Allah Suka Diminta, Teruslah Berdoa, Pertolongan Allah Dekat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ

Allah Suka Diminta, Teruslah Berdoa, Pertolongan Allah Dekat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.” Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan. Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865). Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak. Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut. Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758). Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218). Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau… Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28) Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan. “Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50) Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Benar. ===== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ نَعَمْ

Akhlak yang Membawamu Dekat dengan Nabi di Surga – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ

Akhlak yang Membawamu Dekat dengan Nabi di Surga – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ
Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ


Pembahasan mengenai akhlak mulia merupakan pembahasan yang sangat agung. Sungguh, pada hari Kiamat seseorang akan ditempatkan pada suatu kedudukan di surga. Kedudukan itu diraihnya bukan karena salat ataupun puasanya, bukan pula karena banyaknya Salat Malam yang ia kerjakan. Akan tetapi, ia meraih kedudukan di surga itu karena akhlaknya yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di bagian tertinggi surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan agung syariat. Akhlak yang baik merupakan sifat orang-orang beriman yang sempurna. Dengannya, Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah, manusia yang paling sempurna akhlaknya adalah para nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya, pembawaan, dan cara hidupnya. Siapa yang hendak meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mengikuti berbagai hukum yang telah beliau jelaskan, hendaklah ia juga meneladani akhlak beliau. Para ulama hadis rahimahumullah dahulu menyusun kitab-kitab khusus yang membahas akhlak Nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani, misalnya, memiliki sebuah kitab yang telah dicetak berkali-kali. Kitab itu berjudul Akhlaq An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada umumnya, para ulama yang menulis tentang Syamail Nabi menyusun sebagian besar babnya untuk membahas akhlak dan adab beliau shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi. Karena itu, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyerupai beliau dalam akhlaknya. ===== عَنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فَإِنَّ الْمَرْءَ يُنْزَلُ الْمَنْزِلَةَ فِي الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ هَذِهِ بِسَبَبِ صَلَاتِهِ وَلَا بِسَبَبِ صِيَامِهِ وَلَا كَثْرَةِ قِيَامِهِ وَإِنَّمَا تَكُونُ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ مَقْصِدٌ عَظِيمٌ مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ وَهِيَ صِفَةُ الْكُمَّلِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهِيَ صِفَةٌ يَرْفَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلِذَا كَانَ أَكْمَلُ النَّاسِ أَخْلَاقًا هُمُ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلَ النَّاسِ فِي أَخْلَاقِهِ وَفِي دَلِّهِ وَفِي هَدْيِهِ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا بَيَّنَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْأَحْكَامِ فَلْيَسْتَنَّ بِأَخْلَاقِهِ وَكَانَ عُلَمَاءُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُفْرِدُونَ كُتُبًا مُفْرَدَةً فِي أَخْلَاقِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ فَأَبُو الشَّيْخِ الْأَصْبَهَانِيُّ لَهُ كِتَابٌ طُبِعَ أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ اسْمُهُ أَخْلَاقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَامَّةُ مَنْ أَلَّفَ فِي الشَّمَائِلِ فَإِنَّ أَغْلَبَ الْأَبْوَابِ الْمَعْقُودَةِ هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَخْلَاقِهِ وَأَدَبِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَلِذَا فَإِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ مَنْزِلَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَابَهَهُ فِي أَخْلَاقِهِ

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Allah Memasukkan Manusia ke Surga dan Neraka dengan Keadilan-Nya (Bag. 2)

Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleOrang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatManfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasPara salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaTidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanDalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak akan menghukum orang yang taat luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan bantahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui akidah yang benar tentang hal ini. Serta kita perlu mengulas konsekuensi dari keyakinan yang salah pada konsep ini dan bagaimana meresponnya.Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taatAl-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib bila ditinjau dari segi jalurnya)Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima syariat tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, ia akan menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)3) Menerima perintah Allah karena Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)4) Menjauhi larangan Allah karena Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan karena Allah ﷻ.Seseorang harus meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka ia pun akan dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai bentuk hukuman. Karena dikatakan sebagaimana hadis gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula ahli maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ“Kamu berbuat keburukan dan kamu harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalasHikmah bagi orang yang benar dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita bersemangat dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin zalim secara zat maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang berbuat zalim tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.Kita temukan keadaan di mana orang yang zalim mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang ahli taat justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh dunia serta kejayaan orang kafir di zaman ini. Tentu di hati kita ini sangatlah amat perih. Namun, ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin keyakinan yang memisahkan antara orang yang benar akidahnya dan salah dalam meyakini deskripsi Allah ﷻ. Artinya, keyakinan ini menjadi suatu hal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah akan kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan agama itu senantiasa diliputi oleh amal.Para salaf menekankan keyakinan ini dalam kehidupannyaPara salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang bacaan ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.Tidak mungkin secara akal teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezalimanSebagian orang meyakini secara akal teoretis bahwa Allah ﷻ berhak melakukan hal yang kita bahas di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36‏‏‏‏‏)“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)Maksudnya, mengapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar keyakinan itu dalam lanjutan firman-Nya,أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)Pertanyaan untuk membantah dugaan buruk tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.Konsekuensi dari keyakinan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara personal masuk surga atau neraka. Para ulama hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di akhirat nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan cara Islam, begitupula sebaliknya.Semoga jawaban para ulama yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَMaha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Inspirasi dari Imam Nafi’ dan Imam Qalun dalam Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

Inspirasi dari Imam Nafi’ dan Imam Qalun dalam Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ


Imam Nafi’ Al-Madani adalah salah seorang imam qiraat. Satu qiraat yang masyhur adalah qiraat Imam Nafi’, yang diriwayatkan oleh Qalun dari Nafi’ dan Warasy dari Nafi’. Imam Nafi’ Al-Madani menjadi imam Masjid Nabawi selama 60 tahun, dan beliau duduk mengajarkan Al-Qur’an. Setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulutnya. Beliau pun ditanya, “Apa rahasianya?” Beliau menjawab, “Aku pernah bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an ke dalam mulutku.” Maksudnya, ke dalam mulut Imam Nafi’. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi meniupkan sedikit ludah ke dalam mulutku.” Sejak itu, setiap kali beliau membaca Al-Qur’an, tercium aroma kesturi dari mulut beliau. Allahu Akbar! Beliau mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang selama bertahun-tahun. Bahkan, diriwayatkan dari Imam Qalun rahimahullah, yang meriwayatkan salah satu jalur qiraat dari Imam Nafi’, bahwa ia pernah ditanya, “Berapa lama engkau menyertai Imam Nafi’ untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an kepada beliau?” Imam Qalun menjawab, “Setelah selesai, aku masih terus menyertai beliau, yakni setelah selesai mempelajari Al-Qur’an kepada beliau, aku tetap bermajelis bersama beliau selama 20 tahun. Setelah itu, beliau memerintahkanku untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang.” Selama 20 tahun, Imam Qalun terus mengulang khataman Al-Qur’an di hadapan gurunya. Demikianlah dahulu mereka memahami betapa besar nilai mempelajari Al-Qur’an. ===== الْإِمَامُ نَافِعٌ الْمَدَنِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ الْقِرَاءَاتِ الْقِرَاءَةُ الْمَعْرُوفَةُ قِرَاءَةُ نَافِعٍ الَّتِي يَرْوِيهَا قَالُونُ عَنْ نَافِعٍ، أَوْ وَرْشٌ عَنْ نَافِعٍ هَذَا الْإِمَامُ كَانَ إِمَامَ الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ سِتِّينَ سَنَةً وَجَلَسَ يُعَلِّمُ الْقُرْآنَ وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا السِّرُّ فِي هَذَا؟ فَيَقُولُ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي فِيَّ يَعْنِي فِي فَمِهِ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ يَتْفُلُ فِي فَمِي فَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ يُشَمُّ مِنْ فَمِهِ رَائِحَةُ الْمِسْكِ اللهُ أَكْبَرُ وَجَلَسَ يُقْرِئُ النَّاسَ الْقُرْآنَ سَنَوَاتٍ طَوِيلَةً يَعْنِي حَتَّى جَاءَ عَنْ قَالُونَ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي رَوَى عَنْهُ قِرَاءَتَهُ مِنْ وَجْهٍ قَالَ: قِيلَ لَهُ: كَمْ جَلَسْتَ مَعَ الْإِمَامِ نَافِعٍ تَقْرَأُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ، تَتَعَلَّمُ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: جَلَسْتُ عِنْدَهُ بَعْدَ الْفَرَاغِ يَعْنِي بَعْدَ أَنْ دَرَسْتُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ جَلَسْتُ عَلَيْهِ أَوْ عِنْدَهُ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ أَمَرَنِي، يَعْنِي أَنْ أُقْرِئَ النَّاسَ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَهُوَ يُكَرِّرُ عَلَيْهِ خَتْمَ الْقُرْآنِ هَكَذَا كَانُوا يَعْرِفُونَ قَدْرَ تَعَلُّمِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

Inilah Sifat-Sifat Wajah Allah dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Inilah Sifat-Sifat Wajah Allah dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi – Syaikh Shalih As-Sindi #NasehatUlama

Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Beliau berkata, “Di antara dalil yang terdapat dalam ayat-ayat tentang sifat Allah adalah firman Allah Ta’ala: ‘Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.’” (QS. Ar-Rahman: 27). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati diri-Nya bahwa Dia memiliki Wajah. Hal ini termasuk perkara yang telah diketahui berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, melalui banyak dalil. Wajah-Nya Ta’ala disebutkan memiliki beberapa sifat. Pertama, Wajah-Nya disifati dengan keagungan dan kemuliaan. Sebagaimana firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Kalimat “yang memiliki keagungan dan kemuliaan” merupakan sifat bagi apa? Itu merupakan sifat bagi Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, Wajah-Nya Ta’ala disifati dengan subuhat, yaitu kemegahan, keagungan, dan cahaya. Hal ini ditunjukkan oleh hadis Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Rabb-nya, “Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Dia menyingkapnya, niscaya subuhat Wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya yang terjangkau oleh pandangan-Nya.” (HR. Muslim). Dengan demikian, Wajah-Nya Subhanahu wa Ta’ala memiliki subuhat, yaitu kemegahan, cahaya, dan keagungan. Ketiga, bahwa Wajah-Nya Ta’ala memiliki hijab berupa cahaya, sebagaimana yang telah engkau dengar dalam hadis tadi, “Hijab-Nya adalah cahaya.” (HR. Muslim). Bagaimanakah hijab ini? Jawablah, wahai sekalian jemaah!Apakah kita pernah diberi tahu tentangnya? Pernahkah kita melihat sesuatu yang serupa dengannya? Kalau begitu, kita harus diam. Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya. Keempat, pada Wajah Allah Ta’ala terdapat rida’ al-kibriya’. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua taman surga dari emas; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari emas. Ada pula dua taman surga dari perak; bejana-bejana dan seluruh isinya terbuat dari perak. Tidak ada penghalang antara para penghuni surga dan melihat Rabb mereka, selain rida’ al-kibriya’ pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab dengan rida’ al-kibriya’ Subhanahu wa Ta’ala. Perkara kelima, kita telah mengetahui bahwa Wajah-Nya Ta’ala akan dilihat di akhirat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyingkap hijab tersebut. Dalil-dalil mengenai hal ini mencapai derajat mutawatir.Penjelasan mengenai perkara ini akan disebutkan dalam pembahasan penulis kitab rahimahullah. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia, yang memiliki sifat-sifat sebagaimana telah engkau dengar. Dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya, pada doa masuk masjid disebutkan, “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya yang mulia…” (HR. Abu Dawud). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Wajah yang mulia. ===== فَقَالَ: فَمِمَّا جَاءَ فِي آيَاتِ الصِّفَاتِ قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصَفَ نَفْسَهُ بِأَنَّ لَهُ وَجْهًا وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْمَعْلُومِ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فِي أَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ وَوَجْهُهُ تَعَالَى جَاءَ وَصْفُهُ بِصِفَاتٍ أَوَّلًا: أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، هَذَا وَصْفُ مَاذَا؟ وَصْفُ وَجْهِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَانِيًا: أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى مُتَّصِفٌ بِالسُّبُحَاتِ الَّتِي هِيَ الْبَهَاءُ وَالْعَظَمَةُ وَالنُّورُ وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْمُخَرَّجُ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَبِّهِ: حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ فَلِوَجْهِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُبُحَاتٌ، بَهَاءٌ وَنُورٌ وَعَظَمَةٌ ثَالِثًا أَنَّ لِوَجْهِهِ تَعَالَى حِجَابًا مِنْ نُورٍ، كَمَا سَمِعْتَ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي: حِجَابُهُ النُّورُ وَكَيْفَ هَذَا الْحِجَابُ؟ أَجِيبُوا يَا جَمَاعَةُ هَلْ أُعْلِمْنَا عَنْهُ؟ رَأَيْنَا مَثِيلًا لَهُ؟ إِذًا عَلَيْنَا أَنْ نَسْكُتَ، اللهُ أَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ رَابِعًا: أَنَّ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ فَفِي الصَّحِيحَيْنِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَلَيْسَ بَيْنَ الْقَوْمِ وَأَنْ يَرَوْا رَبَّهُمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُحْتَجِبٌ بِرِدَاءٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْأَمْرُ الْخَامِسُ: أَنَّنَا قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ وَجْهَهُ تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ إِذَا كَشَفَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحِجَابَ عَنْهُ وَأَدِلَّةُ هَذَا أَدِلَّةٌ مُتَوَاتِرَةٌ وَسَيَأْتِي فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللهُ بَيَانُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إِذًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجْهٌ كَرِيمٌ مُتَّصِفٌ بِمَا سَمِعْتَ فِي أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِي دُعَاءِ دُخُولِ الْمَسْجِدِ أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ فَهُوَ وَجْهٌ كَرِيمٌ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dua Cara Emas Mendidik Anak Menjadi Saleh – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ

Dua Cara Emas Mendidik Anak Menjadi Saleh – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ
Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ


Semoga Allah senantiasa berbuat baik kepada Anda. Apa cara terbaik untuk mendidik anak-anak? Langkah pertama dalam mendidik anak-anak ialah memperbanyak doa untuk mereka, karena hidayah anak-anakmu berada di Tangan Allah Jalla wa ‘Ala. Sebanyak apa pun upaya dan berbagai metode yang dianugerahkan kepadamu, hidayah mereka tetap berada di Tangan Allah. Sebab, yang memberi hidayah hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, perbanyaklah doa. Berdoalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia memberi mereka hidayah, memperbaiki keadaan mereka, serta melindungi mereka dari keburukan dan berbagai fitnah. Perbanyaklah doa untuk mereka, karena doa orang tua bagi anaknya adalah doa yang dikabulkan. Hal kedua, bersungguh-sungguhlah membina mereka agar mencintai ilmu dan para ulama. Buatlah mereka mencintai ilmu dan doronglah mereka untuk menuntutnya. Maksud saya adalah ilmu syar’i, yang dengannya mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doronglah mereka mempelajari ilmu ini dan tumbuhkanlah minat mereka kepadanya. Bersungguh-sungguhlah pula mendidik mereka dengan adab-adab syar’i. Selalulah didik mereka agar takut kepada Allah, bukan takut kepadamu. Banyak ayah keliru dalam hal ini. Ketika hendak menegur anaknya, ia menakut-nakuti anak itu dengan ancaman darinya sendiri, “Aku akan melakukan ini dan itu kepadamu,” dan seterusnya. Padahal, yang semestinya ialah menanamkan rasa takut kepada Allah dalam dirinya dan mendidiknya agar senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatannya. Sebagaimana yang dikatakan Luqman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, lalu berada di dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya. Sungguh, Allah Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 16) Dengan demikian, anak dibesarkan dengan rasa takut kepada Allah, muraqabah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Pendidikan anak memiliki beragam metode. Siapa yang membaca kisah Luqman Al-Hakim akan mendapati di dalamnya berbagai faedah pendidikan yang sangat agung dan berharga. Allah telah menyanjung Luqman dan menjelaskan betapa agung kedudukannya, serta menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan hikmah kepadanya. Karena itu, kisah atau nasihat-nasihat Luqman Al-Hakim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya sebagai wahyu yang senantiasa dibaca, merupakan teladan tertinggi dalam bidang pendidikan yang mulia ini. ===== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ. مَا هِيَ أَحْسَنُ طَرِيقَةٍ لِتَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ؟ طَرِيقَةُ تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَوَّلًا: أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ لِأَنَّ هِدَايَةَ أَبْنَائِكَ بِيَدِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا مَهْمَا أُوتِيتَ مِنَ الْعَمَلِ وَالطَّرَائِقِ، فَهِدَايَتُهُمْ بِيَدِ اللهِ لِأَنَّ الْهَادِيَ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ، ادْعُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَهْدِيَهُمْ وَأَنْ يُصْلِحَهُمْ وَأَنْ يُعِيذَهُمْ مِنَ الشَّرِّ وَالْفِتَنِ أَكْثِرْ لَهُمْ مِنَ الدُّعَاءِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالْأَمْرُ الثَّانِي: أَنْ تَحْرِصَ عَلَى تَنْشِئَتِهِمْ عَلَى مَحَبَّةِ الْعِلْمِ وَمَحَبَّةِ الْعُلَمَاءِ وَأَنْ تُحَبِّبَ إِلَيْهِمُ الْعِلْمَ وَأَنْ تُشَجِّعَهُمْ عَلَى تَحْصِيلِهِ أَعْنِي الْعِلْمَ الشَّرْعِيَّ الَّذِي بِهِ سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ فَتُشَجِّعُهُمْ عَلَى هَذَا الْعِلْمِ وَتُرَغِّبُهُمْ فِيهِ وَأَنْ تَحْرِصَ أَيْضًا عَلَى تَأْدِيبِهِمْ بِالْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ وَدَائِمًا نَشِّئْهُمْ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ، لَا عَلَى الْخَوْفِ مِنْكَ يُخْطِئُ كَثِيرٌ مِنَ الْآبَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يُزَجِّرَ ابْنَهُ يُخَوِّفُهُ بِنَفْسِهِ: أَفْعَلُ فِيكَ وَأَفْعَلُ، إِلَى آخِرِهِ بَيْنَمَا الْأَصْلُ أَنْ تُخَوِّفَهُ بِاللهِ وَأَنْ تَجْعَلَهُ فِي أَعْمَالِهِ يُرَاقِبُ اللهَ مِثْلَمَا قَالَ لُقْمَانُ الْحَكِيمُ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ فَيُنَشَّأُ الِابْنُ عَلَى الْخَوْفِ مِنَ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَتَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَهَا طَرَائِقُ، وَمَنْ يَقْرَأْ أَيْضًا قِصَّةَ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ يَجِدْ فِيهَا فَوَائِدَ عَظِيمَةً وَثَمِينَةً جِدًّا فِي التَّرْبِيَةِ وَقَدْ أَشَادَ اللهُ بِلُقْمَانَ وَبَيَّنَ عَظِيمَ مَكَانَتِهِ وَأَنَّ اللهَ آتَاهُ الْحِكْمَةَ وَلِهَذَا تُعْتَبَرُ الْقِصَّةُ أَوِ الْمَوَاعِظُ الَّتِي ذَكَرَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ وَحْيًا يُتْلَى عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ تُعْتَبَرُ نَمُوذَجًا أَعْلَى فِي هَذَا الْبَابِ الرَّفِيعِ

Bolehkah Merutinkan Amalan yang Tidak Dirutinkan Nabi?

Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir

Bolehkah Merutinkan Amalan yang Tidak Dirutinkan Nabi?

Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir
Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir


Ada orang yang menetapkan target membaca Al-Qur’an setiap pagi, bersedekah setiap Jumat, atau beristigfar dengan jumlah tertentu setiap hari. Apakah merutinkan amalan seperti ini otomatis menjadi bid‘ah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan rutinitas tersebut? Jawabannya perlu dirinci, karena ada perbedaan antara mengatur ibadah agar istiqamah dan membuat tata cara ibadah baru yang dianggap sebagai bagian dari syariat.  Daftar Isi tutup 1. Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang Kontinu 2. Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat Baru 3. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah? 4. Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti Tuntunan 5. Contoh Doa Khusus Setiap Hari Ramadan 6. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri? 7. Tiga Keadaan dalam Merutinkan Amalan 7.1. Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh Syariat 7.2. Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar Istiqamah 7.3. Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa Dalil 8. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ah 9. Kesimpulan 10. Nasihat  Amalan yang Paling Dicintai Allah adalah yang KontinuIslam mendorong seorang muslim untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465 dan Muslim, no. 783)Hadits ini menunjukkan bahwa kontinuitas dalam beramal adalah sesuatu yang terpuji.Karena itu, seseorang yang mampu menjaga shalat Witir setiap malam, shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, atau melakukan berbagai amal saleh lainnya secara rutin berarti telah melakukan sesuatu yang baik.Namun, ada persoalan lain yang harus dibedakan, yaitu ketika seseorang memberikan waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu pada suatu ibadah yang sebenarnya datang secara mutlak dalam syariat.Apakah hal seperti ini dibolehkan? Bedakan Antara Mengatur Ibadah dan Membuat Syariat BaruKaidah penting dalam masalah ini adalah:التَّنْظِيمُ غَيْرُ التَّشْرِيعِ“Mengatur ibadah tidak sama dengan membuat syariat.”Seseorang terkadang menentukan waktu tertentu untuk suatu ibadah karena pada waktu itulah ia mempunyai kesempatan.Misalnya:membaca Al-Qur’an setiap hari setelah Subuh selama 15 menit;bersedekah setiap Jumat karena pada hari tersebut ia menerima penghasilan;mengerjakan shalat malam pada malam tertentu karena keesokan harinya libur;menetapkan target istigfar dalam jumlah tertentu setiap hari untuk melatih dirinya agar banyak berzikir.Pengaturan semacam ini tidak otomatis menjadi bid‘ah, selama ia tidak meyakini bahwa waktu, jumlah, atau cara yang ia tentukan sendiri tersebut memiliki keutamaan khusus berdasarkan syariat.Dalam IslamQA dijelaskan,تَخْصِيصُ الْمُسْلِمِ عِبَادَةً بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ لَمْ يَرِدْ بِهِ الشَّرْعُ، مِنْ غَيْرِ اعْتِقَادٍ أَنَّ لِذَلِكَ الزَّمَانِ أَوِ الْمَكَانِ فَضْلًا مُعَيَّنًا، وَإِنَّمَا هُوَ لِظَرْفٍ يَعْرِضُ لَهُ، فَيَحْتَاجُ مَعَهُ إِلَى هَذَا التَّخْصِيصِ، لَيْسَ مِنَ الْبِدْعَةِ فِي شَيْءٍ، وَلَا بَأْسَ بِهِ.“Seorang muslim mengkhususkan suatu ibadah pada waktu atau tempat tertentu yang tidak ditentukan oleh syariat, tanpa meyakini bahwa waktu atau tempat tersebut mempunyai keutamaan tertentu, tetapi semata-mata karena kondisi yang membuatnya membutuhkan pengkhususan tersebut, maka hal itu sama sekali bukan termasuk bid‘ah dan tidak mengapa.”IslamQA kemudian memberikan beberapa contoh. Seseorang biasa berpuasa pada hari Selasa karena hari tersebut merupakan hari liburnya. Ada pula yang biasa melakukan shalat malam pada malam Sabtu karena pada hari Sabtu ia tidak bekerja. Begitu pula seseorang membaca Al-Qur’an antara Magrib dan Isya karena pada waktu tersebut ia mempunyai kesempatan. Semua ini dibolehkan selama tidak ada keyakinan mengenai keutamaan khusus yang tidak ditetapkan oleh syariat. Kapan Merutinkan Amalan Menjadi Masalah?Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi sekadar mengatur dirinya, tetapi menjadikan pengaturan tersebut seolah-olah sebagai ketentuan agama.Misalnya, seseorang mengatakan, “Setiap selesai Subuh harus membaca istigfar 500 kali karena jumlah ini mempunyai keutamaan khusus.” Jika keutamaan tersebut dinisbatkan kepada syariat, maka diperlukan dalil.Demikian pula apabila dibuat doa tertentu untuk hari pertama setiap bulan, doa tertentu untuk hari kedua, doa tertentu untuk hari ketiga, kemudian semua itu diajarkan kepada masyarakat sebagai amalan khusus yang memiliki keutamaan tertentu.Padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.Di sinilah berlaku kaidah bahwa ibadah bersifat tawqifiyyah, yaitu tata cara ibadah harus mengikuti petunjuk syariat.Allah Ta’ala berfirman,أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 1718) Ibadah Itu Berdasarkan Dalil dan Mengikuti TuntunanSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,لَا رَيْبَ أَنَّ الْأَذْكَارَ وَالدَّعَوَاتِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتُ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ وَالِاتِّبَاعِ، لَا عَلَى الْهَوَى وَالِابْتِدَاعِ.“Tidak diragukan bahwa zikir dan doa termasuk ibadah yang paling utama. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil dan tuntunan, bukan berdasarkan hawa nafsu dan membuat perkara baru.”Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh membuat suatu jenis zikir dan doa yang tidak dituntunkan, lalu menjadikannya sebagai ibadah rutin yang terus dilakukan oleh masyarakat layaknya amalan sunnah yang telah ditetapkan.Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. Contoh Doa Khusus Setiap Hari RamadanContoh yang mudah dipahami adalah tersebarnya “doa hari pertama Ramadan”, “doa hari kedua Ramadan”, “doa hari ketiga Ramadan”, dan seterusnya sampai hari ketiga puluh.Berdoa tentu merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan memperbanyak doa pada bulan Ramadan sangat dianjurkan.Namun, persoalannya berbeda ketika doa tertentu ditetapkan untuk hari tertentu kemudian diklaim mempunyai pahala atau keutamaan tertentu, padahal tidak ada dalil yang menetapkannya.IslamQA memberikan kaidah,الدُّعَاءُ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَمَبْنَى الْعِبَادَاتِ عَلَى التَّوْقِيفِ، فَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَشْرَعَ لِلنَّاسِ عِبَادَةً مُعَيَّنَةً مِنْ دُعَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ، فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، أَوْ مَكَانٍ مُعَيَّنٍ، لَمْ يَرِدْ بِهَا الشَّرْعُ.“Doa termasuk ibadah. Ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Karena itu, seseorang tidak boleh mensyariatkan kepada manusia ibadah tertentu, berupa doa atau selainnya, pada hari tertentu, waktu tertentu, atau tempat tertentu yang tidak ditetapkan oleh syariat.”Namun, seseorang tetap boleh berdoa meminta berbagai kebaikan dunia dan akhirat dengan doa yang tidak disebutkan secara khusus dalam dalil, selama kandungannya benar dan tidak dijadikan sebagai tata cara sunnah khusus. Bagaimana dengan Menentukan Jumlah Zikir Sendiri?Masalah ini juga perlu dirinci.Ada zikir yang jumlahnya memang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Zikir semacam ini hendaknya dilakukan sebagaimana tuntunan yang ada.Misalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ“Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdih dalam sehari sebanyak seratus kali, dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6405 dan Muslim, no. 2691)Di sini jumlah seratus kali berasal dari dalil. Maka, jumlah tersebut memiliki keutamaan berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Adapun zikir yang syariat memerintahkan untuk memperbanyaknya secara mutlak, maka tidak boleh menetapkan suatu jumlah tertentu kemudian mengklaim bahwa jumlah tersebut mempunyai keutamaan khusus tanpa dalil.Namun, jika seseorang sekadar membuat target pribadi agar dirinya disiplin dalam berzikir, persoalannya berbeda.Misalnya, ia mengatakan, “Saya menargetkan beristigfar 500 kali sehari agar saya terbiasa memperbanyak istigfar.”Ia tidak mengatakan bahwa angka 500 memiliki keutamaan khusus. Ia juga tidak mengajarkannya sebagai sunnah khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Maka, ini lebih dekat kepada pengaturan pribadi, bukan membuat syariat baru. Tiga Keadaan dalam Merutinkan AmalanDari penjelasan para ulama di atas, masalah ini dapat diringkas menjadi tiga keadaan.Pertama: Rutinitas yang Memang Ditetapkan oleh SyariatIni dianjurkan untuk dijaga.Contohnya adalah zikir pagi dan petang, shalat Witir, shalat Rawatib, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, serta amalan sunnah lainnya yang memiliki tuntunan.Bahkan istiqamah dalam amalan merupakan sesuatu yang dicintai Allah.Kedua: Membuat Jadwal Pribadi agar IstiqamahIni pada asalnya dibolehkan.Misalnya, seseorang membaca dua halaman Al-Qur’an setiap selesai Subuh karena waktu tersebut paling memungkinkan baginya.Atau seseorang bersedekah setiap tanggal gajian karena pada waktu itulah ia memiliki kelapangan. Tidak masalah selama ia tidak mengatakan bahwa waktu, jumlah, atau cara tersebut memiliki keutamaan syar’i khusus.Dengan demikian, pengaturan pribadi tidak otomatis menjadi pensyariatan baru.Ketiga: Menetapkan Waktu, Jumlah, atau Tata Cara sebagai Ibadah Khusus Tanpa DalilInilah yang perlu dihindari.Misalnya, membuat suatu zikir dengan jumlah tertentu, pada waktu tertentu, dengan tata cara tertentu, kemudian mengatakan bahwa itulah sunnah atau mempunyai keutamaan khusus di sisi Allah, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut.Di sini pengaturan telah berubah menjadi pensyariatan. Jangan Mudah Memvonis Bid‘ahDari sini kita juga belajar agar tidak tergesa-gesa mengatakan bahwa setiap orang yang merutinkan suatu amalan berarti telah melakukan bid‘ah.Seseorang membaca Al-Qur’an setiap pukul lima pagi belum tentu meyakini bahwa pukul lima mempunyai keutamaan khusus. Bisa jadi itulah waktu luangnya.Seseorang bersedekah setiap Jumat belum tentu meyakini bahwa sedekah hanya boleh atau harus dilakukan pada hari Jumat. Bisa jadi ia sekadar menjadikannya sebagai jadwal pribadi agar istiqamah.Karena itu, perlu dibedakan antara:التَّخْصِيصُ لِلتَّنْظِيمِ“Pengkhususan dalam rangka pengaturan.”danالتَّخْصِيصُ التَّعَبُّدِيُّ“Pengkhususan dengan keyakinan adanya nilai ibadah khusus.”Yang pertama pada asalnya memiliki ruang yang luas. Adapun yang kedua membutuhkan dalil. KesimpulanAda beberapa kesimpulan penting dalam masalah merutinkan amalan.Pertama, istiqamah dan kontinu dalam melakukan kebaikan adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.Kedua, amalan yang telah ditentukan waktu, jumlah, dan tata caranya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dikerjakan sesuai tuntunan beliau.Ketiga, seseorang boleh mengatur jadwal dan target ibadah pribadi agar lebih disiplin dan istiqamah selama tidak meyakini bahwa pengaturan tersebut mempunyai keutamaan khusus berdasarkan syariat. Keempat, tidak dibenarkan membuat waktu, jumlah, tempat, atau tata cara tertentu untuk suatu ibadah kemudian menisbatkannya kepada agama atau menganggapnya sebagai sunnah khusus tanpa dalil. Ringkasnya,الْمُدَاوَمَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مَشْرُوعَةٌ، وَأَمَّا تَخْصِيصُهَا بِوَصْفٍ تَعَبُّدِيٍّ فَيَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ.“Kontinu dalam beribadah adalah sesuatu yang disyariatkan. Adapun mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu membutuhkan dalil.” NasihatSemangat beribadah hendaknya selalu diiringi dengan semangat mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai takut terhadap bid‘ah justru membuat kita meninggalkan kebiasaan baik dan tidak istiqamah dalam beramal. Sebaliknya, jangan pula semangat beramal membuat kita menetapkan sendiri suatu bentuk ibadah lalu menganggapnya sebagai tuntunan agama. Jadikan sunnah sebagai pedoman dan aturlah waktu dengan baik agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hayat.Semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan dalam beribadah dan kemampuan untuk selalu mengikuti tuntunan Nabi-Nya.اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ.Allahumma a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, warzuqnal-istiqamata ‘ala tha‘atik, wattiba‘a sunnati nabiyyika shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Ya Allah, tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keistiqamahan dalam menaati-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ReferensiIslamQA. هل التزام صدقة في يوم معين وبقدر معين بدعة؟ Fatwa no. 120096.IslamQA. حكم تخصيص كل يوم من رمضان بدعاء معين. Fatwa no. 292883.Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin ‘Abdul Halim. Majmu’ Al-Fatawa, 22:510–511. —- Selesai ditulis dalam perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Agustus 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamalan rutin amalan sunnah bid'ah doa ibadah istiqamah manhaj salaf mengikuti sunnah sedekah zikir

Takut dan Berharap kepada Allah, Keduanya Harus Seimbang

Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah

Takut dan Berharap kepada Allah, Keduanya Harus Seimbang

Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah
Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah


Seorang mukmin tidak boleh merasa terlalu aman dari azab Allah, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Al-Qur’an dan Sunnah mendidik kita untuk berjalan menuju Allah dengan dua bekal: rasa takut (khauf) dan penuh harap (raja’). Keseimbangan keduanya akan membuat seseorang serius beramal tanpa kehilangan harapan terhadap luasnya rahmat Allah.  Daftar Isi tutup 1. Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus Asa 1.1. Pelajaran dari Ayat 2. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-Nya 2.1. Faedah hadits 3. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu Rabbnya 3.1. Kosakata hadits 3.2. Faedah hadits 3.3. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan Mobil 4. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan Kita 4.1. Kosakata hadits 4.2. Faedah hadits  Takut kepada Allah, tetapi Jangan Berputus AsaKetahuilah, keadaan yang paling baik bagi seorang hamba ketika sehat adalah memiliki rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang. Rasa takut dan harapnya hendaknya sama kuat. Adapun ketika sedang sakit, hendaknya ia lebih menguatkan harapannya kepada Allah.Kaidah-kaidah syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan dalil-dalil lainnya menunjukkan hal tersebut.Allah Ta’ala berfirman,﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾“Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾“Pada hari ketika ada wajah yang menjadi putih berseri dan ada pula wajah yang menjadi hitam muram.” (QS. Ali ‘Imran: 106)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ﴾“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, tetapi sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raf: 167)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ﴾“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13–14)Allah Ta’ala juga berfirman,﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ﴾“Adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari’ah: 6–9)Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Terkadang Allah menggabungkan rasa takut dan harap dalam dua ayat yang berurutan, beberapa ayat, bahkan dalam satu ayat sekaligus. Pelajaran dari Ayat1. Seorang hamba hendaknya menjadi “dokter” bagi dirinya sendiri. Jika ia melihat dirinya merasa aman dari makar Allah karena terus-menerus melakukan maksiat, maka ia harus meninggalkan keadaan itu dan menempuh jalan yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebaliknya, jika ia mendapati dirinya dikuasai waswas dan rasa takut yang berlebihan, maka hendaknya ia lebih menguatkan harapan kepada Allah hingga rasa takut dan harapnya kembali seimbang.2. Metode Al-Qur’an adalah selalu memadukan rasa takut dan harap. Inilah jalan yang ditempuh oleh seorang mukmin yang jujur, memiliki ilmu dan pandangan yang benar, serta mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an yang mulia. Riyadhus Sholihin 1/443: Takut kepada Azab Allah dan Berharap kepada Rahmat-NyaDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»“Seandainya seorang mukmin mengetahui besarnya azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berani berharap memperoleh surga-Nya. Sebaliknya, seandainya seorang kafir mengetahui betapa luas rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun akan berputus asa dari memperoleh surga-Nya.” (HR. Muslim) Faedah hadits1. Besarnya kemuliaan seorang mukmin di sisi Allah. Allah menumbuhkan harapan dalam dirinya untuk meraih surga, sekaligus memberikan taufik sehingga ia mampu mengerjakan amal-amal saleh.2. Hinanya orang kafir di hadapan Allah. Ia dihalangi dari amal saleh karena berpaling dari Allah Ta’ala serta tertipu oleh angan-angan kosong dan mengikuti hawa nafsunya. Riyadhus Sholihin 2/444: Jenazah yang Saleh Ingin Segera Bertemu RabbnyaDari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ، وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا! أَيْنَ تَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانُ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ»“Apabila jenazah telah diletakkan di atas usungan lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka, jika ia adalah orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Cepatlah bawa aku! Cepatlah bawa aku!’ Namun jika ia bukan orang yang saleh, ia akan berkata, ‘Celakalah aku! Ke mana kalian membawaku?’ Suaranya didengar oleh semua makhluk selain manusia. Seandainya manusia mendengarnya, niscaya mereka akan pingsan.” (HR. Bukhari)Kosakata haditsوُضِعَتِ الْجِنَازَةُ: Jenazah telah diletakkan di atas usungan (keranda) untuk dibawa menuju pemakaman. Faedah hadits1. Jenazah orang saleh sangat berharap kepada rahmat Allah. Ia mengetahui berbagai kenikmatan dan kebaikan yang telah Allah siapkan untuknya, sehingga ia ingin segera sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya.2. Hadis ini menunjukkan metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggabungkan rasa takut dan harap. Orang saleh dibuat semakin berharap kepada rahmat Allah, sedangkan orang yang durhaka diperingatkan agar takut terhadap azab-Nya. Catatan: Hukum Membawa Jenazah dengan MobilDalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,«وَاحْتَمَلَهَا النَّاسُ أَوِ الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ»“…lalu dipikul oleh orang-orang di atas pundak mereka…”Dari petunjuk Nabi ini, penulis kitab mengambil faedah bahwa jenazah tidak semestinya diletakkan di dalam mobil ketika dibawa ke pemakaman, dengan beberapa alasan berikut.Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Syariat melarang kaum muslimin meniru dan menyerupai mereka.Cara tersebut menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengusung jenazah.Menghilangkan hikmah dan pelajaran dari mengusung jenazah dengan tangan sehingga orang-orang dapat melihatnya, mengingat kematian, dan mengambil ibrah.Ketahuilah, saudaraku seiman, ketika bangsa-bangsa kafir telah melupakan kematian dan tenggelam dalam kenikmatan dunia serta syahwat, mereka menjauh dari segala sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Karena itu, mereka meletakkan jenazah di dalam peti-peti tertutup yang dibawa dengan mobil.Cara tersebut dapat mengurangi jumlah orang yang mengiringi jenazah dan ingin memperoleh pahala, karena tidak semua orang dapat ikut mengantarkan jenazah jika menggunakan cara seperti itu.Mengiringi jenazah dengan iring-iringan mobil dan prosesi yang bersifat seremonial tidak sejalan dengan kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam yang menjauhkan umatnya dari formalitas yang berlebihan dalam urusan kematian.Pengecualian: Larangan tersebut tidak berlaku apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya jarak menuju pemakaman sangat jauh. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kendaraan dibolehkan sebatas kebutuhan, tanpa berlebihan dalam unsur seremonial dan formalitas. Riyadhus Sholihin 3/445: Surga dan Neraka Sangat Dekat dengan KitaDari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,«الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ»“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.” (HR. Bukhari) Kosakata haditsشِرَاكُ نَعْلِهِ: Tali sandal yang mengikat sandal pada kaki. Ungkapan ini digunakan sebagai perumpamaan tentang sesuatu yang sangat dekat, karena seseorang mengenakan sandalnya setiap saat ketika berjalan. Faedah hadits1. Seorang hamba harus terus memperbaiki kekurangan dalam dirinya, baik dalam sisi rasa takut kepada Allah maupun harapan kepada-Nya. Jangan sampai rasa takut membuatnya berputus asa, dan jangan pula rasa berharap membuatnya merasa aman dari azab Allah.2. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan menuju salah satu dari dua tujuan: surga atau neraka. Karena itu, berbahagialah orang yang Allah beri taufik untuk memperbanyak amal-amal saleh yang pahalanya kekal dan terus mengantarkannya menuju surga. Referensi:Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 10 Agustus 2026,  28 Safar 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsamal saleh Azab Allah berharap kepada Allah jangan putus asa khauf dan raja nasihat iman Rahmat Allah riyadhus sholihin surga dan neraka takut kepada Allah

Panduan Lengkap Zikir

Daftar Isi ToggleMakna zikirPengertian secara bahasaPengertian dalam istilah syar’iTata cara berzikirPerintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisDalil-dalil Al-QuranDalil-dalil hadisManfaat zikirMenjaga pelakunya dari bisikan setanZikir bisa menyucikan hatiZikir menjadi sebab ketenangan hatiSebab hidupnya hatiSebab kedekatan dengan Allah Ta’alaSebab selamat dari azab AllahSebab dijauhkan dari amal burukOrang yang berzikir akan diingat oleh AllahJenis-jenis zikirZikir muthlaqZikir muqayyadMacam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir pagi dan petangZikir setelah salatZikir sebelum tidurZikir ketika bangun tidurZikir di malam hariZikir ketika masuk pasarZikir pada bulan RamadanDoa ketika melihat hilalDoa di malam lailatul qadarAdab-adab berzikirBersuci ketika berzikirTidak berzikir di tempat yang terlarangPenutupZikir merupakan salah satu ibadah agung yang menjadi kunci ketenangan hati dan kekuatan iman seorang muslim. Berzikir merupakan suatu amalam yang senantiasa dilakukan oleh seorang muslim setiap saat. Banyak berzikir merupakan suatu hal yang Allah Ta’ala perintahkan kepada hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita bahwa zikir adalah amalan yang utama yang bisa menaikkan derajat, lebih baik dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخيرٍ لكم من إنفاق الذهب والوَرِقِ، وخير لكم من أن تلقَوا عدوَّكم، فتضربوا أعناقهم، ويضربوا أعناقكم؟ قالوا: بلى، فقال عليه الصلاة والسلام: ذِكْرُ الله تعال“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang paling baik bagi kalian, paling suci di sisi Rabb kalian, paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada berjumpa dengan musuh, lalu kalian memukul leher mereka dan mereka memukul leher kalian?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Trimidzi)Selain itu, zikir juga memiliki banyak keutamaan lain, mulai dari ketenangan hati hingga derajat di sisi Allah. Maka dari itu, zikir merupakan amal yang seharusnya kita perhatikan sebagai seorang muslim dan terus-menerus mengerjakannya.Melalui artikel ini, kami ingin mengajak pembaca dan juga mengingatkan kami pribadi untuk berusaha merutinkan zikir sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan. Sehingga kami, melalu artikel ini ingin menyajikan panduan lengkap zikir sesuai sunah Nabi. Pembahasan mencakup pengertian zikir dalam Islam, dalil dari Al-Qur’an dan hadis, keutamaan zikir, hingga contoh zikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini adalah panduan lengkap zikir:Makna zikirSebelum kita membahas lebih lanjut mengenai ibadah zikir, sebelumnya kita perlu ketahui terlebih dahulu makna dan arti zikir.Pengertian secara bahasaZikir dalam bahasa Arab berasal dari kata (ذَكَرَ) yang memiliki beberapa arti, di antara artinya adalah:Pertama: Menjaga atau menghadirkan sesuatu dalam ingatan.Kedua: Menyebutkan hal tersebut dengan lisan, atau melafalkannya.Ketiga: Pujian terhadap sesuatu.Pengertian dalam istilah syar’iAdapun pengertian zikir dalam istilah syariat adalah mengingat Allah dan memuji-Nya, baik dengan menyebut tentang Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya, atau dengan beribadah kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, serta dengan berdoa dan memohon kepada-Nya.Tata cara berzikirSetelah kita mengetahui apa itu zikir, lantas bagaimana kita berzikir? Apakah cukup berzikir di dalam hati saja atau bagaimana? Zikir yang paling utama dilakukan adalah dengan menggerakkan lisan kita serta menghadirkan dalam hati untuk memuji dan mengingat Allah Ta’ala seperti dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan bentuk-bentuk lafaz zikir lainnya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ“Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara.” (QS. Al-A’raf: 205)Pada ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berzikir dengan tidak mengeraskan suara. Artinya, bahwa zikir merupakan suatu amalan yang menghasilkan suara dengan dilafazkan dan Allah perintahkan untuk tidak mengeraskan suara ketika berzikir sehingga berzikir dengan suara yang kecil.Singkatnya, tata cara berzikir yang paling utama untuk dilakukan yaitu dengan bergeraknya lisan dan juga hadirnya hati.Perintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisZikir merupakan ibadah yang penting bagi seorang muslim. Allah dan Rasul-Nya memerinkahkan kita untuk berzikir dan mengabarkan tentang kedudukan zikir dalam beberapa tempat di Al-Quran maupun pada hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:Dalil-dalil Al-QuranAda beberapa dalil dari ayat Al-Quran yang memerintahkan kita untuk berzikir, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya matahari, dan juga di tengah malam dan bertasbihlah di ujung hari siang hari agar engkau merasa tenang.” (QS. Taha: 130)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“Ingatlah tuhan kalian di dalam diri kalian dengan rendah hati serta rasa takut pada waktu pagi dan petang tanpa mengeraskan suara, dan janganlah engkau termasuk dari orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Selain memerintahkan untuk berzikir, Allah Ta’ala juga mengancam orang-orang yang lalai untuk berzikir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمى“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)Dalil-dalil hadisAdapun dalil-dalil dari hadis yang memerintahkan untuk berzikir ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, سبق المفرِّدون، سبق المفردون، قالوا: يا رسول الله، ما المفردون؟ قال: الذاكرون الله كثيرًا والذاكرات“Orang-orang mufarridun telah mendahului (dalam meraih keutamaan), orang-orang mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah al-mufarridun itu?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang golongan yang diberi naungan di akhirat nanti,سبعةٌ يُظِلُّهم الله في ظلِّه يومَ لا ظِلَّ إلا ظله، وذكر منهم: ورجل ذكر الله خاليًا، ففاضت عيناه“Tujuh goongan yang Allah beri mereka naungan dengan naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” Disebutkan sebagian dari mereka, “Seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu meneteslah air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda tentang pentingnya zikir,لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga memberi permisalan antara orang yang berzikir dan orang yang tidak. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Manfaat zikirSelain merupakan ibadah yang diperintahkan dan memiliki kedudukan yang tinggi, zikir juga merupakan suatu ibadah yang memiliki banyak manfaat atau faedah bagi pelakunya. Di antara faedah zikir adalah:Menjaga pelakunya dari bisikan setanOrang yang senantiasa berzikir akan dijaga dari bisikan-bisikan setan. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِين“Siapa yang berpaling dari zikir kepada Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan (menyesatkannya). Maka, ia (setan) selalu menemaninya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الشيطان جاثم على قلب ابن آدم، فإذا ذكر الله تعالى خَنَسَ، وإذا غفل وسوس“Setan mendekam di hati anak Adam. Jika ia mengingat Allah Ta‘ala, setan itu mundur. Namun jika ia lalai, maka setan membisikkan (keburukan).” (HR. Bukhari)Zikir bisa menyucikan hatiZikir merupakan amalan yang bisa menyucikan hati. Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Zikir menjadi sebab ketenangan hatiZikir bisa menjadi penenang hati. Orang yang banyak berzikir akan menjadikan hatinya tenang. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما جلس قومٌ يذكرون الله إلا حفَّتْهم الملائكةُ، وغَشِيَتْهم الرحمة، ونزلت عليهم السَّكِينة، وذكرهم الله فيمن عنده“Tidaklah suatu kaum duduk berzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.” (HR. Ibnu Majah)Sebab hidupnya hatiManfaat zikir lainnya adalah merupakan sebab hidupnya hati. Zikir merupakan salah satu sebab hidupnya hati. Orang yang lalai berzikir akan menjadikan dirinya sebagai jasad yang tidak ada hati di dalamnya. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Sebab kedekatan dengan Allah Ta’alaDi antara manfaat zikir adalah menjadikan Allah dekat dengan pelakunya. Orang yang bibirnya senantiasa bergerak untuk berzikir mengingat Allah, Allah akan membersamainya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadis qudsi,أنا مع عبدي ما ذكرني، وتحركت بي شفتاه“Aku bersama hamba-Ku yang mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak bersamaku.” (HR. Ibnu Majah)Sebab selamat dari azab AllahManfaat lain dari zikir adalah menjadi sebab keselamatan pelakunya dari azab Allah ‘Azza wa Jalla di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ما عمِل آدميٌّ عملًا أنجى له من عذاب الله، من ذكر الله“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah dibanding dengan zikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Hibban)Sebab dijauhkan dari amal burukDi antara manfaat zikir lainnya adalah sebab dijauhkan dari amal buruk. Di antara amal buruk yang dijauhkan adalah berupa berbohong, ghibah, namimah, perbuatan yang sia-sia, dan sebagainya.Seorang yang rajin berzikir, dalam hatinya pasti tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal-hal buruk di atas. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut selalu mengingat Allah dan tidak mungkin akan melakukan keburukan tersebut dalam keadaan mengingat Allah. Orang tersebut juga tidak akan terjerumus kepada perbuatan yang sia-sia karena waktunya penuh dengan hal yang bermanfaat, yaitu berzikir kepada Allah.Orang yang berzikir akan diingat oleh AllahManfaat lain dari zikir adalah akan diingat oleh Allah Ta’ala. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepadaku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Jenis-jenis zikirSetelah kita mengetahui kedudukan dan manfaat zikir, selanjutnya akan kita pelajari tentang jenis-jenis zikir. Apa saja jenis zikir? Secara umum, zikir terbagi menjadi dua jenis, yaitu zikir muthlaq dan zikir muqayyad. Kedua jenis zikir ini Allah Ta’ala secara tidak langsung perintahkan kita untuk mengerjakan dua zikir tersebut dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengerjakan zikir muthlaq dengan memerintahkan zikir dengan zikir yang banyak. Ayat di atas juga memerintahkan kita untuk melakukan zikir muqayyad dengan memerintahkan kita bertasbih di waktu pagi dan pada waktu sore. Lalu, apa pengertian kedua zikir tersebut?Zikir muthlaqZikir muthlaq merupakan zikir yang tidak terikat dengan waktu atau sebab apapun. Zikir ini bisa dilakukan kapan pun, di mana pun, sambil duduk, tidur, ataupun berbaring. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)Zikir muthlaq juga merupakan zikir yang Rasulullah kerjakan pada setiap waktu. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berzikir kepada Allah pada setiap saat.” (HR. Muslim)Lalu, apa yang dibaca ketika mengerjakan zikir muthlaq? Zikir muthlaq tentunya tidak ada aturan khusus, kita bisa membaca zikir apa saja. Kita bisa membaca istighfar, tasbih, tahmid, dan lainnya. Di antara zikir yang paling utama yang bisa dibaca adalah kalimat laa ilaaha illallahu.Zikir muqayyadAdapun zikir muqayyad adalah kebalikan dari zikir muthlaq. Zikir muqayyad merupakan zikir yang dilakukan karena sebab tertentu dan menggunakan lafaz-lafaz tertentu. Contoh dari zikir muqayyad adalah zikir setelah salat, zikir pagi, zikir petang, dan berbagai zikir lainnya yang bisa dibaca pada waktu-waktu tertentu.Macam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir memiliki banyak macam, berdasarkan sebab waktu dan kondisi. Ada beberapa macam zikir yang bisa dibaca setiap hari dan juga pada waktu-waktu tertentu. Di antara zikir tersebut adalah:Zikir pagi dan petangZikir pagi dan zikir petang adalah kumpulan doa dan zikir yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan pada waktu petang. Zikir pagi dan zikir petang ini merupakan zikir yang seharusnya kita rutinkan. Hal tersebut dikarenakan waktu ini merupakan dua waktu yang Allah sebutkan secara khusus agar kita bertasbih kepada-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Bertasbihlah kepada-Nya (Allah) di waktu pagi dan di waktu petang.” (QS. Al-Ahzab: 42)Banyak doa dan bacaan zikir yang bisa dibaca pada dua waktu ini, di antaranya adalah doa sayyidul istighfar, اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ“ALLAHUMMA ANTA RABBI LAILAHA ILLA ANTA, KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU. A’UDZU BIKA MIN SYARRI MA SHANA’TU, ABU’U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA, WA ABU’U BI DZANBI, FAGHFIRLIY FAINNAHU LAYAGHFIRUDZ DZUNUBA ILLA ANTA”“(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada Rabb yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa, kecuali Engkau).” (HR. Bukhari)Selain itu, ada beberapa bacaan lain juga yang bisa dibaca pada zikir pagi dan sore, seperti membaca ayat kursi, membaca surah Al-Ikhlas, dan bacaan lainnya yang Rasulullah contohkan untuk dibaca di waktu pagi dan juga waktu sore.Zikir setelah salatSetelah salat, Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk membaca beberapa zikir setelah salat. Ada beberapa zikir yang bisa kita baca setelah salat, di antaranya adalah,لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له، له المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهو علَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ، لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا باللَّهِ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ، له النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ له الدِّينَ ولو كَرِهَ الكَافِرُونَ“LAA ILAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAH. LAA ILAHA ILLALLOOH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MATU WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAA-UL HASANU. LAA ILAHA ILLALLOOH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAU KARIHAL KAAFIRUUN” ”(Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Semua nikmat, anugerah, dan pujian yang baik adalah milik Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya).” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga bacaan zikir berupa istighfar 3 kali, membaca tahmid, tasbih, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali, membaca ayat kursi, dan bacaan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca setelah melaksanakan salat.Zikir sebelum tidurTidur merupakan sebuah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Tentunya seluruh manusia perlu akan tidur. Sebelum tidur ternyata ada anjuran untuk membaca doa dan zikir sebelum tidur. Doa dan zikir yang bisa dibaca ketika sebelum tidur di antaranya adalah,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“BISMIKALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA”“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Selain itu juga bisa membaca bacaan lain, seperti membaca ayar kursi, surah Al-Falaq, Al-Ikhlas, An-Naas, dan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca ketika sebelum tidur.Zikir ketika bangun tidurSelain sebelum tidur, setelah bangun tidur juga ternyata kita dianjurkan untuk berdoa dan berzikir setelah bangun tidur. Doa dan zikir yang bisa di baca setelah bangun tidur di antaranya adalah,الحمد للهِ الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشورُ“ALHAMDULILLAHILLADZI AHYAANA BA’DAMAA AMAATANA WA ILAIHIN NUSYUUR”“(Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku dan mematikanku dan kepada-Nya lah kita dikembalikan).” (HR. Bukhari)Zikir di malam hariMalam hari merupakan suatu waktu yang utama bagi seorang muslim untuk beribadah, terutama di sepertiga malam terakhir. Pada waktu ini juga ada beberapa zikir yang bisa dibaca, di antara zikir di malam hari yang bisa dibaca adalah,لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ‘LAILAHAILLALLAH WAHDAHU LASYARIKALAHU. LAHUL MULKU WALAHULHAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR. ALHAMDULILLAH WASUBHANALLAH WALAILAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR WALAHAULA WALAQUWWATA ILLA BILLAH’‘Segala puji bagi Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Allah Mahabesar. Serta tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah.’Zikir ketika masuk pasarDi antara waktu dan tempat yang dianjurkan untuk banyak berzikir adalah ketika masuk pasar. Sebaiknya, kita memperbanyak zikir ketika masuk pasar. Hal tersebut dikarenakan orang yang tidak lalai berzikir ketika melakukan aktifitas perniagaan, Allah janjikan balasan yang besar. Allah Ta’ala berfirman,رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An-Nuur: 37-38)Lalu, zikir apa yang bisa dibaca ketika masuk pasar? Bacaan yang bisa dibaca ketika masuk pasar di antaranya adalah,لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير“LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, YUHYII WA YUMIIT, WA HUWA HAYYUN LAA YAMUUT, BI YADIHIL KHOIR, WA HUWA ‘ALA KULLI SYA-IN QODIIR”“(Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang Mahahidup dan tidak pernah mati, di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu.)” (HR. Tirmidzi)Zikir pada bulan RamadanBulan Ramadan merupakan bulan yang mulia yang tentunya banyak keutamaan pada bulan tersebut. Tentunya pada bulan yang mulia ini, ada doa dan zikir khusus yang bisa dibaca pada bulan Ramadan. Zikir-zikir di bulan Ramadan yang bisa kita baca di antaranya adalah sebagai berikut,Doa ketika melihat hilalاللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ“ALLAHUMMA AHILLAHU ‘ALAYNA BILYUMNI WAL IIMAANI WAS SALAAMATI WAL ISLAAMI. ROBBII WA ROBBUKALLAH”“(Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah)” (HR. Ahmad)Doa di malam lailatul qadarاللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI”“(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Mahamulia yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku.)” (HR. Tirmidzi)Adab-adab berzikirZikir merupakan amalan ringan yang bisa dikerjakan kapan pun dan di mana pun. Akan tetapi, perlu juga kita memperhatikan adab-adab dalam berzikir agar pahala zikir kita bisa lebih maksimal. Di antara adab dalam berzikir adalah,Bersuci ketika berzikirKetika berzikir, kita sebaiknya dalam keadaan suci dari hadats. Hal tersebut sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sabda beliau,إني كرهت أن أذكر الله عز وجل إلا على طُهْرٍ، أو قال: على طهارة“Sesungguhnya aku tidak menyukai berzikir kepada Allah Ta’ala kecuali dalam keadaan suci, atau dalam keadaan telah bersuci.” (HR. Abu Dawud)Tidak berzikir di tempat yang terlarangWalaupun zikir merupakan ibadah yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, ada tempat-tempat yang dilarang untuk kita berzikir. Di antara waktu dan tempat terlarangnya berzikir adalah,1) Ketika buang hajat;2) Ketika bersama pasangan di ranjang;3) Ketika khotib sedang berkhotbah;4) Di dalam kamar mandi;5) Ketika sedang salat.PenutupBerzikir merupakan amalan yang ringan dikerjakan tapi berat di timbangan. Semoga dengan artikel panduan lengkap zikir ini bisa membatu kita semua agar selalu rutin berzikir di setiap keadaan sehingga kita bisa termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berzikir yang Allah siapkan ampunan dan pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلذَّاكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱلذَّاكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۭا“Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah sediakan bagi mereka ampunan dan juga pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Panduan Lengkap Zikir

Daftar Isi ToggleMakna zikirPengertian secara bahasaPengertian dalam istilah syar’iTata cara berzikirPerintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisDalil-dalil Al-QuranDalil-dalil hadisManfaat zikirMenjaga pelakunya dari bisikan setanZikir bisa menyucikan hatiZikir menjadi sebab ketenangan hatiSebab hidupnya hatiSebab kedekatan dengan Allah Ta’alaSebab selamat dari azab AllahSebab dijauhkan dari amal burukOrang yang berzikir akan diingat oleh AllahJenis-jenis zikirZikir muthlaqZikir muqayyadMacam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir pagi dan petangZikir setelah salatZikir sebelum tidurZikir ketika bangun tidurZikir di malam hariZikir ketika masuk pasarZikir pada bulan RamadanDoa ketika melihat hilalDoa di malam lailatul qadarAdab-adab berzikirBersuci ketika berzikirTidak berzikir di tempat yang terlarangPenutupZikir merupakan salah satu ibadah agung yang menjadi kunci ketenangan hati dan kekuatan iman seorang muslim. Berzikir merupakan suatu amalam yang senantiasa dilakukan oleh seorang muslim setiap saat. Banyak berzikir merupakan suatu hal yang Allah Ta’ala perintahkan kepada hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita bahwa zikir adalah amalan yang utama yang bisa menaikkan derajat, lebih baik dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخيرٍ لكم من إنفاق الذهب والوَرِقِ، وخير لكم من أن تلقَوا عدوَّكم، فتضربوا أعناقهم، ويضربوا أعناقكم؟ قالوا: بلى، فقال عليه الصلاة والسلام: ذِكْرُ الله تعال“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang paling baik bagi kalian, paling suci di sisi Rabb kalian, paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada berjumpa dengan musuh, lalu kalian memukul leher mereka dan mereka memukul leher kalian?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Trimidzi)Selain itu, zikir juga memiliki banyak keutamaan lain, mulai dari ketenangan hati hingga derajat di sisi Allah. Maka dari itu, zikir merupakan amal yang seharusnya kita perhatikan sebagai seorang muslim dan terus-menerus mengerjakannya.Melalui artikel ini, kami ingin mengajak pembaca dan juga mengingatkan kami pribadi untuk berusaha merutinkan zikir sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan. Sehingga kami, melalu artikel ini ingin menyajikan panduan lengkap zikir sesuai sunah Nabi. Pembahasan mencakup pengertian zikir dalam Islam, dalil dari Al-Qur’an dan hadis, keutamaan zikir, hingga contoh zikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini adalah panduan lengkap zikir:Makna zikirSebelum kita membahas lebih lanjut mengenai ibadah zikir, sebelumnya kita perlu ketahui terlebih dahulu makna dan arti zikir.Pengertian secara bahasaZikir dalam bahasa Arab berasal dari kata (ذَكَرَ) yang memiliki beberapa arti, di antara artinya adalah:Pertama: Menjaga atau menghadirkan sesuatu dalam ingatan.Kedua: Menyebutkan hal tersebut dengan lisan, atau melafalkannya.Ketiga: Pujian terhadap sesuatu.Pengertian dalam istilah syar’iAdapun pengertian zikir dalam istilah syariat adalah mengingat Allah dan memuji-Nya, baik dengan menyebut tentang Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya, atau dengan beribadah kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, serta dengan berdoa dan memohon kepada-Nya.Tata cara berzikirSetelah kita mengetahui apa itu zikir, lantas bagaimana kita berzikir? Apakah cukup berzikir di dalam hati saja atau bagaimana? Zikir yang paling utama dilakukan adalah dengan menggerakkan lisan kita serta menghadirkan dalam hati untuk memuji dan mengingat Allah Ta’ala seperti dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan bentuk-bentuk lafaz zikir lainnya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ“Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara.” (QS. Al-A’raf: 205)Pada ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berzikir dengan tidak mengeraskan suara. Artinya, bahwa zikir merupakan suatu amalan yang menghasilkan suara dengan dilafazkan dan Allah perintahkan untuk tidak mengeraskan suara ketika berzikir sehingga berzikir dengan suara yang kecil.Singkatnya, tata cara berzikir yang paling utama untuk dilakukan yaitu dengan bergeraknya lisan dan juga hadirnya hati.Perintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisZikir merupakan ibadah yang penting bagi seorang muslim. Allah dan Rasul-Nya memerinkahkan kita untuk berzikir dan mengabarkan tentang kedudukan zikir dalam beberapa tempat di Al-Quran maupun pada hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:Dalil-dalil Al-QuranAda beberapa dalil dari ayat Al-Quran yang memerintahkan kita untuk berzikir, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya matahari, dan juga di tengah malam dan bertasbihlah di ujung hari siang hari agar engkau merasa tenang.” (QS. Taha: 130)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“Ingatlah tuhan kalian di dalam diri kalian dengan rendah hati serta rasa takut pada waktu pagi dan petang tanpa mengeraskan suara, dan janganlah engkau termasuk dari orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Selain memerintahkan untuk berzikir, Allah Ta’ala juga mengancam orang-orang yang lalai untuk berzikir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمى“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)Dalil-dalil hadisAdapun dalil-dalil dari hadis yang memerintahkan untuk berzikir ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, سبق المفرِّدون، سبق المفردون، قالوا: يا رسول الله، ما المفردون؟ قال: الذاكرون الله كثيرًا والذاكرات“Orang-orang mufarridun telah mendahului (dalam meraih keutamaan), orang-orang mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah al-mufarridun itu?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang golongan yang diberi naungan di akhirat nanti,سبعةٌ يُظِلُّهم الله في ظلِّه يومَ لا ظِلَّ إلا ظله، وذكر منهم: ورجل ذكر الله خاليًا، ففاضت عيناه“Tujuh goongan yang Allah beri mereka naungan dengan naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” Disebutkan sebagian dari mereka, “Seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu meneteslah air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda tentang pentingnya zikir,لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga memberi permisalan antara orang yang berzikir dan orang yang tidak. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Manfaat zikirSelain merupakan ibadah yang diperintahkan dan memiliki kedudukan yang tinggi, zikir juga merupakan suatu ibadah yang memiliki banyak manfaat atau faedah bagi pelakunya. Di antara faedah zikir adalah:Menjaga pelakunya dari bisikan setanOrang yang senantiasa berzikir akan dijaga dari bisikan-bisikan setan. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِين“Siapa yang berpaling dari zikir kepada Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan (menyesatkannya). Maka, ia (setan) selalu menemaninya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الشيطان جاثم على قلب ابن آدم، فإذا ذكر الله تعالى خَنَسَ، وإذا غفل وسوس“Setan mendekam di hati anak Adam. Jika ia mengingat Allah Ta‘ala, setan itu mundur. Namun jika ia lalai, maka setan membisikkan (keburukan).” (HR. Bukhari)Zikir bisa menyucikan hatiZikir merupakan amalan yang bisa menyucikan hati. Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Zikir menjadi sebab ketenangan hatiZikir bisa menjadi penenang hati. Orang yang banyak berzikir akan menjadikan hatinya tenang. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما جلس قومٌ يذكرون الله إلا حفَّتْهم الملائكةُ، وغَشِيَتْهم الرحمة، ونزلت عليهم السَّكِينة، وذكرهم الله فيمن عنده“Tidaklah suatu kaum duduk berzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.” (HR. Ibnu Majah)Sebab hidupnya hatiManfaat zikir lainnya adalah merupakan sebab hidupnya hati. Zikir merupakan salah satu sebab hidupnya hati. Orang yang lalai berzikir akan menjadikan dirinya sebagai jasad yang tidak ada hati di dalamnya. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Sebab kedekatan dengan Allah Ta’alaDi antara manfaat zikir adalah menjadikan Allah dekat dengan pelakunya. Orang yang bibirnya senantiasa bergerak untuk berzikir mengingat Allah, Allah akan membersamainya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadis qudsi,أنا مع عبدي ما ذكرني، وتحركت بي شفتاه“Aku bersama hamba-Ku yang mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak bersamaku.” (HR. Ibnu Majah)Sebab selamat dari azab AllahManfaat lain dari zikir adalah menjadi sebab keselamatan pelakunya dari azab Allah ‘Azza wa Jalla di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ما عمِل آدميٌّ عملًا أنجى له من عذاب الله، من ذكر الله“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah dibanding dengan zikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Hibban)Sebab dijauhkan dari amal burukDi antara manfaat zikir lainnya adalah sebab dijauhkan dari amal buruk. Di antara amal buruk yang dijauhkan adalah berupa berbohong, ghibah, namimah, perbuatan yang sia-sia, dan sebagainya.Seorang yang rajin berzikir, dalam hatinya pasti tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal-hal buruk di atas. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut selalu mengingat Allah dan tidak mungkin akan melakukan keburukan tersebut dalam keadaan mengingat Allah. Orang tersebut juga tidak akan terjerumus kepada perbuatan yang sia-sia karena waktunya penuh dengan hal yang bermanfaat, yaitu berzikir kepada Allah.Orang yang berzikir akan diingat oleh AllahManfaat lain dari zikir adalah akan diingat oleh Allah Ta’ala. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepadaku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Jenis-jenis zikirSetelah kita mengetahui kedudukan dan manfaat zikir, selanjutnya akan kita pelajari tentang jenis-jenis zikir. Apa saja jenis zikir? Secara umum, zikir terbagi menjadi dua jenis, yaitu zikir muthlaq dan zikir muqayyad. Kedua jenis zikir ini Allah Ta’ala secara tidak langsung perintahkan kita untuk mengerjakan dua zikir tersebut dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengerjakan zikir muthlaq dengan memerintahkan zikir dengan zikir yang banyak. Ayat di atas juga memerintahkan kita untuk melakukan zikir muqayyad dengan memerintahkan kita bertasbih di waktu pagi dan pada waktu sore. Lalu, apa pengertian kedua zikir tersebut?Zikir muthlaqZikir muthlaq merupakan zikir yang tidak terikat dengan waktu atau sebab apapun. Zikir ini bisa dilakukan kapan pun, di mana pun, sambil duduk, tidur, ataupun berbaring. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)Zikir muthlaq juga merupakan zikir yang Rasulullah kerjakan pada setiap waktu. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berzikir kepada Allah pada setiap saat.” (HR. Muslim)Lalu, apa yang dibaca ketika mengerjakan zikir muthlaq? Zikir muthlaq tentunya tidak ada aturan khusus, kita bisa membaca zikir apa saja. Kita bisa membaca istighfar, tasbih, tahmid, dan lainnya. Di antara zikir yang paling utama yang bisa dibaca adalah kalimat laa ilaaha illallahu.Zikir muqayyadAdapun zikir muqayyad adalah kebalikan dari zikir muthlaq. Zikir muqayyad merupakan zikir yang dilakukan karena sebab tertentu dan menggunakan lafaz-lafaz tertentu. Contoh dari zikir muqayyad adalah zikir setelah salat, zikir pagi, zikir petang, dan berbagai zikir lainnya yang bisa dibaca pada waktu-waktu tertentu.Macam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir memiliki banyak macam, berdasarkan sebab waktu dan kondisi. Ada beberapa macam zikir yang bisa dibaca setiap hari dan juga pada waktu-waktu tertentu. Di antara zikir tersebut adalah:Zikir pagi dan petangZikir pagi dan zikir petang adalah kumpulan doa dan zikir yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan pada waktu petang. Zikir pagi dan zikir petang ini merupakan zikir yang seharusnya kita rutinkan. Hal tersebut dikarenakan waktu ini merupakan dua waktu yang Allah sebutkan secara khusus agar kita bertasbih kepada-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Bertasbihlah kepada-Nya (Allah) di waktu pagi dan di waktu petang.” (QS. Al-Ahzab: 42)Banyak doa dan bacaan zikir yang bisa dibaca pada dua waktu ini, di antaranya adalah doa sayyidul istighfar, اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ“ALLAHUMMA ANTA RABBI LAILAHA ILLA ANTA, KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU. A’UDZU BIKA MIN SYARRI MA SHANA’TU, ABU’U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA, WA ABU’U BI DZANBI, FAGHFIRLIY FAINNAHU LAYAGHFIRUDZ DZUNUBA ILLA ANTA”“(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada Rabb yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa, kecuali Engkau).” (HR. Bukhari)Selain itu, ada beberapa bacaan lain juga yang bisa dibaca pada zikir pagi dan sore, seperti membaca ayat kursi, membaca surah Al-Ikhlas, dan bacaan lainnya yang Rasulullah contohkan untuk dibaca di waktu pagi dan juga waktu sore.Zikir setelah salatSetelah salat, Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk membaca beberapa zikir setelah salat. Ada beberapa zikir yang bisa kita baca setelah salat, di antaranya adalah,لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له، له المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهو علَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ، لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا باللَّهِ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ، له النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ له الدِّينَ ولو كَرِهَ الكَافِرُونَ“LAA ILAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAH. LAA ILAHA ILLALLOOH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MATU WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAA-UL HASANU. LAA ILAHA ILLALLOOH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAU KARIHAL KAAFIRUUN” ”(Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Semua nikmat, anugerah, dan pujian yang baik adalah milik Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya).” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga bacaan zikir berupa istighfar 3 kali, membaca tahmid, tasbih, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali, membaca ayat kursi, dan bacaan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca setelah melaksanakan salat.Zikir sebelum tidurTidur merupakan sebuah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Tentunya seluruh manusia perlu akan tidur. Sebelum tidur ternyata ada anjuran untuk membaca doa dan zikir sebelum tidur. Doa dan zikir yang bisa dibaca ketika sebelum tidur di antaranya adalah,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“BISMIKALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA”“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Selain itu juga bisa membaca bacaan lain, seperti membaca ayar kursi, surah Al-Falaq, Al-Ikhlas, An-Naas, dan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca ketika sebelum tidur.Zikir ketika bangun tidurSelain sebelum tidur, setelah bangun tidur juga ternyata kita dianjurkan untuk berdoa dan berzikir setelah bangun tidur. Doa dan zikir yang bisa di baca setelah bangun tidur di antaranya adalah,الحمد للهِ الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشورُ“ALHAMDULILLAHILLADZI AHYAANA BA’DAMAA AMAATANA WA ILAIHIN NUSYUUR”“(Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku dan mematikanku dan kepada-Nya lah kita dikembalikan).” (HR. Bukhari)Zikir di malam hariMalam hari merupakan suatu waktu yang utama bagi seorang muslim untuk beribadah, terutama di sepertiga malam terakhir. Pada waktu ini juga ada beberapa zikir yang bisa dibaca, di antara zikir di malam hari yang bisa dibaca adalah,لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ‘LAILAHAILLALLAH WAHDAHU LASYARIKALAHU. LAHUL MULKU WALAHULHAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR. ALHAMDULILLAH WASUBHANALLAH WALAILAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR WALAHAULA WALAQUWWATA ILLA BILLAH’‘Segala puji bagi Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Allah Mahabesar. Serta tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah.’Zikir ketika masuk pasarDi antara waktu dan tempat yang dianjurkan untuk banyak berzikir adalah ketika masuk pasar. Sebaiknya, kita memperbanyak zikir ketika masuk pasar. Hal tersebut dikarenakan orang yang tidak lalai berzikir ketika melakukan aktifitas perniagaan, Allah janjikan balasan yang besar. Allah Ta’ala berfirman,رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An-Nuur: 37-38)Lalu, zikir apa yang bisa dibaca ketika masuk pasar? Bacaan yang bisa dibaca ketika masuk pasar di antaranya adalah,لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير“LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, YUHYII WA YUMIIT, WA HUWA HAYYUN LAA YAMUUT, BI YADIHIL KHOIR, WA HUWA ‘ALA KULLI SYA-IN QODIIR”“(Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang Mahahidup dan tidak pernah mati, di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu.)” (HR. Tirmidzi)Zikir pada bulan RamadanBulan Ramadan merupakan bulan yang mulia yang tentunya banyak keutamaan pada bulan tersebut. Tentunya pada bulan yang mulia ini, ada doa dan zikir khusus yang bisa dibaca pada bulan Ramadan. Zikir-zikir di bulan Ramadan yang bisa kita baca di antaranya adalah sebagai berikut,Doa ketika melihat hilalاللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ“ALLAHUMMA AHILLAHU ‘ALAYNA BILYUMNI WAL IIMAANI WAS SALAAMATI WAL ISLAAMI. ROBBII WA ROBBUKALLAH”“(Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah)” (HR. Ahmad)Doa di malam lailatul qadarاللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI”“(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Mahamulia yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku.)” (HR. Tirmidzi)Adab-adab berzikirZikir merupakan amalan ringan yang bisa dikerjakan kapan pun dan di mana pun. Akan tetapi, perlu juga kita memperhatikan adab-adab dalam berzikir agar pahala zikir kita bisa lebih maksimal. Di antara adab dalam berzikir adalah,Bersuci ketika berzikirKetika berzikir, kita sebaiknya dalam keadaan suci dari hadats. Hal tersebut sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sabda beliau,إني كرهت أن أذكر الله عز وجل إلا على طُهْرٍ، أو قال: على طهارة“Sesungguhnya aku tidak menyukai berzikir kepada Allah Ta’ala kecuali dalam keadaan suci, atau dalam keadaan telah bersuci.” (HR. Abu Dawud)Tidak berzikir di tempat yang terlarangWalaupun zikir merupakan ibadah yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, ada tempat-tempat yang dilarang untuk kita berzikir. Di antara waktu dan tempat terlarangnya berzikir adalah,1) Ketika buang hajat;2) Ketika bersama pasangan di ranjang;3) Ketika khotib sedang berkhotbah;4) Di dalam kamar mandi;5) Ketika sedang salat.PenutupBerzikir merupakan amalan yang ringan dikerjakan tapi berat di timbangan. Semoga dengan artikel panduan lengkap zikir ini bisa membatu kita semua agar selalu rutin berzikir di setiap keadaan sehingga kita bisa termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berzikir yang Allah siapkan ampunan dan pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلذَّاكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱلذَّاكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۭا“Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah sediakan bagi mereka ampunan dan juga pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleMakna zikirPengertian secara bahasaPengertian dalam istilah syar’iTata cara berzikirPerintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisDalil-dalil Al-QuranDalil-dalil hadisManfaat zikirMenjaga pelakunya dari bisikan setanZikir bisa menyucikan hatiZikir menjadi sebab ketenangan hatiSebab hidupnya hatiSebab kedekatan dengan Allah Ta’alaSebab selamat dari azab AllahSebab dijauhkan dari amal burukOrang yang berzikir akan diingat oleh AllahJenis-jenis zikirZikir muthlaqZikir muqayyadMacam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir pagi dan petangZikir setelah salatZikir sebelum tidurZikir ketika bangun tidurZikir di malam hariZikir ketika masuk pasarZikir pada bulan RamadanDoa ketika melihat hilalDoa di malam lailatul qadarAdab-adab berzikirBersuci ketika berzikirTidak berzikir di tempat yang terlarangPenutupZikir merupakan salah satu ibadah agung yang menjadi kunci ketenangan hati dan kekuatan iman seorang muslim. Berzikir merupakan suatu amalam yang senantiasa dilakukan oleh seorang muslim setiap saat. Banyak berzikir merupakan suatu hal yang Allah Ta’ala perintahkan kepada hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita bahwa zikir adalah amalan yang utama yang bisa menaikkan derajat, lebih baik dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخيرٍ لكم من إنفاق الذهب والوَرِقِ، وخير لكم من أن تلقَوا عدوَّكم، فتضربوا أعناقهم، ويضربوا أعناقكم؟ قالوا: بلى، فقال عليه الصلاة والسلام: ذِكْرُ الله تعال“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang paling baik bagi kalian, paling suci di sisi Rabb kalian, paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada berjumpa dengan musuh, lalu kalian memukul leher mereka dan mereka memukul leher kalian?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Trimidzi)Selain itu, zikir juga memiliki banyak keutamaan lain, mulai dari ketenangan hati hingga derajat di sisi Allah. Maka dari itu, zikir merupakan amal yang seharusnya kita perhatikan sebagai seorang muslim dan terus-menerus mengerjakannya.Melalui artikel ini, kami ingin mengajak pembaca dan juga mengingatkan kami pribadi untuk berusaha merutinkan zikir sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan. Sehingga kami, melalu artikel ini ingin menyajikan panduan lengkap zikir sesuai sunah Nabi. Pembahasan mencakup pengertian zikir dalam Islam, dalil dari Al-Qur’an dan hadis, keutamaan zikir, hingga contoh zikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini adalah panduan lengkap zikir:Makna zikirSebelum kita membahas lebih lanjut mengenai ibadah zikir, sebelumnya kita perlu ketahui terlebih dahulu makna dan arti zikir.Pengertian secara bahasaZikir dalam bahasa Arab berasal dari kata (ذَكَرَ) yang memiliki beberapa arti, di antara artinya adalah:Pertama: Menjaga atau menghadirkan sesuatu dalam ingatan.Kedua: Menyebutkan hal tersebut dengan lisan, atau melafalkannya.Ketiga: Pujian terhadap sesuatu.Pengertian dalam istilah syar’iAdapun pengertian zikir dalam istilah syariat adalah mengingat Allah dan memuji-Nya, baik dengan menyebut tentang Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya, atau dengan beribadah kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, serta dengan berdoa dan memohon kepada-Nya.Tata cara berzikirSetelah kita mengetahui apa itu zikir, lantas bagaimana kita berzikir? Apakah cukup berzikir di dalam hati saja atau bagaimana? Zikir yang paling utama dilakukan adalah dengan menggerakkan lisan kita serta menghadirkan dalam hati untuk memuji dan mengingat Allah Ta’ala seperti dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan bentuk-bentuk lafaz zikir lainnya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ“Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara.” (QS. Al-A’raf: 205)Pada ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berzikir dengan tidak mengeraskan suara. Artinya, bahwa zikir merupakan suatu amalan yang menghasilkan suara dengan dilafazkan dan Allah perintahkan untuk tidak mengeraskan suara ketika berzikir sehingga berzikir dengan suara yang kecil.Singkatnya, tata cara berzikir yang paling utama untuk dilakukan yaitu dengan bergeraknya lisan dan juga hadirnya hati.Perintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisZikir merupakan ibadah yang penting bagi seorang muslim. Allah dan Rasul-Nya memerinkahkan kita untuk berzikir dan mengabarkan tentang kedudukan zikir dalam beberapa tempat di Al-Quran maupun pada hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:Dalil-dalil Al-QuranAda beberapa dalil dari ayat Al-Quran yang memerintahkan kita untuk berzikir, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya matahari, dan juga di tengah malam dan bertasbihlah di ujung hari siang hari agar engkau merasa tenang.” (QS. Taha: 130)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“Ingatlah tuhan kalian di dalam diri kalian dengan rendah hati serta rasa takut pada waktu pagi dan petang tanpa mengeraskan suara, dan janganlah engkau termasuk dari orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Selain memerintahkan untuk berzikir, Allah Ta’ala juga mengancam orang-orang yang lalai untuk berzikir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمى“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)Dalil-dalil hadisAdapun dalil-dalil dari hadis yang memerintahkan untuk berzikir ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, سبق المفرِّدون، سبق المفردون، قالوا: يا رسول الله، ما المفردون؟ قال: الذاكرون الله كثيرًا والذاكرات“Orang-orang mufarridun telah mendahului (dalam meraih keutamaan), orang-orang mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah al-mufarridun itu?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang golongan yang diberi naungan di akhirat nanti,سبعةٌ يُظِلُّهم الله في ظلِّه يومَ لا ظِلَّ إلا ظله، وذكر منهم: ورجل ذكر الله خاليًا، ففاضت عيناه“Tujuh goongan yang Allah beri mereka naungan dengan naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” Disebutkan sebagian dari mereka, “Seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu meneteslah air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda tentang pentingnya zikir,لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga memberi permisalan antara orang yang berzikir dan orang yang tidak. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Manfaat zikirSelain merupakan ibadah yang diperintahkan dan memiliki kedudukan yang tinggi, zikir juga merupakan suatu ibadah yang memiliki banyak manfaat atau faedah bagi pelakunya. Di antara faedah zikir adalah:Menjaga pelakunya dari bisikan setanOrang yang senantiasa berzikir akan dijaga dari bisikan-bisikan setan. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِين“Siapa yang berpaling dari zikir kepada Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan (menyesatkannya). Maka, ia (setan) selalu menemaninya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الشيطان جاثم على قلب ابن آدم، فإذا ذكر الله تعالى خَنَسَ، وإذا غفل وسوس“Setan mendekam di hati anak Adam. Jika ia mengingat Allah Ta‘ala, setan itu mundur. Namun jika ia lalai, maka setan membisikkan (keburukan).” (HR. Bukhari)Zikir bisa menyucikan hatiZikir merupakan amalan yang bisa menyucikan hati. Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Zikir menjadi sebab ketenangan hatiZikir bisa menjadi penenang hati. Orang yang banyak berzikir akan menjadikan hatinya tenang. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما جلس قومٌ يذكرون الله إلا حفَّتْهم الملائكةُ، وغَشِيَتْهم الرحمة، ونزلت عليهم السَّكِينة، وذكرهم الله فيمن عنده“Tidaklah suatu kaum duduk berzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.” (HR. Ibnu Majah)Sebab hidupnya hatiManfaat zikir lainnya adalah merupakan sebab hidupnya hati. Zikir merupakan salah satu sebab hidupnya hati. Orang yang lalai berzikir akan menjadikan dirinya sebagai jasad yang tidak ada hati di dalamnya. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Sebab kedekatan dengan Allah Ta’alaDi antara manfaat zikir adalah menjadikan Allah dekat dengan pelakunya. Orang yang bibirnya senantiasa bergerak untuk berzikir mengingat Allah, Allah akan membersamainya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadis qudsi,أنا مع عبدي ما ذكرني، وتحركت بي شفتاه“Aku bersama hamba-Ku yang mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak bersamaku.” (HR. Ibnu Majah)Sebab selamat dari azab AllahManfaat lain dari zikir adalah menjadi sebab keselamatan pelakunya dari azab Allah ‘Azza wa Jalla di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ما عمِل آدميٌّ عملًا أنجى له من عذاب الله، من ذكر الله“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah dibanding dengan zikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Hibban)Sebab dijauhkan dari amal burukDi antara manfaat zikir lainnya adalah sebab dijauhkan dari amal buruk. Di antara amal buruk yang dijauhkan adalah berupa berbohong, ghibah, namimah, perbuatan yang sia-sia, dan sebagainya.Seorang yang rajin berzikir, dalam hatinya pasti tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal-hal buruk di atas. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut selalu mengingat Allah dan tidak mungkin akan melakukan keburukan tersebut dalam keadaan mengingat Allah. Orang tersebut juga tidak akan terjerumus kepada perbuatan yang sia-sia karena waktunya penuh dengan hal yang bermanfaat, yaitu berzikir kepada Allah.Orang yang berzikir akan diingat oleh AllahManfaat lain dari zikir adalah akan diingat oleh Allah Ta’ala. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepadaku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Jenis-jenis zikirSetelah kita mengetahui kedudukan dan manfaat zikir, selanjutnya akan kita pelajari tentang jenis-jenis zikir. Apa saja jenis zikir? Secara umum, zikir terbagi menjadi dua jenis, yaitu zikir muthlaq dan zikir muqayyad. Kedua jenis zikir ini Allah Ta’ala secara tidak langsung perintahkan kita untuk mengerjakan dua zikir tersebut dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengerjakan zikir muthlaq dengan memerintahkan zikir dengan zikir yang banyak. Ayat di atas juga memerintahkan kita untuk melakukan zikir muqayyad dengan memerintahkan kita bertasbih di waktu pagi dan pada waktu sore. Lalu, apa pengertian kedua zikir tersebut?Zikir muthlaqZikir muthlaq merupakan zikir yang tidak terikat dengan waktu atau sebab apapun. Zikir ini bisa dilakukan kapan pun, di mana pun, sambil duduk, tidur, ataupun berbaring. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)Zikir muthlaq juga merupakan zikir yang Rasulullah kerjakan pada setiap waktu. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berzikir kepada Allah pada setiap saat.” (HR. Muslim)Lalu, apa yang dibaca ketika mengerjakan zikir muthlaq? Zikir muthlaq tentunya tidak ada aturan khusus, kita bisa membaca zikir apa saja. Kita bisa membaca istighfar, tasbih, tahmid, dan lainnya. Di antara zikir yang paling utama yang bisa dibaca adalah kalimat laa ilaaha illallahu.Zikir muqayyadAdapun zikir muqayyad adalah kebalikan dari zikir muthlaq. Zikir muqayyad merupakan zikir yang dilakukan karena sebab tertentu dan menggunakan lafaz-lafaz tertentu. Contoh dari zikir muqayyad adalah zikir setelah salat, zikir pagi, zikir petang, dan berbagai zikir lainnya yang bisa dibaca pada waktu-waktu tertentu.Macam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir memiliki banyak macam, berdasarkan sebab waktu dan kondisi. Ada beberapa macam zikir yang bisa dibaca setiap hari dan juga pada waktu-waktu tertentu. Di antara zikir tersebut adalah:Zikir pagi dan petangZikir pagi dan zikir petang adalah kumpulan doa dan zikir yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan pada waktu petang. Zikir pagi dan zikir petang ini merupakan zikir yang seharusnya kita rutinkan. Hal tersebut dikarenakan waktu ini merupakan dua waktu yang Allah sebutkan secara khusus agar kita bertasbih kepada-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Bertasbihlah kepada-Nya (Allah) di waktu pagi dan di waktu petang.” (QS. Al-Ahzab: 42)Banyak doa dan bacaan zikir yang bisa dibaca pada dua waktu ini, di antaranya adalah doa sayyidul istighfar, اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ“ALLAHUMMA ANTA RABBI LAILAHA ILLA ANTA, KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU. A’UDZU BIKA MIN SYARRI MA SHANA’TU, ABU’U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA, WA ABU’U BI DZANBI, FAGHFIRLIY FAINNAHU LAYAGHFIRUDZ DZUNUBA ILLA ANTA”“(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada Rabb yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa, kecuali Engkau).” (HR. Bukhari)Selain itu, ada beberapa bacaan lain juga yang bisa dibaca pada zikir pagi dan sore, seperti membaca ayat kursi, membaca surah Al-Ikhlas, dan bacaan lainnya yang Rasulullah contohkan untuk dibaca di waktu pagi dan juga waktu sore.Zikir setelah salatSetelah salat, Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk membaca beberapa zikir setelah salat. Ada beberapa zikir yang bisa kita baca setelah salat, di antaranya adalah,لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له، له المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهو علَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ، لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا باللَّهِ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ، له النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ له الدِّينَ ولو كَرِهَ الكَافِرُونَ“LAA ILAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAH. LAA ILAHA ILLALLOOH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MATU WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAA-UL HASANU. LAA ILAHA ILLALLOOH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAU KARIHAL KAAFIRUUN” ”(Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Semua nikmat, anugerah, dan pujian yang baik adalah milik Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya).” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga bacaan zikir berupa istighfar 3 kali, membaca tahmid, tasbih, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali, membaca ayat kursi, dan bacaan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca setelah melaksanakan salat.Zikir sebelum tidurTidur merupakan sebuah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Tentunya seluruh manusia perlu akan tidur. Sebelum tidur ternyata ada anjuran untuk membaca doa dan zikir sebelum tidur. Doa dan zikir yang bisa dibaca ketika sebelum tidur di antaranya adalah,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“BISMIKALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA”“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Selain itu juga bisa membaca bacaan lain, seperti membaca ayar kursi, surah Al-Falaq, Al-Ikhlas, An-Naas, dan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca ketika sebelum tidur.Zikir ketika bangun tidurSelain sebelum tidur, setelah bangun tidur juga ternyata kita dianjurkan untuk berdoa dan berzikir setelah bangun tidur. Doa dan zikir yang bisa di baca setelah bangun tidur di antaranya adalah,الحمد للهِ الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشورُ“ALHAMDULILLAHILLADZI AHYAANA BA’DAMAA AMAATANA WA ILAIHIN NUSYUUR”“(Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku dan mematikanku dan kepada-Nya lah kita dikembalikan).” (HR. Bukhari)Zikir di malam hariMalam hari merupakan suatu waktu yang utama bagi seorang muslim untuk beribadah, terutama di sepertiga malam terakhir. Pada waktu ini juga ada beberapa zikir yang bisa dibaca, di antara zikir di malam hari yang bisa dibaca adalah,لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ‘LAILAHAILLALLAH WAHDAHU LASYARIKALAHU. LAHUL MULKU WALAHULHAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR. ALHAMDULILLAH WASUBHANALLAH WALAILAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR WALAHAULA WALAQUWWATA ILLA BILLAH’‘Segala puji bagi Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Allah Mahabesar. Serta tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah.’Zikir ketika masuk pasarDi antara waktu dan tempat yang dianjurkan untuk banyak berzikir adalah ketika masuk pasar. Sebaiknya, kita memperbanyak zikir ketika masuk pasar. Hal tersebut dikarenakan orang yang tidak lalai berzikir ketika melakukan aktifitas perniagaan, Allah janjikan balasan yang besar. Allah Ta’ala berfirman,رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An-Nuur: 37-38)Lalu, zikir apa yang bisa dibaca ketika masuk pasar? Bacaan yang bisa dibaca ketika masuk pasar di antaranya adalah,لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير“LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, YUHYII WA YUMIIT, WA HUWA HAYYUN LAA YAMUUT, BI YADIHIL KHOIR, WA HUWA ‘ALA KULLI SYA-IN QODIIR”“(Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang Mahahidup dan tidak pernah mati, di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu.)” (HR. Tirmidzi)Zikir pada bulan RamadanBulan Ramadan merupakan bulan yang mulia yang tentunya banyak keutamaan pada bulan tersebut. Tentunya pada bulan yang mulia ini, ada doa dan zikir khusus yang bisa dibaca pada bulan Ramadan. Zikir-zikir di bulan Ramadan yang bisa kita baca di antaranya adalah sebagai berikut,Doa ketika melihat hilalاللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ“ALLAHUMMA AHILLAHU ‘ALAYNA BILYUMNI WAL IIMAANI WAS SALAAMATI WAL ISLAAMI. ROBBII WA ROBBUKALLAH”“(Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah)” (HR. Ahmad)Doa di malam lailatul qadarاللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI”“(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Mahamulia yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku.)” (HR. Tirmidzi)Adab-adab berzikirZikir merupakan amalan ringan yang bisa dikerjakan kapan pun dan di mana pun. Akan tetapi, perlu juga kita memperhatikan adab-adab dalam berzikir agar pahala zikir kita bisa lebih maksimal. Di antara adab dalam berzikir adalah,Bersuci ketika berzikirKetika berzikir, kita sebaiknya dalam keadaan suci dari hadats. Hal tersebut sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sabda beliau,إني كرهت أن أذكر الله عز وجل إلا على طُهْرٍ، أو قال: على طهارة“Sesungguhnya aku tidak menyukai berzikir kepada Allah Ta’ala kecuali dalam keadaan suci, atau dalam keadaan telah bersuci.” (HR. Abu Dawud)Tidak berzikir di tempat yang terlarangWalaupun zikir merupakan ibadah yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, ada tempat-tempat yang dilarang untuk kita berzikir. Di antara waktu dan tempat terlarangnya berzikir adalah,1) Ketika buang hajat;2) Ketika bersama pasangan di ranjang;3) Ketika khotib sedang berkhotbah;4) Di dalam kamar mandi;5) Ketika sedang salat.PenutupBerzikir merupakan amalan yang ringan dikerjakan tapi berat di timbangan. Semoga dengan artikel panduan lengkap zikir ini bisa membatu kita semua agar selalu rutin berzikir di setiap keadaan sehingga kita bisa termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berzikir yang Allah siapkan ampunan dan pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلذَّاكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱلذَّاكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۭا“Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah sediakan bagi mereka ampunan dan juga pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleMakna zikirPengertian secara bahasaPengertian dalam istilah syar’iTata cara berzikirPerintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisDalil-dalil Al-QuranDalil-dalil hadisManfaat zikirMenjaga pelakunya dari bisikan setanZikir bisa menyucikan hatiZikir menjadi sebab ketenangan hatiSebab hidupnya hatiSebab kedekatan dengan Allah Ta’alaSebab selamat dari azab AllahSebab dijauhkan dari amal burukOrang yang berzikir akan diingat oleh AllahJenis-jenis zikirZikir muthlaqZikir muqayyadMacam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir pagi dan petangZikir setelah salatZikir sebelum tidurZikir ketika bangun tidurZikir di malam hariZikir ketika masuk pasarZikir pada bulan RamadanDoa ketika melihat hilalDoa di malam lailatul qadarAdab-adab berzikirBersuci ketika berzikirTidak berzikir di tempat yang terlarangPenutupZikir merupakan salah satu ibadah agung yang menjadi kunci ketenangan hati dan kekuatan iman seorang muslim. Berzikir merupakan suatu amalam yang senantiasa dilakukan oleh seorang muslim setiap saat. Banyak berzikir merupakan suatu hal yang Allah Ta’ala perintahkan kepada hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita bahwa zikir adalah amalan yang utama yang bisa menaikkan derajat, lebih baik dari emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ألَا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم، وأرفعها في درجاتكم، وخيرٍ لكم من إنفاق الذهب والوَرِقِ، وخير لكم من أن تلقَوا عدوَّكم، فتضربوا أعناقهم، ويضربوا أعناقكم؟ قالوا: بلى، فقال عليه الصلاة والسلام: ذِكْرُ الله تعال“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang paling baik bagi kalian, paling suci di sisi Rabb kalian, paling tinggi dalam derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada berjumpa dengan musuh, lalu kalian memukul leher mereka dan mereka memukul leher kalian?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Trimidzi)Selain itu, zikir juga memiliki banyak keutamaan lain, mulai dari ketenangan hati hingga derajat di sisi Allah. Maka dari itu, zikir merupakan amal yang seharusnya kita perhatikan sebagai seorang muslim dan terus-menerus mengerjakannya.Melalui artikel ini, kami ingin mengajak pembaca dan juga mengingatkan kami pribadi untuk berusaha merutinkan zikir sebanyak-banyaknya di setiap kesempatan. Sehingga kami, melalu artikel ini ingin menyajikan panduan lengkap zikir sesuai sunah Nabi. Pembahasan mencakup pengertian zikir dalam Islam, dalil dari Al-Qur’an dan hadis, keutamaan zikir, hingga contoh zikir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini adalah panduan lengkap zikir:Makna zikirSebelum kita membahas lebih lanjut mengenai ibadah zikir, sebelumnya kita perlu ketahui terlebih dahulu makna dan arti zikir.Pengertian secara bahasaZikir dalam bahasa Arab berasal dari kata (ذَكَرَ) yang memiliki beberapa arti, di antara artinya adalah:Pertama: Menjaga atau menghadirkan sesuatu dalam ingatan.Kedua: Menyebutkan hal tersebut dengan lisan, atau melafalkannya.Ketiga: Pujian terhadap sesuatu.Pengertian dalam istilah syar’iAdapun pengertian zikir dalam istilah syariat adalah mengingat Allah dan memuji-Nya, baik dengan menyebut tentang Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya, atau dengan beribadah kepada-Nya, membaca Kitab-Nya, serta dengan berdoa dan memohon kepada-Nya.Tata cara berzikirSetelah kita mengetahui apa itu zikir, lantas bagaimana kita berzikir? Apakah cukup berzikir di dalam hati saja atau bagaimana? Zikir yang paling utama dilakukan adalah dengan menggerakkan lisan kita serta menghadirkan dalam hati untuk memuji dan mengingat Allah Ta’ala seperti dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan bentuk-bentuk lafaz zikir lainnya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ“Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara.” (QS. Al-A’raf: 205)Pada ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berzikir dengan tidak mengeraskan suara. Artinya, bahwa zikir merupakan suatu amalan yang menghasilkan suara dengan dilafazkan dan Allah perintahkan untuk tidak mengeraskan suara ketika berzikir sehingga berzikir dengan suara yang kecil.Singkatnya, tata cara berzikir yang paling utama untuk dilakukan yaitu dengan bergeraknya lisan dan juga hadirnya hati.Perintah dan kedudukan zikir yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadisZikir merupakan ibadah yang penting bagi seorang muslim. Allah dan Rasul-Nya memerinkahkan kita untuk berzikir dan mengabarkan tentang kedudukan zikir dalam beberapa tempat di Al-Quran maupun pada hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:Dalil-dalil Al-QuranAda beberapa dalil dari ayat Al-Quran yang memerintahkan kita untuk berzikir, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى“Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya matahari, dan juga di tengah malam dan bertasbihlah di ujung hari siang hari agar engkau merasa tenang.” (QS. Taha: 130)Allah Ta’ala juga berfirman,وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ“Ingatlah tuhan kalian di dalam diri kalian dengan rendah hati serta rasa takut pada waktu pagi dan petang tanpa mengeraskan suara, dan janganlah engkau termasuk dari orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)Allah Ta’ala juga berfirman,فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Selain memerintahkan untuk berzikir, Allah Ta’ala juga mengancam orang-orang yang lalai untuk berzikir. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمى“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)Dalil-dalil hadisAdapun dalil-dalil dari hadis yang memerintahkan untuk berzikir ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, سبق المفرِّدون، سبق المفردون، قالوا: يا رسول الله، ما المفردون؟ قال: الذاكرون الله كثيرًا والذاكرات“Orang-orang mufarridun telah mendahului (dalam meraih keutamaan), orang-orang mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah al-mufarridun itu?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang golongan yang diberi naungan di akhirat nanti,سبعةٌ يُظِلُّهم الله في ظلِّه يومَ لا ظِلَّ إلا ظله، وذكر منهم: ورجل ذكر الله خاليًا، ففاضت عيناه“Tujuh goongan yang Allah beri mereka naungan dengan naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” Disebutkan sebagian dari mereka, “Seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu meneteslah air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda tentang pentingnya zikir,لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga memberi permisalan antara orang yang berzikir dan orang yang tidak. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Manfaat zikirSelain merupakan ibadah yang diperintahkan dan memiliki kedudukan yang tinggi, zikir juga merupakan suatu ibadah yang memiliki banyak manfaat atau faedah bagi pelakunya. Di antara faedah zikir adalah:Menjaga pelakunya dari bisikan setanOrang yang senantiasa berzikir akan dijaga dari bisikan-bisikan setan. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِين“Siapa yang berpaling dari zikir kepada Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan (menyesatkannya). Maka, ia (setan) selalu menemaninya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,الشيطان جاثم على قلب ابن آدم، فإذا ذكر الله تعالى خَنَسَ، وإذا غفل وسوس“Setan mendekam di hati anak Adam. Jika ia mengingat Allah Ta‘ala, setan itu mundur. Namun jika ia lalai, maka setan membisikkan (keburukan).” (HR. Bukhari)Zikir bisa menyucikan hatiZikir merupakan amalan yang bisa menyucikan hati. Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, لكل شيء صَقَالةٌ، وصقالة القلوب ذكرُ الله عز وجل“Segala sesuatu ada pengkilapnya, dan pengkilap hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Baihaqi)Zikir menjadi sebab ketenangan hatiZikir bisa menjadi penenang hati. Orang yang banyak berzikir akan menjadikan hatinya tenang. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,ما جلس قومٌ يذكرون الله إلا حفَّتْهم الملائكةُ، وغَشِيَتْهم الرحمة، ونزلت عليهم السَّكِينة، وذكرهم الله فيمن عنده“Tidaklah suatu kaum duduk berzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, diliputi oleh rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.” (HR. Ibnu Majah)Sebab hidupnya hatiManfaat zikir lainnya adalah merupakan sebab hidupnya hati. Zikir merupakan salah satu sebab hidupnya hati. Orang yang lalai berzikir akan menjadikan dirinya sebagai jasad yang tidak ada hati di dalamnya. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, مَثَلُ الذي يذكر ربه، والذي لا يذكر ربه، مَثَلُ الحي والميت“Permisalan orang yang mengingat tuhannya dengan orang yang tidak mengingat tuhannya adalah seperti yang hidup dengan yang mati.” (HR. Bukhari)Sebab kedekatan dengan Allah Ta’alaDi antara manfaat zikir adalah menjadikan Allah dekat dengan pelakunya. Orang yang bibirnya senantiasa bergerak untuk berzikir mengingat Allah, Allah akan membersamainya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadis qudsi,أنا مع عبدي ما ذكرني، وتحركت بي شفتاه“Aku bersama hamba-Ku yang mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak bersamaku.” (HR. Ibnu Majah)Sebab selamat dari azab AllahManfaat lain dari zikir adalah menjadi sebab keselamatan pelakunya dari azab Allah ‘Azza wa Jalla di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,ما عمِل آدميٌّ عملًا أنجى له من عذاب الله، من ذكر الله“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah dibanding dengan zikir kepada Allah.” (HR. Ibnu Hibban)Sebab dijauhkan dari amal burukDi antara manfaat zikir lainnya adalah sebab dijauhkan dari amal buruk. Di antara amal buruk yang dijauhkan adalah berupa berbohong, ghibah, namimah, perbuatan yang sia-sia, dan sebagainya.Seorang yang rajin berzikir, dalam hatinya pasti tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal-hal buruk di atas. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut selalu mengingat Allah dan tidak mungkin akan melakukan keburukan tersebut dalam keadaan mengingat Allah. Orang tersebut juga tidak akan terjerumus kepada perbuatan yang sia-sia karena waktunya penuh dengan hal yang bermanfaat, yaitu berzikir kepada Allah.Orang yang berzikir akan diingat oleh AllahManfaat lain dari zikir adalah akan diingat oleh Allah Ta’ala. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ“Ingatlah Aku, niscaya aku akan mengingat kalian. Bersykurlah kalian kepadaku dan jangan kalian berbuat kufur.” (QS. Al-Baqarah: 152)Jenis-jenis zikirSetelah kita mengetahui kedudukan dan manfaat zikir, selanjutnya akan kita pelajari tentang jenis-jenis zikir. Apa saja jenis zikir? Secara umum, zikir terbagi menjadi dua jenis, yaitu zikir muthlaq dan zikir muqayyad. Kedua jenis zikir ini Allah Ta’ala secara tidak langsung perintahkan kita untuk mengerjakan dua zikir tersebut dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan zikir yang banyak dan bertasbihlah kalian di waktu pagi dan sore.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)Pada ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengerjakan zikir muthlaq dengan memerintahkan zikir dengan zikir yang banyak. Ayat di atas juga memerintahkan kita untuk melakukan zikir muqayyad dengan memerintahkan kita bertasbih di waktu pagi dan pada waktu sore. Lalu, apa pengertian kedua zikir tersebut?Zikir muthlaqZikir muthlaq merupakan zikir yang tidak terikat dengan waktu atau sebab apapun. Zikir ini bisa dilakukan kapan pun, di mana pun, sambil duduk, tidur, ataupun berbaring. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِهِمْ“Orang-orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)Zikir muthlaq juga merupakan zikir yang Rasulullah kerjakan pada setiap waktu. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berzikir kepada Allah pada setiap saat.” (HR. Muslim)Lalu, apa yang dibaca ketika mengerjakan zikir muthlaq? Zikir muthlaq tentunya tidak ada aturan khusus, kita bisa membaca zikir apa saja. Kita bisa membaca istighfar, tasbih, tahmid, dan lainnya. Di antara zikir yang paling utama yang bisa dibaca adalah kalimat laa ilaaha illallahu.Zikir muqayyadAdapun zikir muqayyad adalah kebalikan dari zikir muthlaq. Zikir muqayyad merupakan zikir yang dilakukan karena sebab tertentu dan menggunakan lafaz-lafaz tertentu. Contoh dari zikir muqayyad adalah zikir setelah salat, zikir pagi, zikir petang, dan berbagai zikir lainnya yang bisa dibaca pada waktu-waktu tertentu.Macam-macam zikir harian dan waktu tertentuZikir memiliki banyak macam, berdasarkan sebab waktu dan kondisi. Ada beberapa macam zikir yang bisa dibaca setiap hari dan juga pada waktu-waktu tertentu. Di antara zikir tersebut adalah:Zikir pagi dan petangZikir pagi dan zikir petang adalah kumpulan doa dan zikir yang dianjurkan untuk dibaca pada waktu pagi dan pada waktu petang. Zikir pagi dan zikir petang ini merupakan zikir yang seharusnya kita rutinkan. Hal tersebut dikarenakan waktu ini merupakan dua waktu yang Allah sebutkan secara khusus agar kita bertasbih kepada-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً“Bertasbihlah kepada-Nya (Allah) di waktu pagi dan di waktu petang.” (QS. Al-Ahzab: 42)Banyak doa dan bacaan zikir yang bisa dibaca pada dua waktu ini, di antaranya adalah doa sayyidul istighfar, اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ“ALLAHUMMA ANTA RABBI LAILAHA ILLA ANTA, KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU. A’UDZU BIKA MIN SYARRI MA SHANA’TU, ABU’U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA, WA ABU’U BI DZANBI, FAGHFIRLIY FAINNAHU LAYAGHFIRUDZ DZUNUBA ILLA ANTA”“(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada Rabb yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa, kecuali Engkau).” (HR. Bukhari)Selain itu, ada beberapa bacaan lain juga yang bisa dibaca pada zikir pagi dan sore, seperti membaca ayat kursi, membaca surah Al-Ikhlas, dan bacaan lainnya yang Rasulullah contohkan untuk dibaca di waktu pagi dan juga waktu sore.Zikir setelah salatSetelah salat, Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk membaca beberapa zikir setelah salat. Ada beberapa zikir yang bisa kita baca setelah salat, di antaranya adalah,لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له، له المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهو علَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ، لا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا باللَّهِ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ، له النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ له الدِّينَ ولو كَرِهَ الكَافِرُونَ“LAA ILAHA ILLALLOOHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU. LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR. LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAH. LAA ILAHA ILLALLOOH WA LAA NA’BUDU ILLA IYYAAH. LAHUN NI’MATU WA LAHUL FADHLU WA LAHUTS TSANAA-UL HASANU. LAA ILAHA ILLALLOOH MUKHLISHIINA LAHUD DIIN WA LAU KARIHAL KAAFIRUUN” ”(Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Segala pujian dan kerajaan adalah milik Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Semua nikmat, anugerah, dan pujian yang baik adalah milik Allah. Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya).” (HR. Muslim)Selain itu, ada juga bacaan zikir berupa istighfar 3 kali, membaca tahmid, tasbih, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali, membaca ayat kursi, dan bacaan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca setelah melaksanakan salat.Zikir sebelum tidurTidur merupakan sebuah nikmat yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Tentunya seluruh manusia perlu akan tidur. Sebelum tidur ternyata ada anjuran untuk membaca doa dan zikir sebelum tidur. Doa dan zikir yang bisa dibaca ketika sebelum tidur di antaranya adalah,باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا“BISMIKALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA”“(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup).” (HR. Bukhari no. 6324)Selain itu juga bisa membaca bacaan lain, seperti membaca ayar kursi, surah Al-Falaq, Al-Ikhlas, An-Naas, dan bacaan lainnya yang dianjurkan untuk dibaca ketika sebelum tidur.Zikir ketika bangun tidurSelain sebelum tidur, setelah bangun tidur juga ternyata kita dianjurkan untuk berdoa dan berzikir setelah bangun tidur. Doa dan zikir yang bisa di baca setelah bangun tidur di antaranya adalah,الحمد للهِ الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشورُ“ALHAMDULILLAHILLADZI AHYAANA BA’DAMAA AMAATANA WA ILAIHIN NUSYUUR”“(Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku dan mematikanku dan kepada-Nya lah kita dikembalikan).” (HR. Bukhari)Zikir di malam hariMalam hari merupakan suatu waktu yang utama bagi seorang muslim untuk beribadah, terutama di sepertiga malam terakhir. Pada waktu ini juga ada beberapa zikir yang bisa dibaca, di antara zikir di malam hari yang bisa dibaca adalah,لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ‘LAILAHAILLALLAH WAHDAHU LASYARIKALAHU. LAHUL MULKU WALAHULHAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR. ALHAMDULILLAH WASUBHANALLAH WALAILAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR WALAHAULA WALAQUWWATA ILLA BILLAH’‘Segala puji bagi Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah. Tiada sesembahan yang benar, kecuali Allah. Allah Mahabesar. Serta tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah.’Zikir ketika masuk pasarDi antara waktu dan tempat yang dianjurkan untuk banyak berzikir adalah ketika masuk pasar. Sebaiknya, kita memperbanyak zikir ketika masuk pasar. Hal tersebut dikarenakan orang yang tidak lalai berzikir ketika melakukan aktifitas perniagaan, Allah janjikan balasan yang besar. Allah Ta’ala berfirman,رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An-Nuur: 37-38)Lalu, zikir apa yang bisa dibaca ketika masuk pasar? Bacaan yang bisa dibaca ketika masuk pasar di antaranya adalah,لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير“LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU, YUHYII WA YUMIIT, WA HUWA HAYYUN LAA YAMUUT, BI YADIHIL KHOIR, WA HUWA ‘ALA KULLI SYA-IN QODIIR”“(Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang Mahahidup dan tidak pernah mati, di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Mahamampu atas segala sesuatu.)” (HR. Tirmidzi)Zikir pada bulan RamadanBulan Ramadan merupakan bulan yang mulia yang tentunya banyak keutamaan pada bulan tersebut. Tentunya pada bulan yang mulia ini, ada doa dan zikir khusus yang bisa dibaca pada bulan Ramadan. Zikir-zikir di bulan Ramadan yang bisa kita baca di antaranya adalah sebagai berikut,Doa ketika melihat hilalاللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ“ALLAHUMMA AHILLAHU ‘ALAYNA BILYUMNI WAL IIMAANI WAS SALAAMATI WAL ISLAAMI. ROBBII WA ROBBUKALLAH”“(Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah)” (HR. Ahmad)Doa di malam lailatul qadarاللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى“ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNI”“(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Mahamulia yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku.)” (HR. Tirmidzi)Adab-adab berzikirZikir merupakan amalan ringan yang bisa dikerjakan kapan pun dan di mana pun. Akan tetapi, perlu juga kita memperhatikan adab-adab dalam berzikir agar pahala zikir kita bisa lebih maksimal. Di antara adab dalam berzikir adalah,Bersuci ketika berzikirKetika berzikir, kita sebaiknya dalam keadaan suci dari hadats. Hal tersebut sebagaimana contoh dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sabda beliau,إني كرهت أن أذكر الله عز وجل إلا على طُهْرٍ، أو قال: على طهارة“Sesungguhnya aku tidak menyukai berzikir kepada Allah Ta’ala kecuali dalam keadaan suci, atau dalam keadaan telah bersuci.” (HR. Abu Dawud)Tidak berzikir di tempat yang terlarangWalaupun zikir merupakan ibadah yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, ada tempat-tempat yang dilarang untuk kita berzikir. Di antara waktu dan tempat terlarangnya berzikir adalah,1) Ketika buang hajat;2) Ketika bersama pasangan di ranjang;3) Ketika khotib sedang berkhotbah;4) Di dalam kamar mandi;5) Ketika sedang salat.PenutupBerzikir merupakan amalan yang ringan dikerjakan tapi berat di timbangan. Semoga dengan artikel panduan lengkap zikir ini bisa membatu kita semua agar selalu rutin berzikir di setiap keadaan sehingga kita bisa termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berzikir yang Allah siapkan ampunan dan pahala di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,وَٱلذَّاكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱلذَّاكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۭا“Para laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah sediakan bagi mereka ampunan dan juga pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id

Inilah Rahasia Menikmati Ibadah agar Hatimu Menjadi Paling Bahagia

Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى

Inilah Rahasia Menikmati Ibadah agar Hatimu Menjadi Paling Bahagia

Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى
Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى


Tidaklah dituntut hanyalah sekadar engkau beribadah kepada Allah. Tidak. Namun, engkau dituntut merasakan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya. Hendaknya ibadahmu kepada Allah menjadi kenikmatan yang menenteramkan hatimu. Bagaimana hal itu terwujud? Wahai orang-orang yang mulia, ada perbedaan besar antara dua orang. Orang pertama berwudu dan melaksanakan salat hanya untuk menunaikan kewajiban, melepaskan tanggungannya, dan takut hukuman karena meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Orang lain pun berpuasa Ramadan dengan cara yang sama: menunaikan kewajiban dan tidak berbuka dengan sengaja tanpa uzur atau alasan yang dibenarkan syariat. Ia melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban dan melepaskan tanggungan. Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perbedaan besar antara orang tadi dengan orang lain yang berwudu seraya menikmati kenyataan bahwa ia sedang berada dalam keadaan suci yang dicintai oleh Allah, Ia menghayati bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya bersama setiap tetes air wudu yang menetes dari anggota badannya. Ia selalu mengingat bahwa setiap kali selesai berwudu, delapan pintu surga dibukakan untuknya. Ia menikmati setiap wudu yang dilakukannya. Ketika bangkit menuju salat, hatinya telah lebih dahulu melangkah, penuh kegembiraan dan kerinduan untuk berdiri di hadapan Allah. Ketika ia salat, membaca, atau mendengarkan bacaan imam, hatinya menjadi tenteram dengan firman Allah. Ketika rukuk, ia merasakan nikmatnya mengagungkan Allah.Ketika bangkit dari rukuk, hatinya lebih dahulu melantunkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum lisannya. Ketika sujud, ia mengagungkan Allah dan merasakan bahwa saat itulah dirinya berada paling dekat dengan Rabb-nya. Ia pun memanjatkan doa-doa, menyampaikan segala hajat dan urusan-urusan terpentingnya, serta memohon kepada Allah dengan penuh adab, penghambaan, ketundukan, dan kerendahan diri. Kelezatan dalam ibadah dan kenikmatan yang dirasakan di dalamnya inilah yang mendatangkan segala kebahagiaan hidup yang mengikutinya.Benar, hidupnya tetap tidak akan lepas dari penyakit, musibah, kegundahan, sesak dada, dan berbagai kesulitan lainnya. Akan tetapi, ketika ia telah merasakan nikmatnya menghamba kepada Allah, segala musibah dan ragam ujian dalam hidup berubah menjadi sesuatu yang hanya singgah dan tidak banyak ia hiraukan. Seakan-akan ia hanya berpapasan dengan sesuatu yang sebentar lagi segera akan berlalu. Maka engkau akan melihatnya, betapapun beban kehidupan berhimpun menghimpitnya,ia tetap termasuk manusia yang paling tenteram hatinya dan paling damai hidupnya. Padahal hartanya tidak bertambah, kemiskinannya belum sirna, dan utangnya pun belum terlunasi. Namun Allah ‘Azza wa Jalla telah memenuhi hatinya dengan rida, kegembiraan, dan ketenteraman. Sungguh, ini merupakan perkara yang menakjubkan. Engkau akan menemukannya pada hamba-hamba tulus yang Allah pilih untuk merasakan makna ini. ===== لَيْسَ الْمَطْلُوبُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ فَحَسْبُ، لَا بَلْ أَنْ تَتَلَذَّذَ بِعِبَادَتِكَ لِلهِ أَنْ تَكُونَ عِبَادَتُكَ لِلهِ نَعِيمًا يَأْنَسُ بِهِ قَلْبُكَ كَيْفَ هَذَا؟ فَرْقٌ يَا كِرَامُ بَيْنَ اثْنَيْنِ يَتَوَضَّأُ أَحَدُهُمَا وَيُصَلِّي أَدَاءً لِلْوَاجِبِ وَإِبْرَاءً لِذِمَّتِهِ، وَخَشْيَةً مِنَ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ الْوَاجِبِ الَّذِي أَمَرَهُ اللهُ وَآخَرُ كَذَلِكَ يَصُومُ رَمَضَانَ، يَفْعَلُ الْوَاجِبَ، وَيَتْرُكُ الْفِطْرَ عَمْدًا بِلَا عُذْرٍ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا سَوَّغَتْهُ الشَّرِيعَةُ أَدَاءً لِلْوَاجِبِ، وَإِبْرَاءً لِلذِّمَّةِ، وَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ كَذَلِكَ فَرْقٌ بَيْنَ هَذَا، وَآخَرَ يَتَوَضَّأُ مُسْتَمْتِعًا أَنَّهُ فِي طَهَارَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ مُسْتَشْعِرًا أَنَّ اللهَ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ مَعَ كُلِّ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْهَا أَعْضَاؤُهُ بِمَاءِ الْوُضُوءِ مُسْتَصْحِبًا أَنَّهُ كُلَّمَا فَرَغَ مِنْ وُضُوءٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَتَلَذَّذُ بِكُلِّ وُضُوءٍ يَتَوَضَّأُهُ فَإِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَامَ وَقَلْبُهُ يَسْبِقُهُ فَرَحًا وَشَوْقًا إِلَى الْوُقُوفِ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ فَإِذَا صَلَّى وَقَرَأَ أَوْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنِسَ بِكَلَامِ اللهِ وَإِذَا رَكَعَ تَلَذَّذَ بِتَعْظِيمِ اللهِ وَإِذَا رَفَعَ لَهِجَ قَلْبُهُ قَبْلَ لِسَانِهِ حَمْدًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَإِذَا سَجَدَ عَظَّمَ اللهَ وَشَعَرَ أَنَّهُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى رَبِّهِ فَرَفَعَ الدَّعَوَاتِ وَرَفَعَ الْحَوَائِجَ وَالْمُهِمَّاتِ وَسَأَلَ اللهَ بِأَدَبٍ وَعُبُودِيَّةٍ وَخُضُوعٍ وَذُلٍّ هَذَا التَّلَذُّذُ بِالْعِبَادَةِ وَالتَّنَعُّمُ بِهَا يُسْتَجْلَبُ بِهِ كُلُّ مَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ سَعَادَةِ الْحَيَاةِ نَعَمْ، هُوَ لَنْ يَخْلُوَ فِي حَيَاتِهِ مِنْ مَرَضٍ وَلَا مُصِيبَةٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا ضِيقِ صَدْرٍ وَلَا لَكِنَّهُ لَمَّا اسْتَمْتَعَ بِعُبُودِيَّتِهِ لِلهِ تَحَوَّلَتْ تِلْكَ الْمَصَائِبُ فِي الْحَيَاةِ وَوُجُوهُ الِابْتِلَاءَاتِ إِلَى أَمْرٍ عَابِرٍ لَا يُلْقِي لَهُ بَالًا فَكَأَنَّمَا مَرَّ بِشَيْءٍ يُوشِكُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَتَرَاهُ مَهْمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ هُمُومُ الْحَيَاةِ هُوَ مِنْ أَهْنَأِ النَّاسِ قَلْبًا، وَمِنْ أَطْيَبِهِمْ عَيْشًا مَا كَثُرَ مَالُهُ وَلَا ذَهَبَ فَقْرُهُ، وَلَا قُضِيَ دَيْنُهُ لَكِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَلَأَ قَلْبَهُ رِضًا وَسُرُورًا وَأُنْسًا هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ تَجِدُهُ عِنْدَ الْخُلَّصِ مِنَ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللهُ لِهَذَا الْمَعْنَى

Merenungi Usia yang Tak Pernah Kembali

Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Merenungi Usia yang Tak Pernah Kembali

Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleTidak diciptakan sia-siaMaut semakin mendekatBekal sebelum datangnya penyesalanMenjadi orang asing di duniaNikmat yang sering membunuh sisa usiaSebelum nafas sampai di tenggorokanPernahkah Anda berdiri di depan cermin, lalu tertegun sejenak? Sekedar untuk memandangi sosok di hadapan Anda. Adakah yang berbeda?Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”Tidak diciptakan sia-siaSaudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?Allah Ta’ala berfirman,أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?Baca juga: Jangan Sampai Susah Payah Beramal, Tetapi Sia-SiaMaut semakin mendekatPernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda,لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman,وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.Bekal sebelum datangnya penyesalanSalah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)Coba kita telaah satu per satu:1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya,أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”Beliau pun bersabda,فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?Menjadi orang asing di duniaDunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas,كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.Nikmat yang sering membunuh sisa usiaDi sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan,نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.Sebelum nafas sampai di tenggorokanSaudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.Baca juga: Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Sulit Lepas dari Maksiat? Jangan Tinggalkan Doa Ini – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Sulit Lepas dari Maksiat? Jangan Tinggalkan Doa Ini – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا


Satu nasihat yang saya harapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah menjadikannya sangat bermanfaat. Nasihat ini untuk para pelaku maksiat, orang-orang yang menyia-nyiakan dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Di antara nasihat terbaik untuk mereka adalah agar memperbanyak doa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah. Mereka dinasihati dengan ini. Misalnya, dikatakan kepadanya, “Perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Dikatakan kepadanya, “Doa ini lafaznya singkat, tetapi merangkum seluruh kebaikan bagimu. Perbanyaklah membaca doa ini! Hadapkan hatimu kepada Allah dan perbanyaklah membaca doa ini: ALLAAHUMMAHDINII WA SADDID NII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah dan bimbinglah aku kepada kelurusan.’” (HR. An-Nasa’i) Apa yang Allah firmankan dalam hadis ini? “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Artinya, “Mintalah hidayah kepada-Ku.” Arahkanlah ia kepada permohonan ini. Ajarkanlah ia untuk memohon kepada Allah, hingga seorang hamba menyadari kelemahan dan kefakirannya kepada Rabb-nya, agar Allah memberinya hidayah. Sebab, dalam kehidupan ini, berbagai perkara mengepungnya dari banyak arah. Begitu banyak perkara menguasai dan menghimpitnya: dari arah setan dan dari dorongan jiwanya sendiri,dari teman-teman yang buruk dan berbagai fitnah dunia. Begitu banyak perkara menghimpitnya, sementara dirinya berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tidak ada yang dapat melindunginya selain Allah, dan tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari semua itu selain Allah. Maka arahan terbaik yang dapat diberikan kepadanya adalah berdoa. Ia dinasihati agar memperbanyak doa. Dikatakan kepadanya, “Wahai Fulan, perbanyaklah memohon hidayah kepada Allah. ALLAAHUMMAHDINII ‘Ya Allah, berilah aku hidayah.’ ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAITA ‘Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang telah Engkau beri hidayah.’ (HR. Abu Daud) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HIDAAYAH ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hidayah kepada-Mu.’ IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus.’ (QS. Al-Fatihah: 6) ALLAAHUMMA INNII AS ALUKAL HUDAA WAT TUQOO WAL ‘IFFATA WAL GHINAA ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.’” (HR. Muslim) Ada banyak doa yang memuat permohonan ini. Maka ia diarahkan untuk mengamalkannya. Bersamaan dengan arahan untuk berdoa, dikatakan pula kepadanya, “Bersungguh-sungguhlah menundukkan hawa nafsumu. Iringilah doa dengan kesungguhan dalam melawan hawa nafsu.” Jika ia menggabungkan doa dengan perjuangan menundukkan hawa nafsunya, ia akan diberi hidayah dengan izin Allah. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam hadis ini, “Mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian hidayah.” (HR. Muslim) Ini berkaitan dengan memohon hidayah. Adapun tentang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) ===== نَصِيحَةٌ أَرْجُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَظِّمَ النَّفْعَ بِهَا وَهِيَ… الْعُصَاةُ الْمُضَيِّعُونَ الْمُفَرِّطُونَ الْمُتَهَاوِنُونَ فِي طَاعَةِ اللهِ مِنْ خَيْرِ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ وَيُوصَى بِهِ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ دُعَاءِ اللهِ أَنْ يَهْدِيَهُ يُنْصَحُ بِهَذَا يُقَالُ لَهُ مَثَلًا: أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي يُقَالُ: هَذَا دُعَاءٌ مُخْتَصَرَةٌ أَلْفَاظُهُ جَمَعَ لَكَ الْخَيْرَ أَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ أَقْبِلْ عَلَى اللهِ بِقَلْبِكَ وَأَكْثِرْ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي مَاذَا قَالَ اللهُ هُنَا؟ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَعْنِي: اطْلُبُوا مِنِّي الْهِدَايَةَ أَرْشِدْهُ إِلَى هَذَا الطَّلَبِ عَلِّمْهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ اللهِ حَتَّى يَسْتَشْعِرَ الْعَبْدُ ضَعْفَهُ وَفَقْرَهُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَهْدِيَهُ لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ مِنْ جِهَاتٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ مِنْ جِهَةِ الشَّيْطَانِ مِنْ جِهَةٍ، وَالنَّفْسِ مِنْ جِهَةٍ وَقُرَنَاءِ السُّوءِ مِنْ جِهَةٍ، وَفِتَنِ الدُّنْيَا مِنْ جِهَةٍ تَسَلَّطَتْ عَلَيْهِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ فَهُوَ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ لَا عَاصِمَ لَهُ إِلَّا اللهُ وَلَا مُخَلِّصَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا اللهُ فَخَيْرُ مَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ الدُّعَاءُ يُوصَى بِالدُّعَاءِ، يُقَالُ لَهُ: يَا فُلَانُ، أَكْثِرْ مِنْ سُؤَالِ اللهِ الْهِدَايَةَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى أَدْعِيَةٌ كَثِيرَةٌ فِي هَذَا الْمَطْلَبِ فَيُرْشَدُ إِلَى ذَلِكَ وَمَعَ إِرْشَادِهِ إِلَى الدُّعَاءِ يُقَالُ لَهُ أَيْضًا وَجَاهِدْ نَفْسَكَ أَتْبِعِ الدُّعَاءَ بِالْمُجَاهَدَةِ فَإِذَا جَمَعَ بَيْنَ الدُّعَاءِ وَالْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ هُدِيَ بِإِذْنِ اللهِ اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ هَذَا فِي السُّؤَالِ وَفِي الْمُجَاهَدَةِ قَالَ جَلَّ وَعَلَا وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 2): Jauhi Favoritisme

Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag. 2): Jauhi Favoritisme

Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleJauhi favoritismeMuliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanBersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halPemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratHusnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatJauhi favoritismeThahir memberikan wasiat,ولا تمل عن العدل فيما أحببت أو كرهت لقريب من الناس أو بعيد“Jangan sekali-kali menyimpang dari keadilan dalam hal yang engkau cintai atau benci, hanya karena kedekatanmu dengan sebagian orang.”Wasiat ini ringkas, di awal paragraf, tetapi mengandung hikmah besar yang sangat relevan dengan kita di hari ini. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak berdasarkan favoritisme. Hanya karena orang tersebut adalah sosok yang kita sukai, lantas kita mengutamakannya dan memaklumi kesalahannya. Sedangkan orang yang kita benci, kita halangi dia dari haknya dan menyalahkan perbuatannya yang benar.Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ,وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)Wasiat Thahir ini sangat relevan dengan fenomena di masa kini. Favoritisme menjadi isu besar di model kepemimpinan lintas organisasi. Mulai dari sistem kecil seperti di lembaga maupun perkantoran, hingga pada level tertinggi. Relevansi pembahasan Thahir menambah semangat kita untuk mengkajinya sehingga menjadi sangat bermanfaat bagi kita pribadi maupun orang-orang khusus yang ingin kita berikan wejangan terbaik.Muliakan ilmu agama dan ulama, niscaya Engkau termuliakanUtamakanlah fikih dan para ahlinya, agama dan para pembawanya, kitabullah dan orang-orang yang mengamalkannya. Karena sebaik-baik perhiasan seseorang adalah pemahaman terhadap agama-Nya, semangat mencarinya, mendorong manusia kepadanya, dan mengetahui perkara-perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.Sesungguhnya fikih atau ilmu agama adalah penunjuk kepada seluruh kebaikan, pemimpin menuju kebaikan, yang memerintahkan kepadanya dan melarang dari segala maksiat serta dosa-dosa besar. Dengannya pula, bersama taufik Allah, para hamba semakin mengenal Allah ﷻ, semakin mengagungkan-Nya, dan semakin meraih derajat-derajat tinggi di akhirat.Tidak hanya itu, kebersamaan pemimpin dengan ilmu dan ahlinya akan menunjukkan kewibawaannya.مع مافى ظهوره للناس من التوقير لأمرك والهيبة لسلطانك والأنسة بك والثقة بعدلكDi samping itu, tampaknya ilmu di hadapan manusia akan menambah kewibawaan perintahmu, menghadirkan wibawa bagi kekuasaanmu, membuat manusia merasa dekat dan tenteram denganmu, serta percaya kepada keadilanmu.Inilah yang selaras dengan kepemimpinan modern yang dikenal dengan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan atau teknokrasi. Lembaga kepemimpinan diisi oleh ahlinya, yakni para teknokrat. Kabinet pemerintahan diisi oleh para pakar yang disebut sebagai kabinet zaken. Inilah kepemimpinan yang ideal. Kepemimpinan semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang presisi dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.Bersikaplah moderat (pertengahan) dalam segala halHendaklah engkau bersikap moderat (iqtishad) dalam segala hal. Tak ada apa pun yang lebih jelas manfaatnya, lebih aman, dan lebih komprehensif, ketimbang sikap moderat.والقصد داعية إلى الرشد والرشد دليل على التوفيق والتوفيق قائد إلى السعادةSikap moderat mengantarkan kepada petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar membawa kepada keberhasilan, dan keberhasilan menyebabkan kebahagiaan.Tentu sikap moderat yang dimaksudkan Thahir adalah sikap moderat dalam naungan syariat Islam, sebagaimana disebutkan. Penegakan agama dan sunah-sunah Nabi yang memberi petunjuk dicapai melalui sikap moderat. Maka dahulukanlah atas yang lainnya, bersikaplah moderat dalam urusan duniamu semuanya.Ketahuilah, bersikap moderat dalam urusan dunia dapat mewariskan kemuliaan dan membersihkan dosa. Engkau tak memiliki apa pun yang lebih utama dari (sikap moderat) yang akan dapat melindungi dirimu dari orang yang suka mengata-ngatai, dan yang akan membuat urusanmu menjadi baik. Maka gunakanlah ia, berpandulah dengannya, niscaya urusanmu akan tuntas, kemampuanmu akan meningkat, serta masalah pribadi dan publikmu akan membaik.Pemimpin tidak boleh kalah dalam perlombaan menuju akhiratJanganlah tertinggal dalam mencari akhirat, pahala, amal saleh, sunah yang dikenal baik, dan hidayah petunjuk. Jangan segan untuk memberi pertolongan dan memperbanyak kebaikan serta mengusahakannya, jika dengannya dapat diperoleh wajah Allah dan rida-Nya serta dapat menemani para wali Allah di darul karamah atau negeri kemuliaan, yakni surga.Husnuzhan dan meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mengurus rakyatKunci dari pertalian hubungan pemimpin dan rakyat yang harmonis adalah memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ. Thahir mewasiatkan,وأحسن الظن بالله عز وجل تستقم لك رعيتك والتمس الوسيلة إليه في الأمور كلها تستدم به النعمة عليكHendaklah engkau berbaik sangka kepada Allah ﷻ, niscaya rakyatmu pun akan istikamah membantumu. Cobalah senantiasa berhubungan dengan-Nya dalam semua urusan, niscaya nikmat selalu diberikan padamu.Prinsip berhusnuzhan kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang pemimpin untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan wahyu Allah ﷻ,ِأَنَا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ“Aku sesuai dengan persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dinilai sahih)Orang yang paling membutuhkan pertolongan Allah ﷻ adalah para pemimpin yang mengurusi banyak orang. Tiada yang dapat menolongnya dalam kepemimpinan kecuali Allah ﷻ. Cara terbaik yang Allah ﷻ ajarkan agar seorang pemimpin mendapatkan pertolongan-Nya adalah dengan berhusnuzhan kepada Allah ﷻ sembari mengambil sebab.Pada bagian ini, wasiat Thahir berkorelasi dengan bagian sebelumnya yang mengingatkan seorang pemimpin untuk memperbanyak istikharah. Karena seorang pemimpin akan menghadapi masalah yang amat kompleks. Terkadang sampai tak tahu di mana pangkal masalah, apalagi ujung solusinya. Demikian pula mengkondisikan masyarakat agar tetap mendukung niatan baiknya, hal ini lebih sulit lagi. Maka, jika hendak mendapatkan pertolongan dan dukungan, hendaklah sang pemimpin tersebut banyak berprasangka baik dengan Allah ﷻ.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Glenshah FauziArtikel Muslim.or.id

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 2): Allah Bersumpah Atas Benarnya Al-Qur’an dan Rasul-Nya

Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 2): Allah Bersumpah Atas Benarnya Al-Qur’an dan Rasul-Nya

Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah melihat bagaimana keadaan menjelang dan ketika hari kiamat terjadi. Huru-hara serta berbagai hal mengerikan yang membuat takut manusia, bahkan hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia akan ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah akan dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam atau didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.Setelah itu, Allah berbicara kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat penting karena banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ“Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan bersumpah dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah bersumpah dengan menyebut “al-khunnas”, yaitu benda langit yang memiliki sifat takhnis atau hilang dan bersembunyi ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya cahaya matahari. Sedangkan ketika malam hari, benda langit ini akan muncul karena hilangnya cahaya matahari. Maka sumpah ini mencakup semua benda langit, baik yang memancarkan cahaya sendiri seperti bintang atau yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, yaitu Allah bersumpah dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, akan tetapi bentuk kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai bentuk sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini karena saking jelasnya kabar tersebut, bahkan tidak perlu kita bersumpah untuk menegaskannya, karena setiap person yang melihat dan merenungi pasti akan mengetahui bahwa obyek sumpah adalah benar adanya.Terdapat rahasia menarik mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit ini, yaitu adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah mampu untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta mampu untuk mengadakan serta menghilangkan cahaya mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kebodohan manusia yang menjadikan benda langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ“Demi malam apabila telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)Allah bersumpah dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok atau kalimat yang memiliki dua makna atau lebih, dimana kedua makna ini adalah makna hakiki yang bukan majas, serta dapat digunakan bersamaan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang atau pergi. Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah bersumpah dengannya..Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah karena datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya berpendapat bahwa malam di sini adalah akhir malam, yaitu pada waktu sahur menjelang subuh, karena di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ulama lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus karena menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ“Demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)Allah bersumpah dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa berbagai kabar tentang hari kiamat yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beriman dan sadar, adalah benar dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan berita palsu buatan manusia.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ“Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik atau terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang hilang ataupun tercampur dengan hal lain.Pertama, adalah sifat “karim” atau sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, yaitu mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau mampu untuk menjaga wahyu tersebut dengan aman sampai kepada Rasulullah. Ketiga, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun berbohong atas wahyu yang dibawa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” atau diartikan “temanmu” adalah karena sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit atau muncul dari antah berantah kemudian membawa berita yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah keluarga terbaik di tengah bangsa Arab, bahkan kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah melihat bagaimana akhlaknya ketika tumbuh bersama kalian, kalian tidak pernah melihat keburukannya. Lantas mengapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kebodohan nyata dari kaum musyrik Quraisy.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau melihat Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau melihat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi dalam wujud aslinya yang memiliki enam ratus sayap.Malaikat Jibril memiliki bentuk yang sangat luar biasa besar, memiliki 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi cahaya matahari. Peristiwa Nabi melihat langsung malaikat Jibril ini menjadikan ilmu beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi ilmu yang aksiomatis, melahirkan keyakinan mutlak dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah benar-benar sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat fisik yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan ilmu bagaimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan abadi di surga. Semua hal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak akan sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai habis di neraka.Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan bentuk penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa bertemu dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan jin di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga mampu untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi jin yang berusaha mencuri berita langit.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ“Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh?” Apakah tetap akan menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berakhir dalam neraka, atau mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan atau menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beriman dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta memiliki akhlak yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal atau kata ganti dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang bermakna bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar atau penutup yang sangat indah, yaitu istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah berdoa kepada Allah agar tetap memberikan iman kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.[Selesai]KEMBALI KE BAGIAN 1***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Prev     Next