Fasik, Fajir, dan Maksiat: Apa Bedanya?

Dalam Islam, setiap istilah yang berkaitan dengan dosa memiliki makna khusus dan tingkatan yang berbeda. Tiga istilah yang sering disebut adalah fasik, fujur, dan maksiat. Sekilas terlihat mirip, tetapi para ulama menjelaskan adanya perbedaan mendasar di antara ketiganya. Memahami perbedaan ini penting agar seorang muslim lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa, khususnya dosa besar.  Daftar Isi tutup 1. Fasiq (الفسق): 2. Fujūr (الفجور): 3. Penjelasan Ulama 4. Catatan Penting 5. Kesimpulan Fasiq (الفسق):Kata ini lebih sering digunakan untuk dosa-dosa besar, seperti mencuri, memakan riba, berzina, dan sejenisnya.Fujūr (الفجور):Kata ini juga banyak dipakai untuk dosa-dosa besar. Namun, penggunaannya seringkali lebih khusus, yaitu pada mereka yang terus-menerus melakukan dosa besar, bersikap meremehkan, dan larut di dalamnya. Istilah ini juga kerap dipakai untuk dosa-dosa yang sangat keji, yang bahkan orang berakal sekalipun—meskipun ia bukan seorang muslim—akan menganggapnya menjijikkan. Misalnya perbuatan homoseksual, zina dengan mahram, tuduhan dusta (fitnah keji), menyiksa dengan kejam dalam pembunuhan, serta sumpah palsu yang berat (al-yamīn al-ghamūs), dan semacamnya.Dengan demikian, fujūr lebih keji daripada fisq, sedangkan istilah ma‘ṣiyah (معصية / maksiat) menempati tingkat yang lebih rendah dibanding keduanya.Penjelasan UlamaAbu Hilāl al-‘Askarī rahimahullah berkata:“Perbedaan antara al-fisq dan al-fujūr adalah:Al-fisq berarti keluar dari ketaatan kepada Allah dengan melakukan dosa besar.Sedangkan al-fujūr bermakna larut dalam kemaksiatan dan melebar di dalamnya. Asalnya dari ucapanmu: أَفْجَرْتُ السَّكْرَ (aku membolongi bendungan), jika engkau membuat lubang yang lebar sehingga air pun keluar deras dari semua arah. Karena itu, tidaklah pantas orang yang hanya melakukan dosa kecil disebut fājir (pelaku fujūr). Sebagaimana tidak pantas pula jika seseorang hanya membuat lubang kecil pada bendungan lalu dikatakan: ia telah ‘memecahkan’ bendungan.”Kemudian, istilah fujūr makin sering digunakan sehingga menjadi khusus bagi dosa zina, homoseksual, dan sejenisnya.” (Al-Furūq, hlm. 231).Abu al-Makārim al-Khuwārizmī (w. 610 H) rahimahullah berkata:“Fujūr, fisq, dan ‘iṣyān (maksiat) memiliki kedekatan makna. Seakan-akan seorang fājir adalah orang yang membuka pintu maksiat lalu meluas di dalamnya. Dalam doa qunūt terdapat bacaan: wa natruka man yafjuruk—maksudnya: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351).Catatan PentingSemua keterangan di atas tidak menutup kemungkinan penggunaan istilah fisq, fujūr, dan maksiat secara saling menggantikan. Perbedaan yang telah dijelaskan tadi baru berlaku ketika ketiga istilah tersebut disebutkan bersamaan, atau ketika digunakan dengan pengertian khusus sesuai istilah para ulama.Namun, bila disebutkan secara terpisah, maka ketiganya bisa saja dipakai untuk makna yang sama. Contoh, perbuatan homoseksual bisa disebut ma‘ṣiyah, kabīrah (dosa besar), maupun fujūr. Abu al-Baqā’ al-Kaffawī rahimahullah berkata: “Seorang fājir bisa berarti seorang kafir atau seorang fāsiq.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).Adapun dosa-dosa kecil biasanya tidak disebut dengan istilah fisq atau fujūr. Karena itu, penyematan kata fisq atau fujūr menjadi tanda bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Az-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir (1/8).Meski begitu, ada beberapa riwayat yang memperluas makna fisq dan fujūr hingga mencakup seluruh bentuk maksiat.Contohnya, Abu al-Makārim al-Khuwārizmī رحمه الله mengatakan tentang doa qunūt: “Dalam doa qunūt: wa natruka man yafjuruk—maksudnya adalah: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351). Hal ini juga dikatakan oleh al-‘Ainī dalam ‘Umdat al-Qārī (14/307).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Fujūr adalah istilah umum bagi siapa pun yang terang-terangan dalam kemaksiatan, atau ucapan keji yang memperlihatkan kebusukan hati si pengucap.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 15/286).Abu al-Baqā’ al-Kaffawī رحمه الله juga menuturkan: “Fisq dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna. Di antaranya adalah makna ‘perbuatan dosa’, seperti dalam firman Allah:وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ(tidak ada kefasikan dan tidak ada perdebatan dalam haji) [QS. Al-Baqarah: 197]. Semua kembali kepada akar bahasa yang berarti ‘keluar’. Misalnya, mereka mengatakan: fasaqati ar-rutbah ‘anil-qishr—kurma itu keluar dari kulitnya.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).KesimpulanJika ketiga istilah ini disebutkan bersamaan, maka tingkatan paling keji adalah fujūr, kemudian fisq, lalu ma‘ṣiyah.Jika disebutkan terpisah, maka masing-masing istilah boleh dipakai untuk menggambarkan yang lain.Namun, penggunaan kata fujūr dan fisq untuk menyebut semua bentuk maksiat, termasuk dosa kecil, jarang digunakan.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Hukum Shalat di Belakang Imam yang Fasik (Ahli Maksiat)Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim—- Perjalanan Darush Sholihin – Sekar Kedhaton, 26 Safar 1447 H, 20 Agustus 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar fajir fasik fujur fusuk maksiat

Fasik, Fajir, dan Maksiat: Apa Bedanya?

Dalam Islam, setiap istilah yang berkaitan dengan dosa memiliki makna khusus dan tingkatan yang berbeda. Tiga istilah yang sering disebut adalah fasik, fujur, dan maksiat. Sekilas terlihat mirip, tetapi para ulama menjelaskan adanya perbedaan mendasar di antara ketiganya. Memahami perbedaan ini penting agar seorang muslim lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa, khususnya dosa besar.  Daftar Isi tutup 1. Fasiq (الفسق): 2. Fujūr (الفجور): 3. Penjelasan Ulama 4. Catatan Penting 5. Kesimpulan Fasiq (الفسق):Kata ini lebih sering digunakan untuk dosa-dosa besar, seperti mencuri, memakan riba, berzina, dan sejenisnya.Fujūr (الفجور):Kata ini juga banyak dipakai untuk dosa-dosa besar. Namun, penggunaannya seringkali lebih khusus, yaitu pada mereka yang terus-menerus melakukan dosa besar, bersikap meremehkan, dan larut di dalamnya. Istilah ini juga kerap dipakai untuk dosa-dosa yang sangat keji, yang bahkan orang berakal sekalipun—meskipun ia bukan seorang muslim—akan menganggapnya menjijikkan. Misalnya perbuatan homoseksual, zina dengan mahram, tuduhan dusta (fitnah keji), menyiksa dengan kejam dalam pembunuhan, serta sumpah palsu yang berat (al-yamīn al-ghamūs), dan semacamnya.Dengan demikian, fujūr lebih keji daripada fisq, sedangkan istilah ma‘ṣiyah (معصية / maksiat) menempati tingkat yang lebih rendah dibanding keduanya.Penjelasan UlamaAbu Hilāl al-‘Askarī rahimahullah berkata:“Perbedaan antara al-fisq dan al-fujūr adalah:Al-fisq berarti keluar dari ketaatan kepada Allah dengan melakukan dosa besar.Sedangkan al-fujūr bermakna larut dalam kemaksiatan dan melebar di dalamnya. Asalnya dari ucapanmu: أَفْجَرْتُ السَّكْرَ (aku membolongi bendungan), jika engkau membuat lubang yang lebar sehingga air pun keluar deras dari semua arah. Karena itu, tidaklah pantas orang yang hanya melakukan dosa kecil disebut fājir (pelaku fujūr). Sebagaimana tidak pantas pula jika seseorang hanya membuat lubang kecil pada bendungan lalu dikatakan: ia telah ‘memecahkan’ bendungan.”Kemudian, istilah fujūr makin sering digunakan sehingga menjadi khusus bagi dosa zina, homoseksual, dan sejenisnya.” (Al-Furūq, hlm. 231).Abu al-Makārim al-Khuwārizmī (w. 610 H) rahimahullah berkata:“Fujūr, fisq, dan ‘iṣyān (maksiat) memiliki kedekatan makna. Seakan-akan seorang fājir adalah orang yang membuka pintu maksiat lalu meluas di dalamnya. Dalam doa qunūt terdapat bacaan: wa natruka man yafjuruk—maksudnya: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351).Catatan PentingSemua keterangan di atas tidak menutup kemungkinan penggunaan istilah fisq, fujūr, dan maksiat secara saling menggantikan. Perbedaan yang telah dijelaskan tadi baru berlaku ketika ketiga istilah tersebut disebutkan bersamaan, atau ketika digunakan dengan pengertian khusus sesuai istilah para ulama.Namun, bila disebutkan secara terpisah, maka ketiganya bisa saja dipakai untuk makna yang sama. Contoh, perbuatan homoseksual bisa disebut ma‘ṣiyah, kabīrah (dosa besar), maupun fujūr. Abu al-Baqā’ al-Kaffawī rahimahullah berkata: “Seorang fājir bisa berarti seorang kafir atau seorang fāsiq.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).Adapun dosa-dosa kecil biasanya tidak disebut dengan istilah fisq atau fujūr. Karena itu, penyematan kata fisq atau fujūr menjadi tanda bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Az-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir (1/8).Meski begitu, ada beberapa riwayat yang memperluas makna fisq dan fujūr hingga mencakup seluruh bentuk maksiat.Contohnya, Abu al-Makārim al-Khuwārizmī رحمه الله mengatakan tentang doa qunūt: “Dalam doa qunūt: wa natruka man yafjuruk—maksudnya adalah: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351). Hal ini juga dikatakan oleh al-‘Ainī dalam ‘Umdat al-Qārī (14/307).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Fujūr adalah istilah umum bagi siapa pun yang terang-terangan dalam kemaksiatan, atau ucapan keji yang memperlihatkan kebusukan hati si pengucap.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 15/286).Abu al-Baqā’ al-Kaffawī رحمه الله juga menuturkan: “Fisq dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna. Di antaranya adalah makna ‘perbuatan dosa’, seperti dalam firman Allah:وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ(tidak ada kefasikan dan tidak ada perdebatan dalam haji) [QS. Al-Baqarah: 197]. Semua kembali kepada akar bahasa yang berarti ‘keluar’. Misalnya, mereka mengatakan: fasaqati ar-rutbah ‘anil-qishr—kurma itu keluar dari kulitnya.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).KesimpulanJika ketiga istilah ini disebutkan bersamaan, maka tingkatan paling keji adalah fujūr, kemudian fisq, lalu ma‘ṣiyah.Jika disebutkan terpisah, maka masing-masing istilah boleh dipakai untuk menggambarkan yang lain.Namun, penggunaan kata fujūr dan fisq untuk menyebut semua bentuk maksiat, termasuk dosa kecil, jarang digunakan.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Hukum Shalat di Belakang Imam yang Fasik (Ahli Maksiat)Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim—- Perjalanan Darush Sholihin – Sekar Kedhaton, 26 Safar 1447 H, 20 Agustus 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar fajir fasik fujur fusuk maksiat
Dalam Islam, setiap istilah yang berkaitan dengan dosa memiliki makna khusus dan tingkatan yang berbeda. Tiga istilah yang sering disebut adalah fasik, fujur, dan maksiat. Sekilas terlihat mirip, tetapi para ulama menjelaskan adanya perbedaan mendasar di antara ketiganya. Memahami perbedaan ini penting agar seorang muslim lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa, khususnya dosa besar.  Daftar Isi tutup 1. Fasiq (الفسق): 2. Fujūr (الفجور): 3. Penjelasan Ulama 4. Catatan Penting 5. Kesimpulan Fasiq (الفسق):Kata ini lebih sering digunakan untuk dosa-dosa besar, seperti mencuri, memakan riba, berzina, dan sejenisnya.Fujūr (الفجور):Kata ini juga banyak dipakai untuk dosa-dosa besar. Namun, penggunaannya seringkali lebih khusus, yaitu pada mereka yang terus-menerus melakukan dosa besar, bersikap meremehkan, dan larut di dalamnya. Istilah ini juga kerap dipakai untuk dosa-dosa yang sangat keji, yang bahkan orang berakal sekalipun—meskipun ia bukan seorang muslim—akan menganggapnya menjijikkan. Misalnya perbuatan homoseksual, zina dengan mahram, tuduhan dusta (fitnah keji), menyiksa dengan kejam dalam pembunuhan, serta sumpah palsu yang berat (al-yamīn al-ghamūs), dan semacamnya.Dengan demikian, fujūr lebih keji daripada fisq, sedangkan istilah ma‘ṣiyah (معصية / maksiat) menempati tingkat yang lebih rendah dibanding keduanya.Penjelasan UlamaAbu Hilāl al-‘Askarī rahimahullah berkata:“Perbedaan antara al-fisq dan al-fujūr adalah:Al-fisq berarti keluar dari ketaatan kepada Allah dengan melakukan dosa besar.Sedangkan al-fujūr bermakna larut dalam kemaksiatan dan melebar di dalamnya. Asalnya dari ucapanmu: أَفْجَرْتُ السَّكْرَ (aku membolongi bendungan), jika engkau membuat lubang yang lebar sehingga air pun keluar deras dari semua arah. Karena itu, tidaklah pantas orang yang hanya melakukan dosa kecil disebut fājir (pelaku fujūr). Sebagaimana tidak pantas pula jika seseorang hanya membuat lubang kecil pada bendungan lalu dikatakan: ia telah ‘memecahkan’ bendungan.”Kemudian, istilah fujūr makin sering digunakan sehingga menjadi khusus bagi dosa zina, homoseksual, dan sejenisnya.” (Al-Furūq, hlm. 231).Abu al-Makārim al-Khuwārizmī (w. 610 H) rahimahullah berkata:“Fujūr, fisq, dan ‘iṣyān (maksiat) memiliki kedekatan makna. Seakan-akan seorang fājir adalah orang yang membuka pintu maksiat lalu meluas di dalamnya. Dalam doa qunūt terdapat bacaan: wa natruka man yafjuruk—maksudnya: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351).Catatan PentingSemua keterangan di atas tidak menutup kemungkinan penggunaan istilah fisq, fujūr, dan maksiat secara saling menggantikan. Perbedaan yang telah dijelaskan tadi baru berlaku ketika ketiga istilah tersebut disebutkan bersamaan, atau ketika digunakan dengan pengertian khusus sesuai istilah para ulama.Namun, bila disebutkan secara terpisah, maka ketiganya bisa saja dipakai untuk makna yang sama. Contoh, perbuatan homoseksual bisa disebut ma‘ṣiyah, kabīrah (dosa besar), maupun fujūr. Abu al-Baqā’ al-Kaffawī rahimahullah berkata: “Seorang fājir bisa berarti seorang kafir atau seorang fāsiq.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).Adapun dosa-dosa kecil biasanya tidak disebut dengan istilah fisq atau fujūr. Karena itu, penyematan kata fisq atau fujūr menjadi tanda bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Az-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir (1/8).Meski begitu, ada beberapa riwayat yang memperluas makna fisq dan fujūr hingga mencakup seluruh bentuk maksiat.Contohnya, Abu al-Makārim al-Khuwārizmī رحمه الله mengatakan tentang doa qunūt: “Dalam doa qunūt: wa natruka man yafjuruk—maksudnya adalah: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351). Hal ini juga dikatakan oleh al-‘Ainī dalam ‘Umdat al-Qārī (14/307).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Fujūr adalah istilah umum bagi siapa pun yang terang-terangan dalam kemaksiatan, atau ucapan keji yang memperlihatkan kebusukan hati si pengucap.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 15/286).Abu al-Baqā’ al-Kaffawī رحمه الله juga menuturkan: “Fisq dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna. Di antaranya adalah makna ‘perbuatan dosa’, seperti dalam firman Allah:وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ(tidak ada kefasikan dan tidak ada perdebatan dalam haji) [QS. Al-Baqarah: 197]. Semua kembali kepada akar bahasa yang berarti ‘keluar’. Misalnya, mereka mengatakan: fasaqati ar-rutbah ‘anil-qishr—kurma itu keluar dari kulitnya.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).KesimpulanJika ketiga istilah ini disebutkan bersamaan, maka tingkatan paling keji adalah fujūr, kemudian fisq, lalu ma‘ṣiyah.Jika disebutkan terpisah, maka masing-masing istilah boleh dipakai untuk menggambarkan yang lain.Namun, penggunaan kata fujūr dan fisq untuk menyebut semua bentuk maksiat, termasuk dosa kecil, jarang digunakan.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Hukum Shalat di Belakang Imam yang Fasik (Ahli Maksiat)Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim—- Perjalanan Darush Sholihin – Sekar Kedhaton, 26 Safar 1447 H, 20 Agustus 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar fajir fasik fujur fusuk maksiat


Dalam Islam, setiap istilah yang berkaitan dengan dosa memiliki makna khusus dan tingkatan yang berbeda. Tiga istilah yang sering disebut adalah fasik, fujur, dan maksiat. Sekilas terlihat mirip, tetapi para ulama menjelaskan adanya perbedaan mendasar di antara ketiganya. Memahami perbedaan ini penting agar seorang muslim lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa, khususnya dosa besar.  Daftar Isi tutup 1. Fasiq (الفسق): 2. Fujūr (الفجور): 3. Penjelasan Ulama 4. Catatan Penting 5. Kesimpulan Fasiq (الفسق):Kata ini lebih sering digunakan untuk dosa-dosa besar, seperti mencuri, memakan riba, berzina, dan sejenisnya.Fujūr (الفجور):Kata ini juga banyak dipakai untuk dosa-dosa besar. Namun, penggunaannya seringkali lebih khusus, yaitu pada mereka yang terus-menerus melakukan dosa besar, bersikap meremehkan, dan larut di dalamnya. Istilah ini juga kerap dipakai untuk dosa-dosa yang sangat keji, yang bahkan orang berakal sekalipun—meskipun ia bukan seorang muslim—akan menganggapnya menjijikkan. Misalnya perbuatan homoseksual, zina dengan mahram, tuduhan dusta (fitnah keji), menyiksa dengan kejam dalam pembunuhan, serta sumpah palsu yang berat (al-yamīn al-ghamūs), dan semacamnya.Dengan demikian, fujūr lebih keji daripada fisq, sedangkan istilah ma‘ṣiyah (معصية / maksiat) menempati tingkat yang lebih rendah dibanding keduanya.Penjelasan UlamaAbu Hilāl al-‘Askarī rahimahullah berkata:“Perbedaan antara al-fisq dan al-fujūr adalah:Al-fisq berarti keluar dari ketaatan kepada Allah dengan melakukan dosa besar.Sedangkan al-fujūr bermakna larut dalam kemaksiatan dan melebar di dalamnya. Asalnya dari ucapanmu: أَفْجَرْتُ السَّكْرَ (aku membolongi bendungan), jika engkau membuat lubang yang lebar sehingga air pun keluar deras dari semua arah. Karena itu, tidaklah pantas orang yang hanya melakukan dosa kecil disebut fājir (pelaku fujūr). Sebagaimana tidak pantas pula jika seseorang hanya membuat lubang kecil pada bendungan lalu dikatakan: ia telah ‘memecahkan’ bendungan.”Kemudian, istilah fujūr makin sering digunakan sehingga menjadi khusus bagi dosa zina, homoseksual, dan sejenisnya.” (Al-Furūq, hlm. 231).Abu al-Makārim al-Khuwārizmī (w. 610 H) rahimahullah berkata:“Fujūr, fisq, dan ‘iṣyān (maksiat) memiliki kedekatan makna. Seakan-akan seorang fājir adalah orang yang membuka pintu maksiat lalu meluas di dalamnya. Dalam doa qunūt terdapat bacaan: wa natruka man yafjuruk—maksudnya: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351).Catatan PentingSemua keterangan di atas tidak menutup kemungkinan penggunaan istilah fisq, fujūr, dan maksiat secara saling menggantikan. Perbedaan yang telah dijelaskan tadi baru berlaku ketika ketiga istilah tersebut disebutkan bersamaan, atau ketika digunakan dengan pengertian khusus sesuai istilah para ulama.Namun, bila disebutkan secara terpisah, maka ketiganya bisa saja dipakai untuk makna yang sama. Contoh, perbuatan homoseksual bisa disebut ma‘ṣiyah, kabīrah (dosa besar), maupun fujūr. Abu al-Baqā’ al-Kaffawī rahimahullah berkata: “Seorang fājir bisa berarti seorang kafir atau seorang fāsiq.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).Adapun dosa-dosa kecil biasanya tidak disebut dengan istilah fisq atau fujūr. Karena itu, penyematan kata fisq atau fujūr menjadi tanda bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Az-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir (1/8).Meski begitu, ada beberapa riwayat yang memperluas makna fisq dan fujūr hingga mencakup seluruh bentuk maksiat.Contohnya, Abu al-Makārim al-Khuwārizmī رحمه الله mengatakan tentang doa qunūt: “Dalam doa qunūt: wa natruka man yafjuruk—maksudnya adalah: orang yang durhaka kepada-Mu.” (Al-Mughrib fī Tartīb al-Mu‘rib, hlm. 351). Hal ini juga dikatakan oleh al-‘Ainī dalam ‘Umdat al-Qārī (14/307).Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Fujūr adalah istilah umum bagi siapa pun yang terang-terangan dalam kemaksiatan, atau ucapan keji yang memperlihatkan kebusukan hati si pengucap.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 15/286).Abu al-Baqā’ al-Kaffawī رحمه الله juga menuturkan: “Fisq dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna. Di antaranya adalah makna ‘perbuatan dosa’, seperti dalam firman Allah:وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ(tidak ada kefasikan dan tidak ada perdebatan dalam haji) [QS. Al-Baqarah: 197]. Semua kembali kepada akar bahasa yang berarti ‘keluar’. Misalnya, mereka mengatakan: fasaqati ar-rutbah ‘anil-qishr—kurma itu keluar dari kulitnya.” (Al-Kulliyyāt, hlm. 693).KesimpulanJika ketiga istilah ini disebutkan bersamaan, maka tingkatan paling keji adalah fujūr, kemudian fisq, lalu ma‘ṣiyah.Jika disebutkan terpisah, maka masing-masing istilah boleh dipakai untuk menggambarkan yang lain.Namun, penggunaan kata fujūr dan fisq untuk menyebut semua bentuk maksiat, termasuk dosa kecil, jarang digunakan.Wallāhu a‘lam.Baca Juga:Hukum Shalat di Belakang Imam yang Fasik (Ahli Maksiat)Dampak Buruk Maksiat: Pelajaran dari Ibnul Qayyim—- Perjalanan Darush Sholihin – Sekar Kedhaton, 26 Safar 1447 H, 20 Agustus 2025Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdosa besar fajir fasik fujur fusuk maksiat

Doa Rahasia Agar Selamat dari Lilitan Utang – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Disebutkan dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa dalam shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari utang dan dosa.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan dari utang?” Adapun (المَغْرَمُ) artinya adalah utang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari.” Hadis ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitabnya Ash-Shahih. Perhatikanlah, wahai saudaraku sesama muslim, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari utang dalam shalatnya.Beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utang…” “dan dari dosa,” yaitu kemaksiatan. Dalam Shahih Al-Bukhari juga, diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku dahulu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku sering mendengar beliau membaca doa: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dan dari lilitan utang serta tekanan manusia.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memohon perlindungan dari lilitan utang, yakni dari utang yang menumpuk hingga melilit seseorang. Karena ini sangat menyakitkan secara batin. Bahkan terkadang menyeret kepada maksiat-maksiat lain, sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta, karena tekanan utang itu membuatnya terdorong untuk berbohong. “Jika berjanji, ia mengingkari.” Yakni utang menyebabkannya mengingkari janji. Maka utang bisa menjadi sebab terjerumusnya seseorang ke dalam maksiat-maksiat lainnya. yang akhirnya dilakukannya. Karena itu, wahai saudara-saudara, hendaklah kita meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta‘ala dari utang, dengan membaca doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, lilitan utang, dan kezaliman orang lain.” Atau doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang.” Namun yang lebih baik, kita membaca keduanya sekaligus.Akan tetapi, doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang” lebih sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat-shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir sebelum salam. ===== جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي صَلَاتِهِ أَيْ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ وَمِنَ الْمَأْثَمِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ وَالْمَغْرَمُ هُوَ الدَّيْنُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى صَحِيحِهِ فَانْظُرْ يَا أَخِي الْمُسْلِمَ كَيْفَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى فِي صَلَاتِهِ مِنَ الدَّيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ يَعْنِي مِنَ الدَّيْنِ وَمِنَ الْمَأْثَم أَيْ مِنَ الْمَعَاصِي وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّينِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ مِنْ أَنْ تَتَرَاكَمَ الدُّيُونُ عَلَى الْإِنْسَانِ فَيَغْلِبُهُ الدَّيْنُ فَإِنَّ هَذَا مُؤْلِمٌ لِلْإِنْسَانِ نَفْسِيًّا وَرُبَّمَا يَجُرُّ مَعَهُ مَعَاصٍ أُخْرَى كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ أَيْ أَنَّ هَذَا الدَّيْنَ يَتَسَبَّبُ فِي أَنْ يَضْغَطَ عَلَيْهِ فِي أَنْ يَكْذِبَ فِي الْحَدِيثِ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَنْ يَتَسَبَّبَ هَذَا الدَّيْنُ فِي أَنْ يُخْلِفَ الْوَعْدَ فَهَذَا الدَّيْنُ رُبَّمَا يَتَسَبَّبُ فِي مَعَاصٍ أُخْرَى يَقَعُ فِيْهَا الْإِنْسَانُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَنَا أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ نَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدَّيْنِ أَنْ نَأْتِيَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ أَوْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْأَحْسَنُ أَنْ نَجْمَعَ بَيْنَهُمَا لَكِنَّ حَدِيثَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ هَذَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُهُ غَالِبًا فِي صَلَوَاتِهِ فِى التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ

Doa Rahasia Agar Selamat dari Lilitan Utang – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Disebutkan dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa dalam shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari utang dan dosa.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan dari utang?” Adapun (المَغْرَمُ) artinya adalah utang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari.” Hadis ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitabnya Ash-Shahih. Perhatikanlah, wahai saudaraku sesama muslim, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari utang dalam shalatnya.Beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utang…” “dan dari dosa,” yaitu kemaksiatan. Dalam Shahih Al-Bukhari juga, diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku dahulu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku sering mendengar beliau membaca doa: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dan dari lilitan utang serta tekanan manusia.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memohon perlindungan dari lilitan utang, yakni dari utang yang menumpuk hingga melilit seseorang. Karena ini sangat menyakitkan secara batin. Bahkan terkadang menyeret kepada maksiat-maksiat lain, sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta, karena tekanan utang itu membuatnya terdorong untuk berbohong. “Jika berjanji, ia mengingkari.” Yakni utang menyebabkannya mengingkari janji. Maka utang bisa menjadi sebab terjerumusnya seseorang ke dalam maksiat-maksiat lainnya. yang akhirnya dilakukannya. Karena itu, wahai saudara-saudara, hendaklah kita meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta‘ala dari utang, dengan membaca doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, lilitan utang, dan kezaliman orang lain.” Atau doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang.” Namun yang lebih baik, kita membaca keduanya sekaligus.Akan tetapi, doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang” lebih sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat-shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir sebelum salam. ===== جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي صَلَاتِهِ أَيْ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ وَمِنَ الْمَأْثَمِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ وَالْمَغْرَمُ هُوَ الدَّيْنُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى صَحِيحِهِ فَانْظُرْ يَا أَخِي الْمُسْلِمَ كَيْفَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى فِي صَلَاتِهِ مِنَ الدَّيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ يَعْنِي مِنَ الدَّيْنِ وَمِنَ الْمَأْثَم أَيْ مِنَ الْمَعَاصِي وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّينِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ مِنْ أَنْ تَتَرَاكَمَ الدُّيُونُ عَلَى الْإِنْسَانِ فَيَغْلِبُهُ الدَّيْنُ فَإِنَّ هَذَا مُؤْلِمٌ لِلْإِنْسَانِ نَفْسِيًّا وَرُبَّمَا يَجُرُّ مَعَهُ مَعَاصٍ أُخْرَى كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ أَيْ أَنَّ هَذَا الدَّيْنَ يَتَسَبَّبُ فِي أَنْ يَضْغَطَ عَلَيْهِ فِي أَنْ يَكْذِبَ فِي الْحَدِيثِ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَنْ يَتَسَبَّبَ هَذَا الدَّيْنُ فِي أَنْ يُخْلِفَ الْوَعْدَ فَهَذَا الدَّيْنُ رُبَّمَا يَتَسَبَّبُ فِي مَعَاصٍ أُخْرَى يَقَعُ فِيْهَا الْإِنْسَانُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَنَا أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ نَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدَّيْنِ أَنْ نَأْتِيَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ أَوْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْأَحْسَنُ أَنْ نَجْمَعَ بَيْنَهُمَا لَكِنَّ حَدِيثَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ هَذَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُهُ غَالِبًا فِي صَلَوَاتِهِ فِى التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ
Disebutkan dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa dalam shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari utang dan dosa.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan dari utang?” Adapun (المَغْرَمُ) artinya adalah utang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari.” Hadis ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitabnya Ash-Shahih. Perhatikanlah, wahai saudaraku sesama muslim, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari utang dalam shalatnya.Beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utang…” “dan dari dosa,” yaitu kemaksiatan. Dalam Shahih Al-Bukhari juga, diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku dahulu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku sering mendengar beliau membaca doa: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dan dari lilitan utang serta tekanan manusia.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memohon perlindungan dari lilitan utang, yakni dari utang yang menumpuk hingga melilit seseorang. Karena ini sangat menyakitkan secara batin. Bahkan terkadang menyeret kepada maksiat-maksiat lain, sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta, karena tekanan utang itu membuatnya terdorong untuk berbohong. “Jika berjanji, ia mengingkari.” Yakni utang menyebabkannya mengingkari janji. Maka utang bisa menjadi sebab terjerumusnya seseorang ke dalam maksiat-maksiat lainnya. yang akhirnya dilakukannya. Karena itu, wahai saudara-saudara, hendaklah kita meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta‘ala dari utang, dengan membaca doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, lilitan utang, dan kezaliman orang lain.” Atau doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang.” Namun yang lebih baik, kita membaca keduanya sekaligus.Akan tetapi, doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang” lebih sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat-shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir sebelum salam. ===== جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي صَلَاتِهِ أَيْ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ وَمِنَ الْمَأْثَمِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ وَالْمَغْرَمُ هُوَ الدَّيْنُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى صَحِيحِهِ فَانْظُرْ يَا أَخِي الْمُسْلِمَ كَيْفَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى فِي صَلَاتِهِ مِنَ الدَّيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ يَعْنِي مِنَ الدَّيْنِ وَمِنَ الْمَأْثَم أَيْ مِنَ الْمَعَاصِي وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّينِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ مِنْ أَنْ تَتَرَاكَمَ الدُّيُونُ عَلَى الْإِنْسَانِ فَيَغْلِبُهُ الدَّيْنُ فَإِنَّ هَذَا مُؤْلِمٌ لِلْإِنْسَانِ نَفْسِيًّا وَرُبَّمَا يَجُرُّ مَعَهُ مَعَاصٍ أُخْرَى كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ أَيْ أَنَّ هَذَا الدَّيْنَ يَتَسَبَّبُ فِي أَنْ يَضْغَطَ عَلَيْهِ فِي أَنْ يَكْذِبَ فِي الْحَدِيثِ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَنْ يَتَسَبَّبَ هَذَا الدَّيْنُ فِي أَنْ يُخْلِفَ الْوَعْدَ فَهَذَا الدَّيْنُ رُبَّمَا يَتَسَبَّبُ فِي مَعَاصٍ أُخْرَى يَقَعُ فِيْهَا الْإِنْسَانُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَنَا أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ نَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدَّيْنِ أَنْ نَأْتِيَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ أَوْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْأَحْسَنُ أَنْ نَجْمَعَ بَيْنَهُمَا لَكِنَّ حَدِيثَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ هَذَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُهُ غَالِبًا فِي صَلَوَاتِهِ فِى التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ


Disebutkan dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa dalam shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari utang dan dosa.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan dari utang?” Adapun (المَغْرَمُ) artinya adalah utang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari.” Hadis ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitabnya Ash-Shahih. Perhatikanlah, wahai saudaraku sesama muslim, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari utang dalam shalatnya.Beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari utang…” “dan dari dosa,” yaitu kemaksiatan. Dalam Shahih Al-Bukhari juga, diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku dahulu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku sering mendengar beliau membaca doa: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dan dari lilitan utang serta tekanan manusia.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memohon perlindungan dari lilitan utang, yakni dari utang yang menumpuk hingga melilit seseorang. Karena ini sangat menyakitkan secara batin. Bahkan terkadang menyeret kepada maksiat-maksiat lain, sebagaimana sabda beliau: “Sesungguhnya jika seseorang berutang, tatkala berbicara, ia berdusta, karena tekanan utang itu membuatnya terdorong untuk berbohong. “Jika berjanji, ia mengingkari.” Yakni utang menyebabkannya mengingkari janji. Maka utang bisa menjadi sebab terjerumusnya seseorang ke dalam maksiat-maksiat lainnya. yang akhirnya dilakukannya. Karena itu, wahai saudara-saudara, hendaklah kita meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan memohon perlindungan kepada Allah Ta‘ala dari utang, dengan membaca doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, lilitan utang, dan kezaliman orang lain.” Atau doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang.” Namun yang lebih baik, kita membaca keduanya sekaligus.Akan tetapi, doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang” lebih sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat-shalatnya, yaitu pada tasyahud akhir sebelum salam. ===== جَاءَ فِي حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي صَلَاتِهِ أَيْ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ وَمِنَ الْمَأْثَمِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ وَالْمَغْرَمُ هُوَ الدَّيْنُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى صَحِيحِهِ فَانْظُرْ يَا أَخِي الْمُسْلِمَ كَيْفَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى فِي صَلَاتِهِ مِنَ الدَّيْنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَغْرَمِ يَعْنِي مِنَ الدَّيْنِ وَمِنَ الْمَأْثَم أَيْ مِنَ الْمَعَاصِي وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّينِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ مِنْ أَنْ تَتَرَاكَمَ الدُّيُونُ عَلَى الْإِنْسَانِ فَيَغْلِبُهُ الدَّيْنُ فَإِنَّ هَذَا مُؤْلِمٌ لِلْإِنْسَانِ نَفْسِيًّا وَرُبَّمَا يَجُرُّ مَعَهُ مَعَاصٍ أُخْرَى كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ أَيْ أَنَّ هَذَا الدَّيْنَ يَتَسَبَّبُ فِي أَنْ يَضْغَطَ عَلَيْهِ فِي أَنْ يَكْذِبَ فِي الْحَدِيثِ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ أَنْ يَتَسَبَّبَ هَذَا الدَّيْنُ فِي أَنْ يُخْلِفَ الْوَعْدَ فَهَذَا الدَّيْنُ رُبَّمَا يَتَسَبَّبُ فِي مَعَاصٍ أُخْرَى يَقَعُ فِيْهَا الْإِنْسَانُ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لَنَا أَيُّهَا الإِخْوَةُ أَنْ نَقْتَدِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ نَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدَّيْنِ أَنْ نَأْتِيَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ أَوْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْأَحْسَنُ أَنْ نَجْمَعَ بَيْنَهُمَا لَكِنَّ حَدِيثَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ هَذَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُهُ غَالِبًا فِي صَلَوَاتِهِ فِى التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ قُبَيْلَ السَّلَامِ

Faidah Surah Al-A’raf Ayat 137: Biarlah Allah yang Menyelesaikan Masalahmu dengan Cara-Nya

Daftar Isi ToggleMakna dan hakikat sabarAgar bisa bertahan dalam kesabaranAdab dalam bersabarAdab pertama: ikhlas karena AllahAdab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaBiarlah Allah yang menolongmu dengan cara-Nya“Biarlah Allah yang menolong dan menyelesaikan masalahmu dengan cara-Nya”, sebuah kaidah kehidupan yang diambil dari firman Allah di surah Al-A’raf ayat 137,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُواْ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُواْ يَعْرِشُونَ“Dan telah sempurnalah perkataan (keputusan) Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf: 137)Ayat ini menjelaskan bahwa pada akhirnya, Allah menurunkan pertolongan kepada Bani Israil setelah ratusan tahun mereka ditindas oleh Fir’aun. Kapan pertolongan itu datang? Ketika mereka bersabar, baru Allah turunkan pertolongan-Nya sehingga mereka pun terbebas dari penindasan Fir’aun. Dengan kata lain, bersabar adalah sebab pertolongan Allah, dengan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala.Sebelumnya, Fir’aun menindas Bani Israil selama ratusan tahun. Selama itu pula Allah tidak memberikan keselamatan kepada Bani Israil, karena mereka tidak sabar. Sampai akhirnya Allah utus Nabi Musa ‘alaihis salam untuk mengajarkan kesabaran kepada mereka,قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah … “ (QS. Al-A’raf: 128)Ketika mereka bersabar, Allah pun memberikan solusi dengan cara Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita akan membahas terlebih dahulu makna (hakikat) dan adab sabar.Makna dan hakikat sabarSecara bahasa, sabar bermakna “menahan”. Secara istilah, maknanya adalah menahan diri dari hal-hal yang menunjukkan protes atas keputusan (takdir) Allah. Di antaranya dengan menahan lisan, hati, dan anggota badan yang lain. Jangan sampai hati ini benci, protes, marah kepada Allah atas takdir-Nya. Atau merasa Allah tidak adil dan zalim terhadap dirinya, atau merasa bahwa Allah telah salah dalam keputusannya, juga merasa Allah tidak sayang kepada dirinya.Allah Ta’ala berfirman,وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا“Dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)Yaitu, ada yang berprasangka baik, dan ada pula yang berprasangka buruk.Dalam ayat yang lain Allah berfirman,وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ” … mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, sangkaan jahiliah … ” (QS. Ali ‘Imran: 154)Orang yang tertimpa musibah, hendaknya dia menyabarkan hatinya agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Dia tahan hatinya agar tidak protes kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu, mengapa Allah turunkan musibah bertubi-tubi tanpa henti, mengapa Allah tidak segera menolongnya, dan berbagai prasangka buruk yang lainnya.Dia pun menahan lisan dari kata-kata yang menunjukkan protes. Oleh karena itulah, salah satu dosa besar adalah niyahah (meratapi mayit), yaitu teriak-teriak protes kepada Allah, mengapa Engkau ambil anakku (misalnya), dan seterusnya. Sedih dan menangis itu boleh, namun ketika berubah menjadi protes dalam bentuk niyahah, maka itu menjadi dosa besar.Demikian pula menahan anggota tubuh dari perbuatan yang menunjukkan sikap protes atas takdir Allah, misalnya dengan memukulkan tangan ke pipi, atau membentur-benturkan kepala, menjambak rambut, dan sebagainya. Ini semua adalah bentuk protes terhadap takdir dan keputusan Allah. [1]Agar bisa bertahan dalam kesabaranBanyak sebab yang bisa membuat kita bertahan dalam kesadaran. Di antaranya dengan meyakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik semua musibah yang menimpa kita. Terkadang, Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba dalam bentuk musibah. Musibah itu adalah cara Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba. Contohnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Nabi Yusuf dibawa pergi oleh kakak-kakaknya, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual menjadi budak, dipisahkan dari ayah yang sangat dia cintai, lalu musibah dipenjara. Beliau mengalami musibah bertubi-tubi itu sebelum akhirnya menjadi bangsawan.Terkadang Allah memberikan nikmat berupa ditimpakan musibah yang kecil (ringan) agar terhindar dari musibah yang jauh lebih berat. Misalnya, orang yang ketinggalan pesawat, namun ternyata pesawat itu kemudian mengalami kecelakaan. Dia tertimpa musibah kecil (yaitu hilangnya uang untuk beli tiket), namun dia terhindar dari musibah yang jauh lebih besar.Contoh lainnya, dengan musibah, Allah selamatkan dia dari penyakit hati berupa ujub, sombong, dan lupa diri. Bayangkan jika ada orang yang tidak pernah gagal, maka bisa jadi dia tertimpa penyakit hati tersebut. Namun ketika sesekali dia gagal, dia pun ingat kepada Allah dan kembali mendekat kepada-Nya. Selain itu, musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita, ketika istigfar dan tobat kita yang tentu tidak sempurna dan banyak kekurangan.Baca juga: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashAdab dalam bersabarAda dua adab dalam bersabar:Adab pertama: ikhlas karena AllahSebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Tuhannya … “ (QS. Ar-Ra’du: 22)Jadi, tidak perlu menyampaikan dan mengumumkan kepada orang lain bahwa dia bersabar. Karena dia bersabar bukan untuk dipuji.Allah Ta’ala berfirman memuji kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Adab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaAllah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Maka janganlah pede dengan diri kita sendiri. Mohonlah kepada Allah agar Allah memberikan kita kesabaran. Ketika ada masalah di depan kita, kita memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran.Oleh karena itulah, ketika terkena musibah, kita ucapkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali.”Di antaranya kita juga ucapkan,ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ“Segala puji bagi Allah atas semua keadaan.”Biarlah Allah yang menolongmu dengan cara-NyaSetiap ada masalah, tentu kita berusaha mencari solusi sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia, bukan hanya berpangku tangan. Namun, kita tidak dibebani untuk menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita adalah untuk bersabar. Kita berbaik sangka kepada Allah, serta tidak tergesa-gesa dan terburu-buru mengharap solusi dan pertolongan Allah dalam waktu singkat.Sabar dan berusaha adalah sebab mendapatkan solusi dan jalan keluar dari Allah Ta’ala. Inilah di antara salah satu keutamaan sabar sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 137 yang telah disebutkan di atas. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)Berdasarkan ayat di atas, sabar adalah solusi terbaik. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,أَن يَعْلَمَ أَنَّهُ إِنْ صَبَرَ فَاللَّهُ نَاصِرُهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ اللَّهَ وَكِيلُ مَن صَبَرَ وَأَحَالَ ظَالِمَهُ عَلَيْهِ، وَمَن ٱنتَصَرَ بِنَفْسِهِ لِنَفْسِهِ وَكَّلَهُ اللَّهُ إِلَىٰ نَفْسِهِ فَكَانَ هُوَ ٱلنَّاصِرَ لَهَا، فَأَيْنَ مَنْ نَاصَرَهُ اللَّهُ خَيْرُ ٱلنَّاصِرِينَ، إِلَىٰ مَنْ نَاصَرَهُ نَفْسُهُ أَعْجَزُ ٱلنَّاصِرِينَ وَأَضْعَفُهُ“Hendaklah dia mengetahui bahwa jika dia bersabar, maka Allah pasti akan menolongnya. Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang yang bersabar, dan Dia akan membalikkan keadaan orang yang zalim atas dirinya sendiri. Barang siapa yang menolong dirinya sendiri, maka Allah menyerahkan urusannya kepada dirinya, sehingga dialah yang menolong dirinya sendiri. Maka, di manakah orang yang ditolong Allah -sedangkan Dia adalah sebaik-baik penolong-, dibandingkan dengan orang yang hanya ditolong oleh dirinya sendiri, yang justru merupakan penolong yang paling lemah dan paling tidak berdaya?” (Qa’idah fi Ash-Shabr, 1: 101)Oleh karena itu, ketika sedang mendapatkan masalah dan musibah, kita tetap berusaha sebatas kemampuan kita sebagai manusia, namun jangan hilangkan kesabaran dari diri kita. Kita bersabar, terus meminta kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah yang akan mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara Allah sendiri.Ketika menjelaskan surah Al-A’raf ayat 137 di atas, Al-Alusi rahimahullah menyebutkan atsar dari Hasan Al-Bashri rahimahullah,لَوْ أَنَّ ٱلنَّاسَ إِذَا ٱبْتُلُوا۟ مِن قَبْلِ سُلْطَٰنِهِم بِشَىْءٍ صَبَرُوا۟ وَدَعَوُا۟ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ لَمْ يَلَبَثُوا۟ أَنْ يَرْفَعَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ ذَٰلِكَ عَنْهُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ يَفْزَعُونَ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَيُوَكِّلُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلَا هَٰذِهِ ٱلْآيَةَ“Seandainya manusia apabila diuji oleh penguasa mereka dengan suatu perkara (yaitu penguasa yang zalim), mereka bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Tinggi, niscaya tidak lama kemudian Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkat perkara (kezaliman) itu dari mereka. Namun, mereka justru tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (yaitu melakukan pemberontakan), lalu menyerahkan urusan kepada pedang itu.” Kemudian beliau membaca ayat ini. (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Al-Alusi rahimahullah berkata,قَدْ شَاهَدْنَا ٱلنَّاسَ سَنَةَ ٱلْأَلْفِ وَٱلْمِائَتَيْنِ وَٱلثَّمَٰنِينَ وَٱلْأَرْبَعِينَ قَدْ فَزَعُوا۟ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَمَا أَغْنَاهُمْ شَيْئًا وَلَا تَمَّ لَهُمْ مَرَادٌ وَلَا حَمِدَ مِنْهُمْ“Sesungguhnya kami telah menyaksikan manusia pada tahun seribu dua ratus empat puluh (1248 H) yang tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (melakukan pemberontakan), namun itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, tujuan mereka pun tidak tercapai … ” (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Sekali lagi, bersabarlah dan tunggulah pertolongan-Nya dengan tetap berusaha semaksimal kemapuan kita sebagai manusia. Biarlah Allah yang menyelesaikan dengan cara-Nya … [2]Baca juga: Sekilas tentang Keutamaan dan Faedah Surat Al-Fatihah***Unayzah, KSA; Selasa, 18 Safar 1447/ 12 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sabar menghadapi musibah adalah salah satu bentuk sabar. Bentuk sabar yang lain adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menahan diri dari berbuat maksiat.[2] Disarikan dari kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., berjudul: “Kaidah Kehidupan Dalam Al-Quran #38: Biar Allah yang Menyelesaikan Masalahmu” di tautan ini.

Faidah Surah Al-A’raf Ayat 137: Biarlah Allah yang Menyelesaikan Masalahmu dengan Cara-Nya

Daftar Isi ToggleMakna dan hakikat sabarAgar bisa bertahan dalam kesabaranAdab dalam bersabarAdab pertama: ikhlas karena AllahAdab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaBiarlah Allah yang menolongmu dengan cara-Nya“Biarlah Allah yang menolong dan menyelesaikan masalahmu dengan cara-Nya”, sebuah kaidah kehidupan yang diambil dari firman Allah di surah Al-A’raf ayat 137,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُواْ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُواْ يَعْرِشُونَ“Dan telah sempurnalah perkataan (keputusan) Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf: 137)Ayat ini menjelaskan bahwa pada akhirnya, Allah menurunkan pertolongan kepada Bani Israil setelah ratusan tahun mereka ditindas oleh Fir’aun. Kapan pertolongan itu datang? Ketika mereka bersabar, baru Allah turunkan pertolongan-Nya sehingga mereka pun terbebas dari penindasan Fir’aun. Dengan kata lain, bersabar adalah sebab pertolongan Allah, dengan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala.Sebelumnya, Fir’aun menindas Bani Israil selama ratusan tahun. Selama itu pula Allah tidak memberikan keselamatan kepada Bani Israil, karena mereka tidak sabar. Sampai akhirnya Allah utus Nabi Musa ‘alaihis salam untuk mengajarkan kesabaran kepada mereka,قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah … “ (QS. Al-A’raf: 128)Ketika mereka bersabar, Allah pun memberikan solusi dengan cara Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita akan membahas terlebih dahulu makna (hakikat) dan adab sabar.Makna dan hakikat sabarSecara bahasa, sabar bermakna “menahan”. Secara istilah, maknanya adalah menahan diri dari hal-hal yang menunjukkan protes atas keputusan (takdir) Allah. Di antaranya dengan menahan lisan, hati, dan anggota badan yang lain. Jangan sampai hati ini benci, protes, marah kepada Allah atas takdir-Nya. Atau merasa Allah tidak adil dan zalim terhadap dirinya, atau merasa bahwa Allah telah salah dalam keputusannya, juga merasa Allah tidak sayang kepada dirinya.Allah Ta’ala berfirman,وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا“Dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)Yaitu, ada yang berprasangka baik, dan ada pula yang berprasangka buruk.Dalam ayat yang lain Allah berfirman,وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ” … mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, sangkaan jahiliah … ” (QS. Ali ‘Imran: 154)Orang yang tertimpa musibah, hendaknya dia menyabarkan hatinya agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Dia tahan hatinya agar tidak protes kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu, mengapa Allah turunkan musibah bertubi-tubi tanpa henti, mengapa Allah tidak segera menolongnya, dan berbagai prasangka buruk yang lainnya.Dia pun menahan lisan dari kata-kata yang menunjukkan protes. Oleh karena itulah, salah satu dosa besar adalah niyahah (meratapi mayit), yaitu teriak-teriak protes kepada Allah, mengapa Engkau ambil anakku (misalnya), dan seterusnya. Sedih dan menangis itu boleh, namun ketika berubah menjadi protes dalam bentuk niyahah, maka itu menjadi dosa besar.Demikian pula menahan anggota tubuh dari perbuatan yang menunjukkan sikap protes atas takdir Allah, misalnya dengan memukulkan tangan ke pipi, atau membentur-benturkan kepala, menjambak rambut, dan sebagainya. Ini semua adalah bentuk protes terhadap takdir dan keputusan Allah. [1]Agar bisa bertahan dalam kesabaranBanyak sebab yang bisa membuat kita bertahan dalam kesadaran. Di antaranya dengan meyakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik semua musibah yang menimpa kita. Terkadang, Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba dalam bentuk musibah. Musibah itu adalah cara Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba. Contohnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Nabi Yusuf dibawa pergi oleh kakak-kakaknya, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual menjadi budak, dipisahkan dari ayah yang sangat dia cintai, lalu musibah dipenjara. Beliau mengalami musibah bertubi-tubi itu sebelum akhirnya menjadi bangsawan.Terkadang Allah memberikan nikmat berupa ditimpakan musibah yang kecil (ringan) agar terhindar dari musibah yang jauh lebih berat. Misalnya, orang yang ketinggalan pesawat, namun ternyata pesawat itu kemudian mengalami kecelakaan. Dia tertimpa musibah kecil (yaitu hilangnya uang untuk beli tiket), namun dia terhindar dari musibah yang jauh lebih besar.Contoh lainnya, dengan musibah, Allah selamatkan dia dari penyakit hati berupa ujub, sombong, dan lupa diri. Bayangkan jika ada orang yang tidak pernah gagal, maka bisa jadi dia tertimpa penyakit hati tersebut. Namun ketika sesekali dia gagal, dia pun ingat kepada Allah dan kembali mendekat kepada-Nya. Selain itu, musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita, ketika istigfar dan tobat kita yang tentu tidak sempurna dan banyak kekurangan.Baca juga: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashAdab dalam bersabarAda dua adab dalam bersabar:Adab pertama: ikhlas karena AllahSebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Tuhannya … “ (QS. Ar-Ra’du: 22)Jadi, tidak perlu menyampaikan dan mengumumkan kepada orang lain bahwa dia bersabar. Karena dia bersabar bukan untuk dipuji.Allah Ta’ala berfirman memuji kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Adab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaAllah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Maka janganlah pede dengan diri kita sendiri. Mohonlah kepada Allah agar Allah memberikan kita kesabaran. Ketika ada masalah di depan kita, kita memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran.Oleh karena itulah, ketika terkena musibah, kita ucapkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali.”Di antaranya kita juga ucapkan,ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ“Segala puji bagi Allah atas semua keadaan.”Biarlah Allah yang menolongmu dengan cara-NyaSetiap ada masalah, tentu kita berusaha mencari solusi sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia, bukan hanya berpangku tangan. Namun, kita tidak dibebani untuk menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita adalah untuk bersabar. Kita berbaik sangka kepada Allah, serta tidak tergesa-gesa dan terburu-buru mengharap solusi dan pertolongan Allah dalam waktu singkat.Sabar dan berusaha adalah sebab mendapatkan solusi dan jalan keluar dari Allah Ta’ala. Inilah di antara salah satu keutamaan sabar sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 137 yang telah disebutkan di atas. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)Berdasarkan ayat di atas, sabar adalah solusi terbaik. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,أَن يَعْلَمَ أَنَّهُ إِنْ صَبَرَ فَاللَّهُ نَاصِرُهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ اللَّهَ وَكِيلُ مَن صَبَرَ وَأَحَالَ ظَالِمَهُ عَلَيْهِ، وَمَن ٱنتَصَرَ بِنَفْسِهِ لِنَفْسِهِ وَكَّلَهُ اللَّهُ إِلَىٰ نَفْسِهِ فَكَانَ هُوَ ٱلنَّاصِرَ لَهَا، فَأَيْنَ مَنْ نَاصَرَهُ اللَّهُ خَيْرُ ٱلنَّاصِرِينَ، إِلَىٰ مَنْ نَاصَرَهُ نَفْسُهُ أَعْجَزُ ٱلنَّاصِرِينَ وَأَضْعَفُهُ“Hendaklah dia mengetahui bahwa jika dia bersabar, maka Allah pasti akan menolongnya. Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang yang bersabar, dan Dia akan membalikkan keadaan orang yang zalim atas dirinya sendiri. Barang siapa yang menolong dirinya sendiri, maka Allah menyerahkan urusannya kepada dirinya, sehingga dialah yang menolong dirinya sendiri. Maka, di manakah orang yang ditolong Allah -sedangkan Dia adalah sebaik-baik penolong-, dibandingkan dengan orang yang hanya ditolong oleh dirinya sendiri, yang justru merupakan penolong yang paling lemah dan paling tidak berdaya?” (Qa’idah fi Ash-Shabr, 1: 101)Oleh karena itu, ketika sedang mendapatkan masalah dan musibah, kita tetap berusaha sebatas kemampuan kita sebagai manusia, namun jangan hilangkan kesabaran dari diri kita. Kita bersabar, terus meminta kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah yang akan mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara Allah sendiri.Ketika menjelaskan surah Al-A’raf ayat 137 di atas, Al-Alusi rahimahullah menyebutkan atsar dari Hasan Al-Bashri rahimahullah,لَوْ أَنَّ ٱلنَّاسَ إِذَا ٱبْتُلُوا۟ مِن قَبْلِ سُلْطَٰنِهِم بِشَىْءٍ صَبَرُوا۟ وَدَعَوُا۟ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ لَمْ يَلَبَثُوا۟ أَنْ يَرْفَعَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ ذَٰلِكَ عَنْهُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ يَفْزَعُونَ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَيُوَكِّلُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلَا هَٰذِهِ ٱلْآيَةَ“Seandainya manusia apabila diuji oleh penguasa mereka dengan suatu perkara (yaitu penguasa yang zalim), mereka bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Tinggi, niscaya tidak lama kemudian Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkat perkara (kezaliman) itu dari mereka. Namun, mereka justru tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (yaitu melakukan pemberontakan), lalu menyerahkan urusan kepada pedang itu.” Kemudian beliau membaca ayat ini. (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Al-Alusi rahimahullah berkata,قَدْ شَاهَدْنَا ٱلنَّاسَ سَنَةَ ٱلْأَلْفِ وَٱلْمِائَتَيْنِ وَٱلثَّمَٰنِينَ وَٱلْأَرْبَعِينَ قَدْ فَزَعُوا۟ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَمَا أَغْنَاهُمْ شَيْئًا وَلَا تَمَّ لَهُمْ مَرَادٌ وَلَا حَمِدَ مِنْهُمْ“Sesungguhnya kami telah menyaksikan manusia pada tahun seribu dua ratus empat puluh (1248 H) yang tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (melakukan pemberontakan), namun itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, tujuan mereka pun tidak tercapai … ” (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Sekali lagi, bersabarlah dan tunggulah pertolongan-Nya dengan tetap berusaha semaksimal kemapuan kita sebagai manusia. Biarlah Allah yang menyelesaikan dengan cara-Nya … [2]Baca juga: Sekilas tentang Keutamaan dan Faedah Surat Al-Fatihah***Unayzah, KSA; Selasa, 18 Safar 1447/ 12 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sabar menghadapi musibah adalah salah satu bentuk sabar. Bentuk sabar yang lain adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menahan diri dari berbuat maksiat.[2] Disarikan dari kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., berjudul: “Kaidah Kehidupan Dalam Al-Quran #38: Biar Allah yang Menyelesaikan Masalahmu” di tautan ini.
Daftar Isi ToggleMakna dan hakikat sabarAgar bisa bertahan dalam kesabaranAdab dalam bersabarAdab pertama: ikhlas karena AllahAdab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaBiarlah Allah yang menolongmu dengan cara-Nya“Biarlah Allah yang menolong dan menyelesaikan masalahmu dengan cara-Nya”, sebuah kaidah kehidupan yang diambil dari firman Allah di surah Al-A’raf ayat 137,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُواْ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُواْ يَعْرِشُونَ“Dan telah sempurnalah perkataan (keputusan) Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf: 137)Ayat ini menjelaskan bahwa pada akhirnya, Allah menurunkan pertolongan kepada Bani Israil setelah ratusan tahun mereka ditindas oleh Fir’aun. Kapan pertolongan itu datang? Ketika mereka bersabar, baru Allah turunkan pertolongan-Nya sehingga mereka pun terbebas dari penindasan Fir’aun. Dengan kata lain, bersabar adalah sebab pertolongan Allah, dengan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala.Sebelumnya, Fir’aun menindas Bani Israil selama ratusan tahun. Selama itu pula Allah tidak memberikan keselamatan kepada Bani Israil, karena mereka tidak sabar. Sampai akhirnya Allah utus Nabi Musa ‘alaihis salam untuk mengajarkan kesabaran kepada mereka,قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah … “ (QS. Al-A’raf: 128)Ketika mereka bersabar, Allah pun memberikan solusi dengan cara Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita akan membahas terlebih dahulu makna (hakikat) dan adab sabar.Makna dan hakikat sabarSecara bahasa, sabar bermakna “menahan”. Secara istilah, maknanya adalah menahan diri dari hal-hal yang menunjukkan protes atas keputusan (takdir) Allah. Di antaranya dengan menahan lisan, hati, dan anggota badan yang lain. Jangan sampai hati ini benci, protes, marah kepada Allah atas takdir-Nya. Atau merasa Allah tidak adil dan zalim terhadap dirinya, atau merasa bahwa Allah telah salah dalam keputusannya, juga merasa Allah tidak sayang kepada dirinya.Allah Ta’ala berfirman,وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا“Dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)Yaitu, ada yang berprasangka baik, dan ada pula yang berprasangka buruk.Dalam ayat yang lain Allah berfirman,وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ” … mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, sangkaan jahiliah … ” (QS. Ali ‘Imran: 154)Orang yang tertimpa musibah, hendaknya dia menyabarkan hatinya agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Dia tahan hatinya agar tidak protes kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu, mengapa Allah turunkan musibah bertubi-tubi tanpa henti, mengapa Allah tidak segera menolongnya, dan berbagai prasangka buruk yang lainnya.Dia pun menahan lisan dari kata-kata yang menunjukkan protes. Oleh karena itulah, salah satu dosa besar adalah niyahah (meratapi mayit), yaitu teriak-teriak protes kepada Allah, mengapa Engkau ambil anakku (misalnya), dan seterusnya. Sedih dan menangis itu boleh, namun ketika berubah menjadi protes dalam bentuk niyahah, maka itu menjadi dosa besar.Demikian pula menahan anggota tubuh dari perbuatan yang menunjukkan sikap protes atas takdir Allah, misalnya dengan memukulkan tangan ke pipi, atau membentur-benturkan kepala, menjambak rambut, dan sebagainya. Ini semua adalah bentuk protes terhadap takdir dan keputusan Allah. [1]Agar bisa bertahan dalam kesabaranBanyak sebab yang bisa membuat kita bertahan dalam kesadaran. Di antaranya dengan meyakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik semua musibah yang menimpa kita. Terkadang, Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba dalam bentuk musibah. Musibah itu adalah cara Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba. Contohnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Nabi Yusuf dibawa pergi oleh kakak-kakaknya, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual menjadi budak, dipisahkan dari ayah yang sangat dia cintai, lalu musibah dipenjara. Beliau mengalami musibah bertubi-tubi itu sebelum akhirnya menjadi bangsawan.Terkadang Allah memberikan nikmat berupa ditimpakan musibah yang kecil (ringan) agar terhindar dari musibah yang jauh lebih berat. Misalnya, orang yang ketinggalan pesawat, namun ternyata pesawat itu kemudian mengalami kecelakaan. Dia tertimpa musibah kecil (yaitu hilangnya uang untuk beli tiket), namun dia terhindar dari musibah yang jauh lebih besar.Contoh lainnya, dengan musibah, Allah selamatkan dia dari penyakit hati berupa ujub, sombong, dan lupa diri. Bayangkan jika ada orang yang tidak pernah gagal, maka bisa jadi dia tertimpa penyakit hati tersebut. Namun ketika sesekali dia gagal, dia pun ingat kepada Allah dan kembali mendekat kepada-Nya. Selain itu, musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita, ketika istigfar dan tobat kita yang tentu tidak sempurna dan banyak kekurangan.Baca juga: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashAdab dalam bersabarAda dua adab dalam bersabar:Adab pertama: ikhlas karena AllahSebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Tuhannya … “ (QS. Ar-Ra’du: 22)Jadi, tidak perlu menyampaikan dan mengumumkan kepada orang lain bahwa dia bersabar. Karena dia bersabar bukan untuk dipuji.Allah Ta’ala berfirman memuji kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Adab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaAllah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Maka janganlah pede dengan diri kita sendiri. Mohonlah kepada Allah agar Allah memberikan kita kesabaran. Ketika ada masalah di depan kita, kita memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran.Oleh karena itulah, ketika terkena musibah, kita ucapkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali.”Di antaranya kita juga ucapkan,ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ“Segala puji bagi Allah atas semua keadaan.”Biarlah Allah yang menolongmu dengan cara-NyaSetiap ada masalah, tentu kita berusaha mencari solusi sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia, bukan hanya berpangku tangan. Namun, kita tidak dibebani untuk menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita adalah untuk bersabar. Kita berbaik sangka kepada Allah, serta tidak tergesa-gesa dan terburu-buru mengharap solusi dan pertolongan Allah dalam waktu singkat.Sabar dan berusaha adalah sebab mendapatkan solusi dan jalan keluar dari Allah Ta’ala. Inilah di antara salah satu keutamaan sabar sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 137 yang telah disebutkan di atas. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)Berdasarkan ayat di atas, sabar adalah solusi terbaik. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,أَن يَعْلَمَ أَنَّهُ إِنْ صَبَرَ فَاللَّهُ نَاصِرُهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ اللَّهَ وَكِيلُ مَن صَبَرَ وَأَحَالَ ظَالِمَهُ عَلَيْهِ، وَمَن ٱنتَصَرَ بِنَفْسِهِ لِنَفْسِهِ وَكَّلَهُ اللَّهُ إِلَىٰ نَفْسِهِ فَكَانَ هُوَ ٱلنَّاصِرَ لَهَا، فَأَيْنَ مَنْ نَاصَرَهُ اللَّهُ خَيْرُ ٱلنَّاصِرِينَ، إِلَىٰ مَنْ نَاصَرَهُ نَفْسُهُ أَعْجَزُ ٱلنَّاصِرِينَ وَأَضْعَفُهُ“Hendaklah dia mengetahui bahwa jika dia bersabar, maka Allah pasti akan menolongnya. Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang yang bersabar, dan Dia akan membalikkan keadaan orang yang zalim atas dirinya sendiri. Barang siapa yang menolong dirinya sendiri, maka Allah menyerahkan urusannya kepada dirinya, sehingga dialah yang menolong dirinya sendiri. Maka, di manakah orang yang ditolong Allah -sedangkan Dia adalah sebaik-baik penolong-, dibandingkan dengan orang yang hanya ditolong oleh dirinya sendiri, yang justru merupakan penolong yang paling lemah dan paling tidak berdaya?” (Qa’idah fi Ash-Shabr, 1: 101)Oleh karena itu, ketika sedang mendapatkan masalah dan musibah, kita tetap berusaha sebatas kemampuan kita sebagai manusia, namun jangan hilangkan kesabaran dari diri kita. Kita bersabar, terus meminta kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah yang akan mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara Allah sendiri.Ketika menjelaskan surah Al-A’raf ayat 137 di atas, Al-Alusi rahimahullah menyebutkan atsar dari Hasan Al-Bashri rahimahullah,لَوْ أَنَّ ٱلنَّاسَ إِذَا ٱبْتُلُوا۟ مِن قَبْلِ سُلْطَٰنِهِم بِشَىْءٍ صَبَرُوا۟ وَدَعَوُا۟ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ لَمْ يَلَبَثُوا۟ أَنْ يَرْفَعَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ ذَٰلِكَ عَنْهُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ يَفْزَعُونَ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَيُوَكِّلُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلَا هَٰذِهِ ٱلْآيَةَ“Seandainya manusia apabila diuji oleh penguasa mereka dengan suatu perkara (yaitu penguasa yang zalim), mereka bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Tinggi, niscaya tidak lama kemudian Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkat perkara (kezaliman) itu dari mereka. Namun, mereka justru tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (yaitu melakukan pemberontakan), lalu menyerahkan urusan kepada pedang itu.” Kemudian beliau membaca ayat ini. (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Al-Alusi rahimahullah berkata,قَدْ شَاهَدْنَا ٱلنَّاسَ سَنَةَ ٱلْأَلْفِ وَٱلْمِائَتَيْنِ وَٱلثَّمَٰنِينَ وَٱلْأَرْبَعِينَ قَدْ فَزَعُوا۟ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَمَا أَغْنَاهُمْ شَيْئًا وَلَا تَمَّ لَهُمْ مَرَادٌ وَلَا حَمِدَ مِنْهُمْ“Sesungguhnya kami telah menyaksikan manusia pada tahun seribu dua ratus empat puluh (1248 H) yang tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (melakukan pemberontakan), namun itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, tujuan mereka pun tidak tercapai … ” (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Sekali lagi, bersabarlah dan tunggulah pertolongan-Nya dengan tetap berusaha semaksimal kemapuan kita sebagai manusia. Biarlah Allah yang menyelesaikan dengan cara-Nya … [2]Baca juga: Sekilas tentang Keutamaan dan Faedah Surat Al-Fatihah***Unayzah, KSA; Selasa, 18 Safar 1447/ 12 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sabar menghadapi musibah adalah salah satu bentuk sabar. Bentuk sabar yang lain adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menahan diri dari berbuat maksiat.[2] Disarikan dari kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., berjudul: “Kaidah Kehidupan Dalam Al-Quran #38: Biar Allah yang Menyelesaikan Masalahmu” di tautan ini.


Daftar Isi ToggleMakna dan hakikat sabarAgar bisa bertahan dalam kesabaranAdab dalam bersabarAdab pertama: ikhlas karena AllahAdab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaBiarlah Allah yang menolongmu dengan cara-Nya“Biarlah Allah yang menolong dan menyelesaikan masalahmu dengan cara-Nya”, sebuah kaidah kehidupan yang diambil dari firman Allah di surah Al-A’raf ayat 137,وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُواْ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُواْ يَعْرِشُونَ“Dan telah sempurnalah perkataan (keputusan) Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf: 137)Ayat ini menjelaskan bahwa pada akhirnya, Allah menurunkan pertolongan kepada Bani Israil setelah ratusan tahun mereka ditindas oleh Fir’aun. Kapan pertolongan itu datang? Ketika mereka bersabar, baru Allah turunkan pertolongan-Nya sehingga mereka pun terbebas dari penindasan Fir’aun. Dengan kata lain, bersabar adalah sebab pertolongan Allah, dengan cara Allah Subhanahu wa Ta’ala.Sebelumnya, Fir’aun menindas Bani Israil selama ratusan tahun. Selama itu pula Allah tidak memberikan keselamatan kepada Bani Israil, karena mereka tidak sabar. Sampai akhirnya Allah utus Nabi Musa ‘alaihis salam untuk mengajarkan kesabaran kepada mereka,قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah … “ (QS. Al-A’raf: 128)Ketika mereka bersabar, Allah pun memberikan solusi dengan cara Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita akan membahas terlebih dahulu makna (hakikat) dan adab sabar.Makna dan hakikat sabarSecara bahasa, sabar bermakna “menahan”. Secara istilah, maknanya adalah menahan diri dari hal-hal yang menunjukkan protes atas keputusan (takdir) Allah. Di antaranya dengan menahan lisan, hati, dan anggota badan yang lain. Jangan sampai hati ini benci, protes, marah kepada Allah atas takdir-Nya. Atau merasa Allah tidak adil dan zalim terhadap dirinya, atau merasa bahwa Allah telah salah dalam keputusannya, juga merasa Allah tidak sayang kepada dirinya.Allah Ta’ala berfirman,وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا“Dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)Yaitu, ada yang berprasangka baik, dan ada pula yang berprasangka buruk.Dalam ayat yang lain Allah berfirman,وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ” … mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, sangkaan jahiliah … ” (QS. Ali ‘Imran: 154)Orang yang tertimpa musibah, hendaknya dia menyabarkan hatinya agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Dia tahan hatinya agar tidak protes kepada Allah, mengapa Allah begini dan begitu, mengapa Allah turunkan musibah bertubi-tubi tanpa henti, mengapa Allah tidak segera menolongnya, dan berbagai prasangka buruk yang lainnya.Dia pun menahan lisan dari kata-kata yang menunjukkan protes. Oleh karena itulah, salah satu dosa besar adalah niyahah (meratapi mayit), yaitu teriak-teriak protes kepada Allah, mengapa Engkau ambil anakku (misalnya), dan seterusnya. Sedih dan menangis itu boleh, namun ketika berubah menjadi protes dalam bentuk niyahah, maka itu menjadi dosa besar.Demikian pula menahan anggota tubuh dari perbuatan yang menunjukkan sikap protes atas takdir Allah, misalnya dengan memukulkan tangan ke pipi, atau membentur-benturkan kepala, menjambak rambut, dan sebagainya. Ini semua adalah bentuk protes terhadap takdir dan keputusan Allah. [1]Agar bisa bertahan dalam kesabaranBanyak sebab yang bisa membuat kita bertahan dalam kesadaran. Di antaranya dengan meyakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik semua musibah yang menimpa kita. Terkadang, Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba dalam bentuk musibah. Musibah itu adalah cara Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba. Contohnya adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Nabi Yusuf dibawa pergi oleh kakak-kakaknya, dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual menjadi budak, dipisahkan dari ayah yang sangat dia cintai, lalu musibah dipenjara. Beliau mengalami musibah bertubi-tubi itu sebelum akhirnya menjadi bangsawan.Terkadang Allah memberikan nikmat berupa ditimpakan musibah yang kecil (ringan) agar terhindar dari musibah yang jauh lebih berat. Misalnya, orang yang ketinggalan pesawat, namun ternyata pesawat itu kemudian mengalami kecelakaan. Dia tertimpa musibah kecil (yaitu hilangnya uang untuk beli tiket), namun dia terhindar dari musibah yang jauh lebih besar.Contoh lainnya, dengan musibah, Allah selamatkan dia dari penyakit hati berupa ujub, sombong, dan lupa diri. Bayangkan jika ada orang yang tidak pernah gagal, maka bisa jadi dia tertimpa penyakit hati tersebut. Namun ketika sesekali dia gagal, dia pun ingat kepada Allah dan kembali mendekat kepada-Nya. Selain itu, musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita, ketika istigfar dan tobat kita yang tentu tidak sempurna dan banyak kekurangan.Baca juga: Fawaid Seputar Surat Al IkhlashAdab dalam bersabarAda dua adab dalam bersabar:Adab pertama: ikhlas karena AllahSebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Tuhannya … “ (QS. Ar-Ra’du: 22)Jadi, tidak perlu menyampaikan dan mengumumkan kepada orang lain bahwa dia bersabar. Karena dia bersabar bukan untuk dipuji.Allah Ta’ala berfirman memuji kaum Muhajirin,لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)Adab kedua: meyakini bahwa tidak ada yang bisa membuatnya bersabar kecuali Allah sajaAllah Ta’ala berfirman,وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)Maka janganlah pede dengan diri kita sendiri. Mohonlah kepada Allah agar Allah memberikan kita kesabaran. Ketika ada masalah di depan kita, kita memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran.Oleh karena itulah, ketika terkena musibah, kita ucapkan,إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali.”Di antaranya kita juga ucapkan,ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ“Segala puji bagi Allah atas semua keadaan.”Biarlah Allah yang menolongmu dengan cara-NyaSetiap ada masalah, tentu kita berusaha mencari solusi sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia, bukan hanya berpangku tangan. Namun, kita tidak dibebani untuk menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita adalah untuk bersabar. Kita berbaik sangka kepada Allah, serta tidak tergesa-gesa dan terburu-buru mengharap solusi dan pertolongan Allah dalam waktu singkat.Sabar dan berusaha adalah sebab mendapatkan solusi dan jalan keluar dari Allah Ta’ala. Inilah di antara salah satu keutamaan sabar sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 137 yang telah disebutkan di atas. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)Berdasarkan ayat di atas, sabar adalah solusi terbaik. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,أَن يَعْلَمَ أَنَّهُ إِنْ صَبَرَ فَاللَّهُ نَاصِرُهُ وَلَا بُدَّ، فَإِنَّ اللَّهَ وَكِيلُ مَن صَبَرَ وَأَحَالَ ظَالِمَهُ عَلَيْهِ، وَمَن ٱنتَصَرَ بِنَفْسِهِ لِنَفْسِهِ وَكَّلَهُ اللَّهُ إِلَىٰ نَفْسِهِ فَكَانَ هُوَ ٱلنَّاصِرَ لَهَا، فَأَيْنَ مَنْ نَاصَرَهُ اللَّهُ خَيْرُ ٱلنَّاصِرِينَ، إِلَىٰ مَنْ نَاصَرَهُ نَفْسُهُ أَعْجَزُ ٱلنَّاصِرِينَ وَأَضْعَفُهُ“Hendaklah dia mengetahui bahwa jika dia bersabar, maka Allah pasti akan menolongnya. Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang yang bersabar, dan Dia akan membalikkan keadaan orang yang zalim atas dirinya sendiri. Barang siapa yang menolong dirinya sendiri, maka Allah menyerahkan urusannya kepada dirinya, sehingga dialah yang menolong dirinya sendiri. Maka, di manakah orang yang ditolong Allah -sedangkan Dia adalah sebaik-baik penolong-, dibandingkan dengan orang yang hanya ditolong oleh dirinya sendiri, yang justru merupakan penolong yang paling lemah dan paling tidak berdaya?” (Qa’idah fi Ash-Shabr, 1: 101)Oleh karena itu, ketika sedang mendapatkan masalah dan musibah, kita tetap berusaha sebatas kemampuan kita sebagai manusia, namun jangan hilangkan kesabaran dari diri kita. Kita bersabar, terus meminta kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah yang akan mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara Allah sendiri.Ketika menjelaskan surah Al-A’raf ayat 137 di atas, Al-Alusi rahimahullah menyebutkan atsar dari Hasan Al-Bashri rahimahullah,لَوْ أَنَّ ٱلنَّاسَ إِذَا ٱبْتُلُوا۟ مِن قَبْلِ سُلْطَٰنِهِم بِشَىْءٍ صَبَرُوا۟ وَدَعَوُا۟ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ لَمْ يَلَبَثُوا۟ أَنْ يَرْفَعَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ ذَٰلِكَ عَنْهُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ يَفْزَعُونَ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَيُوَكِّلُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلَا هَٰذِهِ ٱلْآيَةَ“Seandainya manusia apabila diuji oleh penguasa mereka dengan suatu perkara (yaitu penguasa yang zalim), mereka bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Tinggi, niscaya tidak lama kemudian Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkat perkara (kezaliman) itu dari mereka. Namun, mereka justru tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (yaitu melakukan pemberontakan), lalu menyerahkan urusan kepada pedang itu.” Kemudian beliau membaca ayat ini. (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Al-Alusi rahimahullah berkata,قَدْ شَاهَدْنَا ٱلنَّاسَ سَنَةَ ٱلْأَلْفِ وَٱلْمِائَتَيْنِ وَٱلثَّمَٰنِينَ وَٱلْأَرْبَعِينَ قَدْ فَزَعُوا۟ إِلَى ٱلسَّيْفِ فَمَا أَغْنَاهُمْ شَيْئًا وَلَا تَمَّ لَهُمْ مَرَادٌ وَلَا حَمِدَ مِنْهُمْ“Sesungguhnya kami telah menyaksikan manusia pada tahun seribu dua ratus empat puluh (1248 H) yang tergesa-gesa (tidak sabar) dan lari kepada pedang (melakukan pemberontakan), namun itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi mereka, tujuan mereka pun tidak tercapai … ” (Tafsir Al-Alusi: Ruuhul Ma’ani, 5: 38)Sekali lagi, bersabarlah dan tunggulah pertolongan-Nya dengan tetap berusaha semaksimal kemapuan kita sebagai manusia. Biarlah Allah yang menyelesaikan dengan cara-Nya … [2]Baca juga: Sekilas tentang Keutamaan dan Faedah Surat Al-Fatihah***Unayzah, KSA; Selasa, 18 Safar 1447/ 12 Agustus 2025Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sabar menghadapi musibah adalah salah satu bentuk sabar. Bentuk sabar yang lain adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menahan diri dari berbuat maksiat.[2] Disarikan dari kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., berjudul: “Kaidah Kehidupan Dalam Al-Quran #38: Biar Allah yang Menyelesaikan Masalahmu” di tautan ini.

Fikih Penyembelihan Hewan (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleHukum impor daging dari negara non-MuslimJika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli KitabBagaimana jika ragu?Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseDefinisi animal abuseJawaban syariat IslamPenutup umumKebutuhan masyarakat Muslim terhadap daging semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi lokal, tetapi juga membuka pintu bagi impor daging dari berbagai negara, termasuk negara-negara non-Muslim. Di sisi lain, suara kritis dari para aktivis hewan semakin nyaring, menyoroti metode penyembelihan dalam Islam yang mereka nilai sebagai tindakan penyiksaan (animal abuse).Pada artikel ketiga ini, kita akan membahas kedua permasalahan tersebut: (1) hukum fikih terkait daging impor dari negara non-Muslim, dan (2) klarifikasi terhadap tuduhan bahwa penyembelihan Islami menyiksa hewan.Hukum impor daging dari negara non-MuslimBeberapa negara Islam mengimpor berbagai jenis daging (hewan sembelihan) dari negara-negara non-Islam, seperti domba, sapi, dan lainnya. Dalam hal ini terdapat dua keadaan:Jika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara Ahli Kitab, maka hukumnya halal bagi kaum Muslimin berdasarkan nash (dalil tegas) dari Al-Qur’an, selama tidak diketahui bahwa penyembelihannya dilakukan dengan cara yang tidak sesuai syariat.Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian segala yang baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Kitab (Ahli Kitab) itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al-Maidah: 5)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,اللحوم التي تباع في أسواق دول غير إسلامية، إن علم أنها من ذبائح أهل الكتاب فهي حل للمسلمين، إذا لم يعلم أنها ذبحت على غير الوجه الشرعي، إذ الأصل حلها بالنص القرآني فلا يعدل عن ذلك إلا بأمر محقق يقتضي تحريمها.“Daging yang dijual di pasar negara non-Islam, jika diketahui berasal dari sembelihan Ahli Kitab, maka halal bagi kaum Muslimin. Hal ini selama tidak diketahui bahwa ia disembelih dengan cara yang tidak sesuai syariat. Hukum asalnya adalah halal berdasarkan nash Al-Qur’an, dan tidak boleh berpindah dari hukum asal ini kecuali dengan bukti nyata yang mengharamkannya.”Jika berasal dari negara selain Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli Kitab, maka tidak boleh memakannya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,أجمع علماء الإِسلام على تحريم ذبائح المشركين من عباد الأوثان ومنكري الأديان ونحوهم من جميع أصناف الكفار غير اليهود والنصارى“Para ulama Islam sepakat atas haramnya sembelihan orang-orang musyrik, penyembah berhala, pengingkar agama, dan yang semisalnya dari seluruh golongan orang kafir selain Yahudi dan Nasrani.” [1]Bagaimana jika ragu?Sebagaian kaum muslimin, khususnya dari kalangan penuntut ilmu, kadang merasa ragu dalam hal ini, dengan dasar pemahaman dari hadis,إنَّ الحلالَ بيِّنٌ وإنَّ الحرامَ بيِّنٌ وبينهما أمورٌ مُشتبِهاتٌ لا يعلمهنَّ كثيرٌ من الناس فمنِ اتَّقى الشُّبُهاتِ استبرأ لدِينِه وعِرضِه …“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599, dan lafaz ini milik Muslim)Para ulama dari Lajnah Daimah pernah ditanya, “Apa hukum daging kalengan impor dari luar negeri? Dan bagaimana cara mengompromikan antara hadis, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjatuh dalam perkara samar, ia terjatuh ke dalam yang haram” (HR. Bukhari, Kitab al-Iman no. 52; Muslim, Kitab al-Musaqat no. 1599)dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dinyatakan hasan dalam Jami‘ at-Tirmidzi, dari Simak bin Harb, ia berkata, “Aku mendengar Qabishah bin Hulb menceritakan dari ayahnya, ia berkata,سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن طعام النصارى فقال: لا يتخلجن في صدرك طعام ضارعت فيه النصرانية“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makanan orang-orang Nasrani. Beliau pun bersabda, ‘Janganlah ada keraguan di hatimu terhadap makanan yang diolah oleh orang Nasrani.’” (Sunan at-Tirmidzi, Kitab as-Siyar no. 1565; Sunan Abu Dawud, Kitab al-At‘imah no. 3784; Musnad Ahmad bin Hanbal, 5: 226)Lajnah Daimah menjawab,“Tidak ada pertentangan antara kedua hadis tersebut. Makanan Ahli Kitab terbagi menjadi tiga keadaan:1) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama Allah atas sembelihan mereka, maka hukumnya halal, termasuk dalam bagian pertama dari hadis: “Yang halal itu jelas.”2) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama selain Allah, maka hukumnya haram, termasuk dalam bagian kedua dari hadis: “Yang haram itu jelas.”3) Jika kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya, maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halal sembelihan mereka.Adapun makanan yang tidak memerlukan proses penyembelihan atau penyembelihan hewan, seperti roti, maka tidak ada masalah dalam memakannya.” [2]Oleh karena itu, jika impor berasal dari negeri Ahli Kitab, dan kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya; maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halalnya sembelihan mereka. Wallahu Ta’ala a’lam.Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseSejumlah komunitas aktivis pembela hak hewan khususnya di wilayah Barat, seringkali beropini bahwa penyembelihan hewan-hewan kurban itu bertentangan dengan hak-hak kebinatangan, dengan dalih metode penyembelihannya masuk dalam kategori animal abuse. [3]Untuk menjawab isu tersebut, kita perlu ketahui terlebih dahulu tentang animal abuse, kemudian jawaban syariat Islam atas tuduhan tersebut. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua.Definisi animal abuseAnimal abuse didefinisikan sebagai tindakan yang sengaja menyakiti, melukai, atau merusak kesehatan hewan, tidak memberi makanan atau minuman, dan tindakan kekerasan yang hingga kini masih seringkali tidak diperhatikan, misalnya seperti memotong kuping dan ekor anjing yang ditujukan untuk sekedar keindahan, melakukan eksploitasi terhadap hewan untuk kepentingan sirkus, mengebiri, dan menggunakan hewan sebagai uji coba keperluan medis atau kedokteran (vivisectie) dengan di luar batas dan kelaziman. [4]Jawaban syariat IslamSyariat Islam sangat menjunjung kasih sayang antar sesama makhluk hidup, termasuk hewan. Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kasih sayang terhadap hewan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ الله كتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيءٍ، فإذَا قَتَلْتُم فَأحْسِنُوا القِتْلَة، وإذا ذَبَحْتُم فَأحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وليُحِدَّ أحدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وليُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (hewan), maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1955)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فلهذا أمر النبيُّ صلى الله عليه وسلم بإحسانِ القتلِ والذبح، وأمر أن تُحَدَّ الشفرةُ، وأن تُراح الذبيحة، يشير إلى أن الذبح بالآلة الحادة يُرِيحُ الذبيحة بتعجيل زهوق نفسها.“Maka dari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berbuat baik ketika membunuh (hewan yang boleh dibunuh) dan ketika menyembelih, serta memerintahkan agar pisau diasah tajam dan hewan disembelih dengan cara yang membuatnya nyaman. Ini menunjukkan bahwa penyembelihan dengan alat yang tajam akan membuat hewan lebih tenang karena mempercepat keluarnya nyawa.”Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menajamkan pisau dan agar disembunyikan dari hewan, serta bersabda,إذا ذَبَحَ أحدُكُم، فليُجْهِزْ“Apabila salah seorang dari kalian menyembelih, hendaklah ia menyempurnakan (penyembelihan),” maksudnya: hendaklah ia mempercepat proses penyembelihan. [5]Maka, penyembelihan dalam Islam bukanlah bentuk kekerasan, tetapi justru cara paling cepat memutus nyawa hewan dengan meminimalisir rasa sakit.Bahkan, secara umum, Islam memerintahkan untuk menyayangi seluruh makhluk hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ.“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahmān Tabāraka wa Ta‘ālā. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4941 dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Dengan demikian, tuduhan penyiksaan atau kekerasan terhadap hewan (animal abuse) terhadap proses penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam, merupakan tuduhan yang tidak benar. Islam justru mengajarkan cara penyembelihan yang paling baik bagi hewan, dan memerintahkan untuk menyayangi seluruh hewan secara umum. Wallahu Ta’ala a’lam.Penutup umumRangkaian tiga artikel Fikih Penyembelihan Hewan ini telah membahas secara berurutan:Bagian pertama: landasan fikih klasik, mulai dari definisi, hukum, syarat, waktu, adab, dan larangan penyembelihan.Bagian kedua: permasalahan kontemporer seperti penyembelihan mekanis, hukum menyebut nama Allah, dan pembiusan sebelum penyembelihan.Bagian ketiga: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta klarifikasi terhadap tuduhan penyiksaan hewan.Keseluruhan pembahasan ini menunjukkan betapa syariat Islam mengatur penyembelihan dengan prinsip kehalalan dan kasih sayang terhadap hewan, serta tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.Semoga pembahasan ini menjadi bekal ilmu yang bermanfaat, menumbuhkan keyakinan akan kesempurnaan syariat Allah, dan memandu kita dalam mengamalkannya dengan benar di setiap keadaan.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Rumdin PPIA Sragen, 15 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Hambali, Abdurrahman Ibnu Rajab. Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Saudi Arabia: Dar Ibnul Jauzi, 1431.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439 H/2018 M. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 24; dengan sedikit penyesuaian. Lihat juga fatwa no. 949 dari Lajnah Daimah di Saudi Arabia yang membahas hukum daging impor dan sejalan dengan penjelasan ini.[2] Fatwa Lajnah Daimah – Jilid Pertama, 22: 402; Fatwa no. 4159.[3] Ibadah Kurban Bukan Bagian dari Animal Abuse![4] Adhaini, Soraya Noer, dan Untung Sumarwan. “Motif Pelaku Kekerasan terhadap Perlindungan dan Penegakan Hukum pada Hewan Peliharaan dalam Perspektif Kontrol Sosial.” Jurnal Anomie, vol. 5, no. 2, Agustus 2023, hal. 101–122. Program Studi Kriminologi, Universitas Budi Luhur, Jakarta.[5] Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, hal. 287.

Fikih Penyembelihan Hewan (Bag. 3)

Daftar Isi ToggleHukum impor daging dari negara non-MuslimJika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli KitabBagaimana jika ragu?Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseDefinisi animal abuseJawaban syariat IslamPenutup umumKebutuhan masyarakat Muslim terhadap daging semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi lokal, tetapi juga membuka pintu bagi impor daging dari berbagai negara, termasuk negara-negara non-Muslim. Di sisi lain, suara kritis dari para aktivis hewan semakin nyaring, menyoroti metode penyembelihan dalam Islam yang mereka nilai sebagai tindakan penyiksaan (animal abuse).Pada artikel ketiga ini, kita akan membahas kedua permasalahan tersebut: (1) hukum fikih terkait daging impor dari negara non-Muslim, dan (2) klarifikasi terhadap tuduhan bahwa penyembelihan Islami menyiksa hewan.Hukum impor daging dari negara non-MuslimBeberapa negara Islam mengimpor berbagai jenis daging (hewan sembelihan) dari negara-negara non-Islam, seperti domba, sapi, dan lainnya. Dalam hal ini terdapat dua keadaan:Jika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara Ahli Kitab, maka hukumnya halal bagi kaum Muslimin berdasarkan nash (dalil tegas) dari Al-Qur’an, selama tidak diketahui bahwa penyembelihannya dilakukan dengan cara yang tidak sesuai syariat.Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian segala yang baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Kitab (Ahli Kitab) itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al-Maidah: 5)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,اللحوم التي تباع في أسواق دول غير إسلامية، إن علم أنها من ذبائح أهل الكتاب فهي حل للمسلمين، إذا لم يعلم أنها ذبحت على غير الوجه الشرعي، إذ الأصل حلها بالنص القرآني فلا يعدل عن ذلك إلا بأمر محقق يقتضي تحريمها.“Daging yang dijual di pasar negara non-Islam, jika diketahui berasal dari sembelihan Ahli Kitab, maka halal bagi kaum Muslimin. Hal ini selama tidak diketahui bahwa ia disembelih dengan cara yang tidak sesuai syariat. Hukum asalnya adalah halal berdasarkan nash Al-Qur’an, dan tidak boleh berpindah dari hukum asal ini kecuali dengan bukti nyata yang mengharamkannya.”Jika berasal dari negara selain Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli Kitab, maka tidak boleh memakannya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,أجمع علماء الإِسلام على تحريم ذبائح المشركين من عباد الأوثان ومنكري الأديان ونحوهم من جميع أصناف الكفار غير اليهود والنصارى“Para ulama Islam sepakat atas haramnya sembelihan orang-orang musyrik, penyembah berhala, pengingkar agama, dan yang semisalnya dari seluruh golongan orang kafir selain Yahudi dan Nasrani.” [1]Bagaimana jika ragu?Sebagaian kaum muslimin, khususnya dari kalangan penuntut ilmu, kadang merasa ragu dalam hal ini, dengan dasar pemahaman dari hadis,إنَّ الحلالَ بيِّنٌ وإنَّ الحرامَ بيِّنٌ وبينهما أمورٌ مُشتبِهاتٌ لا يعلمهنَّ كثيرٌ من الناس فمنِ اتَّقى الشُّبُهاتِ استبرأ لدِينِه وعِرضِه …“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599, dan lafaz ini milik Muslim)Para ulama dari Lajnah Daimah pernah ditanya, “Apa hukum daging kalengan impor dari luar negeri? Dan bagaimana cara mengompromikan antara hadis, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjatuh dalam perkara samar, ia terjatuh ke dalam yang haram” (HR. Bukhari, Kitab al-Iman no. 52; Muslim, Kitab al-Musaqat no. 1599)dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dinyatakan hasan dalam Jami‘ at-Tirmidzi, dari Simak bin Harb, ia berkata, “Aku mendengar Qabishah bin Hulb menceritakan dari ayahnya, ia berkata,سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن طعام النصارى فقال: لا يتخلجن في صدرك طعام ضارعت فيه النصرانية“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makanan orang-orang Nasrani. Beliau pun bersabda, ‘Janganlah ada keraguan di hatimu terhadap makanan yang diolah oleh orang Nasrani.’” (Sunan at-Tirmidzi, Kitab as-Siyar no. 1565; Sunan Abu Dawud, Kitab al-At‘imah no. 3784; Musnad Ahmad bin Hanbal, 5: 226)Lajnah Daimah menjawab,“Tidak ada pertentangan antara kedua hadis tersebut. Makanan Ahli Kitab terbagi menjadi tiga keadaan:1) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama Allah atas sembelihan mereka, maka hukumnya halal, termasuk dalam bagian pertama dari hadis: “Yang halal itu jelas.”2) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama selain Allah, maka hukumnya haram, termasuk dalam bagian kedua dari hadis: “Yang haram itu jelas.”3) Jika kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya, maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halal sembelihan mereka.Adapun makanan yang tidak memerlukan proses penyembelihan atau penyembelihan hewan, seperti roti, maka tidak ada masalah dalam memakannya.” [2]Oleh karena itu, jika impor berasal dari negeri Ahli Kitab, dan kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya; maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halalnya sembelihan mereka. Wallahu Ta’ala a’lam.Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseSejumlah komunitas aktivis pembela hak hewan khususnya di wilayah Barat, seringkali beropini bahwa penyembelihan hewan-hewan kurban itu bertentangan dengan hak-hak kebinatangan, dengan dalih metode penyembelihannya masuk dalam kategori animal abuse. [3]Untuk menjawab isu tersebut, kita perlu ketahui terlebih dahulu tentang animal abuse, kemudian jawaban syariat Islam atas tuduhan tersebut. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua.Definisi animal abuseAnimal abuse didefinisikan sebagai tindakan yang sengaja menyakiti, melukai, atau merusak kesehatan hewan, tidak memberi makanan atau minuman, dan tindakan kekerasan yang hingga kini masih seringkali tidak diperhatikan, misalnya seperti memotong kuping dan ekor anjing yang ditujukan untuk sekedar keindahan, melakukan eksploitasi terhadap hewan untuk kepentingan sirkus, mengebiri, dan menggunakan hewan sebagai uji coba keperluan medis atau kedokteran (vivisectie) dengan di luar batas dan kelaziman. [4]Jawaban syariat IslamSyariat Islam sangat menjunjung kasih sayang antar sesama makhluk hidup, termasuk hewan. Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kasih sayang terhadap hewan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ الله كتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيءٍ، فإذَا قَتَلْتُم فَأحْسِنُوا القِتْلَة، وإذا ذَبَحْتُم فَأحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وليُحِدَّ أحدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وليُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (hewan), maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1955)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فلهذا أمر النبيُّ صلى الله عليه وسلم بإحسانِ القتلِ والذبح، وأمر أن تُحَدَّ الشفرةُ، وأن تُراح الذبيحة، يشير إلى أن الذبح بالآلة الحادة يُرِيحُ الذبيحة بتعجيل زهوق نفسها.“Maka dari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berbuat baik ketika membunuh (hewan yang boleh dibunuh) dan ketika menyembelih, serta memerintahkan agar pisau diasah tajam dan hewan disembelih dengan cara yang membuatnya nyaman. Ini menunjukkan bahwa penyembelihan dengan alat yang tajam akan membuat hewan lebih tenang karena mempercepat keluarnya nyawa.”Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menajamkan pisau dan agar disembunyikan dari hewan, serta bersabda,إذا ذَبَحَ أحدُكُم، فليُجْهِزْ“Apabila salah seorang dari kalian menyembelih, hendaklah ia menyempurnakan (penyembelihan),” maksudnya: hendaklah ia mempercepat proses penyembelihan. [5]Maka, penyembelihan dalam Islam bukanlah bentuk kekerasan, tetapi justru cara paling cepat memutus nyawa hewan dengan meminimalisir rasa sakit.Bahkan, secara umum, Islam memerintahkan untuk menyayangi seluruh makhluk hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ.“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahmān Tabāraka wa Ta‘ālā. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4941 dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Dengan demikian, tuduhan penyiksaan atau kekerasan terhadap hewan (animal abuse) terhadap proses penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam, merupakan tuduhan yang tidak benar. Islam justru mengajarkan cara penyembelihan yang paling baik bagi hewan, dan memerintahkan untuk menyayangi seluruh hewan secara umum. Wallahu Ta’ala a’lam.Penutup umumRangkaian tiga artikel Fikih Penyembelihan Hewan ini telah membahas secara berurutan:Bagian pertama: landasan fikih klasik, mulai dari definisi, hukum, syarat, waktu, adab, dan larangan penyembelihan.Bagian kedua: permasalahan kontemporer seperti penyembelihan mekanis, hukum menyebut nama Allah, dan pembiusan sebelum penyembelihan.Bagian ketiga: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta klarifikasi terhadap tuduhan penyiksaan hewan.Keseluruhan pembahasan ini menunjukkan betapa syariat Islam mengatur penyembelihan dengan prinsip kehalalan dan kasih sayang terhadap hewan, serta tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.Semoga pembahasan ini menjadi bekal ilmu yang bermanfaat, menumbuhkan keyakinan akan kesempurnaan syariat Allah, dan memandu kita dalam mengamalkannya dengan benar di setiap keadaan.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Rumdin PPIA Sragen, 15 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Hambali, Abdurrahman Ibnu Rajab. Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Saudi Arabia: Dar Ibnul Jauzi, 1431.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439 H/2018 M. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 24; dengan sedikit penyesuaian. Lihat juga fatwa no. 949 dari Lajnah Daimah di Saudi Arabia yang membahas hukum daging impor dan sejalan dengan penjelasan ini.[2] Fatwa Lajnah Daimah – Jilid Pertama, 22: 402; Fatwa no. 4159.[3] Ibadah Kurban Bukan Bagian dari Animal Abuse![4] Adhaini, Soraya Noer, dan Untung Sumarwan. “Motif Pelaku Kekerasan terhadap Perlindungan dan Penegakan Hukum pada Hewan Peliharaan dalam Perspektif Kontrol Sosial.” Jurnal Anomie, vol. 5, no. 2, Agustus 2023, hal. 101–122. Program Studi Kriminologi, Universitas Budi Luhur, Jakarta.[5] Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, hal. 287.
Daftar Isi ToggleHukum impor daging dari negara non-MuslimJika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli KitabBagaimana jika ragu?Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseDefinisi animal abuseJawaban syariat IslamPenutup umumKebutuhan masyarakat Muslim terhadap daging semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi lokal, tetapi juga membuka pintu bagi impor daging dari berbagai negara, termasuk negara-negara non-Muslim. Di sisi lain, suara kritis dari para aktivis hewan semakin nyaring, menyoroti metode penyembelihan dalam Islam yang mereka nilai sebagai tindakan penyiksaan (animal abuse).Pada artikel ketiga ini, kita akan membahas kedua permasalahan tersebut: (1) hukum fikih terkait daging impor dari negara non-Muslim, dan (2) klarifikasi terhadap tuduhan bahwa penyembelihan Islami menyiksa hewan.Hukum impor daging dari negara non-MuslimBeberapa negara Islam mengimpor berbagai jenis daging (hewan sembelihan) dari negara-negara non-Islam, seperti domba, sapi, dan lainnya. Dalam hal ini terdapat dua keadaan:Jika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara Ahli Kitab, maka hukumnya halal bagi kaum Muslimin berdasarkan nash (dalil tegas) dari Al-Qur’an, selama tidak diketahui bahwa penyembelihannya dilakukan dengan cara yang tidak sesuai syariat.Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian segala yang baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Kitab (Ahli Kitab) itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al-Maidah: 5)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,اللحوم التي تباع في أسواق دول غير إسلامية، إن علم أنها من ذبائح أهل الكتاب فهي حل للمسلمين، إذا لم يعلم أنها ذبحت على غير الوجه الشرعي، إذ الأصل حلها بالنص القرآني فلا يعدل عن ذلك إلا بأمر محقق يقتضي تحريمها.“Daging yang dijual di pasar negara non-Islam, jika diketahui berasal dari sembelihan Ahli Kitab, maka halal bagi kaum Muslimin. Hal ini selama tidak diketahui bahwa ia disembelih dengan cara yang tidak sesuai syariat. Hukum asalnya adalah halal berdasarkan nash Al-Qur’an, dan tidak boleh berpindah dari hukum asal ini kecuali dengan bukti nyata yang mengharamkannya.”Jika berasal dari negara selain Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli Kitab, maka tidak boleh memakannya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,أجمع علماء الإِسلام على تحريم ذبائح المشركين من عباد الأوثان ومنكري الأديان ونحوهم من جميع أصناف الكفار غير اليهود والنصارى“Para ulama Islam sepakat atas haramnya sembelihan orang-orang musyrik, penyembah berhala, pengingkar agama, dan yang semisalnya dari seluruh golongan orang kafir selain Yahudi dan Nasrani.” [1]Bagaimana jika ragu?Sebagaian kaum muslimin, khususnya dari kalangan penuntut ilmu, kadang merasa ragu dalam hal ini, dengan dasar pemahaman dari hadis,إنَّ الحلالَ بيِّنٌ وإنَّ الحرامَ بيِّنٌ وبينهما أمورٌ مُشتبِهاتٌ لا يعلمهنَّ كثيرٌ من الناس فمنِ اتَّقى الشُّبُهاتِ استبرأ لدِينِه وعِرضِه …“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599, dan lafaz ini milik Muslim)Para ulama dari Lajnah Daimah pernah ditanya, “Apa hukum daging kalengan impor dari luar negeri? Dan bagaimana cara mengompromikan antara hadis, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjatuh dalam perkara samar, ia terjatuh ke dalam yang haram” (HR. Bukhari, Kitab al-Iman no. 52; Muslim, Kitab al-Musaqat no. 1599)dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dinyatakan hasan dalam Jami‘ at-Tirmidzi, dari Simak bin Harb, ia berkata, “Aku mendengar Qabishah bin Hulb menceritakan dari ayahnya, ia berkata,سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن طعام النصارى فقال: لا يتخلجن في صدرك طعام ضارعت فيه النصرانية“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makanan orang-orang Nasrani. Beliau pun bersabda, ‘Janganlah ada keraguan di hatimu terhadap makanan yang diolah oleh orang Nasrani.’” (Sunan at-Tirmidzi, Kitab as-Siyar no. 1565; Sunan Abu Dawud, Kitab al-At‘imah no. 3784; Musnad Ahmad bin Hanbal, 5: 226)Lajnah Daimah menjawab,“Tidak ada pertentangan antara kedua hadis tersebut. Makanan Ahli Kitab terbagi menjadi tiga keadaan:1) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama Allah atas sembelihan mereka, maka hukumnya halal, termasuk dalam bagian pertama dari hadis: “Yang halal itu jelas.”2) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama selain Allah, maka hukumnya haram, termasuk dalam bagian kedua dari hadis: “Yang haram itu jelas.”3) Jika kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya, maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halal sembelihan mereka.Adapun makanan yang tidak memerlukan proses penyembelihan atau penyembelihan hewan, seperti roti, maka tidak ada masalah dalam memakannya.” [2]Oleh karena itu, jika impor berasal dari negeri Ahli Kitab, dan kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya; maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halalnya sembelihan mereka. Wallahu Ta’ala a’lam.Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseSejumlah komunitas aktivis pembela hak hewan khususnya di wilayah Barat, seringkali beropini bahwa penyembelihan hewan-hewan kurban itu bertentangan dengan hak-hak kebinatangan, dengan dalih metode penyembelihannya masuk dalam kategori animal abuse. [3]Untuk menjawab isu tersebut, kita perlu ketahui terlebih dahulu tentang animal abuse, kemudian jawaban syariat Islam atas tuduhan tersebut. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua.Definisi animal abuseAnimal abuse didefinisikan sebagai tindakan yang sengaja menyakiti, melukai, atau merusak kesehatan hewan, tidak memberi makanan atau minuman, dan tindakan kekerasan yang hingga kini masih seringkali tidak diperhatikan, misalnya seperti memotong kuping dan ekor anjing yang ditujukan untuk sekedar keindahan, melakukan eksploitasi terhadap hewan untuk kepentingan sirkus, mengebiri, dan menggunakan hewan sebagai uji coba keperluan medis atau kedokteran (vivisectie) dengan di luar batas dan kelaziman. [4]Jawaban syariat IslamSyariat Islam sangat menjunjung kasih sayang antar sesama makhluk hidup, termasuk hewan. Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kasih sayang terhadap hewan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ الله كتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيءٍ، فإذَا قَتَلْتُم فَأحْسِنُوا القِتْلَة، وإذا ذَبَحْتُم فَأحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وليُحِدَّ أحدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وليُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (hewan), maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1955)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فلهذا أمر النبيُّ صلى الله عليه وسلم بإحسانِ القتلِ والذبح، وأمر أن تُحَدَّ الشفرةُ، وأن تُراح الذبيحة، يشير إلى أن الذبح بالآلة الحادة يُرِيحُ الذبيحة بتعجيل زهوق نفسها.“Maka dari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berbuat baik ketika membunuh (hewan yang boleh dibunuh) dan ketika menyembelih, serta memerintahkan agar pisau diasah tajam dan hewan disembelih dengan cara yang membuatnya nyaman. Ini menunjukkan bahwa penyembelihan dengan alat yang tajam akan membuat hewan lebih tenang karena mempercepat keluarnya nyawa.”Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menajamkan pisau dan agar disembunyikan dari hewan, serta bersabda,إذا ذَبَحَ أحدُكُم، فليُجْهِزْ“Apabila salah seorang dari kalian menyembelih, hendaklah ia menyempurnakan (penyembelihan),” maksudnya: hendaklah ia mempercepat proses penyembelihan. [5]Maka, penyembelihan dalam Islam bukanlah bentuk kekerasan, tetapi justru cara paling cepat memutus nyawa hewan dengan meminimalisir rasa sakit.Bahkan, secara umum, Islam memerintahkan untuk menyayangi seluruh makhluk hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ.“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahmān Tabāraka wa Ta‘ālā. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4941 dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Dengan demikian, tuduhan penyiksaan atau kekerasan terhadap hewan (animal abuse) terhadap proses penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam, merupakan tuduhan yang tidak benar. Islam justru mengajarkan cara penyembelihan yang paling baik bagi hewan, dan memerintahkan untuk menyayangi seluruh hewan secara umum. Wallahu Ta’ala a’lam.Penutup umumRangkaian tiga artikel Fikih Penyembelihan Hewan ini telah membahas secara berurutan:Bagian pertama: landasan fikih klasik, mulai dari definisi, hukum, syarat, waktu, adab, dan larangan penyembelihan.Bagian kedua: permasalahan kontemporer seperti penyembelihan mekanis, hukum menyebut nama Allah, dan pembiusan sebelum penyembelihan.Bagian ketiga: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta klarifikasi terhadap tuduhan penyiksaan hewan.Keseluruhan pembahasan ini menunjukkan betapa syariat Islam mengatur penyembelihan dengan prinsip kehalalan dan kasih sayang terhadap hewan, serta tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.Semoga pembahasan ini menjadi bekal ilmu yang bermanfaat, menumbuhkan keyakinan akan kesempurnaan syariat Allah, dan memandu kita dalam mengamalkannya dengan benar di setiap keadaan.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Rumdin PPIA Sragen, 15 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Hambali, Abdurrahman Ibnu Rajab. Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Saudi Arabia: Dar Ibnul Jauzi, 1431.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439 H/2018 M. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 24; dengan sedikit penyesuaian. Lihat juga fatwa no. 949 dari Lajnah Daimah di Saudi Arabia yang membahas hukum daging impor dan sejalan dengan penjelasan ini.[2] Fatwa Lajnah Daimah – Jilid Pertama, 22: 402; Fatwa no. 4159.[3] Ibadah Kurban Bukan Bagian dari Animal Abuse![4] Adhaini, Soraya Noer, dan Untung Sumarwan. “Motif Pelaku Kekerasan terhadap Perlindungan dan Penegakan Hukum pada Hewan Peliharaan dalam Perspektif Kontrol Sosial.” Jurnal Anomie, vol. 5, no. 2, Agustus 2023, hal. 101–122. Program Studi Kriminologi, Universitas Budi Luhur, Jakarta.[5] Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, hal. 287.


Daftar Isi ToggleHukum impor daging dari negara non-MuslimJika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli KitabBagaimana jika ragu?Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseDefinisi animal abuseJawaban syariat IslamPenutup umumKebutuhan masyarakat Muslim terhadap daging semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi lokal, tetapi juga membuka pintu bagi impor daging dari berbagai negara, termasuk negara-negara non-Muslim. Di sisi lain, suara kritis dari para aktivis hewan semakin nyaring, menyoroti metode penyembelihan dalam Islam yang mereka nilai sebagai tindakan penyiksaan (animal abuse).Pada artikel ketiga ini, kita akan membahas kedua permasalahan tersebut: (1) hukum fikih terkait daging impor dari negara non-Muslim, dan (2) klarifikasi terhadap tuduhan bahwa penyembelihan Islami menyiksa hewan.Hukum impor daging dari negara non-MuslimBeberapa negara Islam mengimpor berbagai jenis daging (hewan sembelihan) dari negara-negara non-Islam, seperti domba, sapi, dan lainnya. Dalam hal ini terdapat dua keadaan:Jika berasal dari negara Ahli KitabJika berasal dari negara Ahli Kitab, maka hukumnya halal bagi kaum Muslimin berdasarkan nash (dalil tegas) dari Al-Qur’an, selama tidak diketahui bahwa penyembelihannya dilakukan dengan cara yang tidak sesuai syariat.Allah Ta’ala berfirman,الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian segala yang baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Kitab (Ahli Kitab) itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al-Maidah: 5)Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,اللحوم التي تباع في أسواق دول غير إسلامية، إن علم أنها من ذبائح أهل الكتاب فهي حل للمسلمين، إذا لم يعلم أنها ذبحت على غير الوجه الشرعي، إذ الأصل حلها بالنص القرآني فلا يعدل عن ذلك إلا بأمر محقق يقتضي تحريمها.“Daging yang dijual di pasar negara non-Islam, jika diketahui berasal dari sembelihan Ahli Kitab, maka halal bagi kaum Muslimin. Hal ini selama tidak diketahui bahwa ia disembelih dengan cara yang tidak sesuai syariat. Hukum asalnya adalah halal berdasarkan nash Al-Qur’an, dan tidak boleh berpindah dari hukum asal ini kecuali dengan bukti nyata yang mengharamkannya.”Jika berasal dari negara selain Ahli KitabJika berasal dari negara selain Ahli Kitab, maka tidak boleh memakannya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,أجمع علماء الإِسلام على تحريم ذبائح المشركين من عباد الأوثان ومنكري الأديان ونحوهم من جميع أصناف الكفار غير اليهود والنصارى“Para ulama Islam sepakat atas haramnya sembelihan orang-orang musyrik, penyembah berhala, pengingkar agama, dan yang semisalnya dari seluruh golongan orang kafir selain Yahudi dan Nasrani.” [1]Bagaimana jika ragu?Sebagaian kaum muslimin, khususnya dari kalangan penuntut ilmu, kadang merasa ragu dalam hal ini, dengan dasar pemahaman dari hadis,إنَّ الحلالَ بيِّنٌ وإنَّ الحرامَ بيِّنٌ وبينهما أمورٌ مُشتبِهاتٌ لا يعلمهنَّ كثيرٌ من الناس فمنِ اتَّقى الشُّبُهاتِ استبرأ لدِينِه وعِرضِه …“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599, dan lafaz ini milik Muslim)Para ulama dari Lajnah Daimah pernah ditanya, “Apa hukum daging kalengan impor dari luar negeri? Dan bagaimana cara mengompromikan antara hadis, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara samar yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang samar, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjatuh dalam perkara samar, ia terjatuh ke dalam yang haram” (HR. Bukhari, Kitab al-Iman no. 52; Muslim, Kitab al-Musaqat no. 1599)dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dinyatakan hasan dalam Jami‘ at-Tirmidzi, dari Simak bin Harb, ia berkata, “Aku mendengar Qabishah bin Hulb menceritakan dari ayahnya, ia berkata,سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن طعام النصارى فقال: لا يتخلجن في صدرك طعام ضارعت فيه النصرانية“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makanan orang-orang Nasrani. Beliau pun bersabda, ‘Janganlah ada keraguan di hatimu terhadap makanan yang diolah oleh orang Nasrani.’” (Sunan at-Tirmidzi, Kitab as-Siyar no. 1565; Sunan Abu Dawud, Kitab al-At‘imah no. 3784; Musnad Ahmad bin Hanbal, 5: 226)Lajnah Daimah menjawab,“Tidak ada pertentangan antara kedua hadis tersebut. Makanan Ahli Kitab terbagi menjadi tiga keadaan:1) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama Allah atas sembelihan mereka, maka hukumnya halal, termasuk dalam bagian pertama dari hadis: “Yang halal itu jelas.”2) Jika kita tahu bahwa mereka menyebut nama selain Allah, maka hukumnya haram, termasuk dalam bagian kedua dari hadis: “Yang haram itu jelas.”3) Jika kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya, maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halal sembelihan mereka.Adapun makanan yang tidak memerlukan proses penyembelihan atau penyembelihan hewan, seperti roti, maka tidak ada masalah dalam memakannya.” [2]Oleh karena itu, jika impor berasal dari negeri Ahli Kitab, dan kita tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau nama selain-Nya; maka kita kembali kepada hukum asal, yaitu halalnya sembelihan mereka. Wallahu Ta’ala a’lam.Kritik aktivis hewan: Menyembelih hewan menurut Islam yang dianggap menyiksaIsu animal abuseSejumlah komunitas aktivis pembela hak hewan khususnya di wilayah Barat, seringkali beropini bahwa penyembelihan hewan-hewan kurban itu bertentangan dengan hak-hak kebinatangan, dengan dalih metode penyembelihannya masuk dalam kategori animal abuse. [3]Untuk menjawab isu tersebut, kita perlu ketahui terlebih dahulu tentang animal abuse, kemudian jawaban syariat Islam atas tuduhan tersebut. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua.Definisi animal abuseAnimal abuse didefinisikan sebagai tindakan yang sengaja menyakiti, melukai, atau merusak kesehatan hewan, tidak memberi makanan atau minuman, dan tindakan kekerasan yang hingga kini masih seringkali tidak diperhatikan, misalnya seperti memotong kuping dan ekor anjing yang ditujukan untuk sekedar keindahan, melakukan eksploitasi terhadap hewan untuk kepentingan sirkus, mengebiri, dan menggunakan hewan sebagai uji coba keperluan medis atau kedokteran (vivisectie) dengan di luar batas dan kelaziman. [4]Jawaban syariat IslamSyariat Islam sangat menjunjung kasih sayang antar sesama makhluk hidup, termasuk hewan. Islam sangat menjunjung tinggi prinsip kasih sayang terhadap hewan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إنَّ الله كتَبَ الإحسانَ على كُلِّ شيءٍ، فإذَا قَتَلْتُم فَأحْسِنُوا القِتْلَة، وإذا ذَبَحْتُم فَأحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وليُحِدَّ أحدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وليُرِحْ ذَبِيحَتَهُ“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh (hewan), maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih (hewan), maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1955)Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan,فلهذا أمر النبيُّ صلى الله عليه وسلم بإحسانِ القتلِ والذبح، وأمر أن تُحَدَّ الشفرةُ، وأن تُراح الذبيحة، يشير إلى أن الذبح بالآلة الحادة يُرِيحُ الذبيحة بتعجيل زهوق نفسها.“Maka dari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berbuat baik ketika membunuh (hewan yang boleh dibunuh) dan ketika menyembelih, serta memerintahkan agar pisau diasah tajam dan hewan disembelih dengan cara yang membuatnya nyaman. Ini menunjukkan bahwa penyembelihan dengan alat yang tajam akan membuat hewan lebih tenang karena mempercepat keluarnya nyawa.”Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menajamkan pisau dan agar disembunyikan dari hewan, serta bersabda,إذا ذَبَحَ أحدُكُم، فليُجْهِزْ“Apabila salah seorang dari kalian menyembelih, hendaklah ia menyempurnakan (penyembelihan),” maksudnya: hendaklah ia mempercepat proses penyembelihan. [5]Maka, penyembelihan dalam Islam bukanlah bentuk kekerasan, tetapi justru cara paling cepat memutus nyawa hewan dengan meminimalisir rasa sakit.Bahkan, secara umum, Islam memerintahkan untuk menyayangi seluruh makhluk hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ.“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahmān Tabāraka wa Ta‘ālā. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4941 dan selainnya, disahihkan oleh Al-Albani)Dengan demikian, tuduhan penyiksaan atau kekerasan terhadap hewan (animal abuse) terhadap proses penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam, merupakan tuduhan yang tidak benar. Islam justru mengajarkan cara penyembelihan yang paling baik bagi hewan, dan memerintahkan untuk menyayangi seluruh hewan secara umum. Wallahu Ta’ala a’lam.Penutup umumRangkaian tiga artikel Fikih Penyembelihan Hewan ini telah membahas secara berurutan:Bagian pertama: landasan fikih klasik, mulai dari definisi, hukum, syarat, waktu, adab, dan larangan penyembelihan.Bagian kedua: permasalahan kontemporer seperti penyembelihan mekanis, hukum menyebut nama Allah, dan pembiusan sebelum penyembelihan.Bagian ketiga: hukum impor daging dari negara non-Muslim serta klarifikasi terhadap tuduhan penyiksaan hewan.Keseluruhan pembahasan ini menunjukkan betapa syariat Islam mengatur penyembelihan dengan prinsip kehalalan dan kasih sayang terhadap hewan, serta tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.Semoga pembahasan ini menjadi bekal ilmu yang bermanfaat, menumbuhkan keyakinan akan kesempurnaan syariat Allah, dan memandu kita dalam mengamalkannya dengan benar di setiap keadaan.[Selesai]Kembali ke bagian 2***Rumdin PPIA Sragen, 15 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Al-Hambali, Abdurrahman Ibnu Rajab. Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Saudi Arabia: Dar Ibnul Jauzi, 1431.Al-Muthlaq, Abdullah bin Muhammad. Al-Fiqh al-Muyassar: Qism al-‘Ibadat. Edisi keempat. Riyadh: Madarul Wathan, 1439 H/2018 M. Catatan kaki:[1] Al-Fiqh al-Muyassar, 7: 24; dengan sedikit penyesuaian. Lihat juga fatwa no. 949 dari Lajnah Daimah di Saudi Arabia yang membahas hukum daging impor dan sejalan dengan penjelasan ini.[2] Fatwa Lajnah Daimah – Jilid Pertama, 22: 402; Fatwa no. 4159.[3] Ibadah Kurban Bukan Bagian dari Animal Abuse![4] Adhaini, Soraya Noer, dan Untung Sumarwan. “Motif Pelaku Kekerasan terhadap Perlindungan dan Penegakan Hukum pada Hewan Peliharaan dalam Perspektif Kontrol Sosial.” Jurnal Anomie, vol. 5, no. 2, Agustus 2023, hal. 101–122. Program Studi Kriminologi, Universitas Budi Luhur, Jakarta.[5] Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, hal. 287.

Rahasia di Balik “Allahu Akbar” yang Jarang Disadari Umat Islam – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Ucapan seseorang: Allahu Akbar, adalah kalimat yang agung. Diriwayatkan bahwa ‘Adiy bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai ‘Adiy, tahukah engkau makna Allahu Akbar?” ‘Adiy menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Maknanya adalah Allah lebih besar daripada segala sesuatu.” Orang yang memahami kalimat ini dan menghayati maknanya dengan sebenar-benarnya, demi Allah, dia akan benar-benar mengagungkannya, dan niscaya segala makhluk akan terlihat kecil di matanya. Aku bersumpah dengan sebenar-benarnya, Allah lebih besar daripada segala sesuatu. Sebesar apa pun engkau mengagungkan seseorang, dan mengira dia mampu melakukan sesuatu, lalu engkau mengucapkan Allahu Akbar, maka engkau akan sadar dalam hatimu bahwa Allah lebih agung dan lebih besar daripada orang itu. Sebesar apa pun anggapanmu bahwa ada orang yang mampu memberi manfaat atau menimpakan mudarat kepadamu, ingatlah bahwa Allah lebih besar, sehingga orang itu menjadi kecil di matamu. Dengan begitu, engkau tidak akan terjerumus ke dalam syirik besar maupun syirik kecil. Bahkan hal itu menjadi bukti imanmu, sehingga engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal. Ini adalah derajat tertinggi dalam keimanan. Karena iman adalah ucapan dan perbuatan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Maka kedudukan Allahu Akbar dan penghayatan terhadap kalimat agung ini adalah perkara yang agung dan mulia bagi seorang mukmin sejati. Ketika kita berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan lisan, dan zikir lisan kita itu menyertai zikir hati kita. Yang dimaksud zikir hati adalah menghayati makna-makna dari zikir tersebut. Mungkin engkau takjub ketika melihat sebagian orang saleh berzikir kepada Allah hingga meneteskan air mata. Air matanya itu bukan hanya karena gerakan lisannya semata, tetapi karena ia menghayati makna-makna tersebut. Ada yang menangis karena pengagungannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ada pula yang menangis karena menyesali kelalaiannya terhadap dirinya sendiri. Ketika ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah. Allahu Akbar. Labbaika laa syariika laka, ia teringat segala kelalaian yang pernah ia lakukan. Sehingga matanya menangis karena dosa yang telah ia perbuat. Ia menangis karena mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Perkasa. ===== قَوْلُ الْمَرْءِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ جَاءَ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ الطَّائِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَدِيُّ أَتَدْرِي مَا مَعْنَى اللَّهُ أَكْبَرُ؟ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ مَعْنَاهَا أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ هَذِه الْكَلِمَةَ وَيَتَأَمَّلُ فِي مَعْنَاهَا حَقَّ التَّأَمُّلِ وَاللَّهِ لَيُعَظِّمَنَّهَا تَعْظِيمًا وَلَيَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ كُلُّ مَخْلُوقٍ وَأَحْلِفُ بِاللَّهِ غَيْرَ حَالِفٍ إِذِ اللَّهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَهْمَا عَظَّمْتَ شَخْصًا فَظَنَنْتَ أَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَمْرٍ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ اللَّهُ أَكْبَرُ عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ أَعْظَمُ وَأَكْبَرُ فِي نَفْسِكَ مِنْهُ مَهْمَا ظَنَنْتَ أَنَّ شَخْصًا قَادِرٌ عَلَى نَفْعِكَ بِنَفْعٍ أَوْ ضَرِّكَ بِضُرٍّ تَتَذَكَّرُ أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ فَيَصْغُرُ ذَلِكَ الشَّخْصُ فِي عَيْنِكَ فَحِينَئِذٍ لَا تَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَرِ وَلَا فِي الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ بَلْ قَدْ يَكُونُ إِيْمَانُكَ فَتَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ حَقَّ التَّوَكُّلِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ الْعُلْيَا فِي الْإِيْمَانِ إِذِ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ إِذًا قَضِيَّةُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالتَّفَكُّرُ فِي هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِأَمْرُهَا عَظِيمٌ وَجَلِيلٌ عِنْدَ الْمُؤْمِنِ الْحَقِّ وَنَحْنُ عِنْدَمَا نَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نَذْكُرُهُ بِلِسَانِنَا وَيُوَاطِئُ ذِكْرُ لِسَانِنَا ذِكْرَ قَلْبِنَا وَمَعْنَى ذِكْرِ الْقَلْبِ هُوَ التَّفَكُّرُ فِي الْمَعَانِي فِي مَعَانِي الْأَذْكَارِ إِنَّكَ تَعْجَبُ حِينَمَا تَرَى بَعْضَ الصَّالِحِينَ يَذْكُرُ اللَّهَ وَعَيْنُهُ تَفِيضُ سَبَبُ فَيْضِ عَيْنِهِ لَيْسَ مُجَرَّدَ لَهْجِ لِسَانِهِ فَحَسْبُ وَإِنَّمَا تَأَمُّلُهُ فِي هَذِهِ الْمَعَانِي يَبْكِي الْمَرْءُ تَعْظِيمًا لِلَّهِ وَجَلَّ يَبْكِي الْمَرْءُ نَدَمًا عَلَى مَا قَصَّرَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ عِنْدَمَا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَمَا يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ تَذَكَّرَ قُصُورًا مِنْهُ حَدَثَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ تَبْكِي عَيْنُهُ عَلَى ذَنْبٍ قَدِ اقْتَرَفَهُ تَبْكِي عَيْنُهُ تَعْظِيمًا لِلْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Rahasia di Balik “Allahu Akbar” yang Jarang Disadari Umat Islam – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ar

Ucapan seseorang: Allahu Akbar, adalah kalimat yang agung. Diriwayatkan bahwa ‘Adiy bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai ‘Adiy, tahukah engkau makna Allahu Akbar?” ‘Adiy menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Maknanya adalah Allah lebih besar daripada segala sesuatu.” Orang yang memahami kalimat ini dan menghayati maknanya dengan sebenar-benarnya, demi Allah, dia akan benar-benar mengagungkannya, dan niscaya segala makhluk akan terlihat kecil di matanya. Aku bersumpah dengan sebenar-benarnya, Allah lebih besar daripada segala sesuatu. Sebesar apa pun engkau mengagungkan seseorang, dan mengira dia mampu melakukan sesuatu, lalu engkau mengucapkan Allahu Akbar, maka engkau akan sadar dalam hatimu bahwa Allah lebih agung dan lebih besar daripada orang itu. Sebesar apa pun anggapanmu bahwa ada orang yang mampu memberi manfaat atau menimpakan mudarat kepadamu, ingatlah bahwa Allah lebih besar, sehingga orang itu menjadi kecil di matamu. Dengan begitu, engkau tidak akan terjerumus ke dalam syirik besar maupun syirik kecil. Bahkan hal itu menjadi bukti imanmu, sehingga engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal. Ini adalah derajat tertinggi dalam keimanan. Karena iman adalah ucapan dan perbuatan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Maka kedudukan Allahu Akbar dan penghayatan terhadap kalimat agung ini adalah perkara yang agung dan mulia bagi seorang mukmin sejati. Ketika kita berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan lisan, dan zikir lisan kita itu menyertai zikir hati kita. Yang dimaksud zikir hati adalah menghayati makna-makna dari zikir tersebut. Mungkin engkau takjub ketika melihat sebagian orang saleh berzikir kepada Allah hingga meneteskan air mata. Air matanya itu bukan hanya karena gerakan lisannya semata, tetapi karena ia menghayati makna-makna tersebut. Ada yang menangis karena pengagungannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ada pula yang menangis karena menyesali kelalaiannya terhadap dirinya sendiri. Ketika ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah. Allahu Akbar. Labbaika laa syariika laka, ia teringat segala kelalaian yang pernah ia lakukan. Sehingga matanya menangis karena dosa yang telah ia perbuat. Ia menangis karena mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Perkasa. ===== قَوْلُ الْمَرْءِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ جَاءَ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ الطَّائِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَدِيُّ أَتَدْرِي مَا مَعْنَى اللَّهُ أَكْبَرُ؟ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ مَعْنَاهَا أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ هَذِه الْكَلِمَةَ وَيَتَأَمَّلُ فِي مَعْنَاهَا حَقَّ التَّأَمُّلِ وَاللَّهِ لَيُعَظِّمَنَّهَا تَعْظِيمًا وَلَيَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ كُلُّ مَخْلُوقٍ وَأَحْلِفُ بِاللَّهِ غَيْرَ حَالِفٍ إِذِ اللَّهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَهْمَا عَظَّمْتَ شَخْصًا فَظَنَنْتَ أَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَمْرٍ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ اللَّهُ أَكْبَرُ عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ أَعْظَمُ وَأَكْبَرُ فِي نَفْسِكَ مِنْهُ مَهْمَا ظَنَنْتَ أَنَّ شَخْصًا قَادِرٌ عَلَى نَفْعِكَ بِنَفْعٍ أَوْ ضَرِّكَ بِضُرٍّ تَتَذَكَّرُ أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ فَيَصْغُرُ ذَلِكَ الشَّخْصُ فِي عَيْنِكَ فَحِينَئِذٍ لَا تَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَرِ وَلَا فِي الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ بَلْ قَدْ يَكُونُ إِيْمَانُكَ فَتَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ حَقَّ التَّوَكُّلِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ الْعُلْيَا فِي الْإِيْمَانِ إِذِ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ إِذًا قَضِيَّةُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالتَّفَكُّرُ فِي هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِأَمْرُهَا عَظِيمٌ وَجَلِيلٌ عِنْدَ الْمُؤْمِنِ الْحَقِّ وَنَحْنُ عِنْدَمَا نَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نَذْكُرُهُ بِلِسَانِنَا وَيُوَاطِئُ ذِكْرُ لِسَانِنَا ذِكْرَ قَلْبِنَا وَمَعْنَى ذِكْرِ الْقَلْبِ هُوَ التَّفَكُّرُ فِي الْمَعَانِي فِي مَعَانِي الْأَذْكَارِ إِنَّكَ تَعْجَبُ حِينَمَا تَرَى بَعْضَ الصَّالِحِينَ يَذْكُرُ اللَّهَ وَعَيْنُهُ تَفِيضُ سَبَبُ فَيْضِ عَيْنِهِ لَيْسَ مُجَرَّدَ لَهْجِ لِسَانِهِ فَحَسْبُ وَإِنَّمَا تَأَمُّلُهُ فِي هَذِهِ الْمَعَانِي يَبْكِي الْمَرْءُ تَعْظِيمًا لِلَّهِ وَجَلَّ يَبْكِي الْمَرْءُ نَدَمًا عَلَى مَا قَصَّرَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ عِنْدَمَا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَمَا يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ تَذَكَّرَ قُصُورًا مِنْهُ حَدَثَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ تَبْكِي عَيْنُهُ عَلَى ذَنْبٍ قَدِ اقْتَرَفَهُ تَبْكِي عَيْنُهُ تَعْظِيمًا لِلْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Ucapan seseorang: Allahu Akbar, adalah kalimat yang agung. Diriwayatkan bahwa ‘Adiy bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai ‘Adiy, tahukah engkau makna Allahu Akbar?” ‘Adiy menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Maknanya adalah Allah lebih besar daripada segala sesuatu.” Orang yang memahami kalimat ini dan menghayati maknanya dengan sebenar-benarnya, demi Allah, dia akan benar-benar mengagungkannya, dan niscaya segala makhluk akan terlihat kecil di matanya. Aku bersumpah dengan sebenar-benarnya, Allah lebih besar daripada segala sesuatu. Sebesar apa pun engkau mengagungkan seseorang, dan mengira dia mampu melakukan sesuatu, lalu engkau mengucapkan Allahu Akbar, maka engkau akan sadar dalam hatimu bahwa Allah lebih agung dan lebih besar daripada orang itu. Sebesar apa pun anggapanmu bahwa ada orang yang mampu memberi manfaat atau menimpakan mudarat kepadamu, ingatlah bahwa Allah lebih besar, sehingga orang itu menjadi kecil di matamu. Dengan begitu, engkau tidak akan terjerumus ke dalam syirik besar maupun syirik kecil. Bahkan hal itu menjadi bukti imanmu, sehingga engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal. Ini adalah derajat tertinggi dalam keimanan. Karena iman adalah ucapan dan perbuatan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Maka kedudukan Allahu Akbar dan penghayatan terhadap kalimat agung ini adalah perkara yang agung dan mulia bagi seorang mukmin sejati. Ketika kita berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan lisan, dan zikir lisan kita itu menyertai zikir hati kita. Yang dimaksud zikir hati adalah menghayati makna-makna dari zikir tersebut. Mungkin engkau takjub ketika melihat sebagian orang saleh berzikir kepada Allah hingga meneteskan air mata. Air matanya itu bukan hanya karena gerakan lisannya semata, tetapi karena ia menghayati makna-makna tersebut. Ada yang menangis karena pengagungannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ada pula yang menangis karena menyesali kelalaiannya terhadap dirinya sendiri. Ketika ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah. Allahu Akbar. Labbaika laa syariika laka, ia teringat segala kelalaian yang pernah ia lakukan. Sehingga matanya menangis karena dosa yang telah ia perbuat. Ia menangis karena mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Perkasa. ===== قَوْلُ الْمَرْءِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ جَاءَ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ الطَّائِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَدِيُّ أَتَدْرِي مَا مَعْنَى اللَّهُ أَكْبَرُ؟ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ مَعْنَاهَا أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ هَذِه الْكَلِمَةَ وَيَتَأَمَّلُ فِي مَعْنَاهَا حَقَّ التَّأَمُّلِ وَاللَّهِ لَيُعَظِّمَنَّهَا تَعْظِيمًا وَلَيَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ كُلُّ مَخْلُوقٍ وَأَحْلِفُ بِاللَّهِ غَيْرَ حَالِفٍ إِذِ اللَّهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَهْمَا عَظَّمْتَ شَخْصًا فَظَنَنْتَ أَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَمْرٍ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ اللَّهُ أَكْبَرُ عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ أَعْظَمُ وَأَكْبَرُ فِي نَفْسِكَ مِنْهُ مَهْمَا ظَنَنْتَ أَنَّ شَخْصًا قَادِرٌ عَلَى نَفْعِكَ بِنَفْعٍ أَوْ ضَرِّكَ بِضُرٍّ تَتَذَكَّرُ أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ فَيَصْغُرُ ذَلِكَ الشَّخْصُ فِي عَيْنِكَ فَحِينَئِذٍ لَا تَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَرِ وَلَا فِي الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ بَلْ قَدْ يَكُونُ إِيْمَانُكَ فَتَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ حَقَّ التَّوَكُّلِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ الْعُلْيَا فِي الْإِيْمَانِ إِذِ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ إِذًا قَضِيَّةُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالتَّفَكُّرُ فِي هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِأَمْرُهَا عَظِيمٌ وَجَلِيلٌ عِنْدَ الْمُؤْمِنِ الْحَقِّ وَنَحْنُ عِنْدَمَا نَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نَذْكُرُهُ بِلِسَانِنَا وَيُوَاطِئُ ذِكْرُ لِسَانِنَا ذِكْرَ قَلْبِنَا وَمَعْنَى ذِكْرِ الْقَلْبِ هُوَ التَّفَكُّرُ فِي الْمَعَانِي فِي مَعَانِي الْأَذْكَارِ إِنَّكَ تَعْجَبُ حِينَمَا تَرَى بَعْضَ الصَّالِحِينَ يَذْكُرُ اللَّهَ وَعَيْنُهُ تَفِيضُ سَبَبُ فَيْضِ عَيْنِهِ لَيْسَ مُجَرَّدَ لَهْجِ لِسَانِهِ فَحَسْبُ وَإِنَّمَا تَأَمُّلُهُ فِي هَذِهِ الْمَعَانِي يَبْكِي الْمَرْءُ تَعْظِيمًا لِلَّهِ وَجَلَّ يَبْكِي الْمَرْءُ نَدَمًا عَلَى مَا قَصَّرَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ عِنْدَمَا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَمَا يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ تَذَكَّرَ قُصُورًا مِنْهُ حَدَثَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ تَبْكِي عَيْنُهُ عَلَى ذَنْبٍ قَدِ اقْتَرَفَهُ تَبْكِي عَيْنُهُ تَعْظِيمًا لِلْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى


Ucapan seseorang: Allahu Akbar, adalah kalimat yang agung. Diriwayatkan bahwa ‘Adiy bin Hatim Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai ‘Adiy, tahukah engkau makna Allahu Akbar?” ‘Adiy menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Maknanya adalah Allah lebih besar daripada segala sesuatu.” Orang yang memahami kalimat ini dan menghayati maknanya dengan sebenar-benarnya, demi Allah, dia akan benar-benar mengagungkannya, dan niscaya segala makhluk akan terlihat kecil di matanya. Aku bersumpah dengan sebenar-benarnya, Allah lebih besar daripada segala sesuatu. Sebesar apa pun engkau mengagungkan seseorang, dan mengira dia mampu melakukan sesuatu, lalu engkau mengucapkan Allahu Akbar, maka engkau akan sadar dalam hatimu bahwa Allah lebih agung dan lebih besar daripada orang itu. Sebesar apa pun anggapanmu bahwa ada orang yang mampu memberi manfaat atau menimpakan mudarat kepadamu, ingatlah bahwa Allah lebih besar, sehingga orang itu menjadi kecil di matamu. Dengan begitu, engkau tidak akan terjerumus ke dalam syirik besar maupun syirik kecil. Bahkan hal itu menjadi bukti imanmu, sehingga engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal. Ini adalah derajat tertinggi dalam keimanan. Karena iman adalah ucapan dan perbuatan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Maka kedudukan Allahu Akbar dan penghayatan terhadap kalimat agung ini adalah perkara yang agung dan mulia bagi seorang mukmin sejati. Ketika kita berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan lisan, dan zikir lisan kita itu menyertai zikir hati kita. Yang dimaksud zikir hati adalah menghayati makna-makna dari zikir tersebut. Mungkin engkau takjub ketika melihat sebagian orang saleh berzikir kepada Allah hingga meneteskan air mata. Air matanya itu bukan hanya karena gerakan lisannya semata, tetapi karena ia menghayati makna-makna tersebut. Ada yang menangis karena pengagungannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ada pula yang menangis karena menyesali kelalaiannya terhadap dirinya sendiri. Ketika ia mengucapkan: Laa ilaaha illallaah. Allahu Akbar. Labbaika laa syariika laka, ia teringat segala kelalaian yang pernah ia lakukan. Sehingga matanya menangis karena dosa yang telah ia perbuat. Ia menangis karena mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Perkasa. ===== قَوْلُ الْمَرْءِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ جَاءَ أَنَّ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ الطَّائِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَدِيُّ أَتَدْرِي مَا مَعْنَى اللَّهُ أَكْبَرُ؟ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ مَعْنَاهَا أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ الَّذِي يَعْرِفُ هَذِه الْكَلِمَةَ وَيَتَأَمَّلُ فِي مَعْنَاهَا حَقَّ التَّأَمُّلِ وَاللَّهِ لَيُعَظِّمَنَّهَا تَعْظِيمًا وَلَيَصْغُرُ فِي عَيْنِهِ كُلُّ مَخْلُوقٍ وَأَحْلِفُ بِاللَّهِ غَيْرَ حَالِفٍ إِذِ اللَّهُ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَهْمَا عَظَّمْتَ شَخْصًا فَظَنَنْتَ أَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى أَمْرٍ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ اللَّهُ أَكْبَرُ عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ أَعْظَمُ وَأَكْبَرُ فِي نَفْسِكَ مِنْهُ مَهْمَا ظَنَنْتَ أَنَّ شَخْصًا قَادِرٌ عَلَى نَفْعِكَ بِنَفْعٍ أَوْ ضَرِّكَ بِضُرٍّ تَتَذَكَّرُ أَنَّ اللَّهَ أَكْبَرُ فَيَصْغُرُ ذَلِكَ الشَّخْصُ فِي عَيْنِكَ فَحِينَئِذٍ لَا تَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَرِ وَلَا فِي الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ بَلْ قَدْ يَكُونُ إِيْمَانُكَ فَتَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ حَقَّ التَّوَكُّلِ وَهَذِهِ الْمَرْتَبَةُ الْعُلْيَا فِي الْإِيْمَانِ إِذِ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ إِذًا قَضِيَّةُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَالتَّفَكُّرُ فِي هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِأَمْرُهَا عَظِيمٌ وَجَلِيلٌ عِنْدَ الْمُؤْمِنِ الْحَقِّ وَنَحْنُ عِنْدَمَا نَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نَذْكُرُهُ بِلِسَانِنَا وَيُوَاطِئُ ذِكْرُ لِسَانِنَا ذِكْرَ قَلْبِنَا وَمَعْنَى ذِكْرِ الْقَلْبِ هُوَ التَّفَكُّرُ فِي الْمَعَانِي فِي مَعَانِي الْأَذْكَارِ إِنَّكَ تَعْجَبُ حِينَمَا تَرَى بَعْضَ الصَّالِحِينَ يَذْكُرُ اللَّهَ وَعَيْنُهُ تَفِيضُ سَبَبُ فَيْضِ عَيْنِهِ لَيْسَ مُجَرَّدَ لَهْجِ لِسَانِهِ فَحَسْبُ وَإِنَّمَا تَأَمُّلُهُ فِي هَذِهِ الْمَعَانِي يَبْكِي الْمَرْءُ تَعْظِيمًا لِلَّهِ وَجَلَّ يَبْكِي الْمَرْءُ نَدَمًا عَلَى مَا قَصَّرَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ عِنْدَمَا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عِنْدَمَا يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ تَذَكَّرَ قُصُورًا مِنْهُ حَدَثَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ تَبْكِي عَيْنُهُ عَلَى ذَنْبٍ قَدِ اقْتَرَفَهُ تَبْكِي عَيْنُهُ تَعْظِيمًا لِلْجَبَّارِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.307 video dengan total 6.797.549 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.045 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 919.105.221 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.324 video Total Subscribers: 4.172.236 subscribers Total Tayangan Video: 729.424.096 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Juli 2025: 136 video Tayangan Video Juli 2025: 2.699.624 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 280.180 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +5.614 Selama bulan Juli 2025 tim Yufid menyiarkan 139 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.008 video Total Subscribers: 327.952 Total Tayangan Video: 22.400.001 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 21 video Produksi Video Juli 2025: 41 video Tayangan Video Juli 2025: 132.140 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 7.579 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +1.546 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 91 video Total Subscribers: 528.913 Total Tayangan Video: 163.432.397 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 1.884.984 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 98.619 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +4.987 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.990 Total Tayangan Video: 477.186 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Juli 2025: 1.131 views Jam Tayang Video Juli 2025: 187 Jam Penambahan Subscribers Juli 2025: 6 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.000 Total Tayangan Video: 3.371.541 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 32.210 views Penambahan Subscribers Juli 2025: +400 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.564 Postingan Total Pengikut: 1.189.320 followers Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +8.889 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.476 Postingan Total Pengikut: 517.538 Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +4.006 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 26 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.113 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.134 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 669 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.298 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.500 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 33.021 file mp3 dengan total ukuran 463 Gb dan pada bulan Juli 2025 ini telah mempublikasikan 1.750 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2025 ini saja telah didengarkan 18.188 kali dan telah di download sebanyak 352 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.378.101 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.391 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 61.944 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2645 artikel dengan total durasi audio 251 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 21 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Juli 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 465 QRIS donasi Yufid

Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2025

Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.307 video dengan total 6.797.549 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.045 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 919.105.221 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.324 video Total Subscribers: 4.172.236 subscribers Total Tayangan Video: 729.424.096 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Juli 2025: 136 video Tayangan Video Juli 2025: 2.699.624 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 280.180 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +5.614 Selama bulan Juli 2025 tim Yufid menyiarkan 139 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.008 video Total Subscribers: 327.952 Total Tayangan Video: 22.400.001 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 21 video Produksi Video Juli 2025: 41 video Tayangan Video Juli 2025: 132.140 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 7.579 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +1.546 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 91 video Total Subscribers: 528.913 Total Tayangan Video: 163.432.397 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 1.884.984 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 98.619 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +4.987 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.990 Total Tayangan Video: 477.186 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Juli 2025: 1.131 views Jam Tayang Video Juli 2025: 187 Jam Penambahan Subscribers Juli 2025: 6 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.000 Total Tayangan Video: 3.371.541 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 32.210 views Penambahan Subscribers Juli 2025: +400 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.564 Postingan Total Pengikut: 1.189.320 followers Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +8.889 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.476 Postingan Total Pengikut: 517.538 Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +4.006 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 26 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.113 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.134 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 669 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.298 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.500 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 33.021 file mp3 dengan total ukuran 463 Gb dan pada bulan Juli 2025 ini telah mempublikasikan 1.750 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2025 ini saja telah didengarkan 18.188 kali dan telah di download sebanyak 352 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.378.101 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.391 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 61.944 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2645 artikel dengan total durasi audio 251 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 21 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Juli 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 465 QRIS donasi Yufid
Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.307 video dengan total 6.797.549 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.045 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 919.105.221 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV Total Video Yufid.TV: 19.324 video Total Subscribers: 4.172.236 subscribers Total Tayangan Video: 729.424.096 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Juli 2025: 136 video Tayangan Video Juli 2025: 2.699.624 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 280.180 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +5.614 Selama bulan Juli 2025 tim Yufid menyiarkan 139 video live. Channel YouTube YUFID EDU Total Video Yufid Edu: 3.008 video Total Subscribers: 327.952 Total Tayangan Video: 22.400.001 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 21 video Produksi Video Juli 2025: 41 video Tayangan Video Juli 2025: 132.140 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 7.579 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +1.546 Channel YouTube YUFID KIDS Total Video Yufid Kids: 91 video Total Subscribers: 528.913 Total Tayangan Video: 163.432.397 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 1.884.984 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 98.619 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +4.987 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.990 Total Tayangan Video: 477.186 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Juli 2025: 1.131 views Jam Tayang Video Juli 2025: 187 Jam Penambahan Subscribers Juli 2025: 6 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.000 Total Tayangan Video: 3.371.541 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 32.210 views Penambahan Subscribers Juli 2025: +400 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.564 Postingan Total Pengikut: 1.189.320 followers Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +8.889 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.476 Postingan Total Pengikut: 517.538 Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +4.006 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 26 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.113 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.134 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 669 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.298 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.500 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 33.021 file mp3 dengan total ukuran 463 Gb dan pada bulan Juli 2025 ini telah mempublikasikan 1.750 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2025 ini saja telah didengarkan 18.188 kali dan telah di download sebanyak 352 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.378.101 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.391 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 61.944 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2645 artikel dengan total durasi audio 251 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 21 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Juli 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 465 QRIS donasi Yufid


Laporan Produksi Yufid Bulan Juli 2025 Bismillahirrohmanirrohim… Yayasan Yufid Network telah berkontribusi selama 15 tahun dalam menyediakan konten pendidikan dan dakwah Islam secara gratis melalui berbagai platform, termasuk channel YouTube seperti Yufid.TV, Yufid EDU, dan Yufid Kids yang telah memproduksi 23.307 video dengan total 6.797.549 subscribers. Yufid juga mengelola situs website dan telah mempublikasikan 10.045 artikel yang tersebar di berbagai platform. Melalui laporan produktivitas ini, Yufid berusaha memberikan transparansi terhadap projek dan perkembangan tim, memperkuat keterlibatan pemirsa Yufid dan membangun wadah kreativitas bersama untuk penyebaran dakwah Islam. Yufid telah menjadi kekuatan signifikan dalam memberikan akses luas kepada pengetahuan dan informasi dakwah Islam, mencapai lebih dari 919.105.221 views di platform YouTube. Dengan komitmen pada misi non-profit kami, Yufid terus memberikan dampak positif dan berusaha untuk terus berkembang sembari mempertahankan transparansi dan keterlibatan pemirsa yang kuat. Channel YouTube YUFID.TV <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXfreFWdIIPXjfjnGo7-j_eIyrDLAyYteV_J8uewB5cFlnvFHsPypvEkXWbvtFfNyk2MIzSgLQyMcKbh1TE-lZyp6_dlFOt0fWlKlWPJiRVVP_lhLiCdNURdA9PobYpNsD5whX1iiw?key=GFGmTh2sqt2UJn8u4DUgVQ" alt=""/> Total Video Yufid.TV: 19.324 video Total Subscribers: 4.172.236 subscribers Total Tayangan Video: 729.424.096 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 111 video Produksi Video Juli 2025: 136 video Tayangan Video Juli 2025: 2.699.624 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 280.180 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +5.614 Selama bulan Juli 2025 tim Yufid menyiarkan 139 video live. Channel YouTube YUFID EDU <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXdlLsWMl0NBQqmH9Cu4YbNlZ_P7OvFlW3STy3LRtOVCHD_TEBaD9iqdAGPzflhWXbOKZjgiQNHj5ryQRiJmoe8oTNo3VYwcvLC221IbBjScI6CN0JMVbYtuFtu35bya8mGSTioQqA?key=GFGmTh2sqt2UJn8u4DUgVQ" alt=""/> Total Video Yufid Edu: 3.008 video Total Subscribers: 327.952 Total Tayangan Video: 22.400.001 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 21 video Produksi Video Juli 2025: 41 video Tayangan Video Juli 2025: 132.140 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 7.579 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +1.546 Channel YouTube YUFID KIDS <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXc2d97_KtM9sNz7vhvJ87qXsMPEcVkvrPkoSyv1YNBkxYs3sE0bIWIU7S3XnHNtJ1KqUzk_EDaMhjWfJB4CVde0un8pAt3LIfP-FBhE8XZLocynUNyYopy4RWYtjNGJVwl6k2UV?key=GFGmTh2sqt2UJn8u4DUgVQ" alt=""/> Total Video Yufid Kids: 91 video Total Subscribers: 528.913 Total Tayangan Video: 163.432.397 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 1 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 1.884.984 views Waktu Tayang Video Juli 2025: 98.619 jam Penambahan Subscribers Juli 2025: +4.987 Untuk memproduksi video Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Channel YouTube Dunia Mengaji  Channel Dunia Mengaji adalah untuk menampung video-video yang secara kualitas pengambilan gambar dan kualitas gambar jauh di bawah standar Yufid.TV, agar konten dakwah tetap bisa dinikmati oleh pemirsa. Total Video: 272 Total Subscribers: 4.990 Total Tayangan Video: 477.186 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 3 video Tayangan Video Juli 2025: 1.131 views Jam Tayang Video Juli 2025: 187 Jam Penambahan Subscribers Juli 2025: 6 Channel YouTube العلم نور  Channel “Al-’Ilmu Nuurun” ini merupakan wadah yang berisi ceramah singkat maupun kajian-kajian panjang dari Masyayikh dari Timur Tengah seperti Syaikh Sulaiman Ar-Ruhayli, Syaikh Utsman Al-Khomis, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahumullah dan masih banyak yang lainnya yang full menggunakan bahasa Arab. Cocok disimak para pemirsa Yufid.TV yang sudah menguasai bahasa Arab serta ingin belajar bersama guru-guru kita para alim ulama dari Saudi dan sekitarnya.  Total Video: 612 Total Subscribers: 57.000 Total Tayangan Video: 3.371.541 views Rata-rata Produksi Per Bulan: 8 video Produksi Video Juli 2025: 0 video Tayangan Video Juli 2025: 32.210 views Penambahan Subscribers Juli 2025: +400 Instagram Yufid TV & Instagram Yufid Network <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXcYm-IqccH7-mmoRGL6DdItOU8yddXyyljoZXAWLgoO6hYnVbjB-PLxJsGTwv4GyRMSLsF9-RUA_1w7IlEezNY_y3-pZcN5mVupXlqFbJheD626o-BOxIjijwkapddTQYCpnDo6?key=GFGmTh2sqt2UJn8u4DUgVQ" alt=""/> Instagram Yufid.TV Total Konten: 4.564 Postingan Total Pengikut: 1.189.320 followers Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +8.889 Instagram Yufid Network Total Konten: 4.476 Postingan Total Pengikut: 517.538 Konten Bulan Juli 2025: 60 Rata-Rata Produksi: 46 konten/bulan Penambahan Followers Juli 2025: +4.006 Pertama kali Yufid memanfaatkan media instagram memiliki nama Yufid Network yaitu sejak tahun 2013, sebelum akhirnya di buatlah akun Yufid.TV pada tahun 2015 agar lebih dikenal seiring dengan berkembangnya channel YouTube Yufid.TV.  Video Nasehat Ulama Salah satu project yang dikerjakan oleh tim Yufid.TV yaitu video Nasehat Ulama. Video pendek namun penuh dengan faedah berisi penggalan-penggalan nasehat serta jawaban dari pertanyaan kaum muslimin yang disampaikan ulama-ulama terkemuka. <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXeKb16DtTJrpy4yAM_N_B6fJo_jwZI69Q49K6bHzWEkQR1Mnwq3gkpXE-8Wco45mOmWwtWKWH9rmPe1tDmtFls61aqukFL2aFQRaFnZQX3MUImctxdvJ2KFHvw_XSJVeLIItPCNAQ?key=GFGmTh2sqt2UJn8u4DUgVQ" alt=""/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Nasehat Ulama di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 26 video. Nasehat Ulama juga membuat konten baru dengan konsep berbeda dengan tetap mengambil penggalan-penggalan nasehat para masyaikh berbahasa Arab dalam bentuk shorts YouTube dan reels Instagram. Video Motion Graphic & Yufid Kids Project unggulan lainnya dari Yufid.TV yaitu pembuatan video animasi motion graphic dan video Yufid Kids. Project motion graphic Yufid.TV memproduksi video-video berkualitas yang memadukan antara pemilihan tema yang tepat berupa potongan-potongan nasehat dari para ustadz atau ceramah-ceramah pendek yang diilustrasikan dalam bentuk animasi yang menarik. Sedangkan video Yufid Kids mengemas materi-materi pendidikan untuk anak yang disajikan dengan gambar animasi anak sehingga membuat anak-anak kita lebih bersemangat dalam mempelajarinya. <img decoding="async" src="https://lh7-rt.googleusercontent.com/docsz/AD_4nXchaZP0ZKvD1RBKdl2_oD7AgtVGYUidPae8d66f_IzNbAuSYcdTF0wqOx6Ygm9yPjrDM2Mk_mEf2e7QBHrwAjTvO-GRFiRhPukD5maUorO1L2XHXx8yVTtPL0ule9Kril6Ov_PC?key=GFGmTh2sqt2UJn8u4DUgVQ" alt=""/>Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, konten Motion Graphics di channel YouTube Yufid.TV telah mempublikasikan 5 video. Untuk memproduksi video Motion Graphic dan Yufid Kids membutuhkan waktu yang lebih panjang dan pekerjaan yang lebih kompleks, namun sejak awal produksi hingga video dipublikasikan tim tetap bekerja setiap harinya. Website KonsultasiSyariah.com KonsultasiSyariah.com merupakan sebuah website yang menyajikan berbagai tanya jawab seputar permasalahan agama dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus dan jawaban dipaparkan secara jelas dan ilmiah, berdasarkan dalil Al-Quran dan As-Sunnah serta keterangan para ulama. Hingga saat ini, website tersebut telah menuliskan 5.113 artikel yang berisi materi-materi permasalahan agama yang telah dijawab oleh para asatidz. Artikel dalam website KonsultasiSyariah.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk audio visual dengan teknik typography dan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 2.025 audio dan rata-rata menghasilkan 23 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Poster Dakwah Yufid.TV.  Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KonsultasiSyariah.com telah mempublikasikan 7 artikel.  Website KisahMuslim.com KisahMuslim.com berisi kumpulan kisah para Nabi dan Rasul, kisah para sahabat Nabi, kisah orang-orang shalih terdahulu, biografi ulama, dan berbagai kisah yang penuh hikmah. Dalam website tersebut sudah ada 1.134 artikel yang banyak kita ambil pelajarannya.  Artikel dalam website KisahMuslim.com juga kami tuangkan ke dalam bentuk Audio Visual dengan teknik typography serta ilustrasi yang menarik dengan dibantu oleh pengisi suara (voice over) yang telah memproduksi 669 audio dan rata-rata menghasilkan 16 audio per bulan yang siap dimasukkan ke dalam project video Kisah Muslim Yufid.TV. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KisahMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel.  Website KhotbahJumat.com KhotbahJumat.com berisi materi-materi khutbah yang bisa kita gunakan untuk mengisi khotbah pada ibadah shalat Jumat, terdapat 1.298 artikel hingga saat ini, yang sangat bermanfaat untuk para khatib dan da’i yang mengisi khutbah jumat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website KhotbahJumat.com telah mempublikasikan 3 artikel.  Website PengusahaMuslim.com PengusahaMuslim.com merupakan sebuah website yang mengupas seluk beluk dunia usaha dan bisnis guna membantu terbentuknya pengusaha muslim baik secara ekonomi maupun agamanya, yang pada akhirnya menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Terdapat 2.500 artikel dalam website tersebut yang dapat membantu Anda menjadi seorang pengusaha yang sukses, tidak hanya di dunia, namun kesuksesan tersebut abadi hingga ke negeri akhirat. Dalam sebulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, website PengusahaMuslim.com telah mempublikasikan 0 artikel. *Tim artikel Yufid yang terdiri dari penulis, penerjemah, editor, dan admin website menyiapkan konten untuk seluruh website yang dikelola oleh Yufid secara bergantian.  Website Kajian.net Kajian.net adalah situs koleksi audio ceramah berbahasa Indonesia terlengkap dari ustadz-ustadz Ahlussunnah wal Jamaah, audio bacaan doa dan hadits berformat mp3, serta software islami dan e-Book kitab-kitab para ulama besar.  Total audio yang tersedia dalam website kajian.net yaitu 33.021 file mp3 dengan total ukuran 463 Gb dan pada bulan Juli 2025 ini telah mempublikasikan 1.750 file mp3. Website Kajian.net bercita-cita sebagai gudang podcast kumpulan audio MP3 ceramah terlengkap yang dapat di download secara gratis dengan harapan dapat memudahkan Anda belajar hukum agama Islam dan aqidah Islam yang benar berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman salafush sholeh. Kami juga rutin mengupload audio MP3 seluruh kajian Yufid ke platform SoundCloud, Anda dapat mengaksesnya melalui https://soundcloud.com/kajiannet, yang pada bulan Juli 2025 ini saja telah didengarkan 18.188 kali dan telah di download sebanyak 352 file audio.  Project Terjemahan Project ini bertujuan menerjemahkan konten dakwah, baik itu artikel, buku, dan ceramah para ulama. Konten dakwah yang aslinya berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, konten yang sudah diterjemahkan tersebut diolah kembali menjadi konten video, mp3, e-book, dan artikel di website. Sejak memulai project ini pada tahun 2018, tim penerjemah Yufid telah menerjemahkan 4.378.101 kata dengan rata-rata produksi per bulan 53.391 kata. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, project terjemahan ini telah menerjemahkan 61.944 kata.  Perekaman Artikel Menjadi Audio Program ini adalah merekam seluruh artikel yang dipublikasikan di website-website Yufid seperti KonsultasiSyariah.com, PengusahaMuslim.com dan KisahMuslim.com ke dalam bentuk audio. Program ini bertujuan untuk memudahkan kaum muslimin mengakses konten dakwah dalam bentuk audio, terutama bagi mereka yang sibuk sehingga tidak ada kesempatan untuk membaca artikel. Mereka dapat mendengarkan audio yang sudah Yufid rekam sambil mereka beraktivitas, semisal di kendaraan, sambil bekerja, berolahraga, dan lain-lain. Total artikel yang sudah direkam dalam format audio sejak pertama dimulai program ini tahun 2017 yaitu 2645 artikel dengan total durasi audio 251 jam dengan rata-rata perekaman 28 artikel per bulan. Dalam 1 bulan terakhir yaitu bulan Juli 2025, perekaman audio yang telah diproduksi yaitu 21 artikel.  Pengelolaan Server Yufid mengelola tujuh server yang di dalamnya berisi website-website dakwah, ada server khusus untuk website Yufid, website yang telah dijelaskan pada point-point diatas hanya sebagian kecil dari website yang kami kelola, yaitu bertotal 29 website dalam satu server tersebut. Selain itu terdapat juga website para ulama yang diletakkan di server yang berbeda dari server Yufid, ada pula website-website dakwah, streaming radio dll. Dari ketujuh server yang Yufid kelola kurang lebih terdapat 107 website yang masih aktif hingga saat ini. Demikian telah kami sampaikan laporan produksi Yufid Network pada bulan Juli 2025. Wallahu a’lam… Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, walhamdulillahi rabbil ‘alamin. 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 33 times, 1 visit(s) today Post Views: 465 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Amalkan Ayat Ini Meski Sekali Seumur Hidup – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ketika turun firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali Imran: 92). Sejumlah Sahabat Nabi berlomba menginfakkan harta yang mereka cintai. Dahulu, jika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyukai sesuatu, beliau segera menginfakkannya. Beliau mengamalkan ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Sedangkan Allah Ta‘ala berfirman: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’ Maka ambillah kebun itu, wahai Rasulullah, dan salurkanlah sesuai yang Allah tunjukkan kepada Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wah! Wah! Itu adalah harta yang menguntungkan, harta yang menguntungkan! Namun menurutku, sebaiknya engkau menyalurkannya kepada kerabatmu.” Maka Abu Thalhah membaginya untuk kerabat dan para sepupunya. Lihatlah, betapa sigap Sahabat Nabi yang mulia ini dalam mengamalkan ayat tersebut! Ketika turun ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ia menyadari bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebun tersebut. Sehingga ia menyedekahkannya agar dapat meraih kebaikan yang disebutkan dalam ayat itu. Oleh sebab itu, hendaklah seorang muslim mengamalkan ayat ini meskipun hanya sekali seumur hidup. Jika ada harta yang engkau sukai, katakanlah, “Aku akan menyedekahkannya karena Allah…Semoga aku dapat meraih kebajikan yang disebutkan dalam ayat ini: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’” ===== لَمَّا نَزَلَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ تَسَابَقَ عَدَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فَأَنْفَقُوا مَا يُحِبُّونَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ إِذَا أَعْجَبَهُ شَيْءٌ أَنْفَقَهُ يَتَأَوَّلُ الْآيَةَ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ جَاءَ أَبُو طَلْحَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءُ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ فَخُذْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَضَعْهَا حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَخٍ بَخٍ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ وَإِنِّي لَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَجَعَلَهَا فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ فَانْظُرْ إِلَى مُسَارَعَةِ هَذَا الصَّحَابِيِّ الْجَلِيلِ لِتَطْبِيقِ الْآيَةِ لَمَّا نَزَلَتْ الْآيَةُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَجَدَ أَنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ هَذَا الْحَائِطُ هَذَا الْبُسْتَانُ فَتَصَدَّقَ بِهِ حَتَّى يَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُطَبِّقَ هَذِهِ الْآيَةَ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فِي حَيَاتِهِ إِذَا أَعْجَبَكَ شَيْءٌ مِنْ مَالِكَ قُلْ سَأَتَصَدَّقُ بِهِ لِلَّهِ لَعَلِّي أَنْ أَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Amalkan Ayat Ini Meski Sekali Seumur Hidup – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Ketika turun firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali Imran: 92). Sejumlah Sahabat Nabi berlomba menginfakkan harta yang mereka cintai. Dahulu, jika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyukai sesuatu, beliau segera menginfakkannya. Beliau mengamalkan ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Sedangkan Allah Ta‘ala berfirman: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’ Maka ambillah kebun itu, wahai Rasulullah, dan salurkanlah sesuai yang Allah tunjukkan kepada Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wah! Wah! Itu adalah harta yang menguntungkan, harta yang menguntungkan! Namun menurutku, sebaiknya engkau menyalurkannya kepada kerabatmu.” Maka Abu Thalhah membaginya untuk kerabat dan para sepupunya. Lihatlah, betapa sigap Sahabat Nabi yang mulia ini dalam mengamalkan ayat tersebut! Ketika turun ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ia menyadari bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebun tersebut. Sehingga ia menyedekahkannya agar dapat meraih kebaikan yang disebutkan dalam ayat itu. Oleh sebab itu, hendaklah seorang muslim mengamalkan ayat ini meskipun hanya sekali seumur hidup. Jika ada harta yang engkau sukai, katakanlah, “Aku akan menyedekahkannya karena Allah…Semoga aku dapat meraih kebajikan yang disebutkan dalam ayat ini: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’” ===== لَمَّا نَزَلَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ تَسَابَقَ عَدَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فَأَنْفَقُوا مَا يُحِبُّونَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ إِذَا أَعْجَبَهُ شَيْءٌ أَنْفَقَهُ يَتَأَوَّلُ الْآيَةَ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ جَاءَ أَبُو طَلْحَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءُ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ فَخُذْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَضَعْهَا حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَخٍ بَخٍ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ وَإِنِّي لَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَجَعَلَهَا فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ فَانْظُرْ إِلَى مُسَارَعَةِ هَذَا الصَّحَابِيِّ الْجَلِيلِ لِتَطْبِيقِ الْآيَةِ لَمَّا نَزَلَتْ الْآيَةُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَجَدَ أَنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ هَذَا الْحَائِطُ هَذَا الْبُسْتَانُ فَتَصَدَّقَ بِهِ حَتَّى يَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُطَبِّقَ هَذِهِ الْآيَةَ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فِي حَيَاتِهِ إِذَا أَعْجَبَكَ شَيْءٌ مِنْ مَالِكَ قُلْ سَأَتَصَدَّقُ بِهِ لِلَّهِ لَعَلِّي أَنْ أَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Ketika turun firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali Imran: 92). Sejumlah Sahabat Nabi berlomba menginfakkan harta yang mereka cintai. Dahulu, jika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyukai sesuatu, beliau segera menginfakkannya. Beliau mengamalkan ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Sedangkan Allah Ta‘ala berfirman: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’ Maka ambillah kebun itu, wahai Rasulullah, dan salurkanlah sesuai yang Allah tunjukkan kepada Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wah! Wah! Itu adalah harta yang menguntungkan, harta yang menguntungkan! Namun menurutku, sebaiknya engkau menyalurkannya kepada kerabatmu.” Maka Abu Thalhah membaginya untuk kerabat dan para sepupunya. Lihatlah, betapa sigap Sahabat Nabi yang mulia ini dalam mengamalkan ayat tersebut! Ketika turun ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ia menyadari bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebun tersebut. Sehingga ia menyedekahkannya agar dapat meraih kebaikan yang disebutkan dalam ayat itu. Oleh sebab itu, hendaklah seorang muslim mengamalkan ayat ini meskipun hanya sekali seumur hidup. Jika ada harta yang engkau sukai, katakanlah, “Aku akan menyedekahkannya karena Allah…Semoga aku dapat meraih kebajikan yang disebutkan dalam ayat ini: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’” ===== لَمَّا نَزَلَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ تَسَابَقَ عَدَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فَأَنْفَقُوا مَا يُحِبُّونَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ إِذَا أَعْجَبَهُ شَيْءٌ أَنْفَقَهُ يَتَأَوَّلُ الْآيَةَ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ جَاءَ أَبُو طَلْحَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءُ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ فَخُذْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَضَعْهَا حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَخٍ بَخٍ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ وَإِنِّي لَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَجَعَلَهَا فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ فَانْظُرْ إِلَى مُسَارَعَةِ هَذَا الصَّحَابِيِّ الْجَلِيلِ لِتَطْبِيقِ الْآيَةِ لَمَّا نَزَلَتْ الْآيَةُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَجَدَ أَنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ هَذَا الْحَائِطُ هَذَا الْبُسْتَانُ فَتَصَدَّقَ بِهِ حَتَّى يَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُطَبِّقَ هَذِهِ الْآيَةَ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فِي حَيَاتِهِ إِذَا أَعْجَبَكَ شَيْءٌ مِنْ مَالِكَ قُلْ سَأَتَصَدَّقُ بِهِ لِلَّهِ لَعَلِّي أَنْ أَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ


Ketika turun firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali Imran: 92). Sejumlah Sahabat Nabi berlomba menginfakkan harta yang mereka cintai. Dahulu, jika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyukai sesuatu, beliau segera menginfakkannya. Beliau mengamalkan ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Sedangkan Allah Ta‘ala berfirman: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’ Maka ambillah kebun itu, wahai Rasulullah, dan salurkanlah sesuai yang Allah tunjukkan kepada Anda.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wah! Wah! Itu adalah harta yang menguntungkan, harta yang menguntungkan! Namun menurutku, sebaiknya engkau menyalurkannya kepada kerabatmu.” Maka Abu Thalhah membaginya untuk kerabat dan para sepupunya. Lihatlah, betapa sigap Sahabat Nabi yang mulia ini dalam mengamalkan ayat tersebut! Ketika turun ayat: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” Ia menyadari bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebun tersebut. Sehingga ia menyedekahkannya agar dapat meraih kebaikan yang disebutkan dalam ayat itu. Oleh sebab itu, hendaklah seorang muslim mengamalkan ayat ini meskipun hanya sekali seumur hidup. Jika ada harta yang engkau sukai, katakanlah, “Aku akan menyedekahkannya karena Allah…Semoga aku dapat meraih kebajikan yang disebutkan dalam ayat ini: ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…’” ===== لَمَّا نَزَلَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ تَسَابَقَ عَدَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فَأَنْفَقُوا مَا يُحِبُّونَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ إِذَا أَعْجَبَهُ شَيْءٌ أَنْفَقَهُ يَتَأَوَّلُ الْآيَةَ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ جَاءَ أَبُو طَلْحَةَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءُ وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ فَخُذْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَضَعْهَا حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَخٍ بَخٍ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَاكَ مَالٌ رَابِحٌ وَإِنِّي لَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَجَعَلَهَا فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ فَانْظُرْ إِلَى مُسَارَعَةِ هَذَا الصَّحَابِيِّ الْجَلِيلِ لِتَطْبِيقِ الْآيَةِ لَمَّا نَزَلَتْ الْآيَةُ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَجَدَ أَنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ هَذَا الْحَائِطُ هَذَا الْبُسْتَانُ فَتَصَدَّقَ بِهِ حَتَّى يَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي الْآيَةِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُطَبِّقَ هَذِهِ الْآيَةَ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فِي حَيَاتِهِ إِذَا أَعْجَبَكَ شَيْءٌ مِنْ مَالِكَ قُلْ سَأَتَصَدَّقُ بِهِ لِلَّهِ لَعَلِّي أَنْ أَنَالَ الْبِرَّ الْمَذْكُورَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Jujur Mengakui Kesalahan: Jalan Memperbaiki Diri

Daftar Isi ToggleMengakui kesalahan lebih terhormatTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKisah kaum Nabi LuthBelajar mengakui kesalahan dari para NabiDalam kehidupan ini, tiada manusia yang tak luput dari kesalahan. Entah besar atau kecil, disengaja atau tidak, tiap dari kita pasti pernah tergelincir. Namun, yang membedakan adalah keberanian untuk mengakui kesalahan dan kejujuran dalam memperbaikinya.Allah Ta’ala berfirman,بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 14-15)Ayat di atas merupakan modal yang penting untuk berinteraksi dengan diri sendiri, karena sebagaimana orang lain memiliki kekurangan, diri kita pun juga mempunyai kekurangan.Ayat di atas juga dapat mengingatkan kita bahwa tidak ada yang lebih tahu tentang diri kita, selain diri kita sendiri. Mungkin kita bisa berdalih di depan manusia, menyusun kata-kata yang terdengar masuk akal, atau membungkus kesalahan dengan seribu alasan. Tapi, bagaimana ketika di hadapan nurani kita sendiri? Kita tahu, kita sadar, kita paham, bahwa ada sesuatu yang keliru.Yang seharusnya kita lakukan adalah berani jujur, baik itu kepada diri sendiri, jujur kepada Allah, maupun jujur kepada orang lain. Orang yang mempunyai sifat jujur, mengakui, serta memperbaiki kesalahannya, maka akan membuat hidupnya beruntung dan selamat.Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan (memperbaiki) jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Mengakui kesalahan lebih terhormatMengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, justru itulah puncak kehormatan. Orang yang berani berkata “Aku salah” sedang menunjukkan kekuatan dan keberanian jiwanya. Ia tidak sedang merendahkan diri, tapi sedang mengangkat derajatnya di hadapan manusia dan terlebih lagi, di hadapan Allah Ta’ala.Karena yang benar-benar mulia bukanlah mereka yang tak pernah salah; tapi mereka yang ketika salah, mereka jujur mengakuinya dan tulus memperbaikinya.Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, Shahih al-Targhib no. 3139)Dalam riwayat yang lain,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan kepada kebaikan; dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan; dan kejahatan akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)Baca juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKetika Iblis melakukan kesalahan dengan menolak perintah Allah Ta’ala untuk bersujud kepada Adam, bukannya mengakui kesalahan, akan tetapi ia malah melawan dan menyangkal dengan berbagai alasan. Ini sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya,قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shaad: 75-76)Kisah kaum Nabi LuthAllah Ta’ala berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?’Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.’” (QS. Al-A’raaf: 80-82)Dari ayat di atas, ketika kaum Nabi Luth ditegur akan kesalahan yang mereka lakukan, mereka malah membalas dengan cara mengusir Nabi Luth beserta pengikutnya dan mengatakan kepada Nabi Luth bahwa ia adalah orang yang sok suci.Belajar mengakui kesalahan dari para NabiOrang yang mulia adalah ketika ia diberikan taufik untuk mengakui dosa dan kesalahannya. Sebagaimana pengakuan oleh kedua nenek moyang kita, Nabi Adam dan istrinya Hawa, ketika mereka memakan buah (khuldi: kekekalan),قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)Hal ini pula yang dilakukan Nabi Musa ketika tidak sengaja membunuh seorang laki-laki dari kaum Qibthi,قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Musa berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri; karena itu, ampunilah aku.” Allah pun mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashash: 16)Bayangkan jika di dunia ini setiap orang bisa berkata, “Maaf, aku salah.”Bayangkan betapa banyak luka yang akan sembuh, betapa banyak hubungan yang akan pulih, dan betapa damainya hati yang terbebas dari beban pura-pura benar.Marilah kita belajar untuk tidak terlalu cepat menunjuk jari, dan lebih sering mengarahkan telunjuk itu kepada diri sendiri. Karena sebagaimana orang lain punya kekurangan, kita pun juga demikian. Dan hanya orang yang jujur pada kekurangannya yang akan benar-benar tumbuh menjadi lebih baik.Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi hamba yang rendah hati, jujur mengakui kesalahan, dan selalu siap memperbaiki diri. Aamiin.Baca juga: Sudah Jujurkah Kita?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Jujur Mengakui Kesalahan: Jalan Memperbaiki Diri

Daftar Isi ToggleMengakui kesalahan lebih terhormatTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKisah kaum Nabi LuthBelajar mengakui kesalahan dari para NabiDalam kehidupan ini, tiada manusia yang tak luput dari kesalahan. Entah besar atau kecil, disengaja atau tidak, tiap dari kita pasti pernah tergelincir. Namun, yang membedakan adalah keberanian untuk mengakui kesalahan dan kejujuran dalam memperbaikinya.Allah Ta’ala berfirman,بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 14-15)Ayat di atas merupakan modal yang penting untuk berinteraksi dengan diri sendiri, karena sebagaimana orang lain memiliki kekurangan, diri kita pun juga mempunyai kekurangan.Ayat di atas juga dapat mengingatkan kita bahwa tidak ada yang lebih tahu tentang diri kita, selain diri kita sendiri. Mungkin kita bisa berdalih di depan manusia, menyusun kata-kata yang terdengar masuk akal, atau membungkus kesalahan dengan seribu alasan. Tapi, bagaimana ketika di hadapan nurani kita sendiri? Kita tahu, kita sadar, kita paham, bahwa ada sesuatu yang keliru.Yang seharusnya kita lakukan adalah berani jujur, baik itu kepada diri sendiri, jujur kepada Allah, maupun jujur kepada orang lain. Orang yang mempunyai sifat jujur, mengakui, serta memperbaiki kesalahannya, maka akan membuat hidupnya beruntung dan selamat.Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan (memperbaiki) jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Mengakui kesalahan lebih terhormatMengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, justru itulah puncak kehormatan. Orang yang berani berkata “Aku salah” sedang menunjukkan kekuatan dan keberanian jiwanya. Ia tidak sedang merendahkan diri, tapi sedang mengangkat derajatnya di hadapan manusia dan terlebih lagi, di hadapan Allah Ta’ala.Karena yang benar-benar mulia bukanlah mereka yang tak pernah salah; tapi mereka yang ketika salah, mereka jujur mengakuinya dan tulus memperbaikinya.Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, Shahih al-Targhib no. 3139)Dalam riwayat yang lain,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan kepada kebaikan; dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan; dan kejahatan akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)Baca juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKetika Iblis melakukan kesalahan dengan menolak perintah Allah Ta’ala untuk bersujud kepada Adam, bukannya mengakui kesalahan, akan tetapi ia malah melawan dan menyangkal dengan berbagai alasan. Ini sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya,قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shaad: 75-76)Kisah kaum Nabi LuthAllah Ta’ala berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?’Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.’” (QS. Al-A’raaf: 80-82)Dari ayat di atas, ketika kaum Nabi Luth ditegur akan kesalahan yang mereka lakukan, mereka malah membalas dengan cara mengusir Nabi Luth beserta pengikutnya dan mengatakan kepada Nabi Luth bahwa ia adalah orang yang sok suci.Belajar mengakui kesalahan dari para NabiOrang yang mulia adalah ketika ia diberikan taufik untuk mengakui dosa dan kesalahannya. Sebagaimana pengakuan oleh kedua nenek moyang kita, Nabi Adam dan istrinya Hawa, ketika mereka memakan buah (khuldi: kekekalan),قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)Hal ini pula yang dilakukan Nabi Musa ketika tidak sengaja membunuh seorang laki-laki dari kaum Qibthi,قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Musa berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri; karena itu, ampunilah aku.” Allah pun mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashash: 16)Bayangkan jika di dunia ini setiap orang bisa berkata, “Maaf, aku salah.”Bayangkan betapa banyak luka yang akan sembuh, betapa banyak hubungan yang akan pulih, dan betapa damainya hati yang terbebas dari beban pura-pura benar.Marilah kita belajar untuk tidak terlalu cepat menunjuk jari, dan lebih sering mengarahkan telunjuk itu kepada diri sendiri. Karena sebagaimana orang lain punya kekurangan, kita pun juga demikian. Dan hanya orang yang jujur pada kekurangannya yang akan benar-benar tumbuh menjadi lebih baik.Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi hamba yang rendah hati, jujur mengakui kesalahan, dan selalu siap memperbaiki diri. Aamiin.Baca juga: Sudah Jujurkah Kita?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
Daftar Isi ToggleMengakui kesalahan lebih terhormatTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKisah kaum Nabi LuthBelajar mengakui kesalahan dari para NabiDalam kehidupan ini, tiada manusia yang tak luput dari kesalahan. Entah besar atau kecil, disengaja atau tidak, tiap dari kita pasti pernah tergelincir. Namun, yang membedakan adalah keberanian untuk mengakui kesalahan dan kejujuran dalam memperbaikinya.Allah Ta’ala berfirman,بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 14-15)Ayat di atas merupakan modal yang penting untuk berinteraksi dengan diri sendiri, karena sebagaimana orang lain memiliki kekurangan, diri kita pun juga mempunyai kekurangan.Ayat di atas juga dapat mengingatkan kita bahwa tidak ada yang lebih tahu tentang diri kita, selain diri kita sendiri. Mungkin kita bisa berdalih di depan manusia, menyusun kata-kata yang terdengar masuk akal, atau membungkus kesalahan dengan seribu alasan. Tapi, bagaimana ketika di hadapan nurani kita sendiri? Kita tahu, kita sadar, kita paham, bahwa ada sesuatu yang keliru.Yang seharusnya kita lakukan adalah berani jujur, baik itu kepada diri sendiri, jujur kepada Allah, maupun jujur kepada orang lain. Orang yang mempunyai sifat jujur, mengakui, serta memperbaiki kesalahannya, maka akan membuat hidupnya beruntung dan selamat.Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan (memperbaiki) jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Mengakui kesalahan lebih terhormatMengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, justru itulah puncak kehormatan. Orang yang berani berkata “Aku salah” sedang menunjukkan kekuatan dan keberanian jiwanya. Ia tidak sedang merendahkan diri, tapi sedang mengangkat derajatnya di hadapan manusia dan terlebih lagi, di hadapan Allah Ta’ala.Karena yang benar-benar mulia bukanlah mereka yang tak pernah salah; tapi mereka yang ketika salah, mereka jujur mengakuinya dan tulus memperbaikinya.Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, Shahih al-Targhib no. 3139)Dalam riwayat yang lain,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan kepada kebaikan; dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan; dan kejahatan akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)Baca juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKetika Iblis melakukan kesalahan dengan menolak perintah Allah Ta’ala untuk bersujud kepada Adam, bukannya mengakui kesalahan, akan tetapi ia malah melawan dan menyangkal dengan berbagai alasan. Ini sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya,قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shaad: 75-76)Kisah kaum Nabi LuthAllah Ta’ala berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?’Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.’” (QS. Al-A’raaf: 80-82)Dari ayat di atas, ketika kaum Nabi Luth ditegur akan kesalahan yang mereka lakukan, mereka malah membalas dengan cara mengusir Nabi Luth beserta pengikutnya dan mengatakan kepada Nabi Luth bahwa ia adalah orang yang sok suci.Belajar mengakui kesalahan dari para NabiOrang yang mulia adalah ketika ia diberikan taufik untuk mengakui dosa dan kesalahannya. Sebagaimana pengakuan oleh kedua nenek moyang kita, Nabi Adam dan istrinya Hawa, ketika mereka memakan buah (khuldi: kekekalan),قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)Hal ini pula yang dilakukan Nabi Musa ketika tidak sengaja membunuh seorang laki-laki dari kaum Qibthi,قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Musa berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri; karena itu, ampunilah aku.” Allah pun mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashash: 16)Bayangkan jika di dunia ini setiap orang bisa berkata, “Maaf, aku salah.”Bayangkan betapa banyak luka yang akan sembuh, betapa banyak hubungan yang akan pulih, dan betapa damainya hati yang terbebas dari beban pura-pura benar.Marilah kita belajar untuk tidak terlalu cepat menunjuk jari, dan lebih sering mengarahkan telunjuk itu kepada diri sendiri. Karena sebagaimana orang lain punya kekurangan, kita pun juga demikian. Dan hanya orang yang jujur pada kekurangannya yang akan benar-benar tumbuh menjadi lebih baik.Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi hamba yang rendah hati, jujur mengakui kesalahan, dan selalu siap memperbaiki diri. Aamiin.Baca juga: Sudah Jujurkah Kita?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.


Daftar Isi ToggleMengakui kesalahan lebih terhormatTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKisah kaum Nabi LuthBelajar mengakui kesalahan dari para NabiDalam kehidupan ini, tiada manusia yang tak luput dari kesalahan. Entah besar atau kecil, disengaja atau tidak, tiap dari kita pasti pernah tergelincir. Namun, yang membedakan adalah keberanian untuk mengakui kesalahan dan kejujuran dalam memperbaikinya.Allah Ta’ala berfirman,بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 14-15)Ayat di atas merupakan modal yang penting untuk berinteraksi dengan diri sendiri, karena sebagaimana orang lain memiliki kekurangan, diri kita pun juga mempunyai kekurangan.Ayat di atas juga dapat mengingatkan kita bahwa tidak ada yang lebih tahu tentang diri kita, selain diri kita sendiri. Mungkin kita bisa berdalih di depan manusia, menyusun kata-kata yang terdengar masuk akal, atau membungkus kesalahan dengan seribu alasan. Tapi, bagaimana ketika di hadapan nurani kita sendiri? Kita tahu, kita sadar, kita paham, bahwa ada sesuatu yang keliru.Yang seharusnya kita lakukan adalah berani jujur, baik itu kepada diri sendiri, jujur kepada Allah, maupun jujur kepada orang lain. Orang yang mempunyai sifat jujur, mengakui, serta memperbaiki kesalahannya, maka akan membuat hidupnya beruntung dan selamat.Allah Ta’ala berfirman,قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan (memperbaiki) jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)Mengakui kesalahan lebih terhormatMengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, justru itulah puncak kehormatan. Orang yang berani berkata “Aku salah” sedang menunjukkan kekuatan dan keberanian jiwanya. Ia tidak sedang merendahkan diri, tapi sedang mengangkat derajatnya di hadapan manusia dan terlebih lagi, di hadapan Allah Ta’ala.Karena yang benar-benar mulia bukanlah mereka yang tak pernah salah; tapi mereka yang ketika salah, mereka jujur mengakuinya dan tulus memperbaikinya.Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, Shahih al-Targhib no. 3139)Dalam riwayat yang lain,عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan kepada kebaikan; dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan; dan kejahatan akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)Baca juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan AmanahTidak mengakui kesalahan adalah warisan buruk Iblis dan kaum LuthKisah IblisKetika Iblis melakukan kesalahan dengan menolak perintah Allah Ta’ala untuk bersujud kepada Adam, bukannya mengakui kesalahan, akan tetapi ia malah melawan dan menyangkal dengan berbagai alasan. Ini sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya,قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shaad: 75-76)Kisah kaum Nabi LuthAllah Ta’ala berfirman,وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?’Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kota ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.’” (QS. Al-A’raaf: 80-82)Dari ayat di atas, ketika kaum Nabi Luth ditegur akan kesalahan yang mereka lakukan, mereka malah membalas dengan cara mengusir Nabi Luth beserta pengikutnya dan mengatakan kepada Nabi Luth bahwa ia adalah orang yang sok suci.Belajar mengakui kesalahan dari para NabiOrang yang mulia adalah ketika ia diberikan taufik untuk mengakui dosa dan kesalahannya. Sebagaimana pengakuan oleh kedua nenek moyang kita, Nabi Adam dan istrinya Hawa, ketika mereka memakan buah (khuldi: kekekalan),قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)Hal ini pula yang dilakukan Nabi Musa ketika tidak sengaja membunuh seorang laki-laki dari kaum Qibthi,قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ“Musa berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri; karena itu, ampunilah aku.” Allah pun mengampuninya. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashash: 16)Bayangkan jika di dunia ini setiap orang bisa berkata, “Maaf, aku salah.”Bayangkan betapa banyak luka yang akan sembuh, betapa banyak hubungan yang akan pulih, dan betapa damainya hati yang terbebas dari beban pura-pura benar.Marilah kita belajar untuk tidak terlalu cepat menunjuk jari, dan lebih sering mengarahkan telunjuk itu kepada diri sendiri. Karena sebagaimana orang lain punya kekurangan, kita pun juga demikian. Dan hanya orang yang jujur pada kekurangannya yang akan benar-benar tumbuh menjadi lebih baik.Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi hamba yang rendah hati, jujur mengakui kesalahan, dan selalu siap memperbaiki diri. Aamiin.Baca juga: Sudah Jujurkah Kita?***Penulis: Arif Muhammad NurwijayaArtikel Muslim.or.id Referensi:Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Kisah Jihad Syekhul Islam Ibnu Taimiyah (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePerang melawan bangsa TartarPerang melawan kaum NasraniJihad melawan Rafidhah dan para penyerangUlama rabbani adalah hamba Allah Ta’ala dalam setiap waktu dan keadaan. Jika ia berada di masjid, maka ia adalah pengajar, pemberi nasihat, dan pembimbing. Jika ia berada di mimbar, maka ia adalah khatib yang fasih dan berpengaruh. Jika ia berada di jalan, maka ia selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau memberikan nasihat. Dan jika panggilan jihad berkumandang, ia adalah yang pertama memenuhi seruan itu. Jika dua pasukan bertempur, ia adalah pejuang yang gagah berani, pembela yang berani dan tangguh. Jika ada tempat kosong di garis pertahanan, ia adalah yang pertama mengisinya karena ia mengetahui keutamaannya dan betapa pentingnya hal itu.Ulama juga masuk ke tengah barisan, menyemangati para prajurit, mengangkat semangat mereka, membacakan ayat-ayat tentang jihad, syahid, dan penjagaan perbatasan, serta menjanjikan kemenangan yang telah Allah janjikan kepada mereka. Inilah yang menjadi keadaan Ibnu Taimiyah.Keberaniannya di medan perang telah menjadi kisah yang dikenang banyak orang, baik dari mereka yang sezaman dengannya maupun yang menuliskan biografinya. Ia menghadapi kematian dengan gagah berani saat bertemu musuh, dan para pejuang tidak melihatnya kecuali setelah pertempuran usai. Namun, saat perang berlangsung, siapa pun yang melihatnya akan melihatnya seperti singa perkasa yang menyerang dengan gagah, bergerak lincah, bertempur melawan musuh dengan penuh keberanian, mengharapkan syahid.Jika ia melihat pasukan lemah, ragu, atau takut, ia menyemangati mereka, menguatkan hati mereka dengan membacakan ayat-ayat jihad. Mereka yang melihatnya berperang dan menunjukkan keberaniannya pun ikut bersemangat. Menelusuri semua pertempuran yang diikuti oleh Ibnu Taimiyah serta mencatat seluruh keberaniannya bukanlah tugas yang mudah. Bahkan jika bisa dihitung, mencatat dan merangkumnya akan membutuhkan tulisan yang panjang. Namun, kita dapat merujuk pada beberapa peristiwa yang menunjukkan keberanian dan ketegasannya terhadap berbagai musuh, yaitu sebagai berikut:1) Jihad dan pertempurannya melawan bangsa Tartar;2) Jihad dan pertempurannya melawan kaum Nasrani;3) Jihadnya melawan kaum Rafidhah dan para penyerang lainnya. [1]Perang melawan bangsa TartarSalah satu peristiwa penting adalah sikapnya terhadap Raja Tartar, Ghazan. Pada tahun 699 H, ia bersama delegasi dari tokoh-tokoh terkemuka Damaskus pergi menemui raja tersebut. Dalam pertemuan itu, Ibnu Taimiyah berbicara dengan tegas dan keras kepada Ghazan. Keberanian dan ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran menjadi salah satu faktor yang membuat raja tersebut tidak menyerang Damaskus.Setelah pasukan Tartar pergi, masyarakat tetap merasa takut akan kemungkinan mereka kembali menyerang. Oleh karena itu, penduduk berkumpul di sekitar tembok kota untuk menjaga dan mempertahankan negeri mereka. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berkeliling di antara mereka, menguatkan hati mereka, dan menanamkan keteguhan dalam diri mereka.Kemudian, pada tahun 700 H, tersebar kabar bahwa pasukan Tartar akan kembali menyerang Syam. Ketakutan pun melanda masyarakat. Banyak pejabat, bangsawan, serta ulama yang melarikan diri. Namun, Ibnu Taimiyah tetap teguh dan duduk di masjid besar (masjid Jami’), mengobarkan semangat jihad di tengah masyarakat, melarang mereka untuk lari, dan mendorong mereka agar berinfak di jalan Allah.Ketika tersebar kabar bahwa Sultan mundur dari peperangan, Ibnu Taimiyah segera melakukan perjalanan menemuinya. Ia pergi ke Mesir untuk mendorong Sultan agar tetap berjuang dan menguatkan hatinya, serta menjanjikannya kemenangan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan nada tegas, ia berkata kepada Sultan, “Jika kalian berpaling dari Syam dan tidak melindunginya, maka kami akan mengangkat seorang pemimpin yang akan menjaganya dan mengelolanya di masa damai.” [2]Keberanian Ibnu Taimiyah semakin bersinar dalam jihadnya pada perang Syakhab tahun 702 H. Ia mengobarkan semangat jihad, menguatkan hati Sultan, para panglima, serta para tentara, dan menjanjikan mereka kemenangan. Ia mendatangi Khalifah dan Sultan secara bergantian, menyemangati mereka, dan menguatkan mental mereka.Hingga akhirnya, Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin. Setelah kemenangan itu, kedudukan Ibnu Taimiyah semakin tinggi di mata rakyat dan para pemimpin. Semua orang menyadari keutamaan dan perannya yang besar dalam meraih kemenangan tersebut.Perang melawan kaum NasraniAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani, hal ini diceritakan oleh murid sekaligus sahabatnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, berdasarkan kesaksian orang-orang yang melihatnya langsung. Ia berkata,“Mereka menceritakan bahwa mereka melihat keberanian luar biasa yang sulit digambarkan dengan kata-kata di dalam diri Ibnu Taimiyah dalam penaklukan ‘Akka. Mereka berkata, ‘Bahkan, beliaulah yang menjadi penyebab utama keberhasilan kaum Muslimin dalam menaklukkan kota itu, berkat tindakan dan nasihatnya.’” [3]Kemudian, di antara perjuangan Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani adalah peristiwa ketika Sultan Ghazan menguasai kota Damaskus. Saat itu, Raja Karaj datang kepadanya dan menawarkan harta yang sangat banyak sebagai imbalan agar ia diberi kesempatan untuk membantai kaum Muslimin di Damaskus.Ketika berita ini sampai kepada Ibnu Taimiyah, ia segera bangkit tanpa ragu, menyemangati kaum Muslimin, mendorong mereka untuk meraih syahid, serta menjanjikan kemenangan, keamanan, dan hilangnya ketakutan. Maka, sejumlah tokoh dan pemuka dari Damaskus berangkat bersamanya menuju Sultan Ghazan.Ketika mereka tiba di hadapan Sultan, ia bertanya, “Siapa mereka ini?”Dijawab, “Mereka adalah para pemimpin Damaskus.”Maka Sultan pun mengizinkan mereka masuk.Ibnu Taimiyah maju terlebih dahulu, dan saat Sultan Ghazan melihatnya, Allah menanamkan rasa segan yang besar dalam hatinya. Sultan segera mendekatkannya dan mempersilakannya duduk. Kemudian, Ibnu Taimiyah mulai berbicara, menolak keputusan Sultan yang hendak memberikan kekuasaan kepada Raja Karaj untuk membantai kaum Muslimin. Ia juga menjamin akan mengumpulkan harta sebagai pengganti tawaran Raja Karaj, serta mengingatkan Sultan tentang keharaman menumpahkan darah kaum Muslimin.Dengan penuh hikmah, ia menasihati dan memberi peringatan kepada Sultan Ghazan. Akhirnya, Sultan menerima nasihatnya dengan sukarela dan membatalkan rencana tersebut. Dengan demikian, berkat perjuangan Ibnu Taimiyah, darah kaum Muslimin terselamatkan, anak-anak mereka terlindungi, dan kehormatan mereka tetap terjaga. [4]Dari kisah ini, jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani tidak hanya berupa pertempuran langsung dengan pedang, tetapi juga perjuangan melalui diplomasi, yaitu dengan menggagalkan rencana mereka untuk membantai kaum Muslimin melalui persekutuan dengan pasukan Tartar.Jihad melawan Rafidhah dan para penyerangAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Rafidhah dan para penyerang, salah satu peristiwanya terjadi pada tahun 704 H. Saat itu, beliau terus berjuang dengan penuh keteguhan melawan penduduk pegunungan Kisrawan. Beliau mengirim surat ke berbagai wilayah Syam, mendorong umat Islam untuk memerangi mereka, serta menegaskan bahwa perang ini adalah bagian dari jihad di jalan Allah.Kemudian, beliau sendiri memimpin pasukan untuk menyerang wilayah tersebut, bersama dengan pemimpin wilayah (wakil Sultan) dan pasukan yang menyertainya. Mereka terus mengepung penduduk Kisrawan hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. [5]Setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, penduduk Kisrawan diusir, fitnah mereka dipadamkan, dan mereka dipaksa untuk mengikuti syariat Islam dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Taimiyyah, karya Syaikh Muhammad Abu Zuhroh, hal. 36; dengan sedikit pengubahan oleh penulis.[2] Al-Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir, 14: 15.[3] Al-A’lam Al-‘Aliyyah, karya Al-Hafizh Al-Bazzar, hal. 30; dengan sedikit perubahan.[4] Ibid, hal. 63-64; dengan sedikit perubahan.[5] Al-‘Uqud Ad-Durriyyah, karya Ibnu Abdi Al-Hadi, hal. 148-149; dengan sedikit perubahan.

Kisah Jihad Syekhul Islam Ibnu Taimiyah (Bag. 1)

Daftar Isi TogglePerang melawan bangsa TartarPerang melawan kaum NasraniJihad melawan Rafidhah dan para penyerangUlama rabbani adalah hamba Allah Ta’ala dalam setiap waktu dan keadaan. Jika ia berada di masjid, maka ia adalah pengajar, pemberi nasihat, dan pembimbing. Jika ia berada di mimbar, maka ia adalah khatib yang fasih dan berpengaruh. Jika ia berada di jalan, maka ia selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau memberikan nasihat. Dan jika panggilan jihad berkumandang, ia adalah yang pertama memenuhi seruan itu. Jika dua pasukan bertempur, ia adalah pejuang yang gagah berani, pembela yang berani dan tangguh. Jika ada tempat kosong di garis pertahanan, ia adalah yang pertama mengisinya karena ia mengetahui keutamaannya dan betapa pentingnya hal itu.Ulama juga masuk ke tengah barisan, menyemangati para prajurit, mengangkat semangat mereka, membacakan ayat-ayat tentang jihad, syahid, dan penjagaan perbatasan, serta menjanjikan kemenangan yang telah Allah janjikan kepada mereka. Inilah yang menjadi keadaan Ibnu Taimiyah.Keberaniannya di medan perang telah menjadi kisah yang dikenang banyak orang, baik dari mereka yang sezaman dengannya maupun yang menuliskan biografinya. Ia menghadapi kematian dengan gagah berani saat bertemu musuh, dan para pejuang tidak melihatnya kecuali setelah pertempuran usai. Namun, saat perang berlangsung, siapa pun yang melihatnya akan melihatnya seperti singa perkasa yang menyerang dengan gagah, bergerak lincah, bertempur melawan musuh dengan penuh keberanian, mengharapkan syahid.Jika ia melihat pasukan lemah, ragu, atau takut, ia menyemangati mereka, menguatkan hati mereka dengan membacakan ayat-ayat jihad. Mereka yang melihatnya berperang dan menunjukkan keberaniannya pun ikut bersemangat. Menelusuri semua pertempuran yang diikuti oleh Ibnu Taimiyah serta mencatat seluruh keberaniannya bukanlah tugas yang mudah. Bahkan jika bisa dihitung, mencatat dan merangkumnya akan membutuhkan tulisan yang panjang. Namun, kita dapat merujuk pada beberapa peristiwa yang menunjukkan keberanian dan ketegasannya terhadap berbagai musuh, yaitu sebagai berikut:1) Jihad dan pertempurannya melawan bangsa Tartar;2) Jihad dan pertempurannya melawan kaum Nasrani;3) Jihadnya melawan kaum Rafidhah dan para penyerang lainnya. [1]Perang melawan bangsa TartarSalah satu peristiwa penting adalah sikapnya terhadap Raja Tartar, Ghazan. Pada tahun 699 H, ia bersama delegasi dari tokoh-tokoh terkemuka Damaskus pergi menemui raja tersebut. Dalam pertemuan itu, Ibnu Taimiyah berbicara dengan tegas dan keras kepada Ghazan. Keberanian dan ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran menjadi salah satu faktor yang membuat raja tersebut tidak menyerang Damaskus.Setelah pasukan Tartar pergi, masyarakat tetap merasa takut akan kemungkinan mereka kembali menyerang. Oleh karena itu, penduduk berkumpul di sekitar tembok kota untuk menjaga dan mempertahankan negeri mereka. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berkeliling di antara mereka, menguatkan hati mereka, dan menanamkan keteguhan dalam diri mereka.Kemudian, pada tahun 700 H, tersebar kabar bahwa pasukan Tartar akan kembali menyerang Syam. Ketakutan pun melanda masyarakat. Banyak pejabat, bangsawan, serta ulama yang melarikan diri. Namun, Ibnu Taimiyah tetap teguh dan duduk di masjid besar (masjid Jami’), mengobarkan semangat jihad di tengah masyarakat, melarang mereka untuk lari, dan mendorong mereka agar berinfak di jalan Allah.Ketika tersebar kabar bahwa Sultan mundur dari peperangan, Ibnu Taimiyah segera melakukan perjalanan menemuinya. Ia pergi ke Mesir untuk mendorong Sultan agar tetap berjuang dan menguatkan hatinya, serta menjanjikannya kemenangan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan nada tegas, ia berkata kepada Sultan, “Jika kalian berpaling dari Syam dan tidak melindunginya, maka kami akan mengangkat seorang pemimpin yang akan menjaganya dan mengelolanya di masa damai.” [2]Keberanian Ibnu Taimiyah semakin bersinar dalam jihadnya pada perang Syakhab tahun 702 H. Ia mengobarkan semangat jihad, menguatkan hati Sultan, para panglima, serta para tentara, dan menjanjikan mereka kemenangan. Ia mendatangi Khalifah dan Sultan secara bergantian, menyemangati mereka, dan menguatkan mental mereka.Hingga akhirnya, Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin. Setelah kemenangan itu, kedudukan Ibnu Taimiyah semakin tinggi di mata rakyat dan para pemimpin. Semua orang menyadari keutamaan dan perannya yang besar dalam meraih kemenangan tersebut.Perang melawan kaum NasraniAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani, hal ini diceritakan oleh murid sekaligus sahabatnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, berdasarkan kesaksian orang-orang yang melihatnya langsung. Ia berkata,“Mereka menceritakan bahwa mereka melihat keberanian luar biasa yang sulit digambarkan dengan kata-kata di dalam diri Ibnu Taimiyah dalam penaklukan ‘Akka. Mereka berkata, ‘Bahkan, beliaulah yang menjadi penyebab utama keberhasilan kaum Muslimin dalam menaklukkan kota itu, berkat tindakan dan nasihatnya.’” [3]Kemudian, di antara perjuangan Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani adalah peristiwa ketika Sultan Ghazan menguasai kota Damaskus. Saat itu, Raja Karaj datang kepadanya dan menawarkan harta yang sangat banyak sebagai imbalan agar ia diberi kesempatan untuk membantai kaum Muslimin di Damaskus.Ketika berita ini sampai kepada Ibnu Taimiyah, ia segera bangkit tanpa ragu, menyemangati kaum Muslimin, mendorong mereka untuk meraih syahid, serta menjanjikan kemenangan, keamanan, dan hilangnya ketakutan. Maka, sejumlah tokoh dan pemuka dari Damaskus berangkat bersamanya menuju Sultan Ghazan.Ketika mereka tiba di hadapan Sultan, ia bertanya, “Siapa mereka ini?”Dijawab, “Mereka adalah para pemimpin Damaskus.”Maka Sultan pun mengizinkan mereka masuk.Ibnu Taimiyah maju terlebih dahulu, dan saat Sultan Ghazan melihatnya, Allah menanamkan rasa segan yang besar dalam hatinya. Sultan segera mendekatkannya dan mempersilakannya duduk. Kemudian, Ibnu Taimiyah mulai berbicara, menolak keputusan Sultan yang hendak memberikan kekuasaan kepada Raja Karaj untuk membantai kaum Muslimin. Ia juga menjamin akan mengumpulkan harta sebagai pengganti tawaran Raja Karaj, serta mengingatkan Sultan tentang keharaman menumpahkan darah kaum Muslimin.Dengan penuh hikmah, ia menasihati dan memberi peringatan kepada Sultan Ghazan. Akhirnya, Sultan menerima nasihatnya dengan sukarela dan membatalkan rencana tersebut. Dengan demikian, berkat perjuangan Ibnu Taimiyah, darah kaum Muslimin terselamatkan, anak-anak mereka terlindungi, dan kehormatan mereka tetap terjaga. [4]Dari kisah ini, jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani tidak hanya berupa pertempuran langsung dengan pedang, tetapi juga perjuangan melalui diplomasi, yaitu dengan menggagalkan rencana mereka untuk membantai kaum Muslimin melalui persekutuan dengan pasukan Tartar.Jihad melawan Rafidhah dan para penyerangAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Rafidhah dan para penyerang, salah satu peristiwanya terjadi pada tahun 704 H. Saat itu, beliau terus berjuang dengan penuh keteguhan melawan penduduk pegunungan Kisrawan. Beliau mengirim surat ke berbagai wilayah Syam, mendorong umat Islam untuk memerangi mereka, serta menegaskan bahwa perang ini adalah bagian dari jihad di jalan Allah.Kemudian, beliau sendiri memimpin pasukan untuk menyerang wilayah tersebut, bersama dengan pemimpin wilayah (wakil Sultan) dan pasukan yang menyertainya. Mereka terus mengepung penduduk Kisrawan hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. [5]Setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, penduduk Kisrawan diusir, fitnah mereka dipadamkan, dan mereka dipaksa untuk mengikuti syariat Islam dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Taimiyyah, karya Syaikh Muhammad Abu Zuhroh, hal. 36; dengan sedikit pengubahan oleh penulis.[2] Al-Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir, 14: 15.[3] Al-A’lam Al-‘Aliyyah, karya Al-Hafizh Al-Bazzar, hal. 30; dengan sedikit perubahan.[4] Ibid, hal. 63-64; dengan sedikit perubahan.[5] Al-‘Uqud Ad-Durriyyah, karya Ibnu Abdi Al-Hadi, hal. 148-149; dengan sedikit perubahan.
Daftar Isi TogglePerang melawan bangsa TartarPerang melawan kaum NasraniJihad melawan Rafidhah dan para penyerangUlama rabbani adalah hamba Allah Ta’ala dalam setiap waktu dan keadaan. Jika ia berada di masjid, maka ia adalah pengajar, pemberi nasihat, dan pembimbing. Jika ia berada di mimbar, maka ia adalah khatib yang fasih dan berpengaruh. Jika ia berada di jalan, maka ia selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau memberikan nasihat. Dan jika panggilan jihad berkumandang, ia adalah yang pertama memenuhi seruan itu. Jika dua pasukan bertempur, ia adalah pejuang yang gagah berani, pembela yang berani dan tangguh. Jika ada tempat kosong di garis pertahanan, ia adalah yang pertama mengisinya karena ia mengetahui keutamaannya dan betapa pentingnya hal itu.Ulama juga masuk ke tengah barisan, menyemangati para prajurit, mengangkat semangat mereka, membacakan ayat-ayat tentang jihad, syahid, dan penjagaan perbatasan, serta menjanjikan kemenangan yang telah Allah janjikan kepada mereka. Inilah yang menjadi keadaan Ibnu Taimiyah.Keberaniannya di medan perang telah menjadi kisah yang dikenang banyak orang, baik dari mereka yang sezaman dengannya maupun yang menuliskan biografinya. Ia menghadapi kematian dengan gagah berani saat bertemu musuh, dan para pejuang tidak melihatnya kecuali setelah pertempuran usai. Namun, saat perang berlangsung, siapa pun yang melihatnya akan melihatnya seperti singa perkasa yang menyerang dengan gagah, bergerak lincah, bertempur melawan musuh dengan penuh keberanian, mengharapkan syahid.Jika ia melihat pasukan lemah, ragu, atau takut, ia menyemangati mereka, menguatkan hati mereka dengan membacakan ayat-ayat jihad. Mereka yang melihatnya berperang dan menunjukkan keberaniannya pun ikut bersemangat. Menelusuri semua pertempuran yang diikuti oleh Ibnu Taimiyah serta mencatat seluruh keberaniannya bukanlah tugas yang mudah. Bahkan jika bisa dihitung, mencatat dan merangkumnya akan membutuhkan tulisan yang panjang. Namun, kita dapat merujuk pada beberapa peristiwa yang menunjukkan keberanian dan ketegasannya terhadap berbagai musuh, yaitu sebagai berikut:1) Jihad dan pertempurannya melawan bangsa Tartar;2) Jihad dan pertempurannya melawan kaum Nasrani;3) Jihadnya melawan kaum Rafidhah dan para penyerang lainnya. [1]Perang melawan bangsa TartarSalah satu peristiwa penting adalah sikapnya terhadap Raja Tartar, Ghazan. Pada tahun 699 H, ia bersama delegasi dari tokoh-tokoh terkemuka Damaskus pergi menemui raja tersebut. Dalam pertemuan itu, Ibnu Taimiyah berbicara dengan tegas dan keras kepada Ghazan. Keberanian dan ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran menjadi salah satu faktor yang membuat raja tersebut tidak menyerang Damaskus.Setelah pasukan Tartar pergi, masyarakat tetap merasa takut akan kemungkinan mereka kembali menyerang. Oleh karena itu, penduduk berkumpul di sekitar tembok kota untuk menjaga dan mempertahankan negeri mereka. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berkeliling di antara mereka, menguatkan hati mereka, dan menanamkan keteguhan dalam diri mereka.Kemudian, pada tahun 700 H, tersebar kabar bahwa pasukan Tartar akan kembali menyerang Syam. Ketakutan pun melanda masyarakat. Banyak pejabat, bangsawan, serta ulama yang melarikan diri. Namun, Ibnu Taimiyah tetap teguh dan duduk di masjid besar (masjid Jami’), mengobarkan semangat jihad di tengah masyarakat, melarang mereka untuk lari, dan mendorong mereka agar berinfak di jalan Allah.Ketika tersebar kabar bahwa Sultan mundur dari peperangan, Ibnu Taimiyah segera melakukan perjalanan menemuinya. Ia pergi ke Mesir untuk mendorong Sultan agar tetap berjuang dan menguatkan hatinya, serta menjanjikannya kemenangan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan nada tegas, ia berkata kepada Sultan, “Jika kalian berpaling dari Syam dan tidak melindunginya, maka kami akan mengangkat seorang pemimpin yang akan menjaganya dan mengelolanya di masa damai.” [2]Keberanian Ibnu Taimiyah semakin bersinar dalam jihadnya pada perang Syakhab tahun 702 H. Ia mengobarkan semangat jihad, menguatkan hati Sultan, para panglima, serta para tentara, dan menjanjikan mereka kemenangan. Ia mendatangi Khalifah dan Sultan secara bergantian, menyemangati mereka, dan menguatkan mental mereka.Hingga akhirnya, Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin. Setelah kemenangan itu, kedudukan Ibnu Taimiyah semakin tinggi di mata rakyat dan para pemimpin. Semua orang menyadari keutamaan dan perannya yang besar dalam meraih kemenangan tersebut.Perang melawan kaum NasraniAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani, hal ini diceritakan oleh murid sekaligus sahabatnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, berdasarkan kesaksian orang-orang yang melihatnya langsung. Ia berkata,“Mereka menceritakan bahwa mereka melihat keberanian luar biasa yang sulit digambarkan dengan kata-kata di dalam diri Ibnu Taimiyah dalam penaklukan ‘Akka. Mereka berkata, ‘Bahkan, beliaulah yang menjadi penyebab utama keberhasilan kaum Muslimin dalam menaklukkan kota itu, berkat tindakan dan nasihatnya.’” [3]Kemudian, di antara perjuangan Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani adalah peristiwa ketika Sultan Ghazan menguasai kota Damaskus. Saat itu, Raja Karaj datang kepadanya dan menawarkan harta yang sangat banyak sebagai imbalan agar ia diberi kesempatan untuk membantai kaum Muslimin di Damaskus.Ketika berita ini sampai kepada Ibnu Taimiyah, ia segera bangkit tanpa ragu, menyemangati kaum Muslimin, mendorong mereka untuk meraih syahid, serta menjanjikan kemenangan, keamanan, dan hilangnya ketakutan. Maka, sejumlah tokoh dan pemuka dari Damaskus berangkat bersamanya menuju Sultan Ghazan.Ketika mereka tiba di hadapan Sultan, ia bertanya, “Siapa mereka ini?”Dijawab, “Mereka adalah para pemimpin Damaskus.”Maka Sultan pun mengizinkan mereka masuk.Ibnu Taimiyah maju terlebih dahulu, dan saat Sultan Ghazan melihatnya, Allah menanamkan rasa segan yang besar dalam hatinya. Sultan segera mendekatkannya dan mempersilakannya duduk. Kemudian, Ibnu Taimiyah mulai berbicara, menolak keputusan Sultan yang hendak memberikan kekuasaan kepada Raja Karaj untuk membantai kaum Muslimin. Ia juga menjamin akan mengumpulkan harta sebagai pengganti tawaran Raja Karaj, serta mengingatkan Sultan tentang keharaman menumpahkan darah kaum Muslimin.Dengan penuh hikmah, ia menasihati dan memberi peringatan kepada Sultan Ghazan. Akhirnya, Sultan menerima nasihatnya dengan sukarela dan membatalkan rencana tersebut. Dengan demikian, berkat perjuangan Ibnu Taimiyah, darah kaum Muslimin terselamatkan, anak-anak mereka terlindungi, dan kehormatan mereka tetap terjaga. [4]Dari kisah ini, jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani tidak hanya berupa pertempuran langsung dengan pedang, tetapi juga perjuangan melalui diplomasi, yaitu dengan menggagalkan rencana mereka untuk membantai kaum Muslimin melalui persekutuan dengan pasukan Tartar.Jihad melawan Rafidhah dan para penyerangAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Rafidhah dan para penyerang, salah satu peristiwanya terjadi pada tahun 704 H. Saat itu, beliau terus berjuang dengan penuh keteguhan melawan penduduk pegunungan Kisrawan. Beliau mengirim surat ke berbagai wilayah Syam, mendorong umat Islam untuk memerangi mereka, serta menegaskan bahwa perang ini adalah bagian dari jihad di jalan Allah.Kemudian, beliau sendiri memimpin pasukan untuk menyerang wilayah tersebut, bersama dengan pemimpin wilayah (wakil Sultan) dan pasukan yang menyertainya. Mereka terus mengepung penduduk Kisrawan hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. [5]Setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, penduduk Kisrawan diusir, fitnah mereka dipadamkan, dan mereka dipaksa untuk mengikuti syariat Islam dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Taimiyyah, karya Syaikh Muhammad Abu Zuhroh, hal. 36; dengan sedikit pengubahan oleh penulis.[2] Al-Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir, 14: 15.[3] Al-A’lam Al-‘Aliyyah, karya Al-Hafizh Al-Bazzar, hal. 30; dengan sedikit perubahan.[4] Ibid, hal. 63-64; dengan sedikit perubahan.[5] Al-‘Uqud Ad-Durriyyah, karya Ibnu Abdi Al-Hadi, hal. 148-149; dengan sedikit perubahan.


Daftar Isi TogglePerang melawan bangsa TartarPerang melawan kaum NasraniJihad melawan Rafidhah dan para penyerangUlama rabbani adalah hamba Allah Ta’ala dalam setiap waktu dan keadaan. Jika ia berada di masjid, maka ia adalah pengajar, pemberi nasihat, dan pembimbing. Jika ia berada di mimbar, maka ia adalah khatib yang fasih dan berpengaruh. Jika ia berada di jalan, maka ia selalu berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau memberikan nasihat. Dan jika panggilan jihad berkumandang, ia adalah yang pertama memenuhi seruan itu. Jika dua pasukan bertempur, ia adalah pejuang yang gagah berani, pembela yang berani dan tangguh. Jika ada tempat kosong di garis pertahanan, ia adalah yang pertama mengisinya karena ia mengetahui keutamaannya dan betapa pentingnya hal itu.Ulama juga masuk ke tengah barisan, menyemangati para prajurit, mengangkat semangat mereka, membacakan ayat-ayat tentang jihad, syahid, dan penjagaan perbatasan, serta menjanjikan kemenangan yang telah Allah janjikan kepada mereka. Inilah yang menjadi keadaan Ibnu Taimiyah.Keberaniannya di medan perang telah menjadi kisah yang dikenang banyak orang, baik dari mereka yang sezaman dengannya maupun yang menuliskan biografinya. Ia menghadapi kematian dengan gagah berani saat bertemu musuh, dan para pejuang tidak melihatnya kecuali setelah pertempuran usai. Namun, saat perang berlangsung, siapa pun yang melihatnya akan melihatnya seperti singa perkasa yang menyerang dengan gagah, bergerak lincah, bertempur melawan musuh dengan penuh keberanian, mengharapkan syahid.Jika ia melihat pasukan lemah, ragu, atau takut, ia menyemangati mereka, menguatkan hati mereka dengan membacakan ayat-ayat jihad. Mereka yang melihatnya berperang dan menunjukkan keberaniannya pun ikut bersemangat. Menelusuri semua pertempuran yang diikuti oleh Ibnu Taimiyah serta mencatat seluruh keberaniannya bukanlah tugas yang mudah. Bahkan jika bisa dihitung, mencatat dan merangkumnya akan membutuhkan tulisan yang panjang. Namun, kita dapat merujuk pada beberapa peristiwa yang menunjukkan keberanian dan ketegasannya terhadap berbagai musuh, yaitu sebagai berikut:1) Jihad dan pertempurannya melawan bangsa Tartar;2) Jihad dan pertempurannya melawan kaum Nasrani;3) Jihadnya melawan kaum Rafidhah dan para penyerang lainnya. [1]Perang melawan bangsa TartarSalah satu peristiwa penting adalah sikapnya terhadap Raja Tartar, Ghazan. Pada tahun 699 H, ia bersama delegasi dari tokoh-tokoh terkemuka Damaskus pergi menemui raja tersebut. Dalam pertemuan itu, Ibnu Taimiyah berbicara dengan tegas dan keras kepada Ghazan. Keberanian dan ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran menjadi salah satu faktor yang membuat raja tersebut tidak menyerang Damaskus.Setelah pasukan Tartar pergi, masyarakat tetap merasa takut akan kemungkinan mereka kembali menyerang. Oleh karena itu, penduduk berkumpul di sekitar tembok kota untuk menjaga dan mempertahankan negeri mereka. Setiap malam, Ibnu Taimiyah berkeliling di antara mereka, menguatkan hati mereka, dan menanamkan keteguhan dalam diri mereka.Kemudian, pada tahun 700 H, tersebar kabar bahwa pasukan Tartar akan kembali menyerang Syam. Ketakutan pun melanda masyarakat. Banyak pejabat, bangsawan, serta ulama yang melarikan diri. Namun, Ibnu Taimiyah tetap teguh dan duduk di masjid besar (masjid Jami’), mengobarkan semangat jihad di tengah masyarakat, melarang mereka untuk lari, dan mendorong mereka agar berinfak di jalan Allah.Ketika tersebar kabar bahwa Sultan mundur dari peperangan, Ibnu Taimiyah segera melakukan perjalanan menemuinya. Ia pergi ke Mesir untuk mendorong Sultan agar tetap berjuang dan menguatkan hatinya, serta menjanjikannya kemenangan dari Allah ‘Azza wa Jalla.Dengan nada tegas, ia berkata kepada Sultan, “Jika kalian berpaling dari Syam dan tidak melindunginya, maka kami akan mengangkat seorang pemimpin yang akan menjaganya dan mengelolanya di masa damai.” [2]Keberanian Ibnu Taimiyah semakin bersinar dalam jihadnya pada perang Syakhab tahun 702 H. Ia mengobarkan semangat jihad, menguatkan hati Sultan, para panglima, serta para tentara, dan menjanjikan mereka kemenangan. Ia mendatangi Khalifah dan Sultan secara bergantian, menyemangati mereka, dan menguatkan mental mereka.Hingga akhirnya, Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin. Setelah kemenangan itu, kedudukan Ibnu Taimiyah semakin tinggi di mata rakyat dan para pemimpin. Semua orang menyadari keutamaan dan perannya yang besar dalam meraih kemenangan tersebut.Perang melawan kaum NasraniAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani, hal ini diceritakan oleh murid sekaligus sahabatnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, berdasarkan kesaksian orang-orang yang melihatnya langsung. Ia berkata,“Mereka menceritakan bahwa mereka melihat keberanian luar biasa yang sulit digambarkan dengan kata-kata di dalam diri Ibnu Taimiyah dalam penaklukan ‘Akka. Mereka berkata, ‘Bahkan, beliaulah yang menjadi penyebab utama keberhasilan kaum Muslimin dalam menaklukkan kota itu, berkat tindakan dan nasihatnya.’” [3]Kemudian, di antara perjuangan Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani adalah peristiwa ketika Sultan Ghazan menguasai kota Damaskus. Saat itu, Raja Karaj datang kepadanya dan menawarkan harta yang sangat banyak sebagai imbalan agar ia diberi kesempatan untuk membantai kaum Muslimin di Damaskus.Ketika berita ini sampai kepada Ibnu Taimiyah, ia segera bangkit tanpa ragu, menyemangati kaum Muslimin, mendorong mereka untuk meraih syahid, serta menjanjikan kemenangan, keamanan, dan hilangnya ketakutan. Maka, sejumlah tokoh dan pemuka dari Damaskus berangkat bersamanya menuju Sultan Ghazan.Ketika mereka tiba di hadapan Sultan, ia bertanya, “Siapa mereka ini?”Dijawab, “Mereka adalah para pemimpin Damaskus.”Maka Sultan pun mengizinkan mereka masuk.Ibnu Taimiyah maju terlebih dahulu, dan saat Sultan Ghazan melihatnya, Allah menanamkan rasa segan yang besar dalam hatinya. Sultan segera mendekatkannya dan mempersilakannya duduk. Kemudian, Ibnu Taimiyah mulai berbicara, menolak keputusan Sultan yang hendak memberikan kekuasaan kepada Raja Karaj untuk membantai kaum Muslimin. Ia juga menjamin akan mengumpulkan harta sebagai pengganti tawaran Raja Karaj, serta mengingatkan Sultan tentang keharaman menumpahkan darah kaum Muslimin.Dengan penuh hikmah, ia menasihati dan memberi peringatan kepada Sultan Ghazan. Akhirnya, Sultan menerima nasihatnya dengan sukarela dan membatalkan rencana tersebut. Dengan demikian, berkat perjuangan Ibnu Taimiyah, darah kaum Muslimin terselamatkan, anak-anak mereka terlindungi, dan kehormatan mereka tetap terjaga. [4]Dari kisah ini, jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Nasrani tidak hanya berupa pertempuran langsung dengan pedang, tetapi juga perjuangan melalui diplomasi, yaitu dengan menggagalkan rencana mereka untuk membantai kaum Muslimin melalui persekutuan dengan pasukan Tartar.Jihad melawan Rafidhah dan para penyerangAdapun jihad Ibnu Taimiyah melawan kaum Rafidhah dan para penyerang, salah satu peristiwanya terjadi pada tahun 704 H. Saat itu, beliau terus berjuang dengan penuh keteguhan melawan penduduk pegunungan Kisrawan. Beliau mengirim surat ke berbagai wilayah Syam, mendorong umat Islam untuk memerangi mereka, serta menegaskan bahwa perang ini adalah bagian dari jihad di jalan Allah.Kemudian, beliau sendiri memimpin pasukan untuk menyerang wilayah tersebut, bersama dengan pemimpin wilayah (wakil Sultan) dan pasukan yang menyertainya. Mereka terus mengepung penduduk Kisrawan hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. [5]Setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, penduduk Kisrawan diusir, fitnah mereka dipadamkan, dan mereka dipaksa untuk mengikuti syariat Islam dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan.[Bersambung]Lanjut ke bagian 2***Penulis: Gazzeta Raka Putra SetyawanArtikel Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Ibnu Taimiyyah, karya Syaikh Muhammad Abu Zuhroh, hal. 36; dengan sedikit pengubahan oleh penulis.[2] Al-Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir, 14: 15.[3] Al-A’lam Al-‘Aliyyah, karya Al-Hafizh Al-Bazzar, hal. 30; dengan sedikit perubahan.[4] Ibid, hal. 63-64; dengan sedikit perubahan.[5] Al-‘Uqud Ad-Durriyyah, karya Ibnu Abdi Al-Hadi, hal. 148-149; dengan sedikit perubahan.

Godaan Iblis

غواية إبليس Oleh: Asy-Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «قال إبليس: وعزتك لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم، فقال: وعزتي وجلالي لا أزال أغفر لهم ما استغفروني»، وعن الزبير رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من أحب أن تَسُرَّه صحيفته، فليُكثر فيها من الاستغفار». Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda bahwa Iblis berkata kepada Allah, “Demi kemuliaan-Mu! Sungguh aku akan terus menggoda hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka masih dalam jasad mereka!” Kemudian Allah berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku! Sungguh Aku akan terus mengampuni mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku.” وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: «إن العبد إذا أخطأ خطيئةً نُكتت في قلبه نكتة، فإن هو نزع واستغَفر صَقُلت، فإن عاد زيدَ فيها حتى تعلو قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله تعالى: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] ». وروي عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إن للقلوب صدأً كصدأ النحاس، وجلاؤها الاستغفار». Diriwayatkan juga dari Zubair Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الاسْتِغْفَارِ “Barangsiapa yang ingin dibahagiakan oleh buku catatan amalnya, maka hendaklah ia memperbanyak istigfar di dalamnya.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةً، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَتْ، فَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya apabila seorang hamba berbuat satu dosa, akan diberi satu titik hitam dalam hatinya, lalu apabila ia bertobat dan memohon ampun, maka titik hitam itu akan terhapus. Namun, jika ia mengulangi dosanya, titik itu akan ditambah hingga menutup seluruh hatinya, itulah yang disebut dengan ‘Ran’ yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” ورُوي عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في مسيرة فقال: «استغفروا الله» فاستغفرنا، فقال: «أتِمُّوها سبعين مرة»، فأتْمَمناها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما من عبدٍ ولا أَمَةٍ يستغفر الله في يوم سبعين مرة، إلا غفر الله له سبعمائة ذنبٍ، وقد خاب عبد أو أمةٌ عمِل في يوم وليلة أكثر من سبعمائة ذنب». وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيده، لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون، فيستغفرون الله تعالى فيغفر لهم»؛ رواه مسلم. وفي حديث سلمان: «فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار». Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ لِلْقُلُوبِ صَدَأً كَصَدَإِ النُّحَاسِ، وَجَلَاؤُهَا الِاسْتِغْفَارُ “Sesungguhnya hati dapat berkarat seperti berkaratnya logam, dan cara membersihkannya adalah dengan beristighfar.”  Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Beristigfarlah!” Maka kami pun beristigfar. Kemudian beliau bersabda, “Genapilah lagi hingga 70 kali!” Maka Kami pun menggenapinya. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang beristighfar kepada Allah sebanyak 70 kali dalam sehari, melainkan Allah akan mengampuni baginya 700 dosa. Dan sungguh merugilah seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan dosa lebih dari 700 kali dalam sehari semalam.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ “Demi Dzat Yang Jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya kalian tidak melakukan dosa sedikitpun, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, sehingga Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim). Dalam hadits Salman disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار “Perbanyaklah padanya (bulan Ramadhan) dua hal yang dengannya kalian meridhai kalian, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan beristigfar. Sedangkan dua hal lain yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surga kepada-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari neraka.” فهذه الخصال الأربع المذكورة في الحديث، كلٌّ منها سبب للمغفرة والعتق من النار، فأما كلمة الإخلاص، فإنها تهدم الذنوب وتمحوها محوًا، ولا تبقي ذنبًا، ولا يسبقها عمل، وهي تعدل عتق الرقاب الذي يوجب العتق من النار، ومن أتى بها حين يصبح وحين يمسي، أعتقه الله من النار، ومن قالها خالصًا من قلبه، حرَّمه الله على النار». Empat hal yang disebutkan dalam hadis di atas, semuanya adalah sebab untuk meraih ampunan dan terbebas dari neraka. Adapun kalimat ikhlas (laa ilaha illallah), maka ia dapat menghapus seluruh dosa, sehingga tidak ada lagi dosa yang tersisa, dan tidak ada amalan lain yang lebih unggul darinya, kalimat tersebut setara dengan memerdekakan budak yang balasannya adalah dibebaskan dari neraka. Barang siapa yang mengucapkan kalimat ini setiap pagi dan sore, maka Allah akan membebaskannya dari neraka, dan barang siapa yang mengucapkannya dengan tulus dari hatinya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka. وأما كلمة الاستغفار، فمن أعظم أسباب المغفرة، فإن الاستغفار دعاء بالمغفرة، ودعاء الصائم إذا اجتمعت له الشروط، وانتفت الموانع مستجاب حال صيامه وعند فطره، وفي حديث أبي هريرة: (ويغفر الله إلا لمن أبى، قالوا: يا أبا هريرة ومن يأبى؟ قال: يأبى أن يستغفر الله). Adapun kalimat istigfar, ia merupakan salah satu sebab terbesar ampunan, karena istigfar merupakan doa agar mendapat ampunan. Begitu juga dengan doa orang yang berpuasa, apabila syarat-syarat ampunan terpenuhi dan penghalang-penghalang ampunan tidak ada, maka doanya akan mudah dikabulkan pada masa puasanya dan ketika hendak berbuka. Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Dan Allah akan memberi ampunan kecuali bagi orang yang enggan.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang dianggap enggan itu?” Ia menjawab, “Orang yang enggan untuk memohon ampun kepada Allah!” وقال لقمان لابنه: يا بُني، عوِّد لسانك الاستغفار، فإن لله ساعات لا يرد فيه سائلًا، وقد جمع الله بين التوحيد والاستغفار في قوله: ﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ ﴾ [محمد: 19]، وفي بعض الآثار: أن إبليس قال: أهلكت الناس بالذنوب وأهلكوني بالاستغفار، ولا إله إلا الله. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku! Biasakan lisanmu untuk beristigfar, karena Allah punya waktu-waktu yang ketika itu Dia tidak akan menolak orang yang meminta kepada-Nya.” Allah Ta’ala menghimpun antara tauhid dan permohonan ampun dalam firman-Nya:  فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Terdapat atsar yang menyebutkan bahwa Iblis berkata, “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa-dosa, tapi mereka membinasakanku dengan istigfar dan ‘Laa ilaaha illallaah’!” والاستغفار ختام الأعمال الصالحة كلها، فيختم به الصلاة، والحج، والقيام في الليل، ويختم به المجالس، فإن كانت ذكرًا كان كالطابع عليها وإن كانت لغوًا، كان كفارة لها، فكذلك ينبغي أن يختتم صيام رمضان بالاستغفار يرفع ما تَخرَّق من الصيام باللغو والرفث، (ويجتهد في الإكثار من الأعمال والتقلل من شواغل الدنيا، والإقبال على الآخرة ما دام في قيد الحياة). Istigfar merupakan penutup seluruh amal saleh, amalan-amalan seperti shalat, haji, dan shalat malam ditutup dengan istigfar. Begitu juga majelis-majelis ditutup dengan istigfar, apabila majelis itu berisi zikir, maka ia bagaikan stempel baginya, dan jika majelis itu berisi senda gurau, maka ia sebagai penggugur dosa di dalamnya. Demikian pula dengan puasa Ramadhan hendaknya ditutup dengan istigfar, sehingga dapat menutup kekurangan yang ada dalam puasanya. Hendaklah seseorang juga berusaha memperbanyak amal saleh dan mengurangi kesibukan duniawi serta bersemangat menyambut akhirat, selagi ia masih hidup. ومن عظة الحسن البصري لعمر بن عبد العزيز: أما بعد، فإن الدنيا دار ظعن ليست بدار إقامة، لها في كل حين قتيل تذل مَن أعزَّها، وتُفقر مَن جَمعها، هي كالسُّم يأكله من لا يعرفه وفيه حَتفُه، فكن فيها كالمداوي جراحه، يحتمي قليلًا مَخافةَ ما يكره طويلًا، ويصبر على شدة الدواء مخافة طول الداء، فاحذَر هذه الدنيا الخداعة الغدارة الختَّالة التي قد تزيَّنت بخُدَعها، وقتلت بغرورها، وتحلَّت بآمالها وسوَّفت بخطابها، فأصبحت كالعروس المجلية، العيون إليها ناظرة والقلوب عليها والهة، وهي لأزواجها كلهم قالية، فلا الباقي بالماضي معتبر، ولا الآخر بالأول مزدجِر، فعاشق لها قد ظفر منها بحاجته، فاغترَّ وطغى، ونَسِيَ المعاد، فشغل فيها لبَّه حتى زلت به قدمُه، فعظُمت ندامته وكثُرت حسرتُه، واجتمعت عليه سكرات الموت وتألُّمه، وحسرات الفوت بغُصته، وراغب فيها لم يدرك منها ما طلب، ولم يُرح نفسه من التعب، فخرج بغير زاد وقدِم على غير مهاد؛ فاحذرها يا أمير المؤمنين، وكن أسرَّ ما تكون فيها أحذرَ لها، فإن صاحب الدنيا كلما اطمأنَّ فيها إلى سرور أشخصتْه إلى مكروهٍ وضارٍّ، وقد وصل الرخاء منها بالبلاء، وجعل البقاء إلى فناء، فسرورُها مشوبٌ بالأحزان، أمانيها كاذبة وآمالها باطلة، وصفوها كدرٌ وعيشها نكدٌ، وابن آدم فيها على خطر؛ ا. هـ. Di antara nasihat Hasan Al-Bashri untuk Umar bin Abdul Aziz disebutkan: “Amma ba’du, dunia merupakan rumah sementara bukan rumah menetap selamanya. Setiap waktu, dunia punya korbannya. Dunia akan menghinakan siapa saja yang memuliakannya, memporak-porandakan siapa saja yang menghimpunnya. Ia bagaikan racun yang dimakan oleh orang yang tidak mengetahui hakikatnya, lalu menjadi sebab kebinasaannya. Oleh sebab itu, di dunia ini jadilah seperti orang yang mengobat lukanya, menahan diri sejenak karena takut dari hal yang dibenci akan berlangsung lama dan bersabar atas pahitnya obat karena takut penyakitnya tidak kunjung sembuh. Waspadalah terhadap dunia yang pendusta, penipu, dan pengkhianat ini, yang menghiasi dirinya dengan tipu daya, membinasakan dengan muslihatnya, dan memperindah diri dengan angan-angannya, dan melalaikan dengan janji-janji manisnya, sehingga ia menjadi seperti pengantin yang anggun, mata dan hati tertuju kepadanya, tapi ia tak peduli terhadap pasangannya. Orang yang masih hidup tidak mengambil pelajaran dari yang telah pergi, dan generasi penerus tidak merasa jera atas apa yang terjadi dengan generasi pendahulu. Orang yang mencintai dunia telah meraih apa yang mereka inginkan darinya, lalu dia merasa terbuai dan berbuat sewenang-wenang, sehingga dia lupa terhadap akhirat, dia menyibukkan pikirannya dengan dunia, hingga kakinya tergelincir dan jatuh, penyesalannya menjadi begitu besar dan kerugiannya begitu banyak. Lalu sakaratul maut dan rasa sakitnya datang mengepungnya, dan penyesalan atas yang luput datang mencekik lehernya. Orang yang cinta dunia tidak dapat meraih apa yang dia inginkan, dan tidak dapat mengistirahatkan dirinya dari keletihan, sehingga dia keluar dari dunia tanpa bekal, dan dia datang ke akhirat tanpa persiapan. Oleh sebab itu, waspadalah, wahai Amirul Mu’minin! Jadilah orang yang paling bahagia di dunia dan paling waspada terhadapnya, karena penghuni dunia itu, setiap kali dia merasa tenteram dengan kebahagiaan, dia akan terbelalak oleh musibah dan keburukan. Kesejahteraan di dunia akan mengantarkan pada kesulitan, kekekalannya akan membawa kepada kefanaan, kebahagiaannya disertai dengan kesedihan, angan-angannya dusta dan harapan-harapannya palsu, kedamaiannya tetap keruh, dan kehidupannya penuh kesusahan, dan manusia di dalamnya berada dalam mara bahaya.” شعرًا: فيا أيها الناسي ليوم رحيله أراك عن الموت المفرِّق لاهيَا  ألا تَعتبر بالراحلين إلى البِلى وتركهم الدنيا جميعًا كما هيَا  ولم يُخرجوا إلا بقطنٍ وخِرقةٍ وما عمَروا مِن منزلٍ ظلَّ خاليَا  وأنت غدًا أو بعده في جوارهم وحيدًا فريدًا في المقابر ثاويَا Dalam syair disebutkan: فَيَا أَيُّهَا النَّاسِي لِيَوْمِ رَحِيْلِهِ أَرَاكَ عَنِ الْمَوتِ الْمُفَرِّقِ لَاهِيَا Wahai orang yang lupa terhadap hari kepergiannya Aku melihatmu lalai terhadap kematian yang memisahkan أَلَا تَعْتَبِرُ بِالرَّاحِلِيْنَ إِلَى البِلَى وَتَرْكِهِمُ الدُّنْيَا جَمِيْعًا كَمَا هِيَا Tidakkah kamu mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah pergi menuju keusangan dan mereka semua meninggalkan dunia yang tetap berjalan seperti biasa وَلَمْ يَخْرُجُوا إِلَا بِقُطْنٍ وَخِرْقًةٍ وَمَا عَمَرُوا مِنْ مَنْزِلٍ ظَلَّ خَالِيَا Mereka tidak keluar dari dunia kecuali hanya membawa kapas dan kain kafan Dan mereka tidak mampu memakmurkan rumah mereka yang tetap kosong وَأَنْتَ غَدًا أَوْ بَعْدَهُ فِي جِوَارِهِمْ وَحِيْدًا فَرِيْدًا فِي الْمَقَابِرِ ثَاوِيَا Sedangkan kamu entah esok atau lusa akan berada di sisi mereka Tinggal sendiri tanpa teman di alam kubur اللهم يا مَن لا تُضره المعصية ولا تنفعه الطاعة، أيقِظنا من نوم الغفلة، ونبِّهنا لاغتنام أوقات المهلة، ووفِّقنا لمصالحنا، واعصِمنا من قبائحنا وذنوبنا، ولا تؤاخذنا بما انطوت عليه ضمائرنا، وأكنَّته سرائرنا من أنواع القبائح والمعايب التي تعلمها منا، وامنُن علينا يا مولانا بتوبة تَمحو بها عنا كلَّ ذنبٍ. Ya Allah! Wahai Dzat yang tidak mendapat mudarat dari kemaksiatan dan tidak mendapat manfaat dari ketaatan! Bangunkanlah kami dari lelap kelalaian! Sadarkanlah kami untuk memanfaatkan setiap waktu kesempatan! Berilah kami taufik untuk meraih kemaslahatan kami, lindungilah kami dari keburukan dan dosa-dosa kami! Janganlah Engkau siksa kami atas apa yang tersimpan dalam hati kami, dan dirahasiakan hati kami dari berbagai bentuk kejelekan dan keburukan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami! Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami tobat yang dengannya Engkau hapus seluruh dosa kami! اللهم انظِمنا في سلك الفائزين برضوانك، واجعلنا من المتقين الذين أعددتَ لهم فسيح جنانك، وأدخلنا برحمتك في دار أمانك، وعافنا يا مولانا في الدنيا والآخرة من جميع البلايا. Ya Allah! Tetapkanlah kami di jalan orang-orang yang beruntung meraih keridhaan-Mu, jadikanlah kami termasuk orang-orang bertakwa yang Engkau siapkan bagi mereka luasnya surga-Mu, masukkanlah kami dengan rahmat-Mu ke dalam negeri yang Sentosa (surga), dan selamatkanlah kami di dunia dan akhirat dari segala musibah! وأجْزِل لنا من مواهب فضلك وهباتك، ومتِّعنا بالنظر إلى وجهك الكريم مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين الأحياء منهم والميتين برحمتك يا أرحم الراحمين، وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Ya Allah! Agungkanlah untuk kami karunia dan pemberian-Mu, dan berikanlah kami nikmat melihat wajah-Mu Yang Mulia bersama orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh! Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin yang masih hidup dan yang telah wafat dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih! Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/غواية إبليس Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid

Godaan Iblis

غواية إبليس Oleh: Asy-Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «قال إبليس: وعزتك لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم، فقال: وعزتي وجلالي لا أزال أغفر لهم ما استغفروني»، وعن الزبير رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من أحب أن تَسُرَّه صحيفته، فليُكثر فيها من الاستغفار». Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda bahwa Iblis berkata kepada Allah, “Demi kemuliaan-Mu! Sungguh aku akan terus menggoda hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka masih dalam jasad mereka!” Kemudian Allah berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku! Sungguh Aku akan terus mengampuni mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku.” وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: «إن العبد إذا أخطأ خطيئةً نُكتت في قلبه نكتة، فإن هو نزع واستغَفر صَقُلت، فإن عاد زيدَ فيها حتى تعلو قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله تعالى: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] ». وروي عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إن للقلوب صدأً كصدأ النحاس، وجلاؤها الاستغفار». Diriwayatkan juga dari Zubair Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الاسْتِغْفَارِ “Barangsiapa yang ingin dibahagiakan oleh buku catatan amalnya, maka hendaklah ia memperbanyak istigfar di dalamnya.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةً، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَتْ، فَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya apabila seorang hamba berbuat satu dosa, akan diberi satu titik hitam dalam hatinya, lalu apabila ia bertobat dan memohon ampun, maka titik hitam itu akan terhapus. Namun, jika ia mengulangi dosanya, titik itu akan ditambah hingga menutup seluruh hatinya, itulah yang disebut dengan ‘Ran’ yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” ورُوي عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في مسيرة فقال: «استغفروا الله» فاستغفرنا، فقال: «أتِمُّوها سبعين مرة»، فأتْمَمناها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما من عبدٍ ولا أَمَةٍ يستغفر الله في يوم سبعين مرة، إلا غفر الله له سبعمائة ذنبٍ، وقد خاب عبد أو أمةٌ عمِل في يوم وليلة أكثر من سبعمائة ذنب». وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيده، لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون، فيستغفرون الله تعالى فيغفر لهم»؛ رواه مسلم. وفي حديث سلمان: «فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار». Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ لِلْقُلُوبِ صَدَأً كَصَدَإِ النُّحَاسِ، وَجَلَاؤُهَا الِاسْتِغْفَارُ “Sesungguhnya hati dapat berkarat seperti berkaratnya logam, dan cara membersihkannya adalah dengan beristighfar.”  Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Beristigfarlah!” Maka kami pun beristigfar. Kemudian beliau bersabda, “Genapilah lagi hingga 70 kali!” Maka Kami pun menggenapinya. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang beristighfar kepada Allah sebanyak 70 kali dalam sehari, melainkan Allah akan mengampuni baginya 700 dosa. Dan sungguh merugilah seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan dosa lebih dari 700 kali dalam sehari semalam.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ “Demi Dzat Yang Jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya kalian tidak melakukan dosa sedikitpun, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, sehingga Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim). Dalam hadits Salman disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار “Perbanyaklah padanya (bulan Ramadhan) dua hal yang dengannya kalian meridhai kalian, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan beristigfar. Sedangkan dua hal lain yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surga kepada-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari neraka.” فهذه الخصال الأربع المذكورة في الحديث، كلٌّ منها سبب للمغفرة والعتق من النار، فأما كلمة الإخلاص، فإنها تهدم الذنوب وتمحوها محوًا، ولا تبقي ذنبًا، ولا يسبقها عمل، وهي تعدل عتق الرقاب الذي يوجب العتق من النار، ومن أتى بها حين يصبح وحين يمسي، أعتقه الله من النار، ومن قالها خالصًا من قلبه، حرَّمه الله على النار». Empat hal yang disebutkan dalam hadis di atas, semuanya adalah sebab untuk meraih ampunan dan terbebas dari neraka. Adapun kalimat ikhlas (laa ilaha illallah), maka ia dapat menghapus seluruh dosa, sehingga tidak ada lagi dosa yang tersisa, dan tidak ada amalan lain yang lebih unggul darinya, kalimat tersebut setara dengan memerdekakan budak yang balasannya adalah dibebaskan dari neraka. Barang siapa yang mengucapkan kalimat ini setiap pagi dan sore, maka Allah akan membebaskannya dari neraka, dan barang siapa yang mengucapkannya dengan tulus dari hatinya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka. وأما كلمة الاستغفار، فمن أعظم أسباب المغفرة، فإن الاستغفار دعاء بالمغفرة، ودعاء الصائم إذا اجتمعت له الشروط، وانتفت الموانع مستجاب حال صيامه وعند فطره، وفي حديث أبي هريرة: (ويغفر الله إلا لمن أبى، قالوا: يا أبا هريرة ومن يأبى؟ قال: يأبى أن يستغفر الله). Adapun kalimat istigfar, ia merupakan salah satu sebab terbesar ampunan, karena istigfar merupakan doa agar mendapat ampunan. Begitu juga dengan doa orang yang berpuasa, apabila syarat-syarat ampunan terpenuhi dan penghalang-penghalang ampunan tidak ada, maka doanya akan mudah dikabulkan pada masa puasanya dan ketika hendak berbuka. Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Dan Allah akan memberi ampunan kecuali bagi orang yang enggan.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang dianggap enggan itu?” Ia menjawab, “Orang yang enggan untuk memohon ampun kepada Allah!” وقال لقمان لابنه: يا بُني، عوِّد لسانك الاستغفار، فإن لله ساعات لا يرد فيه سائلًا، وقد جمع الله بين التوحيد والاستغفار في قوله: ﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ ﴾ [محمد: 19]، وفي بعض الآثار: أن إبليس قال: أهلكت الناس بالذنوب وأهلكوني بالاستغفار، ولا إله إلا الله. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku! Biasakan lisanmu untuk beristigfar, karena Allah punya waktu-waktu yang ketika itu Dia tidak akan menolak orang yang meminta kepada-Nya.” Allah Ta’ala menghimpun antara tauhid dan permohonan ampun dalam firman-Nya:  فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Terdapat atsar yang menyebutkan bahwa Iblis berkata, “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa-dosa, tapi mereka membinasakanku dengan istigfar dan ‘Laa ilaaha illallaah’!” والاستغفار ختام الأعمال الصالحة كلها، فيختم به الصلاة، والحج، والقيام في الليل، ويختم به المجالس، فإن كانت ذكرًا كان كالطابع عليها وإن كانت لغوًا، كان كفارة لها، فكذلك ينبغي أن يختتم صيام رمضان بالاستغفار يرفع ما تَخرَّق من الصيام باللغو والرفث، (ويجتهد في الإكثار من الأعمال والتقلل من شواغل الدنيا، والإقبال على الآخرة ما دام في قيد الحياة). Istigfar merupakan penutup seluruh amal saleh, amalan-amalan seperti shalat, haji, dan shalat malam ditutup dengan istigfar. Begitu juga majelis-majelis ditutup dengan istigfar, apabila majelis itu berisi zikir, maka ia bagaikan stempel baginya, dan jika majelis itu berisi senda gurau, maka ia sebagai penggugur dosa di dalamnya. Demikian pula dengan puasa Ramadhan hendaknya ditutup dengan istigfar, sehingga dapat menutup kekurangan yang ada dalam puasanya. Hendaklah seseorang juga berusaha memperbanyak amal saleh dan mengurangi kesibukan duniawi serta bersemangat menyambut akhirat, selagi ia masih hidup. ومن عظة الحسن البصري لعمر بن عبد العزيز: أما بعد، فإن الدنيا دار ظعن ليست بدار إقامة، لها في كل حين قتيل تذل مَن أعزَّها، وتُفقر مَن جَمعها، هي كالسُّم يأكله من لا يعرفه وفيه حَتفُه، فكن فيها كالمداوي جراحه، يحتمي قليلًا مَخافةَ ما يكره طويلًا، ويصبر على شدة الدواء مخافة طول الداء، فاحذَر هذه الدنيا الخداعة الغدارة الختَّالة التي قد تزيَّنت بخُدَعها، وقتلت بغرورها، وتحلَّت بآمالها وسوَّفت بخطابها، فأصبحت كالعروس المجلية، العيون إليها ناظرة والقلوب عليها والهة، وهي لأزواجها كلهم قالية، فلا الباقي بالماضي معتبر، ولا الآخر بالأول مزدجِر، فعاشق لها قد ظفر منها بحاجته، فاغترَّ وطغى، ونَسِيَ المعاد، فشغل فيها لبَّه حتى زلت به قدمُه، فعظُمت ندامته وكثُرت حسرتُه، واجتمعت عليه سكرات الموت وتألُّمه، وحسرات الفوت بغُصته، وراغب فيها لم يدرك منها ما طلب، ولم يُرح نفسه من التعب، فخرج بغير زاد وقدِم على غير مهاد؛ فاحذرها يا أمير المؤمنين، وكن أسرَّ ما تكون فيها أحذرَ لها، فإن صاحب الدنيا كلما اطمأنَّ فيها إلى سرور أشخصتْه إلى مكروهٍ وضارٍّ، وقد وصل الرخاء منها بالبلاء، وجعل البقاء إلى فناء، فسرورُها مشوبٌ بالأحزان، أمانيها كاذبة وآمالها باطلة، وصفوها كدرٌ وعيشها نكدٌ، وابن آدم فيها على خطر؛ ا. هـ. Di antara nasihat Hasan Al-Bashri untuk Umar bin Abdul Aziz disebutkan: “Amma ba’du, dunia merupakan rumah sementara bukan rumah menetap selamanya. Setiap waktu, dunia punya korbannya. Dunia akan menghinakan siapa saja yang memuliakannya, memporak-porandakan siapa saja yang menghimpunnya. Ia bagaikan racun yang dimakan oleh orang yang tidak mengetahui hakikatnya, lalu menjadi sebab kebinasaannya. Oleh sebab itu, di dunia ini jadilah seperti orang yang mengobat lukanya, menahan diri sejenak karena takut dari hal yang dibenci akan berlangsung lama dan bersabar atas pahitnya obat karena takut penyakitnya tidak kunjung sembuh. Waspadalah terhadap dunia yang pendusta, penipu, dan pengkhianat ini, yang menghiasi dirinya dengan tipu daya, membinasakan dengan muslihatnya, dan memperindah diri dengan angan-angannya, dan melalaikan dengan janji-janji manisnya, sehingga ia menjadi seperti pengantin yang anggun, mata dan hati tertuju kepadanya, tapi ia tak peduli terhadap pasangannya. Orang yang masih hidup tidak mengambil pelajaran dari yang telah pergi, dan generasi penerus tidak merasa jera atas apa yang terjadi dengan generasi pendahulu. Orang yang mencintai dunia telah meraih apa yang mereka inginkan darinya, lalu dia merasa terbuai dan berbuat sewenang-wenang, sehingga dia lupa terhadap akhirat, dia menyibukkan pikirannya dengan dunia, hingga kakinya tergelincir dan jatuh, penyesalannya menjadi begitu besar dan kerugiannya begitu banyak. Lalu sakaratul maut dan rasa sakitnya datang mengepungnya, dan penyesalan atas yang luput datang mencekik lehernya. Orang yang cinta dunia tidak dapat meraih apa yang dia inginkan, dan tidak dapat mengistirahatkan dirinya dari keletihan, sehingga dia keluar dari dunia tanpa bekal, dan dia datang ke akhirat tanpa persiapan. Oleh sebab itu, waspadalah, wahai Amirul Mu’minin! Jadilah orang yang paling bahagia di dunia dan paling waspada terhadapnya, karena penghuni dunia itu, setiap kali dia merasa tenteram dengan kebahagiaan, dia akan terbelalak oleh musibah dan keburukan. Kesejahteraan di dunia akan mengantarkan pada kesulitan, kekekalannya akan membawa kepada kefanaan, kebahagiaannya disertai dengan kesedihan, angan-angannya dusta dan harapan-harapannya palsu, kedamaiannya tetap keruh, dan kehidupannya penuh kesusahan, dan manusia di dalamnya berada dalam mara bahaya.” شعرًا: فيا أيها الناسي ليوم رحيله أراك عن الموت المفرِّق لاهيَا  ألا تَعتبر بالراحلين إلى البِلى وتركهم الدنيا جميعًا كما هيَا  ولم يُخرجوا إلا بقطنٍ وخِرقةٍ وما عمَروا مِن منزلٍ ظلَّ خاليَا  وأنت غدًا أو بعده في جوارهم وحيدًا فريدًا في المقابر ثاويَا Dalam syair disebutkan: فَيَا أَيُّهَا النَّاسِي لِيَوْمِ رَحِيْلِهِ أَرَاكَ عَنِ الْمَوتِ الْمُفَرِّقِ لَاهِيَا Wahai orang yang lupa terhadap hari kepergiannya Aku melihatmu lalai terhadap kematian yang memisahkan أَلَا تَعْتَبِرُ بِالرَّاحِلِيْنَ إِلَى البِلَى وَتَرْكِهِمُ الدُّنْيَا جَمِيْعًا كَمَا هِيَا Tidakkah kamu mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah pergi menuju keusangan dan mereka semua meninggalkan dunia yang tetap berjalan seperti biasa وَلَمْ يَخْرُجُوا إِلَا بِقُطْنٍ وَخِرْقًةٍ وَمَا عَمَرُوا مِنْ مَنْزِلٍ ظَلَّ خَالِيَا Mereka tidak keluar dari dunia kecuali hanya membawa kapas dan kain kafan Dan mereka tidak mampu memakmurkan rumah mereka yang tetap kosong وَأَنْتَ غَدًا أَوْ بَعْدَهُ فِي جِوَارِهِمْ وَحِيْدًا فَرِيْدًا فِي الْمَقَابِرِ ثَاوِيَا Sedangkan kamu entah esok atau lusa akan berada di sisi mereka Tinggal sendiri tanpa teman di alam kubur اللهم يا مَن لا تُضره المعصية ولا تنفعه الطاعة، أيقِظنا من نوم الغفلة، ونبِّهنا لاغتنام أوقات المهلة، ووفِّقنا لمصالحنا، واعصِمنا من قبائحنا وذنوبنا، ولا تؤاخذنا بما انطوت عليه ضمائرنا، وأكنَّته سرائرنا من أنواع القبائح والمعايب التي تعلمها منا، وامنُن علينا يا مولانا بتوبة تَمحو بها عنا كلَّ ذنبٍ. Ya Allah! Wahai Dzat yang tidak mendapat mudarat dari kemaksiatan dan tidak mendapat manfaat dari ketaatan! Bangunkanlah kami dari lelap kelalaian! Sadarkanlah kami untuk memanfaatkan setiap waktu kesempatan! Berilah kami taufik untuk meraih kemaslahatan kami, lindungilah kami dari keburukan dan dosa-dosa kami! Janganlah Engkau siksa kami atas apa yang tersimpan dalam hati kami, dan dirahasiakan hati kami dari berbagai bentuk kejelekan dan keburukan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami! Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami tobat yang dengannya Engkau hapus seluruh dosa kami! اللهم انظِمنا في سلك الفائزين برضوانك، واجعلنا من المتقين الذين أعددتَ لهم فسيح جنانك، وأدخلنا برحمتك في دار أمانك، وعافنا يا مولانا في الدنيا والآخرة من جميع البلايا. Ya Allah! Tetapkanlah kami di jalan orang-orang yang beruntung meraih keridhaan-Mu, jadikanlah kami termasuk orang-orang bertakwa yang Engkau siapkan bagi mereka luasnya surga-Mu, masukkanlah kami dengan rahmat-Mu ke dalam negeri yang Sentosa (surga), dan selamatkanlah kami di dunia dan akhirat dari segala musibah! وأجْزِل لنا من مواهب فضلك وهباتك، ومتِّعنا بالنظر إلى وجهك الكريم مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين الأحياء منهم والميتين برحمتك يا أرحم الراحمين، وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Ya Allah! Agungkanlah untuk kami karunia dan pemberian-Mu, dan berikanlah kami nikmat melihat wajah-Mu Yang Mulia bersama orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh! Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin yang masih hidup dan yang telah wafat dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih! Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/غواية إبليس Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid
غواية إبليس Oleh: Asy-Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «قال إبليس: وعزتك لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم، فقال: وعزتي وجلالي لا أزال أغفر لهم ما استغفروني»، وعن الزبير رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من أحب أن تَسُرَّه صحيفته، فليُكثر فيها من الاستغفار». Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda bahwa Iblis berkata kepada Allah, “Demi kemuliaan-Mu! Sungguh aku akan terus menggoda hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka masih dalam jasad mereka!” Kemudian Allah berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku! Sungguh Aku akan terus mengampuni mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku.” وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: «إن العبد إذا أخطأ خطيئةً نُكتت في قلبه نكتة، فإن هو نزع واستغَفر صَقُلت، فإن عاد زيدَ فيها حتى تعلو قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله تعالى: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] ». وروي عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إن للقلوب صدأً كصدأ النحاس، وجلاؤها الاستغفار». Diriwayatkan juga dari Zubair Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الاسْتِغْفَارِ “Barangsiapa yang ingin dibahagiakan oleh buku catatan amalnya, maka hendaklah ia memperbanyak istigfar di dalamnya.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةً، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَتْ، فَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya apabila seorang hamba berbuat satu dosa, akan diberi satu titik hitam dalam hatinya, lalu apabila ia bertobat dan memohon ampun, maka titik hitam itu akan terhapus. Namun, jika ia mengulangi dosanya, titik itu akan ditambah hingga menutup seluruh hatinya, itulah yang disebut dengan ‘Ran’ yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” ورُوي عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في مسيرة فقال: «استغفروا الله» فاستغفرنا، فقال: «أتِمُّوها سبعين مرة»، فأتْمَمناها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما من عبدٍ ولا أَمَةٍ يستغفر الله في يوم سبعين مرة، إلا غفر الله له سبعمائة ذنبٍ، وقد خاب عبد أو أمةٌ عمِل في يوم وليلة أكثر من سبعمائة ذنب». وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيده، لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون، فيستغفرون الله تعالى فيغفر لهم»؛ رواه مسلم. وفي حديث سلمان: «فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار». Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ لِلْقُلُوبِ صَدَأً كَصَدَإِ النُّحَاسِ، وَجَلَاؤُهَا الِاسْتِغْفَارُ “Sesungguhnya hati dapat berkarat seperti berkaratnya logam, dan cara membersihkannya adalah dengan beristighfar.”  Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Beristigfarlah!” Maka kami pun beristigfar. Kemudian beliau bersabda, “Genapilah lagi hingga 70 kali!” Maka Kami pun menggenapinya. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang beristighfar kepada Allah sebanyak 70 kali dalam sehari, melainkan Allah akan mengampuni baginya 700 dosa. Dan sungguh merugilah seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan dosa lebih dari 700 kali dalam sehari semalam.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ “Demi Dzat Yang Jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya kalian tidak melakukan dosa sedikitpun, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, sehingga Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim). Dalam hadits Salman disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار “Perbanyaklah padanya (bulan Ramadhan) dua hal yang dengannya kalian meridhai kalian, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan beristigfar. Sedangkan dua hal lain yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surga kepada-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari neraka.” فهذه الخصال الأربع المذكورة في الحديث، كلٌّ منها سبب للمغفرة والعتق من النار، فأما كلمة الإخلاص، فإنها تهدم الذنوب وتمحوها محوًا، ولا تبقي ذنبًا، ولا يسبقها عمل، وهي تعدل عتق الرقاب الذي يوجب العتق من النار، ومن أتى بها حين يصبح وحين يمسي، أعتقه الله من النار، ومن قالها خالصًا من قلبه، حرَّمه الله على النار». Empat hal yang disebutkan dalam hadis di atas, semuanya adalah sebab untuk meraih ampunan dan terbebas dari neraka. Adapun kalimat ikhlas (laa ilaha illallah), maka ia dapat menghapus seluruh dosa, sehingga tidak ada lagi dosa yang tersisa, dan tidak ada amalan lain yang lebih unggul darinya, kalimat tersebut setara dengan memerdekakan budak yang balasannya adalah dibebaskan dari neraka. Barang siapa yang mengucapkan kalimat ini setiap pagi dan sore, maka Allah akan membebaskannya dari neraka, dan barang siapa yang mengucapkannya dengan tulus dari hatinya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka. وأما كلمة الاستغفار، فمن أعظم أسباب المغفرة، فإن الاستغفار دعاء بالمغفرة، ودعاء الصائم إذا اجتمعت له الشروط، وانتفت الموانع مستجاب حال صيامه وعند فطره، وفي حديث أبي هريرة: (ويغفر الله إلا لمن أبى، قالوا: يا أبا هريرة ومن يأبى؟ قال: يأبى أن يستغفر الله). Adapun kalimat istigfar, ia merupakan salah satu sebab terbesar ampunan, karena istigfar merupakan doa agar mendapat ampunan. Begitu juga dengan doa orang yang berpuasa, apabila syarat-syarat ampunan terpenuhi dan penghalang-penghalang ampunan tidak ada, maka doanya akan mudah dikabulkan pada masa puasanya dan ketika hendak berbuka. Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Dan Allah akan memberi ampunan kecuali bagi orang yang enggan.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang dianggap enggan itu?” Ia menjawab, “Orang yang enggan untuk memohon ampun kepada Allah!” وقال لقمان لابنه: يا بُني، عوِّد لسانك الاستغفار، فإن لله ساعات لا يرد فيه سائلًا، وقد جمع الله بين التوحيد والاستغفار في قوله: ﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ ﴾ [محمد: 19]، وفي بعض الآثار: أن إبليس قال: أهلكت الناس بالذنوب وأهلكوني بالاستغفار، ولا إله إلا الله. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku! Biasakan lisanmu untuk beristigfar, karena Allah punya waktu-waktu yang ketika itu Dia tidak akan menolak orang yang meminta kepada-Nya.” Allah Ta’ala menghimpun antara tauhid dan permohonan ampun dalam firman-Nya:  فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Terdapat atsar yang menyebutkan bahwa Iblis berkata, “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa-dosa, tapi mereka membinasakanku dengan istigfar dan ‘Laa ilaaha illallaah’!” والاستغفار ختام الأعمال الصالحة كلها، فيختم به الصلاة، والحج، والقيام في الليل، ويختم به المجالس، فإن كانت ذكرًا كان كالطابع عليها وإن كانت لغوًا، كان كفارة لها، فكذلك ينبغي أن يختتم صيام رمضان بالاستغفار يرفع ما تَخرَّق من الصيام باللغو والرفث، (ويجتهد في الإكثار من الأعمال والتقلل من شواغل الدنيا، والإقبال على الآخرة ما دام في قيد الحياة). Istigfar merupakan penutup seluruh amal saleh, amalan-amalan seperti shalat, haji, dan shalat malam ditutup dengan istigfar. Begitu juga majelis-majelis ditutup dengan istigfar, apabila majelis itu berisi zikir, maka ia bagaikan stempel baginya, dan jika majelis itu berisi senda gurau, maka ia sebagai penggugur dosa di dalamnya. Demikian pula dengan puasa Ramadhan hendaknya ditutup dengan istigfar, sehingga dapat menutup kekurangan yang ada dalam puasanya. Hendaklah seseorang juga berusaha memperbanyak amal saleh dan mengurangi kesibukan duniawi serta bersemangat menyambut akhirat, selagi ia masih hidup. ومن عظة الحسن البصري لعمر بن عبد العزيز: أما بعد، فإن الدنيا دار ظعن ليست بدار إقامة، لها في كل حين قتيل تذل مَن أعزَّها، وتُفقر مَن جَمعها، هي كالسُّم يأكله من لا يعرفه وفيه حَتفُه، فكن فيها كالمداوي جراحه، يحتمي قليلًا مَخافةَ ما يكره طويلًا، ويصبر على شدة الدواء مخافة طول الداء، فاحذَر هذه الدنيا الخداعة الغدارة الختَّالة التي قد تزيَّنت بخُدَعها، وقتلت بغرورها، وتحلَّت بآمالها وسوَّفت بخطابها، فأصبحت كالعروس المجلية، العيون إليها ناظرة والقلوب عليها والهة، وهي لأزواجها كلهم قالية، فلا الباقي بالماضي معتبر، ولا الآخر بالأول مزدجِر، فعاشق لها قد ظفر منها بحاجته، فاغترَّ وطغى، ونَسِيَ المعاد، فشغل فيها لبَّه حتى زلت به قدمُه، فعظُمت ندامته وكثُرت حسرتُه، واجتمعت عليه سكرات الموت وتألُّمه، وحسرات الفوت بغُصته، وراغب فيها لم يدرك منها ما طلب، ولم يُرح نفسه من التعب، فخرج بغير زاد وقدِم على غير مهاد؛ فاحذرها يا أمير المؤمنين، وكن أسرَّ ما تكون فيها أحذرَ لها، فإن صاحب الدنيا كلما اطمأنَّ فيها إلى سرور أشخصتْه إلى مكروهٍ وضارٍّ، وقد وصل الرخاء منها بالبلاء، وجعل البقاء إلى فناء، فسرورُها مشوبٌ بالأحزان، أمانيها كاذبة وآمالها باطلة، وصفوها كدرٌ وعيشها نكدٌ، وابن آدم فيها على خطر؛ ا. هـ. Di antara nasihat Hasan Al-Bashri untuk Umar bin Abdul Aziz disebutkan: “Amma ba’du, dunia merupakan rumah sementara bukan rumah menetap selamanya. Setiap waktu, dunia punya korbannya. Dunia akan menghinakan siapa saja yang memuliakannya, memporak-porandakan siapa saja yang menghimpunnya. Ia bagaikan racun yang dimakan oleh orang yang tidak mengetahui hakikatnya, lalu menjadi sebab kebinasaannya. Oleh sebab itu, di dunia ini jadilah seperti orang yang mengobat lukanya, menahan diri sejenak karena takut dari hal yang dibenci akan berlangsung lama dan bersabar atas pahitnya obat karena takut penyakitnya tidak kunjung sembuh. Waspadalah terhadap dunia yang pendusta, penipu, dan pengkhianat ini, yang menghiasi dirinya dengan tipu daya, membinasakan dengan muslihatnya, dan memperindah diri dengan angan-angannya, dan melalaikan dengan janji-janji manisnya, sehingga ia menjadi seperti pengantin yang anggun, mata dan hati tertuju kepadanya, tapi ia tak peduli terhadap pasangannya. Orang yang masih hidup tidak mengambil pelajaran dari yang telah pergi, dan generasi penerus tidak merasa jera atas apa yang terjadi dengan generasi pendahulu. Orang yang mencintai dunia telah meraih apa yang mereka inginkan darinya, lalu dia merasa terbuai dan berbuat sewenang-wenang, sehingga dia lupa terhadap akhirat, dia menyibukkan pikirannya dengan dunia, hingga kakinya tergelincir dan jatuh, penyesalannya menjadi begitu besar dan kerugiannya begitu banyak. Lalu sakaratul maut dan rasa sakitnya datang mengepungnya, dan penyesalan atas yang luput datang mencekik lehernya. Orang yang cinta dunia tidak dapat meraih apa yang dia inginkan, dan tidak dapat mengistirahatkan dirinya dari keletihan, sehingga dia keluar dari dunia tanpa bekal, dan dia datang ke akhirat tanpa persiapan. Oleh sebab itu, waspadalah, wahai Amirul Mu’minin! Jadilah orang yang paling bahagia di dunia dan paling waspada terhadapnya, karena penghuni dunia itu, setiap kali dia merasa tenteram dengan kebahagiaan, dia akan terbelalak oleh musibah dan keburukan. Kesejahteraan di dunia akan mengantarkan pada kesulitan, kekekalannya akan membawa kepada kefanaan, kebahagiaannya disertai dengan kesedihan, angan-angannya dusta dan harapan-harapannya palsu, kedamaiannya tetap keruh, dan kehidupannya penuh kesusahan, dan manusia di dalamnya berada dalam mara bahaya.” شعرًا: فيا أيها الناسي ليوم رحيله أراك عن الموت المفرِّق لاهيَا  ألا تَعتبر بالراحلين إلى البِلى وتركهم الدنيا جميعًا كما هيَا  ولم يُخرجوا إلا بقطنٍ وخِرقةٍ وما عمَروا مِن منزلٍ ظلَّ خاليَا  وأنت غدًا أو بعده في جوارهم وحيدًا فريدًا في المقابر ثاويَا Dalam syair disebutkan: فَيَا أَيُّهَا النَّاسِي لِيَوْمِ رَحِيْلِهِ أَرَاكَ عَنِ الْمَوتِ الْمُفَرِّقِ لَاهِيَا Wahai orang yang lupa terhadap hari kepergiannya Aku melihatmu lalai terhadap kematian yang memisahkan أَلَا تَعْتَبِرُ بِالرَّاحِلِيْنَ إِلَى البِلَى وَتَرْكِهِمُ الدُّنْيَا جَمِيْعًا كَمَا هِيَا Tidakkah kamu mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah pergi menuju keusangan dan mereka semua meninggalkan dunia yang tetap berjalan seperti biasa وَلَمْ يَخْرُجُوا إِلَا بِقُطْنٍ وَخِرْقًةٍ وَمَا عَمَرُوا مِنْ مَنْزِلٍ ظَلَّ خَالِيَا Mereka tidak keluar dari dunia kecuali hanya membawa kapas dan kain kafan Dan mereka tidak mampu memakmurkan rumah mereka yang tetap kosong وَأَنْتَ غَدًا أَوْ بَعْدَهُ فِي جِوَارِهِمْ وَحِيْدًا فَرِيْدًا فِي الْمَقَابِرِ ثَاوِيَا Sedangkan kamu entah esok atau lusa akan berada di sisi mereka Tinggal sendiri tanpa teman di alam kubur اللهم يا مَن لا تُضره المعصية ولا تنفعه الطاعة، أيقِظنا من نوم الغفلة، ونبِّهنا لاغتنام أوقات المهلة، ووفِّقنا لمصالحنا، واعصِمنا من قبائحنا وذنوبنا، ولا تؤاخذنا بما انطوت عليه ضمائرنا، وأكنَّته سرائرنا من أنواع القبائح والمعايب التي تعلمها منا، وامنُن علينا يا مولانا بتوبة تَمحو بها عنا كلَّ ذنبٍ. Ya Allah! Wahai Dzat yang tidak mendapat mudarat dari kemaksiatan dan tidak mendapat manfaat dari ketaatan! Bangunkanlah kami dari lelap kelalaian! Sadarkanlah kami untuk memanfaatkan setiap waktu kesempatan! Berilah kami taufik untuk meraih kemaslahatan kami, lindungilah kami dari keburukan dan dosa-dosa kami! Janganlah Engkau siksa kami atas apa yang tersimpan dalam hati kami, dan dirahasiakan hati kami dari berbagai bentuk kejelekan dan keburukan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami! Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami tobat yang dengannya Engkau hapus seluruh dosa kami! اللهم انظِمنا في سلك الفائزين برضوانك، واجعلنا من المتقين الذين أعددتَ لهم فسيح جنانك، وأدخلنا برحمتك في دار أمانك، وعافنا يا مولانا في الدنيا والآخرة من جميع البلايا. Ya Allah! Tetapkanlah kami di jalan orang-orang yang beruntung meraih keridhaan-Mu, jadikanlah kami termasuk orang-orang bertakwa yang Engkau siapkan bagi mereka luasnya surga-Mu, masukkanlah kami dengan rahmat-Mu ke dalam negeri yang Sentosa (surga), dan selamatkanlah kami di dunia dan akhirat dari segala musibah! وأجْزِل لنا من مواهب فضلك وهباتك، ومتِّعنا بالنظر إلى وجهك الكريم مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين الأحياء منهم والميتين برحمتك يا أرحم الراحمين، وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Ya Allah! Agungkanlah untuk kami karunia dan pemberian-Mu, dan berikanlah kami nikmat melihat wajah-Mu Yang Mulia bersama orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh! Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin yang masih hidup dan yang telah wafat dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih! Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/غواية إبليس Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid


غواية إبليس Oleh: Asy-Syaikh Abdul Aziz as-Salman الشيخ عبدالعزيز السلمان عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «قال إبليس: وعزتك لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم، فقال: وعزتي وجلالي لا أزال أغفر لهم ما استغفروني»، وعن الزبير رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من أحب أن تَسُرَّه صحيفته، فليُكثر فيها من الاستغفار». Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda bahwa Iblis berkata kepada Allah, “Demi kemuliaan-Mu! Sungguh aku akan terus menggoda hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka masih dalam jasad mereka!” Kemudian Allah berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku! Sungguh Aku akan terus mengampuni mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku.” وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: «إن العبد إذا أخطأ خطيئةً نُكتت في قلبه نكتة، فإن هو نزع واستغَفر صَقُلت، فإن عاد زيدَ فيها حتى تعلو قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله تعالى: ﴿ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾ [المطففين: 14] ». وروي عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إن للقلوب صدأً كصدأ النحاس، وجلاؤها الاستغفار». Diriwayatkan juga dari Zubair Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الاسْتِغْفَارِ “Barangsiapa yang ingin dibahagiakan oleh buku catatan amalnya, maka hendaklah ia memperbanyak istigfar di dalamnya.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةً، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَتْ، فَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sesungguhnya apabila seorang hamba berbuat satu dosa, akan diberi satu titik hitam dalam hatinya, lalu apabila ia bertobat dan memohon ampun, maka titik hitam itu akan terhapus. Namun, jika ia mengulangi dosanya, titik itu akan ditambah hingga menutup seluruh hatinya, itulah yang disebut dengan ‘Ran’ yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” ورُوي عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في مسيرة فقال: «استغفروا الله» فاستغفرنا، فقال: «أتِمُّوها سبعين مرة»، فأتْمَمناها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما من عبدٍ ولا أَمَةٍ يستغفر الله في يوم سبعين مرة، إلا غفر الله له سبعمائة ذنبٍ، وقد خاب عبد أو أمةٌ عمِل في يوم وليلة أكثر من سبعمائة ذنب». وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيده، لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون، فيستغفرون الله تعالى فيغفر لهم»؛ رواه مسلم. وفي حديث سلمان: «فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار». Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: إِنَّ لِلْقُلُوبِ صَدَأً كَصَدَإِ النُّحَاسِ، وَجَلَاؤُهَا الِاسْتِغْفَارُ “Sesungguhnya hati dapat berkarat seperti berkaratnya logam, dan cara membersihkannya adalah dengan beristighfar.”  Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Beristigfarlah!” Maka kami pun beristigfar. Kemudian beliau bersabda, “Genapilah lagi hingga 70 kali!” Maka Kami pun menggenapinya. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang beristighfar kepada Allah sebanyak 70 kali dalam sehari, melainkan Allah akan mengampuni baginya 700 dosa. Dan sungguh merugilah seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan dosa lebih dari 700 kali dalam sehari semalam.”  Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ “Demi Dzat Yang Jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya kalian tidak melakukan dosa sedikitpun, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, sehingga Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim). Dalam hadits Salman disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: فاستكثِروا فيه من خصلتين ترضون بهما ربكم، فشهادة أن لا إله إلا الله، والاستغفار، وأما التي لا غنى بكم عنهما، فتسألونه الجنة، وتعوذون به من النار “Perbanyaklah padanya (bulan Ramadhan) dua hal yang dengannya kalian meridhai kalian, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan beristigfar. Sedangkan dua hal lain yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surga kepada-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari neraka.” فهذه الخصال الأربع المذكورة في الحديث، كلٌّ منها سبب للمغفرة والعتق من النار، فأما كلمة الإخلاص، فإنها تهدم الذنوب وتمحوها محوًا، ولا تبقي ذنبًا، ولا يسبقها عمل، وهي تعدل عتق الرقاب الذي يوجب العتق من النار، ومن أتى بها حين يصبح وحين يمسي، أعتقه الله من النار، ومن قالها خالصًا من قلبه، حرَّمه الله على النار». Empat hal yang disebutkan dalam hadis di atas, semuanya adalah sebab untuk meraih ampunan dan terbebas dari neraka. Adapun kalimat ikhlas (laa ilaha illallah), maka ia dapat menghapus seluruh dosa, sehingga tidak ada lagi dosa yang tersisa, dan tidak ada amalan lain yang lebih unggul darinya, kalimat tersebut setara dengan memerdekakan budak yang balasannya adalah dibebaskan dari neraka. Barang siapa yang mengucapkan kalimat ini setiap pagi dan sore, maka Allah akan membebaskannya dari neraka, dan barang siapa yang mengucapkannya dengan tulus dari hatinya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka. وأما كلمة الاستغفار، فمن أعظم أسباب المغفرة، فإن الاستغفار دعاء بالمغفرة، ودعاء الصائم إذا اجتمعت له الشروط، وانتفت الموانع مستجاب حال صيامه وعند فطره، وفي حديث أبي هريرة: (ويغفر الله إلا لمن أبى، قالوا: يا أبا هريرة ومن يأبى؟ قال: يأبى أن يستغفر الله). Adapun kalimat istigfar, ia merupakan salah satu sebab terbesar ampunan, karena istigfar merupakan doa agar mendapat ampunan. Begitu juga dengan doa orang yang berpuasa, apabila syarat-syarat ampunan terpenuhi dan penghalang-penghalang ampunan tidak ada, maka doanya akan mudah dikabulkan pada masa puasanya dan ketika hendak berbuka. Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Dan Allah akan memberi ampunan kecuali bagi orang yang enggan.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Hurairah! Siapa yang dianggap enggan itu?” Ia menjawab, “Orang yang enggan untuk memohon ampun kepada Allah!” وقال لقمان لابنه: يا بُني، عوِّد لسانك الاستغفار، فإن لله ساعات لا يرد فيه سائلًا، وقد جمع الله بين التوحيد والاستغفار في قوله: ﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ ﴾ [محمد: 19]، وفي بعض الآثار: أن إبليس قال: أهلكت الناس بالذنوب وأهلكوني بالاستغفار، ولا إله إلا الله. Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku! Biasakan lisanmu untuk beristigfar, karena Allah punya waktu-waktu yang ketika itu Dia tidak akan menolak orang yang meminta kepada-Nya.” Allah Ta’ala menghimpun antara tauhid dan permohonan ampun dalam firman-Nya:  فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Terdapat atsar yang menyebutkan bahwa Iblis berkata, “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa-dosa, tapi mereka membinasakanku dengan istigfar dan ‘Laa ilaaha illallaah’!” والاستغفار ختام الأعمال الصالحة كلها، فيختم به الصلاة، والحج، والقيام في الليل، ويختم به المجالس، فإن كانت ذكرًا كان كالطابع عليها وإن كانت لغوًا، كان كفارة لها، فكذلك ينبغي أن يختتم صيام رمضان بالاستغفار يرفع ما تَخرَّق من الصيام باللغو والرفث، (ويجتهد في الإكثار من الأعمال والتقلل من شواغل الدنيا، والإقبال على الآخرة ما دام في قيد الحياة). Istigfar merupakan penutup seluruh amal saleh, amalan-amalan seperti shalat, haji, dan shalat malam ditutup dengan istigfar. Begitu juga majelis-majelis ditutup dengan istigfar, apabila majelis itu berisi zikir, maka ia bagaikan stempel baginya, dan jika majelis itu berisi senda gurau, maka ia sebagai penggugur dosa di dalamnya. Demikian pula dengan puasa Ramadhan hendaknya ditutup dengan istigfar, sehingga dapat menutup kekurangan yang ada dalam puasanya. Hendaklah seseorang juga berusaha memperbanyak amal saleh dan mengurangi kesibukan duniawi serta bersemangat menyambut akhirat, selagi ia masih hidup. ومن عظة الحسن البصري لعمر بن عبد العزيز: أما بعد، فإن الدنيا دار ظعن ليست بدار إقامة، لها في كل حين قتيل تذل مَن أعزَّها، وتُفقر مَن جَمعها، هي كالسُّم يأكله من لا يعرفه وفيه حَتفُه، فكن فيها كالمداوي جراحه، يحتمي قليلًا مَخافةَ ما يكره طويلًا، ويصبر على شدة الدواء مخافة طول الداء، فاحذَر هذه الدنيا الخداعة الغدارة الختَّالة التي قد تزيَّنت بخُدَعها، وقتلت بغرورها، وتحلَّت بآمالها وسوَّفت بخطابها، فأصبحت كالعروس المجلية، العيون إليها ناظرة والقلوب عليها والهة، وهي لأزواجها كلهم قالية، فلا الباقي بالماضي معتبر، ولا الآخر بالأول مزدجِر، فعاشق لها قد ظفر منها بحاجته، فاغترَّ وطغى، ونَسِيَ المعاد، فشغل فيها لبَّه حتى زلت به قدمُه، فعظُمت ندامته وكثُرت حسرتُه، واجتمعت عليه سكرات الموت وتألُّمه، وحسرات الفوت بغُصته، وراغب فيها لم يدرك منها ما طلب، ولم يُرح نفسه من التعب، فخرج بغير زاد وقدِم على غير مهاد؛ فاحذرها يا أمير المؤمنين، وكن أسرَّ ما تكون فيها أحذرَ لها، فإن صاحب الدنيا كلما اطمأنَّ فيها إلى سرور أشخصتْه إلى مكروهٍ وضارٍّ، وقد وصل الرخاء منها بالبلاء، وجعل البقاء إلى فناء، فسرورُها مشوبٌ بالأحزان، أمانيها كاذبة وآمالها باطلة، وصفوها كدرٌ وعيشها نكدٌ، وابن آدم فيها على خطر؛ ا. هـ. Di antara nasihat Hasan Al-Bashri untuk Umar bin Abdul Aziz disebutkan: “Amma ba’du, dunia merupakan rumah sementara bukan rumah menetap selamanya. Setiap waktu, dunia punya korbannya. Dunia akan menghinakan siapa saja yang memuliakannya, memporak-porandakan siapa saja yang menghimpunnya. Ia bagaikan racun yang dimakan oleh orang yang tidak mengetahui hakikatnya, lalu menjadi sebab kebinasaannya. Oleh sebab itu, di dunia ini jadilah seperti orang yang mengobat lukanya, menahan diri sejenak karena takut dari hal yang dibenci akan berlangsung lama dan bersabar atas pahitnya obat karena takut penyakitnya tidak kunjung sembuh. Waspadalah terhadap dunia yang pendusta, penipu, dan pengkhianat ini, yang menghiasi dirinya dengan tipu daya, membinasakan dengan muslihatnya, dan memperindah diri dengan angan-angannya, dan melalaikan dengan janji-janji manisnya, sehingga ia menjadi seperti pengantin yang anggun, mata dan hati tertuju kepadanya, tapi ia tak peduli terhadap pasangannya. Orang yang masih hidup tidak mengambil pelajaran dari yang telah pergi, dan generasi penerus tidak merasa jera atas apa yang terjadi dengan generasi pendahulu. Orang yang mencintai dunia telah meraih apa yang mereka inginkan darinya, lalu dia merasa terbuai dan berbuat sewenang-wenang, sehingga dia lupa terhadap akhirat, dia menyibukkan pikirannya dengan dunia, hingga kakinya tergelincir dan jatuh, penyesalannya menjadi begitu besar dan kerugiannya begitu banyak. Lalu sakaratul maut dan rasa sakitnya datang mengepungnya, dan penyesalan atas yang luput datang mencekik lehernya. Orang yang cinta dunia tidak dapat meraih apa yang dia inginkan, dan tidak dapat mengistirahatkan dirinya dari keletihan, sehingga dia keluar dari dunia tanpa bekal, dan dia datang ke akhirat tanpa persiapan. Oleh sebab itu, waspadalah, wahai Amirul Mu’minin! Jadilah orang yang paling bahagia di dunia dan paling waspada terhadapnya, karena penghuni dunia itu, setiap kali dia merasa tenteram dengan kebahagiaan, dia akan terbelalak oleh musibah dan keburukan. Kesejahteraan di dunia akan mengantarkan pada kesulitan, kekekalannya akan membawa kepada kefanaan, kebahagiaannya disertai dengan kesedihan, angan-angannya dusta dan harapan-harapannya palsu, kedamaiannya tetap keruh, dan kehidupannya penuh kesusahan, dan manusia di dalamnya berada dalam mara bahaya.” شعرًا: فيا أيها الناسي ليوم رحيله أراك عن الموت المفرِّق لاهيَا  ألا تَعتبر بالراحلين إلى البِلى وتركهم الدنيا جميعًا كما هيَا  ولم يُخرجوا إلا بقطنٍ وخِرقةٍ وما عمَروا مِن منزلٍ ظلَّ خاليَا  وأنت غدًا أو بعده في جوارهم وحيدًا فريدًا في المقابر ثاويَا Dalam syair disebutkan: فَيَا أَيُّهَا النَّاسِي لِيَوْمِ رَحِيْلِهِ أَرَاكَ عَنِ الْمَوتِ الْمُفَرِّقِ لَاهِيَا Wahai orang yang lupa terhadap hari kepergiannya Aku melihatmu lalai terhadap kematian yang memisahkan أَلَا تَعْتَبِرُ بِالرَّاحِلِيْنَ إِلَى البِلَى وَتَرْكِهِمُ الدُّنْيَا جَمِيْعًا كَمَا هِيَا Tidakkah kamu mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah pergi menuju keusangan dan mereka semua meninggalkan dunia yang tetap berjalan seperti biasa وَلَمْ يَخْرُجُوا إِلَا بِقُطْنٍ وَخِرْقًةٍ وَمَا عَمَرُوا مِنْ مَنْزِلٍ ظَلَّ خَالِيَا Mereka tidak keluar dari dunia kecuali hanya membawa kapas dan kain kafan Dan mereka tidak mampu memakmurkan rumah mereka yang tetap kosong وَأَنْتَ غَدًا أَوْ بَعْدَهُ فِي جِوَارِهِمْ وَحِيْدًا فَرِيْدًا فِي الْمَقَابِرِ ثَاوِيَا Sedangkan kamu entah esok atau lusa akan berada di sisi mereka Tinggal sendiri tanpa teman di alam kubur اللهم يا مَن لا تُضره المعصية ولا تنفعه الطاعة، أيقِظنا من نوم الغفلة، ونبِّهنا لاغتنام أوقات المهلة، ووفِّقنا لمصالحنا، واعصِمنا من قبائحنا وذنوبنا، ولا تؤاخذنا بما انطوت عليه ضمائرنا، وأكنَّته سرائرنا من أنواع القبائح والمعايب التي تعلمها منا، وامنُن علينا يا مولانا بتوبة تَمحو بها عنا كلَّ ذنبٍ. Ya Allah! Wahai Dzat yang tidak mendapat mudarat dari kemaksiatan dan tidak mendapat manfaat dari ketaatan! Bangunkanlah kami dari lelap kelalaian! Sadarkanlah kami untuk memanfaatkan setiap waktu kesempatan! Berilah kami taufik untuk meraih kemaslahatan kami, lindungilah kami dari keburukan dan dosa-dosa kami! Janganlah Engkau siksa kami atas apa yang tersimpan dalam hati kami, dan dirahasiakan hati kami dari berbagai bentuk kejelekan dan keburukan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami! Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami tobat yang dengannya Engkau hapus seluruh dosa kami! اللهم انظِمنا في سلك الفائزين برضوانك، واجعلنا من المتقين الذين أعددتَ لهم فسيح جنانك، وأدخلنا برحمتك في دار أمانك، وعافنا يا مولانا في الدنيا والآخرة من جميع البلايا. Ya Allah! Tetapkanlah kami di jalan orang-orang yang beruntung meraih keridhaan-Mu, jadikanlah kami termasuk orang-orang bertakwa yang Engkau siapkan bagi mereka luasnya surga-Mu, masukkanlah kami dengan rahmat-Mu ke dalam negeri yang Sentosa (surga), dan selamatkanlah kami di dunia dan akhirat dari segala musibah! وأجْزِل لنا من مواهب فضلك وهباتك، ومتِّعنا بالنظر إلى وجهك الكريم مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين الأحياء منهم والميتين برحمتك يا أرحم الراحمين، وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Ya Allah! Agungkanlah untuk kami karunia dan pemberian-Mu, dan berikanlah kami nikmat melihat wajah-Mu Yang Mulia bersama orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh! Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin yang masih hidup dan yang telah wafat dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih! Semoga salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Sumber: https://www.alukah.net/غواية إبليس Sumber PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 294 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Ketika Kita Memilih Merdeka

Daftar Isi ToggleTanggung jawab kemerdekaanMasalah pertama pasca-merdekaMerdeka di balik jerujiTanggung jawab kemerdekaanAllah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan merdeka. Ia memberi manusia kesempatan untuk berkehendak dan memilih, sehingga pada dasarnya kita tidak dipaksa dalam beramal. Salah satu bukti hal ini adalah sabda Rasulullah ﷺ,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ“Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan dari umatku yang tidak disengaja, dikarenakan lupa, dan dipaksa.” [1]Kita tidak menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan karena paksaan, yakni saat kita tidak merdeka dalam membuat keputusan. [2] Akan tetapi, sudah menjadi kesepakatan bahwa setiap kejadian itu memiliki sebab dan akibat. Tatkala kita diberi kebebasan untuk memilih dan berkehendak, suka tak suka kita juga harus siap untuk menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut. Konsekuensi ini bukan hanya logis, namun juga ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Siapa saja yang mengerjakan kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan siapa saja yang berbuat jahat, maka (akibatnya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(Nya).” (QS. Fusshilat: 46)Dengan demikian, sebenarnya kita hanya sekadar merdeka dalam memilih, dan tidak akan pernah merdeka (baca: terbebas) dari konsekuensi atas keputusan sendiri.Hal penting yang perlu kita sadari saat memilih untuk merdeka adalah bahwa setelahnya, bukan berarti masalah sudah selesai. Setumpuk masalah justru akan muncul pasca-kemerdekaan. Tidak sedikit bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka, namun hari ini rakyatnya masih dijajah kebodohan, kemiskinan, bahkan kelaparan. Inti masalahnya satu, yaitu tidak bijak dalam menyikapi kemerdekaan. Hal ini sejatinya hanya menghasilkan perpindahan dari satu penjajahan, menuju bentuk penjajahan yang lain.Islam mengajarkan bahwa tidak ada kemerdekaan mutlak, melainkan hanya ada “kemerdekaan” sebagai hak yang tak akan pernah terlepas dari berbagai kewajiban sebagai konsekuensinya. [3] Oleh karena itu, mungkin sebaiknya makna kemerdekaan itu jangan kita batasi pada kebebasan saja, melainkan perlu dilengkapi menjadi kebebasan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan, dan kebebasan untuk tidak melakukan hal yang semestinya dihindari. Standar mengenai apa saja hal yang seharusnya dikerjakan maupun ditinggalkan itu tentunya dikembalikan kepada Allah Ta’ala, Dzat yang atas berkat rahmat dan kuasa-Nya kita dapat merasakan nikmat kemerdekaan.Masalah pertama pasca-merdekaKetika kita memilih merdeka, masalah yang mungkin akan datang paling awal adalah rasa takut dalam mengambil keputusan, apakah pilihan yang kita ambil benar ataukah tidak. Bagi orang yang beriman, sebenarnya masalah ini sudah selesai sebelum kita memikirkannya. Bayangkan, apabila mendapat kemerdekaan dalam memilih saja sudah menjadi hal yang membahagiakan, bagaimana lagi jika kita senantiasa dibantu untuk mendapat hasil yang terbaik, pada saat kita tidak menyadari bahwa kehendak kita bukanlah pilihan yang tepat.Inilah keyakinan yang selalu dipegang oleh orang beriman, terutama saat keinginan mereka tak sesuai dengan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).Rasulullah ﷺ juga bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Benar-benar mengagumkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya itu baik. Ini tidaklah didapat kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” [4]Keyakinan ini akan menjadikan kita lebih mantap dengan melangkah, karena kita hanya tinggal memutuskan dan berusaha sesuai dengan apa yang kita ketahui. Adapun yang tidak diketahui, kita serahkan kepada Allah Ta’ala sebagai Dzat Yang Maha Bijaksana. Iman terhadap takdir akan memerdekakan kita bukan hanya secara zahir, namun juga secara batin: merdeka dari penyesalan nonproduktif atas masa lalu, serta merdeka dari kekhawatiran terhadap masa depan.Merdeka di balik jerujiKemerdekaan tidak hanya dapat ditinjau secara lahir saja, namun juga secara batin, dan keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Sebagai contoh, banyak kita dengar hikayat raja-raja dunia yang secara lahir nampak merdeka lagi bebas berbuat aniaya. Namun di balik itu, hari-harinya diisi ketakutan akan runtuhnya kekuasaan mereka. Padahal, tanpa perlu takut pun, faktanya sudah terang: tak ada satu pun makhluk yang dapat berkuasa selamanya.Sebaliknya, adakalanya seseorang itu lahirnya terlihat tidak merdeka, namun berbeda dengan hatinya. Mari kita simak sejenak kisah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sejarah mencatat masa di mana beliau dipenjara oleh penguasa karena keteguhan beliau dalam mempertahankan kemurnian akidah, serta keberaniannya dalam mengkritik berbagai penyimpangan dalam praktik beragama. Sebagai ulama besar dengan banyak murid lagi memiliki pengaruh luas, bisa saja beliau menolak putusan tersebut dan menggalang perlawanan. Tetapi, beliau tidak mengambil opsi tersebut. Beliau lebih merasa nyaman saat kemerdekaannya direnggut dengan menghuni jeruji, daripada merenggut darah dan “kemerdekaan” kaum muslimin sebagai konsekuensi pemberontakan maupun perang saudara.Pilihan tersebut justru membuat beliau merasa lebih merdeka. Bahkan, dari balik jeruji inilah asal muasal perkataan beliau yang masih membekas hingga kini, “Apa yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Sungguh, surgaku dan taman-tamannya ada di dalam dadaku, ia ada bersamaku dan tidak terpisahkan dariku. Jika mereka memenjarakanku, itu adalah khalwat (menyepi dengan Allah) bagiku. Jika mereka membunuhku, maka kematianku adalah syahid. Jika mereka mengusirku dari negeriku, maka itu adalah wisata.” Beliau juga berkata, “Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya terpenjara dari (mengenal) Rabb-Nya Ta’ala.” [5]Beliau tetap bertahan dalam pilihan tersebut hingga sebagian sumber menyebutkan bahwa beliau wafat di dalam penjara. Keputusan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah ini mungkin membuatnya tampak tidak merdeka secara lahir, namun kemerdekaan batinlah yang beliau dapatkan.Demikian, semoga kita dapat mengambil pelajaran agar bisa menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] HR. Ibnu Majah no. 2043, dinilai hasan oleh An-Nawawi.[2] Khotbah Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid: https://almunajjid.com/speeches/lessons/128[3] Fatwa Islamweb: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/44340/[4] HR. Muslim no. 2999.[5] Al-Wabil Ash-Shayyib, hal. 48; Darul Hadits Kairo Cet. III via Syamilah, dikutip dari:https://muslimafiyah.com/mati-matian-mencari-yang-tidak-bisa-dibawa-mati-kebahagiaan-semu.html

Ketika Kita Memilih Merdeka

Daftar Isi ToggleTanggung jawab kemerdekaanMasalah pertama pasca-merdekaMerdeka di balik jerujiTanggung jawab kemerdekaanAllah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan merdeka. Ia memberi manusia kesempatan untuk berkehendak dan memilih, sehingga pada dasarnya kita tidak dipaksa dalam beramal. Salah satu bukti hal ini adalah sabda Rasulullah ﷺ,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ“Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan dari umatku yang tidak disengaja, dikarenakan lupa, dan dipaksa.” [1]Kita tidak menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan karena paksaan, yakni saat kita tidak merdeka dalam membuat keputusan. [2] Akan tetapi, sudah menjadi kesepakatan bahwa setiap kejadian itu memiliki sebab dan akibat. Tatkala kita diberi kebebasan untuk memilih dan berkehendak, suka tak suka kita juga harus siap untuk menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut. Konsekuensi ini bukan hanya logis, namun juga ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Siapa saja yang mengerjakan kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan siapa saja yang berbuat jahat, maka (akibatnya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(Nya).” (QS. Fusshilat: 46)Dengan demikian, sebenarnya kita hanya sekadar merdeka dalam memilih, dan tidak akan pernah merdeka (baca: terbebas) dari konsekuensi atas keputusan sendiri.Hal penting yang perlu kita sadari saat memilih untuk merdeka adalah bahwa setelahnya, bukan berarti masalah sudah selesai. Setumpuk masalah justru akan muncul pasca-kemerdekaan. Tidak sedikit bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka, namun hari ini rakyatnya masih dijajah kebodohan, kemiskinan, bahkan kelaparan. Inti masalahnya satu, yaitu tidak bijak dalam menyikapi kemerdekaan. Hal ini sejatinya hanya menghasilkan perpindahan dari satu penjajahan, menuju bentuk penjajahan yang lain.Islam mengajarkan bahwa tidak ada kemerdekaan mutlak, melainkan hanya ada “kemerdekaan” sebagai hak yang tak akan pernah terlepas dari berbagai kewajiban sebagai konsekuensinya. [3] Oleh karena itu, mungkin sebaiknya makna kemerdekaan itu jangan kita batasi pada kebebasan saja, melainkan perlu dilengkapi menjadi kebebasan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan, dan kebebasan untuk tidak melakukan hal yang semestinya dihindari. Standar mengenai apa saja hal yang seharusnya dikerjakan maupun ditinggalkan itu tentunya dikembalikan kepada Allah Ta’ala, Dzat yang atas berkat rahmat dan kuasa-Nya kita dapat merasakan nikmat kemerdekaan.Masalah pertama pasca-merdekaKetika kita memilih merdeka, masalah yang mungkin akan datang paling awal adalah rasa takut dalam mengambil keputusan, apakah pilihan yang kita ambil benar ataukah tidak. Bagi orang yang beriman, sebenarnya masalah ini sudah selesai sebelum kita memikirkannya. Bayangkan, apabila mendapat kemerdekaan dalam memilih saja sudah menjadi hal yang membahagiakan, bagaimana lagi jika kita senantiasa dibantu untuk mendapat hasil yang terbaik, pada saat kita tidak menyadari bahwa kehendak kita bukanlah pilihan yang tepat.Inilah keyakinan yang selalu dipegang oleh orang beriman, terutama saat keinginan mereka tak sesuai dengan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).Rasulullah ﷺ juga bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Benar-benar mengagumkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya itu baik. Ini tidaklah didapat kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” [4]Keyakinan ini akan menjadikan kita lebih mantap dengan melangkah, karena kita hanya tinggal memutuskan dan berusaha sesuai dengan apa yang kita ketahui. Adapun yang tidak diketahui, kita serahkan kepada Allah Ta’ala sebagai Dzat Yang Maha Bijaksana. Iman terhadap takdir akan memerdekakan kita bukan hanya secara zahir, namun juga secara batin: merdeka dari penyesalan nonproduktif atas masa lalu, serta merdeka dari kekhawatiran terhadap masa depan.Merdeka di balik jerujiKemerdekaan tidak hanya dapat ditinjau secara lahir saja, namun juga secara batin, dan keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Sebagai contoh, banyak kita dengar hikayat raja-raja dunia yang secara lahir nampak merdeka lagi bebas berbuat aniaya. Namun di balik itu, hari-harinya diisi ketakutan akan runtuhnya kekuasaan mereka. Padahal, tanpa perlu takut pun, faktanya sudah terang: tak ada satu pun makhluk yang dapat berkuasa selamanya.Sebaliknya, adakalanya seseorang itu lahirnya terlihat tidak merdeka, namun berbeda dengan hatinya. Mari kita simak sejenak kisah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sejarah mencatat masa di mana beliau dipenjara oleh penguasa karena keteguhan beliau dalam mempertahankan kemurnian akidah, serta keberaniannya dalam mengkritik berbagai penyimpangan dalam praktik beragama. Sebagai ulama besar dengan banyak murid lagi memiliki pengaruh luas, bisa saja beliau menolak putusan tersebut dan menggalang perlawanan. Tetapi, beliau tidak mengambil opsi tersebut. Beliau lebih merasa nyaman saat kemerdekaannya direnggut dengan menghuni jeruji, daripada merenggut darah dan “kemerdekaan” kaum muslimin sebagai konsekuensi pemberontakan maupun perang saudara.Pilihan tersebut justru membuat beliau merasa lebih merdeka. Bahkan, dari balik jeruji inilah asal muasal perkataan beliau yang masih membekas hingga kini, “Apa yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Sungguh, surgaku dan taman-tamannya ada di dalam dadaku, ia ada bersamaku dan tidak terpisahkan dariku. Jika mereka memenjarakanku, itu adalah khalwat (menyepi dengan Allah) bagiku. Jika mereka membunuhku, maka kematianku adalah syahid. Jika mereka mengusirku dari negeriku, maka itu adalah wisata.” Beliau juga berkata, “Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya terpenjara dari (mengenal) Rabb-Nya Ta’ala.” [5]Beliau tetap bertahan dalam pilihan tersebut hingga sebagian sumber menyebutkan bahwa beliau wafat di dalam penjara. Keputusan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah ini mungkin membuatnya tampak tidak merdeka secara lahir, namun kemerdekaan batinlah yang beliau dapatkan.Demikian, semoga kita dapat mengambil pelajaran agar bisa menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] HR. Ibnu Majah no. 2043, dinilai hasan oleh An-Nawawi.[2] Khotbah Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid: https://almunajjid.com/speeches/lessons/128[3] Fatwa Islamweb: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/44340/[4] HR. Muslim no. 2999.[5] Al-Wabil Ash-Shayyib, hal. 48; Darul Hadits Kairo Cet. III via Syamilah, dikutip dari:https://muslimafiyah.com/mati-matian-mencari-yang-tidak-bisa-dibawa-mati-kebahagiaan-semu.html
Daftar Isi ToggleTanggung jawab kemerdekaanMasalah pertama pasca-merdekaMerdeka di balik jerujiTanggung jawab kemerdekaanAllah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan merdeka. Ia memberi manusia kesempatan untuk berkehendak dan memilih, sehingga pada dasarnya kita tidak dipaksa dalam beramal. Salah satu bukti hal ini adalah sabda Rasulullah ﷺ,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ“Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan dari umatku yang tidak disengaja, dikarenakan lupa, dan dipaksa.” [1]Kita tidak menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan karena paksaan, yakni saat kita tidak merdeka dalam membuat keputusan. [2] Akan tetapi, sudah menjadi kesepakatan bahwa setiap kejadian itu memiliki sebab dan akibat. Tatkala kita diberi kebebasan untuk memilih dan berkehendak, suka tak suka kita juga harus siap untuk menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut. Konsekuensi ini bukan hanya logis, namun juga ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Siapa saja yang mengerjakan kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan siapa saja yang berbuat jahat, maka (akibatnya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(Nya).” (QS. Fusshilat: 46)Dengan demikian, sebenarnya kita hanya sekadar merdeka dalam memilih, dan tidak akan pernah merdeka (baca: terbebas) dari konsekuensi atas keputusan sendiri.Hal penting yang perlu kita sadari saat memilih untuk merdeka adalah bahwa setelahnya, bukan berarti masalah sudah selesai. Setumpuk masalah justru akan muncul pasca-kemerdekaan. Tidak sedikit bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka, namun hari ini rakyatnya masih dijajah kebodohan, kemiskinan, bahkan kelaparan. Inti masalahnya satu, yaitu tidak bijak dalam menyikapi kemerdekaan. Hal ini sejatinya hanya menghasilkan perpindahan dari satu penjajahan, menuju bentuk penjajahan yang lain.Islam mengajarkan bahwa tidak ada kemerdekaan mutlak, melainkan hanya ada “kemerdekaan” sebagai hak yang tak akan pernah terlepas dari berbagai kewajiban sebagai konsekuensinya. [3] Oleh karena itu, mungkin sebaiknya makna kemerdekaan itu jangan kita batasi pada kebebasan saja, melainkan perlu dilengkapi menjadi kebebasan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan, dan kebebasan untuk tidak melakukan hal yang semestinya dihindari. Standar mengenai apa saja hal yang seharusnya dikerjakan maupun ditinggalkan itu tentunya dikembalikan kepada Allah Ta’ala, Dzat yang atas berkat rahmat dan kuasa-Nya kita dapat merasakan nikmat kemerdekaan.Masalah pertama pasca-merdekaKetika kita memilih merdeka, masalah yang mungkin akan datang paling awal adalah rasa takut dalam mengambil keputusan, apakah pilihan yang kita ambil benar ataukah tidak. Bagi orang yang beriman, sebenarnya masalah ini sudah selesai sebelum kita memikirkannya. Bayangkan, apabila mendapat kemerdekaan dalam memilih saja sudah menjadi hal yang membahagiakan, bagaimana lagi jika kita senantiasa dibantu untuk mendapat hasil yang terbaik, pada saat kita tidak menyadari bahwa kehendak kita bukanlah pilihan yang tepat.Inilah keyakinan yang selalu dipegang oleh orang beriman, terutama saat keinginan mereka tak sesuai dengan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).Rasulullah ﷺ juga bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Benar-benar mengagumkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya itu baik. Ini tidaklah didapat kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” [4]Keyakinan ini akan menjadikan kita lebih mantap dengan melangkah, karena kita hanya tinggal memutuskan dan berusaha sesuai dengan apa yang kita ketahui. Adapun yang tidak diketahui, kita serahkan kepada Allah Ta’ala sebagai Dzat Yang Maha Bijaksana. Iman terhadap takdir akan memerdekakan kita bukan hanya secara zahir, namun juga secara batin: merdeka dari penyesalan nonproduktif atas masa lalu, serta merdeka dari kekhawatiran terhadap masa depan.Merdeka di balik jerujiKemerdekaan tidak hanya dapat ditinjau secara lahir saja, namun juga secara batin, dan keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Sebagai contoh, banyak kita dengar hikayat raja-raja dunia yang secara lahir nampak merdeka lagi bebas berbuat aniaya. Namun di balik itu, hari-harinya diisi ketakutan akan runtuhnya kekuasaan mereka. Padahal, tanpa perlu takut pun, faktanya sudah terang: tak ada satu pun makhluk yang dapat berkuasa selamanya.Sebaliknya, adakalanya seseorang itu lahirnya terlihat tidak merdeka, namun berbeda dengan hatinya. Mari kita simak sejenak kisah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sejarah mencatat masa di mana beliau dipenjara oleh penguasa karena keteguhan beliau dalam mempertahankan kemurnian akidah, serta keberaniannya dalam mengkritik berbagai penyimpangan dalam praktik beragama. Sebagai ulama besar dengan banyak murid lagi memiliki pengaruh luas, bisa saja beliau menolak putusan tersebut dan menggalang perlawanan. Tetapi, beliau tidak mengambil opsi tersebut. Beliau lebih merasa nyaman saat kemerdekaannya direnggut dengan menghuni jeruji, daripada merenggut darah dan “kemerdekaan” kaum muslimin sebagai konsekuensi pemberontakan maupun perang saudara.Pilihan tersebut justru membuat beliau merasa lebih merdeka. Bahkan, dari balik jeruji inilah asal muasal perkataan beliau yang masih membekas hingga kini, “Apa yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Sungguh, surgaku dan taman-tamannya ada di dalam dadaku, ia ada bersamaku dan tidak terpisahkan dariku. Jika mereka memenjarakanku, itu adalah khalwat (menyepi dengan Allah) bagiku. Jika mereka membunuhku, maka kematianku adalah syahid. Jika mereka mengusirku dari negeriku, maka itu adalah wisata.” Beliau juga berkata, “Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya terpenjara dari (mengenal) Rabb-Nya Ta’ala.” [5]Beliau tetap bertahan dalam pilihan tersebut hingga sebagian sumber menyebutkan bahwa beliau wafat di dalam penjara. Keputusan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah ini mungkin membuatnya tampak tidak merdeka secara lahir, namun kemerdekaan batinlah yang beliau dapatkan.Demikian, semoga kita dapat mengambil pelajaran agar bisa menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] HR. Ibnu Majah no. 2043, dinilai hasan oleh An-Nawawi.[2] Khotbah Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid: https://almunajjid.com/speeches/lessons/128[3] Fatwa Islamweb: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/44340/[4] HR. Muslim no. 2999.[5] Al-Wabil Ash-Shayyib, hal. 48; Darul Hadits Kairo Cet. III via Syamilah, dikutip dari:https://muslimafiyah.com/mati-matian-mencari-yang-tidak-bisa-dibawa-mati-kebahagiaan-semu.html


Daftar Isi ToggleTanggung jawab kemerdekaanMasalah pertama pasca-merdekaMerdeka di balik jerujiTanggung jawab kemerdekaanAllah Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan merdeka. Ia memberi manusia kesempatan untuk berkehendak dan memilih, sehingga pada dasarnya kita tidak dipaksa dalam beramal. Salah satu bukti hal ini adalah sabda Rasulullah ﷺ,إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ“Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan dari umatku yang tidak disengaja, dikarenakan lupa, dan dipaksa.” [1]Kita tidak menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan karena paksaan, yakni saat kita tidak merdeka dalam membuat keputusan. [2] Akan tetapi, sudah menjadi kesepakatan bahwa setiap kejadian itu memiliki sebab dan akibat. Tatkala kita diberi kebebasan untuk memilih dan berkehendak, suka tak suka kita juga harus siap untuk menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut. Konsekuensi ini bukan hanya logis, namun juga ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala,مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Siapa saja yang mengerjakan kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan siapa saja yang berbuat jahat, maka (akibatnya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(Nya).” (QS. Fusshilat: 46)Dengan demikian, sebenarnya kita hanya sekadar merdeka dalam memilih, dan tidak akan pernah merdeka (baca: terbebas) dari konsekuensi atas keputusan sendiri.Hal penting yang perlu kita sadari saat memilih untuk merdeka adalah bahwa setelahnya, bukan berarti masalah sudah selesai. Setumpuk masalah justru akan muncul pasca-kemerdekaan. Tidak sedikit bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka, namun hari ini rakyatnya masih dijajah kebodohan, kemiskinan, bahkan kelaparan. Inti masalahnya satu, yaitu tidak bijak dalam menyikapi kemerdekaan. Hal ini sejatinya hanya menghasilkan perpindahan dari satu penjajahan, menuju bentuk penjajahan yang lain.Islam mengajarkan bahwa tidak ada kemerdekaan mutlak, melainkan hanya ada “kemerdekaan” sebagai hak yang tak akan pernah terlepas dari berbagai kewajiban sebagai konsekuensinya. [3] Oleh karena itu, mungkin sebaiknya makna kemerdekaan itu jangan kita batasi pada kebebasan saja, melainkan perlu dilengkapi menjadi kebebasan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan, dan kebebasan untuk tidak melakukan hal yang semestinya dihindari. Standar mengenai apa saja hal yang seharusnya dikerjakan maupun ditinggalkan itu tentunya dikembalikan kepada Allah Ta’ala, Dzat yang atas berkat rahmat dan kuasa-Nya kita dapat merasakan nikmat kemerdekaan.Masalah pertama pasca-merdekaKetika kita memilih merdeka, masalah yang mungkin akan datang paling awal adalah rasa takut dalam mengambil keputusan, apakah pilihan yang kita ambil benar ataukah tidak. Bagi orang yang beriman, sebenarnya masalah ini sudah selesai sebelum kita memikirkannya. Bayangkan, apabila mendapat kemerdekaan dalam memilih saja sudah menjadi hal yang membahagiakan, bagaimana lagi jika kita senantiasa dibantu untuk mendapat hasil yang terbaik, pada saat kita tidak menyadari bahwa kehendak kita bukanlah pilihan yang tepat.Inilah keyakinan yang selalu dipegang oleh orang beriman, terutama saat keinginan mereka tak sesuai dengan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).Rasulullah ﷺ juga bersabda,عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ“Benar-benar mengagumkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya itu baik. Ini tidaklah didapat kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” [4]Keyakinan ini akan menjadikan kita lebih mantap dengan melangkah, karena kita hanya tinggal memutuskan dan berusaha sesuai dengan apa yang kita ketahui. Adapun yang tidak diketahui, kita serahkan kepada Allah Ta’ala sebagai Dzat Yang Maha Bijaksana. Iman terhadap takdir akan memerdekakan kita bukan hanya secara zahir, namun juga secara batin: merdeka dari penyesalan nonproduktif atas masa lalu, serta merdeka dari kekhawatiran terhadap masa depan.Merdeka di balik jerujiKemerdekaan tidak hanya dapat ditinjau secara lahir saja, namun juga secara batin, dan keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Sebagai contoh, banyak kita dengar hikayat raja-raja dunia yang secara lahir nampak merdeka lagi bebas berbuat aniaya. Namun di balik itu, hari-harinya diisi ketakutan akan runtuhnya kekuasaan mereka. Padahal, tanpa perlu takut pun, faktanya sudah terang: tak ada satu pun makhluk yang dapat berkuasa selamanya.Sebaliknya, adakalanya seseorang itu lahirnya terlihat tidak merdeka, namun berbeda dengan hatinya. Mari kita simak sejenak kisah Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Sejarah mencatat masa di mana beliau dipenjara oleh penguasa karena keteguhan beliau dalam mempertahankan kemurnian akidah, serta keberaniannya dalam mengkritik berbagai penyimpangan dalam praktik beragama. Sebagai ulama besar dengan banyak murid lagi memiliki pengaruh luas, bisa saja beliau menolak putusan tersebut dan menggalang perlawanan. Tetapi, beliau tidak mengambil opsi tersebut. Beliau lebih merasa nyaman saat kemerdekaannya direnggut dengan menghuni jeruji, daripada merenggut darah dan “kemerdekaan” kaum muslimin sebagai konsekuensi pemberontakan maupun perang saudara.Pilihan tersebut justru membuat beliau merasa lebih merdeka. Bahkan, dari balik jeruji inilah asal muasal perkataan beliau yang masih membekas hingga kini, “Apa yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Sungguh, surgaku dan taman-tamannya ada di dalam dadaku, ia ada bersamaku dan tidak terpisahkan dariku. Jika mereka memenjarakanku, itu adalah khalwat (menyepi dengan Allah) bagiku. Jika mereka membunuhku, maka kematianku adalah syahid. Jika mereka mengusirku dari negeriku, maka itu adalah wisata.” Beliau juga berkata, “Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya terpenjara dari (mengenal) Rabb-Nya Ta’ala.” [5]Beliau tetap bertahan dalam pilihan tersebut hingga sebagian sumber menyebutkan bahwa beliau wafat di dalam penjara. Keputusan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah ini mungkin membuatnya tampak tidak merdeka secara lahir, namun kemerdekaan batinlah yang beliau dapatkan.Demikian, semoga kita dapat mengambil pelajaran agar bisa menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Wallahu waliyyut taufiq.Baca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim***Penulis: Reza MahendraArtikel Muslim.or.id Referensi:[1] HR. Ibnu Majah no. 2043, dinilai hasan oleh An-Nawawi.[2] Khotbah Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid: https://almunajjid.com/speeches/lessons/128[3] Fatwa Islamweb: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/44340/[4] HR. Muslim no. 2999.[5] Al-Wabil Ash-Shayyib, hal. 48; Darul Hadits Kairo Cet. III via Syamilah, dikutip dari:https://muslimafiyah.com/mati-matian-mencari-yang-tidak-bisa-dibawa-mati-kebahagiaan-semu.html

Kunci Keluar dari Masalah dan Kesusahan Hidup – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Di antara faedah tasbih adalah menghilangkan penderitaan yang dialami manusia dari musibah dan ujian dunia. Sebab, di dunia ini manusia akan menghadapi berbagai masa sulit. Lalu hadirlah zikir, tasbih, istighfar, dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Ibadah-ibadah ini hadir untuk menjadi sebab terbesar untuk keluar dari berbagai kesulitan itu. Ketika Nabi Yunus masuk ke laut lalu ditelan ikan paus, beliau berada dalam kegelapan berlapis-lapis: Gelapnya malam, gelapnya laut, dan gelapnya perut ikan. Allah menyelamatkannya dari kesempitan dan keadaan yang sulit ini, berkat tasbih, zikir, dan doanya kepada Allah Subḥanahu wa bihamdih. Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai Hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143–144) Beliau juga berdoa ketika berada di perut ikan paus, di tengah gelombang besar lautan: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87) Beliau memuji Tuhannya atas keesaan-Nya, dan bertawasul kepada Tuhannya dengan bertasbih kepada-Nya. Serta mengakui kezalimannya terhadap diri sendiri. Beliau bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan untaian kalimat yang agung ini. Hingga datanglah jalan keluar dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan beliau dapat keluar dari kesulitan dan kesempitannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya dengan keberkahan zikir dan tasbihnya. ==== وَمِنْ فَوَائِدِ التَّسْبِيحِ زَوَالُ مَا يُعَانِيهِ الْإِنْسَانُ مِنْ مِحَنِ الدُّنْيَا وَكُرُبَاتِهَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَعْرِضُ لَهُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا الْمَضَائِقُ فَيَأْتِي الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ وَالِاسْتِغْفَارُ وَتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَأْتِي هَذِهِ الْعِبَادَاتُ الْجَلِيلَةُ لِتَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِخُرُوجِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَضَائِقِ وَلَمَّا وَقَعَ يُونُسُ فِي الْبَحْرِ وَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَصَارَ فِي الظُّلُمَاتِ ظُلُمَاتِ اللَّيْلِ وَالْبَحْرِ وَبَطْنِ الْحُوتِ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْ هَذَا الضِّيقِ وَمِنْ هَذَا الْمَضِيقِ لِتَسْبِيحِهِ وَذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَقَالَ تَعَالَى فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ وَكَانَ يَقُولُ وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ فِي لُجَجِ الْبِحَارِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَيُثْنِي عَلَى رَبِّهِ بِوَحْدَانِيِّتِهِ وَيَتَوَسَّلُ إِلَى رَبِّهِ بِتَسْبِيحِهِ وَيُقِرُّ عَلَى نَفْسِهِ بِظُلْمِهِ لَهَا يَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْعَظِيمَةِ فَيَأْتِي الْفَرَجُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَخْرُجُ مِنْ ضِيقِهِ وَمَضِيقِهِ وَيُنْقِذَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِبَرَكَةِ الذِّكْرِ وَالتَّسْبِيحِ

Kunci Keluar dari Masalah dan Kesusahan Hidup – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Di antara faedah tasbih adalah menghilangkan penderitaan yang dialami manusia dari musibah dan ujian dunia. Sebab, di dunia ini manusia akan menghadapi berbagai masa sulit. Lalu hadirlah zikir, tasbih, istighfar, dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Ibadah-ibadah ini hadir untuk menjadi sebab terbesar untuk keluar dari berbagai kesulitan itu. Ketika Nabi Yunus masuk ke laut lalu ditelan ikan paus, beliau berada dalam kegelapan berlapis-lapis: Gelapnya malam, gelapnya laut, dan gelapnya perut ikan. Allah menyelamatkannya dari kesempitan dan keadaan yang sulit ini, berkat tasbih, zikir, dan doanya kepada Allah Subḥanahu wa bihamdih. Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai Hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143–144) Beliau juga berdoa ketika berada di perut ikan paus, di tengah gelombang besar lautan: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87) Beliau memuji Tuhannya atas keesaan-Nya, dan bertawasul kepada Tuhannya dengan bertasbih kepada-Nya. Serta mengakui kezalimannya terhadap diri sendiri. Beliau bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan untaian kalimat yang agung ini. Hingga datanglah jalan keluar dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan beliau dapat keluar dari kesulitan dan kesempitannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya dengan keberkahan zikir dan tasbihnya. ==== وَمِنْ فَوَائِدِ التَّسْبِيحِ زَوَالُ مَا يُعَانِيهِ الْإِنْسَانُ مِنْ مِحَنِ الدُّنْيَا وَكُرُبَاتِهَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَعْرِضُ لَهُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا الْمَضَائِقُ فَيَأْتِي الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ وَالِاسْتِغْفَارُ وَتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَأْتِي هَذِهِ الْعِبَادَاتُ الْجَلِيلَةُ لِتَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِخُرُوجِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَضَائِقِ وَلَمَّا وَقَعَ يُونُسُ فِي الْبَحْرِ وَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَصَارَ فِي الظُّلُمَاتِ ظُلُمَاتِ اللَّيْلِ وَالْبَحْرِ وَبَطْنِ الْحُوتِ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْ هَذَا الضِّيقِ وَمِنْ هَذَا الْمَضِيقِ لِتَسْبِيحِهِ وَذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَقَالَ تَعَالَى فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ وَكَانَ يَقُولُ وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ فِي لُجَجِ الْبِحَارِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَيُثْنِي عَلَى رَبِّهِ بِوَحْدَانِيِّتِهِ وَيَتَوَسَّلُ إِلَى رَبِّهِ بِتَسْبِيحِهِ وَيُقِرُّ عَلَى نَفْسِهِ بِظُلْمِهِ لَهَا يَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْعَظِيمَةِ فَيَأْتِي الْفَرَجُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَخْرُجُ مِنْ ضِيقِهِ وَمَضِيقِهِ وَيُنْقِذَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِبَرَكَةِ الذِّكْرِ وَالتَّسْبِيحِ
Di antara faedah tasbih adalah menghilangkan penderitaan yang dialami manusia dari musibah dan ujian dunia. Sebab, di dunia ini manusia akan menghadapi berbagai masa sulit. Lalu hadirlah zikir, tasbih, istighfar, dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Ibadah-ibadah ini hadir untuk menjadi sebab terbesar untuk keluar dari berbagai kesulitan itu. Ketika Nabi Yunus masuk ke laut lalu ditelan ikan paus, beliau berada dalam kegelapan berlapis-lapis: Gelapnya malam, gelapnya laut, dan gelapnya perut ikan. Allah menyelamatkannya dari kesempitan dan keadaan yang sulit ini, berkat tasbih, zikir, dan doanya kepada Allah Subḥanahu wa bihamdih. Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai Hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143–144) Beliau juga berdoa ketika berada di perut ikan paus, di tengah gelombang besar lautan: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87) Beliau memuji Tuhannya atas keesaan-Nya, dan bertawasul kepada Tuhannya dengan bertasbih kepada-Nya. Serta mengakui kezalimannya terhadap diri sendiri. Beliau bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan untaian kalimat yang agung ini. Hingga datanglah jalan keluar dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan beliau dapat keluar dari kesulitan dan kesempitannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya dengan keberkahan zikir dan tasbihnya. ==== وَمِنْ فَوَائِدِ التَّسْبِيحِ زَوَالُ مَا يُعَانِيهِ الْإِنْسَانُ مِنْ مِحَنِ الدُّنْيَا وَكُرُبَاتِهَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَعْرِضُ لَهُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا الْمَضَائِقُ فَيَأْتِي الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ وَالِاسْتِغْفَارُ وَتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَأْتِي هَذِهِ الْعِبَادَاتُ الْجَلِيلَةُ لِتَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِخُرُوجِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَضَائِقِ وَلَمَّا وَقَعَ يُونُسُ فِي الْبَحْرِ وَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَصَارَ فِي الظُّلُمَاتِ ظُلُمَاتِ اللَّيْلِ وَالْبَحْرِ وَبَطْنِ الْحُوتِ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْ هَذَا الضِّيقِ وَمِنْ هَذَا الْمَضِيقِ لِتَسْبِيحِهِ وَذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَقَالَ تَعَالَى فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ وَكَانَ يَقُولُ وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ فِي لُجَجِ الْبِحَارِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَيُثْنِي عَلَى رَبِّهِ بِوَحْدَانِيِّتِهِ وَيَتَوَسَّلُ إِلَى رَبِّهِ بِتَسْبِيحِهِ وَيُقِرُّ عَلَى نَفْسِهِ بِظُلْمِهِ لَهَا يَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْعَظِيمَةِ فَيَأْتِي الْفَرَجُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَخْرُجُ مِنْ ضِيقِهِ وَمَضِيقِهِ وَيُنْقِذَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِبَرَكَةِ الذِّكْرِ وَالتَّسْبِيحِ


Di antara faedah tasbih adalah menghilangkan penderitaan yang dialami manusia dari musibah dan ujian dunia. Sebab, di dunia ini manusia akan menghadapi berbagai masa sulit. Lalu hadirlah zikir, tasbih, istighfar, dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Ibadah-ibadah ini hadir untuk menjadi sebab terbesar untuk keluar dari berbagai kesulitan itu. Ketika Nabi Yunus masuk ke laut lalu ditelan ikan paus, beliau berada dalam kegelapan berlapis-lapis: Gelapnya malam, gelapnya laut, dan gelapnya perut ikan. Allah menyelamatkannya dari kesempitan dan keadaan yang sulit ini, berkat tasbih, zikir, dan doanya kepada Allah Subḥanahu wa bihamdih. Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai Hari Kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143–144) Beliau juga berdoa ketika berada di perut ikan paus, di tengah gelombang besar lautan: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHOOLIMIIN“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87) Beliau memuji Tuhannya atas keesaan-Nya, dan bertawasul kepada Tuhannya dengan bertasbih kepada-Nya. Serta mengakui kezalimannya terhadap diri sendiri. Beliau bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan untaian kalimat yang agung ini. Hingga datanglah jalan keluar dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan beliau dapat keluar dari kesulitan dan kesempitannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya dengan keberkahan zikir dan tasbihnya. ==== وَمِنْ فَوَائِدِ التَّسْبِيحِ زَوَالُ مَا يُعَانِيهِ الْإِنْسَانُ مِنْ مِحَنِ الدُّنْيَا وَكُرُبَاتِهَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ يَعْرِضُ لَهُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا الْمَضَائِقُ فَيَأْتِي الذِّكْرُ وَالتَّسْبِيحُ وَالِاسْتِغْفَارُ وَتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَأْتِي هَذِهِ الْعِبَادَاتُ الْجَلِيلَةُ لِتَكُونَ أَعْظَمَ سَبَبٍ لِخُرُوجِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَضَائِقِ وَلَمَّا وَقَعَ يُونُسُ فِي الْبَحْرِ وَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَصَارَ فِي الظُّلُمَاتِ ظُلُمَاتِ اللَّيْلِ وَالْبَحْرِ وَبَطْنِ الْحُوتِ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْ هَذَا الضِّيقِ وَمِنْ هَذَا الْمَضِيقِ لِتَسْبِيحِهِ وَذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ فَقَالَ تَعَالَى فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ وَكَانَ يَقُولُ وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ فِي لُجَجِ الْبِحَارِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ فَيُثْنِي عَلَى رَبِّهِ بِوَحْدَانِيِّتِهِ وَيَتَوَسَّلُ إِلَى رَبِّهِ بِتَسْبِيحِهِ وَيُقِرُّ عَلَى نَفْسِهِ بِظُلْمِهِ لَهَا يَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْعَظِيمَةِ فَيَأْتِي الْفَرَجُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَخْرُجُ مِنْ ضِيقِهِ وَمَضِيقِهِ وَيُنْقِذَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِبَرَكَةِ الذِّكْرِ وَالتَّسْبِيحِ

Biografi Ibnu Hazm Al-Andalusi

Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.

Biografi Ibnu Hazm Al-Andalusi

Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.
Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.


Daftar Isi ToggleNasab dan kelahiranPertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuGuru-gurunyaAkidah dan mazhabnyaKarya-karya yang terkenalKitab al-Mujallā dalam fikihKitab al-MuḥallāKitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsPujian para ulama terhadapnyaMurid-muridnyaWafatnyaDi antara ulama besar yang namanya harum dalam sejarah Islam adalah Ibnu Ḥazm al-Andalusi raḥimahullāh. Beliau dikenal dengan kecerdasan luar biasa, keluasan ilmu, dan keteguhan membela kebenaran berdasarkan dalil.Artikel ini akan mengupas biografi singkat beliau, mulai dari nasab dan kelahiran, petumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu, akidah dan manhaj, hingga karya-karyanya. Semoga pembahasan ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua dalam meneladani perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah.Nasab dan kelahiranNama lengkap beliau adalah Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Beliau berasal dari keturunan Persia, kemudian menetap di Andalusia, dari kota Qurtubah (Cordoba). Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. [1]Beliau lahir di Qurtubah pada tahun 384 H. Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibnu Basykuwal dalam ash-Shilah meriwayatkan dari Qadhi Sha‘id bin Ahmad bahwa Ibnu Hazm menulis dengan tangannya sendiri,ولدت بقرطبة … قبل طلوع الشمس آخر ليلة الأربعاء آخر يوم من رمضان سنة أربع وثمانين وثلاث مائة …“Aku dilahirkan di Qurtubah … , sebelum terbit matahari, pada akhir malam Rabu, hari terakhir bulan Ramadan tahun 384 H. … ” [2]Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmuBeliau tumbuh dalam kemewahan dan kenyamanan. Allah menganugerahkan kepadanya kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, dan banyak koleksi kitab langka. Ayahnya adalah salah seorang tokoh besar di Qurtubah, yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa pemerintahan ad-Daulah al-‘Āmiriyyah. [3]Abu Muhammad sendiri juga pernah menjabat sebagai menteri di masa mudanya. Pada awalnya, ia mendalami sastra, sejarah, puisi, logika (mantiq), dan bagian dari filsafat. Hal ini sempat mempengaruhinya, hingga ia menulis karya yang mengajak untuk mempelajari logika dan mendahulukannya atas ilmu-ilmu lain. Namun kemudian ia meninggalkan jalan tersebut dan memusatkan perhatiannya pada ilmu-ilmu syar‘i.Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad menceritakan,كان أبوه أبو عمر من وزراء المنصور محمد بن أبي عامر مدبر دولة المؤيد بالله بن المستنصر المرواني ثم وزر للمظفر ووزر أبو محمد للمستظهر عبد الرحمن بن هشام ثم نبذ هذه الطريقة وأقبل على العلوم الشرعية. …“Ayah Ibnu Hazm, Abu ‘Umar, adalah menteri al-Mansur Muhammad bin Abi ‘Amir dan pengatur pemerintahan al-Mu’ayyad Billah bin al-Mustansir al-Marwani. Setelah itu ia menjadi menteri al-Muzaffar, dan Ibnu Hazm sendiri pernah menjadi menteri al-Mustazhhir Abdurrahman bin Hisyam sebelum akhirnya meninggalkan jabatan tersebut untuk fokus pada ilmu agama. … ” [4]Tentang permulaan Ibnu Hazm rahimahullaah fokus belajar ilmu syar’i, khususnya fikih, Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Abu Bakr bin al-‘Arabi — berkata, “Abu Muhammad Ibnu Hazm menceritakan kepadaku bahwa sebab ia mempelajari fikih adalah karena suatu hari ia menghadiri salat jenazah. Ia masuk ke masjid dan duduk tanpa salat, lalu seseorang berkata kepadanya, ‘Berdirilah dan salatlah tahiyyatul masjid.’Saat itu usianya telah mencapai 26 tahun. Ia berkata, “Maka aku pun bangkit dan salat. Setelah kami kembali dari salat jenazah, aku masuk masjid, dan segera salat (tahiyyatul masjid). Lalu ada yang berkata kepadaku, ‘Duduklah, duduklah! Ini bukan waktu salat’ — saat itu setelah Asar. Maka aku pun pulang dengan perasaan sedih.Aku berkata kepada guru yang membesarkanku, ‘Tunjukkan aku rumahnya faqih Abu Abdullah bin Dahhun.’ Aku pun mendatanginya dan memberitahukan apa yang terjadi. Ia lalu menunjukkan kepadaku kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Aku memulai mempelajarinya darinya, lalu terus membaca kepadanya, dan kepada selainnya selama kurang lebih tiga tahun…” [5]Guru-gurunyaBeliau mulai mendengar (belajar hadis) pada tahun 400 H dan sesudahnya dari sejumlah ulama, di antaranya:Yahya bin Mas‘ud bin Wajh al-Jannah, murid Qasim bin Ashbagh, dan inilah guru tertingginya;Abu ‘Umar Ahmad bin Muhammad bin al-Jasur;Yunus bin Abdullah bin Mughits al-Qadhi;Hammam bin Ahmad al-Qadhi. [6]Selain itu, sebagaimana telah berlalu pembahasan tentang awal mula beliau fokus mempelajari ilmu syari’at, di mana beliau belajar kepada seorang ahli fikih bernama Abu Abdullah bin Dahhun rahimahumullahu.Akidah dan mazhabnyaBeliau rahimahullah adalah seorang ulama besar, hafizh hadis, pengagung sunnah, dan para pengikutnya, pencari dan penjaga sunnah, serta sangat bersemangat dalam mengikutinya. Namun, dalam hatinya masuk beberapa prinsip dari filsafat dan ahli bid‘ah, yang menyebabkan ia berpendapat dengan pandangan yang menyelisihi ahlul hadis dan ahlus sunnah dalam bab Asma’ dan Sifat secara khusus, dan juga dalam beberapa masalah lain di bidang ushul maupun furu‘.Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa beliau termasuk ahlus sunnah secara mutlak, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah. Akan tetapi, beliau juga tidak keluar sepenuhnya dari sunnah dan para pengikutnya, serta tidak termasuk golongan ahli bid‘ah, karena pengagungannya terhadap sunnah, jalannya yang mendorong untuk mengikutinya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengannya, meskipun beliau keliru dalam beberapa rincian. Wallahu a‘lam. [7]Para ulama dari Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan tentang beliau,من ‌العلماء ‌المبرزين ‌في ‌الأصول، والفروع، وفي علم الكتاب والسنة، إلا أنه خالف جمهور أهل العلم في مسائل كثيرة أخطأ فيها الصواب؛ لجموده على الظاهر، وعدم قوله بالقياس الجلي المستوفي للشروط المعتبرة، وخطأه في العقيدة بتأويل نصوص الأسماء والصفات أشد وأعظم.“Beliau termasuk ulama terkemuka dalam bidang ushul dan furu‘, serta dalam ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah. Akan tetapi, beliau menyelisihi mayoritas ulama dalam banyak masalah di mana beliau keliru dalam mencapai kebenaran; sebab kekakuannya dalam berpegang pada zahir nash, dan penolakannya terhadap qiyas yang jelas dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Kesalahannya dalam akidah, berupa penakwilan terhadap nash-nash tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, adalah lebih berat dan lebih besar.” [8]Tentang mazhabnya, Imam Adz-Dzahabi berkata tentangnya,الظاهري“Seorang yang bermazhab Zhahiri.” [9]Dikatakan bahwa pada awalnya beliau mempelajari fikih dalam mazhab Syafi‘i, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat menolak seluruh bentuk qiyas, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Beliau berpegang pada zahir nash dan keumuman Al-Qur’an serta hadis, mengamalkan prinsip bara’ah ashliyyah (asal bebas dari beban hukum) dan istishab al-hal (menetapkan hukum asal). Beliau menulis banyak buku dalam masalah ini, berdebat membelanya, dan menyebarkan pandangan ini dengan lisan dan tulisannya. [10]Baca juga: Biografi Ringkas Ibnu Hajar Al-AsqalaniKarya-karya yang terkenalIbnu Hazm memiliki karya-karya besar dan berharga, di antaranya:Kitab al-Mujallā dalam fikihKitab fikih yang memuat pendapat-pendapatnya berdasarkan mazhab Ẓāhiriyyah, berpegang pada zahir nash tanpa qiyas. Kitab ini ringkas, namun menjadi dasar bagi karyanya yang lebih besar, al-Muḥallā.Kitab al-MuḥallāSyarah (penjelasan) atas al-Mujallā yang dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, dan atsar sahabat, beserta bantahan terhadap pendapat yang berbeda.Kitab al-Iḥkām li-Uṣūl al-AḥkāmKitab ushul fikih yang menjelaskan kaidah-kaidah istinbat (pengambilan kesimpulan) hukum menurut metode Ẓāhiriyyah.Kitab al-Faṣl fī al-Milal wan-NiḥalKitab akidah dan perbandingan agama, membahas berbagai aliran dan sekte dalam Islam maupun agama-agama lain. [11]Kitab al-Akhlāq wa as-Siyar fī Madāwāti an-NufūsKarya dalam bidang akhlak dan tashfiyah an-nafs (penyucian jiwa), berisi nasihat moral, adab, dan panduan memperbaiki diri, ditulis dengan gaya renungan dan pengalaman pribadi beliau. [12]Pujian para ulama terhadapnyaIbnu Hazm Al-Andalusi mendapat pujian dari banyak ulama besar. Di antara pujian para ulama terhadap beliau:Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar berkata,الإمام الأوحد البحر ذو الفنون“Imam yang tunggal, lautan ilmu, pemilik berbagai bidang keahlian.” [13]Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata,“Ibnu Hazm adalah orang yang paling menguasai seluruh ilmu Islam di seluruh Andalusia dan yang paling luas pengetahuannya. Ia juga memiliki keluasan dalam ilmu bahasa, bagian besar dari balaghah dan syair, serta pengetahuan mendalam tentang sejarah dan berita. Putranya, al-Fadhl, mengabarkan kepadaku bahwa ia memiliki di sisinya tulisan tangan ayahnya, Abu Muhammad, dari karya-karyanya yang berjumlah empat ratus jilid, mencakup hampir delapan puluh ribu lembar.” [14]Abu ‘Abdillah al-Humaidi berkata,كان ابن حزم حافظًا للحديث وفقهه مستنبطًا للأحكام من الكتاب والسنة متفننًا في علوم جمة عاملًا بعلمه ما رأينا مثله فيما اجتمع له من الذكاء وسرعة الحفظ وكرم النفس والتدين وكان له في الأدب والشعر نفس واسع وباع طويل وما رأيت من يقول الشعر على البديه أسرع منه وشعره كثير جمعته على حروف المعجم.“Ibnu Hazm adalah seorang hafizh hadis dan memahami fikihnya, mampu menyimpulkan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah, menguasai banyak cabang ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Kami tidak pernah melihat yang sepertinya dalam hal kecerdasan, kecepatan hafalan, keluhuran jiwa, dan ketakwaan. Dalam sastra dan syair ia memiliki keluasan bakat dan kemampuan yang tinggi. Aku tidak pernah melihat seseorang yang dapat membuat syair secara spontan lebih cepat darinya. Syairnya sangat banyak, dan aku telah mengumpulkannya berdasarkan urutan huruf hijaiyah.” [15]Murid-muridnyaIbnu Hazm memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:Putranya, yaitu Abu Rafi‘ al-Fadhl.Abu ‘Abdillah al-Humaidi.Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad — yaitu ayah dari Qadhi Abu Bakr bin al-‘Arabi.Abu al-Hasan Syuraih bin Muhammad, yang disebutkan sebagai orang terakhir yang meriwayatkan darinya melalui ijazah. [16]WafatnyaIbnu Hazm wafat pada bulan Sya‘ban tahun 456 H.Imam Abu al-Qasim Sha‘id bin Ahmad berkata, “Aku menyalin dari tulisan tangan putranya, Abu Rafi‘, bahwa ayahnya wafat pada sore hari Ahad, dua hari tersisa dari bulan Sya‘ban tahun 456 H, dalam usia 71 tahun lebih beberapa bulan. Semoga Allah merahmatinya.” [17]Baca juga: Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah***Rumdin PPIA Sragen, 14 Shafar 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman. Siyar A‘lam an-Nubala’. Takhrij hadis dan penyuntingan oleh Muhammad Ayman asy-Syabrawi. Kairo: Dar al-Hadits, 1427/ 2006. 18 jilid (16 jilid isi dan 2 jilid indeks). Edisi digital diambil dari Maktabah Syamilah (15 Shafar 1446 H), sesuai nomor cetakan. Catatan kaki:[1] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[2] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 385.[3] Ibid, 13: 374.[4] Ibid, 13: 375.[5] Ibid, 13: 380.[6] Ibid, 13: 373-374.[7] https://islamqa.info/ar/answers/161540/[8] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah – al-Majmu‘ah al-Ula, 12: 223.[9] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[10] Ibid, 13: 374.[11] Lihat Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 378-379.[12] Kitab ini sudah tercetak, dan tersebar luas. Di antaranya adalah terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan ketiga, tahun 2009.[13] Siyar A‘lam an-Nubala’, 13: 373.[14] Ibid, 13: 375.[15] Ibid, 13: 375.[16] Ibid, 13: 374.[17] Ibid, 13: 386.

Stop Overthinking! Inilah Resep Bahagia dari Nabi – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

Stop Overthinking! Inilah Resep Bahagia dari Nabi – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ


Kekhawatiran membuat seseorang gelisah dan menjauhkannya dari kebahagiaan. Bahkan dapat menjauhkan dirinya dari khusyuk dalam salat, dan menghalanginya dari kehadiran hati dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan kepada Allah dari kekhawatiran. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, “Aku biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku sering mendengar beliau banyak berdoa: ALLAAHUMMA INNII A-’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN WA MINAL ‘AJZI WAL KASAL WAMINAL JUBNI WAL BUKHL WA MIN GHOLABATID DAINI WA QOHRIR RIJAAL ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang dan kezaliman orang lain.’” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta perlindungan dari kekhawatiran. Namun jika kekhawatiran datang tanpa dikehendaki, maka hal itu menjadi sebab penghapus dosa dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Tidaklah seorang Mukmin tertimpa rasa lelah, sakit, atau kekhawatiran, bahkan duri yang menusuknya pun, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya karenanya.” Jika ada kekhawatiran yang menimpa seseorang maka Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosanya, karena hal itu menyusahkan dan mengguncang jiwanya. Namun, seorang Muslim harus menjauhi hal-hal yang memicu kekhawatiran dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya. Jadi ia harus menjauhkan diri dari sebab-sebab kekhawatiran. Tidak perlu memikirkan, “Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang akan terjadi esok hari?” dan menyibukkan pikirannya dengan itu. Cukup ia melakukan usaha yang terbaik, lalu menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana telah kita bahas pada faedah sebelumnya, ia harus menyabarkan dirinya dan meningkatkan kesabarannya. Sambil berkata, “Aku bersabar atas segala takdir yang Allah tetapkan.” Ini adalah beberapa hal yang dapat menghilangkan rasa khawatir. Demikian juga memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari rasa khawatir. Juga membaca doa yang dahulu sering dibaca oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari lilitan utang, dan dari kezaliman orang lain.” Demikian pula kesedihan, seseorang hendaknya menjauhinya. Perbedaan antara kekhawatiran dan kesedihan adalah: kekhawatiran berkaitan dengan masa depan, sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Itulah sebabnya, kata “kesedihan” dalam Al-Qur’an hanya muncul dalam bentuk larangan atau penafian. Allah Ta’ala sama sekali tidak pernah memerintahkan untuk bersedih. “Janganlah bersedih atas mereka.” (QS. An-Nahl: 127) “Janganlah kalian lemah dan bersedih.” (QS. Ali Imran: 139). “Tidak ada ketakutan dan kesedihan atas mereka.” (QS. Yunus: 62). Maka kata (حزن) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian, karena memang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan sebab-sebab yang menyertainya. Ia harus membiasakan diri untuk menghindari kekhawatiran dan kesedihan, serta menyabarkan diri dan terus meningkatkan kesabaran. Barang siapa menyabarkan diri, Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sabar. Serta setiap hari memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kekhawatiran dan kesedihan. === الْهَمُّ مُقْلِقٌ لِلْإِنْسَانِ وَيَجْعَلُ الْإِنْسَانَ بَعِيدًا عَنِ السَّعَادَةِ بَلْ يَجْعَلُهُ بَعِيدًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ فِي الْعِبَادَاتِ الَّتِي يُؤَدِّيْهَا وَالْهَمُّ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ مِنْ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ فَكَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنَ الْهَمِّ وَلَكِنْ إِذَا أَتَى الْهَمُّ رَغْمًا عَنِ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ مِمَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَإِذَا وَقَعَ لِلْإِنْسَانِ الْهَمُّ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكَفِّرُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ لِأَنَّهُ أَمْرٌ مُقْلِقٌ وَمُزْعِجٌ لِلنَّفْسِ لَكِنْ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهُمُومِ أَيْضًا فَيَبْتَعِدُ عَنْ أَسْبَابِ الْهُمُومِ يَعْنِي لَا دَاعِيَ إِلَى أَنْ يُفَكِّرَ مَا الَّذِي سَيَكُونُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ؟ مَا الَّذِي سَيَكُونُ غَدًا؟ وَيُشْغِلُ بَالَهُ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي فَائِدَةٍ سَابِقَةٍ يُصَبِّرُ نَفْسَهُ يَرْفَعُ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَيَقُولُ أَصْبِرُ لِمَا يُقَدِّرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْأَقْدَارِ فَهَذَا مِمَّا يُزِيلُ الْهُمُومَ كَذَلِكَ أَيْضًا يَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْهَمِّ وَيَأْتِي بِهَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يُكْثِرُ مِنْهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَمِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَمِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ وَهَكَذَا أَيْضًا الْحَزَنُ يَنْبَغِي أَنْ يَبْتَعِدَ الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ أَنَّ الْهَمَّ يَكُوْنُ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ وَالْحَزَنُ يَكُونُ عَمَّا مَضَى وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدْ الحَزَنُ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا مَنْهِيًّا عَنْهُ أَوْ مَنْفِيًّا وَلَمْ يُؤْمِرِ اللَّهُ تَعَالَى بِالْحُزْنِ أَبَدًا وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ فَهَذِهِ الْمَادَّةُ مَادَّةُ الْحَزَنِ لَمْ تَرِدْ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا عَلَى سَبِيْلِ النَّفْيِ أَوْ النَّهْيِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ مِنْهُ لِهَذَا مَا كَانَ لَيْسَ فِيهِ فَائِدَةٌ يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبْتَعِدَ عَنْهُ وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنْ أَسْبَابِهِ فَعَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يُوَطِّنَ نَفْسَهُ عَلَى اجْتِنَابِ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ وَيَرْفَعَ مُسْتَوَى الصَّبْرِ عِنْدَهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
Prev     Next