi taufiq kepadanya)’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/351)
Tafsir Surat At TakwirOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, MASurat At-Takwir adalah salah satu surat yang menggambarkan tentang dahsyatnya hari kiamat. Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi Nabi bersabda :“Barangsiapa yang ingin merasakan hari kiamat seperti menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia membaca “idza syamsu kuwirat, idza syamaaunfatarat, dan idza syamaaunsyaqat”. (HR At-Tirmidzi)Ketiga surat ini terdapat di dalam Al Quran pada Juz ‘Amma yang terdapat kemiripan pada isinya yaitu menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat, tentang bagaimana perubahan kondisi alam semesta sebagai pertanda akan munculnya hari akhirat, hari yang abadi yang tiada penghujungnya.Di awal surat At-Takwir, Allah bersumpah dengan 12 sumpah berturut-turut tentang kejadian-kejadian hari kiamat yang sangat dahsyat untuk menekankan dan menegaskan bahwasanya pada hari tersebut setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama di dunia sebagaimana bunyi ayat setelahnya setelah Allah bersumpah di ayat-ayat sebelumnya.Allah berfirman pada ayat yang pertama:1. إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“tatkala matahari digulung”Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa matahari adalah makhluk yang sangat besar. Para ilmuwan menyatakan bahwasanya diameter matahari 109 kali lebih besar dari diameter bumi. Adapun jarak dari bumi ke matahari menurut mereka sekitar 150 juta km, ini adalah jarak yang sangat jauh. Wallahu a’lam akan kebenarannya. Para ilmuan juga menyatakan bahwa di permukaan matahari terjadi ledakan-ledakan yang besar, dari situlah timbul sinar yang sangat kuat. Meskipun jarak antara bumi dengan matahari sejauh itu tetapi panasnya matahari sampai ke bumi.Surat At-Takwir adalah surat makiyyah, surat yang diturunkan oleh Allah tatkala Nabi berada di fase mekah menghadapi orang musyrikin yang mengingkari tentang adanya hari kiamat dan hari kebangkitan. Dan matahari adalah makhluk besar yang setiap hari dilihat oleh orang-orang musyrikin. Karenanya Allah menjelaskan bahwa matahari yang selama ini terbit di sebelah timur kemudian terbenam di sebelah barat tidak akan selamanya demikan. Akan ada suatu saat dimana gerakan tersebut akan berubah.Ayat ini didukung dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :الشَّمْسُ وَالقَمَرُ مُكَوَّرَانِ يَوْمَ القِيَامَةِ“Matahari dan bulan dilipat pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 3200)Dalam bahasa Arab, makna dari At-takwir berputar pada 3 makna sebagaimana penafsiran para salaf.Yang pertama at-takwir artinyaجَمْعُ بَعْضِ الشَّيْءِ إِلَى بَعْضٍ“Dikumpulkan satu dengan yang lainnya”كَتَكْوِيرِ الْعِمَامَةِ، وَهُوَ لَفُّهَا عَلَى الرَّأْسِ seperti takwiir sorban, yaitu melipatnya dan menggulungnya di kepala.Makna kedua dari takwir adalahإِذَا ذَهَبَ ضَوْءُهَا dzahaba dhouuha“hilang cahayanya”ini diantara makna takwir yang disebutkan oleh para salaf dalam tafsir mereka. Dan makna ketiga dari takwir adalah إِذَا رُمِيَ بِهاَ yaitu dilemparkan. Sehingga kalimat tatkala matahari ditakwir, bisa diartikan dengan tatkala matahari dilipat, lalu dilemparkan, sehingga tatkala itu matahari hilang cahayanya. (lihat Tafsir At-Thobari 24/128-131)Para ulama telah menjelaskan bahwa tatkala kita belajar ilmu tafsir, kebanyakan perkataan-perkataan para salaf yang berbeda-beda dalam satu ayat bukanlah tafsir thadhadh (tafsir yang saling bertentangan), tetapi termasuk tafsir tanawu’ (tafsir yang beraneka ragam dan tidak saling bertentangan). Berbeda dengan perselisihan dalam masalah fiqih, perselisihan yang terdapat di dalam pembahasan fiqih kebanyakannya adalah bertentangan (kontradiktif), madzhab ini mengatakan demikian madzab itu mengatakan demikian. Madzhab yang satu mengatakan menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu sedangkan madhzab lain mengatakan membatalkan wudhu. Adapun dalam masalah tafsir, kebanyakan perselisihan yang terjadi bukanlah perselisihan yang saling kontradiktif tetapi perselisihan yang saling mendukung. Sebagaimana makna at-takwir kita dapati ada 3 tafsiran dari salaf, yang pertama dilipat, yang kedua hilang cahanya, dan yang ketiga dilemparkan. Apabila diteliti, masing-masing tafsiran tersebut mempunyai sandaran dalil baik ditinjau dari sisi bahasa atau adanya hadist-hadist Nabi yang mendukung tafsiran tersebut.Sehingga untuk mengompromikan tafsiran-tafsiran tersebut apabila dicermati kembali, secara bahasa takwir yaitu dilipat sebagaimana imaamah yang dilipat. Makna bahasanya bisa dipahami tetapi hakekat senyatanya bagaimana matahari dilipat –wallahu’alam– tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah bagaimana Allah mengumpulkan bagian yang satu dengan bagian yang lain. Kemudian setelah dilipat maka hilanglah cahayanya kemudian matahari tersebut dilemparkan ke dalam neraka jahannam. Sebagaimana apa yang terdapat dalam sebuah hadist yang shahih, Rasulullah bersabda :الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Matahari dan bulan seolah-olah seperti dua ekor banteng yang dilemparkan ke neraka di hari kiamat.” (HR. Thahawi dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Ad-Dho’ifah 1/242 no 124)Salah satu bukti luasnya neraka jahannam adalah Allah akan melemparkan matahari dan rembulan ke dalam neraka Jahannam. Diantara faidah Allah berbuat demikian kata para ulama adalah :Pertama; matahari tersebut sebagai bahan bakar di akhirat, danKedua; untuk menghinakan orang-orang yang menyembah matahari dan bulan. Orang-orang yang selama di dunia menyembah matahari dan bulan akan mendapati sesembahan mereka juga dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Hal ini tentu sangat menyedihkan mereka karena apa yang mereka sembah ternyata ikut di neraka bahkan ikut membakar mereka. (Lihat Syarh Musykil Al-Aatsaar 1/170 dan Fathul Baari 6/300)Hal ini sesuai dengan firman Allah :إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (98) لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (99)Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya (QA Al-Anbiyaa’ : 98-99)Asy-Syingqithi berkata :هَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ جَمِيعَ الْمَعْبُودَاتِ مَعَ عَابِدِيهَا فِي النَّارِ“Ayat ini menunjukan bahwa seluruh sesembahan (selain Allah) bersama para penyembahnya di neraka” (Daf’u iihaam al-idththiroob ‘an Aayaatil Kitaab hal 156)Oleh karena itu ayat yang pertama ini memberi peringatan kepada kaum musyrikin yang setiap hari mereka menyaksikan matahari terbit dari sebelah timur terbenam di sebelah barat dan senantiasa bercahaya, kelak di akhirat akan semua itu akan hilang, cahayanya akan hilang dan matahari tersebut akan dilipat oleh Allah kemudian dilemparkan ke dalam neraka jahannam.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:2. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ“dan tatkala bintang-bintang berjatuhan”Apabila diteliti perkataan salaf terhadap tafsir انْكَدَرَتْ juga terbagi menjadi dua pendapat. Pertama انْكَدَرَتْ artinya تَنَاثَرَتْ “berserakan” atau تَسَاقَطَتْ “berjatuhan”, dan sebagian tafsiran yang lain bermakna تَغَيَّرَتْ yang artinya “berubah” yaitu hilang cahayanya (lihat Tafsir At-Thobari 24/132-133) Kedua tafsiran adalah tafsiran yang tidak bertentangan karena apabila bintang-bintang berjatuhan maka telah terjadi perubahan padanya dan hilang cahayanya.Al-Kalbi dan ‘Athoo’ berkata :تُمْطِرُ السَّمَاءُ يَوْمَئِذٍ نُجُومًا فَلَا يَبْقَى نَجْمٌ إِلَّا وَقَعَ“Pada hari itu langit menurunkan hujan bintang, maka tidak tersisa satu bintangpun kecuali jatuh (ke permukaan bumi)” (Tafsir Al-Baghowi 8/346)Kejadian ini juga merupakan perkara yang mengerikan yang terjadi pada hari kiamat. Kita saksikan di atas bintang-bintang yang begitu banyak yang mungkin jumlahnya berjuta–berjuta bahkan lebih. Seandainya sebuah meteor jatuh hal itu sudah menakutkan padahal meteor ukurannya kecil dibandingkan jika seandainya bintang yang sangat besar itu jatuh menimpa bumi ini. Lalu bagaimana jika bintang-bintang yang ada di langit semuanya berjatuhan. Sungguh itu adalah perkara yang mengerikan dan ini akan terjadi pada hari kiamat kelak.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:3. وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan tatkala gunung-gunung dijalankan”Ada dua pendapat dalam ayat ini, pertamaقُلِعَتْ مِنَ الْأَرْضِ، وَسُيِّرَتْ فِي الْهَوَاءِyaitu dicabut dari pasaknya lalu dijadikan berjalan terbang di udara, dan keduaتَحَوُّلُهَا عَنْ مَنْزِلَةِ الْحِجَارَةِ، فَتَكُونُ كَثِيبًا مَهِيلًاyaitu dirubah dari batu yang kokoh menjadi debu yang berhamburan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/228)Gunung-gunung yang kita saksikan begitu kokohnya, tegak, tegar, bahkan Allah mengatakan dalam Al Quran:وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ“Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan oleh Allah.” (QS Al-Ghasyiyah : 19)Sampai-sampai orang-orang menjadikan gunung sebagai perumpamaan seperti kalimat “orang itu tegar seperti gunung” yaitu kokoh seperti gunung. Akan tetapi ternyata gunung pada hari kiamat kelak akan terbang dijalankan oleh Allah. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An–Naml : 88)Kondisi gunung-gunung dalam hari kiamat melalui beberapa tahapan. Yang pertama Allah akan mencabut gunung-gunung tersebut dari pasaknya kemudian Allah menerbangkannya. Allah berfirman :وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا“Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS An-Naba’ : 20)Setelah gunung-gunung tersebut diterbangkan, Allah akan menghancurkan gunung-gunung tersebut sehingga seakan-akan fatamorgana yang tadinya dilihat setelah itu menjadi hilang setelah Allah menghancurkannya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًاDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya.” (QS Thaha : 105)Bumi akan rata menjadi lembah yang tidak ada kemiringan padanya. Gunung-gunung pun dihancurkan kemudian akan menjadi seperti debu yang beterbangan. Sebagaimana firman Allah:وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا (6)“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah ia seperti debu-debu yang beterbangan.” (QS Al-Waqi’ah : 5-6)Allah juga menggambarkannya dalam ayat yang lain. Allah berfirman:وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS Al-Qari’ah : 5)Seperti inilah kondisi gunung tatkala hari kiamat. Pertama Allah terbangkan, kemudian Allah menghancurkannya seperti debu yang tidak ada bekasnya. Kejadian seperti ini tentu saja akan menimbulkan ketakutan dan kengerian pada hari kiamat kelak ketika manusia menyaksikan bagaimana matahari dilipat, bintang-bintang berjatuhan, dan gunung-gunung diperjalankan kemudian dihancurkan oleh Allah.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:4. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan tatkala unta-unta yang bunting ditinggalkan”Adalah jamak (kata plural) dari نَاقَةٌ عُشَرَاءُ yaitu unta betina yang hamil besar dimana usia kehamilannya sudah 10 bulan ke atas dan sebentar lagi akan melahirkan. Jadi ketika usia kandungan unta telah mencapai 10 bulan unta tersebut dinamakan عُشَرَاءُ , dan demikian terus namanya hingga melahirkan. Karena biasanya usia kandungan unta adalah 12 bulan dan terkadang bisa sampai 13 bulan. Unta yang sudah kandungannya sudah berusia 10 bulan lebih adalah harta yang berharga bagi orang-orang arab di zaman dahulu, karenanya Allah menggunakannya sebagai permisalan. Kalau unta ingin melahirkan, biasanya sang pemilik unta sudah mengetahuinya, maka sang pemilik unta akan mengawasi kapan untanya akan melahirkan. Bahkan terkadang perkara-perkara yang lain tidak dia perdulikan demi memperhatikan proses melahirkan unta tersebut.Pada hari kiamat kelak, jika ada orang yang mengurus unta maka dia akan meningalkan untanya (Lihat Tafsri Al-Qurthubi 19/229). Ini adalah gambaran bahwa pada hari kiamat kelak apabila ada harta yang paling dia cintai maka dia akan ketakutan dan tidak akan memperdulikan harta tersebut. Harta apapun yang sangat dia cintai akan dia tinggalkan pada hari kiamat karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:5. وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan tatkala binatang-binatang liar dikumpulkan”Terkait makna حُشِرَتْ ada 2 pendapat di kalangan ulama ahli tafsir. Pertama artinya umitat yaitu dimatikan oleh Allah, dan kedua yaitu akan dikumpulkan.Hal ini sebagaimana firman Allah :وَما مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا طائِرٍ يَطِيرُ بِجَناحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثالُكُمْ مَا فَرَّطْنا فِي الْكِتابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَDan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan (QS Al-An’aam : 38)Allah juga berfirman :وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌDi antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya (QS Asy-Syuuroo : 29)Pada hakikatnya kedua pendapat ini tidak bertentangan, karena setelah hewan-hewan dikumpulkan kemudian diqisosoh lalu dikatakan kepadanya “Jadilah engkau pasir!”, sebagaimana yang telah lau dijelaskan dalam tafsir ayat terakhir dari surat An-Naba’. Akhirnya hewan-hewan tersebut pun sirna, sehingga yang tertinggal hanyala jin dan manusia yang akan kekal pada hari kiamat.الْوُحُوشُ adalah hewan-hewan yang liar. Secara umum hewan itu terbagi menjadi dua jenis. Ada hewan الأَلِيْفَة jinak yaitu hewan-hewan yang dekat dengan manusia seperti kambing, sapi. Ada hewan المُتَوَحِّشَةُ liar yaitu hewan-hewan yang tidak hidup dengan manusia seperti hewan-hewan yang liar dan sangar. Namun maksud ayat ini adalah seluruh hewan akan dikumpulkan, jangankan hewan yang jinak bahkan hewan yang liar dan buas juga akan dikumpulkan.Allah mengatakan bahwa pada hari kiamat hewan-hewan liar akan dikumpulkan. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa seluruh hewan-hewan liar termasuk yang sudah punah akan dibangkitkan oleh Allah dan akan dikumpulkan pada hari tersebut. Maka akan datang berbagai macam model hewan baik singa, macan, dan hewan-hewan liar lainnya. Semua akan dikumpulkan pada hari tersebut karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:6. وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan tatkala lautan dibakar”Ini juga merupakan perkara yang sangat mengerikan. Makna dari sisi bahasa الْبِحَارُ mencakup seluruh kumpulan air mencakup seperti lautan, selat, sungai, danau dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Allah berfirman :وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak bisa ditembus.” (QS Al-Furqan : 53)Sehingga terkadang sungai juga disebut الْبِحَارُ dalam bahasa arab. Dan kita tahu bahwa sungai terpisah dari lautan. Diantara keduanya ada penghalang sehingga tidak bercampur.Allah berfirman وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ yaitu “tatkala lautan di-tasjir”. Ini sama dengan firman Allah :وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“Dan demi laut yang dinyalakan” (QS At-Thuur : 6)Terdapat khilaf tentang makna سُجِّرَتْ di kalangan para ahli tafsir. Ada yang mengatakan artinya أُوقِدَتْ “dinyalakan” dan ada yang mengartikan dengan مُلِئَتْ yaitu “penuh“ kemudian meluap keluar dari lautan (Tafsir At-Thobari 21/568).Kita tahu bahwa air laut di dunia ini menutupi lebih dari 2/3 permukaan bumi ini, lebih dari 70% isinya adalah air laut. Tanah yang kita pijak ini bagiannya kurang dari 30%. Kebanyakannya diisi oleh air dengan berbagai macam jenisnya, ada lautan, ada sungai, ada danau, ada selat, dan lainnya. Pada hari kiamat kelak Allah akan menjadikan air laut tersebut penuh lalu meluap dan kemudian terjadi banjir hebat sehingga para ulama mengatakan bahwa seluruh air akan bersatu. Yang tadinya Allah menjadikan barzakh yaitu adanya pemisah/pembeda antara air laut dan air sungai, maka Allah akan angkat mengangkat barzakh tersebut sehingga bercampurlah dan bersatu padu antara air asin dan air tawar.Mujahid berkataفُجِّرَ بَعْضُهَا فِي بَعْضٍ، الْعَذْبُ وَالْمِلْحُ، فَصَارَتِ الْبُحُورُ كُلُّهَا بَحْرًا وَاحِدًا“Meluap sehingga bercampur satu dengan yang lainnya, yang tawar dengan yang asin, maka jadilah seluruh lautan menjadi satu lautan” (Tafsir Al-Qurthubi 8/346-347)Ini jika kita bawakan makna سُجِّرَتْ dengan مُلِئَتْ “penuh“Adapun pendapat yang menyatakan سُجِّرَتْ yang lain kata para ulama adalah أُوقِدَتْ “dinyalakan” sehingga bermakna “tatkala air lautan dinyalakan oleh Allah”.Ibnu ‘Abbas berkata :أُوقِدَتْ فَصَارَتْ نَارًا تَضْطَرِمُ“Lautan dinyalakan hingga menjadi api yang bergejolak” (Tafsir al-Qurthubi 8/346)Dan sebagian salaf memaknakan سُجِّرَتْ dengan يَبِسَتْ “kering”. Qotadah berkata :ذَهَبَ مَاؤُهَا فَلَمْ يَبْقَ فِيهَا قَطْرَةٌ“Kering airnya hingga tidak tersisa meskipun hanya setetes” (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Apabila kita mengompromikan beberapa tafsiran ini maka kondisi air laut pertama kali tatkala terjadi hari kiamat yaitu air laut tersebut akan meluap kemudian meluber lalu bergabung antara air sungai dan air laut, antara air asin dan air tawar, kemudian Allah menyalakan air tersebut, Allah akan membakar air tersebut sehingga yang tadinya berupa lautan air menjadi lautan api. Setlah itu jadilah laut menjadi kering.Hanya Allah yang mengetahui bagaimana caranya lautan air dibakar. Allah mampu mengubah kondisi yang satu menjadi kondisi yang lain. Seperti apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim ketika Allah menjadikan api yang seharusnya membakar kemudian menjadi dingin dan penyelamat bagi Ibrahim. Allah berfirman :قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَKami berfirman, “Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiya : 69)Begitupun Allah juga mampu menjadikan air laut menjadi api yang menyala. Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa air dengan rumus H20 yang tersusun dari hidrogen dan oksigen Allah mampu melepaskan dua molekul tersebut kemudian membakar dua molekul tersebut sehingga menjadi lautan api. Hanya Allah yang mengetahui caranya yang jelas lautan air kelak akan menjadi lautan api, dan ini menambah kengerian dan kedahsyatan hari kiamat.Perkara-perkara yang terdapat pada 6 ayat di awal ini sebagaimana kata Ubay bin Ka’ab dan juga Ibnu ‘Abbas radiyallahu’anhumaa adalah perkara-perkara yang terjadi di dunia sebelum tiupan sangkakala yang kedua. Kita tahu bahwa hari kiamat terjadi dengan dua tiupan sangkakala. Allah berfirman:وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ“Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab).” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian 6 perkara berikutnya adalah perkara-perkara yang terjadi setelah ditiupkan sangkakala yang ke dua yaitu perkara-perkara yang terjadi di akhirat. Allah berfirman :7. وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan tatkala jiwa-jiwa dipertemukan”Ada 3 tafisiran dikalangan salaf tentang makna ayat ini.Tafsiran pertama yang dimaksudkan dengan dipertemukan adalah jiwa itu dimasukkan ke dalam badannya kembali. Tadinya ruh dicabut kemudian diletakkan di alam barzakh sedangkan tubuhnya bisa jadi lapuk bersama tanah atau bisa jadi dimakan oleh binatang buas atau dimakan oleh ikan, namun pada hari tersebut ruh akan dikembalikan kepada tubuhnya semula. (Tafsir At-Thobari 24/144)Para ulama menyatakan bahwa kondisi keterkaitan antara ruh dan badan ada beberapa jenis. Tatkala seseorang masih hidup di atas muka bumi, maka yang paling dominan adalah jasad dibandingkan dengan ruh. Karenanya jika tertimpa sesuatu yang menyakitkan maka yang pertama kali akan merasakannya adalah jasad, begitupun jika ada sesuatu yang melezatkan maka yang pertama kali merasakannya adalah jasad. Meskipun ruh juga bisa terpengaruh dengan sakit atau kelezatan yang dialami jasad tetapi hubungan antara jasad dan ruh lebih kuat/dominan pada jasad dibandingkan dengan. Adapun ketika di alam barzakh maka ruh lebih dominan dibandingkan jasad, ruh menjadi sempurna sedangkan jasad mulai rusak, sehingga kalau seseorang dikuburkan maka ruh lah yang paling dominan. Ruh yang merasakan adzab dan kenikmatan. Meskipun jasadnya akan terpengaruh akan tetapi yang paling dominan adalah ruh dibandingkan jasad, dan jasad mengikuti ruuh. Namun di hari akhirat kelak antara ruh dan jasad sama-sama dominan sehingga adzab dan kenikmatan dirasakan oleh jasad dan ruh bersamaan. Hal ini karena ruh tersebut dikumpulkan kembali dengan jasadnya. (lihat hubungan antara ruuh dan Jasad di kitab-kitab berikut : Ar-Ruuh, Ibnul Qoyyim hal 43-44, Al-Ajwibah Al-Muhimmah, Ibnu Hajar hal 7-8, syarh al-‘Aqiidah at-Thohaawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi 2/578-579, dan penjelasan Asy-Syaikh Sholih Alu Syaikh terhadap al-Aqidah at-Thohawiyah)Tafsiran kedua yang dimaksud dengan dipertemukan adalah masing-masing orang dikumpulkan dengan yang sejalan dengannya. Orang kafir akan dikumpulkan dengan sesama orang kafir, orang munafik akan dikumpulkan dengan sesama orang munafik, orang yahudi akan dikumpulkan dengan sesama orang yahudi, orang nasrani akan dikumpulkan dengan orang nasrani, orang yang menyembah matahari akan dikumpulkan dengan sesama penyembah matahari, pezina dikumpulkan dengan sesama pezina, begitupun dengan orang beriman akan dikumpulkan dengan sesama orang beriman, orang bertakwa akan dikumpulkan dengan sesama orang bertakwa. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Al Qur’an :احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (QS Ash-Shaffat : 22)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :وَكُنتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11)“Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah).” (QS Al-Waqi’ah : 7-11)Oleh karena itu, masing-masing manusia pada hari kiamat nanti akan bergandengan bersama kelompoknya masing-masing. Orang musyrik akan berkumpul bersama orang musyrik, orang bertauhid akan berkumpul bersama orang bertauhid, dan seterusnya. Demikianlah Allah akan mengelompokkan mereka pada hari kiamat kelak.Tafsiran ketiga yaitu sebagaimana perkataan ‘Athoo’ :زُوِّجَتْ نُفُوسُ الْمُؤْمِنِينَ بِالْحُورِ الْعِينِ‘’jiwa-jiwa kaum mukminin dipertemukan (yaitu dinikahkan) dengan bidadari’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Kemudian Allah berfirman :8. وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ“dan tatkala bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”Asal kata dari الْمَوْءُودَةُ adalah maknanya diberi beban berat, karena berasal dari kata kerja وَأَدَ, Ibnu Faris berkata :(وَأَدَ) الْوَاوُ وَالْهَمْزَةُ وَالدَّالُ: كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى إِثْقَالِ شَيْءٍ بِشَيْءٍ…وَالْمَوْءُودَةُ مِنْ هَذَا، لِأَنَّهَا تُدْفَنُ حَيَّةً، فَهِيَ تُثْقَلُ بِالتُّرَابِ الَّذِي يَعْلُوهَا‘’ وَأَدَ Huruf wawu, hamzah, dan daal adalah kata yang menunjukan makna memberatkan sesuatu dengan sesuatu… diantaranya adalah karena anak wanita itu dikubur hidup-hidup, maka anak wanita itu diberi beban berat yaitu tanah yang menutupinya’’ (Mu’jam Maqoosyiis al-Lughoh 6/78, lihat juga Tafsir al-Qurthubi 19/232)9. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ“atas dosa apa dia dibunuh?”Salah satu kebiasaan jahiliyah pada sebagian kabilah Arab (bukan semua orang arab), jika ada anak perempuan yang lahir maka mereka akan dikubur hidup-hidup, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an.وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)“Padahal, apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS An-Nahl : 58-59)Para ulama mengatakan bahwa ada dua sebab mengapa orang-orang arab jahiliyah dulu membunuh putri-putri mereka.Pertama, adalah karena mereka malu dengan kehinaan. Disebutkan bahwasanya pada zaman jahiliyyah telah terjadi peperangan antara dua kabilah. Kemudian putri sang pemimpin kabilah ditawan oleh kabilah yang lain. Akhirnya kabilah tersebut ingin menebus putrinya yang ditawan, namun ternyata putrinya yang ditawan itu lebih memilih tinggal dengan kabilah yang menawannya karena dia jatuh cinta dengan lelaki dari kabilah tersebut. Hal ini menjadikan orang tuanya malu dan marah karena merasa terhina. Dari peristiwa dia bersumpah apabila dia mempunyai anak perempuan lagi akan dia bunuh. Sehingga perbuatan tersebut menjadi adat kebiasaan, setiap ada anak perempuan yang dilahirkan akan dibunuh. Mereka tidak mau setiap kalah perang mereka ditawan oleh kabilah lain karena ini adalah penghinaan bagi mereka, apakah yang ditawan itu adalah putri mereka atau istri mereka. Perbuatan membunuh tersebut mereka lakukan boleh jadi tatkala anak perempuannya baru lahir atau sudah besar, apabila sudah besar anaknya tersebut dirias kemudian dibawa jalan-jalan lalu dibunuh dengan dimasukkan ke dalam sumur. Ini sebab pertama, yaitu malu karena merasa terhinakan.Kedua, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an. Allah berfirman :وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ“Dan jangan kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, Kamilah yang memberi rizki kepada dan kepada kalian.” (QS Al-Isra’ : 31)Sesungguhnya ini adalah kebiasaan yang sangat buruk, bagaimana seorang anak dibunuh tanpa dosa. Kalau membunuh orang lain adalah perbuatan yang sangat tercela maka bagaimana lagi dengan membunuh anak sendiri?. Anak perempuan yang biasanya lebih membutuhkan kelembutan dan kasih sayang daripada anak lelaki?Allah mengatakan bahwasanya yang ditanya kelak adalah bayi-bayi tersebut. Pada asalnya yang seharusnya bertanggung jawab adalah yang membunuh, dia lah seharusnya yang ditanya kenapa dia tega membunuh. Tetapi dalam ayat ini Allah mengatkan bahwasanya yang dibunuh lah yang ditanyai oleh Allah. Ini merupakan ungkapan dalam bahasa arab untuk mengejek atau menghinakan pelakunya sehingga bertanya kepada korban. Ini adalah penghinaan untuk orangtua yang telah membunuh putrinya tersebut.Ironisnya, zaman sekarang dijumpai adanya praktek pembunuhan anak-anak secara modern yaitu melakukan praktek aborsi (pengguguran), dan ini adalah bentuk pembunuhan terhadap anak. Perbuatan ini banyak dilakukan di negara-negara barat bahkan dijadikan muktamar-muktamar untuk menekan agama islam agar menerapkan aturan ini, bahwasanya seorang wanita bebas melakukan pengguguran. Mereka ingin wanita muslimah ikut rusak sebagaimana rusaknya wanita mereka karena bebas berhubungan dengan para wanitanya, jika hamil tinggal digugurkan saja. Perbuatan ini adalah bentuk jahiliyah yang sangat parah yaitu melakukan penggguguran terhadap anak-anak.Kemudian Allah berfirman:10. وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan tatkala catatan-catatan amal dibuka lebar”Al-Qurthubi menjelaskan bahwa lembaran-lembaran catatan amal yang berada di tangan para malaikat ditutup tatkala seseorang meninggal dunia, dan tatkala hari kiamat dibuka kembali untuk dilihat olehnya hasil catatan amalnya selama hidupnya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/234)Hal ini sebagaimana firman Allahبَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَى صُحُفًا مُنَشَّرَةًBahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka (QS Al-Muddatstsir : 52)Al-Baghowi berkata :صَحَائِفَ الْأَعْمَالِ تُنْتَشَرُ لِلْحِسَابِ‘’Lembaran-lembaran catatan amal terbuka untuk dihisab (Tafsir Al-Baghowi 8/348)Pada hari kiamat kelak seluruh catatan amal yang pernah kita lakukan selama di dunia semua akan terbuka. Seluruh isi catatan amal tersebut berdasarkan amalan kita selama di dunia, kemudian dituliskan oleh malaikat. Sehingga hakekatnya yang mencatat catatan amal kita adalah kita sendiri. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengisi buku catatan-catatan amal kita dengan catatan buruk yang mana catatan-catatan tersebut akan dibuka oleh Allah pada hari kiamat kelak. Allah berfirman:وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا“Dan tiap–tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS Al-Isra’: 13)Bahkan kata para ulama, orang yang tidak bisa membaca akan bisa membaca dengan sendirinya pada hari tersebut. Di samping itu tidak perlu repot, catatan amal tersebut akan terbuka dengan sendirinya. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan akan ketakutan ketika mereka melihat catatan amal mereka.وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ (53)“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Jangankan dosa besar seperti berzina atau meyentuh wanita yang bukan mahram, lirikan mata saja akan dicatat oleh Allah. Allah juga berfirman :يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS Al–Mu’min: 19)Apabila kita melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka itu semua akan dicatat dengan detail dan tidak ada yang terluputkan oleh Allah. Seluruh ghibah yang kita lakukan, pandangan mata kita lakukan, kedzhaliman yang kita lakukan, uang haram yang kita makan, penghinaan ke orang lain yang kita lakukan, kedustaan yang kita lakukan, dan apapun yang kita lakukan maka semuanya akan tercatat pada catatan amalan tersebut.Kemudian Allah berfirman:11. وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ“dan tatkala langit dilenyapkan”At-Thobari berkata :وَإِذَا السَّمَاءُ نُزِعَتْ وَجُذِبَتْ، ثُمَّ طُوِيَتْ‘’Dan tatkala langit dicabut dan ditarik kemudian dilipat’’ (Tafsir At-Thobari 24/149)كُشِطَتْ diambil dari kata الْكَشْطُ yang dalam bahasa arab artinya adalah قَلْعٌ عَنْ شِدَّةِ الْتِزَاقٍ ‘’mencabut sesuatu yang sangat melengket’’. Al-Qurthubi berkataفَالسَّمَاءُ تُكْشَطُ كَمَا يُكْشَطُ الْجِلْدُ عَنِ الْكَبْشِ وَغَيْرُهُ‘’Maka langitpun dicabut sebagaimana kulit dicabut dari domba dan hewan lainnya’’ (Tafsir Al-Qurthubi 19/235)Kalau ada kambing atau unta yang disembelih, kemudian dikuliti, proses kulitnya dilepas itu disebut الْكَشْطُ. Jadi pada hari kiamat kelak Allah akan merobek langit tersebut seperti ditariknya kulit dari hewan. Kita saksikan sekarang langit yang begitu hebat, tidak ada satu bagian pun yang berlubang. Semuanya kokoh dibangun oleh Allah dengan tujuh lapis. Langit tesrebut lengket di angkasa begitu kuat, akan tetapi pada hari kiamat kelak semua langit akan dirobek oleh Allah. Adapun yang mengetahui hakikat proses pencabutan langit dari tempatnya adalah Allah semata, kita hanya mencoba memahami dari sisi bahasa.Kemudian Allah berfirman:12. وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan tatkala neraka jahannam dinyalakan”.Allah berfirman tentang api neraka :فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ“Maka takutlah kalian kepada api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 24)Bayangkan bahan bakar api neraka adalah manusia dan batu bukan bensin, minyak tanah, dan lainnya. Bahan bakar yang berasal dari batu panasnya lebih pedih. Oleh karena itu, bahan bakar neraka jahannam adalah batu. Manusia disiksa dengan hal seperti itu sehingga dia terbakar dan akhirnya menjadi bahan bakar itu sendiri.Kemudian neraka jahannam itu sudah disiapkan untuk orang kafir. Karenanya diantara aqidah ahlussunnah bahwasanya neraka jahannam sudah ada begitupun surga juga sudah ada. Dan pada hari kiamat kelak neraka jahanam itu akan lebih dinyalakan apinya untuk menyambut penghuni neraka jahannam, sungguh mengerikan tamu-tamu tersebut.Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa neraka Jahannam yang sudah sangat panas tersebut ternyata dipanaskan lagi sehingga menjadi lebih panas. Ada yang menyatakan bahwa dipanaskan lagi karena kemurkaan Allah dan juga karena dosa-dosa bani Adam (lihat Tafsiir At-Thobari 24/150)Kemudian Allah berfirman:13. وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan tatkala surga didekatkan”Ini adalah kemulian yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Seandainya jarak surga dengan kita adalah sejuta km atau lebih dari itu, niscaya seseorang akan sabar menempuh jarak sejauh itu jika diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa yang ada di di surga, kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik di hati. Apapun kenikmatan yang dihasratkan dan dipinta maka Allah langsung menyediakannya di surga, niscaya sejauh apapun surga itu pasti seseorang akan sabar berjalan untuk meraihnya.Tetapi khusus bagi orang yang beriman maka Allah muliakan mereka dengan mendekatkan surga kepada mereka. Al-Hasan Al-Bashri berpendapat bukan surga yang didekatkan dari posisinya akan tetapi orang-orang berimanlah yang didekatkan kepada surga (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/235). Pada hakikatnya sama saja apakah surga yang didekatkan kepada orang-orang beriman atau sebaliknya orang-orang beriman yang didekatkan kepada surga hasilnya sama surga menjadi dekat dengan orang-orang beriman.Kemudian Allah berfirman:14. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ“setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan”Setelah Allah menyebutkan sumpah-sumpah hingga 12 sumpah, kemudian Allah menjelaskan bahwa tujuan dari sumpah-sumpah tersebut adalah untuk menekankan dan memastikan bahwa ‘’setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama dia di dunia’’ berupa amal baik dan amal keburukan. Bisa jadi dengan melihat isi catatan amal, atau amal-amalannya datang dalam bentuk tertentu yang menunjukan akan amalannya (lihat Fathul Qodiir 5/472). Jadi ayat ini merupakan جَوَابُ الْقَسَمِ (jawaban sumpah) dari 12 sumpah yang sebelumnya.Setelah Allah berbicara tentang hari kiamat, pembahasan berpindah tentang penjelasan Allah akan Rasulullah. Seakan-akan Allah menyatakan kepada orang-orang musyrikin, “Wahai orang-orang musyrikin, kalian heran dengan kejadian-kejadian di hari kiamat tersebut. Padahal kabar tersebut datang dari Muhammad melalui malaikat jibril yang asalnya dari Allah.”Karena kita tahu bahwasanya orang-orang musyrikin arab mereka beriman kepada Allah, hanya saja mereka kafir kepada Muhammad. Mereka beriman kepada Allah sebagai tuhan mereka namun mereka tidak percaya Muhammad sebagai utusan untuk mereka. Sehingga tatkala Rasulullah membacakan surat at-takwir tentang dahsyatnya hari kiamat, mungkin akan muncul dalam hati mereka bahwasanya berita-berita tersebut hanyalah omong kosong belaka. Oleh karena itu, untuk menjelaskan bahwasanya perkara-perkara yang dikabarkan Rasulullah tersebut adalah berita yang benar datang dari Allah melalui Jibril ‘alaihis salam maka Allah bersumpah dengan beberapa ayat berikut. Allah berfirman :15. فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ“sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang bercahaya”16. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ“yang beredar (di malam hari) dan terbenam (di siang hari)”17. وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“dan malam apabila telah larut”Terkait makna عَسْعَسَ dalam bahasa arab artinya أَدْبَرَ (pergi) atau أَقْبَلَ (datang). Sehingga bisa mengandung 2 makna, malam tatkala ia datang atau malam tatkala ia pergi. Tetapi apabila kita melihat ayat selanjutnya Allah mengatakan, وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ “tatkala subuh mulai menyingsing sinarnya” yaitu menyingsing dengan perginya malam, berarti ayat sebelumnya menunjukan tentang datangnya malam, sehingga makna عَسْعَسَ yang lebih rajih adalah tatkala أَقْبَلَ (malam tatkala ia datang). Karena jika diartikan dengan perginya malam maka akan terjadi perulangan, karena perginya malam sama halnya dengan menyingsingnya sinar subuh.18. وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh yang apabila fajarnya mulai menyingsing”Apabila Allah bersumpah dengan makhluk-makhluknya maka itu bukan merupakan celaan bagi Allah karena terserah Allah ingin bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dengan makhluknya. Adapun kita sebagai manusia tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah, barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah berbuat kesyirikan. Rasulullah bersabda:مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Abu Daud no. 2829, At-Tirmizi no. 1535, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6204)Sehingga tidak boleh seseorang bersumpah selain dengan nama Allah. Adapun Allah bebas bersumpah dengan makhluk-makhluknya. Diantaranya Allah bersumpah dengan bintang sebagaimana pada ayat ini.Allah bersumpah karena ingin menyampaikan bahwa Al Qur’an itu adalah firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia yaitu jibril. Allah berfirman:19. إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)”20. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ“yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tingga di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy”Jibril adalah malaikat luar biasa yang merupakan penghulu para malaikat. Allah mengatakan bahwa Jibril adalah malaikat yang kuat, yang kuat disisi pemilik ‘Arsy yaitu Allah, dan dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah.Menurut al-Imam Al-Baghowi diantara kekuatan Jibril adalah Jibril ‘alaihis salam hanya menggunakan sayapnya tatkala mengangkat negeri kaum Luuth ke angkasa lalu dibalik dan dilemparkan ke bawah, demikian juga dengan teriakan suaranya maka jadilah kaum Tsamuud tewas menjadi mayat-mayat yang terhamparkan, dan begitu cepatnya Jibril bergerak dari langit ke bumi dan dari bumi ke langit. (Lihat Tafsir Al-Baghowi 8/350)Kemudian Allah kembali memuji Jibril ‘alaihis salam dengan berfirman:21. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang disana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya”Jibril punya banyak anak buah yang menaatinya. Malaikat-malaikat langit patuh kepada Jibril atas perintah Allah. Malaikat jibril adalah malaikat yang terpercaya. Malaikat Jibril membawa pesan dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad dalam keadaan terpercaya.Kemudian Allah berfirman tentang Nabi Muhammad:22. وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ“dan sahabat kalian (Muhammad) itu bukanlah orang gila”Allah mengatakan صَاحِبُكُمْ yaitu sahabat-sahabat kalian wahai orang musyrikin. Allah memakai ungkapan tersebut karena Nabi Muhamamad dikenal baik oleh orang-orang musyrikin. Nabi Muhammad sebelum mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang menjadi Nabi, beliau dijuluki oleh orang-orang musyrikin sebagai Ash-Shodiqul Amin (orang yang jujur lagi terpercaya). Namun tatkala Nabi Muhammad memproklamirkan dirinya adalah seorang Nabi, beliau kemudian dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak diantaranya dikatakan sebagai orang gila, dukun, atau penyihir. Sehingga seakan-akan Allah bertanya, “Bukankah kalian tahu bahwa sahabat kalian Muhammad bukanlah orang gila?”Kemudian Allah berfirman:23. وَلَقَدْ رَآَهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ“dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang”Dalam sebuah hadist yang shahih Nabi melihat malaikat Jibril ketika Jibril di cakrawala diantara langit dan bumi. Malaikat Jibril membentangkan sayapnya yang berjumlah 600 sayap dan menutup seluruh ufuk alam semesta. Inilah bentuk asli dari malaikat Jibril, tidak ada ufuk yang terlihat karena seluruhnya tertutupi oleh malaikat jibril.Allah bermaksud menjelaskan bahwasanya berita yang Allah sampaikan tentang dahsyatnya hari kiamat itu melalui Nabi Muhammad, Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Malaikat Jibril dan Malaikat Jibril mengambil berita tersebut dari Allah, sehingga jalur sanadnya ada dan valid. Jadi jangan diragukan akan kedahsyatan hari kiamat, karena berita itu datang dari Muhammad yang jujur dan tidak gila yang bertemu langsung dengan malaikat Jibril yang amanah dan terpercaya yang mengambil langsung dari Allah.Kemudian Allah berfirman:24. وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ“dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil (pelit) untuk menerangkan yang ghaib”Dhonin ada 2 ada qiroah, pertama بِضَنِينٍ bidhonin dengan huruf ضَ dan بِظَنِيْنٍ bizhonin dengan huruf ظَ. Dhonin artinya bakhil (pelit) adapun zhonin artinya tertuduh. Jadi, Muhammad bukanlah orang yang bakhil dan Muhammad bukanlah orang yang tertuduh dalam menyampaikan wahyu. Artinya tidak ada wahyu yang disembunyikan oleh Rasulullah. Seseorang yang bakhil menandakan ada sesuatu yang dia sembunyikan, tetapi Rasulullah tidak bakhil dan dia tidak tertuduh, tetapi dia adalah seorang yang amanah. Oleh karena itu seluruh wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah dari Allah sudah disampaikan kepada kita.25. وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ“dan (Al-Quran) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk”Apa yang disampaikan oleh Muhammad bukanlah merupakan perkataan syaitan sebagaimana persangkaan orang-orang musyrik yang menuduh bahwasanya Muhammad adalah penyihir. Muhammad punya teman syaitan yang mewahyukan kepada beliau tentang ayat-ayat Al Quran. Sesungguhnya tuduhan tersebut adalah yang tidak benar, padahal mereka bisa dengan sendirinya membedakan mana perkataan yang benar atau perkataan syaitan.Kemudian Allah berfirman:26. فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka kemanakah kalian akan pergi”Kemanakah kalian berpaling meninggalkan al-Qur’an ini?, sementara al-Qur’an adalah obat dan petunjuk bagi kalian. Jalan mana lagi yang hendak kalian tempuh yang lebih jelas daripada jalan al-Qur’an ini?27. إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ“(Al Quran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam semesta”28. لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa diantara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus”29. وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali sesuai kehendak Allah, Tuhan seluruh alam”Yaitu kalian tidak akan bias istiqomah di jalan yang benar kecuali atas kehendak Allah juga.Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّنا نَزَّلْنا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتى وَحَشَرْنا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشاءَ اللَّهُKalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki (QS Al-An’aam : 111)وَما كانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِDan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah (QS Yunus : 100)إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُSesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS Al-Qosos : 56)Al-Baghowi berkata :إِعْلَامٌ أَنَّ أَحَدًا لَا يَعْمَلُ خَيْرًا إِلَّا بِتَوْفِيقِ اللَّهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا بِخِذْلَانِهِ‘’Ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwasanya tidak seorangpun yang mengerjakan kebaikan kecuali atas taufiq/bimbingan dari Allah, dan tidak seorangpun mengerjakan keburukan kecuali karena Allah meninggalkannya (tidak memberi taufiq kepadanya)’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/351)


Tafsir Surat At TakwirOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, MASurat At-Takwir adalah salah satu surat yang menggambarkan tentang dahsyatnya hari kiamat. Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi Nabi bersabda :“Barangsiapa yang ingin merasakan hari kiamat seperti menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, hendaklah ia membaca “idza syamsu kuwirat, idza syamaaunfatarat, dan idza syamaaunsyaqat”. (HR At-Tirmidzi)Ketiga surat ini terdapat di dalam Al Quran pada Juz ‘Amma yang terdapat kemiripan pada isinya yaitu menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat, tentang bagaimana perubahan kondisi alam semesta sebagai pertanda akan munculnya hari akhirat, hari yang abadi yang tiada penghujungnya.Di awal surat At-Takwir, Allah bersumpah dengan 12 sumpah berturut-turut tentang kejadian-kejadian hari kiamat yang sangat dahsyat untuk menekankan dan menegaskan bahwasanya pada hari tersebut setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama di dunia sebagaimana bunyi ayat setelahnya setelah Allah bersumpah di ayat-ayat sebelumnya.Allah berfirman pada ayat yang pertama:1. إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ“tatkala matahari digulung”Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa matahari adalah makhluk yang sangat besar. Para ilmuwan menyatakan bahwasanya diameter matahari 109 kali lebih besar dari diameter bumi. Adapun jarak dari bumi ke matahari menurut mereka sekitar 150 juta km, ini adalah jarak yang sangat jauh. Wallahu a’lam akan kebenarannya. Para ilmuan juga menyatakan bahwa di permukaan matahari terjadi ledakan-ledakan yang besar, dari situlah timbul sinar yang sangat kuat. Meskipun jarak antara bumi dengan matahari sejauh itu tetapi panasnya matahari sampai ke bumi.Surat At-Takwir adalah surat makiyyah, surat yang diturunkan oleh Allah tatkala Nabi berada di fase mekah menghadapi orang musyrikin yang mengingkari tentang adanya hari kiamat dan hari kebangkitan. Dan matahari adalah makhluk besar yang setiap hari dilihat oleh orang-orang musyrikin. Karenanya Allah menjelaskan bahwa matahari yang selama ini terbit di sebelah timur kemudian terbenam di sebelah barat tidak akan selamanya demikan. Akan ada suatu saat dimana gerakan tersebut akan berubah.Ayat ini didukung dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :الشَّمْسُ وَالقَمَرُ مُكَوَّرَانِ يَوْمَ القِيَامَةِ“Matahari dan bulan dilipat pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 3200)Dalam bahasa Arab, makna dari At-takwir berputar pada 3 makna sebagaimana penafsiran para salaf.Yang pertama at-takwir artinyaجَمْعُ بَعْضِ الشَّيْءِ إِلَى بَعْضٍ“Dikumpulkan satu dengan yang lainnya”كَتَكْوِيرِ الْعِمَامَةِ، وَهُوَ لَفُّهَا عَلَى الرَّأْسِ seperti takwiir sorban, yaitu melipatnya dan menggulungnya di kepala.Makna kedua dari takwir adalahإِذَا ذَهَبَ ضَوْءُهَا dzahaba dhouuha“hilang cahayanya”ini diantara makna takwir yang disebutkan oleh para salaf dalam tafsir mereka. Dan makna ketiga dari takwir adalah إِذَا رُمِيَ بِهاَ yaitu dilemparkan. Sehingga kalimat tatkala matahari ditakwir, bisa diartikan dengan tatkala matahari dilipat, lalu dilemparkan, sehingga tatkala itu matahari hilang cahayanya. (lihat Tafsir At-Thobari 24/128-131)Para ulama telah menjelaskan bahwa tatkala kita belajar ilmu tafsir, kebanyakan perkataan-perkataan para salaf yang berbeda-beda dalam satu ayat bukanlah tafsir thadhadh (tafsir yang saling bertentangan), tetapi termasuk tafsir tanawu’ (tafsir yang beraneka ragam dan tidak saling bertentangan). Berbeda dengan perselisihan dalam masalah fiqih, perselisihan yang terdapat di dalam pembahasan fiqih kebanyakannya adalah bertentangan (kontradiktif), madzhab ini mengatakan demikian madzab itu mengatakan demikian. Madzhab yang satu mengatakan menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu sedangkan madhzab lain mengatakan membatalkan wudhu. Adapun dalam masalah tafsir, kebanyakan perselisihan yang terjadi bukanlah perselisihan yang saling kontradiktif tetapi perselisihan yang saling mendukung. Sebagaimana makna at-takwir kita dapati ada 3 tafsiran dari salaf, yang pertama dilipat, yang kedua hilang cahanya, dan yang ketiga dilemparkan. Apabila diteliti, masing-masing tafsiran tersebut mempunyai sandaran dalil baik ditinjau dari sisi bahasa atau adanya hadist-hadist Nabi yang mendukung tafsiran tersebut.Sehingga untuk mengompromikan tafsiran-tafsiran tersebut apabila dicermati kembali, secara bahasa takwir yaitu dilipat sebagaimana imaamah yang dilipat. Makna bahasanya bisa dipahami tetapi hakekat senyatanya bagaimana matahari dilipat –wallahu’alam– tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah bagaimana Allah mengumpulkan bagian yang satu dengan bagian yang lain. Kemudian setelah dilipat maka hilanglah cahayanya kemudian matahari tersebut dilemparkan ke dalam neraka jahannam. Sebagaimana apa yang terdapat dalam sebuah hadist yang shahih, Rasulullah bersabda :الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Matahari dan bulan seolah-olah seperti dua ekor banteng yang dilemparkan ke neraka di hari kiamat.” (HR. Thahawi dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Ad-Dho’ifah 1/242 no 124)Salah satu bukti luasnya neraka jahannam adalah Allah akan melemparkan matahari dan rembulan ke dalam neraka Jahannam. Diantara faidah Allah berbuat demikian kata para ulama adalah :Pertama; matahari tersebut sebagai bahan bakar di akhirat, danKedua; untuk menghinakan orang-orang yang menyembah matahari dan bulan. Orang-orang yang selama di dunia menyembah matahari dan bulan akan mendapati sesembahan mereka juga dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Hal ini tentu sangat menyedihkan mereka karena apa yang mereka sembah ternyata ikut di neraka bahkan ikut membakar mereka. (Lihat Syarh Musykil Al-Aatsaar 1/170 dan Fathul Baari 6/300)Hal ini sesuai dengan firman Allah :إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (98) لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ (99)Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya (QA Al-Anbiyaa’ : 98-99)Asy-Syingqithi berkata :هَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ جَمِيعَ الْمَعْبُودَاتِ مَعَ عَابِدِيهَا فِي النَّارِ“Ayat ini menunjukan bahwa seluruh sesembahan (selain Allah) bersama para penyembahnya di neraka” (Daf’u iihaam al-idththiroob ‘an Aayaatil Kitaab hal 156)Oleh karena itu ayat yang pertama ini memberi peringatan kepada kaum musyrikin yang setiap hari mereka menyaksikan matahari terbit dari sebelah timur terbenam di sebelah barat dan senantiasa bercahaya, kelak di akhirat akan semua itu akan hilang, cahayanya akan hilang dan matahari tersebut akan dilipat oleh Allah kemudian dilemparkan ke dalam neraka jahannam.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:2. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ“dan tatkala bintang-bintang berjatuhan”Apabila diteliti perkataan salaf terhadap tafsir انْكَدَرَتْ juga terbagi menjadi dua pendapat. Pertama انْكَدَرَتْ artinya تَنَاثَرَتْ “berserakan” atau تَسَاقَطَتْ “berjatuhan”, dan sebagian tafsiran yang lain bermakna تَغَيَّرَتْ yang artinya “berubah” yaitu hilang cahayanya (lihat Tafsir At-Thobari 24/132-133) Kedua tafsiran adalah tafsiran yang tidak bertentangan karena apabila bintang-bintang berjatuhan maka telah terjadi perubahan padanya dan hilang cahayanya.Al-Kalbi dan ‘Athoo’ berkata :تُمْطِرُ السَّمَاءُ يَوْمَئِذٍ نُجُومًا فَلَا يَبْقَى نَجْمٌ إِلَّا وَقَعَ“Pada hari itu langit menurunkan hujan bintang, maka tidak tersisa satu bintangpun kecuali jatuh (ke permukaan bumi)” (Tafsir Al-Baghowi 8/346)Kejadian ini juga merupakan perkara yang mengerikan yang terjadi pada hari kiamat. Kita saksikan di atas bintang-bintang yang begitu banyak yang mungkin jumlahnya berjuta–berjuta bahkan lebih. Seandainya sebuah meteor jatuh hal itu sudah menakutkan padahal meteor ukurannya kecil dibandingkan jika seandainya bintang yang sangat besar itu jatuh menimpa bumi ini. Lalu bagaimana jika bintang-bintang yang ada di langit semuanya berjatuhan. Sungguh itu adalah perkara yang mengerikan dan ini akan terjadi pada hari kiamat kelak.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:3. وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ“dan tatkala gunung-gunung dijalankan”Ada dua pendapat dalam ayat ini, pertamaقُلِعَتْ مِنَ الْأَرْضِ، وَسُيِّرَتْ فِي الْهَوَاءِyaitu dicabut dari pasaknya lalu dijadikan berjalan terbang di udara, dan keduaتَحَوُّلُهَا عَنْ مَنْزِلَةِ الْحِجَارَةِ، فَتَكُونُ كَثِيبًا مَهِيلًاyaitu dirubah dari batu yang kokoh menjadi debu yang berhamburan (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/228)Gunung-gunung yang kita saksikan begitu kokohnya, tegak, tegar, bahkan Allah mengatakan dalam Al Quran:وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ“Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan oleh Allah.” (QS Al-Ghasyiyah : 19)Sampai-sampai orang-orang menjadikan gunung sebagai perumpamaan seperti kalimat “orang itu tegar seperti gunung” yaitu kokoh seperti gunung. Akan tetapi ternyata gunung pada hari kiamat kelak akan terbang dijalankan oleh Allah. Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An–Naml : 88)Kondisi gunung-gunung dalam hari kiamat melalui beberapa tahapan. Yang pertama Allah akan mencabut gunung-gunung tersebut dari pasaknya kemudian Allah menerbangkannya. Allah berfirman :وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا“Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS An-Naba’ : 20)Setelah gunung-gunung tersebut diterbangkan, Allah akan menghancurkan gunung-gunung tersebut sehingga seakan-akan fatamorgana yang tadinya dilihat setelah itu menjadi hilang setelah Allah menghancurkannya. Allah berfirman:وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًاDan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya.” (QS Thaha : 105)Bumi akan rata menjadi lembah yang tidak ada kemiringan padanya. Gunung-gunung pun dihancurkan kemudian akan menjadi seperti debu yang beterbangan. Sebagaimana firman Allah:وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا (6)“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah ia seperti debu-debu yang beterbangan.” (QS Al-Waqi’ah : 5-6)Allah juga menggambarkannya dalam ayat yang lain. Allah berfirman:وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS Al-Qari’ah : 5)Seperti inilah kondisi gunung tatkala hari kiamat. Pertama Allah terbangkan, kemudian Allah menghancurkannya seperti debu yang tidak ada bekasnya. Kejadian seperti ini tentu saja akan menimbulkan ketakutan dan kengerian pada hari kiamat kelak ketika manusia menyaksikan bagaimana matahari dilipat, bintang-bintang berjatuhan, dan gunung-gunung diperjalankan kemudian dihancurkan oleh Allah.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:4. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ“dan tatkala unta-unta yang bunting ditinggalkan”Adalah jamak (kata plural) dari نَاقَةٌ عُشَرَاءُ yaitu unta betina yang hamil besar dimana usia kehamilannya sudah 10 bulan ke atas dan sebentar lagi akan melahirkan. Jadi ketika usia kandungan unta telah mencapai 10 bulan unta tersebut dinamakan عُشَرَاءُ , dan demikian terus namanya hingga melahirkan. Karena biasanya usia kandungan unta adalah 12 bulan dan terkadang bisa sampai 13 bulan. Unta yang sudah kandungannya sudah berusia 10 bulan lebih adalah harta yang berharga bagi orang-orang arab di zaman dahulu, karenanya Allah menggunakannya sebagai permisalan. Kalau unta ingin melahirkan, biasanya sang pemilik unta sudah mengetahuinya, maka sang pemilik unta akan mengawasi kapan untanya akan melahirkan. Bahkan terkadang perkara-perkara yang lain tidak dia perdulikan demi memperhatikan proses melahirkan unta tersebut.Pada hari kiamat kelak, jika ada orang yang mengurus unta maka dia akan meningalkan untanya (Lihat Tafsri Al-Qurthubi 19/229). Ini adalah gambaran bahwa pada hari kiamat kelak apabila ada harta yang paling dia cintai maka dia akan ketakutan dan tidak akan memperdulikan harta tersebut. Harta apapun yang sangat dia cintai akan dia tinggalkan pada hari kiamat karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:5. وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ“dan tatkala binatang-binatang liar dikumpulkan”Terkait makna حُشِرَتْ ada 2 pendapat di kalangan ulama ahli tafsir. Pertama artinya umitat yaitu dimatikan oleh Allah, dan kedua yaitu akan dikumpulkan.Hal ini sebagaimana firman Allah :وَما مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا طائِرٍ يَطِيرُ بِجَناحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثالُكُمْ مَا فَرَّطْنا فِي الْكِتابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَDan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan (QS Al-An’aam : 38)Allah juga berfirman :وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌDi antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya (QS Asy-Syuuroo : 29)Pada hakikatnya kedua pendapat ini tidak bertentangan, karena setelah hewan-hewan dikumpulkan kemudian diqisosoh lalu dikatakan kepadanya “Jadilah engkau pasir!”, sebagaimana yang telah lau dijelaskan dalam tafsir ayat terakhir dari surat An-Naba’. Akhirnya hewan-hewan tersebut pun sirna, sehingga yang tertinggal hanyala jin dan manusia yang akan kekal pada hari kiamat.الْوُحُوشُ adalah hewan-hewan yang liar. Secara umum hewan itu terbagi menjadi dua jenis. Ada hewan الأَلِيْفَة jinak yaitu hewan-hewan yang dekat dengan manusia seperti kambing, sapi. Ada hewan المُتَوَحِّشَةُ liar yaitu hewan-hewan yang tidak hidup dengan manusia seperti hewan-hewan yang liar dan sangar. Namun maksud ayat ini adalah seluruh hewan akan dikumpulkan, jangankan hewan yang jinak bahkan hewan yang liar dan buas juga akan dikumpulkan.Allah mengatakan bahwa pada hari kiamat hewan-hewan liar akan dikumpulkan. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa seluruh hewan-hewan liar termasuk yang sudah punah akan dibangkitkan oleh Allah dan akan dikumpulkan pada hari tersebut. Maka akan datang berbagai macam model hewan baik singa, macan, dan hewan-hewan liar lainnya. Semua akan dikumpulkan pada hari tersebut karena dahsyatnya hari tersebut.Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman:6. وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ“dan tatkala lautan dibakar”Ini juga merupakan perkara yang sangat mengerikan. Makna dari sisi bahasa الْبِحَارُ mencakup seluruh kumpulan air mencakup seperti lautan, selat, sungai, danau dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Allah berfirman :وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak bisa ditembus.” (QS Al-Furqan : 53)Sehingga terkadang sungai juga disebut الْبِحَارُ dalam bahasa arab. Dan kita tahu bahwa sungai terpisah dari lautan. Diantara keduanya ada penghalang sehingga tidak bercampur.Allah berfirman وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ yaitu “tatkala lautan di-tasjir”. Ini sama dengan firman Allah :وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ“Dan demi laut yang dinyalakan” (QS At-Thuur : 6)Terdapat khilaf tentang makna سُجِّرَتْ di kalangan para ahli tafsir. Ada yang mengatakan artinya أُوقِدَتْ “dinyalakan” dan ada yang mengartikan dengan مُلِئَتْ yaitu “penuh“ kemudian meluap keluar dari lautan (Tafsir At-Thobari 21/568).Kita tahu bahwa air laut di dunia ini menutupi lebih dari 2/3 permukaan bumi ini, lebih dari 70% isinya adalah air laut. Tanah yang kita pijak ini bagiannya kurang dari 30%. Kebanyakannya diisi oleh air dengan berbagai macam jenisnya, ada lautan, ada sungai, ada danau, ada selat, dan lainnya. Pada hari kiamat kelak Allah akan menjadikan air laut tersebut penuh lalu meluap dan kemudian terjadi banjir hebat sehingga para ulama mengatakan bahwa seluruh air akan bersatu. Yang tadinya Allah menjadikan barzakh yaitu adanya pemisah/pembeda antara air laut dan air sungai, maka Allah akan angkat mengangkat barzakh tersebut sehingga bercampurlah dan bersatu padu antara air asin dan air tawar.Mujahid berkataفُجِّرَ بَعْضُهَا فِي بَعْضٍ، الْعَذْبُ وَالْمِلْحُ، فَصَارَتِ الْبُحُورُ كُلُّهَا بَحْرًا وَاحِدًا“Meluap sehingga bercampur satu dengan yang lainnya, yang tawar dengan yang asin, maka jadilah seluruh lautan menjadi satu lautan” (Tafsir Al-Qurthubi 8/346-347)Ini jika kita bawakan makna سُجِّرَتْ dengan مُلِئَتْ “penuh“Adapun pendapat yang menyatakan سُجِّرَتْ yang lain kata para ulama adalah أُوقِدَتْ “dinyalakan” sehingga bermakna “tatkala air lautan dinyalakan oleh Allah”.Ibnu ‘Abbas berkata :أُوقِدَتْ فَصَارَتْ نَارًا تَضْطَرِمُ“Lautan dinyalakan hingga menjadi api yang bergejolak” (Tafsir al-Qurthubi 8/346)Dan sebagian salaf memaknakan سُجِّرَتْ dengan يَبِسَتْ “kering”. Qotadah berkata :ذَهَبَ مَاؤُهَا فَلَمْ يَبْقَ فِيهَا قَطْرَةٌ“Kering airnya hingga tidak tersisa meskipun hanya setetes” (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Apabila kita mengompromikan beberapa tafsiran ini maka kondisi air laut pertama kali tatkala terjadi hari kiamat yaitu air laut tersebut akan meluap kemudian meluber lalu bergabung antara air sungai dan air laut, antara air asin dan air tawar, kemudian Allah menyalakan air tersebut, Allah akan membakar air tersebut sehingga yang tadinya berupa lautan air menjadi lautan api. Setlah itu jadilah laut menjadi kering.Hanya Allah yang mengetahui bagaimana caranya lautan air dibakar. Allah mampu mengubah kondisi yang satu menjadi kondisi yang lain. Seperti apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim ketika Allah menjadikan api yang seharusnya membakar kemudian menjadi dingin dan penyelamat bagi Ibrahim. Allah berfirman :قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَKami berfirman, “Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiya : 69)Begitupun Allah juga mampu menjadikan air laut menjadi api yang menyala. Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa air dengan rumus H20 yang tersusun dari hidrogen dan oksigen Allah mampu melepaskan dua molekul tersebut kemudian membakar dua molekul tersebut sehingga menjadi lautan api. Hanya Allah yang mengetahui caranya yang jelas lautan air kelak akan menjadi lautan api, dan ini menambah kengerian dan kedahsyatan hari kiamat.Perkara-perkara yang terdapat pada 6 ayat di awal ini sebagaimana kata Ubay bin Ka’ab dan juga Ibnu ‘Abbas radiyallahu’anhumaa adalah perkara-perkara yang terjadi di dunia sebelum tiupan sangkakala yang kedua. Kita tahu bahwa hari kiamat terjadi dengan dua tiupan sangkakala. Allah berfirman:وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ“Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab).” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian 6 perkara berikutnya adalah perkara-perkara yang terjadi setelah ditiupkan sangkakala yang ke dua yaitu perkara-perkara yang terjadi di akhirat. Allah berfirman :7. وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ“dan tatkala jiwa-jiwa dipertemukan”Ada 3 tafisiran dikalangan salaf tentang makna ayat ini.Tafsiran pertama yang dimaksudkan dengan dipertemukan adalah jiwa itu dimasukkan ke dalam badannya kembali. Tadinya ruh dicabut kemudian diletakkan di alam barzakh sedangkan tubuhnya bisa jadi lapuk bersama tanah atau bisa jadi dimakan oleh binatang buas atau dimakan oleh ikan, namun pada hari tersebut ruh akan dikembalikan kepada tubuhnya semula. (Tafsir At-Thobari 24/144)Para ulama menyatakan bahwa kondisi keterkaitan antara ruh dan badan ada beberapa jenis. Tatkala seseorang masih hidup di atas muka bumi, maka yang paling dominan adalah jasad dibandingkan dengan ruh. Karenanya jika tertimpa sesuatu yang menyakitkan maka yang pertama kali akan merasakannya adalah jasad, begitupun jika ada sesuatu yang melezatkan maka yang pertama kali merasakannya adalah jasad. Meskipun ruh juga bisa terpengaruh dengan sakit atau kelezatan yang dialami jasad tetapi hubungan antara jasad dan ruh lebih kuat/dominan pada jasad dibandingkan dengan. Adapun ketika di alam barzakh maka ruh lebih dominan dibandingkan jasad, ruh menjadi sempurna sedangkan jasad mulai rusak, sehingga kalau seseorang dikuburkan maka ruh lah yang paling dominan. Ruh yang merasakan adzab dan kenikmatan. Meskipun jasadnya akan terpengaruh akan tetapi yang paling dominan adalah ruh dibandingkan jasad, dan jasad mengikuti ruuh. Namun di hari akhirat kelak antara ruh dan jasad sama-sama dominan sehingga adzab dan kenikmatan dirasakan oleh jasad dan ruh bersamaan. Hal ini karena ruh tersebut dikumpulkan kembali dengan jasadnya. (lihat hubungan antara ruuh dan Jasad di kitab-kitab berikut : Ar-Ruuh, Ibnul Qoyyim hal 43-44, Al-Ajwibah Al-Muhimmah, Ibnu Hajar hal 7-8, syarh al-‘Aqiidah at-Thohaawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi 2/578-579, dan penjelasan Asy-Syaikh Sholih Alu Syaikh terhadap al-Aqidah at-Thohawiyah)Tafsiran kedua yang dimaksud dengan dipertemukan adalah masing-masing orang dikumpulkan dengan yang sejalan dengannya. Orang kafir akan dikumpulkan dengan sesama orang kafir, orang munafik akan dikumpulkan dengan sesama orang munafik, orang yahudi akan dikumpulkan dengan sesama orang yahudi, orang nasrani akan dikumpulkan dengan orang nasrani, orang yang menyembah matahari akan dikumpulkan dengan sesama penyembah matahari, pezina dikumpulkan dengan sesama pezina, begitupun dengan orang beriman akan dikumpulkan dengan sesama orang beriman, orang bertakwa akan dikumpulkan dengan sesama orang bertakwa. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Al Qur’an :احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (QS Ash-Shaffat : 22)Allah juga berfirman dalam ayat yang lain :وَكُنتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11)“Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah).” (QS Al-Waqi’ah : 7-11)Oleh karena itu, masing-masing manusia pada hari kiamat nanti akan bergandengan bersama kelompoknya masing-masing. Orang musyrik akan berkumpul bersama orang musyrik, orang bertauhid akan berkumpul bersama orang bertauhid, dan seterusnya. Demikianlah Allah akan mengelompokkan mereka pada hari kiamat kelak.Tafsiran ketiga yaitu sebagaimana perkataan ‘Athoo’ :زُوِّجَتْ نُفُوسُ الْمُؤْمِنِينَ بِالْحُورِ الْعِينِ‘’jiwa-jiwa kaum mukminin dipertemukan (yaitu dinikahkan) dengan bidadari’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/347)Kemudian Allah berfirman :8. وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ“dan tatkala bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”Asal kata dari الْمَوْءُودَةُ adalah maknanya diberi beban berat, karena berasal dari kata kerja وَأَدَ, Ibnu Faris berkata :(وَأَدَ) الْوَاوُ وَالْهَمْزَةُ وَالدَّالُ: كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى إِثْقَالِ شَيْءٍ بِشَيْءٍ…وَالْمَوْءُودَةُ مِنْ هَذَا، لِأَنَّهَا تُدْفَنُ حَيَّةً، فَهِيَ تُثْقَلُ بِالتُّرَابِ الَّذِي يَعْلُوهَا‘’ وَأَدَ Huruf wawu, hamzah, dan daal adalah kata yang menunjukan makna memberatkan sesuatu dengan sesuatu… diantaranya adalah karena anak wanita itu dikubur hidup-hidup, maka anak wanita itu diberi beban berat yaitu tanah yang menutupinya’’ (Mu’jam Maqoosyiis al-Lughoh 6/78, lihat juga Tafsir al-Qurthubi 19/232)9. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ“atas dosa apa dia dibunuh?”Salah satu kebiasaan jahiliyah pada sebagian kabilah Arab (bukan semua orang arab), jika ada anak perempuan yang lahir maka mereka akan dikubur hidup-hidup, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an.وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)“Padahal, apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS An-Nahl : 58-59)Para ulama mengatakan bahwa ada dua sebab mengapa orang-orang arab jahiliyah dulu membunuh putri-putri mereka.Pertama, adalah karena mereka malu dengan kehinaan. Disebutkan bahwasanya pada zaman jahiliyyah telah terjadi peperangan antara dua kabilah. Kemudian putri sang pemimpin kabilah ditawan oleh kabilah yang lain. Akhirnya kabilah tersebut ingin menebus putrinya yang ditawan, namun ternyata putrinya yang ditawan itu lebih memilih tinggal dengan kabilah yang menawannya karena dia jatuh cinta dengan lelaki dari kabilah tersebut. Hal ini menjadikan orang tuanya malu dan marah karena merasa terhina. Dari peristiwa dia bersumpah apabila dia mempunyai anak perempuan lagi akan dia bunuh. Sehingga perbuatan tersebut menjadi adat kebiasaan, setiap ada anak perempuan yang dilahirkan akan dibunuh. Mereka tidak mau setiap kalah perang mereka ditawan oleh kabilah lain karena ini adalah penghinaan bagi mereka, apakah yang ditawan itu adalah putri mereka atau istri mereka. Perbuatan membunuh tersebut mereka lakukan boleh jadi tatkala anak perempuannya baru lahir atau sudah besar, apabila sudah besar anaknya tersebut dirias kemudian dibawa jalan-jalan lalu dibunuh dengan dimasukkan ke dalam sumur. Ini sebab pertama, yaitu malu karena merasa terhinakan.Kedua, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an. Allah berfirman :وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ“Dan jangan kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, Kamilah yang memberi rizki kepada dan kepada kalian.” (QS Al-Isra’ : 31)Sesungguhnya ini adalah kebiasaan yang sangat buruk, bagaimana seorang anak dibunuh tanpa dosa. Kalau membunuh orang lain adalah perbuatan yang sangat tercela maka bagaimana lagi dengan membunuh anak sendiri?. Anak perempuan yang biasanya lebih membutuhkan kelembutan dan kasih sayang daripada anak lelaki?Allah mengatakan bahwasanya yang ditanya kelak adalah bayi-bayi tersebut. Pada asalnya yang seharusnya bertanggung jawab adalah yang membunuh, dia lah seharusnya yang ditanya kenapa dia tega membunuh. Tetapi dalam ayat ini Allah mengatkan bahwasanya yang dibunuh lah yang ditanyai oleh Allah. Ini merupakan ungkapan dalam bahasa arab untuk mengejek atau menghinakan pelakunya sehingga bertanya kepada korban. Ini adalah penghinaan untuk orangtua yang telah membunuh putrinya tersebut.Ironisnya, zaman sekarang dijumpai adanya praktek pembunuhan anak-anak secara modern yaitu melakukan praktek aborsi (pengguguran), dan ini adalah bentuk pembunuhan terhadap anak. Perbuatan ini banyak dilakukan di negara-negara barat bahkan dijadikan muktamar-muktamar untuk menekan agama islam agar menerapkan aturan ini, bahwasanya seorang wanita bebas melakukan pengguguran. Mereka ingin wanita muslimah ikut rusak sebagaimana rusaknya wanita mereka karena bebas berhubungan dengan para wanitanya, jika hamil tinggal digugurkan saja. Perbuatan ini adalah bentuk jahiliyah yang sangat parah yaitu melakukan penggguguran terhadap anak-anak.Kemudian Allah berfirman:10. وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ“dan tatkala catatan-catatan amal dibuka lebar”Al-Qurthubi menjelaskan bahwa lembaran-lembaran catatan amal yang berada di tangan para malaikat ditutup tatkala seseorang meninggal dunia, dan tatkala hari kiamat dibuka kembali untuk dilihat olehnya hasil catatan amalnya selama hidupnya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/234)Hal ini sebagaimana firman Allahبَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَى صُحُفًا مُنَشَّرَةًBahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka (QS Al-Muddatstsir : 52)Al-Baghowi berkata :صَحَائِفَ الْأَعْمَالِ تُنْتَشَرُ لِلْحِسَابِ‘’Lembaran-lembaran catatan amal terbuka untuk dihisab (Tafsir Al-Baghowi 8/348)Pada hari kiamat kelak seluruh catatan amal yang pernah kita lakukan selama di dunia semua akan terbuka. Seluruh isi catatan amal tersebut berdasarkan amalan kita selama di dunia, kemudian dituliskan oleh malaikat. Sehingga hakekatnya yang mencatat catatan amal kita adalah kita sendiri. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengisi buku catatan-catatan amal kita dengan catatan buruk yang mana catatan-catatan tersebut akan dibuka oleh Allah pada hari kiamat kelak. Allah berfirman:وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا“Dan tiap–tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS Al-Isra’: 13)Bahkan kata para ulama, orang yang tidak bisa membaca akan bisa membaca dengan sendirinya pada hari tersebut. Di samping itu tidak perlu repot, catatan amal tersebut akan terbuka dengan sendirinya. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan akan ketakutan ketika mereka melihat catatan amal mereka.وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ (53)“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)Jangankan dosa besar seperti berzina atau meyentuh wanita yang bukan mahram, lirikan mata saja akan dicatat oleh Allah. Allah juga berfirman :يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS Al–Mu’min: 19)Apabila kita melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maka itu semua akan dicatat dengan detail dan tidak ada yang terluputkan oleh Allah. Seluruh ghibah yang kita lakukan, pandangan mata kita lakukan, kedzhaliman yang kita lakukan, uang haram yang kita makan, penghinaan ke orang lain yang kita lakukan, kedustaan yang kita lakukan, dan apapun yang kita lakukan maka semuanya akan tercatat pada catatan amalan tersebut.Kemudian Allah berfirman:11. وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ“dan tatkala langit dilenyapkan”At-Thobari berkata :وَإِذَا السَّمَاءُ نُزِعَتْ وَجُذِبَتْ، ثُمَّ طُوِيَتْ‘’Dan tatkala langit dicabut dan ditarik kemudian dilipat’’ (Tafsir At-Thobari 24/149)كُشِطَتْ diambil dari kata الْكَشْطُ yang dalam bahasa arab artinya adalah قَلْعٌ عَنْ شِدَّةِ الْتِزَاقٍ ‘’mencabut sesuatu yang sangat melengket’’. Al-Qurthubi berkataفَالسَّمَاءُ تُكْشَطُ كَمَا يُكْشَطُ الْجِلْدُ عَنِ الْكَبْشِ وَغَيْرُهُ‘’Maka langitpun dicabut sebagaimana kulit dicabut dari domba dan hewan lainnya’’ (Tafsir Al-Qurthubi 19/235)Kalau ada kambing atau unta yang disembelih, kemudian dikuliti, proses kulitnya dilepas itu disebut الْكَشْطُ. Jadi pada hari kiamat kelak Allah akan merobek langit tersebut seperti ditariknya kulit dari hewan. Kita saksikan sekarang langit yang begitu hebat, tidak ada satu bagian pun yang berlubang. Semuanya kokoh dibangun oleh Allah dengan tujuh lapis. Langit tesrebut lengket di angkasa begitu kuat, akan tetapi pada hari kiamat kelak semua langit akan dirobek oleh Allah. Adapun yang mengetahui hakikat proses pencabutan langit dari tempatnya adalah Allah semata, kita hanya mencoba memahami dari sisi bahasa.Kemudian Allah berfirman:12. وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ“dan tatkala neraka jahannam dinyalakan”.Allah berfirman tentang api neraka :فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ“Maka takutlah kalian kepada api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 24)Bayangkan bahan bakar api neraka adalah manusia dan batu bukan bensin, minyak tanah, dan lainnya. Bahan bakar yang berasal dari batu panasnya lebih pedih. Oleh karena itu, bahan bakar neraka jahannam adalah batu. Manusia disiksa dengan hal seperti itu sehingga dia terbakar dan akhirnya menjadi bahan bakar itu sendiri.Kemudian neraka jahannam itu sudah disiapkan untuk orang kafir. Karenanya diantara aqidah ahlussunnah bahwasanya neraka jahannam sudah ada begitupun surga juga sudah ada. Dan pada hari kiamat kelak neraka jahanam itu akan lebih dinyalakan apinya untuk menyambut penghuni neraka jahannam, sungguh mengerikan tamu-tamu tersebut.Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa neraka Jahannam yang sudah sangat panas tersebut ternyata dipanaskan lagi sehingga menjadi lebih panas. Ada yang menyatakan bahwa dipanaskan lagi karena kemurkaan Allah dan juga karena dosa-dosa bani Adam (lihat Tafsiir At-Thobari 24/150)Kemudian Allah berfirman:13. وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ“dan tatkala surga didekatkan”Ini adalah kemulian yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Seandainya jarak surga dengan kita adalah sejuta km atau lebih dari itu, niscaya seseorang akan sabar menempuh jarak sejauh itu jika diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang luar biasa yang ada di di surga, kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik di hati. Apapun kenikmatan yang dihasratkan dan dipinta maka Allah langsung menyediakannya di surga, niscaya sejauh apapun surga itu pasti seseorang akan sabar berjalan untuk meraihnya.Tetapi khusus bagi orang yang beriman maka Allah muliakan mereka dengan mendekatkan surga kepada mereka. Al-Hasan Al-Bashri berpendapat bukan surga yang didekatkan dari posisinya akan tetapi orang-orang berimanlah yang didekatkan kepada surga (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/235). Pada hakikatnya sama saja apakah surga yang didekatkan kepada orang-orang beriman atau sebaliknya orang-orang beriman yang didekatkan kepada surga hasilnya sama surga menjadi dekat dengan orang-orang beriman.Kemudian Allah berfirman:14. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ“setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan”Setelah Allah menyebutkan sumpah-sumpah hingga 12 sumpah, kemudian Allah menjelaskan bahwa tujuan dari sumpah-sumpah tersebut adalah untuk menekankan dan memastikan bahwa ‘’setiap jiwa mengetahui apa yang telah dia kerjakan selama dia di dunia’’ berupa amal baik dan amal keburukan. Bisa jadi dengan melihat isi catatan amal, atau amal-amalannya datang dalam bentuk tertentu yang menunjukan akan amalannya (lihat Fathul Qodiir 5/472). Jadi ayat ini merupakan جَوَابُ الْقَسَمِ (jawaban sumpah) dari 12 sumpah yang sebelumnya.Setelah Allah berbicara tentang hari kiamat, pembahasan berpindah tentang penjelasan Allah akan Rasulullah. Seakan-akan Allah menyatakan kepada orang-orang musyrikin, “Wahai orang-orang musyrikin, kalian heran dengan kejadian-kejadian di hari kiamat tersebut. Padahal kabar tersebut datang dari Muhammad melalui malaikat jibril yang asalnya dari Allah.”Karena kita tahu bahwasanya orang-orang musyrikin arab mereka beriman kepada Allah, hanya saja mereka kafir kepada Muhammad. Mereka beriman kepada Allah sebagai tuhan mereka namun mereka tidak percaya Muhammad sebagai utusan untuk mereka. Sehingga tatkala Rasulullah membacakan surat at-takwir tentang dahsyatnya hari kiamat, mungkin akan muncul dalam hati mereka bahwasanya berita-berita tersebut hanyalah omong kosong belaka. Oleh karena itu, untuk menjelaskan bahwasanya perkara-perkara yang dikabarkan Rasulullah tersebut adalah berita yang benar datang dari Allah melalui Jibril ‘alaihis salam maka Allah bersumpah dengan beberapa ayat berikut. Allah berfirman :15. فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ“sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang bercahaya”16. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ“yang beredar (di malam hari) dan terbenam (di siang hari)”17. وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ“dan malam apabila telah larut”Terkait makna عَسْعَسَ dalam bahasa arab artinya أَدْبَرَ (pergi) atau أَقْبَلَ (datang). Sehingga bisa mengandung 2 makna, malam tatkala ia datang atau malam tatkala ia pergi. Tetapi apabila kita melihat ayat selanjutnya Allah mengatakan, وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ “tatkala subuh mulai menyingsing sinarnya” yaitu menyingsing dengan perginya malam, berarti ayat sebelumnya menunjukan tentang datangnya malam, sehingga makna عَسْعَسَ yang lebih rajih adalah tatkala أَقْبَلَ (malam tatkala ia datang). Karena jika diartikan dengan perginya malam maka akan terjadi perulangan, karena perginya malam sama halnya dengan menyingsingnya sinar subuh.18. وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ“dan demi subuh yang apabila fajarnya mulai menyingsing”Apabila Allah bersumpah dengan makhluk-makhluknya maka itu bukan merupakan celaan bagi Allah karena terserah Allah ingin bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dengan makhluknya. Adapun kita sebagai manusia tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah, barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah berbuat kesyirikan. Rasulullah bersabda:مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Abu Daud no. 2829, At-Tirmizi no. 1535, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6204)Sehingga tidak boleh seseorang bersumpah selain dengan nama Allah. Adapun Allah bebas bersumpah dengan makhluk-makhluknya. Diantaranya Allah bersumpah dengan bintang sebagaimana pada ayat ini.Allah bersumpah karena ingin menyampaikan bahwa Al Qur’an itu adalah firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia yaitu jibril. Allah berfirman:19. إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ“sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)”20. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ“yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tingga di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy”Jibril adalah malaikat luar biasa yang merupakan penghulu para malaikat. Allah mengatakan bahwa Jibril adalah malaikat yang kuat, yang kuat disisi pemilik ‘Arsy yaitu Allah, dan dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah.Menurut al-Imam Al-Baghowi diantara kekuatan Jibril adalah Jibril ‘alaihis salam hanya menggunakan sayapnya tatkala mengangkat negeri kaum Luuth ke angkasa lalu dibalik dan dilemparkan ke bawah, demikian juga dengan teriakan suaranya maka jadilah kaum Tsamuud tewas menjadi mayat-mayat yang terhamparkan, dan begitu cepatnya Jibril bergerak dari langit ke bumi dan dari bumi ke langit. (Lihat Tafsir Al-Baghowi 8/350)Kemudian Allah kembali memuji Jibril ‘alaihis salam dengan berfirman:21. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ“yang disana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya”Jibril punya banyak anak buah yang menaatinya. Malaikat-malaikat langit patuh kepada Jibril atas perintah Allah. Malaikat jibril adalah malaikat yang terpercaya. Malaikat Jibril membawa pesan dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad dalam keadaan terpercaya.Kemudian Allah berfirman tentang Nabi Muhammad:22. وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ“dan sahabat kalian (Muhammad) itu bukanlah orang gila”Allah mengatakan صَاحِبُكُمْ yaitu sahabat-sahabat kalian wahai orang musyrikin. Allah memakai ungkapan tersebut karena Nabi Muhamamad dikenal baik oleh orang-orang musyrikin. Nabi Muhammad sebelum mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang menjadi Nabi, beliau dijuluki oleh orang-orang musyrikin sebagai Ash-Shodiqul Amin (orang yang jujur lagi terpercaya). Namun tatkala Nabi Muhammad memproklamirkan dirinya adalah seorang Nabi, beliau kemudian dituduh dengan tuduhan yang tidak-tidak diantaranya dikatakan sebagai orang gila, dukun, atau penyihir. Sehingga seakan-akan Allah bertanya, “Bukankah kalian tahu bahwa sahabat kalian Muhammad bukanlah orang gila?”Kemudian Allah berfirman:23. وَلَقَدْ رَآَهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ“dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang”Dalam sebuah hadist yang shahih Nabi melihat malaikat Jibril ketika Jibril di cakrawala diantara langit dan bumi. Malaikat Jibril membentangkan sayapnya yang berjumlah 600 sayap dan menutup seluruh ufuk alam semesta. Inilah bentuk asli dari malaikat Jibril, tidak ada ufuk yang terlihat karena seluruhnya tertutupi oleh malaikat jibril.Allah bermaksud menjelaskan bahwasanya berita yang Allah sampaikan tentang dahsyatnya hari kiamat itu melalui Nabi Muhammad, Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Malaikat Jibril dan Malaikat Jibril mengambil berita tersebut dari Allah, sehingga jalur sanadnya ada dan valid. Jadi jangan diragukan akan kedahsyatan hari kiamat, karena berita itu datang dari Muhammad yang jujur dan tidak gila yang bertemu langsung dengan malaikat Jibril yang amanah dan terpercaya yang mengambil langsung dari Allah.Kemudian Allah berfirman:24. وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ“dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil (pelit) untuk menerangkan yang ghaib”Dhonin ada 2 ada qiroah, pertama بِضَنِينٍ bidhonin dengan huruf ضَ dan بِظَنِيْنٍ bizhonin dengan huruf ظَ. Dhonin artinya bakhil (pelit) adapun zhonin artinya tertuduh. Jadi, Muhammad bukanlah orang yang bakhil dan Muhammad bukanlah orang yang tertuduh dalam menyampaikan wahyu. Artinya tidak ada wahyu yang disembunyikan oleh Rasulullah. Seseorang yang bakhil menandakan ada sesuatu yang dia sembunyikan, tetapi Rasulullah tidak bakhil dan dia tidak tertuduh, tetapi dia adalah seorang yang amanah. Oleh karena itu seluruh wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah dari Allah sudah disampaikan kepada kita.25. وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ“dan (Al-Quran) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk”Apa yang disampaikan oleh Muhammad bukanlah merupakan perkataan syaitan sebagaimana persangkaan orang-orang musyrik yang menuduh bahwasanya Muhammad adalah penyihir. Muhammad punya teman syaitan yang mewahyukan kepada beliau tentang ayat-ayat Al Quran. Sesungguhnya tuduhan tersebut adalah yang tidak benar, padahal mereka bisa dengan sendirinya membedakan mana perkataan yang benar atau perkataan syaitan.Kemudian Allah berfirman:26. فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ“maka kemanakah kalian akan pergi”Kemanakah kalian berpaling meninggalkan al-Qur’an ini?, sementara al-Qur’an adalah obat dan petunjuk bagi kalian. Jalan mana lagi yang hendak kalian tempuh yang lebih jelas daripada jalan al-Qur’an ini?27. إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ“(Al Quran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam semesta”28. لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ“(yaitu) bagi siapa diantara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus”29. وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali sesuai kehendak Allah, Tuhan seluruh alam”Yaitu kalian tidak akan bias istiqomah di jalan yang benar kecuali atas kehendak Allah juga.Allah berfirman :وَلَوْ أَنَّنا نَزَّلْنا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتى وَحَشَرْنا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشاءَ اللَّهُKalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki (QS Al-An’aam : 111)وَما كانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِDan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah (QS Yunus : 100)إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُSesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS Al-Qosos : 56)Al-Baghowi berkata :إِعْلَامٌ أَنَّ أَحَدًا لَا يَعْمَلُ خَيْرًا إِلَّا بِتَوْفِيقِ اللَّهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا بِخِذْلَانِهِ‘’Ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwasanya tidak seorangpun yang mengerjakan kebaikan kecuali atas taufiq/bimbingan dari Allah, dan tidak seorangpun mengerjakan keburukan kecuali karena Allah meninggalkannya (tidak memberi taufiq kepadanya)’’ (Tafsir Al-Baghowi 8/351)

Khutbah Jumat: Allah Maha Ganjil

Khutbah Jumat : Allah Maha GanjilKhutbah Pertamaإن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أما بعد.فإن خير الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدي هديُ محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.معاشر المسلمين، أًوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقونSesungguhnya di antara ilmu yang sangat bermanfaat, dapat menambah ketakwaan, dapat menambah kecintaan, dapat menambah rasa takut, dan dapat menambah bentuk pengagungan seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifatNya. Oleh karenanya hampir dalam setiap lembar Alquran Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan nama-nama dan sifatNya agar para hamba selalu mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subahanahu wa ta’ala telah berfirman,وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180)“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terindah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)Di antara nama-nama Allah yang terindah adalah الوتر (Al-Witr), yaitu Allah Maha Ganjil. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam sahih mereka berdua, ,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga, dan Dia adalah witir (Maha Ganjil) dan menyukai yang ganjil.” (HR. Bukhari 8/87 no. 6410 dan HR. Muslim no. 2677, dengan lafadz Imam Muslim)Adapun yang dimaksud dengan الوتر adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Abul Abbas Al-Qurthubi rahimahullah,أَنَّ الْوِتْرَ يُرَادُ بِهِ التَّوْحِيدُ فَيَكُونُ الْمَعْنَى أَنَّ اللَّهَ فِي ذَاتِهِ وَكَمَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَاحِدٌ وَيُحِبُّ التَّوْحِيدَ} فتح الباري لابن حجر (11/ 227{(“Sesungguhnya yang dimaksud Al-Witr (Maha Ganjil) adalah tauhid. Maknanya adalah ‘Sesungguhnya Allah pada DzatNya, pada kesempurnaanNya, dan perbuatanNya adalah Maha Esa. Dan Allah mencintai Tauhid’.” (Fathul Baari 11/227)Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak genap, melainkan Allah itu ganjil. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)“Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak.” (QS. Al-Jin : 3)Ayat ini membuktikan bahwa Allah itu ganjil. Jika sekiranya Allah memiliki istri, maka Allah adalah genap. Dan jika Allah memiliki anak maka akan ada yang menyamai Allah, dan Allah tidak menjadi ganjil tatkala itu. Oleh karenanya dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (74)“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 74)فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)“Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)Dalam ayat-ayat ini Allah melarang seseorang mengadakan tandingan-tandingan atau sekutu bagi Allah, yang tandingan-tandingan tersebut akan menghilangkan ke-Maha Ganjilan Allah Subhanahu wa ta’ala. Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65)“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam : 65)Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga dengan tegas berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. (QS. Al-Ikhlas : 1-4)Maka demi untuk menyempurnakan makna Maha Ganjil bagi Allah, maka Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan seluruh makhluk secara berpasang-pasanggan yang artinya mereka adalah genap. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (49)“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 49)سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ (36)“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin : 36)Oleh karenanya kita ketahui bahwa Allah menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi, surga dan neraka, laki-laki dan wanita, jantan dan betina, atas dan bawah, api dan air, Jibril dan Syaithan, Nabi Musa ‘alaihissalam dan Fir’aun. Ini semua menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala berpasang-pasangan dan agar manusia tahu bahwa yang Maha Ganjil hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala.أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من ذنب وخطيئة فأستغفره إنه هو الغفور الرحيمKhutbah Keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، أللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانهمعاشر المسلمين،Di antara hikmah Allah Subahanahu wa ta’ala mensyariatkan banyak perkara dengan bilangan ganjil adalah agar para hamba senantiasa ingat kepada Allah yang Maha Ganjil (Maha Esa). Sehingga para hamba kemudian menyadari bahwa Allah adalah Dzat yang tidak pantas untuk disyirikkan, diduakan, atau bahkan digenapkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، أَوْتِرُوا، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ} سنن أبي داود (2/ 61{(“Wahai ahli Alquran, shalat witirlah kalian karena Allah adalah Dzat yang Maha Tunggal dan menyukai sesuatu yang ganjil.” (HR. Abu Daud 2/61 no. 1416)Oleh karenanya Allah mensyaritkan banyak perkara-perkara dengan bilangan ganjil. Di antaranya adalah syariat tawaf dan sa’i sebanyak tujuh putaran. Kemudian juga disyariatkan untuk memakan kurma sebanyak tujuh butir di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ} صحيح البخاري (7/ 138{(“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir.” (HR. Bukhari 7/138 no. 5769)مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ} صحيح البخاري (1/ 43{(“Barangsiapa berwudhu hendaklah mengeluarkan (air dari hidung), dan barangsiapa beristinja’ dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil.” (HR. Bukhari no. 161)Demikian pula syariat dalam mengkafankan jenazah, yaitu disyariatkan mengkafankan dengan bilangan ganjil. Masih banyak hal-hal lain yang disyariatkan dengan bilangan ganjil. Hal tersebut tidak lain agar kita selalu ingat akan tauhid kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.Ketika الوتر telah menjadi salah satu dari nama-nama Allah, maka di bolehkan bahkan dianjurkan (sunnah) untuk seseorang berdoa dengan menyebut nama Allah الوتر. Sebagaimana seseorang yang berdoa اللهم يا وتر (Ya Allah yang Maha Ganjil), kemudian dia menyebutkan hajatnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْاللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَارَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَأَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَسْرَفْنَا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ الْمُقَدِّمْ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Khutbah Jumat: Allah Maha Ganjil

Khutbah Jumat : Allah Maha GanjilKhutbah Pertamaإن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أما بعد.فإن خير الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدي هديُ محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.معاشر المسلمين، أًوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقونSesungguhnya di antara ilmu yang sangat bermanfaat, dapat menambah ketakwaan, dapat menambah kecintaan, dapat menambah rasa takut, dan dapat menambah bentuk pengagungan seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifatNya. Oleh karenanya hampir dalam setiap lembar Alquran Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan nama-nama dan sifatNya agar para hamba selalu mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subahanahu wa ta’ala telah berfirman,وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180)“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terindah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)Di antara nama-nama Allah yang terindah adalah الوتر (Al-Witr), yaitu Allah Maha Ganjil. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam sahih mereka berdua, ,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga, dan Dia adalah witir (Maha Ganjil) dan menyukai yang ganjil.” (HR. Bukhari 8/87 no. 6410 dan HR. Muslim no. 2677, dengan lafadz Imam Muslim)Adapun yang dimaksud dengan الوتر adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Abul Abbas Al-Qurthubi rahimahullah,أَنَّ الْوِتْرَ يُرَادُ بِهِ التَّوْحِيدُ فَيَكُونُ الْمَعْنَى أَنَّ اللَّهَ فِي ذَاتِهِ وَكَمَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَاحِدٌ وَيُحِبُّ التَّوْحِيدَ} فتح الباري لابن حجر (11/ 227{(“Sesungguhnya yang dimaksud Al-Witr (Maha Ganjil) adalah tauhid. Maknanya adalah ‘Sesungguhnya Allah pada DzatNya, pada kesempurnaanNya, dan perbuatanNya adalah Maha Esa. Dan Allah mencintai Tauhid’.” (Fathul Baari 11/227)Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak genap, melainkan Allah itu ganjil. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)“Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak.” (QS. Al-Jin : 3)Ayat ini membuktikan bahwa Allah itu ganjil. Jika sekiranya Allah memiliki istri, maka Allah adalah genap. Dan jika Allah memiliki anak maka akan ada yang menyamai Allah, dan Allah tidak menjadi ganjil tatkala itu. Oleh karenanya dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (74)“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 74)فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)“Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)Dalam ayat-ayat ini Allah melarang seseorang mengadakan tandingan-tandingan atau sekutu bagi Allah, yang tandingan-tandingan tersebut akan menghilangkan ke-Maha Ganjilan Allah Subhanahu wa ta’ala. Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65)“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam : 65)Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga dengan tegas berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. (QS. Al-Ikhlas : 1-4)Maka demi untuk menyempurnakan makna Maha Ganjil bagi Allah, maka Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan seluruh makhluk secara berpasang-pasanggan yang artinya mereka adalah genap. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (49)“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 49)سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ (36)“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin : 36)Oleh karenanya kita ketahui bahwa Allah menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi, surga dan neraka, laki-laki dan wanita, jantan dan betina, atas dan bawah, api dan air, Jibril dan Syaithan, Nabi Musa ‘alaihissalam dan Fir’aun. Ini semua menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala berpasang-pasangan dan agar manusia tahu bahwa yang Maha Ganjil hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala.أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من ذنب وخطيئة فأستغفره إنه هو الغفور الرحيمKhutbah Keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، أللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانهمعاشر المسلمين،Di antara hikmah Allah Subahanahu wa ta’ala mensyariatkan banyak perkara dengan bilangan ganjil adalah agar para hamba senantiasa ingat kepada Allah yang Maha Ganjil (Maha Esa). Sehingga para hamba kemudian menyadari bahwa Allah adalah Dzat yang tidak pantas untuk disyirikkan, diduakan, atau bahkan digenapkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، أَوْتِرُوا، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ} سنن أبي داود (2/ 61{(“Wahai ahli Alquran, shalat witirlah kalian karena Allah adalah Dzat yang Maha Tunggal dan menyukai sesuatu yang ganjil.” (HR. Abu Daud 2/61 no. 1416)Oleh karenanya Allah mensyaritkan banyak perkara-perkara dengan bilangan ganjil. Di antaranya adalah syariat tawaf dan sa’i sebanyak tujuh putaran. Kemudian juga disyariatkan untuk memakan kurma sebanyak tujuh butir di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ} صحيح البخاري (7/ 138{(“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir.” (HR. Bukhari 7/138 no. 5769)مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ} صحيح البخاري (1/ 43{(“Barangsiapa berwudhu hendaklah mengeluarkan (air dari hidung), dan barangsiapa beristinja’ dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil.” (HR. Bukhari no. 161)Demikian pula syariat dalam mengkafankan jenazah, yaitu disyariatkan mengkafankan dengan bilangan ganjil. Masih banyak hal-hal lain yang disyariatkan dengan bilangan ganjil. Hal tersebut tidak lain agar kita selalu ingat akan tauhid kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.Ketika الوتر telah menjadi salah satu dari nama-nama Allah, maka di bolehkan bahkan dianjurkan (sunnah) untuk seseorang berdoa dengan menyebut nama Allah الوتر. Sebagaimana seseorang yang berdoa اللهم يا وتر (Ya Allah yang Maha Ganjil), kemudian dia menyebutkan hajatnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْاللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَارَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَأَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَسْرَفْنَا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ الْمُقَدِّمْ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Khutbah Jumat : Allah Maha GanjilKhutbah Pertamaإن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أما بعد.فإن خير الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدي هديُ محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.معاشر المسلمين، أًوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقونSesungguhnya di antara ilmu yang sangat bermanfaat, dapat menambah ketakwaan, dapat menambah kecintaan, dapat menambah rasa takut, dan dapat menambah bentuk pengagungan seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifatNya. Oleh karenanya hampir dalam setiap lembar Alquran Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan nama-nama dan sifatNya agar para hamba selalu mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subahanahu wa ta’ala telah berfirman,وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180)“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terindah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)Di antara nama-nama Allah yang terindah adalah الوتر (Al-Witr), yaitu Allah Maha Ganjil. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam sahih mereka berdua, ,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga, dan Dia adalah witir (Maha Ganjil) dan menyukai yang ganjil.” (HR. Bukhari 8/87 no. 6410 dan HR. Muslim no. 2677, dengan lafadz Imam Muslim)Adapun yang dimaksud dengan الوتر adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Abul Abbas Al-Qurthubi rahimahullah,أَنَّ الْوِتْرَ يُرَادُ بِهِ التَّوْحِيدُ فَيَكُونُ الْمَعْنَى أَنَّ اللَّهَ فِي ذَاتِهِ وَكَمَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَاحِدٌ وَيُحِبُّ التَّوْحِيدَ} فتح الباري لابن حجر (11/ 227{(“Sesungguhnya yang dimaksud Al-Witr (Maha Ganjil) adalah tauhid. Maknanya adalah ‘Sesungguhnya Allah pada DzatNya, pada kesempurnaanNya, dan perbuatanNya adalah Maha Esa. Dan Allah mencintai Tauhid’.” (Fathul Baari 11/227)Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak genap, melainkan Allah itu ganjil. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)“Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak.” (QS. Al-Jin : 3)Ayat ini membuktikan bahwa Allah itu ganjil. Jika sekiranya Allah memiliki istri, maka Allah adalah genap. Dan jika Allah memiliki anak maka akan ada yang menyamai Allah, dan Allah tidak menjadi ganjil tatkala itu. Oleh karenanya dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (74)“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 74)فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)“Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)Dalam ayat-ayat ini Allah melarang seseorang mengadakan tandingan-tandingan atau sekutu bagi Allah, yang tandingan-tandingan tersebut akan menghilangkan ke-Maha Ganjilan Allah Subhanahu wa ta’ala. Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65)“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam : 65)Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga dengan tegas berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. (QS. Al-Ikhlas : 1-4)Maka demi untuk menyempurnakan makna Maha Ganjil bagi Allah, maka Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan seluruh makhluk secara berpasang-pasanggan yang artinya mereka adalah genap. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (49)“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 49)سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ (36)“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin : 36)Oleh karenanya kita ketahui bahwa Allah menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi, surga dan neraka, laki-laki dan wanita, jantan dan betina, atas dan bawah, api dan air, Jibril dan Syaithan, Nabi Musa ‘alaihissalam dan Fir’aun. Ini semua menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala berpasang-pasangan dan agar manusia tahu bahwa yang Maha Ganjil hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala.أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من ذنب وخطيئة فأستغفره إنه هو الغفور الرحيمKhutbah Keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، أللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانهمعاشر المسلمين،Di antara hikmah Allah Subahanahu wa ta’ala mensyariatkan banyak perkara dengan bilangan ganjil adalah agar para hamba senantiasa ingat kepada Allah yang Maha Ganjil (Maha Esa). Sehingga para hamba kemudian menyadari bahwa Allah adalah Dzat yang tidak pantas untuk disyirikkan, diduakan, atau bahkan digenapkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، أَوْتِرُوا، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ} سنن أبي داود (2/ 61{(“Wahai ahli Alquran, shalat witirlah kalian karena Allah adalah Dzat yang Maha Tunggal dan menyukai sesuatu yang ganjil.” (HR. Abu Daud 2/61 no. 1416)Oleh karenanya Allah mensyaritkan banyak perkara-perkara dengan bilangan ganjil. Di antaranya adalah syariat tawaf dan sa’i sebanyak tujuh putaran. Kemudian juga disyariatkan untuk memakan kurma sebanyak tujuh butir di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ} صحيح البخاري (7/ 138{(“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir.” (HR. Bukhari 7/138 no. 5769)مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ} صحيح البخاري (1/ 43{(“Barangsiapa berwudhu hendaklah mengeluarkan (air dari hidung), dan barangsiapa beristinja’ dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil.” (HR. Bukhari no. 161)Demikian pula syariat dalam mengkafankan jenazah, yaitu disyariatkan mengkafankan dengan bilangan ganjil. Masih banyak hal-hal lain yang disyariatkan dengan bilangan ganjil. Hal tersebut tidak lain agar kita selalu ingat akan tauhid kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.Ketika الوتر telah menjadi salah satu dari nama-nama Allah, maka di bolehkan bahkan dianjurkan (sunnah) untuk seseorang berdoa dengan menyebut nama Allah الوتر. Sebagaimana seseorang yang berdoa اللهم يا وتر (Ya Allah yang Maha Ganjil), kemudian dia menyebutkan hajatnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْاللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَارَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَأَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَسْرَفْنَا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ الْمُقَدِّمْ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


Khutbah Jumat : Allah Maha GanjilKhutbah Pertamaإن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستغفرُه، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًايَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أما بعد.فإن خير الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدي هديُ محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.معاشر المسلمين، أًوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقونSesungguhnya di antara ilmu yang sangat bermanfaat, dapat menambah ketakwaan, dapat menambah kecintaan, dapat menambah rasa takut, dan dapat menambah bentuk pengagungan seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifatNya. Oleh karenanya hampir dalam setiap lembar Alquran Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan nama-nama dan sifatNya agar para hamba selalu mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subahanahu wa ta’ala telah berfirman,وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180)“Dan Allah memiliki Asma’ul-Husna (nama-nama yang terindah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 180)Di antara nama-nama Allah yang terindah adalah الوتر (Al-Witr), yaitu Allah Maha Ganjil. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam sahih mereka berdua, ,عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga, dan Dia adalah witir (Maha Ganjil) dan menyukai yang ganjil.” (HR. Bukhari 8/87 no. 6410 dan HR. Muslim no. 2677, dengan lafadz Imam Muslim)Adapun yang dimaksud dengan الوتر adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Abul Abbas Al-Qurthubi rahimahullah,أَنَّ الْوِتْرَ يُرَادُ بِهِ التَّوْحِيدُ فَيَكُونُ الْمَعْنَى أَنَّ اللَّهَ فِي ذَاتِهِ وَكَمَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَاحِدٌ وَيُحِبُّ التَّوْحِيدَ} فتح الباري لابن حجر (11/ 227{(“Sesungguhnya yang dimaksud Al-Witr (Maha Ganjil) adalah tauhid. Maknanya adalah ‘Sesungguhnya Allah pada DzatNya, pada kesempurnaanNya, dan perbuatanNya adalah Maha Esa. Dan Allah mencintai Tauhid’.” (Fathul Baari 11/227)Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak genap, melainkan Allah itu ganjil. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)“Dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak.” (QS. Al-Jin : 3)Ayat ini membuktikan bahwa Allah itu ganjil. Jika sekiranya Allah memiliki istri, maka Allah adalah genap. Dan jika Allah memiliki anak maka akan ada yang menyamai Allah, dan Allah tidak menjadi ganjil tatkala itu. Oleh karenanya dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (74)“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl : 74)فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)“Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 22)Dalam ayat-ayat ini Allah melarang seseorang mengadakan tandingan-tandingan atau sekutu bagi Allah, yang tandingan-tandingan tersebut akan menghilangkan ke-Maha Ganjilan Allah Subhanahu wa ta’ala. Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65)“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam : 65)Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga dengan tegas berfirman,قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. (QS. Al-Ikhlas : 1-4)Maka demi untuk menyempurnakan makna Maha Ganjil bagi Allah, maka Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan seluruh makhluk secara berpasang-pasanggan yang artinya mereka adalah genap. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (49)“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 49)سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ (36)“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yasin : 36)Oleh karenanya kita ketahui bahwa Allah menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi, surga dan neraka, laki-laki dan wanita, jantan dan betina, atas dan bawah, api dan air, Jibril dan Syaithan, Nabi Musa ‘alaihissalam dan Fir’aun. Ini semua menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala berpasang-pasangan dan agar manusia tahu bahwa yang Maha Ganjil hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala.أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من ذنب وخطيئة فأستغفره إنه هو الغفور الرحيمKhutbah Keduaالحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، أللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانهمعاشر المسلمين،Di antara hikmah Allah Subahanahu wa ta’ala mensyariatkan banyak perkara dengan bilangan ganjil adalah agar para hamba senantiasa ingat kepada Allah yang Maha Ganjil (Maha Esa). Sehingga para hamba kemudian menyadari bahwa Allah adalah Dzat yang tidak pantas untuk disyirikkan, diduakan, atau bahkan digenapkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، أَوْتِرُوا، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ} سنن أبي داود (2/ 61{(“Wahai ahli Alquran, shalat witirlah kalian karena Allah adalah Dzat yang Maha Tunggal dan menyukai sesuatu yang ganjil.” (HR. Abu Daud 2/61 no. 1416)Oleh karenanya Allah mensyaritkan banyak perkara-perkara dengan bilangan ganjil. Di antaranya adalah syariat tawaf dan sa’i sebanyak tujuh putaran. Kemudian juga disyariatkan untuk memakan kurma sebanyak tujuh butir di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ اليَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ} صحيح البخاري (7/ 138{(“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir.” (HR. Bukhari 7/138 no. 5769)مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ} صحيح البخاري (1/ 43{(“Barangsiapa berwudhu hendaklah mengeluarkan (air dari hidung), dan barangsiapa beristinja’ dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil.” (HR. Bukhari no. 161)Demikian pula syariat dalam mengkafankan jenazah, yaitu disyariatkan mengkafankan dengan bilangan ganjil. Masih banyak hal-hal lain yang disyariatkan dengan bilangan ganjil. Hal tersebut tidak lain agar kita selalu ingat akan tauhid kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.Ketika الوتر telah menjadi salah satu dari nama-nama Allah, maka di bolehkan bahkan dianjurkan (sunnah) untuk seseorang berdoa dengan menyebut nama Allah الوتر. Sebagaimana seseorang yang berdoa اللهم يا وتر (Ya Allah yang Maha Ganjil), kemudian dia menyebutkan hajatnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًااللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْاللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَارَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَأَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَسْرَفْنَا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ الْمُقَدِّمْ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara? Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.Baca Juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas MembacaYahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaHamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut. Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, namun tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.Baca Juga: Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media SosialOleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 23 Syawwal 1440/27 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.OrIdCatatan kaki:Disarikan dari kitab Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 103-107.🔍 Sejarah Islam Syiah, Keraguan Hati Dalam Islam, Khasiat Daun Bidara Dalam Perubatan Islam, Logo Allah Dan Muhammad, Ayat Bersyukur Atas Nikmat Allah

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara? Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.Baca Juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas MembacaYahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaHamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut. Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, namun tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.Baca Juga: Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media SosialOleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 23 Syawwal 1440/27 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.OrIdCatatan kaki:Disarikan dari kitab Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 103-107.🔍 Sejarah Islam Syiah, Keraguan Hati Dalam Islam, Khasiat Daun Bidara Dalam Perubatan Islam, Logo Allah Dan Muhammad, Ayat Bersyukur Atas Nikmat Allah
An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara? Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.Baca Juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas MembacaYahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaHamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut. Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, namun tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.Baca Juga: Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media SosialOleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 23 Syawwal 1440/27 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.OrIdCatatan kaki:Disarikan dari kitab Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 103-107.🔍 Sejarah Islam Syiah, Keraguan Hati Dalam Islam, Khasiat Daun Bidara Dalam Perubatan Islam, Logo Allah Dan Muhammad, Ayat Bersyukur Atas Nikmat Allah


An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala berkata, اعلم أنه لكلّ مكلّف أن يحفظَ لسانَه عن جميع الكلام إلا كلاماً تظهرُ المصلحة فيه، ومتى استوى الكلامُ وتركُه في المصلحة، فالسنّة الإِمساك عنه، لأنه قد ينجرّ الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة، والسلامة لا يعدلُها شيء“Ketahuilah bahwa hendaknya setiap mukallaf menjaga lisannya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang memang tampak ada maslahat di dalamnya. Ketika sama saja nilai maslahat antara berbicara atau diam, maka yang dianjurkan adalah tidak berbicara (diam). Hal ini karena perkataan yang mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram, atau minimal (menyeret kepada perkataan) yang makruh. Bahkan inilah yang banyak terjadi, atau mayoritas keadaan demikian. Sedangkan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkaar, hal. 284)Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di SosmedNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976, shahih)Hendaknya setiap kita senantiasa menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Kita tidaklah berbicara kecuali dalam hal-hal yang memang kita berharap ada manfaat untuk agama (diin) kita. Ketika kita melihat bahwa suatu perkataan itu tidak bermanfaat, maka kita pun menahan diri dari berbicara (alias diam). Kalaupun itu bermanfaat, kita pun masih perlu merenungkan: apakah ada manfaat lain yang lebih besar yang akan hilang jika saya tetap berbicara? Sampai-sampai ulama terdahulu mengatakan bahwa jika kita ingin melihat isi hati seseorang, maka lihatlah ucapan yang keluar dari lisannya. Ucapan yang keluar dari lisan seseorang akan menunjukkan kepada kita kualitas isi hati seseorang, baik orang itu mau mengakui ataukah tidak. Jika yang keluar dari lisan dan komentarnya hanyalah ucapan-ucapan kotor, sumpah serapah, celaan, hinaan, makian, maka itulah cerminan kualitas isi hatinya.Baca Juga: Bahaya Kebiasaan: Banyak Komentar, Malas MembacaYahya bin Mu’adz rahimahullahu Ta’ala berkata,القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فأن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه“Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’, 10: 63)Sebagian orang bersikap ceroboh dengan tidak memperhatikan apa yang keluar dari lisan dan komentar-komentarnya. Padahal, bisa jadi ucapan lisan itu akan mencampakkan dia ke jurang neraka sejauh jarak timur dan barat. Contohnya, dalam hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ“Pada suatu ketika ada seseorang yang berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Siapa yang bersumpah dengan kesombongannya atas nama-Ku bahwasanya Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan telah menghapus amal perbuatanmu.” (HR. Muslim no. 2621)Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaHamba tersebut, yang rajin beribadah, hapuslah seluruh amalnya hanya karena satu kalimat atau satu ucapan yang ceroboh tersebut. Maka benarlah bahwa keselamatan itu adalah dengan menjaga lisan. Sahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu ‘anhu bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ“Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406, shahih)Betapa banyak kita ceroboh dalam memposting, berkomentar di sana sini, namun tulisan-tulisan itu berbuah penyesalan, kemudian kita pun harus sibuk klarifikasi sana-sini, sibuk mencari-cari alasan agar bisa dimaklumi, juga sibuk meminta maaf atas perasaan saudara dan teman yang terluka atas komentar dan ucapan kita. Sesuatu yang harusnya tidak terjadi ketika kita selalu menimbang dan berpikir atas setiap ucapan dan komentar yang hendak kita ucapkan dan tuliskan.Baca Juga: Bijak Menyikapi Kajian di YouTube dan Kajian LIVE di Media SosialOleh karena itu, ketika salah seorang sahabat datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ“Ajarkanlah (nasihatilah) aku dengan ringkas saja.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ“Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari. Dan kumpulkanlah rasa putus asa dari apa yang di miliki oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 4171, hadits hasan)Betapa banyak kita men-share dan menuliskan berita-berita yang tidak (atau belum) jelas kebenarannya, kemudian penyesalan itu datang ketika kita harus berurusan dengan pihak berwajib karena dampak buruk tulisan-tulisan kita di media sosial. Dan kemudian kita pun sibuk meminta maaf, sama persis dengan nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.Baca Juga:[Selesai]***@Rumah Lendah, 23 Syawwal 1440/27 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.OrIdCatatan kaki:Disarikan dari kitab Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani rahimahullahu Ta’ala, hal. 103-107.🔍 Sejarah Islam Syiah, Keraguan Hati Dalam Islam, Khasiat Daun Bidara Dalam Perubatan Islam, Logo Allah Dan Muhammad, Ayat Bersyukur Atas Nikmat Allah

Penilaian Bijak Syaikh Ibnu Utsaimin terhadap Sayyid Qutb

Inilah penilaian bijak Syaikh Ibnu Utsaimin tentang Sayyid Qutb. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Sayyid Qutb ia adalah seorang yang begitu tersohor di dunia Islam dengan pemikirannya. Sedangkan kalangan umat Islam berselisih dalam memberikan penilaian pada Sayyid Qutb, ada yang memberikan sanjungan positif dan ada yang mendiskreditkannya. Kami sangat berharap engkau bisa menjelaskan kepada kami penjelasan yang memuaskan mengenai hal ini. Lalu bagaimanakah sikap muslim yang tepat terhadap Sayyid Qutb karena pengaruh beliau besar sekali di dunia Islam. Beliau punya peninggalan-peninggalan berupa buku dan karya tulis. Kami sangat butuh sekali penjelasan dari Anda wahai Syaikh.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Pertama, barakallahu fiikum, aku tidak suka melihat perselisihan dan pertentangan pada pemuda muslim karena sibuk membicarakan satu orang, baik membicarakan Sayyid Qutb maupun yang lainnya. Yang baik adalah jika perdebatan itu terjadi ketika membahas hukum syar’i. Yang ada misalnya, kita melihat perkataan Sayyid Qutb, dan ada perkataan lainnya pula. Untuk hal ini, kita katakan apakah perkataan beliau itu benar dan batil. Lalu kita saring. Jika perkataan itu benar, kita terima. Jika perkataan itu batil, kita tolak. Adapun yang terjadi di kalangan pemuda saat ini, menjadikan pendapat Sayyid Qutb sebagai ajang perdebatan. Akhirnya ada yang mengambil pendapatnya dan ada yang menolaknya (bukan menerangkan mana yang benar dan mana yang salah, pen), ini jelas kesalahan yang fatal. Ingatlah bahwasanya Sayyid Qutb tidaklah maksum. Para ulama yang melebihi beliau juga sama halnya tidak maksum, sebagaimana pula yang berada di bawah beliau. Setiap orang diambil perkataannya dan ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perkataan beliau jelas diterima apa pun keadaannya. Oleh karena itu, kami melarang para pemuda yang menjadikan landasan dalam berdebat adalah karena perselisihan pada satu person, siapa pun itu. Karena jika perdebatan yang terjadi adalah pada person, maka bisa jadi kebenaran dibatalkan lantaran person, bisa jadi pula kebatilan terus dibela hanya karena faktor personal. Ini benar-benar berbahaya. Karena kalau ada yang sudah fanatik pada seseorang, lalu ada lagi yang lainnya fanatik pada person lain yang berseberangan, akhirnya yang dikatakan harus berbeda dengan musuhnya atau perkataan lainnya diselewengkan, atau melakukan hal semisal itu. Atau kadang yang saling bermusuhan ini akan saling membantah dan dianggap perkataan lainnya hanyalah kebatilan. Aku katakan bahwa janganlah sibuk membicarakan person. Jangan pula kita fanatik pada seseorang. Sekarang Sayyid Qutb sudah meninggal dunia. Ia sudah berpindah dari dunia tempatnya beramal ke negeri akhirat tempat pembalasan. Allah Ta’alanantinya yang akan menghisabnya. Sama halnya dengan ahli ilmu lainnya yang telah meninggal dunia demikian pula. Adapun yang benar, maka wajib diterima, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Sedangkan yang batil wajib ditolak, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Kalau ada kebatilan yang ditemukan dari tulisan, dari yang didengar, baik dari person ini dan lainnya, wajib untuk diingatkan (ditahdzir). Demikian nasihatku untuk saudara-saudaraku. Jangan sampai obrolan kita hanya seputar merekomendasikan dan mengkritik person tertentu saja. Adapun Sayyid Qutb, aku menilai sama dengan yang lainnya. Ada pendapatnya yang benar dan ada yang batil. Dan ingatlah tidak ada seorang pun yang maksum. Namun yang jelas peninggalan Sayyid Qutb tidaklah sama dengan peninggalan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Perbedaan keduanya bagaikan langit dan bumi. Sayyid Qutb hanyalah seorang sastrawan dan punya wawasan Islamiyah. Ia amat jauh berbeda dengan Syaikh Al-Albani yang punya banyak penilitian dan terkenal luas ilmunya. Oleh karena itu, aku memandang kebenaran itu diambil dari siapa saja, kebatilan juga ditolak dari siapa saja. Yang tidak baik—bahkan tidak boleh–untuk kita adalah kita menyibukkan diri dengan perdebatan dan perpecahan hanya gara-gara membahas person. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:264-265, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengenai Kitab Fi Zhilal Al-Qur’an Karya Sayyid Qutb   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Samahahatusy Syaikh, apa prinsip-prinsip akidah yang dianut oleh penulis kitab Fi Zhilal Al-Qur’an? Apakah buku tersebut bisa dijadikan rujukan untuk menafsirkan Al-Qur’an? Jawaban beliau adalah sebagai berikut: “Aku tidak memiliki hasrat untuk membaca buku tersebut. Aku yakin kitab-kitab tafsir yang terkenal semisal Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Tafsir Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dan Tafsir Al-Qurthubi memuat penjelasan yang jauh lebih baik dibandingkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Namun perlu diketahui bahwa dalam Tafsir Al-Qurthubi terdapat beberapa hadits yang lemah karena memang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam masalah hadits. Sehingga dalam tafsirnya, beliau membawakan hadits yang sahih, hasan, dan daif. Yang jelas buku-buku tafsir yang ada sudah mencukupi sehingga kita tidak membutuhkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya bukanlah buku tafsir. Oleh karena itu, penulisnya menamai bukunya dengan judul Fi Zhilal Al-Qur’anyang artinya dalam bayang-bayang Al-Qur’an. Dengan kata lain, buku tersebut tidak menyelami kedalaman Al-Qur’an. Oleh sebab itu, kita jumpai gaya bahasa penulisnya adalah gaya bahasa yang bersifat umum. Penulis menyampaikan isi ayat Al-Qur’an hanya secara global. Penulis sangat jarang sekali membahas makna mendalam yang terdapat dalam kata demi kata dalam Al-Qur’an. Di samping itu, dalam buku tersebut terdapat berbagai hal yang sangat berbahaya yang telah diingatkan oleh para ulama semisal Abdullah Ad-Duwaisy dan Al-Albani. Sejak lama aku mengetahui kritikan Al-Albani terhadap penafsiran Sayid Qutb untuk surat Al-Ikhlas ayat pertama. Kemudian kulihat sendiri penafsirannya untuk ayat tersebut. Ternyata penafsirannya adalah penafsiran yang sangat mengerikan. Tidak mungkin ada orang yang menyetujuinya kecuali orang yang menganut faham wahdah wujud (di alam semesta ini hanya ada satu yang wujud atau ada yaitu Allah). Demikian pula penafsiran Sayyid Qutb untuk sifat Allah istiwa atau berada di atas ‘Arsy. Dia menafsirkan istiwa’ dengan hegomoni dan menguasai. Ini adalah penafsiran yang serupa dengan penafsiran Mu’tazilah dan Asy’ariyyah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka. Mereka semua menafsirkan istawa‘ dengan istaula yang bermakna menguasai. Singkat kata, buku tersebut belum pernah kubaca secara tuntas. Meski demikian, aku tegaskan bahwa penulis buku tersebut telah meninggal dunia. Jika dia salah karena berijtihad niscaya Allah akan mengampuninya. Orang yang berijtihad dari umat ini jika benar akan mendapat dua pahala. Jika salah dalam berijtihad akan mendapat satu pahala. Akan tetapi, jika dia salah karena tidak sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran maka Allah-lah yang mengurusi perkaranya. Sedangkan untuk kita, sama sekali tidak boleh bagi kita untuk menjadikan prinsip beragama yang dianut seseorang atau buku tafsirnya sebagai pengikat hubungan di antara kita atau menjadikannya sebagai tolak ukur orang yang dicintai atau dibenci sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang pada zaman ini. Banyak orang yang memiliki prinsip jika ada orang yang menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah kekasih (baca:kawan) kita. Jika orang tersebut tidak menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah musuh (baca:lawan) kita. Ini adalah prinsip yang keliru. Kita berharap agar Allah mengampuni Sayid Qutb karena dia adalah bagian dari kaum muslimin yang bisa benar dan bisa salah. Kita tidak boleh membicarakan pendapatnya yang benar ataupun yang salah untuk dijadikan sebab permusuhan di antara kita. Buku-buku tafsir yang lain seribu kali lebih baik dari pada tafsir Sayid Qutb. Buku Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya juga bukan buku tafsir sebagaimana yang telah kusampaikan. Penulis hanya berputar di sekeliling makna ayat yang sesungguhnya dengan menggunakan kalimat-kalimat global. Di dalamnya juga terdapat berbagai kekeliruan yang sebagian di antaranya telah kusampaikan. Boleh jadi dalam buku tersebut terdapat kesalahan yang lebih banyak lagi. Karena memang aku belum menelusuri kesalahan-kesalahannya satu persatu. Hendaknya kaum muslimin berkata tentang dirinya, “Dia sebagaimana manusia yang lain, bisa salah dan bisa benar. Kita berharap agar dia mendapatkan ampunan terkait kesalahan yang dia miliki. Dia telah meninggal dunia. Kita juga tidak memiliki kewenangan sedikit pun tentang nasibnya di akherat”. Tentang buku tafsirnya, kunasehatkan kepada orang yang ingin mengetahui tafsir Al-Qur’an dengan benar agar membaca buku-buku tafsir yang lain yang lebih baik dari pada buku tersebut”. Link selengkapnya: https://ustadzaris.com/salafi-harus-anti-sayid-qutb Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan saat perjalanan ke Puncak Sriten Nglipar Gunungkidul, 1 Dzulqa’dah 1440 H (Kamis, 4 Juli 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbantahan ikhwanul muslimin kritikan sayyid qutb

Penilaian Bijak Syaikh Ibnu Utsaimin terhadap Sayyid Qutb

Inilah penilaian bijak Syaikh Ibnu Utsaimin tentang Sayyid Qutb. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Sayyid Qutb ia adalah seorang yang begitu tersohor di dunia Islam dengan pemikirannya. Sedangkan kalangan umat Islam berselisih dalam memberikan penilaian pada Sayyid Qutb, ada yang memberikan sanjungan positif dan ada yang mendiskreditkannya. Kami sangat berharap engkau bisa menjelaskan kepada kami penjelasan yang memuaskan mengenai hal ini. Lalu bagaimanakah sikap muslim yang tepat terhadap Sayyid Qutb karena pengaruh beliau besar sekali di dunia Islam. Beliau punya peninggalan-peninggalan berupa buku dan karya tulis. Kami sangat butuh sekali penjelasan dari Anda wahai Syaikh.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Pertama, barakallahu fiikum, aku tidak suka melihat perselisihan dan pertentangan pada pemuda muslim karena sibuk membicarakan satu orang, baik membicarakan Sayyid Qutb maupun yang lainnya. Yang baik adalah jika perdebatan itu terjadi ketika membahas hukum syar’i. Yang ada misalnya, kita melihat perkataan Sayyid Qutb, dan ada perkataan lainnya pula. Untuk hal ini, kita katakan apakah perkataan beliau itu benar dan batil. Lalu kita saring. Jika perkataan itu benar, kita terima. Jika perkataan itu batil, kita tolak. Adapun yang terjadi di kalangan pemuda saat ini, menjadikan pendapat Sayyid Qutb sebagai ajang perdebatan. Akhirnya ada yang mengambil pendapatnya dan ada yang menolaknya (bukan menerangkan mana yang benar dan mana yang salah, pen), ini jelas kesalahan yang fatal. Ingatlah bahwasanya Sayyid Qutb tidaklah maksum. Para ulama yang melebihi beliau juga sama halnya tidak maksum, sebagaimana pula yang berada di bawah beliau. Setiap orang diambil perkataannya dan ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perkataan beliau jelas diterima apa pun keadaannya. Oleh karena itu, kami melarang para pemuda yang menjadikan landasan dalam berdebat adalah karena perselisihan pada satu person, siapa pun itu. Karena jika perdebatan yang terjadi adalah pada person, maka bisa jadi kebenaran dibatalkan lantaran person, bisa jadi pula kebatilan terus dibela hanya karena faktor personal. Ini benar-benar berbahaya. Karena kalau ada yang sudah fanatik pada seseorang, lalu ada lagi yang lainnya fanatik pada person lain yang berseberangan, akhirnya yang dikatakan harus berbeda dengan musuhnya atau perkataan lainnya diselewengkan, atau melakukan hal semisal itu. Atau kadang yang saling bermusuhan ini akan saling membantah dan dianggap perkataan lainnya hanyalah kebatilan. Aku katakan bahwa janganlah sibuk membicarakan person. Jangan pula kita fanatik pada seseorang. Sekarang Sayyid Qutb sudah meninggal dunia. Ia sudah berpindah dari dunia tempatnya beramal ke negeri akhirat tempat pembalasan. Allah Ta’alanantinya yang akan menghisabnya. Sama halnya dengan ahli ilmu lainnya yang telah meninggal dunia demikian pula. Adapun yang benar, maka wajib diterima, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Sedangkan yang batil wajib ditolak, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Kalau ada kebatilan yang ditemukan dari tulisan, dari yang didengar, baik dari person ini dan lainnya, wajib untuk diingatkan (ditahdzir). Demikian nasihatku untuk saudara-saudaraku. Jangan sampai obrolan kita hanya seputar merekomendasikan dan mengkritik person tertentu saja. Adapun Sayyid Qutb, aku menilai sama dengan yang lainnya. Ada pendapatnya yang benar dan ada yang batil. Dan ingatlah tidak ada seorang pun yang maksum. Namun yang jelas peninggalan Sayyid Qutb tidaklah sama dengan peninggalan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Perbedaan keduanya bagaikan langit dan bumi. Sayyid Qutb hanyalah seorang sastrawan dan punya wawasan Islamiyah. Ia amat jauh berbeda dengan Syaikh Al-Albani yang punya banyak penilitian dan terkenal luas ilmunya. Oleh karena itu, aku memandang kebenaran itu diambil dari siapa saja, kebatilan juga ditolak dari siapa saja. Yang tidak baik—bahkan tidak boleh–untuk kita adalah kita menyibukkan diri dengan perdebatan dan perpecahan hanya gara-gara membahas person. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:264-265, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengenai Kitab Fi Zhilal Al-Qur’an Karya Sayyid Qutb   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Samahahatusy Syaikh, apa prinsip-prinsip akidah yang dianut oleh penulis kitab Fi Zhilal Al-Qur’an? Apakah buku tersebut bisa dijadikan rujukan untuk menafsirkan Al-Qur’an? Jawaban beliau adalah sebagai berikut: “Aku tidak memiliki hasrat untuk membaca buku tersebut. Aku yakin kitab-kitab tafsir yang terkenal semisal Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Tafsir Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dan Tafsir Al-Qurthubi memuat penjelasan yang jauh lebih baik dibandingkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Namun perlu diketahui bahwa dalam Tafsir Al-Qurthubi terdapat beberapa hadits yang lemah karena memang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam masalah hadits. Sehingga dalam tafsirnya, beliau membawakan hadits yang sahih, hasan, dan daif. Yang jelas buku-buku tafsir yang ada sudah mencukupi sehingga kita tidak membutuhkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya bukanlah buku tafsir. Oleh karena itu, penulisnya menamai bukunya dengan judul Fi Zhilal Al-Qur’anyang artinya dalam bayang-bayang Al-Qur’an. Dengan kata lain, buku tersebut tidak menyelami kedalaman Al-Qur’an. Oleh sebab itu, kita jumpai gaya bahasa penulisnya adalah gaya bahasa yang bersifat umum. Penulis menyampaikan isi ayat Al-Qur’an hanya secara global. Penulis sangat jarang sekali membahas makna mendalam yang terdapat dalam kata demi kata dalam Al-Qur’an. Di samping itu, dalam buku tersebut terdapat berbagai hal yang sangat berbahaya yang telah diingatkan oleh para ulama semisal Abdullah Ad-Duwaisy dan Al-Albani. Sejak lama aku mengetahui kritikan Al-Albani terhadap penafsiran Sayid Qutb untuk surat Al-Ikhlas ayat pertama. Kemudian kulihat sendiri penafsirannya untuk ayat tersebut. Ternyata penafsirannya adalah penafsiran yang sangat mengerikan. Tidak mungkin ada orang yang menyetujuinya kecuali orang yang menganut faham wahdah wujud (di alam semesta ini hanya ada satu yang wujud atau ada yaitu Allah). Demikian pula penafsiran Sayyid Qutb untuk sifat Allah istiwa atau berada di atas ‘Arsy. Dia menafsirkan istiwa’ dengan hegomoni dan menguasai. Ini adalah penafsiran yang serupa dengan penafsiran Mu’tazilah dan Asy’ariyyah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka. Mereka semua menafsirkan istawa‘ dengan istaula yang bermakna menguasai. Singkat kata, buku tersebut belum pernah kubaca secara tuntas. Meski demikian, aku tegaskan bahwa penulis buku tersebut telah meninggal dunia. Jika dia salah karena berijtihad niscaya Allah akan mengampuninya. Orang yang berijtihad dari umat ini jika benar akan mendapat dua pahala. Jika salah dalam berijtihad akan mendapat satu pahala. Akan tetapi, jika dia salah karena tidak sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran maka Allah-lah yang mengurusi perkaranya. Sedangkan untuk kita, sama sekali tidak boleh bagi kita untuk menjadikan prinsip beragama yang dianut seseorang atau buku tafsirnya sebagai pengikat hubungan di antara kita atau menjadikannya sebagai tolak ukur orang yang dicintai atau dibenci sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang pada zaman ini. Banyak orang yang memiliki prinsip jika ada orang yang menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah kekasih (baca:kawan) kita. Jika orang tersebut tidak menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah musuh (baca:lawan) kita. Ini adalah prinsip yang keliru. Kita berharap agar Allah mengampuni Sayid Qutb karena dia adalah bagian dari kaum muslimin yang bisa benar dan bisa salah. Kita tidak boleh membicarakan pendapatnya yang benar ataupun yang salah untuk dijadikan sebab permusuhan di antara kita. Buku-buku tafsir yang lain seribu kali lebih baik dari pada tafsir Sayid Qutb. Buku Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya juga bukan buku tafsir sebagaimana yang telah kusampaikan. Penulis hanya berputar di sekeliling makna ayat yang sesungguhnya dengan menggunakan kalimat-kalimat global. Di dalamnya juga terdapat berbagai kekeliruan yang sebagian di antaranya telah kusampaikan. Boleh jadi dalam buku tersebut terdapat kesalahan yang lebih banyak lagi. Karena memang aku belum menelusuri kesalahan-kesalahannya satu persatu. Hendaknya kaum muslimin berkata tentang dirinya, “Dia sebagaimana manusia yang lain, bisa salah dan bisa benar. Kita berharap agar dia mendapatkan ampunan terkait kesalahan yang dia miliki. Dia telah meninggal dunia. Kita juga tidak memiliki kewenangan sedikit pun tentang nasibnya di akherat”. Tentang buku tafsirnya, kunasehatkan kepada orang yang ingin mengetahui tafsir Al-Qur’an dengan benar agar membaca buku-buku tafsir yang lain yang lebih baik dari pada buku tersebut”. Link selengkapnya: https://ustadzaris.com/salafi-harus-anti-sayid-qutb Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan saat perjalanan ke Puncak Sriten Nglipar Gunungkidul, 1 Dzulqa’dah 1440 H (Kamis, 4 Juli 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbantahan ikhwanul muslimin kritikan sayyid qutb
Inilah penilaian bijak Syaikh Ibnu Utsaimin tentang Sayyid Qutb. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Sayyid Qutb ia adalah seorang yang begitu tersohor di dunia Islam dengan pemikirannya. Sedangkan kalangan umat Islam berselisih dalam memberikan penilaian pada Sayyid Qutb, ada yang memberikan sanjungan positif dan ada yang mendiskreditkannya. Kami sangat berharap engkau bisa menjelaskan kepada kami penjelasan yang memuaskan mengenai hal ini. Lalu bagaimanakah sikap muslim yang tepat terhadap Sayyid Qutb karena pengaruh beliau besar sekali di dunia Islam. Beliau punya peninggalan-peninggalan berupa buku dan karya tulis. Kami sangat butuh sekali penjelasan dari Anda wahai Syaikh.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Pertama, barakallahu fiikum, aku tidak suka melihat perselisihan dan pertentangan pada pemuda muslim karena sibuk membicarakan satu orang, baik membicarakan Sayyid Qutb maupun yang lainnya. Yang baik adalah jika perdebatan itu terjadi ketika membahas hukum syar’i. Yang ada misalnya, kita melihat perkataan Sayyid Qutb, dan ada perkataan lainnya pula. Untuk hal ini, kita katakan apakah perkataan beliau itu benar dan batil. Lalu kita saring. Jika perkataan itu benar, kita terima. Jika perkataan itu batil, kita tolak. Adapun yang terjadi di kalangan pemuda saat ini, menjadikan pendapat Sayyid Qutb sebagai ajang perdebatan. Akhirnya ada yang mengambil pendapatnya dan ada yang menolaknya (bukan menerangkan mana yang benar dan mana yang salah, pen), ini jelas kesalahan yang fatal. Ingatlah bahwasanya Sayyid Qutb tidaklah maksum. Para ulama yang melebihi beliau juga sama halnya tidak maksum, sebagaimana pula yang berada di bawah beliau. Setiap orang diambil perkataannya dan ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perkataan beliau jelas diterima apa pun keadaannya. Oleh karena itu, kami melarang para pemuda yang menjadikan landasan dalam berdebat adalah karena perselisihan pada satu person, siapa pun itu. Karena jika perdebatan yang terjadi adalah pada person, maka bisa jadi kebenaran dibatalkan lantaran person, bisa jadi pula kebatilan terus dibela hanya karena faktor personal. Ini benar-benar berbahaya. Karena kalau ada yang sudah fanatik pada seseorang, lalu ada lagi yang lainnya fanatik pada person lain yang berseberangan, akhirnya yang dikatakan harus berbeda dengan musuhnya atau perkataan lainnya diselewengkan, atau melakukan hal semisal itu. Atau kadang yang saling bermusuhan ini akan saling membantah dan dianggap perkataan lainnya hanyalah kebatilan. Aku katakan bahwa janganlah sibuk membicarakan person. Jangan pula kita fanatik pada seseorang. Sekarang Sayyid Qutb sudah meninggal dunia. Ia sudah berpindah dari dunia tempatnya beramal ke negeri akhirat tempat pembalasan. Allah Ta’alanantinya yang akan menghisabnya. Sama halnya dengan ahli ilmu lainnya yang telah meninggal dunia demikian pula. Adapun yang benar, maka wajib diterima, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Sedangkan yang batil wajib ditolak, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Kalau ada kebatilan yang ditemukan dari tulisan, dari yang didengar, baik dari person ini dan lainnya, wajib untuk diingatkan (ditahdzir). Demikian nasihatku untuk saudara-saudaraku. Jangan sampai obrolan kita hanya seputar merekomendasikan dan mengkritik person tertentu saja. Adapun Sayyid Qutb, aku menilai sama dengan yang lainnya. Ada pendapatnya yang benar dan ada yang batil. Dan ingatlah tidak ada seorang pun yang maksum. Namun yang jelas peninggalan Sayyid Qutb tidaklah sama dengan peninggalan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Perbedaan keduanya bagaikan langit dan bumi. Sayyid Qutb hanyalah seorang sastrawan dan punya wawasan Islamiyah. Ia amat jauh berbeda dengan Syaikh Al-Albani yang punya banyak penilitian dan terkenal luas ilmunya. Oleh karena itu, aku memandang kebenaran itu diambil dari siapa saja, kebatilan juga ditolak dari siapa saja. Yang tidak baik—bahkan tidak boleh–untuk kita adalah kita menyibukkan diri dengan perdebatan dan perpecahan hanya gara-gara membahas person. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:264-265, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengenai Kitab Fi Zhilal Al-Qur’an Karya Sayyid Qutb   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Samahahatusy Syaikh, apa prinsip-prinsip akidah yang dianut oleh penulis kitab Fi Zhilal Al-Qur’an? Apakah buku tersebut bisa dijadikan rujukan untuk menafsirkan Al-Qur’an? Jawaban beliau adalah sebagai berikut: “Aku tidak memiliki hasrat untuk membaca buku tersebut. Aku yakin kitab-kitab tafsir yang terkenal semisal Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Tafsir Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dan Tafsir Al-Qurthubi memuat penjelasan yang jauh lebih baik dibandingkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Namun perlu diketahui bahwa dalam Tafsir Al-Qurthubi terdapat beberapa hadits yang lemah karena memang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam masalah hadits. Sehingga dalam tafsirnya, beliau membawakan hadits yang sahih, hasan, dan daif. Yang jelas buku-buku tafsir yang ada sudah mencukupi sehingga kita tidak membutuhkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya bukanlah buku tafsir. Oleh karena itu, penulisnya menamai bukunya dengan judul Fi Zhilal Al-Qur’anyang artinya dalam bayang-bayang Al-Qur’an. Dengan kata lain, buku tersebut tidak menyelami kedalaman Al-Qur’an. Oleh sebab itu, kita jumpai gaya bahasa penulisnya adalah gaya bahasa yang bersifat umum. Penulis menyampaikan isi ayat Al-Qur’an hanya secara global. Penulis sangat jarang sekali membahas makna mendalam yang terdapat dalam kata demi kata dalam Al-Qur’an. Di samping itu, dalam buku tersebut terdapat berbagai hal yang sangat berbahaya yang telah diingatkan oleh para ulama semisal Abdullah Ad-Duwaisy dan Al-Albani. Sejak lama aku mengetahui kritikan Al-Albani terhadap penafsiran Sayid Qutb untuk surat Al-Ikhlas ayat pertama. Kemudian kulihat sendiri penafsirannya untuk ayat tersebut. Ternyata penafsirannya adalah penafsiran yang sangat mengerikan. Tidak mungkin ada orang yang menyetujuinya kecuali orang yang menganut faham wahdah wujud (di alam semesta ini hanya ada satu yang wujud atau ada yaitu Allah). Demikian pula penafsiran Sayyid Qutb untuk sifat Allah istiwa atau berada di atas ‘Arsy. Dia menafsirkan istiwa’ dengan hegomoni dan menguasai. Ini adalah penafsiran yang serupa dengan penafsiran Mu’tazilah dan Asy’ariyyah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka. Mereka semua menafsirkan istawa‘ dengan istaula yang bermakna menguasai. Singkat kata, buku tersebut belum pernah kubaca secara tuntas. Meski demikian, aku tegaskan bahwa penulis buku tersebut telah meninggal dunia. Jika dia salah karena berijtihad niscaya Allah akan mengampuninya. Orang yang berijtihad dari umat ini jika benar akan mendapat dua pahala. Jika salah dalam berijtihad akan mendapat satu pahala. Akan tetapi, jika dia salah karena tidak sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran maka Allah-lah yang mengurusi perkaranya. Sedangkan untuk kita, sama sekali tidak boleh bagi kita untuk menjadikan prinsip beragama yang dianut seseorang atau buku tafsirnya sebagai pengikat hubungan di antara kita atau menjadikannya sebagai tolak ukur orang yang dicintai atau dibenci sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang pada zaman ini. Banyak orang yang memiliki prinsip jika ada orang yang menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah kekasih (baca:kawan) kita. Jika orang tersebut tidak menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah musuh (baca:lawan) kita. Ini adalah prinsip yang keliru. Kita berharap agar Allah mengampuni Sayid Qutb karena dia adalah bagian dari kaum muslimin yang bisa benar dan bisa salah. Kita tidak boleh membicarakan pendapatnya yang benar ataupun yang salah untuk dijadikan sebab permusuhan di antara kita. Buku-buku tafsir yang lain seribu kali lebih baik dari pada tafsir Sayid Qutb. Buku Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya juga bukan buku tafsir sebagaimana yang telah kusampaikan. Penulis hanya berputar di sekeliling makna ayat yang sesungguhnya dengan menggunakan kalimat-kalimat global. Di dalamnya juga terdapat berbagai kekeliruan yang sebagian di antaranya telah kusampaikan. Boleh jadi dalam buku tersebut terdapat kesalahan yang lebih banyak lagi. Karena memang aku belum menelusuri kesalahan-kesalahannya satu persatu. Hendaknya kaum muslimin berkata tentang dirinya, “Dia sebagaimana manusia yang lain, bisa salah dan bisa benar. Kita berharap agar dia mendapatkan ampunan terkait kesalahan yang dia miliki. Dia telah meninggal dunia. Kita juga tidak memiliki kewenangan sedikit pun tentang nasibnya di akherat”. Tentang buku tafsirnya, kunasehatkan kepada orang yang ingin mengetahui tafsir Al-Qur’an dengan benar agar membaca buku-buku tafsir yang lain yang lebih baik dari pada buku tersebut”. Link selengkapnya: https://ustadzaris.com/salafi-harus-anti-sayid-qutb Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan saat perjalanan ke Puncak Sriten Nglipar Gunungkidul, 1 Dzulqa’dah 1440 H (Kamis, 4 Juli 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbantahan ikhwanul muslimin kritikan sayyid qutb


Inilah penilaian bijak Syaikh Ibnu Utsaimin tentang Sayyid Qutb. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Sayyid Qutb ia adalah seorang yang begitu tersohor di dunia Islam dengan pemikirannya. Sedangkan kalangan umat Islam berselisih dalam memberikan penilaian pada Sayyid Qutb, ada yang memberikan sanjungan positif dan ada yang mendiskreditkannya. Kami sangat berharap engkau bisa menjelaskan kepada kami penjelasan yang memuaskan mengenai hal ini. Lalu bagaimanakah sikap muslim yang tepat terhadap Sayyid Qutb karena pengaruh beliau besar sekali di dunia Islam. Beliau punya peninggalan-peninggalan berupa buku dan karya tulis. Kami sangat butuh sekali penjelasan dari Anda wahai Syaikh.” Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab, “Pertama, barakallahu fiikum, aku tidak suka melihat perselisihan dan pertentangan pada pemuda muslim karena sibuk membicarakan satu orang, baik membicarakan Sayyid Qutb maupun yang lainnya. Yang baik adalah jika perdebatan itu terjadi ketika membahas hukum syar’i. Yang ada misalnya, kita melihat perkataan Sayyid Qutb, dan ada perkataan lainnya pula. Untuk hal ini, kita katakan apakah perkataan beliau itu benar dan batil. Lalu kita saring. Jika perkataan itu benar, kita terima. Jika perkataan itu batil, kita tolak. Adapun yang terjadi di kalangan pemuda saat ini, menjadikan pendapat Sayyid Qutb sebagai ajang perdebatan. Akhirnya ada yang mengambil pendapatnya dan ada yang menolaknya (bukan menerangkan mana yang benar dan mana yang salah, pen), ini jelas kesalahan yang fatal. Ingatlah bahwasanya Sayyid Qutb tidaklah maksum. Para ulama yang melebihi beliau juga sama halnya tidak maksum, sebagaimana pula yang berada di bawah beliau. Setiap orang diambil perkataannya dan ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perkataan beliau jelas diterima apa pun keadaannya. Oleh karena itu, kami melarang para pemuda yang menjadikan landasan dalam berdebat adalah karena perselisihan pada satu person, siapa pun itu. Karena jika perdebatan yang terjadi adalah pada person, maka bisa jadi kebenaran dibatalkan lantaran person, bisa jadi pula kebatilan terus dibela hanya karena faktor personal. Ini benar-benar berbahaya. Karena kalau ada yang sudah fanatik pada seseorang, lalu ada lagi yang lainnya fanatik pada person lain yang berseberangan, akhirnya yang dikatakan harus berbeda dengan musuhnya atau perkataan lainnya diselewengkan, atau melakukan hal semisal itu. Atau kadang yang saling bermusuhan ini akan saling membantah dan dianggap perkataan lainnya hanyalah kebatilan. Aku katakan bahwa janganlah sibuk membicarakan person. Jangan pula kita fanatik pada seseorang. Sekarang Sayyid Qutb sudah meninggal dunia. Ia sudah berpindah dari dunia tempatnya beramal ke negeri akhirat tempat pembalasan. Allah Ta’alanantinya yang akan menghisabnya. Sama halnya dengan ahli ilmu lainnya yang telah meninggal dunia demikian pula. Adapun yang benar, maka wajib diterima, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Sedangkan yang batil wajib ditolak, baik yang datang dari Sayyid Qutb atau lainnya. Kalau ada kebatilan yang ditemukan dari tulisan, dari yang didengar, baik dari person ini dan lainnya, wajib untuk diingatkan (ditahdzir). Demikian nasihatku untuk saudara-saudaraku. Jangan sampai obrolan kita hanya seputar merekomendasikan dan mengkritik person tertentu saja. Adapun Sayyid Qutb, aku menilai sama dengan yang lainnya. Ada pendapatnya yang benar dan ada yang batil. Dan ingatlah tidak ada seorang pun yang maksum. Namun yang jelas peninggalan Sayyid Qutb tidaklah sama dengan peninggalan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Perbedaan keduanya bagaikan langit dan bumi. Sayyid Qutb hanyalah seorang sastrawan dan punya wawasan Islamiyah. Ia amat jauh berbeda dengan Syaikh Al-Albani yang punya banyak penilitian dan terkenal luas ilmunya. Oleh karena itu, aku memandang kebenaran itu diambil dari siapa saja, kebatilan juga ditolak dari siapa saja. Yang tidak baik—bahkan tidak boleh–untuk kita adalah kita menyibukkan diri dengan perdebatan dan perpecahan hanya gara-gara membahas person. (Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:264-265, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)   Pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengenai Kitab Fi Zhilal Al-Qur’an Karya Sayyid Qutb   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Samahahatusy Syaikh, apa prinsip-prinsip akidah yang dianut oleh penulis kitab Fi Zhilal Al-Qur’an? Apakah buku tersebut bisa dijadikan rujukan untuk menafsirkan Al-Qur’an? Jawaban beliau adalah sebagai berikut: “Aku tidak memiliki hasrat untuk membaca buku tersebut. Aku yakin kitab-kitab tafsir yang terkenal semisal Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Syaikh Abdurrahman bin Sa’di, Tafsir Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dan Tafsir Al-Qurthubi memuat penjelasan yang jauh lebih baik dibandingkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Namun perlu diketahui bahwa dalam Tafsir Al-Qurthubi terdapat beberapa hadits yang lemah karena memang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam masalah hadits. Sehingga dalam tafsirnya, beliau membawakan hadits yang sahih, hasan, dan daif. Yang jelas buku-buku tafsir yang ada sudah mencukupi sehingga kita tidak membutuhkan Fi Zhilal Al-Qur’an. Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya bukanlah buku tafsir. Oleh karena itu, penulisnya menamai bukunya dengan judul Fi Zhilal Al-Qur’anyang artinya dalam bayang-bayang Al-Qur’an. Dengan kata lain, buku tersebut tidak menyelami kedalaman Al-Qur’an. Oleh sebab itu, kita jumpai gaya bahasa penulisnya adalah gaya bahasa yang bersifat umum. Penulis menyampaikan isi ayat Al-Qur’an hanya secara global. Penulis sangat jarang sekali membahas makna mendalam yang terdapat dalam kata demi kata dalam Al-Qur’an. Di samping itu, dalam buku tersebut terdapat berbagai hal yang sangat berbahaya yang telah diingatkan oleh para ulama semisal Abdullah Ad-Duwaisy dan Al-Albani. Sejak lama aku mengetahui kritikan Al-Albani terhadap penafsiran Sayid Qutb untuk surat Al-Ikhlas ayat pertama. Kemudian kulihat sendiri penafsirannya untuk ayat tersebut. Ternyata penafsirannya adalah penafsiran yang sangat mengerikan. Tidak mungkin ada orang yang menyetujuinya kecuali orang yang menganut faham wahdah wujud (di alam semesta ini hanya ada satu yang wujud atau ada yaitu Allah). Demikian pula penafsiran Sayyid Qutb untuk sifat Allah istiwa atau berada di atas ‘Arsy. Dia menafsirkan istiwa’ dengan hegomoni dan menguasai. Ini adalah penafsiran yang serupa dengan penafsiran Mu’tazilah dan Asy’ariyyah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka. Mereka semua menafsirkan istawa‘ dengan istaula yang bermakna menguasai. Singkat kata, buku tersebut belum pernah kubaca secara tuntas. Meski demikian, aku tegaskan bahwa penulis buku tersebut telah meninggal dunia. Jika dia salah karena berijtihad niscaya Allah akan mengampuninya. Orang yang berijtihad dari umat ini jika benar akan mendapat dua pahala. Jika salah dalam berijtihad akan mendapat satu pahala. Akan tetapi, jika dia salah karena tidak sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran maka Allah-lah yang mengurusi perkaranya. Sedangkan untuk kita, sama sekali tidak boleh bagi kita untuk menjadikan prinsip beragama yang dianut seseorang atau buku tafsirnya sebagai pengikat hubungan di antara kita atau menjadikannya sebagai tolak ukur orang yang dicintai atau dibenci sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang pada zaman ini. Banyak orang yang memiliki prinsip jika ada orang yang menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah kekasih (baca:kawan) kita. Jika orang tersebut tidak menyanjung Sayid Qutb maka dia adalah musuh (baca:lawan) kita. Ini adalah prinsip yang keliru. Kita berharap agar Allah mengampuni Sayid Qutb karena dia adalah bagian dari kaum muslimin yang bisa benar dan bisa salah. Kita tidak boleh membicarakan pendapatnya yang benar ataupun yang salah untuk dijadikan sebab permusuhan di antara kita. Buku-buku tafsir yang lain seribu kali lebih baik dari pada tafsir Sayid Qutb. Buku Fi Zhilal Al-Qur’an sebenarnya juga bukan buku tafsir sebagaimana yang telah kusampaikan. Penulis hanya berputar di sekeliling makna ayat yang sesungguhnya dengan menggunakan kalimat-kalimat global. Di dalamnya juga terdapat berbagai kekeliruan yang sebagian di antaranya telah kusampaikan. Boleh jadi dalam buku tersebut terdapat kesalahan yang lebih banyak lagi. Karena memang aku belum menelusuri kesalahan-kesalahannya satu persatu. Hendaknya kaum muslimin berkata tentang dirinya, “Dia sebagaimana manusia yang lain, bisa salah dan bisa benar. Kita berharap agar dia mendapatkan ampunan terkait kesalahan yang dia miliki. Dia telah meninggal dunia. Kita juga tidak memiliki kewenangan sedikit pun tentang nasibnya di akherat”. Tentang buku tafsirnya, kunasehatkan kepada orang yang ingin mengetahui tafsir Al-Qur’an dengan benar agar membaca buku-buku tafsir yang lain yang lebih baik dari pada buku tersebut”. Link selengkapnya: https://ustadzaris.com/salafi-harus-anti-sayid-qutb Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan saat perjalanan ke Puncak Sriten Nglipar Gunungkidul, 1 Dzulqa’dah 1440 H (Kamis, 4 Juli 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbantahan ikhwanul muslimin kritikan sayyid qutb

Pembagian Surat dalam al-Quran

Pembagian Surat dalam al-Quran Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dilihat dari panjang pendeknya, surat dalam al-Quran dibagi menjadi 4: [1] Surat at-Thiwal Dari kata thawil (طويل) yang artinya panjang. Surat at-Thiwal adalah surat yang panjang-panjang. Jumlahnya ada 7, karena itu sering disebut dengan as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang). Meliputi: al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa, al-Maidah, al-An’am, al-A’raf, dan al-Anfal. [2] Surat al-Mi-in Dari kata Mi-ah (المائة) yang artinya angka seratus. Surat al-Mi-in berarti surat yang jumlah ayatnya kurang lebih seratus ayat. [3] Surat al-Matsani Dari kata tsanna (ثنَّى) yang artinya mengulang. Menurut keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Said bin Jubair, disebut demikian karena Allah banyak mengulang tentang kewajiban-kewajiban (al-Faraid), hukum-hukum syariat, kisah-kisah (al-Qashas), dan perumpamaan (al-Amtsal). Berdasarkan urutannya, surat al-Matsani adalah surat setelah al-Mi-in. [4] Surat al-Mufashal Dari kata al-Fashl (الفصل) yang artinya batas. Disebut al-Mufashal dari kata al-Fashl yang artinya sekat/pembatas. Sehingga dinamakan mufashal karena ayatnya pendek-pendek. Ada juga yang mengatakan, dinamakan Mufashal karena suratnya pendek-pendek, sehingga banyak pemisah basmalahnya. Kemudian, menurut pendapat yang kuat, dimulai dari surat Qaf hingga surat an-Nas. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/393). Dasar mengenai pembagian ini adalah hadis dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ “Aku diberi pengganti isi Taurat dengan as-Sab’u (7 surat panjang), dan aku diberi pengganti isi Zabur dengan surat al-Mi-in, dan aku diberi pengganti isi Injil dengan al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat al-Mufashal.” (HR. Ahmad 16982 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Al-Baihaqi menjelaskan hadis ini: والأشبه أن يكون المراد بـ (السبع) في هذا الحديث (السبع الطول) و(المئين) كل سورة بلغت مائة آية فصاعدًا، و(المثاني) كل سورة دون (المئين) وفوق (المفصل) Yang mendekati, makna kata ‘as-Sab’u’ dalam hadis ini adalah as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang); sementara makna al-Mi-in adalah semua surat yang jumlah ayatnya 100 atau lebih. Istilah Al-Matsani maknanya adalah semua surat yang jumlah ayatnya di bawah al-Mi-in, di atas al-Mufashal. Selanjutnya, surat al-Mufashal terbagi menjadi 3: (a) Thiwal Mufashal – mufashal yang panjang. Dimulai dari surat Qaf hingga surat al-Mursalat (akhir juz 29). (b) Wasath Mufashal – mufashal pertengahan. Dimulai dari surat an-Naba’, hingga surat ad-Dhuha (c) Qishar Mufashal – mufashal pendek. Dimulai dari surat al-Insyirah, hingga akhir al-Quran, yaitu surat an-Nas. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 1/85). Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Contoh Bid'ah, Doa Datang Umroh, Tulisan Aamiin, Buah Khuldi Di Surga, Hukum Pinjaman Online, Pasaranjawa Visited 2,928 times, 2 visit(s) today Post Views: 718 QRIS donasi Yufid

Pembagian Surat dalam al-Quran

Pembagian Surat dalam al-Quran Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dilihat dari panjang pendeknya, surat dalam al-Quran dibagi menjadi 4: [1] Surat at-Thiwal Dari kata thawil (طويل) yang artinya panjang. Surat at-Thiwal adalah surat yang panjang-panjang. Jumlahnya ada 7, karena itu sering disebut dengan as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang). Meliputi: al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa, al-Maidah, al-An’am, al-A’raf, dan al-Anfal. [2] Surat al-Mi-in Dari kata Mi-ah (المائة) yang artinya angka seratus. Surat al-Mi-in berarti surat yang jumlah ayatnya kurang lebih seratus ayat. [3] Surat al-Matsani Dari kata tsanna (ثنَّى) yang artinya mengulang. Menurut keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Said bin Jubair, disebut demikian karena Allah banyak mengulang tentang kewajiban-kewajiban (al-Faraid), hukum-hukum syariat, kisah-kisah (al-Qashas), dan perumpamaan (al-Amtsal). Berdasarkan urutannya, surat al-Matsani adalah surat setelah al-Mi-in. [4] Surat al-Mufashal Dari kata al-Fashl (الفصل) yang artinya batas. Disebut al-Mufashal dari kata al-Fashl yang artinya sekat/pembatas. Sehingga dinamakan mufashal karena ayatnya pendek-pendek. Ada juga yang mengatakan, dinamakan Mufashal karena suratnya pendek-pendek, sehingga banyak pemisah basmalahnya. Kemudian, menurut pendapat yang kuat, dimulai dari surat Qaf hingga surat an-Nas. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/393). Dasar mengenai pembagian ini adalah hadis dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ “Aku diberi pengganti isi Taurat dengan as-Sab’u (7 surat panjang), dan aku diberi pengganti isi Zabur dengan surat al-Mi-in, dan aku diberi pengganti isi Injil dengan al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat al-Mufashal.” (HR. Ahmad 16982 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Al-Baihaqi menjelaskan hadis ini: والأشبه أن يكون المراد بـ (السبع) في هذا الحديث (السبع الطول) و(المئين) كل سورة بلغت مائة آية فصاعدًا، و(المثاني) كل سورة دون (المئين) وفوق (المفصل) Yang mendekati, makna kata ‘as-Sab’u’ dalam hadis ini adalah as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang); sementara makna al-Mi-in adalah semua surat yang jumlah ayatnya 100 atau lebih. Istilah Al-Matsani maknanya adalah semua surat yang jumlah ayatnya di bawah al-Mi-in, di atas al-Mufashal. Selanjutnya, surat al-Mufashal terbagi menjadi 3: (a) Thiwal Mufashal – mufashal yang panjang. Dimulai dari surat Qaf hingga surat al-Mursalat (akhir juz 29). (b) Wasath Mufashal – mufashal pertengahan. Dimulai dari surat an-Naba’, hingga surat ad-Dhuha (c) Qishar Mufashal – mufashal pendek. Dimulai dari surat al-Insyirah, hingga akhir al-Quran, yaitu surat an-Nas. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 1/85). Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Contoh Bid'ah, Doa Datang Umroh, Tulisan Aamiin, Buah Khuldi Di Surga, Hukum Pinjaman Online, Pasaranjawa Visited 2,928 times, 2 visit(s) today Post Views: 718 QRIS donasi Yufid
Pembagian Surat dalam al-Quran Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dilihat dari panjang pendeknya, surat dalam al-Quran dibagi menjadi 4: [1] Surat at-Thiwal Dari kata thawil (طويل) yang artinya panjang. Surat at-Thiwal adalah surat yang panjang-panjang. Jumlahnya ada 7, karena itu sering disebut dengan as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang). Meliputi: al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa, al-Maidah, al-An’am, al-A’raf, dan al-Anfal. [2] Surat al-Mi-in Dari kata Mi-ah (المائة) yang artinya angka seratus. Surat al-Mi-in berarti surat yang jumlah ayatnya kurang lebih seratus ayat. [3] Surat al-Matsani Dari kata tsanna (ثنَّى) yang artinya mengulang. Menurut keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Said bin Jubair, disebut demikian karena Allah banyak mengulang tentang kewajiban-kewajiban (al-Faraid), hukum-hukum syariat, kisah-kisah (al-Qashas), dan perumpamaan (al-Amtsal). Berdasarkan urutannya, surat al-Matsani adalah surat setelah al-Mi-in. [4] Surat al-Mufashal Dari kata al-Fashl (الفصل) yang artinya batas. Disebut al-Mufashal dari kata al-Fashl yang artinya sekat/pembatas. Sehingga dinamakan mufashal karena ayatnya pendek-pendek. Ada juga yang mengatakan, dinamakan Mufashal karena suratnya pendek-pendek, sehingga banyak pemisah basmalahnya. Kemudian, menurut pendapat yang kuat, dimulai dari surat Qaf hingga surat an-Nas. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/393). Dasar mengenai pembagian ini adalah hadis dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ “Aku diberi pengganti isi Taurat dengan as-Sab’u (7 surat panjang), dan aku diberi pengganti isi Zabur dengan surat al-Mi-in, dan aku diberi pengganti isi Injil dengan al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat al-Mufashal.” (HR. Ahmad 16982 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Al-Baihaqi menjelaskan hadis ini: والأشبه أن يكون المراد بـ (السبع) في هذا الحديث (السبع الطول) و(المئين) كل سورة بلغت مائة آية فصاعدًا، و(المثاني) كل سورة دون (المئين) وفوق (المفصل) Yang mendekati, makna kata ‘as-Sab’u’ dalam hadis ini adalah as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang); sementara makna al-Mi-in adalah semua surat yang jumlah ayatnya 100 atau lebih. Istilah Al-Matsani maknanya adalah semua surat yang jumlah ayatnya di bawah al-Mi-in, di atas al-Mufashal. Selanjutnya, surat al-Mufashal terbagi menjadi 3: (a) Thiwal Mufashal – mufashal yang panjang. Dimulai dari surat Qaf hingga surat al-Mursalat (akhir juz 29). (b) Wasath Mufashal – mufashal pertengahan. Dimulai dari surat an-Naba’, hingga surat ad-Dhuha (c) Qishar Mufashal – mufashal pendek. Dimulai dari surat al-Insyirah, hingga akhir al-Quran, yaitu surat an-Nas. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 1/85). Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Contoh Bid'ah, Doa Datang Umroh, Tulisan Aamiin, Buah Khuldi Di Surga, Hukum Pinjaman Online, Pasaranjawa Visited 2,928 times, 2 visit(s) today Post Views: 718 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/693558772&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Pembagian Surat dalam al-Quran Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dilihat dari panjang pendeknya, surat dalam al-Quran dibagi menjadi 4: [1] Surat at-Thiwal Dari kata thawil (طويل) yang artinya panjang. Surat at-Thiwal adalah surat yang panjang-panjang. Jumlahnya ada 7, karena itu sering disebut dengan as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang). Meliputi: al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa, al-Maidah, al-An’am, al-A’raf, dan al-Anfal. [2] Surat al-Mi-in Dari kata Mi-ah (المائة) yang artinya angka seratus. Surat al-Mi-in berarti surat yang jumlah ayatnya kurang lebih seratus ayat. [3] Surat al-Matsani Dari kata tsanna (ثنَّى) yang artinya mengulang. Menurut keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Said bin Jubair, disebut demikian karena Allah banyak mengulang tentang kewajiban-kewajiban (al-Faraid), hukum-hukum syariat, kisah-kisah (al-Qashas), dan perumpamaan (al-Amtsal). Berdasarkan urutannya, surat al-Matsani adalah surat setelah al-Mi-in. [4] Surat al-Mufashal Dari kata al-Fashl (الفصل) yang artinya batas. Disebut al-Mufashal dari kata al-Fashl yang artinya sekat/pembatas. Sehingga dinamakan mufashal karena ayatnya pendek-pendek. Ada juga yang mengatakan, dinamakan Mufashal karena suratnya pendek-pendek, sehingga banyak pemisah basmalahnya. Kemudian, menurut pendapat yang kuat, dimulai dari surat Qaf hingga surat an-Nas. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/393). Dasar mengenai pembagian ini adalah hadis dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ “Aku diberi pengganti isi Taurat dengan as-Sab’u (7 surat panjang), dan aku diberi pengganti isi Zabur dengan surat al-Mi-in, dan aku diberi pengganti isi Injil dengan al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat al-Mufashal.” (HR. Ahmad 16982 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Al-Baihaqi menjelaskan hadis ini: والأشبه أن يكون المراد بـ (السبع) في هذا الحديث (السبع الطول) و(المئين) كل سورة بلغت مائة آية فصاعدًا، و(المثاني) كل سورة دون (المئين) وفوق (المفصل) Yang mendekati, makna kata ‘as-Sab’u’ dalam hadis ini adalah as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang); sementara makna al-Mi-in adalah semua surat yang jumlah ayatnya 100 atau lebih. Istilah Al-Matsani maknanya adalah semua surat yang jumlah ayatnya di bawah al-Mi-in, di atas al-Mufashal. Selanjutnya, surat al-Mufashal terbagi menjadi 3: (a) Thiwal Mufashal – mufashal yang panjang. Dimulai dari surat Qaf hingga surat al-Mursalat (akhir juz 29). (b) Wasath Mufashal – mufashal pertengahan. Dimulai dari surat an-Naba’, hingga surat ad-Dhuha (c) Qishar Mufashal – mufashal pendek. Dimulai dari surat al-Insyirah, hingga akhir al-Quran, yaitu surat an-Nas. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 1/85). Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Contoh Bid'ah, Doa Datang Umroh, Tulisan Aamiin, Buah Khuldi Di Surga, Hukum Pinjaman Online, Pasaranjawa Visited 2,928 times, 2 visit(s) today Post Views: 718 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Takut Kuntilanak Syirik?

Takut Kuntilanak Syirik? Ustadz saya mau tanya, Apa kalau kita takut sama syaitan kuntilanak itu termasuk syirik.. Jazakallah Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Untuk mengetahui hukum takut kepada jin dengan segala jenis atau sebutannya, perlu kita perjelas terlebih dahulu kategorinya, ada dua macamnya: [1]. Takut yang muncul dari tabiat (khouf thabi’i). [2]. Takut atas dasar keyakinan tidak wajar kepada jin. Takut jenis pertama, pada dasarnya tidak mengapa. Takut yang seperti ini bagian dari naluri manusia. Dimana seorang takut kepada segala yang berpotensi menimpakan bahaya yang wajar pada dirinya, baik dari bangsa manusia, jin ataupun hewan. Seperti takut kepada ular berbisa, hewan buas, perampok dll, demikian pula takutnya kepada jin tidak lebih seperti takutnya kepada hewan buas, perampok dll. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan hukumnya, الخوف الطبيعي والجبلي في الأصل مباح Takut yang sifatnya tabiat, hukum asalnya mubah…. Beliau melanjutkan, لكن إن حمل على ترك واجب أو فعل محرم فهو محرم ، وإن استلزم شيئا مباحا كان مباحا Namun, jika dapat menyebabkan seorang meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram, maka takut jenis ini berubah hukumnya menjadi haram. Adapun jika berdampak memunculkan hal yang mubah saja, maka hukumnya mubah. (Lihat: Majmu’Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 10/648) Nabi Musa ‘alaihissalam pun pernah merasakan takut jenis ini. Allah ta’ala berfirman, فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.” (QS. Al-Qashash : 21) Saat Allah menunjukkan mukjizat Nabi Musa dihadapan para penyihir Fir’aun, ketika tongkat beliau berubah menjadi ular, melihat kejadian yang tidak wajar itu, Musa merasa ketakutan. وَأَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفۡ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ ٱلۡمُرۡسَلُونَ Lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut. (QS. An-Naml :10) Adapun takut jenis kedua, yakni takut yang muncul karena keyakinan tak wajar kepada jin, ini bisa menyebabkan pelakunya jatuh dalam kesyirikan. Batasan ketidak wajaran, dijelaskan dalam kitab Taisir Azizil Hamid (salah satu kita Syarah untuk Kitab at Tauhid karya Syekh Muhammad at Tamimi), أن يخاف العبد من غير الله تعالى أن يصيبه مكروه بمشيئته وقدرته وإن لم يباشره ، فهذا شرك أكبر ، لأنه اعتقادٌ للنفع والضر في غير الله Seorang takut kepada selain Allah ta’ala bahwa dia mampu menimpakan balak/mara bahaya dengan kehendak atau kemampuannya sendiri, meski dia tidak mengupayakan balak/bahaya tersebut secara langsung. Takut yang seperti ini hukumnya syirik besar. Karena dia telah menyakini ada yang mampu memberi manfaat atau bahaya secara mandiri, selain Allah. (Lihat: Taisir Azizil Hamid, halaman 28) Gambaran konkritnya, seperti menyakini bahwa jin mampu melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Tuhan Pengatur semesta alam. Seperti keyakinan bahwa jin mampu menahan hujan, mendatangkan masa krisis pangan, menahan rizki, mampu mendengar ucapan hati, menolak balak, mengatur lautan, menjadikan gunung berapi meletus serta keyakinan-keyakinan tak wajar lainnya, ini bisa menyebabkan jatuh pada syirik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Niat Qurban, Waktu Mimpi Yang Punya Arti, Hadits Imam Mahdi, Lelah Dalam Islam, Mengungkit Masa Lalu Menurut Islam, Sholat Fajar Adalah Visited 53 times, 2 visit(s) today Post Views: 207 QRIS donasi Yufid

Takut Kuntilanak Syirik?

Takut Kuntilanak Syirik? Ustadz saya mau tanya, Apa kalau kita takut sama syaitan kuntilanak itu termasuk syirik.. Jazakallah Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Untuk mengetahui hukum takut kepada jin dengan segala jenis atau sebutannya, perlu kita perjelas terlebih dahulu kategorinya, ada dua macamnya: [1]. Takut yang muncul dari tabiat (khouf thabi’i). [2]. Takut atas dasar keyakinan tidak wajar kepada jin. Takut jenis pertama, pada dasarnya tidak mengapa. Takut yang seperti ini bagian dari naluri manusia. Dimana seorang takut kepada segala yang berpotensi menimpakan bahaya yang wajar pada dirinya, baik dari bangsa manusia, jin ataupun hewan. Seperti takut kepada ular berbisa, hewan buas, perampok dll, demikian pula takutnya kepada jin tidak lebih seperti takutnya kepada hewan buas, perampok dll. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan hukumnya, الخوف الطبيعي والجبلي في الأصل مباح Takut yang sifatnya tabiat, hukum asalnya mubah…. Beliau melanjutkan, لكن إن حمل على ترك واجب أو فعل محرم فهو محرم ، وإن استلزم شيئا مباحا كان مباحا Namun, jika dapat menyebabkan seorang meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram, maka takut jenis ini berubah hukumnya menjadi haram. Adapun jika berdampak memunculkan hal yang mubah saja, maka hukumnya mubah. (Lihat: Majmu’Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 10/648) Nabi Musa ‘alaihissalam pun pernah merasakan takut jenis ini. Allah ta’ala berfirman, فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.” (QS. Al-Qashash : 21) Saat Allah menunjukkan mukjizat Nabi Musa dihadapan para penyihir Fir’aun, ketika tongkat beliau berubah menjadi ular, melihat kejadian yang tidak wajar itu, Musa merasa ketakutan. وَأَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفۡ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ ٱلۡمُرۡسَلُونَ Lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut. (QS. An-Naml :10) Adapun takut jenis kedua, yakni takut yang muncul karena keyakinan tak wajar kepada jin, ini bisa menyebabkan pelakunya jatuh dalam kesyirikan. Batasan ketidak wajaran, dijelaskan dalam kitab Taisir Azizil Hamid (salah satu kita Syarah untuk Kitab at Tauhid karya Syekh Muhammad at Tamimi), أن يخاف العبد من غير الله تعالى أن يصيبه مكروه بمشيئته وقدرته وإن لم يباشره ، فهذا شرك أكبر ، لأنه اعتقادٌ للنفع والضر في غير الله Seorang takut kepada selain Allah ta’ala bahwa dia mampu menimpakan balak/mara bahaya dengan kehendak atau kemampuannya sendiri, meski dia tidak mengupayakan balak/bahaya tersebut secara langsung. Takut yang seperti ini hukumnya syirik besar. Karena dia telah menyakini ada yang mampu memberi manfaat atau bahaya secara mandiri, selain Allah. (Lihat: Taisir Azizil Hamid, halaman 28) Gambaran konkritnya, seperti menyakini bahwa jin mampu melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Tuhan Pengatur semesta alam. Seperti keyakinan bahwa jin mampu menahan hujan, mendatangkan masa krisis pangan, menahan rizki, mampu mendengar ucapan hati, menolak balak, mengatur lautan, menjadikan gunung berapi meletus serta keyakinan-keyakinan tak wajar lainnya, ini bisa menyebabkan jatuh pada syirik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Niat Qurban, Waktu Mimpi Yang Punya Arti, Hadits Imam Mahdi, Lelah Dalam Islam, Mengungkit Masa Lalu Menurut Islam, Sholat Fajar Adalah Visited 53 times, 2 visit(s) today Post Views: 207 QRIS donasi Yufid
Takut Kuntilanak Syirik? Ustadz saya mau tanya, Apa kalau kita takut sama syaitan kuntilanak itu termasuk syirik.. Jazakallah Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Untuk mengetahui hukum takut kepada jin dengan segala jenis atau sebutannya, perlu kita perjelas terlebih dahulu kategorinya, ada dua macamnya: [1]. Takut yang muncul dari tabiat (khouf thabi’i). [2]. Takut atas dasar keyakinan tidak wajar kepada jin. Takut jenis pertama, pada dasarnya tidak mengapa. Takut yang seperti ini bagian dari naluri manusia. Dimana seorang takut kepada segala yang berpotensi menimpakan bahaya yang wajar pada dirinya, baik dari bangsa manusia, jin ataupun hewan. Seperti takut kepada ular berbisa, hewan buas, perampok dll, demikian pula takutnya kepada jin tidak lebih seperti takutnya kepada hewan buas, perampok dll. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan hukumnya, الخوف الطبيعي والجبلي في الأصل مباح Takut yang sifatnya tabiat, hukum asalnya mubah…. Beliau melanjutkan, لكن إن حمل على ترك واجب أو فعل محرم فهو محرم ، وإن استلزم شيئا مباحا كان مباحا Namun, jika dapat menyebabkan seorang meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram, maka takut jenis ini berubah hukumnya menjadi haram. Adapun jika berdampak memunculkan hal yang mubah saja, maka hukumnya mubah. (Lihat: Majmu’Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 10/648) Nabi Musa ‘alaihissalam pun pernah merasakan takut jenis ini. Allah ta’ala berfirman, فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.” (QS. Al-Qashash : 21) Saat Allah menunjukkan mukjizat Nabi Musa dihadapan para penyihir Fir’aun, ketika tongkat beliau berubah menjadi ular, melihat kejadian yang tidak wajar itu, Musa merasa ketakutan. وَأَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفۡ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ ٱلۡمُرۡسَلُونَ Lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut. (QS. An-Naml :10) Adapun takut jenis kedua, yakni takut yang muncul karena keyakinan tak wajar kepada jin, ini bisa menyebabkan pelakunya jatuh dalam kesyirikan. Batasan ketidak wajaran, dijelaskan dalam kitab Taisir Azizil Hamid (salah satu kita Syarah untuk Kitab at Tauhid karya Syekh Muhammad at Tamimi), أن يخاف العبد من غير الله تعالى أن يصيبه مكروه بمشيئته وقدرته وإن لم يباشره ، فهذا شرك أكبر ، لأنه اعتقادٌ للنفع والضر في غير الله Seorang takut kepada selain Allah ta’ala bahwa dia mampu menimpakan balak/mara bahaya dengan kehendak atau kemampuannya sendiri, meski dia tidak mengupayakan balak/bahaya tersebut secara langsung. Takut yang seperti ini hukumnya syirik besar. Karena dia telah menyakini ada yang mampu memberi manfaat atau bahaya secara mandiri, selain Allah. (Lihat: Taisir Azizil Hamid, halaman 28) Gambaran konkritnya, seperti menyakini bahwa jin mampu melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Tuhan Pengatur semesta alam. Seperti keyakinan bahwa jin mampu menahan hujan, mendatangkan masa krisis pangan, menahan rizki, mampu mendengar ucapan hati, menolak balak, mengatur lautan, menjadikan gunung berapi meletus serta keyakinan-keyakinan tak wajar lainnya, ini bisa menyebabkan jatuh pada syirik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Niat Qurban, Waktu Mimpi Yang Punya Arti, Hadits Imam Mahdi, Lelah Dalam Islam, Mengungkit Masa Lalu Menurut Islam, Sholat Fajar Adalah Visited 53 times, 2 visit(s) today Post Views: 207 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/693558889&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Takut Kuntilanak Syirik? Ustadz saya mau tanya, Apa kalau kita takut sama syaitan kuntilanak itu termasuk syirik.. Jazakallah Ainun, di Surabaya. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Untuk mengetahui hukum takut kepada jin dengan segala jenis atau sebutannya, perlu kita perjelas terlebih dahulu kategorinya, ada dua macamnya: [1]. Takut yang muncul dari tabiat (khouf thabi’i). [2]. Takut atas dasar keyakinan tidak wajar kepada jin. Takut jenis pertama, pada dasarnya tidak mengapa. Takut yang seperti ini bagian dari naluri manusia. Dimana seorang takut kepada segala yang berpotensi menimpakan bahaya yang wajar pada dirinya, baik dari bangsa manusia, jin ataupun hewan. Seperti takut kepada ular berbisa, hewan buas, perampok dll, demikian pula takutnya kepada jin tidak lebih seperti takutnya kepada hewan buas, perampok dll. Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan hukumnya, الخوف الطبيعي والجبلي في الأصل مباح Takut yang sifatnya tabiat, hukum asalnya mubah…. Beliau melanjutkan, لكن إن حمل على ترك واجب أو فعل محرم فهو محرم ، وإن استلزم شيئا مباحا كان مباحا Namun, jika dapat menyebabkan seorang meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram, maka takut jenis ini berubah hukumnya menjadi haram. Adapun jika berdampak memunculkan hal yang mubah saja, maka hukumnya mubah. (Lihat: Majmu’Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 10/648) Nabi Musa ‘alaihissalam pun pernah merasakan takut jenis ini. Allah ta’ala berfirman, فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.” (QS. Al-Qashash : 21) Saat Allah menunjukkan mukjizat Nabi Musa dihadapan para penyihir Fir’aun, ketika tongkat beliau berubah menjadi ular, melihat kejadian yang tidak wajar itu, Musa merasa ketakutan. وَأَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفۡ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ ٱلۡمُرۡسَلُونَ Lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut. (QS. An-Naml :10) Adapun takut jenis kedua, yakni takut yang muncul karena keyakinan tak wajar kepada jin, ini bisa menyebabkan pelakunya jatuh dalam kesyirikan. Batasan ketidak wajaran, dijelaskan dalam kitab Taisir Azizil Hamid (salah satu kita Syarah untuk Kitab at Tauhid karya Syekh Muhammad at Tamimi), أن يخاف العبد من غير الله تعالى أن يصيبه مكروه بمشيئته وقدرته وإن لم يباشره ، فهذا شرك أكبر ، لأنه اعتقادٌ للنفع والضر في غير الله Seorang takut kepada selain Allah ta’ala bahwa dia mampu menimpakan balak/mara bahaya dengan kehendak atau kemampuannya sendiri, meski dia tidak mengupayakan balak/bahaya tersebut secara langsung. Takut yang seperti ini hukumnya syirik besar. Karena dia telah menyakini ada yang mampu memberi manfaat atau bahaya secara mandiri, selain Allah. (Lihat: Taisir Azizil Hamid, halaman 28) Gambaran konkritnya, seperti menyakini bahwa jin mampu melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Tuhan Pengatur semesta alam. Seperti keyakinan bahwa jin mampu menahan hujan, mendatangkan masa krisis pangan, menahan rizki, mampu mendengar ucapan hati, menolak balak, mengatur lautan, menjadikan gunung berapi meletus serta keyakinan-keyakinan tak wajar lainnya, ini bisa menyebabkan jatuh pada syirik. Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Niat Qurban, Waktu Mimpi Yang Punya Arti, Hadits Imam Mahdi, Lelah Dalam Islam, Mengungkit Masa Lalu Menurut Islam, Sholat Fajar Adalah Visited 53 times, 2 visit(s) today Post Views: 207 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Taat kepada Penguasa karena Pamrih Duniawi

Kewajiban taat kepada pemimpin atau penguasa yang sah merupakan di antara prinsip aqidah dan manhaj ahlus sunnah. Sehingga taat kepada penguasa adalah bagian dari agama. Karena termasuk bagian dari agama, maka seharusnya lepas atau bersih dari pamrih-pamrih keuntungan duniawi. Sebagaimana kita melaksanakan ajaran-ajaran agama yang lainnya, misalnya shalat dan berpuasa, dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan bukan karena mengharap keuntungan duniawi sedikit pun.Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?Sebagian orang hanya mau taat kepada penguasa jika dalam ketaatan tersebut ada keuntungan duniawi yang dia dapatkan. Yaitu berupa kemakmuran, harga-harga kebutuhan pokok murah, pendidikan dan kesehatan gratis, dan keuntungan duniawi yang lainnya. Namun sebaliknya, jika tidak ada keuntungan duniawi yang bisa diraih, dia pun melepaskan diri dari baiat atau ketaatan terhadap penguasa yang sah. Mulailah dia menyesali ketaatannya, dilanjutkan dengan mencela, mencaci maki, dan melaknat pemimpinnya.Terdapat hukuman khusus dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang memiliki sikap dan perbuatan semacam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan salah satunya, yaitu:وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا، فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ“ … Seorang yang membaiat imam (penguasa, pemimpin atau pemerintah) dan dia tidak membaiatnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi. Kalau dia diberikan dunia, dia ridha (senang) kepadanya. Dan bila tidak, dia marah-marah … “ (HR. Bukhari no. 2358 dan Muslim no. 108)Baca Juga: Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang DzalimPerhatikanlah hadits ini. Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang hanya mau taat kepada pemerintah (yaitu penguasa muslim yang sah) jika ketaatan tersebut membawa kepada keuntungan duniawi. Namun jika dia taat, namun hasilnya adalah harga-harga naik, ekonomi makin sulit, dia pun menyesali ketaataannya kepada sang penguasa.Sekali lagi kami tegaskan, hadits ini menunjukkan bahwa ketaatan kita kepada penguasa muslim yang sah adalah karena ibadah, melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan karena pamrih-pamrih berupa keuntungan duniawi. Sehingga hadits ini adalah kritik dan bantahan atas sikap dan tindakan sebagian orang dan ormas yang menginginkan tegaknya Islam dalam bentuk yang formal (khilafah), namun memprovokasi kaum muslimin dengan iming-iming janji duniawi. Hal ini bisa dilihat dari sikap mereka yang menggembar-gemborkan bahwa solusi dari semua urusan duniawi adalah khilafah. Pendidikan dan kesehatan mahal, solusinya khilafah. BBM dan listrik mahal, solusinya adalah khilafah. Tingkat pengangguran tinggi, solusinya adalah khilafah. Banjir besar, solusinya adalah khilafah. Dan seterusnya. Orang-orang semacam inilah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam isyaratkan dalam hadits di atas.Baca Juga: Kapan Disebut Tidak Taat pada Penguasa?Jika demikian cara dan metode provokasi yang mereka lakukan, maka yang muncul dalam benak kaum muslimin adalah bahwa motivator untuk membaiat penguasa yang sah itu adalah karena nanti mereka akan mendapatkan berbagai keuntungan duniawi. Padahal, ini adalah dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ancam dengan hukuman khusus kelak di akhirat sebagaimana dalam hadits di atas. Jika perbuatan itu adalah dosa besar, maka cara-cara provokasi yang mereka lakukan pada hakikatnya juga adalah dosa besar. Hal ini karena hukum sarana itu sebagaimana hukum tujuan.Lihatlah contoh teladan kaum muslimin pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Pada masa kekhalifan beliau, terjadi musibah kemarau panjang pada akhir tahun ke 18 hijriyah, dan berlangsung selama kurang lebih 9 bulan. Terjadi bencana kelaparan di mana-mana karena kekurangan air. Meskipun mereka dilanda kesulitan ekonomi yang dahsyat, mereka tetap taat dan patuh kepada sang penguasa, yaitu khalifah ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Oleh karena itu, hendaklah kita selalu mengingat bahwa ketaatan kita kepada penguasa atau pemerintah muslim yang sah adalah dalam rangka ibadah, menjalankan perintah Allah Ta’ala. Sebagai rakyat, kita memiliki kewajiban terhadap penguasa, yaitu taat, meskipun penguasa tersebut dzalim. Di sisi lain, penguasa juga memiliki kewajiban terhadap rakyat yang harus ditunaikan, di antaranya yaitu mensejahterakan rakyatnya. Dan masing-masing pihak (rakyat dan penguasa), akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala atas kewajiban yang harus mereka tunaikan ketika di dunia.Baca Juga: Demonstrasi, Sarana Dakwah pada Penguasa?Kewajiban kita sebagai rakyat adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan,دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada kami dan kami pun berbaiat kepada beliau. Maka Nabi mengatakan di antara poin baiat yang beliau ambil dari kami, Nabi meminta kepada kami untuk mendengar dan taat kepada penguasa, baik (perintah penguasa tersebut) kami bersemangat untuk mengerjakannya atau kami tidak suka mengerjakannya, baik (perintah penguasa tersebut) diberikan kepada kami dalam kondisi sulit (repot) atau dalam kondisi mudah (lapang), juga meskipun penguasa tersebut mementingkan diri sendiri (yaitu, dia mengambil hak rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dan kroni-kroninya, pen.), dan supaya kami tidak merebut kekuasaan dari pemegangnya (maksudnya, jangan memberontak, pen.). Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata (tampak terang-terangan atas semua orang, pen.), dan kalian memiliki bukti di hadapan Allah Ta’ala bahwa itu adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 7056 dan Muslim no. 1709)Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia i10, 7 Syawal 1440/11 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Maha Pemaaf, Wali Allah Dan Wali Setan, Hijrah Ke Jalan Allah, Perbedaan Wajib Haji Dan Rukun Haji, Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Dinika Wa ‘ala To’atika

Taat kepada Penguasa karena Pamrih Duniawi

Kewajiban taat kepada pemimpin atau penguasa yang sah merupakan di antara prinsip aqidah dan manhaj ahlus sunnah. Sehingga taat kepada penguasa adalah bagian dari agama. Karena termasuk bagian dari agama, maka seharusnya lepas atau bersih dari pamrih-pamrih keuntungan duniawi. Sebagaimana kita melaksanakan ajaran-ajaran agama yang lainnya, misalnya shalat dan berpuasa, dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan bukan karena mengharap keuntungan duniawi sedikit pun.Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?Sebagian orang hanya mau taat kepada penguasa jika dalam ketaatan tersebut ada keuntungan duniawi yang dia dapatkan. Yaitu berupa kemakmuran, harga-harga kebutuhan pokok murah, pendidikan dan kesehatan gratis, dan keuntungan duniawi yang lainnya. Namun sebaliknya, jika tidak ada keuntungan duniawi yang bisa diraih, dia pun melepaskan diri dari baiat atau ketaatan terhadap penguasa yang sah. Mulailah dia menyesali ketaatannya, dilanjutkan dengan mencela, mencaci maki, dan melaknat pemimpinnya.Terdapat hukuman khusus dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang memiliki sikap dan perbuatan semacam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan salah satunya, yaitu:وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا، فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ“ … Seorang yang membaiat imam (penguasa, pemimpin atau pemerintah) dan dia tidak membaiatnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi. Kalau dia diberikan dunia, dia ridha (senang) kepadanya. Dan bila tidak, dia marah-marah … “ (HR. Bukhari no. 2358 dan Muslim no. 108)Baca Juga: Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang DzalimPerhatikanlah hadits ini. Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang hanya mau taat kepada pemerintah (yaitu penguasa muslim yang sah) jika ketaatan tersebut membawa kepada keuntungan duniawi. Namun jika dia taat, namun hasilnya adalah harga-harga naik, ekonomi makin sulit, dia pun menyesali ketaataannya kepada sang penguasa.Sekali lagi kami tegaskan, hadits ini menunjukkan bahwa ketaatan kita kepada penguasa muslim yang sah adalah karena ibadah, melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan karena pamrih-pamrih berupa keuntungan duniawi. Sehingga hadits ini adalah kritik dan bantahan atas sikap dan tindakan sebagian orang dan ormas yang menginginkan tegaknya Islam dalam bentuk yang formal (khilafah), namun memprovokasi kaum muslimin dengan iming-iming janji duniawi. Hal ini bisa dilihat dari sikap mereka yang menggembar-gemborkan bahwa solusi dari semua urusan duniawi adalah khilafah. Pendidikan dan kesehatan mahal, solusinya khilafah. BBM dan listrik mahal, solusinya adalah khilafah. Tingkat pengangguran tinggi, solusinya adalah khilafah. Banjir besar, solusinya adalah khilafah. Dan seterusnya. Orang-orang semacam inilah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam isyaratkan dalam hadits di atas.Baca Juga: Kapan Disebut Tidak Taat pada Penguasa?Jika demikian cara dan metode provokasi yang mereka lakukan, maka yang muncul dalam benak kaum muslimin adalah bahwa motivator untuk membaiat penguasa yang sah itu adalah karena nanti mereka akan mendapatkan berbagai keuntungan duniawi. Padahal, ini adalah dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ancam dengan hukuman khusus kelak di akhirat sebagaimana dalam hadits di atas. Jika perbuatan itu adalah dosa besar, maka cara-cara provokasi yang mereka lakukan pada hakikatnya juga adalah dosa besar. Hal ini karena hukum sarana itu sebagaimana hukum tujuan.Lihatlah contoh teladan kaum muslimin pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Pada masa kekhalifan beliau, terjadi musibah kemarau panjang pada akhir tahun ke 18 hijriyah, dan berlangsung selama kurang lebih 9 bulan. Terjadi bencana kelaparan di mana-mana karena kekurangan air. Meskipun mereka dilanda kesulitan ekonomi yang dahsyat, mereka tetap taat dan patuh kepada sang penguasa, yaitu khalifah ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Oleh karena itu, hendaklah kita selalu mengingat bahwa ketaatan kita kepada penguasa atau pemerintah muslim yang sah adalah dalam rangka ibadah, menjalankan perintah Allah Ta’ala. Sebagai rakyat, kita memiliki kewajiban terhadap penguasa, yaitu taat, meskipun penguasa tersebut dzalim. Di sisi lain, penguasa juga memiliki kewajiban terhadap rakyat yang harus ditunaikan, di antaranya yaitu mensejahterakan rakyatnya. Dan masing-masing pihak (rakyat dan penguasa), akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala atas kewajiban yang harus mereka tunaikan ketika di dunia.Baca Juga: Demonstrasi, Sarana Dakwah pada Penguasa?Kewajiban kita sebagai rakyat adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan,دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada kami dan kami pun berbaiat kepada beliau. Maka Nabi mengatakan di antara poin baiat yang beliau ambil dari kami, Nabi meminta kepada kami untuk mendengar dan taat kepada penguasa, baik (perintah penguasa tersebut) kami bersemangat untuk mengerjakannya atau kami tidak suka mengerjakannya, baik (perintah penguasa tersebut) diberikan kepada kami dalam kondisi sulit (repot) atau dalam kondisi mudah (lapang), juga meskipun penguasa tersebut mementingkan diri sendiri (yaitu, dia mengambil hak rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dan kroni-kroninya, pen.), dan supaya kami tidak merebut kekuasaan dari pemegangnya (maksudnya, jangan memberontak, pen.). Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata (tampak terang-terangan atas semua orang, pen.), dan kalian memiliki bukti di hadapan Allah Ta’ala bahwa itu adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 7056 dan Muslim no. 1709)Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia i10, 7 Syawal 1440/11 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Maha Pemaaf, Wali Allah Dan Wali Setan, Hijrah Ke Jalan Allah, Perbedaan Wajib Haji Dan Rukun Haji, Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Dinika Wa ‘ala To’atika
Kewajiban taat kepada pemimpin atau penguasa yang sah merupakan di antara prinsip aqidah dan manhaj ahlus sunnah. Sehingga taat kepada penguasa adalah bagian dari agama. Karena termasuk bagian dari agama, maka seharusnya lepas atau bersih dari pamrih-pamrih keuntungan duniawi. Sebagaimana kita melaksanakan ajaran-ajaran agama yang lainnya, misalnya shalat dan berpuasa, dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan bukan karena mengharap keuntungan duniawi sedikit pun.Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?Sebagian orang hanya mau taat kepada penguasa jika dalam ketaatan tersebut ada keuntungan duniawi yang dia dapatkan. Yaitu berupa kemakmuran, harga-harga kebutuhan pokok murah, pendidikan dan kesehatan gratis, dan keuntungan duniawi yang lainnya. Namun sebaliknya, jika tidak ada keuntungan duniawi yang bisa diraih, dia pun melepaskan diri dari baiat atau ketaatan terhadap penguasa yang sah. Mulailah dia menyesali ketaatannya, dilanjutkan dengan mencela, mencaci maki, dan melaknat pemimpinnya.Terdapat hukuman khusus dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang memiliki sikap dan perbuatan semacam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan salah satunya, yaitu:وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا، فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ“ … Seorang yang membaiat imam (penguasa, pemimpin atau pemerintah) dan dia tidak membaiatnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi. Kalau dia diberikan dunia, dia ridha (senang) kepadanya. Dan bila tidak, dia marah-marah … “ (HR. Bukhari no. 2358 dan Muslim no. 108)Baca Juga: Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang DzalimPerhatikanlah hadits ini. Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang hanya mau taat kepada pemerintah (yaitu penguasa muslim yang sah) jika ketaatan tersebut membawa kepada keuntungan duniawi. Namun jika dia taat, namun hasilnya adalah harga-harga naik, ekonomi makin sulit, dia pun menyesali ketaataannya kepada sang penguasa.Sekali lagi kami tegaskan, hadits ini menunjukkan bahwa ketaatan kita kepada penguasa muslim yang sah adalah karena ibadah, melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan karena pamrih-pamrih berupa keuntungan duniawi. Sehingga hadits ini adalah kritik dan bantahan atas sikap dan tindakan sebagian orang dan ormas yang menginginkan tegaknya Islam dalam bentuk yang formal (khilafah), namun memprovokasi kaum muslimin dengan iming-iming janji duniawi. Hal ini bisa dilihat dari sikap mereka yang menggembar-gemborkan bahwa solusi dari semua urusan duniawi adalah khilafah. Pendidikan dan kesehatan mahal, solusinya khilafah. BBM dan listrik mahal, solusinya adalah khilafah. Tingkat pengangguran tinggi, solusinya adalah khilafah. Banjir besar, solusinya adalah khilafah. Dan seterusnya. Orang-orang semacam inilah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam isyaratkan dalam hadits di atas.Baca Juga: Kapan Disebut Tidak Taat pada Penguasa?Jika demikian cara dan metode provokasi yang mereka lakukan, maka yang muncul dalam benak kaum muslimin adalah bahwa motivator untuk membaiat penguasa yang sah itu adalah karena nanti mereka akan mendapatkan berbagai keuntungan duniawi. Padahal, ini adalah dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ancam dengan hukuman khusus kelak di akhirat sebagaimana dalam hadits di atas. Jika perbuatan itu adalah dosa besar, maka cara-cara provokasi yang mereka lakukan pada hakikatnya juga adalah dosa besar. Hal ini karena hukum sarana itu sebagaimana hukum tujuan.Lihatlah contoh teladan kaum muslimin pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Pada masa kekhalifan beliau, terjadi musibah kemarau panjang pada akhir tahun ke 18 hijriyah, dan berlangsung selama kurang lebih 9 bulan. Terjadi bencana kelaparan di mana-mana karena kekurangan air. Meskipun mereka dilanda kesulitan ekonomi yang dahsyat, mereka tetap taat dan patuh kepada sang penguasa, yaitu khalifah ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Oleh karena itu, hendaklah kita selalu mengingat bahwa ketaatan kita kepada penguasa atau pemerintah muslim yang sah adalah dalam rangka ibadah, menjalankan perintah Allah Ta’ala. Sebagai rakyat, kita memiliki kewajiban terhadap penguasa, yaitu taat, meskipun penguasa tersebut dzalim. Di sisi lain, penguasa juga memiliki kewajiban terhadap rakyat yang harus ditunaikan, di antaranya yaitu mensejahterakan rakyatnya. Dan masing-masing pihak (rakyat dan penguasa), akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala atas kewajiban yang harus mereka tunaikan ketika di dunia.Baca Juga: Demonstrasi, Sarana Dakwah pada Penguasa?Kewajiban kita sebagai rakyat adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan,دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada kami dan kami pun berbaiat kepada beliau. Maka Nabi mengatakan di antara poin baiat yang beliau ambil dari kami, Nabi meminta kepada kami untuk mendengar dan taat kepada penguasa, baik (perintah penguasa tersebut) kami bersemangat untuk mengerjakannya atau kami tidak suka mengerjakannya, baik (perintah penguasa tersebut) diberikan kepada kami dalam kondisi sulit (repot) atau dalam kondisi mudah (lapang), juga meskipun penguasa tersebut mementingkan diri sendiri (yaitu, dia mengambil hak rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dan kroni-kroninya, pen.), dan supaya kami tidak merebut kekuasaan dari pemegangnya (maksudnya, jangan memberontak, pen.). Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata (tampak terang-terangan atas semua orang, pen.), dan kalian memiliki bukti di hadapan Allah Ta’ala bahwa itu adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 7056 dan Muslim no. 1709)Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia i10, 7 Syawal 1440/11 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Maha Pemaaf, Wali Allah Dan Wali Setan, Hijrah Ke Jalan Allah, Perbedaan Wajib Haji Dan Rukun Haji, Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Dinika Wa ‘ala To’atika


Kewajiban taat kepada pemimpin atau penguasa yang sah merupakan di antara prinsip aqidah dan manhaj ahlus sunnah. Sehingga taat kepada penguasa adalah bagian dari agama. Karena termasuk bagian dari agama, maka seharusnya lepas atau bersih dari pamrih-pamrih keuntungan duniawi. Sebagaimana kita melaksanakan ajaran-ajaran agama yang lainnya, misalnya shalat dan berpuasa, dengan mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan bukan karena mengharap keuntungan duniawi sedikit pun.Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?Sebagian orang hanya mau taat kepada penguasa jika dalam ketaatan tersebut ada keuntungan duniawi yang dia dapatkan. Yaitu berupa kemakmuran, harga-harga kebutuhan pokok murah, pendidikan dan kesehatan gratis, dan keuntungan duniawi yang lainnya. Namun sebaliknya, jika tidak ada keuntungan duniawi yang bisa diraih, dia pun melepaskan diri dari baiat atau ketaatan terhadap penguasa yang sah. Mulailah dia menyesali ketaatannya, dilanjutkan dengan mencela, mencaci maki, dan melaknat pemimpinnya.Terdapat hukuman khusus dari Allah Ta’ala kepada orang-orang yang memiliki sikap dan perbuatan semacam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih.”Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan salah satunya, yaitu:وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا، فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ“ … Seorang yang membaiat imam (penguasa, pemimpin atau pemerintah) dan dia tidak membaiatnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi. Kalau dia diberikan dunia, dia ridha (senang) kepadanya. Dan bila tidak, dia marah-marah … “ (HR. Bukhari no. 2358 dan Muslim no. 108)Baca Juga: Petunjuk Nabi dalam Menyikapi Penguasa Muslim yang DzalimPerhatikanlah hadits ini. Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang hanya mau taat kepada pemerintah (yaitu penguasa muslim yang sah) jika ketaatan tersebut membawa kepada keuntungan duniawi. Namun jika dia taat, namun hasilnya adalah harga-harga naik, ekonomi makin sulit, dia pun menyesali ketaataannya kepada sang penguasa.Sekali lagi kami tegaskan, hadits ini menunjukkan bahwa ketaatan kita kepada penguasa muslim yang sah adalah karena ibadah, melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan karena pamrih-pamrih berupa keuntungan duniawi. Sehingga hadits ini adalah kritik dan bantahan atas sikap dan tindakan sebagian orang dan ormas yang menginginkan tegaknya Islam dalam bentuk yang formal (khilafah), namun memprovokasi kaum muslimin dengan iming-iming janji duniawi. Hal ini bisa dilihat dari sikap mereka yang menggembar-gemborkan bahwa solusi dari semua urusan duniawi adalah khilafah. Pendidikan dan kesehatan mahal, solusinya khilafah. BBM dan listrik mahal, solusinya adalah khilafah. Tingkat pengangguran tinggi, solusinya adalah khilafah. Banjir besar, solusinya adalah khilafah. Dan seterusnya. Orang-orang semacam inilah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam isyaratkan dalam hadits di atas.Baca Juga: Kapan Disebut Tidak Taat pada Penguasa?Jika demikian cara dan metode provokasi yang mereka lakukan, maka yang muncul dalam benak kaum muslimin adalah bahwa motivator untuk membaiat penguasa yang sah itu adalah karena nanti mereka akan mendapatkan berbagai keuntungan duniawi. Padahal, ini adalah dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ancam dengan hukuman khusus kelak di akhirat sebagaimana dalam hadits di atas. Jika perbuatan itu adalah dosa besar, maka cara-cara provokasi yang mereka lakukan pada hakikatnya juga adalah dosa besar. Hal ini karena hukum sarana itu sebagaimana hukum tujuan.Lihatlah contoh teladan kaum muslimin pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Pada masa kekhalifan beliau, terjadi musibah kemarau panjang pada akhir tahun ke 18 hijriyah, dan berlangsung selama kurang lebih 9 bulan. Terjadi bencana kelaparan di mana-mana karena kekurangan air. Meskipun mereka dilanda kesulitan ekonomi yang dahsyat, mereka tetap taat dan patuh kepada sang penguasa, yaitu khalifah ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.Oleh karena itu, hendaklah kita selalu mengingat bahwa ketaatan kita kepada penguasa atau pemerintah muslim yang sah adalah dalam rangka ibadah, menjalankan perintah Allah Ta’ala. Sebagai rakyat, kita memiliki kewajiban terhadap penguasa, yaitu taat, meskipun penguasa tersebut dzalim. Di sisi lain, penguasa juga memiliki kewajiban terhadap rakyat yang harus ditunaikan, di antaranya yaitu mensejahterakan rakyatnya. Dan masing-masing pihak (rakyat dan penguasa), akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Ta’ala atas kewajiban yang harus mereka tunaikan ketika di dunia.Baca Juga: Demonstrasi, Sarana Dakwah pada Penguasa?Kewajiban kita sebagai rakyat adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan,دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada kami dan kami pun berbaiat kepada beliau. Maka Nabi mengatakan di antara poin baiat yang beliau ambil dari kami, Nabi meminta kepada kami untuk mendengar dan taat kepada penguasa, baik (perintah penguasa tersebut) kami bersemangat untuk mengerjakannya atau kami tidak suka mengerjakannya, baik (perintah penguasa tersebut) diberikan kepada kami dalam kondisi sulit (repot) atau dalam kondisi mudah (lapang), juga meskipun penguasa tersebut mementingkan diri sendiri (yaitu, dia mengambil hak rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dan kroni-kroninya, pen.), dan supaya kami tidak merebut kekuasaan dari pemegangnya (maksudnya, jangan memberontak, pen.). Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata (tampak terang-terangan atas semua orang, pen.), dan kalian memiliki bukti di hadapan Allah Ta’ala bahwa itu adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 7056 dan Muslim no. 1709)Baca Juga:[Selesai]***@Puri Gardenia i10, 7 Syawal 1440/11 Juni 2019Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id🔍 Maha Pemaaf, Wali Allah Dan Wali Setan, Hijrah Ke Jalan Allah, Perbedaan Wajib Haji Dan Rukun Haji, Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Dinika Wa ‘ala To’atika

Adab-Adab Safar (Bepergian Jauh)

Safar adalah keluar dari tempat tinggal untuk melakukan perjalanan yang jauh. Dalam Islam, ada adab-adab yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang safar. DiantaranyaBaca Juga: Safar Adalah Sebagian dari AdzabPertama, Hendaknya Tidak Safar SendirianSeorang Muslim dimakruhkan bersafar sendirian, hendaknya bersafar bersama beberapa orang. Sehingga lebih aman dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran di perjalanan. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ“orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik dalam Al Muwatha, Abu Daud no.2607, dan At Tirmidzi no. 1674, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لو يعلمُ الناسُ ما في الوَحْدَةِ ما أعلَمُ، ما سار راكبٌ بليلٍ وَحْدَه“Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari no. 2998)Baca Juga: Sunnah Melakukan Safar Malam hariKedua, Mencari Teman Safar yang BaikHendaknya seorang yang bersafar mencari teman safar yang saleh. Agar perjalanan safarnya penuh dengan hal-hal yang bermanfaat, jauh dari kesia-siaan dan maksiat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda,الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)Baca Juga: 22 Poin Ringkasan Fikih SafarKetiga, Boleh Menjamak Salat, Namun Lebih Utama Tidak DijamakBoleh menjamak (menggabungkan) salat ketika safar. Zuhur dijamak dengan Asar, Magrib dengan Isya. Salat Subuh dikerjakan pada waktunya dan tidak dijamak dengan salat sebelumnya atau sesudahnya.Menjamak salat dengan salat sebelumnya dinamakan jamak takdim. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Arafah ketika haji Wada, beliau menggabungkan salat Asar dengan Zuhur.Menjamak salat dengan salat sesudahnya dinamakan jamak takhir. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Muzdalifah pada malam hari, beliau menggabungkan salat Magrib dan Isya.Menjamak salat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu beliau mengatakan:جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak salat Zuhur dan salat Asar, dan menjamak salat Magrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no. 705).Para ulama mengatakan alasan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak karena ada masyaqqah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر“Dibolehkannya menqasar salat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak salat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan uzur.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/293).Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:وله الجمع يجوز له الجمع بين الظهر والعصر، بين المغرب والعشاء، لكن تركه أفضل إذا كان نازلًا ليس عليه مشقة تركه أفضل“Orang yang safar dibolehkan menjamak salat Zuhur dan Asar, salat Magrib dan Isya, namun meninggalkannya itu lebih utama, jika ia singgah di suatu tempat dan tidak ada kesulitan, maka meninggalkan jamak itu lebih utama”Baca Juga: Musafir Yang Tidak Mengalami Kesusahan Bersafar Bolehkah Tidak Puasa?Keempat, Dianjurkan Mengqasar SalatAdapun mengqasar (meringkas) salat ketika safar, itu lebih dianjurkan. Ibnu Umar radhiallahu’anhu mengatakan:صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ“Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari no. 1102, Muslim no. 689)Maka mengqasar salat ketika safar hukumnya sunah muakkadah (sangat ditekankan). Namun jika menyempurnakan rakaat, salatnya tetap sah. Seorang musafir jika salat menjadi makmum dari imam yang berstatus mukim, maka musafir tersebut tidak boleh mengqasar.Mengqasar salat adalah mengerjakan salat Zuhur atau salat Asar atau salat Isya hanya dua rakaat saja. Adapun salat Magrib dan salat Subuh tidak bisa diqasar.Baca Juga: Bolehkah Wanita Safar Untuk Menuntut Ilmu tanpa mahrom?Kelima, Wajib Salat di Darat Selama Masih MemungkinkanSebagaimana kita ketahui bersama, menghadap kiblat adalah syarat sah salat, tidak sah salatnya jika tidak dipenuhi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS. Al Baqarah: 144)Maka pada asalnya, salat wajib yang lima waktu dilakukan di darat dan tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena sulit menghadap kiblat dengan benar.Imam An-Nawawi lalu berkata: “hadis-hadis ini menunjukkan bolehnya salat sunah kemana pun binatang tunggangan menghadap. Ini boleh berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin.” Dan di tempat yang sama, beliau menjelaskan: “hadis ini juga dalil bahwa salat wajib tidak boleh kecuali menghadap kiblat, dan tidak boleh di atas kendaraan, ini berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin. Kecuali karena adanya rasa takut yang besar.” (Syarah Shahih Muslim, 5/211)Keenam, Membaca Doa Keluar RumahDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)'” (HR. Abu Daud no. 5095, At Tirmidzi no. 3426; dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Ketujuh, Berpamitan Kepada Keluarga dan TetanggaDianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga dan tetangga serta kerabat sebelum safar. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, beliau berkata:كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُوَدِّعُنا فيقول : أَستودِعُ اللهَ دِينَك وأمانتَك وخواتيمَ عملِك“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berpamitan kepada kami (sebelum safar) kemudian membaca doa: astaudi’ullah diinaka wa amaanataka wa khowaatima amalika (aku titipkan kepada Allah, agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu)” (HR. Ahmad, 6/242, Abu Daud no. 2600, At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad).Dan orang yang ditinggalkan membaca doa sebagaimana yang ada dalam hadis ini:النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ودَّع رجلًا فقال : زوَّدكَ اللهُ التقوى , وغفَر لكَ ذنبَكَ , ويسَّر لكَ الخيرَ مِن حيثُما كنتَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika memberi pesan kepergian kepada seseorang, beliau mengucapkan: zawwadakallahut taqwaa wa ghafara laka zambaka wa yassara lakal khayra min haitsumaa kunta (semoga Allah memberimu bekal taqwa, dan mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu dimanapun berada)” (HR. At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Kedelapan, Membaca Doa Naik KendaraanKetika naik kendaraan apapun, dianjurkan membaca doa:سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَSubhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut:وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ . لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Zukhruf: 12-14).Terdapat redaksi lain yang lebih panjang. Dalam hadiss Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ، كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: «سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika naik ke untanya untuk pergi safar, beliau bertakbir 3x kemudian mengucapkan:Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fi safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardhoa. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘annaa bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli(Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah kami memohon kebaikan dan ketaqwaan dalam safar kami dan keridhaan dalam amalan kami. Ya Allah mudahkanlah safar kami ini. Lipatlah jauhnya jarak safar ini. Ya Allah Engkaulah yang menyertai kami dalam safar ini, dan pengganti yang menjaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar ini, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari tempat kembali yang buruk baik dalam perkara harta dan perkara keluarga)” (HR. Muslim no. 1342)Ketika pulang terdapat tambahan:آيبونَ تائبونَ عابدون، لربِّنا حامدونaayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduuna lirobbinaa haamiduuna “(Kami kembali, dalam keadaan bertaubat dan menyembah kepada Rabb kami, dan memuji-Nya)” (HR. Muslim no. 1342)Baca Juga: Shalat Sunnahnya MusafirKesembilan, Memperbanyak Doa di PerjalananHendaknya menggunakan waktu perjalanan untuk memperbanyak doa. Karena ketika safar adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud no. 1536. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).Kesepuluh, Segera Pulang Jika Urusan Sudah SelesaiHendaknya orang yang bersafar segera pulang ketika urusannya selesai dan tidak berlama-lama. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:السَّفَرُ قِطعةٌ من العذاب؛ يمنعُ أحدَكم طعامَه، وشرابَه ونومَه، فإذا قضى أحدُكم نَهْمَتَه فليُعَجِّلْ إلى أهلِه“Safar adalah sepotong azab, seseorang diantara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari no.3001, Muslim no.1927).Kesebelas, Shalat Dua Rakaat Pulang SafarDianjurkan ketika pulang dari safar, sebelum menuju ke rumah, hendaknya salat dua rakaat di masjid. Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:أَنَّ النَّبيَّ صلَّى الله عليه وسَلَّم كان إذا قَدِمَ من سفر بدأ بالمسجِدِ فركع فيه ركعتين ثُمَّ جلس“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika beliau pulang dari safar, beliau mendahulukan masuk masjid kemudian salat dua rakaat di masjid kemudian duduk.” (HR Bukhari no. 3088, Muslim no. 2769)Keduabelas, Acara Makan-Makan Sepulang SafarDibolehkan membuat acara makan-makan ketika seseorang datang dari safar, acara ini disebut dengan an-naqi’ah. Istilah an-naqi’ah dari kata dasar an -naq’u yang artinya debu. Karena orang yang safar biasanya terkena debu di perjalanan. Terdapat hadis shahih dari Nabi Shallalahu’alaihi Wasallam:أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina.” (HR. Bukhari no.2923 bab Ath Tha’am Indal Qudum).Imam Al Bukhari membuat judul Bab “Bab jamuan ketika ada musafir yang datang”, Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma biasa menjamu makan orang yang datang kepadanya” (Fathul Baari, 6/194).Baca Juga: Musafir Yang Tidak Berpuasa, Bolehkah Jima’ Di Siang Hari Ramadhan? Hukum Azan Bagi Musafir Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Manhaj Salafus Shalih, Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Contoh Akhlak Kepada Allah, Hukum Jual Beli Kucing Persia, Pildacil Kartun

Adab-Adab Safar (Bepergian Jauh)

Safar adalah keluar dari tempat tinggal untuk melakukan perjalanan yang jauh. Dalam Islam, ada adab-adab yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang safar. DiantaranyaBaca Juga: Safar Adalah Sebagian dari AdzabPertama, Hendaknya Tidak Safar SendirianSeorang Muslim dimakruhkan bersafar sendirian, hendaknya bersafar bersama beberapa orang. Sehingga lebih aman dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran di perjalanan. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ“orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik dalam Al Muwatha, Abu Daud no.2607, dan At Tirmidzi no. 1674, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لو يعلمُ الناسُ ما في الوَحْدَةِ ما أعلَمُ، ما سار راكبٌ بليلٍ وَحْدَه“Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari no. 2998)Baca Juga: Sunnah Melakukan Safar Malam hariKedua, Mencari Teman Safar yang BaikHendaknya seorang yang bersafar mencari teman safar yang saleh. Agar perjalanan safarnya penuh dengan hal-hal yang bermanfaat, jauh dari kesia-siaan dan maksiat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda,الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)Baca Juga: 22 Poin Ringkasan Fikih SafarKetiga, Boleh Menjamak Salat, Namun Lebih Utama Tidak DijamakBoleh menjamak (menggabungkan) salat ketika safar. Zuhur dijamak dengan Asar, Magrib dengan Isya. Salat Subuh dikerjakan pada waktunya dan tidak dijamak dengan salat sebelumnya atau sesudahnya.Menjamak salat dengan salat sebelumnya dinamakan jamak takdim. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Arafah ketika haji Wada, beliau menggabungkan salat Asar dengan Zuhur.Menjamak salat dengan salat sesudahnya dinamakan jamak takhir. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Muzdalifah pada malam hari, beliau menggabungkan salat Magrib dan Isya.Menjamak salat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu beliau mengatakan:جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak salat Zuhur dan salat Asar, dan menjamak salat Magrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no. 705).Para ulama mengatakan alasan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak karena ada masyaqqah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر“Dibolehkannya menqasar salat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak salat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan uzur.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/293).Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:وله الجمع يجوز له الجمع بين الظهر والعصر، بين المغرب والعشاء، لكن تركه أفضل إذا كان نازلًا ليس عليه مشقة تركه أفضل“Orang yang safar dibolehkan menjamak salat Zuhur dan Asar, salat Magrib dan Isya, namun meninggalkannya itu lebih utama, jika ia singgah di suatu tempat dan tidak ada kesulitan, maka meninggalkan jamak itu lebih utama”Baca Juga: Musafir Yang Tidak Mengalami Kesusahan Bersafar Bolehkah Tidak Puasa?Keempat, Dianjurkan Mengqasar SalatAdapun mengqasar (meringkas) salat ketika safar, itu lebih dianjurkan. Ibnu Umar radhiallahu’anhu mengatakan:صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ“Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari no. 1102, Muslim no. 689)Maka mengqasar salat ketika safar hukumnya sunah muakkadah (sangat ditekankan). Namun jika menyempurnakan rakaat, salatnya tetap sah. Seorang musafir jika salat menjadi makmum dari imam yang berstatus mukim, maka musafir tersebut tidak boleh mengqasar.Mengqasar salat adalah mengerjakan salat Zuhur atau salat Asar atau salat Isya hanya dua rakaat saja. Adapun salat Magrib dan salat Subuh tidak bisa diqasar.Baca Juga: Bolehkah Wanita Safar Untuk Menuntut Ilmu tanpa mahrom?Kelima, Wajib Salat di Darat Selama Masih MemungkinkanSebagaimana kita ketahui bersama, menghadap kiblat adalah syarat sah salat, tidak sah salatnya jika tidak dipenuhi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS. Al Baqarah: 144)Maka pada asalnya, salat wajib yang lima waktu dilakukan di darat dan tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena sulit menghadap kiblat dengan benar.Imam An-Nawawi lalu berkata: “hadis-hadis ini menunjukkan bolehnya salat sunah kemana pun binatang tunggangan menghadap. Ini boleh berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin.” Dan di tempat yang sama, beliau menjelaskan: “hadis ini juga dalil bahwa salat wajib tidak boleh kecuali menghadap kiblat, dan tidak boleh di atas kendaraan, ini berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin. Kecuali karena adanya rasa takut yang besar.” (Syarah Shahih Muslim, 5/211)Keenam, Membaca Doa Keluar RumahDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)'” (HR. Abu Daud no. 5095, At Tirmidzi no. 3426; dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Ketujuh, Berpamitan Kepada Keluarga dan TetanggaDianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga dan tetangga serta kerabat sebelum safar. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, beliau berkata:كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُوَدِّعُنا فيقول : أَستودِعُ اللهَ دِينَك وأمانتَك وخواتيمَ عملِك“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berpamitan kepada kami (sebelum safar) kemudian membaca doa: astaudi’ullah diinaka wa amaanataka wa khowaatima amalika (aku titipkan kepada Allah, agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu)” (HR. Ahmad, 6/242, Abu Daud no. 2600, At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad).Dan orang yang ditinggalkan membaca doa sebagaimana yang ada dalam hadis ini:النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ودَّع رجلًا فقال : زوَّدكَ اللهُ التقوى , وغفَر لكَ ذنبَكَ , ويسَّر لكَ الخيرَ مِن حيثُما كنتَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika memberi pesan kepergian kepada seseorang, beliau mengucapkan: zawwadakallahut taqwaa wa ghafara laka zambaka wa yassara lakal khayra min haitsumaa kunta (semoga Allah memberimu bekal taqwa, dan mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu dimanapun berada)” (HR. At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Kedelapan, Membaca Doa Naik KendaraanKetika naik kendaraan apapun, dianjurkan membaca doa:سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَSubhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut:وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ . لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Zukhruf: 12-14).Terdapat redaksi lain yang lebih panjang. Dalam hadiss Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ، كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: «سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika naik ke untanya untuk pergi safar, beliau bertakbir 3x kemudian mengucapkan:Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fi safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardhoa. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘annaa bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli(Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah kami memohon kebaikan dan ketaqwaan dalam safar kami dan keridhaan dalam amalan kami. Ya Allah mudahkanlah safar kami ini. Lipatlah jauhnya jarak safar ini. Ya Allah Engkaulah yang menyertai kami dalam safar ini, dan pengganti yang menjaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar ini, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari tempat kembali yang buruk baik dalam perkara harta dan perkara keluarga)” (HR. Muslim no. 1342)Ketika pulang terdapat tambahan:آيبونَ تائبونَ عابدون، لربِّنا حامدونaayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduuna lirobbinaa haamiduuna “(Kami kembali, dalam keadaan bertaubat dan menyembah kepada Rabb kami, dan memuji-Nya)” (HR. Muslim no. 1342)Baca Juga: Shalat Sunnahnya MusafirKesembilan, Memperbanyak Doa di PerjalananHendaknya menggunakan waktu perjalanan untuk memperbanyak doa. Karena ketika safar adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud no. 1536. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).Kesepuluh, Segera Pulang Jika Urusan Sudah SelesaiHendaknya orang yang bersafar segera pulang ketika urusannya selesai dan tidak berlama-lama. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:السَّفَرُ قِطعةٌ من العذاب؛ يمنعُ أحدَكم طعامَه، وشرابَه ونومَه، فإذا قضى أحدُكم نَهْمَتَه فليُعَجِّلْ إلى أهلِه“Safar adalah sepotong azab, seseorang diantara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari no.3001, Muslim no.1927).Kesebelas, Shalat Dua Rakaat Pulang SafarDianjurkan ketika pulang dari safar, sebelum menuju ke rumah, hendaknya salat dua rakaat di masjid. Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:أَنَّ النَّبيَّ صلَّى الله عليه وسَلَّم كان إذا قَدِمَ من سفر بدأ بالمسجِدِ فركع فيه ركعتين ثُمَّ جلس“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika beliau pulang dari safar, beliau mendahulukan masuk masjid kemudian salat dua rakaat di masjid kemudian duduk.” (HR Bukhari no. 3088, Muslim no. 2769)Keduabelas, Acara Makan-Makan Sepulang SafarDibolehkan membuat acara makan-makan ketika seseorang datang dari safar, acara ini disebut dengan an-naqi’ah. Istilah an-naqi’ah dari kata dasar an -naq’u yang artinya debu. Karena orang yang safar biasanya terkena debu di perjalanan. Terdapat hadis shahih dari Nabi Shallalahu’alaihi Wasallam:أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina.” (HR. Bukhari no.2923 bab Ath Tha’am Indal Qudum).Imam Al Bukhari membuat judul Bab “Bab jamuan ketika ada musafir yang datang”, Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma biasa menjamu makan orang yang datang kepadanya” (Fathul Baari, 6/194).Baca Juga: Musafir Yang Tidak Berpuasa, Bolehkah Jima’ Di Siang Hari Ramadhan? Hukum Azan Bagi Musafir Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Manhaj Salafus Shalih, Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Contoh Akhlak Kepada Allah, Hukum Jual Beli Kucing Persia, Pildacil Kartun
Safar adalah keluar dari tempat tinggal untuk melakukan perjalanan yang jauh. Dalam Islam, ada adab-adab yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang safar. DiantaranyaBaca Juga: Safar Adalah Sebagian dari AdzabPertama, Hendaknya Tidak Safar SendirianSeorang Muslim dimakruhkan bersafar sendirian, hendaknya bersafar bersama beberapa orang. Sehingga lebih aman dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran di perjalanan. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ“orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik dalam Al Muwatha, Abu Daud no.2607, dan At Tirmidzi no. 1674, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لو يعلمُ الناسُ ما في الوَحْدَةِ ما أعلَمُ، ما سار راكبٌ بليلٍ وَحْدَه“Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari no. 2998)Baca Juga: Sunnah Melakukan Safar Malam hariKedua, Mencari Teman Safar yang BaikHendaknya seorang yang bersafar mencari teman safar yang saleh. Agar perjalanan safarnya penuh dengan hal-hal yang bermanfaat, jauh dari kesia-siaan dan maksiat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda,الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)Baca Juga: 22 Poin Ringkasan Fikih SafarKetiga, Boleh Menjamak Salat, Namun Lebih Utama Tidak DijamakBoleh menjamak (menggabungkan) salat ketika safar. Zuhur dijamak dengan Asar, Magrib dengan Isya. Salat Subuh dikerjakan pada waktunya dan tidak dijamak dengan salat sebelumnya atau sesudahnya.Menjamak salat dengan salat sebelumnya dinamakan jamak takdim. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Arafah ketika haji Wada, beliau menggabungkan salat Asar dengan Zuhur.Menjamak salat dengan salat sesudahnya dinamakan jamak takhir. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Muzdalifah pada malam hari, beliau menggabungkan salat Magrib dan Isya.Menjamak salat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu beliau mengatakan:جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak salat Zuhur dan salat Asar, dan menjamak salat Magrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no. 705).Para ulama mengatakan alasan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak karena ada masyaqqah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر“Dibolehkannya menqasar salat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak salat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan uzur.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/293).Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:وله الجمع يجوز له الجمع بين الظهر والعصر، بين المغرب والعشاء، لكن تركه أفضل إذا كان نازلًا ليس عليه مشقة تركه أفضل“Orang yang safar dibolehkan menjamak salat Zuhur dan Asar, salat Magrib dan Isya, namun meninggalkannya itu lebih utama, jika ia singgah di suatu tempat dan tidak ada kesulitan, maka meninggalkan jamak itu lebih utama”Baca Juga: Musafir Yang Tidak Mengalami Kesusahan Bersafar Bolehkah Tidak Puasa?Keempat, Dianjurkan Mengqasar SalatAdapun mengqasar (meringkas) salat ketika safar, itu lebih dianjurkan. Ibnu Umar radhiallahu’anhu mengatakan:صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ“Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari no. 1102, Muslim no. 689)Maka mengqasar salat ketika safar hukumnya sunah muakkadah (sangat ditekankan). Namun jika menyempurnakan rakaat, salatnya tetap sah. Seorang musafir jika salat menjadi makmum dari imam yang berstatus mukim, maka musafir tersebut tidak boleh mengqasar.Mengqasar salat adalah mengerjakan salat Zuhur atau salat Asar atau salat Isya hanya dua rakaat saja. Adapun salat Magrib dan salat Subuh tidak bisa diqasar.Baca Juga: Bolehkah Wanita Safar Untuk Menuntut Ilmu tanpa mahrom?Kelima, Wajib Salat di Darat Selama Masih MemungkinkanSebagaimana kita ketahui bersama, menghadap kiblat adalah syarat sah salat, tidak sah salatnya jika tidak dipenuhi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS. Al Baqarah: 144)Maka pada asalnya, salat wajib yang lima waktu dilakukan di darat dan tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena sulit menghadap kiblat dengan benar.Imam An-Nawawi lalu berkata: “hadis-hadis ini menunjukkan bolehnya salat sunah kemana pun binatang tunggangan menghadap. Ini boleh berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin.” Dan di tempat yang sama, beliau menjelaskan: “hadis ini juga dalil bahwa salat wajib tidak boleh kecuali menghadap kiblat, dan tidak boleh di atas kendaraan, ini berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin. Kecuali karena adanya rasa takut yang besar.” (Syarah Shahih Muslim, 5/211)Keenam, Membaca Doa Keluar RumahDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)'” (HR. Abu Daud no. 5095, At Tirmidzi no. 3426; dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Ketujuh, Berpamitan Kepada Keluarga dan TetanggaDianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga dan tetangga serta kerabat sebelum safar. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, beliau berkata:كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُوَدِّعُنا فيقول : أَستودِعُ اللهَ دِينَك وأمانتَك وخواتيمَ عملِك“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berpamitan kepada kami (sebelum safar) kemudian membaca doa: astaudi’ullah diinaka wa amaanataka wa khowaatima amalika (aku titipkan kepada Allah, agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu)” (HR. Ahmad, 6/242, Abu Daud no. 2600, At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad).Dan orang yang ditinggalkan membaca doa sebagaimana yang ada dalam hadis ini:النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ودَّع رجلًا فقال : زوَّدكَ اللهُ التقوى , وغفَر لكَ ذنبَكَ , ويسَّر لكَ الخيرَ مِن حيثُما كنتَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika memberi pesan kepergian kepada seseorang, beliau mengucapkan: zawwadakallahut taqwaa wa ghafara laka zambaka wa yassara lakal khayra min haitsumaa kunta (semoga Allah memberimu bekal taqwa, dan mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu dimanapun berada)” (HR. At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Kedelapan, Membaca Doa Naik KendaraanKetika naik kendaraan apapun, dianjurkan membaca doa:سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَSubhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut:وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ . لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Zukhruf: 12-14).Terdapat redaksi lain yang lebih panjang. Dalam hadiss Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ، كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: «سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika naik ke untanya untuk pergi safar, beliau bertakbir 3x kemudian mengucapkan:Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fi safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardhoa. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘annaa bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli(Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah kami memohon kebaikan dan ketaqwaan dalam safar kami dan keridhaan dalam amalan kami. Ya Allah mudahkanlah safar kami ini. Lipatlah jauhnya jarak safar ini. Ya Allah Engkaulah yang menyertai kami dalam safar ini, dan pengganti yang menjaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar ini, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari tempat kembali yang buruk baik dalam perkara harta dan perkara keluarga)” (HR. Muslim no. 1342)Ketika pulang terdapat tambahan:آيبونَ تائبونَ عابدون، لربِّنا حامدونaayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduuna lirobbinaa haamiduuna “(Kami kembali, dalam keadaan bertaubat dan menyembah kepada Rabb kami, dan memuji-Nya)” (HR. Muslim no. 1342)Baca Juga: Shalat Sunnahnya MusafirKesembilan, Memperbanyak Doa di PerjalananHendaknya menggunakan waktu perjalanan untuk memperbanyak doa. Karena ketika safar adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud no. 1536. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).Kesepuluh, Segera Pulang Jika Urusan Sudah SelesaiHendaknya orang yang bersafar segera pulang ketika urusannya selesai dan tidak berlama-lama. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:السَّفَرُ قِطعةٌ من العذاب؛ يمنعُ أحدَكم طعامَه، وشرابَه ونومَه، فإذا قضى أحدُكم نَهْمَتَه فليُعَجِّلْ إلى أهلِه“Safar adalah sepotong azab, seseorang diantara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari no.3001, Muslim no.1927).Kesebelas, Shalat Dua Rakaat Pulang SafarDianjurkan ketika pulang dari safar, sebelum menuju ke rumah, hendaknya salat dua rakaat di masjid. Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:أَنَّ النَّبيَّ صلَّى الله عليه وسَلَّم كان إذا قَدِمَ من سفر بدأ بالمسجِدِ فركع فيه ركعتين ثُمَّ جلس“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika beliau pulang dari safar, beliau mendahulukan masuk masjid kemudian salat dua rakaat di masjid kemudian duduk.” (HR Bukhari no. 3088, Muslim no. 2769)Keduabelas, Acara Makan-Makan Sepulang SafarDibolehkan membuat acara makan-makan ketika seseorang datang dari safar, acara ini disebut dengan an-naqi’ah. Istilah an-naqi’ah dari kata dasar an -naq’u yang artinya debu. Karena orang yang safar biasanya terkena debu di perjalanan. Terdapat hadis shahih dari Nabi Shallalahu’alaihi Wasallam:أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina.” (HR. Bukhari no.2923 bab Ath Tha’am Indal Qudum).Imam Al Bukhari membuat judul Bab “Bab jamuan ketika ada musafir yang datang”, Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma biasa menjamu makan orang yang datang kepadanya” (Fathul Baari, 6/194).Baca Juga: Musafir Yang Tidak Berpuasa, Bolehkah Jima’ Di Siang Hari Ramadhan? Hukum Azan Bagi Musafir Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Manhaj Salafus Shalih, Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Contoh Akhlak Kepada Allah, Hukum Jual Beli Kucing Persia, Pildacil Kartun


Safar adalah keluar dari tempat tinggal untuk melakukan perjalanan yang jauh. Dalam Islam, ada adab-adab yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang safar. DiantaranyaBaca Juga: Safar Adalah Sebagian dari AdzabPertama, Hendaknya Tidak Safar SendirianSeorang Muslim dimakruhkan bersafar sendirian, hendaknya bersafar bersama beberapa orang. Sehingga lebih aman dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran di perjalanan. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ“orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik dalam Al Muwatha, Abu Daud no.2607, dan At Tirmidzi no. 1674, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لو يعلمُ الناسُ ما في الوَحْدَةِ ما أعلَمُ، ما سار راكبٌ بليلٍ وَحْدَه“Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari no. 2998)Baca Juga: Sunnah Melakukan Safar Malam hariKedua, Mencari Teman Safar yang BaikHendaknya seorang yang bersafar mencari teman safar yang saleh. Agar perjalanan safarnya penuh dengan hal-hal yang bermanfaat, jauh dari kesia-siaan dan maksiat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:ثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda,الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)Baca Juga: 22 Poin Ringkasan Fikih SafarKetiga, Boleh Menjamak Salat, Namun Lebih Utama Tidak DijamakBoleh menjamak (menggabungkan) salat ketika safar. Zuhur dijamak dengan Asar, Magrib dengan Isya. Salat Subuh dikerjakan pada waktunya dan tidak dijamak dengan salat sebelumnya atau sesudahnya.Menjamak salat dengan salat sebelumnya dinamakan jamak takdim. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Arafah ketika haji Wada, beliau menggabungkan salat Asar dengan Zuhur.Menjamak salat dengan salat sesudahnya dinamakan jamak takhir. Misalnya yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di Muzdalifah pada malam hari, beliau menggabungkan salat Magrib dan Isya.Menjamak salat dibolehkan secara umum ketika ada masyaqqah (kesulitan). Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu beliau mengatakan:جمع رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بين الظهرِ والعصرِ ، والمغربِ والعشاءِ بالمدينةِ من غيرِ خوفٍ ولا مطرٍ“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak salat Zuhur dan salat Asar, dan menjamak salat Magrib dan Isya, di Madinah padahal tidak sedang dalam ketakutan dan tidak hujan” (HR. Muslim no. 705).Para ulama mengatakan alasan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjamak karena ada masyaqqah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:والقصر سببه السفر خاصة ، لا يجوز في غير السفر. وأما الجمع فسببه الحاجة والعذر“Dibolehkannya menqasar salat hanya ketika safar secara khusus, tidak boleh dilakukan pada selain safar. Adapun menjamak salat, dibolehkan ketika ada kebutuhan dan uzur.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/293).Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:وله الجمع يجوز له الجمع بين الظهر والعصر، بين المغرب والعشاء، لكن تركه أفضل إذا كان نازلًا ليس عليه مشقة تركه أفضل“Orang yang safar dibolehkan menjamak salat Zuhur dan Asar, salat Magrib dan Isya, namun meninggalkannya itu lebih utama, jika ia singgah di suatu tempat dan tidak ada kesulitan, maka meninggalkan jamak itu lebih utama”Baca Juga: Musafir Yang Tidak Mengalami Kesusahan Bersafar Bolehkah Tidak Puasa?Keempat, Dianjurkan Mengqasar SalatAdapun mengqasar (meringkas) salat ketika safar, itu lebih dianjurkan. Ibnu Umar radhiallahu’anhu mengatakan:صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ“Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari no. 1102, Muslim no. 689)Maka mengqasar salat ketika safar hukumnya sunah muakkadah (sangat ditekankan). Namun jika menyempurnakan rakaat, salatnya tetap sah. Seorang musafir jika salat menjadi makmum dari imam yang berstatus mukim, maka musafir tersebut tidak boleh mengqasar.Mengqasar salat adalah mengerjakan salat Zuhur atau salat Asar atau salat Isya hanya dua rakaat saja. Adapun salat Magrib dan salat Subuh tidak bisa diqasar.Baca Juga: Bolehkah Wanita Safar Untuk Menuntut Ilmu tanpa mahrom?Kelima, Wajib Salat di Darat Selama Masih MemungkinkanSebagaimana kita ketahui bersama, menghadap kiblat adalah syarat sah salat, tidak sah salatnya jika tidak dipenuhi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS. Al Baqarah: 144)Maka pada asalnya, salat wajib yang lima waktu dilakukan di darat dan tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena sulit menghadap kiblat dengan benar.Imam An-Nawawi lalu berkata: “hadis-hadis ini menunjukkan bolehnya salat sunah kemana pun binatang tunggangan menghadap. Ini boleh berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin.” Dan di tempat yang sama, beliau menjelaskan: “hadis ini juga dalil bahwa salat wajib tidak boleh kecuali menghadap kiblat, dan tidak boleh di atas kendaraan, ini berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin. Kecuali karena adanya rasa takut yang besar.” (Syarah Shahih Muslim, 5/211)Keenam, Membaca Doa Keluar RumahDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)'” (HR. Abu Daud no. 5095, At Tirmidzi no. 3426; dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).Ketujuh, Berpamitan Kepada Keluarga dan TetanggaDianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga dan tetangga serta kerabat sebelum safar. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, beliau berkata:كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُوَدِّعُنا فيقول : أَستودِعُ اللهَ دِينَك وأمانتَك وخواتيمَ عملِك“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berpamitan kepada kami (sebelum safar) kemudian membaca doa: astaudi’ullah diinaka wa amaanataka wa khowaatima amalika (aku titipkan kepada Allah, agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu)” (HR. Ahmad, 6/242, Abu Daud no. 2600, At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad).Dan orang yang ditinggalkan membaca doa sebagaimana yang ada dalam hadis ini:النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ودَّع رجلًا فقال : زوَّدكَ اللهُ التقوى , وغفَر لكَ ذنبَكَ , ويسَّر لكَ الخيرَ مِن حيثُما كنتَ“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika memberi pesan kepergian kepada seseorang, beliau mengucapkan: zawwadakallahut taqwaa wa ghafara laka zambaka wa yassara lakal khayra min haitsumaa kunta (semoga Allah memberimu bekal taqwa, dan mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu dimanapun berada)” (HR. At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).Kedelapan, Membaca Doa Naik KendaraanKetika naik kendaraan apapun, dianjurkan membaca doa:سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَSubhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut:وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ . لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Zukhruf: 12-14).Terdapat redaksi lain yang lebih panjang. Dalam hadiss Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ، كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: «سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika naik ke untanya untuk pergi safar, beliau bertakbir 3x kemudian mengucapkan:Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun. Allahumma innaa nas’aluka fi safarinaa hadza al birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardhoa. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadza, wathwi ‘annaa bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli(Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah kami memohon kebaikan dan ketaqwaan dalam safar kami dan keridhaan dalam amalan kami. Ya Allah mudahkanlah safar kami ini. Lipatlah jauhnya jarak safar ini. Ya Allah Engkaulah yang menyertai kami dalam safar ini, dan pengganti yang menjaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar ini, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari tempat kembali yang buruk baik dalam perkara harta dan perkara keluarga)” (HR. Muslim no. 1342)Ketika pulang terdapat tambahan:آيبونَ تائبونَ عابدون، لربِّنا حامدونaayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduuna lirobbinaa haamiduuna “(Kami kembali, dalam keadaan bertaubat dan menyembah kepada Rabb kami, dan memuji-Nya)” (HR. Muslim no. 1342)Baca Juga: Shalat Sunnahnya MusafirKesembilan, Memperbanyak Doa di PerjalananHendaknya menggunakan waktu perjalanan untuk memperbanyak doa. Karena ketika safar adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud no. 1536. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).Kesepuluh, Segera Pulang Jika Urusan Sudah SelesaiHendaknya orang yang bersafar segera pulang ketika urusannya selesai dan tidak berlama-lama. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:السَّفَرُ قِطعةٌ من العذاب؛ يمنعُ أحدَكم طعامَه، وشرابَه ونومَه، فإذا قضى أحدُكم نَهْمَتَه فليُعَجِّلْ إلى أهلِه“Safar adalah sepotong azab, seseorang diantara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari no.3001, Muslim no.1927).Kesebelas, Shalat Dua Rakaat Pulang SafarDianjurkan ketika pulang dari safar, sebelum menuju ke rumah, hendaknya salat dua rakaat di masjid. Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:أَنَّ النَّبيَّ صلَّى الله عليه وسَلَّم كان إذا قَدِمَ من سفر بدأ بالمسجِدِ فركع فيه ركعتين ثُمَّ جلس“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika beliau pulang dari safar, beliau mendahulukan masuk masjid kemudian salat dua rakaat di masjid kemudian duduk.” (HR Bukhari no. 3088, Muslim no. 2769)Keduabelas, Acara Makan-Makan Sepulang SafarDibolehkan membuat acara makan-makan ketika seseorang datang dari safar, acara ini disebut dengan an-naqi’ah. Istilah an-naqi’ah dari kata dasar an -naq’u yang artinya debu. Karena orang yang safar biasanya terkena debu di perjalanan. Terdapat hadis shahih dari Nabi Shallalahu’alaihi Wasallam:أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina.” (HR. Bukhari no.2923 bab Ath Tha’am Indal Qudum).Imam Al Bukhari membuat judul Bab “Bab jamuan ketika ada musafir yang datang”, Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma biasa menjamu makan orang yang datang kepadanya” (Fathul Baari, 6/194).Baca Juga: Musafir Yang Tidak Berpuasa, Bolehkah Jima’ Di Siang Hari Ramadhan? Hukum Azan Bagi Musafir Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Manhaj Salafus Shalih, Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Contoh Akhlak Kepada Allah, Hukum Jual Beli Kucing Persia, Pildacil Kartun

Memanjangkan Takbir dan Salam ketika Shalat

Memanjangkan Takbir dan Salam ketika Shalat Terkadang ada imam yang bacaan takbir dari sujud bangkit ke rakaat berikutnya sangat panjang. Demikian pula, salamnya dibuat sangat panjang. Bagaiman hukumnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Sebagian ulama menganjurkan untuk memanjangkan takbir intiqal sepanjang gerakan perpindahan. Sehingga jika jarak bergeraknya jauh, seperti dari sujud ke berdiri, maka takbir intiqal lebih panjang. Ini merupakan pendapat an-Nawawi dan ar-Rafi’I – keduanya ulama Syafi’iyah – . Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tentang shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكَبِّرُ فِى كُلِّ خَفْضٍ وَرَفْعٍ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir setiap gerakan naik dan turun… (HR. Ahmad 3659, Nasai 1091, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadis di atas, واستدل به الرافعي على أنه يكبر في جلسة الاستراحة فيرفع رأسه من السجود غير مكبر ثم يبتدئ التكبير جالسا ويمده إلى أن يقوم Berdasarkan hadis ini, ar-Rafi’i menjadikannya dalil bahwa takbir dilakukan ketika duduk istirahat. Bangkit dari sujud tidak membaca takbir, kemudian mulai takbir di posisi duduk, dan dipanjangkan hingga berdiri. (al-Talkhis al-Habir, 1/625) Demikian pula yang dinyatakan an-Nawawi. Dalam penjelasannya untuk shahih Muslim, Beliau mengatakan, وقوله: يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ … هذا دليل على مقارنة التكبير لهذه الحركات وبسطه عليها فيبدأ بالتكبير حين يشرع في الانتقال إلى الركوع ويمده حتى يصل حد الراكعين … ويبدأ بالتكبير حين يشرع في الهوي إلى السجود ويمده حتى يضع جبهته على الأرض… ويشرع في التكبير للقيام من التشهد الأول حين يشرع في الانتقال ويمده حتى ينتصب قائما Keterangan Abu Hurairah: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun sujud, kemudian bertakbir ketika bangkit…’ ini menunjukkan bahwa takbir itu mengiringi gerakan-gerakan tersebut. Dan dilakukan sepanjang gerakan perpindahan itu. Takbir dimulai ketika seseorang mulai bergerak untuk rukuk, dipanjangkan sampai dia di posisi rukuk… dia mulai takbir ketika hendak turun sujud, lalu dipanjangkan, hingga dia letakkan dahinya di tanah… dan takbir bangkit dari tasyahud awal dimulai ketika bergerak, dipanjangkan hingga tegak berdiri sempurna.. (Syarah Shahih Muslim, 4/99) Namun pendapat ini disanggah oleh banyak ulama, termasuk para ulama madzhab Syafiiyah lainnya. Seperti al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat an-Nawawi. Lalu beliau memberikan komentar, bahwa hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tidak menunjukkan anjuran untuk memperpanjang lafadz takbir intiqal. (Fathul Bari, 2/273). Demikian pula As-Shan’ani, beliau mengatakan, وظاهر قوله: ( يكبر حين كذا وحين كذا )، أن التكبير يقارن هذه الحركات فيشرع في التكبير عند ابتدائه للركن. وأما القول بأنه يمد التكبير حتى يتم الحركة ، فلا وجه له، بل يأتي باللفظ من غير زيادة على أدائه ولا نقصان منه Yang benar, pernyataan Abu Hurairah, “beliau bertakbir ketika bergerak” menunjukkan bahwa takbir mengiringi gerakan-gerakan ini. Sehingga disyariatkan untuk bertakbir ketika mulai untuk bergerak ke rukun. Sementara pendapat yang mengatakan, dipanjangkan takbirnya sampai sempurna gerakannya, tidak memiliki alasan yang kuat. Namun orang yang shalat membaca lafadz takbir, tanpa ditambah maupun dikurangi. (Subulus Salam, 1/179). Diantara dalil pendapat ini adalah perkataan seorang ulama tabiin, Ibrahim an-Nakha’i, التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ “Takbir itu jazm, salam itu jazm.” (HR. Turmudzi 298). Yan dimaksud jazm adalah tidak dipanjangkan. (at-Talkhis Ibnu Hajar, 1/551). At-Turmudzi menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan pengingkaran para sahabat terhadap salam yang dipanjangkan atau takbir yang dipanjangkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, حَذْفُ السَّلاَمِ سُنَّةٌ Hadzf lafadz Salam itu termasuk sunah. (HR. Turmudzi 297 dan dihasankan at-Turmudzi) Ibnul Mubarok mengatakan, يَعْنِى أَنْ لاَ تَمُدَّهُ مَدًّا Maksud Abu Hurairah, tidak dipanjangkan. At-Turmudzi menambahkan penjelasan dari keterangan Abu Hurairah, وَهُوَ الَّذِى يَسْتَحِبُّهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَرُوِىَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِىِّ أَنَّهُ قَالَ التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ Tidak memanjangkan takbir dan Salam, inilah yang dianjurkan para ulama. dan diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa beliau mengatakan, ‘Lafadz Takbir itu Jazm, Lafadz Salam juga jazm’. (Sunan at-Turmudzi, 2/93) Maksudnya tidak dipanjangkan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tahun Baru Menurut Islam, Surat Al Jin, Pintu Neraka Dan Surga, Akte Kelahiran Anak Angkat, Shalat Isyraq Adalah, Qasidah Sholawat Nabi Visited 157 times, 1 visit(s) today Post Views: 274 QRIS donasi Yufid

Memanjangkan Takbir dan Salam ketika Shalat

Memanjangkan Takbir dan Salam ketika Shalat Terkadang ada imam yang bacaan takbir dari sujud bangkit ke rakaat berikutnya sangat panjang. Demikian pula, salamnya dibuat sangat panjang. Bagaiman hukumnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Sebagian ulama menganjurkan untuk memanjangkan takbir intiqal sepanjang gerakan perpindahan. Sehingga jika jarak bergeraknya jauh, seperti dari sujud ke berdiri, maka takbir intiqal lebih panjang. Ini merupakan pendapat an-Nawawi dan ar-Rafi’I – keduanya ulama Syafi’iyah – . Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tentang shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكَبِّرُ فِى كُلِّ خَفْضٍ وَرَفْعٍ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir setiap gerakan naik dan turun… (HR. Ahmad 3659, Nasai 1091, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadis di atas, واستدل به الرافعي على أنه يكبر في جلسة الاستراحة فيرفع رأسه من السجود غير مكبر ثم يبتدئ التكبير جالسا ويمده إلى أن يقوم Berdasarkan hadis ini, ar-Rafi’i menjadikannya dalil bahwa takbir dilakukan ketika duduk istirahat. Bangkit dari sujud tidak membaca takbir, kemudian mulai takbir di posisi duduk, dan dipanjangkan hingga berdiri. (al-Talkhis al-Habir, 1/625) Demikian pula yang dinyatakan an-Nawawi. Dalam penjelasannya untuk shahih Muslim, Beliau mengatakan, وقوله: يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ … هذا دليل على مقارنة التكبير لهذه الحركات وبسطه عليها فيبدأ بالتكبير حين يشرع في الانتقال إلى الركوع ويمده حتى يصل حد الراكعين … ويبدأ بالتكبير حين يشرع في الهوي إلى السجود ويمده حتى يضع جبهته على الأرض… ويشرع في التكبير للقيام من التشهد الأول حين يشرع في الانتقال ويمده حتى ينتصب قائما Keterangan Abu Hurairah: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun sujud, kemudian bertakbir ketika bangkit…’ ini menunjukkan bahwa takbir itu mengiringi gerakan-gerakan tersebut. Dan dilakukan sepanjang gerakan perpindahan itu. Takbir dimulai ketika seseorang mulai bergerak untuk rukuk, dipanjangkan sampai dia di posisi rukuk… dia mulai takbir ketika hendak turun sujud, lalu dipanjangkan, hingga dia letakkan dahinya di tanah… dan takbir bangkit dari tasyahud awal dimulai ketika bergerak, dipanjangkan hingga tegak berdiri sempurna.. (Syarah Shahih Muslim, 4/99) Namun pendapat ini disanggah oleh banyak ulama, termasuk para ulama madzhab Syafiiyah lainnya. Seperti al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat an-Nawawi. Lalu beliau memberikan komentar, bahwa hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tidak menunjukkan anjuran untuk memperpanjang lafadz takbir intiqal. (Fathul Bari, 2/273). Demikian pula As-Shan’ani, beliau mengatakan, وظاهر قوله: ( يكبر حين كذا وحين كذا )، أن التكبير يقارن هذه الحركات فيشرع في التكبير عند ابتدائه للركن. وأما القول بأنه يمد التكبير حتى يتم الحركة ، فلا وجه له، بل يأتي باللفظ من غير زيادة على أدائه ولا نقصان منه Yang benar, pernyataan Abu Hurairah, “beliau bertakbir ketika bergerak” menunjukkan bahwa takbir mengiringi gerakan-gerakan ini. Sehingga disyariatkan untuk bertakbir ketika mulai untuk bergerak ke rukun. Sementara pendapat yang mengatakan, dipanjangkan takbirnya sampai sempurna gerakannya, tidak memiliki alasan yang kuat. Namun orang yang shalat membaca lafadz takbir, tanpa ditambah maupun dikurangi. (Subulus Salam, 1/179). Diantara dalil pendapat ini adalah perkataan seorang ulama tabiin, Ibrahim an-Nakha’i, التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ “Takbir itu jazm, salam itu jazm.” (HR. Turmudzi 298). Yan dimaksud jazm adalah tidak dipanjangkan. (at-Talkhis Ibnu Hajar, 1/551). At-Turmudzi menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan pengingkaran para sahabat terhadap salam yang dipanjangkan atau takbir yang dipanjangkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, حَذْفُ السَّلاَمِ سُنَّةٌ Hadzf lafadz Salam itu termasuk sunah. (HR. Turmudzi 297 dan dihasankan at-Turmudzi) Ibnul Mubarok mengatakan, يَعْنِى أَنْ لاَ تَمُدَّهُ مَدًّا Maksud Abu Hurairah, tidak dipanjangkan. At-Turmudzi menambahkan penjelasan dari keterangan Abu Hurairah, وَهُوَ الَّذِى يَسْتَحِبُّهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَرُوِىَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِىِّ أَنَّهُ قَالَ التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ Tidak memanjangkan takbir dan Salam, inilah yang dianjurkan para ulama. dan diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa beliau mengatakan, ‘Lafadz Takbir itu Jazm, Lafadz Salam juga jazm’. (Sunan at-Turmudzi, 2/93) Maksudnya tidak dipanjangkan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tahun Baru Menurut Islam, Surat Al Jin, Pintu Neraka Dan Surga, Akte Kelahiran Anak Angkat, Shalat Isyraq Adalah, Qasidah Sholawat Nabi Visited 157 times, 1 visit(s) today Post Views: 274 QRIS donasi Yufid
Memanjangkan Takbir dan Salam ketika Shalat Terkadang ada imam yang bacaan takbir dari sujud bangkit ke rakaat berikutnya sangat panjang. Demikian pula, salamnya dibuat sangat panjang. Bagaiman hukumnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Sebagian ulama menganjurkan untuk memanjangkan takbir intiqal sepanjang gerakan perpindahan. Sehingga jika jarak bergeraknya jauh, seperti dari sujud ke berdiri, maka takbir intiqal lebih panjang. Ini merupakan pendapat an-Nawawi dan ar-Rafi’I – keduanya ulama Syafi’iyah – . Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tentang shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكَبِّرُ فِى كُلِّ خَفْضٍ وَرَفْعٍ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir setiap gerakan naik dan turun… (HR. Ahmad 3659, Nasai 1091, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadis di atas, واستدل به الرافعي على أنه يكبر في جلسة الاستراحة فيرفع رأسه من السجود غير مكبر ثم يبتدئ التكبير جالسا ويمده إلى أن يقوم Berdasarkan hadis ini, ar-Rafi’i menjadikannya dalil bahwa takbir dilakukan ketika duduk istirahat. Bangkit dari sujud tidak membaca takbir, kemudian mulai takbir di posisi duduk, dan dipanjangkan hingga berdiri. (al-Talkhis al-Habir, 1/625) Demikian pula yang dinyatakan an-Nawawi. Dalam penjelasannya untuk shahih Muslim, Beliau mengatakan, وقوله: يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ … هذا دليل على مقارنة التكبير لهذه الحركات وبسطه عليها فيبدأ بالتكبير حين يشرع في الانتقال إلى الركوع ويمده حتى يصل حد الراكعين … ويبدأ بالتكبير حين يشرع في الهوي إلى السجود ويمده حتى يضع جبهته على الأرض… ويشرع في التكبير للقيام من التشهد الأول حين يشرع في الانتقال ويمده حتى ينتصب قائما Keterangan Abu Hurairah: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun sujud, kemudian bertakbir ketika bangkit…’ ini menunjukkan bahwa takbir itu mengiringi gerakan-gerakan tersebut. Dan dilakukan sepanjang gerakan perpindahan itu. Takbir dimulai ketika seseorang mulai bergerak untuk rukuk, dipanjangkan sampai dia di posisi rukuk… dia mulai takbir ketika hendak turun sujud, lalu dipanjangkan, hingga dia letakkan dahinya di tanah… dan takbir bangkit dari tasyahud awal dimulai ketika bergerak, dipanjangkan hingga tegak berdiri sempurna.. (Syarah Shahih Muslim, 4/99) Namun pendapat ini disanggah oleh banyak ulama, termasuk para ulama madzhab Syafiiyah lainnya. Seperti al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat an-Nawawi. Lalu beliau memberikan komentar, bahwa hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tidak menunjukkan anjuran untuk memperpanjang lafadz takbir intiqal. (Fathul Bari, 2/273). Demikian pula As-Shan’ani, beliau mengatakan, وظاهر قوله: ( يكبر حين كذا وحين كذا )، أن التكبير يقارن هذه الحركات فيشرع في التكبير عند ابتدائه للركن. وأما القول بأنه يمد التكبير حتى يتم الحركة ، فلا وجه له، بل يأتي باللفظ من غير زيادة على أدائه ولا نقصان منه Yang benar, pernyataan Abu Hurairah, “beliau bertakbir ketika bergerak” menunjukkan bahwa takbir mengiringi gerakan-gerakan ini. Sehingga disyariatkan untuk bertakbir ketika mulai untuk bergerak ke rukun. Sementara pendapat yang mengatakan, dipanjangkan takbirnya sampai sempurna gerakannya, tidak memiliki alasan yang kuat. Namun orang yang shalat membaca lafadz takbir, tanpa ditambah maupun dikurangi. (Subulus Salam, 1/179). Diantara dalil pendapat ini adalah perkataan seorang ulama tabiin, Ibrahim an-Nakha’i, التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ “Takbir itu jazm, salam itu jazm.” (HR. Turmudzi 298). Yan dimaksud jazm adalah tidak dipanjangkan. (at-Talkhis Ibnu Hajar, 1/551). At-Turmudzi menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan pengingkaran para sahabat terhadap salam yang dipanjangkan atau takbir yang dipanjangkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, حَذْفُ السَّلاَمِ سُنَّةٌ Hadzf lafadz Salam itu termasuk sunah. (HR. Turmudzi 297 dan dihasankan at-Turmudzi) Ibnul Mubarok mengatakan, يَعْنِى أَنْ لاَ تَمُدَّهُ مَدًّا Maksud Abu Hurairah, tidak dipanjangkan. At-Turmudzi menambahkan penjelasan dari keterangan Abu Hurairah, وَهُوَ الَّذِى يَسْتَحِبُّهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَرُوِىَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِىِّ أَنَّهُ قَالَ التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ Tidak memanjangkan takbir dan Salam, inilah yang dianjurkan para ulama. dan diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa beliau mengatakan, ‘Lafadz Takbir itu Jazm, Lafadz Salam juga jazm’. (Sunan at-Turmudzi, 2/93) Maksudnya tidak dipanjangkan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tahun Baru Menurut Islam, Surat Al Jin, Pintu Neraka Dan Surga, Akte Kelahiran Anak Angkat, Shalat Isyraq Adalah, Qasidah Sholawat Nabi Visited 157 times, 1 visit(s) today Post Views: 274 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/693558481&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Memanjangkan Takbir dan Salam ketika Shalat Terkadang ada imam yang bacaan takbir dari sujud bangkit ke rakaat berikutnya sangat panjang. Demikian pula, salamnya dibuat sangat panjang. Bagaiman hukumnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Sebagian ulama menganjurkan untuk memanjangkan takbir intiqal sepanjang gerakan perpindahan. Sehingga jika jarak bergeraknya jauh, seperti dari sujud ke berdiri, maka takbir intiqal lebih panjang. Ini merupakan pendapat an-Nawawi dan ar-Rafi’I – keduanya ulama Syafi’iyah – . Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tentang shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُكَبِّرُ فِى كُلِّ خَفْضٍ وَرَفْعٍ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir setiap gerakan naik dan turun… (HR. Ahmad 3659, Nasai 1091, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadis di atas, واستدل به الرافعي على أنه يكبر في جلسة الاستراحة فيرفع رأسه من السجود غير مكبر ثم يبتدئ التكبير جالسا ويمده إلى أن يقوم Berdasarkan hadis ini, ar-Rafi’i menjadikannya dalil bahwa takbir dilakukan ketika duduk istirahat. Bangkit dari sujud tidak membaca takbir, kemudian mulai takbir di posisi duduk, dan dipanjangkan hingga berdiri. (al-Talkhis al-Habir, 1/625) Demikian pula yang dinyatakan an-Nawawi. Dalam penjelasannya untuk shahih Muslim, Beliau mengatakan, وقوله: يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ … هذا دليل على مقارنة التكبير لهذه الحركات وبسطه عليها فيبدأ بالتكبير حين يشرع في الانتقال إلى الركوع ويمده حتى يصل حد الراكعين … ويبدأ بالتكبير حين يشرع في الهوي إلى السجود ويمده حتى يضع جبهته على الأرض… ويشرع في التكبير للقيام من التشهد الأول حين يشرع في الانتقال ويمده حتى ينتصب قائما Keterangan Abu Hurairah: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika turun sujud, kemudian bertakbir ketika bangkit…’ ini menunjukkan bahwa takbir itu mengiringi gerakan-gerakan tersebut. Dan dilakukan sepanjang gerakan perpindahan itu. Takbir dimulai ketika seseorang mulai bergerak untuk rukuk, dipanjangkan sampai dia di posisi rukuk… dia mulai takbir ketika hendak turun sujud, lalu dipanjangkan, hingga dia letakkan dahinya di tanah… dan takbir bangkit dari tasyahud awal dimulai ketika bergerak, dipanjangkan hingga tegak berdiri sempurna.. (Syarah Shahih Muslim, 4/99) Namun pendapat ini disanggah oleh banyak ulama, termasuk para ulama madzhab Syafiiyah lainnya. Seperti al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat an-Nawawi. Lalu beliau memberikan komentar, bahwa hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tidak menunjukkan anjuran untuk memperpanjang lafadz takbir intiqal. (Fathul Bari, 2/273). Demikian pula As-Shan’ani, beliau mengatakan, وظاهر قوله: ( يكبر حين كذا وحين كذا )، أن التكبير يقارن هذه الحركات فيشرع في التكبير عند ابتدائه للركن. وأما القول بأنه يمد التكبير حتى يتم الحركة ، فلا وجه له، بل يأتي باللفظ من غير زيادة على أدائه ولا نقصان منه Yang benar, pernyataan Abu Hurairah, “beliau bertakbir ketika bergerak” menunjukkan bahwa takbir mengiringi gerakan-gerakan ini. Sehingga disyariatkan untuk bertakbir ketika mulai untuk bergerak ke rukun. Sementara pendapat yang mengatakan, dipanjangkan takbirnya sampai sempurna gerakannya, tidak memiliki alasan yang kuat. Namun orang yang shalat membaca lafadz takbir, tanpa ditambah maupun dikurangi. (Subulus Salam, 1/179). Diantara dalil pendapat ini adalah perkataan seorang ulama tabiin, Ibrahim an-Nakha’i, التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ “Takbir itu jazm, salam itu jazm.” (HR. Turmudzi 298). Yan dimaksud jazm adalah tidak dipanjangkan. (at-Talkhis Ibnu Hajar, 1/551). At-Turmudzi menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan pengingkaran para sahabat terhadap salam yang dipanjangkan atau takbir yang dipanjangkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, حَذْفُ السَّلاَمِ سُنَّةٌ Hadzf lafadz Salam itu termasuk sunah. (HR. Turmudzi 297 dan dihasankan at-Turmudzi) Ibnul Mubarok mengatakan, يَعْنِى أَنْ لاَ تَمُدَّهُ مَدًّا Maksud Abu Hurairah, tidak dipanjangkan. At-Turmudzi menambahkan penjelasan dari keterangan Abu Hurairah, وَهُوَ الَّذِى يَسْتَحِبُّهُ أَهْلُ الْعِلْمِ وَرُوِىَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِىِّ أَنَّهُ قَالَ التَّكْبِيرُ جَزْمٌ وَالسَّلاَمُ جَزْمٌ Tidak memanjangkan takbir dan Salam, inilah yang dianjurkan para ulama. dan diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa beliau mengatakan, ‘Lafadz Takbir itu Jazm, Lafadz Salam juga jazm’. (Sunan at-Turmudzi, 2/93) Maksudnya tidak dipanjangkan. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tahun Baru Menurut Islam, Surat Al Jin, Pintu Neraka Dan Surga, Akte Kelahiran Anak Angkat, Shalat Isyraq Adalah, Qasidah Sholawat Nabi Visited 157 times, 1 visit(s) today Post Views: 274 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next