Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan kubur, Dia menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dibentangkan baginya alas dari surga, dan dibukakan untuknya pintu menuju surga, lalu datang seseorang kepadanya, di kuburnya! Bayangkan, seseorang mendatangi Anda saat Anda di dalam kubur, menghibur Anda, dengan wajah yang rupawan, pakaian yang bagus, dan aroma yang wangi. Dia berkata, “Bergembiralah dengan apa yang akan menyenangkan dirimu, inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Sehingga Anda merasa bahagia, saat Anda di dalam kubur sendiri, menginginkan seseorang yang menghibur Anda, dan berharap ada yang menemani Anda ketika di dalam kubur. Anda akan berkata, “Semoga Allah memberimu kabar baik, siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang membawa kebaikan.” Dia menjawab, “Aku adalah amal salehmu.” “Aku adalah amal salehmu.” Dia berkata, “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Ini yang akan bermanfaat bagi Anda, ketika Anda bersegera untuk salat, menuju masjid, salat di awal waktu, bersegera dalam berzikir pada Allah, membaca al-Quran, melakukan puasa, dan salat malam, serta lambannya Anda dalam bermaksiat pada Allah. “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Sehingga Anda terhibur dengan amal saleh Anda. ====================================================================================================== مُؤْمِنٌ بَعْدَ أَنْ يُجِيبَ عَنْ أَسْئِلَةِ الْقَبْرِ يَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَدِينِي الْإِسْلَامُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُفْرَشُ لَهُ فِرَاشٌ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ يَأْتِيهِ رَجُلٌ فِي قَبْرِهِ تَخَيَّلْ يَأْتِيكَ رَجُلٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ يُؤْنِسُكَ َحَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُّرُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوْعَدُ وَأَنْتَ تَسْتَبْشِرُ أَنْتَ فِي قَبْرِكَ وَحِيْدًا تُرِيدُ مَنْ يُؤْنِسُكَ تُرِيدُ مَنْ يَمَرُّ عَلَيْكَ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ تَقُولُ أَنْتَ: بَشَّرَكَ اللهُ بِالْخَيْرِ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ يَقُولُ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا هَذَا الَّذِي سَيَنْفَعُكَ سِرَاعُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِلَى الْمَسْجِدِ تَبْكِيرُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِسْرَاعُكَ إِلَى ذِكْرِ اللهِ إِلَى الْقُرْآنِ إِلَى الصِّيَامِ إِلَى قِيَامِ اللَّيْلِ بُطْءُكَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا تَأْنِسُ بِعَمَلِكَ الصَّالِحِ  

Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan kubur, Dia menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dibentangkan baginya alas dari surga, dan dibukakan untuknya pintu menuju surga, lalu datang seseorang kepadanya, di kuburnya! Bayangkan, seseorang mendatangi Anda saat Anda di dalam kubur, menghibur Anda, dengan wajah yang rupawan, pakaian yang bagus, dan aroma yang wangi. Dia berkata, “Bergembiralah dengan apa yang akan menyenangkan dirimu, inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Sehingga Anda merasa bahagia, saat Anda di dalam kubur sendiri, menginginkan seseorang yang menghibur Anda, dan berharap ada yang menemani Anda ketika di dalam kubur. Anda akan berkata, “Semoga Allah memberimu kabar baik, siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang membawa kebaikan.” Dia menjawab, “Aku adalah amal salehmu.” “Aku adalah amal salehmu.” Dia berkata, “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Ini yang akan bermanfaat bagi Anda, ketika Anda bersegera untuk salat, menuju masjid, salat di awal waktu, bersegera dalam berzikir pada Allah, membaca al-Quran, melakukan puasa, dan salat malam, serta lambannya Anda dalam bermaksiat pada Allah. “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Sehingga Anda terhibur dengan amal saleh Anda. ====================================================================================================== مُؤْمِنٌ بَعْدَ أَنْ يُجِيبَ عَنْ أَسْئِلَةِ الْقَبْرِ يَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَدِينِي الْإِسْلَامُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُفْرَشُ لَهُ فِرَاشٌ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ يَأْتِيهِ رَجُلٌ فِي قَبْرِهِ تَخَيَّلْ يَأْتِيكَ رَجُلٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ يُؤْنِسُكَ َحَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُّرُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوْعَدُ وَأَنْتَ تَسْتَبْشِرُ أَنْتَ فِي قَبْرِكَ وَحِيْدًا تُرِيدُ مَنْ يُؤْنِسُكَ تُرِيدُ مَنْ يَمَرُّ عَلَيْكَ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ تَقُولُ أَنْتَ: بَشَّرَكَ اللهُ بِالْخَيْرِ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ يَقُولُ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا هَذَا الَّذِي سَيَنْفَعُكَ سِرَاعُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِلَى الْمَسْجِدِ تَبْكِيرُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِسْرَاعُكَ إِلَى ذِكْرِ اللهِ إِلَى الْقُرْآنِ إِلَى الصِّيَامِ إِلَى قِيَامِ اللَّيْلِ بُطْءُكَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا تَأْنِسُ بِعَمَلِكَ الصَّالِحِ  
Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan kubur, Dia menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dibentangkan baginya alas dari surga, dan dibukakan untuknya pintu menuju surga, lalu datang seseorang kepadanya, di kuburnya! Bayangkan, seseorang mendatangi Anda saat Anda di dalam kubur, menghibur Anda, dengan wajah yang rupawan, pakaian yang bagus, dan aroma yang wangi. Dia berkata, “Bergembiralah dengan apa yang akan menyenangkan dirimu, inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Sehingga Anda merasa bahagia, saat Anda di dalam kubur sendiri, menginginkan seseorang yang menghibur Anda, dan berharap ada yang menemani Anda ketika di dalam kubur. Anda akan berkata, “Semoga Allah memberimu kabar baik, siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang membawa kebaikan.” Dia menjawab, “Aku adalah amal salehmu.” “Aku adalah amal salehmu.” Dia berkata, “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Ini yang akan bermanfaat bagi Anda, ketika Anda bersegera untuk salat, menuju masjid, salat di awal waktu, bersegera dalam berzikir pada Allah, membaca al-Quran, melakukan puasa, dan salat malam, serta lambannya Anda dalam bermaksiat pada Allah. “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Sehingga Anda terhibur dengan amal saleh Anda. ====================================================================================================== مُؤْمِنٌ بَعْدَ أَنْ يُجِيبَ عَنْ أَسْئِلَةِ الْقَبْرِ يَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَدِينِي الْإِسْلَامُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُفْرَشُ لَهُ فِرَاشٌ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ يَأْتِيهِ رَجُلٌ فِي قَبْرِهِ تَخَيَّلْ يَأْتِيكَ رَجُلٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ يُؤْنِسُكَ َحَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُّرُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوْعَدُ وَأَنْتَ تَسْتَبْشِرُ أَنْتَ فِي قَبْرِكَ وَحِيْدًا تُرِيدُ مَنْ يُؤْنِسُكَ تُرِيدُ مَنْ يَمَرُّ عَلَيْكَ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ تَقُولُ أَنْتَ: بَشَّرَكَ اللهُ بِالْخَيْرِ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ يَقُولُ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا هَذَا الَّذِي سَيَنْفَعُكَ سِرَاعُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِلَى الْمَسْجِدِ تَبْكِيرُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِسْرَاعُكَ إِلَى ذِكْرِ اللهِ إِلَى الْقُرْآنِ إِلَى الصِّيَامِ إِلَى قِيَامِ اللَّيْلِ بُطْءُكَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا تَأْنِسُ بِعَمَلِكَ الصَّالِحِ  


Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama Seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan kubur, Dia menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dibentangkan baginya alas dari surga, dan dibukakan untuknya pintu menuju surga, lalu datang seseorang kepadanya, di kuburnya! Bayangkan, seseorang mendatangi Anda saat Anda di dalam kubur, menghibur Anda, dengan wajah yang rupawan, pakaian yang bagus, dan aroma yang wangi. Dia berkata, “Bergembiralah dengan apa yang akan menyenangkan dirimu, inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Sehingga Anda merasa bahagia, saat Anda di dalam kubur sendiri, menginginkan seseorang yang menghibur Anda, dan berharap ada yang menemani Anda ketika di dalam kubur. Anda akan berkata, “Semoga Allah memberimu kabar baik, siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang membawa kebaikan.” Dia menjawab, “Aku adalah amal salehmu.” “Aku adalah amal salehmu.” Dia berkata, “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Ini yang akan bermanfaat bagi Anda, ketika Anda bersegera untuk salat, menuju masjid, salat di awal waktu, bersegera dalam berzikir pada Allah, membaca al-Quran, melakukan puasa, dan salat malam, serta lambannya Anda dalam bermaksiat pada Allah. “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Sehingga Anda terhibur dengan amal saleh Anda. ====================================================================================================== مُؤْمِنٌ بَعْدَ أَنْ يُجِيبَ عَنْ أَسْئِلَةِ الْقَبْرِ يَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَدِينِي الْإِسْلَامُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُفْرَشُ لَهُ فِرَاشٌ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ يَأْتِيهِ رَجُلٌ فِي قَبْرِهِ تَخَيَّلْ يَأْتِيكَ رَجُلٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ يُؤْنِسُكَ َحَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُّرُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوْعَدُ وَأَنْتَ تَسْتَبْشِرُ أَنْتَ فِي قَبْرِكَ وَحِيْدًا تُرِيدُ مَنْ يُؤْنِسُكَ تُرِيدُ مَنْ يَمَرُّ عَلَيْكَ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ تَقُولُ أَنْتَ: بَشَّرَكَ اللهُ بِالْخَيْرِ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ يَقُولُ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا هَذَا الَّذِي سَيَنْفَعُكَ سِرَاعُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِلَى الْمَسْجِدِ تَبْكِيرُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِسْرَاعُكَ إِلَى ذِكْرِ اللهِ إِلَى الْقُرْآنِ إِلَى الصِّيَامِ إِلَى قِيَامِ اللَّيْلِ بُطْءُكَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا تَأْنِسُ بِعَمَلِكَ الصَّالِحِ  

Solusi Hidup Bahagia

Tidak ada manusia yang berakal, kecuali pasti mencari dan menginginkan kebahagiaan. Di antara mereka ada yang Allah berikan petunjuk untuk menempuh jalan yang benar kepada kebahagiaan itu. Sayangnya, banyak juga di antara mereka yang menghabiskan umur mereka dengan mencari di tempat yang salah dan dengan cara yang salah.Kebahagiaan bukanlah obat yang bisa dibeli di apotek lalu diminum dan kemudian dapat menyembuhkan penderitaan. Akan tetapi, ia memiliki beberapa sebab dan jalan, yang jika ditempuh oleh seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan. Dan jika ia menyeleweng dari jalan tersebut, maka ia tidak akan bisa mencapainya.Sebagaimana manusia yang membutuhkan obat saat ia sakit, begitu juga dengan mereka yang menginginkan kebahagiaan. Tentu ia juga memerlukan sebab-sebab untuk meraihnya, menempuh jalan menuju kepadanya, memahami sarana-sarana dan rukun-rukunnya, merealisasikannya, dan mengamalkannya. Sehingga akhirnya ia selamat dari kesusahan dan penderitaan yang menimpanya.Setidaknya ada 3 solusi yang ditawarkan oleh agama ini agar kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim dipenuhi dengan kebahagiaan, yaitu: (1) tawakal, (2) membahagiakan orang lain, dan (3) hati yang bersih.Baca Juga: Celaka atau Bahagia? Daftar Isi sembunyikan 1. Tawakal kunci utama hidup bahagia 2. Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiri 3. Hati yang bersih dari balas dendam dan kedengkian Tawakal kunci utama hidup bahagiaKebahagiaan ada pada ketaatan  kepada Allah Ta’ala dan penderitaan ada karena kemaksiatan kepada-Nya. Di antara ketaatan yang akan membahagiakan dan menyelamatkan seorang muslim adalah bertawakal kepada Allah, menyerahkan diri kepada-Nya, serta percaya sepenuh hati dengan keputusan-Nya. Di mana Allah Ta’ala berjanji akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapinya, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2-3)Bagaimana tidak? Orang jika bertawakal, maka ia akan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah di dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Ia yakin bahwa Allahlah satu-satunya yang dapat memberi kebahagiaan untuk seseorang dan Allah jugalah yang berhak mengangkat kebahagiaan tersebut darinya. Sehingga ia tidak akan pernah menyesali apa pun yang Allah Ta’ala takdirkan kepadanya.Rasa tawakal dan berserah diri yang benar tidak meniadakan usaha yang dikerahkan di dalam menjalankan sebab-sebab keberhasilan dan kebahagiaan. Justru merupakan tawakal yang salah jika hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah, hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)Di dalam Tafsir Al-Muyassar terbitan Kemenag Saudi disebutkan bahwa penyerbuan melalui pintu gerbang merupakan salah satu bentuk ikhtiar/usaha agar mereka dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Kemenangan tersebut tidak akan bisa diraih jika mereka hanya pasrah dan tidak bergerak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,لو أنَّكم كنتُم توَكلونَ علَى اللهِ حقَّ توَكلِه لرزقتُم كما يرزقُ الطَّيرُ تغدو خماصًا وتروحُ بطانًا“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan memberi rezeki  kalian sebagaimana Allah memberi rezeki burung. Pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ahmad no. 604)Hal ini menunjukkan bahwa tawakal maknanya bukan pasrah dan meninggalkan sebab. Akan tetapi, tawakal harus disertai dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dari Allah berupa makanan dan rasa kenyang setelah ia berusaha dan melakukan sebab-sebab untuk meraihnya.Tawakal mengarahkan seseorang kepada kebahagiaan dari beberapa sisi:Pertama: Tawakal merupakan salah satu sebab mendapatkan pahala, dan pahala yang diraih merupakan sebab kebahagiaan.Kedua: Tawakal menjadikan seseorang hanya menyandarkan dirinya kepada Allah, bukan manusia. Sehingga ia tidak mengharapkan apa pun yang ada di tangan manusia. Jikalau ia menginginkan sesuatu, maka ia hanya meminta kepada Allah Ta’ala.Ketiga: Tawakal akan mendatangkan rezeki, sebagaimana kisah burung yang telah disebutkan dalam hadis di atas.Keempat: Kalaupun tawakal tidak memiliki keutamaan, kecuali mendapatkan pengakuan cinta dari Allah Ta’ala, maka itu sungguh sangat mencukupi. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Baca Juga: Mengapa Aku Tidak Bahagia?Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiriSungguh kebahagiaan ini tidak dapat dirasakan, kecuali oleh mereka yang sudah melakukannya. Membahagiakan orang lain memiliki berbagai macam sarana dan bentuk. Ada  yang bersifat materi, seperti memberikan bantuan untuk orang fakir, ataupun yang bersifat maknawi, seperti mendamaikan dua orang yang sedang berselisih ataupun menasehati orang lain.Di antara bentuk membahagiakan orang lain yang paling mulia adalah meringankan beban dan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam utangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)Sedangkan bentuk ‘sedekah’ dan membantu orang lain yang paling utama adalah mengajarkan ilmu agama. Sahabat Nabi Muadz bin Jabal pernah berkata,تعلموا العلم ، فإن تعلمَه للهِ خشيةٌ ، وطلَبه عبادةٌ ، ومذاكرتَه تسبيحٌ ، والبحثَ عنه جهادٌ ، وتعليمَه لمن لا يعلمه صدقةٌ“Belajarlah kalian ilmu agama, sungguh mempelajarinya karena Allah mendatangkan rasa takut kepada-Nya, mencari dan mempelajarinya adalah ibadah, mengulangi dan mengingat-ingatnya adalah salah bentuk zikir, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah.” (Madariju As-Salikiin karya Ibnul Qayyim, 4: 134)Baca Juga: Tanda-Tanda Kebahagiaan yang SejatiHati yang bersih dari balas dendam dan kedengkianKebahagiaan yang hakiki (yaitu kebahagiaan di akhirat nanti) tidak diperuntukkan, kecuali untuk mereka yang memilik hati yang bersih. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Seorang muslim tentunya harus bersemangat untuk menyucikan hatinya dari segala macam penyakit dan apa-apa yang mengotorinya, baik itu rasa sombong, kebencian, maupun rasa iri dan dengki kepada yang lain. Karena bersihnya hati merupakan ciri-ciri penduduk surga yang Allah Ta’ala kisahkan di dalam Al-Qur’an,وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah, yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 43)Sungguh tidak ada yang lebih berbahagia dari orang yang ikut senang ketika saudaranya sedang mendapatkan kebaikan dan kenikmatan, ikut bahagia ketika mereka bahagia. Dan tidak ada yang lebih menderita dari orang yang mudah sekali merasa hasad (iri dan dengki) dengan saudaranya, sampai-sampai ia berharap agar kenikmatan tersebut hilang dan sirna dari orang yang mendapatkannya. Sungguh keduanya adalah kondisi yang berbeda, semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari keburukan perasaan hasad terhadap orang lain.Karena hasad sejatinya menghilangkan kebahagiaan serta mengurangi kesempurnaan iman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Salah seorang di antara kalian tidaklah akan beriman dengan sempurna hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang selalu bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan, menjadikan kita termasuk orang yang mudah membahagiakan orang dengan apapun yang kita mampu, dan semoga Allah Ta’ala membersihkan diri kita dari segala macam penyakit hati yang dapat merusaknya. Amiin ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Puasa Mengajarkan Prinsip Kebahagiaan HidupMeraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Apa Itu Fiqh, Artikel Islami Tentang Cinta, Kata Bijak Ulama SalafTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahbersyukurhiduphidup bahagianasihatnasihat islamqonaah

Solusi Hidup Bahagia

Tidak ada manusia yang berakal, kecuali pasti mencari dan menginginkan kebahagiaan. Di antara mereka ada yang Allah berikan petunjuk untuk menempuh jalan yang benar kepada kebahagiaan itu. Sayangnya, banyak juga di antara mereka yang menghabiskan umur mereka dengan mencari di tempat yang salah dan dengan cara yang salah.Kebahagiaan bukanlah obat yang bisa dibeli di apotek lalu diminum dan kemudian dapat menyembuhkan penderitaan. Akan tetapi, ia memiliki beberapa sebab dan jalan, yang jika ditempuh oleh seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan. Dan jika ia menyeleweng dari jalan tersebut, maka ia tidak akan bisa mencapainya.Sebagaimana manusia yang membutuhkan obat saat ia sakit, begitu juga dengan mereka yang menginginkan kebahagiaan. Tentu ia juga memerlukan sebab-sebab untuk meraihnya, menempuh jalan menuju kepadanya, memahami sarana-sarana dan rukun-rukunnya, merealisasikannya, dan mengamalkannya. Sehingga akhirnya ia selamat dari kesusahan dan penderitaan yang menimpanya.Setidaknya ada 3 solusi yang ditawarkan oleh agama ini agar kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim dipenuhi dengan kebahagiaan, yaitu: (1) tawakal, (2) membahagiakan orang lain, dan (3) hati yang bersih.Baca Juga: Celaka atau Bahagia? Daftar Isi sembunyikan 1. Tawakal kunci utama hidup bahagia 2. Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiri 3. Hati yang bersih dari balas dendam dan kedengkian Tawakal kunci utama hidup bahagiaKebahagiaan ada pada ketaatan  kepada Allah Ta’ala dan penderitaan ada karena kemaksiatan kepada-Nya. Di antara ketaatan yang akan membahagiakan dan menyelamatkan seorang muslim adalah bertawakal kepada Allah, menyerahkan diri kepada-Nya, serta percaya sepenuh hati dengan keputusan-Nya. Di mana Allah Ta’ala berjanji akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapinya, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2-3)Bagaimana tidak? Orang jika bertawakal, maka ia akan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah di dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Ia yakin bahwa Allahlah satu-satunya yang dapat memberi kebahagiaan untuk seseorang dan Allah jugalah yang berhak mengangkat kebahagiaan tersebut darinya. Sehingga ia tidak akan pernah menyesali apa pun yang Allah Ta’ala takdirkan kepadanya.Rasa tawakal dan berserah diri yang benar tidak meniadakan usaha yang dikerahkan di dalam menjalankan sebab-sebab keberhasilan dan kebahagiaan. Justru merupakan tawakal yang salah jika hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah, hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)Di dalam Tafsir Al-Muyassar terbitan Kemenag Saudi disebutkan bahwa penyerbuan melalui pintu gerbang merupakan salah satu bentuk ikhtiar/usaha agar mereka dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Kemenangan tersebut tidak akan bisa diraih jika mereka hanya pasrah dan tidak bergerak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,لو أنَّكم كنتُم توَكلونَ علَى اللهِ حقَّ توَكلِه لرزقتُم كما يرزقُ الطَّيرُ تغدو خماصًا وتروحُ بطانًا“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan memberi rezeki  kalian sebagaimana Allah memberi rezeki burung. Pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ahmad no. 604)Hal ini menunjukkan bahwa tawakal maknanya bukan pasrah dan meninggalkan sebab. Akan tetapi, tawakal harus disertai dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dari Allah berupa makanan dan rasa kenyang setelah ia berusaha dan melakukan sebab-sebab untuk meraihnya.Tawakal mengarahkan seseorang kepada kebahagiaan dari beberapa sisi:Pertama: Tawakal merupakan salah satu sebab mendapatkan pahala, dan pahala yang diraih merupakan sebab kebahagiaan.Kedua: Tawakal menjadikan seseorang hanya menyandarkan dirinya kepada Allah, bukan manusia. Sehingga ia tidak mengharapkan apa pun yang ada di tangan manusia. Jikalau ia menginginkan sesuatu, maka ia hanya meminta kepada Allah Ta’ala.Ketiga: Tawakal akan mendatangkan rezeki, sebagaimana kisah burung yang telah disebutkan dalam hadis di atas.Keempat: Kalaupun tawakal tidak memiliki keutamaan, kecuali mendapatkan pengakuan cinta dari Allah Ta’ala, maka itu sungguh sangat mencukupi. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Baca Juga: Mengapa Aku Tidak Bahagia?Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiriSungguh kebahagiaan ini tidak dapat dirasakan, kecuali oleh mereka yang sudah melakukannya. Membahagiakan orang lain memiliki berbagai macam sarana dan bentuk. Ada  yang bersifat materi, seperti memberikan bantuan untuk orang fakir, ataupun yang bersifat maknawi, seperti mendamaikan dua orang yang sedang berselisih ataupun menasehati orang lain.Di antara bentuk membahagiakan orang lain yang paling mulia adalah meringankan beban dan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam utangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)Sedangkan bentuk ‘sedekah’ dan membantu orang lain yang paling utama adalah mengajarkan ilmu agama. Sahabat Nabi Muadz bin Jabal pernah berkata,تعلموا العلم ، فإن تعلمَه للهِ خشيةٌ ، وطلَبه عبادةٌ ، ومذاكرتَه تسبيحٌ ، والبحثَ عنه جهادٌ ، وتعليمَه لمن لا يعلمه صدقةٌ“Belajarlah kalian ilmu agama, sungguh mempelajarinya karena Allah mendatangkan rasa takut kepada-Nya, mencari dan mempelajarinya adalah ibadah, mengulangi dan mengingat-ingatnya adalah salah bentuk zikir, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah.” (Madariju As-Salikiin karya Ibnul Qayyim, 4: 134)Baca Juga: Tanda-Tanda Kebahagiaan yang SejatiHati yang bersih dari balas dendam dan kedengkianKebahagiaan yang hakiki (yaitu kebahagiaan di akhirat nanti) tidak diperuntukkan, kecuali untuk mereka yang memilik hati yang bersih. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Seorang muslim tentunya harus bersemangat untuk menyucikan hatinya dari segala macam penyakit dan apa-apa yang mengotorinya, baik itu rasa sombong, kebencian, maupun rasa iri dan dengki kepada yang lain. Karena bersihnya hati merupakan ciri-ciri penduduk surga yang Allah Ta’ala kisahkan di dalam Al-Qur’an,وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah, yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 43)Sungguh tidak ada yang lebih berbahagia dari orang yang ikut senang ketika saudaranya sedang mendapatkan kebaikan dan kenikmatan, ikut bahagia ketika mereka bahagia. Dan tidak ada yang lebih menderita dari orang yang mudah sekali merasa hasad (iri dan dengki) dengan saudaranya, sampai-sampai ia berharap agar kenikmatan tersebut hilang dan sirna dari orang yang mendapatkannya. Sungguh keduanya adalah kondisi yang berbeda, semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari keburukan perasaan hasad terhadap orang lain.Karena hasad sejatinya menghilangkan kebahagiaan serta mengurangi kesempurnaan iman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Salah seorang di antara kalian tidaklah akan beriman dengan sempurna hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang selalu bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan, menjadikan kita termasuk orang yang mudah membahagiakan orang dengan apapun yang kita mampu, dan semoga Allah Ta’ala membersihkan diri kita dari segala macam penyakit hati yang dapat merusaknya. Amiin ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Puasa Mengajarkan Prinsip Kebahagiaan HidupMeraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Apa Itu Fiqh, Artikel Islami Tentang Cinta, Kata Bijak Ulama SalafTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahbersyukurhiduphidup bahagianasihatnasihat islamqonaah
Tidak ada manusia yang berakal, kecuali pasti mencari dan menginginkan kebahagiaan. Di antara mereka ada yang Allah berikan petunjuk untuk menempuh jalan yang benar kepada kebahagiaan itu. Sayangnya, banyak juga di antara mereka yang menghabiskan umur mereka dengan mencari di tempat yang salah dan dengan cara yang salah.Kebahagiaan bukanlah obat yang bisa dibeli di apotek lalu diminum dan kemudian dapat menyembuhkan penderitaan. Akan tetapi, ia memiliki beberapa sebab dan jalan, yang jika ditempuh oleh seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan. Dan jika ia menyeleweng dari jalan tersebut, maka ia tidak akan bisa mencapainya.Sebagaimana manusia yang membutuhkan obat saat ia sakit, begitu juga dengan mereka yang menginginkan kebahagiaan. Tentu ia juga memerlukan sebab-sebab untuk meraihnya, menempuh jalan menuju kepadanya, memahami sarana-sarana dan rukun-rukunnya, merealisasikannya, dan mengamalkannya. Sehingga akhirnya ia selamat dari kesusahan dan penderitaan yang menimpanya.Setidaknya ada 3 solusi yang ditawarkan oleh agama ini agar kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim dipenuhi dengan kebahagiaan, yaitu: (1) tawakal, (2) membahagiakan orang lain, dan (3) hati yang bersih.Baca Juga: Celaka atau Bahagia? Daftar Isi sembunyikan 1. Tawakal kunci utama hidup bahagia 2. Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiri 3. Hati yang bersih dari balas dendam dan kedengkian Tawakal kunci utama hidup bahagiaKebahagiaan ada pada ketaatan  kepada Allah Ta’ala dan penderitaan ada karena kemaksiatan kepada-Nya. Di antara ketaatan yang akan membahagiakan dan menyelamatkan seorang muslim adalah bertawakal kepada Allah, menyerahkan diri kepada-Nya, serta percaya sepenuh hati dengan keputusan-Nya. Di mana Allah Ta’ala berjanji akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapinya, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2-3)Bagaimana tidak? Orang jika bertawakal, maka ia akan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah di dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Ia yakin bahwa Allahlah satu-satunya yang dapat memberi kebahagiaan untuk seseorang dan Allah jugalah yang berhak mengangkat kebahagiaan tersebut darinya. Sehingga ia tidak akan pernah menyesali apa pun yang Allah Ta’ala takdirkan kepadanya.Rasa tawakal dan berserah diri yang benar tidak meniadakan usaha yang dikerahkan di dalam menjalankan sebab-sebab keberhasilan dan kebahagiaan. Justru merupakan tawakal yang salah jika hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah, hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)Di dalam Tafsir Al-Muyassar terbitan Kemenag Saudi disebutkan bahwa penyerbuan melalui pintu gerbang merupakan salah satu bentuk ikhtiar/usaha agar mereka dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Kemenangan tersebut tidak akan bisa diraih jika mereka hanya pasrah dan tidak bergerak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,لو أنَّكم كنتُم توَكلونَ علَى اللهِ حقَّ توَكلِه لرزقتُم كما يرزقُ الطَّيرُ تغدو خماصًا وتروحُ بطانًا“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan memberi rezeki  kalian sebagaimana Allah memberi rezeki burung. Pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ahmad no. 604)Hal ini menunjukkan bahwa tawakal maknanya bukan pasrah dan meninggalkan sebab. Akan tetapi, tawakal harus disertai dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dari Allah berupa makanan dan rasa kenyang setelah ia berusaha dan melakukan sebab-sebab untuk meraihnya.Tawakal mengarahkan seseorang kepada kebahagiaan dari beberapa sisi:Pertama: Tawakal merupakan salah satu sebab mendapatkan pahala, dan pahala yang diraih merupakan sebab kebahagiaan.Kedua: Tawakal menjadikan seseorang hanya menyandarkan dirinya kepada Allah, bukan manusia. Sehingga ia tidak mengharapkan apa pun yang ada di tangan manusia. Jikalau ia menginginkan sesuatu, maka ia hanya meminta kepada Allah Ta’ala.Ketiga: Tawakal akan mendatangkan rezeki, sebagaimana kisah burung yang telah disebutkan dalam hadis di atas.Keempat: Kalaupun tawakal tidak memiliki keutamaan, kecuali mendapatkan pengakuan cinta dari Allah Ta’ala, maka itu sungguh sangat mencukupi. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Baca Juga: Mengapa Aku Tidak Bahagia?Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiriSungguh kebahagiaan ini tidak dapat dirasakan, kecuali oleh mereka yang sudah melakukannya. Membahagiakan orang lain memiliki berbagai macam sarana dan bentuk. Ada  yang bersifat materi, seperti memberikan bantuan untuk orang fakir, ataupun yang bersifat maknawi, seperti mendamaikan dua orang yang sedang berselisih ataupun menasehati orang lain.Di antara bentuk membahagiakan orang lain yang paling mulia adalah meringankan beban dan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam utangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)Sedangkan bentuk ‘sedekah’ dan membantu orang lain yang paling utama adalah mengajarkan ilmu agama. Sahabat Nabi Muadz bin Jabal pernah berkata,تعلموا العلم ، فإن تعلمَه للهِ خشيةٌ ، وطلَبه عبادةٌ ، ومذاكرتَه تسبيحٌ ، والبحثَ عنه جهادٌ ، وتعليمَه لمن لا يعلمه صدقةٌ“Belajarlah kalian ilmu agama, sungguh mempelajarinya karena Allah mendatangkan rasa takut kepada-Nya, mencari dan mempelajarinya adalah ibadah, mengulangi dan mengingat-ingatnya adalah salah bentuk zikir, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah.” (Madariju As-Salikiin karya Ibnul Qayyim, 4: 134)Baca Juga: Tanda-Tanda Kebahagiaan yang SejatiHati yang bersih dari balas dendam dan kedengkianKebahagiaan yang hakiki (yaitu kebahagiaan di akhirat nanti) tidak diperuntukkan, kecuali untuk mereka yang memilik hati yang bersih. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Seorang muslim tentunya harus bersemangat untuk menyucikan hatinya dari segala macam penyakit dan apa-apa yang mengotorinya, baik itu rasa sombong, kebencian, maupun rasa iri dan dengki kepada yang lain. Karena bersihnya hati merupakan ciri-ciri penduduk surga yang Allah Ta’ala kisahkan di dalam Al-Qur’an,وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah, yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 43)Sungguh tidak ada yang lebih berbahagia dari orang yang ikut senang ketika saudaranya sedang mendapatkan kebaikan dan kenikmatan, ikut bahagia ketika mereka bahagia. Dan tidak ada yang lebih menderita dari orang yang mudah sekali merasa hasad (iri dan dengki) dengan saudaranya, sampai-sampai ia berharap agar kenikmatan tersebut hilang dan sirna dari orang yang mendapatkannya. Sungguh keduanya adalah kondisi yang berbeda, semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari keburukan perasaan hasad terhadap orang lain.Karena hasad sejatinya menghilangkan kebahagiaan serta mengurangi kesempurnaan iman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Salah seorang di antara kalian tidaklah akan beriman dengan sempurna hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang selalu bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan, menjadikan kita termasuk orang yang mudah membahagiakan orang dengan apapun yang kita mampu, dan semoga Allah Ta’ala membersihkan diri kita dari segala macam penyakit hati yang dapat merusaknya. Amiin ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Puasa Mengajarkan Prinsip Kebahagiaan HidupMeraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Apa Itu Fiqh, Artikel Islami Tentang Cinta, Kata Bijak Ulama SalafTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahbersyukurhiduphidup bahagianasihatnasihat islamqonaah


Tidak ada manusia yang berakal, kecuali pasti mencari dan menginginkan kebahagiaan. Di antara mereka ada yang Allah berikan petunjuk untuk menempuh jalan yang benar kepada kebahagiaan itu. Sayangnya, banyak juga di antara mereka yang menghabiskan umur mereka dengan mencari di tempat yang salah dan dengan cara yang salah.Kebahagiaan bukanlah obat yang bisa dibeli di apotek lalu diminum dan kemudian dapat menyembuhkan penderitaan. Akan tetapi, ia memiliki beberapa sebab dan jalan, yang jika ditempuh oleh seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan. Dan jika ia menyeleweng dari jalan tersebut, maka ia tidak akan bisa mencapainya.Sebagaimana manusia yang membutuhkan obat saat ia sakit, begitu juga dengan mereka yang menginginkan kebahagiaan. Tentu ia juga memerlukan sebab-sebab untuk meraihnya, menempuh jalan menuju kepadanya, memahami sarana-sarana dan rukun-rukunnya, merealisasikannya, dan mengamalkannya. Sehingga akhirnya ia selamat dari kesusahan dan penderitaan yang menimpanya.Setidaknya ada 3 solusi yang ditawarkan oleh agama ini agar kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim dipenuhi dengan kebahagiaan, yaitu: (1) tawakal, (2) membahagiakan orang lain, dan (3) hati yang bersih.Baca Juga: Celaka atau Bahagia? Daftar Isi sembunyikan 1. Tawakal kunci utama hidup bahagia 2. Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiri 3. Hati yang bersih dari balas dendam dan kedengkian Tawakal kunci utama hidup bahagiaKebahagiaan ada pada ketaatan  kepada Allah Ta’ala dan penderitaan ada karena kemaksiatan kepada-Nya. Di antara ketaatan yang akan membahagiakan dan menyelamatkan seorang muslim adalah bertawakal kepada Allah, menyerahkan diri kepada-Nya, serta percaya sepenuh hati dengan keputusan-Nya. Di mana Allah Ta’ala berjanji akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapinya, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2-3)Bagaimana tidak? Orang jika bertawakal, maka ia akan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah di dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Ia yakin bahwa Allahlah satu-satunya yang dapat memberi kebahagiaan untuk seseorang dan Allah jugalah yang berhak mengangkat kebahagiaan tersebut darinya. Sehingga ia tidak akan pernah menyesali apa pun yang Allah Ta’ala takdirkan kepadanya.Rasa tawakal dan berserah diri yang benar tidak meniadakan usaha yang dikerahkan di dalam menjalankan sebab-sebab keberhasilan dan kebahagiaan. Justru merupakan tawakal yang salah jika hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan. Allah Ta’ala berfirman,قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah, hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)Di dalam Tafsir Al-Muyassar terbitan Kemenag Saudi disebutkan bahwa penyerbuan melalui pintu gerbang merupakan salah satu bentuk ikhtiar/usaha agar mereka dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Kemenangan tersebut tidak akan bisa diraih jika mereka hanya pasrah dan tidak bergerak.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,لو أنَّكم كنتُم توَكلونَ علَى اللهِ حقَّ توَكلِه لرزقتُم كما يرزقُ الطَّيرُ تغدو خماصًا وتروحُ بطانًا“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka Allah akan memberi rezeki  kalian sebagaimana Allah memberi rezeki burung. Pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ahmad no. 604)Hal ini menunjukkan bahwa tawakal maknanya bukan pasrah dan meninggalkan sebab. Akan tetapi, tawakal harus disertai dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dari Allah berupa makanan dan rasa kenyang setelah ia berusaha dan melakukan sebab-sebab untuk meraihnya.Tawakal mengarahkan seseorang kepada kebahagiaan dari beberapa sisi:Pertama: Tawakal merupakan salah satu sebab mendapatkan pahala, dan pahala yang diraih merupakan sebab kebahagiaan.Kedua: Tawakal menjadikan seseorang hanya menyandarkan dirinya kepada Allah, bukan manusia. Sehingga ia tidak mengharapkan apa pun yang ada di tangan manusia. Jikalau ia menginginkan sesuatu, maka ia hanya meminta kepada Allah Ta’ala.Ketiga: Tawakal akan mendatangkan rezeki, sebagaimana kisah burung yang telah disebutkan dalam hadis di atas.Keempat: Kalaupun tawakal tidak memiliki keutamaan, kecuali mendapatkan pengakuan cinta dari Allah Ta’ala, maka itu sungguh sangat mencukupi. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ“Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)Baca Juga: Mengapa Aku Tidak Bahagia?Membahagiakan orang lain, mendatangkan kebahagiaan untuk diri sendiriSungguh kebahagiaan ini tidak dapat dirasakan, kecuali oleh mereka yang sudah melakukannya. Membahagiakan orang lain memiliki berbagai macam sarana dan bentuk. Ada  yang bersifat materi, seperti memberikan bantuan untuk orang fakir, ataupun yang bersifat maknawi, seperti mendamaikan dua orang yang sedang berselisih ataupun menasehati orang lain.Di antara bentuk membahagiakan orang lain yang paling mulia adalah meringankan beban dan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam utangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim no. 2699)Sedangkan bentuk ‘sedekah’ dan membantu orang lain yang paling utama adalah mengajarkan ilmu agama. Sahabat Nabi Muadz bin Jabal pernah berkata,تعلموا العلم ، فإن تعلمَه للهِ خشيةٌ ، وطلَبه عبادةٌ ، ومذاكرتَه تسبيحٌ ، والبحثَ عنه جهادٌ ، وتعليمَه لمن لا يعلمه صدقةٌ“Belajarlah kalian ilmu agama, sungguh mempelajarinya karena Allah mendatangkan rasa takut kepada-Nya, mencari dan mempelajarinya adalah ibadah, mengulangi dan mengingat-ingatnya adalah salah bentuk zikir, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah.” (Madariju As-Salikiin karya Ibnul Qayyim, 4: 134)Baca Juga: Tanda-Tanda Kebahagiaan yang SejatiHati yang bersih dari balas dendam dan kedengkianKebahagiaan yang hakiki (yaitu kebahagiaan di akhirat nanti) tidak diperuntukkan, kecuali untuk mereka yang memilik hati yang bersih. Allah Ta’ala berfirman,يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)Seorang muslim tentunya harus bersemangat untuk menyucikan hatinya dari segala macam penyakit dan apa-apa yang mengotorinya, baik itu rasa sombong, kebencian, maupun rasa iri dan dengki kepada yang lain. Karena bersihnya hati merupakan ciri-ciri penduduk surga yang Allah Ta’ala kisahkan di dalam Al-Qur’an,وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah, yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 43)Sungguh tidak ada yang lebih berbahagia dari orang yang ikut senang ketika saudaranya sedang mendapatkan kebaikan dan kenikmatan, ikut bahagia ketika mereka bahagia. Dan tidak ada yang lebih menderita dari orang yang mudah sekali merasa hasad (iri dan dengki) dengan saudaranya, sampai-sampai ia berharap agar kenikmatan tersebut hilang dan sirna dari orang yang mendapatkannya. Sungguh keduanya adalah kondisi yang berbeda, semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari keburukan perasaan hasad terhadap orang lain.Karena hasad sejatinya menghilangkan kebahagiaan serta mengurangi kesempurnaan iman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ“Salah seorang di antara kalian tidaklah akan beriman dengan sempurna hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang selalu bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan, menjadikan kita termasuk orang yang mudah membahagiakan orang dengan apapun yang kita mampu, dan semoga Allah Ta’ala membersihkan diri kita dari segala macam penyakit hati yang dapat merusaknya. Amiin ya Rabbal Aalamiin.Baca Juga:Puasa Mengajarkan Prinsip Kebahagiaan HidupMeraih Kebaikan dan Kebahagiaan dengan Ilmu Syar’i***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Apa Itu Fiqh, Artikel Islami Tentang Cinta, Kata Bijak Ulama SalafTags: adabadab IslamAkhlakakhlak muslimAqidahbersyukurhiduphidup bahagianasihatnasihat islamqonaah

Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, dalami dan pelajari firman Allah ʿAzza wa Jalla, dan renungkan makna-maknanya, karena orang yang membaca firman Allah ʿAzza wa Jalla, sedangkan dia mengetahui maknanya, maka zikir lisannya akan selaras dengan zikir hatinya, sehingga zikirnya menjadi zikir lisan dan hati sekaligus. Seseorang yang mengucap pujian kepada-Nya (dalam surat al-Fatihah) “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” sedangkan dia tidak mengetahui maknanya, pahalanya tidak sama dengan orang yang membaca dan memahami apa makna pujian bagi-Nya, apa makna rububiyah-Nya, makna Allah Jalla wa ʿAlā sebagai Tuhan semesta alam, apa makna ar-Rahman dan ar-Rahim? Kemudian ketika dia membaca, “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” dia menadaburkan kalimat ini, yang secara khusus dibahas dalam buku berjilid-jilid. Kitab Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn, dan sebelum itu ada kitab karya Syekh Abu Ishaq atau Abu Ismail al-Anshari, yang ditulis hanya untuk menjabarkan dan menjelaskan bagaimana cara manusia berpegang teguh dengan ayat, “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” mengandung pendahuluan Maʿmūl atas ʿĀmilnya dan pendahuluan objek atas predikat dan subjeknya yang menunjukkan ‘pembatasan’ kepada kita, maka artinya Anda berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak menyembah kecuali hanya Engkau.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, …” ini adalah kesempurnaan tauhid. “… hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” ini adalah kesempurnaan keyakinan kepada Allah ʿAzza wa Jalla yang termasuk amalan hati. Jadi, tadaburkan! Siapa di antara kita yang menadaburkannya? Jadi, orang-orang dalam membaca Al-Qur’an tidaklah sama (pahalanya). Semakin seseorang paham, maka semakin sempurna pahalanya. Oleh karena itu, sebuah ibadah—dan membaca Al-Qur’an termasuk ibadah— sebuah ibadah yang dilakukan orang yang berilmu lebih besar pahalanya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla daripada ibadahnya seorang ahli ibadah (yang tanpa ilmu). Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, perhatikan pengetahuan Anda terhadap firman Allah ʿAzza wa Jalla! Ketahuilah bahwa Anda tidak akan mencapai batas dalam memahami makna-maknanya, dikarenakan kitab ini (Al-Qur’an) tidak akan pernah habis keajaibannya. ====================================================================================================== إِذَنْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ تَفَقَّهْ وَتَعَلَّمْ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَفَكَّرْ فِي مَعَانِيهِ لِأَنَّ الَّذِي يَقْرَأُ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ يَعْلَمُ الْمَعَانِي فَإِنَّ ذِكْرَ اللِّسَانِ يُوَاطِئُ ذِكْرَ الْقَلْبِ فَيَكُونُ ذِكْرُهُ ذِكْرَ لِسَانٍ وَقَلْبٍ مَعًا لَيْسَ الَّذِي يَقْرَأُ الْحَمْدَ ٱلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَهُوَ لَا يَفْقَهُ مَعْنَاهَا كَأَجْرِ الَّذِي يَقْرَأُهَا وَهُوَ يَفْهَمُ مَا مَعْنَى الْحَمْدِ وَمَا مَعْنَى الرُّبُوبِيَّةِ وَمَا مَعْنَى كَوْنِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَمَا مَعْنَى الرَّحْمَنِ وَمَا مَعْنَى الرَّحِيمِ ثُمَّ إِذَا أَتَى إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَأَمَّلَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ الَّتِي أُفْرِدَتْ فِيهَا مُجَلَّدَاتٌ كِتَابُ ابْنِ الْقَيِّمِ مَدَارِجُ السَّالِكِينَ وَقَبْلَهُ كِتَابُ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ… أَبِي إِسْمَاعِيلَ الْأَنْصَارِيِّ إِنَّمَا هُوَ فِي شَرْحِ وَبَيَانِ كَيْفَ يَكُونُ النَّاسُ فِي التَّمَسُّكِ بِإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ فِيهَا تَقْدِيمُ الْمَعْمُولِ عَلَى الْعَامِلِ وَتَقْدِيمُ الْمَفْعُولِ عَلَى الْفِعْلِ وَفَاعِلِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى الْحَصْرِ فَأَنْتَ تَقُولُ: يَا رَبِّي لَا أَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا لَكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ – هَذَا كَمَالُ التَّوْحِيدِ إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا كَمَالُ الْيَقِينِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَفْعَالُ الْقَلْبِ إِذَنْ تَأَمَّلْ مَنْ مِنَّا يَتَأَمَّلُ؟ لِذَا لَمْ يَكُنِ النَّاسُ فِي قِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ سَوَاءً كُلَّمَا كَانَ أَعْلَمَ كُلَّمَا كَانَ أَجْرُهُ أَتَمَّ وَلِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ وَمِنَ الْعِبَادَةِ قِرَاءَةُ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ مِنَ الْعَالِمِ أَجْرُهَا عِنْدَ الله عَزَّ وَجَلَّ أَعْظَمُ مِنْ أَجْرِهَا مِنَ الْعَابِدِ إِذَنْ أَيَّهَا الْمُوَفَّقُ اعْتَنِ بِمَعْرِفَةِ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَبْلُغَ مُنْتَهَى مَعْرِفَةِ مَعَانِيْهِ فَإِنَّ هَذَا الْكِتَابَ لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ  

Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, dalami dan pelajari firman Allah ʿAzza wa Jalla, dan renungkan makna-maknanya, karena orang yang membaca firman Allah ʿAzza wa Jalla, sedangkan dia mengetahui maknanya, maka zikir lisannya akan selaras dengan zikir hatinya, sehingga zikirnya menjadi zikir lisan dan hati sekaligus. Seseorang yang mengucap pujian kepada-Nya (dalam surat al-Fatihah) “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” sedangkan dia tidak mengetahui maknanya, pahalanya tidak sama dengan orang yang membaca dan memahami apa makna pujian bagi-Nya, apa makna rububiyah-Nya, makna Allah Jalla wa ʿAlā sebagai Tuhan semesta alam, apa makna ar-Rahman dan ar-Rahim? Kemudian ketika dia membaca, “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” dia menadaburkan kalimat ini, yang secara khusus dibahas dalam buku berjilid-jilid. Kitab Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn, dan sebelum itu ada kitab karya Syekh Abu Ishaq atau Abu Ismail al-Anshari, yang ditulis hanya untuk menjabarkan dan menjelaskan bagaimana cara manusia berpegang teguh dengan ayat, “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” mengandung pendahuluan Maʿmūl atas ʿĀmilnya dan pendahuluan objek atas predikat dan subjeknya yang menunjukkan ‘pembatasan’ kepada kita, maka artinya Anda berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak menyembah kecuali hanya Engkau.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, …” ini adalah kesempurnaan tauhid. “… hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” ini adalah kesempurnaan keyakinan kepada Allah ʿAzza wa Jalla yang termasuk amalan hati. Jadi, tadaburkan! Siapa di antara kita yang menadaburkannya? Jadi, orang-orang dalam membaca Al-Qur’an tidaklah sama (pahalanya). Semakin seseorang paham, maka semakin sempurna pahalanya. Oleh karena itu, sebuah ibadah—dan membaca Al-Qur’an termasuk ibadah— sebuah ibadah yang dilakukan orang yang berilmu lebih besar pahalanya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla daripada ibadahnya seorang ahli ibadah (yang tanpa ilmu). Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, perhatikan pengetahuan Anda terhadap firman Allah ʿAzza wa Jalla! Ketahuilah bahwa Anda tidak akan mencapai batas dalam memahami makna-maknanya, dikarenakan kitab ini (Al-Qur’an) tidak akan pernah habis keajaibannya. ====================================================================================================== إِذَنْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ تَفَقَّهْ وَتَعَلَّمْ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَفَكَّرْ فِي مَعَانِيهِ لِأَنَّ الَّذِي يَقْرَأُ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ يَعْلَمُ الْمَعَانِي فَإِنَّ ذِكْرَ اللِّسَانِ يُوَاطِئُ ذِكْرَ الْقَلْبِ فَيَكُونُ ذِكْرُهُ ذِكْرَ لِسَانٍ وَقَلْبٍ مَعًا لَيْسَ الَّذِي يَقْرَأُ الْحَمْدَ ٱلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَهُوَ لَا يَفْقَهُ مَعْنَاهَا كَأَجْرِ الَّذِي يَقْرَأُهَا وَهُوَ يَفْهَمُ مَا مَعْنَى الْحَمْدِ وَمَا مَعْنَى الرُّبُوبِيَّةِ وَمَا مَعْنَى كَوْنِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَمَا مَعْنَى الرَّحْمَنِ وَمَا مَعْنَى الرَّحِيمِ ثُمَّ إِذَا أَتَى إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَأَمَّلَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ الَّتِي أُفْرِدَتْ فِيهَا مُجَلَّدَاتٌ كِتَابُ ابْنِ الْقَيِّمِ مَدَارِجُ السَّالِكِينَ وَقَبْلَهُ كِتَابُ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ… أَبِي إِسْمَاعِيلَ الْأَنْصَارِيِّ إِنَّمَا هُوَ فِي شَرْحِ وَبَيَانِ كَيْفَ يَكُونُ النَّاسُ فِي التَّمَسُّكِ بِإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ فِيهَا تَقْدِيمُ الْمَعْمُولِ عَلَى الْعَامِلِ وَتَقْدِيمُ الْمَفْعُولِ عَلَى الْفِعْلِ وَفَاعِلِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى الْحَصْرِ فَأَنْتَ تَقُولُ: يَا رَبِّي لَا أَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا لَكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ – هَذَا كَمَالُ التَّوْحِيدِ إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا كَمَالُ الْيَقِينِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَفْعَالُ الْقَلْبِ إِذَنْ تَأَمَّلْ مَنْ مِنَّا يَتَأَمَّلُ؟ لِذَا لَمْ يَكُنِ النَّاسُ فِي قِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ سَوَاءً كُلَّمَا كَانَ أَعْلَمَ كُلَّمَا كَانَ أَجْرُهُ أَتَمَّ وَلِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ وَمِنَ الْعِبَادَةِ قِرَاءَةُ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ مِنَ الْعَالِمِ أَجْرُهَا عِنْدَ الله عَزَّ وَجَلَّ أَعْظَمُ مِنْ أَجْرِهَا مِنَ الْعَابِدِ إِذَنْ أَيَّهَا الْمُوَفَّقُ اعْتَنِ بِمَعْرِفَةِ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَبْلُغَ مُنْتَهَى مَعْرِفَةِ مَعَانِيْهِ فَإِنَّ هَذَا الْكِتَابَ لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ  
Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, dalami dan pelajari firman Allah ʿAzza wa Jalla, dan renungkan makna-maknanya, karena orang yang membaca firman Allah ʿAzza wa Jalla, sedangkan dia mengetahui maknanya, maka zikir lisannya akan selaras dengan zikir hatinya, sehingga zikirnya menjadi zikir lisan dan hati sekaligus. Seseorang yang mengucap pujian kepada-Nya (dalam surat al-Fatihah) “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” sedangkan dia tidak mengetahui maknanya, pahalanya tidak sama dengan orang yang membaca dan memahami apa makna pujian bagi-Nya, apa makna rububiyah-Nya, makna Allah Jalla wa ʿAlā sebagai Tuhan semesta alam, apa makna ar-Rahman dan ar-Rahim? Kemudian ketika dia membaca, “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” dia menadaburkan kalimat ini, yang secara khusus dibahas dalam buku berjilid-jilid. Kitab Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn, dan sebelum itu ada kitab karya Syekh Abu Ishaq atau Abu Ismail al-Anshari, yang ditulis hanya untuk menjabarkan dan menjelaskan bagaimana cara manusia berpegang teguh dengan ayat, “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” mengandung pendahuluan Maʿmūl atas ʿĀmilnya dan pendahuluan objek atas predikat dan subjeknya yang menunjukkan ‘pembatasan’ kepada kita, maka artinya Anda berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak menyembah kecuali hanya Engkau.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, …” ini adalah kesempurnaan tauhid. “… hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” ini adalah kesempurnaan keyakinan kepada Allah ʿAzza wa Jalla yang termasuk amalan hati. Jadi, tadaburkan! Siapa di antara kita yang menadaburkannya? Jadi, orang-orang dalam membaca Al-Qur’an tidaklah sama (pahalanya). Semakin seseorang paham, maka semakin sempurna pahalanya. Oleh karena itu, sebuah ibadah—dan membaca Al-Qur’an termasuk ibadah— sebuah ibadah yang dilakukan orang yang berilmu lebih besar pahalanya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla daripada ibadahnya seorang ahli ibadah (yang tanpa ilmu). Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, perhatikan pengetahuan Anda terhadap firman Allah ʿAzza wa Jalla! Ketahuilah bahwa Anda tidak akan mencapai batas dalam memahami makna-maknanya, dikarenakan kitab ini (Al-Qur’an) tidak akan pernah habis keajaibannya. ====================================================================================================== إِذَنْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ تَفَقَّهْ وَتَعَلَّمْ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَفَكَّرْ فِي مَعَانِيهِ لِأَنَّ الَّذِي يَقْرَأُ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ يَعْلَمُ الْمَعَانِي فَإِنَّ ذِكْرَ اللِّسَانِ يُوَاطِئُ ذِكْرَ الْقَلْبِ فَيَكُونُ ذِكْرُهُ ذِكْرَ لِسَانٍ وَقَلْبٍ مَعًا لَيْسَ الَّذِي يَقْرَأُ الْحَمْدَ ٱلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَهُوَ لَا يَفْقَهُ مَعْنَاهَا كَأَجْرِ الَّذِي يَقْرَأُهَا وَهُوَ يَفْهَمُ مَا مَعْنَى الْحَمْدِ وَمَا مَعْنَى الرُّبُوبِيَّةِ وَمَا مَعْنَى كَوْنِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَمَا مَعْنَى الرَّحْمَنِ وَمَا مَعْنَى الرَّحِيمِ ثُمَّ إِذَا أَتَى إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَأَمَّلَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ الَّتِي أُفْرِدَتْ فِيهَا مُجَلَّدَاتٌ كِتَابُ ابْنِ الْقَيِّمِ مَدَارِجُ السَّالِكِينَ وَقَبْلَهُ كِتَابُ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ… أَبِي إِسْمَاعِيلَ الْأَنْصَارِيِّ إِنَّمَا هُوَ فِي شَرْحِ وَبَيَانِ كَيْفَ يَكُونُ النَّاسُ فِي التَّمَسُّكِ بِإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ فِيهَا تَقْدِيمُ الْمَعْمُولِ عَلَى الْعَامِلِ وَتَقْدِيمُ الْمَفْعُولِ عَلَى الْفِعْلِ وَفَاعِلِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى الْحَصْرِ فَأَنْتَ تَقُولُ: يَا رَبِّي لَا أَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا لَكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ – هَذَا كَمَالُ التَّوْحِيدِ إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا كَمَالُ الْيَقِينِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَفْعَالُ الْقَلْبِ إِذَنْ تَأَمَّلْ مَنْ مِنَّا يَتَأَمَّلُ؟ لِذَا لَمْ يَكُنِ النَّاسُ فِي قِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ سَوَاءً كُلَّمَا كَانَ أَعْلَمَ كُلَّمَا كَانَ أَجْرُهُ أَتَمَّ وَلِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ وَمِنَ الْعِبَادَةِ قِرَاءَةُ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ مِنَ الْعَالِمِ أَجْرُهَا عِنْدَ الله عَزَّ وَجَلَّ أَعْظَمُ مِنْ أَجْرِهَا مِنَ الْعَابِدِ إِذَنْ أَيَّهَا الْمُوَفَّقُ اعْتَنِ بِمَعْرِفَةِ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَبْلُغَ مُنْتَهَى مَعْرِفَةِ مَعَانِيْهِ فَإِنَّ هَذَا الْكِتَابَ لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ  


Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, dalami dan pelajari firman Allah ʿAzza wa Jalla, dan renungkan makna-maknanya, karena orang yang membaca firman Allah ʿAzza wa Jalla, sedangkan dia mengetahui maknanya, maka zikir lisannya akan selaras dengan zikir hatinya, sehingga zikirnya menjadi zikir lisan dan hati sekaligus. Seseorang yang mengucap pujian kepada-Nya (dalam surat al-Fatihah) “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” sedangkan dia tidak mengetahui maknanya, pahalanya tidak sama dengan orang yang membaca dan memahami apa makna pujian bagi-Nya, apa makna rububiyah-Nya, makna Allah Jalla wa ʿAlā sebagai Tuhan semesta alam, apa makna ar-Rahman dan ar-Rahim? Kemudian ketika dia membaca, “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” dia menadaburkan kalimat ini, yang secara khusus dibahas dalam buku berjilid-jilid. Kitab Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn, dan sebelum itu ada kitab karya Syekh Abu Ishaq atau Abu Ismail al-Anshari, yang ditulis hanya untuk menjabarkan dan menjelaskan bagaimana cara manusia berpegang teguh dengan ayat, “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” mengandung pendahuluan Maʿmūl atas ʿĀmilnya dan pendahuluan objek atas predikat dan subjeknya yang menunjukkan ‘pembatasan’ kepada kita, maka artinya Anda berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak menyembah kecuali hanya Engkau.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, …” ini adalah kesempurnaan tauhid. “… hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” ini adalah kesempurnaan keyakinan kepada Allah ʿAzza wa Jalla yang termasuk amalan hati. Jadi, tadaburkan! Siapa di antara kita yang menadaburkannya? Jadi, orang-orang dalam membaca Al-Qur’an tidaklah sama (pahalanya). Semakin seseorang paham, maka semakin sempurna pahalanya. Oleh karena itu, sebuah ibadah—dan membaca Al-Qur’an termasuk ibadah— sebuah ibadah yang dilakukan orang yang berilmu lebih besar pahalanya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla daripada ibadahnya seorang ahli ibadah (yang tanpa ilmu). Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, perhatikan pengetahuan Anda terhadap firman Allah ʿAzza wa Jalla! Ketahuilah bahwa Anda tidak akan mencapai batas dalam memahami makna-maknanya, dikarenakan kitab ini (Al-Qur’an) tidak akan pernah habis keajaibannya. ====================================================================================================== إِذَنْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ تَفَقَّهْ وَتَعَلَّمْ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَفَكَّرْ فِي مَعَانِيهِ لِأَنَّ الَّذِي يَقْرَأُ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ يَعْلَمُ الْمَعَانِي فَإِنَّ ذِكْرَ اللِّسَانِ يُوَاطِئُ ذِكْرَ الْقَلْبِ فَيَكُونُ ذِكْرُهُ ذِكْرَ لِسَانٍ وَقَلْبٍ مَعًا لَيْسَ الَّذِي يَقْرَأُ الْحَمْدَ ٱلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَهُوَ لَا يَفْقَهُ مَعْنَاهَا كَأَجْرِ الَّذِي يَقْرَأُهَا وَهُوَ يَفْهَمُ مَا مَعْنَى الْحَمْدِ وَمَا مَعْنَى الرُّبُوبِيَّةِ وَمَا مَعْنَى كَوْنِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَمَا مَعْنَى الرَّحْمَنِ وَمَا مَعْنَى الرَّحِيمِ ثُمَّ إِذَا أَتَى إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ تَأَمَّلَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ الَّتِي أُفْرِدَتْ فِيهَا مُجَلَّدَاتٌ كِتَابُ ابْنِ الْقَيِّمِ مَدَارِجُ السَّالِكِينَ وَقَبْلَهُ كِتَابُ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ… أَبِي إِسْمَاعِيلَ الْأَنْصَارِيِّ إِنَّمَا هُوَ فِي شَرْحِ وَبَيَانِ كَيْفَ يَكُونُ النَّاسُ فِي التَّمَسُّكِ بِإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ فِيهَا تَقْدِيمُ الْمَعْمُولِ عَلَى الْعَامِلِ وَتَقْدِيمُ الْمَفْعُولِ عَلَى الْفِعْلِ وَفَاعِلِهِ وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى الْحَصْرِ فَأَنْتَ تَقُولُ: يَا رَبِّي لَا أَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا لَكَ وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ – هَذَا كَمَالُ التَّوْحِيدِ إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ هَذَا كَمَالُ الْيَقِينِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَفْعَالُ الْقَلْبِ إِذَنْ تَأَمَّلْ مَنْ مِنَّا يَتَأَمَّلُ؟ لِذَا لَمْ يَكُنِ النَّاسُ فِي قِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ سَوَاءً كُلَّمَا كَانَ أَعْلَمَ كُلَّمَا كَانَ أَجْرُهُ أَتَمَّ وَلِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ وَمِنَ الْعِبَادَةِ قِرَاءَةُ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ مِنَ الْعَالِمِ أَجْرُهَا عِنْدَ الله عَزَّ وَجَلَّ أَعْظَمُ مِنْ أَجْرِهَا مِنَ الْعَابِدِ إِذَنْ أَيَّهَا الْمُوَفَّقُ اعْتَنِ بِمَعْرِفَةِ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَبْلُغَ مُنْتَهَى مَعْرِفَةِ مَعَانِيْهِ فَإِنَّ هَذَا الْكِتَابَ لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ  

Khotbah Jumat: Bagaimana Cara Menghidupkan Takwa dalam Kehidupan Kita?

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan benteng dari segala fitnah dan bekal untuk segala cobaan. Takwa jugalah yang akan membentengi seorang mukmin dari azab Allah dan kemurkaannya.Sebagian ulama mengatakan tentang takwa, “Hakikatnya adalah rasa takut kepada Al-Jalil (Yang Mahamulia) Allah Ta’ala, pengamalan atas apa yang turun dari wahyu-Nya, keridaan atas banyak ataupun sedikitnya rezeki yang telah Allah berikan dan persiapan menghadapi hari kepergian dari dunia ini.”Ketakwaan merupakan kewajiban dan wasiat Allah kepada hamba-Nya. Ia berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, ‘Bertakwalah kepada Allah.’” (QS. An-Nisa: 131)Sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menyadari kedudukan takwa dan merasa butuh kepadanya di saat menjalankan ketaatan kepada Allah karena ketakwaan merupakan ruh dan nyawa bagi setiap ketaatan dan peribadatan. Oleh karenanya, Allah Ta’ala memberikan balasan khusus untuk hamba-Nya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63)Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala.Takwa memiliki berbagai macam cara agar terwujud dan terealisasi dalam kehidupan. Sumber utamanya adalah rasa takut kita kepada Allah Ta’ala serta selalu merasa diawasi oleh-Nya dan mengagungkan kebesarannya. Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan mereka yang takut akan kebesaran Allah Ta’ala sebagai bentuk ketakwaan kepada-Nya dengan berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Yang kedua, ketakwaan tak dapat diraih dan diwujudkan, kecuali dengan keimanan yang sempurna dan tinggi. Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,ليس الإيمان بالتمني، ولا بالتحلي، ولكن هو ما وقر في القلب، وصدقه العمل “Bukanlah iman itu dengan angan-angan semata, bukan pula dengan sekedar hiasan. Akan tetapi, iman itu ialah apa yang menancap di relung hati dan dibenarkan oleh amalan.” (Majmu’ah Rasa`il At-Taujihat Al-Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama’ karya Syekh Jamil Zainu)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan bahwa kedudukan iman yang tinggi ini tidak dapat diraih, kecuali dengan menghindarkan diri dari dosa-dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وهو مُؤْمِنٌ“Tidaklah beriman orang yang berzina tatkala ia berzina. Tidaklah beriman orang yang minum khamr tatkala ia meminumnya. Dan tidaklah beriman orang yang mencuri ketika ia mencuri.” (HR. Bukhari no. 2475).Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuYang ketiga, akhlak dan budi pekerti yang baik. Mereka yang berakhlak baik, seringkali akan terhindarkan dari perbuatan dosa dan kezaliman karena akhlaknya tersebut. Akhlaknya juga yang akan menuntunnya melakukan perbuatan mulia dan terpuji.Jika terkumpul pada diri seseorang akhlak yang baik, keimanan yang tinggi, serta rasa takut kepada Allah Ta’ala, bisa dipastikan ia akan lebih berhati-hati, menjaga, dan menghindarkan dirinya dari larangan-larangan Allah Ta’ala. Karena ia sadar bahwa kemaksiatan dan dosa sangatlah berlawanan dengan rasa syukur dan perbuatan baik. Tidak mungkin kebaikan yang selama ini Allah berikan kepadanya dibalas dengan kekufuran dan kemaksiatan kepada-Nya. Allah Ta’ala pernah berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 6)Yang keempat, akal sehat. Akal yang sehat akan menghalangi pemiliknya dari berbuat sesuatu yang tidak pantas dan tidak baik. Akal yang sehat akan memotivasi pemiliknya untuk senantiasa bertakwa. Oleh karenanya, di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengajak mereka yang berakal untuk bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ ۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 100)Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.Banyak sekali amalan-amalan dalam ajaran Islam yang disyariatkan dengan tujuan untuk mewujudkan takwa. Salat yang kita lakukan merupakan bukti nyata ikatan seorang hamba dengan Rabbnya. Puasa yang kita lakukan merupakan tameng dari perbuatan haram dan terlarang. Haji yang dilakukan seorang muslim, maka itu adalah sebaik-baik bekal untuk mewujudkan ketakwaan. Sungguh semua amalan saleh yang dilakukan seorang hamba dengan niat untuk meraih wajah Allah Ta’ala maka itu semua tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)Di antara konsekuensi takwa di dalam beramal, seorang muslim dituntut untuk memperdalam tata cara beribadah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga seluruh amalan yang akan dikerjakannya nanti diridai oleh Allah Ta’ala dan diterima oleh-Nya. Banyak sekali orang yang rajin beramal namun tidak diterima oleh Allah karena tidak memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Ada seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Dalam hadis tersebut, Nabi menunjukkan bahwa doa yang dikabulkan memiliki beberapa syara. Di antaranya adalah memakan makanan halal, meminum minuman halal, dan mengenakan pakaian halal.Baca Juga: Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanSeorang muslim tentunya juga harus bersemangat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam setiap ucapan yang keluar dari lisannya. Tidak berucap kecuali dengan kebenaran, jujur, dan menghindarkan diri dari ucapan-ucapan yang dapat merusak lisan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ  يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,Ketahuilah, bahwa wujud ketakwaan di dalam kehidupan tidak hanya nampak pada perbuatan dan perkataan. Lebih dari itu, takwa sangatlah nampak pada keyakinan (akidah) dan akal pikiran seorang muslim. Seorang muslim yang baik tentunya akan bertakwa kepada Allah di dalam akidahnya, sehingga ia antusias dan bersemangat di dalam menguatkan keimanannya akan keberadaan Allah Ta’ala, menyifatinya dengan sifat-sifat yang sempurna dan mulia, serta juga bersemangat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan rukun-rukun keimanan dan hal-hal mendasar dalam agamanya.Karena ia menyadari bahwa hati dan keyakinan merupakan salah satu hal yang dilirik dan diperhatikan Allah Ta’ala dari hambanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إلى صُوَرِكُمْ وأَمْوالِكُمْ، ولَكِنْ يَنْظُرُ إلى قُلُوبِكُمْ وأَعْمالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala, marilah kita semua selalu memperhatikan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, di setiap keadaan dan kesempatan, mewujudkannya baik dalam bentuk keyakinan hati, perkataan maupun perbuatan, karena takwa merupakan salah satu kunci diterimanya amalan kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang bisa mengamalkan ayat,وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)Yaitu mereka yang selalu bertakwa kepada Allah hingga ajal datang menjemputnya. Amiin ya rabbal aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Tentang Bahasa Arab, Larangan Riba Dalam Al Quran, Doa Melihat Kabah, Bacaan Tahiyat Akhir Sampai SalamTags: keutamaan takwakhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumattakwateks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Bagaimana Cara Menghidupkan Takwa dalam Kehidupan Kita?

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan benteng dari segala fitnah dan bekal untuk segala cobaan. Takwa jugalah yang akan membentengi seorang mukmin dari azab Allah dan kemurkaannya.Sebagian ulama mengatakan tentang takwa, “Hakikatnya adalah rasa takut kepada Al-Jalil (Yang Mahamulia) Allah Ta’ala, pengamalan atas apa yang turun dari wahyu-Nya, keridaan atas banyak ataupun sedikitnya rezeki yang telah Allah berikan dan persiapan menghadapi hari kepergian dari dunia ini.”Ketakwaan merupakan kewajiban dan wasiat Allah kepada hamba-Nya. Ia berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, ‘Bertakwalah kepada Allah.’” (QS. An-Nisa: 131)Sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menyadari kedudukan takwa dan merasa butuh kepadanya di saat menjalankan ketaatan kepada Allah karena ketakwaan merupakan ruh dan nyawa bagi setiap ketaatan dan peribadatan. Oleh karenanya, Allah Ta’ala memberikan balasan khusus untuk hamba-Nya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63)Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala.Takwa memiliki berbagai macam cara agar terwujud dan terealisasi dalam kehidupan. Sumber utamanya adalah rasa takut kita kepada Allah Ta’ala serta selalu merasa diawasi oleh-Nya dan mengagungkan kebesarannya. Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan mereka yang takut akan kebesaran Allah Ta’ala sebagai bentuk ketakwaan kepada-Nya dengan berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Yang kedua, ketakwaan tak dapat diraih dan diwujudkan, kecuali dengan keimanan yang sempurna dan tinggi. Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,ليس الإيمان بالتمني، ولا بالتحلي، ولكن هو ما وقر في القلب، وصدقه العمل “Bukanlah iman itu dengan angan-angan semata, bukan pula dengan sekedar hiasan. Akan tetapi, iman itu ialah apa yang menancap di relung hati dan dibenarkan oleh amalan.” (Majmu’ah Rasa`il At-Taujihat Al-Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama’ karya Syekh Jamil Zainu)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan bahwa kedudukan iman yang tinggi ini tidak dapat diraih, kecuali dengan menghindarkan diri dari dosa-dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وهو مُؤْمِنٌ“Tidaklah beriman orang yang berzina tatkala ia berzina. Tidaklah beriman orang yang minum khamr tatkala ia meminumnya. Dan tidaklah beriman orang yang mencuri ketika ia mencuri.” (HR. Bukhari no. 2475).Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuYang ketiga, akhlak dan budi pekerti yang baik. Mereka yang berakhlak baik, seringkali akan terhindarkan dari perbuatan dosa dan kezaliman karena akhlaknya tersebut. Akhlaknya juga yang akan menuntunnya melakukan perbuatan mulia dan terpuji.Jika terkumpul pada diri seseorang akhlak yang baik, keimanan yang tinggi, serta rasa takut kepada Allah Ta’ala, bisa dipastikan ia akan lebih berhati-hati, menjaga, dan menghindarkan dirinya dari larangan-larangan Allah Ta’ala. Karena ia sadar bahwa kemaksiatan dan dosa sangatlah berlawanan dengan rasa syukur dan perbuatan baik. Tidak mungkin kebaikan yang selama ini Allah berikan kepadanya dibalas dengan kekufuran dan kemaksiatan kepada-Nya. Allah Ta’ala pernah berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 6)Yang keempat, akal sehat. Akal yang sehat akan menghalangi pemiliknya dari berbuat sesuatu yang tidak pantas dan tidak baik. Akal yang sehat akan memotivasi pemiliknya untuk senantiasa bertakwa. Oleh karenanya, di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengajak mereka yang berakal untuk bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ ۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 100)Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.Banyak sekali amalan-amalan dalam ajaran Islam yang disyariatkan dengan tujuan untuk mewujudkan takwa. Salat yang kita lakukan merupakan bukti nyata ikatan seorang hamba dengan Rabbnya. Puasa yang kita lakukan merupakan tameng dari perbuatan haram dan terlarang. Haji yang dilakukan seorang muslim, maka itu adalah sebaik-baik bekal untuk mewujudkan ketakwaan. Sungguh semua amalan saleh yang dilakukan seorang hamba dengan niat untuk meraih wajah Allah Ta’ala maka itu semua tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)Di antara konsekuensi takwa di dalam beramal, seorang muslim dituntut untuk memperdalam tata cara beribadah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga seluruh amalan yang akan dikerjakannya nanti diridai oleh Allah Ta’ala dan diterima oleh-Nya. Banyak sekali orang yang rajin beramal namun tidak diterima oleh Allah karena tidak memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Ada seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Dalam hadis tersebut, Nabi menunjukkan bahwa doa yang dikabulkan memiliki beberapa syara. Di antaranya adalah memakan makanan halal, meminum minuman halal, dan mengenakan pakaian halal.Baca Juga: Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanSeorang muslim tentunya juga harus bersemangat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam setiap ucapan yang keluar dari lisannya. Tidak berucap kecuali dengan kebenaran, jujur, dan menghindarkan diri dari ucapan-ucapan yang dapat merusak lisan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ  يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,Ketahuilah, bahwa wujud ketakwaan di dalam kehidupan tidak hanya nampak pada perbuatan dan perkataan. Lebih dari itu, takwa sangatlah nampak pada keyakinan (akidah) dan akal pikiran seorang muslim. Seorang muslim yang baik tentunya akan bertakwa kepada Allah di dalam akidahnya, sehingga ia antusias dan bersemangat di dalam menguatkan keimanannya akan keberadaan Allah Ta’ala, menyifatinya dengan sifat-sifat yang sempurna dan mulia, serta juga bersemangat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan rukun-rukun keimanan dan hal-hal mendasar dalam agamanya.Karena ia menyadari bahwa hati dan keyakinan merupakan salah satu hal yang dilirik dan diperhatikan Allah Ta’ala dari hambanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إلى صُوَرِكُمْ وأَمْوالِكُمْ، ولَكِنْ يَنْظُرُ إلى قُلُوبِكُمْ وأَعْمالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala, marilah kita semua selalu memperhatikan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, di setiap keadaan dan kesempatan, mewujudkannya baik dalam bentuk keyakinan hati, perkataan maupun perbuatan, karena takwa merupakan salah satu kunci diterimanya amalan kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang bisa mengamalkan ayat,وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)Yaitu mereka yang selalu bertakwa kepada Allah hingga ajal datang menjemputnya. Amiin ya rabbal aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Tentang Bahasa Arab, Larangan Riba Dalam Al Quran, Doa Melihat Kabah, Bacaan Tahiyat Akhir Sampai SalamTags: keutamaan takwakhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumattakwateks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan benteng dari segala fitnah dan bekal untuk segala cobaan. Takwa jugalah yang akan membentengi seorang mukmin dari azab Allah dan kemurkaannya.Sebagian ulama mengatakan tentang takwa, “Hakikatnya adalah rasa takut kepada Al-Jalil (Yang Mahamulia) Allah Ta’ala, pengamalan atas apa yang turun dari wahyu-Nya, keridaan atas banyak ataupun sedikitnya rezeki yang telah Allah berikan dan persiapan menghadapi hari kepergian dari dunia ini.”Ketakwaan merupakan kewajiban dan wasiat Allah kepada hamba-Nya. Ia berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, ‘Bertakwalah kepada Allah.’” (QS. An-Nisa: 131)Sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menyadari kedudukan takwa dan merasa butuh kepadanya di saat menjalankan ketaatan kepada Allah karena ketakwaan merupakan ruh dan nyawa bagi setiap ketaatan dan peribadatan. Oleh karenanya, Allah Ta’ala memberikan balasan khusus untuk hamba-Nya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63)Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala.Takwa memiliki berbagai macam cara agar terwujud dan terealisasi dalam kehidupan. Sumber utamanya adalah rasa takut kita kepada Allah Ta’ala serta selalu merasa diawasi oleh-Nya dan mengagungkan kebesarannya. Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan mereka yang takut akan kebesaran Allah Ta’ala sebagai bentuk ketakwaan kepada-Nya dengan berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Yang kedua, ketakwaan tak dapat diraih dan diwujudkan, kecuali dengan keimanan yang sempurna dan tinggi. Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,ليس الإيمان بالتمني، ولا بالتحلي، ولكن هو ما وقر في القلب، وصدقه العمل “Bukanlah iman itu dengan angan-angan semata, bukan pula dengan sekedar hiasan. Akan tetapi, iman itu ialah apa yang menancap di relung hati dan dibenarkan oleh amalan.” (Majmu’ah Rasa`il At-Taujihat Al-Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama’ karya Syekh Jamil Zainu)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan bahwa kedudukan iman yang tinggi ini tidak dapat diraih, kecuali dengan menghindarkan diri dari dosa-dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وهو مُؤْمِنٌ“Tidaklah beriman orang yang berzina tatkala ia berzina. Tidaklah beriman orang yang minum khamr tatkala ia meminumnya. Dan tidaklah beriman orang yang mencuri ketika ia mencuri.” (HR. Bukhari no. 2475).Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuYang ketiga, akhlak dan budi pekerti yang baik. Mereka yang berakhlak baik, seringkali akan terhindarkan dari perbuatan dosa dan kezaliman karena akhlaknya tersebut. Akhlaknya juga yang akan menuntunnya melakukan perbuatan mulia dan terpuji.Jika terkumpul pada diri seseorang akhlak yang baik, keimanan yang tinggi, serta rasa takut kepada Allah Ta’ala, bisa dipastikan ia akan lebih berhati-hati, menjaga, dan menghindarkan dirinya dari larangan-larangan Allah Ta’ala. Karena ia sadar bahwa kemaksiatan dan dosa sangatlah berlawanan dengan rasa syukur dan perbuatan baik. Tidak mungkin kebaikan yang selama ini Allah berikan kepadanya dibalas dengan kekufuran dan kemaksiatan kepada-Nya. Allah Ta’ala pernah berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 6)Yang keempat, akal sehat. Akal yang sehat akan menghalangi pemiliknya dari berbuat sesuatu yang tidak pantas dan tidak baik. Akal yang sehat akan memotivasi pemiliknya untuk senantiasa bertakwa. Oleh karenanya, di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengajak mereka yang berakal untuk bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ ۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 100)Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.Banyak sekali amalan-amalan dalam ajaran Islam yang disyariatkan dengan tujuan untuk mewujudkan takwa. Salat yang kita lakukan merupakan bukti nyata ikatan seorang hamba dengan Rabbnya. Puasa yang kita lakukan merupakan tameng dari perbuatan haram dan terlarang. Haji yang dilakukan seorang muslim, maka itu adalah sebaik-baik bekal untuk mewujudkan ketakwaan. Sungguh semua amalan saleh yang dilakukan seorang hamba dengan niat untuk meraih wajah Allah Ta’ala maka itu semua tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)Di antara konsekuensi takwa di dalam beramal, seorang muslim dituntut untuk memperdalam tata cara beribadah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga seluruh amalan yang akan dikerjakannya nanti diridai oleh Allah Ta’ala dan diterima oleh-Nya. Banyak sekali orang yang rajin beramal namun tidak diterima oleh Allah karena tidak memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Ada seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Dalam hadis tersebut, Nabi menunjukkan bahwa doa yang dikabulkan memiliki beberapa syara. Di antaranya adalah memakan makanan halal, meminum minuman halal, dan mengenakan pakaian halal.Baca Juga: Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanSeorang muslim tentunya juga harus bersemangat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam setiap ucapan yang keluar dari lisannya. Tidak berucap kecuali dengan kebenaran, jujur, dan menghindarkan diri dari ucapan-ucapan yang dapat merusak lisan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ  يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,Ketahuilah, bahwa wujud ketakwaan di dalam kehidupan tidak hanya nampak pada perbuatan dan perkataan. Lebih dari itu, takwa sangatlah nampak pada keyakinan (akidah) dan akal pikiran seorang muslim. Seorang muslim yang baik tentunya akan bertakwa kepada Allah di dalam akidahnya, sehingga ia antusias dan bersemangat di dalam menguatkan keimanannya akan keberadaan Allah Ta’ala, menyifatinya dengan sifat-sifat yang sempurna dan mulia, serta juga bersemangat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan rukun-rukun keimanan dan hal-hal mendasar dalam agamanya.Karena ia menyadari bahwa hati dan keyakinan merupakan salah satu hal yang dilirik dan diperhatikan Allah Ta’ala dari hambanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إلى صُوَرِكُمْ وأَمْوالِكُمْ، ولَكِنْ يَنْظُرُ إلى قُلُوبِكُمْ وأَعْمالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala, marilah kita semua selalu memperhatikan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, di setiap keadaan dan kesempatan, mewujudkannya baik dalam bentuk keyakinan hati, perkataan maupun perbuatan, karena takwa merupakan salah satu kunci diterimanya amalan kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang bisa mengamalkan ayat,وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)Yaitu mereka yang selalu bertakwa kepada Allah hingga ajal datang menjemputnya. Amiin ya rabbal aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Tentang Bahasa Arab, Larangan Riba Dalam Al Quran, Doa Melihat Kabah, Bacaan Tahiyat Akhir Sampai SalamTags: keutamaan takwakhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumattakwateks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Karena takwa merupakan benteng dari segala fitnah dan bekal untuk segala cobaan. Takwa jugalah yang akan membentengi seorang mukmin dari azab Allah dan kemurkaannya.Sebagian ulama mengatakan tentang takwa, “Hakikatnya adalah rasa takut kepada Al-Jalil (Yang Mahamulia) Allah Ta’ala, pengamalan atas apa yang turun dari wahyu-Nya, keridaan atas banyak ataupun sedikitnya rezeki yang telah Allah berikan dan persiapan menghadapi hari kepergian dari dunia ini.”Ketakwaan merupakan kewajiban dan wasiat Allah kepada hamba-Nya. Ia berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)Allah Ta’ala juga berfirman,وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, ‘Bertakwalah kepada Allah.’” (QS. An-Nisa: 131)Sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menyadari kedudukan takwa dan merasa butuh kepadanya di saat menjalankan ketaatan kepada Allah karena ketakwaan merupakan ruh dan nyawa bagi setiap ketaatan dan peribadatan. Oleh karenanya, Allah Ta’ala memberikan balasan khusus untuk hamba-Nya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63)Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala.Takwa memiliki berbagai macam cara agar terwujud dan terealisasi dalam kehidupan. Sumber utamanya adalah rasa takut kita kepada Allah Ta’ala serta selalu merasa diawasi oleh-Nya dan mengagungkan kebesarannya. Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan mereka yang takut akan kebesaran Allah Ta’ala sebagai bentuk ketakwaan kepada-Nya dengan berfirman,وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 40-41)Yang kedua, ketakwaan tak dapat diraih dan diwujudkan, kecuali dengan keimanan yang sempurna dan tinggi. Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,ليس الإيمان بالتمني، ولا بالتحلي، ولكن هو ما وقر في القلب، وصدقه العمل “Bukanlah iman itu dengan angan-angan semata, bukan pula dengan sekedar hiasan. Akan tetapi, iman itu ialah apa yang menancap di relung hati dan dibenarkan oleh amalan.” (Majmu’ah Rasa`il At-Taujihat Al-Islamiyyah li Ishlahil Fardhi wal Mujtama’ karya Syekh Jamil Zainu)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan bahwa kedudukan iman yang tinggi ini tidak dapat diraih, kecuali dengan menghindarkan diri dari dosa-dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وهو مُؤْمِنٌ، ولا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وهو مُؤْمِنٌ“Tidaklah beriman orang yang berzina tatkala ia berzina. Tidaklah beriman orang yang minum khamr tatkala ia meminumnya. Dan tidaklah beriman orang yang mencuri ketika ia mencuri.” (HR. Bukhari no. 2475).Baca Juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut KesanggupanmuYang ketiga, akhlak dan budi pekerti yang baik. Mereka yang berakhlak baik, seringkali akan terhindarkan dari perbuatan dosa dan kezaliman karena akhlaknya tersebut. Akhlaknya juga yang akan menuntunnya melakukan perbuatan mulia dan terpuji.Jika terkumpul pada diri seseorang akhlak yang baik, keimanan yang tinggi, serta rasa takut kepada Allah Ta’ala, bisa dipastikan ia akan lebih berhati-hati, menjaga, dan menghindarkan dirinya dari larangan-larangan Allah Ta’ala. Karena ia sadar bahwa kemaksiatan dan dosa sangatlah berlawanan dengan rasa syukur dan perbuatan baik. Tidak mungkin kebaikan yang selama ini Allah berikan kepadanya dibalas dengan kekufuran dan kemaksiatan kepada-Nya. Allah Ta’ala pernah berfirman,هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 6)Yang keempat, akal sehat. Akal yang sehat akan menghalangi pemiliknya dari berbuat sesuatu yang tidak pantas dan tidak baik. Akal yang sehat akan memotivasi pemiliknya untuk senantiasa bertakwa. Oleh karenanya, di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengajak mereka yang berakal untuk bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,قُل لَّا يَسْتَوِى ٱلْخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ ٱلْخَبِيثِ ۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 100)Baca Juga: Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang BertakwaJemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.Banyak sekali amalan-amalan dalam ajaran Islam yang disyariatkan dengan tujuan untuk mewujudkan takwa. Salat yang kita lakukan merupakan bukti nyata ikatan seorang hamba dengan Rabbnya. Puasa yang kita lakukan merupakan tameng dari perbuatan haram dan terlarang. Haji yang dilakukan seorang muslim, maka itu adalah sebaik-baik bekal untuk mewujudkan ketakwaan. Sungguh semua amalan saleh yang dilakukan seorang hamba dengan niat untuk meraih wajah Allah Ta’ala maka itu semua tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)Di antara konsekuensi takwa di dalam beramal, seorang muslim dituntut untuk memperdalam tata cara beribadah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga seluruh amalan yang akan dikerjakannya nanti diridai oleh Allah Ta’ala dan diterima oleh-Nya. Banyak sekali orang yang rajin beramal namun tidak diterima oleh Allah karena tidak memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ“Ada seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)Dalam hadis tersebut, Nabi menunjukkan bahwa doa yang dikabulkan memiliki beberapa syara. Di antaranya adalah memakan makanan halal, meminum minuman halal, dan mengenakan pakaian halal.Baca Juga: Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa RamadhanSeorang muslim tentunya juga harus bersemangat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam setiap ucapan yang keluar dari lisannya. Tidak berucap kecuali dengan kebenaran, jujur, dan menghindarkan diri dari ucapan-ucapan yang dapat merusak lisan. Allah Ta’ala berfirman,وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ  يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)Di ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,Ketahuilah, bahwa wujud ketakwaan di dalam kehidupan tidak hanya nampak pada perbuatan dan perkataan. Lebih dari itu, takwa sangatlah nampak pada keyakinan (akidah) dan akal pikiran seorang muslim. Seorang muslim yang baik tentunya akan bertakwa kepada Allah di dalam akidahnya, sehingga ia antusias dan bersemangat di dalam menguatkan keimanannya akan keberadaan Allah Ta’ala, menyifatinya dengan sifat-sifat yang sempurna dan mulia, serta juga bersemangat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan rukun-rukun keimanan dan hal-hal mendasar dalam agamanya.Karena ia menyadari bahwa hati dan keyakinan merupakan salah satu hal yang dilirik dan diperhatikan Allah Ta’ala dari hambanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,إنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إلى صُوَرِكُمْ وأَمْوالِكُمْ، ولَكِنْ يَنْظُرُ إلى قُلُوبِكُمْ وأَعْمالِكُمْ“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala, marilah kita semua selalu memperhatikan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, di setiap keadaan dan kesempatan, mewujudkannya baik dalam bentuk keyakinan hati, perkataan maupun perbuatan, karena takwa merupakan salah satu kunci diterimanya amalan kita. Allah Ta’ala berfirman,اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang bisa mengamalkan ayat,وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)Yaitu mereka yang selalu bertakwa kepada Allah hingga ajal datang menjemputnya. Amiin ya rabbal aalamiin.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Hukum Dropship, Tentang Bahasa Arab, Larangan Riba Dalam Al Quran, Doa Melihat Kabah, Bacaan Tahiyat Akhir Sampai SalamTags: keutamaan takwakhutbah jumatmateri khutbah jumatnaskah khutbah jumattakwateks khutbah jumattema khutbah jumat

Mewakilkan Pembagian Zakat Fitri kepada Lembaga Sosial

Ahli fikih sepakat bahwa menunjuk orang lain sebagai wakilnya untuk membagikan zakat kepada pihak yang berhak adalah hal yang di-syari’at-kan. [1] Mereka melandasi kesimpulan tersebut dengan sejumlah dalil berikut:Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus petugas untuk menarik zakat dari para pemilik harta kemudian mendistribusikannya kepada kalangan yang berhak menerimanya. Dalam hadis Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ketika diutus ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menyatakan,فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ“… maka informasikanlah bahwa Allah mewajibkan kewajiban zakat dalam harta mereka, yang diambil dari kalangan yang kaya dan dikembalikan kepada kalangan yang fakir.” (HR. Bukhari no. 4347 dan Muslim no. 130)Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dalam hadis di atas menunjukkan bahwa petugas penarik zakat berposisi sebagai pengganti kalangan yang kaya dalam mendistribusikan zakat ke pihak yang berhak. Hadis tersebut menunjukkan bahwa dalam kasus pendistribusian zakat, meski tanpa permintaan pemilik harta, penggantian posisi oleh petugas dalam mendistribusikan zakat diperbolehkan, apatah lagi jika pemilik harta mewakilkannya kepada pihak lain. [2]Baca Juga: Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdKedua: Zakat merupakan ibadah harta (ibadah maliyah). Oleh karena itu, pemilik harta boleh mewakilkan pendistribusiannya kepada orang lain, sebagaimana hal ini berlaku jika dia mewakilkan pemenuhan utang, nazar, dan kaffarah yang menjadi kewajibannya kepada orang lain. [3]Ketiga: Terkadang dalam sejumlah kondisi, pemilik harta tidak mampu mendistribusikan zakatnya, sehingga terdapat kebutuhan untuk memberikan perwakilan. [4]Berdasarkan hal di atas, pendistribusian zakat dapat diwakilkan kepada sejumlah pihak, di antara mereka adalah lembaga sosial. Dalam hal ini, terdapat dua kondisi bagi lembaga sosial, yaitu:Kondisi pertamaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki). Status inilah yang umumnya dimiliki oleh lembaga sosial yang tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Perwakilan dari penunai zakat kepada lembaga sosial yang demikian terwujud dengan diserahkannya zakat fitrah kepada lembaga sosial untuk dibagikan kepada kaum fakir, atau dengan diserahkannya sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk membeli makanan pokok yang nantinya akan dibagikan kepada orang yang berhak. Dengan demikian, dalam kondisi ini, penunai zakat telah diketahui identitasnya (mu’ayyan). Adapun identitas penerima zakat (mustahiq) belum diketahui, sehingga perwakilan dari penerima zakat kepada lembaga sosial tidak dapat dilakukan. [5]Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Kondisi keduaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat fitrah (muzakki) dan kaum fakir (mustahiq). Status ini terjadi apabila lembaga itu adalah lembaga pemerintah atau lembaga yang memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat fitri. Dengan demikian, lembaga ini berstatus sebagai wakil dari kalangan yang kaya karena mereka menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga tersebut dan memintanya untuk mendistribusikan kepada kalangan yang berhak menerima. Sekaligus juga berstatus sebagai wakil kalangan yang fakir karena diberi kewenangan oleh pemerintah. Terlebih lagi jika lembaga sosial tersebut sudah memiliki daftar identitas penerima zakat fitrah. [6]Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:Pertama: Dalam kondisi pertama, di mana lembaga sosial tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah dalam mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, maka penunai zakat (muzakki) boleh menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga sosial sebelum pelaksanaan salat id. Bahkan penyerahan zakat fitrah boleh dilakukan jauh sebelum salat id dilaksanakan. Karena dalam kondisi ini, penyerahan zakat fitrah dari penunai zakat ke lembaga sosial belum dianggap sebagai penunaian zakat kepada mustahiq. Penunaian zakat baru terealisasi jika lembaga sosial juga berstatus sebagai wakil kaum fakir. Selain itu, dalam kondisi ini, lembaga sosial tidak boleh menunda pendistribusian zakat fitrah kepada kaum fakir setelah pelaksanaan salat id, karena ia hanya berperan sebagai wakil penunai zakat dan bukan wakil penerima zakat.Kedua: Dalam kondisi kedua, penunai zakat hanya boleh menyerahkan zakat fitrah ke lembaga sosial sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam dalil. [7] Berbeda dengan kondisi pertama, dalam kondisi ini, lembaga sosial boleh menunda penyaluran zakat kepada kaum fakir karena statusnya sebagai wakil mereka. Dan status ini dapat diperkuat dengan adanya daftar identitas penerima zakat fitrah spesifik yang dimiliki oleh lembaga sosial.Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Adakah Kewajiban Zakat untuk Harta Anak Kecil dan Orang Gila?Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidPenulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Nawazil Az-Zakah Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat Az-Zakah, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.Catatan kaki:[1] Al-Mabsuth (3: 35), Bulghah As-Salik (1: 665), Al-Majmu’ (6: 138), Ar-Raudh Al-Murbi’ (6: 571).[2] An-Niyaabah fi Al-Ibadaat, hlm. 121.[3] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[4] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[5] Terkait hal ini, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta yang berkedudukan di Saudi Arabia telah mengeluarkan fatwa nomor 13231 sebagai berikut, “Lembaga sosial berkewajiban mendistrbusikan zakat fitrah kepada orang yang berhak sebelum pelaksanaan salat id. Ia tidak boleh menundanya, karena Nabi memerintahkan zakat fitrah diserahkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Dalam hal ini, lembaga sosial berperan sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki) dan ia hanya boleh menerima zakat fitrah dengan jumlah/ kadar yang mampu disalurkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Zakat fitrah tidak boleh ditunaikan dalam bentuk uang tunai, karena dalil-dalil agama menunjukkan zakat fitrah harus ditunaikan dalam bentuk makanan pokok. Dengan demikian, tidak diperkenankan mengutamakan pendapat manusia sehingga mengenyampingkan dalil agama. Apabila penunai zakat menyerahkan sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk dipergunakan membeli makanan pokok yang akan diserahkan kepada kaum fakir, maka lembaga sosial berkewajiban menyalurkan makanan pokok itu sebelum pelaksanaan salat id dan tidak boleh menyalurkannya dalam bentuk uang tunai.” (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah li Al-Buhuuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta, 9: 377)Faedah yang bisa diambil dari fatwa ini adalah Lajnah tidak membedakan antara lembaga dan non-lembaga; serta tidak mempertimbangkan bahwa izin pemerintah sebagai syarat yang cukup untuk menggantikan posisi pemerintah.[6] Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’ (6: 175). Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan, “Boleh menyerahkan zakat kepada lembaga sosial yang memperoleh kewenangan dari pemerintah, sehingga lembaga tersebut berstatus sebagai wakil pemerintah dan dalam hal ini pemerintah merupakan wakil kaum fakir. Dengan demikian, jika zakat fitrah telah diserahkan kepada lembaga sosial tepat waktu, maka penunaian zakat fitrah telah sah meski penyalurannya kepada kaum fakir dilakukan setelah pelaksanaan salat id, karena terkadang lembaga sosial menemukan ada maslahat di balik penundaannya.”[7] Lihat artikel Fikih Ringkas Seputar Zakat Fitri, dapat diakses di: https://muslim.or.id/26035-fikih-ringkas-seputar-zakat-fitri.html🔍 Artikel Islam, Istri Dunia Akhirat, Wanita Mulia Dimata Allah, Keutamaan Shalat Isya Dan Subuh, KatakitaigTags: distribusi zakatfikih zakatfikih zakat fitrikeutamaan zakatlembaga sosialpanduan zakatpembagian zakatpenyaluran zakatzakatZakat Fitri

Mewakilkan Pembagian Zakat Fitri kepada Lembaga Sosial

Ahli fikih sepakat bahwa menunjuk orang lain sebagai wakilnya untuk membagikan zakat kepada pihak yang berhak adalah hal yang di-syari’at-kan. [1] Mereka melandasi kesimpulan tersebut dengan sejumlah dalil berikut:Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus petugas untuk menarik zakat dari para pemilik harta kemudian mendistribusikannya kepada kalangan yang berhak menerimanya. Dalam hadis Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ketika diutus ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menyatakan,فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ“… maka informasikanlah bahwa Allah mewajibkan kewajiban zakat dalam harta mereka, yang diambil dari kalangan yang kaya dan dikembalikan kepada kalangan yang fakir.” (HR. Bukhari no. 4347 dan Muslim no. 130)Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dalam hadis di atas menunjukkan bahwa petugas penarik zakat berposisi sebagai pengganti kalangan yang kaya dalam mendistribusikan zakat ke pihak yang berhak. Hadis tersebut menunjukkan bahwa dalam kasus pendistribusian zakat, meski tanpa permintaan pemilik harta, penggantian posisi oleh petugas dalam mendistribusikan zakat diperbolehkan, apatah lagi jika pemilik harta mewakilkannya kepada pihak lain. [2]Baca Juga: Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdKedua: Zakat merupakan ibadah harta (ibadah maliyah). Oleh karena itu, pemilik harta boleh mewakilkan pendistribusiannya kepada orang lain, sebagaimana hal ini berlaku jika dia mewakilkan pemenuhan utang, nazar, dan kaffarah yang menjadi kewajibannya kepada orang lain. [3]Ketiga: Terkadang dalam sejumlah kondisi, pemilik harta tidak mampu mendistribusikan zakatnya, sehingga terdapat kebutuhan untuk memberikan perwakilan. [4]Berdasarkan hal di atas, pendistribusian zakat dapat diwakilkan kepada sejumlah pihak, di antara mereka adalah lembaga sosial. Dalam hal ini, terdapat dua kondisi bagi lembaga sosial, yaitu:Kondisi pertamaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki). Status inilah yang umumnya dimiliki oleh lembaga sosial yang tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Perwakilan dari penunai zakat kepada lembaga sosial yang demikian terwujud dengan diserahkannya zakat fitrah kepada lembaga sosial untuk dibagikan kepada kaum fakir, atau dengan diserahkannya sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk membeli makanan pokok yang nantinya akan dibagikan kepada orang yang berhak. Dengan demikian, dalam kondisi ini, penunai zakat telah diketahui identitasnya (mu’ayyan). Adapun identitas penerima zakat (mustahiq) belum diketahui, sehingga perwakilan dari penerima zakat kepada lembaga sosial tidak dapat dilakukan. [5]Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Kondisi keduaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat fitrah (muzakki) dan kaum fakir (mustahiq). Status ini terjadi apabila lembaga itu adalah lembaga pemerintah atau lembaga yang memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat fitri. Dengan demikian, lembaga ini berstatus sebagai wakil dari kalangan yang kaya karena mereka menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga tersebut dan memintanya untuk mendistribusikan kepada kalangan yang berhak menerima. Sekaligus juga berstatus sebagai wakil kalangan yang fakir karena diberi kewenangan oleh pemerintah. Terlebih lagi jika lembaga sosial tersebut sudah memiliki daftar identitas penerima zakat fitrah. [6]Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:Pertama: Dalam kondisi pertama, di mana lembaga sosial tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah dalam mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, maka penunai zakat (muzakki) boleh menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga sosial sebelum pelaksanaan salat id. Bahkan penyerahan zakat fitrah boleh dilakukan jauh sebelum salat id dilaksanakan. Karena dalam kondisi ini, penyerahan zakat fitrah dari penunai zakat ke lembaga sosial belum dianggap sebagai penunaian zakat kepada mustahiq. Penunaian zakat baru terealisasi jika lembaga sosial juga berstatus sebagai wakil kaum fakir. Selain itu, dalam kondisi ini, lembaga sosial tidak boleh menunda pendistribusian zakat fitrah kepada kaum fakir setelah pelaksanaan salat id, karena ia hanya berperan sebagai wakil penunai zakat dan bukan wakil penerima zakat.Kedua: Dalam kondisi kedua, penunai zakat hanya boleh menyerahkan zakat fitrah ke lembaga sosial sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam dalil. [7] Berbeda dengan kondisi pertama, dalam kondisi ini, lembaga sosial boleh menunda penyaluran zakat kepada kaum fakir karena statusnya sebagai wakil mereka. Dan status ini dapat diperkuat dengan adanya daftar identitas penerima zakat fitrah spesifik yang dimiliki oleh lembaga sosial.Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Adakah Kewajiban Zakat untuk Harta Anak Kecil dan Orang Gila?Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidPenulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Nawazil Az-Zakah Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat Az-Zakah, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.Catatan kaki:[1] Al-Mabsuth (3: 35), Bulghah As-Salik (1: 665), Al-Majmu’ (6: 138), Ar-Raudh Al-Murbi’ (6: 571).[2] An-Niyaabah fi Al-Ibadaat, hlm. 121.[3] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[4] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[5] Terkait hal ini, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta yang berkedudukan di Saudi Arabia telah mengeluarkan fatwa nomor 13231 sebagai berikut, “Lembaga sosial berkewajiban mendistrbusikan zakat fitrah kepada orang yang berhak sebelum pelaksanaan salat id. Ia tidak boleh menundanya, karena Nabi memerintahkan zakat fitrah diserahkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Dalam hal ini, lembaga sosial berperan sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki) dan ia hanya boleh menerima zakat fitrah dengan jumlah/ kadar yang mampu disalurkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Zakat fitrah tidak boleh ditunaikan dalam bentuk uang tunai, karena dalil-dalil agama menunjukkan zakat fitrah harus ditunaikan dalam bentuk makanan pokok. Dengan demikian, tidak diperkenankan mengutamakan pendapat manusia sehingga mengenyampingkan dalil agama. Apabila penunai zakat menyerahkan sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk dipergunakan membeli makanan pokok yang akan diserahkan kepada kaum fakir, maka lembaga sosial berkewajiban menyalurkan makanan pokok itu sebelum pelaksanaan salat id dan tidak boleh menyalurkannya dalam bentuk uang tunai.” (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah li Al-Buhuuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta, 9: 377)Faedah yang bisa diambil dari fatwa ini adalah Lajnah tidak membedakan antara lembaga dan non-lembaga; serta tidak mempertimbangkan bahwa izin pemerintah sebagai syarat yang cukup untuk menggantikan posisi pemerintah.[6] Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’ (6: 175). Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan, “Boleh menyerahkan zakat kepada lembaga sosial yang memperoleh kewenangan dari pemerintah, sehingga lembaga tersebut berstatus sebagai wakil pemerintah dan dalam hal ini pemerintah merupakan wakil kaum fakir. Dengan demikian, jika zakat fitrah telah diserahkan kepada lembaga sosial tepat waktu, maka penunaian zakat fitrah telah sah meski penyalurannya kepada kaum fakir dilakukan setelah pelaksanaan salat id, karena terkadang lembaga sosial menemukan ada maslahat di balik penundaannya.”[7] Lihat artikel Fikih Ringkas Seputar Zakat Fitri, dapat diakses di: https://muslim.or.id/26035-fikih-ringkas-seputar-zakat-fitri.html🔍 Artikel Islam, Istri Dunia Akhirat, Wanita Mulia Dimata Allah, Keutamaan Shalat Isya Dan Subuh, KatakitaigTags: distribusi zakatfikih zakatfikih zakat fitrikeutamaan zakatlembaga sosialpanduan zakatpembagian zakatpenyaluran zakatzakatZakat Fitri
Ahli fikih sepakat bahwa menunjuk orang lain sebagai wakilnya untuk membagikan zakat kepada pihak yang berhak adalah hal yang di-syari’at-kan. [1] Mereka melandasi kesimpulan tersebut dengan sejumlah dalil berikut:Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus petugas untuk menarik zakat dari para pemilik harta kemudian mendistribusikannya kepada kalangan yang berhak menerimanya. Dalam hadis Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ketika diutus ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menyatakan,فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ“… maka informasikanlah bahwa Allah mewajibkan kewajiban zakat dalam harta mereka, yang diambil dari kalangan yang kaya dan dikembalikan kepada kalangan yang fakir.” (HR. Bukhari no. 4347 dan Muslim no. 130)Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dalam hadis di atas menunjukkan bahwa petugas penarik zakat berposisi sebagai pengganti kalangan yang kaya dalam mendistribusikan zakat ke pihak yang berhak. Hadis tersebut menunjukkan bahwa dalam kasus pendistribusian zakat, meski tanpa permintaan pemilik harta, penggantian posisi oleh petugas dalam mendistribusikan zakat diperbolehkan, apatah lagi jika pemilik harta mewakilkannya kepada pihak lain. [2]Baca Juga: Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdKedua: Zakat merupakan ibadah harta (ibadah maliyah). Oleh karena itu, pemilik harta boleh mewakilkan pendistribusiannya kepada orang lain, sebagaimana hal ini berlaku jika dia mewakilkan pemenuhan utang, nazar, dan kaffarah yang menjadi kewajibannya kepada orang lain. [3]Ketiga: Terkadang dalam sejumlah kondisi, pemilik harta tidak mampu mendistribusikan zakatnya, sehingga terdapat kebutuhan untuk memberikan perwakilan. [4]Berdasarkan hal di atas, pendistribusian zakat dapat diwakilkan kepada sejumlah pihak, di antara mereka adalah lembaga sosial. Dalam hal ini, terdapat dua kondisi bagi lembaga sosial, yaitu:Kondisi pertamaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki). Status inilah yang umumnya dimiliki oleh lembaga sosial yang tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Perwakilan dari penunai zakat kepada lembaga sosial yang demikian terwujud dengan diserahkannya zakat fitrah kepada lembaga sosial untuk dibagikan kepada kaum fakir, atau dengan diserahkannya sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk membeli makanan pokok yang nantinya akan dibagikan kepada orang yang berhak. Dengan demikian, dalam kondisi ini, penunai zakat telah diketahui identitasnya (mu’ayyan). Adapun identitas penerima zakat (mustahiq) belum diketahui, sehingga perwakilan dari penerima zakat kepada lembaga sosial tidak dapat dilakukan. [5]Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Kondisi keduaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat fitrah (muzakki) dan kaum fakir (mustahiq). Status ini terjadi apabila lembaga itu adalah lembaga pemerintah atau lembaga yang memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat fitri. Dengan demikian, lembaga ini berstatus sebagai wakil dari kalangan yang kaya karena mereka menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga tersebut dan memintanya untuk mendistribusikan kepada kalangan yang berhak menerima. Sekaligus juga berstatus sebagai wakil kalangan yang fakir karena diberi kewenangan oleh pemerintah. Terlebih lagi jika lembaga sosial tersebut sudah memiliki daftar identitas penerima zakat fitrah. [6]Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:Pertama: Dalam kondisi pertama, di mana lembaga sosial tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah dalam mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, maka penunai zakat (muzakki) boleh menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga sosial sebelum pelaksanaan salat id. Bahkan penyerahan zakat fitrah boleh dilakukan jauh sebelum salat id dilaksanakan. Karena dalam kondisi ini, penyerahan zakat fitrah dari penunai zakat ke lembaga sosial belum dianggap sebagai penunaian zakat kepada mustahiq. Penunaian zakat baru terealisasi jika lembaga sosial juga berstatus sebagai wakil kaum fakir. Selain itu, dalam kondisi ini, lembaga sosial tidak boleh menunda pendistribusian zakat fitrah kepada kaum fakir setelah pelaksanaan salat id, karena ia hanya berperan sebagai wakil penunai zakat dan bukan wakil penerima zakat.Kedua: Dalam kondisi kedua, penunai zakat hanya boleh menyerahkan zakat fitrah ke lembaga sosial sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam dalil. [7] Berbeda dengan kondisi pertama, dalam kondisi ini, lembaga sosial boleh menunda penyaluran zakat kepada kaum fakir karena statusnya sebagai wakil mereka. Dan status ini dapat diperkuat dengan adanya daftar identitas penerima zakat fitrah spesifik yang dimiliki oleh lembaga sosial.Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Adakah Kewajiban Zakat untuk Harta Anak Kecil dan Orang Gila?Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidPenulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Nawazil Az-Zakah Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat Az-Zakah, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.Catatan kaki:[1] Al-Mabsuth (3: 35), Bulghah As-Salik (1: 665), Al-Majmu’ (6: 138), Ar-Raudh Al-Murbi’ (6: 571).[2] An-Niyaabah fi Al-Ibadaat, hlm. 121.[3] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[4] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[5] Terkait hal ini, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta yang berkedudukan di Saudi Arabia telah mengeluarkan fatwa nomor 13231 sebagai berikut, “Lembaga sosial berkewajiban mendistrbusikan zakat fitrah kepada orang yang berhak sebelum pelaksanaan salat id. Ia tidak boleh menundanya, karena Nabi memerintahkan zakat fitrah diserahkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Dalam hal ini, lembaga sosial berperan sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki) dan ia hanya boleh menerima zakat fitrah dengan jumlah/ kadar yang mampu disalurkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Zakat fitrah tidak boleh ditunaikan dalam bentuk uang tunai, karena dalil-dalil agama menunjukkan zakat fitrah harus ditunaikan dalam bentuk makanan pokok. Dengan demikian, tidak diperkenankan mengutamakan pendapat manusia sehingga mengenyampingkan dalil agama. Apabila penunai zakat menyerahkan sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk dipergunakan membeli makanan pokok yang akan diserahkan kepada kaum fakir, maka lembaga sosial berkewajiban menyalurkan makanan pokok itu sebelum pelaksanaan salat id dan tidak boleh menyalurkannya dalam bentuk uang tunai.” (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah li Al-Buhuuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta, 9: 377)Faedah yang bisa diambil dari fatwa ini adalah Lajnah tidak membedakan antara lembaga dan non-lembaga; serta tidak mempertimbangkan bahwa izin pemerintah sebagai syarat yang cukup untuk menggantikan posisi pemerintah.[6] Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’ (6: 175). Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan, “Boleh menyerahkan zakat kepada lembaga sosial yang memperoleh kewenangan dari pemerintah, sehingga lembaga tersebut berstatus sebagai wakil pemerintah dan dalam hal ini pemerintah merupakan wakil kaum fakir. Dengan demikian, jika zakat fitrah telah diserahkan kepada lembaga sosial tepat waktu, maka penunaian zakat fitrah telah sah meski penyalurannya kepada kaum fakir dilakukan setelah pelaksanaan salat id, karena terkadang lembaga sosial menemukan ada maslahat di balik penundaannya.”[7] Lihat artikel Fikih Ringkas Seputar Zakat Fitri, dapat diakses di: https://muslim.or.id/26035-fikih-ringkas-seputar-zakat-fitri.html🔍 Artikel Islam, Istri Dunia Akhirat, Wanita Mulia Dimata Allah, Keutamaan Shalat Isya Dan Subuh, KatakitaigTags: distribusi zakatfikih zakatfikih zakat fitrikeutamaan zakatlembaga sosialpanduan zakatpembagian zakatpenyaluran zakatzakatZakat Fitri


Ahli fikih sepakat bahwa menunjuk orang lain sebagai wakilnya untuk membagikan zakat kepada pihak yang berhak adalah hal yang di-syari’at-kan. [1] Mereka melandasi kesimpulan tersebut dengan sejumlah dalil berikut:Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus petugas untuk menarik zakat dari para pemilik harta kemudian mendistribusikannya kepada kalangan yang berhak menerimanya. Dalam hadis Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ketika diutus ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menyatakan,فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ“… maka informasikanlah bahwa Allah mewajibkan kewajiban zakat dalam harta mereka, yang diambil dari kalangan yang kaya dan dikembalikan kepada kalangan yang fakir.” (HR. Bukhari no. 4347 dan Muslim no. 130)Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dalam hadis di atas menunjukkan bahwa petugas penarik zakat berposisi sebagai pengganti kalangan yang kaya dalam mendistribusikan zakat ke pihak yang berhak. Hadis tersebut menunjukkan bahwa dalam kasus pendistribusian zakat, meski tanpa permintaan pemilik harta, penggantian posisi oleh petugas dalam mendistribusikan zakat diperbolehkan, apatah lagi jika pemilik harta mewakilkannya kepada pihak lain. [2]Baca Juga: Lupa Bayar Zakat Fitrah, Baru Ingat setelah Salat IdKedua: Zakat merupakan ibadah harta (ibadah maliyah). Oleh karena itu, pemilik harta boleh mewakilkan pendistribusiannya kepada orang lain, sebagaimana hal ini berlaku jika dia mewakilkan pemenuhan utang, nazar, dan kaffarah yang menjadi kewajibannya kepada orang lain. [3]Ketiga: Terkadang dalam sejumlah kondisi, pemilik harta tidak mampu mendistribusikan zakatnya, sehingga terdapat kebutuhan untuk memberikan perwakilan. [4]Berdasarkan hal di atas, pendistribusian zakat dapat diwakilkan kepada sejumlah pihak, di antara mereka adalah lembaga sosial. Dalam hal ini, terdapat dua kondisi bagi lembaga sosial, yaitu:Kondisi pertamaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki). Status inilah yang umumnya dimiliki oleh lembaga sosial yang tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Perwakilan dari penunai zakat kepada lembaga sosial yang demikian terwujud dengan diserahkannya zakat fitrah kepada lembaga sosial untuk dibagikan kepada kaum fakir, atau dengan diserahkannya sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk membeli makanan pokok yang nantinya akan dibagikan kepada orang yang berhak. Dengan demikian, dalam kondisi ini, penunai zakat telah diketahui identitasnya (mu’ayyan). Adapun identitas penerima zakat (mustahiq) belum diketahui, sehingga perwakilan dari penerima zakat kepada lembaga sosial tidak dapat dilakukan. [5]Baca Juga: Fatwa Ulama: Apakah Zakat dan Sedekah hanya Khusus di bulan Ramadan?Kondisi keduaLembaga sosial berstatus sebagai wakil dari penunai zakat fitrah (muzakki) dan kaum fakir (mustahiq). Status ini terjadi apabila lembaga itu adalah lembaga pemerintah atau lembaga yang memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat fitri. Dengan demikian, lembaga ini berstatus sebagai wakil dari kalangan yang kaya karena mereka menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga tersebut dan memintanya untuk mendistribusikan kepada kalangan yang berhak menerima. Sekaligus juga berstatus sebagai wakil kalangan yang fakir karena diberi kewenangan oleh pemerintah. Terlebih lagi jika lembaga sosial tersebut sudah memiliki daftar identitas penerima zakat fitrah. [6]Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:Pertama: Dalam kondisi pertama, di mana lembaga sosial tidak memperoleh izin dan kewenangan dari pemerintah dalam mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, maka penunai zakat (muzakki) boleh menyerahkan zakat fitrah kepada lembaga sosial sebelum pelaksanaan salat id. Bahkan penyerahan zakat fitrah boleh dilakukan jauh sebelum salat id dilaksanakan. Karena dalam kondisi ini, penyerahan zakat fitrah dari penunai zakat ke lembaga sosial belum dianggap sebagai penunaian zakat kepada mustahiq. Penunaian zakat baru terealisasi jika lembaga sosial juga berstatus sebagai wakil kaum fakir. Selain itu, dalam kondisi ini, lembaga sosial tidak boleh menunda pendistribusian zakat fitrah kepada kaum fakir setelah pelaksanaan salat id, karena ia hanya berperan sebagai wakil penunai zakat dan bukan wakil penerima zakat.Kedua: Dalam kondisi kedua, penunai zakat hanya boleh menyerahkan zakat fitrah ke lembaga sosial sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam dalil. [7] Berbeda dengan kondisi pertama, dalam kondisi ini, lembaga sosial boleh menunda penyaluran zakat kepada kaum fakir karena statusnya sebagai wakil mereka. Dan status ini dapat diperkuat dengan adanya daftar identitas penerima zakat fitrah spesifik yang dimiliki oleh lembaga sosial.Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat.Baca Juga:Adakah Kewajiban Zakat untuk Harta Anak Kecil dan Orang Gila?Hukum Memberikan Harta Zakat untuk Membangun MasjidPenulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.Artikel: www.muslim.or.id Referensi:Nawazil Az-Zakah Dirasah Fiqhiyah Ta-shiliyah li Mustajaddat Az-Zakah, Dr. Abdullah ibn Manshur al-Ghufailiy.Catatan kaki:[1] Al-Mabsuth (3: 35), Bulghah As-Salik (1: 665), Al-Majmu’ (6: 138), Ar-Raudh Al-Murbi’ (6: 571).[2] An-Niyaabah fi Al-Ibadaat, hlm. 121.[3] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[4] Al-Majmu’ (6: 138), Kasyaf Al-Qina (2: 88).[5] Terkait hal ini, Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta yang berkedudukan di Saudi Arabia telah mengeluarkan fatwa nomor 13231 sebagai berikut, “Lembaga sosial berkewajiban mendistrbusikan zakat fitrah kepada orang yang berhak sebelum pelaksanaan salat id. Ia tidak boleh menundanya, karena Nabi memerintahkan zakat fitrah diserahkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Dalam hal ini, lembaga sosial berperan sebagai wakil dari penunai zakat (muzakki) dan ia hanya boleh menerima zakat fitrah dengan jumlah/ kadar yang mampu disalurkan kepada kaum fakir sebelum pelaksanaan salat id. Zakat fitrah tidak boleh ditunaikan dalam bentuk uang tunai, karena dalil-dalil agama menunjukkan zakat fitrah harus ditunaikan dalam bentuk makanan pokok. Dengan demikian, tidak diperkenankan mengutamakan pendapat manusia sehingga mengenyampingkan dalil agama. Apabila penunai zakat menyerahkan sejumlah uang kepada lembaga sosial untuk dipergunakan membeli makanan pokok yang akan diserahkan kepada kaum fakir, maka lembaga sosial berkewajiban menyalurkan makanan pokok itu sebelum pelaksanaan salat id dan tidak boleh menyalurkannya dalam bentuk uang tunai.” (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah li Al-Buhuuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta, 9: 377)Faedah yang bisa diambil dari fatwa ini adalah Lajnah tidak membedakan antara lembaga dan non-lembaga; serta tidak mempertimbangkan bahwa izin pemerintah sebagai syarat yang cukup untuk menggantikan posisi pemerintah.[6] Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’ (6: 175). Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan, “Boleh menyerahkan zakat kepada lembaga sosial yang memperoleh kewenangan dari pemerintah, sehingga lembaga tersebut berstatus sebagai wakil pemerintah dan dalam hal ini pemerintah merupakan wakil kaum fakir. Dengan demikian, jika zakat fitrah telah diserahkan kepada lembaga sosial tepat waktu, maka penunaian zakat fitrah telah sah meski penyalurannya kepada kaum fakir dilakukan setelah pelaksanaan salat id, karena terkadang lembaga sosial menemukan ada maslahat di balik penundaannya.”[7] Lihat artikel Fikih Ringkas Seputar Zakat Fitri, dapat diakses di: https://muslim.or.id/26035-fikih-ringkas-seputar-zakat-fitri.html🔍 Artikel Islam, Istri Dunia Akhirat, Wanita Mulia Dimata Allah, Keutamaan Shalat Isya Dan Subuh, KatakitaigTags: distribusi zakatfikih zakatfikih zakat fitrikeutamaan zakatlembaga sosialpanduan zakatpembagian zakatpenyaluran zakatzakatZakat Fitri

Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Di antara hukum yang harus diperhatikan, berhubungan dengan masalah ini, bahwa salah satu kewajiban salat—sebagaimana telah dibahas— adalah pengucapan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” (setelah bangkit dari rukuk dan mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH), bagi siapa? Bagi imam, makmum, dan orang yang salat sendiri. Sekarang, banyak imam salat—semoga Allah memberi mereka petunjuk— saat Qunut Witir dalam Salat Tarawih mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” (setelah bangkit dari rukuk), (kemudian langsung membaca Doa Qunut) “ALLAAHUMMAH DINAA FII MAN HADAIT …” dan tidak mengucapkan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Saya sudah tanya sebagian mereka, karena aku perhatikan dia cepat sekali melakukannya. Kemudian dia ingat kalau dia tidak membaca “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Oleh sebab itu, salatnya bagaimana hukumnya? Sah atau tidak? Apabila dia lupa atau tidak tahu hukumnya, dan benar ini yang terjadi, maka salatnya sah. Namun dia harus sujud sahwi dan perkaranya mudah. Salatnya sah tapi dia harus sujud sahwi lalu selesai perkara. Namun, jika dia sengaja, maka salatnya tidak sah, dan perkaranya berat, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Imam itu penanggung.” Apa arti bahwa imam itu penanggung? Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya. Apa maksudnya ia penanggung? Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Oleh sebab itu, banyak ulama merasa keberatan menjadi imam, karena beratnya tanggung jawab ini, bahwa satu orang imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Semakin banyak jamaahnya, semakin berat tanggung jawabnya. Jika yang salat di belakang Anda ada seratus, dua ratus, atau seribu orang, Anda menanggung salat mereka. Jika seseorang sudah keberatan menanggung satu orang dalam urusan seribu rial saja, lalu bagaimana beratnya jika Anda menanggung salat seribu orang di belakang Anda? Oleh karena itu, barang siapa yang mengimami orang-orang, hendaknya ia bersungguh-sungguh mempelajari hukum-hukum syariat, dan mendalaminya, termasuk di dalamnya masalah ini. Ini saya sebutkan karena sudah dekatnya bulan Ramadan, masalah ini sering terulang karena kelalaian dalam memperhatikan ilmu tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan salat, Demikian. ====================================================================================================== مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يُنَبَّهُ عَلَيْهَا تَتَعَلَّقُ بِهَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلَاةِ كَمَا تَقَدَّمَ قَوْلُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ لِمَنْ؟ لِإِمَامٍ وَمَأْمُومٍ وَمُنْفَرِدٍ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ هَدَاهُمُ اللهُ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِي مَنْ هَدَيْتَ وَلَا يَقُولُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَهُمْ لِأَنِّي لَاحَظْتُهُ يُسْرِعُ فِي هَذَا فَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَا يَأْتِي بِقَوْلِ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَصَلَاتُهُ مَا حُكْمُهَا؟ صَحِيحَةٌ وَغَيْرُ صَحِيحَةٍ؟ إِنْ كَانَ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا وَهَذَا هُوَ الْوَاقِعُ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ … … الْأَمْرُ سَهْلٌ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنْ عَلَيهِ سُجُودُ السَّهْوِ وَتَرَكَهُ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مُتَعَمِّدًا فَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ وَالْأَمْرُ عَظِيمٌ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِمَامُ ضَامِنٌ أَيشْ مَعْنَى الْإِمَامُ ضَامِنٌ؟ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ أَيشْ مَعْنَى ضَامِنٌ؟ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَانُوا يَتَحَرَّجُونَ مِنَ الْإِمَامَةِ لِأَجْلِ ثِقَلِهَا أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَإِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ كَبُرَ الثِّقَلُ إِذَا يُصَلِّي وَرَاءَكَ مِائَةٌ مِائَتَيْنِ أَلْفٌ يَعْنِي أَنْتَ تَضْمَنُ صَلَاةَ هَؤُلَاءِ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَسْتَثْقِلُ أَنْ يَضْمَنَ رَجُلًا فِي سَدَادِ أَلْفِ رِيَالٍ فَكَيْفَ الثِّقَلُ أَنْ تَضْمَنَ صَلَاةَ أَلْفٍ يُصَلُّونَ وَرَاءَكَ فَمَنْ يَكُونُ إِمَامًا لِلنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَعَلُّمِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَيَتَفَقَّهَا فِيهَا وَمِنْ جُمْلَتِهَا هَذَا الْمَوْضِعُ وَذَكَرْتُهُ لِقُرْبِ الْعَهْدِ مِنْ رَمَضَانَ لِأَنَّهُ يَتَكَرَّرُ بِسَبَبِ التَّفْرِيطِ فِي الْاِعْتِنَاءِ بِمَعْرِفَةِ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالصَّلَاةِ نَعَمْ  

Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Di antara hukum yang harus diperhatikan, berhubungan dengan masalah ini, bahwa salah satu kewajiban salat—sebagaimana telah dibahas— adalah pengucapan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” (setelah bangkit dari rukuk dan mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH), bagi siapa? Bagi imam, makmum, dan orang yang salat sendiri. Sekarang, banyak imam salat—semoga Allah memberi mereka petunjuk— saat Qunut Witir dalam Salat Tarawih mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” (setelah bangkit dari rukuk), (kemudian langsung membaca Doa Qunut) “ALLAAHUMMAH DINAA FII MAN HADAIT …” dan tidak mengucapkan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Saya sudah tanya sebagian mereka, karena aku perhatikan dia cepat sekali melakukannya. Kemudian dia ingat kalau dia tidak membaca “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Oleh sebab itu, salatnya bagaimana hukumnya? Sah atau tidak? Apabila dia lupa atau tidak tahu hukumnya, dan benar ini yang terjadi, maka salatnya sah. Namun dia harus sujud sahwi dan perkaranya mudah. Salatnya sah tapi dia harus sujud sahwi lalu selesai perkara. Namun, jika dia sengaja, maka salatnya tidak sah, dan perkaranya berat, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Imam itu penanggung.” Apa arti bahwa imam itu penanggung? Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya. Apa maksudnya ia penanggung? Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Oleh sebab itu, banyak ulama merasa keberatan menjadi imam, karena beratnya tanggung jawab ini, bahwa satu orang imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Semakin banyak jamaahnya, semakin berat tanggung jawabnya. Jika yang salat di belakang Anda ada seratus, dua ratus, atau seribu orang, Anda menanggung salat mereka. Jika seseorang sudah keberatan menanggung satu orang dalam urusan seribu rial saja, lalu bagaimana beratnya jika Anda menanggung salat seribu orang di belakang Anda? Oleh karena itu, barang siapa yang mengimami orang-orang, hendaknya ia bersungguh-sungguh mempelajari hukum-hukum syariat, dan mendalaminya, termasuk di dalamnya masalah ini. Ini saya sebutkan karena sudah dekatnya bulan Ramadan, masalah ini sering terulang karena kelalaian dalam memperhatikan ilmu tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan salat, Demikian. ====================================================================================================== مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يُنَبَّهُ عَلَيْهَا تَتَعَلَّقُ بِهَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلَاةِ كَمَا تَقَدَّمَ قَوْلُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ لِمَنْ؟ لِإِمَامٍ وَمَأْمُومٍ وَمُنْفَرِدٍ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ هَدَاهُمُ اللهُ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِي مَنْ هَدَيْتَ وَلَا يَقُولُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَهُمْ لِأَنِّي لَاحَظْتُهُ يُسْرِعُ فِي هَذَا فَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَا يَأْتِي بِقَوْلِ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَصَلَاتُهُ مَا حُكْمُهَا؟ صَحِيحَةٌ وَغَيْرُ صَحِيحَةٍ؟ إِنْ كَانَ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا وَهَذَا هُوَ الْوَاقِعُ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ … … الْأَمْرُ سَهْلٌ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنْ عَلَيهِ سُجُودُ السَّهْوِ وَتَرَكَهُ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مُتَعَمِّدًا فَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ وَالْأَمْرُ عَظِيمٌ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِمَامُ ضَامِنٌ أَيشْ مَعْنَى الْإِمَامُ ضَامِنٌ؟ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ أَيشْ مَعْنَى ضَامِنٌ؟ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَانُوا يَتَحَرَّجُونَ مِنَ الْإِمَامَةِ لِأَجْلِ ثِقَلِهَا أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَإِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ كَبُرَ الثِّقَلُ إِذَا يُصَلِّي وَرَاءَكَ مِائَةٌ مِائَتَيْنِ أَلْفٌ يَعْنِي أَنْتَ تَضْمَنُ صَلَاةَ هَؤُلَاءِ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَسْتَثْقِلُ أَنْ يَضْمَنَ رَجُلًا فِي سَدَادِ أَلْفِ رِيَالٍ فَكَيْفَ الثِّقَلُ أَنْ تَضْمَنَ صَلَاةَ أَلْفٍ يُصَلُّونَ وَرَاءَكَ فَمَنْ يَكُونُ إِمَامًا لِلنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَعَلُّمِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَيَتَفَقَّهَا فِيهَا وَمِنْ جُمْلَتِهَا هَذَا الْمَوْضِعُ وَذَكَرْتُهُ لِقُرْبِ الْعَهْدِ مِنْ رَمَضَانَ لِأَنَّهُ يَتَكَرَّرُ بِسَبَبِ التَّفْرِيطِ فِي الْاِعْتِنَاءِ بِمَعْرِفَةِ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالصَّلَاةِ نَعَمْ  
Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Di antara hukum yang harus diperhatikan, berhubungan dengan masalah ini, bahwa salah satu kewajiban salat—sebagaimana telah dibahas— adalah pengucapan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” (setelah bangkit dari rukuk dan mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH), bagi siapa? Bagi imam, makmum, dan orang yang salat sendiri. Sekarang, banyak imam salat—semoga Allah memberi mereka petunjuk— saat Qunut Witir dalam Salat Tarawih mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” (setelah bangkit dari rukuk), (kemudian langsung membaca Doa Qunut) “ALLAAHUMMAH DINAA FII MAN HADAIT …” dan tidak mengucapkan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Saya sudah tanya sebagian mereka, karena aku perhatikan dia cepat sekali melakukannya. Kemudian dia ingat kalau dia tidak membaca “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Oleh sebab itu, salatnya bagaimana hukumnya? Sah atau tidak? Apabila dia lupa atau tidak tahu hukumnya, dan benar ini yang terjadi, maka salatnya sah. Namun dia harus sujud sahwi dan perkaranya mudah. Salatnya sah tapi dia harus sujud sahwi lalu selesai perkara. Namun, jika dia sengaja, maka salatnya tidak sah, dan perkaranya berat, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Imam itu penanggung.” Apa arti bahwa imam itu penanggung? Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya. Apa maksudnya ia penanggung? Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Oleh sebab itu, banyak ulama merasa keberatan menjadi imam, karena beratnya tanggung jawab ini, bahwa satu orang imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Semakin banyak jamaahnya, semakin berat tanggung jawabnya. Jika yang salat di belakang Anda ada seratus, dua ratus, atau seribu orang, Anda menanggung salat mereka. Jika seseorang sudah keberatan menanggung satu orang dalam urusan seribu rial saja, lalu bagaimana beratnya jika Anda menanggung salat seribu orang di belakang Anda? Oleh karena itu, barang siapa yang mengimami orang-orang, hendaknya ia bersungguh-sungguh mempelajari hukum-hukum syariat, dan mendalaminya, termasuk di dalamnya masalah ini. Ini saya sebutkan karena sudah dekatnya bulan Ramadan, masalah ini sering terulang karena kelalaian dalam memperhatikan ilmu tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan salat, Demikian. ====================================================================================================== مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يُنَبَّهُ عَلَيْهَا تَتَعَلَّقُ بِهَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلَاةِ كَمَا تَقَدَّمَ قَوْلُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ لِمَنْ؟ لِإِمَامٍ وَمَأْمُومٍ وَمُنْفَرِدٍ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ هَدَاهُمُ اللهُ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِي مَنْ هَدَيْتَ وَلَا يَقُولُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَهُمْ لِأَنِّي لَاحَظْتُهُ يُسْرِعُ فِي هَذَا فَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَا يَأْتِي بِقَوْلِ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَصَلَاتُهُ مَا حُكْمُهَا؟ صَحِيحَةٌ وَغَيْرُ صَحِيحَةٍ؟ إِنْ كَانَ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا وَهَذَا هُوَ الْوَاقِعُ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ … … الْأَمْرُ سَهْلٌ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنْ عَلَيهِ سُجُودُ السَّهْوِ وَتَرَكَهُ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مُتَعَمِّدًا فَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ وَالْأَمْرُ عَظِيمٌ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِمَامُ ضَامِنٌ أَيشْ مَعْنَى الْإِمَامُ ضَامِنٌ؟ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ أَيشْ مَعْنَى ضَامِنٌ؟ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَانُوا يَتَحَرَّجُونَ مِنَ الْإِمَامَةِ لِأَجْلِ ثِقَلِهَا أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَإِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ كَبُرَ الثِّقَلُ إِذَا يُصَلِّي وَرَاءَكَ مِائَةٌ مِائَتَيْنِ أَلْفٌ يَعْنِي أَنْتَ تَضْمَنُ صَلَاةَ هَؤُلَاءِ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَسْتَثْقِلُ أَنْ يَضْمَنَ رَجُلًا فِي سَدَادِ أَلْفِ رِيَالٍ فَكَيْفَ الثِّقَلُ أَنْ تَضْمَنَ صَلَاةَ أَلْفٍ يُصَلُّونَ وَرَاءَكَ فَمَنْ يَكُونُ إِمَامًا لِلنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَعَلُّمِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَيَتَفَقَّهَا فِيهَا وَمِنْ جُمْلَتِهَا هَذَا الْمَوْضِعُ وَذَكَرْتُهُ لِقُرْبِ الْعَهْدِ مِنْ رَمَضَانَ لِأَنَّهُ يَتَكَرَّرُ بِسَبَبِ التَّفْرِيطِ فِي الْاِعْتِنَاءِ بِمَعْرِفَةِ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالصَّلَاةِ نَعَمْ  


Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama Di antara hukum yang harus diperhatikan, berhubungan dengan masalah ini, bahwa salah satu kewajiban salat—sebagaimana telah dibahas— adalah pengucapan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” (setelah bangkit dari rukuk dan mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH), bagi siapa? Bagi imam, makmum, dan orang yang salat sendiri. Sekarang, banyak imam salat—semoga Allah memberi mereka petunjuk— saat Qunut Witir dalam Salat Tarawih mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” (setelah bangkit dari rukuk), (kemudian langsung membaca Doa Qunut) “ALLAAHUMMAH DINAA FII MAN HADAIT …” dan tidak mengucapkan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Saya sudah tanya sebagian mereka, karena aku perhatikan dia cepat sekali melakukannya. Kemudian dia ingat kalau dia tidak membaca “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Oleh sebab itu, salatnya bagaimana hukumnya? Sah atau tidak? Apabila dia lupa atau tidak tahu hukumnya, dan benar ini yang terjadi, maka salatnya sah. Namun dia harus sujud sahwi dan perkaranya mudah. Salatnya sah tapi dia harus sujud sahwi lalu selesai perkara. Namun, jika dia sengaja, maka salatnya tidak sah, dan perkaranya berat, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Imam itu penanggung.” Apa arti bahwa imam itu penanggung? Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya. Apa maksudnya ia penanggung? Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Oleh sebab itu, banyak ulama merasa keberatan menjadi imam, karena beratnya tanggung jawab ini, bahwa satu orang imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Semakin banyak jamaahnya, semakin berat tanggung jawabnya. Jika yang salat di belakang Anda ada seratus, dua ratus, atau seribu orang, Anda menanggung salat mereka. Jika seseorang sudah keberatan menanggung satu orang dalam urusan seribu rial saja, lalu bagaimana beratnya jika Anda menanggung salat seribu orang di belakang Anda? Oleh karena itu, barang siapa yang mengimami orang-orang, hendaknya ia bersungguh-sungguh mempelajari hukum-hukum syariat, dan mendalaminya, termasuk di dalamnya masalah ini. Ini saya sebutkan karena sudah dekatnya bulan Ramadan, masalah ini sering terulang karena kelalaian dalam memperhatikan ilmu tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan salat, Demikian. ====================================================================================================== مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يُنَبَّهُ عَلَيْهَا تَتَعَلَّقُ بِهَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلَاةِ كَمَا تَقَدَّمَ قَوْلُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ لِمَنْ؟ لِإِمَامٍ وَمَأْمُومٍ وَمُنْفَرِدٍ الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ هَدَاهُمُ اللهُ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِي مَنْ هَدَيْتَ وَلَا يَقُولُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَهُمْ لِأَنِّي لَاحَظْتُهُ يُسْرِعُ فِي هَذَا فَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَا يَأْتِي بِقَوْلِ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَصَلَاتُهُ مَا حُكْمُهَا؟ صَحِيحَةٌ وَغَيْرُ صَحِيحَةٍ؟ إِنْ كَانَ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا وَهَذَا هُوَ الْوَاقِعُ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ … … الْأَمْرُ سَهْلٌ صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنْ عَلَيهِ سُجُودُ السَّهْوِ وَتَرَكَهُ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مُتَعَمِّدًا فَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ وَالْأَمْرُ عَظِيمٌ فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِمَامُ ضَامِنٌ أَيشْ مَعْنَى الْإِمَامُ ضَامِنٌ؟ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ أَيشْ مَعْنَى ضَامِنٌ؟ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَانُوا يَتَحَرَّجُونَ مِنَ الْإِمَامَةِ لِأَجْلِ ثِقَلِهَا أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ وَإِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ كَبُرَ الثِّقَلُ إِذَا يُصَلِّي وَرَاءَكَ مِائَةٌ مِائَتَيْنِ أَلْفٌ يَعْنِي أَنْتَ تَضْمَنُ صَلَاةَ هَؤُلَاءِ وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَسْتَثْقِلُ أَنْ يَضْمَنَ رَجُلًا فِي سَدَادِ أَلْفِ رِيَالٍ فَكَيْفَ الثِّقَلُ أَنْ تَضْمَنَ صَلَاةَ أَلْفٍ يُصَلُّونَ وَرَاءَكَ فَمَنْ يَكُونُ إِمَامًا لِلنَّاسِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَعَلُّمِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَيَتَفَقَّهَا فِيهَا وَمِنْ جُمْلَتِهَا هَذَا الْمَوْضِعُ وَذَكَرْتُهُ لِقُرْبِ الْعَهْدِ مِنْ رَمَضَانَ لِأَنَّهُ يَتَكَرَّرُ بِسَبَبِ التَّفْرِيطِ فِي الْاِعْتِنَاءِ بِمَعْرِفَةِ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالصَّلَاةِ نَعَمْ  

Sudah Layakkah Aku Menikah?

Sudah Layakkah Aku Menikah? Pertanyaan: Ustadz, sebenarnya kapan seseorang dikatakan layak untuk menikah? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban atas pertanyaan ini perlu melihat tiga sisi pandang: Sisi hukum syar’i. Sisi batasan usia minimal. Sisi waktu ideal untuk menikah. Sisi hukum syar’i. Kapan seseorang layak untuk menikah? Ini tergantung apa hukum menikah bagi dia. Dalam al-Qur’an dan hadis, kita dapati perintah untuk menikah. Allah ta’ala berfirman: وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. an-Nur: 32). Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: النِّكَاحُ من سُنَّتِي فمَنْ لمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَليسَ مِنِّي ، و تَزَوَّجُوا ؛ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ “Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari Kiamat)” (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 2383). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai apakah menikah itu wajib ataukah sunnah menjadi 3 pendapat: Pendapat pertama, mazhab Zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu berdosa. Mereka berdalil dengan ayat di atas, yang menggunakan kalimat perintah وَأَنْكِحُوا (dan nikahkanlah..) dan perintah itu menunjukkan hukum wajib. Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Dan kaidah mengatakan: ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب “Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajib”. Pendapat kedua, madzhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu tidak berdosa. Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah saja sebagaimana makan dan minum. Pendapat ketiga, pendapat jumhur ulama, yaitu mazhab Maliki, Hanafi, dan Hambali berpendapat bahwa hukum menikah itu mustahab (sunnah) dan tidak sampai wajib. Mereka berdalil dengan beberapa poin berikut: * Andaikan menikah itu wajib maka tentu ternukil riwayat dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan semua orang. Sedangkan kita temui, di antara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga zaman kita sekarang ini ada yang sebagian yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak ternukil satupun pengingkaran beliau terhadap hal ini. * Jika menikah itu wajib, maka seorang wali boleh memaksakan anak gadisnya untuk menikah. Padahal memaksakan anak perempuan untuk menikah justru dilarang oleh syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ “Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari & Muslim). Yang rajih adalah bahwa hukum menikah itu tergantung kondisi masing-masing orang. Al-Qurthubi berkata: “Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya mustahab baginya. Jika ia tidak memiliki sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk isti’faf (menjaga kehormatannya) sebisa mungkin. Misalnya dengan cara berpuasa, karena dalam puasa itu terdapat perisai sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih” (Tafsir al-Qurthubi, 12/201). Maka ketika seseorang sudah termasuk kategori mustahab atau bahkan wajib, hendaknya segeralah menikah. Kadar batasan usia minimal menikah. Tidak terdapat batasan tertentu dalam syariat terkait usia menikah. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menganjurkan para pemuda yang sudah bisa melakukan hubungan intim untuk segera menikah. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barang siapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400). Dalam hadis ini, yang diserukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah asy-syabab. Dalam bahasa Arab, asy-syabab adalah rentang usia setelah baligh sampai 30 tahun. Ini menunjukkan beliau memotivasi para pemuda dalam rentang usia tersebut untuk segera menikah. Oleh karena itu, hendaknya para pemuda tidak menunda menikah sehingga usianya lebih dari 30 tahun. Dan kata ba’ah dalam hadis ini, secara bahasa artinya: al-jima’ (hubungan intim). Secara istilah, ba’ah juga maksudnya adalah kemampuan untuk menyediakan mahar dan nafkah bagi calon istri (lihat Manhajus Salikin, dengan ta’liq Syaikh Muhammad al-Khudhari, hal. 191). Maka pemuda yang sudah mampu melakukan hubungan intim, mampu menyediakan mahar, dan mampu memberi nafkah, hendaknya mereka segera menikah. Adapun wanita, terdapat dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang sahnya pernikahan wanita yang masih kecil yang sudah mumayyiz walaupun belum baligh. Allah ta’ala berfirman: وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ  “Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddahnya adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang belum haid” (QS. ath-Thalaq: 4). Ayat ini bicara tentang masa iddah, yaitu masa menunggu bagi seorang istri jika dicerai oleh suaminya. Salah satu yang disebutkan dalam ayat ini adalah wanita yang belum haid. Sehingga ini menunjukkan bahwa wanita yang belum haid boleh menikah. Aisyah radhiyallahu ’anha juga berkata: أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – تَزَوَّجَهَا وَهْىَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وَبَنَى بِهَا وَهْىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ  “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menikahi Aisyah ketika beliau berusia 6 tahun. Dan beliau tinggal serumah bersama Aisyah ketika ia berusia 9 tahun” (HR. Bukhari no.5134). Dan ulama ijma’ (sepakat) tentang bolehnya menikahi anak wanita yang masih kecil walau belum baligh. Sisi waktu ideal untuk menikah. Walaupun syariat memotivasi para pemuda dan pemudi untuk segera menikah, namun bukan berarti ini membolehkan untuk tergesa-gesa menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, التَّأنِّي من اللهِ و العجَلَةُ من الشيطانِ “Berhati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari setan” (HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra [20270], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 1795). Tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya. Al-Munawi rahimahullah menjelaskan: العجلة فعل الشيء قبيل مجيء وقته “Tergesa-gesa itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya” (Faidhul Qadir, 6/72). Definisi lain dari tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan dengan seksama terlebih dahulu. Syaikh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: يأخذ الإنسان الأمور بظاهرها فيتعجَّل ويحْكُم على الشَّيء قبل أن يتأنَّى فيه وينظر “(Tergesa-gesa adalah) seseorang mengambil lahiriyah dari sesuatu semata dan menghukumi sesuatu sebelum berhati-hati menilainya dan sebelum memperhatikan dengan seksama” (Syarah Riyadhis Shalihin, 3/573). Maka yang ideal, orang yang menikah hendaknya menyiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam pernikahan: * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu agama yang mendasar, seperti ilmu tauhid dasar, fiqih shalat, fiqih thaharah, fiqih puasa, dll sebagai bekal untuk menjalani agama dalam rumah tangga. * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu terkait hak dan kewajiban suami istri dalam Islam. * Menyiapkan mental untuk menjadi suami dan istri dengan segala tanggung jawabnya kelak. * Menyiapkan mahar, dan mahar itu tidak harus mahal. * Menyiapkan walimatul ursy, dan walimatul ursy itu tidak harus mewah. * Menyiapkan rencana seputar nafkah, tempat tinggal, dll yang terkait dengan kewajiban-kewajiban pasca pernikahan. * Mendiskusikan dengan orang tua tentang kesiapan untuk menikah. Jika seseorang sudah menyiapkan semua poin di atas, insyaAllah sudah termasuk siap dan layak untuk menikah. Dan inilah bentuk ihsan (muamalah yang baik) dalam menyiapkan pernikahan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ  “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal” (HR. Muslim). Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Khitan Laser Menurut Islam, Hukum Sholat Nisfu Sya'ban, Syarat Jadi Imam Sholat, Cara Menjadi Istri Yang Sabar Menghadapi Suami, Kebersihan Sebagian Dari Iman, Sholat Taubat Nasuha Visited 229 times, 1 visit(s) today Post Views: 576 QRIS donasi Yufid

Sudah Layakkah Aku Menikah?

Sudah Layakkah Aku Menikah? Pertanyaan: Ustadz, sebenarnya kapan seseorang dikatakan layak untuk menikah? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban atas pertanyaan ini perlu melihat tiga sisi pandang: Sisi hukum syar’i. Sisi batasan usia minimal. Sisi waktu ideal untuk menikah. Sisi hukum syar’i. Kapan seseorang layak untuk menikah? Ini tergantung apa hukum menikah bagi dia. Dalam al-Qur’an dan hadis, kita dapati perintah untuk menikah. Allah ta’ala berfirman: وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. an-Nur: 32). Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: النِّكَاحُ من سُنَّتِي فمَنْ لمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَليسَ مِنِّي ، و تَزَوَّجُوا ؛ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ “Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari Kiamat)” (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 2383). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai apakah menikah itu wajib ataukah sunnah menjadi 3 pendapat: Pendapat pertama, mazhab Zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu berdosa. Mereka berdalil dengan ayat di atas, yang menggunakan kalimat perintah وَأَنْكِحُوا (dan nikahkanlah..) dan perintah itu menunjukkan hukum wajib. Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Dan kaidah mengatakan: ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب “Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajib”. Pendapat kedua, madzhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu tidak berdosa. Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah saja sebagaimana makan dan minum. Pendapat ketiga, pendapat jumhur ulama, yaitu mazhab Maliki, Hanafi, dan Hambali berpendapat bahwa hukum menikah itu mustahab (sunnah) dan tidak sampai wajib. Mereka berdalil dengan beberapa poin berikut: * Andaikan menikah itu wajib maka tentu ternukil riwayat dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan semua orang. Sedangkan kita temui, di antara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga zaman kita sekarang ini ada yang sebagian yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak ternukil satupun pengingkaran beliau terhadap hal ini. * Jika menikah itu wajib, maka seorang wali boleh memaksakan anak gadisnya untuk menikah. Padahal memaksakan anak perempuan untuk menikah justru dilarang oleh syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ “Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari & Muslim). Yang rajih adalah bahwa hukum menikah itu tergantung kondisi masing-masing orang. Al-Qurthubi berkata: “Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya mustahab baginya. Jika ia tidak memiliki sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk isti’faf (menjaga kehormatannya) sebisa mungkin. Misalnya dengan cara berpuasa, karena dalam puasa itu terdapat perisai sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih” (Tafsir al-Qurthubi, 12/201). Maka ketika seseorang sudah termasuk kategori mustahab atau bahkan wajib, hendaknya segeralah menikah. Kadar batasan usia minimal menikah. Tidak terdapat batasan tertentu dalam syariat terkait usia menikah. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menganjurkan para pemuda yang sudah bisa melakukan hubungan intim untuk segera menikah. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barang siapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400). Dalam hadis ini, yang diserukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah asy-syabab. Dalam bahasa Arab, asy-syabab adalah rentang usia setelah baligh sampai 30 tahun. Ini menunjukkan beliau memotivasi para pemuda dalam rentang usia tersebut untuk segera menikah. Oleh karena itu, hendaknya para pemuda tidak menunda menikah sehingga usianya lebih dari 30 tahun. Dan kata ba’ah dalam hadis ini, secara bahasa artinya: al-jima’ (hubungan intim). Secara istilah, ba’ah juga maksudnya adalah kemampuan untuk menyediakan mahar dan nafkah bagi calon istri (lihat Manhajus Salikin, dengan ta’liq Syaikh Muhammad al-Khudhari, hal. 191). Maka pemuda yang sudah mampu melakukan hubungan intim, mampu menyediakan mahar, dan mampu memberi nafkah, hendaknya mereka segera menikah. Adapun wanita, terdapat dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang sahnya pernikahan wanita yang masih kecil yang sudah mumayyiz walaupun belum baligh. Allah ta’ala berfirman: وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ  “Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddahnya adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang belum haid” (QS. ath-Thalaq: 4). Ayat ini bicara tentang masa iddah, yaitu masa menunggu bagi seorang istri jika dicerai oleh suaminya. Salah satu yang disebutkan dalam ayat ini adalah wanita yang belum haid. Sehingga ini menunjukkan bahwa wanita yang belum haid boleh menikah. Aisyah radhiyallahu ’anha juga berkata: أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – تَزَوَّجَهَا وَهْىَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وَبَنَى بِهَا وَهْىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ  “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menikahi Aisyah ketika beliau berusia 6 tahun. Dan beliau tinggal serumah bersama Aisyah ketika ia berusia 9 tahun” (HR. Bukhari no.5134). Dan ulama ijma’ (sepakat) tentang bolehnya menikahi anak wanita yang masih kecil walau belum baligh. Sisi waktu ideal untuk menikah. Walaupun syariat memotivasi para pemuda dan pemudi untuk segera menikah, namun bukan berarti ini membolehkan untuk tergesa-gesa menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, التَّأنِّي من اللهِ و العجَلَةُ من الشيطانِ “Berhati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari setan” (HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra [20270], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 1795). Tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya. Al-Munawi rahimahullah menjelaskan: العجلة فعل الشيء قبيل مجيء وقته “Tergesa-gesa itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya” (Faidhul Qadir, 6/72). Definisi lain dari tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan dengan seksama terlebih dahulu. Syaikh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: يأخذ الإنسان الأمور بظاهرها فيتعجَّل ويحْكُم على الشَّيء قبل أن يتأنَّى فيه وينظر “(Tergesa-gesa adalah) seseorang mengambil lahiriyah dari sesuatu semata dan menghukumi sesuatu sebelum berhati-hati menilainya dan sebelum memperhatikan dengan seksama” (Syarah Riyadhis Shalihin, 3/573). Maka yang ideal, orang yang menikah hendaknya menyiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam pernikahan: * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu agama yang mendasar, seperti ilmu tauhid dasar, fiqih shalat, fiqih thaharah, fiqih puasa, dll sebagai bekal untuk menjalani agama dalam rumah tangga. * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu terkait hak dan kewajiban suami istri dalam Islam. * Menyiapkan mental untuk menjadi suami dan istri dengan segala tanggung jawabnya kelak. * Menyiapkan mahar, dan mahar itu tidak harus mahal. * Menyiapkan walimatul ursy, dan walimatul ursy itu tidak harus mewah. * Menyiapkan rencana seputar nafkah, tempat tinggal, dll yang terkait dengan kewajiban-kewajiban pasca pernikahan. * Mendiskusikan dengan orang tua tentang kesiapan untuk menikah. Jika seseorang sudah menyiapkan semua poin di atas, insyaAllah sudah termasuk siap dan layak untuk menikah. Dan inilah bentuk ihsan (muamalah yang baik) dalam menyiapkan pernikahan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ  “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal” (HR. Muslim). Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Khitan Laser Menurut Islam, Hukum Sholat Nisfu Sya'ban, Syarat Jadi Imam Sholat, Cara Menjadi Istri Yang Sabar Menghadapi Suami, Kebersihan Sebagian Dari Iman, Sholat Taubat Nasuha Visited 229 times, 1 visit(s) today Post Views: 576 QRIS donasi Yufid
Sudah Layakkah Aku Menikah? Pertanyaan: Ustadz, sebenarnya kapan seseorang dikatakan layak untuk menikah? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban atas pertanyaan ini perlu melihat tiga sisi pandang: Sisi hukum syar’i. Sisi batasan usia minimal. Sisi waktu ideal untuk menikah. Sisi hukum syar’i. Kapan seseorang layak untuk menikah? Ini tergantung apa hukum menikah bagi dia. Dalam al-Qur’an dan hadis, kita dapati perintah untuk menikah. Allah ta’ala berfirman: وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. an-Nur: 32). Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: النِّكَاحُ من سُنَّتِي فمَنْ لمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَليسَ مِنِّي ، و تَزَوَّجُوا ؛ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ “Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari Kiamat)” (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 2383). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai apakah menikah itu wajib ataukah sunnah menjadi 3 pendapat: Pendapat pertama, mazhab Zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu berdosa. Mereka berdalil dengan ayat di atas, yang menggunakan kalimat perintah وَأَنْكِحُوا (dan nikahkanlah..) dan perintah itu menunjukkan hukum wajib. Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Dan kaidah mengatakan: ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب “Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajib”. Pendapat kedua, madzhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu tidak berdosa. Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah saja sebagaimana makan dan minum. Pendapat ketiga, pendapat jumhur ulama, yaitu mazhab Maliki, Hanafi, dan Hambali berpendapat bahwa hukum menikah itu mustahab (sunnah) dan tidak sampai wajib. Mereka berdalil dengan beberapa poin berikut: * Andaikan menikah itu wajib maka tentu ternukil riwayat dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan semua orang. Sedangkan kita temui, di antara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga zaman kita sekarang ini ada yang sebagian yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak ternukil satupun pengingkaran beliau terhadap hal ini. * Jika menikah itu wajib, maka seorang wali boleh memaksakan anak gadisnya untuk menikah. Padahal memaksakan anak perempuan untuk menikah justru dilarang oleh syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ “Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari & Muslim). Yang rajih adalah bahwa hukum menikah itu tergantung kondisi masing-masing orang. Al-Qurthubi berkata: “Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya mustahab baginya. Jika ia tidak memiliki sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk isti’faf (menjaga kehormatannya) sebisa mungkin. Misalnya dengan cara berpuasa, karena dalam puasa itu terdapat perisai sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih” (Tafsir al-Qurthubi, 12/201). Maka ketika seseorang sudah termasuk kategori mustahab atau bahkan wajib, hendaknya segeralah menikah. Kadar batasan usia minimal menikah. Tidak terdapat batasan tertentu dalam syariat terkait usia menikah. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menganjurkan para pemuda yang sudah bisa melakukan hubungan intim untuk segera menikah. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barang siapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400). Dalam hadis ini, yang diserukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah asy-syabab. Dalam bahasa Arab, asy-syabab adalah rentang usia setelah baligh sampai 30 tahun. Ini menunjukkan beliau memotivasi para pemuda dalam rentang usia tersebut untuk segera menikah. Oleh karena itu, hendaknya para pemuda tidak menunda menikah sehingga usianya lebih dari 30 tahun. Dan kata ba’ah dalam hadis ini, secara bahasa artinya: al-jima’ (hubungan intim). Secara istilah, ba’ah juga maksudnya adalah kemampuan untuk menyediakan mahar dan nafkah bagi calon istri (lihat Manhajus Salikin, dengan ta’liq Syaikh Muhammad al-Khudhari, hal. 191). Maka pemuda yang sudah mampu melakukan hubungan intim, mampu menyediakan mahar, dan mampu memberi nafkah, hendaknya mereka segera menikah. Adapun wanita, terdapat dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang sahnya pernikahan wanita yang masih kecil yang sudah mumayyiz walaupun belum baligh. Allah ta’ala berfirman: وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ  “Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddahnya adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang belum haid” (QS. ath-Thalaq: 4). Ayat ini bicara tentang masa iddah, yaitu masa menunggu bagi seorang istri jika dicerai oleh suaminya. Salah satu yang disebutkan dalam ayat ini adalah wanita yang belum haid. Sehingga ini menunjukkan bahwa wanita yang belum haid boleh menikah. Aisyah radhiyallahu ’anha juga berkata: أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – تَزَوَّجَهَا وَهْىَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وَبَنَى بِهَا وَهْىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ  “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menikahi Aisyah ketika beliau berusia 6 tahun. Dan beliau tinggal serumah bersama Aisyah ketika ia berusia 9 tahun” (HR. Bukhari no.5134). Dan ulama ijma’ (sepakat) tentang bolehnya menikahi anak wanita yang masih kecil walau belum baligh. Sisi waktu ideal untuk menikah. Walaupun syariat memotivasi para pemuda dan pemudi untuk segera menikah, namun bukan berarti ini membolehkan untuk tergesa-gesa menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, التَّأنِّي من اللهِ و العجَلَةُ من الشيطانِ “Berhati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari setan” (HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra [20270], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 1795). Tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya. Al-Munawi rahimahullah menjelaskan: العجلة فعل الشيء قبيل مجيء وقته “Tergesa-gesa itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya” (Faidhul Qadir, 6/72). Definisi lain dari tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan dengan seksama terlebih dahulu. Syaikh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: يأخذ الإنسان الأمور بظاهرها فيتعجَّل ويحْكُم على الشَّيء قبل أن يتأنَّى فيه وينظر “(Tergesa-gesa adalah) seseorang mengambil lahiriyah dari sesuatu semata dan menghukumi sesuatu sebelum berhati-hati menilainya dan sebelum memperhatikan dengan seksama” (Syarah Riyadhis Shalihin, 3/573). Maka yang ideal, orang yang menikah hendaknya menyiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam pernikahan: * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu agama yang mendasar, seperti ilmu tauhid dasar, fiqih shalat, fiqih thaharah, fiqih puasa, dll sebagai bekal untuk menjalani agama dalam rumah tangga. * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu terkait hak dan kewajiban suami istri dalam Islam. * Menyiapkan mental untuk menjadi suami dan istri dengan segala tanggung jawabnya kelak. * Menyiapkan mahar, dan mahar itu tidak harus mahal. * Menyiapkan walimatul ursy, dan walimatul ursy itu tidak harus mewah. * Menyiapkan rencana seputar nafkah, tempat tinggal, dll yang terkait dengan kewajiban-kewajiban pasca pernikahan. * Mendiskusikan dengan orang tua tentang kesiapan untuk menikah. Jika seseorang sudah menyiapkan semua poin di atas, insyaAllah sudah termasuk siap dan layak untuk menikah. Dan inilah bentuk ihsan (muamalah yang baik) dalam menyiapkan pernikahan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ  “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal” (HR. Muslim). Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Khitan Laser Menurut Islam, Hukum Sholat Nisfu Sya'ban, Syarat Jadi Imam Sholat, Cara Menjadi Istri Yang Sabar Menghadapi Suami, Kebersihan Sebagian Dari Iman, Sholat Taubat Nasuha Visited 229 times, 1 visit(s) today Post Views: 576 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1354177876&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Sudah Layakkah Aku Menikah? Pertanyaan: Ustadz, sebenarnya kapan seseorang dikatakan layak untuk menikah? Jazakumullah khayran. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Jawaban atas pertanyaan ini perlu melihat tiga sisi pandang: Sisi hukum syar’i. Sisi batasan usia minimal. Sisi waktu ideal untuk menikah. Sisi hukum syar’i. Kapan seseorang layak untuk menikah? Ini tergantung apa hukum menikah bagi dia. Dalam al-Qur’an dan hadis, kita dapati perintah untuk menikah. Allah ta’ala berfirman: وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. an-Nur: 32). Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: النِّكَاحُ من سُنَّتِي فمَنْ لمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَليسَ مِنِّي ، و تَزَوَّجُوا ؛ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ “Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari Kiamat)” (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 2383). Namun para ulama berbeda pendapat mengenai apakah menikah itu wajib ataukah sunnah menjadi 3 pendapat: Pendapat pertama, mazhab Zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu berdosa. Mereka berdalil dengan ayat di atas, yang menggunakan kalimat perintah وَأَنْكِحُوا (dan nikahkanlah..) dan perintah itu menunjukkan hukum wajib. Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Dan kaidah mengatakan: ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب “Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajib”. Pendapat kedua, madzhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu tidak berdosa. Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah saja sebagaimana makan dan minum. Pendapat ketiga, pendapat jumhur ulama, yaitu mazhab Maliki, Hanafi, dan Hambali berpendapat bahwa hukum menikah itu mustahab (sunnah) dan tidak sampai wajib. Mereka berdalil dengan beberapa poin berikut: * Andaikan menikah itu wajib maka tentu ternukil riwayat dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan semua orang. Sedangkan kita temui, di antara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga zaman kita sekarang ini ada yang sebagian yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak ternukil satupun pengingkaran beliau terhadap hal ini. * Jika menikah itu wajib, maka seorang wali boleh memaksakan anak gadisnya untuk menikah. Padahal memaksakan anak perempuan untuk menikah justru dilarang oleh syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ “Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari & Muslim). Yang rajih adalah bahwa hukum menikah itu tergantung kondisi masing-masing orang. Al-Qurthubi berkata: “Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya mustahab baginya. Jika ia tidak memiliki sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk isti’faf (menjaga kehormatannya) sebisa mungkin. Misalnya dengan cara berpuasa, karena dalam puasa itu terdapat perisai sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih” (Tafsir al-Qurthubi, 12/201). Maka ketika seseorang sudah termasuk kategori mustahab atau bahkan wajib, hendaknya segeralah menikah. Kadar batasan usia minimal menikah. Tidak terdapat batasan tertentu dalam syariat terkait usia menikah. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menganjurkan para pemuda yang sudah bisa melakukan hubungan intim untuk segera menikah. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ “Wahai para pemuda, barang siapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400). Dalam hadis ini, yang diserukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah asy-syabab. Dalam bahasa Arab, asy-syabab adalah rentang usia setelah baligh sampai 30 tahun. Ini menunjukkan beliau memotivasi para pemuda dalam rentang usia tersebut untuk segera menikah. Oleh karena itu, hendaknya para pemuda tidak menunda menikah sehingga usianya lebih dari 30 tahun. Dan kata ba’ah dalam hadis ini, secara bahasa artinya: al-jima’ (hubungan intim). Secara istilah, ba’ah juga maksudnya adalah kemampuan untuk menyediakan mahar dan nafkah bagi calon istri (lihat Manhajus Salikin, dengan ta’liq Syaikh Muhammad al-Khudhari, hal. 191). Maka pemuda yang sudah mampu melakukan hubungan intim, mampu menyediakan mahar, dan mampu memberi nafkah, hendaknya mereka segera menikah. Adapun wanita, terdapat dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang sahnya pernikahan wanita yang masih kecil yang sudah mumayyiz walaupun belum baligh. Allah ta’ala berfirman: وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ  “Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddahnya adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang belum haid” (QS. ath-Thalaq: 4). Ayat ini bicara tentang masa iddah, yaitu masa menunggu bagi seorang istri jika dicerai oleh suaminya. Salah satu yang disebutkan dalam ayat ini adalah wanita yang belum haid. Sehingga ini menunjukkan bahwa wanita yang belum haid boleh menikah. Aisyah radhiyallahu ’anha juga berkata: أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – تَزَوَّجَهَا وَهْىَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وَبَنَى بِهَا وَهْىَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ  “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menikahi Aisyah ketika beliau berusia 6 tahun. Dan beliau tinggal serumah bersama Aisyah ketika ia berusia 9 tahun” (HR. Bukhari no.5134). Dan ulama ijma’ (sepakat) tentang bolehnya menikahi anak wanita yang masih kecil walau belum baligh. Sisi waktu ideal untuk menikah. Walaupun syariat memotivasi para pemuda dan pemudi untuk segera menikah, namun bukan berarti ini membolehkan untuk tergesa-gesa menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, التَّأنِّي من اللهِ و العجَلَةُ من الشيطانِ “Berhati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari setan” (HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra [20270], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 1795). Tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya. Al-Munawi rahimahullah menjelaskan: العجلة فعل الشيء قبيل مجيء وقته “Tergesa-gesa itu melakukan sesuatu sebelum datang waktu yang seharusnya” (Faidhul Qadir, 6/72). Definisi lain dari tergesa-gesa adalah melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan dengan seksama terlebih dahulu. Syaikh Ibnu al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: يأخذ الإنسان الأمور بظاهرها فيتعجَّل ويحْكُم على الشَّيء قبل أن يتأنَّى فيه وينظر “(Tergesa-gesa adalah) seseorang mengambil lahiriyah dari sesuatu semata dan menghukumi sesuatu sebelum berhati-hati menilainya dan sebelum memperhatikan dengan seksama” (Syarah Riyadhis Shalihin, 3/573). Maka yang ideal, orang yang menikah hendaknya menyiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam pernikahan: * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu agama yang mendasar, seperti ilmu tauhid dasar, fiqih shalat, fiqih thaharah, fiqih puasa, dll sebagai bekal untuk menjalani agama dalam rumah tangga. * Menyiapkan diri untuk memahami ilmu terkait hak dan kewajiban suami istri dalam Islam. * Menyiapkan mental untuk menjadi suami dan istri dengan segala tanggung jawabnya kelak. * Menyiapkan mahar, dan mahar itu tidak harus mahal. * Menyiapkan walimatul ursy, dan walimatul ursy itu tidak harus mewah. * Menyiapkan rencana seputar nafkah, tempat tinggal, dll yang terkait dengan kewajiban-kewajiban pasca pernikahan. * Mendiskusikan dengan orang tua tentang kesiapan untuk menikah. Jika seseorang sudah menyiapkan semua poin di atas, insyaAllah sudah termasuk siap dan layak untuk menikah. Dan inilah bentuk ihsan (muamalah yang baik) dalam menyiapkan pernikahan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ  “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal” (HR. Muslim). Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Khitan Laser Menurut Islam, Hukum Sholat Nisfu Sya'ban, Syarat Jadi Imam Sholat, Cara Menjadi Istri Yang Sabar Menghadapi Suami, Kebersihan Sebagian Dari Iman, Sholat Taubat Nasuha Visited 229 times, 1 visit(s) today Post Views: 576 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban namun Hasilnya Disedekahkan?

Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban namun Hasilnya Disedekahkan? Pertanyaan: Bolehkah panitia kurban menjual kulit hewan kurban lalu hasil penjualannya disedekahkan untuk orang yang tidak mampu?  Karena kulit hewan kurban biasanya hanya bermanfaat jika keadaan utuh. Sedangkan umumnya tidak memungkinkan untuk memberikan kulit secara utuh kepada satu orang miskin. Sehingga panitia biasanya menjual kulit lalu hasil penjualannya dibagikan kepada orang-orang miskin. Mohon pencerahan dan solusinya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menjual bagian-bagian dari hewan kurban, baik daging, kulit, kepala, dan semisalnya, jika kemudian hasil penjualannya dikembalikan kepada shahibul qurban atau panitia kurban, ini jelas tidak diperbolehkan. Sebagaimana dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ia berkata: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk menyembelih kurban beliau, dan menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan jilal-nya (bagian kulit), serta tidak memberikan salah satu dari itu kepada jagal (sebagai upah). Dan kami biasa memberi upah jagal dari kantong kami” (HR. Al Bukhari no.1717, Muslim no.1317). Hadis ini jelas menunjukkan tidak bolehnya menjual kulit jika hasilnya kembali kepada shohibul qurban atau panitia kurban. Al-Hijawi dalam matan Zadul Mustaqni mengatakan: ولا يبيع جلدها ولا شيئا منها ، بل ينتفع به “Tidak boleh menjual kulit hewan kurban dan tidak boleh menjual bagian apapun darinya. Bahkan seharusnya dimanfaatkan (disedekahkan)”. Namun masalahnya berbeda jika kasusnya adalah menjual kulit hewan kurban lalu hasilnya disedekahkan, bukan dikembalikan kepada shohibul qurban atau panitia. Jumhur ulama melarang menjual kulit sama sekali, walaupun untuk disedekahkan. Sebagian ulama membolehkan dengan alasan bahwa ditukarnya kulit dengan uang lalu disedekahkan, ini tidak keluar dari makna kalimat “menyedekahkan dagingnya, kulitnya” yang ada dalam hadis di atas. Selama daging tersebut memberi kemanfaatan kepada orang miskin dan masyarakat, maka sudah tercapai tujuan dari distribusi hewan kurban. Diriwayatkan oleh al-Khallal dengan sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu: إن ابن عمر باع جلد بقرةٍ وتصدق بثمنه “Bahwa Ibnu Umar pernah menjual kulit sapi dan menyedekahkan hasil penjualannya” (Al-Inshaf, 4/93). Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad: جلود الأضاحي ما يصنع بها ؟ قال : ينتفع بها ويتصدق بثمنها . قلت : تباع ويتصدق بثمنها ؟ قال : نعم ، حديث ابن عمر “Kulit hewan kurban harus diapakan wahai Imam Ahmad? Beliau menjawab: Dimanfaatkan dan disedekahkan dari hasil penjualannya. Ishaq bin Manshur bertanya lagi: Berarti boleh dijual dan hasilnya disedekahkan? Imam Ahmad menjawab: Iya benar, dalilnya hadis (perbuatan) Ibnu Umar” (Al-Inshaf, 4/93). Pendapat yang membolehkan menjual kulit untuk disedekahkan adalah pendapat mu’tamad dalam mazhab Hanafi. Disebutkan dalam kitab Tabyinul Haq (Kitab Fiqih Hanafi): ولو باعهما بالدراهم ليتصدق بها جاز ; لأنه قربة كالتصدق بالجلد واللحم “Andaikan seseorang menjual kulit hewan kurban dan mendapatkan dirham darinya, lalu bersedekah darinya, ini boleh. Karena ini adalah bentuk ketaatan yang sama seperti menyedekahkan kulit dan daging secara langsung” (Tabyinul Haq, 6/9). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وهو وجه عند الشافعية قالوا : ويصرف ثمنه مصرف الأضحية “Para ulama sepakat tentang tidak bolehnya menjual daging kurban. Maka demikian juga kulit. Namun sebagian ulama membolehkan seperti Al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan salah satu pendapat Syafi’iyyah. Mereka mengatakan: boleh jika hasilnya disedekahkan kepada para penerima daging kurban” (Nailul Authar, 5/153). Wallahu a’lam, pendapat yang membolehkan menjual kulit hewan kurban untuk disedekahkan hasilnya, adalah pendapat yang kuat. Karena dilandasi oleh hadis-hadis dan atsar dari sahabat Nabi. Sehingga tidak mengapa menjual kulit hewan kurban kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, kemudian hasilnya disedekahkan kepada orang-orang miskin atau para penerima kurban.  Namun kami lebih menyarankan solusi yang lebih baik, yaitu agar panitia hewan kurban menyedekahkan kulit hewan kurban kepada orang miskin atau kepada masyarakat secara utuh. Kemudian setelah diserahkan kepada mereka, barulah mereka yang menjual sendiri kulitnya kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, andaikan mereka menginginkan demikian. Syaikh Muhammad Ali Farkus Al-Jazairi mengatakan: وأمَّا بيعُ الفقير أو المسكينِ لجلود الأضحية بعد التصدُّق بها عليه فجائزٌ لتَمَلُّكِها أوَّلًا “Adapun jika orang fakir atau miskin menjual kulit hewan kurban yang mereka dapatkan setelah disedekahkan (oleh panitia atau shahibul qurban), maka ini boleh. Karena memang kulit tersebut sudah menjadi milik mereka” (Fatawa Syaikh Muhammad Ali Farkus no.94). Solusi ini lebih baik dan lebih hati-hati karena keluar dari khilaf ulama. Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apakah Darah Nyamuk Najis, Hukum Memakai Sepatu Hak Tinggi, Melihat Allah Di Akhirat, Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Ihram Wanita, Ibnu Arabi Sesat Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban namun Hasilnya Disedekahkan?

Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban namun Hasilnya Disedekahkan? Pertanyaan: Bolehkah panitia kurban menjual kulit hewan kurban lalu hasil penjualannya disedekahkan untuk orang yang tidak mampu?  Karena kulit hewan kurban biasanya hanya bermanfaat jika keadaan utuh. Sedangkan umumnya tidak memungkinkan untuk memberikan kulit secara utuh kepada satu orang miskin. Sehingga panitia biasanya menjual kulit lalu hasil penjualannya dibagikan kepada orang-orang miskin. Mohon pencerahan dan solusinya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menjual bagian-bagian dari hewan kurban, baik daging, kulit, kepala, dan semisalnya, jika kemudian hasil penjualannya dikembalikan kepada shahibul qurban atau panitia kurban, ini jelas tidak diperbolehkan. Sebagaimana dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ia berkata: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk menyembelih kurban beliau, dan menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan jilal-nya (bagian kulit), serta tidak memberikan salah satu dari itu kepada jagal (sebagai upah). Dan kami biasa memberi upah jagal dari kantong kami” (HR. Al Bukhari no.1717, Muslim no.1317). Hadis ini jelas menunjukkan tidak bolehnya menjual kulit jika hasilnya kembali kepada shohibul qurban atau panitia kurban. Al-Hijawi dalam matan Zadul Mustaqni mengatakan: ولا يبيع جلدها ولا شيئا منها ، بل ينتفع به “Tidak boleh menjual kulit hewan kurban dan tidak boleh menjual bagian apapun darinya. Bahkan seharusnya dimanfaatkan (disedekahkan)”. Namun masalahnya berbeda jika kasusnya adalah menjual kulit hewan kurban lalu hasilnya disedekahkan, bukan dikembalikan kepada shohibul qurban atau panitia. Jumhur ulama melarang menjual kulit sama sekali, walaupun untuk disedekahkan. Sebagian ulama membolehkan dengan alasan bahwa ditukarnya kulit dengan uang lalu disedekahkan, ini tidak keluar dari makna kalimat “menyedekahkan dagingnya, kulitnya” yang ada dalam hadis di atas. Selama daging tersebut memberi kemanfaatan kepada orang miskin dan masyarakat, maka sudah tercapai tujuan dari distribusi hewan kurban. Diriwayatkan oleh al-Khallal dengan sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu: إن ابن عمر باع جلد بقرةٍ وتصدق بثمنه “Bahwa Ibnu Umar pernah menjual kulit sapi dan menyedekahkan hasil penjualannya” (Al-Inshaf, 4/93). Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad: جلود الأضاحي ما يصنع بها ؟ قال : ينتفع بها ويتصدق بثمنها . قلت : تباع ويتصدق بثمنها ؟ قال : نعم ، حديث ابن عمر “Kulit hewan kurban harus diapakan wahai Imam Ahmad? Beliau menjawab: Dimanfaatkan dan disedekahkan dari hasil penjualannya. Ishaq bin Manshur bertanya lagi: Berarti boleh dijual dan hasilnya disedekahkan? Imam Ahmad menjawab: Iya benar, dalilnya hadis (perbuatan) Ibnu Umar” (Al-Inshaf, 4/93). Pendapat yang membolehkan menjual kulit untuk disedekahkan adalah pendapat mu’tamad dalam mazhab Hanafi. Disebutkan dalam kitab Tabyinul Haq (Kitab Fiqih Hanafi): ولو باعهما بالدراهم ليتصدق بها جاز ; لأنه قربة كالتصدق بالجلد واللحم “Andaikan seseorang menjual kulit hewan kurban dan mendapatkan dirham darinya, lalu bersedekah darinya, ini boleh. Karena ini adalah bentuk ketaatan yang sama seperti menyedekahkan kulit dan daging secara langsung” (Tabyinul Haq, 6/9). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وهو وجه عند الشافعية قالوا : ويصرف ثمنه مصرف الأضحية “Para ulama sepakat tentang tidak bolehnya menjual daging kurban. Maka demikian juga kulit. Namun sebagian ulama membolehkan seperti Al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan salah satu pendapat Syafi’iyyah. Mereka mengatakan: boleh jika hasilnya disedekahkan kepada para penerima daging kurban” (Nailul Authar, 5/153). Wallahu a’lam, pendapat yang membolehkan menjual kulit hewan kurban untuk disedekahkan hasilnya, adalah pendapat yang kuat. Karena dilandasi oleh hadis-hadis dan atsar dari sahabat Nabi. Sehingga tidak mengapa menjual kulit hewan kurban kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, kemudian hasilnya disedekahkan kepada orang-orang miskin atau para penerima kurban.  Namun kami lebih menyarankan solusi yang lebih baik, yaitu agar panitia hewan kurban menyedekahkan kulit hewan kurban kepada orang miskin atau kepada masyarakat secara utuh. Kemudian setelah diserahkan kepada mereka, barulah mereka yang menjual sendiri kulitnya kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, andaikan mereka menginginkan demikian. Syaikh Muhammad Ali Farkus Al-Jazairi mengatakan: وأمَّا بيعُ الفقير أو المسكينِ لجلود الأضحية بعد التصدُّق بها عليه فجائزٌ لتَمَلُّكِها أوَّلًا “Adapun jika orang fakir atau miskin menjual kulit hewan kurban yang mereka dapatkan setelah disedekahkan (oleh panitia atau shahibul qurban), maka ini boleh. Karena memang kulit tersebut sudah menjadi milik mereka” (Fatawa Syaikh Muhammad Ali Farkus no.94). Solusi ini lebih baik dan lebih hati-hati karena keluar dari khilaf ulama. Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apakah Darah Nyamuk Najis, Hukum Memakai Sepatu Hak Tinggi, Melihat Allah Di Akhirat, Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Ihram Wanita, Ibnu Arabi Sesat Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 QRIS donasi Yufid
Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban namun Hasilnya Disedekahkan? Pertanyaan: Bolehkah panitia kurban menjual kulit hewan kurban lalu hasil penjualannya disedekahkan untuk orang yang tidak mampu?  Karena kulit hewan kurban biasanya hanya bermanfaat jika keadaan utuh. Sedangkan umumnya tidak memungkinkan untuk memberikan kulit secara utuh kepada satu orang miskin. Sehingga panitia biasanya menjual kulit lalu hasil penjualannya dibagikan kepada orang-orang miskin. Mohon pencerahan dan solusinya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menjual bagian-bagian dari hewan kurban, baik daging, kulit, kepala, dan semisalnya, jika kemudian hasil penjualannya dikembalikan kepada shahibul qurban atau panitia kurban, ini jelas tidak diperbolehkan. Sebagaimana dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ia berkata: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk menyembelih kurban beliau, dan menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan jilal-nya (bagian kulit), serta tidak memberikan salah satu dari itu kepada jagal (sebagai upah). Dan kami biasa memberi upah jagal dari kantong kami” (HR. Al Bukhari no.1717, Muslim no.1317). Hadis ini jelas menunjukkan tidak bolehnya menjual kulit jika hasilnya kembali kepada shohibul qurban atau panitia kurban. Al-Hijawi dalam matan Zadul Mustaqni mengatakan: ولا يبيع جلدها ولا شيئا منها ، بل ينتفع به “Tidak boleh menjual kulit hewan kurban dan tidak boleh menjual bagian apapun darinya. Bahkan seharusnya dimanfaatkan (disedekahkan)”. Namun masalahnya berbeda jika kasusnya adalah menjual kulit hewan kurban lalu hasilnya disedekahkan, bukan dikembalikan kepada shohibul qurban atau panitia. Jumhur ulama melarang menjual kulit sama sekali, walaupun untuk disedekahkan. Sebagian ulama membolehkan dengan alasan bahwa ditukarnya kulit dengan uang lalu disedekahkan, ini tidak keluar dari makna kalimat “menyedekahkan dagingnya, kulitnya” yang ada dalam hadis di atas. Selama daging tersebut memberi kemanfaatan kepada orang miskin dan masyarakat, maka sudah tercapai tujuan dari distribusi hewan kurban. Diriwayatkan oleh al-Khallal dengan sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu: إن ابن عمر باع جلد بقرةٍ وتصدق بثمنه “Bahwa Ibnu Umar pernah menjual kulit sapi dan menyedekahkan hasil penjualannya” (Al-Inshaf, 4/93). Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad: جلود الأضاحي ما يصنع بها ؟ قال : ينتفع بها ويتصدق بثمنها . قلت : تباع ويتصدق بثمنها ؟ قال : نعم ، حديث ابن عمر “Kulit hewan kurban harus diapakan wahai Imam Ahmad? Beliau menjawab: Dimanfaatkan dan disedekahkan dari hasil penjualannya. Ishaq bin Manshur bertanya lagi: Berarti boleh dijual dan hasilnya disedekahkan? Imam Ahmad menjawab: Iya benar, dalilnya hadis (perbuatan) Ibnu Umar” (Al-Inshaf, 4/93). Pendapat yang membolehkan menjual kulit untuk disedekahkan adalah pendapat mu’tamad dalam mazhab Hanafi. Disebutkan dalam kitab Tabyinul Haq (Kitab Fiqih Hanafi): ولو باعهما بالدراهم ليتصدق بها جاز ; لأنه قربة كالتصدق بالجلد واللحم “Andaikan seseorang menjual kulit hewan kurban dan mendapatkan dirham darinya, lalu bersedekah darinya, ini boleh. Karena ini adalah bentuk ketaatan yang sama seperti menyedekahkan kulit dan daging secara langsung” (Tabyinul Haq, 6/9). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وهو وجه عند الشافعية قالوا : ويصرف ثمنه مصرف الأضحية “Para ulama sepakat tentang tidak bolehnya menjual daging kurban. Maka demikian juga kulit. Namun sebagian ulama membolehkan seperti Al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan salah satu pendapat Syafi’iyyah. Mereka mengatakan: boleh jika hasilnya disedekahkan kepada para penerima daging kurban” (Nailul Authar, 5/153). Wallahu a’lam, pendapat yang membolehkan menjual kulit hewan kurban untuk disedekahkan hasilnya, adalah pendapat yang kuat. Karena dilandasi oleh hadis-hadis dan atsar dari sahabat Nabi. Sehingga tidak mengapa menjual kulit hewan kurban kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, kemudian hasilnya disedekahkan kepada orang-orang miskin atau para penerima kurban.  Namun kami lebih menyarankan solusi yang lebih baik, yaitu agar panitia hewan kurban menyedekahkan kulit hewan kurban kepada orang miskin atau kepada masyarakat secara utuh. Kemudian setelah diserahkan kepada mereka, barulah mereka yang menjual sendiri kulitnya kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, andaikan mereka menginginkan demikian. Syaikh Muhammad Ali Farkus Al-Jazairi mengatakan: وأمَّا بيعُ الفقير أو المسكينِ لجلود الأضحية بعد التصدُّق بها عليه فجائزٌ لتَمَلُّكِها أوَّلًا “Adapun jika orang fakir atau miskin menjual kulit hewan kurban yang mereka dapatkan setelah disedekahkan (oleh panitia atau shahibul qurban), maka ini boleh. Karena memang kulit tersebut sudah menjadi milik mereka” (Fatawa Syaikh Muhammad Ali Farkus no.94). Solusi ini lebih baik dan lebih hati-hati karena keluar dari khilaf ulama. Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apakah Darah Nyamuk Najis, Hukum Memakai Sepatu Hak Tinggi, Melihat Allah Di Akhirat, Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Ihram Wanita, Ibnu Arabi Sesat Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 QRIS donasi Yufid


Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban namun Hasilnya Disedekahkan? Pertanyaan: Bolehkah panitia kurban menjual kulit hewan kurban lalu hasil penjualannya disedekahkan untuk orang yang tidak mampu?  Karena kulit hewan kurban biasanya hanya bermanfaat jika keadaan utuh. Sedangkan umumnya tidak memungkinkan untuk memberikan kulit secara utuh kepada satu orang miskin. Sehingga panitia biasanya menjual kulit lalu hasil penjualannya dibagikan kepada orang-orang miskin. Mohon pencerahan dan solusinya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du, Menjual bagian-bagian dari hewan kurban, baik daging, kulit, kepala, dan semisalnya, jika kemudian hasil penjualannya dikembalikan kepada shahibul qurban atau panitia kurban, ini jelas tidak diperbolehkan. Sebagaimana dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ia berkata: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk menyembelih kurban beliau, dan menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan jilal-nya (bagian kulit), serta tidak memberikan salah satu dari itu kepada jagal (sebagai upah). Dan kami biasa memberi upah jagal dari kantong kami” (HR. Al Bukhari no.1717, Muslim no.1317). Hadis ini jelas menunjukkan tidak bolehnya menjual kulit jika hasilnya kembali kepada shohibul qurban atau panitia kurban. Al-Hijawi dalam matan Zadul Mustaqni mengatakan: ولا يبيع جلدها ولا شيئا منها ، بل ينتفع به “Tidak boleh menjual kulit hewan kurban dan tidak boleh menjual bagian apapun darinya. Bahkan seharusnya dimanfaatkan (disedekahkan)”. Namun masalahnya berbeda jika kasusnya adalah menjual kulit hewan kurban lalu hasilnya disedekahkan, bukan dikembalikan kepada shohibul qurban atau panitia. Jumhur ulama melarang menjual kulit sama sekali, walaupun untuk disedekahkan. Sebagian ulama membolehkan dengan alasan bahwa ditukarnya kulit dengan uang lalu disedekahkan, ini tidak keluar dari makna kalimat “menyedekahkan dagingnya, kulitnya” yang ada dalam hadis di atas. Selama daging tersebut memberi kemanfaatan kepada orang miskin dan masyarakat, maka sudah tercapai tujuan dari distribusi hewan kurban. Diriwayatkan oleh al-Khallal dengan sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu: إن ابن عمر باع جلد بقرةٍ وتصدق بثمنه “Bahwa Ibnu Umar pernah menjual kulit sapi dan menyedekahkan hasil penjualannya” (Al-Inshaf, 4/93). Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad: جلود الأضاحي ما يصنع بها ؟ قال : ينتفع بها ويتصدق بثمنها . قلت : تباع ويتصدق بثمنها ؟ قال : نعم ، حديث ابن عمر “Kulit hewan kurban harus diapakan wahai Imam Ahmad? Beliau menjawab: Dimanfaatkan dan disedekahkan dari hasil penjualannya. Ishaq bin Manshur bertanya lagi: Berarti boleh dijual dan hasilnya disedekahkan? Imam Ahmad menjawab: Iya benar, dalilnya hadis (perbuatan) Ibnu Umar” (Al-Inshaf, 4/93). Pendapat yang membolehkan menjual kulit untuk disedekahkan adalah pendapat mu’tamad dalam mazhab Hanafi. Disebutkan dalam kitab Tabyinul Haq (Kitab Fiqih Hanafi): ولو باعهما بالدراهم ليتصدق بها جاز ; لأنه قربة كالتصدق بالجلد واللحم “Andaikan seseorang menjual kulit hewan kurban dan mendapatkan dirham darinya, lalu bersedekah darinya, ini boleh. Karena ini adalah bentuk ketaatan yang sama seperti menyedekahkan kulit dan daging secara langsung” (Tabyinul Haq, 6/9). Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وهو وجه عند الشافعية قالوا : ويصرف ثمنه مصرف الأضحية “Para ulama sepakat tentang tidak bolehnya menjual daging kurban. Maka demikian juga kulit. Namun sebagian ulama membolehkan seperti Al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan salah satu pendapat Syafi’iyyah. Mereka mengatakan: boleh jika hasilnya disedekahkan kepada para penerima daging kurban” (Nailul Authar, 5/153). Wallahu a’lam, pendapat yang membolehkan menjual kulit hewan kurban untuk disedekahkan hasilnya, adalah pendapat yang kuat. Karena dilandasi oleh hadis-hadis dan atsar dari sahabat Nabi. Sehingga tidak mengapa menjual kulit hewan kurban kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, kemudian hasilnya disedekahkan kepada orang-orang miskin atau para penerima kurban.  Namun kami lebih menyarankan solusi yang lebih baik, yaitu agar panitia hewan kurban menyedekahkan kulit hewan kurban kepada orang miskin atau kepada masyarakat secara utuh. Kemudian setelah diserahkan kepada mereka, barulah mereka yang menjual sendiri kulitnya kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, andaikan mereka menginginkan demikian. Syaikh Muhammad Ali Farkus Al-Jazairi mengatakan: وأمَّا بيعُ الفقير أو المسكينِ لجلود الأضحية بعد التصدُّق بها عليه فجائزٌ لتَمَلُّكِها أوَّلًا “Adapun jika orang fakir atau miskin menjual kulit hewan kurban yang mereka dapatkan setelah disedekahkan (oleh panitia atau shahibul qurban), maka ini boleh. Karena memang kulit tersebut sudah menjadi milik mereka” (Fatawa Syaikh Muhammad Ali Farkus no.94). Solusi ini lebih baik dan lebih hati-hati karena keluar dari khilaf ulama. Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Apakah Darah Nyamuk Najis, Hukum Memakai Sepatu Hak Tinggi, Melihat Allah Di Akhirat, Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Ihram Wanita, Ibnu Arabi Sesat Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 247 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jangan takjub dengan ibadah Anda! Jangan tertipu dengan diri Anda! Barang siapa yang tertipu oleh diri sendiri dan ibadahnya, sungguh dia pasti binasa! Perbanyaklah istighfar di bulan Ramadan. Orang yang sungguh-sungguh beristighfar dengan hatinya, dialah yang akan mengetahui kekurangan amalnya. Barangkali amalannya yang sedikit, akan tetapi disertai keyakinan kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya, itu lebih Allah ʿAzza wa Jalla cintai daripada amalan yang banyak yang disertai kekaguman terhadapnya. Anda tidak tahu siapa yang diterima amalannya. Anda tidak tahu siapa yang dilipatgandakan pahalanya dan siapa yang tidak, karena sungguh Allah melipatgandakan kebaikan bagi seorang hamba hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan orang lainnya tidak, disebabkan apa yang ada dalam hatinya. ====================================================================================================== لَا تُعْجِبْ بِعِبَادَتِكَ لَا تَغْتَرَّ بِنَفْسِكَ مَنِ اغْتَرَّ بِنَفْسِهِ وَبِعِبَادَتِهِ فَقَدْ هَلَكَ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ فِي رَمَضَانَ الَّذِي يَسْتَغْفِرُ حَقِيقَةً بِقَلْبِهِ هُوَ الَّذِي يَعْلَمُ نَقْصَ عَمَلِهِ رُبَّمَا كَانَ عَمَلُهُ قَلِيلًا مَعَ يَقِينٍ بِاللهِ وَالتَّقْوَى لِلهِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ بِإِعْجَابٍ بِهِ لَا تَدْرِي مَنِ الْمَقْبُولُ لَا تَدْرِي مَنِ الَّذِي تُضَاعَفُ لَهُ حَسَنَاتٌ وَمَنِ الَّذِي لَا تُضَاعَفُ فَإِنَّ اللهَ يُضَاعِفُ لِلْعَبْدِ الْحَسَنَةَ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَالْآخَرُ لَا يُضَاعَفُ لَهُ بِمَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ  

Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jangan takjub dengan ibadah Anda! Jangan tertipu dengan diri Anda! Barang siapa yang tertipu oleh diri sendiri dan ibadahnya, sungguh dia pasti binasa! Perbanyaklah istighfar di bulan Ramadan. Orang yang sungguh-sungguh beristighfar dengan hatinya, dialah yang akan mengetahui kekurangan amalnya. Barangkali amalannya yang sedikit, akan tetapi disertai keyakinan kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya, itu lebih Allah ʿAzza wa Jalla cintai daripada amalan yang banyak yang disertai kekaguman terhadapnya. Anda tidak tahu siapa yang diterima amalannya. Anda tidak tahu siapa yang dilipatgandakan pahalanya dan siapa yang tidak, karena sungguh Allah melipatgandakan kebaikan bagi seorang hamba hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan orang lainnya tidak, disebabkan apa yang ada dalam hatinya. ====================================================================================================== لَا تُعْجِبْ بِعِبَادَتِكَ لَا تَغْتَرَّ بِنَفْسِكَ مَنِ اغْتَرَّ بِنَفْسِهِ وَبِعِبَادَتِهِ فَقَدْ هَلَكَ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ فِي رَمَضَانَ الَّذِي يَسْتَغْفِرُ حَقِيقَةً بِقَلْبِهِ هُوَ الَّذِي يَعْلَمُ نَقْصَ عَمَلِهِ رُبَّمَا كَانَ عَمَلُهُ قَلِيلًا مَعَ يَقِينٍ بِاللهِ وَالتَّقْوَى لِلهِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ بِإِعْجَابٍ بِهِ لَا تَدْرِي مَنِ الْمَقْبُولُ لَا تَدْرِي مَنِ الَّذِي تُضَاعَفُ لَهُ حَسَنَاتٌ وَمَنِ الَّذِي لَا تُضَاعَفُ فَإِنَّ اللهَ يُضَاعِفُ لِلْعَبْدِ الْحَسَنَةَ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَالْآخَرُ لَا يُضَاعَفُ لَهُ بِمَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ  
Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jangan takjub dengan ibadah Anda! Jangan tertipu dengan diri Anda! Barang siapa yang tertipu oleh diri sendiri dan ibadahnya, sungguh dia pasti binasa! Perbanyaklah istighfar di bulan Ramadan. Orang yang sungguh-sungguh beristighfar dengan hatinya, dialah yang akan mengetahui kekurangan amalnya. Barangkali amalannya yang sedikit, akan tetapi disertai keyakinan kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya, itu lebih Allah ʿAzza wa Jalla cintai daripada amalan yang banyak yang disertai kekaguman terhadapnya. Anda tidak tahu siapa yang diterima amalannya. Anda tidak tahu siapa yang dilipatgandakan pahalanya dan siapa yang tidak, karena sungguh Allah melipatgandakan kebaikan bagi seorang hamba hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan orang lainnya tidak, disebabkan apa yang ada dalam hatinya. ====================================================================================================== لَا تُعْجِبْ بِعِبَادَتِكَ لَا تَغْتَرَّ بِنَفْسِكَ مَنِ اغْتَرَّ بِنَفْسِهِ وَبِعِبَادَتِهِ فَقَدْ هَلَكَ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ فِي رَمَضَانَ الَّذِي يَسْتَغْفِرُ حَقِيقَةً بِقَلْبِهِ هُوَ الَّذِي يَعْلَمُ نَقْصَ عَمَلِهِ رُبَّمَا كَانَ عَمَلُهُ قَلِيلًا مَعَ يَقِينٍ بِاللهِ وَالتَّقْوَى لِلهِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ بِإِعْجَابٍ بِهِ لَا تَدْرِي مَنِ الْمَقْبُولُ لَا تَدْرِي مَنِ الَّذِي تُضَاعَفُ لَهُ حَسَنَاتٌ وَمَنِ الَّذِي لَا تُضَاعَفُ فَإِنَّ اللهَ يُضَاعِفُ لِلْعَبْدِ الْحَسَنَةَ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَالْآخَرُ لَا يُضَاعَفُ لَهُ بِمَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ  


Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama Jangan takjub dengan ibadah Anda! Jangan tertipu dengan diri Anda! Barang siapa yang tertipu oleh diri sendiri dan ibadahnya, sungguh dia pasti binasa! Perbanyaklah istighfar di bulan Ramadan. Orang yang sungguh-sungguh beristighfar dengan hatinya, dialah yang akan mengetahui kekurangan amalnya. Barangkali amalannya yang sedikit, akan tetapi disertai keyakinan kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya, itu lebih Allah ʿAzza wa Jalla cintai daripada amalan yang banyak yang disertai kekaguman terhadapnya. Anda tidak tahu siapa yang diterima amalannya. Anda tidak tahu siapa yang dilipatgandakan pahalanya dan siapa yang tidak, karena sungguh Allah melipatgandakan kebaikan bagi seorang hamba hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan orang lainnya tidak, disebabkan apa yang ada dalam hatinya. ====================================================================================================== لَا تُعْجِبْ بِعِبَادَتِكَ لَا تَغْتَرَّ بِنَفْسِكَ مَنِ اغْتَرَّ بِنَفْسِهِ وَبِعِبَادَتِهِ فَقَدْ هَلَكَ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ فِي رَمَضَانَ الَّذِي يَسْتَغْفِرُ حَقِيقَةً بِقَلْبِهِ هُوَ الَّذِي يَعْلَمُ نَقْصَ عَمَلِهِ رُبَّمَا كَانَ عَمَلُهُ قَلِيلًا مَعَ يَقِينٍ بِاللهِ وَالتَّقْوَى لِلهِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ بِإِعْجَابٍ بِهِ لَا تَدْرِي مَنِ الْمَقْبُولُ لَا تَدْرِي مَنِ الَّذِي تُضَاعَفُ لَهُ حَسَنَاتٌ وَمَنِ الَّذِي لَا تُضَاعَفُ فَإِنَّ اللهَ يُضَاعِفُ لِلْعَبْدِ الْحَسَنَةَ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَالْآخَرُ لَا يُضَاعَفُ لَهُ بِمَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ  

Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita

Dia yang di masa muda berbadan tegap, akhirnya akan mengeriput kulitnya. Dia yang di masa dewasa memiliki kekayaan ratusan trilliun rupiah, akhirnya akan beruban. Dia yang di masa puncak pernah duduk di kursi terpandang pun, akhirnya akan berkurang penglihatan dan pendengarannya. Dia yang Allah Ta’ala berikan umur panjang, akhirnya akan menua, sehebat apapun masa mudanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Sudah berapa tahun kita hidup? 2. Aku masih muda … 3. Kebiasaan di sisa waktu 4. Sebelum kita menyesali masa lalu Sudah berapa tahun kita hidup?Cobalah sejenak merenungi pertanyaan ini. Sudah berapa tahun kita hidup? Jika ternyata usia sudah 60 tahun lebih, maka berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, أعمارُ أمَّتي ما بينَ الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يجوزُ ذلِكَ“Umur umatku itu antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit orang yang melewati umur tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236,  dihasankan oleh Syekh Albani)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa umur kita sebagai umatnya adalah antara 60 sampai 70 tahun hijriyah. Sehingga apabila kita sudah berumur 60 tahun atau lebih, maka sudah seharusnya diri semakin banyak mengingat kematian yang akan datang tanpa diundang.Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata usia sudah 40 tahun, berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disebutkan dalam Al-Quran,وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang ketika sudah mencapai 40 tahun, maka akal dan pemahamannya telah sempurna. Kebanyakan orang yang sudah berusia 40 tahun tidak akan berubah lagi kebiasaan dalam menjalani kesehariannya. Seseorang yang telah mencapai usia 40 tahun harus memperbarui tobat dan bertekad tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah diperbuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 258-259)Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata sudah mulai muncul uban di kepala, berarti kita termasuk ke dalam ayat Al-Quran,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ“Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)Allah Ta’ala berfirman,اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.“ (QS. Fathir: 37)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Sufyan bin ‘Uyainah, dan yang lainnya, menjelaskan bahwa maksud pemberi peringatan dalam ayat di atas adalah uban. (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 493)Baca Juga: Beriman terhadap Datangnya KematianAku masih muda …Kita masih merasa muda? Usia kita belum 60 tahun, belum muncul uban sedikit pun, belum 40 tahun, bukan berarti waktu kita masih panjang. Masalah sisa umur yang tersisa tidak ada orang yang mengetahui, kapan dan di mana jatah hidup di dunia habis.وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34)Masih muda bukanlah jaminan. Betapa banyak yang meninggal di masa mudanya. Data jaringan kolaborasi beban penyakit dunia menyebutkan kematian penduduk Indonesia pada tahun 2019 sebesar 18.370 orang berumur 5-14 tahun, 264.550 orang berumur 15-49 tahun, 612.889 berumur 50-69 tahun, sisanya berumur kurang dari 5 tahun dan lebih dari 69 tahun. Ini menunjukkan bahwa kematian di usia muda sangat banyak. Jadi, bukan berarti kita masih bisa bersantai ria karena merasa masih muda dan kematian masih lama.Kebiasaan di sisa waktuKalau kita mau jujur, nasihat untuk beramal kebaikan yang datang kepada kita sudah banyak. Peringatan akan kematian seringkali terdengar. Imbauan dan ajakan untuk memanfaatkan sisa umur sudah sangat sering didapatkan. Jadi, kita bisa memilih, mau memilih mengisi sisa umur dengan kebiasaan yang baik ataukah menghabiskannya dengan kesenangan dunia dan kepuasan nafsu dalam hidup ini. Yang perlu diingat, seseorang itu akan meninggal dalam keadaan kebiasaan hidupnya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan surah Ali-Imran ayat 102, maksud dari firman Allah Ta’ala,وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَadalah supaya kita memelihara Islam saat keadaan sehat, agar kita mati di atas Islam. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberlakukan seseorang sesuai dengan kebiasaannya. Orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya tersebut. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2: 75)Baca Juga: Kematian Pasti DatangSebelum kita menyesali masa laluSebagaimana seseorang belajar di sekolah atau di kampus, ataupun bekerja menjadi karyawan, seseorang yang hidup di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Anak sekolah akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia kerjakan dan pelajari selama sekolah lewat ujian sekolah atau ujian kampus. Orang yang bekerja sebagai karyawan akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaannya lewat laporan rutin. Para pejabat juga dimintai pertanggungjawaban selama ia menjabat. Itu dalam masalah dunia yang sifatnya sementara. Bagaimana dengan masalah akhirat yang merupakan kehidupan abadi? Tentu pertanggungjawabannya semakin besar dan teliti.Di antara pertanggungjawaban tahap awal dalam kehidupan akhirat yang akan dilalui manusia adalah apa yang telah diceritakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidaklah kedua kaki seorang hamba beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: untuk apa umurnya ia habiskan, apakah ilmunya ia amalkan, dari mana hartanya ia peroleh dan di mana ia belanjakan, serta untuk apa tubuhnya ia usangkan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Sungguh kelak setiap orang akan mempertanggungjawabkan umur yang telah Allah Ta’ala berikan. Manusia akan menyesali keadaannya selama di dunia.كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ   وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 21-24)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa yang menyesal kelak di hari kiamat bukan hanya orang-orang kafir saja, melainkan juga kaum muslimin yang melakukan perbuatan dosa atas maksiat yang dilakukannya. Selain itu, kaum mukminin juga menyesal karena kurangnya ketaatan yang dilakukannya selama di dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 389)Saat ini, sebelum penyesalan itu datang, sebelum hari ini menjadi masa lalu yang akan disesali, marilah kita berusaha sekuat tenaga meningkatkan keimanan kita, terus berdoa kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk, menjaga dan memberikan keistiqomahan kepada kita semua. AamiinBaca Juga:Begini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”Hukum Berdoa Mengharapkan Kematian***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hadits Tentang Qanaah, Anjuran Berhijab, Serakah Warisan, Contoh Laporan Panitia QurbanTags: adabAkhlakAqidahibadahkematianManhajmengingat matimotivasimotivasi ibadahmotivasi Islammuhasabahnasihatnasihat islamtazkiyatun nafsumur

Merenungi Sisa-Sisa Umur Kita

Dia yang di masa muda berbadan tegap, akhirnya akan mengeriput kulitnya. Dia yang di masa dewasa memiliki kekayaan ratusan trilliun rupiah, akhirnya akan beruban. Dia yang di masa puncak pernah duduk di kursi terpandang pun, akhirnya akan berkurang penglihatan dan pendengarannya. Dia yang Allah Ta’ala berikan umur panjang, akhirnya akan menua, sehebat apapun masa mudanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Sudah berapa tahun kita hidup? 2. Aku masih muda … 3. Kebiasaan di sisa waktu 4. Sebelum kita menyesali masa lalu Sudah berapa tahun kita hidup?Cobalah sejenak merenungi pertanyaan ini. Sudah berapa tahun kita hidup? Jika ternyata usia sudah 60 tahun lebih, maka berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, أعمارُ أمَّتي ما بينَ الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يجوزُ ذلِكَ“Umur umatku itu antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit orang yang melewati umur tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236,  dihasankan oleh Syekh Albani)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa umur kita sebagai umatnya adalah antara 60 sampai 70 tahun hijriyah. Sehingga apabila kita sudah berumur 60 tahun atau lebih, maka sudah seharusnya diri semakin banyak mengingat kematian yang akan datang tanpa diundang.Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata usia sudah 40 tahun, berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disebutkan dalam Al-Quran,وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang ketika sudah mencapai 40 tahun, maka akal dan pemahamannya telah sempurna. Kebanyakan orang yang sudah berusia 40 tahun tidak akan berubah lagi kebiasaan dalam menjalani kesehariannya. Seseorang yang telah mencapai usia 40 tahun harus memperbarui tobat dan bertekad tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah diperbuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 258-259)Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata sudah mulai muncul uban di kepala, berarti kita termasuk ke dalam ayat Al-Quran,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ“Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)Allah Ta’ala berfirman,اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.“ (QS. Fathir: 37)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Sufyan bin ‘Uyainah, dan yang lainnya, menjelaskan bahwa maksud pemberi peringatan dalam ayat di atas adalah uban. (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 493)Baca Juga: Beriman terhadap Datangnya KematianAku masih muda …Kita masih merasa muda? Usia kita belum 60 tahun, belum muncul uban sedikit pun, belum 40 tahun, bukan berarti waktu kita masih panjang. Masalah sisa umur yang tersisa tidak ada orang yang mengetahui, kapan dan di mana jatah hidup di dunia habis.وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34)Masih muda bukanlah jaminan. Betapa banyak yang meninggal di masa mudanya. Data jaringan kolaborasi beban penyakit dunia menyebutkan kematian penduduk Indonesia pada tahun 2019 sebesar 18.370 orang berumur 5-14 tahun, 264.550 orang berumur 15-49 tahun, 612.889 berumur 50-69 tahun, sisanya berumur kurang dari 5 tahun dan lebih dari 69 tahun. Ini menunjukkan bahwa kematian di usia muda sangat banyak. Jadi, bukan berarti kita masih bisa bersantai ria karena merasa masih muda dan kematian masih lama.Kebiasaan di sisa waktuKalau kita mau jujur, nasihat untuk beramal kebaikan yang datang kepada kita sudah banyak. Peringatan akan kematian seringkali terdengar. Imbauan dan ajakan untuk memanfaatkan sisa umur sudah sangat sering didapatkan. Jadi, kita bisa memilih, mau memilih mengisi sisa umur dengan kebiasaan yang baik ataukah menghabiskannya dengan kesenangan dunia dan kepuasan nafsu dalam hidup ini. Yang perlu diingat, seseorang itu akan meninggal dalam keadaan kebiasaan hidupnya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan surah Ali-Imran ayat 102, maksud dari firman Allah Ta’ala,وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَadalah supaya kita memelihara Islam saat keadaan sehat, agar kita mati di atas Islam. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberlakukan seseorang sesuai dengan kebiasaannya. Orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya tersebut. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2: 75)Baca Juga: Kematian Pasti DatangSebelum kita menyesali masa laluSebagaimana seseorang belajar di sekolah atau di kampus, ataupun bekerja menjadi karyawan, seseorang yang hidup di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Anak sekolah akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia kerjakan dan pelajari selama sekolah lewat ujian sekolah atau ujian kampus. Orang yang bekerja sebagai karyawan akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaannya lewat laporan rutin. Para pejabat juga dimintai pertanggungjawaban selama ia menjabat. Itu dalam masalah dunia yang sifatnya sementara. Bagaimana dengan masalah akhirat yang merupakan kehidupan abadi? Tentu pertanggungjawabannya semakin besar dan teliti.Di antara pertanggungjawaban tahap awal dalam kehidupan akhirat yang akan dilalui manusia adalah apa yang telah diceritakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidaklah kedua kaki seorang hamba beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: untuk apa umurnya ia habiskan, apakah ilmunya ia amalkan, dari mana hartanya ia peroleh dan di mana ia belanjakan, serta untuk apa tubuhnya ia usangkan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Sungguh kelak setiap orang akan mempertanggungjawabkan umur yang telah Allah Ta’ala berikan. Manusia akan menyesali keadaannya selama di dunia.كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ   وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 21-24)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa yang menyesal kelak di hari kiamat bukan hanya orang-orang kafir saja, melainkan juga kaum muslimin yang melakukan perbuatan dosa atas maksiat yang dilakukannya. Selain itu, kaum mukminin juga menyesal karena kurangnya ketaatan yang dilakukannya selama di dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 389)Saat ini, sebelum penyesalan itu datang, sebelum hari ini menjadi masa lalu yang akan disesali, marilah kita berusaha sekuat tenaga meningkatkan keimanan kita, terus berdoa kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk, menjaga dan memberikan keistiqomahan kepada kita semua. AamiinBaca Juga:Begini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”Hukum Berdoa Mengharapkan Kematian***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hadits Tentang Qanaah, Anjuran Berhijab, Serakah Warisan, Contoh Laporan Panitia QurbanTags: adabAkhlakAqidahibadahkematianManhajmengingat matimotivasimotivasi ibadahmotivasi Islammuhasabahnasihatnasihat islamtazkiyatun nafsumur
Dia yang di masa muda berbadan tegap, akhirnya akan mengeriput kulitnya. Dia yang di masa dewasa memiliki kekayaan ratusan trilliun rupiah, akhirnya akan beruban. Dia yang di masa puncak pernah duduk di kursi terpandang pun, akhirnya akan berkurang penglihatan dan pendengarannya. Dia yang Allah Ta’ala berikan umur panjang, akhirnya akan menua, sehebat apapun masa mudanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Sudah berapa tahun kita hidup? 2. Aku masih muda … 3. Kebiasaan di sisa waktu 4. Sebelum kita menyesali masa lalu Sudah berapa tahun kita hidup?Cobalah sejenak merenungi pertanyaan ini. Sudah berapa tahun kita hidup? Jika ternyata usia sudah 60 tahun lebih, maka berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, أعمارُ أمَّتي ما بينَ الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يجوزُ ذلِكَ“Umur umatku itu antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit orang yang melewati umur tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236,  dihasankan oleh Syekh Albani)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa umur kita sebagai umatnya adalah antara 60 sampai 70 tahun hijriyah. Sehingga apabila kita sudah berumur 60 tahun atau lebih, maka sudah seharusnya diri semakin banyak mengingat kematian yang akan datang tanpa diundang.Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata usia sudah 40 tahun, berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disebutkan dalam Al-Quran,وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang ketika sudah mencapai 40 tahun, maka akal dan pemahamannya telah sempurna. Kebanyakan orang yang sudah berusia 40 tahun tidak akan berubah lagi kebiasaan dalam menjalani kesehariannya. Seseorang yang telah mencapai usia 40 tahun harus memperbarui tobat dan bertekad tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah diperbuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 258-259)Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata sudah mulai muncul uban di kepala, berarti kita termasuk ke dalam ayat Al-Quran,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ“Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)Allah Ta’ala berfirman,اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.“ (QS. Fathir: 37)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Sufyan bin ‘Uyainah, dan yang lainnya, menjelaskan bahwa maksud pemberi peringatan dalam ayat di atas adalah uban. (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 493)Baca Juga: Beriman terhadap Datangnya KematianAku masih muda …Kita masih merasa muda? Usia kita belum 60 tahun, belum muncul uban sedikit pun, belum 40 tahun, bukan berarti waktu kita masih panjang. Masalah sisa umur yang tersisa tidak ada orang yang mengetahui, kapan dan di mana jatah hidup di dunia habis.وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34)Masih muda bukanlah jaminan. Betapa banyak yang meninggal di masa mudanya. Data jaringan kolaborasi beban penyakit dunia menyebutkan kematian penduduk Indonesia pada tahun 2019 sebesar 18.370 orang berumur 5-14 tahun, 264.550 orang berumur 15-49 tahun, 612.889 berumur 50-69 tahun, sisanya berumur kurang dari 5 tahun dan lebih dari 69 tahun. Ini menunjukkan bahwa kematian di usia muda sangat banyak. Jadi, bukan berarti kita masih bisa bersantai ria karena merasa masih muda dan kematian masih lama.Kebiasaan di sisa waktuKalau kita mau jujur, nasihat untuk beramal kebaikan yang datang kepada kita sudah banyak. Peringatan akan kematian seringkali terdengar. Imbauan dan ajakan untuk memanfaatkan sisa umur sudah sangat sering didapatkan. Jadi, kita bisa memilih, mau memilih mengisi sisa umur dengan kebiasaan yang baik ataukah menghabiskannya dengan kesenangan dunia dan kepuasan nafsu dalam hidup ini. Yang perlu diingat, seseorang itu akan meninggal dalam keadaan kebiasaan hidupnya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan surah Ali-Imran ayat 102, maksud dari firman Allah Ta’ala,وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَadalah supaya kita memelihara Islam saat keadaan sehat, agar kita mati di atas Islam. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberlakukan seseorang sesuai dengan kebiasaannya. Orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya tersebut. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2: 75)Baca Juga: Kematian Pasti DatangSebelum kita menyesali masa laluSebagaimana seseorang belajar di sekolah atau di kampus, ataupun bekerja menjadi karyawan, seseorang yang hidup di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Anak sekolah akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia kerjakan dan pelajari selama sekolah lewat ujian sekolah atau ujian kampus. Orang yang bekerja sebagai karyawan akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaannya lewat laporan rutin. Para pejabat juga dimintai pertanggungjawaban selama ia menjabat. Itu dalam masalah dunia yang sifatnya sementara. Bagaimana dengan masalah akhirat yang merupakan kehidupan abadi? Tentu pertanggungjawabannya semakin besar dan teliti.Di antara pertanggungjawaban tahap awal dalam kehidupan akhirat yang akan dilalui manusia adalah apa yang telah diceritakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidaklah kedua kaki seorang hamba beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: untuk apa umurnya ia habiskan, apakah ilmunya ia amalkan, dari mana hartanya ia peroleh dan di mana ia belanjakan, serta untuk apa tubuhnya ia usangkan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Sungguh kelak setiap orang akan mempertanggungjawabkan umur yang telah Allah Ta’ala berikan. Manusia akan menyesali keadaannya selama di dunia.كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ   وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 21-24)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa yang menyesal kelak di hari kiamat bukan hanya orang-orang kafir saja, melainkan juga kaum muslimin yang melakukan perbuatan dosa atas maksiat yang dilakukannya. Selain itu, kaum mukminin juga menyesal karena kurangnya ketaatan yang dilakukannya selama di dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 389)Saat ini, sebelum penyesalan itu datang, sebelum hari ini menjadi masa lalu yang akan disesali, marilah kita berusaha sekuat tenaga meningkatkan keimanan kita, terus berdoa kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk, menjaga dan memberikan keistiqomahan kepada kita semua. AamiinBaca Juga:Begini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”Hukum Berdoa Mengharapkan Kematian***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hadits Tentang Qanaah, Anjuran Berhijab, Serakah Warisan, Contoh Laporan Panitia QurbanTags: adabAkhlakAqidahibadahkematianManhajmengingat matimotivasimotivasi ibadahmotivasi Islammuhasabahnasihatnasihat islamtazkiyatun nafsumur


Dia yang di masa muda berbadan tegap, akhirnya akan mengeriput kulitnya. Dia yang di masa dewasa memiliki kekayaan ratusan trilliun rupiah, akhirnya akan beruban. Dia yang di masa puncak pernah duduk di kursi terpandang pun, akhirnya akan berkurang penglihatan dan pendengarannya. Dia yang Allah Ta’ala berikan umur panjang, akhirnya akan menua, sehebat apapun masa mudanya. Daftar Isi sembunyikan 1. Sudah berapa tahun kita hidup? 2. Aku masih muda … 3. Kebiasaan di sisa waktu 4. Sebelum kita menyesali masa lalu Sudah berapa tahun kita hidup?Cobalah sejenak merenungi pertanyaan ini. Sudah berapa tahun kita hidup? Jika ternyata usia sudah 60 tahun lebih, maka berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, أعمارُ أمَّتي ما بينَ الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يجوزُ ذلِكَ“Umur umatku itu antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit orang yang melewati umur tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236,  dihasankan oleh Syekh Albani)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa umur kita sebagai umatnya adalah antara 60 sampai 70 tahun hijriyah. Sehingga apabila kita sudah berumur 60 tahun atau lebih, maka sudah seharusnya diri semakin banyak mengingat kematian yang akan datang tanpa diundang.Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata usia sudah 40 tahun, berarti kita termasuk ke dalam orang-orang yang disebutkan dalam Al-Quran,وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)Baca Juga: Hukum Mengumumkan Berita Kematian Seseorang (An-Na’yu)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang ketika sudah mencapai 40 tahun, maka akal dan pemahamannya telah sempurna. Kebanyakan orang yang sudah berusia 40 tahun tidak akan berubah lagi kebiasaan dalam menjalani kesehariannya. Seseorang yang telah mencapai usia 40 tahun harus memperbarui tobat dan bertekad tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah diperbuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 258-259)Sudah berapa tahun kita hidup?Jika ternyata sudah mulai muncul uban di kepala, berarti kita termasuk ke dalam ayat Al-Quran,اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ“Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. Ar-Rum: 54)Allah Ta’ala berfirman,اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.“ (QS. Fathir: 37)Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Sufyan bin ‘Uyainah, dan yang lainnya, menjelaskan bahwa maksud pemberi peringatan dalam ayat di atas adalah uban. (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 493)Baca Juga: Beriman terhadap Datangnya KematianAku masih muda …Kita masih merasa muda? Usia kita belum 60 tahun, belum muncul uban sedikit pun, belum 40 tahun, bukan berarti waktu kita masih panjang. Masalah sisa umur yang tersisa tidak ada orang yang mengetahui, kapan dan di mana jatah hidup di dunia habis.وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34)Masih muda bukanlah jaminan. Betapa banyak yang meninggal di masa mudanya. Data jaringan kolaborasi beban penyakit dunia menyebutkan kematian penduduk Indonesia pada tahun 2019 sebesar 18.370 orang berumur 5-14 tahun, 264.550 orang berumur 15-49 tahun, 612.889 berumur 50-69 tahun, sisanya berumur kurang dari 5 tahun dan lebih dari 69 tahun. Ini menunjukkan bahwa kematian di usia muda sangat banyak. Jadi, bukan berarti kita masih bisa bersantai ria karena merasa masih muda dan kematian masih lama.Kebiasaan di sisa waktuKalau kita mau jujur, nasihat untuk beramal kebaikan yang datang kepada kita sudah banyak. Peringatan akan kematian seringkali terdengar. Imbauan dan ajakan untuk memanfaatkan sisa umur sudah sangat sering didapatkan. Jadi, kita bisa memilih, mau memilih mengisi sisa umur dengan kebiasaan yang baik ataukah menghabiskannya dengan kesenangan dunia dan kepuasan nafsu dalam hidup ini. Yang perlu diingat, seseorang itu akan meninggal dalam keadaan kebiasaan hidupnya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan saat menafsirkan surah Ali-Imran ayat 102, maksud dari firman Allah Ta’ala,وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَadalah supaya kita memelihara Islam saat keadaan sehat, agar kita mati di atas Islam. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberlakukan seseorang sesuai dengan kebiasaannya. Orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya tersebut. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2: 75)Baca Juga: Kematian Pasti DatangSebelum kita menyesali masa laluSebagaimana seseorang belajar di sekolah atau di kampus, ataupun bekerja menjadi karyawan, seseorang yang hidup di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Anak sekolah akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia kerjakan dan pelajari selama sekolah lewat ujian sekolah atau ujian kampus. Orang yang bekerja sebagai karyawan akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaannya lewat laporan rutin. Para pejabat juga dimintai pertanggungjawaban selama ia menjabat. Itu dalam masalah dunia yang sifatnya sementara. Bagaimana dengan masalah akhirat yang merupakan kehidupan abadi? Tentu pertanggungjawabannya semakin besar dan teliti.Di antara pertanggungjawaban tahap awal dalam kehidupan akhirat yang akan dilalui manusia adalah apa yang telah diceritakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ“Tidaklah kedua kaki seorang hamba beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: untuk apa umurnya ia habiskan, apakah ilmunya ia amalkan, dari mana hartanya ia peroleh dan di mana ia belanjakan, serta untuk apa tubuhnya ia usangkan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)Sungguh kelak setiap orang akan mempertanggungjawabkan umur yang telah Allah Ta’ala berikan. Manusia akan menyesali keadaannya selama di dunia.كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ   وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ“Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 21-24)Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa yang menyesal kelak di hari kiamat bukan hanya orang-orang kafir saja, melainkan juga kaum muslimin yang melakukan perbuatan dosa atas maksiat yang dilakukannya. Selain itu, kaum mukminin juga menyesal karena kurangnya ketaatan yang dilakukannya selama di dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 389)Saat ini, sebelum penyesalan itu datang, sebelum hari ini menjadi masa lalu yang akan disesali, marilah kita berusaha sekuat tenaga meningkatkan keimanan kita, terus berdoa kepada Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk, menjaga dan memberikan keistiqomahan kepada kita semua. AamiinBaca Juga:Begini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”Hukum Berdoa Mengharapkan Kematian***Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Puasa Arafah, Hadits Tentang Qanaah, Anjuran Berhijab, Serakah Warisan, Contoh Laporan Panitia QurbanTags: adabAkhlakAqidahibadahkematianManhajmengingat matimotivasimotivasi ibadahmotivasi Islammuhasabahnasihatnasihat islamtazkiyatun nafsumur

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1)

Daftar Isi sembunyikan 1. Pendahuluan penerjemah 2. Pendahuluan penulis 3. Orang bertauhid yang istikamah 4. Pentingnya memberi nasihat 5. Pelaku maksiat belum tentu kafir Pendahuluan penerjemahBismillah. Alhamdulillah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Tulisan berikut ini kami terjemahkan dari sebuah kitab yang berjudul “Masa’il Al-Imam Abdil Aziz Ibn Baz rahimahullah” yang disusun oleh Syekh Dr. Muhammad bin Abdil Aziz bin Sa’d bin Sa’id hafizhahullah. Buku ini diberi kata pengantar oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak dan Syekh Dr. Abdul Aziz bin Abdul Muhsin Al-‘Askar hafizhahumallah. Buku ini berisi komentar Syekh Ibnu Baz rahimahullah pada beberapa permasalahan agama. Komentar tersebut di antaranya berasal dari kajian-kajian beliau, tanya jawab, dan lain sebagainya. Komentar tersebut terkadang dalam bentuk perincian, penjelasan hukum terhadap sesuatu dan lain sebagainya yang disusun dalam bentuk poin per poin.Sebenarnya ada 31 bab permasalahan yang dibahas dalam kitab ini. Namun, untuk memudahkan dan agar tidak terlalu panjang. Kami akan menerjemahkannya satu per satu. Pada kitab asli, ketika menyebutkan hadis, maka penulis menyertakan sanad lengkap perawi hadis tersebut. Namun, pada terjemahan ini, kami akan menyingkatnya dengan hanya menyebutkan sahabat yang meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan harapan agar menjadi lebih sederhana bagi para pembaca. Pada terjemahan ini kami juga menambahkan judul pada setiap poinnya, dan judul tersebut tidak ada dalam kitab aslinya.Syekh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama besar di Arab Saudi yang juga pernah menjabat sebagai mufti Kerajaan Arab Saudi. Seorang alim, seorang zuhud, seorang ahli ibadah, dan seorang yang dermawan, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridai.Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Pendahuluan penulisAlhamdulillahi rabbil ‘alamin, selawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin orang beriman di hari kiamat, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga juga tercurah kepada keluarganya dan semua sahabatnya. Wa ba’du.Di antara bentuk mendekatkan diri kepada Allah adalah ketika seseorang sibuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk hamba Allah dalam urusan dunia dan akhirat mereka. Di antara bentuknya yang paling agung adalah menjelaskan ilmu syar’i kepada orang-orang yang membutuhkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ“Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan, Dia akan pahamkan orang tersebut dengan urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Karenanya, aku memohon pada Allah untuk memudahkanku dalam penulisan kitab ini yang aku ambil dari pengajian-pengajian bersama Syekh kami Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan juga dari pertemuanku dengan beliau. Aku lakukan ini dengan berharap pahala dan balasan dari Allah. Semoga Allah mejadikan apa yang aku tulis ini benar-benar ikhlas mengharap wajah-Nya yang mulia dan mendatangkan keridaan-Nya. Hanya Dialah yang bisa memberikan hal tersebut. Kepada Allah semata kita memohon pertolongan dan bersandar. Tidak ada daya dan upaya, melainkan hanya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. [Ditulis oleh hamba yang mengharapkan ampunan Rabbnya, Dr. Muhammad bin Abdul Aziz bin Sa’ad bin Sa’id, Malam selasa 16 Rabi’ul Awwal 1426 H]Orang bertauhid yang istikamahSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang akidah tauhid.Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang berkata ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Aku bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, Isa adalah hamba-Nya, anak hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya yang Dia berikan pada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya dan neraka itu benar adanya’, maka Allah akan memasukkannya ke surga dari delapan pintunya yang mana saja dia mau.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah berpendapat bahwa keutamaan ini akan didapatkan oleh orang yang tidak terus-menerus bermaksiat. Dia berusaha menyempurnakan tauhid dan senantiasa istikamah.”Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidPentingnya memberi nasihatSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Agama adalah nasihat”.Dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mem-bai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk senantiasa menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat pada setiap muslim.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan pentingnya memberikan nasihat, sampai-sampai ia dijadikan isi bai’at.”Pelaku maksiat belum tentu kafirSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Iman berkurang dengan maksiat”.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang pezina ketika berzina tidak dalam keadaan beriman. Seorang pencuri ketika mencuri tidak dalam keadaan beriman. Seorang pemabuk ketika minum khamr tidak dalam keadaan beriman.”Kemudian Abu Hurairah juga menambahkan, “Seorang yang merampas sebuah barang berharga yang menyebabkan semua manusia melihatnya ketika dia melakukannya tidaklah dalam keadaan beriman.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah wal jamaah berpendapat bahwa ini adalah sebuah ancaman. Seorang yang imannya sempurna tidak akan melakukan perkara-perkara ini. Dalam hadis ini pun terdapat bantahan bagi orang khawarij yang berpendapat bahwa pelaku maksiat itu kafir.”[Bersambung]Baca Juga:Catatan Ringan Seputar AqidahMengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Sangkakala Ditiup Berapa Kali, Wanita Idaman Menurut Islam, Lafaz Iqamah, AlzalzalahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1)

Daftar Isi sembunyikan 1. Pendahuluan penerjemah 2. Pendahuluan penulis 3. Orang bertauhid yang istikamah 4. Pentingnya memberi nasihat 5. Pelaku maksiat belum tentu kafir Pendahuluan penerjemahBismillah. Alhamdulillah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Tulisan berikut ini kami terjemahkan dari sebuah kitab yang berjudul “Masa’il Al-Imam Abdil Aziz Ibn Baz rahimahullah” yang disusun oleh Syekh Dr. Muhammad bin Abdil Aziz bin Sa’d bin Sa’id hafizhahullah. Buku ini diberi kata pengantar oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak dan Syekh Dr. Abdul Aziz bin Abdul Muhsin Al-‘Askar hafizhahumallah. Buku ini berisi komentar Syekh Ibnu Baz rahimahullah pada beberapa permasalahan agama. Komentar tersebut di antaranya berasal dari kajian-kajian beliau, tanya jawab, dan lain sebagainya. Komentar tersebut terkadang dalam bentuk perincian, penjelasan hukum terhadap sesuatu dan lain sebagainya yang disusun dalam bentuk poin per poin.Sebenarnya ada 31 bab permasalahan yang dibahas dalam kitab ini. Namun, untuk memudahkan dan agar tidak terlalu panjang. Kami akan menerjemahkannya satu per satu. Pada kitab asli, ketika menyebutkan hadis, maka penulis menyertakan sanad lengkap perawi hadis tersebut. Namun, pada terjemahan ini, kami akan menyingkatnya dengan hanya menyebutkan sahabat yang meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan harapan agar menjadi lebih sederhana bagi para pembaca. Pada terjemahan ini kami juga menambahkan judul pada setiap poinnya, dan judul tersebut tidak ada dalam kitab aslinya.Syekh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama besar di Arab Saudi yang juga pernah menjabat sebagai mufti Kerajaan Arab Saudi. Seorang alim, seorang zuhud, seorang ahli ibadah, dan seorang yang dermawan, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridai.Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Pendahuluan penulisAlhamdulillahi rabbil ‘alamin, selawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin orang beriman di hari kiamat, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga juga tercurah kepada keluarganya dan semua sahabatnya. Wa ba’du.Di antara bentuk mendekatkan diri kepada Allah adalah ketika seseorang sibuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk hamba Allah dalam urusan dunia dan akhirat mereka. Di antara bentuknya yang paling agung adalah menjelaskan ilmu syar’i kepada orang-orang yang membutuhkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ“Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan, Dia akan pahamkan orang tersebut dengan urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Karenanya, aku memohon pada Allah untuk memudahkanku dalam penulisan kitab ini yang aku ambil dari pengajian-pengajian bersama Syekh kami Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan juga dari pertemuanku dengan beliau. Aku lakukan ini dengan berharap pahala dan balasan dari Allah. Semoga Allah mejadikan apa yang aku tulis ini benar-benar ikhlas mengharap wajah-Nya yang mulia dan mendatangkan keridaan-Nya. Hanya Dialah yang bisa memberikan hal tersebut. Kepada Allah semata kita memohon pertolongan dan bersandar. Tidak ada daya dan upaya, melainkan hanya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. [Ditulis oleh hamba yang mengharapkan ampunan Rabbnya, Dr. Muhammad bin Abdul Aziz bin Sa’ad bin Sa’id, Malam selasa 16 Rabi’ul Awwal 1426 H]Orang bertauhid yang istikamahSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang akidah tauhid.Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang berkata ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Aku bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, Isa adalah hamba-Nya, anak hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya yang Dia berikan pada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya dan neraka itu benar adanya’, maka Allah akan memasukkannya ke surga dari delapan pintunya yang mana saja dia mau.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah berpendapat bahwa keutamaan ini akan didapatkan oleh orang yang tidak terus-menerus bermaksiat. Dia berusaha menyempurnakan tauhid dan senantiasa istikamah.”Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidPentingnya memberi nasihatSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Agama adalah nasihat”.Dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mem-bai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk senantiasa menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat pada setiap muslim.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan pentingnya memberikan nasihat, sampai-sampai ia dijadikan isi bai’at.”Pelaku maksiat belum tentu kafirSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Iman berkurang dengan maksiat”.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang pezina ketika berzina tidak dalam keadaan beriman. Seorang pencuri ketika mencuri tidak dalam keadaan beriman. Seorang pemabuk ketika minum khamr tidak dalam keadaan beriman.”Kemudian Abu Hurairah juga menambahkan, “Seorang yang merampas sebuah barang berharga yang menyebabkan semua manusia melihatnya ketika dia melakukannya tidaklah dalam keadaan beriman.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah wal jamaah berpendapat bahwa ini adalah sebuah ancaman. Seorang yang imannya sempurna tidak akan melakukan perkara-perkara ini. Dalam hadis ini pun terdapat bantahan bagi orang khawarij yang berpendapat bahwa pelaku maksiat itu kafir.”[Bersambung]Baca Juga:Catatan Ringan Seputar AqidahMengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Sangkakala Ditiup Berapa Kali, Wanita Idaman Menurut Islam, Lafaz Iqamah, AlzalzalahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid
Daftar Isi sembunyikan 1. Pendahuluan penerjemah 2. Pendahuluan penulis 3. Orang bertauhid yang istikamah 4. Pentingnya memberi nasihat 5. Pelaku maksiat belum tentu kafir Pendahuluan penerjemahBismillah. Alhamdulillah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Tulisan berikut ini kami terjemahkan dari sebuah kitab yang berjudul “Masa’il Al-Imam Abdil Aziz Ibn Baz rahimahullah” yang disusun oleh Syekh Dr. Muhammad bin Abdil Aziz bin Sa’d bin Sa’id hafizhahullah. Buku ini diberi kata pengantar oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak dan Syekh Dr. Abdul Aziz bin Abdul Muhsin Al-‘Askar hafizhahumallah. Buku ini berisi komentar Syekh Ibnu Baz rahimahullah pada beberapa permasalahan agama. Komentar tersebut di antaranya berasal dari kajian-kajian beliau, tanya jawab, dan lain sebagainya. Komentar tersebut terkadang dalam bentuk perincian, penjelasan hukum terhadap sesuatu dan lain sebagainya yang disusun dalam bentuk poin per poin.Sebenarnya ada 31 bab permasalahan yang dibahas dalam kitab ini. Namun, untuk memudahkan dan agar tidak terlalu panjang. Kami akan menerjemahkannya satu per satu. Pada kitab asli, ketika menyebutkan hadis, maka penulis menyertakan sanad lengkap perawi hadis tersebut. Namun, pada terjemahan ini, kami akan menyingkatnya dengan hanya menyebutkan sahabat yang meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan harapan agar menjadi lebih sederhana bagi para pembaca. Pada terjemahan ini kami juga menambahkan judul pada setiap poinnya, dan judul tersebut tidak ada dalam kitab aslinya.Syekh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama besar di Arab Saudi yang juga pernah menjabat sebagai mufti Kerajaan Arab Saudi. Seorang alim, seorang zuhud, seorang ahli ibadah, dan seorang yang dermawan, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridai.Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Pendahuluan penulisAlhamdulillahi rabbil ‘alamin, selawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin orang beriman di hari kiamat, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga juga tercurah kepada keluarganya dan semua sahabatnya. Wa ba’du.Di antara bentuk mendekatkan diri kepada Allah adalah ketika seseorang sibuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk hamba Allah dalam urusan dunia dan akhirat mereka. Di antara bentuknya yang paling agung adalah menjelaskan ilmu syar’i kepada orang-orang yang membutuhkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ“Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan, Dia akan pahamkan orang tersebut dengan urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Karenanya, aku memohon pada Allah untuk memudahkanku dalam penulisan kitab ini yang aku ambil dari pengajian-pengajian bersama Syekh kami Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan juga dari pertemuanku dengan beliau. Aku lakukan ini dengan berharap pahala dan balasan dari Allah. Semoga Allah mejadikan apa yang aku tulis ini benar-benar ikhlas mengharap wajah-Nya yang mulia dan mendatangkan keridaan-Nya. Hanya Dialah yang bisa memberikan hal tersebut. Kepada Allah semata kita memohon pertolongan dan bersandar. Tidak ada daya dan upaya, melainkan hanya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. [Ditulis oleh hamba yang mengharapkan ampunan Rabbnya, Dr. Muhammad bin Abdul Aziz bin Sa’ad bin Sa’id, Malam selasa 16 Rabi’ul Awwal 1426 H]Orang bertauhid yang istikamahSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang akidah tauhid.Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang berkata ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Aku bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, Isa adalah hamba-Nya, anak hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya yang Dia berikan pada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya dan neraka itu benar adanya’, maka Allah akan memasukkannya ke surga dari delapan pintunya yang mana saja dia mau.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah berpendapat bahwa keutamaan ini akan didapatkan oleh orang yang tidak terus-menerus bermaksiat. Dia berusaha menyempurnakan tauhid dan senantiasa istikamah.”Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidPentingnya memberi nasihatSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Agama adalah nasihat”.Dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mem-bai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk senantiasa menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat pada setiap muslim.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan pentingnya memberikan nasihat, sampai-sampai ia dijadikan isi bai’at.”Pelaku maksiat belum tentu kafirSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Iman berkurang dengan maksiat”.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang pezina ketika berzina tidak dalam keadaan beriman. Seorang pencuri ketika mencuri tidak dalam keadaan beriman. Seorang pemabuk ketika minum khamr tidak dalam keadaan beriman.”Kemudian Abu Hurairah juga menambahkan, “Seorang yang merampas sebuah barang berharga yang menyebabkan semua manusia melihatnya ketika dia melakukannya tidaklah dalam keadaan beriman.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah wal jamaah berpendapat bahwa ini adalah sebuah ancaman. Seorang yang imannya sempurna tidak akan melakukan perkara-perkara ini. Dalam hadis ini pun terdapat bantahan bagi orang khawarij yang berpendapat bahwa pelaku maksiat itu kafir.”[Bersambung]Baca Juga:Catatan Ringan Seputar AqidahMengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Sangkakala Ditiup Berapa Kali, Wanita Idaman Menurut Islam, Lafaz Iqamah, AlzalzalahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid


Daftar Isi sembunyikan 1. Pendahuluan penerjemah 2. Pendahuluan penulis 3. Orang bertauhid yang istikamah 4. Pentingnya memberi nasihat 5. Pelaku maksiat belum tentu kafir Pendahuluan penerjemahBismillah. Alhamdulillah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Tulisan berikut ini kami terjemahkan dari sebuah kitab yang berjudul “Masa’il Al-Imam Abdil Aziz Ibn Baz rahimahullah” yang disusun oleh Syekh Dr. Muhammad bin Abdil Aziz bin Sa’d bin Sa’id hafizhahullah. Buku ini diberi kata pengantar oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak dan Syekh Dr. Abdul Aziz bin Abdul Muhsin Al-‘Askar hafizhahumallah. Buku ini berisi komentar Syekh Ibnu Baz rahimahullah pada beberapa permasalahan agama. Komentar tersebut di antaranya berasal dari kajian-kajian beliau, tanya jawab, dan lain sebagainya. Komentar tersebut terkadang dalam bentuk perincian, penjelasan hukum terhadap sesuatu dan lain sebagainya yang disusun dalam bentuk poin per poin.Sebenarnya ada 31 bab permasalahan yang dibahas dalam kitab ini. Namun, untuk memudahkan dan agar tidak terlalu panjang. Kami akan menerjemahkannya satu per satu. Pada kitab asli, ketika menyebutkan hadis, maka penulis menyertakan sanad lengkap perawi hadis tersebut. Namun, pada terjemahan ini, kami akan menyingkatnya dengan hanya menyebutkan sahabat yang meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan harapan agar menjadi lebih sederhana bagi para pembaca. Pada terjemahan ini kami juga menambahkan judul pada setiap poinnya, dan judul tersebut tidak ada dalam kitab aslinya.Syekh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama besar di Arab Saudi yang juga pernah menjabat sebagai mufti Kerajaan Arab Saudi. Seorang alim, seorang zuhud, seorang ahli ibadah, dan seorang yang dermawan, semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan petunjuk kepada kita semua untuk melakukan apa yang Dia cintai dan Dia ridai.Baca Juga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Pendahuluan penulisAlhamdulillahi rabbil ‘alamin, selawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin orang beriman di hari kiamat, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga juga tercurah kepada keluarganya dan semua sahabatnya. Wa ba’du.Di antara bentuk mendekatkan diri kepada Allah adalah ketika seseorang sibuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk hamba Allah dalam urusan dunia dan akhirat mereka. Di antara bentuknya yang paling agung adalah menjelaskan ilmu syar’i kepada orang-orang yang membutuhkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ“Siapa saja yang Allah kehendaki kebaikan, Dia akan pahamkan orang tersebut dengan urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Karenanya, aku memohon pada Allah untuk memudahkanku dalam penulisan kitab ini yang aku ambil dari pengajian-pengajian bersama Syekh kami Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan juga dari pertemuanku dengan beliau. Aku lakukan ini dengan berharap pahala dan balasan dari Allah. Semoga Allah mejadikan apa yang aku tulis ini benar-benar ikhlas mengharap wajah-Nya yang mulia dan mendatangkan keridaan-Nya. Hanya Dialah yang bisa memberikan hal tersebut. Kepada Allah semata kita memohon pertolongan dan bersandar. Tidak ada daya dan upaya, melainkan hanya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. [Ditulis oleh hamba yang mengharapkan ampunan Rabbnya, Dr. Muhammad bin Abdul Aziz bin Sa’ad bin Sa’id, Malam selasa 16 Rabi’ul Awwal 1426 H]Orang bertauhid yang istikamahSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang akidah tauhid.Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang berkata ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Aku bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, Isa adalah hamba-Nya, anak hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya yang Dia berikan pada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya dan neraka itu benar adanya’, maka Allah akan memasukkannya ke surga dari delapan pintunya yang mana saja dia mau.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah berpendapat bahwa keutamaan ini akan didapatkan oleh orang yang tidak terus-menerus bermaksiat. Dia berusaha menyempurnakan tauhid dan senantiasa istikamah.”Baca Juga: Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidPentingnya memberi nasihatSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Agama adalah nasihat”.Dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mem-bai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk senantiasa menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat pada setiap muslim.” (HR. Muslim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan pentingnya memberikan nasihat, sampai-sampai ia dijadikan isi bai’at.”Pelaku maksiat belum tentu kafirSebuah hadis dibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang “Iman berkurang dengan maksiat”.Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang pezina ketika berzina tidak dalam keadaan beriman. Seorang pencuri ketika mencuri tidak dalam keadaan beriman. Seorang pemabuk ketika minum khamr tidak dalam keadaan beriman.”Kemudian Abu Hurairah juga menambahkan, “Seorang yang merampas sebuah barang berharga yang menyebabkan semua manusia melihatnya ketika dia melakukannya tidaklah dalam keadaan beriman.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ahlu sunnah wal jamaah berpendapat bahwa ini adalah sebuah ancaman. Seorang yang imannya sempurna tidak akan melakukan perkara-perkara ini. Dalam hadis ini pun terdapat bantahan bagi orang khawarij yang berpendapat bahwa pelaku maksiat itu kafir.”[Bersambung]Baca Juga:Catatan Ringan Seputar AqidahMengapa Kita Perlu Mempelajari Al-Aqidah Al-Wasithiyah?***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Pengertian Iman, Sangkakala Ditiup Berapa Kali, Wanita Idaman Menurut Islam, Lafaz Iqamah, AlzalzalahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid

Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama “Jika kamu hendak tidur, maka ucapkan: (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Alangkah eloknya jika seorang Muslim merenungkan makna doa ini sebelum tidur. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA)”Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Karena tidur adalah kematian kecil. “Allah yang mencabut jiwa pada saat kematiannya dan pada saat belum mati ketika dia tidur, maka Allah tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan mengembalikan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az-Zumar: 42) (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Allah Ta’ālā yang mematikan jiwa. Mungkin saja Allah wafatkan jiwa, sehingga takkan kembali lagi pada Anda. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya mengingat kematian ketika hendak tidur. Seolah-olah dia meletakkan sisi kanan badannya di liang kubur. Dengan demikian, ia menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ālā. Hal ini membuat orang akan senantiasa memperbaharui taubat nasuhanya kepada Allah Jalla wa ʿAlā di setiap malam. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu,” juga bermakna bahwa aku jadikan diri ini berserah diri dan tunduk kepada-Mu, serta rida dengan ketetapan-Mu, aku menyerahkan diriku pada-Mu, tanpa berkeberatan dengan syariat Allah, dan tanpa mengingkari takdir-Nya, hingga saat dia mencapai kesempurnaan penyerahan diri kepada-Nya, dia berkata, (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Di sini ada kesempurnaan penyerahan diri, ketundukan, dan keikhlasan kepada Allah. (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA)”Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” maknanya, aku menghadap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan berserah diri, rida, dan tunduk pada-Mu. Karena seseorang jika ingin menghadap pada sesuatu dan memberikan perhatian padanya, dia akan menghadapkan wajah padanya dan tidak akan berpaling darinya ke kanan atau ke kiri, begitulah saat Anda berdoa, “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, …” (QS. An-Nisa: 125) ====================================================================================================== إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ مَا أَجْمَلَ أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ نَوْمِهِ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ لِأَنَّ النَّوْمَ مَوْتٌ صُغْرَى اللهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ فَاللهُ تَعَالَى يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ مُمْكِنٌ أَنْ يَتَوَفَّاهُ لَا تَرْجِعُ إِلَيْكَ فَيَتَذَكَّرُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ نَوْمِهِ الْمَوْتَ وَكَأَنَّهُ قَدْ وَضَعَ جَنْبَهُ فِي قَبْرِهِ عَلَى شَقِّهِ الْأَيْمَنِ وَهَكَذَا يُسْلِمُ نَفْسَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَهَذَا يَجْعَلُ الْإِنْسَانَ يُجَدِّدُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ تَوْبَةً نَصُوحًا إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَذَلِكَ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ يَعْنِي جَعَلْتُهَا مُسْتَسْلِمَةً لَكَ طَائِعَةً لَكَ رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ بِلَا اعْتِرَاضٍ عَلَى شَرْعِ اللهِ وَلَا مُنَازَعَ لِقَدَرِ اللهِ ثُمَّ حَقَّقَ كَمَالَ الْاِسْتِسْلَامِ لِلهِ فَقَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ هَذَا فِيهِ كَمَالُ الْاِسْتِسْلَامِ وَالْخُضُوعُ لِلهِ وَالْإِخْلَاصُ لِلهِ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ يَعْنِي أَقْبَلْتُ عَلَيْكَ يَا رَبُّ مُسْتَسْلِمًا رَاضِيًا طَائِعًا وَالْإِنْسَانُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى شَيْءٍ وَيَعْتَنِي بِهِ يُقْبِلُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ عَنْهُ لَا يَمْنَةً وَلَا يَسْرَةً وَهَكَذَا تَقُولُ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ  

Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama “Jika kamu hendak tidur, maka ucapkan: (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Alangkah eloknya jika seorang Muslim merenungkan makna doa ini sebelum tidur. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA)”Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Karena tidur adalah kematian kecil. “Allah yang mencabut jiwa pada saat kematiannya dan pada saat belum mati ketika dia tidur, maka Allah tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan mengembalikan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az-Zumar: 42) (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Allah Ta’ālā yang mematikan jiwa. Mungkin saja Allah wafatkan jiwa, sehingga takkan kembali lagi pada Anda. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya mengingat kematian ketika hendak tidur. Seolah-olah dia meletakkan sisi kanan badannya di liang kubur. Dengan demikian, ia menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ālā. Hal ini membuat orang akan senantiasa memperbaharui taubat nasuhanya kepada Allah Jalla wa ʿAlā di setiap malam. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu,” juga bermakna bahwa aku jadikan diri ini berserah diri dan tunduk kepada-Mu, serta rida dengan ketetapan-Mu, aku menyerahkan diriku pada-Mu, tanpa berkeberatan dengan syariat Allah, dan tanpa mengingkari takdir-Nya, hingga saat dia mencapai kesempurnaan penyerahan diri kepada-Nya, dia berkata, (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Di sini ada kesempurnaan penyerahan diri, ketundukan, dan keikhlasan kepada Allah. (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA)”Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” maknanya, aku menghadap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan berserah diri, rida, dan tunduk pada-Mu. Karena seseorang jika ingin menghadap pada sesuatu dan memberikan perhatian padanya, dia akan menghadapkan wajah padanya dan tidak akan berpaling darinya ke kanan atau ke kiri, begitulah saat Anda berdoa, “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, …” (QS. An-Nisa: 125) ====================================================================================================== إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ مَا أَجْمَلَ أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ نَوْمِهِ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ لِأَنَّ النَّوْمَ مَوْتٌ صُغْرَى اللهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ فَاللهُ تَعَالَى يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ مُمْكِنٌ أَنْ يَتَوَفَّاهُ لَا تَرْجِعُ إِلَيْكَ فَيَتَذَكَّرُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ نَوْمِهِ الْمَوْتَ وَكَأَنَّهُ قَدْ وَضَعَ جَنْبَهُ فِي قَبْرِهِ عَلَى شَقِّهِ الْأَيْمَنِ وَهَكَذَا يُسْلِمُ نَفْسَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَهَذَا يَجْعَلُ الْإِنْسَانَ يُجَدِّدُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ تَوْبَةً نَصُوحًا إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَذَلِكَ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ يَعْنِي جَعَلْتُهَا مُسْتَسْلِمَةً لَكَ طَائِعَةً لَكَ رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ بِلَا اعْتِرَاضٍ عَلَى شَرْعِ اللهِ وَلَا مُنَازَعَ لِقَدَرِ اللهِ ثُمَّ حَقَّقَ كَمَالَ الْاِسْتِسْلَامِ لِلهِ فَقَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ هَذَا فِيهِ كَمَالُ الْاِسْتِسْلَامِ وَالْخُضُوعُ لِلهِ وَالْإِخْلَاصُ لِلهِ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ يَعْنِي أَقْبَلْتُ عَلَيْكَ يَا رَبُّ مُسْتَسْلِمًا رَاضِيًا طَائِعًا وَالْإِنْسَانُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى شَيْءٍ وَيَعْتَنِي بِهِ يُقْبِلُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ عَنْهُ لَا يَمْنَةً وَلَا يَسْرَةً وَهَكَذَا تَقُولُ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ  
Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama “Jika kamu hendak tidur, maka ucapkan: (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Alangkah eloknya jika seorang Muslim merenungkan makna doa ini sebelum tidur. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA)”Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Karena tidur adalah kematian kecil. “Allah yang mencabut jiwa pada saat kematiannya dan pada saat belum mati ketika dia tidur, maka Allah tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan mengembalikan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az-Zumar: 42) (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Allah Ta’ālā yang mematikan jiwa. Mungkin saja Allah wafatkan jiwa, sehingga takkan kembali lagi pada Anda. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya mengingat kematian ketika hendak tidur. Seolah-olah dia meletakkan sisi kanan badannya di liang kubur. Dengan demikian, ia menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ālā. Hal ini membuat orang akan senantiasa memperbaharui taubat nasuhanya kepada Allah Jalla wa ʿAlā di setiap malam. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu,” juga bermakna bahwa aku jadikan diri ini berserah diri dan tunduk kepada-Mu, serta rida dengan ketetapan-Mu, aku menyerahkan diriku pada-Mu, tanpa berkeberatan dengan syariat Allah, dan tanpa mengingkari takdir-Nya, hingga saat dia mencapai kesempurnaan penyerahan diri kepada-Nya, dia berkata, (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Di sini ada kesempurnaan penyerahan diri, ketundukan, dan keikhlasan kepada Allah. (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA)”Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” maknanya, aku menghadap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan berserah diri, rida, dan tunduk pada-Mu. Karena seseorang jika ingin menghadap pada sesuatu dan memberikan perhatian padanya, dia akan menghadapkan wajah padanya dan tidak akan berpaling darinya ke kanan atau ke kiri, begitulah saat Anda berdoa, “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, …” (QS. An-Nisa: 125) ====================================================================================================== إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ مَا أَجْمَلَ أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ نَوْمِهِ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ لِأَنَّ النَّوْمَ مَوْتٌ صُغْرَى اللهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ فَاللهُ تَعَالَى يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ مُمْكِنٌ أَنْ يَتَوَفَّاهُ لَا تَرْجِعُ إِلَيْكَ فَيَتَذَكَّرُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ نَوْمِهِ الْمَوْتَ وَكَأَنَّهُ قَدْ وَضَعَ جَنْبَهُ فِي قَبْرِهِ عَلَى شَقِّهِ الْأَيْمَنِ وَهَكَذَا يُسْلِمُ نَفْسَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَهَذَا يَجْعَلُ الْإِنْسَانَ يُجَدِّدُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ تَوْبَةً نَصُوحًا إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَذَلِكَ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ يَعْنِي جَعَلْتُهَا مُسْتَسْلِمَةً لَكَ طَائِعَةً لَكَ رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ بِلَا اعْتِرَاضٍ عَلَى شَرْعِ اللهِ وَلَا مُنَازَعَ لِقَدَرِ اللهِ ثُمَّ حَقَّقَ كَمَالَ الْاِسْتِسْلَامِ لِلهِ فَقَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ هَذَا فِيهِ كَمَالُ الْاِسْتِسْلَامِ وَالْخُضُوعُ لِلهِ وَالْإِخْلَاصُ لِلهِ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ يَعْنِي أَقْبَلْتُ عَلَيْكَ يَا رَبُّ مُسْتَسْلِمًا رَاضِيًا طَائِعًا وَالْإِنْسَانُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى شَيْءٍ وَيَعْتَنِي بِهِ يُقْبِلُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ عَنْهُ لَا يَمْنَةً وَلَا يَسْرَةً وَهَكَذَا تَقُولُ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ  


Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama “Jika kamu hendak tidur, maka ucapkan: (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Alangkah eloknya jika seorang Muslim merenungkan makna doa ini sebelum tidur. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA)”Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Karena tidur adalah kematian kecil. “Allah yang mencabut jiwa pada saat kematiannya dan pada saat belum mati ketika dia tidur, maka Allah tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan mengembalikan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az-Zumar: 42) (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Allah Ta’ālā yang mematikan jiwa. Mungkin saja Allah wafatkan jiwa, sehingga takkan kembali lagi pada Anda. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya mengingat kematian ketika hendak tidur. Seolah-olah dia meletakkan sisi kanan badannya di liang kubur. Dengan demikian, ia menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ālā. Hal ini membuat orang akan senantiasa memperbaharui taubat nasuhanya kepada Allah Jalla wa ʿAlā di setiap malam. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu,” juga bermakna bahwa aku jadikan diri ini berserah diri dan tunduk kepada-Mu, serta rida dengan ketetapan-Mu, aku menyerahkan diriku pada-Mu, tanpa berkeberatan dengan syariat Allah, dan tanpa mengingkari takdir-Nya, hingga saat dia mencapai kesempurnaan penyerahan diri kepada-Nya, dia berkata, (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Di sini ada kesempurnaan penyerahan diri, ketundukan, dan keikhlasan kepada Allah. (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA)”Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” maknanya, aku menghadap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan berserah diri, rida, dan tunduk pada-Mu. Karena seseorang jika ingin menghadap pada sesuatu dan memberikan perhatian padanya, dia akan menghadapkan wajah padanya dan tidak akan berpaling darinya ke kanan atau ke kiri, begitulah saat Anda berdoa, “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, …” (QS. An-Nisa: 125) ====================================================================================================== إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ مَا أَجْمَلَ أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ نَوْمِهِ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ لِأَنَّ النَّوْمَ مَوْتٌ صُغْرَى اللهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ فَاللهُ تَعَالَى يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ مُمْكِنٌ أَنْ يَتَوَفَّاهُ لَا تَرْجِعُ إِلَيْكَ فَيَتَذَكَّرُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ نَوْمِهِ الْمَوْتَ وَكَأَنَّهُ قَدْ وَضَعَ جَنْبَهُ فِي قَبْرِهِ عَلَى شَقِّهِ الْأَيْمَنِ وَهَكَذَا يُسْلِمُ نَفْسَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَهَذَا يَجْعَلُ الْإِنْسَانَ يُجَدِّدُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ تَوْبَةً نَصُوحًا إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا وَكَذَلِكَ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ يَعْنِي جَعَلْتُهَا مُسْتَسْلِمَةً لَكَ طَائِعَةً لَكَ رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ بِلَا اعْتِرَاضٍ عَلَى شَرْعِ اللهِ وَلَا مُنَازَعَ لِقَدَرِ اللهِ ثُمَّ حَقَّقَ كَمَالَ الْاِسْتِسْلَامِ لِلهِ فَقَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ هَذَا فِيهِ كَمَالُ الْاِسْتِسْلَامِ وَالْخُضُوعُ لِلهِ وَالْإِخْلَاصُ لِلهِ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ يَعْنِي أَقْبَلْتُ عَلَيْكَ يَا رَبُّ مُسْتَسْلِمًا رَاضِيًا طَائِعًا وَالْإِنْسَانُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى شَيْءٍ وَيَعْتَنِي بِهِ يُقْبِلُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ عَنْهُ لَا يَمْنَةً وَلَا يَسْرَةً وَهَكَذَا تَقُولُ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ  

Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Doa Qunut yang dibahas oleh Syaikh di video ini adalah Doa Qunut Witir. Wallahu a’lam. Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata, “Apa hukum mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut?” “Dan apa hukum melagukan dan memperpanjang bacaan Doa Qunut, apakah itu termasuk bid’ah?” Adapun mengangkat kedua tangan (ketika membaca Doa Qunut) hukumnya mustahab (dianjurkan). Mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut hukumnya mustahab (dianjurkan). Dan ini berdasarkan dua alasan: Alasan pertama, karena imam juga mengangkat kedua tangan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya adanya imam itu untuk diikuti.” Dan alasan kedua, karena itu doa yang disyariatkan, dan tidak ada perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya. Tidak ada hal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya, sehingga itu disyariatkan. Sedangkan hukum melagukan bacaan doa, dan mendendangkannya secara berlebihan, maka itu menyelisihi adab berdoa dan tidak sesuai sunnah. Maka dari itu, kami mohon kepada para imam salat, agar tidak membaca Doa Qunut seperti membaca al-Quran. Sebagian imam, ketika mereka membaca Doa Qunut, seperti membaca al-Quran; membaca ghunnahnya, membaca qalqalahnya, memanjangkan mad lazimnya, memanjangkan mad jaiznya, dan mad wajibnya, seakan-akan ia sedang membaca al-Quran dan mentartilkannya. Adab berdoa tidak seperti ini. Demikian juga dengan mendendangkan doa secara berlebihan. Dulu para Salaf melarang hal itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyukai berdendang saat berdoa. Sebagaimana yang dikatakan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dahulu mereka tidak menyukai hal itu, dan ini mencakup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. Sedangkan memperpanjang Doa Qunut, maka itu juga bukan termasuk adab saat membaca Doa Qunut. Para ulama telah menyebutkan, bahwa imam tidak disunnahkan untuk memperlama berdiri saat membaca Doa Qunut, melebihi lama berdirinya saat membaca bacaan al-Quran sebelumnya, karena sunnahnya, lamanya posisi setelah berdiri membaca al-Quran saat salat adalah sama, atau lebih cepat waktunya. Jika saat berdiri ia membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, maka sunnahnya, saat ia membaca Doa Qunut adalah menjadikan lama berdirinya untuk membaca Doa Qunut, sama seperti saat berdirinya untuk membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, atau lebih cepat dari itu. Dan inilah yang sesuai sunnah, selain itu, juga lebih meringankan makmum. Terlebih lagi, Doa Qunut dilakukan pada akhir salat, dan para makmum telah letih. Sehingga yang lebih meringankan makmum adalah dengan membaca Doa Qunut yang ringkas, namun maknanya menyeluruh, dan tidak memperpanjangnya. Demikian. ====================================================================================================== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ مَا حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ؟ وَكَذَلِكَ تَلْحِينِ الدُّعَاءِ وَالْإِطَالَةِ هَلْ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ؟ أَمَّا رَفْعُ الْيَدَيْنِ فَمُسْتَحَبٌّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الْقُنُوتِ مُسْتَحَبٌّ وَذَلِكَ لِوَجْهَيْنِ الْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ دُعَاءٌ مَشْرُوعٌ وَلَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ لَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ وَأَمَّا تَلْحِينُ الدُّعَاءِ وَسَجْعُهُ السَّجْعَ الْمُتَكَلَّفَ فَهُوَ يُنَافِي الْأَدَبَ وَخِلَافُ السُّنَّةِ وَلِذَلِكَ نَرْجُو مِنْ أَئِمَّتِنَا أَنْ لَا يَجْعَلُوا دُعَاءَ الْقُنُوتِ كَالْقُرْآنِ فَبَعْضُهُم يَتْلُو الدُّعَاءَ تِلَاوَةً يَغُنُّ وَيُقَلْقِلُ وَيَمُدُّ الْمَدَّ اللَّازِمَ وَالْمَدَّ الْجَائِزَ وَالْمَدَّ الْوَاجِبَ كَأَنَّهُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُرَتِّلُ هَذَا لَيْسَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَكَذَا السَّجْعُ الْمُتَكَلَّفُ فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَكَانَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ السَّجْعَ فِي الدُّعَاءِ كَمَا أَخْبَرَتْ أُمُّنَا عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَهَذَا يَشْمَلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا الْإِطَالَةُ فَلَيْسَتْ مِنَ الْآدَابِ أَيْضًا لَيْسَتْ مِنْ آدَابِ دُعَاءِ الْقُنُوتِ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يُطِيلَ الْوُقُوفَ فِي الْقُنُوتِ أَطْوَلَ مِنْ وُقُوفِهِ فِي الْقِرَاءَةِ قَبْلَهُ لِأَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ مَا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ يَكُونُ مُسَاوِيْهَا أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا فَإِذَا كَانَ وَقَفَ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ الْمُسْتَحَبُّ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ أَنْ يَجْعَلَ وُقُوفَهُ لِدُعَاءِ الْقُنُوتِ كَوُقُوفِهِ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَهَذَا الَّذِي يُوَافِقُ السُّنَّةَ وَهُوَ أَرْفَقُ بِالنَّاسِ وَلَا سِيَّمَا أَنَّ دُعَاءَ الْقُنُوتِ يَقَعُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ وَالنَّاسُ قَدْ تَعِبُوا فَالْأَرْفَقُ أَنْ يُؤْتَى بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ فِي الدُّعَاءِ وَأَنْ لَا يُطَالَ فِيهِ نَعَم  

Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Doa Qunut yang dibahas oleh Syaikh di video ini adalah Doa Qunut Witir. Wallahu a’lam. Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata, “Apa hukum mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut?” “Dan apa hukum melagukan dan memperpanjang bacaan Doa Qunut, apakah itu termasuk bid’ah?” Adapun mengangkat kedua tangan (ketika membaca Doa Qunut) hukumnya mustahab (dianjurkan). Mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut hukumnya mustahab (dianjurkan). Dan ini berdasarkan dua alasan: Alasan pertama, karena imam juga mengangkat kedua tangan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya adanya imam itu untuk diikuti.” Dan alasan kedua, karena itu doa yang disyariatkan, dan tidak ada perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya. Tidak ada hal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya, sehingga itu disyariatkan. Sedangkan hukum melagukan bacaan doa, dan mendendangkannya secara berlebihan, maka itu menyelisihi adab berdoa dan tidak sesuai sunnah. Maka dari itu, kami mohon kepada para imam salat, agar tidak membaca Doa Qunut seperti membaca al-Quran. Sebagian imam, ketika mereka membaca Doa Qunut, seperti membaca al-Quran; membaca ghunnahnya, membaca qalqalahnya, memanjangkan mad lazimnya, memanjangkan mad jaiznya, dan mad wajibnya, seakan-akan ia sedang membaca al-Quran dan mentartilkannya. Adab berdoa tidak seperti ini. Demikian juga dengan mendendangkan doa secara berlebihan. Dulu para Salaf melarang hal itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyukai berdendang saat berdoa. Sebagaimana yang dikatakan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dahulu mereka tidak menyukai hal itu, dan ini mencakup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. Sedangkan memperpanjang Doa Qunut, maka itu juga bukan termasuk adab saat membaca Doa Qunut. Para ulama telah menyebutkan, bahwa imam tidak disunnahkan untuk memperlama berdiri saat membaca Doa Qunut, melebihi lama berdirinya saat membaca bacaan al-Quran sebelumnya, karena sunnahnya, lamanya posisi setelah berdiri membaca al-Quran saat salat adalah sama, atau lebih cepat waktunya. Jika saat berdiri ia membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, maka sunnahnya, saat ia membaca Doa Qunut adalah menjadikan lama berdirinya untuk membaca Doa Qunut, sama seperti saat berdirinya untuk membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, atau lebih cepat dari itu. Dan inilah yang sesuai sunnah, selain itu, juga lebih meringankan makmum. Terlebih lagi, Doa Qunut dilakukan pada akhir salat, dan para makmum telah letih. Sehingga yang lebih meringankan makmum adalah dengan membaca Doa Qunut yang ringkas, namun maknanya menyeluruh, dan tidak memperpanjangnya. Demikian. ====================================================================================================== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ مَا حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ؟ وَكَذَلِكَ تَلْحِينِ الدُّعَاءِ وَالْإِطَالَةِ هَلْ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ؟ أَمَّا رَفْعُ الْيَدَيْنِ فَمُسْتَحَبٌّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الْقُنُوتِ مُسْتَحَبٌّ وَذَلِكَ لِوَجْهَيْنِ الْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ دُعَاءٌ مَشْرُوعٌ وَلَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ لَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ وَأَمَّا تَلْحِينُ الدُّعَاءِ وَسَجْعُهُ السَّجْعَ الْمُتَكَلَّفَ فَهُوَ يُنَافِي الْأَدَبَ وَخِلَافُ السُّنَّةِ وَلِذَلِكَ نَرْجُو مِنْ أَئِمَّتِنَا أَنْ لَا يَجْعَلُوا دُعَاءَ الْقُنُوتِ كَالْقُرْآنِ فَبَعْضُهُم يَتْلُو الدُّعَاءَ تِلَاوَةً يَغُنُّ وَيُقَلْقِلُ وَيَمُدُّ الْمَدَّ اللَّازِمَ وَالْمَدَّ الْجَائِزَ وَالْمَدَّ الْوَاجِبَ كَأَنَّهُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُرَتِّلُ هَذَا لَيْسَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَكَذَا السَّجْعُ الْمُتَكَلَّفُ فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَكَانَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ السَّجْعَ فِي الدُّعَاءِ كَمَا أَخْبَرَتْ أُمُّنَا عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَهَذَا يَشْمَلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا الْإِطَالَةُ فَلَيْسَتْ مِنَ الْآدَابِ أَيْضًا لَيْسَتْ مِنْ آدَابِ دُعَاءِ الْقُنُوتِ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يُطِيلَ الْوُقُوفَ فِي الْقُنُوتِ أَطْوَلَ مِنْ وُقُوفِهِ فِي الْقِرَاءَةِ قَبْلَهُ لِأَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ مَا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ يَكُونُ مُسَاوِيْهَا أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا فَإِذَا كَانَ وَقَفَ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ الْمُسْتَحَبُّ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ أَنْ يَجْعَلَ وُقُوفَهُ لِدُعَاءِ الْقُنُوتِ كَوُقُوفِهِ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَهَذَا الَّذِي يُوَافِقُ السُّنَّةَ وَهُوَ أَرْفَقُ بِالنَّاسِ وَلَا سِيَّمَا أَنَّ دُعَاءَ الْقُنُوتِ يَقَعُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ وَالنَّاسُ قَدْ تَعِبُوا فَالْأَرْفَقُ أَنْ يُؤْتَى بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ فِي الدُّعَاءِ وَأَنْ لَا يُطَالَ فِيهِ نَعَم  
Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Doa Qunut yang dibahas oleh Syaikh di video ini adalah Doa Qunut Witir. Wallahu a’lam. Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata, “Apa hukum mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut?” “Dan apa hukum melagukan dan memperpanjang bacaan Doa Qunut, apakah itu termasuk bid’ah?” Adapun mengangkat kedua tangan (ketika membaca Doa Qunut) hukumnya mustahab (dianjurkan). Mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut hukumnya mustahab (dianjurkan). Dan ini berdasarkan dua alasan: Alasan pertama, karena imam juga mengangkat kedua tangan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya adanya imam itu untuk diikuti.” Dan alasan kedua, karena itu doa yang disyariatkan, dan tidak ada perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya. Tidak ada hal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya, sehingga itu disyariatkan. Sedangkan hukum melagukan bacaan doa, dan mendendangkannya secara berlebihan, maka itu menyelisihi adab berdoa dan tidak sesuai sunnah. Maka dari itu, kami mohon kepada para imam salat, agar tidak membaca Doa Qunut seperti membaca al-Quran. Sebagian imam, ketika mereka membaca Doa Qunut, seperti membaca al-Quran; membaca ghunnahnya, membaca qalqalahnya, memanjangkan mad lazimnya, memanjangkan mad jaiznya, dan mad wajibnya, seakan-akan ia sedang membaca al-Quran dan mentartilkannya. Adab berdoa tidak seperti ini. Demikian juga dengan mendendangkan doa secara berlebihan. Dulu para Salaf melarang hal itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyukai berdendang saat berdoa. Sebagaimana yang dikatakan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dahulu mereka tidak menyukai hal itu, dan ini mencakup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. Sedangkan memperpanjang Doa Qunut, maka itu juga bukan termasuk adab saat membaca Doa Qunut. Para ulama telah menyebutkan, bahwa imam tidak disunnahkan untuk memperlama berdiri saat membaca Doa Qunut, melebihi lama berdirinya saat membaca bacaan al-Quran sebelumnya, karena sunnahnya, lamanya posisi setelah berdiri membaca al-Quran saat salat adalah sama, atau lebih cepat waktunya. Jika saat berdiri ia membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, maka sunnahnya, saat ia membaca Doa Qunut adalah menjadikan lama berdirinya untuk membaca Doa Qunut, sama seperti saat berdirinya untuk membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, atau lebih cepat dari itu. Dan inilah yang sesuai sunnah, selain itu, juga lebih meringankan makmum. Terlebih lagi, Doa Qunut dilakukan pada akhir salat, dan para makmum telah letih. Sehingga yang lebih meringankan makmum adalah dengan membaca Doa Qunut yang ringkas, namun maknanya menyeluruh, dan tidak memperpanjangnya. Demikian. ====================================================================================================== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ مَا حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ؟ وَكَذَلِكَ تَلْحِينِ الدُّعَاءِ وَالْإِطَالَةِ هَلْ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ؟ أَمَّا رَفْعُ الْيَدَيْنِ فَمُسْتَحَبٌّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الْقُنُوتِ مُسْتَحَبٌّ وَذَلِكَ لِوَجْهَيْنِ الْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ دُعَاءٌ مَشْرُوعٌ وَلَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ لَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ وَأَمَّا تَلْحِينُ الدُّعَاءِ وَسَجْعُهُ السَّجْعَ الْمُتَكَلَّفَ فَهُوَ يُنَافِي الْأَدَبَ وَخِلَافُ السُّنَّةِ وَلِذَلِكَ نَرْجُو مِنْ أَئِمَّتِنَا أَنْ لَا يَجْعَلُوا دُعَاءَ الْقُنُوتِ كَالْقُرْآنِ فَبَعْضُهُم يَتْلُو الدُّعَاءَ تِلَاوَةً يَغُنُّ وَيُقَلْقِلُ وَيَمُدُّ الْمَدَّ اللَّازِمَ وَالْمَدَّ الْجَائِزَ وَالْمَدَّ الْوَاجِبَ كَأَنَّهُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُرَتِّلُ هَذَا لَيْسَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَكَذَا السَّجْعُ الْمُتَكَلَّفُ فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَكَانَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ السَّجْعَ فِي الدُّعَاءِ كَمَا أَخْبَرَتْ أُمُّنَا عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَهَذَا يَشْمَلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا الْإِطَالَةُ فَلَيْسَتْ مِنَ الْآدَابِ أَيْضًا لَيْسَتْ مِنْ آدَابِ دُعَاءِ الْقُنُوتِ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يُطِيلَ الْوُقُوفَ فِي الْقُنُوتِ أَطْوَلَ مِنْ وُقُوفِهِ فِي الْقِرَاءَةِ قَبْلَهُ لِأَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ مَا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ يَكُونُ مُسَاوِيْهَا أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا فَإِذَا كَانَ وَقَفَ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ الْمُسْتَحَبُّ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ أَنْ يَجْعَلَ وُقُوفَهُ لِدُعَاءِ الْقُنُوتِ كَوُقُوفِهِ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَهَذَا الَّذِي يُوَافِقُ السُّنَّةَ وَهُوَ أَرْفَقُ بِالنَّاسِ وَلَا سِيَّمَا أَنَّ دُعَاءَ الْقُنُوتِ يَقَعُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ وَالنَّاسُ قَدْ تَعِبُوا فَالْأَرْفَقُ أَنْ يُؤْتَى بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ فِي الدُّعَاءِ وَأَنْ لَا يُطَالَ فِيهِ نَعَم  


Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau Belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Doa Qunut yang dibahas oleh Syaikh di video ini adalah Doa Qunut Witir. Wallahu a’lam. Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata, “Apa hukum mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut?” “Dan apa hukum melagukan dan memperpanjang bacaan Doa Qunut, apakah itu termasuk bid’ah?” Adapun mengangkat kedua tangan (ketika membaca Doa Qunut) hukumnya mustahab (dianjurkan). Mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut hukumnya mustahab (dianjurkan). Dan ini berdasarkan dua alasan: Alasan pertama, karena imam juga mengangkat kedua tangan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya adanya imam itu untuk diikuti.” Dan alasan kedua, karena itu doa yang disyariatkan, dan tidak ada perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya. Tidak ada hal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya, sehingga itu disyariatkan. Sedangkan hukum melagukan bacaan doa, dan mendendangkannya secara berlebihan, maka itu menyelisihi adab berdoa dan tidak sesuai sunnah. Maka dari itu, kami mohon kepada para imam salat, agar tidak membaca Doa Qunut seperti membaca al-Quran. Sebagian imam, ketika mereka membaca Doa Qunut, seperti membaca al-Quran; membaca ghunnahnya, membaca qalqalahnya, memanjangkan mad lazimnya, memanjangkan mad jaiznya, dan mad wajibnya, seakan-akan ia sedang membaca al-Quran dan mentartilkannya. Adab berdoa tidak seperti ini. Demikian juga dengan mendendangkan doa secara berlebihan. Dulu para Salaf melarang hal itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyukai berdendang saat berdoa. Sebagaimana yang dikatakan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dahulu mereka tidak menyukai hal itu, dan ini mencakup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga. Sedangkan memperpanjang Doa Qunut, maka itu juga bukan termasuk adab saat membaca Doa Qunut. Para ulama telah menyebutkan, bahwa imam tidak disunnahkan untuk memperlama berdiri saat membaca Doa Qunut, melebihi lama berdirinya saat membaca bacaan al-Quran sebelumnya, karena sunnahnya, lamanya posisi setelah berdiri membaca al-Quran saat salat adalah sama, atau lebih cepat waktunya. Jika saat berdiri ia membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, maka sunnahnya, saat ia membaca Doa Qunut adalah menjadikan lama berdirinya untuk membaca Doa Qunut, sama seperti saat berdirinya untuk membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, atau lebih cepat dari itu. Dan inilah yang sesuai sunnah, selain itu, juga lebih meringankan makmum. Terlebih lagi, Doa Qunut dilakukan pada akhir salat, dan para makmum telah letih. Sehingga yang lebih meringankan makmum adalah dengan membaca Doa Qunut yang ringkas, namun maknanya menyeluruh, dan tidak memperpanjangnya. Demikian. ====================================================================================================== أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ مَا حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ؟ وَكَذَلِكَ تَلْحِينِ الدُّعَاءِ وَالْإِطَالَةِ هَلْ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ؟ أَمَّا رَفْعُ الْيَدَيْنِ فَمُسْتَحَبٌّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الْقُنُوتِ مُسْتَحَبٌّ وَذَلِكَ لِوَجْهَيْنِ الْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ دُعَاءٌ مَشْرُوعٌ وَلَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ لَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ وَأَمَّا تَلْحِينُ الدُّعَاءِ وَسَجْعُهُ السَّجْعَ الْمُتَكَلَّفَ فَهُوَ يُنَافِي الْأَدَبَ وَخِلَافُ السُّنَّةِ وَلِذَلِكَ نَرْجُو مِنْ أَئِمَّتِنَا أَنْ لَا يَجْعَلُوا دُعَاءَ الْقُنُوتِ كَالْقُرْآنِ فَبَعْضُهُم يَتْلُو الدُّعَاءَ تِلَاوَةً يَغُنُّ وَيُقَلْقِلُ وَيَمُدُّ الْمَدَّ اللَّازِمَ وَالْمَدَّ الْجَائِزَ وَالْمَدَّ الْوَاجِبَ كَأَنَّهُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُرَتِّلُ هَذَا لَيْسَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ وَكَذَا السَّجْعُ الْمُتَكَلَّفُ فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَكَانَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ السَّجْعَ فِي الدُّعَاءِ كَمَا أَخْبَرَتْ أُمُّنَا عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَهَذَا يَشْمَلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا الْإِطَالَةُ فَلَيْسَتْ مِنَ الْآدَابِ أَيْضًا لَيْسَتْ مِنْ آدَابِ دُعَاءِ الْقُنُوتِ وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يُطِيلَ الْوُقُوفَ فِي الْقُنُوتِ أَطْوَلَ مِنْ وُقُوفِهِ فِي الْقِرَاءَةِ قَبْلَهُ لِأَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ مَا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ يَكُونُ مُسَاوِيْهَا أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا فَإِذَا كَانَ وَقَفَ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ الْمُسْتَحَبُّ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ أَنْ يَجْعَلَ وُقُوفَهُ لِدُعَاءِ الْقُنُوتِ كَوُقُوفِهِ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَهَذَا الَّذِي يُوَافِقُ السُّنَّةَ وَهُوَ أَرْفَقُ بِالنَّاسِ وَلَا سِيَّمَا أَنَّ دُعَاءَ الْقُنُوتِ يَقَعُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ وَالنَّاسُ قَدْ تَعِبُوا فَالْأَرْفَقُ أَنْ يُؤْتَى بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ فِي الدُّعَاءِ وَأَنْ لَا يُطَالَ فِيهِ نَعَم  

Hukum Onani Membayangkan Istri Sendiri karena Sedang Berjauhan

Sebelumnya perlu diketahui bahwa hukum melakukan onani (masturbasi) adalah haram. Dalam istilah syariat, onani disebut dengan “istimna’” (الاستمناء )”. Onani diharamkan karena syahwat seksual hanya boleh disalurkan melalui istri yang sah atau budak wanita yang dimiliki.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa tidak boleh melakukan onani (masturbasi). Beliau rahimahullah berkata,فكان بيّناً في ذكر حفظهم لفروجهم إلا على أزواجهم أو ما ملكت  أيمانهم  تحريم ما سوى الأزواج  وما ملكت الأيمان .. ثم أكّدها فقال : ( فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون ) . فلا يحل العمل بالذكر إلا في الزوجة أو في ملك اليمين ولا يحل الاستمناء والله أعلم“Telah jelas bahwa penyebutan ‘menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak wanita yang mereka miliki’ menunjukkan keharaman (menyalurkan syahwat) selain terhadap istri dan budak. Kemudian dipertegas dengan firman Allah, ‘Barangsiapa yang mencari selain itu, maka mereka termasuk orang-orang yang melampui batas’. Maka, tidak boleh bernikmat-nikmat dengan kemaluannya, kecuali terhadap istri atau budak wanita dan tidak boleh ‘istimna’ (onani atau masturbasi).” (Kitabul Umm, 5: 101)Baca Juga: Hukum Onani Menggunakan Tangan IstriApabila suami berjauhan dengan istrinya, semisal sedang safar yang lama atau memang sedang bekerja atau sekolah di luar negeri dalam waktu yang lama, apakah boleh bagi suami atau istri melakukan onani? Misalnya, membayangkan istri sendiri atau video call?Beberapa ulama menjelaskan hukumnya tetap haram secara mutlak, sedangkan ulama yang lain menyatakan boleh apabila benar-benar darurat dan sangat dikhawatirkan terjatuh ke dalam zina hakiki (ingat benar-benar darurat dan bukan sekedar hobi atau kebiasaan).Berikut penjelasan ringkas berbagai mazhab dari fatwa Syabakah Islamiyyah binaan Syekh Abdullah Al-Faqih,فالمالكية، والشافعية يقولون بتحريمها. …….من مذهب الحنفية، فإنهم لم يبيحوا هذه العادة، وإنما إذا اضطر إليها، وخشي الوقوع في الزنى، فإنه يرتكب أخف الضررين.ثم إن الفاعل إذا كان يقصد بفعله تحصيل اللذة، فلا شك أنه يفعل الحرام، وربما كان أكثر من يفعلون العادة السيئة يفعلونها؛ من أجل تحصيل اللذة، أو التسلية، فهم غير مضطرين إليها…أما مذهب الحنابلة، فقد نصوا على أن الاستمناء محرم، وأن صاحبه يستحق التعزير، وأنه لا يباح، إلا عند الضرورة، وقد سبق بيان حد الضرورة.“Mazhab Malikiyah dan Syafi’iyyah menetapkan haramnya hal ini … Mazhab Hanafiyyah tidak membolehkan hal ini, kecuali dalam keadaan darurat dan khawatir terjerumus ke dalam zina, maka ia memilih bahaya (kerusakan) yang paling ringan di antara dua pilihan. Pelakunya juga tidak bermaksud untuk mencari kelezatan (jika terpaksa onani), karena tidak diragukan lagi bahwa ia melakukan keharaman. Bisa jadi orang yang melakukan onani itu hanya ingin mendapatkan kelezatan dan kesenangan, padahal tidak terpaksa. Adapun mazhab Hanabilah menegaskan haramnya onani, pelakunya harus dihukum ta’zir. Tidak diperbolehkan, kecuali ketika darurat dan telah dijelaskan definisi darurat.” (Fatwa Syabakiyah Islamiyyah no. 7170)Ulama besar di zaman ini, Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, ditanya oleh seseorang yang berjauhan dengan istrinya (LDR), apakah diperbolehkan onani. Maka Syekh rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya tetap tidak diperbolehkan karena masih terdapat solusi lainnya. Beliau rahimahullah menjelaskan,ولا يجوز تعاطيها للمؤمن، وفي إمكانك أن تأتي بزوجتك معك، تطلب مجيئها إذا تيسر ذلك أو تسافر إليها بين وقت وآخر، تأخذ إذن من صاحبك أو تشرط على من تعاقدت معه ذلك حتى تذهب إلى زوجتك في أثناء السنة أو تستعين بالله ثم بالصوم أو تتزوج زوجة ثانية في محل عملك“Tidak boleh bagi seorang muslim melakukannya. Jika memungkinkan, Engkau safar ke negeri perantauan bersama istrimu atau minta istrimu datang jika memungkinkan atau Engkau pulang menemui istrimu. Engkau juga bisa minta izin pulang atau mempersyaratkan (di tempat kerja) agar bisa pulang menemui istri di tengah tahun. Minta pertolongan kepada Allah dengan berpuasa atau menikah yang kedua di tempat perantauanmu.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7719)Baca Juga: Hukum Memperbesar Alat VitalKesimpulanPertama, Onani dan masturbasi hukumnya haram.Kedua, Suami-istri yang berjauhan atau LDR tetap haram hukumnya onani (masturbasi), meskipun membayangkan pasangan sendiri atau melalui video call.Ketiga, Memang ada ulama yang memfatwakan boleh jika darurat dan khawatir terjatuh dalam perzinaan. Akan tetapi, penerapan darurat tidak semudah itu karena yang namanya darurat adalah satu-satunya jalan dan benar-benar sudah hampir nyata khawatir terjatuh dalam perzinaan.Keempat, Belum bisa dikatakan darurat apabila masih ada jalan dan solusi lainnya, semisal berpuasa, menyibukkan diri dengan kesibukan positif, menghindari terus-menerus sendiri, atau berupaya menemui istri (pulang) dalam jangka waktu tertentu.Keluma, Dalih darurat juga akan membuka pintu maksiat di mana tujuannya sudah bukan lagi darurat, akan tetapi hobi dan berlezat-lezat dengan perkara yang haram.Keenam, Darurat benar-benar jalan terakhir apabila semua syaratnya terpenuhi sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Oral SeksUntuk Para Istri, Jangan Ingkari Kebaikan Suami***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Ghibah Adalah, Hadist Tentang Dosa Besar, Hasbunallah Wanimal Wakil, Hadits Tentang Putus AsaTags: dosafatwaFatwa Ulamahubungan intimhukum masturbasihukum onanikewajiban istrimasturbasionanipernikahanrumah tanggasuami istrizina

Hukum Onani Membayangkan Istri Sendiri karena Sedang Berjauhan

Sebelumnya perlu diketahui bahwa hukum melakukan onani (masturbasi) adalah haram. Dalam istilah syariat, onani disebut dengan “istimna’” (الاستمناء )”. Onani diharamkan karena syahwat seksual hanya boleh disalurkan melalui istri yang sah atau budak wanita yang dimiliki.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa tidak boleh melakukan onani (masturbasi). Beliau rahimahullah berkata,فكان بيّناً في ذكر حفظهم لفروجهم إلا على أزواجهم أو ما ملكت  أيمانهم  تحريم ما سوى الأزواج  وما ملكت الأيمان .. ثم أكّدها فقال : ( فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون ) . فلا يحل العمل بالذكر إلا في الزوجة أو في ملك اليمين ولا يحل الاستمناء والله أعلم“Telah jelas bahwa penyebutan ‘menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak wanita yang mereka miliki’ menunjukkan keharaman (menyalurkan syahwat) selain terhadap istri dan budak. Kemudian dipertegas dengan firman Allah, ‘Barangsiapa yang mencari selain itu, maka mereka termasuk orang-orang yang melampui batas’. Maka, tidak boleh bernikmat-nikmat dengan kemaluannya, kecuali terhadap istri atau budak wanita dan tidak boleh ‘istimna’ (onani atau masturbasi).” (Kitabul Umm, 5: 101)Baca Juga: Hukum Onani Menggunakan Tangan IstriApabila suami berjauhan dengan istrinya, semisal sedang safar yang lama atau memang sedang bekerja atau sekolah di luar negeri dalam waktu yang lama, apakah boleh bagi suami atau istri melakukan onani? Misalnya, membayangkan istri sendiri atau video call?Beberapa ulama menjelaskan hukumnya tetap haram secara mutlak, sedangkan ulama yang lain menyatakan boleh apabila benar-benar darurat dan sangat dikhawatirkan terjatuh ke dalam zina hakiki (ingat benar-benar darurat dan bukan sekedar hobi atau kebiasaan).Berikut penjelasan ringkas berbagai mazhab dari fatwa Syabakah Islamiyyah binaan Syekh Abdullah Al-Faqih,فالمالكية، والشافعية يقولون بتحريمها. …….من مذهب الحنفية، فإنهم لم يبيحوا هذه العادة، وإنما إذا اضطر إليها، وخشي الوقوع في الزنى، فإنه يرتكب أخف الضررين.ثم إن الفاعل إذا كان يقصد بفعله تحصيل اللذة، فلا شك أنه يفعل الحرام، وربما كان أكثر من يفعلون العادة السيئة يفعلونها؛ من أجل تحصيل اللذة، أو التسلية، فهم غير مضطرين إليها…أما مذهب الحنابلة، فقد نصوا على أن الاستمناء محرم، وأن صاحبه يستحق التعزير، وأنه لا يباح، إلا عند الضرورة، وقد سبق بيان حد الضرورة.“Mazhab Malikiyah dan Syafi’iyyah menetapkan haramnya hal ini … Mazhab Hanafiyyah tidak membolehkan hal ini, kecuali dalam keadaan darurat dan khawatir terjerumus ke dalam zina, maka ia memilih bahaya (kerusakan) yang paling ringan di antara dua pilihan. Pelakunya juga tidak bermaksud untuk mencari kelezatan (jika terpaksa onani), karena tidak diragukan lagi bahwa ia melakukan keharaman. Bisa jadi orang yang melakukan onani itu hanya ingin mendapatkan kelezatan dan kesenangan, padahal tidak terpaksa. Adapun mazhab Hanabilah menegaskan haramnya onani, pelakunya harus dihukum ta’zir. Tidak diperbolehkan, kecuali ketika darurat dan telah dijelaskan definisi darurat.” (Fatwa Syabakiyah Islamiyyah no. 7170)Ulama besar di zaman ini, Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, ditanya oleh seseorang yang berjauhan dengan istrinya (LDR), apakah diperbolehkan onani. Maka Syekh rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya tetap tidak diperbolehkan karena masih terdapat solusi lainnya. Beliau rahimahullah menjelaskan,ولا يجوز تعاطيها للمؤمن، وفي إمكانك أن تأتي بزوجتك معك، تطلب مجيئها إذا تيسر ذلك أو تسافر إليها بين وقت وآخر، تأخذ إذن من صاحبك أو تشرط على من تعاقدت معه ذلك حتى تذهب إلى زوجتك في أثناء السنة أو تستعين بالله ثم بالصوم أو تتزوج زوجة ثانية في محل عملك“Tidak boleh bagi seorang muslim melakukannya. Jika memungkinkan, Engkau safar ke negeri perantauan bersama istrimu atau minta istrimu datang jika memungkinkan atau Engkau pulang menemui istrimu. Engkau juga bisa minta izin pulang atau mempersyaratkan (di tempat kerja) agar bisa pulang menemui istri di tengah tahun. Minta pertolongan kepada Allah dengan berpuasa atau menikah yang kedua di tempat perantauanmu.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7719)Baca Juga: Hukum Memperbesar Alat VitalKesimpulanPertama, Onani dan masturbasi hukumnya haram.Kedua, Suami-istri yang berjauhan atau LDR tetap haram hukumnya onani (masturbasi), meskipun membayangkan pasangan sendiri atau melalui video call.Ketiga, Memang ada ulama yang memfatwakan boleh jika darurat dan khawatir terjatuh dalam perzinaan. Akan tetapi, penerapan darurat tidak semudah itu karena yang namanya darurat adalah satu-satunya jalan dan benar-benar sudah hampir nyata khawatir terjatuh dalam perzinaan.Keempat, Belum bisa dikatakan darurat apabila masih ada jalan dan solusi lainnya, semisal berpuasa, menyibukkan diri dengan kesibukan positif, menghindari terus-menerus sendiri, atau berupaya menemui istri (pulang) dalam jangka waktu tertentu.Keluma, Dalih darurat juga akan membuka pintu maksiat di mana tujuannya sudah bukan lagi darurat, akan tetapi hobi dan berlezat-lezat dengan perkara yang haram.Keenam, Darurat benar-benar jalan terakhir apabila semua syaratnya terpenuhi sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Oral SeksUntuk Para Istri, Jangan Ingkari Kebaikan Suami***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Ghibah Adalah, Hadist Tentang Dosa Besar, Hasbunallah Wanimal Wakil, Hadits Tentang Putus AsaTags: dosafatwaFatwa Ulamahubungan intimhukum masturbasihukum onanikewajiban istrimasturbasionanipernikahanrumah tanggasuami istrizina
Sebelumnya perlu diketahui bahwa hukum melakukan onani (masturbasi) adalah haram. Dalam istilah syariat, onani disebut dengan “istimna’” (الاستمناء )”. Onani diharamkan karena syahwat seksual hanya boleh disalurkan melalui istri yang sah atau budak wanita yang dimiliki.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa tidak boleh melakukan onani (masturbasi). Beliau rahimahullah berkata,فكان بيّناً في ذكر حفظهم لفروجهم إلا على أزواجهم أو ما ملكت  أيمانهم  تحريم ما سوى الأزواج  وما ملكت الأيمان .. ثم أكّدها فقال : ( فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون ) . فلا يحل العمل بالذكر إلا في الزوجة أو في ملك اليمين ولا يحل الاستمناء والله أعلم“Telah jelas bahwa penyebutan ‘menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak wanita yang mereka miliki’ menunjukkan keharaman (menyalurkan syahwat) selain terhadap istri dan budak. Kemudian dipertegas dengan firman Allah, ‘Barangsiapa yang mencari selain itu, maka mereka termasuk orang-orang yang melampui batas’. Maka, tidak boleh bernikmat-nikmat dengan kemaluannya, kecuali terhadap istri atau budak wanita dan tidak boleh ‘istimna’ (onani atau masturbasi).” (Kitabul Umm, 5: 101)Baca Juga: Hukum Onani Menggunakan Tangan IstriApabila suami berjauhan dengan istrinya, semisal sedang safar yang lama atau memang sedang bekerja atau sekolah di luar negeri dalam waktu yang lama, apakah boleh bagi suami atau istri melakukan onani? Misalnya, membayangkan istri sendiri atau video call?Beberapa ulama menjelaskan hukumnya tetap haram secara mutlak, sedangkan ulama yang lain menyatakan boleh apabila benar-benar darurat dan sangat dikhawatirkan terjatuh ke dalam zina hakiki (ingat benar-benar darurat dan bukan sekedar hobi atau kebiasaan).Berikut penjelasan ringkas berbagai mazhab dari fatwa Syabakah Islamiyyah binaan Syekh Abdullah Al-Faqih,فالمالكية، والشافعية يقولون بتحريمها. …….من مذهب الحنفية، فإنهم لم يبيحوا هذه العادة، وإنما إذا اضطر إليها، وخشي الوقوع في الزنى، فإنه يرتكب أخف الضررين.ثم إن الفاعل إذا كان يقصد بفعله تحصيل اللذة، فلا شك أنه يفعل الحرام، وربما كان أكثر من يفعلون العادة السيئة يفعلونها؛ من أجل تحصيل اللذة، أو التسلية، فهم غير مضطرين إليها…أما مذهب الحنابلة، فقد نصوا على أن الاستمناء محرم، وأن صاحبه يستحق التعزير، وأنه لا يباح، إلا عند الضرورة، وقد سبق بيان حد الضرورة.“Mazhab Malikiyah dan Syafi’iyyah menetapkan haramnya hal ini … Mazhab Hanafiyyah tidak membolehkan hal ini, kecuali dalam keadaan darurat dan khawatir terjerumus ke dalam zina, maka ia memilih bahaya (kerusakan) yang paling ringan di antara dua pilihan. Pelakunya juga tidak bermaksud untuk mencari kelezatan (jika terpaksa onani), karena tidak diragukan lagi bahwa ia melakukan keharaman. Bisa jadi orang yang melakukan onani itu hanya ingin mendapatkan kelezatan dan kesenangan, padahal tidak terpaksa. Adapun mazhab Hanabilah menegaskan haramnya onani, pelakunya harus dihukum ta’zir. Tidak diperbolehkan, kecuali ketika darurat dan telah dijelaskan definisi darurat.” (Fatwa Syabakiyah Islamiyyah no. 7170)Ulama besar di zaman ini, Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, ditanya oleh seseorang yang berjauhan dengan istrinya (LDR), apakah diperbolehkan onani. Maka Syekh rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya tetap tidak diperbolehkan karena masih terdapat solusi lainnya. Beliau rahimahullah menjelaskan,ولا يجوز تعاطيها للمؤمن، وفي إمكانك أن تأتي بزوجتك معك، تطلب مجيئها إذا تيسر ذلك أو تسافر إليها بين وقت وآخر، تأخذ إذن من صاحبك أو تشرط على من تعاقدت معه ذلك حتى تذهب إلى زوجتك في أثناء السنة أو تستعين بالله ثم بالصوم أو تتزوج زوجة ثانية في محل عملك“Tidak boleh bagi seorang muslim melakukannya. Jika memungkinkan, Engkau safar ke negeri perantauan bersama istrimu atau minta istrimu datang jika memungkinkan atau Engkau pulang menemui istrimu. Engkau juga bisa minta izin pulang atau mempersyaratkan (di tempat kerja) agar bisa pulang menemui istri di tengah tahun. Minta pertolongan kepada Allah dengan berpuasa atau menikah yang kedua di tempat perantauanmu.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7719)Baca Juga: Hukum Memperbesar Alat VitalKesimpulanPertama, Onani dan masturbasi hukumnya haram.Kedua, Suami-istri yang berjauhan atau LDR tetap haram hukumnya onani (masturbasi), meskipun membayangkan pasangan sendiri atau melalui video call.Ketiga, Memang ada ulama yang memfatwakan boleh jika darurat dan khawatir terjatuh dalam perzinaan. Akan tetapi, penerapan darurat tidak semudah itu karena yang namanya darurat adalah satu-satunya jalan dan benar-benar sudah hampir nyata khawatir terjatuh dalam perzinaan.Keempat, Belum bisa dikatakan darurat apabila masih ada jalan dan solusi lainnya, semisal berpuasa, menyibukkan diri dengan kesibukan positif, menghindari terus-menerus sendiri, atau berupaya menemui istri (pulang) dalam jangka waktu tertentu.Keluma, Dalih darurat juga akan membuka pintu maksiat di mana tujuannya sudah bukan lagi darurat, akan tetapi hobi dan berlezat-lezat dengan perkara yang haram.Keenam, Darurat benar-benar jalan terakhir apabila semua syaratnya terpenuhi sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Oral SeksUntuk Para Istri, Jangan Ingkari Kebaikan Suami***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Ghibah Adalah, Hadist Tentang Dosa Besar, Hasbunallah Wanimal Wakil, Hadits Tentang Putus AsaTags: dosafatwaFatwa Ulamahubungan intimhukum masturbasihukum onanikewajiban istrimasturbasionanipernikahanrumah tanggasuami istrizina


Sebelumnya perlu diketahui bahwa hukum melakukan onani (masturbasi) adalah haram. Dalam istilah syariat, onani disebut dengan “istimna’” (الاستمناء )”. Onani diharamkan karena syahwat seksual hanya boleh disalurkan melalui istri yang sah atau budak wanita yang dimiliki.Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31)Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa tidak boleh melakukan onani (masturbasi). Beliau rahimahullah berkata,فكان بيّناً في ذكر حفظهم لفروجهم إلا على أزواجهم أو ما ملكت  أيمانهم  تحريم ما سوى الأزواج  وما ملكت الأيمان .. ثم أكّدها فقال : ( فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون ) . فلا يحل العمل بالذكر إلا في الزوجة أو في ملك اليمين ولا يحل الاستمناء والله أعلم“Telah jelas bahwa penyebutan ‘menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak wanita yang mereka miliki’ menunjukkan keharaman (menyalurkan syahwat) selain terhadap istri dan budak. Kemudian dipertegas dengan firman Allah, ‘Barangsiapa yang mencari selain itu, maka mereka termasuk orang-orang yang melampui batas’. Maka, tidak boleh bernikmat-nikmat dengan kemaluannya, kecuali terhadap istri atau budak wanita dan tidak boleh ‘istimna’ (onani atau masturbasi).” (Kitabul Umm, 5: 101)Baca Juga: Hukum Onani Menggunakan Tangan IstriApabila suami berjauhan dengan istrinya, semisal sedang safar yang lama atau memang sedang bekerja atau sekolah di luar negeri dalam waktu yang lama, apakah boleh bagi suami atau istri melakukan onani? Misalnya, membayangkan istri sendiri atau video call?Beberapa ulama menjelaskan hukumnya tetap haram secara mutlak, sedangkan ulama yang lain menyatakan boleh apabila benar-benar darurat dan sangat dikhawatirkan terjatuh ke dalam zina hakiki (ingat benar-benar darurat dan bukan sekedar hobi atau kebiasaan).Berikut penjelasan ringkas berbagai mazhab dari fatwa Syabakah Islamiyyah binaan Syekh Abdullah Al-Faqih,فالمالكية، والشافعية يقولون بتحريمها. …….من مذهب الحنفية، فإنهم لم يبيحوا هذه العادة، وإنما إذا اضطر إليها، وخشي الوقوع في الزنى، فإنه يرتكب أخف الضررين.ثم إن الفاعل إذا كان يقصد بفعله تحصيل اللذة، فلا شك أنه يفعل الحرام، وربما كان أكثر من يفعلون العادة السيئة يفعلونها؛ من أجل تحصيل اللذة، أو التسلية، فهم غير مضطرين إليها…أما مذهب الحنابلة، فقد نصوا على أن الاستمناء محرم، وأن صاحبه يستحق التعزير، وأنه لا يباح، إلا عند الضرورة، وقد سبق بيان حد الضرورة.“Mazhab Malikiyah dan Syafi’iyyah menetapkan haramnya hal ini … Mazhab Hanafiyyah tidak membolehkan hal ini, kecuali dalam keadaan darurat dan khawatir terjerumus ke dalam zina, maka ia memilih bahaya (kerusakan) yang paling ringan di antara dua pilihan. Pelakunya juga tidak bermaksud untuk mencari kelezatan (jika terpaksa onani), karena tidak diragukan lagi bahwa ia melakukan keharaman. Bisa jadi orang yang melakukan onani itu hanya ingin mendapatkan kelezatan dan kesenangan, padahal tidak terpaksa. Adapun mazhab Hanabilah menegaskan haramnya onani, pelakunya harus dihukum ta’zir. Tidak diperbolehkan, kecuali ketika darurat dan telah dijelaskan definisi darurat.” (Fatwa Syabakiyah Islamiyyah no. 7170)Ulama besar di zaman ini, Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, ditanya oleh seseorang yang berjauhan dengan istrinya (LDR), apakah diperbolehkan onani. Maka Syekh rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya tetap tidak diperbolehkan karena masih terdapat solusi lainnya. Beliau rahimahullah menjelaskan,ولا يجوز تعاطيها للمؤمن، وفي إمكانك أن تأتي بزوجتك معك، تطلب مجيئها إذا تيسر ذلك أو تسافر إليها بين وقت وآخر، تأخذ إذن من صاحبك أو تشرط على من تعاقدت معه ذلك حتى تذهب إلى زوجتك في أثناء السنة أو تستعين بالله ثم بالصوم أو تتزوج زوجة ثانية في محل عملك“Tidak boleh bagi seorang muslim melakukannya. Jika memungkinkan, Engkau safar ke negeri perantauan bersama istrimu atau minta istrimu datang jika memungkinkan atau Engkau pulang menemui istrimu. Engkau juga bisa minta izin pulang atau mempersyaratkan (di tempat kerja) agar bisa pulang menemui istri di tengah tahun. Minta pertolongan kepada Allah dengan berpuasa atau menikah yang kedua di tempat perantauanmu.” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/7719)Baca Juga: Hukum Memperbesar Alat VitalKesimpulanPertama, Onani dan masturbasi hukumnya haram.Kedua, Suami-istri yang berjauhan atau LDR tetap haram hukumnya onani (masturbasi), meskipun membayangkan pasangan sendiri atau melalui video call.Ketiga, Memang ada ulama yang memfatwakan boleh jika darurat dan khawatir terjatuh dalam perzinaan. Akan tetapi, penerapan darurat tidak semudah itu karena yang namanya darurat adalah satu-satunya jalan dan benar-benar sudah hampir nyata khawatir terjatuh dalam perzinaan.Keempat, Belum bisa dikatakan darurat apabila masih ada jalan dan solusi lainnya, semisal berpuasa, menyibukkan diri dengan kesibukan positif, menghindari terus-menerus sendiri, atau berupaya menemui istri (pulang) dalam jangka waktu tertentu.Keluma, Dalih darurat juga akan membuka pintu maksiat di mana tujuannya sudah bukan lagi darurat, akan tetapi hobi dan berlezat-lezat dengan perkara yang haram.Keenam, Darurat benar-benar jalan terakhir apabila semua syaratnya terpenuhi sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Oral SeksUntuk Para Istri, Jangan Ingkari Kebaikan Suami***@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Artikel Islam, Ghibah Adalah, Hadist Tentang Dosa Besar, Hasbunallah Wanimal Wakil, Hadits Tentang Putus AsaTags: dosafatwaFatwa Ulamahubungan intimhukum masturbasihukum onanikewajiban istrimasturbasionanipernikahanrumah tanggasuami istrizina
Prev     Next