Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Sebagaimana firman Tuhan kita ʿAzza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Allah ʿAzza wa Jalla memfirmankannya untuk mengingatkan karunia tersebut kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, Allah berfirman, Apa ayat selanjutnya, Saudara-saudara? Apa?”Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada sebagian golongan di antara mereka. …” (QS. Al-Hijr: 88) Baiklah, lalu apa hubungan antara dua ayat ini? Aku juga ikut ujian seperti kalian. Apa? Hubungan antara karunia Allah berupa Al-Qur’an kepada Rasul-Nya dengan firman-Nya, “Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu …” Apa? Merasa cukup dengan Al-Qur’an. Artinya bahwa seseorang jika sudah merasa cukup dengan Kitab Allah ʿAzza wa Jalla, maka matanya tidak akan terarah pada dunia dan isinya, karena Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah memberinya kekayaan yang hakiki, yaitu kekayaan hati. Sungguh demi Allah, kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, seperti yang beliau ʿalaihis Salām sabdakan, “Kekayaan bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi hakikat kekayaan hanyalah kekayaan hati.” (HR. Ibnu Majah) Saudara-saudara, Al-Qur’an letaknya di mana? Al-Qur’an ada dalam hati. Inilah tempat aslinya, wahai Saudara-saudara, bukan di lisan. Itulah sebabnya Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara’: 192) “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara’: 193) “Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 194) “Ke dalam hatimu, …” ke dalam hati Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jika Al-Qur’an sudah turun ke dalam hati, niscaya ia akan mencukupi seseorang dari keinginan kedua matanya untuk melihat dunia dan seisinya. Jadi, jika dengan dikaruniai Al-Qur’an, seseorang bisa merasa cukup terhadap dunia. Oleh karena itu, jika kedua matanya masih mengarah pada dunia, apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Orang itu akan melalaikan Al-Qur’an, wahai Saudara-saudara, karena ini adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain. ====================================================================================================== كَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ قَالَهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَعْرِضِ الْاِمْتِنَانِ بِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ بَعْدَهَا الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ هَا؟ لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ طَيِّبٌ مَا الْعَلَاقَةُ يَبْنَ الْآيَتَيْنِ؟ أَنَا شَارِكُكُمْ فِي الْاِخْتِبَارِ هَا؟ الْعَلَاقَةُ بَيْنَ امْتِنَانِ اللهِ عَلَى رَسُولِهِ بِالْقُرْآنِ ثُمَّ: لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ هَا؟ الْاِسْتِغْنَاءُ بِالْقُرْآنِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اسْتَغْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَمْتَدُّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا يُعْطِيهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْغِنَى الْحَقِيقِيَّ وَهُوَ غِنَى الْقَلْبِ فَإِنَّ الْغِنَى وَاللهِ لَيْسَ عَنْ كَثْرَةِ الْأَمْوَالِ كَمَا قَالَ عَلَيْه السَّلَامُ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَأَيْنَ يَكُونُ الْقُرْآنُ يَا إِخْوَانُ؟ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ هَذَا مَكَانُهُ الْأَصِيلُ يَا إِخْوَانُ وَلَيْسَ عَلَى اللِّسَانِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ عَلَى قَلْبِكَ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا نَزَلَ الْقُرْآنُ فِي الْقَلْبِ أَغْنَى صَاحِبَهُ عَنْ أَنْ تَمْتَدَّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَإِذَا كَانَ لَوْ أُوتِيَ الْقُرْآنُ اسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الدُّنْيَا فَإِذَا امْتَدَّتْ عَيْنُهُ عَنْ… إِلَى الدُّنْيَا فَمَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ مَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ يَحْصُلُ مِنْهُ التَّقْصيرُ يَا إِخْوَانُ مَعَ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَانِ أَمْرَانِ مُتَلَازِمَانِ  

Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Sebagaimana firman Tuhan kita ʿAzza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Allah ʿAzza wa Jalla memfirmankannya untuk mengingatkan karunia tersebut kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, Allah berfirman, Apa ayat selanjutnya, Saudara-saudara? Apa?”Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada sebagian golongan di antara mereka. …” (QS. Al-Hijr: 88) Baiklah, lalu apa hubungan antara dua ayat ini? Aku juga ikut ujian seperti kalian. Apa? Hubungan antara karunia Allah berupa Al-Qur’an kepada Rasul-Nya dengan firman-Nya, “Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu …” Apa? Merasa cukup dengan Al-Qur’an. Artinya bahwa seseorang jika sudah merasa cukup dengan Kitab Allah ʿAzza wa Jalla, maka matanya tidak akan terarah pada dunia dan isinya, karena Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah memberinya kekayaan yang hakiki, yaitu kekayaan hati. Sungguh demi Allah, kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, seperti yang beliau ʿalaihis Salām sabdakan, “Kekayaan bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi hakikat kekayaan hanyalah kekayaan hati.” (HR. Ibnu Majah) Saudara-saudara, Al-Qur’an letaknya di mana? Al-Qur’an ada dalam hati. Inilah tempat aslinya, wahai Saudara-saudara, bukan di lisan. Itulah sebabnya Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara’: 192) “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara’: 193) “Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 194) “Ke dalam hatimu, …” ke dalam hati Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jika Al-Qur’an sudah turun ke dalam hati, niscaya ia akan mencukupi seseorang dari keinginan kedua matanya untuk melihat dunia dan seisinya. Jadi, jika dengan dikaruniai Al-Qur’an, seseorang bisa merasa cukup terhadap dunia. Oleh karena itu, jika kedua matanya masih mengarah pada dunia, apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Orang itu akan melalaikan Al-Qur’an, wahai Saudara-saudara, karena ini adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain. ====================================================================================================== كَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ قَالَهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَعْرِضِ الْاِمْتِنَانِ بِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ بَعْدَهَا الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ هَا؟ لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ طَيِّبٌ مَا الْعَلَاقَةُ يَبْنَ الْآيَتَيْنِ؟ أَنَا شَارِكُكُمْ فِي الْاِخْتِبَارِ هَا؟ الْعَلَاقَةُ بَيْنَ امْتِنَانِ اللهِ عَلَى رَسُولِهِ بِالْقُرْآنِ ثُمَّ: لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ هَا؟ الْاِسْتِغْنَاءُ بِالْقُرْآنِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اسْتَغْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَمْتَدُّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا يُعْطِيهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْغِنَى الْحَقِيقِيَّ وَهُوَ غِنَى الْقَلْبِ فَإِنَّ الْغِنَى وَاللهِ لَيْسَ عَنْ كَثْرَةِ الْأَمْوَالِ كَمَا قَالَ عَلَيْه السَّلَامُ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَأَيْنَ يَكُونُ الْقُرْآنُ يَا إِخْوَانُ؟ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ هَذَا مَكَانُهُ الْأَصِيلُ يَا إِخْوَانُ وَلَيْسَ عَلَى اللِّسَانِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ عَلَى قَلْبِكَ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا نَزَلَ الْقُرْآنُ فِي الْقَلْبِ أَغْنَى صَاحِبَهُ عَنْ أَنْ تَمْتَدَّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَإِذَا كَانَ لَوْ أُوتِيَ الْقُرْآنُ اسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الدُّنْيَا فَإِذَا امْتَدَّتْ عَيْنُهُ عَنْ… إِلَى الدُّنْيَا فَمَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ مَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ يَحْصُلُ مِنْهُ التَّقْصيرُ يَا إِخْوَانُ مَعَ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَانِ أَمْرَانِ مُتَلَازِمَانِ  
Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Sebagaimana firman Tuhan kita ʿAzza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Allah ʿAzza wa Jalla memfirmankannya untuk mengingatkan karunia tersebut kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, Allah berfirman, Apa ayat selanjutnya, Saudara-saudara? Apa?”Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada sebagian golongan di antara mereka. …” (QS. Al-Hijr: 88) Baiklah, lalu apa hubungan antara dua ayat ini? Aku juga ikut ujian seperti kalian. Apa? Hubungan antara karunia Allah berupa Al-Qur’an kepada Rasul-Nya dengan firman-Nya, “Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu …” Apa? Merasa cukup dengan Al-Qur’an. Artinya bahwa seseorang jika sudah merasa cukup dengan Kitab Allah ʿAzza wa Jalla, maka matanya tidak akan terarah pada dunia dan isinya, karena Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah memberinya kekayaan yang hakiki, yaitu kekayaan hati. Sungguh demi Allah, kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, seperti yang beliau ʿalaihis Salām sabdakan, “Kekayaan bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi hakikat kekayaan hanyalah kekayaan hati.” (HR. Ibnu Majah) Saudara-saudara, Al-Qur’an letaknya di mana? Al-Qur’an ada dalam hati. Inilah tempat aslinya, wahai Saudara-saudara, bukan di lisan. Itulah sebabnya Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara’: 192) “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara’: 193) “Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 194) “Ke dalam hatimu, …” ke dalam hati Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jika Al-Qur’an sudah turun ke dalam hati, niscaya ia akan mencukupi seseorang dari keinginan kedua matanya untuk melihat dunia dan seisinya. Jadi, jika dengan dikaruniai Al-Qur’an, seseorang bisa merasa cukup terhadap dunia. Oleh karena itu, jika kedua matanya masih mengarah pada dunia, apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Orang itu akan melalaikan Al-Qur’an, wahai Saudara-saudara, karena ini adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain. ====================================================================================================== كَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ قَالَهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَعْرِضِ الْاِمْتِنَانِ بِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ بَعْدَهَا الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ هَا؟ لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ طَيِّبٌ مَا الْعَلَاقَةُ يَبْنَ الْآيَتَيْنِ؟ أَنَا شَارِكُكُمْ فِي الْاِخْتِبَارِ هَا؟ الْعَلَاقَةُ بَيْنَ امْتِنَانِ اللهِ عَلَى رَسُولِهِ بِالْقُرْآنِ ثُمَّ: لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ هَا؟ الْاِسْتِغْنَاءُ بِالْقُرْآنِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اسْتَغْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَمْتَدُّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا يُعْطِيهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْغِنَى الْحَقِيقِيَّ وَهُوَ غِنَى الْقَلْبِ فَإِنَّ الْغِنَى وَاللهِ لَيْسَ عَنْ كَثْرَةِ الْأَمْوَالِ كَمَا قَالَ عَلَيْه السَّلَامُ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَأَيْنَ يَكُونُ الْقُرْآنُ يَا إِخْوَانُ؟ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ هَذَا مَكَانُهُ الْأَصِيلُ يَا إِخْوَانُ وَلَيْسَ عَلَى اللِّسَانِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ عَلَى قَلْبِكَ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا نَزَلَ الْقُرْآنُ فِي الْقَلْبِ أَغْنَى صَاحِبَهُ عَنْ أَنْ تَمْتَدَّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَإِذَا كَانَ لَوْ أُوتِيَ الْقُرْآنُ اسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الدُّنْيَا فَإِذَا امْتَدَّتْ عَيْنُهُ عَنْ… إِلَى الدُّنْيَا فَمَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ مَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ يَحْصُلُ مِنْهُ التَّقْصيرُ يَا إِخْوَانُ مَعَ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَانِ أَمْرَانِ مُتَلَازِمَانِ  


Kaya dengan al-Qur’an – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Sebagaimana firman Tuhan kita ʿAzza wa Jalla, “Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87) Allah ʿAzza wa Jalla memfirmankannya untuk mengingatkan karunia tersebut kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, Allah berfirman, Apa ayat selanjutnya, Saudara-saudara? Apa?”Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada sebagian golongan di antara mereka. …” (QS. Al-Hijr: 88) Baiklah, lalu apa hubungan antara dua ayat ini? Aku juga ikut ujian seperti kalian. Apa? Hubungan antara karunia Allah berupa Al-Qur’an kepada Rasul-Nya dengan firman-Nya, “Jangan sekali-kali engkau arahkan kedua matamu …” Apa? Merasa cukup dengan Al-Qur’an. Artinya bahwa seseorang jika sudah merasa cukup dengan Kitab Allah ʿAzza wa Jalla, maka matanya tidak akan terarah pada dunia dan isinya, karena Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah memberinya kekayaan yang hakiki, yaitu kekayaan hati. Sungguh demi Allah, kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, seperti yang beliau ʿalaihis Salām sabdakan, “Kekayaan bukanlah dari banyaknya harta benda, akan tetapi hakikat kekayaan hanyalah kekayaan hati.” (HR. Ibnu Majah) Saudara-saudara, Al-Qur’an letaknya di mana? Al-Qur’an ada dalam hati. Inilah tempat aslinya, wahai Saudara-saudara, bukan di lisan. Itulah sebabnya Allah ʿAzza wa Jalla berfirman, “Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara’: 192) “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril).” (QS. Asy-Syu’ara’: 193) “Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’ara’: 194) “Ke dalam hatimu, …” ke dalam hati Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Jika Al-Qur’an sudah turun ke dalam hati, niscaya ia akan mencukupi seseorang dari keinginan kedua matanya untuk melihat dunia dan seisinya. Jadi, jika dengan dikaruniai Al-Qur’an, seseorang bisa merasa cukup terhadap dunia. Oleh karena itu, jika kedua matanya masih mengarah pada dunia, apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Orang itu akan melalaikan Al-Qur’an, wahai Saudara-saudara, karena ini adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain. ====================================================================================================== كَمَا قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ قَالَهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَعْرِضِ الْاِمْتِنَانِ بِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ بَعْدَهَا الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا يَا إِخْوَانُ هَا؟ لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ طَيِّبٌ مَا الْعَلَاقَةُ يَبْنَ الْآيَتَيْنِ؟ أَنَا شَارِكُكُمْ فِي الْاِخْتِبَارِ هَا؟ الْعَلَاقَةُ بَيْنَ امْتِنَانِ اللهِ عَلَى رَسُولِهِ بِالْقُرْآنِ ثُمَّ: لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ هَا؟ الْاِسْتِغْنَاءُ بِالْقُرْآنِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا اسْتَغْنَى بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَمْتَدُّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا يُعْطِيهِ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْغِنَى الْحَقِيقِيَّ وَهُوَ غِنَى الْقَلْبِ فَإِنَّ الْغِنَى وَاللهِ لَيْسَ عَنْ كَثْرَةِ الْأَمْوَالِ كَمَا قَالَ عَلَيْه السَّلَامُ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَأَيْنَ يَكُونُ الْقُرْآنُ يَا إِخْوَانُ؟ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ هَذَا مَكَانُهُ الْأَصِيلُ يَا إِخْوَانُ وَلَيْسَ عَلَى اللِّسَانِ وَلِهَذَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الأَمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ عَلَى قَلْبِكَ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا نَزَلَ الْقُرْآنُ فِي الْقَلْبِ أَغْنَى صَاحِبَهُ عَنْ أَنْ تَمْتَدَّ عَيْنُهُ إِلَى الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَإِذَا كَانَ لَوْ أُوتِيَ الْقُرْآنُ اسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الدُّنْيَا فَإِذَا امْتَدَّتْ عَيْنُهُ عَنْ… إِلَى الدُّنْيَا فَمَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ مَا الَّذِي يَحْصُلُ؟ يَحْصُلُ مِنْهُ التَّقْصيرُ يَا إِخْوَانُ مَعَ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هَذَانِ أَمْرَانِ مُتَلَازِمَانِ  

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2) Daftar Isi sembunyikan 1. Bentuk-bentuk kalung jimat 2. Koreksi nama periwayat 3. Menyembelih untuk selain Allah 4. Allah Mahatinggi 5. Hukuman bagi tukang sihir 6. Koreksi nama sahabat 7. Beruntunglah orang yang ikhlas 8. Orang yang bohong tentang siapa ayahnya 9. Membenci ayah sendiri 10. Disebut kufur tetapi tidak kafir 11. Salatnya tidak diterima Bentuk-bentuk kalung jimatSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kalung jimat itu ada 2 model:Pertama, kalung dari tulang atau yang lainnya. Ini tak ada perbedaan pendapat tentang haramnya.Kedua, kalung yang dibuat dari tulisan Al-Qur’an. Ini ada perbedaan pendapat tentangnya. Yang lebih tepat adalah bahwa bentuk jimat seperti ini juga terlarang. Wallahu a’lam.”Koreksi nama periwayatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Waki’, yaitu Waki’ bin Al-Jarrah bin Waki’ Al-Kufi.”Beliau berkata, “Yang tepat bin Mulih, bukan bin Waki.’’Menyembelih untuk selain AllahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Bab Penjelasan Tentang Menyembelih untuk Selain Allah karena Takut dan Perbuatan Tersebut Termasuk Syirik kepada Allah.”Beliau berkata, “Yaitu syirik akbar (syirik besar).”Allah MahatinggiDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis Kitab Tauhid, “Maksud dari firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ‎“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Saba: 23)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Maksud dari penjelasan ini adalah untuk membantah orang-orang yang menyembah kuburan, pohon, batu, dan yang lainnya.”Hukuman bagi tukang sihirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dari Jundub dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal dengan pedang.’” (HR. Tirmidzi beliau mengatakan hadis ini sahih dan mauquf (perkataan sahabat -pent))Beliau rahimahullah berkata, “Namun, statusnya seperti perkataan Rasulullah. Karena ungkapan seperti ini tidak mungkin bersumber dari pemikiran sahabat.”Koreksi nama sahabatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dalam sahih Bukhari dari Bajalah bin Abdah.”Beliau berkata, “bin Abadah, dengan huruf ba yang difathah.”Beruntunglah orang yang ikhlasDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid,“Dalam hadis sahih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah (pakaian dari sutera dan wol), celakalah hamba khamilah (pakaian beludru). Jika diberi harta, dia senang; jika tidak diberi, dia murka. Celaka dan rugilah ia, jika tertusuk duri semoga tak bisa terlepas. Berbahagialah seorang hamba yang mengambil kekang kudanya di jalan Allah, wajahnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika ditugaskan berjaga-jaga, maka ia pun berjaga-jaga. Jika ditugaskan di bagian belakang, maka ia pun berada di belakang. Jika minta izin, ia tidak akan diizinkan. Jika memberi rekomendasi, rekomendasinya tidak diterima.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu, dia adalah seorang yang ikhlas dalam beramal, baik ketika diminta berjaga-jaga atau ketika di belakang. Karenanya Rasulullah bersabda, ‘Wajahnya kusut dan kakinya berdebu’, menunjukkan kesungguhan dan semangatnya dalam jihad.”Baca Jiga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Orang yang bohong tentang siapa ayahnyaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tidaklah seseorang mengaku-ngaku sebagai anaknya seseorang, padahal orang itu bukan bapaknya dan dia mengetahuinya, melainkan ia telah kufur. Siapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya, maka bukan golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Siapa yang memanggil orang lain dengan ‘Wahai kafir’ atau ‘Wahai musuh Allah’, padahal orang itu tidak seperti itu, maka panggilan itu akan kembali pada yang memanggil.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya tentang seseorang yang menasabkan diri pada yang bukan suku atau kabilahnya, maka beliau menjawab, “Dia seperti yang disebut hadis ini, mengaku-ngaku yang bukan keluarganya.”Maksud Syekh adalah bahwa orang ini juga mendapatkan ancaman yang sama.Membenci ayah sendiriDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian membenci ayah kalian! Siapa yang membenci ayahnya, sungguh ia telah kufur.” (HR Muslim)Beliau berkata, “Yang tepat hadis ini adalah ancaman, orang itu tidak kufur akbar selama ia tidak menghalalkan hal tersebut.”Disebut kufur tetapi tidak kafirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka ia kufur sampai ia kembali pada tuannya.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya bukan kufur akbar, karena perbuatan tersebut termasuk dosa besar.”Salatnya tidak diterimaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menceritakan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka salatnya tidak diterima.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Ini adalah bentuk ancaman. Dia tetap wajib salat, namun dia tidak mendapatkan pahala salat dan dia pun tidak perlu mengulangi salatnya.”[Bersambung]Baca Jiga:Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidSyarah Aqidah Wasithiyah – Ustadz Said Abu Ukasyah (Bagian 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Sunnah Nabi Forum, Kawat Gigi Dalam Islam, Download Video Islami Gratis, Macam Macam Metode DakwahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2) Daftar Isi sembunyikan 1. Bentuk-bentuk kalung jimat 2. Koreksi nama periwayat 3. Menyembelih untuk selain Allah 4. Allah Mahatinggi 5. Hukuman bagi tukang sihir 6. Koreksi nama sahabat 7. Beruntunglah orang yang ikhlas 8. Orang yang bohong tentang siapa ayahnya 9. Membenci ayah sendiri 10. Disebut kufur tetapi tidak kafir 11. Salatnya tidak diterima Bentuk-bentuk kalung jimatSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kalung jimat itu ada 2 model:Pertama, kalung dari tulang atau yang lainnya. Ini tak ada perbedaan pendapat tentang haramnya.Kedua, kalung yang dibuat dari tulisan Al-Qur’an. Ini ada perbedaan pendapat tentangnya. Yang lebih tepat adalah bahwa bentuk jimat seperti ini juga terlarang. Wallahu a’lam.”Koreksi nama periwayatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Waki’, yaitu Waki’ bin Al-Jarrah bin Waki’ Al-Kufi.”Beliau berkata, “Yang tepat bin Mulih, bukan bin Waki.’’Menyembelih untuk selain AllahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Bab Penjelasan Tentang Menyembelih untuk Selain Allah karena Takut dan Perbuatan Tersebut Termasuk Syirik kepada Allah.”Beliau berkata, “Yaitu syirik akbar (syirik besar).”Allah MahatinggiDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis Kitab Tauhid, “Maksud dari firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ‎“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Saba: 23)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Maksud dari penjelasan ini adalah untuk membantah orang-orang yang menyembah kuburan, pohon, batu, dan yang lainnya.”Hukuman bagi tukang sihirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dari Jundub dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal dengan pedang.’” (HR. Tirmidzi beliau mengatakan hadis ini sahih dan mauquf (perkataan sahabat -pent))Beliau rahimahullah berkata, “Namun, statusnya seperti perkataan Rasulullah. Karena ungkapan seperti ini tidak mungkin bersumber dari pemikiran sahabat.”Koreksi nama sahabatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dalam sahih Bukhari dari Bajalah bin Abdah.”Beliau berkata, “bin Abadah, dengan huruf ba yang difathah.”Beruntunglah orang yang ikhlasDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid,“Dalam hadis sahih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah (pakaian dari sutera dan wol), celakalah hamba khamilah (pakaian beludru). Jika diberi harta, dia senang; jika tidak diberi, dia murka. Celaka dan rugilah ia, jika tertusuk duri semoga tak bisa terlepas. Berbahagialah seorang hamba yang mengambil kekang kudanya di jalan Allah, wajahnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika ditugaskan berjaga-jaga, maka ia pun berjaga-jaga. Jika ditugaskan di bagian belakang, maka ia pun berada di belakang. Jika minta izin, ia tidak akan diizinkan. Jika memberi rekomendasi, rekomendasinya tidak diterima.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu, dia adalah seorang yang ikhlas dalam beramal, baik ketika diminta berjaga-jaga atau ketika di belakang. Karenanya Rasulullah bersabda, ‘Wajahnya kusut dan kakinya berdebu’, menunjukkan kesungguhan dan semangatnya dalam jihad.”Baca Jiga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Orang yang bohong tentang siapa ayahnyaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tidaklah seseorang mengaku-ngaku sebagai anaknya seseorang, padahal orang itu bukan bapaknya dan dia mengetahuinya, melainkan ia telah kufur. Siapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya, maka bukan golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Siapa yang memanggil orang lain dengan ‘Wahai kafir’ atau ‘Wahai musuh Allah’, padahal orang itu tidak seperti itu, maka panggilan itu akan kembali pada yang memanggil.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya tentang seseorang yang menasabkan diri pada yang bukan suku atau kabilahnya, maka beliau menjawab, “Dia seperti yang disebut hadis ini, mengaku-ngaku yang bukan keluarganya.”Maksud Syekh adalah bahwa orang ini juga mendapatkan ancaman yang sama.Membenci ayah sendiriDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian membenci ayah kalian! Siapa yang membenci ayahnya, sungguh ia telah kufur.” (HR Muslim)Beliau berkata, “Yang tepat hadis ini adalah ancaman, orang itu tidak kufur akbar selama ia tidak menghalalkan hal tersebut.”Disebut kufur tetapi tidak kafirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka ia kufur sampai ia kembali pada tuannya.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya bukan kufur akbar, karena perbuatan tersebut termasuk dosa besar.”Salatnya tidak diterimaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menceritakan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka salatnya tidak diterima.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Ini adalah bentuk ancaman. Dia tetap wajib salat, namun dia tidak mendapatkan pahala salat dan dia pun tidak perlu mengulangi salatnya.”[Bersambung]Baca Jiga:Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidSyarah Aqidah Wasithiyah – Ustadz Said Abu Ukasyah (Bagian 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Sunnah Nabi Forum, Kawat Gigi Dalam Islam, Download Video Islami Gratis, Macam Macam Metode DakwahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2) Daftar Isi sembunyikan 1. Bentuk-bentuk kalung jimat 2. Koreksi nama periwayat 3. Menyembelih untuk selain Allah 4. Allah Mahatinggi 5. Hukuman bagi tukang sihir 6. Koreksi nama sahabat 7. Beruntunglah orang yang ikhlas 8. Orang yang bohong tentang siapa ayahnya 9. Membenci ayah sendiri 10. Disebut kufur tetapi tidak kafir 11. Salatnya tidak diterima Bentuk-bentuk kalung jimatSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kalung jimat itu ada 2 model:Pertama, kalung dari tulang atau yang lainnya. Ini tak ada perbedaan pendapat tentang haramnya.Kedua, kalung yang dibuat dari tulisan Al-Qur’an. Ini ada perbedaan pendapat tentangnya. Yang lebih tepat adalah bahwa bentuk jimat seperti ini juga terlarang. Wallahu a’lam.”Koreksi nama periwayatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Waki’, yaitu Waki’ bin Al-Jarrah bin Waki’ Al-Kufi.”Beliau berkata, “Yang tepat bin Mulih, bukan bin Waki.’’Menyembelih untuk selain AllahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Bab Penjelasan Tentang Menyembelih untuk Selain Allah karena Takut dan Perbuatan Tersebut Termasuk Syirik kepada Allah.”Beliau berkata, “Yaitu syirik akbar (syirik besar).”Allah MahatinggiDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis Kitab Tauhid, “Maksud dari firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ‎“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Saba: 23)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Maksud dari penjelasan ini adalah untuk membantah orang-orang yang menyembah kuburan, pohon, batu, dan yang lainnya.”Hukuman bagi tukang sihirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dari Jundub dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal dengan pedang.’” (HR. Tirmidzi beliau mengatakan hadis ini sahih dan mauquf (perkataan sahabat -pent))Beliau rahimahullah berkata, “Namun, statusnya seperti perkataan Rasulullah. Karena ungkapan seperti ini tidak mungkin bersumber dari pemikiran sahabat.”Koreksi nama sahabatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dalam sahih Bukhari dari Bajalah bin Abdah.”Beliau berkata, “bin Abadah, dengan huruf ba yang difathah.”Beruntunglah orang yang ikhlasDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid,“Dalam hadis sahih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah (pakaian dari sutera dan wol), celakalah hamba khamilah (pakaian beludru). Jika diberi harta, dia senang; jika tidak diberi, dia murka. Celaka dan rugilah ia, jika tertusuk duri semoga tak bisa terlepas. Berbahagialah seorang hamba yang mengambil kekang kudanya di jalan Allah, wajahnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika ditugaskan berjaga-jaga, maka ia pun berjaga-jaga. Jika ditugaskan di bagian belakang, maka ia pun berada di belakang. Jika minta izin, ia tidak akan diizinkan. Jika memberi rekomendasi, rekomendasinya tidak diterima.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu, dia adalah seorang yang ikhlas dalam beramal, baik ketika diminta berjaga-jaga atau ketika di belakang. Karenanya Rasulullah bersabda, ‘Wajahnya kusut dan kakinya berdebu’, menunjukkan kesungguhan dan semangatnya dalam jihad.”Baca Jiga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Orang yang bohong tentang siapa ayahnyaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tidaklah seseorang mengaku-ngaku sebagai anaknya seseorang, padahal orang itu bukan bapaknya dan dia mengetahuinya, melainkan ia telah kufur. Siapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya, maka bukan golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Siapa yang memanggil orang lain dengan ‘Wahai kafir’ atau ‘Wahai musuh Allah’, padahal orang itu tidak seperti itu, maka panggilan itu akan kembali pada yang memanggil.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya tentang seseorang yang menasabkan diri pada yang bukan suku atau kabilahnya, maka beliau menjawab, “Dia seperti yang disebut hadis ini, mengaku-ngaku yang bukan keluarganya.”Maksud Syekh adalah bahwa orang ini juga mendapatkan ancaman yang sama.Membenci ayah sendiriDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian membenci ayah kalian! Siapa yang membenci ayahnya, sungguh ia telah kufur.” (HR Muslim)Beliau berkata, “Yang tepat hadis ini adalah ancaman, orang itu tidak kufur akbar selama ia tidak menghalalkan hal tersebut.”Disebut kufur tetapi tidak kafirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka ia kufur sampai ia kembali pada tuannya.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya bukan kufur akbar, karena perbuatan tersebut termasuk dosa besar.”Salatnya tidak diterimaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menceritakan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka salatnya tidak diterima.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Ini adalah bentuk ancaman. Dia tetap wajib salat, namun dia tidak mendapatkan pahala salat dan dia pun tidak perlu mengulangi salatnya.”[Bersambung]Baca Jiga:Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidSyarah Aqidah Wasithiyah – Ustadz Said Abu Ukasyah (Bagian 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Sunnah Nabi Forum, Kawat Gigi Dalam Islam, Download Video Islami Gratis, Macam Macam Metode DakwahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2) Daftar Isi sembunyikan 1. Bentuk-bentuk kalung jimat 2. Koreksi nama periwayat 3. Menyembelih untuk selain Allah 4. Allah Mahatinggi 5. Hukuman bagi tukang sihir 6. Koreksi nama sahabat 7. Beruntunglah orang yang ikhlas 8. Orang yang bohong tentang siapa ayahnya 9. Membenci ayah sendiri 10. Disebut kufur tetapi tidak kafir 11. Salatnya tidak diterima Bentuk-bentuk kalung jimatSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kalung jimat itu ada 2 model:Pertama, kalung dari tulang atau yang lainnya. Ini tak ada perbedaan pendapat tentang haramnya.Kedua, kalung yang dibuat dari tulisan Al-Qur’an. Ini ada perbedaan pendapat tentangnya. Yang lebih tepat adalah bahwa bentuk jimat seperti ini juga terlarang. Wallahu a’lam.”Koreksi nama periwayatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Waki’, yaitu Waki’ bin Al-Jarrah bin Waki’ Al-Kufi.”Beliau berkata, “Yang tepat bin Mulih, bukan bin Waki.’’Menyembelih untuk selain AllahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis kitab Fathul Majid, “Bab Penjelasan Tentang Menyembelih untuk Selain Allah karena Takut dan Perbuatan Tersebut Termasuk Syirik kepada Allah.”Beliau berkata, “Yaitu syirik akbar (syirik besar).”Allah MahatinggiDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz perkataan penulis Kitab Tauhid, “Maksud dari firman Allah Ta’ala,حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ‎“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Saba: 23)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Maksud dari penjelasan ini adalah untuk membantah orang-orang yang menyembah kuburan, pohon, batu, dan yang lainnya.”Hukuman bagi tukang sihirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dari Jundub dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal dengan pedang.’” (HR. Tirmidzi beliau mengatakan hadis ini sahih dan mauquf (perkataan sahabat -pent))Beliau rahimahullah berkata, “Namun, statusnya seperti perkataan Rasulullah. Karena ungkapan seperti ini tidak mungkin bersumber dari pemikiran sahabat.”Koreksi nama sahabatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Dalam sahih Bukhari dari Bajalah bin Abdah.”Beliau berkata, “bin Abadah, dengan huruf ba yang difathah.”Beruntunglah orang yang ikhlasDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid,“Dalam hadis sahih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah (pakaian dari sutera dan wol), celakalah hamba khamilah (pakaian beludru). Jika diberi harta, dia senang; jika tidak diberi, dia murka. Celaka dan rugilah ia, jika tertusuk duri semoga tak bisa terlepas. Berbahagialah seorang hamba yang mengambil kekang kudanya di jalan Allah, wajahnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika ditugaskan berjaga-jaga, maka ia pun berjaga-jaga. Jika ditugaskan di bagian belakang, maka ia pun berada di belakang. Jika minta izin, ia tidak akan diizinkan. Jika memberi rekomendasi, rekomendasinya tidak diterima.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu, dia adalah seorang yang ikhlas dalam beramal, baik ketika diminta berjaga-jaga atau ketika di belakang. Karenanya Rasulullah bersabda, ‘Wajahnya kusut dan kakinya berdebu’, menunjukkan kesungguhan dan semangatnya dalam jihad.”Baca Jiga: Ngaji Aqidah Sampai Kapan?Orang yang bohong tentang siapa ayahnyaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tidaklah seseorang mengaku-ngaku sebagai anaknya seseorang, padahal orang itu bukan bapaknya dan dia mengetahuinya, melainkan ia telah kufur. Siapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya, maka bukan golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Siapa yang memanggil orang lain dengan ‘Wahai kafir’ atau ‘Wahai musuh Allah’, padahal orang itu tidak seperti itu, maka panggilan itu akan kembali pada yang memanggil.”Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya tentang seseorang yang menasabkan diri pada yang bukan suku atau kabilahnya, maka beliau menjawab, “Dia seperti yang disebut hadis ini, mengaku-ngaku yang bukan keluarganya.”Maksud Syekh adalah bahwa orang ini juga mendapatkan ancaman yang sama.Membenci ayah sendiriDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian membenci ayah kalian! Siapa yang membenci ayahnya, sungguh ia telah kufur.” (HR Muslim)Beliau berkata, “Yang tepat hadis ini adalah ancaman, orang itu tidak kufur akbar selama ia tidak menghalalkan hal tersebut.”Disebut kufur tetapi tidak kafirDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka ia kufur sampai ia kembali pada tuannya.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya bukan kufur akbar, karena perbuatan tersebut termasuk dosa besar.”Salatnya tidak diterimaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menceritakan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Seorang budak yang lari dari tuannya, maka salatnya tidak diterima.” (HR Muslim)Beliau rahimahullah berkata, “Ini adalah bentuk ancaman. Dia tetap wajib salat, namun dia tidak mendapatkan pahala salat dan dia pun tidak perlu mengulangi salatnya.”[Bersambung]Baca Jiga:Buku-Buku Dasar untuk Belajar Aqidah dan TauhidSyarah Aqidah Wasithiyah – Ustadz Said Abu Ukasyah (Bagian 1)***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Fiqih Qurban, Sunnah Nabi Forum, Kawat Gigi Dalam Islam, Download Video Islami Gratis, Macam Macam Metode DakwahTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid

Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Alhamdulillah. Doa apa yang dimaksud? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Wahai Abbas—Wahai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam— “Mohonlah ‘afiyah (keselamatan, kesuksesan, kesehatan, dan penjagaan) kepada Allah!” Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai hal yang lebih baik—setelah karunia iman—daripada ‘afiyah.” ‘Afiyah di dunia dan akhirat, dan ‘afiyah pada keluarga dan harta, dst. Sebagian ulama berkata, bahwa terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sama lafadz atau maknanya dengan sekitar 50 jalur tentang doa meminta ‘afiyah. Kita memohon ‘afiyah kepada Allah. ====================================================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ مَا هُوَ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ وَفِي رِوَايَةٍ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ الْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْعَافِيَةُ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ يَقُولُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَفْظًا وَمَعْنًى مِنْ نَحْوِ خَمْسِينَ طَرِيقًا الدُّعَاءُ بِالْعَافِيَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ

Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Alhamdulillah. Doa apa yang dimaksud? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Wahai Abbas—Wahai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam— “Mohonlah ‘afiyah (keselamatan, kesuksesan, kesehatan, dan penjagaan) kepada Allah!” Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai hal yang lebih baik—setelah karunia iman—daripada ‘afiyah.” ‘Afiyah di dunia dan akhirat, dan ‘afiyah pada keluarga dan harta, dst. Sebagian ulama berkata, bahwa terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sama lafadz atau maknanya dengan sekitar 50 jalur tentang doa meminta ‘afiyah. Kita memohon ‘afiyah kepada Allah. ====================================================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ مَا هُوَ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ وَفِي رِوَايَةٍ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ الْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْعَافِيَةُ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ يَقُولُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَفْظًا وَمَعْنًى مِنْ نَحْوِ خَمْسِينَ طَرِيقًا الدُّعَاءُ بِالْعَافِيَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ
Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Alhamdulillah. Doa apa yang dimaksud? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Wahai Abbas—Wahai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam— “Mohonlah ‘afiyah (keselamatan, kesuksesan, kesehatan, dan penjagaan) kepada Allah!” Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai hal yang lebih baik—setelah karunia iman—daripada ‘afiyah.” ‘Afiyah di dunia dan akhirat, dan ‘afiyah pada keluarga dan harta, dst. Sebagian ulama berkata, bahwa terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sama lafadz atau maknanya dengan sekitar 50 jalur tentang doa meminta ‘afiyah. Kita memohon ‘afiyah kepada Allah. ====================================================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ مَا هُوَ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ وَفِي رِوَايَةٍ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ الْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْعَافِيَةُ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ يَقُولُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَفْظًا وَمَعْنًى مِنْ نَحْوِ خَمْسِينَ طَرِيقًا الدُّعَاءُ بِالْعَافِيَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ


Doa Minta ‘Afiyah yang Nabi Suruh Kita Amalkan – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Alhamdulillah. Doa apa yang dimaksud? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Wahai Abbas—Wahai paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam— “Mohonlah ‘afiyah (keselamatan, kesuksesan, kesehatan, dan penjagaan) kepada Allah!” Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai hal yang lebih baik—setelah karunia iman—daripada ‘afiyah.” ‘Afiyah di dunia dan akhirat, dan ‘afiyah pada keluarga dan harta, dst. Sebagian ulama berkata, bahwa terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sama lafadz atau maknanya dengan sekitar 50 jalur tentang doa meminta ‘afiyah. Kita memohon ‘afiyah kepada Allah. ====================================================================================================== الْحَمْدُ لِلهِ مَا هُوَ؟ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلِ اللهَ الْعَافِيَةَ وَفِي رِوَايَةٍ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ الْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَالْعَافِيَةُ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ يَقُولُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ وَرَدَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَفْظًا وَمَعْنًى مِنْ نَحْوِ خَمْسِينَ طَرِيقًا الدُّعَاءُ بِالْعَافِيَةِ نَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ

Hukum Darah Kekuningan ketika Nifas

Hukum Darah Kekuningan ketika Nifas Pertanyaan: ما حكم خروج الصفار أثناء النفاس وطول الأربعين هل أصلي وأصوم ؟ Apa hukum darah kekuningan yang ketika masa nifas dan selama 40 hari masa itu, apakah saya wajib salat dan puasa? Jawaban: الحمد لله ما يخرج من المرأة بعد الولادة حكمه كدم النفاس سواء كان دماً عادياً أو صفرة أو كدرة لأنه في وقت العادة حتى تتم الأربعين ، فما بعدها إن كان دماً عادياً ولم يتخلله انقطاع فهو دم نفاس وإلا فهو دم استحاضة أو نحوه Segala puji hanya bagi Allah. Darah yang keluar dari seorang wanita setelah melahirkan, semua hukumnya seperti darah nifas bagi wanita, baik darah biasa, kekuningan, atau yang keruh warnanya, karena semua itu masih dalam waktu normal nifas hingga 40 hari. Adapun setelah hari tersebut, jika yang keluar adalah darah biasa dan belum berhenti maka dihukumi darah nifas. Jika tidak demikian berarti darah Istihāḍah atau yang lain. Sumber: ماذا تفعل النفساء إذا رأت الصفار https://islamqa.info/ar/downloads/answers/7419 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Qodho Dan Qodar, Istri Keluar Rumah Tanpa Izin Suami, Waktu Takbiran Idul Adha, Sejarah Imam Malik, Pertanyaan Tentang Epilepsi, Manfaat Sholat Taubat Tiap Hari Visited 96 times, 2 visit(s) today Post Views: 290 QRIS donasi Yufid

Hukum Darah Kekuningan ketika Nifas

Hukum Darah Kekuningan ketika Nifas Pertanyaan: ما حكم خروج الصفار أثناء النفاس وطول الأربعين هل أصلي وأصوم ؟ Apa hukum darah kekuningan yang ketika masa nifas dan selama 40 hari masa itu, apakah saya wajib salat dan puasa? Jawaban: الحمد لله ما يخرج من المرأة بعد الولادة حكمه كدم النفاس سواء كان دماً عادياً أو صفرة أو كدرة لأنه في وقت العادة حتى تتم الأربعين ، فما بعدها إن كان دماً عادياً ولم يتخلله انقطاع فهو دم نفاس وإلا فهو دم استحاضة أو نحوه Segala puji hanya bagi Allah. Darah yang keluar dari seorang wanita setelah melahirkan, semua hukumnya seperti darah nifas bagi wanita, baik darah biasa, kekuningan, atau yang keruh warnanya, karena semua itu masih dalam waktu normal nifas hingga 40 hari. Adapun setelah hari tersebut, jika yang keluar adalah darah biasa dan belum berhenti maka dihukumi darah nifas. Jika tidak demikian berarti darah Istihāḍah atau yang lain. Sumber: ماذا تفعل النفساء إذا رأت الصفار https://islamqa.info/ar/downloads/answers/7419 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Qodho Dan Qodar, Istri Keluar Rumah Tanpa Izin Suami, Waktu Takbiran Idul Adha, Sejarah Imam Malik, Pertanyaan Tentang Epilepsi, Manfaat Sholat Taubat Tiap Hari Visited 96 times, 2 visit(s) today Post Views: 290 QRIS donasi Yufid
Hukum Darah Kekuningan ketika Nifas Pertanyaan: ما حكم خروج الصفار أثناء النفاس وطول الأربعين هل أصلي وأصوم ؟ Apa hukum darah kekuningan yang ketika masa nifas dan selama 40 hari masa itu, apakah saya wajib salat dan puasa? Jawaban: الحمد لله ما يخرج من المرأة بعد الولادة حكمه كدم النفاس سواء كان دماً عادياً أو صفرة أو كدرة لأنه في وقت العادة حتى تتم الأربعين ، فما بعدها إن كان دماً عادياً ولم يتخلله انقطاع فهو دم نفاس وإلا فهو دم استحاضة أو نحوه Segala puji hanya bagi Allah. Darah yang keluar dari seorang wanita setelah melahirkan, semua hukumnya seperti darah nifas bagi wanita, baik darah biasa, kekuningan, atau yang keruh warnanya, karena semua itu masih dalam waktu normal nifas hingga 40 hari. Adapun setelah hari tersebut, jika yang keluar adalah darah biasa dan belum berhenti maka dihukumi darah nifas. Jika tidak demikian berarti darah Istihāḍah atau yang lain. Sumber: ماذا تفعل النفساء إذا رأت الصفار https://islamqa.info/ar/downloads/answers/7419 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Qodho Dan Qodar, Istri Keluar Rumah Tanpa Izin Suami, Waktu Takbiran Idul Adha, Sejarah Imam Malik, Pertanyaan Tentang Epilepsi, Manfaat Sholat Taubat Tiap Hari Visited 96 times, 2 visit(s) today Post Views: 290 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1339852687&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Hukum Darah Kekuningan ketika Nifas Pertanyaan: ما حكم خروج الصفار أثناء النفاس وطول الأربعين هل أصلي وأصوم ؟ Apa hukum darah kekuningan yang ketika masa nifas dan selama 40 hari masa itu, apakah saya wajib salat dan puasa? Jawaban: الحمد لله ما يخرج من المرأة بعد الولادة حكمه كدم النفاس سواء كان دماً عادياً أو صفرة أو كدرة لأنه في وقت العادة حتى تتم الأربعين ، فما بعدها إن كان دماً عادياً ولم يتخلله انقطاع فهو دم نفاس وإلا فهو دم استحاضة أو نحوه Segala puji hanya bagi Allah. Darah yang keluar dari seorang wanita setelah melahirkan, semua hukumnya seperti darah nifas bagi wanita, baik darah biasa, kekuningan, atau yang keruh warnanya, karena semua itu masih dalam waktu normal nifas hingga 40 hari. Adapun setelah hari tersebut, jika yang keluar adalah darah biasa dan belum berhenti maka dihukumi darah nifas. Jika tidak demikian berarti darah Istihāḍah atau yang lain. Sumber: ماذا تفعل النفساء إذا رأت الصفار https://islamqa.info/ar/downloads/answers/7419 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Qodho Dan Qodar, Istri Keluar Rumah Tanpa Izin Suami, Waktu Takbiran Idul Adha, Sejarah Imam Malik, Pertanyaan Tentang Epilepsi, Manfaat Sholat Taubat Tiap Hari Visited 96 times, 2 visit(s) today Post Views: 290 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Menggunakan Obat Kuat

Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra

Hukum Menggunakan Obat Kuat

Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra
Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra


Sebagian laki-laki ada yang terkena penyakit lemah syahwat dan tentu ini sangat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Mengingat hubungan seksual suami istri adalah kebutuhan primer dan pokok. Solusi yang terpikirkan oleh sebagian laki-laki adalah meminum obat kuat. Tentu saja, meminum obat kuat bukanlah solusi paling utama karena secara umum, lemah syahwat bisa disembuhkan dengan pola hidup sehat secara fisik dan psikis serta melatih otot-otot tertentu.Terkait hukum fikihnya, apakah boleh hukumnya minum obat kuat? Perhatikan fatwa Syabakah Islamiyah asuhan Syekh Abdullah Al-Faqih berikut ini,فلا حرج في استعمال الدواء المذكور إذا كان – كما قال السائل- لا يترتب على استعماله ضرر ، ولم يكن في تركيبته شيء محرم؛ لأن سرعة القذف تعتبر مرضا يفوت حسن معاشرة الزوجة المأمور به شرعا“Tidak mengapa menggunakan obat tersebut (obat kuat) -sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya- selama obat tersebut tidak menimbulkan bahaya dan tidak mengandung bahan yang haram. Lemah syahwat dianggap penyakit dan dapat menghilangkan keharmonisan rumah tangga yang diperintahkan dijaga oleh syariat.” (Fatwa no. 183499)Secara medis, obat kuat sebenarnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tetap saja pengobatan utama adalah dengan mengatur pola hidup seperti olahraga rutin untuk mengembalikan stamina. Karena berhubungan badan juga termasuk olahraga dan gerakan, terutama untuk melatih otot-otot sekitar panggul, perut, bokong, dan sekitarnya, serta melakukan senam kegel. Tidak lupa mengatur pola makanan yang sehat sehat dan psikis yang sehat, jauh dari stres, cemas, dan depresi.Minum obat kuat juga harus dengan pengawasan dokter karena obat ini memiliki efek samping serius apabila tidak digunakan sesuai dosis dan indikasi. Semisal gangguan jantung dan pembuluh darah dan dapat mengantarkan kepada heart attack (serangan jantung).Salah satu thibbun nabawi yang dijelaskan ulama bisa menambah kekuatan jimak dan mengobati lemah syahwat adalah ‘ud al-hindi (pohon gaharu). Hal ini sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ“Manfaatkanlah ‘ud al-hindi (pohon gaharu) ini, karena ada tujuh faidah yang menyembuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tujuh hal tersebut salah satunya adalah menguatkan jimak. Beliau rahimahullah berkata,وَقَدْ ذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ مِنْ مَنَافِعِ الْقُسْطِ : أَنَّهُ يُدِرُّ الطَّمْثَ وَالْبَوْلَ وَيَقْتُلُ دِيدَانَ الْأَمْعَاءِ وَيَدْفَعُ السُّمَّ وَحُمَّى الرِّبْعِ وَالْوِرْدِ وَيُسَخِّنُ الْمَعِدَةَ وَيُحَرِّكُ شَهْوَةَ الْجِمَاعِ“Para tabib menyebutkan tujuh manfaat dari qistul hindi, yaitu melancarkan haid, kencing, membunuh cacing usus, menetralkan racun, demam lanjutan, menghangatkan lambung, dan menguatkan syahwat jimak.” (Fathul Bari, 10: 149)Baca Juga: Hukum Menggunakan Pelumas untuk JimakDemikian juga Ibnu Muflih menyebutkan beberapa makanan yang dapat menguatkan kekuatan jimak seperti,الحلبة والفستق والخروب وبذر البطيخ وغيرها“Hilbah, fustuk (jenis kacang), pohon khorub, biji semangka, dan lain-lainnya.” (lihat Adab Syari’iyyah karya Ibnu Muflih, 2: 370, 375)Dari berbagai makanan, tumbuhan, dan herbal tersebut, hal terpenting adalah dosis yang tepat sesuai dengan usia, umur, berat badan, dan lain-lainnya. Perhatikanlah hadis berikut ini,أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ. فَقَالَ: اِسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَة فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلاً. ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ: فَعَلْتُ. فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيْكَ، اسْقِهِ عَسْلاً. فَسَقَاهُ فَبَرَأَ“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya.Nabi berkata, ‘Minumkan ia madu!’Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga.Nabi tetap berkata, ‘Minumkan ia madu!’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan mengatakan, ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’Nabi bersabda, ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadis ini dijelaskan oleh seorang tabib dan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Beliau menekankan perlunya dosis dan sesuai dengan penyakitnya (indikasi). Beliau rahimahullah berkata,وفي تكرار سقيه للعسل معنىً طبي بديع وهو: أن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب حال الداء“Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan tentang ilmu kedokteran, bahwa obat itu harus sesuai dengan dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi, hal. 29, Darul Hilal)Demikian juga penjelasan dari Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan lebih rinci bahwa obat itu harus sesuai dosisnya berdasarkan umur, kebiasaan, dan kombinasinya dengan apa saja, dan lain-lainnya. Beliau rahimahullah berkata,فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه أو هي القوة وأحدث ضررا آخر“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan, dan daya tahan fisik karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit. Jika dosisnya berkurang, maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih, dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari, 10: 169-170, Darul Ma’rifah)Demikian, semoga bermanfaat.Baca Juga:Hukum Seputar Bulan MaduHukum Memperbesar Alat Vital***@ Lombok, pulau seribu MasjidPenulis: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sedih Menurut Islam, Hadist Mencari Ilmu, Zikir Hari Jumat, Download Ceramah IslamTags: fikihfikih hubungan suami istrifikih jimakhak istrihukum memakai obat kuatkewajiban suamiobat kuatpernikahanrumah tanggaviagra

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama

Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ
Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ


Doa Imam Ahmad dalam Sujudnya – Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh #NasehatUlama Doa Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujudnya. At-Tamimi berkata, “Dahulu, Ahmad bin Hanbal biasa berdoa dalam sujudnya: ‘Ya Allah, jika ada seseorang dari umat ini yang masih di atas kekeliruan, sedangkan ia menyangka dirinya di atas kebenaran, maka kembalikan ia pada kebenaran, agar ia termasuk golongan orang-orang yang berada di atas kebenaran.’” “Beliau juga berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau menerima tebusan dari para pelaku maksiat dari umat Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, jadikan aku tebusan bagi mereka.’” ====================================================================================================== دُعَاءٌ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ فِي سُجُودِهِ قَالَ التَّمِيمِيُّ: كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَدْعُو فِي سُجُودِهِ اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ عَلَى الْحَقِّ فَرُدَّهُ إِلَى الْحَقِّ لِيَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَكَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنْ قَبِلْتَ عَنْ عُصَاةِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءً فَاجْعَلْنِي فِدَاءَهُمْ

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;
Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;


Keadaan Langit dan Gunung pada Hari Kiamat – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama “Dan langit terbuka lalu terdapat beberapa pintu.” (QS. An-Naba’: 19) Langit terbuka. “Apabila langit telah terkoyak, …” (QS. Al-Haqqah: 16) sebagaimana dalam ayat lain, “Apabila langit terkoyak, …” (QS. Al-Insyiqaq: 1) Langit terbelah. “Apabila langit terbelah, …” (QS. Al-Infitar: 1) Yakni terkoyak, yang di sanalah kemudian Allah ʿAzza wa Jalla membuka pintu-pintu, yang jika seseorang memandangnya, seolah-olah dia melihat banyak pintu, dan Allah yang lebih mengetahuinya. “Dan gunung-gunung diperjalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20) yakni seperti fatamorgana yang seseorang melihatnya dari kejauhan, lalu menyangka bahwa ia adalah air namun ternyata tidak mendapati apa-apa. Saudara-saudara, gunung akan diperjalankan dengan tiga cara dan keadaan. Allah Subẖānahu wa Ta’ālā telah menjelaskan apa yang akan terjadi padanya. Terkadang dengan “dibenturkan”, seperti dalam firman-Nya Ta’ālā, Apa, Saudara-saudara? “Bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu dibenturkan ….” (QS. Al-Haqqah: 14) terkadang dengan “dihancurkan”, seperti dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Katakanlah: Tuhanku yang menghancurkannya sehancur-hancurnya.” (QS. Taha: 105). Para ahli tafsir, seperti syekh Ibnul ʿUtsaimīn dan selainnya, menyebutkan tiga keadaan yang terjadi pada gunung yang disebutkan dalam Al-Qur’an: Keadaan pertama, ada yang bisa menyebutkan, Saudara-saudara? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Ya, menjadi seperti onggokan yang tercurah, yakni timbunan pasir. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Pada hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang keras, hingga gunung-gunung menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah.” (QS. Al-Muzzammil: 14) yakni timbunan pasir. Kedua, menjadi seperti bulu yang dihamburkan, yakni bulu hewan yang dihamburkan, Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla: “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5) Keadaan ketiga, gunung-gunung benar-benar hilang, dan menjadi seperti yang Allah kabarkan, “Debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) yakni seperti butiran debu yang berterbangan. Ini disebutkan dalam firman-Nya ʿAzza wa Jalla “Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 4) Lalu apa? “Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 5) “Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah: 6) hingga habis gunung-gunung di bumi, sehingga bumi menjadi seperti adonan roti yang putih bersih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Seperti adonan roti, karena tidak ada tanda keberadaan seorang pun.” (HR. Bukhari) Segala sesuatu di atas bumi hilang. Hanya Allah tempat memohon pertolongan. nbsp;

Apakah Anda Menginginkan Anak Saleh ?

Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua

Apakah Anda Menginginkan Anak Saleh ?

Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua
Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua


Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh  -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan: Daftar Isi sembunyikan 1. Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa 2. Kedua: Menjadi teladan yang baik 3. Ketiga: Membutuhkan kesabaran 4. Keempat: Menyediakan sarana kebaikan 5. Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak 6. Keenam: Memilihkan teman yang baik 7. Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat 8. Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak 9. Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik 10. Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doaHendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)Demikian pula, doa beliau yang lain,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.Kedua: Menjadi teladan yang baikOrang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah  agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?Ketiga: Membutuhkan kesabaranDalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?Keempat: Menyediakan sarana kebaikan Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusakOrang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.Keenam: Memilihkan teman yang baikSemangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhiratIngatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,أدب ابنك فإنك مسئول عنه“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anakMembaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baikJangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.Kesepuluh: Memperhatikan masalah salatHendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ “Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“Allah Ta’ala juga berfirman,وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.Baca Juga:Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)***Penulis: Adika MianokiArtikel: www.muslim.or.id Referensi:Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah di channel youtube https://youtu.be/N7Uw57at9zg🔍 Pengertian Iman, Jaminan Rezeki Dari Allah, Teks Ceramah Tentang Menjaga Lisan, Doa Ketika Menerima Sedekah, Dakwah Tentang Bulan RamadhanTags: anak shalihkeutamaan anak shalihkewajiban orang tuamendidik anaknasihatnasihat islamorang tuaparentingparentung anakpendidikan anakrumah tanggatugas orang tua

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya?

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya?

Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid
Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1344155671&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe> Apakah Orang yang Tidak Mengerti Syarat Lailaha illallah Tidak Sah Syahadatnya? Pertanyaan: Apakah seorang Muslim harus mengetahui syarat kalimat tauhid Lā Ilāha illallāh? Apakah jika seseorang tidak mengetahuinya berarti kafir? Jawaban: Segala puji hanya bagi Allah. Sebagaimana sudah diketahui dalam prinsip syariat Islam bahwa kalimat tauhid akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya di akhirat sehingga dia menjadi penduduk surga dan selamat dari neraka jika dia mengerti artinya dan mengamalkan konsekuensinya. Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab raẖimahullahu taʿalā berkata, “Dari Ubadah bin Shamit dia berkata, Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ، والجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ‘Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah kebenaran dan neraka suatu kebenaran, niscaya Allah akan memasukkan ke dalam surga sesuai dengan amalannya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Sabda beliau,  من شهد أن لا إله إلا الله “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, …”  Maksudnya adalah barang siapa yang mengatakan kalimat ini dan mengerti maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin, sebagaimana hal tersebut ditunjukkan dalam firman-Nya: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Juga firman-Nya, إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka mengetahuinya.” (QS. Az-Zukhruf: 86) Sehingga mengucapkannya tanpa mengetahui maknanya dan tanpa menjalankan konsekuensinya tidak akan bermanfaat sama sekali, dan ini sudah disepakati para ulama. Selesai kutipan dari Taisīr al-ʿAzīz al-Ḥamīd. (hal. 50) Namun mengetahui makna dan konsekuensinya ini wajib diketahui oleh seorang muslim secara umum saja. Hal itu sudah cukup, karena tidak ada riwayat dari Nabi sallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meminta rincian syarat ini kepada setiap orang yang baru masuk Islam dengan rincian yang sudah dijelaskan dalam banyak kitab. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah raẖimahullahu taʿalā berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa setiap muslim wajib beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan secara umum. Dan tidak diragukan juga bahwa memahami apa yang dibawa Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam secara rinci hukumnya Fardhu Kifayah karena ini masuk dalam upaya mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasulullah sallallāhu ‘alaihi wa sallam, termasuk mentadaburi al-Quran, mengilmui dan memahaminya, memahami al-Quran dan hadis, menghafalkan zikir, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, berdakwah kepada Allah dengan hikmah, nasehat yang baik dan debat cara yang terbaik, dan lain sebagainya yang telah Allah wajibkan untuk orang-orang yang beriman. Ini hukumnya Fardhu Kifayah, untuk sebagian mereka saja.” Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Seorang Muslim tidak harus menghafal syarat-syarat ini, dan tidak mengurangi kadar imannya jika dia tidak mengetahuinya, namun yang dituntut adalah mengamalkannya dan memperbaiki imannya. Ini harus diamalkan seorang Muslim, walaupun dia orang awam, selama dia mengikatkan hatinya kepada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengagungkan teks-teks syariat, dan mengamalkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks tersebut semampunya. Syeikh al-H̱afiḏ al-Hakami raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Kalimat Lā Ilāha illallāh (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) tidak akan bermanfaat bagi seseorang jika hanya diucapkan saja, kecuali jika dia menyempurnakannya, yaitu dengan syarat-syarat ini. “Menyempurnakannya” maksudnya terkumpul semuanya dalam diri seorang hamba, dan mengamalkannya tanpa melakukan sesuatu hal yang membatalkannya. Namun, maksudnya bukan mengetahui jumlahnya dan menghafalnya, betapa banyak orang awam namun mereka mengamalkannya. Padahal jika mereka disuruh menyebutkannya, tidak bisa menjawab. Betapa banyak orang yang menghafalnya begitu lancar seperti anak panah yang meluncur, namun dia banyak melakukan perkara yang membatalkannya. Sungguh taufik ada di tangan Allah dan hanya Dia tempat memohon pertolongan.” Selesai kutipan dari Maʿārij al-Qabūl (2/418) Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz raẖimahullāhu ta’āla berkata, “Wajib bagi seluruh Muslim untuk merealisasikan kalimat ini dengan memperhatikan syarat-syaratnya. Ketika seseorang Muslim memahami maknanya dan istiqamah di atasnya, maka dia menjadi seorang Muslim yang haram darahnya dan hartanya walaupun tidak mengetahui rincian syarat-syarat ini karena tujuannya adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, walaupun dia tidak mengetahui rincian dari syarat tersebut.” Selesai kutipan dari Majmuʿ Fatāwā aš-Šeiẖ Ibn Bāz (7/58). Akan tetapi, memahami syarat-syarat ini adalah Fardhu Kifayah, sehingga di tengah umat harus ada sebagian mereka yang memahaminya untuk diajarkan kepada manusia. Ini termasuk mendakwahkan Islam yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dijelaskan dalam perkataan Syeikhul Islam di atas. Syeikhul Islam juga mengatakan,  “Adapun yang menjadi kewajiban setiap orang, maka ini berbeda-beda tergantung kadar kemampuan, kebutuhan, keilmuan, dan segala hal yang telah menjadi kewajiban mereka. Sehingga, tidak wajib bagi orang yang tidak mampu mendengarkan ilmu dan memahaminya secara mendalam apa yang menjadi kewajiban orang yang mampu. Wajib bagi orang yang sampai kepadanya teks-teks syariat dan mampu memahaminya untuk mengetahui ilmu agama secara rinci, namun tidak wajib bagi yang tidak bisa mencapainya. Juga wajib bagi seorang mufti, ahli hadis, dan ahli debat, namun tidak wajib bagi orang selain mereka. Selesai kutipan dari Darʾu Taʿāruḍi al-ʿAqli wan an-Naqli (1/51) Allāhua’lam. Sumber:  هل تجب معرفة شروط كلمة التوحيد؟ https://islamqa.info/ar/downloads/answers/290143 PDF sumber artikel Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Syahadat Syiah, Sabar Itu Tidak Ada Batasnya, Contoh Gambar Televisi, Hujan Adalah Berkah, Mimpi Berada Dalam Masjid, Doa Kunut Dan Artinya Visited 82 times, 1 visit(s) today Post Views: 277 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  
Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  


Surat al-Ikhlas dan Artinya – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama Adapun tentang surat al-Ikhlas, maka ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh ia (surat al-Ikhlas) setara dengan sepertiga al-Quran.” Para ulama mengatakan, “Yang dimaksud setara dengan sepertiga al-Quran adalah karena isi al-Quran ada yang berupa hukum-hukum, ada yang berupa kisah-kisah dan berita-berita (tentang masa lalu atau masa depan), dan ada pula yang berupa tauhid dan akidah. Sedangkan surat ini semua isinya berkaitan dengan tauhid (pengesaan) Allah ‘Azza wa Jalla. Surat ini murni menyebutkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa bihamdihi, sehingga surat ini dinamai dengan surat al-Ikhlas. (ARTI AYAT PERTAMA) Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Wahai Muhammad), Dia adalah Allah Yang Maha Esa.” Yakni Dialah Allah Yang Maha Dipertuhankan dan Disembah, Yang Maha Esa—Subhanahu wa bihamdihi—Yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan dalam uluhiyah-Nya. Dia tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, sehingga tidak ada Rabb bagi kita kecuali Dia—Subhanahu wa bihamdihi. Allah tidak memiliki sekutu dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena tidak ada yang sama, serupa, dan sepadan dengan-Nya. Allah juga tidak memiliki sekutu dalam uluhiyah-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak dipertuhankan dan disembah. Kalimat singkat ini adalah makna dari kalimat tauhid, yaitu kalimat “La ilaha illallah”. (ARTI AYAT KEDUA) Allah tempat bergantung, yaitu seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan. Dialah Penguasa yang sempurna kekuasaan-Nya, dan Dialah Yang Mahamulia dan Agung, yang sempurna kemuliaan dan keagungan-Nya—Subhanahu wa bihamdihi. Ayat ini mengandung dorongan bagi para makhluk untuk bergantung dan tunduk kepada-Nya. Hendaknya pula hanya kepada-Nya mereka meminta seluruh kebutuhan, sehingga mereka bermunajat kepada-Nya dengan tunduk, lirih, penuh rasa takut dan rasa harap, terus menerus meminta dengan penuh harapan untuk dikabulkan dan penuh kekhawatiran akan tidak dikabulkan. (ARTI AYAT KETIGA) Allah tidak beranak. Mahasuci lagi Maha Terpuji dari memiliki seorang anak. Ayat ini mengandung bantahan terhadap kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan bantahan terhadap kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, serta bantahan terhadap kaum musyrikin Arab yang mengatakan para malaikat adalah putri-putri Allah. Bagaimana Dia memiliki anak, sedangkan Dia tidak memiliki istri?! Mahasuci Allah dari memiliki anak. Milik-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Seorang anak hanya disematkan kepada yang membutuhkannya, sedangkan Allah Ta’ala Mahakaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, akan tetapi seluruh makhluk-Nya sangat membutuhkan-Nya. Allah juga tidak diperanakkan—Subhanahu wa bihamdihi. Dialah Yang Mahaawal, tidak ada yang mendahului-Nya. Allah pula Yang Mahaakhir, tidak ada yang wujud setelah-Nya. Yang Mahaunggul, tidak ada yang berada di atas-Nya. Allah pula Yang Mahabatin, tidak ada yang tidak Dia ketahui. (ARTI AYAT KEEMPAT) Tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang setara dengan-Nya dalam Zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. —Subhanahu wa bihamdihi. Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada apa pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65) Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, “Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21) ====================================================================================================== أَمَّا سُورَةُ الْإِخْلَاصِ فَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ الْعُلَمَاءُ وَمَعْنَى كَوْنِهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ مِنْهُ مَا هُوَ أَحْكَامٌ وَمِنْهُ مَا هُوَ الْقَصَصُ وَأَخْبَارُ وَمِنْهُ مَا هُوَ تَوْحِيدٌ وَعَقِيْدَةٌ وَهَذِهِ السُّوْرَةُ كُلُّهَا فِي تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَخْلَصَتْ فِي وَصْفِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ سُورَةَ الْإِخْلَاصِ قَالَ تَعَالَى قُلْ (يَا مُحَمَّدُ) هُوَ اللهُ أَحَدٌ أَيْ هُوَ اللهُ الْمَأْلُوهُ الْمَعْبُودُ الْأَحَدُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَالَّذِي لَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَفِي أُلُوهِيَّتِهِ فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ فَلَا رَبَّ لَنَا سِوَاهُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ إِذْ لَا سَمِيَّ وَلَا نَظِيرَ وَلَا مَثِيلَ لَهُ وَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي أُلُوهِيَّتِهِ إِذْ هُوَ وَحْدَهُ الْمَأْلُوْهُ الْمَعْبُوْدُ وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْوَجِيزَةُ هِيَ مَعْنَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ كَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ اللهُ الصَّمَدُ الَّذِي تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْمَخْلُوقَاتُ فيِ جَمِيعِ حَوَائِجِهَا وَهُوَ السَّيِّدُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي سُؤْدَدِهِ وَالْعَزِيزُ وَالْعَظِيمُ الَّذِي بَلَغَ الْكَمَالَ فِي عِزَّتِهِ وَعَظَمَتِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَفِيهِ حَثٌّ لِلْمَخْلُوقِيْنَ أَنْ يَصْمُدُوا إِلَيْهِ وَيَتَضَرَّعُ عَلَيْهِ وَيُنْزِلُ بِهِ جَمِيْعَ حَاجَاتِهِم فَيَدْعُوْنَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً وَخَوْفًا وَطَمَعًا طَالِبِيْنَ وَرَاغِبِيْنَ وَرَاهِبِيْنَ لَمْ يَلِدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْيَهُودِ الَّذِينَ قَالُوا عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ وَالنَّصَارَى الَّذِينَ قَالُوا الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ وَمُشْرِيِكِي الْعَرَبِ الَّذِينَ قَالُوا الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّمَا فَيُنْسَبُ الْوَلَدُ إِلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ وَهُوَ تَعَالَى الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ مُسْتَغْنٍ عَنْ خَلْقِهِ وَخَلْقُهُ جَمِيعُهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ وَلَمْ يُولَدْ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَهُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَالْبَاطِنُ الَّذِي لَيْسَ دُونَهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فِي ذَاتِهِ وَفِي أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ قَالَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ  

Khotbah Jumat: Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Khotbah Jumat: Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu

Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat
Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat


Khotbah Pertamaالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُأَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَىفَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاMa’asyiral muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Khatib juga berwasiat untuk selalu menaati segala sesuatu yang datang dari utusan Allah, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, membekali diri kita dengan ucapan yang penuh kejujuran dan amalan yang penuh keikhlasan.Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman,هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9)Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman,اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.“Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39)Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya.Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala,Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan.Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671)Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.Jemaah Jumat, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala.Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4)Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya,قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ“Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh.Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 169)Jemaah yang dirahmati dan dimuliakan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang visioner. Agama Islam mengajak pengikutnya untuk meresapi dan memikirkan kembali akibat dari suatu perbuatan, memikirkan juga apa yang bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan, menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan akal sehat. Tidak menerima semua seruan dan tidak pula mengekor kepada setiap penyeru/da’i, memilih dan memilah mana jalan terbaik untuk dirinya agar tidak tersesat. Hal ini sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala,وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)Di antara bentuk berbicara agama tanpa ilmu yang harus kita hindari adalah memperolok-olok agama, merendahkannya, dan mengurangi keagungan kedudukannya. Sungguh hukuman dari perbuatan semacam ini sangatlah keras. Allah Ta’ala berfirman,وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Al-Jasiyah: 9)Seorang muslim yang beriman dan taat terhadap semua perintah-Nya seharusnya berhati-hati dan menghindarkan dirinya dari mendengarkan dan menonton mereka yang memperolok-olok agama Islam. Hal ini untuk mengamalkan ayat,وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ“Apabila Engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan Engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am: 68)Seorang mukmin yang benar tidaklah duduk dan ikut serta mendengarkan mereka yang memperolok-olok dan melecehkan agama, karena itu merupakan tanda kebodohan dan kedunguan. Mukmin yang benar akan lebih selektif dan memilih mana yang bisa ia dengarkan dan bisa ia ikuti dan mana yang tidak. Berusaha untuk hanya mendengarkan kebenaran dan kebaikan sehingga diri kita terhindar dari murka Allah Ta’ala dan menjadikan usaha kita ini sebagai sebab masuknya kita ke dalam surga.Jemaah yang berbahagia.Marilah kita semua berdoa agar Allah menghindarkan diri kita dari berfatwa dan berbicara tentang agama tanpa ilmu, menjadikan diri kita salah satu hamba-Nya yang berhati-hati ketika berbicara, tidak memperolok-olok ataupun melecehkan agama, walaupun dengan niatan bercanda.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khotbah Keduaاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌرَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَىاللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِرَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ***Penulis: Muhammad Idris, Lc.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Keutamaan Bulan Rajab, Hukum Sunat, Hukum Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dalam Agama Islam, Sholat Fajar, Serahkan Semua Kepada AllahTags: dakwahIlmuilmu agamakeutamaan ilmukhutbahkhutbah jumatmateri khutbah jumatteks khutbah jumattema khutbah jumat

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ
Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ


Takut Makanan Tapi Tak Takut Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Salah seorang ulama terdahulu berkata, “Sungguh mengherankan orang yang menghindari beberapa makanan karena takut keburukan efek sampingnya, bagaimana kok ia tidak menghindari dosa-dosa karena takut keburukannya?!” Jika seorang hamba terus berlarut-larut melakukan dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Makanan-makanan yang sangat ia hindari ini, jika tidak dapat ia hindari, bisa jadi akan menjerumuskannya kepada bahaya duniawi. Bisa jadi ya, dan bisa jadi tidak. Namun jika seorang hamba tidak menghindari dosa-dosa, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka. ====================================================================================================== فَأَحَدُ الْمُتَقَدِّمِيْنَ يَقُولُ عَجَبًا لِمَنْ يَتَّقِي بَعْضَ الْأَطْعِمَةِ خَوْفَ مَضَرَّتِهَا كَيْفَ لَا يَتَّقِي الذُّنُوبَ خَوْفَ مَعَرَّتِهَا الذُّنُوْبُ إِذَا تَمَادَى فِيهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي هُوَ حَرِيصٌ عَلَى اتِّقَائِهَا إِذَا لَمْ يَتَّقِهَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى مَضَرَّةٍ دُنْيَوِيَّةٍ قَدْ تَكُونُ قَدْ لَا تَكُونُ لَكِنِ الذُّنُوبُ إِذَا مَا أَتْقَاهَا الْعَبْدُ أَفْضَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz?

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz?

Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 QRIS donasi Yufid
Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1378587385&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz? Pertanyaan: Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya. Jawaban: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du. Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal: Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu. Akhlaknya baik. Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه  “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434) Imam Malik rahimahullah berkata: لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti hawa (kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (At-Tamhid, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66). Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 26/40). Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان “Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” (HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no.1013) Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu: Siapa yang mengatakannya? Dari mana datangnya pemikiran tersebut? Apa landasannya? Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Orang yang mengatakannya belajar di mana? Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)? Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini. Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah, hal.85). Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para masyaikh yang tsiqah (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (Mukhtashar al-Mu’lim, 72-73). Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” (QS. al-Anbiya: 7). Wallahu a’lam. Semoga Allah ta’ala memberi taufik. *** Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK Kode BSI: 451 🔍 Baitul Izzah, Menafkahi Keluarga, Arti Islam Adalah, Cara Menanam Ari Ari Bayi Laki Laki, Duduk Iftirasy Adalah, Akikah Hukumnya Visited 418 times, 5 visit(s) today Post Views: 560 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid

Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid
Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid


Baca pembahasan sebelumnya Pandangan Syekh Ibnu Baz dalam Masalah Akidah dan Tauhid (Bag. 1) Daftar Isi sembunyikan 1. Macam-macam kemunafikan 2. Pembagian jenis tauhid 3. Rukun tauhid 4. Islam ada di setiap masa 5. Makna laa ilaha illallah 6. Hukum berdakwah 7. Metode dakwah itu bermacam-macam 8. Selamatkan dari kesyirikan terlebih dulu 9. Menggantung kalung-kalung jimat Macam-macam kemunafikanSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Kemunafikan itu ada 2 macam:Pertama, kemunafikan i’tiqadi (keyakinan). Yang terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk kemunafikan ini.Kedua, kemunafikan ‘amali (perbuatan). Bentuknya seperti yang disebutkan dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.”Pembagian jenis tauhidDibacakan di hadapan Syekh perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Adapun tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan ada 2 macam: tauhid dalam pengenalan dan penetapan (al-ma’rifah wal-itsbat) serta tauhid dalam doa dan tujuan (ath-thalab wal-qashd) ….”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Perkataan Ibnul Qoyim ini perkataan yang agung. Tauhid yang menjadi seruan para rasul dan isi kitab yang diturunkan itu bentuknya 2 macam ini. Sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagianPertama, Tauhid uluhiyah.Kedua, Tauhid rububiyah.Ketiga, Tauhid asma wa-shifat.Pembagian seperti ini juga diperbolehkan.”Rukun tauhidSyekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tauhid itu mencakup 2 hal:Pertama: Mentauhidkan Allah dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.Kedua: Kufur pada tuhan selain-Nya dan meninggalkan kesyirikan.”Islam ada di setiap masaDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid, “Risalah itu mencakup seluruh umat”.Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu dari mulai diutusnya Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua rasul diutus khusus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia.”Baca Juga: Tauhid, Fitrah Seluruh ManusiaMakna laa ilaha illallahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan Syekh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitab ‘Fathul Majid’, “Abu Abdillah Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, ‘Laa Ilaha Illallah itu artinya tidak ada sesembahan selain Dia.’”Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yaitu tidak ada sesembahan yang berhak disembah, selain Dia.”Hukum berdakwahDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah Bab “Mendakwahkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah” dan yang terkait dengannya dalam Kitab Tauhid.Beliau berkata, “Berdakwah itu hukumnya fardu kifayah.”Metode dakwah itu bermacam-macamDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitab Fathul Majid ketika disebutkan perkataan Ibnul Qoyim dalam menjelaskan firman Allah,ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)Ibnul Qoyim rahimahullah berkata, “Allah sebutkan tingkatan dakwah dan Allah jadikan kondisi manusia yang didakwahi itu bertingkat.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang mencari dan mencintai kebenaran. Dia akan mendahulukan kebenaran dibandingkan yang lainnya. Model seperti ini didakwahi dengan hikmah, tidak perlu pelajaran dan berbantah dengannya.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang sibuk dengan hal yang berlawanan dengan kebenaran, namun jika dia mengetahui kebenaran dia akan mengikutinya. Model seperti ini perlu diberikan pelajaran dengan motivasi maupun ancaman.Boleh jadi yang didakwahi adalah orang yang berpaling dan menentang. Model seperti ini diajak diskusi dengan baik. Jika mau kembali, maka itulah yang diharapkan. Kalau tidak mau, maka dilanjutkan dengan mendebatnya jika memungkinkan.” (Selesai perkataan Ibnul Qoyim)Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ini sebuah perkataan yang benar. Manusia itu bermacam-macam, mereka didakwahi sesuai kondisinya.”Baca Juga: Dakwah Tauhid, Perusak Persatuan?Selamatkan dari kesyirikan terlebih duluSyekh Ibnu Baz pernah ditanya tentang seorang da’i di sebuah negeri yang penuh dengan kesyirikan, namun dia berdakwah pada manusia hanya seputar menjauhkan diri dari dosa besar, bukan kesyirikan.Maka beliau menjawab, “Orang ini tidak memiliki pemahaman yang baik. Dia wajib untuk memulai dengan melarang kesyirikan dan memotivasi orang untuk bertauhid. Karena seseorang yang selamat dari perbuatan syirik, dia telah selamat dari sebuah keburukan yang besar. Adapun dosa besar, maka urusannya terserah kehendak Allah. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa mengazabnya.”Menggantung kalung-kalung jimatDibacakan di hadapan Syekh Ibnu Baz rahimahullah perkataan penulis Kitab Tauhid, “Termasuk perbuatan syirik adalah menggantungkan kalung atau benang atau yang lainnya untuk mengangkat atau mencegah datangnya bala bencana.”Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya syirik ashghar (kecil). Bisa berubah menjadi syirik akbar (besar) jika beranggapan bahwa benda tersebut yang memberikan manfaat dengan sendirinya.”Baca Juga:Antara Nadzar Tauhid, Syirik, Maksiat dan MakruhSepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid***Penerjemah: Amrullah Akadhinta, S.T.Artikel: www.muslim.or.id🔍 Dukhan, Sahabat Dunia Akhirat, Larangan Riba Dalam Al Quran, Ilmu Ikhlas Adalah, Dzahir ArtinyaTags: Aqidahaqidah islamaqidah salafbelajr tauhiddakwah salafdakwah sunnahdakwah tauhidkeutamaan tauhidmanhaj salafsyaikh bin bazTauhid
Prev     Next