Biografi Ibnu Hazm Al-Andalusi

Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.

Biografi Ibnu Hazm Al-Andalusi

Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.
Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.


Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.

Adab-Adab Makan

آداب الطعام Oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi د. أمين بن عبدالله الشقاوي الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن من أسرار عظمة هذا الدين أنه ما ترك جانبًا من جوانب الحياة إلا وتناوله بالبيان والإيضاح، ومن هذه الجوانب التي تناولها هذا الدين آداب الطعام، ومن تلك الآداب: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak memiliki sekutu, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Salah satu rahasia keagungan agama ini adalah tidak menyisakan satupun aspek kehidupan melainkan datang dengan penjelasannya. Di antara aspek yang dijelaskan dalam agama ini adalah adab-adab makan, dan berikut adalah adab-adabnya: أولًا: التسمية قبل البدء بالطعام أو الشراب، روى البخاري ومسلم من حديث عمرو بن سلمة: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال له: “يا غلام، سم الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك”[البخاري برقم (٥٣٧٦)، ومسلم برقم (٢٠٢٢)].وإذا نسي أن يسمي عند أول الطعام فليسم إذا ذكر، روى الترمذي في سننه من حديث عائشة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم طعامًا فليقل: بسم الله، فإن نسي في أوله، فليقل: بسم الله في أوله و آخره”[برقم (١٨٥٨) وقال: حديث حسن صحيح]. Pertama: Membaca basmalah sebelum memulai makan atau minum  Diriwayatkan dari Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Amru bin Salamah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya: يَا غُلَامُ! سَمِّ اَللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ “Wahai anak muda! Bacalah basmalah, lalu makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Apabila seseorang lupa membaca basmalah pada awal makan, maka hendaklah dia membacanya saat ingat. Diriwayatkan dari At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَاماً فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بسمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ “Apabila salah seorang dari kalian memakan makanan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah’. Namun, apabila ia lupa mengucapkannya pada awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ (Dengan nama Allah di awal dan akhirnya).” (HR. At-Tirmidzi no. 1858; dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). ثانيًا: الأكل والشرب باليمين، فلا يجوز للمسلم أن يأكل أو يشرب بشماله، روى مسلم في صحيحه من حديث سلمة بن الأكوع، أن رجلًا أكل عند رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشماله فقال النبي – صلى الله عليه وسلم -: “كل بيمينك” قال: لاأستطيع. قال: “لا استطعت”، ما منعه إلا الكبر قال: فما رفعها إلى فيه”[برقم (٢٠٢١)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث ابن عمر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه و إذا شرب فليشرب بيمينه فإن الشيطان يأكل بشماله و يشرب بشماله”[برقم (٢٠٢٠)]. Kedua: Makan dan minum dengan tangan kanan Seorang muslim tidak boleh makan atau minum dengan tangan kiri. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Salamah bin al-Akwa’ bahwa pernah ada laki-laki yang memakan makanan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa!” Maka Rasulullah bersabda, “Semoga kamu memang tidak bisa!” Tidak ada yang membuatnya enggan selain kesombongannya, sehingga ia benar-benar tidak mampu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tangannya setelah itu. (HR. Muslim no. 2021). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِ “Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum juga dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020). ثالثًا: الأكل بثلاثة أصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك أنه حدثهم: “أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يأكل بثلاث أصابع، فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. Ketiga: Makan dengan tiga jari Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik yang meriwayatkan bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). رابعًا: لعق الأصابع وصحفة الطعام، فإذا أكل الإنسان الطعام، وبقي شيء يسير منه، لا يضره تناوله، أو بقي أثر للطعام في الصحفة، فالسنة أن يلعقها، لأن الإنسان لا يدري أين البركة، وكذلك السنة لعق الأصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك قال: “كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأكل بثلاث أصابع فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث جابر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – أمر بلعق الأصابع والصحفة، وقال: “إنكم لا تدرون في أيه البركة؟”[برقم (٢٠٣٣)]. Keempat: Menjilat jari dan piring makan Apabila seseorang memakan makanan, dan tersisa sedikit darinya yang tidak berbahaya untuk dimakan atau tersisa bekas makanan di piring, maka sunnahnya adalah menjilatnya, karena ia tidak mengetahui di mana letak keberkahan makanannya. Sunnah juga untuk menjilat jari jemari. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadits Jabir bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menjilat jari-jemari dan piring. Beliau bersabda: إِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ الْبَرَكَةُ “Karena kalian tidak mengetahui di mana letak keberkahannya.” (HR. Muslim no. 2033). خامسًا: أكل ما تناثر من الطعام: روى مسلم في صحيحه من حديث جابر بن عبد الله – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا وقعت لقمة أحدكم فليأخذها، فليمط ما كان بها من أذى، وليأكلها ولا يدعها للشيطان، ولا يمسح يده بالمنديل حتى يلعق أصابعه فإنه لا يدري في أي طعامه البركة”[برقم (٢٠٣٣)]. Kelima: Memakan makanan yang tercecer Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي فِي أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ  “Apabila terjatuh sesuap makanan salah satu dari kalian, maka hendaklah ia mengambilnya dan membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkan makanan itu untuk setan. Jangan pula ia mengelap tangannya dengan lap sebelum ia menjilat jari-jemarinya, karena ia tidak mengetahui makanan bagian mana yang mengandung keberkahan.” (HR. Muslim no. 2033). سادسًا: الأكل مع الغير من زوجة، أو أولاد أو ضيف غيرهم: روى أبو داود في سننه من حديث وحشي بن حرب عن أبيه عن جده – رضي الله عنه -: أن أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – قالوا: يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع، قال: فلعلكم تفترقون؟ قالوا: نعم، قال: فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله عليه، يبارك لكم فيه”. Keenam: Makan dengan orang lain, baik itu istri, anak, tamu, atau lainnya Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhu bahwa para Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata, “Wahai Rasulullah! Kami makan tapi tidak juga kenyang!” Beliau bersabda, “Mungkin kalian makan berpencar-pencar?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Berkumpullah saat makan, dan sebutlah nama Allah sebelumnya, niscaya kalian akan diberkahi dalam makanan itu.” (HR. Abu Dawud). سابعًا: النهي عن التنفس في الإناء: روى البخاري في صحيحه من حديث أبي قتادة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا شرب أحدكم فلا يتنفس في الإناء”[برقم (١٥٣)]. ومثله النفخ في الطعام والشراب، روى أبو داود في سننه من حديث أبي سعيد الخدري قال: نهى النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يتنفس في الإناء، أو ينفخ فيه[برقم (3728) وصححه الألباني في صحيح سنن أبي داود (2/710) برقم (3171)]. Ketujuh: Larangan bernafas di wadah Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ “Apabila salah seorang dari kalian minum, maka janganlah ia bernafas di wadahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 153). Dilarang juga meniup makanan atau minuman. Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk bernafas di wadah dan meniupnya.” (HR. Abu Dawud no. 3728. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud jilid 2 hlm. 710 no. 3171). ثامنًا: النهي عن الأكل من أعلى الصحفة، أو أوسطها: وينقسم إلى قسمين: الأول: أن يكون الطعام واحد بمعنى أن الذي في الصحفة طعام من نوع واحد، فالسنة أن يأكل مما يليه، لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث السابق: “وكل مما يليك”[صحيح البخاري برقم (٥٣٧٦)، وصحيح مسلم برقم (٢٠٢٢)]، ولقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه الترمذي في سننه من حديث ابن عباس – رضي الله عنه -: “البركة تنزل وسط الطعام، فكلوا من حافتيه، ولا تأكلوا من وسطه”[برقم (١٨٠٥)، وقال: حديث حسن صحيح]. الثاني: أن يكون الطعام أنواعًا، فلا بأس بالأكل من أعلى الصحفة، وجوانبها، ويدل لذلك ما رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما من حديث أنس بن مالك قال: “رأيت النبي – صلى الله عليه وسلم – يتتبع الدباء من حوالي الصحفة”[البخاري برقم (٢٠٩٢)، ومسلم برقم (٢٠٤١)]. Kedelapan: Larangan memulai mengambil makanan dari atas atau tengah wadah Hal ini terbagi menjadi dua bagian: Apabila makanan yang ada di wadah hanya satu jenis, maka sunnahnya adalah makan yang terdekat dengannya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang telah disebutkan di atas, “Dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu: الْبَرَكَة تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ “Keberkahan turun di tengah makanan, maka mulailah makan dari tepinya, jangan kalian memulai makan dari tengahnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1805, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Apabila di wadah terdapat berbagai macam makanan, maka tidak mengapa untuk memulai makan dari atas atau tepi wadah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Anas bin Malik, ia berkata, “Aku pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mencari-cari dubba’ (daging yang dikeringkan) dari tepi-tepi wadah.” (HR. Al-Bukhari no. 2092 dan Muslim no. 2041). تاسعًا: النهي عن الشرب قائمًا: لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه من أبي هريرة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يشربن أحد منكم قائمًا، فمن نسي فليستقئ”[برقم (٢٠٢٦)]. Kesembilan: Larangan minum sambil berdiri Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya Ash-Shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian minum sambil berdiri, barang siapa yang lupa maka hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim no. 2026). عاشرًا: الاقتصاد في أكل الطعام: روى الترمذي من حديث المقدام بن معدي كرب قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: “ما ملأ آدمي وعاء شرًا من بطنه بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفَسِهِ”[برقم (٢٣٨٠)، وقال حديث حسن صحيح]. فائدة: روى مسلم في صحيحه من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ضافه ضيف وهو كافر فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فحلبت، فشرب حلابها، ثم أخرى فشربه، ثم أخرى فشربه، حتى شرب حلاب سبع شياه، ثم إنه أصبح فأسلم فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فشرب حلابها ثم أمر بأخرى فلم يستتمها، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “المؤمن يشرب في معي واحد، والكافر يشرب في سبعة أمعاء”[برقم (٢٠٦٣) ومختصرًا برقم (٢٠٦٢)]. والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Kesepuluh: Tidak berlebih-lebihan dalam makan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Al-Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ بِحَسْب ابن الآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika ia harus makan lebih dari itu, maka cukuplah sepertiga perutnya untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Tambahan: Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadts Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menjamu tamu yang kafir. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba dan diperah susunya. Kemudian tamu itu meminumnya, lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya. Lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya, hingga tamu itu meminum perahan susu dari tujuh domba. Pada pagi harinya, tamu itu masuk Islam. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba untuknya, kemudian tamu itu meminum perahan susunya. Lalu beliau memerintahkan untuk didatangkan domba lagi untuknya dan diperah susunya, tapi tamu itu tidak menghabiskannya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءَ “Orang beriman akan minum dengan satu usus, sedangkan orang kafir minum dengan tujuh usus.” (HR. Muslim no. 2063, dan diriwayatkan secara ringkas dalam hadis no. 2062). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/آداب الطعام Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 494 times, 1 visit(s) today Post Views: 582 QRIS donasi Yufid

Adab-Adab Makan

آداب الطعام Oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi د. أمين بن عبدالله الشقاوي الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن من أسرار عظمة هذا الدين أنه ما ترك جانبًا من جوانب الحياة إلا وتناوله بالبيان والإيضاح، ومن هذه الجوانب التي تناولها هذا الدين آداب الطعام، ومن تلك الآداب: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak memiliki sekutu, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Salah satu rahasia keagungan agama ini adalah tidak menyisakan satupun aspek kehidupan melainkan datang dengan penjelasannya. Di antara aspek yang dijelaskan dalam agama ini adalah adab-adab makan, dan berikut adalah adab-adabnya: أولًا: التسمية قبل البدء بالطعام أو الشراب، روى البخاري ومسلم من حديث عمرو بن سلمة: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال له: “يا غلام، سم الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك”[البخاري برقم (٥٣٧٦)، ومسلم برقم (٢٠٢٢)].وإذا نسي أن يسمي عند أول الطعام فليسم إذا ذكر، روى الترمذي في سننه من حديث عائشة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم طعامًا فليقل: بسم الله، فإن نسي في أوله، فليقل: بسم الله في أوله و آخره”[برقم (١٨٥٨) وقال: حديث حسن صحيح]. Pertama: Membaca basmalah sebelum memulai makan atau minum  Diriwayatkan dari Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Amru bin Salamah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya: يَا غُلَامُ! سَمِّ اَللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ “Wahai anak muda! Bacalah basmalah, lalu makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Apabila seseorang lupa membaca basmalah pada awal makan, maka hendaklah dia membacanya saat ingat. Diriwayatkan dari At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَاماً فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بسمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ “Apabila salah seorang dari kalian memakan makanan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah’. Namun, apabila ia lupa mengucapkannya pada awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ (Dengan nama Allah di awal dan akhirnya).” (HR. At-Tirmidzi no. 1858; dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). ثانيًا: الأكل والشرب باليمين، فلا يجوز للمسلم أن يأكل أو يشرب بشماله، روى مسلم في صحيحه من حديث سلمة بن الأكوع، أن رجلًا أكل عند رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشماله فقال النبي – صلى الله عليه وسلم -: “كل بيمينك” قال: لاأستطيع. قال: “لا استطعت”، ما منعه إلا الكبر قال: فما رفعها إلى فيه”[برقم (٢٠٢١)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث ابن عمر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه و إذا شرب فليشرب بيمينه فإن الشيطان يأكل بشماله و يشرب بشماله”[برقم (٢٠٢٠)]. Kedua: Makan dan minum dengan tangan kanan Seorang muslim tidak boleh makan atau minum dengan tangan kiri. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Salamah bin al-Akwa’ bahwa pernah ada laki-laki yang memakan makanan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa!” Maka Rasulullah bersabda, “Semoga kamu memang tidak bisa!” Tidak ada yang membuatnya enggan selain kesombongannya, sehingga ia benar-benar tidak mampu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tangannya setelah itu. (HR. Muslim no. 2021). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِ “Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum juga dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020). ثالثًا: الأكل بثلاثة أصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك أنه حدثهم: “أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يأكل بثلاث أصابع، فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. Ketiga: Makan dengan tiga jari Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik yang meriwayatkan bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). رابعًا: لعق الأصابع وصحفة الطعام، فإذا أكل الإنسان الطعام، وبقي شيء يسير منه، لا يضره تناوله، أو بقي أثر للطعام في الصحفة، فالسنة أن يلعقها، لأن الإنسان لا يدري أين البركة، وكذلك السنة لعق الأصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك قال: “كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأكل بثلاث أصابع فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث جابر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – أمر بلعق الأصابع والصحفة، وقال: “إنكم لا تدرون في أيه البركة؟”[برقم (٢٠٣٣)]. Keempat: Menjilat jari dan piring makan Apabila seseorang memakan makanan, dan tersisa sedikit darinya yang tidak berbahaya untuk dimakan atau tersisa bekas makanan di piring, maka sunnahnya adalah menjilatnya, karena ia tidak mengetahui di mana letak keberkahan makanannya. Sunnah juga untuk menjilat jari jemari. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadits Jabir bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menjilat jari-jemari dan piring. Beliau bersabda: إِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ الْبَرَكَةُ “Karena kalian tidak mengetahui di mana letak keberkahannya.” (HR. Muslim no. 2033). خامسًا: أكل ما تناثر من الطعام: روى مسلم في صحيحه من حديث جابر بن عبد الله – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا وقعت لقمة أحدكم فليأخذها، فليمط ما كان بها من أذى، وليأكلها ولا يدعها للشيطان، ولا يمسح يده بالمنديل حتى يلعق أصابعه فإنه لا يدري في أي طعامه البركة”[برقم (٢٠٣٣)]. Kelima: Memakan makanan yang tercecer Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي فِي أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ  “Apabila terjatuh sesuap makanan salah satu dari kalian, maka hendaklah ia mengambilnya dan membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkan makanan itu untuk setan. Jangan pula ia mengelap tangannya dengan lap sebelum ia menjilat jari-jemarinya, karena ia tidak mengetahui makanan bagian mana yang mengandung keberkahan.” (HR. Muslim no. 2033). سادسًا: الأكل مع الغير من زوجة، أو أولاد أو ضيف غيرهم: روى أبو داود في سننه من حديث وحشي بن حرب عن أبيه عن جده – رضي الله عنه -: أن أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – قالوا: يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع، قال: فلعلكم تفترقون؟ قالوا: نعم، قال: فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله عليه، يبارك لكم فيه”. Keenam: Makan dengan orang lain, baik itu istri, anak, tamu, atau lainnya Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhu bahwa para Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata, “Wahai Rasulullah! Kami makan tapi tidak juga kenyang!” Beliau bersabda, “Mungkin kalian makan berpencar-pencar?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Berkumpullah saat makan, dan sebutlah nama Allah sebelumnya, niscaya kalian akan diberkahi dalam makanan itu.” (HR. Abu Dawud). سابعًا: النهي عن التنفس في الإناء: روى البخاري في صحيحه من حديث أبي قتادة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا شرب أحدكم فلا يتنفس في الإناء”[برقم (١٥٣)]. ومثله النفخ في الطعام والشراب، روى أبو داود في سننه من حديث أبي سعيد الخدري قال: نهى النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يتنفس في الإناء، أو ينفخ فيه[برقم (3728) وصححه الألباني في صحيح سنن أبي داود (2/710) برقم (3171)]. Ketujuh: Larangan bernafas di wadah Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ “Apabila salah seorang dari kalian minum, maka janganlah ia bernafas di wadahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 153). Dilarang juga meniup makanan atau minuman. Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk bernafas di wadah dan meniupnya.” (HR. Abu Dawud no. 3728. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud jilid 2 hlm. 710 no. 3171). ثامنًا: النهي عن الأكل من أعلى الصحفة، أو أوسطها: وينقسم إلى قسمين: الأول: أن يكون الطعام واحد بمعنى أن الذي في الصحفة طعام من نوع واحد، فالسنة أن يأكل مما يليه، لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث السابق: “وكل مما يليك”[صحيح البخاري برقم (٥٣٧٦)، وصحيح مسلم برقم (٢٠٢٢)]، ولقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه الترمذي في سننه من حديث ابن عباس – رضي الله عنه -: “البركة تنزل وسط الطعام، فكلوا من حافتيه، ولا تأكلوا من وسطه”[برقم (١٨٠٥)، وقال: حديث حسن صحيح]. الثاني: أن يكون الطعام أنواعًا، فلا بأس بالأكل من أعلى الصحفة، وجوانبها، ويدل لذلك ما رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما من حديث أنس بن مالك قال: “رأيت النبي – صلى الله عليه وسلم – يتتبع الدباء من حوالي الصحفة”[البخاري برقم (٢٠٩٢)، ومسلم برقم (٢٠٤١)]. Kedelapan: Larangan memulai mengambil makanan dari atas atau tengah wadah Hal ini terbagi menjadi dua bagian: Apabila makanan yang ada di wadah hanya satu jenis, maka sunnahnya adalah makan yang terdekat dengannya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang telah disebutkan di atas, “Dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu: الْبَرَكَة تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ “Keberkahan turun di tengah makanan, maka mulailah makan dari tepinya, jangan kalian memulai makan dari tengahnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1805, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Apabila di wadah terdapat berbagai macam makanan, maka tidak mengapa untuk memulai makan dari atas atau tepi wadah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Anas bin Malik, ia berkata, “Aku pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mencari-cari dubba’ (daging yang dikeringkan) dari tepi-tepi wadah.” (HR. Al-Bukhari no. 2092 dan Muslim no. 2041). تاسعًا: النهي عن الشرب قائمًا: لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه من أبي هريرة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يشربن أحد منكم قائمًا، فمن نسي فليستقئ”[برقم (٢٠٢٦)]. Kesembilan: Larangan minum sambil berdiri Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya Ash-Shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian minum sambil berdiri, barang siapa yang lupa maka hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim no. 2026). عاشرًا: الاقتصاد في أكل الطعام: روى الترمذي من حديث المقدام بن معدي كرب قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: “ما ملأ آدمي وعاء شرًا من بطنه بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفَسِهِ”[برقم (٢٣٨٠)، وقال حديث حسن صحيح]. فائدة: روى مسلم في صحيحه من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ضافه ضيف وهو كافر فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فحلبت، فشرب حلابها، ثم أخرى فشربه، ثم أخرى فشربه، حتى شرب حلاب سبع شياه، ثم إنه أصبح فأسلم فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فشرب حلابها ثم أمر بأخرى فلم يستتمها، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “المؤمن يشرب في معي واحد، والكافر يشرب في سبعة أمعاء”[برقم (٢٠٦٣) ومختصرًا برقم (٢٠٦٢)]. والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Kesepuluh: Tidak berlebih-lebihan dalam makan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Al-Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ بِحَسْب ابن الآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika ia harus makan lebih dari itu, maka cukuplah sepertiga perutnya untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Tambahan: Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadts Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menjamu tamu yang kafir. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba dan diperah susunya. Kemudian tamu itu meminumnya, lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya. Lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya, hingga tamu itu meminum perahan susu dari tujuh domba. Pada pagi harinya, tamu itu masuk Islam. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba untuknya, kemudian tamu itu meminum perahan susunya. Lalu beliau memerintahkan untuk didatangkan domba lagi untuknya dan diperah susunya, tapi tamu itu tidak menghabiskannya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءَ “Orang beriman akan minum dengan satu usus, sedangkan orang kafir minum dengan tujuh usus.” (HR. Muslim no. 2063, dan diriwayatkan secara ringkas dalam hadis no. 2062). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/آداب الطعام Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 494 times, 1 visit(s) today Post Views: 582 QRIS donasi Yufid
آداب الطعام Oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi د. أمين بن عبدالله الشقاوي الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن من أسرار عظمة هذا الدين أنه ما ترك جانبًا من جوانب الحياة إلا وتناوله بالبيان والإيضاح، ومن هذه الجوانب التي تناولها هذا الدين آداب الطعام، ومن تلك الآداب: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak memiliki sekutu, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Salah satu rahasia keagungan agama ini adalah tidak menyisakan satupun aspek kehidupan melainkan datang dengan penjelasannya. Di antara aspek yang dijelaskan dalam agama ini adalah adab-adab makan, dan berikut adalah adab-adabnya: أولًا: التسمية قبل البدء بالطعام أو الشراب، روى البخاري ومسلم من حديث عمرو بن سلمة: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال له: “يا غلام، سم الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك”[البخاري برقم (٥٣٧٦)، ومسلم برقم (٢٠٢٢)].وإذا نسي أن يسمي عند أول الطعام فليسم إذا ذكر، روى الترمذي في سننه من حديث عائشة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم طعامًا فليقل: بسم الله، فإن نسي في أوله، فليقل: بسم الله في أوله و آخره”[برقم (١٨٥٨) وقال: حديث حسن صحيح]. Pertama: Membaca basmalah sebelum memulai makan atau minum  Diriwayatkan dari Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Amru bin Salamah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya: يَا غُلَامُ! سَمِّ اَللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ “Wahai anak muda! Bacalah basmalah, lalu makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Apabila seseorang lupa membaca basmalah pada awal makan, maka hendaklah dia membacanya saat ingat. Diriwayatkan dari At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَاماً فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بسمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ “Apabila salah seorang dari kalian memakan makanan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah’. Namun, apabila ia lupa mengucapkannya pada awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ (Dengan nama Allah di awal dan akhirnya).” (HR. At-Tirmidzi no. 1858; dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). ثانيًا: الأكل والشرب باليمين، فلا يجوز للمسلم أن يأكل أو يشرب بشماله، روى مسلم في صحيحه من حديث سلمة بن الأكوع، أن رجلًا أكل عند رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشماله فقال النبي – صلى الله عليه وسلم -: “كل بيمينك” قال: لاأستطيع. قال: “لا استطعت”، ما منعه إلا الكبر قال: فما رفعها إلى فيه”[برقم (٢٠٢١)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث ابن عمر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه و إذا شرب فليشرب بيمينه فإن الشيطان يأكل بشماله و يشرب بشماله”[برقم (٢٠٢٠)]. Kedua: Makan dan minum dengan tangan kanan Seorang muslim tidak boleh makan atau minum dengan tangan kiri. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Salamah bin al-Akwa’ bahwa pernah ada laki-laki yang memakan makanan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa!” Maka Rasulullah bersabda, “Semoga kamu memang tidak bisa!” Tidak ada yang membuatnya enggan selain kesombongannya, sehingga ia benar-benar tidak mampu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tangannya setelah itu. (HR. Muslim no. 2021). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِ “Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum juga dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020). ثالثًا: الأكل بثلاثة أصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك أنه حدثهم: “أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يأكل بثلاث أصابع، فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. Ketiga: Makan dengan tiga jari Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik yang meriwayatkan bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). رابعًا: لعق الأصابع وصحفة الطعام، فإذا أكل الإنسان الطعام، وبقي شيء يسير منه، لا يضره تناوله، أو بقي أثر للطعام في الصحفة، فالسنة أن يلعقها، لأن الإنسان لا يدري أين البركة، وكذلك السنة لعق الأصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك قال: “كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأكل بثلاث أصابع فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث جابر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – أمر بلعق الأصابع والصحفة، وقال: “إنكم لا تدرون في أيه البركة؟”[برقم (٢٠٣٣)]. Keempat: Menjilat jari dan piring makan Apabila seseorang memakan makanan, dan tersisa sedikit darinya yang tidak berbahaya untuk dimakan atau tersisa bekas makanan di piring, maka sunnahnya adalah menjilatnya, karena ia tidak mengetahui di mana letak keberkahan makanannya. Sunnah juga untuk menjilat jari jemari. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadits Jabir bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menjilat jari-jemari dan piring. Beliau bersabda: إِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ الْبَرَكَةُ “Karena kalian tidak mengetahui di mana letak keberkahannya.” (HR. Muslim no. 2033). خامسًا: أكل ما تناثر من الطعام: روى مسلم في صحيحه من حديث جابر بن عبد الله – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا وقعت لقمة أحدكم فليأخذها، فليمط ما كان بها من أذى، وليأكلها ولا يدعها للشيطان، ولا يمسح يده بالمنديل حتى يلعق أصابعه فإنه لا يدري في أي طعامه البركة”[برقم (٢٠٣٣)]. Kelima: Memakan makanan yang tercecer Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي فِي أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ  “Apabila terjatuh sesuap makanan salah satu dari kalian, maka hendaklah ia mengambilnya dan membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkan makanan itu untuk setan. Jangan pula ia mengelap tangannya dengan lap sebelum ia menjilat jari-jemarinya, karena ia tidak mengetahui makanan bagian mana yang mengandung keberkahan.” (HR. Muslim no. 2033). سادسًا: الأكل مع الغير من زوجة، أو أولاد أو ضيف غيرهم: روى أبو داود في سننه من حديث وحشي بن حرب عن أبيه عن جده – رضي الله عنه -: أن أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – قالوا: يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع، قال: فلعلكم تفترقون؟ قالوا: نعم، قال: فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله عليه، يبارك لكم فيه”. Keenam: Makan dengan orang lain, baik itu istri, anak, tamu, atau lainnya Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhu bahwa para Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata, “Wahai Rasulullah! Kami makan tapi tidak juga kenyang!” Beliau bersabda, “Mungkin kalian makan berpencar-pencar?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Berkumpullah saat makan, dan sebutlah nama Allah sebelumnya, niscaya kalian akan diberkahi dalam makanan itu.” (HR. Abu Dawud). سابعًا: النهي عن التنفس في الإناء: روى البخاري في صحيحه من حديث أبي قتادة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا شرب أحدكم فلا يتنفس في الإناء”[برقم (١٥٣)]. ومثله النفخ في الطعام والشراب، روى أبو داود في سننه من حديث أبي سعيد الخدري قال: نهى النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يتنفس في الإناء، أو ينفخ فيه[برقم (3728) وصححه الألباني في صحيح سنن أبي داود (2/710) برقم (3171)]. Ketujuh: Larangan bernafas di wadah Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ “Apabila salah seorang dari kalian minum, maka janganlah ia bernafas di wadahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 153). Dilarang juga meniup makanan atau minuman. Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk bernafas di wadah dan meniupnya.” (HR. Abu Dawud no. 3728. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud jilid 2 hlm. 710 no. 3171). ثامنًا: النهي عن الأكل من أعلى الصحفة، أو أوسطها: وينقسم إلى قسمين: الأول: أن يكون الطعام واحد بمعنى أن الذي في الصحفة طعام من نوع واحد، فالسنة أن يأكل مما يليه، لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث السابق: “وكل مما يليك”[صحيح البخاري برقم (٥٣٧٦)، وصحيح مسلم برقم (٢٠٢٢)]، ولقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه الترمذي في سننه من حديث ابن عباس – رضي الله عنه -: “البركة تنزل وسط الطعام، فكلوا من حافتيه، ولا تأكلوا من وسطه”[برقم (١٨٠٥)، وقال: حديث حسن صحيح]. الثاني: أن يكون الطعام أنواعًا، فلا بأس بالأكل من أعلى الصحفة، وجوانبها، ويدل لذلك ما رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما من حديث أنس بن مالك قال: “رأيت النبي – صلى الله عليه وسلم – يتتبع الدباء من حوالي الصحفة”[البخاري برقم (٢٠٩٢)، ومسلم برقم (٢٠٤١)]. Kedelapan: Larangan memulai mengambil makanan dari atas atau tengah wadah Hal ini terbagi menjadi dua bagian: Apabila makanan yang ada di wadah hanya satu jenis, maka sunnahnya adalah makan yang terdekat dengannya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang telah disebutkan di atas, “Dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu: الْبَرَكَة تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ “Keberkahan turun di tengah makanan, maka mulailah makan dari tepinya, jangan kalian memulai makan dari tengahnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1805, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Apabila di wadah terdapat berbagai macam makanan, maka tidak mengapa untuk memulai makan dari atas atau tepi wadah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Anas bin Malik, ia berkata, “Aku pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mencari-cari dubba’ (daging yang dikeringkan) dari tepi-tepi wadah.” (HR. Al-Bukhari no. 2092 dan Muslim no. 2041). تاسعًا: النهي عن الشرب قائمًا: لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه من أبي هريرة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يشربن أحد منكم قائمًا، فمن نسي فليستقئ”[برقم (٢٠٢٦)]. Kesembilan: Larangan minum sambil berdiri Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya Ash-Shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian minum sambil berdiri, barang siapa yang lupa maka hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim no. 2026). عاشرًا: الاقتصاد في أكل الطعام: روى الترمذي من حديث المقدام بن معدي كرب قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: “ما ملأ آدمي وعاء شرًا من بطنه بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفَسِهِ”[برقم (٢٣٨٠)، وقال حديث حسن صحيح]. فائدة: روى مسلم في صحيحه من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ضافه ضيف وهو كافر فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فحلبت، فشرب حلابها، ثم أخرى فشربه، ثم أخرى فشربه، حتى شرب حلاب سبع شياه، ثم إنه أصبح فأسلم فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فشرب حلابها ثم أمر بأخرى فلم يستتمها، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “المؤمن يشرب في معي واحد، والكافر يشرب في سبعة أمعاء”[برقم (٢٠٦٣) ومختصرًا برقم (٢٠٦٢)]. والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Kesepuluh: Tidak berlebih-lebihan dalam makan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Al-Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ بِحَسْب ابن الآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika ia harus makan lebih dari itu, maka cukuplah sepertiga perutnya untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Tambahan: Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadts Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menjamu tamu yang kafir. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba dan diperah susunya. Kemudian tamu itu meminumnya, lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya. Lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya, hingga tamu itu meminum perahan susu dari tujuh domba. Pada pagi harinya, tamu itu masuk Islam. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba untuknya, kemudian tamu itu meminum perahan susunya. Lalu beliau memerintahkan untuk didatangkan domba lagi untuknya dan diperah susunya, tapi tamu itu tidak menghabiskannya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءَ “Orang beriman akan minum dengan satu usus, sedangkan orang kafir minum dengan tujuh usus.” (HR. Muslim no. 2063, dan diriwayatkan secara ringkas dalam hadis no. 2062). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/آداب الطعام Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 494 times, 1 visit(s) today Post Views: 582 QRIS donasi Yufid


آداب الطعام Oleh: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi د. أمين بن عبدالله الشقاوي الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، وبعد: فإن من أسرار عظمة هذا الدين أنه ما ترك جانبًا من جوانب الحياة إلا وتناوله بالبيان والإيضاح، ومن هذه الجوانب التي تناولها هذا الدين آداب الطعام، ومن تلك الآداب: Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak memiliki sekutu, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du: Salah satu rahasia keagungan agama ini adalah tidak menyisakan satupun aspek kehidupan melainkan datang dengan penjelasannya. Di antara aspek yang dijelaskan dalam agama ini adalah adab-adab makan, dan berikut adalah adab-adabnya: أولًا: التسمية قبل البدء بالطعام أو الشراب، روى البخاري ومسلم من حديث عمرو بن سلمة: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال له: “يا غلام، سم الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك”[البخاري برقم (٥٣٧٦)، ومسلم برقم (٢٠٢٢)].وإذا نسي أن يسمي عند أول الطعام فليسم إذا ذكر، روى الترمذي في سننه من حديث عائشة – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم طعامًا فليقل: بسم الله، فإن نسي في أوله، فليقل: بسم الله في أوله و آخره”[برقم (١٨٥٨) وقال: حديث حسن صحيح]. Pertama: Membaca basmalah sebelum memulai makan atau minum  Diriwayatkan dari Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Amru bin Salamah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya: يَا غُلَامُ! سَمِّ اَللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ “Wahai anak muda! Bacalah basmalah, lalu makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Apabila seseorang lupa membaca basmalah pada awal makan, maka hendaklah dia membacanya saat ingat. Diriwayatkan dari At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَاماً فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بسمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ “Apabila salah seorang dari kalian memakan makanan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah’. Namun, apabila ia lupa mengucapkannya pada awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ (Dengan nama Allah di awal dan akhirnya).” (HR. At-Tirmidzi no. 1858; dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). ثانيًا: الأكل والشرب باليمين، فلا يجوز للمسلم أن يأكل أو يشرب بشماله، روى مسلم في صحيحه من حديث سلمة بن الأكوع، أن رجلًا أكل عند رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشماله فقال النبي – صلى الله عليه وسلم -: “كل بيمينك” قال: لاأستطيع. قال: “لا استطعت”، ما منعه إلا الكبر قال: فما رفعها إلى فيه”[برقم (٢٠٢١)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث ابن عمر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه و إذا شرب فليشرب بيمينه فإن الشيطان يأكل بشماله و يشرب بشماله”[برقم (٢٠٢٠)]. Kedua: Makan dan minum dengan tangan kanan Seorang muslim tidak boleh makan atau minum dengan tangan kiri. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Salamah bin al-Akwa’ bahwa pernah ada laki-laki yang memakan makanan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa!” Maka Rasulullah bersabda, “Semoga kamu memang tidak bisa!” Tidak ada yang membuatnya enggan selain kesombongannya, sehingga ia benar-benar tidak mampu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tangannya setelah itu. (HR. Muslim no. 2021). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِ “Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum juga dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020). ثالثًا: الأكل بثلاثة أصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك أنه حدثهم: “أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يأكل بثلاث أصابع، فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. Ketiga: Makan dengan tiga jari Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik yang meriwayatkan bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). رابعًا: لعق الأصابع وصحفة الطعام، فإذا أكل الإنسان الطعام، وبقي شيء يسير منه، لا يضره تناوله، أو بقي أثر للطعام في الصحفة، فالسنة أن يلعقها، لأن الإنسان لا يدري أين البركة، وكذلك السنة لعق الأصابع، روى مسلم في صحيحه من حديث كعب بن مالك قال: “كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأكل بثلاث أصابع فإذا فرغ لعقها”[برقم (٢٠٣٢)]. وروى مسلم في صحيحه من حديث جابر: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – أمر بلعق الأصابع والصحفة، وقال: “إنكم لا تدرون في أيه البركة؟”[برقم (٢٠٣٣)]. Keempat: Menjilat jari dan piring makan Apabila seseorang memakan makanan, dan tersisa sedikit darinya yang tidak berbahaya untuk dimakan atau tersisa bekas makanan di piring, maka sunnahnya adalah menjilatnya, karena ia tidak mengetahui di mana letak keberkahan makanannya. Sunnah juga untuk menjilat jari jemari. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Ka’ab bin Malik bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari, dan apabila selesai makan, beliau menjilat jari-jari itu. (HR. Muslim no. 2032). Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadits Jabir bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menjilat jari-jemari dan piring. Beliau bersabda: إِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ الْبَرَكَةُ “Karena kalian tidak mengetahui di mana letak keberkahannya.” (HR. Muslim no. 2033). خامسًا: أكل ما تناثر من الطعام: روى مسلم في صحيحه من حديث جابر بن عبد الله – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا وقعت لقمة أحدكم فليأخذها، فليمط ما كان بها من أذى، وليأكلها ولا يدعها للشيطان، ولا يمسح يده بالمنديل حتى يلعق أصابعه فإنه لا يدري في أي طعامه البركة”[برقم (٢٠٣٣)]. Kelima: Memakan makanan yang tercecer Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي فِي أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ  “Apabila terjatuh sesuap makanan salah satu dari kalian, maka hendaklah ia mengambilnya dan membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkan makanan itu untuk setan. Jangan pula ia mengelap tangannya dengan lap sebelum ia menjilat jari-jemarinya, karena ia tidak mengetahui makanan bagian mana yang mengandung keberkahan.” (HR. Muslim no. 2033). سادسًا: الأكل مع الغير من زوجة، أو أولاد أو ضيف غيرهم: روى أبو داود في سننه من حديث وحشي بن حرب عن أبيه عن جده – رضي الله عنه -: أن أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – قالوا: يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع، قال: فلعلكم تفترقون؟ قالوا: نعم، قال: فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله عليه، يبارك لكم فيه”. Keenam: Makan dengan orang lain, baik itu istri, anak, tamu, atau lainnya Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhu bahwa para Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkata, “Wahai Rasulullah! Kami makan tapi tidak juga kenyang!” Beliau bersabda, “Mungkin kalian makan berpencar-pencar?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Berkumpullah saat makan, dan sebutlah nama Allah sebelumnya, niscaya kalian akan diberkahi dalam makanan itu.” (HR. Abu Dawud). سابعًا: النهي عن التنفس في الإناء: روى البخاري في صحيحه من حديث أبي قتادة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إذا شرب أحدكم فلا يتنفس في الإناء”[برقم (١٥٣)]. ومثله النفخ في الطعام والشراب، روى أبو داود في سننه من حديث أبي سعيد الخدري قال: نهى النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يتنفس في الإناء، أو ينفخ فيه[برقم (3728) وصححه الألباني في صحيح سنن أبي داود (2/710) برقم (3171)]. Ketujuh: Larangan bernafas di wadah Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadis Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ “Apabila salah seorang dari kalian minum, maka janganlah ia bernafas di wadahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 153). Dilarang juga meniup makanan atau minuman. Abu Dawud meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunan dari hadis Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk bernafas di wadah dan meniupnya.” (HR. Abu Dawud no. 3728. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud jilid 2 hlm. 710 no. 3171). ثامنًا: النهي عن الأكل من أعلى الصحفة، أو أوسطها: وينقسم إلى قسمين: الأول: أن يكون الطعام واحد بمعنى أن الذي في الصحفة طعام من نوع واحد، فالسنة أن يأكل مما يليه، لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث السابق: “وكل مما يليك”[صحيح البخاري برقم (٥٣٧٦)، وصحيح مسلم برقم (٢٠٢٢)]، ولقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه الترمذي في سننه من حديث ابن عباس – رضي الله عنه -: “البركة تنزل وسط الطعام، فكلوا من حافتيه، ولا تأكلوا من وسطه”[برقم (١٨٠٥)، وقال: حديث حسن صحيح]. الثاني: أن يكون الطعام أنواعًا، فلا بأس بالأكل من أعلى الصحفة، وجوانبها، ويدل لذلك ما رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما من حديث أنس بن مالك قال: “رأيت النبي – صلى الله عليه وسلم – يتتبع الدباء من حوالي الصحفة”[البخاري برقم (٢٠٩٢)، ومسلم برقم (٢٠٤١)]. Kedelapan: Larangan memulai mengambil makanan dari atas atau tengah wadah Hal ini terbagi menjadi dua bagian: Apabila makanan yang ada di wadah hanya satu jenis, maka sunnahnya adalah makan yang terdekat dengannya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang telah disebutkan di atas, “Dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022). Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya As-Sunan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu: الْبَرَكَة تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ “Keberkahan turun di tengah makanan, maka mulailah makan dari tepinya, jangan kalian memulai makan dari tengahnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1805, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Apabila di wadah terdapat berbagai macam makanan, maka tidak mengapa untuk memulai makan dari atas atau tepi wadah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Ash-Shahih mereka dari hadis Anas bin Malik, ia berkata, “Aku pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mencari-cari dubba’ (daging yang dikeringkan) dari tepi-tepi wadah.” (HR. Al-Bukhari no. 2092 dan Muslim no. 2041). تاسعًا: النهي عن الشرب قائمًا: لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – في الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه من أبي هريرة – رضي الله عنه -: أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يشربن أحد منكم قائمًا، فمن نسي فليستقئ”[برقم (٢٠٢٦)]. Kesembilan: Larangan minum sambil berdiri Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya Ash-Shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian minum sambil berdiri, barang siapa yang lupa maka hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim no. 2026). عاشرًا: الاقتصاد في أكل الطعام: روى الترمذي من حديث المقدام بن معدي كرب قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: “ما ملأ آدمي وعاء شرًا من بطنه بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفَسِهِ”[برقم (٢٣٨٠)، وقال حديث حسن صحيح]. فائدة: روى مسلم في صحيحه من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ضافه ضيف وهو كافر فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فحلبت، فشرب حلابها، ثم أخرى فشربه، ثم أخرى فشربه، حتى شرب حلاب سبع شياه، ثم إنه أصبح فأسلم فأمر له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بشاة فشرب حلابها ثم أمر بأخرى فلم يستتمها، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “المؤمن يشرب في معي واحد، والكافر يشرب في سبعة أمعاء”[برقم (٢٠٦٣) ومختصرًا برقم (٢٠٦٢)]. والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Kesepuluh: Tidak berlebih-lebihan dalam makan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Al-Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ بِحَسْب ابن الآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap untuk menegakkan punggungnya, tapi jika ia harus makan lebih dari itu, maka cukuplah sepertiga perutnya untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380, dan beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih”). Tambahan: Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari hadts Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menjamu tamu yang kafir. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba dan diperah susunya. Kemudian tamu itu meminumnya, lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya. Lalu didatangkan domba lagi, dan tamu itu meminum susunya, hingga tamu itu meminum perahan susu dari tujuh domba. Pada pagi harinya, tamu itu masuk Islam. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk didatangkan domba untuknya, kemudian tamu itu meminum perahan susunya. Lalu beliau memerintahkan untuk didatangkan domba lagi untuknya dan diperah susunya, tapi tamu itu tidak menghabiskannya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءَ “Orang beriman akan minum dengan satu usus, sedangkan orang kafir minum dengan tujuh usus.” (HR. Muslim no. 2063, dan diriwayatkan secara ringkas dalam hadis no. 2062). Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/آداب الطعام Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 494 times, 1 visit(s) today Post Views: 582 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Doa Nabi Yunus yang Luar Biasa

Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 QRIS donasi Yufid

Doa Nabi Yunus yang Luar Biasa

Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 QRIS donasi Yufid
Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 QRIS donasi Yufid


Oleh: Dr. Muhammad Ahmad Sabri an-Nabtiti لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” كلماتٌ معدودات قالها يونس عليه الصلاة والسلام، حينما التقمه الحوتُ، فصار في ظلمات ثلاثٍ؛ ظلمة بطن الحوت، وظلمة أعماق البحار، وظلمة الليل، فما لبِث أن صار في الظلمات حتى نادى بها، وما أجملها من كلمات! توحيد وتنزيه واعتراف، أمور مُنجِّية يحبها الله: (لا إله إلا الله) كلمة التوحيد والإخلاص، لو قالها أحد مخلصًا الدين لله، نجَّاه الله ولو كان مشركًا والآيات القرآنية تشهد بذلك، والمتأمل لأدعية الكرب سيجد التوحيد مركزيًّا فيها، بأقسامه الثلاثة: الربوبية، والألوهية، والأسماء والصفات؛ تأمل معي: عن أسماء بنت عميس رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا))؛ [رواه أبو داود، وابن ماجه]. Ini merupakan kalimat singkat yang diucapkan Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan paus, sehingga beliau berada dalam tiga lapis kegelapan: kegelapan dalam perut ikan, kegelapan dalamnya lautan, dan kegelapan malam. Ketika beliau berada dalam gelap gulita ini, beliau berdoa dengannya, dan betapa indah kalimat ini! Di dalamnya terkandung pengesaan, penyucian, dan pengakuan, perkara-perkara yang mendatangkan keselamatan sekaligus dicintai Allah. “لَا إِلَهَ إِلَّا الله” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), merupakan kalimat ketauhidan dan keikhlasan. Seandainya seorang hamba mengucapkannya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya Dia akan menyelamatkannya (dari musibah) meskipun ia adalah orang yang musyrik. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dalil atas hal ini.  Orang yang mencermati doa-doa tentang memohon pertolongan dari musibah, pasti akan mendapati bahwa ketauhidan menjadi fokus di dalamnya dengan tiga jenisnya: tauhid rububiyah (mengesakan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam peribadatan), dan tauhid asma’ wa sifat (dan mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Marilah kita perhatikan bersama: Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku: ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟ الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا ‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). وفي الصحيحين من حديث ابن عباس: ((أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول عند الكرب: لا إله إلا الله العظيم الحليم، لا إله إلا الله ربُّ العرش العظيم، لا إله إلا الله رب السماوات، ورب الأرض، ورب العرش الكريم)). Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim) “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). وعند أحمد وغيره: ((ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن، فقال: اللهم إني عبدك، ابنُ عبدِك، ابن أَمَتِك، ناصيتي بيدك، ماضٍ فيَّ حكمُك، عدلٌ فيَّ قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك، سمَّيتَ به نفسك، أو علَّمته أحدًا من خلقك، أو أنزلته في كتابك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك؛ أن تجعل القرآن ربيعَ قلبي، ونورَ صدري، وجِلاء حزني، وذَهاب همي؛ إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها)). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال: اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها “Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII (Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya). أما قوله: (سبحانك)، فهو تنزيه الله عز وجل عن كل نقص وعيب، فهي كلمة المتقين، يُكثِرون منها في يومهم وليلتهم، ويصحبونها بالتحميد أيضًا، فيُسبِّحون بحمد ربهم، فالتسبيح تنزيهٌ عن النقص، والتحميد إثبات الكمال المطلق لله، فهي دَيدنُ المؤمنين عند التعجب والتفكُّر في خلق السماوات والأرض، وكذلك عند البلاء، بل هي دعواهم في الجنة، وكأن يونسَ عليه السلام في ذلك الموقف ينزِّه ربه عن الظلم، قائلًا بلسان حاله أن: يا رب هذه المصيبة ليست ظلمًا منك لي، ولكن ما أوقعني فيها إلا تقصيري؛ لذا قال بعدها: ﴿ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، قالها اعترافًا منه بظلمه وتقصيره، وأيُّنا لا يظلم نفسه، حتى وإن كان نبيًّا Adapun ucapan Nabi Yunus dalam doa: “سُبْحَانَكَ” (Maha Suci Engkau), maka ini merupakan penafian bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari segala kekurangan dan aib. Ini merupakan kalimat yang biasa dibaca oleh orang-orang yang bertakwa, mereka akan banyak mengucapkannya pada siang dan malam mereka, di samping tahmid (pujian) yang senantiasa mereka ucapkan juga. Mereka bertasbih menyucikan Allah dengan pujian kepada Tuhan mereka. Tasbih merupakan penyucian Allah dari segala kekurangan, sedangkan tahmid merupakan penetapan sifat kesempurnaan mutlak bagi Allah. Demikianlah kalimat yang senantiasa disenandungkan oleh orang-orang beriman ketika mereka merasa takjub, saat menghayati penciptaan langit dan bumi, dan ketika tertimpa musibah. Bahkan itu juga kalimat yang mereka serukan di dalam surga.  Seakan-akan dalam kondisi tersebut, Nabi Yunus ‘alaihissalam menafikan kezaliman dari Tuhannya, seakan-akan keadaan beliau mengungkapkan ucapan, “Ya Tuhanku, musibah ini bukanlah kezaliman dari Engkau kepadaku, tapi yang membuatku terjerumus ke dalamnya akibat kelalaianku sendiri.” Oleh sebab itulah, setelah itu beliau mengucapkan: “إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ” (Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim). Beliau mengucapkan itu sebagai pengakuan atas kezaliman dan kelalaian diri beliau sendiri, dan adakah dari kita yang tidak menzalimi diri sendiri, bahkan jika ia adalah seorang Nabi. اسمع ذلك الحوار العجيب بين أفضل البشر صلى الله عليه وسلم وبين أفضل الأُمَّةِ بعد نبيها أبي بكر رضي الله عنه؛ عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: علِّمني دعاءً أدعو به في صلاتي، قال: ((قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم))؛ [متفق عليه]. علَّق على الحديث ابن حجر العسقلاني فقال في الفتح: “وفيه أن الإنسان لا يَعْرَى عن تقصير، ولو كان صِدِّيقًا”. Dengarkanlah perbincangan antara manusia terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan manusia terbaik umat ini setelah Nabi, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarkanlah kepadaku doa yang dapat aku baca dalam shalatku!” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda: قُل: اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم “Katakanlah: ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM. (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari hadits ini dalam kitab Fath Al-Bari dengan berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq.” وعلَّق على تعليقه السندي في حاشيته على النسائي فقال: “في فتح الباري: فيه أن الإنسان لا يعرى عن تقصير ولو كان صِدِّيقًا، قلت: بل فيه أن الإنسان كثيرُ التقصير وإن كان صِدِّيقًا؛ لأن النِّعَمَ عليه غير متناهية، وقوته لا تُطيق بأداء أقل قليلٍ من شُكرِها، بل شكره من جملة النعم أيضًا، فيحتاج إلى شكرٍ هو أيضًا كذلك، فما بقِيَ له إلا العجز والاعتراف بالتقصير الكثير، كيف وقد جاء في جملة أدعيته صلى الله تعالى عليه وسلم: (ظلمت نفسي)؟ (من عندك‏) ‏أي: من محض فضلك، من غير سابقة استحقاق مني، أو مغفرة لائقة بعظيم كرمك، وبهذا ظهر الفائدة لهذا الوصف، وإلا فطلب المغفرة يُغني عن هذا الوصف ظاهرًا؛ فلْيُتأمَّل.” Kemudian As-Sandi mengomentari komentar tersebut dalam kitabnya Al-Hasyiyah ‘ala an-Nasa’i dengan berkata, “Dalam kitab Fath al-Bari disebutkan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia tidak akan dapat terlepas dari kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, maka saya katakan bahwa hadis ini mengandung faedah bahwa manusia banyak melakukan kelalaian, meskipun ia adalah seorang Ash-Shiddiq, karena kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tidak terbatas, sedangkan kekuatannya tidak mampu menunaikan —meski hanya— batas minimal rasa syukurnya, bahkan rasa syukur yang bisa ditunaikan juga merupakan kenikmatan itu sendiri, sehingga harus disyukuri juga, sehingga tidak tersisa dari manusia kecuali kelemahan dan pengakuan atas banyaknya kelalaian itu. Bagaimana tidak demikian, sedangkan di antara yang disebutkan dalam doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.’ Dan disebutkan juga kalimat, ‘Ampunan dari sisi-Mu’ Yakni murni dari karunia-Mu, tanpa ada hal yang membuatku berhak mendapatkannya, atau ampunan yang sesuai dengan keagungan karunia-Mu. Dari makna inilah tampak fungsi dari penyebutan kalimat ‘Dari sisi-Mu’, karena memohon ampunan sebenarnya cukup tanpa disebutkan kalimat tersebut, maka cermatilah ini!” والذي نصح أبا بكر بذلك الدعاء هو النبي صلى الله عليه وسلم، أتظُنُّه ينصحه به، ولا يكون من أدعيته، صلوات ربي وسلامه عليه؟ بل تأمل دعاء سيد الاستغفار الذي زهِد فيه أكثر الناس؛ ففي صحيح البخاري، عن شداد بن أوس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((سيد الاستغفار أن تقول: اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أَبُوءُ لك بنعمتك عليَّ، وأبوء لك بذنبي، فاغفر لي؛ فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، من قالها من النهار موقنًا بها فمات من يومه قبل أن يُمسِيَ، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو مُوقِن بها فمات قبل أن يُصبِحَ، فهو من أهل الجنة)). Orang yang menyarankan doa ini kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu apakah kamu mengira bahwa beliau akan menyarankan doa ini kepadanya jika doa ini tidak menjadi doa yang senantiasa beliau baca juga? Perhatikanlah juga doa “Sayyidul Istighfar” yang sebagian besar manusia lalai terhadapnya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari riwayat dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ “Sayyidul Istighfar adalah dengan kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA, KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU, A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU, ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU-U LAKA BIDZANBII, FAGHFIR LII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA (Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ketetapan dan janji-Mu, sesuai kadar kemampuanku. Aku memohon kepada Engkau keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui kepada-Mu atas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui kepada-Mu dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau), barang siapa yang mengucapkannya pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia pada siang itu sebelum malam, maka ia termasuk penduduk surga, dan barang siapa yang mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal dunia sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari). إن الاعتراف بالذنب يحبُّه الربُّ، فيُنجِّي مَنِ اعترف، ويغفر ذنبه ويستره في الدنيا والآخرة؛ يقول ربه ساعتها: ((علِمَ عبدي أن له ربًّا يغفر الذنب ويأخذ به))، فلربما أوقع الله رجلًا في كَرْبٍ ليسمع مناجاته وأنينه، واعترافه بين يديه، فتكون تلك المناجاة واللذة المصاحبة لها وآثارها الإيمانية أفضلَ عند المكروب من إجابة الدعاء. Mengakui dosa merupakan sikap yang dicintai Allah, sehingga Dia akan memberi pertolongan orang yang mengakui dosanya, serta mengampuni dan menutup dosa itu di dunia dan akhirat. Ketika itu, Allah akan berfirman, “Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat memberi balasan atasnya.”  Bisa jadi Allah Ta’ala memasukkan seseorang ke dalam suatu kesulitan agar Dia mendengar munajat dan suara lirih doanya serta pengakuannya di hadapan-Nya, sehingga munajat, kenikmatan yang menyertainya, serta efek keimanan yang ditimbulkannya saat tertimpa musibah jauh lebih baik daripada pengabulan doanya. لولا أن تدارَكَ يونسَ رحمةٌ من ربه، لظلَّ في كربه وغمِّه، لكنَّ الربَّ رحيم، ألهمه ذكره في شدة الكرب، وسطَّر ذلك في كتابه؛ ليتعلمه الناس، فيقولوا مثلما قال يونس، فيُنجيهم الله كما نجاه: ﴿ وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴾ [الأنبياء: 87، 88]. إذا ما وقعتَ في كَربٍ أو غمٍّ، وكثيرًا ما تقع، فكرِّر تلك الكلمات، وعِشْ معانيها، تَنْجُ نجاة عجيبة، وتَفُزْ فوزًا عظيمًا بإذن الله. Kalaulah Nabi Yunus tidak mendapat rahmat dari Tuhannya, niscaya ia akan tetap dalam kesulitan dan musibahnya, tapi Allah Maha Pengasih, sehingga Dia mengilhamkan kepadanya untuk mengingat-Nya saat berada dalam kesulitan. Hal ini Allah abadikan dalam Kitab-Nya sebagai pelajaran bagi manusia, agar mereka dapat mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Yunus, sehingga Allah menyelamatkan mereka sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus: وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.’ Kami lalu mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya: 87-88). Apabila kamu terjerembab ke dalam musibah atau kesulitan, dan pasti kamu akan sering terjad, maka senantiasalah menggaungkan doa ini dan hayatilah makna-maknanya, niscaya kamu akan mendapat keselamatan yang menakjubkan dan meraih keberhasilan yang besar, dengan izin Allah. Sumber: https://www.alukah.net/دعاء يونس العجيب Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 499 times, 1 visit(s) today Post Views: 488 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cara Paling Mudah Masuk Surga dan Dicintai Allah – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً

Cara Paling Mudah Masuk Surga dan Dicintai Allah – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً
Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً


Jadi, jika engkau ingin benar-benar dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kerjakanlah amalan-amalan wajib. Cukup itu saja. Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadis Ibnu Abbas, bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan Allah kepadaku?” Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada lagi?” Beliau menjawab, “Mendirikan salat lima waktu.” Ia bertanya, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” Ia bertanya, “Apa lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Menunaikan zakat hartamu.” Ia bertanya lagi, “Adakah kewajiban lain atasku?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali engkau ingin melakukan amalan sunnah.” “Juga berpuasa Ramadan. Tidak ada tambahan, kecuali jika engkau ingin melakukan amalan sunnah. Demikian pula dalam ibadah haji.” Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk kepadanya dan bersabda: “Barang siapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni surga, hendaklah ia melihat orang ini.” (HR. Bukhari & Muslim, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Jika kamu telah menjalankan semua amalan wajib dengan benar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencintaimu. Namun, manusia tidak berada pada satu tingkatan yang sama, sebagaimana surga juga tidak hanya satu tingkatan saja. ===== إِذًا إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْحَقِيقَةِ فَأْتِ بِالْفَرَائِضِ فَقَطْ جَاءَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ؟ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ هَلْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ قَالَ مَاذَا غَيْرُ ذَلِكَ؟ قَالَ أَنْ تُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِكَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ وَفِي صَوْمِ رَمَضَانَ لَا تَزِيدُ إِلَّا تَطَّوَّعَ وَالْحَجَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَأَدْبَرَ ذَلِكُمُ الرَّجُلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا إِذَا أَتَيْتَ بِالْفَرَائِضِ عَلَى وَجْهِهَا فَأَنْتَ الَّذِي سَيُحِبُّكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكِنَّ النَّاسَ لَيْسُوا عَلَى دَرَجَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا أَنَّ الْجَنَّةَ لَيْسَتْ دَرَجَةً وَاحِدَةً

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 1): Memiliki Sikap Tenang dan Rendah Hati

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapanya, mereka hanya membalasnya dengan mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)Termasuk sifat ‘ibadur-rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) dan keindahaan akhlak mereka adalah ketawadukan mereka kepada Allah Jalla Jalaluh dan hamba-hamba Allah. Mereka senantiasa berjalan dengan rendah hati, penuh ketenangan dan kewibawaan. Ketawadukan yang tampak dari cara mereka berjalan dan selalu menjaga penampilan adalah buah dari keimanan dan pengaruh yang timbul darinya.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan terkait ayat ini, “Yang dimaksud ( ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا ) “Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” adalah disertai ketaatan, memaafkan, dan ketawadukan (rendah hati).” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 491)Di antara bentuk sikap tawaduk dan tenang, jika mereka dihalangi oleh orang bodoh dan buruk akhlaknya di perjalanan, maka mereka hanya membalasnya dengan perkataan yang baik, jauh dari sikap bodoh dan gegabah. Inilah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla ( وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ) “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan”, yaitu, ucapan yang menyelamatkan mereka dari dosa dan hal-hal yang sia-sia.Dengan begitu, sejatinya mereka telah menjaga diri mereka dari dua macam ketergelinciran: tergelincirnya kaki (perbuatan) dan tergelincirnya lidah (ucapan).Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ketergelinciran itu ada dua macam, yaitu tergelincirnya kaki dan lisan, sehingga dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keduanya secara berdampingan,وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًاAllah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang lurus (baik) dalam setiap ucapan maupun langkahnya.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 376)Mereka pun tidak membalas orang-orang bodoh dengan kebodohan serupa. Sebaliknya, mereka justru berpaling dan menghindari interaksi dengan mereka. Jika pun harus membalas, mereka memilih perkataan yang jauh dari celaan dan keburukan. Mereka menolak keburukan dengan kebaikan. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)Manusia memiliki tingkatan yang relatif berbeda-beda dalam masalah akhlak dan interaksinya dengan orang lain. Seorang muslim dituntut untuk selalu memperindah akhlaknya, menjaga agamanya dengan baik, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang hamba-hamba Ar-Rahman dalam ayat sebelumnya, yakni membalas keburukan dengan kebaikan serta bersikap tawaduk (rendah hati) kepada siapapun, bagaimanapun akhlak mereka.Sebelum itu, sepatutnya seseorang supaya memohon pertolongan kepada Allah dalam semua urusannya. Ia hendaknya berdoa agar Allah memberinya akhlak yang baik, serta menjauhkan darinya akhlak yang buruk. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau senantiasa berdoa dalam doa istiftah,ٱهْدِنِي لِأَحْسَنِ ٱلْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَٱصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ“Ya Allah, tunjukanlah kepadaku akhlak yang baik, karena tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau.” (HR. Muslim no. 771)Begitu pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya ketika hendak keluar rumah untuk berdoa,اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tergelincir atau digelincirkan, agar aku tidak tersesat atau disesatkan, agar aku tidak menzalimi atau dizalimi, agar aku tidak melakukan kebodohan atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.” (HR. Abu Dawud no. 5094, At-Tirmidzi no. 3477, An-Nasa’i no. 5486. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4709)Dan di dalam doa yang penuh dengan keberkahan ini, bisa menjadi pelindung bagi seorang hamba agar tidak melakukan kebodohan terhadap orang lain, dan agar ia pun selamat dari kebodohan yang dilakukan orang lain terhadapnya.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:Diterjemahkan dari kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 7-10.

Panduan Shalat Orang Sakit: Shalat Duduk, Berbaring, dan Isyarat Sesuai Sunnah

Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi

Panduan Shalat Orang Sakit: Shalat Duduk, Berbaring, dan Isyarat Sesuai Sunnah

Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi
Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi


Shalat tetap wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim selama akal masih sehat, meskipun tubuh dalam keadaan sakit atau lemah. Islam memberi kemudahan dengan membolehkan shalat sambil duduk, berbaring, atau menggunakan isyarat jika tidak mampu berdiri. Semua ketentuan ini diatur berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan kesepakatan para ulama. Dengan memahami panduan ini, orang sakit tetap dapat menunaikan ibadah shalat sesuai kemampuannya dan meraih pahala sempurna.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 1.1. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat fardu 1.2. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelam 1.3. Kaidah Fikih Terkait Masalah Ini 2. Kesimpulan  Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:وَرَكَعَاتُ الْفَرَائِضِ سَبْعَةَ عَشَرَ رَكْعَةً، فِيهَا أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ سَجْدَةً، وَأَرْبَعٌ وَتِسْعُونَ تَكْبِيرَةً، وَتِسْعُ تَشَهُّدَاتٍ، وَعَشْرُ تَسْلِيمَاتٍ، وَمِائَةٌ وَثَلَاثٌ وَخَمْسُونَ تَسْبِيحَةً، وَجُمْلَةُ الْأَرْكَانِ فِي الصَّلَاةِ مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَعِشْرُونَ رُكْنًا، فِي الصُّبْحِ ثَلَاثُونَ رُكْنًا، وَفِي الْمَغْرِبِ اثْنَانِ وَأَرْبَعُونَ رُكْنًا، وَفِي الرُّبَاعِيَّةِ أَرْبَعَةٌ وَخَمْسُونَ رُكْنًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْقِيَامِ فِي الْفَرِيضَةِ صَلَّى جَالِسًا، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْجُلُوسِ صَلَّى مُضْطَجِعًا.Jumlah rakaat shalat fardu adalah tujuh belas rakaat. Di dalamnya terdapat tiga puluh empat sujud, sembilan puluh empat kali takbir, sembilan kali tasyahud, sepuluh kali salam, dan seratus lima puluh tiga kali tasbih.Jika dihitung jumlah seluruh rukun shalat, totalnya ada seratus dua puluh enam rukun:Dalam shalat Subuh: tiga puluh rukun,Dalam shalat Magrib: empat puluh dua rukun,Dalam shalat yang empat rakaat: lima puluh empat rukun.Bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. PenjelasanIni berlaku apabila shalat dilakukan dalam keadaan mukim (tidak safar) dan bukan pada hari Jumat. Jika di dalamnya terdapat shalat Jumat, maka jumlah rakaatnya berkurang dua rakaat. Jika shalat tersebut dilakukan dengan qashar (dalam safar), maka berkurang empat atau enam rakaat.Pernyataan bahwa shalat fardu berjumlah tujuh belas rakaat hingga akhir rincian gerakannya bisa diketahui dengan memperhatikan secara detail, namun tidak banyak faedah besar yang dihasilkan dari hitungan ini.Wallāhu a‘lam. Hukum bagi orang yang tidak mampu berdiri saat shalat farduSiapa yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardu, maka ia shalat dalam posisi duduk. Jika tidak mampu duduk, maka ia shalat dalam posisi berbaring. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada ‘Imrān bin Ḥuṣain:“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah, dan jika tidak mampu maka berbaringlah di sisi.”(Nasa’i menambahkan:)“Jika tidak mampu juga, maka terlentanglah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai kesanggupannya.”Para ulama juga menukil adanya ijma‘ (kesepakatan) dalam masalah ini.Perlu diketahui, yang dimaksud dengan “tidak mampu” bukanlah benar-benar mustahil secara fisik, tetapi mencakup:khawatir akan binasa,penyakit bertambah parah,timbul kesulitan berat,khawatir tenggelam,atau pusing berat bagi orang yang berada di kapal.Ukuran “tidak mampu” adalah jika timbul kesulitan yang menghilangkan kekhusyukan. Ini dinukil Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan beliau menyetujuinya. Namun dalam Syarḥ Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menyebut bahwa pendapat mazhab justru berbeda, yaitu ukuran tidak mampu adalah tidak sanggup berdiri kecuali dengan kesulitan yang sangat berat. Ibnu Ar-Rif‘ah menegaskan: maksudnya adalah kesulitan yang benar-benar berat.Tidak ada ketentuan khusus untuk cara duduknya. Bagaimana pun cara duduknya, shalatnya sah. Namun ada dua pendapat tentang yang lebih utama:Duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud) karena lebih mendekati posisi berdiri, dan duduk bersila dianggap bentuk kemewahan.Duduk bersila lebih utama untuk membedakan duduk pengganti berdiri dari duduk aslinya dalam shalat.Jika tidak mampu duduk, maka shalat dilakukan berbaring. Menurut pendapat yang kuat, ia berbaring di sisi kanan dan wajib menghadap kiblat. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka ia terlentang dan memberi isyarat rukuk dan sujud ke arah kiblat. Jika tidak mampu rukuk dan sujud, maka sujudnya harus dibuat lebih rendah daripada rukuknya.Jika tidak mampu juga, maka ia memberi isyarat dengan mata karena itu batas kemampuannya. Jika bahkan tidak sanggup menggerakkan mata, maka ia cukup menjalankan seluruh gerakan shalat di dalam hati. Jika dalam keadaan ini ia masih mampu melafalkan takbir, bacaan, tasyahud, dan salam, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka cukup dihadirkan dalam hati.Dalam semua keadaan tersebut, pahalanya tidak berkurang, dan ia tidak boleh meninggalkan shalat selama akalnya masih sehat. Jika ia shalat dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada kewajiban mengulang shalatnya.Imam Al-Ghazali berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”Namun Ar-Rafi‘i mengkritisi penggunaan dalil ini dalam konteks tersebut. Meski demikian, ada pendapat yang menyebut: jika ia dalam kondisi ini, maka ia tidak shalat lalu mengulangnya. Hukum bagi orang yang terikat atau tenggelamOrang yang disalib (diikat) tetap wajib shalat. Ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi‘i. Begitu pula orang yang tenggelam di laut namun bertahan di atas papan kayu, sebagaimana dinyatakan Qadhi Husain dan ulama lainnya. Cabang hukum:Jika seseorang bisa berdiri ketika shalat sendirian, tetapi jika shalat berjamaah ia harus duduk di sebagian waktu shalatnya, maka menurut Imam Asy-Syafi‘i keduanya boleh dilakukan, namun shalat sambil berdiri lebih utama demi menjaga rukun. Pendapat ini diikuti Qadhi Husain dan murid-muridnya seperti Al-Baghawi dan Al-Mutawalli, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat.Mereka juga mengatakan: jika ia mampu berdiri hanya untuk membaca Al-Fatihah, tetapi jika menambah bacaan surah ia tidak mampu, maka yang lebih utama adalah berdiri hanya untuk Al-Fatihah. Syaikh Abu Hamid menyebut bahwa shalat berjamaah lebih utama.Wallāhu a‘lam. Kaidah Fikih Terkait Masalah IniAda kaidah fikih yang berbunyi:الميسور لا يسقط بالمعسور“Bagian yang mampu dilakukan tidak gugur hanya karena ada bagian lain yang tidak mampu dilakukan.”Kaidah ini bermakna: jika sebuah perintah syariat tidak dapat dilaksanakan secara sempurna sebagaimana yang diperintahkan, karena adanya keterbatasan kemampuan, namun masih memungkinkan untuk melaksanakan sebagian bagiannya yang memang dapat dipisahkan, maka wajib melaksanakan bagian yang mampu dilakukan. Dengan kata lain, tidak boleh meninggalkan seluruh amalan hanya karena ada sebagian yang sulit atau tidak mampu dilakukan.Kaidah ini selaras dengan ayat dan hadits:Firman Allah Ta‘ala:فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم“Jika aku perintahkan kalian suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga, kalau seseorang hanya mampu berdiri saat membaca Al-Fatihah, ia tetap berdiri sebatas itu, lalu duduk untuk bagian yang tidak mampu dilakukan.Baca juga: Melaksanakan Perintah Allah itu Bagaikan Obat Pahit … (Nasihat Ibnul Qayyim) KesimpulanBagi orang sakit, shalat dilakukan sesuai kemampuan: berdiri jika mampu, duduk jika tidak mampu berdiri, berbaring di sisi kanan menghadap kiblat jika tidak mampu duduk, lalu terlentang jika tidak mampu menghadap kiblat sambil memberi isyarat rukuk dan sujud. Jika tidak mampu isyarat dengan kepala, maka cukup dengan gerakan hati dan lisan sesuai kemampuan. Semua ini menunjukkan bahwa Islam memudahkan, bukan memberatkan, sehingga tidak ada alasan meninggalkan shalat selama akal masih sehat. Referensi:Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.______Baca Juga:Bulughul Maram – Shalat: Cara Shalat dalam Keadaan Sakit Secara Rinci, Lengkap dengan DalilBulughul Maram – Shalat: Cara Shalat Orang yang Shalat Sambil DudukDitulis saat perjalanan Panggang – Masjid Pogung Dalangan, 21 Safar 1447 H, 14 Agustus 2025, Kamis Sore (Malam Jumat)Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara shalat Fikih Shalat fiqih madzhab syafi’i hal yang membatalkan shalat matan taqrib matan taqrib kitab shalat matan taqrib shalat panduan shalat sifat shalat nabi

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 6): Kepercayaan dan Agama Bangsa Arab

Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Jazirah Arab dalam Sejarah (Bag. 6): Kepercayaan dan Agama Bangsa Arab

Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.
Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.


Daftar Isi ToggleSisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilAwal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayTradisi ritual penyembahan berhalaIstilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiSetelah membahas keadaan politik bangsa Arab, kini kita akan menelusuri keyakinan dan bentuk ibadah mereka sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah fase penting dalam sejarah, karena dari sinilah akar-akar penyimpangan akidah menyebar di jazirah Arab.Sisa-sisa tauhid setelah Nabi Isma’ilMayoritas penduduk Arab di masa hidup Nabi Isma’il ‘alaihissalām mengikuti dakwah beliau. Nabi Ismail menyerukan untuk mengikuti agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Isi agamanya adalah menyembah Allah, mengesakan-Nya, dan beragama dengan agama Ibrahim (tauhid). Setelah berlalu masa yang lama, penduduk Arab melupakan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim dan tersisa ajaran tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim.Setelah itu, datanglah masa Amr bin Luhay (عمرو بن لحي), seorang pemimpin kabilah Khuzā’ah. Amr dibesarkan di lingkungan yang baik. Ia adalah orang yang gemar bersedekah dan semangat dalam urusan agama. Akhirnya orang-orang mencintainya dan patuh kepadanya karena menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang mulia.Awal mula kesyirikan: Pengaruh Amr bin LuhayPada suatu saat, Amr bin Luhay bepergian ke daerah Syam. Di sana, ia melihat orang-orang yang menyembah berhala-berhala. Amr menganggap perbuatan orang-orang tersebut baik dan menyangka itu kebenaran. Ia beralasan bahwa Syam adalah tempat diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab-kitab samawi. Alhasil, ia pun membawa berhala Hubal (هبل) ke Mekah dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Ia mengajak penduduk Mekah untuk menyekutukan Allah dan masyarakat pun menerima ajakannya.Berhala tertua di jazirah adalah Manah (مناة) yang terletak di Musyallal (المشلل) di pesisir laut merah dekat dengan Qudaid (قديد). Kemudian mereka membuat berhala Lat (اللات) di Thaif (الطائف), lalu ‘Uzza (العزى) di Wadi Nakhlah (وادي نخلة). Inilah tiga berhala terbesar penduduk Arab. Kemudian kesyirikan semakin banyak dan berhala-berhala pun ada di setiap tempat di Hijaz.Dikisahkan bahwa Amr bin Luhai memiliki qarin dari bangsa jin yang mengabarkannya bahwa berhala kaum Nabi Nuh, yaitu Wad (ود), Suwa’ (سواع), Yaghuts (يغوث), Ya’uq (يعوق), Nasr (نسر) terpendam di Jeddah (جدة).  Amr pun pergi ke sana, lalu menggali dan mengambilnya, kemudian membawa berhala-berhala itu ke Tihamah (تهامة). Saat musim haji tiba, ia memberikan berhala-berhala itu kepada kabilah-kabilah. Akhirnya, masing-masing kabilah membawa berhala-berhala itu ke daerah mereka masing-masing. Dengan demikian, setiap kabilah terdapat berhala, bahkan setiap rumah terdapat berhala di dalamnya.Penduduk Mekah memenuhi Masjidil Haram dengan berhala-berhala. Disebutkan bahwa saat Rasulullah menaklukkan kota Mekah, di sekeliling Ka’bah terdapat 360 berhala. Kemudian berhala-berhala tersebut diruntuhkan, lalu dikeluarkan dari area Masjidil Haram untuk dibakar. Demikianlah, kesyirikan dan penyembahan kepada berhala menjadi fenomena besar pada agama penduduk jahiliah, yang mereka klaim adalah agamanya Nabi ibrahim.Tradisi ritual penyembahan berhalaPenduduk Arab jahiliah memiliki tradisi dan ritual penyembahan berhala yang mayoritasnya diada-adakan oleh Amr bin Luhay. Masyarakat mengira hal-hal yang diada-adakan oleh Amr bin Luhay adalah inovasi yang baik dan tidak mengubah agama Nabi Ibrahim.Di antara ritual penyembahan berhala mereka adalah mereka berdiam di sisi berhala dan berlindung kepadanya, memanggil-manggilnya, meminta pertolongan kepadanya di saat sulit, dan berdoa kepadanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah dan mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Mereka juga berhaji kepada berhala, mengelilinginya, merendahkan diri di sisi berhala, dan bersujud kepada berhala.Ritual lainnya adalah mereka mendekatkan diri kepada berhala dengan berbagai jenis kurban. Mereka menyembelih baik dengan cara dzabh (menyembelih dengan memutus urat leher) maupun nahr (menyembelih dengan menusuk pangkal leher unta) kepada berhala dan menyebut nama berhala-berhala tersebut. Inilah jenis penyembelihan yang disebutkan oleh Allah Ta’ālā dalam Al-Qur’an,وَما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ“Dan (janganlah kamu memakan) apa yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Ma’idah: 3)Di antara ritual pendekatan diri kepada berhala yang mereka lakukan adalah mereka mengkhususkan makanan-makanan dan minuman-minuman untuk berhala sesuai yang mereka kehendaki. Demikian pula mereka mengkhususkan sebagian hasil panen dan ternak mereka kepada berhala. Ajaibnya, mereka juga mengkhususkan bagian untuk Allah; namun karena banyak alasan lain, mereka memindahkan bagian untuk Allah kepada berhala. Anehnya, mereka tidak pernah memindahkan bagian untuk berhala kepada Allah dalam kondisi apapun. Allah Ta’ālā berfirman,وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعامِ نَصِيباً، فَقالُوا هذا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهذا لِشُرَكائِنا، فَما كانَ لِشُرَكائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ، وَما كانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلى شُرَكائِهِمْ، ساءَ ما يَحْكُمُونَ“Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu.” (QS. Al-An’am: 136)Di antara bentuk pendekatan mereka kepada berhala adalah bernazar dalam hasil panen dan ternak. Allah Ta’ālā menghikayatkan di dalam Al-Qur’an,وَقالُوا هذِهِ أَنْعامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُها إِلَّا مَنْ نَشاءُ بِزَعْمِهِمْ، وَأَنْعامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُها، وَأَنْعامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِراءً عَلَيْهِ“Dan mereka berkata (menurut anggapan mereka), “Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.” Dan ada pula hewan yang diharamkan (tidak boleh) ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) boleh tidak menyebut nama Allah, itu sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas semua yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 138)Istilah Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan HamiMereka juga menetapkan istilah Sa’ibah (السائبة), Bahirah (البحيرة), Washilah (الوصيلة), dan Hami (الحامي).Sa’ibah adalah unta betina yang sudah melahirkan sepuluh unta betina berturut-turut dan tidak diselingi dengan unta jantan. Setelah unta tersebut melahirkan sepuluh unta betina, ia dijadikan Sa’ibah (dibiarkan bebas). Sa’ibah tidak boleh ditunggangi, dicukur bulunya, dan diambil susunya kecuali oleh tamu. Jika setelah itu ia melahirkan unta betina lagi, maka anak yang kesebelas itu dibelah telinganya dan juga dibiarkan bebas sebagaimana induknya. Inilah yang disebut Bahirah.Washilah adalah kambing betina yang telah melahirkan sepuluh anak betina berturut-turut tanpa diselingi anak jantan dalam lima kali kelahiran. Mereka menyatakan, “kambing itu sudah tersambung”, maka disebut Washilah. Aturannya, jika status kambing telah menjadi Washilah, anak kambing yang dilahirkan setelah itu adalah milik kaum lelaki saja. Kaum wanita tidak boleh memilikinya. Hanya saja, jika anak kambing itu mati, maka boleh dimakan oleh lelaki dan wanita.Hami adalah unta pejantan yang telah membuntingi unta-unta betina kemudian melahirkan sepuluh unta betina secara berturut-turut tanpa diselingi unta jantan. Maka punggungnya terjaga, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh dicukur, dan ia dibiarkan bebas di antara kawanannya untuk bisa mengawini unta-unta lainnya. Ia hanya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.Ini adalah salah satu dari penafsiran makna dari Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami. Terkait dengan Sa’ibah, Bahirah, Washilah, dan Hami, Allah Ta’ālā berfirman,ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ“Allah tidak pernah mensyariatkan Bahīrah, Sā’ibah, Washīlah, atau Hāmi; tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Ma’idah: 103)Penduduk Arab melakukan ritual-ritual itu semua untuk berhala-berhala mereka karena meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dan memberikan syafaat di sisi Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ālā,وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ما لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ، وَيَقُولُونَ هؤُلاءِ شُفَعاؤُنا عِنْدَ اللَّهِ“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memberi mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)Betapa jauhnya masyarakat jahiliah menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Tidak hanya setiap rumah memiliki berhala, tetapi seluruh aspek kehidupan mereka dipenuhi penyimpangan. Namun, ritual penyembahan berhala ini hanyalah satu dari bentuk kesesatan mereka. Masih ada penyimpangan-penyimpangan lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya, insya Allah.[Bersambung]Kembali ke bagian 5 Lanjut ke bagian 7***Penulis: Fajar RiantoArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari Kitab ar-Rahīq al-Makhtūm karya Syekh Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri dengan sedikit perubahan.

Rahasia Amalan Termudah Pahala Melimpah – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri #NasehatUlama

Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ

Rahasia Amalan Termudah Pahala Melimpah – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri #NasehatUlama

Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ
Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ


Amma ba’du. Wahai saudara-saudaraku yang mulia, Saya hendak mengingatkan kalian tentang suatu amalan yang agung, yang ringan dan mudah dilakukan oleh seorang hamba, tapi sangat besar manfaat dan dampaknya. Dengan amalan ini, seseorang akan meraih pahala yang melimpah dan ganjaran yang besar. Amalan tersebut adalah zikir kepada Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyak nash yang mendorong kita untuk berzikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan anjuran kuat untuk memperbanyaknya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian…” (QS. Al-Baqarah: 152). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42) Dalam rincian tentang golongan orang-orang beriman, Allah juga berfirman: “…dan laki-laki serta perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35) Berdasarkan ini, seorang mukmin hendaknya punya keinginan kuat untuk menjadi orang yang banyak berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena dengan berzikir, hati menjadi tenang, sebagaimana firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Zikir kepada Allah termasuk sebab yang mendatangkan keridhaan Allah bagi hamba-Nya dan menjadi sebab untuk mengangkat derajatnya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Isra’ Mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Lalu Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya datar membentang luas, dan pepohonannya berasal dari ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah La Ilaaha illallaah, dan Allahu Akbar.” Maka setiap kali kamu mengucapkan: “Subhanallah!” Ditanam bagimu pohon kurma di surga, maka perbanyaklah kebun kurmamu di negeri yang agung itu dengan kalimat-kalimat yang mudah diucapkan ini! ===== أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَحِبَّتِي الأَعِزَّاءُ أُذَكِّرُكُمْ بِعَمَلٍ جَلِيلٍ هَيِّنٌ عَلَى الْعَبْدِ سَهْلٌ عَلَيْهِ لَكِنَّهُ عَظِيمُ النَّفْعِ كَبِيرُ الْأَثَرِ يُحَصِّلُ الْإِنْسَانُ بِهِ الْأُجُورَ الْكَثِيرَةَ وَالثَّوَابَ الْجَزِيلَ أَلَا وَهُوَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ لَقَدْ جَاءَتْ النُّصُوصُ بِالْأَمْرِ بِذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَالتَّرْغِيبِ فِي ذَلِكَ يَقُولُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَيَقُولُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَيَقُولُ جَلَّ وَعَلَا فِي تَقْسِيمِ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا وَمِنْ هَذَا الْمُنْطَلَقِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرْغَبُ فِي أَنْ يَكُونَ مُكْثِرًا لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ ذِكْرَ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ بِهِ الْقُلُوبُ كَمَا قَالَ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَسْبَابِ رِضَا اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ وَمِنْ أَسْبَابِ رِفْعَةِ دَرَجَةِ الْعَبْدِ لَمَّا نَزَلَ لِلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فِي حَادِثَةِ الْإِسْرَاءِ قَابَلَهُ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلِذَا كُلَّمَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ غُرِسَتْ لَكَ نَخْلَةً فِي الْجَنَّةِ فَأَكْثِرَْ مِنْ نَخِيلِكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْعَظِيمَةِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْيَسِيرَةِ

Hukum Meminang Wanita dalam Berbagai Kondisi Menurut Islam

Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.” PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah

Hukum Meminang Wanita dalam Berbagai Kondisi Menurut Islam

Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.” PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah
Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.” PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah


Dalam Islam, proses pernikahan diawali dengan pinangan atau khithbah. Namun, tidak semua kondisi wanita boleh dipinang, karena syariat telah mengatur hukum pinangan sesuai statusnya—apakah ia masih lajang, sudah menikah, atau dalam masa iddah. Ada pinangan yang dibolehkan secara terang-terangan, ada pula yang hanya boleh dengan sindiran, bahkan ada yang diharamkan sama sekali. Memahami aturan ini penting agar proses menuju pernikahan tetap sesuai syariat dan terhindar dari pelanggaran.  Daftar Isi tutup 1. Penjelasan 2. Kesimpulan Imam Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib,وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُصَرَّحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةٍ، وَيَجُوزُ أَنْ يُعَرِّضَ لَهَا، وَيَنْكِحَهَا بَعْدَ انْقِضَاءِ عِدَّتِهَا. وَالنِّسَاءُ عَلَى ضَرْبَيْنِ: ثَيِّبَاتٌ وَأَبْكَارٌ، فَالْبِكْرُ يَجُوزُ لِلْأَبِ وَالْجَدِّ إِجْبَارُهَا عَلَى النِّكَاحِ، وَالثَّيِّبُ لَا يَجُوزُ تَزْوِيجُهَا إِلَّا بَعْدَ بُلُوغِهَا وَإِذْنِهَا.“Tidak boleh secara terang-terangan meminang wanita yang masih menjalani masa iddah. Namun, diperbolehkan menyampaikan pinangan secara sindiran, dan boleh menikahinya setelah masa iddahnya selesai.Wanita terbagi menjadi dua jenis:Perawan (bikr): Ayah atau kakek boleh menikahkannya tanpa persetujuannya (dalam hukum fikih klasik, ini disebut hak ijbar).Janda (tsayyib): Tidak boleh dinikahkan kecuali setelah ia baligh dan memberikan izinnya.” PenjelasanDalam Kifayah Al-Akhyar disebutkan:Khithbah adalah permintaan untuk menikah.Jika seorang wanita tidak sedang menikah dan tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik secara terang-terangan (tashrih) maupun sindiran (ta‘ridh).Jika ia masih berstatus istri orang lain, maka haram meminangnya, baik terang-terangan maupun sindiran. Jika ia sedang dalam masa iddah, maka:Untuk iddah talak raj‘i: Haram meminangnya, baik dengan terang-terangan maupun sindiran, karena statusnya masih sebagai istri.Untuk iddah wafat suami, atau status yang semakna dengannya seperti talak bain atau nikah yang dibatalkan (faskh): Haram pinangan secara terang-terangan, tetapi boleh secara sindiran, sebagaimana firman Allah:﴿وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ﴾“Tidak ada dosa bagi kalian jika menyampaikan sindiran dalam meminang wanita.” (QS. Al-Baqarah: 235)Contoh dalam hadits: Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha ditalak bain oleh suaminya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masa iddahmu telah habis, beritahulah aku.”Perbedaan antara pinangan terang-terangan dan sindiran adalah:Jika terang-terangan, sudah jelas ada keinginan menikah sehingga dikhawatirkan wanita tersebut berdusta mengaku iddahnya telah selesai karena dorongan syahwat atau sebab lainnya.Jika sindiran, hal ini tidak terlalu dikhawatirkan.Dalam hal ini, sebagian ulama membedakan antara iddah yang dihitung dengan masa haid (al-aqra’) dan yang dihitung dengan bulan (asy-syuhur), namun pendapat yang lebih kuat mengatakan tidak ada perbedaan hukumnya.Contoh kata-kata pinangan terang-terangan:“Aku ingin menikahimu.”“Jika masa iddahmu selesai, aku akan menikahimu.”Contoh kata-kata sindiran:“Mungkin ada yang tertarik padamu.”“Jika masa iddahmu selesai, kabari aku.”“Siapa yang akan mendapatkan wanita seperti dirimu?”Semua pembahasan ini berlaku jika yang meminang bukan mantan suami yang berhak rujuk. Adapun jika yang meminang adalah mantan suami yang masih boleh menikahinya dalam masa iddah (seperti talak raj‘i), maka ia boleh meminang secara terang-terangan. KesimpulanIslam membedakan hukum meminang berdasarkan kondisi wanita—apakah tidak menikah, masih berstatus istri, atau sedang dalam masa iddah. Pinangan bisa dilakukan dengan dua cara: terang-terangan (tashrih) atau sindiran (ta‘ridh), masing-masing memiliki aturan tersendiri. Dengan memahami ketentuan ini, seorang Muslim dapat menjaga kehormatan, menghindari dosa, dan menempuh jalan pernikahan yang diridai Allah.Referensi:Abu Syujak, Ahmad bin Al-Husain. (t.t.). Matn Abi Syujak al-musamma al-Ghayah wa al-Taqrib. ‘Alam al-Kutub.Al-Husni, Taqiuddin. (1994). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar (Ali Abdul Hamid Baltaji & Muhammad Wahbi Sulaiman, Ed.; edisi pertama). Dar al-Khair.Baca Juga:Menikah itu Disunnahkan: Penjelasan Berbagai Hukum Nikah Disertai Dalil Apa Saja Syarat Sah Nikah dan Siapa yang Berhak Menjadi Wali?_____ Ditulis pada Rabu, 19 Safar 1447 H, 13 Agustus 2025 di Darush SholihinPenulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsakad nikah hukum nikah matan taqrib matan taqrib kitab nikah melamar melamar nikah meminang menikah syarat nikah wali nikah

Haji Mabrur

الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid

Haji Mabrur

الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid
الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 QRIS donasi Yufid


الحج المبرور Oleh: Nurah Sulaiman Abdullah نورة سليمان عبدالله قال صلى الله عليه وسلم: ((العمرة إلى العمرة كَفَّارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة))؛ [البخاري ومسلم]. الحجُّ المبرور كما بيَّن أهل العلم «هو الذي أوقعه صاحبه على وجه البِرِّ». وقال ابن بطال رحمه الله: «(والحجُّ المبرور) هو الذي لا رياء فيه ولا رفث ولا فسوق، ويكون بمال حلال». وقيل: المبرور السليم من المعاصي مع طيب النفقة وحل النفقة. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: اَلْعُمْرَةُ إِلَى اَلْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اَلْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا اَلْجَنَّةَ “Pelaksanaan umrah ke umrah selanjutnya merupakan kafarat (penghapus dosa) yang ada di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Haji mabrur —sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama— adalah haji yang dilaksanakan oleh pelakunya dengan cara yang baik. Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Haji mabrur yakni haji yang tidak mengandung riya, ucapan kotor, dan perbuatan fasik, serta ditunaikan menggunakan harta yang halal.” Dikatakan juga bahwa maksud dari mabrur adalah terbebas dari kemaksiatan dan dilaksanakan menggunakan harta yang baik dan halal. فكيف يكون الحج مبرورًا، ويرجع الحاجُّ كيوم ولدته أمُّه؛ كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ حَجَّ فلم يرفث، ولم يفسق، رجع كيوم ولدته أمُّه))؛ [البخاري ومسلم]. Lalu bagaimana caranya agar ibadah haji menjadi haji yang mabrur dan pelakunya pulang dari haji dalam keadaan bersih tanpa dosa seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya? Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Barang siapa yang menunaikan haji tanpa berkata-kata kotor dan melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti hari ketika ia baru dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). مَن حَجَّ للهِ مُبْتغيًا وجْهَه بلا رِياءٍ ولا سُمْعةٍ، رجع (كيوم ولدته أمُّه)؛ أي: بغير ذنب. قال ابن حجر: “وظاهر الحديث غفران الصغائر والكبائر والتبِعات”. فمَنْ فَعَلَ ذلك عادَ بعدَ حَجِّه نَقيًّا مِن خَطاياهُ كما يَخرُجُ المولودُ مِن بطْنِ أُمِّه، أو كأنَّه خَرَجَ حِيَنئذٍ مِن بَطْنِ أُمِّه، ليس عليه خَطيئةٌ ولا ذَنْبٌ. Orang yang menunaikan haji karena Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa dinodai dengan riya dan sum’ah, ia akan pulang seperti ketika baru dilahirkan ibunya tanpa dosa. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Secara tekstual, hadis ini mengisyaratkan pengampunan dosa-dosa kecil, besar, dan akibat-akibatnya.” Orang yang menunaikan haji seperti itu, ia akan pulang dari hajinya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya, sebagaimana bayi yang baru keluar dari perut ibunya, atau seakan-akan ia baru keluar dari perut ibunya, tanpa menanggung dosa dan kesalahan. ومما يراعى في باب بِرِّ الحج: 1- ضرورة الإخلاص لله وحده، والاتباع للهدي النبوي، (عن يعلى بن أمية قال: طفت مع عمر بن الخطاب فلما كنت عند الركن الذي يلي الباب مما يلي الحجر أخذت بيده ليستلم فقال: أما طفت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قلت: بلى. قال: فهل رأيته يستلِمه؟ قلت: لا، قال: فانفُذْ عنك؛ فإن لك في رسول الله صلى الله عليه وسلم أسوة حسنة)؛ رواه أحمد. Di antara perkara-perkara yang harus diperhatikan agar dapat meraih haji yang mabrur adalah sebagai berikut: 1. Urgensi keikhlasan kepada Allah semata dan mengikuti tuntunan Nabi dalam pelaksanaannya. Diriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia menceritakan, “Aku pernah melakukan tawaf bersama Umar bin Khattab. Lalu ketika aku sampai di rukun (sudut Ka’bah) setelah pintu Ka’bah —setelah rukun Hajar Aswad—, aku menarik tangannya agar ia mengangkat tangan ke arah rukun itu. Kemudian Umar bin Khattab berkata, ‘Bukankah kamu pernah melakukan tawaf bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?’ Aku menjawab, ‘Pernah!’ Dia bertanya lagi, ‘Lalu apakah kamu melihat beliau mengangkat tangan ke arah rukun itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak!’ Umar berkata, ‘Kalau begitu, buang jauh-jauh amalan itu darimu, karena kamu punya teladan terbaik dalam diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’” (HR. Ahmad). 2- التربية على الأخلاق الحسنة والخلال الحميدة، كما قال تعالى: ﴿ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾ [البقرة: 197]. ﴿ فَلَا رَفَثَ ﴾؛ أي: الجِماع ومقدماته، فلم يجامع ولم يأتِ بالكلام السيئ. ﴿ وَلَا فُسُوقَ ﴾؛ أي: المعاصي، فلم يصرَّ على المعاصي ولَم يَرتكِبْ إثمًا أو مُخالَفةً شَرعيَّةً- صَغيرةً أو كَبيرةً- تُخرِجُه عَن طاعةِ اللهِ تعالَى، بل حج تائبًا نادمًا لا معصية له. ﴿ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ﴾؛ أي: المماراة والمخاصمة واللجج فيما ليس له فائدة. 2. Mendidik diri untuk berakhlak mulia dan terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ “Janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).  Makna dari kata (رَفَثَ) yakni hubungan badan dengan pasangan dan hal-hal yang menjurus kepadanya, jadi ia tidak berjimak dan mengucapkan ucapan kotor.  Sedangkan kata (فُسُوقَ) yakni, kemaksiatan, ia tidak terus menerus dalam kemaksiatan, dan tidak melakukan dosa atau pelanggaran syariat —baik itu yang kecil maupun besar— sehingga mengeluarkannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Justru, ia menjalankan ibadah hajinya dalam keadaan bertobat dan penuh penyesalan atas dosa-dosanya, tanpa bermaksiat. Adapun kata (جِدَالَ فِي الْحَجِّ) yakni bersitegang, berselisih, dan berdebat dalam perkara yang tidak berfaedah. 3- الحرص على النفقة الطيبة والأكل الحلال؛ لأن النفقة الحرام من موانع الإجابة، فعند الطبراني مرفوعًا: (إذا خرج الرجل حاجًّا بنفقة طيبة ووضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك اللهم لبيك، ناداه من السماء: لبيك وسعديك؛ زادك حلال، وراحلتك حلال، وحجُّك مبرور، وإذا خرج بالنفقة الخبيثة فوضع رِجْله في الغرز فنادى: لبيك، ناداه منادٍ من السماء: لا لبيك ولا سعديك؛ زادك حرام، ونفقتك حرام، وحجُّك غير مبرور). فليتقِ كلُّ عبد ربه، وليتذكر قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تعالى طيِّب لا يقبل إلا طيبًا، وإنَّ الله أمر المؤمنين بما أمر به المُرسلين؛ فقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ﴾ [المؤمنون: 51]، وقال تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴾ [البقرة: 172]، ثم ذكر الرجلَ يُطيل السفر، أشعث، أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغُذي بالحرام، فأنَّى يُستجاب له؟!))؛ رواه مسلم. وعن جابر بن عبدالله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الحجُّ المبرور ليس له جزاء إلا الجنة، قيل: وما برُّه؟ قال: إطعام الطعام وطيب الكلام)). 3. Mencari nafkah yang baik dan makan dari makanan yang halal, karena nafkah yang haram adalah salah satu penghalang dikabulkannya doa. Diriwayatkan dari Ath-Thabrani secara marfu’ bahwa apabila ada orang yang pergi menunaikan haji dengan nafkah yang baik dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya (hendak memulai perjalanan haji), kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Labbaika wa sa’daik! (Aku juga penuhi panggilanmu dan siap membantumu!) Bekalmu halal, kendaraanmu halal, dan hajimu mabrur!” Namun, jika ia pergi dengan nafkah yang haram dan mulai menapakkan kakinya di pelana untanya, kemudian ia berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah!) maka Allah akan menyeru kepadanya dari langit, “Aku tidak akan memenuhi panggilanmu dan membantumu! Bekalmu haram, nafkahmu haram, dan hajimu tidak mabrur!” Oleh sebab itu, hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengingat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum Mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai para rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan yang lusuh dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim). Diriwayatkan juga dari Jabir bin Abdillah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa Beliau bersabda: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الكَلَامِ “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” Kemudian Beliau ditanya, “Lalu bagaimana cara agar hajinya menjadi mabrur?” Beliau menjawab, “Dengan menyedekahkan makanan dan membaguskan ucapan.” 4- كثرة الذكر لله، ﴿ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ﴾ [الحج: 28]- الآيات في سورة البقرة وسورة الحج- فيها الوصيَّة العظيمة والأمر الكريم بملازمة ذكر الله عزَّ وجلَّ في جميع مقامات الحجِّ في الوقوف بعرفة أمرَ بالذِّكر، وعند المشعر الحرام أمَرَ بالذِّكر، وعند نحر الهدي أمرَ بالذِّكر، وفي أيَّام التشريق أمر بالذِّكر، فالذِّكرُ هو مقصود هذه الأعمال، بل إنَّها لم تشرع إلَّا لإقامة ذكره سبحانه. وقالت عائشة رضي الله عنها: ((إنَّما جُعِل الطواف بالبيت، والسعيُ بين الصفا والمروة ورميُ الجمار لإقامة ذكر الله عزَّ وجلَّ))[1]، قال ابن القيِّم رحمه الله: «إنَّ أفضل أهل كلِّ عمل أكثرهم فيه ذكرًا لله- عز وجل-، فأفضلُ الصُّوَّام أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- في صومهم، وأفضل المتصدِّقين أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل-، وأفضلُ الحجَّاج أكثرهم ذكرًا لله- عز وجل- وهكذا سائر الأعمال». 4. Banyak berzikir kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ “Dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28). —Ayat ini terdapat dalam surat Al-Hajj, dan ayat serupa dalam surat Al-Baqarah—. Di dalamnya terkandung wasiat agung dan perintah mulia untuk senantiasa berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada seluruh rangkaian manasik haji. Ketika berwukuf di Arafah, Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika di Masy’aril Haram (Muzdalifah), Allah memerintahkan untuk berzikir, ketika menyembelih hadyu, Allah memerintahkan untuk berzikir, pada hari-hari Tasyrik, Allah juga memerintahkan untuk berzikir. Jadi, zikir merupakan tujuan dari amalan-amalan haji tersebut, bahkan tidaklah ia disyariatkan melainkan untuk menegakkan zikir kepada-Nya. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Sesungguhnya disyariatkan tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf, dan diriwayatkan juga sebagai hadits marfu’ tapi dengan sanad yang lemah). Ibnul Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang terbaik dalam menjalankan segala amal shalih adalah orang yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya. Sehingga pelaku puasa yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam puasanya, pelaku sedekah yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam sedekahnya, dan pelaku haji yang terbaik adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hajinya, demikian juga dengan seluruh amalan lainnya.” 5- الدعاء في الحج، ومواضع الاستجابة فيها بل وضرورة الدعاء فيها، وهي الصفا والمروة وعرفة والمزدلفة وبعد رمي الجمرة الصغرى والوسطى، – ولا يشرع الدعاء بعد رمي الجمرة الكبرى لا في يوم النحر ولا بعده – فهذه ستة مواضع لاستجابة الدعاء. ويُكثر من الدعاء بقبول حجه، وأن يكون حجًّا مبرورًا، فعن عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: «أَفَضْتُ مَعَ عَبْدِاللهِ فَرَمَى سَبْع حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَاسْتَبْطَنَ الْوَادِي حَتَّى إذَا فَرَغَ، قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا». 5. Berdoa ketika menjalankan ibadah haji dan pada waktu-waktu mustajab di dalamnya, yang bahkan berdoa merupakan hal yang harus dilakukan saat itu, yaitu saat berada di Shafa, Marwah, Arafah, Muzdalifah, dan setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha. Namun, tidak disyariatkan berdoa khusus setelah melempar jumrah kubro, dan pada hari Nahr (10 Zulhijah) dan hari setelahnya. Itulah enam waktu berdoa yang mudah dikabulkan. Hendaklah jemaah haji memperbanyak doa agar hajinya diterima dan menjadi haji yang mabrur. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’” 6- الإكثار من الاستغفار في تمام الحج… وسؤال الله القبول، وأن يظنَّ بالله الظنَّ الحسن، ففي الحديث القدسي: ((أنا عند ظنِّ عبدي بي فليظن بي ما شاء))، وأن الله لا يخيب رجاءه، ولا يرد دعاءه، وأن يعطيه سؤله، وأن يكرمه بالقبول، والله عند ظنِّ عبده به، فليظن العبد بربِّه خيرًا. 6. Memperbanyak istighfar setelah menyelesaikan haji, memohon agar hajinya diterima Allah, dan berbaik sangka kepada-Nya. Hadits Al-Qudsi disebutkan: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ  “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, maka biarlah ia memberi sangkaan terhadap-Ku sesukanya.” Hendaklah ia yakin bahwa Allah tidak akan membuat kecewa harapannya dan menolak doanya, Dia akan memberi permintaannya dan memuliakannya dengan menerima hajinya. Allah akan sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, maka hendaklah ia berbaik sangka terhadap-Nya. 7- الإحسان إلى الحجَّاج وإكرامهم: وفي الحديث: ((الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ)). فمن برِّ الحجِّ أن يُحسِن الحاج إلى وفد الله وضيوف الرحمن بأنواع الإحسان؛ من إطعامٍ للطعام، وسقيٍ للماء، وإفشاءٍ للسَّلام، ولين للكلام، وإرشادٍ للضَّال، وتعليمٍ للجاهل، وإعانة للمحتاج ونحو ذلك من أنواع المعروف. 7. Berbuat baik dan menghormati jemaah haji yang lain. Dalam hadits disebutkan: الحَاجُّ وَالعُمَّارُ وَفْدُ الله، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوه، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ “Orang yang sedang menjalankan haji dan umrah adalah tamu Allah, Dia memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan itu, dan mereka meminta kepada-Nya lalu Dia mengabulkannya.” Sehingga salah satu tanda haji itu mabrur adalah pelakunya berbuat baik kepada utusan dan tamu Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, seperti memberi makanan dan minuman, menebar salam, bertutur sopan, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajarkan ilmu kepada yang jahil, membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan kebaikan-kebaikan lainnya. وما هي علامة الحجِّ المبرور؟ علامة الحجِّ المبرور تظهر بعد الحجِّ، وهي: أن تكون حال الحاج بعد الحجِّ أحسن منها قبله؛ فإذا كانت حاله سيئة قبل الحجِّ تتحوَّل بعده إلى حسنة، وإذا كانت حاله حسنة قبل الحج تتحوَّل بعده إلى أحسن، فمن علامات القبول ودلالات الرِّضا أن تحسن حال الحاج بعد الحجِّ. ولا يمكن لأحدٍ أن يجزم لنفسه ولا لغيره بأن حجَّه متقبَّل، قال تعالى: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60]، قالت عائشة رضي الله عنها: يا رسول الله، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟ قَالَ: ((لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ)). Apa tanda haji yang mabrur? Tanda haji mabrur akan terlihat setelah haji selesai, yaitu pelaku haji itu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, apabila keadaannya tidak baik sebelum haji, lalu berubah menjadi baik setelahnya, dan apabila keadaannya sudah baik sebelum haji, lalu berubah menjadi lebih baik setelahnya. Jadi salah satu tanda hajinya diterima dan ciri keridhaan Allah terhadapnya adalah keadaannya setelah haji lebih baik daripada sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bagi dirinya atau orang lain bahwa hajinya diterima. Allah Ta’ala berfirman. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60). Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud (dalam ayat itu) adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar —atau dalam riwayat lain: Tidak wahai putri Ash-Shiddiq— namun, ia adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah; tapi ia takut amalan-amalan itu tidak diterima darinya.” نسأل الله أن يتقبل منا جميع أعمالنا، ويغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. والله أعلم، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. Kita memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal kebaikan kita, dan mengampuni dosa-dosa kita, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum Muslimin. Wallahu A’lam. Dan salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/الحج المبرور Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 115 times, 1 visit(s) today Post Views: 394 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Cara Berdoa yang Tidak Akan Ditolak – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ

Cara Berdoa yang Tidak Akan Ditolak – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ
Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ


Saudara kita, Rabih, bertanya, “Bagaimana aku dapat berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla seperti doanya orang yang sedang terdesak?” Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang terdesak. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Allah juga berfirman, “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” yakni dalam keadaan terdesak. “Namun saat Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut: 65). Keadaan terdesak adalah sebab kuat terkabulnya doa. Bahkan bisa menghapus penghalang terbesar dari terkabulnya doa, yaitu kesyirikan. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak, maka kekuatan sebab tersebut lebih besar daripada penghalang terkabulnya doa itu. Ini menunjukkan bahwa doa orang yang terdesak mudah dikabulkan. Mengapa doa orang terdesak mudah dikabulkan? Karena kondisi terdesak itu disertai dengan keikhlasan yang sangat besar dalam berdoa. “Maka ketika mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” Mereka benar-benar mengosongkan hati hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka pun sepenuhnya bergantung dan berlindung kepada Allah semata. Serta memutuskan harapan dari makhluk. Ibarat seseorang yang berada di tengah lautan yang takut dirinya akan tenggelam. Ombak pun saling menghantam satu sama lain. Sementara ia masih berada di tengah laut itu. Antara dirinya dan kematian tinggal beberapa kejap saja. Lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Menurutmu, bagaimana perasaan orang ini? Perasaan orang ini, inilah yang disebut kondisi terdesak (iḍṭirār). Saudara kita yang mulia bertanya: “Bagaimana caranya aku bisa berdoa seperti orang yang terdesak?” Yakni dengan membayangkan diri seperti seseorang yang terombang-ambing di tengah lautan, sedangkan ombak saling bertabrakan satu sama lain, dan badai dahsyat menerjang dari segala arah. Sementara antara dirinya dan kematian hanya tinggal beberapa kejap mata. Ia pun memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Apakah masih tersisa ketergantungan kepada makhluk dalam hatinya? Sama sekali tidak! Ketergantungannya sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia mengosongkan hatinya hanya untuk Allah Subhanah. Karena ini adalah perkara antara hidup dan mati, ia pun berseru, “Ya Rabb! Ya Rabb!” Jika Allah Ta’ala tidak menyelamatkannya, ia pasti akan binasa dan mati. Ia bahkan bisa melihat kematian ada di hadapannya. Ini benar-benar perkara hidup dan mati. Jika seseorang yang berdoa mencapai kondisi seperti ini, niscaya doanya dikabulkan. Meskipun secara fisik ia tidak sedang dalam keadaan terdesak. Mengapa? Karena ia mengosongkan hatinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan memutus keterikatannya dengan para makhluk. Ia menghadapkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa ini disertai dengan keikhlasan yang dalam, maka pada saat itu, doa pun akan mudah dikabulkan. “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Yang menarik, ayat ini: “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). muncul dalam rangkaian ayat-ayat yang menyampaikan dalil dan bukti yang menegaskan keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Ayat sebelumnya: “Katakanlah, segala puji bagi Allah, dan keselamatan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah yang mereka persekutukan?” (QS. An-Naml: 59). “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi?” Lihat bagaimana langit dan bumi diciptakan. “Bukankah Dia yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untuk kalian, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang menawan?” (QS. An-Naml: 60). Ayat selanjutnya: “Bukankah Dia yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap, dan mengalirkan sungai-sungai di celah-celahnya, serta menjadikan gunung-gunung sebagai penopangnya?” (QS. An-Naml: 61). Lalu, setelahnya ayat, “Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang terdesak ketika ia berdoa kepada-Nya…” (QS. An-Naml: 62). Bagaimana ayat ini dapat masuk di antara ayat-ayat tentang kauniyah ini? Di sini ada isyarat yang halus, bahwa dikabulkannya doa orang yang terdesak adalah bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena manusia secara fitrah, hatinya akan tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Maka jika ada seorang ateis yang mengingkari keberadaan Allah, ia sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu ia jatuh ke dalam sumur yang gelap tanpa seorang pun yang dapat menolongnya, niscaya hatinya langsung tertuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia akan melupakan ateismenya. Ateismenya sirna seketika. Ini termasuk salah satu bukti terbesar atas sifat ketuhanan dan keesaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, Allah Ta’ala menyamakan bukti ini dengan penciptaan langit dan bumi. Sebagaimana penciptaan bumi, sungai-sungai, dan gunung-gunung sebagai penopang bumi. Semua ayat ini sangat agung, menjadi petunjuk atas keesaan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula dengan berpalingnya orang yang terdesak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala secara spontan, mengikuti fitrahnya. Ia akan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, tatkala seorang ulama salaf melihat seorang lelaki berjalan diikuti oleh murid-muridnya, lalu mereka berkata, “Ia memiliki seribu dalil tentang keberadaan Allah.” Ulama itu berkata, “Tak perlu sampai seribu dalil, satu dalil saja sudah cukup.” Mereka bertanya, “Apa dalil itu?” Ia menjawab, “Bagaimana jika kamu sedang berjalan sendirian di padang pasir, lalu terjatuh ke dalam sumur, kepada siapa engkau akan memohon pertolongan?” Mereka menjawab, “Kepada Allah.” Ia berkata, “Itulah bukti keberadaan Allah. Bukti secara fitrah.” Bukti secara fitrah tidak bisa diingkari oleh siapa pun. Ia adalah salah satu dalil terkuat. Jadi, inilah yang disebut sebagai doa orang yang terdesak. Jika seseorang mampu berdoa seperti keadaan orang yang benar-benar terdesak, maka Allah pasti akan mengabulkan doanya. Demikian pula dengan orang yang terzalimi. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim). Mengapa doa orang terzalimi mustajab? Pertama, karena Allah Ta’ala tidak menyukai kezaliman. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram pula di antara hamba-hamba-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak memberi petunjuk orang-orang zalim. Oleh sebab itu, kamu dapati orang zalim hidupnya sengsara. Kedua—dan ini sebab yang paling penting—orang yang terzalimi akan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, mengadu kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang yang menzaliminya. Ia berdoa dengan kejujuran dan gejolak perasaan dari lubuk hatinya. Maka, jika kondisi batin orang yang berdoa itu seperti kondisi orang yang benar-benar terdesak dan terzalimi, niscaya doanya akan dikabulkan. Allahul musta’an. Semoga Allah membalas Anda, wahai Syaikh. ===== الْأَخُ رَابِحٌ يَقُولُ يَعْنِي كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّ؟ دُعَاءُ الْمُضْطَرِّ أَوَّلًا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّهُ يُجِيبُ دُعَاءَ الْمُضْطَرِّأَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَقَالَ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ يَعْنِي مُضْطَرِّيْنَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ الِاضْطِرَارُ سَبَبٌ قَوِيٌّ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ حَتَّى أَنَّهُ يَزُولُ مَعَهُ أَقْوَى مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ وَهُوَ الشِّرْكُ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَهُمْ مُشْرِكُونَ وَمَعَ ذَلِكَ لَمَّا وَصَلُوا إِلَى حَالِ الِاضْطِرَارِ كَانَتْ قُوَّةُ هَذَا السَّبَبِ أَقْوَى مِنْ هَذَا الْمَانِعِ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُضْطَرَّ أَنَّهُ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ؟ تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ لِأَنَّ هَذَا الِاضْطِرَارَ يَصْحَبُهُ اخْلَاصٌ شَدِيدٌ فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلُجُوءٌ إِلَى اللَّهُ تَعَالَى بِالْكُلِّيَّةِ وَانْقِطَاعٌ عَنِ الْمَخْلُوقِيْنَ كَإِنِسَانٍ عَلَى لُجَّةِ الْبَحْرِ يَخْشَى أَنْ يَغْرَقَ الْبَحْرُ مُتَلَاطِمُ الْأَمْوَاجِ وَهُوَ الْآنَ فِي هَذَا الْبَحْرِ وَمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ رَافِعُ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ مَا ظَنُّكَ بِشُعُوْرِ هَذَا الْإِنْسَانِ؟ شُعُورُ هَذَا الْإِنْسَانِ هَذَا الشُّعُورُ هَذَا هُوَ هَذِهِ هِيَ حَالَةُ الِاضْطِرَارِ الْأَخُ الْكَرِيمُ يَقُولُ كَيْفَ أَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى كَالْمُضْطَرِّ كَحَالَةِ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي فِي لُجَّةِ الْبَحْرِوَأَمْوَاجُ الْبَحْرِ تَتَلَاطَمُ وَالْعَوَاصِبُ مِنْ حَوْلِهِ وَهُوَ يَعْنِي مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَوْتِ إِلَّا لَحَظَاتٌ وَهُوَ يَدْعُو اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَا رَبِّ يَا رَبِّ هَلْ سَيَبْقَى فِي قَلْبِ هَذَا الْإِنْسَانِ تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوْقٍ؟ أَبَدًا سَيَكُوْنُ التَّعَلُّقُ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلهِ سُبْحَانَهُ هِيَ مَسْأَلَةُ قَضِيَّةِ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ يَعْنِي هُوَ إِنْ لَمْ يُنَجِّهِ اللهُ تَعَالَى هَلَكَ وَمَاتَ الْمَوْتُ الْآنَ يَرَاهُ أَمَامَهُ فَالْقَضِيَّةُ قَضِيَّةُ الْحَيَاةِ وَاْلمَوْتِ إِذَا وَصَلَ الدَّاعِي إِلَى هَذِهِ الْمَرْحَلَةِ أُسْتُجِيبَتْ دَعْوَتُهُ حَتَّى وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُضْطَرًّا لِمَاذَا؟ لِأَنَّهُ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَطَعَ عَلَاقَتَهُ بِالْمَخْلُوقِيْنَ انْصَرَفَ بِالْكُلِّيَّةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَحِبَ هَذَا الدُّعَاءَ إِخْلاصٌ شَدِيدٌ فَهُنَا يُسْتَجَابُ الدُّعَاءُ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَالْعَجِيبُ أَنَّ هَذِهِ الآيَةَ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ أَتَتْ فِي سِيَاقِ الآيَاتِ الَّتِي فِيهَا الْأَدِلَّةُ وَالْبَرَاهِينُ الْمُثْبِتَةُ لِرُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ يَعْنِي أَوَّلُ الْآيَاتِ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَىٰ آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَاحِظْ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ الْآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ كَيْفَ دَخَلَتْ هَذِهِ الايَةُ بَيْنَ يَعْنِي هَذِهِ الْآيَاتِ الْكَوْنِيَّةِ؟ هُنَا يَعْنِي فِيهَا لَمْحَةٌ إِجَابَةُ الْمُضْطَرِّ دَلِيلٌ عَلَى وَحْدَانِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ بِفِطْرَتِهِ يَتَّجِهُ قَلْبُهُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَلِذَلِكَ لَوْ كَانَ إِنْسَانٌ مُلْحِدٌ يُنْكِرُ وُجُودَ اللَّهِ وَكَانَ فِي صَحْرَاءَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَوَقَعَ فِي بِئْرٍ مَظْلِمَةٍ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ مِنَ الْبَشَرِ سَيَتَّجِهُ قَلْبُهُ مُبَاشَرَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَيَنْسَى إِلْحَادَهُ إِلْحَادُهُ يَنْتَهِي هَذَا مِنْ أَعْظَمِ أَدِلَّةٍ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَحْدَانِيَّتِهِ فَجَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِثْلَ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِثْلَ خَلْقِ الْأَرْضِ وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِي هَذِهِ الْآيَاتُ عَظِيمَةٌ تَدُلُّ عَلَى رُبُوبِيَّةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى وَحْدَانِيِّتِهِ هَكَذَا أَيْضًا لُجُوءُ الْمُضْطَرِّ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تِلْقَائِيًّا بِفِطْرَتِهِ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِذَلِكَ لَمَّا رَأَى أَحَدُ السَّلَفِ رَجُلًا يَمْشِي وَمَعَهُ أُنَاسٌ مِنْ طُلَّابِهِ قَالُوا عِنْدَهُ أَلْفُ دَلِيلٍ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ قَالَ مَا يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ دَلِيلٌ وَاحِدٌ يَكْفِي قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كُنْتَ تَمْشِي فِي الْبَرِّيَّةِ وَحْدَكَ ثُمَّ وَقَعْتَ فِي بِئْرٍ فَإِلَى مَنْ تَلْتَجِئُ؟ قَالُوا إِلَى اللَّهِ قَالَ إِذًا هَذَا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى وُجُودِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ دَلِيلٌ فِطْرِيٌّ فَدَلِيلُ الْفِطْرَةِ لَا أَحَدَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَهُ يَعْنِي مِنْ أَقْوَى الْأَدِلَّةِ فَيَعْنِي هَذِهِ دَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ إِذَا وَصَلَ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ فَإِنَّ اللّهَ يُجِيبُ دَعْوَتَهُ وَمِثْلُهُ أَيْضًا الْمَظْلُومُ يَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ لِمَاذَا تُسْتَجَابُ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ؟ أَوَّلًا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُحِبُّ الظُّلْمَ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ الظُّلْمَ وَجَعَلَهُ بَيْنَ عِبَادِهِ مُحَرَّمًا وَهُوَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ وَلَا يَهْدِي الظَّالِمِيْنَ وَلِذَلِكَ تَجِدُ أَنَّ الظَّالِمَ يَتَخَبَّطُ ثَانِيًا وَهُوَ يَعْنِي السَّبَبُ الْأَهَمُّ أَنَّ الْمَظْلُومَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِحَرَارَةٍ بِإِخْلَاصٍ بِصِدْقٍ يَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي أَنْ يُنْزِلَ الْعُقُوبَةَ بِظَالِمِهِ فَهُوَ يَدْعُو بِصِدْقٍ وَحَرَارَةِ الْقَلْبِ فَإِذَا وَصَلَتْ حَالَةُ الدَّاعِي مِثْلَ حَالَةِ الْمُضْطَرِّ وَحَالَةِ الْمَظْلُومِ أُسْتُجِيبَ الدُّعَاءُ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ شَكَرَ اللَّهُ لَكُمْ يَا شَيْخُ

Teguran Allah kepada Rasulullah dalam Al-Qur’an

Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Teguran Allah kepada Rasulullah dalam Al-Qur’an

Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.


Daftar Isi ToggleSurah AbasaSurah Al-AnfalSurah Al-KahfiSurah At-TahrimSurah At-TaubahAllah menegur dan membimbing Nabi-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, teguran ini bukanlah bentuk celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan bentuk bimbingan dan kasih sayang dari Allah Rabb semesta Allah kepada hamba dan utusan-Nya yang mulia.Teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukan bahwa beliau adalah hamba Allah, manusia biasa. Akan tetapi, beliau merupakan manusia yang khusus (istimewa). Sehingga ketika ada kesalahan yang beliau lakukan, Allah langsung membimbing Rasulullah melalui ayat Al-Qur’an.Lalu, apa saja teguran yang Allah berikan kepada Rasulullah yang terdapat dalam Al-Qur’an?Surah AbasaAllah menegur Rasulullah dalam surah Abasa ketika seorang sahabat tunanetra yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta petunjuk. Akan tetapi, beliau berpaling dan memilih untuk membersamai pembesar Quraisy yang beliau harapkan keislamannya. Allah Ta’ala berfirman,عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ وَهُوَ يَخْشٰىۙ  فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ“Dia (Nabi) berwajah masam dan berpaling karena seorang tunanetra datang kepadanya. Tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran hingga mendapatkan manfaat baginya. Adapun orang yang kaya (pembesar Quraisy), engkau memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri. Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedangkan ia takut (kepada Allah), malah engkau abaikan.” (QS. Abasa: 1-10)Surah Al-AnfalAllah juga menegur Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam surah Al-Anfal ayat 67 yang turun ketika perang Badar. Allah Ta’ala berfirman,مَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلْءَاخِرَةَ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ لَّوْلَا كِتَٰبٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal: 67-68)Ketika itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat hendak menawan kaum musyrikin yang kalah dalam peperangan untuk dimintai tebusan. Akan tetapi, Umar bin Al-Khattab tidak setuju dan menyarankan untuk membunuh mereka. Allah pun menegur Rasulullah dan para sahabat dengan menurunkan ayat ini.Hal ini dikarenakan tidak pantas bagi seseorang yang berusaha meredupkan cahaya Allah di muka bumi dan bersikeras untuk melenyapkan hamba-hamba Allah yang bertauhid di bumi ini malah dibiarkan hidup demi mendapatkan tebusan berupa harta. Oleh karena itu, Allah pun menegur Rasulullah dengan surah ini.Surah Al-KahfiRasulullah juga diingatkan oleh Allah Ta’ala ketika lupa mengucapkan insya Allah pada surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman,وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ“Janganlah engkau mengatakan akan melakukan sesuatu besok kecuali dengan mengatakan insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)Ayat ini turun ketika beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kisah Ashabul Kahfi dan kisah tentang Zulkarnain. Rasulullah ketika itu menjawab, “Saya akan melakukannya besok.” Tanpa menggunakan kalimat Insya Allah. Oleh karena itu, Allah ingatkan Rasul-Nya dalam ayat ini agar mengatakan Insya Allah. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak tahu tentang masa depan sehingga sepatutnya mengucapkan Insya Allah (Jika Allah berkehendak) ketika akan melakukan sesuatu di masa yang akan datang.Baca juga: “Al-Qur’an Journaling”Surah At-TahrimDalam surah At-Tahrim juga terdapat teguran Allah kepada Rasulullah berkaitan pengharaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap apa yang Allah halalkan. Allah Ta’ala berfirman,يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)Hal ini terjadi ketika Rasulullah mengharamkan baginya hamba sahaya wanitanya yang bernama Mariyah, juga untuk tidak meminum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Hal tersebut beliau lakukan untuk menyenangkan dua dari istri-istri beliau, yaitu Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma. Akan tetapi, Allah tegur Rasul-Nya dengan turunnya surah At-Tahrim.Surah At-TaubahRasulullah juga menerima teguran dari Allah di dalam surah At-Taubah karena memberi izin kaum munafik untuk tidak ikut berjihad. Allah Ta’ala berfirman,عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ“Allah telah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau mengizinkan mereka (tidak berperang) sehingga jelas bagimu mana orang-orang yang benar dan orang orang yang berdusta.” (QS. At-Taubah: 43)Ayat ini turun ketika orang-orang munafik beralasan untuk mencari cara agar tidak ikut berjihad ke medan perang. Rasulullah memberikan izin kepada mereka ketika itu sehingga Allah menegur Rasulullah dengan ayat ini. Hal tersebut dikarenakan jihad merupakan amalan yang sangat penting dan medekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu, orang yang mencari-cari alasan untuk tidak ikut berjihad tidak mungkin merupakan orang yang beriman.Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidaklah akan meminta izin kepadamu untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 44)Itulah beberapa teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari teguran tersebut kita bisa pelajari besarnya kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya sehingga Allah senantiasa menjaga Rasulullah dari kesalahan. Selain itu, hal tersebut merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan tulisan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.Mengapa teguran Allah ini bisa menjadikan bukti bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan tulisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Alasannya:Pertama: Tentunya menegur dirinya sendiri yang salah adalah suatu hal yang tidak lazim dalam karya buatan manusia, terlebih lagi dari seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi.Kedua: Teguran yang ada dalam Al-Qur’an yang diabadikan hingga sekarang sejak 1400 tahun lalu menunjukkan sifat kenabian yang jujur dan amanah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan isi Al-Qur’an seluruhnya walaupun di dalamnya terdapat teguran pada diri Rasulullah pribadi.Ketiga: Jika Al-Qur’an bukan kitab suci yang Allah turunkan dan Allah janjikan penjagaannya, bisa jadi ayat-ayat teguran ini ada yang menghapus demi menjaga sempurnanya sosok Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Akan tetapi, hal tersebut tidak terjadi, ayat yang berisi teguran tersebut masih ada hingga sekarang dan dihafalkan oleh jutaan kaum muslimin.Wallahu Ta’ala a’lam.Baca juga: Warna Pakaian yang Paling Disukai Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Taisir Karimir Rahman, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Musuh No.1 & Sebab Gagalnya Penuntut Ilmu Zaman Now! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ

Musuh No.1 & Sebab Gagalnya Penuntut Ilmu Zaman Now! – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ
Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ


Di antara hal yang berkembang pesat di zaman kita ini adalah media sosial. Salah satu permasalahan besar dari media sosial adalah: ia kini berada di dalam sakumu. Artinya, ia selalu bersamamu. Kamu tak perlu lagi pergi ke ruangan khusus atau menyalakan perangkat tertentu, sebagaimana penggunaan internet di zaman dulu. Sekarang ia bersamamu, di sakumu. Saat kamu duduk antara azan dan iqamah, kamu masih bisa mengecek status: Apa yang ditulis? Apa yang dikatakan? Bahkan bisa mengetahui apa yang terjadi secara rinci di belahan dunia paling jauh. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akhir zaman, di mana waktu terasa semakin singkat, sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari. Para ulama menjelaskan bahwa maksud “singkatnya waktu” itu ada tiga bentuk: Pertama: waktu terasa berjalan sangat cepat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad dari Auf bin Malik Al-Asyja’i. Kedua: berita yang dahulu perlu waktu lama untuk menyebar, kini bisa tersebar dalam waktu singkat. Ketiga: waktu menjadi singkat dalam hal perjalanan atau jarak tempuh. Dulu, perjalanan antarnegara membutuhkan waktu lama. sekarang waktu tempuhnya jauh lebih singkat, berkat kemajuan alat transportasi. Semua hal ini benar-benar terjadi. Namun ilmu yang pasti tetap milik Allah ‘Azza wa Jalla. Intinya, media sosial memang memiliki sisi manfaat yang tidak bisa disangkal. Kita tahu juga tahu bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Tidak ada keburukan sepenuhnya. Dalam talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan: “Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” Artinya, Allah Jalla wa ‘Ala tidak menciptakan keburukan secara mutlak. Bahkan ketika Allah menciptakan iblis, tetap ada hikmah di balik penciptaannya, yaitu untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik. Manusia memiliki tingkatan yang berbeda di surga—ada yang lebih tinggi dari yang lain. Sebabnya, orang yang satu mengikuti langkah-langkah setan, sedangkan yang lain menolaknya. Ada yang masuk surga, ada pula yang ke neraka. Ada yang di surga tingkat tertinggi, ada yang di bawahnya. Jadi, Allah tidak menciptakan keburukan yang mutlak. Dalam segala hal, pasti ada sisi kebaikannya. Namun, sungguh waktu penuntut ilmu sangatlah berharga. Jangan bayangkan, betapa berharganya waktu yang ia miliki. Terutama pada fase-fase usia tertentu. Saya tidak membicarakan masa kanak-kanak, karena masa itu memiliki keadaan tersendiri. Yang saya maksud adalah fase belajar dan menghadiri majelis ilmu, terutama usia 20–30 tahun. Karena ketika seseorang menginjak usia 40, ia berpindah ke fase kehidupan yang lainnya. Pola pikirnya berubah, cara pandangnya terhadap hidup pun ikut berubah. Sebagaimana firman Allah:“Hingga apabila ia telah dewasa dan mencapai umur 40 tahun, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bimbinglah aku agar dapat bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…’” (QS Al-Ahqaf: 15). Seseorang akan berubah setelah melewati usia 40. Namun yang sedang saya bicarakan adalah usia 20 hingga 30 tahun. Usia 20–30 tahun merupakan inti kehidupan manusia. Ini adalah masa produktif untuk menuntut ilmu, menulis, memahami, dan mengembangkan potensi fisik maupun akalnya. Di masa seperti ini, bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu sangatlah penting. Dahulu, para ulama sangat memperhatikan waktu mereka. Jika kita mendengar sebagian kisah mereka, kita akan merasa takjub. Disebutkan bahwa Imam An-Nawawi rahimahullah ketika hendak menghadiri majelis ilmu, hanya makan sepotong kue. Sebab, kue tidak memerlukan banyak kunyahan. Karena tidak perlu banyak dikunyah, maka bisa langsung ditelan. Cara ini membuatnya bisa menghemat waktu makan—sekitar 10 atau 15 menit. Kisah ulama lainnya. Apabila datang seorang tamu kepada Ibnu Al-Jauzi, beliau memanfaatkan waktu menjamu tamunya untuk pekerjaan yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi, seperti memotong kertas atau meraut pena. Bahkan jika tamunya berkata, “Mari kita raut bersama,” mereka pun bersama-sama meraut pena—tentu bukan dengan peraut, tetapi dengan pisau, misalnya. Beliau bisa memiliki hingga 20 atau 30 pena sekaligus. Demikian juga untuk menggunting dan merapikan kertas atau menjilid buku. Jadi, perkara memanfaatkan waktu sangatlah penting. Kamu dapat mengenali kematangan seseorang dari bagaimana ia memanfaatkan waktunya sejak usia muda. Tentu ada perbedaan antara mengisolasi diri sepenuhnya dari masyarakat dan memanfaatkan waktu dengan baik. Sebagian orang menutup diri, hanya diam di rumah, lalu sibuk membuka gawai (gadget), mengakses media sosial, internet, dan lainnya, hingga waktunya terbuang sia-sia. Ini hal yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu sejati—berdasarkan pengamatan terhadap banyak pelajar—yang diberi keberkahan oleh Allah dalam usahanya dan waktunya adalah orang yang sebisa mungkin mengurangi keterikatan dengan urusan duniawi. Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah berkata, “Jangan menikah lagi (istri kedua),” padahal poligami adalah perkara yang mubah secara syariat dan terkadang berpahala. Namun, beliau tetap berpesan demikian. Maka bagaimana dengan kesibukan dunia lainnya? Sesungguhnya, media sosial itu menyibukkan, terlebih lagi bagi penuntut ilmu. Ada yang berisi berita, ada pula yang penuh dengan gosip. Ada pula yang menyajikan komentar dan analisis atas berita, sebagian benar dan sebagian bohong. Ada juga yang hanya berisi lelucon dan hal-hal yang tak berguna. Percayalah, ilmu yang kamu dapatkan—atau kamu kira bisa kamu dapatkan—dari media sosial, pasti bisa kamu temukan di tempat lain. Kamu dapat berlepas diri dari media sosial. Hal-hal seperti ini tak perlu diikuti, dapat ditinggalkan sepenuhnya. Saya bahkan sampaikan satu hal padamu: ada orang yang dalam penelitian ilmiahnya, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup tanpa mengandalkannya sama sekali. Ia hanya bergantung pada ensiklopedia digital seperti Maktabah Syamila, dan semisalnya. Namun, ada saudara kita berkata, “Saya menolak itu. Saya tidak akan pernah menggunakannya.” Sebab, terlalu bergantung padanya membuat penuntut ilmu enggan kembali membuka kitab-kitab secara langsung. Orang-orang mengomentarinya, “Kau hanya membuang-buang waktu. Alat itu membuat efisien, juga bermanfaat untukmu.” Namun, seiring waktu, terbukti bahwa cara manual yang ia pilih justru lebih tepat. Ternyata ia mendapatkan manfaat yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Sebab ketika seseorang meneliti suatu persoalan atau mencari hadis secara manual, dalam prosesnya, ia akan membaca 100 hadis sebelum sampai pada hadis yang ia cari. Dari situ, bisa jadi ia memperoleh manfaat berkali-kali lipat dari yang ia niatkan. Bahkan ia menemukan faedah yang sebelumnya tidak ia cari atau tidak ia ketahui. Hal-hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu. Sering kali, lamanya proses pencarian ilmu justru akan menambah kedalaman ilmu itu sendiri. Sebaliknya, pencarian yang serba ringkas dan hasil yang instan bisa menjadi sebab melemahnya kualitas ilmu yang diperoleh. Saya sudah katakan sebelumnya, ada pendapat yang menyebut bahwa para ulama fikih sengaja mempersulit ilmu agar pelajar bisa mendapatkan faedah lebih dan kemampuannya benar-benar terasah. Oleh sebab itu, saya ingin menasihati diri saya sendiri dan kalian semua, hendaknya kita berusaha mengurangi ketergantungan terhadap media-media semacam ini. Sebisa mungkin, berusaha untuk meninggalkannya. Jangan terlalu banyak menyibukkan diri dengannya, kecuali dalam hal yang benar-benar diperlukan. Sehingga jika ia mampu mengendalikan dirinya, maka alhamdulillah! Namun jika tidak, sebaiknya ia hapus saja media tersebut, meskipun hanya untuk sementara waktu, agar ia bisa istirahat. Ada sebagian orang yang jika tidak membawa ponselnya, seakan-akan dunia ini telah runtuh. Banyak orang saat ini sangat terpengaruh. Ketika ia kehilangan ponsel selama sehari atau dua hari saja, mereka merasa seolah dunia telah berubah. Karena itu, biasakan dirimu untuk meninggalkannya sesekali. Tinggalkan beberapa hari! Agar kamu menggunakan ponsel yang lain untuk berkomunikasi dengan keluargamu. Adapun media sosial, tinggalkanlah selama berhari-hari. Sungguh, saya katakan benar-benar, media ini telah menyibukkan manusia dan menyia-nyiakan waktu mereka. Lebih dari itu, media ini membawa bahaya besar, yaitu rasa gelisah. Kegelisahan ini bukan perkara sepele. Mendengar berbagai kabar orang lain bisa menimbulkan kegelisahan dalam diri. Kegelisahan ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Kita lupa membahas hal ini: kegelisahan yang menghantui jiwa. Kegelisahan adalah salah satu penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah Ta’ala, bahwa jika terjadi fitnah, beliau tidak mencari tahu dan tidak memberi tahu kabarnya. Beliau tidak mendengarkan kabarnya dan tidak membicarakannya. Sedangkan muridnya, Ibrahim An-Nakha’i, jika terjadi fitnah, ia mencari tahu kabarnya, tapi tidak menyebarkannya. Beliau tidak membicarakannya, meski mungkin kadang mendengarnya. Adapun Syuraih sama sekali tidak mencari tahu tentangnya ataupun menyampaikannya. Maka ketika terjadi fitnah besar di zamannya, Allah melindunginya. Ia adalah seorang mukhadhram; ia hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi tidak bertemu langsung. Allah selamatkan Syuraih dari banyak fitnah. Maka, tidak mencari tahu berita kadang bisa membuat pikiranmu tenang. Sehingga engkau bisa menuntut ilmu dalam keadaan tenang, kamu dapat fokus menuntut ilmu. Berita-berita semacam itu terkadang membuat seseorang sulit tidur — terutama sebagian orang. Seperti saya, misalnya. Terkadang, jika mendengar berita tertentu, saya tidak bisa tidur malam itu. Karena perasaan gelisah dan ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, tenangkanlah dirimu dan teladanilah Syuraih dan Ibrahim An-Nakha’i, karena keduanya adalah imam besar. Tenangkan pikiranmu, dan arahkanlah perhatianmu kepada hal yang bermanfaat, yaitu ilmu. Ini adalah poin kedua. Poin pertama tadi: media sosial dapat membuang waktu. Poin kedua: media sosial menyibukkan pikiran. Poin ketiga — ini sangat penting Media sosial membuka peluang bagi siapa saja berbicara, baik orang jujur maupun pendusta. Ini berbahaya sekali. Orang yang berdusta — baik dalam ilmu maupun hal lain — bisa menanamkan keburukan di hatimu. Pikiranmu akan sibuk karenanya. Kita tahu bahwa Muhammad bin Syihab Az-Zuhri pernah berkata, “Terkadang aku meletakkan tanganku di atas kertas agar tidak menghafalnya,” karena hafalannya yang sangat kuat. Ia berkata, “Aku tidak ingin menghafalnya.” Ulama yang lain mengatakan, “Aku menutup telingaku agar tidak mendengar ucapan orang-orang di pasar, supaya tidak terhafal olehku.” Demikian pula dengan bacaan dan tulisan di media, di antaranya ada yang bohong. Ada juga yang memuat syubhat dalam urusan agama. Baik dalam bab akidah, takfir, atau fikih, atau topik-topik lain yang saling berkaitan. Terkadang menimbulkan sesuatu dalam hati, atau membuat hati sibuk memikirkannya. Ini jelas sangat berbahaya. Maka dari itu, saudara-saudara! Saya hampir lupa: salah satu penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah sibuk berdebat. Sungguh disayangkan, media sosial justru memfasilitasi perdebatan itu. Padahal, debat termasuk salah satu penghalang terbesar dalam meraih ilmu. Oleh sebab itu, Imam Ad-Darimi menulis satu bab khusus dalam kitab Sunan-nya tentang larangan berdebat dalam ilmu. Para ulama sejak dahulu terus-menerus memperingatkan kita darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. At-Thabarani, dibacakan Syaikh secara makna). Beliau juga bersabda, “Aku menjamin istana di tengah (pinggiran) surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud, dibacakan secara makna oleh Syaikh). Meninggalkan perdebatan dan tidak mendebat dalam agama termasuk amalan besar. Barang siapa mencari ilmu untuk membantah orang-orang bodoh dan mendebat para ulama, maka itu saja yang ia dapatkan. Ia tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya. Media sosial penuh dengan pertengkaran dan debat. Bahkan di WhatsApp dan yang sejenisnya, mungkin ada yang berkata, “Kita gunakan ini untuk menyebarkan ilmu.” Lalu seseorang membahas satu masalah, dan yang lain membalas untuk membela pendapatnya sendiri. Begitulah seterusnya, hingga muncul berbagai hal yang pada hakikatnya menjadi penghalang ilmu. Bukan sarana untuk mencapainya. Jadi, jauhilah perdebatan! Jauhilah saling berbantahan! Kamu jelaskan dan bacalah ilmu, tapi jangan sibuk dengan perdebatan dan bantah-bantahan. Karena itu adalah penyakit dalam ilmu dan salah satu penghalang besar dalam meraihnya. ==== الْحَقِيقَةُ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي جَدَّتْ فِي وَقْتِنَا هَذَا وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ وَمِنْ أَشْكَلِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي جَيْبِكَ يَعْنِي هِيَ مَعَكَ لَيْسَ تَحْتَاجُ أَنْ تَذْهَبَ بِغُرْفَةٍ بِعَيْنِهَا وَتُشَغِّلَ جِهَازًا بِعَيْنِهِ كَمَا كَانَ قَدِيمًا يُسْتَخْدَمُ النِّتُ الْآنَ هِيَ مَعَكَ فِي جَيْبِكَ وَأَنْتَ جَالِسٌ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ تَنْظُرُ مَا الَّذِي كُتِبَ؟ وَمَا الَّذِي قِيلَ؟ وَمَا الَّذِي يَدُورُ فِي الأَسْرَارِ فِي أَقْصَى الْبُلْدَانِ؟ وَلِذَلِكَ قَدْ يُقَالُ إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ بِالْأَخْبَارِ الَّتِي جَاءَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ آخِرَ الزَّمَانِ يَتَقَارَبُ كَمَا فِي الْبُخَارِيِّ قِيلَ وَالتَّقَارُبُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ إِمَّا تَقَارُبُ الزَّمَانِ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَكُونُ الْوَقْتُ سَرِيعًا كَمَا فُسِّرَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عَوْفٍ الأَشْجَعِيِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ وَإِمَّا أَنْ يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ بِحَيْثُ إِنَّهُ مَا كَانَ الْخَبَرُ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ طَوِيلٍ أَصْبَحَ يَنْتَقِلُ فِي زَمَنٍ قَصِيرٍ أَوْ أَنَّهُ يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ فِي الْمَسَافَاتِ فَمَا كَانَ يُنْتَقَلُ إِلَيْهِ بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِي مَسَافَةٍ طَوِيلَةٍ أَصْبَحَ يَتَقَارَبُ فِيهِ الزَّمَانُ فَيُنْتَقَلُ إِلَيْهِ فِي مَسَافَةٍ قَصِيرَةٍ وَهِيَ وَسَائِلُ الْمُوَاصَلَاتِ وَكُلُّ هَذِهِ مَوْجُودَةٌ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ هَذِهِ الْوَسَائِلَ لَا شَكَّ أَنَّ فِيهَا نَفْعًا وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُعْتَقَدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا مَا فِيهِ شَيْءٌ شَرٌّ مَحْضٌ لَيْسَ إِلَيْكَ مِنْ تَلْبِيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ فَلَا يَخْلُقُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا شَرًّا مَحْضًا حَتَّى إِبْلِيسَ حِينَمَا خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَهُ فِيهِ فَائِدَةٌ لِيَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ النَّاسُ دَرَجَاتٌ فِي الْجَنَّةِ بَعْضُهُمْ أَعْلَى مِنْ بَعْضِ وَالسَّبَبُ أَنَّ ذَاكَ قَدِ اتَّبَعَ بَعْضَ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَالْآخَرُ قَدْ عَصَاهُ وَذَاكَ فِي الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ فِي النَّارِ وَذَاكَ فِي أَعْلَى دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ وَالْآخَرُ دُونَهُ فِي الدَّرَجَاتِ إِذًا فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَخْلُقُ شَرًّا مَحْضًا فَفِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ وَلَكِنْ حَقِيقَةً طَالِبُ الْعِلْمِ وَقْتُهُ عَزِيزٌ لَا تَتَصَوَّرْ كَيْفَ الْوَقْتُ عَزِيزٌ جِدًّا وَقْتُهُ عَزِيزٌ وَخَاصَّةً فِي سِنِّيَّةٍ مُعَيَّنَةٍ فِي عُمْرِهِ لَا أَقُولُ فِي طُفُولَتِهِ فِي الطُّفُولَةِ لَهَا وَضْعُهَا وَإِنَّمَا فِي فَتْرَةِ يَعْنِي الْعِلْمِ وَحُضُورِهِ خَاصَّةً فِي الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا وَصَلَ الْأَرْبَعِيْنَ انْتَقَلَ لِمَرْحَلَةٍ أُخْرَى فِي سِنِّهِ تَغَيَّرَ تَفْكِيرُهُ تَغَيَّرَ نَظَرُهُ لِلْأُمُورِ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ يَتَغَيَّرُ الْمَرْءُ بَعْدَ الْأَرْبَعِينَ لَكِنْ أَنَا أَتَكَلَّمُ عَنْ مَرْحَلَةِ الْعِشْرِينَ وَالثَّلَاثِينَ وَهِيَ يَعْنِي لُبُّ عُمْرِ الْإِنْسَانِ وَوَقْتُ إِنْتَاجِهِ وَتَحْصِيْلِهِ لِلْعِلْمِ وَكِتَابَتِهِ وَفَهْمِهِ وَقُدْرَتِهِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ وَهَكَذَا مِثْلُ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الْحِرْصُ مِثْلُ هَذِهِ الْأَزْمَاتِ أَوِ الْأَوْقَاتِ مِنَ الْعُمْرِ الْحِرْصُ فِيهَا عَلَى الزَّمَنِ مُهِمٌّ جِدًّا وَكَانَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُعْنَونَ بِأَوْقَاتِهِمْ لَوْ نَسْمَعُ بَعْضَ أَخْبَارِهِمْ فِي ذَلِكَ نَرَى عَجَبًا كَانَ يَذْكُرُونَ أَنَّ النَّوَوِيَّ عَلَيْهِ رَحْمَةُ اللَّهِ كَانَ إِذَا حَضَرَ لَا يَأْكُلُ إِلَّا كَعْكَةً لِأَنَّ الْكَعْكَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ مَا يَحْتَاجُ إِلَى هَضْمٍ فَيَأْكُلُهُ الْتِهَامًا فِيهِ أَوْفَرُ لِوَقْتهِ يُوَفِّرُ رُبُعَ سَاعَةٍ أَوْ عَشْرَ دَقَائِقَ قِيمَةُ وَجْبَةٍ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ابْنُ الْجَوْزِيِّ كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَهُ أَحَدُ ضَيْفٍ وَجَاءَهُ يَسْتَغِلُّ حُضُورَ هَذَا الضَّيْفِ فِيمَا لَا يَحْتَاجُ إِلَى تَفْكِيرٍ فِي قَطْعِ الْوَرَقِ وَفِي بَرْيِ الْأَقْلَامِ هُوَ وَرُبَّمَا إِذَا كَانَ ضَيْفُهُ يَمُنُّ عَلَيْهِ قَالَ اِبْرِ مَعِيْ فَيَبْرِي مَعَهُ الْأَقْلَامَ طَبْعًا بَرْيُ الْأَقْلَامِ لَيْسَ بِالبَرَّايَةِ وَإِنَّمَا بِالسِّكِّينِ مَثَلًا فَيَكُونُ عِنْدَهُ عِشْرِينَ قَلَمًا أَوْ ثَلَاثِينَ وَقَصِّ الْأَوْرَاقِ وَتَهْذِيبِهَا وَتَجْلِيدِ الْكُتُبِ إِذًا فَقَضِيَّةُ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ مُهِمَّةٌ جِدًّا وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْمَرْءَ مِنْ حَدَاثَةِ سِنِّهِ فِي قَضِيَّةِ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ فِيهِ فَرْقٌ بَيْنَ الِانْغِلَاقِ الْكُلِّيِّ عَنِ النَّاسِ وَبَيْنَ الِاسْتِفَادَةِ مِنَ الْوَقْتِ بَعْضُ النَّاسِ يَنْغَلِقُ وَيَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ وَيَفْتَحُ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ فِي التَّوَاصُلِ وَالنِّتِ وَغَيْرِهَا فَيَضِيعُ وَقْتُهُ هَذَا شَيْءٌ آخَرُ وَلِذَلِكَ طَالِبُ الْعِلْمِ حَقِيقَةً يَعْنِي بِاسْتِقْرَاءِ لِكَثِيرٍ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الَّذِي يَنْفَعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِجُهْدِهِ وَبِوَقْتِهِ هُوَ الَّذِي يَتَخَفَّفُ عَنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا يَتَخَفَّفُ قَدْرَ اسْتِطَاعَتِهِ لِذَا كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا تَأْخُذُ ثَانِيَةً زَوْجَةً ثَانِيَةً مَعَ أَنَّهَا مِنَ الْمُبَاحَاتِ الْمَشْرُوعَةِ وَفِيهَا أَجْرٌ فِي أَحْيَانٍ كَثِيرَةٍ مَعَ ذَلِكَ فَمَا ظَنُّكَ بِالْإِنْشَغَالِ بِمِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ بِالْخُصُوصِ مَشْغَلَةٌ فَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ خَبَرٌ وَمِنْ شَيْءٍ فِيهِ إِشَاعَةٌ وَمِنْ شَيْءٍ ثَالِثٍ أَوْ أَمْرٍ ثَالِثٍ فِيهِ تَعْلِيقٌ عَلَى خَبَرٍ وَتَحْلِيلٌ بَيْنَ صَادِقٍ وَكَاذِبٍ وَمِنْ أَمْرٍ يَتَعَلَّقُ بِنُكْتَةٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي لَا فَائِدَةَ مِنْهَا وَثِقْ أَنَّ مَا تَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ أَوْ تَظُنُّ أَنَّكَ سَتَجِدُهُ مِنْ عِلْمٍ هُنَا سَتَجِدُهُ فِي غَيْرِهِ وَتَسْتَطِيْعُ الِاسْتِغْنَاءَ عَنْهُ فَمِثْلُ هَذِهِ الْأُمُورِ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْهَا وَتَرْكُهَا بَلْ إِنِّي أَقُولُ لَكَ شَيْءٌ هُنَاكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعْتَمِدُ فِي الْبَحْثِ لِكَيْ أَقُولُ لَكَ الِاسْتِغْنَاءُ الْآنَ يَقُولُ لَكَ الْمَوْسُوعاتِ الشَّامِلَةِ وَغَيْرِهَا وَحَدِيثِ هَذَا النِّتِ بَعْضُ الْإِخْوَانِ يَقُولُ أَنَا ضِدُّهَا لَا أَرْجِعُ لَهَا مُطْلَقًا لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ عَلَيْهَا جَعَلَ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَرْجِعُ لِلْكُتُبِ فَكَانَ النَّاسُ يَقُولُونَ لَهُ إِنَّكَ سَوْفَ تُضَيِّعُ وَقْتَكَ وَهَذِهِ تَخْتَصِرُ عَلَيْكَ وَتُفِيْدُكَ تَبَيَّنَ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّ طَرِيقَتَهُ أَصَحُّ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ لِأَنَّ الْمَرْءَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَبْحَثَ مَسْأَلَةً أَوْ يَبْحَثَ عَنْ حَدِيثٍ سَيَقْرَأُ فِي طَرِيقِهِ مِئَةَ حَدِيثٍ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْحَدِيثَ الَّذِي يُرِيدُهُ ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ يَسْتَفِيدُ فَوَائِدَ رُبَّمَا أَضْعَافَ مَا أَرَادَ وَيَجِدُ فَوَائِدَ لَا يُرِيدُهَا أَوْ غَائِبَةً عَنْهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءُ هِيَ مِنَ الْعِلْمِ فَأَحْيَانًا طُولُ الْبَحْثِ فِي الْعِلْمِ يَزِيدُ الْعِلْمَ وَأَمَّا الِاخْتِصَارُ فِي الْبَحْثِ وَالْوُصُولُ لِلْمَعْلُومَةِ بِسُرْعَةٍ قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي إِضْعَافِ الْعِلْمِ وَقُلْتُ لَكُمْ قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ الْفَارِقَ قَالَ إِنَّ الْفُقَهَاءَ يَتَعَمَّدُونَ تَصْعِيْبَ الْعِلْمِ لِكَيْ الْمَرْءَ يَسْتَفِيدُ أَكْثَرَ وَتَقْوَى مَلَكَتُهُ وَلِذَلِكَ أَنَا نَاصِحٌ لِي وَلَكُمْ أَنَّ الْمَرْءَ يُحَاوِلُ أَنْ يَتَخَفَّفَ مِنْ هَذِهِ الْوَسَائِلِ يُحَاوِلُ أَنْ يُلْغِيَهَا وَأَنْ لَا يَعْنِي يَنْشَغِلَ بِهَا كَثِيرًا إِلَّا فِي شَيْءٍ يَعْنِي ضَرُورِيٍّ فَيَكُونُ إِنِ اسْتَطَاعَ يَعْنِي أَنْ يَتَحَكَّمَ فِي نَفْسِهِ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ يَحْذِفْهَا وَلَوْ فَتْرَةً يَرْتَاحُ بَعْضُ النَّاسِ لَوْ حُذِفَ عَنْهُ لَمْ يَأْتِ بِهَاتِفِهِ مَعَهُ رُبَّمَا أَحَسَّ أَنَّ الدُّنْيَا قَدْ يَعْنِي انْهَدَمَتْ وَتَأَثَّرَ تَأَثُّرًا كَثِيرًا جِدًّا كَثِيرٌ الْآنَ وُجِدَ عِنْدَنَا عِنْدَمَا يَفْقِدُ الْهَاتِفَ يَوْمٌ كَامِلٌ أَوْ يَومَيْنِ لَيْسَ مَعَهُ كَأَنَّ الدُّنْيَا يَعْنِي تَغَيَّرَتْ وَلِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تُعَوِّدَ عَلَى نَفْسِكَ عَلَى تَرْكِهِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا لِيَكُنْ مَعَكَ آخَرُ لِلتَّوَاصُلِ مَعَ أَهْلِكَ وَهَذَا الَّذِي فِيهِ وَسَائِلُ التَّوَاصُلِ اُتْرُكْهُ أَيَّامًا كَثِيرَةً فَأَنَا أَقُولُ حَقِيقَةً أَنَّ هَذِهِ أَشْغَلَتِ النَّاسَ وَأَضَاعَتْ أَوْقَاتَهُمْ إِضَافَةً إِلَى أَنَّ فِيهَا أَمْرٌ خَطِيرٌ جِدًّا وَهُوَ قَضِيَّةُ الْهَمِّ هَذَا الْهَمُّ لَيْسَ بِالسَّهْلِ سَمَاعُ أَخْبَارِ النَّاسِ تُكْسِبُ الْمَرْءَ هَمًّا وَهَذَا الْهَمُّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ نَسِيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْهُ وَهُوَ الْهَمُّ مَا يَقَعُ فِي النَّفْسِ مِنْ هَمٍّ مِنْ أَعْظَمِ الْعَوَائِقِ الَّتِي تَصْرِفُ عَنِ الْعِلْمِ الْهَمُّ وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ شُرَيْحٍ الْقَاضِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَّهُ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ لَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَسْمَعُ أَخْبَارًا وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا وَتِلْمِيذُهُ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ كَانَ إِذَا جَاءَتْ الْفِتَنُ يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ لَا يَتَكَلَّمُ وَلَكِنَّهُ رُبَّمَا سَمِعَ الْإِخْبَارَ وَأَمَّا شُرَيْحٌ فَلَا يَسْتَخْبِرُ وَلَا يُخْبِرُ وَلِذَلِكَ حَدَثَ فِي وَقْتِهِ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَمَنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ مُخَضْرَمٌ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ لَمْ يَرَهُ بِالْعِصْمَةِ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْفِتَنِ وَلِذَلِكَ عَدَمُ الِاسْتِخْبَارِ هَذَا أَحْيَانًا يُرِيحُ ذِهْنَكَ فَتَطْلُبُ الْعِلْمَ وَأَنْتَ فِي حَالِكَ وَأَنْتَ مُنْشَغَلٌ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَمِثْلُ هَذِهِ الأَخْبَارِ أَحْيَانًا تَجْعَلُ الْوَاحِدَ لَا يَنَامُ خَاصَّةً بَعْضُ النَّاسِ مِثْلِيْ أَنَا أَحْيَانًا إِذَا سَمِعْتُ بَعْضَ الْأَخْبَارِ مَا أَنَامُ فِي اللَّيْلِ مِنْ كَدَرٍ فِي النَّفْسِ وَتَكَدُّرٍ وَمَا بِالْيَدِ حِيلَةٌ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَفْعَلَ شَيْئًا لَا أَسْتَطِيعُ فَلِذَلِكَ أَرِحْ نَفْسَكَ وَاسْتَنَّ بِمَا فَعَلَهُ شُرَيْحٌ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ فَإِنَّهُمَا إِمَامَانِ عَظِيمَانِ فَتَنْشَغِلَ أَوْ فَتُرِيحَ بَالَكَ وَتَنْصَرِفَ لِمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْفَعَ بِهِ وَهُوَ الْعِلْمُ إِذًا هَذَا الْأَمْرُ الثَّانِي قُلْنَا الأَوَّلُ أَمْرُ تَضْيِيعِ الْوَقْتِ الْأَمْرُ الثَّانِي أَنَّهُ مَشْغَلَةٌ لِلذِّهْنِ الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا أَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْوَسَائِلِ قَدْ يَأْتِي فِيهَا يَتَكَلَّمُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَهَذِه خَطِيرَةٌ فَالْكَاذِبُ هَذَا فِي الْعِلْمِ وَفِي غَيْرِهِ يَجْعَلُ فِي قَلْبِكَ شَيْئًا يَنْشَغِلُ الذِّهْنُ بِهِ نَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِىَّ يَقُولُ أَحْيَانًا أَضَعُ يَدِي عَلَى الْوَرَقَةِ لِكَيْ لَا أَحْفَظَهَا لِأَنَّهُ كَانَ قَوِيَّ الْحِفْظِ مَا أَبْغِي أَحْفَظُهَا وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ أَسُدُّ أُذُنِي لِكَي لَا أَسْمَعَ كَلَامَ النَّاسِ فِي السُّوقِ فَأَحْفَظَ كَلَامَهُمْ كَذَلِكَ الَّذِي يُقْرَأُ هَذِهِ الْقِرَاءَاتُ الَّتِي هِيَ مِنْهَا الْكَاذِبُ وَمِنْهَا الَّذِي يَأْتِي بِكَلَامٍ يَعْنِي فِيهِ أَهْوَاءُ فِي أُمُورِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ فِي بَابِ الِاعْتِقَادِ أَوْ فِي بَابِ التَّكْفِيرِ أَوْ فِي بَابِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَسْبَابٍ مُتَدَاخِلَةٍ قَدْ يَقَعُ فِي النَّفْسِ شَيْءٌ أَوْ تَنْشَغِلُ بِهِ النَّفْسُ فَحِينَئِذٍ يَكُونُ أَمْرًا خَطِيرًا وَلِذَلِكَ أَيُّهَا الإِخْوَةُ فَهَذِهِ نُسِيتُهَا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ طَلَبِ الْعِلْمِ الِانْشِغَالُ بِالْجَدَلِ وَلِلْأَسَفِ أَنَّ وَسَائِلَ التَّوَاصُلِ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الْجَدَلِ الْجَدَلُ هَذَا مِنْ أَكْثَرِ مَا يُعِيقُ عَنِ الْعِلْمِ وَلِذَلِكَ عَقَّدَ الدَّارِمِيُّ فِي السُّنَنِ بَابًا كَامِلًا فِي النَّهْيِ عَنِ الْجَدَلِ فِي الْعِلْمِ وَمَا زَالَ أَهْلُ الْعِلْمِ يُحَذِّرُونَ مِنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ وَقَالَ وَأَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي وَسَطِ (رَبَضِ) الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَلَوْ كَانَ مُحِقًّا فَتَرْكُ الْمِرَاءِ وَعَدَمُ الْمُجَادَلَةِ فِي الدِّيْنِ مِنْ أَعْظَمِ الْأُمُورِ وَمَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ وَيُجَادِلَ بِهِ الْعُلَمَاءَ فَهُوَ حَسْبُهُ لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ شَيْئًا وَمِثْلُ هَذِهِ الْوَسَائِلِ تَجِدُ فِيهَا مِنَ الْمُمَارَاةِ وَالْمُجَادَلَةِ وَحَتَّى هَذَا الْوَاتْسَابِ وَغَيْرِهَا تَجِدُ فِيهَا يَقُولُ نَجْعَلُهُ عِلْمًا فَيَتَكَلَّمُ أَحَدُهُمْ بِمَسْأَلَةٍ وَيَتَكَلَّمُ الثَّانِي لِيَنْتَصِرَ لِنَفْسِهِ وَهَكَذَا تَجِدُ أَشْيَاءَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ مِنْ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَلَيْسَتْ مِنْ وَسَائِلِ تَحْصِيلِهِ إِذًا إِيَّاكَ وَالْمُجَادَلَةَ إِيَّاكَ وَالْمُنَاظَرَةَ أَنْتَ تُبَيِّنُ الْعِلْمَ وَتَقْرَأُ الْعِلْمَ لَكِنْ لَا تَنْشَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ وَالْمُجَادَلَةِ فَإِنَّهَا آفَةٌ مِنْ آفَاتِ الْعِلْمِ وَعَائِقٌ مِنْ عَوَائِقِ تَحْصِيلِهِ
Prev     Next