Bulughul Maram – Shalat: Bahaya Jika Kubur Orang Saleh Dijadikan Layaknya Masjid

Inilah hadits seputar masjid dari kitab Bulughul Maram. Di dalamnya diterangkan bahayanya jika kubur orang saleh dijadikan layaknya masjid.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur 1.1. Hadits #252 1.2. Hadits #253 Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur Hadits #252 وَعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ: اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَزَادَ مُسْلِمٌ: «وَالنَّصَارَى». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah membinasakan orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (Muttafaqun ‘alaih. Imam Muslim menambahkan, “Begitu juga dengan kaum Nasrani.“) [HR. Bukhari, no. 437 dan Muslim, no. 530]   Hadits #253 وَلَهُمَا: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «كَانَوا إذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِداً»، وَفِيْهِ: «أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ». Menurut riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa apabila ada laki-laki saleh di antara mereka yang meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburannya. Dalam hadits itu disebutkan, “Mereka itu sejelek-jelek makhluk.” [HR. Bukhari, no. 434 dan Muslim, no. 528]   Faedah hadits “Qaatalallahul Yahuda”, maksudnya adalah Allah itu melaknat Yahudi. Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah. Kalimat dalam hadits bermakna pengabaran dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Kalimatnya adalah kalimat khabar, tetapi bermakna doa. Hal ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar orang Yahudi jauh dari rahmat Allah. Walaupun dalam lafaz lain terdapat doa laknat juga kepada Nasrani. Yahudi berarti penyandaran kepada syariat Musa ‘alaihish shalaatu was salaam. Yahudi disandarkan kepada Yahudi akbar yaitu putra-putra Ya’qub ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka rujuk dan bertaubat dari penyembahan kepada anak sapi. Nasrani berarti penyandaran kepada syariat Isa ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka disebut Nasrani karena mereka turun di suatu kampung yang bernama Naashirah. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka menyatakan kalau mereka adalah “anshorullah” (penolong agama Allah). Mereka menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid, yaitu sebagai tempat shalat (tempat ibadah). Hal ini merujuk pada Yahudi karena ada kubur nabi mereka yang dijadikan sebagai masjid. Adapun Nasrani tidak menjadikan kubur Isa sebagai masjid. Tempat ibadah di kalangan Nasrani disebut dengan Kanisah. Secara umum, Yahudi dan Nasrani menjadikan kubur nabi dan para tokoh mereka sebagai tempat ibadah. Yang dimaksud, mereka adalah sejelek-jelek makhluk yaitu mereka telah menimbulkan kerusakan dengan berbuat syirik kepada Allah di muka bumi. Segala perbuatan yang menjadi wasilah (perantara) menuju syirik, maka pelakunya pantas disifati dengan “sejelek-jelek makhluk”. Hadits ini jadi dalil diharamkannya membangun masjid di atas kubur. Perbuatan ini termasuk dosa besar karena disebut sebagai perbuatan sejelek-jeleknya makhluk. Perbuatan membangun masjid di atas kubur termasuk perilaku Yahudi dan Nasrani. Ini termasuk bentuk sikap berlebihan terhadap nabi dan orang saleh di tengah-tengah mereka. Membangun masjid di atas kubur termasuk wasilah (perantara) terbesar dan peribadahan kepada selain Allah. Shalat di sisi kubur juga termasuk wasilah dalam hal ini. Inilah yang disebut menjadikan kubur sebagai masjid. Membangun masjid di atas kubur termasuk jalan menuju jenis syirik. Akhirnya, ada peribadahan pada kubur dan ada iktikaf di situ. Sebagian umat yang mengaku muslim di berbagai negara muslim ada yang mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani. Disebutkan dalam kitab Fath Al-Majid (hlm. 243), Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sampai berkata, “Syirik dan penyembahan pada kubur terjadi karena sebab Rafidhah (kaum Syiah). Merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kubur.” Menjadikan kubur sebagai masjid terdapat dua kerusakan di dalamnya, yaitu: (a) kerusakan terhadap kubur dan membangun masjid di atasnya; (b) kerusakan penyembahan kepada selain Allah. Baca Juga: Doa Ziarah Kubur dan Faedahnya Rumah yang Seperti Kuburan Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:469-472. — Selasa pagi, 28 Safar 1443 H, 5 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab memuliakan masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat kubur kubur nabi kuburan masjid ziarah kubur

Bulughul Maram – Shalat: Bahaya Jika Kubur Orang Saleh Dijadikan Layaknya Masjid

Inilah hadits seputar masjid dari kitab Bulughul Maram. Di dalamnya diterangkan bahayanya jika kubur orang saleh dijadikan layaknya masjid.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur 1.1. Hadits #252 1.2. Hadits #253 Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur Hadits #252 وَعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ: اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَزَادَ مُسْلِمٌ: «وَالنَّصَارَى». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah membinasakan orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (Muttafaqun ‘alaih. Imam Muslim menambahkan, “Begitu juga dengan kaum Nasrani.“) [HR. Bukhari, no. 437 dan Muslim, no. 530]   Hadits #253 وَلَهُمَا: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «كَانَوا إذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِداً»، وَفِيْهِ: «أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ». Menurut riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa apabila ada laki-laki saleh di antara mereka yang meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburannya. Dalam hadits itu disebutkan, “Mereka itu sejelek-jelek makhluk.” [HR. Bukhari, no. 434 dan Muslim, no. 528]   Faedah hadits “Qaatalallahul Yahuda”, maksudnya adalah Allah itu melaknat Yahudi. Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah. Kalimat dalam hadits bermakna pengabaran dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Kalimatnya adalah kalimat khabar, tetapi bermakna doa. Hal ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar orang Yahudi jauh dari rahmat Allah. Walaupun dalam lafaz lain terdapat doa laknat juga kepada Nasrani. Yahudi berarti penyandaran kepada syariat Musa ‘alaihish shalaatu was salaam. Yahudi disandarkan kepada Yahudi akbar yaitu putra-putra Ya’qub ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka rujuk dan bertaubat dari penyembahan kepada anak sapi. Nasrani berarti penyandaran kepada syariat Isa ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka disebut Nasrani karena mereka turun di suatu kampung yang bernama Naashirah. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka menyatakan kalau mereka adalah “anshorullah” (penolong agama Allah). Mereka menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid, yaitu sebagai tempat shalat (tempat ibadah). Hal ini merujuk pada Yahudi karena ada kubur nabi mereka yang dijadikan sebagai masjid. Adapun Nasrani tidak menjadikan kubur Isa sebagai masjid. Tempat ibadah di kalangan Nasrani disebut dengan Kanisah. Secara umum, Yahudi dan Nasrani menjadikan kubur nabi dan para tokoh mereka sebagai tempat ibadah. Yang dimaksud, mereka adalah sejelek-jelek makhluk yaitu mereka telah menimbulkan kerusakan dengan berbuat syirik kepada Allah di muka bumi. Segala perbuatan yang menjadi wasilah (perantara) menuju syirik, maka pelakunya pantas disifati dengan “sejelek-jelek makhluk”. Hadits ini jadi dalil diharamkannya membangun masjid di atas kubur. Perbuatan ini termasuk dosa besar karena disebut sebagai perbuatan sejelek-jeleknya makhluk. Perbuatan membangun masjid di atas kubur termasuk perilaku Yahudi dan Nasrani. Ini termasuk bentuk sikap berlebihan terhadap nabi dan orang saleh di tengah-tengah mereka. Membangun masjid di atas kubur termasuk wasilah (perantara) terbesar dan peribadahan kepada selain Allah. Shalat di sisi kubur juga termasuk wasilah dalam hal ini. Inilah yang disebut menjadikan kubur sebagai masjid. Membangun masjid di atas kubur termasuk jalan menuju jenis syirik. Akhirnya, ada peribadahan pada kubur dan ada iktikaf di situ. Sebagian umat yang mengaku muslim di berbagai negara muslim ada yang mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani. Disebutkan dalam kitab Fath Al-Majid (hlm. 243), Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sampai berkata, “Syirik dan penyembahan pada kubur terjadi karena sebab Rafidhah (kaum Syiah). Merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kubur.” Menjadikan kubur sebagai masjid terdapat dua kerusakan di dalamnya, yaitu: (a) kerusakan terhadap kubur dan membangun masjid di atasnya; (b) kerusakan penyembahan kepada selain Allah. Baca Juga: Doa Ziarah Kubur dan Faedahnya Rumah yang Seperti Kuburan Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:469-472. — Selasa pagi, 28 Safar 1443 H, 5 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab memuliakan masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat kubur kubur nabi kuburan masjid ziarah kubur
Inilah hadits seputar masjid dari kitab Bulughul Maram. Di dalamnya diterangkan bahayanya jika kubur orang saleh dijadikan layaknya masjid.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur 1.1. Hadits #252 1.2. Hadits #253 Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur Hadits #252 وَعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ: اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَزَادَ مُسْلِمٌ: «وَالنَّصَارَى». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah membinasakan orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (Muttafaqun ‘alaih. Imam Muslim menambahkan, “Begitu juga dengan kaum Nasrani.“) [HR. Bukhari, no. 437 dan Muslim, no. 530]   Hadits #253 وَلَهُمَا: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «كَانَوا إذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِداً»، وَفِيْهِ: «أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ». Menurut riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa apabila ada laki-laki saleh di antara mereka yang meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburannya. Dalam hadits itu disebutkan, “Mereka itu sejelek-jelek makhluk.” [HR. Bukhari, no. 434 dan Muslim, no. 528]   Faedah hadits “Qaatalallahul Yahuda”, maksudnya adalah Allah itu melaknat Yahudi. Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah. Kalimat dalam hadits bermakna pengabaran dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Kalimatnya adalah kalimat khabar, tetapi bermakna doa. Hal ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar orang Yahudi jauh dari rahmat Allah. Walaupun dalam lafaz lain terdapat doa laknat juga kepada Nasrani. Yahudi berarti penyandaran kepada syariat Musa ‘alaihish shalaatu was salaam. Yahudi disandarkan kepada Yahudi akbar yaitu putra-putra Ya’qub ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka rujuk dan bertaubat dari penyembahan kepada anak sapi. Nasrani berarti penyandaran kepada syariat Isa ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka disebut Nasrani karena mereka turun di suatu kampung yang bernama Naashirah. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka menyatakan kalau mereka adalah “anshorullah” (penolong agama Allah). Mereka menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid, yaitu sebagai tempat shalat (tempat ibadah). Hal ini merujuk pada Yahudi karena ada kubur nabi mereka yang dijadikan sebagai masjid. Adapun Nasrani tidak menjadikan kubur Isa sebagai masjid. Tempat ibadah di kalangan Nasrani disebut dengan Kanisah. Secara umum, Yahudi dan Nasrani menjadikan kubur nabi dan para tokoh mereka sebagai tempat ibadah. Yang dimaksud, mereka adalah sejelek-jelek makhluk yaitu mereka telah menimbulkan kerusakan dengan berbuat syirik kepada Allah di muka bumi. Segala perbuatan yang menjadi wasilah (perantara) menuju syirik, maka pelakunya pantas disifati dengan “sejelek-jelek makhluk”. Hadits ini jadi dalil diharamkannya membangun masjid di atas kubur. Perbuatan ini termasuk dosa besar karena disebut sebagai perbuatan sejelek-jeleknya makhluk. Perbuatan membangun masjid di atas kubur termasuk perilaku Yahudi dan Nasrani. Ini termasuk bentuk sikap berlebihan terhadap nabi dan orang saleh di tengah-tengah mereka. Membangun masjid di atas kubur termasuk wasilah (perantara) terbesar dan peribadahan kepada selain Allah. Shalat di sisi kubur juga termasuk wasilah dalam hal ini. Inilah yang disebut menjadikan kubur sebagai masjid. Membangun masjid di atas kubur termasuk jalan menuju jenis syirik. Akhirnya, ada peribadahan pada kubur dan ada iktikaf di situ. Sebagian umat yang mengaku muslim di berbagai negara muslim ada yang mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani. Disebutkan dalam kitab Fath Al-Majid (hlm. 243), Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sampai berkata, “Syirik dan penyembahan pada kubur terjadi karena sebab Rafidhah (kaum Syiah). Merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kubur.” Menjadikan kubur sebagai masjid terdapat dua kerusakan di dalamnya, yaitu: (a) kerusakan terhadap kubur dan membangun masjid di atasnya; (b) kerusakan penyembahan kepada selain Allah. Baca Juga: Doa Ziarah Kubur dan Faedahnya Rumah yang Seperti Kuburan Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:469-472. — Selasa pagi, 28 Safar 1443 H, 5 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab memuliakan masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat kubur kubur nabi kuburan masjid ziarah kubur


Inilah hadits seputar masjid dari kitab Bulughul Maram. Di dalamnya diterangkan bahayanya jika kubur orang saleh dijadikan layaknya masjid.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur 1.1. Hadits #252 1.2. Hadits #253 Hukum Membangun Masjid di Atas Kubur Hadits #252 وَعَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ: اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَزَادَ مُسْلِمٌ: «وَالنَّصَارَى». Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah membinasakan orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (Muttafaqun ‘alaih. Imam Muslim menambahkan, “Begitu juga dengan kaum Nasrani.“) [HR. Bukhari, no. 437 dan Muslim, no. 530]   Hadits #253 وَلَهُمَا: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: «كَانَوا إذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلُ الصَالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِداً»، وَفِيْهِ: «أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ». Menurut riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa apabila ada laki-laki saleh di antara mereka yang meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburannya. Dalam hadits itu disebutkan, “Mereka itu sejelek-jelek makhluk.” [HR. Bukhari, no. 434 dan Muslim, no. 528]   Faedah hadits “Qaatalallahul Yahuda”, maksudnya adalah Allah itu melaknat Yahudi. Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah. Kalimat dalam hadits bermakna pengabaran dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Kalimatnya adalah kalimat khabar, tetapi bermakna doa. Hal ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar orang Yahudi jauh dari rahmat Allah. Walaupun dalam lafaz lain terdapat doa laknat juga kepada Nasrani. Yahudi berarti penyandaran kepada syariat Musa ‘alaihish shalaatu was salaam. Yahudi disandarkan kepada Yahudi akbar yaitu putra-putra Ya’qub ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka rujuk dan bertaubat dari penyembahan kepada anak sapi. Nasrani berarti penyandaran kepada syariat Isa ‘alaihish shalaatu was salaam. Mereka disebut Nasrani karena mereka turun di suatu kampung yang bernama Naashirah. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka menyatakan kalau mereka adalah “anshorullah” (penolong agama Allah). Mereka menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid, yaitu sebagai tempat shalat (tempat ibadah). Hal ini merujuk pada Yahudi karena ada kubur nabi mereka yang dijadikan sebagai masjid. Adapun Nasrani tidak menjadikan kubur Isa sebagai masjid. Tempat ibadah di kalangan Nasrani disebut dengan Kanisah. Secara umum, Yahudi dan Nasrani menjadikan kubur nabi dan para tokoh mereka sebagai tempat ibadah. Yang dimaksud, mereka adalah sejelek-jelek makhluk yaitu mereka telah menimbulkan kerusakan dengan berbuat syirik kepada Allah di muka bumi. Segala perbuatan yang menjadi wasilah (perantara) menuju syirik, maka pelakunya pantas disifati dengan “sejelek-jelek makhluk”. Hadits ini jadi dalil diharamkannya membangun masjid di atas kubur. Perbuatan ini termasuk dosa besar karena disebut sebagai perbuatan sejelek-jeleknya makhluk. Perbuatan membangun masjid di atas kubur termasuk perilaku Yahudi dan Nasrani. Ini termasuk bentuk sikap berlebihan terhadap nabi dan orang saleh di tengah-tengah mereka. Membangun masjid di atas kubur termasuk wasilah (perantara) terbesar dan peribadahan kepada selain Allah. Shalat di sisi kubur juga termasuk wasilah dalam hal ini. Inilah yang disebut menjadikan kubur sebagai masjid. Membangun masjid di atas kubur termasuk jalan menuju jenis syirik. Akhirnya, ada peribadahan pada kubur dan ada iktikaf di situ. Sebagian umat yang mengaku muslim di berbagai negara muslim ada yang mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani. Disebutkan dalam kitab Fath Al-Majid (hlm. 243), Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sampai berkata, “Syirik dan penyembahan pada kubur terjadi karena sebab Rafidhah (kaum Syiah). Merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kubur.” Menjadikan kubur sebagai masjid terdapat dua kerusakan di dalamnya, yaitu: (a) kerusakan terhadap kubur dan membangun masjid di atasnya; (b) kerusakan penyembahan kepada selain Allah. Baca Juga: Doa Ziarah Kubur dan Faedahnya Rumah yang Seperti Kuburan Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:469-472. — Selasa pagi, 28 Safar 1443 H, 5 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab memuliakan masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat kubur kubur nabi kuburan masjid ziarah kubur

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 4)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين Ketahuilah -semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya- bahwa Al-Hanifiyyah, yaitu agama Ibrahim, adalah kamu beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama untuk-Nya.Penjelasan :Sebagaimana kebiasaan beliau, penulis rahimahullah mendoakan kebaikan untuk pembaca risalahnya. Hal ini mengandung sikap kelembutan seorang dai dan pengajar kepada orang yang dia ajari. Demikianlah semestinya profil seorang pendakwah. Kelembutan dan kasih sayang merupakan sifat utama yang harus ada pada seorang da’i ilallah.Di dalam doa ini beliau memohon kepada Allah agar memberikan bimbingan kepada kita dalam hal ilmu dan amalan. Karena yang dimaksud dengan ar-rusyd adalah mengamalkan kebenaran yang telah diketahui. Lawan darinya adalah ghawayah/menyimpang, yaitu tidak mengamalkan ilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati oleh Allah sebagai orang yang tidak dholla/sesat dan tidak ghowa/menyimpang. Yang disebut dholla atau dholal adalah tidak berilmu alias bodoh sehingga tersesat dari jalan yang benar. Adapun ghowa atau ghowayah adalah tidak mengamalkan ilmu alias meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya. Kedua sifat buruk ini ternafikan dari diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Maka, demikianlah sifat yang dikehendaki ada pada diri setiap muslim. Menggabungkan antara ilmu yang bermanfaat dengan amal saleh. Saking beratnya dosa tidak mengamalkan ilmu, disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa orang yang berilmu tetapi tidak beramal dengannya maka ia diazab sebelum para pemuja berhala. Semoga Allah melindungi kita darinya.Di dalam doa ini, penulis mendoakan agar Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan sumber segala kebaikan dan asas kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang mencapai tingkatan tinggi dalam tauhid senantiasa memiliki sifat taat dan patuh kepada Allah. Sebagaimana sifat yang ada pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang Allah kisahkan di dalam Al-Qur’an. Allah menyebut beliau sebagai sosok yang qaanitan lillaah, selalu patuh dan taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan bukti kecintaan seorang hamba.Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan orang arab innal muhibba liman yuhibbu muthii’u yang berarti bahwa orang yang mencintai tentu taat kepada siapa yang dia cintai. Ibadah kepada Allah merupakan kecintaan yang melahirkan ketaatan dan ketundukan. Karena ibadah itu tegak di atas dua pilar utama, perendahan seutuhnya kepada Allah dan kecintaan yang tinggi kepada-Nya, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.  Dalam Nuniyah-nya beliau berkata,Ibadah kepada Ar-Rahman merupakan puncak kecintaan kepada-NyaBeserta perendahan diri sang hambaItulah dua poros agamaDi atas kedua poros itulah tata surya ibadah beredarKetaatan kepada Allah mencakup dua bagian utama:– melaksanakan perintah-Nya– menjauhi larangan-NyaBaca Juga: Pelajaran Aqidah Dan Manhaj Dari Surat Al-Fatihah (1)Millah IbrahimKemudian, penulis rahimahullah menjelaskan kepada kita tentang makna Al-Hanifiyyah atau millah Ibrahim. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendakwahkan agama Islam, sebagaimana seluruh nabi yang lain. Karena semua nabi mengajarkan Islam. Meskipun demikian, Allah memilih Ibrahim sebagai teladan bagi para nabi sesudahnya. Dan Allah turunkan dari anak cucunya para nabi setelahnya sampai nabi yang terakhir, yaitu nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana beliau merupakan keturunan dari Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘alaihimas salam.Lebih daripada itu, Allah pun memilih Ibrahim sebagai khalil/kekasih-Nya. Tidak lain karena tingkat penghambaan beliau dan nilai ketauhidannya yang sangat mulia. Bagaimana tidak? Begitu banyak ujian dan cobaan yang beliau hadapi dalam memperjuangkan dakwah tauhid ini. Dan beliau pun mendapat taufik dari Allah untuk melalui segala ujian itu dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Oleh sebab itu, masyhur perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa beliau mengatakan, “Dengan sabar dan keyakinan akan diraih kepemimpinan dalam agama.”Ibrahim merupakan sosok yang sangat penting dalam dakwah tauhid ini. Bahkan sampai-sampai berbagai penganut agama pun menisbatkan diri sebagai penerus ajarannya. Walaupun pada umumnya, itu hanya klaim semata tanpa bukti. Orang-orang Yahudi mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim, padahal mereka pun telah menyelewengkan ayat-ayat Taurat, kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka pun menolak untuk beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, mereka mengenal dengan baik ciri-ciri beliau -yang telah dijelaskan di dalam Taurat- sebagaimana seorang bapak mengenali anak-anaknya sendiri. Begitu pula, orang Nasrani mengklaim sebagai penerus ajaran Ibrahim karena mereka mengaku sebagai pengikut ajaran Isa ‘alaihis salam yang mereka angkat sebagai Tuhan. Sehingga, jatuhlah mereka dalam sikap berlebihan dan mempersekutukan Allah Ar-Rahman. Mereka menisbatkan anak kepada Allah. Sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan oleh Nabi Ibrahim, bahkan tidak juga oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Bukan hanya itu, kaum musyrikin pun tidak mau kalah. Mereka yang sekian lama memenuhi pelataran Ka’bah dengan berhala pun menganggap bahwa merekalah yang paling pantas disebut sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Karena merekalah yang mengagungkan Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim bersama Ismail putranya. Padahal, Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menyembah berhala. Demikianlah, setan mengelabui manusia dan menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Maka, siapa pun yang mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim wajib menyadari bahwa agama yang beliau sampaikan kepada manusia adalah Islam. Ajaran yang menuntut setiap hamba untuk memurnikan ibadahnya kepada Allah.Ajaran Kitab Suci dari LangitAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidak mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (disebutkan oleh Imam Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya Ma’alim At-Tanzil, hal. 1426)Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa dari ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya, dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hal. 76-77)Ibadah itu sendiri merupakan perpaduan antara kecintaan dan ketundukan. Apabila ia ditujukan kepada Allah semata, maka jadilah ia ibadah yang tegak di atas tauhid. Sedangkan apabila ia ditujukan kepada selain-Nya, maka ia menjadi ibadah yang tegak di atas syirik. Ibadah kepada Allah yang sesuai dengan syariat disebut ibadah yang syar’iyah, sedangkan ibadah yang menyelisihi tuntunan syariat disebut sebagai ibadah yang bid’ah. (lihat Syarh Risalah Miftah Daris Salam oleh Syekh Shalih bin Abdillah Al-‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 9)Allah berfirman,مَا كَانَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ یَهُودِیࣰّا وَلَا نَصۡرَانِیࣰّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِیفࣰا مُّسۡلِمࣰا“Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim.” (Ali ‘Imran : 67)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Allah ‘Azza Wajalla menjadikan Ibrahim sebagai seorang yang hanif, dalam artian orang yang berpaling dari jalan syirik menuju tauhid yang murni. Adapun Al-Hanifiyah adalah millah/ajaran yang berpaling dari segala kebatilan menuju kebenaran dan menjauh dari semua bentuk kebatilan serta condong menuju kebenaran. Itulah millah bapak kita Ibrahim ‘alaihis salam.” (lihat Syarh al-Qawa’id Al-Arba’ dengan tahqiq ‘Adil Rifa’i, hal. 13-14)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat, serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Allah berfirman,وَقَالُوا۟ كُونُوا۟ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ تَهۡتَدُوا۟ۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Mereka mengatakan ‘Jadilah kalian pengikut Yahudi atau Nasrani niscaya kalian mendapatkan petunjuk!’ Katakanlah, ‘Bahkan millah Ibrahim yang hanif itulah -yang harus diikuti- dan dia bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah : 135)Allah berfirman,إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا وَلَمۡ یَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَشَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat/teladan yang senantiasa patuh kepada Allah lagi hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.  Dia selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (An-Nahl : 120-121)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya di atas syariat yang diridai.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4/611)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Hakikat millah Ibrahim itu adalah mewujudkan makna laa ilaha illallah, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza Wajalla dalam surat Az-Zukhruf,وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ لِأَبِیهِ وَقَوۡمِهِۦۤ إِنَّنِی بَرَاۤءࣱ مِّمَّا تَعۡبُدُونَإِلَّا ٱلَّذِی فَطَرَنِی فَإِنَّهُۥ سَیَهۡدِینِوَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِیَةࣰ فِی عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah, kecuali Zat yang telah menciptakanku, maka sesungguhnya Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.’ Dan Ibrahim menjadikannya sebagai kalimat yang tetap di dalam keturunannya, mudah-mudahan mereka kembali kepadanya.” (Az-Zukhruf : 26-28).” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kalimat ini, yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan mencampakkan segala berhala yang disembah selain-Nya, itulah kalimat laa ilaha illallah yang dijadikan oleh Ibrahim sebagai ketetapan bagi anak keturunannya supaya dengan sebab itu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dari keturunan Ibrahim ‘alaihis salam tunduk mengikutinya.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7/225)Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya agama Allah yang dipilih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, agama yang menjadi misi diutusnya para rasul, dan agama yang menjadi muatan kitab-kitab yang diturunkan-Nya ialah Al-Hanifiyah. Itulah agama Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Sebagaimana itu menjadi agama para nabi sebelumnya dan para rasul sesudahnya hingga penutup mereka semua yaitu Muhammad, semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semuanya.” (lihat Al-Bayan Al-Murashsha’ Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Allah berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim secara hanif.’” (An-Nahl : 123)Allah berfirman,قُلۡ إِنَّنِی هَدَىٰنِی رَبِّیۤ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ دِینࣰا قِیَمࣰا مِّلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah diberikan petunjuk oleh Rabbku menuju jalan yang lurus, agama yang tegak yaitu millah Ibrahim yang hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang musyrik.’” (Al-An’am : 161)Syekh Shalih bin Abdul Aziz alu Syekh hafizhahullah berkata, “Maka millah Ibrahim ‘alaihis salam itu adalah tauhid.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba‘, hal. 15)Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah berkata, “Millah Ibrahim itu adalah syariat dan keyakinan yang dijalani oleh bapaknya para nabi yaitu Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ibrahim adalah salah satu nabi yang paling utama dan termasuk jajaran rasul yang digelari sebagai ulul ‘azmi.” (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 224)Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ibrahim ‘alaihis salam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah ‘Azza Wajalla sebagaimana para nabi yang lain. Semua nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 330)Baca Juga: Menilik Perhatian Para Sahabat Terhadap Masalah AqidahAgama Para NabiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Para nabi itu adalah saudara-saudara sebapak, sedangkan ibu mereka berbeda-beda. Dan agama mereka itu adalah sama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Allah berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tiada sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (Al-Anbiyaa’ : 25)Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya,یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ“Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (Huud : 50).Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul ‘alaihimush sholatu wassalam. (lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19)Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Orang yang hanif adalah yang beriman kepada seluruh rasul dari yang pertama hingga yang terakhir.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Qatadah rahimahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah syahadat laa ilaha illallah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah tauhid. Yaitu kamu beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya. Ini merupakan kandungan makna dari laa ilaha illallah. Karena sesungguhnya maknanya adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 11)Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Bersambung insyaAllah.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 5)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 4)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين Ketahuilah -semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya- bahwa Al-Hanifiyyah, yaitu agama Ibrahim, adalah kamu beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama untuk-Nya.Penjelasan :Sebagaimana kebiasaan beliau, penulis rahimahullah mendoakan kebaikan untuk pembaca risalahnya. Hal ini mengandung sikap kelembutan seorang dai dan pengajar kepada orang yang dia ajari. Demikianlah semestinya profil seorang pendakwah. Kelembutan dan kasih sayang merupakan sifat utama yang harus ada pada seorang da’i ilallah.Di dalam doa ini beliau memohon kepada Allah agar memberikan bimbingan kepada kita dalam hal ilmu dan amalan. Karena yang dimaksud dengan ar-rusyd adalah mengamalkan kebenaran yang telah diketahui. Lawan darinya adalah ghawayah/menyimpang, yaitu tidak mengamalkan ilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati oleh Allah sebagai orang yang tidak dholla/sesat dan tidak ghowa/menyimpang. Yang disebut dholla atau dholal adalah tidak berilmu alias bodoh sehingga tersesat dari jalan yang benar. Adapun ghowa atau ghowayah adalah tidak mengamalkan ilmu alias meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya. Kedua sifat buruk ini ternafikan dari diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Maka, demikianlah sifat yang dikehendaki ada pada diri setiap muslim. Menggabungkan antara ilmu yang bermanfaat dengan amal saleh. Saking beratnya dosa tidak mengamalkan ilmu, disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa orang yang berilmu tetapi tidak beramal dengannya maka ia diazab sebelum para pemuja berhala. Semoga Allah melindungi kita darinya.Di dalam doa ini, penulis mendoakan agar Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan sumber segala kebaikan dan asas kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang mencapai tingkatan tinggi dalam tauhid senantiasa memiliki sifat taat dan patuh kepada Allah. Sebagaimana sifat yang ada pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang Allah kisahkan di dalam Al-Qur’an. Allah menyebut beliau sebagai sosok yang qaanitan lillaah, selalu patuh dan taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan bukti kecintaan seorang hamba.Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan orang arab innal muhibba liman yuhibbu muthii’u yang berarti bahwa orang yang mencintai tentu taat kepada siapa yang dia cintai. Ibadah kepada Allah merupakan kecintaan yang melahirkan ketaatan dan ketundukan. Karena ibadah itu tegak di atas dua pilar utama, perendahan seutuhnya kepada Allah dan kecintaan yang tinggi kepada-Nya, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.  Dalam Nuniyah-nya beliau berkata,Ibadah kepada Ar-Rahman merupakan puncak kecintaan kepada-NyaBeserta perendahan diri sang hambaItulah dua poros agamaDi atas kedua poros itulah tata surya ibadah beredarKetaatan kepada Allah mencakup dua bagian utama:– melaksanakan perintah-Nya– menjauhi larangan-NyaBaca Juga: Pelajaran Aqidah Dan Manhaj Dari Surat Al-Fatihah (1)Millah IbrahimKemudian, penulis rahimahullah menjelaskan kepada kita tentang makna Al-Hanifiyyah atau millah Ibrahim. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendakwahkan agama Islam, sebagaimana seluruh nabi yang lain. Karena semua nabi mengajarkan Islam. Meskipun demikian, Allah memilih Ibrahim sebagai teladan bagi para nabi sesudahnya. Dan Allah turunkan dari anak cucunya para nabi setelahnya sampai nabi yang terakhir, yaitu nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana beliau merupakan keturunan dari Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘alaihimas salam.Lebih daripada itu, Allah pun memilih Ibrahim sebagai khalil/kekasih-Nya. Tidak lain karena tingkat penghambaan beliau dan nilai ketauhidannya yang sangat mulia. Bagaimana tidak? Begitu banyak ujian dan cobaan yang beliau hadapi dalam memperjuangkan dakwah tauhid ini. Dan beliau pun mendapat taufik dari Allah untuk melalui segala ujian itu dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Oleh sebab itu, masyhur perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa beliau mengatakan, “Dengan sabar dan keyakinan akan diraih kepemimpinan dalam agama.”Ibrahim merupakan sosok yang sangat penting dalam dakwah tauhid ini. Bahkan sampai-sampai berbagai penganut agama pun menisbatkan diri sebagai penerus ajarannya. Walaupun pada umumnya, itu hanya klaim semata tanpa bukti. Orang-orang Yahudi mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim, padahal mereka pun telah menyelewengkan ayat-ayat Taurat, kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka pun menolak untuk beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, mereka mengenal dengan baik ciri-ciri beliau -yang telah dijelaskan di dalam Taurat- sebagaimana seorang bapak mengenali anak-anaknya sendiri. Begitu pula, orang Nasrani mengklaim sebagai penerus ajaran Ibrahim karena mereka mengaku sebagai pengikut ajaran Isa ‘alaihis salam yang mereka angkat sebagai Tuhan. Sehingga, jatuhlah mereka dalam sikap berlebihan dan mempersekutukan Allah Ar-Rahman. Mereka menisbatkan anak kepada Allah. Sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan oleh Nabi Ibrahim, bahkan tidak juga oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Bukan hanya itu, kaum musyrikin pun tidak mau kalah. Mereka yang sekian lama memenuhi pelataran Ka’bah dengan berhala pun menganggap bahwa merekalah yang paling pantas disebut sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Karena merekalah yang mengagungkan Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim bersama Ismail putranya. Padahal, Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menyembah berhala. Demikianlah, setan mengelabui manusia dan menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Maka, siapa pun yang mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim wajib menyadari bahwa agama yang beliau sampaikan kepada manusia adalah Islam. Ajaran yang menuntut setiap hamba untuk memurnikan ibadahnya kepada Allah.Ajaran Kitab Suci dari LangitAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidak mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (disebutkan oleh Imam Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya Ma’alim At-Tanzil, hal. 1426)Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa dari ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya, dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hal. 76-77)Ibadah itu sendiri merupakan perpaduan antara kecintaan dan ketundukan. Apabila ia ditujukan kepada Allah semata, maka jadilah ia ibadah yang tegak di atas tauhid. Sedangkan apabila ia ditujukan kepada selain-Nya, maka ia menjadi ibadah yang tegak di atas syirik. Ibadah kepada Allah yang sesuai dengan syariat disebut ibadah yang syar’iyah, sedangkan ibadah yang menyelisihi tuntunan syariat disebut sebagai ibadah yang bid’ah. (lihat Syarh Risalah Miftah Daris Salam oleh Syekh Shalih bin Abdillah Al-‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 9)Allah berfirman,مَا كَانَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ یَهُودِیࣰّا وَلَا نَصۡرَانِیࣰّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِیفࣰا مُّسۡلِمࣰا“Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim.” (Ali ‘Imran : 67)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Allah ‘Azza Wajalla menjadikan Ibrahim sebagai seorang yang hanif, dalam artian orang yang berpaling dari jalan syirik menuju tauhid yang murni. Adapun Al-Hanifiyah adalah millah/ajaran yang berpaling dari segala kebatilan menuju kebenaran dan menjauh dari semua bentuk kebatilan serta condong menuju kebenaran. Itulah millah bapak kita Ibrahim ‘alaihis salam.” (lihat Syarh al-Qawa’id Al-Arba’ dengan tahqiq ‘Adil Rifa’i, hal. 13-14)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat, serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Allah berfirman,وَقَالُوا۟ كُونُوا۟ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ تَهۡتَدُوا۟ۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Mereka mengatakan ‘Jadilah kalian pengikut Yahudi atau Nasrani niscaya kalian mendapatkan petunjuk!’ Katakanlah, ‘Bahkan millah Ibrahim yang hanif itulah -yang harus diikuti- dan dia bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah : 135)Allah berfirman,إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا وَلَمۡ یَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَشَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat/teladan yang senantiasa patuh kepada Allah lagi hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.  Dia selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (An-Nahl : 120-121)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya di atas syariat yang diridai.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4/611)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Hakikat millah Ibrahim itu adalah mewujudkan makna laa ilaha illallah, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza Wajalla dalam surat Az-Zukhruf,وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ لِأَبِیهِ وَقَوۡمِهِۦۤ إِنَّنِی بَرَاۤءࣱ مِّمَّا تَعۡبُدُونَإِلَّا ٱلَّذِی فَطَرَنِی فَإِنَّهُۥ سَیَهۡدِینِوَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِیَةࣰ فِی عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah, kecuali Zat yang telah menciptakanku, maka sesungguhnya Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.’ Dan Ibrahim menjadikannya sebagai kalimat yang tetap di dalam keturunannya, mudah-mudahan mereka kembali kepadanya.” (Az-Zukhruf : 26-28).” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kalimat ini, yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan mencampakkan segala berhala yang disembah selain-Nya, itulah kalimat laa ilaha illallah yang dijadikan oleh Ibrahim sebagai ketetapan bagi anak keturunannya supaya dengan sebab itu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dari keturunan Ibrahim ‘alaihis salam tunduk mengikutinya.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7/225)Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya agama Allah yang dipilih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, agama yang menjadi misi diutusnya para rasul, dan agama yang menjadi muatan kitab-kitab yang diturunkan-Nya ialah Al-Hanifiyah. Itulah agama Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Sebagaimana itu menjadi agama para nabi sebelumnya dan para rasul sesudahnya hingga penutup mereka semua yaitu Muhammad, semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semuanya.” (lihat Al-Bayan Al-Murashsha’ Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Allah berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim secara hanif.’” (An-Nahl : 123)Allah berfirman,قُلۡ إِنَّنِی هَدَىٰنِی رَبِّیۤ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ دِینࣰا قِیَمࣰا مِّلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah diberikan petunjuk oleh Rabbku menuju jalan yang lurus, agama yang tegak yaitu millah Ibrahim yang hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang musyrik.’” (Al-An’am : 161)Syekh Shalih bin Abdul Aziz alu Syekh hafizhahullah berkata, “Maka millah Ibrahim ‘alaihis salam itu adalah tauhid.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba‘, hal. 15)Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah berkata, “Millah Ibrahim itu adalah syariat dan keyakinan yang dijalani oleh bapaknya para nabi yaitu Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ibrahim adalah salah satu nabi yang paling utama dan termasuk jajaran rasul yang digelari sebagai ulul ‘azmi.” (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 224)Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ibrahim ‘alaihis salam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah ‘Azza Wajalla sebagaimana para nabi yang lain. Semua nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 330)Baca Juga: Menilik Perhatian Para Sahabat Terhadap Masalah AqidahAgama Para NabiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Para nabi itu adalah saudara-saudara sebapak, sedangkan ibu mereka berbeda-beda. Dan agama mereka itu adalah sama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Allah berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tiada sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (Al-Anbiyaa’ : 25)Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya,یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ“Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (Huud : 50).Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul ‘alaihimush sholatu wassalam. (lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19)Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Orang yang hanif adalah yang beriman kepada seluruh rasul dari yang pertama hingga yang terakhir.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Qatadah rahimahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah syahadat laa ilaha illallah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah tauhid. Yaitu kamu beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya. Ini merupakan kandungan makna dari laa ilaha illallah. Karena sesungguhnya maknanya adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 11)Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Bersambung insyaAllah.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 4)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين Ketahuilah -semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya- bahwa Al-Hanifiyyah, yaitu agama Ibrahim, adalah kamu beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama untuk-Nya.Penjelasan :Sebagaimana kebiasaan beliau, penulis rahimahullah mendoakan kebaikan untuk pembaca risalahnya. Hal ini mengandung sikap kelembutan seorang dai dan pengajar kepada orang yang dia ajari. Demikianlah semestinya profil seorang pendakwah. Kelembutan dan kasih sayang merupakan sifat utama yang harus ada pada seorang da’i ilallah.Di dalam doa ini beliau memohon kepada Allah agar memberikan bimbingan kepada kita dalam hal ilmu dan amalan. Karena yang dimaksud dengan ar-rusyd adalah mengamalkan kebenaran yang telah diketahui. Lawan darinya adalah ghawayah/menyimpang, yaitu tidak mengamalkan ilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati oleh Allah sebagai orang yang tidak dholla/sesat dan tidak ghowa/menyimpang. Yang disebut dholla atau dholal adalah tidak berilmu alias bodoh sehingga tersesat dari jalan yang benar. Adapun ghowa atau ghowayah adalah tidak mengamalkan ilmu alias meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya. Kedua sifat buruk ini ternafikan dari diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Maka, demikianlah sifat yang dikehendaki ada pada diri setiap muslim. Menggabungkan antara ilmu yang bermanfaat dengan amal saleh. Saking beratnya dosa tidak mengamalkan ilmu, disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa orang yang berilmu tetapi tidak beramal dengannya maka ia diazab sebelum para pemuja berhala. Semoga Allah melindungi kita darinya.Di dalam doa ini, penulis mendoakan agar Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan sumber segala kebaikan dan asas kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang mencapai tingkatan tinggi dalam tauhid senantiasa memiliki sifat taat dan patuh kepada Allah. Sebagaimana sifat yang ada pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang Allah kisahkan di dalam Al-Qur’an. Allah menyebut beliau sebagai sosok yang qaanitan lillaah, selalu patuh dan taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan bukti kecintaan seorang hamba.Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan orang arab innal muhibba liman yuhibbu muthii’u yang berarti bahwa orang yang mencintai tentu taat kepada siapa yang dia cintai. Ibadah kepada Allah merupakan kecintaan yang melahirkan ketaatan dan ketundukan. Karena ibadah itu tegak di atas dua pilar utama, perendahan seutuhnya kepada Allah dan kecintaan yang tinggi kepada-Nya, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.  Dalam Nuniyah-nya beliau berkata,Ibadah kepada Ar-Rahman merupakan puncak kecintaan kepada-NyaBeserta perendahan diri sang hambaItulah dua poros agamaDi atas kedua poros itulah tata surya ibadah beredarKetaatan kepada Allah mencakup dua bagian utama:– melaksanakan perintah-Nya– menjauhi larangan-NyaBaca Juga: Pelajaran Aqidah Dan Manhaj Dari Surat Al-Fatihah (1)Millah IbrahimKemudian, penulis rahimahullah menjelaskan kepada kita tentang makna Al-Hanifiyyah atau millah Ibrahim. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendakwahkan agama Islam, sebagaimana seluruh nabi yang lain. Karena semua nabi mengajarkan Islam. Meskipun demikian, Allah memilih Ibrahim sebagai teladan bagi para nabi sesudahnya. Dan Allah turunkan dari anak cucunya para nabi setelahnya sampai nabi yang terakhir, yaitu nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana beliau merupakan keturunan dari Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘alaihimas salam.Lebih daripada itu, Allah pun memilih Ibrahim sebagai khalil/kekasih-Nya. Tidak lain karena tingkat penghambaan beliau dan nilai ketauhidannya yang sangat mulia. Bagaimana tidak? Begitu banyak ujian dan cobaan yang beliau hadapi dalam memperjuangkan dakwah tauhid ini. Dan beliau pun mendapat taufik dari Allah untuk melalui segala ujian itu dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Oleh sebab itu, masyhur perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa beliau mengatakan, “Dengan sabar dan keyakinan akan diraih kepemimpinan dalam agama.”Ibrahim merupakan sosok yang sangat penting dalam dakwah tauhid ini. Bahkan sampai-sampai berbagai penganut agama pun menisbatkan diri sebagai penerus ajarannya. Walaupun pada umumnya, itu hanya klaim semata tanpa bukti. Orang-orang Yahudi mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim, padahal mereka pun telah menyelewengkan ayat-ayat Taurat, kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka pun menolak untuk beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, mereka mengenal dengan baik ciri-ciri beliau -yang telah dijelaskan di dalam Taurat- sebagaimana seorang bapak mengenali anak-anaknya sendiri. Begitu pula, orang Nasrani mengklaim sebagai penerus ajaran Ibrahim karena mereka mengaku sebagai pengikut ajaran Isa ‘alaihis salam yang mereka angkat sebagai Tuhan. Sehingga, jatuhlah mereka dalam sikap berlebihan dan mempersekutukan Allah Ar-Rahman. Mereka menisbatkan anak kepada Allah. Sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan oleh Nabi Ibrahim, bahkan tidak juga oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Bukan hanya itu, kaum musyrikin pun tidak mau kalah. Mereka yang sekian lama memenuhi pelataran Ka’bah dengan berhala pun menganggap bahwa merekalah yang paling pantas disebut sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Karena merekalah yang mengagungkan Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim bersama Ismail putranya. Padahal, Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menyembah berhala. Demikianlah, setan mengelabui manusia dan menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Maka, siapa pun yang mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim wajib menyadari bahwa agama yang beliau sampaikan kepada manusia adalah Islam. Ajaran yang menuntut setiap hamba untuk memurnikan ibadahnya kepada Allah.Ajaran Kitab Suci dari LangitAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidak mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (disebutkan oleh Imam Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya Ma’alim At-Tanzil, hal. 1426)Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa dari ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya, dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hal. 76-77)Ibadah itu sendiri merupakan perpaduan antara kecintaan dan ketundukan. Apabila ia ditujukan kepada Allah semata, maka jadilah ia ibadah yang tegak di atas tauhid. Sedangkan apabila ia ditujukan kepada selain-Nya, maka ia menjadi ibadah yang tegak di atas syirik. Ibadah kepada Allah yang sesuai dengan syariat disebut ibadah yang syar’iyah, sedangkan ibadah yang menyelisihi tuntunan syariat disebut sebagai ibadah yang bid’ah. (lihat Syarh Risalah Miftah Daris Salam oleh Syekh Shalih bin Abdillah Al-‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 9)Allah berfirman,مَا كَانَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ یَهُودِیࣰّا وَلَا نَصۡرَانِیࣰّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِیفࣰا مُّسۡلِمࣰا“Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim.” (Ali ‘Imran : 67)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Allah ‘Azza Wajalla menjadikan Ibrahim sebagai seorang yang hanif, dalam artian orang yang berpaling dari jalan syirik menuju tauhid yang murni. Adapun Al-Hanifiyah adalah millah/ajaran yang berpaling dari segala kebatilan menuju kebenaran dan menjauh dari semua bentuk kebatilan serta condong menuju kebenaran. Itulah millah bapak kita Ibrahim ‘alaihis salam.” (lihat Syarh al-Qawa’id Al-Arba’ dengan tahqiq ‘Adil Rifa’i, hal. 13-14)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat, serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Allah berfirman,وَقَالُوا۟ كُونُوا۟ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ تَهۡتَدُوا۟ۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Mereka mengatakan ‘Jadilah kalian pengikut Yahudi atau Nasrani niscaya kalian mendapatkan petunjuk!’ Katakanlah, ‘Bahkan millah Ibrahim yang hanif itulah -yang harus diikuti- dan dia bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah : 135)Allah berfirman,إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا وَلَمۡ یَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَشَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat/teladan yang senantiasa patuh kepada Allah lagi hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.  Dia selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (An-Nahl : 120-121)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya di atas syariat yang diridai.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4/611)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Hakikat millah Ibrahim itu adalah mewujudkan makna laa ilaha illallah, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza Wajalla dalam surat Az-Zukhruf,وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ لِأَبِیهِ وَقَوۡمِهِۦۤ إِنَّنِی بَرَاۤءࣱ مِّمَّا تَعۡبُدُونَإِلَّا ٱلَّذِی فَطَرَنِی فَإِنَّهُۥ سَیَهۡدِینِوَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِیَةࣰ فِی عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah, kecuali Zat yang telah menciptakanku, maka sesungguhnya Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.’ Dan Ibrahim menjadikannya sebagai kalimat yang tetap di dalam keturunannya, mudah-mudahan mereka kembali kepadanya.” (Az-Zukhruf : 26-28).” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kalimat ini, yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan mencampakkan segala berhala yang disembah selain-Nya, itulah kalimat laa ilaha illallah yang dijadikan oleh Ibrahim sebagai ketetapan bagi anak keturunannya supaya dengan sebab itu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dari keturunan Ibrahim ‘alaihis salam tunduk mengikutinya.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7/225)Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya agama Allah yang dipilih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, agama yang menjadi misi diutusnya para rasul, dan agama yang menjadi muatan kitab-kitab yang diturunkan-Nya ialah Al-Hanifiyah. Itulah agama Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Sebagaimana itu menjadi agama para nabi sebelumnya dan para rasul sesudahnya hingga penutup mereka semua yaitu Muhammad, semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semuanya.” (lihat Al-Bayan Al-Murashsha’ Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Allah berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim secara hanif.’” (An-Nahl : 123)Allah berfirman,قُلۡ إِنَّنِی هَدَىٰنِی رَبِّیۤ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ دِینࣰا قِیَمࣰا مِّلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah diberikan petunjuk oleh Rabbku menuju jalan yang lurus, agama yang tegak yaitu millah Ibrahim yang hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang musyrik.’” (Al-An’am : 161)Syekh Shalih bin Abdul Aziz alu Syekh hafizhahullah berkata, “Maka millah Ibrahim ‘alaihis salam itu adalah tauhid.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba‘, hal. 15)Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah berkata, “Millah Ibrahim itu adalah syariat dan keyakinan yang dijalani oleh bapaknya para nabi yaitu Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ibrahim adalah salah satu nabi yang paling utama dan termasuk jajaran rasul yang digelari sebagai ulul ‘azmi.” (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 224)Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ibrahim ‘alaihis salam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah ‘Azza Wajalla sebagaimana para nabi yang lain. Semua nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 330)Baca Juga: Menilik Perhatian Para Sahabat Terhadap Masalah AqidahAgama Para NabiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Para nabi itu adalah saudara-saudara sebapak, sedangkan ibu mereka berbeda-beda. Dan agama mereka itu adalah sama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Allah berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tiada sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (Al-Anbiyaa’ : 25)Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya,یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ“Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (Huud : 50).Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul ‘alaihimush sholatu wassalam. (lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19)Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Orang yang hanif adalah yang beriman kepada seluruh rasul dari yang pertama hingga yang terakhir.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Qatadah rahimahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah syahadat laa ilaha illallah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah tauhid. Yaitu kamu beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya. Ini merupakan kandungan makna dari laa ilaha illallah. Karena sesungguhnya maknanya adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 11)Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Bersambung insyaAllah.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 4)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين Ketahuilah -semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya- bahwa Al-Hanifiyyah, yaitu agama Ibrahim, adalah kamu beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama untuk-Nya.Penjelasan :Sebagaimana kebiasaan beliau, penulis rahimahullah mendoakan kebaikan untuk pembaca risalahnya. Hal ini mengandung sikap kelembutan seorang dai dan pengajar kepada orang yang dia ajari. Demikianlah semestinya profil seorang pendakwah. Kelembutan dan kasih sayang merupakan sifat utama yang harus ada pada seorang da’i ilallah.Di dalam doa ini beliau memohon kepada Allah agar memberikan bimbingan kepada kita dalam hal ilmu dan amalan. Karena yang dimaksud dengan ar-rusyd adalah mengamalkan kebenaran yang telah diketahui. Lawan darinya adalah ghawayah/menyimpang, yaitu tidak mengamalkan ilmu. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati oleh Allah sebagai orang yang tidak dholla/sesat dan tidak ghowa/menyimpang. Yang disebut dholla atau dholal adalah tidak berilmu alias bodoh sehingga tersesat dari jalan yang benar. Adapun ghowa atau ghowayah adalah tidak mengamalkan ilmu alias meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya. Kedua sifat buruk ini ternafikan dari diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Maka, demikianlah sifat yang dikehendaki ada pada diri setiap muslim. Menggabungkan antara ilmu yang bermanfaat dengan amal saleh. Saking beratnya dosa tidak mengamalkan ilmu, disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa orang yang berilmu tetapi tidak beramal dengannya maka ia diazab sebelum para pemuja berhala. Semoga Allah melindungi kita darinya.Di dalam doa ini, penulis mendoakan agar Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan sumber segala kebaikan dan asas kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang mencapai tingkatan tinggi dalam tauhid senantiasa memiliki sifat taat dan patuh kepada Allah. Sebagaimana sifat yang ada pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang Allah kisahkan di dalam Al-Qur’an. Allah menyebut beliau sebagai sosok yang qaanitan lillaah, selalu patuh dan taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah merupakan bukti kecintaan seorang hamba.Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan orang arab innal muhibba liman yuhibbu muthii’u yang berarti bahwa orang yang mencintai tentu taat kepada siapa yang dia cintai. Ibadah kepada Allah merupakan kecintaan yang melahirkan ketaatan dan ketundukan. Karena ibadah itu tegak di atas dua pilar utama, perendahan seutuhnya kepada Allah dan kecintaan yang tinggi kepada-Nya, sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.  Dalam Nuniyah-nya beliau berkata,Ibadah kepada Ar-Rahman merupakan puncak kecintaan kepada-NyaBeserta perendahan diri sang hambaItulah dua poros agamaDi atas kedua poros itulah tata surya ibadah beredarKetaatan kepada Allah mencakup dua bagian utama:– melaksanakan perintah-Nya– menjauhi larangan-NyaBaca Juga: Pelajaran Aqidah Dan Manhaj Dari Surat Al-Fatihah (1)Millah IbrahimKemudian, penulis rahimahullah menjelaskan kepada kita tentang makna Al-Hanifiyyah atau millah Ibrahim. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendakwahkan agama Islam, sebagaimana seluruh nabi yang lain. Karena semua nabi mengajarkan Islam. Meskipun demikian, Allah memilih Ibrahim sebagai teladan bagi para nabi sesudahnya. Dan Allah turunkan dari anak cucunya para nabi setelahnya sampai nabi yang terakhir, yaitu nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana beliau merupakan keturunan dari Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘alaihimas salam.Lebih daripada itu, Allah pun memilih Ibrahim sebagai khalil/kekasih-Nya. Tidak lain karena tingkat penghambaan beliau dan nilai ketauhidannya yang sangat mulia. Bagaimana tidak? Begitu banyak ujian dan cobaan yang beliau hadapi dalam memperjuangkan dakwah tauhid ini. Dan beliau pun mendapat taufik dari Allah untuk melalui segala ujian itu dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Oleh sebab itu, masyhur perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa beliau mengatakan, “Dengan sabar dan keyakinan akan diraih kepemimpinan dalam agama.”Ibrahim merupakan sosok yang sangat penting dalam dakwah tauhid ini. Bahkan sampai-sampai berbagai penganut agama pun menisbatkan diri sebagai penerus ajarannya. Walaupun pada umumnya, itu hanya klaim semata tanpa bukti. Orang-orang Yahudi mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim, padahal mereka pun telah menyelewengkan ayat-ayat Taurat, kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka pun menolak untuk beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, mereka mengenal dengan baik ciri-ciri beliau -yang telah dijelaskan di dalam Taurat- sebagaimana seorang bapak mengenali anak-anaknya sendiri. Begitu pula, orang Nasrani mengklaim sebagai penerus ajaran Ibrahim karena mereka mengaku sebagai pengikut ajaran Isa ‘alaihis salam yang mereka angkat sebagai Tuhan. Sehingga, jatuhlah mereka dalam sikap berlebihan dan mempersekutukan Allah Ar-Rahman. Mereka menisbatkan anak kepada Allah. Sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan oleh Nabi Ibrahim, bahkan tidak juga oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.Bukan hanya itu, kaum musyrikin pun tidak mau kalah. Mereka yang sekian lama memenuhi pelataran Ka’bah dengan berhala pun menganggap bahwa merekalah yang paling pantas disebut sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Karena merekalah yang mengagungkan Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim bersama Ismail putranya. Padahal, Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menyembah berhala. Demikianlah, setan mengelabui manusia dan menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Maka, siapa pun yang mengaku sebagai penerus ajaran Ibrahim wajib menyadari bahwa agama yang beliau sampaikan kepada manusia adalah Islam. Ajaran yang menuntut setiap hamba untuk memurnikan ibadahnya kepada Allah.Ajaran Kitab Suci dari LangitAllah berfirman,وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰ⁠لِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ“Dan tidak mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (disebutkan oleh Imam Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya Ma’alim At-Tanzil, hal. 1426)Syekh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, bahwa dari ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa ada sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya, dia tujukan kepada selain Allah, maka dia juga bukan orang yang bertauhid. (lihat Syarh Tsalatsah Al-Ushul, hal. 76-77)Ibadah itu sendiri merupakan perpaduan antara kecintaan dan ketundukan. Apabila ia ditujukan kepada Allah semata, maka jadilah ia ibadah yang tegak di atas tauhid. Sedangkan apabila ia ditujukan kepada selain-Nya, maka ia menjadi ibadah yang tegak di atas syirik. Ibadah kepada Allah yang sesuai dengan syariat disebut ibadah yang syar’iyah, sedangkan ibadah yang menyelisihi tuntunan syariat disebut sebagai ibadah yang bid’ah. (lihat Syarh Risalah Miftah Daris Salam oleh Syekh Shalih bin Abdillah Al-‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 9)Allah berfirman,مَا كَانَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ یَهُودِیࣰّا وَلَا نَصۡرَانِیࣰّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِیفࣰا مُّسۡلِمࣰا“Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif lagi muslim.” (Ali ‘Imran : 67)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Allah ‘Azza Wajalla menjadikan Ibrahim sebagai seorang yang hanif, dalam artian orang yang berpaling dari jalan syirik menuju tauhid yang murni. Adapun Al-Hanifiyah adalah millah/ajaran yang berpaling dari segala kebatilan menuju kebenaran dan menjauh dari semua bentuk kebatilan serta condong menuju kebenaran. Itulah millah bapak kita Ibrahim ‘alaihis salam.” (lihat Syarh al-Qawa’id Al-Arba’ dengan tahqiq ‘Adil Rifa’i, hal. 13-14)Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat, serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Allah berfirman,وَقَالُوا۟ كُونُوا۟ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ تَهۡتَدُوا۟ۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِـۧمَ حَنِیفࣰاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Mereka mengatakan ‘Jadilah kalian pengikut Yahudi atau Nasrani niscaya kalian mendapatkan petunjuk!’ Katakanlah, ‘Bahkan millah Ibrahim yang hanif itulah -yang harus diikuti- dan dia bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah : 135)Allah berfirman,إِنَّ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا وَلَمۡ یَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَشَاكِرࣰا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat/teladan yang senantiasa patuh kepada Allah lagi hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.  Dia selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (An-Nahl : 120-121)Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jalan yang lurus itu adalah beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya di atas syariat yang diridai.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4/611)Syekh Shalih alu Syekh hafizhahullah berkata, “Hakikat millah Ibrahim itu adalah mewujudkan makna laa ilaha illallah, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza Wajalla dalam surat Az-Zukhruf,وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ لِأَبِیهِ وَقَوۡمِهِۦۤ إِنَّنِی بَرَاۤءࣱ مِّمَّا تَعۡبُدُونَإِلَّا ٱلَّذِی فَطَرَنِی فَإِنَّهُۥ سَیَهۡدِینِوَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِیَةࣰ فِی عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ یَرۡجِعُونَ“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah, kecuali Zat yang telah menciptakanku, maka sesungguhnya Dia akan memberikan petunjuk kepadaku.’ Dan Ibrahim menjadikannya sebagai kalimat yang tetap di dalam keturunannya, mudah-mudahan mereka kembali kepadanya.” (Az-Zukhruf : 26-28).” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kalimat ini, yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan mencampakkan segala berhala yang disembah selain-Nya, itulah kalimat laa ilaha illallah yang dijadikan oleh Ibrahim sebagai ketetapan bagi anak keturunannya supaya dengan sebab itu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dari keturunan Ibrahim ‘alaihis salam tunduk mengikutinya.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7/225)Syekh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya agama Allah yang dipilih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, agama yang menjadi misi diutusnya para rasul, dan agama yang menjadi muatan kitab-kitab yang diturunkan-Nya ialah Al-Hanifiyah. Itulah agama Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam. Sebagaimana itu menjadi agama para nabi sebelumnya dan para rasul sesudahnya hingga penutup mereka semua yaitu Muhammad, semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semuanya.” (lihat Al-Bayan Al-Murashsha’ Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 14)Allah berfirman,ثُمَّ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۖ“Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ‘Hendaklah kamu mengikuti millah Ibrahim secara hanif.’” (An-Nahl : 123)Allah berfirman,قُلۡ إِنَّنِی هَدَىٰنِی رَبِّیۤ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ دِینࣰا قِیَمࣰا مِّلَّةَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ حَنِیفࣰاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah diberikan petunjuk oleh Rabbku menuju jalan yang lurus, agama yang tegak yaitu millah Ibrahim yang hanif dan dia bukanlah termasuk golongan orang musyrik.’” (Al-An’am : 161)Syekh Shalih bin Abdul Aziz alu Syekh hafizhahullah berkata, “Maka millah Ibrahim ‘alaihis salam itu adalah tauhid.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba‘, hal. 15)Syekh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizhahullah berkata, “Millah Ibrahim itu adalah syariat dan keyakinan yang dijalani oleh bapaknya para nabi yaitu Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ibrahim adalah salah satu nabi yang paling utama dan termasuk jajaran rasul yang digelari sebagai ulul ‘azmi.” (lihat Syarh Mutun Al-‘Aqidah, hal. 224)Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Ibrahim ‘alaihis salam mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah ‘Azza Wajalla sebagaimana para nabi yang lain. Semua nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 330)Baca Juga: Menilik Perhatian Para Sahabat Terhadap Masalah AqidahAgama Para NabiRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Para nabi itu adalah saudara-saudara sebapak, sedangkan ibu mereka berbeda-beda. Dan agama mereka itu adalah sama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Allah berfirman,وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tiada sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (Al-Anbiyaa’ : 25)Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya,یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۖ“Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (Huud : 50).Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul ‘alaihimush sholatu wassalam. (lihat Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, hal. 19)Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Orang yang hanif adalah yang beriman kepada seluruh rasul dari yang pertama hingga yang terakhir.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Qatadah rahimahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah syahadat laa ilaha illallah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1/448)Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang yang hanif itu adalah orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Inilah orang yang hanif. Yaitu orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah dengan hati, amal, dan niat serta kehendak-kehendaknya semuanya untuk Allah. Dan dia berpaling dari pujaan/sesembahan selain-Nya.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 328)Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafizhahullah berkata, “Al-Hanifiyah itu adalah tauhid. Yaitu kamu beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya. Ini merupakan kandungan makna dari laa ilaha illallah. Karena sesungguhnya maknanya adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 11)Demikian sedikit kumpulan catatan. Semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Bersambung insyaAllah.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id

Masjid adalah Tempat yang Paling Dicintai di Muka Bumi

Masjid adalah tempat yang paling dicintai di muka bumi. Itulah kenapa di dalam kitab Bulughul Maram, Imam Ibnu Hajar memasukkannya sebagai awal bahasan sebelum membahas shalat.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid   Masaajid adalah bentuk jamak (plural) dari kata masjid. Masjid adalah isim makan (kata yang menunjukkan tempat) dari kata sujud. Masjid dari pengertian bahasa ini berarti tidak dimaksudkan pada tempat tertentu. Kenapa dikhususkan sujud, bukan gerakan lainnya dalam shalat seperti rukuk? Karena sujud adalah gerakan shalat yang paling utama (mulia) karena dekatnya seorang hamba dengan Allah. Itulah yang dijadikan alasan diambilnya istilah masjid dari kata sujud. Baca juga: Menjadikan Kubur Sebagai Masjid   Masjid secara istilah syari adalah segala tempat dari muka bumi. Hal ini berdasarkan hadits, جُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا “Seluruh permukaan bumi dijadikan untukku sebagai tempat shalat dan alat untuk bersuci.” (HR. Bukhari, no. 335 dan Muslim, no. 521) Baca juga: Tempat yang Sah untuk Shalat   Menurut pengertian fuqaha, masjid adalah tempat dari bumi yang bebas dari kepemilikan pribadi lalu dikhususkan untuk shalat dan ibadah. Mushalla Id (tempat shalat hari raya) juga diistilahkan dengan masjid menurut pendapat rajih (terkuat) dari kalangan ahli ilmu. Baca juga: Hukum Wanita Haidh Masuk Masjid   Masjid adalah sebaik-baik tempat di muka bumi karena di dalam masjid adalah tempat: berdzikir kepada Allah beribadah dengan mendirikan shalat membaca Al-Qur’an mengajarkan agama Sampai-sampai masjid disebut sebagai madrosatul Islam al-Uula, yaitu sekolah Islam yang pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Di dalam Bulughul Maram dijelaskan mengenai beberapa hukum mengenai masjid.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:464-465. — Senin pagi, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid pengertian masjid

Masjid adalah Tempat yang Paling Dicintai di Muka Bumi

Masjid adalah tempat yang paling dicintai di muka bumi. Itulah kenapa di dalam kitab Bulughul Maram, Imam Ibnu Hajar memasukkannya sebagai awal bahasan sebelum membahas shalat.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid   Masaajid adalah bentuk jamak (plural) dari kata masjid. Masjid adalah isim makan (kata yang menunjukkan tempat) dari kata sujud. Masjid dari pengertian bahasa ini berarti tidak dimaksudkan pada tempat tertentu. Kenapa dikhususkan sujud, bukan gerakan lainnya dalam shalat seperti rukuk? Karena sujud adalah gerakan shalat yang paling utama (mulia) karena dekatnya seorang hamba dengan Allah. Itulah yang dijadikan alasan diambilnya istilah masjid dari kata sujud. Baca juga: Menjadikan Kubur Sebagai Masjid   Masjid secara istilah syari adalah segala tempat dari muka bumi. Hal ini berdasarkan hadits, جُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا “Seluruh permukaan bumi dijadikan untukku sebagai tempat shalat dan alat untuk bersuci.” (HR. Bukhari, no. 335 dan Muslim, no. 521) Baca juga: Tempat yang Sah untuk Shalat   Menurut pengertian fuqaha, masjid adalah tempat dari bumi yang bebas dari kepemilikan pribadi lalu dikhususkan untuk shalat dan ibadah. Mushalla Id (tempat shalat hari raya) juga diistilahkan dengan masjid menurut pendapat rajih (terkuat) dari kalangan ahli ilmu. Baca juga: Hukum Wanita Haidh Masuk Masjid   Masjid adalah sebaik-baik tempat di muka bumi karena di dalam masjid adalah tempat: berdzikir kepada Allah beribadah dengan mendirikan shalat membaca Al-Qur’an mengajarkan agama Sampai-sampai masjid disebut sebagai madrosatul Islam al-Uula, yaitu sekolah Islam yang pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Di dalam Bulughul Maram dijelaskan mengenai beberapa hukum mengenai masjid.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:464-465. — Senin pagi, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid pengertian masjid
Masjid adalah tempat yang paling dicintai di muka bumi. Itulah kenapa di dalam kitab Bulughul Maram, Imam Ibnu Hajar memasukkannya sebagai awal bahasan sebelum membahas shalat.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid   Masaajid adalah bentuk jamak (plural) dari kata masjid. Masjid adalah isim makan (kata yang menunjukkan tempat) dari kata sujud. Masjid dari pengertian bahasa ini berarti tidak dimaksudkan pada tempat tertentu. Kenapa dikhususkan sujud, bukan gerakan lainnya dalam shalat seperti rukuk? Karena sujud adalah gerakan shalat yang paling utama (mulia) karena dekatnya seorang hamba dengan Allah. Itulah yang dijadikan alasan diambilnya istilah masjid dari kata sujud. Baca juga: Menjadikan Kubur Sebagai Masjid   Masjid secara istilah syari adalah segala tempat dari muka bumi. Hal ini berdasarkan hadits, جُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا “Seluruh permukaan bumi dijadikan untukku sebagai tempat shalat dan alat untuk bersuci.” (HR. Bukhari, no. 335 dan Muslim, no. 521) Baca juga: Tempat yang Sah untuk Shalat   Menurut pengertian fuqaha, masjid adalah tempat dari bumi yang bebas dari kepemilikan pribadi lalu dikhususkan untuk shalat dan ibadah. Mushalla Id (tempat shalat hari raya) juga diistilahkan dengan masjid menurut pendapat rajih (terkuat) dari kalangan ahli ilmu. Baca juga: Hukum Wanita Haidh Masuk Masjid   Masjid adalah sebaik-baik tempat di muka bumi karena di dalam masjid adalah tempat: berdzikir kepada Allah beribadah dengan mendirikan shalat membaca Al-Qur’an mengajarkan agama Sampai-sampai masjid disebut sebagai madrosatul Islam al-Uula, yaitu sekolah Islam yang pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Di dalam Bulughul Maram dijelaskan mengenai beberapa hukum mengenai masjid.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:464-465. — Senin pagi, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid pengertian masjid


Masjid adalah tempat yang paling dicintai di muka bumi. Itulah kenapa di dalam kitab Bulughul Maram, Imam Ibnu Hajar memasukkannya sebagai awal bahasan sebelum membahas shalat.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid   Masaajid adalah bentuk jamak (plural) dari kata masjid. Masjid adalah isim makan (kata yang menunjukkan tempat) dari kata sujud. Masjid dari pengertian bahasa ini berarti tidak dimaksudkan pada tempat tertentu. Kenapa dikhususkan sujud, bukan gerakan lainnya dalam shalat seperti rukuk? Karena sujud adalah gerakan shalat yang paling utama (mulia) karena dekatnya seorang hamba dengan Allah. Itulah yang dijadikan alasan diambilnya istilah masjid dari kata sujud. Baca juga: Menjadikan Kubur Sebagai Masjid   Masjid secara istilah syari adalah segala tempat dari muka bumi. Hal ini berdasarkan hadits, جُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا “Seluruh permukaan bumi dijadikan untukku sebagai tempat shalat dan alat untuk bersuci.” (HR. Bukhari, no. 335 dan Muslim, no. 521) Baca juga: Tempat yang Sah untuk Shalat   Menurut pengertian fuqaha, masjid adalah tempat dari bumi yang bebas dari kepemilikan pribadi lalu dikhususkan untuk shalat dan ibadah. Mushalla Id (tempat shalat hari raya) juga diistilahkan dengan masjid menurut pendapat rajih (terkuat) dari kalangan ahli ilmu. Baca juga: Hukum Wanita Haidh Masuk Masjid   Masjid adalah sebaik-baik tempat di muka bumi karena di dalam masjid adalah tempat: berdzikir kepada Allah beribadah dengan mendirikan shalat membaca Al-Qur’an mengajarkan agama Sampai-sampai masjid disebut sebagai madrosatul Islam al-Uula, yaitu sekolah Islam yang pertama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Di dalam Bulughul Maram dijelaskan mengenai beberapa hukum mengenai masjid.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:464-465. — Senin pagi, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid pengertian masjid

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 3)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,وإذ أذنب استغفر(Dan semoga Allah menjadikan kamu termasuk) orang yang beristigfar apabila terjerumus dalam perbuatan dosa.Penjelasan :Pentingnya melakukan istighfarDalam doa yang agung ini, beliau memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada orang yang membaca risalahnya, supaya menjadi orang yang kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya apabila terjatuh dalam maksiat dan dosa. Sebagaimana telah diketahui bahwa manusia seringkali terjerat oleh kemauan hawa nafsunya, sehingga melakukan apa yang dilarang oleh Allah atau bahkan meninggalkan kewajiban yang diperintahkan dalam agama.Untuk itulah seorang muslim diajarkan untuk selalu beristigfar. Dalam banyak kesempatan, kita diperintahkan untuk memohon ampunan. Di antaranya, ketika selesai mengerjakan salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk membaca istighfar 3 kali. Hal itu bukan berarti salat adalah perbuatan dosa. Tetapi, memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebagus apapun amal yang dilakukan oleh hamba, hak-hak Allah itu terlalu agung dan Maha sempurna sehingga tidak bisa dihargai dengan ketaatan dan amal manusia yang penuh dengan kekurangan.Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah مطالعة عيب النفس والعمل (muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal). Mencermati dan menyadari begitu banyak aib pada diri dan amal-amal yang kita kerjakan. Karena ibadah kepada Allah itu berporos pada dua pilar, (1) cinta yang sepenuhnya dan (2) perendahan diri yang seutuhnya kepada Allah. Sementara perendahan diri tidak bisa muncul, kecuali dengan menelaah aib pada diri dan amalan hamba. Demikian kandungan makna yang diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib.Penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasarIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasar, yaitu kecintaan yang sepenuhnya dan perendahan diri yang sempurna. Munculnya kedua pokok (kaidah) ini berangkat dari dua sikap prinsip yaitu    مشاهدة المنة (musyahadatul minnah), yaitu menyaksikan curahan nikmat-nikmat Allah dan مطالعة عيب النفس والعمل (muthala’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal), yaitu selalu meneliti aib pada diri dan amal perbuatan.Dengan senantiasa menyaksikan dan menyadari setiap curahan nikmat yang Allah berikan kepada hamba, akan tumbuhlah kecintaan. Dan dengan selalu meneliti aib pada diri dan amalan, akan menumbuhkan perendahan diri yang sempurna kepada Rabbnya. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 8 tahqiq Abdul Qadir dan Ibrahim Al-Arna’uth)Dengan selalu menyaksikan dan menyadari betapa banyak curahan nikmat yang Allah berikan, akan menumbuhkan kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan begitu banyak kebaikan. Dan dengan memperhatikan aib pada diri dan amal perbuatan, akan melahirkan sikap perendahan diri, merasa butuh, fakir, dan bertaubat di sepanjang waktu. Sehingga orang itu tidak memandang dirinya, kecuali berada dalam kondisi bangkrut. Pintu terdekat yang akan mengantarkan hamba menuju Allah adalah pintu gerbang perasaan bangkrut. Dia tidak melihat dirinya memiliki kedudukan, posisi, dan peran yang layak diandalkan/dibanggakan. Sehingga, dia pun akan mengabdi kepada Allah melalui pintu gerbang perasaan fakir yang seutuhnya dan kondisi jiwa yang merasa dilanda kebangkrutan. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 7)Apabila kita teliti kembali amal dan ibadah yang kita kerjakan, ada banyak sekali kekurangan dan cacatnya. Dari sanalah, kita mengetahui letak pentingnya muhasabah. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, “Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab! Dan timbanglah amal-amal kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat)!”Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang dilakukan. Dosa itu sendiri meliputi dua kategori. Terjadi karena menerjang larangan atau karena tidak menunaikan kewajiban. Bisa jadi seseorang tidak melakukan perkara yang diharamkan pada suatu waktu, tetapi pada saat itu dia tidak menunaikan kewajiban dan tugasnya dengan baik. Dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah taqshir/keteledoran dan cacat amalan.Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidSikap seorang mukmin terhadap amalannyaSeorang mukmin, ketika melihat amalannya, maka dia berharap kepada Allah supaya amalnya diterima. Meskipun demikian, dia selalu ingat dan waspada akan dosa dan kekurangannya. Jangan sampai amalnya hancur dan sirna gara-gara dosa. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu sebagaimana dinukil oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di bawah gunung. Dia takut gunung itu runtuh menimpa dirinya.”Karena itulah, Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan bahwa seorang mukmin itu memadukan dalam dirinya antara perbuatan ihsan/kebaikan dan ketaatan dengan perasaan syafaqah/takut dan khawatir. Sebaliknya, orang kafir dan fajir memadukan dalam dirinya antara perbuatan jelek/dosa dengan merasa aman/baik-baik saja. Lihatlah sosok para sahabat -manusia terbaik setelah para nabi- yang dituturkan oleh Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah,“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mereka semua khawatir apabila kemunafikan bersemayam di dalam diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengaku bahwa imannya seperti imannya Jibril dan Mika’il.”Dari sini pula, kita mengetahui bahwa istighfar yang dimaksud bukan hanya ucapan lisan tanpa keyakinan dan kesadaran di dalam hati. Sebab, zikir yang paling utama adalah yang menggabungkan antara ucapan lisan dengan penghayatan di dalam hati terhadap apa yang dibaca. Oleh sebab itu, istighfar yang tidak disertai dengan perendahan diri dan ketundukan kepada Allah, bukanlah istighfar yang hakiki. Karena ketaatan yang Allah terima adalah ibadah yang berakar dari dalam hati. Allah berfirman,یَوۡمَ لَا یَنفَعُ مَالࣱ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبࣲ سَلِیمࣲ“Pada hari itu (kiamat), tiada berguna harta dan keturunan laki-laki kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Sehingga sebagian salaf berkata, “Betapa banyak orang yang lisannya beristigfar tetapi dimurkai. Sedangkan, ada orang-orang yang lisannya diam tetapi senantiasa dirahmati.” Setiap muslim membutuhkan waktu-waktu khusus untuk menyendiri dengan Rabbnya. Mengingat dosa dan kesalahannya untuk bertaubat dan menangisi kedurhakaan yang selama ini dia lakukan. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam manusia terbaik di muka bumi saja beristigfar kepada Allah dalam sehari sampai 70 kali atau seratus kali bahkan lebih. Lalu, bagaimana lagi dengan kita?!Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307)Imam Nasa’i meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar. Beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari oleh Ibnu Hajar, 11: 115)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung. Dia takut apabila gunung itu jatuh/runtuh menimpa dirinya.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 118)Demikianlah sifat seorang muslim. Bahwa dia senantiasa merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah. Dia menganggap kecil amal salihnya dan dia mengkhawatirkan dampak perbuatan buruknya meskipun itu kecil. (lihat Fath Al-Bari, 11: 119)‘Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan, “Adalah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah keluar dari buang air (kamar kecil), beliau mengucapkanغفراك‘ghufroonak’(Artinya ‘Kami mohon ampunan-Mu, ya Allah).” (HR. Abu Dawud dan lain-lain)Makna doa ini adalah “Aku memohon ampunan-Mu kepada-Mu, ya Allah.” Yaitu, Engkau tutupi dosa-dosaku dan Engkau tidak menghukumku karena dosa-dosa itu. (lihat keterangan Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram, 1: 242)Hikmah dari bacaan ini adalah apabila seorang telah menunaikan hajatnya (dengan membuang kotoran secara fisik), hendaklah dia mengingat kotoran secara maknawi yang mengganggu kehidupannya, yaitu dosa-dosa. Karena, sesungguhnya menanggung dosa lebih berat dan lebih membahayakan daripada menanggung kotoran yang berupa ‘air besar’ atau ‘air kecil’. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita mengingat dosa-dosa kita dan memohon ampunan Allah atasnya. (lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Fathu Dzil Jalal wal Ikram, hlm. 306)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadis ini, “Adapun kita (apabila dibandingkan dengan Nabi) maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat.” (lihat Syarh Muslim [8: 293]). Benarlah apa yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan beliau.Dan apabila kita cermati keadaan kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati bahwa amalan ini (bertaubat 100 kali dalam sehari) termasuk salah satu amalan yang sudah banyak ditinggalkan oleh manusia (sunnah mahjurah), kecuali pada sebagian manusia yang Allah berikan taufik kepada mereka dan betapa sedikitnya mereka itu. Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengamalkannya.An-Nasa’i rahimahullah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar, beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 115). Kepada Allah semata kita mohon pertolongan.Baca Juga:Semoga catatan yang singkat ini bermanfaat.Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 3)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,وإذ أذنب استغفر(Dan semoga Allah menjadikan kamu termasuk) orang yang beristigfar apabila terjerumus dalam perbuatan dosa.Penjelasan :Pentingnya melakukan istighfarDalam doa yang agung ini, beliau memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada orang yang membaca risalahnya, supaya menjadi orang yang kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya apabila terjatuh dalam maksiat dan dosa. Sebagaimana telah diketahui bahwa manusia seringkali terjerat oleh kemauan hawa nafsunya, sehingga melakukan apa yang dilarang oleh Allah atau bahkan meninggalkan kewajiban yang diperintahkan dalam agama.Untuk itulah seorang muslim diajarkan untuk selalu beristigfar. Dalam banyak kesempatan, kita diperintahkan untuk memohon ampunan. Di antaranya, ketika selesai mengerjakan salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk membaca istighfar 3 kali. Hal itu bukan berarti salat adalah perbuatan dosa. Tetapi, memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebagus apapun amal yang dilakukan oleh hamba, hak-hak Allah itu terlalu agung dan Maha sempurna sehingga tidak bisa dihargai dengan ketaatan dan amal manusia yang penuh dengan kekurangan.Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah مطالعة عيب النفس والعمل (muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal). Mencermati dan menyadari begitu banyak aib pada diri dan amal-amal yang kita kerjakan. Karena ibadah kepada Allah itu berporos pada dua pilar, (1) cinta yang sepenuhnya dan (2) perendahan diri yang seutuhnya kepada Allah. Sementara perendahan diri tidak bisa muncul, kecuali dengan menelaah aib pada diri dan amalan hamba. Demikian kandungan makna yang diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib.Penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasarIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasar, yaitu kecintaan yang sepenuhnya dan perendahan diri yang sempurna. Munculnya kedua pokok (kaidah) ini berangkat dari dua sikap prinsip yaitu    مشاهدة المنة (musyahadatul minnah), yaitu menyaksikan curahan nikmat-nikmat Allah dan مطالعة عيب النفس والعمل (muthala’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal), yaitu selalu meneliti aib pada diri dan amal perbuatan.Dengan senantiasa menyaksikan dan menyadari setiap curahan nikmat yang Allah berikan kepada hamba, akan tumbuhlah kecintaan. Dan dengan selalu meneliti aib pada diri dan amalan, akan menumbuhkan perendahan diri yang sempurna kepada Rabbnya. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 8 tahqiq Abdul Qadir dan Ibrahim Al-Arna’uth)Dengan selalu menyaksikan dan menyadari betapa banyak curahan nikmat yang Allah berikan, akan menumbuhkan kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan begitu banyak kebaikan. Dan dengan memperhatikan aib pada diri dan amal perbuatan, akan melahirkan sikap perendahan diri, merasa butuh, fakir, dan bertaubat di sepanjang waktu. Sehingga orang itu tidak memandang dirinya, kecuali berada dalam kondisi bangkrut. Pintu terdekat yang akan mengantarkan hamba menuju Allah adalah pintu gerbang perasaan bangkrut. Dia tidak melihat dirinya memiliki kedudukan, posisi, dan peran yang layak diandalkan/dibanggakan. Sehingga, dia pun akan mengabdi kepada Allah melalui pintu gerbang perasaan fakir yang seutuhnya dan kondisi jiwa yang merasa dilanda kebangkrutan. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 7)Apabila kita teliti kembali amal dan ibadah yang kita kerjakan, ada banyak sekali kekurangan dan cacatnya. Dari sanalah, kita mengetahui letak pentingnya muhasabah. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, “Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab! Dan timbanglah amal-amal kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat)!”Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang dilakukan. Dosa itu sendiri meliputi dua kategori. Terjadi karena menerjang larangan atau karena tidak menunaikan kewajiban. Bisa jadi seseorang tidak melakukan perkara yang diharamkan pada suatu waktu, tetapi pada saat itu dia tidak menunaikan kewajiban dan tugasnya dengan baik. Dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah taqshir/keteledoran dan cacat amalan.Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidSikap seorang mukmin terhadap amalannyaSeorang mukmin, ketika melihat amalannya, maka dia berharap kepada Allah supaya amalnya diterima. Meskipun demikian, dia selalu ingat dan waspada akan dosa dan kekurangannya. Jangan sampai amalnya hancur dan sirna gara-gara dosa. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu sebagaimana dinukil oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di bawah gunung. Dia takut gunung itu runtuh menimpa dirinya.”Karena itulah, Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan bahwa seorang mukmin itu memadukan dalam dirinya antara perbuatan ihsan/kebaikan dan ketaatan dengan perasaan syafaqah/takut dan khawatir. Sebaliknya, orang kafir dan fajir memadukan dalam dirinya antara perbuatan jelek/dosa dengan merasa aman/baik-baik saja. Lihatlah sosok para sahabat -manusia terbaik setelah para nabi- yang dituturkan oleh Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah,“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mereka semua khawatir apabila kemunafikan bersemayam di dalam diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengaku bahwa imannya seperti imannya Jibril dan Mika’il.”Dari sini pula, kita mengetahui bahwa istighfar yang dimaksud bukan hanya ucapan lisan tanpa keyakinan dan kesadaran di dalam hati. Sebab, zikir yang paling utama adalah yang menggabungkan antara ucapan lisan dengan penghayatan di dalam hati terhadap apa yang dibaca. Oleh sebab itu, istighfar yang tidak disertai dengan perendahan diri dan ketundukan kepada Allah, bukanlah istighfar yang hakiki. Karena ketaatan yang Allah terima adalah ibadah yang berakar dari dalam hati. Allah berfirman,یَوۡمَ لَا یَنفَعُ مَالࣱ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبࣲ سَلِیمࣲ“Pada hari itu (kiamat), tiada berguna harta dan keturunan laki-laki kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Sehingga sebagian salaf berkata, “Betapa banyak orang yang lisannya beristigfar tetapi dimurkai. Sedangkan, ada orang-orang yang lisannya diam tetapi senantiasa dirahmati.” Setiap muslim membutuhkan waktu-waktu khusus untuk menyendiri dengan Rabbnya. Mengingat dosa dan kesalahannya untuk bertaubat dan menangisi kedurhakaan yang selama ini dia lakukan. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam manusia terbaik di muka bumi saja beristigfar kepada Allah dalam sehari sampai 70 kali atau seratus kali bahkan lebih. Lalu, bagaimana lagi dengan kita?!Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307)Imam Nasa’i meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar. Beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari oleh Ibnu Hajar, 11: 115)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung. Dia takut apabila gunung itu jatuh/runtuh menimpa dirinya.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 118)Demikianlah sifat seorang muslim. Bahwa dia senantiasa merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah. Dia menganggap kecil amal salihnya dan dia mengkhawatirkan dampak perbuatan buruknya meskipun itu kecil. (lihat Fath Al-Bari, 11: 119)‘Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan, “Adalah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah keluar dari buang air (kamar kecil), beliau mengucapkanغفراك‘ghufroonak’(Artinya ‘Kami mohon ampunan-Mu, ya Allah).” (HR. Abu Dawud dan lain-lain)Makna doa ini adalah “Aku memohon ampunan-Mu kepada-Mu, ya Allah.” Yaitu, Engkau tutupi dosa-dosaku dan Engkau tidak menghukumku karena dosa-dosa itu. (lihat keterangan Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram, 1: 242)Hikmah dari bacaan ini adalah apabila seorang telah menunaikan hajatnya (dengan membuang kotoran secara fisik), hendaklah dia mengingat kotoran secara maknawi yang mengganggu kehidupannya, yaitu dosa-dosa. Karena, sesungguhnya menanggung dosa lebih berat dan lebih membahayakan daripada menanggung kotoran yang berupa ‘air besar’ atau ‘air kecil’. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita mengingat dosa-dosa kita dan memohon ampunan Allah atasnya. (lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Fathu Dzil Jalal wal Ikram, hlm. 306)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadis ini, “Adapun kita (apabila dibandingkan dengan Nabi) maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat.” (lihat Syarh Muslim [8: 293]). Benarlah apa yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan beliau.Dan apabila kita cermati keadaan kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati bahwa amalan ini (bertaubat 100 kali dalam sehari) termasuk salah satu amalan yang sudah banyak ditinggalkan oleh manusia (sunnah mahjurah), kecuali pada sebagian manusia yang Allah berikan taufik kepada mereka dan betapa sedikitnya mereka itu. Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengamalkannya.An-Nasa’i rahimahullah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar, beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 115). Kepada Allah semata kita mohon pertolongan.Baca Juga:Semoga catatan yang singkat ini bermanfaat.Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 3)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,وإذ أذنب استغفر(Dan semoga Allah menjadikan kamu termasuk) orang yang beristigfar apabila terjerumus dalam perbuatan dosa.Penjelasan :Pentingnya melakukan istighfarDalam doa yang agung ini, beliau memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada orang yang membaca risalahnya, supaya menjadi orang yang kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya apabila terjatuh dalam maksiat dan dosa. Sebagaimana telah diketahui bahwa manusia seringkali terjerat oleh kemauan hawa nafsunya, sehingga melakukan apa yang dilarang oleh Allah atau bahkan meninggalkan kewajiban yang diperintahkan dalam agama.Untuk itulah seorang muslim diajarkan untuk selalu beristigfar. Dalam banyak kesempatan, kita diperintahkan untuk memohon ampunan. Di antaranya, ketika selesai mengerjakan salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk membaca istighfar 3 kali. Hal itu bukan berarti salat adalah perbuatan dosa. Tetapi, memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebagus apapun amal yang dilakukan oleh hamba, hak-hak Allah itu terlalu agung dan Maha sempurna sehingga tidak bisa dihargai dengan ketaatan dan amal manusia yang penuh dengan kekurangan.Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah مطالعة عيب النفس والعمل (muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal). Mencermati dan menyadari begitu banyak aib pada diri dan amal-amal yang kita kerjakan. Karena ibadah kepada Allah itu berporos pada dua pilar, (1) cinta yang sepenuhnya dan (2) perendahan diri yang seutuhnya kepada Allah. Sementara perendahan diri tidak bisa muncul, kecuali dengan menelaah aib pada diri dan amalan hamba. Demikian kandungan makna yang diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib.Penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasarIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasar, yaitu kecintaan yang sepenuhnya dan perendahan diri yang sempurna. Munculnya kedua pokok (kaidah) ini berangkat dari dua sikap prinsip yaitu    مشاهدة المنة (musyahadatul minnah), yaitu menyaksikan curahan nikmat-nikmat Allah dan مطالعة عيب النفس والعمل (muthala’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal), yaitu selalu meneliti aib pada diri dan amal perbuatan.Dengan senantiasa menyaksikan dan menyadari setiap curahan nikmat yang Allah berikan kepada hamba, akan tumbuhlah kecintaan. Dan dengan selalu meneliti aib pada diri dan amalan, akan menumbuhkan perendahan diri yang sempurna kepada Rabbnya. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 8 tahqiq Abdul Qadir dan Ibrahim Al-Arna’uth)Dengan selalu menyaksikan dan menyadari betapa banyak curahan nikmat yang Allah berikan, akan menumbuhkan kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan begitu banyak kebaikan. Dan dengan memperhatikan aib pada diri dan amal perbuatan, akan melahirkan sikap perendahan diri, merasa butuh, fakir, dan bertaubat di sepanjang waktu. Sehingga orang itu tidak memandang dirinya, kecuali berada dalam kondisi bangkrut. Pintu terdekat yang akan mengantarkan hamba menuju Allah adalah pintu gerbang perasaan bangkrut. Dia tidak melihat dirinya memiliki kedudukan, posisi, dan peran yang layak diandalkan/dibanggakan. Sehingga, dia pun akan mengabdi kepada Allah melalui pintu gerbang perasaan fakir yang seutuhnya dan kondisi jiwa yang merasa dilanda kebangkrutan. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 7)Apabila kita teliti kembali amal dan ibadah yang kita kerjakan, ada banyak sekali kekurangan dan cacatnya. Dari sanalah, kita mengetahui letak pentingnya muhasabah. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, “Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab! Dan timbanglah amal-amal kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat)!”Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang dilakukan. Dosa itu sendiri meliputi dua kategori. Terjadi karena menerjang larangan atau karena tidak menunaikan kewajiban. Bisa jadi seseorang tidak melakukan perkara yang diharamkan pada suatu waktu, tetapi pada saat itu dia tidak menunaikan kewajiban dan tugasnya dengan baik. Dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah taqshir/keteledoran dan cacat amalan.Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidSikap seorang mukmin terhadap amalannyaSeorang mukmin, ketika melihat amalannya, maka dia berharap kepada Allah supaya amalnya diterima. Meskipun demikian, dia selalu ingat dan waspada akan dosa dan kekurangannya. Jangan sampai amalnya hancur dan sirna gara-gara dosa. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu sebagaimana dinukil oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di bawah gunung. Dia takut gunung itu runtuh menimpa dirinya.”Karena itulah, Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan bahwa seorang mukmin itu memadukan dalam dirinya antara perbuatan ihsan/kebaikan dan ketaatan dengan perasaan syafaqah/takut dan khawatir. Sebaliknya, orang kafir dan fajir memadukan dalam dirinya antara perbuatan jelek/dosa dengan merasa aman/baik-baik saja. Lihatlah sosok para sahabat -manusia terbaik setelah para nabi- yang dituturkan oleh Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah,“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mereka semua khawatir apabila kemunafikan bersemayam di dalam diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengaku bahwa imannya seperti imannya Jibril dan Mika’il.”Dari sini pula, kita mengetahui bahwa istighfar yang dimaksud bukan hanya ucapan lisan tanpa keyakinan dan kesadaran di dalam hati. Sebab, zikir yang paling utama adalah yang menggabungkan antara ucapan lisan dengan penghayatan di dalam hati terhadap apa yang dibaca. Oleh sebab itu, istighfar yang tidak disertai dengan perendahan diri dan ketundukan kepada Allah, bukanlah istighfar yang hakiki. Karena ketaatan yang Allah terima adalah ibadah yang berakar dari dalam hati. Allah berfirman,یَوۡمَ لَا یَنفَعُ مَالࣱ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبࣲ سَلِیمࣲ“Pada hari itu (kiamat), tiada berguna harta dan keturunan laki-laki kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Sehingga sebagian salaf berkata, “Betapa banyak orang yang lisannya beristigfar tetapi dimurkai. Sedangkan, ada orang-orang yang lisannya diam tetapi senantiasa dirahmati.” Setiap muslim membutuhkan waktu-waktu khusus untuk menyendiri dengan Rabbnya. Mengingat dosa dan kesalahannya untuk bertaubat dan menangisi kedurhakaan yang selama ini dia lakukan. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam manusia terbaik di muka bumi saja beristigfar kepada Allah dalam sehari sampai 70 kali atau seratus kali bahkan lebih. Lalu, bagaimana lagi dengan kita?!Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307)Imam Nasa’i meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar. Beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari oleh Ibnu Hajar, 11: 115)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung. Dia takut apabila gunung itu jatuh/runtuh menimpa dirinya.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 118)Demikianlah sifat seorang muslim. Bahwa dia senantiasa merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah. Dia menganggap kecil amal salihnya dan dia mengkhawatirkan dampak perbuatan buruknya meskipun itu kecil. (lihat Fath Al-Bari, 11: 119)‘Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan, “Adalah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah keluar dari buang air (kamar kecil), beliau mengucapkanغفراك‘ghufroonak’(Artinya ‘Kami mohon ampunan-Mu, ya Allah).” (HR. Abu Dawud dan lain-lain)Makna doa ini adalah “Aku memohon ampunan-Mu kepada-Mu, ya Allah.” Yaitu, Engkau tutupi dosa-dosaku dan Engkau tidak menghukumku karena dosa-dosa itu. (lihat keterangan Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram, 1: 242)Hikmah dari bacaan ini adalah apabila seorang telah menunaikan hajatnya (dengan membuang kotoran secara fisik), hendaklah dia mengingat kotoran secara maknawi yang mengganggu kehidupannya, yaitu dosa-dosa. Karena, sesungguhnya menanggung dosa lebih berat dan lebih membahayakan daripada menanggung kotoran yang berupa ‘air besar’ atau ‘air kecil’. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita mengingat dosa-dosa kita dan memohon ampunan Allah atasnya. (lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Fathu Dzil Jalal wal Ikram, hlm. 306)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadis ini, “Adapun kita (apabila dibandingkan dengan Nabi) maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat.” (lihat Syarh Muslim [8: 293]). Benarlah apa yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan beliau.Dan apabila kita cermati keadaan kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati bahwa amalan ini (bertaubat 100 kali dalam sehari) termasuk salah satu amalan yang sudah banyak ditinggalkan oleh manusia (sunnah mahjurah), kecuali pada sebagian manusia yang Allah berikan taufik kepada mereka dan betapa sedikitnya mereka itu. Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengamalkannya.An-Nasa’i rahimahullah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar, beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 115). Kepada Allah semata kita mohon pertolongan.Baca Juga:Semoga catatan yang singkat ini bermanfaat.Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 3)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,وإذ أذنب استغفر(Dan semoga Allah menjadikan kamu termasuk) orang yang beristigfar apabila terjerumus dalam perbuatan dosa.Penjelasan :Pentingnya melakukan istighfarDalam doa yang agung ini, beliau memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada orang yang membaca risalahnya, supaya menjadi orang yang kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya apabila terjatuh dalam maksiat dan dosa. Sebagaimana telah diketahui bahwa manusia seringkali terjerat oleh kemauan hawa nafsunya, sehingga melakukan apa yang dilarang oleh Allah atau bahkan meninggalkan kewajiban yang diperintahkan dalam agama.Untuk itulah seorang muslim diajarkan untuk selalu beristigfar. Dalam banyak kesempatan, kita diperintahkan untuk memohon ampunan. Di antaranya, ketika selesai mengerjakan salat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk membaca istighfar 3 kali. Hal itu bukan berarti salat adalah perbuatan dosa. Tetapi, memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebagus apapun amal yang dilakukan oleh hamba, hak-hak Allah itu terlalu agung dan Maha sempurna sehingga tidak bisa dihargai dengan ketaatan dan amal manusia yang penuh dengan kekurangan.Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah مطالعة عيب النفس والعمل (muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal). Mencermati dan menyadari begitu banyak aib pada diri dan amal-amal yang kita kerjakan. Karena ibadah kepada Allah itu berporos pada dua pilar, (1) cinta yang sepenuhnya dan (2) perendahan diri yang seutuhnya kepada Allah. Sementara perendahan diri tidak bisa muncul, kecuali dengan menelaah aib pada diri dan amalan hamba. Demikian kandungan makna yang diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib.Penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasarIbnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasar, yaitu kecintaan yang sepenuhnya dan perendahan diri yang sempurna. Munculnya kedua pokok (kaidah) ini berangkat dari dua sikap prinsip yaitu    مشاهدة المنة (musyahadatul minnah), yaitu menyaksikan curahan nikmat-nikmat Allah dan مطالعة عيب النفس والعمل (muthala’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal), yaitu selalu meneliti aib pada diri dan amal perbuatan.Dengan senantiasa menyaksikan dan menyadari setiap curahan nikmat yang Allah berikan kepada hamba, akan tumbuhlah kecintaan. Dan dengan selalu meneliti aib pada diri dan amalan, akan menumbuhkan perendahan diri yang sempurna kepada Rabbnya. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 8 tahqiq Abdul Qadir dan Ibrahim Al-Arna’uth)Dengan selalu menyaksikan dan menyadari betapa banyak curahan nikmat yang Allah berikan, akan menumbuhkan kecintaan, pujian, dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan begitu banyak kebaikan. Dan dengan memperhatikan aib pada diri dan amal perbuatan, akan melahirkan sikap perendahan diri, merasa butuh, fakir, dan bertaubat di sepanjang waktu. Sehingga orang itu tidak memandang dirinya, kecuali berada dalam kondisi bangkrut. Pintu terdekat yang akan mengantarkan hamba menuju Allah adalah pintu gerbang perasaan bangkrut. Dia tidak melihat dirinya memiliki kedudukan, posisi, dan peran yang layak diandalkan/dibanggakan. Sehingga, dia pun akan mengabdi kepada Allah melalui pintu gerbang perasaan fakir yang seutuhnya dan kondisi jiwa yang merasa dilanda kebangkrutan. (lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 7)Apabila kita teliti kembali amal dan ibadah yang kita kerjakan, ada banyak sekali kekurangan dan cacatnya. Dari sanalah, kita mengetahui letak pentingnya muhasabah. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, “Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab! Dan timbanglah amal-amal kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat)!”Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang dilakukan. Dosa itu sendiri meliputi dua kategori. Terjadi karena menerjang larangan atau karena tidak menunaikan kewajiban. Bisa jadi seseorang tidak melakukan perkara yang diharamkan pada suatu waktu, tetapi pada saat itu dia tidak menunaikan kewajiban dan tugasnya dengan baik. Dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah taqshir/keteledoran dan cacat amalan.Baca Juga: Sepuluh Kaidah Pemurnian TauhidSikap seorang mukmin terhadap amalannyaSeorang mukmin, ketika melihat amalannya, maka dia berharap kepada Allah supaya amalnya diterima. Meskipun demikian, dia selalu ingat dan waspada akan dosa dan kekurangannya. Jangan sampai amalnya hancur dan sirna gara-gara dosa. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu sebagaimana dinukil oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya mengatakan, “Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di bawah gunung. Dia takut gunung itu runtuh menimpa dirinya.”Karena itulah, Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan bahwa seorang mukmin itu memadukan dalam dirinya antara perbuatan ihsan/kebaikan dan ketaatan dengan perasaan syafaqah/takut dan khawatir. Sebaliknya, orang kafir dan fajir memadukan dalam dirinya antara perbuatan jelek/dosa dengan merasa aman/baik-baik saja. Lihatlah sosok para sahabat -manusia terbaik setelah para nabi- yang dituturkan oleh Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah,“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mereka semua khawatir apabila kemunafikan bersemayam di dalam diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengaku bahwa imannya seperti imannya Jibril dan Mika’il.”Dari sini pula, kita mengetahui bahwa istighfar yang dimaksud bukan hanya ucapan lisan tanpa keyakinan dan kesadaran di dalam hati. Sebab, zikir yang paling utama adalah yang menggabungkan antara ucapan lisan dengan penghayatan di dalam hati terhadap apa yang dibaca. Oleh sebab itu, istighfar yang tidak disertai dengan perendahan diri dan ketundukan kepada Allah, bukanlah istighfar yang hakiki. Karena ketaatan yang Allah terima adalah ibadah yang berakar dari dalam hati. Allah berfirman,یَوۡمَ لَا یَنفَعُ مَالࣱ وَلَا بَنُونَإِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبࣲ سَلِیمࣲ“Pada hari itu (kiamat), tiada berguna harta dan keturunan laki-laki kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Sehingga sebagian salaf berkata, “Betapa banyak orang yang lisannya beristigfar tetapi dimurkai. Sedangkan, ada orang-orang yang lisannya diam tetapi senantiasa dirahmati.” Setiap muslim membutuhkan waktu-waktu khusus untuk menyendiri dengan Rabbnya. Mengingat dosa dan kesalahannya untuk bertaubat dan menangisi kedurhakaan yang selama ini dia lakukan. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam manusia terbaik di muka bumi saja beristigfar kepada Allah dalam sehari sampai 70 kali atau seratus kali bahkan lebih. Lalu, bagaimana lagi dengan kita?!Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307)Imam Nasa’i meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar. Beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari oleh Ibnu Hajar, 11: 115)Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah sebuah gunung. Dia takut apabila gunung itu jatuh/runtuh menimpa dirinya.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 118)Demikianlah sifat seorang muslim. Bahwa dia senantiasa merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah. Dia menganggap kecil amal salihnya dan dia mengkhawatirkan dampak perbuatan buruknya meskipun itu kecil. (lihat Fath Al-Bari, 11: 119)‘Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan, “Adalah kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah keluar dari buang air (kamar kecil), beliau mengucapkanغفراك‘ghufroonak’(Artinya ‘Kami mohon ampunan-Mu, ya Allah).” (HR. Abu Dawud dan lain-lain)Makna doa ini adalah “Aku memohon ampunan-Mu kepada-Mu, ya Allah.” Yaitu, Engkau tutupi dosa-dosaku dan Engkau tidak menghukumku karena dosa-dosa itu. (lihat keterangan Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Maram, 1: 242)Hikmah dari bacaan ini adalah apabila seorang telah menunaikan hajatnya (dengan membuang kotoran secara fisik), hendaklah dia mengingat kotoran secara maknawi yang mengganggu kehidupannya, yaitu dosa-dosa. Karena, sesungguhnya menanggung dosa lebih berat dan lebih membahayakan daripada menanggung kotoran yang berupa ‘air besar’ atau ‘air kecil’. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita mengingat dosa-dosa kita dan memohon ampunan Allah atasnya. (lihat keterangan Syekh Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Fathu Dzil Jalal wal Ikram, hlm. 306)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)Imam an-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadis ini, “Adapun kita (apabila dibandingkan dengan Nabi) maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat.” (lihat Syarh Muslim [8: 293]). Benarlah apa yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita dan beliau.Dan apabila kita cermati keadaan kaum muslimin di zaman ini, maka akan kita dapati bahwa amalan ini (bertaubat 100 kali dalam sehari) termasuk salah satu amalan yang sudah banyak ditinggalkan oleh manusia (sunnah mahjurah), kecuali pada sebagian manusia yang Allah berikan taufik kepada mereka dan betapa sedikitnya mereka itu. Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan segenap pembaca untuk mengamalkannya.An-Nasa’i rahimahullah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Ibnu Umar, beliau berkata, “Bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca,أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه‘astaghfirullahalladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih’ dalam sebuah majelis sebelum bangkit sebanyak 100 kali.” (lihat Fath Al-Bari, 11: 115). Kepada Allah semata kita mohon pertolongan.Baca Juga:Semoga catatan yang singkat ini bermanfaat.Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 2)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristigfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanPada bagian sebelumnya, kita telah membahas salah satu tanda kebahagiaan yaitu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Berikutnya kita akan membahas tanda kebahagiaan yang kedua, yaitu bersabar saat tertimpa musibah dan bencana.Kaum muslimin yang dirahmati Allah, segala sesuatu yang terjadi di alam dunia ini telah tertulis dalam lauhul mahfuzh 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk di dalamnya musibah yang kita alami. Tidaklah musibah menimpa, melainkan dengan izin dari Allah.Kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersabar menghadapinya. Sabar yaitu menahan diri dari marah kepada ketetapan Allah. Menahan anggota badan dari ekspresi ketidakpuasan, seperti merobek-robek kerah baju atau menampar-nampar pipi, dan menahan lisan dari meratap. Sebagaimana digambarkan oleh para ulama salaf, bahwa sabar dalam iman seperti kepala di dalam badan. Apabila sabarnya hilang, maka tidak ada lagi kehidupan pada badan.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam Kitab Tauhid juga membuat bab khusus dengan judul “Termasuk keimanan kepada Allah adalah bersabar menghadapi takdir Allah“. Maksudnya adalah takdir yang terasa menyakitkan seperti musibah dan bencana. Iman kepada Allah mencakup iman kepada uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada rububiyah Allah.Mengimani Allah sebagai Rabb mengandung makna keyakinan bahwa Allah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta. Sementara takdir Allah merupakan salah satu perbuatan Allah dan kekuasaan Allah. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat kebaikan dan nikmat, maka yang diperintahkan kepada kita adalah mensyukuri nikmat itu dengan menggunakan nikmat dalam ketaatan. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat musibah dan sesuatu yang tidak kita sukai, maka yang diperintahkan kepada kita adalah bersabar menerimanya.Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajCobaan menempa keimananAllah berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh  kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj: 11).Para ulama tafsir, di antaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik, maka dia pun beribadah. Akan tetapi, apabila urusan dunianya rusak, maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya, dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan “berpaling ke belakang” maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syekh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah atau cobaan, maka dia pun menyimpang dari agamanya. Hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent- …” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 10).Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang, maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada di antara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 11).Hasan al-Bashri Rahimahullah menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hlm. 859-860).Syekh as-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 534).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang paling aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi, yang aku khawatirkan adalah ketika dunia ini dibukakan untuk kalian sebagaimana ia telah dibukakan untuk orang-orang sebelum kalian. Maka kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana mereka berlomba-lomba untuk meraupnya. Maka dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka” (HR. Bukhari).Syekh Abdul Karim al-Khudhair berkata, “Ujian dalam bentuk kesulitan/musibah bisa dilalui oleh banyak orang. Akan tetapi ujian dalam bentuk kelapangan, terbukanya dunia, dan kekayaan; betapa sedikit orang yang bisa melampauinya. Ini merupakan perkara yang bisa disaksikan oleh semuanya. Kenyataan yang terjadi pada umumnya kaum muslimin ketika dibukakan untuk mereka dunia, ternyata mereka justru menyepelekan perintah-perintah Allah ‘Azza wa jalla dan berpaling dari jalan kebenaran. Dan mereka pun menukar nikmat yang Allah berikan dengan kekafiran yang mereka kerjakan…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan min Shahih al-Bukhari, hlm. 13).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Musibah adalah cobaanDi antara bentuk cobaan itu adalah musibah yang menimpa kaum beriman. Allah berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ(٣)“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta” (QS. al-’Ankabut: 2-3).Musibah dan bencana ini adalah cobaan dari Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah menimpakan cobaan atau musibah untuk mencelakakannya, hanya saja Allah memberikan musibah kepadanya untuk menguji kesabaran dan penghambaannya kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah berhak mendapatkan penghambaan di kala susah sebagaimana Dia juga berhak mendapatkan penghambaan di kala senang…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 4 penerbit Maktabah Darul Bayan).Ya, dengan adanya musibah dan diikuti dengan kesabaran akan membuahkan keutamaan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Allah berfirman,وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS. Ali ‘Imran: 146).Allah juga berfirman,وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. al-Anfal: 46).Allah berfirman,مَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya” (QS. at-Taghabun: 11).Alqomah -seorang ulama tabi’in– mengatakan, “Maksud ayat ini adalah berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, maka dia pun rida dan pasrah.” Di antara faidah ayat itu adalah bahwa sabar merupakan sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu di antara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 278 karya Syekh Shalih al-Fauzan).Karena itulah tidak heran apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah timpakan musibah kepadanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itulah dikisahkan bahwa sebagian para ulama terdahulu apabila dia melihat bahwa dirinya tidak pernah tertimpa musibah baik berupa tertimpa penyakit/sakit atau yang lainnya maka dia pun mencurigai dirinya sendiri (lihat at-Tam-hid li Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 379).Dari Anas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah akan sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara untuk menghapuskan dosa-dosa. Selain itu, dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hlm. 175).Dengan demikian, kesabaran adalah kebaikan yang sangat besar. Sebab dengan bersabar ketika tertimpa musibah akan mendatangkan pahala dan sekaligus menghapuskan dosa-dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang diberikan suatu anugerah yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).Para ulama juga menjelaskan bahwa sabar dalam makna yang luas mencakup sabar dalam melaksanakan perintah dan sabar dalam menjauhi larangan. Selain itu, ada juga sabar dalam menghadapi musibah (sebagaimana yang sedang kita bahas). Sabar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan adalah bagian dari syukur kepada Allah; sebab hakikat syukur adalah beramal saleh. Oleh sebab itu dikatakan oleh para ulama salaf bahwa iman mencakup dua bagian; sabar dan syukur.Dari sini kita juga mengetahui bahwa sesungguhnya sebab kebahagiaan hamba itu ada pada iman dan amal saleh, sabar dan syukur, serta tunduk patuh kepada perintah dan larangan Allah. Allah berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ (١)  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ(٢)  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ(٣)“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3).Demikian pembahasan kita pada kesempatan ini. Semoga Allah berikan kemudahan untuk bertemu lagi dalam seri yang akan datang masih bersama risalah al-Qawa’id al-Arba’ karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah.Baca Juga:Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hidayah Adalah, Dunia Fatamorgana, Puasa Sunnah Sya'ban, Karikatur Allah, Bacaan Sholat Sunnah

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 2)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristigfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanPada bagian sebelumnya, kita telah membahas salah satu tanda kebahagiaan yaitu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Berikutnya kita akan membahas tanda kebahagiaan yang kedua, yaitu bersabar saat tertimpa musibah dan bencana.Kaum muslimin yang dirahmati Allah, segala sesuatu yang terjadi di alam dunia ini telah tertulis dalam lauhul mahfuzh 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk di dalamnya musibah yang kita alami. Tidaklah musibah menimpa, melainkan dengan izin dari Allah.Kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersabar menghadapinya. Sabar yaitu menahan diri dari marah kepada ketetapan Allah. Menahan anggota badan dari ekspresi ketidakpuasan, seperti merobek-robek kerah baju atau menampar-nampar pipi, dan menahan lisan dari meratap. Sebagaimana digambarkan oleh para ulama salaf, bahwa sabar dalam iman seperti kepala di dalam badan. Apabila sabarnya hilang, maka tidak ada lagi kehidupan pada badan.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam Kitab Tauhid juga membuat bab khusus dengan judul “Termasuk keimanan kepada Allah adalah bersabar menghadapi takdir Allah“. Maksudnya adalah takdir yang terasa menyakitkan seperti musibah dan bencana. Iman kepada Allah mencakup iman kepada uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada rububiyah Allah.Mengimani Allah sebagai Rabb mengandung makna keyakinan bahwa Allah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta. Sementara takdir Allah merupakan salah satu perbuatan Allah dan kekuasaan Allah. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat kebaikan dan nikmat, maka yang diperintahkan kepada kita adalah mensyukuri nikmat itu dengan menggunakan nikmat dalam ketaatan. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat musibah dan sesuatu yang tidak kita sukai, maka yang diperintahkan kepada kita adalah bersabar menerimanya.Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajCobaan menempa keimananAllah berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh  kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj: 11).Para ulama tafsir, di antaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik, maka dia pun beribadah. Akan tetapi, apabila urusan dunianya rusak, maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya, dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan “berpaling ke belakang” maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syekh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah atau cobaan, maka dia pun menyimpang dari agamanya. Hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent- …” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 10).Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang, maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada di antara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 11).Hasan al-Bashri Rahimahullah menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hlm. 859-860).Syekh as-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 534).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang paling aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi, yang aku khawatirkan adalah ketika dunia ini dibukakan untuk kalian sebagaimana ia telah dibukakan untuk orang-orang sebelum kalian. Maka kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana mereka berlomba-lomba untuk meraupnya. Maka dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka” (HR. Bukhari).Syekh Abdul Karim al-Khudhair berkata, “Ujian dalam bentuk kesulitan/musibah bisa dilalui oleh banyak orang. Akan tetapi ujian dalam bentuk kelapangan, terbukanya dunia, dan kekayaan; betapa sedikit orang yang bisa melampauinya. Ini merupakan perkara yang bisa disaksikan oleh semuanya. Kenyataan yang terjadi pada umumnya kaum muslimin ketika dibukakan untuk mereka dunia, ternyata mereka justru menyepelekan perintah-perintah Allah ‘Azza wa jalla dan berpaling dari jalan kebenaran. Dan mereka pun menukar nikmat yang Allah berikan dengan kekafiran yang mereka kerjakan…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan min Shahih al-Bukhari, hlm. 13).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Musibah adalah cobaanDi antara bentuk cobaan itu adalah musibah yang menimpa kaum beriman. Allah berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ(٣)“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta” (QS. al-’Ankabut: 2-3).Musibah dan bencana ini adalah cobaan dari Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah menimpakan cobaan atau musibah untuk mencelakakannya, hanya saja Allah memberikan musibah kepadanya untuk menguji kesabaran dan penghambaannya kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah berhak mendapatkan penghambaan di kala susah sebagaimana Dia juga berhak mendapatkan penghambaan di kala senang…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 4 penerbit Maktabah Darul Bayan).Ya, dengan adanya musibah dan diikuti dengan kesabaran akan membuahkan keutamaan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Allah berfirman,وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS. Ali ‘Imran: 146).Allah juga berfirman,وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. al-Anfal: 46).Allah berfirman,مَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya” (QS. at-Taghabun: 11).Alqomah -seorang ulama tabi’in– mengatakan, “Maksud ayat ini adalah berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, maka dia pun rida dan pasrah.” Di antara faidah ayat itu adalah bahwa sabar merupakan sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu di antara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 278 karya Syekh Shalih al-Fauzan).Karena itulah tidak heran apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah timpakan musibah kepadanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itulah dikisahkan bahwa sebagian para ulama terdahulu apabila dia melihat bahwa dirinya tidak pernah tertimpa musibah baik berupa tertimpa penyakit/sakit atau yang lainnya maka dia pun mencurigai dirinya sendiri (lihat at-Tam-hid li Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 379).Dari Anas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah akan sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara untuk menghapuskan dosa-dosa. Selain itu, dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hlm. 175).Dengan demikian, kesabaran adalah kebaikan yang sangat besar. Sebab dengan bersabar ketika tertimpa musibah akan mendatangkan pahala dan sekaligus menghapuskan dosa-dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang diberikan suatu anugerah yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).Para ulama juga menjelaskan bahwa sabar dalam makna yang luas mencakup sabar dalam melaksanakan perintah dan sabar dalam menjauhi larangan. Selain itu, ada juga sabar dalam menghadapi musibah (sebagaimana yang sedang kita bahas). Sabar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan adalah bagian dari syukur kepada Allah; sebab hakikat syukur adalah beramal saleh. Oleh sebab itu dikatakan oleh para ulama salaf bahwa iman mencakup dua bagian; sabar dan syukur.Dari sini kita juga mengetahui bahwa sesungguhnya sebab kebahagiaan hamba itu ada pada iman dan amal saleh, sabar dan syukur, serta tunduk patuh kepada perintah dan larangan Allah. Allah berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ (١)  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ(٢)  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ(٣)“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3).Demikian pembahasan kita pada kesempatan ini. Semoga Allah berikan kemudahan untuk bertemu lagi dalam seri yang akan datang masih bersama risalah al-Qawa’id al-Arba’ karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah.Baca Juga:Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hidayah Adalah, Dunia Fatamorgana, Puasa Sunnah Sya'ban, Karikatur Allah, Bacaan Sholat Sunnah
Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 2)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristigfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanPada bagian sebelumnya, kita telah membahas salah satu tanda kebahagiaan yaitu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Berikutnya kita akan membahas tanda kebahagiaan yang kedua, yaitu bersabar saat tertimpa musibah dan bencana.Kaum muslimin yang dirahmati Allah, segala sesuatu yang terjadi di alam dunia ini telah tertulis dalam lauhul mahfuzh 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk di dalamnya musibah yang kita alami. Tidaklah musibah menimpa, melainkan dengan izin dari Allah.Kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersabar menghadapinya. Sabar yaitu menahan diri dari marah kepada ketetapan Allah. Menahan anggota badan dari ekspresi ketidakpuasan, seperti merobek-robek kerah baju atau menampar-nampar pipi, dan menahan lisan dari meratap. Sebagaimana digambarkan oleh para ulama salaf, bahwa sabar dalam iman seperti kepala di dalam badan. Apabila sabarnya hilang, maka tidak ada lagi kehidupan pada badan.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam Kitab Tauhid juga membuat bab khusus dengan judul “Termasuk keimanan kepada Allah adalah bersabar menghadapi takdir Allah“. Maksudnya adalah takdir yang terasa menyakitkan seperti musibah dan bencana. Iman kepada Allah mencakup iman kepada uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada rububiyah Allah.Mengimani Allah sebagai Rabb mengandung makna keyakinan bahwa Allah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta. Sementara takdir Allah merupakan salah satu perbuatan Allah dan kekuasaan Allah. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat kebaikan dan nikmat, maka yang diperintahkan kepada kita adalah mensyukuri nikmat itu dengan menggunakan nikmat dalam ketaatan. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat musibah dan sesuatu yang tidak kita sukai, maka yang diperintahkan kepada kita adalah bersabar menerimanya.Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajCobaan menempa keimananAllah berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh  kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj: 11).Para ulama tafsir, di antaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik, maka dia pun beribadah. Akan tetapi, apabila urusan dunianya rusak, maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya, dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan “berpaling ke belakang” maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syekh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah atau cobaan, maka dia pun menyimpang dari agamanya. Hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent- …” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 10).Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang, maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada di antara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 11).Hasan al-Bashri Rahimahullah menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hlm. 859-860).Syekh as-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 534).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang paling aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi, yang aku khawatirkan adalah ketika dunia ini dibukakan untuk kalian sebagaimana ia telah dibukakan untuk orang-orang sebelum kalian. Maka kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana mereka berlomba-lomba untuk meraupnya. Maka dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka” (HR. Bukhari).Syekh Abdul Karim al-Khudhair berkata, “Ujian dalam bentuk kesulitan/musibah bisa dilalui oleh banyak orang. Akan tetapi ujian dalam bentuk kelapangan, terbukanya dunia, dan kekayaan; betapa sedikit orang yang bisa melampauinya. Ini merupakan perkara yang bisa disaksikan oleh semuanya. Kenyataan yang terjadi pada umumnya kaum muslimin ketika dibukakan untuk mereka dunia, ternyata mereka justru menyepelekan perintah-perintah Allah ‘Azza wa jalla dan berpaling dari jalan kebenaran. Dan mereka pun menukar nikmat yang Allah berikan dengan kekafiran yang mereka kerjakan…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan min Shahih al-Bukhari, hlm. 13).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Musibah adalah cobaanDi antara bentuk cobaan itu adalah musibah yang menimpa kaum beriman. Allah berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ(٣)“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta” (QS. al-’Ankabut: 2-3).Musibah dan bencana ini adalah cobaan dari Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah menimpakan cobaan atau musibah untuk mencelakakannya, hanya saja Allah memberikan musibah kepadanya untuk menguji kesabaran dan penghambaannya kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah berhak mendapatkan penghambaan di kala susah sebagaimana Dia juga berhak mendapatkan penghambaan di kala senang…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 4 penerbit Maktabah Darul Bayan).Ya, dengan adanya musibah dan diikuti dengan kesabaran akan membuahkan keutamaan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Allah berfirman,وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS. Ali ‘Imran: 146).Allah juga berfirman,وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. al-Anfal: 46).Allah berfirman,مَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya” (QS. at-Taghabun: 11).Alqomah -seorang ulama tabi’in– mengatakan, “Maksud ayat ini adalah berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, maka dia pun rida dan pasrah.” Di antara faidah ayat itu adalah bahwa sabar merupakan sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu di antara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 278 karya Syekh Shalih al-Fauzan).Karena itulah tidak heran apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah timpakan musibah kepadanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itulah dikisahkan bahwa sebagian para ulama terdahulu apabila dia melihat bahwa dirinya tidak pernah tertimpa musibah baik berupa tertimpa penyakit/sakit atau yang lainnya maka dia pun mencurigai dirinya sendiri (lihat at-Tam-hid li Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 379).Dari Anas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah akan sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara untuk menghapuskan dosa-dosa. Selain itu, dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hlm. 175).Dengan demikian, kesabaran adalah kebaikan yang sangat besar. Sebab dengan bersabar ketika tertimpa musibah akan mendatangkan pahala dan sekaligus menghapuskan dosa-dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang diberikan suatu anugerah yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).Para ulama juga menjelaskan bahwa sabar dalam makna yang luas mencakup sabar dalam melaksanakan perintah dan sabar dalam menjauhi larangan. Selain itu, ada juga sabar dalam menghadapi musibah (sebagaimana yang sedang kita bahas). Sabar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan adalah bagian dari syukur kepada Allah; sebab hakikat syukur adalah beramal saleh. Oleh sebab itu dikatakan oleh para ulama salaf bahwa iman mencakup dua bagian; sabar dan syukur.Dari sini kita juga mengetahui bahwa sesungguhnya sebab kebahagiaan hamba itu ada pada iman dan amal saleh, sabar dan syukur, serta tunduk patuh kepada perintah dan larangan Allah. Allah berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ (١)  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ(٢)  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ(٣)“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3).Demikian pembahasan kita pada kesempatan ini. Semoga Allah berikan kemudahan untuk bertemu lagi dalam seri yang akan datang masih bersama risalah al-Qawa’id al-Arba’ karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah.Baca Juga:Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hidayah Adalah, Dunia Fatamorgana, Puasa Sunnah Sya'ban, Karikatur Allah, Bacaan Sholat Sunnah


Baca pembahasan sebelumnya Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 2)Bismillah.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,“Semoga Allah menjadikan kamu termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristigfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.”PenjelasanPada bagian sebelumnya, kita telah membahas salah satu tanda kebahagiaan yaitu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Berikutnya kita akan membahas tanda kebahagiaan yang kedua, yaitu bersabar saat tertimpa musibah dan bencana.Kaum muslimin yang dirahmati Allah, segala sesuatu yang terjadi di alam dunia ini telah tertulis dalam lauhul mahfuzh 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk di dalamnya musibah yang kita alami. Tidaklah musibah menimpa, melainkan dengan izin dari Allah.Kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersabar menghadapinya. Sabar yaitu menahan diri dari marah kepada ketetapan Allah. Menahan anggota badan dari ekspresi ketidakpuasan, seperti merobek-robek kerah baju atau menampar-nampar pipi, dan menahan lisan dari meratap. Sebagaimana digambarkan oleh para ulama salaf, bahwa sabar dalam iman seperti kepala di dalam badan. Apabila sabarnya hilang, maka tidak ada lagi kehidupan pada badan.Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam Kitab Tauhid juga membuat bab khusus dengan judul “Termasuk keimanan kepada Allah adalah bersabar menghadapi takdir Allah“. Maksudnya adalah takdir yang terasa menyakitkan seperti musibah dan bencana. Iman kepada Allah mencakup iman kepada uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada rububiyah Allah.Mengimani Allah sebagai Rabb mengandung makna keyakinan bahwa Allah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta. Sementara takdir Allah merupakan salah satu perbuatan Allah dan kekuasaan Allah. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat kebaikan dan nikmat, maka yang diperintahkan kepada kita adalah mensyukuri nikmat itu dengan menggunakan nikmat dalam ketaatan. Ketika Allah menakdirkan kita mendapat musibah dan sesuatu yang tidak kita sukai, maka yang diperintahkan kepada kita adalah bersabar menerimanya.Baca Juga: 6 Pilar Aqidah dan ManhajCobaan menempa keimananAllah berfirman,وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh  kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj: 11).Para ulama tafsir, di antaranya Qatadah dan Mujahid menafsirkan bahwa yang dimaksud beribadah kepada Allah di tepian yaitu di atas keragu-raguan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang munafik. Apabila urusan dunianya baik, maka dia pun beribadah. Akan tetapi, apabila urusan dunianya rusak, maka dia pun berubah. Bahkan pada akhirnya, dia pun kembali kepada kekafiran. Mujahid menafsirkan “berpaling ke belakang” maksudnya adalah menjadi murtad dan kafir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 5/400-401).Syekh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Sebagian manusia apabila terkena fitnah atau cobaan, maka dia pun menyimpang dari agamanya. Hal itu disebabkan dia sejak awal tidak berada di atas pondasi yang benar -dalam beragama, pent- …” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 10).Beliau juga menjelaskan, “Fitnah-fitnah ini apabila datang, maka manusia menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada di antara mereka yang tetap tegar di atas agamanya walaupun dia harus mendapati kesulitan-kesulitan bersama itu, dan ada pula orang yang menyimpang; dan mereka yang semacam itu banyak…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan, hlm. 11).Hasan al-Bashri Rahimahullah menjelaskan termasuk golongan orang yang beribadah kepada Allah di tepian itu adalah orang munafik yang beribadah kepada Allah dengan lisannya, tetapi tidak dilandasi dengan hatinya (lihat Tafsir al-Baghawi, hlm. 859-860).Syekh as-Sa’di menafsirkan bahwa termasuk cakupan ayat ini adalah orang yang lemah imannya. Dimana imannya itu belum tertanam di dalam hatinya dengan kuat, dia belum bisa merasakan manisnya iman itu. Bisa jadi iman masuk ke dalam dirinya karena rasa takut -di bawah tekanan- atau karena agama sekedar menjadi adat kebiasaan sehingga membuat dirinya tidak bisa tahan apabila diterpa dengan berbagai macam cobaan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 534).Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang paling aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi, yang aku khawatirkan adalah ketika dunia ini dibukakan untuk kalian sebagaimana ia telah dibukakan untuk orang-orang sebelum kalian. Maka kalian pun berlomba-lomba untuk meraupnya sebagaimana mereka berlomba-lomba untuk meraupnya. Maka dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka” (HR. Bukhari).Syekh Abdul Karim al-Khudhair berkata, “Ujian dalam bentuk kesulitan/musibah bisa dilalui oleh banyak orang. Akan tetapi ujian dalam bentuk kelapangan, terbukanya dunia, dan kekayaan; betapa sedikit orang yang bisa melampauinya. Ini merupakan perkara yang bisa disaksikan oleh semuanya. Kenyataan yang terjadi pada umumnya kaum muslimin ketika dibukakan untuk mereka dunia, ternyata mereka justru menyepelekan perintah-perintah Allah ‘Azza wa jalla dan berpaling dari jalan kebenaran. Dan mereka pun menukar nikmat yang Allah berikan dengan kekafiran yang mereka kerjakan…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan min Shahih al-Bukhari, hlm. 13).Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Musibah adalah cobaanDi antara bentuk cobaan itu adalah musibah yang menimpa kaum beriman. Allah berfirman,أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ(٣)“Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian? Sungguh Kami telah memberikan ujian kepada orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang pendusta” (QS. al-’Ankabut: 2-3).Musibah dan bencana ini adalah cobaan dari Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah menimpakan cobaan atau musibah untuk mencelakakannya, hanya saja Allah memberikan musibah kepadanya untuk menguji kesabaran dan penghambaannya kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah berhak mendapatkan penghambaan di kala susah sebagaimana Dia juga berhak mendapatkan penghambaan di kala senang…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 4 penerbit Maktabah Darul Bayan).Ya, dengan adanya musibah dan diikuti dengan kesabaran akan membuahkan keutamaan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Allah berfirman,وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS. Ali ‘Imran: 146).Allah juga berfirman,وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. al-Anfal: 46).Allah berfirman,مَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya” (QS. at-Taghabun: 11).Alqomah -seorang ulama tabi’in– mengatakan, “Maksud ayat ini adalah berkenaan dengan seorang yang tertimpa musibah; dia mengetahui bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, maka dia pun rida dan pasrah.” Di antara faidah ayat itu adalah bahwa sabar merupakan sebab datangnya hidayah ke dalam hati, selain itu di antara balasan bagi orang yang sabar adalah mendapatkan tambahan hidayah (lihat al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 278 karya Syekh Shalih al-Fauzan).Karena itulah tidak heran apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah timpakan musibah kepadanya” (HR. Bukhari).Oleh sebab itulah dikisahkan bahwa sebagian para ulama terdahulu apabila dia melihat bahwa dirinya tidak pernah tertimpa musibah baik berupa tertimpa penyakit/sakit atau yang lainnya maka dia pun mencurigai dirinya sendiri (lihat at-Tam-hid li Syarhi Kitab at-Tauhid, hlm. 379).Dari Anas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabilah Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah segerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Allah tahan hukuman itu akibat dosanya sampai Allah akan sempurnakan hukumannya nanti di hari kiamat” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani).Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya adanya musibah-musibah adalah salah satu cara untuk menghapuskan dosa-dosa. Selain itu, dengan adanya musibah akan membuat orang kembali dan bertaubat kepada Rabbnya. Bahkan dihapuskannya dosa-dosa itu merupakan salah satu bentuk nikmat yang paling agung, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah (lihat Ibthal at-Tandid, hlm. 175).Dengan demikian, kesabaran adalah kebaikan yang sangat besar. Sebab dengan bersabar ketika tertimpa musibah akan mendatangkan pahala dan sekaligus menghapuskan dosa-dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang diberikan suatu anugerah yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).Para ulama juga menjelaskan bahwa sabar dalam makna yang luas mencakup sabar dalam melaksanakan perintah dan sabar dalam menjauhi larangan. Selain itu, ada juga sabar dalam menghadapi musibah (sebagaimana yang sedang kita bahas). Sabar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan adalah bagian dari syukur kepada Allah; sebab hakikat syukur adalah beramal saleh. Oleh sebab itu dikatakan oleh para ulama salaf bahwa iman mencakup dua bagian; sabar dan syukur.Dari sini kita juga mengetahui bahwa sesungguhnya sebab kebahagiaan hamba itu ada pada iman dan amal saleh, sabar dan syukur, serta tunduk patuh kepada perintah dan larangan Allah. Allah berfirman,وَٱلۡعَصۡرِ (١)  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ(٢)  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ(٣)“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3).Demikian pembahasan kita pada kesempatan ini. Semoga Allah berikan kemudahan untuk bertemu lagi dalam seri yang akan datang masih bersama risalah al-Qawa’id al-Arba’ karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah.Baca Juga:Barakallahu fiikum.Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hidayah Adalah, Dunia Fatamorgana, Puasa Sunnah Sya'ban, Karikatur Allah, Bacaan Sholat Sunnah

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat membantu pemuda—dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala— agar terbebas dari berbagai fitnah (maksiat) ini. (PERTAMA: TAUHID & IKHLAS) Perkara yang paling agung adalah tauhid dan ikhlas kepada Allah, ini yang paling agung. Tauhid adalah jalan keselamatan dari segala keburukan, dengan izin Allah. Ikhlas kepada Zat yang berhak disembah (Allah). “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24) Dan dalam bacaan lain, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang memurnikan agamanya untuk Allah. Mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Ikhlas dan tauhid adalah jalan keselamatan. Demikian juga iman kepada Allah dan keagungan-Nya, kepada pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keimanan bahwa Allah Maha Melihat hamba-Nya. Ini semua jalan keselamatan. (KEDUA: BERUSAHA KERAS MELAWAN HAWA NAFSU) Melindungi diri dari maksiat dengan melawan hawa nafsu dan menahannya, serta menekannya untuk menghalanginya terjerumus ke dalam perbuatan dosa. (KETIGA: BERDOA) Berdoa dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (KEEMPAT: LARI MENJAUHI SUMBER PENYEBAB MAKSIAT) Salah satu sebab penting lainnya adalah berlari menjauh dari tempat terjadinya fitnah (maksiat), Seseorang janganlah berada di sana dan menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat), namun ia harus lari menjauh darinya dan dari tempatnya. Saat istri al-Aziz menggoda Nabi Yusuf, apa yang terjadi pada beliau? Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Baru sekedar melihat ada fitnah (maksiat) dan semacamnya, Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Pergi berlari ke arah pintu agar dapat lari dari fitnah (maksiat). Istri al-Aziz mengejarnya dan mengoyak bajunya dari belakang, sedangkan Nabi Yusuf bergegas berpaling, melarikan diri dari fitnah (maksiat). Ini salah satu sebab keselamatan, yaitu melarikan diri dari tempat sumber fitnah. Tidak menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat) dan menetap di tempatnya! Namun melarikan diri darinya, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam fitnah (maksiat). Dengan perkara-perkara ini, dan adanya dorongan syahwat yang kuat, keimanan yang benar dan keikhlasan yang sempurna menghalanginya dari terjerumus ke dalam perbuatan zina yang terlarang. Juga terlindungi oleh doa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, permohonan perlindungan kepada-Nya, melarikan diri dari fitnah (maksiat), dan sebab-sebab lainnya yang dapat kamu perhatikan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. ========================================================================= الْأُمُورُ الْمُعِيْنَةُ لِلسَّلَامَةِ مِنَ الْفِتَنِ خَاصَّةً فِتْنَةُ الْفَاحِشَةِ وَلِيْ فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ لِي فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ اِسْتَخْلَصْتُ مِنَ الْقِصَّةِ أَظُنُّ سَبْعَةَ أُمُوْرٍ مُهِمَّةٌ جِدًّا تُعِيْنُ الشَّابَّ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى الْخَلَاصِ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَأَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ الإِخْلاصُ لِلهِ أَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ نَجَاةٌ مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِإِذْنِ اللهِ الْإِخْلَاصُ لِلْمَعْبُودِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ الْمُخْلِصِيْنَ الَّذِينَ أَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلهِ وَحَّدُوا اللهَ أَفْرَدَ اللهَ بِالْعِبَادَةِ فَالْإِخْلَاصُ وَالتَّوْحِيْدُ نَجَاةٌ أَيْضًا الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَعَظَمَةِ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّه مُطَّلِعٌ عَلَى الْعَبْدِ وَأَنَّه يَرَاهُ هَذَا نَجَاةٌ لاِسْتِعْصَامٍ بِمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَمَنْعِهَا وَالتَّشْدِيدِ عَلَيْهَا فِي الْإِيْبَاءِ وَالِامْتِنَاعِ عَنْ مُوَاقَعَةِ الْأَمْرِ الْمُحَرَّمِ الدُّعَاءُ اللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُهِمَّةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتْنَةِ مَا يَبْقَى الْإِنْسَانُ مُسْتَشْرِفًا لَهُ بَلْ يَفِرُّ مِنْهَا وَمِنْ مَكَانِهَا لَمَّا دَعَتْهُ امْرَأَةُ العَزيزِ مَاذَا حَصَلَ مِنْهُ اِسْتَبَقَ الْبَابَ مُجَرَّدُ مَا رَأَى الْمَسْأَلَةَ فِيهَا فِتْنَةٌ فِيهَا كَذَا اِسْتَبَقَ الْبَابَ رَاحَ يَعْنِي يَعْدُو جِهَةَ الْبَابِ فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ لَحِقَتْهُ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَهُوَ مُوَلِّيًا فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ النَّجَاةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتَنِ مَا يَسْتَشْرِفُ لَهَا وَيَبْقَى فِي مَكَانِهَا بَل يَفِرُّ مِنْهَا وَيَبْتَعِدُ عَنِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى الْفِتَنِ فَمَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ وَمَع قُوَّةِ الشَّهْوَةِ مَنَعَهُ الْإِيمَانُ الصَّادِقُ وَالْإِخْلَاصُ الْكَامِلُ مِنْ مُوَاقَعَةِ الْمَحْذُورِ مَنَعَه أَيْضًا الدُّعَاءُ وَاللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الاِسْتِعْصَامُ الْفِرَارُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَرَاهَا فِي قِصَّتِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat membantu pemuda—dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala— agar terbebas dari berbagai fitnah (maksiat) ini. (PERTAMA: TAUHID & IKHLAS) Perkara yang paling agung adalah tauhid dan ikhlas kepada Allah, ini yang paling agung. Tauhid adalah jalan keselamatan dari segala keburukan, dengan izin Allah. Ikhlas kepada Zat yang berhak disembah (Allah). “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24) Dan dalam bacaan lain, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang memurnikan agamanya untuk Allah. Mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Ikhlas dan tauhid adalah jalan keselamatan. Demikian juga iman kepada Allah dan keagungan-Nya, kepada pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keimanan bahwa Allah Maha Melihat hamba-Nya. Ini semua jalan keselamatan. (KEDUA: BERUSAHA KERAS MELAWAN HAWA NAFSU) Melindungi diri dari maksiat dengan melawan hawa nafsu dan menahannya, serta menekannya untuk menghalanginya terjerumus ke dalam perbuatan dosa. (KETIGA: BERDOA) Berdoa dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (KEEMPAT: LARI MENJAUHI SUMBER PENYEBAB MAKSIAT) Salah satu sebab penting lainnya adalah berlari menjauh dari tempat terjadinya fitnah (maksiat), Seseorang janganlah berada di sana dan menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat), namun ia harus lari menjauh darinya dan dari tempatnya. Saat istri al-Aziz menggoda Nabi Yusuf, apa yang terjadi pada beliau? Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Baru sekedar melihat ada fitnah (maksiat) dan semacamnya, Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Pergi berlari ke arah pintu agar dapat lari dari fitnah (maksiat). Istri al-Aziz mengejarnya dan mengoyak bajunya dari belakang, sedangkan Nabi Yusuf bergegas berpaling, melarikan diri dari fitnah (maksiat). Ini salah satu sebab keselamatan, yaitu melarikan diri dari tempat sumber fitnah. Tidak menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat) dan menetap di tempatnya! Namun melarikan diri darinya, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam fitnah (maksiat). Dengan perkara-perkara ini, dan adanya dorongan syahwat yang kuat, keimanan yang benar dan keikhlasan yang sempurna menghalanginya dari terjerumus ke dalam perbuatan zina yang terlarang. Juga terlindungi oleh doa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, permohonan perlindungan kepada-Nya, melarikan diri dari fitnah (maksiat), dan sebab-sebab lainnya yang dapat kamu perhatikan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. ========================================================================= الْأُمُورُ الْمُعِيْنَةُ لِلسَّلَامَةِ مِنَ الْفِتَنِ خَاصَّةً فِتْنَةُ الْفَاحِشَةِ وَلِيْ فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ لِي فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ اِسْتَخْلَصْتُ مِنَ الْقِصَّةِ أَظُنُّ سَبْعَةَ أُمُوْرٍ مُهِمَّةٌ جِدًّا تُعِيْنُ الشَّابَّ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى الْخَلَاصِ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَأَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ الإِخْلاصُ لِلهِ أَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ نَجَاةٌ مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِإِذْنِ اللهِ الْإِخْلَاصُ لِلْمَعْبُودِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ الْمُخْلِصِيْنَ الَّذِينَ أَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلهِ وَحَّدُوا اللهَ أَفْرَدَ اللهَ بِالْعِبَادَةِ فَالْإِخْلَاصُ وَالتَّوْحِيْدُ نَجَاةٌ أَيْضًا الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَعَظَمَةِ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّه مُطَّلِعٌ عَلَى الْعَبْدِ وَأَنَّه يَرَاهُ هَذَا نَجَاةٌ لاِسْتِعْصَامٍ بِمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَمَنْعِهَا وَالتَّشْدِيدِ عَلَيْهَا فِي الْإِيْبَاءِ وَالِامْتِنَاعِ عَنْ مُوَاقَعَةِ الْأَمْرِ الْمُحَرَّمِ الدُّعَاءُ اللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُهِمَّةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتْنَةِ مَا يَبْقَى الْإِنْسَانُ مُسْتَشْرِفًا لَهُ بَلْ يَفِرُّ مِنْهَا وَمِنْ مَكَانِهَا لَمَّا دَعَتْهُ امْرَأَةُ العَزيزِ مَاذَا حَصَلَ مِنْهُ اِسْتَبَقَ الْبَابَ مُجَرَّدُ مَا رَأَى الْمَسْأَلَةَ فِيهَا فِتْنَةٌ فِيهَا كَذَا اِسْتَبَقَ الْبَابَ رَاحَ يَعْنِي يَعْدُو جِهَةَ الْبَابِ فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ لَحِقَتْهُ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَهُوَ مُوَلِّيًا فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ النَّجَاةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتَنِ مَا يَسْتَشْرِفُ لَهَا وَيَبْقَى فِي مَكَانِهَا بَل يَفِرُّ مِنْهَا وَيَبْتَعِدُ عَنِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى الْفِتَنِ فَمَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ وَمَع قُوَّةِ الشَّهْوَةِ مَنَعَهُ الْإِيمَانُ الصَّادِقُ وَالْإِخْلَاصُ الْكَامِلُ مِنْ مُوَاقَعَةِ الْمَحْذُورِ مَنَعَه أَيْضًا الدُّعَاءُ وَاللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الاِسْتِعْصَامُ الْفِرَارُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَرَاهَا فِي قِصَّتِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ
4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat membantu pemuda—dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala— agar terbebas dari berbagai fitnah (maksiat) ini. (PERTAMA: TAUHID & IKHLAS) Perkara yang paling agung adalah tauhid dan ikhlas kepada Allah, ini yang paling agung. Tauhid adalah jalan keselamatan dari segala keburukan, dengan izin Allah. Ikhlas kepada Zat yang berhak disembah (Allah). “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24) Dan dalam bacaan lain, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang memurnikan agamanya untuk Allah. Mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Ikhlas dan tauhid adalah jalan keselamatan. Demikian juga iman kepada Allah dan keagungan-Nya, kepada pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keimanan bahwa Allah Maha Melihat hamba-Nya. Ini semua jalan keselamatan. (KEDUA: BERUSAHA KERAS MELAWAN HAWA NAFSU) Melindungi diri dari maksiat dengan melawan hawa nafsu dan menahannya, serta menekannya untuk menghalanginya terjerumus ke dalam perbuatan dosa. (KETIGA: BERDOA) Berdoa dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (KEEMPAT: LARI MENJAUHI SUMBER PENYEBAB MAKSIAT) Salah satu sebab penting lainnya adalah berlari menjauh dari tempat terjadinya fitnah (maksiat), Seseorang janganlah berada di sana dan menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat), namun ia harus lari menjauh darinya dan dari tempatnya. Saat istri al-Aziz menggoda Nabi Yusuf, apa yang terjadi pada beliau? Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Baru sekedar melihat ada fitnah (maksiat) dan semacamnya, Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Pergi berlari ke arah pintu agar dapat lari dari fitnah (maksiat). Istri al-Aziz mengejarnya dan mengoyak bajunya dari belakang, sedangkan Nabi Yusuf bergegas berpaling, melarikan diri dari fitnah (maksiat). Ini salah satu sebab keselamatan, yaitu melarikan diri dari tempat sumber fitnah. Tidak menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat) dan menetap di tempatnya! Namun melarikan diri darinya, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam fitnah (maksiat). Dengan perkara-perkara ini, dan adanya dorongan syahwat yang kuat, keimanan yang benar dan keikhlasan yang sempurna menghalanginya dari terjerumus ke dalam perbuatan zina yang terlarang. Juga terlindungi oleh doa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, permohonan perlindungan kepada-Nya, melarikan diri dari fitnah (maksiat), dan sebab-sebab lainnya yang dapat kamu perhatikan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. ========================================================================= الْأُمُورُ الْمُعِيْنَةُ لِلسَّلَامَةِ مِنَ الْفِتَنِ خَاصَّةً فِتْنَةُ الْفَاحِشَةِ وَلِيْ فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ لِي فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ اِسْتَخْلَصْتُ مِنَ الْقِصَّةِ أَظُنُّ سَبْعَةَ أُمُوْرٍ مُهِمَّةٌ جِدًّا تُعِيْنُ الشَّابَّ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى الْخَلَاصِ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَأَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ الإِخْلاصُ لِلهِ أَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ نَجَاةٌ مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِإِذْنِ اللهِ الْإِخْلَاصُ لِلْمَعْبُودِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ الْمُخْلِصِيْنَ الَّذِينَ أَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلهِ وَحَّدُوا اللهَ أَفْرَدَ اللهَ بِالْعِبَادَةِ فَالْإِخْلَاصُ وَالتَّوْحِيْدُ نَجَاةٌ أَيْضًا الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَعَظَمَةِ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّه مُطَّلِعٌ عَلَى الْعَبْدِ وَأَنَّه يَرَاهُ هَذَا نَجَاةٌ لاِسْتِعْصَامٍ بِمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَمَنْعِهَا وَالتَّشْدِيدِ عَلَيْهَا فِي الْإِيْبَاءِ وَالِامْتِنَاعِ عَنْ مُوَاقَعَةِ الْأَمْرِ الْمُحَرَّمِ الدُّعَاءُ اللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُهِمَّةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتْنَةِ مَا يَبْقَى الْإِنْسَانُ مُسْتَشْرِفًا لَهُ بَلْ يَفِرُّ مِنْهَا وَمِنْ مَكَانِهَا لَمَّا دَعَتْهُ امْرَأَةُ العَزيزِ مَاذَا حَصَلَ مِنْهُ اِسْتَبَقَ الْبَابَ مُجَرَّدُ مَا رَأَى الْمَسْأَلَةَ فِيهَا فِتْنَةٌ فِيهَا كَذَا اِسْتَبَقَ الْبَابَ رَاحَ يَعْنِي يَعْدُو جِهَةَ الْبَابِ فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ لَحِقَتْهُ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَهُوَ مُوَلِّيًا فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ النَّجَاةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتَنِ مَا يَسْتَشْرِفُ لَهَا وَيَبْقَى فِي مَكَانِهَا بَل يَفِرُّ مِنْهَا وَيَبْتَعِدُ عَنِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى الْفِتَنِ فَمَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ وَمَع قُوَّةِ الشَّهْوَةِ مَنَعَهُ الْإِيمَانُ الصَّادِقُ وَالْإِخْلَاصُ الْكَامِلُ مِنْ مُوَاقَعَةِ الْمَحْذُورِ مَنَعَه أَيْضًا الدُّعَاءُ وَاللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الاِسْتِعْصَامُ الْفِرَارُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَرَاهَا فِي قِصَّتِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ


4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat membantu pemuda—dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala— agar terbebas dari berbagai fitnah (maksiat) ini. (PERTAMA: TAUHID & IKHLAS) Perkara yang paling agung adalah tauhid dan ikhlas kepada Allah, ini yang paling agung. Tauhid adalah jalan keselamatan dari segala keburukan, dengan izin Allah. Ikhlas kepada Zat yang berhak disembah (Allah). “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24) Dan dalam bacaan lain, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang memurnikan agamanya untuk Allah. Mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Ikhlas dan tauhid adalah jalan keselamatan. Demikian juga iman kepada Allah dan keagungan-Nya, kepada pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keimanan bahwa Allah Maha Melihat hamba-Nya. Ini semua jalan keselamatan. (KEDUA: BERUSAHA KERAS MELAWAN HAWA NAFSU) Melindungi diri dari maksiat dengan melawan hawa nafsu dan menahannya, serta menekannya untuk menghalanginya terjerumus ke dalam perbuatan dosa. (KETIGA: BERDOA) Berdoa dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (KEEMPAT: LARI MENJAUHI SUMBER PENYEBAB MAKSIAT) Salah satu sebab penting lainnya adalah berlari menjauh dari tempat terjadinya fitnah (maksiat), Seseorang janganlah berada di sana dan menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat), namun ia harus lari menjauh darinya dan dari tempatnya. Saat istri al-Aziz menggoda Nabi Yusuf, apa yang terjadi pada beliau? Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Baru sekedar melihat ada fitnah (maksiat) dan semacamnya, Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Pergi berlari ke arah pintu agar dapat lari dari fitnah (maksiat). Istri al-Aziz mengejarnya dan mengoyak bajunya dari belakang, sedangkan Nabi Yusuf bergegas berpaling, melarikan diri dari fitnah (maksiat). Ini salah satu sebab keselamatan, yaitu melarikan diri dari tempat sumber fitnah. Tidak menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat) dan menetap di tempatnya! Namun melarikan diri darinya, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam fitnah (maksiat). Dengan perkara-perkara ini, dan adanya dorongan syahwat yang kuat, keimanan yang benar dan keikhlasan yang sempurna menghalanginya dari terjerumus ke dalam perbuatan zina yang terlarang. Juga terlindungi oleh doa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, permohonan perlindungan kepada-Nya, melarikan diri dari fitnah (maksiat), dan sebab-sebab lainnya yang dapat kamu perhatikan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. ========================================================================= الْأُمُورُ الْمُعِيْنَةُ لِلسَّلَامَةِ مِنَ الْفِتَنِ خَاصَّةً فِتْنَةُ الْفَاحِشَةِ وَلِيْ فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ لِي فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ اِسْتَخْلَصْتُ مِنَ الْقِصَّةِ أَظُنُّ سَبْعَةَ أُمُوْرٍ مُهِمَّةٌ جِدًّا تُعِيْنُ الشَّابَّ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى الْخَلَاصِ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ وَأَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ الإِخْلاصُ لِلهِ أَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ نَجَاةٌ مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِإِذْنِ اللهِ الْإِخْلَاصُ لِلْمَعْبُودِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ الْمُخْلِصِيْنَ الَّذِينَ أَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلهِ وَحَّدُوا اللهَ أَفْرَدَ اللهَ بِالْعِبَادَةِ فَالْإِخْلَاصُ وَالتَّوْحِيْدُ نَجَاةٌ أَيْضًا الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَعَظَمَةِ اللهِ وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَنَّه مُطَّلِعٌ عَلَى الْعَبْدِ وَأَنَّه يَرَاهُ هَذَا نَجَاةٌ لاِسْتِعْصَامٍ بِمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَمَنْعِهَا وَالتَّشْدِيدِ عَلَيْهَا فِي الْإِيْبَاءِ وَالِامْتِنَاعِ عَنْ مُوَاقَعَةِ الْأَمْرِ الْمُحَرَّمِ الدُّعَاءُ اللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُهِمَّةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتْنَةِ مَا يَبْقَى الْإِنْسَانُ مُسْتَشْرِفًا لَهُ بَلْ يَفِرُّ مِنْهَا وَمِنْ مَكَانِهَا لَمَّا دَعَتْهُ امْرَأَةُ العَزيزِ مَاذَا حَصَلَ مِنْهُ اِسْتَبَقَ الْبَابَ مُجَرَّدُ مَا رَأَى الْمَسْأَلَةَ فِيهَا فِتْنَةٌ فِيهَا كَذَا اِسْتَبَقَ الْبَابَ رَاحَ يَعْنِي يَعْدُو جِهَةَ الْبَابِ فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ لَحِقَتْهُ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَهُوَ مُوَلِّيًا فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ هَذَا مِنْ أَسْبَابِ النَّجَاةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتَنِ مَا يَسْتَشْرِفُ لَهَا وَيَبْقَى فِي مَكَانِهَا بَل يَفِرُّ مِنْهَا وَيَبْتَعِدُ عَنِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى الْفِتَنِ فَمَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ وَمَع قُوَّةِ الشَّهْوَةِ مَنَعَهُ الْإِيمَانُ الصَّادِقُ وَالْإِخْلَاصُ الْكَامِلُ مِنْ مُوَاقَعَةِ الْمَحْذُورِ مَنَعَه أَيْضًا الدُّعَاءُ وَاللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الاِسْتِعْصَامُ الْفِرَارُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَرَاهَا فِي قِصَّتِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ

Bulughul Maram – Shalat: Masjid itu Harus Dijaga Bersih dan Wangi

Masjid kita harusnya terawat, dalam keadaan bersih dan wangi. Bahkan hal ini ada anjuran dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid 1.1. Hadits #251 1.2. Faedah hadits Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid Hadits #251   وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ، وَأَنْ تُنَظَّفَ، وَتُطَيَّبَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَ إرْسَالَهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di kampung-kampung dan hendaknya dibersihkan dan diberi wewangian. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini mursal) [HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 759; Ahmad, 43:396, dari jalur Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadits ini diperselisihkan antara mursal ataukah mawshul. Imam Tirmidzi menguatkan bahwa hadits ini mursal].   Faedah hadits Dianjurkan membangun masjid di kampung-kampung (ad-duur, artinya kabilah-kabilah). Pembangunan masjid di kampung-kampung bertujuan untuk mengumpulkan penduduk kampung dalam shalat lima waktu sehari semalam. Di situ bisa ada bentuk ibadah kepada Allah. Orang-orang yang tidak tahu juga jadi belajar. Orang-orang yang malas juga jadi semangat. Di dalam masjid, saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa akan terwujud. Masjid hendaklah diurus sehingga tetap terawat dan bersih. Masjid hendaklah dibuat wangi sehingga orang-orang senang dan betah ketika berada di dalamnya saat shalat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menuntut ilmu agama. Ada keutamaan menjaga kebersihan masjid, bahkan yang merawat masjid sampai dimuliakan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” ”Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya”, pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka pun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau menshalatkannya.” (HR. Muslim, no. 956) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:466-468. — Senin siang, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid masjid dijaga bersih masjid dijaga wangi wangi

Bulughul Maram – Shalat: Masjid itu Harus Dijaga Bersih dan Wangi

Masjid kita harusnya terawat, dalam keadaan bersih dan wangi. Bahkan hal ini ada anjuran dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid 1.1. Hadits #251 1.2. Faedah hadits Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid Hadits #251   وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ، وَأَنْ تُنَظَّفَ، وَتُطَيَّبَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَ إرْسَالَهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di kampung-kampung dan hendaknya dibersihkan dan diberi wewangian. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini mursal) [HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 759; Ahmad, 43:396, dari jalur Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadits ini diperselisihkan antara mursal ataukah mawshul. Imam Tirmidzi menguatkan bahwa hadits ini mursal].   Faedah hadits Dianjurkan membangun masjid di kampung-kampung (ad-duur, artinya kabilah-kabilah). Pembangunan masjid di kampung-kampung bertujuan untuk mengumpulkan penduduk kampung dalam shalat lima waktu sehari semalam. Di situ bisa ada bentuk ibadah kepada Allah. Orang-orang yang tidak tahu juga jadi belajar. Orang-orang yang malas juga jadi semangat. Di dalam masjid, saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa akan terwujud. Masjid hendaklah diurus sehingga tetap terawat dan bersih. Masjid hendaklah dibuat wangi sehingga orang-orang senang dan betah ketika berada di dalamnya saat shalat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menuntut ilmu agama. Ada keutamaan menjaga kebersihan masjid, bahkan yang merawat masjid sampai dimuliakan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” ”Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya”, pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka pun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau menshalatkannya.” (HR. Muslim, no. 956) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:466-468. — Senin siang, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid masjid dijaga bersih masjid dijaga wangi wangi
Masjid kita harusnya terawat, dalam keadaan bersih dan wangi. Bahkan hal ini ada anjuran dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid 1.1. Hadits #251 1.2. Faedah hadits Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid Hadits #251   وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ، وَأَنْ تُنَظَّفَ، وَتُطَيَّبَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَ إرْسَالَهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di kampung-kampung dan hendaknya dibersihkan dan diberi wewangian. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini mursal) [HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 759; Ahmad, 43:396, dari jalur Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadits ini diperselisihkan antara mursal ataukah mawshul. Imam Tirmidzi menguatkan bahwa hadits ini mursal].   Faedah hadits Dianjurkan membangun masjid di kampung-kampung (ad-duur, artinya kabilah-kabilah). Pembangunan masjid di kampung-kampung bertujuan untuk mengumpulkan penduduk kampung dalam shalat lima waktu sehari semalam. Di situ bisa ada bentuk ibadah kepada Allah. Orang-orang yang tidak tahu juga jadi belajar. Orang-orang yang malas juga jadi semangat. Di dalam masjid, saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa akan terwujud. Masjid hendaklah diurus sehingga tetap terawat dan bersih. Masjid hendaklah dibuat wangi sehingga orang-orang senang dan betah ketika berada di dalamnya saat shalat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menuntut ilmu agama. Ada keutamaan menjaga kebersihan masjid, bahkan yang merawat masjid sampai dimuliakan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” ”Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya”, pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka pun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau menshalatkannya.” (HR. Muslim, no. 956) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:466-468. — Senin siang, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid masjid dijaga bersih masjid dijaga wangi wangi


Masjid kita harusnya terawat, dalam keadaan bersih dan wangi. Bahkan hal ini ada anjuran dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ المسَاجِدِ Bab Seputar Masjid Daftar Isi tutup 1. Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid 1.1. Hadits #251 1.2. Faedah hadits Perintah Mendirikan, Merawat, Membersihkan, Memberi Wewangian pada Masjid Hadits #251   وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ، وَأَنْ تُنَظَّفَ، وَتُطَيَّبَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَ إرْسَالَهُ. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di kampung-kampung dan hendaknya dibersihkan dan diberi wewangian. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini mursal) [HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 759; Ahmad, 43:396, dari jalur Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadits ini diperselisihkan antara mursal ataukah mawshul. Imam Tirmidzi menguatkan bahwa hadits ini mursal].   Faedah hadits Dianjurkan membangun masjid di kampung-kampung (ad-duur, artinya kabilah-kabilah). Pembangunan masjid di kampung-kampung bertujuan untuk mengumpulkan penduduk kampung dalam shalat lima waktu sehari semalam. Di situ bisa ada bentuk ibadah kepada Allah. Orang-orang yang tidak tahu juga jadi belajar. Orang-orang yang malas juga jadi semangat. Di dalam masjid, saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa akan terwujud. Masjid hendaklah diurus sehingga tetap terawat dan bersih. Masjid hendaklah dibuat wangi sehingga orang-orang senang dan betah ketika berada di dalamnya saat shalat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menuntut ilmu agama. Ada keutamaan menjaga kebersihan masjid, bahkan yang merawat masjid sampai dimuliakan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” ”Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya”, pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka pun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau menshalatkannya.” (HR. Muslim, no. 956) Baca juga: Berjaya dari Masjid   Referensi: Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:466-468. — Senin siang, 27 Safar 1443 H, 4 Oktober 2021 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab ke masjid adab masjid adab memuliakan masjid adab pergi ke masjid bulughul maram bulughul maram masjid bulughul maram shalat cara memakmurkan masjid masjid masjid dijaga bersih masjid dijaga wangi wangi

Sepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid

Bismillah.Tidaklah diragukan oleh seorang muslim bahwa tauhid merupakan pondasi agama Islam. Oleh sebab itu, para ulama dari masa ke masa senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid di tengah manusia.Kaidah pertama: mengapa Allah menciptakan jin dan manusia?Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya dan menjauhi syirik. Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. adz-Dzariyat: 56).Dan dalam rangka mewujudkan tujuan inilah, Allah pun mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah berfirman,وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Kami utus seorang pun rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku” (QS. al-Anbiya: 25).Kaidah kedua: tidak akan benar ibadah tanpa tauhidSebagaimana salat tidak sah tanpa bersuci, maka ibadah tidak akan menjadi benar tanpa tauhid. Apabila ibadah tercampur dengan syirik, maka seluruh amalan akan lenyap dan sia-sia.Allah berfirman tentang ibadah kaum musyrik,مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ“Tidak selayaknya kaum musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah seraya mempersaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itulah yang terhapus amal-amal mereka dan di dalam neraka mereka itu kekal” (QS. at-Taubah: 17).Allah juga berfirman,لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika kamu melakukan syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi” (QS. az-Zumar: 65).Kaidah ketiga: apa makna ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata?Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah dengan penuh ketaatan; melaksanakan perintah-perintah-Nya, disertai ketundukan dan kepatuhan kepada syariat-Nya, dengan dilandasi kecintaan kepada-Nya. Maka simpul ibadah itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah harus dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan.Kaidah keempat: bagaimana mengenali macam-macam ibadah?Segala sesuatu yang dicintai oleh Allah untuk kita lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, maka itu adalah ibadah. Ia mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal dengan anggota badan. Kita bisa mengenali bahwa hal itu dicintai Allah apabila Allah memerintahkannya, memuji pelakunya, meridainya, atau memberikan janji pahala atasnya.Di antara contoh ibadah hati adalah inabah/ kembali kepada Allah. Allah berfirman,وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُ“Dan inabah/kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan pasrahlah kepada-Nya” (QS. az-Zumar: 54).Demikian pula khasyyah/ rasa takut kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ“Sesungguhnya orang-orang yang merasa takut kepada Rabb mereka dalam keadaan ghaib/ tidak tampak, bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar” (QS. al-Mulk: 12).Di antara contoh ibadah lisan adalah berzikir. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya” (QS. al-Ahzab: 41).Di antara contoh ibadah anggota badan adalah mendirikan salat dan menunaikan zakat. Allah berfirman,وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. al-Baqarah: 43).Begitu pula menyembelih kurban. Allah berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ“Maka salatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah kurban” (QS. al-Kautsar: 2).Dengan demikian, segala bentuk ibadah itu tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Allah berfirman,فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama/ ketaatan untuk-Nya” (QS. az-Zumar: 2).Kaidah kelima: syirik kepada Allah adalah dosa terbesar dan paling berbahayaSyirik menyebabkan semua amalan akan terhapus dan tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah apabila pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal. Allah berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni dosa-dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. an-Nisa: 48).Allah juga berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. al-Maidah: 72).Baca Juga: Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidKaidah keenam: apakah hakikat syirik yang wajib diwaspadai?Syirik kepada Allah adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal-hal yang termasuk dalam kekhususan-Nya. Kekhususan Allah itu mencakup perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Allah sebagai satu-satunya pemelihara, penguasa, dan pengatur alam semesta. Ini adalah kekhususan Allah dalam hal rububiyah. Adapun kekhususan Allah dalam hal uluhiyah yaitu bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah.Allah berfirman,إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah; Yang tidak ada ilah/ sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku. Dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14).Allah pemilik segala sifat kesempurnaan dan nama-nama yang terindah. Ini merupakan kekhususan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat).Allah berfirman,ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ“Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. as-Syura: 11).Oleh sebab itu, tidak boleh mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun nama dan sifat-sifat-Nya (asma’ wa shifat). Tidaklah seorang menjadi ahli tauhid kecuali apabila dia mengesakan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya.Kaidah ketujuh: doa adalah ibadah yang paling agungAda dua macam bentuk doa; (1) doa dalam bentuk ibadah secara umum; dan (2) doa dalam bentuk permintaan dengan lisan. Salat, puasa, haji, dan sebagainya adalah doa dalam makna yang umum. Adapun meminta berbagai kebutuhan kepada Allah, maka ini adalah doa dalam makna yang khusus. Allah berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabb kalian berkata, Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina” (QS. Ghafir: 60).Doa dan segala bentuk ibadah yang lain harus ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menyeru atau beribadah kepada selain Allah; siapa pun atau apa pun ia. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/ berdoa kepada selain Allah bersama-Nya; siapa pun juga” (QS. al-Jin: 18).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ“Apabila kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya tidak boleh beristighotsah/ meminta keselamatan kepadaku. Sesungguhnya istighotsah itu hanya boleh ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla” (HR. Thabarani).Dengan demikian, doa, istighotsah, dan isti’adzah (meminta perlindungan) adalah murni milik Allah. Oleh sebab itu, tidak boleh menujukan ibadah itu kepada selain-Nya. Barangsiapa berdoa kepada selain Allah atau ber-istighotsah kepada selain-Nya, maka sesungguhnya dia telah beribadah kepada selain Allah. Kecuali apabila orang yang dia minta pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan pertolongan.Kaidah kedelapan: syarat meminta bantuan kepada makhlukDiperbolehkan berdoa – dalam artian meminta bantuan – kepada makhluk, dengan syarat orang yang dimintai pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan bantuan. Seperti misalnya, meminta bantuan kepada teman untuk mengerjakan suatu urusan. Sebagaimana kisah seorang Bani Israil yang meminta bantuan kepada Musa ‘Alaihis salam. Allah berfirman,فَٱسۡتَغَٰثَهُ ٱلَّذِي مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِي مِنۡ عَدُوِّهِ“Maka meminta bantuan kepadanya (Musa) orang yang berasal dari kelompoknya, untuk menghadapi gangguan dari musuhnya” (QS. al-Qashash: 15).Dengan demikian, perbuatan meminta kepada selain Allah itu dihukumi syirik apabila:Pertama; meminta kepadanya sesuatu yang hanya dikuasai oleh Allah. Misalnya, meminta kepada makhluk agar memberikan hidayah ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan anak/ keturunan, menurunkan hujan, dsb.Allah berfirman,وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِ“Dan apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang bisa menyingkapnya kecuali Dia. Dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang bisa menolak karunia-Nya” (QS. Yunus: 107).Kedua; berdoa atau meminta kepada orang yang sudah mati. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ (١٣) إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُواْ دُعَآءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُواْ مَا ٱسۡتَجَابُواْ لَكُمۡۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ (١٤)“Dan orang-orang yang kalian seru selain-Nya itu tidaklah menguasai walaupun setipis kulit ari. Apabila kalian berdoa kepada mereka, maka mereka tidak bisa mendengar doa kalian. Seandainya mereka bisa mendengar, maka mereka tidak bisa memenuhi perimintaan kalian. Dan pada hari kiamat, mereka akan mengingkari syirik kalian. Dan tidak ada yang bisa memberitakan kepadamu sebagaimana [Allah] Yang Maha teliti” (QS. Fathir: 13-14).Ketiga; berdoa/meminta kepada orang/makhluk yang gaib/tidak hadir dan tidak bisa berkomunikasi dengannya secara wajar. Tidak ada yang bisa mendengar suara segenap makhluk – di manapun mereka berada – dalam setiap keadaan selain Allah. Allah berfirman,أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ“Tidaklah terjadi bisik-bisik di antara tiga orang, kecuali Allah lah yang keempat, dan tidak pula lima orang kecuali Allah lah yang keenam. Tidak pula kurang atau lebih daripada itu melainkan Dia bersama dengan mereka di mana pun mereka berada” (QS. al-Mujadilah: 7).Baca Juga: Nasib Ahli Tauhid di AkhiratKaidah kesembilan: hukum memalingkan ibadah kepada selain AllahBarangsiapa memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah. Hal tersebut sama dengan meyakini bahwa apa yang dia seru itu bisa mendatangkan manfaat atau mudarat, atau dia beribadah kepadanya dengan tujuan semata-mata demi memperoleh syafaat darinya di sisi Allah.Dalilnya adalah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengakui bahwa Allah satu-satunya yang mencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, dan mengatur segala urusan. Akan tetapi, hal itu belum memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Allah berfirman,قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’. Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’” (QS. Yunus: 31).Lantas mengapa mereka dinyatakan sebagai orang kafir? Jawabannya adalah karena mereka telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, walaupun dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau untuk mencari syafaat. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali/penolong/sesembahan, mereka mengatakan, ‘Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka lebih mendekatkan diri kami kepada Allah.’ Sesungguhnya Allah akan memberikan keputusan hukum atas apa-apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada pendusta lagi ingkar” (QS. az-Zumar: 3).Allah juga berfirman,وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ“Dan mereka beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang tidak mendatangkan bahaya dan tidak pula manfaat kepada mereka. Mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah para pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah dengan sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi? Maha suci dan Maha tinggi Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan” (QS. Yunus: 18).Kaidah kesepuluh: selain Allah tidak boleh disembah, apa pun atau siapa pun diaTidak ada bedanya antara beribadah kepada selain Allah apakah yang disembah itu berupa malaikat, manusia, jin, batu, atau pohon. Maka perbuatan beribadah kepada selain Allah – apapun bentuknya sesembahan itu – tetap dihukumi sebagai perbuatan syirik. Hal ini bisa kita lihat di tengah kaum yang didakwahi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada di antara mereka yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah orang-orang salih, ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah nabi, dan ada pula yang menyembah batu dan pohon.Mereka semuanya diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Allah berfirman,وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah/syirik. Dan agama/amal itu semuanya menjadi milik Allah. Maka apabila mereka berhenti -dari syirik-, sesungguhnya Allah Maha melihat apa-apa yang mereka kerjakan” (QS. al-Anfal: 39).Terjadinya penyembahan kepada matahari dan bulan dikisahkan oleh Allah. Allah berfirman,لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ“Janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, dan sujudlah kepada Allah Yang telah menciptakan itu semuanya, jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya” (QS. Fushshilat: 37).Penyembahan kepada orang-orang salih dan malaikat juga telah diceritakan di dalam al-Qur’an. Allah berfirman,قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا (٥٦) أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا (٥٧)“Katakanlah, Serulah apa-apa yang kalian sangka -sebagai sesembahan- selain-Nya, maka mereka itu tidak menguasai untuk menyingkap bahaya dari kalian dan tidak pula memalingkannya. Mereka yang diseru itu justru mencari wasilah/ sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka; siapakah yang lebih dekat -dengan Allah- dan mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu sangat layak untuk ditakuti” (QS. al-Israa: 56-57).Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada Isa, ibunya, dan Uzair. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada para malaikat.Peribadatan kepada selain Allah adalah syirik. Hal tersebut sama dengan mereka menyembah malaikat, nabi, wali, patung, atau meyakini yang disembah itu menguasai manfaat atau mudarat, atau mereka hanya meyakini apa yang disembah hanya menjadi perantara atau pemberi syafaat di sisi Allah. Semuanya itu adalah termasuk perbuatan syirik.Demikian, semoga bermanfaat.Referensi:Artikel ini merupakan ringkasan dari sebagian kaidah yang ditulis oleh Syekh Faishal bin Qazar al-Jasim Hafizhahullah dalam kitabnya ‘Tajrid at-Tauhid min Daranisy Syirki wa Syubahit Tandid’.Baca Juga:Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Pemuda, Nama Lengkap Abu Bakar, Fadhilah Yasin, Siksaan Kubur, Kesurupan Dalam Islam

Sepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid

Bismillah.Tidaklah diragukan oleh seorang muslim bahwa tauhid merupakan pondasi agama Islam. Oleh sebab itu, para ulama dari masa ke masa senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid di tengah manusia.Kaidah pertama: mengapa Allah menciptakan jin dan manusia?Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya dan menjauhi syirik. Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. adz-Dzariyat: 56).Dan dalam rangka mewujudkan tujuan inilah, Allah pun mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah berfirman,وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Kami utus seorang pun rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku” (QS. al-Anbiya: 25).Kaidah kedua: tidak akan benar ibadah tanpa tauhidSebagaimana salat tidak sah tanpa bersuci, maka ibadah tidak akan menjadi benar tanpa tauhid. Apabila ibadah tercampur dengan syirik, maka seluruh amalan akan lenyap dan sia-sia.Allah berfirman tentang ibadah kaum musyrik,مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ“Tidak selayaknya kaum musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah seraya mempersaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itulah yang terhapus amal-amal mereka dan di dalam neraka mereka itu kekal” (QS. at-Taubah: 17).Allah juga berfirman,لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika kamu melakukan syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi” (QS. az-Zumar: 65).Kaidah ketiga: apa makna ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata?Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah dengan penuh ketaatan; melaksanakan perintah-perintah-Nya, disertai ketundukan dan kepatuhan kepada syariat-Nya, dengan dilandasi kecintaan kepada-Nya. Maka simpul ibadah itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah harus dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan.Kaidah keempat: bagaimana mengenali macam-macam ibadah?Segala sesuatu yang dicintai oleh Allah untuk kita lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, maka itu adalah ibadah. Ia mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal dengan anggota badan. Kita bisa mengenali bahwa hal itu dicintai Allah apabila Allah memerintahkannya, memuji pelakunya, meridainya, atau memberikan janji pahala atasnya.Di antara contoh ibadah hati adalah inabah/ kembali kepada Allah. Allah berfirman,وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُ“Dan inabah/kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan pasrahlah kepada-Nya” (QS. az-Zumar: 54).Demikian pula khasyyah/ rasa takut kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ“Sesungguhnya orang-orang yang merasa takut kepada Rabb mereka dalam keadaan ghaib/ tidak tampak, bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar” (QS. al-Mulk: 12).Di antara contoh ibadah lisan adalah berzikir. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya” (QS. al-Ahzab: 41).Di antara contoh ibadah anggota badan adalah mendirikan salat dan menunaikan zakat. Allah berfirman,وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. al-Baqarah: 43).Begitu pula menyembelih kurban. Allah berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ“Maka salatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah kurban” (QS. al-Kautsar: 2).Dengan demikian, segala bentuk ibadah itu tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Allah berfirman,فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama/ ketaatan untuk-Nya” (QS. az-Zumar: 2).Kaidah kelima: syirik kepada Allah adalah dosa terbesar dan paling berbahayaSyirik menyebabkan semua amalan akan terhapus dan tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah apabila pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal. Allah berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni dosa-dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. an-Nisa: 48).Allah juga berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. al-Maidah: 72).Baca Juga: Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidKaidah keenam: apakah hakikat syirik yang wajib diwaspadai?Syirik kepada Allah adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal-hal yang termasuk dalam kekhususan-Nya. Kekhususan Allah itu mencakup perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Allah sebagai satu-satunya pemelihara, penguasa, dan pengatur alam semesta. Ini adalah kekhususan Allah dalam hal rububiyah. Adapun kekhususan Allah dalam hal uluhiyah yaitu bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah.Allah berfirman,إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah; Yang tidak ada ilah/ sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku. Dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14).Allah pemilik segala sifat kesempurnaan dan nama-nama yang terindah. Ini merupakan kekhususan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat).Allah berfirman,ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ“Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. as-Syura: 11).Oleh sebab itu, tidak boleh mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun nama dan sifat-sifat-Nya (asma’ wa shifat). Tidaklah seorang menjadi ahli tauhid kecuali apabila dia mengesakan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya.Kaidah ketujuh: doa adalah ibadah yang paling agungAda dua macam bentuk doa; (1) doa dalam bentuk ibadah secara umum; dan (2) doa dalam bentuk permintaan dengan lisan. Salat, puasa, haji, dan sebagainya adalah doa dalam makna yang umum. Adapun meminta berbagai kebutuhan kepada Allah, maka ini adalah doa dalam makna yang khusus. Allah berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabb kalian berkata, Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina” (QS. Ghafir: 60).Doa dan segala bentuk ibadah yang lain harus ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menyeru atau beribadah kepada selain Allah; siapa pun atau apa pun ia. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/ berdoa kepada selain Allah bersama-Nya; siapa pun juga” (QS. al-Jin: 18).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ“Apabila kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya tidak boleh beristighotsah/ meminta keselamatan kepadaku. Sesungguhnya istighotsah itu hanya boleh ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla” (HR. Thabarani).Dengan demikian, doa, istighotsah, dan isti’adzah (meminta perlindungan) adalah murni milik Allah. Oleh sebab itu, tidak boleh menujukan ibadah itu kepada selain-Nya. Barangsiapa berdoa kepada selain Allah atau ber-istighotsah kepada selain-Nya, maka sesungguhnya dia telah beribadah kepada selain Allah. Kecuali apabila orang yang dia minta pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan pertolongan.Kaidah kedelapan: syarat meminta bantuan kepada makhlukDiperbolehkan berdoa – dalam artian meminta bantuan – kepada makhluk, dengan syarat orang yang dimintai pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan bantuan. Seperti misalnya, meminta bantuan kepada teman untuk mengerjakan suatu urusan. Sebagaimana kisah seorang Bani Israil yang meminta bantuan kepada Musa ‘Alaihis salam. Allah berfirman,فَٱسۡتَغَٰثَهُ ٱلَّذِي مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِي مِنۡ عَدُوِّهِ“Maka meminta bantuan kepadanya (Musa) orang yang berasal dari kelompoknya, untuk menghadapi gangguan dari musuhnya” (QS. al-Qashash: 15).Dengan demikian, perbuatan meminta kepada selain Allah itu dihukumi syirik apabila:Pertama; meminta kepadanya sesuatu yang hanya dikuasai oleh Allah. Misalnya, meminta kepada makhluk agar memberikan hidayah ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan anak/ keturunan, menurunkan hujan, dsb.Allah berfirman,وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِ“Dan apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang bisa menyingkapnya kecuali Dia. Dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang bisa menolak karunia-Nya” (QS. Yunus: 107).Kedua; berdoa atau meminta kepada orang yang sudah mati. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ (١٣) إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُواْ دُعَآءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُواْ مَا ٱسۡتَجَابُواْ لَكُمۡۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ (١٤)“Dan orang-orang yang kalian seru selain-Nya itu tidaklah menguasai walaupun setipis kulit ari. Apabila kalian berdoa kepada mereka, maka mereka tidak bisa mendengar doa kalian. Seandainya mereka bisa mendengar, maka mereka tidak bisa memenuhi perimintaan kalian. Dan pada hari kiamat, mereka akan mengingkari syirik kalian. Dan tidak ada yang bisa memberitakan kepadamu sebagaimana [Allah] Yang Maha teliti” (QS. Fathir: 13-14).Ketiga; berdoa/meminta kepada orang/makhluk yang gaib/tidak hadir dan tidak bisa berkomunikasi dengannya secara wajar. Tidak ada yang bisa mendengar suara segenap makhluk – di manapun mereka berada – dalam setiap keadaan selain Allah. Allah berfirman,أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ“Tidaklah terjadi bisik-bisik di antara tiga orang, kecuali Allah lah yang keempat, dan tidak pula lima orang kecuali Allah lah yang keenam. Tidak pula kurang atau lebih daripada itu melainkan Dia bersama dengan mereka di mana pun mereka berada” (QS. al-Mujadilah: 7).Baca Juga: Nasib Ahli Tauhid di AkhiratKaidah kesembilan: hukum memalingkan ibadah kepada selain AllahBarangsiapa memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah. Hal tersebut sama dengan meyakini bahwa apa yang dia seru itu bisa mendatangkan manfaat atau mudarat, atau dia beribadah kepadanya dengan tujuan semata-mata demi memperoleh syafaat darinya di sisi Allah.Dalilnya adalah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengakui bahwa Allah satu-satunya yang mencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, dan mengatur segala urusan. Akan tetapi, hal itu belum memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Allah berfirman,قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’. Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’” (QS. Yunus: 31).Lantas mengapa mereka dinyatakan sebagai orang kafir? Jawabannya adalah karena mereka telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, walaupun dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau untuk mencari syafaat. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali/penolong/sesembahan, mereka mengatakan, ‘Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka lebih mendekatkan diri kami kepada Allah.’ Sesungguhnya Allah akan memberikan keputusan hukum atas apa-apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada pendusta lagi ingkar” (QS. az-Zumar: 3).Allah juga berfirman,وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ“Dan mereka beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang tidak mendatangkan bahaya dan tidak pula manfaat kepada mereka. Mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah para pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah dengan sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi? Maha suci dan Maha tinggi Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan” (QS. Yunus: 18).Kaidah kesepuluh: selain Allah tidak boleh disembah, apa pun atau siapa pun diaTidak ada bedanya antara beribadah kepada selain Allah apakah yang disembah itu berupa malaikat, manusia, jin, batu, atau pohon. Maka perbuatan beribadah kepada selain Allah – apapun bentuknya sesembahan itu – tetap dihukumi sebagai perbuatan syirik. Hal ini bisa kita lihat di tengah kaum yang didakwahi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada di antara mereka yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah orang-orang salih, ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah nabi, dan ada pula yang menyembah batu dan pohon.Mereka semuanya diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Allah berfirman,وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah/syirik. Dan agama/amal itu semuanya menjadi milik Allah. Maka apabila mereka berhenti -dari syirik-, sesungguhnya Allah Maha melihat apa-apa yang mereka kerjakan” (QS. al-Anfal: 39).Terjadinya penyembahan kepada matahari dan bulan dikisahkan oleh Allah. Allah berfirman,لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ“Janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, dan sujudlah kepada Allah Yang telah menciptakan itu semuanya, jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya” (QS. Fushshilat: 37).Penyembahan kepada orang-orang salih dan malaikat juga telah diceritakan di dalam al-Qur’an. Allah berfirman,قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا (٥٦) أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا (٥٧)“Katakanlah, Serulah apa-apa yang kalian sangka -sebagai sesembahan- selain-Nya, maka mereka itu tidak menguasai untuk menyingkap bahaya dari kalian dan tidak pula memalingkannya. Mereka yang diseru itu justru mencari wasilah/ sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka; siapakah yang lebih dekat -dengan Allah- dan mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu sangat layak untuk ditakuti” (QS. al-Israa: 56-57).Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada Isa, ibunya, dan Uzair. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada para malaikat.Peribadatan kepada selain Allah adalah syirik. Hal tersebut sama dengan mereka menyembah malaikat, nabi, wali, patung, atau meyakini yang disembah itu menguasai manfaat atau mudarat, atau mereka hanya meyakini apa yang disembah hanya menjadi perantara atau pemberi syafaat di sisi Allah. Semuanya itu adalah termasuk perbuatan syirik.Demikian, semoga bermanfaat.Referensi:Artikel ini merupakan ringkasan dari sebagian kaidah yang ditulis oleh Syekh Faishal bin Qazar al-Jasim Hafizhahullah dalam kitabnya ‘Tajrid at-Tauhid min Daranisy Syirki wa Syubahit Tandid’.Baca Juga:Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Pemuda, Nama Lengkap Abu Bakar, Fadhilah Yasin, Siksaan Kubur, Kesurupan Dalam Islam
Bismillah.Tidaklah diragukan oleh seorang muslim bahwa tauhid merupakan pondasi agama Islam. Oleh sebab itu, para ulama dari masa ke masa senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid di tengah manusia.Kaidah pertama: mengapa Allah menciptakan jin dan manusia?Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya dan menjauhi syirik. Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. adz-Dzariyat: 56).Dan dalam rangka mewujudkan tujuan inilah, Allah pun mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah berfirman,وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Kami utus seorang pun rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku” (QS. al-Anbiya: 25).Kaidah kedua: tidak akan benar ibadah tanpa tauhidSebagaimana salat tidak sah tanpa bersuci, maka ibadah tidak akan menjadi benar tanpa tauhid. Apabila ibadah tercampur dengan syirik, maka seluruh amalan akan lenyap dan sia-sia.Allah berfirman tentang ibadah kaum musyrik,مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ“Tidak selayaknya kaum musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah seraya mempersaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itulah yang terhapus amal-amal mereka dan di dalam neraka mereka itu kekal” (QS. at-Taubah: 17).Allah juga berfirman,لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika kamu melakukan syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi” (QS. az-Zumar: 65).Kaidah ketiga: apa makna ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata?Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah dengan penuh ketaatan; melaksanakan perintah-perintah-Nya, disertai ketundukan dan kepatuhan kepada syariat-Nya, dengan dilandasi kecintaan kepada-Nya. Maka simpul ibadah itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah harus dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan.Kaidah keempat: bagaimana mengenali macam-macam ibadah?Segala sesuatu yang dicintai oleh Allah untuk kita lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, maka itu adalah ibadah. Ia mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal dengan anggota badan. Kita bisa mengenali bahwa hal itu dicintai Allah apabila Allah memerintahkannya, memuji pelakunya, meridainya, atau memberikan janji pahala atasnya.Di antara contoh ibadah hati adalah inabah/ kembali kepada Allah. Allah berfirman,وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُ“Dan inabah/kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan pasrahlah kepada-Nya” (QS. az-Zumar: 54).Demikian pula khasyyah/ rasa takut kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ“Sesungguhnya orang-orang yang merasa takut kepada Rabb mereka dalam keadaan ghaib/ tidak tampak, bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar” (QS. al-Mulk: 12).Di antara contoh ibadah lisan adalah berzikir. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya” (QS. al-Ahzab: 41).Di antara contoh ibadah anggota badan adalah mendirikan salat dan menunaikan zakat. Allah berfirman,وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. al-Baqarah: 43).Begitu pula menyembelih kurban. Allah berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ“Maka salatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah kurban” (QS. al-Kautsar: 2).Dengan demikian, segala bentuk ibadah itu tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Allah berfirman,فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama/ ketaatan untuk-Nya” (QS. az-Zumar: 2).Kaidah kelima: syirik kepada Allah adalah dosa terbesar dan paling berbahayaSyirik menyebabkan semua amalan akan terhapus dan tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah apabila pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal. Allah berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni dosa-dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. an-Nisa: 48).Allah juga berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. al-Maidah: 72).Baca Juga: Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidKaidah keenam: apakah hakikat syirik yang wajib diwaspadai?Syirik kepada Allah adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal-hal yang termasuk dalam kekhususan-Nya. Kekhususan Allah itu mencakup perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Allah sebagai satu-satunya pemelihara, penguasa, dan pengatur alam semesta. Ini adalah kekhususan Allah dalam hal rububiyah. Adapun kekhususan Allah dalam hal uluhiyah yaitu bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah.Allah berfirman,إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah; Yang tidak ada ilah/ sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku. Dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14).Allah pemilik segala sifat kesempurnaan dan nama-nama yang terindah. Ini merupakan kekhususan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat).Allah berfirman,ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ“Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. as-Syura: 11).Oleh sebab itu, tidak boleh mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun nama dan sifat-sifat-Nya (asma’ wa shifat). Tidaklah seorang menjadi ahli tauhid kecuali apabila dia mengesakan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya.Kaidah ketujuh: doa adalah ibadah yang paling agungAda dua macam bentuk doa; (1) doa dalam bentuk ibadah secara umum; dan (2) doa dalam bentuk permintaan dengan lisan. Salat, puasa, haji, dan sebagainya adalah doa dalam makna yang umum. Adapun meminta berbagai kebutuhan kepada Allah, maka ini adalah doa dalam makna yang khusus. Allah berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabb kalian berkata, Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina” (QS. Ghafir: 60).Doa dan segala bentuk ibadah yang lain harus ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menyeru atau beribadah kepada selain Allah; siapa pun atau apa pun ia. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/ berdoa kepada selain Allah bersama-Nya; siapa pun juga” (QS. al-Jin: 18).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ“Apabila kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya tidak boleh beristighotsah/ meminta keselamatan kepadaku. Sesungguhnya istighotsah itu hanya boleh ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla” (HR. Thabarani).Dengan demikian, doa, istighotsah, dan isti’adzah (meminta perlindungan) adalah murni milik Allah. Oleh sebab itu, tidak boleh menujukan ibadah itu kepada selain-Nya. Barangsiapa berdoa kepada selain Allah atau ber-istighotsah kepada selain-Nya, maka sesungguhnya dia telah beribadah kepada selain Allah. Kecuali apabila orang yang dia minta pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan pertolongan.Kaidah kedelapan: syarat meminta bantuan kepada makhlukDiperbolehkan berdoa – dalam artian meminta bantuan – kepada makhluk, dengan syarat orang yang dimintai pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan bantuan. Seperti misalnya, meminta bantuan kepada teman untuk mengerjakan suatu urusan. Sebagaimana kisah seorang Bani Israil yang meminta bantuan kepada Musa ‘Alaihis salam. Allah berfirman,فَٱسۡتَغَٰثَهُ ٱلَّذِي مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِي مِنۡ عَدُوِّهِ“Maka meminta bantuan kepadanya (Musa) orang yang berasal dari kelompoknya, untuk menghadapi gangguan dari musuhnya” (QS. al-Qashash: 15).Dengan demikian, perbuatan meminta kepada selain Allah itu dihukumi syirik apabila:Pertama; meminta kepadanya sesuatu yang hanya dikuasai oleh Allah. Misalnya, meminta kepada makhluk agar memberikan hidayah ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan anak/ keturunan, menurunkan hujan, dsb.Allah berfirman,وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِ“Dan apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang bisa menyingkapnya kecuali Dia. Dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang bisa menolak karunia-Nya” (QS. Yunus: 107).Kedua; berdoa atau meminta kepada orang yang sudah mati. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ (١٣) إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُواْ دُعَآءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُواْ مَا ٱسۡتَجَابُواْ لَكُمۡۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ (١٤)“Dan orang-orang yang kalian seru selain-Nya itu tidaklah menguasai walaupun setipis kulit ari. Apabila kalian berdoa kepada mereka, maka mereka tidak bisa mendengar doa kalian. Seandainya mereka bisa mendengar, maka mereka tidak bisa memenuhi perimintaan kalian. Dan pada hari kiamat, mereka akan mengingkari syirik kalian. Dan tidak ada yang bisa memberitakan kepadamu sebagaimana [Allah] Yang Maha teliti” (QS. Fathir: 13-14).Ketiga; berdoa/meminta kepada orang/makhluk yang gaib/tidak hadir dan tidak bisa berkomunikasi dengannya secara wajar. Tidak ada yang bisa mendengar suara segenap makhluk – di manapun mereka berada – dalam setiap keadaan selain Allah. Allah berfirman,أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ“Tidaklah terjadi bisik-bisik di antara tiga orang, kecuali Allah lah yang keempat, dan tidak pula lima orang kecuali Allah lah yang keenam. Tidak pula kurang atau lebih daripada itu melainkan Dia bersama dengan mereka di mana pun mereka berada” (QS. al-Mujadilah: 7).Baca Juga: Nasib Ahli Tauhid di AkhiratKaidah kesembilan: hukum memalingkan ibadah kepada selain AllahBarangsiapa memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah. Hal tersebut sama dengan meyakini bahwa apa yang dia seru itu bisa mendatangkan manfaat atau mudarat, atau dia beribadah kepadanya dengan tujuan semata-mata demi memperoleh syafaat darinya di sisi Allah.Dalilnya adalah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengakui bahwa Allah satu-satunya yang mencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, dan mengatur segala urusan. Akan tetapi, hal itu belum memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Allah berfirman,قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’. Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’” (QS. Yunus: 31).Lantas mengapa mereka dinyatakan sebagai orang kafir? Jawabannya adalah karena mereka telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, walaupun dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau untuk mencari syafaat. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali/penolong/sesembahan, mereka mengatakan, ‘Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka lebih mendekatkan diri kami kepada Allah.’ Sesungguhnya Allah akan memberikan keputusan hukum atas apa-apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada pendusta lagi ingkar” (QS. az-Zumar: 3).Allah juga berfirman,وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ“Dan mereka beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang tidak mendatangkan bahaya dan tidak pula manfaat kepada mereka. Mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah para pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah dengan sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi? Maha suci dan Maha tinggi Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan” (QS. Yunus: 18).Kaidah kesepuluh: selain Allah tidak boleh disembah, apa pun atau siapa pun diaTidak ada bedanya antara beribadah kepada selain Allah apakah yang disembah itu berupa malaikat, manusia, jin, batu, atau pohon. Maka perbuatan beribadah kepada selain Allah – apapun bentuknya sesembahan itu – tetap dihukumi sebagai perbuatan syirik. Hal ini bisa kita lihat di tengah kaum yang didakwahi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada di antara mereka yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah orang-orang salih, ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah nabi, dan ada pula yang menyembah batu dan pohon.Mereka semuanya diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Allah berfirman,وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah/syirik. Dan agama/amal itu semuanya menjadi milik Allah. Maka apabila mereka berhenti -dari syirik-, sesungguhnya Allah Maha melihat apa-apa yang mereka kerjakan” (QS. al-Anfal: 39).Terjadinya penyembahan kepada matahari dan bulan dikisahkan oleh Allah. Allah berfirman,لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ“Janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, dan sujudlah kepada Allah Yang telah menciptakan itu semuanya, jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya” (QS. Fushshilat: 37).Penyembahan kepada orang-orang salih dan malaikat juga telah diceritakan di dalam al-Qur’an. Allah berfirman,قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا (٥٦) أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا (٥٧)“Katakanlah, Serulah apa-apa yang kalian sangka -sebagai sesembahan- selain-Nya, maka mereka itu tidak menguasai untuk menyingkap bahaya dari kalian dan tidak pula memalingkannya. Mereka yang diseru itu justru mencari wasilah/ sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka; siapakah yang lebih dekat -dengan Allah- dan mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu sangat layak untuk ditakuti” (QS. al-Israa: 56-57).Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada Isa, ibunya, dan Uzair. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada para malaikat.Peribadatan kepada selain Allah adalah syirik. Hal tersebut sama dengan mereka menyembah malaikat, nabi, wali, patung, atau meyakini yang disembah itu menguasai manfaat atau mudarat, atau mereka hanya meyakini apa yang disembah hanya menjadi perantara atau pemberi syafaat di sisi Allah. Semuanya itu adalah termasuk perbuatan syirik.Demikian, semoga bermanfaat.Referensi:Artikel ini merupakan ringkasan dari sebagian kaidah yang ditulis oleh Syekh Faishal bin Qazar al-Jasim Hafizhahullah dalam kitabnya ‘Tajrid at-Tauhid min Daranisy Syirki wa Syubahit Tandid’.Baca Juga:Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Pemuda, Nama Lengkap Abu Bakar, Fadhilah Yasin, Siksaan Kubur, Kesurupan Dalam Islam


Bismillah.Tidaklah diragukan oleh seorang muslim bahwa tauhid merupakan pondasi agama Islam. Oleh sebab itu, para ulama dari masa ke masa senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid di tengah manusia.Kaidah pertama: mengapa Allah menciptakan jin dan manusia?Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya dan menjauhi syirik. Allah berfirman,وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. adz-Dzariyat: 56).Dan dalam rangka mewujudkan tujuan inilah, Allah pun mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Allah berfirman,وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ“Dan tidaklah Kami utus seorang pun rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku” (QS. al-Anbiya: 25).Kaidah kedua: tidak akan benar ibadah tanpa tauhidSebagaimana salat tidak sah tanpa bersuci, maka ibadah tidak akan menjadi benar tanpa tauhid. Apabila ibadah tercampur dengan syirik, maka seluruh amalan akan lenyap dan sia-sia.Allah berfirman tentang ibadah kaum musyrik,مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ“Tidak selayaknya kaum musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah seraya mempersaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itulah yang terhapus amal-amal mereka dan di dalam neraka mereka itu kekal” (QS. at-Taubah: 17).Allah juga berfirman,لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ“Sungguh jika kamu melakukan syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang yang merugi” (QS. az-Zumar: 65).Kaidah ketiga: apa makna ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata?Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah dengan penuh ketaatan; melaksanakan perintah-perintah-Nya, disertai ketundukan dan kepatuhan kepada syariat-Nya, dengan dilandasi kecintaan kepada-Nya. Maka simpul ibadah itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah harus dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan.Kaidah keempat: bagaimana mengenali macam-macam ibadah?Segala sesuatu yang dicintai oleh Allah untuk kita lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, maka itu adalah ibadah. Ia mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal dengan anggota badan. Kita bisa mengenali bahwa hal itu dicintai Allah apabila Allah memerintahkannya, memuji pelakunya, meridainya, atau memberikan janji pahala atasnya.Di antara contoh ibadah hati adalah inabah/ kembali kepada Allah. Allah berfirman,وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُ“Dan inabah/kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan pasrahlah kepada-Nya” (QS. az-Zumar: 54).Demikian pula khasyyah/ rasa takut kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ“Sesungguhnya orang-orang yang merasa takut kepada Rabb mereka dalam keadaan ghaib/ tidak tampak, bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar” (QS. al-Mulk: 12).Di antara contoh ibadah lisan adalah berzikir. Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya” (QS. al-Ahzab: 41).Di antara contoh ibadah anggota badan adalah mendirikan salat dan menunaikan zakat. Allah berfirman,وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. al-Baqarah: 43).Begitu pula menyembelih kurban. Allah berfirman,فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ“Maka salatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah kurban” (QS. al-Kautsar: 2).Dengan demikian, segala bentuk ibadah itu tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Allah berfirman,فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama/ ketaatan untuk-Nya” (QS. az-Zumar: 2).Kaidah kelima: syirik kepada Allah adalah dosa terbesar dan paling berbahayaSyirik menyebabkan semua amalan akan terhapus dan tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah apabila pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggal. Allah berfirman,إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan akan mengampuni dosa-dosa lain yang berada di bawah tingkatan itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. an-Nisa: 48).Allah juga berfirman,إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu sedikit pun penolong” (QS. al-Maidah: 72).Baca Juga: Makna, Rukun dan Syarat Kalimat TauhidKaidah keenam: apakah hakikat syirik yang wajib diwaspadai?Syirik kepada Allah adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal-hal yang termasuk dalam kekhususan-Nya. Kekhususan Allah itu mencakup perkara rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Allah sebagai satu-satunya pemelihara, penguasa, dan pengatur alam semesta. Ini adalah kekhususan Allah dalam hal rububiyah. Adapun kekhususan Allah dalam hal uluhiyah yaitu bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah.Allah berfirman,إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah; Yang tidak ada ilah/ sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku. Dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14).Allah pemilik segala sifat kesempurnaan dan nama-nama yang terindah. Ini merupakan kekhususan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat).Allah berfirman,ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ“Tidak ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. as-Syura: 11).Oleh sebab itu, tidak boleh mempersekutukan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun nama dan sifat-sifat-Nya (asma’ wa shifat). Tidaklah seorang menjadi ahli tauhid kecuali apabila dia mengesakan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat-Nya.Kaidah ketujuh: doa adalah ibadah yang paling agungAda dua macam bentuk doa; (1) doa dalam bentuk ibadah secara umum; dan (2) doa dalam bentuk permintaan dengan lisan. Salat, puasa, haji, dan sebagainya adalah doa dalam makna yang umum. Adapun meminta berbagai kebutuhan kepada Allah, maka ini adalah doa dalam makna yang khusus. Allah berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ“Dan Rabb kalian berkata, Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina” (QS. Ghafir: 60).Doa dan segala bentuk ibadah yang lain harus ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menyeru atau beribadah kepada selain Allah; siapa pun atau apa pun ia. Allah berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/ berdoa kepada selain Allah bersama-Nya; siapa pun juga” (QS. al-Jin: 18).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ“Apabila kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah” (HR. Tirmidzi).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya tidak boleh beristighotsah/ meminta keselamatan kepadaku. Sesungguhnya istighotsah itu hanya boleh ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla” (HR. Thabarani).Dengan demikian, doa, istighotsah, dan isti’adzah (meminta perlindungan) adalah murni milik Allah. Oleh sebab itu, tidak boleh menujukan ibadah itu kepada selain-Nya. Barangsiapa berdoa kepada selain Allah atau ber-istighotsah kepada selain-Nya, maka sesungguhnya dia telah beribadah kepada selain Allah. Kecuali apabila orang yang dia minta pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan pertolongan.Kaidah kedelapan: syarat meminta bantuan kepada makhlukDiperbolehkan berdoa – dalam artian meminta bantuan – kepada makhluk, dengan syarat orang yang dimintai pertolongan itu masih hidup, hadir, atau bisa berkomunikasi dengannya, dan mampu memberikan bantuan. Seperti misalnya, meminta bantuan kepada teman untuk mengerjakan suatu urusan. Sebagaimana kisah seorang Bani Israil yang meminta bantuan kepada Musa ‘Alaihis salam. Allah berfirman,فَٱسۡتَغَٰثَهُ ٱلَّذِي مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِي مِنۡ عَدُوِّهِ“Maka meminta bantuan kepadanya (Musa) orang yang berasal dari kelompoknya, untuk menghadapi gangguan dari musuhnya” (QS. al-Qashash: 15).Dengan demikian, perbuatan meminta kepada selain Allah itu dihukumi syirik apabila:Pertama; meminta kepadanya sesuatu yang hanya dikuasai oleh Allah. Misalnya, meminta kepada makhluk agar memberikan hidayah ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan anak/ keturunan, menurunkan hujan, dsb.Allah berfirman,وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِ“Dan apabila Allah timpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang bisa menyingkapnya kecuali Dia. Dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang bisa menolak karunia-Nya” (QS. Yunus: 107).Kedua; berdoa atau meminta kepada orang yang sudah mati. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ (١٣) إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُواْ دُعَآءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُواْ مَا ٱسۡتَجَابُواْ لَكُمۡۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ (١٤)“Dan orang-orang yang kalian seru selain-Nya itu tidaklah menguasai walaupun setipis kulit ari. Apabila kalian berdoa kepada mereka, maka mereka tidak bisa mendengar doa kalian. Seandainya mereka bisa mendengar, maka mereka tidak bisa memenuhi perimintaan kalian. Dan pada hari kiamat, mereka akan mengingkari syirik kalian. Dan tidak ada yang bisa memberitakan kepadamu sebagaimana [Allah] Yang Maha teliti” (QS. Fathir: 13-14).Ketiga; berdoa/meminta kepada orang/makhluk yang gaib/tidak hadir dan tidak bisa berkomunikasi dengannya secara wajar. Tidak ada yang bisa mendengar suara segenap makhluk – di manapun mereka berada – dalam setiap keadaan selain Allah. Allah berfirman,أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ“Tidaklah terjadi bisik-bisik di antara tiga orang, kecuali Allah lah yang keempat, dan tidak pula lima orang kecuali Allah lah yang keenam. Tidak pula kurang atau lebih daripada itu melainkan Dia bersama dengan mereka di mana pun mereka berada” (QS. al-Mujadilah: 7).Baca Juga: Nasib Ahli Tauhid di AkhiratKaidah kesembilan: hukum memalingkan ibadah kepada selain AllahBarangsiapa memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah. Hal tersebut sama dengan meyakini bahwa apa yang dia seru itu bisa mendatangkan manfaat atau mudarat, atau dia beribadah kepadanya dengan tujuan semata-mata demi memperoleh syafaat darinya di sisi Allah.Dalilnya adalah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengakui bahwa Allah satu-satunya yang mencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, dan mengatur segala urusan. Akan tetapi, hal itu belum memasukkan mereka ke dalam agama Islam.Allah berfirman,قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ“Katakanlah, Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’. Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’” (QS. Yunus: 31).Lantas mengapa mereka dinyatakan sebagai orang kafir? Jawabannya adalah karena mereka telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, walaupun dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau untuk mencari syafaat. Allah berfirman,وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali/penolong/sesembahan, mereka mengatakan, ‘Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka lebih mendekatkan diri kami kepada Allah.’ Sesungguhnya Allah akan memberikan keputusan hukum atas apa-apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada pendusta lagi ingkar” (QS. az-Zumar: 3).Allah juga berfirman,وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ“Dan mereka beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang tidak mendatangkan bahaya dan tidak pula manfaat kepada mereka. Mereka mengatakan, ‘Mereka ini adalah para pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah dengan sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi? Maha suci dan Maha tinggi Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan” (QS. Yunus: 18).Kaidah kesepuluh: selain Allah tidak boleh disembah, apa pun atau siapa pun diaTidak ada bedanya antara beribadah kepada selain Allah apakah yang disembah itu berupa malaikat, manusia, jin, batu, atau pohon. Maka perbuatan beribadah kepada selain Allah – apapun bentuknya sesembahan itu – tetap dihukumi sebagai perbuatan syirik. Hal ini bisa kita lihat di tengah kaum yang didakwahi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada di antara mereka yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah orang-orang salih, ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah nabi, dan ada pula yang menyembah batu dan pohon.Mereka semuanya diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Allah berfirman,وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah/syirik. Dan agama/amal itu semuanya menjadi milik Allah. Maka apabila mereka berhenti -dari syirik-, sesungguhnya Allah Maha melihat apa-apa yang mereka kerjakan” (QS. al-Anfal: 39).Terjadinya penyembahan kepada matahari dan bulan dikisahkan oleh Allah. Allah berfirman,لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ“Janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, dan sujudlah kepada Allah Yang telah menciptakan itu semuanya, jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya” (QS. Fushshilat: 37).Penyembahan kepada orang-orang salih dan malaikat juga telah diceritakan di dalam al-Qur’an. Allah berfirman,قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا (٥٦) أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا (٥٧)“Katakanlah, Serulah apa-apa yang kalian sangka -sebagai sesembahan- selain-Nya, maka mereka itu tidak menguasai untuk menyingkap bahaya dari kalian dan tidak pula memalingkannya. Mereka yang diseru itu justru mencari wasilah/ sarana untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka; siapakah yang lebih dekat -dengan Allah- dan mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu sangat layak untuk ditakuti” (QS. al-Israa: 56-57).Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada Isa, ibunya, dan Uzair. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang beribadah kepada para malaikat.Peribadatan kepada selain Allah adalah syirik. Hal tersebut sama dengan mereka menyembah malaikat, nabi, wali, patung, atau meyakini yang disembah itu menguasai manfaat atau mudarat, atau mereka hanya meyakini apa yang disembah hanya menjadi perantara atau pemberi syafaat di sisi Allah. Semuanya itu adalah termasuk perbuatan syirik.Demikian, semoga bermanfaat.Referensi:Artikel ini merupakan ringkasan dari sebagian kaidah yang ditulis oleh Syekh Faishal bin Qazar al-Jasim Hafizhahullah dalam kitabnya ‘Tajrid at-Tauhid min Daranisy Syirki wa Syubahit Tandid’.Baca Juga:Penulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Pemuda, Nama Lengkap Abu Bakar, Fadhilah Yasin, Siksaan Kubur, Kesurupan Dalam Islam

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya. Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri! Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.” Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala. ============================================ فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا  

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya. Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri! Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.” Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala. ============================================ فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا  
Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya. Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri! Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.” Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala. ============================================ فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا  


Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya. Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri! Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.” Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala. ============================================ فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا  

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.” Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia. Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) ========================== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ تَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.” Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia. Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) ========================== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ تَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  
Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.” Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia. Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) ========================== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ تَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  


Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.” Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia. Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69) ========================== قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ تَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  

Dahsyatnya Ghibah

Ilustrasi unsplashDAHSYATNYA GHIBAHUstadz DR. Firanda Andirja, Lc MAHampir setiap orang tidak selamat dari dosa ghibah, yaitu menceritakan kejelekan saudaranya, yaitu hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain. Terutama dengan ramai medsos saat ini..Dan tidak sedikit yang mengghibahi orang-orang terdekat (suami, istri, orang tua dst)Dan Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan..أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR ath-Thabraniy]Kebanyakan orang yang dianggap dosa adalah membunuh, memukul dst.Rasulullah  ﷺ juga ditanya tentang (dosa) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka.Ketika Muadz bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?”Beliau menjawab,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ“Celakalah engkau Wahai Muadz !Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka dan hidung mereka, melainkan disebabkan ucapan lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, shahih)Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah memegang lisannya dan berkata, ‘inilah yang membuat aku terjerumus dalam banyak hal.”Lisan ini bisa jadi malapetaka.. Dan di sisi lain banyak pahala bisa diperoleh.Lisan itu bergerak sangat cepat dan jangkauan yang sangat luas…Nabi ﷺ bersabda,’المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).Di sini Rasulullah ﷺ lebih mendahulukan lisan dari pada tangan.. Karena bahaya lisan yang sangat cepat dan luas jangkauannya.📌 DEFINISI GHIBAHSecara bahasa dari ghaib, tidak hadir, karena orang yang digibahi tidak hadir di depan kita.Secara syariat, terminologi,.ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُGhibah adalah engkau membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukaiعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُDari Abu Hurairah, Rasulullah sﷺ pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah ﷺbersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah ﷺ berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim)Faidah Dari Hadis Larangan Ghibah– Yang dimaksud أَخَاكَ disini adalah saudara sesama muslim.Lantas apa boleh orang kafir dighibahi? Jawabannya tidak boleh karena mendzalimi orang lain. Namun tingkatan hukumnya tidak sama ketika membicarakan saudara kita sesama muslim dengan non-muslimAturannya, kalau mau menaseti hendaknya dia datang langsung kepada yang bersangkutan.– Yang dimaksud saudaramu dalam hadis diatas adalah dia juga dikenali oleh anggota majelis, kelompok masyarakat dst. Jadi meskipun tidak sebut nama namun bahasa dan isyarat bisa dipahami oleh anggota majelis, maka menjadi ghibah.– Jika yang bersangkutan berkenan dan suka-suka saja maka tidak termasuk ghibah. Namun dilarang menggelari seseorang dengan gelaran-gelaran buruk.– Sabda Nabi بِمَا يَكْرَهُ Dengan apa yang ia benci, maksudnya adalah segala perkara yang berkaitan dengan agama, fisik, keluarga, pekerjaan dll.– Ghibah, membicarakan keburukan di belakang (tidak hadir). Adapun membicarakan di depan orangnya namanya mencela..Nabi ﷺ bersabda,سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌMencela seorang muslim adalah kefasikan.Namun dosa ghibah lebih besar daripada mencela.– Ghibah adalah kabar yang benar (bukan dusta) yang merupakan aib dari korban, namun ketika kabar itu bohong maka itu termasuk FITNAH.HUKUM GHIBAHPara ulama berbeda pendapat tentang hukum ghibah ini;– Dosa kecil , karena ghibah adalah dosa yang sulit dihindari. Diantara argumen aqli jika ghibah dosa besar, maka sebagian besar manusia termasuk fasik. (dalil logika)– Dosa besar, inilah pendapat terkuat karena berdalil dengan nash Alquran dan Hadis,Firman Allah Ta’ala.وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ“ Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging bangkai saudaranya? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)Ghibah disamakan dengan makan daging bangkai saudaranya, ini termasuk dosa besar.Dalam hadis Mi’raj, Rasulullah ﷺ bersabda:“Ketika aku dibawa naik, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud )Dalam sebagian riwayat, diantara sebab siksa kubur adalah namimah dan ghibah,عن أبي بكرة قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلمبِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فىِ اْلبَوْلِ وَ أَمَّا اْلآخَرُ فَيُعَذَّبُ فىِ اْلغِيْبَةِDari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, Nabi ﷺ pernah melewati dua buah kuburan. Beliau berkata, “Sesungguhnya kedua (penghuni kubur) ini sedang diadzab. Keduanya tidaklah diadzab karena suatu perkara besar. Yang pertama diadzab lantaran air kencing, dan yang kedua diadzab karena ghibah”. [HR Ibnu Majah: 349. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan shahih].Bahkan diantara hukuman bagi pengghibah adalah ketika puasa, maka amalan puasanya tidak diterima oleh Allah ﷻDan inilah pendapat mayoritas ulama’ bahwa ghibah termasuk dosa besar. Wallahu a’lam.YANG PERLU DIPERHATIKANIkut majelis ghibah dan dia tidak mengingkari kawannya yang mengghibah, maka dia seperti sedang berghibah ria.Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَـٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَـٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَDan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). Qs Al An’am ayat 68.Kalau ada majelis dhalim/maksiat maka kita wajib mengingkari dan meninggalkannya. Jangan sekali-kali ikut tertawa dst.مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya tanpa diketahui olehnya niscaya Allah akan menghindarkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti.” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan olehnya)Acara ghibah ria tanpa sadar banyak di medsos-medsos dengan banyakny like dan komentar. Bahkan majelis-majelis ghibah tanpa sadar di group-group whatsapp. Maka berhati-hatilah!!CARA BERTAUBAT DARI GHIBAHSecara umum ada dua kondisi:1. Jika korban tidak tahu kalau dighibahi, maka jangan beritahu padanya kecuali dia dikenal seorang pemaaf. Cara taubat ada 2: – Istighfar, yaitu mohon ampunan untuknya. – Kemudian memujinya di majelis yang pernah anda mengghibahinya (perbaiki kembali citranya)2. Jika yang dighibahi tahu, cara taubat adalah dengan minta penghalalan/maaf darinya.Rasulullah ﷺ bersabda,أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Maka dari itu kalau kita pernah berbuat dzalim maka segeralah bertaubat dan mintalah kehalalan dirinya. Ghibah itu transfer pahala untuk orang lain bahkan bisa jadi kita menanggung dosa-dosanya kelas di akhirat.GHIBAH YANG DIBOLEHKANUntuk mengadukan kondisi telah dizalimi oleh seseorang dengan langsung menyebutkan nama orang zalimnya.2. Untuk identifikasi, ciri khas seseorang agar memudahkan orang mencari info.3. Dalam rangka memperingatkan dari orang zalim, ahlul bid’ah, orang munafik, dan orang-orang yang tidak amanah. Karena jika didiamkan maka orang-orang tidak tahu mana yang baik dan yang buruk.4. Mengghibah orang-orang yang maksiat terang-terangan.5. Meminta fatwa6. Minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran (seperti penyalahgunaan dana sosial).7. DllWallahu a’lam

Dahsyatnya Ghibah

Ilustrasi unsplashDAHSYATNYA GHIBAHUstadz DR. Firanda Andirja, Lc MAHampir setiap orang tidak selamat dari dosa ghibah, yaitu menceritakan kejelekan saudaranya, yaitu hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain. Terutama dengan ramai medsos saat ini..Dan tidak sedikit yang mengghibahi orang-orang terdekat (suami, istri, orang tua dst)Dan Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan..أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR ath-Thabraniy]Kebanyakan orang yang dianggap dosa adalah membunuh, memukul dst.Rasulullah  ﷺ juga ditanya tentang (dosa) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka.Ketika Muadz bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?”Beliau menjawab,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ“Celakalah engkau Wahai Muadz !Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka dan hidung mereka, melainkan disebabkan ucapan lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, shahih)Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah memegang lisannya dan berkata, ‘inilah yang membuat aku terjerumus dalam banyak hal.”Lisan ini bisa jadi malapetaka.. Dan di sisi lain banyak pahala bisa diperoleh.Lisan itu bergerak sangat cepat dan jangkauan yang sangat luas…Nabi ﷺ bersabda,’المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).Di sini Rasulullah ﷺ lebih mendahulukan lisan dari pada tangan.. Karena bahaya lisan yang sangat cepat dan luas jangkauannya.📌 DEFINISI GHIBAHSecara bahasa dari ghaib, tidak hadir, karena orang yang digibahi tidak hadir di depan kita.Secara syariat, terminologi,.ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُGhibah adalah engkau membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukaiعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُDari Abu Hurairah, Rasulullah sﷺ pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah ﷺbersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah ﷺ berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim)Faidah Dari Hadis Larangan Ghibah– Yang dimaksud أَخَاكَ disini adalah saudara sesama muslim.Lantas apa boleh orang kafir dighibahi? Jawabannya tidak boleh karena mendzalimi orang lain. Namun tingkatan hukumnya tidak sama ketika membicarakan saudara kita sesama muslim dengan non-muslimAturannya, kalau mau menaseti hendaknya dia datang langsung kepada yang bersangkutan.– Yang dimaksud saudaramu dalam hadis diatas adalah dia juga dikenali oleh anggota majelis, kelompok masyarakat dst. Jadi meskipun tidak sebut nama namun bahasa dan isyarat bisa dipahami oleh anggota majelis, maka menjadi ghibah.– Jika yang bersangkutan berkenan dan suka-suka saja maka tidak termasuk ghibah. Namun dilarang menggelari seseorang dengan gelaran-gelaran buruk.– Sabda Nabi بِمَا يَكْرَهُ Dengan apa yang ia benci, maksudnya adalah segala perkara yang berkaitan dengan agama, fisik, keluarga, pekerjaan dll.– Ghibah, membicarakan keburukan di belakang (tidak hadir). Adapun membicarakan di depan orangnya namanya mencela..Nabi ﷺ bersabda,سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌMencela seorang muslim adalah kefasikan.Namun dosa ghibah lebih besar daripada mencela.– Ghibah adalah kabar yang benar (bukan dusta) yang merupakan aib dari korban, namun ketika kabar itu bohong maka itu termasuk FITNAH.HUKUM GHIBAHPara ulama berbeda pendapat tentang hukum ghibah ini;– Dosa kecil , karena ghibah adalah dosa yang sulit dihindari. Diantara argumen aqli jika ghibah dosa besar, maka sebagian besar manusia termasuk fasik. (dalil logika)– Dosa besar, inilah pendapat terkuat karena berdalil dengan nash Alquran dan Hadis,Firman Allah Ta’ala.وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ“ Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging bangkai saudaranya? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)Ghibah disamakan dengan makan daging bangkai saudaranya, ini termasuk dosa besar.Dalam hadis Mi’raj, Rasulullah ﷺ bersabda:“Ketika aku dibawa naik, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud )Dalam sebagian riwayat, diantara sebab siksa kubur adalah namimah dan ghibah,عن أبي بكرة قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلمبِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فىِ اْلبَوْلِ وَ أَمَّا اْلآخَرُ فَيُعَذَّبُ فىِ اْلغِيْبَةِDari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, Nabi ﷺ pernah melewati dua buah kuburan. Beliau berkata, “Sesungguhnya kedua (penghuni kubur) ini sedang diadzab. Keduanya tidaklah diadzab karena suatu perkara besar. Yang pertama diadzab lantaran air kencing, dan yang kedua diadzab karena ghibah”. [HR Ibnu Majah: 349. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan shahih].Bahkan diantara hukuman bagi pengghibah adalah ketika puasa, maka amalan puasanya tidak diterima oleh Allah ﷻDan inilah pendapat mayoritas ulama’ bahwa ghibah termasuk dosa besar. Wallahu a’lam.YANG PERLU DIPERHATIKANIkut majelis ghibah dan dia tidak mengingkari kawannya yang mengghibah, maka dia seperti sedang berghibah ria.Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَـٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَـٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَDan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). Qs Al An’am ayat 68.Kalau ada majelis dhalim/maksiat maka kita wajib mengingkari dan meninggalkannya. Jangan sekali-kali ikut tertawa dst.مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya tanpa diketahui olehnya niscaya Allah akan menghindarkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti.” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan olehnya)Acara ghibah ria tanpa sadar banyak di medsos-medsos dengan banyakny like dan komentar. Bahkan majelis-majelis ghibah tanpa sadar di group-group whatsapp. Maka berhati-hatilah!!CARA BERTAUBAT DARI GHIBAHSecara umum ada dua kondisi:1. Jika korban tidak tahu kalau dighibahi, maka jangan beritahu padanya kecuali dia dikenal seorang pemaaf. Cara taubat ada 2: – Istighfar, yaitu mohon ampunan untuknya. – Kemudian memujinya di majelis yang pernah anda mengghibahinya (perbaiki kembali citranya)2. Jika yang dighibahi tahu, cara taubat adalah dengan minta penghalalan/maaf darinya.Rasulullah ﷺ bersabda,أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Maka dari itu kalau kita pernah berbuat dzalim maka segeralah bertaubat dan mintalah kehalalan dirinya. Ghibah itu transfer pahala untuk orang lain bahkan bisa jadi kita menanggung dosa-dosanya kelas di akhirat.GHIBAH YANG DIBOLEHKANUntuk mengadukan kondisi telah dizalimi oleh seseorang dengan langsung menyebutkan nama orang zalimnya.2. Untuk identifikasi, ciri khas seseorang agar memudahkan orang mencari info.3. Dalam rangka memperingatkan dari orang zalim, ahlul bid’ah, orang munafik, dan orang-orang yang tidak amanah. Karena jika didiamkan maka orang-orang tidak tahu mana yang baik dan yang buruk.4. Mengghibah orang-orang yang maksiat terang-terangan.5. Meminta fatwa6. Minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran (seperti penyalahgunaan dana sosial).7. DllWallahu a’lam
Ilustrasi unsplashDAHSYATNYA GHIBAHUstadz DR. Firanda Andirja, Lc MAHampir setiap orang tidak selamat dari dosa ghibah, yaitu menceritakan kejelekan saudaranya, yaitu hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain. Terutama dengan ramai medsos saat ini..Dan tidak sedikit yang mengghibahi orang-orang terdekat (suami, istri, orang tua dst)Dan Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan..أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR ath-Thabraniy]Kebanyakan orang yang dianggap dosa adalah membunuh, memukul dst.Rasulullah  ﷺ juga ditanya tentang (dosa) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka.Ketika Muadz bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?”Beliau menjawab,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ“Celakalah engkau Wahai Muadz !Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka dan hidung mereka, melainkan disebabkan ucapan lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, shahih)Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah memegang lisannya dan berkata, ‘inilah yang membuat aku terjerumus dalam banyak hal.”Lisan ini bisa jadi malapetaka.. Dan di sisi lain banyak pahala bisa diperoleh.Lisan itu bergerak sangat cepat dan jangkauan yang sangat luas…Nabi ﷺ bersabda,’المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).Di sini Rasulullah ﷺ lebih mendahulukan lisan dari pada tangan.. Karena bahaya lisan yang sangat cepat dan luas jangkauannya.📌 DEFINISI GHIBAHSecara bahasa dari ghaib, tidak hadir, karena orang yang digibahi tidak hadir di depan kita.Secara syariat, terminologi,.ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُGhibah adalah engkau membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukaiعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُDari Abu Hurairah, Rasulullah sﷺ pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah ﷺbersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah ﷺ berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim)Faidah Dari Hadis Larangan Ghibah– Yang dimaksud أَخَاكَ disini adalah saudara sesama muslim.Lantas apa boleh orang kafir dighibahi? Jawabannya tidak boleh karena mendzalimi orang lain. Namun tingkatan hukumnya tidak sama ketika membicarakan saudara kita sesama muslim dengan non-muslimAturannya, kalau mau menaseti hendaknya dia datang langsung kepada yang bersangkutan.– Yang dimaksud saudaramu dalam hadis diatas adalah dia juga dikenali oleh anggota majelis, kelompok masyarakat dst. Jadi meskipun tidak sebut nama namun bahasa dan isyarat bisa dipahami oleh anggota majelis, maka menjadi ghibah.– Jika yang bersangkutan berkenan dan suka-suka saja maka tidak termasuk ghibah. Namun dilarang menggelari seseorang dengan gelaran-gelaran buruk.– Sabda Nabi بِمَا يَكْرَهُ Dengan apa yang ia benci, maksudnya adalah segala perkara yang berkaitan dengan agama, fisik, keluarga, pekerjaan dll.– Ghibah, membicarakan keburukan di belakang (tidak hadir). Adapun membicarakan di depan orangnya namanya mencela..Nabi ﷺ bersabda,سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌMencela seorang muslim adalah kefasikan.Namun dosa ghibah lebih besar daripada mencela.– Ghibah adalah kabar yang benar (bukan dusta) yang merupakan aib dari korban, namun ketika kabar itu bohong maka itu termasuk FITNAH.HUKUM GHIBAHPara ulama berbeda pendapat tentang hukum ghibah ini;– Dosa kecil , karena ghibah adalah dosa yang sulit dihindari. Diantara argumen aqli jika ghibah dosa besar, maka sebagian besar manusia termasuk fasik. (dalil logika)– Dosa besar, inilah pendapat terkuat karena berdalil dengan nash Alquran dan Hadis,Firman Allah Ta’ala.وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ“ Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging bangkai saudaranya? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)Ghibah disamakan dengan makan daging bangkai saudaranya, ini termasuk dosa besar.Dalam hadis Mi’raj, Rasulullah ﷺ bersabda:“Ketika aku dibawa naik, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud )Dalam sebagian riwayat, diantara sebab siksa kubur adalah namimah dan ghibah,عن أبي بكرة قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلمبِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فىِ اْلبَوْلِ وَ أَمَّا اْلآخَرُ فَيُعَذَّبُ فىِ اْلغِيْبَةِDari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, Nabi ﷺ pernah melewati dua buah kuburan. Beliau berkata, “Sesungguhnya kedua (penghuni kubur) ini sedang diadzab. Keduanya tidaklah diadzab karena suatu perkara besar. Yang pertama diadzab lantaran air kencing, dan yang kedua diadzab karena ghibah”. [HR Ibnu Majah: 349. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan shahih].Bahkan diantara hukuman bagi pengghibah adalah ketika puasa, maka amalan puasanya tidak diterima oleh Allah ﷻDan inilah pendapat mayoritas ulama’ bahwa ghibah termasuk dosa besar. Wallahu a’lam.YANG PERLU DIPERHATIKANIkut majelis ghibah dan dia tidak mengingkari kawannya yang mengghibah, maka dia seperti sedang berghibah ria.Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَـٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَـٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَDan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). Qs Al An’am ayat 68.Kalau ada majelis dhalim/maksiat maka kita wajib mengingkari dan meninggalkannya. Jangan sekali-kali ikut tertawa dst.مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya tanpa diketahui olehnya niscaya Allah akan menghindarkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti.” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan olehnya)Acara ghibah ria tanpa sadar banyak di medsos-medsos dengan banyakny like dan komentar. Bahkan majelis-majelis ghibah tanpa sadar di group-group whatsapp. Maka berhati-hatilah!!CARA BERTAUBAT DARI GHIBAHSecara umum ada dua kondisi:1. Jika korban tidak tahu kalau dighibahi, maka jangan beritahu padanya kecuali dia dikenal seorang pemaaf. Cara taubat ada 2: – Istighfar, yaitu mohon ampunan untuknya. – Kemudian memujinya di majelis yang pernah anda mengghibahinya (perbaiki kembali citranya)2. Jika yang dighibahi tahu, cara taubat adalah dengan minta penghalalan/maaf darinya.Rasulullah ﷺ bersabda,أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Maka dari itu kalau kita pernah berbuat dzalim maka segeralah bertaubat dan mintalah kehalalan dirinya. Ghibah itu transfer pahala untuk orang lain bahkan bisa jadi kita menanggung dosa-dosanya kelas di akhirat.GHIBAH YANG DIBOLEHKANUntuk mengadukan kondisi telah dizalimi oleh seseorang dengan langsung menyebutkan nama orang zalimnya.2. Untuk identifikasi, ciri khas seseorang agar memudahkan orang mencari info.3. Dalam rangka memperingatkan dari orang zalim, ahlul bid’ah, orang munafik, dan orang-orang yang tidak amanah. Karena jika didiamkan maka orang-orang tidak tahu mana yang baik dan yang buruk.4. Mengghibah orang-orang yang maksiat terang-terangan.5. Meminta fatwa6. Minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran (seperti penyalahgunaan dana sosial).7. DllWallahu a’lam


Ilustrasi unsplashDAHSYATNYA GHIBAHUstadz DR. Firanda Andirja, Lc MAHampir setiap orang tidak selamat dari dosa ghibah, yaitu menceritakan kejelekan saudaranya, yaitu hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain. Terutama dengan ramai medsos saat ini..Dan tidak sedikit yang mengghibahi orang-orang terdekat (suami, istri, orang tua dst)Dan Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan..أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR ath-Thabraniy]Kebanyakan orang yang dianggap dosa adalah membunuh, memukul dst.Rasulullah  ﷺ juga ditanya tentang (dosa) yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka.Ketika Muadz bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?”Beliau menjawab,ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ“Celakalah engkau Wahai Muadz !Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka dan hidung mereka, melainkan disebabkan ucapan lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, shahih)Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah memegang lisannya dan berkata, ‘inilah yang membuat aku terjerumus dalam banyak hal.”Lisan ini bisa jadi malapetaka.. Dan di sisi lain banyak pahala bisa diperoleh.Lisan itu bergerak sangat cepat dan jangkauan yang sangat luas…Nabi ﷺ bersabda,’المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).Di sini Rasulullah ﷺ lebih mendahulukan lisan dari pada tangan.. Karena bahaya lisan yang sangat cepat dan luas jangkauannya.📌 DEFINISI GHIBAHSecara bahasa dari ghaib, tidak hadir, karena orang yang digibahi tidak hadir di depan kita.Secara syariat, terminologi,.ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُGhibah adalah engkau membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukaiعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُDari Abu Hurairah, Rasulullah sﷺ pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah ﷺbersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah ﷺ berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim)Faidah Dari Hadis Larangan Ghibah– Yang dimaksud أَخَاكَ disini adalah saudara sesama muslim.Lantas apa boleh orang kafir dighibahi? Jawabannya tidak boleh karena mendzalimi orang lain. Namun tingkatan hukumnya tidak sama ketika membicarakan saudara kita sesama muslim dengan non-muslimAturannya, kalau mau menaseti hendaknya dia datang langsung kepada yang bersangkutan.– Yang dimaksud saudaramu dalam hadis diatas adalah dia juga dikenali oleh anggota majelis, kelompok masyarakat dst. Jadi meskipun tidak sebut nama namun bahasa dan isyarat bisa dipahami oleh anggota majelis, maka menjadi ghibah.– Jika yang bersangkutan berkenan dan suka-suka saja maka tidak termasuk ghibah. Namun dilarang menggelari seseorang dengan gelaran-gelaran buruk.– Sabda Nabi بِمَا يَكْرَهُ Dengan apa yang ia benci, maksudnya adalah segala perkara yang berkaitan dengan agama, fisik, keluarga, pekerjaan dll.– Ghibah, membicarakan keburukan di belakang (tidak hadir). Adapun membicarakan di depan orangnya namanya mencela..Nabi ﷺ bersabda,سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌMencela seorang muslim adalah kefasikan.Namun dosa ghibah lebih besar daripada mencela.– Ghibah adalah kabar yang benar (bukan dusta) yang merupakan aib dari korban, namun ketika kabar itu bohong maka itu termasuk FITNAH.HUKUM GHIBAHPara ulama berbeda pendapat tentang hukum ghibah ini;– Dosa kecil , karena ghibah adalah dosa yang sulit dihindari. Diantara argumen aqli jika ghibah dosa besar, maka sebagian besar manusia termasuk fasik. (dalil logika)– Dosa besar, inilah pendapat terkuat karena berdalil dengan nash Alquran dan Hadis,Firman Allah Ta’ala.وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ“ Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging bangkai saudaranya? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)Ghibah disamakan dengan makan daging bangkai saudaranya, ini termasuk dosa besar.Dalam hadis Mi’raj, Rasulullah ﷺ bersabda:“Ketika aku dibawa naik, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud )Dalam sebagian riwayat, diantara sebab siksa kubur adalah namimah dan ghibah,عن أبي بكرة قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلمبِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فىِ اْلبَوْلِ وَ أَمَّا اْلآخَرُ فَيُعَذَّبُ فىِ اْلغِيْبَةِDari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, Nabi ﷺ pernah melewati dua buah kuburan. Beliau berkata, “Sesungguhnya kedua (penghuni kubur) ini sedang diadzab. Keduanya tidaklah diadzab karena suatu perkara besar. Yang pertama diadzab lantaran air kencing, dan yang kedua diadzab karena ghibah”. [HR Ibnu Majah: 349. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan shahih].Bahkan diantara hukuman bagi pengghibah adalah ketika puasa, maka amalan puasanya tidak diterima oleh Allah ﷻDan inilah pendapat mayoritas ulama’ bahwa ghibah termasuk dosa besar. Wallahu a’lam.YANG PERLU DIPERHATIKANIkut majelis ghibah dan dia tidak mengingkari kawannya yang mengghibah, maka dia seperti sedang berghibah ria.Allah ﷻ berfirman,وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَـٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَـٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَDan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). Qs Al An’am ayat 68.Kalau ada majelis dhalim/maksiat maka kita wajib mengingkari dan meninggalkannya. Jangan sekali-kali ikut tertawa dst.مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ بِالْغَيْبِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya tanpa diketahui olehnya niscaya Allah akan menghindarkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti.” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan olehnya)Acara ghibah ria tanpa sadar banyak di medsos-medsos dengan banyakny like dan komentar. Bahkan majelis-majelis ghibah tanpa sadar di group-group whatsapp. Maka berhati-hatilah!!CARA BERTAUBAT DARI GHIBAHSecara umum ada dua kondisi:1. Jika korban tidak tahu kalau dighibahi, maka jangan beritahu padanya kecuali dia dikenal seorang pemaaf. Cara taubat ada 2: – Istighfar, yaitu mohon ampunan untuknya. – Kemudian memujinya di majelis yang pernah anda mengghibahinya (perbaiki kembali citranya)2. Jika yang dighibahi tahu, cara taubat adalah dengan minta penghalalan/maaf darinya.Rasulullah ﷺ bersabda,أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)Maka dari itu kalau kita pernah berbuat dzalim maka segeralah bertaubat dan mintalah kehalalan dirinya. Ghibah itu transfer pahala untuk orang lain bahkan bisa jadi kita menanggung dosa-dosanya kelas di akhirat.GHIBAH YANG DIBOLEHKANUntuk mengadukan kondisi telah dizalimi oleh seseorang dengan langsung menyebutkan nama orang zalimnya.2. Untuk identifikasi, ciri khas seseorang agar memudahkan orang mencari info.3. Dalam rangka memperingatkan dari orang zalim, ahlul bid’ah, orang munafik, dan orang-orang yang tidak amanah. Karena jika didiamkan maka orang-orang tidak tahu mana yang baik dan yang buruk.4. Mengghibah orang-orang yang maksiat terang-terangan.5. Meminta fatwa6. Minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran (seperti penyalahgunaan dana sosial).7. DllWallahu a’lam

Hukum Menceritakan Amal Saleh

Pertama, ibadah yang harus ditampakkan. Seperti salat jamaah, azan, salat id, dan salat Jumat.Kedua, ibadah yang tidak ada keharusan ditampakkan. Seperti salat malam, salat dhuha, sedekah, dan kebanyakan ibadah sunnah.Menampakkan amal tergantung pada kejernihan niatMenyembunyikan amalan lebih dekat kepada ikhlas, ini terpujiMana yang lebih utama?

Hukum Menceritakan Amal Saleh

Pertama, ibadah yang harus ditampakkan. Seperti salat jamaah, azan, salat id, dan salat Jumat.Kedua, ibadah yang tidak ada keharusan ditampakkan. Seperti salat malam, salat dhuha, sedekah, dan kebanyakan ibadah sunnah.Menampakkan amal tergantung pada kejernihan niatMenyembunyikan amalan lebih dekat kepada ikhlas, ini terpujiMana yang lebih utama?
Pertama, ibadah yang harus ditampakkan. Seperti salat jamaah, azan, salat id, dan salat Jumat.Kedua, ibadah yang tidak ada keharusan ditampakkan. Seperti salat malam, salat dhuha, sedekah, dan kebanyakan ibadah sunnah.Menampakkan amal tergantung pada kejernihan niatMenyembunyikan amalan lebih dekat kepada ikhlas, ini terpujiMana yang lebih utama?


Pertama, ibadah yang harus ditampakkan. Seperti salat jamaah, azan, salat id, dan salat Jumat.Kedua, ibadah yang tidak ada keharusan ditampakkan. Seperti salat malam, salat dhuha, sedekah, dan kebanyakan ibadah sunnah.Menampakkan amal tergantung pada kejernihan niatMenyembunyikan amalan lebih dekat kepada ikhlas, ini terpujiMana yang lebih utama?

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.” “Empat perkara yang membahagiakan: (1) istri yang salihah, (2) tempat tinggal yang luas, (3) tetangga yang baik, dan (4) kendaraan yang nyaman. Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan: (1) tetangga yang buruk, (2) istri yang tidak salihah, (3) tempat tinggal yang sempit, dan (4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban) Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia. (ISTRI SALIHAH) Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia. (TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG) Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang, yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya. (TETANGGA YANG BAIK) Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia. (KENDARAAN YANG NYAMAN) Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia. =============================================================================== بَابُ السَّعَادَةِ وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا    

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.” “Empat perkara yang membahagiakan: (1) istri yang salihah, (2) tempat tinggal yang luas, (3) tetangga yang baik, dan (4) kendaraan yang nyaman. Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan: (1) tetangga yang buruk, (2) istri yang tidak salihah, (3) tempat tinggal yang sempit, dan (4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban) Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia. (ISTRI SALIHAH) Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia. (TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG) Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang, yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya. (TETANGGA YANG BAIK) Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia. (KENDARAAN YANG NYAMAN) Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia. =============================================================================== بَابُ السَّعَادَةِ وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا    
Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.” “Empat perkara yang membahagiakan: (1) istri yang salihah, (2) tempat tinggal yang luas, (3) tetangga yang baik, dan (4) kendaraan yang nyaman. Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan: (1) tetangga yang buruk, (2) istri yang tidak salihah, (3) tempat tinggal yang sempit, dan (4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban) Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia. (ISTRI SALIHAH) Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia. (TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG) Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang, yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya. (TETANGGA YANG BAIK) Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia. (KENDARAAN YANG NYAMAN) Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia. =============================================================================== بَابُ السَّعَادَةِ وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا    


Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.” “Empat perkara yang membahagiakan: (1) istri yang salihah, (2) tempat tinggal yang luas, (3) tetangga yang baik, dan (4) kendaraan yang nyaman. Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan: (1) tetangga yang buruk, (2) istri yang tidak salihah, (3) tempat tinggal yang sempit, dan (4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban) Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia. (ISTRI SALIHAH) Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia. (TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG) Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang, yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya. (TETANGGA YANG BAIK) Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia. (KENDARAAN YANG NYAMAN) Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia. =============================================================================== بَابُ السَّعَادَةِ وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا    
Prev     Next