Ekonomi Umat yang Berdaya: Visi Islam untuk Kaum Muslimin yang Kuat dan Mandiri

Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.

Ekonomi Umat yang Berdaya: Visi Islam untuk Kaum Muslimin yang Kuat dan Mandiri

Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.
Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.


Daftar Isi ToggleTugas manusia adalah beribadahMemperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPara Rasul juga berdagangPara sahabat terbaik juga pedagangCatatan untuk para pekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanPenutupTerdapat sebuah pemahaman keliru yang menyebar dan terkadang menjadi hal yang diperdebatkan di tengah umat, juga disalahpahami. Orang yang saleh dianggap semestinya menjauh dari urusan dunia, kerja keras dicurigai mengganggu ibadah, dan harta yang banyak dianggap sebagai tanda hati terikat pada dunia. Turunan dari pemahaman seperti ini di antaranya adalah kemiskinan dianggap bukti ketakwaan, sementara kekayaan dianggap pintu kemaksiatan.Pemahaman seperti ini akan membawa kepada kerusakan yang nyata. Karena, dakwah ini butuh pendanaan, fasilitas belajar butuh guru yang digaji, dan fasilitas kesehatan tidak mungkin berdiri begitu saja tanpa orang-orang yang berkecimpung dalamnya. Ketika semua keseriusan dalam mendalami urusan dunia ditinggalkan atas nama kesalehan, yang tersisa hanyalah niat baik tanpa kemampuan untuk mewujudkannya.Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah. Bahkan, ekonomi umat yang berdaya merupakan visi islam untuk kaum muslimin. Setiap Muslim harus paham bahwa aktivitas dunia yang benar dan diniatkan karena Allah dapat bernilai ibadah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan. Para sahabat Nabi pun memahami semua itu dalam kehidupan nyata mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Tugas manusia adalah beribadahAllah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)Biasanya yang terjadi begini. Ayat yang cakupannya selebar itu dipahami dengan makna yang sempit. Ibadah dipahami sebatas salat, puasa, dan zikir, sementara selebihnya dikategorikan sebagai urusan dunia yang harus disertai rasa bersalah.Padahal Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan “al-‘ibadah” dalam ayat ini dengan cakupan yang lebih luas dari yang dipahami kebanyakan orang, yakni meliputi seluruh aktivitas yang dicintai dan diridai Allah, termasuk di dalamnya mencari rezeki yang halal. [1] Konsekuensinya praktis sekali, dan orang yang pernah benar-benar kehabisan uang biasanya lebih paham dibanding kita yang hanya membacanya. Pikiran tentang kebutuhan keluarga itu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah berdiri di dalam shaf, sementara zakat tidak mungkin keluar dari harta yang tidak dimiliki dan haji tidak bisa ditunaikan tanpa bekal.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari no. 2072) [2]Yang dimaksud “makan dari hasil kerja tangan sendiri” adalah semisal yang ditunaikan Nabi Dawud ‘alaihis salam, seorang raja yang tetap memakan hasil usahanya sendiri. Bekerja dengan tangan bukan kompromi bagi orang yang imannya tipis, melainkan perkara yang mulia.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang jenis usaha yang paling baik. Tidak ada jenis ibadah sunah yang beliau sebut, yang beliau sebut adalah jenis transaksi. Beliau bersabda,عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih dari penipuan.” (HR. Ahmad, disahihkan al-Albani) [3]Seorang Muslim yang keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, berdagang, atau mengembangkan keahlian, dengan niat yang benar dan cara yang halal, maka dia sedang beribadah, dan keringatnya terhitung pahala.Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk ibadahPembahasan pada bagian di atas masih berkaitan dengan kebutuhan pribadi. Namun, ibadah dalam konteks ekonomi tidak berhenti di situ. Terdapat dimensi yang lebih besar, yaitu memperkuat pondasi umat agar agama ini menjadi kekuatan yang berdaya dan disegani.Allah Ta’ala memerintahkan,وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60)Ayat ini ditujukan kepada pasukan yang akan berangkat menghadapi musuh, dan tidak ada pasukan yang bergerak tanpa bekal. Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa al-quwwah dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer, melainkan mencakup segala bentuk kekuatan yang sanggup disiapkan oleh umat Islam, termasuk kekuatan ekonomi dan perbekalan. [4]Bekal tidak terwujud hanya dengan doa. Bekal lahir dari perencanaan dan pos-pos pembiayaan yang dijalankan bertahun-tahun sebelumnya. Ada perdagangan yang hasilnya menutup kebutuhan satu musim, dan ada pula tanah yang hasilnya ditahan agar mengalir setiap tahun, sehingga dari aliran itulah guru-guru bisa digaji dan mahasiswa dibiayai puluhan tahun tanpa harus meminta-minta. Kekuatan ekonomi kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diperhatikan, karena banyak kewajiban yang bertumpu pada kekuatan ekonomi. Maka, kekuatan ekonomi bukanlah perkara tambahan (fadhlah) melainkan perkara inti (umdah).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip yang tegas dalam hal ini,الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664) [5]Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “kekuatan” dalam hadis ini bersifat umum, mencakup badan, ilmu, beserta harta. [6] Jadi, yang dimaksud bukan hanya fisik yang kuat atau hafalan ilmu yang banyak. Seorang Muslim yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya untuk menguatkan ekonomi diri dan umatnya sedang mewujudkan sifat yang dicintai Allah Ta’ala, bukan sedang mengejar dunia, melainkan sedang menyiapkan quwwah yang Rabb-nya perintahkan.Baca juga: Harta di Tangan Orang yang ShalihPara Rasul juga berdagangBila masih tersisa keraguan, cukup diperhatikan teladan para Rasul ‘alaihimush shalatu wassalam. Mereka manusia terbaik yang pernah hidup, dan tidak seorang pun dari mereka merasa rendah untuk bekerja.Ketika orang-orang musyrik Makkah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak mencela salat beliau. Mereka mencela beliau karena beliau makan makanan biasa dan berjalan di pasar, seolah-olah mencari nafkah menurunkan derajat seorang pemimpin. Allah Ta’ala tidak membela beliau dengan menyatakan bahwa beliau tidak berdagang. Allah justru menegaskan bahwa seluruh Rasul sebelum beliau juga melakukan hal yang sama,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, kecuali mereka pasti memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar.” (QS. Al-Furqan: 20)Al-Qurthubi rahimahullah menyebut ayat ini sebagai landasan syar’i untuk menempuh sebab-sebab rezeki, baik melalui perdagangan, kerajinan, maupun berbagai bentuk usaha lainnya. [7] Berkerja di pasar bukanlah aib. Allah Ta’ala sendiri menjadikannya sebagai sifat para Rasul untuk membantah orang yang menganggapnya rendah.Bahkan sebagian sahabat pernah merasa berdosa karena berdagang di pasar-pasar yang dahulu dikenal sebagai pasar Jahiliah seperti ‘Ukazh dan Majannah, khawatir tersangkut bekas ritual kaum Jahiliah di sana. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang menghapus kegelisahan mereka [8],لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ“Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia dari Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 198)Perhatikan kata ‘fadhl’ (karunia) pada ayat ini. Allah tidak menamai keuntungan dagang sebagai urusan dunia yang hina dan sekadar dimaklumi, Allah menamainya karunia dari Rabb mereka.Para sahabat terbaik juga pedagangGenerasi terbaik umat ini memberikan penerapan yang paling jelas atas dalil-dalil di atas. Di antara mereka ada sahabat yang paling zuhud sekaligus pemilik usaha yang tangguh.Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu tiba di Madinah sebagai Muhajir (orang yang berhijrah) tanpa membawa harta. Beliau dipersaudarakan dengan Sa’d bin ar-Rabi’ al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang kaya raya. Sa’d menawarkan setengah hartanya, bahkan menawarkan menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman menikahinya setelah masa iddah, dan beliau menolaknya dengan halus. Pertanyaan yang beliau ajukan justru terdengar sederhana sekali,هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟“Apakah ada pasar yang bisa dijadikan tempat berdagang?” Lalu ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qainuqa’. (HR. Bukhari no. 2048) [9]Keesokan paginya, beliau berangkat ke pasar itu membawa susu kering dan keju, dua barang yang modalnya bisa dikumpulkan siapa saja. Keuntungan yang beliau bawa pulang masih kecil, lalu datang lagi di hari-hari berikutnya hingga Allah memberkahi usaha tersebut, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas wewangian berwarna kuning pada dirinya beberapa hari kemudian sebagai tanda bahwa beliau baru saja menikah. Yang perlu digarisbawahi di sini bukan besarnya harta yang akhirnya beliau miliki, melainkan titik awalnya, yaitu sebuah pertanyaan tentang letak pasar dan keberanian berangkat keesokan harinya.Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pun demikian. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan,لَقَدْ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَاجِرًا إِلَى بُصْرَى“Abu Bakar pernah keluar berdagang ke Bushra di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir) [10]Peristiwa itu terjadi pada masa wahyu masih turun, di penghujung hayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada masa lalu yang sudah berlalu jauh sebelum risalah. Yang menemani perjalanan niaga beliau ke Syam juga bukan orang sembarangan, karena dalam riwayat lain disebutkan bersama Abu Bakar ada Nu’aiman dan Suwaibit bin Harmalah, dua orang yang pernah mengikuti Perang Badar. Tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sedang berpaling dari akhirat.Kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangi aktivitas dagang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melarangnya. Sehingga tidak ada kontradiksi di mata mereka antara kedekatan dengan Rasulullah dan usaha yang mereka jalankan. Mereka tidak mempertentangkan dunia dan akhirat. Bagi mereka, keduanya bukan pilihan yang salah satunya harus ditinggalkan.Catatan untuk para pekerjaTanpa bagian ini, dalil-dalil di atas berpotensi disalahpahami sebagai pembenaran bagi para pengumpul harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua gambaran yang kontras tentang nasib pedagang di akhirat. Salah satunya menjanjikan kedudukan yang luar biasa,التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ“Pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. at-Tirmidzi no. 1209) [11]Satunya lagi memperingatkan dengan keras,يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ“Wahai para pedagang, sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai pendosa, kecuali yang bertakwa, berbuat baik, dan jujur.” (HR. at-Tirmidzi no. 1210) [12]Dua hadis dengan satu objek yang sama, dan yang membedakan keduanya hanyalah kejujuran serta ketakwaan. Dua sifat inilah yang menentukan apakah seorang pedagang diangkat ke derajat para Nabi atau justru dibangkitkan sebagai pendosa.Islam menetapkan rambu yang jelas dalam transaksi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا“Dua orang yang berjual-beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang), jual-beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, dihapuslah keberkahan jual-beli mereka.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532) [13]Di antara rambu yang Islam tegaskan adalah riba. Riba adalah perkara haram jika dilakukan oleh kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)Penjelasan pada hadis ini bukan hanya berlaku untuk para pedagang, para pekerja yang menandatangani kotrak pun masuk ke dalamnya.Baca juga: Beginilah Indahnya Islam dalam Mengatur Hak-Hak Para PekerjaDunia adalah wasilah, bukan tujuanSeluruh pembahasan di atas harus diletakkan dalam kerangka yang benar agar tidak bergeser menjadi kultivasi kekayaan. Harta adalah wasilah dan bukan tujuan, ia sarana pembantu untuk beribadah, bukan tujuan atau tuhan yang harus disembah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan kalimat yang menohok,لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ“Seandainya dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2320) [14]Pada saat yang sama, Allah Ta’ala mengajarkan keseimbangan dalam memakainya,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)Tidak berlebihan, tidak pula kikir, dan berada di tengah-tengah. Kedua nash di atas tidak saling bertentangan; yang satu mematikan penyembahan terhadap harta, sementara yang lain mengatur peredarannya. Dunia tidak bernilai di sisi Allah, namun cara hamba memakainya tetap dihitung dan diminta pertanggungjawabannya. Prinsip inilah yang paling dasar dalam ekonomi Islam sekaligus paling berat dipraktikkan karena ia menyentuh angka pada rekening, bukan sekadar lisan.PenutupMencari rezeki yang halal adalah ibadah, dan ibadah jenis ini punya efek yang langsung terasa pada perut dan tempat tinggal. Memperkuat pondasi ekonomi umat termasuk menyiapkan kekuatan yang Allah perintahkan dalam surah Al-Anfal. Berdiri di atas kaki sendiri adalah kehormatan bagi seorang Muslim karena ia tidak membebani orang lain. Semua ini bukan teori yang mengawang-awang, sebab generasi terbaik umat ini telah mempraktikkannya.Dunia bukan musuh yang harus dijauhi dan bukan pula tujuan. Dunia adalah wasilah atau perantara, manusialah yang dapat meniatkan menjadi wasilah apa dari dunia yang ia usahakan. Setiap Muslim yang bekerja keras di bidangnya dengan niat yang benar dan cara yang halal sedang meletakkan satu batu bata pada bangunan yang lebih besar dari dirinya.Wallahu a’lam bish-shawab.***Penulis: Muhammad Insan FathinArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7: 425.[2] HR. Bukhari no. 2072.[3] HR. Ahmad no. 17265, dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu. Syekh Syu’aib al-Arna’uth menilai sanadnya hasan lighairihi karena ada kekeliruan pada salah satu perawinya, sementara al-Hakim mensahihkannya dan al-Albani mensahihkan lafaz semakna ini dalam Shahih at-Targhib no. 1690. Sebagian kitab muamalah mencantumkan riwayat ini dengan nomor at-Tirmidzi no. 1315.[4] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jil. 4.[5] HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga pada Ibnu Majah no. 79 dan Ahmad no. 8777 dengan lafaz yang semakna.[6] Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 215.[7] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 7: 502.[8] HR. Bukhari pada tafsir ayat ini, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang keengganan sebagian sahabat berdagang di pasar Jahiliah. Al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak no. 2885, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.[9] HR. Bukhari no. 2048.[10] HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, dan Ahmad no. 26729 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Syekh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (6: 1036) dan Dha’if Ibni Majah no. 750 memiliki penilaian yang tidak sama pada jalur yang berbeda, jadi sebaiknya tidak menetapkan salah satu tanpa memeriksa kedua kitab itu.[11] HR. at-Tirmidzi no. 1209.[12] HR. at-Tirmidzi no. 1210.[13] HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.[14] HR. at-Tirmidzi no. 2320 dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu.[15] HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1003.

MENGAPA DOA ORANG YANG TERZALIMI DAN ORANG YANG TERDESAK MUDAH DIKABULKAN?

Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

MENGAPA DOA ORANG YANG TERZALIMI DAN ORANG YANG TERDESAK MUDAH DIKABULKAN?

Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ


Mengapa doa orang yang terzalimi dikabulkan? Doa orang yang terzalimi dikabulkan karena ketika mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kejujuran. Selain itu, karena Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi ini telah mengalami suatu kezaliman, sedangkan Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Orang yang terzalimi itu berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang penuh kepedihan, dengan ikhlas dan jujur, sehingga doanya dikabulkan. Oleh karena itu, orang yang tidak terzalimi pun, jika berdoa kepada Allah Ta’ala dengan keadaan hati seperti orang yang terzalimi, maka pada umumnya doanya juga akan dikabulkan. Karena itu pula, doa orang yang berada dalam keadaan terdesak dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan (terdesak) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (QS. An-Naml: 62). Mengapa doa orang yang terdesak dikabulkan? Karena orang yang terdesak berdoa dengan keikhlasan yang sangat dalam, dan ia berdoa kepada Allah Ta’ala dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Maka apabila keadaanmu ketika berdoa telah seperti keadaan orang yang terdesak dan orang yang terzalimi, maka doa itu akan dikabulkan. Bahkan sebab ini, yakni keikhlasan yang sangat dalam, rasa sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ikhlas, kembali kepada-Nya, dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada-Nya, menjadi begitu kuat hingga mengalahkan penghalang terkabulnya doa, meskipun penghalang itu berupa kesyirikan. Karena itu, Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrik, “Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). Padahal mereka adalah orang-orang musyrik, sedangkan kesyirikan termasuk penghalang terkabulnya doa. Meski demikian, ketika mereka sampai pada keadaan yang sangat terdesak, mereka pun berdoa kepada Allah Ta’ala dalam keadaan benar-benar terdesak. Allah Ta’ala mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan yang sedang mereka alami. “Apabila mereka naik kapal,” yakni ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka pun berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. “Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-’Ankabut: 65). ===== لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ لِأَنَّ الْمَظْلُومَ عِنْدَمَا يَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ يَدْعُو بِحَرَارَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَبِصِدْقٍ وَكَذَلِكَ أَيْضًا لِأَنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ فَهَذَا الْمَظْلُومُ إِنْسَانٌ تَعَرَّضَ لِمَظْلَمَةٍ وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَهَذَا الْمَظْلُومُ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحُرْقَةٍ وَبِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ فَتُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِذَلِكَ غَيْرُ الْمَظْلُومِ إِذَا دَعَا اللَّهَ تَعَالَى بِنَفْسِ الْمَشَاعِرِ الَّتِي يَدْعُو بِهَا الْمَظْلُومُ فَإِنَّهُ أَيْضًا فِي الْغَالِبِ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ وَلِهَذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ لِأَنَّ الْمُضْطَرَّ يَدْعُو بِإِخْلَاصٍ شَدِيدٍ وَيَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبٍ مُقْبِلٍ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَتُكَ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَالْمَظْلُومِ عِنْدَ الدُّعَاءِ فَإِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ بَلْ إِنَّ هَذَا السَّبَبَ وَهُوَ يَعْنِي الْإِخْلَاصُ الشَّدِيدُ وَالِاضْطِرَارُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِإِخْلَاصٍ وَبِإِنَابَةٍ وَبِإِقْبَالٍ يَقْوَى حَتَّى عَلَى دَفْعِ الْمَانِعِ مِنْ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ وَإِنْ كَانَ الْمَانِعُ شِرْكًا وَلِهَذَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى عَنِ الْمُشْرِكِينَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ مَعَ أَنَّهُمْ مُشْرِكُونَ وَالشِّرْكُ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَمَعَ ذَلِكَ إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ وَدَعَوُا اللَّهَ تَعَالَى وَهُمْ مُضْطَرُّونَ اسْتَجَابَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ فَنَجَّاهُمْ مِمَّا هُمْ فِيهِ مِنَ الْكُرَبِ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ يَعْنِي وَأَصَابَتْهُمْ كُرْبَةٌ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka

Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka

Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pada tulisan kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang bagaimana akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai aturan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat melakukan yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari azab Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu amal keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah catatan amal yang bernama Sijjin.Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah atau melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir melakukan itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa amal mereka akan dihisab pada hari akhir.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)Kemudian ayat berikutnya menjelaskan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu jawaban dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk menunjukkan betapa agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.Ulama sendiri berbeda pendapat tentang apa itu Sijiin, serta berbeda pendapat apakah ayat kesembilan merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan kitab yang berisi catatan amal adalah dua hal yang berbeda.Sebagian ulama menjelaskan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan penjelasan dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menjelaskan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah kitab berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang amat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari kitab ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada jiwa yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.Sebagian ulama lain menjelaskan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam kitab Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu tetap mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keimanan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari golongan jin atau manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada catatan kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan kitab itu adalah sebab seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)Allah telah menyiapkan azab yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, atau balasan di hari kiamat, atau mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk penjelasan siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk celaan dan hinaan. Hal ini karena ancaman celaka bukan hanya berlaku bagi orang yang mendustakan hari kiamat saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja ajaran para Nabi yang lain.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai aturan manusia di muka bumi.Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah kebohongan yang hanya digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, hanya suatu dongeng yang bertujuan manusia melakukan kebajikan dan mencegah dari keburukan.Pandangan yang menyatakan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan hanya berfungsi sebagai kontrol sosial bukan hanya menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang masih hidup sampai zaman ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berusaha mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai kitab suci, mereka reduksi hanya sebagai kitab sejarah, dongeng orang terdahulu yang berfungsi sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan argumen yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami atau Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)Setelah menyebutkan sifat-sifat busuk para pendusta ajaran syariat yang mulia ini, Allah jelaskan apa sebab mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus melakukan dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan syariat dan meremehkan segala ajaran dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak mampu lagi untuk kembali menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan hidayah Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda tobat mereka ketika melakukan kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, lalu menutup hati mereka seluruhnya.Dalam hadis yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan kembali bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran atau noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang mudah dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari kebenaran ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan memandang kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di dunia mereka buta terhadap tauhid, maka di hari kiamat Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dulu anggap hanya dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah kebenaran yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, azab pedih yang dulu kalian dustakan, bahkan kalian olok-olok di dunia, sekarang kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, bahkan setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan jiwa penghuni neraka. Bukan hanya sekedar badan dan fisik mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan cara diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah fisik dan jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.[Bersambung]KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).
Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).


Daftar Isi TogglePertama, memberi maafKedua, mengajak kebaikanKetiga, mengabaikan kebodohanTeladan memaafkan dari generasi terbaikDalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:Pertama, memberi maafMemaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.Allah Ta’ala berfirman,وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)Kedua, mengajak kebaikanSetelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.Ketiga, mengabaikan kebodohanAda orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.Teladan memaafkan dari generasi terbaikAbdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi: Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 1): Azab Mengerikan Bagi Al-Muthaffif

Pembaca sekalian, tadabbur Al-Qur’an kita saat ini telah mencapai surah Al-Mutaffifin (الْمُطَفِّفينَ), yaitu surah  yang berada pada nomor 83 dalam urutan mushaf Utsmani. Nama lain surah ini adalah surah ويل للمطففين sesuai dengan ayat pertamanya, atau surah التطفيف. Surah ini adalah surah yang memiliki 36 ayat.Ulama tafsir berbeda pendapat apakah surah ini termasuk golongan Makkiyah atau Madaniyah, atau sebagian Makkiyah dan sebagian Madaniyah. Imam Qurthubi dan Zamakhsyari menyatakan bahwa ini adalah surah Makkiyah, sedangkan Imam Muqatil dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah. Adapun Ibnu Abbas dan Qotadah menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah, kecuali 8 ayat terakhirnya.Ulama yang mengatakan surah ini adalah Makkiyah beralasan bahwa uslub (gaya bahasa) dan tema yang dipaparkan adalah khas tema Makkiyah, yaitu dengan menggunakan gaya bahasa yang lugas dan tegas, serta tema bahasa yang berputar pada pembahasan akidah dan hari kiamat.Sedangkan ulama lain yang berpendapat bahwa surah ini Madaniyah dikarenakan melihat awal surah yang membicarakan tentang kecurangan dalam timbangan. Sebagian sahabat mengatakan bahwa dahulu, sebagian orang Yastrib adalah pedagang yang sering curang dalam timbangan, mengurangi takaran ketika seseorang membeli barang dari mereka. Ketika disamapikan ayat ini kepada mereka, takutlah mereka, kemudian berhentilah mereka dari tindakan curang ini.Allah membuka surah ini dengan pengumuman atas siksa yang sangat mengerikan bagi orang yang curang dan culas dalam timbangan. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan dua golongan manusia, yaitu manusia yang selamat dan yang sengsara dalam kehidupan akhiratnya. Selanjutnya diceritakan tentang berbagai kenikmatan yang didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah, yang menjadi motivasi agar semakin semangat beramal saleh, mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Terakhir, surah ini bercerita tentang bagaimana Allah memberikan balasan setimpal bagi para kafirin penjahat yang menzalimi kaum muslimin di dunia. Di dunia, mereka bisa menyakiti kaum muslimin dan tertawa atas kesulitan yang dihadapi; maka di hari kiamat, Allah balik keadaannya, kaum muslimin akan menyaksikan dan tertawa-tawa melihat orang-orang kafir dibakar dan disiksa malaikat dengan siksaan yang mengerikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 1)Allah siapkan azab dan balasan yang mengerikan bagi orang-orang yang curang dan culas dalam memberikan takaran dan takaran ketika berjual-beli. Allah Ta’ala membuka surah dengan pernyataan yang sangat keras dan “mengagetkan” untuk memberikan penekanan bagi buruknya perilaku ini. Perilaku culas dalam timbangan ini telah menyebar luas di kota Mekah dan kota Madinah, mereka mengurangi timbangan sehingga tidak genap takaran sesuai perjanjian jual beli mereka.Kata وَيْلٌ dimaknai dengan kecelakaan yang besar, dosa yang besar bagi penjahat yang melakukan perbuatan ini. Akan tetapi, sebagian ulama lain mengatakan wail adalah salah satu lembah di neraka. Lembah ini berisi penuh dengan nanah dan darah yang keluar dari luka penghuni neraka yang disiksa oleh para malaikat. Orang-orang yang curang dalam dagangan akan mendapatkan siksaan meminum nanah ini, sehingga hancurlah usus mereka karena saking busuknya.Para ulama menjelaskan bahwa tindakan curang yang dilakukan di sini berlaku baik kecurangan itu sedikit atau banyak. Dikarenakan kata muthaffif diambil dari kata at-tathfif yang artinya sesuatu yang kecil dan remeh temeh. Akan tetapi, jika sudah berusaha sekuat tenaga untuk adil dalam memberikan takaran, kemudian ternyata kurang dikarenakan adanya ralat pada alat dan semisalnya, semoga hal ini dimaafkan oleh syariat.Diriwayatkan bahwa zaman dahulu di kota Yastrib (yang akan menjadi kota Madinah), terdapat seorang yang bernama Abu Juhainah. Dia memiliki dua buah timbangan atau takaran, satu besar dan satunya lagi kecil. Ketika dia kulakan membeli gandum atau kurma misalnya, dia akan meminta menggunakan timbangan yang besar, agar mendapatkan lebih banyak. Akan tetapi, jika menjual kembali, dia akan menjual menggunakan timbangan yang lebih kecil, agar mendapat keuntungan yang besar.Maka orang semacam ini adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi rasa tamak atas harta dunia. Terdapat riwayat Imam Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, bahwa Nabi telah memperingatkan dengan hadisnya,خمس بخمس: ما نقض قوم العهد إلا سلط الله عليهم عدوهم، وما حكموا بغير ما أنزل الله إلا فشا فيهم الفقر، وما ظهرت فيهم الفاحشة إلا فشا فيهم الموت، ولا طفّفوا الكيل إلا منعوا النبات، ولا منعوا الزكاة إلا حبس عنهم المطر“Lima perbuatan keji akan dibalas dengan lima balasan yang mengerikan : (1) Tidaklah suatu kaum mengkhianati perjanjian, kecuali akan Allah buat musuh-musuh mengalahkan mereka. (2) Tidaklah suatu kamu berhukum dengan selain hukum Allah, kecuali Allah akan turunkan kemiskinan yang menghimpit kehidupan mereka. (3) Tidaklah suatu kaum menampakkan kekejian (zina dan semisalnya), kecuali Allah akan datangkan kematian kepada mereka. (4) Tidaklah mereka curang dalam takaran, kecuali Allah akan buat paceklik, bumi tidak mau menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di atasnya. (5) Tidaklah mereka menahan harta zakat, kecuali langit akan menahan tetes hujannya sehingga membuat bumi kekeringan.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ , وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 2-3)Pada ayat ini, Allah jelaskan dengan gamblang siapa al-muthaffif ini, yaitu orang-orang yang ketika menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dengan takaran yang penuh. Akan tetapi, jika menakar untuk orang lain, mereka akan memberi takaran yang kurang.Menariknya dari ayat ini adalah Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس yang menunjukkan bahwa perbuatan buruk mereka bukan perbuatan buruk biasa, akan tetapi dilakukan dengan cara pemaksaan, ketamakan, dan kezaliman. Menunjukkan pula bahwa mereka yang curang ini adalah para orang-orang kaya dan berkuasa, karena bisa curang dengan cara paksaan. Ketika orang-orang kecil membeli dari mereka, mereka kurangi dengan paksaan, karena merasa orang kecil ini tidak bisa membalas perbuatan mereka.Dalam tafsir Al-Kasyaf dijelaskan pula mengapa Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس adalah karena tindakan menakar mereka adalah tindakan menakar yang merugikan banyak orang, sarat atas paksaan dan menghimpit ekonomi orang lain. Sehingga Allah menggunakan kata عَلَى yang memiliki makna hal yang berat. Perubahan satu huruf ini ada untuk menyingkap tabir kezaliman dan rasa tamak di balik perilaku tersebut.Sejatinya jika kita buka lebih jauh, al-muthaffif atau orang yang curang ini tidak hanya terbatas kepada takaran dan timbangan dalam jual beli, akan tetapi masuk kepada semua hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban antar manusia, bahkan mungkin dalam hubungan antara manusia yang meminta kepada Allah.Kita berikan contoh, seorang karyawan yang menuntut pembayaran gaji bulanan dan hak yang penuh atas hasil kerjanya. Akan tetapi, dirinya bekerja dengan banyak kekurangan, tidak profesional, tidak amanah, mengurangi jam kerja, dan semisalnya, maka hal seperti ini juga berhak mendapatkan hukuman berat seperti pada ayat tersebut.Kebalikannya juga berlaku, seorang saudagar pemilik usaha memerintahkan karyawan untuk bekerja dengan giat untuk perusahaan, target-target besar dipasang, menuntut untuk bekerja dengan sangat baik. Akan tetapi, ketika waktu membayarkan gaji karyawan dia kurangkan nominal yang telah dijanjikan, dengan berdalil penuh kebohongan dan kezaliman “ini potongan untuk program A, ini untuk B, ini untuk C”, bahkan terlambat memberikan gaji sehingga sang karyawan harus berhutang sana sini untuk sekedar menyambung hidup.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ“Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 4)Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan celaan besar kepada para orang-orang yang curang tersebut, mengkhianati amanah, merusak tatanan kehidupan dan ekonomi manusia. Apakah kalian, wahai orang-orang yang curang, merasa akan bisa selamat dari azab Allah? Apakah kalian merasa tidak akan dibangkitkan di kehidupan akhirat, sehingga kalian tidak perlu bertanggungjawab dengan perbuatan busuk kalian? Apakah kalian akan dibiarkan saja memakan harta orang lain dengan cara yang haram? Dibiarkan berfoya-foya, menimbun kekayaan dengan kebusukan “korupsi” curang dalam timbangan?Renungkanlah bahwa kalian akan dibangkitkan, itu adalah hal pasti. Dengan mengingat ini, seharusnya seseorang bisa mengerem nafsu tamak yang ada pada dirinya, mengikis rasa serakah, mengkerdilkan perasaan cinta dunia yang ada pada hatinya, kemudian berbuat adil dalam timbangan. Dirinya sadar bahwa harta haram malah akan menyeretnya sangat dalam ke perut neraka Jahanam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ , يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ“Pada suatu hari yang besar (kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 5-6)Inilah hari dimana umat manusia akan berdiri di hadapan Allah, tidak menggunakan alas kaki, tidak berpakaian satu helai benang pun, semua berada dalam ketakutan terbesarnya. Mereka menunggu sebuah pengadilan yang sangat berat, menanti kepastian urusan mereka, menunggu bagaimana harta yang mereka dapatkan di dunia akan diaudit oleh Rabb semesta alam, apakah dari jalan yang halal atau yang haram. Semoga Allah berikan keselamatan kepada kita semua.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Referensi:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 1): Azab Mengerikan Bagi Al-Muthaffif

Pembaca sekalian, tadabbur Al-Qur’an kita saat ini telah mencapai surah Al-Mutaffifin (الْمُطَفِّفينَ), yaitu surah  yang berada pada nomor 83 dalam urutan mushaf Utsmani. Nama lain surah ini adalah surah ويل للمطففين sesuai dengan ayat pertamanya, atau surah التطفيف. Surah ini adalah surah yang memiliki 36 ayat.Ulama tafsir berbeda pendapat apakah surah ini termasuk golongan Makkiyah atau Madaniyah, atau sebagian Makkiyah dan sebagian Madaniyah. Imam Qurthubi dan Zamakhsyari menyatakan bahwa ini adalah surah Makkiyah, sedangkan Imam Muqatil dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah. Adapun Ibnu Abbas dan Qotadah menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah, kecuali 8 ayat terakhirnya.Ulama yang mengatakan surah ini adalah Makkiyah beralasan bahwa uslub (gaya bahasa) dan tema yang dipaparkan adalah khas tema Makkiyah, yaitu dengan menggunakan gaya bahasa yang lugas dan tegas, serta tema bahasa yang berputar pada pembahasan akidah dan hari kiamat.Sedangkan ulama lain yang berpendapat bahwa surah ini Madaniyah dikarenakan melihat awal surah yang membicarakan tentang kecurangan dalam timbangan. Sebagian sahabat mengatakan bahwa dahulu, sebagian orang Yastrib adalah pedagang yang sering curang dalam timbangan, mengurangi takaran ketika seseorang membeli barang dari mereka. Ketika disamapikan ayat ini kepada mereka, takutlah mereka, kemudian berhentilah mereka dari tindakan curang ini.Allah membuka surah ini dengan pengumuman atas siksa yang sangat mengerikan bagi orang yang curang dan culas dalam timbangan. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan dua golongan manusia, yaitu manusia yang selamat dan yang sengsara dalam kehidupan akhiratnya. Selanjutnya diceritakan tentang berbagai kenikmatan yang didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah, yang menjadi motivasi agar semakin semangat beramal saleh, mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Terakhir, surah ini bercerita tentang bagaimana Allah memberikan balasan setimpal bagi para kafirin penjahat yang menzalimi kaum muslimin di dunia. Di dunia, mereka bisa menyakiti kaum muslimin dan tertawa atas kesulitan yang dihadapi; maka di hari kiamat, Allah balik keadaannya, kaum muslimin akan menyaksikan dan tertawa-tawa melihat orang-orang kafir dibakar dan disiksa malaikat dengan siksaan yang mengerikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 1)Allah siapkan azab dan balasan yang mengerikan bagi orang-orang yang curang dan culas dalam memberikan takaran dan takaran ketika berjual-beli. Allah Ta’ala membuka surah dengan pernyataan yang sangat keras dan “mengagetkan” untuk memberikan penekanan bagi buruknya perilaku ini. Perilaku culas dalam timbangan ini telah menyebar luas di kota Mekah dan kota Madinah, mereka mengurangi timbangan sehingga tidak genap takaran sesuai perjanjian jual beli mereka.Kata وَيْلٌ dimaknai dengan kecelakaan yang besar, dosa yang besar bagi penjahat yang melakukan perbuatan ini. Akan tetapi, sebagian ulama lain mengatakan wail adalah salah satu lembah di neraka. Lembah ini berisi penuh dengan nanah dan darah yang keluar dari luka penghuni neraka yang disiksa oleh para malaikat. Orang-orang yang curang dalam dagangan akan mendapatkan siksaan meminum nanah ini, sehingga hancurlah usus mereka karena saking busuknya.Para ulama menjelaskan bahwa tindakan curang yang dilakukan di sini berlaku baik kecurangan itu sedikit atau banyak. Dikarenakan kata muthaffif diambil dari kata at-tathfif yang artinya sesuatu yang kecil dan remeh temeh. Akan tetapi, jika sudah berusaha sekuat tenaga untuk adil dalam memberikan takaran, kemudian ternyata kurang dikarenakan adanya ralat pada alat dan semisalnya, semoga hal ini dimaafkan oleh syariat.Diriwayatkan bahwa zaman dahulu di kota Yastrib (yang akan menjadi kota Madinah), terdapat seorang yang bernama Abu Juhainah. Dia memiliki dua buah timbangan atau takaran, satu besar dan satunya lagi kecil. Ketika dia kulakan membeli gandum atau kurma misalnya, dia akan meminta menggunakan timbangan yang besar, agar mendapatkan lebih banyak. Akan tetapi, jika menjual kembali, dia akan menjual menggunakan timbangan yang lebih kecil, agar mendapat keuntungan yang besar.Maka orang semacam ini adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi rasa tamak atas harta dunia. Terdapat riwayat Imam Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, bahwa Nabi telah memperingatkan dengan hadisnya,خمس بخمس: ما نقض قوم العهد إلا سلط الله عليهم عدوهم، وما حكموا بغير ما أنزل الله إلا فشا فيهم الفقر، وما ظهرت فيهم الفاحشة إلا فشا فيهم الموت، ولا طفّفوا الكيل إلا منعوا النبات، ولا منعوا الزكاة إلا حبس عنهم المطر“Lima perbuatan keji akan dibalas dengan lima balasan yang mengerikan : (1) Tidaklah suatu kaum mengkhianati perjanjian, kecuali akan Allah buat musuh-musuh mengalahkan mereka. (2) Tidaklah suatu kamu berhukum dengan selain hukum Allah, kecuali Allah akan turunkan kemiskinan yang menghimpit kehidupan mereka. (3) Tidaklah suatu kaum menampakkan kekejian (zina dan semisalnya), kecuali Allah akan datangkan kematian kepada mereka. (4) Tidaklah mereka curang dalam takaran, kecuali Allah akan buat paceklik, bumi tidak mau menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di atasnya. (5) Tidaklah mereka menahan harta zakat, kecuali langit akan menahan tetes hujannya sehingga membuat bumi kekeringan.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ , وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 2-3)Pada ayat ini, Allah jelaskan dengan gamblang siapa al-muthaffif ini, yaitu orang-orang yang ketika menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dengan takaran yang penuh. Akan tetapi, jika menakar untuk orang lain, mereka akan memberi takaran yang kurang.Menariknya dari ayat ini adalah Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس yang menunjukkan bahwa perbuatan buruk mereka bukan perbuatan buruk biasa, akan tetapi dilakukan dengan cara pemaksaan, ketamakan, dan kezaliman. Menunjukkan pula bahwa mereka yang curang ini adalah para orang-orang kaya dan berkuasa, karena bisa curang dengan cara paksaan. Ketika orang-orang kecil membeli dari mereka, mereka kurangi dengan paksaan, karena merasa orang kecil ini tidak bisa membalas perbuatan mereka.Dalam tafsir Al-Kasyaf dijelaskan pula mengapa Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس adalah karena tindakan menakar mereka adalah tindakan menakar yang merugikan banyak orang, sarat atas paksaan dan menghimpit ekonomi orang lain. Sehingga Allah menggunakan kata عَلَى yang memiliki makna hal yang berat. Perubahan satu huruf ini ada untuk menyingkap tabir kezaliman dan rasa tamak di balik perilaku tersebut.Sejatinya jika kita buka lebih jauh, al-muthaffif atau orang yang curang ini tidak hanya terbatas kepada takaran dan timbangan dalam jual beli, akan tetapi masuk kepada semua hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban antar manusia, bahkan mungkin dalam hubungan antara manusia yang meminta kepada Allah.Kita berikan contoh, seorang karyawan yang menuntut pembayaran gaji bulanan dan hak yang penuh atas hasil kerjanya. Akan tetapi, dirinya bekerja dengan banyak kekurangan, tidak profesional, tidak amanah, mengurangi jam kerja, dan semisalnya, maka hal seperti ini juga berhak mendapatkan hukuman berat seperti pada ayat tersebut.Kebalikannya juga berlaku, seorang saudagar pemilik usaha memerintahkan karyawan untuk bekerja dengan giat untuk perusahaan, target-target besar dipasang, menuntut untuk bekerja dengan sangat baik. Akan tetapi, ketika waktu membayarkan gaji karyawan dia kurangkan nominal yang telah dijanjikan, dengan berdalil penuh kebohongan dan kezaliman “ini potongan untuk program A, ini untuk B, ini untuk C”, bahkan terlambat memberikan gaji sehingga sang karyawan harus berhutang sana sini untuk sekedar menyambung hidup.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ“Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 4)Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan celaan besar kepada para orang-orang yang curang tersebut, mengkhianati amanah, merusak tatanan kehidupan dan ekonomi manusia. Apakah kalian, wahai orang-orang yang curang, merasa akan bisa selamat dari azab Allah? Apakah kalian merasa tidak akan dibangkitkan di kehidupan akhirat, sehingga kalian tidak perlu bertanggungjawab dengan perbuatan busuk kalian? Apakah kalian akan dibiarkan saja memakan harta orang lain dengan cara yang haram? Dibiarkan berfoya-foya, menimbun kekayaan dengan kebusukan “korupsi” curang dalam timbangan?Renungkanlah bahwa kalian akan dibangkitkan, itu adalah hal pasti. Dengan mengingat ini, seharusnya seseorang bisa mengerem nafsu tamak yang ada pada dirinya, mengikis rasa serakah, mengkerdilkan perasaan cinta dunia yang ada pada hatinya, kemudian berbuat adil dalam timbangan. Dirinya sadar bahwa harta haram malah akan menyeretnya sangat dalam ke perut neraka Jahanam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ , يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ“Pada suatu hari yang besar (kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 5-6)Inilah hari dimana umat manusia akan berdiri di hadapan Allah, tidak menggunakan alas kaki, tidak berpakaian satu helai benang pun, semua berada dalam ketakutan terbesarnya. Mereka menunggu sebuah pengadilan yang sangat berat, menanti kepastian urusan mereka, menunggu bagaimana harta yang mereka dapatkan di dunia akan diaudit oleh Rabb semesta alam, apakah dari jalan yang halal atau yang haram. Semoga Allah berikan keselamatan kepada kita semua.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Referensi:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Pembaca sekalian, tadabbur Al-Qur’an kita saat ini telah mencapai surah Al-Mutaffifin (الْمُطَفِّفينَ), yaitu surah  yang berada pada nomor 83 dalam urutan mushaf Utsmani. Nama lain surah ini adalah surah ويل للمطففين sesuai dengan ayat pertamanya, atau surah التطفيف. Surah ini adalah surah yang memiliki 36 ayat.Ulama tafsir berbeda pendapat apakah surah ini termasuk golongan Makkiyah atau Madaniyah, atau sebagian Makkiyah dan sebagian Madaniyah. Imam Qurthubi dan Zamakhsyari menyatakan bahwa ini adalah surah Makkiyah, sedangkan Imam Muqatil dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah. Adapun Ibnu Abbas dan Qotadah menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah, kecuali 8 ayat terakhirnya.Ulama yang mengatakan surah ini adalah Makkiyah beralasan bahwa uslub (gaya bahasa) dan tema yang dipaparkan adalah khas tema Makkiyah, yaitu dengan menggunakan gaya bahasa yang lugas dan tegas, serta tema bahasa yang berputar pada pembahasan akidah dan hari kiamat.Sedangkan ulama lain yang berpendapat bahwa surah ini Madaniyah dikarenakan melihat awal surah yang membicarakan tentang kecurangan dalam timbangan. Sebagian sahabat mengatakan bahwa dahulu, sebagian orang Yastrib adalah pedagang yang sering curang dalam timbangan, mengurangi takaran ketika seseorang membeli barang dari mereka. Ketika disamapikan ayat ini kepada mereka, takutlah mereka, kemudian berhentilah mereka dari tindakan curang ini.Allah membuka surah ini dengan pengumuman atas siksa yang sangat mengerikan bagi orang yang curang dan culas dalam timbangan. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan dua golongan manusia, yaitu manusia yang selamat dan yang sengsara dalam kehidupan akhiratnya. Selanjutnya diceritakan tentang berbagai kenikmatan yang didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah, yang menjadi motivasi agar semakin semangat beramal saleh, mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Terakhir, surah ini bercerita tentang bagaimana Allah memberikan balasan setimpal bagi para kafirin penjahat yang menzalimi kaum muslimin di dunia. Di dunia, mereka bisa menyakiti kaum muslimin dan tertawa atas kesulitan yang dihadapi; maka di hari kiamat, Allah balik keadaannya, kaum muslimin akan menyaksikan dan tertawa-tawa melihat orang-orang kafir dibakar dan disiksa malaikat dengan siksaan yang mengerikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 1)Allah siapkan azab dan balasan yang mengerikan bagi orang-orang yang curang dan culas dalam memberikan takaran dan takaran ketika berjual-beli. Allah Ta’ala membuka surah dengan pernyataan yang sangat keras dan “mengagetkan” untuk memberikan penekanan bagi buruknya perilaku ini. Perilaku culas dalam timbangan ini telah menyebar luas di kota Mekah dan kota Madinah, mereka mengurangi timbangan sehingga tidak genap takaran sesuai perjanjian jual beli mereka.Kata وَيْلٌ dimaknai dengan kecelakaan yang besar, dosa yang besar bagi penjahat yang melakukan perbuatan ini. Akan tetapi, sebagian ulama lain mengatakan wail adalah salah satu lembah di neraka. Lembah ini berisi penuh dengan nanah dan darah yang keluar dari luka penghuni neraka yang disiksa oleh para malaikat. Orang-orang yang curang dalam dagangan akan mendapatkan siksaan meminum nanah ini, sehingga hancurlah usus mereka karena saking busuknya.Para ulama menjelaskan bahwa tindakan curang yang dilakukan di sini berlaku baik kecurangan itu sedikit atau banyak. Dikarenakan kata muthaffif diambil dari kata at-tathfif yang artinya sesuatu yang kecil dan remeh temeh. Akan tetapi, jika sudah berusaha sekuat tenaga untuk adil dalam memberikan takaran, kemudian ternyata kurang dikarenakan adanya ralat pada alat dan semisalnya, semoga hal ini dimaafkan oleh syariat.Diriwayatkan bahwa zaman dahulu di kota Yastrib (yang akan menjadi kota Madinah), terdapat seorang yang bernama Abu Juhainah. Dia memiliki dua buah timbangan atau takaran, satu besar dan satunya lagi kecil. Ketika dia kulakan membeli gandum atau kurma misalnya, dia akan meminta menggunakan timbangan yang besar, agar mendapatkan lebih banyak. Akan tetapi, jika menjual kembali, dia akan menjual menggunakan timbangan yang lebih kecil, agar mendapat keuntungan yang besar.Maka orang semacam ini adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi rasa tamak atas harta dunia. Terdapat riwayat Imam Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, bahwa Nabi telah memperingatkan dengan hadisnya,خمس بخمس: ما نقض قوم العهد إلا سلط الله عليهم عدوهم، وما حكموا بغير ما أنزل الله إلا فشا فيهم الفقر، وما ظهرت فيهم الفاحشة إلا فشا فيهم الموت، ولا طفّفوا الكيل إلا منعوا النبات، ولا منعوا الزكاة إلا حبس عنهم المطر“Lima perbuatan keji akan dibalas dengan lima balasan yang mengerikan : (1) Tidaklah suatu kaum mengkhianati perjanjian, kecuali akan Allah buat musuh-musuh mengalahkan mereka. (2) Tidaklah suatu kamu berhukum dengan selain hukum Allah, kecuali Allah akan turunkan kemiskinan yang menghimpit kehidupan mereka. (3) Tidaklah suatu kaum menampakkan kekejian (zina dan semisalnya), kecuali Allah akan datangkan kematian kepada mereka. (4) Tidaklah mereka curang dalam takaran, kecuali Allah akan buat paceklik, bumi tidak mau menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di atasnya. (5) Tidaklah mereka menahan harta zakat, kecuali langit akan menahan tetes hujannya sehingga membuat bumi kekeringan.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ , وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 2-3)Pada ayat ini, Allah jelaskan dengan gamblang siapa al-muthaffif ini, yaitu orang-orang yang ketika menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dengan takaran yang penuh. Akan tetapi, jika menakar untuk orang lain, mereka akan memberi takaran yang kurang.Menariknya dari ayat ini adalah Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس yang menunjukkan bahwa perbuatan buruk mereka bukan perbuatan buruk biasa, akan tetapi dilakukan dengan cara pemaksaan, ketamakan, dan kezaliman. Menunjukkan pula bahwa mereka yang curang ini adalah para orang-orang kaya dan berkuasa, karena bisa curang dengan cara paksaan. Ketika orang-orang kecil membeli dari mereka, mereka kurangi dengan paksaan, karena merasa orang kecil ini tidak bisa membalas perbuatan mereka.Dalam tafsir Al-Kasyaf dijelaskan pula mengapa Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس adalah karena tindakan menakar mereka adalah tindakan menakar yang merugikan banyak orang, sarat atas paksaan dan menghimpit ekonomi orang lain. Sehingga Allah menggunakan kata عَلَى yang memiliki makna hal yang berat. Perubahan satu huruf ini ada untuk menyingkap tabir kezaliman dan rasa tamak di balik perilaku tersebut.Sejatinya jika kita buka lebih jauh, al-muthaffif atau orang yang curang ini tidak hanya terbatas kepada takaran dan timbangan dalam jual beli, akan tetapi masuk kepada semua hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban antar manusia, bahkan mungkin dalam hubungan antara manusia yang meminta kepada Allah.Kita berikan contoh, seorang karyawan yang menuntut pembayaran gaji bulanan dan hak yang penuh atas hasil kerjanya. Akan tetapi, dirinya bekerja dengan banyak kekurangan, tidak profesional, tidak amanah, mengurangi jam kerja, dan semisalnya, maka hal seperti ini juga berhak mendapatkan hukuman berat seperti pada ayat tersebut.Kebalikannya juga berlaku, seorang saudagar pemilik usaha memerintahkan karyawan untuk bekerja dengan giat untuk perusahaan, target-target besar dipasang, menuntut untuk bekerja dengan sangat baik. Akan tetapi, ketika waktu membayarkan gaji karyawan dia kurangkan nominal yang telah dijanjikan, dengan berdalil penuh kebohongan dan kezaliman “ini potongan untuk program A, ini untuk B, ini untuk C”, bahkan terlambat memberikan gaji sehingga sang karyawan harus berhutang sana sini untuk sekedar menyambung hidup.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ“Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 4)Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan celaan besar kepada para orang-orang yang curang tersebut, mengkhianati amanah, merusak tatanan kehidupan dan ekonomi manusia. Apakah kalian, wahai orang-orang yang curang, merasa akan bisa selamat dari azab Allah? Apakah kalian merasa tidak akan dibangkitkan di kehidupan akhirat, sehingga kalian tidak perlu bertanggungjawab dengan perbuatan busuk kalian? Apakah kalian akan dibiarkan saja memakan harta orang lain dengan cara yang haram? Dibiarkan berfoya-foya, menimbun kekayaan dengan kebusukan “korupsi” curang dalam timbangan?Renungkanlah bahwa kalian akan dibangkitkan, itu adalah hal pasti. Dengan mengingat ini, seharusnya seseorang bisa mengerem nafsu tamak yang ada pada dirinya, mengikis rasa serakah, mengkerdilkan perasaan cinta dunia yang ada pada hatinya, kemudian berbuat adil dalam timbangan. Dirinya sadar bahwa harta haram malah akan menyeretnya sangat dalam ke perut neraka Jahanam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ , يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ“Pada suatu hari yang besar (kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 5-6)Inilah hari dimana umat manusia akan berdiri di hadapan Allah, tidak menggunakan alas kaki, tidak berpakaian satu helai benang pun, semua berada dalam ketakutan terbesarnya. Mereka menunggu sebuah pengadilan yang sangat berat, menanti kepastian urusan mereka, menunggu bagaimana harta yang mereka dapatkan di dunia akan diaudit oleh Rabb semesta alam, apakah dari jalan yang halal atau yang haram. Semoga Allah berikan keselamatan kepada kita semua.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Referensi:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Pembaca sekalian, tadabbur Al-Qur’an kita saat ini telah mencapai surah Al-Mutaffifin (الْمُطَفِّفينَ), yaitu surah  yang berada pada nomor 83 dalam urutan mushaf Utsmani. Nama lain surah ini adalah surah ويل للمطففين sesuai dengan ayat pertamanya, atau surah التطفيف. Surah ini adalah surah yang memiliki 36 ayat.Ulama tafsir berbeda pendapat apakah surah ini termasuk golongan Makkiyah atau Madaniyah, atau sebagian Makkiyah dan sebagian Madaniyah. Imam Qurthubi dan Zamakhsyari menyatakan bahwa ini adalah surah Makkiyah, sedangkan Imam Muqatil dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah. Adapun Ibnu Abbas dan Qotadah menyatakan bahwa ini adalah surah Madaniyah, kecuali 8 ayat terakhirnya.Ulama yang mengatakan surah ini adalah Makkiyah beralasan bahwa uslub (gaya bahasa) dan tema yang dipaparkan adalah khas tema Makkiyah, yaitu dengan menggunakan gaya bahasa yang lugas dan tegas, serta tema bahasa yang berputar pada pembahasan akidah dan hari kiamat.Sedangkan ulama lain yang berpendapat bahwa surah ini Madaniyah dikarenakan melihat awal surah yang membicarakan tentang kecurangan dalam timbangan. Sebagian sahabat mengatakan bahwa dahulu, sebagian orang Yastrib adalah pedagang yang sering curang dalam timbangan, mengurangi takaran ketika seseorang membeli barang dari mereka. Ketika disamapikan ayat ini kepada mereka, takutlah mereka, kemudian berhentilah mereka dari tindakan curang ini.Allah membuka surah ini dengan pengumuman atas siksa yang sangat mengerikan bagi orang yang curang dan culas dalam timbangan. Setelah itu, Allah berbicara tentang keadaan dua golongan manusia, yaitu manusia yang selamat dan yang sengsara dalam kehidupan akhiratnya. Selanjutnya diceritakan tentang berbagai kenikmatan yang didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah, yang menjadi motivasi agar semakin semangat beramal saleh, mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Terakhir, surah ini bercerita tentang bagaimana Allah memberikan balasan setimpal bagi para kafirin penjahat yang menzalimi kaum muslimin di dunia. Di dunia, mereka bisa menyakiti kaum muslimin dan tertawa atas kesulitan yang dihadapi; maka di hari kiamat, Allah balik keadaannya, kaum muslimin akan menyaksikan dan tertawa-tawa melihat orang-orang kafir dibakar dan disiksa malaikat dengan siksaan yang mengerikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 1)Allah siapkan azab dan balasan yang mengerikan bagi orang-orang yang curang dan culas dalam memberikan takaran dan takaran ketika berjual-beli. Allah Ta’ala membuka surah dengan pernyataan yang sangat keras dan “mengagetkan” untuk memberikan penekanan bagi buruknya perilaku ini. Perilaku culas dalam timbangan ini telah menyebar luas di kota Mekah dan kota Madinah, mereka mengurangi timbangan sehingga tidak genap takaran sesuai perjanjian jual beli mereka.Kata وَيْلٌ dimaknai dengan kecelakaan yang besar, dosa yang besar bagi penjahat yang melakukan perbuatan ini. Akan tetapi, sebagian ulama lain mengatakan wail adalah salah satu lembah di neraka. Lembah ini berisi penuh dengan nanah dan darah yang keluar dari luka penghuni neraka yang disiksa oleh para malaikat. Orang-orang yang curang dalam dagangan akan mendapatkan siksaan meminum nanah ini, sehingga hancurlah usus mereka karena saking busuknya.Para ulama menjelaskan bahwa tindakan curang yang dilakukan di sini berlaku baik kecurangan itu sedikit atau banyak. Dikarenakan kata muthaffif diambil dari kata at-tathfif yang artinya sesuatu yang kecil dan remeh temeh. Akan tetapi, jika sudah berusaha sekuat tenaga untuk adil dalam memberikan takaran, kemudian ternyata kurang dikarenakan adanya ralat pada alat dan semisalnya, semoga hal ini dimaafkan oleh syariat.Diriwayatkan bahwa zaman dahulu di kota Yastrib (yang akan menjadi kota Madinah), terdapat seorang yang bernama Abu Juhainah. Dia memiliki dua buah timbangan atau takaran, satu besar dan satunya lagi kecil. Ketika dia kulakan membeli gandum atau kurma misalnya, dia akan meminta menggunakan timbangan yang besar, agar mendapatkan lebih banyak. Akan tetapi, jika menjual kembali, dia akan menjual menggunakan timbangan yang lebih kecil, agar mendapat keuntungan yang besar.Maka orang semacam ini adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi rasa tamak atas harta dunia. Terdapat riwayat Imam Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, bahwa Nabi telah memperingatkan dengan hadisnya,خمس بخمس: ما نقض قوم العهد إلا سلط الله عليهم عدوهم، وما حكموا بغير ما أنزل الله إلا فشا فيهم الفقر، وما ظهرت فيهم الفاحشة إلا فشا فيهم الموت، ولا طفّفوا الكيل إلا منعوا النبات، ولا منعوا الزكاة إلا حبس عنهم المطر“Lima perbuatan keji akan dibalas dengan lima balasan yang mengerikan : (1) Tidaklah suatu kaum mengkhianati perjanjian, kecuali akan Allah buat musuh-musuh mengalahkan mereka. (2) Tidaklah suatu kamu berhukum dengan selain hukum Allah, kecuali Allah akan turunkan kemiskinan yang menghimpit kehidupan mereka. (3) Tidaklah suatu kaum menampakkan kekejian (zina dan semisalnya), kecuali Allah akan datangkan kematian kepada mereka. (4) Tidaklah mereka curang dalam takaran, kecuali Allah akan buat paceklik, bumi tidak mau menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di atasnya. (5) Tidaklah mereka menahan harta zakat, kecuali langit akan menahan tetes hujannya sehingga membuat bumi kekeringan.”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ , وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ“(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 2-3)Pada ayat ini, Allah jelaskan dengan gamblang siapa al-muthaffif ini, yaitu orang-orang yang ketika menerima takaran dari orang lain, mereka meminta dengan takaran yang penuh. Akan tetapi, jika menakar untuk orang lain, mereka akan memberi takaran yang kurang.Menariknya dari ayat ini adalah Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس yang menunjukkan bahwa perbuatan buruk mereka bukan perbuatan buruk biasa, akan tetapi dilakukan dengan cara pemaksaan, ketamakan, dan kezaliman. Menunjukkan pula bahwa mereka yang curang ini adalah para orang-orang kaya dan berkuasa, karena bisa curang dengan cara paksaan. Ketika orang-orang kecil membeli dari mereka, mereka kurangi dengan paksaan, karena merasa orang kecil ini tidak bisa membalas perbuatan mereka.Dalam tafsir Al-Kasyaf dijelaskan pula mengapa Allah menggunakan kata عَلَى النَّاسِ bukan من الناس adalah karena tindakan menakar mereka adalah tindakan menakar yang merugikan banyak orang, sarat atas paksaan dan menghimpit ekonomi orang lain. Sehingga Allah menggunakan kata عَلَى yang memiliki makna hal yang berat. Perubahan satu huruf ini ada untuk menyingkap tabir kezaliman dan rasa tamak di balik perilaku tersebut.Sejatinya jika kita buka lebih jauh, al-muthaffif atau orang yang curang ini tidak hanya terbatas kepada takaran dan timbangan dalam jual beli, akan tetapi masuk kepada semua hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban antar manusia, bahkan mungkin dalam hubungan antara manusia yang meminta kepada Allah.Kita berikan contoh, seorang karyawan yang menuntut pembayaran gaji bulanan dan hak yang penuh atas hasil kerjanya. Akan tetapi, dirinya bekerja dengan banyak kekurangan, tidak profesional, tidak amanah, mengurangi jam kerja, dan semisalnya, maka hal seperti ini juga berhak mendapatkan hukuman berat seperti pada ayat tersebut.Kebalikannya juga berlaku, seorang saudagar pemilik usaha memerintahkan karyawan untuk bekerja dengan giat untuk perusahaan, target-target besar dipasang, menuntut untuk bekerja dengan sangat baik. Akan tetapi, ketika waktu membayarkan gaji karyawan dia kurangkan nominal yang telah dijanjikan, dengan berdalil penuh kebohongan dan kezaliman “ini potongan untuk program A, ini untuk B, ini untuk C”, bahkan terlambat memberikan gaji sehingga sang karyawan harus berhutang sana sini untuk sekedar menyambung hidup.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ“Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 4)Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan celaan besar kepada para orang-orang yang curang tersebut, mengkhianati amanah, merusak tatanan kehidupan dan ekonomi manusia. Apakah kalian, wahai orang-orang yang curang, merasa akan bisa selamat dari azab Allah? Apakah kalian merasa tidak akan dibangkitkan di kehidupan akhirat, sehingga kalian tidak perlu bertanggungjawab dengan perbuatan busuk kalian? Apakah kalian akan dibiarkan saja memakan harta orang lain dengan cara yang haram? Dibiarkan berfoya-foya, menimbun kekayaan dengan kebusukan “korupsi” curang dalam timbangan?Renungkanlah bahwa kalian akan dibangkitkan, itu adalah hal pasti. Dengan mengingat ini, seharusnya seseorang bisa mengerem nafsu tamak yang ada pada dirinya, mengikis rasa serakah, mengkerdilkan perasaan cinta dunia yang ada pada hatinya, kemudian berbuat adil dalam timbangan. Dirinya sadar bahwa harta haram malah akan menyeretnya sangat dalam ke perut neraka Jahanam.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ , يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ“Pada suatu hari yang besar (kiamat), (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 5-6)Inilah hari dimana umat manusia akan berdiri di hadapan Allah, tidak menggunakan alas kaki, tidak berpakaian satu helai benang pun, semua berada dalam ketakutan terbesarnya. Mereka menunggu sebuah pengadilan yang sangat berat, menanti kepastian urusan mereka, menunggu bagaimana harta yang mereka dapatkan di dunia akan diaudit oleh Rabb semesta alam, apakah dari jalan yang halal atau yang haram. Semoga Allah berikan keselamatan kepada kita semua.[Bersambung]LANJUT KE BAGIAN 2***Penulis: Dany Indra PermanaArtikel Muslim.or.id Referensi:Catatan mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

UNTUK KAMU YANG BERTANYA, “MENGAPA DUNIA TERASA TIDAK ADIL?” Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Selanjutnya kita beralih kepada hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas (pembalasan yang setimpal) bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Domba jalha’ dan domba qarna’. Qarna’ maksudnya domba yang bertanduk, edangkan jalha’ adalah domba yang tidak bertanduk. Ketika kedua domba itu saling menanduk, yang satu bertanduk, dan yang satu tidak bertanduk, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara keduanya. Padahal hewan-hewan itu tidak dibebani kewajiban syariat. Namun, hal ini untuk menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Binatang liar, hewan ternak, dan hewan-hewan lainnya akan dihimpunkan pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba bertanduk yang telah menanduknya, sebagai bentuk ditampakkannya kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian setelah itu dikatakan kepada hewan-hewan tersebut, “Jadilah tanah!” Setelah dihimpunkan, dikatakan kepada hewan-hewan itu, “Jadilah tanah!” Ketika orang kafir melihat hal itu, ia pun berharap seandainya dirinya menjadi tanah. “Pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku menjadi tanah.’” (QS. An-Naba’: 40). Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya.” Maksudnya, siapa yang memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, hendaknya ia menunaikan hak saudaranya itu, mengembalikan hak yang telah dizaliminya, dan meminta agar saudaranya membebaskannya dari tuntutan tersebut, selama hal itu masih memungkinkan untuk dilakukan. Jika tidak, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara manusia, dengan pahala kebaikan dan dosa-dosa, dengan keadilan yang sempurna. Bahkan qisas ditegakkan bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk. Maka negeri akhirat adalah negeri keadilan mutlak: “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). Adapun dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Terkadang Allah Ta’ala menangguhkan hukuman orang zalim hingga hari kiamat. “Jangan sekali-kali engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Dan bisa jadi Allah membalasnya serta menyegerakan hukumannya di dunia. Jadi, dunia bukanlah negeri keadilan mutlak. Karena itu, sebagian orang berkata, “Mengapa kita tidak melihat Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang zalim, padahal kita melihat ada orang yang melakukan kezaliman yang sangat besar dan semisalnya?” Kita katakan, dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Negeri dengan keadilan mutlak adalah negeri akhirat, ketika itu dikatakan, “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). “Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan atas apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ghafir: 17). Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim mengoreksi dirinya sendiri. Dan jika ada hak seseorang yang masih menjadi tanggungannya, hendaknya ia mendatangi orang tersebut dan meminta agar dibebaskan dari tuntutannya hari ini, sebelum datang saat ketika tidak ada lagi dinar maupun dirham. ===== نَنْتَقِلُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الشَّاةُ الْجَلْحَاءُ وَالشَّاةُ الْقَرْنَاءُالْقَرْنَاءُ يَعْنِي ذَاتُ الْقَرْنِ وَالْجَلْحَاءُ يَعْنِي الَّتِي لَيْسَ لَهَا قَرْنٌ فَعِنْدَ تَنَاطُحِ هَاتَيْنِ الشَّاتَيْنِ شَاةٍ ذَاتِ قَرْنٍ وَشَاةٍ لَيْسَتْ ذَاتَ قَرْنٍ يَكُونُ هُنَاكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قِصَاصٌ بَيْنَهُمَا مَعَ أَنَّ الْبَهَائِمَ غَيْرُ مُكَلَّفَةٍ وَلَكِنْ هَذَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّهُ تُحْشَرُ الْوُحُوشُ وَالْبَهَائِمُ وَالْحَيَوَانَاتُ تُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ يَعْنِي الَّتِي لَا قَرْنَ لَهَا مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الَّتِي نَطَحَتْهَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُقَالُ لَهَا: كُونِي تُرَابًا يُقَالُ لِهَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بَعْدَ حَشْرِهَا: كُونِي تُرَابًا فَعِنْدَمَا يَرَى الْكَافِرُ ذَلِكَ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ تُرَابًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا هُنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَعْنِي مَنْ كَانَ لِأَخِيهِ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يُؤَدِّيَ الْحَقَّ لَهُ وَأَنْ يُرْجِعَ مَظْلَمَتَهُ وَأَنْ يَتَحَلَّلَ مِنْهُ مَا دَامَ بِالْإِمْكَانِ فِعْلُ ذَلِكَ وَإِلَّا فَإِنَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَيَكُونُ الْقِصَاصُ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ فِي غَايَةِ الْعَدْلِ حَتَّى إِنَّهُ لَيُقَادُ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ فَالدَّارُ الْآخِرَةُ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يُؤَخِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عُقُوبَةَ الظَّالِمِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ وَقَدْ يَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَيُعَجِّلُ عُقُوبَتَهُ فِي الدُّنْيَا فَالدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ لِمَاذَا يَعْنِي لَا نَرَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْتَقِمُ مِنَ الظَّالِمِ وَنَحْنُ نَرَى هُنَاكَ مَنْ يَظْلِمُ ظُلْمًا فَاحِشًا وَنَحْوَ ذَلِكَ؟ نَقُولُ: الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ هِيَ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَمَا يُقَالُ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يُحَاسِبَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ لِأَحَدٍ عِنْدَهُ حَقٌّ أَنْ يَذْهَبَ إِلَيْهِ وَيَتَحَلَّلَ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

UNTUK KAMU YANG BERTANYA, “MENGAPA DUNIA TERASA TIDAK ADIL?” Syaikh Sa’ad Al-Khatslan #NasehatUlama

Selanjutnya kita beralih kepada hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas (pembalasan yang setimpal) bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Domba jalha’ dan domba qarna’. Qarna’ maksudnya domba yang bertanduk, edangkan jalha’ adalah domba yang tidak bertanduk. Ketika kedua domba itu saling menanduk, yang satu bertanduk, dan yang satu tidak bertanduk, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara keduanya. Padahal hewan-hewan itu tidak dibebani kewajiban syariat. Namun, hal ini untuk menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Binatang liar, hewan ternak, dan hewan-hewan lainnya akan dihimpunkan pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba bertanduk yang telah menanduknya, sebagai bentuk ditampakkannya kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian setelah itu dikatakan kepada hewan-hewan tersebut, “Jadilah tanah!” Setelah dihimpunkan, dikatakan kepada hewan-hewan itu, “Jadilah tanah!” Ketika orang kafir melihat hal itu, ia pun berharap seandainya dirinya menjadi tanah. “Pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku menjadi tanah.’” (QS. An-Naba’: 40). Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya.” Maksudnya, siapa yang memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, hendaknya ia menunaikan hak saudaranya itu, mengembalikan hak yang telah dizaliminya, dan meminta agar saudaranya membebaskannya dari tuntutan tersebut, selama hal itu masih memungkinkan untuk dilakukan. Jika tidak, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara manusia, dengan pahala kebaikan dan dosa-dosa, dengan keadilan yang sempurna. Bahkan qisas ditegakkan bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk. Maka negeri akhirat adalah negeri keadilan mutlak: “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). Adapun dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Terkadang Allah Ta’ala menangguhkan hukuman orang zalim hingga hari kiamat. “Jangan sekali-kali engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Dan bisa jadi Allah membalasnya serta menyegerakan hukumannya di dunia. Jadi, dunia bukanlah negeri keadilan mutlak. Karena itu, sebagian orang berkata, “Mengapa kita tidak melihat Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang zalim, padahal kita melihat ada orang yang melakukan kezaliman yang sangat besar dan semisalnya?” Kita katakan, dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Negeri dengan keadilan mutlak adalah negeri akhirat, ketika itu dikatakan, “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). “Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan atas apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ghafir: 17). Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim mengoreksi dirinya sendiri. Dan jika ada hak seseorang yang masih menjadi tanggungannya, hendaknya ia mendatangi orang tersebut dan meminta agar dibebaskan dari tuntutannya hari ini, sebelum datang saat ketika tidak ada lagi dinar maupun dirham. ===== نَنْتَقِلُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الشَّاةُ الْجَلْحَاءُ وَالشَّاةُ الْقَرْنَاءُالْقَرْنَاءُ يَعْنِي ذَاتُ الْقَرْنِ وَالْجَلْحَاءُ يَعْنِي الَّتِي لَيْسَ لَهَا قَرْنٌ فَعِنْدَ تَنَاطُحِ هَاتَيْنِ الشَّاتَيْنِ شَاةٍ ذَاتِ قَرْنٍ وَشَاةٍ لَيْسَتْ ذَاتَ قَرْنٍ يَكُونُ هُنَاكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قِصَاصٌ بَيْنَهُمَا مَعَ أَنَّ الْبَهَائِمَ غَيْرُ مُكَلَّفَةٍ وَلَكِنْ هَذَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّهُ تُحْشَرُ الْوُحُوشُ وَالْبَهَائِمُ وَالْحَيَوَانَاتُ تُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ يَعْنِي الَّتِي لَا قَرْنَ لَهَا مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الَّتِي نَطَحَتْهَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُقَالُ لَهَا: كُونِي تُرَابًا يُقَالُ لِهَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بَعْدَ حَشْرِهَا: كُونِي تُرَابًا فَعِنْدَمَا يَرَى الْكَافِرُ ذَلِكَ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ تُرَابًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا هُنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَعْنِي مَنْ كَانَ لِأَخِيهِ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يُؤَدِّيَ الْحَقَّ لَهُ وَأَنْ يُرْجِعَ مَظْلَمَتَهُ وَأَنْ يَتَحَلَّلَ مِنْهُ مَا دَامَ بِالْإِمْكَانِ فِعْلُ ذَلِكَ وَإِلَّا فَإِنَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَيَكُونُ الْقِصَاصُ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ فِي غَايَةِ الْعَدْلِ حَتَّى إِنَّهُ لَيُقَادُ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ فَالدَّارُ الْآخِرَةُ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يُؤَخِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عُقُوبَةَ الظَّالِمِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ وَقَدْ يَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَيُعَجِّلُ عُقُوبَتَهُ فِي الدُّنْيَا فَالدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ لِمَاذَا يَعْنِي لَا نَرَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْتَقِمُ مِنَ الظَّالِمِ وَنَحْنُ نَرَى هُنَاكَ مَنْ يَظْلِمُ ظُلْمًا فَاحِشًا وَنَحْوَ ذَلِكَ؟ نَقُولُ: الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ هِيَ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَمَا يُقَالُ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يُحَاسِبَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ لِأَحَدٍ عِنْدَهُ حَقٌّ أَنْ يَذْهَبَ إِلَيْهِ وَيَتَحَلَّلَ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ
Selanjutnya kita beralih kepada hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas (pembalasan yang setimpal) bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Domba jalha’ dan domba qarna’. Qarna’ maksudnya domba yang bertanduk, edangkan jalha’ adalah domba yang tidak bertanduk. Ketika kedua domba itu saling menanduk, yang satu bertanduk, dan yang satu tidak bertanduk, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara keduanya. Padahal hewan-hewan itu tidak dibebani kewajiban syariat. Namun, hal ini untuk menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Binatang liar, hewan ternak, dan hewan-hewan lainnya akan dihimpunkan pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba bertanduk yang telah menanduknya, sebagai bentuk ditampakkannya kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian setelah itu dikatakan kepada hewan-hewan tersebut, “Jadilah tanah!” Setelah dihimpunkan, dikatakan kepada hewan-hewan itu, “Jadilah tanah!” Ketika orang kafir melihat hal itu, ia pun berharap seandainya dirinya menjadi tanah. “Pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku menjadi tanah.’” (QS. An-Naba’: 40). Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya.” Maksudnya, siapa yang memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, hendaknya ia menunaikan hak saudaranya itu, mengembalikan hak yang telah dizaliminya, dan meminta agar saudaranya membebaskannya dari tuntutan tersebut, selama hal itu masih memungkinkan untuk dilakukan. Jika tidak, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara manusia, dengan pahala kebaikan dan dosa-dosa, dengan keadilan yang sempurna. Bahkan qisas ditegakkan bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk. Maka negeri akhirat adalah negeri keadilan mutlak: “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). Adapun dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Terkadang Allah Ta’ala menangguhkan hukuman orang zalim hingga hari kiamat. “Jangan sekali-kali engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Dan bisa jadi Allah membalasnya serta menyegerakan hukumannya di dunia. Jadi, dunia bukanlah negeri keadilan mutlak. Karena itu, sebagian orang berkata, “Mengapa kita tidak melihat Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang zalim, padahal kita melihat ada orang yang melakukan kezaliman yang sangat besar dan semisalnya?” Kita katakan, dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Negeri dengan keadilan mutlak adalah negeri akhirat, ketika itu dikatakan, “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). “Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan atas apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ghafir: 17). Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim mengoreksi dirinya sendiri. Dan jika ada hak seseorang yang masih menjadi tanggungannya, hendaknya ia mendatangi orang tersebut dan meminta agar dibebaskan dari tuntutannya hari ini, sebelum datang saat ketika tidak ada lagi dinar maupun dirham. ===== نَنْتَقِلُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الشَّاةُ الْجَلْحَاءُ وَالشَّاةُ الْقَرْنَاءُالْقَرْنَاءُ يَعْنِي ذَاتُ الْقَرْنِ وَالْجَلْحَاءُ يَعْنِي الَّتِي لَيْسَ لَهَا قَرْنٌ فَعِنْدَ تَنَاطُحِ هَاتَيْنِ الشَّاتَيْنِ شَاةٍ ذَاتِ قَرْنٍ وَشَاةٍ لَيْسَتْ ذَاتَ قَرْنٍ يَكُونُ هُنَاكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قِصَاصٌ بَيْنَهُمَا مَعَ أَنَّ الْبَهَائِمَ غَيْرُ مُكَلَّفَةٍ وَلَكِنْ هَذَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّهُ تُحْشَرُ الْوُحُوشُ وَالْبَهَائِمُ وَالْحَيَوَانَاتُ تُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ يَعْنِي الَّتِي لَا قَرْنَ لَهَا مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الَّتِي نَطَحَتْهَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُقَالُ لَهَا: كُونِي تُرَابًا يُقَالُ لِهَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بَعْدَ حَشْرِهَا: كُونِي تُرَابًا فَعِنْدَمَا يَرَى الْكَافِرُ ذَلِكَ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ تُرَابًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا هُنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَعْنِي مَنْ كَانَ لِأَخِيهِ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يُؤَدِّيَ الْحَقَّ لَهُ وَأَنْ يُرْجِعَ مَظْلَمَتَهُ وَأَنْ يَتَحَلَّلَ مِنْهُ مَا دَامَ بِالْإِمْكَانِ فِعْلُ ذَلِكَ وَإِلَّا فَإِنَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَيَكُونُ الْقِصَاصُ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ فِي غَايَةِ الْعَدْلِ حَتَّى إِنَّهُ لَيُقَادُ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ فَالدَّارُ الْآخِرَةُ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يُؤَخِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عُقُوبَةَ الظَّالِمِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ وَقَدْ يَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَيُعَجِّلُ عُقُوبَتَهُ فِي الدُّنْيَا فَالدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ لِمَاذَا يَعْنِي لَا نَرَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْتَقِمُ مِنَ الظَّالِمِ وَنَحْنُ نَرَى هُنَاكَ مَنْ يَظْلِمُ ظُلْمًا فَاحِشًا وَنَحْوَ ذَلِكَ؟ نَقُولُ: الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ هِيَ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَمَا يُقَالُ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يُحَاسِبَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ لِأَحَدٍ عِنْدَهُ حَقٌّ أَنْ يَذْهَبَ إِلَيْهِ وَيَتَحَلَّلَ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ


Selanjutnya kita beralih kepada hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas (pembalasan yang setimpal) bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk.” (HR. Muslim no. 2582). Domba jalha’ dan domba qarna’. Qarna’ maksudnya domba yang bertanduk, edangkan jalha’ adalah domba yang tidak bertanduk. Ketika kedua domba itu saling menanduk, yang satu bertanduk, dan yang satu tidak bertanduk, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara keduanya. Padahal hewan-hewan itu tidak dibebani kewajiban syariat. Namun, hal ini untuk menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Binatang liar, hewan ternak, dan hewan-hewan lainnya akan dihimpunkan pada hari kiamat, hingga ditegakkan qisas bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba bertanduk yang telah menanduknya, sebagai bentuk ditampakkannya kesempurnaan keadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian setelah itu dikatakan kepada hewan-hewan tersebut, “Jadilah tanah!” Setelah dihimpunkan, dikatakan kepada hewan-hewan itu, “Jadilah tanah!” Ketika orang kafir melihat hal itu, ia pun berharap seandainya dirinya menjadi tanah. “Pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku menjadi tanah.’” (QS. An-Naba’: 40). Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, kalian akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya.” Maksudnya, siapa yang memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, hendaknya ia menunaikan hak saudaranya itu, mengembalikan hak yang telah dizaliminya, dan meminta agar saudaranya membebaskannya dari tuntutan tersebut, selama hal itu masih memungkinkan untuk dilakukan. Jika tidak, pada hari kiamat kelak akan ditegakkan qisas di antara manusia, dengan pahala kebaikan dan dosa-dosa, dengan keadilan yang sempurna. Bahkan qisas ditegakkan bagi domba yang tidak bertanduk terhadap domba yang bertanduk. Maka negeri akhirat adalah negeri keadilan mutlak: “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). Adapun dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Terkadang Allah Ta’ala menangguhkan hukuman orang zalim hingga hari kiamat. “Jangan sekali-kali engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42). Dan bisa jadi Allah membalasnya serta menyegerakan hukumannya di dunia. Jadi, dunia bukanlah negeri keadilan mutlak. Karena itu, sebagian orang berkata, “Mengapa kita tidak melihat Allah ‘Azza wa Jalla membalas orang zalim, padahal kita melihat ada orang yang melakukan kezaliman yang sangat besar dan semisalnya?” Kita katakan, dunia bukanlah negeri ditegakkannya keadilan secara sempurna. Di dunia ada orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Negeri dengan keadilan mutlak adalah negeri akhirat, ketika itu dikatakan, “Tidak ada kezaliman pada hari ini.” (QS. Ghafir: 17). “Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan atas apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.” (QS. Ghafir: 17). Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim mengoreksi dirinya sendiri. Dan jika ada hak seseorang yang masih menjadi tanggungannya, hendaknya ia mendatangi orang tersebut dan meminta agar dibebaskan dari tuntutannya hari ini, sebelum datang saat ketika tidak ada lagi dinar maupun dirham. ===== نَنْتَقِلُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الشَّاةُ الْجَلْحَاءُ وَالشَّاةُ الْقَرْنَاءُالْقَرْنَاءُ يَعْنِي ذَاتُ الْقَرْنِ وَالْجَلْحَاءُ يَعْنِي الَّتِي لَيْسَ لَهَا قَرْنٌ فَعِنْدَ تَنَاطُحِ هَاتَيْنِ الشَّاتَيْنِ شَاةٍ ذَاتِ قَرْنٍ وَشَاةٍ لَيْسَتْ ذَاتَ قَرْنٍ يَكُونُ هُنَاكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قِصَاصٌ بَيْنَهُمَا مَعَ أَنَّ الْبَهَائِمَ غَيْرُ مُكَلَّفَةٍ وَلَكِنْ هَذَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّهُ تُحْشَرُ الْوُحُوشُ وَالْبَهَائِمُ وَالْحَيَوَانَاتُ تُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ يَعْنِي الَّتِي لَا قَرْنَ لَهَا مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ الَّتِي نَطَحَتْهَا مِنْ بَابِ إِظْهَارِ تَمَامِ عَدْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يُقَالُ لَهَا: كُونِي تُرَابًا يُقَالُ لِهَذِهِ الْحَيَوَانَاتِ بَعْدَ حَشْرِهَا: كُونِي تُرَابًا فَعِنْدَمَا يَرَى الْكَافِرُ ذَلِكَ يَتَمَنَّى أَنْ لَوْ كَانَ تُرَابًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا هُنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَعْنِي مَنْ كَانَ لِأَخِيهِ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ فَيَنْبَغِي أَنْ يُؤَدِّيَ الْحَقَّ لَهُ وَأَنْ يُرْجِعَ مَظْلَمَتَهُ وَأَنْ يَتَحَلَّلَ مِنْهُ مَا دَامَ بِالْإِمْكَانِ فِعْلُ ذَلِكَ وَإِلَّا فَإِنَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَيَكُونُ الْقِصَاصُ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ فِي غَايَةِ الْعَدْلِ حَتَّى إِنَّهُ لَيُقَادُ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ فَالدَّارُ الْآخِرَةُ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ أَمَّا الدُّنْيَا فَلَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ وَقَدْ يُؤَخِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عُقُوبَةَ الظَّالِمِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ وَقَدْ يَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَيُعَجِّلُ عُقُوبَتَهُ فِي الدُّنْيَا فَالدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ فَبَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ لِمَاذَا يَعْنِي لَا نَرَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْتَقِمُ مِنَ الظَّالِمِ وَنَحْنُ نَرَى هُنَاكَ مَنْ يَظْلِمُ ظُلْمًا فَاحِشًا وَنَحْوَ ذَلِكَ؟ نَقُولُ: الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ عَدَالَةٍ الدُّنْيَا فِيهَا ظَالِمٌ وَمَظْلُومٌ دَارُ الْعَدَالَةِ الْمُطْلَقَةِ هِيَ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَمَا يُقَالُ: لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يُحَاسِبَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَإِذَا كَانَ لِأَحَدٍ عِنْدَهُ حَقٌّ أَنْ يَذْهَبَ إِلَيْهِ وَيَتَحَلَّلَ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim dan Cara Mengobatinya

Penyakit yang paling berbahaya bukan selalu penyakit yang terasa sakit. Hati bisa sakit, bahkan semakin parah, sementara pemiliknya tidak merasa ada yang salah pada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tanda-tanda penyakit hati dengan sangat tajam, sekaligus menunjukkan obatnya agar hati kembali sehat dan selamat.  Daftar Isi tutup 1. Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan Mati 1.1. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīm 1.2. Kedua: hati yang mati 1.3. Ketiga: hati yang sakit 2. Apa Sebenarnya Penyakit Hati? 3. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan Syahwat 4. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim 4.1. 1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkan 4.2. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadar 4.3. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan Allah 4.4. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkan 4.5. 5. Dunia menjadi tujuan utama 4.6. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilangan 4.7. 7. Berat berdzikir dan beribadah 4.8. 8. Hati menjadi keras 4.9. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulan 4.10. 10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hati 5. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa Nafsu 6. Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit? 6.1. 1. Obat pertama: tobat dan pantangan 6.2. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikir 6.3. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obat 6.4. 4. Syubhat diobati dengan ilmu 6.5. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsu 6.6. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihan 6.7. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada Allah 6.8. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidup 7. Coba Periksa Hati Kita 8. Jangan Menunggu Sampai Hati Mati 9. Nasihat Penutup 10. Referensi 10.1. Referensi Primer: Kitab Ibnul Qayyim 10.2. Referensi Daring Pendukung  Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan MatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi judul bab pertama dalam Ighātsat al-Lahfān,بَابٌ فِي انْقِسَامِ الْقُلُوبِ إِلَى صَحِيحٍ وَسَقِيمٍ وَمَيِّتٍ“Bab tentang pembagian hati menjadi hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati.”Beliau menjelaskan bahwa karena hati dapat disifati dengan kehidupan dan kebalikannya, keadaan hati terbagi menjadi tiga: hati sehat, hati mati, dan hati sakit. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīmAllah Ta‘ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89)Tentang hakikat qalbun salīm, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّهُ الَّذِي قَدْ سَلِمَ مِنْ كُلِّ شَهْوَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللَّهِ وَنَهْيَهُ، وَمِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تُعَارِضُ خَبَرَهُ.“Yaitu hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta dari setiap syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighātsat al-Lahfān fī Maṣāyid al-Syaithān, jilid 1, hlm. 10.Berarti, dua musuh besar hati adalah syubhat dan syahwat.Syubhat merusak cara berpikir, keyakinan, dan penilaian terhadap kebenaran. Adapun syahwat merusak keinginan sehingga seseorang mengetahui mana yang benar, tetapi lebih memilih apa yang disenangi hawa nafsunya.Hati sehat bukan hanya hati yang “merasa baik”. Hati sehat adalah hati yang bersih tauhidnya, benar keyakinannya, ikhlas ibadahnya, serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Kedua: hati yang matiJenis kedua adalah hati yang sudah kehilangan kehidupannya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّانِي ضِدُّ هَذَا، وَهُوَ الْقَلْبُ الْمَيِّتُ الَّذِي لَا حَيَاةَ بِهِ، فَهُوَ لَا يَعْرِفُ رَبَّهُ.“Hati yang kedua adalah kebalikan dari hati yang sehat, yaitu hati yang mati, yang tidak ada kehidupan padanya. Ia tidak mengenal Rabbnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Dalam kelanjutan penjelasannya, Ibnul Qayyim menggambarkan hati ini sebagai hati yang hidup untuk hawa nafsunya. Yang menjadi ukuran bukan lagi, “Apakah Allah rida?”, melainkan, “Apakah saya menyukainya?”Beliau menggambarkan keadaan tersebut,فَالْهَوَى إِمَامُهُ، وَالشَّهْوَةُ قَائِدُهُ، وَالْجَهْلُ سَائِسُهُ.“Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah pemimpinnya, dan kebodohan adalah pengarahnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Hati seperti ini tidak lagi berjalan mengikuti wahyu. Ia menjadikan hawa nafsu sebagai kompas hidup.Keadaan hati mati ini: ia tidak mau menerima kebenaran dan tidak mau tunduk kepadanya. Ketiga: hati yang sakitInilah keadaan yang perlu paling sering kita muhasabahi, karena hati yang sakit belum mati.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّالِثُ قَلْبٌ لَهُ حَيَاةٌ وَبِهِ عِلَّةٌ.“Hati yang ketiga adalah hati yang memiliki kehidupan, tetapi padanya terdapat penyakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 13.Di dalam hati semacam ini masih ada cinta kepada Allah, iman, ikhlas, dan tawakal. Namun, pada saat bersamaan masih hidup pula kecintaan terhadap syahwat, hasad, kesombongan, ujub, dan kecintaan terhadap kedudukan.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati ini seperti berada di antara dua penyeru: penyeru yang mengajaknya menuju Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat; serta penyeru yang menariknya menuju dunia dan kesenangan sesaat. Hati akan mengikuti mana di antara keduanya yang lebih kuat dan lebih dekat dengannya.Jadi, hati sakit tidak sama dengan hati mati.Orang yang hatinya sakit masih dapat menangis setelah bermaksiat. Ia masih menyesal setelah meninggalkan ketaatan. Ia masih merasa bersalah ketika melanggar perintah Allah. Justru rasa sakit tersebut menunjukkan bahwa masih ada kehidupan di dalam hatinya. Apa Sebenarnya Penyakit Hati?Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan definisi yang sangat mendasar.Beliau rahimahullah berkata,وَمَرَضُ الْقَلْبِ: أَنْ يَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ، وَمَحَبَّتِهِ، وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِهِ.“Penyakit hati adalah ketika hati terhalang dari tujuan penciptaannya, yaitu mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan perjumpaan dengan-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Ini memberi ukuran penting.Seseorang bisa sangat cerdas dalam ilmu dunia, sangat berhasil dalam pekerjaan, atau memiliki begitu banyak pengalaman. Namun, jika hatinya semakin jauh dari mengenal Allah, mencintai Allah, dan kembali kepada Allah, ada penyakit yang harus segera ditangani.Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan mengatakan bahwa jika seseorang mengenal segala sesuatu tetapi tidak mengenal Rabbnya, seakan-akan ia belum mengenal apa pun. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan SyahwatPenyakit hati memiliki banyak nama: hasad, riya, ujub, sombong, cinta dunia, dendam, cinta kedudukan, dan berbagai penyakit lainnya.Namun, Ibnul Qayyim mengembalikannya kepada dua akar besar.Beliau rahimahullah berkata,جِمَاعُ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ هِيَ أَمْرَاضُ الشُّبُهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ، وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Pokok penyakit hati adalah penyakit syubhat dan syahwat, dan Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit tersebut.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Syubhat menyerang ilmu dan keyakinan. Syahwat menyerang niat dan keinginan.Karena itu, seseorang bisa tersesat dengan dua jalan. Ia tidak mengetahui kebenaran sehingga mengikuti kebatilan; atau ia sudah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya karena dikalahkan hawa nafsu. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkanIni adalah tanda yang sangat menakutkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَعَلَامَةُ ذَلِكَ أَنَّهُ لَا تُؤْلِمُهُ جِرَاحَاتُ الْقَبَائِحِ، وَلَا يُوجِعُهُ جَهْلُهُ بِالْحَقِّ وَعَقَائِدُهُ الْبَاطِلَةُ.“Tandanya adalah luka-luka keburukan tidak lagi membuatnya sakit dan kebodohannya terhadap kebenaran serta keyakinannya yang batil tidak lagi membuatnya merasa sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Perhatikan bahwa yang menjadi masalah bukan sekadar seseorang pernah melakukan dosa.Setiap manusia dapat tergelincir.Masalah besarnya adalah ketika dosa tidak lagi dianggap luka.Dahulu ia menangis setelah bermaksiat, sekarang ia tertawa ketika menceritakannya. Dahulu ia merasa bersalah meninggalkan shalat, sekarang hal itu dianggap biasa. Dahulu ia takut membuka aib orang lain, sekarang aib menjadi bahan hiburan.Selama hati masih merasa sakit ketika melakukan dosa, masih ada tanda kehidupan.Yang mengkhawatirkan justru ketika hati sudah tidak merasakan apa-apa. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadarIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَقَدْ يَمْرَضُ الْقَلْبُ وَيَشْتَدُّ مَرَضُهُ، وَلَا يَعْرِفُ بِهِ صَاحِبُهُ.“Hati dapat sakit dan penyakitnya semakin parah, sementara pemiliknya tidak menyadarinya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah perbedaan besar antara penyakit badan dan penyakit hati.Sakit badan biasanya membuat seseorang mencari dokter.Namun, penyakit hati dapat membuat penderitanya merasa bahwa dirinya justru sehat.Orang sombong jarang merasa dirinya sombong. Orang yang mengikuti hawa nafsu sering merasa dirinya sedang membela kebenaran. Orang yang iri bahkan dapat membungkus kedengkiannya dengan kalimat seolah-olah sedang menasihati.Karena itu, hati membutuhkan muhasabah. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan AllahIbnul Qayyim rahimahullah memberikan ukuran yang sangat sederhana,فَمَنْ آثَرَ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْمَحْبُوبَاتِ فَقَلْبُهُ مَرِيضٌ.“Siapa yang lebih mendahulukan sesuatu yang dicintainya daripada Allah, maka hatinya sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Tentu maksudnya bukan bahwa seseorang tidak boleh mencintai keluarga, pekerjaan, makanan, atau harta. Yang menjadi penyakit adalah ketika kecintaan tersebut mengalahkan ketaatan kepada Allah.Cinta harta membuat seseorang berani mengambil yang haram.Cinta kedudukan membuat seseorang tidak mau menerima nasihat.Cinta manusia membuat seseorang rela melanggar batasan Allah.Cinta popularitas membuat ibadah berubah menjadi pencarian pujian.Di sinilah cinta yang asalnya mubah dapat berubah menjadi penyakit. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,مِنْ عَلَامَاتِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ عُدُولُهَا عَنِ الْأَغْذِيَةِ النَّافِعَةِ إِلَى الْأَغْذِيَةِ الضَّارَّةِ.“Di antara tanda penyakit hati adalah berpalingnya hati dari makanan yang bermanfaat menuju makanan yang membahayakan.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 116.Hati juga memiliki makanan.Ada yang membuatnya hidup dan ada yang membuatnya mati.Ibnul Qayyim rahimahullah meneruskan,فَالْقَلْبُ الصَّحِيحُ يُؤْثِرُ النَّافِعَ الشَّافِيَ عَلَى الضَّارِّ الْمُؤْذِي.“Hati yang sehat memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang membahayakan dan menyakiti.”Lalu beliau berkata,وَأَنْفَعُ الْأَغْذِيَةِ غِذَاءُ الْإِيمَانِ، وَأَنْفَعُ الْأَدْوِيَةِ دَوَاءُ الْقُرْآنِ.“Makanan yang paling bermanfaat adalah makanan iman, sedangkan obat yang paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 117.Coba periksa makanan hati kita setiap hari.Berapa lama hati diberi Al-Qur’an?Berapa lama hati diberi dzikir?Berapa lama hati diberi ilmu?Lalu bandingkan dengan berapa lama hati dipenuhi tontonan, komentar manusia, perdebatan, berita, dan berbagai hal yang tidak bermanfaat. 5. Dunia menjadi tujuan utamaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكُلَّمَا مَرِضَ الْقَلْبُ وَاعْتَلَّ آثَرَ الدُّنْيَا وَاسْتَوْطَنَهَا، حَتَّى يَصِيرَ مِنْ أَهْلِهَا.“Semakin sakit dan rusak hati, semakin ia mengutamakan dunia dan menjadikannya sebagai tempat menetap, hingga seakan-akan menjadi penduduk dunia.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 118.Bukan berarti Islam mengajarkan meninggalkan dunia.Seorang muslim boleh bekerja, berdagang, berkeluarga, memiliki rumah, kendaraan, dan harta.Yang dipersoalkan adalah: di mana dunia ditempatkan?Dunia di tangan tidaklah berbahaya.Namun, dunia yang menguasai hati dapat membuat akhirat dilupakan. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilanganIbnul Qayyim rahimahullah menyebut tanda hati sehat,إِذَا فَاتَهُ وِرْدُهُ وَجَدَ لِفَوَاتِهِ أَلَمًا أَعْظَمَ مِنْ تَأَلُّمِ الْحَرِيصِ بِفَوَاتِ مَالِهِ.“Apabila wirid ibadahnya terlewat, ia merasakan sakit yang lebih besar daripada rasa sakit orang yang kehilangan hartanya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Maka kebalikannya perlu dikhawatirkan.Uang hilang membuat kita sulit tidur, tetapi shalat Subuh terlewat tidak membuat hati gelisah.Telepon genggam hilang membuat panik, tetapi berhari-hari tidak membaca Al-Qur’an terasa biasa.Janji dengan manusia terlambat membuat malu, tetapi terlambat memenuhi panggilan Allah dianggap ringan.Ini adalah bahan muhasabah tentang kesehatan hati. 7. Berat berdzikir dan beribadahIbnul Qayyim rahimahullah menyebut salah satu tanda hati sehat,أَلَّا يَفْتُرَ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ، وَلَا يَسْأَمَ مِنْ خِدْمَتِهِ.“Ia tidak lemah dari mengingat Rabbnya dan tidak bosan beribadah kepada-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Jika yang terjadi justru sebaliknya—berjam-jam untuk dunia terasa singkat, sementara beberapa menit untuk Al-Qur’an terasa berat—ini patut menjadi bahan evaluasi.Bukan berarti setiap rasa malas adalah bukti hati mati. Namun, jika rasa berat terhadap ketaatan terus dipelihara dan tidak pernah diperangi, penyakit dapat semakin kuat.Baca juga: Cara Mengatasi Kemalasan 8. Hati menjadi kerasDalam Al-Fawā’id, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ وَالْبُعْدِ عَنِ اللَّهِ.“Tidaklah seorang hamba ditimpa hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati dan jauhnya ia dari Allah.” Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawā’id, hlm. 142.Bahkan beliau mengatakan,إِذَا قَسَا الْقَلْبُ قَحَطَتِ الْعَيْنُ.“Apabila hati mengeras, mata pun menjadi kering.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Nasihat tidak lagi mudah menyentuh.Kematian orang lain dilihat tanpa mengambil pelajaran.Ayat ancaman dibaca tanpa rasa takut.Dosa dilakukan tanpa penyesalan.Inilah di antara akibat kerasnya hati. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,قَسْوَةُ الْقَلْبِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ: الْأَكْلُ، وَالنَّوْمُ، وَالْكَلَامُ، وَالْمُخَالَطَةُ.“Kerasnya hati berasal dari empat perkara apabila melampaui kadar kebutuhan: makan, tidur, berbicara, dan bergaul.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Perhatikan kata إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ, “apabila melampaui kadar kebutuhan.”Makan tidak tercela. Tidur tidak tercela. Berbicara tidak tercela. Bergaul dengan manusia pun tidak tercela. Masalah muncul ketika semuanya dilakukan tanpa kendali hingga menguras waktu, melemahkan ibadah, dan memenuhi hati dengan kelalaian.10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi perumpamaan,فَكَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا مَرِضَ بِالشَّهَوَاتِ لَمْ تَنْجَعْ فِيهِ الْمَوَاعِظُ.“Demikian pula hati; apabila sakit karena syahwat, nasihat tidak lagi memberikan pengaruh kepadanya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Orang seperti ini sebenarnya sudah tahu.Ia tahu maksiat itu haram.Ia tahu kematian pasti datang.Ia tahu akhirat lebih kekal.Namun, pengetahuan tersebut kalah oleh kuatnya syahwat.Berarti masalahnya bukan kekurangan informasi semata. Yang harus dilakukan adalah mengobati kehendak dan memerangi hawa nafsu. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa NafsuRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah yang berulang kali ditampakkan kepada hati,تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا“Fitnah ditampakkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu demi satu.”Hati yang terus menerima fitnah akhirnya menjadi,لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.”Hadits dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini diriwayatkan oleh Muslim dan dinilai sahih.Hati semacam ini akhirnya tidak mampu lagi membedakan yang makruf dari yang mungkar secara benar karena standar penilaiannya telah dikuasai hawa nafsu.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsu Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit?Kabar baiknya, hati sakit masih mungkin disembuhkan.Selama hati belum mati, pintu kembali kepada Allah tetap terbuka.1. Obat pertama: tobat dan pantanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Al-Fawā’id,الْقَلْبُ يَمْرَضُ كَمَا يَمْرَضُ الْبَدَنُ، وَشِفَاؤُهُ فِي التَّوْبَةِ وَالْحِمْيَةِ.“Hati bisa sakit sebagaimana tubuh sakit. Kesembuhannya terdapat pada tobat dan menjaga diri dari sesuatu yang membahayakannya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Ada dua unsur penting di sini.Tobat membersihkan luka yang telah terjadi.Adapun al-ḥimyah berarti pantangan: menghentikan kembali masuknya sesuatu yang membuat hati sakit.Orang yang ingin sembuh dari dosa pandangan tidak cukup hanya beristigfar sambil terus membuka pintu yang sama.Orang yang ingin lepas dari ghibah tidak cukup bertobat sambil terus duduk di majelis yang sama.Orang yang ingin membersihkan hati dari syubhat harus mengurangi sumber-sumber yang terus menyuntikkan keraguan.Tobat adalah obat. Pantangan menjaga agar penyakit tidak kembali diperparah. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikirDalam kalimat yang sama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَيَصْدَأُ كَمَا تَصْدَأُ الْمِرْآةُ، وَجِلَاؤُهُ بِالذِّكْرِ.“Hati dapat berkarat sebagaimana cermin berkarat, sedangkan pembersihnya adalah zikir.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Hati yang terlalu banyak berhubungan dengan dunia perlu dikembalikan kepada Allah.Dzikir bukan sekadar gerakan lisan.Dzikir mengingatkan siapa Rabb kita, ke mana kita akan kembali, siapa yang memberi rezeki, siapa yang menguasai hidup dan mati, dan siapa yang layak menjadi tujuan tertinggi hati. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obatAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan,وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit.”Maksudnya adalah penyakit syubhat dan syahwat.Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Al-Qur’an menyembuhkan syubhat dengan dalil, penjelasan, ilmu, dan pembeda antara kebenaran serta kebatilan.Sedangkan syahwat disembuhkan Al-Qur’an melalui nasihat, janji pahala, ancaman, kisah-kisah, pengingat akhirat, dan penjelasan tentang hakikat dunia. 4. Syubhat diobati dengan ilmuPenyakit syubhat tidak cukup dilawan hanya dengan semangat.Ia membutuhkan ilmu.Seseorang yang memiliki keraguan dalam masalah iman membutuhkan penjelasan dalil. Orang yang terkena pemikiran menyimpang membutuhkan pemahaman wahyu yang benar.Karena itu Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung bukti-bukti yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan sehingga penyakit syubhat yang merusak ilmu, cara memahami, dan cara memandang dapat hilang.Ini berarti salah satu obat hati adalah belajar agama kepada ahlinya. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsuAda penyakit yang tidak selesai dengan menambah informasi (ilmu).Seseorang sudah tahu hukumnya, tetapi masih melanggar.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِنَّ دَوَاءَهُ فِي مُخَالَفَةِ الْهَوَى، وَذَلِكَ أَصْعَبُ شَيْءٍ عَلَى النَّفْسِ، وَلَيْسَ لَهَا أَنْفَعُ مِنْهُ.“Obatnya adalah menyelisihi hawa nafsu. Itu adalah sesuatu yang paling berat bagi jiwa, tetapi tidak ada yang lebih bermanfaat baginya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah mujāhadah.Ketika hawa nafsu berkata, “Lihatlah,” iman berkata, “Tundukkan pandangan.”Ketika hawa nafsu berkata, “Balaslah,” iman mengingatkan untuk bersabar.Ketika hawa nafsu berkata, “Orang lain harus tahu amalmu,” iman memerintahkan untuk menyembunyikannya.Obat memang kadang terasa pahit. Namun, rasa pahit obat jauh lebih ringan daripada akibat membiarkan penyakit. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihanKarena Ibnul Qayyim menyebut empat perkara yang dapat mengeraskan hati—makan, tidur, bicara, dan pergaulan—maka salah satu terapi hati adalah menertibkan keempatnya.Bukan meninggalkannya.Namun, meletakkannya sesuai kebutuhan.Jangan semua waktu dihabiskan untuk berbicara.Jangan setiap kesendirian harus diisi percakapan digital.Jangan semua kesempatan senggang dihabiskan untuk bergaul.Hati juga membutuhkan waktu untuk sunyi, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, berpikir, dan bermuhasabah. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada AllahDalam Madārij as-Sālikīn, Ibnul Qayyim memberikan perumpamaan yang sangat indah,الْقَلْبُ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَنْزِلَةِ الطَّائِرِ، فَالْمَحَبَّةُ رَأْسُهُ، وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ جَنَاحَاهُ.“Hati dalam perjalanannya menuju Allah seperti burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan takut dan harap adalah kedua sayapnya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij as-Sālikīn.Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan tiga kekuatan.Ia mencintai Allah, sehingga ingin mendekat.Ia takut kepada Allah, sehingga menjauhi dosa.Ia berharap kepada Allah, sehingga tidak berputus asa meskipun banyak kekurangan.Ketiganya harus tetap hidup. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidupLingkungan sangat berpengaruh.Sulit menyembuhkan hati jika setiap hari ia dimasukkan kembali ke lingkungan yang menghidupkan penyakitnya.Karena itu, terkadang bagian dari tobat adalah mengganti lingkungan, mengganti kebiasaan, atau menjauh sejenak dari sumber godaan. Coba Periksa Hati KitaDari berbagai penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri.Apakah dosa masih membuat hati kita sakit? Apakah meninggalkan shalat membuat kita menyesal? Apakah kehilangan kesempatan membaca Al-Qur’an terasa sebagai kehilangan? Apakah nasihat masih mampu melunakkan hati? Apakah akhirat lebih sering kita pikirkan daripada dunia? Apakah hawa nafsu masih menjadi standar untuk menentukan apa yang kita sukai dan benci?Jangan sibuk mendiagnosis hati orang lain.Pembahasan penyakit hati pertama kali harus digunakan untuk memeriksa hati sendiri. Jangan Menunggu Sampai Hati MatiAda hati sehat.Ada hati sakit.Ada pula hati mati.Selama hati masih merasa sedih ketika bermaksiat, masih menyesal ketika meninggalkan ketaatan, masih ingin memperbaiki diri, dan masih takut ketika mendengar ancaman Allah, jangan berputus asa.Namun, jangan pula merasa aman.Penyakit yang tidak diobati dapat semakin parah.Maksiat yang terus diulang dapat kehilangan rasa pahitnya.Syubhat yang terus diminum dapat berubah menjadi keyakinan.Syahwat yang terus dituruti dapat berubah menjadi tuan yang memerintah hati.Karena itu, obatilah hati sebelum ia kehilangan kemampuannya merasakan sakit. Nasihat PenutupJangan hanya bertanya apakah tubuh kita sehat, tetapi tanyakan pula bagaimana keadaan hati kita. Hati yang hidup akan merasa sakit karena dosa, merindukan ketaatan, dan segera kembali kepada Allah ketika tergelincir. Jangan menunggu sampai maksiat terasa biasa dan nasihat tidak lagi menyentuh. Selama Allah masih memberi kesempatan hidup, pintu tobat dan perbaikan hati masih terbuka.Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.Allāhumma āti nufūsanā taqwāhā, wa zakkihā anta khairu man zakkāhā, anta waliyyuhā wa maulāhā.“Ya Allah, anugerahkanlah ketakwaan kepada jiwa kami. Sucikanlah jiwa kami, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemiliknya.” ReferensiReferensi Primer: Kitab Ibnul QayyimIbn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019a). Al-Fawā’id (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 4th ed.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019b). Ighātsat al-lahfān fī maṣāyid al-syaithān (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 3rd ed., Vols. 1–2). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019c). Madārij al-sālikīn fī manāzil al-sā’irīn (M. A. al-Iṣlāḥī & S. M. M. Munīr, Eds.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm. Referensi Daring PendukungAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Tu‘raḍ al-fitan ‘alā al-qulūb ‘arḍ al-ḥaṣīr ‘ūdan ‘ūdan. Al-Mawsū‘ah al-Ḥadīthiyyah.Islam Question & Answer. (n.d.). Faḍl Sūrat al-Fātiḥah. IslamQA.Islamweb. (2002, July 13). Al-qalb al-salīm: Ḥaqīqatuhu wa al-ṭarīqah al-muthlā li-ightināmihi. Islamweb.Islamweb. (2014, May 15). Ṭuruq al-wuṣūl li al-qalb al-salīm. Islamweb.Islamweb. (2014). Kaifiyyat daf‘ al-syubuhāt ‘an al-qalb. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2012, September 28). Menghadap Allah dengan hati yang bersih. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, February 21). Hati yang sehat. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, March 12). Hati yang mati. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2016, December 6). Jangan sampai kena penyakit hati. Rumaysho.Com. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Colombo Jogja (Majelis Taklim Al-Madinah Yogyakarta), 14 September 2026,  1 Rabiul Akhir 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshati mati hati sakit hati sehat hati yang mati hati yang sakit hati yang sehat ibnul qayyim manajemen hati penyakit hati qalbun salim Qolbun salim syahwat syubhat tazkiyatun nafs

Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim dan Cara Mengobatinya

Penyakit yang paling berbahaya bukan selalu penyakit yang terasa sakit. Hati bisa sakit, bahkan semakin parah, sementara pemiliknya tidak merasa ada yang salah pada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tanda-tanda penyakit hati dengan sangat tajam, sekaligus menunjukkan obatnya agar hati kembali sehat dan selamat.  Daftar Isi tutup 1. Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan Mati 1.1. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīm 1.2. Kedua: hati yang mati 1.3. Ketiga: hati yang sakit 2. Apa Sebenarnya Penyakit Hati? 3. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan Syahwat 4. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim 4.1. 1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkan 4.2. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadar 4.3. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan Allah 4.4. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkan 4.5. 5. Dunia menjadi tujuan utama 4.6. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilangan 4.7. 7. Berat berdzikir dan beribadah 4.8. 8. Hati menjadi keras 4.9. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulan 4.10. 10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hati 5. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa Nafsu 6. Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit? 6.1. 1. Obat pertama: tobat dan pantangan 6.2. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikir 6.3. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obat 6.4. 4. Syubhat diobati dengan ilmu 6.5. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsu 6.6. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihan 6.7. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada Allah 6.8. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidup 7. Coba Periksa Hati Kita 8. Jangan Menunggu Sampai Hati Mati 9. Nasihat Penutup 10. Referensi 10.1. Referensi Primer: Kitab Ibnul Qayyim 10.2. Referensi Daring Pendukung  Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan MatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi judul bab pertama dalam Ighātsat al-Lahfān,بَابٌ فِي انْقِسَامِ الْقُلُوبِ إِلَى صَحِيحٍ وَسَقِيمٍ وَمَيِّتٍ“Bab tentang pembagian hati menjadi hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati.”Beliau menjelaskan bahwa karena hati dapat disifati dengan kehidupan dan kebalikannya, keadaan hati terbagi menjadi tiga: hati sehat, hati mati, dan hati sakit. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīmAllah Ta‘ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89)Tentang hakikat qalbun salīm, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّهُ الَّذِي قَدْ سَلِمَ مِنْ كُلِّ شَهْوَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللَّهِ وَنَهْيَهُ، وَمِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تُعَارِضُ خَبَرَهُ.“Yaitu hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta dari setiap syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighātsat al-Lahfān fī Maṣāyid al-Syaithān, jilid 1, hlm. 10.Berarti, dua musuh besar hati adalah syubhat dan syahwat.Syubhat merusak cara berpikir, keyakinan, dan penilaian terhadap kebenaran. Adapun syahwat merusak keinginan sehingga seseorang mengetahui mana yang benar, tetapi lebih memilih apa yang disenangi hawa nafsunya.Hati sehat bukan hanya hati yang “merasa baik”. Hati sehat adalah hati yang bersih tauhidnya, benar keyakinannya, ikhlas ibadahnya, serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Kedua: hati yang matiJenis kedua adalah hati yang sudah kehilangan kehidupannya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّانِي ضِدُّ هَذَا، وَهُوَ الْقَلْبُ الْمَيِّتُ الَّذِي لَا حَيَاةَ بِهِ، فَهُوَ لَا يَعْرِفُ رَبَّهُ.“Hati yang kedua adalah kebalikan dari hati yang sehat, yaitu hati yang mati, yang tidak ada kehidupan padanya. Ia tidak mengenal Rabbnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Dalam kelanjutan penjelasannya, Ibnul Qayyim menggambarkan hati ini sebagai hati yang hidup untuk hawa nafsunya. Yang menjadi ukuran bukan lagi, “Apakah Allah rida?”, melainkan, “Apakah saya menyukainya?”Beliau menggambarkan keadaan tersebut,فَالْهَوَى إِمَامُهُ، وَالشَّهْوَةُ قَائِدُهُ، وَالْجَهْلُ سَائِسُهُ.“Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah pemimpinnya, dan kebodohan adalah pengarahnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Hati seperti ini tidak lagi berjalan mengikuti wahyu. Ia menjadikan hawa nafsu sebagai kompas hidup.Keadaan hati mati ini: ia tidak mau menerima kebenaran dan tidak mau tunduk kepadanya. Ketiga: hati yang sakitInilah keadaan yang perlu paling sering kita muhasabahi, karena hati yang sakit belum mati.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّالِثُ قَلْبٌ لَهُ حَيَاةٌ وَبِهِ عِلَّةٌ.“Hati yang ketiga adalah hati yang memiliki kehidupan, tetapi padanya terdapat penyakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 13.Di dalam hati semacam ini masih ada cinta kepada Allah, iman, ikhlas, dan tawakal. Namun, pada saat bersamaan masih hidup pula kecintaan terhadap syahwat, hasad, kesombongan, ujub, dan kecintaan terhadap kedudukan.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati ini seperti berada di antara dua penyeru: penyeru yang mengajaknya menuju Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat; serta penyeru yang menariknya menuju dunia dan kesenangan sesaat. Hati akan mengikuti mana di antara keduanya yang lebih kuat dan lebih dekat dengannya.Jadi, hati sakit tidak sama dengan hati mati.Orang yang hatinya sakit masih dapat menangis setelah bermaksiat. Ia masih menyesal setelah meninggalkan ketaatan. Ia masih merasa bersalah ketika melanggar perintah Allah. Justru rasa sakit tersebut menunjukkan bahwa masih ada kehidupan di dalam hatinya. Apa Sebenarnya Penyakit Hati?Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan definisi yang sangat mendasar.Beliau rahimahullah berkata,وَمَرَضُ الْقَلْبِ: أَنْ يَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ، وَمَحَبَّتِهِ، وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِهِ.“Penyakit hati adalah ketika hati terhalang dari tujuan penciptaannya, yaitu mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan perjumpaan dengan-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Ini memberi ukuran penting.Seseorang bisa sangat cerdas dalam ilmu dunia, sangat berhasil dalam pekerjaan, atau memiliki begitu banyak pengalaman. Namun, jika hatinya semakin jauh dari mengenal Allah, mencintai Allah, dan kembali kepada Allah, ada penyakit yang harus segera ditangani.Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan mengatakan bahwa jika seseorang mengenal segala sesuatu tetapi tidak mengenal Rabbnya, seakan-akan ia belum mengenal apa pun. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan SyahwatPenyakit hati memiliki banyak nama: hasad, riya, ujub, sombong, cinta dunia, dendam, cinta kedudukan, dan berbagai penyakit lainnya.Namun, Ibnul Qayyim mengembalikannya kepada dua akar besar.Beliau rahimahullah berkata,جِمَاعُ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ هِيَ أَمْرَاضُ الشُّبُهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ، وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Pokok penyakit hati adalah penyakit syubhat dan syahwat, dan Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit tersebut.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Syubhat menyerang ilmu dan keyakinan. Syahwat menyerang niat dan keinginan.Karena itu, seseorang bisa tersesat dengan dua jalan. Ia tidak mengetahui kebenaran sehingga mengikuti kebatilan; atau ia sudah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya karena dikalahkan hawa nafsu. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkanIni adalah tanda yang sangat menakutkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَعَلَامَةُ ذَلِكَ أَنَّهُ لَا تُؤْلِمُهُ جِرَاحَاتُ الْقَبَائِحِ، وَلَا يُوجِعُهُ جَهْلُهُ بِالْحَقِّ وَعَقَائِدُهُ الْبَاطِلَةُ.“Tandanya adalah luka-luka keburukan tidak lagi membuatnya sakit dan kebodohannya terhadap kebenaran serta keyakinannya yang batil tidak lagi membuatnya merasa sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Perhatikan bahwa yang menjadi masalah bukan sekadar seseorang pernah melakukan dosa.Setiap manusia dapat tergelincir.Masalah besarnya adalah ketika dosa tidak lagi dianggap luka.Dahulu ia menangis setelah bermaksiat, sekarang ia tertawa ketika menceritakannya. Dahulu ia merasa bersalah meninggalkan shalat, sekarang hal itu dianggap biasa. Dahulu ia takut membuka aib orang lain, sekarang aib menjadi bahan hiburan.Selama hati masih merasa sakit ketika melakukan dosa, masih ada tanda kehidupan.Yang mengkhawatirkan justru ketika hati sudah tidak merasakan apa-apa. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadarIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَقَدْ يَمْرَضُ الْقَلْبُ وَيَشْتَدُّ مَرَضُهُ، وَلَا يَعْرِفُ بِهِ صَاحِبُهُ.“Hati dapat sakit dan penyakitnya semakin parah, sementara pemiliknya tidak menyadarinya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah perbedaan besar antara penyakit badan dan penyakit hati.Sakit badan biasanya membuat seseorang mencari dokter.Namun, penyakit hati dapat membuat penderitanya merasa bahwa dirinya justru sehat.Orang sombong jarang merasa dirinya sombong. Orang yang mengikuti hawa nafsu sering merasa dirinya sedang membela kebenaran. Orang yang iri bahkan dapat membungkus kedengkiannya dengan kalimat seolah-olah sedang menasihati.Karena itu, hati membutuhkan muhasabah. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan AllahIbnul Qayyim rahimahullah memberikan ukuran yang sangat sederhana,فَمَنْ آثَرَ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْمَحْبُوبَاتِ فَقَلْبُهُ مَرِيضٌ.“Siapa yang lebih mendahulukan sesuatu yang dicintainya daripada Allah, maka hatinya sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Tentu maksudnya bukan bahwa seseorang tidak boleh mencintai keluarga, pekerjaan, makanan, atau harta. Yang menjadi penyakit adalah ketika kecintaan tersebut mengalahkan ketaatan kepada Allah.Cinta harta membuat seseorang berani mengambil yang haram.Cinta kedudukan membuat seseorang tidak mau menerima nasihat.Cinta manusia membuat seseorang rela melanggar batasan Allah.Cinta popularitas membuat ibadah berubah menjadi pencarian pujian.Di sinilah cinta yang asalnya mubah dapat berubah menjadi penyakit. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,مِنْ عَلَامَاتِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ عُدُولُهَا عَنِ الْأَغْذِيَةِ النَّافِعَةِ إِلَى الْأَغْذِيَةِ الضَّارَّةِ.“Di antara tanda penyakit hati adalah berpalingnya hati dari makanan yang bermanfaat menuju makanan yang membahayakan.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 116.Hati juga memiliki makanan.Ada yang membuatnya hidup dan ada yang membuatnya mati.Ibnul Qayyim rahimahullah meneruskan,فَالْقَلْبُ الصَّحِيحُ يُؤْثِرُ النَّافِعَ الشَّافِيَ عَلَى الضَّارِّ الْمُؤْذِي.“Hati yang sehat memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang membahayakan dan menyakiti.”Lalu beliau berkata,وَأَنْفَعُ الْأَغْذِيَةِ غِذَاءُ الْإِيمَانِ، وَأَنْفَعُ الْأَدْوِيَةِ دَوَاءُ الْقُرْآنِ.“Makanan yang paling bermanfaat adalah makanan iman, sedangkan obat yang paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 117.Coba periksa makanan hati kita setiap hari.Berapa lama hati diberi Al-Qur’an?Berapa lama hati diberi dzikir?Berapa lama hati diberi ilmu?Lalu bandingkan dengan berapa lama hati dipenuhi tontonan, komentar manusia, perdebatan, berita, dan berbagai hal yang tidak bermanfaat. 5. Dunia menjadi tujuan utamaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكُلَّمَا مَرِضَ الْقَلْبُ وَاعْتَلَّ آثَرَ الدُّنْيَا وَاسْتَوْطَنَهَا، حَتَّى يَصِيرَ مِنْ أَهْلِهَا.“Semakin sakit dan rusak hati, semakin ia mengutamakan dunia dan menjadikannya sebagai tempat menetap, hingga seakan-akan menjadi penduduk dunia.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 118.Bukan berarti Islam mengajarkan meninggalkan dunia.Seorang muslim boleh bekerja, berdagang, berkeluarga, memiliki rumah, kendaraan, dan harta.Yang dipersoalkan adalah: di mana dunia ditempatkan?Dunia di tangan tidaklah berbahaya.Namun, dunia yang menguasai hati dapat membuat akhirat dilupakan. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilanganIbnul Qayyim rahimahullah menyebut tanda hati sehat,إِذَا فَاتَهُ وِرْدُهُ وَجَدَ لِفَوَاتِهِ أَلَمًا أَعْظَمَ مِنْ تَأَلُّمِ الْحَرِيصِ بِفَوَاتِ مَالِهِ.“Apabila wirid ibadahnya terlewat, ia merasakan sakit yang lebih besar daripada rasa sakit orang yang kehilangan hartanya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Maka kebalikannya perlu dikhawatirkan.Uang hilang membuat kita sulit tidur, tetapi shalat Subuh terlewat tidak membuat hati gelisah.Telepon genggam hilang membuat panik, tetapi berhari-hari tidak membaca Al-Qur’an terasa biasa.Janji dengan manusia terlambat membuat malu, tetapi terlambat memenuhi panggilan Allah dianggap ringan.Ini adalah bahan muhasabah tentang kesehatan hati. 7. Berat berdzikir dan beribadahIbnul Qayyim rahimahullah menyebut salah satu tanda hati sehat,أَلَّا يَفْتُرَ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ، وَلَا يَسْأَمَ مِنْ خِدْمَتِهِ.“Ia tidak lemah dari mengingat Rabbnya dan tidak bosan beribadah kepada-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Jika yang terjadi justru sebaliknya—berjam-jam untuk dunia terasa singkat, sementara beberapa menit untuk Al-Qur’an terasa berat—ini patut menjadi bahan evaluasi.Bukan berarti setiap rasa malas adalah bukti hati mati. Namun, jika rasa berat terhadap ketaatan terus dipelihara dan tidak pernah diperangi, penyakit dapat semakin kuat.Baca juga: Cara Mengatasi Kemalasan 8. Hati menjadi kerasDalam Al-Fawā’id, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ وَالْبُعْدِ عَنِ اللَّهِ.“Tidaklah seorang hamba ditimpa hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati dan jauhnya ia dari Allah.” Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawā’id, hlm. 142.Bahkan beliau mengatakan,إِذَا قَسَا الْقَلْبُ قَحَطَتِ الْعَيْنُ.“Apabila hati mengeras, mata pun menjadi kering.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Nasihat tidak lagi mudah menyentuh.Kematian orang lain dilihat tanpa mengambil pelajaran.Ayat ancaman dibaca tanpa rasa takut.Dosa dilakukan tanpa penyesalan.Inilah di antara akibat kerasnya hati. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,قَسْوَةُ الْقَلْبِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ: الْأَكْلُ، وَالنَّوْمُ، وَالْكَلَامُ، وَالْمُخَالَطَةُ.“Kerasnya hati berasal dari empat perkara apabila melampaui kadar kebutuhan: makan, tidur, berbicara, dan bergaul.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Perhatikan kata إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ, “apabila melampaui kadar kebutuhan.”Makan tidak tercela. Tidur tidak tercela. Berbicara tidak tercela. Bergaul dengan manusia pun tidak tercela. Masalah muncul ketika semuanya dilakukan tanpa kendali hingga menguras waktu, melemahkan ibadah, dan memenuhi hati dengan kelalaian.10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi perumpamaan,فَكَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا مَرِضَ بِالشَّهَوَاتِ لَمْ تَنْجَعْ فِيهِ الْمَوَاعِظُ.“Demikian pula hati; apabila sakit karena syahwat, nasihat tidak lagi memberikan pengaruh kepadanya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Orang seperti ini sebenarnya sudah tahu.Ia tahu maksiat itu haram.Ia tahu kematian pasti datang.Ia tahu akhirat lebih kekal.Namun, pengetahuan tersebut kalah oleh kuatnya syahwat.Berarti masalahnya bukan kekurangan informasi semata. Yang harus dilakukan adalah mengobati kehendak dan memerangi hawa nafsu. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa NafsuRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah yang berulang kali ditampakkan kepada hati,تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا“Fitnah ditampakkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu demi satu.”Hati yang terus menerima fitnah akhirnya menjadi,لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.”Hadits dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini diriwayatkan oleh Muslim dan dinilai sahih.Hati semacam ini akhirnya tidak mampu lagi membedakan yang makruf dari yang mungkar secara benar karena standar penilaiannya telah dikuasai hawa nafsu.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsu Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit?Kabar baiknya, hati sakit masih mungkin disembuhkan.Selama hati belum mati, pintu kembali kepada Allah tetap terbuka.1. Obat pertama: tobat dan pantanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Al-Fawā’id,الْقَلْبُ يَمْرَضُ كَمَا يَمْرَضُ الْبَدَنُ، وَشِفَاؤُهُ فِي التَّوْبَةِ وَالْحِمْيَةِ.“Hati bisa sakit sebagaimana tubuh sakit. Kesembuhannya terdapat pada tobat dan menjaga diri dari sesuatu yang membahayakannya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Ada dua unsur penting di sini.Tobat membersihkan luka yang telah terjadi.Adapun al-ḥimyah berarti pantangan: menghentikan kembali masuknya sesuatu yang membuat hati sakit.Orang yang ingin sembuh dari dosa pandangan tidak cukup hanya beristigfar sambil terus membuka pintu yang sama.Orang yang ingin lepas dari ghibah tidak cukup bertobat sambil terus duduk di majelis yang sama.Orang yang ingin membersihkan hati dari syubhat harus mengurangi sumber-sumber yang terus menyuntikkan keraguan.Tobat adalah obat. Pantangan menjaga agar penyakit tidak kembali diperparah. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikirDalam kalimat yang sama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَيَصْدَأُ كَمَا تَصْدَأُ الْمِرْآةُ، وَجِلَاؤُهُ بِالذِّكْرِ.“Hati dapat berkarat sebagaimana cermin berkarat, sedangkan pembersihnya adalah zikir.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Hati yang terlalu banyak berhubungan dengan dunia perlu dikembalikan kepada Allah.Dzikir bukan sekadar gerakan lisan.Dzikir mengingatkan siapa Rabb kita, ke mana kita akan kembali, siapa yang memberi rezeki, siapa yang menguasai hidup dan mati, dan siapa yang layak menjadi tujuan tertinggi hati. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obatAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan,وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit.”Maksudnya adalah penyakit syubhat dan syahwat.Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Al-Qur’an menyembuhkan syubhat dengan dalil, penjelasan, ilmu, dan pembeda antara kebenaran serta kebatilan.Sedangkan syahwat disembuhkan Al-Qur’an melalui nasihat, janji pahala, ancaman, kisah-kisah, pengingat akhirat, dan penjelasan tentang hakikat dunia. 4. Syubhat diobati dengan ilmuPenyakit syubhat tidak cukup dilawan hanya dengan semangat.Ia membutuhkan ilmu.Seseorang yang memiliki keraguan dalam masalah iman membutuhkan penjelasan dalil. Orang yang terkena pemikiran menyimpang membutuhkan pemahaman wahyu yang benar.Karena itu Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung bukti-bukti yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan sehingga penyakit syubhat yang merusak ilmu, cara memahami, dan cara memandang dapat hilang.Ini berarti salah satu obat hati adalah belajar agama kepada ahlinya. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsuAda penyakit yang tidak selesai dengan menambah informasi (ilmu).Seseorang sudah tahu hukumnya, tetapi masih melanggar.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِنَّ دَوَاءَهُ فِي مُخَالَفَةِ الْهَوَى، وَذَلِكَ أَصْعَبُ شَيْءٍ عَلَى النَّفْسِ، وَلَيْسَ لَهَا أَنْفَعُ مِنْهُ.“Obatnya adalah menyelisihi hawa nafsu. Itu adalah sesuatu yang paling berat bagi jiwa, tetapi tidak ada yang lebih bermanfaat baginya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah mujāhadah.Ketika hawa nafsu berkata, “Lihatlah,” iman berkata, “Tundukkan pandangan.”Ketika hawa nafsu berkata, “Balaslah,” iman mengingatkan untuk bersabar.Ketika hawa nafsu berkata, “Orang lain harus tahu amalmu,” iman memerintahkan untuk menyembunyikannya.Obat memang kadang terasa pahit. Namun, rasa pahit obat jauh lebih ringan daripada akibat membiarkan penyakit. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihanKarena Ibnul Qayyim menyebut empat perkara yang dapat mengeraskan hati—makan, tidur, bicara, dan pergaulan—maka salah satu terapi hati adalah menertibkan keempatnya.Bukan meninggalkannya.Namun, meletakkannya sesuai kebutuhan.Jangan semua waktu dihabiskan untuk berbicara.Jangan setiap kesendirian harus diisi percakapan digital.Jangan semua kesempatan senggang dihabiskan untuk bergaul.Hati juga membutuhkan waktu untuk sunyi, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, berpikir, dan bermuhasabah. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada AllahDalam Madārij as-Sālikīn, Ibnul Qayyim memberikan perumpamaan yang sangat indah,الْقَلْبُ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَنْزِلَةِ الطَّائِرِ، فَالْمَحَبَّةُ رَأْسُهُ، وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ جَنَاحَاهُ.“Hati dalam perjalanannya menuju Allah seperti burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan takut dan harap adalah kedua sayapnya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij as-Sālikīn.Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan tiga kekuatan.Ia mencintai Allah, sehingga ingin mendekat.Ia takut kepada Allah, sehingga menjauhi dosa.Ia berharap kepada Allah, sehingga tidak berputus asa meskipun banyak kekurangan.Ketiganya harus tetap hidup. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidupLingkungan sangat berpengaruh.Sulit menyembuhkan hati jika setiap hari ia dimasukkan kembali ke lingkungan yang menghidupkan penyakitnya.Karena itu, terkadang bagian dari tobat adalah mengganti lingkungan, mengganti kebiasaan, atau menjauh sejenak dari sumber godaan. Coba Periksa Hati KitaDari berbagai penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri.Apakah dosa masih membuat hati kita sakit? Apakah meninggalkan shalat membuat kita menyesal? Apakah kehilangan kesempatan membaca Al-Qur’an terasa sebagai kehilangan? Apakah nasihat masih mampu melunakkan hati? Apakah akhirat lebih sering kita pikirkan daripada dunia? Apakah hawa nafsu masih menjadi standar untuk menentukan apa yang kita sukai dan benci?Jangan sibuk mendiagnosis hati orang lain.Pembahasan penyakit hati pertama kali harus digunakan untuk memeriksa hati sendiri. Jangan Menunggu Sampai Hati MatiAda hati sehat.Ada hati sakit.Ada pula hati mati.Selama hati masih merasa sedih ketika bermaksiat, masih menyesal ketika meninggalkan ketaatan, masih ingin memperbaiki diri, dan masih takut ketika mendengar ancaman Allah, jangan berputus asa.Namun, jangan pula merasa aman.Penyakit yang tidak diobati dapat semakin parah.Maksiat yang terus diulang dapat kehilangan rasa pahitnya.Syubhat yang terus diminum dapat berubah menjadi keyakinan.Syahwat yang terus dituruti dapat berubah menjadi tuan yang memerintah hati.Karena itu, obatilah hati sebelum ia kehilangan kemampuannya merasakan sakit. Nasihat PenutupJangan hanya bertanya apakah tubuh kita sehat, tetapi tanyakan pula bagaimana keadaan hati kita. Hati yang hidup akan merasa sakit karena dosa, merindukan ketaatan, dan segera kembali kepada Allah ketika tergelincir. Jangan menunggu sampai maksiat terasa biasa dan nasihat tidak lagi menyentuh. Selama Allah masih memberi kesempatan hidup, pintu tobat dan perbaikan hati masih terbuka.Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.Allāhumma āti nufūsanā taqwāhā, wa zakkihā anta khairu man zakkāhā, anta waliyyuhā wa maulāhā.“Ya Allah, anugerahkanlah ketakwaan kepada jiwa kami. Sucikanlah jiwa kami, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemiliknya.” ReferensiReferensi Primer: Kitab Ibnul QayyimIbn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019a). Al-Fawā’id (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 4th ed.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019b). Ighātsat al-lahfān fī maṣāyid al-syaithān (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 3rd ed., Vols. 1–2). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019c). Madārij al-sālikīn fī manāzil al-sā’irīn (M. A. al-Iṣlāḥī & S. M. M. Munīr, Eds.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm. Referensi Daring PendukungAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Tu‘raḍ al-fitan ‘alā al-qulūb ‘arḍ al-ḥaṣīr ‘ūdan ‘ūdan. Al-Mawsū‘ah al-Ḥadīthiyyah.Islam Question & Answer. (n.d.). Faḍl Sūrat al-Fātiḥah. IslamQA.Islamweb. (2002, July 13). Al-qalb al-salīm: Ḥaqīqatuhu wa al-ṭarīqah al-muthlā li-ightināmihi. Islamweb.Islamweb. (2014, May 15). Ṭuruq al-wuṣūl li al-qalb al-salīm. Islamweb.Islamweb. (2014). Kaifiyyat daf‘ al-syubuhāt ‘an al-qalb. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2012, September 28). Menghadap Allah dengan hati yang bersih. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, February 21). Hati yang sehat. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, March 12). Hati yang mati. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2016, December 6). Jangan sampai kena penyakit hati. Rumaysho.Com. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Colombo Jogja (Majelis Taklim Al-Madinah Yogyakarta), 14 September 2026,  1 Rabiul Akhir 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshati mati hati sakit hati sehat hati yang mati hati yang sakit hati yang sehat ibnul qayyim manajemen hati penyakit hati qalbun salim Qolbun salim syahwat syubhat tazkiyatun nafs
Penyakit yang paling berbahaya bukan selalu penyakit yang terasa sakit. Hati bisa sakit, bahkan semakin parah, sementara pemiliknya tidak merasa ada yang salah pada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tanda-tanda penyakit hati dengan sangat tajam, sekaligus menunjukkan obatnya agar hati kembali sehat dan selamat.  Daftar Isi tutup 1. Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan Mati 1.1. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīm 1.2. Kedua: hati yang mati 1.3. Ketiga: hati yang sakit 2. Apa Sebenarnya Penyakit Hati? 3. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan Syahwat 4. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim 4.1. 1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkan 4.2. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadar 4.3. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan Allah 4.4. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkan 4.5. 5. Dunia menjadi tujuan utama 4.6. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilangan 4.7. 7. Berat berdzikir dan beribadah 4.8. 8. Hati menjadi keras 4.9. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulan 4.10. 10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hati 5. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa Nafsu 6. Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit? 6.1. 1. Obat pertama: tobat dan pantangan 6.2. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikir 6.3. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obat 6.4. 4. Syubhat diobati dengan ilmu 6.5. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsu 6.6. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihan 6.7. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada Allah 6.8. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidup 7. Coba Periksa Hati Kita 8. Jangan Menunggu Sampai Hati Mati 9. Nasihat Penutup 10. Referensi 10.1. Referensi Primer: Kitab Ibnul Qayyim 10.2. Referensi Daring Pendukung  Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan MatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi judul bab pertama dalam Ighātsat al-Lahfān,بَابٌ فِي انْقِسَامِ الْقُلُوبِ إِلَى صَحِيحٍ وَسَقِيمٍ وَمَيِّتٍ“Bab tentang pembagian hati menjadi hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati.”Beliau menjelaskan bahwa karena hati dapat disifati dengan kehidupan dan kebalikannya, keadaan hati terbagi menjadi tiga: hati sehat, hati mati, dan hati sakit. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīmAllah Ta‘ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89)Tentang hakikat qalbun salīm, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّهُ الَّذِي قَدْ سَلِمَ مِنْ كُلِّ شَهْوَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللَّهِ وَنَهْيَهُ، وَمِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تُعَارِضُ خَبَرَهُ.“Yaitu hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta dari setiap syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighātsat al-Lahfān fī Maṣāyid al-Syaithān, jilid 1, hlm. 10.Berarti, dua musuh besar hati adalah syubhat dan syahwat.Syubhat merusak cara berpikir, keyakinan, dan penilaian terhadap kebenaran. Adapun syahwat merusak keinginan sehingga seseorang mengetahui mana yang benar, tetapi lebih memilih apa yang disenangi hawa nafsunya.Hati sehat bukan hanya hati yang “merasa baik”. Hati sehat adalah hati yang bersih tauhidnya, benar keyakinannya, ikhlas ibadahnya, serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Kedua: hati yang matiJenis kedua adalah hati yang sudah kehilangan kehidupannya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّانِي ضِدُّ هَذَا، وَهُوَ الْقَلْبُ الْمَيِّتُ الَّذِي لَا حَيَاةَ بِهِ، فَهُوَ لَا يَعْرِفُ رَبَّهُ.“Hati yang kedua adalah kebalikan dari hati yang sehat, yaitu hati yang mati, yang tidak ada kehidupan padanya. Ia tidak mengenal Rabbnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Dalam kelanjutan penjelasannya, Ibnul Qayyim menggambarkan hati ini sebagai hati yang hidup untuk hawa nafsunya. Yang menjadi ukuran bukan lagi, “Apakah Allah rida?”, melainkan, “Apakah saya menyukainya?”Beliau menggambarkan keadaan tersebut,فَالْهَوَى إِمَامُهُ، وَالشَّهْوَةُ قَائِدُهُ، وَالْجَهْلُ سَائِسُهُ.“Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah pemimpinnya, dan kebodohan adalah pengarahnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Hati seperti ini tidak lagi berjalan mengikuti wahyu. Ia menjadikan hawa nafsu sebagai kompas hidup.Keadaan hati mati ini: ia tidak mau menerima kebenaran dan tidak mau tunduk kepadanya. Ketiga: hati yang sakitInilah keadaan yang perlu paling sering kita muhasabahi, karena hati yang sakit belum mati.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّالِثُ قَلْبٌ لَهُ حَيَاةٌ وَبِهِ عِلَّةٌ.“Hati yang ketiga adalah hati yang memiliki kehidupan, tetapi padanya terdapat penyakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 13.Di dalam hati semacam ini masih ada cinta kepada Allah, iman, ikhlas, dan tawakal. Namun, pada saat bersamaan masih hidup pula kecintaan terhadap syahwat, hasad, kesombongan, ujub, dan kecintaan terhadap kedudukan.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati ini seperti berada di antara dua penyeru: penyeru yang mengajaknya menuju Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat; serta penyeru yang menariknya menuju dunia dan kesenangan sesaat. Hati akan mengikuti mana di antara keduanya yang lebih kuat dan lebih dekat dengannya.Jadi, hati sakit tidak sama dengan hati mati.Orang yang hatinya sakit masih dapat menangis setelah bermaksiat. Ia masih menyesal setelah meninggalkan ketaatan. Ia masih merasa bersalah ketika melanggar perintah Allah. Justru rasa sakit tersebut menunjukkan bahwa masih ada kehidupan di dalam hatinya. Apa Sebenarnya Penyakit Hati?Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan definisi yang sangat mendasar.Beliau rahimahullah berkata,وَمَرَضُ الْقَلْبِ: أَنْ يَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ، وَمَحَبَّتِهِ، وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِهِ.“Penyakit hati adalah ketika hati terhalang dari tujuan penciptaannya, yaitu mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan perjumpaan dengan-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Ini memberi ukuran penting.Seseorang bisa sangat cerdas dalam ilmu dunia, sangat berhasil dalam pekerjaan, atau memiliki begitu banyak pengalaman. Namun, jika hatinya semakin jauh dari mengenal Allah, mencintai Allah, dan kembali kepada Allah, ada penyakit yang harus segera ditangani.Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan mengatakan bahwa jika seseorang mengenal segala sesuatu tetapi tidak mengenal Rabbnya, seakan-akan ia belum mengenal apa pun. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan SyahwatPenyakit hati memiliki banyak nama: hasad, riya, ujub, sombong, cinta dunia, dendam, cinta kedudukan, dan berbagai penyakit lainnya.Namun, Ibnul Qayyim mengembalikannya kepada dua akar besar.Beliau rahimahullah berkata,جِمَاعُ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ هِيَ أَمْرَاضُ الشُّبُهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ، وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Pokok penyakit hati adalah penyakit syubhat dan syahwat, dan Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit tersebut.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Syubhat menyerang ilmu dan keyakinan. Syahwat menyerang niat dan keinginan.Karena itu, seseorang bisa tersesat dengan dua jalan. Ia tidak mengetahui kebenaran sehingga mengikuti kebatilan; atau ia sudah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya karena dikalahkan hawa nafsu. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkanIni adalah tanda yang sangat menakutkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَعَلَامَةُ ذَلِكَ أَنَّهُ لَا تُؤْلِمُهُ جِرَاحَاتُ الْقَبَائِحِ، وَلَا يُوجِعُهُ جَهْلُهُ بِالْحَقِّ وَعَقَائِدُهُ الْبَاطِلَةُ.“Tandanya adalah luka-luka keburukan tidak lagi membuatnya sakit dan kebodohannya terhadap kebenaran serta keyakinannya yang batil tidak lagi membuatnya merasa sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Perhatikan bahwa yang menjadi masalah bukan sekadar seseorang pernah melakukan dosa.Setiap manusia dapat tergelincir.Masalah besarnya adalah ketika dosa tidak lagi dianggap luka.Dahulu ia menangis setelah bermaksiat, sekarang ia tertawa ketika menceritakannya. Dahulu ia merasa bersalah meninggalkan shalat, sekarang hal itu dianggap biasa. Dahulu ia takut membuka aib orang lain, sekarang aib menjadi bahan hiburan.Selama hati masih merasa sakit ketika melakukan dosa, masih ada tanda kehidupan.Yang mengkhawatirkan justru ketika hati sudah tidak merasakan apa-apa. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadarIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَقَدْ يَمْرَضُ الْقَلْبُ وَيَشْتَدُّ مَرَضُهُ، وَلَا يَعْرِفُ بِهِ صَاحِبُهُ.“Hati dapat sakit dan penyakitnya semakin parah, sementara pemiliknya tidak menyadarinya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah perbedaan besar antara penyakit badan dan penyakit hati.Sakit badan biasanya membuat seseorang mencari dokter.Namun, penyakit hati dapat membuat penderitanya merasa bahwa dirinya justru sehat.Orang sombong jarang merasa dirinya sombong. Orang yang mengikuti hawa nafsu sering merasa dirinya sedang membela kebenaran. Orang yang iri bahkan dapat membungkus kedengkiannya dengan kalimat seolah-olah sedang menasihati.Karena itu, hati membutuhkan muhasabah. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan AllahIbnul Qayyim rahimahullah memberikan ukuran yang sangat sederhana,فَمَنْ آثَرَ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْمَحْبُوبَاتِ فَقَلْبُهُ مَرِيضٌ.“Siapa yang lebih mendahulukan sesuatu yang dicintainya daripada Allah, maka hatinya sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Tentu maksudnya bukan bahwa seseorang tidak boleh mencintai keluarga, pekerjaan, makanan, atau harta. Yang menjadi penyakit adalah ketika kecintaan tersebut mengalahkan ketaatan kepada Allah.Cinta harta membuat seseorang berani mengambil yang haram.Cinta kedudukan membuat seseorang tidak mau menerima nasihat.Cinta manusia membuat seseorang rela melanggar batasan Allah.Cinta popularitas membuat ibadah berubah menjadi pencarian pujian.Di sinilah cinta yang asalnya mubah dapat berubah menjadi penyakit. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,مِنْ عَلَامَاتِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ عُدُولُهَا عَنِ الْأَغْذِيَةِ النَّافِعَةِ إِلَى الْأَغْذِيَةِ الضَّارَّةِ.“Di antara tanda penyakit hati adalah berpalingnya hati dari makanan yang bermanfaat menuju makanan yang membahayakan.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 116.Hati juga memiliki makanan.Ada yang membuatnya hidup dan ada yang membuatnya mati.Ibnul Qayyim rahimahullah meneruskan,فَالْقَلْبُ الصَّحِيحُ يُؤْثِرُ النَّافِعَ الشَّافِيَ عَلَى الضَّارِّ الْمُؤْذِي.“Hati yang sehat memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang membahayakan dan menyakiti.”Lalu beliau berkata,وَأَنْفَعُ الْأَغْذِيَةِ غِذَاءُ الْإِيمَانِ، وَأَنْفَعُ الْأَدْوِيَةِ دَوَاءُ الْقُرْآنِ.“Makanan yang paling bermanfaat adalah makanan iman, sedangkan obat yang paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 117.Coba periksa makanan hati kita setiap hari.Berapa lama hati diberi Al-Qur’an?Berapa lama hati diberi dzikir?Berapa lama hati diberi ilmu?Lalu bandingkan dengan berapa lama hati dipenuhi tontonan, komentar manusia, perdebatan, berita, dan berbagai hal yang tidak bermanfaat. 5. Dunia menjadi tujuan utamaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكُلَّمَا مَرِضَ الْقَلْبُ وَاعْتَلَّ آثَرَ الدُّنْيَا وَاسْتَوْطَنَهَا، حَتَّى يَصِيرَ مِنْ أَهْلِهَا.“Semakin sakit dan rusak hati, semakin ia mengutamakan dunia dan menjadikannya sebagai tempat menetap, hingga seakan-akan menjadi penduduk dunia.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 118.Bukan berarti Islam mengajarkan meninggalkan dunia.Seorang muslim boleh bekerja, berdagang, berkeluarga, memiliki rumah, kendaraan, dan harta.Yang dipersoalkan adalah: di mana dunia ditempatkan?Dunia di tangan tidaklah berbahaya.Namun, dunia yang menguasai hati dapat membuat akhirat dilupakan. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilanganIbnul Qayyim rahimahullah menyebut tanda hati sehat,إِذَا فَاتَهُ وِرْدُهُ وَجَدَ لِفَوَاتِهِ أَلَمًا أَعْظَمَ مِنْ تَأَلُّمِ الْحَرِيصِ بِفَوَاتِ مَالِهِ.“Apabila wirid ibadahnya terlewat, ia merasakan sakit yang lebih besar daripada rasa sakit orang yang kehilangan hartanya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Maka kebalikannya perlu dikhawatirkan.Uang hilang membuat kita sulit tidur, tetapi shalat Subuh terlewat tidak membuat hati gelisah.Telepon genggam hilang membuat panik, tetapi berhari-hari tidak membaca Al-Qur’an terasa biasa.Janji dengan manusia terlambat membuat malu, tetapi terlambat memenuhi panggilan Allah dianggap ringan.Ini adalah bahan muhasabah tentang kesehatan hati. 7. Berat berdzikir dan beribadahIbnul Qayyim rahimahullah menyebut salah satu tanda hati sehat,أَلَّا يَفْتُرَ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ، وَلَا يَسْأَمَ مِنْ خِدْمَتِهِ.“Ia tidak lemah dari mengingat Rabbnya dan tidak bosan beribadah kepada-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Jika yang terjadi justru sebaliknya—berjam-jam untuk dunia terasa singkat, sementara beberapa menit untuk Al-Qur’an terasa berat—ini patut menjadi bahan evaluasi.Bukan berarti setiap rasa malas adalah bukti hati mati. Namun, jika rasa berat terhadap ketaatan terus dipelihara dan tidak pernah diperangi, penyakit dapat semakin kuat.Baca juga: Cara Mengatasi Kemalasan 8. Hati menjadi kerasDalam Al-Fawā’id, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ وَالْبُعْدِ عَنِ اللَّهِ.“Tidaklah seorang hamba ditimpa hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati dan jauhnya ia dari Allah.” Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawā’id, hlm. 142.Bahkan beliau mengatakan,إِذَا قَسَا الْقَلْبُ قَحَطَتِ الْعَيْنُ.“Apabila hati mengeras, mata pun menjadi kering.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Nasihat tidak lagi mudah menyentuh.Kematian orang lain dilihat tanpa mengambil pelajaran.Ayat ancaman dibaca tanpa rasa takut.Dosa dilakukan tanpa penyesalan.Inilah di antara akibat kerasnya hati. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,قَسْوَةُ الْقَلْبِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ: الْأَكْلُ، وَالنَّوْمُ، وَالْكَلَامُ، وَالْمُخَالَطَةُ.“Kerasnya hati berasal dari empat perkara apabila melampaui kadar kebutuhan: makan, tidur, berbicara, dan bergaul.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Perhatikan kata إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ, “apabila melampaui kadar kebutuhan.”Makan tidak tercela. Tidur tidak tercela. Berbicara tidak tercela. Bergaul dengan manusia pun tidak tercela. Masalah muncul ketika semuanya dilakukan tanpa kendali hingga menguras waktu, melemahkan ibadah, dan memenuhi hati dengan kelalaian.10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi perumpamaan,فَكَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا مَرِضَ بِالشَّهَوَاتِ لَمْ تَنْجَعْ فِيهِ الْمَوَاعِظُ.“Demikian pula hati; apabila sakit karena syahwat, nasihat tidak lagi memberikan pengaruh kepadanya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Orang seperti ini sebenarnya sudah tahu.Ia tahu maksiat itu haram.Ia tahu kematian pasti datang.Ia tahu akhirat lebih kekal.Namun, pengetahuan tersebut kalah oleh kuatnya syahwat.Berarti masalahnya bukan kekurangan informasi semata. Yang harus dilakukan adalah mengobati kehendak dan memerangi hawa nafsu. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa NafsuRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah yang berulang kali ditampakkan kepada hati,تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا“Fitnah ditampakkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu demi satu.”Hati yang terus menerima fitnah akhirnya menjadi,لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.”Hadits dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini diriwayatkan oleh Muslim dan dinilai sahih.Hati semacam ini akhirnya tidak mampu lagi membedakan yang makruf dari yang mungkar secara benar karena standar penilaiannya telah dikuasai hawa nafsu.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsu Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit?Kabar baiknya, hati sakit masih mungkin disembuhkan.Selama hati belum mati, pintu kembali kepada Allah tetap terbuka.1. Obat pertama: tobat dan pantanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Al-Fawā’id,الْقَلْبُ يَمْرَضُ كَمَا يَمْرَضُ الْبَدَنُ، وَشِفَاؤُهُ فِي التَّوْبَةِ وَالْحِمْيَةِ.“Hati bisa sakit sebagaimana tubuh sakit. Kesembuhannya terdapat pada tobat dan menjaga diri dari sesuatu yang membahayakannya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Ada dua unsur penting di sini.Tobat membersihkan luka yang telah terjadi.Adapun al-ḥimyah berarti pantangan: menghentikan kembali masuknya sesuatu yang membuat hati sakit.Orang yang ingin sembuh dari dosa pandangan tidak cukup hanya beristigfar sambil terus membuka pintu yang sama.Orang yang ingin lepas dari ghibah tidak cukup bertobat sambil terus duduk di majelis yang sama.Orang yang ingin membersihkan hati dari syubhat harus mengurangi sumber-sumber yang terus menyuntikkan keraguan.Tobat adalah obat. Pantangan menjaga agar penyakit tidak kembali diperparah. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikirDalam kalimat yang sama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَيَصْدَأُ كَمَا تَصْدَأُ الْمِرْآةُ، وَجِلَاؤُهُ بِالذِّكْرِ.“Hati dapat berkarat sebagaimana cermin berkarat, sedangkan pembersihnya adalah zikir.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Hati yang terlalu banyak berhubungan dengan dunia perlu dikembalikan kepada Allah.Dzikir bukan sekadar gerakan lisan.Dzikir mengingatkan siapa Rabb kita, ke mana kita akan kembali, siapa yang memberi rezeki, siapa yang menguasai hidup dan mati, dan siapa yang layak menjadi tujuan tertinggi hati. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obatAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan,وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit.”Maksudnya adalah penyakit syubhat dan syahwat.Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Al-Qur’an menyembuhkan syubhat dengan dalil, penjelasan, ilmu, dan pembeda antara kebenaran serta kebatilan.Sedangkan syahwat disembuhkan Al-Qur’an melalui nasihat, janji pahala, ancaman, kisah-kisah, pengingat akhirat, dan penjelasan tentang hakikat dunia. 4. Syubhat diobati dengan ilmuPenyakit syubhat tidak cukup dilawan hanya dengan semangat.Ia membutuhkan ilmu.Seseorang yang memiliki keraguan dalam masalah iman membutuhkan penjelasan dalil. Orang yang terkena pemikiran menyimpang membutuhkan pemahaman wahyu yang benar.Karena itu Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung bukti-bukti yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan sehingga penyakit syubhat yang merusak ilmu, cara memahami, dan cara memandang dapat hilang.Ini berarti salah satu obat hati adalah belajar agama kepada ahlinya. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsuAda penyakit yang tidak selesai dengan menambah informasi (ilmu).Seseorang sudah tahu hukumnya, tetapi masih melanggar.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِنَّ دَوَاءَهُ فِي مُخَالَفَةِ الْهَوَى، وَذَلِكَ أَصْعَبُ شَيْءٍ عَلَى النَّفْسِ، وَلَيْسَ لَهَا أَنْفَعُ مِنْهُ.“Obatnya adalah menyelisihi hawa nafsu. Itu adalah sesuatu yang paling berat bagi jiwa, tetapi tidak ada yang lebih bermanfaat baginya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah mujāhadah.Ketika hawa nafsu berkata, “Lihatlah,” iman berkata, “Tundukkan pandangan.”Ketika hawa nafsu berkata, “Balaslah,” iman mengingatkan untuk bersabar.Ketika hawa nafsu berkata, “Orang lain harus tahu amalmu,” iman memerintahkan untuk menyembunyikannya.Obat memang kadang terasa pahit. Namun, rasa pahit obat jauh lebih ringan daripada akibat membiarkan penyakit. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihanKarena Ibnul Qayyim menyebut empat perkara yang dapat mengeraskan hati—makan, tidur, bicara, dan pergaulan—maka salah satu terapi hati adalah menertibkan keempatnya.Bukan meninggalkannya.Namun, meletakkannya sesuai kebutuhan.Jangan semua waktu dihabiskan untuk berbicara.Jangan setiap kesendirian harus diisi percakapan digital.Jangan semua kesempatan senggang dihabiskan untuk bergaul.Hati juga membutuhkan waktu untuk sunyi, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, berpikir, dan bermuhasabah. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada AllahDalam Madārij as-Sālikīn, Ibnul Qayyim memberikan perumpamaan yang sangat indah,الْقَلْبُ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَنْزِلَةِ الطَّائِرِ، فَالْمَحَبَّةُ رَأْسُهُ، وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ جَنَاحَاهُ.“Hati dalam perjalanannya menuju Allah seperti burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan takut dan harap adalah kedua sayapnya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij as-Sālikīn.Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan tiga kekuatan.Ia mencintai Allah, sehingga ingin mendekat.Ia takut kepada Allah, sehingga menjauhi dosa.Ia berharap kepada Allah, sehingga tidak berputus asa meskipun banyak kekurangan.Ketiganya harus tetap hidup. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidupLingkungan sangat berpengaruh.Sulit menyembuhkan hati jika setiap hari ia dimasukkan kembali ke lingkungan yang menghidupkan penyakitnya.Karena itu, terkadang bagian dari tobat adalah mengganti lingkungan, mengganti kebiasaan, atau menjauh sejenak dari sumber godaan. Coba Periksa Hati KitaDari berbagai penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri.Apakah dosa masih membuat hati kita sakit? Apakah meninggalkan shalat membuat kita menyesal? Apakah kehilangan kesempatan membaca Al-Qur’an terasa sebagai kehilangan? Apakah nasihat masih mampu melunakkan hati? Apakah akhirat lebih sering kita pikirkan daripada dunia? Apakah hawa nafsu masih menjadi standar untuk menentukan apa yang kita sukai dan benci?Jangan sibuk mendiagnosis hati orang lain.Pembahasan penyakit hati pertama kali harus digunakan untuk memeriksa hati sendiri. Jangan Menunggu Sampai Hati MatiAda hati sehat.Ada hati sakit.Ada pula hati mati.Selama hati masih merasa sedih ketika bermaksiat, masih menyesal ketika meninggalkan ketaatan, masih ingin memperbaiki diri, dan masih takut ketika mendengar ancaman Allah, jangan berputus asa.Namun, jangan pula merasa aman.Penyakit yang tidak diobati dapat semakin parah.Maksiat yang terus diulang dapat kehilangan rasa pahitnya.Syubhat yang terus diminum dapat berubah menjadi keyakinan.Syahwat yang terus dituruti dapat berubah menjadi tuan yang memerintah hati.Karena itu, obatilah hati sebelum ia kehilangan kemampuannya merasakan sakit. Nasihat PenutupJangan hanya bertanya apakah tubuh kita sehat, tetapi tanyakan pula bagaimana keadaan hati kita. Hati yang hidup akan merasa sakit karena dosa, merindukan ketaatan, dan segera kembali kepada Allah ketika tergelincir. Jangan menunggu sampai maksiat terasa biasa dan nasihat tidak lagi menyentuh. Selama Allah masih memberi kesempatan hidup, pintu tobat dan perbaikan hati masih terbuka.Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.Allāhumma āti nufūsanā taqwāhā, wa zakkihā anta khairu man zakkāhā, anta waliyyuhā wa maulāhā.“Ya Allah, anugerahkanlah ketakwaan kepada jiwa kami. Sucikanlah jiwa kami, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemiliknya.” ReferensiReferensi Primer: Kitab Ibnul QayyimIbn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019a). Al-Fawā’id (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 4th ed.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019b). Ighātsat al-lahfān fī maṣāyid al-syaithān (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 3rd ed., Vols. 1–2). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019c). Madārij al-sālikīn fī manāzil al-sā’irīn (M. A. al-Iṣlāḥī & S. M. M. Munīr, Eds.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm. Referensi Daring PendukungAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Tu‘raḍ al-fitan ‘alā al-qulūb ‘arḍ al-ḥaṣīr ‘ūdan ‘ūdan. Al-Mawsū‘ah al-Ḥadīthiyyah.Islam Question & Answer. (n.d.). Faḍl Sūrat al-Fātiḥah. IslamQA.Islamweb. (2002, July 13). Al-qalb al-salīm: Ḥaqīqatuhu wa al-ṭarīqah al-muthlā li-ightināmihi. Islamweb.Islamweb. (2014, May 15). Ṭuruq al-wuṣūl li al-qalb al-salīm. Islamweb.Islamweb. (2014). Kaifiyyat daf‘ al-syubuhāt ‘an al-qalb. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2012, September 28). Menghadap Allah dengan hati yang bersih. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, February 21). Hati yang sehat. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, March 12). Hati yang mati. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2016, December 6). Jangan sampai kena penyakit hati. Rumaysho.Com. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Colombo Jogja (Majelis Taklim Al-Madinah Yogyakarta), 14 September 2026,  1 Rabiul Akhir 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshati mati hati sakit hati sehat hati yang mati hati yang sakit hati yang sehat ibnul qayyim manajemen hati penyakit hati qalbun salim Qolbun salim syahwat syubhat tazkiyatun nafs


Penyakit yang paling berbahaya bukan selalu penyakit yang terasa sakit. Hati bisa sakit, bahkan semakin parah, sementara pemiliknya tidak merasa ada yang salah pada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tanda-tanda penyakit hati dengan sangat tajam, sekaligus menunjukkan obatnya agar hati kembali sehat dan selamat.  Daftar Isi tutup 1. Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan Mati 1.1. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīm 1.2. Kedua: hati yang mati 1.3. Ketiga: hati yang sakit 2. Apa Sebenarnya Penyakit Hati? 3. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan Syahwat 4. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim 4.1. 1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkan 4.2. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadar 4.3. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan Allah 4.4. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkan 4.5. 5. Dunia menjadi tujuan utama 4.6. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilangan 4.7. 7. Berat berdzikir dan beribadah 4.8. 8. Hati menjadi keras 4.9. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulan 4.10. 10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hati 5. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa Nafsu 6. Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit? 6.1. 1. Obat pertama: tobat dan pantangan 6.2. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikir 6.3. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obat 6.4. 4. Syubhat diobati dengan ilmu 6.5. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsu 6.6. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihan 6.7. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada Allah 6.8. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidup 7. Coba Periksa Hati Kita 8. Jangan Menunggu Sampai Hati Mati 9. Nasihat Penutup 10. Referensi 10.1. Referensi Primer: Kitab Ibnul Qayyim 10.2. Referensi Daring Pendukung  Hati Juga Bisa Sehat, Sakit, dan MatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi judul bab pertama dalam Ighātsat al-Lahfān,بَابٌ فِي انْقِسَامِ الْقُلُوبِ إِلَى صَحِيحٍ وَسَقِيمٍ وَمَيِّتٍ“Bab tentang pembagian hati menjadi hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati.”Beliau menjelaskan bahwa karena hati dapat disifati dengan kehidupan dan kebalikannya, keadaan hati terbagi menjadi tiga: hati sehat, hati mati, dan hati sakit. Pertama: hati yang sehat, qalbun salīmAllah Ta‘ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89)Tentang hakikat qalbun salīm, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,أَنَّهُ الَّذِي قَدْ سَلِمَ مِنْ كُلِّ شَهْوَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللَّهِ وَنَهْيَهُ، وَمِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تُعَارِضُ خَبَرَهُ.“Yaitu hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah serta dari setiap syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighātsat al-Lahfān fī Maṣāyid al-Syaithān, jilid 1, hlm. 10.Berarti, dua musuh besar hati adalah syubhat dan syahwat.Syubhat merusak cara berpikir, keyakinan, dan penilaian terhadap kebenaran. Adapun syahwat merusak keinginan sehingga seseorang mengetahui mana yang benar, tetapi lebih memilih apa yang disenangi hawa nafsunya.Hati sehat bukan hanya hati yang “merasa baik”. Hati sehat adalah hati yang bersih tauhidnya, benar keyakinannya, ikhlas ibadahnya, serta tunduk kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Kedua: hati yang matiJenis kedua adalah hati yang sudah kehilangan kehidupannya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّانِي ضِدُّ هَذَا، وَهُوَ الْقَلْبُ الْمَيِّتُ الَّذِي لَا حَيَاةَ بِهِ، فَهُوَ لَا يَعْرِفُ رَبَّهُ.“Hati yang kedua adalah kebalikan dari hati yang sehat, yaitu hati yang mati, yang tidak ada kehidupan padanya. Ia tidak mengenal Rabbnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Dalam kelanjutan penjelasannya, Ibnul Qayyim menggambarkan hati ini sebagai hati yang hidup untuk hawa nafsunya. Yang menjadi ukuran bukan lagi, “Apakah Allah rida?”, melainkan, “Apakah saya menyukainya?”Beliau menggambarkan keadaan tersebut,فَالْهَوَى إِمَامُهُ، وَالشَّهْوَةُ قَائِدُهُ، وَالْجَهْلُ سَائِسُهُ.“Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah pemimpinnya, dan kebodohan adalah pengarahnya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 12.Hati seperti ini tidak lagi berjalan mengikuti wahyu. Ia menjadikan hawa nafsu sebagai kompas hidup.Keadaan hati mati ini: ia tidak mau menerima kebenaran dan tidak mau tunduk kepadanya. Ketiga: hati yang sakitInilah keadaan yang perlu paling sering kita muhasabahi, karena hati yang sakit belum mati.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَالْقَلْبُ الثَّالِثُ قَلْبٌ لَهُ حَيَاةٌ وَبِهِ عِلَّةٌ.“Hati yang ketiga adalah hati yang memiliki kehidupan, tetapi padanya terdapat penyakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 13.Di dalam hati semacam ini masih ada cinta kepada Allah, iman, ikhlas, dan tawakal. Namun, pada saat bersamaan masih hidup pula kecintaan terhadap syahwat, hasad, kesombongan, ujub, dan kecintaan terhadap kedudukan.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati ini seperti berada di antara dua penyeru: penyeru yang mengajaknya menuju Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat; serta penyeru yang menariknya menuju dunia dan kesenangan sesaat. Hati akan mengikuti mana di antara keduanya yang lebih kuat dan lebih dekat dengannya.Jadi, hati sakit tidak sama dengan hati mati.Orang yang hatinya sakit masih dapat menangis setelah bermaksiat. Ia masih menyesal setelah meninggalkan ketaatan. Ia masih merasa bersalah ketika melanggar perintah Allah. Justru rasa sakit tersebut menunjukkan bahwa masih ada kehidupan di dalam hatinya. Apa Sebenarnya Penyakit Hati?Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan definisi yang sangat mendasar.Beliau rahimahullah berkata,وَمَرَضُ الْقَلْبِ: أَنْ يَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ، وَمَحَبَّتِهِ، وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِهِ.“Penyakit hati adalah ketika hati terhalang dari tujuan penciptaannya, yaitu mengenal Allah, mencintai-Nya, dan merindukan perjumpaan dengan-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Ini memberi ukuran penting.Seseorang bisa sangat cerdas dalam ilmu dunia, sangat berhasil dalam pekerjaan, atau memiliki begitu banyak pengalaman. Namun, jika hatinya semakin jauh dari mengenal Allah, mencintai Allah, dan kembali kepada Allah, ada penyakit yang harus segera ditangani.Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan mengatakan bahwa jika seseorang mengenal segala sesuatu tetapi tidak mengenal Rabbnya, seakan-akan ia belum mengenal apa pun. Dua Induk Penyakit Hati: Syubhat dan SyahwatPenyakit hati memiliki banyak nama: hasad, riya, ujub, sombong, cinta dunia, dendam, cinta kedudukan, dan berbagai penyakit lainnya.Namun, Ibnul Qayyim mengembalikannya kepada dua akar besar.Beliau rahimahullah berkata,جِمَاعُ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ هِيَ أَمْرَاضُ الشُّبُهَاتِ وَالشَّهَوَاتِ، وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Pokok penyakit hati adalah penyakit syubhat dan syahwat, dan Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit tersebut.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Syubhat menyerang ilmu dan keyakinan. Syahwat menyerang niat dan keinginan.Karena itu, seseorang bisa tersesat dengan dua jalan. Ia tidak mengetahui kebenaran sehingga mengikuti kebatilan; atau ia sudah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya karena dikalahkan hawa nafsu. Tanda-Tanda Penyakit Hati Menurut Ibnul Qayyim1. Dosa tidak lagi terasa menyakitkanIni adalah tanda yang sangat menakutkan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَعَلَامَةُ ذَلِكَ أَنَّهُ لَا تُؤْلِمُهُ جِرَاحَاتُ الْقَبَائِحِ، وَلَا يُوجِعُهُ جَهْلُهُ بِالْحَقِّ وَعَقَائِدُهُ الْبَاطِلَةُ.“Tandanya adalah luka-luka keburukan tidak lagi membuatnya sakit dan kebodohannya terhadap kebenaran serta keyakinannya yang batil tidak lagi membuatnya merasa sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Perhatikan bahwa yang menjadi masalah bukan sekadar seseorang pernah melakukan dosa.Setiap manusia dapat tergelincir.Masalah besarnya adalah ketika dosa tidak lagi dianggap luka.Dahulu ia menangis setelah bermaksiat, sekarang ia tertawa ketika menceritakannya. Dahulu ia merasa bersalah meninggalkan shalat, sekarang hal itu dianggap biasa. Dahulu ia takut membuka aib orang lain, sekarang aib menjadi bahan hiburan.Selama hati masih merasa sakit ketika melakukan dosa, masih ada tanda kehidupan.Yang mengkhawatirkan justru ketika hati sudah tidak merasakan apa-apa. 2. Hati bisa sakit, tetapi pemiliknya tidak sadarIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَقَدْ يَمْرَضُ الْقَلْبُ وَيَشْتَدُّ مَرَضُهُ، وَلَا يَعْرِفُ بِهِ صَاحِبُهُ.“Hati dapat sakit dan penyakitnya semakin parah, sementara pemiliknya tidak menyadarinya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah perbedaan besar antara penyakit badan dan penyakit hati.Sakit badan biasanya membuat seseorang mencari dokter.Namun, penyakit hati dapat membuat penderitanya merasa bahwa dirinya justru sehat.Orang sombong jarang merasa dirinya sombong. Orang yang mengikuti hawa nafsu sering merasa dirinya sedang membela kebenaran. Orang yang iri bahkan dapat membungkus kedengkiannya dengan kalimat seolah-olah sedang menasihati.Karena itu, hati membutuhkan muhasabah. 3. Lebih memilih kesenangan daripada keridaan AllahIbnul Qayyim rahimahullah memberikan ukuran yang sangat sederhana,فَمَنْ آثَرَ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْمَحْبُوبَاتِ فَقَلْبُهُ مَرِيضٌ.“Siapa yang lebih mendahulukan sesuatu yang dicintainya daripada Allah, maka hatinya sakit.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 112.Tentu maksudnya bukan bahwa seseorang tidak boleh mencintai keluarga, pekerjaan, makanan, atau harta. Yang menjadi penyakit adalah ketika kecintaan tersebut mengalahkan ketaatan kepada Allah.Cinta harta membuat seseorang berani mengambil yang haram.Cinta kedudukan membuat seseorang tidak mau menerima nasihat.Cinta manusia membuat seseorang rela melanggar batasan Allah.Cinta popularitas membuat ibadah berubah menjadi pencarian pujian.Di sinilah cinta yang asalnya mubah dapat berubah menjadi penyakit. 4. Memilih yang merusak dan meninggalkan yang menyembuhkanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,مِنْ عَلَامَاتِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ عُدُولُهَا عَنِ الْأَغْذِيَةِ النَّافِعَةِ إِلَى الْأَغْذِيَةِ الضَّارَّةِ.“Di antara tanda penyakit hati adalah berpalingnya hati dari makanan yang bermanfaat menuju makanan yang membahayakan.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 116.Hati juga memiliki makanan.Ada yang membuatnya hidup dan ada yang membuatnya mati.Ibnul Qayyim rahimahullah meneruskan,فَالْقَلْبُ الصَّحِيحُ يُؤْثِرُ النَّافِعَ الشَّافِيَ عَلَى الضَّارِّ الْمُؤْذِي.“Hati yang sehat memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang membahayakan dan menyakiti.”Lalu beliau berkata,وَأَنْفَعُ الْأَغْذِيَةِ غِذَاءُ الْإِيمَانِ، وَأَنْفَعُ الْأَدْوِيَةِ دَوَاءُ الْقُرْآنِ.“Makanan yang paling bermanfaat adalah makanan iman, sedangkan obat yang paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 117.Coba periksa makanan hati kita setiap hari.Berapa lama hati diberi Al-Qur’an?Berapa lama hati diberi dzikir?Berapa lama hati diberi ilmu?Lalu bandingkan dengan berapa lama hati dipenuhi tontonan, komentar manusia, perdebatan, berita, dan berbagai hal yang tidak bermanfaat. 5. Dunia menjadi tujuan utamaIbnul Qayyim rahimahullah berkata,وَكُلَّمَا مَرِضَ الْقَلْبُ وَاعْتَلَّ آثَرَ الدُّنْيَا وَاسْتَوْطَنَهَا، حَتَّى يَصِيرَ مِنْ أَهْلِهَا.“Semakin sakit dan rusak hati, semakin ia mengutamakan dunia dan menjadikannya sebagai tempat menetap, hingga seakan-akan menjadi penduduk dunia.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 118.Bukan berarti Islam mengajarkan meninggalkan dunia.Seorang muslim boleh bekerja, berdagang, berkeluarga, memiliki rumah, kendaraan, dan harta.Yang dipersoalkan adalah: di mana dunia ditempatkan?Dunia di tangan tidaklah berbahaya.Namun, dunia yang menguasai hati dapat membuat akhirat dilupakan. 6. Kehilangan ibadah tidak lagi terasa sebagai kehilanganIbnul Qayyim rahimahullah menyebut tanda hati sehat,إِذَا فَاتَهُ وِرْدُهُ وَجَدَ لِفَوَاتِهِ أَلَمًا أَعْظَمَ مِنْ تَأَلُّمِ الْحَرِيصِ بِفَوَاتِ مَالِهِ.“Apabila wirid ibadahnya terlewat, ia merasakan sakit yang lebih besar daripada rasa sakit orang yang kehilangan hartanya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Maka kebalikannya perlu dikhawatirkan.Uang hilang membuat kita sulit tidur, tetapi shalat Subuh terlewat tidak membuat hati gelisah.Telepon genggam hilang membuat panik, tetapi berhari-hari tidak membaca Al-Qur’an terasa biasa.Janji dengan manusia terlambat membuat malu, tetapi terlambat memenuhi panggilan Allah dianggap ringan.Ini adalah bahan muhasabah tentang kesehatan hati. 7. Berat berdzikir dan beribadahIbnul Qayyim rahimahullah menyebut salah satu tanda hati sehat,أَلَّا يَفْتُرَ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ، وَلَا يَسْأَمَ مِنْ خِدْمَتِهِ.“Ia tidak lemah dari mengingat Rabbnya dan tidak bosan beribadah kepada-Nya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 120.Jika yang terjadi justru sebaliknya—berjam-jam untuk dunia terasa singkat, sementara beberapa menit untuk Al-Qur’an terasa berat—ini patut menjadi bahan evaluasi.Bukan berarti setiap rasa malas adalah bukti hati mati. Namun, jika rasa berat terhadap ketaatan terus dipelihara dan tidak pernah diperangi, penyakit dapat semakin kuat.Baca juga: Cara Mengatasi Kemalasan 8. Hati menjadi kerasDalam Al-Fawā’id, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ وَالْبُعْدِ عَنِ اللَّهِ.“Tidaklah seorang hamba ditimpa hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati dan jauhnya ia dari Allah.” Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawā’id, hlm. 142.Bahkan beliau mengatakan,إِذَا قَسَا الْقَلْبُ قَحَطَتِ الْعَيْنُ.“Apabila hati mengeras, mata pun menjadi kering.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Nasihat tidak lagi mudah menyentuh.Kematian orang lain dilihat tanpa mengambil pelajaran.Ayat ancaman dibaca tanpa rasa takut.Dosa dilakukan tanpa penyesalan.Inilah di antara akibat kerasnya hati. 9. Berlebihan dalam makan, tidur, bicara, dan pergaulanIbnul Qayyim rahimahullah berkata,قَسْوَةُ الْقَلْبِ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ: الْأَكْلُ، وَالنَّوْمُ، وَالْكَلَامُ، وَالْمُخَالَطَةُ.“Kerasnya hati berasal dari empat perkara apabila melampaui kadar kebutuhan: makan, tidur, berbicara, dan bergaul.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Perhatikan kata إِذَا جَاوَزَتْ قَدْرَ الْحَاجَةِ, “apabila melampaui kadar kebutuhan.”Makan tidak tercela. Tidur tidak tercela. Berbicara tidak tercela. Bergaul dengan manusia pun tidak tercela. Masalah muncul ketika semuanya dilakukan tanpa kendali hingga menguras waktu, melemahkan ibadah, dan memenuhi hati dengan kelalaian.10. Nasihat tidak lagi mampu menembus hatiIbnul Qayyim rahimahullah memberi perumpamaan,فَكَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا مَرِضَ بِالشَّهَوَاتِ لَمْ تَنْجَعْ فِيهِ الْمَوَاعِظُ.“Demikian pula hati; apabila sakit karena syahwat, nasihat tidak lagi memberikan pengaruh kepadanya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 142.Orang seperti ini sebenarnya sudah tahu.Ia tahu maksiat itu haram.Ia tahu kematian pasti datang.Ia tahu akhirat lebih kekal.Namun, pengetahuan tersebut kalah oleh kuatnya syahwat.Berarti masalahnya bukan kekurangan informasi semata. Yang harus dilakukan adalah mengobati kehendak dan memerangi hawa nafsu. Hati yang Rusak Akhirnya Mengikuti Hawa NafsuRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah yang berulang kali ditampakkan kepada hati,تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ عَرْضَ الْحَصِيرِ عُودًا عُودًا“Fitnah ditampakkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu demi satu.”Hati yang terus menerima fitnah akhirnya menjadi,لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.“Ia tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.”Hadits dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini diriwayatkan oleh Muslim dan dinilai sahih.Hati semacam ini akhirnya tidak mampu lagi membedakan yang makruf dari yang mungkar secara benar karena standar penilaiannya telah dikuasai hawa nafsu.Baca juga: Menuruti Hawa Nafsu Bagaimana Menyembuhkan Hati yang Sakit?Kabar baiknya, hati sakit masih mungkin disembuhkan.Selama hati belum mati, pintu kembali kepada Allah tetap terbuka.1. Obat pertama: tobat dan pantanganIbnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Al-Fawā’id,الْقَلْبُ يَمْرَضُ كَمَا يَمْرَضُ الْبَدَنُ، وَشِفَاؤُهُ فِي التَّوْبَةِ وَالْحِمْيَةِ.“Hati bisa sakit sebagaimana tubuh sakit. Kesembuhannya terdapat pada tobat dan menjaga diri dari sesuatu yang membahayakannya.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Ada dua unsur penting di sini.Tobat membersihkan luka yang telah terjadi.Adapun al-ḥimyah berarti pantangan: menghentikan kembali masuknya sesuatu yang membuat hati sakit.Orang yang ingin sembuh dari dosa pandangan tidak cukup hanya beristigfar sambil terus membuka pintu yang sama.Orang yang ingin lepas dari ghibah tidak cukup bertobat sambil terus duduk di majelis yang sama.Orang yang ingin membersihkan hati dari syubhat harus mengurangi sumber-sumber yang terus menyuntikkan keraguan.Tobat adalah obat. Pantangan menjaga agar penyakit tidak kembali diperparah. 2. Bersihkan karat hati dengan dzikirDalam kalimat yang sama Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَيَصْدَأُ كَمَا تَصْدَأُ الْمِرْآةُ، وَجِلَاؤُهُ بِالذِّكْرِ.“Hati dapat berkarat sebagaimana cermin berkarat, sedangkan pembersihnya adalah zikir.”Sumber: Al-Fawā’id, hlm. 143.Hati yang terlalu banyak berhubungan dengan dunia perlu dikembalikan kepada Allah.Dzikir bukan sekadar gerakan lisan.Dzikir mengingatkan siapa Rabb kita, ke mana kita akan kembali, siapa yang memberi rezeki, siapa yang menguasai hidup dan mati, dan siapa yang layak menjadi tujuan tertinggi hati. 3. Jadikan Al-Qur’an sebagai obatAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57)Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan,وَالْقُرْآنُ شِفَاءٌ لِلنَّوْعَيْنِ.“Al-Qur’an merupakan obat bagi kedua jenis penyakit.”Maksudnya adalah penyakit syubhat dan syahwat.Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 70.Al-Qur’an menyembuhkan syubhat dengan dalil, penjelasan, ilmu, dan pembeda antara kebenaran serta kebatilan.Sedangkan syahwat disembuhkan Al-Qur’an melalui nasihat, janji pahala, ancaman, kisah-kisah, pengingat akhirat, dan penjelasan tentang hakikat dunia. 4. Syubhat diobati dengan ilmuPenyakit syubhat tidak cukup dilawan hanya dengan semangat.Ia membutuhkan ilmu.Seseorang yang memiliki keraguan dalam masalah iman membutuhkan penjelasan dalil. Orang yang terkena pemikiran menyimpang membutuhkan pemahaman wahyu yang benar.Karena itu Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung bukti-bukti yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan sehingga penyakit syubhat yang merusak ilmu, cara memahami, dan cara memandang dapat hilang.Ini berarti salah satu obat hati adalah belajar agama kepada ahlinya. 5. Syahwat diobati dengan melawan hawa nafsuAda penyakit yang tidak selesai dengan menambah informasi (ilmu).Seseorang sudah tahu hukumnya, tetapi masih melanggar.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,فَإِنَّ دَوَاءَهُ فِي مُخَالَفَةِ الْهَوَى، وَذَلِكَ أَصْعَبُ شَيْءٍ عَلَى النَّفْسِ، وَلَيْسَ لَهَا أَنْفَعُ مِنْهُ.“Obatnya adalah menyelisihi hawa nafsu. Itu adalah sesuatu yang paling berat bagi jiwa, tetapi tidak ada yang lebih bermanfaat baginya.”Sumber: Ighātsat al-Lahfān, jilid 1, hlm. 113.Inilah mujāhadah.Ketika hawa nafsu berkata, “Lihatlah,” iman berkata, “Tundukkan pandangan.”Ketika hawa nafsu berkata, “Balaslah,” iman mengingatkan untuk bersabar.Ketika hawa nafsu berkata, “Orang lain harus tahu amalmu,” iman memerintahkan untuk menyembunyikannya.Obat memang kadang terasa pahit. Namun, rasa pahit obat jauh lebih ringan daripada akibat membiarkan penyakit. 6. Kurangi empat perkara yang berlebihanKarena Ibnul Qayyim menyebut empat perkara yang dapat mengeraskan hati—makan, tidur, bicara, dan pergaulan—maka salah satu terapi hati adalah menertibkan keempatnya.Bukan meninggalkannya.Namun, meletakkannya sesuai kebutuhan.Jangan semua waktu dihabiskan untuk berbicara.Jangan setiap kesendirian harus diisi percakapan digital.Jangan semua kesempatan senggang dihabiskan untuk bergaul.Hati juga membutuhkan waktu untuk sunyi, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, berpikir, dan bermuhasabah. 7. Hadirkan cinta, takut, dan harap kepada AllahDalam Madārij as-Sālikīn, Ibnul Qayyim memberikan perumpamaan yang sangat indah,الْقَلْبُ فِي سَيْرِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَنْزِلَةِ الطَّائِرِ، فَالْمَحَبَّةُ رَأْسُهُ، وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ جَنَاحَاهُ.“Hati dalam perjalanannya menuju Allah seperti burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan takut dan harap adalah kedua sayapnya.”Sumber: Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij as-Sālikīn.Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan tiga kekuatan.Ia mencintai Allah, sehingga ingin mendekat.Ia takut kepada Allah, sehingga menjauhi dosa.Ia berharap kepada Allah, sehingga tidak berputus asa meskipun banyak kekurangan.Ketiganya harus tetap hidup. 8. Carilah lingkungan yang membantu hati tetap hidupLingkungan sangat berpengaruh.Sulit menyembuhkan hati jika setiap hari ia dimasukkan kembali ke lingkungan yang menghidupkan penyakitnya.Karena itu, terkadang bagian dari tobat adalah mengganti lingkungan, mengganti kebiasaan, atau menjauh sejenak dari sumber godaan. Coba Periksa Hati KitaDari berbagai penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri.Apakah dosa masih membuat hati kita sakit? Apakah meninggalkan shalat membuat kita menyesal? Apakah kehilangan kesempatan membaca Al-Qur’an terasa sebagai kehilangan? Apakah nasihat masih mampu melunakkan hati? Apakah akhirat lebih sering kita pikirkan daripada dunia? Apakah hawa nafsu masih menjadi standar untuk menentukan apa yang kita sukai dan benci?Jangan sibuk mendiagnosis hati orang lain.Pembahasan penyakit hati pertama kali harus digunakan untuk memeriksa hati sendiri. Jangan Menunggu Sampai Hati MatiAda hati sehat.Ada hati sakit.Ada pula hati mati.Selama hati masih merasa sedih ketika bermaksiat, masih menyesal ketika meninggalkan ketaatan, masih ingin memperbaiki diri, dan masih takut ketika mendengar ancaman Allah, jangan berputus asa.Namun, jangan pula merasa aman.Penyakit yang tidak diobati dapat semakin parah.Maksiat yang terus diulang dapat kehilangan rasa pahitnya.Syubhat yang terus diminum dapat berubah menjadi keyakinan.Syahwat yang terus dituruti dapat berubah menjadi tuan yang memerintah hati.Karena itu, obatilah hati sebelum ia kehilangan kemampuannya merasakan sakit. Nasihat PenutupJangan hanya bertanya apakah tubuh kita sehat, tetapi tanyakan pula bagaimana keadaan hati kita. Hati yang hidup akan merasa sakit karena dosa, merindukan ketaatan, dan segera kembali kepada Allah ketika tergelincir. Jangan menunggu sampai maksiat terasa biasa dan nasihat tidak lagi menyentuh. Selama Allah masih memberi kesempatan hidup, pintu tobat dan perbaikan hati masih terbuka.Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.Allāhumma āti nufūsanā taqwāhā, wa zakkihā anta khairu man zakkāhā, anta waliyyuhā wa maulāhā.“Ya Allah, anugerahkanlah ketakwaan kepada jiwa kami. Sucikanlah jiwa kami, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemiliknya.” ReferensiReferensi Primer: Kitab Ibnul QayyimIbn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019a). Al-Fawā’id (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 4th ed.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019b). Ighātsat al-lahfān fī maṣāyid al-syaithān (M. ‘Uzair Syams, Ed.; 3rd ed., Vols. 1–2). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm.Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2019c). Madārij al-sālikīn fī manāzil al-sā’irīn (M. A. al-Iṣlāḥī & S. M. M. Munīr, Eds.). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm & Dār Ibn Ḥazm. Referensi Daring PendukungAl-Durar al-Saniyyah. (n.d.). Tu‘raḍ al-fitan ‘alā al-qulūb ‘arḍ al-ḥaṣīr ‘ūdan ‘ūdan. Al-Mawsū‘ah al-Ḥadīthiyyah.Islam Question & Answer. (n.d.). Faḍl Sūrat al-Fātiḥah. IslamQA.Islamweb. (2002, July 13). Al-qalb al-salīm: Ḥaqīqatuhu wa al-ṭarīqah al-muthlā li-ightināmihi. Islamweb.Islamweb. (2014, May 15). Ṭuruq al-wuṣūl li al-qalb al-salīm. Islamweb.Islamweb. (2014). Kaifiyyat daf‘ al-syubuhāt ‘an al-qalb. Islamweb.Tuasikal, M. A. (2012, September 28). Menghadap Allah dengan hati yang bersih. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, February 21). Hati yang sehat. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2013, March 12). Hati yang mati. Rumaysho.Com.Tuasikal, M. A. (2016, December 6). Jangan sampai kena penyakit hati. Rumaysho.Com. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin menuju Masjid Jenderal Sudirman Colombo Jogja (Majelis Taklim Al-Madinah Yogyakarta), 14 September 2026,  1 Rabiul Akhir 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagshati mati hati sakit hati sehat hati yang mati hati yang sakit hati yang sehat ibnul qayyim manajemen hati penyakit hati qalbun salim Qolbun salim syahwat syubhat tazkiyatun nafs

Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di Dunia

Segala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan.  Daftar Isi tutup 1. Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di Dunia 1.1. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan Pulang 1.2. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan Dunia 1.3. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas Profesi 1.4. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan Residen 1.5. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari Allah 1.6. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari 1.6.1. 1. Menunda belajar agama sampai tidak sibuk 1.6.2. 2. Mengira ibadah hanya amalan ritual 1.6.3. 3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhirat 1.6.4. 4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan Allah 1.7. Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah Kesibukan 1.7.1. 1. Jadikan shalat sebagai poros hari 1.7.2. 2. Miliki wirid kecil yang tidak putus 1.7.3. 3. Perbarui niat sebelum memulai tugas 1.7.4. 4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademik 1.7.5. 5. Jaga hak keluarga dan tubuh 1.8. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan Selamat  Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di DuniaSegala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan PulangMenjadi dokter adalah jalan yang mulia, tetapi juga penuh amanah dan tantangan. Ada pasien yang harus segera ditangani, ilmu yang harus dikejar, jadwal jaga malam, target akademik, tuntutan keluarga, serta kondisi fisik dan emosi yang tidak selalu baik.Berbagai kesibukan itu tentu ditempuh demi harapan yang baik: hidup yang layak, bermanfaat, dihormati, cukup secara ekonomi, dan bahagia. Namun, seorang Muslim perlu berhenti sejenak untuk bertanya,“Apakah saya hanya sedang membangun karier, atau juga sedang mempersiapkan untuk akhirat?”Allah Ta‘ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kehidupan yang baik (ḥayātan ṭayyibah) bukan berarti hidup tanpa jadwal padat, tanpa ujian, atau tanpa kelelahan. Bisa jadi seseorang sangat sibuk, tetapi hatinya lapang karena mengetahui untuk siapa ia bekerja, bagaimana ia harus menjalankan amanah, dan kepada siapa ia akan kembali.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘lā: 17)Karena itu, bahagia di dunia bukan berarti menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasilnya. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan DuniaIslam tidak memerintahkan kita meninggalkan profesi, ilmu, atau pencapaian duniawi. Allah Ta‘ala berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 77)Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat tersebut,اِسْتَعْمِلْ مَا وَهَبَكَ اللَّهُ مِنْ هَذَا الْمَالِ الْجَزِيلِ وَالنِّعْمَةِ الطَّائِلَةِ، فِي طَاعَةِ رَبِّكَ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ، الَّتِي يَحْصُلُ لَكَ بِهَا الثَّوَابُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. ““Gunakanlah harta yang melimpah dan berbagai nikmat besar yang Allah anugerahkan kepadamu untuk menaati Rabbmu. Dekatkanlah dirimu kepada-Nya melalui beragam amal kebaikan, yang dengannya engkau akan memperoleh pahala di negeri akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37).Ayat ini sangat tepat menjadi pedoman bagi seorang dokter dan penuntut ilmu. Islam tidak mencela seseorang yang belajar hingga menjadi ahli, bekerja keras, memperoleh penghasilan halal, memiliki kedudukan profesional, serta membangun keluarga yang layak.Yang berbahaya adalah ketika semua itu berubah menjadi pusat kehidupan. Shalat dianggap mengganggu jadwal, Al-Qur’an selalu ditunda, keluarga hanya mendapatkan sisa tenaga, dan kematian tidak lagi dipersiapkan.Nabi Muhammad ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pekerjaan yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah.AktivitasBila hanya untuk duniaBila diniatkan karena AllahBelajar ilmu penyakit dalamSekadar mengejar gelar dan posisiMenjadi ahli agar dapat menolong manusia dengan amanahMenangani pasienRutinitas kerjaMenunaikan amanah, berbuat ihsan, dan meringankan kesulitanMencari nafkahMengumpulkan hartaMenjaga diri dan keluarga dari meminta-minta serta memperluas manfaatMengajar juniorMenunjukkan kepandaianMenyebarkan ilmu yang benar dan menjaga keselamatan pasienNiat bukan sekadar kalimat yang diucapkan di awal. Niat harus dibuktikan dengan cara bekerja yang halal, jujur, teliti, tidak meremehkan pasien, dan tidak mengorbankan kewajiban kepada Allah. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas ProfesiSebagian orang merasa bersalah ketika sibuk menolong pasien karena tidak sempat memperbanyak amalan sunnah tertentu. Sebaliknya, ada pula yang begitu sibuk dengan profesi hingga menganggap shalat, Al-Qur’an, dan belajar agama sekadar urusan tambahan.Dua cara pandang ini perlu diluruskan.Tugas profesi yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi jalan ibadah. Akan tetapi, tugas itu tidak boleh membuat seseorang meremehkan kewajiban yang lebih pokok: mentauhidkan Allah, menjaga shalat, menjauhi yang haram, berlaku amanah, dan menunaikan hak keluarga.Di sinilah nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah sangat indah. Beliau menjelaskan,إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ“Ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut.”Beliau juga berkata,فَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ“Amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.”Inilah yang disebut Ibnul Qayyim sebagai,التَّعَبُّدُ الْمُطْلَقُPenghambaan yang menyeluruh.Penghambaan tidak hanya tampak saat di masjid, ketika umrah, atau ketika membaca Al-Qur’an. Seorang hamba tetap beribadah kepada Allah saat visite, menangani pasien kritis, menjalani jaga malam, menghadapi senior atau junior, bersama pasangan dan anak, bahkan ketika sendirian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ“Mereka inilah orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh. Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.”Seorang hamba tidak hanya memilih ibadah yang paling disukai oleh dirinya. Ia berusaha mencari apa yang paling Allah ridhai pada keadaan yang sedang dihadapinya. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan ResidenKaidah ini bukan berarti semua aktivitas profesi otomatis lebih utama daripada ibadah ritual. Yang benar, seorang Muslim melihat apa yang menjadi kewajiban dan tuntutan paling kuat pada saat itu.KeadaanIbadah atau tugas yang paling dituntutWaktu shalat tiba dan keadaan memungkinkanSegera menunaikan shalat dengan baikAda pasien gawat yang membutuhkan tindakan segeraMenolong sesuai kompetensi dan amanah, sambil tetap menjaga shalat sesuai kemampuan dan ketentuan syariatSedang belajar atau menangani pasienFokus, teliti, jujur, dan tidak ceroboh; ini bagian dari amanahPasien atau keluarga membutuhkan penjelasanMenjelaskan dengan empati, jujur, dan bahasa yang mudah dipahamiAda junior yang belum memahami suatu masalahMengajarkan ilmu yang benar dan membimbing dengan baikBersama pasangan, anak, atau orang tuaMenunaikan hak mereka; jangan seluruh tenaga habis untuk rumah sakitSelesai tugas atau ada waktu senggangMengisi dengan shalat sunnah, Al-Qur’an, zikir, doa, dan belajar agamaMenghadapi tekanan, konflik, atau perkataan yang menyakitkanMenahan diri, bersabar, menjaga lisan, dan tidak berlaku zalimMisalnya, seseorang senang membaca Al-Qur’an setelah Subuh. Itu amalan yang mulia. Namun, apabila pada waktu yang sama ada pasien yang membutuhkan penanganan segera sesuai tugasnya, maka menolong pasien adalah tuntutan yang lebih kuat pada saat itu.Akan tetapi, jangan pula kaidah ini dibalik. Kesibukan tidak boleh dijadikan alasan permanen untuk meninggalkan shalat, tidak pernah membaca Al-Qur’an, tidak belajar agama, atau melalaikan keluarga. Kaidah ini mengajarkan ketepatan prioritas, bukan pembenaran untuk terus sibuk. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari AllahNabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)Ihsan dalam profesi dokter tampak dalam banyak bentuk: mengkaji pasien dengan sungguh-sungguh, tidak meremehkan keluhan pasien, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, menjaga rahasia medis, jujur ketika menjelaskan kondisi pasien, dan tidak menggunakan kedudukan untuk merendahkan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya.Ihsan juga tampak ketika seseorang berani berkata, “Saya perlu berdiskusi atau mencari rujukan,” saat memang belum yakin. Tidak semua yang tidak diketahui harus ditutupi dengan gengsi.Nabi ﷺ juga bersabda,وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)Seorang dokter yang membantu mengurangi kesulitan pasien, membimbing keluarga pasien, mengajarkan junior, atau memudahkan urusan sejawatnya sedang membuka pintu pertolongan Allah untuk dirinya.Mungkin pasien lupa nama kita. Mungkin tidak semua terapi berhasil. Namun, tidak ada kebaikan yang hilang di sisi Allah apabila dilakukan dengan iman, ilmu, dan keikhlasan. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari1. Menunda belajar agama sampai tidak sibukKesibukan biasanya tidak benar-benar selesai; ia hanya berganti bentuk. Saat menjadi residen, seseorang sibuk jaga dan ujian. Setelah menjadi konsulen, ia sibuk dengan pelayanan, penelitian, keluarga, dan amanah sosial.Belajar agama tidak harus dimulai dengan target besar. Mulailah dari majelis rutin, membaca sedikit tetapi konsisten, serta memperbaiki shalat.2. Mengira ibadah hanya amalan ritualShalat, puasa, zikir, dan tilawah adalah fondasi yang tidak boleh diremehkan. Namun, melayani pasien dengan ihsan, mencari ilmu yang bermanfaat, memberi nafkah kepada keluarga, serta menjaga amanah juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah.3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhiratKemuliaan profesi tidak menggugurkan kewajiban sebagai hamba. Ilmu kedokteran yang tinggi perlu disertai tawaduk. Otoritas profesional perlu disertai rasa takut kepada Allah. Kemampuan mengobati manusia perlu disertai kesadaran bahwa hidup dan mati berada di tangan Allah.4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan AllahAda orang yang senang dengan ibadah tertentu, tetapi lalai terhadap ibadah yang lebih wajib: berbakti kepada orang tua, memenuhi hak pasangan, menepati amanah, membantu orang yang sedang membutuhkan, atau menjaga shalat tepat waktu.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hamba yang sempurna tidak terpaku pada satu bentuk ibadah saja. Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun ia berada.Dalam ayat kita diperintahkan beribadah mengikuti tuntunan, bukan selera kita,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31) Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah KesibukanJangan membuat target yang terlalu berat hingga berhenti di tengah jalan. Bangunlah “minimum ibadah harian” yang realistis dan tidak mudah ditinggalkan.1. Jadikan shalat sebagai poros hariJangan menjadikan shalat hanya jeda di sela pekerjaan. Jadikan pekerjaan tersusun mengelilingi shalat.Beberapa target sederhana yang dapat dijaga:Berusaha menunaikan shalat pada waktunya semampu mungkin.Berwudhu sebelum benar-benar terdesak.Mengetahui lokasi mushala terdekat.Saling mengingatkan antarresiden dengan cara yang baik.Bila ada keadaan klinis darurat, lakukan yang paling memungkinkan sesuai ketentuan syariat dan amanah pelayanan.Baca juga: Khutbah Jumat, Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat2. Miliki wirid kecil yang tidak putusTidak harus banyak, tetapi hendaknya konsisten. Misalnya, membaca doa pagi dan petang, beristighfar ketika berjalan antarruang, membaca satu halaman Al-Qur’an sebelum tidur atau setelah Subuh, serta membaca dan memahami satu ayat setiap hari.Jangan remehkan amalan kecil yang dijaga. Yang sedikit tetapi terus-menerus lebih menguatkan perjalanan seorang hamba daripada semangat besar yang segera terputus.3. Perbarui niat sebelum memulai tugasSebelum visite, poli, tindakan, atau jaga, hadirkan niat dalam hati:“Ya Allah, saya menjalankan tugas ini untuk menunaikan amanah, menolong hamba-Mu, mencari rezeki yang halal, dan menjaga ilmu yang Engkau titipkan.”Niat ini hanya memerlukan beberapa detik, tetapi dapat mengubah arah satu hari penuh.4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademikJika belajar agama hanya menunggu waktu luang, ia sering kali tidak akan terlaksana. Pilih satu bentuk yang stabil: mengikuti kajian rutin mingguan, membaca satu kitab atau satu tema bersama teman, mendengarkan kajian saat perjalanan, atau menyediakan waktu keluarga untuk membaca Al-Qur’an dan membahas satu faedah agama.5. Jaga hak keluarga dan tubuhBerbakti kepada orang tua, hadir bagi pasangan, mendidik anak, tidur yang cukup, makan yang baik, serta menjaga kesehatan diri bukan lawan dari ibadah. Dalam banyak keadaan, itulah tuntutan ibadah yang paling tepat. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan SelamatAllah Ta‘ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sesungguhnya pahala kalian akan disempurnakan pada hari Kiamat. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)Definisi sukses seorang Muslim bukan hanya lulus tepat waktu, menjadi konsulen, memiliki publikasi, memperoleh jabatan, memiliki rumah, kendaraan, atau penghasilan yang baik. Semua itu adalah nikmat apabila digunakan untuk taat kepada Allah.Namun, sukses terbesar ialah selamat dari neraka dan masuk surga. Karena itu, jangan memilih antara menjadi dokter yang baik atau menjadi hamba Allah yang baik. Jadilah dokter yang baik karena Anda adalah hamba Allah.Mungkin kita tidak selalu mampu menambah banyak amalan sunnah setiap hari. Namun, kita selalu dapat bertanya,“Pada keadaan saya saat ini, apakah yang paling Allah ridhai dari saya?”Kadang jawabannya adalah shalat. Kadang jawabannya adalah menyelamatkan pasien. Kadang jawabannya adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Kadang jawabannya adalah meminta maaf kepada pasangan. Kadang jawabannya adalah pulang dan hadir untuk anak. Kadang jawabannya adalah berhenti sejenak, lalu bertaubat kepada Allah.Inilah jalan at-ta‘abbud al-muthlaq: menjadi hamba Allah dalam seluruh ruang kehidupan.Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang memperoleh kehidupan yang baik di dunia, diberi keberkahan dalam ilmu dan profesi, dijaga dalam amanah, serta dikumpulkan di surga-Nya.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)Baca pula pembahasan lengkap mengenai kaidah Ibnul Qayyim tentang ibadah yang paling utama: Ibadah Apa yang Paling Utama? Ini Jawaban Ibnul Qayyim. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  menuju Grand Rohan dalam acara pengajian FKKMK UGM, 13 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat amalan dokter dunia ibadah ibnul qayyim mencari nafkah niat profesi shalat

Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di Dunia

Segala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan.  Daftar Isi tutup 1. Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di Dunia 1.1. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan Pulang 1.2. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan Dunia 1.3. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas Profesi 1.4. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan Residen 1.5. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari Allah 1.6. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari 1.6.1. 1. Menunda belajar agama sampai tidak sibuk 1.6.2. 2. Mengira ibadah hanya amalan ritual 1.6.3. 3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhirat 1.6.4. 4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan Allah 1.7. Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah Kesibukan 1.7.1. 1. Jadikan shalat sebagai poros hari 1.7.2. 2. Miliki wirid kecil yang tidak putus 1.7.3. 3. Perbarui niat sebelum memulai tugas 1.7.4. 4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademik 1.7.5. 5. Jaga hak keluarga dan tubuh 1.8. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan Selamat  Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di DuniaSegala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan PulangMenjadi dokter adalah jalan yang mulia, tetapi juga penuh amanah dan tantangan. Ada pasien yang harus segera ditangani, ilmu yang harus dikejar, jadwal jaga malam, target akademik, tuntutan keluarga, serta kondisi fisik dan emosi yang tidak selalu baik.Berbagai kesibukan itu tentu ditempuh demi harapan yang baik: hidup yang layak, bermanfaat, dihormati, cukup secara ekonomi, dan bahagia. Namun, seorang Muslim perlu berhenti sejenak untuk bertanya,“Apakah saya hanya sedang membangun karier, atau juga sedang mempersiapkan untuk akhirat?”Allah Ta‘ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kehidupan yang baik (ḥayātan ṭayyibah) bukan berarti hidup tanpa jadwal padat, tanpa ujian, atau tanpa kelelahan. Bisa jadi seseorang sangat sibuk, tetapi hatinya lapang karena mengetahui untuk siapa ia bekerja, bagaimana ia harus menjalankan amanah, dan kepada siapa ia akan kembali.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘lā: 17)Karena itu, bahagia di dunia bukan berarti menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasilnya. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan DuniaIslam tidak memerintahkan kita meninggalkan profesi, ilmu, atau pencapaian duniawi. Allah Ta‘ala berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 77)Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat tersebut,اِسْتَعْمِلْ مَا وَهَبَكَ اللَّهُ مِنْ هَذَا الْمَالِ الْجَزِيلِ وَالنِّعْمَةِ الطَّائِلَةِ، فِي طَاعَةِ رَبِّكَ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ، الَّتِي يَحْصُلُ لَكَ بِهَا الثَّوَابُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. ““Gunakanlah harta yang melimpah dan berbagai nikmat besar yang Allah anugerahkan kepadamu untuk menaati Rabbmu. Dekatkanlah dirimu kepada-Nya melalui beragam amal kebaikan, yang dengannya engkau akan memperoleh pahala di negeri akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37).Ayat ini sangat tepat menjadi pedoman bagi seorang dokter dan penuntut ilmu. Islam tidak mencela seseorang yang belajar hingga menjadi ahli, bekerja keras, memperoleh penghasilan halal, memiliki kedudukan profesional, serta membangun keluarga yang layak.Yang berbahaya adalah ketika semua itu berubah menjadi pusat kehidupan. Shalat dianggap mengganggu jadwal, Al-Qur’an selalu ditunda, keluarga hanya mendapatkan sisa tenaga, dan kematian tidak lagi dipersiapkan.Nabi Muhammad ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pekerjaan yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah.AktivitasBila hanya untuk duniaBila diniatkan karena AllahBelajar ilmu penyakit dalamSekadar mengejar gelar dan posisiMenjadi ahli agar dapat menolong manusia dengan amanahMenangani pasienRutinitas kerjaMenunaikan amanah, berbuat ihsan, dan meringankan kesulitanMencari nafkahMengumpulkan hartaMenjaga diri dan keluarga dari meminta-minta serta memperluas manfaatMengajar juniorMenunjukkan kepandaianMenyebarkan ilmu yang benar dan menjaga keselamatan pasienNiat bukan sekadar kalimat yang diucapkan di awal. Niat harus dibuktikan dengan cara bekerja yang halal, jujur, teliti, tidak meremehkan pasien, dan tidak mengorbankan kewajiban kepada Allah. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas ProfesiSebagian orang merasa bersalah ketika sibuk menolong pasien karena tidak sempat memperbanyak amalan sunnah tertentu. Sebaliknya, ada pula yang begitu sibuk dengan profesi hingga menganggap shalat, Al-Qur’an, dan belajar agama sekadar urusan tambahan.Dua cara pandang ini perlu diluruskan.Tugas profesi yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi jalan ibadah. Akan tetapi, tugas itu tidak boleh membuat seseorang meremehkan kewajiban yang lebih pokok: mentauhidkan Allah, menjaga shalat, menjauhi yang haram, berlaku amanah, dan menunaikan hak keluarga.Di sinilah nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah sangat indah. Beliau menjelaskan,إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ“Ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut.”Beliau juga berkata,فَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ“Amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.”Inilah yang disebut Ibnul Qayyim sebagai,التَّعَبُّدُ الْمُطْلَقُPenghambaan yang menyeluruh.Penghambaan tidak hanya tampak saat di masjid, ketika umrah, atau ketika membaca Al-Qur’an. Seorang hamba tetap beribadah kepada Allah saat visite, menangani pasien kritis, menjalani jaga malam, menghadapi senior atau junior, bersama pasangan dan anak, bahkan ketika sendirian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ“Mereka inilah orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh. Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.”Seorang hamba tidak hanya memilih ibadah yang paling disukai oleh dirinya. Ia berusaha mencari apa yang paling Allah ridhai pada keadaan yang sedang dihadapinya. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan ResidenKaidah ini bukan berarti semua aktivitas profesi otomatis lebih utama daripada ibadah ritual. Yang benar, seorang Muslim melihat apa yang menjadi kewajiban dan tuntutan paling kuat pada saat itu.KeadaanIbadah atau tugas yang paling dituntutWaktu shalat tiba dan keadaan memungkinkanSegera menunaikan shalat dengan baikAda pasien gawat yang membutuhkan tindakan segeraMenolong sesuai kompetensi dan amanah, sambil tetap menjaga shalat sesuai kemampuan dan ketentuan syariatSedang belajar atau menangani pasienFokus, teliti, jujur, dan tidak ceroboh; ini bagian dari amanahPasien atau keluarga membutuhkan penjelasanMenjelaskan dengan empati, jujur, dan bahasa yang mudah dipahamiAda junior yang belum memahami suatu masalahMengajarkan ilmu yang benar dan membimbing dengan baikBersama pasangan, anak, atau orang tuaMenunaikan hak mereka; jangan seluruh tenaga habis untuk rumah sakitSelesai tugas atau ada waktu senggangMengisi dengan shalat sunnah, Al-Qur’an, zikir, doa, dan belajar agamaMenghadapi tekanan, konflik, atau perkataan yang menyakitkanMenahan diri, bersabar, menjaga lisan, dan tidak berlaku zalimMisalnya, seseorang senang membaca Al-Qur’an setelah Subuh. Itu amalan yang mulia. Namun, apabila pada waktu yang sama ada pasien yang membutuhkan penanganan segera sesuai tugasnya, maka menolong pasien adalah tuntutan yang lebih kuat pada saat itu.Akan tetapi, jangan pula kaidah ini dibalik. Kesibukan tidak boleh dijadikan alasan permanen untuk meninggalkan shalat, tidak pernah membaca Al-Qur’an, tidak belajar agama, atau melalaikan keluarga. Kaidah ini mengajarkan ketepatan prioritas, bukan pembenaran untuk terus sibuk. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari AllahNabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)Ihsan dalam profesi dokter tampak dalam banyak bentuk: mengkaji pasien dengan sungguh-sungguh, tidak meremehkan keluhan pasien, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, menjaga rahasia medis, jujur ketika menjelaskan kondisi pasien, dan tidak menggunakan kedudukan untuk merendahkan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya.Ihsan juga tampak ketika seseorang berani berkata, “Saya perlu berdiskusi atau mencari rujukan,” saat memang belum yakin. Tidak semua yang tidak diketahui harus ditutupi dengan gengsi.Nabi ﷺ juga bersabda,وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)Seorang dokter yang membantu mengurangi kesulitan pasien, membimbing keluarga pasien, mengajarkan junior, atau memudahkan urusan sejawatnya sedang membuka pintu pertolongan Allah untuk dirinya.Mungkin pasien lupa nama kita. Mungkin tidak semua terapi berhasil. Namun, tidak ada kebaikan yang hilang di sisi Allah apabila dilakukan dengan iman, ilmu, dan keikhlasan. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari1. Menunda belajar agama sampai tidak sibukKesibukan biasanya tidak benar-benar selesai; ia hanya berganti bentuk. Saat menjadi residen, seseorang sibuk jaga dan ujian. Setelah menjadi konsulen, ia sibuk dengan pelayanan, penelitian, keluarga, dan amanah sosial.Belajar agama tidak harus dimulai dengan target besar. Mulailah dari majelis rutin, membaca sedikit tetapi konsisten, serta memperbaiki shalat.2. Mengira ibadah hanya amalan ritualShalat, puasa, zikir, dan tilawah adalah fondasi yang tidak boleh diremehkan. Namun, melayani pasien dengan ihsan, mencari ilmu yang bermanfaat, memberi nafkah kepada keluarga, serta menjaga amanah juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah.3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhiratKemuliaan profesi tidak menggugurkan kewajiban sebagai hamba. Ilmu kedokteran yang tinggi perlu disertai tawaduk. Otoritas profesional perlu disertai rasa takut kepada Allah. Kemampuan mengobati manusia perlu disertai kesadaran bahwa hidup dan mati berada di tangan Allah.4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan AllahAda orang yang senang dengan ibadah tertentu, tetapi lalai terhadap ibadah yang lebih wajib: berbakti kepada orang tua, memenuhi hak pasangan, menepati amanah, membantu orang yang sedang membutuhkan, atau menjaga shalat tepat waktu.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hamba yang sempurna tidak terpaku pada satu bentuk ibadah saja. Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun ia berada.Dalam ayat kita diperintahkan beribadah mengikuti tuntunan, bukan selera kita,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31) Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah KesibukanJangan membuat target yang terlalu berat hingga berhenti di tengah jalan. Bangunlah “minimum ibadah harian” yang realistis dan tidak mudah ditinggalkan.1. Jadikan shalat sebagai poros hariJangan menjadikan shalat hanya jeda di sela pekerjaan. Jadikan pekerjaan tersusun mengelilingi shalat.Beberapa target sederhana yang dapat dijaga:Berusaha menunaikan shalat pada waktunya semampu mungkin.Berwudhu sebelum benar-benar terdesak.Mengetahui lokasi mushala terdekat.Saling mengingatkan antarresiden dengan cara yang baik.Bila ada keadaan klinis darurat, lakukan yang paling memungkinkan sesuai ketentuan syariat dan amanah pelayanan.Baca juga: Khutbah Jumat, Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat2. Miliki wirid kecil yang tidak putusTidak harus banyak, tetapi hendaknya konsisten. Misalnya, membaca doa pagi dan petang, beristighfar ketika berjalan antarruang, membaca satu halaman Al-Qur’an sebelum tidur atau setelah Subuh, serta membaca dan memahami satu ayat setiap hari.Jangan remehkan amalan kecil yang dijaga. Yang sedikit tetapi terus-menerus lebih menguatkan perjalanan seorang hamba daripada semangat besar yang segera terputus.3. Perbarui niat sebelum memulai tugasSebelum visite, poli, tindakan, atau jaga, hadirkan niat dalam hati:“Ya Allah, saya menjalankan tugas ini untuk menunaikan amanah, menolong hamba-Mu, mencari rezeki yang halal, dan menjaga ilmu yang Engkau titipkan.”Niat ini hanya memerlukan beberapa detik, tetapi dapat mengubah arah satu hari penuh.4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademikJika belajar agama hanya menunggu waktu luang, ia sering kali tidak akan terlaksana. Pilih satu bentuk yang stabil: mengikuti kajian rutin mingguan, membaca satu kitab atau satu tema bersama teman, mendengarkan kajian saat perjalanan, atau menyediakan waktu keluarga untuk membaca Al-Qur’an dan membahas satu faedah agama.5. Jaga hak keluarga dan tubuhBerbakti kepada orang tua, hadir bagi pasangan, mendidik anak, tidur yang cukup, makan yang baik, serta menjaga kesehatan diri bukan lawan dari ibadah. Dalam banyak keadaan, itulah tuntutan ibadah yang paling tepat. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan SelamatAllah Ta‘ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sesungguhnya pahala kalian akan disempurnakan pada hari Kiamat. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)Definisi sukses seorang Muslim bukan hanya lulus tepat waktu, menjadi konsulen, memiliki publikasi, memperoleh jabatan, memiliki rumah, kendaraan, atau penghasilan yang baik. Semua itu adalah nikmat apabila digunakan untuk taat kepada Allah.Namun, sukses terbesar ialah selamat dari neraka dan masuk surga. Karena itu, jangan memilih antara menjadi dokter yang baik atau menjadi hamba Allah yang baik. Jadilah dokter yang baik karena Anda adalah hamba Allah.Mungkin kita tidak selalu mampu menambah banyak amalan sunnah setiap hari. Namun, kita selalu dapat bertanya,“Pada keadaan saya saat ini, apakah yang paling Allah ridhai dari saya?”Kadang jawabannya adalah shalat. Kadang jawabannya adalah menyelamatkan pasien. Kadang jawabannya adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Kadang jawabannya adalah meminta maaf kepada pasangan. Kadang jawabannya adalah pulang dan hadir untuk anak. Kadang jawabannya adalah berhenti sejenak, lalu bertaubat kepada Allah.Inilah jalan at-ta‘abbud al-muthlaq: menjadi hamba Allah dalam seluruh ruang kehidupan.Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang memperoleh kehidupan yang baik di dunia, diberi keberkahan dalam ilmu dan profesi, dijaga dalam amanah, serta dikumpulkan di surga-Nya.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)Baca pula pembahasan lengkap mengenai kaidah Ibnul Qayyim tentang ibadah yang paling utama: Ibadah Apa yang Paling Utama? Ini Jawaban Ibnul Qayyim. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  menuju Grand Rohan dalam acara pengajian FKKMK UGM, 13 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat amalan dokter dunia ibadah ibnul qayyim mencari nafkah niat profesi shalat
Segala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan.  Daftar Isi tutup 1. Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di Dunia 1.1. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan Pulang 1.2. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan Dunia 1.3. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas Profesi 1.4. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan Residen 1.5. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari Allah 1.6. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari 1.6.1. 1. Menunda belajar agama sampai tidak sibuk 1.6.2. 2. Mengira ibadah hanya amalan ritual 1.6.3. 3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhirat 1.6.4. 4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan Allah 1.7. Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah Kesibukan 1.7.1. 1. Jadikan shalat sebagai poros hari 1.7.2. 2. Miliki wirid kecil yang tidak putus 1.7.3. 3. Perbarui niat sebelum memulai tugas 1.7.4. 4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademik 1.7.5. 5. Jaga hak keluarga dan tubuh 1.8. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan Selamat  Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di DuniaSegala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan PulangMenjadi dokter adalah jalan yang mulia, tetapi juga penuh amanah dan tantangan. Ada pasien yang harus segera ditangani, ilmu yang harus dikejar, jadwal jaga malam, target akademik, tuntutan keluarga, serta kondisi fisik dan emosi yang tidak selalu baik.Berbagai kesibukan itu tentu ditempuh demi harapan yang baik: hidup yang layak, bermanfaat, dihormati, cukup secara ekonomi, dan bahagia. Namun, seorang Muslim perlu berhenti sejenak untuk bertanya,“Apakah saya hanya sedang membangun karier, atau juga sedang mempersiapkan untuk akhirat?”Allah Ta‘ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kehidupan yang baik (ḥayātan ṭayyibah) bukan berarti hidup tanpa jadwal padat, tanpa ujian, atau tanpa kelelahan. Bisa jadi seseorang sangat sibuk, tetapi hatinya lapang karena mengetahui untuk siapa ia bekerja, bagaimana ia harus menjalankan amanah, dan kepada siapa ia akan kembali.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘lā: 17)Karena itu, bahagia di dunia bukan berarti menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasilnya. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan DuniaIslam tidak memerintahkan kita meninggalkan profesi, ilmu, atau pencapaian duniawi. Allah Ta‘ala berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 77)Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat tersebut,اِسْتَعْمِلْ مَا وَهَبَكَ اللَّهُ مِنْ هَذَا الْمَالِ الْجَزِيلِ وَالنِّعْمَةِ الطَّائِلَةِ، فِي طَاعَةِ رَبِّكَ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ، الَّتِي يَحْصُلُ لَكَ بِهَا الثَّوَابُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. ““Gunakanlah harta yang melimpah dan berbagai nikmat besar yang Allah anugerahkan kepadamu untuk menaati Rabbmu. Dekatkanlah dirimu kepada-Nya melalui beragam amal kebaikan, yang dengannya engkau akan memperoleh pahala di negeri akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37).Ayat ini sangat tepat menjadi pedoman bagi seorang dokter dan penuntut ilmu. Islam tidak mencela seseorang yang belajar hingga menjadi ahli, bekerja keras, memperoleh penghasilan halal, memiliki kedudukan profesional, serta membangun keluarga yang layak.Yang berbahaya adalah ketika semua itu berubah menjadi pusat kehidupan. Shalat dianggap mengganggu jadwal, Al-Qur’an selalu ditunda, keluarga hanya mendapatkan sisa tenaga, dan kematian tidak lagi dipersiapkan.Nabi Muhammad ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pekerjaan yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah.AktivitasBila hanya untuk duniaBila diniatkan karena AllahBelajar ilmu penyakit dalamSekadar mengejar gelar dan posisiMenjadi ahli agar dapat menolong manusia dengan amanahMenangani pasienRutinitas kerjaMenunaikan amanah, berbuat ihsan, dan meringankan kesulitanMencari nafkahMengumpulkan hartaMenjaga diri dan keluarga dari meminta-minta serta memperluas manfaatMengajar juniorMenunjukkan kepandaianMenyebarkan ilmu yang benar dan menjaga keselamatan pasienNiat bukan sekadar kalimat yang diucapkan di awal. Niat harus dibuktikan dengan cara bekerja yang halal, jujur, teliti, tidak meremehkan pasien, dan tidak mengorbankan kewajiban kepada Allah. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas ProfesiSebagian orang merasa bersalah ketika sibuk menolong pasien karena tidak sempat memperbanyak amalan sunnah tertentu. Sebaliknya, ada pula yang begitu sibuk dengan profesi hingga menganggap shalat, Al-Qur’an, dan belajar agama sekadar urusan tambahan.Dua cara pandang ini perlu diluruskan.Tugas profesi yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi jalan ibadah. Akan tetapi, tugas itu tidak boleh membuat seseorang meremehkan kewajiban yang lebih pokok: mentauhidkan Allah, menjaga shalat, menjauhi yang haram, berlaku amanah, dan menunaikan hak keluarga.Di sinilah nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah sangat indah. Beliau menjelaskan,إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ“Ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut.”Beliau juga berkata,فَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ“Amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.”Inilah yang disebut Ibnul Qayyim sebagai,التَّعَبُّدُ الْمُطْلَقُPenghambaan yang menyeluruh.Penghambaan tidak hanya tampak saat di masjid, ketika umrah, atau ketika membaca Al-Qur’an. Seorang hamba tetap beribadah kepada Allah saat visite, menangani pasien kritis, menjalani jaga malam, menghadapi senior atau junior, bersama pasangan dan anak, bahkan ketika sendirian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ“Mereka inilah orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh. Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.”Seorang hamba tidak hanya memilih ibadah yang paling disukai oleh dirinya. Ia berusaha mencari apa yang paling Allah ridhai pada keadaan yang sedang dihadapinya. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan ResidenKaidah ini bukan berarti semua aktivitas profesi otomatis lebih utama daripada ibadah ritual. Yang benar, seorang Muslim melihat apa yang menjadi kewajiban dan tuntutan paling kuat pada saat itu.KeadaanIbadah atau tugas yang paling dituntutWaktu shalat tiba dan keadaan memungkinkanSegera menunaikan shalat dengan baikAda pasien gawat yang membutuhkan tindakan segeraMenolong sesuai kompetensi dan amanah, sambil tetap menjaga shalat sesuai kemampuan dan ketentuan syariatSedang belajar atau menangani pasienFokus, teliti, jujur, dan tidak ceroboh; ini bagian dari amanahPasien atau keluarga membutuhkan penjelasanMenjelaskan dengan empati, jujur, dan bahasa yang mudah dipahamiAda junior yang belum memahami suatu masalahMengajarkan ilmu yang benar dan membimbing dengan baikBersama pasangan, anak, atau orang tuaMenunaikan hak mereka; jangan seluruh tenaga habis untuk rumah sakitSelesai tugas atau ada waktu senggangMengisi dengan shalat sunnah, Al-Qur’an, zikir, doa, dan belajar agamaMenghadapi tekanan, konflik, atau perkataan yang menyakitkanMenahan diri, bersabar, menjaga lisan, dan tidak berlaku zalimMisalnya, seseorang senang membaca Al-Qur’an setelah Subuh. Itu amalan yang mulia. Namun, apabila pada waktu yang sama ada pasien yang membutuhkan penanganan segera sesuai tugasnya, maka menolong pasien adalah tuntutan yang lebih kuat pada saat itu.Akan tetapi, jangan pula kaidah ini dibalik. Kesibukan tidak boleh dijadikan alasan permanen untuk meninggalkan shalat, tidak pernah membaca Al-Qur’an, tidak belajar agama, atau melalaikan keluarga. Kaidah ini mengajarkan ketepatan prioritas, bukan pembenaran untuk terus sibuk. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari AllahNabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)Ihsan dalam profesi dokter tampak dalam banyak bentuk: mengkaji pasien dengan sungguh-sungguh, tidak meremehkan keluhan pasien, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, menjaga rahasia medis, jujur ketika menjelaskan kondisi pasien, dan tidak menggunakan kedudukan untuk merendahkan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya.Ihsan juga tampak ketika seseorang berani berkata, “Saya perlu berdiskusi atau mencari rujukan,” saat memang belum yakin. Tidak semua yang tidak diketahui harus ditutupi dengan gengsi.Nabi ﷺ juga bersabda,وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)Seorang dokter yang membantu mengurangi kesulitan pasien, membimbing keluarga pasien, mengajarkan junior, atau memudahkan urusan sejawatnya sedang membuka pintu pertolongan Allah untuk dirinya.Mungkin pasien lupa nama kita. Mungkin tidak semua terapi berhasil. Namun, tidak ada kebaikan yang hilang di sisi Allah apabila dilakukan dengan iman, ilmu, dan keikhlasan. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari1. Menunda belajar agama sampai tidak sibukKesibukan biasanya tidak benar-benar selesai; ia hanya berganti bentuk. Saat menjadi residen, seseorang sibuk jaga dan ujian. Setelah menjadi konsulen, ia sibuk dengan pelayanan, penelitian, keluarga, dan amanah sosial.Belajar agama tidak harus dimulai dengan target besar. Mulailah dari majelis rutin, membaca sedikit tetapi konsisten, serta memperbaiki shalat.2. Mengira ibadah hanya amalan ritualShalat, puasa, zikir, dan tilawah adalah fondasi yang tidak boleh diremehkan. Namun, melayani pasien dengan ihsan, mencari ilmu yang bermanfaat, memberi nafkah kepada keluarga, serta menjaga amanah juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah.3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhiratKemuliaan profesi tidak menggugurkan kewajiban sebagai hamba. Ilmu kedokteran yang tinggi perlu disertai tawaduk. Otoritas profesional perlu disertai rasa takut kepada Allah. Kemampuan mengobati manusia perlu disertai kesadaran bahwa hidup dan mati berada di tangan Allah.4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan AllahAda orang yang senang dengan ibadah tertentu, tetapi lalai terhadap ibadah yang lebih wajib: berbakti kepada orang tua, memenuhi hak pasangan, menepati amanah, membantu orang yang sedang membutuhkan, atau menjaga shalat tepat waktu.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hamba yang sempurna tidak terpaku pada satu bentuk ibadah saja. Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun ia berada.Dalam ayat kita diperintahkan beribadah mengikuti tuntunan, bukan selera kita,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31) Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah KesibukanJangan membuat target yang terlalu berat hingga berhenti di tengah jalan. Bangunlah “minimum ibadah harian” yang realistis dan tidak mudah ditinggalkan.1. Jadikan shalat sebagai poros hariJangan menjadikan shalat hanya jeda di sela pekerjaan. Jadikan pekerjaan tersusun mengelilingi shalat.Beberapa target sederhana yang dapat dijaga:Berusaha menunaikan shalat pada waktunya semampu mungkin.Berwudhu sebelum benar-benar terdesak.Mengetahui lokasi mushala terdekat.Saling mengingatkan antarresiden dengan cara yang baik.Bila ada keadaan klinis darurat, lakukan yang paling memungkinkan sesuai ketentuan syariat dan amanah pelayanan.Baca juga: Khutbah Jumat, Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat2. Miliki wirid kecil yang tidak putusTidak harus banyak, tetapi hendaknya konsisten. Misalnya, membaca doa pagi dan petang, beristighfar ketika berjalan antarruang, membaca satu halaman Al-Qur’an sebelum tidur atau setelah Subuh, serta membaca dan memahami satu ayat setiap hari.Jangan remehkan amalan kecil yang dijaga. Yang sedikit tetapi terus-menerus lebih menguatkan perjalanan seorang hamba daripada semangat besar yang segera terputus.3. Perbarui niat sebelum memulai tugasSebelum visite, poli, tindakan, atau jaga, hadirkan niat dalam hati:“Ya Allah, saya menjalankan tugas ini untuk menunaikan amanah, menolong hamba-Mu, mencari rezeki yang halal, dan menjaga ilmu yang Engkau titipkan.”Niat ini hanya memerlukan beberapa detik, tetapi dapat mengubah arah satu hari penuh.4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademikJika belajar agama hanya menunggu waktu luang, ia sering kali tidak akan terlaksana. Pilih satu bentuk yang stabil: mengikuti kajian rutin mingguan, membaca satu kitab atau satu tema bersama teman, mendengarkan kajian saat perjalanan, atau menyediakan waktu keluarga untuk membaca Al-Qur’an dan membahas satu faedah agama.5. Jaga hak keluarga dan tubuhBerbakti kepada orang tua, hadir bagi pasangan, mendidik anak, tidur yang cukup, makan yang baik, serta menjaga kesehatan diri bukan lawan dari ibadah. Dalam banyak keadaan, itulah tuntutan ibadah yang paling tepat. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan SelamatAllah Ta‘ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sesungguhnya pahala kalian akan disempurnakan pada hari Kiamat. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)Definisi sukses seorang Muslim bukan hanya lulus tepat waktu, menjadi konsulen, memiliki publikasi, memperoleh jabatan, memiliki rumah, kendaraan, atau penghasilan yang baik. Semua itu adalah nikmat apabila digunakan untuk taat kepada Allah.Namun, sukses terbesar ialah selamat dari neraka dan masuk surga. Karena itu, jangan memilih antara menjadi dokter yang baik atau menjadi hamba Allah yang baik. Jadilah dokter yang baik karena Anda adalah hamba Allah.Mungkin kita tidak selalu mampu menambah banyak amalan sunnah setiap hari. Namun, kita selalu dapat bertanya,“Pada keadaan saya saat ini, apakah yang paling Allah ridhai dari saya?”Kadang jawabannya adalah shalat. Kadang jawabannya adalah menyelamatkan pasien. Kadang jawabannya adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Kadang jawabannya adalah meminta maaf kepada pasangan. Kadang jawabannya adalah pulang dan hadir untuk anak. Kadang jawabannya adalah berhenti sejenak, lalu bertaubat kepada Allah.Inilah jalan at-ta‘abbud al-muthlaq: menjadi hamba Allah dalam seluruh ruang kehidupan.Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang memperoleh kehidupan yang baik di dunia, diberi keberkahan dalam ilmu dan profesi, dijaga dalam amanah, serta dikumpulkan di surga-Nya.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)Baca pula pembahasan lengkap mengenai kaidah Ibnul Qayyim tentang ibadah yang paling utama: Ibadah Apa yang Paling Utama? Ini Jawaban Ibnul Qayyim. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  menuju Grand Rohan dalam acara pengajian FKKMK UGM, 13 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat amalan dokter dunia ibadah ibnul qayyim mencari nafkah niat profesi shalat


Segala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan.  Daftar Isi tutup 1. Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di Dunia 1.1. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan Pulang 1.2. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan Dunia 1.3. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas Profesi 1.4. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan Residen 1.5. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari Allah 1.6. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari 1.6.1. 1. Menunda belajar agama sampai tidak sibuk 1.6.2. 2. Mengira ibadah hanya amalan ritual 1.6.3. 3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhirat 1.6.4. 4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan Allah 1.7. Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah Kesibukan 1.7.1. 1. Jadikan shalat sebagai poros hari 1.7.2. 2. Miliki wirid kecil yang tidak putus 1.7.3. 3. Perbarui niat sebelum memulai tugas 1.7.4. 4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademik 1.7.5. 5. Jaga hak keluarga dan tubuh 1.8. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan Selamat  Dokter, Profesi, dan Akhirat: Jangan Hanya Sukses di DuniaSegala puji bagi Allah yang menjadikan dunia sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan. Menjadi dokter adalah profesi mulia, tetapi kesibukan pelayanan, belajar, dan mengejar karier jangan sampai melalaikan dari tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seorang Muslim tidak perlu memilih antara profesionalisme dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan seiring dengan niat yang benar serta prioritas yang tepat. Ibnul Qayyim rahimahullah mengajarkan bahwa ibadah terbaik ialah mengerjakan apa yang paling Allah ridhai sesuai tuntutan waktu dan keadaan. Jangan Sampai Berhasil dalam Profesi, tetapi Rugi dalam Perjalanan PulangMenjadi dokter adalah jalan yang mulia, tetapi juga penuh amanah dan tantangan. Ada pasien yang harus segera ditangani, ilmu yang harus dikejar, jadwal jaga malam, target akademik, tuntutan keluarga, serta kondisi fisik dan emosi yang tidak selalu baik.Berbagai kesibukan itu tentu ditempuh demi harapan yang baik: hidup yang layak, bermanfaat, dihormati, cukup secara ekonomi, dan bahagia. Namun, seorang Muslim perlu berhenti sejenak untuk bertanya,“Apakah saya hanya sedang membangun karier, atau juga sedang mempersiapkan untuk akhirat?”Allah Ta‘ala berfirman,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)Kehidupan yang baik (ḥayātan ṭayyibah) bukan berarti hidup tanpa jadwal padat, tanpa ujian, atau tanpa kelelahan. Bisa jadi seseorang sangat sibuk, tetapi hatinya lapang karena mengetahui untuk siapa ia bekerja, bagaimana ia harus menjalankan amanah, dan kepada siapa ia akan kembali.Allah Ta‘ala juga berfirman,وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ“Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘lā: 17)Karena itu, bahagia di dunia bukan berarti menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasilnya. Islam Tidak Menyuruh Meninggalkan DuniaIslam tidak memerintahkan kita meninggalkan profesi, ilmu, atau pencapaian duniawi. Allah Ta‘ala berfirman,وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 77)Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat tersebut,اِسْتَعْمِلْ مَا وَهَبَكَ اللَّهُ مِنْ هَذَا الْمَالِ الْجَزِيلِ وَالنِّعْمَةِ الطَّائِلَةِ، فِي طَاعَةِ رَبِّكَ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِأَنْوَاعِ الْقُرُبَاتِ، الَّتِي يَحْصُلُ لَكَ بِهَا الثَّوَابُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ. ““Gunakanlah harta yang melimpah dan berbagai nikmat besar yang Allah anugerahkan kepadamu untuk menaati Rabbmu. Dekatkanlah dirimu kepada-Nya melalui beragam amal kebaikan, yang dengannya engkau akan memperoleh pahala di negeri akhirat.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37).Ayat ini sangat tepat menjadi pedoman bagi seorang dokter dan penuntut ilmu. Islam tidak mencela seseorang yang belajar hingga menjadi ahli, bekerja keras, memperoleh penghasilan halal, memiliki kedudukan profesional, serta membangun keluarga yang layak.Yang berbahaya adalah ketika semua itu berubah menjadi pusat kehidupan. Shalat dianggap mengganggu jadwal, Al-Qur’an selalu ditunda, keluarga hanya mendapatkan sisa tenaga, dan kematian tidak lagi dipersiapkan.Nabi Muhammad ﷺ bersabda,إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Pekerjaan yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah.AktivitasBila hanya untuk duniaBila diniatkan karena AllahBelajar ilmu penyakit dalamSekadar mengejar gelar dan posisiMenjadi ahli agar dapat menolong manusia dengan amanahMenangani pasienRutinitas kerjaMenunaikan amanah, berbuat ihsan, dan meringankan kesulitanMencari nafkahMengumpulkan hartaMenjaga diri dan keluarga dari meminta-minta serta memperluas manfaatMengajar juniorMenunjukkan kepandaianMenyebarkan ilmu yang benar dan menjaga keselamatan pasienNiat bukan sekadar kalimat yang diucapkan di awal. Niat harus dibuktikan dengan cara bekerja yang halal, jujur, teliti, tidak meremehkan pasien, dan tidak mengorbankan kewajiban kepada Allah. Jangan Memisahkan Ibadah dan Tugas ProfesiSebagian orang merasa bersalah ketika sibuk menolong pasien karena tidak sempat memperbanyak amalan sunnah tertentu. Sebaliknya, ada pula yang begitu sibuk dengan profesi hingga menganggap shalat, Al-Qur’an, dan belajar agama sekadar urusan tambahan.Dua cara pandang ini perlu diluruskan.Tugas profesi yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi jalan ibadah. Akan tetapi, tugas itu tidak boleh membuat seseorang meremehkan kewajiban yang lebih pokok: mentauhidkan Allah, menjaga shalat, menjauhi yang haram, berlaku amanah, dan menunaikan hak keluarga.Di sinilah nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah sangat indah. Beliau menjelaskan,إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ“Ibadah yang paling utama adalah melakukan amal yang mendatangkan keridaan Allah pada setiap waktu, yaitu dengan mengerjakan apa yang menjadi tuntutan dan tugas pada waktu tersebut.”Beliau juga berkata,فَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ“Amal yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan yang sesuai dengannya.”Inilah yang disebut Ibnul Qayyim sebagai,التَّعَبُّدُ الْمُطْلَقُPenghambaan yang menyeluruh.Penghambaan tidak hanya tampak saat di masjid, ketika umrah, atau ketika membaca Al-Qur’an. Seorang hamba tetap beribadah kepada Allah saat visite, menangani pasien kritis, menjalani jaga malam, menghadapi senior atau junior, bersama pasangan dan anak, bahkan ketika sendirian.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ، وَالْأَصْنَافُ قَبْلَهُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُقَيَّدِ“Mereka inilah orang-orang yang memiliki penghambaan yang menyeluruh. Adapun kelompok-kelompok sebelumnya adalah orang-orang yang membatasi penghambaan pada bentuk tertentu.”Seorang hamba tidak hanya memilih ibadah yang paling disukai oleh dirinya. Ia berusaha mencari apa yang paling Allah ridhai pada keadaan yang sedang dihadapinya. Penerapan Kaidah Ibnul Qayyim bagi Dokter dan ResidenKaidah ini bukan berarti semua aktivitas profesi otomatis lebih utama daripada ibadah ritual. Yang benar, seorang Muslim melihat apa yang menjadi kewajiban dan tuntutan paling kuat pada saat itu.KeadaanIbadah atau tugas yang paling dituntutWaktu shalat tiba dan keadaan memungkinkanSegera menunaikan shalat dengan baikAda pasien gawat yang membutuhkan tindakan segeraMenolong sesuai kompetensi dan amanah, sambil tetap menjaga shalat sesuai kemampuan dan ketentuan syariatSedang belajar atau menangani pasienFokus, teliti, jujur, dan tidak ceroboh; ini bagian dari amanahPasien atau keluarga membutuhkan penjelasanMenjelaskan dengan empati, jujur, dan bahasa yang mudah dipahamiAda junior yang belum memahami suatu masalahMengajarkan ilmu yang benar dan membimbing dengan baikBersama pasangan, anak, atau orang tuaMenunaikan hak mereka; jangan seluruh tenaga habis untuk rumah sakitSelesai tugas atau ada waktu senggangMengisi dengan shalat sunnah, Al-Qur’an, zikir, doa, dan belajar agamaMenghadapi tekanan, konflik, atau perkataan yang menyakitkanMenahan diri, bersabar, menjaga lisan, dan tidak berlaku zalimMisalnya, seseorang senang membaca Al-Qur’an setelah Subuh. Itu amalan yang mulia. Namun, apabila pada waktu yang sama ada pasien yang membutuhkan penanganan segera sesuai tugasnya, maka menolong pasien adalah tuntutan yang lebih kuat pada saat itu.Akan tetapi, jangan pula kaidah ini dibalik. Kesibukan tidak boleh dijadikan alasan permanen untuk meninggalkan shalat, tidak pernah membaca Al-Qur’an, tidak belajar agama, atau melalaikan keluarga. Kaidah ini mengajarkan ketepatan prioritas, bukan pembenaran untuk terus sibuk. Pasien Bukan Sekadar Kasus, tetapi Amanah dari AllahNabi ﷺ bersabda,إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)Ihsan dalam profesi dokter tampak dalam banyak bentuk: mengkaji pasien dengan sungguh-sungguh, tidak meremehkan keluhan pasien, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, menjaga rahasia medis, jujur ketika menjelaskan kondisi pasien, dan tidak menggunakan kedudukan untuk merendahkan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya.Ihsan juga tampak ketika seseorang berani berkata, “Saya perlu berdiskusi atau mencari rujukan,” saat memang belum yakin. Tidak semua yang tidak diketahui harus ditutupi dengan gengsi.Nabi ﷺ juga bersabda,وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)Seorang dokter yang membantu mengurangi kesulitan pasien, membimbing keluarga pasien, mengajarkan junior, atau memudahkan urusan sejawatnya sedang membuka pintu pertolongan Allah untuk dirinya.Mungkin pasien lupa nama kita. Mungkin tidak semua terapi berhasil. Namun, tidak ada kebaikan yang hilang di sisi Allah apabila dilakukan dengan iman, ilmu, dan keikhlasan. Empat Kekeliruan yang Perlu Dihindari1. Menunda belajar agama sampai tidak sibukKesibukan biasanya tidak benar-benar selesai; ia hanya berganti bentuk. Saat menjadi residen, seseorang sibuk jaga dan ujian. Setelah menjadi konsulen, ia sibuk dengan pelayanan, penelitian, keluarga, dan amanah sosial.Belajar agama tidak harus dimulai dengan target besar. Mulailah dari majelis rutin, membaca sedikit tetapi konsisten, serta memperbaiki shalat.2. Mengira ibadah hanya amalan ritualShalat, puasa, zikir, dan tilawah adalah fondasi yang tidak boleh diremehkan. Namun, melayani pasien dengan ihsan, mencari ilmu yang bermanfaat, memberi nafkah kepada keluarga, serta menjaga amanah juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah.3. Mengira profesi mulia otomatis menjamin keselamatan akhiratKemuliaan profesi tidak menggugurkan kewajiban sebagai hamba. Ilmu kedokteran yang tinggi perlu disertai tawaduk. Otoritas profesional perlu disertai rasa takut kepada Allah. Kemampuan mengobati manusia perlu disertai kesadaran bahwa hidup dan mati berada di tangan Allah.4. Beribadah mengikuti selera, bukan tuntutan AllahAda orang yang senang dengan ibadah tertentu, tetapi lalai terhadap ibadah yang lebih wajib: berbakti kepada orang tua, memenuhi hak pasangan, menepati amanah, membantu orang yang sedang membutuhkan, atau menjaga shalat tepat waktu.Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hamba yang sempurna tidak terpaku pada satu bentuk ibadah saja. Tujuannya adalah mencari keridaan Allah di mana pun ia berada.Dalam ayat kita diperintahkan beribadah mengikuti tuntunan, bukan selera kita,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31) Jalan Praktis agar Istikamah di Tengah KesibukanJangan membuat target yang terlalu berat hingga berhenti di tengah jalan. Bangunlah “minimum ibadah harian” yang realistis dan tidak mudah ditinggalkan.1. Jadikan shalat sebagai poros hariJangan menjadikan shalat hanya jeda di sela pekerjaan. Jadikan pekerjaan tersusun mengelilingi shalat.Beberapa target sederhana yang dapat dijaga:Berusaha menunaikan shalat pada waktunya semampu mungkin.Berwudhu sebelum benar-benar terdesak.Mengetahui lokasi mushala terdekat.Saling mengingatkan antarresiden dengan cara yang baik.Bila ada keadaan klinis darurat, lakukan yang paling memungkinkan sesuai ketentuan syariat dan amanah pelayanan.Baca juga: Khutbah Jumat, Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat2. Miliki wirid kecil yang tidak putusTidak harus banyak, tetapi hendaknya konsisten. Misalnya, membaca doa pagi dan petang, beristighfar ketika berjalan antarruang, membaca satu halaman Al-Qur’an sebelum tidur atau setelah Subuh, serta membaca dan memahami satu ayat setiap hari.Jangan remehkan amalan kecil yang dijaga. Yang sedikit tetapi terus-menerus lebih menguatkan perjalanan seorang hamba daripada semangat besar yang segera terputus.3. Perbarui niat sebelum memulai tugasSebelum visite, poli, tindakan, atau jaga, hadirkan niat dalam hati:“Ya Allah, saya menjalankan tugas ini untuk menunaikan amanah, menolong hamba-Mu, mencari rezeki yang halal, dan menjaga ilmu yang Engkau titipkan.”Niat ini hanya memerlukan beberapa detik, tetapi dapat mengubah arah satu hari penuh.4. Jadwalkan belajar agama seperti jadwal akademikJika belajar agama hanya menunggu waktu luang, ia sering kali tidak akan terlaksana. Pilih satu bentuk yang stabil: mengikuti kajian rutin mingguan, membaca satu kitab atau satu tema bersama teman, mendengarkan kajian saat perjalanan, atau menyediakan waktu keluarga untuk membaca Al-Qur’an dan membahas satu faedah agama.5. Jaga hak keluarga dan tubuhBerbakti kepada orang tua, hadir bagi pasangan, mendidik anak, tidur yang cukup, makan yang baik, serta menjaga kesehatan diri bukan lawan dari ibadah. Dalam banyak keadaan, itulah tuntutan ibadah yang paling tepat. Puncak Kebahagiaan: Bertemu Allah dalam Keadaan SelamatAllah Ta‘ala berfirman,كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sesungguhnya pahala kalian akan disempurnakan pada hari Kiamat. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)Definisi sukses seorang Muslim bukan hanya lulus tepat waktu, menjadi konsulen, memiliki publikasi, memperoleh jabatan, memiliki rumah, kendaraan, atau penghasilan yang baik. Semua itu adalah nikmat apabila digunakan untuk taat kepada Allah.Namun, sukses terbesar ialah selamat dari neraka dan masuk surga. Karena itu, jangan memilih antara menjadi dokter yang baik atau menjadi hamba Allah yang baik. Jadilah dokter yang baik karena Anda adalah hamba Allah.Mungkin kita tidak selalu mampu menambah banyak amalan sunnah setiap hari. Namun, kita selalu dapat bertanya,“Pada keadaan saya saat ini, apakah yang paling Allah ridhai dari saya?”Kadang jawabannya adalah shalat. Kadang jawabannya adalah menyelamatkan pasien. Kadang jawabannya adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Kadang jawabannya adalah meminta maaf kepada pasangan. Kadang jawabannya adalah pulang dan hadir untuk anak. Kadang jawabannya adalah berhenti sejenak, lalu bertaubat kepada Allah.Inilah jalan at-ta‘abbud al-muthlaq: menjadi hamba Allah dalam seluruh ruang kehidupan.Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang memperoleh kehidupan yang baik di dunia, diberi keberkahan dalam ilmu dan profesi, dijaga dalam amanah, serta dikumpulkan di surga-Nya.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)Baca pula pembahasan lengkap mengenai kaidah Ibnul Qayyim tentang ibadah yang paling utama: Ibadah Apa yang Paling Utama? Ini Jawaban Ibnul Qayyim. —- Selesai ditulis di perjalanan dari Pondok Pesantren Darush Sholihin  menuju Grand Rohan dalam acara pengajian FKKMK UGM, 13 September 2026,  30 Rabiul Awal 1448 HPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat amalan dokter dunia ibadah ibnul qayyim mencari nafkah niat profesi shalat

Teman Baik dan Teman Buruk Menurut Ibnul Qayyim

Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk

Teman Baik dan Teman Buruk Menurut Ibnul Qayyim

Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk
Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk


Siapa yang paling sering bersama kita hari ini bisa ikut menentukan siapa diri kita di kemudian hari. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa maksiat dapat membuat seseorang menjauh dari orang-orang baik, lalu semakin dekat dengan lingkungan keburukan, bahkan hingga setan menjadi qarīn yang selalu menyertainya. Karena itu, memilih teman bukan sekadar memilih siapa yang nyaman diajak bersama, tetapi memilih ke arah mana hidup dan akhirat kita akan dibawa.  Daftar Isi tutup 1. Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang Baik 2. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain Aib 3. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa Biasa 4. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat Qarīn 5. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di Akhirat 6. Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi Menghibur 7. Kaidah Penting dalam Memilih Teman 8. Jangan Salah Memilih Teman Perjalanan  Pembahasan ini terutama dikembangkan dari poin “Maksiat Membuat Pelakunya Jauh dari Orang Baik” serta pembahasan tentang butanya hati dan qarīn dalam buku Dosa Itu Candu, yang merujuk pada Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’ karya Ibnul Qayyim.  Maksiat Bisa Menjauhkan Kita dari Orang BaikIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu dampak maksiat:الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَا سِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ.Artinya, “Ada rasa keterasingan yang muncul antara pelaku maksiat dengan manusia, terutama dengan orang-orang baik. Ia merasakan adanya jarak antara dirinya dengan mereka. Semakin kuat keterasingan tersebut, semakin jauh pula ia dari mereka dan dari majelis mereka. Ia pun terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman. Keterasingan ini terus menguat hingga dapat terjadi antara dirinya dengan istrinya, anaknya, kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Akhirnya, engkau melihatnya merasa asing terhadap dirinya sendiri.” (Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 85). Perhatikan kalimat Ibnul Qayyim:وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ“Ia terhalang dari keberkahan mengambil manfaat dari mereka, dan semakin dekat kepada kelompok setan sebanding dengan jauhnya ia dari kelompok Ar-Rahman.”Ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada rusaknya hubungan seorang hamba dengan Allah. Dosa dapat mengubah selera pergaulannya. Majelis orang baik mulai terasa berat, nasihat terasa mengganggu, sedangkan lingkungan yang dahulu ia hindari perlahan terasa nyaman.Karena itu, bila seseorang mulai tidak betah bersama orang-orang saleh, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka. Bisa jadi yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah keadaan hatinya sendiri. Ada Pertemanan yang Tidak Membawa Apa-Apa Selain AibDalam penjelasan lainnya, Ibnul Qayyim menyebut manusia yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Beliau berkata:الْقِسْمُ الثَّانِي: عَكْسُ هَؤُلَاءِ، مَنْ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ، وَلَا قُوَّةَ عَلَى تَنْفِيذِ الْحَقِّ، وَهُمْ أَكْثَرُ هَذَا الْخَلْقِ، وَهُمُ الَّذِينَ رُؤْيَتُهُمْ قَذَى الْعُيُونِ وَحُمَّى الْأَرْوَاحِ وَسَقَمُ الْقُلُوبِ، يُضَيِّقُونَ الدِّيَارَ وَيُغْلُونَ الْأَسْعَارَ، وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ.“Golongan kedua adalah kebalikan dari mereka, yaitu orang yang tidak memiliki pandangan hati dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan kebenaran. Mereka adalah kebanyakan manusia. Melihat mereka menjadi duri bagi mata, demam bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Mereka membuat tempat terasa sempit dan harga-harga menjadi mahal. Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Kalimat terakhirnya patut direnungkan:وَلَا يُسْتَفَادُ مِنْ صُحْبَتِهِمْ إِلَّا الْعَارُ وَالشَّنَارُ“Tidak ada yang diperoleh dari pergaulan dengan mereka selain aib dan cela.”Artinya, tidak setiap kebersamaan layak dipertahankan hanya karena sudah lama saling mengenal. Kita perlu menilai hasil dari sebuah pertemanan: apakah ia menambah ilmu, iman, akhlak, dan amal, atau justru membuat dosa semakin ringan dan rasa malu semakin hilang. Ketika Teman Buruk Membuat Keburukan Terasa BiasaPengaruh teman sering tidak datang dalam bentuk ajakan terang-terangan, “Mari bermaksiat.” Pengaruh itu bisa jauh lebih halus. Sesuatu yang dahulu dianggap buruk terus dilihat, didengar, dibicarakan, dan ditertawakan bersama sampai akhirnya terasa biasa.Di sinilah bahayanya sebuah lingkungan. Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.Seseorang mungkin pada awalnya merasa bersalah ketika meninggalkan shalat, membuka aurat, melihat yang haram, membicarakan aib orang lain, atau melakukan kemaksiatan lainnya. Namun ketika lingkungan menganggap semuanya biasa, sensitivitas hati perlahan berkurang.Sebaliknya, duduk bersama orang yang menjaga agamanya membuat seseorang lebih sering mendengar nasihat, melihat teladan, dan merasa malu ketika hendak melanggar batas Allah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu benteng penjaga hati. Dari Berpaling dari Petunjuk hingga Mendapat QarīnAllah Ta‘ala berfirman,وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ ۝ وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan menguasainya, maka jadilah setan itu teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila ia datang kepada Kami, ia berkata, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Maka engkau adalah seburuk-buruk teman.’ Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.” (QS. Az-Zukhruf: 36–39)Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,فَأَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ مَنْ عَشِيَ عَنْ ذِكْرِهِ، وَهُوَ كِتَابُهُ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَعَمِيَ عَنْهُ، وَعَشَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ وَمَعْرِفَةِ مُرَادِ اللَّهِ مِنْهُ، قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ شَيْطَانًا عُقُوبَةً لَهُ بِإِعْرَاضِهِ عَنْ كِتَابِهِ، فَهُوَ قَرِينُهُ الَّذِي لَا يُفَارِقُهُ فِي الْإِقَامَةِ وَلَا فِي الْمَسِيرِ، وَمَوْلَاهُ وَعَشِيرُهُ الَّذِي هُوَ بِئْسَ الْمَوْلَى وَبِئْسَ الْعَشِيرُ.“Allah Mahasuci memberitakan bahwa siapa yang berpaling dari mengingat-Nya—yaitu kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya—lalu berpaling darinya, buta darinya, dan pandangan hatinya tertutup dari memahami, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya, maka Allah menugaskan setan kepadanya sebagai hukuman atas sikap berpaling dari kitab-Nya. Setan itulah qarīn-nya yang tidak pernah berpisah, baik ketika menetap maupun dalam perjalanan. Ia menjadi pelindung dan teman dekatnya; sungguh ia adalah seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.” Perhatikan urutannya. Seseorang berpaling dari petunjuk, lalu mendapat qarīn yang buruk. Qarīn tersebut kemudian semakin menghalanginya dari petunjuk, tetapi orang itu justru menyangka dirinya masih berada di jalan yang benar.Ini jauh lebih menakutkan daripada sekadar melakukan kesalahan. Ia salah, tetapi tidak lagi merasa salah. Teman yang Menyenangkan di Dunia Bisa Disesali di AkhiratIbnul Qayyim melanjutkan,ثُمَّ أَخْبَرَ سُبْحَانَهُ أَنَّ الشَّيْطَانَ يَصُدُّ قَرِينَهُ وَوَلِيَّهُ عَنْ سَبِيلِهِ الْمُوَصِّلِ إِلَيْهِ وَإِلَى جَنَّتِهِ، وَيَحْسَبُ هَذَا الضَّالُّ الْمَصْدُودُ أَنَّهُ عَلَى طَرِيقِ هُدًى، حَتَّى إِذَا جَاءَ الْقَرِينَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: ﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ كُنْتَ لِي فِي الدُّنْيَا، أَضْلَلْتَنِي عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي، وَصَدَدْتَنِي عَنِ الْحَقِّ وَأَغْوَيْتَنِي حَتَّى هَلَكْتُ، وَبِئْسَ الْقَرِينُ أَنْتَ لِي الْيَوْمَ.“Kemudian Allah Mahasuci memberitakan bahwa setan menghalangi teman dekat dan pengikutnya dari jalan yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya. Namun orang sesat yang dihalangi itu menyangka bahwa dirinya berada di jalan petunjuk. Hingga ketika kedua teman dekat itu datang pada hari Kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain, ‘Aduhai, sekiranya jarak antara aku dan engkau seperti jarak antara timur dan barat. Sungguh buruk engkau sebagai teman.’ Engkau dahulu menjadi temanku di dunia. Engkau menyesatkanku dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran, dan menyesatkanku hingga aku binasa. Sungguh buruk engkau sebagai teman bagiku hari ini.” Di dunia mungkin ia berkata, “Dia teman paling seru.” Namun di akhirat ia berkata, “Seandainya jarak antara aku dan engkau sejauh timur dan barat.”Karena itu, ukuran teman bukan hanya seberapa banyak ia membuat kita tertawa, membantu urusan dunia, atau menemani saat kesepian. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah lama bersamanya, ke mana agama kita bergerak? Bersama-Sama dalam Azab Tidak Lagi MenghiburAda orang yang merasa ringan melakukan keburukan karena banyak orang melakukan hal yang sama. “Teman-teman saya juga begitu,” katanya. Kebersamaan itu seolah menjadi pembenaran.Ibnul Qayyim menerangkan,وَلَمَّا كَانَ الْمُصَابُ إِذَا شَارَكَهُ غَيْرُهُ فِي مُصِيبَةٍ، حَصَلَ لَهُ بِالتَّأَسِّي نَوْعُ تَخْفِيفٍ وَتَسْلِيَةٍ، أَخْبَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَوْجُودٍ وَغَيْرُ حَاصِلٍ فِي حَقِّ الْمُشْتَرِكِينَ فِي الْعَذَابِ، وَأَنَّ الْقَرِينَ لَا يَجِدُ رَاحَةً وَلَا أَدْنَى فَرَحٍ بِعَذَابِ قَرِينِهِ مَعَهُ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَصَائِبُ فِي الدُّنْيَا إِذَا عَمَّتْ صَارَتْ مَسْلَاةً.“Orang yang tertimpa musibah, apabila ada orang lain yang mengalami musibah bersamanya, biasanya mendapatkan sedikit keringanan dan hiburan karena ada orang lain yang bernasib sama. Namun Allah Mahasuci memberitakan bahwa hal ini tidak ada bagi orang-orang yang bersama-sama dalam azab. Seorang qarīn tidak memperoleh kenyamanan, bahkan tidak sedikit pun kegembiraan, karena qarīn-nya juga diazab bersamanya, meskipun musibah dunia apabila menimpa banyak orang biasanya menjadi penghibur.”Kemudian Ibnul Qayyim berkata,فَمَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذَا الْقَدْرَ مِنَ الرَّاحَةِ عَلَى أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ:﴿وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka Allah Mahasuci meniadakan bentuk keringanan ini dari penghuni neraka. Allah berfirman, ‘Pada hari ini tidak berguna bagi kalian bahwa kalian bersama-sama dalam azab, karena kalian telah berbuat zalim.’” (QS. Az-Zukhruf: 39). Betapa penting pelajaran ini. Banyaknya orang yang melakukan kesalahan tidak pernah mengubah kesalahan menjadi kebenaran. Dan banyaknya teman dalam sebuah maksiat tidak akan membuat akibat maksiat menjadi lebih ringan di akhirat. Kaidah Penting dalam Memilih TemanDari penjelasan Ibnul Qayyim di atas, ada beberapa kaidah kehidupan yang layak terus diingat:Temanmu hari ini bisa menjadi arah hidupmu esok hari. Pertemanan tidak hanya mengisi waktu, tetapi perlahan membentuk selera, kebiasaan, cara berpikir, dan pilihan hidup.Teman yang baik bukan hanya membuatmu nyaman bersamanya, tetapi membuatmu nyaman dalam ketaatan. Ukur pertemanan dari pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan Allah.Jika nasihat mulai terasa mengganggu dan lingkungan maksiat justru terasa nyaman, periksalah hatimu.Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat dapat menimbulkan wahsyah terhadap ahlul-khair.Apa yang terus dilihat akan terasa biasa, dan siapa yang terus ditemani akan ikut membentuk diri. Karena itu, lingkungan dapat mengubah standar tentang apa yang dianggap baik dan buruk.Bahaya teman buruk bukan hanya karena ia mengajak berbuat dosa, tetapi karena bersamanya dosa tidak lagi terasa buruk. Ketika rasa bersalah menghilang, benteng hati mulai runtuh.Teman sejati bukan selalu yang membenarkan kita, tetapi yang membantu kita kembali kepada kebenaran.Nasihat yang tidak enak didengar terkadang jauh lebih berharga daripada pujian yang menjerumuskan.Jangan hanya menjauhi teman buruk; carilah lingkungan baik sebagai penggantinya. Kosongnya lingkungan baik mudah memberi ruang kepada lingkungan yang buruk.Jangan hanya bertanya siapa yang membuat kita tertawa, tetapi siapa yang menjaga kita agar tidak menangis di akhirat. Kenyamanan dunia bukan ukuran terakhir sebuah persahabatan.Sebelum mencari teman yang membawa kita kepada kebaikan, jadilah teman yang membawa orang lain kepada kebaikan. Tanyakan: setelah orang lain berteman dengan kita, apakah agamanya menjadi lebih baik?Pertemanan layak dipertahankan selama tidak mengorbankan agama. Tidak semua yang disebut loyalitas adalah kebaikan jika akhirnya membuat seseorang semakin jauh dari Allah.Maka satu pertanyaan sederhana bisa menjadi alat evaluasi pertemanan: “Setelah sering bersamanya, saya semakin mudah taat atau semakin mudah bermaksiat?”Jawabannya sering kali sudah cukup untuk menunjukkan apakah sebuah pertemanan perlu didekatkan, dibatasi, atau diperbaiki. Jangan Salah Memilih Teman PerjalananKita hidup pada masa ketika “teman” tidak lagi hanya orang yang duduk bersama secara fisik; apa yang terus kita ikuti, tonton, dengarkan, dan baca setiap hari juga dapat membentuk hati sebagaimana lingkungan pergaulan. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena tidak mempunyai teman buruk di sekitar kita, sementara hati setiap hari ditemani konten yang membuat dosa terasa ringan. Teman yang baik akan membantu kita pulang kepada Allah ketika mulai jauh, sedangkan teman yang buruk bisa membuat kita merasa baik-baik saja ketika sebenarnya sedang tersesat. Jangan hanya mencari teman yang membuat kita tertawa di dunia; carilah teman yang tidak membuat kita menyesal di akhirat.Semoga Allah memberi kita teman-teman yang menjadi sebab bertambahnya iman dan ketaatan. Kita dapat berdoa:اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ، وَأَعِذْنَا مِنْ قُرَنَاءِ السُّوءِ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.Allāhummarzuqnā ṣuḥbataṣ-ṣāliḥīn, waj‘alnā minaṣ-ṣāliḥīn, wa a‘idznā min quranā’is-sū’, wahdinā subulas-salām.“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami persahabatan dengan orang-orang saleh, jadikanlah kami termasuk orang-orang saleh, lindungilah kami dari teman-teman yang buruk, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.” —- @ Soekarno Hatta, 17 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsdosa hati hijrah ibnul qayyim maksiat nasihat islam pergaulan sahabat teman baik teman buruk

10 Kiat Orang Tua Menjaga Anak dari Dampak Buruk Maksiat

Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat

10 Kiat Orang Tua Menjaga Anak dari Dampak Buruk Maksiat

Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat
Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat


Maksiat ternyata tidak selalu berhenti pada orang yang melakukannya; keburukannya dapat merembet kepada keluarga bahkan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, tugas orang tua bukan hanya membuat anak pintar dan berhasil di dunia, tetapi juga menjaga agar dosa tidak tumbuh, dianggap biasa, lalu menjadi budaya di dalam rumah. Lantas, apa yang bisa dilakukan ayah dan ibu agar rumah menjadi tempat tumbuhnya ketaatan dan perbaikan?  Daftar Isi tutup 1. Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk Lain 2. Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan Pribadi 3. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga Keluarganya 3.1. 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki Dirinya 4. 2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di Rumah 4.1. 3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi Besar 4.2. 4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk Bermaksiat 4.3. 5. Kenali Teman dan Lingkungan Anak 4.4. 6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang Salah 4.5. 7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan Haram 4.6. 8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki Kesalahan 4.7. 9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya Rumah 4.8. 10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi Muslih 5. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat Musibah 6. Tiga Benteng Keluarga  Dosa Bisa Berdampak kepada Makhluk LainIbnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan dampak buruk dosa berkata,وَمِنْهَا: أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ يَعُودُ عَلَيْهِ شُؤْمُ ذَنْبِهِ، فَيَحْتَرِقُ هُوَ وَغَيْرُهُ بِشُؤْمِ الذُّنُوبِ وَالظُّلْمِ.“Di antara akibat dosa adalah dampak buruknya kembali mengenai manusia lain dan hewan-hewan. Pelaku dan selain dirinya dapat terkena akibat buruk dosa dan kezaliman.”Kemudian beliau menukil perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,إِنَّ الْحُبَارَى لَتَمُوتَ فِي وَكْرِهَا مِنْ ظُلْمِ الظَّالِمِ.“Bahkan burung hubara dapat mati di sarangnya akibat kezaliman orang yang zalim.”Mujahid rahimahullah berkata,إِنَّ الْبَهَائِمَ تَلْعَنُ عُصَاةَ بَنِي آدَمَ إِذَا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ، وَأُمْسِكَ الْمَطَرُ، وَتَقُولُ: هَذَا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ.“Sesungguhnya hewan-hewan melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Adam ketika paceklik semakin berat dan hujan tertahan. Mereka mengatakan, ‘Ini adalah akibat buruk maksiat anak Adam.’”‘Ikrimah rahimahullah juga berkata,دَوَابُّ الْأَرْضِ وَهَوَامُّهَا حَتَّى الْخَنَافِسُ وَالْعَقَارِبُ، يَقُولُونَ: مُنِعْنَا الْقَطْرَ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ.“Hewan-hewan bumi dan binatang-binatang kecilnya, sampai kumbang dan kalajengking, berkata, ‘Kami terhalangi dari hujan karena dosa-dosa anak Adam.’”Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,فَلَا يَكْفِيهِ عِقَابُ ذَنْبِهِ، حَتَّى يَلْعَنَهُ مَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.“Tidak cukup baginya hukuman akibat dosanya, hingga makhluk yang tidak berdosa pun melaknatnya.”Lihat Al-Jawāb Al-Kāfī liman Sa’ala ‘an Ad-Dawā’ Asy-Syāfī atau yang populer dengan judul Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’. Bahasan dampak buruk dosa sudah kami sajikan di buku kami “Dosa itu Candu” diambil dari bahasan Ibnul Qayyim dalam Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.  Dosa Tidak Selalu Menjadi Urusan PribadiNabi ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui perumpamaan sebuah kapal.Beliau ﷺ bersabda tentang sekelompok orang yang mendapatkan tempat di bagian atas dan bawah kapal. Orang-orang di bawah ingin melubangi bagian kapal mereka sendiri agar mudah mengambil air. Nabi ﷺ kemudian bersabda,فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.“Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka kehendaki, semuanya akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, mereka akan selamat dan semuanya pun selamat.” (HR. Bukhari, no. 2493)Baca juga: Mengingkari Kemungkaran Biar Selamat dari Tenggelamnya KapalOrang yang melubangi kapal mungkin berkata, “Saya hanya melubangi bagian saya sendiri.” Namun, air yang masuk tidak hanya menenggelamkan dirinya.Begitulah sebagian maksiat. Seseorang mungkin berkata, “Ini hidup saya”, “Ini HP saya”, atau “Ini urusan pribadi saya.” Padahal ketika dosa tumbuh dalam keluarga, dampaknya bisa mengenai pasangan, anak, saudara, bahkan generasi berikutnya. Agar Tak Terkena Musibah, Orang Tua Bertanggung Jawab Menjaga KeluarganyaAllah Ta‘ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)Nabi ﷺ juga bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ.“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)Seorang رَاعِي الغَنَمِ, penggembala kambing, tidak hanya berjalan di depan kambing. Ia mempunyai beberapa tugas sekaligus: menjaga kawanan agar tidak hilang, mencari tempat yang baik, melindungi dari bahaya, mengembalikan yang tersesat, memastikan kebutuhan kawanan terpenuhi, dan mempertanggungjawabkan kawanan yang dititipkan kepadanya.Dari analogi رَاعٍ (rā‘in) sebagai penggembala, dapat disimpulkan ada enam tugas utama kepala keluarga sebagai pemimpin:Menjaga keluarga agar tidak rusak atau “hilang” dari jalan yang benar.Mengarahkan kepada kebaikan, sebagaimana penggembala mencari tempat terbaik bagi gembalaannya.Melindungi dari bahaya, baik bahaya agama, akhlak, pergaulan, maupun bahaya duniawi.Mengembalikan ketika ada yang menyimpang, dengan nasihat, pendidikan, dan pembinaan.Memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk nafkah, pendidikan, perhatian, dan kebutuhan yang menjadi kewajibannya.Mempertanggungjawabkan amanah, karena seorang rā‘in akan ditanya tentang ra‘iyyah-nya.Jadi, makna kepala keluarga sebagai رَاعٍ bukan sekadar “orang yang berkuasa di rumah”, tetapi: menjaga, mengarahkan, melindungi, memperbaiki, memenuhi kebutuhan, dan mempertanggungjawabkan.Berarti ayah tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah mencari nafkah.”Ibu pun tidak cukup berkata, “Saya sudah menyiapkan makanan dan mengurus sekolah anak.”Ada amanah yang lebih besar: ke mana agama anak-anak kita sedang berjalan?Baca juga: Kepala Keluarga Idaman (Materi Khutbah Jumat) 1. Orang Tua Harus Memulai dari Memperbaiki DirinyaSebelum bertanya, “Kenapa anak saya sulit dinasihati?”, orang tua perlu bertanya terlebih dahulu, “Apakah anak sedang meniru kesalahan saya?”Sulit meminta anak menjaga shalat jika orang tua sendiri meremehkannya. Sulit melarang anak berkata kasar jika setiap hari ia mendengar perkataan kasar di rumah. Sulit meminta anak meninggalkan gawai ketika ayah dan ibunya sendiri tidak bisa meletakkan HP ketika sedang berkumpul bersama keluarga.Pendidikan paling kuat sering kali bukan perkataan, tetapi keteladanan yang dilihat setiap hari.Karena itu, perbaikan anak dimulai dengan perbaikan orang tua.2. Jadikan Shalat sebagai Perkara Besar di RumahAllah Ta‘ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)Baca juga: Khutbah Jumat: Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa ShalatPerhatikan kata,وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam menjaganya.”Mendidik anak shalat memang memerlukan kesabaran dan pengulangan.Nabi ﷺ bersabda,– مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Apabila pada usia sepuluh tahun mereka masih meninggalkan shalat, berikanlah tindakan disiplin kepada mereka. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 495; dinilai hasan sahih oleh Al-Albani)Hadits ini menunjukkan bahwa pendidikan shalat dilakukan secara bertahap sebelum anak mencapai usia balig, bukan baru dimulai ketika ia sudah dewasa.Praktiknya, ketika azan berkumandang, orang tua hendaknya tidak hanya berteriak dari jauh, “Ayo shalat!”, sementara dirinya masih asyik dengan HP.Berhentikan aktivitas. Ambil wudhu. Ajak anak shalat.Biarkan anak melihat bahwa shalat memang menjadi prioritas keluarga ini.3. Jangan Menunggu Kesalahan Anak Menjadi BesarHari ini anak berbohong kecil lalu dibiarkan. Besok kebohongan menjadi kebiasaan.Hari ini anak berkata kasar lalu ditertawakan. Besok ia kehilangan adab kepada orang tua.Hari ini anak melihat konten buruk lalu tidak ada yang menegur. Besok hatinya mulai terbiasa dengan kemungkaran.Nabi ﷺ bersabda,مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ.“Siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya.” (HR. Muslim, no. 49)Dalam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dan kewenangan pendidikan yang lebih besar. Karena itu, padamkan percikan sebelum menjadi kebakaran.4. Jangan Justru Memberikan Sarana untuk BermaksiatAllah Ta‘ala berfirman,وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Janganlah kalian saling membantu dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)Di zaman sekarang, ayat ini perlu direnungkan oleh setiap orang tua.Orang tua membelikan HP, menyediakan Wi-Fi, memberi uang saku, membayar langganan aplikasi, dan menyediakan berbagai fasilitas. Namun setelah itu, jangan sampai orang tua sama sekali tidak mengetahui untuk apa semuanya digunakan.Bukan berarti anak harus dicurigai sepanjang waktu. Akan tetapi, fasilitas harus sebanding dengan kesiapan dan tanggung jawab anak.Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah anak saya sudah punya HP?” Namun, “Apakah ia sudah mampu menggunakan HP tanpa merusak agamanya?”5. Kenali Teman dan Lingkungan AnakAnak tidak hanya dididik oleh ayah dan ibunya.Ia juga “dididik” oleh teman-temannya, sekolahnya, tontonan yang dilihatnya, akun yang diikutinya, figur yang dikaguminya, serta berbagai konten yang masuk ke dalam pikirannya setiap hari.Karena itu, jangan sampai orang tua tahu nilai matematika anak sampai detail, tetapi tidak tahu siapa teman dekatnya.Ketahui dengan siapa anak sering pergi. Kenali teman-temannya. Bangun komunikasi sehingga anak nyaman bercerita, bukan hanya takut diperiksa.Semakin besar usia anak, pengawasan pun perlu berkembang: dari pengawasan langsung menuju pembentukan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan.6. Jangan Membela Anak Ketika Anak Memang SalahCinta kepada anak bukan berarti selalu membelanya.Jika anak melakukan bullying, jangan salahkan korbannya hanya untuk menjaga nama baik anak. Jika anak mengambil milik orang lain, jangan menutupinya. Jika anak berbohong kepada guru, jangan orang tua malah membantu membuat alasan palsu.Ajarkan anak bahwa kesalahan mempunyai konsekuensi.Jika mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika menyakiti orang, minta maaf. Jika merusak sesuatu, bertanggung jawablah.Karena membela anak dalam kezaliman bukanlah kasih sayang.Kasih sayang yang benar adalah menyelamatkan anak dari menjadi orang zalim.7. Ayah dan Ibu Harus Sepakat dalam Batas Halal dan HaramPendidikan menjadi sulit ketika ayah mengatakan “tidak boleh”, lalu anak datang kepada ibu dan mendapat jawaban “boleh”.Anak akhirnya belajar bukan tentang benar dan salah, tetapi belajar mencari orang tua mana yang paling mudah memberikan izin.Ayah dan ibu perlu memiliki kesepakatan dalam prinsip-prinsip utama rumah: shalat, adab, penggunaan gawai, tontonan, jam pulang, pergaulan, uang saku, dan batas halal-haram.Allah menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya,يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat, perintahkanlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang penting.”(QS. Luqmān: 17)Maka anak perlu mengetahui, “Keluarga kami mempunyai nilai yang tidak boleh dijual hanya karena mengikuti teman.”8. Biasakan Anak Bertaubat dan Memperbaiki KesalahanRumah yang saleh bukan rumah yang seluruh penghuninya tidak pernah berbuat salah.Tidak ada keluarga seperti itu.Rumah yang baik adalah rumah tempat orang-orang yang berbuat salah belajar segera kembali kepada Allah.Allah menceritakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salam,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ“Aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian dan memperbanyak harta serta anak-anak kalian.’” (QS. Nūḥ: 10–12)Ajarkan pola sederhana kepada anak:berdosa → bertaubat,menyakiti → meminta maaf,mengambil hak → mengembalikan,meninggalkan kewajiban → segera memperbaiki.Dengan begitu, anak memahami bahwa istighfar bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan.9. Jangan Membiarkan Maksiat Menjadi Budaya RumahZainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ,أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟“Apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami terdapat orang-orang saleh?”Nabi ﷺ menjawab,نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.“Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perhatikan, masalahnya bukan bahwa manusia tidak pernah berbuat dosa. Semua manusia memiliki kekurangan.Masalah menjadi semakin berat ketika kesalahan dibiarkan, dianggap lucu, dibenarkan, lalu menjadi budaya.Karena itu, jangan biasakan rumah dengan ghibah. Jangan menganggap kebohongan kecil sesuatu yang lucu. Jangan membiarkan penghinaan antara kakak dan adik. Jangan menormalisasi tontonan haram hanya karena “semua teman anak juga menontonnya”.Rumah harus menjadi tempat yang membantu penghuninya mengingat Allah, bukan tempat yang membuat dosa terasa biasa.10. Jangan Hanya Mendidik Anak Menjadi Saleh, Didiklah Menjadi MuslihAllah Ta‘ala berfirman,وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hūd: 117)Ada pelajaran indah dari kata,مُصْلِحُونَyaitu orang-orang yang melakukan perbaikan.Cita-cita orang tua jangan berhenti pada,“Semoga anak saya menjadi anak baik.”Naikkan cita-cita itu menjadi,“Semoga anak saya menjadi anak saleh yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain.”Ia menjaga shalat dan mengingatkan saudaranya shalat. Ia tidak membully dan berani tidak ikut ketika teman-temannya membully. Ia tidak menyontek dan tidak membantu temannya menyontek. Ia menjaga lisannya dan tidak ikut menyebarkan aib di grup pertemanan.Inilah anak yang bukan hanya صَالِحٌ—baik untuk dirinya—tetapi juga berusaha menjadi مُصْلِحٌ—membawa perbaikan. Jangan Salah Memahami: Orang Saleh Tetap Bisa Mendapat MusibahPembahasan tentang dampak buruk maksiat jangan sampai membuat kita menyimpulkan bahwa setiap musibah pasti merupakan hukuman karena dosa tertentu.Kesimpulan seperti ini tidak benar.Nabi ﷺ justru ditanya,أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”Beliau ﷺ menjawab,الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ.“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang semisalnya.” (HR. Tirmidzi; hadits sahih)Maka ketaatan bukan jaminan bahwa sebuah keluarga tidak akan pernah mengalami sakit, kehilangan, kecelakaan, kesulitan ekonomi, atau musibah lainnya.Yang kita lakukan adalah menjauhi sebab-sebab datangnya murka Allah, memperbanyak sebab-sebab keberkahan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tiga Benteng KeluargaSeluruh pembahasan di atas dapat diringkas menjadi tiga benteng:صَلَاحُ الْوَالِدَيْنِOrang tua memperbaiki dirinya.تَرْبِيَةُ الْأَوْلَادِ عَلَى الطَّاعَةِOrang tua mendidik anak-anak dalam ketaatan.الْإِصْلَاحُ وَمَنْعُ الْمُنْكَرِ فِي الْبَيْتِOrang tua melakukan perbaikan dan tidak membiarkan kemungkaran tumbuh di rumah.Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada anak saya?”Tanyakan pula, “Dosa apa yang sedang saya cegah agar tidak tumbuh dalam diri anak saya?” Semoga Allah menjaga keluarga kita.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَعَاصِي، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ تَرْبِيَتِهِمْ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ صَلَاحٍ وَإِصْلَاحٍ.Allāhumma aṣliḥ lanā dzurriyyātinā, waḥfaẓ ahlanā minal-fitani wal-ma‘āṣī, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni tarbiyatihim, waj‘al buyūtanā buyūta ṣalāḥin wa iṣlāḥ.“Ya Allah, perbaikilah keturunan kami, jagalah keluarga kami dari berbagai fitnah dan kemaksiatan, bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendidik mereka dengan baik, serta jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi kesalehan dan perbaikan.” —- Perjalanan Banaran Playen menuju ke Majelis Shafiyah Shalehah @ Kotagede Jogja, 3 Rabiul Akhir 1448 H, 16 September 2026Penulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAd-Daa wad Dawaa amar makruf nahi mungkar anak saleh dosa dosa itu candu faedah dari Ibnul Qayyim ibnul qayyim keluarga muslim maksiat nasihat ibnul qayyim orang tua parenting Islami pendidikan anak shalat taubat

Hartamu Habis di Mana? Nasihat Ibnul Qayyim tentang Harta

Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah

Hartamu Habis di Mana? Nasihat Ibnul Qayyim tentang Harta

Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah
Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah


Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftāḥ Dār As-Sa‘ādah ketika beliau menguraikan wasiat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.  Daftar Isi tutup 1. Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup 2. Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta? 3. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan 4. Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat 5. Hartamu Diam-Diam Berdakwah 6. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas 7. Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan 8. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki 9. Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban 10. Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang 11. Jadi, Hartamu Habis di Mana? 12. Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta 13. Nasihat Terakhir  Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan HidupBekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:الصِّنْفُ الرَّابِعُ: مَنْ حِرْصُهُ وَهِمَّتُهُ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَتَثْمِيرِهَا وَادِّخَارِهَا، فَقَدْ صَارَتْ لَذَّتُهُ فِي ذَلِكَ، وَفَنِيَ بِهَا عَمَّا سِوَاهَا، فَلَا يَرَى شَيْئًا أَطْيَبَ لَهُ مِمَّا هُوَ فِيهِ، فَأَيْنَ هَذَا وَدَرَجَةُ الْعِلْمِ؟!“Golongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?”Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah? Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْمَالَ يَسْتَعْبِدُ مُحِبَّهُ وَصَاحِبَهُ، فَيَجْعَلُهُ عَبْدًا لَهُ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ…» الْحَدِيثَ، وَالْعِلْمُ يَسْتَعْبِدُهُ لِرَبِّهِ وَخَالِقِهِ، فَهُوَ لَا يَدْعُوهُ إِلَّا إِلَى عُبُودِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ.“Harta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah budak dinar dan dirham….’ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.”Ini merupakan poin ke-12, “Ilmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Dunia”.Maka pertanyaannya bukan hanya, “Berapa harta yang kita miliki?” Namun juga, “Siapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?”Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya. Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu KeburukanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:أَنَّ حُبَّ الْعِلْمِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ، وَحُبَّ الدُّنْيَا وَالْمَالِ وَطَلَبَهُ أَصْلُ كُلِّ سَيِّئَةٍ.“Cinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.”Ini terdapat pada poin ke-13, “Ilmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukan”.Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ḥubbud-dunyā, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.Maka kaidahnya:Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan. Harta Bisa Menjadi Kendaraan MaksiatIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّهُ مَا أَطَاعَ اللَّهَ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا بِالْعِلْمِ، وَعَامَّةُ مَنْ يَعْصِيهِ إِنَّمَا يَعْصِيهِ بِالْمَالِ.“Tidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.”Ini terdapat pada poin ke-17, “Ilmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiat”.Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.Karena itu:Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa. Hartamu Diam-Diam BerdakwahCara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ الْعَالِمَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللَّهِ بِعِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَجَامِعَ الْمَالِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الدُّنْيَا بِحَالِهِ وَمَالِهِ.“Seorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.”Ini dibahas pada poin ke-18, “Ilmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Dunia”.Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.Karena itu:Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia. Harta Menjadi Mulia Justru Ketika DilepasAda satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يُمْدَحُ صَاحِبُهُ بِتَخَلِّيهِ مِنْهُ وَإِخْرَاجِهِ، وَالْعِلْمُ إِنَّمَا يُمْدَحُ بِتَحَلِّيهِ بِهِ وَاتِّصَافِهِ بِهِ.“Pemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.”Ini adalah poin ke-23, “Ilmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepas”.Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu? Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak KetakutanIbnul Qayyim rahimahullah berkata:أَنَّ غِنَى الْمَالِ مَقْرُونٌ بِالْخَوْفِ وَالْحُزْنِ، فَهُوَ حَزِينٌ قَبْلَ حُصُولِهِ، خَائِفٌ بَعْدَ حُصُولِهِ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ الْخَوْفُ أَقْوَى، وَغِنَى الْعِلْمِ مَقْرُونٌ بِالْأَمْنِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ.“Kekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.”Ini terdapat pada poin ke-24, “Ilmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutan”.Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.Maka:Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya. Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah DimilikiInilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema “Hartamu Habis di Mana?”Beliau berkata:أَنَّ جَمْعَ الْمَالِ مَقْرُونٌ بِثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ مِنَ الْآفَاتِ وَالْمِحَنِ: نَوْعٌ قَبْلَهُ، وَنَوْعٌ عِنْدَ حُصُولِهِ، وَنَوْعٌ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ.فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ: فَهُوَ الْمَشَاقُّ وَالْأَنْكَادُ وَالْآلَامُ الَّتِي لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِهَا.وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي: فَمَشَقَّةُ حِفْظِهِ وَحِرَاسَتِهِ وَتَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِهِ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا مَهْمُومًا، وَلَا يُمْسِي إِلَّا مَغْمُومًا.“Mengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.”Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:وَالنَّوْعُ الثَّالِثُ مِنْ آفَاتِ الْغِنَى: مَا يَحْصُلُ لِلْعَبْدِ بَعْدَ مُفَارَقَتِهِ، مِنْ تَعَلُّقِ قَلْبِهِ بِهِ، وَكَوْنِهِ قَدْ حِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَالْمُطَالَبَةِ بِحُقُوقِهِ، وَالْمُحَاسَبَةِ عَلَى مَقْبُوضِهِ وَمَصْرُوفِهِ: مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِي مَاذَا أَنْفَقَهُ؟“Adapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?”Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, “Ilmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnya”.Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:Dari mana datangnya? Ke mana perginya?Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.Habis untuk apa? Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi BebanIbnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:أَنَّ الْقَلْبَ مَلِكُ الْبَدَنِ، وَالْعِلْمَ زِينَتُهُ وَعُدَّتُهُ وَمَالُهُ، وَبِهِ قِوَامُ مُلْكِهِ، وَالْمَلِكُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ عَدَدٍ وَعُدَّةٍ وَمَالٍ وَزِينَةٍ؛ فَالْعِلْمُ هُوَ مَرْكَبُهُ وَعُدَّتُهُ وَجَمَالُهُ.وَأَمَّا الْمَالُ، فَغَايَتُهُ أَنْ يَكُونَ زِينَةً وَجَمَالًا لِلْبَدَنِ إِذَا أَنْفَقَهُ فِي ذٰلِكَ، فَإِذَا خَزَنَهُ وَلَمْ يُنْفِقْهُ لَمْ يَكُنْ زِينَةً وَلَا جَمَالًا، بَلْ نَقْصًا وَوَبَالًا.“Hati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.”Ini terdapat pada poin ke-39, “Ilmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakan”.Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.Maka kaidahnya:Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban. Harta Seharusnya Membantu Kita PulangPuncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:أَنَّ الْقَدْرَ الْمَقْصُودَ مِنَ الْمَالِ هُوَ مَا يَكْفِي الْعَبْدَ وَيُقِيمُهُ وَيَدْفَعُ ضَرُورَتَهُ حَتَّى يَتَمَكَّنَ مِنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ، وَمِنَ التَّزَوُّدِ لِسَفَرِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا زَادَ عَلَى ذٰلِكَ شَغَلَهُ وَقَطَعَهُ عَنِ السَّفَرِ إِلَى رَبِّهِ وَعَنْ قَضَاءِ جِهَازِهِ وَتَعْبِيَةِ زَادِهِ؛ فَكَانَ ضَرَرُهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مَصْلَحَتِهِ، وَكُلَّمَا ازْدَادَ غِنَاهُ بِهِ ازْدَادَ تَثَبُّطًا وَتَخَلُّفًا عَنِ التَّجَهُّزِ لِمَا أَمَامَهُ.وَأَمَّا الْعِلْمُ النَّافِعُ، فَكُلَّمَا ازْدَادَ مِنْهُ ازْدَادَ فِي تَعْبِيَةِ الزَّادِ، وَقَضَاءِ الْجِهَازِ، وَإِعْدَادِ عُدَّةِ الْمَسِيرِ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ الِاسْتِعَانَةُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِهِ.فَعُدَّةُ هٰذَا السَّفَرِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْعَمَلُ، وَعُدَّةُ الْإِقَامَةِ جَمْعُ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارُ، وَمَنْ أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ عُدَّتَهُ.“Kadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya ‘Azza wa Jalla.Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.”Ini merupakan poin ke-40, “Ilmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalang”, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. Kalimat ini sangat dalam:Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik. Jadi, Hartamu Habis di Mana?Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.Maka bukan semata “berapa banyak yang habis?”, tetapi:“Untuk apa ia habis?”Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya. Sepuluh Kaidah Penting tentang HartaDari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya. Nasihat TerakhirHari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى.Allāhumma innī as’alukal-hudā, wat-tuqā, wal-‘afāfa, wal-ghinā.“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.” —– Jumat Pagi, 18 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsakhirat cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim harta ibnul qayyim infak keberkahan kekayaan nasihat ibnul qayyim nasihat islam rezeki sedekah

Abdullah bin Abi Umayyah: Penentang Islam yang Akhirnya Syahid

Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah

Abdullah bin Abi Umayyah: Penentang Islam yang Akhirnya Syahid

Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah
Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah


Ada orang yang bertahun-tahun menentang Islam, bahkan pernah menjadi sebab orang lain semakin jauh dari kalimat tauhid, tetapi Allah kemudian membalikkan hatinya. Itulah kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah radhiyallahu ‘anhu, seorang yang dahulu keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu mendapatkan hidayah menjelang Fathu Makkah. Tidak lama setelah masuk Islam, ia membuktikan keimanannya hingga akhirnya gugur dalam Perang Thaif.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah? 2. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhid 3. Hidayah datang menjelang Fathu Makkah 4. Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baik 5. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang Islam 6. Baru masuk Islam, kemudian gugur di Thaif 7. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah 8. Jangan pernah memvonis akhir seseorang 9. Referensi  Siapakah ‘Abdullah bin Abi Umayyah?Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Amr bin Makhzum Al-Makhzumi.Ia merupakan saudara Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah ﷺ. Ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, salah seorang bibi Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, ‘Abdullah bin Abi Umayyah juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Nabi ﷺ.Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut tentang dirinya,وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ شَدِيدًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ مُخَالِفًا مُبْغِضًا“‘Abdullah bin Abi Umayyah dahulu bersikap sangat keras terhadap kaum muslimin, menentang, dan membenci mereka.”Ia bukan sekadar belum menerima Islam. Pada masa awal dakwah, penentangannya terhadap Rasulullah ﷺ tergolong keras.Pernah menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak berimanPara ulama sirah menyebut bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah termasuk orang yang menuntut berbagai perkara luar biasa kepada Rasulullah ﷺ. Ia dikaitkan dengan ucapan yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’,وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا“Mereka berkata, ‘Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.’” (QS. Al-Isra’: 90)Permintaan itu berlanjut dalam ayat berikutnya hingga permintaan agar Nabi ﷺ naik ke langit dan membawa kitab yang dapat mereka baca.Adz-Dzahabi ketika membahas ‘Abdullah bin Abi Umayyah menyebut bahwa ia dahulu sangat keras terhadap kaum muslimin dan disebut sebagai orang yang mengucapkan tuntutan tersebut. Namun, kehidupannya ternyata tidak berakhir dalam keadaan seperti itu. Bersama Abu Jahal menghalangi Abu Thalib dari kalimat tauhidSalah satu bagian paling terkenal dari kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah terjadi ketika Abu Thalib berada di penghujung hidupnya.Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Thalib dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Beliau bersabda,يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai pamanku, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illallah.’”Namun, ketika itu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah berada di samping Abu Thalib. Keduanya berkata,يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟“Wahai Abu Thalib, apakah engkau hendak meninggalkan agama ‘Abdul Muththalib?”Rasulullah ﷺ terus menawarkan kalimat tauhid kepada pamannya, sementara keduanya terus mengulangi perkataan tersebut. Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal tetap berada di atas agama ‘Abdul Muththalib dan tidak mengucapkan laa ilaaha illallah.Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.Allah kemudian menurunkan,إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)Menariknya, ayat ini bukan hanya mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib. Kisah selanjutnya menunjukkan bahwa ‘Abdullah bin Abi Umayyah yang ketika itu justru menghalangi Abu Thalib dari Islam, kelak malah mendapatkan hidayah dari Allah. Hidayah datang menjelang Fathu MakkahBertahun-tahun berlalu.Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bergerak menuju Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah.Ketika itulah terjadi perubahan besar pada kehidupan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ia bersama Abu Sufyan bin Al-Harits bin ‘Abdul Muththalib menemui Rasulullah ﷺ di Tsaniyyatul ‘Uqab, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Keduanya meminta izin bertemu Nabi ﷺ.Akan tetapi, Rasulullah ﷺ pada awalnya enggan menerima mereka. Sebab, keduanya memiliki sejarah panjang menyakiti beliau.Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha lalu berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai keduanya. Ia mengingatkan hubungan kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ.Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan keberatan beliau. Tentang ‘Abdullah bin Abi Umayyah, beliau mengingat perkataan keras yang dahulu pernah diucapkannya di Makkah.Namun, akhirnya Rasulullah ﷺ melunakkan hati dan menerima keduanya. Mereka pun masuk Islam. Riwayat ini dibawakan secara panjang oleh Ibnu Ishaq dan dinukil pula oleh Al-Baihaqi serta IslamQA.Karena itu, waktu masuk Islamnya ‘Abdullah bin Abi Umayyah dapat disebut dengan lebih tepat:Ia masuk Islam pada tahun 8 H, sesaat sebelum Fathu Makkah, ketika Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menuju Makkah.Sebagian kitab menyebut secara ringkas bahwa ia “masuk Islam pada hari Fathu Makkah”, sedangkan sumber sirah yang lebih terperinci menerangkan bahwa ia telah menemui Nabi ﷺ dalam perjalanan sebelum beliau memasuki Makkah. Islamweb juga menyebut,ثُمَّ أَسْلَمَ قَبْلَ فَتْحِ مَكَّةَ بِيَسِيرٍ، وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Kemudian ia masuk Islam tidak lama sebelum Fathu Makkah, dan keislamannya menjadi baik.” Bukan sekadar masuk Islam, tetapi keislamannya menjadi baikInilah bagian indah dari kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Para ulama tidak hanya mencatat bahwa ia masuk Islam, tetapi mengatakan,وَحَسُنَ إِسْلَامُهُ“Dan keislamannya menjadi baik.”Setelah bertahun-tahun menjadi penentang Rasulullah ﷺ, ia tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk berada di pinggir perjuangan. Ia justru hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam peristiwa-peristiwa besar setelah keislamannya.Ia mengikuti Fathu Makkah, Perang Hunain, dan pengepungan Thaif.Inilah bukti bahwa taubat yang jujur bukan hanya meninggalkan masa lalu, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari penghalang hidayah menjadi pejuang IslamPerubahan ‘Abdullah bin Abi Umayyah benar-benar besar.Dahulu, ketika Abu Thalib hampir mengucapkan kalimat tauhid, ia berada di sisi Abu Jahal dan terus mengingatkan Abu Thalib kepada agama ‘Abdul Muththalib.Namun, beberapa tahun kemudian, orang yang sama berjalan bersama Rasulullah ﷺ sebagai seorang muslim.Dahulu ia menuntut mukjizat sebagai alasan untuk tidak beriman.Kemudian ia sendiri datang mencari Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya.Dahulu ia termasuk orang yang keras terhadap kaum muslimin.Kemudian ia berperang bersama kaum muslimin.Hati manusia benar-benar berada di tangan Allah.Rasulullah ﷺ bersabda,إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ“Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman seperti satu hati. Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654)Karena itulah kita tidak boleh terlalu cepat berputus asa terhadap seseorang hanya karena hari ini ia masih jauh dari kebaikan. Baru masuk Islam, kemudian gugur di ThaifSetelah Fathu Makkah dan Perang Hunain, Rasulullah ﷺ bergerak menuju Thaif.‘Abdullah bin Abi Umayyah ikut bersama beliau.Dalam pengepungan Thaif, ia terkena lemparan anak panah. Luka tersebut menyebabkan kematiannya. Ibnu Hisyam memasukkan namanya di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang gugur pada peristiwa Thaif.Ibnu Hajar rahimahullah menyebut,وَاسْتُشْهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بِالطَّائِفِ، أَصَابَهُ سَهْمٌ فَقَتَلَهُ“‘Abdullah gugur sebagai syahid di Thaif. Ia terkena anak panah yang menyebabkan kematiannya.” Betapa cepat perubahan itu terjadi.Pada awal tahun 8 H, ia masih memiliki masa lalu panjang dalam permusuhan terhadap Islam. Menjelang Fathu Makkah, Allah membuka hatinya. Kemudian ia menyaksikan Fathu Makkah, ikut dalam Hunain, dan tidak lama setelah itu gugur di Thaif.Yang menentukan bukan bagaimana seseorang memulai kehidupannya, tetapi bagaimana Allah memberinya taufik untuk menutup kehidupannya. Pelajaran dari kisah ‘Abdullah bin Abi UmayyahPertama, hidayah benar-benar milik Allah. Orang yang dahulu sangat keras memusuhi Islam dapat berubah menjadi pembela Islam.Kedua, jangan berputus asa dari hidayah seseorang. Jika melihat keluarga, sahabat, atau orang yang kita kenal masih jauh dari agama, teruslah mendoakan dan mendakwahinya dengan cara yang baik.Ketiga, masa lalu yang buruk tidak menghalangi seseorang untuk memiliki akhir kehidupan yang baik. Ketika seseorang benar-benar bertaubat, pintu kebaikan tetap terbuka baginya.Keempat, taubat sejati perlu dibuktikan dengan amal. ‘Abdullah bin Abi Umayyah tidak sekadar mengucapkan syahadat. Ia hadir bersama Rasulullah ﷺ di medan perjuangan.Kelima, jangan merasa aman dengan keadaan iman kita saat ini. Orang yang hari ini terlihat baik tetap membutuhkan taufik Allah sampai akhir hayat, sedangkan orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah bukakan hatinya esok hari. Jangan pernah memvonis akhir seseorangKita sering menilai manusia hanya dari satu potongan perjalanan hidupnya. Ada orang yang kita kenal dengan masa lalunya, lalu kita merasa mustahil ia akan berubah. Kisah ‘Abdullah bin Abi Umayyah mengajarkan bahwa selama seseorang masih hidup, pintu hidayah dan taubat belum tertutup. Karena itu, teruslah meminta keteguhan untuk diri sendiri dan jangan berhenti berharap kebaikan untuk orang lain.Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah,يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, menjaga hati kita tetap istiqamah, memberikan hidayah kepada orang-orang yang kita cintai, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.Aamiin. ReferensiAl-Baihaqi. Dalā’il An-Nubuwwah, bab masuk Islamnya Abu Sufyan bin Al-Harits.Ibnu ‘Abdil Barr. Al-Istī‘āb fī Ma‘rifat Al-Ashāb, biografi ‘Abdullah bin Abi Umayyah.Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Fath Al-Bārī, Kitab Al-Maghazi, bab Perang Thaif.Ibnu Hisyam. As-Sīrah An-Nabawiyyah, para syuhada kaum muslimin pada Perang Thaif.IslamQA. (2020). Syarh hadits: “Adapun anak pamanku telah merusak kehormatanku, sedangkan anak bibiku adalah orang yang dahulu berkata kepadaku di Makkah …”IslamQA. (2023). Bagaimana hubungan Nabi ﷺ dengan pamannya Abu Thalib?Rumaysho.Com. Syarhus Sunnah: Belajar Akidah, Agar Selamat dari Pemahaman Sesat.Rumaysho.Com. Faedah Sirah Nabi: Wafatnya Abu Thalib.  —– Malam Jumat, 17 September 2026 @ PalembangPenulis: Dr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com TagsAbdullah bin Abi Umayyah abu thalib fathu makkah hidayah husnul khatimah kisah sahabat Perang Thaif sirah nabi taubat Ummu Salamah

Musyawarah Kaum Kafir Quraisy untuk Menghalangi Jemaah Haji dari Dakwah Rasulullah ﷺ

Daftar Isi ToggleKekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiMencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahPropaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiCelaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahPada artikel sebelumnya, kita telah melihat bagaimana para pembesar Quraisy gagal menekan Abu Thalib agar menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Kegagalan itu tidak membuat mereka berhenti. Menjelang musim haji, mereka justru menyusun strategi baru, yaitu menyatukan tuduhan yang akan disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab agar manusia menjauh dari Rasulullah ﷺ.Kekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiPada suatu ketika musim haji sudah dekat, sementara Rasulullah ﷺ terus menyeru agama Allah kepada manusia. Hal ini sangat menyibukkan pikiran para pembesar Quraisy. Mereka mengetahui bahwa pada saat musim haji tiba berbagai rombongan Arab akan datang ke Makkah. Mereka khawatir para rombongan tersebut akan terpengaruh oleh dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan memeluk agama Islam.Oleh karena itu, para pembesar Quraisy berkumpul menemui al-Walid bin al-Mughirah (الوليد بن المغيرة) untuk membahas tuduhan apa yang harus mereka sampaikan berkenaan dengan Rasulullah ﷺ.Al-Walid berkata kepada mereka, “Satukanlah pendapat kalian tentang dirinya.” Maksudnya adalah berkenaan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian ia melanjutkan, “Jangan sampai kalian berbeda-beda sehingga sebagian kalian mendustakan sebagian yang lain dan perkataan kalian saling bertentangan.”Para pembesar Quraisy merespons, “Kalau begitu, engkaulah yang berbicara. Tetapkanlah bagi kami suatu pendapat yang akan kami katakan.”Namun, al-Walid justru meminta merekalah yang menyebutkan tuduhan tersebut kepadanya. Ia berkata, “Tidak. Kalianlah yang berbicara, aku akan mendengarkan.”Mencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahDi antara mereka ada yang mengusulkan tuduhan dukun (kahin) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Walid menjawab, “Tidak. Demi Allah, dia bukan seorang dukun. Kita telah melihat para dukun. Ucapannya bukan seperti gumaman para dukun dan bukan pula seperti sajak mereka.”Kemudian ada yang mengusulkan tuduhan orang gila (majnun). Tetapi al-Walid juga tidak setuju dengan berkata, “Dia bukan orang gila. Kita telah melihat kegilaan dan mengetahuinya. Pada dirinya tidak ada gejala seperti cekikan orang gila, gerakan tubuh yang tidak terkendali, maupun bisikan-bisikan kegilaan.”Lalu ada yang mengusulkan bagaimana jika beliau dijuluki seorang penyair (sya’ir). Lagi-lagi al-Walid tidak menyetujuinya lalu berkata, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengetahui seluruh bentuk syair, baik rajaz, hazaj, qaridh, bentuk yang pendek maupun yang panjang. Apa yang dibawanya bukanlah syair.”Rajaz, hazaj, dan qaridh adalah beberapa bentuk syair yang dikenal oleh masyarakat Quraisy. Dengan menyebutkan bentuk syair tersebut, al-Walid ingin menegaskan bahwa ia mengenal berbagai corak syair Arab, tetapi bacaan yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak menyerupai satu pun dari bentuk syair tersebut.Kemudian ada lagi yang menyarankan tuduhan penyihir (sahir) kepada beliau. Namun, al-Walid juga tidak menyetujuinya dan berkata, “Dia bukan penyihir. Kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka. Apa yang dibawanya bukanlah seperti tiupan penyihir dan bukan pula seperti simpul-simpul sihir mereka.”Akhirnya mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kita katakan?”Al-Walid berkata, “Demi Allah, sesungguhnya perkataannya memiliki kemanisan dan keindahan. Akarnya subur dan cabangnya berbuah. Apa pun yang kalian katakan tentang dirinya dari tuduhan-tuduhan tadi pasti akan diketahui sebagai kebatilan.”Meski al-Walid sendiri mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bukan penyihir seperti para penyihir yang mereka kenal, ia tetap menilai bahwa tuduhan penyihir dianggap paling bisa memengaruhi masyarakat. Ia berkata, “Tuduhan yang paling mendekati adalah kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang penyihir. Ia membawa suatu perkataan yang merupakan sihir, yang dengannya ia memisahkan seseorang dari ayahnya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya, dan seseorang dari keluarganya.” Akhirnya mereka sepakat dengan tuduhan itu lalu berpisah.Sebagian riwayat menyebutkan bahwa setelah al-Walid membantah setiap tuduhan yang diajukan, para pembesar Quraisy menanggapi, “Tunjukkanlah kepada kami pendapatmu yang tidak mengandung kelemahan.”Al-Walid berkata, “Berilah aku waktu sampai aku memikirkannya.” Al-Walid pun terus berpikir dan mempertimbangkannya hingga akhirnya menyampaikan perkataan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ia setuju dengan tuduhan penyihir.Propaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiSetelah mereka sepakat dalam pertemuan itu, mereka segera melaksanakannya. Mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui orang-orang ketika para jemaah datang untuk berhaji. Mereka memperingatkan semua orang yang lewat agar menjauhi Rasulullah ﷺ dan menceritakan tuduhan tentang beliau.Adapun Rasulullah ﷺ, beliau keluar mendatangi orang-orang di tempat-tempat persinggahan mereka, juga di pasar ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz mendakwahkan agama Allah.Di saat seperti itu, Abu Lahab mengikuti Rasulullah ﷺ dari belakang sambil berkata, “Jangan kalian taati dia. Sesungguhnya dia orang yang telah keluar dari agama kaumnya dan seorang pendusta.”Namun justru akibat dari semua itu, orang-orang Arab pulang dari musim haji dengan membawa berita tentang Rasulullah ﷺ. Nama dan kabar tentang beliau pun tersebar ke seluruh wilayah Arab.Celaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahBerkenaan dengan al-Walid, Allah Ta’ala menurunkan enam belas ayat dari Surah Al-Muddatstsir,﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً (١١) وَجَعَلْتُ لَهُ مالاً مَمْدُوداً (١٢) وَبَنِينَ شُهُوداً (١٣) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيداً (١٤) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (١٥) كَلاّ إِنَّهُ كانَ لِآياتِنا عَنِيداً (١٦) سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً (١٧) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠) ثُمَّ نَظَرَ (٢١) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣) فَقالَ إِنْ هذا إِلاّ سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤) إِنْ هذا إِلاّ قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢٦)﴾“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku ciptakan sendirian. Aku berikan kepadanya harta yang berlimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya kehidupan dengan selapang-lapangnya. Kemudian ia masih menginginkan agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia menentang ayat-ayat Kami dengan keras. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang sangat berat. Sesungguhnya ia telah berpikir dan menetapkan. Maka celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian ia memperhatikan, lalu bermuka masam dan merengut. Kemudian ia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu ia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang diwariskan. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–26)Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya berupa harta melimpah, anak-anak lelaki yang senantiasa berada di sisinya, dan keluasan harta. Akan tetapi, al-Walid bin al-Mughirah menentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan mencari-cari tuduhan apa yang sebaiknya disematkan kepada Al-Qur’an. Akhirnya, ia menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang diwariskan dan hanyalah perkataan manusia. Akibatnya kelak Allah akan menghukumnya dengan siksaan yang tidak pernah berhenti dan memasukkannya ke dalam neraka Saqar.Demikianlah salah satu bentuk penentangan Quraisy di awal dakwah terang-terangan. Mereka berusaha menyatukan tuduhan untuk menjauhkan manusia dari Rasulullah ﷺ, terutama para jemaah haji yang datang ke Makkah. Namun, usaha itu justru membuat kabar tentang Nabi ﷺ semakin tersebar di tengah bangsa Arab. Dakwah yang ingin mereka halangi justru semakin dikenal.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, karya Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir.

Musyawarah Kaum Kafir Quraisy untuk Menghalangi Jemaah Haji dari Dakwah Rasulullah ﷺ

Daftar Isi ToggleKekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiMencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahPropaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiCelaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahPada artikel sebelumnya, kita telah melihat bagaimana para pembesar Quraisy gagal menekan Abu Thalib agar menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Kegagalan itu tidak membuat mereka berhenti. Menjelang musim haji, mereka justru menyusun strategi baru, yaitu menyatukan tuduhan yang akan disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab agar manusia menjauh dari Rasulullah ﷺ.Kekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiPada suatu ketika musim haji sudah dekat, sementara Rasulullah ﷺ terus menyeru agama Allah kepada manusia. Hal ini sangat menyibukkan pikiran para pembesar Quraisy. Mereka mengetahui bahwa pada saat musim haji tiba berbagai rombongan Arab akan datang ke Makkah. Mereka khawatir para rombongan tersebut akan terpengaruh oleh dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan memeluk agama Islam.Oleh karena itu, para pembesar Quraisy berkumpul menemui al-Walid bin al-Mughirah (الوليد بن المغيرة) untuk membahas tuduhan apa yang harus mereka sampaikan berkenaan dengan Rasulullah ﷺ.Al-Walid berkata kepada mereka, “Satukanlah pendapat kalian tentang dirinya.” Maksudnya adalah berkenaan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian ia melanjutkan, “Jangan sampai kalian berbeda-beda sehingga sebagian kalian mendustakan sebagian yang lain dan perkataan kalian saling bertentangan.”Para pembesar Quraisy merespons, “Kalau begitu, engkaulah yang berbicara. Tetapkanlah bagi kami suatu pendapat yang akan kami katakan.”Namun, al-Walid justru meminta merekalah yang menyebutkan tuduhan tersebut kepadanya. Ia berkata, “Tidak. Kalianlah yang berbicara, aku akan mendengarkan.”Mencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahDi antara mereka ada yang mengusulkan tuduhan dukun (kahin) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Walid menjawab, “Tidak. Demi Allah, dia bukan seorang dukun. Kita telah melihat para dukun. Ucapannya bukan seperti gumaman para dukun dan bukan pula seperti sajak mereka.”Kemudian ada yang mengusulkan tuduhan orang gila (majnun). Tetapi al-Walid juga tidak setuju dengan berkata, “Dia bukan orang gila. Kita telah melihat kegilaan dan mengetahuinya. Pada dirinya tidak ada gejala seperti cekikan orang gila, gerakan tubuh yang tidak terkendali, maupun bisikan-bisikan kegilaan.”Lalu ada yang mengusulkan bagaimana jika beliau dijuluki seorang penyair (sya’ir). Lagi-lagi al-Walid tidak menyetujuinya lalu berkata, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengetahui seluruh bentuk syair, baik rajaz, hazaj, qaridh, bentuk yang pendek maupun yang panjang. Apa yang dibawanya bukanlah syair.”Rajaz, hazaj, dan qaridh adalah beberapa bentuk syair yang dikenal oleh masyarakat Quraisy. Dengan menyebutkan bentuk syair tersebut, al-Walid ingin menegaskan bahwa ia mengenal berbagai corak syair Arab, tetapi bacaan yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak menyerupai satu pun dari bentuk syair tersebut.Kemudian ada lagi yang menyarankan tuduhan penyihir (sahir) kepada beliau. Namun, al-Walid juga tidak menyetujuinya dan berkata, “Dia bukan penyihir. Kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka. Apa yang dibawanya bukanlah seperti tiupan penyihir dan bukan pula seperti simpul-simpul sihir mereka.”Akhirnya mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kita katakan?”Al-Walid berkata, “Demi Allah, sesungguhnya perkataannya memiliki kemanisan dan keindahan. Akarnya subur dan cabangnya berbuah. Apa pun yang kalian katakan tentang dirinya dari tuduhan-tuduhan tadi pasti akan diketahui sebagai kebatilan.”Meski al-Walid sendiri mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bukan penyihir seperti para penyihir yang mereka kenal, ia tetap menilai bahwa tuduhan penyihir dianggap paling bisa memengaruhi masyarakat. Ia berkata, “Tuduhan yang paling mendekati adalah kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang penyihir. Ia membawa suatu perkataan yang merupakan sihir, yang dengannya ia memisahkan seseorang dari ayahnya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya, dan seseorang dari keluarganya.” Akhirnya mereka sepakat dengan tuduhan itu lalu berpisah.Sebagian riwayat menyebutkan bahwa setelah al-Walid membantah setiap tuduhan yang diajukan, para pembesar Quraisy menanggapi, “Tunjukkanlah kepada kami pendapatmu yang tidak mengandung kelemahan.”Al-Walid berkata, “Berilah aku waktu sampai aku memikirkannya.” Al-Walid pun terus berpikir dan mempertimbangkannya hingga akhirnya menyampaikan perkataan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ia setuju dengan tuduhan penyihir.Propaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiSetelah mereka sepakat dalam pertemuan itu, mereka segera melaksanakannya. Mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui orang-orang ketika para jemaah datang untuk berhaji. Mereka memperingatkan semua orang yang lewat agar menjauhi Rasulullah ﷺ dan menceritakan tuduhan tentang beliau.Adapun Rasulullah ﷺ, beliau keluar mendatangi orang-orang di tempat-tempat persinggahan mereka, juga di pasar ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz mendakwahkan agama Allah.Di saat seperti itu, Abu Lahab mengikuti Rasulullah ﷺ dari belakang sambil berkata, “Jangan kalian taati dia. Sesungguhnya dia orang yang telah keluar dari agama kaumnya dan seorang pendusta.”Namun justru akibat dari semua itu, orang-orang Arab pulang dari musim haji dengan membawa berita tentang Rasulullah ﷺ. Nama dan kabar tentang beliau pun tersebar ke seluruh wilayah Arab.Celaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahBerkenaan dengan al-Walid, Allah Ta’ala menurunkan enam belas ayat dari Surah Al-Muddatstsir,﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً (١١) وَجَعَلْتُ لَهُ مالاً مَمْدُوداً (١٢) وَبَنِينَ شُهُوداً (١٣) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيداً (١٤) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (١٥) كَلاّ إِنَّهُ كانَ لِآياتِنا عَنِيداً (١٦) سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً (١٧) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠) ثُمَّ نَظَرَ (٢١) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣) فَقالَ إِنْ هذا إِلاّ سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤) إِنْ هذا إِلاّ قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢٦)﴾“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku ciptakan sendirian. Aku berikan kepadanya harta yang berlimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya kehidupan dengan selapang-lapangnya. Kemudian ia masih menginginkan agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia menentang ayat-ayat Kami dengan keras. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang sangat berat. Sesungguhnya ia telah berpikir dan menetapkan. Maka celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian ia memperhatikan, lalu bermuka masam dan merengut. Kemudian ia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu ia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang diwariskan. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–26)Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya berupa harta melimpah, anak-anak lelaki yang senantiasa berada di sisinya, dan keluasan harta. Akan tetapi, al-Walid bin al-Mughirah menentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan mencari-cari tuduhan apa yang sebaiknya disematkan kepada Al-Qur’an. Akhirnya, ia menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang diwariskan dan hanyalah perkataan manusia. Akibatnya kelak Allah akan menghukumnya dengan siksaan yang tidak pernah berhenti dan memasukkannya ke dalam neraka Saqar.Demikianlah salah satu bentuk penentangan Quraisy di awal dakwah terang-terangan. Mereka berusaha menyatukan tuduhan untuk menjauhkan manusia dari Rasulullah ﷺ, terutama para jemaah haji yang datang ke Makkah. Namun, usaha itu justru membuat kabar tentang Nabi ﷺ semakin tersebar di tengah bangsa Arab. Dakwah yang ingin mereka halangi justru semakin dikenal.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, karya Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir.
Daftar Isi ToggleKekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiMencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahPropaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiCelaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahPada artikel sebelumnya, kita telah melihat bagaimana para pembesar Quraisy gagal menekan Abu Thalib agar menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Kegagalan itu tidak membuat mereka berhenti. Menjelang musim haji, mereka justru menyusun strategi baru, yaitu menyatukan tuduhan yang akan disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab agar manusia menjauh dari Rasulullah ﷺ.Kekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiPada suatu ketika musim haji sudah dekat, sementara Rasulullah ﷺ terus menyeru agama Allah kepada manusia. Hal ini sangat menyibukkan pikiran para pembesar Quraisy. Mereka mengetahui bahwa pada saat musim haji tiba berbagai rombongan Arab akan datang ke Makkah. Mereka khawatir para rombongan tersebut akan terpengaruh oleh dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan memeluk agama Islam.Oleh karena itu, para pembesar Quraisy berkumpul menemui al-Walid bin al-Mughirah (الوليد بن المغيرة) untuk membahas tuduhan apa yang harus mereka sampaikan berkenaan dengan Rasulullah ﷺ.Al-Walid berkata kepada mereka, “Satukanlah pendapat kalian tentang dirinya.” Maksudnya adalah berkenaan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian ia melanjutkan, “Jangan sampai kalian berbeda-beda sehingga sebagian kalian mendustakan sebagian yang lain dan perkataan kalian saling bertentangan.”Para pembesar Quraisy merespons, “Kalau begitu, engkaulah yang berbicara. Tetapkanlah bagi kami suatu pendapat yang akan kami katakan.”Namun, al-Walid justru meminta merekalah yang menyebutkan tuduhan tersebut kepadanya. Ia berkata, “Tidak. Kalianlah yang berbicara, aku akan mendengarkan.”Mencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahDi antara mereka ada yang mengusulkan tuduhan dukun (kahin) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Walid menjawab, “Tidak. Demi Allah, dia bukan seorang dukun. Kita telah melihat para dukun. Ucapannya bukan seperti gumaman para dukun dan bukan pula seperti sajak mereka.”Kemudian ada yang mengusulkan tuduhan orang gila (majnun). Tetapi al-Walid juga tidak setuju dengan berkata, “Dia bukan orang gila. Kita telah melihat kegilaan dan mengetahuinya. Pada dirinya tidak ada gejala seperti cekikan orang gila, gerakan tubuh yang tidak terkendali, maupun bisikan-bisikan kegilaan.”Lalu ada yang mengusulkan bagaimana jika beliau dijuluki seorang penyair (sya’ir). Lagi-lagi al-Walid tidak menyetujuinya lalu berkata, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengetahui seluruh bentuk syair, baik rajaz, hazaj, qaridh, bentuk yang pendek maupun yang panjang. Apa yang dibawanya bukanlah syair.”Rajaz, hazaj, dan qaridh adalah beberapa bentuk syair yang dikenal oleh masyarakat Quraisy. Dengan menyebutkan bentuk syair tersebut, al-Walid ingin menegaskan bahwa ia mengenal berbagai corak syair Arab, tetapi bacaan yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak menyerupai satu pun dari bentuk syair tersebut.Kemudian ada lagi yang menyarankan tuduhan penyihir (sahir) kepada beliau. Namun, al-Walid juga tidak menyetujuinya dan berkata, “Dia bukan penyihir. Kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka. Apa yang dibawanya bukanlah seperti tiupan penyihir dan bukan pula seperti simpul-simpul sihir mereka.”Akhirnya mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kita katakan?”Al-Walid berkata, “Demi Allah, sesungguhnya perkataannya memiliki kemanisan dan keindahan. Akarnya subur dan cabangnya berbuah. Apa pun yang kalian katakan tentang dirinya dari tuduhan-tuduhan tadi pasti akan diketahui sebagai kebatilan.”Meski al-Walid sendiri mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bukan penyihir seperti para penyihir yang mereka kenal, ia tetap menilai bahwa tuduhan penyihir dianggap paling bisa memengaruhi masyarakat. Ia berkata, “Tuduhan yang paling mendekati adalah kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang penyihir. Ia membawa suatu perkataan yang merupakan sihir, yang dengannya ia memisahkan seseorang dari ayahnya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya, dan seseorang dari keluarganya.” Akhirnya mereka sepakat dengan tuduhan itu lalu berpisah.Sebagian riwayat menyebutkan bahwa setelah al-Walid membantah setiap tuduhan yang diajukan, para pembesar Quraisy menanggapi, “Tunjukkanlah kepada kami pendapatmu yang tidak mengandung kelemahan.”Al-Walid berkata, “Berilah aku waktu sampai aku memikirkannya.” Al-Walid pun terus berpikir dan mempertimbangkannya hingga akhirnya menyampaikan perkataan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ia setuju dengan tuduhan penyihir.Propaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiSetelah mereka sepakat dalam pertemuan itu, mereka segera melaksanakannya. Mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui orang-orang ketika para jemaah datang untuk berhaji. Mereka memperingatkan semua orang yang lewat agar menjauhi Rasulullah ﷺ dan menceritakan tuduhan tentang beliau.Adapun Rasulullah ﷺ, beliau keluar mendatangi orang-orang di tempat-tempat persinggahan mereka, juga di pasar ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz mendakwahkan agama Allah.Di saat seperti itu, Abu Lahab mengikuti Rasulullah ﷺ dari belakang sambil berkata, “Jangan kalian taati dia. Sesungguhnya dia orang yang telah keluar dari agama kaumnya dan seorang pendusta.”Namun justru akibat dari semua itu, orang-orang Arab pulang dari musim haji dengan membawa berita tentang Rasulullah ﷺ. Nama dan kabar tentang beliau pun tersebar ke seluruh wilayah Arab.Celaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahBerkenaan dengan al-Walid, Allah Ta’ala menurunkan enam belas ayat dari Surah Al-Muddatstsir,﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً (١١) وَجَعَلْتُ لَهُ مالاً مَمْدُوداً (١٢) وَبَنِينَ شُهُوداً (١٣) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيداً (١٤) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (١٥) كَلاّ إِنَّهُ كانَ لِآياتِنا عَنِيداً (١٦) سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً (١٧) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠) ثُمَّ نَظَرَ (٢١) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣) فَقالَ إِنْ هذا إِلاّ سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤) إِنْ هذا إِلاّ قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢٦)﴾“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku ciptakan sendirian. Aku berikan kepadanya harta yang berlimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya kehidupan dengan selapang-lapangnya. Kemudian ia masih menginginkan agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia menentang ayat-ayat Kami dengan keras. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang sangat berat. Sesungguhnya ia telah berpikir dan menetapkan. Maka celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian ia memperhatikan, lalu bermuka masam dan merengut. Kemudian ia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu ia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang diwariskan. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–26)Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya berupa harta melimpah, anak-anak lelaki yang senantiasa berada di sisinya, dan keluasan harta. Akan tetapi, al-Walid bin al-Mughirah menentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan mencari-cari tuduhan apa yang sebaiknya disematkan kepada Al-Qur’an. Akhirnya, ia menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang diwariskan dan hanyalah perkataan manusia. Akibatnya kelak Allah akan menghukumnya dengan siksaan yang tidak pernah berhenti dan memasukkannya ke dalam neraka Saqar.Demikianlah salah satu bentuk penentangan Quraisy di awal dakwah terang-terangan. Mereka berusaha menyatukan tuduhan untuk menjauhkan manusia dari Rasulullah ﷺ, terutama para jemaah haji yang datang ke Makkah. Namun, usaha itu justru membuat kabar tentang Nabi ﷺ semakin tersebar di tengah bangsa Arab. Dakwah yang ingin mereka halangi justru semakin dikenal.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, karya Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir.


Daftar Isi ToggleKekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiMencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahPropaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiCelaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahPada artikel sebelumnya, kita telah melihat bagaimana para pembesar Quraisy gagal menekan Abu Thalib agar menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Kegagalan itu tidak membuat mereka berhenti. Menjelang musim haji, mereka justru menyusun strategi baru, yaitu menyatukan tuduhan yang akan disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab agar manusia menjauh dari Rasulullah ﷺ.Kekhawatiran Quraisy menjelang musim hajiPada suatu ketika musim haji sudah dekat, sementara Rasulullah ﷺ terus menyeru agama Allah kepada manusia. Hal ini sangat menyibukkan pikiran para pembesar Quraisy. Mereka mengetahui bahwa pada saat musim haji tiba berbagai rombongan Arab akan datang ke Makkah. Mereka khawatir para rombongan tersebut akan terpengaruh oleh dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan memeluk agama Islam.Oleh karena itu, para pembesar Quraisy berkumpul menemui al-Walid bin al-Mughirah (الوليد بن المغيرة) untuk membahas tuduhan apa yang harus mereka sampaikan berkenaan dengan Rasulullah ﷺ.Al-Walid berkata kepada mereka, “Satukanlah pendapat kalian tentang dirinya.” Maksudnya adalah berkenaan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian ia melanjutkan, “Jangan sampai kalian berbeda-beda sehingga sebagian kalian mendustakan sebagian yang lain dan perkataan kalian saling bertentangan.”Para pembesar Quraisy merespons, “Kalau begitu, engkaulah yang berbicara. Tetapkanlah bagi kami suatu pendapat yang akan kami katakan.”Namun, al-Walid justru meminta merekalah yang menyebutkan tuduhan tersebut kepadanya. Ia berkata, “Tidak. Kalianlah yang berbicara, aku akan mendengarkan.”Mencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwahDi antara mereka ada yang mengusulkan tuduhan dukun (kahin) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Walid menjawab, “Tidak. Demi Allah, dia bukan seorang dukun. Kita telah melihat para dukun. Ucapannya bukan seperti gumaman para dukun dan bukan pula seperti sajak mereka.”Kemudian ada yang mengusulkan tuduhan orang gila (majnun). Tetapi al-Walid juga tidak setuju dengan berkata, “Dia bukan orang gila. Kita telah melihat kegilaan dan mengetahuinya. Pada dirinya tidak ada gejala seperti cekikan orang gila, gerakan tubuh yang tidak terkendali, maupun bisikan-bisikan kegilaan.”Lalu ada yang mengusulkan bagaimana jika beliau dijuluki seorang penyair (sya’ir). Lagi-lagi al-Walid tidak menyetujuinya lalu berkata, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengetahui seluruh bentuk syair, baik rajaz, hazaj, qaridh, bentuk yang pendek maupun yang panjang. Apa yang dibawanya bukanlah syair.”Rajaz, hazaj, dan qaridh adalah beberapa bentuk syair yang dikenal oleh masyarakat Quraisy. Dengan menyebutkan bentuk syair tersebut, al-Walid ingin menegaskan bahwa ia mengenal berbagai corak syair Arab, tetapi bacaan yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak menyerupai satu pun dari bentuk syair tersebut.Kemudian ada lagi yang menyarankan tuduhan penyihir (sahir) kepada beliau. Namun, al-Walid juga tidak menyetujuinya dan berkata, “Dia bukan penyihir. Kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka. Apa yang dibawanya bukanlah seperti tiupan penyihir dan bukan pula seperti simpul-simpul sihir mereka.”Akhirnya mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kita katakan?”Al-Walid berkata, “Demi Allah, sesungguhnya perkataannya memiliki kemanisan dan keindahan. Akarnya subur dan cabangnya berbuah. Apa pun yang kalian katakan tentang dirinya dari tuduhan-tuduhan tadi pasti akan diketahui sebagai kebatilan.”Meski al-Walid sendiri mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bukan penyihir seperti para penyihir yang mereka kenal, ia tetap menilai bahwa tuduhan penyihir dianggap paling bisa memengaruhi masyarakat. Ia berkata, “Tuduhan yang paling mendekati adalah kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang penyihir. Ia membawa suatu perkataan yang merupakan sihir, yang dengannya ia memisahkan seseorang dari ayahnya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya, dan seseorang dari keluarganya.” Akhirnya mereka sepakat dengan tuduhan itu lalu berpisah.Sebagian riwayat menyebutkan bahwa setelah al-Walid membantah setiap tuduhan yang diajukan, para pembesar Quraisy menanggapi, “Tunjukkanlah kepada kami pendapatmu yang tidak mengandung kelemahan.”Al-Walid berkata, “Berilah aku waktu sampai aku memikirkannya.” Al-Walid pun terus berpikir dan mempertimbangkannya hingga akhirnya menyampaikan perkataan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ia setuju dengan tuduhan penyihir.Propaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah hajiSetelah mereka sepakat dalam pertemuan itu, mereka segera melaksanakannya. Mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui orang-orang ketika para jemaah datang untuk berhaji. Mereka memperingatkan semua orang yang lewat agar menjauhi Rasulullah ﷺ dan menceritakan tuduhan tentang beliau.Adapun Rasulullah ﷺ, beliau keluar mendatangi orang-orang di tempat-tempat persinggahan mereka, juga di pasar ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz mendakwahkan agama Allah.Di saat seperti itu, Abu Lahab mengikuti Rasulullah ﷺ dari belakang sambil berkata, “Jangan kalian taati dia. Sesungguhnya dia orang yang telah keluar dari agama kaumnya dan seorang pendusta.”Namun justru akibat dari semua itu, orang-orang Arab pulang dari musim haji dengan membawa berita tentang Rasulullah ﷺ. Nama dan kabar tentang beliau pun tersebar ke seluruh wilayah Arab.Celaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-MughirahBerkenaan dengan al-Walid, Allah Ta’ala menurunkan enam belas ayat dari Surah Al-Muddatstsir,﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً (١١) وَجَعَلْتُ لَهُ مالاً مَمْدُوداً (١٢) وَبَنِينَ شُهُوداً (١٣) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيداً (١٤) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (١٥) كَلاّ إِنَّهُ كانَ لِآياتِنا عَنِيداً (١٦) سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً (١٧) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠) ثُمَّ نَظَرَ (٢١) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣) فَقالَ إِنْ هذا إِلاّ سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤) إِنْ هذا إِلاّ قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢٦)﴾“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku ciptakan sendirian. Aku berikan kepadanya harta yang berlimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya kehidupan dengan selapang-lapangnya. Kemudian ia masih menginginkan agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia menentang ayat-ayat Kami dengan keras. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang sangat berat. Sesungguhnya ia telah berpikir dan menetapkan. Maka celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian ia memperhatikan, lalu bermuka masam dan merengut. Kemudian ia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu ia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang diwariskan. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–26)Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya berupa harta melimpah, anak-anak lelaki yang senantiasa berada di sisinya, dan keluasan harta. Akan tetapi, al-Walid bin al-Mughirah menentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan mencari-cari tuduhan apa yang sebaiknya disematkan kepada Al-Qur’an. Akhirnya, ia menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang diwariskan dan hanyalah perkataan manusia. Akibatnya kelak Allah akan menghukumnya dengan siksaan yang tidak pernah berhenti dan memasukkannya ke dalam neraka Saqar.Demikianlah salah satu bentuk penentangan Quraisy di awal dakwah terang-terangan. Mereka berusaha menyatukan tuduhan untuk menjauhkan manusia dari Rasulullah ﷺ, terutama para jemaah haji yang datang ke Makkah. Namun, usaha itu justru membuat kabar tentang Nabi ﷺ semakin tersebar di tengah bangsa Arab. Dakwah yang ingin mereka halangi justru semakin dikenal.***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, karya Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir.

KRITERIA MEMILIH ISTRI: BOLEH CARI YANG CANTIK, TAPI AGAMA TETAP YANG PERTAMA

Penulis nazam rahimahullahu Ta’ala berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan, yang penuh kasih sayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya, dan tekun beribadah. Berasal dari keluarga mulia dan terhormat, sehingga engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia. Dan carilah wanita yang masih perawan.” Beliau berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan.” Disebutkan dalam Ash-Shahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan keluarganya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya.” Maksudnya, pilihlah yang baik agamanya dan bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkannya. Bukan berarti seseorang tidak boleh mencari kecantikan atau mempertimbangkan nasab. Semua itu memang dicari dan dipertimbangkan seseorang. Namun yang harus menempati urutan pertama adalah agamanya. Hal pertama yang menjadi perhatian ketika mencermati dan mencari wanita salihah adalah agamanya, bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia dididik, dan di atas apa ia dibesarkan. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian sifat “penyayang”, ini juga disebutkan dalam hadis sahih di Sunan Abu Dawud dan selainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud). “Penyayang” maksudnya baik dalam melimpahkan kasih sayang kepada suaminya, dan indah dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya, lembut dan baik tutur katanya kepada suaminya, serta penuh kasih sayang dalam pergaulan dan pergaulannya sehari-hari. “Yang penyayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya.” Ketika beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur,” yakni yang keluarganya dikenal banyak keturunannya. Bagaimana mengetahui bahwa ia termasuk Al-Walud, yang banyak keturunannya? Dengan melihat keluarganya: saudarinya yang telah menikah, saudari-saudarinya, dan para sepupunya. Apakah keluarganya dikenal memiliki banyak keturunan atau banyak kelahiran. Ia dapat mempertimbangkan ini. “Yang penyayang, dari keluarga yang banyak keturunannya, dan tekun beribadah.” Tekun beribadah, yakni dikenal menjaga ibadahnya, terutama kewajiban-kewajiban Islam dan kewajiban agama yang agung. “Berasal dari keluarga mulia.” Yakni wanita yang berasal dari keluarga yang memiliki kemuliaan dan kehormatan. Ia punya keluarga yang dikenal dengan kedermawanan, akhlak yang mulia, dan baiknya bermuamalah. Sebab semua ini tercermin pada anak-anak dan berpengaruh kepada mereka. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman-paman mereka dari pihak ibu. Jika ia berasal dari keluarga mulia, dermawan, dan berkeutamaan, hal itu akan berpengaruh baik kepada anak-anak kelak. “Berasal dari keluarga mulia dan terhormat.” Jika engkau memilihnya dari keluarga yang punya kemuliaan, kedermawanan, keutamaan, kehormatan, dan keluhuran, hal itu akan berpengaruh kepada anak-anak. Sebagaimana kata penulis nazam, “Niscaya engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” “Engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” Artinya, dari pilihan itu diharapkan engkau memperoleh anak-anak yang mulia. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman dari pihak ibu, sangat terpengaruh oleh mereka. Maka bila engkau memilih keluarga yang mulia asal-usulnya, kedudukannya, kehormatannya, dan baik namanya, hal itu akan berdampak baik kepada anak-anak di kemudian hari. Beliau berkata, “Dan carilah wanita yang masih perawan.” Carilah wanita yang masih perawan. Dalam Ash-Shahihain, pada kisah pernikahan Jabir, Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda kepadanya, “Mengapa tidak engkau nikahi seorang perawan, agar engkau dapat bercanda dengannya dan ia bercanda denganmu?” (HR. Bukhari). Maka bila seseorang dimudahkan mendapatkan wanita perawan, tidak diragukan bahwa ia lebih utama daripada wanita yang pernah menikah. “Dan carilah wanita yang masih perawan.” ===== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى الْ وَدُودِ وَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ يَقُولُ: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَاوَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ أَيْ عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ احْرِصْ عَلَيْهَا وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَطْلُبُ الْجَمَالَ وَلَا يَطْلُبُ النَّسَبَ كُلُّ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ تُطْلَبُ وَيَتَحَرَّاهَا الْإِنْسَانُ لَكِنْ أَهَمُّ مَا يَكُونُ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى هُوَ الدِّينُ وَالَّذِي يُرَكَّزُ عَلَيْهِ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى فِي التَّحَرِّي وَالْبَحْثِ عَنِ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ يُنْظَرُ فِي دِينِهَا نَشْأَتِهَا تَرْبِيَتِهَا الشَّيْءِ الَّذِي تَرَبَّتْ عَلَيْهِ فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ الْوَدُودُ وَهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي حَدِيثٍ صَحَّ فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ وَالْوَدُودُ أَيْ فِي حُسْنِ تَوَدُّدِهَا لِلزَّوْجِ وَجَمَالِ تَبَعُّلِهَا مَعَهُ وَتَلَطُّفِهَا وَحُسْنِ مُحَادَثَتِهَا لَهُ وَوَدُودًا فِي مُعَاشَرَتِهَا وَتَعَامُلِهَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ عِنْدَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ أَيْ وَلُودَ الْأَصْلِ كَيْفَ يُعْرَفُ أَنَّهَا وَلُودٌ؟ يُنْظَرُ فِي الْأُسْرَةِ تَزَوَّجَتْ أُخْتُهَا تَزَوَّجَتْ أَخَوَاتُهَا بَنَاتُ عَمِّهَا أُسْرَتُهَا مَعْرُوفٌ الْبَيْتُ بِكَثْرَةِ النَّسْلِ أَوْ كَثْرَةِ الْوِلَادَةِ فَيُنْظَرُ إِلَى هَذَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ أَيِ الْمَعْرُوفَةِ بِمُحَافَظَتِهَا عَلَى الْعِبَادَةِ وَلَا سِيَّمَا فَرَائِضُ الْإِسْلَامِ وَوَاجِبَاتُ الدِّينِ الْعَظِيمَةِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ حَسِيبَةَ أَصْلٍ أَيْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَسَبِ وَالشَّرَفِ أَصْلًا وَلَهَا بَيْتٌ بَيْتٌ مَعْرُوفٌ بِالْكَرَمِ بِالْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ مَعْرُوفٌ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كُلَّهَا تَنْعَكِسُ عَلَى الْأَوْلَادِ وَلَهَا تَأْثِيرٌ عَلَى الْأَوْلَادِ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِأَخْوَالِهِمْ فَإِذَا كَانَتْ حَسِيبَةً وَبَيْتَ كَرَمٍ وَبَيْتَ فَضْلٍ فَإِنَّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ وَانْعِكَاسُهُ فِيمَا بَعْدُ عَلَى الْأَوْلَادِ حَسِيبَةِ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ فَإِذَا انْتَقَيْتَهَا مِنْ أُنَاسٍ مِنْ ذَوِي الْحَسَبِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَالشَّرَفِ وَالنُّبْلِ هَذَا لَهُ انْعِكَاسُهُ عَلَى الْأَوْلَادِ مِثْلَ مَا قَالَ النَّاظِمُ: تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ فَهَذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ أَنَّكَ تَفُوزُ بِأَوْلَادٍ كِرَامٍ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِالْأَخْوَالِ يَتَأَثَّرُونَ بِهِمْ كَثِيرًا فَإِذَا كُنْتَ انْتَقَيْتَ بَيْتًا كَرِيمًا أَصْلًا وَحَسَبًا وَشَرَفًا وَمَكَانَةً طَيِّبَةً فَإِنَّ هَذَا لَهُ الْمَرْدُودُ الطَّيِّبُ عَلَى الْأَوْلَادِ فِيمَا بَعْدُ قَالَ: وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَجَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ فِي قِصَّةِ نِكَاحِ جَابِرٍ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَهُ هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ فَالْبِكْرُ إِنْ تَيَسَّرَتْ لِإِنْسَانٍ لَا شَكَّ أَنَّهَا أَوْلَى مِنَ الثَّيِّبِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ

KRITERIA MEMILIH ISTRI: BOLEH CARI YANG CANTIK, TAPI AGAMA TETAP YANG PERTAMA

Penulis nazam rahimahullahu Ta’ala berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan, yang penuh kasih sayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya, dan tekun beribadah. Berasal dari keluarga mulia dan terhormat, sehingga engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia. Dan carilah wanita yang masih perawan.” Beliau berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan.” Disebutkan dalam Ash-Shahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan keluarganya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya.” Maksudnya, pilihlah yang baik agamanya dan bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkannya. Bukan berarti seseorang tidak boleh mencari kecantikan atau mempertimbangkan nasab. Semua itu memang dicari dan dipertimbangkan seseorang. Namun yang harus menempati urutan pertama adalah agamanya. Hal pertama yang menjadi perhatian ketika mencermati dan mencari wanita salihah adalah agamanya, bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia dididik, dan di atas apa ia dibesarkan. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian sifat “penyayang”, ini juga disebutkan dalam hadis sahih di Sunan Abu Dawud dan selainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud). “Penyayang” maksudnya baik dalam melimpahkan kasih sayang kepada suaminya, dan indah dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya, lembut dan baik tutur katanya kepada suaminya, serta penuh kasih sayang dalam pergaulan dan pergaulannya sehari-hari. “Yang penyayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya.” Ketika beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur,” yakni yang keluarganya dikenal banyak keturunannya. Bagaimana mengetahui bahwa ia termasuk Al-Walud, yang banyak keturunannya? Dengan melihat keluarganya: saudarinya yang telah menikah, saudari-saudarinya, dan para sepupunya. Apakah keluarganya dikenal memiliki banyak keturunan atau banyak kelahiran. Ia dapat mempertimbangkan ini. “Yang penyayang, dari keluarga yang banyak keturunannya, dan tekun beribadah.” Tekun beribadah, yakni dikenal menjaga ibadahnya, terutama kewajiban-kewajiban Islam dan kewajiban agama yang agung. “Berasal dari keluarga mulia.” Yakni wanita yang berasal dari keluarga yang memiliki kemuliaan dan kehormatan. Ia punya keluarga yang dikenal dengan kedermawanan, akhlak yang mulia, dan baiknya bermuamalah. Sebab semua ini tercermin pada anak-anak dan berpengaruh kepada mereka. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman-paman mereka dari pihak ibu. Jika ia berasal dari keluarga mulia, dermawan, dan berkeutamaan, hal itu akan berpengaruh baik kepada anak-anak kelak. “Berasal dari keluarga mulia dan terhormat.” Jika engkau memilihnya dari keluarga yang punya kemuliaan, kedermawanan, keutamaan, kehormatan, dan keluhuran, hal itu akan berpengaruh kepada anak-anak. Sebagaimana kata penulis nazam, “Niscaya engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” “Engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” Artinya, dari pilihan itu diharapkan engkau memperoleh anak-anak yang mulia. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman dari pihak ibu, sangat terpengaruh oleh mereka. Maka bila engkau memilih keluarga yang mulia asal-usulnya, kedudukannya, kehormatannya, dan baik namanya, hal itu akan berdampak baik kepada anak-anak di kemudian hari. Beliau berkata, “Dan carilah wanita yang masih perawan.” Carilah wanita yang masih perawan. Dalam Ash-Shahihain, pada kisah pernikahan Jabir, Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda kepadanya, “Mengapa tidak engkau nikahi seorang perawan, agar engkau dapat bercanda dengannya dan ia bercanda denganmu?” (HR. Bukhari). Maka bila seseorang dimudahkan mendapatkan wanita perawan, tidak diragukan bahwa ia lebih utama daripada wanita yang pernah menikah. “Dan carilah wanita yang masih perawan.” ===== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى الْ وَدُودِ وَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ يَقُولُ: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَاوَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ أَيْ عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ احْرِصْ عَلَيْهَا وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَطْلُبُ الْجَمَالَ وَلَا يَطْلُبُ النَّسَبَ كُلُّ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ تُطْلَبُ وَيَتَحَرَّاهَا الْإِنْسَانُ لَكِنْ أَهَمُّ مَا يَكُونُ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى هُوَ الدِّينُ وَالَّذِي يُرَكَّزُ عَلَيْهِ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى فِي التَّحَرِّي وَالْبَحْثِ عَنِ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ يُنْظَرُ فِي دِينِهَا نَشْأَتِهَا تَرْبِيَتِهَا الشَّيْءِ الَّذِي تَرَبَّتْ عَلَيْهِ فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ الْوَدُودُ وَهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي حَدِيثٍ صَحَّ فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ وَالْوَدُودُ أَيْ فِي حُسْنِ تَوَدُّدِهَا لِلزَّوْجِ وَجَمَالِ تَبَعُّلِهَا مَعَهُ وَتَلَطُّفِهَا وَحُسْنِ مُحَادَثَتِهَا لَهُ وَوَدُودًا فِي مُعَاشَرَتِهَا وَتَعَامُلِهَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ عِنْدَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ أَيْ وَلُودَ الْأَصْلِ كَيْفَ يُعْرَفُ أَنَّهَا وَلُودٌ؟ يُنْظَرُ فِي الْأُسْرَةِ تَزَوَّجَتْ أُخْتُهَا تَزَوَّجَتْ أَخَوَاتُهَا بَنَاتُ عَمِّهَا أُسْرَتُهَا مَعْرُوفٌ الْبَيْتُ بِكَثْرَةِ النَّسْلِ أَوْ كَثْرَةِ الْوِلَادَةِ فَيُنْظَرُ إِلَى هَذَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ أَيِ الْمَعْرُوفَةِ بِمُحَافَظَتِهَا عَلَى الْعِبَادَةِ وَلَا سِيَّمَا فَرَائِضُ الْإِسْلَامِ وَوَاجِبَاتُ الدِّينِ الْعَظِيمَةِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ حَسِيبَةَ أَصْلٍ أَيْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَسَبِ وَالشَّرَفِ أَصْلًا وَلَهَا بَيْتٌ بَيْتٌ مَعْرُوفٌ بِالْكَرَمِ بِالْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ مَعْرُوفٌ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كُلَّهَا تَنْعَكِسُ عَلَى الْأَوْلَادِ وَلَهَا تَأْثِيرٌ عَلَى الْأَوْلَادِ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِأَخْوَالِهِمْ فَإِذَا كَانَتْ حَسِيبَةً وَبَيْتَ كَرَمٍ وَبَيْتَ فَضْلٍ فَإِنَّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ وَانْعِكَاسُهُ فِيمَا بَعْدُ عَلَى الْأَوْلَادِ حَسِيبَةِ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ فَإِذَا انْتَقَيْتَهَا مِنْ أُنَاسٍ مِنْ ذَوِي الْحَسَبِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَالشَّرَفِ وَالنُّبْلِ هَذَا لَهُ انْعِكَاسُهُ عَلَى الْأَوْلَادِ مِثْلَ مَا قَالَ النَّاظِمُ: تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ فَهَذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ أَنَّكَ تَفُوزُ بِأَوْلَادٍ كِرَامٍ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِالْأَخْوَالِ يَتَأَثَّرُونَ بِهِمْ كَثِيرًا فَإِذَا كُنْتَ انْتَقَيْتَ بَيْتًا كَرِيمًا أَصْلًا وَحَسَبًا وَشَرَفًا وَمَكَانَةً طَيِّبَةً فَإِنَّ هَذَا لَهُ الْمَرْدُودُ الطَّيِّبُ عَلَى الْأَوْلَادِ فِيمَا بَعْدُ قَالَ: وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَجَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ فِي قِصَّةِ نِكَاحِ جَابِرٍ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَهُ هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ فَالْبِكْرُ إِنْ تَيَسَّرَتْ لِإِنْسَانٍ لَا شَكَّ أَنَّهَا أَوْلَى مِنَ الثَّيِّبِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ
Penulis nazam rahimahullahu Ta’ala berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan, yang penuh kasih sayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya, dan tekun beribadah. Berasal dari keluarga mulia dan terhormat, sehingga engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia. Dan carilah wanita yang masih perawan.” Beliau berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan.” Disebutkan dalam Ash-Shahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan keluarganya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya.” Maksudnya, pilihlah yang baik agamanya dan bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkannya. Bukan berarti seseorang tidak boleh mencari kecantikan atau mempertimbangkan nasab. Semua itu memang dicari dan dipertimbangkan seseorang. Namun yang harus menempati urutan pertama adalah agamanya. Hal pertama yang menjadi perhatian ketika mencermati dan mencari wanita salihah adalah agamanya, bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia dididik, dan di atas apa ia dibesarkan. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian sifat “penyayang”, ini juga disebutkan dalam hadis sahih di Sunan Abu Dawud dan selainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud). “Penyayang” maksudnya baik dalam melimpahkan kasih sayang kepada suaminya, dan indah dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya, lembut dan baik tutur katanya kepada suaminya, serta penuh kasih sayang dalam pergaulan dan pergaulannya sehari-hari. “Yang penyayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya.” Ketika beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur,” yakni yang keluarganya dikenal banyak keturunannya. Bagaimana mengetahui bahwa ia termasuk Al-Walud, yang banyak keturunannya? Dengan melihat keluarganya: saudarinya yang telah menikah, saudari-saudarinya, dan para sepupunya. Apakah keluarganya dikenal memiliki banyak keturunan atau banyak kelahiran. Ia dapat mempertimbangkan ini. “Yang penyayang, dari keluarga yang banyak keturunannya, dan tekun beribadah.” Tekun beribadah, yakni dikenal menjaga ibadahnya, terutama kewajiban-kewajiban Islam dan kewajiban agama yang agung. “Berasal dari keluarga mulia.” Yakni wanita yang berasal dari keluarga yang memiliki kemuliaan dan kehormatan. Ia punya keluarga yang dikenal dengan kedermawanan, akhlak yang mulia, dan baiknya bermuamalah. Sebab semua ini tercermin pada anak-anak dan berpengaruh kepada mereka. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman-paman mereka dari pihak ibu. Jika ia berasal dari keluarga mulia, dermawan, dan berkeutamaan, hal itu akan berpengaruh baik kepada anak-anak kelak. “Berasal dari keluarga mulia dan terhormat.” Jika engkau memilihnya dari keluarga yang punya kemuliaan, kedermawanan, keutamaan, kehormatan, dan keluhuran, hal itu akan berpengaruh kepada anak-anak. Sebagaimana kata penulis nazam, “Niscaya engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” “Engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” Artinya, dari pilihan itu diharapkan engkau memperoleh anak-anak yang mulia. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman dari pihak ibu, sangat terpengaruh oleh mereka. Maka bila engkau memilih keluarga yang mulia asal-usulnya, kedudukannya, kehormatannya, dan baik namanya, hal itu akan berdampak baik kepada anak-anak di kemudian hari. Beliau berkata, “Dan carilah wanita yang masih perawan.” Carilah wanita yang masih perawan. Dalam Ash-Shahihain, pada kisah pernikahan Jabir, Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda kepadanya, “Mengapa tidak engkau nikahi seorang perawan, agar engkau dapat bercanda dengannya dan ia bercanda denganmu?” (HR. Bukhari). Maka bila seseorang dimudahkan mendapatkan wanita perawan, tidak diragukan bahwa ia lebih utama daripada wanita yang pernah menikah. “Dan carilah wanita yang masih perawan.” ===== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى الْ وَدُودِ وَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ يَقُولُ: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَاوَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ أَيْ عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ احْرِصْ عَلَيْهَا وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَطْلُبُ الْجَمَالَ وَلَا يَطْلُبُ النَّسَبَ كُلُّ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ تُطْلَبُ وَيَتَحَرَّاهَا الْإِنْسَانُ لَكِنْ أَهَمُّ مَا يَكُونُ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى هُوَ الدِّينُ وَالَّذِي يُرَكَّزُ عَلَيْهِ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى فِي التَّحَرِّي وَالْبَحْثِ عَنِ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ يُنْظَرُ فِي دِينِهَا نَشْأَتِهَا تَرْبِيَتِهَا الشَّيْءِ الَّذِي تَرَبَّتْ عَلَيْهِ فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ الْوَدُودُ وَهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي حَدِيثٍ صَحَّ فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ وَالْوَدُودُ أَيْ فِي حُسْنِ تَوَدُّدِهَا لِلزَّوْجِ وَجَمَالِ تَبَعُّلِهَا مَعَهُ وَتَلَطُّفِهَا وَحُسْنِ مُحَادَثَتِهَا لَهُ وَوَدُودًا فِي مُعَاشَرَتِهَا وَتَعَامُلِهَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ عِنْدَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ أَيْ وَلُودَ الْأَصْلِ كَيْفَ يُعْرَفُ أَنَّهَا وَلُودٌ؟ يُنْظَرُ فِي الْأُسْرَةِ تَزَوَّجَتْ أُخْتُهَا تَزَوَّجَتْ أَخَوَاتُهَا بَنَاتُ عَمِّهَا أُسْرَتُهَا مَعْرُوفٌ الْبَيْتُ بِكَثْرَةِ النَّسْلِ أَوْ كَثْرَةِ الْوِلَادَةِ فَيُنْظَرُ إِلَى هَذَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ أَيِ الْمَعْرُوفَةِ بِمُحَافَظَتِهَا عَلَى الْعِبَادَةِ وَلَا سِيَّمَا فَرَائِضُ الْإِسْلَامِ وَوَاجِبَاتُ الدِّينِ الْعَظِيمَةِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ حَسِيبَةَ أَصْلٍ أَيْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَسَبِ وَالشَّرَفِ أَصْلًا وَلَهَا بَيْتٌ بَيْتٌ مَعْرُوفٌ بِالْكَرَمِ بِالْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ مَعْرُوفٌ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كُلَّهَا تَنْعَكِسُ عَلَى الْأَوْلَادِ وَلَهَا تَأْثِيرٌ عَلَى الْأَوْلَادِ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِأَخْوَالِهِمْ فَإِذَا كَانَتْ حَسِيبَةً وَبَيْتَ كَرَمٍ وَبَيْتَ فَضْلٍ فَإِنَّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ وَانْعِكَاسُهُ فِيمَا بَعْدُ عَلَى الْأَوْلَادِ حَسِيبَةِ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ فَإِذَا انْتَقَيْتَهَا مِنْ أُنَاسٍ مِنْ ذَوِي الْحَسَبِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَالشَّرَفِ وَالنُّبْلِ هَذَا لَهُ انْعِكَاسُهُ عَلَى الْأَوْلَادِ مِثْلَ مَا قَالَ النَّاظِمُ: تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ فَهَذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ أَنَّكَ تَفُوزُ بِأَوْلَادٍ كِرَامٍ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِالْأَخْوَالِ يَتَأَثَّرُونَ بِهِمْ كَثِيرًا فَإِذَا كُنْتَ انْتَقَيْتَ بَيْتًا كَرِيمًا أَصْلًا وَحَسَبًا وَشَرَفًا وَمَكَانَةً طَيِّبَةً فَإِنَّ هَذَا لَهُ الْمَرْدُودُ الطَّيِّبُ عَلَى الْأَوْلَادِ فِيمَا بَعْدُ قَالَ: وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَجَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ فِي قِصَّةِ نِكَاحِ جَابِرٍ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَهُ هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ فَالْبِكْرُ إِنْ تَيَسَّرَتْ لِإِنْسَانٍ لَا شَكَّ أَنَّهَا أَوْلَى مِنَ الثَّيِّبِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ


Penulis nazam rahimahullahu Ta’ala berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan, yang penuh kasih sayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya, dan tekun beribadah. Berasal dari keluarga mulia dan terhormat, sehingga engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia. Dan carilah wanita yang masih perawan.” Beliau berkata, “Pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan.” Disebutkan dalam Ash-Shahihain (Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan keluarganya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya.” Maksudnya, pilihlah yang baik agamanya dan bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkannya. Bukan berarti seseorang tidak boleh mencari kecantikan atau mempertimbangkan nasab. Semua itu memang dicari dan dipertimbangkan seseorang. Namun yang harus menempati urutan pertama adalah agamanya. Hal pertama yang menjadi perhatian ketika mencermati dan mencari wanita salihah adalah agamanya, bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia dididik, dan di atas apa ia dibesarkan. Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, niscaya engkau meraih apa yang dicita-citakan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Maka pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yadaka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian sifat “penyayang”, ini juga disebutkan dalam hadis sahih di Sunan Abu Dawud dan selainnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud). “Penyayang” maksudnya baik dalam melimpahkan kasih sayang kepada suaminya, dan indah dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya, lembut dan baik tutur katanya kepada suaminya, serta penuh kasih sayang dalam pergaulan dan pergaulannya sehari-hari. “Yang penyayang, berasal dari keluarga yang dikenal banyak keturunannya.” Ketika beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur,” yakni yang keluarganya dikenal banyak keturunannya. Bagaimana mengetahui bahwa ia termasuk Al-Walud, yang banyak keturunannya? Dengan melihat keluarganya: saudarinya yang telah menikah, saudari-saudarinya, dan para sepupunya. Apakah keluarganya dikenal memiliki banyak keturunan atau banyak kelahiran. Ia dapat mempertimbangkan ini. “Yang penyayang, dari keluarga yang banyak keturunannya, dan tekun beribadah.” Tekun beribadah, yakni dikenal menjaga ibadahnya, terutama kewajiban-kewajiban Islam dan kewajiban agama yang agung. “Berasal dari keluarga mulia.” Yakni wanita yang berasal dari keluarga yang memiliki kemuliaan dan kehormatan. Ia punya keluarga yang dikenal dengan kedermawanan, akhlak yang mulia, dan baiknya bermuamalah. Sebab semua ini tercermin pada anak-anak dan berpengaruh kepada mereka. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman-paman mereka dari pihak ibu. Jika ia berasal dari keluarga mulia, dermawan, dan berkeutamaan, hal itu akan berpengaruh baik kepada anak-anak kelak. “Berasal dari keluarga mulia dan terhormat.” Jika engkau memilihnya dari keluarga yang punya kemuliaan, kedermawanan, keutamaan, kehormatan, dan keluhuran, hal itu akan berpengaruh kepada anak-anak. Sebagaimana kata penulis nazam, “Niscaya engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” “Engkau beruntung mendapatkan anak-anak yang mulia.” Artinya, dari pilihan itu diharapkan engkau memperoleh anak-anak yang mulia. Sebab anak-anak sering kali terpengaruh oleh paman dari pihak ibu, sangat terpengaruh oleh mereka. Maka bila engkau memilih keluarga yang mulia asal-usulnya, kedudukannya, kehormatannya, dan baik namanya, hal itu akan berdampak baik kepada anak-anak di kemudian hari. Beliau berkata, “Dan carilah wanita yang masih perawan.” Carilah wanita yang masih perawan. Dalam Ash-Shahihain, pada kisah pernikahan Jabir, Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda kepadanya, “Mengapa tidak engkau nikahi seorang perawan, agar engkau dapat bercanda dengannya dan ia bercanda denganmu?” (HR. Bukhari). Maka bila seseorang dimudahkan mendapatkan wanita perawan, tidak diragukan bahwa ia lebih utama daripada wanita yang pernah menikah. “Dan carilah wanita yang masih perawan.” ===== قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى الْ وَدُودِ وَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ يَقُولُ: عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَاوَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ أَيْ عَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ احْرِصْ عَلَيْهَا وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَطْلُبُ الْجَمَالَ وَلَا يَطْلُبُ النَّسَبَ كُلُّ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ تُطْلَبُ وَيَتَحَرَّاهَا الْإِنْسَانُ لَكِنْ أَهَمُّ مَا يَكُونُ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى هُوَ الدِّينُ وَالَّذِي يُرَكَّزُ عَلَيْهِ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَى فِي التَّحَرِّي وَالْبَحْثِ عَنِ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ يُنْظَرُ فِي دِينِهَا نَشْأَتِهَا تَرْبِيَتِهَا الشَّيْءِ الَّذِي تَرَبَّتْ عَلَيْهِ فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَظْفَرْ بِالْمُنَى كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ الْوَدُودُ وَهَذَا أَيْضًا جَاءَ فِي حَدِيثٍ صَحَّ فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ وَالْوَدُودُ أَيْ فِي حُسْنِ تَوَدُّدِهَا لِلزَّوْجِ وَجَمَالِ تَبَعُّلِهَا مَعَهُ وَتَلَطُّفِهَا وَحُسْنِ مُحَادَثَتِهَا لَهُ وَوَدُودًا فِي مُعَاشَرَتِهَا وَتَعَامُلِهَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ عِنْدَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ أَيْ وَلُودَ الْأَصْلِ كَيْفَ يُعْرَفُ أَنَّهَا وَلُودٌ؟ يُنْظَرُ فِي الْأُسْرَةِ تَزَوَّجَتْ أُخْتُهَا تَزَوَّجَتْ أَخَوَاتُهَا بَنَاتُ عَمِّهَا أُسْرَتُهَا مَعْرُوفٌ الْبَيْتُ بِكَثْرَةِ النَّسْلِ أَوْ كَثْرَةِ الْوِلَادَةِ فَيُنْظَرُ إِلَى هَذَا الْوَدُودِ الْوَلُودِ الْأَصْلِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ ذَاتِ التَّعَبُّدِ أَيِ الْمَعْرُوفَةِ بِمُحَافَظَتِهَا عَلَى الْعِبَادَةِ وَلَا سِيَّمَا فَرَائِضُ الْإِسْلَامِ وَوَاجِبَاتُ الدِّينِ الْعَظِيمَةِ حَسِيبَةَ أَصْلٍ حَسِيبَةَ أَصْلٍ أَيْ مِنْ ذَوَاتِ الْحَسَبِ وَالشَّرَفِ أَصْلًا وَلَهَا بَيْتٌ بَيْتٌ مَعْرُوفٌ بِالْكَرَمِ بِالْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ مَعْرُوفٌ بِحُسْنِ التَّعَامُلِ لِأَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ كُلَّهَا تَنْعَكِسُ عَلَى الْأَوْلَادِ وَلَهَا تَأْثِيرٌ عَلَى الْأَوْلَادِ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِأَخْوَالِهِمْ فَإِذَا كَانَتْ حَسِيبَةً وَبَيْتَ كَرَمٍ وَبَيْتَ فَضْلٍ فَإِنَّ هَذَا لَهُ مَرْدُودُهُ وَانْعِكَاسُهُ فِيمَا بَعْدُ عَلَى الْأَوْلَادِ حَسِيبَةِ أَصْلٍ مِنْ كِرَامٍ فَإِذَا انْتَقَيْتَهَا مِنْ أُنَاسٍ مِنْ ذَوِي الْحَسَبِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَالشَّرَفِ وَالنُّبْلِ هَذَا لَهُ انْعِكَاسُهُ عَلَى الْأَوْلَادِ مِثْلَ مَا قَالَ النَّاظِمُ: تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ تَفُزْ إِذَنْ بِوُلْدٍ كِرَامٍ فَهَذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ أَنَّكَ تَفُوزُ بِأَوْلَادٍ كِرَامٍ لِأَنَّ الْأَوْلَادَ كَثِيرًا مَا يَتَأَثَّرُونَ بِالْأَخْوَالِ يَتَأَثَّرُونَ بِهِمْ كَثِيرًا فَإِذَا كُنْتَ انْتَقَيْتَ بَيْتًا كَرِيمًا أَصْلًا وَحَسَبًا وَشَرَفًا وَمَكَانَةً طَيِّبَةً فَإِنَّ هَذَا لَهُ الْمَرْدُودُ الطَّيِّبُ عَلَى الْأَوْلَادِ فِيمَا بَعْدُ قَالَ: وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ وَجَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ فِي قِصَّةِ نِكَاحِ جَابِرٍ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَهُ هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ فَالْبِكْرُ إِنْ تَيَسَّرَتْ لِإِنْسَانٍ لَا شَكَّ أَنَّهَا أَوْلَى مِنَ الثَّيِّبِ وَالْبَكَارَةَ فَاقْصِدِ
Prev     Next