Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya

Mari kita praktikkan enam adab ketika masuk pasar (termasuk mal, swalayan, supermarket) agar mendapat keberkahan dan terhindar dari mara bahaya.   Daftar Isi tutup 1. Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan 2. Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah 3. Adab-Adab Ketika Masuk Pasar 3.1. Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar 3.2. Kedua: Masuk pasar itu seperlunya 3.3. Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari 3.4. Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 3.5. Kelima: Berlaku jujur dan amanah 3.6. Keenam: Menundukkan pandangan   Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Imam Yahya bin Syarf An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits di atas, قَوْلُهُ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا لِأَنَّهَا بُيُوتُ الطَّاعَاتِ وَأَسَاسُهَا عَلَى التَّقْوَى قَوْلُهُ وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ وَالمَسَاجِدُ مَحَلُّ نُزُوْلِ الرَّحْمَةِ ، وَالأَسْوَاقُ ضِدُّهَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid’ karena masjid merupakan tempat ketaatan dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, pengelabuan, riba, janji-janji palsu, pengingkaran janji, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya. Adapun masjid adalah tempat turunnya rahmat, berbeda halnya dengan pasar.”   Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah Perhatikan ayat yang membicarakan tentang kewajiban melakukan shalat Jumat dan perintah meninggalkan jual beli, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9). Baca juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Pelajaran Penting dari Ayat Shalat Jumat Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (7:279) karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan bahwa sebab turunnya ayat, وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah)” (QS. Jumu’ah: 11), sebagaimana kisah yang disebutkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhotbah pada hari Jumat, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang saja.” (HR. Muslim, no. 863). Baca juga: Hikmah Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Shalat Jumat Kurang Dari 40 Orang Masih Sahkah?   Dengan penjelasan di atas, penting sekali diperhatikan adab-adab ketika masuk pasar agar kita mendapatkan berkah dan terhindar dari mara bahaya.   Adab-Adab Ketika Masuk Pasar Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar Dalam hadits disebutkan bahwa hendaklah lisan kita selalu basah dengan dzikir kepada Allah. Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » “Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad, 4:188, sanad sahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Baca juga: Penjelasan Hadits, Lisan Selalu Basah dengan Dzikir Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir kepada Allah, maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar, lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Para ulama menganjurkan membaca dzikir: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIIT WA HUWA HAYYU LAA YAMUUT BI YADIHIL KHOIR WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR ketika masuk pasar. Menurut sebagian ulama, dzikir ini berasal dari hadits yang tidak sahih. Namun, karena perintah dzikir yang disebutkan itu umum di mana pun tetap dianjurkan berdzikir, maka dzikir tadi boleh dibaca tanpa meyakini keistimewaannya. Dzikir akan mendatangkan rasa takut kepada Allah dan semakin menundukkan diri kepada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah. Demikian kata Ibnul Qayyim mengenai keutamaan dzikir dalam kitab Al-Waabil Ash-Shoyyib. Ini menunjukkan bahwa jika seorang muslim rajin mengingat Allah di pasar, ia berarti akan mengindahkan aturan Allah, tidak berbuat curang, takut dusta dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Jika demikian, perniagannya akan semakin berkah. Baca juga: Mengingat Allah di Pasar dan Doa Masuk Pasar Ibnu Batthal rahimahullah berkata bahwa dzikir di pasar adalah amalan yang afdal dalam kalimat beliau, “هذا إنما خرج على الأغلب ؛ لأن المساجد يذكر فيه اسم الله تعالى ، والأسواق قد غلب عليها اللغط واللهو والاشتغال بجمع المال ، والكَلَب على الدنيا من الوجه المباح وغيره ، وأما إذا ذُكر الله في السوق فهو من أفضل الأعمال”. “Inilah yang berlaku umum bahwa masjid itu di dalamnya disibukkan dengan dzikir kepada Allah. Adapun pasar-pasar di dalamnya terdapat perkataan sia-sia, hal sia-sia, hanya sibuk dengan mengumpulkan harta. Itulah pada umumnya. Akhirnya yang ada di pasar adalah sibuk dengan dunia, walau itu mubah. Sehingga berdzikir kepada Allah ketika di pasar adalah amalan yang paling utama (afdal).” (Syarh Shahih Al-Bukhari, 6:249)   Kedua: Masuk pasar itu seperlunya Apabila hendak membeli sesuatu di pasar hendaknya pembeli tidak berlama-lama di dalamnya. Hal ini lantaran banyaknya maksiat, kecurangan dan perbuatan sia-sia sehingga amalan kebaikan di dalamnya sangat sedikit. Banyak pula wanita dan laki-laki yang memamerkan dirinya dengan berbagai jenis perhiasan dan pakaian mewah. Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata, لاَ تَكُونَنَّ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ، وَلاَ آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ “Jika Anda mampu, janganlah menjadi orang yang pertama kali masuk pasar. Jangan pula menjadi yang terakhir keluar dari pasar. Sebab pasar adalah tempat perangnya setan, di sanalah ia menancapkan benderanya.” (HR Muslim, no. 2451) Namun, masuk pasar ketika butuh tidaklah disebut makruh. Allah menyifati Rasulullah dalam ayat, وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan: 20) Para sahabat juga berdagang di pasar-pasar. Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah masuk pasar pada hari-hari tasyrik sambil bertakbir. Akhirnya, orang-orang di pasar ikut bertakbir. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata bahwa Al-Mawardi dan selainnya berkata, الذم لمن أكثر ملازمة السوق وصرف أكثر الأوقات إليها والاشتغال بها عن العبادة، وهذا كما قالوه لثبوت الأحاديث في دخول النبي صلى الله عليه وسلم الأسواق مع نص القرآن “Adapun celaan itu didapati bagi mereka yang terlalu sibuk di pasar dan kebanyakan waktu habis dengan kegiatan di pasar sehingga melupakan ibadah. Inilah yang dimaksud karena ada hadits-hadits yang membicarakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga masuk pasar, ayat Al-Qur’an pun membicarakan demikian (sehingga masuk pasar sebenarnya dibolehkan, tetapi jangan sampai melupakan ibadah).”   Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari Hal ini tersurat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Tentang tafsiran ayat di atas, para ulama berbeda pandangan. Pendapat pertama, menyatakan bahwa yang boleh ditampakkan adalah pakaian saja, berarti perhiasan lainnya tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat kedua, yang dimaksud perhiasan wanita adalah celak dan henna, serta perhiasan semisal itu. Sehingga perhiasan semacam ini tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat ketiga, yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan. Selain itu berarti wajib tertutup. Lihat bahasan At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur, hlm. 186-187. Baca juga: Pengertian Perhiasan Wanita dari Bahasan Surah An-Nuur Apalagi di pasar begitu bebas campur baur antara laki-laki dan perempuan dan sangat sulit dihindari, sehingga menutup aurat itu sangat-sangat urgen.   Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 1. Bersikap pertengahan, jangan terlalu boros dan jangan serba kekurangan. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67) 2. Buat rencana belanja sebelum masuk pasar. 3. Berbelanja sesuai kebutuhan, yang didahulukan adalah kebutuhan primer (dhoruri: jika tidak ada, bisa binasa), lalu kebutuhan sekunder (haaji: jika tidak ada, tetap bisa hidup, tetapi penuh kesulitan), lalu kebutuhan tersier (tahsini, pelengkap saja). 4. Belanja sesuai kemampuan. 5. Berbelanja dengan bijak. 6. Selama ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan, tidak mesti membeli yang baru. 7. Jangan sampai berbelanja dengan berutang.   Kelima: Berlaku jujur dan amanah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah.” (HR. Bukhari, no. 2682 dan Muslim, no. 59) Baca juga: Berlakulah Jujur! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sahih dilihat dari jalur lain). Baca juga: Berkah Kejujuran dalam Bisnis Mencari Orang yang Jujur itu Sulit   Keenam: Menundukkan pandangan Dalam ayat disebutkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ , وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30-31) Baca juga: Manfaat Menundukkan Pandangan Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Mereka menyatakan, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama.” Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam, dan amar makruf nahi mungkar.” (HR. Bukhari, no. 2465) Demikian berbagai adab saat di pasar. Semoga kita senantiasa mendapatkan keberkahan dan dijauhi dari mara bahaya. – Rohan Jogja, 4 Dzulqa’dah 1443 H, 3 Juni 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab masuk pasar aturan jual beli belanja halal haram pasar shalat jumat tips belanja

Inilah 6 Adab Ketika Masuk Pasar Agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Mara Bahaya

Mari kita praktikkan enam adab ketika masuk pasar (termasuk mal, swalayan, supermarket) agar mendapat keberkahan dan terhindar dari mara bahaya.   Daftar Isi tutup 1. Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan 2. Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah 3. Adab-Adab Ketika Masuk Pasar 3.1. Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar 3.2. Kedua: Masuk pasar itu seperlunya 3.3. Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari 3.4. Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 3.5. Kelima: Berlaku jujur dan amanah 3.6. Keenam: Menundukkan pandangan   Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Imam Yahya bin Syarf An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits di atas, قَوْلُهُ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا لِأَنَّهَا بُيُوتُ الطَّاعَاتِ وَأَسَاسُهَا عَلَى التَّقْوَى قَوْلُهُ وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ وَالمَسَاجِدُ مَحَلُّ نُزُوْلِ الرَّحْمَةِ ، وَالأَسْوَاقُ ضِدُّهَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid’ karena masjid merupakan tempat ketaatan dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, pengelabuan, riba, janji-janji palsu, pengingkaran janji, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya. Adapun masjid adalah tempat turunnya rahmat, berbeda halnya dengan pasar.”   Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah Perhatikan ayat yang membicarakan tentang kewajiban melakukan shalat Jumat dan perintah meninggalkan jual beli, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9). Baca juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Pelajaran Penting dari Ayat Shalat Jumat Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (7:279) karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan bahwa sebab turunnya ayat, وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah)” (QS. Jumu’ah: 11), sebagaimana kisah yang disebutkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhotbah pada hari Jumat, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang saja.” (HR. Muslim, no. 863). Baca juga: Hikmah Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Shalat Jumat Kurang Dari 40 Orang Masih Sahkah?   Dengan penjelasan di atas, penting sekali diperhatikan adab-adab ketika masuk pasar agar kita mendapatkan berkah dan terhindar dari mara bahaya.   Adab-Adab Ketika Masuk Pasar Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar Dalam hadits disebutkan bahwa hendaklah lisan kita selalu basah dengan dzikir kepada Allah. Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » “Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad, 4:188, sanad sahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Baca juga: Penjelasan Hadits, Lisan Selalu Basah dengan Dzikir Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir kepada Allah, maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar, lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Para ulama menganjurkan membaca dzikir: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIIT WA HUWA HAYYU LAA YAMUUT BI YADIHIL KHOIR WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR ketika masuk pasar. Menurut sebagian ulama, dzikir ini berasal dari hadits yang tidak sahih. Namun, karena perintah dzikir yang disebutkan itu umum di mana pun tetap dianjurkan berdzikir, maka dzikir tadi boleh dibaca tanpa meyakini keistimewaannya. Dzikir akan mendatangkan rasa takut kepada Allah dan semakin menundukkan diri kepada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah. Demikian kata Ibnul Qayyim mengenai keutamaan dzikir dalam kitab Al-Waabil Ash-Shoyyib. Ini menunjukkan bahwa jika seorang muslim rajin mengingat Allah di pasar, ia berarti akan mengindahkan aturan Allah, tidak berbuat curang, takut dusta dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Jika demikian, perniagannya akan semakin berkah. Baca juga: Mengingat Allah di Pasar dan Doa Masuk Pasar Ibnu Batthal rahimahullah berkata bahwa dzikir di pasar adalah amalan yang afdal dalam kalimat beliau, “هذا إنما خرج على الأغلب ؛ لأن المساجد يذكر فيه اسم الله تعالى ، والأسواق قد غلب عليها اللغط واللهو والاشتغال بجمع المال ، والكَلَب على الدنيا من الوجه المباح وغيره ، وأما إذا ذُكر الله في السوق فهو من أفضل الأعمال”. “Inilah yang berlaku umum bahwa masjid itu di dalamnya disibukkan dengan dzikir kepada Allah. Adapun pasar-pasar di dalamnya terdapat perkataan sia-sia, hal sia-sia, hanya sibuk dengan mengumpulkan harta. Itulah pada umumnya. Akhirnya yang ada di pasar adalah sibuk dengan dunia, walau itu mubah. Sehingga berdzikir kepada Allah ketika di pasar adalah amalan yang paling utama (afdal).” (Syarh Shahih Al-Bukhari, 6:249)   Kedua: Masuk pasar itu seperlunya Apabila hendak membeli sesuatu di pasar hendaknya pembeli tidak berlama-lama di dalamnya. Hal ini lantaran banyaknya maksiat, kecurangan dan perbuatan sia-sia sehingga amalan kebaikan di dalamnya sangat sedikit. Banyak pula wanita dan laki-laki yang memamerkan dirinya dengan berbagai jenis perhiasan dan pakaian mewah. Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata, لاَ تَكُونَنَّ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ، وَلاَ آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ “Jika Anda mampu, janganlah menjadi orang yang pertama kali masuk pasar. Jangan pula menjadi yang terakhir keluar dari pasar. Sebab pasar adalah tempat perangnya setan, di sanalah ia menancapkan benderanya.” (HR Muslim, no. 2451) Namun, masuk pasar ketika butuh tidaklah disebut makruh. Allah menyifati Rasulullah dalam ayat, وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan: 20) Para sahabat juga berdagang di pasar-pasar. Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah masuk pasar pada hari-hari tasyrik sambil bertakbir. Akhirnya, orang-orang di pasar ikut bertakbir. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata bahwa Al-Mawardi dan selainnya berkata, الذم لمن أكثر ملازمة السوق وصرف أكثر الأوقات إليها والاشتغال بها عن العبادة، وهذا كما قالوه لثبوت الأحاديث في دخول النبي صلى الله عليه وسلم الأسواق مع نص القرآن “Adapun celaan itu didapati bagi mereka yang terlalu sibuk di pasar dan kebanyakan waktu habis dengan kegiatan di pasar sehingga melupakan ibadah. Inilah yang dimaksud karena ada hadits-hadits yang membicarakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga masuk pasar, ayat Al-Qur’an pun membicarakan demikian (sehingga masuk pasar sebenarnya dibolehkan, tetapi jangan sampai melupakan ibadah).”   Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari Hal ini tersurat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Tentang tafsiran ayat di atas, para ulama berbeda pandangan. Pendapat pertama, menyatakan bahwa yang boleh ditampakkan adalah pakaian saja, berarti perhiasan lainnya tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat kedua, yang dimaksud perhiasan wanita adalah celak dan henna, serta perhiasan semisal itu. Sehingga perhiasan semacam ini tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat ketiga, yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan. Selain itu berarti wajib tertutup. Lihat bahasan At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur, hlm. 186-187. Baca juga: Pengertian Perhiasan Wanita dari Bahasan Surah An-Nuur Apalagi di pasar begitu bebas campur baur antara laki-laki dan perempuan dan sangat sulit dihindari, sehingga menutup aurat itu sangat-sangat urgen.   Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 1. Bersikap pertengahan, jangan terlalu boros dan jangan serba kekurangan. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67) 2. Buat rencana belanja sebelum masuk pasar. 3. Berbelanja sesuai kebutuhan, yang didahulukan adalah kebutuhan primer (dhoruri: jika tidak ada, bisa binasa), lalu kebutuhan sekunder (haaji: jika tidak ada, tetap bisa hidup, tetapi penuh kesulitan), lalu kebutuhan tersier (tahsini, pelengkap saja). 4. Belanja sesuai kemampuan. 5. Berbelanja dengan bijak. 6. Selama ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan, tidak mesti membeli yang baru. 7. Jangan sampai berbelanja dengan berutang.   Kelima: Berlaku jujur dan amanah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah.” (HR. Bukhari, no. 2682 dan Muslim, no. 59) Baca juga: Berlakulah Jujur! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sahih dilihat dari jalur lain). Baca juga: Berkah Kejujuran dalam Bisnis Mencari Orang yang Jujur itu Sulit   Keenam: Menundukkan pandangan Dalam ayat disebutkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ , وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30-31) Baca juga: Manfaat Menundukkan Pandangan Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Mereka menyatakan, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama.” Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam, dan amar makruf nahi mungkar.” (HR. Bukhari, no. 2465) Demikian berbagai adab saat di pasar. Semoga kita senantiasa mendapatkan keberkahan dan dijauhi dari mara bahaya. – Rohan Jogja, 4 Dzulqa’dah 1443 H, 3 Juni 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab masuk pasar aturan jual beli belanja halal haram pasar shalat jumat tips belanja
Mari kita praktikkan enam adab ketika masuk pasar (termasuk mal, swalayan, supermarket) agar mendapat keberkahan dan terhindar dari mara bahaya.   Daftar Isi tutup 1. Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan 2. Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah 3. Adab-Adab Ketika Masuk Pasar 3.1. Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar 3.2. Kedua: Masuk pasar itu seperlunya 3.3. Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari 3.4. Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 3.5. Kelima: Berlaku jujur dan amanah 3.6. Keenam: Menundukkan pandangan   Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Imam Yahya bin Syarf An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits di atas, قَوْلُهُ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا لِأَنَّهَا بُيُوتُ الطَّاعَاتِ وَأَسَاسُهَا عَلَى التَّقْوَى قَوْلُهُ وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ وَالمَسَاجِدُ مَحَلُّ نُزُوْلِ الرَّحْمَةِ ، وَالأَسْوَاقُ ضِدُّهَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid’ karena masjid merupakan tempat ketaatan dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, pengelabuan, riba, janji-janji palsu, pengingkaran janji, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya. Adapun masjid adalah tempat turunnya rahmat, berbeda halnya dengan pasar.”   Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah Perhatikan ayat yang membicarakan tentang kewajiban melakukan shalat Jumat dan perintah meninggalkan jual beli, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9). Baca juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Pelajaran Penting dari Ayat Shalat Jumat Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (7:279) karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan bahwa sebab turunnya ayat, وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah)” (QS. Jumu’ah: 11), sebagaimana kisah yang disebutkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhotbah pada hari Jumat, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang saja.” (HR. Muslim, no. 863). Baca juga: Hikmah Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Shalat Jumat Kurang Dari 40 Orang Masih Sahkah?   Dengan penjelasan di atas, penting sekali diperhatikan adab-adab ketika masuk pasar agar kita mendapatkan berkah dan terhindar dari mara bahaya.   Adab-Adab Ketika Masuk Pasar Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar Dalam hadits disebutkan bahwa hendaklah lisan kita selalu basah dengan dzikir kepada Allah. Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » “Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad, 4:188, sanad sahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Baca juga: Penjelasan Hadits, Lisan Selalu Basah dengan Dzikir Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir kepada Allah, maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar, lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Para ulama menganjurkan membaca dzikir: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIIT WA HUWA HAYYU LAA YAMUUT BI YADIHIL KHOIR WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR ketika masuk pasar. Menurut sebagian ulama, dzikir ini berasal dari hadits yang tidak sahih. Namun, karena perintah dzikir yang disebutkan itu umum di mana pun tetap dianjurkan berdzikir, maka dzikir tadi boleh dibaca tanpa meyakini keistimewaannya. Dzikir akan mendatangkan rasa takut kepada Allah dan semakin menundukkan diri kepada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah. Demikian kata Ibnul Qayyim mengenai keutamaan dzikir dalam kitab Al-Waabil Ash-Shoyyib. Ini menunjukkan bahwa jika seorang muslim rajin mengingat Allah di pasar, ia berarti akan mengindahkan aturan Allah, tidak berbuat curang, takut dusta dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Jika demikian, perniagannya akan semakin berkah. Baca juga: Mengingat Allah di Pasar dan Doa Masuk Pasar Ibnu Batthal rahimahullah berkata bahwa dzikir di pasar adalah amalan yang afdal dalam kalimat beliau, “هذا إنما خرج على الأغلب ؛ لأن المساجد يذكر فيه اسم الله تعالى ، والأسواق قد غلب عليها اللغط واللهو والاشتغال بجمع المال ، والكَلَب على الدنيا من الوجه المباح وغيره ، وأما إذا ذُكر الله في السوق فهو من أفضل الأعمال”. “Inilah yang berlaku umum bahwa masjid itu di dalamnya disibukkan dengan dzikir kepada Allah. Adapun pasar-pasar di dalamnya terdapat perkataan sia-sia, hal sia-sia, hanya sibuk dengan mengumpulkan harta. Itulah pada umumnya. Akhirnya yang ada di pasar adalah sibuk dengan dunia, walau itu mubah. Sehingga berdzikir kepada Allah ketika di pasar adalah amalan yang paling utama (afdal).” (Syarh Shahih Al-Bukhari, 6:249)   Kedua: Masuk pasar itu seperlunya Apabila hendak membeli sesuatu di pasar hendaknya pembeli tidak berlama-lama di dalamnya. Hal ini lantaran banyaknya maksiat, kecurangan dan perbuatan sia-sia sehingga amalan kebaikan di dalamnya sangat sedikit. Banyak pula wanita dan laki-laki yang memamerkan dirinya dengan berbagai jenis perhiasan dan pakaian mewah. Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata, لاَ تَكُونَنَّ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ، وَلاَ آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ “Jika Anda mampu, janganlah menjadi orang yang pertama kali masuk pasar. Jangan pula menjadi yang terakhir keluar dari pasar. Sebab pasar adalah tempat perangnya setan, di sanalah ia menancapkan benderanya.” (HR Muslim, no. 2451) Namun, masuk pasar ketika butuh tidaklah disebut makruh. Allah menyifati Rasulullah dalam ayat, وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan: 20) Para sahabat juga berdagang di pasar-pasar. Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah masuk pasar pada hari-hari tasyrik sambil bertakbir. Akhirnya, orang-orang di pasar ikut bertakbir. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata bahwa Al-Mawardi dan selainnya berkata, الذم لمن أكثر ملازمة السوق وصرف أكثر الأوقات إليها والاشتغال بها عن العبادة، وهذا كما قالوه لثبوت الأحاديث في دخول النبي صلى الله عليه وسلم الأسواق مع نص القرآن “Adapun celaan itu didapati bagi mereka yang terlalu sibuk di pasar dan kebanyakan waktu habis dengan kegiatan di pasar sehingga melupakan ibadah. Inilah yang dimaksud karena ada hadits-hadits yang membicarakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga masuk pasar, ayat Al-Qur’an pun membicarakan demikian (sehingga masuk pasar sebenarnya dibolehkan, tetapi jangan sampai melupakan ibadah).”   Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari Hal ini tersurat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Tentang tafsiran ayat di atas, para ulama berbeda pandangan. Pendapat pertama, menyatakan bahwa yang boleh ditampakkan adalah pakaian saja, berarti perhiasan lainnya tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat kedua, yang dimaksud perhiasan wanita adalah celak dan henna, serta perhiasan semisal itu. Sehingga perhiasan semacam ini tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat ketiga, yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan. Selain itu berarti wajib tertutup. Lihat bahasan At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur, hlm. 186-187. Baca juga: Pengertian Perhiasan Wanita dari Bahasan Surah An-Nuur Apalagi di pasar begitu bebas campur baur antara laki-laki dan perempuan dan sangat sulit dihindari, sehingga menutup aurat itu sangat-sangat urgen.   Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 1. Bersikap pertengahan, jangan terlalu boros dan jangan serba kekurangan. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67) 2. Buat rencana belanja sebelum masuk pasar. 3. Berbelanja sesuai kebutuhan, yang didahulukan adalah kebutuhan primer (dhoruri: jika tidak ada, bisa binasa), lalu kebutuhan sekunder (haaji: jika tidak ada, tetap bisa hidup, tetapi penuh kesulitan), lalu kebutuhan tersier (tahsini, pelengkap saja). 4. Belanja sesuai kemampuan. 5. Berbelanja dengan bijak. 6. Selama ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan, tidak mesti membeli yang baru. 7. Jangan sampai berbelanja dengan berutang.   Kelima: Berlaku jujur dan amanah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah.” (HR. Bukhari, no. 2682 dan Muslim, no. 59) Baca juga: Berlakulah Jujur! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sahih dilihat dari jalur lain). Baca juga: Berkah Kejujuran dalam Bisnis Mencari Orang yang Jujur itu Sulit   Keenam: Menundukkan pandangan Dalam ayat disebutkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ , وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30-31) Baca juga: Manfaat Menundukkan Pandangan Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Mereka menyatakan, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama.” Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam, dan amar makruf nahi mungkar.” (HR. Bukhari, no. 2465) Demikian berbagai adab saat di pasar. Semoga kita senantiasa mendapatkan keberkahan dan dijauhi dari mara bahaya. – Rohan Jogja, 4 Dzulqa’dah 1443 H, 3 Juni 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab masuk pasar aturan jual beli belanja halal haram pasar shalat jumat tips belanja


Mari kita praktikkan enam adab ketika masuk pasar (termasuk mal, swalayan, supermarket) agar mendapat keberkahan dan terhindar dari mara bahaya.   Daftar Isi tutup 1. Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan 2. Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah 3. Adab-Adab Ketika Masuk Pasar 3.1. Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar 3.2. Kedua: Masuk pasar itu seperlunya 3.3. Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari 3.4. Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 3.5. Kelima: Berlaku jujur dan amanah 3.6. Keenam: Menundukkan pandangan   Pasar itu Tempat Berbagai Kerusakan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا. “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Imam Yahya bin Syarf An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits di atas, قَوْلُهُ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا لِأَنَّهَا بُيُوتُ الطَّاعَاتِ وَأَسَاسُهَا عَلَى التَّقْوَى قَوْلُهُ وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ وَالمَسَاجِدُ مَحَلُّ نُزُوْلِ الرَّحْمَةِ ، وَالأَسْوَاقُ ضِدُّهَا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid’ karena masjid merupakan tempat ketaatan dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, pengelabuan, riba, janji-janji palsu, pengingkaran janji, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya. Adapun masjid adalah tempat turunnya rahmat, berbeda halnya dengan pasar.”   Jual Beli Bisa Melalaikan dari Ibadah Perhatikan ayat yang membicarakan tentang kewajiban melakukan shalat Jumat dan perintah meninggalkan jual beli, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9). Baca juga: Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Pelajaran Penting dari Ayat Shalat Jumat Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (7:279) karya Imam Ibnu Katsir rahimahullah disebutkan bahwa sebab turunnya ayat, وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah)” (QS. Jumu’ah: 11), sebagaimana kisah yang disebutkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhotbah pada hari Jumat, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang saja.” (HR. Muslim, no. 863). Baca juga: Hikmah Larangan Jual Beli Saat Shalat Jumat Shalat Jumat Kurang Dari 40 Orang Masih Sahkah?   Dengan penjelasan di atas, penting sekali diperhatikan adab-adab ketika masuk pasar agar kita mendapatkan berkah dan terhindar dari mara bahaya.   Adab-Adab Ketika Masuk Pasar Pertama: Berdzikir ketika masuk pasar Dalam hadits disebutkan bahwa hendaklah lisan kita selalu basah dengan dzikir kepada Allah. Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » “Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad, 4:188, sanad sahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Baca juga: Penjelasan Hadits, Lisan Selalu Basah dengan Dzikir Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir kepada Allah, maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar, lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524). Di sini dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak. Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al-Hambali setelah membawahkan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:524. Para ulama menganjurkan membaca dzikir: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIIT WA HUWA HAYYU LAA YAMUUT BI YADIHIL KHOIR WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR ketika masuk pasar. Menurut sebagian ulama, dzikir ini berasal dari hadits yang tidak sahih. Namun, karena perintah dzikir yang disebutkan itu umum di mana pun tetap dianjurkan berdzikir, maka dzikir tadi boleh dibaca tanpa meyakini keistimewaannya. Dzikir akan mendatangkan rasa takut kepada Allah dan semakin menundukkan diri kepada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah. Demikian kata Ibnul Qayyim mengenai keutamaan dzikir dalam kitab Al-Waabil Ash-Shoyyib. Ini menunjukkan bahwa jika seorang muslim rajin mengingat Allah di pasar, ia berarti akan mengindahkan aturan Allah, tidak berbuat curang, takut dusta dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Jika demikian, perniagannya akan semakin berkah. Baca juga: Mengingat Allah di Pasar dan Doa Masuk Pasar Ibnu Batthal rahimahullah berkata bahwa dzikir di pasar adalah amalan yang afdal dalam kalimat beliau, “هذا إنما خرج على الأغلب ؛ لأن المساجد يذكر فيه اسم الله تعالى ، والأسواق قد غلب عليها اللغط واللهو والاشتغال بجمع المال ، والكَلَب على الدنيا من الوجه المباح وغيره ، وأما إذا ذُكر الله في السوق فهو من أفضل الأعمال”. “Inilah yang berlaku umum bahwa masjid itu di dalamnya disibukkan dengan dzikir kepada Allah. Adapun pasar-pasar di dalamnya terdapat perkataan sia-sia, hal sia-sia, hanya sibuk dengan mengumpulkan harta. Itulah pada umumnya. Akhirnya yang ada di pasar adalah sibuk dengan dunia, walau itu mubah. Sehingga berdzikir kepada Allah ketika di pasar adalah amalan yang paling utama (afdal).” (Syarh Shahih Al-Bukhari, 6:249)   Kedua: Masuk pasar itu seperlunya Apabila hendak membeli sesuatu di pasar hendaknya pembeli tidak berlama-lama di dalamnya. Hal ini lantaran banyaknya maksiat, kecurangan dan perbuatan sia-sia sehingga amalan kebaikan di dalamnya sangat sedikit. Banyak pula wanita dan laki-laki yang memamerkan dirinya dengan berbagai jenis perhiasan dan pakaian mewah. Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu berkata, لاَ تَكُونَنَّ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ، وَلاَ آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ “Jika Anda mampu, janganlah menjadi orang yang pertama kali masuk pasar. Jangan pula menjadi yang terakhir keluar dari pasar. Sebab pasar adalah tempat perangnya setan, di sanalah ia menancapkan benderanya.” (HR Muslim, no. 2451) Namun, masuk pasar ketika butuh tidaklah disebut makruh. Allah menyifati Rasulullah dalam ayat, وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan: 20) Para sahabat juga berdagang di pasar-pasar. Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah masuk pasar pada hari-hari tasyrik sambil bertakbir. Akhirnya, orang-orang di pasar ikut bertakbir. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ berkata bahwa Al-Mawardi dan selainnya berkata, الذم لمن أكثر ملازمة السوق وصرف أكثر الأوقات إليها والاشتغال بها عن العبادة، وهذا كما قالوه لثبوت الأحاديث في دخول النبي صلى الله عليه وسلم الأسواق مع نص القرآن “Adapun celaan itu didapati bagi mereka yang terlalu sibuk di pasar dan kebanyakan waktu habis dengan kegiatan di pasar sehingga melupakan ibadah. Inilah yang dimaksud karena ada hadits-hadits yang membicarakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga masuk pasar, ayat Al-Qur’an pun membicarakan demikian (sehingga masuk pasar sebenarnya dibolehkan, tetapi jangan sampai melupakan ibadah).”   Ketiga: Wanita yang ke pasar hendaknya memakai pakaian syari Hal ini tersurat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31) Tentang tafsiran ayat di atas, para ulama berbeda pandangan. Pendapat pertama, menyatakan bahwa yang boleh ditampakkan adalah pakaian saja, berarti perhiasan lainnya tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat kedua, yang dimaksud perhiasan wanita adalah celak dan henna, serta perhiasan semisal itu. Sehingga perhiasan semacam ini tidaklah boleh ditampakkan. Pendapat ketiga, yang boleh ditampakkan adalah wajah dan telapak tangan. Selain itu berarti wajib tertutup. Lihat bahasan At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Surah An-Nuur, hlm. 186-187. Baca juga: Pengertian Perhiasan Wanita dari Bahasan Surah An-Nuur Apalagi di pasar begitu bebas campur baur antara laki-laki dan perempuan dan sangat sulit dihindari, sehingga menutup aurat itu sangat-sangat urgen.   Keempat: Cara Berbelanja Perlu Diatur 1. Bersikap pertengahan, jangan terlalu boros dan jangan serba kekurangan. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67) 2. Buat rencana belanja sebelum masuk pasar. 3. Berbelanja sesuai kebutuhan, yang didahulukan adalah kebutuhan primer (dhoruri: jika tidak ada, bisa binasa), lalu kebutuhan sekunder (haaji: jika tidak ada, tetap bisa hidup, tetapi penuh kesulitan), lalu kebutuhan tersier (tahsini, pelengkap saja). 4. Belanja sesuai kemampuan. 5. Berbelanja dengan bijak. 6. Selama ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan, tidak mesti membeli yang baru. 7. Jangan sampai berbelanja dengan berutang.   Kelima: Berlaku jujur dan amanah Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ “Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah.” (HR. Bukhari, no. 2682 dan Muslim, no. 59) Baca juga: Berlakulah Jujur! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sahih dilihat dari jalur lain). Baca juga: Berkah Kejujuran dalam Bisnis Mencari Orang yang Jujur itu Sulit   Keenam: Menundukkan pandangan Dalam ayat disebutkan, قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗإِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ , وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30-31) Baca juga: Manfaat Menundukkan Pandangan Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ » “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Mereka menyatakan, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama.” Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam, dan amar makruf nahi mungkar.” (HR. Bukhari, no. 2465) Demikian berbagai adab saat di pasar. Semoga kita senantiasa mendapatkan keberkahan dan dijauhi dari mara bahaya. – Rohan Jogja, 4 Dzulqa’dah 1443 H, 3 Juni 2022 Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsadab masuk pasar aturan jual beli belanja halal haram pasar shalat jumat tips belanja

Begini 3 Cara Allah Mengabulkan Doamu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syumai’ir #NasehatUlama

Begini 3 Cara Allah Mengabulkan Doamu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syumai’ir #NasehatUlama Seorang hamba, apabila berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (PERTAMA) Doanya, adakalanya dikabulkan, sebagaimana yang dia minta, (KEDUA) atau doanya naik ke langit, dan beradu dengan qada yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan, yaitu berupa keburukan yang akan menimpanya atau anak-anaknya, sehingga doa itu menolak takdir buruk tersebut, walaupun dia tidak mengetahui takdir buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis. Itulah sebabnya Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menolak takdir, kecuali doa.” (HR. Tirmizi) Yaitu semua doa, baik doa ketika terjadi sesuatu, atau doa apa pun itu. (KETIGA) Kemungkinan ketiga, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan menyimpan doanya itu, dan menjadikannya simpanan pahala bagi orang yang berdoa itu, pada hari Kiamat. Oleh karena itu, wahai saudaraku, teruslah engkau berdoa kepada Allah! Jangan kau putus asa, karena, sebenarnya, Allah mengabulkan semua doa yang kau ucapkan. Allah Mahatahu yang terbaik untuk dirimu. ================================================================================ وَالْمَرْءُ إِذَا دَعَا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ دُعَاءَهُ إِمَّا أَنْ يُسْتَجَابَ بِعَيْنِهِ وَإِمَّا أَنْ يَرْتَفِعَ إِلَى السَّمَاءِ فَيَخْتَلِجُ مَعَ الْقَضَاءِ الَّذِي نَزَّلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ سُوءٍ عَلَيْهِ وَعَلَى أَبْنَائِهِ فَيَمْنَعُ الدُّعَاءُ الْقَدَرَ السَّيِّئَ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمَرْءُ عَالِمًا بِهَذَا الْقَدَرِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الْدُعَاءُ أَيْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ سَوَاءً بِحِينِ الشَّيْءِ أَوْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ وَالْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ هَذَا الدُّعَاءَ وَيَجْعَلُهُ ذُخْرًا لِلدَّاعِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ  

Begini 3 Cara Allah Mengabulkan Doamu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syumai’ir #NasehatUlama

Begini 3 Cara Allah Mengabulkan Doamu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syumai’ir #NasehatUlama Seorang hamba, apabila berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (PERTAMA) Doanya, adakalanya dikabulkan, sebagaimana yang dia minta, (KEDUA) atau doanya naik ke langit, dan beradu dengan qada yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan, yaitu berupa keburukan yang akan menimpanya atau anak-anaknya, sehingga doa itu menolak takdir buruk tersebut, walaupun dia tidak mengetahui takdir buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis. Itulah sebabnya Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menolak takdir, kecuali doa.” (HR. Tirmizi) Yaitu semua doa, baik doa ketika terjadi sesuatu, atau doa apa pun itu. (KETIGA) Kemungkinan ketiga, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan menyimpan doanya itu, dan menjadikannya simpanan pahala bagi orang yang berdoa itu, pada hari Kiamat. Oleh karena itu, wahai saudaraku, teruslah engkau berdoa kepada Allah! Jangan kau putus asa, karena, sebenarnya, Allah mengabulkan semua doa yang kau ucapkan. Allah Mahatahu yang terbaik untuk dirimu. ================================================================================ وَالْمَرْءُ إِذَا دَعَا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ دُعَاءَهُ إِمَّا أَنْ يُسْتَجَابَ بِعَيْنِهِ وَإِمَّا أَنْ يَرْتَفِعَ إِلَى السَّمَاءِ فَيَخْتَلِجُ مَعَ الْقَضَاءِ الَّذِي نَزَّلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ سُوءٍ عَلَيْهِ وَعَلَى أَبْنَائِهِ فَيَمْنَعُ الدُّعَاءُ الْقَدَرَ السَّيِّئَ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمَرْءُ عَالِمًا بِهَذَا الْقَدَرِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الْدُعَاءُ أَيْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ سَوَاءً بِحِينِ الشَّيْءِ أَوْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ وَالْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ هَذَا الدُّعَاءَ وَيَجْعَلُهُ ذُخْرًا لِلدَّاعِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ  
Begini 3 Cara Allah Mengabulkan Doamu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syumai’ir #NasehatUlama Seorang hamba, apabila berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (PERTAMA) Doanya, adakalanya dikabulkan, sebagaimana yang dia minta, (KEDUA) atau doanya naik ke langit, dan beradu dengan qada yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan, yaitu berupa keburukan yang akan menimpanya atau anak-anaknya, sehingga doa itu menolak takdir buruk tersebut, walaupun dia tidak mengetahui takdir buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis. Itulah sebabnya Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menolak takdir, kecuali doa.” (HR. Tirmizi) Yaitu semua doa, baik doa ketika terjadi sesuatu, atau doa apa pun itu. (KETIGA) Kemungkinan ketiga, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan menyimpan doanya itu, dan menjadikannya simpanan pahala bagi orang yang berdoa itu, pada hari Kiamat. Oleh karena itu, wahai saudaraku, teruslah engkau berdoa kepada Allah! Jangan kau putus asa, karena, sebenarnya, Allah mengabulkan semua doa yang kau ucapkan. Allah Mahatahu yang terbaik untuk dirimu. ================================================================================ وَالْمَرْءُ إِذَا دَعَا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ دُعَاءَهُ إِمَّا أَنْ يُسْتَجَابَ بِعَيْنِهِ وَإِمَّا أَنْ يَرْتَفِعَ إِلَى السَّمَاءِ فَيَخْتَلِجُ مَعَ الْقَضَاءِ الَّذِي نَزَّلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ سُوءٍ عَلَيْهِ وَعَلَى أَبْنَائِهِ فَيَمْنَعُ الدُّعَاءُ الْقَدَرَ السَّيِّئَ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمَرْءُ عَالِمًا بِهَذَا الْقَدَرِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الْدُعَاءُ أَيْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ سَوَاءً بِحِينِ الشَّيْءِ أَوْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ وَالْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ هَذَا الدُّعَاءَ وَيَجْعَلُهُ ذُخْرًا لِلدَّاعِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ  


Begini 3 Cara Allah Mengabulkan Doamu – Syaikh Abdus Salam Asy-Syumai’ir #NasehatUlama Seorang hamba, apabila berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (PERTAMA) Doanya, adakalanya dikabulkan, sebagaimana yang dia minta, (KEDUA) atau doanya naik ke langit, dan beradu dengan qada yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan, yaitu berupa keburukan yang akan menimpanya atau anak-anaknya, sehingga doa itu menolak takdir buruk tersebut, walaupun dia tidak mengetahui takdir buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis. Itulah sebabnya Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menolak takdir, kecuali doa.” (HR. Tirmizi) Yaitu semua doa, baik doa ketika terjadi sesuatu, atau doa apa pun itu. (KETIGA) Kemungkinan ketiga, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan menyimpan doanya itu, dan menjadikannya simpanan pahala bagi orang yang berdoa itu, pada hari Kiamat. Oleh karena itu, wahai saudaraku, teruslah engkau berdoa kepada Allah! Jangan kau putus asa, karena, sebenarnya, Allah mengabulkan semua doa yang kau ucapkan. Allah Mahatahu yang terbaik untuk dirimu. ================================================================================ وَالْمَرْءُ إِذَا دَعَا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ دُعَاءَهُ إِمَّا أَنْ يُسْتَجَابَ بِعَيْنِهِ وَإِمَّا أَنْ يَرْتَفِعَ إِلَى السَّمَاءِ فَيَخْتَلِجُ مَعَ الْقَضَاءِ الَّذِي نَزَّلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ سُوءٍ عَلَيْهِ وَعَلَى أَبْنَائِهِ فَيَمْنَعُ الدُّعَاءُ الْقَدَرَ السَّيِّئَ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْمَرْءُ عَالِمًا بِهَذَا الْقَدَرِ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الْدُعَاءُ أَيْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ سَوَاءً بِحِينِ الشَّيْءِ أَوْ مُطْلَقُ الدُّعَاءِ وَالْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ هَذَا الدُّعَاءَ وَيَجْعَلُهُ ذُخْرًا لِلدَّاعِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ  

Khotbah Jumat: 3 Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Yusuf

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan juga para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan seluruh ketaatan yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita, maupun meninggalkan seluruh larangan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Saudaraku seiman, jemaah salat jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah, bahwa di dalam kisah-kisah orang terdahulu pasti terdapat sebuah pelajaran dan di setiap kabar mengenai mereka yang hidup di masa lampau pasti memiliki nasehat yang bisa kita petik.Oleh karenanya, Al-Quran memiliki porsi khusus yang mengandung kisah umat-umat terdahulu, kisah-kisah tentang para nabi terdahulu. Allah Ta’ala  berfirman,وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu. Dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala mengatakan,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya Engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah JumatKisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an sejatinya adalah media pembelajaran yang akan menguatkan pikiran serta meluruskan akhlak. Pada hari yang diberkahi ini, kita akan bersama-sama sejenak menyelami dan menyimak kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, kisah yang indah, enak didengar, dan mudah dicerna bagi mereka yang memiliki hati yang lurus. Sungguh ia merupakan kisah yang sarat akan pelajaran berharga. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.” (QS. Yusuf: 7)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Sesungguhnya hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Yusuf ‘alaihis salam sangatlah banyak, sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk membahasnya. Namun, pada kesempatan ini kita hanya akan mengambil 3 pelajaran saja.Pelajaran pertama: Kehidupan ini Allah ciptakan penuh dengan rasa gundah gulana, lelah, dan kesedihan.Tidak ada kenikmatan dan ketenangan hidup yang abadi, karena keadaan sangatlah cepat berganti dan akan berubah terus menerus. Apa yang menimpa nabi Yusuf ‘alaihis salam bukanlah perkara yang mudah dan remeh. Beliau menghadapi permusuhan saudara-saudaranya, kerasnya mereka, dan tipu daya mereka. Sampai-sampai ia dijual kemudian dibeli dengan harga yang rendah. Allah Ta’ala berfirman,وَجَاۤءَتْ سَيَّارَةٌ فَاَرْسَلُوْا وَارِدَهُمْ فَاَدْلٰى دَلْوَهٗ ۗقَالَ يٰبُشْرٰى هٰذَا غُلٰمٌ ۗوَاَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَعْمَلُوْنَ  * وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزَّاهِدِيْنَ ࣖ“Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, ‘Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda!’ Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.” (QS. Yusuf: 19-20)Sungguh, jika kita melihat dan berkaca dengan apa yang menimpa Yusuf ‘alaihis salam, tentu saja diri kita akan lebih bersyukur, karena apa yang menimpanya tidak sebanding dengan musibah yang kita rasakan.Nabi Yusuf juga mengajarkan bahwa rasa tenteram, lapang, dan rida (yang mana semuanya tersebut merupakan kunci kebahagiaan) tidak dapat diukur dengan ukuran materi. Karena perasaan tersebut merupakan karunia Allah yang Ia berikan kepada hamba-Nya yang ia inginkan. Bahkan, ketenteraman tersebut seringkali bisa dirasakan pada kondisi kerasnya dan sempitnya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman mengenai wali-wali-Nya,اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ * اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ * لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62-64)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala, di setiap takdir dan keputusan Allah pasti ada hikmahnya. Pada kisah nabi Yusuf kita saksikan, jika saja ia tidak dilemparkan ke dalam sumur, maka Yusuf tidak akan pernah memasuki negeri Mesir. Jika nabi Yusuf tidak di penjara, maka ia tidak diberi amanah sebagai bendaharawan negeri Mesir. Rahmat Allah terkadang turun di sela-sela pedihnya cobaan. Sebuah karunia terkadang muncul karena kerasnya keadaan. Lihatlah apa yang dikatakan Yusuf ‘alaihis salam setelah Allah memberikan kedudukan kepadanya, وَقَالَ یَـٰۤأَبَتِ هَـٰذَا تَأۡوِیلُ رُءۡیَـٰیَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّی حَقࣰّاۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِیۤ إِذۡ أَخۡرَجَنِی مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَاۤءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بَیۡنِی وَبَیۡنَ إِخۡوَتِیۤۚ إِنَّ رَبِّی لَطِیفࣱ لِّمَا یَشَاۤءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِیمُ ٱلۡحَكِیمُ رَبِّ قَدۡ ءَاتَیۡتَنِی مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِی مِن تَأۡوِیلِ ٱلۡأَحَادِیثِۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِیِّۦ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ تَوَفَّنِی مُسۡلِمࣰا وَأَلۡحِقۡنِی بِٱلصَّـٰلِحِینَ“Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 100-101)Baca Juga:  Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanJemaah salat Jumat yang berbahagia,Pelajaran kedua: Semua karunia datangnya dari Allah Ta’ala bukan dari yang lain.Oleh sebab itu, wajib hukumnya untuk mensyukuri semua karunia dan kenikmatan tersebut. Allahlah satu-satunya yang juga akan menghilangkan keburukan dan cobaan dari manusia. Oleh karenanya, Yusuf ‘alaihis salam berdoa,رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ * فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka, Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf 33-34)Di dalam kisah Yusuf ini Allah juga menegaskan bahwa diri-Nya sendiri yang akan memberikan jalan keluar dan solusi dari sebuah kesulitan. Allah Ta’ala berfirman menceritakan perihal nabi Yusuf ‘alaihis salam,قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)Jemaah salat jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,Ketahuilah sesungguhnya pelajaran paling berharga dari kisah Yusuf adalah: Kemampuan dan profesionalisme sangatlah dituntut di dalam agama Islam, serta keduanya sangatlah dibutuhkan di dalam kehidupan.Saat Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengetahui bahwa ia mampu dan memiliki kapasitas untuk sebuah kedudukan yang agung, ia pun memilih kedudukan tersebut,قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir). Karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).Sungguh, itu adalah kedudukan yang dipenuhi dengan kepercayaan dan rasa tanggung jawab, bukan kedudukan yang ingin dicapai hanya karena ingin bermewah-mewahan dan haus pujian. Nabi Yusuf meminta hal tersebut dengan dasar baiknya agamanya serta rasa penuh tanggung jawabnya. Kalau ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih layak, tentu ia tidak akan memintanya.Di dalam kisah tentang amanah yang dipikul nabi Yusuf ini juga mengandung pelajaran bagi mereka yang haus jabatan dan kedudukan. Sungguh jabatan dan kedudukan walaupun itu dipandang remeh oleh sebagian mata, sejatinya itu adalah amanah yang sangat berat, tidak semua punggung kuat dan tahan di dalam memikulnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR. Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142)Semoga Allah Ta’ala menjaga para pemimpin kaum muslimin, menjadikan mereka pemimpin yang menunaikan kewajiban, amanah, dan tidak haus akan pujian. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita rakyat yang baik, taat kepada pemimpinnya serta taat dalam beribadah. Amiin ya Rabbal aalamiin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Panjangkan Salat dan Pendekkan Khutbah JumatMenyampaikan Ceramah (Khutbah) di Pemakaman***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Doa Ingin Mati, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Makna Takbir, Ceramah Mualaf Mantan PendetaTags: khutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: 3 Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Yusuf

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan juga para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan seluruh ketaatan yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita, maupun meninggalkan seluruh larangan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Saudaraku seiman, jemaah salat jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah, bahwa di dalam kisah-kisah orang terdahulu pasti terdapat sebuah pelajaran dan di setiap kabar mengenai mereka yang hidup di masa lampau pasti memiliki nasehat yang bisa kita petik.Oleh karenanya, Al-Quran memiliki porsi khusus yang mengandung kisah umat-umat terdahulu, kisah-kisah tentang para nabi terdahulu. Allah Ta’ala  berfirman,وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu. Dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala mengatakan,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya Engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah JumatKisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an sejatinya adalah media pembelajaran yang akan menguatkan pikiran serta meluruskan akhlak. Pada hari yang diberkahi ini, kita akan bersama-sama sejenak menyelami dan menyimak kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, kisah yang indah, enak didengar, dan mudah dicerna bagi mereka yang memiliki hati yang lurus. Sungguh ia merupakan kisah yang sarat akan pelajaran berharga. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.” (QS. Yusuf: 7)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Sesungguhnya hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Yusuf ‘alaihis salam sangatlah banyak, sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk membahasnya. Namun, pada kesempatan ini kita hanya akan mengambil 3 pelajaran saja.Pelajaran pertama: Kehidupan ini Allah ciptakan penuh dengan rasa gundah gulana, lelah, dan kesedihan.Tidak ada kenikmatan dan ketenangan hidup yang abadi, karena keadaan sangatlah cepat berganti dan akan berubah terus menerus. Apa yang menimpa nabi Yusuf ‘alaihis salam bukanlah perkara yang mudah dan remeh. Beliau menghadapi permusuhan saudara-saudaranya, kerasnya mereka, dan tipu daya mereka. Sampai-sampai ia dijual kemudian dibeli dengan harga yang rendah. Allah Ta’ala berfirman,وَجَاۤءَتْ سَيَّارَةٌ فَاَرْسَلُوْا وَارِدَهُمْ فَاَدْلٰى دَلْوَهٗ ۗقَالَ يٰبُشْرٰى هٰذَا غُلٰمٌ ۗوَاَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَعْمَلُوْنَ  * وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزَّاهِدِيْنَ ࣖ“Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, ‘Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda!’ Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.” (QS. Yusuf: 19-20)Sungguh, jika kita melihat dan berkaca dengan apa yang menimpa Yusuf ‘alaihis salam, tentu saja diri kita akan lebih bersyukur, karena apa yang menimpanya tidak sebanding dengan musibah yang kita rasakan.Nabi Yusuf juga mengajarkan bahwa rasa tenteram, lapang, dan rida (yang mana semuanya tersebut merupakan kunci kebahagiaan) tidak dapat diukur dengan ukuran materi. Karena perasaan tersebut merupakan karunia Allah yang Ia berikan kepada hamba-Nya yang ia inginkan. Bahkan, ketenteraman tersebut seringkali bisa dirasakan pada kondisi kerasnya dan sempitnya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman mengenai wali-wali-Nya,اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ * اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ * لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62-64)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala, di setiap takdir dan keputusan Allah pasti ada hikmahnya. Pada kisah nabi Yusuf kita saksikan, jika saja ia tidak dilemparkan ke dalam sumur, maka Yusuf tidak akan pernah memasuki negeri Mesir. Jika nabi Yusuf tidak di penjara, maka ia tidak diberi amanah sebagai bendaharawan negeri Mesir. Rahmat Allah terkadang turun di sela-sela pedihnya cobaan. Sebuah karunia terkadang muncul karena kerasnya keadaan. Lihatlah apa yang dikatakan Yusuf ‘alaihis salam setelah Allah memberikan kedudukan kepadanya, وَقَالَ یَـٰۤأَبَتِ هَـٰذَا تَأۡوِیلُ رُءۡیَـٰیَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّی حَقࣰّاۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِیۤ إِذۡ أَخۡرَجَنِی مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَاۤءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بَیۡنِی وَبَیۡنَ إِخۡوَتِیۤۚ إِنَّ رَبِّی لَطِیفࣱ لِّمَا یَشَاۤءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِیمُ ٱلۡحَكِیمُ رَبِّ قَدۡ ءَاتَیۡتَنِی مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِی مِن تَأۡوِیلِ ٱلۡأَحَادِیثِۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِیِّۦ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ تَوَفَّنِی مُسۡلِمࣰا وَأَلۡحِقۡنِی بِٱلصَّـٰلِحِینَ“Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 100-101)Baca Juga:  Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanJemaah salat Jumat yang berbahagia,Pelajaran kedua: Semua karunia datangnya dari Allah Ta’ala bukan dari yang lain.Oleh sebab itu, wajib hukumnya untuk mensyukuri semua karunia dan kenikmatan tersebut. Allahlah satu-satunya yang juga akan menghilangkan keburukan dan cobaan dari manusia. Oleh karenanya, Yusuf ‘alaihis salam berdoa,رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ * فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka, Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf 33-34)Di dalam kisah Yusuf ini Allah juga menegaskan bahwa diri-Nya sendiri yang akan memberikan jalan keluar dan solusi dari sebuah kesulitan. Allah Ta’ala berfirman menceritakan perihal nabi Yusuf ‘alaihis salam,قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)Jemaah salat jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,Ketahuilah sesungguhnya pelajaran paling berharga dari kisah Yusuf adalah: Kemampuan dan profesionalisme sangatlah dituntut di dalam agama Islam, serta keduanya sangatlah dibutuhkan di dalam kehidupan.Saat Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengetahui bahwa ia mampu dan memiliki kapasitas untuk sebuah kedudukan yang agung, ia pun memilih kedudukan tersebut,قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir). Karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).Sungguh, itu adalah kedudukan yang dipenuhi dengan kepercayaan dan rasa tanggung jawab, bukan kedudukan yang ingin dicapai hanya karena ingin bermewah-mewahan dan haus pujian. Nabi Yusuf meminta hal tersebut dengan dasar baiknya agamanya serta rasa penuh tanggung jawabnya. Kalau ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih layak, tentu ia tidak akan memintanya.Di dalam kisah tentang amanah yang dipikul nabi Yusuf ini juga mengandung pelajaran bagi mereka yang haus jabatan dan kedudukan. Sungguh jabatan dan kedudukan walaupun itu dipandang remeh oleh sebagian mata, sejatinya itu adalah amanah yang sangat berat, tidak semua punggung kuat dan tahan di dalam memikulnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR. Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142)Semoga Allah Ta’ala menjaga para pemimpin kaum muslimin, menjadikan mereka pemimpin yang menunaikan kewajiban, amanah, dan tidak haus akan pujian. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita rakyat yang baik, taat kepada pemimpinnya serta taat dalam beribadah. Amiin ya Rabbal aalamiin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Panjangkan Salat dan Pendekkan Khutbah JumatMenyampaikan Ceramah (Khutbah) di Pemakaman***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Doa Ingin Mati, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Makna Takbir, Ceramah Mualaf Mantan PendetaTags: khutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan juga para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan seluruh ketaatan yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita, maupun meninggalkan seluruh larangan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Saudaraku seiman, jemaah salat jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah, bahwa di dalam kisah-kisah orang terdahulu pasti terdapat sebuah pelajaran dan di setiap kabar mengenai mereka yang hidup di masa lampau pasti memiliki nasehat yang bisa kita petik.Oleh karenanya, Al-Quran memiliki porsi khusus yang mengandung kisah umat-umat terdahulu, kisah-kisah tentang para nabi terdahulu. Allah Ta’ala  berfirman,وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu. Dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala mengatakan,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya Engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah JumatKisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an sejatinya adalah media pembelajaran yang akan menguatkan pikiran serta meluruskan akhlak. Pada hari yang diberkahi ini, kita akan bersama-sama sejenak menyelami dan menyimak kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, kisah yang indah, enak didengar, dan mudah dicerna bagi mereka yang memiliki hati yang lurus. Sungguh ia merupakan kisah yang sarat akan pelajaran berharga. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.” (QS. Yusuf: 7)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Sesungguhnya hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Yusuf ‘alaihis salam sangatlah banyak, sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk membahasnya. Namun, pada kesempatan ini kita hanya akan mengambil 3 pelajaran saja.Pelajaran pertama: Kehidupan ini Allah ciptakan penuh dengan rasa gundah gulana, lelah, dan kesedihan.Tidak ada kenikmatan dan ketenangan hidup yang abadi, karena keadaan sangatlah cepat berganti dan akan berubah terus menerus. Apa yang menimpa nabi Yusuf ‘alaihis salam bukanlah perkara yang mudah dan remeh. Beliau menghadapi permusuhan saudara-saudaranya, kerasnya mereka, dan tipu daya mereka. Sampai-sampai ia dijual kemudian dibeli dengan harga yang rendah. Allah Ta’ala berfirman,وَجَاۤءَتْ سَيَّارَةٌ فَاَرْسَلُوْا وَارِدَهُمْ فَاَدْلٰى دَلْوَهٗ ۗقَالَ يٰبُشْرٰى هٰذَا غُلٰمٌ ۗوَاَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَعْمَلُوْنَ  * وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزَّاهِدِيْنَ ࣖ“Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, ‘Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda!’ Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.” (QS. Yusuf: 19-20)Sungguh, jika kita melihat dan berkaca dengan apa yang menimpa Yusuf ‘alaihis salam, tentu saja diri kita akan lebih bersyukur, karena apa yang menimpanya tidak sebanding dengan musibah yang kita rasakan.Nabi Yusuf juga mengajarkan bahwa rasa tenteram, lapang, dan rida (yang mana semuanya tersebut merupakan kunci kebahagiaan) tidak dapat diukur dengan ukuran materi. Karena perasaan tersebut merupakan karunia Allah yang Ia berikan kepada hamba-Nya yang ia inginkan. Bahkan, ketenteraman tersebut seringkali bisa dirasakan pada kondisi kerasnya dan sempitnya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman mengenai wali-wali-Nya,اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ * اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ * لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62-64)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala, di setiap takdir dan keputusan Allah pasti ada hikmahnya. Pada kisah nabi Yusuf kita saksikan, jika saja ia tidak dilemparkan ke dalam sumur, maka Yusuf tidak akan pernah memasuki negeri Mesir. Jika nabi Yusuf tidak di penjara, maka ia tidak diberi amanah sebagai bendaharawan negeri Mesir. Rahmat Allah terkadang turun di sela-sela pedihnya cobaan. Sebuah karunia terkadang muncul karena kerasnya keadaan. Lihatlah apa yang dikatakan Yusuf ‘alaihis salam setelah Allah memberikan kedudukan kepadanya, وَقَالَ یَـٰۤأَبَتِ هَـٰذَا تَأۡوِیلُ رُءۡیَـٰیَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّی حَقࣰّاۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِیۤ إِذۡ أَخۡرَجَنِی مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَاۤءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بَیۡنِی وَبَیۡنَ إِخۡوَتِیۤۚ إِنَّ رَبِّی لَطِیفࣱ لِّمَا یَشَاۤءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِیمُ ٱلۡحَكِیمُ رَبِّ قَدۡ ءَاتَیۡتَنِی مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِی مِن تَأۡوِیلِ ٱلۡأَحَادِیثِۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِیِّۦ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ تَوَفَّنِی مُسۡلِمࣰا وَأَلۡحِقۡنِی بِٱلصَّـٰلِحِینَ“Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 100-101)Baca Juga:  Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanJemaah salat Jumat yang berbahagia,Pelajaran kedua: Semua karunia datangnya dari Allah Ta’ala bukan dari yang lain.Oleh sebab itu, wajib hukumnya untuk mensyukuri semua karunia dan kenikmatan tersebut. Allahlah satu-satunya yang juga akan menghilangkan keburukan dan cobaan dari manusia. Oleh karenanya, Yusuf ‘alaihis salam berdoa,رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ * فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka, Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf 33-34)Di dalam kisah Yusuf ini Allah juga menegaskan bahwa diri-Nya sendiri yang akan memberikan jalan keluar dan solusi dari sebuah kesulitan. Allah Ta’ala berfirman menceritakan perihal nabi Yusuf ‘alaihis salam,قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)Jemaah salat jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,Ketahuilah sesungguhnya pelajaran paling berharga dari kisah Yusuf adalah: Kemampuan dan profesionalisme sangatlah dituntut di dalam agama Islam, serta keduanya sangatlah dibutuhkan di dalam kehidupan.Saat Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengetahui bahwa ia mampu dan memiliki kapasitas untuk sebuah kedudukan yang agung, ia pun memilih kedudukan tersebut,قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir). Karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).Sungguh, itu adalah kedudukan yang dipenuhi dengan kepercayaan dan rasa tanggung jawab, bukan kedudukan yang ingin dicapai hanya karena ingin bermewah-mewahan dan haus pujian. Nabi Yusuf meminta hal tersebut dengan dasar baiknya agamanya serta rasa penuh tanggung jawabnya. Kalau ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih layak, tentu ia tidak akan memintanya.Di dalam kisah tentang amanah yang dipikul nabi Yusuf ini juga mengandung pelajaran bagi mereka yang haus jabatan dan kedudukan. Sungguh jabatan dan kedudukan walaupun itu dipandang remeh oleh sebagian mata, sejatinya itu adalah amanah yang sangat berat, tidak semua punggung kuat dan tahan di dalam memikulnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR. Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142)Semoga Allah Ta’ala menjaga para pemimpin kaum muslimin, menjadikan mereka pemimpin yang menunaikan kewajiban, amanah, dan tidak haus akan pujian. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita rakyat yang baik, taat kepada pemimpinnya serta taat dalam beribadah. Amiin ya Rabbal aalamiin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Panjangkan Salat dan Pendekkan Khutbah JumatMenyampaikan Ceramah (Khutbah) di Pemakaman***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Doa Ingin Mati, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Makna Takbir, Ceramah Mualaf Mantan PendetaTags: khutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan juga para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan seluruh ketaatan yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita, maupun meninggalkan seluruh larangan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)Saudaraku seiman, jemaah salat jumat yang dirahmati Allah Ta’ala. Ketahuilah, bahwa di dalam kisah-kisah orang terdahulu pasti terdapat sebuah pelajaran dan di setiap kabar mengenai mereka yang hidup di masa lampau pasti memiliki nasehat yang bisa kita petik.Oleh karenanya, Al-Quran memiliki porsi khusus yang mengandung kisah umat-umat terdahulu, kisah-kisah tentang para nabi terdahulu. Allah Ta’ala  berfirman,وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu. Dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala mengatakan,نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya Engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)Baca Juga: Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah JumatKisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an sejatinya adalah media pembelajaran yang akan menguatkan pikiran serta meluruskan akhlak. Pada hari yang diberkahi ini, kita akan bersama-sama sejenak menyelami dan menyimak kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, kisah yang indah, enak didengar, dan mudah dicerna bagi mereka yang memiliki hati yang lurus. Sungguh ia merupakan kisah yang sarat akan pelajaran berharga. Allah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.” (QS. Yusuf: 7)Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Sesungguhnya hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Yusuf ‘alaihis salam sangatlah banyak, sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk membahasnya. Namun, pada kesempatan ini kita hanya akan mengambil 3 pelajaran saja.Pelajaran pertama: Kehidupan ini Allah ciptakan penuh dengan rasa gundah gulana, lelah, dan kesedihan.Tidak ada kenikmatan dan ketenangan hidup yang abadi, karena keadaan sangatlah cepat berganti dan akan berubah terus menerus. Apa yang menimpa nabi Yusuf ‘alaihis salam bukanlah perkara yang mudah dan remeh. Beliau menghadapi permusuhan saudara-saudaranya, kerasnya mereka, dan tipu daya mereka. Sampai-sampai ia dijual kemudian dibeli dengan harga yang rendah. Allah Ta’ala berfirman,وَجَاۤءَتْ سَيَّارَةٌ فَاَرْسَلُوْا وَارِدَهُمْ فَاَدْلٰى دَلْوَهٗ ۗقَالَ يٰبُشْرٰى هٰذَا غُلٰمٌ ۗوَاَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَعْمَلُوْنَ  * وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزَّاهِدِيْنَ ࣖ“Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, ‘Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda!’ Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.” (QS. Yusuf: 19-20)Sungguh, jika kita melihat dan berkaca dengan apa yang menimpa Yusuf ‘alaihis salam, tentu saja diri kita akan lebih bersyukur, karena apa yang menimpanya tidak sebanding dengan musibah yang kita rasakan.Nabi Yusuf juga mengajarkan bahwa rasa tenteram, lapang, dan rida (yang mana semuanya tersebut merupakan kunci kebahagiaan) tidak dapat diukur dengan ukuran materi. Karena perasaan tersebut merupakan karunia Allah yang Ia berikan kepada hamba-Nya yang ia inginkan. Bahkan, ketenteraman tersebut seringkali bisa dirasakan pada kondisi kerasnya dan sempitnya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman mengenai wali-wali-Nya,اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ * اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ * لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62-64)Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala, di setiap takdir dan keputusan Allah pasti ada hikmahnya. Pada kisah nabi Yusuf kita saksikan, jika saja ia tidak dilemparkan ke dalam sumur, maka Yusuf tidak akan pernah memasuki negeri Mesir. Jika nabi Yusuf tidak di penjara, maka ia tidak diberi amanah sebagai bendaharawan negeri Mesir. Rahmat Allah terkadang turun di sela-sela pedihnya cobaan. Sebuah karunia terkadang muncul karena kerasnya keadaan. Lihatlah apa yang dikatakan Yusuf ‘alaihis salam setelah Allah memberikan kedudukan kepadanya, وَقَالَ یَـٰۤأَبَتِ هَـٰذَا تَأۡوِیلُ رُءۡیَـٰیَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّی حَقࣰّاۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِیۤ إِذۡ أَخۡرَجَنِی مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَاۤءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بَیۡنِی وَبَیۡنَ إِخۡوَتِیۤۚ إِنَّ رَبِّی لَطِیفࣱ لِّمَا یَشَاۤءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِیمُ ٱلۡحَكِیمُ رَبِّ قَدۡ ءَاتَیۡتَنِی مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِی مِن تَأۡوِیلِ ٱلۡأَحَادِیثِۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِیِّۦ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ تَوَفَّنِی مُسۡلِمࣰا وَأَلۡحِقۡنِی بِٱلصَّـٰلِحِینَ“Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 100-101)Baca Juga:  Khutbah Jumat: Empat Dosa Besar yang Sering DiremehkanJemaah salat Jumat yang berbahagia,Pelajaran kedua: Semua karunia datangnya dari Allah Ta’ala bukan dari yang lain.Oleh sebab itu, wajib hukumnya untuk mensyukuri semua karunia dan kenikmatan tersebut. Allahlah satu-satunya yang juga akan menghilangkan keburukan dan cobaan dari manusia. Oleh karenanya, Yusuf ‘alaihis salam berdoa,رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ * فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka, Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf 33-34)Di dalam kisah Yusuf ini Allah juga menegaskan bahwa diri-Nya sendiri yang akan memberikan jalan keluar dan solusi dari sebuah kesulitan. Allah Ta’ala berfirman menceritakan perihal nabi Yusuf ‘alaihis salam,قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ“Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)Jemaah salat jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,Ketahuilah sesungguhnya pelajaran paling berharga dari kisah Yusuf adalah: Kemampuan dan profesionalisme sangatlah dituntut di dalam agama Islam, serta keduanya sangatlah dibutuhkan di dalam kehidupan.Saat Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengetahui bahwa ia mampu dan memiliki kapasitas untuk sebuah kedudukan yang agung, ia pun memilih kedudukan tersebut,قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir). Karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).Sungguh, itu adalah kedudukan yang dipenuhi dengan kepercayaan dan rasa tanggung jawab, bukan kedudukan yang ingin dicapai hanya karena ingin bermewah-mewahan dan haus pujian. Nabi Yusuf meminta hal tersebut dengan dasar baiknya agamanya serta rasa penuh tanggung jawabnya. Kalau ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih layak, tentu ia tidak akan memintanya.Di dalam kisah tentang amanah yang dipikul nabi Yusuf ini juga mengandung pelajaran bagi mereka yang haus jabatan dan kedudukan. Sungguh jabatan dan kedudukan walaupun itu dipandang remeh oleh sebagian mata, sejatinya itu adalah amanah yang sangat berat, tidak semua punggung kuat dan tahan di dalam memikulnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR. Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142)Semoga Allah Ta’ala menjaga para pemimpin kaum muslimin, menjadikan mereka pemimpin yang menunaikan kewajiban, amanah, dan tidak haus akan pujian. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita rakyat yang baik, taat kepada pemimpinnya serta taat dalam beribadah. Amiin ya Rabbal aalamiin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Baca Juga:Panjangkan Salat dan Pendekkan Khutbah JumatMenyampaikan Ceramah (Khutbah) di Pemakaman***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Doa Ingin Mati, Pengertian Maulid Nabi Menurut Islam, Makna Takbir, Ceramah Mualaf Mantan PendetaTags: khutbah jumatmateri khutbah jumatnasihatnasihat islamnaskah khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Minum Sambil Berdiri Tidak Haram

Sebagian dari kaum muslimin bisa jadi beranggapan bahwa minum sambil berdiri itu hukumnya tidak boleh (baca: haram). Bahkan ada yang melarang langsung dengan keras tanpa disertai sikap hikmah ketika dia melihat ada orang yang minum sambil berdiri. Perlu dipahami bahwa pendapat terkuat -yang kami pegang- bahwa minum sambil berdiri hukumnya tidak sampai haram, tetapi makruh, sehingga tetap lebih utama (afdal) untuk minum sambil duduk.Apabila ada hajat atau keadaan tidak memungkinkan untuk minum sambil duduk, maka tidak mengapa minum sambil berdiri, misalnya ketika sedang di jalan yang tidak memungkinkan duduk atau kondisi lainnya yang tidak memungkinkan duduk.Memang terdapat beberapa hadis yang zahirnya menunjukkan terlarangnya minum sambil berdiri. Misalnya hadis berikut ini. Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Namun, terdapat beberapa hadis juga yang menunjukkan bahwa minum sambil berdiri itu tidak mengapa. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah minum sambil berdiri, lalu beliau berkata,إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ ، وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ .“Orang-orang membenci apabila ada yang minum sambil berdiri. Sesungguhnya aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana apa yang aku lakukan.” (HR. Bukhari no. 5615)Hadis-hadis ini apabila dikompromikan (digabungkan) akan menghasilkan hukum makruh. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,لَيْسَ فِي هَذِهِ الأَحَادِيث بِحَمْدِ اللَّه تَعَالَى إِشْكَال , وَلا فِيهَا ضَعْف , بَلْ كُلّهَا صَحِيحَة , وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه . وَأَمَّا شُرْبه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ“Tidak ada masalah dari hadis-hadis tersebut -alhamdulillah-, tidak ada yang dhaif (lemah), bahkan sahih semuanya. Yang benar adalah bahwa larangan tersebut maksudnya adalah makruh. Adapun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam yang berdiri sambil minum menunjukkan bolehnya (ketika ada hajat, makruh menjadi boleh).” (Lihat Syarh Shahih Muslim)Baca Juga: Makan dan Minum Bukanlah Pembatal WudhuDemikian juga penjelasan Syekh Abdul Azis bin Baaz rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,الشرب قاعدًا أفضل، والشرب قائمًا لا بأس به، …  والقعود أفضل، “Minum sambil duduk itu lebih baik (utama), sedangkan minum sambil berdiri hukumnya tidak mengapa … Minum sambil duduk itu lebih baik (afdal).” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/15965)Hal yang hukumnya makruh itu boleh dilakukan jika ada hajat (kebutuhan), misalnya sulit untuk duduk, atau keadaan yang tidak memungkinkan lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau berkata,أن النهي للكراهة التنزيهية، وإن فعله صلى الله عليه وسلم بيان للجواز عند الحاجة“Larangan tersebut derajatnya makruh. Sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bolehnya ketika ada hajat.” (Lihat Zaadul Ma’ad)Kaidah fikihnya sebagai berikut,الكَرَاهَةُ تَزُوْلُ بِالحَاجَةِ“Sesuatu yang hukumnya makruh menjadi hilang (hukumnya) karena ada hajat (kebutuhan).”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Makan dan Minum di Dalam MasjidApakah Minum Nabeez (Rendaman Kurma) adalah Sunnah Ta’abbud?***@Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil menunggu syuru’Penulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Makna Sabar Dalam Islam, Ketentuan Shalat Jamak, Artikel Muslimah, Oleh Oleh UmrohTags: adabadab makanadab minumadab muslimadab muslimadab islambelajar adabfikihminum sambil berdirinasihatsunnah saat makansunnah saat minum

Minum Sambil Berdiri Tidak Haram

Sebagian dari kaum muslimin bisa jadi beranggapan bahwa minum sambil berdiri itu hukumnya tidak boleh (baca: haram). Bahkan ada yang melarang langsung dengan keras tanpa disertai sikap hikmah ketika dia melihat ada orang yang minum sambil berdiri. Perlu dipahami bahwa pendapat terkuat -yang kami pegang- bahwa minum sambil berdiri hukumnya tidak sampai haram, tetapi makruh, sehingga tetap lebih utama (afdal) untuk minum sambil duduk.Apabila ada hajat atau keadaan tidak memungkinkan untuk minum sambil duduk, maka tidak mengapa minum sambil berdiri, misalnya ketika sedang di jalan yang tidak memungkinkan duduk atau kondisi lainnya yang tidak memungkinkan duduk.Memang terdapat beberapa hadis yang zahirnya menunjukkan terlarangnya minum sambil berdiri. Misalnya hadis berikut ini. Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Namun, terdapat beberapa hadis juga yang menunjukkan bahwa minum sambil berdiri itu tidak mengapa. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah minum sambil berdiri, lalu beliau berkata,إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ ، وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ .“Orang-orang membenci apabila ada yang minum sambil berdiri. Sesungguhnya aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana apa yang aku lakukan.” (HR. Bukhari no. 5615)Hadis-hadis ini apabila dikompromikan (digabungkan) akan menghasilkan hukum makruh. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,لَيْسَ فِي هَذِهِ الأَحَادِيث بِحَمْدِ اللَّه تَعَالَى إِشْكَال , وَلا فِيهَا ضَعْف , بَلْ كُلّهَا صَحِيحَة , وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه . وَأَمَّا شُرْبه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ“Tidak ada masalah dari hadis-hadis tersebut -alhamdulillah-, tidak ada yang dhaif (lemah), bahkan sahih semuanya. Yang benar adalah bahwa larangan tersebut maksudnya adalah makruh. Adapun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam yang berdiri sambil minum menunjukkan bolehnya (ketika ada hajat, makruh menjadi boleh).” (Lihat Syarh Shahih Muslim)Baca Juga: Makan dan Minum Bukanlah Pembatal WudhuDemikian juga penjelasan Syekh Abdul Azis bin Baaz rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,الشرب قاعدًا أفضل، والشرب قائمًا لا بأس به، …  والقعود أفضل، “Minum sambil duduk itu lebih baik (utama), sedangkan minum sambil berdiri hukumnya tidak mengapa … Minum sambil duduk itu lebih baik (afdal).” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/15965)Hal yang hukumnya makruh itu boleh dilakukan jika ada hajat (kebutuhan), misalnya sulit untuk duduk, atau keadaan yang tidak memungkinkan lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau berkata,أن النهي للكراهة التنزيهية، وإن فعله صلى الله عليه وسلم بيان للجواز عند الحاجة“Larangan tersebut derajatnya makruh. Sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bolehnya ketika ada hajat.” (Lihat Zaadul Ma’ad)Kaidah fikihnya sebagai berikut,الكَرَاهَةُ تَزُوْلُ بِالحَاجَةِ“Sesuatu yang hukumnya makruh menjadi hilang (hukumnya) karena ada hajat (kebutuhan).”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Makan dan Minum di Dalam MasjidApakah Minum Nabeez (Rendaman Kurma) adalah Sunnah Ta’abbud?***@Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil menunggu syuru’Penulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Makna Sabar Dalam Islam, Ketentuan Shalat Jamak, Artikel Muslimah, Oleh Oleh UmrohTags: adabadab makanadab minumadab muslimadab muslimadab islambelajar adabfikihminum sambil berdirinasihatsunnah saat makansunnah saat minum
Sebagian dari kaum muslimin bisa jadi beranggapan bahwa minum sambil berdiri itu hukumnya tidak boleh (baca: haram). Bahkan ada yang melarang langsung dengan keras tanpa disertai sikap hikmah ketika dia melihat ada orang yang minum sambil berdiri. Perlu dipahami bahwa pendapat terkuat -yang kami pegang- bahwa minum sambil berdiri hukumnya tidak sampai haram, tetapi makruh, sehingga tetap lebih utama (afdal) untuk minum sambil duduk.Apabila ada hajat atau keadaan tidak memungkinkan untuk minum sambil duduk, maka tidak mengapa minum sambil berdiri, misalnya ketika sedang di jalan yang tidak memungkinkan duduk atau kondisi lainnya yang tidak memungkinkan duduk.Memang terdapat beberapa hadis yang zahirnya menunjukkan terlarangnya minum sambil berdiri. Misalnya hadis berikut ini. Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Namun, terdapat beberapa hadis juga yang menunjukkan bahwa minum sambil berdiri itu tidak mengapa. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah minum sambil berdiri, lalu beliau berkata,إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ ، وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ .“Orang-orang membenci apabila ada yang minum sambil berdiri. Sesungguhnya aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana apa yang aku lakukan.” (HR. Bukhari no. 5615)Hadis-hadis ini apabila dikompromikan (digabungkan) akan menghasilkan hukum makruh. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,لَيْسَ فِي هَذِهِ الأَحَادِيث بِحَمْدِ اللَّه تَعَالَى إِشْكَال , وَلا فِيهَا ضَعْف , بَلْ كُلّهَا صَحِيحَة , وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه . وَأَمَّا شُرْبه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ“Tidak ada masalah dari hadis-hadis tersebut -alhamdulillah-, tidak ada yang dhaif (lemah), bahkan sahih semuanya. Yang benar adalah bahwa larangan tersebut maksudnya adalah makruh. Adapun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam yang berdiri sambil minum menunjukkan bolehnya (ketika ada hajat, makruh menjadi boleh).” (Lihat Syarh Shahih Muslim)Baca Juga: Makan dan Minum Bukanlah Pembatal WudhuDemikian juga penjelasan Syekh Abdul Azis bin Baaz rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,الشرب قاعدًا أفضل، والشرب قائمًا لا بأس به، …  والقعود أفضل، “Minum sambil duduk itu lebih baik (utama), sedangkan minum sambil berdiri hukumnya tidak mengapa … Minum sambil duduk itu lebih baik (afdal).” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/15965)Hal yang hukumnya makruh itu boleh dilakukan jika ada hajat (kebutuhan), misalnya sulit untuk duduk, atau keadaan yang tidak memungkinkan lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau berkata,أن النهي للكراهة التنزيهية، وإن فعله صلى الله عليه وسلم بيان للجواز عند الحاجة“Larangan tersebut derajatnya makruh. Sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bolehnya ketika ada hajat.” (Lihat Zaadul Ma’ad)Kaidah fikihnya sebagai berikut,الكَرَاهَةُ تَزُوْلُ بِالحَاجَةِ“Sesuatu yang hukumnya makruh menjadi hilang (hukumnya) karena ada hajat (kebutuhan).”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Makan dan Minum di Dalam MasjidApakah Minum Nabeez (Rendaman Kurma) adalah Sunnah Ta’abbud?***@Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil menunggu syuru’Penulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Makna Sabar Dalam Islam, Ketentuan Shalat Jamak, Artikel Muslimah, Oleh Oleh UmrohTags: adabadab makanadab minumadab muslimadab muslimadab islambelajar adabfikihminum sambil berdirinasihatsunnah saat makansunnah saat minum


Sebagian dari kaum muslimin bisa jadi beranggapan bahwa minum sambil berdiri itu hukumnya tidak boleh (baca: haram). Bahkan ada yang melarang langsung dengan keras tanpa disertai sikap hikmah ketika dia melihat ada orang yang minum sambil berdiri. Perlu dipahami bahwa pendapat terkuat -yang kami pegang- bahwa minum sambil berdiri hukumnya tidak sampai haram, tetapi makruh, sehingga tetap lebih utama (afdal) untuk minum sambil duduk.Apabila ada hajat atau keadaan tidak memungkinkan untuk minum sambil duduk, maka tidak mengapa minum sambil berdiri, misalnya ketika sedang di jalan yang tidak memungkinkan duduk atau kondisi lainnya yang tidak memungkinkan duduk.Memang terdapat beberapa hadis yang zahirnya menunjukkan terlarangnya minum sambil berdiri. Misalnya hadis berikut ini. Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim)Namun, terdapat beberapa hadis juga yang menunjukkan bahwa minum sambil berdiri itu tidak mengapa. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah minum sambil berdiri, lalu beliau berkata,إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ ، وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ .“Orang-orang membenci apabila ada yang minum sambil berdiri. Sesungguhnya aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sebagaimana apa yang aku lakukan.” (HR. Bukhari no. 5615)Hadis-hadis ini apabila dikompromikan (digabungkan) akan menghasilkan hukum makruh. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,لَيْسَ فِي هَذِهِ الأَحَادِيث بِحَمْدِ اللَّه تَعَالَى إِشْكَال , وَلا فِيهَا ضَعْف , بَلْ كُلّهَا صَحِيحَة , وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه . وَأَمَّا شُرْبه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ“Tidak ada masalah dari hadis-hadis tersebut -alhamdulillah-, tidak ada yang dhaif (lemah), bahkan sahih semuanya. Yang benar adalah bahwa larangan tersebut maksudnya adalah makruh. Adapun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi  wasallam yang berdiri sambil minum menunjukkan bolehnya (ketika ada hajat, makruh menjadi boleh).” (Lihat Syarh Shahih Muslim)Baca Juga: Makan dan Minum Bukanlah Pembatal WudhuDemikian juga penjelasan Syekh Abdul Azis bin Baaz rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,الشرب قاعدًا أفضل، والشرب قائمًا لا بأس به، …  والقعود أفضل، “Minum sambil duduk itu lebih baik (utama), sedangkan minum sambil berdiri hukumnya tidak mengapa … Minum sambil duduk itu lebih baik (afdal).” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/15965)Hal yang hukumnya makruh itu boleh dilakukan jika ada hajat (kebutuhan), misalnya sulit untuk duduk, atau keadaan yang tidak memungkinkan lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau berkata,أن النهي للكراهة التنزيهية، وإن فعله صلى الله عليه وسلم بيان للجواز عند الحاجة“Larangan tersebut derajatnya makruh. Sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bolehnya ketika ada hajat.” (Lihat Zaadul Ma’ad)Kaidah fikihnya sebagai berikut,الكَرَاهَةُ تَزُوْلُ بِالحَاجَةِ“Sesuatu yang hukumnya makruh menjadi hilang (hukumnya) karena ada hajat (kebutuhan).”Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Makan dan Minum di Dalam MasjidApakah Minum Nabeez (Rendaman Kurma) adalah Sunnah Ta’abbud?***@Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil menunggu syuru’Penulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Makna Sabar Dalam Islam, Ketentuan Shalat Jamak, Artikel Muslimah, Oleh Oleh UmrohTags: adabadab makanadab minumadab muslimadab muslimadab islambelajar adabfikihminum sambil berdirinasihatsunnah saat makansunnah saat minum

Bulughul Maram – Shalat: Shalatlah Sebagaimana Kita Melihat Nabi Shalat

Ini adalah perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita sebagai umatnya mencontoh shalat yang beliau kerjakan.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #327/61 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi   Hadits #327/61 عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 628 dan Ahmad, 34:157-158]   Faedah hadits 1. Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan dan ucapan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat shalat adalah penjelas dari perintah mujmal (global) dari Al-Qur’an dan berbagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 2. Hadits ini jadi dalil wajibnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mencontoh shalat yang beliau kerjakan. Segala perbuatan dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai shalat adalah wajib bagi umat ini mengikutinya kecuali ada dalil khusus yang menyatakan tidak wajibnya. 3. Dalam rincian shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hal wajib dan sunnah. 4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tata cara shalat pada umatnya dengan ucapan seperti hadits-hadits yang telah dibahas dalam Bulughul Maram dan dengan perbuatan beliau. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di mimbar lantas beliau berkata, إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا بِي وَلِتَعَلَّمُوْا صَلاَتِي “Aku melakukan seperti ini agar kalian mengikutiku dan agar kalian belajar bagaimanakah aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 917 dan Muslim, no. 544) Perintah dalam ayat tentang shalat yang masih mujmal (global) yang perlu dirinci adalah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Baca juga: Hadits Orang yang Jelek Shalatnya yang Menjelaskan RUKUN SHALAT Cara Shalat Nabi yang Diterangkan dalam Hadits Aisyah Berbagai Penjelasan Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam    Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:200-201. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:530.   — Kamis Pagi, 2 Dzulqa’dah 1443 H, 2 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi rukun shalat sunnah shalat

Bulughul Maram – Shalat: Shalatlah Sebagaimana Kita Melihat Nabi Shalat

Ini adalah perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita sebagai umatnya mencontoh shalat yang beliau kerjakan.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #327/61 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi   Hadits #327/61 عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 628 dan Ahmad, 34:157-158]   Faedah hadits 1. Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan dan ucapan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat shalat adalah penjelas dari perintah mujmal (global) dari Al-Qur’an dan berbagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 2. Hadits ini jadi dalil wajibnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mencontoh shalat yang beliau kerjakan. Segala perbuatan dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai shalat adalah wajib bagi umat ini mengikutinya kecuali ada dalil khusus yang menyatakan tidak wajibnya. 3. Dalam rincian shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hal wajib dan sunnah. 4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tata cara shalat pada umatnya dengan ucapan seperti hadits-hadits yang telah dibahas dalam Bulughul Maram dan dengan perbuatan beliau. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di mimbar lantas beliau berkata, إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا بِي وَلِتَعَلَّمُوْا صَلاَتِي “Aku melakukan seperti ini agar kalian mengikutiku dan agar kalian belajar bagaimanakah aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 917 dan Muslim, no. 544) Perintah dalam ayat tentang shalat yang masih mujmal (global) yang perlu dirinci adalah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Baca juga: Hadits Orang yang Jelek Shalatnya yang Menjelaskan RUKUN SHALAT Cara Shalat Nabi yang Diterangkan dalam Hadits Aisyah Berbagai Penjelasan Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam    Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:200-201. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:530.   — Kamis Pagi, 2 Dzulqa’dah 1443 H, 2 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi rukun shalat sunnah shalat
Ini adalah perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita sebagai umatnya mencontoh shalat yang beliau kerjakan.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #327/61 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi   Hadits #327/61 عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 628 dan Ahmad, 34:157-158]   Faedah hadits 1. Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan dan ucapan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat shalat adalah penjelas dari perintah mujmal (global) dari Al-Qur’an dan berbagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 2. Hadits ini jadi dalil wajibnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mencontoh shalat yang beliau kerjakan. Segala perbuatan dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai shalat adalah wajib bagi umat ini mengikutinya kecuali ada dalil khusus yang menyatakan tidak wajibnya. 3. Dalam rincian shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hal wajib dan sunnah. 4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tata cara shalat pada umatnya dengan ucapan seperti hadits-hadits yang telah dibahas dalam Bulughul Maram dan dengan perbuatan beliau. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di mimbar lantas beliau berkata, إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا بِي وَلِتَعَلَّمُوْا صَلاَتِي “Aku melakukan seperti ini agar kalian mengikutiku dan agar kalian belajar bagaimanakah aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 917 dan Muslim, no. 544) Perintah dalam ayat tentang shalat yang masih mujmal (global) yang perlu dirinci adalah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Baca juga: Hadits Orang yang Jelek Shalatnya yang Menjelaskan RUKUN SHALAT Cara Shalat Nabi yang Diterangkan dalam Hadits Aisyah Berbagai Penjelasan Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam    Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:200-201. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:530.   — Kamis Pagi, 2 Dzulqa’dah 1443 H, 2 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi rukun shalat sunnah shalat


Ini adalah perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita sebagai umatnya mencontoh shalat yang beliau kerjakan.     Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #327/61 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi   Hadits #327/61 عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ. Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 628 dan Ahmad, 34:157-158]   Faedah hadits 1. Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan dan ucapan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat shalat adalah penjelas dari perintah mujmal (global) dari Al-Qur’an dan berbagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 2. Hadits ini jadi dalil wajibnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mencontoh shalat yang beliau kerjakan. Segala perbuatan dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai shalat adalah wajib bagi umat ini mengikutinya kecuali ada dalil khusus yang menyatakan tidak wajibnya. 3. Dalam rincian shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hal wajib dan sunnah. 4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tata cara shalat pada umatnya dengan ucapan seperti hadits-hadits yang telah dibahas dalam Bulughul Maram dan dengan perbuatan beliau. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di mimbar lantas beliau berkata, إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا بِي وَلِتَعَلَّمُوْا صَلاَتِي “Aku melakukan seperti ini agar kalian mengikutiku dan agar kalian belajar bagaimanakah aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 917 dan Muslim, no. 544) Perintah dalam ayat tentang shalat yang masih mujmal (global) yang perlu dirinci adalah, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Baca juga: Hadits Orang yang Jelek Shalatnya yang Menjelaskan RUKUN SHALAT Cara Shalat Nabi yang Diterangkan dalam Hadits Aisyah Berbagai Penjelasan Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam    Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:200-201. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:530.   — Kamis Pagi, 2 Dzulqa’dah 1443 H, 2 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat cara shalat cara shalat nabi rukun shalat sunnah shalat

Cara Shalat Orang yang Terus Kencing

Cara Shalat Orang yang Terus Kencing Pertanyaan: Saya memiliki penyakit berupa kencing terus-menerus tanpa bisa dikendalikan. Ini membuat saya kerepotan karena harus bolak-balik berwudhu ketika hendak shalat. Bahkan terkadang saya membatalkan shalat ketika saya merasa ada air kencing yang keluar di tengah shalat. Terus terang ini membuat saya kesulitan untuk shalat. Adakah solusi untuk masalah saya ini? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kita telah mengetahui bahwa keluarnya air kencing adalah pembatal wudhu. Demikian juga keluarnya madzi, termasuk pembatal wudhu. Sehingga masalah ini dapat diqiyaskan dengan kasus orang terus-menerus keluar madzi. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ia berkata: كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وكُنْتُ أسْتَحْيِي أنْ أسْأَلَ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فأمَرْتُ المِقْدَادَ بنَ الأسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ ويَتَوَضَّأُ “Dahulu aku terkena penyakit madza’ (keluar madzi terus-menerus). Dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang hal ini) karena posisi putri beliau sebagai istriku. Maka aku perintahkan Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi. Nabi menjawab: hendaknya ia mencuci zakarnya dan berwudhu (untuk setiap shalat)” (HR. Al-Bukhari no.178, Muslim no. 303). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang keluar madzi terus-menerus untuk mencuci zakarnya sebelum berwudhu dan kemudian berwudhu untuk setiap waktu shalat. Jika ini sudah dilakukan, maka madzi yang keluar setelah itu tidak membuat wudhu atau shalatnya batal. Maka demikian jugalah yang perlu dilakukan oleh orang yang terus-menerus keluar air kencing. Selain itu, ia juga harus menggunakan semacam pembalut atau pampers pada kemaluannya untuk mencegah air kencing menetes ke pakaian atau badannya. Kelonggaran ini berlaku sampai waktu shalat habis.  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Salisul baul adalah keluarnya air kencing terus menerus tanpa disengaja. Ini merupakan penyakit yang terkadang Allah sembuhkan penderitanya. Oleh karena itu kami nasehatkan agar penanya memeriksakan dirinya ke dokter terlebih dahulu. Semoga Allah ta’ala memberikan kesembuhan dan rahmat.  Adapun masalah wudhunya, maka wudhunya tetap sah walaupun di tengah wudhu ternyata ada air kencing yang keluar. Demikian juga ketika air kencing keluar setelah wudhu. Yang demikian karena orang ini tidak mampu mengendalikan keluarnya air kencing tersebut. Padahal Allah ta’ala berfirman: رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ”(Orang-orang beriman berdoa), Ya Allah jangan engkau membebani kami dengan sesuatu yang tidak kami mampu” (QS. Al-Baqarah: 286). Dan Allah ta’ala juga berfirman: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali semaksimal kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Allah ta’ala juga berfirman: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Namun para ulama mengatakan, ia wajib berwudhu untuk masing-masing waktu shalat ketika sudah masuk waktunya. Jika ia berwudhu setelah masuk waktu shalat, ia boleh shalat fardhu atau shalat sunnah berapa raka’at pun sampai waktunya habis. Dan wajib bagi dia dalam keadaan ini untuk menjaga air kencingnya dengan memakai sesuatu pada zakarnya, untuk mengurangi resiko menetesnya air kencing pada pakaian atau badannya. Semoga Allah ta’ala memberikan keselamatan dan kesehatan kepada saudara-saudara kami” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 309). Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta juga dijelaskan: Pertanyaan: Aku mendengar dari sebagian ikhwah bahwa orang yang terkena penyakit salisul baul (kencing terus) atau salisur rih (buang angin terus) mereka wajib berwudhu untuk setiap shalat beberapa saat sebelum shalat dimulai. Apakah pernyataan ini benar? Jika benar apa dalilnya? Dan apakah wajib untuk beristinja setiap hendak shalat? Dan apakah wajib membersihkan kain pembalut yang ia gunakan sebelum shalat? Karena bisa jadi kain tersebut terkena tetesan air kencing. Dan ketika waktu shalat Jum’at apakah ia harus menunggu waktu mendekati selesainya khutbah yang kedua lalu baru berwudhu? Apakah dibolehkan wudhu di rumah kemudian baru datang ke masjid? Demikian juga dalam masalah mengusap khuf, sandal dan kaos kaki. Orang yang punya penyakit salisul baul, lalu ia berwudhu dengan mengusap khuf untuk shalat zhuhur, lalu ia selesaikan shalat zhuhur, bolehkah ia tetap mengusap khuf pada shalat selanjutnya? Jawaban: Orang yang memiliki penyakit salisul baul yang terus-menerus, jika datang waktu shalat, ia wajib beristinja (cebok) dan memakai sesuatu pada zakarnya (seperti pampers) yang dapat mencegah menetesnya air kencing ke pakaian. Kemudian ia berwudhu dan shalat seperti biasa. Dan ia wajib lakukan seperti ini di setiap waktu shalat. Dalilnya firman Allah ta’ala: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Demikian juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita yang istihadhah untuk memakai kain pengikat (pada farjinya), lalu berwudhu di setiap waktu shalat.  Orang yang memiliki penyakit salisul baul juga boleh untuk berwudhu dalam keadaan memakai khuf dan mengusap khufnya sampai habis batasan waktunya. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada. Wallahu a’lam. (Fatawa Al-Lajnah edisi 2, juz 4, halaman 245 fatwa nomor 16954). Kesimpulannya, orang yang keluar air kencing terus-menerus ia harus memperhatikan hal-hal berikut ini: Ketika sudah masuk waktu shalat, ia bergegas untuk mencuci zakarnya dari air kencing. Ia menggunakan semacam pembalut atau pampers untuk menahan air kencing. Setelah itu ia berwudhu seperti biasanya. Setelah itu ia boleh shalat sunnah atau shalat wajib. Ia tidak perlu mengulang wudhu sampai habis waktu shalat. Kecuali ia melakukan pembatal wudhu yang lain seperti buang angin, tidur lelap, dan lainnya. Ketika datang waktu shalat yang selanjutnya, ia mengulang lagi dari poin 1. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Beda Zakat Dan Sedekah, Amalan Ibu Hamil Menurut Islam, Shalat Istighfar, Waktu Solat Dhuha, Hadits Tentang Pakaian Wanita Visited 712 times, 1 visit(s) today Post Views: 492 QRIS donasi Yufid

Cara Shalat Orang yang Terus Kencing

Cara Shalat Orang yang Terus Kencing Pertanyaan: Saya memiliki penyakit berupa kencing terus-menerus tanpa bisa dikendalikan. Ini membuat saya kerepotan karena harus bolak-balik berwudhu ketika hendak shalat. Bahkan terkadang saya membatalkan shalat ketika saya merasa ada air kencing yang keluar di tengah shalat. Terus terang ini membuat saya kesulitan untuk shalat. Adakah solusi untuk masalah saya ini? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kita telah mengetahui bahwa keluarnya air kencing adalah pembatal wudhu. Demikian juga keluarnya madzi, termasuk pembatal wudhu. Sehingga masalah ini dapat diqiyaskan dengan kasus orang terus-menerus keluar madzi. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ia berkata: كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وكُنْتُ أسْتَحْيِي أنْ أسْأَلَ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فأمَرْتُ المِقْدَادَ بنَ الأسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ ويَتَوَضَّأُ “Dahulu aku terkena penyakit madza’ (keluar madzi terus-menerus). Dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang hal ini) karena posisi putri beliau sebagai istriku. Maka aku perintahkan Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi. Nabi menjawab: hendaknya ia mencuci zakarnya dan berwudhu (untuk setiap shalat)” (HR. Al-Bukhari no.178, Muslim no. 303). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang keluar madzi terus-menerus untuk mencuci zakarnya sebelum berwudhu dan kemudian berwudhu untuk setiap waktu shalat. Jika ini sudah dilakukan, maka madzi yang keluar setelah itu tidak membuat wudhu atau shalatnya batal. Maka demikian jugalah yang perlu dilakukan oleh orang yang terus-menerus keluar air kencing. Selain itu, ia juga harus menggunakan semacam pembalut atau pampers pada kemaluannya untuk mencegah air kencing menetes ke pakaian atau badannya. Kelonggaran ini berlaku sampai waktu shalat habis.  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Salisul baul adalah keluarnya air kencing terus menerus tanpa disengaja. Ini merupakan penyakit yang terkadang Allah sembuhkan penderitanya. Oleh karena itu kami nasehatkan agar penanya memeriksakan dirinya ke dokter terlebih dahulu. Semoga Allah ta’ala memberikan kesembuhan dan rahmat.  Adapun masalah wudhunya, maka wudhunya tetap sah walaupun di tengah wudhu ternyata ada air kencing yang keluar. Demikian juga ketika air kencing keluar setelah wudhu. Yang demikian karena orang ini tidak mampu mengendalikan keluarnya air kencing tersebut. Padahal Allah ta’ala berfirman: رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ”(Orang-orang beriman berdoa), Ya Allah jangan engkau membebani kami dengan sesuatu yang tidak kami mampu” (QS. Al-Baqarah: 286). Dan Allah ta’ala juga berfirman: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali semaksimal kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Allah ta’ala juga berfirman: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Namun para ulama mengatakan, ia wajib berwudhu untuk masing-masing waktu shalat ketika sudah masuk waktunya. Jika ia berwudhu setelah masuk waktu shalat, ia boleh shalat fardhu atau shalat sunnah berapa raka’at pun sampai waktunya habis. Dan wajib bagi dia dalam keadaan ini untuk menjaga air kencingnya dengan memakai sesuatu pada zakarnya, untuk mengurangi resiko menetesnya air kencing pada pakaian atau badannya. Semoga Allah ta’ala memberikan keselamatan dan kesehatan kepada saudara-saudara kami” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 309). Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta juga dijelaskan: Pertanyaan: Aku mendengar dari sebagian ikhwah bahwa orang yang terkena penyakit salisul baul (kencing terus) atau salisur rih (buang angin terus) mereka wajib berwudhu untuk setiap shalat beberapa saat sebelum shalat dimulai. Apakah pernyataan ini benar? Jika benar apa dalilnya? Dan apakah wajib untuk beristinja setiap hendak shalat? Dan apakah wajib membersihkan kain pembalut yang ia gunakan sebelum shalat? Karena bisa jadi kain tersebut terkena tetesan air kencing. Dan ketika waktu shalat Jum’at apakah ia harus menunggu waktu mendekati selesainya khutbah yang kedua lalu baru berwudhu? Apakah dibolehkan wudhu di rumah kemudian baru datang ke masjid? Demikian juga dalam masalah mengusap khuf, sandal dan kaos kaki. Orang yang punya penyakit salisul baul, lalu ia berwudhu dengan mengusap khuf untuk shalat zhuhur, lalu ia selesaikan shalat zhuhur, bolehkah ia tetap mengusap khuf pada shalat selanjutnya? Jawaban: Orang yang memiliki penyakit salisul baul yang terus-menerus, jika datang waktu shalat, ia wajib beristinja (cebok) dan memakai sesuatu pada zakarnya (seperti pampers) yang dapat mencegah menetesnya air kencing ke pakaian. Kemudian ia berwudhu dan shalat seperti biasa. Dan ia wajib lakukan seperti ini di setiap waktu shalat. Dalilnya firman Allah ta’ala: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Demikian juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita yang istihadhah untuk memakai kain pengikat (pada farjinya), lalu berwudhu di setiap waktu shalat.  Orang yang memiliki penyakit salisul baul juga boleh untuk berwudhu dalam keadaan memakai khuf dan mengusap khufnya sampai habis batasan waktunya. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada. Wallahu a’lam. (Fatawa Al-Lajnah edisi 2, juz 4, halaman 245 fatwa nomor 16954). Kesimpulannya, orang yang keluar air kencing terus-menerus ia harus memperhatikan hal-hal berikut ini: Ketika sudah masuk waktu shalat, ia bergegas untuk mencuci zakarnya dari air kencing. Ia menggunakan semacam pembalut atau pampers untuk menahan air kencing. Setelah itu ia berwudhu seperti biasanya. Setelah itu ia boleh shalat sunnah atau shalat wajib. Ia tidak perlu mengulang wudhu sampai habis waktu shalat. Kecuali ia melakukan pembatal wudhu yang lain seperti buang angin, tidur lelap, dan lainnya. Ketika datang waktu shalat yang selanjutnya, ia mengulang lagi dari poin 1. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Beda Zakat Dan Sedekah, Amalan Ibu Hamil Menurut Islam, Shalat Istighfar, Waktu Solat Dhuha, Hadits Tentang Pakaian Wanita Visited 712 times, 1 visit(s) today Post Views: 492 QRIS donasi Yufid
Cara Shalat Orang yang Terus Kencing Pertanyaan: Saya memiliki penyakit berupa kencing terus-menerus tanpa bisa dikendalikan. Ini membuat saya kerepotan karena harus bolak-balik berwudhu ketika hendak shalat. Bahkan terkadang saya membatalkan shalat ketika saya merasa ada air kencing yang keluar di tengah shalat. Terus terang ini membuat saya kesulitan untuk shalat. Adakah solusi untuk masalah saya ini? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kita telah mengetahui bahwa keluarnya air kencing adalah pembatal wudhu. Demikian juga keluarnya madzi, termasuk pembatal wudhu. Sehingga masalah ini dapat diqiyaskan dengan kasus orang terus-menerus keluar madzi. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ia berkata: كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وكُنْتُ أسْتَحْيِي أنْ أسْأَلَ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فأمَرْتُ المِقْدَادَ بنَ الأسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ ويَتَوَضَّأُ “Dahulu aku terkena penyakit madza’ (keluar madzi terus-menerus). Dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang hal ini) karena posisi putri beliau sebagai istriku. Maka aku perintahkan Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi. Nabi menjawab: hendaknya ia mencuci zakarnya dan berwudhu (untuk setiap shalat)” (HR. Al-Bukhari no.178, Muslim no. 303). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang keluar madzi terus-menerus untuk mencuci zakarnya sebelum berwudhu dan kemudian berwudhu untuk setiap waktu shalat. Jika ini sudah dilakukan, maka madzi yang keluar setelah itu tidak membuat wudhu atau shalatnya batal. Maka demikian jugalah yang perlu dilakukan oleh orang yang terus-menerus keluar air kencing. Selain itu, ia juga harus menggunakan semacam pembalut atau pampers pada kemaluannya untuk mencegah air kencing menetes ke pakaian atau badannya. Kelonggaran ini berlaku sampai waktu shalat habis.  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Salisul baul adalah keluarnya air kencing terus menerus tanpa disengaja. Ini merupakan penyakit yang terkadang Allah sembuhkan penderitanya. Oleh karena itu kami nasehatkan agar penanya memeriksakan dirinya ke dokter terlebih dahulu. Semoga Allah ta’ala memberikan kesembuhan dan rahmat.  Adapun masalah wudhunya, maka wudhunya tetap sah walaupun di tengah wudhu ternyata ada air kencing yang keluar. Demikian juga ketika air kencing keluar setelah wudhu. Yang demikian karena orang ini tidak mampu mengendalikan keluarnya air kencing tersebut. Padahal Allah ta’ala berfirman: رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ”(Orang-orang beriman berdoa), Ya Allah jangan engkau membebani kami dengan sesuatu yang tidak kami mampu” (QS. Al-Baqarah: 286). Dan Allah ta’ala juga berfirman: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali semaksimal kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Allah ta’ala juga berfirman: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Namun para ulama mengatakan, ia wajib berwudhu untuk masing-masing waktu shalat ketika sudah masuk waktunya. Jika ia berwudhu setelah masuk waktu shalat, ia boleh shalat fardhu atau shalat sunnah berapa raka’at pun sampai waktunya habis. Dan wajib bagi dia dalam keadaan ini untuk menjaga air kencingnya dengan memakai sesuatu pada zakarnya, untuk mengurangi resiko menetesnya air kencing pada pakaian atau badannya. Semoga Allah ta’ala memberikan keselamatan dan kesehatan kepada saudara-saudara kami” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 309). Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta juga dijelaskan: Pertanyaan: Aku mendengar dari sebagian ikhwah bahwa orang yang terkena penyakit salisul baul (kencing terus) atau salisur rih (buang angin terus) mereka wajib berwudhu untuk setiap shalat beberapa saat sebelum shalat dimulai. Apakah pernyataan ini benar? Jika benar apa dalilnya? Dan apakah wajib untuk beristinja setiap hendak shalat? Dan apakah wajib membersihkan kain pembalut yang ia gunakan sebelum shalat? Karena bisa jadi kain tersebut terkena tetesan air kencing. Dan ketika waktu shalat Jum’at apakah ia harus menunggu waktu mendekati selesainya khutbah yang kedua lalu baru berwudhu? Apakah dibolehkan wudhu di rumah kemudian baru datang ke masjid? Demikian juga dalam masalah mengusap khuf, sandal dan kaos kaki. Orang yang punya penyakit salisul baul, lalu ia berwudhu dengan mengusap khuf untuk shalat zhuhur, lalu ia selesaikan shalat zhuhur, bolehkah ia tetap mengusap khuf pada shalat selanjutnya? Jawaban: Orang yang memiliki penyakit salisul baul yang terus-menerus, jika datang waktu shalat, ia wajib beristinja (cebok) dan memakai sesuatu pada zakarnya (seperti pampers) yang dapat mencegah menetesnya air kencing ke pakaian. Kemudian ia berwudhu dan shalat seperti biasa. Dan ia wajib lakukan seperti ini di setiap waktu shalat. Dalilnya firman Allah ta’ala: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Demikian juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita yang istihadhah untuk memakai kain pengikat (pada farjinya), lalu berwudhu di setiap waktu shalat.  Orang yang memiliki penyakit salisul baul juga boleh untuk berwudhu dalam keadaan memakai khuf dan mengusap khufnya sampai habis batasan waktunya. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada. Wallahu a’lam. (Fatawa Al-Lajnah edisi 2, juz 4, halaman 245 fatwa nomor 16954). Kesimpulannya, orang yang keluar air kencing terus-menerus ia harus memperhatikan hal-hal berikut ini: Ketika sudah masuk waktu shalat, ia bergegas untuk mencuci zakarnya dari air kencing. Ia menggunakan semacam pembalut atau pampers untuk menahan air kencing. Setelah itu ia berwudhu seperti biasanya. Setelah itu ia boleh shalat sunnah atau shalat wajib. Ia tidak perlu mengulang wudhu sampai habis waktu shalat. Kecuali ia melakukan pembatal wudhu yang lain seperti buang angin, tidur lelap, dan lainnya. Ketika datang waktu shalat yang selanjutnya, ia mengulang lagi dari poin 1. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Beda Zakat Dan Sedekah, Amalan Ibu Hamil Menurut Islam, Shalat Istighfar, Waktu Solat Dhuha, Hadits Tentang Pakaian Wanita Visited 712 times, 1 visit(s) today Post Views: 492 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1338602947&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Cara Shalat Orang yang Terus Kencing Pertanyaan: Saya memiliki penyakit berupa kencing terus-menerus tanpa bisa dikendalikan. Ini membuat saya kerepotan karena harus bolak-balik berwudhu ketika hendak shalat. Bahkan terkadang saya membatalkan shalat ketika saya merasa ada air kencing yang keluar di tengah shalat. Terus terang ini membuat saya kesulitan untuk shalat. Adakah solusi untuk masalah saya ini? Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Kita telah mengetahui bahwa keluarnya air kencing adalah pembatal wudhu. Demikian juga keluarnya madzi, termasuk pembatal wudhu. Sehingga masalah ini dapat diqiyaskan dengan kasus orang terus-menerus keluar madzi. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ia berkata: كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وكُنْتُ أسْتَحْيِي أنْ أسْأَلَ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فأمَرْتُ المِقْدَادَ بنَ الأسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ ويَتَوَضَّأُ “Dahulu aku terkena penyakit madza’ (keluar madzi terus-menerus). Dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang hal ini) karena posisi putri beliau sebagai istriku. Maka aku perintahkan Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi. Nabi menjawab: hendaknya ia mencuci zakarnya dan berwudhu (untuk setiap shalat)” (HR. Al-Bukhari no.178, Muslim no. 303). Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang keluar madzi terus-menerus untuk mencuci zakarnya sebelum berwudhu dan kemudian berwudhu untuk setiap waktu shalat. Jika ini sudah dilakukan, maka madzi yang keluar setelah itu tidak membuat wudhu atau shalatnya batal. Maka demikian jugalah yang perlu dilakukan oleh orang yang terus-menerus keluar air kencing. Selain itu, ia juga harus menggunakan semacam pembalut atau pampers pada kemaluannya untuk mencegah air kencing menetes ke pakaian atau badannya. Kelonggaran ini berlaku sampai waktu shalat habis.  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Salisul baul adalah keluarnya air kencing terus menerus tanpa disengaja. Ini merupakan penyakit yang terkadang Allah sembuhkan penderitanya. Oleh karena itu kami nasehatkan agar penanya memeriksakan dirinya ke dokter terlebih dahulu. Semoga Allah ta’ala memberikan kesembuhan dan rahmat.  Adapun masalah wudhunya, maka wudhunya tetap sah walaupun di tengah wudhu ternyata ada air kencing yang keluar. Demikian juga ketika air kencing keluar setelah wudhu. Yang demikian karena orang ini tidak mampu mengendalikan keluarnya air kencing tersebut. Padahal Allah ta’ala berfirman: رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ”(Orang-orang beriman berdoa), Ya Allah jangan engkau membebani kami dengan sesuatu yang tidak kami mampu” (QS. Al-Baqarah: 286). Dan Allah ta’ala juga berfirman: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang kecuali semaksimal kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Allah ta’ala juga berfirman: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Namun para ulama mengatakan, ia wajib berwudhu untuk masing-masing waktu shalat ketika sudah masuk waktunya. Jika ia berwudhu setelah masuk waktu shalat, ia boleh shalat fardhu atau shalat sunnah berapa raka’at pun sampai waktunya habis. Dan wajib bagi dia dalam keadaan ini untuk menjaga air kencingnya dengan memakai sesuatu pada zakarnya, untuk mengurangi resiko menetesnya air kencing pada pakaian atau badannya. Semoga Allah ta’ala memberikan keselamatan dan kesehatan kepada saudara-saudara kami” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman nomor 309). Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta juga dijelaskan: Pertanyaan: Aku mendengar dari sebagian ikhwah bahwa orang yang terkena penyakit salisul baul (kencing terus) atau salisur rih (buang angin terus) mereka wajib berwudhu untuk setiap shalat beberapa saat sebelum shalat dimulai. Apakah pernyataan ini benar? Jika benar apa dalilnya? Dan apakah wajib untuk beristinja setiap hendak shalat? Dan apakah wajib membersihkan kain pembalut yang ia gunakan sebelum shalat? Karena bisa jadi kain tersebut terkena tetesan air kencing. Dan ketika waktu shalat Jum’at apakah ia harus menunggu waktu mendekati selesainya khutbah yang kedua lalu baru berwudhu? Apakah dibolehkan wudhu di rumah kemudian baru datang ke masjid? Demikian juga dalam masalah mengusap khuf, sandal dan kaos kaki. Orang yang punya penyakit salisul baul, lalu ia berwudhu dengan mengusap khuf untuk shalat zhuhur, lalu ia selesaikan shalat zhuhur, bolehkah ia tetap mengusap khuf pada shalat selanjutnya? Jawaban: Orang yang memiliki penyakit salisul baul yang terus-menerus, jika datang waktu shalat, ia wajib beristinja (cebok) dan memakai sesuatu pada zakarnya (seperti pampers) yang dapat mencegah menetesnya air kencing ke pakaian. Kemudian ia berwudhu dan shalat seperti biasa. Dan ia wajib lakukan seperti ini di setiap waktu shalat. Dalilnya firman Allah ta’ala: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16). Demikian juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan wanita yang istihadhah untuk memakai kain pengikat (pada farjinya), lalu berwudhu di setiap waktu shalat.  Orang yang memiliki penyakit salisul baul juga boleh untuk berwudhu dalam keadaan memakai khuf dan mengusap khufnya sampai habis batasan waktunya. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada. Wallahu a’lam. (Fatawa Al-Lajnah edisi 2, juz 4, halaman 245 fatwa nomor 16954). Kesimpulannya, orang yang keluar air kencing terus-menerus ia harus memperhatikan hal-hal berikut ini: Ketika sudah masuk waktu shalat, ia bergegas untuk mencuci zakarnya dari air kencing. Ia menggunakan semacam pembalut atau pampers untuk menahan air kencing. Setelah itu ia berwudhu seperti biasanya. Setelah itu ia boleh shalat sunnah atau shalat wajib. Ia tidak perlu mengulang wudhu sampai habis waktu shalat. Kecuali ia melakukan pembatal wudhu yang lain seperti buang angin, tidur lelap, dan lainnya. Ketika datang waktu shalat yang selanjutnya, ia mengulang lagi dari poin 1. Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufiq. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Hukum Koperasi Simpan Pinjam, Beda Zakat Dan Sedekah, Amalan Ibu Hamil Menurut Islam, Shalat Istighfar, Waktu Solat Dhuha, Hadits Tentang Pakaian Wanita Visited 712 times, 1 visit(s) today Post Views: 492 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Setelah Bangun dari Rukuk Sedekap atau Tidak?

Setelah Bangun dari Rukuk Sedekap atau Tidak? Pertanyaan: Saya sering melihat orang yang ketika shalat, setelah bangun dari rukuk, ia bersedekap lagi. Apakah hal ini ada dalilnya? Dan yang lebih tepat seperti apa? Jazakallah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Memang sebagian ulama menganjurkan untuk bersedekap setelah bangun dari ruku. Di antaranya ini pendapat Al-Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Hazm, dan Al-Kasani rahimahumullah. Ini juga merupakan pendapat yang dikuatkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Mereka berdalil dengan hadis Wa’il bin Hujr radhiyallahu ’anhu: رأيتُ رسولَ اللَّهِ إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ قبضَ بيمينِهِ على شمالِهِ “Aku melihat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An-Nasa’i 886, Al-Baihaqi 2/28, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i). Lafadz إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ (ketika beliau berdiri dalam shalat) dipahami bahwa sedekap itu dilakukan dalam setiap kondisi berdiri dalam shalat kapan pun itu, baik sebelum ruku maupun sesudah ruku. Demikian juga hadis: كان النَّاسُ يؤمَرونَ أنْ يضَعَ الرَّجلُ اليدَ اليُمنى على ذراعِه اليُسرى في الصَّلاةِ “Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan mereka di atas lengan kiri mereka di dalam shalat” (HR. Al-Bukhari no.740). Hadis ini juga dipahami secara umum baik sebelum ruku maupun setelah ruku. Namun ini adalah pendalilan yang tidak sharih atau tidak tegas. Sehingga jumhur ulama dari 4 madzhab mengatakan tidak dianjurkan sedekap setelah bangun dari ruku. Dan juga tidak terdapat riwayat dari para salaf yang melakukan hal tersebut. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.  Mengingat kaidah bahwa ibadah itu tauqifiyyah dan hukum asal ibadah adalah terlarang sampai datang dalilnya, maka kami lebih menyarankan untuk tidak bersedekap setelah bangun dari ruku. Namun, karena tidak ada dalil yang shahih dan sharih mengenai hal ini, maka khilaf ulama dalam hal ini adalah khilaf ijtihadiyyah, perkaranya luas dalam masalah ini. Sehingga Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: أرجو أن لا يضيق ذلك “Saya harap masalah ini tidak dibuat sempit” (Sualat Shalih bin Ahmad, hal. 205 nomor 776). Wallahu ta’ala a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Doa Melihat Ka'bah, Kesabaran Seorang Istri Menghadapi Suami, Nama Israel, Kartun Kuburan Islam, Hutang Piutang Menurut Islam Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid

Setelah Bangun dari Rukuk Sedekap atau Tidak?

Setelah Bangun dari Rukuk Sedekap atau Tidak? Pertanyaan: Saya sering melihat orang yang ketika shalat, setelah bangun dari rukuk, ia bersedekap lagi. Apakah hal ini ada dalilnya? Dan yang lebih tepat seperti apa? Jazakallah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Memang sebagian ulama menganjurkan untuk bersedekap setelah bangun dari ruku. Di antaranya ini pendapat Al-Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Hazm, dan Al-Kasani rahimahumullah. Ini juga merupakan pendapat yang dikuatkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Mereka berdalil dengan hadis Wa’il bin Hujr radhiyallahu ’anhu: رأيتُ رسولَ اللَّهِ إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ قبضَ بيمينِهِ على شمالِهِ “Aku melihat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An-Nasa’i 886, Al-Baihaqi 2/28, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i). Lafadz إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ (ketika beliau berdiri dalam shalat) dipahami bahwa sedekap itu dilakukan dalam setiap kondisi berdiri dalam shalat kapan pun itu, baik sebelum ruku maupun sesudah ruku. Demikian juga hadis: كان النَّاسُ يؤمَرونَ أنْ يضَعَ الرَّجلُ اليدَ اليُمنى على ذراعِه اليُسرى في الصَّلاةِ “Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan mereka di atas lengan kiri mereka di dalam shalat” (HR. Al-Bukhari no.740). Hadis ini juga dipahami secara umum baik sebelum ruku maupun setelah ruku. Namun ini adalah pendalilan yang tidak sharih atau tidak tegas. Sehingga jumhur ulama dari 4 madzhab mengatakan tidak dianjurkan sedekap setelah bangun dari ruku. Dan juga tidak terdapat riwayat dari para salaf yang melakukan hal tersebut. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.  Mengingat kaidah bahwa ibadah itu tauqifiyyah dan hukum asal ibadah adalah terlarang sampai datang dalilnya, maka kami lebih menyarankan untuk tidak bersedekap setelah bangun dari ruku. Namun, karena tidak ada dalil yang shahih dan sharih mengenai hal ini, maka khilaf ulama dalam hal ini adalah khilaf ijtihadiyyah, perkaranya luas dalam masalah ini. Sehingga Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: أرجو أن لا يضيق ذلك “Saya harap masalah ini tidak dibuat sempit” (Sualat Shalih bin Ahmad, hal. 205 nomor 776). Wallahu ta’ala a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Doa Melihat Ka'bah, Kesabaran Seorang Istri Menghadapi Suami, Nama Israel, Kartun Kuburan Islam, Hutang Piutang Menurut Islam Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid
Setelah Bangun dari Rukuk Sedekap atau Tidak? Pertanyaan: Saya sering melihat orang yang ketika shalat, setelah bangun dari rukuk, ia bersedekap lagi. Apakah hal ini ada dalilnya? Dan yang lebih tepat seperti apa? Jazakallah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Memang sebagian ulama menganjurkan untuk bersedekap setelah bangun dari ruku. Di antaranya ini pendapat Al-Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Hazm, dan Al-Kasani rahimahumullah. Ini juga merupakan pendapat yang dikuatkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Mereka berdalil dengan hadis Wa’il bin Hujr radhiyallahu ’anhu: رأيتُ رسولَ اللَّهِ إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ قبضَ بيمينِهِ على شمالِهِ “Aku melihat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An-Nasa’i 886, Al-Baihaqi 2/28, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i). Lafadz إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ (ketika beliau berdiri dalam shalat) dipahami bahwa sedekap itu dilakukan dalam setiap kondisi berdiri dalam shalat kapan pun itu, baik sebelum ruku maupun sesudah ruku. Demikian juga hadis: كان النَّاسُ يؤمَرونَ أنْ يضَعَ الرَّجلُ اليدَ اليُمنى على ذراعِه اليُسرى في الصَّلاةِ “Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan mereka di atas lengan kiri mereka di dalam shalat” (HR. Al-Bukhari no.740). Hadis ini juga dipahami secara umum baik sebelum ruku maupun setelah ruku. Namun ini adalah pendalilan yang tidak sharih atau tidak tegas. Sehingga jumhur ulama dari 4 madzhab mengatakan tidak dianjurkan sedekap setelah bangun dari ruku. Dan juga tidak terdapat riwayat dari para salaf yang melakukan hal tersebut. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.  Mengingat kaidah bahwa ibadah itu tauqifiyyah dan hukum asal ibadah adalah terlarang sampai datang dalilnya, maka kami lebih menyarankan untuk tidak bersedekap setelah bangun dari ruku. Namun, karena tidak ada dalil yang shahih dan sharih mengenai hal ini, maka khilaf ulama dalam hal ini adalah khilaf ijtihadiyyah, perkaranya luas dalam masalah ini. Sehingga Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: أرجو أن لا يضيق ذلك “Saya harap masalah ini tidak dibuat sempit” (Sualat Shalih bin Ahmad, hal. 205 nomor 776). Wallahu ta’ala a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Doa Melihat Ka'bah, Kesabaran Seorang Istri Menghadapi Suami, Nama Israel, Kartun Kuburan Islam, Hutang Piutang Menurut Islam Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1338477499&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Setelah Bangun dari Rukuk Sedekap atau Tidak? Pertanyaan: Saya sering melihat orang yang ketika shalat, setelah bangun dari rukuk, ia bersedekap lagi. Apakah hal ini ada dalilnya? Dan yang lebih tepat seperti apa? Jazakallah khairan. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Memang sebagian ulama menganjurkan untuk bersedekap setelah bangun dari ruku. Di antaranya ini pendapat Al-Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Hazm, dan Al-Kasani rahimahumullah. Ini juga merupakan pendapat yang dikuatkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Mereka berdalil dengan hadis Wa’il bin Hujr radhiyallahu ’anhu: رأيتُ رسولَ اللَّهِ إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ قبضَ بيمينِهِ على شمالِهِ “Aku melihat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An-Nasa’i 886, Al-Baihaqi 2/28, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i). Lafadz إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ (ketika beliau berdiri dalam shalat) dipahami bahwa sedekap itu dilakukan dalam setiap kondisi berdiri dalam shalat kapan pun itu, baik sebelum ruku maupun sesudah ruku. Demikian juga hadis: كان النَّاسُ يؤمَرونَ أنْ يضَعَ الرَّجلُ اليدَ اليُمنى على ذراعِه اليُسرى في الصَّلاةِ “Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan mereka di atas lengan kiri mereka di dalam shalat” (HR. Al-Bukhari no.740). Hadis ini juga dipahami secara umum baik sebelum ruku maupun setelah ruku. Namun ini adalah pendalilan yang tidak sharih atau tidak tegas. Sehingga jumhur ulama dari 4 madzhab mengatakan tidak dianjurkan sedekap setelah bangun dari ruku. Dan juga tidak terdapat riwayat dari para salaf yang melakukan hal tersebut. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.  Mengingat kaidah bahwa ibadah itu tauqifiyyah dan hukum asal ibadah adalah terlarang sampai datang dalilnya, maka kami lebih menyarankan untuk tidak bersedekap setelah bangun dari ruku. Namun, karena tidak ada dalil yang shahih dan sharih mengenai hal ini, maka khilaf ulama dalam hal ini adalah khilaf ijtihadiyyah, perkaranya luas dalam masalah ini. Sehingga Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: أرجو أن لا يضيق ذلك “Saya harap masalah ini tidak dibuat sempit” (Sualat Shalih bin Ahmad, hal. 205 nomor 776). Wallahu ta’ala a’lam. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Doa Melihat Ka'bah, Kesabaran Seorang Istri Menghadapi Suami, Nama Israel, Kartun Kuburan Islam, Hutang Piutang Menurut Islam Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cara Menilai Kesalehan, Kematangan Akal, dan Akhlak Seseorang

Beginilah cara mengetahui kesalehan, kematangan akal, hingga akhlak seseorang. Ternyata semuanya kembali pada AKHLAK. Syaikh Prof. Dr. Sa’ad Al-Khatslan di status twitter “@saad_alkhathlan” ‎إذا أردت أن تعرف صلاح إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع غيره بالدرهم والدينار. .. ‎‏وإذا أردت أن تعرف عقل إنسان فانظر إلى كيفية محاورته مع من يخالفه وكيف يتصرف إذا غضب؟ .. وإذا أردت أن تعرف أخلاق إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع العمال والخدم والفقراء والمساكين Jika engkau ingin mengetahui KESALEHAN seseorang, lihatlah saat ia berurusan uang dengan orang lain. Jika engkau ingin mengetahui KEMATANGAN AKAL seseorang, lihatlah bagaimana ia berdebat dengan lawan dan bagaimana saat ia emosi. Jika engkau ingin mengetahui AKHLAK seseorang, lihatlah bagaimana ia berinteraksi dengan bawahan, pembantu, dan orang miskin. Baca juga: Akhlak Mulia dan Tutur Kata yang Baik   Perhatikan tiga hadits berikut: Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: 13 Akhlak Utama Salafush Shaleh Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Akhlak Mulia Memberatkan Timbangan   Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‎اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Mengikutkan Kejelekan dengan Kebaikan dan Berakhlak Mulia Semoga Allah karuniakan akhlak yang mulia.   Baca juga: Yahya Berakhlak Mulia Sejak Kecil Menjauhi yang Haram dan Akhlak yang Jelek (Syarhus Sunnah) Berbagai Penjelasan Akhlak Mulia dalam Bulughul Maram   – Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak akhlak jelek akhlak mulia kisah orang saleh

Cara Menilai Kesalehan, Kematangan Akal, dan Akhlak Seseorang

Beginilah cara mengetahui kesalehan, kematangan akal, hingga akhlak seseorang. Ternyata semuanya kembali pada AKHLAK. Syaikh Prof. Dr. Sa’ad Al-Khatslan di status twitter “@saad_alkhathlan” ‎إذا أردت أن تعرف صلاح إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع غيره بالدرهم والدينار. .. ‎‏وإذا أردت أن تعرف عقل إنسان فانظر إلى كيفية محاورته مع من يخالفه وكيف يتصرف إذا غضب؟ .. وإذا أردت أن تعرف أخلاق إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع العمال والخدم والفقراء والمساكين Jika engkau ingin mengetahui KESALEHAN seseorang, lihatlah saat ia berurusan uang dengan orang lain. Jika engkau ingin mengetahui KEMATANGAN AKAL seseorang, lihatlah bagaimana ia berdebat dengan lawan dan bagaimana saat ia emosi. Jika engkau ingin mengetahui AKHLAK seseorang, lihatlah bagaimana ia berinteraksi dengan bawahan, pembantu, dan orang miskin. Baca juga: Akhlak Mulia dan Tutur Kata yang Baik   Perhatikan tiga hadits berikut: Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: 13 Akhlak Utama Salafush Shaleh Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Akhlak Mulia Memberatkan Timbangan   Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‎اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Mengikutkan Kejelekan dengan Kebaikan dan Berakhlak Mulia Semoga Allah karuniakan akhlak yang mulia.   Baca juga: Yahya Berakhlak Mulia Sejak Kecil Menjauhi yang Haram dan Akhlak yang Jelek (Syarhus Sunnah) Berbagai Penjelasan Akhlak Mulia dalam Bulughul Maram   – Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak akhlak jelek akhlak mulia kisah orang saleh
Beginilah cara mengetahui kesalehan, kematangan akal, hingga akhlak seseorang. Ternyata semuanya kembali pada AKHLAK. Syaikh Prof. Dr. Sa’ad Al-Khatslan di status twitter “@saad_alkhathlan” ‎إذا أردت أن تعرف صلاح إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع غيره بالدرهم والدينار. .. ‎‏وإذا أردت أن تعرف عقل إنسان فانظر إلى كيفية محاورته مع من يخالفه وكيف يتصرف إذا غضب؟ .. وإذا أردت أن تعرف أخلاق إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع العمال والخدم والفقراء والمساكين Jika engkau ingin mengetahui KESALEHAN seseorang, lihatlah saat ia berurusan uang dengan orang lain. Jika engkau ingin mengetahui KEMATANGAN AKAL seseorang, lihatlah bagaimana ia berdebat dengan lawan dan bagaimana saat ia emosi. Jika engkau ingin mengetahui AKHLAK seseorang, lihatlah bagaimana ia berinteraksi dengan bawahan, pembantu, dan orang miskin. Baca juga: Akhlak Mulia dan Tutur Kata yang Baik   Perhatikan tiga hadits berikut: Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: 13 Akhlak Utama Salafush Shaleh Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Akhlak Mulia Memberatkan Timbangan   Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‎اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Mengikutkan Kejelekan dengan Kebaikan dan Berakhlak Mulia Semoga Allah karuniakan akhlak yang mulia.   Baca juga: Yahya Berakhlak Mulia Sejak Kecil Menjauhi yang Haram dan Akhlak yang Jelek (Syarhus Sunnah) Berbagai Penjelasan Akhlak Mulia dalam Bulughul Maram   – Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak akhlak jelek akhlak mulia kisah orang saleh


Beginilah cara mengetahui kesalehan, kematangan akal, hingga akhlak seseorang. Ternyata semuanya kembali pada AKHLAK. Syaikh Prof. Dr. Sa’ad Al-Khatslan di status twitter “@saad_alkhathlan” ‎إذا أردت أن تعرف صلاح إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع غيره بالدرهم والدينار. .. ‎‏وإذا أردت أن تعرف عقل إنسان فانظر إلى كيفية محاورته مع من يخالفه وكيف يتصرف إذا غضب؟ .. وإذا أردت أن تعرف أخلاق إنسان فانظر إلى كيفية تعامله مع العمال والخدم والفقراء والمساكين Jika engkau ingin mengetahui KESALEHAN seseorang, lihatlah saat ia berurusan uang dengan orang lain. Jika engkau ingin mengetahui KEMATANGAN AKAL seseorang, lihatlah bagaimana ia berdebat dengan lawan dan bagaimana saat ia emosi. Jika engkau ingin mengetahui AKHLAK seseorang, lihatlah bagaimana ia berinteraksi dengan bawahan, pembantu, dan orang miskin. Baca juga: Akhlak Mulia dan Tutur Kata yang Baik   Perhatikan tiga hadits berikut: Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih). Baca juga: 13 Akhlak Utama Salafush Shaleh Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ » “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih). Baca juga: Akhlak Mulia Memberatkan Timbangan   Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‎اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Baca juga: Mengikutkan Kejelekan dengan Kebaikan dan Berakhlak Mulia Semoga Allah karuniakan akhlak yang mulia.   Baca juga: Yahya Berakhlak Mulia Sejak Kecil Menjauhi yang Haram dan Akhlak yang Jelek (Syarhus Sunnah) Berbagai Penjelasan Akhlak Mulia dalam Bulughul Maram   – Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 Artikel Rumaysho.Com Tagsakhlak akhlak jelek akhlak mulia kisah orang saleh

Bulughul Maram – Shalat: Membaca Ayat Kursi Bakda Shalat Sebab Masuk Surga

Ada amalan ringan lagi dibaca bakda shalat yaitu membaca ayat kursi. Keutamaannya adalah jadi sebab masuk surga.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #326/60 1.1. Faedah hadits 1.2. Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT 1.3. Referensi   Hadits #326/60 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلاَ الْمَوْتُ». رَوَاهُ الْنَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tiada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut (kematian).” (HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Hibban) [HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 9:44 dan dikuatkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib, 2:453]. وَزَادَ فِيْهِ الطَّبْرَانِي وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ Ath-Thabrani menambahkan, “Dan bacalah surah Al-Ikhlas.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 8:114, ini adalah tambahan munkaroh]. Baca juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca ayat kursi pada dubur shalat. Keutamaan membaca ayat kursi bakda shalat adalah jadi sebab masuk surga. Dubur shalat yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah bakda salam. Karena letak membaca Al-Qur’an adalah saat berdiri dalam shalat, bukan sebelum salam. Kandungan dari ayat kursi adalah berisi penjelasan dasar-dasar nama dan sifat Allah, keesaan Allah, sifat Allah Yang Mahahidup, sifat Allah yang Qayyum (tidak bergantung pada makhluk-Nya), sifat ilmu, menguasai, kemampuan Allah, dan kehendak Allah. Sedangkan kandungan dari surah Al-Ikhlas adalah membicarakan tentang sifat-sifat Allah secara khusus. Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir juga ada anjuran membaca surah al-mu’awwidzaat. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An-Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. (Fath Al-Bari, 9:62) Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Mu’awwidzaat 40 Kiat Agar Tidak Diganggu Setan   Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT    Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:197-199. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. — Rabu Sore, 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat kursi bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat tafsir ayat kursi

Bulughul Maram – Shalat: Membaca Ayat Kursi Bakda Shalat Sebab Masuk Surga

Ada amalan ringan lagi dibaca bakda shalat yaitu membaca ayat kursi. Keutamaannya adalah jadi sebab masuk surga.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #326/60 1.1. Faedah hadits 1.2. Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT 1.3. Referensi   Hadits #326/60 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلاَ الْمَوْتُ». رَوَاهُ الْنَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tiada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut (kematian).” (HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Hibban) [HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 9:44 dan dikuatkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib, 2:453]. وَزَادَ فِيْهِ الطَّبْرَانِي وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ Ath-Thabrani menambahkan, “Dan bacalah surah Al-Ikhlas.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 8:114, ini adalah tambahan munkaroh]. Baca juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca ayat kursi pada dubur shalat. Keutamaan membaca ayat kursi bakda shalat adalah jadi sebab masuk surga. Dubur shalat yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah bakda salam. Karena letak membaca Al-Qur’an adalah saat berdiri dalam shalat, bukan sebelum salam. Kandungan dari ayat kursi adalah berisi penjelasan dasar-dasar nama dan sifat Allah, keesaan Allah, sifat Allah Yang Mahahidup, sifat Allah yang Qayyum (tidak bergantung pada makhluk-Nya), sifat ilmu, menguasai, kemampuan Allah, dan kehendak Allah. Sedangkan kandungan dari surah Al-Ikhlas adalah membicarakan tentang sifat-sifat Allah secara khusus. Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir juga ada anjuran membaca surah al-mu’awwidzaat. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An-Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. (Fath Al-Bari, 9:62) Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Mu’awwidzaat 40 Kiat Agar Tidak Diganggu Setan   Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT    Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:197-199. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. — Rabu Sore, 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat kursi bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat tafsir ayat kursi
Ada amalan ringan lagi dibaca bakda shalat yaitu membaca ayat kursi. Keutamaannya adalah jadi sebab masuk surga.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #326/60 1.1. Faedah hadits 1.2. Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT 1.3. Referensi   Hadits #326/60 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلاَ الْمَوْتُ». رَوَاهُ الْنَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tiada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut (kematian).” (HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Hibban) [HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 9:44 dan dikuatkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib, 2:453]. وَزَادَ فِيْهِ الطَّبْرَانِي وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ Ath-Thabrani menambahkan, “Dan bacalah surah Al-Ikhlas.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 8:114, ini adalah tambahan munkaroh]. Baca juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca ayat kursi pada dubur shalat. Keutamaan membaca ayat kursi bakda shalat adalah jadi sebab masuk surga. Dubur shalat yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah bakda salam. Karena letak membaca Al-Qur’an adalah saat berdiri dalam shalat, bukan sebelum salam. Kandungan dari ayat kursi adalah berisi penjelasan dasar-dasar nama dan sifat Allah, keesaan Allah, sifat Allah Yang Mahahidup, sifat Allah yang Qayyum (tidak bergantung pada makhluk-Nya), sifat ilmu, menguasai, kemampuan Allah, dan kehendak Allah. Sedangkan kandungan dari surah Al-Ikhlas adalah membicarakan tentang sifat-sifat Allah secara khusus. Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir juga ada anjuran membaca surah al-mu’awwidzaat. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An-Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. (Fath Al-Bari, 9:62) Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Mu’awwidzaat 40 Kiat Agar Tidak Diganggu Setan   Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT    Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:197-199. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. — Rabu Sore, 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat kursi bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat tafsir ayat kursi


Ada amalan ringan lagi dibaca bakda shalat yaitu membaca ayat kursi. Keutamaannya adalah jadi sebab masuk surga.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #326/60 1.1. Faedah hadits 1.2. Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT 1.3. Referensi   Hadits #326/60 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلاَ الْمَوْتُ». رَوَاهُ الْنَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tiada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut (kematian).” (HR. An-Nasai dan disahihkan oleh Ibnu Hibban) [HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 9:44 dan dikuatkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib, 2:453]. وَزَادَ فِيْهِ الطَّبْرَانِي وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ Ath-Thabrani menambahkan, “Dan bacalah surah Al-Ikhlas.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir, 8:114, ini adalah tambahan munkaroh]. Baca juga: Kisah Setan yang Mengajarkan Ayat Kursi pada Abu Hurairah   Faedah hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca ayat kursi pada dubur shalat. Keutamaan membaca ayat kursi bakda shalat adalah jadi sebab masuk surga. Dubur shalat yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah bakda salam. Karena letak membaca Al-Qur’an adalah saat berdiri dalam shalat, bukan sebelum salam. Kandungan dari ayat kursi adalah berisi penjelasan dasar-dasar nama dan sifat Allah, keesaan Allah, sifat Allah Yang Mahahidup, sifat Allah yang Qayyum (tidak bergantung pada makhluk-Nya), sifat ilmu, menguasai, kemampuan Allah, dan kehendak Allah. Sedangkan kandungan dari surah Al-Ikhlas adalah membicarakan tentang sifat-sifat Allah secara khusus. Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir juga ada anjuran membaca surah al-mu’awwidzaat. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An-Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. (Fath Al-Bari, 9:62) Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Mu’awwidzaat 40 Kiat Agar Tidak Diganggu Setan   Lihat video KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI BAKDA SHALAT <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span>   Referensi Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:197-199. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513. — Rabu Sore, 1 Dzulqa’dah 1443 H, 1 Juni 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsayat kursi bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat tafsir ayat kursi

Amalan Agar Panjang Umur – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Amalan Agar Panjang Umur – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara sebab-sebab yang bersumber dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang bisa memperpanjang umur. Para ulama berkata: Perbuatan-perbuatan makruf, yaitu berbuat baik kepada manusia, berderma kepada mereka, dengan harta, kedudukan, waktu, pekerjaan, dll. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib—semoga Allah meridainya—bahwasanya dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, berbuat kebaikan, akan mengubah duka menjadi bahagia, menambah umur dan mencegah musibah.” Jadi, barang siapa berbuat makruf dan kebaikan kepada manusia, dengan dirinya dan kedudukannya, dan mengeluarkan harta, waktu, serta tenaganya, untuk membantu yang menderita dan menolong orang yang kesulitan, ini semua termasuk berbuat makruf yang dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa itu akan menolak musibah, yang dengannya menjadi sebab dipanjangkannya umur, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab yang kesebelas, atau kesepuluh, yang disebutkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa hal itu memanjangkan umur, para ulama berkata, “Sedekah.” Hal tersebut sahih berdasarkan hadis yang banyak dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang satu dengan yang lainnya saling menguatkan sehingga menjadi hadis hasan dari semua jalurnya, bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah dapat mencegah malapetaka.” Telah kita bahas tadi, riwayat dari Ali—semoga Allah meridainya—bahwa dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, dapat mengubah duka menjadi bahagia, dan menambah umur.” Memperbanyak sedekah, yang saya maksud adalah sedekah sunah, bukan zakat yang merupakan sedekah wajib, zakat bukan amal sosial, namun kewajiban yang memang harus dibayarkan. Disebutkan dalam hadis bahwa sedekah dapat memanjangkan dan menambah umur. ================================================================================ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوْا: صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانُ لِلنَّاسِ وَالْجُودُ عَلَيْهِمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالْوَقْتِ وَالْعَمَلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ عَنْ… وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ وَيَقِيْ مَصَارِعَ السُّوءِ فَمَنِ اصْطَنَعَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَ النَّاسِ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِمْ وَبَذَلَ وَجْهَهُ وَجَاهَهُ وَبَذَلَ مَالَهُ وَبَذَلَ وَقْتَهُ وَعَمَلَهُ فِي إِغَاثَةِ مَلْهُوفٍ وَنُصْرَةِ مَكْرُوبٍ فَإِنَّ هَذَا مِنِ اصْطِنَاعِ الْمَعْرُوفِ… الَّذِي بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ فَفِي ذَلِكَ سَبَبٌ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِإِطَالَةِ الْعُمْرِ وَمَدِّهِ الْأَمْرُ الْحَادِيْ عَشَرَ أَوِ الْأَمْرُ الْعَاشِرُ مِمَّا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوا: الصَّدَقَةُ وَقَدْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ يَشُدُّ إِسْنَادُ بَعْضِهَا بَعْضًا وَهُوَ حَسَنٌ بِمَجْمُوعِ طُرُقِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالصَّدَقَةُ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ وَقَدْ سَبَقَ مَعَنَا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرَّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعَ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ فَالْإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَعْنِيْ بِصَدَقَةٍ مَنْدُوبَةٍ دُونَ الْوَاجِبَةِ الَّتِي لَا مِنَّةَ لِلْمَرْءِ فِيهَا وَهِيَ الزَّكَاةُ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهَا… أَنَّهَا تَمُدُّ فِي الْعُمْرِ وَتَنْسَأُ فِيهِ وَتَزِيدُ  

Amalan Agar Panjang Umur – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Amalan Agar Panjang Umur – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara sebab-sebab yang bersumber dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang bisa memperpanjang umur. Para ulama berkata: Perbuatan-perbuatan makruf, yaitu berbuat baik kepada manusia, berderma kepada mereka, dengan harta, kedudukan, waktu, pekerjaan, dll. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib—semoga Allah meridainya—bahwasanya dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, berbuat kebaikan, akan mengubah duka menjadi bahagia, menambah umur dan mencegah musibah.” Jadi, barang siapa berbuat makruf dan kebaikan kepada manusia, dengan dirinya dan kedudukannya, dan mengeluarkan harta, waktu, serta tenaganya, untuk membantu yang menderita dan menolong orang yang kesulitan, ini semua termasuk berbuat makruf yang dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa itu akan menolak musibah, yang dengannya menjadi sebab dipanjangkannya umur, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab yang kesebelas, atau kesepuluh, yang disebutkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa hal itu memanjangkan umur, para ulama berkata, “Sedekah.” Hal tersebut sahih berdasarkan hadis yang banyak dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang satu dengan yang lainnya saling menguatkan sehingga menjadi hadis hasan dari semua jalurnya, bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah dapat mencegah malapetaka.” Telah kita bahas tadi, riwayat dari Ali—semoga Allah meridainya—bahwa dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, dapat mengubah duka menjadi bahagia, dan menambah umur.” Memperbanyak sedekah, yang saya maksud adalah sedekah sunah, bukan zakat yang merupakan sedekah wajib, zakat bukan amal sosial, namun kewajiban yang memang harus dibayarkan. Disebutkan dalam hadis bahwa sedekah dapat memanjangkan dan menambah umur. ================================================================================ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوْا: صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانُ لِلنَّاسِ وَالْجُودُ عَلَيْهِمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالْوَقْتِ وَالْعَمَلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ عَنْ… وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ وَيَقِيْ مَصَارِعَ السُّوءِ فَمَنِ اصْطَنَعَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَ النَّاسِ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِمْ وَبَذَلَ وَجْهَهُ وَجَاهَهُ وَبَذَلَ مَالَهُ وَبَذَلَ وَقْتَهُ وَعَمَلَهُ فِي إِغَاثَةِ مَلْهُوفٍ وَنُصْرَةِ مَكْرُوبٍ فَإِنَّ هَذَا مِنِ اصْطِنَاعِ الْمَعْرُوفِ… الَّذِي بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ فَفِي ذَلِكَ سَبَبٌ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِإِطَالَةِ الْعُمْرِ وَمَدِّهِ الْأَمْرُ الْحَادِيْ عَشَرَ أَوِ الْأَمْرُ الْعَاشِرُ مِمَّا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوا: الصَّدَقَةُ وَقَدْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ يَشُدُّ إِسْنَادُ بَعْضِهَا بَعْضًا وَهُوَ حَسَنٌ بِمَجْمُوعِ طُرُقِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالصَّدَقَةُ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ وَقَدْ سَبَقَ مَعَنَا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرَّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعَ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ فَالْإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَعْنِيْ بِصَدَقَةٍ مَنْدُوبَةٍ دُونَ الْوَاجِبَةِ الَّتِي لَا مِنَّةَ لِلْمَرْءِ فِيهَا وَهِيَ الزَّكَاةُ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهَا… أَنَّهَا تَمُدُّ فِي الْعُمْرِ وَتَنْسَأُ فِيهِ وَتَزِيدُ  
Amalan Agar Panjang Umur – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara sebab-sebab yang bersumber dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang bisa memperpanjang umur. Para ulama berkata: Perbuatan-perbuatan makruf, yaitu berbuat baik kepada manusia, berderma kepada mereka, dengan harta, kedudukan, waktu, pekerjaan, dll. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib—semoga Allah meridainya—bahwasanya dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, berbuat kebaikan, akan mengubah duka menjadi bahagia, menambah umur dan mencegah musibah.” Jadi, barang siapa berbuat makruf dan kebaikan kepada manusia, dengan dirinya dan kedudukannya, dan mengeluarkan harta, waktu, serta tenaganya, untuk membantu yang menderita dan menolong orang yang kesulitan, ini semua termasuk berbuat makruf yang dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa itu akan menolak musibah, yang dengannya menjadi sebab dipanjangkannya umur, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab yang kesebelas, atau kesepuluh, yang disebutkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa hal itu memanjangkan umur, para ulama berkata, “Sedekah.” Hal tersebut sahih berdasarkan hadis yang banyak dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang satu dengan yang lainnya saling menguatkan sehingga menjadi hadis hasan dari semua jalurnya, bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah dapat mencegah malapetaka.” Telah kita bahas tadi, riwayat dari Ali—semoga Allah meridainya—bahwa dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, dapat mengubah duka menjadi bahagia, dan menambah umur.” Memperbanyak sedekah, yang saya maksud adalah sedekah sunah, bukan zakat yang merupakan sedekah wajib, zakat bukan amal sosial, namun kewajiban yang memang harus dibayarkan. Disebutkan dalam hadis bahwa sedekah dapat memanjangkan dan menambah umur. ================================================================================ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوْا: صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانُ لِلنَّاسِ وَالْجُودُ عَلَيْهِمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالْوَقْتِ وَالْعَمَلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ عَنْ… وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ وَيَقِيْ مَصَارِعَ السُّوءِ فَمَنِ اصْطَنَعَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَ النَّاسِ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِمْ وَبَذَلَ وَجْهَهُ وَجَاهَهُ وَبَذَلَ مَالَهُ وَبَذَلَ وَقْتَهُ وَعَمَلَهُ فِي إِغَاثَةِ مَلْهُوفٍ وَنُصْرَةِ مَكْرُوبٍ فَإِنَّ هَذَا مِنِ اصْطِنَاعِ الْمَعْرُوفِ… الَّذِي بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ فَفِي ذَلِكَ سَبَبٌ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِإِطَالَةِ الْعُمْرِ وَمَدِّهِ الْأَمْرُ الْحَادِيْ عَشَرَ أَوِ الْأَمْرُ الْعَاشِرُ مِمَّا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوا: الصَّدَقَةُ وَقَدْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ يَشُدُّ إِسْنَادُ بَعْضِهَا بَعْضًا وَهُوَ حَسَنٌ بِمَجْمُوعِ طُرُقِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالصَّدَقَةُ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ وَقَدْ سَبَقَ مَعَنَا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرَّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعَ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ فَالْإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَعْنِيْ بِصَدَقَةٍ مَنْدُوبَةٍ دُونَ الْوَاجِبَةِ الَّتِي لَا مِنَّةَ لِلْمَرْءِ فِيهَا وَهِيَ الزَّكَاةُ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهَا… أَنَّهَا تَمُدُّ فِي الْعُمْرِ وَتَنْسَأُ فِيهِ وَتَزِيدُ  


Amalan Agar Panjang Umur – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Di antara sebab-sebab yang bersumber dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang bisa memperpanjang umur. Para ulama berkata: Perbuatan-perbuatan makruf, yaitu berbuat baik kepada manusia, berderma kepada mereka, dengan harta, kedudukan, waktu, pekerjaan, dll. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib—semoga Allah meridainya—bahwasanya dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, berbuat kebaikan, akan mengubah duka menjadi bahagia, menambah umur dan mencegah musibah.” Jadi, barang siapa berbuat makruf dan kebaikan kepada manusia, dengan dirinya dan kedudukannya, dan mengeluarkan harta, waktu, serta tenaganya, untuk membantu yang menderita dan menolong orang yang kesulitan, ini semua termasuk berbuat makruf yang dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa itu akan menolak musibah, yang dengannya menjadi sebab dipanjangkannya umur, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab yang kesebelas, atau kesepuluh, yang disebutkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, bahwa hal itu memanjangkan umur, para ulama berkata, “Sedekah.” Hal tersebut sahih berdasarkan hadis yang banyak dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang satu dengan yang lainnya saling menguatkan sehingga menjadi hadis hasan dari semua jalurnya, bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah dapat mencegah malapetaka.” Telah kita bahas tadi, riwayat dari Ali—semoga Allah meridainya—bahwa dia berkata, “Sedekah yang tepat guna, berbakti kepada orang tua, dan berbuat makruf, dapat mengubah duka menjadi bahagia, dan menambah umur.” Memperbanyak sedekah, yang saya maksud adalah sedekah sunah, bukan zakat yang merupakan sedekah wajib, zakat bukan amal sosial, namun kewajiban yang memang harus dibayarkan. Disebutkan dalam hadis bahwa sedekah dapat memanjangkan dan menambah umur. ================================================================================ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوْا: صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانُ لِلنَّاسِ وَالْجُودُ عَلَيْهِمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ وَالْوَقْتِ وَالْعَمَلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ عَنْ… وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَعْمَالِ وَقَدْ جَاءَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا الصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ وَيَقِيْ مَصَارِعَ السُّوءِ فَمَنِ اصْطَنَعَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَ النَّاسِ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِمْ وَبَذَلَ وَجْهَهُ وَجَاهَهُ وَبَذَلَ مَالَهُ وَبَذَلَ وَقْتَهُ وَعَمَلَهُ فِي إِغَاثَةِ مَلْهُوفٍ وَنُصْرَةِ مَكْرُوبٍ فَإِنَّ هَذَا مِنِ اصْطِنَاعِ الْمَعْرُوفِ… الَّذِي بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ فَفِي ذَلِكَ سَبَبٌ بِأَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِإِطَالَةِ الْعُمْرِ وَمَدِّهِ الْأَمْرُ الْحَادِيْ عَشَرَ أَوِ الْأَمْرُ الْعَاشِرُ مِمَّا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُطِيلُ فِي الْعُمْرِ قَالُوا: الصَّدَقَةُ وَقَدْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ يَشُدُّ إِسْنَادُ بَعْضِهَا بَعْضًا وَهُوَ حَسَنٌ بِمَجْمُوعِ طُرُقِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالصَّدَقَةُ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ وَقَدْ سَبَقَ مَعَنَا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى وَجْهِهَا وَبِرَّ الْوَالِدَيْنِ وَاصْطِنَاعَ الْمَعْرُوفِ يُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً وَيَزِيدُ فِي الْعُمْرِ فَالْإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ وَأَعْنِيْ بِصَدَقَةٍ مَنْدُوبَةٍ دُونَ الْوَاجِبَةِ الَّتِي لَا مِنَّةَ لِلْمَرْءِ فِيهَا وَهِيَ الزَّكَاةُ فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهَا… أَنَّهَا تَمُدُّ فِي الْعُمْرِ وَتَنْسَأُ فِيهِ وَتَزِيدُ  

Ucapan Salam ketika Masuk Rumah Tidak Berpenghuni

Selama ini kita sudah terbiasa masuk rumah mengucapkan salam. Akan tetapi, bisa jadi ada di antara kita ketika tahu rumah itu tidak berpenghuni, kita tidak mengucapkan salam. Kita dianjurkan untuk tetap mengucapkan salam ketika masuk rumah yang tidak berpenghuni dengan lafaz sebagai berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.”Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata,إذا دخل البيت غير المسكون، فليقلالسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Jika seseorang masuk rumah yang tidak berpenghuni, maka ucapkanlah,‘Assalaamu ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Adabul Mufrad, 806/ 1055)Hukumnya adalah sunah (dianjurkan). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,ويستحب إذا دخل بيته أن يسلم وإن لم يكن فيه أحد، وليقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين“Disunahkan apabila masuk rumah agar tetap mengucapkan salam meskipun tidak ada seorang pun di dalamnya. Hendaknya dia mengucapkan,‘Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Al-Azkar, hal. 61)Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan JenisSunah ini termasuk dalam perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً“Apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.” (QS. An-Nuur: 61)Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan mengenai keumuman makna ayat ini dan beliau juga menjelaskan rincian salam ketika masuk ke rumah. Beliau rahimahullah berkata,والأوجه أن يقال : إن هذا عام في دخول كل بيت ، فإن كان فيه ساكن مسلم يقول : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، وإن لم يكن فيه ساكن يقول : السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ، وإن كان في البيت من ليس بمسلم قال : السلام على من اتبع الهدى ، أو السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين اهـ“Dan nampak bagi kami bahwa makna ayat ini bersifat umum, perintah salam ketika masuk semua (jenis) rumah.Apabila penghuninya muslim, hendaknya mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.’Apabila penghuninya tidak ada, mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin.’Apabila penghuninya nonmuslim, mengucapkan, ‘Assalamu ‘ala manittaba’al huda’, atau ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahis shaalihiin.’” (Lihat Tafsir Qurthubi)Demikian, semoga penjelasan yang singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.Baca Juga:Hukum Memulai Salam kepada Ahli MaksiatHukum Menjawab Salam ketika Sedang Sujud@Bandara Soetta, Perjalanan Yogya – MadinahPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Bermanhaj Salaf, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Taman Surga Dunia, Tata Cara Menuntut IlmuTags: fikih salamkeutamaan salamlafadz salamnasihatpanduan salamsalamtata cara salamtuntunan salamucapan salam

Ucapan Salam ketika Masuk Rumah Tidak Berpenghuni

Selama ini kita sudah terbiasa masuk rumah mengucapkan salam. Akan tetapi, bisa jadi ada di antara kita ketika tahu rumah itu tidak berpenghuni, kita tidak mengucapkan salam. Kita dianjurkan untuk tetap mengucapkan salam ketika masuk rumah yang tidak berpenghuni dengan lafaz sebagai berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.”Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata,إذا دخل البيت غير المسكون، فليقلالسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Jika seseorang masuk rumah yang tidak berpenghuni, maka ucapkanlah,‘Assalaamu ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Adabul Mufrad, 806/ 1055)Hukumnya adalah sunah (dianjurkan). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,ويستحب إذا دخل بيته أن يسلم وإن لم يكن فيه أحد، وليقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين“Disunahkan apabila masuk rumah agar tetap mengucapkan salam meskipun tidak ada seorang pun di dalamnya. Hendaknya dia mengucapkan,‘Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Al-Azkar, hal. 61)Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan JenisSunah ini termasuk dalam perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً“Apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.” (QS. An-Nuur: 61)Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan mengenai keumuman makna ayat ini dan beliau juga menjelaskan rincian salam ketika masuk ke rumah. Beliau rahimahullah berkata,والأوجه أن يقال : إن هذا عام في دخول كل بيت ، فإن كان فيه ساكن مسلم يقول : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، وإن لم يكن فيه ساكن يقول : السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ، وإن كان في البيت من ليس بمسلم قال : السلام على من اتبع الهدى ، أو السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين اهـ“Dan nampak bagi kami bahwa makna ayat ini bersifat umum, perintah salam ketika masuk semua (jenis) rumah.Apabila penghuninya muslim, hendaknya mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.’Apabila penghuninya tidak ada, mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin.’Apabila penghuninya nonmuslim, mengucapkan, ‘Assalamu ‘ala manittaba’al huda’, atau ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahis shaalihiin.’” (Lihat Tafsir Qurthubi)Demikian, semoga penjelasan yang singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.Baca Juga:Hukum Memulai Salam kepada Ahli MaksiatHukum Menjawab Salam ketika Sedang Sujud@Bandara Soetta, Perjalanan Yogya – MadinahPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Bermanhaj Salaf, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Taman Surga Dunia, Tata Cara Menuntut IlmuTags: fikih salamkeutamaan salamlafadz salamnasihatpanduan salamsalamtata cara salamtuntunan salamucapan salam
Selama ini kita sudah terbiasa masuk rumah mengucapkan salam. Akan tetapi, bisa jadi ada di antara kita ketika tahu rumah itu tidak berpenghuni, kita tidak mengucapkan salam. Kita dianjurkan untuk tetap mengucapkan salam ketika masuk rumah yang tidak berpenghuni dengan lafaz sebagai berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.”Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata,إذا دخل البيت غير المسكون، فليقلالسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Jika seseorang masuk rumah yang tidak berpenghuni, maka ucapkanlah,‘Assalaamu ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Adabul Mufrad, 806/ 1055)Hukumnya adalah sunah (dianjurkan). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,ويستحب إذا دخل بيته أن يسلم وإن لم يكن فيه أحد، وليقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين“Disunahkan apabila masuk rumah agar tetap mengucapkan salam meskipun tidak ada seorang pun di dalamnya. Hendaknya dia mengucapkan,‘Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Al-Azkar, hal. 61)Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan JenisSunah ini termasuk dalam perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً“Apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.” (QS. An-Nuur: 61)Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan mengenai keumuman makna ayat ini dan beliau juga menjelaskan rincian salam ketika masuk ke rumah. Beliau rahimahullah berkata,والأوجه أن يقال : إن هذا عام في دخول كل بيت ، فإن كان فيه ساكن مسلم يقول : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، وإن لم يكن فيه ساكن يقول : السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ، وإن كان في البيت من ليس بمسلم قال : السلام على من اتبع الهدى ، أو السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين اهـ“Dan nampak bagi kami bahwa makna ayat ini bersifat umum, perintah salam ketika masuk semua (jenis) rumah.Apabila penghuninya muslim, hendaknya mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.’Apabila penghuninya tidak ada, mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin.’Apabila penghuninya nonmuslim, mengucapkan, ‘Assalamu ‘ala manittaba’al huda’, atau ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahis shaalihiin.’” (Lihat Tafsir Qurthubi)Demikian, semoga penjelasan yang singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.Baca Juga:Hukum Memulai Salam kepada Ahli MaksiatHukum Menjawab Salam ketika Sedang Sujud@Bandara Soetta, Perjalanan Yogya – MadinahPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Bermanhaj Salaf, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Taman Surga Dunia, Tata Cara Menuntut IlmuTags: fikih salamkeutamaan salamlafadz salamnasihatpanduan salamsalamtata cara salamtuntunan salamucapan salam


Selama ini kita sudah terbiasa masuk rumah mengucapkan salam. Akan tetapi, bisa jadi ada di antara kita ketika tahu rumah itu tidak berpenghuni, kita tidak mengucapkan salam. Kita dianjurkan untuk tetap mengucapkan salam ketika masuk rumah yang tidak berpenghuni dengan lafaz sebagai berikut, السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.”Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata,إذا دخل البيت غير المسكون، فليقلالسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ“Jika seseorang masuk rumah yang tidak berpenghuni, maka ucapkanlah,‘Assalaamu ‘alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Adabul Mufrad, 806/ 1055)Hukumnya adalah sunah (dianjurkan). An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,ويستحب إذا دخل بيته أن يسلم وإن لم يكن فيه أحد، وليقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين“Disunahkan apabila masuk rumah agar tetap mengucapkan salam meskipun tidak ada seorang pun di dalamnya. Hendaknya dia mengucapkan,‘Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.’(Salam/keselamatan bagi diri kami dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh.)” (Al-Azkar, hal. 61)Baca Juga: Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan JenisSunah ini termasuk dalam perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an secara umum. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً“Apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.” (QS. An-Nuur: 61)Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan mengenai keumuman makna ayat ini dan beliau juga menjelaskan rincian salam ketika masuk ke rumah. Beliau rahimahullah berkata,والأوجه أن يقال : إن هذا عام في دخول كل بيت ، فإن كان فيه ساكن مسلم يقول : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، وإن لم يكن فيه ساكن يقول : السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ، وإن كان في البيت من ليس بمسلم قال : السلام على من اتبع الهدى ، أو السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين اهـ“Dan nampak bagi kami bahwa makna ayat ini bersifat umum, perintah salam ketika masuk semua (jenis) rumah.Apabila penghuninya muslim, hendaknya mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.’Apabila penghuninya tidak ada, mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin.’Apabila penghuninya nonmuslim, mengucapkan, ‘Assalamu ‘ala manittaba’al huda’, atau ‘Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahis shaalihiin.’” (Lihat Tafsir Qurthubi)Demikian, semoga penjelasan yang singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.Baca Juga:Hukum Memulai Salam kepada Ahli MaksiatHukum Menjawab Salam ketika Sedang Sujud@Bandara Soetta, Perjalanan Yogya – MadinahPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Bermanhaj Salaf, Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo, Taman Surga Dunia, Tata Cara Menuntut IlmuTags: fikih salamkeutamaan salamlafadz salamnasihatpanduan salamsalamtata cara salamtuntunan salamucapan salam

Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan. 2. Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Katakanlah, “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 104)Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, penghulu para nabi, imam orang-orang bertakwa, yang terbaik dari orang-orang yang yakin, agar beliau menyeru kepada manusia, “Jika kalian masih ragu dan samar tentang agamaku yang aku dakwahkan pada kalian, dan kalian belum mendapatkan kejelasan bahwa agama tersebut adalah kebenaran, maka dengarkanlah tentang agama ini! Masukkan ke dalam akal kalian dan lihatlah baik-baik agar kalian paham bahwa tidak ada sedikit pun keraguan dalam agama ini. Bahkan aku memiliki ilmu yang meyakinkan bahwa agama ini adalah kebenaran dan apa yang kalian serukan itu adalah kebatilan. Aku memiliki dalil yang jelas dan bukti yang terang atas hal tersebut. Aku pun tidak menyembah apa yang kalian sembah selain Allah, baik itu berhala, patung, atau yang lainnya. Karena benda-benda itu tidak bisa mencipta, tidak bisa memberi rezeki, tidak bisa mengatur urusan apapun. Benda-benda itu hanyalah makhluk yang diatur. Benda-benda itu tidak punya kemampuan apa-apa sehingga berhak diibadahi.”Baca Juga: Mengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ“Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu. Sebab itu, barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (QS. Yunus: 108)Katakan kepada mereka, wahai Rasul! Sampaikan kepada seluruh manusia! Yang hadir akan mendengar seruan tersebut, sedangkan yang tidak hadir akan ada yang menyampaikannya darimu. Katakanlah, “Sungguh telah datang Al-Qur’an ini kepada kalian. Al-Qur’an yang benar, penuh dengan bukti yang jelas, tidak ada keraguan sedikit pun dan dari sisi manapun. Al-Qur’an ini adalah kebenaran yang menjelaskan hakikat agama ini. Sungguh, orang-orang sebelum kalian juga sudah diberi wahyu dengan yang seperti ini. Di dalam Al-Qur’an ada penjelasan segala sesuatu berupa perintah dan larangan Allah juga penjelasan tentang akhlak yang mulia. Tidak ada kebatilan sedikit pun padanya, dari depan sampai belakang.Barang siapa mencari petunjuk dengan hidayah dari Allah, dengan mempelajarinya dan memahaminya serta mendahulukannya dibandingkan selainnya, maka kebaikannya akan kembali pada dirinya. Buahnya akan dia petik karena dia akan bahagia dalam urusan dunia dan agamanya. Hal tersebut adalah buah dari amalnya, bukan buah dari selainnya.Adapun yang menyimpang dari kebenaran yang datang dari sisi Allah, berpaling dari kitab-Nya dan dari ayat-ayat-Nya, maka akibat buruk kesesatannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan mendapatkan petunjuk di dunia dan akan tertimpa azab di akhirat karena kekufuran dan kejahatannya.Aku bukanlah wakil Allah untuk mengurusi dan mengawasi segala urusan kalian sehingga aku bisa menjadikan kalian tidak suka dengan keimanan atau mencegah kalian dari kekufuran dan kemaksiatan dengan kekuatanku. Aku tidak bisa memberikan mudharat ataupun manfaat untuk kalian. Aku hanyalah seorang Rasul yang menyampaikan perintah Tuhan kalian. Membawa berita gembira bagi orang yang mengambil petunjuk dan memberi peringatan bagi orang yang sesat dan menyimpang. Aku bukanlah orang yang bisa mengawasi dan mengevaluasi amalan kalian. Maka, perhatikanlah diri kalian masing-masing, selama kalian masih diberikan waktu.”[Bersambung]Baca Juga:Perbedaan antara Aqidah, Tauhid dan ManhajAqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Apakah Jin Masuk Surga, Menghina Allah, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Untuk Melembutkan Hati SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid

Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan. 2. Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Katakanlah, “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 104)Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, penghulu para nabi, imam orang-orang bertakwa, yang terbaik dari orang-orang yang yakin, agar beliau menyeru kepada manusia, “Jika kalian masih ragu dan samar tentang agamaku yang aku dakwahkan pada kalian, dan kalian belum mendapatkan kejelasan bahwa agama tersebut adalah kebenaran, maka dengarkanlah tentang agama ini! Masukkan ke dalam akal kalian dan lihatlah baik-baik agar kalian paham bahwa tidak ada sedikit pun keraguan dalam agama ini. Bahkan aku memiliki ilmu yang meyakinkan bahwa agama ini adalah kebenaran dan apa yang kalian serukan itu adalah kebatilan. Aku memiliki dalil yang jelas dan bukti yang terang atas hal tersebut. Aku pun tidak menyembah apa yang kalian sembah selain Allah, baik itu berhala, patung, atau yang lainnya. Karena benda-benda itu tidak bisa mencipta, tidak bisa memberi rezeki, tidak bisa mengatur urusan apapun. Benda-benda itu hanyalah makhluk yang diatur. Benda-benda itu tidak punya kemampuan apa-apa sehingga berhak diibadahi.”Baca Juga: Mengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ“Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu. Sebab itu, barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (QS. Yunus: 108)Katakan kepada mereka, wahai Rasul! Sampaikan kepada seluruh manusia! Yang hadir akan mendengar seruan tersebut, sedangkan yang tidak hadir akan ada yang menyampaikannya darimu. Katakanlah, “Sungguh telah datang Al-Qur’an ini kepada kalian. Al-Qur’an yang benar, penuh dengan bukti yang jelas, tidak ada keraguan sedikit pun dan dari sisi manapun. Al-Qur’an ini adalah kebenaran yang menjelaskan hakikat agama ini. Sungguh, orang-orang sebelum kalian juga sudah diberi wahyu dengan yang seperti ini. Di dalam Al-Qur’an ada penjelasan segala sesuatu berupa perintah dan larangan Allah juga penjelasan tentang akhlak yang mulia. Tidak ada kebatilan sedikit pun padanya, dari depan sampai belakang.Barang siapa mencari petunjuk dengan hidayah dari Allah, dengan mempelajarinya dan memahaminya serta mendahulukannya dibandingkan selainnya, maka kebaikannya akan kembali pada dirinya. Buahnya akan dia petik karena dia akan bahagia dalam urusan dunia dan agamanya. Hal tersebut adalah buah dari amalnya, bukan buah dari selainnya.Adapun yang menyimpang dari kebenaran yang datang dari sisi Allah, berpaling dari kitab-Nya dan dari ayat-ayat-Nya, maka akibat buruk kesesatannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan mendapatkan petunjuk di dunia dan akan tertimpa azab di akhirat karena kekufuran dan kejahatannya.Aku bukanlah wakil Allah untuk mengurusi dan mengawasi segala urusan kalian sehingga aku bisa menjadikan kalian tidak suka dengan keimanan atau mencegah kalian dari kekufuran dan kemaksiatan dengan kekuatanku. Aku tidak bisa memberikan mudharat ataupun manfaat untuk kalian. Aku hanyalah seorang Rasul yang menyampaikan perintah Tuhan kalian. Membawa berita gembira bagi orang yang mengambil petunjuk dan memberi peringatan bagi orang yang sesat dan menyimpang. Aku bukanlah orang yang bisa mengawasi dan mengevaluasi amalan kalian. Maka, perhatikanlah diri kalian masing-masing, selama kalian masih diberikan waktu.”[Bersambung]Baca Juga:Perbedaan antara Aqidah, Tauhid dan ManhajAqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Apakah Jin Masuk Surga, Menghina Allah, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Untuk Melembutkan Hati SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid
Baca pembahasan sebelumnya Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan. 2. Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Katakanlah, “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 104)Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, penghulu para nabi, imam orang-orang bertakwa, yang terbaik dari orang-orang yang yakin, agar beliau menyeru kepada manusia, “Jika kalian masih ragu dan samar tentang agamaku yang aku dakwahkan pada kalian, dan kalian belum mendapatkan kejelasan bahwa agama tersebut adalah kebenaran, maka dengarkanlah tentang agama ini! Masukkan ke dalam akal kalian dan lihatlah baik-baik agar kalian paham bahwa tidak ada sedikit pun keraguan dalam agama ini. Bahkan aku memiliki ilmu yang meyakinkan bahwa agama ini adalah kebenaran dan apa yang kalian serukan itu adalah kebatilan. Aku memiliki dalil yang jelas dan bukti yang terang atas hal tersebut. Aku pun tidak menyembah apa yang kalian sembah selain Allah, baik itu berhala, patung, atau yang lainnya. Karena benda-benda itu tidak bisa mencipta, tidak bisa memberi rezeki, tidak bisa mengatur urusan apapun. Benda-benda itu hanyalah makhluk yang diatur. Benda-benda itu tidak punya kemampuan apa-apa sehingga berhak diibadahi.”Baca Juga: Mengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ“Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu. Sebab itu, barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (QS. Yunus: 108)Katakan kepada mereka, wahai Rasul! Sampaikan kepada seluruh manusia! Yang hadir akan mendengar seruan tersebut, sedangkan yang tidak hadir akan ada yang menyampaikannya darimu. Katakanlah, “Sungguh telah datang Al-Qur’an ini kepada kalian. Al-Qur’an yang benar, penuh dengan bukti yang jelas, tidak ada keraguan sedikit pun dan dari sisi manapun. Al-Qur’an ini adalah kebenaran yang menjelaskan hakikat agama ini. Sungguh, orang-orang sebelum kalian juga sudah diberi wahyu dengan yang seperti ini. Di dalam Al-Qur’an ada penjelasan segala sesuatu berupa perintah dan larangan Allah juga penjelasan tentang akhlak yang mulia. Tidak ada kebatilan sedikit pun padanya, dari depan sampai belakang.Barang siapa mencari petunjuk dengan hidayah dari Allah, dengan mempelajarinya dan memahaminya serta mendahulukannya dibandingkan selainnya, maka kebaikannya akan kembali pada dirinya. Buahnya akan dia petik karena dia akan bahagia dalam urusan dunia dan agamanya. Hal tersebut adalah buah dari amalnya, bukan buah dari selainnya.Adapun yang menyimpang dari kebenaran yang datang dari sisi Allah, berpaling dari kitab-Nya dan dari ayat-ayat-Nya, maka akibat buruk kesesatannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan mendapatkan petunjuk di dunia dan akan tertimpa azab di akhirat karena kekufuran dan kejahatannya.Aku bukanlah wakil Allah untuk mengurusi dan mengawasi segala urusan kalian sehingga aku bisa menjadikan kalian tidak suka dengan keimanan atau mencegah kalian dari kekufuran dan kemaksiatan dengan kekuatanku. Aku tidak bisa memberikan mudharat ataupun manfaat untuk kalian. Aku hanyalah seorang Rasul yang menyampaikan perintah Tuhan kalian. Membawa berita gembira bagi orang yang mengambil petunjuk dan memberi peringatan bagi orang yang sesat dan menyimpang. Aku bukanlah orang yang bisa mengawasi dan mengevaluasi amalan kalian. Maka, perhatikanlah diri kalian masing-masing, selama kalian masih diberikan waktu.”[Bersambung]Baca Juga:Perbedaan antara Aqidah, Tauhid dan ManhajAqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Apakah Jin Masuk Surga, Menghina Allah, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Untuk Melembutkan Hati SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid


Baca pembahasan sebelumnya Seruan Tuhannya Manusia untuk Seluruh Manusia (Bag. 5) Daftar Isi sembunyikan 1. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan. 2. Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia. Seruan kesembilan: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas keyakinan tentang agamanya. Dia menyembah Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ“Katakanlah, “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 104)Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, penghulu para nabi, imam orang-orang bertakwa, yang terbaik dari orang-orang yang yakin, agar beliau menyeru kepada manusia, “Jika kalian masih ragu dan samar tentang agamaku yang aku dakwahkan pada kalian, dan kalian belum mendapatkan kejelasan bahwa agama tersebut adalah kebenaran, maka dengarkanlah tentang agama ini! Masukkan ke dalam akal kalian dan lihatlah baik-baik agar kalian paham bahwa tidak ada sedikit pun keraguan dalam agama ini. Bahkan aku memiliki ilmu yang meyakinkan bahwa agama ini adalah kebenaran dan apa yang kalian serukan itu adalah kebatilan. Aku memiliki dalil yang jelas dan bukti yang terang atas hal tersebut. Aku pun tidak menyembah apa yang kalian sembah selain Allah, baik itu berhala, patung, atau yang lainnya. Karena benda-benda itu tidak bisa mencipta, tidak bisa memberi rezeki, tidak bisa mengatur urusan apapun. Benda-benda itu hanyalah makhluk yang diatur. Benda-benda itu tidak punya kemampuan apa-apa sehingga berhak diibadahi.”Baca Juga: Mengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?Seruan kesepuluh: Al-Qur’an itu kebenaran dan jujur. Siapa mencari petunjuk di dalamnya, dia akan sukses dan bahagia.Allah Ta’ala berfirman,قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ“Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu. Sebab itu, barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (QS. Yunus: 108)Katakan kepada mereka, wahai Rasul! Sampaikan kepada seluruh manusia! Yang hadir akan mendengar seruan tersebut, sedangkan yang tidak hadir akan ada yang menyampaikannya darimu. Katakanlah, “Sungguh telah datang Al-Qur’an ini kepada kalian. Al-Qur’an yang benar, penuh dengan bukti yang jelas, tidak ada keraguan sedikit pun dan dari sisi manapun. Al-Qur’an ini adalah kebenaran yang menjelaskan hakikat agama ini. Sungguh, orang-orang sebelum kalian juga sudah diberi wahyu dengan yang seperti ini. Di dalam Al-Qur’an ada penjelasan segala sesuatu berupa perintah dan larangan Allah juga penjelasan tentang akhlak yang mulia. Tidak ada kebatilan sedikit pun padanya, dari depan sampai belakang.Barang siapa mencari petunjuk dengan hidayah dari Allah, dengan mempelajarinya dan memahaminya serta mendahulukannya dibandingkan selainnya, maka kebaikannya akan kembali pada dirinya. Buahnya akan dia petik karena dia akan bahagia dalam urusan dunia dan agamanya. Hal tersebut adalah buah dari amalnya, bukan buah dari selainnya.Adapun yang menyimpang dari kebenaran yang datang dari sisi Allah, berpaling dari kitab-Nya dan dari ayat-ayat-Nya, maka akibat buruk kesesatannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan mendapatkan petunjuk di dunia dan akan tertimpa azab di akhirat karena kekufuran dan kejahatannya.Aku bukanlah wakil Allah untuk mengurusi dan mengawasi segala urusan kalian sehingga aku bisa menjadikan kalian tidak suka dengan keimanan atau mencegah kalian dari kekufuran dan kemaksiatan dengan kekuatanku. Aku tidak bisa memberikan mudharat ataupun manfaat untuk kalian. Aku hanyalah seorang Rasul yang menyampaikan perintah Tuhan kalian. Membawa berita gembira bagi orang yang mengambil petunjuk dan memberi peringatan bagi orang yang sesat dan menyimpang. Aku bukanlah orang yang bisa mengawasi dan mengevaluasi amalan kalian. Maka, perhatikanlah diri kalian masing-masing, selama kalian masih diberikan waktu.”[Bersambung]Baca Juga:Perbedaan antara Aqidah, Tauhid dan ManhajAqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Tawakal, Apakah Jin Masuk Surga, Menghina Allah, Hukum Fardhu Kifayah, Doa Untuk Melembutkan Hati SeseorangTags: Aqidahaqidah islambelajar tauhidkeutamaan tauhidnasihatnasihat islamTauhidtentang tauhid

Bulughul Maram – Shalat: Doa Bakda Shalat agar Rajin Berdzikir, Bersyukur, dan Bagus Ibadah

Inilah doa yang berisi permintaan rajin berdzikir, bersyukur, dan ibadah yang bagus kepada Allah. Praktikkan yuk doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Mu’adz bin Jabal.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #325/ 59 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi Hadits #325/ 59 عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ: لاَ تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتكَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائيُّ بِسَنَدٍ قَويٍّ. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan (perintahkan) kepadamu wahai Muadz agar engkau jangan sekali-kali meninggalkan pada setiap dubur (akhir) shalat doa: ALLOHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (artinya: Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu).” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dengan sanad yang kuat). [HR. Ahmad, 36:429; Abu Daud, no. 1522; An-Nasai, 3:53. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Yang mensahihkan hadits ini adalah Imam Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataij Al-Afkar, 2:298, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:194).   Faedah hadits 1. Hadits ini menjelaskan keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 2. Dalam hadits secara lengkap disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kecintaannya kepada Mu’adz. Hal ini menunjukkan bahwa boleh seseorang menyatakan rasa cintanya kepada seseorang karena Allah. 3. Doa ini sangat dianjurkan dibaca pada dubur shalat. 4. Dubur shalat ada dua makna: (1) bakda shalat setelah salam, (2) bakda tasyahud sebelum salam. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa dubur shalat secara umum adalah bakda shalat, setelah salam. Namun, kaidah dari Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan yang sudah pernah dijelaskan adalah doa pada dubur shalat, letaknya adalah pada akhir shalat, sebelum salam. Baca juga: Ketika Tasyahud Akhir Membaca Doa Mu’adz   5. Termasuk rezeki dari Allah adalah Allah menolong dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada Allah. 6. Yang dimaksud berdzikir di sini adalah mencakup macam-macam dzikir, yaitu membaca Al-Qur’an, memuji Allah Ta’ala, sibuk dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat, dan semacamnya. Baca juga: Al-Qur’an adalah Dzikir yang Paling Afdal Secara Mutlak   7. Dalam doa ini, dzikir didahulukan dari syukur karena orang yang tidak berdzikir tidaklah disebut sebagai orang yang bersyukur, sebagaimana dalam ayat, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152) 8. Bersyukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah dengan memuji-Nya melalui lisan, mengakuinya dalam hati, dan mewujudkan kepatuhan kepada Allah lewat amalan ketaatan. Syukur itu diwujudkan dengan memanfaatkan nikmat yang ada pada hal yang Allah ridai dan menjauhi maksiat. Baca juga: Manfaat Bersyukur Kembali kepada Yang Bersyukur 9. Husni ‘ibaadatik artinya ibadah yang bagus yaitu ibadah yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat.   Baca juga:  Bersyukur atas Anugerah Hikmah Penjelasan Doa Rajin Berdzikir, Bersyukur, dan Ibadah yang Bagus Syukur di Kala Meraih Sukses Dzikir dan Syukur yang Sebenarnya   Referensi Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:528. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:194-196. — Selasa Sore, 30 Syawal 1443 H, 31 Mei 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat ibadah rajin dzikir syukur

Bulughul Maram – Shalat: Doa Bakda Shalat agar Rajin Berdzikir, Bersyukur, dan Bagus Ibadah

Inilah doa yang berisi permintaan rajin berdzikir, bersyukur, dan ibadah yang bagus kepada Allah. Praktikkan yuk doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Mu’adz bin Jabal.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #325/ 59 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi Hadits #325/ 59 عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ: لاَ تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتكَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائيُّ بِسَنَدٍ قَويٍّ. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan (perintahkan) kepadamu wahai Muadz agar engkau jangan sekali-kali meninggalkan pada setiap dubur (akhir) shalat doa: ALLOHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (artinya: Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu).” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dengan sanad yang kuat). [HR. Ahmad, 36:429; Abu Daud, no. 1522; An-Nasai, 3:53. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Yang mensahihkan hadits ini adalah Imam Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataij Al-Afkar, 2:298, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:194).   Faedah hadits 1. Hadits ini menjelaskan keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 2. Dalam hadits secara lengkap disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kecintaannya kepada Mu’adz. Hal ini menunjukkan bahwa boleh seseorang menyatakan rasa cintanya kepada seseorang karena Allah. 3. Doa ini sangat dianjurkan dibaca pada dubur shalat. 4. Dubur shalat ada dua makna: (1) bakda shalat setelah salam, (2) bakda tasyahud sebelum salam. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa dubur shalat secara umum adalah bakda shalat, setelah salam. Namun, kaidah dari Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan yang sudah pernah dijelaskan adalah doa pada dubur shalat, letaknya adalah pada akhir shalat, sebelum salam. Baca juga: Ketika Tasyahud Akhir Membaca Doa Mu’adz   5. Termasuk rezeki dari Allah adalah Allah menolong dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada Allah. 6. Yang dimaksud berdzikir di sini adalah mencakup macam-macam dzikir, yaitu membaca Al-Qur’an, memuji Allah Ta’ala, sibuk dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat, dan semacamnya. Baca juga: Al-Qur’an adalah Dzikir yang Paling Afdal Secara Mutlak   7. Dalam doa ini, dzikir didahulukan dari syukur karena orang yang tidak berdzikir tidaklah disebut sebagai orang yang bersyukur, sebagaimana dalam ayat, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152) 8. Bersyukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah dengan memuji-Nya melalui lisan, mengakuinya dalam hati, dan mewujudkan kepatuhan kepada Allah lewat amalan ketaatan. Syukur itu diwujudkan dengan memanfaatkan nikmat yang ada pada hal yang Allah ridai dan menjauhi maksiat. Baca juga: Manfaat Bersyukur Kembali kepada Yang Bersyukur 9. Husni ‘ibaadatik artinya ibadah yang bagus yaitu ibadah yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat.   Baca juga:  Bersyukur atas Anugerah Hikmah Penjelasan Doa Rajin Berdzikir, Bersyukur, dan Ibadah yang Bagus Syukur di Kala Meraih Sukses Dzikir dan Syukur yang Sebenarnya   Referensi Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:528. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:194-196. — Selasa Sore, 30 Syawal 1443 H, 31 Mei 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat ibadah rajin dzikir syukur
Inilah doa yang berisi permintaan rajin berdzikir, bersyukur, dan ibadah yang bagus kepada Allah. Praktikkan yuk doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Mu’adz bin Jabal.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #325/ 59 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi Hadits #325/ 59 عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ: لاَ تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتكَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائيُّ بِسَنَدٍ قَويٍّ. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan (perintahkan) kepadamu wahai Muadz agar engkau jangan sekali-kali meninggalkan pada setiap dubur (akhir) shalat doa: ALLOHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (artinya: Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu).” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dengan sanad yang kuat). [HR. Ahmad, 36:429; Abu Daud, no. 1522; An-Nasai, 3:53. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Yang mensahihkan hadits ini adalah Imam Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataij Al-Afkar, 2:298, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:194).   Faedah hadits 1. Hadits ini menjelaskan keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 2. Dalam hadits secara lengkap disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kecintaannya kepada Mu’adz. Hal ini menunjukkan bahwa boleh seseorang menyatakan rasa cintanya kepada seseorang karena Allah. 3. Doa ini sangat dianjurkan dibaca pada dubur shalat. 4. Dubur shalat ada dua makna: (1) bakda shalat setelah salam, (2) bakda tasyahud sebelum salam. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa dubur shalat secara umum adalah bakda shalat, setelah salam. Namun, kaidah dari Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan yang sudah pernah dijelaskan adalah doa pada dubur shalat, letaknya adalah pada akhir shalat, sebelum salam. Baca juga: Ketika Tasyahud Akhir Membaca Doa Mu’adz   5. Termasuk rezeki dari Allah adalah Allah menolong dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada Allah. 6. Yang dimaksud berdzikir di sini adalah mencakup macam-macam dzikir, yaitu membaca Al-Qur’an, memuji Allah Ta’ala, sibuk dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat, dan semacamnya. Baca juga: Al-Qur’an adalah Dzikir yang Paling Afdal Secara Mutlak   7. Dalam doa ini, dzikir didahulukan dari syukur karena orang yang tidak berdzikir tidaklah disebut sebagai orang yang bersyukur, sebagaimana dalam ayat, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152) 8. Bersyukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah dengan memuji-Nya melalui lisan, mengakuinya dalam hati, dan mewujudkan kepatuhan kepada Allah lewat amalan ketaatan. Syukur itu diwujudkan dengan memanfaatkan nikmat yang ada pada hal yang Allah ridai dan menjauhi maksiat. Baca juga: Manfaat Bersyukur Kembali kepada Yang Bersyukur 9. Husni ‘ibaadatik artinya ibadah yang bagus yaitu ibadah yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat.   Baca juga:  Bersyukur atas Anugerah Hikmah Penjelasan Doa Rajin Berdzikir, Bersyukur, dan Ibadah yang Bagus Syukur di Kala Meraih Sukses Dzikir dan Syukur yang Sebenarnya   Referensi Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:528. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:194-196. — Selasa Sore, 30 Syawal 1443 H, 31 Mei 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat ibadah rajin dzikir syukur


Inilah doa yang berisi permintaan rajin berdzikir, bersyukur, dan ibadah yang bagus kepada Allah. Praktikkan yuk doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Mu’adz bin Jabal.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ Bab Sifat Shalat Daftar Isi tutup 1. Hadits #325/ 59 1.1. Faedah hadits 1.2. Referensi Hadits #325/ 59 عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ: لاَ تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتكَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائيُّ بِسَنَدٍ قَويٍّ. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan (perintahkan) kepadamu wahai Muadz agar engkau jangan sekali-kali meninggalkan pada setiap dubur (akhir) shalat doa: ALLOHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (artinya: Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu).” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dengan sanad yang kuat). [HR. Ahmad, 36:429; Abu Daud, no. 1522; An-Nasai, 3:53. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Yang mensahihkan hadits ini adalah Imam Nawawi dalam Al-Adzkar, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataij Al-Afkar, 2:298, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:194).   Faedah hadits 1. Hadits ini menjelaskan keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 2. Dalam hadits secara lengkap disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kecintaannya kepada Mu’adz. Hal ini menunjukkan bahwa boleh seseorang menyatakan rasa cintanya kepada seseorang karena Allah. 3. Doa ini sangat dianjurkan dibaca pada dubur shalat. 4. Dubur shalat ada dua makna: (1) bakda shalat setelah salam, (2) bakda tasyahud sebelum salam. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa dubur shalat secara umum adalah bakda shalat, setelah salam. Namun, kaidah dari Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan yang sudah pernah dijelaskan adalah doa pada dubur shalat, letaknya adalah pada akhir shalat, sebelum salam. Baca juga: Ketika Tasyahud Akhir Membaca Doa Mu’adz   5. Termasuk rezeki dari Allah adalah Allah menolong dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada Allah. 6. Yang dimaksud berdzikir di sini adalah mencakup macam-macam dzikir, yaitu membaca Al-Qur’an, memuji Allah Ta’ala, sibuk dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat, dan semacamnya. Baca juga: Al-Qur’an adalah Dzikir yang Paling Afdal Secara Mutlak   7. Dalam doa ini, dzikir didahulukan dari syukur karena orang yang tidak berdzikir tidaklah disebut sebagai orang yang bersyukur, sebagaimana dalam ayat, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152) 8. Bersyukur adalah menampakkan bekas nikmat Allah dengan memuji-Nya melalui lisan, mengakuinya dalam hati, dan mewujudkan kepatuhan kepada Allah lewat amalan ketaatan. Syukur itu diwujudkan dengan memanfaatkan nikmat yang ada pada hal yang Allah ridai dan menjauhi maksiat. Baca juga: Manfaat Bersyukur Kembali kepada Yang Bersyukur 9. Husni ‘ibaadatik artinya ibadah yang bagus yaitu ibadah yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat.   Baca juga:  Bersyukur atas Anugerah Hikmah Penjelasan Doa Rajin Berdzikir, Bersyukur, dan Ibadah yang Bagus Syukur di Kala Meraih Sukses Dzikir dan Syukur yang Sebenarnya   Referensi Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:528. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:194-196. — Selasa Sore, 30 Syawal 1443 H, 31 Mei 2022 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan bid'ah bid'ah bulughul maram bulughul maram cara shalat bulughul maram shalat doa bakda shalat dzikir bakda shalat ibadah rajin dzikir syukur

Apa Maksud Kebinasaan Umat Pada Alquran dan Susu ? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Apa Maksud Kebinasaan Umat Pada Alquran dan Susu ? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Ini juga hadits yang sangat agung dalam pembahasan ini, hadits yang diriwayatkan Uqbah bin Amir. Rasulullah bersabda, “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” Dan disebutkan dalam riwayat lain dari hadits ini, dan riwayat ini dishahihkan asy-Syaikh al-Albani: Rasulullah bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab (al-Quran) dan susu.” “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab…” yaitu al-Quran “…. dan susu.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan al-Quran dan susu?” Beliau menjawab, “Mereka mempelajari al-Quran lalu menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan apa yang Allah turunkan, dan mereka menyukai susu, sehingga mereka meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan pindah ke pedalaman.” Mereka tinggal di pedalaman dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah. Perhatikan di sini! Beliau bersabda, “Aku khawatir pada umatku…” dan dalam riwayat lain, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran dan susu.” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran …” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Ya! Ia mungkin menjadi sebab kebinasaan jika seseorang berbicara tentang al-Quran hanya bermodal akal dan pendapatnya semata, dan mulai menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya, sehingga dirinya tersesat dan menyesatkan orang lain, dan dirinya binasa dan membinasakan orang lain. Maka Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam khawatir umatnya akan menempuh jalan seperti ini. Lalu bagaimana cara agar dapat aman di jalan ini? Apakah merasa aman orang yang memberanikan diri terhadap al-Quran, dan dia memahami al-Quran begitu saja tanpa merujuk pada riwayat? Apakah ia merasa aman dari termasuk golongan orang-orang yang dicela dalam hadits-hadits seperti ini dan dikhawatirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bahkan beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada hal itu.” Perhatikan apa yang beliau sabdakan! Beliau bersabda, “Mereka mempelajari al-Quran …” Mereka tidak lalai terhadap al-Quran. Tidak! Namun mereka sibuk belajar, mengajar, dan membacanya. Mereka mempelajari al-Quran. Namun, kemudian mereka menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya. Jika seseorang hendak menakwilkan al-Quran sesuai dengan maknanya, maka ia membutuhkan as-Sunnah (Hadits), dan membutuhkan pemahaman para sahabat Nabi, karena merekalah yang pertama-tama menerima al-Quran dan mendapatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia membutuhkan hal tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu ia menakwilkan al-Quran dengan takwil yang tidak sesuai dengan makna sebenarnya, dan mendebat banyak orang dengannya.” Dan perkara kedua adalah susu. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. “… susu yang bersih dan mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl: 66) Susu adalah salah satu minuman yang paling nikmat dan paling segar. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga khawatir umatnya akan binasa karena susu, dan menyukai hewan-hewan yang menjadi penghasil susu, sehingga ia pergi dan mengikuti hewan-hewan ini, serta tinggal bersamanya, sehingga ia tidak lagi ke masjid, dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta meninggalkan ilmu dan kebaikan. Maka itu menjadi sebab kebinasaan baginya. Beliau bersabda, “… Dan mereka menyukai susu, sehingga mereka tinggal di pedalaman, dan meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan mengikuti dorongan syahwat, serta meninggalkan shalat.” Mereka sibuk dengan berbagai kenikmatan dunia ini, sehingga terlalaikan dari Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnu Abdil Barr rahimahullah menulis judul bab bagi hadits ini, judul bab yang aku ingin agar kita memperhatikannya. Bab yang begitu penting. Beliau berkata, “Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan dia bodoh terhadap as-Sunnah.” Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah. Dengan judul ini, beliau rahimahullahu Ta’ala menulis babnya. Orang yang menakwilkan dan mentadaburi al-Quran ini, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah, sebabnya adalah karena ia lalai dari firman Allah, “Agar kamu menjelaskannya …” Ya, selanjutnya? “… pada manusia, apa yang telah diturunkan pada mereka.” (QS. An-Nahl: 44) Seseorang dalam mentadaburi dan memahami al-Quran, tidak mungkin ia dapat lepas dari Sunnah Nabi yang mulia shalawatullahi wa salamuhu wa barakatuhu ‘alaihi. Demikian. ================================================================================ هَذَا أَيْضًا حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ لِلْحَدِيثِ وَهِيَ رِوَايَةٌ صَحَّحَهَا الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ قَال هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ وَاللَّبَنِ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ يَعْنِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْكِتَابُ وَاللَّبَنُ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ وَيُحِبُّونَ اللَّبَنَ فَيَدَعُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالْجُمَعَ وَيَبْدُوْنَ يَسْكُنُونَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجُمَعَ وَالْجَمَاعَاتِ انْتَبِهْ هُنَا يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْقُرْآنُ سَبَبًا لِلْهَلَاكِ؟ قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ؟ نَعَمْ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ إِذَا خَاضَ الْإِنْسَانُ فِيهِ بِعَقْلِهِ وَبِرَأْيِهِ الْمُجَرَّدِ وَأَخَذَ يَتَأَوَّلُ يَتَأَوَّلُهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ عَلَى غَيْرِ مَعْنَاهُ فَيَضِلُّ وَيُضِلُّ فَيَهْلَكُ وَيُهْلِكُ فَكَانَ يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ مِثْلَ هَذَا الْمَسْلَكِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَنْ كَيْفَ يَكُونُ الْأَمْنُ فِي هَذِهِ الطَّرِيقَةِ؟ هَلْ يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ مَنْ يُجَرِّئُهَا عَلَى الْقُرْآنِ يَفْهَمُ هَكَذَا مِنَ الْقُرْآنِ بِدُونِ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مُسْتَنَدٍ؟ أَيَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ مِنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ جَاءَ ذَمُّهُمْ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَخَافَ عَلَيْهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي ذَلِكَ لَاحِظْ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لَيْسُوا تَارِكِيْنَ لِلْقُرْآنِ لَا مُشْتَغِلِيْنَ بِتَعَلُّمِهِ وَمُدَارَسَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ إِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَأَوَّلَ الْقُرْآنَ عَلَى مَا أُنْزِلَ يَحْتَاجُ إِلَى السُّنَّةِ يَحْتَاجُ إِلَى فَهْمِ الصَّحَابَةِ حَدِيثُوا الْعَهْدِ بِالْقُرْآنِ وَتَلَقَّوْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَحْتَاجُ إِلَى ذَلِكَ قَالَ فَيَتَأَوَّلُونَ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ وَيُجَادِلُوْنَ النَّاسَ بِهِ وَالثَّانِيَةُ اللَّبَنُ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِيْنَ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ وَأَهْنَئِهِ فَكَانَ أَيْضًا يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ الْهَلَاكَ بِاللَّبَنِ بِحَيْثُ يَتَوَلَّعُ الْإِنْسَانُ وَيَشْتَدُّ شَغَفُهُ بِاللَّبَنِ وَالْمَاشِيَةِ الَّتِي يُسْتَخْرَجُ مِنْهَا اللَّبِنُ فَيَذْهَبُ وَيَتْبَعُ هَذِهِ الْمَاشِيَةَ وَيَبْقَى مَعَهَا فَيَهْجُرَ الْمَسَاجِدَ وَيَهْجُرَ الْجُمَعَ وَيَهْجُرَ الْجَمَاعَاتِ وَيَتْرُكَهَا وَيَتْرُكَ الْعِلْمَ وَيَتْرُكَ الْخَيْرَ فَيَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ يَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ قَالَ وَيُحِبُّوْنَ اللَّبَنَ فَيَبْدُوْنَ أَيْ يَسْكُنُوْنَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالجُمُعَاتِ وَيَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ وَيَتْرُكُونَ الصَّلَوَاتِ يَنْشَغِلُوْنَ بِهَذِه الْمَلَذَّاتِ الدُّنْيَوِيَّةِ فَيَنْشَغِلُوْنَ عَنِ الْجُمَعِ وَالْجَمَاعَاتِ وَطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا الْحَدِيثُ بَوَّبَ لَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ بَابًا أَوَدُّ أَنْ نَنْتَبِهَ لَهُ بَابٌ مُهِمٌّ يَقُولُ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَوْ تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَو تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بِهَذَا بَوَّبَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَهَذَا الَّذِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ وَيَتَدَبَّرُهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ سَبَبُ ذَلِكَ غَفْلَتُهُ عَنْ قَوْلِ اللهِ لِتُبَيِّنَ نَعَم؟ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ لَا غُنْيَةَ لِلْإِنْسَانِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِ الْقُرْآنِ عَنْ سُنَّةِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْهِ نَعَمْ  

Apa Maksud Kebinasaan Umat Pada Alquran dan Susu ? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Apa Maksud Kebinasaan Umat Pada Alquran dan Susu ? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Ini juga hadits yang sangat agung dalam pembahasan ini, hadits yang diriwayatkan Uqbah bin Amir. Rasulullah bersabda, “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” Dan disebutkan dalam riwayat lain dari hadits ini, dan riwayat ini dishahihkan asy-Syaikh al-Albani: Rasulullah bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab (al-Quran) dan susu.” “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab…” yaitu al-Quran “…. dan susu.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan al-Quran dan susu?” Beliau menjawab, “Mereka mempelajari al-Quran lalu menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan apa yang Allah turunkan, dan mereka menyukai susu, sehingga mereka meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan pindah ke pedalaman.” Mereka tinggal di pedalaman dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah. Perhatikan di sini! Beliau bersabda, “Aku khawatir pada umatku…” dan dalam riwayat lain, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran dan susu.” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran …” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Ya! Ia mungkin menjadi sebab kebinasaan jika seseorang berbicara tentang al-Quran hanya bermodal akal dan pendapatnya semata, dan mulai menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya, sehingga dirinya tersesat dan menyesatkan orang lain, dan dirinya binasa dan membinasakan orang lain. Maka Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam khawatir umatnya akan menempuh jalan seperti ini. Lalu bagaimana cara agar dapat aman di jalan ini? Apakah merasa aman orang yang memberanikan diri terhadap al-Quran, dan dia memahami al-Quran begitu saja tanpa merujuk pada riwayat? Apakah ia merasa aman dari termasuk golongan orang-orang yang dicela dalam hadits-hadits seperti ini dan dikhawatirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bahkan beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada hal itu.” Perhatikan apa yang beliau sabdakan! Beliau bersabda, “Mereka mempelajari al-Quran …” Mereka tidak lalai terhadap al-Quran. Tidak! Namun mereka sibuk belajar, mengajar, dan membacanya. Mereka mempelajari al-Quran. Namun, kemudian mereka menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya. Jika seseorang hendak menakwilkan al-Quran sesuai dengan maknanya, maka ia membutuhkan as-Sunnah (Hadits), dan membutuhkan pemahaman para sahabat Nabi, karena merekalah yang pertama-tama menerima al-Quran dan mendapatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia membutuhkan hal tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu ia menakwilkan al-Quran dengan takwil yang tidak sesuai dengan makna sebenarnya, dan mendebat banyak orang dengannya.” Dan perkara kedua adalah susu. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. “… susu yang bersih dan mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl: 66) Susu adalah salah satu minuman yang paling nikmat dan paling segar. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga khawatir umatnya akan binasa karena susu, dan menyukai hewan-hewan yang menjadi penghasil susu, sehingga ia pergi dan mengikuti hewan-hewan ini, serta tinggal bersamanya, sehingga ia tidak lagi ke masjid, dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta meninggalkan ilmu dan kebaikan. Maka itu menjadi sebab kebinasaan baginya. Beliau bersabda, “… Dan mereka menyukai susu, sehingga mereka tinggal di pedalaman, dan meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan mengikuti dorongan syahwat, serta meninggalkan shalat.” Mereka sibuk dengan berbagai kenikmatan dunia ini, sehingga terlalaikan dari Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnu Abdil Barr rahimahullah menulis judul bab bagi hadits ini, judul bab yang aku ingin agar kita memperhatikannya. Bab yang begitu penting. Beliau berkata, “Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan dia bodoh terhadap as-Sunnah.” Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah. Dengan judul ini, beliau rahimahullahu Ta’ala menulis babnya. Orang yang menakwilkan dan mentadaburi al-Quran ini, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah, sebabnya adalah karena ia lalai dari firman Allah, “Agar kamu menjelaskannya …” Ya, selanjutnya? “… pada manusia, apa yang telah diturunkan pada mereka.” (QS. An-Nahl: 44) Seseorang dalam mentadaburi dan memahami al-Quran, tidak mungkin ia dapat lepas dari Sunnah Nabi yang mulia shalawatullahi wa salamuhu wa barakatuhu ‘alaihi. Demikian. ================================================================================ هَذَا أَيْضًا حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ لِلْحَدِيثِ وَهِيَ رِوَايَةٌ صَحَّحَهَا الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ قَال هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ وَاللَّبَنِ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ يَعْنِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْكِتَابُ وَاللَّبَنُ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ وَيُحِبُّونَ اللَّبَنَ فَيَدَعُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالْجُمَعَ وَيَبْدُوْنَ يَسْكُنُونَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجُمَعَ وَالْجَمَاعَاتِ انْتَبِهْ هُنَا يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْقُرْآنُ سَبَبًا لِلْهَلَاكِ؟ قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ؟ نَعَمْ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ إِذَا خَاضَ الْإِنْسَانُ فِيهِ بِعَقْلِهِ وَبِرَأْيِهِ الْمُجَرَّدِ وَأَخَذَ يَتَأَوَّلُ يَتَأَوَّلُهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ عَلَى غَيْرِ مَعْنَاهُ فَيَضِلُّ وَيُضِلُّ فَيَهْلَكُ وَيُهْلِكُ فَكَانَ يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ مِثْلَ هَذَا الْمَسْلَكِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَنْ كَيْفَ يَكُونُ الْأَمْنُ فِي هَذِهِ الطَّرِيقَةِ؟ هَلْ يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ مَنْ يُجَرِّئُهَا عَلَى الْقُرْآنِ يَفْهَمُ هَكَذَا مِنَ الْقُرْآنِ بِدُونِ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مُسْتَنَدٍ؟ أَيَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ مِنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ جَاءَ ذَمُّهُمْ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَخَافَ عَلَيْهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي ذَلِكَ لَاحِظْ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لَيْسُوا تَارِكِيْنَ لِلْقُرْآنِ لَا مُشْتَغِلِيْنَ بِتَعَلُّمِهِ وَمُدَارَسَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ إِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَأَوَّلَ الْقُرْآنَ عَلَى مَا أُنْزِلَ يَحْتَاجُ إِلَى السُّنَّةِ يَحْتَاجُ إِلَى فَهْمِ الصَّحَابَةِ حَدِيثُوا الْعَهْدِ بِالْقُرْآنِ وَتَلَقَّوْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَحْتَاجُ إِلَى ذَلِكَ قَالَ فَيَتَأَوَّلُونَ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ وَيُجَادِلُوْنَ النَّاسَ بِهِ وَالثَّانِيَةُ اللَّبَنُ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِيْنَ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ وَأَهْنَئِهِ فَكَانَ أَيْضًا يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ الْهَلَاكَ بِاللَّبَنِ بِحَيْثُ يَتَوَلَّعُ الْإِنْسَانُ وَيَشْتَدُّ شَغَفُهُ بِاللَّبَنِ وَالْمَاشِيَةِ الَّتِي يُسْتَخْرَجُ مِنْهَا اللَّبِنُ فَيَذْهَبُ وَيَتْبَعُ هَذِهِ الْمَاشِيَةَ وَيَبْقَى مَعَهَا فَيَهْجُرَ الْمَسَاجِدَ وَيَهْجُرَ الْجُمَعَ وَيَهْجُرَ الْجَمَاعَاتِ وَيَتْرُكَهَا وَيَتْرُكَ الْعِلْمَ وَيَتْرُكَ الْخَيْرَ فَيَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ يَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ قَالَ وَيُحِبُّوْنَ اللَّبَنَ فَيَبْدُوْنَ أَيْ يَسْكُنُوْنَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالجُمُعَاتِ وَيَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ وَيَتْرُكُونَ الصَّلَوَاتِ يَنْشَغِلُوْنَ بِهَذِه الْمَلَذَّاتِ الدُّنْيَوِيَّةِ فَيَنْشَغِلُوْنَ عَنِ الْجُمَعِ وَالْجَمَاعَاتِ وَطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا الْحَدِيثُ بَوَّبَ لَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ بَابًا أَوَدُّ أَنْ نَنْتَبِهَ لَهُ بَابٌ مُهِمٌّ يَقُولُ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَوْ تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَو تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بِهَذَا بَوَّبَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَهَذَا الَّذِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ وَيَتَدَبَّرُهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ سَبَبُ ذَلِكَ غَفْلَتُهُ عَنْ قَوْلِ اللهِ لِتُبَيِّنَ نَعَم؟ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ لَا غُنْيَةَ لِلْإِنْسَانِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِ الْقُرْآنِ عَنْ سُنَّةِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْهِ نَعَمْ  
Apa Maksud Kebinasaan Umat Pada Alquran dan Susu ? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Ini juga hadits yang sangat agung dalam pembahasan ini, hadits yang diriwayatkan Uqbah bin Amir. Rasulullah bersabda, “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” Dan disebutkan dalam riwayat lain dari hadits ini, dan riwayat ini dishahihkan asy-Syaikh al-Albani: Rasulullah bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab (al-Quran) dan susu.” “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab…” yaitu al-Quran “…. dan susu.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan al-Quran dan susu?” Beliau menjawab, “Mereka mempelajari al-Quran lalu menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan apa yang Allah turunkan, dan mereka menyukai susu, sehingga mereka meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan pindah ke pedalaman.” Mereka tinggal di pedalaman dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah. Perhatikan di sini! Beliau bersabda, “Aku khawatir pada umatku…” dan dalam riwayat lain, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran dan susu.” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran …” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Ya! Ia mungkin menjadi sebab kebinasaan jika seseorang berbicara tentang al-Quran hanya bermodal akal dan pendapatnya semata, dan mulai menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya, sehingga dirinya tersesat dan menyesatkan orang lain, dan dirinya binasa dan membinasakan orang lain. Maka Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam khawatir umatnya akan menempuh jalan seperti ini. Lalu bagaimana cara agar dapat aman di jalan ini? Apakah merasa aman orang yang memberanikan diri terhadap al-Quran, dan dia memahami al-Quran begitu saja tanpa merujuk pada riwayat? Apakah ia merasa aman dari termasuk golongan orang-orang yang dicela dalam hadits-hadits seperti ini dan dikhawatirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bahkan beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada hal itu.” Perhatikan apa yang beliau sabdakan! Beliau bersabda, “Mereka mempelajari al-Quran …” Mereka tidak lalai terhadap al-Quran. Tidak! Namun mereka sibuk belajar, mengajar, dan membacanya. Mereka mempelajari al-Quran. Namun, kemudian mereka menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya. Jika seseorang hendak menakwilkan al-Quran sesuai dengan maknanya, maka ia membutuhkan as-Sunnah (Hadits), dan membutuhkan pemahaman para sahabat Nabi, karena merekalah yang pertama-tama menerima al-Quran dan mendapatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia membutuhkan hal tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu ia menakwilkan al-Quran dengan takwil yang tidak sesuai dengan makna sebenarnya, dan mendebat banyak orang dengannya.” Dan perkara kedua adalah susu. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. “… susu yang bersih dan mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl: 66) Susu adalah salah satu minuman yang paling nikmat dan paling segar. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga khawatir umatnya akan binasa karena susu, dan menyukai hewan-hewan yang menjadi penghasil susu, sehingga ia pergi dan mengikuti hewan-hewan ini, serta tinggal bersamanya, sehingga ia tidak lagi ke masjid, dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta meninggalkan ilmu dan kebaikan. Maka itu menjadi sebab kebinasaan baginya. Beliau bersabda, “… Dan mereka menyukai susu, sehingga mereka tinggal di pedalaman, dan meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan mengikuti dorongan syahwat, serta meninggalkan shalat.” Mereka sibuk dengan berbagai kenikmatan dunia ini, sehingga terlalaikan dari Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnu Abdil Barr rahimahullah menulis judul bab bagi hadits ini, judul bab yang aku ingin agar kita memperhatikannya. Bab yang begitu penting. Beliau berkata, “Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan dia bodoh terhadap as-Sunnah.” Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah. Dengan judul ini, beliau rahimahullahu Ta’ala menulis babnya. Orang yang menakwilkan dan mentadaburi al-Quran ini, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah, sebabnya adalah karena ia lalai dari firman Allah, “Agar kamu menjelaskannya …” Ya, selanjutnya? “… pada manusia, apa yang telah diturunkan pada mereka.” (QS. An-Nahl: 44) Seseorang dalam mentadaburi dan memahami al-Quran, tidak mungkin ia dapat lepas dari Sunnah Nabi yang mulia shalawatullahi wa salamuhu wa barakatuhu ‘alaihi. Demikian. ================================================================================ هَذَا أَيْضًا حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ لِلْحَدِيثِ وَهِيَ رِوَايَةٌ صَحَّحَهَا الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ قَال هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ وَاللَّبَنِ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ يَعْنِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْكِتَابُ وَاللَّبَنُ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ وَيُحِبُّونَ اللَّبَنَ فَيَدَعُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالْجُمَعَ وَيَبْدُوْنَ يَسْكُنُونَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجُمَعَ وَالْجَمَاعَاتِ انْتَبِهْ هُنَا يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْقُرْآنُ سَبَبًا لِلْهَلَاكِ؟ قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ؟ نَعَمْ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ إِذَا خَاضَ الْإِنْسَانُ فِيهِ بِعَقْلِهِ وَبِرَأْيِهِ الْمُجَرَّدِ وَأَخَذَ يَتَأَوَّلُ يَتَأَوَّلُهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ عَلَى غَيْرِ مَعْنَاهُ فَيَضِلُّ وَيُضِلُّ فَيَهْلَكُ وَيُهْلِكُ فَكَانَ يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ مِثْلَ هَذَا الْمَسْلَكِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَنْ كَيْفَ يَكُونُ الْأَمْنُ فِي هَذِهِ الطَّرِيقَةِ؟ هَلْ يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ مَنْ يُجَرِّئُهَا عَلَى الْقُرْآنِ يَفْهَمُ هَكَذَا مِنَ الْقُرْآنِ بِدُونِ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مُسْتَنَدٍ؟ أَيَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ مِنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ جَاءَ ذَمُّهُمْ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَخَافَ عَلَيْهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي ذَلِكَ لَاحِظْ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لَيْسُوا تَارِكِيْنَ لِلْقُرْآنِ لَا مُشْتَغِلِيْنَ بِتَعَلُّمِهِ وَمُدَارَسَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ إِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَأَوَّلَ الْقُرْآنَ عَلَى مَا أُنْزِلَ يَحْتَاجُ إِلَى السُّنَّةِ يَحْتَاجُ إِلَى فَهْمِ الصَّحَابَةِ حَدِيثُوا الْعَهْدِ بِالْقُرْآنِ وَتَلَقَّوْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَحْتَاجُ إِلَى ذَلِكَ قَالَ فَيَتَأَوَّلُونَ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ وَيُجَادِلُوْنَ النَّاسَ بِهِ وَالثَّانِيَةُ اللَّبَنُ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِيْنَ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ وَأَهْنَئِهِ فَكَانَ أَيْضًا يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ الْهَلَاكَ بِاللَّبَنِ بِحَيْثُ يَتَوَلَّعُ الْإِنْسَانُ وَيَشْتَدُّ شَغَفُهُ بِاللَّبَنِ وَالْمَاشِيَةِ الَّتِي يُسْتَخْرَجُ مِنْهَا اللَّبِنُ فَيَذْهَبُ وَيَتْبَعُ هَذِهِ الْمَاشِيَةَ وَيَبْقَى مَعَهَا فَيَهْجُرَ الْمَسَاجِدَ وَيَهْجُرَ الْجُمَعَ وَيَهْجُرَ الْجَمَاعَاتِ وَيَتْرُكَهَا وَيَتْرُكَ الْعِلْمَ وَيَتْرُكَ الْخَيْرَ فَيَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ يَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ قَالَ وَيُحِبُّوْنَ اللَّبَنَ فَيَبْدُوْنَ أَيْ يَسْكُنُوْنَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالجُمُعَاتِ وَيَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ وَيَتْرُكُونَ الصَّلَوَاتِ يَنْشَغِلُوْنَ بِهَذِه الْمَلَذَّاتِ الدُّنْيَوِيَّةِ فَيَنْشَغِلُوْنَ عَنِ الْجُمَعِ وَالْجَمَاعَاتِ وَطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا الْحَدِيثُ بَوَّبَ لَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ بَابًا أَوَدُّ أَنْ نَنْتَبِهَ لَهُ بَابٌ مُهِمٌّ يَقُولُ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَوْ تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَو تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بِهَذَا بَوَّبَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَهَذَا الَّذِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ وَيَتَدَبَّرُهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ سَبَبُ ذَلِكَ غَفْلَتُهُ عَنْ قَوْلِ اللهِ لِتُبَيِّنَ نَعَم؟ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ لَا غُنْيَةَ لِلْإِنْسَانِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِ الْقُرْآنِ عَنْ سُنَّةِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْهِ نَعَمْ  


Apa Maksud Kebinasaan Umat Pada Alquran dan Susu ? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Ini juga hadits yang sangat agung dalam pembahasan ini, hadits yang diriwayatkan Uqbah bin Amir. Rasulullah bersabda, “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” “Aku khawatir pada umatku terhadap al-Quran dan susu.” Dan disebutkan dalam riwayat lain dari hadits ini, dan riwayat ini dishahihkan asy-Syaikh al-Albani: Rasulullah bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab (al-Quran) dan susu.” “Kebinasaan umatku ada pada al-Kitab…” yaitu al-Quran “…. dan susu.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan al-Quran dan susu?” Beliau menjawab, “Mereka mempelajari al-Quran lalu menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan apa yang Allah turunkan, dan mereka menyukai susu, sehingga mereka meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan pindah ke pedalaman.” Mereka tinggal di pedalaman dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah. Perhatikan di sini! Beliau bersabda, “Aku khawatir pada umatku…” dan dalam riwayat lain, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran dan susu.” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada al-Quran …” Apakah mungkin al-Quran menjadi sebab kebinasaan? Ya! Ia mungkin menjadi sebab kebinasaan jika seseorang berbicara tentang al-Quran hanya bermodal akal dan pendapatnya semata, dan mulai menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya, sehingga dirinya tersesat dan menyesatkan orang lain, dan dirinya binasa dan membinasakan orang lain. Maka Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam khawatir umatnya akan menempuh jalan seperti ini. Lalu bagaimana cara agar dapat aman di jalan ini? Apakah merasa aman orang yang memberanikan diri terhadap al-Quran, dan dia memahami al-Quran begitu saja tanpa merujuk pada riwayat? Apakah ia merasa aman dari termasuk golongan orang-orang yang dicela dalam hadits-hadits seperti ini dan dikhawatirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bahkan beliau bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada hal itu.” Perhatikan apa yang beliau sabdakan! Beliau bersabda, “Mereka mempelajari al-Quran …” Mereka tidak lalai terhadap al-Quran. Tidak! Namun mereka sibuk belajar, mengajar, dan membacanya. Mereka mempelajari al-Quran. Namun, kemudian mereka menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan maknanya. Jika seseorang hendak menakwilkan al-Quran sesuai dengan maknanya, maka ia membutuhkan as-Sunnah (Hadits), dan membutuhkan pemahaman para sahabat Nabi, karena merekalah yang pertama-tama menerima al-Quran dan mendapatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia membutuhkan hal tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu ia menakwilkan al-Quran dengan takwil yang tidak sesuai dengan makna sebenarnya, dan mendebat banyak orang dengannya.” Dan perkara kedua adalah susu. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. Susu adalah salah satu minuman paling nikmat. “… susu yang bersih dan mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl: 66) Susu adalah salah satu minuman yang paling nikmat dan paling segar. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga khawatir umatnya akan binasa karena susu, dan menyukai hewan-hewan yang menjadi penghasil susu, sehingga ia pergi dan mengikuti hewan-hewan ini, serta tinggal bersamanya, sehingga ia tidak lagi ke masjid, dan meninggalkan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta meninggalkan ilmu dan kebaikan. Maka itu menjadi sebab kebinasaan baginya. Beliau bersabda, “… Dan mereka menyukai susu, sehingga mereka tinggal di pedalaman, dan meninggalkan Shalat Jamaah dan Shalat Jumat, dan mengikuti dorongan syahwat, serta meninggalkan shalat.” Mereka sibuk dengan berbagai kenikmatan dunia ini, sehingga terlalaikan dari Shalat Jumat dan Shalat Jamaah, serta ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnu Abdil Barr rahimahullah menulis judul bab bagi hadits ini, judul bab yang aku ingin agar kita memperhatikannya. Bab yang begitu penting. Beliau berkata, “Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan dia bodoh terhadap as-Sunnah.” Bab tentang orang yang menakwilkan al-Quran atau mentadaburinya, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah. Dengan judul ini, beliau rahimahullahu Ta’ala menulis babnya. Orang yang menakwilkan dan mentadaburi al-Quran ini, sedangkan ia bodoh terhadap as-Sunnah, sebabnya adalah karena ia lalai dari firman Allah, “Agar kamu menjelaskannya …” Ya, selanjutnya? “… pada manusia, apa yang telah diturunkan pada mereka.” (QS. An-Nahl: 44) Seseorang dalam mentadaburi dan memahami al-Quran, tidak mungkin ia dapat lepas dari Sunnah Nabi yang mulia shalawatullahi wa salamuhu wa barakatuhu ‘alaihi. Demikian. ================================================================================ هَذَا أَيْضًا حَدِيثٌ عَظِيمٌ جِدًّا فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثُ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْقُرْآنَ وَاللَّبَنَ وَجَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ لِلْحَدِيثِ وَهِيَ رِوَايَةٌ صَحَّحَهَا الشَّيْخُ الْأَلْبَانِيُّ قَال هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ وَاللَّبَنِ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْكِتَابِ يَعْنِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْكِتَابُ وَاللَّبَنُ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ وَيُحِبُّونَ اللَّبَنَ فَيَدَعُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالْجُمَعَ وَيَبْدُوْنَ يَسْكُنُونَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجُمَعَ وَالْجَمَاعَاتِ انْتَبِهْ هُنَا يَقُولُ أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ وَاللَّبَنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْقُرْآنُ سَبَبًا لِلْهَلَاكِ؟ قَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي الْقُرْآنِ أَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ؟ نَعَمْ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ سَبَبًا فِي الْهَلَاكِ إِذَا خَاضَ الْإِنْسَانُ فِيهِ بِعَقْلِهِ وَبِرَأْيِهِ الْمُجَرَّدِ وَأَخَذَ يَتَأَوَّلُ يَتَأَوَّلُهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ عَلَى غَيْرِ مَعْنَاهُ فَيَضِلُّ وَيُضِلُّ فَيَهْلَكُ وَيُهْلِكُ فَكَانَ يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ مِثْلَ هَذَا الْمَسْلَكِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَنْ كَيْفَ يَكُونُ الْأَمْنُ فِي هَذِهِ الطَّرِيقَةِ؟ هَلْ يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ مَنْ يُجَرِّئُهَا عَلَى الْقُرْآنِ يَفْهَمُ هَكَذَا مِنَ الْقُرْآنِ بِدُونِ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مُسْتَنَدٍ؟ أَيَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ مِنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ جَاءَ ذَمُّهُمْ فِي مِثْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَخَافَ عَلَيْهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ هَلَاكُ أُمَّتِي فِي ذَلِكَ لَاحِظْ مَاذَا قَالَ؟ قَالَ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لَيْسُوا تَارِكِيْنَ لِلْقُرْآنِ لَا مُشْتَغِلِيْنَ بِتَعَلُّمِهِ وَمُدَارَسَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ فَيَتَأَوَّلُوْنَهُ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ إِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَأَوَّلَ الْقُرْآنَ عَلَى مَا أُنْزِلَ يَحْتَاجُ إِلَى السُّنَّةِ يَحْتَاجُ إِلَى فَهْمِ الصَّحَابَةِ حَدِيثُوا الْعَهْدِ بِالْقُرْآنِ وَتَلَقَّوْهُ عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَحْتَاجُ إِلَى ذَلِكَ قَالَ فَيَتَأَوَّلُونَ عَلَى غَيْرِ مَا أُنْزِلَ وَيُجَادِلُوْنَ النَّاسَ بِهِ وَالثَّانِيَةُ اللَّبَنُ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِيْنَ مِنْ أَطْيَبِ الشَّرَابِ اللَّبَنُ وَأَهْنَئِهِ فَكَانَ أَيْضًا يَخَافُ عَلَى أُمَّتِهِ الْهَلَاكَ بِاللَّبَنِ بِحَيْثُ يَتَوَلَّعُ الْإِنْسَانُ وَيَشْتَدُّ شَغَفُهُ بِاللَّبَنِ وَالْمَاشِيَةِ الَّتِي يُسْتَخْرَجُ مِنْهَا اللَّبِنُ فَيَذْهَبُ وَيَتْبَعُ هَذِهِ الْمَاشِيَةَ وَيَبْقَى مَعَهَا فَيَهْجُرَ الْمَسَاجِدَ وَيَهْجُرَ الْجُمَعَ وَيَهْجُرَ الْجَمَاعَاتِ وَيَتْرُكَهَا وَيَتْرُكَ الْعِلْمَ وَيَتْرُكَ الْخَيْرَ فَيَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ يَكُونُ ذَلِكَ هَلَاكًا لَهُ قَالَ وَيُحِبُّوْنَ اللَّبَنَ فَيَبْدُوْنَ أَيْ يَسْكُنُوْنَ الْبَادِيَةَ وَيَتْرُكُونَ الْجَمَاعَاتِ وَالجُمُعَاتِ وَيَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ وَيَتْرُكُونَ الصَّلَوَاتِ يَنْشَغِلُوْنَ بِهَذِه الْمَلَذَّاتِ الدُّنْيَوِيَّةِ فَيَنْشَغِلُوْنَ عَنِ الْجُمَعِ وَالْجَمَاعَاتِ وَطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا الْحَدِيثُ بَوَّبَ لَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ رَحِمَهُ اللهُ بَابًا أَوَدُّ أَنْ نَنْتَبِهَ لَهُ بَابٌ مُهِمٌّ يَقُولُ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَوْ تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بَابٌ فِي مَنْ تَأَوَّلَ الْقُرْآنَ أَو تَدَبَّرَهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ بِهَذَا بَوَّبَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَهَذَا الَّذِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ وَيَتَدَبَّرُهُ وَهُوَ جَاهِلٌ بِالسُّنَّةِ سَبَبُ ذَلِكَ غَفْلَتُهُ عَنْ قَوْلِ اللهِ لِتُبَيِّنَ نَعَم؟ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ لَا غُنْيَةَ لِلْإِنْسَانِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِ الْقُرْآنِ عَنْ سُنَّةِ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْهِ نَعَمْ  
Prev     Next